pendekar panji sakti 07
BAB 19
Perempuan bercadar dari kahyangan.
Setelah berada dalam ruangan seorang diri,
Thiat Tiong-tong mulai memperhatikan setiap lukisan yang ada di
dinding sekeliling tempat itu, ternyata setiap gerakan yang
terpampang disana merupakan sebuah gerak serangan yang amat tangguh.
Biarpun ada diantara ukiran itu yang satu
lukisan merupakan satu gerakan jurus, tapi ada pula yang harus
dirangkai dari lima, tujuh ukiran untuk membentuk satu jurus
serangan, tapi setiap gerakan yang tertera boleh dibilang ada
sangkut pautnya antara yang satu dengan lainnya, semua merupakan
gerakan jurus langka yang mengerikan.
Thiat Tiong-tong kembali berpikir:
"Manusia aneh ini berjiwa besar tapi sayang
wataknya sedikit nyentrik, susah untuk dibedakan baik buruknya, tapi
kalau tidak aneh, mana mungkin dengan segampang itu dia serahkan
rahasia ilmu silat yang begini hebat kepada orang lain?"
Dasarnya dia memang gemar belajar silat,
tidak terkirakan rasa gembiranya setelah mene-mukan pelajaran ilmu
silat yang begini hebat, cepat dia membuang seluruh pikirannya dan
pusatkan segenap perhatiannya untuk mempelajari jurus-jurus silat
itu.
Seorang nona dengan membawa alat waktu yang
berisi pasir berjalan masuk, katanya sambil tertawa:
"Bila pasir yang ada diatas gelas ini habis
tertumpah ke bawah, berarti satu hari telah berlalu"
Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang pusatkan
seluruh perhatiannya untuk mempelajari jurus silat, dia hanya
mengiakan sekenanya tanpa berpaling sedikit pun.
Dia mencoba membandingkan antara jurus silat
yang berada diatas dinding dengan jurus silat yang dipergunakan
kawanan gadis tadi, segera terasa bahwa ilmu pukulan melepaskan
pakaian yang digunakan gadis gadis itu meski tangguh dan ampuh,
namun jurus silat yang tertera diatas dinding justru merupakan
tandingan dari serangan mereka.
Terkadang jurus serangan itu nampaknya
sangat biasa dan sederhana, tapi bila direnungkan kembali maka
terasalah bila serangan tersebut mampu membuat para gadis itu serasa
terbelenggu dan tidak sanggup melakukan serangan lagi.
Thiat Tiong-tong benar-benar dibuat mabuk
kepayang, makin diperhatikan semakin terlihat semua kelebihan dan
kesaktian jurus serangan itu, sampai pada akhirnya dia mulai
menemukan jurus-jurus pertahanan yang tertera diatas dinding itu,
jurus pertahanan yang meliputi: mengunci, menutup, menghadang,
memotong, membelenggu dan lain-lainnya.
Bila direnungkan lebih mendalam maka
ditemukan bahwa semua jurus pertahanan itu kelihatannya sengaja
diciptakan untuk menghadapi jurus jurus serangan dari ilmu pukulan
melepaskan baju yang mengutamakan tehnik menendang, memukul,
menyambar, menusuk, membacok dan mengait.
Thiat Tiong-tong termasuk seorang pemuda
cerdas yang encer otaknya, dalam sekilas pandang saja dia sudah
menemukan semua kelebihan yang dimiliki jurus serangan itu, tidak
tahan pikirnya sambil menghela napas:
"Kalau bukan manusia sakti, bagaimana
mungkin dapat menciptakan jurus serangan sehebat ini?"
Menanti dia tengok kembali tabung pasir
penunjuk waktu, dijumpai bahwa pasir yang ada diatas telah habis,
ini menunjukkan kalau satu hari telah dilewatkan tanpa terasa.
Waktu boleh berlalu dengan cepat, tapi perut
yang lapar tidak bisa dibiarkan begitu saja, sekarang Thiat
Tiong-tong baru merasa kelaparan.
Buah-buahan serta minuman yang ada diatas
meja entah sejak kapan sudah diambil pergi, disitu hanya nampak
seorang nona muda yang sedang berdiri mengawasinya sambil tertawa.
"Nona!" tanpa terasa Thiat Tiong-tong maju
menghampiri seraya menjura.
"Ada apa? Kelaparan?" tukas nona itu sambil
tertawa.
Thiat Tiong-tong tertegun, serunya tergagap:
"Dari mana nona bisa tahu?"
Kembali nona muda itu tertawa hingga nampak
sepasang lesung pipinya yang dalam, ujarnya:
"Sudah cukup lama kunantikan perkataanmu
itu, tapi nampaknya perutmu sama sekali tidak ambil perduli atas
teriakan lapar....."
Nona ini meski tidak terlampau cantik, namun
kulit tubuhnya putih dan kerlingan matanya indah, dia tampil dengan
membawa sebuah gaya yang cukup mengesankan.
"Bila nona tidak keberatan, bolehkah aku
minta sedikit makanan......"
Nona itu kembali tertawa, sambil membenahi
rambutnya yang panjang dia menukas:
"Dia minum cuka (cemburu), kau makan hati,
masa sudah lupa dengan perkataan itu? Lagipula......."
Setelah tertawa terkekeh lanjutnya:
"Biarpun dikolong langit terdapat lelaki
yang berjiwa besar, tidak mungkin akan menyiapkan hidangan lezat
untuk menjamu musuh cintanya bukan?"
Kembali Thiat Tiong-tong tertegun.
"Jadi.....jadi........."
Sekarang dia baru mengerti apa yang
dikatakan manusia aneh itu sebagai "latihlah ketahanan tubuh dengan
lapar", cuma......tanpa makan dan minum, sanggupkah dia bertahan
selama tujuh hari?
Sambil mengerdipkan matanya yang jeli, nona
itu membaringkan diri diatas ranjang batu lalu katanya lagi:
"Dia suruh aku menyampaikan kepadamu, boleh
saja bila ingin makanan dan minuman, cuma......."
Dia menutup mulutnya dengan tangan sambil
tertawa dan tidak melanjutkan kembali kata katanya.
"Cuma kenapa?" tanya Thiat Tiong-tong tanpa
sadar.
"Bila kau tidak bermusuhan lagi dengannya
berarti kau adalah tamunya, tentu saja sebagai tuan rumah yang baik
dia akan menjamu tamunya dengan baik, kalau tidak...... maka
dia akan menyiapkan hidangan bila kaupun bekerja untuknya",
"Ooh, jadi ini yang dimaksud sebagai
latihlah otot dan tulang dengan keletihan!" kembali pemuda itu
berpikir, meski kheki namun diapun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi dia suruh aku mengerjakan apa?"
tanyanya kemudian sambil menghela napas.
Nona itu sengaja membalikkan sedikit
tubuhnya hingga nampak paha nya yang putih mulus, sambil tertawa
genit sahutnya:
"Mengerjakan apa? Itu mah harus menunggu
perintah dariku"
Biarpun gadis itu telah beberapa kali
berganti gaya untuk menggodanya, Thiat Tiong-tong berlagak seolah
sama sekali tidak melihat, katanya kemudian dengan nadaketus:
"Kalau memang begitu silahkan nona memberi
perintah!"
Tiba-tiba nona itu bangkit berdiri,
umpatnya: "Buta, buta, memangnya kau seorang lelaki buta?"
Selama ini dia menganggap dirinya adalah
seorang nona yang gampang membuat lelaki terangsang dan tergoda, dia
jadi mendongkol bercampur jengkel setelah melihat sikap dingin
pemuda itu.
Setelah memutar biji matanya berulang kali,
tiba-tiba ujarnya sambil tertawa:
"Baik, aku akan segera memberi perintah,
cepat pijat dulu badanku kemudian pijat kakiku!"
Sambil berkata dia berbaring kembali ke atas
ranjang sambil memperlihatkan sepasang pahanya yangputih mulus.
Andaikata Im Ceng yang menghadapi kejadian
seperti ini, niscaya dia sudah melontarkan pukulannya tanpa
berpikir panjang, sebaliknya bila Sim Sin-pek yang menghadapi
kejadian ini..... hmmm, dapat dipastikan kejadiannya pasti berbeda.
Tapi Thiat Tiong-tong hanya tersenyum, dia
benar-benar duduk disamping ranjang dan mulai memijat kaki nona itu.
Sepasang kaki yang dimiliki nona itu
benar-benar putih mulus tanpa cacad, dari tumit hingga ke pahanya
selain empuk, putih dan halus, boleh dibilang tidak nampak setitik
noda hitampun.
Lama-kelamaan Thiat Tiong-tong terangsang
juga dibuatnya, sekarang dia baru tahu kalau setiap bagian tubuh
yang dimiliki gadis itu benar-benar menarik dan menggoda napsu.
Melihat perubahan yang ditampilkan Thiat
Tiong-tong, nona itu segera tertawa cekikikan, serunya:
Ternyata kau tidak buta!"
Kakinya yang mulus segera diangkat dan
didekatkan ke wajah pemuda itu.
Mengendus bau harum semerbak, Thiat
Tiong-tong justru tersadar kembali dari kesilafannya, sambil tertawa
katanya:
"Sungguh tidak kusangka wajah serta potongan
badanmu sangat menggoda hati lelaki........."
Mendadak dari luar pintu terdengar seseorang
berkata sambil tertawa:
"Nona Sui, coba lihat lelaki gagah pujaan
hatimu, tidak kusangka dia hebat juga dalam soal rayuan......."
Nona yang berbaring diatas ranjang itu ikut
tertawa terkekeh sambil berkata:
"Bukan Cuma soal rayuannya hebat,
pijatan-nya juga sangat enak..... aduuh.... pelan dikit.... yaa.
Pijat lebih ke atas......"
Tanpa berpaling pun Thiat Tiong-tong tahu
kalau manusia aneh itu sengaja hendak mempermalukan dirinya dengan
membawa Sui Lengkong datang menonton, tapi dia menanggapi
kesemuanya itu dengan senyuman.
Terdengar Sui Leng-kong berkata lembut:
"Bila tidak berbuat begitu, mana mungkin ia
bisa bertahan selama tujuh hari, dia.... dia berbuat kesemuanya itu
demi aku, semakin banyak siksaan yang dia derita, aku akan semakin
baik terhadapnya, lagipula..... biarpun dia mencintai gadis lain,
aku tetap akan mencintainya"
Perkataan itu disampaikan dengan sederhana
tapi cukup membuat orang tidak mampu membantah.
Meski Thiat Tiong-tong hanya tersenyum saja
setelah mendengar perkataan itu, namun pelbagai perasaan berkecamuk
dalam hatinya.
Untuk sesaat suasana jadi sangat hening,
tampaknya manusia aneh itu sudah dibuat tertegun oleh perkataan
tadi.
Terdengar Yin Ping menghela napas sambil
bergumam:
"Tidak aneh kalau pemuda itu berpaling pun
tidak, ternyata dia sudah tahu kalau nona Sui sangat mempercayainya"
Setelah menghela napas
panjang, kembali gumamnya:
"Kalau sudah seia sekata,
kenapa takut menghadapi godaan iblis........"
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, dia
tahu perempuan itu sengaja hendak membuat jengkel manusia aneh itu.
Siapa tahu manusia aneh itu tidak menjadi
marah, malah ujarnya sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha....... sungguh kagum melihat Sui
Leng-kong yang tidak cemburuan, sayang aku tidak punya rejeki untuk
mendapatkan nya. Baiklah, anggap kerja rodi hari ini telah usai,
beri dia makanan!"
Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menghentikan
pijatannya, pikirnya:
"Ternyata dia memang tidak malu disebut
seorang lelaki sejati"
Dua orang nona muncul membawa pelbagai
hidangan, Thiat Tiong-tong yang sejak tadi sudah kelaparan tidak
membuang waktu lagi, dia siap menerkam semua hidangan yang ada.
Siapa tahu si nona kembali menghalangi
niatnya itu, katanya sambil tertawa ringan:
"Hidangan ini disiapkan khusus untuk
majikan, kalau kuli mah makan disebelah sana"
Sambil berkata ia menuding ke arah lain.
Thiat Tiong-tong berpaling ke arah yang
ditunjuk, diatas sebuah baki kayu tersedia semangkuk air putih dan
sebiji mantau keras.
Tapi mana mungkin sebiji mantou bisa membuat
kenyang perutnya yang sedang lapar? Masih mending kalau tidak
dimakan, begitu selesai melahap mantau tersebut, dia merasa semakin
kelaparan hingga susah ditahan.
Tampak nona muda itu dengan nikmatnya
melahap hidangan yang tersedia, sembari bersantap katanya tertawa:
"Kalau kau hentikan perlawanan, apa pun yang
ingin kau santap, kami pasti akan mempersiapkannya,
lagipula........"
Setelah mengerling genit, tambahnya:
"Kau boleh membawa pergi semua barang
berharga serta gadis cantik yang ada disini, aku...aku pun bersedia
pergi mengikutimu!"
Dia sengaja menyingkap belahan bajunya
hingga secara lamat lamat tampak kulit badannya yang putih mulus.
Thiat Tiong-tong hanya melirik sekejap ayam
goreng serta bebek panggang yang ada diatas meja, kemudian setelah
menghela napas panjang dia berjalan balik ke depan dinding ruangan.
Nona muda itu tertawa dingin, tiba-tiba dia
melompat turun dari ranjang batunya lalu dengan cepat melepaskan
seluruh pakaian yang dikenakan, teriaknya keras:
"Coba lihat, apakah aku kalah bila
dibandingkan dengan dia?"
Tubuh bugil yang indah, putih dan montok
segera terpampang jelas di depan mata.
Thiat Tiong-tong hanya berpaling sambil
melirik sekejap, kemudian sambil tertawa dia melanjutkan kembali
pengamatannya keatas dinding, sama sekali tidak ambil perduli lagi.
Andaikata dia tidak berani berpaling tadi,
mungkin si nona muda itu tidak terlalu kheki, namun pemuda itu
berpaling tanpa terpikat sedikitpun, hal ini membuat si nona merasa
seakan dipermalukan, tiba-tiba diambilnya seluruh pakaiannya dari
lantai kemudian satu demi satu ditimpukkan keatas wajah Thiat
Tiong-tong.
Begitulah, selama berapa hari beruntun nona
itu berusaha dengan pelbagai cara untuk menyiksa Thiat Tiong-tong,
bukan saja semakin sering harus kerja rodi, mantau yang disediakan
pun makin lama semakin bertambah kecil.
Selama itu, manusia aneh itupun berulang
kali mengajak Yin Ping dan Sui Leng-kong sekalian untuk makan minum
berpesta pora disekitar sana, tapi Thia Tiong-tong tetap acuh,
seakan-akan dia tidak pernah menyaksikan kejadian seperti itu.
Seluruh pikiran dan perhatiannya tertuju
diatas dinding, mempelajari seluruh gerak silat yang tertera disana,
diapun merasa mendapat kemajuan yang pesat, dengan dasar ilmu silat
yang dimiliki ditambah kecerdasan otak serta daya ingatnya yang
bagus, tentu saja tidak sulit baginya untuk menyerap semua pelajaran
yang ada.
Menjelang hari ke tujuh, nyaris seluruh
lukisan yang tertera diatas dinding sudah berhasil dia hapalkan
diluar kepala, dia yakin dengan menggunakan jurus serangan apapun,
mustahil pihak lawan bisa merobohkan dirinya.
Saat itu, kendatipun kondisi tubuhnya sudah
melemah namun semangatnya justru semakin berkobar, seluruh tubuhnya
seakan dipenuhi oleh kekuatan hidup yang menyala.
Mendadak nona muda itu muncul kembali, duduk
persis dihadapannya, lalu ujarnya sambil tertawa:
"Hari ini adalah hari ke tujuh, kalau selama
ini sikapku kurang baik terhadapmu, harap kau jangan marah"
"Nona merpati tidak usah sungkan, masa aku
akan menyalahkan dirimu" sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa.
Kini dia sudah mengetahui nama gadis ini,
ternyata semua gadis yang ada disitu diberi nama dengan sebutan
unggas.
Nona merpati menghela napas panjang, katanya
lagi:
"Berapa jam lagi kita akan bertarung
kembali, kali inipun kau tidak bakalan menang, jadi tidak perlu
menaruh pengharapan yang terlalu besar"
Tampaknya Thiat Tiong-tong sudah mempunyai
rencana yang matang, sahutnya sambil tertawa:
“Aku hanya berharap nona mau bersikap lebih
sungkan"
"Aku sendiri mah tidak bakalan menyusahkan
kau, tapi ke enam saudaraku yang lain........."
Belum selesai nona itu berbicara, tiba-tiba
Thiat Tiong-tong merasakan telinganya amat sakit bagai tersambar
geledek saja, membuat perasaan hatinya bergetar
keras hingga tidak sanggup bergerak.
Semula dia mengira dengan kemampuannya
sekarang pasti akan berhasil membendung semua serangan dari kawanan
gadis itu, tapi setelah diingatkan kembali oleh nona merpati bahwa
mereka bukan hanya terdiri dari satu orang melainkan bertujuh,
hatinya tersentak kaget.
Dengan kerja sama tujuh orang, bila gerak
serangan seseorang terbendung, rekannya dapat segera menutup
kegagalan itu.
Apalagi sisa waktunya tinggal tiga, empat
jam lagi, mungkinkah baginya untuk menemukan jalan lain yang bisa
digunakan untuk menghadapi kerja sama tujuh orang itu?
Untuk sesaat pemuda itu hanya bisa berdiri
kaku dengan keringat bercucuran deras.
"Hey, kenapa kau?" tanya nona merpati
keheranan.
Sambil tertawa getir sahut Thiat Tiong-tong:
"Hanya sisa berapa jam terakhir pun apa nona tidak bisa membiarkan
aku beristirahat sejenak dengan tenang?"
Ketika menyaksikan perubahan sikap maupun
wajah sang pemuda yang semula begitu bersemangat, tiba-tiba berubah
jadi sangat aneh, nona merpati menghela napas panjang, tanpa bicara
lagi dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Thiat Tiong-tong duduk seorang diri dengan
pikiran kusut dan perasaan putus asa, hilang sudah semangat dan
minatnya untuk mempelajari sisa berapa jurus silat itu.
Kini kondisi musuh yang jauh lebih kuat
sudah tertera jelas, dia sadar kendatipun dia memiliki kemampuan
yang lebih hebatpun mustahil bisa digunakan dalam keadaan seperti
ini. Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, baru kali ini dia
merasa sedih bercampur kecewa.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya
keheningan dipecahkan oleh gelak tertawa manusia aneh yang muncul
diiringi Yin Ping, Sui Leng-kong serta kawanan gadis cantik itu.
Tujuh hari sudah lewat, kau telah siap?"
tegur manusia aneh itu sambil tertawa.
"Sudah!" jawab ThiatTiong-tong kaku.
"Bila kali ini kau menderita kekalahan lagi,
aku segera akan menghantar kau turun gunung, tapi......hahaha.....
karena kuanggap tidak terlalu besar kesempatanmu untuk meraih
kemenangan, lagi pula sudah berhari-hari kau menderita kelaparan,
baiklah kita bersantap dulu sebelum melanjutkan pertarungan!"
Thiat Tiong-tong tidak ingin berdebat, maka
tidak selang berapa saat kemudian hidangan telah disiapkan.
Beberapa saat kemudian terlihat ke tujuh
orang nona muda itu sudah munculkan diri di dalam ruangan.
Pakaian yang dikenakan kawanan nona itu
masih terdiri dari pelbagai macam warna, hanya kali ini jumlah yang
mereka kenakan jauh lebih banyak.
Diantara mereka bertujuh, nona merpati
dengan baju coklatnya yang nampak paling menawan hati.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, pikirnya:
"Buat apa mereka mengenakan pakaian yang
lebih banyak dan sengaja memperpanjang waktu, toh aku........."
Satu ingatan tiba-tiba melintas lewat dalam
benaknya, sambil tertawa terbahak-bahak dia segera bangkit berdiri.
Sui Leng-kong paling kuatir melihat
perubahan sikap pemuda itu, segera teriaknya: "Ke.....kenapa kau?"
Thiat Tiong-tong tidak menjawab, dia mulai
duduk dan bersantap, setelah kenyang dan semangatnya bertambah
kembali, dia baru melompat bangun.
"Sekarang sudah dapat dimulai?" tanya
manusia aneh itu kemudian sambil tersenyum.
Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba dia melucuti pakaian sendiri satu
per satu, sambil melepaskan bajunya diam-diam dia melirik sekejap ke
arah lawan.
Benar saja, paras muka manusia aneh itu
seketika berubah hebat.
Sui Leng-kong turut panik juga, teriaknya:
"Kau.....kau......."
Dengan bertelanjang dada, Thiat Tiong-tong
menyerahkan pakaiannya ke tangan Sui Leng-kong.
Dengan termangu nona itu menerimanya, tapi
setelah tertegun berapa saat, mendadak dia bertepuk tangan dan
serunya sambil tertawa:
"Kau......kau menang! Kau menang!"
Sambil melompat bangun, dia menggenggam
tangan Thiat Tiong-tong erat-erat dan melompat-lompat saking
girangnya.
"Kau memang bocah pintar!” puji Yin Ping
pula sambil tertawa.
Kawanan nona cantik itu saling bertukar
pandangan, mereka betul-betul dibuat tidak habis mengerti.
Salah seorang diantaranya segera berteriak:
"Bertarung saja belum, bagaimana mungkin bisa menang?"
Oleh karena selama ini belum pernah seorang
manusia pun mampu menjebol barisan mereka, maka mereka pun tidak
tahu bagaimana cara untuk menjebol ilmu barisan tersebut.
Sambil tertawa terbahak-bahak seru Thiat
Tiong-tong:
"Apakah celana termasuk baju?"
Kawanan gadis itu kembali tertegun.
"Celana ya celana, tentu saja bukan pakaian"
sahut nona berbaju merah itu kemudian.
Dia mengira pemuda itu sudah pikun hingga
mengajukan pertanyaan semacam itu.
"Kalau celana tidak termasuk baju, maka
sekarang aku sudah tidak mengenakan pakaian lagi, padahal taruhan
kita adalah bila kalian sampai selesai melepaskan pakaian yang
dikenakan namun belum berhasil melepaskan sebuah pakaianku pun,
berarti akulah yang menang. Kini aku tidak mengenakan pakaian,
sekalipun akhirnya berhasil kalian robohkan pun, kemenangan tetap
menjadi milikku"
Kawanan gadis itu jadi melongo dan berdiri
terbelalak, serentak mereka berpaling ke arah manusia aneh itu.
Tampak manusia aneh itu masih duduk bersila
diatas ranjang tanpa bicara, wajahnya kaku tanpa perubahan.
Nona berbaju merah itu segera memprotes:
"Kenapa kau..... kau melepas dulu pakaian-mu......"
"Kalian saja boleh menambah pakaian yang
dikenakan, kenapa aku tidak boleh mengurangi?" tukas Thiat
Tiong-tong cepat, "apalagi sebelum pertarungan dimulai, toh tidak
ada ketentuan berapa banyak pakaian yang harus kukenakan" Sesudah
menghela napas panjang, lanjutnya: "Ilmu barisan ini boleh dibilang
merupakan sebuah ilmu barisan yang amat langka, cara untuk menjebol
barisan inipun sangat unik, boleh dibilang
kehebatannya tidak terkirakan di kolong langit!"
"Tapi......tapi........"
"Tidak usah bicara lagi" tiba-tiba manusia
aneh itu menghardik, "anggap saja dia yang menang. Kalau tidak
berbuat begitu, siapa yang mampu mempelajari ilmu untuk menjebol
barisan tersebut hanya dalam tujuh hari yang singkat!"
"Berarti dahulu kaupun menggunakan cara yang
sama untuk memenangkan pertaruhan ini?" tanya Yin Ping sambil
tertawa.
"Benar" jawab manusia aneh itu sambil
tertawa tergelak.
Kembali Yin Ping menghela napas panjang,
ujarnya sambil tersenyum:
"Walaupun kau adalah srigala pemogoran,
ternyata sikapmu sangat terbuka dan berani mengaku terus terang"
Sorot matanya dipenuhi dengan pancaran sinar
pujian serta rasa kagum.
Walaupun manusia aneh itu berlagak seolah
tidak mendengar, namun tidak dapat menutupi rasa bangga yang tampil
diwajahnya.
Terdengar Yin Ping berkata lebih jauh:
"Bukan saja berterus terang bahkan adil dan
bijaksana, bila kau sengaja mengajukan persoalan yang pelik untuk
mengajaknya bertaruh, bukankah kemenangan pasti berada dipihakmu?"
Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong saling
bertukar pandangan sekejap, dalam hati kecilnya mereka berpikir:
"Benar juga perkataan ini"
Sui Leng-kong menatap sekejap wajah manusia
aneh yang sedang diliputi perasaan bangga itu, tiba-tiba ujarnya:
"Ada orang berkata, bila dirinya dipuji oleh
orang yang dicintai, maka rasa gembiranya akan luar biasa sekali"
"Memang begitu"
"Ada pula orang berkata, perempuan hanya
bisa memuji orang yang dicintai, bila dia tidak menyukai orang itu,
jangan harap dia akan mengucapkan kata-kata pujian"
"Adik cilik, tidak nyana kaupun sangat
memahami hal semacam itu" seru Yin Ping sambil tertawa terkekeh.
