pendekar panji sakti 07

BAB 19

Perempuan bercadar dari kahyangan.

 

Setelah berada dalam ruangan seorang diri, Thiat Tiong-tong mulai memperhatikan setiap lukisan yang ada di dinding sekeliling tempat itu, ternyata setiap gerakan yang terpampang disana merupakan sebuah gerak serangan yang amat tangguh.

Biarpun ada diantara ukiran itu yang satu lukisan merupakan satu gerakan jurus, tapi ada pula yang harus dirangkai dari lima, tujuh ukiran untuk membentuk satu jurus serangan, tapi setiap gerakan yang tertera boleh dibilang ada sangkut pautnya antara yang satu dengan lainnya, semua merupakan gerakan jurus langka yang mengerikan.

Thiat Tiong-tong kembali berpikir:

"Manusia aneh ini berjiwa besar tapi sayang wataknya sedikit nyentrik, susah untuk dibedakan baik buruknya, tapi kalau tidak aneh, mana mungkin dengan segampang itu dia serahkan rahasia ilmu silat yang begini hebat kepada orang lain?"

Dasarnya dia memang gemar belajar silat, tidak terkirakan rasa gembiranya setelah mene-mukan pelajaran ilmu silat yang begini hebat, cepat dia membuang seluruh pikirannya dan pusatkan segenap perhatiannya untuk mempelajari jurus-jurus silat itu.

Seorang nona dengan membawa alat waktu yang berisi pasir berjalan masuk, katanya sambil tertawa:

"Bila pasir yang ada diatas gelas ini habis tertumpah ke bawah, berarti satu hari telah berlalu"

Waktu itu Thiat Tiong-tong sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk mempelajari jurus silat, dia hanya mengiakan sekenanya tanpa berpaling sedikit pun.

Dia mencoba membandingkan antara jurus silat yang berada diatas dinding dengan jurus silat yang dipergunakan kawanan gadis tadi, segera terasa bahwa ilmu pukulan melepaskan pakaian yang digunakan gadis gadis itu meski tangguh dan ampuh, namun jurus silat yang tertera diatas dinding justru merupakan tandingan dari serangan mereka.

Terkadang jurus serangan itu nampaknya sangat biasa dan sederhana, tapi bila direnungkan kembali maka terasalah bila serangan tersebut mampu membuat para gadis itu serasa terbelenggu dan tidak sanggup melakukan serangan lagi.

Thiat Tiong-tong benar-benar dibuat mabuk kepayang, makin diperhatikan semakin terlihat semua kelebihan dan kesaktian jurus serangan itu, sampai pada akhirnya dia mulai menemukan jurus-jurus pertahanan yang tertera diatas dinding itu, jurus pertahanan yang meliputi: mengunci, menutup, menghadang, memotong, membelenggu dan lain-lainnya.

Bila direnungkan lebih mendalam maka ditemukan bahwa semua jurus pertahanan itu kelihatannya sengaja diciptakan untuk mengha­dapi jurus jurus serangan dari ilmu pukulan melepaskan baju yang mengutamakan tehnik menendang, memukul, menyambar, menusuk, membacok dan mengait.

Thiat Tiong-tong termasuk seorang pemuda cerdas yang encer otaknya, dalam sekilas pandang saja dia sudah menemukan semua kelebihan yang dimiliki jurus serangan itu, tidak tahan pikirnya sambil menghela napas:

"Kalau bukan manusia sakti, bagaimana mungkin dapat menciptakan jurus serangan sehebat ini?"

Menanti dia tengok kembali tabung pasir penunjuk waktu, dijumpai bahwa pasir yang ada diatas telah habis, ini menunjukkan kalau satu hari telah dilewatkan tanpa terasa.

Waktu boleh berlalu dengan cepat, tapi perut yang lapar tidak bisa dibiarkan begitu saja, sekarang Thiat Tiong-tong baru merasa kelaparan.

Buah-buahan serta minuman yang ada diatas meja entah sejak kapan sudah diambil pergi, disitu hanya nampak seorang nona muda yang sedang berdiri mengawasinya sambil tertawa.

"Nona!" tanpa terasa Thiat Tiong-tong maju menghampiri seraya menjura.

"Ada apa? Kelaparan?" tukas nona itu sambil tertawa.

Thiat Tiong-tong tertegun, serunya tergagap:

"Dari mana nona bisa tahu?"

Kembali nona muda itu tertawa hingga nampak sepasang lesung pipinya yang dalam, ujarnya:

"Sudah cukup lama kunantikan perkataanmu itu, tapi nampaknya perutmu sama sekali tidak ambil perduli atas teriakan lapar....."

Nona ini meski tidak terlampau cantik, namun kulit tubuhnya putih dan kerlingan matanya indah, dia tampil dengan membawa sebuah gaya yang cukup mengesankan.

"Bila nona tidak keberatan, bolehkah aku minta sedikit makanan......"

Nona itu kembali tertawa, sambil membenahi rambutnya yang panjang dia menukas:

"Dia minum cuka (cemburu), kau makan hati, masa sudah lupa dengan perkataan itu? Lagipula......."

Setelah tertawa terkekeh lanjutnya:

"Biarpun dikolong langit terdapat lelaki yang berjiwa besar, tidak mungkin akan menyiapkan hidangan lezat untuk menjamu musuh cintanya bukan?"

Kembali Thiat Tiong-tong tertegun. "Jadi.....jadi........."

Sekarang dia baru mengerti apa yang dikatakan manusia aneh itu sebagai "latihlah ketahanan tubuh dengan lapar", cuma......tanpa makan dan minum, sanggupkah dia bertahan selama tujuh hari?

Sambil mengerdipkan matanya yang jeli, nona itu membaringkan diri diatas ranjang batu lalu katanya lagi:

"Dia suruh aku menyampaikan kepadamu, boleh saja bila ingin makanan dan minuman, cuma......."

Dia menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa dan tidak melanjutkan kembali kata katanya.

"Cuma kenapa?" tanya Thiat Tiong-tong tanpa sadar.

"Bila kau tidak bermusuhan lagi dengannya berarti kau adalah tamunya, tentu saja sebagai tuan rumah yang baik dia akan menjamu tamunya dengan baik, kalau tidak......  maka dia akan menyiapkan hidangan bila kaupun bekerja untuk­nya",

"Ooh, jadi ini yang dimaksud sebagai latihlah otot dan tulang dengan keletihan!" kembali pemuda itu berpikir, meski kheki namun diapun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Jadi dia suruh aku mengerjakan apa?" tanya­nya kemudian sambil menghela napas.

Nona itu sengaja membalikkan sedikit tubuhnya hingga nampak paha nya yang putih mulus, sambil tertawa genit sahutnya:

"Mengerjakan apa? Itu mah harus menunggu perintah dariku"

Biarpun gadis itu telah beberapa kali berganti gaya untuk menggodanya, Thiat Tiong-tong berlagak seolah sama sekali tidak melihat, katanya kemudian dengan nadaketus:

"Kalau memang begitu silahkan nona memberi perintah!"

Tiba-tiba nona itu bangkit berdiri, umpatnya: "Buta, buta, memangnya kau seorang lelaki buta?"

Selama ini dia menganggap dirinya adalah seorang nona yang gampang membuat lelaki terangsang dan tergoda, dia jadi mendongkol bercampur jengkel setelah melihat sikap dingin pemuda itu.

Setelah memutar biji matanya berulang kali, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa:

"Baik, aku akan segera memberi perintah, cepat pijat dulu badanku kemudian pijat kakiku!"

Sambil berkata dia berbaring kembali ke atas ranjang sambil memperlihatkan sepasang pahanya yangputih mulus.

Andaikata Im Ceng yang menghadapi kejadian seperti ini, niscaya dia sudah melontarkan pukul­annya tanpa berpikir panjang, sebaliknya bila Sim Sin-pek yang menghadapi kejadian ini..... hmmm, dapat dipastikan kejadiannya pasti berbeda.

Tapi Thiat Tiong-tong hanya tersenyum, dia benar-benar duduk disamping ranjang dan mulai memijat kaki nona itu.

Sepasang kaki yang dimiliki nona itu benar-benar putih mulus tanpa cacad, dari tumit hingga ke pahanya selain empuk, putih dan halus, boleh dibilang tidak nampak setitik noda hitampun.

Lama-kelamaan Thiat Tiong-tong terangsang juga dibuatnya, sekarang dia baru tahu kalau setiap bagian tubuh yang dimiliki gadis itu benar-benar menarik dan menggoda napsu.

Melihat perubahan yang ditampilkan Thiat Tiong-tong, nona itu segera tertawa cekikikan, serunya:

Ternyata kau tidak buta!"

Kakinya yang mulus segera diangkat dan didekatkan ke wajah pemuda itu.

Mengendus bau harum semerbak, Thiat Tiong-tong justru tersadar kembali dari kesilafannya, sambil tertawa katanya:

"Sungguh tidak kusangka wajah serta potongan badanmu sangat menggoda hati lelaki........."

Mendadak dari luar pintu terdengar seseorang berkata sambil tertawa:

"Nona Sui, coba lihat lelaki gagah pujaan hatimu, tidak kusangka dia hebat juga dalam soal rayuan......."

Nona yang berbaring diatas ranjang itu ikut tertawa terkekeh sambil berkata:

"Bukan Cuma soal rayuannya hebat, pijatan-nya juga sangat enak..... aduuh.... pelan dikit.... yaa. Pijat lebih ke atas......"

Tanpa berpaling pun Thiat Tiong-tong tahu kalau manusia aneh itu sengaja hendak mempermalukan dirinya dengan membawa Sui Leng­kong datang menonton, tapi dia menanggapi kesemuanya itu dengan senyuman.

Terdengar Sui Leng-kong berkata lembut:

"Bila tidak berbuat begitu, mana mungkin ia bisa bertahan selama tujuh hari, dia.... dia berbuat kesemuanya itu demi aku, semakin banyak siksaan yang dia derita, aku akan semakin baik terhadapnya, lagipula..... biarpun dia mencintai gadis lain, aku tetap akan mencintainya"

Perkataan itu disampaikan dengan sederhana tapi cukup membuat orang tidak mampu membantah.

Meski Thiat Tiong-tong hanya tersenyum saja setelah mendengar perkataan itu, namun pelbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.

Untuk sesaat suasana jadi sangat hening, tampaknya manusia aneh itu sudah dibuat tertegun oleh perkataan tadi.

Terdengar Yin Ping menghela napas sambil bergumam:

"Tidak aneh kalau pemuda itu berpaling pun tidak, ternyata dia sudah tahu kalau nona Sui sangat mempercayainya"

Setelah  menghela  napas  panjang, kembali gumamnya:

"Kalau  sudah  seia sekata,  kenapa  takut menghadapi godaan iblis........"

Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, dia tahu perempuan itu sengaja hendak membuat jengkel manusia aneh itu.

Siapa tahu manusia aneh itu tidak menjadi marah, malah ujarnya sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha....... sungguh kagum melihat Sui Leng-kong yang tidak cemburuan, sayang aku tidak punya rejeki untuk mendapatkan nya. Baiklah, anggap kerja rodi hari ini telah usai, beri dia makanan!"

Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menghentikan pijatannya, pikirnya:

"Ternyata dia memang tidak malu disebut seorang lelaki sejati"

Dua orang nona muncul membawa pelbagai hidangan, Thiat Tiong-tong yang sejak tadi sudah kelaparan tidak membuang waktu lagi, dia siap menerkam semua hidangan yang ada.

Siapa tahu si nona kembali menghalangi niatnya itu, katanya sambil tertawa ringan:

"Hidangan ini disiapkan khusus untuk majikan, kalau kuli mah makan disebelah sana"

Sambil berkata ia menuding ke arah lain.

Thiat Tiong-tong berpaling ke arah yang ditunjuk, diatas sebuah baki kayu tersedia semangkuk air putih dan sebiji mantau keras.

Tapi mana mungkin sebiji mantou bisa membuat kenyang perutnya yang sedang lapar? Masih mending kalau tidak dimakan, begitu selesai melahap mantau tersebut, dia merasa semakin kelaparan hingga susah ditahan.

Tampak nona muda itu dengan nikmatnya melahap hidangan yang tersedia, sembari bersantap katanya tertawa:

"Kalau kau hentikan perlawanan, apa pun yang ingin kau santap, kami pasti akan memper­siapkannya, lagipula........"

Setelah mengerling genit, tambahnya:

"Kau boleh membawa pergi semua barang berharga serta gadis cantik yang ada disini, aku...aku pun bersedia pergi mengikutimu!"

Dia sengaja menyingkap belahan bajunya hingga secara lamat lamat tampak kulit badannya yang putih mulus.

Thiat Tiong-tong hanya melirik sekejap ayam goreng serta bebek panggang yang ada diatas meja, kemudian setelah menghela napas panjang dia berjalan balik ke depan dinding ruangan.

Nona muda itu tertawa dingin, tiba-tiba dia melompat turun dari ranjang batunya lalu dengan cepat melepaskan seluruh pakaian yang dikena­kan, teriaknya keras:

"Coba lihat, apakah aku kalah bila dibanding­kan dengan dia?"

Tubuh bugil yang indah, putih dan montok segera terpampang jelas di depan mata.

Thiat Tiong-tong hanya berpaling sambil melirik sekejap, kemudian sambil tertawa dia melanjutkan kembali pengamatannya keatas dinding, sama sekali tidak ambil perduli lagi.

Andaikata dia tidak berani berpaling tadi, mungkin si nona muda itu tidak terlalu kheki, namun pemuda itu berpaling tanpa terpikat sedikitpun, hal ini membuat si nona merasa seakan dipermalukan, tiba-tiba diambilnya seluruh pakaiannya dari lantai kemudian satu demi satu ditimpukkan keatas wajah Thiat Tiong-tong.

Begitulah, selama berapa hari beruntun nona itu berusaha dengan pelbagai cara untuk menyiksa Thiat Tiong-tong, bukan saja semakin sering harus kerja rodi, mantau yang disediakan pun makin lama semakin bertambah kecil.

Selama itu, manusia aneh itupun berulang kali mengajak Yin Ping dan Sui Leng-kong sekalian untuk makan minum berpesta pora disekitar sana, tapi Thia Tiong-tong tetap acuh, seakan-akan dia tidak pernah menyaksikan kejadian seperti itu.

Seluruh pikiran dan perhatiannya tertuju diatas dinding, mempelajari seluruh gerak silat yang tertera disana, diapun merasa mendapat kemajuan yang pesat, dengan dasar ilmu silat yang dimiliki ditambah kecerdasan otak serta daya ingatnya yang bagus, tentu saja tidak sulit baginya untuk menyerap semua pelajaran yang ada.

Menjelang hari ke tujuh, nyaris seluruh lukisan yang tertera diatas dinding sudah berhasil dia hapalkan diluar kepala, dia yakin dengan menggunakan jurus serangan apapun, mustahil pihak lawan bisa merobohkan dirinya.

Saat itu, kendatipun kondisi tubuhnya sudah melemah namun semangatnya justru semakin berkobar, seluruh tubuhnya seakan dipenuhi oleh kekuatan hidup yang menyala.

Mendadak nona muda itu muncul kembali, duduk persis dihadapannya, lalu ujarnya sambil tertawa:

"Hari ini adalah hari ke tujuh, kalau selama ini sikapku kurang baik terhadapmu, harap kau jangan marah"

"Nona merpati tidak usah sungkan, masa aku akan menyalahkan dirimu" sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

Kini dia sudah mengetahui nama gadis ini, ternyata semua gadis yang ada disitu diberi nama dengan sebutan unggas.

Nona merpati menghela napas panjang, katanya lagi:

"Berapa jam lagi kita akan bertarung kembali, kali inipun kau tidak bakalan menang, jadi tidak perlu menaruh pengharapan yang terlalu besar"

Tampaknya Thiat Tiong-tong sudah mempu­nyai rencana yang matang, sahutnya sambil tertawa:

“Aku hanya berharap nona mau bersikap lebih sungkan"

"Aku sendiri mah tidak bakalan menyusahkan kau, tapi ke enam saudaraku yang lain........."

Belum selesai nona itu berbicara, tiba-tiba Thiat Tiong-tong merasakan telinganya amat sakit bagai tersambar  geledek  saja,   membuat perasaan hatinya bergetar keras hingga tidak sanggup bergerak.

Semula dia mengira dengan kemampuannya sekarang pasti akan berhasil membendung semua serangan dari kawanan gadis itu, tapi setelah diingatkan kembali oleh nona merpati bahwa mereka bukan hanya terdiri dari satu orang melainkan bertujuh, hatinya tersentak kaget.

Dengan kerja sama tujuh orang, bila gerak serangan seseorang terbendung, rekannya dapat segera menutup kegagalan itu.

Apalagi sisa waktunya tinggal tiga, empat jam lagi, mungkinkah baginya untuk menemukan jalan lain yang bisa digunakan untuk menghadapi kerja sama tujuh orang itu?

Untuk sesaat pemuda itu hanya bisa berdiri kaku dengan keringat bercucuran deras.

"Hey, kenapa kau?" tanya nona merpati keheranan.

Sambil tertawa getir sahut Thiat Tiong-tong: "Hanya sisa berapa jam terakhir pun apa nona tidak bisa membiarkan aku beristirahat sejenak dengan tenang?"

Ketika menyaksikan perubahan sikap maupun wajah sang pemuda yang semula begitu ber­semangat, tiba-tiba berubah jadi sangat aneh, nona merpati menghela napas panjang, tanpa bicara lagi dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Thiat Tiong-tong duduk seorang diri dengan pikiran kusut dan perasaan putus asa, hilang sudah semangat dan minatnya untuk mempelajari sisa berapa jurus silat itu.

Kini kondisi musuh yang jauh lebih kuat sudah tertera jelas, dia sadar kendatipun dia memiliki kemampuan yang lebih hebatpun mustahil bisa digunakan dalam keadaan seperti ini. Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, baru kali ini dia merasa sedih bercampur kecewa.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya keheningan dipecahkan oleh gelak tertawa manusia aneh yang muncul diiringi Yin Ping, Sui Leng-kong serta kawanan gadis cantik itu.

Tujuh hari sudah lewat, kau telah siap?" tegur manusia aneh itu sambil tertawa.

"Sudah!" jawab ThiatTiong-tong kaku.

"Bila kali ini kau menderita kekalahan lagi, aku segera akan menghantar kau turun gunung, tapi......hahaha..... karena kuanggap tidak terlalu besar kesempatanmu untuk meraih kemenangan, lagi pula sudah berhari-hari kau menderita kelaparan, baiklah kita bersantap dulu sebelum melanjutkan pertarungan!"

Thiat Tiong-tong tidak ingin berdebat, maka tidak selang berapa saat kemudian hidangan telah disiapkan.

Beberapa saat kemudian terlihat ke tujuh orang nona muda itu sudah munculkan diri di dalam ruangan.

Pakaian yang dikenakan kawanan nona itu masih terdiri dari pelbagai macam warna, hanya kali ini jumlah yang mereka kenakan jauh lebih banyak.

Diantara mereka bertujuh, nona merpati dengan baju coklatnya yang nampak paling menawan hati.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya:

"Buat apa mereka mengenakan pakaian yang lebih banyak dan sengaja memperpanjang waktu, toh aku........."

Satu ingatan tiba-tiba melintas lewat dalam benaknya, sambil tertawa terbahak-bahak dia segera bangkit berdiri.

Sui Leng-kong paling kuatir melihat perubahan sikap pemuda itu, segera teriaknya: "Ke.....kenapa kau?"

Thiat Tiong-tong tidak menjawab, dia mulai duduk dan bersantap, setelah kenyang dan semangatnya bertambah kembali, dia baru melompat bangun.

"Sekarang sudah dapat dimulai?" tanya manusia aneh itu kemudian sambil tersenyum.

Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba dia melucuti pakaian sendiri satu per satu, sambil melepaskan bajunya diam-diam dia melirik sekejap ke arah lawan.

Benar saja, paras muka manusia aneh itu seketika berubah hebat.

Sui Leng-kong turut panik juga, teriaknya:

"Kau.....kau......."

Dengan bertelanjang dada, Thiat Tiong-tong menyerahkan pakaiannya ke tangan Sui Leng-kong.

Dengan termangu nona itu menerimanya, tapi setelah tertegun berapa saat, mendadak dia bertepuk tangan dan serunya sambil tertawa:

"Kau......kau menang! Kau menang!"

Sambil melompat bangun, dia menggenggam tangan Thiat Tiong-tong erat-erat dan melompat-lompat saking girangnya.

"Kau memang bocah pintar!” puji Yin Ping pula sambil tertawa.

Kawanan nona cantik itu saling bertukar pandangan, mereka betul-betul dibuat tidak habis mengerti.

Salah seorang diantaranya segera berteriak: "Bertarung saja belum, bagaimana mungkin bisa menang?"

Oleh karena selama ini belum pernah seorang manusia pun mampu menjebol barisan mereka, maka mereka pun tidak tahu bagaimana cara untuk menjebol ilmu barisan tersebut.

Sambil tertawa terbahak-bahak seru Thiat Tiong-tong:

"Apakah celana termasuk baju?"

Kawanan gadis itu kembali tertegun.

"Celana ya celana, tentu saja bukan pakaian" sahut nona berbaju merah itu kemudian.

Dia mengira pemuda itu sudah pikun hingga mengajukan pertanyaan semacam itu.

"Kalau celana tidak termasuk baju, maka sekarang aku sudah tidak mengenakan pakaian lagi, padahal taruhan kita adalah bila kalian sampai selesai melepaskan pakaian yang dikenakan namun belum berhasil melepaskan sebuah pakaianku pun, berarti akulah yang menang. Kini aku tidak mengenakan pakaian, sekalipun akhirnya berhasil kalian robohkan pun, kemenangan tetap menjadi milikku"

Kawanan gadis itu jadi melongo dan berdiri terbelalak, serentak mereka berpaling ke arah manusia aneh itu.

Tampak manusia aneh itu masih duduk bersila diatas ranjang tanpa bicara, wajahnya kaku tanpa perubahan.

Nona berbaju merah itu segera memprotes: "Kenapa kau..... kau melepas dulu pakaian-mu......"

"Kalian saja boleh menambah pakaian yang dikenakan, kenapa aku tidak boleh mengurangi?" tukas Thiat Tiong-tong cepat, "apalagi sebelum pertarungan dimulai, toh tidak ada ketentuan berapa banyak pakaian yang harus kukenakan" Sesudah menghela napas panjang, lanjutnya: "Ilmu barisan ini boleh dibilang merupakan sebuah ilmu barisan yang amat langka, cara untuk menjebol  barisan  inipun   sangat unik, boleh dibilang kehebatannya tidak terkirakan di kolong langit!"

"Tapi......tapi........"

"Tidak usah bicara lagi" tiba-tiba manusia aneh itu menghardik, "anggap saja dia yang menang. Kalau tidak berbuat begitu, siapa yang mampu mempelajari ilmu untuk menjebol barisan tersebut hanya dalam tujuh hari yang singkat!"

"Berarti dahulu kaupun menggunakan cara yang sama untuk memenangkan pertaruhan ini?" tanya Yin Ping sambil tertawa.

"Benar" jawab manusia aneh itu sambil tertawa tergelak.

Kembali Yin Ping menghela napas panjang, ujarnya sambil tersenyum:

"Walaupun kau adalah srigala pemogoran, ternyata sikapmu sangat terbuka dan berani mengaku terus terang"

Sorot matanya dipenuhi dengan pancaran sinar pujian serta rasa kagum.

Walaupun manusia aneh itu berlagak seolah tidak mendengar, namun tidak dapat menutupi rasa bangga yang tampil diwajahnya.

Terdengar Yin Ping berkata lebih jauh:

"Bukan saja berterus terang bahkan adil dan bijaksana, bila kau sengaja mengajukan persoalan yang pelik untuk mengajaknya bertaruh, bukankah kemenangan pasti berada dipihakmu?"

Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong saling bertukar pandangan sekejap, dalam hati kecilnya mereka berpikir:

"Benar juga perkataan ini"

Sui Leng-kong menatap sekejap wajah manusia aneh yang sedang diliputi perasaan bangga itu, tiba-tiba ujarnya:

"Ada orang berkata, bila dirinya dipuji oleh orang yang dicintai, maka rasa gembiranya akan luar biasa sekali"

"Memang begitu"

"Ada pula orang berkata, perempuan hanya bisa memuji orang yang dicintai, bila dia tidak menyukai orang itu, jangan harap dia akan mengucapkan kata-kata pujian"

"Adik cilik, tidak nyana kaupun sangat memahami hal semacam itu" seru Yin Ping sambil tertawa terkekeh.

