pendekar panji sakti 06
BAB 16
Dunia yang sempit.
Betapa terkejutnya Un Tay-tay ketika
mengetahui orang yang membukakan pintu adalah Thiat Tiong-tong,
serunya tertahan:
"Ke......kenapa kau bisa berada disini?"
"Kau sendiri? Kenapa datang kemari?"
Un Tay-tay tidak menjawab, dengan cepat dia
melangkah masuk ke dalam ruangan, setelah menurunkan Im Ceng, cepat
dia merapatkan kembali pintunya kemudian baru menghembuskan napas
panjang, tubuhnya mulai roboh dengan lemas.
Cepat Thiat Tiong-tong memayangnya,
kemudian bertanya lagi dengan kening berkerut: "Kenapa kau?"
Biarpun hanya pertanyaan singkat bahkan
disampaikan dengan nada dingin dan kaku, namun dibalik ucapan
tersebut justru terselip perasaan kuatir serta perhatian yang
hangat.
Un Tay-tay yang menggeliat dalam
rangkulan-nya merasa hatinya manis bercampur hangat, tapi begitu
memandang tubuh Im Ceng yang tergeletak di tanah, cepat dia melompat
bangun, tundukkan kepala dan menyahut:
"Aku cukup baik!"
Melihat sikap dan tingkah laku perempuan itu
jauh berbeda dibandingkan berapa hari berselang, lalu melihat pula
keadaan Im Ceng yang tergeletak ditanah, dengan cepat Thiat
Tiong-tong memahami apa yang telah terjadi, tampaknya perempuan itu
sudah tumbuh benih cintanya terhadap Im Ceng.
Maka dengan senyuman dikulum ujarnya:
"Ooh, kau baik sekali"
"Tapi situasinya sangat tidak
menguntungkan, Hek Seng-thian dan Suto Siau sekalian berhasil
menemukan jejakku, untung aku cukup cekatan dan berhasil melarikan
diri, kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah terjatuh ke tangan
mereka"
Dari perubahan mimik mukanya sewaktu lari
masuk ke dalam ruangan tadi, Thiat Tiong-tong sudah menduga kalau
telah terjadi sesuatu, tapi dia tidak menyangka kalau urusannya
begitu gawat dan serius, buru-buru dia bertanya dengan suara dalam:
"Jadi beberapa orang itu berhasil menemukan dirimu? Tapi, darimana
mereka bisa mengetahui tempat persembunyianmu?"
"Sim Sin-pek yang membawa mereka ke situ"
"Sim Sin-pek?" ulang Thiat Tiong-tong
keheranan, "tapi dia sudah menghianati Hek Seng-thian, mana
mungkin......."
Tapi ingatan lain segera melintas, ujarnya
kemudian sambil tertawa dingin:
"Aaah benar, walaupun Sim Sin-pek telah
berhianat, namun Hek Seng-thian yang merasa kalau muridnya licik dan
banyak akal serta paling cocok menjadi pembantu utamanya, tentu
tidak ingin melukai perasaan hatinya, malah bisa jadi dia justru
amat menyukainya, waah, kalau sampai mereka berdua bekerja sama,
sudah pasti akan semakin banyak kejahatan yang bakal dilakukan"
"Begitu melihat mereka datang, aku segera
membopong dia...... Im Ceng dan melarikan diri, dalam panik aku
tidak sempat lagi memilih jalan hingga kabur menuju ke jalan buntu
ini, dalam keadaan panik bercampur gugup kujumpai ada kuil
siau-Iim-sie kecil disini, maka akupun lari masuk, tidak disangka
ternyata malah bertemu kau disini"
Sambil menghembuskan napas lega diapun
membopong kembali tubuh Im Ceng, seakan asal ada Thiat Tiong-tong
maka persoalan segawat apa pun pasti dapat terselesaikan.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas,
pikirnya:
"Biarpun bertemu rombongan Suto Siau,
semestinya dia tidak perlu gugup atau panik, kesemuanya itu pasti
lantaran memikirkan keselamatan Im Ceng...."
Tiba-tiba dia bertanya:
"Kau sudah melihat kemunculan mereka?"
"Yaa, sudah kusaksikan dengan jelas sekali,
tidak mungkin keliru!"
Berubah hebat paras muka Thiat Tiong-tong,
ujarnya:
"Kau melihat kemunculan mereka, mustahil
mereka tidak melihatmu, padahal kedatangannya adalah untuk mencari
kau, aneh, bila mereka sudah melihatmu, dengan watak Suto Siau masa
dia akan membiarkan kau kabur dengan begitu saja?”
Un Tay-tay tertegun, dengan wajah agak
berubah serunya:
"Soal ini......soal ini......"
Sambil tertawa dingin Thiat Tiong-tong
bicara lebih lanjut:
"Suto Siau memang paling senang mengulur
senar untuk memancing ikan besar, dia memang sengaja membiarkan kau
kabur lantaran secara diam-diam dia sudah membuntutimu, ingin tahu
kemana kau akan kabur"
Sekujur tubuh Un Tay-tay gemetar keras,
bisiknya agak tergagap:
"Kau......kau yakin akan hal itu?"
"Tentu saja sangat yakin, bahkan saat ini
besar kemungkinan mereka telah datang kemari!"
Pemuda ini selain mempunyai hati yang
sekeras baja, kecerdasan otaknya juga luar biasa, walaupun da sempat
kalut pikirannya namun setelah menghadapi perubahan yang diluar
dugaan, seketika itu juga pikirannya dapat menjadi tenang kembali.
Mendadak terdengar Ai Thian-hok berkata:
"Tentara datang panglima perang menghadang,
air bah datang tanah membendung, jika mereka datang, kita hadapi
mereka!"
Melihat tokoh persilatan itupun hadir
disitu, Un Tay-tay semakin terperanjat dibuatnya.
Sebaliknya Thiat Tiong-tong merasa berterima
kasih sekali setelah mendengar perkataan itu, dia maju menghampiri
dan menggenggam tangannya erat-erat, mereka berdua tidak banyak
bicara lagi, namun semua kesalahan paham dimasa lalu justru melumer
dalam genggaman tersebut.
Un Tay-tay semakin tertegun dibuatnya, tapi
dengan cepat dia memahami apa yang terjadi, tanpa terasa pikirnya:
"Pikiran dan perasaan lelaki enghiong macam
mereka benar-benar terbuka dan tidak sempit, sulit rasanya untuk
melampaui mereka"
Thiat Tiong-tong pun membopong tubuh Im Ceng
dari tangan Un Tay-tay dan membaringkannya diatas ranjang.
"Aduh mak" Yin Ping kontan berteriak sambil
tertawa, "sebetulnya ranjang itu milik siapa sih, kenapa kalian
tidak minta ijin duluan?"
Thiat Tiong-tong tertawa dingin.
"Hmm, jika adik keempat tahu kalau ranjang
ini pernah kau tiduri, mungkin dia lebih suka tidur diatas ujung
golok ketimbang berbaring diatas ranjangmu........."
"Aduuh..... bukankah diluar
banyak golok? Kenapa tidak kau persilahkan dia tidur diujung golok
diluar sana?" kembali Yin Ping berseru sambil tertawa.
Thiat Tiong-tong tertegun, belum sempat dia
menjawab, Un Tay-tay diiringi tertawanya yang merdu telah menimpali:
"Enciku yang baik, toh kau belum ingin
tidur, kasihanilah dia yang sedang terluka, biarlah dia tiduran
sejenak disana!"
Yin Ping memperhatikan perempuan itu berapa
saat, lalu kembali tertawa merdu:
"Aduh mak, manis amat orangnya, manis juga
mulutnya, baiklah, memandang diatas wajahmu biarlah dia tiduran
sejenak disitu!"
Diam-diam Thiat Tiong-tong tertawa geli,
pikirnya:
"Tabiat kedua orang itu nyaris hampir sama,
jika mereka harus beradu kemampuan, mungkin keduanya sama-sama akan
merasa kalau telah bertemu lawan tanding"
Sementara itu Yin Ping telah mengawasi
sekejap tingkah pola Un Tay-tay yang merawat Im Ceng dengan penuh
kasih sayang, sambil menggelengkan kepala dan tertawa katanya:
"Orang ini adalah sutenya, berarti dia pun
anggota Perguruan Tay ki bun?"
"Cici memang pintar, sekali tebak lantas
benar!"
"Adikku, cici ingin menasehatimu, semua
orang Perguruan Tay ki bun adalah manusia yang tidak punya perasaan,
sekarang kau bersikap begitu baik kepadanya, belum tentu dikemudian
hari dia akan bersikap baik pula kepadamu"
Un Tay-tay tertegun, tapi segera
sahutnya sambil tertawa:
"Kalau didengar dari perkataan cici,
tampak-nya dulu kau pernah tertipu oleh anggota Perguruan Tay ki
bun?"
"Soal ini.......soal ini........."
"Jika cici pun pernah tertipu, tentu saja
aku tidak berani untuk tidak tertipu juga!" sambung U] Tay-tay lagi
sambil tertawa.
"Dasar budak cilik, tajam amat lidahmu, cici
benar-benar takluk kepadamu!"
Tiba-tiba terdengar lagi suara orang sedang
mengetuk pintu depan.
Belum sempat orang lain berbicara, Ai Thian
hok sudah menyahut duluan:
"Biar aku saja yang membukakan pintu!"
Sambil berbicara, dia segera melesat maju k
depan.
Un Tay-tay dan Thiat Tiong-tong hanya bisa
saling bertukar pandangan, jantung mereka terasa berdetak keras.
"Siapa?" terdengar Ai Thian-hok menegur
sambil membuka pintu.
Terdengar suara seorang pemuda menjawab:
"Suhu mengutus cayhe untuk menghantar sebuah
hadiah........"
"Memangnya kau tahu siapa yang tinggal
disini?" tegur Ai Thian-hok, "berani amat kau sembarangan menghantar
hadiah"
"Suhu perintahkan kepada tecu untuk datang
menghantar, maka tecu pun datang kemari, jika tuan rumah tempat ini
enggan untuk menerima-nya, tecu rasa nona yang barusan masuk tentu
menghendakinya"
Un Tay-tay melirik Thiat Tiong-tong sekejap
kemudian menghela napas panjang.
"Ternyata dugaanmu tepat sekali"
Terdengar YinPing berseru sambil tertawa:
"Kalau memang ada yang datang menghantar
barang, kenapa mesti ditolak kebaikan hatinya? Bawa kemari!"
"Silahkan, tecu menanti jawaban" kata pemuda
itu.
Ai Thian-hok mendengus, dia melangkah masuk
ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kotak yang terbuat dari kayu.
Baru saja Thiat Tiong-tong hendak
mengambilnya, Yin Ping sudah merebut duluan.
Tercekat juga perasaan hati pemuda ini
setelah menyaksikan betapa cepatnya gerakan tubuh perempuan itu.
Sementara itu Yin Ping telah membuka kotak
kayu itu seraya berseru:
"Kalau isinya barang bagus, aku........"
Mendadak terdengar dia menjerit kaget, lalu
serunya lagi sambil tertawa merdu:
"Aduh mak, kalau barang beginian mah aku
tidak sudi, ambillah kembali!"
Dia segera melemparkan kotak itu ke depan.
Thiat Tiong-tong sangka perempuan itu hendak
menguji tenaga dalamnya, siapa tahu kotak itu melayang dengan
perlahan keatas tangannya, seakan barang itu disodorkan ke
hadapannya saja.
Tapi suara tertawa perempuan itu sekarang
sudah mengandung tertawa senang karena siap melihat orang lain
menghadapi bencana.
Diam-diam Thiat Tiong-tong berkerut kening,
pikirnya:
"Entah kotak kayu itu berisi apa, tapi aku
yakin tentu bukan barang bagus, kalau tidak, tidak mungkin dia
kelihatan begitu senang!"
Perlahan-lahan dia membuka kotak kayu itu,
ternyata isi kotak yang begitu indah dan terbuat dari kayu cendana
itu tidak lebih hanya sebutir batok kepala manusia yang pucat pias!
Thiat Tiong-tong tidak perlu menengok untuk
kedua kalinya pun sudah segera mengenali kepala itu sebagai milik
Phoa Seng-hong.
Ketika pergi bersama Hek Seng-thian, Pek
Seng-bu dan Suto Siau, Phoa Seng-hong berdandan sebagai seorang
kakek untuk menggantikan peranan Thiat Tiong-tong, tapi sekarang
yang dihantar hanya batok kepalanya, ini membuktikan kalau rahasia
penyaruannya sudah ketahuan.
Melihat isi kotak itu ternyata sebutir batok
kepala, Un Tay-tay langsung menjerit kaget, diapun secara
lamat-lamat dapat menduga akan peristiwa ini.
Setelah sempat terkejut, dengan cepat Thiat
Tiong-tong berhasil mengendalikan kembali perasaan hatinya, di mulai
berpikir:
"Kelihatannya Sim Sin-pek yang kabur
ketakutan secara kebetulan telah bersua dengan Hek Seng-thian
sekalian, dalam ketakutannya dia tidak menyangka kalau Hek
Seng-thian bakal memaafkan perbuatannya, sebagai imbalan dia
pasti bercerita telah bertemu aku dan Un Tay-tay, rupanya waktu itu
Phoa Seng-hong yang masih menyaru sebagai aku masih ada bersama
mereka, begitu rahasia penyaruannya terbongkar, Suto Siau pasti
membunuhnya kemudian baru mengejar Un Tay-tay, dia tidak tahu kalau
Un Tay-tay sebetulnya sudah kehilangan kontak denganku, disangkanya
perempuan itu pasti akan datang mencariku, maka mereka sengaja
membebaskan Un Tay-tay dengan harapan bisa mengintilnya. Aaaai,
siapa sangka kalau tanpa sengaja Un Tay-tay justru berhasil
menemukan aku disini. Aaai.... kini, mereka malah, berhasil
menemukan jejakku pula!"
Walaupun persoalan ini sangat rumit, tapi
bagi Thiat Tiong-tong bukan halangan, dia segera berhasil menebak
jalannya peristiwa.
Setelah termenung dan berpikir sejenak,
diapun melangkah keluar dengan cepat.
Ai Thian-hok mengintil terus di belakangnya,
dia seakan tidak ingin membiarkan pemuda itu pergi seorang diri.
Saat itu didepan pintu telah berdiri
seseorang, dia tidak lain adalah Sim Sin-pek yang berdiri dengan
senyuman dikulum.
Begitu melihat Thiat Tiong-tong, kontan dia
tertawa tergelak sambil berkata:
"Tidak disangka ternyata paman Suto
betul-betul pandai meramal, ternyata hengtay benar-benar berada
disini, apakah hadiah dari guruku telah kau terima?"
Thiat Tiong-tong tertawa dingin.
"Tidak kusangka kau masih berani kemari,
tidak kuatir aku menjagal dirimu terlebih dulu?"
Sim Sin-pek tertawa lebar, katanya:
"Kecuali hadiah yang tadi, guruku masih
mempunyai hadiah lain yang lebih berharga untuk dipersembahkan
kepadamu, bila hengtay membunuhku lebih dulu, jelas kau tidak akan
menerima kado istimewa itu!"
"Kado apa?" tanya Thiat Tiong-tong dengan
wajah berubah.
Sim Sin-pek tertawa licik.
"Kado yang harus kusampaikan telah ku
hantar, sekarang siaute ingin mohon diri terlebih dulu" katanya,
"tapi sebelum kado istimewa itu sampai disini, kuharap hengtay
jangan pergi dulu"
"Hmm, kalau aku suka, siapa yang bisa
menghalangiku?" jengek Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu tidak ada salahnya buat
hengtay untuk mencoba" kata Sim Sin-pek seraya menjura, kemudian dia
mundur tiga langkah dan tiba-tiba bersuit nyaring.
Berbareng dengan suara suitan itu, dari
empat penjuru segera berkumandang suara gelak tertawa yang sangat
nyaring, menyusul kemudian terdengar orang berteriak lantang:
Thiat Tiong-tong benar-benar berada disini,
bagus, bagus sekali"
Beberapa orang itu buka suara bersama, tutup
mulutpun bersama-sama, jelas mereka memang sudah janjian dengan
suara suitan sebagai pertanda.
Dari gelak tertawa yang begitu nyaring,
Thiat Tiong-tong tahu kalau kawanan jago itu rata-rata berilmu
tinggi bahkan tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan,
kenyataan ini membuatnya terkesiap, dia tidak menduga kalau Suto
Siau telah mengundang bala bantuan.
Yin Ping yang menyaksikan anak muda itu
masuk ke dalam dengan kepala tertunduk, kontan saja tertawa
terkekeh, katanya:
"Tidak kusangka ada begitu banyak jago
tangguh yang telah berkumpul disini, kelihatannya mereka telah
mengepung kalian rapat-rapat, jangan harap kalian bisa kabur lagi
dari sini!"
Paras muka Thiat Tiong-tong berubah jadi
hijau membesi, tidak tahan dia melirik Im Ceng sekejap.
"Betul" ujar Yin Ping lagi sambil tertawa,
"dengan kepandaian silat dan kecerdasan otakmu, rasanya tidak sulit
untuk melarikan diri dari sini, tapi adik seperguruan kesayanganmu
itu, hehehehe.....mungkin bakal berakhir dengan mengenaskan!"
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang,
sambil menjura kepada Un Tay-tay katanya:
"Luka yang diderita su-te perlu segera
diobati, didepan bukit sana terletak kuil Siau-lim-sie, sebagai
perguruan nomor wahid dikolong langit, lagipula sebagai pendeta yang
welas asih, asal nona bisa menghantarnya ke situ, aku yakin para
pendeta tinggi Siau-lim-pay pasti tidak akan berpeluk tangan belaka"
"Tapi..... tapi...... dengan cara apa kita
bisa meloloskan diri?"
"Meskipun rumah ini sudah
terkepung, namun........"
Tiba tiba Yin Ping menukas:
"Kalau kau memang punya kemampuan, jangan
gunakan lorong bawah tanahku!"
Begitu rahasianya terbongkar, Thiat
Tiong-tong tidak mampu berkata lagi, dia hanya bisa berdiri
termangu.
"Enciku yang baik ........" Un Tay-tay
segera berseru sambil tertawa.
"Adikku manis, kau tidak usah takut, asal
ikut aku, cici jamin kau pasti bisa keluar dari sini lewat pintu
gerbang, kujamin kau tidak usah menerobos liang bawah tanah"
"Sungguh?"
"Siapa yang bohong? Aku sudah mengirim surat
dan sebentar pasti ada yang datang menjemputku, orang-orang yang
akan menjemputku.....hehehehe.... tidak ada yang
berani mengusiknya!" Yin Ping tertawa lebar.
"Tapi dia......."
"Waah, orang itu mah seorang enghiong besar,
aku tidak berani mencampurinya!"
"Kalau begitu aku pun tidak akan pergi"
"Adikku, bukannya aku melarangmu kabur lewat
lorong bawah tanah, kau mesti tahu, kalau lewat sana maka kau mesti
merangkak, mana mungkin kau bisa merangkak sambil membawa orang
sakit? Tadi, aku tidak lebih hanya ingin menjengkelkan hatinya
saja!"
Walaupun dihati kecilnya Thiat Tiong-tong
merasa amat gusar, namun diapun tahu kalau apa yang dikatakan
perempuan itu memang benar.
Tiba-tiba terdengar Un Tay-tay berkata:
"Enciku yang baik, bagaimana kalau aku sanggup
membawanya pergi dari sini?"
Yin Ping tertawa cekikikan.
"Panggilan mu yang manis dan mesra telah
membuat hatiku jadi lembek, bila kau sanggup, pergilah! Tapi kalau
enghiong besar itu yang akan pergi, aku akan segera berteriak, agar
orang lain segera menghadang jalan keluarnya!"
"Terima kasih........" ucap Un Tay-tay.
Kemudian sambil berpaling ke arah Thiat
Tiong-tong, katanya lagi perlahan:
"Aku telah mengundang datangnya musuh tapi
mesti kabur terlebih dulu, aku benar-benar merasa tidak enak
kepadamu, tapi demi dia......."
"Kau tidak usah banyak bicara lagi" tukas
Thiat Tiong-tong cepat, "aku sudah paham!"
Un Tay-tay mendongakkan kepalanya memandang
pemuda itu berapa kejap, sorot matanya terkandung pelbagai macam
perasaan yang bercampur aduk, perasaan yang sulit diungkap dengan
perkataan.
Sampai lama, lama kemudian, akhirnya dia
baru berkata:
"Jagalah dirimu baik-baik!"
Dibopongnya tubuh Im Ceng dengan di bungkus
selembar selimut, kemudian setelah menerobos ke dalam liang dengan
jalan mundur, dia menarik tubuh Im Ceng secara perlahan-lahan.
Tampaknya Yin Ping sama sekali tidak menduga
kalau perempuan itu benar-benar mampu menerobos keluar lewat liang
itu, untuk sesaat dia hanya mengawasi dengan termangu, kemudian
sambil tertawa getir katanya:
"Dasar bocah yang sedang mabuk asmara, tidak
nyana liang bawah tanahku justru telah digunakan untuk selamatkan
nyawa anggota Perguruan Tay ki bun"
Tiba-tiba dia mengulapkan tangannya sambil
menambahkan:
"Yaa sudalah, kalau kau ingin pergi,
pergilah!"
Thiat Tiong-tong tertegun, bisiknya
keheranan:
"Kau......kau........"
"Tidak usah keheranan" tukas Yin Ping sambil
tertawa, "biar jahat dan keji tapi khususnya terhadap anggota
Perguruan Tay ki bun, aku...aaai, bila kau bertemu lagi dengan Im
Kiu-siau nanti, sampaikan salamku kepadanya"
Makin lama Thiat Tiong-tong merasa semakin
keheranan, pikirnya:
"Mungkinkah dia mempunyai
sesuatu hu......hubungan dengan paman Im....?"
Tapi ketika dia ingin bertanya lagi, Yin
Ping telah berbaring diatas ranjang dan enggan untuk berbicara lagi.
Untuk sesaat Thiat Tiong-tong hanya bisa
berdiri mematung.
"Kenapa kau tidak ikut pergi?" tanya Ai
Thian-hok keheranan.
Dengan mata terpejam dan kemalas-malasan
sahut Yin Ping:
"Aku mempunyai tujuanku sendiri, kau tidak
usah mengurusinya"
"Terima kasih untuk pertolonganmu hari ini,
semua hutang piutang diantara kita berdua kuanggap sudah impas"
Mendadak Yin Ping membuka matanya lebar
lebar, serunya sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha......aku tidak sangka kaupun
bersedia kabur dengan merangkak lewat liang bawah tanah, tampaknya
lorong yang kugali hampir dua bulan lamanya ini tidak digali dengan
sia-sia"
"Kalau aku tidak mau pergi, Thiat Tiong-tong
pasti tidak akan pergi" sahut Ai Thian-hok dingin, "padahal dia
masih mengemban banyak tugas berat, buat apa aku mesti menyusahkan
dia!"
Thiat Tiong-tong merasa terharu sekali,
sebetulnya dia termasuk seorang pemuda yang keras kepala dan ingin
menangnya sendiri, namun sehabis mendengar perkataan itu, bisiknya
sambil menghela napas panjang:
"Saudara Ai, kau pergilah!"
"Kau jalan duluan, aku akan mengiringi di
belakang"
Tiba-tiba Yin Ping berseru sambil tertawa:
"Kau tidak pingin melihat kado keduamu yang
telah dihantar kemari?"
Membayangkan beban berat yang berada
dipundaknya, Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat, namun akhirnya
dia menghela napas panjang.
"Aaai, tidak usah dilihat lagi!"
Sambil berkata dia menyusutkan badan dan
siapa merangkak masuk ke liang bawah tanah.
Pada saat itulah, mendadak dari luar sana
terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring:
"Saudara Thiat, kadomu sudah datang, biarpun
kau seorang jagoan muda, aku jamin kau pasti akan terperanjat
sesudah melihat kado itu"
Tergerak hati Thiat Tiong-tong, seketika dia
menghentikan langkahnya.
"Perduli apa pun kado itu, lebih baik jangan
dilihat, ayoh cepat pergi!" seru Ai Thian-hok dengan suara dalam.
Kembali terdengar gelak tertawa bergema dari
luar rumah:
"Saudara-saudaraku" seru orang itu, "tidak
usah mengepung rumah itu lagi, mari kita berkumpul untuk
menjumpai jagoan itu. Setelah melihat kado tersebut, kujamin saudara
Thiat tidak bakalan pergi dari sini meski kita minta dia pergi"
Kembali Thiat Tiong-tong merasakan hatinya
tergerak, cepat dia melompat keluar dari lorong bawah tanah dan
berkata sambil tertawa getir:
"Siaute hanya ingin mengintip sekejap,
silahkan saudara Ai berangkat duluan, siaute segera akan menyusul!"
Belum selesai dia berbicara, tubuhnya sudah
menerjang keluar.
Sementara Ai Thian-hok menghela napas sedih,
terdengar Yin Ping pun berbisik sambil menghela napas:
"Aaaai, jika dia tidak pergi sekarang,
mungkin selamanya dia tidak bakal bisa pergi!"
Kedengaran sekali kalau dia pun merasa
sayang dengan tindakan pemuda itu.
Dengan wajah sedikit berubah mendadak Ai
Thian-hok berkata:
"Aku sudah tiga puluh tahun kenal dengan
dirimu, menjadi buta gara-gara kau, menjadi murid Kiu cu Kui
bo pun gara-gara kau, tapi hari ini aku baru tahu kalau kaupun punya
perasaan"
Yin Ping termenung berapa saat kemudian
kembali tertawa terkekeh.
"Punya sih punya, Cuma minim sekali"
"Terlepas banyak atau sedikit, kau tidak
seharusnya mencemari nama baik orang lain"
"Aduh mak, nama siapa yang ku cemari? Kau
menjadi buta toh atas kemauan sendiri....... gara-gara ingin melihat
aku, justru lantaran kasihan melihat kau menjadi buta maka aku
hantar kau ke tempat tinggal ciciku, ciriku juga hanya mau menerima
orang cacad sebagai muridnya karena diapun sedang menjumpai masalah
sedih"
Lambat laun wajah Ai Thian-hok semakin
diselimuti rasa pedih, bentaknya: Tutup mulut!"
"Kau sendiri yang memulai mengungkit
kejadian lama, kenapa malah marah kepadaku!" sahut Yin Ping sambil
tertawa dingin.
Ai Thian-hok menghela napas panjang.
"Aaai, sebetulnya bukan persoalan itu yang
kumaksud" katanya, "aku hanya ingin tahu, meski kau telah selamatkan
anak murid Perguruan Tay ki bun, kenapa pula mesti mencemari nama
baik guru mereka?"
"Memangnya kenal denganku berarti telah
mencemari nama baiknya?" seru Yin Ping sambil tertawa dingin, "kalau
begitu maksudmu, ooh betapa banyaknya umat persilatan yang namanya
tercemar gara-gara aku!"
"Dalam tiga puluh tahun terakhir,
perbuatanmu mana yang tidak kuketahui, kalau bukan pada sepuluh
tahun berselang kau dikepung delapan orang pendeta sakti dari
Siau-lim-sie hingga jejaknya lenyap, mungkin aku memiliki catatan
lengkap tentang sepak terjangmu. Hmmm, dalam jangka waktu ini, kapan
sih kau pernah berhubungan dengan para petinggi Perguruan Tay ki
bun? Buat apa kau sengaja mengucapkan perkataan semacam itu
dihadapan Thiat Tiong-tong? Hmm, hmmm, jadi kau berharap mereka guru
dan murid saling menaruh curiga sementara kau menonton keramaian?"
"Betul, sepuluh tahun berselang aku memang
sengaja merayu seorang murid Siau-lim-pay lantaran kudengar
peraturan perguruan mereka sangat ketat dan para muridnya amat
disiplin, akibatnya aku ditangkap delapan orang pendeta sakti dan
diberi hukuman berat dihadapan Siau-lim cousu, hmmm, hmmm, waktu itu
ternyata tidak seorang manusia pun yang mau datang menolongku"
Ai Thian-hok tertawa dingin.
"Hmm, bila waktu itu kau mampus, mungkin
orang yang mengurusi mayatmu pun tidak ada, bahkan saudara kandungmu
sendiripun membencimu hingga merasuk ketulang sumsum, siapa lagi
yang mau menolongmu?"
"Hahahaha.... tapi kenyataannya aku toh
belum mati, tentu saja ada orang yang tidak segan diusir dari pintu
perguruan Siau-Lim-sie agar bisa hidup bersama aku. Dia bahkan
mengaku didepan cousuya nya kalau bukan aku yang menggaetnya,
melainkan dialah yang menggaetku. Buktinya kawanan hwesio itu tidak
mampu berbuat banyak, terpaksa mereka bebaskan aku dan mengusirnya
dari perguruan. Waktu itu aku tidak mampu bergerak, terpaksa harus
pergi mengikutinya"
"Dan orang itu menolongmu serta membawanya
kemari?" tanya Ai Thian-hok gusar.
