pendekar panji sakti 09
BAB 25.
Cinta hanya menimbulkan kedukaan.
Ketika saat menunjukkan kentongan ke empat,
Un Tay-tay yang berada dalam kuil Seng bo bio belum juga menjumpai
bayangan tubuh Thiat Tiong-tong, kendatipun dia sudah celingukan
kian kemari namun pemuda itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Padahal waktu itu kawanan wanita berbaju
hitam itu sudah bersiap-siap melanjutkan perjalanan.
Un Tay-tay merasa sangat gelisah, pikirnya:
"Kalau dilihat dari tampangnya, jelas dia
ingin sekali menguntit dibelakangku, kenapa hingga sekarang belum
muncul, jangan-jangan.......jangan-jangan sudah terjadi
sesuatu?"
Mendadak terlihat seorang wanita suci datang
menghampiri dan menegur dengan dingin:
"Kenapa kau celingukan kesana-kemari? Apa
yang sedang kau tunggu?"
Un Tay-tay amat terkesiap, buru-buru
menyahut dengan tergagap:
"Aku......aku......aku telah berhutang
dengan seorang gembong iblis, aku kuatir dia datang mengejarku dan
menuntut aku membayar hutang"
Sebetulnya perkataan itu hanya disampaikan
sekenanya, tapi begitu selesai berkata, bayangan tubuh kakek
berjubah ungu itu kembali muncul dalam benaknya, dia seolah-olah
masih mendengar suara ancamannya yang begitu keras seperti suara
geledek:
"Ke mana pun kau akan pergi, lohu pasti
dapat menemukan dirimu lagi........"
Suara itu kedengaran makin lama semakin
nyaring, akhirnya Un Tay-tay tidak sanggup menahan diri lagi,
sekujur tubuhnya gemetar keras, bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Menanti wanita suci itu berbicara lagi, dia
baru dapat mengendalikan perasaan hatinya.
Terdengar perempuan itu berkata:
"Kau sudah mati satu kali, berarti semua
hutang piutangmu dalam kehidupan yang lalu sudah tidak perlu dibayar
lagi"
"Tapi...... tapi orang itu memiliki
kemampuan yang luar biasa, lihay sekali....."
"Betapa pun lihaynya dia, toh mustahil bisa
menagih hutang terhadap seseorang yang sudah mati!" jawab perempuan
itu dingin.
"Tapi...... tapi aku...... aku belum
betul-betul mati!"
"Sudahlah! sudah saatnya untuk berangkat,
bila esok pagi naik perahu maka menjelang tengah hari sudah akan
tiba di pulau, manusia mana dikolong langit yang bernyali mencari
gara-gara ditempat itu!"
Tanpa terasa Un Tay-tay menghembuskan napas
lega, sambil mendongakkan kepalanya memandang angkasa,
perlahan-lahan katanya:
"Yaa, empat-lima jam kemudian, aku memang
tidak perlu kuatir lagi"
Walaupun ucapan itu seolah sedang menegur
diri sendiri, seperti juga sedang menghibur diri, namun nada
ucapannya mengandung nada kesedihan yang sangat mendalam,
seakan-akan dalam kehidupan yang fana ini masih ada sementara orang
dan sementara persoalan yang harus dia kuatirkan, harus dia
takutkan.
Betapa terkesiapnya Thiat Tiong-tong ketika
melihat Leng It-hong membentak sambil memandang ke arahnya, dia
sangka tempat persembunyiannya sudah ketahuan orang.
Siapa tahu pada saat itulah dari bawah
tubuhnya muncul sesosok bayangan manusia, "Blaaam!" dengan cepat
orang itu menerjang daun jendela hingga jebol dan meluncur masuk ke
dalam ruang perahu.
Ternyata selama ini orang itu bersembunyi
disekitar tempat persembunyian Thiat Tiong-tong tanpa disadari
pemuda itu, hal ini disebabkan seluruh konsentrasi anak muda itu
sedang terpusat ke dalam ruangan, sedang ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki orang itu kelewat hebat.
Tampaknya manusia itupun tidak menyangka
kalau dibalik gulungan tali masih bersembunyi seseorang yang lain,
karenanya dia tidak terlalu menaruh perhatian.
Dalam terperanjatnya, Thiat Tiong-tong
semakin tidak berani berkutik.
Walaupun orang itu memiliki ilmu
meringankan tubuh yang sangat hebat, ternyata dia tidak lebih hanya
seorang pemuda berbaju ungu yang berwajah tampan dan gagah, dia
memegang sebuah kipas dengan dua biji mutiara diujungnya.
Coba kalau bukan lantaran dia saksikan
kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, niscaya Thiat Tiong-tong akan
mengira orang itu sebagai pemuda kaya yang sedang berpesiar, dia
tidak akan mengira kalau pemuda setampan itu memiliki ilmu silat
yang begitu hebat.
Paras muka Suto Siau sekalian pun ikut
berubah, mereka tidak mengira ada orang lain bersembunyi dibawah
jendela perahunya.
"Hei anak muda" dengan suara keras Leng
It-hong segera menegur, "mau apa kau datang kemari?"
Biarpun tahu kalau semua yang hadir dalam
ruang perahu adalah sekawanan jago persilatan yang licik dan berilmu
tinggi, ternyata sikap pemuda berbaju ungu itu tetap santai, sama
sekali tidak tegang atau merasa takut, seakan dia tidak pandang
sebelah mata pun terhadap orang-orang itu.
Setelah menyapu sekejap seputar ruangan,
sambil menggoyangkan kipasnya dan tertawa tergelak, sahutnya:
"Ternyata kau memiliki ketajaman mata yang
mengagumkan sehingga dapat mengetahui tempat persembunyianku, tapi
ada satu hal anda keliru besar"
"Apa yang salah?" tanya Leng It-hong gusar.
"Orang yang bertanya mengapa kepadamu tadi
bukan aku" ujar pemuda itu tertawa.
"Kalau bukan kau lantas siapa?" berubah
paras muka Leng It-hong.
Perlahan-lahan pemuda berbaju ungu itu
mengalihkan sorot matanya ke arah tirai di belakang ruangan, ujarnya
sambil tersenyum:
"Sobat, dipersilahkan segera keluar,
memangnya kau ingin cayhe yang mengundang paksa kehadiranmu ?"
Belum selesai perkataan itu diucapkan,
segera terdengar suara tertawa seseorang yang menusuk pendengaran
bergema dari balik tirai:
"Hahahaha......bocah muda, hebat juga kau!"
Terlihat sesosok bayangan manusia munculkan
diri.
Orang itu mempunyai perawakan tubuh kurus
kering lagi jangkung, bagaikan sebatang bambu yang terhembus
angin, dia selangkah demi selangkah berjalan keluar dari
tempat persembunyiannya.
Kemudian sambil menuding ujung hidung
sendiri dengan jari tangannya yang besar bagai kipas, tegurnya
seraya tertawa seram:
"Leng It-hong, masih kenal aku?"
Suaranya tajam bagaikan pisau yang sedang
diasah, benar-benar menusuk pendengaran dan tidak enak didengar.
Begitu melihat wajah orang itu, Thiat
Tiong-tong kontan merasa terkesiap, sementara Suto Siau sekalian
seketika menunjukkan perasaan gembira.
Tiba-tiba terdengar Leng It-hong membentak
keras:
"Hong Lo-su!"
Rupanya setelah memperhatikan beberapa saat,
dia baru teringat akan asal-usul orang ini.
"Bagus" seru Hong Lo-su lagi sambil tertawa
terkekeh, "rupanya cukup luas pengetahuanmu, sekarang coba
terangkan, kenapa kau enggan bekerja sama denganku?"
Walaupun paras muka Leng It-hong sedikit
berubah, namun dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut,
setelah tertawa dingin sahutnya:
"Kenapa apa? Memangnya kau tidak lebih jelas
dariku? Buat apa mesti kujelaskan lagi"
Berubah paras muka Hong Lo-su, bentaknya:
"Lebih baik jawab semua pertanyaan yang
kuajukan, kalau berani bicara yang tidak tidak lagi, hmmm! Hati-hati
dengan batok kepalamu!"
"Benarkah kau suruh aku bicara terus
terang?" ejek Leng It-hong sambil tertawa seram, "baik! Kalau begitu
dengarkan baik baik, pada hakekatnya Hong Lo-su tidak punya nyali
untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun, diapun tidak akan melakukan
hal itu........."
"Tutup mulut!" bentak Hong Lo-su gusar.
"Bukankah kau yang suruh aku bicara? Kenapa
minta aku untuk tutup mulut?"
"Kau berani mencari gara-gara dengan aku!"
teriak Hong Lo-su gusar.
"Mungkin saja orang lain takut kepadamu,
tapi aku Leng It-hong tidak bakal takut!"
Suto Siau sekalian terkejut juga ketika
melihat Leng It-hong begitu bernyali dan berani memusuhi Hong Lo-su,
sementara Thiat Tiong-tong dibuat semakin tercengang: kenapa Hong
Lo-su tidak berani menghadapi Perguruan Tay ki bun?
Dalam pada itu Hong Lo-su telah berseru
sambil tertawa seram:
"Baru belajar sedikit Ngo tok ciang
(ilmu pukulan panca racun) sudah ingin pentang cakar mencari
gara-gara, Hmmm! Cukup dengan sebuah jari tangan, aku sudah sanggup
menjagalmu!"
"Kenapa tidak dicoba...." tantang Leng
It-hong sambil tertawa seram.
Hong Lo-su menyeringai seram, katanya:
"Terlalu banyak yang kau ketahui,
perkataanmu pun kelewat banyak, aku memang punya niat untuk
menjagalmu!"
Dengan satu gerakan kilat dia merangsek ke
depan dan tahu-tahu sudah berdiri dihadapan lawan.
Waktu itu Leng It-hong telah bersiap sedia,
begitu melihat musuhnya mendekat, secepat kilat sepasang tangannya
didorong ke muka, dibawah cahaya lentera, telapak tangannya yang
berwarna hitam pekat kelihatan amat aneh dan menakutkan.
Tampak Hong Lo-su berkelit ke samping, tidak
tampak bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah berada
disamping kiri lawan.
Cepat Leng It-hong membalik tubuh sambil
melepaskan pukulan lagi, tangannya dengan membuat gerakan setengah
lingkaran busur langsung dihantamkan keatas bahu lawan.
Sebagaimana diketahui, telapak tangannya
sangat beracun, siapa pun yang tersentuh tangannya niscaya akan
keracunan hebat dan mati, itulah sebabnya serangan yang dia
lancarkan tidak perlu harus menyerang bagian mematikan ditubuh
lawan, dengan sendirinya ancaman yang dilakukan pun lebih leluasa
dan jauh lebih cepat.
Siapa tahu kembali Hong Lo-su menarik
tubuhnya yang kurus kering ke belakang, lagi-lagi dia berkelit ke
sisi kanan tubuh lawan.
Serangan yang dilancarkan Leng It-hong boleh
dibilang sangat ganas dan amat beracun, namun Hong Lo-su bukan saja
tidak tersentuh bahkan sama sekali tidak melakukan perlawanan, dua
gebrakan kemudian, Suto Siau sekalian sudah dibuat tertegun saking
herannya.
Terdengar Hong Lo-su berseru lagi sambil
tertawa tergelak:
"Hahahaha...... anak anak, coba perhatikan,
walaupun pukulan orang she-Leng ini amat beracun, tapi asal tidak
bersentuh tangannya, kita tidak perlu takut menghadapinya!"
Sementara pembicaraan berlangsung, kembali
Leng It-hong sudah melepaskan tujuh buah serangan maut, semakin
menyerang, telapak tangannya kelihatan semakin hitam, tujuh gebrakan
kemudian telapak tangannya telah berubah jadi hitam pekat.
Semua orang tahu, dia pasti telah
mengerahkan segenap hawa racun yang dimilikinya, mereka yang berdiri
agak dekat dengan arenapun secara lamat-lamat mulai mengendus bau
amis yang terbawa dalam angin pukulannya.
Kehebatan dan kedahsyatan ilmu pukulan
Ngo tok ciang memang sangat menakutkan, namun dengan kelincahan
serta kecepatan gerakan tubuh yang dimiliki Hong Lo-su, bukan saja
Leng It-hong gagal melukainya bahkan menyentuh ujung bajunya pun
tidak sanggup.
Tiga puluh gebrakan kemudian tiba-tiba
terdengar Hong Lo-su berseru sambil tertawa seram:
"Aku rasa sudah cukup bagiku untuk
mempermainkan monyet ini, lihat serangan!"
Sepasang tangannya melancarkan serangan
bersama, dalam waktu singkat dia telah melepaskan tiga jurus
serangan.
Ke tiga jurus serangan itu muncul tanpa
pertanda, tahu-tahu serangan sudah tiba di depan mata dan membuat
orang susah untuk menduga sebelumnya.
Secara beruntun Leng It-hong mundur sejauh
tiga langkah, tidak tampak bagaimana cara Hong Lo-su menekuk telapak
tangannya, tahu-tahu tangannya bagaikan tidak bertulang saja sudah
menerobos pertahanan Leng It-hong dan menghantam dadanya.
Kelihatannya meskipun Leng lt-hong berhasil
menghindari serangan yang pertama, mustahil dia bisa meloloskan diri
dari serangan berikut, Suto Siau sekalian menyangka dalam waktu
singkat dia akan roboh terluka oleh pukulan lawan.
Siapa tahu walaupun Leng It-hong tidak
menghindar maupun berkelit, dari dalam sakunya dia justru
mengeluarkan sebuah benda, sambil diacungkan ke depan teriaknya:
"Hong Lo-su, coba lihat benda apakah ini?"
Seketika itu juga Hong Lo-su menghentikan
gerak serangannya, waktu itu telapak tangannya sudah berada lima
inci dari dada Leng It-hong, asal dia tolak tangannya sedikit ke
depan, niscaya Leng It-hong akan mati secara mengenaskan.
Ketika sorot matanya dialihkan ke depan, dia
segera jumpai sepucuk surat telah berada dalam genggaman Leng
It-hong, bentuk sampul surat itu sangat aneh, diatas kertas berwarna
hijau tertera sebuah lukisan tangan setan berwarna hitam pekat.
Benar saja, paras muka Hong Lo-su seketika
berubah hebat, tanyanya dengan nada tergagap:
"Apa......apa isi surat itu?"
Walaupun dia tidak segera menarik kembali
tangannya, namun nada suaranya sudah kedengaran tidak leluasa.
"Ambil dan baca sendiri!" sahut Leng It-hong
cepat.
Dengan satu geakan kilat Hong Lo-su merampas
surat itu, mengeluarkan isinya dan dibaca beberapa kejap, tidak lama
kemudian paras mukanya telah berubah semakin aneh, tidak jelas dia
sedang merasa gembira atau justru merasa amat gusar.
Semua orang tidak tahu apa isi surat itu,
tapi dari perubahan mimik muka yang diperlihatkan Hong Lo-su, dapat
disimpulkan kalau dia merasa tercekat hatinya.
Kalau orang lain tidak sempat membaca surat
itu, lain halnya dengan Thiat Tiong-tong yang berada diatas ruangan,
secara kebetulan dia dapat menyaksikan isi surat itu dengan jelas
sekali.
Diatas lembaran kertas berwarna hijau itu
tertuliskan beberapa kalimat, begini bunyinya:
"Hong Lo-su, jika kau berani melukai muridku
Leng It-hong barang seujung rambut pun, lohu akan suruh kau tersiksa
secara mengenaskan selama tujuh kali tujuh empat puluh sembilan
hari, kurang dari sehari saja lohu bukan manusia!"
Dibawahnya tidak ada tanda tangan, hanya
terlukis seorang kakek berbentuk aneh sedang melahap ular berbisa.
Dari atas wajah Hong Lo-su yang menyeramkan
tiba-tiba terlintas sekulum senyuman palsu, terdengar dia berseru
sambil tertawa terkekeh:
"Maaf, maaf, ternyata Leng-heng sudah
menjadi murid kesayangan Jan tok Thaysu"
Semua orang yang hadir makin tercengang
dibuatnya, mereka tidak mengira kalau secara tiba-tiba Hong Lo-su
akan bersikap begitu sungkan terhadap Leng It-hong, bahkan
memanggilnya sebagai 'Leng-heng'.
"Bukankah kau ingin menjagalku? Ayoh cepat
lakukan!" jengek Leng It-hong dingin.
Kembali Hong Lo-su tertawa keras.
“Aaah, tadi aku cuma bergurau, harap
Leng-heng jangan marah. Jan tok Thaysu adalah sahabat karibku, masa
aku tega melukai murid kesayangannya?"
"Kalau begitu surat guruku tadi tentu
memohon kepadamu untuk mengampuni jiwaku bukan?” jengek Leng It-hong
lagi sambil tertawa dingin, "kenapa tidak kau perlihatkan kepada
rekan lainnya?"
"Tidak perlu diperlihatkan......tidak perlu
diperlihatkan!" buru-buru Hong Lo-su masukkan surat itu ke dalam
sakunya, "boleh tahu sejak kapan Leng-heng menjadi muridnya Jan tok
thaysu?"
"Setelah membaca surat wasiat dari mendiang
ayahku, akupun segera pergi ke tempat guru, ternyata dia orang tua
dengan senang hati segera menerima aku menjadi muridnya"
"Bagus sekali, bagus sekali" sambil bertepuk
tangan Hong Lo-su tertawa tergelak, "kalau toh Leng-heng adalah
murid Jan tok thaysu, semua masalah malah lebih gampang
dirundingkan"
"Tapi bagaimana pula dengan urusan seputar
Perguruan Tay ki bun?"
"Urusan ini lebih baik kita bicarakan lain
waktu saja, sekarang......."
Mendadak Hong Lo-su membalikkan tubuh sambil
melotot ke arah pemuda berbaju ungu itu, senyuman yang semula
menghiasi wajahnya ikut lenyap tidak berbekas.
Pemuda berbaju ungu itu masih berdiri tenang
dengan senyuman dikulum, sambil melipat kembali kipasnya dia
mengejek:
"Ada apa? Karena tidak bisa berbuat apa-apa
terhadap orang lain, kau ingin melampiaskan rasa jengkelmu
kepadaku?"
"Hmm, siapa suruh kau datang kemari?" seru
Hong Lo-su sambil tertawa seram.
"Sebetulnya ayah perintah aku untuk
menunggu kehadiran seseorang disini, lantaran melihat diatas perahu
ada cahaya lentera maka tanpa sengaja telah mendekatinya, maaf,
maaf"
Walaupun dimulut minta maaf namun wajahnya
tetap santai dan penuh senyuman, sama sekali tidak mirip orang yang
sedang meminta maaf.
"Kau anggap dengan mengucapkan perkataan
minta maaf lantas urusan jadi beres?"
"Lantas apa lagi yang kau inginkan? Aku
pasti akan berusaha memenuhinya" kata pemuda berbaju ungu itu sambil
tertawa.
Hong Lo-su menyeringai seram. "Rahasia yang
kau curi dengar kelewat banyak, apa yang kau curi lihat pun kelewat
banyak, maka mula-mula akan kuiris telingamu kemudian baru kucongkel
keluar biji matamu"
Pemuda itu tetap menggoyang kipasnya sambil
tersenyum, dia seakan sedang mendengarkan satu kisah menarik dan
kisah tersebut sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia.
Terdengar Hong Lo-su berkata lebih jauh:
"Tapi sayang apa yang kau dengar, apa yang
kau lihat sudah tercatat semua didalam hati, karena itu akupun akan
mencongkel hatimu........."
Tangannya mencengkeram ke depan, seolah-olah
hati pemuda itu sudah berada dalam comotannya.
Tampak pemuda itu menghembuskan napas
panjang, katanya sambil tertawa:
"Benar, benar sekali, hati itu memang pantas
dicomot, tapi kalau hatinya sudah dicomot mana mungkin orangnya bisa
hidup terus?"
Kemudian sesudah menghela napas panjang,
lanjutnya:
"Aku tidak pernah berlatih ilmu pukulan
Ngo tok ciang, akupun tidak memiliki surat penyelamat nyawa,
kalau kau benar-benar turun tangan, tampaknya cayhe mesti serahkan
nyawa dengan pasrah!"
"Anggap saja kau tahu diri" Hong Lo-su
tertawa aneh, "kalau begitu akan kusuruh kau mati dengan lebih
tenang........"
Sepasang lengannya digetar keras, diantara
bunyi gemerutuk pada sendi tulangnya dia siap menerjang ke depan.
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba pemuda itu
berseru.
"Ada apa?" Hong Lo-su menghentikan
langkahnya, "apakah ingin meninggalkan pesan terakhir?"
Pemuda berbaju ungu itu tertawa, sahutnya:
"Kalau hanya cayhe yang mati mah tidak soal, yang aku kuatirkan
justru kalau sampai membuat kau mesti menjerit kesakitan selama
sembilan kali sembilan delapan puluh satu hari, bukankah aku yang
harus menanggung dosa besar!"
Ternyata dengan ketajaman matanya dia pun
sempat membaca isi surat tersebut.
Melihat pemuda itu bersikap begitu santai
kendatipun sedang menghadapi ancaman maut, tanpa terasa timbul
perasaan sayang dihati kecil Thiat Tiong-tong.
Terdengar Hong Lo-su membentah penuh amarah:
"Tajam amat mata anjingmu, kelihatannya aku
mesti mencongkelnya terlebih dulu!"
Dengan menekuk jari tengah dan jari
telunjuknya menjadi sebuah kaitan, dia langsung mencolek sepasang
mata pemuda itu.
Pemuda berbaju ungu itu hanya berdiri tanpa
bergerak, senyuman tetap menghiasi bibirnya, biarpun ujung jari Hong
Lo-su sudah hampir menyentuh kelopak matanya, dia masih tidak
melakukan perlawanan.
Disaat yang kritis inilah tiba-tiba
terdengar seseorang membentak nyaring dari luar pintu:
"Hong Lo-su, berhenti kau!"
Suaranya nyaring bagai genta raksasa yang
ditabuh orang, membuat kendang telinga semua orang terasa sakit dan
kesemutan.
Tiba-tiba ke dua jari tangan Hong Lo-su
seolah membeku ditengah udara, sama sekali tidak mampu bergerak
lagi.
Seorang kakek berjenggot sepanjang dada dan
mengenakan jubah berwarna ungu perlahan-lahan berjalan masuk ke
dalam ruangan, sekalipun dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi
besar namun langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara.
Walaupun di dalam ruangan terdapat begitu
banyak pasang mata, ternyata tidak seorangpun yang tahu sejak kapan
kakek itu masuk ke dalam ruangan, apalagi mengetahui berasal dari
mana kedatangannya.
Dengan sikap penuh berwibawa kakek berjubah
ungu itu berkata perlahan:
"Losu, apakah kau ingin melihat aku putus
keturunan?"
"Maa......mana mana......."
"Bila kau cabut nyawa putraku, bukankah sama
artinya ingin melihat aku putus keturunan?"
Hong Lo-su melirik pemuda berbaju ungu itu
sekejap, kemudian serunya terperanjat:
"Ternyata dia.....dia adalah putramu!"
Sekulum senyuman palsu kembali menghiasi
wajahnya, dia melanjutkan:
"Siaute hanya melihat ditubuh putramu ada
sedikit debu, jadi ingin membersihkannya!"
Jari tangannya yang semula hendak digunakan
untuk mencongkel mata orang, kini digunakan untuk membersihkan debu
ditubuh pemuda itu.
"Terima kasih, terima kasih!" tidak tahan
pemuda berbaju ungu itu tertawa geli. Ternyata dia benar-benar
membiarkan orang itu membersihkan debu dipakaiannya hingga bersih.
Dengan langkah lebar kakek berjubah ungu itu
masuk ke dalam ruangan dan duduk di bangku yang semula ditempati
Leng It-hong, kemudian serunya:
"Hei bocah, kemari kau"
Saat itulah pemuda berbaju ungu itu berjalan
mendekat, serunya:
"Ternyata kau orang tua datang jauh lebih
awal"
"Aku belum sampai dibikin mati gara-gara
mendongkol, tentu saja datang lebih awal" sahut kakek itu.
Tiba-tiba dia menuding ke arah Suto Siau
sambil serunya:
"Kau tuangkan arak!"
Kemudian sambil menuding ke arah Hek
Seng-thian, serunya lagi:
"Kau pergi siapkan hidangan!"
Kepada Pek Seng-bu perintahnya pula:
"Kau pergi siapkan dua pasang sumpit dan
cawan!"
Sedang kepada Seng Cun-hau katanya: "Kau
pergi menggotong mayat itu dan buang keluar!"
Terakhir sambil menuding Leng It-hong,
perintahnya:
"Kau duduk disini, temani lohu minum arak!"
Dalam waktu singkat dia sudah memberi perintah kepada lima orang
pria yang ada dalam ruang perahu untuk melakukan tugas, ternyata dia
memandang ke lima orang pendekar kenamaan dari dunia persilatan ini
bagaikan budak-budaknya.
Biarpun Suto Siau sekalian merasa ngeri
terhadap kehebatan kakek itu dan tidak berani bertindak sembarangan,
namun mereka pun tidak sudi melakukan tugas yang biasanya mereka
perintahkan kepada bawahan untuk melakukan.
"Hei kalian sudah tuli semua?" tiba-tiba
terdengar Hong Lo-su mengumpat sambil menghentakkan kakinya,
"memangnya kalian berani membangkang perintah dari toako ku, sudah
ingin modar semua?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Suto Siau
segera mengambil teko arak dari meja, sementara Hek Seng-thian dan
Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap kemudian dengan kepala
tertunduk pergi mengambil air teh panas.