"Kalau memang kau menaruh cinta kepadanya sementara diapun menaruh perasaan kepadamu, kenapa kalian berdua tidak hidup berdampingan hingga tua nanti? Kenapa kalian harus memberi kesempatan kepada pihak ke tiga untuk mengacau hubungan kalian berdua? Kalau berganti aku yang menghadapi kejadian seperti ini........ aaai, oleh sebab itulah aku sungguh tidak mengerti, kenapa kalian berdua harus......harus berbuat begini?"

Mendengar perkataan itu, senyuman yang menghiasi wajah Yin Ping maupun manusia aneh itu hilang seketika, sinar aneh memancar keluar dari balik mata perempuan itu.

Manusia aneh itu menarik mukanya dan segera berkata dingin:

"Hmm, kau jangan keburu senang dulu, barisan yang berhasil kau lalui baru setengahnya, apalagi masih ada delapan pintu lain yang menanti, delapan pintu dengan delapan persoalan sulit, ingin lolos dari delapan pintu itu secara gampang? Huuh, tidak usah bermimpi disiang hari bolong"

"Betul, memang lebih sulit lolos dari ke delapan pintu itu ketimbang naik ke langit" sambung Yin Ping sambil membelai bulu   Ping-nu, si kucing kesayangannya, "untung saja sisa waktu yang tersedia sudah tidak banyak lagi"

Berubah paras muka Thiat Tiong-tong maupun manusia aneh itu, tanya mereka serentak:

"Apa maksud perkataammu itu?"

Baru selesai mereka bertanya, mendadak terdengar suara keleningan emas berkumandang datang dari kejauhan.

Perlahan-lahan Yin Ping melompat turun dari pembaringannya, setelah menyapu sekeliling tempat itu sekejap, katanya:

"Coba dengar, suara keleningan kembali berbunyi, bukankah kita sudah kedatangan tamu lagi!"

Manusia aneh itu memandang dua kejap ke arahnya, kemudian tanpa banyak bicara dia melompat turun dari ranjangnya dan beranjak pergi dengan langkah lebar.

Melihat wajah serius yang ditampilkan manusia aneh itu, tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong, tanpa terasa dia berpaling pula ke arah kawanan gadis itu.

Ternyata mereka pun memperlihatkan wajah kaget bercampur keheranan.

Dengan kening berkerut terdengar nona merpati berkata:

"Sudah banyak tahun lembah kami jarang didatangi orang luar, siapa pula yang datang kali ini? Apakah Yin hujin sudah menduga jauh sebelumnya?"

Yin Ping tidak menggubris pertanyaan itu, sambil membelai Ping-nu, kucingnya, dia berkata:

"Sayangku, disini bakal ada keramaian, mau ikut lihat?"

Sembari berkata, diapun ikut beranjak pergi.

Kawanan nona itu saling bertukar pandangan dengan wajah tertegun, kembali terdengar nona merpati berkata:

"Kau ingin tetap tinggal disini, atau ikut bersama kami?"

Thiat Tiong-tong tahu, andaikata dia tetap tinggal disitu, dapat dipastikan pintu ruangan akan ditutup kembali, maka tanpa ragu jawabnya sambil tertawa:

Tentu saja ikut menonton keramaian"

Walaupun kawanan gadis itu tahu kalau gelagat tidak beres, namun mereka masih tersenyum sambil saling bergurau, mengiringi Thiat Tiong-tong dan Sui Leng-kong, tibalah semua orang di sebuah bangunan gedung yang amat besar.

Namun kawanan gadis itu tidak berani masuk, mereka hanya mengintip secara diam-diam dari balik jendela.

Gedung itu amat besar dan luas, kecuali batu batu pilar besar boleh dibilang tidak ada perabot lainnya, ke empat dinding batunya memancarkan sinar kehijauan yang menyeramkan, jauh berbeda dengan kemewahan dari ruangan semula.

Manusia aneh itu berdiri ditengah ruangan, kini dia telah berganti pakaian dengan mengenakan satu stel baju berwarna hitam, kepalanya diikat dengan tali berwarna hiam pula, wajahnya tanpa senyuman dan sikapnya secara tiba-tiba berubah jadi amat serius.

Thiat Tiong-tong sangat keheranan, dia tidak habis mengerti apa sebabnya sikap manusia aneh itu berubah jadi begitu serius, seolah-olah sedang menghadapi serbuan musuh tangguh saja.

Tentu saja dia tidak tahu kalau lembah tersebut sudah banyak   tahun tidak pernah dikunjungi orang luar, kehadiran orang-orang asing tersebut sungguh diluar dugaannya.

Tentu saja kehadiran Thiat Tiong-tong di lembah tersebut merupakan pengecualian, karena kehadiran pemuda itu sudah seijin dan sepengetahuan manusia aneh itu.

Yin Ping sambil membopong kucingnya berdiri jauh disudut ruangan, ia berdiri dengan wajah senyum tidak senyum, matanya mengerling berulang kali keempat penjuru sementara tangan­nya membelai bulu kucing kesayangannya.

Suasana didalam gedung amat sepi, tapi terasa hawa tekanan yang luar biasa beratnya.

Tiba-tiba bergema suara teriakan nyaring dari luar pintu:

"Yin hujin tiba!"

Dua orang gadis muda menyingkap tirai didepan pintu, seorang nanek berambut putih yang mengenakan jubah hijau, bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang dan membawa hawa setan yang menggidikkan hati, perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Walaupun wajahnya sudah amat tua namun biji matanya masih bening bercahaya, tangan kirinya berpegangan di puncak seorang bocah berusia tiga, empat belas tahunan sementara tangan kanannya membawa sebuah tongkat berwarna hitam.

Mengikuti di belakangnya adalah sekelompok muda-mudi berpenampilan mencolok, yang lelaki tinggi semampai berwajah tampan, sedang yang wanita bertubuh ramping berwajah cantik jelita.

Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong nyaris menjerit tertahan setelah menyaksikan kemun­culan rombongan manusia itu, ternyata mereka adalah Kiu cu Kui bo beserta para anak muridnya, antara lain Gi Cing-kiok serta si bocah pincang.

Pemuda tampan yang ada dibelakang Kui bo itu meski nampak tanpa cacad, namun dia bisu lagi tuli, orang itu tidak lain adalah murid ke delapan dari Kiu cu Kui bo yang disebut orang persilatan sebagai Bu im to hun, Lak-jiu Longkun (pemuda bertangan telengas mencabut nyawa tanpa suara).

Ketika masuk ke dalam gedung, Kui bo Yin Gi hanya menyapu sekejap wajah adiknya, Yin Ping, kemudian setelah manggut-manggutkan kepala dia langsung berjalan menuju ke hadapan manusia aneh itu.

Padahal dua bersaudara ini sudah banyak tahun tidak pernah bersua muka, namun perjumpaan mereka hanya ditandai dengan saling mengangguk belaka, sikap yang begitu dingin boleh dibilang melampaui sikap orang asing saja.

Sui Leng-kong ikut tertegun menyaksikan adegan tersebut.

Terdengar Yin Gi telah berkata dengan nada dingin:

"Walaupun kau bergelar Bu lim Kui cay (manusia berbakat setan dari dunia persilatan), namun kehadiranku kali ini pasti diluar dugaanmu bukan?"

Paras muka manusia aneh itu sama sekali tidak berubah, sahutnya sambil tertawa hambar:

"Selama ini cara kerja dua bersaudara Yin selalu penuh rahasia dan misterius, aku sudah banyak melihat dan mengetahuinya, kenapa mesti tercengang oleh kehadiranmu?"

"Memang lebih bagus begitu!" Yin Gi tertawa dingin, dia segera mengambil tempat duduk dan tidak bicara lagi.

"Kau jauh-jauh datang kemari, apakah tujuannya hanya untuk duduk?"

"Kalau tidak duduk memangnya mesti kenapa?"

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha..... kalau masih ada urusan lain harap segera disampaikan"

"Tentu saja akan kusampaikan, hanya sekarang saatnya belum tiba"

"Mau menunggu sampai kapan?"

"Hingga tamu lain berdatangan"

"Masih ada tamu lain?" berubah hebat paras muka manusia aneh itu.

Yin Gi tertawa dingin tanpa menjawab, Gi Cing kiok serta pemuda bisu tuli itu segera berdiri di belakang tubuhnya, sementara bocah pincang itupun berdiri disisinya, hanya saja dengan matanya yang besar dia celingukan ke sana kemari.

Manusia aneh itu berpaling melotot Yin Ping beberapa kejap, cepat Yin Ping mendongakkan kepalanya sambil membuang muka.

Saat itulah suara keleningan kembali bergema, seorang gadis berjalan masuk dengan langkah tergesa-gesa.

Dia muncul sambil membawa selembar kartu nama berwarna putih, wajahnya kelihatan kaget bercampur tercengang, sambil berjalan masuk gumamnya berulang kali:

"Aneh,  sungguh aneh,  lagi-lagi kedatangan tamu"

Setelah menerima kartu nama itu dan menengoknya sekejap, dengan wajah berubah seru manusia aneh itu:

"Persilakan tamu untuk masuk"

Tidak selang berapa saat kemudian terdengar suara langkah manusia disusul munculnya seorang kakek berjubah panjang dan seorang pemuda tampan yang menggembol pedang.

Thiat Tiong-tong maupun Sui Leng-kong merasa terkejut, pekik mereka hampir berbareng:

"Kenapa mereka ayah beranak pun ikut datang?"

Ternyata kakek dan pemuda yang barusan munculkan diri tidak lain adalah Li Lok-yang dan Li Kiam-pek.

Dengan langkah lebar Li Lok-yang melangkah masuk ke dalam ruangan, seraya menjura memberi hormat, katanya dengan suara dalam:

"Banyak tahun tidak bersua, hampir setiap detik setiap saat aku memikirkan anda, tidak disangka justru anda yang mengirim undangan, meski undanganmu sedikit diluar dugaan, namun akupun tidak berani untuk menolak datang"

Setelah mendongakkan kepalanya tertawa keras, lanjutnya:

"Orang yang berdagang sangat mementingkan catatan nota, aku pikir jiwa dagang anda mungkin bangkit secara tiba-tiba hingga ingin mengajak diriku untuk membuat perhitungan"

Lalu setelah memberi hormat kepada Yin Gi, diapun mengambil tempat duduk.

"Undangan apa?" tanya manusia aneh itu dengan wajah membeku.

"Aneh, masa lupa dengan undangan yang ditulis sendiripun? Bukankah kau undang kami semua untuk datang ke bukit Lau-san pada hari ini? Jangan-jangan kau sudah terjangkit penyakit pelupa?"

"Bagaimana caramu menemukan jalan tembus ke lembah ini?"

"Ini pertanyaan yang lebih aneh lagi" kata Li Lok-yang, "bukankah sepanjang jalan kau sudah memasang petunjuk yang sangat jelas, aku toh bukan orang buta, masa tidak bisa membaca petunjuk tersebut!"

Manusia aneh itu mendengus dingin, setelah termenung berapa saat katanya kemudian dengan nada nyaring:

"Bila kedatangan tamu lagi, kalian tidak usah membunyikan keleningan, juga tidak usah memberi laporan, persilahkan saja mereka semua masuk ke mari"

Dua orang gadis muda itu menyahut dan berlalu.

Kembali manusia aneh itu berkata: "Bangunkan aku setelah mereka semua datang kemari!"

Selesai bicara dia segera duduk bersila, memejamkan mata dan mengatur pernapasan, tampangnya seperti orang yang sudah tertidur.

Diam-diam Sui Leng-kong menarik ujung baju Thiat Tiong-tong, bisiknya:

"Aneh, kenapa Li Lok-yang pun ikut kemari? Coba lihat wajahnya, dia seperti mempunyai dendam kesumat dengan manusia aneh itu"

"Aaai, apa yang terjadi hari ini memang sangat aneh, aku sendiripun dibikin tidak habis mengerti" sahut Thiat Tiong-tong sambil menghela napas.

Mereka berdua hanya melongok dari luar jendela, oleh sebab itu orang lain tidak dapat melihat kehadiran mereka.

Kembali Sui Leng-kong berkata: "Kalau  dilihat  situasinya  sekarang, besar kemungkinan kartu undangan yang diterima Li Lok-yang bukan berasal dari manusia aneh itu, tapi.....siapa pula yang menyebar undangan itu ?"

Thiat Tiong-tong melirik sekejap ke arah Yin Ping, setelah berpikir sejenak sahutnya: "Aku rasa........."

Belum selesai dia bicara, lagi lagi terlihat empat, lima orang berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dandanan dari berapa orang ini sangat aneh, tingkah lakunya juga aneh, bila ditinjau dari cara mereka berjalan, jelas kungfu yang dimiliki sangat hebat, yang lebih aneh lagi, walaupun mereka datang sejalan namun masing-masing tidak ber­tegur sapa.

Beberapa orang itu memperhatikan sejenak situasi didalam ruangan lalu masing-masing mengambil tempat duduk, mulutnya komat kamit seperti sedang bergumam, meski tidak jelas apa yang mereka ucapkan namun dari nadanya bisa diduga kalau tidak berniat baik.

Beberapa orang gadis muncul menghidangkan air teh, Kui-bo sekalian menerima empat cawan teh tanpa bicara.

Seorang lelaki bermata gede segera berseru sambil tertawa dingin:

"Kami datang kemari untuk membuat perhi­tungan, buat apa mesti dihidangkan air teh!"

Begitu diterima, dia segera membanting cawan itu ke atas lantai.

"Perkataan sicu tepat sekali" seorang tojin bertubuh kurus kering menimpali sambil tertawa dingin, "siapa tahu dengan minum air teh ini, pinto justru akan lebih cepat kembali ke langit barat, tidak boleh diminum.... tidak boleh diminum........."

Ke empat orang itu sambil menggerutu sembari membuang cawan air teh mereka ke lantai.

Li Lok-yang yang menyaksikan hal itu segera tersenyum, katanya:

"Kalau dibilang dia sering berbuat tidak senonoh, itu memang benar. Tapi kalau dibilang dia suka mencelakai orang dengan racun, itu mah belum pernah terjadi"

Seraya berkata dia mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya.

"Jadi kau membantunya berbicara?" bentak lelaki bermata gede itu gusar.

Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari luar pintu gerbang sambil tertawa terbahak-bahak:

"Hahahaha...... kita datang untuk membuat perhitungan, masa orang sendiri malah gontok-gontokan lebih dulu, sungguh menggelikan"

Ditengah gelak tertawa yang amat nyaring, kembali terlihat dua sosok bayangan manusia melangkah masuk ke dalam ruangan.

Kedua orang ini mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, berjidat tinggi dan penuh bercambang, mereka tidak lain adalah Bi Lek hwee serta Hay Tay- sau.

Diam-diam Thiat Tiong-tong terperanjat, dia tidak menyangka kalau ke dua orang itupun bisa muncul disitu.

Setelah memandang sekejap sekeliling ruangan, sambil tergelak ujar Hay Tay-sau:

"Bagus, bagus sekali, ternyata yang hadir adalah sobat-sobat lama, kenapa tuan rumah bukannya menyambut kedatangan tamu malahan ditinggal tidur mendengkur"

"Tuan rumah hanya akan mengadakan penyambutan bila semua tamunya telah hadir" seru Li Lok-yang.

"Tepat, dengan begitu dia memang mengirit banyak tenaga" kata Hay Tay-sau tertawa.

Kemudian setelah memandang lelaki bermata gede itu sekejap, lanjutnya:

"Tidak nyana lo-heng pun punya perselisihan dengan tuan rumah disini, bagus, bagus sekali"

"Hahahaha......  kelihatannya hanya lohu seorang yang datang untuk menonton keramaian" kata Bi Lek hwee sambil tertawa keras, "kenapa kau tidak perkenalkan beberapa orang jago itu kepadaku?"

"Kau pasti sudah kenal dengan Kui-bo hujin serta saudara Li bukan" ucap Hay Tay-sau.

Sambil menuding ke arah lelaki bermata gede itu, terusnya:

"Jika loko inipun tidak kau kenal, berarti pengetahuanmu betul-betul amat cetek, bikin malu aku saja"

Lelaki bermata gede itu melotot sekejap ke arahnya, mimik mukanya kelihatan sedikit aneh.

"Sebenarnya siapa sih orang itu?" desak Bi Lek hwee lagi.

Hay Tay-sau tertawa terbahak-bahak.

"Repot kalau aku mesti perkenalkan satu per satu" katanya, "pokoknya ke empat orang itu kalau bukan seorang pemimpin dunia persilatan, pastilah piau pacu yang namanya telah menggetarkan delapan penjuru"

Serentak ke empat orang manusia berdandan aneh itu melompat bangun dari tempat duduk-nya, perasaan kaget bercampur tercengang melintas diwajah mereka.

Sudah banyak tahun ke empat orang itu tidak pernah berkelana dalam dunia persilatan, tentu saja mereka dibuat terperanjat setelah identitas mereka dibongkar oleh Hay Tay-sau.

"Aku tidak kenal kau, dari mana kau bisa mengetahui tentang aku?" bentak lelaki itu keras.

Hay Tay-sau tertawa terbahak-bahak, belum sempat menjawab pertanyaan itu mendadak terdengar lagi suara langkah kaki yang gaduh, kembali muncul enam tujuh orang dalam ruangan itu.

Sui Leng-kong yang bersembunyi dibalik jendela segera menggenggam tangan Thiat Tiong-tong erat-erat, gumamnya:

"Mereka......mereka juga ikut datang"

Thiat Tiong-tong manggut-manggut, sepasang alis matanya berkerut makin kencang.

Ternyata beberapa orang yang baru saja munculkan diri tidak lain adalah Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau, Seng Toa-nio, Seng Cun-hau serta siucay muda berilmu tnggi yang dibikin keok oleh Liu Ho-ie.

Kembali terjadi kegaduhan ditengah ruangan, mereka yang mengenal saling menyapa, hanya siucay muda itu yang nampak sangat angkuh, tanpa perduli dengan siapa pun dia langsung mengambil tempat duduk.

Sambil tertawa Hay Tay-sau pun berseru: "Sudah cukup lama aku kenal dengan kalian semua, tapi tidak nyana kalau memiliki musuh yang sama, apalagi bakal berjalan di perahu yang sama, ini menunjukkan kalau dunia memang sempit, cukup dengan seutas tali sudah dapat mengikat orang yang tidak ada sangkut pautnya dihari biasa menjadi satu!"

"Buat kami mah terhitung permusuhan baru, memangnya dengan hengtay merupakan permu­suhan lama?" tanya Hek Seng-thian tersenyum.

"Benar!" sahut Hay Tay-sau sambil menarik kembali senyumannya.

Pada saat itulah tiba-tiba manusia aneh itu membuka matanya, dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekejap sekeliling ruangan, meski hanya sekejap namun seolah olah telah menatap wajah setiap orang yang hadir.

Seketika suasana jadi hening, puluhan pasang mata bersama dialihkan ke wajahnya, meski ketajaman mata setiap orang berbeda namun hampir semuanya menunjukkan rasa benci dan dendam yang mendalam.

"Kalian semua datang kemari karena menerima undangan?" tegur manusia aneh itu perlahan.

"Kalau bukan menerima undanganmu, dari-mana bisa menemukan tempat persembunyian­mu?" sahut tojin kurus kering itu sambil tertawa seram.

Manusia aneh itu tertawa dingin, tiba-tiba dia membalikkan tubuh, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah Yin Ping tanpa berkedip, tegurnya:

"Aku yakin kaulah yang telah membantu aku menyebar surat undangan itu?"

"Meskipun bukan aku, tapi rasanya tidak beda jauh" sahut Yin Ping tanpa berubah muka.

Kui-bo Yin Gi mendengus dingin, selanya: "Ji-moay mengirim kabar kepadaku, akulah yang menyebar undangan serta memberi petunjuk jalan, sekarang kau sudah mengerti bukan?"

"Hahahaha.....  mengerti,  sejak awal  sudah mengerti!" manusia aneh itu tertawa seram.

Diam-diam Thiat Tiong-tong merasa bergidik, pikirnya setelah menghela napas:

"Padahal dihari biasa dia nampaknya sangat mencintai orang ini, tidak disangka secara diam-diam telah mengumpulkan semua musuh besar-nya untuk datang menyatroni, seakan dia baru puas setelah melihat dia hancur dan tercerai berai. Permusuhan apa pula yang membuatnya sangat mendendam? Karena cinta yang tidak kesampaian atau mungkin karena alasan lain....."

Dalam pada itu Sui Leng-kong telah menghela napas pula:

"Sungguh keji perempuan ini!"

Saking kesemsemnya mereka berdua menyak­sikan peristiwa itu hingga sama sekali tidak tahu sejak kapan kawanan gadis cantik yang berada disekitarnya pergi meninggalkan tempat itu.

Menanti mereka berdua mengalihkan kembali sorot matanya, ditengah ruangan telah bertambah dengan kehadiran tujuh, delapan orang wanita berjubah panjang warna hitam yang mengenakan kain cadar berwarna hitam pula.

Beberapa orang itu berdiri berjajar dekat dinding ruangan, tidak ada yang tahu mereka datang dari mana dan sudah berapa lama berada disitu, malahan para jagopun tidak ada yang tahu semenjak kapan mereka sudah berdiri di belakang tubuh mereka.

Diantara kawanan jago hanya manusia aneh dan Yin Ping yang berdiri menghadap ke arah mereka, tapi lantaran dibagian tengah terpisah oleh sekelompok jago silat yang sedang dicekam perasaan dendam, maka mereka pun tidak sempat melihat dengan jelas kehadiran perempuan-perempuan itu.

Untuk sesaat suasana didalam ruangan teramat kalut dan tegang, tampaknya setiap jago yang hadir mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan manusia aneh itu, siapa pun ingin segera turun tangan untuk membuat perhitungan.

Tapi orang orang itu tampaknya merasa jeri menghadapi kehebatan kungfu manusia aneh itu hingga siapa pun enggan turun tangan terlebih dulu, siapapun tidak ingin buka suara paling dulu.

Kendatipun suasana ditengah ruangan amat tegang dan dipenuhi manusia, namun hanya gelak tertawa si manusia aneh yang bergema diseluruh ruangan, gelak nyaring yang menindih diatas suara orang lain, membuat setiap orang merasakan telinganya mendengung keras.

Menunggu hingga gelak tertawanya agak mereda, Yin Ping baru bicara sambil tertawa terkekeh:

"Sudah cukupkah tertawamu? Para penagih hutang telah datang, tertawapun tidak ada gunanya, lebih baik carilah cara yang tepat untuk melunasi semua hutangmu!"

Biarpun suara tertawanya tidak senyaring tertawa manusia aneh itu, namun suaranya tinggi melengking sangat menusuk pendengaran, membuat para pendengar merasakan hatinya bergidik. Kini semua orang baru sadar kalau kungfu yang dimiliki perempuan itu ternyata sangat tangguh.

"Betul, hutang memang harus dibayar" kata manusia aneh itu dengan suara dalam, "tapi hutang apa yang telah kubuat dan bagaimana caraku untuk membayar, lebih baik kalian saja yang menjelaskan!"

Dalam perkiraan Thiat Tiong-tong, kawanan jago itu pasti akan berebut bicara, siapa tahu setiap orang menutup mulutnya rapat-rapat, meski tidak mengucapkan sepatah katapun namun sorot mata kebencian justru memancar semakin tebal.

Dengan sorot mata yang tajam manusia aneh itu menyapu sekejap seluruh ruangan, kembali ujarnya sambil tertawa dingin:

"Li Lok-yang, Hay Tay-sau, meski kungfu kalian berdua tidak seberapa hebat namun nama baik kalian cukup bagus, coba kalian yang bicara lebih dahulu!"

Li Lok-yang saling bertukar pandangan sekejap dengan Hay Tay-sau, namun kedua orang itu tetap menggigit bibir tidak bicara.

Manusia aneh itu segera mengalihkan pandangan matanya kearah empat manusia berdandan aneh itu, katanya:

"Lam ki tok siu (kakek racun dari kutub selatan) Ko Thian-siu, kau yang hidup lebih lama ketimbang lainnya, coba terangkan dendam sakit hati apa yang terjalin antara kalian dengan aku?"

Seorang kakek berjubah sutera dengan sulaman tulisan 'siu' atau panjang usia didada-nya, memegang sebuah tongkat baja berkepala naga dan berkepala botak nampak berdiri bergetar, tanpa menjawab dia berpaling ke arah lain.

Kembali manusia aneh itu mengalihkan sorot matanya ke arah seorang lelaki berjubah hijau yang membawa sebuah kipas lipat, orang ini meski usianya sudah lanjut namun kumis dan jenggotnya dicukur bersih dan licin sehingga penampilannya mirip seorang pemuda pelajar saja.