"Betul, meski dia telah selamatkan aku namun
mengurungku disini bagaikan tawanan, mana tahan aku hidup terkekang
maka sejak tahun-tahun terakhir dimana pengawasannya mulai kendor,
akupun mulai menggali liang bawah tanah"
"Dia hanya kuatir kau pergi mencelakai orang
lagi hingga menyekapmu disini, tapi nyatanya diapun ikut menemanimu,
kalau bukan lantaran rasa cinta yang amat, tidak mungkin dia akan
berbuat begitu"
"Benar, dia memang mencintai aku, cemburu
yaa?" ejek Yin Ping sambil tertawa merdu.
"Aku tidak akan mencampuri urusan
pribadimu" seru Ai Thian-hok gusar, "yang aku tanyakan hanya
urusanmu dengan Perguruan Tay ki bun......"
"Kau juga tidak usah mencampuri urusanku
dengan Perguruan Tay ki bun" potong Yin Ping sambil menarik muka,
"tapi ada satu hal perlu kusampaikan, apa yang kukatakan bukan hanya
bualan kosong......!"
"Jadi kau dengan Perguruan Tay ki bun benar
benar.......” Ai Thian-hok agak tertegun.
"Kau tidak usah tanya lagi" kembali tukas
Yin Ping sambil tertawa dingin, "ada sementara persoalan yang
selamanya tidak bakal kukatakan kepadamu"
Tiba-tiba terdengar suara jeritan Thiat
Tiong-tong berkumandang dari luar pintu.
Ternyata ketika anak muda itu keluar dari
pintu rumah, dihadapannya segera terlihat ada delapan, sembilan
orang manusia yang berdiri sambil mengawasinya, hanya sayang waktu
itu senja yang gerimis sehingga sulit baginya untuk melihat jelas
raut muka orang orang itu.
Tapi dengan cepat dia dapat melihat Suto
Siau muncul dari rombongan sambil berjalan mendekat, lagaknya nampak
sangat gembira dan bangga.
Begitu bertemu Thiat Tiong-tong, dia segera
menjura, tertawa dan menyapa:
"Lama tidak bersua saudara Thiat membuat
pikiran siaute benar-benar risau bercampur kangen"
Thiat Tiong-tong tahu, orang ini banyak
akalnya dan pandai berpura-pura, maka sambil menahan rasa dongkolnya
dia segera menyahut sambil menjura:
"Siaute sendiri pun selalu mencari saudara
Suto untuk menyampaikan ucapan terima kasihku!"
"Terima kasih untuk apa?" tanya Suto Siau
agak tertegun.
"Phoa Seng-hong memang seorang bangsat
tukang pemogoran, sudah lama siaute ingin melenyapkan dia, tidak
disangka saudara Suto telah mewakili siaute untuk melakukannya"
"Ooh...ooh.....aaah...aaah....
hahahahaha.....!"
Melihat suara tertawanya sangat aneh, meski
dihati kecil Thiat Tiong-tong merasa keheranan namun tidak urung dia
berkata lagi sambil sengaja tertawa keras:
"Apalagi hengtay masih akan memberi kado
lain untukku, siaute betul-betul menjadi tidak tenang"
"Aah, mana, mana"
"Lantas mana kadonya?" tanya Thiat
Tiong-tong kemudian, "setelah menerimanya, siaute juga akan pergi
dari sini"
Dia memang sengaja bicara santai,
seakan-akan kalau ingin pergi maka dia bisa melakukannya dengan
mudah sekali.
Suto Siau kembali tertawa tergelak.
"Jangan terburu napsu dulu, mari, biar
siaute kenalkan dulu dengan berapa orang sahabat"
Dia membalikkan tubuh, lalu serunya lagi
sambil tertawa keras:
"Hengtay sekalian, kemarilah, mari
kuperkenalkan dengan tokoh maha sakti ini!"
Dari balik rombongan manusia segera
terdengar suara orang menyahut. Selain Hek Seng-thian dan Pek
Seng-bu berdua yang masih berdiri dengan wajah berseri, disitu hadir
lima orang lainnya.
Dari ke lima orang itu, seorang bertubuh
tinggi besar dan amat kekar, seorang kurus pendek, kecil dan membawa
sepasang golok baja dipunggung-nya, seorang lagi tidak lain adalah
Sim Sin-pek.
Selain itu terdapat lagi dua orang, seorang
lelaki dan seorang wanita, yang lelaki berperawakan tinggi
kurus, kepalanya memakai kopiah tinggi, ketika berdiri diantara
kerumunan orang banyak, dia seperti seekor bangau yang berdiri
ditengah kerumunan ayam.
Yang perempuan berperawakan gemuk dan
pendek, sewaktu berdiri disamping lelaki berkopiah itu, ketinggian
tubuhnya hanya mencapai dadanya.
Walaupun berada dalam pandangan umum, namun
mereka berdua tetap saling berpelukan dengan mesranya, satu tinggi
satu pendek, satu gemuk satu kurus, meski nampak lucu dan
menggelikan dalam pandangan orang lain, tapi mereka sendiri justru
sangat menikmatinya.
"Tentunya saudara Thiat sudah mengenali
saudara Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu bukan!" ujar Suto Siau
kemudian sambil tertawa.
"Tapi aku rasa saudara Hek justru baru
pertama kali ini berjumpa dengan siaute!" sambung Thiat Tiong-tong
sambil tertawa.
Memang benar, baru kali ini Hek Seng-thian
melihat raut wajah yang sebenarnya dari pemuda itu, melihat wajahnya
yang sedikit berwarna hitam, meski bukan termasuk lelaki tampan,
namun asal memandangnya lebih lama maka tanpa terasa akan terpikat
kepadanya, diam-diam diapun berpikir:
"Ternyata dia memang berwajah seorang lelaki
jantan, tidak aneh kalau banyak sekali perempuan terpikat kepadanya"
Maka sambil menjura katanya dingin:
"Walaupun belum pernah bersua, namun sudah
lama kukagumi nama besarmu!"
Suto Siau segera menuding ke arah lelaki
tinggi besar itu, berkata lagi sambil tertawa:
"Saudara ini adalah piausu nomor wahid dari
perusahaan ekspedisi kami, orang persilatan menyebutnya
Kim kong su tuo (kantung buku bertubuh malaikat) Lok Put-kun"
"Selamat bersua" Lok Put-kun manggut
manggutkan kepalanya.
Biarpun Thiat Tiong-tong tahu kalau orang
ini cukup ternama dalam perusahaan ekspedisi, namun hatinya
mendongkol juga melihat lagak tengiknya, maka sambil tertawa
tergelak ejeknya:
"Hahahaha..... ternyata memang mirip sekali
dengan patung tanah liat dalam kelenteng"
Seketika berubah paras muka Lok Put-kun,
tapi Suto Siau telah berkata lagi sambil menuding lelaki pendek
bergolok itu:
"Dia adalah Ban tee hui hoa (bunga
terbang memenuhi tanah) Phang Kong, Phang tayhiap, seorang jago
nomor wahid dalam ilmu golok lantai Tee tong to"
"Tidak berani" lelaki kecil pendek dengan
sepasang golok dipunggungnya itu segera menjura sambil tertawa.
Melihat sikap orang ini cukup sopan, Thiat
Tiong-tong pun menanggapi dengan sopan pula meski dihati kecilnya
merasa agak terperanjat, sudah cukup lama dia mendengar nama besar
dari Phang Kong ini, khususnya ilmu golok berantainya yang hebat.
Setelah mendehem berapa kali, dengan wajah
serius Suto Siau berkata lebih jauh:
"Kedua orang itu adalah Chee Toa-ho dan Sun
siau-kiau suami istri"
Ketika melihat ke dua orang ini bukan saja
lucu lagaknya, nama yang mereka sandangpun amat aneh, tidak tahan
dia berseru sambil tertawa:
"Selamat berjumpa, selamat berjumpa"
Lelaki berkopiah itu langsung menarik
wajahnya sambil men-cengkeram gagang pedang dipinggangnya,
tapi perempuan disam-pingnya segera menyela sambil tertawa:
"Siau-chee, sudahlah, dia toh tidak mengenal
kita, jangan salahkan kalau sikapnya kurang sopan"
Sambil bicara diam-diam dia mengerling
sekejap ke arah Thiat Tiong-tong.
Dalam pada itu Suto Siau telah berkata lagi
dengan suara keras:
"Mungkin saudara Thiat belum tahu soal nama
sebenarnya dari Chee-heng suami istri, tapi nama besar Ui koan
Kiam khek (jago pedang berkopiah kuning) dan Bi gwee kiam
khek (jago pedang rembulan hijau) pasti sudah pernah
mendengarnya bukan?"
Nama besar kelompok jago pedang pelangi, Jay
hong kun kiam amat tersohor dalam dunia persilatan, tentu saja Thiat
Tiong-tong pernah mendengar nama besar mereka, diapun tahu kalau
ilmu pedang yang dimiliki si jago pedang berkopiah kuning begitu
cepat dan luar biasa hingga dijuluki orang sebagai jago pedang
tercepat disepanjang sungai besar.
Maka setelah mengamati ke dua orang itu
sekali lagi, ujarnya sambil tersenyum:
"Cayhe hanya pernah mendengar tentang nama
besar Ci sim kiam khek (jago pedang berhati merah), tentang
nama besar kalian berdua.....rasanya baru pertama kali ini
mendengarnya"
Chee Toa-ho berkerut kening, menjengek
sambil tertawa dingin:
"Dari penuturan Cun-hau aku dengar dalam
dunia persilatan telah muncul seorang jago pedang kilat lagi, tidak
kusangka ternyata hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau
kencur!"
"Sama-sama, sama-sama!" sahut Thiat
Tiong-tong tertawa.
"Ayoh sini, sini......." teriak Chee Toa-ho
gusar, "cabut pedangmu, biar kuberi pelajaran kepadamu!"
Sambil berkata dia sudah mencabut keluar
separuh pedangnya.
Kembali Sun Siau-kiau meraih lengannya
sambil menghibur:
"Siau-chee, kenapa mesti terburu-buru!"
"Hahahaha.... betul, betul" seru Suto Siau
pula sambil tergelak, "paling tidak, kita mesti menunggu sampai
saudara Thiat melihat kadonya lebih dahulu!"
"Hmm, kalau sudah melihat kadonya, mungkin
dia sudah tidak mampu bertarung!" jengek Chee Toa-ho sambil tertawa
dingin.
Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap, tapi
diluaran dia berkata sambil tertawa tergelak:
"Walaupun aku hanya mengerti ilmu silat
kucing kaki tiga, tapi bila kau ingin menjajalnya, setiap saat aku
pasti akan melayani keinginanmu itu"
Suto Siau segera memberi tanda, Sim Sin-pek
dengan langkah cepat berlalu dari situ.
"Saudara Suto" seru Chee Toa-ho lagi dengan
suara dalam, "bagaimanapun juga hari ini siaute harus memberi
pelajaran yang setimpal kepada bocah keparat ini, kau mesti memberi
kesempatan kepadaku untuk menghajarnya terlebih dulu"
"Tentu saja, tentu saja!"
Tiba-tiba terdengar Lok Put-kun berteriak
lantang:
"Saudara Chee, kalau ingin memberi pelajaran
kepadanya tolong jangan sampai kau mencabut nyawanya, sebab aku
orang she-Lok juga pingin menjajal kemampuannya!"
Suara orang ini sangat nyaring, memang
berimbang dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar.
"Hari ini silahkan saja kalian beradu
kepandaian dengan saudara Thiat, cuma saja dalam urusan pribadi
antara siaute dengannya...... hmmm, hmmm.....kalian jangan
turut campur"
"Hahahaha...... yang penting jangan sampai
kalian cabut nyawanya!" kata Hek Seng-thian menambahkan sambil
tertawa tergelak.
Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan
itu merasa gusar sekali, namun perasaan marahnya sama sekali tidak
diperlihatkan keluar, malah serunya sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha......kalian tidak perlu kuatir,
cayhe yakin sampai lima tahun lagi pun belum tentu aku sudah mati"
Sementara dia masih tertawa, tampak Sim
Sin-pek dengan memimpin berapa orang lelaki berbaju hitam yang
mendorong sebuah kereta berbentuk aneh berjalan mendekat.
Kereta itu berbentuk empat persegi dengan
panjang dan lebar kurang lebih dua setengah meter, bentuknya mirip
sekali dengan sebuah peti raksasa, hanya saja di ke empat sudutnya
diberi roda hingga dapat bergerak.
Thiat Tiong-tong tidak dapat menebak
permainan busuk apa yang sedang dipersiapkan Suto Siau, tapi dia
tahu kalau orang ini licik, busuk dan jahat, dia suka sekali membuat
kejutan, bisa diduga isi peti tersebut pasti sesauatu yang sangat
aneh.
Suto Siau nampak berdiri dengan perasaan
amat bangga, katanya sambil tertawa terbahak:
"Hahahaha.... siaute tidak punya kado
istimewa yang harus diberikan, oleh sebab itu sengaja
kubuatkan sebuah anak tangga tiga susun untuk dipertontonkan
kepadamu"
"Wah, tidak kusangka saudara Suto adalah
seorang tukang kayu handal" sindir Thiat Tiong-tong sambil tertawa.
Suto Siau tidak menanggapi, dia memberi
tanda sambil berseru:
"Terapkan anak tangganya!"
"Siap!" sahut Sim Sin-pek cepat.
Dia berjalan menuju ke belakang kereta,
disitu terdapat sebuah roda pemutar, ketika dia mulai memutar roda
itu, atap kereta tiba-tiba terbentang lebar.
Lalu sebuah anak tangga sepanjang empat
meter pun perlahan-lahan menjulur ke tengah udara, diujung tangga
terikat sebuah benda sepanjang satu setengah meter yang terbungkus
selembar kain minyak, tidak diketahui benda apakah yang terbungkus
rapi itu.
"Aku mohon kepada saudara yang ada disitu
untuk segera membuka penutup kain itu!" seru Suto Siau kemudian.
"Pertunjukan segera akan dimulai, biar
siaute saja yang membuka kain penutupnya!" seru Phang Kong sambil
tertawa.
"Wah,... bagus, bagus sekali, jika saudara
Phang yang turun tangan, pasti hebat sekali!" Suto Siau bertepuk
tangan.
Sudah lama Thiat Tiong-tong mendengar
tentang kehebatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Boan tee
hui hoa (bunga terbang memenuhi tanah). Dia tahu orang itu
adalah seorang perampok ulung yang mampu menyatroni seribu rumah
dalam satu malam.
Disamping ingin mengetahui sampai dimana
kehebatan ilmu meringankan tubuhnya, yang lebih penting lagi adalah
dia pingin tahu benda apa yang terbungkus rapi itu.
Dalam pada itu Phang Kong sudah membenarkan
letak pakaiannya dan menjura:
"Maaf, aku akan pamer kejelekan!":
Tidak nampak gerakan apa yang dilakukan,
tahu-tahu tubuhnya sudah berada dipuncak kereta.
Dalam perkiraan orang banyak, dia pasti akan
menggunakan gerakan tubuh sebangsa burung bangau terbang ke angkasa
untuk menaiki puncak tangga itu, siapa tahu dia malah meluruskan
sepasang tangannya ke bawah, lalu selangkah demi selangkah naik ke
atas.
Sebagaimana diketahui, anak tangga itu lurus
tegak ke atas, bukan saja tak ada terap untuk menaikinya bahkan
tidak gampang untuk melompatinya.
Tapi sekarang bukan saja dia tidak perlu
berpegangan, malah dengan tubuh tegap menaiki tangga itu satu demi
satu, jelas satu pekerjaan yang tingkat kesulitannya amat tinggi.
Jika ilmu bhesi nya tidak kuat, niscaya tubuhnya akan roboh
terjungkal.
Tidak kuasa lagi semua orang bersorak-sorai
memuji, begitu juga dengan Thiat Tiong-tong, mau tidak mau dia harus
mengakui kehebatan lawan.
Disamping itu, diapun merasa tercekat
hatinya sebab dia sadar setiap musuh yang dihadapinya hari ini
merupakan jago-jago yang amat tangguh.
Sementara dia masih berpikir, Phang Kong
sudah memegang ujung kain itu dan berseru sambil tertawa:
"Lihatlah sekarang!"
Mendadak dia bersalto di udara, berikut kain
pembungkus itu dia melayang turun ke bawah.
Tangga itu mempunyai ketinggian empat
meteran, ditambah lagi selisih dari kereta ke tanah maka seluruhnya
mencapai enam meteran. Saat ini tubuhnya seakan jatuh tergelincir
dari ketinggian.
Baru saja semua orang menjerit kaget, tahu
tahu Phang Kong sudah berdiri tenang diatas tanah dengan senyuman
dikulum, sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.
Tampaknya dia memang berniat memamerkan
kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.
Tanpa sadar sorot mata Thiat Tiong-tong
bergerak ke bawah mengikuti tubuhnya, kemudian dia baru mendongak
kembali, namun begitu melihat benda yang berada diujung tangga,
setenang apa pun pemuda itu tidak urung dia menjerit juga.
Ternyata diujung tangga itu terikat tubuh
seseorang, orang itu berbaju putih namun sekarang sudah kotor oleh
lumpur, rambutnya kusut dan awut-awutan, kepalanya tertunduk
lunglai, tidak jelas apakah masih hidup ataukah sudah mati?
Biarpun berada ditengah hujan gerimis dan
lapisan kabut, namun Thiat Tiong-tong dapat melihat dengan sangat
jelas, ternyata orang itu tidak lain adalah Sui Leng-kong!
Kepalanya serasa disambar geledek, matanya
berkunang dan hawa panas menggelora dalam dadanya.
Meskipun sikap dan penampilannya terhadap
Sui Leng-kong selama ini dingin dan asing, namun sesungguhnya dia
menaruh perasaan cinta yang membara, meski beberapa kali dia seakan
membiarkan Sui Leng-kong pergi meninggalkan dirinya, padahal setiap
saat setiap detik dia selalu memimpikan dan merindukan,
kalau bukan karena ingin menyelamatkan Sui Leng-kong dari kesulitan,
tidak mungkin dia rela terjun ke dalam sungai untuk mencari mati.
Dan kini, akhirnya dia berhasil menemukan
Sui Leng-kong. Namun kejadian tragis yang menimpa gadis itu membuat
hawa amarahnya langsung memuncak, sambil membentak nyaris dia siap
menerjang naik ke atas.
"Jika kau berani bertindak sembarangan, dia
segera akan kehilangan nyawa!" ancam Suto Siau tiba-tiba.
Sekalipun dia tidak berusaha turun tangan,
namun beberapa patah perkataannya justru memiliki daya pengaruh yang
luar biasa.
Thiat Tiong-tong merasakan tubuhnya bergetar
keras, dia mundur sejauh tiga langkah, tangan dan kakinya jadi
dingin kaku, seluruh tubuhnya jadi lemas seolah kehilangan tenaga.
"Dia......dia belum mati?" bisiknya.
Suto Siau tersenyum, sahutnya:
"Meskipun dia belum mati, tapi dengan satu
gerakan tangan aku bisa membuatnya hidup tidak bisa mati pun
sengsara, kalau tidak percaya, silah-kan saja dicoba!"
Thiat Tiong-tong mencoba memeriksa
sekeliling tempat itu, terlihat olehnya tangan kanan Hek Seng-thian,
Pek Seng-bu, Suto Siau serta Sim Sin-pek telah disembunyikan ke
balik saku bajunya, jelas mereka sedang menggenggam senjata rahasia.
Beberapa orang itu adalah jago-jago senjata
rahasia, bila dia bergerak sembarangan maka asalkan orang orang itu
turun tangan bersama, maka walaupun dia punya tiga kepala enam
lengan pun, jangan harap sanggup menghalangi beberapa orang itu.
Terlebih tubuh Sui Leng-kong terikat
kencang, semakin sulit baginya untuk menghindarkan diri.
Dalam sekilas pandang dia sudah tahu kalau
perkataan Suto Siau bukan gertak sambal belaka, tanyanya:
"Kenapa dia......dia bisa terjatuh ke
tanganmu?" Meski air mata tidak sampai bercucuran, namun kelopak
matanya telah basah oleh genangan air mata.
Terdengar Suto Siau tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha..... soal itu mah.......
dikemudian hari kau toh bakal tahu sendiri!"
Thiat Tiong-tong tertegun berapa saat,
tiba-tiba dia berteriak keras:
"Baiklah, Thiat Tiong-tong mengaku kalah!"
"Hehehehe.... jika mengaku kalah berarti kau
mesti menurut, selanjutnya apa pun yang akan kami perintahkan, kau
tidak boleh membangkang"
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya sakit
bagaikan diiris-iris, dia sadar, bila permintaan itu dikabulkan
berarti dia telah mengkhianati perguruan dan tidak akan lolos dari
hukuman, sebaliknya bila ditolak, bagaimana caranya untuk menolong
Sui Leng-kong?
Tiba-tiba terdengar desingan angin
berkumandang dari belakang tubuhnya, ternyata Ai Thian-hok yang
mendengar jeritan kagetnya telah menyusul tiba, tegurnya dengan
suara dalam:
"Siapa yang telah terjatuh ke tangan
mereka?"
Dia hanya mendengar tanya jawab yang sedang
berlangsung, namun tidak dapat melihat Sui Lengkong yang terikat
diujung tangga.
Thiat Tiong-tong tahu kalau rekannya ini
bersifat keras dan berangasan, lantaran kuatir dia turun
tangan secara sembarangan hingga mencelakai
keselamatan Sui Leng-kong maka sahutnya lirih:
"Hengtay tidak kenal dengan orang ini"
"Apakah perlu turun tangan?"
"Disaat harus turun tangan, tampaknya aku
harus mohon bantuanmu" sahut Thiat Tiong-tong sambil tertawa sedih.
Suto Siau sama sekali tidak menggubris walau
melihat ke dua orang itu berkasak-kusuk dengan suara lirih, dia
yakin kemenangan pasti berada dipihaknya maka dia hanya mengawasi
dengan senyuman dikulum, dalam hati ia cuma merasa heran kenapa
kedua orang ini bisa ada bersama.
Phang Kong sekalian pun mengenali orang itu
sebagai murid pertama Kiu cu Kui bo, tanpa terasa paras muka mereka
sedikit berubah.
Mendadak terdengar pendekar pedang
berkopiah kuning membentak keras:
"Saudara Suto, sebelum bangsat itu
memberikan jawabannya, bagaimanapun siaute harus bertarung dulu
dengannya, sebab jika dia sudah menyerah, pertarungan kami akan
gagal!"
"Tapi saudara jangan..........."
"Tidak usah kuatir, aku tidak bakal
mencelakai nyawanya" tukas Chee Toa-ho sambil tertawa dingin, "Thiat
Tiong-tong, ayoh maju!"
Dalam keadaan seperti ini mana mungkin Thiat
Tiong-tong punya selera untuk bertarung, dia menghela napas panjang.
"Cayhe......."
Kembali Chee Toa-ho tertawa dingin,
potongnya:
"Jika kau tidak berani bertarung, akan
kupotong dulu kedua belah telingamu"
Sambil menggetarkan pergelangan tangannya,
diantara berkuntum bunga pedang, dia lancarkan sebuah babatan ke
depan.
Dengan cepat Thiat Tiong-tong berkelit ke
samping.
"Kenapa kau tidak membalas?" tegur Ai
Thian-hok dingin.
Belum sempat Thiat Tiong-tong menjawab, dari
sisi kiri kembali berkelebat sekilas cahaya pedang.
Terdengar Sun Siau-kiau berseru sambil
tertawa merdu:
"Anak muda, kupinjamkan pedangku!" Ternyata
cahaya pedang itu berasal dari pedang yang dilontarkan ke arahnya,
terpaksa Thiat Tiong-tong menyambutnya.
Baru saja pedang berada dalam genggaman,
secara beruntun Chee Toa-ho sudah melancarkan tujuh jurus serangan
kilat, gerak serangan orang ini benar-benar cepat dan kilat, dalam
waktu singkat dia sudah melancarkan tujuh jurus serangan.
Dengan cekatan Thiat Tiong-tong berkelit ke
sana kemari menghindarkan diri dari ke tujuh buah serangan itu,
perasaan hatinya waktu itu sangat kalut, dia sama sekali tidak
berminat untuk melakukan pertarungan.
Serunya setelah menghela napas panjang:
"Biarlah aku mengaku kalah saja, kau......."
"Kalau menyerah kalah, ayoh berlutut dan
menyembah dulu kepadaku!" hardik Chee Toa-ho.
Biarpun sedang bicara, serangannya sama
sekali tidak berhenti, dalam waktu singkat kembali dia lancarkan
tujuh buah serangan.
Waktu itu rasa gelisah telah mengobarkan
amarah Thiat Tiong-tong, kini dia tidak kuasa menahan diri lagi,
pikirnya:
"Bagaimanapun aku harus bertarung habis
habisan dulu melawannya!"
Cahaya pedang dikembangkan, dia sambut
datangnya ancaman lawan.
"Triiing, triiiing, triiiing.....”
serangkaian suara benturan nyaring bergema memecahkan keheningan,
dalam waktu singkat dia balas melancarkan tujuh serangan dan
membendung seluruh ancaman dari Chee Toa-ho dengan keras lawan
keras.
"Jurus pedang yang amat cepat!" pikir semua
orang dengan perasaan kaget.
Tiba-tiba Chee Toa-ho melompat mundur berapa
langkah, dia tarik sarung pedangnya dari pinggang dan membantingnya
keras-keras ke tanah.
Buru-buru Sun Siau-kiau memungutnya sambil
berteriak:
"Eei...jangan dibanting, nanti rusak!"
Baru berapa patah kata terucapkan, kembali
terdengar benturan nyaring bergema secara beruntun, ternyata kedua
orang itu sudah saling menyerang sebanyak berapa gebrakan.
Sebagaimana diketahui, kedua orang ini
sama-sama mengandalkan kecepatan dalam jurus serangannya, karena
cepat maka suara benturan yang terjadi tidak terlalu keras, tapi
deruan angin pedangnya bagaikan menyayat angkasa.
Dalam waktu singkat belasan gebrakan kembali
lewat.
Thiat Tiong-tong mulai berpikir:
"Kelihatannya jurus pedang yang dimiliki
orang ini tidak terlampau mengejutkan, dia hanya mengandalkan
kecepatan untuk menundukkan lawan, tampaknya aku harus menggunakan
tehnik cepat untuk mengalahkan dirinya!"
Berpikir sampai disitu tiba-tiba dia
menggetarkan pedangnya dan secepat kilat melancarkan empat belas
jurus serangan, dalam ke empat belas jurus serangan itu jurus yang
satu lebih cepat daripada jurus yang lain, dalam waktu singkat
seluruh angkasa hanya dilapisan bunga pedang yang membuat orang
silau matanya.
Chee Toa-ho sama sekali tidak berkelit, dia
sambut datangnya serangan itu dengan bergerak maju, sebagai orang
sombong yang tinggi hati, diapun ingin menggunakan tehnik cepat
untuk menghadapi lawannya, maka begitu serangan dari Thiat
Tiong-tong menyambar tiba, dia segera menyambutnya dengan serangan
pula.
Kedua orang itu bertarung cepat, semua
perubahan jurus dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat.
Lagi-lagi terdengar suara dentingan nyaring
yang menggelegar di angkasa, Chee Toa-ho telah menyambut tujuh
serangan Thiat Tiong-tong kemudian membalas dengan delapan serangan
berantai, ketika serangan terakhir dari anak muda itu menyapu tiba,
dia segera menyongsong dengan maju ke depan.
Sayang gerakan tubuhnya terlambat satu
langkah, "sreeet!" tahu-tahu pedang Thiat Tiong-tong sudah menyambar
lewat dari sisi senjatanya, langsung mengancam dada..
Pertarungan antara dua jago pedang memang
sering ditentukan oleh satu langkah, begitu Chee Toa-ho salah
langkah, tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindarkan diri,
tampaknya ujung pedang milik Thiat Tiong-tong segera akan menembusi
dadanya.
Siapa tahu pada saat itulah cahaya pedang
ditangan Thiat Tiong-tong bergetar kencang kemudian tubuhnya mundur
berapa meter ke belakang, dengan sekali sentakan, pedang itu sudah
menancap diatas permukaan tanah.
Baru saja semua orang menjerit kaget setelah
melihat kekalahan yang dialami Chee Toa-ho, Thiat Tiong-tong sambil
tertawa dingin telah berseru lebih dulu:
"Bila masih ada yang ingin beradu
kepandaian, tunggu sampai aku selesai berbicara dulu!"
Chee Toa-ho berdiri mematung ditempat sambil
menundukkan kepalanya, mengawasi ke lima robekan yang ada dibaju
bagian dadanya, rupanya didalam getaran pedangnya tadi, Thiat
Tiong-tong telah melepaskan lima bacokan maut.
Kini dia hanya berdiri dengan perasaaan
terkejut, ngeri bercampur malu, untuk berapa saat tidak mampu
mendongakkan kepalanya lagi.
Sun Siau-kiau segera maju
menghampiri, memeluk pinggang suaminya dan menghibur:
"Siau-chee, jangan bersedih hati, kalah yaa
sudah, entar biar aku balaskan dendammu!"
Kini kawanan jago itu hanya bisa saling
bertukar pandangan dengan perasaan terkesiap.
"Sebuah jurus pedang yang sangat cepat"
pikir mereka berbareng.
Sementara itu Suto Siau merasa amat gembira,
dia tidak menyangka Thiat Tiong-tong yang memiliki ilmu pedang
selihay itu berhasil ditaklukan olehnya, ketika makin dipikir dia
merasa semakin bangga, tidak tahan akhirnya dia tertawa
terbahak-bahak.