"Kalau memang kau menaruh cinta kepadanya
sementara diapun menaruh perasaan kepadamu, kenapa kalian berdua
tidak hidup berdampingan hingga tua nanti? Kenapa kalian harus
memberi kesempatan kepada pihak ke tiga untuk mengacau hubungan
kalian berdua? Kalau berganti aku yang menghadapi kejadian seperti
ini........ aaai, oleh sebab itulah aku sungguh tidak mengerti,
kenapa kalian berdua harus......harus berbuat begini?"
Mendengar perkataan itu, senyuman yang
menghiasi wajah Yin Ping maupun manusia aneh itu hilang seketika,
sinar aneh memancar keluar dari balik mata perempuan itu.
Manusia aneh itu menarik mukanya dan segera
berkata dingin:
"Hmm, kau jangan keburu senang dulu, barisan
yang berhasil kau lalui baru setengahnya, apalagi masih ada delapan
pintu lain yang menanti, delapan pintu dengan delapan persoalan
sulit, ingin lolos dari delapan pintu itu secara gampang? Huuh,
tidak usah bermimpi disiang hari bolong"
"Betul, memang lebih sulit lolos dari ke
delapan pintu itu ketimbang naik ke langit" sambung Yin Ping sambil
membelai bulu Ping-nu, si kucing kesayangannya, "untung
saja sisa waktu yang tersedia sudah tidak banyak lagi"
Berubah paras muka Thiat Tiong-tong maupun
manusia aneh itu, tanya mereka serentak:
"Apa maksud perkataammu itu?"
Baru selesai mereka bertanya, mendadak
terdengar suara keleningan emas berkumandang datang dari kejauhan.
Perlahan-lahan Yin Ping melompat turun dari
pembaringannya, setelah menyapu sekeliling tempat itu sekejap,
katanya:
"Coba dengar, suara keleningan kembali
berbunyi, bukankah kita sudah kedatangan tamu lagi!"
Manusia aneh itu memandang dua kejap ke
arahnya, kemudian tanpa banyak bicara dia melompat turun dari
ranjangnya dan beranjak pergi dengan langkah lebar.
Melihat wajah serius yang ditampilkan
manusia aneh itu, tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong, tanpa
terasa dia berpaling pula ke arah kawanan gadis itu.
Ternyata mereka pun memperlihatkan wajah
kaget bercampur keheranan.
Dengan kening berkerut terdengar nona
merpati berkata:
"Sudah banyak tahun lembah kami jarang
didatangi orang luar, siapa pula yang datang kali ini? Apakah Yin
hujin sudah menduga jauh sebelumnya?"
Yin Ping tidak menggubris pertanyaan itu,
sambil membelai Ping-nu, kucingnya, dia berkata:
"Sayangku, disini bakal ada keramaian, mau
ikut lihat?"
Sembari berkata, diapun ikut beranjak pergi.
Kawanan nona itu saling bertukar pandangan
dengan wajah tertegun, kembali terdengar nona merpati berkata:
"Kau ingin tetap tinggal disini, atau ikut
bersama kami?"
Thiat Tiong-tong tahu, andaikata dia tetap
tinggal disitu, dapat dipastikan pintu ruangan akan ditutup kembali,
maka tanpa ragu jawabnya sambil tertawa:
Tentu saja ikut menonton keramaian"
Walaupun kawanan gadis itu tahu kalau
gelagat tidak beres, namun mereka masih tersenyum sambil saling
bergurau, mengiringi Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong, tibalah
semua orang di sebuah bangunan gedung yang amat besar.
Namun kawanan gadis itu tidak berani masuk,
mereka hanya mengintip secara diam-diam dari balik jendela.
Gedung itu amat besar dan luas, kecuali batu
batu pilar besar boleh dibilang tidak ada perabot lainnya, ke empat
dinding batunya memancarkan sinar kehijauan yang menyeramkan, jauh
berbeda dengan kemewahan dari ruangan semula.
Manusia aneh itu berdiri ditengah ruangan,
kini dia telah berganti pakaian dengan mengenakan satu stel baju
berwarna hitam, kepalanya diikat dengan tali berwarna hiam pula,
wajahnya tanpa senyuman dan sikapnya secara tiba-tiba berubah jadi
amat serius.
Thiat Tiong-tong sangat keheranan, dia tidak
habis mengerti apa sebabnya sikap manusia aneh itu berubah jadi
begitu serius, seolah-olah sedang menghadapi serbuan musuh tangguh
saja.
Tentu saja dia tidak tahu kalau lembah
tersebut sudah banyak tahun tidak pernah dikunjungi
orang luar, kehadiran orang-orang asing tersebut sungguh diluar
dugaannya.
Tentu saja kehadiran Thiat Tiong-tong di
lembah tersebut merupakan pengecualian, karena kehadiran pemuda itu
sudah seijin dan sepengetahuan manusia aneh itu.
Yin Ping sambil membopong kucingnya berdiri
jauh disudut ruangan, ia berdiri dengan wajah senyum tidak senyum,
matanya mengerling berulang kali keempat penjuru sementara
tangannya membelai bulu kucing kesayangannya.
Suasana didalam gedung amat sepi, tapi
terasa hawa tekanan yang luar biasa beratnya.
Tiba-tiba bergema suara teriakan nyaring
dari luar pintu:
"Yin hujin tiba!"
Dua orang gadis muda menyingkap tirai
didepan pintu, seorang nanek berambut putih yang mengenakan jubah
hijau, bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang dan
membawa hawa setan yang menggidikkan hati, perlahan-lahan berjalan
masuk ke dalam ruangan.
Walaupun wajahnya sudah amat tua namun biji
matanya masih bening bercahaya, tangan kirinya berpegangan di puncak
seorang bocah berusia tiga, empat belas tahunan sementara tangan
kanannya membawa sebuah tongkat berwarna hitam.
Mengikuti di belakangnya adalah sekelompok
muda-mudi berpenampilan mencolok, yang lelaki tinggi semampai
berwajah tampan, sedang yang wanita bertubuh ramping berwajah cantik
jelita.
Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong nyaris
menjerit tertahan setelah menyaksikan kemunculan rombongan manusia
itu, ternyata mereka adalah Kiu cu Kui bo beserta para anak
muridnya, antara lain Gi Cing-kiok serta si bocah pincang.
Pemuda tampan yang ada dibelakang Kui bo itu
meski nampak tanpa cacad, namun dia bisu lagi tuli, orang itu tidak
lain adalah murid ke delapan dari Kiu cu Kui bo yang disebut orang
persilatan sebagai Bu im to hun, Lak-jiu Longkun (pemuda bertangan
telengas mencabut nyawa tanpa suara).
Ketika masuk ke dalam gedung, Kui bo Yin Gi
hanya menyapu sekejap wajah adiknya, Yin Ping, kemudian setelah
manggut-manggutkan kepala dia langsung berjalan menuju ke hadapan
manusia aneh itu.
Padahal dua bersaudara ini sudah banyak
tahun tidak pernah bersua muka, namun perjumpaan mereka hanya
ditandai dengan saling mengangguk belaka, sikap yang begitu dingin
boleh dibilang melampaui sikap orang asing saja.
Sui Leng-kong ikut tertegun menyaksikan
adegan tersebut.
Terdengar Yin Gi telah berkata dengan nada
dingin:
"Walaupun kau bergelar Bu lim Kui cay
(manusia berbakat setan dari dunia persilatan), namun kehadiranku
kali ini pasti diluar dugaanmu bukan?"
Paras muka manusia aneh itu sama sekali
tidak berubah, sahutnya sambil tertawa hambar:
"Selama ini cara kerja dua bersaudara Yin
selalu penuh rahasia dan misterius, aku sudah banyak melihat dan
mengetahuinya, kenapa mesti tercengang oleh kehadiranmu?"
"Memang lebih bagus begitu!" Yin Gi tertawa
dingin, dia segera mengambil tempat duduk dan tidak bicara lagi.
"Kau jauh-jauh datang kemari, apakah
tujuannya hanya untuk duduk?"
"Kalau tidak duduk memangnya mesti kenapa?"
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha..... kalau masih ada urusan lain
harap segera disampaikan"
"Tentu saja akan kusampaikan, hanya sekarang
saatnya belum tiba"
"Mau menunggu sampai kapan?"
"Hingga tamu lain berdatangan"
"Masih ada tamu lain?" berubah hebat paras
muka manusia aneh itu.
Yin Gi tertawa dingin tanpa menjawab, Gi
Cing kiok serta pemuda bisu tuli itu segera berdiri di belakang
tubuhnya, sementara bocah pincang itupun berdiri disisinya, hanya
saja dengan matanya yang besar dia celingukan ke sana kemari.
Manusia aneh itu berpaling melotot Yin Ping
beberapa kejap, cepat Yin Ping mendongakkan kepalanya sambil
membuang muka.
Saat itulah suara keleningan kembali
bergema, seorang gadis berjalan masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Dia muncul sambil membawa selembar kartu
nama berwarna putih, wajahnya kelihatan kaget bercampur tercengang,
sambil berjalan masuk gumamnya berulang kali:
"Aneh, sungguh aneh, lagi-lagi
kedatangan tamu"
Setelah menerima kartu nama itu dan
menengoknya sekejap, dengan wajah berubah seru manusia aneh itu:
"Persilakan tamu untuk masuk"
Tidak selang berapa saat kemudian terdengar
suara langkah manusia disusul munculnya seorang kakek berjubah
panjang dan seorang pemuda tampan yang menggembol pedang.
Thiat Tiong-tong maupun Sui Leng-kong merasa
terkejut, pekik mereka hampir berbareng:
"Kenapa mereka ayah beranak pun ikut
datang?"
Ternyata kakek dan pemuda yang barusan
munculkan diri tidak lain adalah Li Lok-yang dan Li Kiam-pek.
Dengan langkah lebar Li Lok-yang melangkah
masuk ke dalam ruangan, seraya menjura memberi hormat, katanya
dengan suara dalam:
"Banyak tahun tidak bersua, hampir setiap
detik setiap saat aku memikirkan anda, tidak disangka justru anda
yang mengirim undangan, meski undanganmu sedikit diluar dugaan,
namun akupun tidak berani untuk menolak datang"
Setelah mendongakkan kepalanya tertawa
keras, lanjutnya:
"Orang yang berdagang sangat mementingkan
catatan nota, aku pikir jiwa dagang anda mungkin bangkit secara
tiba-tiba hingga ingin mengajak diriku untuk membuat perhitungan"
Lalu setelah memberi hormat kepada Yin Gi,
diapun mengambil tempat duduk.
"Undangan apa?" tanya manusia aneh itu
dengan wajah membeku.
"Aneh, masa lupa dengan undangan yang
ditulis sendiripun? Bukankah kau undang kami semua untuk datang ke
bukit Lau-san pada hari ini? Jangan-jangan kau sudah terjangkit
penyakit pelupa?"
"Bagaimana caramu menemukan jalan tembus ke
lembah ini?"
"Ini pertanyaan yang lebih aneh lagi" kata
Li Lok-yang, "bukankah sepanjang jalan kau sudah memasang petunjuk
yang sangat jelas, aku toh bukan orang buta, masa tidak bisa membaca
petunjuk tersebut!"
Manusia aneh itu mendengus dingin, setelah
termenung berapa saat katanya kemudian dengan nada nyaring:
"Bila kedatangan tamu lagi, kalian tidak
usah membunyikan keleningan, juga tidak usah memberi laporan,
persilahkan saja mereka semua masuk ke mari"
Dua orang gadis muda itu menyahut dan
berlalu.
Kembali manusia aneh itu berkata: "Bangunkan
aku setelah mereka semua datang kemari!"
Selesai bicara dia segera duduk bersila,
memejamkan mata dan mengatur pernapasan, tampangnya seperti orang
yang sudah tertidur.
Diam-diam Sui Leng-kong menarik ujung baju
Thiat Tiong-tong, bisiknya:
"Aneh, kenapa Li Lok-yang pun ikut kemari?
Coba lihat wajahnya, dia seperti mempunyai dendam kesumat dengan
manusia aneh itu"
"Aaai, apa yang terjadi hari ini memang
sangat aneh, aku sendiripun dibikin tidak habis mengerti" sahut
Thiat Tiong-tong sambil menghela napas.
Mereka berdua hanya melongok dari luar
jendela, oleh sebab itu orang lain tidak dapat melihat kehadiran
mereka.
Kembali Sui Leng-kong berkata: "Kalau
dilihat situasinya sekarang, besar kemungkinan kartu
undangan yang diterima Li Lok-yang bukan berasal dari manusia aneh
itu, tapi.....siapa pula yang menyebar undangan itu ?"
Thiat Tiong-tong melirik sekejap ke arah Yin
Ping, setelah berpikir sejenak sahutnya: "Aku rasa........."
Belum selesai dia bicara, lagi lagi terlihat
empat, lima orang berjalan masuk ke dalam ruangan.
Dandanan dari berapa orang ini sangat aneh,
tingkah lakunya juga aneh, bila ditinjau dari cara mereka berjalan,
jelas kungfu yang dimiliki sangat hebat, yang lebih aneh lagi,
walaupun mereka datang sejalan namun masing-masing tidak bertegur
sapa.
Beberapa orang itu memperhatikan sejenak
situasi didalam ruangan lalu masing-masing mengambil tempat duduk,
mulutnya komat kamit seperti sedang bergumam, meski tidak jelas apa
yang mereka ucapkan namun dari nadanya bisa diduga kalau tidak
berniat baik.
Beberapa orang gadis muncul menghidangkan
air teh, Kui-bo sekalian menerima empat cawan teh tanpa bicara.
Seorang lelaki bermata gede segera berseru
sambil tertawa dingin:
"Kami datang kemari untuk membuat
perhitungan, buat apa mesti dihidangkan air teh!"
Begitu diterima, dia segera membanting cawan
itu ke atas lantai.
"Perkataan sicu tepat sekali" seorang tojin
bertubuh kurus kering menimpali sambil tertawa dingin, "siapa tahu
dengan minum air teh ini, pinto justru akan lebih cepat kembali ke
langit barat, tidak boleh diminum.... tidak boleh diminum........."
Ke empat orang itu sambil menggerutu sembari
membuang cawan air teh mereka ke lantai.
Li Lok-yang yang menyaksikan hal itu segera
tersenyum, katanya:
"Kalau dibilang dia sering berbuat tidak
senonoh, itu memang benar. Tapi kalau dibilang dia suka mencelakai
orang dengan racun, itu mah belum pernah terjadi"
Seraya berkata dia mengangkat cawannya dan
meneguk habis isinya.
"Jadi kau membantunya berbicara?" bentak
lelaki bermata gede itu gusar.
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari
luar pintu gerbang sambil tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha...... kita datang untuk membuat
perhitungan, masa orang sendiri malah gontok-gontokan lebih dulu,
sungguh menggelikan"
Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring,
kembali terlihat dua sosok bayangan manusia melangkah masuk ke dalam
ruangan.
Kedua orang ini mempunyai perawakan tubuh
yang tinggi besar, berjidat tinggi dan penuh bercambang, mereka
tidak lain adalah Bi Lek hwee serta Hay Tay- sau.
Diam-diam Thiat Tiong-tong terperanjat, dia
tidak menyangka kalau ke dua orang itupun bisa muncul disitu.
Setelah memandang sekejap sekeliling
ruangan, sambil tergelak ujar Hay Tay-sau:
"Bagus, bagus sekali, ternyata yang hadir
adalah sobat-sobat lama, kenapa tuan rumah bukannya menyambut
kedatangan tamu malahan ditinggal tidur mendengkur"
"Tuan rumah hanya akan mengadakan
penyambutan bila semua tamunya telah hadir" seru Li Lok-yang.
"Tepat, dengan begitu dia memang mengirit
banyak tenaga" kata Hay Tay-sau tertawa.
Kemudian setelah memandang lelaki bermata
gede itu sekejap, lanjutnya:
"Tidak nyana lo-heng pun punya perselisihan
dengan tuan rumah disini, bagus, bagus sekali"
"Hahahaha...... kelihatannya hanya
lohu seorang yang datang untuk menonton keramaian" kata Bi Lek hwee
sambil tertawa keras, "kenapa kau tidak perkenalkan beberapa orang
jago itu kepadaku?"
"Kau pasti sudah kenal dengan Kui-bo hujin
serta saudara Li bukan" ucap Hay Tay-sau.
Sambil menuding ke arah lelaki bermata gede
itu, terusnya:
"Jika loko inipun tidak kau kenal, berarti
pengetahuanmu betul-betul amat cetek, bikin malu aku saja"
Lelaki bermata gede itu melotot sekejap ke
arahnya, mimik mukanya kelihatan sedikit aneh.
"Sebenarnya siapa sih orang itu?" desak Bi
Lek hwee lagi.
Hay Tay-sau tertawa terbahak-bahak.
"Repot kalau aku mesti perkenalkan satu per
satu" katanya, "pokoknya ke empat orang itu kalau bukan seorang
pemimpin dunia persilatan, pastilah piau pacu yang namanya telah
menggetarkan delapan penjuru"
Serentak ke empat orang manusia berdandan
aneh itu melompat bangun dari tempat duduk-nya, perasaan kaget
bercampur tercengang melintas diwajah mereka.
Sudah banyak tahun ke empat orang itu tidak
pernah berkelana dalam dunia persilatan, tentu saja mereka dibuat
terperanjat setelah identitas mereka dibongkar oleh Hay Tay-sau.
"Aku tidak kenal kau, dari mana kau bisa
mengetahui tentang aku?" bentak lelaki itu keras.
Hay Tay-sau tertawa terbahak-bahak, belum
sempat menjawab pertanyaan itu mendadak terdengar lagi suara langkah
kaki yang gaduh, kembali muncul enam tujuh orang dalam ruangan itu.
Sui Leng-kong yang bersembunyi dibalik
jendela segera menggenggam tangan Thiat Tiong-tong erat-erat,
gumamnya:
"Mereka......mereka juga ikut datang"
Thiat Tiong-tong manggut-manggut, sepasang
alis matanya berkerut makin kencang.
Ternyata beberapa orang yang baru saja
munculkan diri tidak lain adalah Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto
Siau, Seng Toa-nio, Seng Cun-hau serta siucay muda berilmu tnggi
yang dibikin keok oleh Liu Ho-ie.
Kembali terjadi kegaduhan ditengah ruangan,
mereka yang mengenal saling menyapa, hanya siucay muda itu yang
nampak sangat angkuh, tanpa perduli dengan siapa pun dia langsung
mengambil tempat duduk.
Sambil tertawa Hay Tay-sau pun berseru:
"Sudah cukup lama aku kenal dengan kalian semua, tapi tidak nyana
kalau memiliki musuh yang sama, apalagi bakal berjalan di perahu
yang sama, ini menunjukkan kalau dunia memang sempit, cukup dengan
seutas tali sudah dapat mengikat orang yang tidak ada sangkut
pautnya dihari biasa menjadi satu!"
"Buat kami mah terhitung permusuhan baru,
memangnya dengan hengtay merupakan permusuhan lama?" tanya Hek
Seng-thian tersenyum.
"Benar!" sahut Hay Tay-sau sambil menarik
kembali senyumannya.
Pada saat itulah tiba-tiba manusia aneh itu
membuka matanya, dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekejap
sekeliling ruangan, meski hanya sekejap namun seolah olah telah
menatap wajah setiap orang yang hadir.
Seketika suasana jadi hening, puluhan pasang
mata bersama dialihkan ke wajahnya, meski ketajaman mata setiap
orang berbeda namun hampir semuanya menunjukkan rasa benci dan
dendam yang mendalam.
"Kalian semua datang kemari karena menerima
undangan?" tegur manusia aneh itu perlahan.
"Kalau bukan menerima undanganmu, dari-mana
bisa menemukan tempat persembunyianmu?" sahut tojin kurus kering
itu sambil tertawa seram.
Manusia aneh itu tertawa dingin, tiba-tiba
dia membalikkan tubuh, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah
Yin Ping tanpa berkedip, tegurnya:
"Aku yakin kaulah yang telah membantu aku
menyebar surat undangan itu?"
"Meskipun bukan aku, tapi rasanya tidak beda
jauh" sahut Yin Ping tanpa berubah muka.
Kui-bo Yin Gi mendengus dingin, selanya:
"Ji-moay mengirim kabar kepadaku, akulah yang menyebar undangan
serta memberi petunjuk jalan, sekarang kau sudah mengerti bukan?"
"Hahahaha..... mengerti, sejak
awal sudah mengerti!" manusia aneh itu tertawa seram.
Diam-diam Thiat Tiong-tong merasa bergidik,
pikirnya setelah menghela napas:
"Padahal dihari biasa dia nampaknya sangat
mencintai orang ini, tidak disangka secara diam-diam telah
mengumpulkan semua musuh besar-nya untuk datang menyatroni, seakan
dia baru puas setelah melihat dia hancur dan tercerai berai.
Permusuhan apa pula yang membuatnya sangat mendendam? Karena cinta
yang tidak kesampaian atau mungkin karena alasan lain....."
Dalam pada itu Sui Leng-kong telah menghela
napas pula:
"Sungguh keji perempuan ini!"
Saking kesemsemnya mereka berdua
menyaksikan peristiwa itu hingga sama sekali tidak tahu sejak kapan
kawanan gadis cantik yang berada disekitarnya pergi meninggalkan
tempat itu.
Menanti mereka berdua mengalihkan kembali
sorot matanya, ditengah ruangan telah bertambah dengan kehadiran
tujuh, delapan orang wanita berjubah panjang warna hitam yang
mengenakan kain cadar berwarna hitam pula.
Beberapa orang itu berdiri berjajar dekat
dinding ruangan, tidak ada yang tahu mereka datang dari mana dan
sudah berapa lama berada disitu, malahan para jagopun tidak ada yang
tahu semenjak kapan mereka sudah berdiri di belakang tubuh mereka.
Diantara kawanan jago hanya manusia aneh dan
Yin Ping yang berdiri menghadap ke arah mereka, tapi lantaran
dibagian tengah terpisah oleh sekelompok jago silat yang sedang
dicekam perasaan dendam, maka mereka pun tidak sempat melihat dengan
jelas kehadiran perempuan-perempuan itu.
Untuk sesaat suasana didalam ruangan teramat
kalut dan tegang, tampaknya setiap jago yang hadir mempunyai dendam
kesumat sedalam lautan dengan manusia aneh itu, siapa pun ingin
segera turun tangan untuk membuat perhitungan.
Tapi orang orang itu tampaknya merasa jeri
menghadapi kehebatan kungfu manusia aneh itu hingga siapa pun enggan
turun tangan terlebih dulu, siapapun tidak ingin buka suara paling
dulu.
Kendatipun suasana ditengah ruangan amat
tegang dan dipenuhi manusia, namun hanya gelak tertawa si manusia
aneh yang bergema diseluruh ruangan, gelak nyaring yang menindih
diatas suara orang lain, membuat setiap orang merasakan telinganya
mendengung keras.
Menunggu hingga gelak tertawanya agak
mereda, Yin Ping baru bicara sambil tertawa terkekeh:
"Sudah cukupkah tertawamu? Para penagih
hutang telah datang, tertawapun tidak ada gunanya, lebih baik
carilah cara yang tepat untuk melunasi semua hutangmu!"
Biarpun suara tertawanya tidak senyaring
tertawa manusia aneh itu, namun suaranya tinggi melengking sangat
menusuk pendengaran, membuat para pendengar merasakan hatinya
bergidik. Kini semua orang baru sadar kalau kungfu yang dimiliki
perempuan itu ternyata sangat tangguh.
"Betul, hutang memang harus dibayar" kata
manusia aneh itu dengan suara dalam, "tapi hutang apa yang telah
kubuat dan bagaimana caraku untuk membayar, lebih baik kalian saja
yang menjelaskan!"
Dalam perkiraan Thiat Tiong-tong, kawanan
jago itu pasti akan berebut bicara, siapa tahu setiap orang menutup
mulutnya rapat-rapat, meski tidak mengucapkan sepatah katapun namun
sorot mata kebencian justru memancar semakin tebal.
Dengan sorot mata yang tajam manusia aneh
itu menyapu sekejap seluruh ruangan, kembali ujarnya sambil tertawa
dingin:
"Li Lok-yang, Hay Tay-sau, meski kungfu
kalian berdua tidak seberapa hebat namun nama baik kalian cukup
bagus, coba kalian yang bicara lebih dahulu!"
Li Lok-yang saling bertukar pandangan
sekejap dengan Hay Tay-sau, namun kedua orang itu tetap menggigit
bibir tidak bicara.
Manusia aneh itu segera mengalihkan
pandangan matanya kearah empat manusia berdandan aneh itu, katanya:
"Lam ki tok siu (kakek racun dari
kutub selatan) Ko Thian-siu, kau yang hidup lebih lama ketimbang
lainnya, coba terangkan dendam sakit hati apa yang terjalin antara
kalian dengan aku?"
Seorang kakek berjubah sutera dengan sulaman
tulisan 'siu' atau panjang usia didada-nya, memegang sebuah tongkat
baja berkepala naga dan berkepala botak nampak berdiri bergetar,
tanpa menjawab dia berpaling ke arah lain.
Kembali manusia aneh itu mengalihkan sorot
matanya ke arah seorang lelaki berjubah hijau yang membawa sebuah
kipas lipat, orang ini meski usianya sudah lanjut namun kumis dan
jenggotnya dicukur bersih dan licin sehingga penampilannya mirip
seorang pemuda pelajar saja.