"Giok Hu-li (rase kemala) Yo Kun, bagaimana pula dengan dirimu?"

Paras muka si rase kemala segera berubah jadi semu merah, namun diapun membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Kuay ho Cun yang (Cun Yang hidup gembira) Lu Pin, kau saja yang bicara?" kata manusia aneh itu kemudian.

Tosu kurus kering itu bukan saja tidak menjawab, dia malah mundur satu langkah. Meski dandanannya seperti orang beribadah namun seluruh tubuhnya dihiasi dengan pelbagai macam lencana, mutiara dan batu permata hingga lebih mirip dengan seorang lelaki hidung bangor.

Manusia aneh itu  tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Kalau kalian bertiga enggan bicara, berarti Sin lip pa ong (raja bengis bertenaga sakti) Siang Ji-yu yang bakal bicara bukan?"

Lelaki bermata gede itu mendengus, kepalan­nya langsung dihantamkan keatas tiang batu yang berdiri disisinya.

"Blaaaam!" diiringi suara keras, batu tiang yang sangat keras itu seketika retak dan gumpil beberapa bagian.

Begitu nama keempat orang itu disebut, Bi lek-hwee maupun Hek Seng-thian sekalian berubah wajahnya, meski mereka belum pernah bersua dengan keempat orang itu namun tahu kalau jejak mereka sangat misterius dan wataknya antik, bukan cuma ilmu silatnya hebat, cara kerja mereka pun bengis, keji dan telengas.

Apalagi manusia yang bernama Sin lek Pa ong, dia mempunyai ratusan orang anak buah yang tersebar di seantero dunia persilatan, bukan saja cara kerjanya menakutkan, banyak pula korban yang tewas ditangan mereka.

Keempat orang ini boleh dibilang sudah menanamkan satu kekuatan yang tidak boleh dianggap enteng, jangan lagi manusia biasa, partai Siau-lim serta Bu-tong pun tidak akan berani mengusik mereka secara sembarangan.

Hanya saja kawanan manusia ini sudah banyak tahun tidak pernah muncul dalam dunia persilatan, tidak heran kalau kemunculannya secara mendadak hari ini segera menimbulkan kehebohan.

Yang membuat Thiat Tiong-tong keheranan adalah kehadiran beberapa orang itu yang jelas hendak menuntut balas karena terikat dendam dengan manusia aneh itu, tapi mengapa mereka enggan buka suara?

Dalam pada itu sorot mata manusia aneh itu sudah dialihkan ke wajah Suto Siau, tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, sambil meng­goyangkan tangannya dan tertawa Suto Siau berseru:

"Kami berjumlah banyak, jadi mending paling belakangan saja"

Manusia aneh itu tertawa, sementara dihati kecilnya keheranan, dia tidak tahu kenapa kawanan manusia pengecut yang takut mati itu berani menyatroni tempat tinggalnya hari ini, mungkinkah mereka punya backing kuat?

Kembali sorot matanya beralih ke wajah siucay muda itu, namun ketika melihat sinar matanya yang begitu tajam, sepasang keningnya langsung berkerut kencang.

Tiba-tiba terdengar Kui bo Yin Gi berkata dengan nada dingin:

"Baiklah, kalau semua orang enggan bicara, biar aku yang mewakili mereka untuk berbicara!"

Berubah hebat paras muka Hay Tay-sau maupun Siang Ji-yu, teriak mereka hampir berbareng:

"Dari mana kau bisa tahu soal dendam kami?" Dari  nada suaranya jelas terdengar kalau mereka enggan Yin Gi menyinggung soal rahasia hatinya.

Yin Gi tertawa dingin, ujarnya: "Orang bilang tidak ada dendam yang lebih berat daripada pembunuhan terhadap orang tua dan bini direbut orang, walaupun kalian tidak punya dendam karena orang tua yang terbunuh namun bini kalian telah dirampas olehnya, mana  boleh dendam semacam ini tidak dibalas? Mengenai..... dengan cara apa dendam ini akan dibalas, persilahkan masing-masing mengambil keputusan sendiri"

Habis berkata dia mendongakkan kepalanya dan tertawa dingin.

Dalam waktu singkat paras muka Hay Tay-sau sekalian berubah jadi pucat pias, Li Kiam-pek merasakan tubuhnya gemetar keras, sambil mundur tiga langkah dia genggam gagang pedangnya kencang-kencang.

Bi Iek-hwee melirik Hay Tay-sau sekejap, kemudian pikirnya sambil menghela napas:

"Bila dilihat dari tingkah lakunya, Hoa Toa-koh jelas adalah bininya dulu, entah bagaimana ceritanya sampai tertipu oleh orang ini. Apa mau dikata tampaknya orang ini memang playboy kelas kakap, setelah dibuat mainan berapa saat akhirnya ditinggalkan begitu saja hingga mau tidak mau terpaksa Hoa Toa-koh harus bekerja jadi begal......"

Berpikir sampai disitu dia menghembuskan napas lega, gumamnya:

"Beruntung sepanjang hidup lohu tidak pernah beristri.........."

Thiat Tiong-tong sendiripun baru sadar apa yang sebenarnya telah terjadi, pikirnya:

"Tidak heran kalau semua orang enggan berbicara, sebagai tokoh persilatan kenamaan, tentu saja mereka tidak ingin aib keluarganya ketahuan orang"

Mendadak terdengar Sin lip Pa Ong Siang Ji-yu tertawa dingin, sambil melotot ke arah Yin Gi jengeknya:

"Betul, bini kami memang dipermainkan orang ini, tapi bagaimana pula dengan dirimu? Kenapa kalian kakak beradik bisa menjalin permusuhan dengannya?"

Berubah hebat paras muka si induk setan (kui bo) Yin Gi setelah mendengar perkataan itu, sampai berapa saat dia tidak sanggup berkata-kata.

"Hahahaha........." kembali Siang Ji-yu tertawa tergelak, "kalian tidak punya bini, berarti kalian lah yang telah dipermainkan olehnya.........."

Gi Cing-kiok membentak gusar, bersama si bocah pincang dan pemuda bisu tuli serentak mereka menyerbu ke depan.

Terdengar si bocah pincang mengejek dengan nada keras:

"Pa-ong, percuma kau bertenaga sakti, bukti­nya melindungi bini sendiripun tidak mampu, huuuh, tidak tahu malu, tidak tahu malu........."

Siang Ji-yu membentak nyaring, bagaikan sambaran geledek dia lontarkan sebuah pukulan ke depan, bentaknya:

"Setan cilik, kau cari mampus!"

Deruan angin pukulan yang memekikkan telinga sungguh dahsyat dan menakutkan.

Tiba-tiba terasa pandangan mata jadi kabur, dua bersaudara Yin telah menghadang didepan bocah itu sambil melepaskan satu pukulan, pukulan lembut yang seketika memunahkan serangan dahsyatnya.

"Murid-muridku, cepat mundur!" terdengar Yin Gi menghardik.

Sebaliknya Yin Ping sambil membopong kucingnya berseru sambil tertawa terkekeh:

"Kami dua bersaudara telah menyebar undangan untuk mengundang kedatangan kalian semua, memangnya bertujuan untuk menghadapi kami berdua?"

Siang Pa-ong (raja bengis Siang) tertegun.

"Soal ini.........." bisiknya.

"Betul" kata Yin Ping sambil tertawa, "gara-gara bertemu dengan lelaki pemogoran semacam dialah watak toaci ku jadi berubah sangat aneh, sedang aku sendiri, hidupku hancur musnah ditangannya, oleh karena dia memusnahkan diriku terlebih dulu maka akupun ganti memusnahkan kaum lelaki, akibatnya aku mesti menyandang nama busuk. Kalau rasa benciku tidak merasuk hingga ke tulang sumsum, buat apa kali ini mesti berpura-pura baik dengan menyambanginya? Aku sengaja berbuat begitu karena aku ingin   menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana nasib tragis akan menimpa dirinya, aku ingin menyaksikan sendiri bagaimana hidupnya hancur dan nyawanya melayang!"

Walaupun sedang berbicara sambil sumpah serapah, namun senyuman manis masih menghiasi bibirnya. Hal ini membuat Siang Pa-ong diam-diam bergidik.

Terdengar manusia aneh itu tertawa seram.

"Hahahaha..... betul, hidup kalian memang musnah ditanganku, dosa dan kesalahan ini memang aku yang mesti bertanggung jawab, tapi kalau menginginkan kehancuran dan kematian-ku, hmmm!"

Sambil menghentikan gelak tertawanya, dia menambahkan:

"Aku rasa tidak segampang itu!"

"Mungkin saja apa yang kau ucapkan ada benarnya" kata Yin Ping sambil tertawa, "kalau mesti satu lawan satu, jelas kungfu kami semua masih bukan tandinganmu, tapi kalau kami maju bersama.....hmmm, apayang bisa kau perbuat?"

Manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Hahahaha.....   kalian  berjumlah  banyak, memangnya anak buahku sedikit?"

Sambil bertepuk tangan bentaknya:

"Budak sekalian ayoh cepat keluar, kita buktikan jumlah mereka yang lebih banyak atau kita?"

Suara bentakannya nyaring dan menggaung hingga ke dalam ruangan.

Sampai suara pantulannya lenyap ternyata tidak ada jawaban, bayangan pun tidak nampak.

Agak berubah paras muka manusia aneh itu, teriaknya lagi penuh kegusaran:

"Budak sialan, budak busuk, memangnya kalian sudah mampus semua?"

Kui-bo Yin Gi tertawa dingin, jengeknya:

"Meskipun belum mampus, paling tidak sudah hampir!"

Mendadak paras muka manusia aneh itu berubah jadi pucat pias, setelah tertegun berapa saat bentaknya:

"Bagus, bagus, tidak heran dari sembilan setan laki dan tujuh setan perempuan hanya tiga orang yang hadir, ternyata yang lain sedang memberesi anak muridku, tapi......mereka toh tidak salah tidak berdosa, kalau ingin menuntut balas, seharusnya langsung mencari aku"

Hay Tay-sau dengan cepat menyingkap bajunya sambil membuka lebar dadanya, sambil maju dengan langkah lebar katanya:

"Semua orang menunggu untuk memungut keuntungan dari orang lain, tampaknya aku harus turun tangan duluan!"

"Hmm, kalau hanya kau seorang mah bukan tandinganku, lebih baik maju serentak bersama yang lain!" jengek manusia aneh itu dingin.

"Hahahaha..... Hay Tay-sau bukan orang yang suka mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak!"

"Bagus!" puji manusia aneh itu sambil mengacungkan jempol, "aku akan mengalah tiga jurus untukmu!"

"Mau mengalah tiga jurus terserah, tidak mengalahpun terserah, tapi sebelum turun tangan aku ingin menyampaikan beberapa patah kata terlebih dulu!"

"Kalau orang lain yang masih banyak bicara pada saat seperti ini, mungkin aku sudah iris lidahnya, tapi kalau Hay Tay-sau yang ingin berbicara, cepat katakan!"

"Walaupun kau telah menanggung semua dosa kesalahan ini, aku tahu kesalahan tersebut tidak sepantasnya dipikul kau seorang, paling tidak kawanan perempuan busuk itupun harus turut bertanggung jawab......."

Paras muka beberapa orang segera berubah hebat.

Dengan gusar Siang Pa-ong berteriak pula: "Kentut busuk!"

Kembali Hay Tay-sau tertawa keras: "Perkataanku memang tidak enak didengar, tapi aku tetap akan mengatakannya. Terus terang, bekas bini-bini kita pun bukan merupakan manusia baik, orang bilang tepuk tangan tidak akan bunyi kalau tidak disambut telapak tangan yang lain. Dulu kawanan perempuan busuk itu pasti terpikat olehnya karena dia muda, banyak duit, berilmu tinggi dan kuat, kalau tidak, mana mungkin mereka akan tinggalkan kita untuk kabur bersamanya. Bajingan ini sendiri meski suka main perempuan dan pantas mampus, namun kawanan perempuan busuk kita yang sudah disia-siakan pun pantas mampus juga!"

Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur kagum setelah mendengar perkataan itu, sebalik­nya Siang Pa-ong dan Rase kemala sekalian meski memperlihatkan wajah gusar, namun tidak seorang pun diantara mereka yang buka suara untuk membantah, jelas apa yang dikatakan Hay Tay-sau memang benar. Andaikata dia bukan seorang lelaki gagah yang berjiwa terbuka, mana mungkin perkataan semacam itu sanggup diutara-kan?

Untuk sesaat suasana dalam ruangan jadi hening dan sepi.

Akhirnya sambil tertawa tergelak manusia aneh itu berkata:

"Tidak kusangka masih ada manusia di dunia ini yang bersedia bicara jujur dan bijaksana, lebih tidak kusangka kalau orang itu ternyata adalah musuh besarku sendiri, hahaha.....hahahaha......"

Setelah tergelak berapa saat, lanjutnya: "Aku tahu, walaupun kau sudah bicara jujur dan bijaksana,  toh rasa mendongkol  harus  dilam­piaskan juga, baiklah, mari, kita bermain beberapa gebrakan!"

"Rasa mendongkol ini sudah kupendam banyak tahun, pertama karena aku tahu bukan tandinganmu, kedua karena gagal menemukan jejakmu, setelah berjumpa hari ini....... mari, lihat serangan!"

Ditengah bentakan nyaring, dia lontarkan tinjunya menghantam dada manusia aneh itu.

Melihat datangnya serangan, manusia aneh itu tidak menghindar maupun berkelit, semua orang tahu kalau kungfunya hebat, mereka menyangka manusia aneh itu bakal mengeluarkan ilmu simpanannya.

Siapa tahu baru selesai ingatan tersebut melintas lewat, "Blaaaam!" pukulan Hay Tay-sau yang sangat dahsyat itu sudah bersarang telak di dada manusia aneh itu.

Betapa pun hebatnya kungfu yang dimiliki manusia aneh itu, berat juga baginya untuk menerima pukulan Hay Tay-sau yang dahsyat, kontan tubuhnya mundur berapa langkah dengan sempoyongan, paras mukanya bertambah pucat.

"Kau........"  Hay Tay-sau  berteriak  kaget, "kenapa kau......."

Manusia aneh  itu  tertawa paksa setelah mengatur napas berapa saat.

"Cukup dari perkataanmu tadi, aku merasa tidak seharusnya bertarung melawanmu, itulah sebabnya biar kuterima pukulan ini sebagai pelampiasan rasa mangkelmu!"

Ketika para jago menyaksikan dia mampu menerima sebuah pukulan dari Hay Tay-sau dan akibatnya bukan saja tidak terluka parah bahkan segera mampu berbicara, mau tidak mau semua orang merasa terkejut bercampur kagum.

Setelah berdiri tertegun berapa saat lantaran kaget, Hay Tay-sau baru bisa berkata:

"Selama hidup cukup banyak manusia aneh yang pernah kujumpai, tapi rasanya belum pernah bertemu dengan manusia berwatak sangat aneh macam kau"

"Lohu juga belum pernah bertemu" sela Bi Lek hwee tidak tahan.

Manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Hahahaha.......aku  memang  tidak  pernah menutupi semua kekuranganku"

Setelah menatap wajah lawannya berapa saat, kembali Hay Tay-sau berkata dengan lantang:

"Baik! Dengan pukulan tersebut, hutang piutang diantara kita kuanggap impas sudah. Tapi sayang mulai sekarang aku tidak dapat lagi menyaksikan kau digebuki orang, akupun tidak dapat membantumu, terpaksa aku mesti angkat kaki dari sini"

Tidak menunggu perkataan itu selesai diucapkan, dia sudah membalikkan tubuh dan beranjak pergi.

"Hey, tunggu aku sebentar" teriak Bi Lek hwee buru-buru.

Baru saja orang ini siap mengejar rekannya, Suto Siau telah keburu menarik ujung bajunya sambil berbisik:

"Kita termasuk lima perkumpulan yang membentuk satu persekutuan, sudah sepantas-nya bila kau datang bersama, pergipun bersama, masa hengtay akan meninggalkan tempat ini dengan begitu saja?"

Bi Lek hwee melirik Hek Seng-thian sekalian dengan kening berkerut, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia kebaskan tangannya melepaskan diri dari cengkeraman lalu beranjak pergi dari situ menyusul Hay Tay-sau.

"Lelaki sejati!" puji manusia aneh itu sambil menghela napas, tapi belum selesai bicara dia sudah batuk tiada hentinya.

Si Rase kemala sekalian berempat saling bertukar pandangan sekejap, mereka tahu orang tersebut sudah menderita luka dalam gara-gara pukulan dari Hay Tay-sau tadi, tampaknya mereka sudah siap memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan.

Tapi belum sempat mereka bertindak, tiba-tiba terdengar Li Kiam-pek membentak nyaring:

"Orang lain boleh saja mengampuni dosamu, tidak bagiku!"

Sambil membentak dia meloloskan pedangnya dan langsung melancarkan sebuah tusukan ke tubuh manusia aneh itu.

Li Lok-yang menjerit kaget, dengan wajah berubah cepat dia melompat ke depan.

Sungguh cepat gerak serangan yang dilancar­kan Li Kiam-pek, dalam waktu singkat dia telah melepaskan tujuh buah tusukan maut, hampir semua serangannya ditujukan ke bagian memati­kan di tubuh lawan.

Begitu lolos dari ke tujuh buah serangan kilat, manusia aneh itu segera berteriak nyaring:

"Li Lok-yang, cepat perintahkan dia untuk berhenti menyerang"

"Siapa bilang aku akan berhenti menyerang!" bentak Li Kiam-pek dengan wajah sedih bercampur gusar.

Mendadak dia genggam pedangnya dengan ke dua belah tangan, lalu sekuat tenaga melancarkan sebuah tusukan ke depan.

Walaupun jurus serangan yang digunakan adalah jurus serangan beradu jiwa, namun pertahanan tubuh bagian atas maupun bawahnya terbuka lebar, bertemu dengan jago tangguh semacam manusia aneh itu, boleh dibilang serangan semacam ini hanya sebuah tindakan untuk menghantar kematian sendiri.

Sambil menjerit kaget Li Lok-yang melompat maju ke depan, tampak manusia aneh itu miringkan tubuhnya menghindar dari serangan yang datang, kemudian dengan kedua jari tangannya secepat kilat dia jepitujung pedang lawan.

Padahal tusukan yang dilancarkan Li Kiam-pek disertai tenaga serangan yang luar biasa, namun begitu terjepit jari tangan lawan, senjata-nya bukan saja tidak mampu bergerak lagi, bahkan seluruh kekuatannya seolah lenyap dan menguap dengan begitu saja.

Sadar kalau keinginannya untuk balas dendam kandas ditengah jalan, pemuda itu merasa sedih bercampur putus asa, mendadak dia buang senjatanya kemudian menumbukkan kepalanya keatas dinding ruangan.

Buru-buru Li Lok-yang memeluk tubuh putranya dan menariknya kuat-kuat.

Dengan  suara parau Li Kiam-pek segera menjerit:

"Jangan tarik aku...... jangan tarik aku...... ibu...... dia...... dia orang tua....... ananda tidak dapat membalaskan sakit hati dan penghinaan ini, lebih baik......."

Mendadak manusia aneh itu tertawa terbahak bahak, sambil membuang pedangnya ke lantai dan gelengkan kepalanya berulang kali, serunya:

"Li Lok-yang, tampaknya sudah terjadi kesalah­pahaman pada anakmu yang berangasan itu, dia tidak tahu kalau permusuhan yang terjalin diantara kita berdua berbeda jauh dibandingkan dengan yang lain!"

"Apa.... apa yang kau katakan?" tanya Li Kiam-pek dengan tubuh bergetar keras.

Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya:

"Anak bodoh, memangnya kau anggap ibumu adalah perempuan rendah macam begitu?"

Traaaang.....!" pisau belati yang ada dalam genggaman Li Kiam-pek segera rontok ke tanah, serunya tergagap:

"Tapi......tapi........."

Kembali Li Lok-yang menghela napas panjang, ujarnya:

"Aku terikat dendam dengannya lantaran sewaktu diselenggarakan transaksi terbuka dulu, dia pernah merampok sejumlah barang mestika milik keluarga kita dan waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa"

"Hahahaha......." manusia aneh itu ikut tertawa tergelak, "perkampungan barang mestika dikota Lokyang merupakan sebuah perkam-pungan kenamaan, tentu saja nama besar itu tidak boleh rusak gara-gara barang mestikanya berhasil dirampok orang, biar sudah kehilangan pun terpaksa hanya bisa menelan ludah sambil membungkam diri"

Li Lok-yang kembali menghela napas.

"Peristiwa yang memalukan ini sudah tersimpan hampir puluhan tahun lamanya, coba kalau bukan terjadi kesalahan paham, tidak mungkin aku akan menyinggungnya lagi"

"Hari ini kau sudah mengungkapnya didepan umum, berarti kau sudah siap untuk menuntut balik barang jarahan tersebut bukan?"

"Sepuluh tahun berselang, ilmu silatku memang bukan tandinganmu, tapi selama berapa tahun ini aku telah melatih tekun kungfuku, hari ini, apa pun hasilnya, aku tetap akan beradu jiwa denganmu!"

"Kalau memang begitu, mari..........."

Belum selesai perkataan itu diucapkan, Lam-ki-tok-siu sudah menukas duluan dengan nada dingin:

"Hey orang she-Li, lebih baik nanti saja kau pamerkan kejelekanmu, sekarang biar kami berempat yang menghadapinya lebih dahulu!"

Sebelum Li Lok-yang mengatakan sesuatu, dengan gusar Li Kiam-pek telah menukas:

"Hmm, apa yang kalian berempat andalkan untuk mendahului kami?"

"Kami andalkan ini!" jawab Lam-ki-tok-siu Ko Thian-siu dingin.

Bukan saja suara orang ini dingin bagaikan salju, perubahan mimik mukanya pun susah dikenali orang.

Sambil berkata dia pungut pedang yang tergeletak dilantai itu lalu dengan sekali tekuk dia sudah patahkan senjata tersebut jadi dua bagian.

Kemudian sambil menyodorkan separuh bagian ke tangah Li Kiam-pek, ujarnya dingin:

"Pedang ini milikmu, kukembalikan sekarang kepadamu!"

Pedang milik Li Kiam-pek ini merupakan pedang mestika keluarganya, walaupun bukan senjata mestika macam pedang milik Kan-ciang atau Mo-shia, namun ketajaman dan kehebatan-nya boleh dibilang luar biasa.

Selama ini dia amat menyayangi senjata andalannya itu dan tidak pernah meninggalkan tubuhnya, tidak heran kalau Li Kiam-pek merasn kaget, sedih dan sakit hati setelah melihat senjata tersebut dipatahkan orang.

Untuk sesaaat dia merasa tidak tega hingga bersiap untuk menerimanya kembali.

Mendadak terdengar manusia aneh itu mem­bentak nyaring:

"Pedang itu sudah dilumuri racun, jangan disentuh"

Dengan terperanjat Li Kiam-pek menarik kembali tangannya, benar saja, dia saksikan pedangnya yang semula berkilauan kini telah berubah jadi hijau kusam dan sama sekali tidak bersinar, tentu saja dia semakin tidak berani untuk menerimanya.

Hanya dalam sekali sentuhan, si kakek beracun ini mampu meracuni seluruh tubuh pedang tersebut, kemampuannya melepaskan racun boleh dibilang sangat menakutkan, kenyataan ini bukan saja membuat Li Lok-yang dan putranya menjadi terperanjat, semua orang yang hadir pun berubah hebat wajahnya.

Terdengar si kakek beracun dari kutub selatan itu tertawa terbahak-bahak, katanya:

"Hahahaha... memangnya kau anggap julukan-ku sebagai si kakek beracun hanya julukan kosong!"

Begitu tangannya digetarkan, dua titik cahaya pedang segera meluncur menembusi angkasa.

"Sayang kalau pedang sebagus itu dibuang begitu saja!" teriak si rase kemala Yo Kun tertawa.

Tubuhnya segera melesat ke depan, ternyata gerakan tubuhnya jauh lebih cepat ketimbang gerakan pedang itu, dalam sekali gulungan tahu­-tahu dia sudah menggulung kedua potongan pedang itu ke dalam sakunya.

Hanya dalam waktu singkat dia dapat menangkap pedang itu dan melayang balik ke posisi semula, bukan saja gerakannya cepat bagai petir bahkan gayanya sangat indah.

Menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh yang di demonstrasikan si Rase kemala, baik lawan maupun kawan serentak bersorak memuji.

Hanya sederet perempuan berjubah hitam berkain cadar yang tetap berdiri tanpa gerak, bila orang tidak menaruh perhatian secara khusus, sulit rasanya untuk mengetahui kehadiran mereka.

