pendekar panji sakti 09

 BAB 25.

Cinta hanya menimbulkan kedukaan.

 

Ketika saat menunjukkan kentongan ke empat, Un Tay-tay yang berada dalam kuil Seng bo bio belum juga menjumpai bayangan tubuh Thiat Tiong-tong, kendatipun dia sudah celingukan kian kemari namun pemuda itu belum juga kelihatan batang hidungnya.

Padahal waktu itu kawanan wanita berbaju hitam itu sudah bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

Un Tay-tay merasa sangat gelisah, pikirnya:

"Kalau dilihat dari tampangnya, jelas dia ingin sekali menguntit dibelakangku, kenapa hingga sekarang belum muncul,  jangan-jangan.......jangan-jangan sudah terjadi sesuatu?"

Mendadak terlihat seorang wanita suci datang menghampiri dan menegur dengan dingin:

"Kenapa kau celingukan kesana-kemari? Apa yang sedang kau tunggu?"

Un Tay-tay amat terkesiap, buru-buru menyahut dengan tergagap:

"Aku......aku......aku telah berhutang dengan seorang gembong iblis, aku kuatir dia datang mengejarku dan menuntut aku membayar hutang"

Sebetulnya perkataan itu hanya disampaikan sekenanya, tapi begitu selesai berkata, bayangan tubuh kakek berjubah ungu itu kembali muncul dalam benaknya, dia seolah-olah masih mendengar suara ancamannya yang begitu keras seperti suara geledek:

"Ke mana pun kau akan pergi, lohu pasti dapat menemukan dirimu lagi........"

Suara itu kedengaran makin lama semakin nyaring, akhirnya Un  Tay-tay tidak sanggup menahan diri lagi, sekujur tubuhnya gemetar keras, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Menanti wanita suci itu berbicara lagi, dia baru dapat mengendalikan perasaan hatinya.

Terdengar perempuan itu berkata:

"Kau sudah mati satu kali, berarti semua hutang piutangmu dalam kehidupan yang lalu sudah tidak perlu dibayar lagi"

"Tapi...... tapi orang itu memiliki kemampuan yang luar biasa, lihay sekali....."

"Betapa pun lihaynya dia, toh mustahil bisa menagih hutang terhadap seseorang yang sudah mati!" jawab perempuan itu dingin.

"Tapi...... tapi aku...... aku belum betul-betul mati!"

"Sudahlah! sudah saatnya untuk berangkat, bila esok pagi naik perahu maka menjelang tengah hari sudah akan tiba di pulau, manusia mana dikolong langit yang bernyali mencari gara-gara ditempat itu!"

Tanpa terasa Un Tay-tay menghembuskan napas lega, sambil mendongakkan kepalanya memandang angkasa, perlahan-lahan katanya:

"Yaa, empat-lima jam kemudian, aku memang tidak perlu kuatir lagi"

Walaupun ucapan itu seolah sedang menegur diri sendiri, seperti juga sedang menghibur diri, namun nada ucapannya mengandung nada kesedihan yang sangat mendalam, seakan-akan dalam kehidupan yang fana ini masih ada sementara orang dan sementara persoalan yang harus dia kuatirkan, harus dia takutkan.

 

Betapa terkesiapnya Thiat Tiong-tong ketika melihat Leng It-hong membentak sambil meman­dang ke arahnya, dia sangka tempat persembunyi­annya sudah ketahuan orang.

Siapa tahu pada saat itulah dari bawah tubuhnya muncul sesosok bayangan manusia, "Blaaam!" dengan cepat orang itu menerjang daun jendela hingga jebol dan meluncur masuk ke dalam ruang perahu.

Ternyata selama ini orang itu bersembunyi disekitar tempat persembunyian Thiat Tiong-tong tanpa disadari pemuda itu, hal ini disebabkan seluruh konsentrasi anak muda itu sedang terpusat ke dalam ruangan, sedang ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu kelewat hebat.

Tampaknya manusia itupun tidak menyangka kalau dibalik gulungan tali masih bersembunyi seseorang yang lain, karenanya dia tidak terlalu menaruh perhatian.

Dalam terperanjatnya, Thiat Tiong-tong semakin tidak berani berkutik.

Walaupun orang itu memiliki ilmu meringan­kan tubuh yang sangat hebat, ternyata dia tidak lebih hanya seorang pemuda berbaju ungu yang berwajah tampan dan gagah, dia memegang sebuah kipas dengan dua biji mutiara diujungnya.

Coba kalau bukan lantaran dia saksikan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, niscaya Thiat Tiong-tong akan mengira orang itu sebagai pemuda kaya yang sedang berpesiar, dia tidak akan mengira kalau pemuda setampan itu memiliki ilmu silat yang begitu hebat.

Paras muka Suto Siau sekalian pun ikut berubah, mereka tidak mengira ada orang lain bersembunyi dibawah jendela perahunya.

"Hei anak muda" dengan suara keras Leng It-hong segera menegur, "mau apa kau datang kemari?"

Biarpun tahu kalau semua yang hadir dalam ruang perahu adalah sekawanan jago persilatan yang licik dan berilmu tinggi, ternyata sikap pemuda berbaju ungu itu tetap santai, sama sekali tidak tegang atau merasa takut, seakan dia tidak pandang sebelah mata pun terhadap orang-orang itu.

Setelah menyapu sekejap seputar ruangan, sambil menggoyangkan kipasnya dan tertawa tergelak, sahutnya:

"Ternyata kau memiliki ketajaman mata yang mengagumkan sehingga dapat mengetahui tempat persembunyianku, tapi ada satu hal anda keliru besar"

"Apa yang salah?" tanya Leng It-hong gusar.

"Orang yang bertanya mengapa kepadamu tadi bukan aku" ujar pemuda itu tertawa.

"Kalau bukan kau lantas siapa?" berubah paras muka Leng It-hong.

Perlahan-lahan pemuda berbaju ungu itu mengalihkan sorot matanya ke arah tirai di belakang ruangan, ujarnya sambil tersenyum:

"Sobat, dipersilahkan segera keluar, memang­nya kau ingin cayhe yang mengundang paksa kehadiranmu ?"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, segera terdengar suara tertawa seseorang yang menusuk pendengaran bergema dari balik tirai:

"Hahahaha......bocah muda, hebat juga kau!"

Terlihat sesosok bayangan manusia munculkan diri.

Orang itu mempunyai perawakan tubuh kurus kering lagi jangkung, bagaikan sebatang bambu yang  terhembus  angin,  dia  selangkah demi selangkah berjalan keluar dari tempat persembu­nyiannya.

Kemudian sambil menuding ujung hidung sendiri dengan jari tangannya yang besar bagai kipas, tegurnya seraya tertawa seram:

"Leng It-hong, masih kenal aku?"

Suaranya tajam bagaikan pisau yang sedang diasah, benar-benar menusuk pendengaran dan tidak enak didengar.

Begitu melihat wajah orang itu, Thiat Tiong-tong kontan merasa terkesiap, sementara Suto Siau sekalian seketika menunjukkan perasaan gembira.

Tiba-tiba terdengar Leng It-hong membentak keras:

"Hong Lo-su!"

Rupanya setelah memperhatikan beberapa saat, dia baru teringat akan asal-usul orang ini.

"Bagus" seru Hong Lo-su lagi sambil tertawa terkekeh, "rupanya cukup luas pengetahuanmu, sekarang coba terangkan, kenapa kau enggan bekerja sama denganku?"

Walaupun paras muka Leng It-hong sedikit berubah, namun dia sama sekali tidak menunjuk­kan rasa takut, setelah tertawa dingin sahutnya:

"Kenapa apa? Memangnya kau tidak lebih jelas dariku? Buat apa mesti kujelaskan lagi"

Berubah paras muka Hong Lo-su, bentaknya:

"Lebih baik jawab semua pertanyaan yang kuajukan, kalau berani bicara yang tidak tidak lagi, hmmm! Hati-hati dengan batok kepalamu!"

"Benarkah kau suruh aku bicara terus terang?" ejek Leng It-hong sambil tertawa seram, "baik! Kalau begitu dengarkan baik baik, pada hakekatnya Hong Lo-su tidak punya nyali untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, diapun tidak akan melakukan hal itu........."

"Tutup mulut!" bentak Hong Lo-su gusar.

"Bukankah kau yang suruh aku bicara? Kenapa minta aku untuk tutup mulut?"

"Kau berani mencari gara-gara dengan aku!" teriak Hong Lo-su gusar.

"Mungkin saja orang lain takut kepadamu, tapi aku Leng It-hong tidak bakal takut!"

Suto Siau sekalian terkejut juga ketika melihat Leng It-hong begitu bernyali dan berani memusuhi Hong Lo-su, sementara Thiat Tiong-tong dibuat semakin tercengang: kenapa Hong Lo-su tidak berani menghadapi Perguruan Tay ki bun?

Dalam pada itu Hong Lo-su telah berseru sambil tertawa seram:

"Baru belajar sedikit Ngo tok ciang (ilmu pukulan panca racun) sudah ingin pentang cakar mencari gara-gara, Hmmm! Cukup dengan sebuah jari tangan, aku sudah sanggup menjagalmu!"

"Kenapa tidak dicoba...." tantang Leng It-hong sambil tertawa seram.

Hong Lo-su menyeringai seram, katanya:

"Terlalu banyak yang kau ketahui, perkataan­mu pun kelewat banyak, aku memang punya niat untuk menjagalmu!"

Dengan satu gerakan kilat dia merangsek ke depan dan tahu-tahu sudah berdiri dihadapan lawan.

Waktu itu Leng It-hong telah bersiap sedia, begitu melihat musuhnya mendekat, secepat kilat sepasang tangannya didorong ke muka, dibawah cahaya lentera, telapak tangannya yang berwarna hitam pekat kelihatan amat aneh dan menakutkan.

Tampak Hong Lo-su berkelit ke samping, tidak tampak bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuh­nya sudah berada disamping kiri lawan.

Cepat Leng It-hong membalik tubuh sambil melepaskan pukulan lagi, tangannya dengan membuat gerakan setengah lingkaran busur langsung dihantamkan keatas bahu lawan.

Sebagaimana diketahui, telapak tangannya sangat beracun, siapa pun yang tersentuh tangan­nya niscaya akan keracunan hebat dan mati, itulah sebabnya serangan yang dia lancarkan tidak perlu harus menyerang bagian mematikan ditubuh lawan, dengan sendirinya ancaman yang dilakukan pun lebih leluasa dan jauh lebih cepat.

Siapa tahu kembali Hong Lo-su menarik tubuhnya yang kurus kering ke belakang, lagi-lagi dia berkelit ke sisi kanan tubuh lawan.

Serangan yang dilancarkan Leng It-hong boleh dibilang sangat ganas dan amat beracun, namun Hong Lo-su bukan saja tidak tersentuh bahkan sama sekali tidak melakukan perlawanan, dua gebrakan kemudian, Suto Siau sekalian sudah dibuat tertegun saking herannya.

Terdengar Hong Lo-su berseru lagi sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha...... anak anak, coba perhatikan, walaupun pukulan orang she-Leng ini amat beracun, tapi asal tidak bersentuh tangannya, kita tidak perlu takut menghadapinya!"

Sementara pembicaraan berlangsung, kembali Leng It-hong sudah melepaskan tujuh buah serangan maut, semakin menyerang, telapak tangannya kelihatan semakin hitam, tujuh gebrakan kemudian telapak tangannya telah berubah jadi hitam pekat.

Semua orang tahu, dia pasti telah mengerahkan segenap hawa racun yang dimilikinya, mereka yang berdiri agak dekat dengan arenapun secara lamat-lamat mulai mengendus bau amis yang terbawa dalam angin pukulannya.

Kehebatan dan kedahsyatan ilmu pukulan Ngo tok ciang memang sangat menakutkan, namun dengan kelincahan serta kecepatan gerakan tubuh yang dimiliki Hong Lo-su, bukan saja Leng It-hong gagal melukainya bahkan menyentuh ujung bajunya pun tidak sanggup.

Tiga puluh gebrakan kemudian tiba-tiba terdengar Hong Lo-su berseru sambil tertawa seram:

"Aku rasa sudah cukup bagiku untuk memper­mainkan monyet ini, lihat serangan!"

Sepasang tangannya melancarkan serangan bersama, dalam waktu singkat dia telah melepas­kan tiga jurus serangan.

Ke tiga jurus serangan itu muncul tanpa pertanda, tahu-tahu serangan sudah tiba di depan mata dan membuat orang susah untuk menduga sebelumnya.

Secara beruntun Leng It-hong mundur sejauh tiga langkah, tidak tampak bagaimana cara Hong Lo-su menekuk telapak tangannya, tahu-tahu tangannya bagaikan tidak bertulang saja sudah menerobos pertahanan Leng It-hong dan meng­hantam dadanya.

Kelihatannya meskipun Leng lt-hong berhasil menghindari serangan yang pertama, mustahil dia bisa meloloskan diri dari serangan berikut, Suto Siau sekalian menyangka dalam waktu singkat dia akan roboh terluka oleh pukulan lawan.

Siapa tahu walaupun Leng It-hong tidak menghindar maupun berkelit, dari dalam sakunya dia justru mengeluarkan sebuah benda, sambil diacungkan ke depan teriaknya:

"Hong Lo-su, coba lihat benda apakah ini?"

Seketika itu juga Hong Lo-su menghentikan gerak serangannya, waktu itu telapak tangannya sudah berada lima inci dari dada Leng It-hong, asal dia tolak tangannya sedikit ke depan, niscaya Leng It-hong akan mati secara mengenaskan.

Ketika sorot matanya dialihkan ke depan, dia segera jumpai sepucuk surat telah berada dalam genggaman Leng It-hong, bentuk sampul surat itu sangat aneh, diatas kertas berwarna hijau tertera sebuah lukisan tangan setan berwarna hitam pekat.

Benar saja, paras muka Hong Lo-su seketika berubah hebat, tanyanya dengan nada tergagap:

"Apa......apa isi surat itu?"

Walaupun dia tidak segera menarik kembali tangannya, namun nada suaranya sudah kedengaran tidak leluasa.

"Ambil dan baca sendiri!" sahut Leng It-hong cepat.

Dengan satu geakan kilat Hong Lo-su merampas surat itu, mengeluarkan isinya dan dibaca beberapa kejap, tidak lama kemudian paras mukanya telah berubah semakin aneh, tidak jelas dia sedang merasa gembira atau justru merasa amat gusar.

Semua orang tidak tahu apa isi surat itu, tapi dari perubahan mimik muka yang diperlihatkan Hong Lo-su, dapat disimpulkan kalau dia merasa tercekat hatinya.

Kalau orang lain tidak sempat membaca surat itu, lain halnya dengan Thiat Tiong-tong yang berada diatas ruangan, secara kebetulan dia dapat menyaksikan isi surat itu dengan jelas sekali.

Diatas lembaran kertas berwarna hijau itu tertuliskan beberapa kalimat, begini bunyinya:

"Hong Lo-su, jika kau berani melukai muridku Leng It-hong barang seujung rambut pun, lohu akan suruh kau tersiksa secara mengenaskan selama tujuh kali tujuh empat puluh sembilan hari, kurang dari sehari saja lohu bukan manusia!"

Dibawahnya tidak ada tanda tangan, hanya terlukis seorang kakek berbentuk aneh sedang melahap ular berbisa.

Dari atas wajah Hong Lo-su yang menyeramkan tiba-tiba terlintas sekulum senyuman palsu, terdengar dia berseru sambil tertawa terkekeh:

"Maaf, maaf, ternyata Leng-heng sudah menjadi murid kesayangan Jan tok Thaysu"

Semua orang yang hadir makin tercengang dibuatnya, mereka tidak mengira kalau secara tiba-tiba Hong Lo-su akan bersikap begitu sungkan terhadap Leng It-hong, bahkan memanggilnya sebagai 'Leng-heng'.

"Bukankah kau ingin menjagalku? Ayoh cepat lakukan!" jengek Leng It-hong dingin.

Kembali Hong Lo-su tertawa keras.

“Aaah, tadi aku cuma bergurau, harap Leng-heng jangan marah. Jan tok Thaysu adalah sahabat karibku, masa aku tega melukai murid kesayangannya?"

"Kalau begitu surat guruku tadi tentu memohon kepadamu untuk mengampuni jiwaku bukan?” jengek Leng It-hong lagi sambil tertawa dingin, "kenapa tidak kau perlihatkan kepada rekan lainnya?"

"Tidak perlu diperlihatkan......tidak perlu diperlihatkan!" buru-buru Hong Lo-su masukkan surat itu ke dalam sakunya, "boleh tahu sejak kapan Leng-heng menjadi muridnya Jan tok thaysu?"

"Setelah membaca surat wasiat dari mendiang ayahku, akupun segera pergi ke tempat guru, ternyata dia orang tua dengan senang hati segera menerima aku menjadi muridnya"

"Bagus sekali, bagus sekali" sambil bertepuk tangan Hong Lo-su tertawa tergelak, "kalau toh Leng-heng adalah murid Jan tok thaysu, semua masalah malah lebih gampang dirundingkan"

"Tapi bagaimana pula dengan urusan seputar Perguruan Tay ki bun?"

"Urusan ini lebih baik kita bicarakan lain waktu saja, sekarang......."

Mendadak Hong Lo-su membalikkan tubuh sambil melotot ke arah pemuda berbaju ungu itu, senyuman yang semula menghiasi wajahnya ikut lenyap tidak berbekas.

Pemuda berbaju ungu itu masih berdiri tenang dengan senyuman dikulum, sambil melipat kembali kipasnya dia mengejek:

"Ada apa? Karena tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang lain, kau ingin melampiaskan rasa jengkelmu kepadaku?"

"Hmm, siapa suruh kau datang kemari?" seru Hong Lo-su sambil tertawa seram.

"Sebetulnya ayah perintah aku untuk menung­gu kehadiran seseorang disini, lantaran melihat diatas perahu ada cahaya lentera maka tanpa sengaja telah mendekatinya, maaf, maaf"

Walaupun dimulut minta maaf namun wajahnya tetap santai dan penuh senyuman, sama sekali tidak mirip orang yang sedang meminta maaf.

"Kau anggap dengan mengucapkan perkataan minta maaf lantas urusan jadi beres?"

"Lantas apa lagi yang kau inginkan? Aku pasti akan berusaha memenuhinya" kata pemuda berbaju ungu itu sambil tertawa.

Hong Lo-su menyeringai seram. "Rahasia yang kau curi dengar kelewat banyak, apa yang kau curi lihat pun kelewat banyak, maka mula-mula akan kuiris telingamu kemudian baru kucongkel keluar biji matamu"

Pemuda itu tetap menggoyang kipasnya sambil tersenyum, dia seakan sedang mendengarkan satu kisah menarik dan kisah tersebut sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia.

Terdengar Hong Lo-su berkata lebih jauh:

"Tapi sayang apa yang kau dengar, apa yang kau lihat sudah tercatat semua didalam hati, karena itu akupun akan mencongkel hatimu........."

Tangannya mencengkeram ke depan, seolah-olah hati pemuda itu sudah berada dalam comotannya.

Tampak pemuda itu menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa:

"Benar, benar sekali, hati itu memang pantas dicomot, tapi kalau hatinya sudah dicomot mana mungkin orangnya bisa hidup terus?"

Kemudian sesudah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Aku tidak pernah berlatih ilmu pukulan Ngo tok ciang, akupun tidak memiliki surat penyelamat nyawa, kalau kau benar-benar turun tangan, tampaknya cayhe mesti serahkan nyawa dengan pasrah!"

"Anggap saja kau tahu diri" Hong Lo-su tertawa aneh, "kalau begitu akan kusuruh kau mati dengan lebih tenang........"

Sepasang lengannya digetar keras, diantara bunyi gemerutuk pada sendi tulangnya dia siap menerjang ke depan.

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba pemuda itu berseru.

"Ada apa?" Hong Lo-su menghentikan langkah­nya, "apakah ingin meninggalkan pesan terakhir?"

Pemuda berbaju ungu itu tertawa, sahutnya: "Kalau hanya cayhe yang mati mah tidak soal, yang aku kuatirkan justru kalau sampai membuat kau mesti menjerit kesakitan selama sembilan kali sembilan delapan puluh satu hari, bukankah aku yang harus menanggung dosa besar!"

Ternyata dengan ketajaman matanya dia pun sempat membaca isi surat tersebut.

Melihat pemuda itu bersikap begitu santai kendatipun sedang menghadapi ancaman maut, tanpa terasa timbul perasaan sayang dihati kecil Thiat Tiong-tong.

Terdengar Hong Lo-su membentah penuh amarah:

"Tajam amat mata anjingmu, kelihatannya aku mesti mencongkelnya terlebih dulu!"

Dengan menekuk jari tengah dan jari telunjuk­nya menjadi sebuah kaitan, dia langsung mencolek sepasang mata pemuda itu.

Pemuda berbaju ungu itu hanya berdiri tanpa bergerak, senyuman tetap menghiasi bibirnya, biarpun ujung jari Hong Lo-su sudah hampir menyentuh kelopak matanya, dia masih tidak melakukan perlawanan.

Disaat yang kritis inilah tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring dari luar pintu:

"Hong Lo-su, berhenti kau!"

Suaranya nyaring bagai genta raksasa yang ditabuh orang, membuat kendang telinga semua orang terasa sakit dan kesemutan.

Tiba-tiba ke dua jari tangan Hong Lo-su seolah membeku ditengah udara, sama sekali tidak mampu bergerak lagi.

Seorang kakek berjenggot sepanjang dada dan mengenakan jubah berwarna ungu perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam ruangan, sekalipun dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar namun langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara.

Walaupun di dalam ruangan terdapat begitu banyak pasang mata, ternyata tidak seorangpun yang tahu sejak kapan kakek itu masuk ke dalam ruangan, apalagi mengetahui berasal dari mana kedatangannya.

Dengan sikap penuh berwibawa kakek berjubah ungu itu berkata perlahan:

"Losu, apakah kau ingin melihat aku putus keturunan?"

"Maa......mana mana......."

"Bila kau cabut nyawa putraku, bukankah sama artinya ingin melihat aku putus keturunan?"

Hong Lo-su melirik pemuda berbaju ungu itu sekejap, kemudian serunya terperanjat:

"Ternyata dia.....dia adalah putramu!"

Sekulum senyuman palsu kembali menghiasi wajahnya, dia melanjutkan:

"Siaute hanya melihat ditubuh putramu ada sedikit debu, jadi ingin membersihkannya!"

Jari tangannya yang semula hendak digunakan untuk mencongkel mata orang, kini digunakan untuk membersihkan debu ditubuh pemuda itu.

"Terima kasih, terima kasih!" tidak tahan pemuda berbaju ungu itu tertawa geli. Ternyata dia benar-benar membiarkan orang itu membersihkan debu dipakaiannya hingga bersih.

Dengan langkah lebar kakek berjubah ungu itu masuk ke dalam ruangan dan duduk di bangku yang semula ditempati Leng It-hong, kemudian serunya:

"Hei bocah, kemari kau"

Saat itulah pemuda berbaju ungu itu berjalan mendekat, serunya:

"Ternyata kau orang tua datang jauh lebih awal"

"Aku belum sampai dibikin mati gara-gara mendongkol, tentu saja datang lebih awal" sahut kakek itu.

Tiba-tiba dia menuding ke arah Suto Siau sambil serunya:

"Kau tuangkan arak!"

Kemudian sambil menuding ke arah Hek Seng-thian, serunya lagi:

"Kau pergi siapkan hidangan!"

Kepada Pek Seng-bu perintahnya pula:

"Kau pergi siapkan dua pasang sumpit dan cawan!"

Sedang kepada Seng Cun-hau katanya: "Kau pergi menggotong mayat itu dan buang keluar!"

Terakhir sambil menuding Leng It-hong, perintahnya:

"Kau duduk disini, temani lohu minum arak!" Dalam waktu singkat dia sudah memberi perintah kepada lima orang pria yang ada dalam ruang perahu untuk melakukan tugas, ternyata dia memandang ke lima orang pendekar kenamaan dari dunia persilatan ini bagaikan budak-budaknya.

Biarpun Suto Siau sekalian merasa ngeri terhadap kehebatan kakek itu dan tidak berani bertindak sembarangan, namun mereka pun tidak sudi melakukan tugas yang biasanya mereka perintahkan kepada bawahan untuk melakukan.

"Hei kalian sudah tuli semua?" tiba-tiba terdengar Hong Lo-su mengumpat sambil meng­hentakkan kakinya, "memangnya kalian berani membangkang perintah dari toako ku, sudah ingin modar semua?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Suto Siau segera mengambil teko arak dari meja, sementara Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap kemudian dengan kepala tertunduk pergi mengambil air teh panas.

