pendekar panji sakti 02

Disudut gua terdapat sebuah tempat air yang menampung butiran air yang menetes keluar dari celah dinding gua, setetes demi setetes jatuh ke dalam kolam dan menimbulkan suara dentingan yang memecahkan keheningan.

Disamping kolam penampung air terdapat sebuah anglo yang terbuat dari batu.

Dibawah sorot cahaya yang lemah, diatas sebuah pembaringan beralaskan ilalang kering, duduk bersila seorang perempuan kurus kering berambut putih yang mengenakan baju dari bahan goni.

Perempuan itu kurus sekali hingga tinggal kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya tinggi, sepasang matanya jembung kedalam lagi lebar dan meman-carkan sinar buas bagai mata hewan liar.

Saat itu dengan sinar matanya yang menye­ramkan sedang mengawasi Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, seolah olah setan jahat dari dalam neraka yang tiba-tiba menjumpai mangsa.

Yang paling menakutkan adalah perasaan benci, dendam dan buas yang terpancar dari balik matanya yang menyeramkan.

"Dari mana datangnya orang itu?" tiba-tiba dia membentak keras.

Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tidak mengira kalau dari tubuh yang kurus kering bisa terpancar suara bentakan yang begitu nyaring bagai suara guntur yang membelah bumi, seluruh ruang gua serasa bergetar keras.

Sui Leng-kong sangat ketakutan, dengan tubuh menggigil keras jawabnya tergagap:

"Dia.....dia....daa....datang da.....dari aa.....atas bu..... bukit........."

Pada dasarnya dia memang gagap, ditambah lagi rasa takutnya ketika berhadapan dengan perem­puan tua itu, perkataannya semakin kedengaran gagap hingga tidak jelas suaranya, walaupun seluruh tubuh sudah basah oleh keringat, tidak sepatah katapun sanggup diutarakan.

Kembali  Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya:

"Tidak kusangka dia begitu ketakutan terhadap ibunya sendiri, tidak aneh jika gagapnya susah disembuhkan"

Berikir sampai disitu  dia segera melompat bangun dan berkata:

"Dalam keadaan terluka parah cayhe terjatuh dari atas tebing, berkat pertolongan dari nona inilah nyawaku baru berhasil terselamatkan"

"Siapa kau? Kenapa bisa terluka?"

"Aku bernama Tong Tiong, sedang dikejar-kejar musuh, karena tidak mampu melawan keru­butan....."

"Tong Tiong? Apakah kau berasal dari keluarga Tong di Suchuan? Siapa musuh musuhmu itu?"

Cepat-cepat Thiat Tiong-tong menyangkal: "Cayhe berasal dari perguruan Heng gi bun, musuh besarku adalah perkumpulan lima racun dari sebelah barat sungai besar"

Dalam dugaannya nenek ini sudah kelewat lama terjebak didasar jurang hingga tidak mungkin mendengar kabar berita tentang dunia persilatan, oleh sebab itu dia sengaja mengarang sebuah nama perkumpulan serta asal usul palsu bagi dirinya.

Dengan sorot mata yang tajam kembali nenek berambut putih itu mengawasi wajahnya, kemudian tanyanya lagi:

"Setelah berada disini, apa rencanamu selanjutnya? Coba kau terangkan kepadaku"

"Cayhe sudah terluka parah oleh kerubutan musuh bebuyutan, sekalipun ada rencana, itupun mesti ditunggu sampai lukaku sembuh"

Baru selesai ia berkata, nenek berambut putih itu sudah tertawa seram.

"Hahahaha.... rangsum yang tersedia disini tidak cukup untuk konsumsi kami berdua, air bersih disinipun tidak ternilai harganya, mana ada tempat bagimu untuk merawat luka? Hmm, jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat, sementara paras muka Sui Leng-kong pun berubah hebat.

Tiba tiba dia melompat ke depan dan mengha­dang didepan tubuh anak muda itu.

"Bee...berikan ja....jatahku ke..kepadanya...” Gadis ini sangat polos dan berhati mulia, tidak ada pikiran atau prasangka apapun dalam benaknya, dia hanya tahu, karena dia yang menolong bocah lelaki itu maka menjadi kewajibannya untuk melindungi keselamatan orang itu.

Nenek berambut putih itu segera tertawa dingin, bentaknya:

"Jadi kau hendak menyerahkan jatah makanan dan air bersihmu untuk dia?"

Dengan mata melotot besar Sui Leng-kong manggut-manggut.

Nanek itu segera menggebrak dinding gua keras keras, hardiknya penuh amarah:

"Lantas bagaimana dengan kau sendiri?"

"Aku.....aku.... tidak jadi soal"

Belum selesai dia bicara, nenek berambut putih itu sudah meluncur dari atas ranjangnya dan secepat kilat menampar wajah Sui Leng-kong dua kali, begitu selesai menampar, dia melayang balik ke asal tempatnya.

Sui Leng-kong tetap berdiri tidak bergerak, dia berdiri dengan kepala tertunduk.

"Bagus sekali" umpat nenek berambut putih itu, "kau tidak makan tidak minum, apakah rela mati kehausan, mati kelaparan demi orang itu? Lantas bagaimana dengan aku si nenek tua yang cacad ini?"

Ternyata nenek tua yang kurus kering ini cacad kedua belah kakinya.

Tiba-tiba nenek berambut putih itu berpaling, dengan sinar mata yang menyeramkan dia tatap wajah Thiat Tiong-tong tanpa berkedip.

"Putriku rela memberikan rangsum dan air minumnya untukmu, dia rela mati kelaparan demi kau, sudah dengar pernyataannya?"

"Maksud baik nona Sui membuat hatiku sangat terharu, tapi sayang aku tidak dapat menerima kebaikan ini"

"Kalau memang tidak mau menerima, lebih baik cepatlah pergi mampus!"

Sui Leng-kong segera menjerit keras: "Ibu, kau.... kau begitu te....tega......."

"Kenapa aku mesti tidak tega?" sahut nenek itu gusar, "banyak kejadian didunia ini saudara saling membunuh, mertua menantu saling membantai, lagipula aku tidak kenal dengan dia, apa urusannya jika dia mati atau tidak?"

Perasaan takut menyelimuti wajah Sui Leng­kong, baru saja hendak mengucapkan sesuatu, Thiat Tiong-tong sudah berteriak keras:

"Luka yang kuderita tidak terlampau parah, paling juga hanya kelelahan, asal beristirahat dua hari saja kekuatanku sudah pulih kembali, sampai waktunya aku pasti akan berusaha mencarikan bahan makanan dan air bersih dan membayar dobel untuk membalas budi kebaikan cianpwee"

"Membayar dobel? Enak benar kalau bicara, memangnya gampang mencari bahan makanan dan air bersih disini?? Hmm, ketahuilah semua bahan makanan dan air jauh lebih berharga daripada emas ditempat ini" kata perempuan tua itu, "makanan masih agak mending, khususnya air.....air.....coba kau lihat, air disinipun hanya keluar setetes demi setetes......"

Kemudian sambil menuding bak penampungan air itu katanya lagi:

"Kecuali tempat ini, dilain tempat tidak akan ditemukan air, memangnya air sejumlah itu cukup untuk menghidupi tiga orang?"

Air yang menetes ke dalam bak penampungan itu memang teramat minim, bahkan jauh lebih sedikit daripada lelehan air mata.

"Bagaimana dengan air hujan?"

"Disini tidak ada air hujan"

Sambil menghela napas Thiat Tiong-tong melirik Sui Leng-kong sekejap, sekarang dia baru tahu kenapa gadis itu tampak begitu dekil.

"Kalau memang begitu, yaa sudahlah!"

Sui Leng-kong segera berteriak keras:

"Ibu.....berikan.... berikanlah air.... air bekas....bekas cuci muka mu...... berikan... berikan sedikit sa....saja......."

"Kurangajar, dasar budak sialan" nenek berambut putih itu semakin naik pitam, "kau suruh lonio tidak cuci muka, kau suruh aku berikan air itu untuk bocah busuk itu? Kau.... kau budak busuk yang tidak berbakti, sejak kapan kau meniru watak bapakmu, demi ibunya, rela menyuruh bininya pergi mampus!"

Pada saat itulah satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, dia seakan menyaksikan sosok tubuh seseorang, maka tanpa berpikir panjang lagi bentaknya nyaring:

"Seng toako, perbuatanmu itu salah besar!"

Benar saja, nenek berambut putih itu kelihatan sangat terperanjat, tanyanya dengan suara gemetar:

"Apa kau bilang?"

Diam-diam Thiat Tiong-tong kegirangan, dia tahu tebakannya tidak meleset, maka sambil sengaja menggelengkan kepalanya ia menyahut:

"Aaah, tidak apa apa....."

"Mau bicara tidak?"

"Aku hanya menebak secara sembarangan, mungkin saja tebakanku keliru besar"

"Cepat katakan, benar atau salah tidak masalah"

"Tapi mulutku kering, mungkin tidak mampu lagi berbicara"

"Air, berikan air kepadanya!"

Dengan perasaan kaget bercampur keheranan Sui Leng-kong mengawasi pemuda itu, dia tidak habis mengerti kenapa hanya dengan sepatah kata saja pemuda itu berhasil menggerakkan hati ibunya.

Dia mendekati tandon air, mengambil segayung air dan diserahkan kepada Thiat Tiong-tong.

"Nona Sui, kau minum duluan" ujar Thiat Tiong-tong sambil tersenyum.

Sui Leng-kong tertegun, dia segera menoleh memandang ibunya.

"Diminum!" bentak nenek itu keras.

Sui Leng-kong segera meneguk habis air itu, kemudian mengambil segayung lagi dan diserahkan kepada Thiat Tiong-tong, meskipun mulutnya tidak berkata apa-apa, namun dari pancaran sinar matanya terlihat jelas rasa cinta dan sayangnya yang kental.

Menanti Thiat Tiong-tong selesai menghabiskan air itu, nenek berambut putih itu segera berkata lagi:

"Berikan sedikit makanan kepadanya, daripada dia menuntut yang bukan-bukan"

Selesai menghabiskan rangsum yang diberikan kepadanya, Thiat Tiong-tong merasa semangatnya kembali berkobar.

"Sekarang tentunya kau boleh mulai berbicara bukan?" kata nenek itu sambil menatapnya tajam.

"Sebenarnya watak cianpwee halus dan lembut, tapi sekarang berubah jadi begini rupa, aku percaya dalam berapa tahun terakhir pasti telah mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan hati"

"Darimana kau bisa mengetahui masa silam­ku?"

"Sekalipun aku hanya menduga, tapi......."

"Menduga? Terus-terangan saja, apakah kau diutus si nenek itu untuk melacak jejak kami berdua?"

Suaranya keras bagai geledek, membuat gendang telinga terasa sakit.

Nada pembicaraan Thiat Tiong-tong sama sekali tidak berubah, lanjutnya:

"Apakah si nenek yang cianpwee maksudkan adalah Seng Toa-nio?"

Kembali paras muka nenek berambut putih itu berubah hebat.

"Sebenarnya siapa kau?"

Begitu mendengar nama "Seng Toa-nio” disinggung, dia seakan merasa ngeri, takut dan seram, sedemikian ketakutannya sampai sekujur tubuhnya mulai gemetar keras.

"Cianpwee tidak usah kuatir" hibur Thiat Tiong-tong lagi, "aku pun terhitung musuh bebuyutan dari Seng Toa-nio, bahkan sangat menaruh simpatik atas musibah yang telah cianpwee alami"

"Musibah apa yang kualami? Darimana kau tahu kalau aku pernah mengalami musibah?"

"Dimasa lalu, dalam dunia persilatan hidup seorang pendekar wanita yang tersohor namanya di dunia persilatan, tentunya cianpwee bernama Ji cing jiu (si tangan lembut penuh perasaan) Sui Ji-song bukan?"

Sekali lagi sekujur tubuh nenek berambut putih itu bergetar keras:

"Sui Ji-song......Sui Ji-song........"gumamnya.

Tiba-tiba dia tekan sepasang tangannya ke atas ranjang dan tubuhnya langsung melayang ke tengah udara.

Thiat Tiong-tong hanya merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu kerah bajunya sudah dicengkeram nenek itu.

Sui Leng-kong tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan, wajahnya berubah hebat setelah menyaksikan ibunya mencengkeram baju anak muda itu, jeritnya dengan suara gemetar:

"Ibu, kau.....kau..........."

Saking terkesiapnya dia jadi tertegun, berdiri kaku dan sama sekali tidak mampu bergerak.

"Jawab!" terdengar nenek berambut putih itu membentak lagi, "darimana kau bisa tahu kalau aku adalah Sui Ji-song?"

Karena sepasang kakinya tidak mampu bergerak, kini dia sudah duduk bersila ditanah, tapi tenaga pukulannya sungguh mengerikan, dia telah merobek pakaian yang dikenakan pemuda itu, sementara ibu jari, jari tengah dan jari kelingkingnya mencengkeram tulang dada Thiat Tiong-tong kuat-kuat, asal telapak itu sedikit didorong ke depan, niscaya tulang dada pemuda itu akan retak dan patah jadi berapa bagian.

Thiat Tiong-tong masih bersikap sangat tenang, air mukanya sama sekali tidak berubah, katanya:

"Cianpwee jangan kelewat memaksa, sekarang napas cayhe sudah mulai sesak, susah bagiku untuk berbicara"

"Hmmm, kau tahu kalau aku sangat ingin mendengar kisah itu, maka sengaja jual mahal?"

"Aaah, rupanya cianpwee memang pandai sekali"

Dengan jengkel nenek berambut putih itu mengawasinya berapa saat, terakhir dia kendorkan juga cengkeramannya seraya berkata:

"Cepat katakan! Kalau tidak bicara sejelas-jelasnya, jangan salahkan kalau aku akan mencin­cangmu jadi delapan keping"

"Ingat cianpwee, kadangkala disaat perasaan hatiku sedang tidak suka hati, akupun tidak pandai bicara"

Saking jengkelnya, dada si nenek berambut putih itu naik turun dengan hebatnya, jelas dia sedang mengendalikan api amarah yang berkobar dalam dadanya, terpaksa dengan merendahkan suaranya dia berseru:

"Baik,   baik,   bagaimana  kalau  cepat  kau katakan?"

Sui Leng-kong yang mengikuti semua kejadian itu semakin tercengang dibuatnya.

Dia tidak menyangka kalau ibunya suatu saat akan bersikap begitu penyabar terhadap orang lain, bahkan berusaha mengendalikan amarahnya, untuk sesaat timbul perasaan kagumnya terhadap anak muda itu.

Terdengar Thiat Tiong-tong berkata lagi: "Padahal kalau diceritakan pun tidak ada hal yang luar biasa, sejak usia enam belas tahun, jago pedang berhati ungu Seng Cun-hau secara beruntun telah  mengawini  tiga  orang istri,  tapi  secara bergantian semuanya mati. Menurut apa yang dikatakan Seng Toa-nio dalam dunia persilatan, katanya ke tiga orang bini Seng Cun-hau tewas ditangan anggota Perguruan Tay ki bun, mendengar tuduhan tersebut guru teramat gusar bercampur kaget, sebab dia orang tua tahu kalau anak murid Perguruan Tay ki bun belum pernah turun tangan menghabisi nyawa ke tiga orang hujin itu"

Kulit wajah nenek berambut putih itu segera mengejang keras.

"Apakah Chee Lip-san dan Hoa Siang-beng juga tewas dibunuh orang orang Perguruan Tay ki bun?"

"Kehadiran anggota Perguruan Tay ki bun di daratan Tionggoan adalah bertujuan menuntu balas dendam, tapi yang diperoleh selama ini adalal menjadi kambing hitam bagi sekawanan manusi munafik dari dunia persilatan, tampaknya kawanan manusia kurcaci itu tahu kalau Perguruan Tay ki bun yang gagal dengan misinya pasti akan mundur teratur, maka semua persoalan, semua hutang piutang dialihkan semua atas nama Perguruan Tay ki bun" ujar Thiat Tiong-tong, "waktu itu guru sudah menaruh curiga bahwa semua kejadian itu merupakan hasil karya Seng Toa-nio, dia takut menantunya merebut cinta kasih putranya, maka dengan tega telah menghabisi nyawa menantu menantunya, cuma cara turun tangannya licik lagi keji, bukan saja dia berhasil mengelabuhi para jago di kolong langit, bahkan diapun dapat mengelabuhi Seng Cun-hau"

"Kau sangka Seng Cun-hau sama sekali tidak tahu? Dia hanya berlagak pilon, pura-pura tolol"

"Tidak heran kalau sampai sekarang dia belum berani kawin lagi. Aaai! Orang ini memang benar-benar seorang anak berbakti!"

"Ooh, ternyata dia belum kawin lagi......." bisik nenek berambut putih itu sambil menundukkan kepalanya, tiba-tiba hardiknya lagi, "darimana kau bisa tahu kalau aku adalah Sui Ji-song?"

"Pertama karena nona ini bermarga Sui, ke dua karena aku lihat cianpwee pernah menderita kesedihan yang luar biasa, maka barusan akupun mencoba meneriakkan kata 'Seng toako', ternyata paras muka cianpwee segera berubah, maka akupun tahu jika dugaanku tak meleset, satu-satunya persoalan yang membuatku ragu adalah penampilan cianpwee yang rasanya jauh lebih tua dari usia sebenarnya, tapi kemudian aku pikir penderitaan dan siksaan yang berat terkadang gampang membuat wajah orang jauh lebih tua dari usia sebenarnya, maka akupun yakin jika cianpwee adalah Sui Ji-song, menantu Seng Toa-nio yang telah dicelakai pada dua puluh tahun berselang!"

Diantara remang-remangnya cahaya, tampak Sui Ji-song duduk ditanah bagai sukma gentayangan, wajahnya diliputi perasaan sedih bercampur dendam, tampaknya dia sudah terje­rumus dalam lamunan masa lalunya.

Sui Leng-kong membelalakkan matanya lebar-lebar, sebentar dia memandang wajah Thiat Tiong-tong, sebentar lagi memandang ibunya, akhirnya sambil duduk bersimpuh ditanah gadis itu mulai menangis tersedu-sedu.

Sampai lama, lama kemudian Sui Ji-song baru berkata:

"Tidak kusangka kau amat cerdas dan pandai menganalisa keadaan, kau..... dugaanmu memang benar sekali"

Setelah menggertak gigi menahan  dendam, lanjutnya:

"Dua puluh tahun berselang, lima keluarga besar terlibat dalam pertempuran yang amat seru melawan orang orang Perguruan Tay ki bun, setelah bertarung selama berapa hari akhirnya kami berada diatas angin, tapi saat itu aku sangat lelah, kehabisan tenaga ditambah sedang hamil, maka diam-diam aku minta ijin kepada Seng Toa-nio untuk pulang duluan. Siapa sangka begitu mendengar permintaanku tiba-tiba dia tertawa seram, katanya dia melarang aku melahirkan anak, sebab kejadian ini akan mengalihkan rasa sayang putranya. Baru saja aku merasa terperanjat, dia sudah mendorongku jatuh ke jurang, meski aku tidak sampai tewas tapi sepasang kakiku......."

Sekali lagi kulit wajahnya mengejang keras, mendadak dia menghentikan perkataannya dan duduk  mendelong  dengan  sorot  mata penuh kebencian.

Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Aaai, tidak nyana dalam kondisi yang begitu susah dan tersiksa, cianpwee telah melahirkan seorang putri, boanpwee betul-betul merasa sangat kagum"

"Hmmm, penghidupan yang berat, penuh siksaan akhirnya berlalu juga" kata Sui Ji-song penuh rasa dendam, "sekalipun aku tersiksa hingga berubah jadi begini rupa, tapi......bagaimana pun aku tetap masih hidup!"

Sinar matanya yang penuh kebencian dan perasaan dendam, perlahan-lahan dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong, lanjutnya:

"Waktu itu, keadaanku tidak jauh berbeda dengan kondisimu sekarang, lelah, sedih bahkan menderita luka parah"

Sekulum senyuman keji lambat laun tersungging diwajahnya, satelah menatap wajah pemuda itu, katanya lagi:

"Tapi aku adalah wanita, selain cacad, sedang hamil lagi, kondisiku saat itu jauh lebih mengenaskan daripada kondisimu sekarang, kenyataan aku toh tetap bisa bertahan hidup sampai kini, sementara kau adalah seorang lelaki, masa tidak mampu bertahan?"

"Maksud cianpwee......." Thiat Tiong-tong ter­kesiap.

"Walaupun aku tidak ingin membunuhmu, namun akupun tidak mampu memeliharamu, lebih baik cepatlah menggelinding dari hadapanku, kalau tidak.....hmmm,   hmmm,  jangan  memaksa aku harus turun tangan sendiri!"

Sekali lagi dia tekan lantai dengan lengannya dan melayang baik keatas ranjang, pandangan matanya sama sekali tidak dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong, dia pun tidak membujuk atau menghibur Sui Leng-kong yang masih tertelungkup dilantai sambil menangis.

Thiat Tiong-tong termangu-mangu berapa saat lamanya, dia telah menggunakan seluruh kecerdasan yang dimilikinya berusaha menyentuh perasaan Sui Ji-song, tapi kini dia tahu, harapan itu tidak mungkin bisa terpenuhi.

Sambil mengepal tinjunya dia bangkit berdiri, beranjak dari tempat itu dengan langkah sempo­yongan, tapi baru saja tiba diluar gua, tubuhnya kembali roboh terjungkal ke tanah.

Demi keselamatan jiwanya, dia rela berjuang dengan mengandalkan kekuatan dan kecerdasan yang dimilikinya.

Biar harus tersiksa, biar harus menderita, dia tetap akan memperjuangkannya, dia tidak sudi mengemis, tidak sudi merengek-rengek.

Air bersih dan sedikit ransum yang dimakannya tadi telah memulihkan sedikit kekuatan tubuhnya, tapi setelah berjalan sampai diluar gua, lagi-lagi dia kehabisan tenaga.

Dengan meluruskan ke empat anggota tubuhnya dia berbaring tertelentang diatas tanah, pemuda ini berusaha mengendorkan seluruh syaraf dan otot ditubuhnya kemudian menghimpun semua semangat yang dimilikinya untuk mulai mengatur pernapasan.

Ketika mendongakkan kepala memandang angkasa, dijumpai senja telah menjelang tiba, sebuah arena perjuangan sudah segera akan berlangsung.... perjuangan untuk mempertahan­kan hidup selain sulit dan penuh penderitaan bahkan kejam dan tidak berperasaan.

Dia sadar, sebelum malam yang gelap menjelang tiba, dia harus menemukan sebuah tempat berteduh, dengan begitu baru bisa menghindari serangan ular beracun serta nyamuk-nyamuk beracun.

Setelah matahari tenggelam dibalik gunung, dari permukaan rawa-rawa itu mulai mengeluarkan selapis kabut putih yang baunya sangat busuk.

Dia mencoba mencari ranting-ranting kering yang segera diikatkan pada kakinya, menahan napas dan memilih jalan yang ditempuh secara seksama, sebagai seseorang yang teliti dan berhati hati dia tidak ingin salah melangkah hingga terjerumu s ke dalam rawa rawa tersebut.

Kabut berbau busuk makin lama semakin bertambah tebal, suasana yang semula remang remang kini kian bertambah gelap, lambat laun jalan setapak yang terbentang didepan matapun makin sulit dilihat.

Akhirnya sambil menghela napas Thiat Tiong-tong menjatuhkan diri terduduk ditepi rawa rawa, dia benar-benar kehabisan tenaga, kondisi tubuhnya yang semakin lemah membuat dia tidak mampu mempertahankan dirinya lagi, sekarang dia betul betul sudah tersudut, sudah terpojok pada kondisi yang amat kritis.

Mendadak terasa desingan angin bergema dari belakang tubuhnya, tahu-tahu Sui Leng-kong sudah muncul dihadapannya, tanpa mengucap-kan sepatah kata pun langsung memayang tubuhnya.

Dalam keadaan begini, Thiat Tiong-tong tidak mampu melukiskan bagaimana perasaan hatinya kini, dia hanya bisa berbisik: "Nona Sui, kau......."

Sui Leng-kong gelengkan kepalanya, terpaksa Thiat Tiong-tong membatalkan kembali perkata­annya.

Ketika seseorang yang berada dalam keputus-asaan, mendadak muncul orang yang datang membantunya, gejolak perasaan yang dialami saat itu boleh dibilang sukar diungkap dengan perkataan apapun.

Semula dia mengira Sui Ji-song sudah berubah pikiran, siapa tahu Sui Leng-kong memayangnya menuju ke arah yang lain, melihat itu tidak tahan kembali dia bertanya:

"Kita akan kemana?"

Sui Leng-kong tersenyum, sambil menutupi sepasang mata pemuda itu dia mulai ber­senandung:

"Kupersilahkan kau menebak, kuminta kau berpikir, tapi sayang kau tidak pernah tahu, tidak pernah menyangka, kemana akan kubawa dirimu kini"

Dalam keadaan seperti ini, Thiat Tiong-tong merasa nyanyian itu begitu merdu dan indah, sekarang dia sudah tidak merasa kalau dengan menyanyi untuk menggantikan pembicaraan meru­pakan satu perbuatan yang sangat tolol.

Kini dia merasa tubuhnya sangat ringan, karena Sui Leng-kong telah mengalihkan seluruh berat tubuh ke pundaknya.

Setelah berjalan berapa saat akhirnya Sui Leng­kong membopong tubuhnya, dia masih berjalan sangat ringan dan cepat, kembali nyanyi-nya:

"Jangan melihat, jangan berpikir, akan kubawa kau ke sebuah tempat indah, ke semua tempat nyaman!"

Nyanyan yang ramah bagaikan secangkir air gula yang dituang ke dalam kegetiran perasaan hati Thiat Tiong-tong, tapi diapun merasakan dibalik rasa manis terselip pula rasa tersiksa dan menderita.

Sebab pemuda itu sadar, ditempat yang begini terpencil, gersang dan miskin, tidak mungkin bisa terdapat sebuah teman yang indah dan nyaman, bahkan kinipun dia merasa udara disekelilingnya makin lama makin bertambah lembab, keadaan medan pun makin lama semakin aneh, sampai akhirnya mereka memasuki sebuah gua, gua dengan deruan angin kencang.

Ketika hembusan angin mulai terasa tadi, akhirnya Sui Leng-kong menggeser telapak tangan­nya.

Tapi Thiat Tiong-tong masih belum berani membuka matanya, terdengar Sui Leng-kong bersenandung sambil tertawa:

"Bukalah matamu, tengoklah tempat ini, dimana aku berada?"

Thiat Tiong-tong membuka sepasang matanya, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya amat terperanjat.

Sebab sejauh mata memandang, yang terlihat hanya intan permata, mutu manikam yang bersusun membukit, tidak terhitung jumlahnya.

Setiap sudut gua, setiap ruangan telah dipenuhi oleh berpuluh-puluh batang batu karang yang tingginya sebukit.

Pada batu karang itu penuh bergelantungan manau, zamrud, batu pualam, mutiara serta benda benda berharga lain yang belum pernah dilihat Thiat Tiong-tong sebelumnya.

Disudut gua agak jauh dari tempat mereka berada terdapat sebuah balai agak tinggi yang dilapisi kain sutera, meskipun kain itu sudah kuno namun kelihatan masih indah.

Disampingnya bertumpuk puluhan guci arak wangi yang sama sekali belum dibuka segelnya.

Dalam waktu singkat Thiat Tiong-tong hanya bisa berdiri terbelalak, tidak sepotong perkataan-pun mampu diucapkan.

Dia berdiri dengan mata melotot besar dan mulut melongo, mimpi pun tidak pernah terpikir olehnya kalau didasar jurang yang gersang dan miskin ternyata betul-betul terdapat sebuah tempat bak sorgawi.

Cahaya kegembiraaan dan rasa bangga meman­car dari balik mata Sui Leng-kong, setelah memayang Thiat Tiong-tong menuju ke balai berlapis kain sutera itu, katanya sambil tertawa:

"A.... aneh bukan?"

Lama sekali Thiat Tiong-tong termangu sebelum akhirnya menghela napas panjang:

"Aaai, yaa! Memang aneh sekali!"