Tampak si Rase kemala menggetarkan sepasang ujung lengannya, kutungan pedang segera berserakan diatas lantai.

"Sayang kalau dibuang" seru Lu Pin sambil tertawa, "lebih baik digunakan sebagai barang rongsok saja!"

Dia membungkukkan tubuh sambil memungut kutungan pedang itu, lalu sambil berjalan menuju ke tiang batu yang gumpil berkat gempuran dari Sin lek Pa ong tadi, ujarnya lebih jauh sambil tertawa:

"Walaupun tenaga sakti milik Siang sicu menakutkan, sayang tindakannya kurang meng­hormati tuan rumah, masa sebuah tiang batu yang bagus dibikin gumpil, biarlah pinto menggunakan kutungan pedang ini untuk memperbaikinya kembal!"

Sambil berkata dengan tangan kanan memegang kutungan pedang, tangan kiri memegang gumpilan batu cadas, dia menghimpun tenaga dalamnya di dada.

Diiringi suara pekikan nyaring, tahu-tahu dia tancapkan  kutungan pedang itu ke dalam gumpilan batu, kemudian memantek gumpilan tadi diatas tiang bekas gumpilan.

Biarpun batu cadas itu keras namun orang ini mampu menembusi batu tadi bagaikan menusuk sepotong tahu saja, bukan saja gampang bahkan tidak menimbulkan suara, hal ini segera memancing aplus keras dari semua yang hadir.

Selesai memperbaiki gumpilan batu cadas itu, Lu Pin bertepuk tangan sambil berkata lagi:

"Liatwi tidak perlu bersorak memuji, sebab tanpa obat penawar racun yang sudah kulumurkan terlebih dulu ditanganku, niscaya saat ini aku sudah mati keracunan!"

Tanpa berubah muka, dengan tinjunya raja bengis bertenaga sakti berhasil menghancurkan batu cadas, kakek beracun dari kutub selatan mematahkan pedang bagai mematahkan bambu bahkan berhasil melumurinya dengan racun, kemudian Rase kemala mampu mengejar pedang secepat petir, Lu Pin menusuk batu bagai menusuk tahu. Demonstrasi kemampuan yang dilakukan ke empat orang ini boleh dibilang mengerikan sekali.

Tanpa terasa Thiat Tiong-tong dan Sui Leng­kong saling berpegangan tangan dengan kencang, mereka benar-benar tercekat dibuatnya.

Dalam pada itu si kakek racun dari kutub selatan telah mengerling sekejap ke arah Li Kiam-pek sambil berkata:

"Dengan kemampuan yang kami berempat miliki, apakah cukup pantas untuk berebut denganmu?"

Li Kiam-pek berdiri terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat dia tak mampu berkata kata.

Sambil tertawa tergelak manusia aneh itupun berseru:

"Kalau toh sudah berhasil berebut tempat, silahkan turun tangan, tidak kusangka dalam belasan tahun terakhir kungfu yang kalian berempat miliki telah bertambah maju pesat!"

"Biarpun telah maju pesat namun sayang masih belum bisa menandingimu" kata kakek racun dari kutub selatan sambil tertawa seram, "setelah kami berempat rundingkan, terpaksa kami akan turun tangan bersama-sama!"

Dengan cepat ke empat orang itu menyebarkan diri ke empat penjuru dan mengepung manusia aneh itu ditengah arena.

Manusia aneh itu sendiri meski berdiri santai tanpa berubah wajah, padahal secara diam-diam dia telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

"Hati-hati" seru si Rase kemala kemudian sambil menjura, "aku......."

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba terdengar sese­orang membentak nyaring.

Meski suara itu tidak terlalu keras namun terdengar seperti tusukan jarum yang menembusi gendang telinga, membuat telinga setiap orang terasa sakit sekali.

Dengan perasaan terkejut si Rase kemala berempat berpaling, sekarang mereka baru melihat ada dua orang wanita berjubah hitam berkain cadar perlahan lahan berjalan mendekat.

Cara berjalan ke dua orang ini sangat aneh, meski sedang melangkah ke depan namun bahunya tidak bergerak, kaki pun tidak bertekuk, seolah-olah mereka sedang melayang di antara mega saja.

Baru saja semua orang melihat jubah panjangnya bergoyang, tahu-tahu mereka sudah tiba didepan arena.

Baik manusia aneh maupun si rase kemala sekalian sama-sama merasa tercengang, ternyata mereka tidak dapat menebak siapa gerangan perempuan bercadar itu, datang dari mana dan apa tujuan kedatangannya.

Lu Pin segera menyapa dengan lantang:

"Apakah li-sicu ada petunjuk?"

"Kalian berempat tidak boleh turun tangan" jawab perempuan bercadar yang ada disisi kiri lembut.

Suaranya enteng, datar, sama sekali tidak emosi, namun nadanya tegas bagaikan sedang memberi suatu perintah, seolah-olah perkataan yang telah dia ucapkan, orang lain tidak dapat merubahnya kembali.

Si Rase kemala sekalian berdiri tertegun, tapi kemudian mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

Hanya si kakek racun dari kutub selatan yang tidak berubah paras mukanya, dengan suara mendalam tanyanya:

"Kenapa kami berempat tidak boleh turun tangan?"

"Sebab ditempat luaran, kalian berempat pun banyak membunuh dan memperkosa wanita baik-baik. Bila kau boleh menodai bini orang, kenapa orang lain tidak boleh menodai binimu, apa hak kalian untuk turun tangan?"

"Manusia macam apa kau ini, berani amat mencampuri urusan kami!" bentak Siang pa-ong gusar.

"Thian punya kuasa tidak punya kekuatan, tidak bisa turun tangan sendiri mencampuri urusan dunia, oleh sebab itu Beliau tidak segan meminjam tangan kami untuk menuntut keadilan bagi umat wanita di dunia ini"

"Hahahaha..... kalau begitu kalian mengaku sebagai utusan Thian?"

"Tepat sekali!"

Setiap perkataan yang diucapkan perempuan bercadar ini selalu datar, lembut, penuh kedamaian, tidak seorangpun dapat melihat bagai-mana mimik muka mereka dibalik kain cadarnya.

Tapi jawaban "tepat sekali" itu disampaikan dengan daya pengaruh yang sangat luar biasa, membuat orang tidak berani menyangkal kalau mereka benar-benar utusan yang datang dari langit, membuat setiap umat dunia tidak berani membangkang perintah mereka.

Sekalipun siang Pa-ong terhitung seseorang yang keras kepala pun tidak urung bergidik juga sehabis mendengar perkataan itu, untuk sesaat semua orang hanya bisa saling berpandangan dengan mulut membungkam.

Lewat berapa saat kemudian, Lu Pin baru mendehem perlahan dan berkata sambil menuding ke arah manusia aneh itu:

"Kalau kalian ingin menuntut keadilan bagi kaum wanita, kenapa tidak kau urus bajingan itu, buat apa kalian malah mengurusi kami?"

"Kedatangan kami memang ingin menyaksikan bagaimana pembalasan menimpa dirinya" sahut perempuan bercadar itu, "tapi sekarang waktunya belum tiba, tentu saja kami tidak akan membiarkan kalian berempat turun tangan terlebih dulu"

"Lalu siapa yang lebih berhak untuk turun tangan?"

"Orang yang khusus diutus Thian!"

Tiba-tiba Siang Pa-ong membentak gusar:

"Apa itu utusan Thian, utusan Tee, berlagak sok tahyul, aku tidak percaya dengan permainan busuk macam begitu, enyah kau dari sini!"

Sebuah pukulan langsung dilontarkan ke tubuh perempuan itu.

"Mana mungkin tenaga manusia bisa melawan tenaga langit, kau berani turun tangan?" jengek perempuan bercadar itu.

Sementara Siang Pa-ong masih melengak, ujung lengan baju perempuan bercadar itu telah balik menumbuk keluar.

Cepat siang Pa-ong menarik kembali serang­annya sambil membentak:

"Kita maju bersama, biar dia berangkat duluan!" Ditengah bentakan nyaring secara beruntun lima pukulan dilontarkan,   dengan tenaga gwakangnya yang sempurna, boleh dibilang serangan ini mengerikan sekali.

Perempuan bercadar hitam itu hanya sedikit menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu dia sudah menghindari keempat buah pukulan pertama, menanti Siang Pa-ong melepaskan pukulan yang terakhir, mendadak perempuan itu menghentikan tubuhnya dan sama sekali tidak menghindar lagi.

Sewaktu menggempur batu tiang cadas tadi, semua orang telah menyaksikan betapa dahsyatnya tenaga pukulan yang dimiliki Sin-lek-Pa-ong, maka betapa terkejutnya semua orang ketika menyaksikan gempuran dahsyat itu langsung menghantam ke tubuh perempuan itu, dalam perkiraan mereka, tulang belulang perempuan bercadar itu tentu akan hancur berantakan.

Siang Ji-yu sendiripun merasa kegirangan setengah mati, dia sangka pukulannya bakal merobohkan lawan.

Siapa tahu baru saja ujung kepalan itu menyentuh pakaian yang dikenakan perempuan bercadar itu, tiba-tiba pakaian tersebut bergeser cekung ke dalam, tenaga pukulan yang amat dahsyat itu seolah kerbau lumpur yang tercebur ke dasar samudra, hilang lenyap dengan begitu saja.

Tidak terlukis rasa terkejut yang dialami si raja bengis Siang, tapi dia tidak sempat berpikir lebih jauh karena perempuan bercadar itu sudah berbalik menggulung lengannya dengan ujung bajunya.

Dalam waktu sekejap dia rasakan segulung tenaga murni yang tidak dapat dilawan menyusup masuk melalui ujung baju itu, tidak kuasa lagi tubuhnya terangkat meninggalkan permukaan tanah dan tahu-tahu tubuhnya yang tinggi besar itu sudah melayang di udara, melewati diatas kepala si Rase kemala dan ..."Blaaam!" menumbuk diatas dinding ruangan, terperosok ke lantai dan tidak sanggup merangkak bangun lagi.

Meskipun si Rase kemala sekalian tahu kalau lawan telah menggunakan ilmu tenaga dalam sebangsa Can ie cap pwee tiap (menyentuh baju terperosok delapan belas kali), tidak urung perasaan hati mereka tercekat juga. Biarpun tidak jelas berapa usia perempuan bercadar itu, namun mereka sadar bahwa dikolong langit dewasa ini hanya berapa gelintir manusia yang berhasil mencapai tingkatan ilmu sehebat itu.

Sebagaimana diketahui, tadi perempuan bercadar itu hanya menghisap dengan bajunya, tahu-tahu seluruh tenaga pukulan dari Siang pa-ong sudah lenyap tidak berbekas, lalu ketika mengebaskan bajunya, tahu-tahu tubuhnya sudah terpelanting, sampai matipun Siang pa-ong tidak menyangka kalau dia bakal dipecundangi dalam keadaan yang begitu mengenaskan.

Begitu mencium lantai, dia jatuh pingsan berapa saat,  kemudian ketika mencoba merang­kak bangun, lagi lagi kepalanya terasa amat pening hingga untuk ke dua kalinya dia mencium lantai.

Dalam pada itu perempuan bercadar tadi telah berpaling ke arah si Rase kemala Yo Kun, ujarnya lembut:

"Sekarang kau sudah percaya bukan kalau tenaga manusia tidak akan menangkan tenaga langit?"

"Soal ini........." berubah paras muka si Rase kemala Yo Kun, tiba-tiba dia menghela napas panjang, "percaya, aku percaya.......!"

Sambil berkata dia menjura dan menyembah. Pada saat itulah mendadak terlihat puluhan titik cahaya perak yang lembut bagaikan bulu melesat keluar dari punggungnya dan langsung menyergap dada serta lambung perempuan itu.

Senjata rahasia itu dilepaskan tanpa memberi tanda, begitu meluncur, kecepatannya melebihi sambaran kilat, sungguh membuat orang diluar dugaan dan sulit untuk menghindar.

Inilah ilmu yang paling diandalkan dan dibanggakan selama ini, "Cing pai hoa cuang toan hun ciam (jarum pemutus nyawa dalam kemasan punggung), selain sangat lihay dan beracun, banyak sudah jagoan tangguh dalam dunia persilatan yang kehilangan nyawa diujung jarumnya.

Perubahan ini terjadi diluar dugaan, saking kagetnya Sui Leng-kong yang bersembunyi diluar jendela sampai menjerit tertahan.

Siapa sangka perempuan bercadar iu hanya mengembangkan ujung bajunya, tahu-tahu seluruh hujan jarum perak itu sudah tergulung ke balik pakaiannya dan lenyap dengan begitu saja.

Mendadak si Rase kemala, Lu Pin serta kakek racun dari kutub selatan menjerit kaget, sambil menuding ke arah perempuan bercadar itu mereka bertiga berseru dengan nada gemetar:

"Kau.......kau.......kau......"

"Jadi kalian sudah tahu siapakah kami?" tukas perempuan bercadar itu tenang.

Tiba-tiba manusia aneh mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, selanya:

"Hahahaha.....mungkin baru sekarang mereka tahu, padahal semenjak kalian masuk kemari, aku sudah tahu siapa gerangan kalian semua"

"Memang paling baik kalau sudah tahu"

"Tidak nyana kalian bakal membantuku........"

"Orang yang semestinya datang menuntut balas kepadamu hingga kini belum muncul, kami hanya kuatir kau mampus duluan ditangan orang lain!" potong perempuan itu dingin.

Manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Hahahaha.... memangnya kau anggap dengan andalkan beberapa orang ini sudah mampu melukai aku!"

Tiba-tiba dia turun tangan secepat kilat, cakarnya langsung mencengkeram tengkuk si kakek racun dari kutub selatan dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi di udara.

Selama ini kawanan jago itu belum pernah menyaksikan dia mendemonstrasikan kemampuan silatnya, tidak terlukiskan rasa terperanjat mereka setelah menyaksikan kemampuannya mencengkeram si kakek racun hanya dalam satu gebrakan tanpa ada perlawanan sedikitpun.

Si kakek racun dari kutub selatan sendiripun seakan merasakan sekujur tubuhnya lemas tidak bertenaga, nyaris dia tidak mampu bergerak, bisa dibayangkan sampai dimana rasa ngeri dan takutnya saat itu.

"Mau.....mau apa kau?" jeritnya ketakutan.

"Serahkan dulu obat penawar racunmu" perintah manusia aneh itu sambil tertawa.

"Ada..... ada disaku ku, yang merah dioleskan dihidung, yang putih ditelan"

Belum selesai ia berkata, manusia aneh itu sudah mengeluarkan sebuah kotak emas dari sakunya dan berkata sambil tersenyum:

"Aku yakin kau tidak berani berbohong.......ambillah!"

Tiba-tiba dia melemparkan kotak itu ke arah perempuan bercadar itu.

"Buat apa benda ini?" tanpa terasa perempuan itu bertanya.

Manusia aneh itu tertawa, katanya:

"Kelihatannya kalian berdua adalah para dewi yang baru saja masuk ke dalam kalangan dewa dewi hingga pengalamannya sangat cetek, kalian terlalu pandang rendah kemampuan kakek racun"

"Jangan-jangan........."

"Hahahaha....... ketika kakek racun menuding dengan jari tangannya tadi, kau sudah terkena racun jahatnya!"

Sekujur tubuh perempuan bercadar itu bergetar keras, secara beruntun dia mundur berapa langkah.

"Obat pemunah racun telah kuserahkan, kenapa kau belum lepaskan aku?" terdengar kakek racun dari laut selatan berteriak.

"Aku tahu, kau licik dan banyak akal busuknya, meski kami tidak takut menghadapimu tapi kehadiranmu ditempat ini sangat memuakkan, pergilah!"

Dia segera melemparkan tubuh kakek racun itu keluar dari pintu gerbang, sementara tubuhnya menerjang ke sela tubuh si Rase kemala dan Lu Pin sambil melepaskan satu pukulan.

Dengan hati tercekat si Rase kemala berkelit ke samping sementara Lu Pin buru-buru membalik­kan tubuh sambil mencabut pedangnya, tapi sayang baru saja pedang itu dicabut setengah inci, pukulan si manusia aneh yang semula tertuju ke tubuh Yo Kun tahu-tahu sudah berganti menceng-keram tubuhnya.

Sepanjang hidup belum pernah Lu Pin menghadapi serangan sedemikian cepatnya, sambil berjumpalitan di udara dan kabur keluar pintu, teriaknya keras:

"Belum terlambat bagi seorang Kuncu untuk membalas dendam tiga tahun kemudian, tunggu saja pembalasanku!"

Belum selesai dia berbicara, lagi-lagi terlihat sesosok bayangan manusia meluncur keluar, dia sangka manusia aneh itu mengejarnya, saking kagetnya dia sampai bergulingan beberapa kali diatas tanah.

Ternyata bayangan tubuh itu terbanting persis disamping tubuhnya, orang itu tidak lain adalah si Rase kemala Yo Kun.

"Kenapa kaupun terlempar keluar........" tanya Lu Pin terkesap.

Yo Kun menghela napas panjang, sahutnya:

"Bangsat ini sangat lihay, kecepatan geraknya melebihi setan, belum sempat aku melihat jelas tahu-tahu........"

Belum selesai dia bicara, kembali terlihat sesosok bayangan tubuh terlempar ke udara, kali ini yang dilempar keluar adalah si raja bengis bertenaga sakti Siang Ji-yu.

Suto Siau sekalian mulai kuatir dengan keselamatan mereka, perasaan ngeri dan takut mulai mencekam perasaan masing-masing, mereka tidak menyangka kalau manusia aneh itu mampu melempar keluar empat jago tangguh dari dunia persilatan dalam waktu singkat.

Sementara itu dua orang wanita bercadar hitam tadi telah mundur ke sudut ruangan, tapi obat penawar racun itu belum ditelan, tampaknya dia sedang berunding masalah itu dengan beberapa orang wanita lainnya.

Sambil tersenyum manusia aneh itu berseru: "Kenapa kalian berdua tidak segera menelan obat penawar racun itu? Jangan-sampai gagal masuk ke lingkungan dewi akhirnya malah ter­jerumus ke liang iblis........"

Seorang wanita bercadar dengan perawakan tubuh paling kecil dan pendek, tiba-tiba mengambil kotak itu sambil tampil ke depan, katanya:

"Kau anggap para dewi dari perguruan Ong bo (ibu suri) gampang mati karena keracunan!"

Nada suara orang ini jauh lebih dingin, kaku dan keras ketimbang dua orang rekannya, bahkan sama sekali tidak berperasaan.

Agak berubah paras muka manusia aneh itu, serunya:

"Jadi kalian enggan........"

"Betul, kami enggan menerima kebaikanmu!" tukas perempuan kecil pendek itu sambil membuang kotak tadi ke lantai kemudian berjalan balik ke rombongannya tanpa melirik sekejap pun ke arah manusia aneh itu.

Thiat Tiong-tong merasa hatinya tergerak setelah menyaksikan gerak-gerik yang aneh dari kawanan perempuan itu, khususnya setelah mendengar sebutan "thian" dan "Dewi" yang mengandung unsur tahyul.

Pikirnya dengan hati terkejut bercampur girang:

"Jangan-jangan mereka adalah para jago yang pernah disinggung dalam Bi hay hu.........."

Mendadak terasa pandangan mata jadi kabur, kembali ada empat sosok bayangan manusia yang terlempar masuk satu demi satu dan bertumpukkan menjadi satu.

Tampak ke empat orang itu tergeletak tanpa bergerak maupun bersuara, mereka tidak lain adalah si Rase kemala sekalian.

"Siapa?" bentak manusia aneh itu dengan wajah berubah.

"Sebelum kami tiba, siapa pun dilarang keluar dari sini!" seseorang menyahut dengan suara yang aneh, suara itu seakan wujud seakan pula tidak berwujud.

"Kalau memang sudah datang, kenapa tidak segera masuk?" hardik manusia aneh itu.

Siucay muda yang selama ini hanya duduk diatas bangku batu itu tiba-tiba tertawa dingin, katanya sepatah demi sepatah berkata:

"Kalau saatnya telah tiba, tentu saja mereka akan masuk"

"Siapa pula kau?" tegur manusia aneh itu.

Pemuda siucay itu hanya membalikkan biji matanya tanpa menjawab, kelihatannya manusia aneh itu ingin bertanya lebih lanjut, tapi pada saat yang bersamaan dari luar pintu kembali muncul serombongan manusia.

 

JILID KE EMPAT

 

BAB 20.

Sukma Terbang Nyawa Buyar.

 

Waktu itu, keadaan para jago sudah macam burung yang ketakutan oleh suara busur, begitu mendengar suara langkah manusia, serentak mereka berpaling dengan perasaan kebat kebit.

Ternyata rombongan manusia yang muncul kali ini adalah kawanan gadis anak buah manusia aneh itu.

Tampaknya manusia aneh itupun sedikit tercengang melihat kemunculan mereka, baru saja akan menegur Yin Gi, begitu berpaling dia menjumpai kalau dua bersaudara Yin ternyata sudah kabur dari situ.

Perginya dua bersaudara Yin dan munculnya kawanan gadis yang tertawan merupakan peristiwa yang diluar dugaan siapa pun, hal ini menunjukkan kalau peristiwa itu berkembang semakin aneh dan penuh misterius.

Kawanan gadis itu muncul dengan rambut awut-awutan tidak karuan, pakaian lusuh dan wajah pucat pias bagaikan mayat,   bahkan sorot mata mereka yang semula jeli pun kini kelihatan buram seperti orang blo'on.

Begitu melihat mimik muka kawanan gadis tersebut, dengan wajah berubah manusia aneh itu segera berseru:

"Kiu yu in hong! (angin dingin sembilan sukma)"

Begitu mendengar teriakan tersebut, perem­puan bercadar hitam yang berada disitupun nampak bergetar keras tubuhnya.

Tiba-tiba siucay muda itu mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, katanya:

"Hahahaha....... ternyata kau cukup berpenga­laman, dalam sekilas pandang sudah mengenali ilmu simpanan perguruan kami!"

"Apa hubunganmu dengan Hong Lo-su?" bentak manusia aneh itu lagi.

"Kurang ajar!" umpat siucay muda itu dengan gusar, "berani amat kau sebut nama guruku, hmm! Tidak nyana nyalimu cukup besar!"

Manusia aneh itu segera menghentakkan kakinya berulang kali, sambil menarik Li Lok-yang, katanya serius:

"Saudara Li, kau harus segera mundur dari sini, kawanan gadis itu sudah tertiup buyar sukmanya oleh ilmu Kiu yu in hong, kini kesadaran mereka sudah hilang, jangan lagi terhadapmu, aku pun bisa jadi akan mereka lukai"

Bergidik hati Li Lok-yang mendengar perkataan itu, jeritnya tertahan:

"Kiu yu in hong? Tertiup buyar sukmanya....."

Belum selesai dia bergumam, tiba-tiba dari tengah udara telah berkumandang suara yang sangat aneh:

"Terlambat! Terlambat sudah! Tidak ada yang bisa lolos.......tidak ada yang bisa kabur........."

Paras muka manusia aneh itu kelihatan semakin tegang, baru saja dia dorong Li Lok-yang dan Li Kiam-pek masuk ke balik pintu di mana Thiat Tiong-tong sedang menyembunyikan diri, kawanan gadis itu sudah mulai menggerakkan tubuhnya.

Li Lok-yang berdua kelihatan agak tertegun juga ketika menyaksikan kehadiran Sui Leng-kong di tempat itu, namun mereka berempat sama sekali tidak berbicara karena perhatiannya segera tersedot oleh kejadian yang sedang berlangsung diluar sana.

Tampak belasan gadis itu sudah mulai bergerak mengepung manusia aneh itu, walaupun kesadaran mereka telah hilang namun serangan yang dilancarkan tetap ganas, keji dan mematikan, malahan mereka lebih banyak menyerang daripada bertahan, seakan-akan sudah tidak ambil perduli lagi dengan keselamatan diri.

Karena jurus nekad mereka, otomatis muncul banyak kelemahan diantara gerak serangannya, tapi manusia aneh itu merasa sayang dan kasihan untuk turun tangan keji, mana mungkin dia tega membunuh kawanan gadis yang selama ini disayanginya?

Oleh sebab itulah kendatipun dalam jurus serangannya kawanan gadis itu banyak memper­lihatkan titik kelemahan, dia hanya bisa menghela napas sambil mengabaikan kesempatan baik itu, tidak heran kalau dalam waktu singkat dia sudah dibikin kalang kabut oleh kerubutan itu.