Mendadak Seng Cun-hau melompat bangun,
teriaknya sambil busungkan dada:
"Lebih baik kau bunuh saja diriku!"
"Kenapa harus membunuhmu?" tanya kakek itu.
"Sebab lebih gampang membunuhku, kalau suruh
aku menjadi budakmu, hmmm! Lebih sulit dari pada naik ke langit!"
Seng Toa-nio yang berada disampingnya
buru-buru menarik ujung bajunya, tapi pemuda itu berlagak seolah
tidak merasa.
Siapa sangka kakek berjubah ungu itu sama
sekali tidak menjadi gusar, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya
dan tertawa terbahak bahak:
"Hahahaha.... anak muda, punya semangat,
silahkan duduk kembali!"
Seng Cun-hau nampak tertegun, kelihatannya
diapun tidak mengira kalau kakek itu memiliki semangat pendekar yang
mengagumkan, setelah termangu sesaat tiba-tiba dia berjalan
mendekati mayat itu dan membuangnya keluar.
Kakek berbaju ungu itu menatapnya beberapa
saat, melihat urusan yang sampai matipun sebenarnya tidak mau
dilakukan ternyata saat ini dilakukan tanpa disuruh, tidak kuasa
lagi dia berseru sambil tertawa:
"Bocah muda, kau sangat menarik.......bagus,
bagus......."
Gara-gara ucapan "bagus" inilah, dimasa
mendatang Seng Cun-hau memperoleh banyak manfaat yang sama sekali
tidak terduga sebelumnya.
Tiba tiba terdengar Leng It-hong tertawa
seram, ujarnya:
"Cianpwee minta aku menemanimu minum arak,
ini merupakan satu kebanggaan bagiku, tapi cayhe merasa hidangan
yang tersedia disini kurang segar karena itu telah kusiapkan
hidangan lain, bila cianpwee suka, silahkan ikut mencicipi!"
Kelihatannya dia menaruh rasa dendam karena
kakek itu telah menempati kursinya, maka sambil berkata dia pun
membuka keranjang bambunya sambil disodorkan ke hadapan kakek itu,
pikirnya:
"Hmmm, akan kulihat dengan cara apa kau si
tua bangka yang sok gagah akan mengunyah makhluk makhluk beracunku"
Begitu menerima keranjang bambu itu, tanpa
dilihat sekejappun tiba-tiba kakek berjubah ungu itu menuangkan
seluruh isi keranjang bambu tersebut keatas kepala Leng It-hong.
Gerakan yang dia lakukan sederhana sekali
dan kelihatannya tidak terlalu cepat, namun Leng It-hong sama sekali
tidak mampu menghindar, diiringi teriakan keras tubuh berikut
bangkunya seketika roboh terjungkal ke tanah.
Sambil bertepuk tangan kakek berjubah ungu
tertawa terbahak bahak, teriaknya:
"Leng It-hong wahai Leng It-hong, itu
namanya mencari penyakit buat diri sendiri, mungkin saja aku tidak
berani mengusik gurumu, tapi bukan berarti orang lain tidak berani
mengusiknya"
Bagaimana pun Leng It-hong adalah seorang
jago kawakan yang banyak pengalaman, kalau tadi dia menjerit keras
lantaran kaget maka sekarang tanpa mengeluarkan sedikit suara pun
perlahan-lahan menurunkan keranjang bambu dari atas kepalanya.
Dari dalam keranjang bambu muncul dua ekor
kalajengking berwarna merah api, yang seekor langsung menyengat
wajahnya.
Leng It-hong sama sekali tidak bersuara,
seekor demi seekor dia tangkapi kalajengking itu kemudian dilempar
ke lantai.
Saat itu sekujur tubuhnya bukan saja sudah
mengandung racun jahat bahkan lebih beracun ketimbang kalajengking
maupun laba laba beracun itu, bukan saja makhluk beracun itu tidak
mampu meracuni nya sampai mati, sebaliknya justru binatang binatang
beracun itulah yang sekarat karena terkena racun tubuhnya.
Begitu binatang itu dilempar ke lantai
ternyata tidak seekor pun yang bisa bergerak lagi.
Kalau tadi semua orang masih kegelian maka
sekarang perasaan hati mereka betul-betul tercekat.
Sambil menggebrak meja kakek berjubah ungu
itu berseru:
"Waaah.... betul-betul makhluk beracun,
kemampuanmu sekarang tidak jauh berbeda dengan si tua bangka yang
memelihara racun, tidak heran kalau kau berani pentang bacot didepan
orang dan bersikap jumawa!"
"Hmmm, lima racun mematikan tubuh, ibarat
bayangan tubuh yang selalu mengintil, penghinaan yang kuterima hari
ini pasti akan kubalas dikemudian hari, aku anjurkan kepadamu
selanjutnya bersikaplah lebih hati-hati" ancam Leng It-hong dingin.
Setiap patah katanya diucapkan dengan suara
dingin bagai salju, membuat setiap orang yang mendengarkan ikut
bergidik karena ngeri.
Terdengar kakek berjubah ungu itu mengejek
sambil tertawa keras:
"Oooh, jadi kau ingin menuntut balas?"
"Jalan yang terbaik adalah bunuhlah aku
manusia she-Leng sekarang juga'"
"Hmmm, kau belum pantas bertarung melawanku,
kalau ingin balas dendam panggil gurumu........"
Tiba-tiba wajahnya sedikit berubah, dengan
pusatkan perhatian dia seperti sedang mendengarkan sesuatu,
kemudian dengan wajah berseri teriaknya:
"Aaaah, sudah datang, sudah datang......
hei, anak muda, orang yang ditunggu telah datang, kenapa kau masih
berada disini?"
"Ananda toh tidak kenal macam apa nona dari
keluarga Un itu, kalau ayah tidak membawa jalan, kemana ananda mesti
menemukannya?" sahut pemuda berbaju ungu itu cepat.
Satu ingatan segera melintas dalam benak
Thiat Tiong-tong, pikirnya:
"Nona dari keluarga Un? Jangan-jangan Un
Tay-tay yang dimaksud?"
Tampak kakek berjubah ungu itu
menghentakkan kakinya berulang kali seraya mengumpat:
"Binatang, sungguh menjemukan........"
lalu kepada Leng It-hong segera membentak, "Lohu masih ada urusan
lain yang lebih penting, tidak ada waktu lagi untuk ribut
dengan-mu!"
Diantara kebasan baju dan bergoyangnya
cahaya lentera, dalam waktu sekejap bayangan tubuhnya sudah lenyap
dari pandangan.
Leng It-hong tertawa dingin, gumamnya:
"Bagai bayangan yang mengintil tubuh, sampai
mati pun tidak akan berhenti....."
"Hey, buat apa kau bergumam sendirian"
terdengar Hong Lo-su menegur sinis, "mereka ayah beranak pun sudah
pergi jauh, kau bicara untuk siapa?"
"Sudah pergi?" Leng It-hong menyeringai
seram, "hmmm! Hmmm! Tidak bakalan bisa kabur!"
"Sudah tahu siapakah orang itu?"
"Siapa?"
Hong Lo-su tertawa keras, serunya:
"Sungguh menggelikan, ternyata siapakah dia
pun tidak kau kenal, dia tidak lain adalah si ruyung
geledek........."
"Jadi dialah Lui-pian lojin (kakek ruyung
geledek)?" berubah hebat paras muka Leng It-hong.
"Tepat sekali!"
Sekarang semua orang baru tahu kalau kakek
berjubah ungu itu ternyata tidak lain adalah si Ruyung geledek,
diam-diam mereka bergidik.
Thiat Tiong-tong pun ikut berpikir:
"Tidak aneh kalau kakek itu begitu
jumawa........."
Tapi ingatan lain segera melintas, pikirnya
lebih jauh:
"Aneh sekali jika orang yang dia tunggu
benar-benar adalah Un Tay-tay"
Sebenarnya dia ingin menyusul ke sana untuk
menonton keramaian, tapi persoalan ditempat inipun cukup menarik
perhatiannya.
Setelah tertegun beberapa saat mendadak
terdengar Leng It-hong berseru sambil tertawa terkekeh:
"Ruyung geledek! Hmmm, hmmm, sekalipun
ruyung geledek lantas kenapa? Belum tentu ruyung geledek sanggup
mengunjungi pulau Siang cun-to semau hati sendiri"
"Hmmm, memangnya kau sendiri bisa datang
pergi semaunya sendiri di pulau Siang cun-to?" ejek Hong Lo-su
sambil tertawa dingin.
"Kalau aku tidak sanggup, buat apa mesti
banyak bicara"
"Hahahaha..... kau tidak kuatir ada angin
kencang yang mengurungi lidah mu!" Hong Lo-su tertawa keras.
"Bila kau tidak percaya, terpaksa aku harus
mohon diri lebih dulu"
Siapa tahu belum sempat dia bangkit berdiri,
Hong Lo-su telah membentak duluan: "Tunggu sebentar"
"Tunggu apalagi?"
"Bukankah kita semua adalah orang sendiri"
ujar Hong Lo-su sambil terkekeh, "dengan cara apa sih kau bisa
sering kali berkunjung ke Pulau Siang cun-to? Beritahu kepada kami
bagaimana caramu"
Leng It-hong mendengus dingin.
"Hmmm, aku tahu kalau kalian harus
berkunjung ke Pulau Siang cun-to tapi tidak tahu bagaimana cara
masuknya, itulah sebabnya dengan senang hati aku datang kemari untuk
memberi petunjuk, siapa tahu kalian tidak percaya dengan
perkataanku, kelihatannya niat baikku hari ini bakal sia-sia"
Sambil mendelik besar dan menggebrak meja
teriak Hong Lo-su:
"Siapa yang tidak percaya?"
Sambil menuding ke arah Hek Seng-thian
tegurnya:
"Hei bocah keparat, kau berani bdak
percaya?”
Hek Seng-thian tertegun, buru-buru jawabnya:
"Aku.....aku.......percaya, percaya......"
"Suto Siau, berarti kau yang tidak percaya?"
bentak Hong Lo-su lagi.
"Aaaah, mungkin tidak ada yang bisa
mengalahkan rasa percaya ku atas urusan ini" sahut Suto Siau
tersenyum.
Dengan wajah penuh senyuman Hong Lo-su
kembali berpaling, katanya:
"Nah, coba lihat, semua orang percaya
kepadamu bukan? Kalau masih ada yang tidak percaya, biar aku manusia
she-Hong yang akan menjagalnya terlebih dulu"
Leng It-hong mendongakkan kepalanya tertawa
terbahak bahak.
"Hahahaha....... menggelikan! Sungguh
menggelikan!"
"Kalau begitu tertawalah lebih dulu sebelum
Leng-heng melanjutkan perkataanmu"
Bila dia sedang membutuhkan bantuan
seseorang, biar orang itu memakinya habis habisan pun Hong Lo-su
tetap akan berlagak seolah tidak ada urusan, menanti dia sudah tidak
membutuhkan orang itu lagi, ketika memancung kepalanya pun dia tudak
akan mengerdipkan matanya.
Kelihatannya Leng It-hong dibuat kehabisan
akal juga setelah berhadapan dengan seorang bulim cianpwee yang
tidak punya malu macam Hong Lo-su, ujarnya kemudian:
"Bukannya aku enggan memberitahukan caranya,
tapi masalahnya tidak segampang itu"
"Jika Leng-heng punya syarat, silahkan saja
dikatakan" buru buru Hong Lo-su membujuk.
Kemudian sambil menarik muka, hardiknya:
"Hek Seng-thian, ayoh cepat tuangkan arak
panas untuk Leng thayhiap"
Terpaksa Hek Seng-thian harus menahan diri
dengan menuangkan secaran arak.
"Buat apa kau tunduk kepadaku?" ejek Leng
It-hong.
Hek Seng-thian terbatuk-batuk:
"Ehmm.....uhuu...uhuu......."
Sambil tertawa tergelak Leng It-hong
mengambil cawan itu, kemudian ujarnya:
"Aku telah mengajak seseorang, asal ada
orang ini menemani kita, bukan saja dapat langsung memasuki Pulau
Siang cun-to bahkan bisa pula pulang kembali dengan selamat"
Kelihatannya Hong Lo-su sudah tidak kuasa
menahan diri lagi, serunya sambil tertawa terkekeh:
"Bagus sekali! Bagus sekali” Rupanya orang
itu benar-benar mestika hidup, di mana dia sekarang? Tolong bawalah
kemari"
Sambil berkata ia sudah bangkit berdiri.
"Aku telah menyembunyikannya secara baik
baik, jadi kau caripun tidak bakalan ketemu"
Sambil tertawa kering Hong Lo-su kembali
menempati bangkunya, katanya kemudian:
"Kalau saudara Leng tidak membawanya kemari,
siapa yang berani pergi mencarinya?
Tapi....... sebenarnya siapakah orang itu?
Rasanya tidak keberatan bukan untuk menyebut dulu namanya?"
"Im Ceng, murid Perguruan Tay ki bun!"
Hong Lo-su tertegun, mendadak pujinya sambil
bertepuk tangan:
"Bagus, bagus sekali!"
"Kalau orang lain tidak tahu, semestinya kau
tahu bukan, asal ada dia maka perjalanan kita ke Pulau Siang cun-to
akan jauh lebih aman dan lancar ketimbang kita cari hu
pelindung tubuh dari Thio Thay-say"
"Hahahaha......betul, orang ini memang
ibarat hu pelindung tubuh, sekalipun Ratu matahari keji dan
tega, tidak urung diapun akan kebingungan setelah menjumpai
dia...... aaah tidak benar, tidak benar, lebih cocok dibilang kalau
ingin menggebuk anjingpun harus melihat pemiliknya lebih
dulu........"
Makin bicara dia merasa perkataannya semakin
membanggakan sehingga akhirnya gelak tertawanya pun semakin
bertambah nyaring.
Tapi kecuali dia seorang, siapa pun tidak
mampu ikut tertawa, mereka hanya berpikir dengan keheranan:
"Aneh, kenapa Im Ceng bisa memiliki kegunaan
sebesar itu? Mana mungkin bisa dijadikan hu pelindung tubuh?"
Diantara sekian orang, perasaan tercengang
Thiat Tiong-tong terhitung paling besar, dari pembicaraan yang
berlangsung, kendatipun dia pun bisa menduga kalau antara Perguruan
Tay ki bun dengan Pulau Siang cun-to pasti terjalin hubungan khusus,
tapi selama ini Perguruan Tay ki bun hidup mengasingkan diri jauh
diluar perbatasan, sementara Pulau Siang cun-to hidup di sepanjang
pesisir pantai, boleh dibilang kedua kelompok ini terpisah jauh
sekali, dari mana datangnya hubungan itu? Satu hal yang sangat
membingungkan.
Apalagi kalau didengar dari perkataan Hong
Lo-su, tampaknya pemilik Pulau Siang cun-to tidak bakalan mencelakai
Hong Lo-su sekalian setelah bertemu dengan Im Ceng, hal ini semakin
membuktikan kalau hubungan kedua kelompok ini pasti akrab sekali.
Dalam semalaman, ada begitu banyak rahasia
besar yang didengar Thiat Tiong-tong, tapi setelah mendengar semua
rahasia itu, bukannya masalah bertambah jelas, dia merasa makin
kebingungan dan bodoh.
Pikirannya jadi kalut, pelbagai persoalan
serasa berkecamuk dalam benaknya, pembicaraan yang kemudian terjadi
antara Hong Lo-su dengan Leng It-hong pun terabaikan dengan begitu
saja, jangan lagi mengerti artinya, mendengar sekecap pun tidak.
Tiba-tiba terdengar Hong Lo-su berseru
sambil tertawa aneh:
"Aku akan mengabulkan semua syarat yang kau
ajukan, sekarang Im Ceng bisa diajak kemari bukan?"
Kini Thiat Tiong-tong baru tahu, rupanya
pembicaraan yang barusan berlangsung hanya mempersoalkan pertukaran
syarat.
Terdengar Leng It-hong sedang bertanya:
"Apakah ucapanmu sebagai seorang Bu-lim
cianpwee bisa dipercaya?"
"Soal itu mah tidak usah kuatir" sahut Hong
Lo-su, "ayoh cepat! Cepat!"
Leng It-hong segera tertawa terkekeh.
"Hahahaha..... kalau menginginkan kehadiran
Im Ceng mah gampang sekali! Katanya.
Sambil berkata dia mengayunkan tangannya,
sebuah mercon pun meluncur keluar dan meledak di angkasa.
Begitu bunga api memancar ke empat penjuru,
perhatian semua orang pun sama-sama dialihkan ke pintu perahu. Siapa
tahu biarpun setengah perminum teh sudah lewat pun tidak nampak
munculnya sesosok bayangan manusia pun.
Habis sudah kesabaran Hong Lo-su, tegurnya
dengan kening berkerut:
"Bagaimana?"
"Sudah hampir........sudah hampir........."
sahut Leng It-hong sambil tertawa kering.
Kembali beberapa saat sudah lewat, perasaan
tidak sabar kini muncul diatas wajahnya, sambil bangkit berdiri
gumamnya:
"Apa yang telah terjadi? Jangan
jangan.......jangan jangan......."
"Jangan-jangan kau hanya sedang mengibul!"
jengek Hong Lo-su sambil tertawa dingin.
Leng It-hong sama sekali tidak menjawab,
mendadak dengan wajah berubah teriaknya:
"Celaka! Pasti telah terjadi perubahan, aku
harus pergi memeriksanya"
Sambil berseru dengan cepat dia melompat
keluar dari ruang perahu.
"Mau kabur?" ejek Hong Lo-su sambil tertawa
dingin, "jangan harap, hari ini aku Hong Lo-su akan menempel terus
dibelakangmu"
Bagaikan bayangan tubuh saja, dia segera
mengintil di belakang Leng It-hong.
Thiat Tiong-tong sendiripun diam-diam merasa
panik, dia cukup mengetahui kemampuan kerja Sim Sin-pek dan tidak
mungkin manusia licik itu melakukan kesalahan fatal.
Kalau sekarang dia tidak muncul tepat waktu
berarti telah terjadi perubahan diluar dugaan, tapi baik buruknya
perubahan itu susah untuk diramalkan.
Dalam pada itu Hong Lo-su, Leng It-hong dan
Suto Siau sekalian satu per satu telah melompat naik ke daratan.
Dalam waktu singkat susah terlihat ilmu
meringankan tubuh siapa yang paling tangguh diantara sekian jago,
kecuali Hong Lo-su, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
Leng It-hong terhitung paling tinggi.
Seng Cun-hau meski hebat dalam ilmu pedang,
dasar kepandaian silatnya pun cukup mengagumkan, karena ilmu
meringankan tubuh bukan ilmu andalannya, lompatannya kali ini nyaris
tidak bisa menghantarnya naik ke daratan.
Thiat Tiong-tong harus menunggu sampai semua
orang sudah mencapai daratan, dia baru secara diam-diam mengikuti
dari belakang, tapi dia yakin ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya meski belum dapat melampaui kemampuan Hong Lo-su, paling
tidak selisihnya pun tidak banyak.
Pada saat itulah, ditengah hembusan angin
malam lamat-lamat terdengar suara bentakan nyaring diikuti suara
pertarungan dan teriakan wanita yang amat keras, bukan saja Hong
Lo-su sekalian dapat mendengarnya, Thiat Tiong-tong pun dapat
mendengarnya dengan jelas sekali.
Leng It-hong segera mempercepat langkahnya,
dalam belasan lompatan kemudian dia sudah saksikan ada segerombol
bayangan manusia sedang mengepung kereta kudanya rapat-rapat.
Bayangan tubuh si Ruyung geledek ayah dan
anak kelihatan paling mencolok, disamping mereka berdiri pula enam,
tujuh orang wanita berkeiudung yang berdiri tidak bergerak disana
bagaikan sukma gentayangan.
Im Ceng yang semula tidak sadarkan diri kini
sudah turun dari keretanya, sementara Sim Sin-pek yang bertugas
menjaga Im Ceng, saat ini justru sedang berlutut dihadapan Im Ceng.
Tampaknya Leng It-hong tidak menyangka kalau
persoalan dapat berubah jadi begitu rupa, sementara Hong Lo-su pun
nampak sangat terkejut, tanyanya:
"Apa yang telah terjadi?"
"Dari mana aku tahu" sahut Leng It-hong.
"Kalau begitu pergilah melakukan
penyelidikan, aku akan menunggu mu di perahu"
"Kau saja yang melakukan penyelidikan" seru
Leng It-hong sambil tertawa dingin, "aku akan menunggumu di perahu"
Siapa pun diantara kedua orang itu tidak ada
yang berani maju, bahkan mereka bersiap sedia melarikan diri.
Tiba-tiba terdengar Lui pian lojin (kakek
ruyung geledek) membentak nyaring:
"Kalau sudah datang, kalian tidak usah balik
lagi!"
Bukan saja orang tua ini seolah memiliki
sepasang mata dipunggungnya, ketajaman pendengarannya betul-betul
mengagumkan.
Hong Lo-su sert Leng It-hong saling bertukar
pandangan sekejap, akhirnya sambil keraskan kulit kepala mereka pun
berjalan menghampiri.
Terlihat Im Ceng menuding wajah Sim Sin-pek
sambil mencaci makinya habis-habisan, sementara Sim Sin-pek hanya
berlutut sambil menundukkan kepalanya dan bergumam berulang kali:
"Hamba tidak tahu apa-apa, hamba hanya
menjalankan perintah"
"Hmm, selama ini aku menganggap dirimu
bagaikan saudara sendiri, sekalipun kau sedang menjalankan perintah
pun tidak seharusnya berbuat begini, coba kalau bukan para hujin itu
keburu datang, mungkin nyawaku sudah melayang di tanganmu saat ini!"
Rupanya Sim Sin-pek yang harus menunggu lama
pada akhirnya tidak mampu menahan sabar lagi sehingga dia putuskan
untuk turun dari kereta sambil melihat keadaan, dia percaya ditengah
malam buta begini tidak mungkin jejaknya akan ketahuan orang.
Pada saat itulah secara kebetulan Un Tay-tay
bersama rombongan wanita suci itu lewat disana, sudah sejak lama Un
Tay-tay mengetahui akan kelicikan Sim Sin-pek, menyaksikan gerak
geriknya yang mencurigakan, dia segera tahu kalau orang itu tentu
sedang menjalankan sebuah rencana busuk.
Begitu melihat kemunculan kawanan wanita
suci bercadar hitam, Sim Sin-pek ketakutan setengah mati hingga
lemas kakinya, cepat-cepat dia lari balik ke dalam ruang kereta
sambil berharap kawanan wanita itu lupa akan dirinya.
Mimpi pun dia tidak menyangka kalau Un
Tay-tay menjadi salah satu dari kawanan wanita berkerudung hitam,
baru saja dia menutup pintu kereta, tahu-tahu pintu kembali dibuka
orang kemudian seseorang menyeretnya keluar.
Begitu tahu siapa yang berada dalam kereta,
Un Tay-tay terkejut sekali, cepat dia menotok bebas jalan darah
ditubuh Im Ceng.
Begitu mendusin dari mabuknya, Im Ceng
sendiripun tidak menyangka kalau wanita berkerudung yang
menyelamatkan jiwanya adalah Un Tay-tay, dia pun turun dari kereta
dan mulai mencaci maki Sim Sin-pek habis-habisan.
Kebetulan waktu itu Lui-pian ayah beranak
sedang lewat disana, mereka pun segera menyusul ke tempat kejadian.
Begitu Un Tay-tay menyaksikan kemunculan
kakek berjubah ungu itu, kontan dia ketakutan setengah mati dan
tidak berani bersuara lagi.
Masih untung cuaca waktu itu masih gelap
gulita sehingga sulit bagi siapa pun untuk mengenalinya.
Leng It-hong sendiripun kuatir kalau sampai
Im Ceng mengetahui kehadirannya, tanpa bergerak dia berdiri
dibelakang Hong Lo-su, bukan berarti dia takut kepada Im Ceng, yang
dikuatirkan justru kawanan wanita berkerudung anak buah Ratu
matahari.
Sudah barang tentu Suto Siau semakin tidak
berani tampil diri, dia bersembunyi di belakang Leng It-hong, Hek
Seng-thian bersembunyi dibelakang Suto Siau sementara Pek Seng-bu
bersembunyi di belakang Hek Seng-thian.
"Dasar kawanan manusia tidak berguna" umpat
Seng Toa-nio seolah menggerutu, tapi dia sendiripun tidak berani
tampil ke depan sebaliknya malah bersembunyi dibelakang
Pek Seng-bu tanpa bergerak.
Menyaksikan kesemuanya ini, Seng Cun-hau
hanya bisa menghela napas panjang, dia pun membalikkan tubuh sambil
membuang muka, sebagai seorang pendekar dia malu menyaksikan sikap
asor dari rekan-rekannya.
Dengan demikian, sekalipun Im Ceng berpaling
ke arah mereka maka yang terlihat olehnya hanya Hong Lo-su seorang,
apalagi saat itu dia sedang diliputi perasaan gusar yang meluap,
didalam pandangannya kecuali Sim Sin-pek seorang, boleh dibilang dia
tidak melihat siapapun.
Un Tay-tay sendiripun merasa amat sedih
bercampur girang, sedih karena meski sang kekasih ada didepan mata
namun mereka tidak bisa saling mengenal, girang karena kekasihnya
terbebas dari pelbagai masalah.