Sui Leng-kong tertawa ringan, tiba-tiba dia beranjak keluar dari situ, ternyata dibalik ruang gua berisi barang berharga itu masih terdapat ruang gua lain, ditengah keheningan yang mencekam lamat-lamat dia mendengar suara air yang mengalir.

Dengan termangu Thiat Tiong-tong bersandar diatas balai, saat ini dia hanya merasa apa yang terbentang didepan mata bagaikan sebuah impian, sulit baginya untuk mempercayainya.

Tapi sesaat setelah gejolak perasaan hatinya berhasil ditenangkan kembali, dia pun mulai menganalisa semua kejadian yang telah dialami-nya dan mulai mengambil kesimpulan, pikirnya:

"Tampaknya disinilah Sui Leng-kong mempela­jari ilmu silatnya. Sui Ji-song tentu melarang putrinya belajar silat, sementara Sui Leng-kong sendiri-pun tidak berani membangkang perintah ibunya, maka dia sengaja merahasiakan ilmu silat yang berhasil di pelajarinya dari tempat ini"

Tapi ada persoalan lain yang tidak bisa dipecahkan Thiat Tiong-tong, walau sudah me­meras otak pun sulit baginya untuk menemukan jawaban.

Milik siapakah gua mestika ini? Apakah pemiliknya masih hidup atau sudah mati? Darimana datangnya barang barang berharga itu?

Bagaimana kisahnya hingga Sui Leng-kong ber­hasil menemukan tempat ini?

Sementara dia masih termenung, terdengar Sui Leng-kong telah bersenandung lagi dari ruang gua sebelah depan:

"Cepat kau pejamkan matamu, ada satu hal, aku ingin membuat kau terkejut dah keheranan"

Thiat Tiong-tong tidak tega untuk membang­kang maka dia segera pejamkan sepasang mata­nya...... hanya perasaan kasih yang lembut dapat menggerakkan perasaan hatinya, hanya ungkapan perasaan yang tulus yang bisa meluluhkan kekerasaan hatinya.

Dia merasa bau harum berhembus lewat, menyusul kemudian Sui Leng-kong sudah muncul dihadapannya dan berseru sambil tertawa:

"Sudah!"

Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong membuka matanya, mendadak dia merasa pandangan mata­nya jadi silau.

Ditengah gemerlapnya cahaya intan permata dan mutiara, dihadapannya kini berdiri seorang gadis yang amat cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan.

Ternyata gadis itu telah mengenakan sebuah baju sutera bertahtakan intan permata, dia nampak begitu angun dan cantik, senyuman diwajahnya begitu cerah dan bersinar, membuat Thiat Tiong-tong nyaris tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya.

Dia seolah tidak percaya kalau gadis cantik bak bidadari yang berada dihadapannya sekarang adalah Sui Leng-kong, si gadis yang dekil dan kotor itu.

Kini dia muncul bagaikan sebutir mutiara yang keluar dari balik lumpur, sekalipun keindahannya sudah lama terpendam dibalik kedekilan, namun begitu kotoran disingkirkan, keindahannya segera muncul kembali.

Sementara pemuda itu masih termangu, tampak Sui Leng-kong sudah memutar tubuhnya berulang kali dihadapannya sambil bertanya:

"Dii.....dibandingkan o....orang lain, can.....cantik­kah a.....aku?"

"Apakah kau tidak mengetahuinya?" Thiat Tiong-tong balik bertanya sambil menghela napas panjang.

Sui Leng-kong menggeleng.

"Waa.... wajahku se.... sekarang belum pernah di.... dilihat si....siapa pun, baru...baru kau seorang........"

Thiat Tiong-tong manggut-manggut, pikirnya:

"Gadis sendu di Lembah kehampaan........yaaa, paling cocok kalau aku ibaratkan nona ini sebagai Gadis sendu di Lembah kehampaan....."

Ketika dia mendongak kembali, terlihat Sui Leng-kong sedang berdiri dengan wajah murung.

Bagaimanapun dia adalah seorang lelaki, biasanya seorang lelaki sulit untuk memahami perasaan hati seorang gadis..... apalagi ketika seorang nona tidak bisa mengetahui cantik atau tidak wajah sendiri, penderitaan dan siksaan yang dirasakannya mana mungkin bisa dipahami seorang pria?

Lama, lama kemudian dia baru menyahut setelah menghela napas:

"Cantik, cantik sekali......."

Sekulum senyuman gembira segera melintas diwajah Sui Leng-kong, sambil tertawa cekikikan serunya:

"Benarkah aku cantik?"

"Tentu saja, tentu saja kau amat cantik!" pemuda itu kembali mengangguk.

Sui Leng-kong segera menjatuhkan diri bersan­dar dibahu Thiat Tiong-tong, katanya:

"Terima kasih, kau baik sekali!"

Ketika mengucapkan perkataan itu, dia ungkap dengan lancar dan jelas, seolah penyakit gagapnya hilang lenyap dengan begitu saja.

Tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong, seru­nya kegirangan:

"Nah coba lihat, penyakit gagapmu telah hilang!"

"Sung.... sungguh?" Sui Leng-kong tertegun dan berdiri dengan mata terbelalak.

Tatkala perasaan hatinya mulai tegang, penyakit gagapnya kembali mulai menyerang.

"Nona Sui" kata Thiat Tiong-tong sambil menghela napas, "selama tiada rasa takut dihatimu, asal kau tidak tegang, aku yakin penyakit gagapmu pasti akan sembuh dengan sendirinya!"

Sambil tertawa Sui Leng-kong duduk di samping pemuda itu, setelah tertunduk sesaat tiba-tiba diapun menghela napas:

"Bi....bila  ibu   bi....  bisa  melihat tam....tampangku sekarang, aku....... aku akan amat gem.... gembira"

"Kenapa kau tidak ingin diketahui ibumu? Sebenarnya tempat milik siapakah gua ini?"

Sui Leng-kong menghela napas, dibalik senyuman manisnya segera terlintas kembali rasa sedih dan dukayang tebal, katanya:

"Waktu itu aku masih kecil........ kecil sekali, suatu malam bulan purnama...."

"Aku ingin kau menceritakan semua kisahmu itu kepadaku" tukas Thiat Tiong-tong cepat, "aku tidak ingin menyanyi, bisa bukan?"

"Aku.......kata-kataku ti.... tidak bagus...."

"Perlahan-lahan kalau bicara, jangan takut, tidak ada yang mentertawakan dirimu"

Sui Leng-kong mengangkat wajahnya, melihat sorot mata penuh pengertian dari pemuda itu, dia merasa rasa percaya diri tumbuh kembali dalam hatinya.

.......Hanya pengertian dan dorongan semangat dari orang lain disertai tumbuhnya rasa percaya diri, baru merupakan obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit gagapnya.

Maka dia pun mulai menceritakan pengalam­annya.

Karena lahir dalam kondisi yang serba sulit, sejak kecil kesehatan gadis ini kurang sehat, apalagi ditambah ibunya yang mengalami goncang-an jiwa maka hingga usia tujuh, delapan tahun pun dia masih belum mampu berbicara.

Sepanjang hari Sui Ji-song hanya menyimpan dendam terhadap Seng Toa-nio, otomatis perhati­annya terhadap keturunan keluarga Seng pun jadi sangat berkurang. Dia bukan saja membenci Seng Toa-nio, membenci bocah itu, membenci diri sendiri, bahkan diapun membenci seluruh umat manusia yang ada di dunia ini.

Sui Leng-kong yang tumbuh dewasa dalam suasana serba sulit, suasana dingin tanpa kasih sayang, suasana penuh rasa benci dan dendam, lambat laun terbiasa hidup menyendiri, kerap kali dia pergi ke tempat yang terpencil, tempat yang paling menakutkan untuk melelehkan air mata seorang diri.

Waktu itu dia baru berusia tujuh tahun ketika mengalami kejadian aneh tersebut.

Malam itu rembulan bersinar terang, seorang diri dia sedang menangis sedih di dalam gua, sedemikian asyiknya dia melelehkan mata hingga tidak sadar kalau saat itu ada sepasang mata yang tajam bagai mata pisau sedang mengintip gerak geriknya.

Sejak saat itu, setiap kali dia menyingkir ke tempat itu untuk menangis, sepasang mata itupun selalu mengintipnya dari balik kegelapan hingga suatu hari tiba-tiba gadis itu menjumpai ada seorang kakek cacad berdiri dihadapannya.

Kaki kanan kakek itu sama sekali kutung, sementara kaki kirinya tinggal setengah, lengan kirinya juga cacad parah, boleh dibilang dari ke empat anggota badannya hanya lengan kirinya yang masih utuh.

Meskipun penampilan kakek itu menyeramkan namun sikapnya sangat ramah dan penuh welas kasih, maka perasaan takut Sui Leng-kong terhadap kakek cacad itupun lambat laun bertambah memu­dar, malah sebaliknya timbul perasaan kasihan dan ibanya terhadap orang tua itu.

Sejak hari itu setiap hari dia pasti akan melu­angkan waktu untuk menemani kakek itu, lewat belasan hari kemudian si kakek baru mengajak-nya mengunjungi gua penuh benda berharga itu.

Dia mentaati pesan kakek itu, selamanya tidak pernah menceritakan kisah pengalaman tersebut kepada ibunya.

Dengan sepenuh hati Kakek itu mulai mewariskan ilmu silat dan pengetahuan kepada­nya, diapun mengajarinya membaca dan menulis, ketika ransum dan air minum yang diperoleh dari ibunya sangat dibatasi maka ditempat ini dia peroleh semua kekurangannya itu.

Tapi dia tidak berani membersihkan tubuhnya dari kotoran dan lumpur karena kuatir ketahuan ibunya.

Tiga tahun kemudian kakek cacad itu telah mengakhiri kehidupannya yang penuh penderita­an, sebelum menghembuskan napas terakhir, dia seperti punya banyak perkataan yang hendak di sampaikan kepadanya.

Tapi disaat saat terakhir dia hanya sempat mengucapkan sepatah kata:

"Didalam peti musibah terdapat........."

Sayang perkataan itu tidak lengkap karena kakek itu keburu putus nyawa.

Biarpun waktu itu Sui Leng-kong masih kecil, namun dia dapat merasakan penderitaan dan penyesalan yang terpancar dari wajah kakek itu, dia tahu orang tua itu tentu mempunyai masa lalu yang penuh penderitaan dan dendam kesumat, tapi sayang  tidak  sepatah  kata  pun  pernah  dia katakan..... mungkin dia mengira usia gadis itu masih kelewat muda dan baru akan memberitahu­kan setelah agak dewasa nanti, sayang keadaan sudah tidak sempat lagi.

Ketika berbicara sampai disini, Sui Leng-kong sudah melelehkan air matanya.

Dengan wajah serius Thiat Tiong-tong tunduk­kan kepalanya sambil termenung, sampai lama kemudian dia baru bertanya: "Siapa nama kakek itu?"

"Aku......aku tidak tahu!"

"Apa pula arti Peti musibah? Tentunya kau tidak akan mengatakan tidak tahu bukan"

"Aku tahu!" jawab Sui Leng-kong sambil tertawa.

Dengan cepat dia lari keluar dari ruang gua, tidak lama kemudian sudah muncul kembali sambil membawa dua buah peti kecil, peti itu tingginya sepuluh inci dengan lebar dua puluh inci, mirip sekali dengan kotak rias milik wanita.

Bentuk dari kedua kotak itu sama satu dengan lainnya, tapi warna serta hiasannya sama sekali berbeda.

Yang satu penuh bertaburkan zamrud berwarna hijau dengan batu mulia berwarna merah darah dan mutiara yang menyilaukan mata, bentuknya sangat mencolok.

Sebaliknya peti yang lain berwarna hitam pekat, tiada hiasan apapun disekeliling peti itu, juga tidak jelas peti itu terbuat dari bahan apa, tapi berat sekali.

Sui Leng-kong meletakkan kedua peti itu diatas balai dan segera membuka peti yang bertaburan batu mulia.

"Inikah peti musibah?" tidak tahan Thiat Tiong-tong bertanya.

Dengan cepat Sui Leng-kong menggeleng.

"Bukan, peti ini bertaburkan batu permata tujuh warna, ini adalah peti keberuntungan"

Didalam peti itu berisikan berapa gulung buku, empat buah botol kemala serta sebatang jinsom berusia seribu tahun yang bentuknya nyaris seperti bentuk manusia.

Pemuda itu tahu, gulungan kertas serta botol porselen itu tentu berupa kitab pusaka ilmu silat serta obat mujarab yang diimpikan setiap umat persilatan, sementara jinsom berusia seribu tahun itu adalah mestika yang sangat langka.

Tapi dia jauh lebih tertarik dengan peti berwarna hitam itu, peti yang penuh diliputi kemisteriusan dan perasaan ingin tahu, pemuda itu yakin isi peti itu pastilah berupa semua rahasia kehidupan kakek cacad itu.

"Inikah peti musibah?" tanyanya.

Baru saja dia akan membuka peti hitam misterius itu, Sui Leng-kong sudah menangkap tangannya kuat-kuat.

"Jang....jangan kau sentuh!"

"Apakah peti itu belum pernah dibuka orang?"

"Semua barang berharga yang ada digua ini boleh dipegang, hanya peti itu tidak boleh di sentuh, sebab begitu peti itu dibuka maka musibah segera akan tiba, tidak seorangpun bisa mencegah musibah itu, tidak seorangpun dapat menghadapinya, walaupun tiga belas tahun telah berlalu, belum pernah aku membuka peti itu"

Wajahnya penuh dicekam perasaan takut, suara senandungnya juga kedengaran amat serius.

Ketika Thiat Tiong-tong menarik kembali tangannya, senyuman lebar baru menghiasi kembali wajahnya.

"Dalam peti keberuntungan terdapat obat mujarab yang bisa menyembuhkan aneka penyakit, jinsom seribu tahun lebih hebat lagi, bisa menambah kekuatan tubuh, cepat kau minum obat itu agar lukamu segera sembuh kembali!"

Belum sempat Thiat Tiong-tong menampik, Sui Leng-kong telah menutup mulutnya dengan tangan, pancaran sinar matanya yang lembut penuh rasa cinta membuat anak muda itu tidak bisa menampik lagi.

Maka gadis itupun mulai membersihkan mulut luka ditubuh Thiat Tiong-tong, memaksanya menelan pil mujarab, lalu merajang jinsom seribu tahun itu jadi kepingan kecil dan memaksa pemuda itu untuk menelannya.

Dalam waktu singkat Thiat Tiong-tong sudah terlelap tidur dengan nyenyaknya, sementara Sui Leng-kong berdiri disisinya dengan termangu, lama kemudian akhirnya dia membungkukkan tubuh­nya dan mencium pipi anak muda itu.

Kembali dia bertukar pakaian dengan meng­enakan kembali baju dekilnya, kemudian melumurkan lumpur dan kotoran diwajah serta tubuhnya, setelah itu dengan senyum kepuasan dia baru berlalu dari situ.

Ketika Thiat Tiong-tong mendusin dari tidurnya, Sui Leng-kong sudah tidak berada disisinya, tapi dia merasa seluruh tubuhnya segar dan penuh bertenaga, seolah-olah dia telah berganti menjadi orang lain.

Peti musibah juga telah disingkirkan, tapi peti keberuntungan masih tertinggal diatas balai, diantara penutup peti itu terselip selembar kain putih dengan berapa tulisan dari arang:

"Kau sudah tertidur dua hari dua malam, aku telah menggantikan obat untukmu, sekarang aku pergi menemani ibu, bila merasa senggang, bukalah peti itu dan bacalah buku yang ada disana"

Sekalipun tulisan itu tidak bagus namun semua huruf ditulis secara benar, bahkan dari garis tulisannya lamat-lamat dapat dirasakan perhatian serta rasa cintanya yang sangat mendalam.

Luapan cinta tampak begitu nyata, tulisan itu tampak begitu nyata, benda berharga yang bertaburan dalam gua pun nampak begitu nyata, namun Thiat Tiong-tong merasa dirinya seolah berada dalam alam impian.

Dari keadaan yang mengerikan, terluka, terjatuh ke dalam jurang, bercucuran darah, kini dia seakan berubah jadi seseorang yang lain, kitab ilmu silat, obat mujarab, wanita cantik, kekayaan yang berlimpah......

Perubahan hidup yang begitu drastis membuat pemuda itu nyaris tidak percaya dengan apa yang dialaminya, tidak kuasa lagi dia menghela napas panjang, nasib apa lagi yang bakal diatur Thian terhadap dirinya?

Dia mengambil gulungan kertas yang pertama dan membaca isinya, ternyata buku itu mengajarkan dasar tenaga dalam.

Tapi semakin dibaca isinya dia semakin ter­kesiap, sampai pada akhirnya peluh dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Ternyata ilmu silat yang tercatat dalam gulungan kertas itu sejalan dan satu aliran dengan ilmu silat ajaran Perguruan Tay ki bun, bahkan isinya jauh lebih hebat dan sempurna.

Banyak kesulitan yang dulu seringkali dia jumpai sewaktu berlatih silat, kesulitan yang tidak mampu dijelaskan oleh gurunya sekalipun, ternyata semuanya terjawab secara gamblang dalam kitab ini.

"Jangan-jangan kakek cacad itu mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Perguruan Tay ki bun? Atau mungkin dia adalah salah satu locianpwee leluhur Perguruan Tay ki bun?"

Tiba-tiba dia teringat kembali dengan cerita gurunya, konon sewaktu Perguruan Tay ki bun merajai dunia persilatan dulu, mereka pernah memiliki sejumlah harta kekayaan yang tertinggal di daratan Tionggoan.

Tapi kemudian Perguruan Tay ki bun dihan­curkan oleh kawanan musuh besar sehingga ciang bunjin beserta seluruh anak muridnya tewas terbantai.

Sejak peristiwa itu, keberadaan harta kekayaan itu menjadi sebuah rahasia besar yang tidak terjawabkan, walaupun anggota Perguruan Tay ki bun sudah menelusuri hampir puluhan tahun lamanya pun tetap tidak berhasil menemukan kabar beritanya.

Dia terbayang kembali perkataan gurunya dulu: "Ayahmu adalah seorang tokoh sakti berbakat aneh, konon beliau berhasil melacak kabar berita tentang harta karun ini, sayang sebelum berhasil mengungkapnya, dia keburu tewas dibunuh orang!"

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, dia merasa hawa darah bergolak dalam dadanya, hampir saja dia melompat turun dari balai untuk mencari keberadaan peti musibah itu.

Dia yakin semua rahasia yang sedang dicari bisa jadi tersimpan dalam peti itu, mungkin saja disitu sudah tersimpan semua jawaban dari rahasia ini, meski mungkin saja dia akan tertimpa bencana gara-gara membuka peti itu, namun dia bertekad untuk membukanya.

BAB 5.

Gua harta Dewa kematian.

 

Harta karun yang tersimpan dalam ruang gua yang lain ternyata jauh lebih mengejutkan, berbagai macam pedang mestika bergantungan diatas dinding, bahkan tampak juga mahkota yang bertaburkan intan berlian.

Suara air yang gemericik berkumandang dari sebuah kepala naga yang terbuat dari batu permata, air itu ditampung dalam sebuah kolam air, meski permukaan air sangat penuh namun tidak nampak meluber, agaknya dibagian bawah kolam terdapat jalan pembuangan.

Disamping kolam air terdapat pula sebuah pembaringan, pakaian keraton yang dikenakan Sui Leng-kong tadi masih tertinggal disitu. Selain itu terlihat pula dua buah peti yang penuh berisikan pakaian.

Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas, dia tahu semua tempat yang ada disitu pasti dirancang dan dibangun dengan susah payah oleh pemilik harta karun itu.

Tapi dia belum juga berhasil menemukan peti musibah berwarna hitam itu, maka diapun mendekati kolam air, niatnya untuk minum dulu berapa tegukan, siapa tahu saat itulah dia temukan peti hitam tersebut ternyata disimpan didalam kolam.

Tanpa ragu dia mengambil peti itu ke tepi kolam, mendadak terjadi getaran yang sangat kuat disusul dinding gua terasa bergoncang keras, peti itu kembali terjatuh ke dalam air.

Suara getaran makin lama semakin bertambah kuat, seolah olah sedang dilanda gempa dahsyat.

Dengan perasaan terkesiap Thiat Tiong-tong berpikir:

“Benarkah peti musibah itu memiliki daya kekuatan yang begini mengerikan?”

Dia mencoba untuk mengambil peti itu lagi, siapa tahu suara getaran kembali mengguncang seluruh ruang gua, tidak kuasa lagi pemuda itu bergerak mundur sejauh tiga langkah.

Getaran yang terjadi kali ini jauh lebih dahsyat lagi, hampir semua barang mestika yang tergantung diatas dinding berguguran ke tanah, air bersih dalam kolam pun ada sebagian yang tertumpah keluar.

Ketika suara itu mereda, suasana pun pulih kembali dalam keheningan yang mencekam, kemudian secara lamat-lamat ia mendengar suara orang sedang menggali, suara itu berasal dari tempat yang sangat dekat bahkan makin lama semakin mendekat.

"Aaah, rupanya ada orang membuka bukit!" akhirnya Thiat Tiong-tong paham dengan apa yang terjadi.

Begitu memahami apa yang segera akan terjadi, pemuda itu mulai memandang sekeliling tempat itu, maksudnya ingin mencari tempat persembunyian, tapi sekitar ruangan hanya dinding gua yang rata, sama sekali tidak terdapat tempat yang bisa dipakai untuk menyembunyikan diri.

Tidak lama kemudian terdengar ada orang berseru:

"Sudah betul belum arahnya?"

Suara itu kedengaran sangat dekat, seolah berasal dari dinding sebelah.

"Kau tidak usah kuatir" terdengar seseorang menjawab, "aku sudah membuang banyak waktu dan pikiran untuk mencari tempat ini, tidak bakalan salah"

"Baik, saudara sekalian, kita lanjutkan penggalian!"

Menyusul kemudian terdengar lagi suara cangkul yang membentur permukaan tanah.

Terdesak oleh waktu dan keadaan, Thiat Tiong-tong tidak sempat berpikir panjang lagi, dia segera mendorong pembaringan itu ke sudut ruangan, kemudian mendorong ke dua peti berisi pakaian ke depan pembaringan itu.

Lalu dengan cepat dia membenahi tempat bekas pembaringan itu berada, menutup kembali peti keberuntungan, menyembunyikannya ke balik tumpukan benda mestika dan membersihkan dua tetes darah yang menodai pembaringan itu.

Saat itu kendatipun luka yang dideritanya belum pulih kembali, tapi kondisi kesehatannya jauh lebih segar dan sehat, dengan sendirinya semua gerakan dilakukan cepat.

Setelah yakin kalau disekeliling tempat itu tidak tertinggal bekas baru yang menunjukkan baru saja ada orang disitu, dia baru menerobos masuk ke bawah ranjang.

Beberapa saat kemudian dinding gua roboh jadi dua, menyusul teriak kegirangan seseorang:

"Aaah, ternyata memang berada disini!"

Dua sosok bayangan manusia menyelinap masuk melalui celah dinding yang roboh.

Thiat Tiong-tong segera menahan napas, dia mencoba mengintip keluar melalui celah-celah peti baju.

Ternyata orang yang barusan muncul dalam ruangan adalah seorang sastrawan berusia pertengahan yang memakai jubah panjang berwarna biru, meskipun berada dalam keadaan terkejut bercampur   girang, namun sikapnya tetap tenang, mantap dan tidak terburu napsu, hanya pakaiannya penuh berdebu dan pasir hingga penampilan nya sedikit berantakan.

Orang ke dua adalah seorang tojin berjubah abu-abu dengan rambut digulung tinggi, hidungnya betet matanya cekung, tulang keningnya kurus lagi sempit, meskipun masih berusia pertengahan namun rambutnya sudah mulai memutih.

Begitu tiba dalam gua, sorot mata mereka berdua segera terhisap oleh tumpukan benda berharga yang membukit.

Dalam pada itu dari balik dinding gua kembali muncul seorang pemuda berbaju perlente serta seorang lelaki berpakaian ringkas yang bercambang lebar, beralis tebal dan bermata besar.

Mungkin lantaran kelewat gembira dan sulit mengendalikan emosinya, sewaktu melompat masuk ke dalam ruangan itu, kepala lelaki kekar tersebut membentur diatas dinding hingga berdarah, namun dia sama sekali tidak memper­lihatkan rasa sakit.

Harta karun yang tidak ternilai harganya itu membuat sorot mata semua orang terperana, pandangan rakus dan kebuasan seekor binatang terbesit diwajah masing masing.

Sampai lama, lama sekali kakek berambut putih itu baru menghela napas panjang sambil berkata:

"Jerih payah selama belasan tahun, penderitaan yang membuat rambut memutih akhirnya terbayarkan juga hari ini"

Dari atas lantai diambilnya sebilah pedang perak yang bertaburkan intan permata, kemudian gumamnya lagi:

"Tahukah kau,  berapa banyak pikiran dani keringat yang harus kukorbankan demi mendapat­kan kau?"

Tiba-tiba sastrawan berbaju biru itu menyampoi tangannya hingga pedang perak itu terjatuh kembali ke lantai.

"Apa-apaan kau ini?" tegur tojin itu dengan wajah berubah.

"Apakah kau sudah lupa dengan perjanjian yang telah kita sepakati? Sebelum ada pembagian, siapa pun dilarang menyentuh benda yang ditemukani dalam gua ini!"

"Aku kan hanya ingin melihatnya sejenak!"

Sastrawan berbaju biru itu sama sekali tidak menggubris, dia berjalan ke tepi kolam untul minum air.

Sementara itu lelaki bercambang lebat itu sudah mundur dua langkah, kepada pemuda berbaji perlente itu bisiknya:

"Saudaraku, kau berasal dari keluarga kaya, apa pernah melihat harta karun sebanyak ini?"

"Jangankan melihat, mimpi pun belum pernah melihat"

Selesai minum setegukan air sastrawan berbaju biru itu menyeka tangannya yang basah lalu sambilj berpaling tanyanya:

"Sekarang harta karun sudah ditemukan, apa rencana anda berikut?"

"Sekalipun aku yang berhasil melacak tempat penyimpanan harta karun ini, tapi bila tiada dukunganmu, rasanya mesti membuang tenaga lebih banyak"

"Hanya membuang tenaga lebih banyak?"

"Bukan hanya membuang lebih banyak tenaga bahkan bisa jadi tidak akan ditemukan untuk selamanya"

"Ehmm, rasanya memang begitu"

"Maka dari itu akupun tidak ingin tamak, bagaimana kalau kita bagi dua harta karun ini dengan masing masing memperoleh satu bagian.."

Kemudian setelah menghela napas panjang, kembali tojin itu melanjutkan:

"Selanjutnya aku hanya ingin mencari sebuah tempat dengan pemandangan alam yang indah dan menikmatinya"

"Membagi jadi dua?" teriak lelaki bercambang itu tiba-tiba, "kau anggap kami semua adalah orang mampus? Dalam dunia persilatan saat ini. Kecuali Siau Lui-sin (dewa guntur kecil) dari perguruan Bi ­lek bun, siapa pula yang sanggup meledakkan perut bukit dengan menggunakan obat peledak?"

"Meminjam obat peledakmu tentu ada harganya juga" jawab tojin berambut putih itu dingin, "jangan kuatir, aku pasti akan membayar untuk itu"

"Apa kau bilang?" bentak lelaki bercambang itu semakin gusar.

Tosu berambut putih itu tertawa dingin, dia berjalan menghampiri kolam penampungan air dan mengambil segayung air bersih. Dalam kondisi seperti ini, setiap orang tentu ingin minum sedikit air.

Thiat Tiong-tong yang menonton dari balik persembunyian segera berpikir:

“Kalau aku jadi dia, sebelum minum air tersebut tentu akan kuperiksa dulu apakah air itu beracun atau tidak”

Sementara itu tosu berambut putih itu telah membiarkan air mengalir keluar hingga habis, gumamnya:

"Tidak bisa, tidak bisa....."