"Hahahaha......apa yang ingin kau sampaikan?
Saudara Thiat, katakan saja"
"Darimana aku bisa tahu kalau saaat ini dia
sudah mati atau masih hidup? Jika kau berharap aku menyetujui
usulmu, paling tidak berilah kesempatanku agar berbicara
dengannya!"
"Itu mah gampang!"
Sambil berkata Suto Siau segera memberi
tanda dengan kerlingan mata.
Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Lok
Put-kun sekalian segera mundur ke sekeliling kereta dan berjaga-jaga
dengan penuh kewaspadaan.
Sekalipun Suto Siau merasa kemenangan sudah
berada dipihaknya, namun setelah menyaksikan kelihayan ilmu pedang
Thiat Tiong-tong, dia tetap tidak berani bertindak gegabah, dia
kuatir anak muda itu menyerang kereta tersebut dan berusaha menolong
tawanan.
Mendadak terlihat Suto Siau mengayunkan
tangannya, sekilas desingan angin tajam segera menghantam tubuh Sui
Leng-kong.
Baru saja Thiat Tiong-tong berseru kaget,
sambil tertawa tergelak Suto Siau kembali berkata:
"Saudara Thiat tidak perlu kuatir, aku hanya
ingin membebaskan totokan jalan darahnya"
Baru selesai dia bicara, terdengar Sui
Leng-kong sudah merintih lirih sambil mengangkat wajahnya.
Kelihatannya gadis itu tidak menyangka kalau
tubuhnya berada ditempat ketinggian, ketika menengok ke sekeliling
tempat itu, meski telah mendusin namun serasa bagai dalam alam
impian, seluruh tubuhnya terasa dingin sekali.
Melihat nona itu mulai bergerak, Thiat
Tiong-tong girang, sedih bercampur gusar, teriaknya cepat:
"Ji-moay........"
Sui Leng-kong hanya cukup menundukkan
kepalanya, dia segera dapat melihat wajah Thiat Tiong-tong yang
sedang memandangnya dengan cemas, untuk sesaat dia tidak tahu harus
terkejut atau gembira, jeritnya:
"Toako......."
Mereka berdua sama-sama mempunyai beribu
patah kata yang ingin disampaikan, namun setelah saling memanggil,
tidak sepotong perkataan pun yang mampu diutarakan, meski hanya
berjarak berapa meter namun dalam perasaan mereka berdua seakan
dipisahkan oleh benua yang berbeda.
Ketika mendengar teriakan 'toako' tadi, Ai
Thian-hok nampak mengernyitkan alis matanya kemudian membentak:
"Sui Leng-kong, kaukah disitu? Siapa yang
berani menyiksa sumoay ku?"
Bentakan yang begitu nyaring membuat semua
orang terkesiap, penjagaan pun semakin diperketat.
Tadi, dalam pandangan Sui Leng-kong hanya
ada Thiat Tiong-tong seorang, setelah dikejutkan oleh suara bentakan
itu, dia baru sadar kalau disitu masih hadir orang lain, katanya
dengan nada gemetar:
"Toa suheng, kau.......kau ada disitu juga!"
"Suheng ada disini, sumoay tidak usah takut,
aku akan datang menolongmu" sambil membentak keras Ai Thian-hok
bersiap siap menerjang ke atas.
"Tunggu sebentar" tiba-tiba Sui
Leng-kong berteriak, "aku..... aku sudah bukan..... bukan sumoaymu
lagi"
"Apa kau bilang?" seru Ai Thian-hok dengan
gusar setelah tertegun sesaat, "kau..... kau pasti sudah
melantur......."
Perlu diketahui, pada jaman itu sekali orang
mengangkat seseorang menjadi gurumu maka selama hidup orang itu
tetap akan menjadi muridnya, sebab rasa hormat terhadap guru
merupakan masalah yang paling penting.
Tidak heran kalau Ai Thian-hok jadi amat
gusar telah mendengar Sui Leng-kong tidak mengakui Kiu cu kui bo
sebagai gurunya, kendatipun begitu, dia tetap berusaha
me1indunginya, dengan mengatakan dia sudah melantur. Siapa tahu Sui
Leng-kong berkata lebih jauh:
"Tidak, kau.......aku tidak melantur,
aku.... aku sudah menjalani penghormatan terakhir dihadapan Kui bo,
menerangkan kalau mulai sekarang sudah bukan muridnya lagi!"
Mendengar gadis itu menyebut langsung gelar
gurunya, Ai Thian-hok sadar kalau apa yang dikatakan bukan bohong,
dalam terkejut bercampur gusarnya dia segera menuding ke atas sambil
mengumpat:
"Kau.....jadi kau telah menghianati
perguruan!"
"Ji-moay" Thiat Tiong-tong ikut membentak,
"kau.....kau sudah gila?"
Perlu diketahui, mengkhianati perguruan
merupakan dosa yang luar biasa besarnya dalam dunia persilatan,
tidak heran kalau Thiat Tiong-tong ikut panik setelah mendengar
pernyataan itu, tidak kuasa lagi dia ikut memaki.
"Benar, aku telah menghianatinya" kata Sui
Leng-kong lebih jauh, "tapi dia telah memaafkan dosaku"
"Mengkhianati perguruan merupakan dosa
besar, mana mungkin suhu mengampunimu?" tegur Ai Thian-hok marah.
Dengan air mata bercucuran kata Sui
Leng-kong lagi:
"Aku tidak percaya kalau dia sudah mati, aku
ingin pergi mencarinya, andaikata dia mati, akupun tidak ingin
hidup, maka aku...... aku tidak ingin menjadi murid orang lain!"
Biarpun beberapa patah kata itu disampaikan
sangat sederhana dan tanpa ujung pangkal, namun dibalik kesemuanya
itu justru terkandung rasa cinta yang lebih dalam dari samudra.
Thiat Tiong-tong sangat terharu hingga air
matanya tidak terbendung lagi, pikirnya:
"Aaah benar, justru gara-gara ingin
menemukan aku, maka dia terjatuh ke tangan Suto Siau"
Ai Thian-hok sendiripun berdiri
mematung sambil berpikir:
"Benar, dia sudah bertekad akan mati bersama
Thiat Tiong-tong, dia pasti kuatir kematiannya akan membuat suhu
bersedih hati, oleh sebab itu dia putuskan dulu hubungan antara guru
dan murid"
Tidak tahan lagi hidungnya terasa kecut,
buru-buru serunya:
"Bagaimanapun juga aku harus membawa mu
menjumpai suhu, jangan harap orang lain bisa mengusik dirimu"
"Terlebih kau sendiri, jangan mencoba
sembarangan bergerak!" sela Suto Siau sambil tertawa dingin.
Baru selesai dia bicara, ujung lengan baju
Ai Thian-hok sudah menyambar kedepan wajahnya.
Merasakan betapa kuat dan dahsyatnya kebasan
ujung lengan itu, Suto Siau enggan menerima dengan kekerasan, cepat
dia mundur sejauh satu meter lebih.
"Weesss!" tubuh Ai Thian-hok bagaikan seekor
kelelawar sudah menerjang naik ke atas, langsung meluncur ke arah
dimana Sui Leng-kong barusan berteriak.
Seketika Hek Seng-thian dan Suto Siau
mengawasi ketat gerak-gerik Thiat Tiong-tong, sementara itu Pek
Seng-bu dan Lok Put-kun ikut melesat naik ke tengah udara.
Baru saja tubuhnya melambung ke tengah
udara, Ai Thian-hok telah mendengar datangnya deruan angin pukulan
dari samping kiri dan kanan, cepat dia kebaskan ujung lengannya,
dengan ujung lengan sebelah kiri menyongsong Pek Seng-bu sementara
ujung lengan kanannya menyambar Lok Put-kun.
Buru-buru Pek Seng-bu menggaetkan kakinya
diatas tangga itu sambil menarik tubuhnya mundur ke belakang,
serangan dari Ai Thian-hok pun mengenai sasaran kosong.
Sementara Lok Put-kun dengan mendorong
sepasang telapak tangannya menyongsong datangnya ancaman dengan
keras melawan keras.
"Blaaaaamm!" benturan keras menyebabkan
tubuh Lok Put-kun tergetar hingga rontok ke bawah, namun Ai
Thian-hok sendiripun ikut tergetar tubuhnya sehingga mencelat ke
arah sisi kiri.
Waktu itu tubuhnya masih melambung di udara
dan tidak punya tempat untuk meminjam tenaga, serangan yang datang
dari sisi kiri harus dihindari dengan susah payah.
Berbeda dengan Pek Seng-bu yang kaki kirinya
tergaet diatas tangga, tubuhnya bisa bergetar secara bebas, begitu
serangan pertama gagal, serangan berikut segera dilontarkan.
Tatkala Ai Thian-hok mengerahkan segenap
kekuatannya untuk beradu kekuatan, siapa tahu Pek Seng-bu segera
menarik kembali tangannya sambil melancarkan sebuah tendangan.
Ai Thian-hok yang berilmu tinggi sayang
tidak bisa melihat dengan jelas kejadian yang sebetulnya, dia tidak
menyangka kalau lawannya punya tempat berpijak, selain itu diapun
tidak mengira pihak lawan dapat merubah jurus serangannya di tengah
udara.
Namun Sui Leng-kong maupun Thiat Tiong-tong
dapat mengikuti kesemuanya itu dengan jelas sekali, dalam
terkejutnya belum sempat mereka berteriak, tahu-tahu Ai
Thian-hok sudah termakan oleh tendangan itu hingga mencelat dan
terjatuh ke bawah bagaikan layang-layang yang putus benang.
Baru saja Thiat Tiong-tong hendak
menggerakkan bahunya, dengan nada dingin Suto Siau segera
mengancam:
"Kau sudah tidak mau dengan nyawanya?"
Kontan saja pemuda itu bergidik, dia tidak
lagi mampu menghimpun tenaga serangannya.
Pada saat itulah mendadak dari balik rumah
gubuk melesat lewat sesosok bayangan manusia, dengan cepat bayangan
itu menyambar tubuh Ai Thian-hokyang sedang mencelat di udara
kemudian sekali lagi melesat masuk ke dalam rumah.
Semua orang hanya merasakan pandangan
matanya kabur, secara lamat-lamat mereka sempat melihat sesosok
bayangan manusia berbaju merah yang bertubuh langsing melesat lewat
kemudian lenyap dari pandangan, demikian cepatnya gerakan tubuh
orang itu nyaris bagaikan sesosok sukma gentayangan.
Kenyataan ini seketika membuat perasaan hati
semua orang tercekat.
Suto Siau sendiripun segera berpikir:
"Ternyata dia masih mempunyai pembantu,
kalau sekarang aku tidak memaksanya untuk menjawab, mungkin semakin
panjang larut malam, semakin banyak impian yang bakal timbul......”
Berpikir sampai disitu segera hardiknya:
"Thiat Tiong-tong, bagaimana keputusanmu?"
"Apa yang kau inginkan?" Thiat Tiong-tong
balik bertanya dengan sedih.
"Kau harus angkat sumpah, berjanji selama
hidup akan mentaati semua perintahku"
"Kemudian?"
Suto Siau tertawa seram.
"Kecuali itu, kau harus memusnahkan seluruh
kepandaian silat yang dimiliki, tapi siaute jamin selama hidup kau
tidak bakal kekurangan sandang pangan"
Sui Leng-kong yang mendengar perkataan itu
kontan menjerit dengan nada gemetar:
"Kau.......kau sungguh keji........"
Suto Siau tertawa tergelak.
"Hahahaha..... yang kuinginkan hanya batok
kepalanya, buat apa dengan ilmu silatnya?" dia menjengek.
Sebetulnya dia berencana akan menarik Thiat
Tiong-tong menjadi pembantu utamanya, namun ketika teringat betapa
hebatnya kungfu yang dimiliki pemuda ini, sebagai orang yang licik
dan banyak akal, dia segera sadar bahwa menahan pemuda itu sama
artinya dengan menyimpan bom waktu disamping tubuhnya, ketimbang
setiap hari harus waspada, mending dia musnahkan dulu ilmu silatnya
kemudian baru memaksanya untuk menunjukkan tempat persembunyian
Perguruan Tay ki bun.
Dalam posisi tidak berilmu, disaat pemuda
itu berada dalam keadaan mati tidak hiduppun susah, terpaksa dia
akan menuruti semua permintaan-nya.
Makin dibayangkan dia merasa semakin bangga,
akhirnya tidak tahan lagi dia mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak.
Thiat Tiong-tong hanya merasakan tangan
kakinya jadi dingin, sepasang matanya merah membara, teriaknya:
"Bila ingin aku sanggupi permintaan mu itu,
hmmmm, lebih baik jangan bermimpi disiang hari bolong"
"Gara-gara ingin mencari dirimu dia
tertangkap, masa kau tega tidak menolongnya?" ejek Hek Seng-thian
sambil tersenyum.
Sambil tertawa tergelak Suto Siau
menambahkan:
"Bila saudara Thiat enggan menolongnya,
siaute pun tidak masalah, bagaimanapun
toh.....haaahahaha.....belakangan siaute sedang kesepian, aku memang
sedang mencari cewek lain untuk menemani ku!"
Kembali Thiat Tiong-tong merasa tercekat,
membayangkan makna dibalik perkataan Suto Siau itu tanpa terasa
tubuhnya gemetar keras.
Akhirnya setelah menghela napas panjang
katanya:
"Seandainya aku menyanggupi permintaan-mu,
apakah kau akan membebaskan dia?"
"Soal ini mah.........." Suto Siau tertawa
seram.
Mendadak terdengar Sui Leng-kong yang berada
ditengah udara bersenandung keras:
"Lelaki harus mengutamakan rasa
setia-kawan, Bila cinta membelenggu, impian membelenggu,
kesetiakawanan akan lenyap,
Bila cinta dan kesetiakawanan saling
membelenggu, apa cinta yang harus didahulukan? Atau setia kawan
yang harus diutamakan?"
Ketika mendengar gadis itu mulai menyanyi,
semua orang kontan berdiri tertegun, apalagi bagi Phang Kong
sekalian, meski berilmu tinggi namun mereka adalah orang kasar yang
tidak pernah makan bangku sekolah, sambil tertawa geli pikirnya:
"Ternyata gadis ini takut mati, rupanya dia
sedang berusaha menggunakan kata cinta untuk membujuk Thiat
Tiong-tong dan memintanya untuk menyanggupi permintaan orang"
Suto Siau sendiri meski cerdas dan banyak
akal, namun untuk sesaaat diapun tidak mengerti apa maksud senandung
itu.
Berbeda dengan Thiat Tiong-tong yang sudah
satu pikiran dengan Sui Leng-kong, seketika perasaan hatinya
tercekat, pikirnya:
"Aaah benar, dia minta aku jangan terlalu
merisaukan cinta kasihku dengannya hingga mengabaikan budi perguruan
yang lebih tinggi dari bukit karang"
Dengan air mata berlinang kembali Sui
Lengkong bersenandung:
"Manusia hidup seratus tahun, semuanya
hanya semu belaka,
Kemewahan keduniawian sekejap lenyap
tidak berarti, semuanya tidak abadi.
Kalau tidak tahan dengan udara dingin di
tanah perbukitan,
Ingatlah dengan kehangatan duniawi!"
Sekali lagi semua orang dibuat termangu oleh
senandung itu, meski mereka ikut kesemsem namun tetap tidak paham
apa maksud dari senandung tersebut.
Thiat Tiong-tong nampak bertambah sedih,
pikirnya:
"Dia bilang kehidupan manusia bagai impian,
tidak berharga untuk dikenang, dia pun minta aku jangan merisaukan
mati hidupnya, dia..... ternyata dia bertekad akan mati"
Melihat Thiat Tiong-tong tertunduk sedih,
kembali Sui Leng-kong tertawa pedih sambil bersenandung lebih jauh:
"Bila keinginan sulit terpenuhi,
Kita bersua kembali di alam lain,
Rambut hitam wajah cantik segera memutih,
buat apa terlalu dipikirin?
Ingatlah selalu ooh sang kekasih,
Disaat musim gugur telah bertemu,
Semuanya akan lebih indah dari
sebelumnya"
Thiat Tiong-tong benar-benar merasa amat
pedih, pikirnya:
"Dia minta aku jangan memikirkan kesenangan
keduniawian, bertemu lagi dengannya setelah berada di alam baka, dia
bilang hidup didunia cepat menua, tapi dialam baka akan hidup abadi,
selamanya tidak pernah berpisah lagi,
tapi......meski dia telah berjanji begitu, mana tega aku biarkan dia
hidup dalam kesengsaraan?"
Untuk sesaat suasana disekeliling tempat itu
hanya dipenuhi oleh suara senandung Sui Lengkong, sama sekali tidak
kedengaran suara yang lain lagi.
Entah berapa lama sudah lewat, mendadak
terdengar gelak tertawa yang sangat nyaring berkumandang dari
kejauhan.
Kemudian terdengar suara seorang lelaki
berseru sambil tertawa terbahak bahak:
"Hahahaha.....nyanyian bagus, nyanyian
bagus, sayangnya meski bagus lagunya, salah bait syairnya, coba kau
dengar lagu senandungku ini!"
Menyusul kemudian terdengar orang itu
bernyanyi dengan suara nyaring:
"Hidup manusia hanya seratus tahun,
mengapa tidak di nikmatinya.
Walau kehidupan dewa konon bahagia, siapa
yang pernah membuktikan?
Kebahagiaan yang semu bagaimana mungkin
dibandingkan kenikmatan yang nyata?
Nikmati dulu kehidupan dunia, baru
dilanjutkan kebahagiaan dewa!"
Suara nyanyian itu amat nyaring dan bergaung
diseluruh perbukitan, gema suara yang seolah datang dari empat
penjuru membuat orang sulit untuk tahu dari jarak seberapa jauh
suara nyanyian itu berasal.
Dengan perasaan terperanjat semua orang
menengok ke empat penjuru, namun tidak tampak sesosok bayangan
manusia, kecuali burung yang terbang balik ke sarang, hujan rintik
yang membasahi bumi serta suara gaungan yang menggema dimana-mana,
tidak nampak seorang-pun diseputar sema.
Dengan nada terkejut Suto Siau segera
berseru:
"Siapa yang telah datang? Begitu dahsyat
tenaga dalam yang dimilikinya!"
Belum selesai dia berkata, tiba-tiba tampak
setitik bayangan putih melesat keluar dari balik pepohonan bagaikan
seekor burung walet.
Menanti bayangan putih itu sudah melayang
turun ke permukaan tanah, semua orang baru mendapat tahu kalau
bayangan putih itu tidak lain adalah seekor kucing berbulu putih
mulus dengan mata berwarna hijau.
Ketika mendekam ditanah, kucing itu nampak
amat manja dan lucu, tapi nampak juga galak seperti seekor harimau.
Tampaknya binatang itu seakan keheranan
dengan hadirnya begitu banyak orang ditanah perbukitan yang sepi,
sepasang matanya yang hijau berkilat mengawasi beberapa kali seputar
arena.
Bukan si kucing saja yang keheranan, kawanan
jago pun sangat tercengang dengan kehadiran kucing aneh itu, sorot
mata semua orang pun sama-sama tertuju ke tubuh binatang itu.
Dari dalam rumah gubuk tiba-tiba terdengar
suara panggilan yang merdu diiringi suara tertawa yang lengking:
Ting-nu! Ping-nu!
Kucing putih itu segera melompat bangun dan
melesat masuk ke dalam rumah.
Semua yang hadir memang tidak ada yang tahu
asal-usul kucing itu, tidak demikian dengan Thiat Tiong-tong, dia
tahu kucing itu adalah binatang peliharaan Yin Ping yang pergi
mencari bala bantuan.
Dengan kehadiran kembali kucing tersebut,
dapat ditebak kalau bala bantuan yang ditunggu tunggu telah tiba
pula disitu.
Thiat Tiong-tong segera berpikir:
"Rupanya liang bawah tanah yang digali Yin
Ping bukan tersedia untuk dirinya, melainkan untuk si kucing itu,
jelas dia sengaja mengirim kucing itu untuk mencari bantuan,
sementara dia sendiri tetap menunggu disini karena sedang menanti
kehadiran orang itu"
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah
siapa yang diundang Yin Ping untuk datang menjemputnya?
Kawanan jago yang hadir meski tidak tahu
liku-liku dibalik kesemuanya ini, namun mereka pun ingin tahu jagoan
macam apakah yang memiliki tenaga dalam begitu sempurna sehingga
dapat melantunkan nyanyian dengan begitu nyaring.
Maka tidak kuasa lagi belasan pasang mata
bersama-sama dialihkan ke arah mana berasalnya suara nyanyian itu.
Hanya Sui Leng-kong seorang tetap
menundukkan kepalanya, peristiwa apa pun yang berlangsung disitu,
tidak satupun yang dapat merubah rasa pedih dan murung dihati
kecilnya.
BAB 17.
Kaki lembut bagaikan bunga salju.
Lewat sesaat kemudian, dari bawah bukit
berkumandang suara irama musik yang amat merdu.
Irama musik itu membawakan lagu yang riang
dan gembira, seakan sama sekali tidak ada kemurungan dan kesedihan,
pelbagai kegembiraan duniawi seperti menikmati rembulan ditengah
kebun bunga, menonton wanita cantik dimuka ranjang nyaris terangkum
di balik irama musik tersebut.
Kendatipun semua orang yang hadir
masing-masing mempunyai persoalan pribadi, namun setelah mendengar
irama musik itu, pikiran dan perasaan seolah menjadi lega dan lapang
kembali.
Menanti irama lagu itu makin lama semakin
bertambah nyaring, makin lama semakin mendekat, suasana malam yang
sepi dengan hujan gerimis yang basah pun seolah olah telah berubah
menjadi suasana yang cerah dengan bulan sedang purnama, aneka
bungamemancar-kan bau harum...
Pada saat itulah dari balik irama musik
berkumandang pula suara tertawa yang merdu dengan suara pembicaraan
yang ramai bagaikan burung nuri sedang berkicau.
Enam-tujuh orang nona berbaju indah dengan
membawa payung bambu dan seruling, sambil tertawa sembari meniup
seruling bergerak mendekat dengan langkah yang lemah gemulai.
Pakaian yang mereka kenakan adalah gaun
pendek yang sangat longgar, bagian bawahnya tidak bergaun panjang
melainkan hanya mengenakan celana ketat sebatas dengkul hingga
bagian betisnya yang putih mulus terlihat jelas.
Kaki mereka yang putih mulus bagai salju pun
tidak ditutupi dengan kaus maupun sepatu melainkan hanya mengenakan
bakiak yang serasi warnanya dengan warna pakaian mereka.
Bukan hanya irama musik dan suara tertawa
mereka saja yang merdu, wajah mereka pun nampak cantik jelita bak
bidadari dari kahyangan.
Ditengah kerumunan gadis gadis itu terlihat
pula sebuah bangku berbentuk tandu yang dilengkapi dengan penutup
dibagian atasnya diusung berapa orang, tandu itu tampaknya memang
dirancang secara khusus hingga bisa terhindar dari sengatan matahari
maupun curahan hujan.
Empat orang gadis berdandan serupa
menggotong tandu itu dengan senyuman menghiasi wajah mereka, biar
sedang menggotong sebuah tandu namun mereka seakan tak menggunakan
sedikit tenaga pun.
Diatas tandu itu duduk seorang manusia yang
sangat aneh.
Dia mengenakan pakaian blacu yang sangat
longgar, wajahnya cerah bagai bulan purnama. Meskipun sekilas
pandang dia seakan sedang duduk diatas tandu itu, tapi bila
diperhatikan lebih seksama maka akan terlihat kalau sepasang kakinya
tetap menginjak tanah.
Ternyata tandu itu hanya wujudnya saja
sebagai sebuah tandu namun dalam kenyataan sama sekali tidak
berfungsi, sebab walaupun orang itu kelihatannya sedang ditandu,
padahal dia sedang berjalan dengan kaki sendiri.
Tidak heran kalau kawanan gadis penggotong
tandu itu nampak begitu ringan dan santai, sementara orang itupun
berwajah penuh senyuman cerah, bagaikan seorang saudagar kaya yang
baru berhasil meraih keuntungan jutaan tahil emas.
Manusia aneh itu memiliki kening yang sangat
lebar, sepasang alis matanya tebal dengan matanya yang berbinar,
kesemuanya ini membuat dia nampak cerdas dan berwibawa.
Kendatipun sebagian besar jago yang hadir
disitu banyak pengalaman dalam dunia persilatan, tidak urung mereka
tertegun juga setelah menyaksikan kehadiran manusia aneh itu.
"Aaah, akhirnya kau datang juga" terdengar
suara merdu berkumandang dari balik rumah.
Manusia berpakaian blaco itu tertawa
tergelak, sahutnya:
"Hahahaha... setelah menerima pemberitahuan
yang dibawa kucing hujin, cayhe segera melakukan perjalanan siang
malam untuk menyusul kemari"
Dengan langkah lebar dia langsung berjalan
menuju ke arah rumah gubuk, terhadap kawanan jago yang hadir disitu,
jangan lagi menyapa, melirik sekejap pun tidak.
Kawanan gadis muda yang mengiringinya segera
mengikuti pula disampingnya.
Saat itu irama lagu telah berhenti
berdendang, seorang wanita cantik berbaju merah yang membopong
seekor kucing putih, perlahan-lahan berjalan keluar dari balik
rumah.
Dengan sorot mata tidak berkedip manusia
aneh itu mengawasi perempuan itu lekat-lekat, tiba-tiba dia menghela
napas panjang sambil berkata:
"Aaaai! Tidak disangka meski baru berpisah
tiga hari, namun perpisahan ini serasa bagaikan puluhan tahun,
benar-benar bagaikan pepatah yang mengatakan: sehari tidak bersua,
serasa tiga musim gugur telah berlalu”
"Tiga hari apa?" sahut Yin Ping sambil
tertawa, "kita sudah belasan tahun tidak pernah bersua!"
"Aaah masa iya?" seru manusia aneh itu
sambil menggosok matanya dan menggeleng, "tidak betul, tidak betul,
kalau benar sudah ada belasan tahun, masa wajahmu masih kelihatan
begitu muda dan cantik?"
Yin Ping kontan tertawa terkekeh.
"Mulutmu memang selalu manis, orang mati pun
akan bangkit kembali setelah mendengar perkataanmu itu”
Kedua orang itu berbincang sambil tertawa
tergelak, seakan mereka benar-benar menganggap orang lain seperti
orang mati.
"Selama banyak tahun, pernahkah kau datang
mencariku?" tanya Yin Ping lagi.
"Bukan Cuma mencari, entah sudah berapa
banyak sol sepatuku yang robek gara-gara berkeliaran kian kemari"
Yin Ping memandangnya dengan manis, tanyanya
lagi dengan nada sedih:
"Kalau memang mencariku, kenapa sekarang kau
tidak bertanya bagaimana keadaanku belakangan ini?"
"Hari ini dapat bertemu lagi denganmu sudah
merupakan satu kepuasan yang luar biasa, buat apa mesti menanyakan
urusan yang lewat? Kalau mau bertanya, semestinya bertanya apa yang
selanjutnya akan kita lakukan"
"Aku memang sengaja meminta kau yang datang
menjemputku karena aku ingin membuktikan apakah kau telah berubah
pikiran atau belum, jika kau telah berubah berarti tidak mungkin
akan datang men jemputku, bukan begitu?"
"Bila aku tidak datang menjemputmu, maka kau
pun tidak akan datang mencari aku bukan?"
Yin Ping manggut-manggut.
Sambil tertawa tergelak kembali manusia aneh
itu berkata:
"Untung sampai detik ini aku belum pernah
berubah pikiran"
Yin Ping melirik sekejap sekeliling tempat
itu, kemudian katanya sambil tertawa:
"Betul hatimu memang belum berubah, tapi
orangnya telah berubah, kalau dulu kau paling suka tampil keren,
tampil necis dan suka berdandan, maka sekarang penampilanmu
seenaknya sendiri, tampil sembarangan"
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.... tepat sekali" serunya, "tiga puluh tahun berselang
bukan saja aku selalu tampil rapi, necis dan suka berdandan, bahkan
aku mesti tampil prima, jauh lebih prima dari siapa pun, tapi tiga
puluh tahun kemudian......."
Dia memandang sekejap kawanan gadis yang
berada diseke-lilingnya, kemudian melanjutkan:
"Sekarang aku baru sadar, sebagai manusia
kita tidak boleh menjadi budaknya pakaian, tidak boleh menjadi
budaknya dandanan dan penampilan, pakaian model apa yang paling enak
dikenakan, model itulah yang akan kukenakan"
Yin Ping mengedipkan matanya berulang kali,
kembali ujarnya sambil tertawa:
"Baiklah, apa yang kau katakan tentang
penampilan masih bisa kuterima, tapi bagaimana pula dengan tandumu
itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa seperti perahu karam saja?"