Tiba-tiba terdengar Lui-pian lojin membentak
nyaring:
"Anak muda, sudah habis makianmu?"
"Apa urusannya dengan dirimu?" sahut Im Ceng
sambil melotot gusar.
"Dasar bocah ingusan, berani amat kau
bersikap kurangajar, sudah tahu siapakah aku?"
"Hmm, anak murid Perguruan Tay ki bun tidak
pernah takut menghadapi siapapun!" sahut Im Ceng lantang.
Suto Siau sekalian diam-diam kegirangan
setelah menyaksikan pemuda itu berani bersikap kurang ajar terhadap
Lui pian lojin, mereka sangka kali ini Im Ceng pasti akan dihajar
habis habisan.
Siapa tahu watak Lui pian lojin memang aneh
sekali, dia paling suka menghadapi pemuda bersemangat macam begini,
bukannya gusar dia malah memuji sambil tertawa:
"Ternyata anak murid Perguruan Tay ki bun
memang bersemangat dan tulangnya terbukti keras sekali"
"Bagus kalau sudah tahu!"
Lui pian Lojin tertawa tergelak, kembali
ujarnya: "Lohu hanya ingin berbicara beberapa patah kata dengan
beberapa orang hujin yang barusan menolongmu, apabila kau belum
selesai memaki, teruskan saja, teruskan saja, tidak ada salahnya
lohu akan menunggu sejenak lagi"
Im Ceng melirik kawanan wanita bercadar itu
sekejap, perkataan itu justru membuatnya merasa sungkan, maka
katanya cepat:
"Bila kalian ingin berbicara disini,
baiklah, biar aku berpindah tempat dan melanjutkan makianku ditempat
lain"
Wataknya memang tidak jauh berbeda dengan
watak Seng Cun-hau, tunduk pada cara lunak daripada cara kekerasan.
Kontan Lui pian Lojin tertawa
terbahak-bahak: "Hahahaha... bagu! Bagus sekali anak muda..."
Kemudian sambil menjura ke arah kawanan wanita bercadar itu,
sapanya:
"Apakah belakangan ini Jit ho hujin dalam
keadaan sehat?"
Wanita bercadar yang berdiri ditengah segera
menjawab:
"Kau sendiri pun tetap tegap dan sehat,
tentu saja Jit ho hujin selalu sehat walafiat!"
"Cengli, cengli........" Lui-pian Lojin
manggut-manggut, "dimana Un Tay-tay berada?"
Pertanyaan yang diajukan sangat mendadak ini
seketika membuat sebagian orang yang hadir disitu terperanjat,
bahkan Im Ceng yang sudah siap membopong tubuh Sim Sin-pek pun
seketika menghentikan langkahnya.
"Siapa itu Un Tay-tay?" tanya perempuan
bercadar itu dingin.
Sekali lagi Lui pian Lojin tertawa terbahak
bahak.
"Hahahahaha.....kalian tidak usah
mengelabuhi lohu lagi, sejak keluar meninggalkan kuil Siau-lim,
jejak Un Tay-tay ikut lenyap tidak berbekas, kalau bukan sudah
bergabung dengan kalian, mana mungkin lohu gagal menemukan-nya?"
"Belum tentu begitu"
Sambil mengelus jenggotnya kembali Lui pian
Lojin tersenyum, ujarnya:
"Bila Un Tay-tay tidak ikut bergabung dengan
kalian, lohu bersedia pertaruhkan kulit wajahku ini"
"Bila kau berkeinginan memenggal batok
kepala sendiri, kami semua tidak bakalan mencegah" tukas perempuan
itu cepat.
Tiba-tiba Lui pian Lojin menghentikan gelak
tertawanya, dengan gusar dia berseru:
"Jadi kau tidak mau mengakui juga,
memangnya kalian ingin lohu......."
"Kalau kau bersikeras menuduh Un Tay-tay
ikut bergabung dengan kami, kenapa tidak tunjuk hidung saja" tukas
perempuan itu semakin ketus, "tapi kalau sampai gagal, hmmmm!
Hmmmm!"
Perempuan berbaju hitam lainnya segera
menimpali:
"Kalau kau sampai salah tunjuk orang, aku
kuatir hubunganmu dengan Jit ho dimasa mendatang bakal tidak lancar"
Nada suaranya dingin lagi hambar, tidak jauh
berbeda dengan nada bicara rekannya.
Lui pian Lojin tertegun, dia mencoba
perhatikan kawanan wanita itu, tapi ke tujuh orang perempuan
bercadar itu nyaris berdandan sama, dari ujung kepala hingga ujung
kaki boleh dibilang semuanya terbalut dibalik kain hitam.
Bukan hanya dandanannya sama, perawakan
tubuh ke tujuh orang wanita itupun hampir berimbang.
Terdengar perempuan yang ada disisi kiri
bertanya:
"Akukah Un Tay-tay?"
Menyusul kemudian wanita disampingnya
melanjutkan:
"Akukah Un Tay-tay?"
Satu per satu ke tujuh orang wanita itu
mengajukan pertanyaan yang sama, nada suara mereka nyaris tidak jauh
berbeda.
Coba kalau mereka bertujuh tidak bergerak,
siapa pun tidak akan mampu menunjukkan perbedaan diantara mereka.
Sepanjang hidupnya sudah begitu banyak
masalah pelik yang pernah dihadapi Lui pian Lojin, namun belum
pernah dibuat serba salah seperti hari ini, untuk sesaat dia hanya
bisa berdiri terbelalak tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong telah
berputar satu lingkaran dan menyembunyikan diri di belakang kereta
kuda itu.
Dia sendiri meski yakin kalau salah satu
diantara ke tujuh wanita bercadar itu adalah Un Tay-tay, namun dia
pun merasa tidak berdaya untuk tunjuk hidung, siapa diantara mereka
adalah orang yang dimaksud.
Bukan hanya dia, bahkan termasuk Im Ceng dan
Suto Siau pun tidak mampu membedakannya.
Terdengar perempuan bercadar itu berkata
lagi: "Bila kau merasa tidak mampu untuk tunjuk hidung, lebih baik
jangan mencari masalah lagi"
"Soal ini....... soal ini......." Lui-pian
Lojin cemas bercampur gusar.
Mendadak dengan sekali lompat Sim Sin-pek
menyembah dihadapannya sambil berteriak keras:
"Bila hamba sanggup menunjukkan dimana Un
Tay-tay bersembunyi, apa pula yang hendak cianpwee lakukan?"
"Lohu saja tidak mampu mengenali, apalagi
kau seorang bocah busuk yang tidak tahu diri?" bentak Lui-pian Lojin
gusar, "baik! Bila kau dapat mengenali, lohu jamin keselamatanmu
hari ini"
"Sungguh?"
Dengan jengkel Lui pian Lojin menendangnya
hingga jatuh berguling, umpatnya penuh amarah:
"Apa itu sungguh atau palsu, setiap
perkataan lohu ibarat larinya seribu ekor kuda, mau dikejar pun
tidak mungkin"
Biarpun kena didepak keras, Sim Sin-pek
justru memperlihatkan wajah kegirangan, serunya:
"Hamba tidak bermaksud mengatakan kalau
ketajaman mataku jauh melebihi kau orang tua, kebetulan saja barusan
tanpa sengaja Un Tay-tay telah memperlihatkan jejaknya"
"Jejak apa? Kalau ingin dilaporkan cepat
katakan"
"Kecuali Un Tay-tay, tidak seorangpun yang
bakal mengenali hamba, terlebih mengenali Im.......Im thayhiap, tapi
ada seorang hujin berbaju hitam yang langsung menyebutkan nama hamba
serta Im thayhiap begitu bertemu kami, saat itu juga hamba segera
menduga siapa gerangan hujin itu"
"Sekalipun saat itu kau dapat menduga, bukan
berarti sekarang kau masih bisa mengenalinya kembali"
Sim Sin-pek segera tertawa.
"Ketika hujin itu menarik tangan hamba tadi,
secara diam-diam hamba telah meninggalkan tanda rahasia
ditangannya, tanda itu kutinggalkan tanpa dia sadari...."
Ketika mendengar perkataan itu, tanpa sadar
perempuan bercadar nomor dua dari sebelah kanan segera menarik
tangannya dan menyembunyikan dibalik saku.
Sim Sin-pek yang menyaksikan hal tersebut
kontan berteriak keras:
"Dialah orangnya!"
Baru selesai dia berteriak, Lui pian Lojin
sudah menerjang ke hadapan perempuan itu dengan kecepatan tinggi,
bentaknya:
"Yaa, kaulah orangnya! Un Tay-tay, apakah
kau masih ingin kabur!"
Terlihat wanita berbaju hitam itu berdiri
dengan tubuh gemetar keras.
Terdengar Sim Sin-pek berseru sambil tertawa
terbahak bahak:
"Hahahaha.... Un Tay-tay, siapa suruh kau
menarik tanganmu sambil disembunyikan dibalik saku, padahal
ditanganmu itu sama sekali tidak ada tanda apa-apa?"
Thiat Tiong-tong merasa terkejut, keheranan
bercampur rasa sayang, terkejut dan heran karena dia tidak tahu
kenapa orang tua itu begitu getol mencari Un Tay-tay, merasa sayang
karena manusia secerdik Sim Sin-pek kenapa perbuatan-nya justru
licik dan berhati busuk.
Tampak perempuan berbaju hitam itu
menghentakkan kakinya berulang kali sambil berteriak keras:
"Mau kenali aku atau tidak, aku tidak ambil
perduli, pokoknya sampai mati pun aku tidak bakalan mengikuti
dirimu"
Sambil berkata dia tanggalkan kain cadar
dari wajahnya, maka muncullah seraut wajah yang meski cantik namun
kelihatan sangat murung.
Begitu menyaksikan wajah perempuan itu,
tanpa terasa sekujur tubuh Im Ceng gemetar keras.
Kembali Lui-pian Lojin tertawa
terbahak-bahak.
"Hahahaha......... kini lohu telah berhasil
mengenalimu, bagaimanapun juga kau harus pergi bersamaku"
"Kenapa?" tiba tiba perempuan bercadar yang
berdiri dipaling tengah menegur dingin.
"Karena dia sudah terikat janji dengan lohu"
"Dia sudah mati satu kali" tukas perempuan
itu cepat, "berarti semua perjanjian dimasa hidupnya yang lampau
tidak perlu dipenuhi lagi"
Kemudian setelah tertawa dingin lanjutnya:
"Sebab orang yang sudah mati tidak akan
mampu melakukan pekerjaan apa pun!"
"Hahahahaha.....betul, kalau ingin menjadi
anak buahnya Ratu matahari, dia memang wajib mati satu kali" kata
Lui pian Lojin sambil tertawa tergelak, "tapi khusus baginya, biar
sudah matipun perjanjan ini masih tetap berlaku"
"Kenapa?"
"Sebab perjanjian yang kami sepakati adalah
menyerahkan tubuhnya kepada lohu, sekalipun tidak disebut dalam
kondisi hidup atau mati, tapi yang pasti biar hidup atau mati, tubuh
itu tetap menjadi milikku"
Satu pernyataan yang sangat lihay, kawanan
wanita bercadar itupun tidak sanggup berkata-kata lagi, sebab dalam
hal ini biar orang mati pun masih tetap dapat melakukannya.
Un Tay-tay memandang sekeliling tempat itu
sekejap, dua baris air mata segera jatuh bercucuran.
Tiba-tiba terdengar Im Ceng membentak keras,
sambil tampil ke depan teriaknya:
"Bagaimana pun juga kau masih terhitung
seorang bulim cianpwee, kenapa perbuatanmu justru begitu memalukan,
menganiaya kaum wanita lemah...... Hmmm! Sekalipun orang lain enggan
mencampuri, hari ini aku orang she-Im tetap akan mengurusi hal ini"
Sekali lagi Un Tay-tay gemetaran keras,
pancaran sinar girang muncul dari balik matanya. Ternyata Im Ceng
masih begitu menaruh perhatian terhadapnya, sekalipun benar-benar
harus mati, kini dia akan menerimanya dengan rela.
Dengan mata melotot Lui pian Lojin mengawasi
wajah Im Ceng beberapa saat, tiba-tiba sambil bertepuk tangan dan
tertawa keras serunya:
"Betul, betul, ternyata kau orangnya! Kenapa
tidak kukenali sejak tadi"
"Kenapa tidak dikenali?" Im Ceng tertegun,
"ngaco belo saja perkataanmu itu"
"Lohu pernah selamatkan nyawamu, kenapa kau
malah bersikap begitu kurangajar kepadaku?"
Rupanya dia sudah mengenali kalau pemuda itu
tidak lain adalah anak muda yang dia hantar masuk ke dalam kuil
Siau-lim.
"Kau pernah selamatkan nyawaku?" tanya Im
Ceng tetap tidak habis mengerti.
"Kalau bukan lohu, mana mungkin kau bisa
memasuki kuil Siau-lim-sie?"
"Tapi...tapi dia...." Im Ceng merasa
terkejut bercampur ragu.
"Justru lantaran ingin selamatkan nyawamu,
maka dia serahkan tubuhnya untuk lohu" sela Lui pian Lojin cepat,
"bocah goblok, masa sampai sekarang pun kau masih belum tahu?"
Im Ceng berdiri dengan tubuh gemetar keras,
dengan wajah tertegun dia mundur sempoyongan beberapa langkah ke
belakang.
"Hei anak muda, kemari kau" kembali Lui pian
Lojin menggapai ke arah pemuda berbaju ungu.
Sambil tertawa getir pemuda berbaju ungu itu
maju mendekat.
"Berdiri di samping nona Un!" kembali
perintah Lui pian Lojin.
Sambil mendeham berulang kali pemuda berbaju
ungu itu berjalan ke depan dan berdiri disisi perempuanku.
Dalam pada itu Un Tay-tay hanya berdiri
termangu sambil mengawasi wajah Im Ceng, terhadap urusan lain
tampaknya dia tidak menggubris maupun ambil perduli.
Dengan sorot matanya yang tajam Lui pian
Lojin memperhatikan putranya sekejap, lalu memperhatikan pula wajah
Un Tay-tay, setelah itu sambil tertawa tergelak serunya:
"Bagus! Bagus! Benar-benar sepasang muda
mudi yang serasi, yang laki tampan yang wanita cantik lagi cerdas,
lain waktu kalian pasti akan melahirkan cucu hebat untuk lohu,
hahahaha.... hahahaha.....bagus, sungguh bagus......"
Saat itulah Un Tay-tay baru tersentak sadar
dari lamunannya, mendengar ucapan tersebut, serunya keheranan:
"Apa? Cucu?"
"Putra yang kau lahirkan bersama anakku
bukankah cucuku? Cucu dalam?" seru Lui pian Lojin cepat, kuatir
orang lain tidak paham, kembali dia menjelaskan secara terperinci.
Tampaknya penjelasan ini sama sekali diluar
dugaan Un Tay-tay, kembali ujarnya tergagap:
"Jadi kau..... kau ingin aku bersama
putramu........."
Dengan wajah penuh rasa bangga Lui-pian
Lojin berkata lagi:
"Selama hidup lohu selalu malang melintang
tanpa tandingan, kalau cucuku tidak hebat, bukankah hal ini akan
menjadi satu penyesalan? Oleh sebab itu lohu mesti mendapatkan
menantu pilihan......."
Setelah tertawa tergelak berulang kali,
terusnya: "Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya kutemukan dirimu.
Lohu sudah cukup lama mengamati sifat manusia, lohu tahu bila
memperoleh wanita goblok maka putranya pasti goblok, kalau mendapat
wanita cerdik pasti akan melahirkan putra cerdik, teori ini tidak
bakal berubah dari dulu hingga nanti. Sekarang lohu telah memperoleh
menantu cantik lagi cerdik macam kau, dapat dipastikan seorang cucu
hebat pasti akan bergabung dalam keluarga kami...... hahahaha......
coba lihat, putraku ganteng, gagah, bun bu coan cay, bukankah
merupakan pasangan serasi denganmu"
Makin bicara orang tua itu merasa semakin
bangga, sebaliknya pemuda berbaju ungu itu hanya bisa berdiri sambil
tertawa getir, sementara batuknya pun makin bertambah keras.
Hong Lo-su ikut terkekeh, serunya:
"Bagus! Bagus! Sungguh bagus! Nona Un,
kenapa tidak segera berlutut dan memanggil loya kepadanya!"
Saat itu Im Ceng sudah tidak sanggup menahan
diri lagi, tiba-tiba teriaknya keras:
"Kentut!"
"Bocah bodoh, minggir kau"
"Un Tay-tay itu milikku, apa pun yang
terjadi aku tidak akan biarkan dia kawin dengan anak busukmu!"
Entah apa sebabnya, bahkan Im Ceng
sendiripun tidak paham, kenapa dia bisa mengucapkan kata-kata
semacam itu, tapi bagi pendengaran Un Tay-tay, ucapan tersebut
nyaris membuatnya jatuh pingsan, semaput gara-gara kegirangan.
"Bocah goblok" umpat Lui pian Lojin dengan
kening berkerut kencang, berkerut saking gusarnya, "kau tahu
siapakah lohu? Kurang ajar kepadaku mah masih mendingan, kau berani
memaki putraku?'
"Kalau berani lantas kenapa?"
"Keparat!" teriak Lui pian Lojin naik pitam,
"hei bocah muda, cepat kasih pelajaran kepada si burung dogol itu"
Rupanya panggil 'bocah muda' tanpa embel
yang lain dimaksudkan untuk memanggil putranya.
"Tapi.....tapi......." kelihatan sekali
pemuda berbaju ungu itu agak keberatan.
"Tapi kenapa?" kembali Lui pian Lojin
membentak, "memangnya kau ingin menjadi anak tidak berbakti? Ayoh
cepat........ mengingat bocah goblok itu punya keberanian, jangan
kau lukai nyawanya"
"Baik........" akhirnya pemuda berbaju ungu
itu menghela napas.
Siapa tahu Im Ceng bertindak jauh lebih
cepat, tidak menunggu sampai dia menyelesaikan perkataannya, sebuah
pukulan telah dilontarkan ke depan.
Terdengar Hong Lo-su segera berteriak aneh:
"Eei keparat, kenapa pukulan Siau-lim-kun yang kau gunakan?"
Baru selesai dia bicara, Im Ceng telah
melepaskan lima buah pukulan berantai, karena itu kembali
teriaknya:
"Hiattit, coba lihat, bocah dungu itu
menyerang sungguhan, memangnya kau pingin digebuk? Ayoh cepat
dibalas!"
Menggunakan kesempatan itu, perempuan
bercadar yang ada ditengah segera berbisik disisi telinga Un
Tay-tay:
"Kami akan berusaha menahan kakek itu,
gunakan kesempatan nanti untuk kabur dari sini!"
"Tapi.... ke mana aku pergi?" tanya Un
Tay-tay dengan kepala tertunduk.
Perempuan berbaju hitam itu segera
menyusupkan sebuah peluit tembaga ke tangannya sambil berbisik:
"Tiuplah peluit itu begitu tiba di pesisir,
akan muncul perahu yang akan menjemputmu, asal sudah tiba di Pulau
Siang cun-to, kau tidak perlu kuatir lagi terhadap siapa pun"
Kemudian dia menggapai sambil memberi tanda,
ke enam orang wanita berbaju hitam itu serentak bergerak ke depan
dan mengepung Lui pian Lojin rapat-rapat, gerakan tubuh mereka cepat
bagaikan sambaran kilat.
"Mau apa kalian berenam?" bentak Lui pian
Lojin gusar.
"Mau memaksamu agar tidak mampu meloloskan
diri" sahut perempuan bercadar itu cepat.
Dengan gerakan cepat ke enam orang itu
berputar tiada hentinya, tiba-tiba setiap orang melepaskan satu
pukulan, langsung menghantam bahu kakek itu.
"Minggir!" bentak Lui pian Lojin gusar,
"selama hidup lohu tidak sudi bertarung melawan kaum wanita
"Tidak sudi pun tetap harus melayani kami"
Enam orang secara berantai melancarkan
serangan secara bertubi tubi, kerja sama mereka selain erat pun
gerak serangannya aneh, membuat siapa pun jangan harap bisa loloskan
diri secara gampang.
Sekalipun Lui pian Lojin termasuk jagoan
tangguh, tidak urung dia terjerumus juga dalam kepungan yang rapat,
biarpun dia mencak-mencak kegusaran, untuk sesaat jangan harap bisa
loloskan diri dengan mudah.
Un Tay-tay mulai bergeser menjauhi tempat
itu, namun sepasang matanya serasa melekat ditubuh Im Ceng, sama
sekali tidak sanggup berpindah dari situ.
Waktu itu Im Ceng menyerang semakin gencar,
pukulan demi pukulan dilontarkan ke tubuh pemuda berbaju ungu itu
bagai titiran hujan badai, sementara pemuda berbaju ungu itu seolah
tidak berdaya melancarkan serangan balasan, tapi seperti juga dia
memang sama sekali tidak berhasrat untuk melayani pertarungan itu.
Un Tay-tay tidak ingin pergi dari situ,
namun tidak bisa tidak harus pergi, baru saja dia nekad hendak
beranjak dari sana, mendadak matanya menangkap wajah Hong Lo-su yang
sedang memandang kearahnya sambil tertawa licik.
Bersamaan waktu diapun menyaksikan Leng
It-hong dan Suto Siau yang berdiri dibelakang Hong Lo-su, perasaan
hatinya makin tercekat, pikirnya:
"Kalau aku pergi sekarang, bukankah diriku
akan terjatuh ke cengkeraman setan mereka?"
Dia lebih suka ditawan Lui pian Lojin
ketimbang terjatuh ke tangan kelompok manusia busuk itu, karena itu
langkahnya seketika terhenti. Saat ini keadaannya boleh dibilang
maju salah mundurpun salah.
Tiba-tiba terdengar pemuda berbaju ungu itu
berbisik:
"Kereta kuda itu kosong"
Tergerak hati Un Tay-tay, sebelum dia sempat
bertanya Im Ceng sudah membentak guluan:
"Kalau kosong ada apa?"
Sambil berkelit dari pukulan, kembali pemuda
berbaju ungu itu berbisik:
"Kalau kosong berarti bisa dinaiki, kalau
bisa dinaiki berarti bisa digunakan untuk kabur"
"Jangan harap kau bisa kabur!" seru Im Ceng
gusar.
Pemuda itu mendongkol bercampur geli,
untunglah Un Tay-tay segera datang sambil berbisik:
"Dia suruh kau yang naik kedalam kereta dan
kabur!"
Im Ceng sama sekali tidak menghentikan
serangannya, kembali ujarnya penuh amarah: "Kenapa aku harus kabur!"
"Paling tidak kau toh bisa mengajak nona Un
untuk melarikan diri dari sini bukan?” kata pemuda berbaju ungu itu
sambil menghela napas.
Sekarang Im Ceng baru tertegun dibuatnya:
"Apa.....apa kau bilang?"
"Pemuda bodoh! Kau benar-benar pemuda
bodoh!" kata pemuda berbaju ungu itu sambil menghela napas lagi,
"kalian berdua bisa kabur dari sini sementara biar aku yang
menghadang kepergian para pengejar, anggap saja tidak pernah terjadi
apa-apa disini"
"Hmmm! Masa begitu baik hatimu?"
"Un Tay-tay cantik bak bidadari dari
kahyangan, jangan kau sangka aku tidak terpikat olehnya, kalau kau
masih juga tidak pergi, bisa jadi aku benar-benar akan mengawininya
menjadi biniku"
Segoblok apa pun saat ini Im Ceng sudah
merasakan juga niat baik dari pemuda itu, timbul perasaan terima
kasih dihati kecilnya, tapi di luaran kembali bentaknya:
"Bocah keparat, kau......."
"Baik, anggap saja aku memang keparat.
Sudahlah, sekarang bisa naik ke dalam kereta?"
Un Tay-tay tidak kuasa menahan rasa gelinya
lagi, sambil tertawa cekikikan dia menyelinap masuk ke dalam ruang
kereta.
Akhirnya Im Ceng menghentikan serangannya:
"Tapi..........."
Tidak menanti dia menyelesaikan
perkataan-nya mendadak pemuda berbaju ungu itu mengayunkan
tangannya, tidak jelas apa yang dilakukan, tahu-tahu dia sudah
cengkeram urat nadi Im Ceng dan mendorong tubuhnya ke dalam kereta
kuda, kemudian sambil berpekik nyaring dia sentil perut kuda-kuda
itu.
Diikuti suara ringkikan panjang, kuda-kuda
itu pun berlarian kencang meninggalkan tempat itu.
Dengan bergeraknya sang kereta, Thiat
Tiong-tong yang bersembunyi di belakang kereta pun tidak bisa
menyembunyikan diri lagi, tapi dia enggan munculkan diri dalam
situasi dan keadaan seperti ini, terpaksa sambil tetap membonceng
dibelakang ruang kereta, dia ikut berlalu pula dari tempat itu.
Bersamaan dengan bergemanya suara ringkikan
kuda, pemuda berbaju ungu itu telah menyelinap ke hadapan Hong Lo-su
dan Leng It-hong sekalian sambil merentangkan sepasang tangannya
lebar-lebar, tegurnya sambil tersenyum:
"Apakah kalian masih kenal aku?"
"Tentu saja masih........" sahut Hong Lo-su,
"kenapa kau justru membiarkan kereta kuda itu berlalu........."
Sambil mengebaskan ujung bajunya, dia siap
melakukan pengejaran.
