pendekar panji sakti 06

BAB 16

Dunia yang sempit.

 

Betapa terkejutnya Un Tay-tay ketika mengetahui orang yang membukakan pintu adalah Thiat Tiong-tong, serunya tertahan:

"Ke......kenapa kau bisa berada disini?"

"Kau sendiri? Kenapa datang kemari?"

Un Tay-tay tidak menjawab, dengan cepat dia melangkah masuk ke dalam ruangan, setelah menurunkan Im Ceng, cepat dia merapatkan kembali pintunya kemudian baru menghembuskan napas panjang, tubuhnya mulai roboh dengan lemas.

Cepat Thiat Tiong-tong memayangnya, kemu­dian bertanya lagi dengan kening berkerut: "Kenapa kau?"

Biarpun hanya pertanyaan singkat bahkan disampaikan dengan nada dingin dan kaku, namun dibalik ucapan tersebut justru terselip perasaan kuatir serta perhatian yang hangat.

Un Tay-tay yang menggeliat dalam rangkulan-nya merasa hatinya manis bercampur hangat, tapi begitu memandang tubuh Im Ceng yang tergeletak di tanah, cepat dia melompat bangun, tundukkan kepala dan menyahut:

"Aku cukup baik!"

Melihat sikap dan tingkah laku perempuan itu jauh berbeda dibandingkan berapa hari berselang, lalu melihat pula keadaan Im Ceng yang tergeletak ditanah, dengan cepat Thiat Tiong-tong memahami apa yang telah terjadi, tampaknya perempuan itu sudah tumbuh benih cintanya terhadap Im Ceng.

Maka dengan senyuman dikulum ujarnya:

"Ooh, kau baik sekali"

"Tapi situasinya sangat tidak menguntung­kan, Hek Seng-thian dan Suto Siau sekalian berhasil menemukan jejakku, untung aku cukup cekatan dan berhasil melarikan diri, kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah terjatuh ke tangan mereka"

Dari perubahan mimik mukanya sewaktu lari masuk ke dalam ruangan tadi, Thiat Tiong-tong sudah menduga kalau telah terjadi sesuatu, tapi dia tidak menyangka kalau urusannya begitu gawat dan serius, buru-buru dia bertanya dengan suara dalam: "Jadi beberapa orang itu berhasil menemukan dirimu? Tapi, darimana mereka bisa mengetahui tempat persembunyianmu?"

"Sim Sin-pek yang membawa mereka ke situ"

"Sim Sin-pek?" ulang Thiat Tiong-tong keheranan, "tapi dia sudah menghianati Hek Seng-thian, mana mungkin......."

Tapi ingatan lain segera melintas, ujarnya kemudian sambil tertawa dingin:

"Aaah benar, walaupun Sim Sin-pek telah berhianat, namun Hek Seng-thian yang merasa kalau muridnya licik dan banyak akal serta paling cocok menjadi pembantu utamanya, tentu tidak ingin melukai perasaan hatinya, malah bisa jadi dia justru amat menyukainya, waah, kalau sampai mereka berdua bekerja sama, sudah pasti akan semakin banyak kejahatan yang bakal dilakukan"

"Begitu melihat mereka datang, aku segera membopong dia...... Im Ceng dan melarikan diri, dalam panik aku tidak sempat lagi memilih jalan hingga kabur menuju ke jalan buntu ini, dalam keadaan panik bercampur gugup kujumpai ada kuil siau-Iim-sie kecil disini, maka akupun lari masuk, tidak disangka ternyata malah bertemu kau disini"

Sambil menghembuskan napas lega diapun membopong kembali tubuh Im Ceng, seakan asal ada Thiat Tiong-tong maka persoalan segawat apa pun pasti dapat terselesaikan.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, pikirnya:

"Biarpun bertemu rombongan Suto Siau, semestinya dia tidak perlu gugup atau panik, kesemuanya itu pasti lantaran memikirkan kesela­matan Im Ceng...."

Tiba-tiba dia bertanya:

"Kau sudah melihat kemunculan mereka?"

"Yaa, sudah kusaksikan dengan jelas sekali, tidak mungkin keliru!"

Berubah hebat paras muka Thiat Tiong-tong, ujarnya:

"Kau melihat kemunculan mereka, mustahil mereka tidak melihatmu, padahal kedatangannya adalah untuk mencari kau, aneh, bila mereka sudah melihatmu, dengan watak Suto Siau masa dia akan membiarkan kau kabur dengan begitu saja?”

Un Tay-tay tertegun, dengan wajah agak berubah serunya:

"Soal ini......soal ini......"

Sambil tertawa dingin Thiat Tiong-tong bicara lebih lanjut:

"Suto Siau memang paling senang mengulur senar untuk memancing ikan besar, dia memang sengaja membiarkan kau kabur lantaran secara diam-diam dia sudah membuntutimu, ingin tahu kemana kau akan kabur"

Sekujur tubuh Un Tay-tay gemetar keras, bisiknya agak tergagap:

"Kau......kau yakin akan hal itu?"

"Tentu saja sangat yakin, bahkan saat ini besar kemungkinan mereka telah datang kemari!"

Pemuda ini selain mempunyai hati yang sekeras baja, kecerdasan otaknya juga luar biasa, walaupun da sempat kalut pikirannya namun setelah menghadapi perubahan yang diluar dugaan, seketika itu juga pikirannya dapat menjadi tenang kembali.

Mendadak terdengar Ai Thian-hok berkata:

"Tentara datang panglima perang menghadang, air bah datang tanah membendung, jika mereka datang, kita hadapi mereka!"

Melihat tokoh persilatan itupun hadir disitu, Un Tay-tay semakin terperanjat dibuatnya.

Sebaliknya Thiat Tiong-tong merasa berterima kasih sekali setelah mendengar perkataan itu, dia maju menghampiri dan menggenggam tangannya erat-erat, mereka berdua tidak banyak bicara lagi, namun semua kesalahan paham dimasa lalu justru melumer dalam genggaman tersebut.

Un Tay-tay semakin tertegun dibuatnya, tapi dengan cepat dia memahami apa yang terjadi, tanpa terasa pikirnya:

"Pikiran dan perasaan lelaki enghiong macam mereka benar-benar terbuka dan tidak sempit, sulit rasanya untuk melampaui mereka"

Thiat Tiong-tong pun membopong tubuh Im Ceng dari tangan Un Tay-tay dan membaringkan­nya diatas ranjang.

"Aduh mak" Yin Ping kontan berteriak sambil tertawa, "sebetulnya ranjang itu milik siapa sih, kenapa kalian tidak minta ijin duluan?"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Hmm, jika adik keempat tahu kalau ranjang ini pernah kau tiduri, mungkin dia lebih suka tidur diatas ujung golok ketimbang berbaring diatas ranjangmu........."

"Aduuh.....  bukankah  diluar banyak golok? Kenapa tidak kau persilahkan dia tidur diujung golok diluar sana?" kembali Yin Ping berseru sambil tertawa.

Thiat Tiong-tong tertegun, belum sempat dia menjawab, Un Tay-tay diiringi tertawanya yang merdu telah menimpali:

"Enciku yang baik, toh kau belum ingin tidur, kasihanilah dia yang sedang terluka, biarlah dia tiduran sejenak disana!"

Yin Ping memperhatikan perempuan itu berapa saat, lalu kembali tertawa merdu:

"Aduh mak, manis amat orangnya, manis juga mulutnya, baiklah, memandang diatas wajah­mu biarlah dia tiduran sejenak disitu!"

Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli, pikirnya:

"Tabiat kedua orang itu nyaris hampir sama, jika mereka harus beradu kemampuan, mungkin keduanya sama-sama akan merasa kalau telah bertemu lawan tanding"

Sementara itu Yin Ping telah mengawasi sekejap tingkah pola Un Tay-tay yang merawat Im Ceng dengan penuh kasih sayang, sambil menggelengkan kepala dan tertawa katanya:

"Orang ini adalah sutenya, berarti dia pun anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Cici memang pintar, sekali tebak lantas benar!"

"Adikku, cici ingin menasehatimu, semua orang Perguruan Tay ki bun adalah manusia yang tidak punya perasaan, sekarang kau bersikap begitu baik kepadanya, belum tentu dikemudian hari dia akan bersikap baik pula kepadamu"

Un Tay-tay tertegun,  tapi segera sahutnya sambil tertawa:

"Kalau didengar dari perkataan cici, tampak-nya dulu kau pernah tertipu oleh anggota Perguruan Tay ki bun?"

"Soal ini.......soal ini........."

"Jika cici pun pernah tertipu, tentu saja aku tidak berani untuk tidak tertipu juga!" sambung U] Tay-tay lagi sambil tertawa.

"Dasar budak cilik, tajam amat lidahmu, cici benar-benar takluk kepadamu!"

Tiba-tiba terdengar lagi suara orang sedang mengetuk pintu depan.

Belum sempat orang lain berbicara, Ai Thian hok sudah menyahut duluan:

"Biar aku saja yang membukakan pintu!"

Sambil berbicara, dia segera melesat maju k depan.

Un Tay-tay dan Thiat Tiong-tong hanya bisa saling bertukar pandangan, jantung mereka terasa berdetak keras.

"Siapa?" terdengar Ai Thian-hok menegur sambil membuka pintu.

Terdengar suara seorang pemuda menjawab:

"Suhu mengutus cayhe untuk menghantar sebuah hadiah........"

"Memangnya kau tahu siapa yang tinggal disini?" tegur Ai Thian-hok, "berani amat kau sembarangan menghantar hadiah"

"Suhu perintahkan kepada tecu untuk datang menghantar, maka tecu pun datang kemari, jika tuan rumah tempat ini enggan untuk menerima-nya, tecu rasa nona yang barusan masuk tentu menghendakinya"

Un Tay-tay melirik Thiat Tiong-tong sekejap kemudian menghela napas panjang.

"Ternyata dugaanmu tepat sekali"

Terdengar YinPing berseru sambil tertawa:

"Kalau memang ada yang datang menghantar barang, kenapa mesti ditolak kebaikan hatinya? Bawa kemari!"

"Silahkan, tecu menanti jawaban" kata pemuda itu.

Ai Thian-hok mendengus, dia melangkah masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kotak yang terbuat dari kayu.

Baru saja Thiat Tiong-tong hendak mengambil­nya, Yin Ping sudah merebut duluan.

Tercekat juga perasaan hati pemuda ini setelah menyaksikan betapa cepatnya gerakan tubuh perempuan itu.

Sementara itu Yin Ping telah membuka kotak kayu itu seraya berseru:

"Kalau isinya barang bagus, aku........"

Mendadak terdengar dia menjerit kaget, lalu serunya lagi sambil tertawa merdu:

"Aduh mak, kalau barang beginian mah aku tidak sudi, ambillah kembali!"

Dia segera melemparkan kotak itu ke depan.

Thiat Tiong-tong sangka perempuan itu hendak menguji tenaga dalamnya, siapa tahu kotak itu melayang dengan perlahan keatas tangannya, seakan barang itu disodorkan ke hadapannya saja.

Tapi suara tertawa perempuan itu sekarang sudah mengandung tertawa senang karena siap melihat orang lain menghadapi bencana.

Diam-diam Thiat Tiong-tong berkerut kening, pikirnya:

"Entah kotak kayu itu berisi apa, tapi aku yakin tentu bukan barang bagus, kalau tidak, tidak mungkin dia kelihatan begitu senang!"

Perlahan-lahan dia membuka kotak kayu itu, ternyata isi kotak yang begitu indah dan terbuat dari kayu cendana itu tidak lebih hanya sebutir batok kepala manusia yang pucat pias!

Thiat Tiong-tong tidak perlu menengok untuk kedua kalinya pun sudah segera mengenali kepala itu sebagai milik Phoa Seng-hong.

Ketika pergi bersama Hek Seng-thian, Pek Seng-bu dan Suto Siau, Phoa Seng-hong berdandan sebagai seorang kakek untuk menggantikan peranan Thiat Tiong-tong, tapi sekarang yang dihantar hanya batok kepalanya, ini membuktikan kalau rahasia penyaruannya sudah ketahuan.

Melihat isi kotak itu ternyata sebutir batok kepala, Un Tay-tay langsung menjerit kaget, diapun secara lamat-lamat dapat menduga akan peristiwa ini.

Setelah sempat terkejut, dengan cepat Thiat Tiong-tong berhasil mengendalikan kembali perasaan hatinya, di mulai berpikir:

"Kelihatannya Sim Sin-pek yang kabur ketakutan secara kebetulan telah bersua dengan Hek Seng-thian sekalian, dalam ketakutannya dia tidak menyangka kalau Hek Seng-thian bakal memaafkan perbuatannya,  sebagai imbalan dia pasti bercerita telah bertemu aku dan Un Tay-tay, rupanya waktu itu Phoa Seng-hong yang masih menyaru sebagai aku masih ada bersama mereka, begitu rahasia penyaruannya terbongkar, Suto Siau pasti membunuhnya kemudian baru mengejar Un Tay-tay, dia tidak tahu kalau Un Tay-tay sebetulnya sudah kehilangan kontak denganku, disangkanya perempuan itu pasti akan datang mencariku, maka mereka sengaja membebaskan Un Tay-tay dengan harapan bisa mengintilnya. Aaaai, siapa sangka kalau tanpa sengaja Un Tay-tay justru berhasil menemukan aku disini. Aaai.... kini, mereka malah, berhasil menemukan jejakku pula!"

Walaupun persoalan ini sangat rumit, tapi bagi Thiat Tiong-tong bukan halangan, dia segera berhasil menebak jalannya peristiwa.

Setelah termenung dan berpikir sejenak, diapun melangkah keluar dengan cepat.

Ai Thian-hok mengintil terus di belakangnya, dia seakan tidak ingin membiarkan pemuda itu pergi seorang diri.

Saat itu didepan pintu telah berdiri seseorang, dia tidak lain adalah Sim Sin-pek yang berdiri dengan senyuman dikulum.

Begitu melihat Thiat Tiong-tong, kontan dia tertawa tergelak sambil berkata:

"Tidak disangka ternyata paman Suto betul-betul pandai meramal, ternyata hengtay benar-benar berada disini, apakah hadiah dari guruku telah kau terima?"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Tidak kusangka kau masih berani kemari, tidak kuatir aku menjagal dirimu terlebih dulu?"

Sim Sin-pek tertawa lebar, katanya:

"Kecuali hadiah yang tadi, guruku masih mempunyai hadiah lain yang lebih berharga untuk dipersembahkan kepadamu, bila hengtay membunuhku lebih dulu, jelas kau tidak akan menerima kado istimewa itu!"

"Kado apa?" tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah berubah.

Sim Sin-pek tertawa licik.

"Kado yang harus kusampaikan telah ku hantar, sekarang siaute ingin mohon diri terlebih dulu" katanya, "tapi sebelum kado istimewa itu sampai disini, kuharap hengtay jangan pergi dulu"

"Hmm, kalau aku suka, siapa yang bisa menghalangiku?" jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

"Kalau begitu tidak ada salahnya buat hengtay untuk mencoba" kata Sim Sin-pek seraya menjura, kemudian dia mundur tiga langkah dan tiba-tiba bersuit nyaring.

Berbareng dengan suara suitan itu, dari empat penjuru segera berkumandang suara gelak tertawa yang sangat nyaring, menyusul kemudian terdengar orang berteriak lantang:

Thiat Tiong-tong benar-benar berada disini, bagus, bagus sekali"

Beberapa orang itu buka suara bersama, tutup mulutpun bersama-sama, jelas mereka memang sudah janjian dengan suara suitan sebagai pertanda.

Dari gelak tertawa yang begitu nyaring, Thiat Tiong-tong tahu kalau kawanan jago itu rata-rata berilmu tinggi bahkan tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan, kenyataan ini membuatnya terkesiap, dia tidak menduga kalau Suto Siau telah mengundang bala bantuan.

Yin Ping yang menyaksikan anak muda itu masuk ke dalam dengan kepala tertunduk, kontan saja tertawa terkekeh, katanya:

"Tidak kusangka ada begitu banyak jago tangguh yang telah berkumpul disini, kelihatannya mereka telah mengepung kalian rapat-rapat, jangan harap kalian bisa kabur lagi dari sini!"

Paras muka Thiat Tiong-tong berubah jadi hijau membesi, tidak tahan dia melirik Im Ceng sekejap.

"Betul" ujar Yin Ping lagi sambil tertawa, "dengan kepandaian silat dan kecerdasan otakmu, rasanya tidak sulit untuk melarikan diri dari sini, tapi adik seperguruan kesayanganmu itu,  hehehehe.....mungkin bakal berakhir dengan mengenaskan!"

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, sambil menjura kepada Un Tay-tay katanya:

"Luka yang diderita su-te perlu segera diobati, didepan bukit sana terletak kuil Siau-lim-sie, sebagai perguruan nomor wahid dikolong langit, lagipula sebagai pendeta yang welas asih, asal nona bisa menghantarnya ke situ, aku yakin para pendeta tinggi Siau-lim-pay pasti tidak akan berpeluk tangan belaka"

"Tapi..... tapi...... dengan cara apa kita bisa meloloskan diri?"

"Meskipun  rumah  ini  sudah  terkepung, namun........"

Tiba tiba Yin Ping menukas:

"Kalau kau memang punya kemampuan, jangan gunakan lorong bawah tanahku!"

Begitu rahasianya terbongkar, Thiat Tiong-tong tidak mampu berkata lagi, dia hanya bisa berdiri termangu.

"Enciku yang baik ........" Un Tay-tay segera berseru sambil tertawa.

"Adikku manis, kau tidak usah takut, asal ikut aku, cici jamin kau pasti bisa keluar dari sini lewat pintu gerbang, kujamin kau tidak usah menerobos liang bawah tanah"

"Sungguh?"

"Siapa yang bohong? Aku sudah mengirim surat dan sebentar pasti ada yang datang menjemputku, orang-orang yang akan menjem­putku.....hehehehe....   tidak  ada yang  berani mengusiknya!" Yin Ping tertawa lebar.

"Tapi dia......."

"Waah, orang itu mah seorang enghiong besar, aku tidak berani mencampurinya!"

"Kalau begitu aku pun tidak akan pergi"

"Adikku, bukannya aku melarangmu kabur lewat lorong bawah tanah, kau mesti tahu, kalau lewat sana maka kau mesti merangkak, mana mungkin kau bisa merangkak sambil membawa orang sakit? Tadi, aku tidak lebih hanya ingin menjengkelkan hatinya saja!"

Walaupun dihati kecilnya Thiat Tiong-tong merasa amat gusar, namun diapun tahu kalau apa yang dikatakan perempuan itu memang benar.

Tiba-tiba terdengar Un Tay-tay berkata: "Enciku  yang  baik,  bagaimana kalau aku sanggup membawanya pergi dari sini?"

Yin Ping tertawa cekikikan.

"Panggilan mu yang manis dan mesra telah membuat hatiku jadi lembek, bila kau sanggup, pergilah! Tapi kalau enghiong besar itu yang akan pergi, aku akan segera berteriak, agar orang lain segera menghadang jalan keluarnya!"

"Terima kasih........" ucap Un Tay-tay.

Kemudian sambil berpaling ke arah Thiat Tiong-tong, katanya lagi perlahan:

"Aku telah mengundang datangnya musuh tapi mesti kabur terlebih dulu, aku benar-benar merasa tidak enak kepadamu, tapi demi dia......."

"Kau tidak usah banyak bicara lagi" tukas Thiat Tiong-tong cepat, "aku sudah paham!"

Un Tay-tay mendongakkan kepalanya meman­dang pemuda itu berapa kejap, sorot matanya terkandung pelbagai macam perasaan yang bercampur aduk, perasaan yang sulit diungkap dengan perkataan.

Sampai lama, lama kemudian, akhirnya dia baru berkata:

"Jagalah dirimu baik-baik!"

Dibopongnya tubuh Im Ceng dengan di bungkus selembar selimut, kemudian setelah menerobos ke dalam liang dengan jalan mundur, dia menarik tubuh Im Ceng secara perlahan-lahan.

Tampaknya Yin Ping sama sekali tidak menduga kalau perempuan itu benar-benar mampu menerobos keluar lewat liang itu, untuk sesaat dia hanya mengawasi dengan termangu, kemudian sambil tertawa getir katanya:

"Dasar bocah yang sedang mabuk asmara, tidak nyana liang bawah tanahku justru telah digunakan untuk selamatkan nyawa anggota Perguruan Tay ki bun"

Tiba-tiba dia mengulapkan tangannya sambil menambahkan:

"Yaa sudalah, kalau kau ingin pergi, pergilah!"

Thiat Tiong-tong tertegun, bisiknya keheranan:

"Kau......kau........"

"Tidak usah keheranan" tukas Yin Ping sambil tertawa, "biar jahat dan keji tapi khususnya terhadap anggota Perguruan Tay ki bun, aku...aaai, bila kau bertemu lagi dengan Im Kiu-siau nanti, sampaikan salamku kepadanya"

Makin lama Thiat Tiong-tong merasa semakin keheranan, pikirnya:

"Mungkinkah   dia  mempunyai   sesuatu hu......hubungan dengan paman Im....?"

Tapi ketika dia ingin bertanya lagi, Yin Ping telah berbaring diatas ranjang dan enggan untuk berbicara lagi.

Untuk sesaat Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri mematung.

"Kenapa kau tidak ikut pergi?" tanya Ai Thian-hok keheranan.

Dengan mata terpejam dan kemalas-malasan sahut Yin Ping:

"Aku mempunyai tujuanku sendiri, kau tidak usah mengurusinya"

"Terima kasih untuk pertolonganmu hari ini, semua hutang piutang diantara kita berdua kuanggap sudah impas"

Mendadak Yin Ping membuka matanya lebar lebar, serunya sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha......aku tidak sangka kaupun bersedia kabur dengan merangkak lewat liang bawah tanah, tampaknya lorong yang kugali hampir dua bulan lamanya ini tidak digali dengan sia-sia"

"Kalau aku tidak mau pergi, Thiat Tiong-tong pasti tidak akan pergi" sahut Ai Thian-hok dingin, "padahal dia masih mengemban banyak tugas berat, buat apa aku mesti menyusahkan dia!"

Thiat Tiong-tong merasa terharu sekali, sebetulnya dia termasuk seorang pemuda yang keras kepala dan ingin menangnya sendiri, namun sehabis mendengar perkataan itu, bisiknya sambil menghela napas panjang:

"Saudara Ai, kau pergilah!"

"Kau jalan duluan, aku akan mengiringi di belakang"

Tiba-tiba Yin Ping berseru sambil tertawa:

"Kau tidak pingin melihat kado keduamu yang telah dihantar kemari?"

Membayangkan beban berat yang berada dipundaknya, Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat, namun akhirnya dia menghela napas panjang.

"Aaai, tidak usah dilihat lagi!"

Sambil berkata dia menyusutkan badan dan siapa merangkak masuk ke liang bawah tanah.

Pada saat itulah, mendadak dari luar sana terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring:

"Saudara Thiat, kadomu sudah datang, biarpun kau seorang jagoan muda, aku jamin kau pasti akan terperanjat sesudah melihat kado itu"

Tergerak hati Thiat Tiong-tong, seketika dia menghentikan langkahnya.

"Perduli apa pun kado itu, lebih baik jangan dilihat, ayoh cepat pergi!" seru Ai Thian-hok dengan suara dalam.

Kembali terdengar gelak tertawa bergema dari luar rumah:

"Saudara-saudaraku" seru orang itu, "tidak usah mengepung  rumah itu lagi, mari kita berkumpul untuk menjumpai jagoan itu. Setelah melihat kado tersebut, kujamin saudara Thiat tidak bakalan pergi dari sini meski kita minta dia pergi"

Kembali Thiat Tiong-tong merasakan hatinya tergerak, cepat dia melompat keluar dari lorong bawah tanah dan berkata sambil tertawa getir:

"Siaute hanya ingin mengintip sekejap, silahkan saudara Ai berangkat duluan, siaute segera akan menyusul!"

Belum selesai dia berbicara, tubuhnya sudah menerjang keluar.

Sementara Ai Thian-hok menghela napas sedih, terdengar Yin Ping pun berbisik sambil menghela napas:

"Aaaai, jika dia tidak pergi sekarang, mungkin selamanya dia tidak bakal bisa pergi!"

Kedengaran sekali kalau dia pun merasa sayang dengan tindakan pemuda itu.

Dengan wajah sedikit berubah mendadak Ai Thian-hok berkata:

"Aku sudah tiga puluh tahun kenal dengan dirimu, menjadi buta gara-gara kau, menjadi murid Kiu cu Kui  bo pun gara-gara kau, tapi hari ini aku baru tahu kalau kaupun punya perasaan"

Yin Ping termenung berapa saat kemudian kembali tertawa terkekeh.

"Punya sih punya, Cuma minim sekali"

"Terlepas banyak atau sedikit, kau tidak seharusnya mencemari nama baik orang lain"

"Aduh mak, nama siapa yang ku cemari? Kau menjadi buta toh atas kemauan sendiri....... gara-gara ingin melihat aku, justru lantaran kasihan melihat kau menjadi buta maka aku hantar kau ke tempat tinggal ciciku, ciriku juga hanya mau menerima orang cacad sebagai muridnya karena diapun sedang menjumpai masalah sedih"

Lambat laun  wajah Ai Thian-hok semakin diselimuti rasa pedih, bentaknya: Tutup mulut!"

"Kau sendiri yang memulai mengungkit kejadian lama, kenapa malah marah kepadaku!" sahut Yin Ping sambil tertawa dingin.

Ai Thian-hok menghela napas panjang.

"Aaai, sebetulnya bukan persoalan itu yang kumaksud" katanya, "aku hanya ingin tahu, meski kau telah selamatkan anak murid Perguruan Tay ki bun, kenapa pula mesti mencemari nama baik guru mereka?"

"Memangnya kenal denganku berarti telah mencemari nama baiknya?" seru Yin Ping sambil tertawa dingin, "kalau begitu maksudmu, ooh betapa banyaknya umat persilatan yang namanya tercemar gara-gara aku!"

"Dalam tiga puluh tahun terakhir, perbuatan­mu mana yang tidak kuketahui, kalau bukan pada sepuluh tahun berselang kau dikepung delapan orang pendeta sakti dari Siau-lim-sie hingga jejaknya lenyap, mungkin aku memiliki catatan lengkap tentang sepak terjangmu. Hmmm, dalam jangka waktu ini, kapan sih kau pernah berhubungan dengan para petinggi Perguruan Tay ki bun? Buat apa kau sengaja mengucapkan perkataan semacam itu dihadapan Thiat Tiong-tong? Hmm, hmmm, jadi kau berharap mereka guru dan murid saling menaruh curiga sementara kau menonton keramaian?"

"Betul, sepuluh tahun berselang aku memang sengaja merayu seorang murid Siau-lim-pay lantaran kudengar peraturan perguruan mereka sangat ketat dan para muridnya amat disiplin, akibatnya aku ditangkap delapan orang pendeta sakti dan diberi hukuman berat dihadapan Siau-lim cousu, hmmm, hmmm, waktu itu ternyata tidak seorang manusia pun yang mau datang menolongku"

Ai Thian-hok tertawa dingin.

"Hmm, bila waktu itu kau mampus, mungkin orang yang mengurusi mayatmu pun tidak ada, bahkan saudara kandungmu sendiripun mem­bencimu hingga merasuk ketulang sumsum, siapa lagi yang mau menolongmu?"

"Hahahaha.... tapi kenyataannya aku toh belum mati, tentu saja ada orang yang tidak segan diusir dari pintu perguruan Siau-Lim-sie agar bisa hidup bersama aku. Dia bahkan mengaku didepan cousuya nya kalau bukan aku yang menggaetnya, melainkan dialah yang menggaetku. Buktinya kawanan hwesio itu tidak mampu berbuat banyak, terpaksa mereka bebaskan aku dan mengusirnya dari perguruan. Waktu itu aku tidak mampu bergerak, terpaksa harus pergi mengikutinya"

"Dan orang itu menolongmu serta membawanya kemari?" tanya Ai Thian-hok gusar.