Mendadak Seng Cun-hau melompat bangun, teriaknya sambil busungkan dada:

"Lebih baik kau bunuh saja diriku!"

"Kenapa harus membunuhmu?" tanya kakek itu.

"Sebab lebih gampang membunuhku, kalau suruh aku menjadi budakmu, hmmm! Lebih sulit dari pada naik ke langit!"

Seng Toa-nio yang berada disampingnya buru-buru menarik ujung bajunya, tapi pemuda itu berlagak seolah tidak merasa.

Siapa sangka kakek berjubah ungu itu sama sekali tidak menjadi gusar, tiba-tiba dia men­dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak:

"Hahahaha.... anak muda, punya semangat, silahkan duduk kembali!"

Seng Cun-hau nampak tertegun, kelihatannya diapun tidak mengira kalau kakek itu memiliki semangat pendekar yang mengagumkan, setelah termangu sesaat tiba-tiba dia berjalan mendekati mayat itu dan membuangnya keluar.

Kakek berbaju ungu itu menatapnya beberapa saat, melihat urusan yang sampai matipun sebenarnya tidak mau dilakukan ternyata saat ini dilakukan tanpa disuruh, tidak kuasa lagi dia berseru sambil tertawa:

"Bocah muda, kau sangat menarik.......bagus, bagus......."

Gara-gara ucapan "bagus" inilah, dimasa men­datang Seng Cun-hau memperoleh banyak manfaat yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.

Tiba tiba terdengar Leng It-hong tertawa seram, ujarnya:

"Cianpwee minta aku menemanimu minum arak, ini merupakan satu kebanggaan bagiku, tapi cayhe merasa hidangan yang tersedia disini kurang segar karena itu telah kusiapkan hidangan lain, bila cianpwee suka, silahkan ikut mencicipi!"

Kelihatannya dia menaruh rasa dendam karena kakek itu telah menempati kursinya, maka sambil berkata dia pun membuka keranjang bambunya sambil disodorkan ke hadapan kakek itu, pikirnya:

"Hmmm, akan kulihat dengan cara apa kau si tua bangka yang sok gagah akan mengunyah makhluk makhluk beracunku"

Begitu menerima keranjang bambu itu, tanpa dilihat sekejappun tiba-tiba kakek berjubah ungu itu menuangkan seluruh isi keranjang bambu tersebut keatas kepala Leng It-hong.

Gerakan yang dia lakukan sederhana sekali dan kelihatannya tidak terlalu cepat, namun Leng It-hong sama sekali tidak mampu menghindar, diiringi teriakan keras tubuh berikut bangkunya seketika roboh terjungkal ke tanah.

Sambil bertepuk tangan kakek berjubah ungu tertawa terbahak bahak, teriaknya:

"Leng It-hong wahai Leng It-hong, itu namanya mencari penyakit buat diri sendiri, mungkin saja aku tidak berani mengusik gurumu, tapi bukan berarti orang lain tidak berani mengusiknya"

Bagaimana pun Leng It-hong adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, kalau tadi dia menjerit keras lantaran kaget maka sekarang tanpa mengeluarkan sedikit suara pun perlahan-lahan menurunkan keranjang bambu dari atas kepalanya.

Dari dalam keranjang bambu muncul dua ekor kalajengking berwarna merah api, yang seekor langsung menyengat wajahnya.

Leng It-hong sama sekali tidak bersuara, seekor demi seekor dia tangkapi kalajengking itu kemudian dilempar ke lantai.

Saat itu sekujur tubuhnya bukan saja sudah mengandung racun jahat bahkan lebih beracun ketimbang kalajengking maupun laba laba beracun itu, bukan saja makhluk beracun itu tidak mampu meracuni nya sampai mati, sebaliknya justru binatang binatang beracun itulah yang sekarat karena terkena racun tubuhnya.

Begitu binatang itu dilempar ke lantai ternyata tidak seekor pun yang bisa bergerak lagi.

Kalau tadi semua orang masih kegelian maka sekarang perasaan hati mereka betul-betul ter­cekat.

Sambil menggebrak meja kakek berjubah ungu itu berseru:

"Waaah.... betul-betul makhluk beracun, kemampuanmu sekarang tidak jauh berbeda dengan si tua bangka yang memelihara racun, tidak heran kalau kau berani pentang bacot didepan orang dan bersikap jumawa!"

"Hmmm, lima racun mematikan tubuh, ibarat bayangan tubuh yang selalu mengintil, penghinaan yang kuterima hari ini pasti akan kubalas dikemudian hari, aku anjurkan kepadamu selanjutnya bersikaplah lebih hati-hati" ancam Leng It-hong dingin.

Setiap patah katanya diucapkan dengan suara dingin bagai salju, membuat setiap orang yang mendengarkan ikut bergidik karena ngeri.

Terdengar kakek berjubah ungu itu mengejek sambil tertawa keras:

"Oooh, jadi kau ingin menuntut balas?"

"Jalan yang terbaik adalah bunuhlah aku manusia she-Leng sekarang juga'"

"Hmmm, kau belum pantas bertarung melawanku, kalau ingin balas dendam panggil gurumu........"

Tiba-tiba wajahnya sedikit berubah, dengan pusatkan perhatian dia seperti sedang mendengar­kan sesuatu, kemudian dengan wajah berseri teriaknya:

"Aaaah, sudah datang, sudah datang...... hei, anak muda, orang yang ditunggu telah datang, kenapa kau masih berada disini?"

"Ananda toh tidak kenal macam apa nona dari keluarga Un itu, kalau ayah tidak membawa jalan, kemana ananda mesti menemukannya?" sahut pemuda berbaju ungu itu cepat.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, pikirnya:

"Nona dari keluarga Un? Jangan-jangan Un Tay-tay yang dimaksud?"

Tampak kakek berjubah ungu itu menghentak­kan kakinya berulang kali seraya mengumpat:

"Binatang, sungguh  menjemukan........" lalu kepada Leng It-hong segera membentak, "Lohu masih ada urusan lain yang lebih penting, tidak ada waktu lagi untuk ribut dengan-mu!"

Diantara kebasan baju dan bergoyangnya cahaya lentera, dalam waktu sekejap bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Leng It-hong tertawa dingin, gumamnya:

"Bagai bayangan yang mengintil tubuh, sampai mati pun tidak akan berhenti....."

"Hey, buat apa kau bergumam sendirian" terdengar Hong Lo-su menegur sinis, "mereka ayah beranak pun sudah pergi jauh, kau bicara untuk siapa?"

"Sudah pergi?" Leng It-hong menyeringai seram, "hmmm! Hmmm! Tidak bakalan bisa kabur!"

"Sudah tahu siapakah orang itu?"

"Siapa?"

Hong Lo-su tertawa keras, serunya:

"Sungguh menggelikan, ternyata siapakah dia pun tidak kau kenal, dia tidak lain adalah si ruyung geledek........."

"Jadi dialah Lui-pian lojin (kakek ruyung geledek)?" berubah hebat paras muka Leng It-hong.

"Tepat sekali!"

Sekarang semua orang baru tahu kalau kakek berjubah ungu itu ternyata tidak lain adalah si Ruyung geledek, diam-diam mereka bergidik.

Thiat Tiong-tong pun ikut berpikir:

"Tidak aneh kalau kakek itu begitu jumawa........."

Tapi ingatan lain segera melintas, pikirnya lebih jauh:

"Aneh sekali jika orang yang dia tunggu benar-benar adalah Un Tay-tay"

Sebenarnya dia ingin menyusul ke sana untuk menonton keramaian, tapi persoalan ditempat inipun cukup menarik perhatiannya.

Setelah tertegun beberapa saat mendadak terdengar Leng It-hong berseru sambil tertawa terkekeh:

"Ruyung geledek! Hmmm, hmmm, sekalipun ruyung geledek lantas kenapa? Belum tentu ruyung geledek sanggup mengunjungi pulau Siang cun-to semau hati sendiri"

"Hmmm, memangnya kau sendiri bisa datang pergi semaunya sendiri di pulau Siang cun-to?" ejek Hong Lo-su sambil tertawa dingin.

"Kalau aku tidak sanggup, buat apa mesti banyak bicara"

"Hahahaha..... kau tidak kuatir ada angin kencang yang mengurungi lidah mu!" Hong Lo-su tertawa keras.

"Bila kau tidak percaya, terpaksa aku harus mohon diri lebih dulu"

Siapa tahu belum sempat dia bangkit berdiri, Hong Lo-su telah membentak duluan: "Tunggu sebentar"

"Tunggu apalagi?"

"Bukankah kita semua adalah orang sendiri" ujar Hong Lo-su sambil terkekeh, "dengan cara apa sih kau bisa sering kali berkunjung ke Pulau Siang cun-to? Beritahu kepada kami bagaimana caramu"

Leng It-hong mendengus dingin.

"Hmmm, aku tahu kalau kalian harus berkunjung ke Pulau Siang cun-to tapi tidak tahu bagaimana cara masuknya, itulah sebabnya dengan senang hati aku datang kemari untuk memberi petunjuk, siapa tahu kalian tidak percaya dengan perkataanku, kelihatannya niat baikku hari ini bakal sia-sia"

Sambil mendelik besar dan menggebrak meja teriak Hong Lo-su:

"Siapa yang tidak percaya?"

Sambil menuding ke arah Hek Seng-thian tegurnya:

"Hei bocah keparat, kau berani bdak percaya?”

Hek Seng-thian tertegun, buru-buru jawabnya:

"Aku.....aku.......percaya, percaya......"

"Suto Siau, berarti kau yang tidak percaya?" bentak Hong Lo-su lagi.

"Aaaah, mungkin tidak ada yang bisa mengalahkan rasa percaya ku atas urusan ini" sahut Suto Siau tersenyum.

Dengan wajah penuh senyuman Hong Lo-su kembali berpaling, katanya:

"Nah, coba lihat, semua orang percaya kepadamu bukan? Kalau masih ada yang tidak percaya, biar aku manusia she-Hong yang akan menjagalnya terlebih dulu"

Leng It-hong mendongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak.

"Hahahaha....... menggelikan! Sungguh meng­gelikan!"

"Kalau begitu tertawalah lebih dulu sebelum Leng-heng melanjutkan perkataanmu"

Bila dia sedang membutuhkan bantuan seseorang, biar orang itu memakinya habis habisan pun Hong Lo-su tetap akan berlagak seolah tidak ada urusan, menanti dia sudah tidak membutuhkan orang itu lagi, ketika memancung kepalanya pun dia tudak akan mengerdipkan matanya.

Kelihatannya Leng It-hong dibuat kehabisan akal juga setelah berhadapan dengan seorang bulim cianpwee yang tidak punya malu macam Hong Lo-su, ujarnya kemudian:

"Bukannya aku enggan memberitahukan caranya, tapi masalahnya tidak segampang itu"

"Jika Leng-heng punya syarat, silahkan saja dikatakan" buru buru Hong Lo-su membujuk.

Kemudian sambil menarik muka, hardiknya:

"Hek Seng-thian, ayoh cepat tuangkan arak panas untuk Leng thayhiap"

Terpaksa Hek Seng-thian harus menahan diri dengan menuangkan secaran arak.

"Buat apa kau tunduk kepadaku?" ejek Leng It-hong.

Hek Seng-thian terbatuk-batuk:

"Ehmm.....uhuu...uhuu......."

Sambil tertawa tergelak Leng It-hong meng­ambil cawan itu, kemudian ujarnya:

"Aku telah mengajak seseorang, asal ada orang ini menemani kita, bukan saja dapat langsung memasuki Pulau Siang cun-to bahkan bisa pula pulang kembali dengan selamat"

Kelihatannya Hong Lo-su sudah tidak kuasa menahan diri lagi, serunya sambil tertawa terkekeh:

"Bagus sekali! Bagus sekali” Rupanya orang itu benar-benar mestika hidup, di mana dia sekarang? Tolong bawalah kemari"

Sambil berkata ia sudah bangkit berdiri.

"Aku telah menyembunyikannya secara baik baik, jadi kau caripun tidak bakalan ketemu"

Sambil tertawa kering Hong Lo-su kembali menempati bangkunya, katanya kemudian:

"Kalau saudara Leng tidak membawanya kemari, siapa yang  berani pergi mencarinya?

Tapi....... sebenarnya siapakah orang itu? Rasanya tidak keberatan bukan untuk menyebut dulu namanya?"

"Im Ceng, murid Perguruan Tay ki bun!"

Hong Lo-su tertegun, mendadak pujinya sambil bertepuk tangan:

"Bagus, bagus sekali!"

"Kalau orang lain tidak tahu, semestinya kau tahu bukan, asal ada dia maka perjalanan kita ke Pulau Siang cun-to akan jauh lebih aman dan lancar ketimbang kita cari hu pelindung tubuh dari Thio Thay-say"

"Hahahaha......betul, orang ini memang ibarat hu pelindung tubuh, sekalipun Ratu matahari keji dan tega, tidak urung diapun akan kebingungan setelah menjumpai dia...... aaah tidak benar, tidak benar, lebih cocok dibilang kalau ingin menggebuk anjingpun harus melihat pemiliknya lebih dulu........"

Makin bicara dia merasa perkataannya semakin membanggakan sehingga akhirnya gelak tertawanya pun semakin bertambah nyaring.

Tapi kecuali dia seorang, siapa pun tidak mampu ikut tertawa, mereka hanya berpikir dengan keheranan:

"Aneh, kenapa Im Ceng bisa memiliki kegunaan sebesar itu? Mana mungkin bisa dijadikan hu pelindung tubuh?"

Diantara sekian orang, perasaan tercengang Thiat Tiong-tong terhitung paling besar, dari pembicaraan yang berlangsung, kendatipun dia pun bisa menduga kalau antara Perguruan Tay ki bun dengan Pulau Siang cun-to pasti terjalin hubungan khusus, tapi selama ini Perguruan Tay ki bun hidup mengasingkan diri jauh diluar perbatasan, sementara Pulau Siang cun-to hidup di sepanjang pesisir pantai, boleh dibilang kedua kelompok ini terpisah jauh sekali, dari mana datangnya hubungan itu? Satu hal yang sangat membingungkan.

Apalagi kalau didengar dari perkataan Hong Lo-su, tampaknya pemilik Pulau Siang cun-to tidak bakalan mencelakai Hong Lo-su sekalian setelah bertemu dengan Im Ceng, hal ini semakin membuktikan kalau hubungan kedua kelompok ini pasti akrab sekali.

Dalam semalaman, ada begitu banyak rahasia besar yang didengar Thiat Tiong-tong, tapi setelah mendengar semua rahasia itu, bukannya masalah bertambah jelas, dia merasa makin kebingungan dan bodoh.

Pikirannya jadi kalut, pelbagai persoalan serasa berkecamuk dalam benaknya, pembicaraan yang kemudian terjadi antara Hong Lo-su dengan Leng It-hong pun terabaikan dengan begitu saja, jangan lagi mengerti artinya, mendengar sekecap pun tidak.

Tiba-tiba terdengar Hong Lo-su berseru sambil tertawa aneh:

"Aku akan mengabulkan semua syarat yang kau ajukan, sekarang Im Ceng bisa diajak kemari bukan?"

Kini Thiat Tiong-tong baru tahu, rupanya pembicaraan yang barusan berlangsung hanya mempersoalkan pertukaran syarat.

Terdengar Leng It-hong sedang bertanya:

"Apakah ucapanmu sebagai seorang Bu-lim cianpwee bisa dipercaya?"

"Soal itu mah tidak usah kuatir" sahut Hong Lo-su, "ayoh cepat! Cepat!"

Leng It-hong segera tertawa terkekeh.

"Hahahaha..... kalau menginginkan kehadiran Im Ceng mah gampang sekali! Katanya.

Sambil berkata dia mengayunkan tangannya, sebuah mercon pun meluncur keluar dan meledak di angkasa.

Begitu bunga api memancar ke empat penjuru, perhatian semua orang pun sama-sama dialihkan ke pintu perahu. Siapa tahu biarpun setengah perminum teh sudah lewat pun tidak nampak munculnya sesosok bayangan manusia pun.

Habis sudah kesabaran Hong Lo-su, tegurnya dengan kening berkerut:

"Bagaimana?"

"Sudah hampir........sudah hampir........." sahut Leng It-hong sambil tertawa kering.

Kembali beberapa saat sudah lewat, perasaan tidak sabar kini muncul diatas wajahnya, sambil bangkit berdiri gumamnya:

"Apa yang telah terjadi? Jangan jangan.......jangan jangan......."

"Jangan-jangan kau hanya sedang mengibul!" jengek Hong Lo-su sambil tertawa dingin.

Leng It-hong sama sekali tidak menjawab, mendadak dengan wajah berubah teriaknya:

"Celaka! Pasti telah terjadi perubahan, aku harus pergi memeriksanya"

Sambil berseru dengan cepat dia melompat keluar dari ruang perahu.

"Mau kabur?" ejek Hong Lo-su sambil tertawa dingin, "jangan harap, hari ini aku Hong Lo-su akan menempel terus dibelakangmu"

Bagaikan bayangan tubuh saja, dia segera mengintil di belakang Leng It-hong.

Thiat Tiong-tong sendiripun diam-diam merasa panik, dia cukup mengetahui kemampuan kerja Sim Sin-pek dan tidak mungkin manusia licik itu melakukan kesalahan fatal.

Kalau sekarang dia tidak muncul tepat waktu berarti telah terjadi perubahan diluar dugaan, tapi baik buruknya perubahan itu susah untuk diramalkan.

Dalam pada itu Hong Lo-su, Leng It-hong dan Suto Siau sekalian satu per satu telah melompat naik ke daratan.

Dalam waktu singkat susah terlihat ilmu meringankan tubuh siapa yang paling tangguh diantara sekian jago, kecuali Hong Lo-su, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Leng It-hong terhitung paling tinggi.

Seng Cun-hau meski hebat dalam ilmu pedang, dasar kepandaian silatnya pun cukup mengagum­kan, karena ilmu meringankan tubuh bukan ilmu andalannya, lompatannya kali ini nyaris tidak bisa menghantarnya naik ke daratan.

Thiat Tiong-tong harus menunggu sampai semua orang sudah mencapai daratan, dia baru secara diam-diam mengikuti dari belakang, tapi dia yakin ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya meski belum dapat melampaui kemampuan Hong Lo-su, paling tidak selisihnya pun tidak banyak.

Pada saat itulah, ditengah hembusan angin malam lamat-lamat terdengar suara bentakan nyaring diikuti suara pertarungan dan teriakan wanita yang amat keras, bukan saja Hong Lo-su sekalian dapat mendengarnya, Thiat Tiong-tong pun dapat mendengarnya dengan jelas sekali.

Leng It-hong segera mempercepat langkahnya, dalam belasan lompatan kemudian dia sudah saksikan ada segerombol bayangan manusia sedang mengepung kereta kudanya rapat-rapat.

Bayangan tubuh si Ruyung geledek ayah dan anak kelihatan paling mencolok, disamping mereka berdiri pula enam, tujuh orang wanita berkeiudung yang berdiri tidak bergerak disana bagaikan sukma gentayangan.

Im Ceng yang semula tidak sadarkan diri kini sudah turun dari keretanya, sementara Sim Sin-pek yang bertugas menjaga Im Ceng, saat ini justru sedang berlutut dihadapan Im Ceng.

Tampaknya Leng It-hong tidak menyangka kalau persoalan dapat berubah jadi begitu rupa, sementara Hong Lo-su pun nampak sangat terkejut, tanyanya:

"Apa yang telah terjadi?"

"Dari mana aku tahu" sahut Leng It-hong.

"Kalau begitu   pergilah melakukan penyeli­dikan, aku akan menunggu mu di perahu"

"Kau saja yang melakukan penyelidikan" seru Leng It-hong sambil tertawa dingin, "aku akan menunggumu di perahu"

Siapa pun diantara kedua orang itu tidak ada yang berani maju, bahkan mereka bersiap sedia melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar Lui pian lojin (kakek ruyung geledek) membentak nyaring:

"Kalau sudah datang, kalian tidak usah balik lagi!"

Bukan saja orang tua ini seolah memiliki sepasang mata dipunggungnya, ketajaman pen­dengarannya betul-betul mengagumkan.

Hong Lo-su sert Leng It-hong saling bertukar pandangan sekejap, akhirnya sambil keraskan kulit kepala mereka pun berjalan menghampiri.

Terlihat Im Ceng menuding wajah Sim Sin-pek sambil mencaci makinya habis-habisan, sementara Sim Sin-pek hanya berlutut sambil menundukkan kepalanya dan bergumam berulang kali:

"Hamba tidak tahu apa-apa, hamba hanya menjalankan perintah"

"Hmm, selama ini aku menganggap dirimu bagaikan saudara sendiri, sekalipun kau sedang menjalankan perintah pun tidak seharusnya berbuat begini, coba kalau bukan para hujin itu keburu datang, mungkin nyawaku sudah melayang di tanganmu saat ini!"

Rupanya Sim Sin-pek yang harus menunggu lama pada akhirnya tidak mampu menahan sabar lagi sehingga dia putuskan untuk turun dari kereta sambil melihat keadaan, dia percaya ditengah malam buta begini tidak mungkin jejaknya akan ketahuan orang.

Pada saat itulah secara kebetulan Un Tay-tay bersama rombongan wanita suci itu lewat disana, sudah sejak lama Un Tay-tay mengetahui akan kelicikan Sim Sin-pek, menyaksikan gerak geriknya yang mencurigakan, dia segera tahu kalau orang itu tentu sedang menjalankan sebuah rencana busuk.

Begitu melihat kemunculan kawanan wanita suci bercadar hitam, Sim Sin-pek ketakutan setengah mati hingga lemas kakinya, cepat-cepat dia lari balik ke dalam ruang kereta sambil berharap kawanan wanita itu lupa akan dirinya.

Mimpi pun dia tidak menyangka kalau Un Tay-tay menjadi salah satu dari kawanan wanita berkerudung hitam, baru saja dia menutup pintu kereta, tahu-tahu pintu kembali dibuka orang kemudian seseorang menyeretnya keluar.

Begitu tahu siapa yang berada dalam kereta, Un Tay-tay terkejut sekali, cepat dia menotok bebas jalan darah ditubuh Im Ceng.

Begitu mendusin dari mabuknya, Im Ceng sendiripun tidak menyangka kalau wanita berkerudung yang menyelamatkan jiwanya adalah Un Tay-tay, dia pun turun dari kereta dan mulai mencaci maki Sim Sin-pek habis-habisan.

Kebetulan waktu itu Lui-pian ayah beranak sedang lewat disana, mereka pun segera menyusul ke tempat kejadian.

Begitu Un Tay-tay menyaksikan kemunculan kakek berjubah ungu itu, kontan dia ketakutan setengah mati dan tidak berani bersuara lagi.

Masih untung cuaca waktu itu masih gelap gulita sehingga sulit bagi siapa pun untuk mengenalinya.

Leng It-hong sendiripun kuatir kalau sampai Im Ceng mengetahui kehadirannya, tanpa bergerak dia berdiri dibelakang Hong Lo-su, bukan berarti dia takut kepada Im Ceng, yang dikuatirkan justru kawanan wanita berkerudung anak buah Ratu matahari.

Sudah barang tentu Suto Siau semakin tidak berani tampil diri, dia bersembunyi di belakang Leng It-hong, Hek Seng-thian bersembunyi dibelakang Suto Siau sementara Pek Seng-bu bersembunyi di belakang Hek Seng-thian.

"Dasar kawanan manusia tidak berguna" umpat Seng Toa-nio seolah menggerutu, tapi dia sendiripun tidak berani tampil ke   depan sebaliknya malah bersembunyi dibelakang Pek Seng-bu tanpa bergerak.

Menyaksikan kesemuanya ini, Seng Cun-hau hanya bisa menghela napas panjang, dia pun membalikkan tubuh sambil membuang muka, sebagai seorang pendekar dia malu menyaksikan sikap asor dari rekan-rekannya.

Dengan demikian, sekalipun Im Ceng berpaling ke arah mereka maka yang terlihat olehnya hanya Hong Lo-su seorang, apalagi saat itu dia sedang diliputi perasaan gusar yang meluap, didalam pandangannya kecuali Sim Sin-pek seorang, boleh dibilang dia tidak melihat siapapun.

Un Tay-tay sendiripun merasa amat sedih bercampur girang, sedih karena meski sang kekasih ada didepan mata namun mereka tidak bisa saling mengenal, girang karena kekasihnya terbebas dari pelbagai masalah.

Tiba-tiba terdengar Lui-pian lojin membentak nyaring:

"Anak muda, sudah habis makianmu?"