Hek Seng-thian, Pek Seng-bu maupun Suto Siau
serentak ikut menggerakkan tubuhnya untuk melakukan pengejaran.
Siapa tahu, biarpun usia pemuda berbaju ungu
itu masih sangat muda ternyata kungfunya sangat hebat, kemana pun
Hong Lo-su bergerak, tubuhnya selalu bergerak lebih cepat untuk
menghalangi jalan perginya, sementara dengan sorot mata yang tajam
dia melotot ke arah Suto Siau sekalian sambil berseru:
"Kalian belum menjawab pertanyaanku, jangan
pergi dulu"
Keangkeran dan keperkasaan pemuda itu
seketika membuat Suto Siau sekalian tidak berani berkutik, mereka
benar-benar tercekat hatinya.
Sambil menahan rasa gusar, buru-buru sahut
Hong Lo-su:
"Kau adalah putra Lui pian Lojin, masa aku
tidak mengenalinya?"
Pemuda berbaju ungu itu tertawa.
"Tidak berani, tidak
berani........." katanya, kemudian sambil menuding ke arah Suto Siau
sekalian lanjutnya, "boleh tahu nama besar dari beberapa orang
hengtay ini?"
Tidak terlukiskan rasa gusar Hong Lo-su saat
itu, namun memandang wajah Lui pian Lojin dia tidak berani mengumbar
amarahnya, terpaksa sambil melotot jengkel ke arah pemuda berbaju
ungu itu, dia perkenalkan nama Suto Siau sekalian satu demi satu.
Pemuda berbaju ungu itu segera tertawa
tergelak, sambil menyingkir ke samping memberi jalan lewat katanya:
"Silahkan kalau kalian
hendak melakukan pengejaran!"
"Sekarang mau mengejarnya kemana!" teriak
Hong Lo-su mendongkol.
"Kalau saat ini mereka masih terkejar, tentu
saja aku tidak akan membiarkan kalian melakukan pengejaran"
Biarpun Hong Lo-su gusarnya setengah mati,
diapun tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa sambil menghentakkan
kakinya berulang kali, dia mencaci maki habis-habisan, tidak jelas
siapa yang menjadi sasaran makiannya.
Pemuda berbaju ungu itu tidak menggubris
dirinya lagi, ketika berpaling ke arah lain, dia saksikan ke enam
orang wanita bercadar itu berputar semakin gencar, nyaris sudah
tidak kelihatan lagi bayangan tubuh mereka, kini yang tersisa
tinggal segulung bayangan abu-abu yang samar.
Lui pian Lojin yang terkepung ditengah
bayangan abu-abu membentak gusar berulang kali, tiba-tiba sambil
berpekik nyaring tubuhnya melambung tinggi ke angkasa, suara
pekikannya keras bagaikan guntur yang menggelegar di udara, membuat
bergetar perasaan hati setiap orang.
Walaupun kawanan jago itu sudah lama
mengetahui akan kehebatan Lui pian Lojin, namun setelah mendengar
sendiri suara pekikannya yang menggetar sukma, tidak urung mereka
dibuat tercekat hatinya.
Sambil tertawa rendah ujar Hong Lo-su:
"Waah, kelihatannya toako sudah mulai gusar,
dia sudah tidak ambil perduli lagi siapa musuhnya, kali ini ke enam
orang wanita itu bakal banyak menderita"
Siapa tahu belum selesai suara pekikan itu
berkumandang, kawanan wanita bercadar itu telah membubarkan diri
sambil mundur ke tepi arena dan berdiri tanpa bergerak lagi.
Dengan wajah penuh amarah dan mata melotot
besar, Lui pian Lojin melayang turun dari udara, saat ini keadaannya
mirip dengan dewa guntur yang sedang gusar, jubah ungunya
menggelembung besar dan bergolak tiada hentinya, jelas sudah
dipenuhi dengan tenaga dalam yang maha dahsyat.
Begitu menginjakkan kakinya ditanah, Lui
pian Lojin kembali berseru dengan penuh amarah:
"Sudah lama kudengar ilmu barisan Toa ciu
thiat coat sintin dari Pulau Siang cun-to sangat hebat, lohu
sudah siap meminta pengajaran, kenapa kalian malah berhenti?"
Perlahan-lahan perempuan bercadar itu
menyahut:
"Walaupun ilmu barisan Toa ciu thiat coat
sintin sangat hebat, sayangnya kehebatan itu tidak akan terwujud
bila digunakan oleh enam orang saja, apalagi Un Tay-tay sudah pergi
jauh, buat apa kami mesti membuang tenaga dengan percuma, bila kau
bersikeras ingin menyaksikan kehebatan ilmu barisan kami, datang
saja ke Pulau Siang cun-to, pasti ada orang yang akan melayani
keinginanmu itu!"
Perkataan itu disampaikan dengan suara dalam
lagi lambat, sama sekali tidak tersirat hawa amarah.
"Pulau Siang cun-to?" teriak Lui pian Lojin
gusar, "hmmm! Hmmm! Memangnya pulau Siang cun-to adalah sarang naga
gua harimau? Memangnya lohu benar-benar tidak berani mendatanginya!"
"Mereka pasti menyangka toako tidak berani"
sambung Hong Lo-su cepat.
Dia memang tidak berani berkunjung sendiri
ke Pulau Siang cun-to, oleh sebab itu secara licik dia berusaha
memanasi hati orang lain untuk mendatangi pulau itu sementara
dirinya akan mencari keuntungan di air keruh.
Benar saja, perkataan itu seketika membuat
hawa amarahnya makin memuncak, sambil menghentakkan kakinya dia
berseru:
"Anak muda, kita berangkat!"
Hentakan kakinya seketika menimbulkan liang
yang cukup dalam ditempatnya berpijak.
Diam-diam Hong Lo-su kegirangan, kembali
teriaknya:
"Walaupun siaute tidak berkemampuan untuk
membantu toako, tapi pergi bersama toako paling tidak bisa membantu
keangkeran dirimu"
"Siapa yang ingin ikut segera bergabung
denganku" seru Lui-pian Lojin keras, "lohu tidak percaya kalau Pulau
Siang cun-to benar-benar adalah sarang naga gua harimau, kali ini
harus kuterjang"
Suto Siau sekalian segera menunjukkan wajah
kegirangan, sementara pemuda berbaju ungu itu menghela napas
panjang.
Didalam kereta kuda Im Ceng duduk saling
berhadapan dengan Un Tay-tay, sepanjang jalan senyuman manis selalu
tersungging diujung bibir perempuan itu.
Menyaksikan hal ini, dengan gusar Im Ceng
segera menegur:
"Apa yang kau tertawakan?"
Un Tay-tay tidak menjawab, seketika dia
tundukkan wajahnya.
Kembali Im Ceng berseru:
"Kalau kau anggap pemuda tadi jauh lebih
pintar ketimbang aku, kenapa tidak ikut dia saja?"
Un Tay-tay tetap menundukkan kepalanya tanpa
menjawab.
Kedua orang itupun terbungkam, dalam
keheningan kereta kuda bergerak makin cepat.
Tiba-tiba Im Ceng berkata lagi:
"Penampilanku tadi bukan cuma lantaran kau,
bila ada perempuan lain yang mengalami penganiayaan pun, aku tetap
akan berbuat hal yang sama"
"Aku tahu.........."
Kelihatannya Im Ceng sedang dipenuhi oleh
rasa mendongkol, semakin Un Tay-tay bersikap lembut dan penurut, dia
semakin jengkel dibuatnya, mendadak dengan mata mendelik dia mulai
memukul dinding kereta.
Un Tay-tay masih menundukkan kepalanya, sama
sekali tidak menggubris.
Kembali beberapa saat lewat, akhirnya Im
Ceng tidak kuasa menahan diri lagi, teriaknya:
"Sekalipun kau telah selamatkan nyawaku,
gara-gara kau akupun merasakan penderitaan yang berat, jadi aku
tetap tidak akan berterima kasih kepadamu"
"Aku tahu......."
Tiba-tiba Im Ceng melompat bangun, "duuuk!"
kepalanya ditumbukkan keatas dinding kereta kemudian teriaknya
keras:
"Kau tidak tahu.......kau tidak
tahu.......apapun tidak kau ketahui"
Dengan sedih Un Tay-tay memandangnya
sekejap, setelah menghela napas tanya:
"Dari mana kau tahu kalau aku tidak tahu?"
Lirikan itu seolah sebuah jarum tajam yang
segera menusuk dihati Im Ceng.
Perasaan murung, perasaan kagum serta luapan
cinta kasih yang sangat mendalam seolah terkandung dibalik lirikan
itu, membuat manusia berhati baja pun akan luluh hatinya apalagi
lelaki berdarah panas macam Im Ceng.
Akhirnya Im Ceng tidak sanggup
mengendalikan diri lagi, tiba-tiba dia menubruk maju dan memeluk
tubuh Un Tay-tay erat-erat, bisiknya:
"Kau tidak tahu, aku.....aku........."
Pemuda ini berwatak keras dan berangasan,
gembira atau gusar selalu mengikuti suara hati, bila dia enggan
memperdulikan seseorang maka jangan lagi mengajaknya bicara,
melirikpun enggan, tapi bila hatinya sedang dikobar api asmara, dia
pun akan mengemukakan perasaan hatinya secara terang terangan.
Sambil menyandarkan kepalanya diatas dada
pemuda itu, Un Tay-tay berbisik:
"Aku tahu, kau sangat berterima kasih
kepadaku"
"Bukan hanya berterima kasih, bahkan.....
bahkan aku......."
"Bahkan kenapa?"
"Aku.....akupun ingin........."
"Sebagai seorang lelaki sejati, masa kata
'cinta' pun tidak berani kau kemukakan?"
"Benar, aku mencintaimu, aku mencintaimu,
aku mencintaimu....." jerit Im Ceng keras-keras, "aku rela tidak
memperoleh apapun asal tidak kehilangan dirimu"
Un Tay-tay mendongakkan kepalanya, butiran
air mata telah membasahi seluruh wajahnya, dengan suara gemetar dia
berbisik:
"Sekalipun semua penderitaan dan siksaan
harus kujalani, tapi asal bisa mendengar perkataanmu itu, hatiku
benar-benar sudah puas"
Im Ceng memeluknya makin kencang, seolah
kuatir kehilangan wanita itu lagi, gumamnya terus menerus:
"Aku mencintaimu......... aku cinta
padamu...... bila kau senang mendengarnya, setiap hari akan kuulang
beratus, beribu kali....."
"Tapi dulu aku pernah melakukan perbuatan
yang sangat memalukan, pernah pula melakukan perbuatan salah
kepadamu"
Cepat Im Ceng menutup mulutnya dengan
tangan, tukasnya:
"Perduli dulu kau pernah melakukan perbuatan
apa, juga tidak perduli dikemudian hari apa yang hendak kau lakukan.
Asal hatimu hanya untukku, asal kau tidak pernah meninggalkan aku
untuk selamanya, aku sudah merasa puas sekali"
Sambil mendesis lirih Un Tay-tay segera
memeluk tengkuk pemuda itu, tubuh mereka berdua pun saling
berangkulan dengan mesranya, pipi menempel diatas pipi sementara air
mata jatuh berlinang, mereka seolah sudah melupakan keadaan yang
sedang dihadapi.
Orang yang berada diluar kereta ikut merasa
terharu bercampur gembira, pikirnya:
"Dasar bocah bodoh...... dasar bocah
bodoh......akhirnya kau mengerti juga...."
Walaupun dia tidak ingin mencuri dengar,
namun setiap patah kata yang berkumandang dari balik kereta
terdengar olehnya dengan jelas.
Walaupun dia tidak ingin mendengar lebih
jauh, namun perasaan hatinya tidak tahan untuk mendengar lebih
banyak, agar dia bisa turut bergembira bagi mereka, sebab jika
mereka berdua dapat hidup bahagia, dia akan merasa lebih berbahagia
ketimbang mereka.
Im Ceng benar-benar menikmati kebahagiaan
saat itu, terdengar dia bergumam:
"Sekalipun kau telah berjumpa dengan orang
yang lebih cerdik dari padaku pun jangan kau tinggalkan diriku"
Melihat ucapan itu diutarakan dengan wajah
bersungguh-sungguh, seakan dia masih belum melupakan pemuda berbaju
ungu itu, tidak tahan Un Tay-tay segera tertawa cekikikan, makinya:
"Dasar bocah bodoh!"
"Biarpun bodoh, aku mencintaimu dengan
sepenuh hati, sementara mereka yang mengaku cerdik, entah sudah
berapa banyak orang yang dicintai. Bagiku, aku hanya tahu mencintai
kau seorang"
"Belum tentu hanya seorang!"
"Sungguh, aku hanya mencintai seorang, kalau
tidak percaya aku.....aku....."
Mendadak Un Tay-tay memeluknya makin
kencang, dengan gemas digigitnya tengkuk pemuda itu.
Senyuman bercampur air mata kembali
menghiasi wajahnya:
"Dasar bocah bodoh....... dasar bocah bodoh!
Biarpun orang lain lebih menyukai orang
pintar, bagiku hanya orang bodoh macam kau yang kusukai"
Biarpun tengkuknya yang digigit menimbulkan
rasa sakit, namun Im Ceng merasakan hatinya manis dan hangat,
tiba-tiba dia tertawa.
"Kalau memang begitu, tidak tertutup
kemungkinan ada wanita lain yang bakal menyukai orang bodoh macam
aku"
"Kalau ada wanita lain berani mencintaimu,
akan kubunuh dia, kukuliti dia, kutanak dagingnya dan kumakan
seiiris demi seiris" bisik Un Tay-tay sambil menggigit bibir.
"Waaah, ternyata kau adalah harimau betina
yang galak....... jika ada wanita lain yang mencintaiku dan
mendengar ancaman mu itu, mereka pasti akan lari terbirit-birit"
Dibalik gelak tertawanya penuh diliputi
perasaan gembira, semua ketidak beruntungan yang mengganjal hatinya
tadi kini seolah sudah hilang lenyap tidak berbekas.
Un Tay-tay menatapnya sendu, setelah berapa
saat tiba-tiba ia menghela napas panjang.
"Dalam suasana gembira macam begini, kenapa
kau menghela napas?" tegur Im Ceng.
Sambil pejamkan matanya Un Tay-tay tertunduk
lesu, ujarnya sambil menghela napas sedih:
"Walaupun saat ini kita amat gembira, namun
waktu untuk bergembira tidak terlalu lama"
"Siapa mengatakan
begitu.....? siapa yang bilang......." tanya Im Ceng terperanjat.
"Setibanya di pesisir laut, aku akan segera
naik perahu menuju Pulau Siang cun-to, sejak itu......kita
dipisahkan oleh lautan yang luas, aku takut.....aku takut sejak
itu......."
"Aku melarang kau berkata begitu.......aku
juga melarang kau ke sana!" tukas Im Ceng keras.
"Aku pun tidak ingin berpisah denganmu,
tapi.... tapi jangan lupa, aku sudah mati satu kali, hanya Pulau
Siang cun-to yang bisa ku tempati"
Im Ceng merasa cemas bercampur gusar, dengan
air mata berlinang dipeluknya Un Tay-tay semakin kencang, jeritnya:
"Siapa bilang kau sudah mati? Orang-orang
itu hanya ngaco belo, tidak usah kau gubris perkataan mereka"
"Aku telah bergabung dengan mereka,
bagaimana pun aku harus pergi ke sana"
"Siapa bilang kau harus ke sana? Kalau ada
orang berani memaksamu, akan ku..... akan kubunuh
orang itu, kutanak dagingnya dan kumakan tubuhnya,
akan.....akan kubakar Pulau Siang cun-to"
"Bocah bodoh!" dengan lembut Un Tay-tay
menyeka air mata diwajahnya, "ilmu silat yang dimiliki Ratu matahari
sangat lihay, anak buahnya banyak tidak terhitung, bagaimana mungkin
kau bisa menghadapi mereka?"
Sekujur tubuh Im Ceng gemetar keras, seakan
dadanya kena dihantam sebuah pukulan keras.
Tiba-tiba Un Tay-tay melihat paras mukanya
berubah jadi pucat pasi, sepasang matanya melotot besar, ketika
dipanggil namanya, dia tidak menyahut, pemuda itu seakan telah
berubah jadi bodoh, jadi idiot!
Dia merasa hatinya sakit bagaikan ditusuk
pisau, diapun gelisah bercampur cemas, dengan air mata berlinang
bisiknya:
"Kee.....kenapa kau.......
sadarlah.......mari kita cari jalan lain........"
"Jalan apa.....? jalan yang mana?" gumam Im
Ceng seperti orang kebingungan, tiba-tiba dia menangis tersedu,
"aku tidak berdaya! Aku...... aku tidak sanggup menghadapi mereka"
"Aku yakin pasti ada cara menanggulanginya"
bisik Un Tay-tay dengan kepala tertunduk.
Im Ceng agak tertegun, mendadak dia
melompat bangun, "dduuk!" kepalanya membentur di langit-langit
kereta namun tidak terasa sakit, teriaknya kegirangan:
"Betulkah ada jalan keluar?"
Un Tay-tay merasa pedih bercampur sayang,
sembari membelai kepalanya dia berkata:
"Biarpun kepandaian silat yang dimiliki Ratu
matahari sangat lihay, toh bukan berarti dia bisa memaksaku jadi
orang mati!"
"Betul, betul......"
"Seandainya aku memohon kepadanya, mungkin
diapun tidak akan memaksakan kehendak"
"Betul, betul......biar aku temani kau"
Un Tay-tay memandangnya sekejap, tiba-tiba
ujarnya lagi:
"Tapi tidak ingin pergi memohon kepadanya"
"Kee.....kenapa?"
"Bila suatu saat tabiat tuan besarmu kambuh
kembali, bila kau mulai mengungkit kesalahan ku dulu, tidak
memperdulikan aku lagi, bukankah lebih baik aku pergi mampus saja"
Merah padam wajah Im Ceng saking gelisahnya,
dengan keras dia berteriak:
"Bila Im Ceng tidak ambil perduli lagi
terhadap Un Tay-tay, biarlah Thian memberi kematian yang mengenaskan
bagiku........"
Buru-buru Un Tay-tay mendekap mulutnya
sambil berseru:
"Aku percaya dirimu, jangan kau lanjutkan
perkataan itu, jika Thian punya mata, moga-moga kami berdua
diberkahi hidup bahagia hingga akhir jaman"
"Betul, hidup bahagia hingga akhir
jaman......."
Untuk sesaat kedua orang itu hanya saling
bertatap muka tanpa bicara lagi, seakan-akan mereka tidak ingin
dipisahkan kembali walau hanya sedetikpun.
Begitu mendengar pembicaraan tersebut, Thiat
Tiong-tong segera tahu kalau perempuan itu hanya ingin mengendorkan
suasana saja dan berusaha menunda masalah.
Sekalipun begitu, dia tidak marah atau
membenci Un Tay-tay, sebab dia cukup memahami perasaan wanita itu.
Dia sengaja berbuat demikian hanya terbatas karena dia tidak ingin
berpisah dengan Im Ceng, kalau dia tidak berbuat begitu, bagaimana
mungkin bisa menjinakkan kuda liar macam pemuda itu.
Thiat Tiong-tong hanya beranggapan bahwa
cara yang dilakukan perempuan itu patut dikasihani, patut menaruh
simpatik kepadanya sekalipun ada sedikit tipu daya yang
diperguna-kan, namun dia bisa memakluminya.
Sekalipun Thiat Tiong-tong bukan perempuan,
boleh dibilang dia sangat memahami perasaan kaum wanita, sebab hanya
wanita yang amat mencintai seseorang baru rela melakukan segala
tindakan termasuk menggunakan siasat.
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli,
pikirnya:
"Begitu asyik mereka tenggelam dalam masalah
pribadi sampai lupa kalau kereta ini bisa bergerak tanpa kendali,
yaa sudahlah, biarkan saja mereka berasyik masyuk sementara aku
menjadi kusir mereka"
Maka diapun balik ke tempat kusir dan
mengendalikan larinya kereta.
Waktu itu fajar telah menyingsing, matahari
memancarkan sinar keemas-emasannya menyinari seluruh jagad, diantara
hembusan angin lamat lamat sudah mulai terdengar debuan ombak,
kelihatannya merek sudah berada tidak jauh dari pesisir.
Thiat Tiong-tong merasakan semangatnya
bangkit kembali, dia membuang jauh semua kekesalan serta kemurungan
yang mencekamnya selama ini.
Setelah menyaksikan adegan mesra dan Im Ceng
dan Un Tay-tay, jangan lagi baru bergadang sehari semalam, biar
harus menjadi kusir selama tiga hari tiga malam pun dia tidak akan
menggerutu.
BAB 26.
Kalau bingung, bertanyalah pada langit.
Tidak selang berapa saat kemudian samudra
luas telah terbentang di depan mata, diantara kilauan ombak yang
tertimpa cahaya tampak riak yang saling berkejaran gulung menggulung
menuju pantai.
Thiat Tiong-tong mencoba memandang ke depan,
tidak dijumpai batasan antara pesisir dengan samudra, kenyataan ini
segera membuatnya tertegun, ternyata mereka sudah berada diatas
sebuah tebing dengan bentangan jurang yang amat dalam.
Masih untung pemuda itu segera
mengendalikan kereta tersebut, coba kalau tetap membiarkan sang
kereta lari kencang tanpa kendali, niscaya saat ini kendaraan
tersebut sudah langsung terjun ke dalam samudra.
Dalam terperanjatnya sekuat tenaga Thiat
Tiong-tong menarik tali kendali kuda, namun kereta itu masih sempat
bergerak berapa meter lagi sebelum benar-benar berhenti, coba kalau
maju tiga depa lagi, mustahil bagi mereka untuk berhenti persis
ditepi tebing.
Dia mencoba melongok ke bawah, terlihat
hamparan samudra luas dengan batu karang yang runcing dan tajam
terbentang dibawab tebing, gulungan ombak yang memecah ditepian
membuat situasi disitu amat menakutkan, bisa dibayangkan apa jadinya
andai kereta berikut penumpangnya tercebur ke situ?
Im Ceng serta Un Tay-tay yang berada dalam
ruang kereta, meski masih mabuk kepayang oleh api asmara, tidak
urung terperanjat juga ketika merasakan kereta itu berhenti
mendadak, terlebih ketika melihat hamparan air laut dihadapan
mereka, keringat dingin seketika membasahi tubuh.
"Keterlaluan! Sungguh keterlaluan!" pekik Un
Tay-tay terperanjat, "masa kita sampai lupa kalau kereta ini
bergerak tanpa kusir!"
"Coba kuperiksa, apa yang sebenarnya telah
terjadi........" kata Im Ceng sambil melompat keluar dari ruang
kereta, dia semakin terperanjat ketika melihat ada seorang lelaki
berbaju hitam sedang duduk dibangku kusir, tak tahan hardiknya:
"Siapa disitu?"
Saat itu rasa kaget dan ngeri Thiat
Tiong-tong belum mereda, peluh dingin masih membasahi telapak
tangannya, begitu mendengar suara bentakan, tanpa sempat berpikir
lagi dia segera berpaling.
Begitu tahu siapa lelaki itu, dengan wajah
berubah Im Ceng segera meraung keras: "Rupanya kau!"
Ditengah bentakan, mendadak sebuah pukulan
dilontarkan.
Entah karena tidak sempat menghindar atau
memang sengaja tidak berkelit, pukulan itu bersarang telak diatas
iga kiri Thiat Tiong-tong.
"Blaaaam!" ditengah benturan keras, tubuhnya
mencelat dari atas kereta, melayang di udara dan meluncur jatuh ke
dasar jurang, tidak ada suara jeritan, tidak ada suara kesakitan,
yang terdengar hanya deburan ombak serta deruan angin laut.
Tergopoh-gopoh Un Tay-tay melompat keluar
dari balik kereta, dia jumpai Im Ceng sedang berdiri termangu-mangu
sambil memegangi kepalan kanan sendiri.
Wajahnya pucat pias seperti mayat, garis
merah memenuhi sepasang matanya, pemuda itu mirip orang
kesurupan, berdiri melongo seperti kehilangan ingatan
Terperanjat bercampur cemas Un Tay-tay
segera menegur:
"Apayang telah terjadi?"
"Thiat Tiong-tong.........Thiat
Tiong-tong........"
"Thiat Tiong-tong?" jerit Un Tay-tay semakin
terperanjat, "dimana Thiat Tiong-tong?"
"Sudah kuhantam hingga tercebur ke bawah!"
jawab Im Ceng sambil menuding ke arah hamparan samudra.
Sekali lagi Un Tay-tay menjerit kaget, paras
mukanya berubah hebat, seakan tidak mampu berdiri tegak lagi,
tubuhnya gontai dan akhirnya jatuh terduduk dengan peluh dingin
bercucuran.
Tiba-tiba sekulum senyuman tersungging
diujung bibir Im Ceng, gumamnya:
"Dia sudah roboh! Dalam satu pukulan dia
sudah roboh........." senyuman itu nampak sangat aneh, tidakjelas
karena sedih atau sedang gembira.
Sekujur tubuh Un Tay-tay mulai gemetar
keras, jari tangannya terasa dingin membeku, bisiknya:
"Kau........bagus sekali
perbuatanmu.........."
Padahal tenggorokannya sudah tersumbat oleh
sesenggukan, tidak sepatah katapun sempat dilontarkan, dengan
sempoyongan dia bangkit berdiri lalu berlarian menuju ke tepi
jurang.