"Betul, meski dia telah selamatkan aku namun mengurungku disini bagaikan tawanan, mana tahan aku hidup terkekang maka sejak tahun-tahun terakhir dimana pengawasannya mulai kendor, akupun mulai menggali liang bawah tanah"

"Dia hanya kuatir kau pergi mencelakai orang lagi hingga menyekapmu disini, tapi nyatanya diapun ikut menemanimu, kalau bukan lantaran rasa cinta yang amat, tidak mungkin dia akan berbuat begitu"

"Benar, dia memang mencintai aku, cemburu yaa?" ejek Yin Ping sambil tertawa merdu.

"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadi­mu" seru Ai Thian-hok gusar, "yang aku tanyakan hanya urusanmu dengan Perguruan Tay ki bun......"

"Kau juga tidak usah mencampuri urusanku dengan Perguruan Tay ki bun" potong Yin Ping sambil menarik muka, "tapi ada satu hal perlu kusampaikan, apa yang kukatakan bukan hanya bualan kosong......!"

"Jadi kau dengan Perguruan Tay ki bun benar benar.......” Ai Thian-hok agak tertegun.

"Kau tidak usah tanya lagi" kembali tukas Yin Ping sambil tertawa dingin, "ada sementara persoalan yang selamanya tidak bakal kukatakan kepadamu"

Tiba-tiba terdengar suara jeritan Thiat Tiong-tong berkumandang dari luar pintu.

Ternyata ketika anak muda itu keluar dari pintu rumah, dihadapannya segera terlihat ada delapan, sembilan orang manusia yang berdiri sambil mengawasinya, hanya sayang waktu itu senja yang gerimis sehingga sulit baginya untuk melihat jelas raut muka orang orang itu.

Tapi dengan cepat dia dapat melihat Suto Siau muncul dari rombongan sambil berjalan mendekat, lagaknya nampak sangat gembira dan bangga.

Begitu bertemu Thiat Tiong-tong, dia segera menjura, tertawa dan menyapa:

"Lama tidak bersua saudara Thiat membuat pikiran siaute benar-benar risau bercampur kangen"

Thiat Tiong-tong tahu, orang ini banyak akalnya dan pandai berpura-pura, maka sambil menahan rasa dongkolnya dia segera menyahut sambil menjura:

"Siaute sendiri pun selalu mencari saudara Suto untuk menyampaikan ucapan terima kasihku!"

"Terima kasih untuk apa?" tanya Suto Siau agak tertegun.

"Phoa Seng-hong memang seorang bangsat tukang pemogoran, sudah lama siaute ingin melenyapkan dia, tidak disangka saudara Suto telah mewakili siaute untuk melakukannya"

"Ooh...ooh.....aaah...aaah.... hahahahaha.....!"

Melihat suara tertawanya sangat aneh, meski dihati kecil Thiat Tiong-tong merasa keheranan namun tidak urung dia berkata lagi sambil sengaja tertawa keras:

"Apalagi hengtay masih akan memberi kado lain untukku, siaute betul-betul menjadi tidak tenang"

"Aah, mana, mana"

"Lantas mana kadonya?" tanya Thiat Tiong-tong kemudian, "setelah menerimanya, siaute juga akan pergi dari sini"

Dia memang sengaja bicara santai, seakan-akan kalau ingin pergi maka dia bisa melakukannya dengan mudah sekali.

Suto Siau kembali tertawa tergelak.

"Jangan terburu napsu dulu, mari, biar siaute kenalkan dulu dengan berapa orang sahabat"

Dia membalikkan tubuh, lalu serunya lagi sambil tertawa keras:

"Hengtay sekalian, kemarilah, mari kuperkenalkan dengan tokoh maha sakti ini!"

Dari balik rombongan manusia segera ter­dengar suara orang menyahut. Selain Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu berdua yang masih berdiri dengan wajah berseri, disitu hadir lima orang lainnya.

Dari ke lima orang itu, seorang bertubuh tinggi besar dan amat kekar, seorang kurus pendek, kecil dan membawa sepasang golok baja dipunggung-nya, seorang lagi tidak lain adalah Sim Sin-pek.

Selain itu terdapat lagi dua orang, seorang lelaki dan  seorang wanita, yang lelaki berpera­wakan tinggi kurus, kepalanya memakai kopiah tinggi, ketika berdiri diantara kerumunan orang banyak, dia seperti seekor bangau yang berdiri ditengah kerumunan ayam.

Yang perempuan berperawakan gemuk dan pendek, sewaktu berdiri disamping lelaki berkopiah itu, ketinggian tubuhnya hanya mencapai dadanya.

Walaupun berada dalam pandangan umum, namun mereka berdua tetap saling berpelukan dengan mesranya, satu tinggi satu pendek, satu gemuk satu kurus, meski nampak lucu dan menggelikan dalam pandangan orang lain, tapi mereka sendiri justru sangat menikmatinya.

"Tentunya saudara Thiat sudah mengenali saudara Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu bukan!" ujar Suto Siau kemudian sambil tertawa.

"Tapi aku rasa saudara Hek justru baru pertama kali ini berjumpa dengan siaute!" sambung Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

Memang benar, baru kali ini Hek Seng-thian melihat raut wajah yang sebenarnya dari pemuda itu, melihat wajahnya yang sedikit berwarna hitam, meski bukan termasuk lelaki tampan, namun asal memandangnya lebih lama maka tanpa terasa akan terpikat kepadanya, diam-diam diapun berpikir:

"Ternyata dia memang berwajah seorang lelaki jantan, tidak aneh kalau banyak sekali perempuan terpikat kepadanya"

Maka sambil menjura katanya dingin:

"Walaupun belum pernah bersua, namun sudah lama kukagumi nama besarmu!"

Suto Siau segera menuding ke arah lelaki tinggi besar itu, berkata lagi sambil tertawa:

"Saudara ini adalah piausu nomor wahid dari perusahaan   ekspedisi kami, orang persilatan menyebutnya Kim kong su tuo (kantung buku bertubuh malaikat) Lok Put-kun"

"Selamat bersua" Lok Put-kun manggut manggutkan kepalanya.

Biarpun Thiat Tiong-tong tahu kalau orang ini cukup ternama dalam perusahaan ekspedisi, namun hatinya mendongkol juga melihat lagak tengiknya, maka sambil tertawa tergelak ejeknya:

"Hahahaha..... ternyata memang mirip sekali dengan patung tanah liat dalam kelenteng"

Seketika berubah paras muka Lok Put-kun, tapi Suto Siau telah berkata lagi sambil menuding lelaki pendek bergolok itu:

"Dia adalah Ban tee hui hoa (bunga terbang memenuhi tanah) Phang Kong, Phang tayhiap, seorang jago nomor wahid dalam ilmu golok lantai Tee tong to"

"Tidak berani" lelaki kecil pendek dengan sepasang golok dipunggungnya itu segera menjura sambil tertawa.

Melihat sikap orang ini cukup sopan, Thiat Tiong-tong pun menanggapi dengan sopan pula meski dihati kecilnya merasa agak terperanjat, sudah cukup lama dia mendengar nama besar dari Phang Kong ini, khususnya ilmu golok berantainya yang hebat.

Setelah mendehem berapa kali, dengan wajah serius Suto Siau berkata lebih jauh:

"Kedua orang itu adalah Chee Toa-ho dan Sun siau-kiau suami istri"

Ketika melihat ke dua orang ini bukan saja lucu lagaknya, nama yang mereka sandangpun amat aneh, tidak tahan dia berseru sambil tertawa:

"Selamat berjumpa, selamat berjumpa"

Lelaki berkopiah itu langsung menarik wajah­nya sambil  men-cengkeram gagang pedang dipinggangnya, tapi perempuan disam-pingnya segera menyela sambil tertawa:

"Siau-chee, sudahlah, dia toh tidak mengenal kita, jangan salahkan kalau sikapnya kurang sopan"

Sambil bicara diam-diam dia mengerling sekejap ke arah Thiat Tiong-tong.

Dalam pada itu Suto Siau telah berkata lagi dengan suara keras:

"Mungkin saudara Thiat belum tahu soal nama sebenarnya dari Chee-heng suami istri, tapi nama besar Ui koan Kiam khek (jago pedang berkopiah kuning) dan Bi gwee kiam khek (jago pedang rembulan hijau) pasti sudah pernah mendengarnya bukan?"

Nama besar kelompok jago pedang pelangi, Jay hong kun kiam amat tersohor dalam dunia persilatan, tentu saja Thiat Tiong-tong pernah mendengar nama besar mereka, diapun tahu kalau ilmu pedang yang dimiliki si jago pedang berkopiah kuning begitu cepat dan luar biasa hingga dijuluki orang sebagai jago pedang tercepat disepanjang sungai besar.

Maka setelah mengamati ke dua orang itu sekali lagi, ujarnya sambil tersenyum:

"Cayhe hanya pernah mendengar tentang nama besar Ci sim kiam khek (jago pedang berhati merah), tentang nama besar kalian berdua.....rasanya baru pertama kali ini mendengarnya"

Chee Toa-ho berkerut kening, menjengek sambil tertawa dingin:

"Dari penuturan Cun-hau aku dengar dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago pedang kilat lagi, tidak kusangka ternyata hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau kencur!"

"Sama-sama, sama-sama!" sahut Thiat Tiong-tong tertawa.

"Ayoh sini, sini......." teriak Chee Toa-ho gusar, "cabut pedangmu, biar kuberi pelajaran kepada­mu!"

Sambil berkata dia sudah mencabut keluar separuh pedangnya.

Kembali Sun Siau-kiau meraih lengannya sambil menghibur:

"Siau-chee, kenapa mesti terburu-buru!"

"Hahahaha.... betul, betul" seru Suto Siau pula sambil tergelak, "paling tidak, kita mesti menunggu sampai saudara Thiat melihat kadonya lebih dahulu!"

"Hmm, kalau sudah melihat kadonya, mungkin dia sudah tidak mampu bertarung!" jengek Chee Toa-ho sambil tertawa dingin.

Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap, tapi diluaran dia berkata sambil tertawa tergelak:

"Walaupun aku hanya mengerti ilmu silat kucing kaki tiga, tapi bila kau ingin menjajalnya, setiap saat aku pasti akan melayani keinginanmu itu"

Suto Siau segera memberi tanda, Sim Sin-pek dengan langkah cepat berlalu dari situ.

"Saudara Suto" seru Chee Toa-ho lagi dengan suara dalam, "bagaimanapun juga hari ini siaute harus memberi pelajaran yang setimpal kepada bocah keparat ini, kau mesti memberi kesempatan kepadaku untuk menghajarnya terlebih dulu"

"Tentu saja, tentu saja!"

Tiba-tiba terdengar Lok Put-kun berteriak lantang:

"Saudara Chee, kalau ingin memberi pelajaran kepadanya tolong jangan sampai kau mencabut nyawanya, sebab aku orang she-Lok juga pingin menjajal kemampuannya!"

Suara orang ini sangat nyaring, memang ber­imbang dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar.

"Hari ini silahkan saja kalian beradu kepandaian dengan saudara Thiat, cuma saja dalam urusan pribadi antara siaute  dengannya...... hmmm, hmmm.....kalian jangan turut campur"

"Hahahaha...... yang penting jangan sampai kalian cabut nyawanya!" kata Hek Seng-thian menambahkan sambil tertawa tergelak.

Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan itu merasa gusar sekali, namun perasaan marahnya sama sekali tidak diperlihatkan keluar, malah serunya sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha......kalian tidak perlu kuatir, cayhe yakin sampai lima tahun lagi pun belum tentu aku sudah mati"

Sementara dia masih tertawa, tampak Sim Sin-pek dengan memimpin berapa orang lelaki berbaju hitam yang mendorong sebuah kereta berbentuk aneh berjalan mendekat.

Kereta itu berbentuk empat persegi dengan panjang dan lebar kurang lebih dua setengah meter, bentuknya mirip sekali dengan sebuah peti raksasa, hanya saja di ke empat sudutnya diberi roda hingga dapat bergerak.

Thiat Tiong-tong tidak dapat menebak permainan busuk apa yang sedang dipersiapkan Suto Siau, tapi dia tahu kalau orang ini licik, busuk dan jahat, dia suka sekali membuat kejutan, bisa diduga isi peti tersebut pasti sesauatu yang sangat aneh.

Suto Siau nampak berdiri dengan perasaan amat bangga, katanya sambil tertawa terbahak:

"Hahahaha.... siaute tidak punya kado istimewa yang harus   diberikan, oleh sebab itu sengaja kubuatkan sebuah anak tangga tiga susun untuk dipertontonkan kepadamu"

"Wah, tidak kusangka saudara Suto adalah seorang tukang kayu handal" sindir Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

Suto Siau tidak menanggapi, dia memberi tanda sambil berseru:

"Terapkan anak tangganya!"

"Siap!" sahut Sim Sin-pek cepat.

Dia berjalan menuju ke belakang kereta, disitu terdapat sebuah roda pemutar, ketika dia mulai memutar roda itu, atap kereta tiba-tiba terbentang lebar.

Lalu sebuah anak tangga sepanjang empat meter pun perlahan-lahan menjulur ke tengah udara, diujung tangga terikat sebuah benda sepanjang satu setengah meter yang terbungkus selembar kain minyak, tidak diketahui benda apakah yang terbungkus rapi itu.

"Aku mohon kepada saudara yang ada disitu untuk segera membuka penutup kain itu!" seru Suto Siau kemudian.

"Pertunjukan segera akan dimulai, biar siaute saja yang membuka kain penutupnya!" seru Phang Kong sambil tertawa.

"Wah,... bagus, bagus sekali, jika saudara Phang yang turun tangan, pasti hebat sekali!" Suto Siau bertepuk tangan.

Sudah lama Thiat Tiong-tong mendengar tentang kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Boan tee hui hoa (bunga terbang memenuhi tanah). Dia tahu orang itu adalah seorang perampok ulung yang mampu menyatroni seribu rumah dalam satu malam.

Disamping ingin mengetahui sampai dimana kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, yang lebih penting lagi adalah dia pingin tahu benda apa yang terbungkus rapi itu.

Dalam pada itu Phang Kong sudah membenar­kan letak pakaiannya dan menjura:

"Maaf, aku akan pamer kejelekan!":

Tidak nampak gerakan apa yang dilakukan, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dipuncak kereta.

Dalam perkiraan orang banyak, dia pasti akan menggunakan gerakan tubuh sebangsa burung bangau terbang ke angkasa untuk menaiki puncak tangga itu, siapa tahu dia malah meluruskan sepasang tangannya ke bawah, lalu selangkah demi selangkah naik ke atas.

Sebagaimana diketahui, anak tangga itu lurus tegak ke atas, bukan saja tak ada terap untuk menaikinya bahkan tidak gampang untuk melompatinya.

Tapi sekarang bukan saja dia tidak perlu berpegangan, malah dengan tubuh tegap menaiki tangga itu satu demi satu, jelas satu pekerjaan yang tingkat kesulitannya amat tinggi. Jika ilmu bhesi nya tidak kuat, niscaya tubuhnya akan roboh terjungkal.

Tidak kuasa lagi semua orang bersorak-sorai memuji, begitu juga dengan Thiat Tiong-tong, mau tidak mau dia harus mengakui kehebatan lawan.

Disamping itu, diapun merasa tercekat hatinya sebab dia sadar setiap musuh yang dihadapinya hari ini merupakan jago-jago yang amat tangguh.

Sementara dia masih berpikir, Phang Kong sudah memegang ujung kain itu dan berseru sambil tertawa:

"Lihatlah sekarang!"

Mendadak dia bersalto di udara, berikut kain pembungkus itu dia melayang turun ke bawah.

Tangga itu mempunyai ketinggian empat meteran, ditambah lagi selisih dari kereta ke tanah maka seluruhnya mencapai enam meteran. Saat ini tubuhnya seakan jatuh tergelincir dari ketinggian.

Baru saja semua orang menjerit kaget, tahu tahu Phang Kong sudah berdiri tenang diatas tanah dengan senyuman dikulum, sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Tampaknya dia memang berniat memamerkan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.

Tanpa sadar sorot mata Thiat Tiong-tong bergerak ke bawah mengikuti tubuhnya, kemudian dia baru mendongak kembali, namun begitu melihat benda yang berada diujung tangga, setenang apa pun pemuda itu tidak urung dia menjerit juga.

Ternyata diujung tangga itu terikat tubuh seseorang, orang itu berbaju putih namun sekarang sudah kotor oleh lumpur, rambutnya kusut dan awut-awutan, kepalanya tertunduk lunglai, tidak jelas apakah masih hidup ataukah sudah mati?

Biarpun berada ditengah hujan gerimis dan lapisan kabut, namun Thiat Tiong-tong dapat melihat dengan sangat jelas, ternyata orang itu tidak lain adalah Sui Leng-kong!

Kepalanya serasa disambar geledek, matanya berkunang dan hawa panas menggelora dalam dadanya.

Meskipun sikap dan penampilannya terhadap Sui Leng-kong selama ini dingin dan asing, namun sesungguhnya dia menaruh perasaan cinta yang membara, meski beberapa kali dia seakan membiarkan Sui Leng-kong pergi meninggalkan dirinya, padahal setiap saat setiap detik dia selalu memimpikan  dan  merindukan, kalau bukan karena ingin menyelamatkan Sui Leng-kong dari kesulitan, tidak mungkin dia rela terjun ke dalam sungai untuk mencari mati.

Dan kini, akhirnya dia berhasil menemukan Sui Leng-kong. Namun kejadian tragis yang menimpa gadis itu membuat hawa amarahnya langsung memuncak, sambil membentak nyaris dia siap menerjang naik ke atas.

"Jika kau berani bertindak sembarangan, dia segera akan kehilangan nyawa!" ancam Suto Siau tiba-tiba.

Sekalipun dia tidak berusaha turun tangan, namun beberapa patah perkataannya justru memiliki daya pengaruh yang luar biasa.

Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar keras, dia mundur sejauh tiga langkah, tangan dan kakinya jadi dingin kaku, seluruh tubuhnya jadi lemas seolah kehilangan tenaga.

"Dia......dia belum mati?" bisiknya.

Suto Siau tersenyum, sahutnya:

"Meskipun dia belum mati, tapi dengan satu gerakan tangan aku bisa membuatnya hidup tidak bisa mati pun sengsara, kalau tidak percaya, silah-kan saja dicoba!"

Thiat Tiong-tong mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, terlihat olehnya tangan kanan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, Suto Siau serta Sim Sin-pek telah disembunyikan ke balik saku bajunya, jelas mereka sedang menggenggam senjata rahasia.

Beberapa orang itu adalah jago-jago senjata rahasia, bila dia bergerak sembarangan maka asalkan orang orang itu turun tangan bersama, maka walaupun dia punya tiga kepala enam lengan pun, jangan harap sanggup menghalangi beberapa orang itu.

Terlebih tubuh Sui Leng-kong terikat kencang, semakin sulit baginya untuk menghindarkan diri.

Dalam sekilas pandang dia sudah tahu kalau perkataan Suto Siau bukan gertak sambal belaka, tanyanya:

"Kenapa dia......dia bisa terjatuh ke tanganmu?" Meski air mata tidak sampai bercucuran, namun kelopak matanya telah basah oleh genangan air mata.

Terdengar Suto Siau tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha..... soal itu mah....... dikemudian hari kau toh bakal tahu sendiri!"

Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat, tiba-tiba dia berteriak keras:

"Baiklah, Thiat Tiong-tong mengaku kalah!"

"Hehehehe.... jika mengaku kalah berarti kau mesti menurut, selanjutnya apa pun yang akan kami perintahkan, kau tidak boleh membangkang"

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya sakit bagaikan diiris-iris, dia sadar, bila permintaan itu dikabulkan berarti dia telah mengkhianati perguruan dan tidak akan lolos dari hukuman, sebaliknya bila ditolak, bagaimana caranya untuk menolong Sui Leng-kong?

Tiba-tiba terdengar desingan angin berkuman­dang dari belakang tubuhnya, ternyata Ai Thian-hok yang mendengar jeritan kagetnya telah menyusul tiba, tegurnya dengan suara dalam:

"Siapa yang telah terjatuh ke tangan mereka?"

Dia hanya mendengar tanya jawab yang sedang berlangsung, namun tidak dapat melihat Sui Leng­kong yang terikat diujung tangga.

Thiat Tiong-tong tahu kalau rekannya ini bersifat keras dan berangasan, lantaran kuatir dia turun  tangan  secara  sembarangan  hingga mencelakai keselamatan Sui Leng-kong  maka sahutnya lirih:

"Hengtay tidak kenal dengan orang ini"

"Apakah perlu turun tangan?"

"Disaat harus turun tangan, tampaknya aku harus mohon bantuanmu" sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa sedih.

Suto Siau sama sekali tidak menggubris walau melihat ke dua orang itu berkasak-kusuk dengan suara lirih, dia yakin kemenangan pasti berada dipihaknya maka dia hanya mengawasi dengan senyuman dikulum, dalam hati ia cuma merasa heran kenapa kedua orang ini bisa ada bersama.

Phang Kong sekalian pun mengenali orang itu sebagai murid pertama Kiu cu Kui bo, tanpa terasa paras muka mereka sedikit berubah.

Mendadak terdengar pendekar pedang ber­kopiah kuning membentak keras:

"Saudara Suto, sebelum bangsat itu memberi­kan jawabannya, bagaimanapun siaute harus bertarung dulu dengannya, sebab jika dia sudah menyerah, pertarungan kami akan gagal!"

"Tapi saudara jangan..........."

"Tidak usah kuatir, aku tidak bakal mencelakai nyawanya" tukas Chee Toa-ho sambil tertawa dingin, "Thiat Tiong-tong, ayoh maju!"

Dalam keadaan seperti ini mana mungkin Thiat Tiong-tong punya selera untuk bertarung, dia menghela napas panjang. "Cayhe......."

Kembali Chee Toa-ho tertawa dingin, potong­nya:

"Jika kau tidak berani bertarung, akan kupotong dulu kedua belah telingamu"

Sambil menggetarkan pergelangan tangannya, diantara berkuntum bunga pedang, dia lancarkan sebuah babatan ke depan.

Dengan cepat Thiat Tiong-tong berkelit ke samping.

"Kenapa kau tidak membalas?" tegur Ai Thian-hok dingin.

Belum sempat Thiat Tiong-tong menjawab, dari sisi kiri kembali berkelebat sekilas cahaya pedang.

Terdengar Sun Siau-kiau berseru sambil tertawa merdu:

"Anak muda, kupinjamkan pedangku!" Ternyata cahaya pedang itu berasal dari pedang yang dilontarkan ke arahnya, terpaksa Thiat Tiong-tong menyambutnya.

Baru saja pedang berada dalam genggaman, secara beruntun Chee Toa-ho sudah melancarkan tujuh jurus serangan kilat, gerak serangan orang ini benar-benar cepat dan kilat, dalam waktu singkat dia sudah melancarkan tujuh jurus serangan.

Dengan cekatan Thiat Tiong-tong berkelit ke sana kemari menghindarkan diri dari ke tujuh buah serangan itu, perasaan hatinya waktu itu sangat kalut, dia sama sekali tidak berminat untuk melakukan pertarungan.

Serunya setelah menghela napas panjang:

"Biarlah aku mengaku kalah saja, kau......."

"Kalau menyerah kalah, ayoh berlutut dan menyembah dulu kepadaku!" hardik Chee Toa-ho.

Biarpun sedang bicara, serangannya sama sekali tidak berhenti, dalam waktu singkat kembali dia lancarkan tujuh buah serangan.

Waktu itu rasa gelisah telah mengobarkan amarah Thiat Tiong-tong, kini dia tidak kuasa menahan diri lagi, pikirnya:

"Bagaimanapun aku harus bertarung habis habisan dulu melawannya!"

Cahaya pedang dikembangkan, dia sambut datangnya ancaman lawan.

"Triiing, triiiing, triiiing.....” serangkaian suara benturan nyaring bergema memecahkan kehe­ningan, dalam waktu singkat dia balas melancar­kan tujuh serangan dan membendung seluruh ancaman dari Chee Toa-ho dengan keras lawan keras.

"Jurus pedang yang amat cepat!" pikir semua orang dengan perasaan kaget.

Tiba-tiba Chee Toa-ho melompat mundur berapa langkah, dia tarik sarung pedangnya dari pinggang dan membantingnya keras-keras ke tanah.

Buru-buru Sun Siau-kiau memungutnya sambil berteriak:

"Eei...jangan dibanting, nanti rusak!"

Baru berapa patah kata terucapkan, kembali terdengar benturan nyaring bergema secara beruntun, ternyata kedua orang itu sudah saling menyerang sebanyak berapa gebrakan.

Sebagaimana diketahui, kedua orang ini sama-sama mengandalkan kecepatan dalam jurus serangannya, karena cepat maka suara benturan yang terjadi tidak terlalu keras, tapi deruan angin pedangnya bagaikan menyayat angkasa.

Dalam waktu singkat belasan gebrakan kembali lewat.

Thiat Tiong-tong mulai berpikir:

"Kelihatannya jurus pedang yang dimiliki orang ini tidak terlampau mengejutkan, dia hanya mengandalkan kecepatan untuk menundukkan lawan, tampaknya aku harus menggunakan tehnik cepat untuk mengalahkan dirinya!"

Berpikir sampai disitu tiba-tiba dia meng­getarkan pedangnya dan secepat kilat melancarkan empat belas jurus serangan, dalam ke empat belas jurus serangan itu jurus yang satu lebih cepat daripada jurus yang lain, dalam waktu singkat seluruh angkasa hanya dilapisan bunga pedang yang membuat orang silau matanya.

Chee Toa-ho sama sekali tidak berkelit, dia sambut datangnya serangan itu dengan bergerak maju, sebagai orang sombong yang tinggi hati, diapun ingin menggunakan tehnik cepat untuk menghadapi lawannya, maka begitu serangan dari Thiat Tiong-tong menyambar tiba, dia segera menyambutnya dengan serangan pula.

Kedua orang itu bertarung cepat, semua perubahan jurus dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Lagi-lagi terdengar suara dentingan nyaring yang menggelegar di angkasa, Chee Toa-ho telah menyambut tujuh serangan Thiat Tiong-tong kemudian membalas dengan delapan serangan berantai, ketika serangan terakhir dari anak muda itu menyapu tiba, dia segera menyongsong dengan maju ke depan.

Sayang gerakan tubuhnya terlambat satu langkah, "sreeet!" tahu-tahu pedang Thiat Tiong-tong sudah menyambar lewat dari sisi senjatanya, langsung mengancam dada..

Pertarungan antara dua jago pedang memang sering ditentukan oleh satu langkah, begitu Chee Toa-ho salah langkah, tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindarkan diri, tampaknya ujung pedang milik Thiat Tiong-tong segera akan menembusi dadanya.

Siapa tahu pada saat itulah cahaya pedang ditangan Thiat Tiong-tong bergetar kencang kemudian tubuhnya mundur berapa meter ke belakang, dengan sekali sentakan, pedang itu sudah menancap diatas permukaan tanah.

Baru saja semua orang menjerit kaget setelah melihat kekalahan yang dialami Chee Toa-ho, Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin telah berseru lebih dulu:

"Bila masih ada yang ingin beradu kepandaian, tunggu sampai aku selesai berbicara dulu!"

Chee Toa-ho berdiri mematung ditempat sambil menundukkan kepalanya, mengawasi ke lima robekan yang ada dibaju bagian dadanya, rupanya didalam getaran pedangnya tadi, Thiat Tiong-tong telah melepaskan lima bacokan maut.

Kini dia hanya berdiri dengan perasaaan terkejut, ngeri bercampur malu, untuk berapa saat tidak mampu mendongakkan kepalanya lagi.

Sun  Siau-kiau  segera maju  menghampiri, memeluk pinggang suaminya dan menghibur:

"Siau-chee, jangan bersedih hati, kalah yaa sudah, entar biar aku balaskan dendammu!"

Kini kawanan jago itu hanya bisa saling bertukar pandangan dengan perasaan terkesiap.

"Sebuah jurus pedang yang sangat cepat" pikir mereka berbareng.