"Apa urusannya dengan dirimu?" sahut Im Ceng sambil melotot gusar.

"Dasar bocah ingusan, berani amat kau bersikap kurangajar, sudah tahu siapakah aku?"

"Hmm, anak murid Perguruan Tay ki bun tidak pernah takut menghadapi siapapun!" sahut Im Ceng lantang.

Suto Siau sekalian diam-diam kegirangan setelah menyaksikan pemuda itu berani bersikap kurang ajar terhadap Lui pian lojin, mereka sangka kali ini Im Ceng pasti akan dihajar habis habisan.

Siapa tahu watak Lui pian lojin memang aneh sekali, dia paling suka menghadapi pemuda bersemangat macam begini, bukannya gusar dia malah memuji sambil tertawa:

"Ternyata anak murid Perguruan Tay ki bun memang bersemangat dan tulangnya terbukti keras sekali"

"Bagus kalau sudah tahu!"

Lui pian Lojin tertawa tergelak, kembali ujarnya: "Lohu hanya ingin berbicara beberapa patah kata dengan beberapa orang hujin yang barusan menolongmu, apabila kau belum selesai memaki, teruskan saja, teruskan saja, tidak ada salahnya lohu akan menunggu sejenak lagi"

Im Ceng melirik kawanan wanita bercadar itu sekejap, perkataan itu justru membuatnya merasa sungkan, maka katanya cepat:

"Bila kalian ingin berbicara disini, baiklah, biar aku berpindah tempat dan melanjutkan makianku ditempat lain"

Wataknya memang tidak jauh berbeda dengan watak Seng Cun-hau, tunduk pada cara lunak daripada cara kekerasan.

Kontan Lui pian Lojin tertawa terbahak-bahak: "Hahahaha... bagu! Bagus sekali anak muda..." Kemudian sambil menjura ke arah kawanan wanita bercadar itu, sapanya:

"Apakah belakangan ini Jit ho hujin dalam keadaan sehat?"

Wanita bercadar yang berdiri ditengah segera menjawab:

"Kau sendiri pun tetap tegap dan sehat, tentu saja Jit ho hujin selalu sehat walafiat!"

"Cengli, cengli........" Lui-pian Lojin manggut-manggut, "dimana Un Tay-tay berada?"

Pertanyaan yang diajukan sangat mendadak ini seketika membuat sebagian orang yang hadir disitu terperanjat, bahkan Im Ceng yang sudah siap membopong tubuh Sim Sin-pek pun seketika menghentikan langkahnya.

"Siapa itu Un Tay-tay?" tanya perempuan bercadar itu dingin.

Sekali lagi Lui pian Lojin tertawa terbahak bahak.

"Hahahahaha.....kalian tidak usah mengelabuhi lohu lagi, sejak keluar meninggalkan kuil Siau-lim, jejak Un Tay-tay ikut lenyap tidak berbekas, kalau bukan sudah bergabung dengan kalian, mana mungkin lohu gagal menemukan-nya?"

"Belum tentu begitu"

Sambil mengelus jenggotnya kembali Lui pian Lojin tersenyum, ujarnya:

"Bila Un Tay-tay tidak ikut bergabung dengan kalian, lohu bersedia pertaruhkan kulit wajahku ini"

"Bila kau berkeinginan memenggal batok kepala sendiri, kami semua tidak bakalan mencegah" tukas perempuan itu cepat.

Tiba-tiba Lui pian Lojin menghentikan gelak tertawanya, dengan gusar dia berseru:

"Jadi kau tidak mau mengakui juga, memang­nya kalian ingin lohu......."

"Kalau kau bersikeras menuduh Un Tay-tay ikut bergabung dengan kami, kenapa tidak tunjuk hidung saja" tukas perempuan itu semakin ketus, "tapi kalau sampai gagal, hmmmm! Hmmmm!"

Perempuan berbaju hitam lainnya segera menimpali:

"Kalau kau sampai salah tunjuk orang, aku kuatir hubunganmu dengan Jit ho dimasa mendatang bakal tidak lancar"

Nada suaranya dingin lagi hambar, tidak jauh berbeda dengan nada bicara rekannya.

Lui pian Lojin tertegun, dia mencoba perhati­kan kawanan wanita itu, tapi ke tujuh orang perempuan bercadar itu nyaris berdandan sama, dari ujung kepala hingga ujung kaki boleh dibilang semuanya terbalut dibalik kain hitam.

Bukan hanya dandanannya sama, perawakan tubuh ke tujuh orang wanita itupun hampir berimbang.

Terdengar perempuan yang ada disisi kiri bertanya:

"Akukah Un Tay-tay?"

Menyusul kemudian wanita disampingnya melanjutkan:

"Akukah Un Tay-tay?"

Satu per satu ke tujuh orang wanita itu mengajukan pertanyaan yang sama, nada suara mereka nyaris tidak jauh berbeda.

Coba kalau mereka bertujuh tidak bergerak, siapa pun tidak akan mampu menunjukkan perbedaan diantara mereka.

Sepanjang hidupnya sudah begitu banyak masalah pelik yang pernah dihadapi Lui pian Lojin, namun belum pernah dibuat serba salah seperti hari ini, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri terbelalak tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong telah berputar satu lingkaran dan menyembunyikan diri di belakang kereta kuda itu.

Dia sendiri meski yakin kalau salah satu diantara ke tujuh wanita bercadar itu adalah Un Tay-tay, namun dia pun merasa tidak berdaya untuk tunjuk hidung, siapa diantara mereka adalah orang yang dimaksud.

Bukan hanya dia, bahkan termasuk Im Ceng dan Suto Siau pun tidak mampu membedakannya.

Terdengar perempuan bercadar itu berkata lagi: "Bila kau merasa tidak mampu untuk tunjuk hidung, lebih baik jangan mencari masalah lagi"

"Soal ini....... soal ini......." Lui-pian Lojin cemas bercampur gusar.

Mendadak dengan sekali lompat Sim Sin-pek menyembah dihadapannya sambil berteriak keras:

"Bila hamba sanggup menunjukkan dimana Un Tay-tay bersembunyi, apa pula yang hendak cianpwee lakukan?"

"Lohu saja tidak mampu mengenali, apalagi kau seorang bocah busuk yang tidak tahu diri?" bentak Lui-pian Lojin gusar, "baik! Bila kau dapat mengenali, lohu jamin keselamatanmu hari ini"

"Sungguh?"

Dengan jengkel Lui pian Lojin menendangnya hingga jatuh berguling, umpatnya penuh amarah:

"Apa itu sungguh atau palsu, setiap perkataan lohu ibarat larinya seribu ekor kuda, mau dikejar pun tidak mungkin"

Biarpun kena didepak keras, Sim Sin-pek justru memperlihatkan wajah kegirangan, serunya:

"Hamba tidak bermaksud mengatakan kalau ketajaman mataku jauh melebihi kau orang tua, kebetulan saja barusan tanpa sengaja Un Tay-tay telah memperlihatkan jejaknya"

"Jejak apa? Kalau ingin dilaporkan cepat katakan"

"Kecuali Un Tay-tay, tidak seorangpun yang bakal mengenali hamba, terlebih mengenali Im.......Im thayhiap, tapi ada seorang hujin berbaju hitam yang langsung menyebutkan nama hamba serta Im thayhiap begitu bertemu kami, saat itu juga hamba segera menduga siapa gerangan hujin itu"

"Sekalipun saat itu kau dapat menduga, bukan berarti sekarang kau masih bisa mengenalinya kembali"

Sim Sin-pek segera tertawa.

"Ketika hujin itu menarik tangan hamba tadi, secara  diam-diam  hamba telah meninggalkan tanda rahasia ditangannya, tanda itu kutinggalkan tanpa dia sadari...."

Ketika mendengar perkataan itu, tanpa sadar perempuan bercadar nomor dua dari sebelah kanan segera menarik tangannya dan menyembunyikan dibalik saku.

Sim Sin-pek yang menyaksikan hal tersebut kontan berteriak keras:

"Dialah orangnya!"

Baru selesai dia berteriak, Lui pian Lojin sudah menerjang ke hadapan perempuan itu dengan kecepatan tinggi, bentaknya:

"Yaa, kaulah orangnya! Un Tay-tay, apakah kau masih ingin kabur!"

Terlihat wanita berbaju hitam itu berdiri dengan tubuh gemetar keras.

Terdengar Sim Sin-pek berseru sambil tertawa terbahak bahak:

"Hahahaha.... Un Tay-tay, siapa suruh kau menarik tanganmu sambil disembunyikan dibalik saku, padahal ditanganmu itu sama sekali tidak ada tanda apa-apa?"

Thiat Tiong-tong merasa terkejut, keheranan bercampur rasa sayang, terkejut dan heran karena dia tidak tahu kenapa orang tua itu begitu getol mencari Un Tay-tay, merasa sayang karena manusia secerdik Sim Sin-pek kenapa perbuatan-nya justru licik dan berhati busuk.

Tampak perempuan berbaju hitam itu menghentakkan kakinya berulang kali sambil berteriak keras:

"Mau kenali aku atau tidak, aku tidak ambil perduli, pokoknya sampai mati pun aku tidak bakalan mengikuti dirimu"

Sambil berkata dia tanggalkan kain cadar dari wajahnya, maka muncullah seraut wajah yang meski cantik namun kelihatan sangat murung.

Begitu menyaksikan wajah perempuan itu, tanpa terasa sekujur tubuh Im Ceng gemetar keras.

Kembali Lui-pian Lojin tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha......... kini lohu telah berhasil mengenalimu, bagaimanapun juga kau harus pergi bersamaku"

"Kenapa?" tiba tiba perempuan bercadar yang berdiri dipaling tengah menegur dingin.

"Karena dia sudah terikat janji dengan lohu"

"Dia sudah mati satu kali" tukas perempuan itu cepat, "berarti semua perjanjian dimasa hidupnya yang lampau tidak perlu dipenuhi lagi"

Kemudian setelah tertawa dingin lanjutnya:

"Sebab orang yang sudah mati tidak akan mampu melakukan pekerjaan apa pun!"

"Hahahahaha.....betul, kalau ingin menjadi anak buahnya Ratu matahari, dia memang wajib mati satu kali" kata Lui pian Lojin sambil tertawa tergelak, "tapi khusus baginya, biar sudah matipun perjanjan ini masih tetap berlaku"

"Kenapa?"

"Sebab perjanjian yang kami sepakati adalah menyerahkan tubuhnya kepada lohu, sekalipun tidak disebut dalam kondisi hidup atau mati, tapi yang pasti biar hidup atau mati, tubuh itu tetap menjadi milikku"

Satu pernyataan yang sangat lihay, kawanan wanita bercadar itupun tidak sanggup berkata-kata lagi, sebab dalam hal ini biar orang mati pun masih tetap dapat melakukannya.

Un Tay-tay memandang sekeliling tempat itu sekejap, dua baris air mata segera jatuh bercucuran.

Tiba-tiba terdengar Im Ceng membentak keras, sambil tampil ke depan teriaknya:

"Bagaimana pun juga kau masih terhitung seorang bulim cianpwee, kenapa perbuatanmu justru begitu memalukan, menganiaya kaum wanita lemah...... Hmmm! Sekalipun orang lain enggan mencampuri, hari ini aku orang she-Im tetap akan mengurusi hal ini"

Sekali lagi Un Tay-tay gemetaran keras, pancaran sinar girang muncul dari balik matanya. Ternyata Im Ceng masih begitu menaruh perhatian terhadapnya, sekalipun benar-benar harus mati, kini dia akan menerimanya dengan rela.

Dengan mata melotot Lui pian Lojin mengawasi wajah Im Ceng beberapa saat, tiba-tiba sambil bertepuk tangan dan tertawa keras serunya:

"Betul, betul, ternyata kau orangnya! Kenapa tidak kukenali sejak tadi"

"Kenapa tidak dikenali?" Im Ceng tertegun, "ngaco belo saja perkataanmu itu"

"Lohu pernah selamatkan nyawamu, kenapa kau malah bersikap begitu kurangajar kepadaku?"

Rupanya dia sudah mengenali kalau pemuda itu tidak lain adalah anak muda yang dia hantar masuk ke dalam kuil Siau-lim.

"Kau pernah selamatkan nyawaku?" tanya Im Ceng tetap tidak habis mengerti.

"Kalau bukan lohu, mana mungkin kau bisa memasuki kuil Siau-lim-sie?"

"Tapi...tapi dia...." Im Ceng merasa terkejut bercampur ragu.

"Justru lantaran ingin selamatkan nyawamu, maka dia serahkan tubuhnya untuk lohu" sela Lui pian Lojin cepat, "bocah goblok, masa sampai sekarang pun kau masih belum tahu?"

Im Ceng berdiri dengan tubuh gemetar keras, dengan wajah tertegun dia mundur sempoyongan beberapa langkah ke belakang.

"Hei anak muda, kemari kau" kembali Lui pian Lojin menggapai ke arah pemuda berbaju ungu.

Sambil tertawa getir pemuda berbaju ungu itu maju mendekat.

"Berdiri di samping nona Un!" kembali perintah Lui pian Lojin.

Sambil mendeham berulang kali pemuda berbaju ungu itu berjalan ke depan dan berdiri disisi perempuanku.

Dalam pada itu Un Tay-tay hanya berdiri termangu sambil mengawasi wajah Im Ceng, terhadap urusan lain tampaknya dia tidak meng­gubris maupun ambil perduli.

Dengan sorot matanya yang tajam Lui pian Lojin memperhatikan putranya sekejap, lalu memperhatikan pula wajah Un Tay-tay, setelah itu sambil tertawa tergelak serunya:

"Bagus! Bagus! Benar-benar sepasang muda mudi yang serasi, yang laki tampan yang wanita cantik lagi cerdas, lain waktu kalian pasti akan melahirkan cucu hebat untuk lohu, hahahaha.... hahahaha.....bagus, sungguh bagus......"

Saat itulah Un Tay-tay baru tersentak sadar dari lamunannya, mendengar ucapan tersebut, serunya keheranan:

"Apa? Cucu?"

"Putra yang kau lahirkan bersama anakku bukankah cucuku? Cucu dalam?" seru Lui pian Lojin cepat, kuatir orang lain tidak paham, kembali dia menjelaskan secara terperinci.

Tampaknya penjelasan ini sama sekali diluar dugaan Un Tay-tay, kembali ujarnya tergagap:

"Jadi  kau..... kau ingin aku bersama putramu........."

Dengan wajah penuh rasa bangga Lui-pian Lojin berkata lagi:

"Selama hidup lohu selalu malang melintang tanpa tandingan, kalau cucuku tidak hebat, bukankah hal ini akan menjadi satu penyesalan? Oleh sebab itu lohu mesti mendapatkan menantu pilihan......."

Setelah tertawa tergelak berulang kali, terusnya: "Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya kutemukan dirimu. Lohu sudah cukup lama mengamati sifat manusia, lohu tahu bila memperoleh wanita goblok maka putranya pasti goblok, kalau mendapat wanita cerdik pasti akan melahirkan putra cerdik, teori ini tidak bakal berubah dari dulu hingga nanti. Sekarang lohu telah memperoleh menantu cantik lagi cerdik macam kau, dapat dipastikan seorang cucu hebat pasti akan bergabung dalam keluarga kami...... hahahaha...... coba lihat, putraku ganteng, gagah, bun bu coan cay, bukankah merupakan pasangan serasi denganmu"

Makin bicara orang tua itu merasa semakin bangga, sebaliknya pemuda berbaju ungu itu hanya bisa berdiri sambil tertawa getir, sementara batuknya pun makin bertambah keras.

Hong Lo-su ikut terkekeh, serunya:

"Bagus! Bagus! Sungguh bagus! Nona Un, kenapa tidak segera berlutut dan memanggil loya kepadanya!"

Saat itu Im Ceng sudah tidak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba teriaknya keras:

"Kentut!"

"Bocah bodoh, minggir kau"

"Un Tay-tay itu milikku, apa pun yang terjadi aku tidak akan biarkan dia kawin dengan anak busukmu!"

Entah apa sebabnya, bahkan Im Ceng sendiri­pun tidak paham, kenapa dia bisa mengucapkan kata-kata semacam itu, tapi bagi pendengaran Un Tay-tay, ucapan tersebut nyaris membuatnya jatuh pingsan, semaput gara-gara kegirangan.

"Bocah goblok" umpat Lui pian Lojin dengan kening berkerut kencang, berkerut saking gusar­nya, "kau tahu siapakah lohu? Kurang ajar kepadaku mah masih mendingan, kau berani memaki putraku?'

"Kalau berani lantas kenapa?"

"Keparat!" teriak Lui pian Lojin naik pitam, "hei bocah muda, cepat kasih pelajaran kepada si burung dogol itu"

Rupanya panggil 'bocah muda' tanpa embel yang lain dimaksudkan untuk memanggil putranya.

"Tapi.....tapi......." kelihatan sekali pemuda berbaju ungu itu agak keberatan.

"Tapi kenapa?" kembali Lui pian Lojin mem­bentak, "memangnya kau ingin menjadi anak tidak berbakti? Ayoh cepat........ mengingat bocah goblok itu punya keberanian, jangan kau lukai nyawanya"

"Baik........" akhirnya pemuda berbaju ungu itu menghela napas.

Siapa tahu Im Ceng bertindak jauh lebih cepat, tidak menunggu sampai dia menyelesaikan perkataannya, sebuah pukulan telah dilontarkan ke depan.

Terdengar Hong Lo-su segera berteriak aneh: "Eei keparat, kenapa pukulan Siau-lim-kun yang kau gunakan?"

Baru selesai dia bicara, Im Ceng telah melepas­kan lima buah pukulan berantai, karena itu kembali teriaknya:

"Hiattit, coba lihat, bocah dungu itu menyerang sungguhan, memangnya kau pingin digebuk? Ayoh cepat dibalas!"

Menggunakan kesempatan itu, perempuan bercadar yang ada ditengah segera berbisik disisi telinga Un Tay-tay:

"Kami akan berusaha menahan kakek itu, gunakan kesempatan nanti untuk kabur dari sini!"

"Tapi.... ke mana aku pergi?" tanya Un Tay-tay dengan kepala tertunduk.

Perempuan berbaju hitam itu segera menyu­supkan sebuah peluit tembaga ke tangannya sambil berbisik:

"Tiuplah peluit itu begitu tiba di pesisir, akan muncul perahu yang akan menjemputmu, asal sudah tiba di Pulau Siang cun-to, kau tidak perlu kuatir lagi terhadap siapa pun"

Kemudian dia menggapai sambil memberi tanda, ke enam orang wanita berbaju hitam itu serentak bergerak ke depan dan mengepung Lui pian Lojin rapat-rapat, gerakan tubuh mereka cepat bagaikan sambaran kilat.

"Mau apa kalian berenam?" bentak Lui pian Lojin gusar.

"Mau memaksamu agar tidak mampu melolos­kan diri" sahut perempuan bercadar itu cepat.

Dengan gerakan cepat ke enam orang itu berputar tiada hentinya, tiba-tiba setiap orang melepaskan satu pukulan, langsung menghantam bahu kakek itu.

"Minggir!" bentak Lui pian Lojin gusar, "selama hidup lohu tidak sudi bertarung melawan kaum wanita

"Tidak sudi pun tetap harus melayani kami"

Enam orang secara berantai melancarkan serangan secara bertubi tubi, kerja sama mereka selain erat pun gerak serangannya aneh, membuat siapa pun jangan harap bisa loloskan diri secara gampang.

Sekalipun Lui pian Lojin termasuk jagoan tangguh, tidak urung dia terjerumus juga dalam kepungan yang rapat, biarpun dia mencak-mencak kegusaran, untuk sesaat jangan harap bisa loloskan diri dengan mudah.

Un Tay-tay mulai bergeser menjauhi tempat itu, namun sepasang matanya serasa melekat ditubuh Im Ceng, sama sekali tidak sanggup berpindah dari situ.

Waktu itu Im Ceng menyerang semakin gencar, pukulan demi pukulan dilontarkan ke tubuh pemuda berbaju ungu itu bagai titiran hujan badai, sementara pemuda berbaju ungu itu seolah tidak berdaya melancarkan serangan balasan, tapi seperti juga dia memang sama sekali tidak berhasrat untuk melayani pertarungan itu.

Un Tay-tay tidak ingin pergi dari situ, namun tidak bisa tidak harus pergi, baru saja dia nekad hendak beranjak dari sana, mendadak matanya menangkap wajah Hong Lo-su yang sedang memandang kearahnya sambil tertawa licik.

Bersamaan waktu diapun menyaksikan Leng It-hong dan Suto Siau yang berdiri dibelakang Hong Lo-su, perasaan hatinya makin tercekat, pikirnya:

"Kalau aku pergi sekarang, bukankah diriku akan terjatuh ke cengkeraman setan mereka?"

Dia lebih suka ditawan Lui pian Lojin ketimbang terjatuh ke tangan kelompok manusia busuk itu, karena itu langkahnya seketika terhenti. Saat ini keadaannya boleh dibilang maju salah mundurpun salah.

Tiba-tiba terdengar pemuda berbaju ungu itu berbisik:

"Kereta kuda itu kosong"

Tergerak hati Un Tay-tay, sebelum dia sempat bertanya Im Ceng sudah membentak guluan:

"Kalau kosong ada apa?"

Sambil berkelit dari pukulan, kembali pemuda berbaju ungu itu berbisik:

"Kalau kosong berarti bisa dinaiki, kalau bisa dinaiki berarti bisa digunakan untuk kabur"

"Jangan harap kau bisa kabur!" seru Im Ceng gusar.

Pemuda itu mendongkol bercampur geli, untunglah Un Tay-tay segera datang sambil berbisik:

"Dia suruh kau yang naik kedalam kereta dan kabur!"

Im Ceng sama sekali tidak  menghentikan serangannya, kembali ujarnya penuh amarah: "Kenapa aku harus kabur!"

"Paling tidak kau toh bisa mengajak nona Un untuk melarikan diri dari sini bukan?” kata pemuda berbaju ungu itu sambil menghela napas.

Sekarang Im Ceng baru tertegun dibuatnya:

"Apa.....apa kau bilang?"

"Pemuda bodoh! Kau benar-benar pemuda bodoh!" kata pemuda berbaju ungu itu sambil menghela napas lagi, "kalian berdua bisa kabur dari sini sementara biar aku yang menghadang kepergian para pengejar, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa disini"

"Hmmm! Masa begitu baik hatimu?"

"Un Tay-tay cantik bak bidadari dari kahyang­an, jangan kau sangka aku tidak terpikat olehnya, kalau kau masih juga tidak pergi, bisa jadi aku benar-benar akan mengawininya menjadi biniku"

Segoblok apa pun saat ini Im Ceng sudah merasakan juga niat baik dari pemuda itu, timbul perasaan terima kasih dihati kecilnya, tapi di luaran kembali bentaknya:

"Bocah keparat, kau......."

"Baik, anggap saja aku memang keparat. Sudahlah, sekarang bisa naik ke dalam kereta?"

Un Tay-tay tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, sambil tertawa cekikikan dia menyelinap masuk ke dalam ruang kereta.

Akhirnya Im Ceng menghentikan serangannya:

"Tapi..........."

Tidak menanti dia menyelesaikan perkataan-nya mendadak pemuda berbaju ungu itu mengayunkan tangannya, tidak jelas apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah cengkeram urat nadi Im Ceng dan mendorong tubuhnya ke dalam kereta kuda, kemudian sambil berpekik nyaring dia sentil perut kuda-kuda itu.

Diikuti suara ringkikan panjang, kuda-kuda itu pun berlarian kencang meninggalkan tempat itu.

Dengan bergeraknya sang kereta, Thiat Tiong-tong yang bersembunyi di belakang kereta pun tidak bisa menyembunyikan diri lagi, tapi dia enggan munculkan diri dalam situasi dan keadaan seperti ini, terpaksa sambil tetap membonceng dibelakang ruang kereta, dia ikut berlalu pula dari tempat itu.

Bersamaan dengan bergemanya suara ringkikan kuda, pemuda berbaju ungu itu telah menyelinap ke hadapan Hong Lo-su dan Leng It-hong sekalian sambil merentangkan sepasang tangannya lebar-lebar, tegurnya sambil tersenyum:

"Apakah kalian masih kenal aku?"

"Tentu saja masih........" sahut Hong Lo-su, "kenapa kau justru membiarkan kereta kuda itu berlalu........."

Sambil mengebaskan ujung bajunya, dia siap melakukan pengejaran.

Hek Seng-thian, Pek Seng-bu maupun Suto Siau serentak ikut menggerakkan tubuhnya untuk melakukan pengejaran.