Gulungan ombak saling berkejaran memecah
diatas batu karang, percikan air memancar ke empat penjuru, bayangan
Thiat Tiong-tong sudah hilang lenyap tidak berbekas, kini yang
tersisa hanya selembar kain hitam yang tersangkut diatas batu
karang, kain yang terombang ambing dimainkan ombak.
Kelihatannya Thiat Tiong-tong masih mencoba
meraih batu karang ketika tercebur tadi, dia masih berusaha meronta
dari gulungan ombak dan berusaha merangkak naik ke atas karang.
Menyaksikan kesemuanya itu Un Tay-tay tidak
sanggup menahan rasa sedihnya lagi, sambil mencengkeram tepi karang
dia mulai menangis tersedu-sedu, menangis dengan amat sedihnya.
Rasa cemburu bercampur benci seketika
menyelimuti perasaan Im Ceng, terlebih melihat perempuannya menangis
begitu sedih karena Thiat Tiong-tong, tidak tahan teriaknya penuh
amarah:
"Thiat Tiong-tong telah menghianati
perguruan, menghianati sahabat, manusia macam begini pantas dibunuh
dan dilenyapkan, apa yang kau tangisi!"
Un Tay-tay segera bangkit berdiri,
membalikkan tubuhnya dan berseru sambil menangis:
"Kapan dia....... dia berbuat salah
kepadamu?
Tanpa usahanya, kau anggap dirimu masih bisa
hidup hingga hari ini!"
"Oooh..... jadi maksudmu, seharusnya
aku berterima kasih kepadanya?" jengek Im Ceng sambil tertawa
dingin.
"Ten......tentu saja!"
Amarah Im Ceng semakin meluap, teriaknya:
"Tahukah kau, sudah berapa kali dia berusaha mencelakai aku? Pertama
kali sewaktu berada ditengah hutan, dia menyerahkan aku ke tangan
Suto Siau, coba kalau tidak berusaha melarikan diri, mana mungkin
aku bisa hidup hingga kini?
Kemudian..... kemudian akupun bertemu dengan
kau, kalau bukan ditolong olehmu mungkin aku sudah mati karena
disiksa dan dianiaya, kenapa aku harus berterima kasih kepadanya,
berterima kasih untuk apa?"
"Keliru.......keliru.........."jerit Un
Tay-tay sambil berurai air mata.
"Semua peristiwa itu kualami sendiri, mana
mungkin keliru?" teriak Im Ceng semakin keras.
"Tahukah kau, dalam peristiwa waktu itu
bukan cuma dia tidak mencelakaimu bahkan dengan pertaruhkan nyawa
telah selamatkan nyawamu, demi selamatkan jiwamu, dia berpura-pura
tunduk kepada Suto Siau, berlutut dihadapannya, lalu dengan
manfaatkan peluang itu dia melukai Suto Siau. Saat itu, andaikata
dia tidak ambil perduli dengan keselamatanmu, bisa saja dia kabur
selamatkan diri, tapi sampai matipun dia enggan melepaskanmu hingga
akhirnya dia terjatuh ke tangan orang lain. Beruntung saat itu dia
bertemu Tio Kie-kong yang berniat membalas budi Perguruan Tay ki
bun, dengan kemampuan Tio Kie-kong dia hanya mampu selamatkan nyawa
satu orang, dalam situasi seperti itu dia tetap memilih untuk
selamatkan nyawamu terlebih dulu, dia minta Tio Kie-kong membawamu
kabur, sementara dia sendiri tercebur ke dalam jurang yang amat
dalam!"
Apa yang diutarakan sekarang, diperolehnya
dari pembicaraan Suto Siau serta Thiat Tiong-tong secara
terpotong-potong, sudah cukup lama dia menyimpannya didalam hati
tapi sekarang, pada akhirnya diutarakan juga.
Hijau kepucat-pucatan wajah Im Ceng sehabis
mendengar penuturan itu, tergagap serunya:
"Tapi........"
"Dengan pertaruhkan nyawa Tio Kie-kong
membawamu ke tempat yang aman, apa mau dikata kau justru mencurigai
orang lain ingin menyiksamu dengan alat siksaan sehingga melarikan
diri"
Setelah tertawa pedih lanjutnya:
"Tapi kau tidak tahu, orang yang
sesungguhnya ingin mencelakaimu bukan dia melainkan aku, coba kalau
bukan lantaran Suto Siau bersikeras ingin menipumu agar membawa kami
ke markas besar Perguruan Tay ki bun, sementara dia bisa menguntit
secara diam-diam dan membasmi seluruh anggota perguruanmu, mungkin
kau sudah dibunuh mampus sebelum lukamu sempat sembuh"
Peluh dingin mulai bercucuran membasahi
jidat Im Ceng, katanya kemudian:
"Tapi setibanya dikota Lok-yang, kenapa
dia...."
"Kusangka semua rencana busukku tersusun
sangat rapi dan mustahil bisa ketahuan orang, siapa sangka begitu
tiba di perkampungan keluarga Li dikota Lokyang, semua rencanaku
berhasil dibongkar Thiat Tiong-tong, tapi waktu itu kau sudah
membencinya hingga merasuk tulang, maka diapun menggunakan harta
untuk memikat-ku, membujukku agar menjauhi dirimu. Siapa tahu kau
bukan saja tidak memahami niat baiknya, sebaliknya justru makin
membencinya!"
"Tapi..... tapi kemudian dia
lagi-lagi berhubungan dengan Suto Siau......." suara Im Ceng
kedengaran mulai gemetar.
"Waktu itu dia sedang menjalankan siasat
ulat emas lolos dari kepompongnya, dia menitahkan Phoa Seng-hong
untuk menyaru sebagai kakek tua, menipu Suto Siau sekalian agar
menyangka dia adalah Thiat Tiong-tong, sementara dia sendiri secara
diam-diam justru memusuhi mereka, dia memang banyak akal lagi
cerdas, mana mungkin orang lain bisa menduga rencananya itu!"
"Bruukkk!" Im Ceng merasakan sepasang
lututnya jadi lemas, dia roboh terduduk diatas tanah.
"Saat itu, sebenarnya aku tidak mempunyai
perasaan apapun terhadapmu" ujar Un Tay-tay lebih jauh, "tapi
lantaran Thiat Tiong-tong berulang kali membujukku agar jangan
mencelakaimu, maka sewaktu berada dalam kuil bobrok aku baru
mengucapkan perkataan itu"
Dengan sedih Im Ceng tundukkan kepalanya
rendah-rendah.
"Hari itu, ketika berada di dusun pandai
besi" kata Un Tay-tay lagi, "dia pula yang telah memancing
kepergian Ai Thian-hok. Demi menyelamatkan jiwamu, hampir saja dia
tewas ditangan Ai Thian-hok!"
Segulung angin berhembus lewat, tiba-tiba Im
Ceng merasa hatinya bergidik hingga bersin berulang kali.
"Saat itu kau sudah terluka parah" kembali
Un Tay-tay berkata, "maka akupun membawamu pulang ke rumah, siapa
tahu Suto Siau sekalian lagi-lagi berhasil melacak tempat
persembunyian kita, untuk kesekian kalinya Thiat Tiong-tong berhasil
selamatkan nyawamu maupun nyawaku!"
"Ternyata kau........ kau
mencintainya........" bisik Im Ceng dengan air mata berlinang.
Butiran air mata membasahi pula selembar
wajah Un Tay-tay, sahutnya dengan nada gemetar:
"Betul, ada suatu saat aku memang
mencintainya, tapi demi kau, dia selalu berusaha menghindariku,
hingga........hingga........."
Dengan kepala tertunduk dia menangis
terisak, lama kemudian baru terusnya:
"Hingga hari itu, ketika aku membopong kau
yang terluka parah berlarian diatas tanah perbukitan, saat itulah
aku baru sadar, ternyata perasaan hatiku sudah tertarik kepadamu,
aku rela mati seribu kali, sejuta kali, tapi tidak ingin membiarkan
kau mati walau sekalipun, tapi.....tapi kalau bukan lantaran dia,
mana mungkin ada kehidupan bagi kita seperti hari ini........"
Sambil berkata, air mata bercucuran terus
tiada hentinya, belum lagi selesai bicara, pakaian-nya sudah basah
oleh air mata.
Im Ceng duduk mematung disitu, dia sama
sekali tidak mampu bergerak.
Semua budi dan dendam, semua sebab akibat,
pada akhirnya telah dia pahami dengan jelas.
Tapi pemahaman itu datangnya sedikit
terlambat, luapan emosinya pun kelewat berlebihan.
Im Ceng merasakan pikirannya hampa, dia
seolah sudah hilang kendali, kendali atas kesadaran sendiri, dia
seakan tidak memahami apa pun, yang tersisa dalam benaknya kini
hanya penyesalan yang luar biasa, penyesalan yang tidak mungkin bia
ditebus dengan kematian yang berulang kali sekalipun.
Dengan air mata berlinang kembali Un Tay-tay
berkata:
"Aku tahu, kisah semacam ini akan sangat
melukai hatimu, membuat kau amat sedih, sebetulnya aku tidak ingin
menceritakan kepada-mu, walau sampai akhir jaman sekalipun. Tapi
sekarang, demi mencuci bersih nama baik Thiat Tiong-tong, terpaksa
aku harus menceritakannya kembali....."
Dengan wajah kosong Im Ceng manggut-manggut,
butiran air mata telah membasahi pula pakaiannya.
"Tidak usah yang lain" kata Un Tay-tay lagi
terisak, "cukup berbicara dari kejadian hari ini, seandainya bukan
dia yang menarik tali les kuda tepat pada waktunya, mungkin kita
berdua sudah mati secara mengenaskan........"
Tiba-tiba Im Ceng bangkit berdiri, sambil
mendongakkan kepalanya memandang langit, jeritnya pedih:
"Thiat Tiong-tong! Thiat jiko! Siaute.......
Im Ceng.... benar benar telah berbuat salah kepadamu........"
Dia lari menuju ke tepi tebing, siap
membenturkan kepalanya diatas sebuah batu karang.
Sambil menjerit kaget Un Tay-tay bergulingan
diatas tanah, berguling ke sisi pemuda itu dan memeluk sepasang
kakinya erat erat.
Kedua orang itupun saling bergulingan diatas
tanah.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" jerit Im Ceng
bagaikan orang gila, "tolong lepaskan tanganmu....... kalau aku
tidak mati, bagaimana mungkin aku bisa hidup terus dalam keadaan
begini!"
"Kau tidak boleh mati" teriak Un Tay-tay
sambil menangis tersedu, "kau tidak boleh meninggalkan aku seorang,
apakah kau.... apakah kau lupa, kita akan hidup bersama hingga akhir
jaman........"
Dia peluk Im Ceng kencang-kencang,
memeluknya begitu erat seolah kuatir ditinggalkan begitu saja.
"Tapi....... tapi aku tidak punya muka untuk
hidup terus, kehidupanku di dunia ini hanya akan menambah
penderitaan! Tolong...... aku mohon..... biarkan aku
mati....aku.....aku......"
"Tapi dendam berdarah Perguruan Tay ki bun
belum terbalas, sumpah setia kita masih bergaung disisi telinga....
apakah kau sudah melupakannya? Kau tidak boleh mati! Kau tidak boleh
mati!"
Dengan sekuat tenaga dia tinju dada Im Ceng,
sambil menangis kembali jeritnya:
"Kalau ingin mati, matilah sebagai seorang
enghiong! Sekalipun ingin mati, bukan hari ini saatnya!"
Im Ceng terkesiap, lagi-lagi peluh dingin
membasahi tubuhnya: "Tapi aku........"
Makin berbicara Un Tay-tay semakin sedih,
dia meninju semakin keras, umpatannya pun semakin garang, teriaknya:
"Kalau mati saat ini, bukan saja kau telah
mengabaikan dendam kesumatan Perguruan Tay ki bun, kaupun tinggalkan
aku seorang diri didunia ini...... kalau kau..... kalau kau berani
sebut kata mati sekali lagi, kau adalah seorang lelaki pengecut!
Seorang lelaki tempe yang tidak berguna!"
Kalau tadi rengekan dan permohonannya sama
sekali tidak digubris, maka pukulan tinjunya yang keras justru
membuat Im Ceng terkejut bercampur malu, setiap umpatan, setiap
makian yang dilontarkan perempuan itu justru menusuk hati Im Ceng
hingga ke tulang sumsum.
Un Tay-tay meninju terus hingga tangannya
lemas tidak bertenaga, memaki terus hingga kehabisan suara dan kata,
kelihatannya dia sendiri pun mulai putus asa, mulai kecewa,
tiba-tiba sambil mendekap ditubuh Im Ceng dan menangis tersedu,
serunya:
"Kalau ingin mati, matilah! Akupun
akan menemanimu mati...... kalau kita semua sudah mati......maka
urusanpun jadi selesai......"
"Tidak, aku tidak akan mati!" ujar Im Ceng
tiba tiba sambil menghela napas.
"Apa.....apa kau bilang?" Un Tay-tay
tertegun.
"Sekalipun aku hidup penuh penderitaan, tapi
kalau mati, mana mungkin aku bisa mati tenteram?
Perkataanmu tidak salah, sekalipun harus mati, tidak seharusnya mati
pada saat ini"
"Sung........sungguh?" bisik Un Tay-tay
terkejut bercampur girang.
"Kapan aku pernah membohongimu?"
Walaupun matahari telah muncul, kabut tebal
masih menyelimuti permukaan samudra, mendadak terdengar suara
peluit yang tinggi melengking bergema dari tepi pantai, menembusi
keheningan dan bergema hingga tempat kejauhan.
Lewat berapa saat kemudian terlihat sebuah
perahu nelayan muncul dari balik kabut, seorang nenek berambut putih
berdiri diujung perahu, mendayung perahunya dengan santai.
Biarpun usia nenek itu sudah lanjut, namun
tubuhnya yang berdiri diujung perahu sambil menggerakkan dayungnya
tetap berdiri lurus bagaikan sebuah tongkat, seakan-akan
mencerminkan kehidupannya yang tidak pernah penuh liku.
Wajah Im Ceng ketika itu sudah kaku membeku,
dia bersama Un Tay-tay menanti ditepi pantai
Perahu nelayan itu semakin mendekati
pesisir, setelah memandang sekejap seputar sana, tiba-tiba nenek itu
bertanya:
"Ada dimana orang matinya?"
"Nenek, akulah orang matinya"
"Lantas siapa dia?" tanya nenek itu sambil
melotot ke arah Im Ceng.
Wajahnya yang termakan usia, tertimpa hujan
dan angin meninggalkan beratus kerutan yang tajam, membuat
penampilannya kelihatan sangat tua, namun sorot matanya justru lebih
tajam dari kilatan petir, seakan tidak ada rahasia yang bisa
disimpan lagi setelah tersapu oleh sorot matanya.
Sesudah mendengus, kembali nenek itu
berseru. "Kau naik kemari, tinggalkan dia!"
"Ke......kenapa?" tanya Un Tay-tay gugup.
"Atas dasar apa dia mau ke Pulau Siang
cun-to?"
"Dia.....dia........"
Tiba-tiba Im Ceng membentak keras:
"Kau tidak perlu merengek kepadanya lagi,
sekalipun aku orang she-Im hendak ke Pulau Siang cun-to pun belum
tentu harus menumpang perahunya!"
Siapa tahu begitu mendengar teriakan
tersebut, seakan baru bertemu setan iblis, paras mukanya berubah
hebat, tanyanya gemetar:
"Kau......kau bilang, kau bermarga apa?"
"Im!"
Sambil menuding dengan jari tangannya yang
gemetar, teriaknya lagi:
"Apakah kau anggota Perguruan Tay ki bun?"
"Benar, mau apa kau?"
Tiba-tiba tubuh nenek itu gontai, sambil
berpaling ke arah lain katanya kemudian:
"Kaupun boleh naik ke perahu!"
"Terima kasih nenek" teriak Un Tay-tay
kegirangan.
Im Ceng jadi sangat keheranan, pikirnya:
"Kenapa begitu kusebut nama serta asal
usulku, paras muka nenek ini segera berubah hebat? Jangan jangan
terdapat rahasia lain dibalik kesemuanya ini?"
"Ayoh cepat naik!" sementara dia masih
termenung, Un Tay-tay sudah berseru sambil menariknya keatas perahu.
Sejak mereka berdua naik ke atas perahu,
nenek itu selalu berdiri dengan membelakangi mereka dan tidak
melirik ke arah Im Ceng lagi, begitu gala bambunya
ditutulkan, perahu itupun bergerak meninggalkan pantai.
"Nenek, masih ada satu persoalan lagi apakah
kau bersedia mengabulkan?" ujar Un Tay-tay kemudian.
"Katakan!
"Boanpwee berdua mempunyai seorang teman
yang terpeleset jatuh di tebing karang sebelah kiri, bersediakah
nenek menjalankan perahu ke sana.....mungkin jenasahnya masih
disitu"
Nenek itu tidak mengucapkan sepatah kata
pun, dia menjalankan perahunya menuju ke sisi kiri.
Un Tay-tay semakin keheranan, kembali
pikirnya:
"Semula, nenek ini tidak bersedia melakukan
pekerjaan apapun, tapi sekarang, apapun permintaan kami segera
dilaksanakan, kenapa dia berubah sikap?"
Ombak menggulung sangat besar, kabut yang
menyelimuti permukaan pun semakin tebal, ke mana mereka harus pergi
untuk menemukan jenasah Thiat Tiong-tong?
Im Ceng dan Un Tay-tay saling bertukar
pandangan sekejap, tanpa terasa butiran air mata jatuh bercucuran.
Biarpun tidak berpaling, nampaknya nenek itu
dapat mengikuti perubahan wajah mereka berdua dengan jelas,
tiba-tiba tanyanya:
"Apa hubungan kalian dengan jenasah itu?
Mengapa kalian begitu bersedih hati?"
"Dia......dia adalah jiko nya"
Tampaknya tubuh nenek itu kembali bergetar
keras:
"Jikonya? Dia dari marga Im atau marga
Thiat"
Pertanyaan itu diajukan secara aneh, tapi
sekaligus menunjuk kan kalau dia amat menguasahi keadaan dan
Perguruan Tay ki bun.
Sambil mengawasi bayangan tubuhnya sahut Un
Tay-tay sedikit ragu:
"Dari marga Thiat.........."
Tapi kemudian tidak tahan kembali tanyanya:
"Nenek, apakah kau pun tahu banyak soal
Perguruan Tay ki bun?"
Nenek itu tidak menjawab, diapun tidak
berbicara lagi, tangannya memegang kencang dayungnya dan sepenuh
tenaga mendayung perahu itu bergerak ke balik kabut nan tebal.
Tampaknya dia hapal sekali dengan jalan laut
diseputar sana, biarpun ditengah kabut tebal, dia seakan tidak
kuatir tersesat atau salah arah.
Mengawasi bayangan punggungnya, tanpa terasa
Un Tay-tay duduk termangu.
Mendadak terdengar nenek itu menghela napas
panjang, sambil membelai wajah Un Tay-tay, bisiknya:
"Bocah, kenapa hubunganmu dengan Perguruan
Tay ki bun begitu......"
Tampaknya ada banyak persoalan yang ingin
dia sampaikan, namun setelah berbicara setengah jalan kembali dia
membungkam diri.
Un Tay-tay dapat merasakan betapa kasarnya
telapak tangan nenek itu, jauh lebih kasar daripada batu kerikil,
ketika meraba wajahnya terasa bagaikan ada sikat yang menyapu lewat,
tidak tahan tanyanya:
"Sudah berapa lama nenek hidup ditengah
lautan?"
Setelah termenung berapa saat nenek itu baru
menjawab:
"Seorang diri aku....... aku hidup di tengah
lautan sudah........ sudah hampir sembilan belas tahun lebih delapan
bulan tiga hari!"
Ternyata dia mampu mencatat hari demi hari
sedemikian jelasnya, hal ini membuktikan betapa sulit dan
menderitanya nenek ini untuk mengusir rasa kesepian yang dideritanya
selama ini, tanpa terasa timbul perasaan sedih dihati Un Tay-tay.
Kembali nenek itu berkata:
"Sudah hampir dua puluh tahun.........aaaai!
waktu berlalu begitu lambat, tapi ada banyak masalah yang tidak
bakal kau lupakan kendatipun lewat dua puluh tahun kemudian!"
Entah keluh kesah itu sedang ditujukan
kepada siapa, atau mungkin dia hanya sedang bergumam.
Ke tiga orang itu masing masing tenggelam ke
dalam masalah sendiri, tidak seorangpun yang berbicara lagi.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya dari
dalam ruang perahunya nenek itu mengeluarkan berapa biji mantau dan
dibagikan kepada mereka bertiga.
Mantau itu kasar lagi keras, seandainya
bukan sedang kelaparan rasanya sulit bagi Un Tay-tay untuk
menelannya, sekali lagi dia bergumam sambil menghela napas:
"Kehidupan diatas lautan begitu sengsara dan
menderita, nenek, kenapa kau tidak beristirahat?"
"Sengsara? Menderita........?
istirahat........?" tiba-tiba nenek itu tertawa tergelak,"kalau
bukan melewati penghidupan yang penuh derita macam begini, bagaimana
mungkin bisa menghilangkan rasa benci dan dendam dihatiku!"
Gelak tertawanya penuh mengandung rasa
benci, juga dipenuhi perasaan sinis.
Un Tay-tay merasakan hawa dingin yang
menyesakkan napas seketika muncul dari dasar hatinya, dia tidak
berani banyak bicara lagi.
Setelah menembusi lautan hampir tiga jam
lamanya, terakhir sampan itupun mulai merapat didaratan.
"Terima kasih!" seru Im Ceng sambil melompat
naik ke daratan. Selama berada disamping nenek itu, timbul perasaan
tidak sedap yang sulit dilukiskan dengan kata, perasaan tidak sedap
itu membuatnya berpendapat bahwa semakin cepat meninggalkan sisi
tubuhnya semakin baik.
Tapi mengapa begitu? Dia sendiripun tak
tahu, dia tidak paham mengapa bisa muncul perasaan seperti itu.
"Terima kasih nenek........" seru Un Tay-tay
pula.
Baru saja dia akan melompat naik ke daratan,
tiba-tiba nenek itu menarik tangannya dan berbisik sambil menghela
napas:
"Anak bodoh, jangan sekali-kali kau bersedih
hati demi anak murid Perguruan Tay ki bun, selamanya anggota
Perguruan Tay ki bun tidak pernah bersedih hati karena perempuan"
Akhirnya dia kemukakan juga perkatannya yang
belum selesai diucapkan.
Untuk berapa saat Un Tay-tay berdiri
tertegun, dia ingin bertanya lagi tapi si nenek sudah mendorongnya
naik ke daratan kemudian mendayung kembali perahunya menjauh.
Kabut diatas daratan sudah mulai membuyar,
sejauh mata memandang hanya pohon kelapa yang tinggi menjulang ke
angkasa, tempat itu memang tidak malu disebut Pulau Siang cun-to,
pulau yang selalu bermusim semi.
Ketika tidak melihat munculnya bayangan
manusia yang menyambut kedatangan mereka, tidak tahan Un Tay-tay
segera berteriak keras"
"Tecu Un Tay-tay mendapat perintah untuk
datang.........."
Belum selesai dia berteriak, tampak dua
sosok bayangan manusia bergerak mendekat.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ke dua
orang ini cukup tangguh, mereka memiliki perawakan tubuh yang
ramping dengan wajah yang cukup cantik, ketika dilihat dari balik
kabut, penampilan mereka berdua cantik bagai bunga yang sedang
mekar.
Dalam perkiraan Un Tay-tay semula, penghuni
pulau itu kalau bukan kelompok wanita bercadar hitam, tentulah
perempuan berwajah aneh atau jelek yang dingin dan kaku wataknya.
Kemunculan dua nona muda cantik saat ini kontan membuat hatinya
lega.
Ke dua orang nona itu memperhatikan mereka
berdua sekejap, sekilas perasaan heran terlintas diatas wajah
mereka, nona yang disebelah kiri pun segera menegur.
"Bagaimana mungkin kongcu yang ini bisa ikut
tiba di pulau ini?"
"Aku datang karena sedang menjalankan
perintah" jawab Im Ceng sambil diam-diam menghela napas.
"Perintah siapa?"
"Bu si Thaysu, ketua Siau-lim-pay"
Kedua orang nona itu saling bertukar
pandangan sekejap, nona yang disebelah kanan menjawab:
"Bu si Thaysu termasuk seorang tokoh dunia
persilatan yang disegani dan dihormati banyak orang, kalau dia orang
tua yang mengutusnya kemari, rasanya Nio Nio pasti bersedia untuk
menjumpainya"
"Kalau begitu biar aku pergi melapor"
sambung nona disebelah kiri sambil beranjak pergi dari situ.
Dengan wajah dihiasi senyuman nona di
sebelah kanan berkata lembut:
"Harap kalian berdua menunggunya
sebentar........"
Kemudian setelah melirik Un Tay-tay sekejap,
lanjutnya:
"Apakah cici adalah........"
"Akupun orang mati" tukas Un Tay-tay tidak
menunggu dia menyelesaikan pertanyaannya.
Sekali lagi nona itu tertawa.
"Segala istilah tentang orang mati, orang
hidup, utusan langit dan lain sebagainya hanya berlaku di dunia
luar, setiba di pulau ini, kau tidak perlu menggunakan istilah
semacam itu lagi"
Semula Un Tay-tay menyangka penghuni pulau
itu kebanyakan tentu orang angkuh yang dingin dan ketus, sama sekali
tidak punya perasaan manusia, kini dia bisa berhembus lega sesudah
mendengar perkataan itu.