Sastrawan berbaju biru itu pura-pura tidak mendengar, sambil bergendong tangan dia me­mandang ke tempat kejauhan.

Tosu berambut putih itupun tidak memandang kearahnya, dia melepaskan tusuk kondenya dari kepala dan segera dicelupkan ke dalam air. Ujung tusuk konde yang terbuat dari perak itu segera berubah warnanya jadi hitam pekat.

Sambil mengembalikan tusuk kondenya, tosu itu baru berpaling ke arah sastrawan berbaju biru itu sambil tegurnya dingin:

"Hek Seng-thian, hatimu benar-benar kelewat hitam!"

Paras muka Hek Seng-thian sama sekali tidak berubah, dia bahkan berlagak tidak mendengar.

"Ternyata kau berniat menguasainya sendiri­an!" kembali ujar tosu itu penuh amarah.

"Benar" jawab Hek Seng-thian ketus, "tapi racun dalam air itu bukan dipersiapkan untukmu, bila aku ingin membunuhmu, buat apa mesti meracuni air tersebut?"

Kepada pemuda berbaju perlente itu serunya:

"Suruh mereka semua masuk!"

Pemuda perlente itu menyahut dan keluar dari ruangan, tidak lama kemudian dia muncul kembali diiringi delapan orang lelaki kekar yang membawa cangkul.

"Aaah, kalian tentu sudah kelelahan" seru Hek Seng-thian sambil tertawa, "mari, mari minum air dulu untuk melepaskan dahaga"

"Cong piautau kelewat sungkan!" kawanan lelaki kekar itu sama-sama menjura, meski mulut bicara begitu namun enam belas buah mata sama-sama mengawasi tumpukan harta karun itu tanpa berkedip.

"Minum air dulu" kembali bujuk Hek Seng-thian dengan senyuman ramah, "jangan kuatir, semuanya mendapat bagian!"

Serentak kawanan lelaki kekar itu menghampiri kolam air dan berebut minum untuk melepaskan dahaga.

"Benar benar manusia berhati kejam dan buas!" pikir Thiat Tiong-tong dengan perasaan bergidik, saking seramnya pemuda itu merasakan tangan dan kakinya menjadi dingin

Tampaknya tojin berambut putih serta Siau Lui-sin ikut terkesiap, paras muka mereka berubah hebat.

Ketika semua orang selesai minum, salah seorang diantaranya bergumam sambil menyeka mulutnya:

"Manis benar air ini, seperti dicampuri dengan gula......"

Berapa patah kata itu diucapkan sangat lemah seakan sama sekali tidak bertenaga, ketika mengucapkan kata terakhir, paras mukanya tiba-tiba mengejang keras kemudian napasnya jadi sesak dan roboh terjungkal.

Menyusul kemudian ke tujuh orang lainnya satu per satu roboh terkapar ke tanah, begitu menyentuh tanah nyawa mereka ikut melayang. Ternyata tidak seorang pun sempat menjerit kesakitan.

"Obat racun yang sangat lihay!" desis lelaki bercambang itu ngeri.

Dia segera berjongkok, membuka kelopak mata sesosok mayat diantaranya dan diperiksa dengan seksama, ternyata kulit matanya telah berubah jadi hijau tua.

Sambil tersenyum Hek Seng-thian memandang sekejap sekeliling ruangan, lalu katanya:

"Ditengahi kerlipan cahaya mutiara, berjajar berapa sosok mayat, begini baru hebat namanya!"

Sembari berkata dia mulai menggeser tubuhnya menghampiri tosu berambut putih itu.

Seketika itu juga paras muka tojin berambut putih itu berubah hebat.

"Mau apa kau?" hardiknya.

"Aku hanya ingin tahu, darimana kau dapatkan peta harta karun ini?"

"Bukankah sudah kujelaskan sejak dulu?"

Hek Seng-thian tertawa dingin.

"Kau bilang mendapatkan peta harta karun itu dari tubuh seorang murid Perguruan Tay ki bun yang tewas?"

"Benar......."

"Kalau kau gunakan perkataan itu untuk membohongi bocah berusia tiga tahun, mungkin saja dia akan percaya, tapi bagiku....... hmmm!

Hmmm! Sudah terlalu banyak mayat anak murid Perguruan Tay ki bun yang kulihat, semenjak dua puluh tahun berselang, murid Perguruan Tay ki bun mana yang bukan mampus dihadapan mata­ku"

"Ini..... ini......" tosu berambut putih itu mulai tergagap.

Sambil tertawa dingin Hek Seng-thian menukas: "Apalagi harta karun yang tidak ternilai jumlahnya ini merupakan harta karun peninggalan leluhur mereka, setiap anggota Perguruan Tay ki bun  menganggapnya  sebagai  masalah   serius, karena itu orang yang bertugas menyimpan peti rahasia ini pastilah seorang pentolan yang punya posisi tinggi dalam Perguruan Tay ki bun! Mayat mereka sudah pernah kuperiksa semua, seandai­nya mereka menggembol peta itu, kau anggap dirimu masih ada kesempatan untuk peroleh bagian?"

Tosu berambut putih itu termenung berapa saat lamanya, tiba-tiba teriaknya keras:

"Kau tidak usah perduli darimana aku dapatkan peta rahasia ini, hal ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, kau harus membagi setengah dari harta karun ini kepadaku!"

"Benar, aku memang harus membaginya denganmu" dengus Hek Seng-thian dingin, "tapi aku mulai mencurigai asal-usulmu"

"Mencurigai apa?" berubah paras muka tosu itu.

Sambil menarik muka ujar Hek Seng-thian:

"Aku curiga kaupun salah seorang anggota Perguruan Tay ki bun, ketika mendengar rahasia tentang peta harta karun itu dari mulut angkatan tuanya, timbul niat jahat untuk mengangkangi harta tersebut, maka kaupun menghianati perguruan, bukan begitu?"

Sekujur tubuh tosu berambut putih itu gemetar keras, secara beruntun dia mundur sejauh tiga langkah, kemudian serunyua dengan nada gemetar:

"Kau.... kau sudah edan? Kalau aku anggota Perguruan Tay ki bun, masa akan mencari dirimu?"

Hek Seng-thian tertawa dingin.

"Tentu saja kau harus mencariku" katanya, "sebab dalam dunia persilatan ini, kecuali aku Hek Seng-thian, siapa lagi yang mengerti ilmu membongkar bukit? Kecuali Bi lek tong, siapa pula yang mengerti menggunakan bahan peledak?"

Paras muka tojin berambut putih itu berubah hijau membesi, lama sekali dia berdiri tertegun sebelum akhirnya menghela napas panjang.

"Betul" katanya, "aku memang menghianati perguruan gara-gara ingin mendapatkan harta karun ini!"

"Bagus sekali" bentak Siau Lui-sin keras, "ternyata kau si bajingan tua adalah cucu kura-kura dari Perguruan Tay ki bun, hari ini biar kujagal dirimu terlebih dulu!"

Sepasang lengannya segera direntangkan, ruas tulang sekujur badannya gemerutuk nyaring, dengan sekali lompatan ia sudah menyelinap maju ke hadapan tosu itu kemudian kepalannya ditonjok-kan ke muka.

Jurus serangan ini tampaknya bodoh, kaku dan sederhana, sama sekali tidak nampak kehebatan­nya, padahal dibalik kesederhanaan justru tersem­bunyi kekuatan maha dahsyat, inilah Kun bu bi lek kun (pukulan geledek tanpa gulungan) yang amat dahsyat dari perguruan Bi lek tong.

Sambil miring ke samping tosu berambut putih itu mundur ke belakang, lalu setibanya disamping kolam air teriaknya keras:

"Hek Seng-thian, ada perkataan yang hendak kusampaikan, mau mendengarnya tidak?"

"Apa lagi yang mau kau katakan?" hardik Siau Lui-sin sambil merangsek ke depan.

"Keponakan Lui, tahan!" tiba tiba Hek Seng-thian berseru.

Sambil menghentikan gerakan tubuhnya seru Siau Lui-sin:

"Paman Hek, bangsat ini pernah jadi anggota Perguruan Tay ki bun, berarti dia adalah musuh besar lima keluarga kita, masa kau akan melepaskan dirinya?"

"Siapa bilang mau melepaskan dia" sahut Hek Seng-thian dingin, "Apa salahnya kalau kita menunggu sampai dia selesaikan dulu perkataan­nya"

Sambil menempel pada dinding gua, tosu berambut putih itu memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, lalu teriaknya:

"Asal kalian bersedia memberi jalan kehidupan kepadaku, aku rela hanya menerima dua bagian dari harta karun itu!"

"Omong kosong, sebutkan dulu siapa nama­mu!"

Melihat pemuda perlente itu sudah meng­hadang jalan perginya sementara Siau Lui-sin menempel terus disisinya, sedangkan Hek Seng-thian meski masih berdiri sambil bergendong tangan, namun sorot matanya setajam sembilu menguasahi terus gerak-geriknya, sadarlah tosu berambut putih itu bahwa mereka telah menguasahi keadaan.

Setelah menghela napas panjang, ujarnya:

"Walaupun aku pernah menjadi anggota Perguruan Tay ki bun, namun belum pernah melu­kai seorang manusia pun dari lima keluarga kalian, aku.... aku adalah murid terakhir dari Thiat Hau, bagian pelaksana hukuman dalam Perguruan Tay ki bun, namaku Chee-gong!"

Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap karena Thiat Hau adalah nama ayahnya.

Tiba-tiba terdengar Hek Seng-thian tertawa dingin, ujarnya:

"Chee-gong?  Hehehehe...... selamanya Perguruan Tay-ki-bun belum pernah menerima murid diluar keluarga Im maupun keluarga Thiat, kau sangka bisa membohongi aku?"

Dengan wajah pucat bagaikan mayat tiba-tiba tosu berambut putih itu menjatuhkan diri berlutut, rengeknya:

"Terlepas siapa pun diriku ini, tapi yang jelas aku telah mencuri peta harta karun ini dari tangan Thiat Hau, akupun sudah menggunakan tenaga dalam pikiran selama belasan tahun untuk membongkar rahasia dibalik peta ini sebelum berhasil membawa kalian kemari......."

Dengan air mata nyaris bercucuran lanjutnya:

"Selama dua puluh tahun, aku telah banyak menderita dan siksaan, penderitaan membuat rambutku beruban, apakah sekarang kalian tega membunuhku dengan begitu saja?"

Berkilat sepasang mata Hek Seng-thian.

"Thiat Hau pintar dan berilmu tinggi, kemam­puannya tiada tandingan dikolong langit, mana mungkin kau bisa mencuri barang miliknya kalau antara kalian tidak punya hubungan khusus? Hmmm, delapan puluh persen kau adalah saudara seayah lain ibu dari Thiat Hau yang bernama Thiat Cing-kian!"

"Betul, betul, akulah Thiat Cing-kian" teriak tosu berambut putih itu cepat, "kalau bukan aku yang telah membokong Thiat Hau hingga terluka parah, mana mungkin kalian mampu melukai diri­nya?"

Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan itu seketika merasa teramat gusar, saking dendamnya sekujur tubuhnya sampai gemetar keras.

Hek Seng-thian kembali tersenyum.

"Betul" sahutnya, "andaikata kau tidak mem­bokong Thiat Hau hingga terluka parah, belum tentu jagoan dari lima keluarga sanggup menandingi kemampuannya, cukup ditinjau dari jasamu ini, sudah sepantasnya jika nyawamu diampuni, tapi sayang......aaai! siapa suruh kau dari marga Thiat, karena kau dari keluarga Thiat maka aku tidak bisa mengampuni nyawamu"

Bicara sampai disini segera bentaknya: "Turun tangan!"

Thiat Cing-kian tertawa pedih, sambil menghela napas keluhnya:

"Tahu bakal mengalami kejadian seperti hari ini, aku pasti tidak akan berbuat salah dimasa lalu, oh toako, aku bersalah kepadamu, aku.... aku...."

Tiba tiba sambil busungkan dada serunya:

"Kalau kalian ingin turun tangan, silahkan lakukan! Aku tidak akan melawan!"

"Memangnya kau mampu melawan?" jengek Hek Seng-thian sambil tertawa dingin.

Sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan, "Blaaaam!" serangan itu bersarang di dada Thiat Cing-kian.

Terdengar Thiat Cing-kian menjerit kesakitan, darah segar menyembur keluar dari mulutnya, sementara tubuhnya mencelat ke belakang dan roboh terkapar.

Siau Lui-sin segera memburu tiba, ketika memeriksa dengus napasnya dia segera berseru:

"Sudah mampus!"

"Tentu saja sudah mampus, mana ada korban yang hidup dibawah seranganku" kata Hek Seng-thian sambil tertawa angkuh.

"Tapi sayang keenakan baginya, orang semacam ini seharusnya jangan dibiarkan mati kelewat cepat"

"Anggap saja dia tahu diri, tidak berani melan­carkan serangan balasan!" ucap Hek Seng-thian sambil tertawa, kemudian setelah memandang sekejap sekitar situ, katanya lagi, "cepat kalian kumpulkan semua harta karun yang ada ditempat ini"

Siau Lui-sin dan pemuda perlente itu menyahut, serentak mereka mulai turun tangan.

Perlahan-lahan Hek Seng-thian berjalan meng­hampiri pemba-ringan, menarik keluar sebuah peti dan membukanya, tapi segera gumannya:

"Pakaian semacam ini mana pantas digunakan lagi!"

"Blaaam!" dia menutup kembali peti itu dan menendangnya balik ke tempat asal.

Terdengar pemuda perlente itu berkata sambil menghela napas.

"Siapa pun orangnya, bila memperoleh harta karun sebanyak ini, dia pasti akan kayanya luar biasa, tapi....... dengan cara apa kita bertiga akan mengangkut keluar semua harta karun itu?"

"Tidak usah kuatir" seru Siau Lui-sin sambil tertawa terbahak bahak, "dengan mengandalkan kekuatan lenganku, biar lebih banyak satu kali lipatpun aku masih mampu untuk mengangkut­nya"

Tiba-tiba terdengar Hek Seng-thian berseru tertahan, dari dalam kolam air dia mengeluarkan sebuah peti berwarna hitam, setelah diamati berapa saat gumamnya:

"Peti ini kelihatan sangat aneh, entah bagaimana cara membukanya"

"Coba aku lihat!" seru Siau Lui-sin sambil tertawa.

Dia sambut peti besi itu dan diperiksa sejenak, kemudian katanya:

"Masa dalam peti semacam inipun bisa tersimpan barang bagus? Lebih baik tidak usah diperiksa!"

Sambil berkata dia buang peti itu ke tanah.

"Aaah, kau tahu apa" seru Hek Seng-thian sambil tertawa dingin, "aku berani taruhan barang yang tersimpan dalam peti itu pasti harganya jauh diatas tumpukan intan permata itu"

"Sungguh?" seru Siau Lui-sin tercengang, kembali dia pungut peti besi itu dari tanah.

Mendadak terdengar seseorang berseru ter­tahan kemudian terlihat sesosok bayangan manusia meluncur masuk ke dalam ruangan.

"Siapa?" bentak tiga orang itu berbareng.

Seorang gadis yang dekil lagi pula lumpur telah berdiri didepan pintu gua sambil bercekak pinggang, teriaknya:

"Kaa.....kalian....sii..... siapa? Maa.... mau apa datang kee.....ke sini?"

Gadis itu tidak lain adalah Sui Leng-kong.

Siau Lui-sin tertawa tergelak, sambil meng­hampiri dengan langkah lebar, serunya:

"Nona gagap, siapa pula dirimu? Apakah tempat ini adalah tempat tinggalmu?"

"Teen.....tentu sa....saja!"

"Hahahaha...... tapi sekarang tempat ini sudah berganti pemilik! Bila kau bersedia mandi sampai bersih, toaya tentu akan mengajakmu pergi mening­galkan tempat ini!"

Sui Leng-kong melirik sekejap sekeliling tempat itu, ketika tidak menjumpai mayat Thiat Tiong-tong tergeletak ditanah, dia segera tahu kalau pemuda itu sudah menyembunyikan diri, diam-diam dia pun menghembuskan napas lega.

Tapi diluar dia berlagak tertarik, serunya sambil tertawa:

"Suu.....sungguh? kau..... kau  aa.....akan memm.... membawaku kee....keluar dari sii...sini?"

Sambil tertawa cengar-cengir Siau Lui-sin berjalan menghampiri gadis itu dan bermaksud meraba payudara Sui Leng-kong, mendadak Hek Seng-thian menarik wajahnya, dengan sekali ayunan dia sudah menghajar lelaki itu hingga mundur berapa langkah.

Dalam terkejut bercampur kagetnya Siau Lui-sin berteriak keras:

"Paman Hek, kau.... kau......."

Tanpa memandang sekejap pun ke arahnya, Hek Seng-thian menghampiri Sui Leng-kong, kemudian setelah menjura katanya:

"Harap nona jangan marah"

Sui Leng-kong pura-pura tertawa dan segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kembali Hek Seng-thian berkata dengan lembut:

"Bila nona memang pemilik tempat ini, tentunya kau bisa membuka peti hitam itu bukan? Tolong nona bukakan agar kami bisa melihat isinya, begitu selesai menengok kami segera akan pergi dari sini dan tidak akan mengganggu ketenanganmu lagi"

Sui Leng-kong memutar biji matanya berulang kali, serunya sambil tertawa:

"Membuka peti itu mah gampang sekali, asal diputar kesebelah kiri, peti itu segera akan terbuka!"

Dia masih berbicara dengan tergagap, untuk menyelesaikan sepatah kata tersebut dia butuh waktu setengah perminum teh lamanya.

Tiba tiba Siau Lui-sin menimbrung lagi:

"Peti itu empat persegi, bagaimana caranya memutar?"

"Peti itu memang empat persegi" sela Hek Seng-thian sambil tertawa, "bukankah di dalamnya terdapat bulatan tombol kecil?"

Siau Lui-sim termenung berapa saat lamanya sebelum jadi mengerti, katanya kemudian:

"Aaah, benar, benar, diluar memang empat persegi tapi dalamnya bulat, ternyata si pencipta peti ini memang sangat pintar dan hebat!"

Sambil tertawa Hek Seng-thian mengambil peti itu, tiba-tiba satu ingatan seperti melintas dalam benaknya, dia membawa peti itu menuju ke depan Sui Leng-kong, kemudian katanya lagi:

"Peti ini milik nona, lebih baik nona saja yang membukakan!"

"Pe..... peti ii.....tu suu..... sudah berkaa.....karat, a......aku tak pu....punya tenaga, ma.....mana mungkin bi....bisa membukanya........"

Siau Lui-sin segera maju ke depan dan mengambil peti itu, katanya sambil tertawa tergelak:

"Hahahaha.... kalau masalah tenaga, biar aku Lui Ceng-wan yang melakukannya!"

Dengan tangan kanan memeluk peti itu, tangan kiri memutar ke arah kiri, benar saja penutup peti itu segera bergerak.

"Hahaha.... coba lihat" seru Siau Lui-sin sambil tertawa tergelak, "aku......"

Belum selesai dia berkata mendadak orang itu menjerit kesakitan dan roboh terkapar ke tanah, percikan darah segar segera menyembur keluar dari dadanya.

Ternyata begitu penutup peti itu kendor, tiga bilah pisau terbang yang sangat tipis telah meluncur keluar dan semuanya menghujam diatas dadanya yang kekar.

Dengan wajah berubah Hek Seng-thian membungkukkan badan melakukan pemeriksaan.

"Lui toako, dia......."jerit pemuda perlente itu.

Sambil menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang sahut Hek Seng-thian:

"Sudah tidak tertolong lagi!"

Pemuda  perlente  itu   segera  menyerbu ke hadapan Sui Leng-kong, bentaknya penuh amarah:

"Kelihatannya kau ingin mampus!"

"Aku...... aku ju.....juga tiii.....tidak tahu" seru Sui Leng-kong sambil membelalakkan matanya.

"Kentut, kalau kau tidak tahu, siapa yang tahu?"

Sambil bangkit berdiri Hek Seng-thian segera menukas dingin:

"Kalau mau disalahkan mesti salahkan Lui Ceng-wan sendiri yang kelewat gegabah dan tidak mau berhati-hati, mana boleh kau salahkan nona ini? Bagaimanapun toh peti sudah terbuka, cepat periksa apa isinya?"

Pemuda perlente itu tertegun sesaat, dalam hati kecilnya dia mulai menggerutu, agaknya dia tidak menyangka kalau gurunya begitu kejam dan tidak berperasaan.

Hek Seng-thian mengambil sebuah pacul dan digunakan untuk membuka penutup peti itu, ternyata isinya hanya beberapa jilid kitab serta sebuah kain kumal yang tertata rapi sekali.

Tampaknya pemuda berbaju perlente itu sangat kecewa, sebaliknya Hek Seng-thian menunjukkan rasa girang yang luar biasa, serunya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Hahahaha..... ternyata kitab pusaka ilmu silat warisan Perguruan Tay ki bun berada disini!"

Ditengah gelak tertawa nyaring dia berpaling seraya serunya lagi:

"Ambil keluar"

Pemuda perlente itu menggeleng seraya mundur dua langkah.

"Kau tidak mau mengambilnya?" "Tecu tidak berani........"

"Bagus, ternyata kau berani membangkang perintah" sorot matanya dialihkan ke wajah Sui Leng-kong.

Tidak menunggu orang itu buka suara, Sui Leng­kong sudah membungkukkan tubuh seraya berseru:

"Biar aku saja yang mengambil!"

Sewaktu pinggangnya dibungkukkan itulah mendadak sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama ke depan, sekuat tenaga menghantam dada Hek Seng-thian, selain pukulannya berhawa dingin, lamat-lamat terselit desingan angin serangan yang kuat.

Hek Seng-thian tertawa dingin.

"Hmmm, sudah kuduga, kau pasti akan berbuat begini"

Ditengah suara tertawa dinginnya, dia berputar setengah lingkaran, kakinya melayang ke depan menendang tulang selangkangan gadis itu.

Bergeser, berganti gerakan semuanya dilaku­kan secepat sambaran petir, dengan merangkap tangan-nya ke depan dada dia kunci jalan mundur Sui Leng-kong,

Saat ini, tampaknya Sui Leng-kong tidak mampu menghindarkan diri lagi dengan ancaman musuh karena dalam melancarkan serangan nya tadi dia kelewat besar menggunakan tenaganya.

Siapa tahu disaat yang terakhir itulah tiba-tiba gadis itu melambung ke tengah udara.

"Ilmu meringankan tubuh yang hebat!" puji Hek Seng-thian dengan wajah berubah.

Cepat dia mundur tiga langkah sambil berusaha melindungi diri.

Memanfaatkan kesempatan ini Sui Leng-kong merangsek maju ke depan, dia berniat merebut posisi yang lebih menguntungkan.

Sayangnya, kendatipun ilmu silat yang dimiliki sangat tangguh namun dia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam  bertarung,   tidak seharusnya dia merangsek maju dalam kondisi seperti ini.

Diam-diam Hek Seng-thian kegirangan, secepat kilat telapak tangannya didorong ke muka.

Berapa gebrakan kemudian, benar saja, jurus serangan yang dilancarkan Sui Leng-kong makin lama semakin bertambah lemah.

Perlu diketahui, gadis itu sama sekali tidak tahu sampai dimana takaran ilmu silat yang dimilikinya, tidak heran kalau timbul perasaaan takut, cemas dan was-wasnya ketika bertarung melawan orang lain.

Thiat Tiong-tong yang bersembunyi dibawah ranjang jadi sangat gelisah bercampur cemas, baru saja dia hendak menerobos keluar, saat itulah Thiat Cing-kian yang semula sudah tergeletak mati itu melejit bangun lagi dari atas tanah.

Thiat Tiong-tong terkesiap, dia merasa jantung­nya berdebar keras, baru saja ingatan lain melintas.......

Mendadak Sui Leng-kong memutar pinggang­nya sambil berputar arah, sepasang telapak tangannya dihantamkan ke tubuh lawan kuat kuat.

Hek Seng-thian tertawa dingin, pikirnya:

"Ternyata ilmu silat yang digunakan adalah kungfu aliran Perguruan Tay ki bun, bodoh amat budak ini, bukannya mengandalkan kelebihannya dalam ilmu meringankan tubuh, dia justru menga­jak pertarungan dengan keras melawan keras"

Sambil berpikir dia mundur tiga langkah ke belakang, dengan demikian tubuhnya telah mundur ke hadapan "mayat" dari Thiat Cing-kian.

Mendadak terdengar Thiat Cing-kian mem­bentak nyaring, tubuhnya menubruk kedepan dan memeluk sepasang kaki Hek Seng-thian kuat kuat,.

"Dia.... dia hidup lagi!" jerit pemuda perlente itu kaget.

Hek Seng-thian jauh lebih terkesiap daripada siapa pun, tahu-tahu tubuhnya sudah diseret Thiat Cing-kian hingga terjatuh ke tanah, sepasang lutut kakinya tahu-tahu kesemutan, ternyata jalan darahnya sudah tertotok.

Berkilat sepasang mata pemuda perlente itu, tanpa banyak bicara tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan melarikan diri dari situ.

"Jangan lari" jerit Hek Seng-thian, "cepat bantu aku........."

"Murid kesayanganmu sudah kabur terbirit-birit, buat apa masih menjerit macam setan saja" jengek Thiat Cing-kian sambil tertawa dingin.

Seraya berkata, telapak tangannya diayunkan berulang kali, dua buah jalan darah penting dibawah ketiak kembali sudah ditotok olehnya.

"Kau......bagaimana mungkin kau......."

"Hmm! Kau anggap aku sudah mampus?"

"Sudah kuperiksa denyutan nadimu......"

"Sebelum kau melancarkan pukulan, aku sudah menghimpun seluruh tenaga dalamku untuk melindungi dada, karena itu setelah termakan pukulanmu, akupun menutup semua pernapasanku pura-pura mati, aku yakin selesai menghantamku, kau pasti akan melakukan pemeriksaan, hehehehe.... Hek Seng-thian, selama ini kau banyak akal busuk dan licik, masa tidak terbayang olehmu betapa bermanfaatkan taktik pura-pura mati?"

"Baik, anggap saja aku Hek Seng-thian berhasil kau pecundangi hari ini, sekarang aku sudah terjatuh ke tanganmu, mau bunuh, bunuhlah, tidak usah banyak cincong lagi!"

"Mau  bunuh, bunuhlah? Hmmm,  gampang amat!" jengek Thiat Cing-kian dingin.

Sorot matanya dialihkan ke wajah Sui Leng-kong yang masih termangu mangu, lalu ujarnya sambil tertawa:

"Nona, tidak ada salahnya kau yang memberi usul, lebih baik mau menghukum mati bangsat ini dengan cara apa, aku pasti akan menuruti permintaanmu”

"Ter..... terserah" jawab Sui Leng-kong sambil membelalakkan matanya.

"Daging manusia lezat lagi harum, nona pernah mencicipi?" tanya Thiat Cing-kian kemudian.

"Aa..... aku be....belum pernah menci.....cipi, aku.....aku pun tak.....tak doo.....doyan!"

"Kalau begitu biar aku nikmati sendiri daging tubuhnya, gara-gara pukulan bajingan ini tadi, tenaga dalamku menderita kerugian sangat besar, biarlah aku gunakan dagingnya untuk memulihkan kembali kekuatan tubuhku"

Seraya berkata, dia cabut keluar sebilah pisau belati dan mulai diasah dialas sepatunya.

Kulit wajah Hek Seng-thian mulai mengejang keras, mengejang lantaran ngeri bercampur seram, serunya gemetaran:

"Kalau ingin membunuhku, bunuh saja dengan sekali tusukan, buat apa kau mesti menyiksaku dengan cara begitu?"

Thiat Cing-kian sama sekali tidak ambil perduli, melirik sekejap pun tidak, dia masih meneruskan asah pisaunya.

"Nona!" dia berseru kemudian sambil menatap wajah Sui Leng-kong, "aku berterima kasih sekali kepadamu karena selama ini telah menjagakan harta karun ini disini"

"Har......harta ka....karunmu?" tanya Sui Leng­kong dengan mata terbelalak semakin lebar, dia keheranan.