Untuk kesekian kalinya manusia aneh itu
tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.....tentu saja ada alasannya
kenapa aku berbuat begitu, coba bayangkan sendiri, bila aku duduk
diatas tandu sementara mereka harus menggotong dibawah sana,
sekalipun dimulut mereka tidak berkata-kata, bisa dipastikan
perasaan hatinya tertekan dan tidak enak, bila mereka merasa tidak
nyaman, bagaimana mungkin aku bisa menikmati kesenangan, sebaliknya
bila kubuat keadaan seperti ini.........hahahaha.....aku masih tetap
dapat menikmati betapa bahagianya ditandu gadis-gadis cantik,
sementara mereka yang menggotong tandu pun merasa gembira, tak akan
menggerutu dalam hati, kau senang, akupun senang.... nah, keadaan
seperti inilah yang paling menyenangkan"
Keterangan semacam ini nyaris belum pernah
terdengar sebelumnya, tidak heran kalau semua orang melongo
dibuatnya.
Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali
Yin Ping menghela napas panjang, katanya:
"Setelah berpisah belasan tahun, meski kau
masih tetap suka menikmati hidup tapi taraf kenikmatanmu benar-benar
telah mencapai suatu keadaan yang luar biasa"
Semua orang yang hadir pun untuk sesaat
seakan lupa dengan situasi yang sedang dihadapi, setiap orang nyaris
dibuat kesemsem dan terperana oleh tindak tanduk serta penuturan
manusia aneh itu.
Suto Siau pun sadar bahwa manusia aneh itu
memiliki kepandaian silat yang luar biasa, dia berharap orang itu
segera membawa pergi perempuan cantik berbaju merah itu sehingga
tidak mengganggu urusannya.
Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba
manusia aneh itu berpaling, sorot matanya yang tajam mengawasi
sekejap sekeliling tempat itu, ketika menatap wajah Thiat
Tiong-tong, dia seakan mengawasinya beberapa kejap lebih lama.
Thiat Tiong-tong berdiri murung ditengah
hujan, seluruh tubuhnya basah kuyup, keningnya berkerut, namun
pelbagai alasan yang menghinggapi dirinya tidak sampai melenyapkan
kegagahan serta keperkasaan dirinya.
Sementara kawanan gadis cantik itupun
diam-diam saling berbisik sambil melempar kerlingan mata dan
senyuman manis ke arah pemuda itu.
"Apakah orang-orang itu sahabatmu?" tanya
manusia aneh itu kemudian sambil berpaling.
Yin Ping tertawa terkekeh.
"Hanya pemuda yang menarik perhatian
adik-adik kecilmu itu saja yang kukenal, menurut pendapatmu, dia
termasuk manusia berbakat kelas berapa?"
Manusia aneh itu ikut tertawa tergelak.
"Hahahaha..... kalau kawanan budak itupun
sampai ikut terpikat, tentu saja dia termasuk orang yang hebat,
hanya sayang wajahnya murung dan penuh kesedihan sehingga tercermin
kalau jiwanya sedikit agak sempit"
Thiat Tiong-tong hanya mengawasi orang itu
sambil tertawa hambar, dia seakan tidak ingin menjawab tanggapan
itu.
Manusia aneh itu sama sekali tidak
memperhatikan kawanan jago lainnya, mendadak dia melompat turun dari
tandunya, kemudian sambil menjura berkata:
"Hujin, silahkan naik tandu!"
Pundaknya tidak nampak bergerak, ujung
lengan bajunya sama sekali tidak bergoyang, tahu tahu tubuhnya sudah
melayang maju ke depan, hal ini memperlihatkan kalau ilmu
meringankan tubuh yang dimilikinya luar biasa sekali.
"Kau suruh aku menaiki tandu semacam itu?"
terdengar Yin Ping berteriak sambil tertawa, "terima
kasih, aku mah tidak sudi untuk menaikinya"
"Hahahaha...... kenapa kau pun berubah jadi
hidup sederhana? Tandu semacam ini belum tentu bisa kau naiki dihari
biasa!"
Yin Ping tertawa lebar, akhirnya dia
berjalan menuju ke depan.
Suto Siau menyangka mereka segera akan
pergi, diam-diam dia menghembuskan napas lega.
Siapa tahu manusia aneh itu berjalan
menghampiri tangga itu, sambil menengadah tegurnya:
"Udara diatas dingin dan basah, kau tidak
kedinginan dengan pakaian tipismu?"
Sui Leng-kong menghela napas panjang,
senandungnya:
"Tiada hawa dingin dipuncak ketinggian,
Apa nian keinginan mu?"
"Hahahaha...... aku adalah seorang lelaki
yang paling menyayangi gadis lembut, nona cantik wahai nona cantik,
bersediakah kau kembali ke alam dunia?"
"Dia tidak bakal mau turun ke bawah!" bentak
Suto Siau tiba-tiba.
Sambil tertawa manusia aneh itu melirik
sekejap ke arahnya, kemudian bertanya:
"Dari mana kau bisa tahu?"
Buru-buru Suto Siau menjura seraya berseru:
"Cianpwee gagah dan perkasa, boanpwee yakin
kau adalah seorang pertapa sakti yang tidak suka mencampuri urusan
keduniawian, bagaimana kalau boanpwee sekalian segera menghantar
dengan hormat keberangkatan cianpwee turun dari gunung?"
"Ehmmm, berapa patah katamu memang
kedengaran sopan dan sedap didengar, baiklah, asal kau turunkan
gadis itu, kami semua segera akan pergi dari sini"
Suto Siau tertegun, dengan wajah berubah
tanyanya:
"Kenapa cianpwee ingin melepaskan dirinya?"
Sebelum manusia aneh itu menjawab, Yin Ping
sambil tertawa telah memotong duluan:
"Kelihatannya penyakit lamamu kambuh
kembali, asal melihat nona cantik lalu pingin membawanya pulang,
bukan begitu?"
"Hahahaha..... bagaimanapun kau tetap orang
yang paling tahu dengan watakku, setelah bertemu gadis berbakat
semacam ini, mana boleh kubiarkan dia hidup menderita dalam dunia
persilatan? Tentu saja harus kubawa pulang"
Begitu perkataan tersebut diutarakan,
terjadi kegemparan diantara kawanan jago itu.
Suto Siau tidak berani bertindak gegabah,
sekalipun orang aneh itu berwajah putih tanpa jenggot, bertubuh
gemuk pendek dan bicaranya semau sendiri, namun dia sadar kungfu
yang dimilikinya luar biasa hebatnya.
Oleh sebab itu dia segera menarik tangan Hek
Seng-thian dan Pek Seng-bu sekalian untuk berunding.
Diantara sekian jago yang hadir, sebetulnya
Thiat Tiong-tong yang merasa paling gusar, tapi ingatan lain segera
melintas dalam benakya:
"Jika bukan orang itu yang turun tangan,
siapa lagi yang bisa menurunkan Leng-kong dari atas sana? Bagaimana
pun biar dia selamatkan Leng-kong terlebih dahulu sebelum menolong
dirinya"
Berpikir sampai disitu dia pun mendongakkan
kepalanya dan memberi tanda kepada Sui Lengkong.
Kebetulan Sui Leng-kong sedang menatap
kearahnya, sekalipun suasana sangat redup namun begitu sorot mata
mereka berdua saling bertemu, jalan pemikiran kedua belah pihak pun
seakan sudah tersambung.
Yin Ping sambil membopong kucing putihnya
hanya mengawasi mereka berdua dengan senyuman dikulum, sementara
kawanan gadis lainnya hanya menundukkan kepala mengawasi kaki
sendiri yang putih bagaikan bunga salju, tampang mereka mirip
orangyang sedang iri.
Sementara Suto Siau sekalian sedang
berunding, jago pedang berkopiah kuning dan jago pedang rembulan
berdiri sedikit dikejauhan tanpa ikut berbicara, hanya suara Lok
Put-kun yang kedengaran paling nyaring.
Orang ini berperawakan tinggi besar, ketika
berdiri diantara rekan lainnya, tubuhnya nampak jauh lebih tinggi
dari siapa pun, ketika itu dengan wajah penuh amarah sedang
berteriak:
"Siapa takut, siapa takut kepadanya!"
Suto Siau kelihatan manggut-manggut, tiba
tiba dia berbalik dan menghampiri manusia aneh itu sambil berkata:
"Apa yang hendak cianpwee lakukan bila cayhe
sekalian enggan melepaskan dirinya?"
"Itu mah bisa berakibat fatal" jawab manusia
aneh itu sambil bergendong tangan dan tertawa.
Beberapa patah kata itu diucapkan amat
santai seolah tidak bertenaga, namun setiap patah kata yang terucap
kedengaran begitu tajam dan menusuk pendengaran.
Berubah hebat paras muka Suto Siau sekalian,
dari enam orang yang hadir ada tiga orang diantaranya yang berakal
licik, serentak mereka saling bertukar tanda.
Sambil menjura Suto Siau segera berkata:
"Perempuan itu mempunyai kaitan yang erat dengan kami semua, bahkan
menyangkut sederet persoalan, sekalipun kami semua bersedia
membiarkan cianpwee membawanya pergi, tapi bagaimana pertanggungan
jawab kami bila kelak orang lain menanyakannya?"
Kemudian setelah tertawa tergelak,
lanjutnya: "Apalagi cayhe sekalian masih belum tahu siapa nama
cianpwee"
"Bocah keparat, hebat amat kau" tukas Yin
Ping tiba-tiba, "bukankah kau ingin tahu dulu namanya kemudian baru
dipertimbangkan, kalau bisa dilawan kalian lawan, kalau tidak bisa
dilawan kalian akan kabur, bukan begit?"
"Kalau memang begitu, bagaimana kalau
cianpwee tunda dulu selama berapa hari, menunggu cayhe sudah undang
semua rekan, agar mereka pun dapat menyaksikan kehebatan cianpwee,
kemudian perempuan itu baru diajak pergi dari sini?"
Dalam hati dia sudah mengambil keputusan,
asal hari ini bisa menggunakan Sui Leng-kong untuk memaksa Thiat
Tiong-tong menyerah, apa susahnya untuk serahkan kembali gadis itu
kepadanya.
Yin Ping yang mendengar perkataan itu segera
tertawa terkekeh.
"Oooh..... mau pakai siasat
mengundang pasukan bantuan? Bertarung setelah bala bantuannya
tiba?"
Manusia aneh itu berkata pula sambil
menuding ke arah Suto Siau:
"Hahahaha.... tidak kusangka dalam dunia
persilatan telah muncul seorang tokoh secerdik kau, tampaknya aku
mesti membuka mataku lebar lebar"
"Tidak berani, tidak berani, entah bagaimana
pendapat cianpwee dengan usul tadi?" kata Suto Siau.
"Selama hidup aku paling tidak suka
memaksakan kehendak, bila hari ini aku bersikeras membawa pergi
nona ini, paling tidak peristiwa ini pasti akan mencoreng wajah
kalian semua"
Thiat Tiong-tong berkerut kening setelah
mendengar perkataan itu, sebaliknya Suto Siau sekalian berseri,
buru-buru dia menjura seraya berkata:
"Ternyata cianpwee memang bijaksana,
boanpwee ucapkan banyak terima kasih"
Manusia aneh itu tertawa perlahan, katanya
lagi:
"Oleh sebab itu.........."
Dia berhenti sejenak, menunggu perhatian
semua orang sudah tertuju ke arahnya, dia baru melanjutkan:
"Oleh sebab itu kuputuskan, hari ini aku
akan membuat kalian semua menyerahkan nona itu ke tanganku dengan
perasaan rela dan ikhlas........"
Belum selesai perkataan itu diucapkan, paras
muka Suto Siau sekalian telah berubah hebat sementara Yin Ping
tertawa terpingkal-pingkal.
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling
bertukar pandangan sekejap, sementara Pek Seng-bu secara diam-diam
menjawil tubuh Lok Put-kun.
Mereka berdua tahu, persoalan yang dihadapi
pada malam ini tidak mungkin bisa diselesaikan secara damai, tapi
mereka sendiripun tidak berani bertindak secara gegabah, oleh sebab
itu diputuskan untuk mendorong Lok Put-kun agar menjajal terlebih
dulu kepandaian silat yang dimiliki manusia aneh itu.
Lok Put-kun memang seorang jago yang kasar,
berangasan dan bertemperamen tinggi, sejak tadi dia sudah mendongkol
sambil menahan diri, maka setelah diberi tanda untuk turun tangan,
mana mungkin dia bisa menahan diri?
Dengan suara keras kontan hardiknya:
"Mengharapkan kami serahkan nona
itu kepadamu? Hmm, jangan bermimpi disiang hari bolong!"
Dengan langkah lebar dia maju ke muka,
begitu tiba didepan manusia aneh itu, sambil merentangkan sepasang
tangannya yang besar bagai kipas, bentaknya:
"Mari, mari, mari, kalau punya kemampuan,
layani dulu berapa jurus seranganku!"
Dari suara gemerutuk yang dipancarkan dari
tulang belulang Lok Put-kun ketika merentangkan telapak tangannya,
Thiat Tiong-tong tahu kalau kepandaian gwakang yang dimiliki orang
ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.
"Anak muda, kau belum pantas bertarung
melawanku" jengek manusia aneh itu sambil tertawa.
"Kentut" bentak Lok Put-kun gusar, "jika
takut menghadapiku, lebih baik......"
"Baiklah" potong manusia aneh itu kemudian,
"dalam satu jurus bila aku tidak sanggup membuatmu terjungkal,
bagaimana kalau anggap saja aku yang kalah?"
Ketika kedua orang ini berdiri saling
berhadapan, terlihatlah perbedaan mereka yang sangat mencolok,
kalau yang satu bertubuh tinggi besar, kekar berotot dan hitam, maka
yang lain bertubuh gemuk, putih dengan anggota badan yang lembut
halus.
Yang satu bicara keras bagai bunyi genta,
sementara yang lain lembut bagai orang bercanda.
Sekalipun Suto Siau sekalian tahu kalau
manusia aneh itu memiliki kungfu yang luar biasa, namun Lok Put-kun
pun bukan manusia sembarangan, dia sudah banyak tahun mengembara
dalam dunia persilatan, sekalipun cara kerjanya sedikit
gegabah namun pengalamannya dalam menghadapi musuh tidak lemah.
Kendatipun ilmu silat yang dimiliki manusia
aneh itu jauh melebihi lawannya, tapi kalau ingin menghajarnya
hingga jatuh terpelanting dalam satu gebrakan saja, jelas lebih
susah daripada naik ke langit.
Maka Suto Siau sekalian jadi amat girang
setelah mendengar orang itu sesumbar dengan tantangannya.
Hek Seng-thian kuatir Lok Put-kun tidak
pandai bicara, maka dengan langkah cepat dia maju ke depan sembari
menegaskan:
"Cianpwee, lagi bergurau atau sungguhan?"
"Siapa yang sedang bergurau denganmu” jawab
manusia aneh itu sambil tertawa.
"Kalau memang begitu, apa yang hendak
cianpwee lakukan bila kalah?"
"Kalau kalah, aku akan segera turun gunung
dengan merangkak"
Semenjak tadi Lok Put-kun sudah mencak
mencak kegusaran, mendengar perkataan itu kembali teriaknya penuh
amarah:
"Kalau aku yang kalah, bukan saja akan turun
gunung dengan merangkak, bahkan aku akan menyembah delapan kali
kepadamu"
"Hahahaha.....aku kuatir sampai waktunya kau
sudah tidak mampu menyembah lagi"
Hek Seng-thian girang sekali setelah
mendengar perkataan itu, cepat ujarnya sambil tertawa:
"Saudara Lok tidak usah banyak bicara lagi,
cepat minta berapa petunjuk dari cianpwee itu, saudara Lok hanya
cukup melancarkan satu jurus serangan saja dan ingat, jangan sampai
dibuat terjungkal olehnya"
"Ayohlah!" kata manusia aneh itu kemudian
sambil menggulung lengan bajunya.
Dia berdiri amat santai, tidak menyiapkan
diri, tidak pula menghimpun tenaga dalamnya, seakan seorang lelaki
dewasa yang siap menghadapi seorang bayi cilik.
Lok Put-kun sendiri meski tampil dengan
wajah penuh amarah, dihati kecilnya dia pun tidak berani gegabah,
sesudah mendengus dingin dia silangkan kepalannya di depan dada
sambil bertekuk lutut, kuda kudanya segera diperkuat.
Kuda kuda dalam bentuk begini merupakan
sebuah kuda kuda yang paling dasar, khususnya bagi orang yang
berlatih tenaga gwakang, bhesi semacam ini boleh dibilang sangat
kokoh dan sulit digoyang kendatipun didorong oleh dua puluhan orang
lelaki kekar.
Terlihat dia menarik lambungnya dengan
menancapkan sepasang kakinya ke dalam tanah, lalu pikirnya:
"Bocah gendut, akan kulihat dengan cara apa
kau akan membuat aku roboh terjungkal"
Thiat Tiong-tong sendiripun diam-diam
bersorak memuji setelah menyaksikan kuda-kuda orang itu, disamping
kagum diapun merasa terperanjat, ingin diketahui dengan cara apa
manusia aneh itu akan membuatnya roboh terjungkal.
Diiringi bentakan nyaring Lok Put-kun mulai
melontarkan pukulannya, ditengah angin pukulan yang menderu deru
dengan jurus Thay san ya teng (bukit thay-san menindih
kepala) dia bacok batok kepala orang itu.
Jurus serangan ini meski kasar dan sederhana
namun terkandung dasar utama dari ilmu pukulan, boleh dibilang Lok
Put-kun sangat menguasainya.
Apalagi dengan perawakan tubuhnya yang
tinggi besar, seperti nama jurus serangan itu, kekuatannya boleh
dibilang bagaikan tindihan dari sebuah bukit Thay-san.
Tidak urung para jago bersorak memuji juga
setelah melihat kehebatan pukulan itu.
Manusia aneh itu masih berdiri dengan
senyuman diwajah, dia tidak menghindar pun tidak berusaha berkelit.
Diam-diam Lok Put-kun kegirangan, pikirnya:
"Sekalipun kau ingin menggunakan tenaga dalammu untuk
mentalkan aku, tidak nanti tubuhku akan roboh
terjungkal"
Sambil memperkuat kuda kudanya sekali lagi
dia menghujamkan kepalannya ke bawah.
"Blaaaam!" sepasang pukulan maut dari Lok
Put-kun segera bersarang telak diatas bahu manusia aneh itu.
Ternyata orang itu tidak mementalkan tubuh
lawannya dengan getaran tenaga dalam, tubuh Lok Put-kun masih tetap
berdiri bagaikan sebuah pagoda baja, sebaliknya tubuh manusia aneh
itupun terhajar bagaikan sebuah paku yang tertancap ke dalam tanah.
Semua orang merasa terkejut bercampur
girang, Lok Put-kun sendiripun agak termangu melihat hasil
pukulannya itu.
Belum sempat ingatan ke dua melintas lewat,
mendadak terdengar manusia aneh itu berseru sambil tertawa
terbahak-bahak:
"Sekarang, berbaringlah kau!" Secepat kilat
dia menggetarkan sepasang tangannya mencengkeram ke depan, karena
tubuh pendeknya sebagian menancap di tanah, maka arah serangannya
persis mengarah sepasang kaki Lok Put-kun yang tinggi besar.
Waktu itu Lok Put-kun sedang memperkokoh
sepasang kakinya dengan sepenuh tenaga, mimpi pun dia tidak
menyangka kalau lawannya akan menggunakan jurus serangan tersebut
untuk mengancam kakinya.
Dalam keadaan begini sulit baginya untuk
menghindarkan diri, tahu-tahu sepasang kakinya terasa sakit hingga
merasuk tulang, diiringi jeritan kaget tahu-tahu tubuhnya sudah
terlempar ke udara dan roboh terkapar diatas tanah.
Kenyataan semacam ini sungguh diluar dugaan
siapa pun, kawanan jago yang hadir hanya bisa berdiri melongo dengan
mata terbelalak, tidak seorangpun mampu mengeluarkan suara jeritan.
Diiringi suara tertawa nyaring manusia aneh
itu melompat keluar dari dalam tanah, sebuah liang yang cukup dalam
segera muncul diatas tanah.
Menggunakan tubuh untuk menancap ke dalam
tanah yang keras, kepandaian silat semacam ini boleh dibilang belum
pernah terdengar dalam dunia persilatan, seandainya tidak disaksikan
dengan mata kepala sendiri, siapa pun tidak akan percaya dengan
kenyataan tersebut.
"Kenapa kau belum menyembah kepadaku?"
terdengar manusia aneh itu menegur.
Lok Put-kun membentak keras, dia berusaha
merangkak bangun, siapa sangka bantingan tersebut ternyata kuat
sekali, bantingan keras yang membuat sekujur tubuhnya linu dan
sakit, baru merangkak setengah jalan, kembali tubuhnya roboh
terjengkang.
Pek Seng-bu menghela napas panjang, cepat
dia membangunkan rekannya itu.
Lok Put-kun memandang Hek Seng-thian dan Pek
Seng-bu sekejap, kemudian memandang pula ke arah manusia aneh itu,
tiba-tiba sambil mendekap dibahu Pek Seng-bu, dia mulai menangis
tersedu-sedu.
Menyaksikan hal ini Suto Siau hanya bisa
mendongkol bercampur geli.
Manusia aneh itupun tertawa lebar, ujarnya
kemudian:
"Masih ada lagi yang ingin menjajal
kemampuanku?"
Semua orang hanya saling berpandangan, siapa
pun tidak berani menjawab.
Manusia aneh itu segera mendongakkan
kepalanya tertawa terbahak-bahak, serunya lagi:
"Jika kalian tidak keberatan, akupun tidak
akan berlaku sungkan lagi"
Sambil berpaling serunya:
"Murid muridku, cepat turunkan nona itu"
Tampak kawanan nona itu saling mendorong
diantara rekan sendiri dengan wajah cemberut, ternyata tidak
seorangpun yang bersedia turun tangan.
Yin Ping yang melihat itu tertawa terkekeh,
katanya:
"Bila kalian ingin mengikutinya, mulai
sekarang harus belajar tidak cemburuan, kalau tidak, tanggung kalian
akan mampus duluan karena mendongkol"
Kawanan nona itu tertawa geli, akhirnya
sambil dorong mendorong mereka berjalan mendekat.
Manusia aneh itu berpaling ke arah Yin Ping
kemudian serunya:
"Jika semua wanita didunia mirip kau, aku
benar-benar tidak usah pusing dan bingung"
Suto Siau sekalian hanya bisa pasrah dan
membiarkan kawanan nona itu merangkak naik keatas tangga, siapa pun
sadar, kepandaian silat yang dimiliki mustahil bisa mencegah niat
manusia aneh itu.
"Tunggu sebentar!" mendadak terdengar
bentakan keras berkumandang dari puncak tangga.
Ketika semua orang mendongakkan kepalanya,
tampak Sim Sin-pek entah sejak kapan telah berdiri dipuncak tangga.
Rupanya perhatian semua orang waktu itu sedang tertuju pada
kehebatan kungfu manusia aneh itu sehingga tidak ada yang
memperhatikan gerak geriknya.
Tampak tangannya yang satu digunakan untuk
berpegangan pada puncak tangga, sementara tangan kirinya ditempelkan
diatas jalan darah pek hwee hiat di ubun ubun Sui Leng-kong, sambil
tertawa dia berseru:
"Siapa pun kalau berani maju selangkah lagi,
telapak tanganku ini segera akan kutabokkan ke bawah. Waktu itu
terpaksa cianpwee hanya bisa membawa pulang seorang nona cantik yang
sudah mati kaku, hahahaha....... aku rasa pasti tidak ada artinya
bukan!"
Jalan darah pek hwee hiat merupakan jalan
darah terlemah ditubuh manusia, biasanya hanya terpukul ringan saja
bisa berakibat luka parah, apalagi jika Sim Sin-pek menghantamnya
dengan sepenuh tenaga, dapat dipastikan nyawa Sui Lengkong pasti
melayang.
Manusia aneh itu segera memerintahkan
kawanan gadis itu untuk mundur, kemudian sambil mendongakkan
kepalanya dia bertanya:
"Siapa kau? Apayang hendak kau lakukan?"
Thiat Tiong-tong ikut merasa panik, dia
genggam sepasang tinjunya kuat kuat.
Perlahan-lahan Sim Sin-pek berkata:
"Aku hanya seorang angkatan muda yang tidak
bernama, saat ini tidak ada permintaan lain kecuali berharap setelah
aku turun ke bawah nanti, cianpwee dan sekalian nona-nona itu tidak
mengusik seujung rambutku”
Mendengar permintaan yang sangat sederhana,
tanpa berpikir panjang lagi manusia aneh itu menyanggupi:
"Baiklah, aku kabulkan permintaanmu,
sekarang bawalah nona itu turun ke bawah!”
Semula Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
menyangka Sim Sin-pek sedang membantu mereka untuk memaksakan
kehendaknya, mereka jadi mendongkol bercampur kecewa setelah
mendengar perkataan itu.
Tidak tahan lagi Pek Seng-bu menyelinap ke
belakang Chee Toa-ho dan diam-diam memberi tanda kepadanya.
Siapa tahu Sim Sin-pek berlagak seolah tidak
melihat, setelah menotok jalan darah ditubuh Sui Leng-kong dia
membebaskan ikatan talinya sambil berseru:
"Minggir semua!"
Kemudian dengan cepat dia melompat turun ke
bawah.
Kini biarpun ikatan tali ditubuh Sui
Leng-kong telah dilepas namun tubuhnya masih tetap tidak mampu
bergerak, dia hanya bisa mengawasi Thiat Tiong-tong dengan mata
mendelong, entah berapa banyak patah kata yang terkandung dibalik
sorot matanya itu.
Thiat Tiong-tong merasakan hatinya pedih
bagaikan disayat-sayat, seandainya orang yang menghadapi kejadian
tersebut saat ini adalah Im Ceng yang bertemperamen tinggi, niscaya
tanpa berpikir panjang dia sudah menerkam ke depan.
Tapi Thiat Tiong-tong bukan Im Ceng, dia
sadar kekuatannya seorang diri bukan saja tidak akan mampu berbuat
banyak, sebaliknya justru bisa mengancam keselamatan jiwa Sui
Leng-kong, oleh sebab itu sambil menggertak gigi dia menahan diri
tanpa bergerak.
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak,
dengan langkah lebar dia maju mendekat.
"Cianpwee" Sim Sin-pek segera berseru sambil
tertawa, "aku harap......"
Dengan cepat dia mendorong Sui Leng-kong ke
depan.
Dengan lembut manusia aneh itu memegang bahu
nona itu, katanya sambil tertawa:
"Anak baik, meski kau tidak meminta sesuatu
kepadaku, tapi akupun tidak bakal merugikan dirimu"
"Terima kasih cianpwee" seru Sim Sin-pek
sambil membungkukkan tubuh memberi hormat.
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya
lagi sambil tertawa:
"Nona Sui cerdas dan berparas cantik, dia
tidak malu disebut bidadari dari dunia, tapi sayang......."
Dia menggelengkan kepalanya, tutup mulut dan
tidak berbicara lagi.
"Tapi sayang kenapa?" tidak tahan manusia
aneh itu bertanya.
"Tapi sayang nona itu sudah kucekoki dengan
sedikit obat beracun" sahut Sim Sin-pek sambil tertawa, "bila racun
itu tidak segera diobati maka dalam dua jam kemudian dia akan mati
dengan pendarahan dari tujuh lubang inderanya"
"Kau...... kau...... dimana kau simpan obat
pemunah itu?" teriak manusia aneh itu gusar.
"Ada dalam saku boanpwee"
"Bawa kemari!" hardik manusia aneh itu
sambil menggetarkan tangannya mencengkeram tubuh Sim Sin-pek.
Dengan cekatan pemuda itu mundur berapa
langkah, ujarnya lagi sambil tertawa:
"Bukankah tadi cianpwee sudah berjanji tidak
akan menyentuh seujung rambut boanpwee, masa sudah lupa dengan janji
tersebut?"
Dengan wajah tertegun manusia aneh itu
menarik kembali tangannya.
Kembali Hek Seng-thian serta Suto Siau
sekalian merasa terkejut bercampur girang, pikir mereka:
"Tidak disangka ternyata bocah ini pintar
juga"
Dengan wajah penuh kebanggaan Sim Sin-pek
tersenyum, ujarnya:
"Walaupun ilmu silat yang kumiliki tidak
sebanding dengan kehebatan cianpwee, tapi racun obat yang kugunakan
terbuat dari gabungan tiga puluh enam macam ramuan yang tidak
mungkin bisa dipunahkan siapa pun"
"Apa yang kau inginkan?" tanya manusia aneh
itu kemudian sambil menurunkan kembali tangannya.
"Bila cianpwee tidak ingin membawa pulang
sesosok mayat, lebih baik serahkan dulu kepada-ku, atau kalau
tidak........ silahkan cianpwee menyanggupi tiga buah
syaratku"
"Kentut, kau anggap kami bisa diancam?"
"Tentu saja, tentu saja, mana mungkin
cianpwee bisa kuancam" seru Sim Sin-pek sambil tersenyum, "sayangnya
nona ini cantik bak bidadari, perawakan tubuhnya jugaramping
menggiurkan......."
Tidak tahan manusia aneh itu berpaling
memperhatikan sekejap gadis cantik yang berada disisinya, walaupun
paras mukanya waktu itu pucat pias namun alis matanya yang lentik,
biji matanya yang bening, pinggangnya yang ramping serta tubuhnya
yang gemetar ketika terhembus angin, benar-benar mendatangkan
daya pikat yang luar biasa.