Siapa tahu, biarpun usia pemuda berbaju ungu itu masih sangat muda ternyata kungfunya sangat hebat, kemana pun Hong Lo-su bergerak, tubuhnya selalu bergerak lebih cepat untuk menghalangi jalan perginya, sementara dengan sorot mata yang tajam dia melotot ke arah Suto Siau sekalian sambil berseru:

"Kalian belum menjawab pertanyaanku, jangan pergi dulu"

Keangkeran dan keperkasaan pemuda itu seketika membuat Suto Siau sekalian tidak berani berkutik, mereka benar-benar tercekat hatinya.

Sambil menahan rasa gusar, buru-buru sahut Hong Lo-su:

"Kau adalah putra Lui pian Lojin, masa aku tidak mengenalinya?"

Pemuda berbaju ungu itu tertawa.

"Tidak  berani, tidak  berani........." katanya, kemudian sambil menuding ke arah Suto Siau sekalian lanjutnya, "boleh tahu nama besar dari beberapa orang hengtay ini?"

Tidak terlukiskan rasa gusar Hong Lo-su saat itu, namun memandang wajah Lui pian Lojin dia tidak berani mengumbar amarahnya, terpaksa sambil melotot jengkel ke arah pemuda berbaju ungu itu, dia perkenalkan nama Suto Siau sekalian satu demi satu.

Pemuda berbaju ungu itu segera tertawa tergelak, sambil menyingkir ke samping memberi jalan lewat katanya:

"Silahkan  kalau   kalian  hendak  melakukan pengejaran!"

"Sekarang mau mengejarnya kemana!" teriak Hong Lo-su mendongkol.

"Kalau saat ini mereka masih terkejar, tentu saja aku tidak akan membiarkan kalian melakukan pengejaran"

Biarpun Hong Lo-su gusarnya setengah mati, diapun tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa sambil menghentakkan kakinya berulang kali, dia mencaci maki habis-habisan, tidak jelas siapa yang menjadi sasaran makiannya.

Pemuda berbaju ungu itu tidak menggubris dirinya lagi, ketika berpaling ke arah lain, dia saksikan ke enam orang wanita bercadar itu berputar semakin gencar, nyaris sudah tidak kelihatan lagi bayangan tubuh mereka, kini yang tersisa tinggal segulung bayangan abu-abu yang samar.

Lui pian Lojin yang terkepung ditengah bayangan abu-abu membentak gusar berulang kali, tiba-tiba sambil berpekik nyaring tubuhnya melambung tinggi ke angkasa, suara pekikannya keras bagaikan guntur yang menggelegar di udara, membuat bergetar perasaan hati setiap orang.

Walaupun kawanan jago itu sudah lama mengetahui akan kehebatan Lui pian Lojin, namun setelah mendengar sendiri suara pekikannya yang menggetar sukma, tidak urung mereka dibuat tercekat hatinya.

Sambil tertawa rendah ujar Hong Lo-su:

"Waah, kelihatannya toako sudah mulai gusar, dia sudah tidak ambil perduli lagi siapa musuhnya, kali ini ke enam orang wanita itu bakal banyak menderita"

Siapa tahu belum selesai suara pekikan itu berkumandang, kawanan wanita bercadar itu telah membubarkan diri sambil mundur ke tepi arena dan berdiri tanpa bergerak lagi.

Dengan wajah penuh amarah dan mata melotot besar, Lui pian Lojin melayang turun dari udara, saat ini keadaannya mirip dengan dewa guntur yang sedang gusar, jubah ungunya menggelembung besar dan bergolak tiada hentinya, jelas sudah dipenuhi dengan tenaga dalam yang maha dahsyat.

Begitu menginjakkan kakinya ditanah, Lui pian Lojin kembali berseru dengan penuh amarah:

"Sudah lama kudengar ilmu barisan Toa ciu thiat coat sintin dari Pulau Siang cun-to sangat hebat, lohu sudah siap meminta pengajaran, kenapa kalian malah berhenti?"

Perlahan-lahan perempuan bercadar itu menyahut:

"Walaupun ilmu barisan Toa ciu thiat coat sintin sangat hebat, sayangnya kehebatan itu tidak akan terwujud bila digunakan oleh enam orang saja, apalagi Un Tay-tay sudah pergi jauh, buat apa kami mesti membuang tenaga dengan percuma, bila kau bersikeras ingin menyaksikan kehebatan ilmu barisan kami, datang saja ke Pulau Siang cun-to, pasti ada orang yang akan melayani keinginanmu itu!"

Perkataan itu disampaikan dengan suara dalam lagi lambat, sama sekali tidak tersirat hawa amarah.

"Pulau Siang cun-to?" teriak Lui pian Lojin gusar, "hmmm! Hmmm! Memangnya pulau Siang cun-to adalah sarang naga gua harimau? Memangnya lohu benar-benar tidak berani mendatanginya!"

"Mereka pasti menyangka toako tidak berani" sambung Hong Lo-su cepat.

Dia memang tidak berani berkunjung sendiri ke Pulau Siang cun-to, oleh sebab itu secara licik dia berusaha memanasi hati orang lain untuk mendatangi pulau itu sementara dirinya akan mencari keuntungan di air keruh.

Benar saja, perkataan itu seketika membuat hawa amarahnya makin memuncak, sambil menghentakkan kakinya dia berseru:

"Anak muda, kita berangkat!"

Hentakan kakinya seketika menimbulkan liang yang cukup dalam ditempatnya berpijak.

Diam-diam Hong Lo-su kegirangan, kembali teriaknya:

"Walaupun siaute tidak berkemampuan untuk membantu toako, tapi pergi bersama toako paling tidak bisa membantu keangkeran dirimu"

"Siapa yang ingin ikut segera bergabung denganku" seru Lui-pian Lojin keras, "lohu tidak percaya kalau Pulau Siang cun-to benar-benar adalah sarang naga gua harimau, kali ini harus kuterjang"

Suto Siau sekalian segera menunjukkan wajah kegirangan, sementara pemuda berbaju ungu itu menghela napas panjang.

Didalam kereta kuda Im Ceng duduk saling berhadapan dengan Un Tay-tay, sepanjang jalan senyuman manis selalu tersungging diujung bibir perempuan itu.

Menyaksikan hal ini, dengan gusar Im Ceng segera menegur:

"Apa yang kau tertawakan?"

Un Tay-tay tidak menjawab, seketika dia tundukkan wajahnya.

Kembali Im Ceng berseru:

"Kalau kau anggap pemuda tadi jauh lebih pintar ketimbang aku, kenapa tidak ikut dia saja?"

Un Tay-tay tetap menundukkan kepalanya tanpa menjawab.

Kedua orang itupun terbungkam, dalam keheningan kereta kuda bergerak makin cepat.

Tiba-tiba Im Ceng berkata lagi:

"Penampilanku tadi bukan cuma lantaran kau, bila ada perempuan lain yang mengalami penganiayaan pun, aku tetap akan berbuat hal yang sama"

"Aku tahu.........."

Kelihatannya Im Ceng sedang dipenuhi oleh rasa mendongkol, semakin Un Tay-tay bersikap lembut dan penurut, dia semakin jengkel dibuatnya, mendadak dengan mata mendelik dia mulai memukul dinding kereta.

Un Tay-tay masih menundukkan kepalanya, sama sekali tidak menggubris.

Kembali beberapa saat lewat, akhirnya Im Ceng tidak kuasa menahan diri lagi, teriaknya:

"Sekalipun kau telah selamatkan nyawaku, gara-gara kau akupun merasakan penderitaan yang berat, jadi aku tetap tidak akan berterima kasih kepadamu"

"Aku tahu......."

Tiba-tiba Im Ceng melompat bangun, "duuuk!" kepalanya ditumbukkan keatas dinding kereta kemudian teriaknya keras:

"Kau tidak tahu.......kau tidak tahu.......apapun tidak kau ketahui"

Dengan sedih Un Tay-tay memandangnya sekejap, setelah menghela napas tanya:

"Dari mana kau tahu kalau aku tidak tahu?"

Lirikan itu seolah sebuah jarum tajam yang segera menusuk dihati Im Ceng.

Perasaan murung, perasaan kagum serta luapan cinta kasih yang sangat mendalam seolah terkandung dibalik lirikan itu, membuat manusia berhati baja pun akan luluh hatinya apalagi lelaki berdarah panas macam Im Ceng.

Akhirnya Im Ceng tidak sanggup mengendali­kan diri lagi, tiba-tiba dia menubruk maju dan memeluk tubuh Un Tay-tay erat-erat, bisiknya:

"Kau tidak tahu, aku.....aku........."

Pemuda ini berwatak keras dan berangasan, gembira atau gusar selalu mengikuti suara hati, bila dia enggan memperdulikan seseorang maka jangan lagi mengajaknya bicara, melirikpun enggan, tapi bila hatinya sedang dikobar api asmara, dia pun akan mengemukakan perasaan hatinya secara terang terangan.

Sambil menyandarkan kepalanya diatas dada pemuda itu, Un Tay-tay berbisik:

"Aku tahu, kau sangat berterima kasih kepada­ku"

"Bukan hanya berterima kasih, bahkan..... bahkan aku......."

"Bahkan kenapa?"

"Aku.....akupun ingin........."

"Sebagai seorang lelaki sejati, masa kata 'cinta' pun tidak berani kau kemukakan?"

"Benar, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu....." jerit Im Ceng keras-keras, "aku rela tidak memperoleh apapun asal tidak kehilangan dirimu"

Un Tay-tay mendongakkan kepalanya, butiran air mata telah membasahi seluruh wajahnya, dengan suara gemetar dia berbisik:

"Sekalipun semua penderitaan dan siksaan harus kujalani, tapi asal bisa mendengar perkata­anmu itu, hatiku benar-benar sudah puas"

Im Ceng memeluknya makin kencang, seolah kuatir kehilangan wanita itu lagi, gumamnya terus menerus:

"Aku mencintaimu......... aku cinta padamu...... bila kau senang mendengarnya, setiap hari akan kuulang beratus, beribu kali....."

"Tapi dulu aku pernah melakukan perbuatan yang sangat memalukan, pernah pula melakukan perbuatan salah kepadamu"

Cepat Im Ceng menutup mulutnya dengan tangan, tukasnya:

"Perduli dulu kau pernah melakukan perbuatan apa, juga tidak perduli dikemudian hari apa yang hendak kau lakukan. Asal hatimu hanya untukku, asal kau tidak pernah meninggalkan aku untuk selamanya, aku sudah merasa puas sekali"

Sambil mendesis lirih Un Tay-tay segera memeluk tengkuk pemuda itu, tubuh mereka berdua pun saling berangkulan dengan mesranya, pipi menempel diatas pipi sementara air mata jatuh berlinang, mereka seolah sudah melupakan keadaan yang sedang dihadapi.

Orang yang berada diluar kereta ikut merasa terharu bercampur gembira, pikirnya:

"Dasar bocah bodoh...... dasar bocah bodoh......akhirnya kau mengerti juga...."

Walaupun dia tidak ingin mencuri dengar, namun setiap patah kata yang berkumandang dari balik kereta terdengar olehnya dengan jelas.

Walaupun dia tidak ingin mendengar lebih jauh, namun perasaan hatinya tidak tahan untuk mendengar lebih banyak, agar dia bisa turut bergembira bagi mereka, sebab jika mereka berdua dapat hidup bahagia, dia akan merasa lebih berbahagia ketimbang mereka.

Im Ceng benar-benar menikmati kebahagiaan saat itu, terdengar dia bergumam:

"Sekalipun kau telah berjumpa dengan orang yang lebih cerdik dari padaku pun jangan kau tinggalkan diriku"

Melihat ucapan itu diutarakan dengan wajah bersungguh-sungguh, seakan dia masih belum melupakan pemuda berbaju ungu itu, tidak tahan Un Tay-tay segera tertawa cekikikan, makinya:

"Dasar bocah bodoh!"

"Biarpun bodoh, aku mencintaimu dengan sepenuh hati, sementara mereka yang mengaku cerdik, entah sudah berapa banyak orang yang dicintai. Bagiku, aku hanya tahu mencintai kau seorang"

"Belum tentu hanya seorang!"

"Sungguh, aku hanya mencintai seorang, kalau tidak percaya aku.....aku....."

Mendadak Un Tay-tay memeluknya makin kencang, dengan gemas digigitnya tengkuk pemuda itu.

Senyuman bercampur air mata kembali meng­hiasi wajahnya:

"Dasar bocah bodoh....... dasar bocah bodoh!

Biarpun orang lain lebih menyukai orang pintar, bagiku hanya orang bodoh macam kau yang kusukai"

Biarpun tengkuknya yang digigit menimbulkan rasa sakit, namun Im Ceng merasakan hatinya manis dan hangat, tiba-tiba dia tertawa.

"Kalau memang begitu, tidak tertutup kemung­kinan ada wanita lain yang bakal menyukai orang bodoh macam aku"

"Kalau ada wanita lain berani mencintaimu, akan kubunuh dia, kukuliti dia, kutanak dagingnya dan kumakan seiiris demi seiris" bisik Un Tay-tay sambil menggigit bibir.

"Waaah, ternyata kau adalah harimau betina yang galak....... jika ada wanita lain yang men­cintaiku dan mendengar ancaman mu itu, mereka pasti akan lari terbirit-birit"

Dibalik gelak tertawanya penuh diliputi perasaan gembira, semua ketidak beruntungan yang mengganjal hatinya tadi kini seolah sudah hilang lenyap tidak berbekas.

Un Tay-tay menatapnya sendu, setelah berapa saat tiba-tiba ia menghela napas panjang.

"Dalam suasana gembira macam begini, kenapa kau menghela napas?" tegur Im Ceng.

Sambil pejamkan matanya Un Tay-tay tertunduk lesu, ujarnya sambil menghela napas sedih:

"Walaupun saat ini kita amat gembira, namun waktu untuk bergembira tidak terlalu lama"

"Siapa  mengatakan   begitu.....? siapa yang bilang......." tanya Im Ceng terperanjat.

"Setibanya di pesisir laut, aku akan segera naik perahu menuju Pulau Siang cun-to, sejak itu......kita dipisahkan oleh lautan yang luas, aku takut.....aku takut sejak itu......."

"Aku melarang kau berkata begitu.......aku juga melarang kau ke sana!" tukas Im Ceng keras.

"Aku pun tidak ingin berpisah denganmu, tapi.... tapi jangan lupa, aku sudah mati satu kali, hanya Pulau Siang cun-to yang bisa ku tempati"

Im Ceng merasa cemas bercampur gusar, dengan air mata berlinang dipeluknya Un Tay-tay semakin kencang, jeritnya:

"Siapa bilang kau sudah mati? Orang-orang itu hanya ngaco belo, tidak usah kau gubris perkataan mereka"

"Aku telah bergabung dengan mereka, bagai­mana pun aku harus pergi ke sana"

"Siapa bilang kau harus ke sana? Kalau ada orang  berani   memaksamu, akan ku..... akan kubunuh orang itu, kutanak  dagingnya dan kumakan tubuhnya, akan.....akan kubakar Pulau Siang cun-to"

"Bocah bodoh!" dengan lembut Un Tay-tay menyeka air mata diwajahnya, "ilmu silat yang dimiliki Ratu matahari sangat lihay, anak buahnya banyak tidak terhitung, bagaimana mungkin kau bisa menghadapi mereka?"

Sekujur tubuh Im Ceng gemetar keras, seakan dadanya kena dihantam sebuah pukulan keras.

Tiba-tiba Un Tay-tay melihat paras mukanya berubah jadi pucat pasi, sepasang matanya melotot besar, ketika dipanggil namanya, dia tidak menyahut, pemuda itu seakan telah berubah jadi bodoh, jadi idiot!

Dia merasa hatinya sakit bagaikan ditusuk pisau, diapun gelisah bercampur cemas, dengan air mata berlinang bisiknya:

"Kee.....kenapa kau....... sadarlah.......mari kita cari jalan lain........"

"Jalan apa.....? jalan yang mana?" gumam Im Ceng seperti orang kebingungan, tiba-tiba dia me­nangis tersedu, "aku tidak berdaya! Aku...... aku tidak sanggup menghadapi mereka"

"Aku yakin pasti ada cara menanggulanginya" bisik Un Tay-tay dengan kepala tertunduk.

Im Ceng agak tertegun, mendadak dia melom­pat bangun, "dduuk!" kepalanya membentur di langit-langit kereta namun tidak terasa sakit, teriaknya kegirangan:

"Betulkah ada jalan keluar?"

Un Tay-tay merasa pedih bercampur sayang, sembari membelai kepalanya dia berkata:

"Biarpun kepandaian silat yang dimiliki Ratu matahari sangat lihay, toh bukan berarti dia bisa memaksaku jadi orang mati!"

"Betul, betul......"

"Seandainya aku memohon kepadanya, mung­kin diapun tidak akan memaksakan kehendak"

"Betul, betul......biar aku temani kau"

Un Tay-tay memandangnya sekejap, tiba-tiba ujarnya lagi:

"Tapi tidak ingin pergi memohon kepadanya"

"Kee.....kenapa?"

"Bila suatu saat tabiat tuan besarmu kambuh kembali, bila kau mulai mengungkit kesalahan ku dulu, tidak memperdulikan aku lagi, bukankah lebih baik aku pergi mampus saja"

Merah padam wajah Im Ceng saking gelisahnya, dengan keras dia berteriak:

"Bila Im Ceng tidak ambil perduli lagi terhadap Un Tay-tay, biarlah Thian memberi kematian yang mengenaskan bagiku........"

Buru-buru Un Tay-tay mendekap mulutnya sambil berseru:

"Aku percaya dirimu, jangan kau lanjutkan perkataan itu, jika Thian punya mata, moga-moga kami berdua diberkahi hidup bahagia hingga akhir jaman"

"Betul, hidup bahagia hingga akhir jaman......."

Untuk sesaat kedua orang itu hanya saling bertatap muka tanpa bicara lagi, seakan-akan mereka tidak ingin dipisahkan kembali walau hanya sedetikpun.

Begitu mendengar pembicaraan tersebut, Thiat Tiong-tong segera tahu kalau perempuan itu hanya ingin mengendorkan suasana saja dan berusaha menunda masalah.

Sekalipun begitu, dia tidak marah atau mem­benci Un Tay-tay, sebab dia cukup memahami perasaan wanita itu. Dia sengaja berbuat demikian hanya terbatas karena dia tidak ingin berpisah dengan Im Ceng, kalau dia tidak berbuat begitu, bagaimana mungkin bisa menjinakkan kuda liar macam pemuda itu.

Thiat Tiong-tong hanya beranggapan bahwa cara yang dilakukan perempuan itu patut dikasihani, patut menaruh simpatik kepadanya sekalipun ada sedikit tipu daya yang diperguna-kan, namun dia bisa memakluminya.

Sekalipun Thiat Tiong-tong bukan perempuan, boleh dibilang dia sangat memahami perasaan kaum wanita, sebab hanya wanita yang amat mencintai seseorang baru rela melakukan segala tindakan termasuk menggunakan siasat.

Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, pikirnya:

"Begitu asyik mereka tenggelam dalam masalah pribadi sampai lupa kalau kereta ini bisa bergerak tanpa kendali, yaa sudahlah, biarkan saja mereka berasyik masyuk sementara aku menjadi kusir mereka"

Maka diapun balik ke tempat kusir dan mengendalikan larinya kereta.

Waktu itu fajar telah menyingsing, matahari memancarkan sinar keemas-emasannya menyinari seluruh jagad, diantara hembusan angin lamat lamat sudah mulai terdengar debuan ombak, kelihatannya merek sudah berada tidak jauh dari pesisir.

Thiat Tiong-tong merasakan semangatnya bangkit kembali, dia membuang jauh semua kekesalan serta kemurungan yang mencekamnya selama ini.

Setelah menyaksikan adegan mesra dan Im Ceng dan Un Tay-tay, jangan lagi baru bergadang sehari semalam, biar harus menjadi kusir selama tiga hari tiga malam pun dia tidak akan menggerutu.

 

BAB 26.

Kalau bingung, bertanyalah pada langit.

 

Tidak selang berapa saat kemudian samudra luas telah terbentang di depan mata, diantara kilauan ombak yang tertimpa cahaya tampak riak yang saling berkejaran gulung menggulung menuju pantai.

Thiat Tiong-tong mencoba memandang ke depan, tidak dijumpai batasan antara pesisir dengan samudra, kenyataan ini segera membuatnya tertegun, ternyata mereka sudah berada diatas sebuah tebing dengan bentangan jurang yang amat dalam.

Masih untung pemuda itu segera mengendali­kan kereta tersebut, coba kalau tetap membiarkan sang kereta lari kencang tanpa kendali, niscaya saat ini kendaraan tersebut sudah langsung terjun ke dalam samudra.

Dalam terperanjatnya sekuat tenaga Thiat Tiong-tong menarik tali kendali kuda, namun kereta itu masih sempat bergerak berapa meter lagi sebelum benar-benar berhenti, coba kalau maju tiga depa lagi, mustahil bagi mereka untuk berhenti persis ditepi tebing.

Dia mencoba melongok ke bawah, terlihat hamparan samudra luas dengan batu karang yang runcing dan tajam terbentang dibawab tebing, gulungan ombak yang memecah ditepian membuat situasi disitu amat menakutkan, bisa dibayangkan apa jadinya andai kereta berikut penumpangnya tercebur ke situ?

Im Ceng serta Un Tay-tay yang berada dalam ruang kereta, meski masih mabuk kepayang oleh api asmara, tidak urung terperanjat juga  ketika merasakan kereta itu berhenti mendadak, terlebih ketika melihat hamparan air laut dihadapan mereka, keringat dingin seketika membasahi tubuh.

"Keterlaluan! Sungguh keterlaluan!" pekik Un Tay-tay terperanjat, "masa kita sampai lupa kalau kereta ini bergerak tanpa kusir!"

"Coba kuperiksa, apa yang sebenarnya telah terjadi........" kata Im Ceng sambil melompat keluar dari ruang kereta, dia semakin terperanjat ketika melihat ada seorang lelaki berbaju hitam sedang duduk dibangku kusir, tak tahan hardiknya:

"Siapa disitu?"

Saat itu rasa kaget dan ngeri Thiat Tiong-tong belum mereda, peluh dingin masih membasahi telapak tangannya, begitu mendengar suara bentakan, tanpa sempat berpikir lagi dia segera berpaling.

Begitu tahu siapa lelaki itu, dengan wajah berubah Im Ceng segera meraung keras: "Rupanya kau!"

Ditengah bentakan, mendadak sebuah pukulan dilontarkan.

Entah karena tidak sempat menghindar atau memang sengaja tidak berkelit, pukulan itu bersarang telak diatas iga kiri Thiat Tiong-tong.

"Blaaaam!" ditengah benturan keras, tubuhnya mencelat dari atas kereta, melayang di udara dan meluncur jatuh ke dasar jurang, tidak ada suara jeritan, tidak ada suara kesakitan, yang terdengar hanya deburan ombak serta deruan angin laut.

Tergopoh-gopoh Un Tay-tay melompat keluar dari balik kereta, dia jumpai Im Ceng sedang berdiri termangu-mangu sambil memegangi kepalan kanan sendiri.

Wajahnya pucat pias seperti mayat, garis merah memenuhi  sepasang matanya, pemuda itu mirip orang kesurupan, berdiri melongo seperti kehilangan ingatan

Terperanjat bercampur cemas Un Tay-tay segera menegur:

"Apayang telah terjadi?"

"Thiat Tiong-tong.........Thiat Tiong-tong........"

"Thiat Tiong-tong?" jerit Un Tay-tay semakin terperanjat, "dimana Thiat Tiong-tong?"

"Sudah kuhantam hingga tercebur ke bawah!" jawab Im Ceng sambil menuding ke arah hamparan samudra.

Sekali lagi Un Tay-tay menjerit kaget, paras mukanya berubah hebat, seakan tidak mampu berdiri tegak lagi, tubuhnya gontai dan akhirnya jatuh terduduk dengan peluh dingin bercucuran.

Tiba-tiba sekulum senyuman tersungging diujung bibir Im Ceng, gumamnya:

"Dia sudah roboh! Dalam satu pukulan dia sudah roboh........." senyuman itu nampak sangat aneh, tidakjelas karena sedih atau sedang gembira.

Sekujur tubuh Un Tay-tay mulai gemetar keras, jari tangannya terasa dingin membeku, bisiknya:

"Kau........bagus sekali perbuatanmu.........."

Padahal tenggorokannya sudah tersumbat oleh sesenggukan, tidak sepatah katapun sempat dilontarkan, dengan sempoyongan dia bangkit berdiri lalu berlarian menuju ke tepi jurang.