Saat itu walaupun suara yang bergema di udara telah berhenti, namun sebagai gantinya muncul suara suitan yang terkadang muncul terkadang hilang, suara itu mengalun semakin mendekat dan nadanya bagaikan jeritan serta tangisan setan.

Perempuan pendek kecil yang menonton jalannya pertarungan itu tiba-tiba membentak nyaring:

"Kenapa kau masih menyayangi nyawa perempuan-perempuan itu? Memangnya kau sudah bosan hidup?"

Manusia aneh itu menghela napas panjang, dengan cepat dia menotok roboh seorang gadis, tapi kawanan gadis lainnya seakan sama sekali tidak melihat, mereka masih menerjang ke depan tanpa memperdulikan keselamatan sendiri.

"Mari kita turun tangan!" bentak perempuan kecil pendek itu tiba-tiba.

Dengan kening berkerut siucay muda itu segera menghadang dihadapan mereka, tegurnya dengan nada dingin:

"Sisa sukma yang gentayangan di angkasa belum pupus, tidak seorang manusiapun didunia ini yang boleh mencampurinya!"

"Kecuali utusan dari Langit, siapa pun dilarang mencabut nyawanya" tukas perempuan bercadar itu cepat.

Begitu mereka berdua berdiri saling berha­dapan, masing-masing pihak segera merasakan hawa dingin yang memancar keluar dari tubuh lawannya.

Mendadak dari kejauhan berkumandang suara pekikan nyaring bagaikan pekikan burung hong yang segera membuyarkan suara jeritan tangis macam teriakan setan itu.

"Aaah datang sudah!" pekik perempuan bercadar itu tanpa sadar, meski tidak nampak perubahan mimik mukanya namun dapat ditangkap nada girang dibalik ucapan tersebut.

"Hong Lo-su, mau apa kau datang kemari?" terdengar suara yang merdu bagai pekikan burung hong itu menegur.

"Dimana angin dingin dari sembilan sukma datang menyatroni, tentu saja akan ada nyawa yang terbang dan sukma yang buyar!" sahut suara seperti tangisan setan itu sepatah demi sepatah, meski diucapkan sangat lambat namun kedengaran amat menyeramkan.

"Kau tidak boleh mengusik orang yang berada disini"

"Siapa datang duluan, dia yang berhak turun tangan, siapa datang belakangan, dipersilahkan segera angkat kaki!"

"Kalau begitu kau ingin menjajal kemampuan­ku?"

Pembicaraan kedua orang itu seolah datang dari atas awan, membuat siapa pun yang mendengar tidak bisa membedakan suara tersebut berasal dari kejauhan atau dari tempat yang dekat.

Setelah berhenti sesaat, terdengar suara lengking seperti tangisan setan itu kembali berkumandang.

Walaupun berasal dari satu sumber namun kedengaran seolah datang dari empat arah delapan penjuru.

Tiba-tiba terdengar pekikan nyaring bergema menembusi angkasa, namun suara tangisan setan itu masih bergema tiada hentinya.

Dua macam suara itupun bergema silih berganti, bukan saja menggema di seluruh angkasa bahkan membuat siapa pun merasakan hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.

Manusia aneh itu memandang sekejap sekeliling ruangan, tiba-tiba tubuhnya berputar kencang, bagaikan sebuah kincir angin dia menembusi angkasa, melepaskan diri dari kepungan para gadis dan melesat ke luar pintu gerbang.

Belum lagi tubuhnya hinggap di tanah, bentaknya lirih "cepat ikut aku!"

Tanpa berpikir panjang Thiat Tiong-tong sekalian segera mengintil di belakangnya, menelu­suri jalanan yang berliku-liku dan melewati berlapis-lapis pintu gerbang tebal.

Setiap kali sehabis mereka melewati pintu gerbang itu, si manusia aneh tadi segera menekan sebuah tombol rahasia, sebuah lapisan batu cadas yang amat besar dan berat pun seketika menutup jalan lewat.

Dari sikap gugup, gelagapan dan panik yang diperlihatkan manusia aneh itu, Thiat Tiong-tong sadar bahwa musuh yang munculkan diri tentu merupakan musuh dengan kungfu yang luar biasa hebatnya.

Tidak tahan iapun bertanya:

"Apakah yang datang adalah orang orang dari Bi hay hu?"

"Dari mana kau tahu?" tanya manusia aneh itu tertegun.

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, belum sempat mengucapkan sesuatu tiba-tiba manusia aneh itu berkata lagi sambil tertawa dingin:

"Kau anggap aku benar-benar takut mengha­dapi mereka? Hmmm, hmmm, siapa pun yang bakal datang, aku tidak bakal takut"

"Kalau memang tidak takut, kenapa mesti kabur?" tanya Sui Leng-kong.

Sekali lagi manusia aneh itu menghela napas sedih, ujarnya:

"Kenapa lagi kalau bukan demi kau"

"Kabur demi aku?" Sui Leng-kong semakin keheranan.

"Walaupun aku tidak takut menghadapi mereka, tapi kepandaian silat yang dimiliki orang itu kelewat tangguh, untuk menjaga ke selamatan-ku sendiri mah tidak masalah, tapi aku tahu dari kelompok yang datang saat ini paling tidak ada sebagian orang yang datang demi kalian berdua, kalau sampai waktu itu ada orang hendak mencelakaimu, apa dayaku?"

Tiba-tiba serunya lagi dengan suara keras: "Bagaimana pun kalian adalah tamuku, sekalipun aku mesti mati karena tidak sanggup menghadapi mereka, tidak akan kubiarkan orang lain melukai kalian, itulah sebabnya terpaksa aku harus membawa kalian menuju ke tempat yang aman lebih dulu!"

"Aaah, tidak kusangka ternyata kau adalah orang baik" Sui Leng-kong menghela napas panjang,

"terima kasih banyak........ tapi sekarang, sekeliling tempat ini sudah terkepung rapat, memangnya masih ada tempat lain yang aman?"

"Tentu saja ada, disinilah tempatnya"

Menengok tempat yang dituding orang itu, tanpa terasa semua yang hadir jadi tertegun.

Rupanya mnusia aneh itu telah membawa mereka balik ke ruang gedung semula, sementara tempat yang ditunjuk tidak lain adalah pintu hitam diantara delapan pintu warna-warni lainnya.

Menduga dibalik pintu tersebut tentu tersedia pelbagai alat jebakan dan alat rahasia, semua orang mulai merasa sedikit agak lega.

Tiba di depan pintu berwarna hitam itu, mimik muka manusia aneh itu berubah jadi amat serius, langkahnya semakin diperingan, dengan sikap yang amat menghormat dia menyingkap tirai di depan pintu dan masuk ke dalam.

Ternyata dibalik tirai itu merupakan sebuah pintu yang terbuat dari batu cadas, pintu itu pelahan-lahan bergerak naik ke atas, kalau didengar dari suaranya, dapat diduga kalau batu cadas itu beratnya luar biasa.

Ketika semua orang menyaksikan apa yang terbentang dibelakang pintu batu itu, sekali lagi mereka dibuat tercekat.

Ternyata dibelakang pintu batu terbentang sebuah lorong batu yang panjangnya berapa meter, diujung lorong merupakan sebuah kolam yang lebar dengan gemercik air yang lirih.

Sejauh mata memandang, air dalam kolam iu berwarna hijau muda dengan disekelilingnya tumbuh aneka pepohonan, sebuah pemandangan alam yang sangat indah.

Tapi begitu berjalan mendekat, semua orang baru tahu kalau kolam air itu luasnya hanya belasan meter, adapun pepohonan hijau yang berada disekelilingnya tidak lebih hanya lukisan yang ditempelkan di atas dinding sekeliling sana, lukisan itu sedemikian hidupnya sehingga ketika dipandang dari kejauhan, orang akan mengira mereka berada disebuah tanah pegunungan yang indah.

Diatas kolam yang sejuk dengan air yang jernih itu terlihat beberapa ekor angsa sedang berenang dengan santainya, selain itu tampak pula sebuah sampan kecil yang mengapung diatas permukaan, sekeliling sampan tertutup oleh kain sutera berwarna hitam sehingga sulit bagi orang luar untuk melihat jelas keadaan dalam sampan tersebut.

Yang terlihat hanya kepulan asap dupa berbau harum yang menyebar keluar dari balik kain sutera dan menyebar kemana-mana, bau harum semerbak yang membuat suasana disana lebih mirip dengan sebuah nirwana.

Kalau tadi semua orang dicekam dalam suasana tegang dan penuh dengan hawa pembunuhan, maka sekarang yang tampak justru ketenangan dan kelegaan, membuat semua orang mabuk kepayang, terbuai oleh keadaan yang mengesankan.

Dalam pada itu manusia aneh tadi sudah menjatuhkan diri berlutut, wajahnya nampak amat hormat dan serius, setelah menyembah berapa kali ujarnya perlahan:

"Ananda memberi hormat kepada ibu"

Sementara semua orang masih keheranan menyaksikan sikap hormat orang itu, ucapannya semakin membuat semua orang terperangah, pikirnya tanpa terasa:

"Ternyata dia masih mempunyai seorang ibu......tapi kenapa ibunya berdiam di tempat yang begitu terpencil dan rahasia?"

Dari balik kain sutera yang mengelilingi sampan itu terdengar suara seorang wanita bertanya:

"Ooh, kau telah datang? Mau apa datang kemari?"

Nada suaranya begitu halus, lembut dan sedap didengar, jauh lebih lembut ketimbang suara Un Tay-tay, lebih menawan daripada suara Sui Leng­kong, sedikitpun tidak terkesan suara seorang ibu terhadap putranya.

Sekali lagi semua orang tercengang, coba kalau manusia aneh itu tidak memanggilnya "ibu", dapat dipastikan semua orang akan menyangka perem­puan yang berada disampan itu adalah seorang nona muda dan bukan ibu kandungnya.

Dengan cepat manusia aneh itu berkata:

"Sebenarnya ananda tidak berani datang mengusik kau orang tua, tapi...."

"Delapan belas tahun berselang kau telah bersumpah, sebelum mencapai kesuksesan kau tidak akan menginjak lagi sampan ini dan bertemu denganku, masa kau sudah lupa?" ujar perempuan itu dingin.

"Tapi hari ini ananda harus berjumpa dengan ibu karena........"

Kembali perempuan dalam sampan itu menukas sambil tertawa dingin:

"Sewaktu aku mengangkat sumpah, kalian ayah beranak toh sudah tahu kalau aku akan mulai melatih ilmu sinkang ini dan sejak itu sulit bertemu lagi dengan kalian berdua, tapi waktu itu kalian berdua sedang asyik-asyiknya menjadi kesenangan diluaran, main perempuan ke sana kemari, karena kuatir kehadiranku akan meng-halangi ulah kalian maka siapa pun enggan mencegah aku! Khususnya bapakmu, dia secara khusus mendirikan tempat latihan bagiku disini, kelihatannya saja dia kuatir aku kesepian disaat sedang berlatih diri, padahal........"

"Ibu, disini hadir orang luar" tukas manusia aneh itu rikuh.

Tapi perempuan dalam sampan itu seakan tidak mendengar, lanjutnya:

"Padahal dia ingin secepatnya menyingkirkan aku, agar ulahnya diluar tidak terganggu......”

Tampaknya sudah lama perempuan itu memendam perasaan hatinya sehingga begitu diutarakan, semua perkataan mengalir keluar bagaikan gulungan arus sungai, membuat semua orang melongo dan terbungkam dalam seribu bahasa.

Dengan wajah masam manusia aneh itu berseru: "Ibu, waktu itu kau bertekad ingin mempelajari lmu sakti itu, meski ananda sadar bahwa hal ini tidak gampang namun ananda tidak berani menghalangi niat ibu......."

"Jika dulu tidak menghalangi aku, mau apa hari ini datang menjumpai aku?" tukas perempuan dalam sampan itu.

"Hari ini ananda sedang dirundung masalah besar, karena itu ananda ingin meminjam tempat tinggal kau orang tua untuk menghindari musibah ini, kalau tidak, mungkin hari ini ananda........."

"Kalau tahu bakal begini, kenapa berbuat tidak senonoh dimasa lalu" tukas perempuan itu sambil tertawa dingin, "aku percaya inilah hutang yang dibuat oleh kalian ayah beranak dimasa lalu hingga sekarang mereka berdatangan kemari untuk menagih hutang, bukan begitu?"

Manusia aneh itu menunduk rendah tanpa menjawab.

"Tapi siapa sih yang telah datang? Kenapa membuat kau ketakutan? Sungguh aneh" kembali perempuan itu berkata.

"Yang datang adalah Coh Sam-nio dan Hong Lo-su, ibu, sekalipun kau enggan menolongku, masa akan kau biarkan mereka berdua bertindak semena-mena dihadapanmu?"

"Apa? Coh Sam-nio dan Hong Lo-su?" perempuan dalam sampan itu berseru kaget.

Kalau didengar dari nada suaranya, tampak kalau perempuan yang sudah lama menutup diri ini tergerak hatinya setelah mendengar kedua nama itu, lamat-lamat paras muka manusia aneh itu kelihatan kegirangan.

Lewat lama kemudian terdengar perempuan dalam sampan itu berkata lagi dengan nada perlahan:

"Aku yang hidup seorang diri disini sudah matikan perasaan, sekalipun seluruh anggota Bi­ hay-hu datang kemaripun, hatiku tidak bakal tergerak, pergilah kau dari sini!"

Biarpun dia berbicara dengan suara lambat, namun nadanya menunjukkan kalau dia sama sekali tidak tergerak hatinya.

Agaknya manusia aneh itupun tahu kalau keputusan ibunya sudah bulat dan tidak mungkin bisa dirubah lagi, perasaan kecewa bercampur sedih melintas diwajahnya, sambil bangkit berdiri ujarnya:

"Kalau memang begitu, ananda mohon diri!"

Semua orang yang hadir bukan orang bodoh, dari pembicaraan antara ibu beranak itu mereka segera dapat menyimpulkan bahwa perempuan itu dimasa lalu pasti pernah merasa sakit hati karena melihat ulah suami dan putranya yang bermain wanita dimana-mana, dalam keputus asaan diapun memutuskan untuk melatih sejenis ilmu silat yang amat sulit.

Dari sini dapat disimpulkan juga bahwa dimasa lampau perempuan ini tentu mempunyai nama dan kedudukan yang tinggi didalam dunia persilatan, buktinya manusia macam Coh Sam-nio dan Hong Lo-su pun menaruh perasaan segan terhadapnya.

Melihat perempuan itu menolak permintaan putranya meski tahu kalau mara bahaya sedang mengancam, kembali semua orang menghela napas panjang, mereka merasa sikap perempuan itu kelewat tega.

Hanya Sui Leng-kong seorang yang tidak tahan untuk menghela napas sedih, karena tanpa terasa dia terbayang kembali masa kesepian yang dialaminya hampir delapan belas tahun, karena dia tahu betapa tersiksanya rasa kesepian, betapa menderitanya hidup seorang diri.

Kebetulan Thiat Tiong-tong sedang berpaling memandang ke arahnya, dengan cepat pemuda itupun dapat menyelami perasaan hatinya saat itu.

Kembali ke ruang utama, paras muka semua orang nampak murung dan berat, tidak tahan Li Lok-yang berkata sambil menghela napas:

"Bukan siaute banyak mulut, tabiat ibumu benar-benar kelewat aneh"

Tidak menunggu manusia aneh itu menjawab, dengan suara berat Thiat Tiong-tong telah menyela:

"Jika saudara Li pernah merasakan betapa tersiksa dan menderitanya hidup seorang diri, tidak mungkin kau akan mengucapkan perkataan itu!"

Dengan pandangan terharu dan penuh rasa terima kasih, Sui Leng-kong memandang sekejap ke arah pemuda itu.

Sekonyong-konyong terdengar suara Hong Lo-su kembali berkumandang:

"Coh Sam-nio, kita berdua tidak usah saling berebut lagi, bagaimana kalau kita bicarakan tentang pertukaran syarat?"

"Apa syaratmu, cepat katakan!" seru Coh Sam-nio dengan suaranya yang merdu bagaikan burung hong.

"Semua perempuan yang hadir disini boleh kau bawa pergi, sementara yang lelaki tinggalkan untukku"

Sebelum Coh Sam-nio menjawab, kembali Hong Lo-su berkata lebih jauh:

"Kalau kita berdua mesti bertarung lagi, paling tidak kau maupun aku mesti bertarung hampir delapan sampai sepuluh tahun, apa gunanya?"

"Bagaimana dengan kawanan gadis yang sudah dibuat sinting olehmu?"

"Aku bertanggung jawab untuk membuatnya tersadar kembali"

"Baik! kita putuskan begitu saja"

Walaupun terhalang oleh dinding ruangan yang sangat tebal, ternyata suara pembicaraan ke dua orang itu masih mampu menembusinya, bahkan terdengar amat jelas, kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki ke dua orang tokoh persilatan itu kontan saja membuat semua jago saling berpandangan dengan hati tercekat.

Setelah menghela napas, ujar manusia aneh itu:

"Bila mereka berdua bertarung duluan, kita bisa menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut hasil, siapa tahu....... aaai, kenapa watak mereka berdua bisa berubah banyak!"

Tiba-tiba terdengar Hong Lo-su berseru sambil tertawa:

"Hey Siau hong liu (tukang pemogoran cilik), kau tidak usah duduk tenang sambil menonton harimau berkelahi, lebih baik tampilkan dirimu, memandang diatas wajah ayah ibumu, locu tidak akan menyusahkan kau!"

"Kalau mampu masuklah sendiri, kami akan menunggu kedatangan mu!" tantang manusia aneh itu dengan lantang.

Suara teriakannya nyaring dan jelas, tajam bagaikan emas yang menembusi batu cadas.

Hong Lo-su segera tertawa tergelak.

"Hahahaha...... kau sangka locu tidak mampu masuk?"

Tiba tiba bentaknya:

"Sin hu lek si (kapak sakti bertenaga kuat) ada dimana?"

"Siap!" seseorang segera menyahut.

Jawaban itu diucapkan dengan suara bagaikan guntur, membuat kendang telinga semua orang bergetar dan mendengung keras.

"Ngo ting-kay-san siap membantu, hancurkan lapisan batu itu hingga remuk berkeping!"

"Baik!"

Menyusul kemudian terdengar suara getaran keras bergema diseluruh ruangan, tampaknya Sin-hu-lek-si dan Ngo-teng-kay-san, dua orang anak buah Hong Lo-su yang bertenaga raksasa mulai turun tangan membongkar lapisan batu cadas, tidak lama kemudian lapisan pintu batu pertama berhasil dihancurkan.

"Apakah masih ada jalan lewat di belakang sana?" tanya Li Lok-yang dengan kening berkerut.

"Bangunan ini dibangun dengan bersandar pada bukit, kecuali kita memiliki ilmu menembus batu karang, kalau tidak...... aaai, kalau tidak meski punya sayap pun sulit untuk melewatinya!"

Li Lok-yang termangu berapa saat lamanya, kemudian sambil menatap wajah Li Kiam-pek dan menghela napas, katanya:

"Aaai, tidak seharusnya kuajak kau datang kemari!"

"Ayah yang tidak seharusnya datang kemari!" sela Li Kiam-pek cepat.

Ayah dan anak berdua itu saling menguatirkan keselamatan lawannya sehingga keselamatan sendiri malah terabaikan.

Thiat Tiong-tong sendiripun sambil menatap wajah Sui Leng-­kong katanya sedih:

"Adikku, kau......"

"Aku tak mau menjadi adikmu" tukas Sui Leng­kong sambil menggeleng dan tertawa pedih.

Jawaban tersebut membuat Thiat Tiong-tong tertegun, serunya tertahan:

"Ke.....kenapa?"

"Karena aku ingin menjadi istrimu, bukan jadi adikmu!"

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya jadi kecut, bisiknya:

"Tapi........"

Sebenarnya dia ingin bilang kalau Thian telah menakdirkan mereka tidak bisa jadi suami istri maka siapa pun tidak dapat merubah suratan tersebut, namun terbayang bagaimana saat itu mereka sedang menghadapi kesulitan, apa gunanya menyakitkan hati si nona lagi, maka dia pun menutup rapat mulutnya.

Namun dihati kecilnya dia segera mengambil keputusan, apabila mereka masih bisa keluar dari situ dalam keadaan selamat maka dia harus menyingkir jauh-jauh, agar tali cinta mereka berdua tidak terikat semakin mendalam yang pada akhirnya susah dicabut kembali.

Tiba-tiba terdengar manusia aneh itu berkata dengan nada dingin:

"Kalau dilihat dari situasi sekarang, tampaknya bukan saja kau gagal menjadi adiknya, apalagi menjadi bininya!"

Sementara itu suara batu cadas yang dibongkar orang terdengar makin lama semakin mendekat, diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas sedih, dia sadar apa yang diucapkan memang bukan perkataan bohong.

Mendadak terdengar Li Kiam-pek berseru sambil membusungkan dada:

"Masa dengan tenaga gabungan kita berlima pun masih tidak sanggup menghadapi mereka?"

"Kalau manusia semacam kau mah biar ditambah lima puluh orang lagi juga tidak bakal mampu menahan setengah jurus serangan lawan!" sahut manusia aneh itu dingin.

"Kau.........” dengan perasaan tersinggung Li Kiam-pek membentak.

Tapi belum sempat mengucapkan sesuatu, lagi-lagi dia sudah ditarik ayahnya. Sambil menghela napas ujar Li Lok-yang kemudian:

"Sebenarnya siapa yang telah datang? Kenapa begitu lihay? Apa yang dinamakan orang orang dari Bi hay hu?"

Pertanyaan itu persis seperti apa yang ingin diketahui oleh Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong, sudah berapa kali mereka ingin melontarkan pertanyaan itu namun tidak juga ada kesempatan, maka saat ini mereka segera pasang telinga dan mendengarkan dengan seksama.

Manusia aneh itu menghela napas panjang, katanya:

"Dari luar sampai disini semuanya terdapat sebelas buah pintu batu cadas, sampai sekarang mereka masih belum berhasil menjebol enam lapis pintu, mumpung masih ada waktu, baiklah, akan kuterangkan sedikit asal usul dari beberapa orang itu"

Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat tidak ada yang membantah maka diapun berkata lebih jauh:

"Bait pertama dari syair Bi hay hu mengisah­kan tentang enam orang tokoh maha sakti yang bercokol dikolong langit saat ini........."

Biarpun Li Lok-yang ayah beranak memiliki pengetahuan yang amat luas pun kelihatannya mereka belum pernah mendengar tentang syair Bi hay hu, tanpa terasa tanyanya:

"Boleh tahu apa kata bait pertama dari syair tersebut?"

Dengan mata terpejam pelan pelan manusia aneh itu berbisik:

"Bila kau bergerak, hujan angin bagaikan kegelapan, kilat guntur jalan beriring, bila kau tenang, tubuh bersih bagai cermin, sinar hijau menyelimuti angkasa"

Sewaktu mengucapkan bait syair itu, nada suara manusia aneh itu kedengaran khusus dan menaruh hormat, mimik mukanya pun memper-lihatkan keseriusan.

"Jadi siapa saja ke enam orang tokoh sakti itu?" tanya Li Lok-yang lagi.

"Angin, hujan, petir dan guntur, empat tokoh sakti dari dunia persilatan!"

"Bila angin, hujan, petir dan guntur melam­bangkan nama empat orang tokoh, berarti Hong Lo-su si angin dari keempat adalah salah satu diantaranya!"

Manusia aneh itu tertawa, ucapnya:

"Walaupun ilmu pukulan Kiu yu in hong ciang sangat beracun dan jahat, walaupun ilmu pembuyar sukmanya menakutkan, sesungguhnya Hong Kiu-yu hanya menempati urutan paling buncit diantara ke empat orang tokoh itu"

"Bagaimana dengan Coh Sam-nio?"

"Si Sambaran kilat Coh Sam-nio tiada tandingannya dalam ilmu meringankan tubuh!"

Tergerak hati Thiat Tiong-tong setelah men­dengar perkataan itu, selanya:

"Ruyung guntur merontokkan bintang dan hujan.........."

"Ruyung guntur Lui Toa-bong merajai sembilan propinsi, dia menempati urutan pertama, si hujan asap Hoa Siang-soat tiada tandingan dalam ilmu senjata rahasia, dia menempati urutan ke dua"

"Berarti yang dimaksudkan peluru angin pemutus sukma adalah Hong Lo-su!" kata Thiat Tiong-tong lagi.

"Benar!"

Thiat Tiong-tong termenung sejenak, kemudian.