Dibandingkan dengan kecantikan Yin Ping maka
nona ini nampak lebih polos, lebih bersih dan alim, sesosok tubuh
wanita yang belum pernah dijumpai sebelumnya.
Tidak tahan lagi dia menghela napas panjang,
ujarnya kemudian:
"Apa syaratmu, cepat katakan!"
Sim Sin-pek tertawa bangga, cepat dia
berpaling ke arah Hek Seng-thian, setelah memberi hormat ujarnya:
"Tecu tidak berani mendahului guru, untuk
syarat yang pertama silahkan suhu yang tentukan"
"Anak pintar!" puji Hek Seng-thian tertawa.
Setelah termenung berapa saat, dia baru
berpaling seraya berkata:
"Saudara Suto.........."
Sejak tadi Suto Siau sudah menunggu
kesempatan untuk berbicara, ia segera menyahut sambil tertawa:
"Kami semua hanya minta kepada cianpwee
untuk menyerahkan sebuah tanda pengenal, jika suatu saat kami berada
dalam keadaan bahaya hingga mesti mencari cianpwee dengan membawa
tanda pengenal itu, cianpwee wajib memberikan bantuannya dengan
sepenuh tenaga"
Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tahu Suto
Siau ingin meminjam kekuatan yang dimiliki manusia aneh itu untuk
menghadapi Perguruan Tay ki bun. Kendatipun Perguruan Tay ki bun
memiliki kawanan jago yang amat banyak, namun belum ada seorang pun
diantara mereka yang sanggup menandingi kepandaian silat manusia
ini.
Terdengar manusia aneh itu mendengus dingin.
"Apa syaratmu yang ke dua?" ia bertanya.
Sim Sin-pek tertawa, ujarnya:
"Obat racun yang kugunakan memiliki susunan
bahan racun yang amat rumit dan unik, untuk memunahkan sama sekali
pengaruh racun tersebut, dibutuhkan obat penawar yang mesti diminum
sebanyak tiga puluh enam kali setiap sepuluh hari selama satu tahun
beruntun"
Setelah berhenti sejenak dan tertawa,
lanjutnya:
"Oleh sebab itu cianpwee harus membawa serta
cayhe untuk pulang ke rumahmu, agar disamping belajar silat dari
cianpwee, boanpwee pun bisa memunahkan racun didalam tubuhnya"
"Baik" teriak manusia aneh itu gusar,
"ternyata kaupun pingin belajar ilmu silatku"
Setelah melirik Sui Leng-kong sekejap, tidak
tahan dia menghela napas panjang, tanyanya lagi:
"Apa syaratmu yang ke tiga?"
Sim Sin-pek memandang sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian sambil perlahan-lahan berjalan menghampiri
Thiat Tiong-tong, katanya sambil tersenyum:
"Syarat yang ke tiga....... cianpwee mesti
tangkap orang ini dan memaksanya untuk......"
Mendadak Thiat Tiong-tong melancarkan
serangan secepat kilat, sepasang telapak tangan-nya menyerang
bersama secepat sambaran kilat, yang ke atas membabat tenggorokan
Sim Sin-pek sementara yang ke arah bawah menghantam ke arah dadanya.
Dengan terkesiap Sim Sin-pek miring ke
samping, jeritnya ketakutan:
"Cianpwee, kau telah berjanji......"
"Janji cianpwee tidak termasuk melarang aku
melancarkan serangan!" tukas Thiat Tiong-tong cepat.
"Hahahaha...... benar!" seru manusia aneh
itu kegirangan.
Berubah hebat paras muka Hek Seng-thian
maupun Pek Seng-bu, serentak mereka bergerak siap melancarkan
serangan.
Tanpa menghentikan gerak serangannya Thiat
Tiong-tong segera berseru lantang:
"Cianpwee pun tidak pernah berjanji tidak
akan menyerang orang lain, silahkan cianpwee menghadang siapa pun
yang ingin turut mencampuri urusan ini, biar aku yang merebut obat
penawar racunnya!"
"Hahahaha...... baik!" seru manusia aneh itu
sambil tertawa tergelak, kemudian sambil menarik wajahnya dia
mengancam, "bila ada yang berani turun tangan sembarangan, jangan
salahkan kalau aku tidak kenal ampun!"
Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu merasa
hatinya miris, serentak mereka menghentikan langkahnya.
"Awasi mereka" perintah manusia aneh itu
kemudian sambil memberi tanda, "jangan biarkan orang-orang itu
bertindak sembarangan"
Kawanan gadis muda itu menyahut dan berdiri
berjajar persis dihadapan Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu, meski
begitu lirikan mata mereka justru berulang kali dialihkan ke wajah
Thiat Tiong-tong.
Serangan yang dilancarkan Thiat Tiong-tong
ibarat bunga terbang yang melayang di udara terhembus angin topan,
meskipun jurus serangan yang digunakan tidak termasuk aneh, namun
kecepatan geraknya susah diikuti dengan mata telanjang.
Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Sim
Sin-pek memang bukan tandingannya, apalagi sejak awal sudah timbul
perasaan jeri dihati kecilnya, bertarung dalam perasaan kebat kebit
membuat dia tidak mampu konsentrasi secara prima.
Tidak sampai sepuluh gebrakan kemudian, dia
sudah tidak memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan.
"Serangan yang amat cepat!" puji manusia
aneh itu sambil tersenyum.
"Bagaimana bila dibandingkan semasa mudamu
dulu?" tanya Yin Ping tertawa.
Manusia aneh itu hanya tersenyum tanpa
menjawab.
Sementara itu jurus serangan yang
dilancarkan Thiat Tiong-tong makin lama semakin bertambah cepat, Sim
Sin-pek sudah keteter hebat, gerakan tubuhnya sudah kalut dan peluh
telah membasahi seluruh tubuhnya.
Suto Siau sekalian merasa terkejut bercampur
gusar, khususnya Hek Seng-thian, dia menghentakkan kakinya berulang
kali, sementara Pek Seng-bu telah masukkan tangannya ke dalam saku
dan secara diam-diam menggenggam senjata rahasia.
Dia memiliki julukan sebagai pendekar
bertangan tiga, sudah barang tentu ilmu melepaskan senjata
rahasianya sudah mencapai tingkat yang luar biasa.
Belasan tahun berselang, sewaktu diadakan
pertandingan ilmu di antara orang orang perusahaan ekspedisi dua
sisi sungai besar yang diadakan di perkampungan keluarga Thio, Pek
Seng-bu pernah menggunakan tiga jenis senjata rahasia untuk
memadamkan sebelas buah lampu lentera diruang utama.
Ternyata tidak seorangpun diantara ratusan
jago silat yang hadir waktu itu mengetahui dengan cara apa dia
melepaskan senjata rahasianya, itulah sebabnya orangpun
memberi julukan si pendekar bertangan tiga kepadanya.
Kini situasi yang dihadapi sangat gawat,
dalam keadaan terdesak sekali lagi dia berencana ingin melumpuhkan
Thiat Tiong-tong dengan mengandalkan senjata rahasianya.
Siapa tahu baru saja dia menggenggam senjata
rahasia andalannya, mendadak terendus bau harum yang lembut
berhembus lewat dihadapan-nya.
Tahu-tahu seorang gadis bercelana hijau
telah setengah merebahkan diri dalam pelukannya sambil berbisik
lembut:
"Kau sedang merogoh benda apa sih? Boleh aku
lihat?"
"Lihay amat ketajaman mata nona ini" batin
Pek Seng-bu dengan perasaan kaget, cepat sahutnya:
"Ooh... ti....tidak ada apa-apa........"
Sambil menyahut dia
menarik kembali tangannya dari dalam saku.
"Pelit amat kau, masa dilihat sebentar pun
tidak boleh?" seru nona itu lagi sambil tertawa merdu, kini pipinya
yang halus dan lembut nyaris sudah menempel diatas wajahnya, bau
harum semakin menusuk penciuman.
Baru saja Pek Seng-bu merasa terangsang,
tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicengkeram oleh ke lima jari
lentik gadis itu, rasa sakit yang merasuk ke dalam tulang membuat
dia tidak sanggup menarik kembali telapak tangannya.
"Triing....triiing....triiing......!"
diiringi dentingan nyaring, senjata rahasia yang berkilat tajam
terjatuh semua dari balik sakunya dan berserakan diatas tanah.
"Aduh mak.....” teriak nona itu lagi sambil
tertawa merdu, "benda itu mah tidak boleh dibuat mainan......"
Dengan ujung kakinya dia sapu benda itu
hingga mencelat jauh dari sana, kemudian sambil menowel pipi Pek
Seng-bu dan menjulurkan lidahnya si nona kembali menyodok
pinggangnya.
Seketika Pek Seng-bu merasakan separuh
tubuhnya jadi kaku, untuk berapa saat dia sama sekali tidak mampu
bergerak.
Untuk kesekian kalinya kawanan jago itu
merasa terkesiap, seorang dayang saja sudah berilmu sehebat itu
apalagi si manusia aneh sebagai majikannya, semakin tidak ada orang
yang berani bertindak gegabah.
Dalam pada itu Thiat Tiong-tong telah
melancarkan belasan jurus, dibawah kurungan angin pukulan yang
menderu deru, Sim Sin-pek berusaha menggeser tubuhnya mendekati Hek
Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian.
Apa mau dikata angin pukulan yang
dilancarkan Thiat Tiong-tong mengurungnya begitu rapat, jangan lagi
bergeser, air pun tidak mungkin bisa menembusi lapisan pukulan yang
menghimpit-nya.
Padahal dalam pertemuan sebelumnya, Suto
Siau sekalian merasa kepandaian silat pemuda itu belum sedahsyat
sekarang, mereka tidak menyangka hanya terpaut berapa saat, kungfu
yang dimiliki anak muda itu telah mengalami kemajuan yang demikian
pesat.
Tentu saja beberapa orang itu tidak tahu
kalau Thiat Tiong-tong telah berhasil memperoleh kitab pusaka ilmu
silat peninggalan ayahnya dalam gua rahasia itu, kenyataan yang
mereka saksikan saat ini membuat hati orang orang itu semakin
tercekam.
Mendadak Thiat Tiong-tong menyodokkan
tangannya ke depan, langsung mencengkeram urat nadi padapergelangan
tangan Sim Sin-pek.
Jurus serangan yang dia gunakan amat
sederhana tanpa perubahan jurus yang aneh, namun Sim Sin-pek tidak
mampu menghindarkan diri, walaupun dia sempat menarik ke belakang
pergelangan tangannya, namun jalan darah Ci tie hiatnya tahu-tahu
sudah tergenggam lawan.
Dalam terperanjatnya secara beruntun Sim
Sin-pek mengeluarkan gerakan Pa ong sia ka (raja bengis
menanggalkan tameng), Lip coan jian gun (memutar roda dunia),
Huan cuan kim si (menggulung balik serat emas) untuk
meloloskan diri dari sergapan musuh.
Siapa tahu telapak tangan Thiat Tiong-tong
yang telah menempel diatas pergelangan tangan-nya seakan susah
ditanggalkan lagi, walaupun secara beruntun dia telah berganti
dengan berapa gerakan, namun jari tangan lawan masih menempel ketat,
kenyataan ini membuat hatinya tercekat bercampur panik, peluh
sebesar kacang kedele mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
"Sudah kau ketahui, siapakah aku?" jengek
Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.
"Tahu........" sahut Sim Sin-pek dengan nada
gemetar.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong mencengkeram
dagunya dan menjapitnya kuat kuat.
Rupanya pemuda itu memang sengaja memancing
Sim Sin-pek agar mengucapkan kata "tahu", sebab disaat dia
mengutarakan kata "ta.." mulutnya berada pada posisi terbuka, saat
itulah Thiat Tiong-tong mencengkeram dagunya sehingga dia sama
sekali tidak mampu merapatkan mulutnya lagi.
Secepat kilat ThiatTiong-tong merogoh ke
dalam sakunya, mengambil sebutir pil berwarna hitam kemudian setelah
dijejalkan ke mulut Sim Sin-pek, tangan kirinya mendorong bagian
bawah dagunya dan menekan ke atas kuat-kuat.
"Glegekk......" Sim Sin-pek telah menelan
pil itu ke dalam perutnya.
Thiat Tiong-tong segera tertawa terbahak
bahak, tegurnya:
"Hahahaha..... sudah tahu, pil apa yang kau
telan?"
Waktu itu Sim Sin-pek merasakan bau amis
yang busuk dan aneh muncul dari balik tenggorokannya, tatkala satu
ingatan melintas didalam benaknya, dengan wajah berubah pucat
lantaran ngeri, jeritnya gemetar:
"Maa... .masa pil beracun?"
"Tepat sekali!" jawab Thiat Tiong-tong
tergelak, "kau butuh obat penawarnya?"
Sementara Sim Sin-pek masih termangu, Yin
Ping beserta kawanan gadis lainnya sudah tertawa terkekeh lantaran
geli.
Manusia aneh itu berseru pula sambil
tertawa:
"Bagus, bagus sekali, inilah yang dinamakan
siapa menanam kebusukan, dia akan menulai bencana. Senjata makan
tuan!"
"Sayangnya obat racunku jauh lebih
mengerikan" Thiat Tiong-tong menambahkan, "jika dalam satu jam tidak
peroleh obat penawarnya, maka racun itu akan mulai bekerja, seluruh
tubuh akan mulai membusuk lalu mengelupas kulitnya satu demi
satu......oooh, tidak terkirakan rasa sakit dan tersiksanya"
Pucat pias selembar wajah Sim Sin-pek,
sepasang kakinya terasa lemas, tubuhnya menggigil keras, nyaris dia
roboh terjungkal ke tanah saking takut dan ngerinya.
Sambil menyodorkan sebuah botol obat dari
dalam sakunya, dia berseru lirih:
"Botol ini....... botol ini berisikan obat
penawar racun untuk....untuk nona Sui......!"
"Ooh, kau pingin barter obat penawar racun
denganku?" tanya Thiat Tiong-tong.
Sim Sin-pek mengangguk berulang kali tanpa
sanggup mengucapkan sepatah katapun.
"Hanya satu botol ini?" kembali Thiat
Tiong-tong bertanya.
Sembari merangkak bangun dari atas tanah
sahut Sim Sin-pek:
"Mana mungkin hamba memiliki obat beracun
yang diramu dari tiga puluh enam macam bahan beracun? Tadi.....tadi
hanya bergurau saja.... obat racun itu hanya obat racun biasa,
penawarnya pun hanya satu macam"
"Sungguh?" Thiat Tiong-tong tertawa dingin.
"Sung......sungguh, bila berbohong biar aku
mati disambar geledek"
Terdengar Yin Ping menghela napas sambil
gelengkan kepalanya berulang kali:
"Aaaai.... dilihat tampangnya sih gagah dan
ganteng, sayang jiwanya pengecut, ternyata begitu takut mampus,
sayang......aaaai! sungguh sayang!"
Sim Sin-pek pura-pura tidak mendengar,
nyaris botol yang berada dalam genggamannya terjatuh ke tanah.
Sambil tertawa dingin Thiat Ti
menyambut botol obat itu.
"Baa....bagaimana dengan obat... obat
penawar racunku......." teriak Sim Sin-pek tiba tiba.
"Penawar racun apa? Mana aku punya obat
penawar racun!" sahut Thiat Tiong-tong sambil menarik wajahnya.
Pecah nyali Sim Sin-pek setelah mendengar
jawaban itu, dia roboh terduduk diatas tanah, setengah menangis
jeritnya:
"Saudara Thiat, kau........."
"Apa? Kau memanggil aku dengan sebutan apa?"
tukas Thiat Tiong-tong sambil tertawa dingin.
"Paa.....paman Thiat, empek Thiat, tolonglah
aku......" rengek Sim Sin-pek dengan wajah hampir menangis,
"berbuatlah bajik, berbuatlah mulia, tolonglah aku, tolong hadiahkan
obat penawar racun untukku!"
"Lain kali masih berani mencelakai orang?"
"Tidak berani, lain kali hamba tidak berani
lagi"
Dengan sorot tajam Thiat Tiong-tong
mengamati wajah pemuda itu beberapa saat, tiba-tiba dia mendongakkan
kepalanya dan tertawa tergelak.
"Hahahaha..... dasar manusia dungu, dasar
goblok, racun apa yang kau telan tadi? Obat itu tidak lebih hanya
obat luka luar"
Sim Sin-pek tertegun, untuk sesaat dia hanya
bisa berdiri melongo sambil mengawasi kawanan gadis itu tertawa
terpingkal pingkal.
Kembali Thiat Tiong-tong berkata sambil
tertawa:
"Kalau tidak berbuat begitu, memangnya kau
bersedia menyerahkan obat penawar racun itu? Obat luka luar belum
pernah ditelan orang, rasanya kau telah menjadi orang pertama yang
mencicipinya, bagaimana? Enak bukan rasanya?"
Sim Sin-pek hanya berdiri terbelalak dengan
mulut melongo, jangan lagi berbicara, dia sendiri-pun bingung mesti
menangis atau tertawa.
Ditengah gelak tertawa yang riuh, paras muka
Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu sekalian telah berubah jadi pucat
pias bagai mayat.
Dengan jengkel Suto Siau menghentakkan
kakinya berulang kali keatas tanah, dia seperti ingin mengucapkan
sesuatu, tapi akhirnya setelah menghela napas panjang katanya:
"Mari kita pergi!"
"Betul, sudah waktunya kalian harus pergi"
manusia aneh itu menambahkan.
Dengan gemas Suto Siau melotot berapa kejap
ke arah Thiat Tiong-tong, sementara Hek Seng-thian dengan benci
mengumpat:
"Tunggu sajasuatu saat nanti........."
Akhirnya sambil menggertak gigi, bersama Pek
Seng-bu sekalian beranjak pergi dari situ.
Jago pedang berkopiah kuning melotot juga ke
arah Thiat Tiong-tong seraya berkata:
"Kelompok jago pedang pelangi pasti akan
minta pelajaran lagi dikemudian hari”
"Baik, akan kutunggu" sahut Thiat Tiong-tong
santai.
Bi gwat kiam kek melirik sekejap ke arah
pemuda itu sambil melemparkan senyuman manis, tapi dia segera
ditarik pergi Chee Toa-ho.
Menanti semua orang sudah berlalu, Sim
Sin-pek baru seakan tersadar kembali, tergopoh-gopoh dia bangkit
berdiri sambil berteriak ketakutan:
"Suhu tunggu aku........"
Dengan sempoyongan dia lari menyusul
rombongannya.
Rombongan jago itu datang secara gagah
perkasa tapi harus angkat kaki dalam keadaan yang mengenaskan, dalam
waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.
Setelah musuh tangguh berhasil dipukul
mundur, Thiat Tiong-tong merasa semangatnya berkobar kembali,
pikirnya:
"Dengan kedudukan manusia aneh itu, rasanya
mustahil dia akan menggunakan cara paksa untuk merampas obat penawar
racun ini, apalagi obat sudah berada ditanganku, masa dia tetap
bersikeras akan membawa pergi Sui Leng-kong?"
Belum habis ingatan itu melintas lewat,
tiba-tiba terdengar manusia aneh itu menegur sambil tertawa:
"Anak muda, kau tidak datang memohon
kepadaku?"
Thiat Tiong-tong melongo, pikirnya
keheranan:
"Seharusnya kau yang datang memohon
kepadaku, kenapa malah aku yang harus memohon kepadamu?"
Berpikir begitu segera tanyanya:
"Mohon.....mohon apa?"
"Mohon kepadaku agar melolohkan obat penawar
racun itu kepadanya! Kalau tidak, bila aku telah membawanya pergi
sedang dia mati gara-gara keracunan, memangnya kau tidak akan
bersedih hati?"
"Soal ini......soal ini........"
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak,
ujarnya lagi dengan bangga:
"Telah kuputuskan untuk membawa pergi nona
itu, jadi obat penawar racun itu akan kau serahkan atau tidak, itu
menjadi urusanmu sendiri"
Paras muka Sui Leng-kong pucat pias,
tubuhnya gontai dan gemetar keras.
Thiat Tiong-tong sendiripun merasa gusar
bercampur kaget, dia merasakan hatinya sakit bagaikan diiris-iris.
Yin Ping segera maju menghampirinya, setelah
menghela napas pelan katanya:
"Serahkan obat penawar itu kepadanya!"
"Tapi.....tapi......."
"Aaai, anak bodoh, bila kau sama sekali
tidak ambil perduli dengan keselamatan nona itu, dialah yang akan
memohon kepadamu. Tapi kau sudah menunjukkan sikap kuatirmu atas
keselamatan jiwanya, tentu saja kau yang harus memohon kepadanya"
Dengan perasaan sedih Thiat Tiong-tong
termenung sejenak, dia tahu apa yang diucapkan perempuan itu ada
benarnya juga, sebab dia lebih suka menyaksikan Sui Leng-kong pergi
meninggalkan dirinya ketimbang menyaksikan Sui Leng-kong mati
karena keracunan.
Terhadap masalah yang tidak mungkin bisa
teratasi, dia memang tidak ingin membuang waktu terlalu banyak, maka
obat penawar itu segera disodorkan ke muka.
"Ternyata kau memang seorang pemuda yang
cerdas" kata manusia aneh itu sambil menyambut botol itu.
Sementara Sui Leng-kong dengan air mata
bercucuran bisiknya gemetar: "Kau......kau........"
"Kau harus menunggu aku" ucap Thiat
Tiong-tong sambil menggigit bibir, "biar harus mati pun aku tetap
akan berusaha untuk menyelamatkan dirimu!"
Walaupun hanya berapa patah kata singkat
namun jauh melebihi beribu patah kata.
"Sampai mati aku tetap akan menunggumu"
janji Sui Leng-kong pula tegas.
Biarpun dia sedang menangis sedih, namun
berapa patah kata itu diucapkan secara tegas dan tandas.
Manusia aneh itu segera tertawa tergelak,
ejeknya:
"Hey anak muda, tidak usah menunggu lagi,
walaupun saat ini dia bicara secara tegas, kujamin tiga sampai lima
hari lagi dia sudah akan melupakan dirimu untuk selamanya"
Thiat Tiong-tong sudah membalikkan
tubuhnya, dia sama sekali tidak menggubris ucapan tersebut.
Yin Ping datang menghampiri, bisiknya:
"Dia masih berada didalam rumah gubuk, meski
terluka namun tidak sampai membahayakan jiwanya, baik baiklah kau
rawat lukanya”
Dengan pandangan kosong Thiat Tiong-tong
mengangguk, kemudian dia mendengar suara langkah kaki, suara isak
tangis Sui Leng-kong, suara hiburan dari manusia aneh itu yang kian
lama kian menjauh.
Sebenarnya bisa saja dia mengintil dari
belakang, namun bila teringat Ai Thian-hok yang terluka gara-gara
dia, tanpa sangsi lagi sambil menggertak gigi dia lari masuk ke
dalam gubuk.
BAB 18
Barisan Bidadari telanjang.
Ai Thian-hok masih duduk bersila di dalam
rumah gubuk dengan wajah hambar, tanpa perasaan.
"Ai-heng!" Thiat Tiong-tong menyapa sambil
menghela napas pelan, "Sui Leng-kong telah dibawa kabur orang, mari
kita segera berangkat, dengan begitu kita tidak akan kehilangan
jejak mereka, cuma...... apakah saudara Ai masih sanggup bergerak?"
"Kenapa kau bicara dengan setengah berbisik?
Aku tidak mendengar apa yang kau katakan" sahut Ai Thian-hok dengan
wajah bingung.
Ucapan itu disampaikan dengan nada sangat
keras, bagaikan orang yang sedang berteriak.
Thiat Tiong-tong terkesiap, pikirnya kaget:
"Jangan-jangan.. .gendang telinganya
terluka?"
Padahal selama ini dia mengandalkan
ketajaman pendengarannya untuk menggantikan matanya yang buta, jika
sekarang telinganya jadi tuli, boleh dibilang dia menjadi cacad
total, seorang tokoh sakti pun menjadi manusia yang tidak berdaya.
Thiat Tiong-tong merasakan tangan kakinya
jadi lemas, nyaris dia tidak sanggup berdiri tegak.
Tiba-tiba Ai Thian-hok bangkit berdiri,
sambil mencengkeram bahu anak muda itu katanya dengan suara gemetar:
"Kenapa kau tidak berbicara, apakah...apakah
aku sudah tidak.....tidak bisa mendengar lagi....."
Lantaran daya pendengarannya melemah, dengan
sendirinya nada suaranya bertambah nyaring dan keras.
Thiat Tiong-tong menyaksikan raut mukanya
kaku sedikit mengejang, wajah panik dan ketakutan yang terpampang
saat itu belum pernah terlihat sebelumnya.
Biasanya meski berada dalam kondisi yang
amat kritis pun dia tidak pernah berubah muka, tapi sekarang paras
mukanya telah mengalami perubahan yang luar biasa, hal ini
membuktikan kalau menjadi tuli merupakan satu kenyataan yang jauh
lebih menyiksa ketimbang mati dibunuh.
Thiat Tiong-tong merasa sedih sekali,
terpaksa sambil menyerakkan suaranya dia menjawab:
"Tenggorokan siaute agak sakit, mungkin
suaraku jadi parau lantaran kecapaian selama berapa hari belakangan,
mana mungkin saudara Ai tidak bisa mendengar"
Ai Thian-hok menghembuskan napas lega,
senyuman kembali menghiasi wajahnya.
"Anak muda memang tidak tahan uji" katanya,
"baru mendapat siksaan begitu tenggorokan sudah jadi serak, masih
mending kakakmu....."
Thiat Tiong-tong merasakan air mata
mengembang dalam kelopak matanya, tapi dia memaksakan diri untuk
tertawa keras sambil menyahut:
"Yaa.. tentu saja, siapa yang mampu
menandingi saudara Ai!"
"Tadi kau bilang hendak mengejar seseorang?"
"Benar!"
"Kalau begitu mari kita segera berangkat,
biarpun loko terluka namun tidak akan mengganggu, aku masih sanggup
melakukan perjalanan"
"Justru siaute yang merasa agak tidak kuat
untuk melanjutkan perjalanan" kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa
paksa.
"Kalau begitu biar aku tuntun dirimu" Thiat
Tiong-tong segera membesut air matanya dan melangkah keluar dari
situ sambil merangkul bahu Ai Thian-hok, tapi baru keluar dari rumah
gubuk itu, air matanya telah jatuh berlinang.
Melakukan pengejaran seorang diripun belum
tentu berhasil menyusul manusia aneh itu, apalagi sekarang harus
disertai Ai Thian-hok yang nyaris cacad total, boleh dibilang jauh
lebih sulit daripada naik ke langit.
Hingga sekarang dia masih belum mengetahui
asal-usul manusia aneh itu, bila gagal menyelidiki asal usulnya,
mungkin sepanjang masa sulit baginya untuk menyelamatkan Sui
Leng-kong.
Tapi bagaimana pula dengan Ai Thian-hok?
Apakah harus ditinggalkan seorang diri?
Cahaya fajar mulai muncul diujung langit,
hujan angin pun sudah berhenti sejak tadi.
Di tengah cahaya fajar yang redup, mereka
berdua menelusuri jalan perbukitan yang penuh lumpur, melihat
sisajejak kaki yang tertinggal diatas lumpur, diam-diam Thiat
Tiong-tong merasa amat girang.
Siapa tahu ketika tiba disebuah
persimpangan, tiba-tiba jejak kaki itu menjadi kacau dan semakin
sulit dilihat, dengan perasaan terkejut Thiat Tiong-tong berusaha
berjongkok sambil meneliti arah yang dituju, sayang dia tidak
berhasil menemukan sesuatu.
Ai Thian-hok yang menunggu berapa saat
tiba-tiba bertanya:
"Apakah Yin......Yin Ping melakukan
perjalanan bersama orang yang sedang kau kejar?"
Suara pertanyaan itu sangat nyaring hingga
bergaung diseluruh perbukitan, namun dia sendiri sama sekali tidak
mendengar apa apa.
"Benar"
"Kalau begitu dia melalui jalanan yang ini!"
Sambil berkata dia menuju ke arah sebelah kiri. Thiat Tiong-tong
terkejut bercampur keheranan, pikirnya:
"Selain tuli diapun buta, aneh, darimana
bisa tahu arah yang digunakan Yin Ping?"
Setelah berjalan sesaat, tak tahan dia pun
menyatakan keheranannya.
Sambil tersenyum sahut Ai Thian-hok:
"Bau harum yang tersebar dari tubuh Yin Ping
sangat tebal, bau itu masih tersisa di udara fajar yang bersih, jadi
gampang untuk dilacak jejaknya, coba kalau berada ditempat
keramaian, belum tentu aku dapat mengendus bau harumnya itu"
Disamping kagum, Thiat Tiong-tong pun merasa
amat terharu, setelah menempuh perjalanan berapa saat lagi lambat
laun mereka sudah menuruni tanah perbukitan, matahari semakin tinggi
di angkasa dan memancarkan cahaya emasnya menyinari seluruh jagad.
Sayang bayangan tubuh manusia aneh beserta
Yin Ping sekalian sudah hilang lenyap tidak berbekas.
Pada saat itulah dari kejauhan sana, dari
balik pepohonan hutan bergema suara keleningan merdu, disusul
kemudian muncul seorang penjaja makanan yang membawa sebuah poci.
"Sekarang ke arah mana kita harus pergi?"
tanya Thiat Tiong-tong kemudian.