Gulungan ombak saling berkejaran memecah diatas batu karang, percikan air memancar ke empat penjuru, bayangan Thiat Tiong-tong sudah hilang lenyap tidak berbekas, kini yang tersisa hanya selembar kain hitam yang tersangkut diatas batu karang, kain yang terombang ambing dimainkan ombak.

Kelihatannya Thiat Tiong-tong masih mencoba meraih batu karang ketika tercebur tadi, dia masih berusaha meronta dari gulungan ombak dan berusaha merangkak naik ke atas karang.

Menyaksikan kesemuanya itu Un Tay-tay tidak sanggup menahan rasa sedihnya lagi, sambil mencengkeram tepi karang dia mulai menangis tersedu-sedu, menangis dengan amat sedihnya.

Rasa cemburu bercampur benci seketika menyelimuti perasaan Im Ceng, terlebih melihat perempuannya menangis begitu sedih karena Thiat Tiong-tong, tidak tahan teriaknya penuh amarah:

"Thiat Tiong-tong telah menghianati perguruan, menghianati sahabat, manusia macam begini pantas dibunuh dan dilenyapkan, apa yang kau tangisi!"

Un Tay-tay segera bangkit berdiri, memba­likkan tubuhnya dan berseru sambil menangis:

"Kapan dia....... dia berbuat salah kepadamu?

Tanpa usahanya, kau anggap dirimu masih bisa hidup hingga hari ini!"

"Oooh..... jadi  maksudmu, seharusnya aku berterima kasih kepadanya?" jengek Im Ceng sambil tertawa dingin.

"Ten......tentu saja!"

Amarah Im Ceng semakin meluap, teriaknya: "Tahukah kau, sudah berapa kali dia berusaha mencelakai aku? Pertama kali sewaktu berada ditengah hutan, dia menyerahkan aku ke tangan Suto Siau, coba kalau tidak berusaha melarikan diri, mana mungkin aku bisa   hidup hingga kini?

Kemudian..... kemudian akupun bertemu dengan kau, kalau bukan ditolong olehmu mungkin aku sudah mati karena disiksa dan dianiaya, kenapa aku harus berterima kasih kepadanya, berterima kasih untuk apa?"

"Keliru.......keliru.........."jerit Un Tay-tay sambil berurai air mata.

"Semua peristiwa itu kualami sendiri, mana mungkin keliru?" teriak Im Ceng semakin keras.

"Tahukah kau, dalam peristiwa waktu itu bukan cuma dia tidak mencelakaimu bahkan dengan pertaruhkan nyawa telah selamatkan nyawamu, demi selamatkan jiwamu, dia berpura-pura tunduk kepada Suto Siau, berlutut dihadapannya, lalu dengan manfaatkan peluang itu dia melukai Suto Siau. Saat itu, andaikata dia tidak ambil perduli dengan keselamatanmu, bisa saja dia kabur selamatkan diri, tapi sampai matipun dia enggan melepaskanmu hingga akhirnya dia terjatuh ke tangan orang lain. Beruntung saat itu dia bertemu Tio Kie-kong yang berniat membalas budi Perguruan Tay ki bun, dengan kemampuan Tio Kie-kong dia hanya mampu selamatkan nyawa satu orang, dalam situasi seperti itu dia tetap memilih untuk selamatkan nyawamu terlebih dulu, dia minta Tio Kie-kong membawamu kabur, sementara dia sendiri tercebur ke dalam jurang yang amat dalam!"

Apa yang diutarakan sekarang, diperolehnya dari pembicaraan Suto Siau serta Thiat Tiong-tong secara terpotong-potong, sudah cukup lama dia menyimpannya didalam hati tapi sekarang, pada akhirnya diutarakan juga.

Hijau kepucat-pucatan wajah Im Ceng sehabis mendengar penuturan itu, tergagap serunya:

"Tapi........"

"Dengan pertaruhkan nyawa Tio Kie-kong membawamu ke tempat yang aman, apa mau dikata kau justru mencurigai orang lain ingin menyiksamu dengan alat siksaan sehingga melarikan diri"

Setelah tertawa pedih lanjutnya:

"Tapi kau tidak tahu, orang yang sesungguhnya ingin mencelakaimu bukan dia melainkan aku, coba kalau bukan lantaran Suto Siau bersikeras ingin menipumu agar membawa kami ke markas besar Perguruan Tay ki bun, sementara dia bisa menguntit secara diam-diam dan membasmi seluruh anggota perguruanmu, mungkin kau sudah dibunuh mampus sebelum lukamu sempat sembuh"

Peluh dingin mulai bercucuran membasahi jidat Im Ceng, katanya kemudian:

"Tapi setibanya dikota Lok-yang, kenapa dia...."

"Kusangka semua rencana busukku tersusun sangat rapi dan mustahil bisa ketahuan orang, siapa sangka begitu tiba di perkampungan keluarga Li dikota Lokyang, semua rencanaku berhasil dibongkar Thiat Tiong-tong, tapi waktu itu kau sudah membencinya hingga merasuk tulang, maka diapun menggunakan harta untuk memikat-ku, membujukku agar menjauhi dirimu. Siapa tahu kau bukan saja tidak memahami niat baiknya, sebaliknya justru makin membencinya!"

"Tapi.....   tapi kemudian dia lagi-lagi berhubungan dengan Suto Siau......." suara Im Ceng kedengaran mulai gemetar.

"Waktu itu dia sedang menjalankan siasat ulat emas lolos dari kepompongnya, dia menitahkan Phoa Seng-hong untuk menyaru sebagai kakek tua, menipu Suto Siau sekalian agar menyangka dia adalah Thiat Tiong-tong, sementara dia sendiri secara diam-diam justru memusuhi mereka, dia memang banyak akal lagi cerdas, mana mungkin orang lain bisa menduga rencananya itu!"

"Bruukkk!" Im Ceng merasakan sepasang lututnya jadi lemas, dia roboh terduduk diatas tanah.

"Saat itu, sebenarnya aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadapmu" ujar Un Tay-tay lebih jauh, "tapi lantaran Thiat Tiong-tong berulang kali membujukku agar jangan mencelakaimu, maka sewaktu berada dalam kuil bobrok aku baru mengucapkan perkataan itu"

Dengan sedih Im Ceng tundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Hari itu, ketika berada di dusun pandai besi" kata Un Tay-tay lagi, "dia pula yang telah meman­cing kepergian Ai Thian-hok. Demi menyelamatkan jiwamu, hampir saja dia tewas ditangan Ai Thian-hok!"

Segulung angin berhembus lewat, tiba-tiba Im Ceng merasa hatinya bergidik hingga bersin berulang kali.

"Saat itu kau sudah terluka parah" kembali Un Tay-tay berkata, "maka akupun membawamu pulang ke rumah, siapa tahu Suto Siau sekalian lagi-lagi berhasil melacak tempat persembunyian kita, untuk kesekian kalinya Thiat Tiong-tong berhasil selamatkan nyawamu maupun nyawaku!"

"Ternyata  kau........ kau mencintainya........" bisik Im Ceng dengan air mata berlinang.

Butiran air mata membasahi pula selembar wajah Un Tay-tay, sahutnya dengan nada gemetar:

"Betul, ada suatu saat aku memang mencintai­nya, tapi demi kau, dia selalu berusaha menghindariku, hingga........hingga........."

Dengan kepala tertunduk dia menangis terisak, lama kemudian baru terusnya:

"Hingga hari itu, ketika aku membopong kau yang terluka parah berlarian diatas tanah perbukitan, saat itulah aku baru sadar, ternyata perasaan hatiku sudah tertarik kepadamu, aku rela mati seribu kali, sejuta kali, tapi tidak ingin membiarkan kau mati walau sekalipun, tapi.....tapi kalau bukan lantaran dia, mana mungkin ada kehidupan bagi kita seperti hari ini........"

Sambil berkata, air mata bercucuran terus tiada hentinya, belum lagi selesai bicara, pakaian-nya sudah basah oleh air mata.

Im Ceng duduk mematung disitu, dia sama sekali tidak mampu bergerak.

Semua budi dan dendam, semua sebab akibat, pada akhirnya telah dia pahami dengan jelas.

Tapi pemahaman itu datangnya sedikit terlambat, luapan emosinya pun kelewat berlebihan.

Im Ceng merasakan pikirannya hampa, dia seolah sudah hilang kendali, kendali atas kesa­daran sendiri, dia seakan tidak memahami apa pun, yang tersisa dalam benaknya kini hanya penyesalan yang luar biasa, penyesalan yang tidak mungkin bia ditebus dengan kematian yang berulang kali sekalipun.

Dengan air mata berlinang kembali Un Tay-tay berkata:

"Aku tahu, kisah semacam ini akan sangat melukai hatimu, membuat kau amat sedih, sebetul­nya aku tidak ingin menceritakan kepada-mu, walau sampai akhir jaman sekalipun. Tapi sekarang, demi mencuci bersih nama baik Thiat Tiong-tong, terpaksa aku harus menceritakannya kembali....."

Dengan wajah kosong Im Ceng manggut-manggut, butiran air mata telah membasahi pula pakaiannya.

"Tidak usah yang lain" kata Un Tay-tay lagi terisak, "cukup berbicara dari kejadian hari ini, seandainya bukan dia yang menarik tali les kuda tepat pada waktunya, mungkin kita berdua sudah mati secara mengenaskan........"

Tiba-tiba Im Ceng bangkit berdiri, sambil mendongakkan kepalanya memandang langit, jeritnya pedih:

"Thiat Tiong-tong! Thiat jiko! Siaute....... Im Ceng.... benar benar telah berbuat salah kepada­mu........"

Dia lari menuju ke tepi tebing, siap membenturkan kepalanya diatas sebuah batu karang.

Sambil menjerit kaget Un Tay-tay bergulingan diatas tanah, berguling ke sisi pemuda itu dan memeluk sepasang kakinya erat erat.

Kedua orang itupun saling bergulingan diatas tanah.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit Im Ceng bagaikan orang gila, "tolong lepaskan tangan­mu....... kalau aku tidak mati, bagaimana mungkin aku bisa hidup terus dalam keadaan begini!"

"Kau tidak boleh mati" teriak Un Tay-tay sambil menangis tersedu, "kau tidak boleh meninggalkan aku seorang, apakah kau.... apakah kau lupa, kita akan hidup bersama hingga akhir jaman........"

Dia peluk Im Ceng kencang-kencang, meme­luknya begitu erat seolah kuatir ditinggalkan begitu saja.

"Tapi....... tapi aku tidak punya muka untuk hidup terus, kehidupanku di dunia ini hanya akan menambah penderitaan! Tolong...... aku mohon..... biarkan aku mati....aku.....aku......"

"Tapi dendam berdarah Perguruan Tay ki bun belum terbalas, sumpah setia kita masih bergaung disisi telinga.... apakah kau sudah melupakannya? Kau tidak boleh mati! Kau tidak boleh mati!"

Dengan sekuat tenaga dia tinju dada Im Ceng, sambil menangis kembali jeritnya:

"Kalau ingin mati, matilah sebagai seorang enghiong! Sekalipun ingin mati, bukan hari ini saatnya!"

Im Ceng terkesiap, lagi-lagi peluh dingin membasahi tubuhnya: "Tapi aku........"

Makin berbicara Un Tay-tay semakin sedih, dia meninju semakin keras, umpatannya pun semakin garang, teriaknya:

"Kalau mati saat ini, bukan saja kau telah mengabaikan dendam kesumatan Perguruan Tay ki bun, kaupun tinggalkan aku seorang diri didunia ini...... kalau kau..... kalau kau berani sebut kata mati sekali lagi, kau adalah seorang lelaki pengecut! Seorang lelaki tempe yang tidak berguna!"

Kalau tadi rengekan dan permohonannya sama sekali tidak digubris, maka pukulan tinjunya yang keras justru membuat Im Ceng terkejut bercampur malu, setiap umpatan, setiap makian yang dilontarkan perempuan itu justru menusuk hati Im Ceng hingga ke tulang sumsum.

Un Tay-tay meninju terus hingga tangannya lemas tidak bertenaga, memaki terus hingga kehabisan suara dan kata, kelihatannya dia sendiri pun mulai putus asa, mulai kecewa, tiba-tiba sambil mendekap ditubuh Im Ceng dan menangis tersedu, serunya:

"Kalau ingin  mati, matilah! Akupun akan menemanimu mati...... kalau kita semua sudah mati......maka urusanpun jadi selesai......"

"Tidak, aku tidak akan mati!" ujar Im Ceng tiba tiba sambil menghela napas.

"Apa.....apa kau bilang?" Un Tay-tay tertegun.

"Sekalipun aku hidup penuh penderitaan, tapi kalau mati,   mana mungkin aku bisa mati tenteram? Perkataanmu tidak salah, sekalipun harus mati, tidak seharusnya mati pada saat ini"

"Sung........sungguh?" bisik Un Tay-tay terkejut bercampur girang.

"Kapan aku pernah membohongimu?"

Walaupun matahari telah muncul, kabut tebal masih menyelimuti permukaan samudra, men­dadak terdengar suara peluit yang tinggi melengking bergema dari tepi pantai, menembusi keheningan dan bergema hingga tempat kejauhan.

Lewat berapa saat kemudian terlihat sebuah perahu nelayan muncul dari balik kabut, seorang nenek berambut putih berdiri diujung perahu, mendayung perahunya dengan santai.

Biarpun usia nenek itu sudah lanjut, namun tubuhnya yang berdiri diujung perahu sambil menggerakkan dayungnya tetap berdiri lurus bagaikan sebuah tongkat, seakan-akan mencer­minkan kehidupannya yang tidak pernah penuh liku.

Wajah Im Ceng ketika itu sudah kaku membeku, dia bersama Un Tay-tay menanti ditepi pantai

Perahu nelayan itu semakin mendekati pesisir, setelah memandang sekejap seputar sana, tiba-tiba nenek itu bertanya:

"Ada dimana orang matinya?"

"Nenek, akulah orang matinya"

"Lantas siapa dia?" tanya nenek itu sambil melotot ke arah Im Ceng.

Wajahnya yang termakan usia, tertimpa hujan dan angin meninggalkan beratus kerutan yang tajam, membuat penampilannya kelihatan sangat tua, namun sorot matanya justru lebih tajam dari kilatan petir, seakan tidak ada rahasia yang bisa disimpan lagi setelah tersapu oleh sorot matanya.

Sesudah mendengus, kembali nenek itu berseru. "Kau naik kemari, tinggalkan dia!"

"Ke......kenapa?" tanya Un Tay-tay gugup.

"Atas dasar apa dia mau ke Pulau Siang cun-to?"

"Dia.....dia........"

Tiba-tiba Im Ceng membentak keras:

"Kau tidak perlu merengek kepadanya lagi, sekalipun aku orang she-Im hendak ke Pulau Siang cun-to pun belum tentu harus menumpang perahunya!"

Siapa tahu begitu mendengar teriakan tersebut, seakan baru bertemu setan iblis, paras mukanya berubah hebat, tanyanya gemetar:

"Kau......kau bilang, kau bermarga apa?"

"Im!"

Sambil menuding dengan jari tangannya yang gemetar, teriaknya lagi:

"Apakah kau anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Benar, mau apa kau?"

Tiba-tiba tubuh nenek itu gontai, sambil berpaling ke arah lain katanya kemudian:

"Kaupun boleh naik ke perahu!"

"Terima kasih nenek" teriak Un Tay-tay kegirangan.

Im Ceng jadi sangat keheranan, pikirnya:

"Kenapa begitu kusebut nama serta asal usulku, paras muka nenek ini segera berubah hebat? Jangan jangan terdapat rahasia lain dibalik kesemuanya ini?"

"Ayoh cepat naik!" sementara dia masih termenung, Un Tay-tay sudah berseru sambil menariknya keatas perahu.

Sejak mereka berdua naik ke atas perahu, nenek itu selalu berdiri dengan membelakangi mereka dan tidak melirik ke arah Im   Ceng lagi, begitu gala bambunya ditutulkan, perahu itupun bergerak meninggalkan pantai.

"Nenek, masih ada satu persoalan lagi apakah kau bersedia mengabulkan?" ujar Un Tay-tay kemudian.

"Katakan!

"Boanpwee berdua mempunyai seorang teman yang terpeleset jatuh di tebing karang sebelah kiri, bersediakah nenek menjalankan perahu ke sana.....mungkin jenasahnya masih disitu"

Nenek itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia menjalankan perahunya menuju ke sisi kiri.

Un Tay-tay semakin keheranan, kembali pikirnya:

"Semula, nenek ini tidak bersedia melakukan pekerjaan apapun, tapi sekarang, apapun permintaan kami segera dilaksanakan, kenapa dia berubah sikap?"

Ombak menggulung sangat besar, kabut yang menyelimuti permukaan pun semakin tebal, ke mana mereka harus pergi untuk menemukan jenasah Thiat Tiong-tong?

Im Ceng dan Un Tay-tay saling bertukar pandangan sekejap, tanpa terasa butiran air mata jatuh bercucuran.

Biarpun tidak berpaling, nampaknya nenek itu dapat mengikuti perubahan wajah mereka berdua dengan jelas, tiba-tiba tanyanya:

"Apa hubungan kalian dengan jenasah itu? Mengapa kalian begitu bersedih hati?"

"Dia......dia adalah jiko nya"

Tampaknya tubuh nenek itu kembali bergetar keras:

"Jikonya? Dia dari marga Im atau marga Thiat"

Pertanyaan itu diajukan secara aneh, tapi sekaligus menunjuk kan kalau dia amat menguasahi keadaan dan Perguruan Tay ki bun.

Sambil mengawasi bayangan tubuhnya sahut Un Tay-tay sedikit ragu:

"Dari marga Thiat.........."

Tapi kemudian tidak tahan kembali tanyanya:

"Nenek, apakah kau pun tahu banyak soal Perguruan Tay ki bun?"

Nenek itu tidak menjawab, diapun tidak berbicara lagi, tangannya memegang kencang dayungnya dan sepenuh tenaga mendayung perahu itu bergerak ke balik kabut nan tebal.

Tampaknya dia hapal sekali dengan jalan laut diseputar sana, biarpun ditengah kabut tebal, dia seakan tidak kuatir tersesat atau salah arah.

Mengawasi bayangan punggungnya, tanpa terasa Un Tay-tay duduk termangu.

Mendadak terdengar nenek itu menghela napas panjang, sambil membelai wajah Un Tay-tay, bisiknya:

"Bocah, kenapa hubunganmu dengan Perguru­an Tay ki bun begitu......"

Tampaknya ada banyak persoalan yang ingin dia sampaikan, namun setelah berbicara setengah jalan kembali dia membungkam diri.

Un Tay-tay dapat merasakan betapa kasarnya telapak tangan nenek itu, jauh lebih kasar daripada batu kerikil, ketika meraba wajahnya terasa bagaikan ada sikat yang menyapu lewat, tidak tahan tanyanya:

"Sudah berapa lama nenek hidup ditengah lautan?"

Setelah termenung berapa saat nenek itu baru menjawab:

"Seorang diri aku....... aku hidup di tengah lautan sudah........ sudah hampir sembilan belas tahun lebih delapan bulan tiga hari!"

Ternyata dia mampu mencatat hari demi hari sedemikian jelasnya, hal ini membuktikan betapa sulit dan menderitanya nenek ini untuk mengusir rasa kesepian yang dideritanya selama ini, tanpa terasa timbul perasaan sedih dihati Un Tay-tay.

Kembali nenek itu berkata:

"Sudah hampir dua puluh tahun.........aaaai! waktu berlalu begitu lambat, tapi ada banyak masalah yang tidak bakal kau lupakan kendatipun lewat dua puluh tahun kemudian!"

Entah keluh kesah itu sedang ditujukan kepada siapa, atau mungkin dia hanya sedang bergumam.

Ke tiga orang itu masing masing tenggelam ke dalam masalah sendiri, tidak seorangpun yang berbicara lagi.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya dari dalam ruang perahunya nenek itu mengeluarkan berapa biji mantau dan dibagikan kepada mereka bertiga.

Mantau itu kasar lagi keras, seandainya bukan sedang kelaparan rasanya sulit bagi Un Tay-tay untuk menelannya, sekali lagi dia bergumam sambil menghela napas:

"Kehidupan diatas lautan begitu sengsara dan menderita, nenek, kenapa kau tidak beristirahat?"

"Sengsara?  Menderita........?  istirahat........?" tiba-tiba nenek itu tertawa tergelak,"kalau bukan melewati penghidupan yang penuh derita macam begini, bagaimana mungkin bisa menghilangkan rasa benci dan dendam dihatiku!"

Gelak tertawanya penuh mengandung rasa benci, juga dipenuhi perasaan sinis.

Un Tay-tay merasakan hawa dingin yang menyesakkan napas seketika muncul dari dasar hatinya, dia tidak berani banyak bicara lagi.

Setelah menembusi lautan hampir tiga jam lamanya, terakhir sampan itupun mulai merapat didaratan.

"Terima kasih!" seru Im Ceng sambil melompat naik ke daratan. Selama berada disamping nenek itu, timbul perasaan tidak sedap yang sulit dilukiskan dengan kata, perasaan tidak sedap itu membuatnya berpendapat bahwa semakin cepat meninggalkan sisi tubuhnya semakin baik.

Tapi mengapa begitu? Dia sendiripun tak tahu, dia tidak paham mengapa bisa muncul perasaan seperti itu.

"Terima kasih nenek........" seru Un Tay-tay pula.

Baru saja dia akan melompat naik ke daratan, tiba-tiba nenek itu menarik tangannya dan berbisik sambil menghela napas:

"Anak bodoh, jangan sekali-kali kau bersedih hati demi anak murid Perguruan Tay ki bun, selamanya anggota Perguruan Tay ki bun tidak pernah bersedih hati karena perempuan"

Akhirnya dia kemukakan juga perkatannya yang belum selesai diucapkan.

Untuk berapa saat Un Tay-tay berdiri tertegun, dia ingin bertanya lagi tapi si nenek sudah mendorongnya naik ke daratan kemudian men­dayung kembali perahunya menjauh.

Kabut diatas daratan sudah mulai membuyar, sejauh mata memandang hanya pohon kelapa yang tinggi menjulang ke angkasa, tempat itu memang tidak malu disebut Pulau Siang cun-to, pulau yang selalu bermusim semi.

Ketika tidak melihat munculnya bayangan manusia yang menyambut kedatangan mereka, tidak tahan Un Tay-tay segera berteriak keras"

"Tecu Un Tay-tay mendapat perintah untuk datang.........."

Belum selesai dia berteriak, tampak dua sosok bayangan manusia bergerak mendekat.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ke dua orang ini cukup tangguh, mereka memiliki perawakan tubuh yang ramping dengan wajah yang cukup cantik, ketika dilihat dari balik kabut, penampilan mereka berdua cantik bagai bunga yang sedang mekar.

Dalam perkiraan Un Tay-tay semula, penghuni pulau itu kalau bukan kelompok wanita bercadar hitam, tentulah perempuan berwajah aneh atau jelek yang dingin dan kaku wataknya. Kemunculan dua nona muda cantik saat ini kontan membuat hatinya lega.

Ke dua orang nona itu memperhatikan mereka berdua sekejap, sekilas perasaan heran terlintas diatas wajah mereka, nona yang disebelah kiri pun segera menegur.

"Bagaimana mungkin kongcu yang ini bisa ikut tiba di pulau ini?"

"Aku datang karena sedang menjalankan perintah" jawab Im Ceng sambil diam-diam meng­hela napas.

"Perintah siapa?"

"Bu si Thaysu, ketua Siau-lim-pay"

Kedua orang nona itu saling bertukar pandangan sekejap, nona yang disebelah kanan menjawab:

"Bu si Thaysu termasuk seorang tokoh dunia persilatan yang disegani dan dihormati banyak orang, kalau dia orang tua yang mengutusnya kemari, rasanya Nio Nio pasti bersedia untuk menjumpainya"

"Kalau begitu biar aku pergi melapor" sambung nona disebelah kiri sambil beranjak pergi dari situ.

Dengan wajah dihiasi senyuman nona di sebelah kanan berkata lembut:

"Harap kalian berdua menunggunya sebentar........"

Kemudian setelah melirik Un Tay-tay sekejap, lanjutnya:

"Apakah cici adalah........"

"Akupun orang mati" tukas Un Tay-tay tidak menunggu dia menyelesaikan pertanyaannya.

Sekali lagi nona itu tertawa.

"Segala istilah tentang orang mati, orang hidup, utusan langit dan lain sebagainya hanya berlaku di dunia luar, setiba di pulau ini, kau tidak perlu menggunakan istilah semacam itu lagi"

Semula Un Tay-tay menyangka penghuni pulau itu kebanyakan tentu orang angkuh yang dingin dan ketus, sama sekali tidak punya perasaan manusia, kini dia bisa berhembus lega sesudah mendengar perkataan itu.