"Giok Hu-li (rase kemala) Yo Kun,
bagaimana pula dengan dirimu?"
Paras muka si rase kemala segera berubah
jadi semu merah, namun diapun membungkam diri dalam seribu bahasa.
"Kuay ho Cun yang (Cun Yang hidup
gembira) Lu Pin, kau saja yang bicara?" kata manusia aneh itu
kemudian.
Tosu kurus kering itu bukan saja tidak
menjawab, dia malah mundur satu langkah. Meski dandanannya seperti
orang beribadah namun seluruh tubuhnya dihiasi dengan pelbagai macam
lencana, mutiara dan batu permata hingga lebih mirip dengan seorang
lelaki hidung bangor.
Manusia aneh itu tertawa
terbahak-bahak, katanya:
"Kalau kalian bertiga enggan bicara, berarti
Sin lip pa ong (raja bengis bertenaga sakti) Siang Ji-yu yang
bakal bicara bukan?"
Lelaki bermata gede itu mendengus,
kepalannya langsung dihantamkan keatas tiang batu yang berdiri
disisinya.
"Blaaaam!" diiringi suara keras, batu tiang
yang sangat keras itu seketika retak dan gumpil beberapa bagian.
Begitu nama keempat orang itu disebut, Bi
lek-hwee maupun Hek Seng-thian sekalian berubah wajahnya, meski
mereka belum pernah bersua dengan keempat orang itu namun tahu kalau
jejak mereka sangat misterius dan wataknya antik, bukan cuma ilmu
silatnya hebat, cara kerja mereka pun bengis, keji dan telengas.
Apalagi manusia yang bernama Sin lek Pa ong,
dia mempunyai ratusan orang anak buah yang tersebar di seantero
dunia persilatan, bukan saja cara kerjanya menakutkan, banyak pula
korban yang tewas ditangan mereka.
Keempat orang ini boleh dibilang sudah
menanamkan satu kekuatan yang tidak boleh dianggap enteng, jangan
lagi manusia biasa, partai Siau-lim serta Bu-tong pun tidak akan
berani mengusik mereka secara sembarangan.
Hanya saja kawanan manusia ini sudah banyak
tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, tidak heran kalau
kemunculannya secara mendadak hari ini segera menimbulkan kehebohan.
Yang membuat Thiat Tiong-tong keheranan
adalah kehadiran beberapa orang itu yang jelas hendak menuntut balas
karena terikat dendam dengan manusia aneh itu, tapi mengapa mereka
enggan buka suara?
Dalam pada itu sorot mata manusia aneh itu
sudah dialihkan ke wajah Suto Siau, tapi sebelum dia sempat
mengucapkan sesuatu, sambil menggoyangkan tangannya dan tertawa
Suto Siau berseru:
"Kami berjumlah banyak, jadi mending paling
belakangan saja"
Manusia aneh itu tertawa, sementara dihati
kecilnya keheranan, dia tidak tahu kenapa kawanan manusia pengecut
yang takut mati itu berani menyatroni tempat tinggalnya hari ini,
mungkinkah mereka punya backing kuat?
Kembali sorot matanya beralih ke wajah
siucay muda itu, namun ketika melihat sinar matanya yang begitu
tajam, sepasang keningnya langsung berkerut kencang.
Tiba-tiba terdengar Kui bo Yin Gi berkata
dengan nada dingin:
"Baiklah, kalau semua orang enggan bicara,
biar aku yang mewakili mereka untuk berbicara!"
Berubah hebat paras muka Hay Tay-sau maupun
Siang Ji-yu, teriak mereka hampir berbareng:
"Dari mana kau bisa tahu soal dendam kami?"
Dari nada suaranya jelas terdengar kalau mereka enggan Yin Gi
menyinggung soal rahasia hatinya.
Yin Gi tertawa dingin, ujarnya: "Orang
bilang tidak ada dendam yang lebih berat daripada pembunuhan
terhadap orang tua dan bini direbut orang, walaupun kalian tidak
punya dendam karena orang tua yang terbunuh namun bini kalian telah
dirampas olehnya, mana boleh dendam semacam ini tidak dibalas?
Mengenai..... dengan cara apa dendam ini akan dibalas, persilahkan
masing-masing mengambil keputusan sendiri"
Habis berkata dia mendongakkan kepalanya dan
tertawa dingin.
Dalam waktu singkat paras muka Hay Tay-sau
sekalian berubah jadi pucat pias, Li Kiam-pek merasakan tubuhnya
gemetar keras, sambil mundur tiga langkah dia genggam gagang
pedangnya kencang-kencang.
Bi Iek-hwee melirik Hay Tay-sau sekejap,
kemudian pikirnya sambil menghela napas:
"Bila dilihat dari tingkah lakunya, Hoa
Toa-koh jelas adalah bininya dulu, entah bagaimana ceritanya sampai
tertipu oleh orang ini. Apa mau dikata tampaknya orang ini memang
playboy kelas kakap, setelah dibuat mainan berapa saat akhirnya
ditinggalkan begitu saja hingga mau tidak mau terpaksa Hoa Toa-koh
harus bekerja jadi begal......"
Berpikir sampai disitu dia menghembuskan
napas lega, gumamnya:
"Beruntung sepanjang hidup lohu tidak pernah
beristri.........."
Thiat Tiong-tong sendiripun baru sadar apa
yang sebenarnya telah terjadi, pikirnya:
"Tidak heran kalau semua orang enggan
berbicara, sebagai tokoh persilatan kenamaan, tentu saja mereka
tidak ingin aib keluarganya ketahuan orang"
Mendadak terdengar Sin lip Pa Ong Siang
Ji-yu tertawa dingin, sambil melotot ke arah Yin Gi jengeknya:
"Betul, bini kami memang dipermainkan orang
ini, tapi bagaimana pula dengan dirimu? Kenapa kalian kakak beradik
bisa menjalin permusuhan dengannya?"
Berubah hebat paras muka si induk setan (kui
bo) Yin Gi setelah mendengar perkataan itu, sampai berapa saat dia
tidak sanggup berkata-kata.
"Hahahaha........." kembali Siang Ji-yu
tertawa tergelak, "kalian tidak punya bini, berarti kalian lah yang
telah dipermainkan olehnya.........."
Gi Cing-kiok membentak gusar, bersama si
bocah pincang dan pemuda bisu tuli serentak mereka menyerbu ke
depan.
Terdengar si bocah pincang mengejek dengan
nada keras:
"Pa-ong, percuma kau bertenaga sakti,
buktinya melindungi bini sendiripun tidak mampu, huuuh, tidak tahu
malu, tidak tahu malu........."
Siang Ji-yu membentak nyaring, bagaikan
sambaran geledek dia lontarkan sebuah pukulan ke depan, bentaknya:
"Setan cilik, kau cari mampus!"
Deruan angin pukulan yang memekikkan telinga
sungguh dahsyat dan menakutkan.
Tiba-tiba terasa pandangan mata jadi kabur,
dua bersaudara Yin telah menghadang didepan bocah itu sambil
melepaskan satu pukulan, pukulan lembut yang seketika memunahkan
serangan dahsyatnya.
"Murid-muridku, cepat mundur!" terdengar Yin
Gi menghardik.
Sebaliknya Yin Ping sambil membopong
kucingnya berseru sambil tertawa terkekeh:
"Kami dua bersaudara telah menyebar undangan
untuk mengundang kedatangan kalian semua, memangnya bertujuan untuk
menghadapi kami berdua?"
Siang Pa-ong (raja bengis Siang) tertegun.
"Soal ini.........." bisiknya.
"Betul" kata Yin Ping sambil tertawa,
"gara-gara bertemu dengan lelaki pemogoran semacam dialah watak
toaci ku jadi berubah sangat aneh, sedang aku sendiri, hidupku
hancur musnah ditangannya, oleh karena dia memusnahkan diriku
terlebih dulu maka akupun ganti memusnahkan kaum lelaki, akibatnya
aku mesti menyandang nama busuk. Kalau rasa benciku tidak merasuk
hingga ke tulang sumsum, buat apa kali ini mesti berpura-pura baik
dengan menyambanginya? Aku sengaja berbuat begitu karena aku ingin
menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nasib tragis akan
menimpa dirinya, aku ingin menyaksikan sendiri bagaimana hidupnya
hancur dan nyawanya melayang!"
Walaupun sedang berbicara sambil sumpah
serapah, namun senyuman manis masih menghiasi bibirnya. Hal ini
membuat Siang Pa-ong diam-diam bergidik.
Terdengar manusia aneh itu tertawa seram.
"Hahahaha..... betul, hidup kalian memang
musnah ditanganku, dosa dan kesalahan ini memang aku yang mesti
bertanggung jawab, tapi kalau menginginkan kehancuran dan
kematian-ku, hmmm!"
Sambil menghentikan gelak tertawanya, dia
menambahkan:
"Aku rasa tidak segampang itu!"
"Mungkin saja apa yang kau ucapkan ada
benarnya" kata Yin Ping sambil tertawa, "kalau mesti satu lawan
satu, jelas kungfu kami semua masih bukan tandinganmu, tapi kalau
kami maju bersama.....hmmm, apayang bisa kau perbuat?"
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha..... kalian
berjumlah banyak, memangnya anak buahku sedikit?"
Sambil bertepuk tangan bentaknya:
"Budak sekalian ayoh cepat keluar, kita
buktikan jumlah mereka yang lebih banyak atau kita?"
Suara bentakannya nyaring dan menggaung
hingga ke dalam ruangan.
Sampai suara pantulannya lenyap ternyata
tidak ada jawaban, bayangan pun tidak nampak.
Agak berubah paras muka manusia aneh itu,
teriaknya lagi penuh kegusaran:
"Budak sialan, budak busuk, memangnya kalian
sudah mampus semua?"
Kui-bo Yin Gi tertawa dingin, jengeknya:
"Meskipun belum mampus, paling tidak sudah
hampir!"
Mendadak paras muka manusia aneh itu berubah
jadi pucat pias, setelah tertegun berapa saat bentaknya:
"Bagus, bagus, tidak heran dari sembilan
setan laki dan tujuh setan perempuan hanya tiga orang yang hadir,
ternyata yang lain sedang memberesi anak muridku, tapi......mereka
toh tidak salah tidak berdosa, kalau ingin menuntut balas,
seharusnya langsung mencari aku"
Hay Tay-sau dengan cepat menyingkap bajunya
sambil membuka lebar dadanya, sambil maju dengan langkah lebar
katanya:
"Semua orang menunggu untuk memungut
keuntungan dari orang lain, tampaknya aku harus turun tangan
duluan!"
"Hmm, kalau hanya kau seorang mah bukan
tandinganku, lebih baik maju serentak bersama yang lain!" jengek
manusia aneh itu dingin.
"Hahahaha..... Hay Tay-sau bukan orang yang
suka mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak!"
"Bagus!" puji manusia aneh itu sambil
mengacungkan jempol, "aku akan mengalah tiga jurus untukmu!"
"Mau mengalah tiga jurus terserah, tidak
mengalahpun terserah, tapi sebelum turun tangan aku ingin
menyampaikan beberapa patah kata terlebih dulu!"
"Kalau orang lain yang masih banyak bicara
pada saat seperti ini, mungkin aku sudah iris lidahnya, tapi kalau
Hay Tay-sau yang ingin berbicara, cepat katakan!"
"Walaupun kau telah menanggung semua dosa
kesalahan ini, aku tahu kesalahan tersebut tidak sepantasnya dipikul
kau seorang, paling tidak kawanan perempuan busuk itupun harus turut
bertanggung jawab......."
Paras muka beberapa orang segera berubah
hebat.
Dengan gusar Siang Pa-ong berteriak pula:
"Kentut busuk!"
Kembali Hay Tay-sau tertawa keras:
"Perkataanku memang tidak enak didengar, tapi aku tetap akan
mengatakannya. Terus terang, bekas bini-bini kita pun bukan
merupakan manusia baik, orang bilang tepuk tangan tidak akan bunyi
kalau tidak disambut telapak tangan yang lain. Dulu kawanan
perempuan busuk itu pasti terpikat olehnya karena dia muda, banyak
duit, berilmu tinggi dan kuat, kalau tidak, mana mungkin mereka akan
tinggalkan kita untuk kabur bersamanya. Bajingan ini sendiri meski
suka main perempuan dan pantas mampus, namun kawanan perempuan busuk
kita yang sudah disia-siakan pun pantas mampus juga!"
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur
kagum setelah mendengar perkataan itu, sebaliknya Siang Pa-ong dan
Rase kemala sekalian meski memperlihatkan wajah gusar, namun tidak
seorang pun diantara mereka yang buka suara untuk membantah, jelas
apa yang dikatakan Hay Tay-sau memang benar. Andaikata dia bukan
seorang lelaki gagah yang berjiwa terbuka, mana mungkin perkataan
semacam itu sanggup diutara-kan?
Untuk sesaat suasana dalam ruangan jadi
hening dan sepi.
Akhirnya sambil tertawa tergelak manusia
aneh itu berkata:
"Tidak kusangka masih ada manusia di dunia
ini yang bersedia bicara jujur dan bijaksana, lebih tidak kusangka
kalau orang itu ternyata adalah musuh besarku sendiri,
hahaha.....hahahaha......"
Setelah tergelak berapa saat, lanjutnya:
"Aku tahu, walaupun kau sudah bicara jujur dan bijaksana, toh
rasa mendongkol harus dilampiaskan juga, baiklah, mari,
kita bermain beberapa gebrakan!"
"Rasa mendongkol ini sudah kupendam banyak
tahun, pertama karena aku tahu bukan tandinganmu, kedua karena gagal
menemukan jejakmu, setelah berjumpa hari ini....... mari, lihat
serangan!"
Ditengah bentakan nyaring, dia lontarkan
tinjunya menghantam dada manusia aneh itu.
Melihat datangnya serangan, manusia aneh itu
tidak menghindar maupun berkelit, semua orang tahu kalau kungfunya
hebat, mereka menyangka manusia aneh itu bakal mengeluarkan ilmu
simpanannya.
Siapa tahu baru selesai ingatan tersebut
melintas lewat, "Blaaaam!" pukulan Hay Tay-sau yang sangat dahsyat
itu sudah bersarang telak di dada manusia aneh itu.
Betapa pun hebatnya kungfu yang dimiliki
manusia aneh itu, berat juga baginya untuk menerima pukulan Hay
Tay-sau yang dahsyat, kontan tubuhnya mundur berapa langkah dengan
sempoyongan, paras mukanya bertambah pucat.
"Kau........" Hay Tay-sau
berteriak kaget, "kenapa kau......."
Manusia aneh itu tertawa paksa
setelah mengatur napas berapa saat.
"Cukup dari perkataanmu tadi, aku merasa
tidak seharusnya bertarung melawanmu, itulah sebabnya biar kuterima
pukulan ini sebagai pelampiasan rasa mangkelmu!"
Ketika para jago menyaksikan dia mampu
menerima sebuah pukulan dari Hay Tay-sau dan akibatnya bukan saja
tidak terluka parah bahkan segera mampu berbicara, mau tidak mau
semua orang merasa terkejut bercampur kagum.
Setelah berdiri tertegun berapa saat
lantaran kaget, Hay Tay-sau baru bisa berkata:
"Selama hidup cukup banyak manusia aneh yang
pernah kujumpai, tapi rasanya belum pernah bertemu dengan manusia
berwatak sangat aneh macam kau"
"Lohu juga belum pernah bertemu" sela Bi Lek
hwee tidak tahan.
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.......aku memang tidak
pernah menutupi semua kekuranganku"
Setelah menatap wajah lawannya berapa saat,
kembali Hay Tay-sau berkata dengan lantang:
"Baik! Dengan pukulan tersebut, hutang
piutang diantara kita kuanggap impas sudah. Tapi sayang mulai
sekarang aku tidak dapat lagi menyaksikan kau digebuki orang, akupun
tidak dapat membantumu, terpaksa aku mesti angkat kaki dari sini"
Tidak menunggu perkataan itu selesai
diucapkan, dia sudah membalikkan tubuh dan beranjak pergi.
"Hey, tunggu aku sebentar" teriak Bi Lek
hwee buru-buru.
Baru saja orang ini siap mengejar rekannya,
Suto Siau telah keburu menarik ujung bajunya sambil berbisik:
"Kita termasuk lima perkumpulan yang
membentuk satu persekutuan, sudah sepantas-nya bila kau datang
bersama, pergipun bersama, masa hengtay akan meninggalkan tempat ini
dengan begitu saja?"
Bi Lek hwee melirik Hek Seng-thian sekalian
dengan kening berkerut, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun
dia kebaskan tangannya melepaskan diri dari cengkeraman lalu
beranjak pergi dari situ menyusul Hay Tay-sau.
"Lelaki sejati!" puji manusia aneh itu
sambil menghela napas, tapi belum selesai bicara dia sudah batuk
tiada hentinya.
Si Rase kemala sekalian berempat saling
bertukar pandangan sekejap, mereka tahu orang tersebut sudah
menderita luka dalam gara-gara pukulan dari Hay Tay-sau tadi,
tampaknya mereka sudah siap memanfaatkan kesempatan itu untuk
melancarkan serangan.
Tapi belum sempat mereka bertindak,
tiba-tiba terdengar Li Kiam-pek membentak nyaring:
"Orang lain boleh saja mengampuni dosamu,
tidak bagiku!"
Sambil membentak dia meloloskan pedangnya
dan langsung melancarkan sebuah tusukan ke tubuh manusia aneh itu.
Li Lok-yang menjerit kaget, dengan wajah
berubah cepat dia melompat ke depan.
Sungguh cepat gerak serangan yang
dilancarkan Li Kiam-pek, dalam waktu singkat dia telah melepaskan
tujuh buah tusukan maut, hampir semua serangannya ditujukan ke
bagian mematikan di tubuh lawan.
Begitu lolos dari ke tujuh buah serangan
kilat, manusia aneh itu segera berteriak nyaring:
"Li Lok-yang, cepat perintahkan dia untuk
berhenti menyerang"
"Siapa bilang aku akan berhenti menyerang!"
bentak Li Kiam-pek dengan wajah sedih bercampur gusar.
Mendadak dia genggam pedangnya dengan ke dua
belah tangan, lalu sekuat tenaga melancarkan sebuah tusukan ke
depan.
Walaupun jurus serangan yang digunakan
adalah jurus serangan beradu jiwa, namun pertahanan tubuh bagian
atas maupun bawahnya terbuka lebar, bertemu dengan jago tangguh
semacam manusia aneh itu, boleh dibilang serangan semacam ini hanya
sebuah tindakan untuk menghantar kematian sendiri.
Sambil menjerit kaget Li Lok-yang melompat
maju ke depan, tampak manusia aneh itu miringkan tubuhnya menghindar
dari serangan yang datang, kemudian dengan kedua jari tangannya
secepat kilat dia jepitujung pedang lawan.
Padahal tusukan yang dilancarkan Li Kiam-pek
disertai tenaga serangan yang luar biasa, namun begitu terjepit jari
tangan lawan, senjata-nya bukan saja tidak mampu bergerak lagi,
bahkan seluruh kekuatannya seolah lenyap dan menguap dengan begitu
saja.
Sadar kalau keinginannya untuk balas dendam
kandas ditengah jalan, pemuda itu merasa sedih bercampur putus asa,
mendadak dia buang senjatanya kemudian menumbukkan kepalanya keatas
dinding ruangan.
Buru-buru Li Lok-yang memeluk tubuh putranya
dan menariknya kuat-kuat.
Dengan suara parau Li Kiam-pek segera
menjerit:
"Jangan tarik aku...... jangan tarik
aku...... ibu...... dia...... dia orang tua....... ananda tidak
dapat membalaskan sakit hati dan penghinaan ini, lebih baik......."
Mendadak manusia aneh itu tertawa terbahak
bahak, sambil membuang pedangnya ke lantai dan gelengkan kepalanya
berulang kali, serunya:
"Li Lok-yang, tampaknya sudah terjadi
kesalahpahaman pada anakmu yang berangasan itu, dia tidak tahu
kalau permusuhan yang terjalin diantara kita berdua berbeda jauh
dibandingkan dengan yang lain!"
"Apa.... apa yang kau katakan?" tanya Li
Kiam-pek dengan tubuh bergetar keras.
Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya:
"Anak bodoh, memangnya kau anggap ibumu
adalah perempuan rendah macam begitu?"
Traaaang.....!" pisau belati yang ada dalam
genggaman Li Kiam-pek segera rontok ke tanah, serunya tergagap:
"Tapi......tapi........."
Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang,
ujarnya:
"Aku terikat dendam dengannya lantaran
sewaktu diselenggarakan transaksi terbuka dulu, dia pernah merampok
sejumlah barang mestika milik keluarga kita dan waktu itu aku tidak
dapat berbuat apa-apa"
"Hahahaha......." manusia aneh itu ikut
tertawa tergelak, "perkampungan barang mestika dikota Lokyang
merupakan sebuah perkam-pungan kenamaan, tentu saja nama besar itu
tidak boleh rusak gara-gara barang mestikanya berhasil dirampok
orang, biar sudah kehilangan pun terpaksa hanya bisa menelan ludah
sambil membungkam diri"
Li Lok-yang kembali menghela napas.
"Peristiwa yang memalukan ini sudah
tersimpan hampir puluhan tahun lamanya, coba kalau bukan terjadi
kesalahan paham, tidak mungkin aku akan menyinggungnya lagi"
"Hari ini kau sudah mengungkapnya didepan
umum, berarti kau sudah siap untuk menuntut balik barang jarahan
tersebut bukan?"
"Sepuluh tahun berselang, ilmu silatku
memang bukan tandinganmu, tapi selama berapa tahun ini aku telah
melatih tekun kungfuku, hari ini, apa pun hasilnya, aku tetap akan
beradu jiwa denganmu!"
"Kalau memang begitu, mari..........."
Belum selesai perkataan itu diucapkan,
Lam-ki-tok-siu sudah menukas duluan dengan nada dingin:
"Hey orang she-Li, lebih baik nanti saja kau
pamerkan kejelekanmu, sekarang biar kami berempat yang menghadapinya
lebih dahulu!"
Sebelum Li Lok-yang mengatakan sesuatu,
dengan gusar Li Kiam-pek telah menukas:
"Hmm, apa yang kalian berempat andalkan
untuk mendahului kami?"
"Kami andalkan ini!" jawab Lam-ki-tok-siu Ko
Thian-siu dingin.
Bukan saja suara orang ini dingin bagaikan
salju, perubahan mimik mukanya pun susah dikenali orang.
Sambil berkata dia pungut pedang yang
tergeletak dilantai itu lalu dengan sekali tekuk dia sudah patahkan
senjata tersebut jadi dua bagian.
Kemudian sambil menyodorkan separuh bagian
ke tangah Li Kiam-pek, ujarnya dingin:
"Pedang ini milikmu, kukembalikan sekarang
kepadamu!"
Pedang milik Li Kiam-pek ini merupakan
pedang mestika keluarganya, walaupun bukan senjata mestika macam
pedang milik Kan-ciang atau Mo-shia, namun ketajaman dan
kehebatan-nya boleh dibilang luar biasa.
Selama ini dia amat menyayangi senjata
andalannya itu dan tidak pernah meninggalkan tubuhnya, tidak heran
kalau Li Kiam-pek merasn kaget, sedih dan sakit hati setelah melihat
senjata tersebut dipatahkan orang.
Untuk sesaaat dia merasa tidak tega hingga
bersiap untuk menerimanya kembali.
Mendadak terdengar manusia aneh itu
membentak nyaring:
"Pedang itu sudah dilumuri racun, jangan
disentuh"
Dengan terperanjat Li Kiam-pek menarik
kembali tangannya, benar saja, dia saksikan pedangnya yang semula
berkilauan kini telah berubah jadi hijau kusam dan sama sekali tidak
bersinar, tentu saja dia semakin tidak berani untuk menerimanya.
Hanya dalam sekali sentuhan, si kakek
beracun ini mampu meracuni seluruh tubuh pedang tersebut,
kemampuannya melepaskan racun boleh dibilang sangat menakutkan,
kenyataan ini bukan saja membuat Li Lok-yang dan putranya menjadi
terperanjat, semua orang yang hadir pun berubah hebat wajahnya.
Terdengar si kakek beracun dari kutub
selatan itu tertawa terbahak-bahak, katanya:
"Hahahaha... memangnya kau anggap julukan-ku
sebagai si kakek beracun hanya julukan kosong!"
Begitu tangannya digetarkan, dua titik
cahaya pedang segera meluncur menembusi angkasa.
"Sayang kalau pedang sebagus itu dibuang
begitu saja!" teriak si rase kemala Yo Kun tertawa.
Tubuhnya segera melesat ke depan, ternyata
gerakan tubuhnya jauh lebih cepat ketimbang gerakan pedang itu,
dalam sekali gulungan tahu-tahu dia sudah menggulung kedua potongan
pedang itu ke dalam sakunya.
Hanya dalam waktu singkat dia dapat
menangkap pedang itu dan melayang balik ke posisi semula, bukan saja
gerakannya cepat bagai petir bahkan gayanya sangat indah.
Menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh
yang di demonstrasikan si Rase kemala, baik lawan maupun kawan
serentak bersorak memuji.
Hanya sederet perempuan berjubah hitam
berkain cadar yang tetap berdiri tanpa gerak, bila orang tidak
menaruh perhatian secara khusus, sulit rasanya untuk mengetahui
kehadiran mereka.