"Bila ditinjau dari bait syair yang tercantum dalam Bi hay hu, meski ke empat tokoh sakti itu sangat tangguh, namun kelihatannya mereka masih harus waspada terhadap orang yang disebut "kau" dalam syair itu, apakah "kau" disini melambangkan seseorang yang memiliki posisi amat tinggi dan ilmu silat yang jauh diatas kemampuan ke empat orang itu? Lalu siapakah tokoh maha sakti itu?"

"Hey anak muda, ternyata kau memang cerdik" puji manusia aneh itu sambil tertawa, "walaupun kata "kau" hanya terdiri dari satu suku kata, sebenarnya dia melambangkan dua orang, seorang lelaki, seorang wanita, yang satu gerak, yang lain tenang, merekalah yang memimpin dunia persilatan selama ini"

"Boleh tahu siapa nama mereka berdua?" Tiba-tiba paras muka manusia aneh itu berubah amat serius, katanya:

"Jit-ho (ratu siang) memiliki watak bergerak bagaikan matahari, dia suka mencampuri ketidak adilan yang ada di dunia ini, Ya-tee (kaisar malam) memiliki watak tenang, yang dia utamakan adalah keselamatan dan kenikmatan tubuh!"

Dalam pada itu suara batuan yang hancur terdengar semakin mendekat dan semakin nyaring, tapi pikiran dan perhatian semua orang sedang terhanyut oleh kisah dongeng tersebut hingga tidak seorangpun yang menggubris.

Li Lok-yang tidak kuasa menahan diri, kembali dia bertanya:

"Bila ke enam orang itu adalah tokoh paling sakti dalam dunia persilatan, seharusnya nama mereka amat tersohor dan menggetarkan kolong langit, kenapa cayhe sekalian tidak pernah mendengarnya?"

Manusia aneh itu tertawa angkuh, selanya:

"Menurut kau, bagaimana dengan ilmu silat­ku?"

"Ilmu silatmu tinggi bagaikan langit dan dalam bagaikan samudra, susah diukur"

"Siapa namaku?" tanya manusia aneh itu lagi.

Li Lok-yang tertegun, sahutnya kemudian sambil menggeleng:

"Tidak tahu!"

"Nah itulah dia" kata manusia aneh itu kemudian dengan wajah sungguh sungguh, "bila seseorang sudah melatih ilmu silatnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, mereka tidak butuh nama, tidak butuh kedudukan, sekalipun mereka melakukan satu pekerjaan yang meng­getarkan seluruh kolong langitpun, belum tentu mereka mau mengakui nama aslinya, oleh sebab itu walaupun hasil karya mereka banyak yang menggemparkan kolong langit, namun begitu ditanya siapa nama mereka, kebanyakan umat persilatan pasti akan kebingungan dibuatnya"

"Aku rasa belum tentu begitu" tukas Thiat Tiong-tong tiba-tiba dengan kening berkerut, "dulu, ketika Im dan Thiat dua orang sianseng menggemparkan sungai telaga, meski nama mereka tersohor namun kedua orang tokoh itupun bukan manusia yang mencari nama"

"Bila dunia sedang kacau, tidak mencari nama pun secara otomatis nama itu akan diperoleh dengan sendirinya" ucap manusia aneh itu serius, "Im dan Thiat cianpwee hidup dimasa kekalutan, tentu saja tidak bisa kau bandingkan dengan mereka"

Mendengar dia sangat menaruh hormat terhadap leluhurnya, Thiat Tiong-tong segera merasakan gejolak perasaannya mereda kembali.

Terlihat sepasang mata manusia aneh itu berkilat, kembali ujarnya:

"Sebenarnya antara orang orang Bi hay hu dan Perguruan Tay ki bun terjadi persaingan secara diam-diam, tapi semenjak Perguruan Tay ki bun kehilangan sejilid kitab pusakanya yang bernama Sin kang Po Iiok, anak murid generasi berikutnya mengalami kemunduran yang sangat drastis, kemerosotan pamor Perguruan Tay ki bun yang luar biasa jika dibandingkan puluhan tahun berselang membuat orang merasa sedih dan menyesal"

"Perguruan Tay ki bun pernah kehilangan sejilid kitab pusaka?" tanya Thiat Tiong-tong keheranan, "sebagai murid perguruan, kenapa aku tidak pernah tahu tentang persoalan ini?"

Manusia aneh itu tersenyum misterius, katanya:

"Kitab pusaka ini memang sengaja dihilangkan oleh para cianpwee Perguruan Tay ki bun di masa lalu, tentu saja mereka tidak bakal mengungkit kembali kejadian itu"

Thiat Tiong-tong semakin tercengang ber­campur keheranan, serunya:

"Kalau betul kitab pusaka itu berisikan pelajaran ilmu silat yang maha sakti, bagaimana mungkin para cianpwee kami sengaja meng­hilangkannya? Aku tidak habis mengerti"

“Tentang masalah ini........"

"Blaaaam!" tiba-tiba suara getaran keras berkumandang memecahkan keheningan, diantara percikan kerikil dan debu yang beterbangan di udara, pintu batu cadas lapisan terakhir telah berhasil dihancurkan orang.

Seorang lelaki kekar bertelanjang dada menyelinap masuk melalui celah pintu yang jebol itu, tapi dengan cepat dia mundur kembali ke belakang, kelihatannya raksasa itu tidak lain adalah si kapak sakti bertenaga raksasa.

Siucay muda itu menyelinap masuk duluan, setelah menengok sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya dengan angkuh:

"Guru kami empat malaikat telah menunggu di luar pintu, kenapa tuan rumah tempat ini belum juga munculkan diri guna melakukan penyam­butan?"

"Kalau mau masuk, masuk saja, kalau tidak mau masuk, berdiri saja di depan pintu" jengek manusia aneh itu ketus.

"Kurangajar, besar amat nyalimu.........."

Belum selesai teriakan siucay muda itu, dari luar pintu sudah kedengaran seseorang berkata sambil tertawa seram:

"Kau enggan keluar untuk menyambut kedatanganku, ini masih mendingan, masa Coh Sam-nio yang datang dari jauh pun tidak kau sambut kedatangannya?"

"Aku mah tidak berani disambut sendiri oleh Siau Huang-cu (Pangeran kecil)" suara Coh Sam-nio baru bergema, tahu-tahu segulung angin harum sudah berkelebat lewat dan sesosok bayangan hijau sudah muncul di depan mata.

Buru-buru Thiat Tiong-tong memperhatikan dengan lebih seksama, ternyata Coh Sam-nio adalah seorang perempuan kecil mungil, bertubuh ramping, lemah gemulai dan mengenakan pakaian ketat berwarna hijau dengan renda berwarna perak. Dia tidak lebih hanya seorang perempuan lemah.

Walaupun wajahnya sudah dimakan usia, namun tidak menutup sisa kecantikannya dimasa lampau, khususnya sepasang biji matanya yang bening dan tajam bagai sambaran petir.

Ketika menengok lagi orang yang berada di belakangnya, ternyata orang itu memiliki perawakan tubuh yang kurus kering,   jangkung bagaikan sebuah gala bambu, mukanya kurus tinggal tulang belulang yang dibungkus kulit, persis seperti wajah tengkorak.

Sewaktu berdiri di belakang Coh Sam-nio, ketinggian tubuhnya ternyata satu kali lipat dari perempuan itu, dia mengenakan sebuah jubah yang lebar dan longgar.

Semua orang tahu, lelaki ceking ini tidak lain adalah Kiu yu im hong khek yang amat tersohor itu, sehingga tanpa terasa mereka pandang wajahnya lebih lama.

Siapa tahu masih mendingan kalau tidak dipandang, begitu diperhatikan lebih seksama maka semua orang segera merasakan pancaran kekuatan yang menghisap sorot mata mereka, membuat semua orang susah untuk mengalihkan kembali perhatiannya ke arah lain.

"Ooh, kalian berdua sudah datang" kata manusia aneh itu kemudian, "baik, silahkan duduk!"

Tiba-tiba dia berjalan ke hadapan Thiat Tiong-tong sekalian, mengebaskan lengan bajunya dan memisahkan mereka dari sorot mata lawan.

Pada saat itulah Thiat Tiong-tong sekalian baru bisa menghembuskan napas lega, cepat mereka geser pandangan matanya ke arah lain dan tidak berani memandang lagi ke arahnya.

Sewaktu ke empat orang itu saling bertukar pandangan, terlihat peluh dingin telah membasahi jidat masing-masing.

Terdengar Hong Kiu-yu berkata sambil tertawa seram:

"Ada apa? Kau takut kuhisap nyawa dari bebe­rapa orang itu? Hehehehe.... ayohlah, pandang aku sekejap lagi"

"Hong Lo-su, kau terlalu tidak tahu sopan santun" sela Coh Sam-nio sambil tertawa, "siau Hong-cu, harap kau jangan gusar"

Sekali lagi semua orang merasakan hatinya tergerak setelah mendengar manusia aneh itu disebut Siau Huang-cu (pangeran cilik), pikir mereka hampir berbareng:

"Jangan-jangan manusia aneh ini adalah putranya Ya-Tee sang kaisar malam?"

Terdengar Coh Sam-nio berkata lebih jauh:

"Belakangan kian hari aku merasa semakin malas, sebetulnya aku tidak berniat keluar rumah, tapi akhir-akhir ini Jit ho nio nio mendadak mengundangku, katanya terakhir ini kau sering mempermainkan kaum wanita dan dia minta aku membantunya untuk mencabut nyawamu, terpaksa akupun kemari, siapa tahu Hong Lo-su bersikeras ingin berebut denganku, terpaksa aku pun memberi kesempatan kepadanya untuk membunuhmu terlebih dulu!"

Meskipun sedang membicarakan soal pembu­nuhan, nada suara perempuan ini tetap tenang, lembut dan kedengaran sangat halus.

Tampaknya manusia aneh itu sama sekali tidak dibuat gusar, malah katanya sambil tersenyum:

"Kalau memang Jit ho Nio nio menitahmu untuk membunuhku, masa kau malah mengalah untuk orang lain? Tidak kuatir dikemudian hari kau yang dibunuh Jit ho Nio nio?"

Coh Sam-nio kembali tertawa. "Sebenarnya aku pun enggan mengalah, tapi berapa orang dewi anak buah Jit ho Nio nio telah berdatangan semua, untuk selamatkan nyawa berapa orang nona cilikmu serta nyawa dari setan perempuan, terpaksa mereka harus bertukar syarat dengan Hong Lo-su. Sekarang, biar kau sodorkan tengkukmu dihadapanku pun tidak nanti aku akan membunuhmu, kedatanganku kali ini hanya ingin menonton keramaian saja"

Setelah mencari tempat duduk, sepasang matanya yang jeli mengawasi terus tubuh Sui Leng­kong tanpa berkedip.

"Padahal aku sendiripun tidak ingin menjagal­mu" ujar Hong Lo-su pula, "kedatanganku hanya ingin minta berapa orang dari tanganmu"

Lalu sembari menggapai katanya lebih jauh:

"Kemari kau!"

Siucay muda itu segera berjalan mendekat dengan sikap yang sangat hormat.

"Siapa saja yang kau inginkan, cepat beritahu kepadanya!" perintah Hong Lo-su lebih jauh.

Dengan suara lantang siucay muda itu berseru:

"Yang kami inginkan adalah Thiat Tiong-tong, Sui Leng-kong......."

Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap, pikir-nya keheranan:

"Aneh, ternyata kedatangan Hong Lo-su benar benar lantaran urusan kami berdua, jangan jangan gembong iblis inipun telah dibeli oleh Suto Siau sekalian?"

Sewaktu manusia aneh tadi memberitahukan kepadanya bahwa kedatangan semua orang hari ini lantaran dia dan Sui Leng-kong, pemuda itu masih tidak percaya, dia sangka ucapan tersebut hanya bertujuan untuk merebut simpatik Sui Leng-kong.

Tapi sekarang dia benar-benar percaya, bahkan selain keheranan, hatinya pun amat tercekat.

Terdengar siucay muda itu berkata lebih jauh:

"Kecuali mereka berdua, masih ada seorang lagi yang mengenakan pakaian pengantin!"

Sekali lagi semua orang dibuat tercengang, siapa pula orang yang mengenakan pakaian pengantin itu?"

Tampak manusia aneh itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, belum sempat mengucapkan sesuatu, Coh Sam-nio dengan wajah berubah hebat telah bangkit berdiri seraya berkata:

"Tunggu dulu, orang yang mengenakan pakaian pengantin itu tidak boleh diserahkan kepadamu"

"Aneh, sungguh aneh" Hong Lo-su segera ber­gumam, "mana ada orang yang datang menonton keramaian ikut mencampuri urusan orang"

"Urusan lain boleh saja tidak kucampuri tapi masalah ini aku tetap akan mencampurinya"

Mendadak manusia aneh itu tertawa terbahak bahak, selanya:

"Hahahaha..... mencampuri atau tidak, yang jelas jangan harap kalian bisa membawa pergi ke tiga orang ini"

Dengan cepat dia melintangkan tubuhnya dihadapan Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong.

Hong Lo-su tertawa seram, serunya:

"Kau bersedia atau tidak, ke tiga orang itu tetap harus kau serahkan kepadaku!"

Tiba-tiba bentaknya:

"Mana si kapak sakti bertenaga raksasa?"

"Siap!" suara keras bagaikan geledek bergema dari luar pintu.

Bersama dengan bentakan itu, seorang lelaki tinggi besar telah muncul dengan langkah lebar.

Langkah kakinya sangat bebal dan kaku, persis seperti langkah seekor gorilla, ketika berjalan diantara Suto Siau sekalian, sepasang tangannya segera direntangkan ke samping.

Kawanan jago yang tersampok tangannya pun seketika roboh bertumbangan keempat penjuru, tapi Sin hu Lek su seakan tidak melihat, dia masih melangkah maju dengan bebal.

Ditangannya dia memegang sebuah kapak raksasa dengan gagangnya sepanjang dua meteran dan mata kapak sebesar roda kereta, tidak jelas berapa bobotnya, tapi yang jelas sewaktu bergesek dengan lantai batu, percikan bunga api segera memancar keempat penjuru.

Sambil menuding ke arah Thiat Tiong-tong kembali Hong Lo-su memberi perintah:

"Tangkap dulu orang itu!"

Selama ini Thiat Tiong-tong tidak berani menatap mata setan dari Hong Lo-su, setelah mendengar ucapan tadi dia baru mendongakkan kepalanya, tapi begitu melihat wajah si kapak sakti, mendadak anak muda itu menjerit keras.

"Ada.....ada apa?" dengan hati tercekat Sui Leng­kong bertanya.

Thiat Tiong-tong seolah tidak mendengar pertanyaan itu, sepasang matanya menatap wajah lelaki raksasa itu tanpa berkedip, terdengar dia berbisik dengan nada gemetar:

"Paman Sim, ke... kenapa bisa kau?"

Siapa pun tidak menyangka kalau si kapak sakti yang diandalkan Hong Lo-su ternyata tidak lain adalah si lelaki bertelanjang kaki yang membawa panji sakti dari Perguruan Tay ki bun.

Dalam terkejutnya, tanpa berpikir panjang lagi Thiat Tiong-tong menerobos maju ke depan menyongsong kedatangannya, dengan nada bergetar sapanya:

"Paman Sim, kenapa kau pun berada disini? Jangan-jangan......"

Waktu itu si kapak sakti sedang mengawasi wajah pemuda itu tanpa berkedip, belum sempat menunjukkan sesuatu reaksi, Hong Lo-su dengan wajah menyeramkan telah berkata sepatah demi sepatah:

"Dialah orangnya!"

"Cepat minggir!" dengan hati tercekat manusia aneh itu membentak, "sukmanya telah........."

Belum selesai dia berkata, lelaki raksasa itu sudah mengayunkan tinjunya langsung meng-hajar dada ThiatTiong-tong.

Mimpi pun Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau paman Sim nya bakal melancarkan serangan mematikan disaat seperti ini, belum sempat menjerit kaget, dadanya sudah terhajar pukulan itu dengan telak.

Kapak sakti punya julukan lain sebagai si pembuka gunung, bisa dibayangkan betapa besar dan kuatnya pukulan tersebut. Tampak tubuh Thiat Tiong-tong bagaikan layang layang putus tali mencelat keluar dari balik tirai berwarna hitam itu dan sampai lama kemudian baru terdengar tubuhnya yang terbanting di tanah.

Rupanya ketika mereka menerjang masuk tadi, pintu batu itu sama sekali tidak diturunkan kembali, coba kalau bukan begitu, batok kepala Thiat Tiong-tong saat ini pasti sudah menumbuk diatas batu cadas dan hancur berantakan.

Sui Leng-kong menjerit kaget, wajahnya berubah jadi pucat pasi, tubuhnya sempoyongan nyaris roboh, kelihatannya dia berniat menyusul keluar dari situ.

Terdengar Hong Lo-su mendengus dingin lalu menjengek:

"Belum pernah ada orang yang lolos dari kepalan si kapak  sakti dalam keadaan hidup, hanya saja........ aaaai, kelewat sayang sampai terjadi hal seperti ini!"

Belum selesai mendengar perkataan itu, Sui Leng-kong sudah roboh tidak sadarkan diri.

Suto Siau sekalian pun belum pernah menyaksikan medan pertarungan semacam ini, untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri tertegun saking kagetnya.

Dalam pada itu si manusia raksasa berte­lanjang kaki itu masih berdiri kaku ditempat, berdiri dengan wajah tanpa perubahan, tanpa mimik muka.

Terdengar Hong Lo-su kembali memberi perintah sambil menuding ke arah Sui Leng-kong:

"Masih ada seorang lagi, tapi jangan kau lukai jiwanya!"

Selangkah demi selangkah lelaki raksasa itu maju mendekat, setiap kali dia mengayunkan kakinya, berkumandanglah suara getaran seperti suara tambur yang dipukul nyaring.

Manusia aneh itu tahu, Hong Lo-su telah menggunakan obat-obatan untuk merangsang munculnya seluruh kekuatan tersimpan dari lelaki raksasa itu, kemampuan dan kekuatan si kapak sakti saat ini boleh dibilang susah dihadapi dengan kekuatan biasa, tapi dia tetap menggertak gigi sambil maju menyongsong.

Sambil menggetarkan kapak raksasanya lelaki itu membentak nyaring:

"Mampus bagi yang menghalangi aku!"

Sambil berkata kapaknya diayunkan melan­carkan sebuah bacokan.

Kendatipun si manusia aneh itu memiliki kungfu yang amat lihay pun tampaknya dia tidak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat tubuhnya berkelit ke samping dengan kecepatan bagaikan ikan melejit, kemudian sambil memutar tangan dia lepaskan sebuah bacokan balasan.

Serangan mautnya ini meski tidak meng­gunakan segenap tenaga yang dimilikinya, namun bila terkena, bisa dipastikan korbannya bakal tewas.

Siapa tahu pukulan yang bersarang telak ditubuh lelaki raksasa itu hanya menimbulkan sedikit getaran, bukan saja tidak sampai roboh, sebaliknya selangkah demi selangkah dia mene­robos maju semakin ke depan, sambil pentangkan telapak tangan raksasanya, dia cengkeram tubuh Sui Leng-kong.

Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba terlihat cahaya perak berkelebat lewat, tahu-tahu Sui Leng­kong yang tergeletak ditanah sudah hilang lenyap tidak berbekas.

Kapak sakti nampak tertegun, dia seolah tidak mengerti kenapa sasarannya bisa hilang secara mendadak, dengan wajah kebingungan dia segera berpaling.

Rupanya Sui Leng-kong telah disambar oleh Coh Sam-nio, hanya cukup menutulkan ujung kakinya tahu-tahu Coh Sam-nio sudah balik ke posisinya semula, meski sedang membopong seseorang namun gerakan tubuhnya masih cepat bagai sambaran petir.

Sambil tertawa dingin Hong Lo-su atau Hong Kiu-yu ini menjengek:

"Banyak tahun tidak bersua, ternyata ilmu meringankan tubuh yang kau miliki bertambah hebat"

"Terlalu memuji, terlalu memuji"

"Serahkan gadis itu kepadaku, buat apa kita mesti bentrok sendiri"

Coh Sam-nio tersenyum.

"Mata setanmu tidak perlu menatapku, tidak mungkin sukmaku akan tergaet olehmu, masa kaupun ingin bentrok denganku gara-gara nona ini?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, sekawanan perempuan bercadar hitam itu telah bermunculan ditempat itu.

Sambil berpaling kembali Coh Sam-nio bertanya:

"Bagaimana dengan nona-nona itu?"

"Sudah ada yang membawa pergi mereka" jawab perempuan kecil pendek itu cepat.

"Disini masih ada seorang lagi, coba bawa pulang dirinya!"

"Baik, biar aku saja yang membawanya pulang!" sela Hong Lo-su tiba-tiba sambil menerobos maju ke hadapan Coh Sam-nio.

Dengan perawakan tubuhnya yang tinggi lengkung, dia memiliki ukuran kaki yang panjang sekali, dalam satu kali langkah satu setengah meter lelah dilampaui, sepasang lengannya pun punya ukuran mendekati dua meter sehingga ujung tinjunya yang berkibar terhembus angin persis seperti sepasang sayap lebar.

Coh Sam-nio yang kecil kurus nyaring terkurung dibawah hembusan angin serangannya yang tajam, kelihatannya sulit bagi perempuan itu untuk meloloskan diri, posisinya ketika itu seperti seekor burung alap-alap yang sedang menerkam anak ayam, keadaannya amat berbahaya.

"Kau tidak bakal mampu menangkapku!" ejek Coh Sam-nio sambil tertawa.

Terlihat cahaya perak berkelebat lewat, entah bagaimana tahu-tahu dia sudah mundur sejauh empat meter lebih, kembali jen geknya:

"Asal kau mampu menyentuh tubuhku, nona ini segere kuserahkan kepadamu!"

"Hmmm, biarpun halilintar itu cepat, jangan dianggap angin kalah cepatnya" seru Hong Lo-su

sambil tertawa seram, baru selesai bicara tubuhnya sudah berputar satu lingkaran didalam ruangan itu.

Walau secepat apapun dia bergerak, namun sekilas cahaya perak itu selalu bergerak selangkah lebih cepat dihadapannya.

Paras muka manusia aneh itu dingin bagaikan salju, tanpa mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba dia menghalang jalan pergi Coh Sam-nio.

Tampaknya cahaya perak itu segera akan terperosok masuk ke dalam pelukan manusia aneh itu, tiba-tiba disaat yang terakhir, entah dengan cara bagaimana tahu-tahu cahaya itu sudah menyambar lewat dari sisi tubuhnya.

Akibat kejadian ini, nyaris manusia aneh itu saling bertumbukan dengan Hong Lo-su yang sedang melakukan pengejaran.

Sambil tertawa terkekeh Coh Sam-nio pun berseru:

"Kau yang membopong nona ini, biar aku bermain sebentar dengan ke dua orang bocah itu"

Perempuan kecil pendek bercadar itu hanya merasakan pandangan matanya silau, tahu-tahu Sui Leng-kong sudah berada dalam pelukannya.

 

BAB 21

Aliran silat sejati.

 

Selama hidup belum pernah kawanan jago itu menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat, mereka hanya mendengar suara deruan angin yang saling menyambar melalui sisi tubuh, membuat ujung baju mereka berkibar, hingga pada akhirnya tubuh Coh Sam-nio berubah jadi sekilas cahaya perak yang berputar diantara dua bayangan abu-abu, sulit untuk dibedakan lagi mana bayangan tubuh dan mana cahaya.

Lama-kelamaan para jago merasakan matanya mulai berkunang-kunang dan kepala terasa pening, akhirnya mereka pejamkan mata dan tidak berani melihat lagi.

Sementara si kapak raksasa itu hanya berdiri dengan mata melotot dan mimik muka hambar, sekalipun matanya terbelalak lebar padahal tidak ada bayangan apapun yang terlihat olehnya.

Coh Sam-nio masih berputar sambil tertawa merdu, sedang napas Hong Lo-su kedengaran mulai tersengkal, sampai pada akhirnya suara gelak tertawa itu semakin nyaring sedang suara napas yang tersengkal pun makin keras.

Akhirnya Hong Lo-su menghentikan langkah­nya sambil berkata:

"Aku tidak.....tidak akan mengejar lagi"

"Bagaimana? Mengaku kalah?" tanya Coh Sam-nio.

"Andai tubuhku kecil pendek macam kau, belum tentu ilmu meringankan tubuhku kalah dari kau"

Dalam pada itu si manusia aneh itu pun turut menghentikan pengejarannya, dengan dada naik turun karena tersengkal, ujarnya pula:

"Sehebat apa pun ilmu meringankan tubuh seseorang, paling juga dipakai untuk menyela­matkan diri, apa hebatnya!"