Sambil tertawa getir Ai Thian-hok
menggeleng, sahutnya:
"Udara diseputar sini lembab dan berbau
tanah, aku tidak bisa mengendus bau harumnya lagi"
Thiat Tiong-tong menghela napas sedih,
sambil berdiri mematung, dia mulai membayangkan kembali sikap
mesra yang diperlihatkan Sui Lengkong selama ini, dia tidak bisa
membayangkan apa jadinya bila gagal menemukan kembali gadis
tersebut.
Mungkin dia sendiri sanggup menjalani
kehidupan yang penuh penderitaan dan siksaan hidup, tapi bagaimana
dengan Sui Leng-kong? Mampukah dia melewati hari-harinya dalam
kenangan serta kerinduan?
Suara keleningan kian lama kian bertambah
dekat, seorang penjaja makanan dengan tangan kiri membawa keranjang,
tangan kanan mem-bawa poci arak berjalan mendekat, keleningan yang
terikat diatas keranjang makanan berbunyi tiada hentinya. Penjaja
makanan itu mulai berteriak:
"Daging sapi, arak putih, harum,
sedap.... murah......."
Perlu diketahui, tempat dimana mereka berada
sekarang adalah tempat yang termasuk daerah wisata, banyak orang
yang pagi-pagi naik gunung untuk bersembahyang, sehingga tidak heran
kalau sejak fajar sudah ada penjaja makanan yang berkeliling.
Tergerak hati Thiat Tiong-tong menyaksikan
penjaja makanan itu, segera bisiknya:
"Saudara Ai, tunggu sebentar, biar aku
tengok dulu keadaan didepan sana"
Dengan langkah lebar dia menghampiri penjaja
makanan itu, mengeluarkan uang dan memberi arak serta daging.
Dengan senyuman ramah penjaja makanan itu
melayani pesanannya, tapi tujuan utama Thiat Tiong-tong bukan untuk
membeli arak, maka diapun mencari keterangan apakah melihat ada
rombongan orang yang baru lewat dari situ.
Dia kuatir Ai Thian-hok menaruh curiga, oleh
sebab itu diajaknya penjaja makanan itu menyingkir agak jauh.
Penjaja makanan itu menatapnya berapa saat,
lalu menjawab:
"Tidak ada"
Jawaban tersebut seketika membuat Thiat
Tiong-tong sangat kecewa, diam-diam dia menghela napas dan tidak
berminat lagi untuk membeli arak.
Tiba tiba penjaja makanan itu bertanya lagi:
"Apakah toaya bermarga Thiat?"
"Dari mana kau bisa tahu?" dengan perasaan
terperanjat Thiat Tiong-tong bertanya.
"Apakah toaya punya lima tahil perak?"
kembali penjaja makanan itu bertanya sambil tertawa.
Thiat Tiong-tong tahu, pertanyaan itu pasti
ada alasannya, maka tanpa banyak cakap dia merogoh ke dalam sakunya
mengeluarkan sekeping perak dan diperlihatkan dihadapan orang itu.
Dengan mata terbelalak penjaja makanan itu
mengawasi kepingan uang ditangan pemuda itu, akhirnya dia merogoh ke
dalam keranjangnya, membongkar barang dagangannya dan mengeluarkan
selembar daun selebar telapak tangan dari dasar keranjang itu.
Dalam sekilas pandang Thiat Tiong-tong dapat
melihat kalau daun lebar itu berisi penuh dengan ukiran tulisan.
Kembali penjaja makanan itu bertanya sambil
tertawa:
"Daun ini harganya lima tahil perak, apakah
toaya berninat untuk membelinya?"
Andaikata berganti orang lain, mereka pasti
menganggap penjaja makanan itu sudah sinting karena memikirkan uang
dan pergi meninggalkannya.
Tapi Thiat Tiong-tong yang teliti dan sangat
berhati-hati dapat menduga kalau ukiran diatas daun pasti berisikan
tulisan, satu ingatan segera melintas lewat, tegurnya:
"Darimana kau dapatkan daun itu?"
Penjaja makanan itu tidak menjawab, dia
hanya mengawasi uang ditangan pemuda itu sambil tertawa cengar
cengir.
Thiat Tiong-tong tersenyum, dia melemparkan
kepingan perak itu ke dalam keranjang makanannya.
Dengan kegirangan penjaja makanan itu
berkata:
"Tadi ada sebuah kereta kuda yang sangat
indah dan mewah melalui hutan ini, pelancong kaya semacam ini tidak
mungkin akan membeli daganganku maka pada mulanya aku tidak menaruh
perhatian"
Setelah menyembunyikan kepingan perak tadi
ke balik tumpukan barang dagangannya, kembali dia melanjutkan:
"Siapa tahu kereta kuda yang paling belakang
tiba-tiba berhenti, katanya mau membeli daging sapi. Suara itu
merdu, manis dan enak didengar, buru-buru aku pun berlari mendekat,
dari dalam kereta segera terdengar ada suara lelaki yang berkata
sambil tertawa" "setelah hidup selama banyak tahun dalam kuil, tidak
heran kalau kau jadi rakus makanan, mungkin kecuali kau, tidak ada
orang lain yang sudi makan daging semacam itu". Maka dia pun minta
aku mengiriskan daging, tapi harus dipotong tipis-tipis. Aku tahu
ini pesanan istimewa maka daging kuiris setipis mungkin. Siapa tahu
tatkala aku sedang mengiris daging itulah, telingaku secara
tiba-tiba menangkap lagi suara bisikan yang manis dan merdu"
"Apa yang dia katakan?" tidak tahan Thiat
Tiong-tong menukas.
"Dia minta aku menunggu di persimpangan
jalan ini, bila melihat ada seorang pemuda bertanya kepadaku apakah
melihat ada serombongan manusia lewat disini, maka aku disuruh
menjual daun itu kepadanya dengan harga lima tahil perak. Suara
bisikan itu seakan bergema dari sisi telingaku, padahal disitu tidak
ada orang, baru aku merasa terperanjat sambil mengangkat kepala,
kulihat ada seseorang menampakkan diri dari balik jendela dan
memandang kearahku sambil tertawa, aku duga pasti dialah yang
barusan berbicara denganku!"
Thiat Tiong-tong tahu, suara bisikan itu
pasti disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara, diam-diam pikirnya
dengan keheranan:
"Tenaga dalam Sui Leng-kong tidak hebat, dia
belum mampu menggunakan ilmu menyampai-kan suara, jangan-jangan yang
memberi kisikan adalah Yin Ping?"
Terdengar penjaja makanan itu berkata lagi
sambil tertawa:
"Wajah itu benar benar amat cantik, bahkan
jauh lebih cantik daripada bidadari dari kahyangan, saking
kesemsemnya hampir saja jari tangan ini kuiris sendiri. Ketika
melihat aku berdiri terpesona, diapun mengeluarkan sekeping uang
perak serta selembar daun ini dan menyerahkannya kepadaku, tapi aku
tetap tidak percaya, masa ada orang mau membeli daun ini seharga
lima tahil perak!"
Sambil tertawa Thiat Tiong-tong menyambut
daun itu, pikirnya:
"Dia tahu kalau aku pasti akan mencari
berita diseputar sini, juga tahu kalau penjaja makanan itu pasti
akan mencoba beradu untung dengan menunggu ditempat ini, bila Sui
Leng-kong bisa berpikir begitu, Yin Ping pasti bisa menduga pula ke
situ, aneh, tapi kenapa dia harus meninggalkan pesan secara rahasia
bahkan menyampaikan dengan ilmu menyampaikan suara? Jelas dia
berbuat begitu lantaran kuatir ketahuan manusia aneh itu. Pesan apa
yang dia tinggalkan pada daun itu?"
Berpikir sampai disini, dia segera periksa
daun itu dengan seksama, benar juga segera terbaca beberapa tulisan
disitu, tulisan itu berbunyi:
"Bila ingin bertemu kembali, cepat berangkat
ke kaki bukit Lau-san di Lu-tang, hati-hati!"
Setelah membacanya berulang kali, Thiat
Tiong-tong merasakan darah panas bergolak dirongga dadanya, dengan
kegirangan dia berpikir:
"Aku....... aku punya harapan untuk berjumpa
lagi dengan Sui Leng-kong..."
Dia tahu bawah bukit Lau-san pasti merupakan
tempat tinggal si manusia aneh itu, pikirnya lebih jauh:
"Kenapa Yin Ping mau memberitahukan rahasia
ini kepadaku? Untuk mengukir tulisan diatas daun pun sudah banyak
menguras pikiran dan tenaganya, jangan-jangan dia berbuat demikian
karena kasihan aku berpisah dengan Sui Lengkong?"
Tapi ingatan lain segera melintas lewat,
seakan sadar akan sesuatu, pikirnya lebih jauh:
"Aaah, benar, bagaimanapun dia sudah punya
umur, sudah waktu baginya untuk memikirkan masa tuanya nanti, tentu
dia berniat hidup berdampingan dengan manusia aneh itu hingga kakek
nenek, tapi kuatir kehadiran Sui Leng-kong akan menyingkirkan dia
dari pandangan orang itu. Maka dia membantuku untuk merampas balik
Sui Leng-kong. Aaaai! Yin Ping wahai Yin Ping, kecerdasan otakmu
memangjauh diatas siapa pun*
Sementara dia masih melamun, penjaja makanan
itu sudah melarikan diri dari situ, kelihatannya dia kuatir Thiat
Tiong-tong menyesal, maka sehabis menyembunyikan uang perak itu, dia
mengambil langkah seribu.
Perlahan-lahan Ai Thian-hok berjalan
mendekat, cepat Thiat Tiong-tong menyongsong kedatangannya, dia
menyangka rekannya datang mencari berita, siapa tahu Ai Thian-hok
sama sekali tidak menunjukkan kecurigaannya.
Tanpa ragu lagi, dia segera membimbing Ai
Thian-hok dan beranjak pergi dari situ.
"Saudaraku, kita mau ke mana? Apa perlu aku
temani?" tanya Ai Thian-hok kemudian.
Dengan sedih Thiat Tiong-tong berpikir:
"Walaupun keikut sertaannya akan menjadi beban bagiku, tapi apakah
aku tega membiarkan dia pergi seorang diri? Lagipula.......akupun
tidak tahu Kiu cu Kui bo saat ini berada dimana"
Berpikir begitu, sambil tertawa
tergelak sahutnya:
"Siaute sadar, perjalanan kali ini penuh
dengan rintangan dan kesulitan, dengan pengalaman dan pengetahuan
siaute yang begitu cetek, jelas merupakan satu masalah besar. Bila
Ai-heng bersedia, bantulah aku sekali ini!"
"Baik, mari kita berangkat!" sahut Ai
Thian-hok sambil tersenyum.
Selain terharu, Thiat Tiong-tong pun
menghela napas sedih, sepanjang perjalanan dia selalu berusaha
mengelabuhi rekannya, dia takut Ai Thian-hok jadi bosan hidup
gara-gara mengetahui telinganya sudah mulai tuli.
Ternyata Ai Thian-hok seakan tidak menyadari
akan hal itu, sepanjang perjalanan dia selalu mencari kesempatan
untuk menuturkan semua pengalaman dan pengetahuannya tentang dunia
persilatan kepada anak muda tersebut.
Suatu hari tibalah mereka di kota Cu-shia
diwilayah Lu-tang, jaraknya dengan bukit Lau-san sudah tidak terlalu
jauh lagi.
Saat itu udara terasa hangat, aneka bunga
mekar dengan indahnya, sudah hampir setahun pemuda itu meninggalkan
Perguruan Tay ki bun.
Membayangkan kembali semua pengalamannya
selama ini, Thiat Tiong-tong tidak tahu haruskah merasa sedih atau
gembira, walaupun dia sudah banyak mengucurkan darah dan keringat
demi perguruan, diapun tidak tahu apakah semua perbuatannya bisa
dimaklumi gurunya atau tidak.
Bagaimana pula keadaan saudara perguruan
lainnya selama setahun ini? Bagaimana pula dengan keadaan luka yang
diderita Im Ceng? Biarpun ada Un Tay-tay yang melindunginya, namun
dia tetap merasa amat kuatir.
Apalagi dihati kecilnya masih menyimpan
sebuah rahasia yang amat besar, setiap menjelang tengah malam,
disaat sepi manusia, dia seringkah bergumam seorang diri:
"Waktunya sudah hampir
tiba, jangan lupa....jangan sampai lupa....."
Setibanya di kota Cu-shia, walaupun dihati
kecilnya Thiat Tiong-tong ingin melanjutkan kembali perjalanannya,
namun lantaran kuatir Ai Thian-hok kelewat lelah, maka menjelang
senja dia pun mencari tempat penginapan untuk beristirahat, berdua
dia duduk terpekur sambil minum arak.
Ketika malam semakin kelam, selera minum
kedua orang itu makin meningkat, siapa pun enggan kembali ke
kamarnya untuk beristirahat.
Selama ini Thiat Tiong-tong selalu berusaha
untuk bicara keras, agar Ai Thian-hok dapat menangkap pembicaraannya
secara jelas, akibatnya saat ini tenggorokannya benar-benar sedikit
agak parau.
Setiap kali Ai Thian-hok tidak dapat
menangkap isi pembicaraan secara jelas, Thiat Tiong-tong selalu
berseru sambil tertawa:
"Tenggorokan siaute memang semakin parau,
bayangkan, kemarin sewaktu minta air, jarak tiga meter pun orang
tidak mendengar teriakanku, tentu nya toako juga makin pusing bukan
untuk menangkap ucapanku?"
Ai Thian-hok tersenyum tanpa menjawab, lewat
sesaat kemudian tiba-tiba setitik air mata membasahi kelopak
matanya.
Melihat itu dengan terperanjat Thiat
Tiong-tong bertanya:
"Toa.....toako, kenapa kau bersedih hati?"
Ai Thian-hok duduk tanpa bergerak, sampai
lama kemudian ia baru berkata pelan:
"Saudaraku yang bodoh, memangnya kau sangka
toako benar-benar tidak tahu?"
"Toako, apa yang kau ketahui?"
"Berulang kali kau minta aku membantumu,
membimbingmu, padahal kau tidak tega meninggalkan diriku bukan?
Padahal kau kasihan kepada toako lantaran sudah buta, tuli lagi
bukan?"
Sekujur tubuh Thiat Tiong-tong bergetar
keras, air mata kembali jatuh bercucuran, sambil memegang bahu Ai
Thian-hok kuat-kuat, ujarnya gemetar:
"Toako, kau......sejak kapan kau tahu akan
hal ini?"
"Sewaktu tiba di kaki bukit, toako sudah
mengetahuinya!" sahut Ai Thian-hok sambil menghela napas.
Kemudian setelah tertawa pedih, lanjutnya:
"Kau tidak menyangka bukan, meski toako sudah buta lagi tuli, namun
masih mampu berdiri tegak, mampu berjalan, masih punya selera makan,
tidur dengan nyenyak?"
Thiat Tiong-tong hanya mengawasi raut
mukanya yang kaku itu dengan termangu, dia tidak bisa membayangkan
bagaimana perasaan hatinya sekarang, dalam waktu sesaat pelbagai
pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Bukan saja seluruh kemewahan dan keindahan
dunia tidak bisa dilihat dan dinikmati lagi, kedudukan terhormat
dalam dunia persilatan, nama harum diantara umat persilatan pun
harus dia tinggalkan untuk selamanya.
Seandainya dia hanya seseorang yang pasrah
pada nasib, mungkin keadaan jauh agak mendingan, tapi dia adalah
seorang jagoan sejati yang besar ambisinya dan tinggi cita-citanya,
mungkinkah dia sanggup menghadapi pukulan batin ini?
Tapi kenyataannya sekarang, pukulan batin
yang belum tentu dapat dihadapi siapa pun tidak sampai merobohkan
dirinya, ia masih dapat bertahan dengan tenang, bersikap seakan
tidak pernah terjadi sesuatu, bukan hanya orang lain saja, bahkan
Thiat Tiong-tong sendiripun tidak menyangka.
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya
terdengar Ai Thian-hok berkata kembali:
"Saudaraku, kau jangan lupa, keteguhan batin
seorang lelaki terbentuk karena tempaan penderitaan dan
siksaan, biarkan saja tubuh berubah jadi cacad, biarkan saja tubuh
dan phisikmu berubah tidak berguna, yang penting hatimu belum
menjadi cacad, pikiranmu masih berguna, itu semua sudah lebih dari
cukup"
"Aaaa, kelihatannya memang gampang, padahal
sulit untuk dilakukan" pikir Thiat Tiong-tong didalam hati, "berapa
orang sih di dunia ini yang sanggup melakukan hal tersebut?"
Sekalipun perasaan hatinya amat pedih, namun
diliputi perasaan kagum yang tidak terhingga.
Tiba-tiba Ai Thian-hok bangkit berdiri,
setelah menghela napas panjang, ujarnya:
"Waktu sudah larut malam, mari kita tidur!"
Sewaktu kembali, tubuhnya berjalan sangat
tegak.
Malam itu Thiat Tiong-tong tidak dapat tidur
nyenyak, hingga fajar menjelang tiba dia baru bisa terlelap tidur.
Ketika dia mendusin dari tidurnya, Ai
Thian-hok telah pergi dari situ sambil meninggalkan sebuah surat
yang ditindihkan dibawah sebuah kotak kecil dari kayu.
Tulisan diatas kertas sangat kacau dan susah
dibaca, namun secara lamat-lamat masih bisa terbaca:
"Meski belajar pedang susah, ternyata
mendapat kawan sejati jauh lebih susah, memperoleh seorang adik
macam kau membuat aku rela mati, oleh sebab itu aku tidak ingin
membuat susah kau, sepanjang-panjangnya jalanan akhirnya akan tiba
diujungnya juga, mungkin mulai kini aku akan berkelana ke ujung
dunia dan entah sampai kapan baru bersua kembali.
"Sebuah kotak kayu yang sudah banyak tahun
kusimpan kuberikan sebagai kenangan, semoga hiante tidak usah
mencariku lagi"
Membaca surat itu sambil memegang kotak kayu
kecil, Thiat Tiong-tong merasakan seluruh tubuhnya gemetar keras,
rasa sedih menyelimuti seluruh perasaan hatinya.
Bukit Lau-san terletak di daerah Ciau-ciu
(Propinsi Shoatang) yang terletak di pesisir laut, udara amat
hangat, karena berada disepanjang laut, tidak heran kalau banyak
pelancong yang berkunjung ke situ.
Setibanya dikaki bukit, Thiat Tiong-tong
mulai berjalan mengelilingi seluruh tanah perbukitan, namun dia
tidak berhasil menemukan seorang manusiapun diseputar sana.
Akhirnya dia mencari seorang penebang kayu
yang dijumpainya di kaki bukit dan bertanya apakah pernah menjumpai
sekelompok manusia aneh diseputar sana, tapi penebang kayu itu
menjawab tidak pernah dijumpai sesuatu yang aneh.
Thiat Tiong-tong merasa panik bercampur
kecewa, mencari hingga menjelang senja, akhirnya dia duduk termangu
dibawah pohon sambil mengawasi lembayung dikaki bukit, pikirnya:
"Mungkinkah dia membohongi aku?
Jangan-jangan mereka menuju ke barat sementara aku menuju ke timur
hingga selama hidup tidak akan berhasil menemukan mereka kembali?'
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat,
mendadak terdengar suara meong bergema dari sisi pepohonan, menyusul
kemudian terlihat seekor kucing berbulu putih muncul dari balik
semak.
Kucing itu kelihatan gagah dan keren, jauh
lebih gagah dari kucing biasa, sepasang matanya yang berwarna hijau
seolah memancarkan cahaya api, binatang itu tidak lain adalah
Ping-nu, kucing kesayangan Yin Ping.
Tidak terkirakan rasa girang Thiat
Tiong-tong menyaksikan kemunculan kucing itu, segera serunya:
"Meong, apakah kau datang menjemputku?"
Tampaknya Ping-nu sangat mengerti bahasa
manusia, sepasang matanya yang hijau nampak memandang anak muda itu
berulang kali, kemudian diiringi suara meong, kucing itu lari menuju
ke atas bukit.
Thiat Tiong-tong tidak berani berayal,
segera dia mengikuti di belakangnya.
Kecepatan gerak kucing pintar itu ternyata
sama cepatnya dengan gerakan tubuh seorang jago persilatan, tampak
bulu putihnya yang halus memantulkan cahaya bianglala ketika
tertimpa cahaya senja.
Thiat Tiong-tong berlarian dengan sepenuh
tenaga, dia tidak berani berayal hingga ketinggalan, lebih kurang
sepertanak nasi kemudian mereka telah melampaui punggung bukit dan
memasuki hutan yang lebat.
Angin gunung yang berhembus kencang,
mendatangkan hawa dingin yang menggigit.
Biarpun udara dingin, peluh sempat membasahi
punggung Thiat Tiong-tong, setelah melampaui berapa tikungan bukit,
lagi-lagi kucing itu mengeong, kemudian menerobos masuk ke balik
semak disisi dinding tebing dan melenyapkan diri.
Thiat Tiong-tong tertegun, buru-buru dia
berlarian mendekat sambil melakukan pemeriksaan.
Ternyata diantara dinding bukit itu terdapat
sebuah jalan setapak selebar satu meter, jalan sempit itu tertutup
oleh lebatnya semak belukar sehingga kalau tidak dicari dengan
seksama, sulit untuk ditemukannya.
Dengan kegirangan kembali Thiat Tiong-tong
berpikir:
"Dibalik celah sempit ini pastilah tempat
tinggal manusia aneh itu"
Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya
lebih jauh dengan sedih:
"Berbicara dari kungfu yang kumiliki,
kendati pun berhasil menemukan tempat tinggalnya, bukan berarti aku
dapat menyelamatkan Leng-kong secara gampang......."
Sementara dia masih melamun, mendadak dari
belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur sambil tertawa merdu:
"Bocah bodoh, apa yang sedang kau tengok
disitu?"
Dengan perasaan terkejut Thiat Tiong-tong
berpaling, entah sejak kapan dua orang gadis berambut hitam telah
berdiri dibawah sinar senja yang mulai redup.
Mungkin karena dia sedang melamun hingga
kurang konsentrasi, maka tidak diketahui kehadiran mereka berdua.
Kedua orang gadis itu mengenakan jubah
panjang terbuat dari sutera yang halus, lembut lagi longgar, satu
berwarna merah yang lain berwarna hijau dan panjangnya selutut
hingga nampak jelas sepasang betisnya yang putih halus, kaki mereka
terbungkus oleh sepatu terbuat dari rumput yang datar dan amat
sederhana.
Mereka berdua tidak lain adalah gadis yang
pernah ikut bersama manusia aneh itu mengunjungi lembah
kong-kok-san.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur
girang, terkejut karena jejaknya ketahuan lawan, girang karena
dugaannya ternyata tidak meleset, disitulah tempat tinggal manusia
aneh itu.
Dengan matanya yang jeli nona berbaju hitam
itu memperhatikan wajah Thiat Tiong-tong berapa saat, kemudian
tegurnya sambil tertawa:
"Ternyata perhitungan kokcu tidak meleset,
kau benar-benar datang kemari!"
"Yaa, kalau memang sudah datang, ayohlah
masuk ke dalam" sambung nona berbaju hijau itu pula, "apa lagi yang
kau perhatikan?"
"Darimana dia tahu kalau aku bakal kemari?"
tanya Thiat Tiong-tong terperanjat.
Dia duga manusia aneh itu benar-benar
seorang manusia sakti yang bisa melihat masa depan, hingga apa yang
bakal terjadi sudah diketahui terlebih dulu olehnya.
Tentu saja dia tidak mengira kalau manusia
aneh itu sesungguhnya adalah seorang jagoan silat yang berbakat
alam, sekalipun tidak dapat meramal masa depan, namun perhitungan
serta dugaannya selalu tepat.
Ketika dia saksikan Yin Ping yang dihari
biasa jarang meninggalkan dirinya tahu-tahu keluar lembah secara
diam-diam, dia segera menduga kalau perempuan itu menaruh rasa
cemburu terhadap Sui Leng-kong hingga sengaja memancing kedatangan
Thiat Tiong-tong ke situ untuk menolong gadis tersebut.
Sementara masih kaget bercampur ragu,
kawanan gadis itu telah meluruk maju mendekat, satu menarik tangan
Thiat Tiong-tong, yang lain menarik lengan bajunya sembari berseru:
"Kokcu kami sudah menunggu, ayoh cepat
masuk!"
Tanpa membuang waktu lagi mereka menarik
anak muda itu memasuki celah sempit diantara dinding bukit dan
menuju ke dalam lembah.
Thiat Tiong-tong hanya merasakan bau harum
semerbak terendus disisi hidungnya, dia mencoba meronta namun tidak
berhasil.
Celah sempit itu lembab, gelap lagi tertutup
rapat oleh semak yang lebat, untuk melewatinya maka orang harus
berjalan satu per satu, begitulah, Thiat Tiong-tong dengan diapit
dua orang gadis itu, satu didepan yang lain di belakang, berjalan
menelusuri jalan setapak itu hampir seperminum teh lamanya.
Tiba-tiba pemuda itu merasakan pandangan
matanya jadi terang, ternyata pemandangan dihadapannya telah berubah
jadi amat lebar dan terbuka, hembusan angin yang semilir ditambah
bau harum bunga yang harum, membuat suasana disitu terasa nyaman dan
mengesankan.
Rupanya disudut celah yang sempit tadi
merupakan sebuah lembah bukit yang luas dan lebar, lembah itu
dikelilingi perbukitan diseke-lilingnya dengan pepohonan yang rimbun
dan sebuah sungai kecil yang mengalir tenang.
Sepanjang sungai kecil itu penuh ditumbuhi
pohon Yang-liu, diantara rimbunnya dedaunan lamat-lamat tampak
sebuah bangunan indah yang muncul dibalik bukit.
Didepan bangunan indah itu merupakan sebuah
tanah lapang dengan rumput yang dipotong pendek tapi rapi, diatas
hamparan rerumputan nan hijau tergeletak puluhan macam alat musik,
meja catur dan lain sebagainya.
Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau di
dunia pun terdapat alam seindah nirwana, tidak urung dia berdiri
tertegun berapa saat lamanya.
Terdengar nona berbaju merah itu berseru
sambil tertawa cekikikan:
"Saudara-saudaraku, apa indahnya melihat
ikan disungai? Cepat kemari dan lihatlah si burung bodoh ini......"
Rupanya disepanjang sungai kecil, dibalik
pepohonan yang rimbun berkumpul belasan orang gadis cantik.
Kawanan gadis itu hanya mengenakan kain
tipis yang terbuat dari sutera, ketika berlarian terhembus angin,
tampaklah dengan jelas lekukan tubuh mereka yang montok dan indah,
ternyata dibalik kain sutera tipis itu, mereka berada dalam keadaan
telanjang bulat.
Thiat Tiong-tong hanya merasakan rangsangan
yang hebat setelah melihat kawanan gadis bugil itu, buru-buru dia
pejamkan matanya rapat rapat dan tidak berani memperhatikan lebih
jauh.
Dalam waktu singkat kawanan gadis itu sudah
berada disisi tubuhnya, ada yang menarik bajunya, ada yang menarik
lengan bajunya, bau harum yang menusuk hidung muncul dari empat arah
delapan penjuru.
Thiat Tiong-tong merasa gugup bercampur
panik, dia mencoba mendorong kawanan gadis itu, tapi begitu jari
tangannya menyentuh tubuh yang halus, lembut bagaikan kapas, dengan
perasaan takut cepat dia menarik kembali tangannya.
Sekalipun dia adalah seorang lelaki sejati
berhati baja, tidak urung dibikin kelabakan juga setelah berada
dalam kerumunan gadis bugil.
Terdengar seorang gadis muda berseru sambil
tertawa cekikikan:
"Coba lihat tampangnya, dulu saja dia nampak
gagah perkasa dan banyak akal hingga manusia pengecut takut mati itu
dibuat kelabakan setengah mati, siapa sangka kalau hari ini dia
sendiri yang justru seperti burung dungu"
Ditengah gelak tertawa yang riuh, seorang
gadis lain membelai pipi Thiat Tiong-tong dengan lembut, lalu
katanya sambil menghela napas:
"Sejak bertemunya tempo hari, aku sudah
ingin mengelus pipinya, coba kalian lihat wajahnya, oooh..... macam
pahatan saja, sungguh indah dan mengesankan, akhirnya keinginanku
itu kesampaian juga hari ini”
"Tidak heran kalau nona cilik itu
mati-matian menunggu kehadirannya" seru gadis yang lain pula, "biar
kokcu sudah membujuk dan merayu dengan cara apapun, dia tetap tidak
menggubris dan ambil perduli, rupanya dia memang tampan sekali"
Kelihatannya gadis itu baru pertama kali ini
bertemu Thiat Tiong-tong, bukan saja mengaguminya, bahkan nona itu
seperti menyesal kenapa bukan dia yang dicintai pemuda itu.
Sementara Thiat Tiong-tong sendiri merasa
sedikit agak lega setelah tahu kalau Sui Leng-kong masih berada
dalam keadaan selamat.
Tiba-tiba dari seberang sungai kecil
terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring:
"Tamu sudah tiba kenapa tidak dipersilahkan
masuk?
Kawanan gadis itu sama-sama membuat muka
setan sambil menjulurkan lidahnya kemudian menarik tangan pemuda itu
dan diajak menyeberangi jembatan kecil.