Kembali nona itu berkata:

"Kebanyakan orang persilatan itu licik, berhati busuk dan banyak tipu muslihatnya........."

Kepada Im Ceng ujarnya sambil tertawa:

"Aku bukan maksudkan dirimu......."

"Tidak masalah" senyuman yang lemah-lembut dari si nona segera menimbulkan perasaan simpatik dihati Im Ceng.

Sambil tertawa kembali nona itu melanjutkan: "Untuk menghadapi manusia licik berhati busuk dan banyak tipu muslihat semacam itu, terpaksa kamipun harus menggunakan cara yang keras untuk menghadapinya, agar timbul perasaan jeri dihati mereka dan memaksa mereka berpikir dua kali sebelum berani melakukan perbuatan jahat disini, itulah sebabnya bila meninggalkan pulau, kami selalu menggunakan kain cadar hitam serta cara berkomunikasi yang aneh, tapi begitu balik kemari, kita semua adalah bersaudara. Justru lantaran memikirkan nasib kebanyakan wanita tidak beruntung di dunia ini maka Nio Nio menolong kami semua, beliau selalu bersikap lembut dan penuh sayang kepada kami"

Cara berbicara yang lembut dan penuh senyuman membuat Un Tay-tay semakin simpatik terhadap gadis itu, pikirnya:

"Andaikata setiap penghuni pulau bersikap macam dia, suasana disini pasti menyenangkan"

Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya:

"Kalau ditinjau dari cara berbicara berapa orang yang menyelamatkan diriku, mereka tampak dingin, hambar seakan mempunyai beban pikiran yang sangat berat, sama sekali tidak mirip orang yang sengaja bersikap begitu. Jangan-jangan merekalah orang yang benar-benar pernah mengalami nasib tragis? Sementara nona-nona ini nampak selalu ceria, kelihatannya belum pernah mengalami kejadian yang menyedihkan, kenapa orang semacam inipun bisa menjadi penghuni pulau ini?"

Berpikir sampai disitu, tak tahan segera tanyanya:

"Apakah semua penghuni pulau bersikap halus dan ramah macam cici?"

Nona itu tersenyum.

"Walaupun ada sementara penghuni pulau yang jarang bicara atau tidak suka bicara, namun perasaan mereka sangat baik, asal cici sudah berdiam selama berapa hari disini maka kau akan mengetahui dengan sendirinya"

"Aaah, itulah dia" batin Un Tay-tay.

Terdengar nona itu berkata lagi sambil tertawa:

"Aku dari marga Yau, orang memanggilku Yau su-moay, selanjutnya diantara sesama saudara kau boleh memangilku Yau su-moay saja, tidak usah cici moay moay segala"

"Aku dari marga Un"

Yau su-moay tertawa terkekeh.

"Biarpun cici tidak kenal aku, justru aku kenal dengan cici......." katanya cepat, "bukan cuma kenal cici, akupun kenal dia"

Baik Un Tay-tay maupun Im Ceng sama-sama berdiri tertegun, setelah diperhatikan berapa kejap mendadak satu ingatan melintas dalam benak mereka, tidak tahan segera serunya hampir berbareng:

"Ternyata kau adalah........"

"Betul" Yau Su-moay tertawa cekikikan, "dulu aku adalah anggota ratu tawon Heng kang It wo li ong hong, kita pernah berjumpa sewaktu berada di rumah keluarga Li di Lokyang"

"Aaah, tidak heran kalau dia begitu akrab dan mengenali aku"  pikir Un Tay-tay dalam hati, "ternyata kita pernah kenal dimasa lalu, tapi.....kenapa gerombolan ratu tawon ini bisa menjadi penghuni pulau ini?"

Tampaknya Yau Su-moay dapat menebak jalan pikirannya, setelah menghela napas dia menerang­kan:

"Gerombolan ratu tawon yang pernah berjaya dimasa lalu kini sudah bubar, hanya aku dan Yo Pat-moay yang barusan pergi paling beruntung nasibnya, kami ditolong Nio Nio dan dibawa kemari, sementara saudara lainnya sudah bubar entah kemana, bahkan kamipun tidak tahu mati hidup mereka"

Ketika berbicara sampai disini, sekilas perasaan sedih muncul diwajah gadis itu, tapi hanya sejenak kemudian senyuman kembali menghiasi wajahnya, serunya:

"Berada disini, cici akan bertemu banyak orang yang sama sekali tidak terduga sebelumnya"

"Siapa?"

"Tujuh setan perempuan anak buah Kiu cu Kui bo, apakah cici kenal dengan mereka?"

"Jadi merekapun berada disini" tanya Un Tay-tay terperanjat.

"Baru tiba dua hari berselang" Yau Su-moay menerangkan, "malah Kiu cu Kui bo sendiripun sudah tiba disini, konon adik kandung Kui-bo pun ikut kemari, biarpun usianya sudah banyak namun wajahnya cantik bak bidadari, dia selalu membopong seekor kucing berwarna putih. Aaaai! Kalau usiaku setua dia masih bisa memiliki kecantikan macam perempuan itu, biar matipun aku akan mati dengan perasaan puas"

"Yin Ping?" seru Un Tay-tay terperanjat.

"Benar, Yin Ping! Yang paling menggelikan adalah anak murid Kui-bo, kalau dimasa lalu mereka berhadapan sebagai musuh bebuyutan dengan kami, bahkan sempat bertarung habis-habisan, maka begitu berada disini, sikap mereka justru amat mesra dan akrab"

Un Tay-tay merasa tercengang bercampur terharu, baru saja dia ingin bertanya lagi masalah seputar pulau itu, mendadak dari atas tanah perbukitan berkumandang suara genta yang nyaring.

"Nio Nio sudah mengundang kalian untuk menghadap" You su-moay berseru cepat, "ayoh kita segera berangkat!"

Jalan setapak itu berliku-liku dan penuh tanjakan, tidak lama kemudian mereka bertiga telah menelusuri hutan belukar yang hijau dengan aneka bunga berwarna warni.

Dibalik pepohonan, diantara aneka bunga, disana sini tampak bangunan loteng dan gardu istirahat yang indah dan mega, pemandangan disitu boleh dibilang indah bagaikan nirwana.

Sambil tertawa ringan ujar Yau su-moay:

"Cici, coba kau perhatikan, tempat ini lebih indah dan menyenangkan ketimbang surga, kita kaum wanita bisa hidup tenteram ditempat semacam ini boleh dibilang sangat memuaskan"

"Yaaa, siapa bilang tidak......." Un  Tay-tay menghela napas panjang, setelah melirik Im Ceng sekejap diapun membungkam diri.

Im Ceng berlagak seolah tidak mendengar pembicaraan mereka, dia tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.

Setelah berada berapa ratus kaki diatas bukit, tiba-tiba tampak sebuah anak tangga yang menjulang hingga ke puncak bukit, anak tangga itu amat panjang dan terdiri dari entah berapa ratus atau berapa ribu undakan, tapi permuka-annya kelihatan amat bersih bagai batu pualam.

Tiba disitu sikap maupun mimik muka Yau Su-moay kelihatan berubah amat hormat dan serius, bisiknya:

"Diatas sana terletak bukit Cay seng hong (pemetik bintang), puncak Koan gwee teng (menerawang rembulan), tempat dimana Nio Nio menyelesaikan semua persoalan"

Diam-diam Un Tay-tay mengangguk, berada diatas undak-undakan yang menjulang sampai ke angkasa, dia merasa Nio Nio itu sungguh tinggi kedudukannya sementara dia sendiri kecil sekali.

Mereka bertiga mulai merayap naik diantara undak-undakan batu itu, sekalipun ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki cukup tangguhpun dibutuhkan waktu hampir sepertanak nasi lamanya sebelum mencapai puncak.

Disisi tebing terlihat sebuah gardu kecil, gardu yang terbuat dari batu hijau dengan pilar-pilar berwarna merah, biar kecil namun mungil dan sangat indah.

Waktu itu Yo Pat moay sedang menunggu sambil bersandar di pilar, begitu melihat kehadiran mereka bertiga, diapun segera menggapai.

Ketika mereka bertiga berjalan mendekat, setengah berbisik Yo Pat-moay berkata:

"Kongcu, harap kau menunggu sebentar disini.......sementara adikku, kau ikut cici naik dulu ke atas"

Un Tay-tay melirik Im Ceng sekejap, sinar menghibur terpancar dari balik matanya, seakan meminta pemuda itu agar legakan hati, tapi Im Ceng hanya memandang ke tempat kejauhan, sama sekali tidak menggubris ataupun ambil perduli.

Waktu itu Yo Pat-moay sudah menggapai dari luar gardu, terpaksa sambil menghela napas Un Tay-tay berjalan menghampirinya, diapun tidak berani lagi memandang ke atas puncak bukit.

Diatas puncak bukit terdapat sebuah tanah lapang yang terbuat dari batu hijau, tempat itu dikelilingi pagar kayu yang tinggi, ketika hawa kabut bergerak menyelimuti puncak dan tertimpa cahaya sang surya maka terhiaslah selapis cahaya yang aneh.

Tujuh-delapan belas orang nona berbaju hijau duduk mengelilingi pagar, sebuah meja beralas kain kuning terletak dibagian tengah dan memancarkan cahaya ke emas-emasan, tidak jelas lapisan itu terbuat dari bahan apa.

Seorang perempuan berbaju hijau duduk disisi meja, waktu itu dia sedang memandang ke tempat kejauhan, mengawasi lautan mega yang sambung menyambung dengan langit.

Un Tay-tay mengikuti Yo Pat-moay berjalan menuju ke tengah lapangan, selama ini sorot matanya tidak pernah berpisah dari langkah kaki Yo Pat-moay, bahkan setiba diatas lapangan pun dia masih belum berani mendongakkan kepalanya.

Dia dapat merasakan ada begitu banyak sorot mata yang tertuju ke tubuhnya, namun tidak sekejap pun dia berani menengok kesana-kemari, dia tidak tahu bagaimana tampang wajah kawanan nona yang berada disepanjang pagar, diapun tidak tahu bagaimana wajah Ratu matahari yang merupakan jago nomor wahid dikolong langit saat itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang dengan suara yang halus dan lembut bertanya: "Siapa namamu?"

"Un Tay-tay!" jawab perempuan itu sambil menyembah.

Dia tidak berani banyak bicara, dia bahkan merasa batu pualam yang diinjaknya seolah turut melumer karena tertimpa sorot mata yang tajam.

Kembali terdengar suara lembut itu berkata:

"Siapa yang mengajakmu kemari? Bangkit dan jawab pertanyaanku"

Un Tay-tay menurut dan segera bangkit berdiri, kemudian dengan amat hormat menuturkan semua persoalannya dari awal hingga akhir.

Selesai mendengar penuturan tersebut, suara tadi kedengaran jauh lebih lembut dan halus, setelah menghela napas panjang ujarnya:

"Kelihatannya banyak siksaan dan penderitaan yang telah kau alami"

Suara yang halus dan lembut itu segera mengurangi banyak perasaan takut dan jeri yang semula mencekam perasaan Un Tay-tay, tanpa terasa diapun mendongakkan kepalanya sambil melirik sekejap ke arahnya.

Sayang waktu itu Jit ho Nio nio sedang berpaling memandang ke arah lain, Un Tay-tay hanya sempat menyaksikan potongan tubuhnya yang kecil mungil dengan jari tangannya yang halus lembut, dia tidak berhasil menyaksikan raut wajah aslinya.

Sebetulnya Un Tay-tay ingin memperhatikan lagi beberapa kejap, namun entah mengapa, tanpa sadar dia justru menundukkan kembali kepalanya.

Perlahan-lahan Jit ho Nio nio berkata lagi:

"Setelah tiba di sini berarti kau tidak usah menderita siksaan batin lagi, bila tidak ada urusan lain, ikutlah Pat-moay pergi beristirahat!"

Perkataan itu begitu lembut, halus dan penuh perhatian, membuat Un Tay-tay merasa amat terharu dan berterima kasih, dia tahu seandainya tinggal disitu maka kehidupannya akan lebih tenang dan bahagia, tapi Im Ceng........

Setiap kali terbayang Im Ceng, perasaan hatinya seketika berkobar kembali, dia tidak bisa membedakan perasaan itu sebagai rasa manis dan mesra atau justru suatu penderitaan.

Dengan kepala tertunduk bisiknya kemudian:

"Tecu....... tecu masih ada satu hal yang ingin disampaikan"

"Soal apa? Katakan saja!"

"Sebetulnya tecu ingin sekali tetap tinggal disini, tapi........tapi......."

"Apakah masih ada persoalan lain yang mengganjal hatimu?"

Pertanyaan itu disampaikan dengan nada tercengang bercampur keheranan.

Un Tay-tay merasa semakin panik, butir air mata pun tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi matanya, dia jadi tergagap dan tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Kembali Jit ho Nio nio berkata:

"Setiap bocah yang datang kemari pasti sudah memutuskan hubungan dengan kehidupan keduniawian, tapi seandainya kau masih punya persoalan yang menyusahkan dirimu, katakan saja terus terang, aku tidak bakal marah padamu"

Un Tay-tay merasa makin panik bercampur malu, dengan nada sesenggukan katanya:

"Aku......dia.....aku berjumpa lagi dengan­nya.....dia...... dia.....aku....."

Perkataannya terputus putus, nyaris tidak membentuk satu kalimat yang bisa ditangkap secara jelas, hal ini membuat semua orang jadi bingung karena tidak paham apa yang dia inginkan.

Tapi kawanan gadis yang berada disekitar sana kebanyakan adalah perempuan yang pernah mengalami pengalaman pahit dalam hidupnya, biarpun hanya mendengar perkataan yang terputus-putus, namun mereka segera memahami apa yang dimaksud, tidak kuasa lagi suara helaan napas berkumandang dari sana sini.

Jit ho Nionio menghela napas panjang, ujarnya lembut:

"Sebetulnya kau anggap lelaki itu tidak berperasaan kepadamu maka hatimu kecewa dan putus asa, tapi kemudian justru tanpa sengaja bertemu lagi dengannya dan kaupun menjumpai bukan saja dia menaruh perasaan kepadamu, bahkan kalian berdua bersumpah untuk hidup bersama hingga sulit bagimu untuk meninggalkan dirinya lagi, bukan begitu?"

Setiap perkataannya boleh dibilang hampir mendekati kenyataan, setiap ucapannya serasa merasuk hingga ke dasar hati Un Tay-tay, membuat perempuan itu dengan wajah merah jengah menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Kembali Jit ho Nio nio berkata:

"Biarpun ditempatku ini tertampung semua wanita bernasib jelek yang ada di dunia ini, namun aku tidak berharap semua wanita di dunia ini bernasib malang, aku tentu akan sangat gembira bila kau bisa peroleh kebahagiaan"

Tanpa terasa untuk kesekian kalinya Un Tay-tay menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, serunya penuh rasa haru:

"Terima kasih Nio-nio atas budi kebaikanm, selama hidup siauli tidak akan melupakannya"

"Bila kutinjau dari betapa girangnya kau sekarang, lelaki itu pasti seorang pemuda yang romantis........Aiii! biarpun orang yang romantis itu gampang mendatangkan kemurungan, tapi ada berapa orang romantis di dunia ini memang jauh lebih baik"

Setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya: "Di mana ia menunggumu?”

"Di gardu kecil bawah bukit"

"Oooh, dia adalah pemuda yang diutus Bu si Thaysu itu?”

"Benar, tapi dia bukan murid Siau-lim-pay, kedatangannya memang atas perintah Bu si Thaysu"

"Kalau dia bukan anggota Siau-lim-pay lalu murid siapa? Aaai! Jangan salahkan aku terlalu cerewet dan banyak bertanya, setelah dia tiba ditempat ini, mau tidak mau aku harus menaruh perhatian secara khusus"

"Dia adalah anggota Tay ki.........."

Belum selesai dia menjawab, Jit ho Nionio telah berteriak penuh amarah:

"Apa?"

Suaranya keras lagi tinggi melengking, dibandingkan nada suaranya semula boleh dibilang bagaikan berasal dari dua manusia yang berbeda.

Un Tay-tay terkesiap, katanya lagi agak gemetar:

"Dia......dia adalah anggota Perguruan Tay ki bun........."

"Traaaang!" kutungan senjata Ji gi kemala terjatuh persis dihadapannya, ternyata dalam gusarnya Jit ho Nionio telah mematahkan senjata penggaris itu menjadi dua bagian.

Un Tay-tay yang berlutut semakin tidak berani bergerak, tubuhnya gemetar keras, mimpipun dia tidak mengira kalau Jit ho Nio nio bakal begitu gusar setelah mendengar nama Perguruan Tay ki bun. Tapi apa sebabnya dia begitu gusar?

Dalam gusarnya kedengaran napas Jit ho Nio nio terengah-engah, sampai lama kemudian dia baru membentak lagi dengan suara nyaring:

"Anggota Perguruan Tay ki bun? Buat apa kau tergila-gila dengan anggta Perguruan Tay ki bun? Biar semua lelaki didunia ini sudah mampus pun kau tidak boleh menaruh perhatian terhadap anak murid Perguruan Tay ki bun, mengerti?"

Un Tay-tay terkejut bercampur keheranan, perkataan yang sama sudah pernah dia dengar dari mulut nenek si tukang perahu, sekalipun cara penyampaiannya berbeda namun artinya jelas sama.

Dia tidak habis mengerti, kenapa penghuni Pulau Siang cun-to menaruh perasaan benci dan dendam yang begitu besar terhadap seluruh anggota Perguruan Tay ki bun, tapi mengapa pula si nenek tidak melarang Im Ceng naik ke perahunya kendatipun sudah tahu kalau pemuda itu adalah anggota Perguruan Tay ki bun?

Hubungan antara cinta dan benci ternyata begitu sensitip dan aneh, membuat orang sulit untuk memahaminya, kini walaupun dihati kecil Un Tay-tay penuh diliputi rasa ingin tahu dan tidak habis mengerti, namun tidak sepatah katapun berani diutarakan keluar.

Kelihatannya Jit ho Nio nio sudah bangkit berdiri dan mulai berjalan mondar mandir disekeliling tempat itu, suara langkah kaki itu serasa berputar mengelilingi Un Tay-tay, membuat setiap langkah kaki itu seolah sedang menginjak dihati kecilnya.

Sampai lama, lama sekali, suara langkah kaki itu baru berhenti. Kemudian terdengar Jit ho Nio nio menghardik lagi:

"Bawa kemari anak murid Perguruan Tay ki bun itu!"

Yo Pat-moay mengiakan dan segera beranjak pergi.

Perasaan hati Un Tay-tay saat itu tidak terlukiskan dengan kata, dia merasa amat kuatir, amat takut dan amat cemas, dia tidak tahu apa yang bakal dialami Im Ceng nanti, apakah Jit ho Nio nio akan menghukum mati pemuda itu?

 

BAB 27.

Antara mati dan hidup.

 

Im Ceng telah naik ke puncak tebing, telah tiba ditanah lapang, dalam pandangan pertama dia saksikan seorang wanita berbaju hijau yang bertubuh ramping sedang berdiri membelakangi­nya, berdiri sambil bergendong tangan dan memandang lautan bebas nun dikejauhan sana.

Perawakan tubuh perempuan itu tidak tinggi besar, bentuknya tidak aneh, pakaian yang dikenakan pun tidak kelewat mencolok, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya boleh dibilang tidak satupun yang kelihatan menarik perhatian orang.

Tapi dari sekian banyak orang yang hadir diatas puncak bukit, justru dalam pandangan pertama Im Ceng sudah tertarik kepadanya, dari balik tubuh seorang wanita yang sangat sederhana seakan mengandung daya tarik yang luar biasa besarnya.

Padahal kawanan gadis yang berdiri disisinya rata-rata merupakan kawanan wanita berparas cantik jelita, tapi cukup bayangan punggung perempuan itu sudah dapat mengalahkan pamor dari kecantikan wajah kawanan gadis lainnya.

Biarpun hingga detik itu Im Ceng belum menyaksikan raut mukanya, namun dia yakin kalau perempuan itu tidak lain adalah Jit ho Nio nio penguasa Pulau Siang cun-to.

Tokoh maha sakti yang selama ini dibayangkan bagaikan seorang tokoh dunia dongeng, sekarang telah muncul hidup hidup di depan mata, sedikit banyak bergolak juga perasaan hati Im Ceng.

Perempuan itu berdiri sambil bergendong tangan, ke sepuluh jari tangannya putih lagi halus, satu gejolak perasaan yang aneh kembali timbul dalam hatinya, anak muda itu tidak tahu kenapa bisa muncul perasaan semacam itu dalam hatinya.

Sesudah memberi hormat kata Im Ceng:

"Murid Perguruan Tay ki bun memberi hormat kepada Jit ho Nio nio!"

"Atas perintah siapa kau datang kemari?”

Biarpun nada suaranya dingin lagi kaku, sayang jari tangannya kelihatan gemetar keras, ini menunjukkan kalau sedang terjadi gejolak perasaan dalam hatinya.

"Tecu mendapat perintah dari Siau-lim Bu si Thaysu untuk datang berkunjung"

Tiba-tiba Jit ho Nio nio membentak keras:

"Kalau betul kedatanganmu atas perintah Bu si Thaysu, sudah sepantasnya kalau kau menghadap sebagai anggota Siau-lim-pay, mengerti?"

Im Ceng tertegun, dia tidak habis mengerti kenapa tiba-tiba perempuan itu naik pitam, terpaksa diapun mengiakan.

"Untuk urusan apa Bu si Thaysu perintahkan kau datang kemari?" tegur Jit ho Nio nio.

"Bu-si Thaysu bilang, sudah cukup lama dunia persilatan dilanda kekalutan, sudah waktunya memberi ketenangan dan waktu istirahat bagi rekan-rekan persilatan, gara-gara keruwetan tersebut boleh dikata sudah puluhan tahun lamanya seluruh jago persilatan dilibatkan dalam kasus tersebut, kini sudah saatnya untuk melakukan satu penyelesaian, harap Nio Nio berbesar hati dengan memikirkan penderitaan orang banyak, khususnya bagi mereka yang harus hidup terlunta karena dikejar pembalasan, sehingga terkadang untuk mengubur jenasah kerabatnya pun tidak sempat. Hukuman mereka sudah lebih dari cukup, oleh karena itu dimohon Nio Nio mau mengampuni mereka yang pantas diampuni dengan secepatnya menyelesaikan keruwetan itu........"

"Tutup mulut!" tiba-tiba Jit ho Nio nio mem­bentak nyaring.

Kepalan tangannya nampak semakin kencang, bahkan tubuhnya pun tidak tahan untuk gemetar keras, tegurnya lagi:

"Kurangajar, kaupun ingin menasehati aku?"

"Tecu tidak berani, semua perkataan yang disampaikan adalah perkataan dari Bu-si Thaysu, tecu hanya mengulangi perkataan itu tanpa mengurangi sepatah kata pun. Mengenai apa kasus yang dimaksud, tecu tidak tahu menahu"

Kembali Jit ho Nio nio mendengus dingin, nampak rasa gusarnya belum mereda, ujarnya:

"Hmmm, apakah Bu si Thaysu tidak merasa kelewat tinggi menilai kemampuan diri sendiri? Hmm, atas dasar apa dia ingin mencampuri urusan ini!"

Menyaksikan sikap perempuan itu, meski Im Ceng merasa kaget bercampur keheranan, namun dia tidak berani banyak bertanya, pemuda itu hanya berdiri membungkam dengan kepala tertunduk.

Kembali berapa saat sudah lewat, tampaknya hawa amarah Jit ho Nio nio sudah mulai mereda, namun dia belum juga berpaling, ujarnya dingin:

"Jadi tujuan kedatanganmu hanya untuk menyampaikan beberapa kata itu saja?"

"Benar, hanya berapa patah kata itu saja"

"Kalau begitu sampaikan kepadanya, bukan aku yang menanam bibit sebab dalam kasus ini maka bukan aku pula yang akan menyelesaikannya, selama ini aku tidak ingin mencampuri urusan tersebut, dikemudian hari pun aku tetap tidak akan mencampurinya"

Bicara punya bicara, nada suaranya kembali dicekam luapan emosi, katanya lebih lanjut:

"Bila Bu si Thaysu ingin menyelesaikan persoalan ini, tidak ada salahnya kalau dia selesaikan sendiri, tidak usah mencari diriku lagi"

"Baik!"