"Harta karun ini memang milik Perguruan Tay ki bun, kalau kulihat dari gaya ilmu silat yang nona gunakan pun seolah sangat mirip dengan kungfu aliran kami....."

"Aa.. .apa itu tay...... Perguruan Tay ki bun? A.....aku   tii.....tidak  tahu......   tii...tidak menger......mengerti"

Thiat Cing-kian tersenyum, baru saja dia akan mengucapkan sesuatu lagi, mendadak dari bela­kang tubuhnya terdengar seseorang menyambung dengan nada dingin:

"Aku tahu!"

Tiba-tiba dari bawah kolong ranjang sudah muncul seorang pemuda berwajah hitam, beralis mata setajam pedang dan bersorot mata setajam cahaya bintang.

Begitu menyaksikan raut muka pemuda itu, entah mengapa, tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar keras, seakan-akan baru saja berhadapan dengan setan gentayangan.

"Sii....siapa kau?" tegurnya gemetar.

"Kau tidak kenal dengan aku? Hmm! Aku justru kenal siapakah dirimu!" dengan sorot mata setajam sembilu pemuda itu mengawasinya lekat-lekat.

Sui Leng-kong sendiri ikut dibuat kebingungan dan tidak habis mengerti, kendatipun begitu dia pun bisa meraba kalau diantara kedua orang ini pasti terjalin suatu hubungan khusus yang istimewa, oleh sebab itu dia sama sekali tidak ikut menimbrung.

Thiat  Cing-kian  memaksakan  diri  untuk tertawa, balik tanyanya:

"Darimana kau bisa mengenali diriku?" Begitu berjumpa dengan pemuda ini, perasaan ngeri bercampur takut  seketika  menyelimuti perasaan hatinya, membuat dia sama sekali tidak berani turun tangan.

"Coba amati wajahku, mirip siapakah aku ini?"

Thiat Cing-kian mengamatinya berapa saat, semakin dipandang hatinya semakin takut, makin diamati hatinya semakin bergidik.

"Coba pandang lebih seksama, coba dipikirkan lebih teliti!"

Dibawah cahaya mutiara yang redup tiba-tiba Thiat Cing-kian teringat akan seseorang, serunya gemetar:

"Kau......kau......."

"Sudah teringat siapakah aku?"

"Apa hubunganmu dengan Thiat Hau toako?"

Thiat Tiong-tong melompat bangun, hardiknya:

"Kau masih punya muka, berani menyebut mendiang ayahku sebagai toako? Hmmm, gara-gara harta karun kau begitu tega mencelakai dia orang tua, membuat beliau kehilangan sebuah lengan dan cacad seumur hidup, kalau bukan gara-gara ulahmu, tidak mungkin dia orang tua tewas ditangan orang lain.....kau.... kau memang bedebah!"

"Kau.... kau keliru besar, aku........" paras muka Thiat Cing-kian berubah pucat pasi bagaikan mayat.

"Keliru?" jengek Thiat Tiong-tong gusar, "hmmm! Dengan mulutmu, Kau telah mengakui semuanya, sekarang masih berusaha mungkir? Masih ingin menyangkal?"

Mendadak sambil membusungkan dadanya Thiat Cing-kian berteriak lantang:

"Benar, memang aku yang membokongnya, akulah yang mencelakainya, sejak kecil hingga dewasa aku selalu, setiap saat hidup dibawah kendalinya, nyaris aku dibuat sesak napas hingga tidak mampu hidup layak, begitu muncul kesempatan, tentu saja aku harus memberontak, harus melakukan perlawanan, tapi aku sama sekali tidak membunuhnya, aku hanya........."

"Sekalipun kau tidak membunuhnya, tapi gara-gara ulahmu dia harus tewas ditangan orang......"

"Mau apa kau?"

"Aku hendak membunuhmu, membalaskan dendam sakit hati ayahku!"

"Setiap orang boleh saja membunuhku, tapi kau tidak boleh melakukannya!"

"Kenapa tidak boleh?"

"Jangan lupa, bagaimanapun juga aku adalah pamanmu, sebagai anggota Perguruan Tay ki bun, kau berani bersikap kurangajar terhadap angkatan tua?"

Thiat Tiong-tong tertegun, dia tahu peraturan perguruan yang harus paling berat hukumannya dalam Perguruan Tay ki bun adalah: mengkhianati perguruan serta berani melawan orang yang lebih tua.

Menyaksikan perubahan mimik wajah anak muda itu, sekulum senyuman licik kembali ter­sungging dibibir Thiat Cing-kian.

Mendadak terlihat bayangan manusia ber­kelebat lewat, Sui Leng-kong sudah berdiri dihadapannya sambil berkata:

"Aku.....aku bisa membunuhmu"

"Tentu saja kau bisa membunuhku" jawab Thiat Cing-kian sambil tertawa dingin, "tapi sayang kau bukan tandinganku, jika kurang percaya, silahkan saja dicoba!"

Baru selesai dia berkata tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang menyeramkan berku­mandang datang dari luar gua, menyusul kemudian seseorang mengejek:

"Kalau begitu biar aku yang mencoba lebih dulu!"

Begitu mendengar suara orang itu, paras muka Sui Leng-kong seketika berubah jadi pucat pias, tubuhnya gemetar keras.

Baik Thiat Cing-kian maupun Thiat Tiong-tong, mereka berdua sama-sama terperanjat dan tidak habis mengerti.

"Tingg.....tingg......" dari luar gua bergema suara dentingan nyaring, suara itu mula-mula berasal dari tempat yang jauh tapi sejenak kemudian sudah tiba didepan mata.

Paras muka Sui Leng-kong berubah makin memucat, pucat bagai selembar kertas.

Diantara kilauan cahaya mutiara, terlihat sesosok bayangan manusia telah melayang masuk ke dalam ruang gua.

Dia adalah seorang nyonya tua yang kurus kering, tangannya menggenggam dua batang tongkat bambu, setiap kali tongkat bambunya menutul permukaan tanah, tubuhnya melayang di udara persis seperti seorang nenek sihir.

"Ibu........" bisik Sui Leng-kong dengan nada gemetar.

"Hmm, kau masih ingat memiliki seorang ibu? Bagus, bagus!" dengus Sui Ji-song dingin.

Dia melirik Thiat Tiong-tong sekejap kemudian sorot matanya segera dialihkan ke tubuh Thiat Jing-kian, sepatah demi sepatah kata tegurnya dengan nada berat:

"Thiat Cing-kian, kau masih ingat dengan diriku?"

Dengan cepat Thiat Cing-kian menggeleng. "Maaf, aku benar benar tidak bisa mengenali dirimu"

"Masa kau sudah melupakan seorang sahabat karibmu pada dua puluh tahun berselang?"

Dia benar-benar tidak teringat perempuan jelek mana yang pernah dijumpai pada dua puluh tahun berselang.

"Masa kau sudah melupakan kejadian pada dua puluh tahun berselang, malam itu hujan angin, bunga berguguran ditengah hutan bunga tho......."

"Kau.....kau......kau adalah Sui Ji-song?"

"Ooh, rupanya kau masih teringat dengan diriku!" Sui Ji-song mulai tertawa, tertawa lebar.

Masih mendingan kalau dia tidak tertawa, begitu tertawa lebar, wajahnya nampak jauh lebih jelek, jauh lebih mengerikan.

Thiat Tiong-tong saling bertukar pandangan dengan Sui Leng-kong, mereka sama sekali tidak menyangka kalau Sui Ji-song ternyata kenal dengan Thiat Cing-kian, yang membuat Thiat Tiong-tong semakin keheranan adalah sorot mata Sui Ji-song waktu itu.

Sorot matanya penuh dengan pandangan sayu, seakan-akan dia sedang terkenang kembali kejadian dimasa lampau, peristiwa yang membuatnya sedih, menyesal, membenci hingga merasuk ke tulang sumsum........ percampuran dari berbagai macam perasaan yang kumpul jadi satu.

Dengan sorot mata yang serba kalut itulah dia mengawasi wajah Thiat Cing-kian yang tampak kaget, seram bercampur ngeri.

"Aku tahu, kau pasti masih teringat aku" katanya perlahan, "tapi sekarang sudah tidak mengenali diriku lagi, bukan begitu?"

"Aku.......aku........"

"Dua puluh tahun berselang, kau pernah berlutut dihadapanku, mengatakan aku adalah perempuan paling cantik, perempuan  paling lembut yang pernah kau jumpai sepanjang hidupmu"

Perlahan-lahan dia pejamkan matanya, se­akan-akan sedang terlarut dalam lamunannya yang indah dimasa silam.

Mendadak dia membuka matanya kembali dan mulai tertawa keras, tertawa seram:

"Hahahaha.....tapi sekarang aku telah berubah jadi perempuan paling jelek dikolong langit, tentu saja kau tidak bakal kenali diriku lagi!"

Sepasang tangannya yang menggenggam tongkat bambu kelihatan gemetar keras, sambil tertawa menyeramkan lanjutnya:

"Dua puluh tahun, bahkan dua puluh tahun pun belum genap, tapi perubahan yang terjadi di dunia begitu besar dan luar biasa, dua puluh tahun berselang nyawamu terjatuh ke tanganku, aku hanya bisa membenci diri sendiri kenapa mau percaya dengan bujukan serta rayuan gombalmu, bukan saja kuampuni jiwamu bahkan genap selama dua hari menemanimu ditengah hutan bunga tho. Dua puluh tahun kemudian, kau terjatuh lagi di tanganku, sekarang bujukan dan rayuan gombal apa lagi yang akan kau sampaikan!"

Thiat Cing-kian memutar biji matanya ke sekeliling tempat itu, belum lagi dia berbuat sesuatu, terdengar Hek Seng-thian telah berkata pula sambil tertawa seram:

"Hehehehe..... kukira siapa yang ada disini, ternyata enso Seng pun ada ditempat ini"

"Hek Seng-thian, tutup bacotmu!" umpat Sui Ji-song cepat.

"Enso Seng, setiap waktu setiap saat Seng toako masih rindu dan teringat kepadamu, lebih baik cepat bunuhlah dia kemudian bersama siaute pergi menjumpai toako!"

"Ji-song!" dengan cepat Thiat Cing-kian menja­tuhkan diri berlutut, "akupun setiap saat setiap waktu selalu merindukan dirimu, sekali pun paras mukamu telah berubah, namun perasaan hatiku terhadapmu tidak pernah akan berubah"

"Enso seng, dia sedang membohongi dirimu" teriak Hek Seng-thian cepat, "dia......"

"Tutup mulut!" tiba-tiba Sui Ji-song mem­bentak nyaring.

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan dari wajah Thiat Tiong-tong ke wajah Thiat Cing-kian dan Hek Seng-thian, kemudian setelah tertawa dingin dengusnya:

"Dasar lelaki, pintarnya hanya merayu dengan kata-kata manis, aku Sui Ji-song sudah muak mendengarnya"

Sambil menuding Hek Seng-thian dengan tongkat bambunya, dia melanjutkan:

"Yang paling busuk, paling memuakkan diantara sekian yang ada, kaulah manusia paling busuk, bedebah paling laknat. Sejak awal kau sudah tahu kalau Seng Cun-hau tidak mampu punya anak maka kau sengaja membohongi aku, gagal berbohong kaupun mengasah pisau di hadapan Seng Toa-nio, menghasut dan mengadu domba kami, hmmm, semua hutangmu masih tercatat jelas dalam ingatanku, hari ini aku tidak bakalan mengampuni jiwamu!"

Begitu selesai bicara, tongkat bambunya ditekan dan langsung menghujam diatas dada Hek Seng-thian.

Seketika itu juga Hek Seng-thian menjerit ngeri lalu tergelepar ditanah dan tewas seketika.

Kemudian dengan tongkatnya kembali dia tuding Thiat Tiong-tong, katanya pula:

"Kau! Kau menipu putriku hingga ibunya pun sudah tidak dimaui lagi, kaupun bajingan laknat, aku harus menjagal dirimu!"

"Ibu......." jerit Sui Leng-kong dengan nada gemetar.

Sui Ji-song tidak menggubris, kini dia sudah menuding Thiat Cing-kian dengan tongkatnya:

"Dan kau" teriaknya, "kau telah menipuku, mencelakai aku hingga harus menderita siksaan seperti yang kualami hari ini, biar kucincang tubuhmu pun belum bisa melampiaskan semua rasa dendamku”

"Kau tidak boleh membunuhku, putri ku juga tidak akan setuju kau membunuh aku!"

"Siapa putrimu?"

"Dia!" teriak Thiat Cing-kian sambil menuding ke arah Sui Leng-kong.

Diiringi jeritan kaget Sui Leng-kong mundur berapa langkah ke belakang, kini punggungnya sudah menempel diatas dinding gua.

Thiat Tiong-tong sendiripun dibuat gelagapan, sebab semua perubahan yang terjadi amat menda­dak, sama sekali diluar dugaan, setiap perubahan yang berlangsung seakan diluar akal sehat siapa pun.

Terdengar Thiat Cing-kian berkata lebih jauh:

"Seng Cun-hau tidak bisa punya anak, tentu saja anak itu anakku, bagaimanapun kita pernah jadi suami istri selama dua malam, tegakah kau membunuhku ?"

Kini Thiat Tiong-tong baru mengerti apa yang telah terjadi, pikirnya:

"Tidak heran kalau Seng Toa-nio berniat membunuhnya telah mengetahui kalau dia hamil, tidak aneh jika diapun bersikap begitu kejam dan tidak berperasaan terhadap putrinya sendiri!"

Oleh karena dia sangat membenci Thiat Cing-kian, terhadap apa yang telah diperbuatpun merasa sangat menyesal, maka semua dosa, kesalahan dan rasa dendamnya dilampiaskan semua pada keturunannya itu.

Ketika mengalihkan kembali pandangan mata­nya, tampak Sui Ji-song sedang pejamkan matanya sambil berkata:

"Sesungguhnya akupun tidak tega untuk membunuhmu, aaai! Cepat kemarilah, bantulah aku menuju ke pembaringan sana, aku merasa lelah sekali"

Buru-buru Thiat Cing-kian menghampiri, berpura-pura tersenyum lembut dan memayang tubuh Sui Ji-song sambil berbisik:

"Ji-song, kita segera akan melewatkan sisa hidup dalam kegembiraan dan kesenangan, kita punya harta yang berlimpah......."

Belum habis ucapan tersebut diucapkan, tiba-tiba tubuhnya mengejang keras dan roboh terjung­kal ke tanah.

Dihiasi senyuman menyeringai yang menggi­dikkan hati Sui Ji-song tertawa keras:

"Hahahahaha.....harta karun? Dasar lelaki bau yang tamak tidak tahu malu!"

Kemudian dengan tongkat bambunya dia mencukil tumpukan barang berharga itu dan dihirukkan keatas mayat Thiat Cing-kian, katanya lagi:

"Hari ini, kusuruh kau mampus dibawah tumpukan harta karun!"

Dengan tubuh gemetar keras Sui Leng-kong mulai menangis tersedu sedu, bagaimanapun jahatnya Thiat Cing-kian, dia tetap ayah kandung­nya. Tidak heran kalau gadis tersebut tidak bisa menguasahi rasa sedihnya.

"Ibu, kau........." tiba-tiba mulutnya terkatup dan roboh tidak sadarkan diri disisi mayat Thiat Cing-kian.

Suara tertawa seram serta suara isak tangis seketika sirna dan lenyap, suasana dicekam kembali dalam keheningan.

Cahaya mutiara masih membiaskan sinarnya yang redup dan menyinari wajah Sui Ji-song yang jelek, tubuh yang kurus kering, rambut yang awut awutan serta kakinya yang cacad.

Kini sorot matanya telah berubah jadi merah padam sementara paras mukanya hijau membesi, dia seolah-olah sudah kehilangan seluruh tenaga hidupnya dan berubah menjadi sesosok kerangka kosong yang jelek.

Thiat Tiong-tong hanya mengawasi jalannya peristiwa itu dari samping...... dia sendiripun tidak tahu harus merasa benci atau iba..... terhadap mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah pun dia tidak tahu harus merasa benci atau iba.

Seluruh pertikaian, semua dendam kesumat telah berakhir dengan datangnya kematian, kemarukan serta ketamakan mereka terhadap harta karun pun ikut lenyap bersama datangnya maut.

Kini sorot mata Sui Ji-song sudah dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong, kembali senyuman menye­ramkan menghiasi ujung bibirnya.

"Bocah keparat" teriaknya, "kau telah membo­hongi putriku, kalau bukan secara diam-diam aku menguntit sampai disini, bukankah dia akan mati kelaparan di sini!"

"Asal hujin bersikap sedikit lebih baik kepada­nya, tidak melimpahkan semua dosa dan kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya kepada dia, dengan sendirinya dia akan menurut dan berbakti kepadamu"

"Kentut, kau tidak lebih hanya ingin menganaya aku si orang cacad, hari ini akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari si manusia cacad!"

Ditengah umpatan dan caci makinya dia sudah menutulkan tongkat bambunya dan melambung ke udara.

Betapa terkesiapnya Thiat Tiong-tong mengha­dapi terkaman itu, apalagi menyaksikan rambutnya yang awut tidak karuan, matanya yang merah berapi persis seperti setan buas yang sedang mementang-kan cakar mautnya.

Buru buru dia mengigos ke samping, tapi dua batang tongkat bambu itu secepat sambaran kilat telah mengancam dadanya.

Pemuda itu sadar kalau kepandaian silatnya masih bukan tandingan lawan, apalagi kondisi kesehatan badannya belum pulih sama sekali, tentu saja dia tidak berani menyambut dengan kekerasan, cepat dia mengegos lagi ke samping dan berusaha menghindarkan diri.

"Hmm, kau anggap bisa melarikan diri?"

Kembali tongkat bambunya melancarkan serangan berantai, jangan dilihat kakinya cacad, kecepatan geraknya ternyata sama sekali tidak berkurang.

Dalam waktu singkat puluhan gebrakan sudah berlalu, Thiat Tiong-tong semakin tidak kuasa menahan diri, tiba-tiba lututnya jadi lemas, ternyata dia sudah tersandung mayat Siau Lui-sin hingga tidak ampun tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.

Cepat dia berguling ke samping sambil menyambar sebuah pacul yang tertinggal disitu.

Ketika Sui Ji-song mundur ke belakang, Thiat Tiong-tong  telah  berhasil menyambar sebilah pedang berwarna hijau kemala, cepat dia bersalto dan melompat bangun.

Dia sadar, Sui Ji-song sudah tidak mungkin diajak berbicara secara baik-baik maka timbul niatnya untuk beradu nyawa.

Berpikir sampai disitu pedang mestikanya segera dibacokkan ke depan, bukan tubuh Sui Ji-song yang diarah melainkan tongkat bambu andalannya, inilah taktik "Mau memanah orang­nya, robohkan dulu kuda tunggangannya”.

"Traaang!" pedang dan tongkat bambu segera saling membentur.

Ternyata tongkat bambu itu sama sekali tidak patah, bergetarpun tidak, rupanya perempuan itu telah menyalurkan seluruh kekuatan tubuhnya ke dalam tongkat, sehingga senjata mestika pun sulit untuk mematahkannya.

Sebaliknya Thiat Tiong-tong merasakan pergelangan tangannya kesemutan, didalam kagetnya cepat dia melancarkan sebuah bacokan lagi.

"Bagus!" bentak Sui Ji-song, kali ini dia menyerang lagi dengan tongkat bambu yang sebelah.

Untuk kesekian kalinya Thiat Tiong-tong merasakan pergelangan tangannya bergetar keras, saking kerasnya pedang yang berada dalam genggamannya ikut mencelat ke udara.

Saat ini dia sama sekali tidak punya peluang untuk berpikir panjang, baru saja pedangnya mencelat dari genggaman, tongkat bambu dalam genggaman Sui Ji-song sudah menyambar lagi dengan kecepatan tinggi.

Thiat Tiong-tong segera membuang tubuhnya ke belakang kemudian menggelinding ke samping, dia menyelinap ke sisi kolam air.

Kembali Sui Ji-song melambung ke udara sambil meluncur ke tepi kolam air, bentaknya:

"Serahkan nyawamu!"

Tangan kirinya menekan ke bawah, tongkat bambunya langsung menyodok dada anak muda itu.

"Kraaak!" tiba-tiba tongkat bambu yang menu­tup disisi kolam air itu patah jadi dua, begitu kehilangan keseimbangan tubuh, tidak ampun.....

"Byuuur!" tubuhnya tercebur ke dalam kolam.

Ternyata ketika terjadi bentrokan antara pedang dan bambu tadi, kedua batang bambunya sudah gumpil berapa bagian terhajar pedang mestika Thiat Tiong-tong, oleh sebab itu begitu ditekan Sui Ji-song dengan penuh tenaga, tongkat bambu itupun patah jadi dua.

Semenjak Thiat Tiong-tong menelan jinsom berusia seribu tahun, kendatipun luka yang dideritanya belum sembuh seratus persen, namun tenaga dalamnya tanpa sadar telah bertambah maju pesat.

Dalam hal ini sebetulnya Thiat Tiong-tong sendiripun tidak tahu, itulah sebabnya dia tidak punya keyakinan, sebaliknya Sui Ji-song kelewat memandang enteng lawannya, karena kelewat gegabah maka perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini kontan membuatnya gelagapan.

Ditengah percikan bunga air yang menyebar ke mana mana Thiat Tiong-tong menghembuskan napas panjang sambil menyelinap ke arah lain, kini dia sudah menyingkir ke tepi dinding gua sambil mengatur pernapasan, dia bersiap siap menghadapi serangan berikut.

Siapa tahu meski sudah ditunggu sekian waktupun tiada gerakan apapun di kolam air itu, Sui Ji-song masih tertelungkup diatas permukaan air tanpa bergerak, seakan dia sudah menjadi sesosok bangkai.

Mula-mula Thiat Tiong-tong agak tertegun, tapi kemudian sadar apa yang telah terjadi, batinnya:

"Aaah benar, air itu beracun, Sui Ji-song pasti sudah meneguk air dalam kolam itu hingga keracunan dan tewas!"

Dalam waktu singkat tubuh Sui Ji-song yang kurus kering itu mulai mengejang lalu menyusut jadi kecil, empat anggota tubuhnya jadi melengkung dan kaku, rambutnya terapung diatas permukaan hingga keadaannya tampak sangat menakutkan.

Hampir saja Thiat Tiong-tong muntah saking mualnya setelah menyaksikan peristiwa ini.

Akhirnya dia tidak kuasa menahan diri lagi, dengan cepat pemuda itu lari keluar dari gua dan mulai muntah disudut batu, dia memuntahkan seluruh isi perutnya sehingga hanya tersisa air masam dalam lambungnya.

Pada saat itulah dari balik gua terdengar suara isak tangis Sui Leng-kong yang amat menyedihkan hati.

Berapa saat lamanya Thiat Tiong-tong berdiri mematung, dia tidak tahu bagaimana harus menghibur gadis itu.

Kini dia hanya berharap tidak pernah ada harta karun di dunia ini, maka semua peristiwa yang tragis, memedihkan hati dan menyiksa batin tidak pernah akan terjadi.

Sekalipun harta kekayaan itu indah dan menawan, seringkali yang ikut hadir bersama dengan harta adalah ketamakan, pelit, intrik, pembunuhan, kekejaman, perebutan kekuasaan, fitnah serta kematian.

Bagaimana pun juga mata umat manusia selalu akan dibuat silau oleh harta kekayaan, mereka hanya  bisa  melihat sisi terang  dari harta karun tapi tidak pernah bisa melihat sisi gelap dari kesemuanya itu.

Untuk berapa saat Thiat Tiong-tong hanya berdiri termangu, dia tidak bermaksud menghibur Sui Leng-kong yang menangis sedih, sebab dia tahu hanya cucuran air mata yang bisa melampiaskan semua rasa sedih yang mencekam perasaan seorang gadis.

Dia mulai duduk diatas peti baju, mengambil berapa kitab serta lipatan kain dari dalam peti musibah. Beberapa jilid kitab itu terbuat dari kain sutera yang halus sementara lipatan kain itu ternyata adalah sebuah bendera yang dibuat dari cucuran darah segar, tapi lantaran sudah kelewat lama, warna darah itu telah berubah sehingga nampak buram tidak bercahaya, tapi justru memancarkan daya tarik yang menggidikkan hati.

Ketika menyentuh gulungan kitab serta bendera berdarah itu, tanpa terasa tubuh Thiat Tiong-tong gemetar keras, air mata pun tanpa terasa ikut jatuh bercucuran.

Bukan saja didalam gua itu tersimpan harta kekayaan dan kematian, ternyata tersimpan pula sebuah rahasia besar.

Rahasia itu menyangkut leluhur Thiat Tiong-tong, yang penuh mengandung dendam kesumat, lelehan darah dan air mata, kegembiraan dimasa hidup dan penderitaan menjelang ajal.

Dia mulai membuka lembaran pertama kitab itu yang tertulis:

"Di masa lalu, sam-koay (tiga manusia aneh), Su-sat (empat iblis), Jit-mo (tujuh setan) Kiu-ok (sembilan orang jahat) cappwee koan (delapan belas perampok) mendatangkan bencana bagi umat persilatan, bukan saja sepak terjangnya jahat dan kejam, banyak orang persilatan hanya berani marah tidak berani bertindak.    Sampai suatu saat Im dan Thiat dua orang cianpwee terjun ke dalam dunia kangouw, setelah melewati berbagai pertarungan di bukit Hong-san, telaga Tong-teng, gunung Tiam-cong, telaga Tay-ouw, bukit Ci lian san, gunung Kunlun dan Tiong-tiau, akhirnya dengan andalkan dua bilah pedang sakti berhasil membasmi Sam-koay, Su-sat, Jit-mo, Kiu-ok serta Cappwee koan, dengan lumuran darah merekalah dibuat sebuah panji sakti.

"Sejak itu semua umat persilatan takluk dan menaruh hormat kepada kami, dimana panji sakti tiba, semua orang menyambut dengan penuh hormat.

"Akhirnya Im dan Thiat dua orang cousu mendirikan Perguruan Tay ki bun, dengan kebenaran dan keadilan membangun perguruan, dengan kebenaran dan keadilan menegakkan peraturan, dengan kebenaran dan keadilan menaklukkan orang.

"Kami berharap seluruh anggota perguruan untuk jangan melupakan ke delapan hal yang kami canangkan yakni: kesetiaan, bakti, kebajikan, cinta kasih, kepercayaan, kesetia-kawanan, kerukunan dan kedamaian. Taati peraturan perguruan, membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan serta kebenaran"

Disisi bagian bawah tertulis:

"Ketua angkatan ke dua Perguruan Tay ki bun, Thiat Hau"

Memegang surat wasiat peninggalan mendiang ayahnya, tidak kuasa air mata jatuh berlinang membasahi pipi Thiat Tiong-tong, dia segera membuka halaman ke dua, disitu tulisannya bertambah kalut.

"Aku Thiat Hau, seorang kakek cacad, beruntung memiliki seorang putra yang kini masih bayi, setiap kali   teringat   bahwa   aku tidak berkesempatan lagi untuk bertemu dengan putraku, hatiku teramat pedih.

"Nasibku memang kurang beruntung, sebuah lenganku dikutungi oleh adik sendiri, sepasang kaki dibikin cacad oleh musuh besar, dalam keadaan kritis dan terluka parah aku bertekad untuk menemukan kembali harta karun milik perguruan.

"Tumpukan harta ini disembunyikan leluhur Perguruan Tay ki bun sewaktu menyingkir dari musibah, walaupun sudah terkubur banyak waktu, untung saja aku berhasil menemukan tempat persembunyiannya setelah meneliti sebuah peta rahasia yang tidak utuh.

"Tapi yang membuat aku terharu adalah keberhasilanku menemukan kembali panji ber­darah yang dibuat leluhur sewaktu mendirikan perguruan, panji ini tidak ternilai harganya, barang siapa mendapatkannya, dialah yang berhak menduduki posisi seorang ketua.

"Aku sadar dalam kehidupan kali ini tidak mungkin bisa bertemu dunia bebas lagi, aku berharap siapa pun yang menemukan harta ini, bila bukan anggota Perguruan Tay ki bun, tolong gunakanlah untuk kesejahteraan orang banyak.