"Tolong lepaskan tangan kalian" pinta Thiat
Tiong-tong, "aku bisa berjalan sendiri!"
Sambil tertawa kawanan gadis itu melepaskan
tangannya.
Thiat Tiong-tong menghembuskan napas lega,
dia mencoba celingukan kesana kemari, ternyata setelah menyeberangi
sungai mereka menelusuri sebuah jalan setapak yang terbuat dari batu
warna warni, dikedua sisi jalan setapak itu penuh ditumbuhi aneka
bunga yang indah dan semerbak.
Jalan setapak itu langsung menghubungkan
tempat itu dengan sebuah bangunan mungil, saat itulah kembali
terdengar seseorang berseru dari balik ruangan sambil tertawa:
"Tamu agung datang dari jauh, ayoh para
budak, cepat ajak dia masuk ke dalam, aku malas untuk keluar
menyambut"
Nona berbaju merah itu tertawa lirih sambil
menutupi mulutnya, dia segera berjalan duluan menuju ke sebuah
serampi samping, ketika membuka pintu pagar maka bergemalah suara
keleningan yang merdu.
Manusia aneh itu dengan jubah merahnya
sedang duduk diatas sebuah alas tidur yang terbuat dari batu kemala
putih, didepan pembaringan adalah sebuah meja pendek dengan sebuah
vas berisi aneka bunga dan sebuah jamban berisi aneka buah buahan.
Beberapa orang gadis cantik berdiri
disekelilingnya sambil meniup seruling dan bermain khiem, ketika
melihat kemunculan Thiat Tiong-tong, meski irama musik tidak
berhenti namun kerlingan mata kawanan gadis itu hampir semuanya
tertuju ke arah anak muda itu.
Ke empat dinding ruangan itu bersih berkilat
bagai cermin, suasana dalam ruangan pun indah bagai sebuah lukisan,
ketika Thiat Tiong-tong mencoba mengawasi sekitar situ, dia tidak
tahu ada berapa banyak gadis cantik yang berada disana, dia pun
tidak tahu ada berapa banyak kerlingan mata yang tertuju ke
wajahnya.
Sambil tertawa tergelak manusia aneh itupun
berseru:
"Wouw, seorang penebar bibit cinta yang luar
biasa. Tidak nyana kau rela menempuh perjalanan sejauh ribuan li
hanya untuk menyusul seorang nona. Tentu sudah kelelahan bukan
selama perjalanan? Mari, mari, mari, duduklah kemari"
Seorang gadis yang duduk diatas pembaringan
batu itu segera bangkit berdiri dan memberikan tempat duduknya.
Thiat Tiong-tong segera berpikir:
"Kalau ku tampik ajakan itu, dia pasti
menduga hatiku cupat dan takut kepadanya......"
Maka sambil tersenyum diapun berjalan
mendekat dan duduk.
Dia memang seorang pemuda yang cerdas,
pemberani dan tidak terbiasa terkekang oleh adat yang bertele-tele,
kendatipun dia sedikit lupa diri ketika menyaksikan suasana bak
berada di nirwana tadi, namun hanya sekejap kemudian dia sudah
berhasil mengen-dalikan diri.
"Kau berani minum arak dan makan buah yang
tersedia disini?" tantang manusia aneh itu lagi sambil tertawa.
Thiat Tiong-tong tersenyum, sahutnya:
"Berbicara dari ilmu silat yang cianpwee
miliki, buat apa mesti meracuni arak dan buah itu jika ingin
membunuhku? Jangan lagi baru secawan dan sebiji buah, disuruh
menghabiskan tiga kati pun aku sanggup"
Manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.......bagus!" serunya.
Dia bertepuk tangan, seorang gadis muncul
menghidangkan arak wangi, arak itu berwarna hijau dan harum baunya.
Thiat Tiong-tong tahu, bila orang itu
mengijinkan dirinya bertemu Sui Leng-kong maka dia tidak usah banyak
bicara, sebab banyak omongpun tidak ada gunanya, oleh karena itu
tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mulai meneguk arak sambil
menikmati buah-buahan.
Kawanan gadis cantik yang berada disekitar
sana hanya berdiri menonton sambil tertawa cekikikan, melihat itu si
manusia aneh itu segera menegur sambil tertawa:
"Dasar budak cilik, apa yang kalian
tertawakan, cepat tunjukkan kebolehan kalian dihadapan tamu!"
Kawanan gadis itu menyahut, irama musik pun
berubah, dari nada yang halus lembut berubah jadi keras dan cepat,
beberapa orang diantara mereka sudah mulai bertepuk tangan sambil
menyanyi, ada pula yang tampil ditengah ruangan dan mulai menari.
Tarian yang dibawakan kawanan gadis itu
lembut dan indah, liukan pinggul yang bergetar bagai liukan ular
ditambah dengan kibaran baju yang memperlihatkan betis putih mereka,
membuat suasana disitu benar benar mengobarkan rangsangan syahwat.
Kerlingan mata merekapun menggetarkan sukma,
diiringi senyuman manis yang memikat tiba-tiba seorang gadis penari
menjatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu.
Tapi Thiat Tiong-tong tetap duduk sambil
memegang cawan, bukan saja tidak memandang kearah nona itu,
menyentuh pun tidak.
Melihat sikapnya yang kaku itu sambil
tersenyum manusia aneh itu mengulapkan tangannya.
"Sudahlah" dia berseru, "biar kuajak sang
tetamu mengunjungi tempat lain"
Begitu dia selesai bicara, nyanyian dan
tarian berhenti seketika, nona yang berada dalam pelukan Thiat
Tiong-tong pun ikut bangkit berdiri, sambil menowel ujung hidungnya
dia mengumpat lirih:
"Dasar kau........lebih kaku dari sebatang
balok kayu"
Thiat Tiong-tong hanya menghembuskan napas
lega, cepat dia ikut bangkit berdiri.
Sejujurnya, barusan diapun sedikit
terangsang oleh ulah gadis cantik itu, masih untung dia sudah
terbiasa menyembunyikan perasaan hingga orang lain tidak
mengetahuinya.
Kembali manusia aneh itu berkata sambil
tertawa:
"Jarang sekali ada orang yang sanggup
berkunjung kemari, tapi sekarang kau sudah datang, berarti kaulah
tamu agung kami. Kalau tidak kuajak melihat-lihat sekitar sini, kau
pasti akan menuduhku berjiwa sempit!"
Diam diam Thiat Tiong-tong berpikir:
"Sampai sekarang dia sama sekali tidak
menyinggung soal Sui Leng-kong, jangan-jangan dia sedang mengajakku
untuk menjum-painya?"
Sementara dia masih termenung, manusia aneh
itu sudah beranjak pergi terlebih dulu.
Setelah melewati berapa serambi dan beberapa
bangunan rumah, Thiat Tiong-tong baru sadar kalau kesemuanya itu
terdiri dari satu kesatuan bangunan besar, kendatipun dari luar
bangunan itu kelihatan biasa tidak ada keistimewaan tapi dalamnya
nyaris seluruhnya dibangun dari batu pualam putih yang bening dan
berkilat hingga bangunan itu mirip sebuah istana salju yang bening
bagai cermin.
Perabot maupun dekorasi dalam ruangan pun
indah, sederhana tapi penuh artistik, sama sekali tidak meninggalkan
kesan kemewahan yang berlebihan.
Tidak tahan kembali Thiat Tiong-tong
berpikir sambil menghela napas:
"Tampaknya manusia aneh ini memang seseorang
yang sangat pandai menikmati hidup”
Manusia aneh itu berjalan terus tiada
hentinya, setelah melalui beberapa bilik, tiba-tiba Thiat Tiong-tong
merasakan pandangan matanya silau, ternyata mereka telah tiba
disebuah ruangan besar yang dipenuhi aneka batu permata, zamrud,
intan permata serta benda berharga lainnya, boleh dibilang seluruh
benda yang berada disitu rata rata indah dan mahal harganya.
Thiat Tiong-tong pernah menjumpai tumpukan
batu permata yang amat banyak ketika berada dalam gua harta tempo
hari, waktu itu dia menganggap tumpukan barang berharga itu luar
biasa dan tiada duanya dikolong langit, siapa tahu bila dibandingkan
tumpukan harta yang dijumpai di tempat ini, apa yang pernah
dilihatnya dulu ternyata masih tidak seberapa.
Tidak tahan lagi dia menghela napas panjang.
Dari atas sebuah meja, manusia aneh itu
mengambil sebilah pedang yang gagangnya penuh ditaburi batu permata,
ujarnya sambil tertawa:
"Aku percaya kau memiliki ketajaman mata
yang luar biasa, bagaimana menurut pandangan-mu tentang pedang ini?"
Sewaktu ibu jarinya memencet sebuah tombol,
"Criiiing!" pedang itu sudah diloloskan dari sarungnya.
Diantara dentingan suara yang nyaring bagai
pekikan naga, cahaya pedang segera memancar ke empat penjuru, sinar
yang amat menyilaukan mata membuat setiap benda yang berada dalam
ruangan terlihat sangat jelas.
"Pedang bagus!" tidak tahan Thiat Tiong-tong
berteriak memuji.
Sekulum senyuman bangga tersungging di ujung
bibir manusia aneh itu, sambil memandang sekeliling ruangan itu
sekejap ujarnya:
"Seluruh harta karun yang berada dalam
ruangan ini merupakan hasil jerih payah leluhurku yang mengumpulkan
sedikit demi sedikit, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Jarang dijumpai di tempat lain"
"Bagaimana pula dengan kawanan nona cantik
tadi?" kembali manusia aneh itu bertanya sambil tertawa.
"Semuanya cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan"
Tiba-tiba manusia aneh itu menarik muka,
katanya dengan nada berat:
"Asal kau bersedia mengabulkan satu
permintaanku, seluruh harta karun yang berada disini boleh kau
angkut pergi, seluruh gadis cantik yang kau jumpai tadipun boleh kau
pilih sesuka hatimu"
"Apa permintaanmu itu?" tanya Thiat
Tiong-tong dengan perasaan hati sedikit tergerak.
Manusia aneh itu tidak menjawab, dia tekan
sebuah tombol diatas dinding batu kemala, tiba tiba muncul sebuah
jendela kecil yang terbuat dari kaca kristal, tidak tahan Thiat
Tiong-tong melongok ke dalam.
Diseberang jendela merupakan sebuah ruangan
mungil, didalam ruangan tersedia sebuah pembaringan yang terbuat
dari batu kemala, seorang nona berbaju putih dengan rambut sebahu
dan wajah cantik bak bidadari duduk termenung disitu, siapa lagi
kalau bukan Sui Leng-kong?
Didepan maupun dibelakang tubuhnya penuh
bertumpuk aneka macam benda mestika yang mahal harganya, ada buah
segar, ada pakaian indah, ada perhiasan mahal......... ada pula
setumpuk buku dan seekor burung kakaktua yang indah bulunya.
Segala sesuatu yang tersedia disitu boleh
dibilang merupakan benda benda yang paling disukai setiap wanita
dikolong langit.
Tapi Sui Leng-kong duduk diatas ranjang
dengan wajah murung, kendatipun dia sedang memegang sejilid buku,
namun matanya tidak memandang ke arah buku itu, dia hanya duduk
melamun.
Thiat Tiong-tong seketika merasakan hatinya
bergolak keras, hampir saja dia berteriak memanggil.
Sambil tersenyum manusia aneh itu segera
berkata:
"Walaupun kau dapat melihatnya namun dia
tidak dapat melihatmu, biar kau berteriak sampai serak pun jangan
harap dia mendengar suara teriakanmu"
Thiat Tiong-tong tertawa dingin.
"Mengakunya saja seorang bulim cianpwee,
tapi bisanya hanya menyekap seorang nona, enghiong macam apa pula
dirimu itu" ejeknya.
Dia segera membuang muka dan tidak
memperhatikan dirinya lagi.
Manusia aneh itu sama sekali tidak
menanggapi, katanya lagi perlahan:
"Asal kau bersedia mengatakan dihadapannya
bahwa selama hidup tidak akan bertemu lagi dengannya, seluruh harta
karun dan wanita cantik yang ada disini boleh kau bawa pergi"
Siapa yang tidak akan terpikat, siapa yang
tidak akan tertarik dengan harta karun serta wanita
cantik? Dia yakin Thiat Tiong-tong tidak bakal menampik tawarannya
itu.
Thiat Tiong-tong mendongakkan kepalanya dan
tertawa keras.
"Hahahaha...... kusangka cianpwee adalah
seorang tokoh yang luas pengetahuannya, siapa tahu...hehehehe....
memangnya cianpwee anggap cayhe adalah manusia semacam itu?"
serunya.
Berubah paras muka manusia aneh itu, serunya
sambil tertawa dingin:
"Jangan lupa, sampai detik ini dia masih
berada dalam cengkeramanku, bila aku menggunakan kekerasan,
memangnya dia bisa terbang ke langit?"
Thiat Tiong-tong kembali tertawa.
"Walaupun cianpwee salah menilai tentang
diriku namun cayhe tidak bakal salah menilai diri cianpwee, bila kau
ingin menggunakan kekerasan, buat apa mesti menunggu sampai hari
ini!"
Walaupun manusia aneh ini suka main wanita,
tapi dia selalu bersikap angkuh dan tinggi hati, perkataan dari
Thiat Tiong-tong barusan tepat menyentuh perasaan hatinya, kontan
saja sikap maupun wajahnya berubah jadi lebih lembut dan ramah.
Dia berjalan mengelilingi ruangan itu satu
lingkaran, kemudian sambil menghentikan langkahnya berkata:
"Kau sudah pernah melihat kepandaian
silatku, bagaimana kalau aku membantu musuh-musuh besarmu menghadapi
dirimu?"
"Kepandaian silat yang cianpwee miliki
sangat tangguh, belum pernah kujumpai sebelum ini, bila kau membantu
musuh-musuhku, sudah jelas aku tidak mampu melawan kalian"
Kembali manusia aneh itu tersenyum.
"Bila kau bersedia mengabulkan
permintaanku, aku segera akan turun tangan membantumu urttuk
membunuh seluruh musuh besarmu itu!" janjinya.
Sesungguhnya manusia ini berwatak aneh,
selama hidup dia paling enggan mencampuri urusan dunia persilatan,
kalau bukan dipaksa oleh keadaan, tidak nanti dia akan mengucapkan
perkataan tersebut.
Hal inipun antara lain disebabkan sejak
kecil dia sudah hidup manja, apa yang diinginkan selama ini, tidak
ada yang berani menentang, semuanya dapat diperoleh secara gampang.
Dalam perkiraannya semula, Sui Leng-kong pun
akan diperoleh dengan gampang sekali tanpa harus menggunakan
paksaan, siapa tahu, walau sudah menggunakan cara apa pun Sui
Leng-kong tetap tidak menggubris dirinya.
Semakin dingin sikap Sui Leng-kong
terhadapnya, semakin bersemangat manusia aneh ini mengejarnya,
namun diapun tidak ingin memperoleh gadis itu dengan cara paksaan,
oleh sebab itu dia berusaha menjebak Thiat Tiong-tong dengan segala
iming-iming, agar Sui Leng-kong mematikan perasaannya terhadap
pemuda ini.
Itulah sebabnya dia menggunakan pelbagai
cara dan upaya memaksa Thiat Tiong-tong untuk mengabulkan
permintaannya.
Benar saja, Thiat Tiong-tong mulai tertarik
dengan tawaran itu, dengan hati berdebar pikirnya:
"Bila dia mau membantu, sudah jelas dendam
kesumat Perguruan Tay ki bun akan terbalas"
Tapi ingatan lain kembali melintas: "Tapi
benarkah tindakanku ini, mengorbankan Sui Leng-kong demi masalah
pribadi?
Lagipula........ balas dendam atas
penghinaan yang dialami Perguruan Tay ki bun menjadi kewajiban
setiap anak muridnya, mana boleh aku libatkan orang lain?"
Berpikir sampai disitu diapun tertawa hambar
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Benar-benar manusia yang tidak tahu diri!"
umpat manusia aneh itu sangat gusar.
"Weess!" dia ayunkan telapak tangannya
langsung membacok tubuh Thiat Tiong-tong, serangannya cepat melebihi
sambaran petir.
Biarpun melihat datangnya serangan itu,
Thiat Tiong-tong tidak mencoba untuk menghindar, segera terasa
olehnya angin dingin menggulung wajahnya, tajam bagai sayatan pisau
dan dingin menyesakkan napas.
"Kau pingin modar?" bentak manusia aneh itu
gusar.
Ditengah bentakan nyaring, pada detik yang
terakhir dia tarik kembali serangannya itu.
Terkesiap juga Thiat Tiong-tong melihat
kesaktian lawan, apalagi melihat kemampuannya mengontrol tenaga
pukulan, tapi dia berkata juga sambil tertawa hambar:
"Bila cianpwee benar-benar akan menggunakan
ilmu silatmu, jelas aku bukan tandinganmu, buat apa mesti bersusah
payah menghindarkan diri?"
Manusia aneh itu tertegun, telapak tangannya
yang siap melancarkan bacokan lagi segera ditarik kembali, dengan
gemas da menghentakkan kakinya
sambil melontarkan pukulan ke muka.
Kasihan barang mestika yang berada
dihadapannya, termakan pukulan itu benda-benda berharga itu segera
mencelat ke empat penjuru dan hancur berantakan.
Dengan wajah tidak berubah jengek Thiat
Tiong-tong dingin:
"Biarpun tenaga pukulan cianpwee sangat
hebat, ternyata nyalimu kecil sekali"
"Apa kau bilang?" teriak manusia aneh itu
gusar.
"Kalau cianpwee memang bernyali, kenapa
tidak berani membiarkan aku bertemu dengan-nya?"
Lagi-lagi manusia aneh itu tertegun,
tiba-tiba bentaknya:
"Ikut aku!"
Sambil bicara dia segera beranjak pergi.
Thiat Tiong-tong tahu, orang itu sudah
termakan oleh ejekannya, dengan girang dia segera mengikuti di
belakangnya menelusuri sebuah serambi panjang yang terbuat dari batu
pualam.
Meskipun antara ruangan penyimpan harta
dengan ruangan dimana Sui Leng-kong tersekap hanya dipisahkan oleh
sebuah dinding, namun jalan untuk menuju ke sana ternyata amat jauh
dan penuh dengan liku-liku dan tikungan, orang akan tersesat bila
tidak mengikuti petunjuk jalan.
Dalam sekilas pandang Thiat Tiong-tong dapat
menangkap kalau letak jalan berliku itu diatur sesuai dengan ilmu
barisan, namun dia tidak menggubris, kini dirinya sudah berada dalam
sarang harimau, maka dia tidak akan ambil perduli terhadap persoalan
lain.
Beberapa saat kemudian tibalah mereka
diujung sebuah jalan, suara nyanyian Sui Leng-kong terderigar
bergema dari balik tirai.
Suara nyanyiannya merdu merayu, terdengar
dia sedang bersenandung:
"Janganlah sakit rindu, rindu membuat kau
cepat tua.
Dari pada pikiran pusing dan jenuh, lebih
baik sakit rindu"
"Hmm, apa enaknya sakit rindu?" dengus
manusia aneh itu sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, tapi
begitu bertemu Sui Leng-kong, seluruh hawa amarahnya hilang lenyap
seketika.
Sui Leng-kong pun sudah melihat kehadiran
Thiat Tiong-tong yang berada di belakangnya, dia sedikit tertegun
sambil memandang melongo, tidak tahu harus sedih atau gembira,
bahkan buku yang berada dalam genggaman pun terjatuh tanpa terasa.
Sorot mata mereka saling menatap tanpa
berkedip, seakan tidak ingin saling berpisah kembali.
Menyaksikan adegan itu, manusia aneh
tersebut merasa murung bercampur masgul, dia tidak dapat
mengutarakan bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Lama kemudian akhirnya dia berteriak keras:
"Setelah saling bertemu kenapa tidak segera bicara!"
Namun sepasang muda mudi itu masih saling
menatap tanpa bicara, dalam keadaan seperti ini, biar ada berjuta
patah kata pun tidak sepotong kata yang mampu diutarakan, mereka
merasa berdiam diri jauh lebih mesrah ketimbang bicara.
Dari atas meja manusia aneh itu memetik
berapa biji anggur, sambil mengunyah dia berjalan mondar mandir
diantara ke dua orang itu, tanpa sadar anggur berikut bijinya
tertelan semua.
Sebetulnya anggur itu dari jenis yang
langka, selain manis pun harum, tapi sekarang dia tidak bisa
membedakan bagaimana rasanya buah itu, mulutnya bergumam terus tiada
hentinya:
"Gampang! Gampang....... aaai, susah! Susah!
Susah!"
Terdengar suara cekikikan berkumandang dari
balik pintu, Yin Ping sambil membopong kucing kesayangannya, Ping-nu
berjalan masuk ke dalam.
Sambil berjalan ke samping Thiat Tiong-tong
dan tertawa, ujarnya:
"Adik cilik, tahukah kau apa yang dia maksud
sebagai gampang? Dan apa pula yang susah?"
Dengan penuh rasa berterima kasih Thiat
Tiong-tong meliriknya sekejap, kemudian sahutnya sambil tersenyum:
"Gampang untuk membunuhku saat ini juga,
namun meski berhasil membunuhku, kalau ingin Sui Leng-kong melupakan
aku, sulitnya melebihi mendaki ke puncak langit"
Sambil tersenyum Yin Ping berpaling ke arah
manusia aneh itu, tanyanya:
"Benarkah yang dia katakan?"
Manusia aneh itu tertawa.
"Pemuda yang kau giring kemari tentu saja
memiliki kecerdasan otak yang luar biasa"
"Kalau memang luar biasa, berarti kaupun
tahu kalau selama hidup jangan harap bisa membuat gadis itu
berpaling darinya, kalau memang begitu......lebih baik bebaskan saja
dirinya!
"Hmm, tidak segampang itu!" seru manusia
aneh itu sambil menarik muka.
Tiba-tiba Sui Leng-kong melompat bangun dan
menjatuhkan diri berlutut dihadapannya, sambil menyembah pintanya:
"Dari pada kau menyekapku terus disini
hingga menimbulkan rasa benciku terhadapmu, lebih baik bebaskanlah
aku, selama hidup aku tidak akan melupakan kebaikanmu!"
Ucapan itu diutarakan dengan air mata
berlinang, wajahnya kelihatan menyedihkan sekali, jangankan manusia
biasa, orang berhati baja pun pasti akan tergerak hatinya setelah
menyaksikan raut mukanya itu.
Manusia aneh itu memandangnya berapa kejap,
kemudian ujarnya sambil tertawa getir:
"Tentu saja aku tidak berharap kau
membenciku, Cuma..... biarpun aku bebaskan dirimu dan persilahkan
kau segera pergi dari sini, tapi apa gunanya kau selalu teringat
kebaikanku? Apa manfaatkan bagiku pribadi?"
"Kalau begitu........ kalau begitu bunuh
saja aku!"
"Aaaai, apalagi disuruh
membunuhmu.......mana aku tega?" manusia aneh itu mendongakkan
kepalanya menghela napas panjang.
"Kau enggan membebaskannya, tidak ingin
membunuhnya pula, apa sebenarnya maksudmu?" tegur Thiat Tiong-tong.
"Benar” seru Yin Ping pula sambil tertawa,
"sebenarnya apa keinginanmu, paling tidak biarlah orang lain
mengerti, kalau keadaan dibiarkan berlarut terus semacam ini,
memangnya kau anggap selamanya aku tidak bisa cemburu?”
"Ooh, rupanya kaupun mengerti cemburu....."
manusia aneh itu tertawa geli.
Kemudian setelah berjalan mondar-mandir
berulang kali sambil menggendong tangan, mendadak dia menghentikan
langkahnya seraya berseru:
"Aaah, ada akal!"
"Bagaimana?" tanya Thiat Tiong-tong cepat.
"Bila kau berhasil menembusi delapan
barisanku, kalian berdua akan segera kubebaskan!"
Berubah paras muka Yin Ping.
"Tapi..... tapi delapan barisan Pat-bun-tin
itu.........." serunya sambil tertawa paksa.
"Tapi kenapa!" tukas manusia aneh itu sambil
tertawa, "tempo hari, aku sendiripun harus menembusi delapan barisan
itu sebelum mendiang ayah mengijinkan aku turun gunung!"
"Siapa pun tahu kalau kau adalah seorang
manusia berbakat alam dalam dunia persilatan, ada berapa orang di
dunia ini yang mampu menandingimu? Sementara dia........ aaai, dia
pun tidak terlalu jelek!"
"Hahahaha......kalau memang tidak terlampau
jelek, apa salahnya kalau dicoba?"
Jelas perkataan terakhir ini sengaja
ditujukan kepada Thiat Tiong-tong.
Diam diam pemuda itu berpikir:
"Kalau kau saja mampu menembusi, kenapa aku
tidak?"
Selama pertarungan itu berlaku adil, dia
memang merasa tidak perlu takut untuk menghadapinya, maka dengan
suara lantang sahutnya:
"Baik!"
"Kalau begitu, ikutlah aku!" kata manusia
aneh itu sambil tersenyum.
Selesai bicara, dia bergerak terlebih dulu
mengajak beberapa orang itu menuju ke dalam sebuah bilik batu.
Bilik batu itu berbentuk segi delapan dengan
delapan buah pintu, setiap pintu ditutup dengan sebuah tirai
berwarna, masing-masing berwarna merah, kuning tua, kuning muda,
hijau tua, hijau muda, biru, ungu dan hitam. Tidak diketahui apa isi
dibalik setiap pintu tersebut.
Didepan pintu bertirai itu terdapat beberapa
buah meja batu dengan bangkunya, buah buahan segar, arak wangi serta
teh harum tersedia lengkap disitu komplit dengan cawan-cawan
kemalanya.
"Delapan pintu sudah terlihat, tapi dimana
letak barisan nya......." diam-diam Thiat Tiong-tong
berpikir.
Terdengar manusia aneh itu bertepuk tangan
sekali, kecuali pintu berwarna hitam, dari ke tujuh pintu lainnya
segera bermunculan tujuh orang gadis cantik yang mengenakan pakaian
berwarna warni.
Setiap gadis itu mengenakan pakaian sesuai
dengan warna pintunya, yang merah memakai baju merah, yang hijau
mengenakan baju warna hijau.
Ke tujuh orang gadis itu rata-rata berwajah
cantik rupawan, selain beda warna, potongan pakaian yang mereka
kenakan pun berbeda satu dengan lainnya, ada yang memakai gaun
lebar, ada yang memakai gaun pendek, ada yang bercelana ketat, ada
pula yang bercelana pendek.
Sambil menghela napas dihati, pikir Thiat
Tiong-tong:
"Hampir semua gadis itu cantik jelita, entah
dari mana saja dia mengumpulkannya, gadis secantik inipun masih
tidak pantas menjadi bininya, aku lihat........"
Belum selesai dia berpikir, tampak ada enam
orang gadis cantik telah maju mengepungnya.
"Barisan inikah yang harus kutembusi?" Thiat
Tiong-tong segera menegur dengan kening berkerut.
“Hahahaha....tepat sekali”, jawab manusia
aneh itu dengan tawa tergelak, "barisan semacam ini hanya ada di
nirwana dan jangan harap menemukan keduanya dikolong langit. Jadi
meski nanti kau gagal menembusi ilmu barisan ini, paling tidak kau
punya hokkie untuk menikmatinya"
"Bagaimana aku harus menembusinya, dengan
cara apa menentukan menang kalahnya?"
"Ilmu barisan ini bernama ilmu barisan
bidadari telanjang ..........." manusia aneh itu menerangkan sambil
tertawa.
Begitu mendengar nama tersebut, sepasang
alis mata Thiat Tiong-tong berkerut semakin kencang.
Terdengar manusia aneh itu berkata lebih
jauh:
"Biarpun ilmu silat yang dimiliki ketujuh
orang budak cilik ini tidak terlampau tinggi, namun kemampuan mereka
sangat hebat, ketika mereka bertujuh mengepung dirimu nanti, sambil
menelanjangi diri sendiri mereka pun akan berusaha menelanjangi
dirimu, ketika mereka selesai melucuti semua pakaian yang dikenakan
sementara pakaian mu sama sekali tidak berhasil dilucuti oleh
mereka, maka kau akan dianggap memenangkan setengah dari pertarungan
ini, sisanya yang setengah.........hahahaha...... lebih baik kita
bicarakan nanti saja setelah kau berhasil menangkan setengah
pertandingan ini"
Thiat Tiong-tong merasa tercengang bercampur
kaget, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri melongo dengan mata
terbelalak.
Sementara Sui Leng-kong sendiripun hanya
bisa berdiri melongo dengan pipi bersemu merah, merah lantaran
jengah.
Gelak tertawa manusia aneh itu semakin
menunjukkan kebanggaan, ujarnya lagi:
"Aku yakin belum pernah ada jago persilatan
yang pernah menjumpai ilmu barisan bidadari telanjangku ini,
barangsiapa berhasil menembusnya, kungfu yang dimiliki boleh
dibilang sangat hebat!"
Diam-diam Thiat Tiong-tong berpikir:
"Meskipun ilmu barisan ini langka dan luar
biasa hebatnya, toh aku bukan orang mati yang tidak mampu berkelit,
masa akan kubiarkan mereka meloloskan pakaianku........."