Sementara itu Suto Siau merasa amat gembira, dia tidak menyangka Thiat Tiong-tong yang memiliki ilmu pedang selihay itu berhasil ditaklukan olehnya, ketika makin dipikir dia merasa semakin bangga, tidak tahan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha......apa yang ingin kau sampaikan? Saudara Thiat, katakan saja"

"Darimana aku bisa tahu kalau saaat ini dia sudah mati atau masih hidup? Jika kau berharap aku  menyetujui usulmu,  paling tidak berilah kesempatanku agar berbicara dengannya!"

"Itu mah gampang!"

Sambil berkata Suto Siau segera memberi tanda dengan kerlingan mata.

Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Lok Put-kun sekalian segera mundur ke sekeliling kereta dan berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan.

Sekalipun Suto Siau merasa kemenangan sudah berada dipihaknya, namun setelah menyaksikan kelihayan ilmu pedang Thiat Tiong-tong, dia tetap tidak berani bertindak gegabah, dia kuatir anak muda itu menyerang kereta tersebut dan berusaha menolong tawanan.

Mendadak terlihat Suto Siau mengayunkan tangannya, sekilas desingan angin tajam segera menghantam tubuh Sui Leng-kong.

Baru saja Thiat Tiong-tong berseru kaget, sambil tertawa tergelak Suto Siau kembali berkata:

"Saudara Thiat tidak perlu kuatir, aku hanya ingin membebaskan totokan jalan darahnya"

Baru selesai dia bicara, terdengar Sui Leng-kong sudah merintih lirih sambil mengangkat wajahnya.

Kelihatannya gadis itu tidak menyangka kalau tubuhnya berada ditempat ketinggian, ketika menengok ke sekeliling tempat itu, meski telah mendusin namun serasa bagai dalam alam impian, seluruh tubuhnya terasa dingin sekali.

Melihat nona itu mulai bergerak, Thiat Tiong-tong girang, sedih bercampur gusar, teriaknya cepat: "Ji-moay........"

Sui Leng-kong hanya cukup menundukkan kepalanya, dia segera dapat melihat wajah Thiat Tiong-tong yang sedang memandangnya dengan cemas, untuk sesaat dia tidak tahu harus terkejut atau gembira, jeritnya:

"Toako......."

Mereka berdua sama-sama mempunyai beribu patah kata yang ingin disampaikan, namun setelah saling memanggil, tidak sepotong perkataan pun yang mampu diutarakan, meski hanya berjarak berapa meter namun dalam perasaan mereka berdua seakan dipisahkan oleh benua yang berbeda.

Ketika mendengar teriakan 'toako' tadi, Ai Thian-hok nampak mengernyitkan alis matanya kemudian membentak:

"Sui Leng-kong, kaukah disitu? Siapa yang berani menyiksa sumoay ku?"

Bentakan yang begitu nyaring membuat semua orang terkesiap, penjagaan pun semakin diperketat.

Tadi, dalam pandangan Sui Leng-kong hanya ada Thiat Tiong-tong seorang, setelah dikejutkan oleh suara bentakan itu, dia baru sadar kalau disitu masih hadir orang lain, katanya dengan nada gemetar:

"Toa suheng, kau.......kau ada disitu juga!"

"Suheng ada disini, sumoay tidak usah takut, aku akan datang menolongmu" sambil membentak keras Ai Thian-hok bersiap siap menerjang ke atas.

"Tunggu  sebentar" tiba-tiba Sui Leng-kong berteriak, "aku..... aku sudah bukan..... bukan sumoaymu lagi"

"Apa kau bilang?" seru Ai Thian-hok dengan gusar setelah tertegun sesaat, "kau..... kau pasti sudah melantur......."

Perlu diketahui, pada jaman itu sekali orang mengangkat seseorang menjadi gurumu maka selama hidup orang itu tetap akan menjadi muridnya, sebab rasa hormat terhadap guru merupakan masalah yang paling penting.

Tidak heran kalau Ai Thian-hok jadi amat gusar telah mendengar Sui Leng-kong tidak mengakui Kiu cu kui bo sebagai gurunya, kendatipun begitu, dia tetap berusaha me1indunginya, dengan mengatakan dia sudah melantur. Siapa tahu Sui Leng-kong berkata lebih jauh:

"Tidak, kau.......aku tidak melantur, aku.... aku sudah menjalani penghormatan terakhir dihadapan Kui bo, menerangkan kalau mulai sekarang sudah bukan muridnya lagi!"

Mendengar gadis itu menyebut langsung gelar gurunya, Ai Thian-hok sadar kalau apa yang dikatakan bukan bohong, dalam terkejut bercampur gusarnya dia segera menuding ke atas sambil mengumpat:

"Kau.....jadi kau telah menghianati perguruan!"

"Ji-moay" Thiat Tiong-tong ikut membentak, "kau.....kau sudah gila?"

Perlu diketahui, mengkhianati perguruan merupakan dosa yang luar biasa besarnya dalam dunia persilatan, tidak heran kalau Thiat Tiong-tong ikut panik setelah mendengar pernyataan itu, tidak kuasa lagi dia ikut memaki.

"Benar, aku telah menghianatinya" kata Sui Leng-kong lebih jauh, "tapi dia telah memaafkan dosaku"

"Mengkhianati perguruan merupakan dosa besar, mana mungkin suhu mengampunimu?" tegur Ai Thian-hok marah.

Dengan air mata bercucuran kata Sui Leng-kong lagi:

"Aku tidak percaya kalau dia sudah mati, aku ingin pergi mencarinya, andaikata dia mati, akupun tidak ingin hidup, maka aku...... aku tidak ingin menjadi murid orang lain!"

Biarpun beberapa patah kata itu disampaikan sangat sederhana dan tanpa ujung pangkal, namun dibalik kesemuanya itu justru terkandung rasa cinta yang lebih dalam dari samudra.

Thiat Tiong-tong sangat terharu hingga air matanya tidak terbendung lagi, pikirnya:

"Aaah benar, justru gara-gara ingin menemu­kan aku, maka dia terjatuh ke tangan Suto Siau"

Ai Thian-hok  sendiripun berdiri mematung sambil berpikir:

"Benar, dia sudah bertekad akan mati bersama Thiat Tiong-tong, dia pasti kuatir kematiannya akan membuat suhu bersedih hati, oleh sebab itu dia putuskan dulu hubungan antara guru dan murid"

Tidak tahan lagi hidungnya terasa kecut, buru-buru serunya:

"Bagaimanapun juga aku harus membawa mu menjumpai suhu, jangan harap orang lain bisa mengusik dirimu"

"Terlebih kau sendiri, jangan mencoba sembarangan bergerak!" sela Suto Siau sambil tertawa dingin.

Baru selesai dia bicara, ujung lengan baju Ai Thian-hok sudah menyambar kedepan wajahnya.

Merasakan betapa kuat dan dahsyatnya kebasan ujung lengan itu, Suto Siau enggan menerima dengan kekerasan, cepat dia mundur sejauh satu meter lebih.

"Weesss!" tubuh Ai Thian-hok bagaikan seekor kelelawar sudah menerjang naik ke atas, langsung meluncur ke arah dimana Sui Leng-kong barusan berteriak.

Seketika Hek Seng-thian dan Suto Siau mengawasi ketat gerak-gerik Thiat Tiong-tong, sementara itu Pek Seng-bu dan Lok Put-kun ikut melesat naik ke tengah udara.

Baru saja tubuhnya melambung ke tengah udara, Ai Thian-hok telah mendengar datangnya deruan angin pukulan dari samping kiri dan kanan, cepat dia kebaskan ujung lengannya, dengan ujung lengan sebelah kiri menyongsong Pek Seng-bu sementara ujung lengan kanannya menyambar Lok Put-kun.

Buru-buru Pek Seng-bu menggaetkan kakinya diatas tangga itu sambil menarik tubuhnya mundur ke belakang, serangan dari Ai Thian-hok pun mengenai sasaran kosong.

Sementara Lok Put-kun dengan mendorong sepasang telapak tangannya menyongsong datang­nya ancaman dengan keras melawan keras.

"Blaaaaamm!" benturan keras menyebabkan tubuh Lok Put-kun tergetar hingga rontok ke bawah, namun Ai Thian-hok sendiripun ikut tergetar tubuhnya sehingga mencelat ke arah sisi kiri.

Waktu itu tubuhnya masih melambung di udara dan tidak punya tempat untuk meminjam tenaga, serangan yang datang dari sisi kiri harus dihindari dengan susah payah.

Berbeda dengan Pek Seng-bu yang kaki kirinya tergaet diatas tangga, tubuhnya bisa bergetar secara bebas, begitu serangan pertama gagal, serangan berikut segera dilontarkan.

Tatkala Ai Thian-hok mengerahkan segenap kekuatannya untuk beradu kekuatan, siapa tahu Pek Seng-bu segera menarik kembali tangannya sambil melancarkan sebuah tendangan.

Ai Thian-hok yang berilmu tinggi sayang tidak bisa melihat dengan jelas kejadian yang sebetulnya, dia tidak menyangka kalau lawannya punya tempat berpijak, selain itu diapun tidak mengira pihak lawan dapat merubah jurus serangannya di tengah udara.

Namun Sui Leng-kong maupun Thiat Tiong-tong dapat mengikuti kesemuanya itu dengan jelas sekali, dalam terkejutnya belum sempat mereka berteriak, tahu-tahu  Ai  Thian-hok sudah termakan oleh tendangan itu hingga mencelat dan terjatuh ke bawah bagaikan layang-layang yang putus benang.

Baru saja Thiat Tiong-tong hendak mengge­rakkan bahunya, dengan nada dingin Suto Siau segera mengancam:

"Kau sudah tidak mau dengan nyawanya?"

Kontan saja pemuda itu bergidik, dia tidak lagi mampu menghimpun tenaga serangannya.

Pada saat itulah mendadak dari balik rumah gubuk melesat lewat sesosok bayangan manusia, dengan cepat bayangan itu menyambar tubuh Ai Thian-hokyang sedang mencelat di udara kemudian sekali lagi melesat masuk ke dalam rumah.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya kabur, secara lamat-lamat mereka sempat melihat sesosok bayangan manusia berbaju merah yang bertubuh langsing melesat lewat kemudian lenyap dari pandangan, demikian cepatnya gerakan tubuh orang itu nyaris bagaikan sesosok sukma gentayangan.

Kenyataan ini seketika membuat perasaan hati semua orang tercekat.

Suto Siau sendiripun segera berpikir:

"Ternyata dia masih mempunyai pembantu, kalau sekarang aku tidak memaksanya untuk menjawab, mungkin semakin panjang larut malam, semakin banyak impian yang bakal timbul......”

Berpikir sampai disitu segera hardiknya:

"Thiat Tiong-tong, bagaimana keputusanmu?"

"Apa yang kau inginkan?" Thiat Tiong-tong balik bertanya dengan sedih.

"Kau harus angkat sumpah, berjanji selama hidup akan mentaati semua perintahku"

"Kemudian?"

Suto Siau tertawa seram.

"Kecuali itu, kau harus memusnahkan seluruh kepandaian silat yang dimiliki, tapi siaute jamin selama hidup kau tidak bakal kekurangan sandang pangan"

Sui Leng-kong yang mendengar perkataan itu kontan menjerit dengan nada gemetar:

"Kau.......kau sungguh keji........"

Suto Siau tertawa tergelak.

"Hahahaha..... yang kuinginkan hanya batok kepalanya, buat apa dengan ilmu silatnya?" dia menjengek.

Sebetulnya dia berencana akan menarik Thiat Tiong-tong menjadi pembantu utamanya, namun ketika teringat betapa hebatnya kungfu yang dimiliki pemuda ini, sebagai orang yang licik dan banyak akal, dia segera sadar bahwa menahan pemuda itu sama artinya dengan menyimpan bom waktu disamping tubuhnya, ketimbang setiap hari harus waspada, mending dia musnahkan dulu ilmu silatnya kemudian baru memaksanya untuk menunjukkan tempat persembunyian Perguruan Tay ki bun.

Dalam posisi tidak berilmu, disaat pemuda itu berada dalam keadaan mati tidak hiduppun susah, terpaksa dia akan menuruti semua permintaan-nya.

Makin dibayangkan dia merasa semakin bangga, akhirnya tidak tahan lagi dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Thiat Tiong-tong hanya merasakan tangan kakinya jadi dingin, sepasang matanya merah membara, teriaknya:

"Bila ingin aku sanggupi permintaan mu itu, hmmmm, lebih baik jangan bermimpi disiang hari bolong"

"Gara-gara ingin mencari dirimu dia tertangkap, masa kau tega tidak menolongnya?" ejek Hek Seng-thian sambil tersenyum.

Sambil tertawa tergelak Suto Siau menam­bahkan:

"Bila saudara Thiat enggan menolongnya, siaute pun tidak  masalah, bagaimanapun toh.....haaahahaha.....belakangan siaute sedang kesepian, aku memang sedang mencari cewek lain untuk menemani ku!"

Kembali Thiat Tiong-tong merasa tercekat, membayangkan makna dibalik perkataan Suto Siau itu tanpa terasa tubuhnya gemetar keras.

Akhirnya setelah menghela napas panjang katanya:

"Seandainya aku menyanggupi permintaan-mu, apakah kau akan membebaskan dia?"

"Soal ini mah.........." Suto Siau tertawa seram.

Mendadak terdengar Sui Leng-kong yang berada ditengah udara bersenandung keras:

"Lelaki harus mengutamakan rasa setia-kawan, Bila cinta membelenggu, impian membelenggu, kesetiakawanan akan lenyap,

Bila cinta dan kesetiakawanan saling membe­lenggu, apa cinta yang harus didahulukan? Atau setia kawan yang harus diutamakan?"

Ketika mendengar gadis itu mulai menyanyi, semua orang kontan berdiri tertegun, apalagi bagi Phang Kong sekalian, meski berilmu tinggi namun mereka adalah orang kasar yang tidak pernah makan bangku sekolah, sambil tertawa geli pikirnya:

"Ternyata gadis ini takut mati, rupanya dia sedang berusaha menggunakan kata cinta untuk membujuk Thiat Tiong-tong dan memintanya untuk menyanggupi permintaan orang"

Suto Siau sendiri meski cerdas dan banyak akal, namun untuk sesaaat diapun tidak mengerti apa maksud senandung itu.

Berbeda dengan Thiat Tiong-tong yang sudah satu pikiran dengan Sui Leng-kong, seketika perasaan hatinya tercekat, pikirnya:

"Aaah benar, dia minta aku jangan terlalu merisaukan cinta kasihku dengannya hingga mengabaikan budi perguruan yang lebih tinggi dari bukit karang"

Dengan air mata berlinang kembali Sui Leng­kong bersenandung:

"Manusia hidup seratus tahun, semuanya hanya semu belaka,

Kemewahan keduniawian sekejap lenyap tidak berarti, semuanya tidak abadi.

Kalau tidak tahan dengan udara dingin di tanah perbukitan,

Ingatlah dengan kehangatan duniawi!"

Sekali lagi semua orang dibuat termangu oleh senandung itu, meski mereka ikut kesemsem namun tetap tidak paham apa maksud dari senandung tersebut.

Thiat Tiong-tong nampak bertambah sedih, pikirnya:

"Dia bilang kehidupan manusia bagai impian, tidak berharga untuk dikenang, dia pun minta aku jangan merisaukan mati hidupnya, dia..... ternyata dia bertekad akan mati"

Melihat Thiat Tiong-tong tertunduk sedih, kembali Sui Leng-kong tertawa pedih sambil bersenandung lebih jauh:

"Bila keinginan sulit terpenuhi,

Kita bersua kembali di alam lain,

Rambut hitam wajah cantik segera memutih, buat apa terlalu dipikirin?

Ingatlah selalu ooh sang kekasih,

Disaat musim gugur telah bertemu,

Semuanya akan lebih indah dari sebelumnya"

Thiat Tiong-tong benar-benar merasa amat pedih, pikirnya:

"Dia minta aku jangan memikirkan kesenangan keduniawian, bertemu lagi dengannya setelah berada di alam baka, dia bilang hidup didunia cepat menua, tapi dialam baka akan hidup abadi,

selamanya tidak pernah berpisah lagi, tapi......meski dia telah berjanji begitu, mana tega aku biarkan dia hidup dalam kesengsaraan?"

Untuk sesaat suasana disekeliling tempat itu hanya dipenuhi oleh suara senandung Sui Leng­kong, sama sekali tidak kedengaran suara yang lain lagi.

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar gelak tertawa yang sangat nyaring berkumandang dari kejauhan.

Kemudian terdengar suara seorang lelaki berseru sambil tertawa terbahak bahak:

"Hahahaha.....nyanyian bagus, nyanyian bagus, sayangnya meski bagus lagunya, salah bait syairnya, coba kau dengar lagu senandungku ini!"

Menyusul kemudian terdengar orang itu bernyanyi dengan suara nyaring:

"Hidup manusia hanya seratus tahun, mengapa tidak di nikmatinya.

Walau kehidupan dewa konon bahagia, siapa yang pernah membuktikan?

Kebahagiaan yang semu bagaimana mungkin dibandingkan kenikmatan yang nyata?

Nikmati dulu kehidupan dunia, baru dilanjut­kan kebahagiaan dewa!"

Suara nyanyian itu amat nyaring dan bergaung diseluruh perbukitan, gema suara yang seolah datang dari empat penjuru membuat orang sulit untuk tahu dari jarak seberapa jauh suara nyanyian itu berasal.

Dengan perasaan terperanjat semua orang menengok ke empat penjuru, namun tidak tampak sesosok bayangan manusia, kecuali burung yang terbang balik ke sarang, hujan rintik yang membasahi bumi serta suara gaungan yang menggema dimana-mana, tidak nampak seorang-pun diseputar sema.

Dengan nada terkejut Suto Siau segera berseru:

"Siapa yang telah datang? Begitu dahsyat tenaga dalam yang dimilikinya!"

Belum selesai dia berkata, tiba-tiba tampak setitik bayangan putih melesat keluar dari balik pepohonan bagaikan seekor burung walet.

Menanti bayangan putih itu sudah melayang turun ke permukaan tanah, semua orang baru mendapat tahu kalau bayangan putih itu tidak lain adalah seekor kucing berbulu putih mulus dengan mata berwarna hijau.

Ketika mendekam ditanah, kucing itu nampak amat manja dan lucu, tapi nampak juga galak seperti seekor harimau.

Tampaknya binatang itu seakan keheranan dengan hadirnya begitu banyak orang ditanah perbukitan yang sepi, sepasang matanya yang hijau berkilat mengawasi beberapa kali seputar arena.

Bukan si kucing saja yang keheranan, kawanan jago pun sangat tercengang dengan kehadiran kucing aneh itu, sorot mata semua orang pun sama-sama tertuju ke tubuh binatang itu.

Dari dalam rumah gubuk tiba-tiba terdengar suara panggilan yang merdu diiringi suara tertawa yang lengking:

Ting-nu! Ping-nu!

Kucing putih itu segera melompat bangun dan melesat masuk ke dalam rumah.

Semua yang hadir memang tidak ada yang tahu asal-usul kucing itu, tidak demikian dengan Thiat Tiong-tong, dia tahu kucing itu adalah binatang peliharaan Yin Ping yang pergi mencari bala bantuan.

Dengan kehadiran kembali kucing tersebut, dapat ditebak kalau bala bantuan yang ditunggu tunggu telah tiba pula disitu.

Thiat Tiong-tong segera berpikir:

"Rupanya liang bawah tanah yang digali Yin Ping bukan tersedia untuk dirinya, melainkan untuk si kucing itu, jelas dia sengaja mengirim kucing itu untuk mencari bantuan, sementara dia sendiri tetap menunggu disini karena sedang menanti kehadiran orang itu"

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa yang diundang Yin Ping untuk datang menjemputnya?

Kawanan jago yang hadir meski tidak tahu liku-liku dibalik kesemuanya ini, namun mereka pun ingin tahu jagoan macam apakah yang memiliki tenaga dalam begitu sempurna sehingga dapat melantunkan nyanyian dengan begitu nyaring.

Maka tidak kuasa lagi belasan pasang mata bersama-sama dialihkan ke arah mana berasalnya suara nyanyian itu.

Hanya Sui Leng-kong seorang tetap menun­dukkan kepalanya, peristiwa apa pun yang berlangsung disitu, tidak satupun yang dapat merubah rasa pedih dan murung dihati kecilnya.

 

BAB 17.

Kaki lembut bagaikan bunga salju.

 

Lewat sesaat kemudian, dari bawah bukit berkumandang suara irama musik yang amat merdu.

Irama musik itu membawakan lagu yang riang dan gembira, seakan sama sekali tidak ada kemurungan dan kesedihan, pelbagai kegembiraan duniawi seperti menikmati rembulan ditengah kebun bunga, menonton wanita cantik dimuka ranjang nyaris terangkum di balik irama musik tersebut.

Kendatipun semua orang yang hadir masing-masing mempunyai persoalan pribadi, namun setelah mendengar irama musik itu, pikiran dan perasaan seolah menjadi lega dan lapang kembali.

Menanti irama lagu itu makin lama semakin bertambah nyaring, makin lama semakin mendekat, suasana malam yang sepi dengan hujan gerimis yang basah pun seolah olah telah berubah menjadi suasana yang cerah dengan bulan sedang purnama, aneka bungamemancar-kan bau harum...

Pada saat itulah dari balik irama musik berkumandang pula suara tertawa yang merdu dengan suara pembicaraan yang ramai bagaikan burung nuri sedang berkicau.

Enam-tujuh orang nona berbaju indah dengan membawa payung bambu dan seruling, sambil tertawa sembari meniup seruling bergerak mendekat dengan langkah yang lemah gemulai.

Pakaian yang mereka kenakan adalah gaun pendek yang sangat longgar, bagian bawahnya tidak bergaun panjang melainkan hanya mengenakan celana ketat sebatas dengkul hingga bagian betisnya yang putih mulus terlihat jelas.

Kaki mereka yang putih mulus bagai salju pun tidak ditutupi dengan kaus maupun sepatu melainkan hanya mengenakan bakiak yang serasi warnanya dengan warna pakaian mereka.

Bukan hanya irama musik dan suara tertawa mereka saja yang merdu, wajah mereka pun nampak cantik jelita bak bidadari dari kahyangan.

Ditengah kerumunan gadis gadis itu terlihat pula sebuah bangku berbentuk tandu yang dilengkapi dengan penutup dibagian atasnya diusung berapa orang, tandu itu tampaknya memang dirancang secara khusus hingga bisa terhindar dari sengatan matahari maupun curahan hujan.

Empat orang gadis berdandan serupa menggotong tandu itu dengan senyuman menghiasi wajah mereka, biar sedang menggotong sebuah tandu namun mereka seakan tak menggunakan sedikit tenaga pun.

Diatas tandu itu duduk seorang manusia yang sangat aneh.

Dia mengenakan pakaian blacu yang sangat longgar, wajahnya cerah bagai bulan purnama. Meskipun sekilas pandang dia seakan sedang duduk diatas tandu itu, tapi bila diperhatikan lebih seksama maka akan terlihat kalau sepasang kakinya tetap menginjak tanah.

Ternyata tandu itu hanya wujudnya saja sebagai sebuah tandu namun dalam kenyataan sama sekali tidak berfungsi, sebab walaupun orang itu kelihatannya sedang ditandu, padahal dia sedang berjalan dengan kaki sendiri.

Tidak heran kalau kawanan gadis penggotong tandu itu nampak begitu ringan dan santai, sementara orang itupun berwajah penuh senyuman cerah, bagaikan seorang saudagar kaya yang baru berhasil meraih keuntungan jutaan tahil emas.

Manusia aneh itu memiliki kening yang sangat lebar, sepasang alis matanya tebal dengan matanya yang berbinar, kesemuanya ini membuat dia nampak cerdas dan berwibawa.

Kendatipun sebagian besar jago yang hadir disitu banyak pengalaman dalam dunia persilatan, tidak urung mereka tertegun juga setelah menyaksikan kehadiran manusia aneh itu.

"Aaah, akhirnya kau datang juga" terdengar suara merdu berkumandang dari balik rumah.

Manusia berpakaian blaco itu tertawa tergelak, sahutnya:

"Hahahaha... setelah menerima pemberitahuan yang dibawa kucing hujin, cayhe segera melakukan perjalanan siang malam untuk menyusul kemari"

Dengan langkah lebar dia langsung berjalan menuju ke arah rumah gubuk, terhadap kawanan jago yang hadir disitu, jangan lagi menyapa, melirik sekejap pun tidak.

Kawanan gadis muda yang mengiringinya segera mengikuti pula disampingnya.

Saat itu irama lagu telah berhenti berdendang, seorang wanita cantik berbaju merah yang membopong seekor kucing putih, perlahan-lahan berjalan keluar dari balik rumah.

Dengan sorot mata tidak berkedip manusia aneh itu mengawasi perempuan itu lekat-lekat, tiba-tiba dia menghela napas panjang sambil berkata:

"Aaaai! Tidak disangka meski baru berpisah tiga hari, namun perpisahan ini serasa bagaikan puluhan tahun, benar-benar bagaikan pepatah yang mengatakan: sehari tidak bersua, serasa tiga musim gugur telah berlalu”

"Tiga hari apa?" sahut Yin Ping sambil tertawa, "kita sudah belasan tahun tidak pernah bersua!"

"Aaah masa iya?" seru manusia aneh itu sambil menggosok matanya dan menggeleng, "tidak betul, tidak betul, kalau benar sudah ada belasan tahun, masa wajahmu masih kelihatan begitu muda dan cantik?"

Yin Ping kontan tertawa terkekeh.

"Mulutmu memang selalu manis, orang mati pun akan bangkit kembali setelah mendengar perkataanmu itu”

Kedua orang itu berbincang sambil tertawa tergelak, seakan mereka benar-benar menganggap orang lain seperti orang mati.

"Selama banyak tahun, pernahkah kau datang mencariku?" tanya Yin Ping lagi.

"Bukan Cuma mencari, entah sudah berapa banyak sol sepatuku yang robek gara-gara berkeliaran kian kemari"

Yin Ping memandangnya dengan manis, tanyanya lagi dengan nada sedih:

"Kalau memang mencariku, kenapa sekarang kau tidak bertanya bagaimana keadaanku belakangan ini?"

"Hari ini dapat bertemu lagi denganmu sudah merupakan satu kepuasan yang luar biasa, buat apa mesti menanyakan urusan yang lewat? Kalau mau bertanya, semestinya bertanya apa yang selanjutnya akan kita lakukan"

"Aku memang sengaja meminta kau yang datang menjemputku karena aku ingin membuktikan apakah kau telah berubah pikiran atau belum, jika kau telah berubah berarti tidak mungkin akan datang men jemputku, bukan begitu?"

"Bila aku tidak datang menjemputmu, maka kau pun tidak akan datang mencari aku bukan?"

Yin Ping manggut-manggut.

Sambil tertawa tergelak kembali manusia aneh itu berkata:

"Untung sampai detik ini aku belum pernah berubah pikiran"

Yin Ping melirik sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya sambil tertawa:

"Betul hatimu memang belum berubah, tapi orangnya telah berubah, kalau dulu kau paling suka tampil keren, tampil necis dan suka berdandan, maka sekarang penampilanmu seenaknya sendiri, tampil sembarangan"

Manusia aneh itu tertawa tergelak. "Hahahaha.... tepat sekali" serunya, "tiga puluh tahun berselang bukan saja aku selalu tampil rapi, necis dan suka berdandan, bahkan aku mesti tampil prima, jauh lebih prima dari siapa pun, tapi tiga puluh tahun kemudian......."

Dia memandang sekejap kawanan gadis yang berada diseke-lilingnya, kemudian melanjutkan:

"Sekarang aku baru sadar, sebagai manusia kita tidak boleh menjadi budaknya pakaian, tidak boleh menjadi budaknya dandanan dan penampilan, pakaian model apa yang paling enak dikenakan, model itulah yang akan kukenakan"

Yin Ping mengedipkan matanya berulang kali, kembali ujarnya sambil tertawa:

"Baiklah, apa yang kau katakan tentang penampilan masih bisa kuterima, tapi bagaimana pula dengan tandumu itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa seperti perahu karam saja?"