"Seandainya harta ini diperoleh anggota Perguruan Tay ki bun, dia berkewajiban untuk melanjutkan perjuangan kita menuntut balas, jangan sekali kali kau lupakan wejangan leluhur.

"Ketahuilah perahu bisa menyeberangkan orang, bisa pula menenggelamkan orang, harta karun ibarat air, bila kau pergunakan secara benar dia akan mendatangkan berkah, bila kau salah dalam penggunaan akan berakibat bencana, jangan lupa dengan wejangan ini.

"Kehidupanku didalam gua amat berat dan penuh derita, untuk mengisi waktu yang luang aku telah menulis semua catatan serta rahasia ilmu silatku didalam kain yang kugunakan sebagai pengganti kertas, semoga siapa pun yang beruntung mendapatkan mustika ini, gunakanlah ilmu ini demi kebajikan.

"Menjelang masa akhir hidupku, aku telah bertemu dengan Sui Leng-kong, dia adalah seorang gadis yatim yang bernasib memedihkan, selama ini dia menjadi satu-satunya penghiburku, maka akupun berharap siapapun yang mendapatkan harta ini bersedia pula merawat dirinya.

"Ilmu silat yang kutulis antara lain terdiri dari kouwkoat tenaga dalam, ilmu samadi, ilmu pukulan Tayki hong im-ciang, dua belas jurus ilmu darah besi serta ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang"

Membaca sampai disini Thiat Tiong-tong segera mendongakkan kepalanya, dengan air mata bercucuran pekiknya:

"Ayah.... ooh  ayah......  ananda yang tidak berbakti ternyata tidak punya jodoh untuk bersua muka denganmu"

Belum selesai dia bergumam, tiba-tiba ter­dengar helaan napas panjang bergema dari belakang tubuhnya, Sui Leng-kong dengan air mata bercucuran berkata:

"Apa...apakah dia... dia orang tua aa.....adalah aa... ayahmu?"

Dengan sedih Thiat Tiong-tong mengangguk.

Sui Leng-kong tertegun sesaat, kemudian tanyanya lagi:

"Di.... di mana i....ibumu?"

Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas.

"Sewaktu masih bayi, ibuku juga telah pergi"

Dengan lemah lembut Sui Leng-kong membelai rambutnya, dia memandang dengan sorot mata lembut, penuh rasa kasihan dan simpatik, perhatian dan penghiburan.

Gadis berhati mulia ini hanya memikirkan kemalangan yang menimpa orang lain, dia seakan sudah melupakan kemalangan sendiri, sejujur-nya, bukankah nasib yang menimpanya jauh lebih menge-naskan.

Kedua orang itu saling berhadapan dengan air mata berlinang, perasaan hati mereka penuh diliputi kegetiran dan kepedihan.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Sui Leng-kong bangkit berdiri, menggapai ke arah Thiat Tiong-tong dan bergerak keluar.

Sambil menggenggam kitab serta panji ber­darah itu, Thiat Tiong-tong ikut di belakangnya.

Gadis itu mengajak Thiat Tiong-tong berjalan menelusuri rawa-rawa dan kubangan, seperminum teh kemudian dia berhenti didepan sebuah gundukan tanah.

Disisi gundukan tanah itu penuh ditanami bebungahan berwarna kuning, tiba ditempat itu Sui Leng-kong segera menundukkan kepalanya, air mata kembali berlinang membasahi wajahnya.

"Apakah..... apakah disini tempat kubur dia...dia orang tua?"

Sui Leng-kong berdiri kaku ditengah hembusan angin dan manggut-manggut.

Thiat Tiong-tong segera jatuhkan diri berlutut didepan kuburan dan menangis tersedu sedu.

Sui Leng-kong ikut berlutut, dalam hati berdoa: "Aku telah mengajak keturunan kau orang tua datang kemari, semoga arwahmu dialam baka bisa beristirahat tenang"

Kemudian setelah membesut air mata, katanya lagi dengan sedih:

"Ayahku pernah berbuat salah kepada kau orang tua, tapi diapun sudah mati, kumohon kau orang tua sudi memaafkan segala dosanya"

Hujan, tiba-tiba turun dengan derasnya, se­akan-akan air hujan ingin mencuci bersih semua dosa dan kesalahan yang telah lampau.

Lama, lama kemudian akhirnya hujan pun berhenti.

Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong bangkit berdiri kemudian menarik tangan Sui Leng-kong, dia sudah putuskan akan menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi gadis yang patut dikasihani ini.

Tiba-tiba Sui Leng-kong mengangkat kepala­nya.

"Kau.....kau tidak membenciku?" tanyanya.

"Tanpa kau, aku sudah mati sejak tadi, tanpa kau, ayahku mati tanpa liang kubur, untuk berterima kasih pun masih belum mampu, mana mungkin aku membencimu?"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Bukan saja tidak membencimu, bahkan aku... akupun tidak akan membenci ayah ibumu........"

Baru bicara sampai disitu, Sui Leng-kong sudah menubruk ke dalam rangkulannya dan menangis tersedu.

Biarpun dunia amat luas, namun dia merasa hanya bisa bersandar pada pemuda itu satu orang, hanya selama berada dalam pelukan, kehidupan­nya yang lemah baru akan peroleh ketenangan.

Tapi dia harus meninggalkan dia, meninggalkan dia, meninggalkan dia.....

Kenapa? Dia tidak boleh mengatakannya, dia tidak tega mengatakannya.....

Thiat Tiong-tong telah menarik tangannya dan berkata dengan lembut:

"Jangan menangis, pergilah bersamaku, kau telah mengubur jenasah ayahku, sekarang akupun akan mengubur jenasah ayah ibumu"

Dengan pandangan bingung Sui Leng-kong mengikutinya balik ke dalam gua rahasia, panji darah dan kitab silat yang tersebar ditanah pun telah dipungut kembali, tapi mereka telah meninggalkan air mata dan kesedihan.

Tiba dalam gua, mereka menjumpai sebuah jubah panjang berwarna putih tergeletak diatas ranjang, diatas jubah itu tertera berapa huruf besar dari darah segar:

"Aku pun bisa berlagak mampus"

Jenasah Hek Seng-thian sudah tidak nampak ditempat itu.

Lama sekali Thiat Tiong-tong tertegun, akhirnya sambil menghela napas panjang ujarnya:

"Orang ini benar-benar sangat lihay, setelah ditipu orang lain, sekarang gantian dia yang menipu orang"

Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menjerit kaget kemudian menangis lagi dengan sedihnya, ternyata batok kepala Thiat Cing-kian dan Sui Ji-song telah dipenggal orang.

Harta karun yang semula memenuhi ruangan pun sudah berkurang banyak. Tampaknya barang apapun yang bisa dibawa telah dibawa pergi Hek Seng-thian dengan menggunakan kain baju, hanya saja bagian yang terbawa olehnya belum lebih dari sepersepuluh.

Thiat Tiong-tong memperhatikan sekejap tulisan darah yang tertera diatas jubah, lalu memeriksa pula mayat Sui Ji-song dan Thiat Cing-kian, saat itu darah yang mengalir dari tubuh mereka telah mengering.

Setelah menghela napas ujarnya kemudian:

"Dia sudah pergi hampir satu jam lamanya, saat ini pasti sudah berada jauh sekali, tidak mungkin bisa terkejar......."

"Tapi... aa....ayahku......."  Sui  Leng-kong menangis sedih.

"Sekalipun dia sudah pergi jauh, namun suatu saat aku pasti akan menangkapnya dan memba­laskan dendam sakit hatimu, kau percaya dengan­ku bukan?"

Sui Leng-kong manggut-manggut, suara tangis­annya juga ikut mereda.

Habis mengubur semua jenasah yang ada, Thiat Tiong-tong mengambil keputusan dia akan menjaga kuburan ayahnya selama seratus hari.

Tentu saja Sui Leng-kong menemaninya, kini dia sudah tidak perlu menghindari siapa pun, maka selesai membersihkan tubuh dia pun bertukar pakaian.

Tiga hari kemudian luka yang diderita Thiat Tiong-tong sudah sembuh kembali.

Diapun menjumpai kasiat dari jinsom berusia seribu tahun sangat luar biasa.

Selama hampir seratus hari mereka tetap tinggal didepan kuburan, menggunakan kesempatan itu mereka mulai merancang rencana bagaimana caranya mengirim keluar harta karun yang amat banyak itu, begitu juga memikirkan sistim pengamanan ketika diangkut.

Selesai masa berkabungnya, diapun berpamit didepan kuburan ayahnya dan mengambil kepu­tusan untuk segera terjun kembali ke dunia ramai.

Tentu saja Sui Leng-kong sangat gembira, sebab penderitaannya selama belasan tahun kini telah berakhir.

 

Bab 6.

Huru hara di Lokyang.

 

Kota Lokyang adalah sebuah kota besar yang makmur dan ramai, boleh dibilang kota paling makmur di kolong langit saat itu.

Belakangan tersiar sebuah kabar aneh dalam kehidupan masyarakat kota Lokyang, konon di kota itu telah kedatangan seorang manusia aneh yang memiliki kekayaan tidak terkalahkan.

Dikota Lokyang waktu itu sudah terdapat banyak sekali orang yang kaya raya, banyak saudagar kaya yang datang dari tempat jauh, kongcu dari keluarga kenamaan banyak sekali berkumpul dikota ini.

Tapi semua orang kaya yang ada disana ternyata tidak seorangpun dapat mengungguli kekayaan yang dimiliki manusia aneh itu, tidak heran kalau ia jadi pusat perhatian orang dan menjadi tokoh dalam cerita yang beredar.

Keluarga Li di utara kota bukan saja merupakan seorang kaya raya yang termashur di kota Lokyang, bahkan diapun merupakan seorang pengusaha permata yang terhitung paling besar di seantero jagad, tidak ada orang yang tidak kenal dengan Liok-yang.

Keluarga Li Lok-yang turun-temurun memang berdagang intan permata, bukan saja sudah sejak lama kaya raya bahkan kepandaian silat yang dimiliki keluarga Li pun terhitung sangat hebat.

Bagi saudagar yang mengusahakan intan permata, tidak mengerti ilmu silat sama halnya engan seekor domba yang hidup ditengah gerombolan harimau, keluarga Li sangat memahami akan hal ini karenanya kepandaian silat mereka pun dilatih dengan tekun.

Peristiwa aneh dan manusia aneh yang meng­gemparkan seluruh kota waktu itu berasal dari cerita para pembantu yang bekerja di keluarga itu.

Sudah sebelas generasi keluarga Li dari Lokyang berdagang barang permata, setelah melalui pelbagai kejadian dan peristiwa, anak buah mereka sudah terlatih hidup penuh kewaspadaan dan hati hati.

Mereka tidak memiliki toko yang mewah, megah dan indah, yang mereka miliki adalah sebuah bangunan raksasa yang kuno tapi kokoh dengan penjagaan yang sangat ketat.

Dalam satu tahun pasti ada sepuluh hari para saudagar barang permata berkumpul disitu, biasanya mereka melakukan transaksi besar besaran dalam gedung kokoh itu.

Para hartawan, para pedagang kenamaan biasanya akan membawa istri dan gundik mereka untuk berbelanja barang perhiasan disitu, busu, piausu pun banyak berkeliaran disana.

Tentu saja diantara mereka terdapat juga pentolan perampok, para pencoleng dan kaum lioklim yang biasa bekerja gelap, namun begitu hadir di sini, merekapun akan bertransaksi mengikuti aturan, tidak seorangpun berani main kekerasan apalagi berusaha merampok.

Pintu gerbang keluarga Li selalu terbuka, asal kau datang untuk berjual beli barang permata, tidak perduli apa pun status sosial mu, tidak perduli ada berapa banyak uang yang kau miliki, semuanya boleh berkunjung ke situ.

Dalam sepuluh hari yang istimewa ini, semua orang boleh datang ke sana, bahkan biarpun kau hanya ingin membeli sebutir mutiara atau ingin membeli bunga mutiara yang berharga tiga tahil, semuanya berhak menikmati pelayanan istimewa sebagai seorang bangsawan.

Anggota keluarga Li serta para pembantu yang telah melalui pendidikan ketat akan menyambut dan melayani semua orang secara santun dan halus.

Motto mereka adalah: “Sekali melangkah masuk ke pintu gerbang, kau adalah tamu kehormatan keluarga Li"

Ditempat ini tidak ada orang yang akan menanyai identitasmu, juga tidak akan diselidiki sumber uang dan harta yang kau miliki, asalkan saja tingkah lakumu selama ada disana normal dan tidak aneh-aneh.

Tapi jika kau mencoba melakukan tindakan yang melanggar hukum, yang ringan paling hanya diusir keluar dari gedung itu, sementara yang berat akan ditahan dan diinterogasi.

Tentu saja selama ini berapa kali keluarga Li harus menghadapi percobaan perampokan dan pembegalan, seperti yang dilakukan gembong iblis berilmu tinggi Gi pak siang sat atau Tok jiu Kun lun, tapi semua percobaan itu berhasil dipatahkan oleh orang-orang keluarga Li.

Tahun ini, pasar bebas kembali diselenggara­kan dalam gedung keluarga Li, bahkan tahun ini diselenggarakan lebih besar dan meriah.

Sejak hari Tiong-yang, kereta dan lautan manusia mulai membanjiri utara kota Lok-yang.

Pemilik toko permata angkatan ke sebelas Li Lok-yang berwajah bersih dengan perawakan tubuh tinggi, sekalipun rambutnya sudah memutih namun sinar matanya masih terang bagai cahaya bintang.

Dia mengenakan jubah berwarna gelap, dengan penampilan yang anggun penuh wibawa bersama putra pertamanya Li Kiam-pek berdiri di undak-undakan pintu kedua untuk menyambut keda­tangan para tetamunya.

Seorang nyonya cantik berpenampilan anggun ditemani seorang pemuda tampan berbaju putih merupakan sepasang tamu pertama yang datang berkunjung hari ini.

Menyusul kemudian pensiunan panglima perang, perampok kenamaan yang telah cuci tangan, pemuda perlente, kakek kaya raya dengan membawa bini dan istri mudanya berduyun-duyun memasuki ruangan.

Hari pertama berlalu dengan begitu saja, hari kedua baru merupakan puncak keramaian.

Tengah hari itu ketika Li Lok-yang sedang mencuri waktu untk beristirahat sejenak, tiba-tiba didepan pintu gerbang berhenti dua buah kereta megah yang ditarik delapan ekor kuda jempolan.

Kusir kereta adalah dua orang bocah tampan berbaju mewah yang baru berusia delapan, sembilan tahun, tapi keahliannya dalam mengendalikan kereta jauh lebih hebat ketimbang orang yang berpengalaman sekalipun.

Asal orang yang sedikit punya pengetahuan, mereka segera akan mengenali kalau ke dua orang bocah tampan ini tidak lain adalah Ban kim sintong (bocah sakti selaksa emas) hasil didikan rumah pelacuran kenamaan di kota Lokyang, rumah pelesiran Hun kiok hoa.

Bunga seruni putih Ko Chang-yan adalah seorang pelacur kenamaan dikotaraja, tapi setelah berusia lanjut dia alih profesi menjadi seorang pelatih sekawanan bocah tampan dan dayang cantik yang berkemampuan tinggi, orang-orang itu khusus dijual kepada orang kaya sebagai budak, tapi karena semua bocah dan dayang itu berotak cerdas, berkemampuan hebat dan memiliki berbagai macam ilmu, maka kalau bukan orang yang benar-benar kaya, jangan harap bisa mempekerjakan mereka, sebab harga mereka sangat tinggi, untuk membeli satu orang dibutuhkan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak, satu jumlah yang mungkin senilai dengan seluruh harta kekayaan seorang pedagang kaya.

Kini sorot mata semua orang sudah tertuju pada dua orang bocah yang ada dikereta kuda itu, setiap orang ingin tahu saudagar kaya raya mana yang ada dibalik kereta, siapakah orang yang memiliki kekayaan sebesar ini?

Pintu kereta pertama dibuka orang dan muncullah seorang gadis cantik berbaju mewah, gadis ini selain berwajah ayu, senyuman manis selalu menghiasi bibirnya.

Semua orang merasa pandangan matanya silau, serentak mereka mengawasi gadis itu dengan termangu.

Siapa tahu begitu turun dari kereta, gadis cantik itu segera membungkukkan tubuh seraya berkata:

"Nona, silahkan turun dari kereta"

Dari balik kereta kembali muncul sebuah tangan yang halus, tangan itu memegang bahu gadis pertama dengan lembut.

Menyusul kemudian dari balik kereta muncul sepasang kaki yang bulat kecil dengan mengenakan sepatu kecil yang indah, sebutir mutiara menghiasi ujung sepatu itu, mutiara sebesar kelengkeng yang bergetar ketika terhembus angin.

Sekalipun belum nampak orangnya, namun cukup melihat sepasang tangannya, sepasang kakinya serta sepasang mutiaranya yang bergetar, orang sudah merasa pandangan matanya silau, terkesima dan berdiri bodoh.

"Siapakah dia? Sebenarnya siapakah dia?" diam-diam semua orang mulai menebak.

Tahu-tahu diluar kereta sudah berdiri seorang gadis yang cantik bak bidadari dari kahyangan, rambutnya hitam mengkilap, kerlingan matanya bening bagai air, dia mengenakan pakaian model keraton yang halus tapi indah, bahannya seperti sutera seperti juga hasil tenunan.

Meskipun gadis yang pertama tadi cantik, tapi dia termasuk gadis yang banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat, sebaliknya gadis berbaju keraton itu memiliki kecantikan yang sama sekali tidak membawa hawa napsu, bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan.

Sambil berpegangan pada bahu gadis pertama, perlahan-lahan gadis itu berjalan menuju ke depan kereta ke dua.

Sorot mata semua orang pun serentak dialihkan ke atas kereta nomor dua.

Begitu pintu kereta kedua terbuka, sorot mata semua orang segera tertuju ke situ, ternyata yang muncul adalah seorang kakek berambut putih yang tubuhnya sudah bungkuk dan wajahnya penuh keriput.

Jalan kehidupan orang ini sudah terlewatkan separuh masa, langkah kakinya pun gontai, dengan satu tangan dia menutupi matanya seakan tidak tahan dengan cahaya matahari, tangan yang lain berpegangan diatas bahu gadis cantik berbaju keraton itu.

Menyaksikan adegan ini semua orang merasa kecewa bercampur tidak terima, masa sekuntum bunga seharum itu harus ditancapkan diatas seonggok tahi kerbau?

Dibawah pandangan mata banyak orang, mereka bertiga berjalan menuju ke pintu gerbang.

Buru-buru Li Lok-yang menyambut kedatang­an mereka, sambil tersenyum dan menjura sapa­nya:

"Tamu agung datang dari jauh, boleh tahu siapa nama anda?"

Kakek itu mendengus dingin, dengan suara bagai seorang banci sahutnya:

"Aku datang kemari untuk berdagang, bukan menjawab interogasimu!"

Li Lok-yang tertegun, kemudian buru-buru sahutnya sambil tertawa paksa:

"Silahkan masuk! Silahkan masuk!"

"Tentu saja harus masuk" jawab kakek perlente itu sambil melotot, "kalau tidak masuk memangnya harus tidur didepan pintu rumahmu, hmmm... hmmmm.... benar benar kurangajar!"

Sekali lagi Li Lok-yang tertegun, saking jengkel­nya nyaris dia tidak sanggup berkata-kata.

Selama hidup sudah cukup banyak manusia yang dijumpainya, tapi belum pernah dia jumpai kakek seaneh ini.

Kakek aneh itu langsung memasuki ruang utama, dengan sorot matanya dia memandang sekeliling tempat itu sekejap lalu serunya sambil tertawa terkekeh:

"Hahahaha...... palsu! Palsu! Dari lukisan yang tergantung dalam ruangan ini, paling tidak ada dua lukisan yang merupakan barang tiruan"

Li Kiam-pek yang masih muda, berdarah panas, kontan naik darah dan siap mengumbar amarahnya, tapi deheman ayahnya membatalkan niat tersebut.

Dalam pada itu ke dua orang bocah ganteng itu sudah ikut masuk ke dalam gedung sambil menjin­jing dua buah peti yang berbentuk indah, peti itu terbuat dari besi dengan taburan intan permata disekitarnya.

Belum lagi isi peti, dari bentuk ke dua peti itupun sudah ketahuan kalau nilainya luar biasa, tentu saja Li Lok-yang tahu nilai barang, tidak tahan untuk berdecak keheranan.

Begitu masuk ke dalam gedung, kakek perlente itu segera berteriak:

"Dimana tempat menginapku?"

Biarpun gedung keluarga Li tidak nampak mentereng, namun memiliki banyak halaman dengan ruang kamar yang indah.

Untuk menyambut kedatangan para tetamu­nya, Li Lok-yang telah perintahkan orang untuk membersihkan seluruh halaman rumah, dia tahu watak kakek perlente ini sangat aneh maka sengaja mengajaknya menuju ke halaman rumah yang paling lebar.

Siapa tahu begitu memasuki kamar, gadis cantik bak bidadari itu segera menutupi hidungnya sambil berkerut kening. Kakek perlente itu lebih marah lagi, sambil menuding ke ujung hidung Li Lok-yang umpatnya:

"Ruangan macam beginipun kau anggap tempat tinggal manusia? Kandang babi milik lohu jauh lebih indah ketimbang halaman rumahmu ini"

Li Kiam-pek tidak kuasa menahan diri lagi, sambil menarik wajahnya dia menegur:

"Kalau menganggap kurang berkenan, kenapa tidak membawa rumah sendiri?"

Dia sengaja tidak memandang wajah ayahnya dan langsung mengucapkan perkataan itu.

"Hmm, kau sangka bisa menyusahkan aku?" jengek kakek perlente itu sambil tertawa dingin.

Dalam duajam kakek berbaju perlente itu sudah perintahkan orang untuk mendirikan tiga buah tenda, tenda yang sangat megah dan indah bak istana raja Mongol ditengah gurun.

Perabot dan perlengkapan yang tersedia dalam tandu itu lebih hebat lagi, hampir semua benda adalah barang pilihan yang indah, mahal dan tidak ternilai harganya.

Dia menyediakan dapur sendiri dan menampik kiriman makanan yang disediakan gedung keluarga Li, kokinya adalah seorang koki kenamaan dari Hangciu, konon dia khusus diundang dari dalam istana kaisar.

Kakek yang aneh, istri yang cantik bak bidadari, kekayaan yang tidak terhingga, perjalanan yang spektakuler, ketika semua hal digabung menjadi satu, tidak heran kalau segera menimbulkan gelombang kehebohan dalam masyarakat.

Setiap orang mencoba untuk menebak namun tidak seorangpun bisa menduga asal usul kakek aneh ini, bahkan termasuk Li Lok-yang sendiripun diam-diam merasa tercengang sekalipun rasa herannya tidak sampai ditampilkan keluar.

Para bangsawan yang datang dari kotaraja menduga kalau kakek itu mungkin saja seorang pembesar dipinggir perbatasan yang telah pensiun atau seorang keluarga kaya raya dari wilayah Kanglam.

Sebaliknya para orang kaya dari wilayah Kanglam mengira kakek itu termasuk salah satu keluarga bangsawan di kotaraja atau salah satu keluarga Kaisar yang sedang berpesiar.

Malah ada sementara orang yang menduga kalau kakek itu adalah seorang perompak laut yang sudah cuci tangan dan memiliki kepandaian silat yang sangat hebat.

Tapi siapa pun tidak ada yang bisa menebak asal-usul sebenarnya dari rombongan itu.

Menjelang senja, koki kenamaan dari kakek aneh itu mengeluarkan sebuah daftar menu yang menggemparkan masyarakat: setiap hari mereka nembutuhkan seratus ekor ikan segar, delapan puluh ekor burung kakaktua dan yang lebih penting lagi setiap hari mereka butuh delapan ekor kuda jempolan yang masih hidup.

Sebab kegemaran kakek itu adalah otak ikan, hati burung kakaktua serta hati kuda yang dimasak setengah matang.

Selewat senja, kakek itu duduk didepan tenda sambil menikmati pelbagai macam arak wangi, arak yang begitu harum baunya hingga bisa terendus dari jarak duajalanan dari tempat itu.

Gadis cantik bak bidadari itu duduk disisi sang kakek dengan mengenakan kain cadar diwajahnya, selama ini tidak pernah terdengar dia berbicara, namun setiap kerdipkan matanya sudah jauh melebihi ribuan patah kata.

Ketika malam hari mulai tiba, perdagangan bebas dalam gedung keluarga Li pun dimulai, semua orang dengan membawa pelbagai barang permata mulai dengan perdagangan mereka.

Tapi transaksi yang terjadi pada hari kedua sangat minim, hanya seorang pensiunan jenderal membeli empat pasang kuda antik serta seuntai kalung mutiara.

Selain itu juga pasangan tamu pertama.... perempuan cantik berbaju sutera serta pemuda berbaju putih itu membeli berapa macam perhiasan dan sebilah pedang bertaburkan permata.

Hingga pasaran bebas ditutup, kakek aneh itu tidak pernah menampakkan diri, ini membuat banyak pemuda tampan yang tidak tahan untuk mencuri pandang ke halaman belakang.

Namun gadis cantik bercadar itu hanya mengernyitkan dahinya kemudian segera masuk ke dalam tendanya.

Ada berapa orang pemuda yang tidak kuasa menahan diri, mereka mulai mengumpat dengan nada kasar:

"Sekuntum bunga cantik ditancapkan diatas seonggok tahi kerbau, kakek bangkotan berumur delapan puluh tahun pun mengawini gadis cantik, betul-betul tidak tahu diri"

Ketika umpatan itu terdengar dari dalam tenda, tiba-tiba gadis cantik itu tertawa terpingkal-pingkal sambil berbisik:

"Kau...... penyamaranmu benar-benar sangat mirip!"

Kakek perlente itu segera meluruskan pung­gungnya yang bongkok, dalam waktu singkat dia seolah sudah lebih muda puluhan tahun.

"Kalau penyaruanku tidak mirip, orang lain tidak akan memaki, semakin kasar makian mereka, aku merasa semakin gembira"

Ternyata ke dua orang itu bukan lain adalah Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong yang tengah menyaru.

Semua dugaan yang beredar dalam masyarakat pun keliru besar.

Setelah tertawa sesaat, dengan kening berkerut Sui Leng-kong berkata lagi:

"Tapi aku......  aku merasa a....agak kuatir, cepat.... cepat atau lambat me...mereka pasti akan datang"

"Tentu saja mereka akan datang, kalau mereka tidak muncul, buat apa aku datang kemari?"

"See...   setelah  pulang.... Hek  Seng-thian pas.....pasti akan berusaha men...mencari kita, ulahmu i.....ini..... apa tidak akan ter....tertebak olehnya?"

"Mereka mempunyai banyak mata-mata yang tersebar dimana-mana, kemana pun kita pergi, apalagi dengan membawa harta karun sebanyak ini, cepat atau lambat jejak kita akan dikejar dan posisi kitapun akan semakin berbahaya, tapi dengan berulah seperti ini, mereka malah tidak berani bertingkah macam-macam, karena mereka tidak tahu pasti siapa kita berdua, jadi kau tidak perlu kuatir...."

"Tapi Hek Seng-thian pernah.... pernah ber­temu aku"

"Wajahmu saat itu jauh berbeda dengan penampilanmu sekarang, biarpun Hek Seng-thian bertemu denganmu pun belum tentu dia bisa mengenali"

Sambil tersenyum Sui Leng-kong tundukkan kepalanya, sepasang pipinya berseru merah, meski tidak berkata-kata namun perasaan hatinya terasa sangat manis dan hangat.

Kembali Thiat Tiong-tong berkata sambil ter­tawa:

"Sayang kebanyakan pemuda yang muncul disini hanya kawanan playboy yang gemar main perempuan, kalau tidak aku pasti akan mencari-kan jodoh untukmu!"

Tiba-tiba senyuman manis yang menghiasi wajah Sui Leng-kong hilang lenyap tidak berbekas.