Tampak si Rase kemala menggetarkan sepasang
ujung lengannya, kutungan pedang segera berserakan diatas lantai.
"Sayang kalau dibuang" seru Lu Pin sambil
tertawa, "lebih baik digunakan sebagai barang rongsok saja!"
Dia membungkukkan tubuh sambil memungut
kutungan pedang itu, lalu sambil berjalan menuju ke tiang batu yang
gumpil berkat gempuran dari Sin lek Pa ong tadi, ujarnya lebih jauh
sambil tertawa:
"Walaupun tenaga sakti milik Siang sicu
menakutkan, sayang tindakannya kurang menghormati tuan rumah, masa
sebuah tiang batu yang bagus dibikin gumpil, biarlah pinto
menggunakan kutungan pedang ini untuk memperbaikinya kembal!"
Sambil berkata dengan tangan kanan memegang
kutungan pedang, tangan kiri memegang gumpilan batu cadas, dia
menghimpun tenaga dalamnya di dada.
Diiringi suara pekikan nyaring, tahu-tahu
dia tancapkan kutungan pedang itu ke dalam gumpilan batu,
kemudian memantek gumpilan tadi diatas tiang bekas gumpilan.
Biarpun batu cadas itu keras namun orang ini
mampu menembusi batu tadi bagaikan menusuk sepotong tahu saja, bukan
saja gampang bahkan tidak menimbulkan suara, hal ini segera
memancing aplus keras dari semua yang hadir.
Selesai memperbaiki gumpilan batu cadas itu,
Lu Pin bertepuk tangan sambil berkata lagi:
"Liatwi tidak perlu bersorak memuji, sebab
tanpa obat penawar racun yang sudah kulumurkan terlebih dulu
ditanganku, niscaya saat ini aku sudah mati keracunan!"
Tanpa berubah muka, dengan tinjunya raja
bengis bertenaga sakti berhasil menghancurkan batu cadas, kakek
beracun dari kutub selatan mematahkan pedang bagai mematahkan bambu
bahkan berhasil melumurinya dengan racun, kemudian Rase kemala mampu
mengejar pedang secepat petir, Lu Pin menusuk batu bagai menusuk
tahu. Demonstrasi kemampuan yang dilakukan ke empat orang ini boleh
dibilang mengerikan sekali.
Tanpa terasa Thiat Tiong-tong dan Sui
Lengkong saling berpegangan tangan dengan kencang, mereka
benar-benar tercekat dibuatnya.
Dalam pada itu si kakek racun dari kutub
selatan telah mengerling sekejap ke arah Li Kiam-pek sambil berkata:
"Dengan kemampuan yang kami berempat miliki,
apakah cukup pantas untuk berebut denganmu?"
Li Kiam-pek berdiri terbelalak dengan mulut
melongo, untuk sesaat dia tak mampu berkata kata.
Sambil tertawa tergelak manusia aneh itupun
berseru:
"Kalau toh sudah berhasil berebut tempat,
silahkan turun tangan, tidak kusangka dalam belasan tahun terakhir
kungfu yang kalian berempat miliki telah bertambah maju pesat!"
"Biarpun telah maju pesat namun sayang masih
belum bisa menandingimu" kata kakek racun dari kutub selatan sambil
tertawa seram, "setelah kami berempat rundingkan, terpaksa kami akan
turun tangan bersama-sama!"
Dengan cepat ke empat orang itu menyebarkan
diri ke empat penjuru dan mengepung manusia aneh itu ditengah arena.
Manusia aneh itu sendiri meski berdiri
santai tanpa berubah wajah, padahal secara diam-diam dia telah
bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
"Hati-hati" seru si Rase kemala kemudian
sambil menjura, "aku......."
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba terdengar
seseorang membentak nyaring.
Meski suara itu tidak terlalu keras namun
terdengar seperti tusukan jarum yang menembusi gendang telinga,
membuat telinga setiap orang terasa sakit sekali.
Dengan perasaan terkejut si Rase kemala
berempat berpaling, sekarang mereka baru melihat ada dua orang
wanita berjubah hitam berkain cadar perlahan lahan berjalan
mendekat.
Cara berjalan ke dua orang ini sangat aneh,
meski sedang melangkah ke depan namun bahunya tidak bergerak, kaki
pun tidak bertekuk, seolah-olah mereka sedang melayang di antara
mega saja.
Baru saja semua orang melihat jubah
panjangnya bergoyang, tahu-tahu mereka sudah tiba didepan arena.
Baik manusia aneh maupun si rase kemala
sekalian sama-sama merasa tercengang, ternyata mereka tidak dapat
menebak siapa gerangan perempuan bercadar itu, datang dari mana dan
apa tujuan kedatangannya.
Lu Pin segera menyapa dengan lantang:
"Apakah li-sicu ada petunjuk?"
"Kalian berempat tidak boleh turun tangan"
jawab perempuan bercadar yang ada disisi kiri lembut.
Suaranya enteng, datar, sama sekali tidak
emosi, namun nadanya tegas bagaikan sedang memberi suatu perintah,
seolah-olah perkataan yang telah dia ucapkan, orang lain tidak dapat
merubahnya kembali.
Si Rase kemala sekalian berdiri tertegun,
tapi kemudian mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
Hanya si kakek racun dari kutub selatan yang
tidak berubah paras mukanya, dengan suara mendalam tanyanya:
"Kenapa kami berempat tidak boleh turun
tangan?"
"Sebab ditempat luaran, kalian berempat pun
banyak membunuh dan memperkosa wanita baik-baik. Bila kau boleh
menodai bini orang, kenapa orang lain tidak boleh menodai binimu,
apa hak kalian untuk turun tangan?"
"Manusia macam apa kau ini, berani amat
mencampuri urusan kami!" bentak Siang pa-ong gusar.
"Thian punya kuasa tidak punya kekuatan,
tidak bisa turun tangan sendiri mencampuri urusan dunia, oleh sebab
itu Beliau tidak segan meminjam tangan kami untuk menuntut keadilan
bagi umat wanita di dunia ini"
"Hahahaha..... kalau begitu kalian mengaku
sebagai utusan Thian?"
"Tepat sekali!"
Setiap perkataan yang diucapkan perempuan
bercadar ini selalu datar, lembut, penuh kedamaian, tidak seorangpun
dapat melihat bagai-mana mimik muka mereka dibalik kain cadarnya.
Tapi jawaban "tepat sekali" itu disampaikan
dengan daya pengaruh yang sangat luar biasa, membuat orang tidak
berani menyangkal kalau mereka benar-benar utusan yang datang dari
langit, membuat setiap umat dunia tidak berani membangkang perintah
mereka.
Sekalipun siang Pa-ong terhitung seseorang
yang keras kepala pun tidak urung bergidik juga sehabis mendengar
perkataan itu, untuk sesaat semua orang hanya bisa saling
berpandangan dengan mulut membungkam.
Lewat berapa saat kemudian, Lu Pin baru
mendehem perlahan dan berkata sambil menuding ke arah manusia aneh
itu:
"Kalau kalian ingin menuntut keadilan bagi
kaum wanita, kenapa tidak kau urus bajingan itu, buat apa kalian
malah mengurusi kami?"
"Kedatangan kami memang ingin menyaksikan
bagaimana pembalasan menimpa dirinya" sahut perempuan bercadar itu,
"tapi sekarang waktunya belum tiba, tentu saja kami tidak akan
membiarkan kalian berempat turun tangan terlebih dulu"
"Lalu siapa yang lebih berhak untuk turun
tangan?"
"Orang yang khusus diutus Thian!"
Tiba-tiba Siang Pa-ong membentak gusar:
"Apa itu utusan Thian, utusan Tee, berlagak
sok tahyul, aku tidak percaya dengan permainan busuk macam begitu,
enyah kau dari sini!"
Sebuah pukulan langsung dilontarkan ke tubuh
perempuan itu.
"Mana mungkin tenaga manusia bisa melawan
tenaga langit, kau berani turun tangan?" jengek perempuan bercadar
itu.
Sementara Siang Pa-ong masih melengak, ujung
lengan baju perempuan bercadar itu telah balik menumbuk keluar.
Cepat siang Pa-ong menarik kembali
serangannya sambil membentak:
"Kita maju bersama, biar dia berangkat
duluan!" Ditengah bentakan nyaring secara beruntun lima pukulan
dilontarkan, dengan tenaga gwakangnya yang sempurna,
boleh dibilang serangan ini mengerikan sekali.
Perempuan bercadar hitam itu hanya sedikit
menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu dia sudah menghindari keempat buah
pukulan pertama, menanti Siang Pa-ong melepaskan pukulan yang
terakhir, mendadak perempuan itu menghentikan tubuhnya dan sama
sekali tidak menghindar lagi.
Sewaktu menggempur batu tiang cadas tadi,
semua orang telah menyaksikan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang
dimiliki Sin-lek-Pa-ong, maka betapa terkejutnya semua orang ketika
menyaksikan gempuran dahsyat itu langsung menghantam ke tubuh
perempuan itu, dalam perkiraan mereka, tulang belulang perempuan
bercadar itu tentu akan hancur berantakan.
Siang Ji-yu sendiripun merasa kegirangan
setengah mati, dia sangka pukulannya bakal merobohkan lawan.
Siapa tahu baru saja ujung kepalan itu
menyentuh pakaian yang dikenakan perempuan bercadar itu, tiba-tiba
pakaian tersebut bergeser cekung ke dalam, tenaga pukulan yang amat
dahsyat itu seolah kerbau lumpur yang tercebur ke dasar samudra,
hilang lenyap dengan begitu saja.
Tidak terlukis rasa terkejut yang dialami si
raja bengis Siang, tapi dia tidak sempat berpikir lebih jauh karena
perempuan bercadar itu sudah berbalik menggulung lengannya dengan
ujung bajunya.
Dalam waktu sekejap dia rasakan segulung
tenaga murni yang tidak dapat dilawan menyusup masuk melalui ujung
baju itu, tidak kuasa lagi tubuhnya terangkat meninggalkan permukaan
tanah dan tahu-tahu tubuhnya yang tinggi besar itu sudah melayang di
udara, melewati diatas kepala si Rase kemala dan ..."Blaaam!"
menumbuk diatas dinding ruangan, terperosok ke lantai dan tidak
sanggup merangkak bangun lagi.
Meskipun si Rase kemala sekalian tahu kalau
lawan telah menggunakan ilmu tenaga dalam sebangsa Can ie cap
pwee tiap (menyentuh baju terperosok delapan belas kali), tidak
urung perasaan hati mereka tercekat juga. Biarpun tidak jelas berapa
usia perempuan bercadar itu, namun mereka sadar bahwa dikolong
langit dewasa ini hanya berapa gelintir manusia yang berhasil
mencapai tingkatan ilmu sehebat itu.
Sebagaimana diketahui, tadi perempuan
bercadar itu hanya menghisap dengan bajunya, tahu-tahu seluruh
tenaga pukulan dari Siang pa-ong sudah lenyap tidak berbekas, lalu
ketika mengebaskan bajunya, tahu-tahu tubuhnya sudah terpelanting,
sampai matipun Siang pa-ong tidak menyangka kalau dia bakal
dipecundangi dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
Begitu mencium lantai, dia jatuh pingsan
berapa saat, kemudian ketika mencoba merangkak bangun, lagi
lagi kepalanya terasa amat pening hingga untuk ke dua kalinya dia
mencium lantai.
Dalam pada itu perempuan bercadar tadi telah
berpaling ke arah si Rase kemala Yo Kun, ujarnya lembut:
"Sekarang kau sudah percaya bukan kalau
tenaga manusia tidak akan menangkan tenaga langit?"
"Soal ini........." berubah paras muka si
Rase kemala Yo Kun, tiba-tiba dia menghela napas panjang, "percaya,
aku percaya.......!"
Sambil berkata dia menjura dan menyembah.
Pada saat itulah mendadak terlihat puluhan titik cahaya perak yang
lembut bagaikan bulu melesat keluar dari punggungnya dan langsung
menyergap dada serta lambung perempuan itu.
Senjata rahasia itu dilepaskan tanpa memberi
tanda, begitu meluncur, kecepatannya melebihi sambaran kilat,
sungguh membuat orang diluar dugaan dan sulit untuk menghindar.
Inilah ilmu yang paling diandalkan dan
dibanggakan selama ini, "Cing pai hoa cuang toan hun ciam
(jarum pemutus nyawa dalam kemasan punggung), selain sangat lihay
dan beracun, banyak sudah jagoan tangguh dalam dunia persilatan yang
kehilangan nyawa diujung jarumnya.
Perubahan ini terjadi diluar dugaan, saking
kagetnya Sui Leng-kong yang bersembunyi diluar jendela sampai
menjerit tertahan.
Siapa sangka perempuan bercadar iu hanya
mengembangkan ujung bajunya, tahu-tahu seluruh hujan jarum perak itu
sudah tergulung ke balik pakaiannya dan lenyap dengan begitu saja.
Mendadak si Rase kemala, Lu Pin serta kakek
racun dari kutub selatan menjerit kaget, sambil menuding ke arah
perempuan bercadar itu mereka bertiga berseru dengan nada gemetar:
"Kau.......kau.......kau......"
"Jadi kalian sudah tahu siapakah kami?"
tukas perempuan bercadar itu tenang.
Tiba-tiba manusia aneh mendongakkan
kepalanya dan tertawa seram, selanya:
"Hahahaha.....mungkin baru sekarang mereka
tahu, padahal semenjak kalian masuk kemari, aku sudah tahu siapa
gerangan kalian semua"
"Memang paling baik kalau sudah tahu"
"Tidak nyana kalian bakal
membantuku........"
"Orang yang semestinya datang menuntut balas
kepadamu hingga kini belum muncul, kami hanya kuatir kau mampus
duluan ditangan orang lain!" potong perempuan itu dingin.
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.... memangnya kau anggap dengan
andalkan beberapa orang ini sudah mampu melukai aku!"
Tiba-tiba dia turun tangan secepat kilat,
cakarnya langsung mencengkeram tengkuk si kakek racun dari kutub
selatan dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi di udara.
Selama ini kawanan jago itu belum pernah
menyaksikan dia mendemonstrasikan kemampuan silatnya, tidak
terlukiskan rasa terperanjat mereka setelah menyaksikan kemampuannya
mencengkeram si kakek racun hanya dalam satu gebrakan tanpa ada
perlawanan sedikitpun.
Si kakek racun dari kutub selatan sendiripun
seakan merasakan sekujur tubuhnya lemas tidak bertenaga, nyaris dia
tidak mampu bergerak, bisa dibayangkan sampai dimana rasa ngeri dan
takutnya saat itu.
"Mau.....mau apa kau?" jeritnya ketakutan.
"Serahkan dulu obat penawar racunmu"
perintah manusia aneh itu sambil tertawa.
"Ada..... ada disaku ku, yang merah
dioleskan dihidung, yang putih ditelan"
Belum selesai ia berkata, manusia aneh itu
sudah mengeluarkan sebuah kotak emas dari sakunya dan berkata sambil
tersenyum:
"Aku yakin kau tidak berani
berbohong.......ambillah!"
Tiba-tiba dia melemparkan kotak itu ke arah
perempuan bercadar itu.
"Buat apa benda ini?" tanpa terasa perempuan
itu bertanya.
Manusia aneh itu tertawa, katanya:
"Kelihatannya kalian berdua adalah para dewi
yang baru saja masuk ke dalam kalangan dewa dewi hingga
pengalamannya sangat cetek, kalian terlalu pandang rendah kemampuan
kakek racun"
"Jangan-jangan........."
"Hahahaha....... ketika kakek racun menuding
dengan jari tangannya tadi, kau sudah terkena racun jahatnya!"
Sekujur tubuh perempuan bercadar itu
bergetar keras, secara beruntun dia mundur berapa langkah.
"Obat pemunah racun telah kuserahkan, kenapa
kau belum lepaskan aku?" terdengar kakek racun dari laut selatan
berteriak.
"Aku tahu, kau licik dan banyak akal
busuknya, meski kami tidak takut menghadapimu tapi kehadiranmu
ditempat ini sangat memuakkan, pergilah!"
Dia segera melemparkan tubuh kakek racun itu
keluar dari pintu gerbang, sementara tubuhnya menerjang ke sela
tubuh si Rase kemala dan Lu Pin sambil melepaskan satu pukulan.
Dengan hati tercekat si Rase kemala berkelit
ke samping sementara Lu Pin buru-buru membalikkan tubuh sambil
mencabut pedangnya, tapi sayang baru saja pedang itu dicabut
setengah inci, pukulan si manusia aneh yang semula tertuju ke tubuh
Yo Kun tahu-tahu sudah berganti menceng-keram tubuhnya.
Sepanjang hidup belum pernah Lu Pin
menghadapi serangan sedemikian cepatnya, sambil berjumpalitan di
udara dan kabur keluar pintu, teriaknya keras:
"Belum terlambat bagi seorang Kuncu untuk
membalas dendam tiga tahun kemudian, tunggu saja pembalasanku!"
Belum selesai dia berbicara, lagi-lagi
terlihat sesosok bayangan manusia meluncur keluar, dia sangka
manusia aneh itu mengejarnya, saking kagetnya dia sampai bergulingan
beberapa kali diatas tanah.
Ternyata bayangan tubuh itu terbanting
persis disamping tubuhnya, orang itu tidak lain adalah si Rase
kemala Yo Kun.
"Kenapa kaupun terlempar keluar........"
tanya Lu Pin terkesap.
Yo Kun menghela napas panjang, sahutnya:
"Bangsat ini sangat lihay, kecepatan
geraknya melebihi setan, belum sempat aku melihat jelas
tahu-tahu........"
Belum selesai dia bicara, kembali terlihat
sesosok bayangan tubuh terlempar ke udara, kali ini yang dilempar
keluar adalah si raja bengis bertenaga sakti Siang Ji-yu.
Suto Siau sekalian mulai kuatir dengan
keselamatan mereka, perasaan ngeri dan takut mulai mencekam perasaan
masing-masing, mereka tidak menyangka kalau manusia aneh itu mampu
melempar keluar empat jago tangguh dari dunia persilatan dalam waktu
singkat.
Sementara itu dua orang wanita bercadar
hitam tadi telah mundur ke sudut ruangan, tapi obat penawar racun
itu belum ditelan, tampaknya dia sedang berunding masalah itu dengan
beberapa orang wanita lainnya.
Sambil tersenyum manusia aneh itu berseru:
"Kenapa kalian berdua tidak segera menelan obat penawar racun itu?
Jangan-sampai gagal masuk ke lingkungan dewi akhirnya malah
terjerumus ke liang iblis........"
Seorang wanita bercadar dengan perawakan
tubuh paling kecil dan pendek, tiba-tiba mengambil kotak itu sambil
tampil ke depan, katanya:
"Kau anggap para dewi dari perguruan Ong bo
(ibu suri) gampang mati karena keracunan!"
Nada suara orang ini jauh lebih dingin, kaku
dan keras ketimbang dua orang rekannya, bahkan sama sekali tidak
berperasaan.
Agak berubah paras muka manusia aneh itu,
serunya:
"Jadi kalian enggan........"
"Betul, kami enggan menerima kebaikanmu!"
tukas perempuan kecil pendek itu sambil membuang kotak tadi ke
lantai kemudian berjalan balik ke rombongannya tanpa melirik sekejap
pun ke arah manusia aneh itu.
Thiat Tiong-tong merasa hatinya tergerak
setelah menyaksikan gerak-gerik yang aneh dari kawanan perempuan
itu, khususnya setelah mendengar sebutan "thian" dan "Dewi" yang
mengandung unsur tahyul.
Pikirnya dengan hati terkejut bercampur
girang:
"Jangan-jangan mereka adalah para jago yang
pernah disinggung dalam Bi hay hu.........."
Mendadak terasa pandangan mata jadi kabur,
kembali ada empat sosok bayangan manusia yang terlempar masuk satu
demi satu dan bertumpukkan menjadi satu.
Tampak ke empat orang itu tergeletak tanpa
bergerak maupun bersuara, mereka tidak lain adalah si Rase kemala
sekalian.
"Siapa?" bentak manusia aneh itu dengan
wajah berubah.
"Sebelum kami tiba, siapa pun dilarang
keluar dari sini!" seseorang menyahut dengan suara yang aneh, suara
itu seakan wujud seakan pula tidak berwujud.
"Kalau memang sudah datang, kenapa tidak
segera masuk?" hardik manusia aneh itu.
Siucay muda yang selama ini hanya duduk
diatas bangku batu itu tiba-tiba tertawa dingin, katanya sepatah
demi sepatah berkata:
"Kalau saatnya telah tiba, tentu saja mereka
akan masuk"
"Siapa pula kau?" tegur manusia aneh itu.
Pemuda siucay itu hanya membalikkan biji
matanya tanpa menjawab, kelihatannya manusia aneh itu ingin bertanya
lebih lanjut, tapi pada saat yang bersamaan dari luar pintu kembali
muncul serombongan manusia.
JILID KE EMPAT
BAB 20.
Sukma Terbang Nyawa Buyar.
Waktu itu, keadaan para jago sudah macam
burung yang ketakutan oleh suara busur, begitu mendengar suara
langkah manusia, serentak mereka berpaling dengan perasaan kebat
kebit.
Ternyata rombongan manusia yang muncul kali
ini adalah kawanan gadis anak buah manusia aneh itu.
Tampaknya manusia aneh itupun sedikit
tercengang melihat kemunculan mereka, baru saja akan menegur Yin Gi,
begitu berpaling dia menjumpai kalau dua bersaudara Yin ternyata
sudah kabur dari situ.
Perginya dua bersaudara Yin dan munculnya
kawanan gadis yang tertawan merupakan peristiwa yang diluar dugaan
siapa pun, hal ini menunjukkan kalau peristiwa itu berkembang
semakin aneh dan penuh misterius.
Kawanan gadis itu muncul dengan rambut
awut-awutan tidak karuan, pakaian lusuh dan wajah pucat pias
bagaikan mayat, bahkan sorot mata mereka yang semula
jeli pun kini kelihatan buram seperti orang blo'on.
Begitu melihat mimik muka kawanan gadis
tersebut, dengan wajah berubah manusia aneh itu segera berseru:
"Kiu yu in hong! (angin dingin
sembilan sukma)"
Begitu mendengar teriakan tersebut,
perempuan bercadar hitam yang berada disitupun nampak bergetar
keras tubuhnya.
Tiba-tiba siucay muda itu mendongakkan
kepalanya dan tertawa seram, katanya:
"Hahahaha....... ternyata kau cukup
berpengalaman, dalam sekilas pandang sudah mengenali ilmu simpanan
perguruan kami!"
"Apa hubunganmu dengan Hong Lo-su?" bentak
manusia aneh itu lagi.
"Kurang ajar!" umpat siucay muda itu dengan
gusar, "berani amat kau sebut nama guruku, hmm! Tidak nyana nyalimu
cukup besar!"
Manusia aneh itu segera menghentakkan
kakinya berulang kali, sambil menarik Li Lok-yang, katanya serius:
"Saudara Li, kau harus segera mundur dari
sini, kawanan gadis itu sudah tertiup buyar sukmanya oleh ilmu
Kiu yu in hong, kini kesadaran mereka sudah hilang, jangan lagi
terhadapmu, aku pun bisa jadi akan mereka lukai"
Bergidik hati Li Lok-yang mendengar
perkataan itu, jeritnya tertahan:
"Kiu yu in hong? Tertiup buyar
sukmanya....."
Belum selesai dia bergumam, tiba-tiba dari
tengah udara telah berkumandang suara yang sangat aneh:
"Terlambat! Terlambat sudah! Tidak ada yang
bisa lolos.......tidak ada yang bisa kabur........."
Paras muka manusia aneh itu kelihatan
semakin tegang, baru saja dia dorong Li Lok-yang dan Li Kiam-pek
masuk ke balik pintu di mana Thiat Tiong-tong sedang menyembunyikan
diri, kawanan gadis itu sudah mulai menggerakkan tubuhnya.
Li Lok-yang berdua kelihatan agak tertegun
juga ketika menyaksikan kehadiran Sui Leng-kong di tempat itu, namun
mereka berempat sama sekali tidak berbicara karena perhatiannya
segera tersedot oleh kejadian yang sedang berlangsung diluar sana.
Tampak belasan gadis itu sudah mulai
bergerak mengepung manusia aneh itu, walaupun kesadaran mereka telah
hilang namun serangan yang dilancarkan tetap ganas, keji dan
mematikan, malahan mereka lebih banyak menyerang daripada bertahan,
seakan-akan sudah tidak ambil perduli lagi dengan keselamatan diri.
Karena jurus nekad mereka, otomatis muncul
banyak kelemahan diantara gerak serangannya, tapi manusia aneh itu
merasa sayang dan kasihan untuk turun tangan keji, mana mungkin dia
tega membunuh kawanan gadis yang selama ini disayanginya?
Oleh sebab itulah kendatipun dalam jurus
serangannya kawanan gadis itu banyak memperlihatkan titik
kelemahan, dia hanya bisa menghela napas sambil mengabaikan
kesempatan baik itu, tidak heran kalau dalam waktu singkat dia sudah
dibikin kalang kabut oleh kerubutan itu.
Saat itu walaupun suara yang bergema di
udara telah berhenti, namun sebagai gantinya muncul suara suitan
yang terkadang muncul terkadang hilang, suara itu mengalun semakin
mendekat dan nadanya bagaikan jeritan serta tangisan setan.