Untuk kesekian kalinya manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.....tentu saja ada alasannya kenapa aku berbuat begitu, coba bayangkan sendiri, bila aku duduk diatas tandu sementara mereka harus menggotong dibawah sana, sekalipun dimulut mereka tidak berkata-kata, bisa dipastikan perasaan hatinya tertekan dan tidak enak, bila mereka merasa tidak nyaman, bagaimana mungkin aku bisa menikmati kesenangan, sebaliknya bila kubuat keadaan seperti ini.........hahahaha.....aku masih tetap dapat menikmati betapa bahagianya ditandu gadis-gadis cantik, sementara mereka yang menggotong tandu pun merasa gembira, tak akan menggerutu dalam hati, kau senang, akupun senang.... nah, keadaan seperti inilah yang paling menyenangkan"

Keterangan semacam ini nyaris belum pernah terdengar sebelumnya, tidak heran kalau semua orang melongo dibuatnya.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Yin Ping menghela napas panjang, katanya:

"Setelah berpisah belasan tahun, meski kau masih tetap suka menikmati hidup tapi taraf kenikmatanmu benar-benar telah mencapai suatu keadaan yang luar biasa"

Semua orang yang hadir pun untuk sesaat seakan lupa dengan situasi yang sedang dihadapi, setiap orang nyaris dibuat kesemsem dan terperana oleh tindak tanduk serta penuturan manusia aneh itu.

Suto Siau pun sadar bahwa manusia aneh itu memiliki kepandaian silat yang luar biasa, dia berharap orang itu segera membawa pergi perempuan cantik berbaju merah itu sehingga tidak mengganggu urusannya.

Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba manusia aneh itu berpaling, sorot matanya yang tajam mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ketika menatap wajah Thiat Tiong-tong, dia seakan mengawasinya beberapa kejap lebih lama.

Thiat Tiong-tong berdiri murung ditengah hujan, seluruh tubuhnya basah kuyup, keningnya berkerut, namun pelbagai alasan yang menghing­gapi dirinya tidak sampai melenyapkan kegagahan serta keperkasaan dirinya.

Sementara kawanan gadis cantik itupun diam-diam saling berbisik sambil melempar kerlingan mata dan senyuman manis ke arah pemuda itu.

"Apakah orang-orang itu sahabatmu?" tanya manusia aneh itu kemudian sambil berpaling.

Yin Ping tertawa terkekeh.

"Hanya pemuda yang menarik perhatian adik-adik kecilmu itu saja yang kukenal, menurut pendapatmu, dia termasuk manusia berbakat kelas berapa?"

Manusia aneh itu ikut tertawa tergelak.

"Hahahaha..... kalau kawanan budak itupun sampai ikut terpikat, tentu saja dia termasuk orang yang hebat, hanya sayang wajahnya murung dan penuh kesedihan sehingga tercermin kalau jiwanya sedikit agak sempit"

Thiat Tiong-tong hanya mengawasi orang itu sambil tertawa hambar, dia seakan tidak ingin menjawab tanggapan itu.

Manusia aneh itu sama sekali tidak memperhatikan kawanan jago lainnya, mendadak dia melompat turun dari tandunya, kemudian sambil menjura berkata:

"Hujin, silahkan naik tandu!"

Pundaknya tidak nampak bergerak, ujung lengan bajunya sama sekali tidak bergoyang, tahu tahu tubuhnya sudah melayang maju ke depan, hal ini memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya luar biasa sekali.

"Kau suruh aku menaiki tandu semacam itu?" terdengar Yin   Ping berteriak sambil tertawa, "terima  kasih, aku mah tidak  sudi  untuk menaikinya"

"Hahahaha...... kenapa kau pun berubah jadi hidup sederhana? Tandu semacam ini belum tentu bisa kau naiki dihari biasa!"

Yin Ping tertawa lebar, akhirnya dia berjalan menuju ke depan.

Suto Siau menyangka mereka segera akan pergi, diam-diam dia menghembuskan napas lega.

Siapa tahu manusia aneh itu berjalan meng­hampiri tangga itu, sambil menengadah tegurnya:

"Udara diatas dingin dan basah, kau tidak kedinginan dengan pakaian tipismu?"

Sui Leng-kong menghela napas panjang, senandungnya:

"Tiada hawa dingin dipuncak ketinggian,

Apa nian keinginan mu?"

"Hahahaha...... aku adalah seorang lelaki yang paling menyayangi gadis lembut, nona cantik wahai nona cantik, bersediakah kau kembali ke alam dunia?"

"Dia tidak bakal mau turun ke bawah!" bentak Suto Siau tiba-tiba.

Sambil tertawa manusia aneh itu melirik sekejap ke arahnya, kemudian bertanya:

"Dari mana kau bisa tahu?"

Buru-buru Suto Siau menjura seraya berseru:

"Cianpwee gagah dan perkasa, boanpwee yakin kau adalah seorang pertapa sakti yang tidak suka mencampuri urusan keduniawian, bagaimana kalau boanpwee sekalian segera menghantar dengan hormat keberangkatan cianpwee turun dari gunung?"

"Ehmmm, berapa patah katamu memang kedengaran sopan dan sedap didengar, baiklah, asal kau turunkan gadis itu, kami semua segera akan pergi dari sini"

Suto Siau tertegun, dengan wajah berubah tanyanya:

"Kenapa cianpwee ingin melepaskan dirinya?"

Sebelum manusia aneh itu menjawab, Yin Ping sambil tertawa telah memotong duluan:

"Kelihatannya penyakit lamamu kambuh kembali, asal melihat nona cantik lalu pingin membawanya pulang, bukan begitu?"

"Hahahaha..... bagaimanapun kau tetap orang yang paling tahu dengan watakku, setelah bertemu gadis berbakat semacam ini, mana boleh kubiarkan dia hidup menderita dalam dunia persilatan? Tentu saja harus kubawa pulang"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, terjadi kegemparan diantara kawanan jago itu.

Suto Siau tidak berani bertindak gegabah, sekalipun orang aneh itu berwajah putih tanpa jenggot, bertubuh gemuk pendek dan bicaranya semau sendiri, namun dia sadar kungfu yang dimilikinya luar biasa hebatnya.

Oleh sebab itu dia segera menarik tangan Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sekalian untuk berunding.

Diantara sekian jago yang hadir, sebetulnya Thiat Tiong-tong yang merasa paling gusar, tapi ingatan lain segera melintas dalam benakya:

"Jika bukan orang itu yang turun tangan, siapa lagi yang bisa menurunkan Leng-kong dari atas sana? Bagaimana pun biar dia selamatkan Leng­-kong terlebih dahulu sebelum menolong dirinya"

Berpikir sampai disitu dia pun mendongakkan kepalanya dan memberi tanda kepada Sui Leng­kong.

Kebetulan Sui Leng-kong sedang menatap kearahnya, sekalipun suasana sangat redup namun begitu sorot mata mereka berdua saling bertemu, jalan pemikiran kedua belah pihak pun seakan sudah tersambung.

Yin Ping sambil membopong kucing putihnya hanya mengawasi mereka berdua dengan senyuman dikulum, sementara kawanan gadis lainnya hanya menundukkan kepala mengawasi kaki sendiri yang putih bagaikan bunga salju, tampang mereka mirip orangyang sedang iri.

Sementara Suto Siau sekalian sedang berunding, jago pedang berkopiah kuning dan jago pedang rembulan berdiri sedikit dikejauhan tanpa ikut berbicara, hanya suara Lok Put-kun yang kedengaran paling nyaring.

Orang ini berperawakan tinggi besar, ketika berdiri diantara rekan lainnya, tubuhnya nampak jauh lebih tinggi dari siapa pun, ketika itu dengan wajah penuh amarah sedang berteriak:

"Siapa takut, siapa takut kepadanya!"

Suto Siau kelihatan manggut-manggut, tiba tiba dia berbalik dan menghampiri manusia aneh itu sambil berkata:

"Apa yang hendak cianpwee lakukan bila cayhe sekalian enggan melepaskan dirinya?"

"Itu mah bisa berakibat fatal" jawab manusia aneh itu sambil bergendong tangan dan tertawa.

Beberapa patah kata itu diucapkan amat santai seolah tidak bertenaga, namun setiap patah kata yang terucap kedengaran begitu tajam dan menusuk pendengaran.

Berubah hebat paras muka Suto Siau sekalian, dari enam orang yang hadir ada tiga orang diantaranya yang berakal licik, serentak mereka saling bertukar tanda.

Sambil menjura Suto Siau segera berkata: "Perempuan itu mempunyai kaitan yang erat dengan kami semua, bahkan menyangkut sederet persoalan, sekalipun kami semua bersedia membiarkan cianpwee membawanya pergi, tapi bagaimana pertanggungan jawab kami bila kelak orang lain menanyakannya?"

Kemudian setelah tertawa tergelak, lanjutnya: "Apalagi cayhe sekalian masih belum tahu siapa nama cianpwee"

"Bocah keparat, hebat amat kau" tukas Yin Ping tiba-tiba, "bukankah kau ingin tahu dulu namanya kemudian baru dipertimbangkan, kalau bisa dilawan kalian lawan, kalau tidak bisa dilawan kalian akan kabur, bukan begit?"

"Kalau memang begitu, bagaimana kalau cianpwee tunda dulu selama berapa hari, menunggu cayhe sudah undang semua rekan, agar mereka pun dapat menyaksikan kehebatan cianpwee, kemudian perempuan itu baru diajak pergi dari sini?"

Dalam hati dia sudah mengambil keputusan, asal hari ini bisa menggunakan Sui Leng-kong untuk memaksa Thiat Tiong-tong menyerah, apa susahnya untuk serahkan kembali gadis itu kepadanya.

Yin Ping yang mendengar perkataan itu segera tertawa terkekeh.

"Oooh..... mau  pakai  siasat  mengundang pasukan bantuan? Bertarung setelah bala bantu­annya tiba?"

Manusia aneh itu berkata pula sambil menuding ke arah Suto Siau:

"Hahahaha.... tidak kusangka dalam dunia persilatan telah muncul seorang tokoh secerdik kau, tampaknya aku mesti membuka mataku lebar lebar"

"Tidak berani, tidak berani, entah bagaimana pendapat cianpwee dengan usul tadi?" kata Suto Siau.

"Selama hidup aku paling tidak suka memak­sakan kehendak, bila hari ini aku bersikeras membawa pergi nona ini, paling tidak peristiwa ini pasti akan mencoreng wajah kalian semua"

Thiat Tiong-tong berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, sebaliknya Suto Siau sekalian berseri, buru-buru dia menjura seraya berkata:

"Ternyata cianpwee memang bijaksana, boanpwee ucapkan banyak terima kasih"

Manusia aneh itu tertawa perlahan, katanya lagi:

"Oleh sebab itu.........."

Dia berhenti sejenak, menunggu perhatian semua orang sudah tertuju ke arahnya, dia baru melanjutkan:

"Oleh sebab itu kuputuskan, hari ini aku akan membuat kalian semua menyerahkan nona itu ke tanganku dengan perasaan rela dan ikhlas........"

Belum selesai perkataan itu diucapkan, paras muka Suto Siau sekalian telah berubah hebat sementara Yin Ping tertawa terpingkal-pingkal.

Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap, sementara Pek Seng-bu secara diam-diam menjawil tubuh Lok Put-kun.

Mereka berdua tahu, persoalan yang dihadapi pada malam ini tidak mungkin bisa diselesaikan secara damai, tapi mereka sendiripun tidak berani bertindak secara gegabah, oleh sebab itu diputus­kan untuk mendorong Lok Put-kun agar menjajal terlebih dulu kepandaian silat yang dimiliki manusia aneh itu.

Lok Put-kun memang seorang jago yang kasar, berangasan dan bertemperamen tinggi, sejak tadi dia sudah mendongkol sambil menahan diri, maka setelah diberi tanda untuk turun tangan, mana mungkin dia bisa menahan diri?

Dengan suara keras kontan hardiknya:

"Mengharapkan  kami serahkan  nona  itu kepadamu? Hmm, jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Dengan langkah lebar dia maju ke muka, begitu tiba didepan manusia aneh itu, sambil merentangkan sepasang tangannya yang besar bagai kipas, bentaknya:

"Mari, mari, mari, kalau punya kemampuan, layani dulu berapa jurus seranganku!"

Dari suara gemerutuk yang dipancarkan dari tulang belulang Lok Put-kun ketika merentangkan telapak tangannya, Thiat Tiong-tong tahu kalau kepandaian gwakang yang dimiliki orang ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

"Anak muda, kau belum pantas bertarung melawanku" jengek manusia aneh itu sambil tertawa.

"Kentut" bentak Lok Put-kun gusar, "jika takut menghadapiku, lebih baik......"

"Baiklah" potong manusia aneh itu kemudian, "dalam satu jurus bila aku tidak sanggup membuatmu terjungkal, bagaimana kalau anggap saja aku yang kalah?"

Ketika kedua orang ini berdiri saling berha­dapan, terlihatlah perbedaan mereka yang sangat mencolok, kalau yang satu bertubuh tinggi besar, kekar berotot dan hitam, maka yang lain bertubuh gemuk, putih dengan anggota badan yang lembut halus.

Yang satu bicara keras bagai bunyi genta, sementara yang lain lembut bagai orang bercanda.

Sekalipun Suto Siau sekalian tahu kalau manusia aneh itu memiliki kungfu yang luar biasa, namun Lok Put-kun pun bukan manusia sembarangan, dia sudah banyak tahun mengem­bara dalam dunia  persilatan, sekalipun cara kerjanya sedikit gegabah namun pengalamannya dalam menghadapi musuh tidak lemah.

Kendatipun ilmu silat yang dimiliki manusia aneh itu jauh melebihi lawannya, tapi kalau ingin menghajarnya hingga jatuh terpelanting dalam satu gebrakan saja, jelas lebih susah daripada naik ke langit.

Maka Suto Siau sekalian jadi amat girang setelah mendengar  orang itu sesumbar dengan tantangannya.

Hek Seng-thian kuatir Lok Put-kun tidak pandai bicara, maka dengan langkah cepat dia maju ke depan sembari menegaskan:

"Cianpwee, lagi bergurau atau sungguhan?"

"Siapa yang sedang bergurau denganmu” jawab manusia aneh itu sambil tertawa.

"Kalau memang begitu, apa yang hendak cianpwee lakukan bila kalah?"

"Kalau kalah, aku akan segera turun gunung dengan merangkak"

Semenjak tadi Lok Put-kun sudah mencak mencak kegusaran, mendengar perkataan itu kembali teriaknya penuh amarah:

"Kalau aku yang kalah, bukan saja akan turun gunung dengan merangkak, bahkan aku akan menyembah delapan kali kepadamu"

"Hahahaha.....aku kuatir sampai waktunya kau sudah tidak mampu menyembah lagi"

Hek Seng-thian girang sekali setelah men­dengar perkataan itu, cepat ujarnya sambil tertawa:

"Saudara Lok tidak usah banyak bicara lagi, cepat minta berapa petunjuk dari cianpwee itu, saudara Lok hanya cukup melancarkan satu jurus serangan saja dan ingat, jangan sampai dibuat terjungkal olehnya"

"Ayohlah!" kata manusia aneh itu kemudian sambil menggulung lengan bajunya.

Dia berdiri amat santai, tidak menyiapkan diri, tidak pula menghimpun tenaga dalamnya, seakan seorang lelaki dewasa yang siap menghadapi seorang bayi cilik.

Lok Put-kun sendiri meski tampil dengan wajah penuh amarah, dihati kecilnya dia pun tidak berani gegabah, sesudah mendengus dingin dia silangkan kepalannya di depan dada sambil bertekuk lutut, kuda kudanya segera diperkuat.

Kuda kuda dalam bentuk begini merupakan sebuah kuda kuda yang paling dasar, khususnya bagi orang yang berlatih tenaga gwakang, bhesi semacam ini boleh dibilang sangat kokoh dan sulit digoyang kendatipun didorong oleh dua puluhan orang lelaki kekar.

Terlihat dia menarik lambungnya dengan menancapkan sepasang kakinya ke dalam tanah, lalu pikirnya:

"Bocah gendut, akan kulihat dengan cara apa kau akan membuat aku roboh terjungkal"

Thiat Tiong-tong sendiripun diam-diam ber­sorak memuji setelah menyaksikan kuda-kuda orang itu, disamping kagum diapun merasa terperanjat, ingin diketahui dengan cara apa manusia aneh itu akan membuatnya roboh terjungkal.

Diiringi bentakan nyaring Lok Put-kun mulai melontarkan pukulannya, ditengah angin pukulan yang menderu deru dengan jurus Thay san ya teng (bukit thay-san menindih kepala) dia bacok batok kepala orang itu.

Jurus serangan ini meski kasar dan sederhana namun terkandung dasar utama dari ilmu pukulan, boleh dibilang Lok Put-kun sangat menguasainya.

Apalagi dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar, seperti nama jurus serangan itu, kekuatannya boleh dibilang bagaikan tindihan dari sebuah bukit Thay-san.

Tidak urung para jago bersorak memuji juga setelah melihat kehebatan pukulan itu.

Manusia aneh itu masih berdiri dengan senyuman diwajah, dia tidak menghindar pun tidak berusaha berkelit.

Diam-diam Lok Put-kun kegirangan, pikirnya: "Sekalipun kau  ingin menggunakan tenaga dalammu  untuk  mentalkan  aku,  tidak  nanti tubuhku akan roboh terjungkal"

Sambil memperkuat kuda kudanya sekali lagi dia menghujamkan kepalannya ke bawah.

"Blaaaam!" sepasang pukulan maut dari Lok Put-kun segera bersarang telak diatas bahu manusia aneh itu.

Ternyata orang itu tidak mementalkan tubuh lawannya dengan getaran tenaga dalam, tubuh Lok Put-kun masih tetap berdiri bagaikan sebuah pagoda baja, sebaliknya tubuh manusia aneh itupun terhajar bagaikan sebuah paku yang tertancap ke dalam tanah.

Semua orang merasa terkejut bercampur girang, Lok Put-kun sendiripun agak termangu melihat hasil pukulannya itu.

Belum sempat ingatan ke dua melintas lewat, mendadak terdengar manusia aneh itu berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

"Sekarang, berbaringlah kau!" Secepat kilat dia menggetarkan sepasang tangannya mencengkeram ke depan, karena tubuh pendeknya sebagian menancap di tanah, maka arah serangannya persis mengarah sepasang kaki Lok Put-kun yang tinggi besar.

Waktu itu Lok Put-kun sedang memperkokoh sepasang kakinya dengan sepenuh tenaga, mimpi pun dia tidak menyangka kalau lawannya akan menggunakan jurus serangan tersebut untuk mengancam kakinya.

Dalam keadaan begini sulit baginya untuk menghindarkan diri, tahu-tahu sepasang kakinya terasa sakit hingga merasuk tulang, diiringi jeritan kaget tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar ke udara dan roboh terkapar diatas tanah.

Kenyataan semacam ini sungguh diluar dugaan siapa pun, kawanan jago yang hadir hanya bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak, tidak seorangpun mampu mengeluarkan suara jeritan.

Diiringi suara tertawa nyaring manusia aneh itu melompat keluar dari dalam tanah, sebuah liang yang cukup dalam segera muncul diatas tanah.

Menggunakan tubuh untuk menancap ke dalam tanah yang keras, kepandaian silat semacam ini boleh dibilang belum pernah terdengar dalam dunia persilatan, seandainya tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tidak akan percaya dengan kenyataan tersebut.

"Kenapa kau belum menyembah kepadaku?" terdengar manusia aneh itu menegur.

Lok Put-kun membentak keras, dia berusaha merangkak bangun, siapa sangka bantingan tersebut ternyata kuat sekali, bantingan keras yang membuat sekujur tubuhnya linu dan sakit, baru merangkak setengah jalan, kembali tubuhnya roboh terjengkang.

Pek Seng-bu menghela napas panjang, cepat dia membangunkan rekannya itu.

Lok Put-kun memandang Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sekejap, kemudian memandang pula ke arah manusia aneh itu, tiba-tiba sambil mendekap dibahu Pek Seng-bu, dia mulai menangis tersedu-sedu.

Menyaksikan hal ini Suto Siau hanya bisa mendongkol bercampur geli.

Manusia aneh itupun tertawa lebar, ujarnya kemudian:

"Masih ada lagi yang ingin menjajal kemampu­anku?"

Semua orang hanya saling berpandangan, siapa pun tidak berani menjawab.

Manusia aneh itu segera mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak, serunya lagi:

"Jika kalian tidak keberatan, akupun tidak akan berlaku sungkan lagi"

Sambil berpaling serunya:

"Murid muridku, cepat turunkan nona itu"

Tampak kawanan nona itu saling mendorong diantara rekan sendiri dengan wajah cemberut, ternyata tidak seorangpun yang bersedia turun tangan.

Yin Ping yang melihat itu tertawa terkekeh, katanya:

"Bila kalian ingin mengikutinya, mulai sekarang harus belajar tidak cemburuan, kalau tidak, tanggung kalian akan mampus duluan karena mendongkol"

Kawanan nona itu tertawa geli, akhirnya sambil dorong mendorong mereka berjalan mendekat.

Manusia aneh itu berpaling ke arah Yin Ping kemudian serunya:

"Jika semua wanita didunia mirip kau, aku benar-benar tidak usah pusing dan bingung"

Suto Siau sekalian hanya bisa pasrah dan membiarkan kawanan nona itu merangkak naik keatas tangga, siapa pun sadar, kepandaian silat yang dimiliki mustahil bisa mencegah niat manusia aneh itu.

"Tunggu sebentar!" mendadak terdengar bentakan keras berkumandang dari puncak tangga.

Ketika semua orang mendongakkan kepalanya, tampak Sim Sin-pek entah sejak kapan telah berdiri dipuncak tangga. Rupanya perhatian semua orang waktu itu sedang tertuju pada kehebatan kungfu manusia aneh itu sehingga tidak ada yang memperhatikan gerak geriknya.

Tampak tangannya yang satu digunakan untuk berpegangan pada puncak tangga, sementara tangan kirinya ditempelkan diatas jalan darah pek hwee hiat di ubun ubun Sui Leng-kong, sambil tertawa dia berseru:

"Siapa pun kalau berani maju selangkah lagi, telapak tanganku ini segera akan kutabokkan ke bawah. Waktu itu terpaksa cianpwee hanya bisa membawa pulang seorang nona cantik yang sudah mati kaku, hahahaha....... aku rasa pasti tidak ada artinya bukan!"

Jalan darah pek hwee hiat merupakan jalan darah terlemah ditubuh manusia, biasanya hanya terpukul ringan saja bisa berakibat luka parah, apalagi jika Sim Sin-pek menghantamnya dengan sepenuh tenaga, dapat dipastikan nyawa Sui Leng­kong pasti melayang.

Manusia aneh itu segera memerintahkan kawanan gadis itu untuk mundur, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya:

"Siapa kau? Apayang hendak kau lakukan?"

Thiat Tiong-tong ikut merasa panik, dia genggam sepasang tinjunya kuat kuat.

Perlahan-lahan Sim Sin-pek berkata:

"Aku hanya seorang angkatan muda yang tidak bernama, saat ini tidak ada permintaan lain kecuali berharap setelah aku turun ke bawah nanti, cianpwee dan sekalian nona-nona itu tidak mengusik seujung rambutku”

Mendengar permintaan yang sangat sederhana, tanpa berpikir panjang lagi manusia aneh itu menyanggupi:

"Baiklah, aku kabulkan permintaanmu, sekarang bawalah nona itu turun ke bawah!”

Semula Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu menyangka Sim Sin-pek sedang membantu mereka untuk memaksakan kehendaknya, mereka jadi mendongkol bercampur kecewa setelah mendengar perkataan itu.

Tidak tahan lagi Pek Seng-bu menyelinap ke belakang Chee Toa-ho dan diam-diam memberi tanda kepadanya.

Siapa tahu Sim Sin-pek berlagak seolah tidak melihat, setelah menotok jalan darah ditubuh Sui Leng-kong dia membebaskan ikatan talinya sambil berseru:

"Minggir semua!"

Kemudian dengan cepat dia melompat turun ke bawah.

Kini biarpun ikatan tali ditubuh Sui Leng-kong telah dilepas namun tubuhnya masih tetap tidak mampu bergerak, dia hanya bisa mengawasi Thiat Tiong-tong dengan mata mendelong, entah berapa banyak patah kata yang terkandung dibalik sorot matanya itu.

Thiat Tiong-tong merasakan hatinya pedih bagaikan disayat-sayat, seandainya orang yang menghadapi kejadian tersebut saat ini adalah Im Ceng yang bertemperamen tinggi, niscaya tanpa berpikir panjang dia sudah menerkam ke depan.

Tapi Thiat Tiong-tong bukan Im Ceng, dia sadar kekuatannya seorang diri bukan saja tidak akan mampu berbuat banyak,  sebaliknya justru bisa mengancam keselamatan jiwa Sui Leng-kong, oleh sebab itu sambil menggertak gigi dia menahan diri tanpa bergerak.

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar dia maju mendekat.

"Cianpwee" Sim Sin-pek segera berseru sambil tertawa, "aku harap......"

Dengan cepat dia mendorong Sui Leng-kong ke depan.

Dengan lembut manusia aneh itu memegang bahu nona itu, katanya sambil tertawa:

"Anak baik, meski kau tidak meminta sesuatu kepadaku, tapi akupun tidak bakal merugikan dirimu"

"Terima kasih cianpwee" seru Sim Sin-pek sambil membungkukkan tubuh memberi hormat.

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi sambil tertawa:

"Nona Sui cerdas dan berparas cantik, dia tidak malu disebut bidadari dari dunia, tapi sayang......."

Dia menggelengkan kepalanya, tutup mulut dan tidak berbicara lagi.

"Tapi sayang kenapa?" tidak tahan manusia aneh itu bertanya.

"Tapi sayang nona itu sudah kucekoki dengan sedikit obat beracun" sahut Sim Sin-pek sambil tertawa, "bila racun itu tidak segera diobati maka dalam dua jam kemudian dia akan mati dengan pendarahan dari tujuh lubang inderanya"

"Kau...... kau...... dimana kau simpan obat pemunah itu?" teriak manusia aneh itu gusar.

"Ada dalam saku boanpwee"

"Bawa kemari!" hardik manusia aneh itu sambil menggetarkan tangannya mencengkeram tubuh Sim Sin-pek.

Dengan cekatan pemuda itu mundur berapa langkah, ujarnya lagi sambil tertawa:

"Bukankah tadi cianpwee sudah berjanji tidak akan menyentuh seujung rambut boanpwee, masa sudah lupa dengan janji tersebut?"

Dengan wajah tertegun manusia aneh itu menarik kembali tangannya.

Kembali Hek Seng-thian serta Suto Siau sekalian merasa terkejut bercampur girang, pikir mereka:

"Tidak disangka ternyata bocah ini pintar juga"

Dengan wajah penuh kebanggaan Sim Sin-pek tersenyum, ujarnya:

"Walaupun ilmu silat yang kumiliki tidak sebanding dengan kehebatan cianpwee, tapi racun obat yang kugunakan terbuat dari gabungan tiga puluh enam macam ramuan yang tidak mungkin bisa dipunahkan siapa pun"

"Apa yang kau inginkan?" tanya manusia aneh itu kemudian sambil menurunkan kembali tangan­nya.

"Bila cianpwee tidak ingin membawa pulang sesosok mayat, lebih baik serahkan dulu kepada-ku, atau kalau tidak........ silahkan  cianpwee menyanggupi tiga buah syaratku"

"Kentut, kau anggap kami bisa diancam?"

"Tentu saja, tentu saja, mana mungkin cianpwee bisa kuancam" seru Sim Sin-pek sambil tersenyum, "sayangnya nona ini cantik bak bidadari, perawakan tubuhnya jugaramping menggiurkan......."

Tidak tahan manusia aneh itu berpaling memperhatikan sekejap gadis cantik yang berada disisinya, walaupun paras mukanya waktu itu pucat pias namun alis matanya yang lentik, biji matanya yang bening, pinggangnya yang ramping serta tubuhnya yang gemetar  ketika terhembus angin, benar-benar mendatangkan daya pikat yang luar biasa.