Coh Sam-nio tertawa, sambil berkelebat lewat dari sisi tubuhnya, dia tepuk bahu lelaki itu dan berkata:

"Jika ingin beradu ilmu adu nyawa, kenapa tidak mencari Hong Lo-su? Bukankah dia sedang mengincar nyawamu!"

"Aku memang sedang mencarinya!" bentak manusia aneh itu nyaring, secepat kilat dia lancarkan tiga jurus pukulan.

Hong Lo-su tertawa seram.

"Hehehehe.... akupun sedang mencari kau, asal berhasil menangkap dirimu, masa aku kuatir tidak bisa mendapatkan si pemakai baju pengantin?"

Selama pembicaraan berlangsung, kedua orang itu sudah saling menggempur sebanyak belasan jurus.

"Kalian berdua boleh bertarung sepuasnya, biar aku yang menengok ke dalam!" seru Coh Sam-nio sambil tertawa.

Dia melompat ke depan dan langsung menye­linap masuk ke balik tirai berwarna hitam itu.

"Celaka" pekik Hong Lo-su, "rupanya dia ingin mencari keuntungan!"

Setelah melepaskan tiga gempuran keras, tubuhnya mundur ke belakang dan siap menyusul Coh Sam-nio.

Pada saat itulah Coh Sam-nio yang baru saja menyelinap masuk, kini sudah muncul kembali dengan wajah berubah hebat, begitu melihat Hong Lo-su sedang menyelinap masuk, cepat dia berkelit ke samping dan serunya sambil tertawa:

"Kau ingin masuk ke dalam? Silahkan!"

"Dasar siluman rase" umpat Hong Lo-su setengah bergumam, "permainan busuk apa lagi yang sedang kau lakukan?"

Walaupun dihati kecilnya sudah muncul kecurigaan, tidak urung tubuhnya tetap menye­linap masuk.

Manusia aneh itu seketika menghentikan langkahnya dengan sorot mata berkilat, tampaknya dia sudah menduga apa yang telah terjadi.

Benar saja, terdengar Hong Lo-su menjerit kaget kemudian kabur keluar dengan wajah berubah, dengan mata melotot besar dan menuding ke balik tirai, gumamnya:

"Ternyata dia......dia belum mati"

"Aaai, toh sudah kubilang, jangan kedalam, siapa suruh kau bersikeras ingin masuk juga" Coh Sam-nio menghela napas panjang.

Kebetulan waktu itu Sui Leng-kong baru mendusin dari pingsannya, begitu mendengar perkataan itu segera jeritnya kegirangan:

"Jadi dia.....dia belum mati?"

"Adik kecil" kata Coh Sam-nio, "lelaki mu mah susah untuk hidup lagi, yang kami maksudkan adalah orang lain, belum tentu kau kenal dengan orang itu"

Ucapan "susah untuk hidup lagi" diterima Sui Leng-kong bagaikan sambaran petir, kontan dia jatuh pingsan lagi.

Dalam pada itu Hong Lo-su telah berteriak lagi dengan suaranya yang parau:

"Hujin, kalau memang kau belum mati, kenapa tidak segera munculkan diri untuk bertemu?"

Dari balik tirai hitam segera berkumandang suara aneh yang lembut, halus, manis dan indah, menjawab sepatah demi sepatah kata:

"Betul, aku memang belum mati, apakah kau ingin bertemu aku?"

"Aku...... aku......." Hong Lo-su bersin berulang kali dengan tubuh menggigil.

Melihat itu Coh Sam-nio segera menyindir sambil tertawa dingin:

"Dasar manusia tidak berguna, percuma dihari biasa kau menyebut dirimu sebagai enghiong"

Sambil membusungkan dada Hong Lo-su segera berteriak lagi:

"Benar, cayhe memang ingin bertemu hujin"

"Tunggu saja sejenak, aku segera akan munculkan diri, siapa tahu sekalian kubawa benda yang kalian inginkan, jangan pergi dulu"

"Tentu saja kami tidak akan pergi!" sahut Hong Lo-su cepat.

Lain dimulut lain dalam kenyataan, tanpa sadar kakinya makin lama semakin bergeser keluar pintu.

Meskipun dia merasa berat hati untuk mening­galkan tempat itu, namun dalam kenyataan dia merasa ketakutan setengah mati terhadap orang diatas sampan itu.

Perempuan kecil pendek bercadar hitam itu diam-diam mendekati Coh Sam-nio, lalu bisiknya:

"Apa......apakah dia?"

"Betul, memang dia!" jawab Coh Sam-nio sambil kabur keluar ruangan.

Perempuan bercadar itu segera merasakan tubuhnya bergetar keras, baru saja dia membalik­kan tubuh siap kabur dari situ, mendadak manusia aneh itu sudah menghadang di depan pintu sambil menegur:

"Ibuku minta kalian tetap tinggal disini, siapa yang berani pergi?"

"Siapa bilang aku mau pergi?" teriak Hong Lo-su dengan mata melotot.

Benar saja, dia segera mengambil tempat duduk, kemudian sambil melirik ke arah Coh Sam-nio, sindirnya:

"Coh Sam-nio, kau hendak kabur?"

"Hmm, kalau kau tidak kabur, kenapa aku mesti pergi"

Meskipun kedua orang itu masih berbicara sok gagah, padahal semangat mereka betul-betul sudah runtuh.

Manusia aneh itu sendiripun merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya dengan perasaan girang:

"Asal ibu mau keluar, sementara Thiat Tiong-tong sudah mampus, jelas kenyataan ini sangat menguntungkan posisiku"

Andai dia tahu keadaan yang sebenarnya, mungkin manusia aneh itu tidak akan menghalangi kepergian Hong Lo-su serta Coh Sam-nio, sebab perkataan dari ibunya tadi sesungguhnya hanya bertujuan mengusir mereka pergi dari tempat itu.

Waktu itu suasana didalam ruangan berubah jadi hening sepi tidak kedengaran sedikit suara pun, yang paling merasa takut dan kuatir adalah Suto Siau sekalian, bukan saja mereka tidak tahu duduknya persoalan, bahkan tidak bisa menduga untung rugi yang bakal menimpa mereka.

Rupanya Thiat Tiong-tong meski ilmu silatnya tidak terlampau hebat, namun reaksi serta kecerdasan otaknya boleh dibilang luar biasa.

Ketika melihat pukulan yang menghantam dadanya susah dihindari lagi, dia segera manfaat­kan kesempatan itu untuk melompat mundur sambil menjatuhkan diri ke tanah.

Sayang tenaga pukulan dari si Kapak sakti memang kelewat kuat dan dahsyat, kendatipun sudah menghindar toh dia tetap terhantam hingga mencelat.

Begitu tubuhnya mencelat sejauh empat depa, dia segera menerobos ke balik tirai hitam dan tercebur ke dalam kolam.

Waktu itu kesadarannya belum punah, seandainya berganti orang lain dia pasti tidak berani menggunakan tenaganya lagi dan membiarkan tubuhnya tercebur ke dalam kolam.

Berbeda dengan Thiat Tiong-tong, dengan pertaruhkan keselamatan jiwanya dia segera menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya dan berusaha keras melejit ke samping, maka ketika terjatuh ke bawah, tubuhnya persis terjatuh diatas sampan itu.

Begitu memuntahkan darah segar, anak muda itupun jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti dia mendusin kembali, hidungnya segera mengendus bau harum semerbak yang menyegarkan seluruh tubuhnya.

Dia tidak tahu kalau bau harum itu berasal dari dupa mestika yang khusus didatangkan dari negeri Thian-tok (India) yang disebut Thian say than.

Konon bagi orang yang sedang berlatih tenaga dalam bila mengendus bau dupa ini maka kemajuan yang dialami bakal pesat, bila seseorang sedang terluka dalam yang parah pun dapat segera mendusin dari pingsannya.

Baru saja Thiat Tiong-tong tersadar dari pingsannya, tiba-tiba dari sisi telinganya terdengar seseorang berkata:

"Dalam keadaan terluka parah kau masih tidak segan menggunakan sisa kekuatan yang dimiliki agar terjatuh tepat diatas sampan, apakah kau mempunyai sesuatu tujuan?"

Suara itu lembut, halus dan indah, satu keindahan yang tiada keduanya dikolong langit, Thiat Tiong-tong pernah mendengar sebelumnya, tahu kalau orang yang menegurnya adalah ibunda dari manusia aneh itu, dia merasa terkejut bercampur girang.

Terkejut karena tidak menyangka kalau tindakannya yang sengaja menjatuhkan diri keatas sampan ternyata dapat ditebak orang, buru-buru katanya:

"Isi perut boanpwee sudah terluka parah"

Baru bicara sepatah kata, napasnya sudah tersengkal-sengkal, maka setelah menarik napas baru lanjutnya:

"Bila tidak ada yang menolong, boanpwee pasti tewas setelah tercebur ke air, padahal usiaku masih muda, aku tidak ingin cepat mati"

Kembali suara lembut itu bertanya:

"Bukankah kau tahu kalau tubuhmu tercebur ke dalam air, belum tentu aku mau menolong, tapi bila terjatuh dihadapanku, mau tidak mau aku harus menolong?"

"Harap hujin maklum, walaupun luka dalam yang boanpwee derita sangat parah, namun dengan kemampuan yang hujin miliki, kau pasti bisa selamatkan jiwaku, itulah sebabnya boanpwee mengharapkan begitu"

"Kelihatannya kau bicara jujur........" selesai mengucapkan perkataan itu, dia tidak berbicara lagi.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasakan kerongkongannya sangat kering dan dadanya sesak sehabis mengucapkan kata-kata itu,   setelah pejamkan mata dan beristirahat sejenak dia baru membuka matanya kembali, dia ingin melihat bagaimana tampang wajah nyonya ini.

Kalau didengar dari suaranya yang halus lembut, dia sangka nyonya ini pasti memiliki wajah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, siapa sangka, begitu dipandang seketika itu juga hatinya terperanjat.

Dibawah remang remangnya cahaya redup, asap dupa yang mengepul tipis dan lapisan kain hitam yang mengelilingi sampan, tampak hujin itu duduk bersila diatas sebuah bantal untuk bersemedi, tubuhnya telah menyusut kecil hingga tinggal seonggok kerangka, kulit mukanya kuning kehitam-hitaman dan tinggal kulit pembungkus tulang, rambutnya sudah pada rontok sehingga nyaris gundul kelimis, keempat anggota tubuhnya pun kurus kecil seperti anggota tubuh seorang bayi, yang paling menonjol hanya kulit perutnya yang bulat menonjol keluar.

Begitu aneh dan menyeramkan penampilan perempuan ini, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan berubah muka dan menjerit kaget.

Tapi Thiat Tiong-tong tidak terbiasa berubah muka, walaupun perasaan terkejut mencekam perasaan hatinya namun sama sekali tidak di tampilkan keluar, diam-diam dia menghela napas sambil pikirnya:

"Dimasa lampau hujin ini pasti cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tampangnya berubah aneh pasti lantaran melatih sesuatu ilmu sakti, tidak heran kalau dia enggan bertemu siapa pun”

Berpikir sampai disitu, perasaan iba dan simpatik segera menyelimuti hatinya, perasaan itupun tanpa sadar diperlihatkan keluar.

Hujin itu hanya membuka sedikit sepasang matanya, dia sama sekali tidak berbicara.

Thiat Tiong-tong hanya memandangnya dua kejap dan tidak berani menengok wajahnya lagi, dia mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, disamping bantal bersemedi terdapat sebuah anglo untuk dupa, disampingnya terdapat sejilid kitab tipis, diatas kitab itu tertulis: "Aliran silat sejati, Kia ie sinkang"

Hatinya kontan tergerak, dia merasa nama ilmu silat itu sangat aneh, pikirnya:

"Tidak heran kalau Hong Lo-su berkoar-koar menginginkan orang yang mengenakan pakaian penganten, tampaknya kitab pusaka inilah yang dimaksud, Kia ie sinkang, ilmu sakti baju pengantin"

Baru selesai dia berpikir, terdengar hujin itu bertanya lagi:

"Siapa namamu, apakah kau berasal dari Perguruan Tay ki bun?"

Dalam hati Thiat Tiong-tong merasa keheranan, darimana dia bisa mengetahui asal usulnya, namun segera mengiakan dengan hormat.

"Biarpun masih muda, ternyata kau bisa menaruh simpatik terhadap kesepian yang dialami orang lain, tidak gampang untuk bersikap begitu" kembali hujin itu berkata.

Sekali lagi Thiat Tiong-tong merasa terperanjat, kini dia baru sadar, rupanya semua pembicaraan­nya dengan Li Lok-yang sewaktu berada di luar gua tadi telah terdengar oleh hujin ini dengan sangat jelas.

"Kenapa kau tidak nampak ketakutan setelah melihat wjahku?" lagi-lagi hujin itu bertanya.

"Boanpwee tidak pernah kenal takut, apalagi hujin sangat cerdas dan memiliki kemampuan yang luar biasa, apalah arti dari  kulit luar, apa pula arti dari sebuah penampilan, bagi boanpwee yang tersisa hanya rasa hormat dan kagum"

Secerca kehangatan melintas diwajah sang hujin yang dingin kaku, pelan-pelan katanya:

"Biarpun kecantikan atau keburukan kulit wajah seseorang tidak sebanding dengan kecerdasan dan kemampuan, tapi ada berapa banyak manusia di dunia ini yang tidak menilai seseorang dari penampilannya!"

Thiat Tiong-tong tidak berani menanggapi, napasnya saja yang kedengaran makin terengah.

"Kalau masih mampu bergerak, merangkaklah mendekat" perintah hujin itu lembut.

"Apakah hujin bersedia memberi pertolongan?" tanya pemuda itu kegirangan.

"Bila tidak menderita luka parah yang mengancam keselamatan jiwa, tidak mungkin kau berani menerobos kemari, sekarang kau sudah muncul dihadapanku, ini berarti diantara kita berdua memang berjodoh, paling tidak sudah sepantasnya bila kuselamatkan nyawamu"

Dengan kegirangan Thiat Tiong-tong meng­ucapkan terima kasih kemudian berusaha keras merangkak maju mendekati perempuan itu, tapi lukanya memang kelewat parah, sewaktu berbicara pun banyak mengeluarkan tenaga, walaupun jarak yang berapa meter saja baginya seakan sedang melalui bukit dan jurangyang amatjauh.

Hujin itu sama sekali tidak membantunya untuk merangkak mendekat, dia hanya mengawasi dari kejauhan, mendadak bisiknya:

"Ada yang datang!"

Walaupun tidak mendengar sesuatu namun tidak tahan Thiat Tiong-tong menengok juga, dari balik kain sutera hitam benar saja dia saksikan sesosok bayangan manusia berwarna perak sedang menyelinap masuk.

Dia tahu orang itu tidak lain adalah Coh Sam-nio, kembali hatinya tercekat.

Waktu itu Coh Sam-nio sendinpun amat terkejut setelah melihat asap tipis yang muncul dari balik sampan, seketika dia menghentikan tubuhnya disisi kolam sembari menegur:

"Siapa yang berada diatas sampan?"

Hujin itu tidak menjawab, tiba-tiba dia meniup asap tipis yang berada diatas sampan itu, sekilas cahaya putih segera menyambar keluar dari balik tirai dan bagaikan segulung hawa pedang langsung menyergap ke tubuh Coh Sam-nio.

Terdengar Coh Sam-nio menjerit kaget, tanpa mengucapkan sepatah katapun buru-buru dia mundur keluar.

Ketika Hong Lo-su menyelinap masuk pula ke situ, sang hujin dengan menggunakan cara yang sama, meniupkan segulung asap putih untuk memukul mundur sang pendatang.

Hong Lo-su sambil menjerit ketakutan segera melarikan diri pula dari tempat itu.

Tidak terlukiskan rasa kagum Thiat Tiong-tong menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya:

"Entah sampai kapan aku baru bisa melatih kemampuanku hingga taraf setangguh itu"

Tampak sang nyonya sedang pasang telinga mendengarkan sesuatu, mimik wajahnya kelihatan amat serius.

Lewat berapa saat kemudian baru terdengar suara aneh Hong Lo-su berkumandang dari luar sana:

"Kalau toh hujin belum mati........"

Berikut terjadilah tanya jawab yang semuanya bisa diikuti dan didengar Thiat Tiong-tong dengan sangat jelas.

Lewat berapa saat kemudian terdengar manusia aneh itu berkata:

"Kalau ibuku minta kalian tetap ditempat, siapa yang berani pergi dari sini!"

Begitu mendengar perkataan putranya, dengan wajah berubah sang hujin segera mengumpat:

"Anak sialan! Aku lagi berusaha menakut-nakuti mereka agar pergi, dia malah sengaja menahan mereka semua"

"Kenapa hujin........"

Belum habis Thiat Tiong-tong bertanya, nyonya itu sudah menukas:

"Bukankah aku sudah berniat menolongmu? Kenapa melihat kau merangkak dengan susah payah, aku sama sekali tidak berniat menolong?"

Sambil berkata dia membuka matanya, memandang pemuda itu dengan sorot mata setajam cahaya lentera.

"Jangan-jangan..... hujin sudah tidak mampu bergerak?" tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.

"Benar"

Pemuda itu segera menghembuskan napas dingin, bisiknya:

"Soal ini........soal ini........"

"Persoalan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, kemarilah, kita bicarakan lagi setelah lukamu sembuh nanti"

Tidak selang berapa saat kemudian Thiat Tiong-tong sudah merangkak tiba dihadapannya.

Perlahan-lahan nyonya itu menempelkan telapak tangan kirinya diatas jidat Thiat Tiong-tong lalu menyalurkan tenaga dalamnya menembusi nadi dan mengikuti aliran darah menuju ke jalan darah penting di jantung, sementara tangan kanannya ditempelkan diatas jalan darah Siang-ci-hiat.

Terasa telapak tangan itu makin lama semakin panas, menyusul gerakan tadi pemuda itu merasakan sekujur tubuhnya jadi panas sekali.

Sebetulnya waktu itu dia sudah amat lemah, lelah dan kehabisan tenaga, namun begitu merasakan mengalirnya tenaga baru, seketika itu juga semua keluhan tadi hilang tidak berbekas.

Lewat berapa saat kemudian tenaga aliran yang semula tenang dan lembut tiba-tiba berubah jadi dua gumpalan bara api yang membuat anak muda itu merasakan sekujur tubuhnya seakan menggelembung besar dan hampir meledak, kerongkongannya terasa mengering, matanya berubah jadi merah membara.

Dalam terkejutnya buru-buru dia kerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, mendadak teringat olehnya kalau saat itu sedang berada dalam keadaan terluka parah, darimana datangnya kekuatan untuk melawan?

Belum habis pikiran itu melintas, dia merasakan tumbuhnya satu kekuatan baru dari pusatnya. Ternyata tenaga dalam yang disalurkan nyonya tadi kini telah berubah menjadi kekuatan miliknya.

Dalam terkejut bercampur girangnya tanpa berpikir lebih jauh kenapa tenaga dalam nyonya itu bisa begitu cepat melebur dan menyatu dengan tenaga dalam milik sendiri, buru-buru Thiat Tiong-tong mengerahkan tenaga dalamnya dan berusaha memunahkan kekuatan hawa panas itu.

Lewat berapa saat kemudian bukan saja hawa panas itu tidak lenyap malah sebaliknya makin lama semakin bertambah kuat.

Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba Thiat Tiong-tong merasa bahwa hawa murni yang ada didalam tubuhnya bukan saja dapat melebur hawa panas tadi menjadi kekuatan, bahkan semakin cepat datangnya hawa panas itu, makin cepat pula dia berhasil melebur kekuatan itu.

Kini hawa murni yang berada dalam tubuh Thiat Tiong-tong dari lemah berubah jadi kuat, bagaikan bola salju yang menggelinding dari puncak bukit, makin ke bawah bola salju itu semakin membesar.

Diantara asap dupa yang mengepul, tampak paras muka nyonya itu dari kuning kehitam-hitaman berubah jadi kuning kemerah-merahan, lalu dari kemeraan berubah jadi pucat, perut bagian bawahnya yang semula membuncit makin lama makin mengempes dan mengecil.

Ternyata tenaga dalamnya yang sudah dilatih hampir belasan tahun lamanya itu kini mengalir masuk ke dalam tubuh Thiat Tiong-tong bagaikan bendungan sungai yang jebol, bukan saja mengalir deras bahkan sama sekali tidak terbendung lagi.

Berapa jam sudah lewat tanpa terasa, kawanan jago itu masih menunggu di dalam ruangan.

Sui Leng-kong bersandar dalam pelukan seorang perempuan bercadar sambil memandang langit langit ruangan dengan mata mendelong, tiada air mata lagi disudut matanya, air mata seolah sudah mengering.

Si kapak sakti berdiri kaku dengan kapak masih terhunus, namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Li Kiam-pek berjalan mondar mandir macam semut kepanasan, kelihatannya dia sudah habis kesabarannya sementara Li Lok-yang tetap duduk ditempat tanpa bereaksi.

Suto Sau dan rombongannya ada yang duduk menunggu ada pula yang berdiri, semua orang memperlihatkan perasaan tidak tenang, sedang si siucay muda itu mengumpulkan buah-buahan dan makanan dari sekitar sana, sayang tidak seorang pun yang berselera untuk bersantap.

Manusia aneh itu sendiri mesti tidak menun­jukkan perubahan sikap namun perasaan hatinya sangat tidak tenang, pikirnya:

"Bukankah ibu sudah berjanji akan keluar, kenapa sampai sekarang belum juga menampak­kan diri?"

Hong Lo-su maupun Coh Sam-nio berdiri dimuka dinding batu sambil bergendong tangan, mereka berdua sedang mengawasi jurus silat yang terukir diatas dinding dan nampaknya sudah dibuat kesemsem.

"Bagus.......  bagus,  ternyata memang jurus bagus" terdengar Coh Sam-nio bergumam tiada hentinya.

Meski dia sedang memuji padahal matanya tidak mengawasi dengan seksama, hanya pikirnya diam-diam:

"Walaupun makhluk perempuan itu tidak menampakkan diri, tapi jika ditinjau dari kemampuannya mengirim asap bagaikan pedang, jelas kungfunya telah mengalami kemajuan yang amat pesat, apa yang mesti kulakukan bila mereka ibu dan anak mengerubuti aku bersama? Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan saat ini untuk bekerja sama dengan Hong Lo-su untuk menjagal dulu si makhluk kecil itu?"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia melirik sekejap ke arah rekannya,.

Waktu itu Hong Lo-su pun sedang mengawasi dinding sambil tertawa seram:

"Hebat, hebat, benar-benar jurus yang hebat!"

Sedang dihati kecilnya ia berpikir:

"Dari pada ibu beranak turun tangan bersama, ada baiknya kujagal dulu si bajingan cilik ini, tapi....... aku tidak yakin dengan kekuatanku seorang........"

Berpikir sampai disitu diapun mengalihkan sorot matanya ke arah Coh Sam-nio.

Dalam waktu singkat sorot mata mereka telah saling berpandangan, meski hanya sekilas namun ke dua belah pihak segera mengerti apa yang dipikirkan lawannya.

Sambil menghela napas Coh Sam-nio pun berkata:

"Aaai, pangeran cilik, kenapa ibunda mu belum juga menampakkan diri?"

"Bila kau tidak sabaran, kenapa tidak ditanya­kan langsung kepada dia orang tua?" jengek sang pangeran.

"Aaai, kalau aku mah tidak berani bertanya, Hong Lo-su, kau saja yang pergi bertanya" Hong Lo-su tertawa terkekeh, potongnya: "Dia langsung marah begitu bertemu aku, lebih baik kau saja, wajahmu toh jauh lebih sedap dipandang"

Sembari berkata, selangkah demi selangkah mereka berjalan menghampiri manusia aneh itu.

Paras muka manusia aneh itu sama sekali tidak berubah, dia seolah tidak menyadari akan hal itu, tiba-tiba tegurnya sambil tertawa:

"Kalian tidak sabar menunggu, ada apa, ingin berkelahi dulu denganku?"

Coh Sam-nio serta Hong Lo-su seketika berdiri tertegun, tapi dengan cepat Coh Sam-nio berkata seraya tertawa:

"Pangeran, ternyata kau pintar sekali, dugaan-mu lagi-lagi tepat, Hong Lo-su ingin menjagal dirimu terlebih dulu!"

"Dasar siluman rase" diam-diam Hong Lo-su mengumpat, "lagi lagi dia mengumpankan diriku, tapi, bagaimana pun bocah keparat ini memang harus disingkirkan, daripada semakin kerepotan bila makhluk tua itu sudah munculkan diri nanti"

Maka sambil tertawa seram ujarnya:

"Menjagal mah tidak berani, tidak ada salahnya bukan kalau kita berkelahi sambil membuang waktu!"