Berpikir begitu segera tanyanya dengan suara
keras:
"Berapa lama waktu yang mereka bertujuh
butuhkan untuk melucuti semua pakaiannya?"
"Hahahaha..... mereka bertujuh
akan tidak berhenti melepaskan pakaian, melepas terus sampai
benar-benar telanjang!"
Thiat Tiong-tong berpikir sejenak, kemudian
katanya lagi dengan suara lantang:
"Bagaimana pula jika aku berhasil merobohkan
mereka semua disaat ketujuh orang itu sedang menanggalkan pakaiannya
dan berhasil lolos dari dalam barisan?"
"Jika kau mampu merobohkan mereka semua,
tentu saja kaulah yang akan keluar sebagai pemenang"
Kembali Thiat Tiong-tong berpikir:
"Biarpun kungfu yang mereka bertujuh miliki
cukup tangguh, bukankah mereka harus menanggalkan pakaiannya satu
per satu, dalam keadaan begini mana mungkin mereka bisa bersilat?
Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan itu untuk merobohkan mereka?"
Berpikir sampai disini,
diapun membenahi pakaian sendiri seraya menyahut:
"Baiklah, silahkan nona semua mulai turun
tangan"
Kawanan gadis cantik itu tertawa merdu,
dengan cepat mereka bergerak maju dan mengelilingi anak muda itu
dari jarak berapa meter, belum lagi tubuhnya yang
bahenol, cukup gelak tertawa mereka yang merdu pun sudah mampu
menggetarkan hati.
Tiba-tiba Sui Leng-kong berteriak keras:
"Tunggu sebentar, bagaimana pula jika
dia......dia kalah?"
Manusia aneh itu tertawa tergelak.
"Hahahaha.....jika dia kalah, akan kuberi
satu kesempatan lagi, coba kau lihat ukiran manusia di dinding
sekeliling ruangan, hampir semuanya terukir gerakan untuk memecahkan
barisan ini, asal dalam tujuh hari dia berhasil mempelajari kungfu
yang tertera di dinding dan mampu menjebol barisan ini......
hahahaha.......aku jadi teringat, dulu akupun harus mempelajari cara
untuk menjebol ilmu barisan ini dalam tujuh hari"
Sui Leng-kong mencoba memperhatikan
sekeliling tempat itu, benar saja, diatas dinding penuh dengan
ukiran manusia yang melakukan gerakan silat, tanpa terasa dia
menundukkan kepalanya seraya berkata:
"Kalau begitu cara kerjamu cukup adil"
"Hahahaha... kalau tidak adil, kenapa aku
tidak turun tangan sendiri? Kalau ingin bersaing dengan seseorang,
tentu saja kita mesti kalahkan dia secara adil"
Perlahan-lahan dia berjalan menuju ke muka
pintu bertirai hitam, ujarnya lebih jauh sambil tertawa:
"Bagaimana kalau geser kemari untuk menonton
jalannya pertarungan?"
Sambil tertawa Yin Ping mengintil di
belakangnya, sementara Sui Leng-kong melirik sekejap ke arah
manusia aneh itu sembari berpikir:
"Meskipun orang ini rada menjengkelkan,
ternyata ada banyak hal sikapnya tidak terlepas dari sikap seorang
kuncu"
Pikiran ini seketika menimbulkan kesan baik
dihati kecilnya, setelah menghela napas imbuhnya:
"Padahal kau sudah memiliki begitu banyak
gadis cantik, kenapa...... kenapa justru tidak mau melepaskan aku?"
Manusia aneh itu hanya bersandar diatas
ranjangnya tanpa menjawab, sementara Yin Ping menyahut setelah
tertawa terkekeh:
"Adikku, terus terang aku beritahu, semakin
kau tolak keinginannya, dia semakin berminat untuk mendapatkan
dirimu"
"Be....begitu rendahkah pandangan seorang
lelaki?" bisik Sui Leng-kong agak tertegun.
Ungkapan ini kontan membuat manusia aneh itu
tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo, sedangkan Yin
Ping tertawa makin terpingkal.
Lewat sesaat kemudian manusia aneh itu baru
menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir, lalu sambil bertepuk
tangan serunya:
"Irama musik, barisan segera mulai!"
Ketika suaranya yang nyaring bergema keluar
dari ruangan, irama musik pun segera berkumandang.
Irama musik yang dibawakan lembut, halus dan
amat menyegarkan perasaan, berbareng itu juga kawanan gadis cantik
itu mulai berputar mengelilingi arena sembari membawakan gerak
tarian yang indah.
Melihat ke tujuh orang gadis itu hanya
berputar tanpa ada niat turun tangan, tidak tahan Thiat Tiong-tong
segera berseru:
"Ayohlah mulai tanggalkan pakaian kalian!"
Tapi secara tiba-tiba dia seperti teringat
akan sesuatu, kontan pipinya berubah jadi merah padam lantaran
jengah.
Terdengar Yin Ping sudah mengumpat sambil
tertawa cekikikan:
"Dasar lelaki tidak tahu malu, masa memaksa
gadis muda untuk menanggalkan pakaiannya....."
Sui Leng-kong sendiri meski pikirannya
dipenuhi dengan pelbagai masalah, tidak urung dia ikut tertawa juga
setelah mendengar perkataan itu.
Dalam pada itu irama musik tiba-tiba
berubah, dari alunan yang memanjang berubah jadi irama yang semakin
lembut.
"Kau tidak perlu tergesa-gesa" terdengar
nona berbaju merah itu menyahut sambil tertawa ringan, "sekarang
kami akan mulai telanjang......."
Terlihat dia memutar separuh tubuhnya sambil
menggerakkan jari tangannya yang lentik, mantel sutera yang berada
dipundaknya bagaikan selapis awan berwarna merah melayang ke arah
depan Thiat Tiong-tong.
Jangan dilihat mantel sutera merah itu halus
dan ringan, ketika dilempar dari tangannya segera terdengar suara
deruan angin tajam yang memekikkan telinga.
Kehebatan daya serangannya ternyata tidak
berada dibawah kemampuan sebilah senjata yang amat lihay.
Thiat Tiong-tong tidak berani berayal, cepat
dia menggerakkan tubuhnya untuk menghindar.
Waktu itu seorang nona berbaju kuning tua
telah melepaskan gaun pendeknya dan dilontarkan ke arah tubuhnya.
Diantara kibaran kain, tampak ujung gaun itu
mengancam jalan darah Ciang bun hiat di iga Thiat Tiong-tong, bukan
saja ilmu Huat hiat jiu hoat yang digunakan jarang dijumpai
dalam dunia persilatan, ketepatannya mengarah sasaran pun sangat
mengerikan.
Dalam kagetnya cepat Thiat Tiong-tong maju
selangkah sambil menekuk pinggang.
Suara tertawa cekikikan kembali
berkumandang dari belakang tubuhnya, selembar selendang hijau
dengan membawa desingan angin tajam telah mengancam Ming bun hiat di
tulang belakangnya.
Setelah bertarung tiga gebrakan, Thiat
Tiong-tong mulai sadar bahwa setiap gerakan nona-nona itu ketika
menanggalkan pakaiannya ternyata mengandung jurus serangan yang
sangat lihay.
Sekalipun setiap gerakan yang mereka lakukan
sangat halus, lembut, hangat dan penuh godaan, namun perubahan jurus
serangan yang digunakan susah ditebak arah sasarannya bahkan kerja
sama ke tujuh orang itu boleh dibilang sangat rapat bagaikan jaring
langit, jurus demi jurus dilancarkan secara berangkai dan tiada
putusnya, boleh dibilang mereka sama sekali tidak memberi kesempatan
kepada lawan untuk berganti napas.
Bukan hanya begitu, irama musik yang
dipadukan dengan gerak tarian esotik cukup membuat perasaan setiap
lelaki berdebar keras, gampang menimbulkan rangsangan yang membuat
pikiran jadi kalut.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut, keheranan
bercampur ngeri, meskipun dengan sekuat tenaga dia masih mampu
mempertahankan diri, namun belasan gebrakan kemudian peluh sudah
mulai membasahi punggungnya, gerak serangan yang dilancarkan pun
mulai bertambah sulit.
Perlu diketahui, jurus serangan yang
dilancarkan berdasarkan gerakan menanggalkan pakaian boleh dibilang
merupakan gerak serangan yang aneh dan tidak pernah dijumpai dalam
dunia persilatan, apalagi menggunakan pakaian sebagai pengganti
senjata, hal ini cukup membuat orang kerepotan dibuatnya.
Apalagi ketika ditambah dengan irama musik
serta tarian esotik yang gampang bikin pikiran jadi kalut, boleh
dibilang ilmu barisan bidadari telanjang ini merupakan sebuah ilmu
barisan yang sangat mematikan.
Sui Leng-kong yang menonton jalannya
pertarungan dari sisi arena pun diam-diam mulai tercekat perasaan
hatinya.
Terdengar manusia aneh itu berseru sambil
tertawa:
"Coba kalian saksikan ilmu barisan tujuh
bidadariku, pantas bukan disebut sebagai barisan nomor wahid
dikolong langit!"
Yin Ping menghela napas panjang.
"Aaaai, ilmu barisan lain meski ada yang
sangat lihay namun kalah uniknya dibandingkan ilmu barisan, biarpun
ada yang unik namun tidak ada yang menggetarkan sukma seperti
kawanan gadis muda itu. Selama mengembara di dalam dunia persilatan,
pelbagai macam ilmu barisan telah kujumpai namun jarang ada yang
selihay, seaneh, seunik dan sedemikian merangsang hati orang seperti
saat ini. Aaaai, harus diakui ilmu barisan ini sangat tangguh dan
mungkin hanya keluarga mu yang mampu menciptakan ilmu barisan
semacam ini"
Dengan penuh kebanggaan manusia aneh itu
tertawa terbahak bahak.
"Hahahaha.....tontonan hebat masih berada di
belakang, tunggu saja saatnya nanti"
Dalam pada itu irama musik kembali berubah,
kali ini iramanya mirip sekali dengan dengusan serta desisan seorang
wanita yang hampir mencapai orgasme.
Senyuman yang menghiasi kawanan gadis cantik
itu kelihatan semakin menggoda, pakaian yang dikenakan pun sudah
sebagian di tanggalkan, ada yang tampak pahanya yang
putih, ada yang kelihatan lengannya yang mulus, ada pula yang
kelihatan sebagian payudaranya yang montok dan merangsang, bahkan
ada pula yang gaunnya sudah turun dibawah perut.........
Sebagaimana diketahui, warna pakaian yang
mereka kenakan sama sekali berbeda, cara mereka menanggalkan pakaian
pun berbeda, itulah sebabnya jurus serangan yang digunakan pun
terdiri dari aneka ragam cara, tapi semua jurus serangan yang
digunakan boleh dibilang ampuh dan mematikan.
Thiat Tiong-tong telah mengerahkan segenap
kemampuannya untuk menyelamatkan diri, angin pukulan yang menderu
serta gerak serangan yang aneh telah dia gunakan namun masih terasa
sulit untuk menanggulangi ancaman yang tiba.
Mendadak terdengar si nona berbaju kuning
muda berseru sambil tertawa:
"Coba lihat, indah bukan paha ku?"
Diantara gerakan jari tangannya yang lentik,
ikat pinggangnya sudah dilepas dan gaun panjang yang dikenakan pun
mulai terlepas ke bawah.
Kemudian kaki kanannya menggaet ke samping,
tahu-tahu paha putihnya sudah melayang kemuka melancarkan
serangkaian tendangan berantai.
Dengan jurus burung belibis terbang bersama,
dia tendang pinggang Thiat Tiong-tong, karena harus mengangkat
tinggi kakinya, otomatis bagian tubuhnya yang paling rahasia pun
terlihat dengan jelas.
Kontan Thiat Tiong-tong merasakan
jantungnya berdebar keras, ketika melihat datangnya tendangan
berikut, karena merasa tidak sanggup menghadapinya, cepat dia
melompat mundur ke belakang.
"Hahahaha....... kau tetap terkena tendangan
ku!" seru nona berbaju kuning itu sambil tertawa.
Sepatunya ditendangkan keras-keras ke depan,
diiringi desingan angin tajam, benda itu meluncur keluar bagaikan
sambitan sebuah senjata rahasia.
Jurus serangan ini sangat tangguh, siapa pun
tidak akan berpikir sampai ke situ.
Waktu itu tubuh Thiat Tiong-tong masih
berada ditengah udara, ketika melihat ada empat buah sepatu
menyergap tiba dari arah belakang dengan membawa desingan angin
tajam, cepat dia rentangkan lengan sambil melepaskan tendangan,
maksudnya dua buah sepatu yang datang paling duluan hendak
dirontokkan terlebih dulu.
Siapa sangka sepatu itu meluncur datang
dengan ketepatan yang luar biasa, sedikitpun tidak kalah dengan
kehebatan senjata rahasia, tahu-tahu dua buah sepatu yang berada
dibelakang meluncur lebih cepat, mendahului sepatu sebelumnya dan
menghantam sepasang lutut anak muda itu.
Kejadian ini sama sekali diluar dugaan Thiat
Tiong-tong, melihat tidak ada tempat lagi untuk berkelit, cepat
tubuhnya berjumpalitan di udara kemudian meluncur turun ke bawah,
sambil pejamkan mata dia lontarkan sepasang kepalan-nya ke depan.
Anak muda ini merasa tidak tega untuk
menyaksikan bagian tubuh terlarang dari si nona yang kelihatan
sewaktu melontarkan tendangan, itulah sebabnya dia melancarkan
serangan sambil pejamkan mata, tapi angin pukulan yang menderu
memaksanya mau tidak mau harus mundur.
"Jurus serangan bagus!" puji Yin Ping sambil
bertepuk tangan.
"Belum tentu bagus sekali" tukas manusia
aneh itu cepat, "bagaimana menurutmu Sui Siau-moay?"
Saat itu Sui Leng-kong sudah dibuat
berkunang matanya oleh gerak serangan kawanan gadis itu, jangan lagi
menjawab, belum tentu dia mendengar pertanyaan itu.
Seorang nona berbaju ungu tiba-tiba
mengangkat kakinya, gaun panjangnya yang lebar segera tersingkap
lebar hingga tertinggal celana ketatnya berwarna hijau muda serta
sebuah kaos tipis yang membalut paha mulusnya.
Waktu itu kelima ujung jari kirinya yang
tajam sudah ditusukkan ke dalam kaos sementara tangan kanannya
memegang ujung yang lain, begitu ditarik diapun meloloskan kaos kaki
tadi kemudian disabetkan ke muka.
Bagaikan sebuah cambuk panjang, kaos itu
meluncur ke depan dan menghajar wajah Thiat Tiong-tong, serunya
sambil tertawa merdu:
"Coba kau endus bau kaos kakiku!"
Menggunakan kesempatan itu kakinya
melancarkan japitan dari atas dan bawah, hebatnya luar biasa.
Thiat Tiong-tong benar-benar dibuat menangis
tidak bisa tertawapun tidak dapat, mana mungkin dia berani
menghadapi jurus serangan semacam itu.
Belum sempat bertindak sesuatu, dari arah
belakang kembali terdengar seseorang berseru sambil tertawa:
"Kalau kau segan mengendus miliknya,
coba-lah mengendus milikku ini!"
Betul saja, lagi lagi selembar kaos kaki
berwarna hijau muda meluncur tiba bagaikan sebuah bianglala.
Biar keteter hebat dan terjerumus ke dalam
kondisi yang berbahaya, Thiat Tiong-tong sama sekali tidak panik,
dengan satu lompatan kilat dia menerobos kemuka dan meloloskan diri
dari datangnya ancaman.
Sebenarnya diapun bisa menggunakan
kesempatan itu untuk melancarkan serangan, meski belum tentu akan
melukai lawan, paling tidak bisa meringankan beban tekanan yang
datang.
Siapa sangka begitu sorot matanya terbentur
dengan sepasang paha yang putih mulut iu, kembali hatinya ragu,
jurus serangan yang sudah dipersiapkan pun tidak sanggup lagi
dilanjutkan.
Sementara itu gaun baju si nona berbaju
merah yang berada dihadapannya telah ditanggalkan semua, kini dia
hanya mengenakan selembar pakaian dalam yang tipis dan berwarna
merah menyala, warna merah yang amat kontras dengan kulit tubuhnya
yang putih.
Tidak jelas dengan cara apa nona itu
melepaskan pakaian dalamnya yang ketat, yang pasti dengan jurus
serangan yang ampuh pakaian dalam itu langsung menggulung ke atas
kepala pemuda itu.
Tanpa berpikir panjang Thiat Tiong-tong
melontarkan sepasang kepalannya ke depan, dengan jurus Hek hau
tau sim (macan hitam mencuri hati) dia hantam dada lawan.
Rupanya setelah melancarkan serangannya
tadi, pertahanan didepan dada nona berbaju merah itu terbuka lebar,
satu kesempatan baik baginya untuk merobohkan lawan.
Jurus serangan macan hitam mencuri hati pun
merupakan sebuah gerakan yang mengubah posisi menyerang jadi
bertahan, sebuah gerakan yang paling pas untuk memunahkan datangnya
ancaman.
Tapi baru saja jurus serangan itu
dilontarkan, pemuda itu segera merasa gelagat tidak benar, ternyata
dada nona itu sudah berada dalam keadaan bugil, Thiat Tiong-tong
hanya merasakan matanya berkunang, terutama setelah menyaksikan
sepasang payudara si nona yang montok merangsang, serangannya tidak
lagi mampu dilanjutkan.
Semua kejadian itu berlangsung dalam waktu
singkat, begitu dia lengah tahu-tahu sepasang lengannya berhasil
digapit lawan.
Nona bebaju merah itu tertawa cekikikan,
pakaian dalamnya langsung dikerudungkan keatas kepala Thiat
Tiong-tong, sementara ke sepuluh jari tangannya mulai melepaskan
kancing pakaian pemuda itu.
Terkejut bercampur gusar Thiat Tiong-tong
berusaha meronta, siapa tahu jalan darah Ci ti hiat dikedua belah
ketiaknya sudah tertotok, kontan seluruh tubuhnya tidak mampu
bergerak lagi.
Menyaksikan kesudahan pertarungan itu,
manusia aneh itu tertawa terbahak-bahak, serunya:
"Budak sekalian, jangan robek pakaiannya,
mengerti? Kalian mesti melucutinya satu per satu, dengan begitu baru
akan tampak kehebatan dari ilmu barisan tujuh bidadari"
"Kalau mesti merobek pakaiannya, kenapa
mesti menunggu sampai sekarang?" sahut nona berbaju merah itu sambil
tertawa, "hey, tidak usah kuatir, kami tidak bakal merusak sebuah
kancing baju mu pun!"
Baru selesai dia bicara, pakaian atas Thiat
Tiong-tong telah dilucuti olehnya, hal ini membuat pemuda itu
berdiri kaku.
Dia mencoba memperhatikan sekeliling tempat
itu, tampak kawanan gadis cantik yang mengelilingi tubuhnya sedang
memandang sambil tertawa, meskipun sebagian sudah memperlihatkan
kaki dan tangan mereka yang putih mulus, namun tidak seorangpun
diantara mereka yang sudah berada dalam keadaan bugil, hal ini
membuktikan bahwa dialah yang telah menderita kekalahan.
Terdengar si nona berbaju kuning muda yang
berada disamping kanannya menegur sambil tertawa:
"Apa yang kau perhatikan? Kalau ingin
menyalahkan, salahkan diri sendiri, coba kalau bisa bertahan
sebentar saja, niscaya kami......kami....."
"Hey budak cilik1 si nona berbaju hijau muda
yang berada disisinya segera menyela, "kalau ingin bicara, cepatlah
bicara, kenapa mesti malu malu kucing?"
Nona berbaju kuning muda itu segera tertawa
cekikikan.
"Coba kalau kau bisa bertahan sebentar lagi,
sudah pasti mata mu akan kenyang melihat pemandangan indah, tahu?"
Sambil berkata dia membusungkan dadanya yang
montok.
Cepat-cepat Thiat Tiong-tong memejamkan
matanya, entah karena malu atau merasa masgul.
Sementara itu si nona berbaju merah telah
berseru sembari mengibarkan pakaian atas yang dikenakan Thiat
Tiong-tong:
“Pakaian orang lelaki memang selalu bau, bau
keringat, bau kelakian, siapa diantara kalian yang mau........."
Belum selesai dia bicara, sesosok bayangan
manusia telah melesat ke tengah udara dan meluncur ke depan
dengan gerakan indah, orang itu tidak lain adalah Sui Leng-kong.
Nona itu berdiri dengan wajah murung
bercampur sedih, namun sinar matanya memancarkan cahaya kegusaran,
hardiknya:
"Bawa kemari!"
Sambil berbicara dia merebut pakaian yang
berada ditangan gadis berbaju merah itu.
Cepat si nona menarik tangannya sambil
menyembunyikan pakaian itu ke belakang tubuhnya, setelah mundur dua
langkah, serunya:
"Cisss, tidak tahu malu, pakaian ini toh
bukan milikmu, kenapa kau yang berusaha merebutnya!"
"Bawa.....bawa kemari baju itu!"
Gadis ini memang tidak terbiasa ribut dengan
orang lain, kini saking jengkelnya dia sampai tidak mampu
berkata-kata, wajahnya yang semula putih pucat kini berubah jadi
merah dadu, tapi justru menambah kecantikan wajah-nya.
Untuk berapa saat manusia aneh itu hanya
bisa mengawasi dengan wajah kesemsem.
Terdengar nona berbaju merah itu berkata
lagi:
"Huuuh, apa gunanya pakaian bau ini bagi
kami? Tapi kalau kau menginginkan, aku justru sengaja tidak mau
serahkan kepadamu, bukan begitu adik adikku?"
Sejak awal kawanan gadis cantik itu memang
sudah merasa cemburu kepada Sui Leng-kong yang dianggapnya telah
merebut perhatian serta kasih sayang manusia aneh itu terhadap
mereka, kontan saja semua orang bertepuk tangan sambil bersorak:
"Betul, betul, jangan berikan kepadanya!"
Sui Leng-kong menggigit ujung bibirnya
menahan rasa mendongkol, tanpa terasa air mata berlinang membasahi
pipinya.
Melihat lawannya menangis, kawanan gadis
cantik itu semakin gembira, teriaknya lagi:
"Hooree, coba lihat, dia mulai menangis.
Toaci, coba lihat, dia menangis begitu sedih, kasihanilah dia,
berikan saja baju bau itu!"
"Waah, tidak nyana wajah bulat telurnya
nampak semakin cantik waktu menangis" seru nona berbaju merah itu
sambil tertawa, "sayang aku bukan lelaki, kau semakin manja, aku
semakin tidak akan mengembalikan kepadamu!"
Sui Leng-kong berdiri termangu ditempat
dengan kepala tertunduk semakin rendah, dia nampak amat mengenaskan.
Sedih bercampur kasihan segera menyelimuti
perasaan hati Thiat Tiong-tong, sambil menghela napas pikirnya:
"Leng-kong kelewat lemah dan lembut, tidak
heran banyak orang ingin menganiaya dirinya!"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat,
tiba-tiba....."Plook, plook, plook!" terdengar tiga kali suara
tepukan bergema memecahkan keheningan.
Ternyata Sui Leng-kong dengan kecepatan
bagaikan hembusan angin telah menghadiahkan masing-masing satu
tamparan ke wajah nona berbaju merah, kuning muda dan hijau itu,
tamparan yang muncul secara tiba-tiba dan diluar dugaan membuat
kawanan gadis cantik itu berdiri tertegun.
"Tamparan yang
bagus......tamparan yang bagus!" puji manusia aneh itu sambil
tertawa tergelak.
Sembari membesut air matanya, Sui Leng-kong
kembali berteriak keras:
"Letakkan pakaian itu dan keluar!"
Mimpi pun kawanan gadis cantik itu tidak
menyangka kalau si nona yang kelihatan lemah lembut itu tiba-tiba
berubah jadi begitu galak dan buas, untuk sesaat mereka hanya
berdiri saling berpandangan dengan wajah tertegun.
Thiat Tiong-tong merasa terkejut bercampur
girang, pikirnya lagi:
"Cepat amat Leng-kong berubah, berubah jadi
amat tegar!"
Mana di tahu kalau Sui Leng-kong sebenarnya
berwatak keras dan sangat ulet, kalau bukan begitu, mana dia tahan
hidup seorang diri di dasar lembah yang gersang dan penuh
penderitaan.
Hanya saja sejak kecil dia sudah terlatih
bisa menyembunyikan watak pemberontaknya sehingga sekilas pandang
dia nampak sangat lemah dan penurut, andaikata orang lain tidak
mendesaknya hingga terpojok, tidak mungkin dia akan memperlihatkan
watak pemberontaknya itu.
Mendadak dia pungut gaun merah dan hijau
yang tergeletak ditanah lalu tanpa hujan tanpa angin langsung
ditimpukkan ke wajah kawanan gadis itu.
Terkejut bercampur panik kawanan nona cantik
itu segera berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri, dalam
waktu singkat suasana menjadi amat gaduh.
Sambil lari menuju ke depan pintu, nona
berbaju merah itu tiba-tiba berpaling seraya berseru:
"Siapa yang kesudian dengan baju bau, nih,
ambil kembali!"
Dari kejauhan dia timpuk pakaian itu ke
arahnya.
Begitu Sui Leng-kong menyambar pakaian
tersebut, manusia aneh itu sudah berseru pula sambil tertawa
terbahak-bahak:
“Bagus, bagus sekali, tidak nyana segerombol
kucing liar berhasil ditaklukan oleh seekor kelinci kecil"
"Hahahaha.... kelihatannya tidak gampang
bagi seekor luwak untuk mencicipi daging kelinci!" sindir Yin Ping
sambil tertawa terkekeh.
"Yaa, kalau aku luwak maka kau adalah
siluman rase" sambung manusia aneh itu sambil tergelak pula.
Sui Leng-kong seolah tidak mendengar
pembicaraan mereka, setelah termangu berapa saat, dia baru berjalan
menghampiri Thiat Tiong-tong sambil berbisik:
"Ini.... ini pakaianmu, kenakanlah!"
Thiat Tiong-tong tahu gadis itu harus
mengalami penghinaan gara-gara dirinya, dia tidak tahu harus merasa
manis atau getir, sahutnya sambil menerima kembali pakaiannya:
"Baik.....akan kukenakan"
"Dalam tujuh hari mendatang......."
"Dalam tujuh hari mendatang aku harus
mencoba mempelajari semua yang ada disana, selama dia sanggup
belajar memecahkan barisan itu dalam tujuh hari, akupun pasti
sanggup melakukan hal yang sama"
Kemudian selesai mengenakan kembali
pakaiannya, dia melanjutkan:
"Mereka tidak bakal mampu melucuti kembali
pakaianku ini"
Sui Leng-kong mengawasinya tanpa berkedip,
meskipun tidak berkata namun sorot matanya dipenuhi dengan pancaran
sinar mesra dan rasa cinta, selain itu dia pun menaruh kepercayaan
penuh terhadap pemuda itu.
Yin Ping melirik manusia aneh itu sekejap,
kemudian sambil sengaja menghela napas panjang gumamnya:
"Benar-benar pasangan yang serasi, yang
lelaki tampan yang wanita cantik, mereka memang pantas hidup
berpasangan......."
Sambil membopong Ping-nu, kucing
kesayangannya dia berjalan keluar meninggalkan tempat itu.
Manusia aneh itu mendengus dingin, katanya:
"Dalam tujuh hari mendatang, walaupun kau
boleh mempelajari cara memecahkan ilmu barisan, namun dilarang
meninggalkan ruangan ini walau selangkah pun"
"Tujuh hari mendatang merupakan waktu yang
amat berharga bagiku" jawab Thiat Tiong-tong, "biar kau menggunakan
tandu besar yang digotong delapan orang pun, tidak mungkin aku
tinggalkan ruangan ini barang selangkah pun"
"Benar" sambung Sui Leng-kong pula, "akupun
tidak akan mengganggumu, kau..... kau harus pelajari secara seksama!"
Selesai bicara, gadis itu membalikkan tubuh
dan beranjak pergi dari situ, namun ketika tiba dipintu depan, tidak
tahan dia berpaling lagi.
Sambil tertawa dingin manusia aneh itu
berkata:
"Hmmm, dia begitu mencintai dirimu, kalau
aku tidak memberi sedikit siksaan kepadamu, kau tidak akan bisa
memahami perasaan hatinya"
"Ketika cianpwee sedang menyiksa aku, dapat
dipastikan kau sedang merasa cemburu bukan?" ejek Thiat Tiong-tong
sambil tertawa.
"Hahahaha.....tepat sekali, tepat sekali,
jika aku tidak cemburu, kenapa mesti menyiksa dirimu"
Ditengah gelak tertawa, dia meninggalkan
ruangan itu.
"Siksaan apa?" tanya Sui Leng-kong yang
berdiri didepan pintu terperanjat.
Manusia aneh itu tidak menjawab, dia hanya
bersenandung:
"Kalau ingin menjadi malaikat, latihlah
otot dan tulang dengan keletihan, latihlah ketahanan tubuh dengan
lapar.........."
Suaranya makin lama semakin jauh dan
akhirnya bersama Sui Leng-kong lenyap dari pandangan mata.