Dibandingkan dengan kecantikan Yin Ping maka nona ini nampak lebih polos, lebih bersih dan alim, sesosok tubuh wanita yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Tidak tahan lagi dia menghela napas panjang, ujarnya kemudian:

"Apa syaratmu, cepat katakan!"

Sim Sin-pek tertawa bangga, cepat dia berpaling ke arah Hek Seng-thian, setelah memberi hormat ujarnya:

"Tecu tidak berani mendahului guru, untuk syarat yang pertama silahkan suhu yang tentukan"

"Anak pintar!" puji Hek Seng-thian tertawa.

Setelah termenung berapa saat, dia baru berpaling seraya berkata:

"Saudara Suto.........."

Sejak tadi Suto Siau sudah menunggu kesempatan untuk berbicara, ia segera menyahut sambil tertawa:

"Kami semua hanya minta kepada cianpwee untuk menyerahkan sebuah tanda pengenal, jika suatu saat kami berada dalam keadaan bahaya hingga mesti mencari cianpwee dengan membawa tanda pengenal itu, cianpwee wajib memberikan bantuannya dengan sepenuh tenaga"

Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tahu Suto Siau ingin meminjam kekuatan yang dimiliki manusia aneh itu untuk menghadapi Perguruan Tay ki bun. Kendatipun Perguruan Tay ki bun memiliki kawanan jago yang amat banyak, namun belum ada seorang pun diantara mereka yang sanggup menandingi kepandaian silat manusia ini.

Terdengar manusia aneh itu mendengus dingin.

"Apa syaratmu yang ke dua?" ia bertanya.

Sim Sin-pek tertawa, ujarnya:

"Obat racun yang kugunakan memiliki susunan bahan racun yang amat rumit dan unik, untuk memunahkan sama sekali pengaruh racun tersebut, dibutuhkan obat penawar yang mesti diminum sebanyak tiga puluh enam kali setiap sepuluh hari selama satu tahun beruntun"

Setelah berhenti sejenak dan tertawa, lanjutnya:

"Oleh sebab itu cianpwee harus membawa serta cayhe untuk pulang ke rumahmu, agar disamping belajar silat dari cianpwee, boanpwee pun bisa memunahkan racun didalam tubuhnya"

"Baik" teriak manusia aneh itu gusar, "ternyata kaupun pingin belajar ilmu silatku"

Setelah melirik Sui Leng-kong sekejap, tidak tahan dia menghela napas panjang, tanyanya lagi:

"Apa syaratmu yang ke tiga?"

Sim Sin-pek memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil perlahan-lahan berjalan menghampiri Thiat Tiong-tong, katanya sambil tersenyum:

"Syarat yang ke tiga....... cianpwee mesti tangkap orang ini dan memaksanya untuk......"

Mendadak Thiat Tiong-tong melancarkan serangan secepat kilat, sepasang telapak tangan-nya menyerang bersama secepat sambaran kilat, yang ke atas membabat tenggorokan Sim Sin-pek sementara yang ke arah bawah menghantam ke arah dadanya.

Dengan terkesiap Sim Sin-pek miring ke samping, jeritnya ketakutan:

"Cianpwee, kau telah berjanji......"

"Janji cianpwee tidak termasuk melarang aku melancarkan serangan!" tukas Thiat Tiong-tong cepat.

"Hahahaha...... benar!" seru manusia aneh itu kegirangan.

Berubah hebat paras muka Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu, serentak mereka bergerak siap melancarkan serangan.

Tanpa menghentikan gerak serangannya Thiat Tiong-tong segera berseru lantang:

"Cianpwee pun tidak pernah berjanji tidak akan menyerang orang lain, silahkan cianpwee menghadang siapa pun yang ingin turut mencampuri urusan ini, biar aku yang merebut obat penawar racunnya!"

"Hahahaha...... baik!" seru manusia aneh itu sambil tertawa tergelak, kemudian sambil menarik wajahnya dia mengancam, "bila ada yang berani turun tangan sembarangan, jangan salahkan kalau aku tidak kenal ampun!"

Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu merasa hatinya miris, serentak mereka menghentikan langkahnya.

"Awasi mereka" perintah manusia aneh itu kemudian sambil memberi tanda, "jangan biarkan orang-orang itu bertindak sembarangan"

Kawanan gadis muda itu menyahut dan berdiri berjajar persis dihadapan Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu, meski begitu lirikan mata mereka justru berulang kali dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong.

Serangan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong ibarat bunga terbang yang melayang di udara terhembus angin topan, meskipun jurus serangan yang digunakan tidak termasuk aneh, namun kecepatan geraknya susah diikuti dengan mata telanjang.

Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Sim Sin-pek memang bukan tandingannya, apalagi sejak awal sudah timbul perasaan jeri dihati kecilnya, bertarung dalam perasaan kebat kebit membuat dia tidak mampu konsentrasi secara prima.

Tidak sampai sepuluh gebrakan kemudian, dia sudah tidak memiliki kemampuan untuk melan­carkan serangan balasan.

"Serangan yang amat cepat!" puji manusia aneh itu sambil tersenyum.

"Bagaimana bila dibandingkan semasa muda­mu dulu?" tanya Yin Ping tertawa.

Manusia aneh itu hanya tersenyum tanpa menjawab.

Sementara itu jurus serangan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong makin lama semakin bertambah cepat, Sim Sin-pek sudah keteter hebat, gerakan tubuhnya sudah kalut dan peluh telah membasahi seluruh tubuhnya.

Suto Siau sekalian merasa terkejut bercampur gusar, khususnya Hek Seng-thian, dia menghen­takkan kakinya berulang kali, sementara Pek Seng-bu telah masukkan tangannya ke dalam saku dan secara diam-diam menggenggam senjata rahasia.

Dia memiliki julukan sebagai pendekar bertangan tiga, sudah barang tentu ilmu melepas­kan senjata rahasianya sudah mencapai tingkat yang luar biasa.

Belasan tahun berselang, sewaktu diadakan pertandingan ilmu di antara orang orang perusahaan ekspedisi dua sisi sungai besar yang diadakan di perkampungan keluarga Thio, Pek Seng-bu pernah menggunakan tiga jenis senjata rahasia untuk memadamkan sebelas buah lampu lentera diruang utama.

Ternyata tidak seorangpun diantara ratusan jago silat yang hadir waktu itu mengetahui dengan cara apa dia melepaskan  senjata rahasianya, itulah sebabnya orangpun memberi julukan si pendekar bertangan tiga kepadanya.

Kini situasi yang dihadapi sangat gawat, dalam keadaan terdesak sekali lagi dia berencana ingin melumpuhkan Thiat Tiong-tong dengan mengandalkan senjata rahasianya.

Siapa tahu baru saja dia menggenggam senjata rahasia andalannya, mendadak terendus bau harum yang lembut berhembus lewat dihadapan-nya.

Tahu-tahu seorang gadis bercelana hijau telah setengah merebahkan diri dalam pelukannya sambil berbisik lembut:

"Kau sedang merogoh benda apa sih? Boleh aku lihat?"

"Lihay amat ketajaman mata nona ini" batin Pek Seng-bu dengan perasaan kaget, cepat sahutnya:

"Ooh... ti....tidak ada apa-apa........"

Sambil  menyahut  dia  menarik  kembali tangannya dari dalam saku.

"Pelit amat kau, masa dilihat sebentar pun tidak boleh?" seru nona itu lagi sambil tertawa merdu, kini pipinya yang halus dan lembut nyaris sudah menempel diatas wajahnya, bau harum semakin menusuk penciuman.

Baru saja Pek Seng-bu merasa terangsang, tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicengkeram oleh ke lima jari lentik gadis itu, rasa sakit yang merasuk ke dalam tulang membuat dia tidak sanggup menarik kembali telapak tangannya.

"Triing....triiing....triiing......!" diiringi dentingan nyaring, senjata rahasia yang berkilat tajam terjatuh semua dari balik sakunya dan berserakan diatas tanah.

"Aduh mak.....” teriak nona itu lagi sambil tertawa merdu, "benda itu mah tidak boleh dibuat mainan......"

Dengan ujung kakinya dia sapu benda itu hingga mencelat jauh dari sana, kemudian sambil menowel pipi Pek Seng-bu dan menjulurkan lidahnya si nona kembali menyodok pinggangnya.

Seketika Pek Seng-bu merasakan separuh tubuhnya jadi kaku, untuk berapa saat dia sama sekali tidak mampu bergerak.

Untuk kesekian kalinya kawanan jago itu merasa terkesiap, seorang dayang saja sudah berilmu sehebat itu apalagi si manusia aneh sebagai majikannya, semakin tidak ada orang yang berani bertindak gegabah.

Dalam pada itu Thiat Tiong-tong telah melancarkan belasan jurus, dibawah kurungan angin pukulan yang menderu deru, Sim Sin-pek berusaha menggeser tubuhnya mendekati Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian.

Apa mau dikata angin pukulan yang dilancar­kan Thiat Tiong-tong mengurungnya begitu rapat, jangan lagi bergeser, air pun tidak mungkin bisa menembusi lapisan pukulan yang menghimpit-nya.

Padahal dalam pertemuan sebelumnya, Suto Siau sekalian merasa kepandaian silat pemuda itu belum sedahsyat sekarang, mereka tidak menyangka hanya terpaut berapa saat, kungfu yang dimiliki anak muda itu telah mengalami kemajuan yang demikian pesat.

Tentu saja beberapa orang itu tidak tahu kalau Thiat Tiong-tong telah berhasil memperoleh kitab pusaka ilmu silat peninggalan ayahnya dalam gua rahasia itu, kenyataan yang mereka saksikan saat ini membuat hati orang orang itu semakin tercekam.

Mendadak Thiat Tiong-tong menyodokkan tangannya ke depan, langsung mencengkeram urat nadi padapergelangan tangan Sim Sin-pek.

Jurus serangan yang dia gunakan amat sederhana tanpa perubahan jurus yang aneh, namun Sim Sin-pek tidak mampu menghindarkan diri, walaupun dia sempat menarik ke belakang pergelangan tangannya, namun jalan darah Ci tie hiatnya tahu-tahu sudah tergenggam lawan.

Dalam terperanjatnya secara beruntun Sim Sin-pek mengeluarkan gerakan Pa ong sia ka (raja bengis menanggalkan tameng), Lip coan jian gun (memutar roda dunia), Huan cuan kim si (menggulung balik serat emas) untuk meloloskan diri dari sergapan musuh.

Siapa tahu telapak tangan Thiat Tiong-tong yang telah menempel diatas pergelangan tangan-nya seakan susah ditanggalkan lagi, walaupun secara beruntun dia telah berganti dengan berapa gerakan, namun jari tangan lawan masih menempel ketat, kenyataan ini membuat hatinya tercekat bercampur panik, peluh sebesar kacang kedele mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

"Sudah kau ketahui, siapakah aku?" jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

"Tahu........" sahut Sim Sin-pek dengan nada gemetar.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong mencengkeram dagunya dan menjapitnya kuat kuat.

Rupanya pemuda itu memang sengaja memancing Sim Sin-pek agar mengucapkan kata "tahu", sebab disaat dia mengutarakan kata "ta.." mulutnya berada pada posisi terbuka, saat itulah Thiat Tiong-tong mencengkeram dagunya sehingga dia sama sekali tidak mampu merapatkan mulutnya lagi.

Secepat kilat ThiatTiong-tong merogoh ke dalam sakunya, mengambil sebutir pil berwarna hitam kemudian setelah dijejalkan ke mulut Sim Sin-pek, tangan kirinya mendorong bagian bawah dagunya dan menekan ke atas kuat-kuat.

"Glegekk......" Sim Sin-pek telah menelan pil itu ke dalam perutnya.

Thiat Tiong-tong segera tertawa terbahak bahak, tegurnya:

"Hahahaha..... sudah tahu, pil apa yang kau telan?"

Waktu itu Sim Sin-pek merasakan bau amis yang busuk dan aneh muncul dari balik tenggorok­annya, tatkala satu ingatan melintas didalam benaknya, dengan wajah berubah pucat lantaran ngeri, jeritnya gemetar:

"Maa... .masa pil beracun?"

"Tepat sekali!" jawab Thiat Tiong-tong tergelak, "kau butuh obat penawarnya?"

Sementara Sim Sin-pek masih termangu, Yin Ping beserta kawanan gadis lainnya sudah tertawa terkekeh lantaran geli.

Manusia aneh itu berseru pula sambil tertawa:

"Bagus, bagus sekali, inilah yang dinamakan siapa menanam kebusukan, dia akan menulai bencana. Senjata makan tuan!"

"Sayangnya obat racunku jauh lebih mengerikan" Thiat Tiong-tong menambahkan, "jika dalam satu jam tidak peroleh obat penawarnya, maka racun itu akan mulai bekerja, seluruh tubuh akan mulai membusuk lalu mengelupas kulitnya satu demi satu......oooh, tidak terkirakan rasa sakit dan tersiksanya"

Pucat pias selembar wajah Sim Sin-pek, sepasang kakinya terasa lemas, tubuhnya meng­gigil keras, nyaris dia roboh terjungkal ke tanah saking takut dan ngerinya.

Sambil menyodorkan sebuah botol obat dari dalam sakunya, dia berseru lirih:

"Botol ini....... botol ini berisikan obat penawar racun untuk....untuk nona Sui......!"

"Ooh, kau pingin barter obat penawar racun denganku?" tanya Thiat Tiong-tong.

Sim Sin-pek mengangguk berulang kali tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Hanya satu botol ini?" kembali Thiat Tiong-tong bertanya.

Sembari merangkak bangun dari atas tanah sahut Sim Sin-pek:

"Mana mungkin hamba memiliki obat beracun yang diramu dari tiga puluh enam macam bahan beracun? Tadi.....tadi hanya bergurau saja.... obat racun itu hanya obat racun biasa, penawarnya pun hanya satu macam"

"Sungguh?" Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Sung......sungguh, bila berbohong biar aku mati disambar geledek"

Terdengar Yin Ping menghela napas sambil gelengkan kepalanya berulang kali:

"Aaaai.... dilihat tampangnya sih gagah dan ganteng, sayang jiwanya pengecut, ternyata begitu takut mampus, sayang......aaaai! sungguh sayang!"

Sim Sin-pek pura-pura tidak mendengar, nyaris botol yang berada dalam genggamannya terjatuh ke tanah.

Sambil  tertawa dingin  Thiat Ti menyambut botol obat itu.

"Baa....bagaimana dengan obat... obat penawar racunku......." teriak Sim Sin-pek tiba tiba.

"Penawar racun apa? Mana aku punya obat penawar racun!" sahut Thiat Tiong-tong sambil menarik wajahnya.

Pecah nyali Sim Sin-pek setelah mendengar jawaban itu, dia roboh terduduk diatas tanah, setengah menangis jeritnya:

"Saudara Thiat, kau........."

"Apa? Kau memanggil aku dengan sebutan apa?" tukas Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.

"Paa.....paman Thiat, empek Thiat, tolonglah aku......" rengek Sim Sin-pek dengan wajah hampir menangis, "berbuatlah bajik, berbuatlah mulia, tolonglah aku, tolong hadiahkan obat penawar racun untukku!"

"Lain kali masih berani mencelakai orang?"

"Tidak berani, lain kali hamba tidak berani lagi"

Dengan sorot tajam Thiat Tiong-tong mengamati wajah pemuda itu beberapa saat, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Hahahaha..... dasar manusia dungu, dasar goblok, racun apa yang kau telan tadi? Obat itu tidak lebih hanya obat luka luar"

Sim Sin-pek tertegun, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri melongo sambil mengawasi kawanan gadis itu tertawa terpingkal pingkal.

Kembali Thiat Tiong-tong berkata sambil tertawa:

"Kalau tidak berbuat begitu, memangnya kau bersedia menyerahkan obat penawar racun itu? Obat luka luar belum pernah ditelan orang, rasanya kau telah menjadi orang pertama yang mencicipinya, bagaimana? Enak bukan rasanya?"

Sim Sin-pek hanya berdiri terbelalak dengan mulut melongo, jangan lagi berbicara, dia sendiri-pun bingung mesti menangis atau tertawa.

Ditengah gelak tertawa yang riuh, paras muka Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian telah berubah jadi pucat pias bagai mayat.

Dengan jengkel Suto Siau menghentakkan kakinya berulang kali keatas tanah, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya setelah menghela napas panjang katanya:

"Mari kita pergi!"

"Betul, sudah waktunya kalian harus pergi" manusia aneh itu menambahkan.

Dengan gemas Suto Siau melotot berapa kejap ke arah Thiat Tiong-tong, sementara Hek Seng-thian dengan benci mengumpat:

"Tunggu sajasuatu saat nanti........."

Akhirnya sambil menggertak gigi, bersama Pek Seng-bu sekalian beranjak pergi dari situ.

Jago pedang berkopiah kuning melotot juga ke arah Thiat Tiong-tong seraya berkata:

"Kelompok jago pedang pelangi pasti akan minta pelajaran lagi dikemudian hari”

"Baik, akan kutunggu" sahut Thiat Tiong-tong santai.

Bi gwat kiam kek melirik sekejap ke arah pemuda itu sambil melemparkan senyuman manis, tapi dia segera ditarik pergi Chee Toa-ho.

Menanti semua orang sudah berlalu, Sim Sin-pek baru seakan tersadar kembali, tergopoh-gopoh dia bangkit berdiri sambil berteriak ketakutan:

"Suhu tunggu aku........"

Dengan sempoyongan dia lari menyusul rombongannya.

Rombongan jago itu datang secara gagah perkasa tapi harus angkat kaki dalam keadaan yang mengenaskan, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.

Setelah musuh tangguh berhasil dipukul mundur, Thiat Tiong-tong merasa semangatnya berkobar kembali, pikirnya:

"Dengan kedudukan manusia aneh itu, rasanya mustahil dia akan menggunakan cara paksa untuk merampas obat penawar racun ini, apalagi obat sudah berada ditanganku, masa dia tetap bersikeras akan membawa pergi Sui Leng-kong?"

Belum habis ingatan itu melintas lewat, tiba-tiba terdengar manusia aneh itu menegur sambil tertawa:

"Anak muda, kau tidak datang memohon kepadaku?"

Thiat Tiong-tong melongo, pikirnya keheranan:

"Seharusnya kau yang datang memohon kepadaku, kenapa malah aku yang harus memohon kepadamu?"

Berpikir begitu segera tanyanya:

"Mohon.....mohon apa?"

"Mohon kepadaku agar melolohkan obat penawar racun itu kepadanya! Kalau tidak, bila aku telah membawanya pergi sedang dia mati gara-gara keracunan, memangnya kau tidak akan bersedih hati?"

"Soal ini......soal ini........"

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, ujarnya lagi dengan bangga:

"Telah kuputuskan untuk membawa pergi nona itu, jadi obat penawar racun itu akan kau serahkan atau tidak, itu menjadi urusanmu sendiri"

Paras muka Sui Leng-kong pucat pias, tubuhnya gontai dan gemetar keras.

Thiat Tiong-tong sendiripun merasa gusar bercampur kaget, dia merasakan hatinya sakit bagaikan diiris-iris.

Yin Ping segera maju menghampirinya, setelah menghela napas pelan katanya:

"Serahkan obat penawar itu kepadanya!"

"Tapi.....tapi......."

"Aaai, anak bodoh, bila kau sama sekali tidak ambil perduli dengan keselamatan nona itu, dialah yang akan memohon kepadamu. Tapi kau sudah menunjukkan sikap kuatirmu atas keselamatan jiwanya, tentu saja kau yang harus memohon kepadanya"

Dengan perasaan sedih Thiat Tiong-tong termenung sejenak, dia tahu apa yang diucapkan perempuan itu ada benarnya juga, sebab dia lebih suka menyaksikan Sui Leng-kong pergi meninggal­kan dirinya ketimbang menyaksikan Sui Leng-kong mati karena keracunan.

Terhadap masalah yang tidak mungkin bisa teratasi, dia memang tidak ingin membuang waktu terlalu banyak, maka obat penawar itu segera disodorkan ke muka.

"Ternyata kau memang seorang pemuda yang cerdas" kata manusia aneh itu sambil menyambut botol itu.

Sementara Sui Leng-kong dengan air mata bercucuran bisiknya gemetar: "Kau......kau........"

"Kau harus menunggu aku" ucap Thiat Tiong-tong sambil menggigit bibir, "biar harus mati pun aku tetap akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu!"

Walaupun hanya berapa patah kata singkat namun jauh melebihi beribu patah kata.

"Sampai mati aku tetap akan menunggumu" janji Sui Leng-kong pula tegas.

Biarpun dia sedang menangis sedih, namun berapa patah kata itu diucapkan secara tegas dan tandas.

Manusia aneh itu segera tertawa tergelak, ejeknya:

"Hey anak muda, tidak usah menunggu lagi, walaupun saat ini dia bicara secara tegas, kujamin tiga sampai lima hari lagi dia sudah akan melupakan dirimu untuk selamanya"

Thiat Tiong-tong sudah membalikkan tubuh­nya, dia sama sekali tidak menggubris ucapan tersebut.

Yin Ping datang menghampiri, bisiknya:

"Dia masih berada didalam rumah gubuk, meski terluka namun tidak sampai membahayakan jiwanya, baik baiklah kau rawat lukanya”

Dengan pandangan kosong Thiat Tiong-tong mengangguk, kemudian dia mendengar suara langkah kaki, suara isak tangis Sui Leng-kong, suara hiburan dari manusia aneh itu yang kian lama kian menjauh.

Sebenarnya bisa saja dia mengintil dari belakang, namun bila teringat Ai Thian-hok yang terluka gara-gara dia, tanpa sangsi lagi sambil menggertak gigi dia lari masuk ke dalam gubuk.

 

BAB 18

Barisan Bidadari telanjang.

 

Ai Thian-hok masih duduk bersila di dalam rumah gubuk dengan wajah hambar, tanpa perasaan.

"Ai-heng!" Thiat Tiong-tong menyapa sambil menghela napas pelan, "Sui Leng-kong telah dibawa kabur orang, mari kita segera berangkat, dengan begitu kita tidak akan kehilangan jejak mereka, cuma...... apakah saudara Ai masih sanggup bergerak?"

"Kenapa kau bicara dengan setengah berbisik? Aku tidak mendengar apa yang kau katakan" sahut Ai Thian-hok dengan wajah bingung.

Ucapan itu disampaikan dengan nada sangat keras, bagaikan orang yang sedang berteriak.

Thiat Tiong-tong terkesiap, pikirnya kaget:

"Jangan-jangan.. .gendang telinganya terluka?"

Padahal selama ini dia mengandalkan ketajaman pendengarannya untuk menggantikan matanya yang buta, jika sekarang telinganya jadi tuli, boleh dibilang dia menjadi cacad total, seorang tokoh sakti pun menjadi manusia yang tidak berdaya.

Thiat Tiong-tong merasakan tangan kakinya jadi lemas, nyaris dia tidak sanggup berdiri tegak.

Tiba-tiba Ai Thian-hok bangkit berdiri, sambil mencengkeram bahu anak muda itu katanya dengan suara gemetar:

"Kenapa kau tidak berbicara, apakah...apakah aku sudah tidak.....tidak bisa mendengar lagi....."

Lantaran daya pendengarannya melemah, dengan sendirinya nada suaranya bertambah nyaring dan keras.

Thiat Tiong-tong menyaksikan raut mukanya kaku sedikit mengejang, wajah panik dan ketakutan yang terpampang saat itu belum pernah terlihat sebelumnya.

Biasanya meski berada dalam kondisi yang amat kritis pun dia tidak pernah berubah muka, tapi sekarang paras mukanya telah mengalami perubahan yang luar biasa, hal ini membuktikan kalau menjadi tuli merupakan satu kenyataan yang jauh lebih menyiksa ketimbang mati dibunuh.

Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali, terpaksa sambil menyerakkan suaranya dia menjawab:

"Tenggorokan siaute agak sakit, mungkin suaraku jadi parau lantaran kecapaian selama berapa hari belakangan, mana mungkin saudara Ai tidak bisa mendengar"

Ai Thian-hok menghembuskan napas lega, senyuman kembali menghiasi wajahnya.

"Anak muda memang tidak tahan uji" katanya, "baru mendapat siksaan begitu tenggorokan sudah jadi serak, masih mending kakakmu....."

Thiat Tiong-tong merasakan air mata mengembang dalam kelopak matanya, tapi dia memaksakan diri untuk tertawa keras sambil menyahut:

"Yaa.. tentu saja, siapa yang mampu menan­dingi saudara Ai!"

"Tadi kau bilang hendak mengejar seseorang?"

"Benar!"

"Kalau begitu mari kita segera berangkat, biarpun loko terluka namun tidak akan mengganggu, aku masih sanggup melakukan perjalanan"

"Justru siaute yang merasa agak tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan" kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa paksa.

"Kalau begitu biar aku tuntun dirimu" Thiat Tiong-tong segera membesut air matanya dan melangkah keluar dari situ sambil merangkul bahu Ai Thian-hok, tapi baru keluar dari rumah gubuk itu, air matanya telah jatuh berlinang.

Melakukan pengejaran seorang diripun belum tentu berhasil menyusul manusia aneh itu, apalagi sekarang harus disertai Ai Thian-hok yang nyaris cacad total, boleh dibilang jauh lebih sulit daripada naik ke langit.

Hingga sekarang dia masih belum mengetahui asal-usul manusia aneh itu, bila gagal menyelidiki asal usulnya, mungkin sepanjang masa sulit baginya untuk menyelamatkan Sui Leng-kong.

Tapi bagaimana pula dengan Ai Thian-hok? Apakah harus ditinggalkan seorang diri?

Cahaya fajar mulai muncul diujung langit, hujan angin pun sudah berhenti sejak tadi.

Di tengah cahaya fajar yang redup, mereka berdua menelusuri jalan perbukitan yang penuh lumpur, melihat sisajejak kaki yang tertinggal diatas lumpur, diam-diam Thiat Tiong-tong merasa amat girang.

Siapa tahu ketika tiba disebuah persimpangan, tiba-tiba jejak kaki itu menjadi kacau dan semakin sulit dilihat, dengan perasaan terkejut Thiat Tiong-tong berusaha berjongkok sambil meneliti arah yang dituju, sayang dia tidak berhasil menemukan sesuatu.

Ai Thian-hok yang menunggu berapa saat tiba-tiba bertanya:

"Apakah Yin......Yin Ping melakukan perjalanan bersama orang yang sedang kau kejar?"

Suara pertanyaan itu sangat nyaring hingga bergaung diseluruh perbukitan, namun dia sendiri sama sekali tidak mendengar apa apa.

"Benar"

"Kalau begitu dia melalui jalanan yang ini!" Sambil berkata dia menuju ke arah sebelah kiri. Thiat Tiong-tong terkejut bercampur keheran­an, pikirnya:

"Selain tuli diapun buta, aneh, darimana bisa tahu arah yang digunakan Yin Ping?"

Setelah berjalan sesaat, tak tahan dia pun menyatakan keheranannya.

Sambil tersenyum sahut Ai Thian-hok:

"Bau harum yang tersebar dari tubuh Yin Ping sangat tebal, bau itu masih tersisa di udara fajar yang bersih, jadi gampang untuk dilacak jejaknya, coba kalau berada ditempat keramaian, belum tentu aku dapat mengendus bau harumnya itu"

Disamping kagum, Thiat Tiong-tong pun merasa amat terharu, setelah menempuh perjalanan berapa saat lagi lambat laun mereka sudah menuruni tanah perbukitan, matahari semakin tinggi di angkasa dan memancarkan cahaya emasnya menyinari seluruh jagad.

Sayang bayangan tubuh manusia aneh beserta Yin Ping sekalian sudah hilang lenyap tidak berbekas.

Pada saat itulah dari kejauhan sana, dari balik pepohonan hutan bergema suara keleningan merdu, disusul kemudian muncul seorang penjaja makanan yang membawa sebuah poci.

"Sekarang ke arah mana kita harus pergi?" tanya Thiat Tiong-tong kemudian.

Sambil tertawa getir Ai Thian-hok menggeleng, sahutnya:

"Udara diseputar sini lembab dan berbau tanah, aku tidak bisa mengendus bau harumnya lagi"

Thiat Tiong-tong menghela napas sedih, sambil berdiri  mematung, dia mulai membayangkan kembali sikap mesra yang diperlihatkan Sui Leng­kong selama ini, dia tidak bisa membayangkan apa jadinya bila gagal menemukan kembali gadis tersebut.