Kembali nona itu berkata:
"Kebanyakan orang persilatan itu licik,
berhati busuk dan banyak tipu muslihatnya........."
Kepada Im Ceng ujarnya sambil tertawa:
"Aku bukan maksudkan dirimu......."
"Tidak masalah" senyuman yang lemah-lembut
dari si nona segera menimbulkan perasaan simpatik dihati Im Ceng.
Sambil tertawa kembali nona itu melanjutkan:
"Untuk menghadapi manusia licik berhati busuk dan banyak tipu
muslihat semacam itu, terpaksa kamipun harus menggunakan cara yang
keras untuk menghadapinya, agar timbul perasaan jeri dihati mereka
dan memaksa mereka berpikir dua kali sebelum berani melakukan
perbuatan jahat disini, itulah sebabnya bila meninggalkan pulau,
kami selalu menggunakan kain cadar hitam serta cara berkomunikasi
yang aneh, tapi begitu balik kemari, kita semua adalah bersaudara.
Justru lantaran memikirkan nasib kebanyakan wanita tidak beruntung
di dunia ini maka Nio Nio menolong kami semua, beliau selalu
bersikap lembut dan penuh sayang kepada kami"
Cara berbicara yang lembut dan penuh
senyuman membuat Un Tay-tay semakin simpatik terhadap gadis itu,
pikirnya:
"Andaikata setiap penghuni pulau bersikap
macam dia, suasana disini pasti menyenangkan"
Tapi ingatan lain kembali melintas,
pikirnya:
"Kalau ditinjau dari cara berbicara berapa
orang yang menyelamatkan diriku, mereka tampak dingin, hambar seakan
mempunyai beban pikiran yang sangat berat, sama sekali tidak mirip
orang yang sengaja bersikap begitu. Jangan-jangan merekalah orang
yang benar-benar pernah mengalami nasib tragis? Sementara nona-nona
ini nampak selalu ceria, kelihatannya belum pernah mengalami
kejadian yang menyedihkan, kenapa orang semacam inipun bisa menjadi
penghuni pulau ini?"
Berpikir sampai disitu, tak tahan segera
tanyanya:
"Apakah semua penghuni pulau bersikap halus
dan ramah macam cici?"
Nona itu tersenyum.
"Walaupun ada sementara penghuni pulau yang
jarang bicara atau tidak suka bicara, namun perasaan mereka sangat
baik, asal cici sudah berdiam selama berapa hari disini maka kau
akan mengetahui dengan sendirinya"
"Aaah, itulah dia" batin Un Tay-tay.
Terdengar nona itu berkata lagi sambil
tertawa:
"Aku dari marga Yau, orang memanggilku Yau
su-moay, selanjutnya diantara sesama saudara kau boleh memangilku
Yau su-moay saja, tidak usah cici moay moay segala"
"Aku dari marga Un"
Yau su-moay tertawa terkekeh.
"Biarpun cici tidak kenal aku, justru aku
kenal dengan cici......." katanya cepat, "bukan cuma kenal cici,
akupun kenal dia"
Baik Un Tay-tay maupun Im Ceng sama-sama
berdiri tertegun, setelah diperhatikan berapa kejap mendadak satu
ingatan melintas dalam benak mereka, tidak tahan segera serunya
hampir berbareng:
"Ternyata kau adalah........"
"Betul" Yau Su-moay tertawa cekikikan, "dulu
aku adalah anggota ratu tawon Heng kang It wo li ong hong,
kita pernah berjumpa sewaktu berada di rumah keluarga Li di Lokyang"
"Aaah, tidak heran kalau dia begitu akrab
dan mengenali aku" pikir Un Tay-tay dalam hati, "ternyata kita
pernah kenal dimasa lalu, tapi.....kenapa gerombolan ratu tawon ini
bisa menjadi penghuni pulau ini?"
Tampaknya Yau Su-moay dapat menebak jalan
pikirannya, setelah menghela napas dia menerangkan:
"Gerombolan ratu tawon yang pernah berjaya
dimasa lalu kini sudah bubar, hanya aku dan Yo Pat-moay yang barusan
pergi paling beruntung nasibnya, kami ditolong Nio Nio dan dibawa
kemari, sementara saudara lainnya sudah bubar entah kemana, bahkan
kamipun tidak tahu mati hidup mereka"
Ketika berbicara sampai disini, sekilas
perasaan sedih muncul diwajah gadis itu, tapi hanya sejenak kemudian
senyuman kembali menghiasi wajahnya, serunya:
"Berada disini, cici akan bertemu banyak
orang yang sama sekali tidak terduga sebelumnya"
"Siapa?"
"Tujuh setan perempuan anak buah Kiu cu Kui
bo, apakah cici kenal dengan mereka?"
"Jadi merekapun berada disini" tanya Un
Tay-tay terperanjat.
"Baru tiba dua hari berselang" Yau Su-moay
menerangkan, "malah Kiu cu Kui bo sendiripun sudah tiba disini,
konon adik kandung Kui-bo pun ikut kemari, biarpun usianya sudah
banyak namun wajahnya cantik bak bidadari, dia selalu membopong
seekor kucing berwarna putih. Aaaai! Kalau usiaku setua dia masih
bisa memiliki kecantikan macam perempuan itu, biar matipun aku akan
mati dengan perasaan puas"
"Yin Ping?" seru Un Tay-tay terperanjat.
"Benar, Yin Ping! Yang paling menggelikan
adalah anak murid Kui-bo, kalau dimasa lalu mereka berhadapan
sebagai musuh bebuyutan dengan kami, bahkan sempat bertarung
habis-habisan, maka begitu berada disini, sikap mereka justru amat
mesra dan akrab"
Un Tay-tay merasa tercengang bercampur
terharu, baru saja dia ingin bertanya lagi masalah seputar pulau
itu, mendadak dari atas tanah perbukitan berkumandang suara genta
yang nyaring.
"Nio Nio sudah mengundang kalian untuk
menghadap" You su-moay berseru cepat, "ayoh kita segera berangkat!"
Jalan setapak itu berliku-liku dan penuh
tanjakan, tidak lama kemudian mereka bertiga telah menelusuri hutan
belukar yang hijau dengan aneka bunga berwarna warni.
Dibalik pepohonan, diantara aneka bunga,
disana sini tampak bangunan loteng dan gardu istirahat yang indah
dan mega, pemandangan disitu boleh dibilang indah bagaikan nirwana.
Sambil tertawa ringan ujar Yau su-moay:
"Cici, coba kau perhatikan, tempat ini lebih
indah dan menyenangkan ketimbang surga, kita kaum wanita bisa hidup
tenteram ditempat semacam ini boleh dibilang sangat memuaskan"
"Yaaa, siapa bilang tidak......." Un
Tay-tay menghela napas panjang, setelah melirik Im Ceng sekejap
diapun membungkam diri.
Im Ceng berlagak seolah tidak mendengar
pembicaraan mereka, dia tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.
Setelah berada berapa ratus kaki diatas
bukit, tiba-tiba tampak sebuah anak tangga yang menjulang hingga ke
puncak bukit, anak tangga itu amat panjang dan terdiri dari entah
berapa ratus atau berapa ribu undakan, tapi permuka-annya kelihatan
amat bersih bagai batu pualam.
Tiba disitu sikap maupun mimik muka Yau
Su-moay kelihatan berubah amat hormat dan serius, bisiknya:
"Diatas sana terletak bukit Cay seng hong
(pemetik bintang), puncak Koan gwee teng (menerawang
rembulan), tempat dimana Nio Nio menyelesaikan semua persoalan"
Diam-diam Un Tay-tay mengangguk, berada
diatas undak-undakan yang menjulang sampai ke angkasa, dia merasa
Nio Nio itu sungguh tinggi kedudukannya sementara dia sendiri kecil
sekali.
Mereka bertiga mulai merayap naik diantara
undak-undakan batu itu, sekalipun ilmu meringankan tubuh yang mereka
miliki cukup tangguhpun dibutuhkan waktu hampir sepertanak nasi
lamanya sebelum mencapai puncak.
Disisi tebing terlihat sebuah gardu kecil,
gardu yang terbuat dari batu hijau dengan pilar-pilar berwarna
merah, biar kecil namun mungil dan sangat indah.
Waktu itu Yo Pat moay sedang menunggu sambil
bersandar di pilar, begitu melihat kehadiran mereka bertiga, diapun
segera menggapai.
Ketika mereka bertiga berjalan mendekat,
setengah berbisik Yo Pat-moay berkata:
"Kongcu, harap kau menunggu sebentar
disini.......sementara adikku, kau ikut cici naik dulu ke atas"
Un Tay-tay melirik Im Ceng sekejap, sinar
menghibur terpancar dari balik matanya, seakan meminta pemuda itu
agar legakan hati, tapi Im Ceng hanya memandang ke tempat kejauhan,
sama sekali tidak menggubris ataupun ambil perduli.
Waktu itu Yo Pat-moay sudah menggapai dari
luar gardu, terpaksa sambil menghela napas Un Tay-tay berjalan
menghampirinya, diapun tidak berani lagi memandang ke atas puncak
bukit.
Diatas puncak bukit terdapat sebuah tanah
lapang yang terbuat dari batu hijau, tempat itu dikelilingi pagar
kayu yang tinggi, ketika hawa kabut bergerak menyelimuti puncak dan
tertimpa cahaya sang surya maka terhiaslah selapis cahaya yang aneh.
Tujuh-delapan belas orang nona berbaju hijau
duduk mengelilingi pagar, sebuah meja beralas kain kuning terletak
dibagian tengah dan memancarkan cahaya ke emas-emasan, tidak jelas
lapisan itu terbuat dari bahan apa.
Seorang perempuan berbaju hijau duduk disisi
meja, waktu itu dia sedang memandang ke tempat kejauhan, mengawasi
lautan mega yang sambung menyambung dengan langit.
Un Tay-tay mengikuti Yo Pat-moay berjalan
menuju ke tengah lapangan, selama ini sorot matanya tidak pernah
berpisah dari langkah kaki Yo Pat-moay, bahkan setiba diatas
lapangan pun dia masih belum berani mendongakkan kepalanya.
Dia dapat merasakan ada begitu banyak sorot
mata yang tertuju ke tubuhnya, namun tidak sekejap pun dia berani
menengok kesana-kemari, dia tidak tahu bagaimana tampang wajah
kawanan nona yang berada disepanjang pagar, diapun tidak tahu
bagaimana wajah Ratu matahari yang merupakan jago nomor wahid
dikolong langit saat itu.
Tiba-tiba terdengar seseorang dengan suara
yang halus dan lembut bertanya: "Siapa namamu?"
"Un Tay-tay!" jawab perempuan itu sambil
menyembah.
Dia tidak berani banyak bicara, dia bahkan
merasa batu pualam yang diinjaknya seolah turut melumer karena
tertimpa sorot mata yang tajam.
Kembali terdengar suara lembut itu berkata:
"Siapa yang mengajakmu kemari? Bangkit dan
jawab pertanyaanku"
Un Tay-tay menurut dan segera bangkit
berdiri, kemudian dengan amat hormat menuturkan semua persoalannya
dari awal hingga akhir.
Selesai mendengar penuturan tersebut, suara
tadi kedengaran jauh lebih lembut dan halus, setelah menghela napas
panjang ujarnya:
"Kelihatannya banyak siksaan dan penderitaan
yang telah kau alami"
Suara yang halus dan lembut itu segera
mengurangi banyak perasaan takut dan jeri yang semula mencekam
perasaan Un Tay-tay, tanpa terasa diapun mendongakkan kepalanya
sambil melirik sekejap ke arahnya.
Sayang waktu itu Jit ho Nio nio sedang
berpaling memandang ke arah lain, Un Tay-tay hanya sempat
menyaksikan potongan tubuhnya yang kecil mungil dengan jari
tangannya yang halus lembut, dia tidak berhasil menyaksikan raut
wajah aslinya.
Sebetulnya Un Tay-tay ingin memperhatikan
lagi beberapa kejap, namun entah mengapa, tanpa sadar dia justru
menundukkan kembali kepalanya.
Perlahan-lahan Jit ho Nio nio berkata lagi:
"Setelah tiba di sini berarti kau tidak usah
menderita siksaan batin lagi, bila tidak ada urusan lain, ikutlah
Pat-moay pergi beristirahat!"
Perkataan itu begitu lembut, halus dan penuh
perhatian, membuat Un Tay-tay merasa amat terharu dan berterima
kasih, dia tahu seandainya tinggal disitu maka kehidupannya akan
lebih tenang dan bahagia, tapi Im Ceng........
Setiap kali terbayang Im Ceng, perasaan
hatinya seketika berkobar kembali, dia tidak bisa membedakan
perasaan itu sebagai rasa manis dan mesra atau justru suatu
penderitaan.
Dengan kepala tertunduk bisiknya kemudian:
"Tecu....... tecu masih ada satu hal yang
ingin disampaikan"
"Soal apa? Katakan saja!"
"Sebetulnya tecu ingin sekali tetap tinggal
disini, tapi........tapi......."
"Apakah masih ada persoalan lain yang
mengganjal hatimu?"
Pertanyaan itu disampaikan dengan nada
tercengang bercampur keheranan.
Un Tay-tay merasa semakin panik, butir air
mata pun tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi matanya, dia jadi
tergagap dan tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
Kembali Jit ho Nio nio berkata:
"Setiap bocah yang datang kemari pasti sudah
memutuskan hubungan dengan kehidupan keduniawian, tapi seandainya
kau masih punya persoalan yang menyusahkan dirimu, katakan saja
terus terang, aku tidak bakal marah padamu"
Un Tay-tay merasa makin panik bercampur
malu, dengan nada sesenggukan katanya:
"Aku......dia.....aku berjumpa lagi
dengannya.....dia...... dia.....aku....."
Perkataannya terputus putus, nyaris tidak
membentuk satu kalimat yang bisa ditangkap secara jelas, hal ini
membuat semua orang jadi bingung karena tidak paham apa yang dia
inginkan.
Tapi kawanan gadis yang berada disekitar
sana kebanyakan adalah perempuan yang pernah mengalami pengalaman
pahit dalam hidupnya, biarpun hanya mendengar perkataan yang
terputus-putus, namun mereka segera memahami apa yang dimaksud,
tidak kuasa lagi suara helaan napas berkumandang dari sana sini.
Jit ho Nionio menghela napas panjang,
ujarnya lembut:
"Sebetulnya kau anggap lelaki itu tidak
berperasaan kepadamu maka hatimu kecewa dan putus asa, tapi kemudian
justru tanpa sengaja bertemu lagi dengannya dan kaupun menjumpai
bukan saja dia menaruh perasaan kepadamu, bahkan kalian berdua
bersumpah untuk hidup bersama hingga sulit bagimu untuk meninggalkan
dirinya lagi, bukan begitu?"
Setiap perkataannya boleh dibilang hampir
mendekati kenyataan, setiap ucapannya serasa merasuk hingga ke dasar
hati Un Tay-tay, membuat perempuan itu dengan wajah merah jengah
menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Kembali Jit ho Nio nio berkata:
"Biarpun ditempatku ini tertampung semua
wanita bernasib jelek yang ada di dunia ini, namun aku tidak
berharap semua wanita di dunia ini bernasib malang, aku tentu akan
sangat gembira bila kau bisa peroleh kebahagiaan"
Tanpa terasa untuk kesekian kalinya Un
Tay-tay menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, serunya penuh rasa
haru:
"Terima kasih Nio-nio atas budi kebaikanm,
selama hidup siauli tidak akan melupakannya"
"Bila kutinjau dari betapa girangnya kau
sekarang, lelaki itu pasti seorang pemuda yang romantis........Aiii!
biarpun orang yang romantis itu gampang mendatangkan kemurungan,
tapi ada berapa orang romantis di dunia ini memang jauh lebih baik"
Setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya:
"Di mana ia menunggumu?”
"Di gardu kecil bawah bukit"
"Oooh, dia adalah pemuda yang diutus Bu si
Thaysu itu?”
"Benar, tapi dia bukan murid Siau-lim-pay,
kedatangannya memang atas perintah Bu si Thaysu"
"Kalau dia bukan anggota Siau-lim-pay lalu
murid siapa? Aaai! Jangan salahkan aku terlalu cerewet dan banyak
bertanya, setelah dia tiba ditempat ini, mau tidak mau aku harus
menaruh perhatian secara khusus"
"Dia adalah anggota Tay ki.........."
Belum selesai dia menjawab, Jit ho Nionio
telah berteriak penuh amarah:
"Apa?"
Suaranya keras lagi tinggi melengking,
dibandingkan nada suaranya semula boleh dibilang bagaikan berasal
dari dua manusia yang berbeda.
Un Tay-tay terkesiap, katanya lagi agak
gemetar:
"Dia......dia adalah anggota Perguruan Tay
ki bun........."
"Traaaang!" kutungan senjata Ji gi kemala
terjatuh persis dihadapannya, ternyata dalam gusarnya Jit ho Nionio
telah mematahkan senjata penggaris itu menjadi dua bagian.
Un Tay-tay yang berlutut semakin tidak
berani bergerak, tubuhnya gemetar keras, mimpipun dia tidak mengira
kalau Jit ho Nio nio bakal begitu gusar setelah mendengar nama
Perguruan Tay ki bun. Tapi apa sebabnya dia begitu gusar?
Dalam gusarnya kedengaran napas Jit ho Nio
nio terengah-engah, sampai lama kemudian dia baru membentak lagi
dengan suara nyaring:
"Anggota Perguruan Tay ki bun? Buat apa kau
tergila-gila dengan anggta Perguruan Tay ki bun? Biar semua lelaki
didunia ini sudah mampus pun kau tidak boleh menaruh perhatian
terhadap anak murid Perguruan Tay ki bun, mengerti?"
Un Tay-tay terkejut bercampur keheranan,
perkataan yang sama sudah pernah dia dengar dari mulut nenek si
tukang perahu, sekalipun cara penyampaiannya berbeda namun artinya
jelas sama.
Dia tidak habis mengerti, kenapa penghuni
Pulau Siang cun-to menaruh perasaan benci dan dendam yang begitu
besar terhadap seluruh anggota Perguruan Tay ki bun, tapi mengapa
pula si nenek tidak melarang Im Ceng naik ke perahunya kendatipun
sudah tahu kalau pemuda itu adalah anggota Perguruan Tay ki bun?
Hubungan antara cinta dan benci ternyata
begitu sensitip dan aneh, membuat orang sulit untuk memahaminya,
kini walaupun dihati kecil Un Tay-tay penuh diliputi rasa ingin tahu
dan tidak habis mengerti, namun tidak sepatah katapun berani
diutarakan keluar.
Kelihatannya Jit ho Nio nio sudah bangkit
berdiri dan mulai berjalan mondar mandir disekeliling tempat itu,
suara langkah kaki itu serasa berputar mengelilingi Un Tay-tay,
membuat setiap langkah kaki itu seolah sedang menginjak dihati
kecilnya.
Sampai lama, lama sekali, suara langkah kaki
itu baru berhenti. Kemudian terdengar Jit ho Nio nio menghardik
lagi:
"Bawa kemari anak murid Perguruan Tay ki bun
itu!"
Yo Pat-moay mengiakan dan segera beranjak
pergi.
Perasaan hati Un Tay-tay saat itu tidak
terlukiskan dengan kata, dia merasa amat kuatir, amat takut dan amat
cemas, dia tidak tahu apa yang bakal dialami Im Ceng nanti, apakah
Jit ho Nio nio akan menghukum mati pemuda itu?
BAB 27.
Antara mati dan hidup.
Im Ceng telah naik ke puncak tebing, telah
tiba ditanah lapang, dalam pandangan pertama dia saksikan seorang
wanita berbaju hijau yang bertubuh ramping sedang berdiri
membelakanginya, berdiri sambil bergendong tangan dan memandang
lautan bebas nun dikejauhan sana.
Perawakan tubuh perempuan itu tidak tinggi
besar, bentuknya tidak aneh, pakaian yang dikenakan pun tidak
kelewat mencolok, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya boleh
dibilang tidak satupun yang kelihatan menarik perhatian orang.
Tapi dari sekian banyak orang yang hadir
diatas puncak bukit, justru dalam pandangan pertama Im Ceng sudah
tertarik kepadanya, dari balik tubuh seorang wanita yang sangat
sederhana seakan mengandung daya tarik yang luar biasa besarnya.
Padahal kawanan gadis yang berdiri disisinya
rata-rata merupakan kawanan wanita berparas cantik jelita, tapi
cukup bayangan punggung perempuan itu sudah dapat mengalahkan pamor
dari kecantikan wajah kawanan gadis lainnya.
Biarpun hingga detik itu Im Ceng belum
menyaksikan raut mukanya, namun dia yakin kalau perempuan itu tidak
lain adalah Jit ho Nio nio penguasa Pulau Siang cun-to.
Tokoh maha sakti yang selama ini dibayangkan
bagaikan seorang tokoh dunia dongeng, sekarang telah muncul hidup
hidup di depan mata, sedikit banyak bergolak juga perasaan hati Im
Ceng.
Perempuan itu berdiri sambil bergendong
tangan, ke sepuluh jari tangannya putih lagi halus, satu gejolak
perasaan yang aneh kembali timbul dalam hatinya, anak muda itu tidak
tahu kenapa bisa muncul perasaan semacam itu dalam hatinya.
Sesudah memberi hormat kata Im Ceng:
"Murid Perguruan Tay ki bun memberi hormat
kepada Jit ho Nio nio!"
"Atas perintah siapa kau datang kemari?”
Biarpun nada suaranya dingin lagi kaku,
sayang jari tangannya kelihatan gemetar keras, ini menunjukkan kalau
sedang terjadi gejolak perasaan dalam hatinya.
"Tecu mendapat perintah dari Siau-lim Bu si
Thaysu untuk datang berkunjung"
Tiba-tiba Jit ho Nio nio membentak keras:
"Kalau betul kedatanganmu atas perintah Bu
si Thaysu, sudah sepantasnya kalau kau menghadap sebagai anggota
Siau-lim-pay, mengerti?"
Im Ceng tertegun, dia tidak habis mengerti
kenapa tiba-tiba perempuan itu naik pitam, terpaksa diapun
mengiakan.
"Untuk urusan apa Bu si Thaysu perintahkan
kau datang kemari?" tegur Jit ho Nio nio.
"Bu-si Thaysu bilang, sudah cukup lama dunia
persilatan dilanda kekalutan, sudah waktunya memberi ketenangan dan
waktu istirahat bagi rekan-rekan persilatan, gara-gara keruwetan
tersebut boleh dikata sudah puluhan tahun lamanya seluruh jago
persilatan dilibatkan dalam kasus tersebut, kini sudah saatnya untuk
melakukan satu penyelesaian, harap Nio Nio berbesar hati dengan
memikirkan penderitaan orang banyak, khususnya bagi mereka yang
harus hidup terlunta karena dikejar pembalasan, sehingga terkadang
untuk mengubur jenasah kerabatnya pun tidak sempat. Hukuman mereka
sudah lebih dari cukup, oleh karena itu dimohon Nio Nio mau
mengampuni mereka yang pantas diampuni dengan secepatnya
menyelesaikan keruwetan itu........"
"Tutup mulut!" tiba-tiba Jit ho Nio nio
membentak nyaring.
Kepalan tangannya nampak semakin kencang,
bahkan tubuhnya pun tidak tahan untuk gemetar keras, tegurnya lagi:
"Kurangajar, kaupun ingin menasehati aku?"
"Tecu tidak berani, semua perkataan yang
disampaikan adalah perkataan dari Bu-si Thaysu, tecu hanya
mengulangi perkataan itu tanpa mengurangi sepatah kata pun. Mengenai
apa kasus yang dimaksud, tecu tidak tahu menahu"
Kembali Jit ho Nio nio mendengus dingin,
nampak rasa gusarnya belum mereda, ujarnya:
"Hmmm, apakah Bu si Thaysu tidak merasa
kelewat tinggi menilai kemampuan diri sendiri? Hmm, atas dasar apa
dia ingin mencampuri urusan ini!"
Menyaksikan sikap perempuan itu, meski Im
Ceng merasa kaget bercampur keheranan, namun dia tidak berani banyak
bertanya, pemuda itu hanya berdiri membungkam dengan kepala
tertunduk.
Kembali berapa saat sudah lewat, tampaknya
hawa amarah Jit ho Nio nio sudah mulai mereda, namun dia belum juga
berpaling, ujarnya dingin:
"Jadi tujuan kedatanganmu hanya untuk
menyampaikan beberapa kata itu saja?"
"Benar, hanya berapa patah kata itu saja"
"Kalau begitu sampaikan kepadanya, bukan aku
yang menanam bibit sebab dalam kasus ini maka bukan aku pula yang
akan menyelesaikannya, selama ini aku tidak ingin mencampuri urusan
tersebut, dikemudian hari pun aku tetap tidak akan mencampurinya"
Bicara punya bicara, nada suaranya kembali
dicekam luapan emosi, katanya lebih lanjut:
"Bila Bu si Thaysu ingin menyelesaikan
persoalan ini, tidak ada salahnya kalau dia selesaikan sendiri,
tidak usah mencari diriku lagi"
"Baik!"
Saat itulah Im Ceng baru berpaling sambil
memandang Un Tay-tay sekejap, waktu itu Un Tay-tay pun dengan air
mata berlinang sedang melirik ke arahnya secara sembunyi-sembunyi.