Kini wajahnya berubah jadi pucat tidak berwarna darah, sorot matanya pun nampak sendu dan diliputi perasaan sedih.

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak memper­hatikan perubahan dari gadis itu, dia sedang mengawasi pedang mestika yang tergantung diatas dinding sambil berkata:

"Menurut perhitunganku, besok pagi mereka pasti akan muncul disini!"

Pagi hari ke tiga, sinar matahari bersinar cerah menerangi seluruh jagad.

Dari ujungjalan utara kota tiba-tiba muncul dua ekor kuda yang dilarikan kencang.

Kedua orang itu tidak lain adalah Hek Seng-thian, cong piautau dari perusahaan ekspedisi Thian bu piaukiok serta wakil cong piautaunya pendekar bertangan tiga Pek Seng-bu.

Diiringi suara ringkikan kuda yang panjang, mereka menghentikan kudanya persis didepan pintu gerbang gedung keluarga Li.

Sambil melompat turun dari kudanya, Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu langsung melangkah masuk ke dalam gedung seraya berseru:

"Dimana Li toako?"

Waktu itu Li Lok-yang sedang menarik napas didepan undak-undakan pintu gerbangnya.

Ke tiga orang itupun segera terlibat dalam pembicaraan serius.....

"Betul" terdengar Hek Seng-thian berkata, "Kedatangan kami berdua memang ingin mencari berita tentang seseorang"

"Siapa?"

"Konon dalam gedung Li toako telah kedatangan seorang manusia aneh yang memiliki kekayaan luar biasa, bahkan barang berharga yang dimilikinya merupakan barang-barang langka?"

"Cepat amat berita ini tersiar ke telinga Hek congpiautau, baru berlangsung satu hari ternyata semua kejadian telah kau ketahui"

"Tujuan kedatangan kami kali ini memang ingin menyelidiki asal-usul orang tersebut, disamping itu juga ingin tahu ada siapa saja pengunjung yang kelihatan agak mencolok dalam dua hari ini?"

"Bukan saja cayhe tidak mengetahui latar belakang kakek itu, bahkan siapa namanya pun tidak jelas"

"Tapi Li toako......."

Sambil menarik muka tukas Li Lok-yang:

"Sekalipun aku berhasil mengetahui latar belakangnya pun tidak mungkin akan kuberitahukan kepada kalian berdua, sebab hal ini termasuk tradisi keluarga Li yang harus ditaati turun-temurun, aku rasa kalian berdua pun mengetahui dengan jelas bukan?"

Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling ber­tukar pandangan sekejap, kemudian setelah termenung sejenak ujar Pek Seng-bu:

"Kalau memang begitu bisakah Li toako memberitahukan kepada kami barang berharga apa saja yang dibawa kakek aneh itu?"

"Tentang hal ini....... asal kalian berdua mau tinggal selama berapa hari, dengan sendirinya akan melihat sendiri semua yang bisa dilihat, bila kalian pun tidak dapat melihatnya, cayhe sendiri pun pasti tidak bisa melihatnya juga"

Dengan senyuman dikulum kembali tambah­nya:

"Kalian tentu lelah setelah menempuh perjalanan jauh, silahkan mencuci muka lebih dulu kemudian meneguk secawan arak untuk memulih­kan kembali kondisi tubuh"

Pek Seng-bu yang selama ini membungkam terus tiba-tiba menimbrung dengan suara dalam:

"Kami dua bersaudara bukannya tidak paham dengan kebiasaan serta tradisi yang berlaku dalam keluarga Li toako, tapi........"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Persoalan ini menyangkut masalah yang amat besar dengan keberlangsungan hidup Thian bu piaukiok, Seng kee ceng, Benteng Han hong po, Bi lek tong serta peternakan Lok jit, bila kami gagal menemukan jejak sepasang muda mudi itu......aaai!

Tidak bisa dibayangkan bagaimana akibatnya. Oleh   sebab   itu   aku mohon kepada Li toako, mengingat hubungan kita yang sudah cukup lama, bersedia membantu kami berdua"

Meskipun perkataan itu disampaikan dengan halus dan lembut, namun paras mukanya kelihatan jelas amat serius dan berat.

"Muda-mudi dua orang?" agak berubah paras muka Li Lok-yang, "apakah mereka adalah anak murid Thiat hiat tay ki bun?"

"Betul, mereka adalah murid Perguruan Tay ki bun!"

"Orang-orang Perguruan Tay ki bun gemar berkeliaran secara bebas bahkan lebih suka bergerak ditengah gurun atau padang rumput atau tanah perbukitan yang sepi, atas dasar apa kalian bisa menduga kalau mereka akan datang kemari?"

"Aaai! Panjang sekali ceritanya, singkatnya kami berhasil mendapat tahu kalau anak murid Perguruan Tay ki bun berhasil menemukan sejumlah harta karun yang tidak ternilai harganya, mereka pasti akan berusaha menjual sebagian dari harta itu untuk ongkos bergerilya, oleh sebab itu kami simpulkan mereka pasti akan muncul disini untuk menjual hasil penemuannya itu"

"Ooh, jadi kalian berdua menaruh curiga kalau kakek aneh serta istri cantiknya adalah penyamaran dari muda-mudi murid Perguruan Tay ki bun?"

"Betul!"

"Anak murid Perguruan Tay ki bun pun pasti tahu kalau mereka sedang berada dalam target pencarian kawanan jago lihay dari lima keluarga besar, dalam keadaan seperti ini untuk menyem­bunyikan diri saja sudah cukup kerepotan, mana mungkin mereka mau tampilkan diri dalam satu pertemuan terbuka yang begini mencolok, apalagi melakukan tingkah laku yang aneh dan ekstrim, melakukan perbuatan yang justru memancing perhatian orang banyak?"

Hek Seng-thian menghela napas panjang.

"Meskipun perkataanmu ada benarnya juga, tapi anggota Perguruan Tay ki bun seringkah melakukan tindakan yang jauh diluar dugaan orang, bila kita sedikit lengah, pasti akan termakan oleh siasat busuk mereka"

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka bertiga sudah mengambil tempat duduk di ruang tengah.

Li Lok-yang termenung berapa saat, kemudian baru ujarnya:

"Menurut tradisi yang berlaku turun-temurun, siaute betul betul tidak bisa membantu kalian berdua, tapi diluar masalah ini, bila kalian berdua membutuhkan sesuatu pasti akan siaute penuhi"

"Kalau begitu siaute butuh bantuanmu"

"Bantuan apa?"

"Siaute hanya ingin meminjam dua stel pakaian pembantu dari keluarga Li toako untuk kami kenakan"

"Baik!"

Setengah jam kemudian Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sudah muncul dengan pakaian pegawai gedung keluarga Li, mereka ikut mem-baurkan diri dalam kerumunan orang banyak.

Sementara itu dari balik tenda mewah terdengar suara permainan khiem yang merdu merayu.

Meskipun waktu itu mereka berdua punya maksud tertentu, tidak urung terbuai juga oleh lantunan irama musik yang merdu merayu itu.

Dayang cantik berbaju perlente itu duduk didepan dupa hio sambil memetik senar khiem, sementara dua orang bocah ganteng itu duduk dikedua sisinya sambil memainkan seruling serta alat musik lainnya.

Thiat Tiong-tong dengan senyum dikulum seolah sedang menikmati lantunan lagu merdu itu, padahal secara diam-diam dia mengawasi terus gerak-gerik disekelilingnya, dari balik matanya yang setengah terpejam terkadang memancar keluar sinar mata yang tajam.

Hanya Sui Leng-kong yang bersandar diatas pembaringan bagaikan seekor kucing yang sedang tiduran.

Pada saat itulah tiba-tiba dayang cantik itu mengakhiri permainan khiem nya.

Sambil menghelanapas kata Sui Leng-kong:

"Si-ji, permainanmu.....sungguh indah!"

Mendadak Thiat Tiong-tong melompat bangun sambil berseru:

"Mainkan terus alat musik itu!"

Dengan sebuah gerakan cepat dia menyelinap keluar dari balik tirai.

"Su.... sudah datang?" bisik Sui Leng-kong dengan wajah berubah.

"Yaa, sudah datang!"

"Bagaimana sekarang?"

"Kalian semua jangan bergerak, Si-ji, lanjutkan permainan khiem mu!" kemudian setelah mem­betulkan letak baju dan rambutnya sekali lagi dia menyingkap tirai dan berjalan keluar.

Waktu itu Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu masih tetap berpatroli diseputar tenda, tiba-tiba mereka saksikan ada seorang kakek bungkuk yang berwajah aneh muncul dari balik tenda sambil menggapai ke arah mereka berdua.

Kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap, bisik Hek Seng-thian:

"Sasaran kita telah muncul!"

Sambil mengangguk kedua orang itu segera berjalan mendekat.

"Apakah kalian berdua adalah pembantu gedung ini?" tegur kakek aneh itu dingin.

"Benar!" jawab Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sambil menjura, "kau orang tua ada perintah apa hamba memang khusus ditugaskan disini untuk melayani kebutuhan kau orang tua"

Dalam hati Thiat Tiong-tong tertawa dingin, tapi dia tampil dengan wajah tenang, katanya lagi sambil menggapai:

"Masuklah!"

Selesai berkata dia masuk kembali ke balik tenda.

Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling bertukar pandangan sekejap, kemudian bersama-sama masuk ke dalam tenda. Diam-diam mereka telah menghimpun tenaga dalamnya pada kedua lengan dan siap melancarkan serangan setiap saat.

Begitu masuk ke balik tenda, terenduslah bau harum yang lembut menyelimuti seluruh ruangan, ketika mereka melirik sekejap ke sekeliling tempat itu tampaklah dua orang bocah ganteng itu sedang mendampingi seorang dayang cantik bermain khiem, terhadap kemunculan mereka berdua, mereka sama sekali tidak memandang atau melirik, sementara seorang gadis cantik sambil menggoyang kipasnya sedang berbaring sambil menikmati alunan musik.

Sambil duduk bersandar diatas bangkunya kakek aneh itu menegur dengan nada ketus:

"Kalau memang kalian berdua adalah pem­bantu keluarga Li, kenapa berani sembarangan mencuri barang milik lohu?"

"Peraturan keluarga Li sangat ketat dan keras, tidak mungkin kami berani mencuri barang milik tamu. Kau orang tua tentu salah paham"

Orang ini memang pintar lagi licik, sekalipun sebagai seorang cong piautau harus menyamar jadi seorang pembantu, ternyata gerak-gerik maupun cara berbicaranya sangat mirip, sama sekali tidak nampak mencurigakan.

"Hmm, akan kulihat kau bisa menyaru sampai berapa lama?" pikir Thiat Tiong-tong sambil tertawa.

Sambil menarik wajahnya kembali dia mem­bentak:

"Barang bukti didepan mata, kalian masih berani menyangkal?"

Sementara itu Pek Seng-bu sedang merasa keheranan, dia tidak berhasil menjumpai pertanda yang menunjukkan kalau kakek itu berasal dari Perguruan Tay ki bun, tanpa terasa pikirnya:

"Jangan-jangan dia memang kehilangan barang dan sekarang melimpahkan kesalahannya pada kami berdua?"

"Hamba berdua baru saja tiba disini" kata Hek Seng-thian dengan kepala tertunduk, "hamba benar-benar......"

"Braaak!" Thiat Tiong-tong menggebrak meja sambil berteriak gusar:

"Masih ingin membantah?"

Sambil menuding si dayang cantik yang sedang memetik senar khiem katanya lagi:

"Aku harus mengeluarkan biaya sebesar lima belas ribu tahil perak untuk membeli dia dari rumah pelesiran Hun kiok hoa, sementara kau sama sekali tidak keluar biaya barang setengik pun, nyatanya berani amat ikut menikmati alunan musik yang dia mainkan. Apakah ini bukan mencuri namanya?

Sudah ada barang bukti masih berani membantah, ayoh cepat akui kesalahan kamu berdua!"

Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu tertegun dibuatnya, untuk sesaat mereka tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Thiat Tiong-tong semakin mencak-mencak kegusaran, sambil melompat bangun dari tempat duduknya kembali dia menghardik:

"Kalian berdua sudah mencuri barang milikku, sekarang tidak mau mengembalikannya kepada­ku?"

"Bagaimana caranya mengembalikan  irama musik itu?" tanya Pek Seng-bu cepat.

"Kau harus memainkan juga sebuah lagu untuk aku dengar"

"Tapi hamba tidak pandai bermain khiem"

Thiat Tiong-tong semakin gusar, umpatnya sambil menggebrak meja:

"Tidak bisa, tidak bisa, memangnya kalau sudah bilang tidak bisa lantas urusan beres? Lohu akan laporkan kejadian ini kepada majikan-mu, lohu akan... akan...."

Tiba-tiba dia terduduk kembali di bangku dengan napas tersengkal sengkal bahkan berulang kali terbatuk batuk, bocah ganteng itu segera menyuguhkan air teh sambil membujuk:

"Loya, kau jangan marah...."

Setelah menyuguhkan air teh, dia segera menguruti punggungnya.

Pek Seng-bu dan Hek Seng-thian saling bertukar pandangan tanpa bersuara, agaknya mereka tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Sui Leng-kong yang menyaksikan tampang kedua orang itu diam-diam merasa geli, tapi diapun kuatir wajahnya ketahuan Hek Seng-thian, maka setelah mendeham bisiknya: "Sudahlah......."

Dengan menutupi wajahnya dengan kipas, diam-diam dia memberi kode mata pada pemuda itu.

"Enyah,.... kalian cepat enyah dari sini" maki Thiat Tiong-tong lagi, "jika kalian berdua berani mencuri dengar lagi, jangan salahkan kalau lohu akan potong kaki anjing kau berdua!"

Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu tidak berani bicara lagi, buru-buru mereka mengundurkan diri dari situ.

Sepeninggal kedua orang itu, Sui Leng-kong tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terpingkal-pingkal sampai membungkukkan tubuhnya.

Dalam pada itu Pek Seng-bu yang sudah berada diluar halaman sedang menghela napas panjang, sambil tertawa getir dan gelengkan kepalanya berulang kali dia bergumam:

"Benar-benar seorang kakek pelit yang aneh, tidak heran kalau dia cepat kaya raya"

Paras muka Hek Seng-thian pun nampak suram dan serius, katanya:

"Walaupun aku tidak berhasil mengenali siapakah dia, tapi aku merasa bahwa dibalik semuanya ini terdapat sesuatu yang aneh"

"Apakah perempuan itu adalah gadis yang toako jumpai dalam gua?" tanya Pek Seng-bu dengan kening berkerut.

Dengan cepat Hek Seng-thian menggeleng.

"Gadis yang kujumpai didalam gua amat aneh dan jelek, sementara gadis itu cantik bak bidadari dari kahyangan, tapi..... aku tetap merasa ada sesuatu yang tidak beres......ada yang tidak beres"

"Apanya yang tidak beres? Mungkin kau merasa aneh karena yang tua jelek, bongkok lagi memuak­kan sementara yang perempuan muda, cantik dan menawan, karena itu toako merasa hubungan ini agak kurang beres"

"Bukan begitu saja, aku tetap merasa ada yang tidak beres, hanya saja tidak bisa kujelaskan dimana letak ketidak-beresan itu"

Pek Seng-bu segera menepuk bahu saudaranya sambil berkata:

"Sudahlah, lebih baik toako memeriksa ke timur sementara siaute periksa ke arah barat, coba kita lakukan penyelidikan lagi, siapa tahu akan ditemukan sesuatu petunjuk yang berharga"

Tidak menunggu jawaban dari Hek Seng-thian, dia sudah membalikkan tubuh dan beranjak pergi.

Sementara Hek Seng-thian masih berpikir dengan kening berkerut, tiba-tiba dia mendengar gelak tertawa berkumandang dari halaman depan, tanpa terasa dia berjalan menghampiri.

Halaman itu bukan didiami keluarga kaya raya, tapi lantai disapu amat bersih.

Saat itu sepasang suami istri setengah umur sedang berdiri diatas undak-undakan dengan senyuman dikulum, disisi lain terlihat sepasang suami istri yang lebih muda usianya dengan didampingi seorang dayang sedang mengawasi seorang bocah berusia tiga, empat belas tahunan menari ditengah halaman.

Cara bocah itu menari sangat aneh tapi gerakannya lucu. Melihat itu Hek Seng-thian tersenyum sendiri, dia segera melihat kalau bocah itu ternyata pincang kakinya.

Sementara dia masih memandang dengan perasaan iba, tiba-tiba daun jendela dari deretan rumah disisi kiri dibuka orang.

Seorang nenek berbaju kuno berambut putih berdiri didepan jendela sambil bercekak pinggang, teriaknya penuh amarah:

"Apa yang kalian tertawakan? Si gagap bisa menyanyi, si pincang bisa menari, apanya yang lucu?"

Melihat kemunculan nenek itu semua orang segera bubaran, tampak si nenek kembali berseru sampai menggapai:

"Po-ji, kemarilah, kalau mereka berani menertawakan dirimu lagi, biar nenek beradu jiwa dengan mereka"

Hek Seng-thian tidak ingin membuat keonaran, buru-buru dia mengundurkan diri dari situ, pikirnya dengan perasaan geli:

"Lagi lagi seorang nenek yang aneh, rasanya dia lebih pantas jadi pasangan kakek jelek itu"

Membayangkan kembali cara bocah itu menari, hatinya makin geli, tanpa terasa gumam-nya:

"Si pincang bisa menari, si gagap pandai menyanyi......."

Berpikir sampai disitu, satu ingatan segera melintas lewat, serunya kegirangan:

"Aaah benar, gadis dalam gua adalah seorang gagap, sementara gadis cantik itupun tidak berani banyak bicara, meskipun hanya mengucapkan "sudahlah" rasanya dibutuhkan banyak waktu dan tenaga, hahahaha.... penyaruan mereka meski hebat, jangan harap bisa mengelabuhi aku si rase tua"

Berpikir sampai disitu dia segera berlarian menuju ke depan tenda kakek aneh itu, ditengah jalan dia menarik tangan seorang pembantu dan pesannya:

"Cepat temukan Pek Seng-bu, suruh dia secepat­nya datang ke tenda si kakek aneh!"

Pelayan itu buru-buru mengangguk, belum sempat menjawab Hek Seng-thian sudah pergi jauh.

Ditempat sepi dia melepaskan jubah luarnya, dengan pakaian ringkas ditubuhnya ia menyusup masuk lagi ke dalam halaman belakang dan bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.

Tirai didepan pintu tenda sudah diturunkan, irama musik pun telah berhenti, kini yang terendus adalah bau masakan dan arak yang harum semerbak, entah hidangan apa sajayang disiapkan.

Sambil menelan air liur umpat Hek Seng-thian didalam hati:

"Bangsat ini pandai amat menikmati hidup!"

Dengan satu gerakan cepat dia menyelinap ke sisi tenda dan menghampiri jendela.

Dari balik tenda terdengar suara tertawa seorang gadis diikuti dentingan mangkut dan cawan, lalu terdengar seseorang berseru:

"Hey, be.... berikan kepadaku......"

Hek Seng-thian merasa hatinya bergetar keras, tanpa ragu lagi dia mendorong daun jendela dan menyelinap masuk ke dalam, serunya sambil tertawa latah:

"Bagus, bagus sekali, ternyata kalian berada disini!"

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bergerak, hardiknya:

"Siapa kau? Cepat pergi dari sini!"

Hek Seng-thian tertawa dingin.

"Siapakah aku? Masa kau tidak kenal?"

Thiat Tiong-tong sengaja memandangnya berapa kejap, lalu sambil tertawa dingin ujarnya kembali:

"Bagus sekali, rupanya pembantu yang tadi, kenapa? Setelah gagal mencuri, apa sekarang mau merampok?"

"Didepan orang beneran tidak usah bicara bohong, dalam mata  yang jeli tidak akan kemasukan pasir, biarpun kalian berdua mau berubah seperti apapun jangan harap bisa mengelabuhi ketajaman mata toaya mu"

Sui Leng-kong mulai merasa tegang, tapi Thiat Tiong-tong tetap berlagak gusar.

Kembali umpatnya sambil menggebrak meja:

"Kau itu manusia macam apa, berani amat bersikap kurang ajar kepada lohu, hmmm! Cepat enyah dari sini, cepat menggelinding dari sini....."

Dia sambar sebuah cawan dan dilemparkan ke depan.

Dengan sedikit miringkan tubuh Hek Seng-thian sudah lolos dari sambitan itu, ujarnya sambil tertawa licik:

"Kalian sembunyikan kemana harta karun curian itu? Cepat mengaku terus terang, kalau tidak, jangan salahkan kalau toaya tidak akan mengampuni jiwamu"

"Barang curian apa?" bentak Thiat Tiong-tong gusar, "kelihatannya kau sudah edan?"

"Sudah, jangan berlagak pilon lagi, cepat serahkan nyawamu!" seru Hek Seng-thian sambil tertawa seram, sepasang tangannya diangkat sejajar dada kemudian dengan langkah yang berat selangkah demi selangkah dia menghampiri lawan.

Thiat Tiong-tong pura-pura menunjukkan wajah kaget dan gugup sementara secara diam-diam dia telah menghimpun tenaga dalamnya, dalam keadaan seperti ini meski dia tidak ingin membongkar identitas sendiri, namun asal Hek Seng-thian turun tangan, dia akan melancarkan serangan lebih dulu.

Selisih jarak kedua orang itu makin lama semakin mendekat, sekarang selisih jarak mereka tinggal satu setengah langkah.

Mendadak  tirai pintu kembali terbuka, menyusul seseorang membentak keras:

"Tunggu sebentar!"

Sesosok bayangan manusia menyelinap masuk dengan kecepatan tinggi, kemudian sambil mencengkeram pergelangan tangan Hek Seng-thian serunya:

"Toako. Jangan turun tangan!"

Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau dalam keadaan kritis si pendekar bertangan tiga Pek Seng-bu akan menghalangi saudaranya untuk turun tangan.

Hek Seng-thian sendiripun nampak tertegun, bentaknya:

"Lepas tangan!"

"Toako, kau salah orang!" kata Pek Seng-bu cepat.

"Aku yakin mataku tidak buta, tak mungkin aku salah orang, gadis itu gagap waktu bicara, jelas dia adalah gadis dalam gua itu"

"Orang gagap toh bukan cuma satu orang, apalagi didunia ini masih terdapat orang gagap lain, toako, apakah kau tidak merasa gegabah dengan menilai seseorang dari hal ini?"

Kemudian setengah berbisik ujarnya lagi:

"Untung siaute datang tepat waktu, kalau tidak, bagaimana caramu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada Li Lok-yang?"

"Lalu atas dasar apa kau mengatakan aku salah bicara?" tegur Hek Seng-thian gusar.

Pek Seng-bu menarik Hek Seng-thian mundur berapa langkah, lalu bisiknya:

"Siaute berhasil menemukan jejak anak murid Perguruan Tay ki bun di halaman sebelah tengah sana!"

"Sungguh?" seru Hek Seng-thian terkesiap, "Kau tidak salah melihat?"

"Bangsat itu adalah salah satu orang yang lolos dari perangkap ditengah hutan tempo hari, siaute melihat dengan mata kepala sendiri, jadi tak mungkin keliru, harap toako berlega hati"

Paras muka Hek Seng-thian segera berubah hebat, setelah termangu sesaat buru-buru dia menjura seraya berkata:

"Lo sianseng, maafkan kecerobohan cayhe, harap lo sianseng jangan masukkan kejadian ini didalam hati"

"Tidak dimasukkan ke dalam hati?" umpat Thiat Tiong-tong dengan gusar, "hmrnrn, hmmm, lohu pasti akan masukkan kejadian ini didalam hati, selamanya tidak akan kulupakan, cepat enyah dari hadapanku!"

Sambil tertawa getir kembali Pek Seng-bu berbisik:

"Cepat pergi, lebih baik kita jangan bikin sewotnya makhluk tua ini"

Dia menarik tangan Hek Seng-thian dan buru buru mengundurkan diri dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuh mereka lenyap dari depan mata Sui Leng-kong baru menghembuskan napas lega, keluhnya:

"Sungguh berbahaya! Un.....untung......."

Tiba-tiba dia menyaksikan sinar ketegangan yang memancar dari balik mata Thiat Tiong-tong, sepasang tangannya yang mengepal tampak gemetar keras, tidak tahan serunya lagi dengan perasaaan terkejut:

"Ke......kenapa kau?"

"Sudah kau dengar apa yang mereka bicarakan tadi?" tanya Thiat Tiong-tong dengan suara dalam.

"Yaa. Suu.... sudah ku... kudengar!"

"Pek Seng-bu adalah seorang jagoan yang sangat teliti, tak mungkin dia salah melihat, tapi yang membuat aku tidak habis mengerti adalah siapa yang telah dia jumpai?"

Pek Seng-bu yang menarik tangan Hek Seng-thian hingga keluar dari halaman, saat itulah Hek Seng-thian tidak bisa menahan diri lagi dan bertanya:

"Jite, persoalan ini menyangkut satu masalah yang luar biasa, kau tidak salah melihat?" Pek Seng-bu tersenyum.

"Bukan saja siaute melihat dengan jelas sekali bahkan telah ku selidiki kalau bajingan inipun ditemani seorang gadis, kemarin malam dia malah sempat membeli sejumlah barang perhiasan, caranya membeli sangat royal, tapi sepanjang hari sebagian besar waktunya digunakan untuk ber­baring dalam kamar, dia jarang menampakkan diri, juga tidak suka bergaul dengan orang lain"

Hek Seng-thian segera merasakan semangat­nya berkobar kembali, tidak tahan serunya:

"Kalau begitu pasti dialah orangnya!"

"Kapan cara kerja siaute ngawur dan tidak pakai aturan?"

"Ayoh berangkat!" sambil melepaskan cekalan, Hek Seng-thian berlalu lebih dulu dari situ.

Sekali lagi Pek Seng-bu menarik tangannya.

"Toako, biasanya kau bertindak sangat hati hati dan penuh kewaspadaan, kenapa hari ini berubah jadi berangasan dan tidak sabaran?"

Hek Seng-thian menghela napas panjang.

"Sebab persoalan ini besar sekali pengaruhnya terhadap kita berdua, aku tidak boleh membiarkan mereka turun tangan terlebih dulu, apalagi membiarkan Leng It-hong dan Suto Siau sekalian tiba duluan disini, jika mereka sampai tahu kalau kita dua bersaudara mendapat rejeki nomplok, dapat dipastikan merekapun menuntut bagian, terlebih...... dalam kematian Siau Lui-sin, aku ikut memikul tanggung jawab yang besar, bila sampai bajingan Li bek hwee (api geledek) mengetahui kejadian yang sesungguhnya, keadaan akan lebih berabe lagi........."

"Sekalipun begitu, toako anggap Li Lok-yang akan berpeluk tangan saja bila kau turun tangan dalam saat begini? Dengan kekuatan kita berdua, memangnya sanggup menghadapi kerubutan anak buah keluarga Li?" kata Pek Seng-bu sambil menghela napas.

Hek Seng-thian melengak, kemudian setelah termangu berapa saat diapun menghela napas panjang.

"Terus terang, saat ini pikiran toako sangat kalut, tidak sanggup berkosentrasi, akupun bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, lebih baik kau sajayang sementara memegang kendali"

Pek Seng-bu melirik sekeliling tempat itu sekejap kemudian membisikkan sesuatu ke sisi telinga saudaranya, dengan senyuman dikulum Hek Seng-thian manggut berulang kali.

"Bagus, kita lakukan dengan cara itu!" tiba-tiba berpekik sembari bertepuk tangan.

 

Malam itu disaat lampu-lampu mulai menerangi ruangan, transaksi jual beli dalam gedung keluarga Li mulai dibuka.

Sekeliling dinding gedung utama bermandikan cahaya lentera, setiap jarak sepuluh langkah tergantung sebuah lentera yang terbuat dari tembaga dengan bahan bakar yang cukup, rangkaian lentera yang berjajar jajar membuat suasana disitu bagaikan di siang hari saja.