Perempuan pendek kecil yang menonton
jalannya pertarungan itu tiba-tiba membentak nyaring:
"Kenapa kau masih menyayangi nyawa
perempuan-perempuan itu? Memangnya kau sudah bosan hidup?"
Manusia aneh itu menghela napas panjang,
dengan cepat dia menotok roboh seorang gadis, tapi kawanan gadis
lainnya seakan sama sekali tidak melihat, mereka masih menerjang ke
depan tanpa memperdulikan keselamatan sendiri.
"Mari kita turun tangan!" bentak perempuan
kecil pendek itu tiba-tiba.
Dengan kening berkerut siucay muda itu
segera menghadang dihadapan mereka, tegurnya dengan nada dingin:
"Sisa sukma yang gentayangan di angkasa
belum pupus, tidak seorang manusiapun didunia ini yang boleh
mencampurinya!"
"Kecuali utusan dari Langit, siapa pun
dilarang mencabut nyawanya" tukas perempuan bercadar itu cepat.
Begitu mereka berdua berdiri saling
berhadapan, masing-masing pihak segera merasakan hawa dingin yang
memancar keluar dari tubuh lawannya.
Mendadak dari kejauhan berkumandang suara
pekikan nyaring bagaikan pekikan burung hong yang segera membuyarkan
suara jeritan tangis macam teriakan setan itu.
"Aaah datang sudah!" pekik perempuan
bercadar itu tanpa sadar, meski tidak nampak perubahan mimik mukanya
namun dapat ditangkap nada girang dibalik ucapan tersebut.
"Hong Lo-su, mau apa kau datang kemari?"
terdengar suara yang merdu bagai pekikan burung hong itu menegur.
"Dimana angin dingin dari sembilan sukma
datang menyatroni, tentu saja akan ada nyawa yang terbang dan sukma
yang buyar!" sahut suara seperti tangisan setan itu sepatah demi
sepatah, meski diucapkan sangat lambat namun kedengaran amat
menyeramkan.
"Kau tidak boleh mengusik orang yang berada
disini"
"Siapa datang duluan, dia yang berhak turun
tangan, siapa datang belakangan, dipersilahkan segera angkat kaki!"
"Kalau begitu kau ingin menjajal
kemampuanku?"
Pembicaraan kedua orang itu seolah datang
dari atas awan, membuat siapa pun yang mendengar tidak bisa
membedakan suara tersebut berasal dari kejauhan atau dari tempat
yang dekat.
Setelah berhenti sesaat, terdengar suara
lengking seperti tangisan setan itu kembali berkumandang.
Walaupun berasal dari satu sumber namun
kedengaran seolah datang dari empat arah delapan penjuru.
Tiba-tiba terdengar pekikan nyaring bergema
menembusi angkasa, namun suara tangisan setan itu masih bergema
tiada hentinya.
Dua macam suara itupun bergema silih
berganti, bukan saja menggema di seluruh angkasa bahkan membuat
siapa pun merasakan hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun
berdiri.
Manusia aneh itu memandang sekejap
sekeliling ruangan, tiba-tiba tubuhnya berputar kencang, bagaikan
sebuah kincir angin dia menembusi angkasa, melepaskan diri dari
kepungan para gadis dan melesat ke luar pintu gerbang.
Belum lagi tubuhnya hinggap di tanah,
bentaknya lirih "cepat ikut aku!"
Tanpa berpikir panjang Thiat Tiong-tong
sekalian segera mengintil di belakangnya, menelusuri jalanan yang
berliku-liku dan melewati berlapis-lapis pintu gerbang tebal.
Setiap kali sehabis mereka melewati pintu
gerbang itu, si manusia aneh tadi segera menekan sebuah tombol
rahasia, sebuah lapisan batu cadas yang amat besar dan berat pun
seketika menutup jalan lewat.
Dari sikap gugup, gelagapan dan panik yang
diperlihatkan manusia aneh itu, Thiat Tiong-tong sadar bahwa musuh
yang munculkan diri tentu merupakan musuh dengan kungfu yang luar
biasa hebatnya.
Tidak tahan iapun bertanya:
"Apakah yang datang adalah orang orang dari
Bi hay hu?"
"Dari mana kau tahu?" tanya manusia aneh itu
tertegun.
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang,
belum sempat mengucapkan sesuatu tiba-tiba manusia aneh itu berkata
lagi sambil tertawa dingin:
"Kau anggap aku benar-benar takut
menghadapi mereka? Hmmm, hmmm, siapa pun yang bakal datang, aku
tidak bakal takut"
"Kalau memang tidak takut, kenapa mesti
kabur?" tanya Sui Leng-kong.
Sekali lagi manusia aneh itu menghela napas
sedih, ujarnya:
"Kenapa lagi kalau bukan demi kau"
"Kabur demi aku?" Sui Leng-kong semakin
keheranan.
"Walaupun aku tidak takut menghadapi mereka,
tapi kepandaian silat yang dimiliki orang itu kelewat tangguh, untuk
menjaga ke selamatan-ku sendiri mah tidak masalah, tapi aku tahu
dari kelompok yang datang saat ini paling tidak ada sebagian orang
yang datang demi kalian berdua, kalau sampai waktu itu ada orang
hendak mencelakaimu, apa dayaku?"
Tiba-tiba serunya lagi dengan suara keras:
"Bagaimana pun kalian adalah tamuku, sekalipun aku mesti mati karena
tidak sanggup menghadapi mereka, tidak akan kubiarkan orang lain
melukai kalian, itulah sebabnya terpaksa aku harus membawa kalian
menuju ke tempat yang aman lebih dulu!"
"Aaah, tidak kusangka ternyata kau adalah
orang baik" Sui Leng-kong menghela napas panjang,
"terima kasih banyak........ tapi sekarang,
sekeliling tempat ini sudah terkepung rapat, memangnya masih ada
tempat lain yang aman?"
"Tentu saja ada, disinilah tempatnya"
Menengok tempat yang dituding orang itu,
tanpa terasa semua yang hadir jadi tertegun.
Rupanya mnusia aneh itu telah membawa mereka
balik ke ruang gedung semula, sementara tempat yang ditunjuk tidak
lain adalah pintu hitam diantara delapan pintu warna-warni lainnya.
Menduga dibalik pintu tersebut tentu
tersedia pelbagai alat jebakan dan alat rahasia, semua orang mulai
merasa sedikit agak lega.
Tiba di depan pintu berwarna hitam itu,
mimik muka manusia aneh itu berubah jadi amat serius, langkahnya
semakin diperingan, dengan sikap yang amat menghormat dia menyingkap
tirai di depan pintu dan masuk ke dalam.
Ternyata dibalik tirai itu merupakan sebuah
pintu yang terbuat dari batu cadas, pintu itu pelahan-lahan bergerak
naik ke atas, kalau didengar dari suaranya, dapat diduga kalau batu
cadas itu beratnya luar biasa.
Ketika semua orang menyaksikan apa yang
terbentang dibelakang pintu batu itu, sekali lagi mereka dibuat
tercekat.
Ternyata dibelakang pintu batu terbentang
sebuah lorong batu yang panjangnya berapa meter, diujung lorong
merupakan sebuah kolam yang lebar dengan gemercik air yang lirih.
Sejauh mata memandang, air dalam kolam iu
berwarna hijau muda dengan disekelilingnya tumbuh aneka pepohonan,
sebuah pemandangan alam yang sangat indah.
Tapi begitu berjalan mendekat, semua orang
baru tahu kalau kolam air itu luasnya hanya belasan meter, adapun
pepohonan hijau yang berada disekelilingnya tidak lebih hanya
lukisan yang ditempelkan di atas dinding sekeliling sana, lukisan
itu sedemikian hidupnya sehingga ketika dipandang dari kejauhan,
orang akan mengira mereka berada disebuah tanah pegunungan yang
indah.
Diatas kolam yang sejuk dengan air yang
jernih itu terlihat beberapa ekor angsa sedang berenang dengan
santainya, selain itu tampak pula sebuah sampan kecil yang mengapung
diatas permukaan, sekeliling sampan tertutup oleh kain sutera
berwarna hitam sehingga sulit bagi orang luar untuk melihat jelas
keadaan dalam sampan tersebut.
Yang terlihat hanya kepulan asap dupa berbau
harum yang menyebar keluar dari balik kain sutera dan menyebar
kemana-mana, bau harum semerbak yang membuat suasana disana lebih
mirip dengan sebuah nirwana.
Kalau tadi semua orang dicekam dalam suasana
tegang dan penuh dengan hawa pembunuhan, maka sekarang yang tampak
justru ketenangan dan kelegaan, membuat semua orang mabuk kepayang,
terbuai oleh keadaan yang mengesankan.
Dalam pada itu manusia aneh tadi sudah
menjatuhkan diri berlutut, wajahnya nampak amat hormat dan serius,
setelah menyembah berapa kali ujarnya perlahan:
"Ananda memberi hormat kepada ibu"
Sementara semua orang masih keheranan
menyaksikan sikap hormat orang itu, ucapannya semakin membuat semua
orang terperangah, pikirnya tanpa terasa:
"Ternyata dia masih mempunyai seorang
ibu......tapi kenapa ibunya berdiam di tempat yang begitu terpencil
dan rahasia?"
Dari balik kain sutera yang mengelilingi
sampan itu terdengar suara seorang wanita bertanya:
"Ooh, kau telah datang? Mau apa datang
kemari?"
Nada suaranya begitu halus, lembut dan sedap
didengar, jauh lebih lembut ketimbang suara Un Tay-tay, lebih
menawan daripada suara Sui Lengkong, sedikitpun tidak terkesan
suara seorang ibu terhadap putranya.
Sekali lagi semua orang tercengang, coba
kalau manusia aneh itu tidak memanggilnya "ibu", dapat dipastikan
semua orang akan menyangka perempuan yang berada disampan itu
adalah seorang nona muda dan bukan ibu kandungnya.
Dengan cepat manusia aneh itu berkata:
"Sebenarnya ananda tidak berani datang
mengusik kau orang tua, tapi...."
"Delapan belas tahun berselang kau telah
bersumpah, sebelum mencapai kesuksesan kau tidak akan menginjak lagi
sampan ini dan bertemu denganku, masa kau sudah lupa?" ujar
perempuan itu dingin.
"Tapi hari ini ananda harus berjumpa dengan
ibu karena........"
Kembali perempuan dalam sampan itu menukas
sambil tertawa dingin:
"Sewaktu aku mengangkat sumpah, kalian ayah
beranak toh sudah tahu kalau aku akan mulai melatih ilmu sinkang ini
dan sejak itu sulit bertemu lagi dengan kalian berdua, tapi waktu
itu kalian berdua sedang asyik-asyiknya menjadi kesenangan diluaran,
main perempuan ke sana kemari, karena kuatir kehadiranku akan
meng-halangi ulah kalian maka siapa pun enggan mencegah aku!
Khususnya bapakmu, dia secara khusus mendirikan tempat latihan
bagiku disini, kelihatannya saja dia kuatir aku kesepian disaat
sedang berlatih diri, padahal........"
"Ibu, disini hadir orang luar" tukas manusia
aneh itu rikuh.
Tapi perempuan dalam sampan itu seakan tidak
mendengar, lanjutnya:
"Padahal dia ingin secepatnya menyingkirkan
aku, agar ulahnya diluar tidak terganggu......”
Tampaknya sudah lama perempuan itu memendam
perasaan hatinya sehingga begitu diutarakan, semua perkataan
mengalir keluar bagaikan gulungan arus sungai, membuat semua orang
melongo dan terbungkam dalam seribu bahasa.
Dengan wajah masam manusia aneh itu berseru:
"Ibu, waktu itu kau bertekad ingin mempelajari lmu sakti itu, meski
ananda sadar bahwa hal ini tidak gampang namun ananda tidak berani
menghalangi niat ibu......."
"Jika dulu tidak menghalangi aku, mau apa
hari ini datang menjumpai aku?" tukas perempuan dalam sampan itu.
"Hari ini ananda sedang dirundung masalah
besar, karena itu ananda ingin meminjam tempat tinggal kau orang tua
untuk menghindari musibah ini, kalau tidak, mungkin hari ini
ananda........."
"Kalau tahu bakal begini, kenapa berbuat
tidak senonoh dimasa lalu" tukas perempuan itu sambil tertawa
dingin, "aku percaya inilah hutang yang dibuat oleh kalian ayah
beranak dimasa lalu hingga sekarang mereka berdatangan kemari untuk
menagih hutang, bukan begitu?"
Manusia aneh itu menunduk rendah tanpa
menjawab.
"Tapi siapa sih yang telah datang? Kenapa
membuat kau ketakutan? Sungguh aneh" kembali perempuan itu berkata.
"Yang datang adalah Coh Sam-nio dan Hong
Lo-su, ibu, sekalipun kau enggan menolongku, masa akan kau biarkan
mereka berdua bertindak semena-mena dihadapanmu?"
"Apa? Coh Sam-nio dan Hong Lo-su?" perempuan
dalam sampan itu berseru kaget.
Kalau didengar dari nada suaranya, tampak
kalau perempuan yang sudah lama menutup diri ini tergerak hatinya
setelah mendengar kedua nama itu, lamat-lamat paras muka manusia
aneh itu kelihatan kegirangan.
Lewat lama kemudian terdengar perempuan
dalam sampan itu berkata lagi dengan nada perlahan:
"Aku yang hidup seorang diri disini sudah
matikan perasaan, sekalipun seluruh anggota Bi hay-hu datang
kemaripun, hatiku tidak bakal tergerak, pergilah kau dari sini!"
Biarpun dia berbicara dengan suara lambat,
namun nadanya menunjukkan kalau dia sama sekali tidak tergerak
hatinya.
Agaknya manusia aneh itupun tahu kalau
keputusan ibunya sudah bulat dan tidak mungkin bisa dirubah lagi,
perasaan kecewa bercampur sedih melintas diwajahnya, sambil bangkit
berdiri ujarnya:
"Kalau memang begitu, ananda mohon diri!"
Semua orang yang hadir bukan orang bodoh,
dari pembicaraan antara ibu beranak itu mereka segera dapat
menyimpulkan bahwa perempuan itu dimasa lalu pasti pernah merasa
sakit hati karena melihat ulah suami dan putranya yang bermain
wanita dimana-mana, dalam keputus asaan diapun memutuskan untuk
melatih sejenis ilmu silat yang amat sulit.
Dari sini dapat disimpulkan juga bahwa
dimasa lampau perempuan ini tentu mempunyai nama dan kedudukan yang
tinggi didalam dunia persilatan, buktinya manusia macam Coh Sam-nio
dan Hong Lo-su pun menaruh perasaan segan terhadapnya.
Melihat perempuan itu menolak permintaan
putranya meski tahu kalau mara bahaya sedang mengancam, kembali
semua orang menghela napas panjang, mereka merasa sikap perempuan
itu kelewat tega.
Hanya Sui Leng-kong seorang yang tidak tahan
untuk menghela napas sedih, karena tanpa terasa dia terbayang
kembali masa kesepian yang dialaminya hampir delapan belas tahun,
karena dia tahu betapa tersiksanya rasa kesepian, betapa
menderitanya hidup seorang diri.
Kebetulan Thiat Tiong-tong sedang berpaling
memandang ke arahnya, dengan cepat pemuda itupun dapat menyelami
perasaan hatinya saat itu.
Kembali ke ruang utama, paras muka semua
orang nampak murung dan berat, tidak tahan Li Lok-yang berkata
sambil menghela napas:
"Bukan siaute banyak mulut, tabiat ibumu
benar-benar kelewat aneh"
Tidak menunggu manusia aneh itu menjawab,
dengan suara berat Thiat Tiong-tong telah menyela:
"Jika saudara Li pernah merasakan betapa
tersiksa dan menderitanya hidup seorang diri, tidak mungkin kau akan
mengucapkan perkataan itu!"
Dengan pandangan terharu dan penuh rasa
terima kasih, Sui Leng-kong memandang sekejap ke arah pemuda itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara Hong Lo-su
kembali berkumandang:
"Coh Sam-nio, kita berdua tidak usah saling
berebut lagi, bagaimana kalau kita bicarakan tentang pertukaran
syarat?"
"Apa syaratmu, cepat katakan!" seru Coh
Sam-nio dengan suaranya yang merdu bagaikan burung hong.
"Semua perempuan yang hadir disini boleh kau
bawa pergi, sementara yang lelaki tinggalkan untukku"
Sebelum Coh Sam-nio menjawab, kembali Hong
Lo-su berkata lebih jauh:
"Kalau kita berdua mesti bertarung lagi,
paling tidak kau maupun aku mesti bertarung hampir delapan sampai
sepuluh tahun, apa gunanya?"
"Bagaimana dengan kawanan gadis yang sudah
dibuat sinting olehmu?"
"Aku bertanggung jawab untuk membuatnya
tersadar kembali"
"Baik! kita putuskan begitu saja"
Walaupun terhalang oleh dinding ruangan yang
sangat tebal, ternyata suara pembicaraan ke dua orang itu masih
mampu menembusinya, bahkan terdengar amat jelas, kedahsyatan tenaga
dalam yang dimiliki ke dua orang tokoh persilatan itu kontan saja
membuat semua jago saling berpandangan dengan hati tercekat.
Setelah menghela napas, ujar manusia aneh
itu:
"Bila mereka berdua bertarung duluan, kita
bisa menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasil, siapa
tahu....... aaai, kenapa watak mereka berdua bisa berubah banyak!"
Tiba-tiba terdengar Hong Lo-su berseru
sambil tertawa:
"Hey Siau hong liu (tukang pemogoran
cilik), kau tidak usah duduk tenang sambil menonton harimau
berkelahi, lebih baik tampilkan dirimu, memandang diatas wajah ayah
ibumu, locu tidak akan menyusahkan kau!"
"Kalau mampu masuklah sendiri, kami akan
menunggu kedatangan mu!" tantang manusia aneh itu dengan lantang.
Suara teriakannya nyaring dan jelas, tajam
bagaikan emas yang menembusi batu cadas.
Hong Lo-su segera tertawa tergelak.
"Hahahaha...... kau sangka locu tidak mampu
masuk?"
Tiba tiba bentaknya:
"Sin hu lek si (kapak sakti bertenaga
kuat) ada dimana?"
"Siap!" seseorang segera menyahut.
Jawaban itu diucapkan dengan suara bagaikan
guntur, membuat kendang telinga semua orang bergetar dan mendengung
keras.
"Ngo ting-kay-san siap membantu, hancurkan
lapisan batu itu hingga remuk berkeping!"
"Baik!"
Menyusul kemudian terdengar suara getaran
keras bergema diseluruh ruangan, tampaknya Sin-hu-lek-si dan
Ngo-teng-kay-san, dua orang anak buah Hong Lo-su yang bertenaga
raksasa mulai turun tangan membongkar lapisan batu cadas, tidak lama
kemudian lapisan pintu batu pertama berhasil dihancurkan.
"Apakah masih ada jalan lewat di belakang
sana?" tanya Li Lok-yang dengan kening berkerut.
"Bangunan ini dibangun dengan bersandar pada
bukit, kecuali kita memiliki ilmu menembus batu karang, kalau
tidak...... aaai, kalau tidak meski punya sayap pun sulit untuk
melewatinya!"
Li Lok-yang termangu berapa saat lamanya,
kemudian sambil menatap wajah Li Kiam-pek dan menghela napas,
katanya:
"Aaai, tidak seharusnya kuajak kau datang
kemari!"
"Ayah yang tidak seharusnya datang kemari!"
sela Li Kiam-pek cepat.
Ayah dan anak berdua itu saling menguatirkan
keselamatan lawannya sehingga keselamatan sendiri malah terabaikan.
Thiat Tiong-tong sendiripun sambil menatap
wajah Sui Leng-kong katanya sedih:
"Adikku, kau......"
"Aku tak mau menjadi adikmu" tukas Sui
Lengkong sambil menggeleng dan tertawa pedih.
Jawaban tersebut membuat Thiat Tiong-tong
tertegun, serunya tertahan:
"Ke.....kenapa?"
"Karena aku ingin menjadi istrimu, bukan
jadi adikmu!"
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya jadi
kecut, bisiknya:
"Tapi........"
Sebenarnya dia ingin bilang kalau Thian
telah menakdirkan mereka tidak bisa jadi suami istri maka siapa pun
tidak dapat merubah suratan tersebut, namun terbayang bagaimana saat
itu mereka sedang menghadapi kesulitan, apa gunanya menyakitkan hati
si nona lagi, maka dia pun menutup rapat mulutnya.
Namun dihati kecilnya dia segera mengambil
keputusan, apabila mereka masih bisa keluar dari situ dalam keadaan
selamat maka dia harus menyingkir jauh-jauh, agar tali cinta mereka
berdua tidak terikat semakin mendalam yang pada akhirnya susah
dicabut kembali.
Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berkata
dengan nada dingin:
"Kalau dilihat dari situasi sekarang,
tampaknya bukan saja kau gagal menjadi adiknya, apalagi menjadi
bininya!"
Sementara itu suara batu cadas yang
dibongkar orang terdengar makin lama semakin mendekat, diam-diam
Thiat Tiong-tong menghela napas sedih, dia sadar apa yang diucapkan
memang bukan perkataan bohong.
Mendadak terdengar Li Kiam-pek berseru
sambil membusungkan dada:
"Masa dengan tenaga gabungan kita berlima
pun masih tidak sanggup menghadapi mereka?"
"Kalau manusia semacam kau mah biar ditambah
lima puluh orang lagi juga tidak bakal mampu menahan setengah jurus
serangan lawan!" sahut manusia aneh itu dingin.
"Kau.........” dengan perasaan tersinggung
Li Kiam-pek membentak.
Tapi belum sempat mengucapkan sesuatu,
lagi-lagi dia sudah ditarik ayahnya. Sambil menghela napas ujar Li
Lok-yang kemudian:
"Sebenarnya siapa yang telah datang? Kenapa
begitu lihay? Apa yang dinamakan orang orang dari Bi hay hu?"
Pertanyaan itu persis seperti apa yang ingin
diketahui oleh Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong, sudah berapa
kali mereka ingin melontarkan pertanyaan itu namun tidak juga ada
kesempatan, maka saat ini mereka segera pasang telinga dan
mendengarkan dengan seksama.
Manusia aneh itu menghela napas panjang,
katanya:
"Dari luar sampai disini semuanya terdapat
sebelas buah pintu batu cadas, sampai sekarang mereka masih belum
berhasil menjebol enam lapis pintu, mumpung masih ada waktu,
baiklah, akan kuterangkan sedikit asal usul dari beberapa orang itu"
Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu,
melihat tidak ada yang membantah maka diapun berkata lebih jauh:
"Bait pertama dari syair Bi hay hu
mengisahkan tentang enam orang tokoh maha sakti yang bercokol
dikolong langit saat ini........."
Biarpun Li Lok-yang ayah beranak memiliki
pengetahuan yang amat luas pun kelihatannya mereka belum pernah
mendengar tentang syair Bi hay hu, tanpa terasa tanyanya:
"Boleh tahu apa kata bait pertama dari syair
tersebut?"
Dengan mata terpejam pelan pelan manusia
aneh itu berbisik:
"Bila kau bergerak, hujan angin bagaikan
kegelapan, kilat guntur jalan beriring, bila kau tenang, tubuh
bersih bagai cermin, sinar hijau menyelimuti angkasa"
Sewaktu mengucapkan bait syair itu, nada
suara manusia aneh itu kedengaran khusus dan menaruh hormat, mimik
mukanya pun memper-lihatkan keseriusan.
"Jadi siapa saja ke enam orang tokoh sakti
itu?" tanya Li Lok-yang lagi.
"Angin, hujan, petir dan guntur, empat tokoh
sakti dari dunia persilatan!"
"Bila angin, hujan, petir dan guntur
melambangkan nama empat orang tokoh, berarti Hong Lo-su si angin
dari keempat adalah salah satu diantaranya!"
Manusia aneh itu tertawa, ucapnya:
"Walaupun ilmu pukulan Kiu yu in hong ciang
sangat beracun dan jahat, walaupun ilmu pembuyar sukmanya
menakutkan, sesungguhnya Hong Kiu-yu hanya menempati urutan paling
buncit diantara ke empat orang tokoh itu"
"Bagaimana dengan Coh Sam-nio?"
"Si Sambaran kilat Coh Sam-nio tiada
tandingannya dalam ilmu meringankan tubuh!"
Tergerak hati Thiat Tiong-tong setelah
mendengar perkataan itu, selanya:
"Ruyung guntur merontokkan bintang dan
hujan.........."
"Ruyung guntur Lui Toa-bong merajai sembilan
propinsi, dia menempati urutan pertama, si hujan asap Hoa Siang-soat
tiada tandingan dalam ilmu senjata rahasia, dia menempati urutan ke
dua"
"Berarti yang dimaksudkan peluru angin
pemutus sukma adalah Hong Lo-su!" kata Thiat Tiong-tong lagi.
"Benar!"
Thiat Tiong-tong termenung sejenak,
kemudian.
"Bila ditinjau dari bait syair yang
tercantum dalam Bi hay hu, meski ke empat tokoh sakti itu sangat
tangguh, namun kelihatannya mereka masih harus waspada terhadap
orang yang disebut "kau" dalam syair itu, apakah "kau" disini
melambangkan seseorang yang memiliki posisi amat tinggi dan ilmu
silat yang jauh diatas kemampuan ke empat orang itu? Lalu siapakah
tokoh maha sakti itu?"