Mungkin dia sendiri sanggup menjalani kehidupan yang penuh penderitaan dan siksaan hidup, tapi bagaimana dengan Sui Leng-kong? Mampukah dia melewati hari-harinya dalam kenangan serta kerinduan?

Suara keleningan kian lama kian bertambah dekat, seorang penjaja makanan dengan tangan kiri membawa keranjang, tangan kanan mem-bawa poci arak berjalan mendekat, keleningan yang terikat diatas keranjang makanan berbunyi tiada hentinya. Penjaja makanan itu mulai berteriak:

"Daging sapi, arak putih, harum,  sedap.... murah......."

Perlu diketahui, tempat dimana mereka berada sekarang adalah tempat yang termasuk daerah wisata, banyak orang yang pagi-pagi naik gunung untuk bersembahyang, sehingga tidak heran kalau sejak fajar sudah ada penjaja makanan yang berkeliling.

Tergerak hati Thiat Tiong-tong menyaksikan penjaja makanan itu, segera bisiknya:

"Saudara Ai, tunggu sebentar, biar aku tengok dulu keadaan didepan sana"

Dengan langkah lebar dia menghampiri penjaja makanan itu, mengeluarkan uang dan memberi arak serta daging.

Dengan senyuman ramah penjaja makanan itu melayani pesanannya, tapi tujuan utama Thiat Tiong-tong bukan untuk membeli arak, maka diapun mencari keterangan apakah melihat ada rombongan orang yang baru lewat dari situ.

Dia kuatir Ai Thian-hok menaruh curiga, oleh sebab itu diajaknya penjaja makanan itu menyingkir agak jauh.

Penjaja makanan itu menatapnya berapa saat, lalu menjawab:

"Tidak ada"

Jawaban tersebut seketika membuat Thiat Tiong-tong sangat kecewa, diam-diam dia menghela napas dan tidak berminat lagi untuk membeli arak.

Tiba tiba penjaja makanan itu bertanya lagi:

"Apakah toaya bermarga Thiat?"

"Dari mana kau bisa tahu?" dengan perasaan terperanjat Thiat Tiong-tong bertanya.

"Apakah toaya punya lima tahil perak?" kembali penjaja makanan itu bertanya sambil tertawa.

Thiat Tiong-tong tahu, pertanyaan itu pasti ada alasannya, maka tanpa banyak cakap dia merogoh ke dalam sakunya mengeluarkan sekeping perak dan diperlihatkan dihadapan orang itu.

Dengan mata terbelalak penjaja makanan itu mengawasi kepingan uang ditangan pemuda itu, akhirnya dia merogoh ke dalam keranjangnya, membongkar barang dagangannya dan mengeluarkan selembar daun selebar telapak tangan dari dasar keranjang itu.

Dalam sekilas pandang Thiat Tiong-tong dapat melihat kalau daun lebar itu berisi penuh dengan ukiran tulisan.

Kembali penjaja makanan itu bertanya sambil tertawa:

"Daun ini harganya lima tahil perak, apakah toaya berninat untuk membelinya?"

Andaikata berganti orang lain, mereka pasti menganggap penjaja makanan itu sudah sinting karena memikirkan uang dan pergi meninggalkan­nya.

Tapi Thiat Tiong-tong yang teliti dan sangat berhati-hati dapat menduga kalau ukiran diatas daun pasti berisikan tulisan, satu ingatan segera melintas lewat, tegurnya:

"Darimana kau dapatkan daun itu?"

Penjaja makanan itu tidak menjawab, dia hanya mengawasi uang ditangan pemuda itu sambil tertawa cengar cengir.

Thiat Tiong-tong tersenyum, dia melemparkan kepingan perak itu ke dalam keranjang makanan­nya.

Dengan kegirangan penjaja makanan itu berkata:

"Tadi ada sebuah kereta kuda yang sangat indah dan mewah melalui hutan ini, pelancong kaya semacam ini tidak mungkin akan membeli daganganku maka pada mulanya aku tidak menaruh perhatian"

Setelah menyembunyikan kepingan perak tadi ke balik tumpukan barang dagangannya, kembali dia melanjutkan:

"Siapa tahu kereta kuda yang paling belakang tiba-tiba berhenti, katanya mau membeli daging sapi. Suara itu merdu, manis dan enak didengar, buru-buru aku pun berlari mendekat, dari dalam kereta segera terdengar ada suara lelaki yang berkata sambil tertawa" "setelah hidup selama banyak tahun dalam kuil, tidak heran kalau kau jadi rakus makanan, mungkin kecuali kau, tidak ada orang lain yang sudi makan daging semacam itu". Maka dia pun minta aku mengiriskan daging, tapi harus dipotong tipis-tipis. Aku tahu ini pesanan istimewa maka daging kuiris setipis mungkin. Siapa tahu tatkala aku sedang mengiris daging itulah, telingaku secara tiba-tiba menang­kap lagi suara bisikan yang manis dan merdu"

"Apa yang dia katakan?" tidak tahan Thiat Tiong-tong menukas.

"Dia minta aku menunggu di persimpangan jalan ini, bila melihat ada seorang pemuda bertanya kepadaku apakah melihat ada serombongan manusia lewat disini, maka aku disuruh menjual daun itu kepadanya dengan harga lima tahil perak. Suara bisikan itu seakan bergema dari sisi telingaku, padahal disitu tidak ada orang, baru aku merasa terperanjat sambil mengangkat kepala, kulihat ada seseorang menampakkan diri dari balik jendela dan memandang kearahku sambil tertawa, aku duga pasti dialah yang barusan berbicara denganku!"

Thiat Tiong-tong tahu, suara bisikan itu pasti disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara, diam-diam pikirnya dengan keheranan:

"Tenaga dalam Sui Leng-kong tidak hebat, dia belum mampu menggunakan ilmu menyampai-kan suara, jangan-jangan yang memberi kisikan adalah Yin Ping?"

Terdengar penjaja makanan itu berkata lagi sambil tertawa:

"Wajah itu benar benar amat cantik, bahkan jauh lebih cantik daripada bidadari dari kahyangan, saking kesemsemnya hampir saja jari tangan ini kuiris sendiri. Ketika melihat aku berdiri terpesona, diapun mengeluarkan sekeping uang perak serta selembar daun ini dan menyerahkannya kepadaku, tapi aku tetap tidak percaya, masa ada orang mau membeli daun ini seharga lima tahil perak!"

Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menyambut daun itu, pikirnya:

"Dia tahu kalau aku pasti akan mencari berita diseputar sini, juga tahu kalau penjaja makanan itu pasti akan mencoba beradu untung dengan menunggu ditempat ini, bila Sui Leng-kong bisa berpikir begitu, Yin Ping pasti bisa menduga pula ke situ, aneh, tapi kenapa dia harus meninggalkan pesan secara rahasia bahkan menyampaikan dengan ilmu menyampaikan suara? Jelas dia berbuat begitu lantaran kuatir ketahuan manusia aneh itu. Pesan apa yang dia tinggalkan pada daun itu?"

Berpikir sampai disini, dia segera periksa daun itu dengan seksama, benar juga segera terbaca beberapa tulisan disitu, tulisan itu berbunyi:

"Bila ingin bertemu kembali, cepat berangkat ke kaki bukit Lau-san di Lu-tang, hati-hati!"

Setelah membacanya berulang kali, Thiat Tiong-tong merasakan darah panas bergolak dirongga dadanya, dengan kegirangan dia berpikir:

"Aku....... aku punya harapan untuk berjumpa lagi dengan Sui Leng-kong..."

Dia tahu bawah bukit Lau-san pasti merupakan tempat tinggal si manusia aneh itu, pikirnya lebih jauh:

"Kenapa Yin Ping mau memberitahukan rahasia ini kepadaku? Untuk mengukir tulisan diatas daun pun sudah banyak menguras pikiran dan tenaganya, jangan-jangan dia berbuat demikian karena kasihan aku berpisah dengan Sui Leng­kong?"

Tapi ingatan lain segera melintas lewat, seakan sadar akan sesuatu, pikirnya lebih jauh:

"Aaah, benar, bagaimanapun dia sudah punya umur, sudah waktu baginya untuk memikirkan masa tuanya nanti, tentu dia berniat hidup berdampingan dengan manusia aneh itu hingga kakek nenek, tapi kuatir kehadiran Sui Leng-kong akan menyingkirkan dia dari pandangan orang itu. Maka dia membantuku untuk merampas balik Sui Leng-kong. Aaaai! Yin Ping wahai Yin Ping, kecerdasan otakmu memangjauh diatas siapa pun*

Sementara dia masih melamun, penjaja makanan itu sudah melarikan diri dari situ, kelihatannya dia kuatir Thiat Tiong-tong menyesal, maka sehabis menyembunyikan uang perak itu, dia mengambil langkah seribu.

Perlahan-lahan Ai Thian-hok berjalan men­dekat, cepat Thiat Tiong-tong menyongsong keda­tangannya, dia menyangka rekannya datang mencari berita, siapa tahu Ai Thian-hok sama sekali tidak menunjukkan kecurigaannya.

Tanpa ragu lagi, dia segera membimbing Ai Thian-hok dan beranjak pergi dari situ.

"Saudaraku, kita mau ke mana? Apa perlu aku temani?" tanya Ai Thian-hok kemudian.

Dengan sedih Thiat Tiong-tong berpikir: "Walaupun keikut sertaannya akan menjadi beban bagiku, tapi apakah aku tega membiarkan dia pergi seorang diri? Lagipula.......akupun tidak tahu Kiu cu Kui bo saat ini berada dimana"

Berpikir  begitu, sambil tertawa tergelak sahutnya:

"Siaute sadar, perjalanan kali ini penuh dengan rintangan dan kesulitan, dengan pengalaman dan pengetahuan siaute yang begitu cetek, jelas merupakan satu masalah besar. Bila Ai-heng bersedia, bantulah aku sekali ini!"

"Baik, mari kita berangkat!" sahut Ai Thian-hok sambil tersenyum.

Selain terharu, Thiat Tiong-tong pun menghela napas sedih, sepanjang perjalanan dia selalu berusaha mengelabuhi rekannya, dia takut Ai Thian-hok jadi bosan hidup gara-gara mengetahui telinganya sudah mulai tuli.

Ternyata Ai Thian-hok seakan tidak menyadari akan hal itu, sepanjang perjalanan dia selalu mencari kesempatan untuk menuturkan semua pengalaman dan pengetahuannya tentang dunia persilatan kepada anak muda tersebut.

Suatu hari tibalah mereka di kota Cu-shia diwilayah Lu-tang, jaraknya dengan bukit Lau-san sudah tidak terlalu jauh lagi.

Saat itu udara terasa hangat, aneka bunga mekar dengan indahnya, sudah hampir setahun pemuda itu meninggalkan Perguruan Tay ki bun.

Membayangkan kembali semua pengalaman­nya selama ini, Thiat Tiong-tong tidak tahu haruskah merasa sedih atau gembira, walaupun dia sudah banyak mengucurkan darah dan keringat demi perguruan, diapun tidak tahu apakah semua perbuatannya bisa dimaklumi gurunya atau tidak.

Bagaimana pula keadaan saudara perguruan lainnya selama setahun ini? Bagaimana pula dengan keadaan luka yang diderita Im Ceng? Biarpun ada Un Tay-tay yang melindunginya, namun dia tetap merasa amat kuatir.

Apalagi dihati kecilnya masih menyimpan sebuah rahasia yang amat besar, setiap menjelang tengah malam, disaat sepi manusia, dia seringkah bergumam seorang diri:

"Waktunya  sudah  hampir  tiba, jangan lupa....jangan sampai lupa....."

Setibanya di kota Cu-shia, walaupun dihati kecilnya Thiat Tiong-tong ingin melanjutkan kembali perjalanannya, namun lantaran kuatir Ai Thian-hok kelewat lelah, maka menjelang senja dia pun mencari tempat penginapan untuk beristirahat, berdua dia duduk terpekur sambil minum arak.

Ketika malam semakin kelam, selera minum kedua orang itu makin meningkat, siapa pun enggan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Selama ini Thiat Tiong-tong selalu berusaha untuk bicara keras, agar Ai Thian-hok dapat menangkap pembicaraannya secara jelas, akibat­nya saat ini tenggorokannya benar-benar sedikit agak parau.

Setiap kali Ai Thian-hok tidak dapat menangkap isi pembicaraan secara jelas, Thiat Tiong-tong selalu berseru sambil tertawa:

"Tenggorokan siaute memang semakin parau, bayangkan, kemarin sewaktu minta air, jarak tiga meter pun orang tidak mendengar teriakanku, tentu nya toako juga makin pusing bukan untuk menangkap ucapanku?"

Ai Thian-hok tersenyum tanpa menjawab, lewat sesaat kemudian tiba-tiba setitik air mata membasahi kelopak matanya.

Melihat itu dengan terperanjat Thiat Tiong-tong bertanya:

"Toa.....toako, kenapa kau bersedih hati?"

Ai Thian-hok duduk tanpa bergerak, sampai lama kemudian ia baru berkata pelan:

"Saudaraku yang bodoh, memangnya kau sangka toako benar-benar tidak tahu?"

"Toako, apa yang kau ketahui?"

"Berulang kali kau minta aku membantumu, membimbingmu, padahal kau tidak tega mening­galkan diriku bukan? Padahal kau kasihan kepada toako lantaran sudah buta, tuli lagi bukan?"

Sekujur tubuh Thiat Tiong-tong bergetar keras, air mata kembali jatuh bercucuran, sambil memegang bahu Ai Thian-hok kuat-kuat, ujarnya gemetar:

"Toako, kau......sejak kapan kau tahu akan hal ini?"

"Sewaktu tiba di kaki bukit, toako sudah mengetahuinya!" sahut Ai Thian-hok sambil menghela napas.

Kemudian setelah tertawa pedih, lanjutnya: "Kau tidak menyangka bukan, meski toako sudah buta lagi tuli, namun masih mampu berdiri tegak, mampu berjalan, masih punya selera makan, tidur dengan nyenyak?"

Thiat Tiong-tong hanya mengawasi raut mukanya yang kaku itu dengan termangu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan hatinya sekarang, dalam waktu sesaat pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.

Bukan saja seluruh kemewahan dan keindahan dunia tidak bisa dilihat dan dinikmati lagi, kedudukan terhormat dalam dunia persilatan, nama harum diantara umat persilatan pun harus dia tinggalkan untuk selamanya.

Seandainya dia hanya seseorang yang pasrah pada nasib, mungkin keadaan jauh agak mendingan, tapi dia adalah seorang jagoan sejati yang besar ambisinya dan tinggi cita-citanya, mungkinkah dia sanggup menghadapi pukulan batin ini?

Tapi kenyataannya sekarang, pukulan batin yang belum tentu dapat dihadapi siapa pun tidak sampai merobohkan dirinya, ia masih dapat bertahan dengan tenang, bersikap seakan tidak pernah terjadi sesuatu, bukan hanya orang lain saja, bahkan Thiat Tiong-tong sendiripun tidak menyangka.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya terdengar Ai Thian-hok berkata kembali:

"Saudaraku, kau jangan lupa, keteguhan batin seorang lelaki  terbentuk karena tempaan penderitaan dan siksaan, biarkan saja tubuh berubah jadi cacad, biarkan saja tubuh dan phisikmu berubah tidak berguna, yang penting hatimu belum menjadi cacad, pikiranmu masih berguna, itu semua sudah lebih dari cukup"

"Aaaa, kelihatannya memang gampang, padahal sulit untuk dilakukan" pikir Thiat Tiong-tong didalam hati, "berapa orang sih di dunia ini yang sanggup melakukan hal tersebut?"

Sekalipun perasaan hatinya amat pedih, namun diliputi perasaan kagum yang tidak terhingga.

Tiba-tiba Ai Thian-hok bangkit berdiri, setelah menghela napas panjang, ujarnya:

"Waktu sudah larut malam, mari kita tidur!"

Sewaktu kembali, tubuhnya berjalan sangat tegak.

Malam itu Thiat Tiong-tong tidak dapat tidur nyenyak, hingga fajar menjelang tiba dia baru bisa terlelap tidur.

Ketika dia mendusin dari tidurnya, Ai Thian-hok telah pergi dari situ sambil meninggalkan sebuah surat yang ditindihkan dibawah sebuah kotak kecil dari kayu.

Tulisan diatas kertas sangat kacau dan susah dibaca, namun secara lamat-lamat masih bisa terbaca:

"Meski belajar pedang susah, ternyata men­dapat kawan sejati jauh lebih susah, memperoleh seorang adik macam kau membuat aku rela mati, oleh sebab itu aku tidak ingin membuat susah kau, sepanjang-panjangnya jalanan akhirnya akan tiba diujungnya juga, mungkin mulai kini aku akan berkelana ke ujung dunia dan entah sampai kapan baru bersua kembali.

"Sebuah kotak kayu yang sudah banyak tahun kusimpan kuberikan sebagai kenangan, semoga hiante tidak usah mencariku lagi"

Membaca surat itu sambil memegang kotak kayu kecil, Thiat Tiong-tong merasakan seluruh tubuhnya gemetar keras, rasa sedih menyelimuti seluruh perasaan hatinya.

 

Bukit Lau-san terletak di daerah Ciau-ciu (Propinsi Shoatang) yang terletak di pesisir laut, udara amat hangat, karena berada disepanjang laut, tidak heran kalau banyak pelancong yang berkunjung ke situ.

Setibanya dikaki bukit, Thiat Tiong-tong mulai berjalan mengelilingi seluruh tanah perbukitan, namun dia tidak berhasil menemukan seorang manusiapun diseputar sana.

Akhirnya dia mencari seorang penebang kayu yang dijumpainya di kaki bukit dan bertanya apakah pernah menjumpai sekelompok manusia aneh diseputar sana, tapi penebang kayu itu menjawab tidak pernah dijumpai sesuatu yang aneh.

Thiat Tiong-tong merasa panik bercampur kecewa, mencari hingga menjelang senja, akhirnya dia duduk termangu dibawah pohon sambil mengawasi lembayung dikaki bukit, pikirnya:

"Mungkinkah dia membohongi aku? Jangan-jangan mereka menuju ke barat sementara aku menuju ke timur hingga selama hidup tidak akan berhasil menemukan mereka kembali?'

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar suara meong bergema dari sisi pepohonan, menyusul kemudian terlihat seekor kucing berbulu putih muncul dari balik semak.

Kucing itu kelihatan gagah dan keren, jauh lebih gagah dari kucing biasa, sepasang matanya yang berwarna hijau seolah memancarkan cahaya api, binatang itu tidak lain adalah Ping-nu, kucing kesayangan Yin Ping.

Tidak terkirakan rasa girang Thiat Tiong-tong menyaksikan kemunculan kucing itu, segera serunya:

"Meong, apakah kau datang menjemputku?"

Tampaknya Ping-nu sangat mengerti bahasa manusia, sepasang matanya yang hijau nampak memandang anak muda itu berulang kali, kemudian diiringi suara meong, kucing itu lari menuju ke atas bukit.

Thiat Tiong-tong tidak berani berayal, segera dia mengikuti di belakangnya.

Kecepatan gerak kucing pintar itu ternyata sama cepatnya dengan gerakan tubuh seorang jago persilatan, tampak bulu putihnya yang halus memantulkan cahaya bianglala ketika tertimpa cahaya senja.

Thiat Tiong-tong berlarian dengan sepenuh tenaga, dia tidak berani berayal hingga ketinggalan, lebih kurang sepertanak nasi kemudian mereka telah melampaui punggung bukit dan memasuki hutan yang lebat.

Angin gunung yang berhembus kencang, mendatangkan hawa dingin yang menggigit.

Biarpun udara dingin, peluh sempat membasahi punggung Thiat Tiong-tong, setelah melampaui berapa tikungan bukit, lagi-lagi kucing itu mengeong, kemudian menerobos masuk ke balik semak disisi dinding tebing dan melenyapkan diri.

Thiat Tiong-tong tertegun, buru-buru dia berlarian mendekat sambil melakukan pemerik­saan.

Ternyata diantara dinding bukit itu terdapat sebuah jalan setapak selebar satu meter, jalan sempit itu tertutup oleh lebatnya semak belukar sehingga kalau tidak dicari dengan seksama, sulit untuk ditemukannya.

Dengan kegirangan kembali Thiat Tiong-tong berpikir:

"Dibalik celah sempit ini pastilah tempat tinggal manusia aneh itu"

Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya lebih jauh dengan sedih:

"Berbicara dari kungfu yang kumiliki, kendati pun berhasil menemukan tempat tinggalnya, bukan berarti aku dapat menyelamatkan Leng-kong secara gampang......."

Sementara dia masih melamun, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur sambil tertawa merdu:

"Bocah bodoh, apa yang sedang kau tengok disitu?"

Dengan perasaan terkejut Thiat Tiong-tong berpaling, entah sejak kapan dua orang gadis berambut hitam telah berdiri dibawah sinar senja yang mulai redup.

Mungkin karena dia sedang melamun hingga kurang konsentrasi, maka tidak diketahui kehadiran mereka berdua.

Kedua orang gadis itu mengenakan jubah panjang terbuat dari sutera yang halus, lembut lagi longgar, satu berwarna merah yang lain berwarna hijau dan panjangnya selutut hingga nampak jelas sepasang betisnya yang putih halus, kaki mereka terbungkus oleh sepatu terbuat dari rumput yang datar dan amat sederhana.

Mereka berdua tidak lain adalah gadis yang pernah ikut bersama manusia aneh itu mengunjungi lembah kong-kok-san.

Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur girang, terkejut karena jejaknya ketahuan lawan, girang karena dugaannya ternyata tidak meleset, disitulah tempat tinggal manusia aneh itu.

Dengan matanya yang jeli nona berbaju hitam itu memperhatikan wajah Thiat Tiong-tong berapa saat, kemudian tegurnya sambil tertawa:

"Ternyata perhitungan kokcu tidak meleset, kau benar-benar datang kemari!"

"Yaa, kalau memang sudah datang, ayohlah masuk ke dalam" sambung nona berbaju hijau itu pula, "apa lagi yang kau perhatikan?"

"Darimana dia tahu kalau aku bakal kemari?" tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.

Dia duga manusia aneh itu benar-benar seorang manusia sakti yang bisa melihat masa depan, hingga apa yang bakal terjadi sudah diketahui terlebih dulu olehnya.

Tentu saja dia tidak mengira kalau manusia aneh itu sesungguhnya adalah seorang jagoan silat yang berbakat alam, sekalipun tidak dapat meramal masa depan, namun perhitungan serta dugaannya selalu tepat.

Ketika dia saksikan Yin Ping yang dihari biasa jarang meninggalkan dirinya tahu-tahu keluar lembah secara diam-diam, dia segera menduga kalau perempuan itu menaruh rasa cemburu terhadap Sui Leng-kong hingga sengaja memancing kedatangan Thiat Tiong-tong ke situ untuk menolong gadis tersebut.

Sementara masih kaget bercampur ragu, kawanan gadis itu telah meluruk maju mendekat, satu menarik tangan Thiat Tiong-tong, yang lain menarik lengan bajunya sembari berseru:

"Kokcu kami sudah menunggu, ayoh cepat masuk!"

Tanpa membuang waktu lagi mereka menarik anak muda itu memasuki celah sempit diantara dinding bukit dan menuju ke dalam lembah.

Thiat Tiong-tong hanya merasakan bau harum semerbak terendus disisi hidungnya, dia mencoba meronta namun tidak berhasil.

Celah sempit itu lembab, gelap lagi tertutup rapat oleh semak yang lebat, untuk melewatinya maka orang harus berjalan satu per satu, begitulah, Thiat Tiong-tong dengan diapit dua orang gadis itu, satu didepan yang lain di belakang, berjalan menelusuri jalan setapak itu hampir seperminum teh lamanya.

Tiba-tiba pemuda itu merasakan pandangan matanya jadi terang, ternyata pemandangan dihadapannya telah berubah jadi amat lebar dan terbuka, hembusan angin yang semilir ditambah bau harum bunga yang harum, membuat suasana disitu terasa nyaman dan mengesankan.

Rupanya disudut celah yang sempit tadi merupakan sebuah lembah bukit yang luas dan lebar, lembah itu dikelilingi perbukitan diseke-lilingnya dengan pepohonan yang rimbun dan sebuah sungai kecil yang mengalir tenang.

Sepanjang sungai kecil itu penuh ditumbuhi pohon Yang-liu, diantara rimbunnya dedaunan lamat-lamat tampak sebuah bangunan indah yang muncul dibalik bukit.

Didepan bangunan indah itu merupakan sebuah tanah lapang dengan rumput yang dipotong pendek tapi rapi, diatas hamparan rerumputan nan hijau tergeletak puluhan macam alat musik, meja catur dan lain sebagainya.

Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau di dunia pun terdapat alam seindah nirwana, tidak urung dia berdiri tertegun berapa saat lamanya.

Terdengar nona berbaju merah itu berseru sambil tertawa cekikikan:

"Saudara-saudaraku, apa indahnya melihat ikan disungai? Cepat kemari dan lihatlah si burung bodoh ini......"

Rupanya disepanjang sungai kecil, dibalik pepohonan yang rimbun berkumpul belasan orang gadis cantik.

Kawanan gadis itu hanya mengenakan kain tipis yang terbuat dari sutera, ketika berlarian terhembus angin, tampaklah dengan jelas lekukan tubuh mereka yang montok dan indah, ternyata dibalik kain sutera tipis itu, mereka berada dalam keadaan telanjang bulat.

Thiat Tiong-tong hanya merasakan rangsangan yang hebat setelah melihat kawanan gadis bugil itu, buru-buru dia pejamkan matanya rapat rapat dan tidak berani memperhatikan lebih jauh.

Dalam waktu singkat kawanan gadis itu sudah berada disisi tubuhnya, ada yang menarik bajunya, ada yang menarik lengan bajunya, bau harum yang menusuk hidung muncul dari empat arah delapan penjuru.

Thiat Tiong-tong merasa gugup bercampur panik, dia mencoba mendorong kawanan gadis itu, tapi begitu jari tangannya menyentuh tubuh yang halus, lembut bagaikan kapas, dengan perasaan takut cepat dia menarik kembali tangannya.

Sekalipun dia adalah seorang lelaki sejati berhati baja, tidak urung dibikin kelabakan juga setelah berada dalam kerumunan gadis bugil.

Terdengar seorang gadis muda berseru sambil tertawa cekikikan:

"Coba lihat tampangnya, dulu saja dia nampak gagah perkasa dan banyak akal hingga manusia pengecut takut mati itu dibuat kelabakan setengah mati, siapa sangka kalau hari ini dia sendiri yang justru seperti burung dungu"

Ditengah gelak tertawa yang riuh, seorang gadis lain membelai pipi Thiat Tiong-tong dengan lembut, lalu katanya sambil menghela napas:

"Sejak bertemunya tempo hari, aku sudah ingin mengelus pipinya, coba kalian lihat wajahnya, oooh..... macam pahatan saja, sungguh indah dan mengesankan, akhirnya keinginanku itu kesampaian juga hari ini”

"Tidak heran kalau nona cilik itu mati-matian menunggu kehadirannya" seru gadis yang lain pula, "biar kokcu sudah membujuk dan merayu dengan cara apapun, dia tetap tidak menggubris dan ambil perduli, rupanya dia memang tampan sekali"

Kelihatannya gadis itu baru pertama kali ini bertemu Thiat Tiong-tong, bukan saja menga­guminya, bahkan nona itu seperti menyesal kenapa bukan dia yang dicintai pemuda itu.

Sementara Thiat Tiong-tong sendiri merasa sedikit agak lega setelah tahu kalau Sui Leng-kong masih berada dalam keadaan selamat.

Tiba-tiba dari seberang sungai kecil terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring:

"Tamu sudah tiba kenapa tidak dipersilahkan masuk?

Kawanan gadis itu sama-sama membuat muka setan sambil menjulurkan lidahnya kemudian menarik tangan pemuda itu dan diajak menye­berangi jembatan kecil.