Selain itu, diatas setiap meja tersedia juga dua buah lilin ukuran raksasa yang ditutup dengan sebuah penutup terbuat dari bahan halus, penutup lilin diganti dengan yang baru sehari satu kali sehingga penampilannya selalu bersih tanpa bekas asap.

Sebab dalam jual beli barang berharga dibutuhkan penerangan cahaya yang jelas, dengan begitu orang baru bisa membedakan mana barang asli dan mana barang palsu.

Disekeliling setiap meja disediakan delapan buah bangku, diatas meja pun tertera sebuah papan nama terbuat dari kayu dengan kode yang berbeda.

Kode angka itu menandakan nomor urut, juga melambangkan tamu yang duduk di meja tersebut bertempat tinggal di halaman rumah  nomor berapa...... tamu yang berdiam di halaman rumah pertama akan menempati meja nomor satu, sementara tamu yang tinggal di halaman ke sepuluh akan menempati meja nomor sepuluh.

Oleh karena setiap orang yang datang kesitu kebanyakan merahasiakan nama serta identitas aslinya, maka cara itulah yang dipakai untuk membedakan satu dengan lainnya.

Tentu saja ada sementara orang kenamaan yang tidak mungkin bisa merahasiakan nama serta identitas sebenarnya, seperti juga kertas yang tak pernah bisa membungkus api.

Sejak awal Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu sudah duduk dimeja nomor tiga belas yang letakkan sedikit disudut gedung utama, namun sorot mata mereka yang tajam mengawasi dengan seksama, setiap orang, setiap tamu yang berlalu lalang disitu.

Sampai ruang gedung utama dipenuhi empat puluh persen pengunjung, diantara kerumunan orang baru muncul tokoh tokoh kenamaan.

Seorang kakek kurus kering berwajah masam dengan membawa dua orang wanita muda berwajah cantik tapi bermata liar menempatkan diri di belakang meja nomor dua.

Di belakang mereka berdua mengikuti dengan ketat seorang lelaki setengah umur yang menyoren sebilah pedang, wajahnya pucat dan gerak geriknya jumawa, sekalipun tampan namun tampak dingin, jahat dan amat licik.

"Coba kau lihat siapa yang telah datang?" bisik Hek Seng-thian dengan kening berkerut.

"Aaah, Giok Phoa-an (Phoa An kumala) Phoa Seng-hong!" sahut Pek Seng-bu tercengang, "bagaimana mungkin dia bisa menjadi pengawalnya Hong Pak-ban dari San-say? Benar-benar satu kejadian aneh"

"Apanya yang aneh?" Hek Seng-thian tertawa, "dapat dipastikan orang ini sudah tertarik dengan salah satu bini Hong Pak ban,   hahaha.......

kelihatannya Hong Pak-ban tak akan terlepas dari statusnya sebagai si penyandang topi hijau"

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, ditengah ruangan kembali muncul tiga rombongan tetamu, rombongan pertama adalah Hong liu ong sun (cucu raja romantis) Kim Ji kongcu dari Kotaraja yang datang dengan membawa keempat orang gundiknya, mereka berjalan masuk sambil bergurau dan berbincang dengan ramainya.

Rombongan ke dua adalah berapa orang kongcu keturunan saudagar kaya dari wilayah Kanglam, Ouyang hengte, mereka berjalan masuk kedalam ruangan sambil menggoyangkan kipasnya, sementara  sorot  matanya yang jalang tiada hentinya menyapu wajah setiap perempuan muda yang hadir dalam ruangan.

Rombongan ke tiga terdiri dari sekelompok wanita, usia mereka rata-rata dua puluh tahunan, gerak geriknya lembut, wajahnya cantik, sikapnya santun dan penuh terpelajar seakan rombongan wanita dari keluarga berpendidikan.

Hampir semua orang mengalihkan pandangan matanya ke wajah rombongan wanita itu, namun jarang ada yang tahu asal usul mereka, hanya Hek Seng-thian yang tersenyum sambil berbisik:

Mite, tahukah kau siapa mereka?"

"Aaah, toako kelewat memandang rendah pengetahuan siaute, masa aku tidak kenal dengan perompak wanita yang malang melintang di utara dan selatan sungai besar, It oh Li ong hong (segerombolan ratu tawon)?"

"Hehehehe......dengan kemunculan rombongan iblis wanita ini, entah ada berapa banyak lelaki hidung bangor yang bakal jadi korban bagai laron yang menubruk cahaya api!"

Pek Seng-bu memandang sekejap ke seluruh ruangan, benar saja, dia segera jumpai sorot mata Ouyang hengte sedang dialihkan ke wajah rombongan itu, tidak tahan serunya sambil tertawa dingin:

"Hmmm, kalau mencari kematian buat diri sendiri, jangan salhkan orang lain!"

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras dari luar pintu:

"Dimana letak tempat dudukku?"

Seorang lelaki hitam pekat dengan kepala yang besar dan tinggi badan mencapai dua meter lebih menerjang masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar, dalam tangannya membawa sebuah karung goni.

Begitu tiba ditengah ruangan, matanya yang besar bagai gundu menyapu sekejap wajah Giok Phoa-an Phoa Seng-hong, kemudian sambil men­delik ke arah lelaki itu umpatnya:

"Bagus sekali, ternyata si tulang lunak yang suka makan nasi murahan juga telah datang kemari!"

Phoa Seng-hong mendongakkan kepalanya memandang langit-langit, dia berlagak seolah tidak mendengar.

Melihat itu Pek Seng-bu kembali berkata sambil tertawa:

"Sungguh tidak disangka Thian sat seng (Bintang pembawa bencana) Hay Tay sau juga telah datang, coba kalau bukan bertemu disini, dia bersama Giok Phoa-an pasti akan membuat pertunjukan yang menarik!"

"Coba kau lihat karung goni yang dibawanya" sahut Hek Seng-thian sambil tertawa pula, "kelihatannya tidak sedikit yang berhasil dia dapatkan dalam setahun ini, orang ini selalu bekerja sendirian, bahkan aku sendiripun tidak jelas darimana ia dapatkan barang-barang itu, kelihatannya dia memang serba bisa dan serba tahu, luar biasa!"

Dalam pada itu Hay Tay-sau sudah diantar orang menuju ke meja nomor tujuh, tapi dia tidak menempatinya, malah dengan lantang berteriak:

"Li toako, bagaimana dengan hari ini?"

Waktu itu Li Lok-yang bersama putranya sedang jalan  berkeliling dalam ruang gedung, mereka sedang menyelenggarakan transaksi dengan para penjual  disitu, ada yang mereka beli  barang dagangannya ada pula yang tidak.

Tapi setiap transaksi yang kejadian, pihak keluarga Li segera akan memberi uang muka sebesar setengah harga.

Ketika mendengar teriakan itu, sambil tertawa Li Lok-yang menyahut:

"Sekarang waktu masih terlalu awal, pasaran belum dibuka semuanya!"

Si bintang pembawa bencana Hay Tay-sau tertawa terbahak bahak, serunya lantang:

"Hahahaha.....bagus, kalau begitu biar aku yang membukakan pasar untuk Li toako hari ini"

Dengan tangan kirinya menggenggam mulut karung, tangan kanan memegang dasar karung, dia tuang seluruh isi karung goninya ke atas meja.

Dalam waktu singkat sinar gemerlapan memancar keluar dari tumpukan barang mestika itu.

Kembali Hay Tay-sau berseru sambil tertawa keras:

"Aku memang tidak sabaran, paling pantang duduk kelewat lama, disini terdapat tiga puluh macam barang mainan, tidak banyak pun tidak sedikit, setiap macam benda berharga lima ratus tahil perak, kalau ingin membelinya silahkan segera membeli!"

Baru selesai dia berkata, sekawanan wanita yang suka membeli barang murahan segera menyerbu ke depan dan saling berebut untuk memilih.

"Semuanya berhenti!" kembali Hay Tay-sau menghardik.

Suaranya yang keras bagai geledek seketika membuat rombongan wanita itu menghentikan langkahnya dengan kaget.

"Kalian tidak bisa memilih dengan cara begini" seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras, "kalau yang bagus sudah dipilih duluan, siapa yang mau membeli sisanya? Pokoknya siapa yang sudah menyentuh benda itu, dia harus membeli barang tersebut!"

Kemudian sambil menggebrak meja serunya lagi:

"Setorkan uangnya dulu kemudian baru mengambil, siapa yang berani sembarangan, akan kupotong lengannya!"

Semua orang saling bertukar pandangan dan beringsut mundur dari situ, siapa pun tidak tahu dengan pasti berapa nilai barang yang bakal dirabanya, tentu saja tidak seorangpun mau beradu untung.

Li Lok-yang yang menyaksikan hal itu segera tersenyum, dari seorang lelaki setengah umur yang nampaknya merupakan kasirnya, dia mengambil selembar uang kertas kemudian ujarnya sambil tersenyum:

"Biar aku mengambil duluan!"

"Li toako, aku percaya denganmu, uang kertas itu boleh disimpan dulu!"

"Peraturan tak boleh dilanggar, silahkan terima uang ini!" dia letakkan uang itu dimeja lalu masukkan tangannya ke dalam kantung dan mengambil sebiji batu kemala yang berwarna putih mulus.

Diantara sorak-sorai orang banyak, Li Lok-yang berkata lagi sambil tersenyum:

"Waaah. Batu Han-giok senilai tiga ribu tahil perak hanya kubeli dengan harga lima ratus tahil, luar biasa, luar biasa!"

Li Lok-yang memang sangat ahli dalam menilai harta barang berharga, ucapannya sangat dihargai orang dan menjadi panutan orang banyak, tidak heran kalau begitu dia menyelesaikan perkata­annya, sudah ada serombongan orang yang berebut maju, tapi orang kedua hanya memperoleh sebuah mainan gantungan yang nilainya hanya dua ratus tahil.

Maka orang pun beramai-ramai mundur kembali ke belakang, tinggal seorang sastrawan setengah umur berwajah bersih dan mengenakan baju biru yang tetap melangkah maju ke depan.

"Gin siepoa (siepoa perak) selalu cermat dalam perhitungan, apakah kaupun ingin ikut beradu untung?" seru Hay Tay-sau sambil tertawa.

Sastrawan setengah umur ini adalah Gien siepoa, seorang pedagang barang permata yang amat tersohor namanya, mendengar itu dia tertawa.

"Aku percaya dengan perkataan anda, tidak mungkin kau akan bikin orang lain menderita kerugian"

Barang pertama yang diambilnya hanya bernilai tiga-empat ratus tahil, tapi dia sama sekali tak gugup, kembali diambilnya sebuah benda lagi.... kali ini dia mendapat sebuah patung singa terbuat dari batu zamrud yang nilainya mencapai ribuan tahil perak.

"Ternyata perhitungan siepoa dari Gin-siepoa memang sangat hebat" puji Hay Tay-sau sambil tertawa, "apa mau mengambil lagi?"

"Aaah, sudah untung empat ribu tahil, rasanya sudah lebih dari cukup, aku selalu tahu diri!" sahut Gin-siepoa sambil tertawa.

Seorang lelaki setengah umur berunding cukup lama dengan bininya, setelah pikir punya pikir akhirnya dia mengeluarkan setumpuk kecil uang kertas dan maju mendengar dengan peluh membasahi jidatnya.

Dengan tangan gemetar dia mengambil sebuah benda dari dalam karung, tapi yang diperoleh hanya sebuah batu han-giok bernilai dua ratus tahil, tiba-tiba paras mukanya berubah jadi pucat pias, peluh sebesar kacang kedele bercucuran membasahi wajahnya.

Sementara bininya segera lari mendekat sambil berseru dengan nada gemetar:

"Baa... .bagaimana sekarang?"

Hay Tay-sau yang mengikuti kejadian itu segera membentak nyaring:

"Ambil sebuah lagi!"

"Tapi.... aku sudah tidak punya......." lelaki setengah umur itu tertunduk lesu.

"Goblok, kalau aku suruh kau mengambil lagi, tentu saja tidak perlu setor uang"

Sepasang suami istri itu seakan tidak percaya dengan pendengaran sendiri, tapi setelah didesak berulang kali akhirnya mereka mendapatkan sebuah benda yang nilainya mencapai ribuan tahil, tidak heran kalau kedua orang itu mengucapkan terima kasihnya berulang kali.

Pek Seng-bu segera berbisik sambil tertawa:

"Ternyata si bintang pembawa bencana memang tidak malu disebut seorang perampok budiman!"

Mendadak Hong Pak-ban bangkit berdiri sambil berkata:

"Aku tidak usah meraba lagi, sisanya yang dua puluh empat macam barang kubeli semua!"

"Serahkan dulu uangnya!"

Hong Pek-ban mengeluarkan selembar uang kertas dan diserahkan kepada Phoa Seng-hong, katanya:

"Uang kertasku bernilai dua belas ribu lima ratus tahil, berarti uang kembalinya lima ratus tahil"

Perlahan-lahan Phoa Seng-hong menerima uang kertas itu dan berjalan ke tengah lapangan.

Suasana dalam ruangan pun mulai dicekam ketegangan yang luar biasa, sebab nyaris semua umat persilatan tahu kalau si Phoa-an kemala Phoa Seng-hong adalah musuh bebuyutan Hay Tay-sau.

Terdengar, si bintang pembawa bencana Hay Tay-sau tertawa seram, jengeknya:

"Hey manusia she-Phoa, cepat menggelinding pergi, aku sedang berdagang dengan majikanmu, aku tak sudi menerima duit yang dihantar seorang budak!"

Seketika itu juga Phoa Seng-hong menghenti­kan langkahnya, paras mukanya berubah jadi pucat pias.

Kembali Hay Tay-sau tertawa seram.

"Hahahaha....kenapa? memangnya aku salah menyebutmu seorang budak?" ejeknya.

Phoa Seng-hong menarik kembali tangannya, kini jari tangannya sudah menyentuh gagang pedang.

Sepasang kepalan Hay Tay-sau pun sudah digenggam kencang, diantara ruas-ruas jari tangannya terlihat otot yang menonjol keluar.

Empat mata saling melotot dengan sinar kebencian dan kegusaran, tampaknya pertarungan tidak terelakkan.

Mendadak Li Lok-yang mendeham perlahan, dia menghampiri Phoa Seng-hong, mengambil uang kertas itu lalu ditukar dengan kantung milik Hay Tay-sau, ujarnya kemudian:

"Nah, transaksi sudah selesai bukan?"

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Phoa Seng-hong menyerahkan kantung goni itu ke tangan Hong Pak-ban, dia tidak mengucapkan sepatah katapun namun dari balik matanya sudah memancar keluar sinar pembunuhan yang meng­gidikkan.

Hay Tay-sau tertawa dingin berulang kali, dia memilih berapa  lembar uang kertas dan diserahkan kepada kasir keluarga Li, kemudian umpatnya lagi:

"Dasar budak bertulang lunak!"

Sambil berjalan dia mengumpat tiada hentinya, sewaktu tiba didepan Hong Pak-ban tiba-tiba dia berhenti, katanya sambil tertawa tergelak:

"Padahal semua barang barang itu tidak ada harganya, justru budakmu itu memiliki sebuah topi hijau yang tidak ternilai harganya untuk dijual kepadamu!"

"Topi hijau apa?" Hong Pak-ban tertegun, tiba-tiba dia teringat arti yang sebenarnya dari perkataan itu, kontan saja paras mukanya berubah jadi merah padam, dengan gusar dia menggebrak meja sambil mencaci maki.

Tapi Hay Tay-sau sudah pergi jauh, sambil mengulapkan tangannya ia mulai bersenandung:

"Lima telaga empat samudra aku kunjungi, emas perak dikolong langit kuambil, melihat ketidak adilan di dunia ini, ku babat kubacok biar habis"

Suara umpatan Hong Pak-ban makin lama semakin lirih, sedangkan Phoa Seng-hong hanya berdiri membungkam tidak berani banyak berkutik.

Suasana didalam ruangan pun dicekam dalam keheningan yang luar biasa, tapi sejenak kemudian suasana sudah pulih kembali seperti sedia kala, transaksi jual beli pun kembali berlangsung.

Hingga menjelang malam hari, banyak meja yang masih tetap dalam keadaan kosong.

Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu diam diam berpikir:

"Meja nomor empat tetap dalam keadaan kosong......"

Kedua orang itu segera saling bertukar pandangan sekejap, sementara dalam hati kecil merasa girang.

"Masih ingat apa langkah kita selanjutnya?"

"Mula-mula bikin keonaran dulu disini agar orang lain tidak sempat memperhatikan halaman belakang, lalu menyulut api di istal kuda agar pegawai keluarga Li repot memadamkan api, setelah itu kita baru turun tangan"

Berbicara sampai disini kembali dia menghela napas panjang, tambahnya:

"Kelihatannya semua ini bisa dilakukan dengan mudah, tapi masalahnya sekarang bagaimana cara kita menciptakan keributan disini?"

"Kita memang kekurangan tenaga, sementara Phoa Seng-hong kurang bernyali, kalau tidak keributan pasti sudah terjadi sejak tadi"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba terlihat seorang nenek berpakaian lusuh dengan menggandeng seorang pemuda pincang berusia tiga, empat belas tahunan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ditangan si nenek memegang sebuah kantung goni yang usang, walaupun pakaian yang dikena­kan ada tambalannya, namun lagak serta gerak geriknya bagaikan seorang nyonya bangsawan.

Sorot mata semua orang pun segera dialihkan ke wajah mereka berdua.

Perlahan-lahan nenek itu berjalan menuju ke meja nomor sembilan, sepanjang perjalanan ia sama sekali tidak menengok kemana-mana, tapi ketika tiba ditengah ruangan, tiba-tiba karung goninya terlepas hingga mutiara miliknya tersebar ke mana mana.

Mutiara sebesar lengkeng tersebar memenuhi permukaan lantai dan menggelinding entah kemana, sekilas pandang pun tidak diketahui ada berapa banyak mutiara yang hilang.

"Mutiaraku.." nyonya tua itu menjerit lengking.

Dengan satu lompatan Li Kiam-pek segera tampil ke tengah ruangan, teriaknya sambil meng­angkat tinggi tangannya:

"Tamu sekalian yang terhormat, tolong jangan bergerak dulu, biar aku bantu nyonya tua ini memunguti semua mutiaranya yang terjatuh"

Sebagaimana diketahui, mutiara-mutiara itu besarnya seperti buah kelengkeng, setiap butirnya bernilai sangat tinggi, bila sampai hilang satu saja maka siapa pun tidak akan sudi menanggung dosa.

Maka seluruh hadirinpun berdiri termangu ditempat, siapa pun tidak ingin sembarangan bergerak.

Hek Seng-thian saling bertukar pandangan sekejap dengan Pek Seng-bu, diam-diam mereka bangkit berdiri dan menyelinap keluar gedung melalui pintu samping, setelah itu mereka berdua baru mendongakkan kepala sambil menghembus­kan napas lega.

"Thian benar benar telah membantu kita" ujar Pek Seng-bu, "Urusan tidak bisa ditunda lagi, ayoh kita segera berangkat"

"Betul, kita harus segera berangkat!"

Sambil berbicara mereka berdua menelusuri jalan samping yang sepi dan gelap, kemudian setibanya ditempat yang sepi, mereka berdua segera melejit ke atas wuwungan rumah.

“Kau lepaskan api, biar aku yang berjaga diri" bisik Pek Seng-bu kemudian.

Mereka berdua pun saling berpisah, satu kekiri dan yang lain ke kanan.

Dibalik gedung pada halaman ke empat, cahaya lentera masih   menyinari seluruh ruangan, dari balik jendela terlihat ada dua sosok bayangan manusia berdiri berdekatan.

Mereka sedang berpelukan didepan jendela dengan mesrahnya, seakan siapa pun tidak ingin banyak bicara.

Lewat berapa saat kemudian bayangan lelaki itu baru bangkit berdiri dan membuka daun jendela, sinar rembulan yang memancarkan cahayanya segera menyinari raut mukanya yang tampan.

Dia memiliki alis mata yang panjang bagai sebilah pedang, sinar matanya sangat tajam, hidungnya mancung membuat wajah tampannya lebih mirip dengan kepolosan seorang pelajar.

Tapi bila dilihat dari kulit tubuhnya yang putih serta bibirnya yang sedang mencibir, diapun lebih mirip dengan kepolosan dan kekerasan hati seorang bocah cilik.

Saat itu dia sedang menengok cahaya rembulan diluar jendela, dadanya naik turun tidak beraturan, tampaknya sedang mendongkol.

Kemudian terlihat bayangan perempuan itu perlahan-lahan bangkit berdiri lalu memalingkan kepalanya.......

Dibawah sinar rembulan, kecantikan wajah perempuan itu betul-betul gampang membuat perasaan lelaki tergoda.

Sorot matanya seakan mengandung daya pikat yang sukar ditampik setiap lelaki, dia mengerling sekejap ke arah pemuda tampan itu kemudian baru bertanya dengan lembut:

"Kau sedang marah?"

Pemuda tampan itu mendengus dingin, ia tidak menggubris maupun ambil perduli, tapi kemali perempuan cantik itu merangkul bahunya dengan tangannya yang  lembut, sementara bibirnya ditempelkan ke sisi telinganya dan membisikkan sesuatu.

"Tolonglah, jangan marah kepadaku, mau bukan?"

Pemuda tampan itu menghela napas panjang. "Aku bukannya marah tapi sedikit tidak habis mengerti, kenapa kau bersikeras ingin datang kemari?" tanyanya.

"Kenapa pula kau tidak ingin kemari?" perempuan cantik itu balik bertanya sambil menundukkan kepalanya.

Sambil menggigit bibir tiba-tiba pemuda tampan itu balas menggenggam bahunya.

"Katakan kepadaku" ujarnya, "bukankah kau mempunyai banyak masalah? Bukankah kau sedang menghadapi tekanan yang amat besar, tekanan yang jahat? Bukankah kau sedang minta aku menolongmu? Membantumu....."

"Kau keberatan?" tanya perempuan itu sedih.

"Siapa bilang aku keberatan" pemuda tampan itu menghela napas panjang, "jangan lagi kau pernah menyelamatkan jiwaku, sekalipun ........sekalipun kau suruh aku terjun ke dalam lautan api pun aku tetap rela melakukannnya, apalagi demi cinta kita berdua....."

"Oooh, Kau baik sekali kepadaku, aku tahu........" sambil mengerdipkan matanya yang basah oleh air mata, perempuan cantik  itu menyandarkan diri dalam pelukannya.

Pemuda itu pejamkan matanya sambil berkata dengan sedih:

"Kalau aku tidak baik kepadamu, tidak mungkin aku bersedia  membawamu keluar dan akan menghantarmu kembali......."

Mendadak ia mendorong tubuhnya dan berkata lagi dengan lantang:

"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, aku adalah seorang anggota perguruan yang berdosa, membawamu pulang akan memikul banyak mara bahaya dan resiko, bahkan besar kemungkinan aku akan mendapat hukuman yang sangat berat dari perguruan"

Perempuan cantik itu mulai sesenggukan, dengan air mata bercucuran katanya:

"Aku memang seorang gadis yang malang, kalau aku tidak menggantungkan diri denganmu, lalu aku mesti hidup bergantung pada siapa?"

Lambat laun hawa amarah pemuda itu mulai mereda, hiburnya dengan suara lembut:

"Tentu saja aku akan melindungimu, bagai­manapun aku tetap akan membawamu pulang, tapi kenapa kau ingin datang kemari? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah saja?"

"Barang berharga, tahukah kau setiap wanita pasti tidak kuasa menahan godaan intan permata dan perhiasan indah, selamanya mereka tidak akan mampu melawan godaan itu, sudah lama aku ingin datang kemari"

"Tapi......tahukah kau ada berapa banyak orang dalam dunia persilatan yang merupakan musuh besarku?"

"Kenapa kau tidak menyamar, tidak mengubah wajahmu?"

Pemuda tampan itu segera berkerut kening, serunya gusar:

"Wajah dan tubuh kita adalah pemberian dari orang tua, setelah bersusah payah orang tua melahirkan kita, kenapa wajah kita mesti disem­bunyikan? Kenapa kita harus menyaru?"

"Siau-in, jangan marah" sekali lagi perempuan cantik itu menjatuhkan diri ke dalam pelukannya, "Kita segera pergi dari sini, setuju? Jangan kuatir, tidak bakal ada orang bisa mencelakai dirimu"

Perlahan lahan dia menggerakkan tangannya keatas daun jendela dan menutupnya, tapi sewaktu telapak tangan itu melintas diatas jendela, sebuah cap jari tangan telah membekas disana.

Kelihatannya jari tangan itu sudah dibubuhi bubuk sulfur sehingga dipandang dalam kegelapan memancarkan sinar yang gemerlapan, seperti sebuah telapak iblis yang meninggalkan tanda jejaknya ditepi neraka.

Tempat itu memang tepi dari sebuah neraka, sebab didalam kamar itu memang sedang berlangsung sebuah intrik, sebuah rencana keji dari neraka.

Perempuan cantik itu jauh lebih menakutkan, lebih berbahaya dan mengerikan daripada iblis benaran.

Dia tidak lain adalah Un Tay-tay, kekasih gelap dari Suto Siau, pemilik peternakan Lok jit san ceng.

Dengan mengandalkan kecantikan wajahnya, dengan kekejian serta kelicikan otaknya, dengan kelembutan serta kemesrahan dari rayuan mautnya, dia telah merangkai sebuah jebakan, sebuah perangkap yang sangat mengerikan, menanti sang pemuda Im Ceng masuk perangkap.

Dia telah mengarang sebuah cerita, mengata­kan kalau dirinya adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, seorang perempuan sebatang kara yang hidup dalam ketakutan, dia memohon kepada Im Ceng untuk membawanya kabur, kepada pemuda itu mohonnya:

"Bawalah aku pergi, ajaklah aku melarikan diri, biarpun harus ke ujung dunia aku tetap akan mengikutimu, mendampingimu hingga mati, aku ingin meninggalkan dunia yang penuh kebusukan dan kekejian, aku hanya menginginkan kau seorang"

Im Ceng yang sensitip perasaannya, keras kepala, polos tapi penuh dengan kehangatan dengan mudah terjerumus ke dalam lingkar perangkapnya, dia bersumpah akan selalu melindunginya, bahkan berjanji akan membawanya pulang ke rumah.

Dia akan mengajak perempuan itu kembali ke markas besar Perguruan Tay ki bun, agar perempuan tersebut memperoleh perlindungan secara sempurna, karena itu dia ingin mengajaknya berkelana dalam dunia persilatan selama tiga tahun sebelum membawanya pulang dan hidup mendampinginya sepanjang masa.

Apa yang direncanakan Im Ceng, justru merupakan harapan terbesar dari Un Tay-tay.

Dia segera melaporkan kesemuanya itu kepada Suto Siau, dari pihak Suto Siau dia pun memperoleh sejumlah uang dalam nilai yang amat besar sebagai bekalnya ketika "melarikan diri" bersama Im Ceng.

Sepanjang perjalanan perempuan itu mening­galkan kode rahasia nya agar Suto Siau dapat menguntitnya secara diam-diam, tentu saja mimpipun Im Ceng tidak menyangka kalau dia sedang mengajak musuh besarnya pulang ke rumah.

Kini daun jendela telah diturunkan, sinar lentera pun bertambah redup, dari atas wuwungan rumah diseberang sana muncul sesosok bayangan manusia, dia adalah Pek Seng-bu.

Dibalik kegelapan malam sekulum senyuman licik dan rasa bangga tersungging diujung bibirnya, gumamnya:

"Bangsat cilik, akan kulihat kali ini kau hendak kabur ke mana lagi?"

Belum habis ingatan tersebut melintas, dari belakang wuwungan rumah sana sudah nampak cahaya api berkobar dengan hebatnya.

Menyusul kemudian terdengar suara teriakan dan jeritan minta tolong diikuti suara langkah kaki yang sangat ramai.

Pek Seng-bu yang mendekam diatas wuwung-an rumah segera mendengar datangnya desingan angin lembut, diikuti munculnya Hek Seng-thian.

"Apakah dia ada disini?"

"Aku telah melihatnya dengan jelas, tidak mungkin salah"

"Apakah nampak sesuatu gerakan?"