"Hey anak muda, ternyata kau memang cerdik"
puji manusia aneh itu sambil tertawa, "walaupun kata "kau" hanya
terdiri dari satu suku kata, sebenarnya dia melambangkan dua orang,
seorang lelaki, seorang wanita, yang satu gerak, yang lain tenang,
merekalah yang memimpin dunia persilatan selama ini"
"Boleh tahu siapa nama mereka berdua?"
Tiba-tiba paras muka manusia aneh itu berubah amat serius, katanya:
"Jit-ho (ratu siang) memiliki watak bergerak
bagaikan matahari, dia suka mencampuri ketidak adilan yang ada di
dunia ini, Ya-tee (kaisar malam) memiliki watak tenang, yang dia
utamakan adalah keselamatan dan kenikmatan tubuh!"
Dalam pada itu suara batuan yang hancur
terdengar semakin mendekat dan semakin nyaring, tapi pikiran dan
perhatian semua orang sedang terhanyut oleh kisah dongeng tersebut
hingga tidak seorangpun yang menggubris.
Li Lok-yang tidak kuasa menahan diri,
kembali dia bertanya:
"Bila ke enam orang itu adalah tokoh paling
sakti dalam dunia persilatan, seharusnya nama mereka amat tersohor
dan menggetarkan kolong langit, kenapa cayhe sekalian tidak pernah
mendengarnya?"
Manusia aneh itu tertawa angkuh, selanya:
"Menurut kau, bagaimana dengan ilmu
silatku?"
"Ilmu silatmu tinggi bagaikan langit dan
dalam bagaikan samudra, susah diukur"
"Siapa namaku?" tanya manusia aneh itu lagi.
Li Lok-yang tertegun, sahutnya kemudian
sambil menggeleng:
"Tidak tahu!"
"Nah itulah dia" kata manusia aneh itu
kemudian dengan wajah sungguh sungguh, "bila seseorang sudah melatih
ilmu silatnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, mereka tidak
butuh nama, tidak butuh kedudukan, sekalipun mereka melakukan satu
pekerjaan yang menggetarkan seluruh kolong langitpun, belum tentu
mereka mau mengakui nama aslinya, oleh sebab itu walaupun hasil
karya mereka banyak yang menggemparkan kolong langit, namun begitu
ditanya siapa nama mereka, kebanyakan umat persilatan pasti akan
kebingungan dibuatnya"
"Aku rasa belum tentu begitu" tukas Thiat
Tiong-tong tiba-tiba dengan kening berkerut, "dulu, ketika Im dan
Thiat dua orang sianseng menggemparkan sungai telaga, meski nama
mereka tersohor namun kedua orang tokoh itupun bukan manusia yang
mencari nama"
"Bila dunia sedang kacau, tidak mencari nama
pun secara otomatis nama itu akan diperoleh dengan sendirinya" ucap
manusia aneh itu serius, "Im dan Thiat cianpwee hidup dimasa
kekalutan, tentu saja tidak bisa kau bandingkan dengan mereka"
Mendengar dia sangat menaruh hormat terhadap
leluhurnya, Thiat Tiong-tong segera merasakan gejolak perasaannya
mereda kembali.
Terlihat sepasang mata manusia aneh itu
berkilat, kembali ujarnya:
"Sebenarnya antara orang orang Bi hay hu dan
Perguruan Tay ki bun terjadi persaingan secara diam-diam, tapi
semenjak Perguruan Tay ki bun kehilangan sejilid kitab pusakanya
yang bernama Sin kang Po Iiok, anak murid generasi berikutnya
mengalami kemunduran yang sangat drastis, kemerosotan pamor
Perguruan Tay ki bun yang luar biasa jika dibandingkan puluhan tahun
berselang membuat orang merasa sedih dan menyesal"
"Perguruan Tay ki bun pernah kehilangan
sejilid kitab pusaka?" tanya Thiat Tiong-tong keheranan, "sebagai
murid perguruan, kenapa aku tidak pernah tahu tentang persoalan
ini?"
Manusia aneh itu tersenyum misterius,
katanya:
"Kitab pusaka ini memang sengaja dihilangkan
oleh para cianpwee Perguruan Tay ki bun di masa lalu, tentu saja
mereka tidak bakal mengungkit kembali kejadian itu"
Thiat Tiong-tong semakin tercengang
bercampur keheranan, serunya:
"Kalau betul kitab pusaka itu berisikan
pelajaran ilmu silat yang maha sakti, bagaimana mungkin para
cianpwee kami sengaja menghilangkannya? Aku tidak habis mengerti"
“Tentang masalah ini........"
"Blaaaam!" tiba-tiba suara getaran keras
berkumandang memecahkan keheningan, diantara percikan kerikil dan
debu yang beterbangan di udara, pintu batu cadas lapisan terakhir
telah berhasil dihancurkan orang.
Seorang lelaki kekar bertelanjang dada
menyelinap masuk melalui celah pintu yang jebol itu, tapi dengan
cepat dia mundur kembali ke belakang, kelihatannya raksasa itu tidak
lain adalah si kapak sakti bertenaga raksasa.
Siucay muda itu menyelinap masuk duluan,
setelah menengok sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya dengan
angkuh:
"Guru kami empat malaikat telah menunggu di
luar pintu, kenapa tuan rumah tempat ini belum juga munculkan diri
guna melakukan penyambutan?"
"Kalau mau masuk, masuk saja, kalau tidak
mau masuk, berdiri saja di depan pintu" jengek manusia aneh itu
ketus.
"Kurangajar, besar amat nyalimu.........."
Belum selesai teriakan siucay muda itu, dari
luar pintu sudah kedengaran seseorang berkata sambil tertawa seram:
"Kau enggan keluar untuk menyambut
kedatanganku, ini masih mendingan, masa Coh Sam-nio yang datang dari
jauh pun tidak kau sambut kedatangannya?"
"Aku mah tidak berani disambut sendiri oleh
Siau Huang-cu (Pangeran kecil)" suara Coh Sam-nio baru bergema,
tahu-tahu segulung angin harum sudah berkelebat lewat dan sesosok
bayangan hijau sudah muncul di depan mata.
Buru-buru Thiat Tiong-tong memperhatikan
dengan lebih seksama, ternyata Coh Sam-nio adalah seorang perempuan
kecil mungil, bertubuh ramping, lemah gemulai dan mengenakan pakaian
ketat berwarna hijau dengan renda berwarna perak. Dia tidak lebih
hanya seorang perempuan lemah.
Walaupun wajahnya sudah dimakan usia, namun
tidak menutup sisa kecantikannya dimasa lampau, khususnya sepasang
biji matanya yang bening dan tajam bagai sambaran petir.
Ketika menengok lagi orang yang berada di
belakangnya, ternyata orang itu memiliki perawakan tubuh yang kurus
kering, jangkung bagaikan sebuah gala bambu, mukanya
kurus tinggal tulang belulang yang dibungkus kulit, persis seperti
wajah tengkorak.
Sewaktu berdiri di belakang Coh Sam-nio,
ketinggian tubuhnya ternyata satu kali lipat dari perempuan itu, dia
mengenakan sebuah jubah yang lebar dan longgar.
Semua orang tahu, lelaki ceking ini tidak
lain adalah Kiu yu im hong khek yang amat tersohor itu, sehingga
tanpa terasa mereka pandang wajahnya lebih lama.
Siapa tahu masih mendingan kalau tidak
dipandang, begitu diperhatikan lebih seksama maka semua orang segera
merasakan pancaran kekuatan yang menghisap sorot mata mereka,
membuat semua orang susah untuk mengalihkan kembali perhatiannya ke
arah lain.
"Ooh, kalian berdua sudah datang" kata
manusia aneh itu kemudian, "baik, silahkan duduk!"
Tiba-tiba dia berjalan ke hadapan Thiat
Tiong-tong sekalian, mengebaskan lengan bajunya dan memisahkan
mereka dari sorot mata lawan.
Pada saat itulah Thiat Tiong-tong sekalian
baru bisa menghembuskan napas lega, cepat mereka geser pandangan
matanya ke arah lain dan tidak berani memandang lagi ke arahnya.
Sewaktu ke empat orang itu saling bertukar
pandangan, terlihat peluh dingin telah membasahi jidat
masing-masing.
Terdengar Hong Kiu-yu berkata sambil tertawa
seram:
"Ada apa? Kau takut kuhisap nyawa dari
beberapa orang itu? Hehehehe.... ayohlah, pandang aku sekejap lagi"
"Hong Lo-su, kau terlalu tidak tahu sopan
santun" sela Coh Sam-nio sambil tertawa, "siau Hong-cu, harap kau
jangan gusar"
Sekali lagi semua orang merasakan hatinya
tergerak setelah mendengar manusia aneh itu disebut Siau Huang-cu
(pangeran cilik), pikir mereka hampir berbareng:
"Jangan-jangan manusia aneh ini adalah
putranya Ya-Tee sang kaisar malam?"
Terdengar Coh Sam-nio berkata lebih jauh:
"Belakangan kian hari aku merasa semakin
malas, sebetulnya aku tidak berniat keluar rumah, tapi akhir-akhir
ini Jit ho nio nio mendadak mengundangku, katanya terakhir ini kau
sering mempermainkan kaum wanita dan dia minta aku membantunya untuk
mencabut nyawamu, terpaksa akupun kemari, siapa tahu Hong Lo-su
bersikeras ingin berebut denganku, terpaksa aku pun memberi
kesempatan kepadanya untuk membunuhmu terlebih dulu!"
Meskipun sedang membicarakan soal
pembunuhan, nada suara perempuan ini tetap tenang, lembut dan
kedengaran sangat halus.
Tampaknya manusia aneh itu sama sekali tidak
dibuat gusar, malah katanya sambil tersenyum:
"Kalau memang Jit ho Nio nio menitahmu untuk
membunuhku, masa kau malah mengalah untuk orang lain? Tidak kuatir
dikemudian hari kau yang dibunuh Jit ho Nio nio?"
Coh Sam-nio kembali tertawa. "Sebenarnya aku
pun enggan mengalah, tapi berapa orang dewi anak buah Jit ho Nio nio
telah berdatangan semua, untuk selamatkan nyawa berapa orang nona
cilikmu serta nyawa dari setan perempuan, terpaksa mereka harus
bertukar syarat dengan Hong Lo-su. Sekarang, biar kau sodorkan
tengkukmu dihadapanku pun tidak nanti aku akan membunuhmu,
kedatanganku kali ini hanya ingin menonton keramaian saja"
Setelah mencari tempat duduk, sepasang
matanya yang jeli mengawasi terus tubuh Sui Lengkong tanpa
berkedip.
"Padahal aku sendiripun tidak ingin
menjagalmu" ujar Hong Lo-su pula, "kedatanganku hanya ingin minta
berapa orang dari tanganmu"
Lalu sembari menggapai katanya lebih jauh:
"Kemari kau!"
Siucay muda itu segera berjalan mendekat
dengan sikap yang sangat hormat.
"Siapa saja yang kau inginkan, cepat
beritahu kepadanya!" perintah Hong Lo-su lebih jauh.
Dengan suara lantang siucay muda itu
berseru:
"Yang kami inginkan adalah Thiat Tiong-tong,
Sui Leng-kong......."
Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap,
pikir-nya keheranan:
"Aneh, ternyata kedatangan Hong Lo-su benar
benar lantaran urusan kami berdua, jangan jangan gembong iblis
inipun telah dibeli oleh Suto Siau sekalian?"
Sewaktu manusia aneh tadi memberitahukan
kepadanya bahwa kedatangan semua orang hari ini lantaran dia dan Sui
Leng-kong, pemuda itu masih tidak percaya, dia sangka ucapan
tersebut hanya bertujuan untuk merebut simpatik Sui Leng-kong.
Tapi sekarang dia benar-benar percaya,
bahkan selain keheranan, hatinya pun amat tercekat.
Terdengar siucay muda itu berkata lebih
jauh:
"Kecuali mereka berdua, masih ada seorang
lagi yang mengenakan pakaian pengantin!"
Sekali lagi semua orang dibuat tercengang,
siapa pula orang yang mengenakan pakaian pengantin itu?"
Tampak manusia aneh itu mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, belum sempat mengucapkan
sesuatu, Coh Sam-nio dengan wajah berubah hebat telah bangkit
berdiri seraya berkata:
"Tunggu dulu, orang yang mengenakan pakaian
pengantin itu tidak boleh diserahkan kepadamu"
"Aneh, sungguh aneh" Hong Lo-su segera
bergumam, "mana ada orang yang datang menonton keramaian ikut
mencampuri urusan orang"
"Urusan lain boleh saja tidak kucampuri tapi
masalah ini aku tetap akan mencampurinya"
Mendadak manusia aneh itu tertawa terbahak
bahak, selanya:
"Hahahaha..... mencampuri atau tidak, yang
jelas jangan harap kalian bisa membawa pergi ke tiga orang ini"
Dengan cepat dia melintangkan tubuhnya
dihadapan Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong.
Hong Lo-su tertawa seram, serunya:
"Kau bersedia atau tidak, ke tiga orang itu
tetap harus kau serahkan kepadaku!"
Tiba-tiba bentaknya:
"Mana si kapak sakti bertenaga raksasa?"
"Siap!" suara keras bagaikan geledek bergema
dari luar pintu.
Bersama dengan bentakan itu, seorang lelaki
tinggi besar telah muncul dengan langkah lebar.
Langkah kakinya sangat bebal dan kaku,
persis seperti langkah seekor gorilla, ketika berjalan diantara Suto
Siau sekalian, sepasang tangannya segera direntangkan ke samping.
Kawanan jago yang tersampok tangannya pun
seketika roboh bertumbangan keempat penjuru, tapi Sin hu Lek su
seakan tidak melihat, dia masih melangkah maju dengan bebal.
Ditangannya dia memegang sebuah kapak
raksasa dengan gagangnya sepanjang dua meteran dan mata kapak
sebesar roda kereta, tidak jelas berapa bobotnya, tapi yang jelas
sewaktu bergesek dengan lantai batu, percikan bunga api segera
memancar keempat penjuru.
Sambil menuding ke arah Thiat Tiong-tong
kembali Hong Lo-su memberi perintah:
"Tangkap dulu orang itu!"
Selama ini Thiat Tiong-tong tidak berani
menatap mata setan dari Hong Lo-su, setelah mendengar ucapan tadi
dia baru mendongakkan kepalanya, tapi begitu melihat wajah si kapak
sakti, mendadak anak muda itu menjerit keras.
"Ada.....ada apa?" dengan hati tercekat Sui
Lengkong bertanya.
Thiat Tiong-tong seolah tidak mendengar
pertanyaan itu, sepasang matanya menatap wajah lelaki raksasa itu
tanpa berkedip, terdengar dia berbisik dengan nada gemetar:
"Paman Sim, ke... kenapa bisa kau?"
Siapa pun tidak menyangka kalau si kapak
sakti yang diandalkan Hong Lo-su ternyata tidak lain adalah si
lelaki bertelanjang kaki yang membawa panji sakti dari Perguruan Tay
ki bun.
Dalam terkejutnya, tanpa berpikir panjang
lagi Thiat Tiong-tong menerobos maju ke depan menyongsong
kedatangannya, dengan nada bergetar sapanya:
"Paman Sim, kenapa kau pun berada disini?
Jangan-jangan......"
Waktu itu si kapak sakti sedang mengawasi
wajah pemuda itu tanpa berkedip, belum sempat menunjukkan sesuatu
reaksi, Hong Lo-su dengan wajah menyeramkan telah berkata sepatah
demi sepatah:
"Dialah orangnya!"
"Cepat minggir!" dengan hati tercekat
manusia aneh itu membentak, "sukmanya telah........."
Belum selesai dia berkata, lelaki raksasa
itu sudah mengayunkan tinjunya langsung meng-hajar dada
ThiatTiong-tong.
Mimpi pun Thiat Tiong-tong tidak menyangka
kalau paman Sim nya bakal melancarkan serangan mematikan disaat
seperti ini, belum sempat menjerit kaget, dadanya sudah terhajar
pukulan itu dengan telak.
Kapak sakti punya julukan lain sebagai si
pembuka gunung, bisa dibayangkan betapa besar dan kuatnya pukulan
tersebut. Tampak tubuh Thiat Tiong-tong bagaikan layang layang putus
tali mencelat keluar dari balik tirai berwarna hitam itu dan sampai
lama kemudian baru terdengar tubuhnya yang terbanting di tanah.
Rupanya ketika mereka menerjang masuk tadi,
pintu batu itu sama sekali tidak diturunkan kembali, coba kalau
bukan begitu, batok kepala Thiat Tiong-tong saat ini pasti sudah
menumbuk diatas batu cadas dan hancur berantakan.
Sui Leng-kong menjerit kaget, wajahnya
berubah jadi pucat pasi, tubuhnya sempoyongan nyaris roboh,
kelihatannya dia berniat menyusul keluar dari situ.
Terdengar Hong Lo-su mendengus dingin lalu
menjengek:
"Belum pernah ada orang yang lolos dari
kepalan si kapak sakti dalam keadaan hidup, hanya saja........
aaaai, kelewat sayang sampai terjadi hal seperti ini!"
Belum selesai mendengar perkataan itu, Sui
Leng-kong sudah roboh tidak sadarkan diri.
Suto Siau sekalian pun belum pernah
menyaksikan medan pertarungan semacam ini, untuk sesaat mereka hanya
bisa berdiri tertegun saking kagetnya.
Dalam pada itu si manusia raksasa
bertelanjang kaki itu masih berdiri kaku ditempat, berdiri dengan
wajah tanpa perubahan, tanpa mimik muka.
Terdengar Hong Lo-su kembali memberi
perintah sambil menuding ke arah Sui Leng-kong:
"Masih ada seorang lagi, tapi jangan kau
lukai jiwanya!"
Selangkah demi selangkah lelaki raksasa itu
maju mendekat, setiap kali dia mengayunkan kakinya, berkumandanglah
suara getaran seperti suara tambur yang dipukul nyaring.
Manusia aneh itu tahu, Hong Lo-su telah
menggunakan obat-obatan untuk merangsang munculnya seluruh kekuatan
tersimpan dari lelaki raksasa itu, kemampuan dan kekuatan si kapak
sakti saat ini boleh dibilang susah dihadapi dengan kekuatan biasa,
tapi dia tetap menggertak gigi sambil maju menyongsong.
Sambil menggetarkan kapak raksasanya lelaki
itu membentak nyaring:
"Mampus bagi yang menghalangi aku!"
Sambil berkata kapaknya diayunkan
melancarkan sebuah bacokan.
Kendatipun si manusia aneh itu memiliki
kungfu yang amat lihay pun tampaknya dia tidak berani menyambut
serangan tersebut dengan kekerasan, cepat tubuhnya berkelit ke
samping dengan kecepatan bagaikan ikan melejit, kemudian sambil
memutar tangan dia lepaskan sebuah bacokan balasan.
Serangan mautnya ini meski tidak
menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, namun bila terkena,
bisa dipastikan korbannya bakal tewas.
Siapa tahu pukulan yang bersarang telak
ditubuh lelaki raksasa itu hanya menimbulkan sedikit getaran, bukan
saja tidak sampai roboh, sebaliknya selangkah demi selangkah dia
menerobos maju semakin ke depan, sambil pentangkan telapak tangan
raksasanya, dia cengkeram tubuh Sui Leng-kong.
Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba
terlihat cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu Sui Lengkong yang
tergeletak ditanah sudah hilang lenyap tidak berbekas.
Kapak sakti nampak tertegun, dia seolah
tidak mengerti kenapa sasarannya bisa hilang secara mendadak, dengan
wajah kebingungan dia segera berpaling.
Rupanya Sui Leng-kong telah disambar oleh
Coh Sam-nio, hanya cukup menutulkan ujung kakinya tahu-tahu Coh
Sam-nio sudah balik ke posisinya semula, meski sedang membopong
seseorang namun gerakan tubuhnya masih cepat bagai sambaran petir.
Sambil tertawa dingin Hong Lo-su atau Hong
Kiu-yu ini menjengek:
"Banyak tahun tidak bersua, ternyata ilmu
meringankan tubuh yang kau miliki bertambah hebat"
"Terlalu memuji, terlalu memuji"
"Serahkan gadis itu kepadaku, buat apa kita
mesti bentrok sendiri"
Coh Sam-nio tersenyum.
"Mata setanmu tidak perlu menatapku, tidak
mungkin sukmaku akan tergaet olehmu, masa kaupun ingin bentrok
denganku gara-gara nona ini?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung,
sekawanan perempuan bercadar hitam itu telah bermunculan ditempat
itu.
Sambil berpaling kembali Coh Sam-nio
bertanya:
"Bagaimana dengan nona-nona itu?"
"Sudah ada yang membawa pergi mereka" jawab
perempuan kecil pendek itu cepat.
"Disini masih ada seorang lagi, coba bawa
pulang dirinya!"
"Baik, biar aku saja yang membawanya
pulang!" sela Hong Lo-su tiba-tiba sambil menerobos maju ke hadapan
Coh Sam-nio.
Dengan perawakan tubuhnya yang tinggi
lengkung, dia memiliki ukuran kaki yang panjang sekali, dalam satu
kali langkah satu setengah meter lelah dilampaui, sepasang lengannya
pun punya ukuran mendekati dua meter sehingga ujung tinjunya yang
berkibar terhembus angin persis seperti sepasang sayap lebar.
Coh Sam-nio yang kecil kurus nyaring
terkurung dibawah hembusan angin serangannya yang tajam,
kelihatannya sulit bagi perempuan itu untuk meloloskan diri,
posisinya ketika itu seperti seekor burung alap-alap yang sedang
menerkam anak ayam, keadaannya amat berbahaya.
"Kau tidak bakal mampu menangkapku!" ejek
Coh Sam-nio sambil tertawa.
Terlihat cahaya perak berkelebat lewat,
entah bagaimana tahu-tahu dia sudah mundur sejauh empat meter lebih,
kembali jen geknya:
"Asal kau mampu menyentuh tubuhku, nona ini
segere kuserahkan kepadamu!"
"Hmmm, biarpun halilintar itu cepat, jangan
dianggap angin kalah cepatnya" seru Hong Lo-su
sambil tertawa seram, baru selesai bicara
tubuhnya sudah berputar satu lingkaran didalam ruangan itu.
Walau secepat apapun dia bergerak, namun
sekilas cahaya perak itu selalu bergerak selangkah lebih cepat
dihadapannya.
Paras muka manusia aneh itu dingin bagaikan
salju, tanpa mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba dia menghalang
jalan pergi Coh Sam-nio.
Tampaknya cahaya perak itu segera akan
terperosok masuk ke dalam pelukan manusia aneh itu, tiba-tiba disaat
yang terakhir, entah dengan cara bagaimana tahu-tahu cahaya itu
sudah menyambar lewat dari sisi tubuhnya.
Akibat kejadian ini, nyaris manusia aneh itu
saling bertumbukan dengan Hong Lo-su yang sedang melakukan
pengejaran.
Sambil tertawa terkekeh Coh Sam-nio pun
berseru:
"Kau yang membopong nona ini, biar aku
bermain sebentar dengan ke dua orang bocah itu"
Perempuan kecil pendek bercadar itu hanya
merasakan pandangan matanya silau, tahu-tahu Sui Leng-kong sudah
berada dalam pelukannya.
BAB 21
Aliran silat sejati.
Selama hidup belum pernah kawanan jago itu
menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat, mereka hanya
mendengar suara deruan angin yang saling menyambar melalui sisi
tubuh, membuat ujung baju mereka berkibar, hingga pada akhirnya
tubuh Coh Sam-nio berubah jadi sekilas cahaya perak yang berputar
diantara dua bayangan abu-abu, sulit untuk dibedakan lagi mana
bayangan tubuh dan mana cahaya.
Lama-kelamaan para jago merasakan matanya
mulai berkunang-kunang dan kepala terasa pening, akhirnya mereka
pejamkan mata dan tidak berani melihat lagi.
Sementara si kapak raksasa itu hanya berdiri
dengan mata melotot dan mimik muka hambar, sekalipun matanya
terbelalak lebar padahal tidak ada bayangan apapun yang terlihat
olehnya.
Coh Sam-nio masih berputar sambil tertawa
merdu, sedang napas Hong Lo-su kedengaran mulai tersengkal, sampai
pada akhirnya suara gelak tertawa itu semakin nyaring sedang suara
napas yang tersengkal pun makin keras.
Akhirnya Hong Lo-su menghentikan langkahnya
sambil berkata:
"Aku tidak.....tidak akan mengejar lagi"
"Bagaimana? Mengaku kalah?" tanya Coh
Sam-nio.
"Andai tubuhku kecil pendek macam kau, belum
tentu ilmu meringankan tubuhku kalah dari kau"
Dalam pada itu si manusia aneh itu pun turut
menghentikan pengejarannya, dengan dada naik turun karena
tersengkal, ujarnya pula:
"Sehebat apa pun ilmu meringankan tubuh
seseorang, paling juga dipakai untuk menyelamatkan diri, apa
hebatnya!"
Coh Sam-nio tertawa, sambil berkelebat lewat
dari sisi tubuhnya, dia tepuk bahu lelaki itu dan berkata:
"Jika ingin beradu ilmu adu nyawa, kenapa
tidak mencari Hong Lo-su? Bukankah dia sedang mengincar nyawamu!"