"Tolong lepaskan tangan kalian" pinta Thiat Tiong-tong, "aku bisa berjalan sendiri!"

Sambil tertawa kawanan gadis itu melepaskan tangannya.

Thiat Tiong-tong menghembuskan napas lega, dia mencoba celingukan kesana kemari, ternyata setelah menyeberangi sungai mereka menelusuri sebuah jalan setapak yang terbuat dari batu warna warni, dikedua sisi jalan setapak itu penuh ditumbuhi aneka bunga yang indah dan semerbak.

Jalan setapak itu langsung menghubungkan tempat itu dengan sebuah bangunan mungil, saat itulah kembali terdengar seseorang berseru dari balik ruangan sambil tertawa:

"Tamu agung datang dari jauh, ayoh para budak, cepat ajak dia masuk ke dalam, aku malas untuk keluar menyambut"

Nona berbaju merah itu tertawa lirih sambil menutupi mulutnya, dia segera berjalan duluan menuju ke sebuah serampi samping, ketika membuka pintu pagar maka bergemalah suara keleningan yang merdu.

Manusia aneh itu dengan jubah merahnya sedang duduk diatas sebuah alas tidur yang terbuat dari batu kemala putih, didepan pembaringan adalah sebuah meja pendek dengan sebuah vas berisi aneka bunga dan sebuah jamban berisi aneka buah buahan.

Beberapa orang gadis cantik berdiri disekelilingnya sambil meniup seruling dan bermain khiem, ketika melihat kemunculan Thiat Tiong-tong, meski irama musik tidak berhenti namun kerlingan mata kawanan gadis itu hampir semuanya tertuju ke arah anak muda itu.

Ke empat dinding ruangan itu bersih berkilat bagai cermin, suasana dalam ruangan pun indah bagai sebuah lukisan, ketika Thiat Tiong-tong mencoba mengawasi sekitar situ, dia tidak tahu ada berapa banyak gadis cantik yang berada disana, dia pun tidak tahu ada berapa banyak kerlingan mata yang tertuju ke wajahnya.

Sambil tertawa tergelak manusia aneh itupun berseru:

"Wouw, seorang penebar bibit cinta yang luar biasa. Tidak nyana kau rela menempuh perjalanan sejauh ribuan li hanya untuk menyusul seorang nona. Tentu sudah kelelahan bukan selama perjalanan? Mari, mari, mari, duduklah kemari"

Seorang gadis yang duduk diatas pembaringan batu itu segera bangkit berdiri dan memberikan tempat duduknya.

Thiat Tiong-tong segera berpikir:

"Kalau ku tampik ajakan itu, dia pasti menduga hatiku cupat dan takut kepadanya......"

Maka sambil tersenyum diapun berjalan mendekat dan duduk.

Dia memang seorang pemuda yang cerdas, pemberani dan tidak terbiasa terkekang oleh adat yang bertele-tele, kendatipun dia sedikit lupa diri ketika menyaksikan suasana bak berada di nirwana tadi, namun hanya sekejap kemudian dia sudah berhasil mengen-dalikan diri.

"Kau berani minum arak dan makan buah yang tersedia disini?" tantang manusia aneh itu lagi sambil tertawa.

Thiat Tiong-tong tersenyum, sahutnya:

"Berbicara dari ilmu silat yang cianpwee miliki, buat apa mesti meracuni arak dan buah itu jika ingin membunuhku? Jangan lagi baru secawan dan sebiji buah, disuruh menghabiskan tiga kati pun aku sanggup"

Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.......bagus!" serunya.

Dia bertepuk tangan, seorang gadis muncul menghidangkan arak wangi, arak itu berwarna hijau dan harum baunya.

Thiat Tiong-tong tahu, bila orang itu mengijinkan dirinya bertemu Sui Leng-kong maka dia tidak usah banyak bicara, sebab banyak omongpun tidak ada gunanya, oleh karena itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mulai meneguk arak sambil menikmati buah-buahan.

Kawanan gadis cantik yang berada disekitar sana hanya berdiri menonton sambil tertawa cekikikan, melihat itu si manusia aneh itu segera menegur sambil tertawa:

"Dasar budak cilik, apa yang kalian tertawakan, cepat tunjukkan kebolehan kalian dihadapan tamu!"

Kawanan gadis itu menyahut, irama musik pun berubah, dari nada yang halus lembut berubah jadi keras dan cepat, beberapa orang diantara mereka sudah mulai bertepuk tangan sambil menyanyi, ada pula yang tampil ditengah ruangan dan mulai menari.

Tarian yang dibawakan kawanan gadis itu lembut dan indah, liukan pinggul yang bergetar bagai liukan ular ditambah dengan kibaran baju yang memperlihatkan betis putih mereka, membuat suasana disitu benar benar mengobarkan rangsangan syahwat.

Kerlingan mata merekapun menggetarkan sukma, diiringi senyuman manis yang memikat tiba-tiba seorang gadis penari menjatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu.

Tapi Thiat Tiong-tong tetap duduk sambil memegang cawan, bukan saja tidak memandang kearah nona itu, menyentuh pun tidak.

Melihat sikapnya yang kaku itu sambil tersenyum manusia aneh itu mengulapkan tangan­nya.

"Sudahlah" dia berseru, "biar kuajak sang tetamu mengunjungi tempat lain"

Begitu dia selesai bicara, nyanyian dan tarian berhenti seketika, nona yang berada dalam pelukan Thiat Tiong-tong pun ikut bangkit berdiri, sambil menowel ujung hidungnya dia mengumpat lirih:

"Dasar kau........lebih kaku dari sebatang balok kayu"

Thiat Tiong-tong hanya menghembuskan napas lega, cepat dia ikut bangkit berdiri.

Sejujurnya, barusan diapun sedikit terangsang oleh ulah gadis cantik itu, masih untung dia sudah terbiasa menyembunyikan perasaan hingga orang lain tidak mengetahuinya.

Kembali manusia aneh itu berkata sambil tertawa:

"Jarang sekali ada orang yang sanggup berkunjung kemari, tapi sekarang kau sudah datang, berarti kaulah tamu agung kami. Kalau tidak kuajak melihat-lihat sekitar sini, kau pasti akan menuduhku berjiwa sempit!"

Diam diam Thiat Tiong-tong berpikir:

"Sampai  sekarang dia sama sekali tidak menyinggung soal Sui Leng-kong, jangan-jangan dia sedang mengajakku untuk menjum-painya?"

Sementara dia masih termenung, manusia aneh itu sudah beranjak pergi terlebih dulu.

Setelah melewati berapa serambi dan beberapa bangunan rumah, Thiat Tiong-tong baru sadar kalau kesemuanya itu terdiri dari satu kesatuan bangunan besar, kendatipun dari luar bangunan itu kelihatan biasa tidak ada keistimewaan tapi dalamnya nyaris seluruhnya dibangun dari batu pualam putih yang bening dan berkilat hingga bangunan itu mirip sebuah istana salju yang bening bagai cermin.

Perabot maupun dekorasi dalam ruangan pun indah, sederhana tapi penuh artistik, sama sekali tidak meninggalkan kesan kemewahan yang berlebihan.

Tidak tahan kembali Thiat Tiong-tong berpikir sambil menghela napas:

"Tampaknya manusia aneh ini memang seseorang yang sangat pandai menikmati hidup”

Manusia aneh itu berjalan terus tiada hentinya, setelah melalui beberapa bilik, tiba-tiba Thiat Tiong-tong merasakan pandangan matanya silau, ternyata mereka telah tiba disebuah ruangan besar yang dipenuhi aneka batu permata, zamrud, intan permata serta benda berharga lainnya, boleh dibilang seluruh benda yang berada disitu rata rata indah dan mahal harganya.

Thiat Tiong-tong pernah menjumpai tumpukan batu permata yang amat banyak ketika berada dalam gua harta tempo hari, waktu itu dia menganggap tumpukan barang berharga itu luar biasa dan tiada duanya dikolong langit, siapa tahu bila dibandingkan tumpukan harta yang dijumpai di tempat ini, apa yang pernah dilihatnya dulu ternyata masih tidak seberapa.

Tidak tahan lagi dia menghela napas panjang.

Dari atas sebuah meja, manusia aneh itu mengambil sebilah pedang yang gagangnya penuh ditaburi batu permata, ujarnya sambil tertawa:

"Aku percaya kau memiliki ketajaman mata yang luar biasa, bagaimana menurut pandangan-mu tentang pedang ini?"

Sewaktu ibu jarinya memencet sebuah tombol, "Criiiing!" pedang itu sudah diloloskan dari sarungnya.

Diantara dentingan suara yang nyaring bagai pekikan naga, cahaya pedang segera memancar ke empat penjuru, sinar yang amat menyilaukan mata membuat setiap benda yang berada dalam ruangan terlihat sangat jelas.

"Pedang bagus!" tidak tahan Thiat Tiong-tong berteriak memuji.

Sekulum senyuman bangga tersungging di ujung bibir manusia aneh itu, sambil memandang sekeliling ruangan itu sekejap ujarnya:

"Seluruh harta karun yang berada dalam ruangan ini merupakan hasil jerih payah leluhurku yang mengumpulkan sedikit demi sedikit, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Jarang dijumpai di tempat lain"

"Bagaimana pula dengan kawanan nona cantik tadi?" kembali manusia aneh itu bertanya sambil tertawa.

"Semuanya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan"

Tiba-tiba manusia aneh itu menarik muka, katanya dengan nada berat:

"Asal kau bersedia mengabulkan satu permin­taanku, seluruh harta karun yang berada disini boleh kau angkut pergi, seluruh gadis cantik yang kau jumpai tadipun boleh kau pilih sesuka hatimu"

"Apa permintaanmu itu?" tanya Thiat Tiong-tong dengan perasaan hati sedikit tergerak.

Manusia aneh itu tidak menjawab, dia tekan sebuah tombol diatas dinding batu kemala, tiba tiba muncul sebuah jendela kecil yang terbuat dari kaca kristal, tidak tahan Thiat Tiong-tong melongok ke dalam.

Diseberang jendela merupakan sebuah ruangan mungil, didalam ruangan tersedia sebuah pembaringan yang terbuat dari batu kemala, seorang nona berbaju putih dengan rambut sebahu dan wajah cantik bak bidadari duduk termenung disitu, siapa lagi kalau bukan Sui Leng-kong?

Didepan maupun dibelakang tubuhnya penuh bertumpuk aneka macam benda mestika yang mahal harganya, ada buah segar, ada pakaian indah, ada perhiasan mahal......... ada pula setumpuk buku dan seekor burung kakaktua yang indah bulunya.

Segala sesuatu yang tersedia disitu boleh dibilang merupakan benda benda yang paling disukai setiap wanita dikolong langit.

Tapi Sui Leng-kong duduk diatas ranjang dengan wajah murung, kendatipun dia sedang memegang sejilid buku, namun matanya tidak memandang ke arah buku itu, dia hanya duduk melamun.

Thiat Tiong-tong seketika merasakan hatinya bergolak keras, hampir saja dia berteriak memanggil.

Sambil tersenyum manusia aneh itu segera berkata:

"Walaupun kau dapat melihatnya namun dia tidak dapat melihatmu, biar kau berteriak sampai serak pun jangan harap dia mendengar suara teriakanmu"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Mengakunya saja seorang bulim cianpwee, tapi bisanya hanya menyekap seorang nona, enghiong macam apa pula dirimu itu" ejeknya.

Dia segera membuang muka dan tidak memperhatikan dirinya lagi.

Manusia aneh itu sama sekali tidak menanggapi, katanya lagi perlahan:

"Asal kau bersedia mengatakan dihadapannya bahwa selama hidup tidak akan bertemu lagi dengannya, seluruh harta karun dan wanita cantik yang ada disini boleh kau bawa pergi"

Siapa yang tidak akan terpikat, siapa yang tidak akan   tertarik dengan harta karun serta wanita cantik? Dia yakin Thiat Tiong-tong tidak bakal menampik tawarannya itu.

Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya dan tertawa keras.

"Hahahaha...... kusangka cianpwee adalah seorang tokoh yang luas pengetahuannya, siapa tahu...hehehehe.... memangnya cianpwee anggap cayhe adalah manusia semacam itu?" serunya.

Berubah paras muka manusia aneh itu, serunya sambil tertawa dingin:

"Jangan lupa, sampai detik ini dia masih berada dalam cengkeramanku, bila aku menggunakan kekerasan, memangnya dia bisa terbang ke langit?"

Thiat Tiong-tong kembali tertawa.

"Walaupun cianpwee salah menilai tentang diriku namun cayhe tidak bakal salah menilai diri cianpwee, bila kau ingin menggunakan kekerasan, buat apa mesti menunggu sampai hari ini!"

Walaupun manusia aneh ini suka main wanita, tapi dia selalu bersikap angkuh dan tinggi hati, perkataan dari Thiat Tiong-tong barusan tepat menyentuh perasaan hatinya, kontan saja sikap maupun wajahnya berubah jadi lebih lembut dan ramah.

Dia berjalan mengelilingi ruangan itu satu lingkaran, kemudian sambil menghentikan langkahnya berkata:

"Kau sudah pernah melihat kepandaian silatku, bagaimana kalau aku membantu musuh-musuh besarmu menghadapi dirimu?"

"Kepandaian silat yang cianpwee miliki sangat tangguh, belum pernah kujumpai sebelum ini, bila kau membantu musuh-musuhku, sudah jelas aku tidak mampu melawan kalian"

Kembali manusia aneh itu tersenyum.

"Bila kau bersedia mengabulkan permintaan­ku, aku segera akan turun tangan membantumu urttuk membunuh seluruh musuh besarmu itu!" janjinya.

Sesungguhnya manusia ini berwatak aneh, selama hidup dia paling enggan mencampuri urusan dunia persilatan, kalau bukan dipaksa oleh keadaan, tidak nanti dia akan mengucapkan perkataan tersebut.

Hal inipun antara lain disebabkan sejak kecil dia sudah hidup manja, apa yang diinginkan selama ini, tidak ada yang berani menentang, semuanya dapat diperoleh secara gampang.

Dalam perkiraannya semula, Sui Leng-kong pun akan diperoleh dengan gampang sekali tanpa harus menggunakan paksaan, siapa tahu, walau sudah menggunakan cara apa pun Sui Leng-kong tetap tidak menggubris dirinya.

Semakin dingin sikap Sui Leng-kong terha­dapnya, semakin bersemangat manusia aneh ini mengejarnya, namun diapun tidak ingin memperoleh gadis itu dengan cara paksaan, oleh sebab itu dia berusaha menjebak Thiat Tiong-tong dengan segala iming-iming, agar Sui Leng-kong mematikan perasaannya terhadap pemuda ini.

Itulah sebabnya dia menggunakan pelbagai cara dan upaya memaksa Thiat Tiong-tong untuk mengabulkan permintaannya.

Benar saja, Thiat Tiong-tong mulai tertarik dengan tawaran itu, dengan hati berdebar pikirnya:

"Bila dia mau membantu, sudah jelas dendam kesumat Perguruan Tay ki bun akan terbalas"

Tapi ingatan lain kembali melintas: "Tapi benarkah tindakanku ini, mengorbankan Sui Leng-kong demi masalah pribadi?

Lagipula........ balas dendam atas penghinaan yang dialami Perguruan Tay ki bun menjadi kewajiban setiap anak muridnya, mana boleh aku libatkan orang lain?"

Berpikir sampai disitu diapun tertawa hambar sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Benar-benar manusia yang tidak tahu diri!" umpat manusia aneh itu sangat gusar.

"Weess!" dia ayunkan telapak tangannya langsung membacok tubuh Thiat Tiong-tong, serangannya cepat melebihi sambaran petir.

Biarpun melihat datangnya serangan itu, Thiat Tiong-tong tidak mencoba untuk menghindar, segera terasa olehnya angin dingin menggulung wajahnya, tajam bagai sayatan pisau dan dingin menyesakkan napas.

"Kau pingin modar?" bentak manusia aneh itu gusar.

Ditengah bentakan nyaring, pada detik yang terakhir dia tarik kembali serangannya itu.

Terkesiap juga Thiat Tiong-tong melihat kesaktian lawan, apalagi melihat kemampuannya mengontrol tenaga pukulan, tapi dia berkata juga sambil tertawa hambar:

"Bila cianpwee benar-benar akan menggunakan ilmu silatmu, jelas aku bukan tandinganmu, buat apa mesti bersusah payah menghindarkan diri?"

Manusia aneh itu tertegun, telapak tangannya yang siap melancarkan bacokan lagi segera ditarik kembali, dengan gemas da menghentakkan kakinya sambil melontarkan pukulan ke muka.

Kasihan barang mestika yang berada dihadapannya, termakan pukulan itu benda-benda berharga itu segera mencelat ke empat penjuru dan hancur berantakan.

Dengan wajah tidak berubah jengek Thiat Tiong-tong dingin:

"Biarpun tenaga pukulan cianpwee sangat hebat, ternyata nyalimu kecil sekali"

"Apa kau bilang?" teriak manusia aneh itu gusar.

"Kalau cianpwee memang bernyali, kenapa tidak berani membiarkan aku bertemu dengan-nya?"

Lagi-lagi manusia aneh itu tertegun, tiba-tiba bentaknya:

"Ikut aku!"

Sambil bicara dia segera beranjak pergi.

Thiat Tiong-tong tahu, orang itu sudah termakan oleh ejekannya, dengan girang dia segera mengikuti di belakangnya menelusuri sebuah serambi panjang yang terbuat dari batu pualam.

Meskipun antara ruangan penyimpan harta dengan ruangan dimana Sui Leng-kong tersekap hanya dipisahkan oleh sebuah dinding, namun jalan untuk menuju ke sana ternyata amat jauh dan penuh dengan liku-liku dan tikungan, orang akan tersesat bila tidak mengikuti petunjuk jalan.

Dalam sekilas pandang Thiat Tiong-tong dapat menangkap kalau letak jalan berliku itu diatur sesuai dengan ilmu barisan, namun dia tidak menggubris, kini dirinya sudah berada dalam sarang harimau, maka dia tidak akan ambil perduli terhadap persoalan lain.

Beberapa saat kemudian tibalah mereka diujung sebuah jalan, suara nyanyian Sui Leng-kong terderigar bergema dari balik tirai.

Suara nyanyiannya merdu merayu, terdengar dia sedang bersenandung:

"Janganlah sakit rindu, rindu membuat kau cepat tua.

Dari pada pikiran pusing dan jenuh, lebih baik sakit rindu"

"Hmm, apa enaknya sakit rindu?" dengus manusia aneh itu sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, tapi begitu bertemu Sui Leng-kong, seluruh hawa amarahnya hilang lenyap seketika.

Sui Leng-kong pun sudah melihat kehadiran Thiat Tiong-tong yang berada di belakangnya, dia sedikit tertegun sambil memandang melongo, tidak tahu harus sedih atau gembira, bahkan buku yang berada dalam genggaman pun terjatuh tanpa terasa.

Sorot mata mereka saling menatap tanpa berkedip, seakan tidak ingin saling berpisah kembali.

Menyaksikan adegan itu, manusia aneh tersebut merasa murung bercampur masgul, dia tidak dapat mengutarakan bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Lama kemudian akhirnya dia berteriak keras: "Setelah saling bertemu kenapa tidak segera bicara!"

Namun sepasang muda mudi itu masih saling menatap tanpa bicara, dalam keadaan seperti ini, biar ada berjuta patah kata pun tidak sepotong kata yang mampu diutarakan, mereka merasa berdiam diri jauh lebih mesrah ketimbang bicara.

Dari atas meja manusia aneh itu memetik berapa biji anggur, sambil mengunyah dia berjalan mondar mandir diantara ke dua orang itu, tanpa sadar anggur berikut bijinya tertelan semua.

Sebetulnya anggur itu dari jenis yang langka, selain manis pun harum, tapi sekarang dia tidak bisa membedakan bagaimana rasanya buah itu, mulutnya bergumam terus tiada hentinya:

"Gampang! Gampang....... aaai, susah! Susah! Susah!"

Terdengar suara cekikikan berkumandang dari balik pintu, Yin Ping sambil membopong kucing kesayangannya, Ping-nu berjalan masuk ke dalam.

Sambil berjalan ke samping Thiat Tiong-tong dan tertawa, ujarnya:

"Adik cilik, tahukah kau apa yang dia maksud sebagai gampang? Dan apa pula yang susah?"

Dengan penuh rasa berterima kasih Thiat Tiong-tong meliriknya sekejap, kemudian sahutnya sambil tersenyum:

"Gampang untuk membunuhku saat ini juga, namun meski berhasil membunuhku, kalau ingin Sui Leng-kong melupakan aku, sulitnya melebihi mendaki ke puncak langit"

Sambil tersenyum Yin Ping berpaling ke arah manusia aneh itu, tanyanya:

"Benarkah yang dia katakan?"

Manusia aneh itu tertawa.

"Pemuda yang kau giring kemari tentu saja memiliki kecerdasan otak yang luar biasa"

"Kalau memang luar biasa, berarti kaupun tahu kalau selama hidup jangan harap bisa membuat gadis itu berpaling darinya, kalau memang begitu......lebih baik bebaskan saja dirinya!

"Hmm, tidak segampang itu!" seru manusia aneh itu sambil menarik muka.

Tiba-tiba Sui Leng-kong melompat bangun dan menjatuhkan diri berlutut dihadapannya, sambil menyembah pintanya:

"Dari pada kau menyekapku terus disini hingga menimbulkan rasa benciku terhadapmu, lebih baik bebaskanlah aku, selama hidup aku tidak akan melupakan kebaikanmu!"

Ucapan itu diutarakan dengan air mata berlinang, wajahnya kelihatan menyedihkan sekali, jangankan manusia biasa, orang berhati baja pun pasti akan tergerak hatinya setelah menyaksikan raut mukanya itu.

Manusia aneh itu memandangnya berapa kejap, kemudian ujarnya sambil tertawa getir:

"Tentu saja aku tidak berharap kau membenci­ku, Cuma..... biarpun aku bebaskan dirimu dan persilahkan kau segera pergi dari sini, tapi apa gunanya kau selalu teringat kebaikanku? Apa manfaatkan bagiku pribadi?"

"Kalau begitu........ kalau begitu bunuh saja aku!"

"Aaaai,  apalagi  disuruh  membunuhmu.......mana aku tega?" manusia aneh itu mendongakkan kepalanya menghela napas panjang.

"Kau enggan membebaskannya, tidak ingin membunuhnya pula, apa sebenarnya maksudmu?" tegur Thiat Tiong-tong.

"Benar” seru Yin Ping pula sambil tertawa, "sebenarnya apa keinginanmu, paling tidak biarlah orang lain mengerti, kalau keadaan dibiarkan berlarut terus semacam ini, memangnya kau anggap selamanya aku tidak bisa cemburu?”

"Ooh, rupanya kaupun mengerti cemburu....." manusia aneh itu tertawa geli.

Kemudian setelah berjalan mondar-mandir berulang kali sambil menggendong tangan, mendadak dia menghentikan langkahnya seraya berseru:

"Aaah, ada akal!"

"Bagaimana?" tanya Thiat Tiong-tong cepat.

"Bila kau berhasil menembusi delapan barisanku, kalian berdua akan segera kubebas­kan!"

Berubah paras muka Yin Ping.

"Tapi..... tapi delapan barisan Pat-bun-tin itu.........." serunya sambil tertawa paksa.

"Tapi kenapa!" tukas manusia aneh itu sambil tertawa, "tempo hari, aku sendiripun harus menembusi delapan barisan itu sebelum mendiang ayah mengijinkan aku turun gunung!"

"Siapa pun tahu kalau kau adalah seorang manusia berbakat alam dalam dunia persilatan, ada berapa orang di dunia ini yang mampu menandingimu? Sementara dia........ aaai, dia pun tidak terlalu jelek!"

"Hahahaha......kalau memang tidak terlampau jelek, apa salahnya kalau dicoba?"

Jelas perkataan terakhir ini sengaja ditujukan kepada Thiat Tiong-tong.

Diam diam pemuda itu berpikir:

"Kalau kau saja mampu menembusi, kenapa aku tidak?"

Selama pertarungan itu berlaku adil, dia memang merasa tidak perlu takut untuk menghadapinya, maka dengan suara lantang sahutnya:

"Baik!"

"Kalau begitu, ikutlah aku!" kata manusia aneh itu sambil tersenyum.

Selesai bicara, dia bergerak terlebih dulu mengajak beberapa orang itu menuju ke dalam sebuah bilik batu.

Bilik batu itu berbentuk segi delapan dengan delapan buah pintu, setiap pintu ditutup dengan sebuah tirai berwarna, masing-masing berwarna merah, kuning tua, kuning muda, hijau tua, hijau muda, biru, ungu dan hitam. Tidak diketahui apa isi dibalik setiap pintu tersebut.

Didepan pintu bertirai itu terdapat beberapa buah meja batu dengan bangkunya, buah buahan segar, arak wangi serta teh harum tersedia lengkap disitu komplit dengan cawan-cawan kemalanya.

"Delapan pintu sudah terlihat, tapi dimana letak barisan nya......."  diam-diam Thiat  Tiong-tong berpikir.

Terdengar manusia aneh itu bertepuk tangan sekali, kecuali pintu berwarna hitam, dari ke tujuh pintu lainnya segera bermunculan tujuh orang gadis cantik yang mengenakan pakaian berwarna warni.

Setiap gadis itu mengenakan pakaian sesuai dengan warna pintunya, yang merah memakai baju merah, yang hijau mengenakan baju warna hijau.

Ke tujuh orang gadis itu rata-rata berwajah cantik rupawan, selain beda warna, potongan pakaian yang mereka kenakan pun berbeda satu dengan lainnya, ada yang memakai gaun lebar, ada yang memakai gaun pendek, ada yang bercelana ketat, ada pula yang bercelana pendek.

Sambil menghela napas dihati, pikir Thiat Tiong-tong:

"Hampir semua gadis itu cantik jelita, entah dari mana saja dia mengumpulkannya, gadis secantik inipun masih tidak pantas menjadi bininya, aku lihat........"

Belum selesai dia berpikir, tampak ada enam orang gadis cantik telah maju mengepungnya.

"Barisan inikah yang harus kutembusi?" Thiat Tiong-tong segera menegur dengan kening berkerut.

“Hahahaha....tepat sekali”, jawab manusia aneh itu dengan tawa tergelak, "barisan semacam ini hanya ada di nirwana dan jangan harap menemukan keduanya dikolong langit. Jadi meski nanti kau gagal menembusi ilmu barisan ini, paling tidak kau punya hokkie untuk menikmatinya"

"Bagaimana aku harus menembusinya, dengan cara apa menentukan menang kalahnya?"

"Ilmu barisan ini bernama ilmu barisan bidadari telanjang ..........." manusia aneh itu menerangkan sambil tertawa.

Begitu mendengar nama tersebut, sepasang alis mata Thiat Tiong-tong berkerut semakin kencang.

Terdengar manusia aneh itu berkata lebih jauh:

"Biarpun ilmu silat yang dimiliki ketujuh orang budak cilik ini tidak terlampau tinggi, namun kemampuan mereka sangat hebat, ketika mereka bertujuh mengepung dirimu nanti, sambil menelanjangi diri sendiri mereka pun akan berusaha menelanjangi dirimu, ketika mereka selesai melucuti semua pakaian yang dikenakan sementara pakaian mu sama sekali tidak berhasil dilucuti oleh mereka, maka kau akan dianggap memenangkan setengah dari pertarungan ini, sisanya yang setengah.........hahahaha...... lebih baik kita bicarakan nanti saja setelah kau berhasil menangkan setengah pertandingan ini"

Thiat Tiong-tong merasa tercengang bercampur kaget, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak.

Sementara Sui Leng-kong sendiripun hanya bisa berdiri melongo dengan pipi bersemu merah, merah lantaran jengah.

Gelak tertawa manusia aneh itu semakin menunjukkan kebanggaan, ujarnya lagi:

"Aku yakin belum pernah ada jago persilatan yang pernah menjumpai ilmu barisan bidadari telanjangku ini, barangsiapa berhasil menembus­nya, kungfu yang dimiliki boleh dibilang sangat hebat!"

Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir:

"Meskipun ilmu barisan ini langka dan luar biasa hebatnya, toh aku bukan orang mati yang tidak mampu berkelit, masa akan kubiarkan mereka meloloskan pakaianku........."

Berpikir begitu segera tanyanya dengan suara keras:

"Berapa lama waktu yang mereka bertujuh butuhkan untuk melucuti semua pakaiannya?"

"Hahahaha.....  mereka bertujuh  akan tidak berhenti melepaskan pakaian, melepas terus sampai benar-benar telanjang!"

Thiat Tiong-tong berpikir sejenak, kemudian katanya lagi dengan suara lantang:

"Bagaimana pula jika aku berhasil merobohkan mereka semua disaat ketujuh orang itu sedang menanggalkan pakaiannya dan berhasil lolos dari dalam barisan?"

"Jika kau mampu merobohkan mereka semua, tentu saja kaulah yang akan keluar sebagai pemenang"

Kembali Thiat Tiong-tong berpikir:

"Biarpun kungfu yang mereka bertujuh miliki cukup tangguh, bukankah mereka harus menanggalkan pakaiannya satu per satu, dalam keadaan begini mana mungkin mereka bisa bersilat? Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan itu untuk merobohkan mereka?"

Berpikir  sampai  disini,  diapun  membenahi pakaian sendiri seraya menyahut:

"Baiklah, silahkan nona semua mulai turun tangan"

Kawanan gadis cantik itu tertawa merdu, dengan cepat mereka bergerak maju dan mengelilingi anak muda itu dari jarak berapa   meter, belum lagi tubuhnya yang bahenol, cukup gelak tertawa mereka yang merdu pun sudah mampu menggetarkan hati.

Tiba-tiba Sui Leng-kong berteriak keras:

"Tunggu sebentar, bagaimana pula jika dia......dia kalah?"

Manusia aneh itu tertawa tergelak.

"Hahahaha.....jika dia kalah, akan kuberi satu kesempatan lagi, coba kau lihat ukiran manusia di dinding sekeliling ruangan, hampir semuanya terukir gerakan untuk memecahkan barisan ini, asal dalam tujuh hari dia berhasil mempelajari kungfu yang tertera di dinding dan mampu menjebol barisan ini...... hahahaha.......aku jadi teringat, dulu akupun harus mempelajari cara untuk menjebol ilmu barisan ini dalam tujuh hari"

Sui Leng-kong mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, benar saja, diatas dinding penuh dengan ukiran manusia yang melakukan gerakan silat, tanpa terasa dia menundukkan kepalanya seraya berkata:

"Kalau begitu cara kerjamu cukup adil"

"Hahahaha... kalau tidak adil, kenapa aku tidak turun tangan sendiri? Kalau ingin bersaing dengan seseorang, tentu saja kita mesti kalahkan dia secara adil"

Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke muka pintu bertirai hitam, ujarnya lebih jauh sambil tertawa:

"Bagaimana kalau geser kemari untuk menonton jalannya pertarungan?"

Sambil tertawa Yin Ping mengintil di belakang­nya, sementara Sui Leng-kong melirik sekejap ke arah manusia aneh itu sembari berpikir:

"Meskipun orang ini rada menjengkelkan, ternyata ada banyak hal sikapnya tidak terlepas dari sikap seorang kuncu"

Pikiran ini seketika menimbulkan kesan baik dihati kecilnya, setelah menghela napas imbuhnya:

"Padahal kau sudah memiliki begitu banyak gadis cantik, kenapa...... kenapa justru tidak mau melepaskan aku?"

Manusia aneh itu hanya bersandar diatas ranjangnya tanpa menjawab, sementara Yin Ping menyahut setelah tertawa terkekeh:

"Adikku, terus terang aku beritahu, semakin kau tolak keinginannya, dia semakin berminat untuk mendapatkan dirimu"

"Be....begitu rendahkah pandangan seorang lelaki?" bisik Sui Leng-kong agak tertegun.

Ungkapan ini kontan membuat manusia aneh itu tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, sedangkan Yin Ping tertawa makin terpingkal.

Lewat sesaat kemudian manusia aneh itu baru menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir, lalu sambil bertepuk tangan serunya:

"Irama musik, barisan segera mulai!"

Ketika suaranya yang nyaring bergema keluar dari ruangan, irama musik pun segera ber­kumandang.

Irama musik yang dibawakan lembut, halus dan amat menyegarkan perasaan, berbareng itu juga kawanan gadis cantik itu mulai berputar mengelilingi arena sembari membawakan gerak tarian yang indah.

Melihat ke tujuh orang gadis itu hanya berputar tanpa ada niat turun tangan, tidak tahan Thiat Tiong-tong segera berseru:

"Ayohlah mulai tanggalkan pakaian kalian!"

Tapi secara tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu, kontan pipinya berubah jadi merah padam lantaran jengah.

Terdengar Yin Ping sudah mengumpat sambil tertawa cekikikan:

"Dasar lelaki tidak tahu malu, masa memaksa gadis muda untuk menanggalkan pakaiannya....."

Sui Leng-kong sendiri meski pikirannya dipenuhi dengan pelbagai masalah, tidak urung dia ikut tertawa juga setelah mendengar perkataan itu.

Dalam pada itu irama musik tiba-tiba berubah, dari alunan yang memanjang berubah jadi irama yang semakin lembut.

"Kau tidak perlu tergesa-gesa" terdengar nona berbaju merah itu menyahut sambil tertawa ringan, "sekarang kami akan mulai telanjang......."

Terlihat dia memutar separuh tubuhnya sambil menggerakkan jari tangannya yang lentik, mantel sutera yang berada dipundaknya bagaikan selapis awan berwarna merah melayang ke arah depan Thiat Tiong-tong.

Jangan dilihat mantel sutera merah itu halus dan ringan, ketika dilempar dari tangannya segera terdengar suara deruan angin tajam yang memekikkan telinga.

Kehebatan daya serangannya ternyata tidak berada dibawah kemampuan sebilah senjata yang amat lihay.

Thiat Tiong-tong tidak berani berayal, cepat dia menggerakkan tubuhnya untuk menghindar.

Waktu itu seorang nona berbaju kuning tua telah melepaskan gaun pendeknya dan dilontarkan ke arah tubuhnya.

Diantara kibaran kain, tampak ujung gaun itu mengancam jalan darah Ciang bun hiat di iga Thiat Tiong-tong, bukan saja ilmu Huat hiat jiu hoat yang digunakan jarang dijumpai dalam dunia persilatan, ketepatannya mengarah sasaran pun sangat mengerikan.

Dalam kagetnya cepat Thiat Tiong-tong maju selangkah sambil menekuk pinggang.

Suara tertawa cekikikan kembali berkuman­dang dari belakang tubuhnya, selembar selendang hijau dengan membawa desingan angin tajam telah mengancam Ming bun hiat di tulang belakangnya.

Setelah bertarung tiga gebrakan, Thiat Tiong-tong mulai sadar bahwa setiap gerakan nona-nona itu ketika menanggalkan pakaiannya ternyata mengandung jurus serangan yang sangat lihay.

Sekalipun setiap gerakan yang mereka lakukan sangat halus, lembut, hangat dan penuh godaan, namun perubahan jurus serangan yang digunakan susah ditebak arah sasarannya bahkan kerja sama ke tujuh orang itu boleh dibilang sangat rapat bagaikan jaring langit, jurus demi jurus dilancar­kan secara berangkai dan tiada putusnya, boleh dibilang mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk berganti napas.

Bukan hanya begitu, irama musik yang dipadukan dengan gerak tarian esotik cukup membuat perasaan setiap lelaki berdebar keras, gampang menimbulkan rangsangan yang membuat pikiran jadi kalut.

Thiat Tiong-tong merasa terkejut, keheranan bercampur ngeri, meskipun dengan sekuat tenaga dia masih mampu mempertahankan diri, namun belasan gebrakan kemudian peluh sudah mulai membasahi punggungnya, gerak serangan yang dilancarkan pun mulai bertambah sulit.

Perlu diketahui, jurus serangan yang dilancar­kan berdasarkan gerakan menanggalkan pakaian boleh dibilang merupakan gerak serangan yang aneh dan tidak pernah dijumpai dalam dunia persilatan, apalagi menggunakan pakaian sebagai pengganti senjata, hal ini cukup membuat orang kerepotan dibuatnya.

Apalagi ketika ditambah dengan irama musik serta tarian esotik yang gampang bikin pikiran jadi kalut, boleh dibilang ilmu barisan bidadari telanjang ini merupakan sebuah ilmu barisan yang sangat mematikan.

Sui Leng-kong yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena pun diam-diam mulai tercekat perasaan hatinya.

Terdengar manusia aneh itu berseru sambil tertawa:

"Coba kalian saksikan ilmu barisan tujuh bidadariku, pantas bukan disebut sebagai barisan nomor wahid dikolong langit!"

Yin Ping menghela napas panjang.

"Aaaai, ilmu barisan lain meski ada yang sangat lihay namun kalah uniknya dibandingkan ilmu barisan, biarpun ada yang unik namun tidak ada yang menggetarkan sukma seperti kawanan gadis muda itu. Selama mengembara di dalam dunia persilatan, pelbagai macam ilmu barisan telah kujumpai namun jarang ada yang selihay, seaneh, seunik dan sedemikian merangsang hati orang seperti saat ini. Aaaai, harus diakui ilmu barisan ini sangat tangguh dan mungkin hanya keluarga mu yang mampu menciptakan ilmu barisan semacam ini"

Dengan penuh kebanggaan manusia aneh itu tertawa terbahak bahak.

"Hahahaha.....tontonan hebat masih berada di belakang, tunggu saja saatnya nanti"

Dalam pada itu irama musik kembali berubah, kali ini iramanya mirip sekali dengan dengusan serta desisan seorang wanita yang hampir mencapai orgasme.

Senyuman yang menghiasi kawanan gadis cantik itu kelihatan semakin menggoda, pakaian yang dikenakan pun sudah sebagian   di tanggal­kan, ada yang tampak pahanya yang putih, ada yang kelihatan lengannya yang mulus, ada pula yang kelihatan sebagian payudaranya yang montok dan merangsang, bahkan ada pula yang gaunnya sudah turun dibawah perut.........

Sebagaimana diketahui, warna pakaian yang mereka kenakan sama sekali berbeda, cara mereka menanggalkan pakaian pun berbeda, itulah sebab­nya jurus serangan yang digunakan pun terdiri dari aneka ragam cara, tapi semua jurus serangan yang digunakan boleh dibilang ampuh dan mematikan.

Thiat Tiong-tong telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan diri, angin pukulan yang menderu serta gerak serangan yang aneh telah dia gunakan namun masih terasa sulit untuk menanggulangi ancaman yang tiba.

Mendadak terdengar si nona berbaju kuning muda berseru sambil tertawa:

"Coba lihat, indah bukan paha ku?"

Diantara gerakan jari tangannya yang lentik, ikat pinggangnya sudah dilepas dan gaun panjang yang dikenakan pun mulai terlepas ke bawah.

Kemudian kaki kanannya menggaet ke samping, tahu-tahu paha putihnya sudah melayang kemuka melancarkan serangkaian tendangan berantai.

Dengan jurus burung belibis terbang bersama, dia tendang pinggang Thiat Tiong-tong, karena harus mengangkat tinggi kakinya, otomatis bagian tubuhnya yang paling rahasia pun terlihat dengan jelas.

Kontan Thiat Tiong-tong merasakan jantung­nya berdebar keras, ketika melihat datangnya tendangan berikut, karena merasa tidak sanggup menghadapinya, cepat dia melompat mundur ke belakang.

"Hahahaha....... kau tetap terkena tendangan ku!" seru nona berbaju kuning itu sambil tertawa.

Sepatunya ditendangkan keras-keras ke depan, diiringi desingan angin tajam, benda itu meluncur keluar bagaikan sambitan sebuah senjata rahasia.

Jurus serangan ini sangat tangguh, siapa pun tidak akan berpikir sampai ke situ.

Waktu itu tubuh Thiat Tiong-tong masih berada ditengah udara, ketika melihat ada empat buah sepatu menyergap tiba dari arah belakang dengan membawa desingan angin tajam, cepat dia rentangkan lengan sambil melepaskan tendangan, maksudnya dua buah sepatu yang datang paling duluan hendak dirontokkan terlebih dulu.

Siapa sangka sepatu itu meluncur datang dengan ketepatan yang luar biasa, sedikitpun tidak kalah dengan kehebatan senjata rahasia, tahu-tahu dua buah sepatu yang berada dibelakang meluncur lebih cepat, mendahului sepatu sebelumnya dan menghantam sepasang lutut anak muda itu.

Kejadian ini sama sekali diluar dugaan Thiat Tiong-tong, melihat tidak ada tempat lagi untuk berkelit, cepat tubuhnya berjumpalitan di udara kemudian meluncur turun ke bawah, sambil pejamkan mata dia lontarkan sepasang kepalan-nya ke depan.

Anak muda ini merasa tidak tega untuk menyaksikan bagian tubuh terlarang dari si nona yang kelihatan sewaktu melontarkan tendangan, itulah sebabnya dia melancarkan serangan sambil pejamkan mata, tapi angin pukulan yang menderu memaksanya mau tidak mau harus mundur.

"Jurus serangan bagus!" puji Yin Ping sambil bertepuk tangan.

"Belum tentu bagus sekali" tukas manusia aneh itu cepat, "bagaimana menurutmu Sui Siau-moay?"

Saat itu Sui Leng-kong sudah dibuat berkunang matanya oleh gerak serangan kawanan gadis itu, jangan lagi menjawab, belum tentu dia mendengar pertanyaan itu.

Seorang nona berbaju ungu tiba-tiba meng­angkat kakinya, gaun panjangnya yang lebar segera tersingkap lebar hingga tertinggal celana ketatnya berwarna hijau muda serta sebuah kaos tipis yang membalut paha mulusnya.

Waktu itu kelima ujung jari kirinya yang tajam sudah ditusukkan ke dalam kaos sementara tangan kanannya memegang ujung yang lain, begitu ditarik diapun meloloskan kaos kaki tadi kemudian disabetkan ke muka.

Bagaikan sebuah cambuk panjang, kaos itu meluncur ke depan dan menghajar wajah Thiat Tiong-tong, serunya sambil tertawa merdu:

"Coba kau endus bau kaos kakiku!"

Menggunakan kesempatan itu kakinya melan­carkan japitan dari atas dan bawah, hebatnya luar biasa.

Thiat Tiong-tong benar-benar dibuat menangis tidak bisa tertawapun tidak dapat, mana mungkin dia berani menghadapi jurus serangan semacam itu.

Belum sempat bertindak sesuatu, dari arah belakang kembali terdengar seseorang berseru sambil tertawa:

"Kalau kau segan mengendus miliknya, coba-lah mengendus milikku ini!"

Betul saja, lagi lagi selembar kaos kaki berwarna hijau muda meluncur tiba bagaikan sebuah bianglala.

Biar keteter hebat dan terjerumus ke dalam kondisi yang berbahaya, Thiat Tiong-tong sama sekali tidak panik, dengan satu lompatan kilat dia menerobos kemuka dan meloloskan diri dari datangnya ancaman.

Sebenarnya diapun bisa menggunakan kesem­patan itu untuk melancarkan serangan, meski belum tentu akan melukai lawan, paling tidak bisa meringankan beban tekanan yang datang.

Siapa sangka begitu sorot matanya terbentur dengan sepasang paha yang putih mulut iu, kembali hatinya ragu, jurus serangan yang sudah dipersiapkan pun tidak sanggup lagi dilanjutkan.

Sementara itu gaun baju si nona berbaju merah yang berada dihadapannya telah ditanggalkan semua, kini dia hanya mengenakan selembar pakaian dalam yang tipis dan berwarna merah menyala, warna merah yang amat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih.

Tidak jelas dengan cara apa nona itu melepas­kan pakaian dalamnya yang ketat, yang pasti dengan jurus serangan yang ampuh pakaian dalam itu langsung menggulung ke atas kepala pemuda itu.

Tanpa berpikir panjang Thiat Tiong-tong melontarkan sepasang kepalannya ke depan, dengan jurus Hek hau tau sim (macan hitam mencuri hati) dia hantam dada lawan.

Rupanya setelah melancarkan serangannya tadi, pertahanan didepan dada nona berbaju merah itu terbuka lebar, satu kesempatan baik baginya untuk merobohkan lawan.

Jurus serangan macan hitam mencuri hati pun merupakan sebuah gerakan yang mengubah posisi menyerang jadi bertahan, sebuah gerakan yang paling pas untuk memunahkan datangnya ancaman.

Tapi baru saja jurus serangan itu dilontarkan, pemuda itu segera merasa gelagat tidak benar, ternyata dada nona itu sudah berada dalam keadaan bugil, Thiat Tiong-tong hanya merasakan matanya berkunang, terutama setelah menyaksikan sepasang payudara si nona yang montok merangsang, serangannya tidak lagi mampu dilanjutkan.

Semua kejadian itu berlangsung dalam waktu singkat, begitu dia lengah tahu-tahu sepasang lengannya berhasil digapit lawan.

Nona bebaju merah itu tertawa cekikikan, pakaian dalamnya langsung dikerudungkan keatas kepala Thiat Tiong-tong, sementara ke sepuluh jari tangannya mulai melepaskan kancing pakaian pemuda itu.

Terkejut bercampur gusar Thiat Tiong-tong berusaha meronta, siapa tahu jalan darah Ci ti hiat dikedua belah ketiaknya sudah tertotok, kontan seluruh tubuhnya tidak mampu bergerak lagi.

Menyaksikan kesudahan pertarungan itu, manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, seru­nya:

"Budak sekalian, jangan robek pakaiannya, mengerti? Kalian mesti melucutinya satu per satu, dengan begitu baru akan tampak kehebatan dari ilmu barisan tujuh bidadari"

"Kalau mesti merobek pakaiannya, kenapa mesti menunggu sampai sekarang?" sahut nona berbaju merah itu sambil tertawa, "hey, tidak usah kuatir, kami tidak bakal merusak sebuah kancing baju mu pun!"

Baru selesai dia bicara, pakaian atas Thiat Tiong-tong telah dilucuti olehnya, hal ini membuat pemuda itu berdiri kaku.

Dia mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, tampak kawanan gadis cantik yang mengelilingi tubuhnya sedang memandang sambil tertawa, meskipun sebagian sudah memperlihatkan kaki dan tangan mereka yang putih mulus, namun tidak seorangpun diantara mereka yang sudah berada dalam keadaan bugil, hal ini membuktikan bahwa dialah yang telah menderita kekalahan.

Terdengar si nona berbaju kuning muda yang berada disamping kanannya menegur sambil tertawa:

"Apa yang kau perhatikan? Kalau ingin menyalahkan, salahkan diri sendiri, coba kalau bisa bertahan sebentar saja, niscaya kami......kami....."

"Hey budak cilik1 si nona berbaju hijau muda yang berada disisinya segera menyela, "kalau ingin bicara, cepatlah bicara, kenapa mesti malu malu kucing?"

Nona berbaju kuning muda itu segera tertawa cekikikan.

"Coba kalau kau bisa bertahan sebentar lagi, sudah pasti mata mu akan kenyang melihat pemandangan indah, tahu?"

Sambil berkata dia membusungkan dadanya yang montok.

Cepat-cepat Thiat Tiong-tong memejamkan matanya, entah karena malu atau merasa masgul.

Sementara itu si nona berbaju merah telah berseru sembari mengibarkan pakaian atas yang dikenakan Thiat Tiong-tong:

“Pakaian orang lelaki memang selalu bau, bau keringat, bau kelakian, siapa diantara kalian yang mau........."

Belum selesai dia bicara, sesosok bayangan manusia telah  melesat ke tengah udara dan meluncur ke depan dengan gerakan indah, orang itu tidak lain adalah Sui Leng-kong.

Nona itu berdiri dengan wajah murung bercampur sedih, namun sinar matanya meman­carkan cahaya kegusaran, hardiknya:

"Bawa kemari!"

Sambil berbicara dia merebut pakaian yang berada ditangan gadis berbaju merah itu.

Cepat si nona menarik tangannya sambil menyembunyikan pakaian itu ke belakang tubuhnya, setelah mundur dua langkah, serunya:

"Cisss, tidak tahu malu, pakaian ini toh bukan milikmu, kenapa kau yang berusaha merebutnya!"

"Bawa.....bawa kemari baju itu!"

Gadis ini memang tidak terbiasa ribut dengan orang lain, kini saking jengkelnya dia sampai tidak mampu berkata-kata, wajahnya yang semula putih pucat kini berubah jadi merah dadu, tapi justru menambah kecantikan wajah-nya.

Untuk berapa saat manusia aneh itu hanya bisa mengawasi dengan wajah kesemsem.

Terdengar nona berbaju merah itu berkata lagi:

"Huuuh, apa gunanya pakaian bau ini bagi kami? Tapi kalau kau menginginkan, aku justru sengaja tidak mau serahkan kepadamu, bukan begitu adik adikku?"

Sejak awal kawanan gadis cantik itu memang sudah merasa cemburu kepada Sui Leng-kong yang dianggapnya telah merebut perhatian serta kasih sayang manusia aneh itu terhadap mereka, kontan saja semua orang bertepuk tangan sambil bersorak:

"Betul, betul, jangan berikan kepadanya!"

Sui Leng-kong menggigit ujung bibirnya menahan rasa mendongkol, tanpa terasa air mata berlinang membasahi pipinya.

Melihat lawannya menangis, kawanan gadis cantik itu semakin gembira, teriaknya lagi:

"Hooree, coba lihat, dia mulai menangis. Toaci, coba lihat, dia menangis begitu sedih, kasihanilah dia, berikan saja baju bau itu!"

"Waah, tidak nyana wajah bulat telurnya nampak semakin cantik waktu menangis" seru nona berbaju merah itu sambil tertawa, "sayang aku bukan lelaki, kau semakin manja, aku semakin tidak akan mengembalikan kepadamu!"

Sui Leng-kong berdiri termangu ditempat dengan kepala tertunduk semakin rendah, dia nampak amat mengenaskan.

Sedih bercampur kasihan segera menyelimuti perasaan hati Thiat Tiong-tong, sambil menghela napas pikirnya:

"Leng-kong kelewat lemah dan lembut, tidak heran banyak orang ingin menganiaya dirinya!"

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba....."Plook, plook, plook!" terdengar tiga kali suara tepukan bergema memecahkan keheningan.

Ternyata Sui Leng-kong dengan kecepatan bagaikan hembusan angin telah menghadiahkan masing-masing satu tamparan ke wajah nona berbaju merah, kuning muda dan hijau itu, tamparan yang muncul secara tiba-tiba dan diluar dugaan membuat kawanan gadis cantik itu berdiri tertegun.

"Tamparan  yang  bagus......tamparan yang bagus!" puji manusia aneh itu sambil tertawa tergelak.

Sembari membesut air matanya, Sui Leng-kong kembali berteriak keras:

"Letakkan pakaian itu dan keluar!"

Mimpi pun kawanan gadis cantik itu tidak menyangka kalau si nona yang kelihatan lemah lembut itu tiba-tiba berubah jadi begitu galak dan buas, untuk sesaat mereka hanya berdiri saling berpandangan dengan wajah tertegun.

Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur girang, pikirnya lagi:

"Cepat amat Leng-kong berubah, berubah jadi amat tegar!"

Mana di tahu kalau Sui Leng-kong sebenarnya berwatak keras dan sangat ulet, kalau bukan begitu, mana dia tahan hidup seorang diri di dasar lembah yang gersang dan penuh penderitaan.

Hanya saja sejak kecil dia sudah terlatih bisa menyembunyikan watak pemberontaknya sehingga sekilas pandang dia nampak sangat lemah dan penurut, andaikata orang lain tidak mendesaknya hingga terpojok, tidak mungkin dia akan memperlihatkan watak pemberontaknya itu.

Mendadak dia pungut gaun merah dan hijau yang tergeletak ditanah lalu tanpa hujan tanpa angin langsung ditimpukkan ke wajah kawanan gadis itu.

Terkejut bercampur panik kawanan nona cantik itu segera berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri, dalam waktu singkat suasana menjadi amat gaduh.

Sambil lari menuju ke depan pintu, nona berbaju merah itu tiba-tiba berpaling seraya berseru:

"Siapa yang kesudian dengan baju bau, nih, ambil kembali!"

Dari kejauhan dia timpuk pakaian itu ke arahnya.

Begitu Sui Leng-kong menyambar pakaian tersebut, manusia aneh itu sudah berseru pula sambil tertawa terbahak-bahak:

“Bagus, bagus sekali, tidak nyana segerombol kucing liar berhasil ditaklukan oleh seekor kelinci kecil"

"Hahahaha.... kelihatannya tidak gampang bagi seekor luwak untuk mencicipi daging kelinci!" sindir Yin Ping sambil tertawa terkekeh.

"Yaa, kalau aku luwak maka kau adalah siluman rase" sambung manusia aneh itu sambil tergelak pula.

Sui Leng-kong seolah tidak mendengar pembicaraan mereka, setelah termangu berapa saat, dia baru berjalan menghampiri Thiat Tiong-tong sambil berbisik:

"Ini.... ini pakaianmu, kenakanlah!"

Thiat Tiong-tong tahu gadis itu harus menga­lami penghinaan gara-gara dirinya, dia tidak tahu harus merasa manis atau getir, sahutnya sambil menerima kembali pakaiannya:

"Baik.....akan kukenakan"

"Dalam tujuh hari mendatang......."

"Dalam tujuh hari mendatang aku harus mencoba mempelajari semua yang ada disana, selama dia sanggup belajar memecahkan barisan itu dalam tujuh hari, akupun pasti sanggup melakukan hal yang sama"

Kemudian selesai mengenakan kembali pakaiannya, dia melanjutkan:

"Mereka tidak bakal mampu melucuti kembali pakaianku ini"

Sui Leng-kong mengawasinya tanpa berkedip, meskipun tidak berkata namun sorot matanya dipenuhi dengan pancaran sinar mesra dan rasa cinta, selain itu dia pun menaruh kepercayaan penuh terhadap pemuda itu.

Yin Ping melirik manusia aneh itu sekejap, kemudian sambil sengaja menghela napas panjang gumamnya:

"Benar-benar pasangan yang serasi, yang lelaki tampan yang wanita cantik, mereka memang pantas hidup berpasangan......."

Sambil membopong Ping-nu, kucing kesayang­annya dia berjalan keluar meninggalkan tempat itu.

Manusia aneh itu mendengus dingin, katanya:

"Dalam tujuh hari mendatang, walaupun kau boleh mempelajari cara memecahkan ilmu barisan, namun dilarang meninggalkan ruangan ini walau selangkah pun"

"Tujuh hari mendatang merupakan waktu yang amat berharga bagiku" jawab Thiat Tiong-tong, "biar kau menggunakan tandu besar yang digotong delapan orang pun, tidak mungkin aku tinggalkan ruangan ini barang selangkah pun"

"Benar" sambung Sui Leng-kong pula, "akupun tidak akan mengganggumu, kau..... kau harus pelajari secara seksama!"

Selesai bicara, gadis itu membalikkan tubuh dan beranjak pergi dari situ, namun ketika tiba dipintu depan, tidak tahan dia berpaling lagi.

Sambil tertawa dingin manusia aneh itu berkata:

"Hmmm, dia begitu mencintai dirimu, kalau aku tidak memberi sedikit siksaan kepadamu, kau tidak akan bisa memahami perasaan hatinya"

"Ketika cianpwee sedang menyiksa aku, dapat dipastikan kau sedang merasa cemburu bukan?" ejek Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

"Hahahaha.....tepat sekali, tepat sekali, jika aku tidak cemburu, kenapa mesti menyiksa dirimu"

Ditengah gelak tertawa, dia meninggalkan ruangan itu.

"Siksaan apa?" tanya Sui Leng-kong yang berdiri didepan pintu terperanjat.

Manusia aneh itu tidak menjawab, dia hanya bersenandung:

"Kalau ingin menjadi malaikat, latihlah otot dan tulang dengan keletihan, latihlah ketahanan tubuh dengan lapar.........."

Suaranya makin lama semakin jauh dan akhirnya bersama Sui Leng-kong lenyap dari pandangan mata.

 

 

[bersambung]