Ujung bajunya segera dikebaskan keluar, segulung angin puyuh langsung menghantam ke tubuh manusia aneh itu.

"Hati-hati pangeran" teriak Coh Sam-nio sambil tertawa, "angin dingin Hong Lo-su sangat lihay, eeei Hong Lo-su, kau pun mesti hati-hati, kepalan Si hoa kun (ilmu pukulan mempermainkan bunga) sang pangeran tidak boleh dipandang enteng"

Sementara pembicaraan berlangsung, Hong Lo-su sudah terlibat pertarungan seru melawan manusia aneh itu, setiap pukulan yang dilepaskan selalu disertai selapis hawa dingin yang menggidikkan, hawa dingin yang lebih tajam dari pada sayatan pisau tajam.

Adapun jurus serangan yang digunakan manusia aneh itu enteng dan lincah, lembut seolah-olah tidak bertenaga.

Dengan wajah penuh senyum sebentar dia menowel dagu Hong Lo-su, sebentar mencubit pipinya, dia seakan sedang menggoda seorang wanita saja.

"Wah, ternyata ilmu pukulan mempermainkan bunga miliknya memang sangat hebat" pikir Li Kiam-pek diam-diam sambil tertawa geli.

Li Lok-yang yang menyaksikan pertarungan itupun merasa amat terkejut, pikirnya:

"Ilmu pukulan ini benar-benar sangat lihay, bukan saja sasarannya aneh, bikin orang sama sekali tidak terduga bahkan memiliki perubahan yang begitu rumit dan sakti"

Tiba-tiba terdengar Coh Sam-nio berseru sambil tertawa:

"Hong Lo-su, kelihatannya sang pangeran sudah tertarik kepadamu, coba lihat, dia sedang menjahilimu habis-habisan, lebih baik kawin saja dengannya"

Tidak terlukiskan rasa gemas Hong Lo-su, saking jengkelnya dia sampai menggertak gigi kuat kuat.

"Sialan!" umpatnya, "kau si nenek busuk enak-enakan, malah suruh aku yang kerepotan. Kapak sakti, kau berada dimana?"

"Siap!" sahut kapak sakti cepat.

Dengan gerakan burung hong pentang sayap Hong Lo-su melepaskan gempuran ke arah manusia aneh itu dengan tangan kanannya sementara jari tangan kirinya menuding ke arah Coh Sam-nio sambil membentak keras:

"Cepat ajak dia berkelahi"

"Baik!" jawab kapak sakti cepat, senjata kapak raksasanya langsung dibacokkan ke depan.

"Kurang ajar" umpat Coh Sam-nio sambil tertawa, "tidak heran kalau Lui lotoa mengatakan kalau Hong Lo-su bukan orang jahat melainkan orang sinting, tapi masa kau tidak bisa berpikir, memangnya monyet besar ini mampu menyentuh­ku!"

Tubuhnya berkelebat cepat menghindarkan diri dari bacokan maut itu, tapi si kapak sakti segera mau dengan langkah lebar, sambil mengejar terus sepanjang jalan dia melepaskan beberapa kali bacokan.

Biarpun kapak saktinya menakutkan dan tenaga serangannya mengerikan, namun bagai­mana mungkin dia mampu melukai Coh Sam-nio yang tersohor karena ilmu meringankan tubuhnya yang nomor wahid.

Yang merasakan akibatnya justru Suto Siau sekalian, begitu   melihat lelaki raksasa itu mengayunkan kapaknya, cepat mereka kabur sipat kuping.

Si kapak sakti sama sekali tidak ambil perduli siapa yang dijumpai, dengan mata melotot besar dia langsung menghadiahkan sebuah bacokan maut begitu bertemu orang yang menghalangi jalan perginya.

Ditengah kekacauan terdengar Hong Lo-su tertawa terbahak-bahak, serunya:

"Nah begini baru ramai namanya....... aduh, serangan hebat"

Sambil memutar tubuh, dia lepaskan sebuah jurus serangan balasan.

"Ayoh monyet besar" teriak Coh Sam-nio pula sambil tertawa, "cepatan sedikit......"

Tiba-tiba dia melepaskan sebuah bacokan kilat ke arah Hong Lo-su, menanti lawannya berkelit, perempuan itu kembali berlari menjauh.

Kontan Hong Lo-su mencaci maki kalang kabut.

"Sudah, tidak usah mengumpat lagi" jengek Coh Sam-nio, "aku selalu bertindak adil...."

Kali ini dia melejit balik sambil melepaskan tiga buah pukulan secara berantai.

Tampak tubuhnya bergerak lincah, sebentar bergeser ke kanan melepaskan satu pukulan ke arah Hong Lo-su, sebentar kemudian menendang si manusia aneh itu, bedanya serangan ke arah Hong Lo-su dilakukan perlahan sebaliknya serangan kepada manusia aneh itu jauh lebih berat.

Hong Lo-su bukan orang bodoh, tentu saja diapun tahu kalau secara diam-diam perempuan itu sedang membantunya, dengan hati girang pikirnya:

"Tidak kusangka nenek busuk ini banyak akalnyajuga!"

Saat itu senyuman sudah sirna dari wajah manusia aneh itu, jelas dia mulai kepayahan menghadapi kerubutan dua orang tokoh sakti itu.

Dengan semangat berkobar Hong Lo-su segera berseru:

"Selewat lima puluh gebrakan lagi, akan ku­suruh kau roboh ke tanah!"

"Tidak mungkin dalam lima puluh gebrakan" sela Coh Sam-nio sambil tertawa, "paling tidak butuh tujuh puluh gebrakan lagi!"

Li Lok-yang cukup berpengalaman dalam hal pertarungan, dia pun dapat melihat dengan jelas kalau manusia aneh itu tidak mungkin mampu bertahan tujuh puluh gebrakan lagi.

Pertarungan antara jago tangguh selalu dilakukan dengan gerakan cepat, dalam waktu singkat enam puluh gebrakan sudah lewat, sebagai jago kawakan dia mulai membuat perhitungan, andaikata tujuh puluh gebrakan kemudian manusia aneh itu kalah, apa yang harus mereka ayah beranak lakukan?

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong merasakan hawa panas yang mengalir keluar dari telapak tangan perempuan itu tiba-tiba berhenti ditengah jalan, ketika dia mencoba untuk mengatur pernapasan, bukan saja seluruh lukanya telah sembuh malahan tenaga dalamnya mengalami kemajuan yang amat pesat.

Dalam kejut bercampur girangnya diapun berseru:

"Terima kasih banyak hujin!"

Tapi begitu membuka mata, betapa terpe­ranjatnya anak muda ini, ternyata sang nyonya duduk sambil pejamkan mata, peluh sebesar kacang kedele membasahi seluruh jidatnya, air mukanya pucat pasi bagaikan mayat.

Dengan hati tercekat buru buru Thiat Tiong-tong berseru:

"Boanpwee tidak tahu kalau tenaga dalam hujin bakal menderita kerugian yang separah ini, tahu begini, boanpwee tidak akan berani memohon kepada hujin!"

Waktu itu napas sang nyonya tersengkal sengkal, tapi perutnya yang semula membuncit kini sudah rata kembali.

Sampai lama kemudian dia baru bergumam sambil tertawa:

"Aku  mengerti  sekarang...... aku  mengerti sekarang......"

Biarpun nada suaranya tetap manis dan indah, namun suaranya berubah jadi amat lemah.

"Nyonya, apa yang kau pahami?" tanya Thiat Tiong-tong keheranan.

"Persoalan pelik yang membelengguku selama belasan tahun baru hari ini berhasil kupahami........dupa dalam hiolo telah padam, coba kau tekan hiolo itu hingga gepeng!"

"Boan....boanpwee  tidak  punya kemampuan untuk berbuat begitu!"

"Dicoba saja!"

Thiat Tiong-tong tidak berani membangkang, dengan ragu diambilnya hiolo tersebut.

Hiolo itu tingginya satu setengah meter dan terbuat dari tembaga, bukan saja berat bobotnya, lapisannya pun keras dan susah dirusak dengan senjata.

Sambil tertawa getir pikir pemuda itu: "Tampaknya nyonya ini menilai kelewat tinggi kemampuan tenaga dalamku"

Maka dengan sekuat tenaga dia tekan hiolo tembaga itu, dalam perkiraannya hiolo tersebut bakal patah jadi dua bagian.

Siapa tahu begitu dia tekan, hiolo yang keras dan kuat itu seketika tertindih hingga gepeng.

Thiat Tiong-tong benar-benar terperanjat, saking kagetnya dia sampai melongo dan berdiri terbelalak, memadang hiolo yang gepeng itu hampir saja dia tidak percaya dengan pandangan mata sendiri.

"Bila kau ingin membuat gepeng hiolo ini dihari biasa, mungkin susahnya seperti memanjat ke langit, tahukah kau apa sebabnya hari ini dapat kau lakukan segampang membalikkan tangan?" tanya sang nyonya.

"Boan......boanpwee tidak tahu!"

"Ini disebabkan karena tenaga dalam yang telah kulatih dengan susah payah selama puluhan tahun telah habis kau hisap, kesempurnaan tenaga dalam yang kau miliki saat ini kendatipun belum sampai tiada duanya dikolong langit, namun tidak banyak jagoan dalam dunia persilatan dewasa ini yang mampu menandingi kehebatanmu"

Thiat Tiong-tong semakin tertegun, dia tidak tahu harus bersedih hati atau merasa girang. Lama setelah berdiri termangu dengan keringat bercucuran, tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut sembari berkata:

"Boanpwee pantas mati, boanpwee tidak tahu........."

"Ehmm, ketika mendengar berita yang luar biasa ini kau bukan saja tidak gembira, sebaliknya malah gugup dan menyesal, ini membuktikan kalau kau masih punya liangsim, padahal........aaaai, semua kejadian adalah kehendak Thian, kau tidak perlu menyesal"

"Tapi.....tapi gara-gara boanpwee, tenaga dalam milik  hujin   telah......telah kuhisap semua, bagaimana.......bagaimana  mungkin   boanpwee bisa.....bisa bersikap tenang......."

Nyonya itu tertawa.

"Alasan dibalik semua kejadian ini sangat aneh" ucapnya, "bahkan aku sendiripun semula tidak tahu apa sebabnya, aaai, tapi untung sekarang aku sudah paham!"

"Boleh.....boleh aku bertanya kenapa hujin....."

"Semenjak enam belas tahun berselang, ilmu sakti yang kulatih adalah ilmu dari aliran sejati, Kia ie sinkang, ilmu sakti baju pengantin. Walaupun sejak awal sudah kuketahui kalau ilmu ini maha sakti, maha susah dilatih dan sangat mendalam, namun aku sadar, seandainya ilmu tersebut berhasil kupelajari maka aku akan menjadi jagoan yang tiada duanya dikolong langit. Aku pun tahu, kedua orang cousu pendiri Perguruan Tay ki bun pun bisa menjagoi kolong langit lantaran sempat mempelajari ilmu maha sakti ini. Itulah sebabnya aku pun mengambil keputusan nekad, meninggalkan semua keduniawian dan secara khusuk mempelajari ilmu sakti ini"

Tiba-tiba saja Thiat Tiong-tong jadi teringat dengan perkataan dari manusia aneh tadi, tidak lahan selanya:

"Be.....benarkah kitab pusaka ilmu maha sakti itu secara sengaja dihilangkan oleh mendiang pendiri Perguruan Tay ki bun?"

Dia betul-betul tidak habis mengerti, kenapa mendiang leluhurnya harus menghilangkan kitab maha sakti itu secara sengaja, bukankah kitab tersebut berisikan ilmu sakti yang tiada tanding­annya dikolong langit?

Hanya saja dia tidak tahu bagaimana harus mengajukan pertanyaan itu.

Terdengar sang nyonya menjawab:

"Betul......... sejak berlatih ilmu sakti itu, aku sudah sadar kalau ada gelagat tidak beres, sebab begitu aku mulai melatih diri, tiba-tiba saja tenaga murniku berubah seolah mengering, susah dialirkan dan susah dihimpun, tapi aku tidak ambil perduli dengan gejala tersebut, aku nekad tetap melatihnya. Siapa tahu kendatipun tenaga murniku makin dilatih semakin bertambah dahsyat, namun setiap kali berusaha menyalurkan tenaga dalam, aku selalu merasakan penderitaan yang luar biasa, setiap kali hawa murniku mengalir, akan kurasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit seolah-olah ditusuk dengan beribu batang jarum tajam"

Setelah menghela napas, lanjutnya:

"Penderitaan itu jauh lebih tersiksa ketimbang penderitaan macam apa pun yang ada di dunia ini, bila kuhentikan latihanku, tenaga dalamku segera akan membuyar, penderitaan dikala buyarnya tenaga dalam betul betul tidak tertahankan oleh siapa pun. Itulah sebabnya walaupun aku sadar bahwa gejala ini mirip orang yang menghisap madat, makin dihisap semakin ketagihan namun aku terpaksa harus berlatihnya terus. Begitu tenaga murniku bertambah kuat, siksaan yang kuterima pun bertambah berat, dalam keadaan begini terpaksa kuhimpun tenaga dalam itu dibawah Tan-tian, tidak kubiarkan hawa murni itu mengalir kemana-mana, akibatnya tubuh bagian bawahku mulai kehilangan tenaga sebelum akhirnya lumpuh total"

Thiat Tiong-tong hanya berdiri melongo dengan mata terbelalak semakin besar, tidak sepatah kata pun sanggup diucapkan, walau begitu, sekarang dia sudah tahu apa sebabnya perut sang nyonya kelihatan buncit dan membesar.

Terdengar nyonya itu berkata lagi:

"Biarpun tenaga murniku semakin bertambah kuat dan dahsyat, tapi apa gunanya bila tidak bisa kugunakan? Bayangkan saja, ketika aku mesti menghimpun tenaga dalam untuk menghadapi lawan, namun aku harus merasakan juga siksaan yang luar biasa seperti ditusuk jarum, mana mungkin bisa kukembangkan jurus silatku untuk bertarung? Waktu itu aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, kusangka aku telah salah berlatih. Bila meninjau dari nama ilmu tersebut, ilmu baju pengantin, sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa bisa disebut begitu meski aku mengerti apa yang disebut sebagai ilmu aliran sejati" Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Ilmu  aliran  sejati  berarti  ilmu  yang  ber­kembang  atas kesadaran diri, atau dengan perkataan lain, semakin aku  menyadari akan keadaan yang sejati, semakin sukses kupelajari ilmu tersebut. Sayangnya biar sudah belasan tahun, biarpun sudah kupikirkan siang malam, aku belum juga mengerti kata kunci itu, sebaliknya semakin kupikirkan aku semakin goblok, semakin menderita!"

Thiat Tiong-tong ikut menghela napas panjang, namun dia tidak berani berkomentar, dia tidak tahu apa yang mesti diu capkan.

Nyonya itu berkata lebih jauh:

"Ketika melihat kau terluka parah, ketika melihat kejujuran serta kepolosanmu, walaupun timbul perasaan ibaku untuk mengobati dan menyelamatkan jiwamu, namun akupun ingin melihat bagaimana reaksimu ketika kusalurkan tenaga dalam hasil latihanku ke dalam tubuhmu, kalau bukan ingin menjadikan dirimu sebagai kelinci percobaan, kenapa aku mesti bersusah payah dengan menahan penderitaan membantu mengobatimu, apalagi kita bukan sanak bukan keluarga"

Thiat Tiong-tong menundukkan kepalanya, tidak berani komentar.

Kembali nyonya itu berkata:

"Siapa tahu ketika hawa murniku mengalir ke dalam tubuhmu, ternyata kau tidak menunjukkan reaksi apa pun, dalam herannya akupun menambah kekuatan hawa murniku. Pada saat itulah kau mulai menghisap tenaga dalamku, ketika aku mencoba melawan ternyata kedua jenis tenaga dalam itu berasal dari sumber yang sama, itulah sebabnya hawa murniku langsung melebur menjadi satu dengan tenaga dalammu dan mulai terhisap tanpa bisa dicegah lagi, menanti aku menyadari akan hal ini, mau kutarik balik tenaga dalamku pun sudah tidak mungkin lagi"

"Aaah, rupanya begitu!" pikir Thiat Tiong-tong seolah baru menyadarinya.

Selama pembicaraan berlangsung, nyonya itu nampak sangat kelelahan, peluh membasahi hampir seluruh tubuhnya.

Tapi dia tampil lebih gembira, lebih ramah dan santai, dengan napas tersengkal lanjutnya:

"Begitu  kehilangan tenaga dalamku, akhirnya akupun  menyadari  akan semua masalahku, sekarang aku benar-benar amat gembira!" Perlahan-lahan lanjutnya:

"Sekarang aku baru mengerti, kenapa ilmu sakti ini disebut ilmu sakti baju pengantin. Rupanya yang dimaksudkan adalah membuatkan baju pengantin untuk dikenakan pada orang lain, bila baju pengantin telah selesai dijahit, orang lainlah yang akan mengenakannya, sementara si tukang jahit meski sudah bersusah payah dan merasakan berbagai siksaan dan penderitaan, namun sayang dirinya bukan sang pengantin.

Artinya ilmu sakti ini memang khusus dilatih untuk dinikmati orang lain, biarpun sang pelatih penuh penderitaan namun dia pribadi tidak akan menikmatinya. Tidak heran pihak Perguruan Tay ki bun membuang jauh-jauh kepandaian sakti itu"

Semakin mendengar Thiat Tiong-tong merasa semakin tercengang, kini peluh telah membasahi seluruh tubuhnya.

Sinar kegusaran melintas dari balik mata nyonya itu, tapi sejenak kemudian dia sudah berkata lagi sambil tertawa:

"Akupun mengerti sekarang kenapa ilmu tersebut disebut aliran sejati, rupanya arti dari pemahaman itu sendiripun khusus ditujukan bagi orang lain!"

"Tapi..... tapi.... kenapa tenaga sakti itu men­datangkan penderitaan ditubuh hujin sementara setibanya ditubuh boanpwee justru.....justru....."

Nyonya itu menghela napas panjang.

"Mungkin hal ini disebabkan tenaga sakti ini kelewat keras dan kuat" katanya, "tapi setelah melalui pelatihanku selama belasan tahun, ketika menyusup ke dalam tubuhmu maka hawa panas­nya telah hilang lenyap, selain itu mungkin juga karena berasal dari aliran yang sama maka tenaga murni itu segera membaur secara alami"

Berbicara sampai disini diapun pejamkan mata tanpa bicara lagi, sementara tempat duduknya telah basah kuyup oleh peluh yang bercucuran makin deras dari tubuhnya.

Thiat Tiong-tong segera menjatuhkan diri bersujud, bisiknya:

"Budi kebaikan yang nyonya berikan benar-benar tidak terhingga, boanpwee... boanpwee tidak tahu bagaimana harus membalasnya........"

Bicara sampai disini dia jadi sesenggukan dan tidak sanggup melanjutkan lagi.

Dia bisa membayangkan betapa sedih dan menyesalnya nyonya itu, terutama ketika secara tiba-tiba menjumpai tenaga dalam yang dilatihnya dengan susah payah selama belasan tahun, berpindah tangan dengan begitu saja ke tubuh orang lain.

Nyonya itu tertawa pedih, ujarnya:

"Dalam peristiwa ini, kau tidak berniat dan akupun tidak sengaja, bagaimana mungkin aku bisa menyalahkan dirimu, hanya saja......hanya saja aku nilai ilmu sakti itu benar-benar kelewat kejam dan tidak berperasaan”

"Boanpwee....... boanpwee........" Thiat Tiong-tong tidak sanggup menahan diri lagi, air mata menetes keluar saking sedihnya.

Nyonya itu menghela napas panjang, katanya:

"Semuanya ini karena kehendak Thian........

ilmu tersebut memang milik Perguruan Tay ki bun sementara kaupun murid Tay ki bun, mungkin Thian memang menghendaki Perguruan Tay ki bun bangkit kembali seperti semula hingga mengirimmu datang kemari, coba kalau bukan kejadian ini, biar kau berlatih tiga puluh tahun lagipun belum tentu bisa menuntut balas atas atas dendam kesumatmu"

Thiat Tiong-tong yang mendengar perkataan itu jadi keheranan, pikirnya:

"Kungfu yang dimiliki Suto Siau sekalian tidak terlalu tangguh, kenapa dia bilang biar berlatih tiga puluh tahun lagipun belum tentu bisa menuntut balas?"

Tapi dalam keadaan begini dia tidak ingin berpikir terlalu jauh, sembari bersujud kembali katanya:

"Budi kebaikan hujin tidak akan boanpwee lupakan untuk selamanya, hujin, bila kau tidak memberi kesempatan kepada boanpwee untuk membalas budi kebaikan ini, boanpwee bisa menyesal sepanjang hidup"

"Dalam kejadian ini, tidak ada masalah balas budi  atau  tidak  dan kaupun tidak perlu menyinggungnya lagi, cuma......bila kau bersedia melakukan berapa pekerjaan bagiku, aku pasti akan sangat berterima kasih!"

"Katakan saja hujin, biar harus terjun ke lautan api pun pasti akan kulaksanakan!"

Nyonyaitu menghela napas panjang, ujarnya:

"Diantara berapa orang gadis anak buah putraku itu ada seorang nona yang buta matanya, selama banyak tahun dialah yang menghantar makanan untukku, aaai, agar bisa mengirim makanan untukku dan tahu kalau aku tidak ingin diketahui orang lain, dengan ikhlas dia telah membutai mata sendiri. Aku harap kau bisa temukan gadis itu dan sampaikan rasa terima kasihku yang tidak terhingga kepadanya"

"Biar harus naik ke langit atau masuk ke bumi pun boanpwee pasti akan mencarinya sampai ketemu"

Nyonya itu termenung berapa saat lamanya, kemudian setelah menghela napas katanya lagi:

"Walaupun putraku tidak berbakti, bagai­manapun akulah yang melahirkan dia, aaai, perseteruanku dengan ayahnya mungkin membuat posisinya terjepit hingga melahirkan sikap semacam itu, sekarang tenaga dalammu jauh melebihi dia, aku berharap kau bisa menjaga keselamatannya, jangan biarkan dia tewas di bunuh orang"

"Boanpwee pasti akan menghormati dia sebagai kakakku dan berusaha mengajaknya melakukan kebajikan"

"Anak baik.....  anak  baik......."  nyonya itu tersenyum.

Lewat sesaat kemudian kembali ujarnya: "Bawalah kitab pusaka 'aliran sejati, ilmu sakti baju pengantin' ini dan tolong hadiahkan kepada seseorang"

Berkilat sepasang matanya, sinar penuh kebencian dan rasa dendam.

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya tercekat, tanyanya tanpa terasa:

"Di....dihadiahkan kepada siapa?"

Dia tahu, jika kitab pusaka itu dihadiahkan kepada orang lain, maka hal ini ibarat sedang membunuh orang itu, membunuhnya secara keji.

"Hadiahkan kepada seseorang yang pernah kau jumpai, orang yang paling serakah, paling egois, paling kejam dan tidak pernah mau berpikir untuk orang lain"

Sebenarnya Thiat Tiong-tong merasa kuatir bila kitab pusaka itu harus dihadiahkan kepada seseorang yang baik dan bijaksana, dia baru merasa lega setelan mendengar perkataan itu.

"Boanpwee siap melaksanakan!" ujarnya sambil menghembuskan napas lega.

Kalau disuruh menyerahkan kitab itu kepada orang baik, Thiat Tiong-tong memang merasa tidak tega, tapi kalau dihadiahkan kepada orang keji yang kemaruk dan egois, dengan senang hati dia akan melaksanakannya.

Kembali nyonya itu berkata:

"Aku telah menyiapkan sepucuk surat yang kuselipkan didalam kitab pusaka itu, ketika kau sudah bertekad akan menyerahkan kitab tersebut kepada seseorang, tidak ada salahnya buka surat itu dan baca dulu isinya"

"Baik!"

"Aaaai.... akhirnya keinginanku kesampaian juga" kata sang nyonya sambil menghela napas, "tapi aku ingin sekali bertemu  dengan anak durhakaku itu, bersediakah kau memanggilnya untukku?

"Boanpwee segera laksanakan!"

"Tapi jangan biarkan orang ke tiga memasuki sampan ku ini barang selangkah pun" kata nyonya itu lagi dengan mata berkilat, "aku..aku tidak ingin orang lain menyaksikan keadaanku sekarang!"

Dengan hormat Thiat Tiong-tong menyahut

Kembali nyonya itu pejamkan matanya, meski dia kelihatan sangat lelah namun wajahnya justru tampil lebih tenang.

 

[bersambung]