Ketika sepasang mata mereka saling bertemu,
tiba-tiba dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi wajah
perempuan itu.
Dari balik sorot matanya yang sayu, dari
balik pandangan matanya yang penuh penderitaan, penuh rasa sedih,
dia seakan sedang memohon kepada Im Ceng:
"Pergilah, cepat pergi dari sini, jangan
mengurusi diriku lagi........."
Tampaknya kedua orang ini sudah memiliki
hubungan batin yang amat kental, hanya cukup memandang sekejap, Im
Ceng segera paham kalau Jit ho Nio nio telah menampik permohonan Un
Tay-tay, satu perasaan pedih bercampur gusar tiba-tiba menyelimuti
perasaan hatinya.
Begitu melihat perubahan wajah sang pemuda
disertai kilatan cahaya mata yang buas, Un Tay-tay segera mengerti
apa yang hendak dilakukan kekasih hatinya, dengan perasaan
terperanjat segera teriaknya gemetar:
"Jangan...... jangan kau lakukan......
jangan bertindak disini......."
Sayangnya, begitu Im Ceng terpengaruh
gejolak emosi, jangan lagi manusia biasa, dewa pun sulit untuk
mencegahnya.
Belum selesai Un Tay-tay berkata, sambil
membusungkan dada Im Ceng telah membentak nyaring:
"Murid Tay ki bun Im Ceng masih ada satu
persoalan yang ingin disampaikan!"
"Berani amat kau menyebut diri sebagai murid
Perguruan Tay ki bun!" hardik Jit ho Nio nio penuh amarah.
Im Ceng tertawa lantang, sahutnya: "Aku
telah menyampaikan urusan yang menyangkut kepentingan Siau-lim-pay,
dengan sendirinya harus tampil dengan identitasku yang Nebenarnya,
hidup sebagai anggota Perguruan Tay ki bun, matipun tetap menjadi
setan Perguruan Tay ki bun, kenapa aku tidak berani mengakui sebagai
murid Perguruan Tay ki bun? Aku tahu kungfu yang kami miliki memang
masih ketinggalan jauh bila dibandingkan kemampuan-mu, tapi soal
nama, dimana pun kami sebut nama besar Perguruan Tay ki bun, nama
ini jauh lebih cemerlang ketimbang nama Pulau Siang cun-to!"
Tidak terlukiskan rasa gusar Jit ho Nio nio
lelah mendengar perkataan itu, teriaknya lengking:
"Kau.......kau berani.........."
Dengan air mata bercucuran cepat Un Tay-tay
menjatuhkan diri berlutut dibawah kaki perempuan itu, rengeknya:
"Nio Nio..... dia..... dia masih
kanak-kanak, harap Nio Nio tidak menanggapinya dengan serius"
Jit ho Nio nio tertawa dingin. "Hmmm,
ulahnya masih belum pantas membuat aku naik darah........" katanya,
"baiklah, sebagai anggota Perguruan Tay ki bun, apa yang hendak kau
sampaikan?"
"Aku ingin bertanya kepadamu, kalau toh Un
Tay-tay tidak bersedia tinggal disini, apa alasannya kau memaksa dia
untuk tetap tinggal disini? Apakah tindakanmu inipun pantas disebut
menolong orang yang kesusahan?"
"Siapa yang paksa dia untuk tetap tinggal
disini?" tegur Jit ho Nio nio.
Im Ceng tertegun, seketika itu juga hawa
amarahnya mereda setengah, tahu kalau dugaannya keliru, tingkah
lakunya jadi serba salah, ucapnya agak tergagap:
"Kalau memang begitu, Tay-tay, ayoh kita
pergi!"
"Siapa yang mengijinkan kau membawanya
pergi?" kembali Jit ho Nio nio menegur ketus.
Sekali lagi Im Ceng tertegun, tapi kemudian
dengan wajah penuh kegusaran teriaknya:
"Bukankah kau bilang tidak akan menahannya?
Kini kaupun melarangnya pergi, rupanya kau sedang mempermainkan
aku?"
"Mau kemana pun dia pergi, aku tidak bakalan
melarangnya, tapi kalau pergi bersamamu, hmmm! Jangan harap!"
"Kenapa?" teriak Im Ceng gusar.
"Bila dia ingin menikah. Sekalipun harus
kawin dengan seorang berandal kota atau seorang pekerja kasar pun
aku akan mendukungnya, tapi kalau ingin menikah dengan anggota
Perguruan Tay ki bun..... hmmm, jangan harap aku
akan mengijinkan!"
"Kenapa?" bentakan Im Ceng semakin nyaring.
"Karena setiap pria yang bergabung dalam
Perguruan Tay ki bun adalah binatang yang tidak berperasaan dan
tidak setia kawan!"
Kontan Im Ceng melompat bangun, umpatnya
pernuh amarah:
"Ken.......siapa yang bilang begitu?"
Walaupun dia tidak berani mengucapkan kata
"kentut", namun orang yang berani mencak-mencak kegusaran dihadapan
Jit ho Nio nio pun boleh dibilang tak ada ke duanya.
Pucat pias wajah kawanan gadis yang berada
disekeliling tempat itu, mereka tahu, Jit ho Nio nio pasti tidak
akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Siapa tahu bukan saja Jit ho Nio nio sama
sekali tidak turun tangan, berpaling pun tidak, malah ujarnya kepada
Un Tay-tay:
"Bila saat ini kau ingin pergi, aku pun
tidak akan menahanmu!"
"Nio Nio, aku........" isak tangis Un
Tay-tay makin menjadi.
"Tapi sebelum meninggalkan tempat ini, kau
harus angkat sumpah berat, selama hidup tidak pernah akan berbicara
sepatah kata lagi dengan anggota Perguruan Tay ki bun!"
"Aku....... aku........."
tiba-tiba Un Tay-tay menangis tersedu.
"Kenapa? Kau tidak sanggup?"
"Aku.....aku akan tetap tinggal disini"
bisik Un Tay-tay lirih.
"Kalau ingin tinggal disini, kau justru
harus mengangkat sumpah yang lebih berat lagi, sejak hari ini hingga
akhir jaman kau tidak boleh lagi memikirkan anggota Perguruan Tay ki
bun"
Tubuh Un Tay-tay gemetar makin keras, dengan
suara gemetar bisiknya:
"Ini......ini........."
Tiba-tiba dia mendekam diatas tanah sambil
menangis tersedu sedu, terusnya:
"Aku tidak bisa kalau tidak memikirkan dia,
aku benar-benar tidak bisa, tidak memikirkan dia!"
"Hanya orang berhati setenang air yang cocok
berdiam di Pulau Siang cun-to" ujar Jit ho Nio nio dingin, "bila kau
masih memikirkan dia, berarti tidak ada tempat bagimu untuk tetap
tinggal di pulau ini!"
Ketika berbicara sampai disini, bukan saja
Im Ceng merasa gusar bercampur sedih, bahkan kawanan gadis penghuni
Pulau Siang-cun-to pun merasa bahwa sikap yang diperlihatkan Jit ho
Nio nio hari ini sedikit kelewatan dan tidak berperasaan, tanpa
terasa timbul perasaan simpatik mereka terhadap Un Tay-tay, malah
tidak sedikit diantara mereka yang meneteskan air mata.
Sambil meninju permukaan tanah dan menangis
tersedu, kembali Un Tay-tay merengek:
"Nio Nio, mana mungkin kau bisa memaksa
orang untuk melakukan perbuatan yang tidak mungkin dilakukan,
kau.......lebih baik biarkan aku mati saja!"
"Hmm... tampaknya memang lebih baik kau mati
saja!" sela Jit ho Nio nio dingin.
Habis sudah kesabaran Im Ceng, dengan suara
menggeledek teriaknya:
"Dendam sakit hati apa yang terjalin antara
kau dengan Perguruan Tay ki bun kami........"
Ditengah bentakan keras tubuhnya melambung
ke udara dan langsung melepaskan satu pukulan ke punggung Jit ho Nio
nio.
Kawanan gadis yang berada diseputar sana
sama-sama menjerit kaget, paras muka mereka berubah hebat.
"Hmm! Kau berani kurangajar kepadaku!"
jengek Jit ho Nio nio dingin.
Telapak tangannya langsung berbalik
melakukan satu gerakan, seolah tumbuh mata di punggungnya, tanpa
berpaling ujung bajunya langsung menyapu ke atas dada Im Ceng.
Belum sempat telapak tangannya menyentuh
tubuh lawan, Im Ceng sudah merasakan datangnya segulung kekuatan
dahsyat yang menghantam tubuhnya, dia tidak mampu membendung apalagi
menghindar, diiringi jeritan tertahan tubuhnya mencelat ke udara dan
terpental sejauh tiga kaki dari posisi semula.
Baru saja Un Tay-tay siap menggerakkan
tubuhnya sambil menjerit kaget, kembali Jit ho Nio nio mengebaskan
ujung bajunya, kali ini dia menyambar jalan darah Cian cing hiat
dibahunya, kontak gadis itu tergeletak kaku dan tidak sanggup
bergerak lagi.
Biarpun ilmu silat Im Ceng masih jauh
ketinggalan dibandingkan kepandaian orang, bukan berarti dia
menyerah dengan begitu saja, keberanian serta kenekadannya memang
patut diacungi jempol.
Begitu roboh ke tanah cepat dia melompat
bangun dan untuk kedua kalinya menerjang maju lagi ke depan.
Ketika Jit ho Nio nio kembali mengebaskan
ujung bajunya, untuk kesekian kali pula Im Ceng jatuh bangun, tapi
tiga lima kali sudah berlalu, bukan saja dia tidak mampu melepaskan
satu jurus serangan balasan bahkan makin mencelat, tubuhnya
terpental makin jauh dan berat.
Sekarang dia baru tahu, Jit ho Nio nio yang
disebut tokoh paling sakti dalam dunia persilatan memang benar-benar
memiliki kepandaian silat yang tidak terkirakan, sekalipun dia
berlatih sepuluh tahun lagi pun belum tentu kemampuannya sanggup
menandingi lawan.
Menyadari akan kenyataan itu, Im Ceng merasa
putus asa dan patah arang, dia mendongakkan kepalanya dan menghela
napas panjang, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Hmm, baru memiliki ilmu silat secetek itu
sudah ingin pamer kekuatan" jengek Jit ho Nio nio dingin, "boleh
saja bila kau ingin selamatkan nyawanya, asal kau sudah mampus, dia
pasti akan hidup tenang. Hanya saja.......aku rasa belum tentu kau
memiliki keberanian untuk melakukan-nya"
Mendadak Im Ceng mendongakkan kepalanya dan
tertawa seram, teriaknya:
"Ternyata kau hanya menginginkan
kematian-ku? Itu mah gampang, aku orang she-Im memang sudah bosan
untuk hidup terus!"
Sejak kematian Thiat Tiong-tong, dia memang
sudah putus asa, kepedihan dan kemarahan yang dialaminya sekarang
telah berubah menjadi kekecewaan, dia semakin merasa kalau hidup itu
tidak berarti lagi.
Perlu diketahui Im Ceng adalah seorang
pemuda yang berjiwa berangasan cepat naik darah dan temperamen,
ketika pikirannya sedang diliputi emosi, sering dia tidak perdulikan
mati hidup, apalagi dalam keadaan seperti saat ini dia semakin nekad
dan tidak ambil perduli soal mati hidupnya lagi.
Ditengah gelak tertawa yang menyeramkan,
tubuhnya melejit ke udara dan segera menceburkan diri ke dalam
jurang yang sangat dalam itu.
Siapa tahu Jit ho Nio nio segera mengebaskan
ujung bajunya lagi dan segera mencegah tindakan nekadnyaitu.
"Sampai ingin matipun kau masih
menghalangiku?" teriak Im Ceng gusar.
"Dibawah jurang ini merupakan samudra luas,
belum tentu kau akan mampus bisa tercebut ke situ, bila betul-betul
ingin mati, lebih baik melompat saja dari sebelah sana" kata Jit ho
Nio nio dingin.
Dia bicara tanpa berpaling, apalagi
memandang ke arahnya.
Sambil tertawa keras kembali Im Ceng
berkata: "Un Tay-tay, biarpun selama hidup aku tidak dapat
mendampingimu, tapi setelah mati nanti tidak akan ada orang yang
bisa menghalangiku untuk bertemu lagi denganmu. Jiko, tunggu
kedatanganku........."
Belum selesai dia tertawa, tubuhnya sudah
meluncur ke dalam jurang, dari kejauhan sana hanya terdengar suara
gelak tertawanya yang penuh diliputi rasa gusar bercampur kepedihan.
Setengah hari berselang Im Ceng telah
menghajar Thiat Tiong-tong hingga tercebur ke dalam jurang, setengah
hari kemudian dia sendiri yang terjun ke dalam jurang, dia tahu
dengan kematiannya ini bukan saja telah selamatkan jiwa Un Tay-tay,
diapun bisa mencuci bersih dosa serta rasa penyesalannya, perasaan
hatinya sesaat sebelum mati pasti sangat tenteram.
Tapi mana mungkin dia menyangka kalau dengan
kematiannya itu justru mereka yang hidup akan merasakan penderitaaan
dan siksaan yang lebih parah?
Apalagi ke dua orang murid Thiat-hiat Tay ki
bun ini merupakan dua jago tangguh yang paling berbakat dan paling
cemerlang masa depannya.
Sekalipun perangai kedua orang itu berbeda,
namun yang satu adalah jago yang tidak panik meski menghadapi
bahaya, selalu banyak akal untuk menghadapi situasi, sementara yang
lain adalah seorang jago yang penuh dengan semangat kependekaran.
Tapi kini, secara beruntun dalam seharian
mereka harus mati susul-menyusul, berbicara bagi perkembangan dunia
persilatan, jelas kejadian ini merupakan satu kehilangan besar,
karena masih ada begitu banyak beban serta tanggung jawab yang harus
mereka selesaikan.
Waktu itu, walaupun Un Tay-tay sama sekati
tidak mampu bergerak namun perasaan hatinya sudah hancur lebur,
dengan sorot mata basah oleh air mata dia tatap wajah Jit ho Nio
nio, menatap dengan pandangan sedih, gusar bercampur dendam,
perasaan yang tidak dapat diurai oleh siapa pun.
Tiba-tiba Jit ho Nio nio berpaling, ternyata
wajahnya yang pucat telah dibasahi air mata, perlahan-lahan ujarnya:
"Hantar Un Tay-tay ke ruang Liu im koan,
rawat dia secara baik-baik"
Dari balik nada ucapannya, kedengaran rasa
perhatian serta sayang yang sangat mendalam.
Saat itu, andaikata memungkinkan, Un Tay-tay
ingin sekali mengumpat:
"Kalau kau sudah memaksanya hingga bunuh
diri, buat apa mesti mengucurkan air mata?"
Sayang tubuhnya tidak mampu bergerak,
mulutnya tidak mampu berbicara hingga tidak sepatah kata pun sempat
meluncur keluar.
Dua orang gadis berjalan mendekat dan
membopongnya, tanpa mampu melawan tubuhnya dibopong orang dan dibawa
turun bukit.
Menanti bayangan tubuh mereka telah lenyap
dari pandangan, tiba-tiba Jit ho Nio nio mendongakkan kepalanya
sambil menghela napas panjang, gumamnya dengan getir:
"Tidak kusangka ternyata dalam Perguruan Tay
ki bun masih terdapat lelaki yang rela mati demi cinta............"
Bekas air mata belum mengering dari wajahnya
namun sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya, tidak jelas dia
sedang bersedih hati? Atau merasa girang? Mungkin tidak seorang
manusia pun di dunia ini yang bisa menebak suara hatinya.
Kaki bukit, gedung Liu im koan, sebuah
bangunan mungil yang bersih lagi tenang.
Saat itulah terlihat empat sosok bayangan
manusia meluncur keluar tanpa menimbulkan suara, bergerak cepat
langsung menuju ke tepi laut.
Ditepi pesisir, diatas perahu nelayan.
Suasana hening tidak kedengaran setitik suara pun.
Nenek yang rambutnya telah beruban itu duduk
bersila diujung sampan, duduk sambil menengadah memandang angkasa.
Dia seakan sedang menantikan sesuatu,
seperti juga sedang duduk kesepian, langit nan biru, air laut nan
hijau, rambut nan putih.......suatu perpaduan warna yang unik.
Empat sosok bayangan manusia yang muncul
dari gedung Liu im koan itu menghentikan gerakan tubuhnya ditempat
kejauhan, serentak mereka memperhatikan nenek diatas sampan itu
tanpa berkedip, gerakan tubuh mereka berempat cepat, ringan dan
lincah, siapa pun tidak ada yang menimbulkan suara.
Meski tidak berpaling, tampaknya nenek itu
sudah merasakan kehadiran mereka, mendadak serunya dengan suara
dalam:
"Kemari!"
Ke empat sosok bayangan manusia itu saling
bertukar pandangan sekejap, akhirnya mereka bergerak mendekat.
Ternyata mereka tidak lain adaah Kiu cu Kui bo Yin Gi, Yin Ping, Gi
Peng-bwee serta Leng Cing-peng.
Saat itu diatas wajah Yin Gi yang biasanya
dingin menyeramkan telah muncul gejolak emosi yang besar, senyum
nakal yang selalu tersungging diujung bibir Yin Ping pun sudah
hilang lenyap tidak berbekas.
Perlahan-lahan nenek itu membalikkan
tubuhnya menghadap ke arah mereka, ke tiga orang itu saling
berpandangan tanpa berkedip, tidak seorang pun yang buka suara
maupun menyapa.
Entah berapa saat sudah lewat..........
Akhirnya dengan suara gemetar Yin Ping
berbisik:
"Toaci............"
"Sam-moay!" balas nenek itu. Sekujur tubuh
Yin Ping gemetar keras, tiba tiba ia berlarian ke ujung sampan bagai
orang kalap, berdiri dihadapan nenek itu, memandang-nya dengan mata
terbelalak dan serunya:
"Toaci, be......benarkah kau?"
"Kalau bukan aku lalu siapa?" jawab nenek
itu sambil tersenyum.
Yin Ping berseru lirih, sepasang lututnya
terasa lemas, tidak tahan diapun berlutut diatas geladak.
Yin Gi sendiripun seolah berdiri terperana,
dengan wajah bimbang selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke
ujung sampan, gumamnya berulang kali:
"Toaci, benarkah kau... toaci, benarkah
kau...."
Kelihatannya nenek itupun sedikit tertegun,
gumamnya lirih:
"Ji-moay...........ji-moay........."
"Tiga puluh tahun kita tidak pernah bersua,
akhirnya harapanku bisa berjumpa lagi dengan toaci terkabulkan juga"
kata Yin Gi.
Siksaan dan penderitaan selama banyak tahun,
tampaknya telah membentuk perasaan hatinya lebih keras dari baja,
sekalipun berada dalam keadaan penuh emosi, dia masih tetap berdiri
tegak bagaikan sebuah patung.
Terdengar nenek itu bergumam pula:
"Tiga puluh tahun.........yaaa, tiga puluh
tahun, aaaai! Walaupun hari berlalu sangat lambat bagai rangkak dari
siput, terkadang pun terasa betapa cepatnya tiga puluh tahun telah
berlalu"
"Benar"
"Apakah kau masih ingat? Sesaat sebelum
pergi meninggalkan kalian, aku masih sempat mencuci rambut kalian
berdua, aaaai! Tidak nyana......sekarang.......rambutmu telah
beruban"
"Rambut toaci pun telah beruban!" sambung
Yin Gi sambil tundukkan kepalanya.
"Yaaa, telah beruban, telah beruban" nenek
itu tertawa pedih, "sejak dua puluh tahun berselang telah mulai
beruban, aaaai ....... sungguh tidak disangka dalam waktu
sekejap, aku sudah tiga puluh tahun lamanya tidak pernah menyisirkan
rambutmu!"
Perlahan dari sakunya dia mengeluarkan
sebuah sisir yang kuno, diujung sisir terdapat sebutir mutiara,
dapat dibayangkan betapa indah dan menariknya benda tersebut dimasa
lalu.
Tapi sekarang, sisir itu sama persis seperti
tiga bersaudara itu, walaupun masih tersisa secercah jejak yang
menawan, namun cahaya cemerlang dimasa lampau telah memudar, bahkan
cahaya mutiara itupun terasa telah berubah warna menjadi kuning
kusam.
Dengan pandangan sayu nenek itu mengawasi
sisirnya, lama, lama kemudian dia baru bertanya sambil tertawa
pedih:
"Masih ingat dengan benda ini? Sisir inilah
yang pernah kugunakan untuk menyisir rambut-mu di masa lalu"
"Yaa, aku masih ingat!" jawab Yin Gi dengan
nada gemetar, tanpa terasa dia turut menatap sisir itu dengan
termangu.
"Coba lihat rambutmu sekarang, kacau dan
menggumpal, kemarilah...... biar kusisirkan lagi rambutmu"
Dia seakan masih menganggap ji-moay nya
sebagai gadis kecil dimasa lampau, dia seolah lupa kalau ji-moay nya
sekarang adalah seorang gembong iblis wanita yang nama besarnya
telah menggetarkan sungai telaga semenjak dua puluh tahun berselang.
Butir air mata tiba-tiba mengembang dalam
kelopak mata Yin Gi lalu jatuh berlinang membasahi pipinya, perlahan
dia berpaling kemudian benar-benar duduk didepan nenek itu,
membiarkan toaci nya sekali lagi menyisiri rambutnya yang telah
beruban.
Sisir punya sisir, sekulum senyuman mulai
tersungging menghiasi ujung bibir nenek itu, namun butir air mata
justru membasahi matanya, mengalir ke bawah, tetes demi tetes
membasahi rambut Yin Gi yang memutih.
Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng hanya
berdiri menonton dari samping, menyaksikan adegan yang begitu
mengharukan, begitu menggetarkan sukma, memandang dengan terperana.
Keadaan Yin Ping tidak jauh berbeda,
wajahnya telah basah oleh air mata, mendadak dia menubruk ke depan
sambil berteriak keras, merangkul tengkuk ke dua orang cicinya dan
memeluknya kuat-kuat.
Yin Gi pun tidak sanggup menahan diri lagi,
dia membalikkan tubuh, menjatuhkan diri dalam pelukan toacinya.
Sang nenek merentangkan ke dua belah
tangannya, dengan perasaan bergetar balas memeluk ke dua orang
adiknya kuat kuat......
Untuk sesaat mereka bertiga seolah sudah
melupakan usia sendiri, melupakan semua penderitaan dan siksaan yang
dialaminya selama banyak tahun, melupakan ketidak beruntungan yang
menimpa hidup mereka selama ini.......
Mereka seakan sudah melupakan segalanya,
seakan sudah kembali ke masa lampau, masa dimana mereka bisa
menangis setiap saat, bisa tertawa tergelak setiap waktu.
Entah berapa lama sudah lewat..........
Akhirnya nenek itu mendongakkan kepalanya
dan bergumam:
Thian maha adil, Thian maha kasih, akhirnya
kami tiga bersaudara Yin dapat berkumpul kembali"
Yin Gi pun perlahan-lahan mengambil duduk,
sehabis menyeka air matanya, dia berkata sambil tertawa hambar:
"Sungguh menggelikan, ketika pertama kali
menaiki perahu milik toaci, ternyata aku tidak bisa mengenali toaci
sendiri"
"Benar" sambung Yin Ping cepat, "kalau bukan
aku secara sengaja balik lagi kemari untuk melakukan pemeriksaan,
mungkin toaci sudah marah besar dan tidak mau memperduli kami lagi"
Nenek itu tertawa getir.
"Mana mungkin toaci akan marah kepada
kalian" katanya, "kalau aku tidak mengakui, mana mungkin kalian bisa
menduga kalau si nenek mengenaskan yang berada di perahu ini adalah
manusia aneh dimasa lampau Yin Siok?"
Biarpun perkataan itu diutarakan tanpa
maksud lain, namun ucapan tersebut justru bagaikan godam besar yang
menghantam perasaan ke tiga orang itu kuat kuat....... manusia
perkasa dimasa lampau kini telah berubah jadi nenek penyeberang yang
hidup sendirian diatas lautan, kecantikan wajah yang rupawan dimasa
lalu, kini telah berubah jadi nenek jelek berwajah menyeramkan.
Tiga puluh tahun, masa selama tiga puluh
tahun ternyata memang tidak kenal belas kasihan.
Darah yang dulu panas kini telah membeku,
semua gejolak perasaan kini telah berubah menjadi penderitaan.
Ke tiga orang itu saling berpandangan,
kendatipun tidak dapat menyaksikan raut muka sendiri, namun dari
kerutan wajah di pihak lain mereka seakan dapat menyaksikan jejak
ketuaan di wajah sendiri.
Kini mereka bertiga mulai sadar, waktu yang
telah lewat selamanya tidak akan bisa balik kembali, semua
kegembiraan yang sudah lenyap, hanya bisa dikenang kembali didalam
hati.
Semua makhluk, semua kehidupan di dunia ini
akan mengalami pasang surut, hanya waktu yang menjadi saksi hidup,
siapa pun tidak bisa menipu diri sendiri, tidak dapat memperoleh
kembali masa remajanya walau dengan cara apapun.
Setiap makhluk pasti mengalami pasang
surutnya perasaaan, hanya waktu yang tidak berperasaan, mau
merengek atau memohon dengan cara apapun, dia tidak akan mengijinkan
dirimu untuk peroleh kembali kebahagiaan yang telah berlalu.