Saat itulah Im Ceng baru berpaling sambil memandang Un Tay-tay sekejap, waktu itu Un Tay-tay pun dengan air mata berlinang sedang melirik ke arahnya secara sembunyi-sembunyi.

Ketika sepasang mata mereka saling bertemu, tiba-tiba dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi wajah perempuan itu.

Dari balik sorot matanya yang sayu, dari balik pandangan matanya yang penuh penderitaan, penuh rasa sedih, dia seakan sedang memohon kepada Im Ceng:

"Pergilah, cepat pergi dari sini, jangan mengurusi diriku lagi........."

Tampaknya kedua orang ini sudah memiliki hubungan batin yang amat kental, hanya cukup memandang sekejap, Im Ceng segera paham kalau Jit ho Nio nio telah menampik permohonan Un Tay-tay, satu perasaan pedih bercampur gusar tiba-tiba menyelimuti perasaan hatinya.

Begitu melihat perubahan wajah sang pemuda disertai kilatan cahaya mata yang buas, Un Tay-tay segera mengerti apa yang hendak dilakukan kekasih hatinya, dengan perasaan terperanjat segera teriaknya gemetar:

"Jangan...... jangan kau lakukan...... jangan bertindak disini......."

Sayangnya, begitu Im Ceng terpengaruh gejolak emosi, jangan lagi manusia biasa, dewa pun sulit untuk mencegahnya.

Belum selesai Un Tay-tay berkata, sambil membusungkan dada Im Ceng telah membentak nyaring:

"Murid Tay ki bun Im Ceng masih ada satu persoalan yang ingin disampaikan!"

"Berani amat kau menyebut diri sebagai murid Perguruan Tay ki bun!" hardik Jit ho Nio nio penuh amarah.

Im Ceng tertawa lantang, sahutnya: "Aku telah menyampaikan urusan yang menyangkut kepentingan Siau-lim-pay, dengan sendirinya harus tampil dengan identitasku yang Nebenarnya, hidup sebagai anggota Perguruan Tay ki bun, matipun tetap menjadi setan Perguruan Tay ki bun, kenapa aku tidak berani mengakui sebagai murid Perguruan Tay ki bun? Aku tahu kungfu yang kami miliki memang masih ketinggalan jauh bila dibandingkan kemampuan-mu, tapi soal nama, dimana pun kami sebut nama besar Perguruan Tay ki bun, nama ini jauh lebih cemerlang ketimbang nama Pulau Siang cun-to!"

Tidak terlukiskan rasa gusar Jit ho Nio nio lelah mendengar perkataan  itu,   teriaknya lengking:

"Kau.......kau berani.........."

Dengan air mata bercucuran cepat Un Tay-tay menjatuhkan diri berlutut dibawah kaki perempuan itu, rengeknya:

"Nio Nio..... dia..... dia masih kanak-kanak, harap Nio Nio tidak menanggapinya dengan serius"

Jit ho Nio nio tertawa dingin. "Hmmm, ulahnya masih belum pantas membuat aku naik darah........" katanya, "baiklah, sebagai anggota Perguruan Tay ki bun, apa yang hendak kau sampaikan?"

"Aku ingin bertanya kepadamu, kalau toh Un Tay-tay tidak bersedia tinggal disini, apa alasannya kau memaksa dia untuk tetap tinggal disini? Apakah tindakanmu inipun pantas disebut menolong orang yang kesusahan?"

"Siapa yang paksa dia untuk tetap tinggal disini?" tegur Jit ho Nio nio.

Im Ceng tertegun, seketika itu juga hawa amarahnya mereda setengah, tahu kalau dugaan­nya keliru, tingkah lakunya jadi serba salah, ucapnya agak tergagap:

"Kalau memang begitu, Tay-tay, ayoh kita pergi!"

"Siapa yang mengijinkan kau membawanya pergi?" kembali Jit ho Nio nio menegur ketus.

Sekali lagi Im Ceng tertegun, tapi kemudian dengan wajah penuh kegusaran teriaknya:

"Bukankah kau bilang tidak akan menahan­nya? Kini kaupun melarangnya pergi, rupanya kau sedang mempermainkan aku?"

"Mau kemana pun dia pergi, aku tidak bakalan melarangnya, tapi kalau pergi bersamamu, hmmm! Jangan harap!"

"Kenapa?" teriak Im Ceng gusar.

"Bila dia ingin menikah. Sekalipun harus kawin dengan seorang berandal kota atau seorang pekerja kasar pun aku akan mendukungnya, tapi kalau ingin menikah dengan anggota Perguruan Tay ki bun..... hmmm, jangan harap aku      akan mengijinkan!"

"Kenapa?" bentakan Im Ceng semakin nyaring.

"Karena setiap pria yang bergabung dalam Perguruan Tay ki bun adalah binatang yang tidak berperasaan dan tidak setia kawan!"

Kontan Im Ceng melompat bangun, umpatnya pernuh amarah:

"Ken.......siapa yang bilang begitu?"

Walaupun dia tidak berani mengucapkan kata "kentut", namun orang yang berani mencak-mencak kegusaran dihadapan Jit ho Nio nio pun boleh dibilang tak ada ke duanya.

Pucat pias wajah kawanan gadis yang berada disekeliling tempat itu, mereka tahu, Jit ho Nio nio pasti tidak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Siapa tahu bukan saja Jit ho Nio nio sama sekali tidak turun tangan, berpaling pun tidak, malah ujarnya kepada Un Tay-tay:

"Bila saat ini kau ingin pergi, aku pun tidak akan menahanmu!"

"Nio Nio, aku........" isak tangis Un Tay-tay makin menjadi.

"Tapi sebelum meninggalkan tempat ini, kau harus angkat sumpah berat, selama hidup tidak pernah akan berbicara sepatah kata lagi dengan anggota Perguruan Tay ki bun!"

"Aku.......  aku........."  tiba-tiba Un Tay-tay menangis tersedu.

"Kenapa? Kau tidak sanggup?"

"Aku.....aku akan tetap tinggal disini" bisik Un Tay-tay lirih.

"Kalau ingin tinggal disini, kau justru harus mengangkat sumpah yang lebih berat lagi, sejak hari ini hingga akhir jaman kau tidak boleh lagi memikirkan anggota Perguruan Tay ki bun"

Tubuh Un Tay-tay gemetar makin keras, dengan suara gemetar bisiknya:

"Ini......ini........."

Tiba-tiba dia mendekam diatas tanah sambil menangis tersedu sedu, terusnya:

"Aku tidak bisa kalau tidak memikirkan dia, aku benar-benar tidak bisa, tidak memikirkan dia!"

"Hanya orang berhati setenang air yang cocok berdiam di Pulau Siang cun-to" ujar Jit ho Nio nio dingin, "bila kau masih memikirkan dia, berarti tidak ada tempat bagimu untuk tetap tinggal di pulau ini!"

Ketika berbicara sampai disini, bukan saja Im Ceng merasa gusar bercampur sedih, bahkan kawanan gadis penghuni Pulau Siang-cun-to pun merasa bahwa sikap yang diperlihatkan Jit ho Nio nio hari ini sedikit kelewatan dan tidak berperasaan, tanpa terasa timbul perasaan simpatik mereka terhadap Un Tay-tay, malah tidak sedikit diantara mereka yang meneteskan air mata.

Sambil meninju permukaan tanah dan menangis tersedu, kembali Un Tay-tay merengek:

"Nio Nio, mana mungkin kau bisa memaksa orang untuk melakukan perbuatan yang tidak mungkin dilakukan, kau.......lebih baik biarkan aku mati saja!"

"Hmm... tampaknya memang lebih baik kau mati saja!" sela Jit ho Nio nio dingin.

Habis sudah kesabaran Im Ceng, dengan suara menggeledek teriaknya:

"Dendam sakit hati apa yang terjalin antara kau dengan Perguruan Tay ki bun kami........"

Ditengah bentakan keras tubuhnya melam­bung ke udara dan langsung melepaskan satu pukulan ke punggung Jit ho Nio nio.

Kawanan gadis yang berada diseputar sana sama-sama menjerit kaget, paras muka mereka berubah hebat.

"Hmm! Kau berani kurangajar kepadaku!" jengek Jit ho Nio nio dingin.

Telapak tangannya langsung berbalik melaku­kan satu gerakan, seolah tumbuh mata di punggungnya, tanpa berpaling ujung bajunya langsung menyapu ke atas dada Im Ceng.

Belum sempat telapak tangannya menyentuh tubuh lawan, Im Ceng sudah merasakan datangnya segulung kekuatan dahsyat yang menghantam tubuhnya, dia tidak mampu membendung apalagi menghindar, diiringi jeritan tertahan tubuhnya mencelat ke udara dan terpental sejauh tiga kaki dari posisi semula.

Baru saja Un Tay-tay siap menggerakkan tubuhnya sambil menjerit kaget, kembali Jit ho Nio nio mengebaskan ujung bajunya, kali ini dia menyambar jalan darah Cian cing hiat dibahunya, kontak gadis itu tergeletak kaku dan tidak sanggup bergerak lagi.

Biarpun ilmu silat Im Ceng masih jauh ketinggalan dibandingkan kepandaian orang, bukan berarti dia menyerah dengan begitu saja, keberanian serta kenekadannya memang patut diacungi jempol.

Begitu roboh ke tanah cepat dia melompat bangun dan untuk kedua kalinya menerjang maju lagi ke depan.

Ketika Jit ho Nio nio kembali mengebaskan ujung bajunya, untuk kesekian kali pula Im Ceng jatuh bangun, tapi tiga lima kali sudah berlalu, bukan saja dia tidak mampu melepaskan satu jurus serangan balasan bahkan makin mencelat, tubuhnya terpental makin jauh dan berat.

Sekarang dia baru tahu, Jit ho Nio nio yang disebut tokoh paling sakti dalam dunia persilatan memang benar-benar memiliki kepandaian silat yang tidak terkirakan, sekalipun dia berlatih sepuluh tahun lagi pun belum tentu kemampuan­nya sanggup menandingi lawan.

Menyadari akan kenyataan itu, Im Ceng merasa putus asa dan patah arang, dia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Hmm, baru memiliki ilmu silat secetek itu sudah ingin pamer kekuatan" jengek Jit ho Nio nio dingin, "boleh saja bila kau ingin selamatkan nyawanya, asal kau sudah mampus, dia pasti akan hidup tenang. Hanya saja.......aku rasa belum tentu kau memiliki keberanian untuk melakukan-nya"

Mendadak Im Ceng mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, teriaknya:

"Ternyata kau hanya menginginkan kematian-ku? Itu mah gampang, aku orang she-Im memang sudah bosan untuk hidup terus!"

Sejak kematian Thiat Tiong-tong, dia memang sudah putus asa, kepedihan dan kemarahan yang dialaminya sekarang telah berubah menjadi kekecewaan, dia semakin merasa kalau hidup itu tidak berarti lagi.

Perlu diketahui Im Ceng adalah seorang pemuda yang berjiwa berangasan cepat naik darah dan temperamen, ketika pikirannya sedang diliputi emosi, sering dia tidak perdulikan mati hidup, apalagi dalam keadaan seperti saat ini dia semakin nekad dan tidak ambil perduli soal mati hidupnya lagi.

Ditengah gelak tertawa yang menyeramkan, tubuhnya melejit ke udara dan segera mencebur­kan diri ke dalam jurang yang sangat dalam itu.

Siapa tahu Jit ho Nio nio segera mengebaskan ujung bajunya lagi dan segera mencegah tindakan nekadnyaitu.

"Sampai ingin matipun kau masih mengha­langiku?" teriak Im Ceng gusar.

"Dibawah jurang ini merupakan samudra luas, belum tentu kau akan mampus bisa tercebut ke situ, bila betul-betul ingin mati, lebih baik melompat saja dari sebelah sana" kata Jit ho Nio nio dingin.

Dia bicara tanpa berpaling, apalagi memandang ke arahnya.

Sambil tertawa keras kembali Im Ceng berkata: "Un Tay-tay, biarpun selama hidup aku tidak dapat mendampingimu, tapi setelah mati nanti tidak akan ada orang yang bisa menghalangiku untuk bertemu lagi denganmu. Jiko, tunggu kedatanganku........."

Belum selesai dia tertawa, tubuhnya sudah meluncur ke dalam jurang, dari kejauhan sana hanya terdengar suara gelak tertawanya yang penuh diliputi rasa gusar bercampur kepedihan.

Setengah hari berselang Im Ceng telah menghajar Thiat Tiong-tong hingga tercebur ke dalam jurang, setengah hari kemudian dia sendiri yang terjun ke dalam jurang, dia tahu dengan kematiannya ini bukan saja telah selamatkan jiwa Un Tay-tay, diapun bisa mencuci bersih dosa serta rasa penyesalannya, perasaan hatinya sesaat sebelum mati pasti sangat tenteram.

Tapi mana mungkin dia menyangka kalau dengan kematiannya itu justru mereka yang hidup akan merasakan penderitaaan dan siksaan yang lebih parah?

Apalagi ke dua orang murid Thiat-hiat Tay ki bun ini merupakan dua jago tangguh yang paling berbakat dan paling cemerlang masa depannya.

Sekalipun perangai kedua orang itu berbeda, namun yang satu adalah jago yang tidak panik meski menghadapi bahaya, selalu banyak akal untuk menghadapi situasi, sementara yang lain adalah seorang jago yang penuh dengan semangat kependekaran.

Tapi kini, secara beruntun dalam seharian mereka harus mati susul-menyusul, berbicara bagi perkembangan dunia persilatan, jelas kejadian ini merupakan satu kehilangan besar, karena masih ada begitu banyak beban serta tanggung jawab yang harus mereka selesaikan.

Waktu itu, walaupun Un Tay-tay sama sekati tidak mampu bergerak namun perasaan hatinya sudah hancur lebur, dengan sorot mata basah oleh air mata dia tatap wajah Jit ho Nio nio, menatap dengan pandangan sedih, gusar bercampur dendam, perasaan yang tidak dapat diurai oleh siapa pun.

Tiba-tiba Jit ho Nio nio berpaling, ternyata wajahnya yang pucat telah dibasahi air mata, perlahan-lahan ujarnya:

"Hantar Un Tay-tay ke ruang Liu im koan, rawat dia secara baik-baik"

Dari balik nada ucapannya, kedengaran rasa perhatian serta sayang yang sangat mendalam.

Saat itu, andaikata memungkinkan, Un Tay-tay ingin sekali mengumpat:

"Kalau kau sudah memaksanya hingga bunuh diri, buat apa mesti mengucurkan air mata?"

Sayang tubuhnya tidak mampu bergerak, mulutnya tidak mampu berbicara hingga tidak sepatah kata pun sempat meluncur keluar.

Dua orang gadis berjalan mendekat dan membopongnya, tanpa mampu melawan tubuhnya dibopong orang dan dibawa turun bukit.

Menanti bayangan tubuh mereka telah lenyap dari pandangan, tiba-tiba Jit ho Nio nio men­dongakkan kepalanya sambil menghela napas panjang, gumamnya dengan getir:

"Tidak kusangka ternyata dalam Perguruan Tay ki bun masih terdapat lelaki yang rela mati demi cinta............"

Bekas air mata belum mengering dari wajahnya namun sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya, tidak jelas dia sedang bersedih hati? Atau merasa girang? Mungkin tidak seorang manusia pun di dunia ini yang bisa menebak suara hatinya.

 

Kaki bukit, gedung Liu im koan, sebuah bangunan mungil yang bersih lagi tenang.

Saat itulah terlihat empat sosok bayangan manusia meluncur keluar tanpa menimbulkan suara, bergerak cepat langsung menuju ke tepi laut.

Ditepi pesisir, diatas perahu nelayan. Suasana hening tidak kedengaran setitik suara pun.

Nenek yang rambutnya telah beruban itu duduk bersila diujung sampan, duduk sambil menengadah memandang angkasa.

Dia seakan sedang menantikan sesuatu, seperti juga sedang duduk kesepian, langit nan biru, air laut nan hijau, rambut nan putih.......suatu perpaduan warna yang unik.

Empat sosok bayangan manusia yang muncul dari gedung Liu im koan itu menghentikan gerakan tubuhnya ditempat kejauhan, serentak mereka memperhatikan nenek diatas sampan itu tanpa berkedip, gerakan tubuh mereka berempat cepat, ringan dan lincah, siapa pun tidak ada yang menimbulkan suara.

Meski tidak berpaling, tampaknya nenek itu sudah merasakan kehadiran mereka, mendadak serunya dengan suara dalam:

"Kemari!"

Ke empat sosok bayangan manusia itu saling bertukar pandangan sekejap, akhirnya mereka bergerak mendekat. Ternyata mereka tidak lain adaah Kiu cu Kui bo Yin Gi, Yin Ping, Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng.

Saat itu diatas wajah Yin Gi yang biasanya dingin menyeramkan telah muncul gejolak emosi yang besar, senyum nakal yang selalu tersungging diujung bibir Yin Ping pun sudah hilang lenyap tidak berbekas.

Perlahan-lahan nenek itu membalikkan tubuh­nya menghadap ke arah mereka, ke tiga orang itu saling berpandangan tanpa berkedip, tidak seorang pun yang buka suara maupun menyapa.

Entah berapa saat sudah lewat..........

Akhirnya dengan suara gemetar Yin Ping berbisik:

"Toaci............"

"Sam-moay!" balas nenek itu. Sekujur tubuh Yin Ping gemetar keras, tiba tiba ia berlarian ke ujung sampan bagai orang kalap, berdiri dihadapan nenek itu, memandang-nya dengan mata terbelalak dan serunya:

"Toaci, be......benarkah kau?"

"Kalau bukan aku lalu siapa?" jawab nenek itu sambil tersenyum.

Yin Ping berseru lirih, sepasang lututnya terasa lemas, tidak tahan diapun berlutut diatas geladak.

Yin Gi sendiripun seolah berdiri terperana, dengan wajah bimbang selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke ujung sampan, gumamnya berulang kali:

"Toaci, benarkah kau... toaci, benarkah kau...."

Kelihatannya nenek itupun sedikit tertegun, gumamnya lirih:

"Ji-moay...........ji-moay........."

"Tiga puluh tahun kita tidak pernah bersua, akhirnya harapanku bisa berjumpa lagi dengan toaci terkabulkan juga" kata Yin Gi.

Siksaan dan penderitaan selama banyak tahun, tampaknya telah membentuk perasaan hatinya lebih keras dari baja, sekalipun berada dalam keadaan penuh emosi, dia masih tetap berdiri tegak bagaikan sebuah patung.

Terdengar nenek itu bergumam pula:

"Tiga puluh tahun.........yaaa, tiga puluh tahun, aaaai! Walaupun hari berlalu sangat lambat bagai rangkak dari siput, terkadang pun terasa betapa cepatnya tiga puluh tahun telah berlalu"

"Benar"

"Apakah kau masih ingat? Sesaat sebelum pergi meninggalkan kalian, aku masih sempat mencuci rambut kalian berdua,  aaaai! Tidak nyana......sekarang.......rambutmu telah beruban"

"Rambut toaci pun telah beruban!" sambung Yin Gi sambil tundukkan kepalanya.

"Yaaa, telah beruban, telah beruban" nenek itu tertawa pedih, "sejak dua puluh tahun berselang telah mulai beruban, aaaai ....... sungguh  tidak disangka dalam waktu sekejap, aku sudah tiga puluh tahun lamanya tidak pernah menyisirkan rambutmu!"

Perlahan dari sakunya dia mengeluarkan sebuah sisir yang kuno, diujung sisir terdapat sebutir mutiara, dapat dibayangkan betapa indah dan menariknya benda tersebut dimasa lalu.

Tapi sekarang, sisir itu sama persis seperti tiga bersaudara itu, walaupun masih tersisa secercah jejak yang menawan, namun cahaya cemerlang dimasa lampau telah memudar, bahkan cahaya mutiara itupun terasa telah berubah warna menjadi kuning kusam.

Dengan pandangan sayu nenek itu mengawasi sisirnya, lama, lama kemudian dia baru bertanya sambil tertawa pedih:

"Masih ingat dengan benda ini? Sisir inilah yang pernah kugunakan untuk menyisir rambut-mu di masa lalu"

"Yaa, aku masih ingat!" jawab Yin Gi dengan nada gemetar, tanpa terasa dia turut menatap sisir itu dengan termangu.

"Coba lihat rambutmu sekarang, kacau dan menggumpal, kemarilah...... biar kusisirkan lagi rambutmu"

Dia seakan masih menganggap ji-moay nya sebagai gadis kecil dimasa lampau, dia seolah lupa kalau ji-moay nya sekarang adalah seorang gembong iblis wanita yang nama besarnya telah menggetarkan sungai telaga semenjak dua puluh tahun berselang.

Butir air mata tiba-tiba mengembang dalam kelopak mata Yin Gi lalu jatuh berlinang membasahi pipinya, perlahan dia berpaling kemudian benar-benar duduk didepan nenek itu, membiarkan toaci nya sekali lagi menyisiri rambutnya yang telah beruban.

Sisir punya sisir, sekulum senyuman mulai tersungging menghiasi ujung bibir nenek itu, namun butir air mata justru  membasahi matanya, mengalir ke bawah, tetes demi tetes membasahi rambut Yin Gi yang memutih.

Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng hanya berdiri menonton dari samping, menyaksikan adegan yang begitu mengharukan, begitu menggetarkan sukma, memandang dengan terperana.

Keadaan Yin Ping tidak jauh berbeda, wajahnya telah basah oleh air mata, mendadak dia menubruk ke depan sambil berteriak keras, merangkul tengkuk ke dua orang cicinya dan memeluknya kuat-kuat.

Yin Gi pun tidak sanggup menahan diri lagi, dia membalikkan tubuh, menjatuhkan diri dalam pelukan toacinya.

Sang nenek merentangkan ke dua belah tangannya, dengan perasaan bergetar balas memeluk ke dua orang adiknya kuat kuat......

Untuk sesaat mereka bertiga seolah sudah melupakan usia sendiri, melupakan semua penderitaan dan siksaan yang dialaminya selama banyak tahun, melupakan ketidak beruntungan yang menimpa hidup mereka selama ini.......

Mereka seakan sudah melupakan segalanya, seakan sudah kembali ke masa lampau, masa dimana mereka bisa menangis setiap saat, bisa tertawa tergelak setiap waktu.

Entah berapa lama sudah lewat..........

Akhirnya nenek itu mendongakkan kepalanya dan bergumam:

Thian maha adil, Thian maha kasih, akhirnya kami tiga bersaudara Yin dapat berkumpul kembali"

Yin Gi pun perlahan-lahan mengambil duduk, sehabis menyeka air matanya, dia berkata sambil tertawa hambar:

"Sungguh menggelikan, ketika pertama kali menaiki perahu milik toaci, ternyata aku tidak bisa mengenali toaci sendiri"

"Benar" sambung Yin Ping cepat, "kalau bukan aku secara sengaja balik lagi kemari untuk melakukan pemeriksaan, mungkin toaci sudah marah besar dan tidak mau memperduli kami lagi"

Nenek itu tertawa getir.

"Mana mungkin toaci akan marah kepada kalian" katanya, "kalau aku tidak mengakui, mana mungkin kalian bisa menduga kalau si nenek mengenaskan yang berada di perahu ini adalah manusia aneh dimasa lampau Yin Siok?"

Biarpun perkataan itu diutarakan tanpa maksud lain, namun ucapan tersebut justru bagaikan godam besar yang menghantam perasaan ke tiga orang itu kuat kuat....... manusia perkasa dimasa lampau kini telah berubah jadi nenek penyeberang yang hidup sendirian diatas lautan, kecantikan wajah yang rupawan dimasa lalu, kini telah berubah jadi nenek jelek berwajah menye­ramkan.

Tiga puluh tahun, masa selama tiga puluh tahun ternyata memang tidak kenal belas kasihan.

Darah yang dulu panas kini telah membeku, semua gejolak perasaan kini telah berubah menjadi penderitaan.

Ke tiga orang itu saling berpandangan, kendati­pun tidak dapat menyaksikan raut muka sendiri, namun dari kerutan wajah di pihak lain mereka seakan dapat menyaksikan jejak ketuaan di wajah sendiri.

Kini mereka bertiga mulai sadar, waktu yang telah lewat selamanya tidak akan bisa balik kembali, semua kegembiraan yang sudah lenyap, hanya bisa dikenang kembali didalam hati.

Semua makhluk, semua kehidupan di dunia ini akan mengalami pasang surut, hanya waktu yang menjadi saksi hidup, siapa pun tidak bisa menipu diri sendiri, tidak dapat memperoleh kembali masa remajanya walau dengan cara apapun.