"Aku memang sedang mencarinya!" bentak
manusia aneh itu nyaring, secepat kilat dia lancarkan tiga jurus
pukulan.
Hong Lo-su tertawa seram.
"Hehehehe.... akupun sedang mencari kau,
asal berhasil menangkap dirimu, masa aku kuatir tidak bisa
mendapatkan si pemakai baju pengantin?"
Selama pembicaraan berlangsung, kedua orang
itu sudah saling menggempur sebanyak belasan jurus.
"Kalian berdua boleh bertarung sepuasnya,
biar aku yang menengok ke dalam!" seru Coh Sam-nio sambil tertawa.
Dia melompat ke depan dan langsung
menyelinap masuk ke balik tirai berwarna hitam itu.
"Celaka" pekik Hong Lo-su, "rupanya dia
ingin mencari keuntungan!"
Setelah melepaskan tiga gempuran keras,
tubuhnya mundur ke belakang dan siap menyusul Coh Sam-nio.
Pada saat itulah Coh Sam-nio yang baru saja
menyelinap masuk, kini sudah muncul kembali dengan wajah berubah
hebat, begitu melihat Hong Lo-su sedang menyelinap masuk, cepat dia
berkelit ke samping dan serunya sambil tertawa:
"Kau ingin masuk ke dalam? Silahkan!"
"Dasar siluman rase" umpat Hong Lo-su
setengah bergumam, "permainan busuk apa lagi yang sedang kau
lakukan?"
Walaupun dihati kecilnya sudah muncul
kecurigaan, tidak urung tubuhnya tetap menyelinap masuk.
Manusia aneh itu seketika menghentikan
langkahnya dengan sorot mata berkilat, tampaknya dia sudah menduga
apa yang telah terjadi.
Benar saja, terdengar Hong Lo-su menjerit
kaget kemudian kabur keluar dengan wajah berubah, dengan mata
melotot besar dan menuding ke balik tirai, gumamnya:
"Ternyata dia......dia belum mati"
"Aaai, toh sudah kubilang, jangan kedalam,
siapa suruh kau bersikeras ingin masuk juga" Coh Sam-nio menghela
napas panjang.
Kebetulan waktu itu Sui Leng-kong baru
mendusin dari pingsannya, begitu mendengar perkataan itu segera
jeritnya kegirangan:
"Jadi dia.....dia belum mati?"
"Adik kecil" kata Coh Sam-nio, "lelaki mu
mah susah untuk hidup lagi, yang kami maksudkan adalah orang lain,
belum tentu kau kenal dengan orang itu"
Ucapan "susah untuk hidup lagi" diterima Sui
Leng-kong bagaikan sambaran petir, kontan dia jatuh pingsan lagi.
Dalam pada itu Hong Lo-su telah berteriak
lagi dengan suaranya yang parau:
"Hujin, kalau memang kau belum mati, kenapa
tidak segera munculkan diri untuk bertemu?"
Dari balik tirai hitam segera berkumandang
suara aneh yang lembut, halus, manis dan indah, menjawab sepatah
demi sepatah kata:
"Betul, aku memang belum mati, apakah kau
ingin bertemu aku?"
"Aku...... aku......." Hong Lo-su bersin
berulang kali dengan tubuh menggigil.
Melihat itu Coh Sam-nio segera menyindir
sambil tertawa dingin:
"Dasar manusia tidak berguna, percuma dihari
biasa kau menyebut dirimu sebagai enghiong"
Sambil membusungkan dada Hong Lo-su segera
berteriak lagi:
"Benar, cayhe memang ingin bertemu hujin"
"Tunggu saja sejenak, aku segera akan
munculkan diri, siapa tahu sekalian kubawa benda yang kalian
inginkan, jangan pergi dulu"
"Tentu saja kami tidak akan pergi!" sahut
Hong Lo-su cepat.
Lain dimulut lain dalam kenyataan, tanpa
sadar kakinya makin lama semakin bergeser keluar pintu.
Meskipun dia merasa berat hati untuk
meninggalkan tempat itu, namun dalam kenyataan dia merasa ketakutan
setengah mati terhadap orang diatas sampan itu.
Perempuan kecil pendek bercadar hitam itu
diam-diam mendekati Coh Sam-nio, lalu bisiknya:
"Apa......apakah dia?"
"Betul, memang dia!" jawab Coh Sam-nio
sambil kabur keluar ruangan.
Perempuan bercadar itu segera merasakan
tubuhnya bergetar keras, baru saja dia membalikkan tubuh siap kabur
dari situ, mendadak manusia aneh itu sudah menghadang di depan pintu
sambil menegur:
"Ibuku minta kalian tetap tinggal disini,
siapa yang berani pergi?"
"Siapa bilang aku mau pergi?" teriak Hong
Lo-su dengan mata melotot.
Benar saja, dia segera mengambil tempat
duduk, kemudian sambil melirik ke arah Coh Sam-nio, sindirnya:
"Coh Sam-nio, kau hendak kabur?"
"Hmm, kalau kau tidak kabur, kenapa aku
mesti pergi"
Meskipun kedua orang itu masih berbicara sok
gagah, padahal semangat mereka betul-betul sudah runtuh.
Manusia aneh itu sendiripun merasakan
jantungnya berdebar keras, pikirnya dengan perasaan girang:
"Asal ibu mau keluar, sementara Thiat
Tiong-tong sudah mampus, jelas kenyataan ini sangat menguntungkan
posisiku"
Andai dia tahu keadaan yang sebenarnya,
mungkin manusia aneh itu tidak akan menghalangi kepergian Hong Lo-su
serta Coh Sam-nio, sebab perkataan dari ibunya tadi sesungguhnya
hanya bertujuan mengusir mereka pergi dari tempat itu.
Waktu itu suasana didalam ruangan berubah
jadi hening sepi tidak kedengaran sedikit suara pun, yang paling
merasa takut dan kuatir adalah Suto Siau sekalian, bukan saja mereka
tidak tahu duduknya persoalan, bahkan tidak bisa menduga untung rugi
yang bakal menimpa mereka.
Rupanya Thiat Tiong-tong meski ilmu silatnya
tidak terlampau hebat, namun reaksi serta kecerdasan otaknya boleh
dibilang luar biasa.
Ketika melihat pukulan yang menghantam
dadanya susah dihindari lagi, dia segera manfaatkan kesempatan itu
untuk melompat mundur sambil menjatuhkan diri ke tanah.
Sayang tenaga pukulan dari si Kapak sakti
memang kelewat kuat dan dahsyat, kendatipun sudah menghindar toh dia
tetap terhantam hingga mencelat.
Begitu tubuhnya mencelat sejauh empat depa,
dia segera menerobos ke balik tirai hitam dan tercebur ke dalam
kolam.
Waktu itu kesadarannya belum punah,
seandainya berganti orang lain dia pasti tidak berani menggunakan
tenaganya lagi dan membiarkan tubuhnya tercebur ke dalam kolam.
Berbeda dengan Thiat Tiong-tong, dengan
pertaruhkan keselamatan jiwanya dia segera menghimpun sisa kekuatan
yang dimilikinya dan berusaha keras melejit ke samping, maka ketika
terjatuh ke bawah, tubuhnya persis terjatuh diatas sampan itu.
Begitu memuntahkan darah segar, anak muda
itupun jatuh tidak sadarkan diri.
Menanti dia mendusin kembali, hidungnya
segera mengendus bau harum semerbak yang menyegarkan seluruh
tubuhnya.
Dia tidak tahu kalau bau harum itu berasal
dari dupa mestika yang khusus didatangkan dari negeri Thian-tok
(India) yang disebut Thian say than.
Konon bagi orang yang sedang berlatih tenaga
dalam bila mengendus bau dupa ini maka kemajuan yang dialami bakal
pesat, bila seseorang sedang terluka dalam yang parah pun dapat
segera mendusin dari pingsannya.
Baru saja Thiat Tiong-tong tersadar dari
pingsannya, tiba-tiba dari sisi telinganya terdengar seseorang
berkata:
"Dalam keadaan terluka parah kau masih tidak
segan menggunakan sisa kekuatan yang dimiliki agar terjatuh tepat
diatas sampan, apakah kau mempunyai sesuatu tujuan?"
Suara itu lembut, halus dan indah, satu
keindahan yang tiada keduanya dikolong langit, Thiat Tiong-tong
pernah mendengar sebelumnya, tahu kalau orang yang menegurnya adalah
ibunda dari manusia aneh itu, dia merasa terkejut bercampur girang.
Terkejut karena tidak menyangka kalau
tindakannya yang sengaja menjatuhkan diri keatas sampan ternyata
dapat ditebak orang, buru-buru katanya:
"Isi perut boanpwee sudah terluka parah"
Baru bicara sepatah kata, napasnya sudah
tersengkal-sengkal, maka setelah menarik napas baru lanjutnya:
"Bila tidak ada yang menolong, boanpwee
pasti tewas setelah tercebur ke air, padahal usiaku masih muda, aku
tidak ingin cepat mati"
Kembali suara lembut itu bertanya:
"Bukankah kau tahu kalau tubuhmu tercebur ke
dalam air, belum tentu aku mau menolong, tapi bila terjatuh
dihadapanku, mau tidak mau aku harus menolong?"
"Harap hujin maklum, walaupun luka dalam
yang boanpwee derita sangat parah, namun dengan kemampuan yang hujin
miliki, kau pasti bisa selamatkan jiwaku, itulah sebabnya boanpwee
mengharapkan begitu"
"Kelihatannya kau bicara jujur........"
selesai mengucapkan perkataan itu, dia tidak berbicara lagi.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan
kerongkongannya sangat kering dan dadanya sesak sehabis mengucapkan
kata-kata itu, setelah pejamkan mata dan beristirahat
sejenak dia baru membuka matanya kembali, dia ingin melihat
bagaimana tampang wajah nyonya ini.
Kalau didengar dari suaranya yang halus
lembut, dia sangka nyonya ini pasti memiliki wajah yang cantik
jelita bak bidadari dari kahyangan, siapa sangka, begitu dipandang
seketika itu juga hatinya terperanjat.
Dibawah remang remangnya cahaya redup, asap
dupa yang mengepul tipis dan lapisan kain hitam yang mengelilingi
sampan, tampak hujin itu duduk bersila diatas sebuah bantal untuk
bersemedi, tubuhnya telah menyusut kecil hingga tinggal seonggok
kerangka, kulit mukanya kuning kehitam-hitaman dan tinggal kulit
pembungkus tulang, rambutnya sudah pada rontok sehingga nyaris
gundul kelimis, keempat anggota tubuhnya pun kurus kecil seperti
anggota tubuh seorang bayi, yang paling menonjol hanya kulit
perutnya yang bulat menonjol keluar.
Begitu aneh dan menyeramkan penampilan
perempuan ini, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan berubah
muka dan menjerit kaget.
Tapi Thiat Tiong-tong tidak terbiasa berubah
muka, walaupun perasaan terkejut mencekam perasaan hatinya namun
sama sekali tidak di tampilkan keluar, diam-diam dia menghela napas
sambil pikirnya:
"Dimasa lampau hujin ini pasti cantik jelita
bak bidadari dari kahyangan, tampangnya berubah aneh pasti lantaran
melatih sesuatu ilmu sakti, tidak heran kalau dia enggan bertemu
siapa pun”
Berpikir sampai disitu, perasaan iba dan
simpatik segera menyelimuti hatinya, perasaan itupun tanpa sadar
diperlihatkan keluar.
Hujin itu hanya membuka sedikit sepasang
matanya, dia sama sekali tidak berbicara.
Thiat Tiong-tong hanya memandangnya dua
kejap dan tidak berani menengok wajahnya lagi, dia mencoba
memperhatikan sekeliling tempat itu, disamping bantal bersemedi
terdapat sebuah anglo untuk dupa, disampingnya terdapat sejilid
kitab tipis, diatas kitab itu tertulis: "Aliran silat sejati, Kia ie
sinkang"
Hatinya kontan tergerak, dia merasa nama
ilmu silat itu sangat aneh, pikirnya:
"Tidak heran kalau Hong Lo-su berkoar-koar
menginginkan orang yang mengenakan pakaian penganten, tampaknya
kitab pusaka inilah yang dimaksud, Kia ie sinkang, ilmu sakti baju
pengantin"
Baru selesai dia berpikir, terdengar hujin
itu bertanya lagi:
"Siapa namamu, apakah kau berasal dari
Perguruan Tay ki bun?"
Dalam hati Thiat Tiong-tong merasa
keheranan, darimana dia bisa mengetahui asal usulnya, namun segera
mengiakan dengan hormat.
"Biarpun masih muda, ternyata kau bisa
menaruh simpatik terhadap kesepian yang dialami orang lain, tidak
gampang untuk bersikap begitu" kembali hujin itu berkata.
Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasa
terperanjat, kini dia baru sadar, rupanya semua pembicaraannya
dengan Li Lok-yang sewaktu berada di luar gua tadi telah terdengar
oleh hujin ini dengan sangat jelas.
"Kenapa kau tidak nampak ketakutan setelah
melihat wjahku?" lagi-lagi hujin itu bertanya.
"Boanpwee tidak pernah kenal takut, apalagi
hujin sangat cerdas dan memiliki kemampuan yang luar biasa, apalah
arti dari kulit luar, apa pula arti dari sebuah penampilan,
bagi boanpwee yang tersisa hanya rasa hormat dan kagum"
Secerca kehangatan melintas diwajah sang
hujin yang dingin kaku, pelan-pelan katanya:
"Biarpun kecantikan atau keburukan kulit
wajah seseorang tidak sebanding dengan kecerdasan dan kemampuan,
tapi ada berapa banyak manusia di dunia ini yang tidak menilai
seseorang dari penampilannya!"
Thiat Tiong-tong tidak berani menanggapi,
napasnya saja yang kedengaran makin terengah.
"Kalau masih mampu bergerak, merangkaklah
mendekat" perintah hujin itu lembut.
"Apakah hujin bersedia memberi pertolongan?"
tanya pemuda itu kegirangan.
"Bila tidak menderita luka parah yang
mengancam keselamatan jiwa, tidak mungkin kau berani menerobos
kemari, sekarang kau sudah muncul dihadapanku, ini berarti diantara
kita berdua memang berjodoh, paling tidak sudah sepantasnya bila
kuselamatkan nyawamu"
Dengan kegirangan Thiat Tiong-tong
mengucapkan terima kasih kemudian berusaha keras merangkak maju
mendekati perempuan itu, tapi lukanya memang kelewat parah, sewaktu
berbicara pun banyak mengeluarkan tenaga, walaupun jarak yang berapa
meter saja baginya seakan sedang melalui bukit dan jurangyang
amatjauh.
Hujin itu sama sekali tidak membantunya
untuk merangkak mendekat, dia hanya mengawasi dari kejauhan,
mendadak bisiknya:
"Ada yang datang!"
Walaupun tidak mendengar sesuatu namun tidak
tahan Thiat Tiong-tong menengok juga, dari balik kain sutera hitam
benar saja dia saksikan sesosok bayangan manusia berwarna perak
sedang menyelinap masuk.
Dia tahu orang itu tidak lain adalah Coh
Sam-nio, kembali hatinya tercekat.
Waktu itu Coh Sam-nio sendinpun amat
terkejut setelah melihat asap tipis yang muncul dari balik sampan,
seketika dia menghentikan tubuhnya disisi kolam sembari menegur:
"Siapa yang berada diatas sampan?"
Hujin itu tidak menjawab, tiba-tiba dia
meniup asap tipis yang berada diatas sampan itu, sekilas cahaya
putih segera menyambar keluar dari balik tirai dan bagaikan segulung
hawa pedang langsung menyergap ke tubuh Coh Sam-nio.
Terdengar Coh Sam-nio menjerit kaget, tanpa
mengucapkan sepatah katapun buru-buru dia mundur keluar.
Ketika Hong Lo-su menyelinap masuk pula ke
situ, sang hujin dengan menggunakan cara yang sama, meniupkan
segulung asap putih untuk memukul mundur sang pendatang.
Hong Lo-su sambil menjerit ketakutan segera
melarikan diri pula dari tempat itu.
Tidak terlukiskan rasa kagum Thiat
Tiong-tong menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya:
"Entah sampai kapan aku baru bisa melatih
kemampuanku hingga taraf setangguh itu"
Tampak sang nyonya sedang pasang telinga
mendengarkan sesuatu, mimik wajahnya kelihatan amat serius.
Lewat berapa saat kemudian baru terdengar
suara aneh Hong Lo-su berkumandang dari luar sana:
"Kalau toh hujin belum mati........"
Berikut terjadilah tanya jawab yang semuanya
bisa diikuti dan didengar Thiat Tiong-tong dengan sangat jelas.
Lewat berapa saat kemudian terdengar manusia
aneh itu berkata:
"Kalau ibuku minta kalian tetap ditempat,
siapa yang berani pergi dari sini!"
Begitu mendengar perkataan putranya, dengan
wajah berubah sang hujin segera mengumpat:
"Anak sialan! Aku lagi berusaha
menakut-nakuti mereka agar pergi, dia malah sengaja menahan mereka
semua"
"Kenapa hujin........"
Belum habis Thiat Tiong-tong bertanya,
nyonya itu sudah menukas:
"Bukankah aku sudah berniat menolongmu?
Kenapa melihat kau merangkak dengan susah payah, aku sama sekali
tidak berniat menolong?"
Sambil berkata dia membuka matanya,
memandang pemuda itu dengan sorot mata setajam cahaya lentera.
"Jangan-jangan..... hujin sudah tidak mampu
bergerak?" tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.
"Benar"
Pemuda itu segera menghembuskan napas
dingin, bisiknya:
"Soal ini........soal ini........"
"Persoalan ini tidak ada sangkut pautnya
denganmu, kemarilah, kita bicarakan lagi setelah lukamu sembuh
nanti"
Tidak selang berapa saat kemudian Thiat
Tiong-tong sudah merangkak tiba dihadapannya.
Perlahan-lahan nyonya itu menempelkan
telapak tangan kirinya diatas jidat Thiat Tiong-tong lalu
menyalurkan tenaga dalamnya menembusi nadi dan mengikuti aliran
darah menuju ke jalan darah penting di jantung, sementara tangan
kanannya ditempelkan diatas jalan darah Siang-ci-hiat.
Terasa telapak tangan itu makin lama semakin
panas, menyusul gerakan tadi pemuda itu merasakan sekujur tubuhnya
jadi panas sekali.
Sebetulnya waktu itu dia sudah amat lemah,
lelah dan kehabisan tenaga, namun begitu merasakan mengalirnya
tenaga baru, seketika itu juga semua keluhan tadi hilang tidak
berbekas.
Lewat berapa saat kemudian tenaga aliran
yang semula tenang dan lembut tiba-tiba berubah jadi dua gumpalan
bara api yang membuat anak muda itu merasakan sekujur tubuhnya
seakan menggelembung besar dan hampir meledak, kerongkongannya
terasa mengering, matanya berubah jadi merah membara.
Dalam terkejutnya buru-buru dia kerahkan
tenaga dalamnya untuk melawan, mendadak teringat olehnya kalau saat
itu sedang berada dalam keadaan terluka parah, darimana datangnya
kekuatan untuk melawan?
Belum habis pikiran itu melintas, dia
merasakan tumbuhnya satu kekuatan baru dari pusatnya. Ternyata
tenaga dalam yang disalurkan nyonya tadi kini telah berubah menjadi
kekuatan miliknya.
Dalam terkejut bercampur girangnya tanpa
berpikir lebih jauh kenapa tenaga dalam nyonya itu bisa begitu cepat
melebur dan menyatu dengan tenaga dalam milik sendiri, buru-buru
Thiat Tiong-tong mengerahkan tenaga dalamnya dan berusaha memunahkan
kekuatan hawa panas itu.
Lewat berapa saat kemudian bukan saja hawa
panas itu tidak lenyap malah sebaliknya makin lama semakin bertambah
kuat.
Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba
Thiat Tiong-tong merasa bahwa hawa murni yang ada didalam tubuhnya
bukan saja dapat melebur hawa panas tadi menjadi kekuatan, bahkan
semakin cepat datangnya hawa panas itu, makin cepat pula dia
berhasil melebur kekuatan itu.
Kini hawa murni yang berada dalam tubuh
Thiat Tiong-tong dari lemah berubah jadi kuat, bagaikan bola salju
yang menggelinding dari puncak bukit, makin ke bawah bola salju itu
semakin membesar.
Diantara asap dupa yang mengepul, tampak
paras muka nyonya itu dari kuning kehitam-hitaman berubah jadi
kuning kemerah-merahan, lalu dari kemeraan berubah jadi pucat, perut
bagian bawahnya yang semula membuncit makin lama makin mengempes dan
mengecil.
Ternyata tenaga dalamnya yang sudah dilatih
hampir belasan tahun lamanya itu kini mengalir masuk ke dalam tubuh
Thiat Tiong-tong bagaikan bendungan sungai yang jebol, bukan saja
mengalir deras bahkan sama sekali tidak terbendung lagi.
Berapa jam sudah lewat tanpa terasa, kawanan
jago itu masih menunggu di dalam ruangan.
Sui Leng-kong bersandar dalam pelukan
seorang perempuan bercadar sambil memandang langit langit ruangan
dengan mata mendelong, tiada air mata lagi disudut matanya, air mata
seolah sudah mengering.
Si kapak sakti berdiri kaku dengan kapak
masih terhunus, namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
Li Kiam-pek berjalan mondar mandir macam
semut kepanasan, kelihatannya dia sudah habis kesabarannya sementara
Li Lok-yang tetap duduk ditempat tanpa bereaksi.
Suto Sau dan rombongannya ada yang duduk
menunggu ada pula yang berdiri, semua orang memperlihatkan perasaan
tidak tenang, sedang si siucay muda itu mengumpulkan buah-buahan dan
makanan dari sekitar sana, sayang tidak seorang pun yang berselera
untuk bersantap.
Manusia aneh itu sendiri mesti tidak
menunjukkan perubahan sikap namun perasaan hatinya sangat tidak
tenang, pikirnya:
"Bukankah ibu sudah berjanji akan keluar,
kenapa sampai sekarang belum juga menampakkan diri?"
Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio berdiri dimuka
dinding batu sambil bergendong tangan, mereka berdua sedang
mengawasi jurus silat yang terukir diatas dinding dan nampaknya
sudah dibuat kesemsem.
"Bagus....... bagus, ternyata
memang jurus bagus" terdengar Coh Sam-nio bergumam tiada hentinya.
Meski dia sedang memuji padahal matanya
tidak mengawasi dengan seksama, hanya pikirnya diam-diam:
"Walaupun makhluk perempuan itu tidak
menampakkan diri, tapi jika ditinjau dari kemampuannya mengirim asap
bagaikan pedang, jelas kungfunya telah mengalami kemajuan yang amat
pesat, apa yang mesti kulakukan bila mereka ibu dan anak mengerubuti
aku bersama? Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan saat ini untuk
bekerja sama dengan Hong Lo-su untuk menjagal dulu si makhluk kecil
itu?"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia
melirik sekejap ke arah rekannya,.
Waktu itu Hong Lo-su pun sedang mengawasi
dinding sambil tertawa seram:
"Hebat, hebat, benar-benar jurus yang
hebat!"
Sedang dihati kecilnya ia berpikir:
"Dari pada ibu beranak turun tangan bersama,
ada baiknya kujagal dulu si bajingan cilik ini, tapi....... aku
tidak yakin dengan kekuatanku seorang........"
Berpikir sampai disitu diapun mengalihkan
sorot matanya ke arah Coh Sam-nio.
Dalam waktu singkat sorot mata mereka telah
saling berpandangan, meski hanya sekilas namun ke dua belah pihak
segera mengerti apa yang dipikirkan lawannya.
Sambil menghela napas Coh Sam-nio pun
berkata:
"Aaai, pangeran cilik, kenapa ibunda mu
belum juga menampakkan diri?"
"Bila kau tidak sabaran, kenapa tidak
ditanyakan langsung kepada dia orang tua?" jengek sang pangeran.
"Aaai, kalau aku mah tidak berani bertanya,
Hong Lo-su, kau saja yang pergi bertanya" Hong Lo-su tertawa
terkekeh, potongnya: "Dia langsung marah begitu bertemu aku, lebih
baik kau saja, wajahmu toh jauh lebih sedap dipandang"
Sembari berkata, selangkah demi selangkah
mereka berjalan menghampiri manusia aneh itu.
Paras muka manusia aneh itu sama sekali
tidak berubah, dia seolah tidak menyadari akan hal itu, tiba-tiba
tegurnya sambil tertawa:
"Kalian tidak sabar menunggu, ada apa, ingin
berkelahi dulu denganku?"
Coh Sam-nio serta Hong Lo-su seketika
berdiri tertegun, tapi dengan cepat Coh Sam-nio berkata seraya
tertawa:
"Pangeran, ternyata kau pintar sekali,
dugaan-mu lagi-lagi tepat, Hong Lo-su ingin menjagal dirimu terlebih
dulu!"
"Dasar siluman rase" diam-diam Hong Lo-su
mengumpat, "lagi lagi dia mengumpankan diriku, tapi, bagaimana pun
bocah keparat ini memang harus disingkirkan, daripada semakin
kerepotan bila makhluk tua itu sudah munculkan diri nanti"
Maka sambil tertawa seram ujarnya:
"Menjagal mah tidak berani, tidak ada
salahnya bukan kalau kita berkelahi sambil membuang waktu!"