Hanya jejak yang ditinggalkan sang waktu,
yang tidak mungkin bisa kau hapus dengan cara apa pun, tidak mungkin
kau lupakan dengan cara apapun.
Mereka bertiga duduk saling berhadapan,
siapa pun tidak ada yang berbicara lagi, sebab secara tiba-tiba
mereka menyadari akan sesuatu, walaupun tiga bersaudara keluarga Yin
telah berkumpul kembali, namun mereka tidak berhasil mengembalikan
kenangan dan suasana seperti masa lalu.
Akhirnya Yin Siok tertawa paksa, memecahkan
keheningan yang mencekam, sambil bangkit berdiri katanya:
"Kalian duduklah dulu, biar toaci
menyediakan air gula untuk kalian"
Sambil menyeka air matanya Yin Ping turut
tertawa paksa, serunya:
"Toaci, masa kau masih menganggap kami
sebagai anak kecil? Yang kita minum sekarang adalah arak, bukan air
gula"
"Mungkin saja kalian tidak doyan, tapi ke
dua orang bocah itu mah masih doyan"
Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng saling
bertukar pandangan sekejap kemudian tertawa, mereka seakan sedang
berkata:
"Kami pun telah dewasa, kami minum arak,
tidak minum air gula"
Bagaimana pun mereka masih terlalu muda,
belum pernah merasakan betapa tidak berperasaannya sang waktu, kalau
tidak, pada saat dan keadaan seperti ini mereka pasti tidak mampu
lagi untuk tertawa.
Akhirnya Yin Siok muncul dengan membawa dua
mangkuk air gua, Leng Cing-peng pun pada akhirnya meneguk habis isi
mangkut itu, sementara Gi Peng-bwee secara diam-diam membuang isi
mangkuk itu ke dalam laut.
"Aaaai, bicara sesungguhnya" kata Yin Ping
kemudian sambil menghela napas, "selama tiga puluh tahun ini,
sebetulnya toaci telah pergi ke mana, orang she-Im dari Perguruan
Tay ki bun........"
Mendadak Yin Gi mendehem perlahan, tampaknya
dia ingin mencegah adiknya berbicara lebih jauh.
Tapi Yin Siok segera menukas sambil tertawa
getir:
"Tidak masalah, biarkan dia berkata lanjut,
belakangan perasaan hatiku sudah kaku, sudah mati rasa, kejadian di
masa lampau sudah tidak mungkin bisa menyiksa hatiku lagi"
"Apakah manusia she-Im itu sudah mampus?"
tanya Yin Ping kemudian.
“Tidak, dia masih hidup segar bugar" jawab
Yin Siok sambil menghela napas.
"Dasar lelaki yang tidak berperasaan" umpat
Yin Ping gemas, "begitu tega dia meninggalkan cici seorang diri
disini, coba kalau bukan cici yang selamatkan jiwanya, mana mungkin
dia bisa hidup hingga kini!"
Gi Peng-bwee maupun Leng Cing-peng hanya
membelalakkan matanya lebar-lebar, terbelalak dengan penuh
rasa heran, kaget bercampur tercengang, sesungguhnya mereka pun
ingin turut mendengarkan kisah rahasia para bulim cianpwee itu,
namun tidak seorangpun diantara mereka yang berani buka suara.
Begitu menyaksikan perubahan mimik muka ke
dua orang gadis itu, Yin Ping segera mengerti jalan pemikiran
mereka, umpatnya sambil tertawa:
"Dasar dua dayang busuk, apakah kalian pun
ingin mengetahui kisah cerita ini?"
Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng saling
bertukar pandangan sekejap, kemudian tersenyum dan tundukkan
kepalanya.
Setelah menghela napas panjang ujar Yin Ping
lagi:
"Baiklah, tidak ada salahnya kukisahkan
kembali cerita ini, agar dikemudian hari kalian bisa lebih
berhati-hati dan tidak sampai tertipu oleh akal busuk kaum lelaki
laknat"
Perlahan-lahan dia pejamkan matanya,
kemudian berkata:
"Waktu itu usiaku masih sangat kecil, kami
tiga bersaudara berdiam di sebuah bangunan gedung yang dikelilingi
kebun bunga besar, kebun itu sangat luas dan ditanami aneka bunga
yang indah semerbak dan tumbuh diempat musim..."
Setelah menghela napas ringan dan
mengulumkan senyuman manis, terusnya:
"Penghidupan kami waktu itu sangat bahagia,
setiap kali selesai berlatih silat, kami tiga bersaudara selalu
menyibukkan diri dengan merawat bunga di kebun, atau memotong
rumput, menangkap capung, mengejar kupu kupu,
tapi..........
"Suatu hari, didalam kebun bunga kami
kedatangan seorang lelaki yang penuh berpelepotan darah, lelaki itu
terluka sangat parah, begitu tiba dikebun, orang itu jatuh tidak
sadarkan diri.
"Kami tiga bersaudara berlarian mendekat,
ternyata walaupun sekujur tubuh lelaki itu penuh berpelepotan darah
dan sedikit menakutkan, dia memiliki wajah yang sangat tampan.
"Apalagi disaat paras mukanya pucat pias
tanpa membawa secerca warna darah pun, dia seakan memiliki semacam
daya pikat yang tidak terlukiskan dengan kata, membuat siapa pun
yang memandangnya gampang tergoda, gampang terperana dibuatnya.
"Bagiku waktu itu, aku hanya sebatas
menganggap dia tampan dan menarik, bereda dengan toaci ku, walau
hanya memandangnya sekejap, ternyata dia...... secara diam-diam dia
telah jatuh cinta kepadanya"
Ketika berbicara sampai disini, lamat-lamat
secerca cahaya merah terlintas di wajah Yin Siok yang penuh keriput,
tapi sekejap kemudian sudah lenyap tidak berbekas, sambil
mendongakkan kepalanya dia melamun tanpa bicara.
Yin Ping pun berkata lebih jauh: "Dari
keadaan yang dideritanya kami segera tahu kalau lelaki itu sedang
dikejar musuhnya yang sangat tangguh, karena panik dan gugup maka
tanpa sengaja memasuki kebun kami.
"Kelihatannya waktu itu Ji-ci pun sudah
menduga jalan pikiran toaci, maka sengaja dia berkata: "Kita tidak
tahu asal-usul orang ini, kenapa mesti mencampuri urusannya? Lebih
baik kita hantar dia keluar dari sini!"
"Biarpun dalam hati kecilnya toaci enggan
berbuat begitu, bagaimana pun dia merasa jengah untuk berterus
terang, maka untuk sesaat hanya berdiri kebingungan.
"Pada saat itulah dari luar tembok
pekarangan telah terdengar suara bentakan nyaring, tampaknya
pasukan pengejar telah tiba disitu, bahkan jumlah mereka tidak
sedikit.
"Walaupun tidak terbicara apa-apa, secara
tiba-tiba toaci membopong lelaki itu dan menyembunyikannya,
kemudian seakan tidak pernah terjadi apa pun dia kembali merawat
bunga dan memotong rumput, sama sekali tidak melirik sekejap pun ke
arahku maupun ji-ci.
"Akhirnya para pengejar menyerbu masuk ke
dalam kebun, waktu itu bukan saja toaci sama sekali tidak
menyinggung masalah lelaki tersebut, sebaliknya malah menuduh orang
orang itu secara sengaja memasuki rumah orang dan memaki mereka
habis-habisan.
"Ketika itu kami tiga bersaudara sudah punya
sedikit nama dalam dunia persilatan, biarpun para pengejar terdiri
dari kawanan jago lihay yang berilmu tinggi, nampaknya mereka enggan
bermusuhan dengan kami.
"Apalagi kami tiga bersaudara sudah tersohor
di dalam dunia persilatan sebagai orang yang paling tidak suka
mencampuri urusan orang lain, di waktu biasa, biar ada orang yang
mati dihadapan kami pun, tidak nanti kami akan menggerakkan tangan
untuk menolong.
"Setelah berpikir berapa saat, para pengejar
itu segera ber kesimpulan kalau kami tiga bersaudara mustahil telah
sembunyikan lelaki itu, setelah minta maaf, mereka pun mengundurkan
diri dari tempat itu.
"Semenjak hari itu, toaci tidak pernah lagi
merawat bunga, tidak pernah lagi memotong rumput, setiap saat setiap
waktu dia hanya sibuk merawat lelaki itu, mengobati lukanya dan
menyiapkan aneka hidangan lezat baginya.
"Tidak selang satu bulan kemudian, luka yang
diderita lelaki itupun sembuh kembali, saban hari toaci hanya
menemaninya ditepi ranjang, hubungan yang berlangsung tiap hari
menimbulkan benih cinta dihati kecilnya, toaci semakin kesemsem
dengan lelaki itu........siapa tahu..........."
Berbicara sampai disini, tidak tahan lagi
dia menghela napas getir, senyuman yang semula tersungging diujung
bibirnya lenyap tidak berbekas, ketika berpaling, dia jumpai Yin
Siok sedang menyeka air mata yang berlinang secara diam-diam.
Gi Peng-bwee benar-benar dibuat terpesona,
tidak tahan tanyanya:
"Bagaimana selanjutnya?"
Yin Ping menghela napas panjang. "Siapa tahu
setelah sembuh dari lukanya, secara diam-diam lelaki itu pergi tanpa
pamit, dia hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya menganjurkan
kepada toaci agar melupakan dirinya. Tapi.....mana mungkin toaci
bisa melupakan dirinya? Toaci sadar kami pasti akan keberatan bila
dia pergi meninggalkan kami, maka tanpa mengucapkan sepatah kata
pun, diam-diam diapun pergi dari rumah"
Sekali lagi dia menghentikan kisahnya dan
menghela napas berulang kali.
"Bagaimana selanjutnya?" kembali Gi
Peng-bwee bertanya.
"Bagaimana selanjutnya akupun kurang jelas,
hal ini mesti ditanyakan kepada toaci" sahut Yin Ping sambil tertawa
getir.
Tanpa terasa Gi Peng-bwee serta Leng
Cing-peng mengalihkan pandangan mata mereka ke wajah Yin Siok.
Dengan wajah penuh air mata kata Yin Siok:
"Akhirnya aku berhasil menyusulnya"
Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng segera
menghembuskan napas lega, seakan akan mereka turut bergembira akan
kejadian tersebut.
Yin Siok mendongakkan kepalanya mengawasi
angkasa dengan termangu, lama kemudian sekulum senyuman baru
tersungging diujung bibirnya, senyuman itu nampak begitu manis,
membuat raut mukanya yang penuh keriput seolah bercahaya kembali.
Dengan suara lembut katanya lagi:
"Penghidupan kami waktu itu sungguh indah dan penuh kebahagiaan,
sejak pagi hingga malam kami berdua selalu bersama, begitu
kesemsemnya kami menjalani penghidupan yang bahagia hingga dia
nyaris melupakan semua persoalan yang sedang dihadapinya"
Setelah berhenti sejenak, tambahnya:
"Tapi........ tapi ada sementara persoalan ternyata dia tidak dapat
melupakannya"
Ketika mengucapkan perkataan tersebut,
senyuman diujung bibirnya seolah berubah jadi kedukaan yang
mendalam.
"Gara-gara ingin menuntut balas, perguruan
mereka harus hidup mengasingkan diri di luar perbatasan, sesuai
dengan peraturan perguruan yang berlaku, mereka dilarang mengajak
serta kaum wanita dalam perjalanannya"
"Bahkan bini pun tidak boleh dibawa serta?"
sela Gi Peng-bwee.
"Yaa, termasuk bini pun tidak boleh ikut"
jawab Yin Siok sambil tertawa pedih.
"Ooh sungguh keji! Sungguh keji!" dengan
mata terbelalak gumam Gi Peng-bwee berulang kali.
"Mereka tinggalkan istri karena kuatir
perhatiannya terpecah ketika berlatih silat, mereka pun tidak ingin
hatinya jadi lemah karena terpengaruh kasih sayang seorang ibu.
Mereka melatih diri diatas bukit bersalju yang dingin, melatih
anak-anak mereka dengan penuh disiplin dan peraturan yang ketat,
sedemikian ketat dan kejinya hingga membuat siapa pun tidak tega
untuk menyaksikannya.
"Mereka melatih putra-putrinya hingga
memiliki tubuh yang keras bagai baja, merekapun menginginkan putra
putrinya memiliki hati yang lebih keras dari baja, bila sang ibu
turut hadir disitu maka sulit bagi mereka untuk membentuk perasaan
macam begitu.
"Justru karena tanpa memikirkan resikonya
aku menyusul ke luar perbatasan, maka semua kejadian tersebut dapat
kusaksikan dengan mata kepala sendiri, kendatipun aku pun berhati
tega, tidak urung air mataku bercucuran juga setelah menyaksikan
kejadian ini"
"Jadi toaci telah menyusul ke luar
perbatasan?" tanya Yin Ping tercengang.
Yin Siok menundukkan kepalanya, kembali air
mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
"Aku sudah tujuh kali berkunjung ke situ,
tapi setiap kali selalu diusir oleh ciang bunjinnya, sekalipun
begitu aku tidak putus asa, sebesar apapun penderitaan dan siksaan
yang harus kualami, seberapa besar dosa yang harus kupikul, aku
tetap berkunjung dan berkunjung terus.
"Terkadang aku bahkan dihajar hingga babak
belur, dihajar hingga menderita luka disekujur tubuhku, namun begitu
luka-luka itu sembuh, aku pun berkunjung lagi ke situ.
"Ransum yang mereka miliki sangat minim,
bila ada yang terbaik maka ransum tersebut diberikan kepada
anak-anak, mereka berharap anak-anak bisa tumbuh lebih cepat.
"Karena harus mengejar mereka di wilayah
bersalju, akupun terkadang gagal menemukan makanan, ada kalanya aku
harus menahan lapar sampai dua hari lamanya, saking laparnya sampai
berusaha menangkap tikus dan ular berbisa dari liang mereka,
menangkapnya, memanggangnya dan memakannya untuk menangsal perut.
"Aku pernah merengek kepada mereka, asal
mengijinkan aku bergabung dengan rombongan itu maka penderitaan dan
siksaan macam apapun aku bersedia menerimanya, aku telah menggunakan
pelbagai cara, menggunakan berbagai pembicaraan, bahkan......bahkan
berlutut dihadapan mereka.
"Tapi..... tapi mereka tidak pernah tergerak
hatinya, tetap mengusirku dari rombongan........"
Mimpipun Gi Peng-bwee serta Leng Cing-peng
tidak menyangka kalau nenek yang berada dihadapannya pernah
merasakan penderitaan sebesar itu, mereka tidak menyangka kalau
cintanya yang begitu mendalam membuatnya bersedia mengorbankan
segala sesuatu, saking terharunya, air mata bercucuran membasahi
wajah mereka berdua.
Terlebih Yin Ping, dengan nada terisak dan
gemetar, bisiknya:
"Tak...... tak heran kalau toaci......
berubah setua ini........"
"Aku mengerti" ujar Yin Gi pula dengan air
mata berlinang, "dengan watak toaci yang tinggi hati, berlutut
dihadapan orang merupakan satu siksaan yang luar biasa, waktu itu
kau.......kau pasti sangat menderita"
"Toaci" tiba tiba Yin Ping berteriak keras,
"kalau toh kau bersedia merasakan penderitaan dan siksaan sebesar
ini, sepan-tasnya kalau kau mengejarnya terus,
kecuali...... kecuali mereka benar-benar membunuhmu!"
"Walaupun mereka tidak membunuhku" kata Yin
Siok dengan air mata berlinang, "tapi pada pertemuan yang terakhir
mereka sempat mengancamku, katanya, bila aku merecoki mereka terus
maka mereka akan......akan membunuhku!"
"Maka kau tidak melakukan pengejaran lagi?"
tanya Yin Ping.
Dengan mulut membungkam Yin Siok
manggut-manggut, dia tidak mampu berkata lagi.
Sambil menghentakkan kakinya berulang kali
seru Yin Ping:
"Toaci, kau ini........kalau memang orang
she-Im itu begitu tega menyaksikan kau menderita tanpa menggubris,
buat apa pula kau mesti memikirkan mati hidupnya?"
"Aaaai.......dia..... dia sendiipun tidak
berdaya, kecuali dia berani menghianati perguruan" ucap Yin Siok
dengan air mata berlinang.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak
Leng Cing-peng, selanya dengan suara gemetar:
"Locianpwee dari.....dari marga Im itu
apakah anggota Perguruan Tay ki bun?"
"Darimana kau......kau bisa tahu?"
"Pengalaman yang dialami cici ku tidak jauh
berbeda dengan pengalaman yang locianpwee alami,
bahkan........bahkan lebih mengenaskan lagi"
"Sung.....sungguh?"
"Toaci ku juga selamatkan seorang murid
bermarga Im dari Perguruan Tay ki bun didalam benteng kami,
gara-gara kejadian itu dia jatuh cinta bahkan sempat melahirkan
seorang anak dari nya........"
"Bagaimana kemudian?"
"Kemudian.... kejadian ini ketahuan ciang
bunjin dari Perguruan Tay ki bun, kakak iparku dijatuhi
hukuman mati...... tubuhnya hancur setelah
dipisahkan dengan lima ekor kuda!" cerita Leng Cing-peng sambil
menangis.
Sesudah menarik napas panjang, lanjutnya:
"Padahal ciang bunjin dari Perguruan Tay ki
bun tidak lain adalah ayah kandung kakak iparku!"
Sekujur tubuh Yin Siok gemetar keras, sampai
lama kemudian dia tidak mampu berkata-kata.
Sementara Yin Ping dengan gemas berseru:
"Ciang bunjin dari Perguruan Tay ki bun itu
benar-benar manusia tidak berperasaan, bila bertemu dengannya, aku
pasti akan membelah dadanya, mengorek keluar hatinya dan memeriksa
sesungguhnya hatinya terbuat dari apa!"
"Pengalaman tragis yang dialaminya dimasa
lampau sama persis seperti kejadian itu, dulu diapun pernah
mencintai seorang gadis, tapi gadis itu ada hubungan dengan keluarga
musuhnya............."
Ketika secara tiba-tiba dia mengungkap
rahasia besar dunia persilatan yang belum pernah terdengar
sebelumnya ini, semua orang merasa terperanjat hingga tanpa terasa
berseru berbareng:
"Sungguh?" Yin Siok tertawa pedih.
"Tampaknya kejadian ini ketahuan juga oleh
ayahnya. Tapi dia benar-benar tega, perempuan itu dia dorong masuk
ke dalam jurang dalam keadaan hidup-hidup!"
"Lalu siapa.....siapa lelaki yang........"
tidak tahan Leng Cing-peng bertanya,
"Suamiku bernama Im Kiu-siau, dia adalah
adik kandungnya"
Untuk kesekian kalinya Leng Cing-peng
terperanjat, ujarnya gemetar:
"Kalau dia....... dia sendiri pernah
mengalami penderitaan semacam ini, kenapa sikapnya terhadap adik
kandung dan putra kandung sendiripun begitu keji dan tega?"
Yin Siok mendongakkan kepalanya menghela
napas panjang.
"Aaaai.... inilah tradisi turun temurun dari
Perguruan Tay ki bun, generasi demi generasi mereka selalu terapkan
peraturan semacam ini, bahkan....."
Tiba-tiba dia tertawa pedih, terusnya:
Bahkan aku dengar setiap generasi murid
Perguruan Tay ki bun selalu mengalami nasib tragis semacam ini!"
Kejadian ini benar-benar merupakan satu
kejadian yang mengejutkan, sebuah rahasia besar yang menggidikkan
hati, semua orang tertegun, semua orang terperangah, mereka seolah
setengah percaya dengan apa yang didengar.
Lewat berapa saat kemudian kembali Yin Ping
bertanya:
"Heran, kenapa aku tidak pernah mendengar
orang membicarakan masalah ini? Toaci, darimana kau.......kau tahu
akan hal ini?"
Paras muka Yin Siok bertambah misterius,
sahutnya perlahan:
"Tentu saja aku tahu........ aku yakin
di kemudian hari kalian pun bakal tahu dengan sendirinya bahkan tahu
lebih banyak ketimbang sekarang"
"Kenapa?" Yin Ping semakin tercengang.
"Karena Pulau Siang cun-to adalah.........."
Mendadak dari puncak tebing berkumandang
suara lonceng yang dibunyikan nyaring, suara itu menggaung ke
angkasa dan mendengung hingga menembusi awan.
Dua orang gadis berbaju hitam dengan
membawa keranjang bambu muncul dari balik suara lonceng dan
berjalan mendekat, dari tempat kejauhan mereka telah berteriak
keras:
"Nenek, lagi-lagi akan merepotkanmu untuk
menghantar nasi"
"Menghantar nasi untuk siapa?" tanya Yin Gi.
Belum sempat Yin Siok menjawab, nona berbaju
hitam itu sudah melompat naik ke atas perahu dan berkata sambil
tertawa:
"Kalian baru tiba disini, kenapa bisa begitu
akrab dengan nenek?"
Rupanya mereka berdua tidak tahu kalau
beberapa orang itu masih bersaudara, Yin Siok sendiripun tidak
memberi penjelasan apapun, paras mukanya telah pulih kembali jadi
dingin dan hambar, hanya ujarnya hambar:
"Aku akan pergi menghantar nasi, kalian
boleh pergi dari sini"
"Betul" ujar si nona pula sambil tertawa,
"biarkan nenek pergi menghantar nasi duluan, sekembalinya nanti
kita bisa berbincang-bincang lagi, kalau sampai membiarkan orang
lain kelaparan, bisa berabe jadinya"
Si nona yang satunya berkata sambil tertawa:
"Kalian baru datang kemari, sementara kami pun sedang menganggur,
selesai bersantap biarlah kami hantar kalian semua untuk
melihat-lihat keadaan diseputar sini"
Yin Gi maupun Yin Ping hanya tersenyum
sambil mengucapkan terima kasih.
Kini, mereka berempat semakin curiga,
semakin tidak habis mengerti, sebenarnya Pulau Siang cun-to adalah
tempat apa? Apa pula hubungannya dengan sejarah Perguruan Tay ki
bun? Yin Siok terburu-buru pergi menghantar nasi, dia pergi
menghantar nasi untuk siapa?
Dalam keadaan dan saat seperti ini,
sekalipun mereka berempat penuh diliputi tanda tanya, yang bisa
dilakukan hanya menunggu kedatangan Yin Siok untuk menjawab semua
pertanyaan ini, maka setelah saling memberi hormat ke empat orang
itupun beranjak pergi.
Cahaya sang surya telah memancarkan sinar
keemasannya ke seluruh penjuru tempat, permukaan laut tenang
bagaikan cermin, selapis cahaya kuning seakan menyelimuti seluruh
permukaan.
Tiba tiba Leng Cing-peng berlarian balik ke
tepi pantai sambil berseru keras:
"Nenek, nenek........*
"Ada apa?" tanya Yin Siok seraya berpaling.
"Bila dari seberang sana ada seseorang yang
bernama Thiat Tiong-tong ingin datang kemari, tolong nenek, baik
buruk bawalah dia kemari, jangan lupa"
Sewaktu berada diatas perahunya ratu tawon,
dia sebenarnya mengira Thiat Tiong-tong sudah mati tercebur ke dalam
air, tapi kemudian ketika bersama Kiu cu Kui bo mereka menyatroni
istana kaisar langit, meski selama berjaga diluar istana tidak
sempat menjumpai Thiat Tiong-tong, namun dia sempat mendapat kabar
tentang pemuda itu, bahkan dia pun sempat mendengar kalau anak muda
itu sedang melakukan perjalanan menuju Pulau Siang cun-to.
"Siapakah orang itu?" tanya Yin Siok
kemudian dengan kening berkerut.
"Dia......dia adalah anak murid Perguruan
Tay ki bun"
"Maksudmu orang itu adalah jiko dari bocah
muda dari marga Im itu?" tanya Yin Siok dengan kening makin berkerut.
“Betul” seru Leng Cing-peng kegirangan, "dari
mana nenek bisa kenal dengannya?"
Yin Siok mendengus dingin.
"Dia tidak bakal datang lagi!"
"Kenapa dia tidak bakal datang?"
"Karena dia sudah tercebur ke dalam laut,
bahkan jenasahnya pun tidak berhasil ditemukan!"
"Apa..... apa kau bilang?" seru Leng
Cing-peng terperanjat.
"Dia sudah mati!"
Leng Cing-peng merasakan tubuhnya bergetar
keras, tiba-tiba kakinya jadi lemas dan seketika itu juga nona itu
roboh tidak sadarkan diri ditepi pantai.
Menyaksikan tubuh Leng Cing-peng yang roboh
terjungkal, kembali Yin Siok menghela napas panjang, gumamnya:
"Untung Thiat Tiong-tong sudah mati, kalau
tidak, penderitaan yang bakal dialami bocah ini bakal bertambah
panjang!"
Lewat berapa saat kemudian kembali dia
bergumam:
"Bocah ini sudah tahu kalau anggota
Perguruan Tay ki bun adalah manusia yang tidak berperasaan dan tidak
kenal budi, bahkan tadipun dia sempat memaki anak murid Perguruan
Tay ki bun sebagai manusia tidak berperasaan, kenapa secara
tiba-tiba menaruh perhatian yang luar biasa terhadap anggota
Hiat-hiat Tay ki bun? Jangan-jangan orang she-Thiat itu sama seperti
Im Kiu-siau dimasa mudanya dulu, memiliki bagian yang memikat hati
kaum wanita,......aaai! untung Thiat Tiong-tong sudah mati......untung
dia sudah mati........."