Setiap makhluk pasti mengalami pasang surut­nya perasaaan, hanya waktu yang tidak berperasa­an, mau merengek atau memohon dengan cara apapun, dia tidak akan mengijinkan dirimu untuk peroleh kembali kebahagiaan yang telah berlalu.

Hanya jejak yang ditinggalkan sang waktu, yang tidak mungkin bisa kau hapus dengan cara apa pun, tidak mungkin kau lupakan dengan cara apapun.

Mereka bertiga duduk saling berhadapan, siapa pun tidak ada yang berbicara lagi, sebab secara tiba-tiba mereka menyadari akan sesuatu, walaupun tiga bersaudara keluarga Yin telah berkumpul kembali, namun mereka tidak berhasil mengembalikan kenangan dan suasana seperti masa lalu.

Akhirnya Yin Siok tertawa paksa, memecahkan keheningan yang mencekam, sambil bangkit berdiri katanya:

"Kalian duduklah dulu, biar toaci menyediakan air gula untuk kalian"

Sambil menyeka air matanya Yin Ping turut tertawa paksa, serunya:

"Toaci, masa kau masih menganggap kami sebagai anak kecil? Yang kita minum sekarang adalah arak, bukan air gula"

"Mungkin saja kalian tidak doyan, tapi ke dua orang bocah itu mah masih doyan"

Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng saling bertukar pandangan sekejap kemudian tertawa, mereka seakan sedang berkata:

"Kami pun telah dewasa, kami minum arak, tidak minum air gula"

Bagaimana pun mereka masih terlalu muda, belum pernah merasakan betapa tidak berperasaannya sang waktu, kalau tidak, pada saat dan keadaan seperti ini mereka pasti tidak mampu lagi untuk tertawa.

Akhirnya Yin Siok muncul dengan membawa dua mangkuk air gua, Leng Cing-peng pun pada akhirnya meneguk habis isi mangkut itu, sementara Gi Peng-bwee secara diam-diam membuang isi mangkuk itu ke dalam laut.

"Aaaai, bicara sesungguhnya" kata Yin Ping kemudian sambil menghela napas, "selama tiga puluh tahun ini, sebetulnya toaci telah pergi ke mana, orang she-Im dari Perguruan Tay ki bun........"

Mendadak Yin Gi mendehem perlahan, tampaknya dia ingin mencegah adiknya berbicara lebih jauh.

Tapi Yin Siok segera menukas sambil tertawa getir:

"Tidak masalah, biarkan dia berkata lanjut, belakangan perasaan hatiku sudah kaku, sudah mati rasa, kejadian di masa lampau sudah tidak mungkin bisa menyiksa hatiku lagi"

"Apakah manusia she-Im itu sudah mampus?" tanya Yin Ping kemudian.

“Tidak, dia masih hidup segar bugar" jawab Yin Siok sambil menghela napas.

"Dasar lelaki yang tidak berperasaan" umpat Yin Ping gemas, "begitu tega dia meninggalkan cici seorang diri disini, coba kalau bukan cici yang selamatkan jiwanya, mana mungkin dia bisa hidup hingga kini!"

Gi Peng-bwee maupun Leng Cing-peng hanya membelalakkan  matanya lebar-lebar, terbelalak dengan penuh rasa heran, kaget bercampur tercengang, sesungguhnya mereka pun ingin turut mendengarkan kisah rahasia para bulim cianpwee itu, namun tidak seorangpun diantara mereka yang berani buka suara.

Begitu menyaksikan perubahan mimik muka ke dua orang gadis itu, Yin Ping segera mengerti jalan pemikiran mereka, umpatnya sambil tertawa:

"Dasar dua dayang busuk, apakah kalian pun ingin mengetahui kisah cerita ini?"

Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng saling bertukar pandangan sekejap, kemudian tersenyum dan tundukkan kepalanya.

Setelah menghela napas panjang ujar Yin Ping lagi:

"Baiklah, tidak ada salahnya kukisahkan kembali cerita ini, agar dikemudian hari kalian bisa lebih berhati-hati dan tidak sampai tertipu oleh akal busuk kaum lelaki laknat"

Perlahan-lahan dia pejamkan matanya, kemudian berkata:

"Waktu itu usiaku masih sangat kecil, kami tiga bersaudara berdiam di sebuah bangunan gedung yang dikelilingi kebun bunga besar, kebun itu sangat luas dan ditanami aneka bunga yang indah semerbak dan tumbuh diempat musim..."

Setelah menghela napas ringan dan mengulumkan senyuman manis, terusnya:

"Penghidupan kami waktu itu sangat bahagia, setiap kali selesai berlatih silat, kami tiga bersaudara selalu menyibukkan diri dengan merawat bunga di kebun, atau memotong rumput,   menangkap capung, mengejar kupu kupu, tapi..........

"Suatu hari, didalam kebun bunga kami kedatangan seorang lelaki yang penuh berpelepot­an darah, lelaki itu terluka sangat parah, begitu tiba dikebun, orang itu jatuh tidak sadarkan diri.

"Kami tiga bersaudara berlarian mendekat, ternyata walaupun sekujur tubuh lelaki itu penuh berpelepotan darah dan sedikit menakutkan, dia memiliki wajah yang sangat tampan.

"Apalagi disaat paras mukanya pucat pias tanpa membawa secerca warna darah pun, dia seakan memiliki semacam daya pikat yang tidak terlukiskan dengan kata, membuat siapa pun yang memandangnya gampang tergoda, gampang terperana dibuatnya.

"Bagiku waktu itu, aku hanya sebatas meng­anggap dia tampan dan menarik, bereda dengan toaci ku, walau hanya memandangnya sekejap, ternyata dia...... secara diam-diam dia telah jatuh cinta kepadanya"

Ketika berbicara sampai disini, lamat-lamat secerca cahaya merah terlintas di wajah Yin Siok yang penuh keriput, tapi sekejap kemudian sudah lenyap tidak berbekas, sambil mendongakkan kepalanya dia melamun tanpa bicara.

Yin Ping pun berkata lebih jauh: "Dari keadaan yang dideritanya kami segera tahu kalau lelaki itu sedang dikejar musuhnya yang sangat tangguh, karena panik dan gugup maka tanpa sengaja memasuki kebun kami.

"Kelihatannya waktu itu Ji-ci pun sudah men­duga jalan pikiran toaci, maka sengaja dia berkata: "Kita tidak tahu asal-usul orang ini, kenapa mesti mencampuri urusannya? Lebih baik kita hantar dia keluar dari sini!"

"Biarpun dalam hati kecilnya toaci enggan berbuat begitu, bagaimana pun dia merasa jengah untuk berterus terang, maka untuk sesaat hanya berdiri kebingungan.

"Pada saat itulah dari luar tembok pekarangan telah terdengar suara bentakan nyaring, tampak­nya pasukan pengejar telah tiba disitu, bahkan jumlah mereka tidak sedikit.

"Walaupun tidak terbicara apa-apa, secara tiba-tiba toaci membopong lelaki itu dan menyembunyi­kannya, kemudian seakan tidak pernah terjadi apa pun dia kembali merawat bunga dan memotong rumput, sama sekali tidak melirik sekejap pun ke arahku maupun ji-ci.

"Akhirnya para pengejar menyerbu masuk ke dalam kebun, waktu itu bukan saja toaci sama sekali tidak menyinggung masalah lelaki tersebut, sebaliknya malah menuduh orang orang itu secara sengaja memasuki rumah orang dan memaki mereka habis-habisan.

"Ketika itu kami tiga bersaudara sudah punya sedikit nama dalam dunia persilatan, biarpun para pengejar terdiri dari kawanan jago lihay yang berilmu tinggi, nampaknya mereka enggan bermu­suhan dengan kami.

"Apalagi kami tiga bersaudara sudah tersohor di dalam dunia persilatan sebagai orang yang paling tidak suka mencampuri urusan orang lain, di waktu biasa, biar ada orang yang mati dihadapan kami pun, tidak nanti kami akan menggerakkan tangan untuk menolong.

"Setelah berpikir berapa saat, para pengejar itu segera ber kesimpulan kalau kami tiga bersaudara mustahil telah sembunyikan lelaki itu, setelah minta maaf, mereka pun mengundurkan diri dari tempat itu.

"Semenjak hari itu, toaci tidak pernah lagi merawat bunga, tidak pernah lagi memotong rumput, setiap saat setiap waktu dia hanya sibuk merawat lelaki itu, mengobati lukanya dan menyiapkan aneka hidangan lezat baginya.

"Tidak selang satu bulan kemudian, luka yang diderita lelaki itupun sembuh kembali, saban hari toaci hanya menemaninya ditepi ranjang, hubung­an yang berlangsung tiap hari menimbulkan benih cinta dihati kecilnya, toaci semakin kesemsem dengan lelaki itu........siapa tahu..........."

Berbicara sampai disini, tidak tahan lagi dia menghela napas getir, senyuman yang semula tersungging diujung bibirnya lenyap tidak berbekas, ketika berpaling, dia jumpai Yin Siok sedang menyeka air mata yang berlinang secara diam-diam.

Gi Peng-bwee benar-benar dibuat terpesona, tidak tahan tanyanya:

"Bagaimana selanjutnya?"

Yin Ping menghela napas panjang. "Siapa tahu setelah sembuh dari lukanya, secara diam-diam lelaki itu pergi tanpa pamit, dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya menganjurkan kepada toaci agar melupakan dirinya. Tapi.....mana mungkin toaci bisa melupa­kan dirinya? Toaci sadar kami pasti akan keberatan bila dia pergi meninggalkan kami, maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, diam-diam diapun pergi dari rumah"

Sekali lagi dia menghentikan kisahnya dan menghela napas berulang kali.

"Bagaimana selanjutnya?" kembali Gi Peng-bwee bertanya.

"Bagaimana selanjutnya akupun kurang jelas, hal ini mesti ditanyakan kepada toaci" sahut Yin Ping sambil tertawa getir.

Tanpa terasa Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng mengalihkan pandangan mata mereka ke wajah Yin Siok.

Dengan wajah penuh air mata kata Yin Siok: "Akhirnya aku berhasil menyusulnya"

Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng segera menghembuskan napas lega, seakan akan mereka turut bergembira akan kejadian tersebut.

Yin Siok mendongakkan kepalanya mengawasi angkasa dengan termangu, lama kemudian sekulum senyuman baru tersungging diujung bibirnya, senyuman itu nampak begitu manis, membuat raut mukanya yang penuh keriput seolah bercahaya kembali.

Dengan suara lembut katanya lagi: "Penghidupan kami waktu itu sungguh indah dan penuh kebahagiaan, sejak pagi hingga malam kami berdua selalu bersama, begitu kesemsemnya kami menjalani penghidupan yang bahagia hingga dia nyaris melupakan semua persoalan yang sedang dihadapinya"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya: "Tapi........ tapi ada sementara persoalan ter­nyata dia tidak dapat melupakannya"

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, senyuman diujung bibirnya seolah berubah jadi kedukaan yang mendalam.

"Gara-gara ingin menuntut balas, perguruan mereka harus hidup mengasingkan diri di luar perbatasan, sesuai dengan peraturan perguruan yang berlaku, mereka dilarang mengajak serta kaum wanita dalam perjalanannya"

"Bahkan bini pun tidak boleh dibawa serta?" sela Gi Peng-bwee.

"Yaa, termasuk bini pun tidak boleh ikut" jawab Yin Siok sambil tertawa pedih.

"Ooh sungguh keji! Sungguh keji!" dengan mata terbelalak gumam Gi Peng-bwee berulang kali.

"Mereka tinggalkan istri karena kuatir perhati­annya terpecah ketika berlatih silat, mereka pun tidak ingin hatinya jadi lemah karena terpengaruh kasih sayang seorang ibu. Mereka melatih diri diatas bukit bersalju yang dingin, melatih anak-anak mereka dengan penuh disiplin dan peraturan yang ketat, sedemikian ketat dan kejinya hingga membuat siapa pun tidak tega untuk menyaksikannya.

"Mereka melatih putra-putrinya hingga memi­liki tubuh yang keras bagai baja, merekapun menginginkan putra putrinya memiliki hati yang lebih keras dari baja, bila sang ibu turut hadir disitu maka sulit bagi mereka untuk membentuk perasaan macam begitu.

"Justru karena tanpa memikirkan resikonya aku menyusul ke luar perbatasan, maka semua kejadian tersebut dapat kusaksikan dengan mata kepala sendiri, kendatipun aku pun berhati tega, tidak urung air mataku bercucuran juga setelah menyaksikan kejadian ini"

"Jadi toaci telah menyusul ke luar perbatasan?" tanya Yin Ping tercengang.

Yin Siok menundukkan kepalanya, kembali air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Aku sudah tujuh kali berkunjung ke situ, tapi setiap kali selalu diusir oleh ciang bunjinnya, sekalipun begitu aku tidak putus asa, sebesar apapun penderitaan dan siksaan yang harus kualami, seberapa besar dosa yang harus kupikul, aku tetap berkunjung dan berkunjung terus.

"Terkadang aku bahkan dihajar hingga babak belur, dihajar hingga menderita luka disekujur tubuhku, namun begitu luka-luka itu sembuh, aku pun berkunjung lagi ke situ.

"Ransum yang mereka miliki sangat minim, bila ada yang terbaik maka ransum tersebut diberikan kepada anak-anak, mereka berharap anak-anak bisa tumbuh lebih cepat.

"Karena harus mengejar mereka di wilayah bersalju, akupun terkadang gagal menemukan makanan, ada kalanya aku harus menahan lapar sampai dua hari lamanya, saking laparnya sampai berusaha menangkap tikus dan ular berbisa dari liang mereka, menangkapnya, memanggangnya dan memakannya untuk menangsal perut.

"Aku pernah merengek kepada mereka, asal mengijinkan aku bergabung dengan rombongan itu maka penderitaan dan siksaan macam apapun aku bersedia menerimanya, aku telah menggunakan pelbagai cara, menggunakan berbagai pembicara­an, bahkan......bahkan berlutut dihadapan mereka.

"Tapi..... tapi mereka tidak pernah tergerak hatinya, tetap mengusirku dari rombongan........"

Mimpipun Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng tidak menyangka kalau nenek yang berada dihadapannya pernah merasakan penderitaan sebesar itu, mereka tidak menyangka kalau cintanya yang begitu mendalam membuatnya bersedia mengor­bankan segala sesuatu, saking terharunya, air mata bercucuran membasahi wajah mereka berdua.

Terlebih Yin Ping, dengan nada terisak dan gemetar, bisiknya:

"Tak...... tak heran kalau toaci...... berubah setua ini........"

"Aku mengerti" ujar Yin Gi pula dengan air mata berlinang, "dengan watak toaci yang tinggi hati, berlutut dihadapan orang merupakan satu siksaan yang luar biasa, waktu itu kau.......kau pasti sangat menderita"

"Toaci" tiba tiba Yin Ping berteriak keras, "kalau toh kau bersedia merasakan penderitaan dan siksaan sebesar ini,  sepan-tasnya kalau kau mengejarnya terus,  kecuali......  kecuali  mereka benar-benar membunuhmu!"

"Walaupun mereka tidak membunuhku" kata Yin Siok dengan air mata berlinang, "tapi pada pertemuan yang terakhir mereka sempat meng­ancamku, katanya, bila aku merecoki mereka terus maka mereka akan......akan membunuhku!"

"Maka kau tidak melakukan pengejaran lagi?" tanya Yin Ping.

Dengan mulut membungkam Yin Siok manggut-manggut, dia tidak mampu berkata lagi.

Sambil menghentakkan kakinya berulang kali seru Yin Ping:

"Toaci, kau ini........kalau memang orang she-Im itu begitu tega menyaksikan kau menderita tanpa menggubris, buat apa pula kau mesti memikirkan mati hidupnya?"

"Aaaai.......dia..... dia sendiipun tidak berdaya, kecuali dia berani menghianati perguruan" ucap Yin Siok dengan air mata berlinang.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Leng Cing-peng, selanya dengan suara gemetar:

"Locianpwee dari.....dari marga Im itu apakah anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Darimana kau......kau bisa tahu?"

"Pengalaman yang dialami cici ku tidak jauh berbeda dengan pengalaman yang locianpwee alami, bahkan........bahkan lebih mengenaskan lagi"

"Sung.....sungguh?"

"Toaci ku juga selamatkan seorang murid bermarga Im dari Perguruan Tay ki bun didalam benteng kami, gara-gara kejadian itu dia jatuh cinta bahkan sempat melahirkan seorang anak dari nya........"

"Bagaimana kemudian?"

"Kemudian.... kejadian ini ketahuan ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun, kakak iparku dijatuhi  hukuman  mati......   tubuhnya hancur setelah dipisahkan dengan lima ekor kuda!" cerita Leng Cing-peng sambil menangis.

Sesudah menarik napas panjang, lanjutnya:

"Padahal ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun tidak lain adalah ayah kandung kakak iparku!"

Sekujur tubuh Yin Siok gemetar keras, sampai lama kemudian dia tidak mampu berkata-kata.

Sementara Yin Ping dengan gemas berseru:

"Ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun itu benar-benar manusia tidak berperasaan, bila bertemu dengannya, aku pasti akan membelah dadanya, mengorek keluar hatinya dan memeriksa sesungguhnya hatinya terbuat dari apa!"

"Pengalaman tragis yang dialaminya dimasa lampau sama persis seperti kejadian itu, dulu diapun pernah mencintai seorang gadis, tapi gadis itu ada hubungan dengan keluarga musuh­nya............."

Ketika secara tiba-tiba dia mengungkap rahasia besar dunia persilatan yang belum pernah terdengar sebelumnya ini, semua orang merasa terperanjat hingga tanpa terasa berseru berbareng:

"Sungguh?" Yin Siok tertawa pedih.

"Tampaknya kejadian ini ketahuan juga oleh ayahnya. Tapi dia benar-benar tega, perempuan itu dia dorong masuk ke dalam jurang dalam keadaan hidup-hidup!"

"Lalu siapa.....siapa lelaki yang........" tidak tahan Leng Cing-peng bertanya,

"Suamiku bernama Im Kiu-siau, dia adalah adik kandungnya"

Untuk kesekian kalinya Leng Cing-peng terperanjat, ujarnya gemetar:

"Kalau dia....... dia sendiri pernah mengalami penderitaan semacam ini, kenapa sikapnya terhadap adik kandung dan putra kandung sendiripun begitu keji dan tega?"

Yin Siok mendongakkan kepalanya menghela napas panjang.

"Aaaai.... inilah tradisi turun temurun dari Perguruan Tay ki bun, generasi demi generasi mereka selalu terapkan peraturan semacam ini, bahkan....."

Tiba-tiba dia tertawa pedih, terusnya:

Bahkan aku dengar setiap generasi murid Perguruan Tay ki bun selalu mengalami nasib tragis semacam ini!"

Kejadian ini benar-benar merupakan satu kejadian yang mengejutkan, sebuah rahasia besar yang menggidikkan hati, semua orang tertegun, semua orang terperangah, mereka seolah setengah percaya dengan apa yang didengar.

Lewat berapa saat kemudian kembali Yin Ping bertanya:

"Heran, kenapa aku tidak pernah mendengar orang membicarakan masalah ini? Toaci, darimana kau.......kau tahu akan hal ini?"

Paras muka Yin Siok bertambah misterius, sahutnya perlahan:

"Tentu saja aku tahu........  aku yakin di kemudian hari kalian pun bakal tahu dengan sendirinya bahkan tahu lebih banyak ketimbang sekarang"

"Kenapa?" Yin Ping semakin tercengang.

"Karena Pulau Siang cun-to adalah.........."

Mendadak dari puncak tebing berkumandang suara lonceng yang dibunyikan nyaring, suara itu menggaung ke angkasa dan mendengung hingga menembusi awan.

Dua orang gadis berbaju hitam dengan mem­bawa keranjang bambu muncul dari balik suara lonceng dan berjalan mendekat, dari tempat kejauhan mereka telah berteriak keras:

"Nenek, lagi-lagi akan merepotkanmu untuk menghantar nasi"

"Menghantar nasi untuk siapa?" tanya Yin Gi.

Belum sempat Yin Siok menjawab, nona berbaju hitam itu sudah melompat naik ke atas perahu dan berkata sambil tertawa:

"Kalian baru tiba disini, kenapa bisa begitu akrab dengan nenek?"

Rupanya mereka berdua tidak tahu kalau beberapa orang itu masih bersaudara, Yin Siok sendiripun tidak memberi penjelasan apapun, paras mukanya telah pulih kembali jadi dingin dan hambar, hanya ujarnya hambar:

"Aku akan pergi menghantar nasi, kalian boleh pergi dari sini"

"Betul" ujar si nona pula sambil tertawa, "biar­kan nenek pergi menghantar nasi duluan, sekembalinya nanti kita bisa berbincang-bincang lagi, kalau sampai membiarkan orang lain kelaparan, bisa berabe jadinya"

Si nona yang satunya berkata sambil tertawa: "Kalian baru datang kemari, sementara kami pun sedang menganggur, selesai bersantap biarlah kami hantar kalian semua untuk melihat-lihat keadaan diseputar sini"

Yin Gi maupun Yin Ping hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.

Kini, mereka berempat semakin curiga, semakin tidak habis mengerti, sebenarnya Pulau Siang cun-to adalah tempat apa? Apa pula hubungannya dengan sejarah Perguruan Tay ki­ bun? Yin Siok terburu-buru pergi menghantar nasi, dia pergi menghantar nasi untuk siapa?

Dalam keadaan dan saat seperti ini, sekalipun mereka berempat penuh diliputi tanda tanya, yang bisa dilakukan hanya menunggu kedatangan Yin Siok untuk menjawab semua pertanyaan ini, maka setelah saling memberi hormat ke empat orang itupun beranjak pergi.

Cahaya sang surya telah memancarkan sinar keemasannya ke seluruh penjuru tempat, permu­kaan laut tenang bagaikan cermin, selapis cahaya kuning seakan menyelimuti seluruh permukaan.

Tiba tiba Leng Cing-peng berlarian balik ke tepi pantai sambil berseru keras:

"Nenek, nenek........*

"Ada apa?" tanya Yin Siok seraya berpaling.

"Bila dari seberang sana ada seseorang yang bernama Thiat Tiong-tong ingin datang kemari, tolong nenek, baik buruk bawalah dia kemari, jangan lupa"

Sewaktu berada diatas perahunya ratu tawon, dia sebenarnya mengira Thiat Tiong-tong sudah mati tercebur ke dalam air, tapi kemudian ketika bersama Kiu cu Kui bo mereka menyatroni istana kaisar langit, meski selama berjaga diluar istana tidak sempat menjumpai Thiat Tiong-tong, namun dia sempat mendapat kabar tentang pemuda itu, bahkan dia pun sempat mendengar kalau anak muda itu sedang melakukan perjalanan menuju Pulau Siang cun-to.

"Siapakah orang itu?" tanya Yin Siok kemudian dengan kening berkerut.

"Dia......dia adalah anak murid Perguruan Tay ki bun"

"Maksudmu orang itu adalah jiko dari bocah muda dari marga Im itu?" tanya Yin Siok dengan kening makin berkerut.

“Betul” seru Leng Cing-peng kegirangan, "dari mana nenek bisa kenal dengannya?"

Yin Siok mendengus dingin.

"Dia tidak bakal datang lagi!"

"Kenapa dia tidak bakal datang?"

"Karena dia sudah tercebur ke dalam laut, bahkan jenasahnya pun tidak berhasil ditemukan!"

"Apa..... apa kau bilang?" seru Leng Cing-peng terperanjat.

"Dia sudah mati!"

Leng Cing-peng merasakan tubuhnya bergetar keras, tiba-tiba kakinya jadi lemas dan seketika itu juga nona itu roboh tidak sadarkan diri ditepi pantai.

Menyaksikan tubuh Leng Cing-peng yang roboh terjungkal, kembali Yin Siok menghela napas panjang, gumamnya:

"Untung Thiat Tiong-tong sudah mati, kalau tidak, penderitaan yang bakal dialami bocah ini bakal bertambah panjang!"

Lewat berapa saat kemudian kembali dia bergumam:

"Bocah ini sudah tahu kalau anggota Perguruan Tay ki bun adalah manusia yang tidak berperasaan dan tidak kenal budi, bahkan tadipun dia sempat memaki anak murid Perguruan Tay ki bun sebagai manusia tidak berperasaan, kenapa secara tiba-tiba menaruh perhatian yang luar biasa terhadap anggota Hiat-hiat Tay ki bun? Jangan-jangan orang she-Thiat itu sama seperti Im Kiu-siau dimasa mudanya dulu, memiliki bagian yang memikat hati kaum wanita,......aaai! untung Thiat Tiong-tong sudah mati......untung dia sudah mati........."

 

[bersambung]