Ujung bajunya segera dikebaskan keluar,
segulung angin puyuh langsung menghantam ke tubuh manusia aneh itu.
"Hati-hati pangeran" teriak Coh Sam-nio
sambil tertawa, "angin dingin Hong Lo-su sangat lihay, eeei Hong
Lo-su, kau pun mesti hati-hati, kepalan Si hoa kun (ilmu
pukulan mempermainkan bunga) sang pangeran tidak boleh dipandang
enteng"
Sementara pembicaraan berlangsung, Hong
Lo-su sudah terlibat pertarungan seru melawan manusia aneh itu,
setiap pukulan yang dilepaskan selalu disertai selapis hawa dingin
yang menggidikkan, hawa dingin yang lebih tajam dari pada sayatan
pisau tajam.
Adapun jurus serangan yang digunakan manusia
aneh itu enteng dan lincah, lembut seolah-olah tidak bertenaga.
Dengan wajah penuh senyum sebentar dia
menowel dagu Hong Lo-su, sebentar mencubit pipinya, dia seakan
sedang menggoda seorang wanita saja.
"Wah, ternyata ilmu pukulan mempermainkan
bunga miliknya memang sangat hebat" pikir Li Kiam-pek diam-diam
sambil tertawa geli.
Li Lok-yang yang menyaksikan pertarungan
itupun merasa amat terkejut, pikirnya:
"Ilmu pukulan ini benar-benar sangat lihay,
bukan saja sasarannya aneh, bikin orang sama sekali tidak terduga
bahkan memiliki perubahan yang begitu rumit dan sakti"
Tiba-tiba terdengar Coh Sam-nio berseru
sambil tertawa:
"Hong Lo-su, kelihatannya sang pangeran
sudah tertarik kepadamu, coba lihat, dia sedang menjahilimu
habis-habisan, lebih baik kawin saja dengannya"
Tidak terlukiskan rasa gemas Hong Lo-su,
saking jengkelnya dia sampai menggertak gigi kuat kuat.
"Sialan!" umpatnya, "kau si nenek busuk
enak-enakan, malah suruh aku yang kerepotan. Kapak sakti, kau berada
dimana?"
"Siap!" sahut kapak sakti cepat.
Dengan gerakan burung hong pentang sayap
Hong Lo-su melepaskan gempuran ke arah manusia aneh itu dengan
tangan kanannya sementara jari tangan kirinya menuding ke arah Coh
Sam-nio sambil membentak keras:
"Cepat ajak dia berkelahi"
"Baik!" jawab kapak sakti cepat, senjata
kapak raksasanya langsung dibacokkan ke depan.
"Kurang ajar" umpat Coh Sam-nio sambil
tertawa, "tidak heran kalau Lui lotoa mengatakan kalau Hong Lo-su
bukan orang jahat melainkan orang sinting, tapi masa kau tidak bisa
berpikir, memangnya monyet besar ini mampu menyentuhku!"
Tubuhnya berkelebat cepat menghindarkan diri
dari bacokan maut itu, tapi si kapak sakti segera mau dengan langkah
lebar, sambil mengejar terus sepanjang jalan dia melepaskan beberapa
kali bacokan.
Biarpun kapak saktinya menakutkan dan tenaga
serangannya mengerikan, namun bagaimana mungkin dia mampu melukai
Coh Sam-nio yang tersohor karena ilmu meringankan tubuhnya yang
nomor wahid.
Yang merasakan akibatnya justru Suto Siau
sekalian, begitu melihat lelaki raksasa itu mengayunkan
kapaknya, cepat mereka kabur sipat kuping.
Si kapak sakti sama sekali tidak ambil
perduli siapa yang dijumpai, dengan mata melotot besar dia langsung
menghadiahkan sebuah bacokan maut begitu bertemu orang yang
menghalangi jalan perginya.
Ditengah kekacauan terdengar Hong Lo-su
tertawa terbahak-bahak, serunya:
"Nah begini baru ramai namanya....... aduh,
serangan hebat"
Sambil memutar tubuh, dia lepaskan sebuah
jurus serangan balasan.
"Ayoh monyet besar" teriak Coh Sam-nio pula
sambil tertawa, "cepatan sedikit......"
Tiba-tiba dia melepaskan sebuah bacokan
kilat ke arah Hong Lo-su, menanti lawannya berkelit, perempuan itu
kembali berlari menjauh.
Kontan Hong Lo-su mencaci maki kalang kabut.
"Sudah, tidak usah mengumpat lagi" jengek
Coh Sam-nio, "aku selalu bertindak adil...."
Kali ini dia melejit balik sambil melepaskan
tiga buah pukulan secara berantai.
Tampak tubuhnya bergerak lincah, sebentar
bergeser ke kanan melepaskan satu pukulan ke arah Hong Lo-su,
sebentar kemudian menendang si manusia aneh itu, bedanya serangan ke
arah Hong Lo-su dilakukan perlahan sebaliknya serangan kepada
manusia aneh itu jauh lebih berat.
Hong Lo-su bukan orang bodoh, tentu saja
diapun tahu kalau secara diam-diam perempuan itu sedang membantunya,
dengan hati girang pikirnya:
"Tidak kusangka nenek busuk ini banyak
akalnyajuga!"
Saat itu senyuman sudah sirna dari wajah
manusia aneh itu, jelas dia mulai kepayahan menghadapi kerubutan dua
orang tokoh sakti itu.
Dengan semangat berkobar Hong Lo-su segera
berseru:
"Selewat lima puluh gebrakan lagi, akan
kusuruh kau roboh ke tanah!"
"Tidak mungkin dalam lima puluh gebrakan"
sela Coh Sam-nio sambil tertawa, "paling tidak butuh tujuh puluh
gebrakan lagi!"
Li Lok-yang cukup berpengalaman dalam hal
pertarungan, dia pun dapat melihat dengan jelas kalau manusia aneh
itu tidak mungkin mampu bertahan tujuh puluh gebrakan lagi.
Pertarungan antara jago tangguh selalu
dilakukan dengan gerakan cepat, dalam waktu singkat enam puluh
gebrakan sudah lewat, sebagai jago kawakan dia mulai membuat
perhitungan, andaikata tujuh puluh gebrakan kemudian manusia aneh
itu kalah, apa yang harus mereka ayah beranak lakukan?
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong merasakan
hawa panas yang mengalir keluar dari telapak tangan perempuan itu
tiba-tiba berhenti ditengah jalan, ketika dia mencoba untuk mengatur
pernapasan, bukan saja seluruh lukanya telah sembuh malahan tenaga
dalamnya mengalami kemajuan yang amat pesat.
Dalam kejut bercampur girangnya diapun
berseru:
"Terima kasih banyak hujin!"
Tapi begitu membuka mata, betapa
terperanjatnya anak muda ini, ternyata sang nyonya duduk sambil
pejamkan mata, peluh sebesar kacang kedele membasahi seluruh
jidatnya, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat.
Dengan hati tercekat buru buru Thiat
Tiong-tong berseru:
"Boanpwee tidak tahu kalau tenaga dalam
hujin bakal menderita kerugian yang separah ini, tahu begini,
boanpwee tidak akan berani memohon kepada hujin!"
Waktu itu napas sang nyonya tersengkal
sengkal, tapi perutnya yang semula membuncit kini sudah rata
kembali.
Sampai lama kemudian dia baru bergumam
sambil tertawa:
"Aku mengerti sekarang...... aku
mengerti sekarang......"
Biarpun nada suaranya tetap manis dan indah,
namun suaranya berubah jadi amat lemah.
"Nyonya, apa yang kau pahami?" tanya Thiat
Tiong-tong keheranan.
"Persoalan pelik yang membelengguku selama
belasan tahun baru hari ini berhasil kupahami........dupa dalam
hiolo telah padam, coba kau tekan hiolo itu hingga gepeng!"
"Boan....boanpwee tidak punya
kemampuan untuk berbuat begitu!"
"Dicoba saja!"
Thiat Tiong-tong tidak berani membangkang,
dengan ragu diambilnya hiolo tersebut.
Hiolo itu tingginya satu setengah meter dan
terbuat dari tembaga, bukan saja berat bobotnya, lapisannya pun
keras dan susah dirusak dengan senjata.
Sambil tertawa getir pikir pemuda itu:
"Tampaknya nyonya ini menilai kelewat tinggi kemampuan tenaga
dalamku"
Maka dengan sekuat tenaga dia tekan hiolo
tembaga itu, dalam perkiraannya hiolo tersebut bakal patah jadi dua
bagian.
Siapa tahu begitu dia tekan, hiolo yang
keras dan kuat itu seketika tertindih hingga gepeng.
Thiat Tiong-tong benar-benar terperanjat,
saking kagetnya dia sampai melongo dan berdiri terbelalak, memadang
hiolo yang gepeng itu hampir saja dia tidak percaya dengan pandangan
mata sendiri.
"Bila kau ingin membuat gepeng hiolo ini
dihari biasa, mungkin susahnya seperti memanjat ke langit, tahukah
kau apa sebabnya hari ini dapat kau lakukan segampang membalikkan
tangan?" tanya sang nyonya.
"Boan......boanpwee tidak tahu!"
"Ini disebabkan karena tenaga dalam yang
telah kulatih dengan susah payah selama puluhan tahun telah habis
kau hisap, kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki saat ini
kendatipun belum sampai tiada duanya dikolong langit, namun tidak
banyak jagoan dalam dunia persilatan dewasa ini yang mampu
menandingi kehebatanmu"
Thiat Tiong-tong semakin tertegun, dia tidak
tahu harus bersedih hati atau merasa girang. Lama setelah berdiri
termangu dengan keringat bercucuran, tiba-tiba dia menjatuhkan diri
berlutut sembari berkata:
"Boanpwee pantas mati, boanpwee tidak
tahu........."
"Ehmm, ketika mendengar berita yang luar
biasa ini kau bukan saja tidak gembira, sebaliknya malah gugup dan
menyesal, ini membuktikan kalau kau masih punya liangsim,
padahal........aaaai, semua kejadian adalah kehendak Thian, kau
tidak perlu menyesal"
"Tapi.....tapi gara-gara boanpwee, tenaga
dalam milik hujin telah......telah kuhisap semua,
bagaimana.......bagaimana mungkin boanpwee
bisa.....bisa bersikap tenang......."
Nyonya itu tertawa.
"Alasan dibalik semua kejadian ini sangat
aneh" ucapnya, "bahkan aku sendiripun semula tidak tahu apa
sebabnya, aaai, tapi untung sekarang aku sudah paham!"
"Boleh.....boleh aku bertanya kenapa
hujin....."
"Semenjak enam belas tahun berselang, ilmu
sakti yang kulatih adalah ilmu dari aliran sejati, Kia ie sinkang,
ilmu sakti baju pengantin. Walaupun sejak awal sudah kuketahui kalau
ilmu ini maha sakti, maha susah dilatih dan sangat mendalam, namun
aku sadar, seandainya ilmu tersebut berhasil kupelajari maka aku
akan menjadi jagoan yang tiada duanya dikolong langit. Aku pun tahu,
kedua orang cousu pendiri Perguruan Tay ki bun pun bisa menjagoi
kolong langit lantaran sempat mempelajari ilmu maha sakti ini.
Itulah sebabnya aku pun mengambil keputusan nekad, meninggalkan
semua keduniawian dan secara khusuk mempelajari ilmu sakti ini"
Tiba-tiba saja Thiat Tiong-tong jadi
teringat dengan perkataan dari manusia aneh tadi, tidak lahan
selanya:
"Be.....benarkah kitab pusaka ilmu maha
sakti itu secara sengaja dihilangkan oleh mendiang pendiri Perguruan
Tay ki bun?"
Dia betul-betul tidak habis mengerti, kenapa
mendiang leluhurnya harus menghilangkan kitab maha sakti itu secara
sengaja, bukankah kitab tersebut berisikan ilmu sakti yang tiada
tandingannya dikolong langit?
Hanya saja dia tidak tahu bagaimana harus
mengajukan pertanyaan itu.
Terdengar sang nyonya menjawab:
"Betul......... sejak berlatih ilmu sakti
itu, aku sudah sadar kalau ada gelagat tidak beres, sebab begitu aku
mulai melatih diri, tiba-tiba saja tenaga murniku berubah seolah
mengering, susah dialirkan dan susah dihimpun, tapi aku tidak ambil
perduli dengan gejala tersebut, aku nekad tetap melatihnya. Siapa
tahu kendatipun tenaga murniku makin dilatih semakin bertambah
dahsyat, namun setiap kali berusaha menyalurkan tenaga dalam, aku
selalu merasakan penderitaan yang luar biasa, setiap kali hawa
murniku mengalir, akan kurasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa
sakit seolah-olah ditusuk dengan beribu batang jarum tajam"
Setelah menghela napas, lanjutnya:
"Penderitaan itu jauh lebih tersiksa
ketimbang penderitaan macam apa pun yang ada di dunia ini, bila
kuhentikan latihanku, tenaga dalamku segera akan membuyar,
penderitaan dikala buyarnya tenaga dalam betul betul tidak
tertahankan oleh siapa pun. Itulah sebabnya walaupun aku sadar bahwa
gejala ini mirip orang yang menghisap madat, makin dihisap semakin
ketagihan namun aku terpaksa harus berlatihnya terus. Begitu tenaga
murniku bertambah kuat, siksaan yang kuterima pun bertambah berat,
dalam keadaan begini terpaksa kuhimpun tenaga dalam itu dibawah
Tan-tian, tidak kubiarkan hawa murni itu mengalir kemana-mana,
akibatnya tubuh bagian bawahku mulai kehilangan tenaga sebelum
akhirnya lumpuh total"
Thiat Tiong-tong hanya berdiri melongo
dengan mata terbelalak semakin besar, tidak sepatah kata pun sanggup
diucapkan, walau begitu, sekarang dia sudah tahu apa sebabnya perut
sang nyonya kelihatan buncit dan membesar.
Terdengar nyonya itu berkata lagi:
"Biarpun tenaga murniku semakin bertambah
kuat dan dahsyat, tapi apa gunanya bila tidak bisa kugunakan?
Bayangkan saja, ketika aku mesti menghimpun tenaga dalam untuk
menghadapi lawan, namun aku harus merasakan juga siksaan yang luar
biasa seperti ditusuk jarum, mana mungkin bisa kukembangkan jurus
silatku untuk bertarung? Waktu itu aku tidak tahu apa yang
sebenarnya telah terjadi, kusangka aku telah salah berlatih. Bila
meninjau dari nama ilmu tersebut, ilmu baju pengantin, sampai
sekarangpun aku tidak tahu kenapa bisa disebut begitu meski aku
mengerti apa yang disebut sebagai ilmu aliran sejati" Setelah
berhenti sejenak, lanjutnya: "Ilmu aliran sejati
berarti ilmu yang berkembang atas kesadaran
diri, atau dengan perkataan lain, semakin aku menyadari akan
keadaan yang sejati, semakin sukses kupelajari ilmu tersebut.
Sayangnya biar sudah belasan tahun, biarpun sudah kupikirkan siang
malam, aku belum juga mengerti kata kunci itu, sebaliknya semakin
kupikirkan aku semakin goblok, semakin menderita!"
Thiat Tiong-tong ikut menghela napas
panjang, namun dia tidak berani berkomentar, dia tidak tahu apa yang
mesti diu capkan.
Nyonya itu berkata lebih jauh:
"Ketika melihat kau terluka parah, ketika
melihat kejujuran serta kepolosanmu, walaupun timbul perasaan ibaku
untuk mengobati dan menyelamatkan jiwamu, namun akupun ingin melihat
bagaimana reaksimu ketika kusalurkan tenaga dalam hasil latihanku ke
dalam tubuhmu, kalau bukan ingin menjadikan dirimu sebagai kelinci
percobaan, kenapa aku mesti bersusah payah dengan menahan
penderitaan membantu mengobatimu, apalagi kita bukan sanak bukan
keluarga"
Thiat Tiong-tong menundukkan kepalanya,
tidak berani komentar.
Kembali nyonya itu berkata:
"Siapa tahu ketika hawa murniku mengalir ke
dalam tubuhmu, ternyata kau tidak menunjukkan reaksi apa pun, dalam
herannya akupun menambah kekuatan hawa murniku. Pada saat itulah kau
mulai menghisap tenaga dalamku, ketika aku mencoba melawan ternyata
kedua jenis tenaga dalam itu berasal dari sumber yang sama, itulah
sebabnya hawa murniku langsung melebur menjadi satu dengan tenaga
dalammu dan mulai terhisap tanpa bisa dicegah lagi, menanti aku
menyadari akan hal ini, mau kutarik balik tenaga dalamku pun sudah
tidak mungkin lagi"
"Aaah, rupanya begitu!" pikir Thiat
Tiong-tong seolah baru menyadarinya.
Selama pembicaraan berlangsung, nyonya itu
nampak sangat kelelahan, peluh membasahi hampir seluruh tubuhnya.
Tapi dia tampil lebih gembira, lebih ramah
dan santai, dengan napas tersengkal lanjutnya:
"Begitu kehilangan tenaga dalamku,
akhirnya akupun menyadari akan semua masalahku, sekarang
aku benar-benar amat gembira!" Perlahan-lahan lanjutnya:
"Sekarang aku baru mengerti, kenapa ilmu
sakti ini disebut ilmu sakti baju pengantin. Rupanya yang
dimaksudkan adalah membuatkan baju pengantin untuk dikenakan pada
orang lain, bila baju pengantin telah selesai dijahit, orang lainlah
yang akan mengenakannya, sementara si tukang jahit meski sudah
bersusah payah dan merasakan berbagai siksaan dan penderitaan, namun
sayang dirinya bukan sang pengantin.
Artinya ilmu sakti ini memang khusus dilatih
untuk dinikmati orang lain, biarpun sang pelatih penuh penderitaan
namun dia pribadi tidak akan menikmatinya. Tidak heran pihak
Perguruan Tay ki bun membuang jauh-jauh kepandaian sakti itu"
Semakin mendengar Thiat Tiong-tong merasa
semakin tercengang, kini peluh telah membasahi seluruh tubuhnya.
Sinar kegusaran melintas dari balik mata
nyonya itu, tapi sejenak kemudian dia sudah berkata lagi sambil
tertawa:
"Akupun mengerti sekarang kenapa ilmu
tersebut disebut aliran sejati, rupanya arti dari pemahaman itu
sendiripun khusus ditujukan bagi orang lain!"
"Tapi..... tapi.... kenapa tenaga sakti itu
mendatangkan penderitaan ditubuh hujin sementara setibanya ditubuh
boanpwee justru.....justru....."
Nyonya itu menghela napas panjang.
"Mungkin hal ini disebabkan tenaga sakti ini
kelewat keras dan kuat" katanya, "tapi setelah melalui pelatihanku
selama belasan tahun, ketika menyusup ke dalam tubuhmu maka hawa
panasnya telah hilang lenyap, selain itu mungkin juga karena
berasal dari aliran yang sama maka tenaga murni itu segera membaur
secara alami"
Berbicara sampai disini diapun pejamkan mata
tanpa bicara lagi, sementara tempat duduknya telah basah kuyup oleh
peluh yang bercucuran makin deras dari tubuhnya.
Thiat Tiong-tong segera menjatuhkan diri
bersujud, bisiknya:
"Budi kebaikan yang nyonya berikan
benar-benar tidak terhingga, boanpwee... boanpwee tidak tahu
bagaimana harus membalasnya........"
Bicara sampai disini dia jadi sesenggukan
dan tidak sanggup melanjutkan lagi.
Dia bisa membayangkan betapa sedih dan
menyesalnya nyonya itu, terutama ketika secara tiba-tiba menjumpai
tenaga dalam yang dilatihnya dengan susah payah selama belasan
tahun, berpindah tangan dengan begitu saja ke tubuh orang lain.
Nyonya itu tertawa pedih, ujarnya:
"Dalam peristiwa ini, kau tidak berniat dan
akupun tidak sengaja, bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan dirimu,
hanya saja......hanya saja aku nilai ilmu sakti itu benar-benar
kelewat kejam dan tidak berperasaan”
"Boanpwee....... boanpwee........" Thiat
Tiong-tong tidak sanggup menahan diri lagi, air mata menetes keluar
saking sedihnya.
Nyonya itu menghela napas panjang, katanya:
"Semuanya ini karena kehendak Thian........
ilmu tersebut memang milik Perguruan Tay ki
bun sementara kaupun murid Tay ki bun, mungkin Thian memang
menghendaki Perguruan Tay ki bun bangkit kembali seperti semula
hingga mengirimmu datang kemari, coba kalau bukan kejadian ini, biar
kau berlatih tiga puluh tahun lagipun belum tentu bisa menuntut
balas atas atas dendam kesumatmu"
Thiat Tiong-tong yang mendengar perkataan
itu jadi keheranan, pikirnya:
"Kungfu yang dimiliki Suto Siau sekalian
tidak terlalu tangguh, kenapa dia bilang biar berlatih tiga puluh
tahun lagipun belum tentu bisa menuntut balas?"
Tapi dalam keadaan begini dia tidak ingin
berpikir terlalu jauh, sembari bersujud kembali katanya:
"Budi kebaikan hujin tidak akan boanpwee
lupakan untuk selamanya, hujin, bila kau tidak memberi kesempatan
kepada boanpwee untuk membalas budi kebaikan ini, boanpwee bisa
menyesal sepanjang hidup"
"Dalam kejadian ini, tidak ada masalah balas
budi atau tidak dan kaupun tidak perlu
menyinggungnya lagi, cuma......bila kau bersedia melakukan berapa
pekerjaan bagiku, aku pasti akan sangat berterima kasih!"
"Katakan saja hujin, biar harus terjun ke
lautan api pun pasti akan kulaksanakan!"
Nyonyaitu menghela napas panjang, ujarnya:
"Diantara berapa orang gadis anak buah
putraku itu ada seorang nona yang buta matanya, selama banyak tahun
dialah yang menghantar makanan untukku, aaai, agar bisa mengirim
makanan untukku dan tahu kalau aku tidak ingin diketahui orang lain,
dengan ikhlas dia telah membutai mata sendiri. Aku harap kau bisa
temukan gadis itu dan sampaikan rasa terima kasihku yang tidak
terhingga kepadanya"
"Biar harus naik ke langit atau masuk ke
bumi pun boanpwee pasti akan mencarinya sampai ketemu"
Nyonya itu termenung berapa saat lamanya,
kemudian setelah menghela napas katanya lagi:
"Walaupun putraku tidak berbakti,
bagaimanapun akulah yang melahirkan dia, aaai, perseteruanku dengan
ayahnya mungkin membuat posisinya terjepit hingga melahirkan sikap
semacam itu, sekarang tenaga dalammu jauh melebihi dia, aku berharap
kau bisa menjaga keselamatannya, jangan biarkan dia tewas di bunuh
orang"
"Boanpwee pasti akan menghormati dia sebagai
kakakku dan berusaha mengajaknya melakukan kebajikan"
"Anak baik..... anak
baik......." nyonya itu tersenyum.
Lewat sesaat kemudian kembali ujarnya:
"Bawalah kitab pusaka 'aliran sejati, ilmu sakti baju pengantin' ini
dan tolong hadiahkan kepada seseorang"
Berkilat sepasang matanya, sinar penuh
kebencian dan rasa dendam.
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya tercekat,
tanyanya tanpa terasa:
"Di....dihadiahkan kepada siapa?"
Dia tahu, jika kitab pusaka itu dihadiahkan
kepada orang lain, maka hal ini ibarat sedang membunuh orang itu,
membunuhnya secara keji.
"Hadiahkan kepada seseorang yang pernah kau
jumpai, orang yang paling serakah, paling egois, paling kejam dan
tidak pernah mau berpikir untuk orang lain"
Sebenarnya Thiat Tiong-tong merasa kuatir
bila kitab pusaka itu harus dihadiahkan kepada seseorang yang baik
dan bijaksana, dia baru merasa lega setelan mendengar perkataan itu.
"Boanpwee siap melaksanakan!" ujarnya sambil
menghembuskan napas lega.
Kalau disuruh menyerahkan kitab itu kepada
orang baik, Thiat Tiong-tong memang merasa tidak tega, tapi kalau
dihadiahkan kepada orang keji yang kemaruk dan egois, dengan senang
hati dia akan melaksanakannya.
Kembali nyonya itu berkata:
"Aku telah menyiapkan sepucuk surat yang
kuselipkan didalam kitab pusaka itu, ketika kau sudah bertekad akan
menyerahkan kitab tersebut kepada seseorang, tidak ada salahnya buka
surat itu dan baca dulu isinya"
"Baik!"
"Aaaai.... akhirnya keinginanku kesampaian
juga" kata sang nyonya sambil menghela napas, "tapi aku ingin sekali
bertemu dengan anak durhakaku itu, bersediakah kau
memanggilnya untukku?
"Boanpwee segera laksanakan!"
"Tapi jangan biarkan orang ke tiga memasuki
sampan ku ini barang selangkah pun" kata nyonya itu lagi dengan mata
berkilat, "aku..aku tidak ingin orang lain menyaksikan keadaanku
sekarang!"
Dengan hormat Thiat Tiong-tong menyahut
Kembali nyonya itu pejamkan matanya, meski
dia kelihatan sangat lelah namun wajahnya justru tampil lebih tenang.