"Tidak nyana anak murid Perguruan Tay ki bun pun bisa terpikat dengan seorang wanita siluman, saat ini mungkin mereka sedang....... hmmm...hnmmm"

"Eeei, coba lihat, apa itu?" tiba tiba Hek Seng-thian berseru keheranan.

Mengikuti arah yang dituding Pek Seng-bu segera menyaksikan sebuah bekas telapak jari tangan yang lamat-lamat memantulkan cahaya hijau.

"Sejak tadi siaute memang sedang keheranan, tidak jelas apa yang sedang dilakukan perempuan itu, tapi menurut pendapat siaute, tampaknya asal usul perempuan itu tidak lurus, hanya sayang tidak berhasil kuselidiki siapakah dia sebenarnya"

"Perduli dia berasal dari mana dari siapakah dia, sekarang sudah saatnya untuk turun tangan!"

Api kebakaran di halaman belakang tampaknya semakin berkobar membesar, tapi suara kekalutan telah mereda, jelas seluruh anggota keluarga Li sudah mendapatkan pendidikan yang ketat.

Setelah termenung berapa saat akhirnya Hek Seng-thian mulai menggeser tubuhnya diatas atap rumah, tampaknya dia siap melontar kan sesuatu ke dalam kamar.

Mendadak Pek Seng-bu menghalangi perbuat­an saudaranya:

"Sekarang situasi telah berkembang jadi begini, lebih baik kita langsung menerjang masuk ke dalam, bikin mereka kelabakan"

"Baik!"

Mereka berdua segera bersama-sama melompat turun dari atas genteng, karena sudah cukup lama bekerja sama, kedua orang itu seakan sudah ada kesepakatan yang tidak tertulis dalam setiap tindakan, begitu memberi tanda, mereka langsung menerjang masuk ke dalam kamar melalui jendela sebelah depan dan belakang.

Siapa tahu baru saja tubuh mereka berdua menyentuh tanah, tiba-tiba setitik cahaya bintang dengan kecepatan luar biasa dan sama sekali tidak menimbulkan suara telah mengancam bahu Hek Seng-thian.

Waktu itu Hek Seng-thian sedang pusatkan seluruh perhatiannya ke belakang kamar, dia tidak menyadari datangnya ancaman itu.

Melihat datangnya ancaman, buru-buru Pek Seng-bu melayangkan sebuah tendangan langsung diarahkan ke rambut rekannya.

"Hey, kau sudah edan?" umpat Hek Seng-thian gusar.

Buru-buru dia mengegos ke samping, karena harus menghindari tendangan itu, secara bersa­maan diapun sudah lolos dari ancaman cahaya tajam itu.

Terdengar desingan angin tajam bergema, tahu-tahu senjata rahasia itu sudah melintas lewat persis disisi telinganya.

Pek Seng-bu segera menuding ke arah mana berasalnya senjata rahasia itu, sambil memutar badan, dengan gerakan liong heng it ka (gerakan naga satu rumah) dia meluncur ke arah yang dituding dengan kecepatan tinggi.

Sekarangpun Hek Seng-thian sudah tahu apa yang terjadi, dia segera mengikuti di belakangnya, terlihat bayangan manusia kembali berkelebat disisi wuwungan rumah, lagi-lagi setitik cahaya bintang meluncur tiba.

Buru-buru kedua orang itu mengegos ke samping lalu bersama sama melompat naik ke atas wuwungan rumah, diam-diam mereka terkesiap dibuatnya, tidak jelas siapa yang berulang kali membokong mereka.

"Jangan-jangan ada orang yang melindungi mereka berdua?" pikir Pek Seng-bu dihati, "atau ditempat lain masih terdapat anggota Perguruan Tay ki bun? Atau gerak gerik kami berdua sudah ketahuan Li Lok-yang?"

Sementara Hek Seng-thian pun sedang berpikir:

"Jangan-jangan orang yang ada dalam kamar sudah mengetahui kehadiran kami berdua, maka sengaja berlagak pergi tidur, padahal diam-diam memutar arah dan melancarkan serangan bokong-an?"

Ke dua orang itu tidak ada yang berani berkutik, mereka tidak ingin mengganggu ketenangan orang lain, khususnya orang-orang dari keluarga Li, karena itu tanpa bersuara mereka merangkak maju ke depan.

Tampak sesosok bayangan manusia mengge­linding diatas atap rumah dan bergeser menuju ke hadapan Hek Seng-thian.

Waktu itu Hek Seng-thian telah menghimpun hawa murninya dalam telapak tangan, sambil mendengus dia lancarkan bacokan.

Pek Seng-bu juga tidak tinggal diam, dia merangsek kedepan sambil menendang punggung orang itu.

Kedua orang ini menyerang dari depan dan belakang dengan menggunakan tenaga sebesar delapan puluh persen, arah maupun sasaran yang ditujupun merupakan bagian tubuh yang memati­kan, jelas ke dua orang ini memang berniat menghabisi nyawa orang itu.

Biarpun dikerubuti dari depan dan belakang, orang itu sama sekali tidak nampak panik, dengan menggeserkan tubuhnya tahu-tahu dia sudah menerobos lewat dibawah ancaman kedua orang itu.

"Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini!" diam-diam Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu terkesiap.

Tanpa bicara mereka berdua membuntuti di belakangnya, lagi-lagi tiga jurus serangan dilan­carkan.

Mendadak terdengar bayangan manusia itu tertawa ringan, tegurnya:

"Hey, apakah kalian berdua benar-benar ingin membunuhku?"

Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu tertegun, cepat mereka tarik kembali serangannya sambil mundur setengah langkah.

Dibawah sinar rembulan, terlihat orang itu berbaring diatas atap rumah sambil mengganjal kepalanya dengan kedua belah tangan, senyuman lebar menghiasi wajahnya, ternyata dia tidak lain adalah Suto Siau, pemilik peternakan Lok jit sanceng.

Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu tertegun, lama kemudian Hek Seng-thian baru menegur:

"Suto Siau, kenapa kaupun bisa berada disini?"

"Begitu tahu kalian berdua sudah datang, tentu saja siaute segera menyusul kemari"

"Tajam benar pendengaran Suto-heng!"

Meskipun wajahnya tampil dengan senyuman paksa, dalam hati kecilnya dia merasa gelisah bagai minyak mendidih, pikirnya:

"Jangan-jangan rahasia kami mendapat harta karun diketahui juga oleh siluman setan ini?"

Perlu diketahui, sekalipun dia mendapat julukan seorang jago yang pintar, banyak akal dan licik, namun jika dibandingkan kemampuan Suto Siau, ia sadar kalau kemampuan dirinya masih ketinggalan jauh.

Sementara itu Suto Siau telah berkata lagi sambil tersenyum:

"Sekalipun persoalan yang kuketahui tidak terlalu banyak, sayang apa yang kalian berdua ketahui justru jauh lebih sedikit"

Tanpa sadar kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap, tiba-tiba Pek Seng-bu berkata sambil menarik muka:

"Apa yang kami ketahui memang amat minim, itulah sebabnya ada satu persoalan yang ingin ditanyakan kepada saudara Suto"

"Aaah, terhadap sesama saudara tidak perlu berlagak sungkan"

"Dalam kamar itu terdapat anak murid Perguruan Tay ki bun sementara kami berdua-pun sedang bersiap menghajarnya, kenapa saudara Suto malah menghalangi dengan melancarkan serangan bokongan? Untung nyawaku masih dilindungi Thian, kalau tidak, bukankah sudah tewas ditangan saudara Suto sedari tadi?"

Suto Siau segera menukas:

"Pokoknya siapapun yang akan mengusik bajingan she-Im itu hari ini, siaute dengan taruhan nyawa tetap akan menghalanginya"

"Apa maksud perkataanmu?" berubah paras muka Hek Seng-thian.

Pek Seng-bu pun menambahkan sambil tertawa dingin:

"Apakah saudara Suto telah bergabung dengan pihak Perguruan Tay ki bun?"

Kembali Suto Siau tersenyum.

"Tahukah kalian berdua, siapakah perempuan yang sedang menemani bocah she-Im itu didalam kamarnya?"

"Perduli amat siapakah dia, aku........"

"Perempuan itu adalah gundik kesayanganku" tukas Suto Siau lagi.

Kembali Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu berdiri tertegun.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pek Seng-bu, "saudara Suto, kau harus memberi penjelasan"

Kini dia sudah berbaring disamping Suto Siau, menghimpin lawannya dari kiri dan kanan.

"Apakah kalian tidak melihat bekas jari tangan berwarna hijau itu?" kata Suto Siau, "Siaute bisa sampai disini karena membuntuti kode rahasia itu, sekarang kalian berdua sudah mengerti bukan?"

Diam-diam Hek Seng-thian berdua merasa lega, pikirnya:

"Ternyata dia mempunyai rencana lain, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rahasia kami berdua"

Berpikir sampai disitu, sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Hek Seng-thian.

"Gerak-gerik saudara Suto sangat rahasia dan mencurigakan, darimana siaute berdua bisa mengetahui rencanamu?" katanya.

"Ceritanya panjang sekali, tempat ini tidak cocok untuk berbicara, bagaimana kalau kujelaskan setibanya di kamar kalian berdua?"

"Kamar kami ada di halaman nomor tiga belas"

"Kalau begitu ayoh kita berangkat"

Menanti bayangan tubuh ke tiga orang itu sudah lenyap dari pandangan, dari balik wuwungan rumah kembali muncul sesosok bayangan manusia.

"Apa yang telah terjadi?" gumamnya.

Dibawah cahaya rembulan tampak bayangan itu mengenakan baju hitam dengan wajah ditutupi kain kerudung hitam, ternyata dia tidak lain adalah Thiat Tiong-tong.

Sewaktu mendengar ada seorang murid Perguruan Tay ki bun muncul ditempat itu, dia sudah menduga delapan puluh persen orang itu adalah Im Ceng, hanya saja karena pemuda ini, jadi orang sangat berhati-hati dalam setiap tindakan maka sebelum menemui rekannya itu terlebih dulu dia awasi gerak gerik Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu.

Menanti dia saksikan kedua orang musuhnya siap melancarkan serangan dan diapun siap menghalangi, tidak disangka seseorang yang lain telah bergerak duluan.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menghalangi Hek Seng-thian berdua ternyata adalah Suto Siau, terlebih tidak mengira kalau perempuan cantik yang datang bersama Im Ceng ternyata adalah gundik kesayangan Suto Siau.

Dengan kecerdasan otaknya tidak sulit bagi-nya untuk menduga apa gerangan yang telah terjadi.

Tidak kuasa lagi peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, pemuda itu berpikir:

"Jika sam-te benar-benar mengajak perempuan itu pulang ke rumah, jelas dia telah melakukan satu pelanggaran yang menakutkan"

Thiat Tiong-tong sendiripun cukup memahami tabiat dari Im Ceng, ketika pemuda itu telah mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, maka jangan harap ada orang yang bisa mengha­langinya.

Ketika bayangan manusia masih muncul dibalik jendela tadi, Thiat Tiong-tong pun dapat melihat dengan jelas gerak-gerik mereka berdua yang nampak begitu mesrah, kenyataan ini membuat pikirannya bertambah kuatir.

Dia sadar, bila berharap Im Ceng mau sadar dari perbuatannya, dia harus berhasil mengumpulkan bukti yang cukup untuk mengungkap intrik yang sedang dilakukan perempuan itu serta membongkar identitas sebenarnya dari dirinya.

Dia pun sadar, perempuan itu pasti seorang musuh tangguh yang pernah dijumpai selama ini, perempuan cantik yang genit, licik lagi pintar, perempuan yang tidak gampang dihadapi.

Apalagi dibelakangnya terdapat kekuatan yang begitu besar menunjang segala perbuatannya, dia merasa tidak yakin bisa menangkan pertarungan adu akal semacam ini.

Untuk bisa menangkan semua pertempuran, dia harus berhasil menangkap titik kelemahannya, tapi apa yang menjadi titik kelemahannya?

........Daya tarik barang permata merupakan godaan yang paling susah dilawan oleh perempuan manapun.

Tiba-tiba dia terbayang kembali dengan perkataan yang pernah diucapkan wanita itu, tidak kuasa lagi sekulum senyuman menghiasi bibirnya.

Cahaya lampu mulai menerangi seluruh sudut ruangan, saat pasaran bebas kembali di mulai.

Gedung utama keluarga Li nampak jauh lebih ramai ketimbang tiga hari sebelumnya, setiap sudut tempat hampir dipenuhi oleh gelak tertawa, suara pembicaraan, asap tembakau yang pedas serta bau parfum yang harum semerbak.

Transaksi, jual beli, adu akal, adu kepintaran pun berlangsung dalam suasana hiruk pikuk.

Ouyang hengte, Ouyang bersaudara yang merupakan keluarga kaya raya dari wilayah Kanglam hadir jauh lebih awal dari hari-hari biasa, mereka mengenakan pakaian yang indah sementara sepasang mata yang liar mengawasi kawanan gadis aneh dimeja sebelah tanpa berkedip.

Kawanana ratu lebah dari Heng-kang masih tetap bersikap acuh, sama sekali tidak memandang sekejappun ke arah mereka, semakin mereka tidak acuh kawanan kongcu itu semakin getol menarik perhatian.

Hong Pak-ban yang ada di meja nomor dua berkilatan sepasang matanya, bagaikan seekor anjing pemburu, dia awasi terus sekeliling pasar dengan seksama, tampaknya transaksi yang berlangsung kemarin telah mendatangkan laba cukup banyak baginya.

Phoa-an kemala Phoa Seng-hong dengan tenang berdiri di belakang majikannya, sementara seorang wanita cantik yang duduk dibelakangnya berulang kali mencuri-curi untuk meraba telapak tangannya.

Im Ceng dan Un Tay-tay pun hadir di arena, merekapun sempat bertemu dengan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Suto Siau yang berada disudut gedung, namun mereka berlagak seolah-olah tidak mengenalinya.

Melihat itu Im Ceng membatin: "Ooh, ternyata mereka sudah tidak teringat lagi siapa aku"

Mendadak terdengar gelak tertawa bergema memenuhi angkasa, seseorang berseru dengan nyaring:

"Aku datang lagi!"

Hay Tay-sau dengan bertelanjang dada dan membawa sebuah karung goni berjalan masuk ke dalam ruangan, transaksi yang sedang berlangsung pun berhenti seketika, dengan keheranan semua orang mengawasi tokoh aneh itu.

"Blaaam!" dia letakkan karung goninya keatas meja, lalu serunya sambil tertawa tergelak:

"Hari ini aku akan lebih repot, siapa yang menginginkan barangku, cepat ajukan penawaran"

Belum sempat orang lain berbicara, Hong Pak-ban sudah bangkit berdiri seraya berseru:

"Ada berapa banyak barang yang kau bawa? Lohu akan memborong semuanya"

Hay Tay-sau berlagak berpikir sejenak kemudian baru menjawab:

"Tetap tiga puluh macam, tapi harganya......."

Buru buru Hong Pak-ban goyangkan tangan-nya berulang kali, tukasnya sambil tertawa:

"Kalau mau dagang mesti adil, kalau kemarin berharga lima ratus tahil, hari inipun harus sama harganya"

"Harus sama?" Hay Tay-sau garuk garuk kepalanya.

"Tentu saja" dia mengeluarkan selembar uang kertas dan melanjutkan, "disini ada uang senilai lima belas ribu tahil, persis untuk memborong semua barangmu"

Buru-buru dia letakkan uang kertas itu diatas meja kemudian buru-buru mengambil karung goni itu dan dibawa balik, kelihatannya dia kuatir kalau Hay Tay-sau tiba-tiba menyesal dan membatalkan transaksi itu.

Tanpa berpaling lagi Hong Pak-ban berseru: "Transaksi sudah selesai, tidak usah banyak bicara lagi!"

Mendadak Hay Tay-sau mendongakkan kepala­nya dan tertawa tergelak, serunya:

"Padahal barang yang ada dalam karung ku itu hanya laku dijual dua tahil perak, jika kau ngotot ingin membelinya dengan harga lima ratus tahil, yaa.. apa boleh buat"

Semua orang merasa terkejut bercampur geli, Hong Pak-ban yang terkenal sangat pelit, ternyata kali ini benar-benar dipedundangi orang.

Pucat pias selembar wajah Hong Pak-ban, buru-buru dia tuang isi karung itu diatas meja, benar saja, benda yang ada disitu hanya barang rongsok yang tidak ada nilainya.

Dalam terkejut bercampur gusarnya dia berteriak keras:

"Bangsat! Kau berani menipuku?"

"Siapa yang menipumu?" balik Hay Tay-sau dengan wajah berubah, "bukankah kau yang ngotot ingin memborongnya, kalau kau berani menyebut kata menipu lagi, segera akan kupenggal batok kepalamu"

"Bruuuk!" Hong Pak-ban jatuh terduduk diatas bangkunya, sementara Hay Tay-sau sama sekali tidak memandang kearahnya lagi, dia serahkan uang kertas itu ke tangan Li Lok-yang sambil ujarnya:

"Li toako, tolong bagikan uang ini kepada fakir miskin, aku akan pergi duluan!"

Diiringi gelak tertawa yang nyaring, dia ber­anjak pergi dari ruangan dengan langkah lebar.

Diam-diam semua orang bersorak memuji, khususnya Im Ceng, dia merasa amat kagum dengan orang itu.

Tiba-tiba Hong Pak-ban berpaling ke arah Phoa Seng-hong, hardiknya:

"Cepat kejar, cepat kejar dia!"

"Apanya yang dikejar?" Phoa Seng-hong balik bertanya dengan wajah gelap, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Hong Pak-ban semakin murka, sambil melompat bangun dia tuding wajah lelaki itu dan umpatnya:

"Lohu telah mengeluarkan uang banyak untuk mengundangmu, memangnya aku suruh kau makan tidur melulu?"

Sekilas senyuman licik melintas diatas wajah Phoa Seng-hong, jengeknya:

"Kau toh dengan rela hati membeli barang itu, kalau sampai tertipu salahkan diri sendiri, masa marah dengan orang lain?"

"Kurangajar, kau ingin  memberontak.....kau......"

"Tutup mulut!" bentak Phoa Seng-hong sambil tertawa dingin, "toaya mu sudah tidak mau bekerja lagi, ini uangmu, aku kembalikan semua, mulai sekarang mau dibunuh mau dirampok, tidak ada urusannya lagi dengan aku"

"Bagus, kau.... kau... aku.... aku....." paras muka Phoa Seng-hong berubah hebat.

"Apa kau, kau? Pergilah mampus!" seru Phoa Seng-hong sambil tertawa dingin, ia segera berlalu dari situ.

Air muka dua orang wanita cantik yang ada disisi Hong Pek-ban ikut berubah, tiba-tiba mereka berteriak sambil mengejar:

"Siau Phoa, Siau Phoa, mau kemana kau? Jangan pergi......"

Hong Pak-ban semakin naik pitam, ibarat minyak bertemu api, amarahnya benar-benar memuncak.

"Budak sialan, balik!" umpatnya.

Tapi mereka seolah tidak mendengar teriakan itu, dalam waktu singkat ke dua orang wanita itu sudah keluar dari ruang gedung.

Tidak tahan semua orang pun tertawa kegelian, ketika Hong Pek-ban melihat tiada wajah simpatik disekitar sana, dengan jengkel dia hentakkan kakinya dan ikut menerjang keluar dari ruangan.

Siapa tahu baru tiba didepan pintu, kebetulan seseorang sedang melangkah masuk kedalam, tidak ampun mereka pun saling bertumbukan.

Kontan Hong Pak-ban mencaci maki kalang kabut sambil mundur berapa langkah:

"Budak sialan, buta matanya!"

Orang yang kena ditumbuk itu adalah si kakek aneh, semua orang tahu segera ada pertunjukan menarik yang akan terjadi.

Terdengar kakek itupun mulai balas memaki:

"Kau sendiri yang budak sialan, kau sendiri yang buta matanya, macam anjing busuk!"

"Sialah, sudah menumbuk aku masih berani memaki, mau memberontak!" Hong Pak-ban makin sewot.

Belum selesai dia berkata, wajahnya sudah ditampar kakek aneh itu berapa kali.

"Bagus.... kau... kau berani memukulku!" Kakek itu tertawa dingin.

"Hmm, uangmu tidak bisa menangkan uang-ku, kekuasaanmu pun tidak bisa menangkan kekuasaanku, ada apa? Masih kurang? ingin ditampar lagi?"

Sambil memegangi pipinya Hong Pak-ban termangu sesaat, akhir nya dia baru teringat kalau dalam segala hal dia memang kalah dari orang itu, maka tanpa banyak bicara lagi dia melarikan diri terbirit birit.

Sekali lagi gelak tertawa bergema memenuhi angkasa.

Kakek aneh itu dengan punggung bungkuk kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruangan, yang membuat orang kecewa adalah ketidak hadiran si gadis cantik itu, sekarang yang mengintil di belakangnya hanya ke dua orang bocah ajaib.

Transaksi yang berlangsung dalam gedung pun seketika berkembang jadi lebih bergairah dan hidup sejak kehadiran kakek aneh itu.

Banyak orang ingin mencari keuntungan dari kakek aneh yang kaya raya itu, barang berharga yang langka dan luar biasa indahnya pun segera dikeluarkan dari tempat penyimpanan.

Meskipun kakek itu tua lagi bungkuk, namun banyak menjadi perhatian perempuan perempuan cantik, namun dia hanya bersandar diatas pembaringan empuk yang khusus dibawa sendiri sambil setengah memejamkan matanya.

Sekilas pandang orang mengira dia sedang beristirahat, padahal tidak seorang manusia pun yang lolos dari pengamatannya.

Menjelang malam tiba-tiba Gin-siepoa bangkit berdiri sambil membuka sebuah kotak kulit yang berada disisinya, dari dalam kotak itu dia mengeluarkan seuntai kalung, anting anting dan perhiasan kepala yang terbuat dari berlian.

Satu set perhiasan berlian itu selain terdiri dari berlian yang indah, juga dihiasi dengan untaian mutiara sebesar buah kelengkeng, begitu benda itu dikeluarkan, decak kagum seketika memenuhi seluruh ruangan.

Sepasang mata Un Tay-tay terbelalak lebar, cahaya kerakusan memancar keluar dari balik matanya yang indah, ini pertanda dia akan mengorbankan segala yang dimiliki demi menda­patkan barang perhiasan itu.

Lelang pun dimulai, harga dibuka dari sepuluh ribu tahil perak, ketika tawaran mencapai lima belas ribu tahil perak, yang tersisa hanya tinggal Un Tay-tay, Kim Ji-kongcu serta Ouyang Hengte.

Akhirnya Un Tay-tay dengan tawaran enam belas ribu tahil perak berhasil mengalahkan mereka semua, senyum kepuasan dan rasa bangga pun segera tersungging di ujung bibirnya.

Belum selesai dia bergembira mendadak kakek itu mendeham sambil berseru:

"Dua puluh ribu tahil!"

Un Tay-tay tertegun, dia seperti tercengang, seperti juga gusar, segera teriaknya lagi:

"Dua puluh empat ribu tahil!"

Dia sudah meneriakkan seluruh harta ke­kayaan yang mampu dikeluarkan olehnya saat ini.

Sekulum senyuman aneh kembali tersungging diujung bibirnya, perlahan-lahan dia memperli­hatkan ke limajari tangannya.

"Apakah anda menawar dengan harga lima puluh ribu tahil perak?" tanya siepoa perak sambil tersenyum.

Jawaban yang dibutuhkan merupakan kepastian.

"Bertransaksi ditempat ini, begitu harga disepakati maka kau mesti membayar secara kontan!" kembali siepoa perak menambahkan.

Dengan perlahan kakek aneh itu memberi kode kepada bocah yang ada disisinya, tidak lama bocah itu sudah mengeluarkan setumpuk uang kertas.

Gien siepoa memandang sekeliling ruangan sekejap, decak kagum,   seruan kaget kembali bergema diseluruh tempat.

Un Tay-tay duduk termangu dibangkunya dengan wajah pucat pias, jelas dia merasa sedih, gusar bercampur kecewa.

Biasanya, jika dia sudah berminat dengan suatu benda maka dengan menghalalkan secara cara dia akan berusaha mendapatkannya, bahkan bila perlu menggadaikan nyawa pun akan dia lakukan.

Tentu saja dalam keadaan dan situasi seperti ini, mustahil baginya untuk melakukan cara-cara yang biasa dia gunakan.

Setelah transaksi disetujui, kotak perhiasan itupun dihantar kan ke hadapan si kakek aneh itu.

Suto Siau yang berada disudut ruangan segera berbisik sambil tertawa ringan:

"Kali ini Tay-tay ketanggor batunya!"

"Yaa, lima puluh ribu tahil perak hanya untuk membeli sekotak perhiasan, kecuali kakek aneh itu siapa lagi yang berani melakukan?" sambung Hek Seng-thian.

Dalam pada itu Im Ceng sudah bangkit dari tempat duduknya sambil berkata lembut: "Tay-tay, mari kita pergi!"

Un Tay-tay tidak menjawab, dia masih mengawasi kotak perhiasan yang berada disisi kakek aneh itu dengan termangu.

Im Ceng kembali menghela napas panjang, sembari membungkukkan tubuhnya dia berbisik:

"Apakah perhiasan itu begitu penting artinya bagimu?"

"Aku tidak tahu" Un Tay-tay menggeleng, "Aku hanya tahu betapa sedih hatiku jika gagal mendapatkan benda yang ingin kudapatkan"

Im Ceng tertegun, tanpa sadar dia duduk kembali ke bangkunya.

Pada saat itulah dari luar pintu gedung terdengar suara ringkikan kuda yang ramai diikuti enam belas orang lelaki kekar melompat turun dari kuda kudanya dan masuk ke dalam gedung.

Begitu berada dalam ruangan, orang-orang itu segera menggetar kan pergelangan tangannya dan mengibarkan sebuah panji yang terbuat dari kain sutera.

Dari ke enam belas lembar panji itu, hampir semuanya bercorak sama, dasar hitam dengan sulaman tulisan berwarna merah darah: "Bi lek tong!

Kawanan lelaki pembawa panji itu memecah­kan diri menjadi dua regu, masing-masing regu berdiri disisi undak-undakan hingga mencapai pintu gerbang.

Mereka semua berdiri tegak bagai sebatang tombak, paras mukanya serius dan sangat amat berat.

Kembali terjadi kehebohan dalam ruangan. "Bi leik-hwee telah datang!"

Diam-diam Suto Siau pun mengerutkan dahi­nya sambil berpikir:

"Mau apa dia datang kemari? Kenapa paras muka Hek Seng-thian langsung berubah? Jangan-jangan dia sudah melakukan satu perbuatan yang takut diketahui orang?"

Sementara dia masih berpikir terlihat seorang kakek berjenggot panjang, bertubuh tinggi kekar, berwajah merah bercahaya dan mengenakan pakaian indah melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tindakan lebar.

Pakaian yang dikenakan sangat indah dan mewah, jenggot panjangnya pun terawat sangat rapi, sinar matanya berkilat penuh dengan kebanggaan.

Buru-buru Li Lok-yang maju menyambut seraya menyapa:

"Selamat datang hengtay, tidak nyana kau pun mau ikut meramaikan suasana di tempat ini"

Sambil mengulapkan tangannya dan tertawa tergelak tukas Bi lek-hwee:

"Diantara saudara sendiri tidak perlu banyak berbasa-basi"

Kemudian sambil menyapu sekejap ke seluruh ruangan, tambahnya:

"Kedatangan siaute kali ini adalah untuk mencari Hek Seng-thian, ada berapa hal perlu kubicarakan dengannya"

Waktu itu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta Suto Siau telah bangkit dari tempat duduknya.

Sambil tertawa paksa dan menjura seru Hek Seng-thian cepat:

"Siaute berada disini, entah urusan apa kau mencariku?"

"Aku tahu kalau kau berada disitu" seru Bi lek-hwee dengan suara lantang, "aku mau bertanya, kemana kau sudah membawa murid pertamaku? Hmm, delapan puluh persen pasti diajak melakukan hal-hal yang tidak baik!"

Dia benar-benar tidak pandang sebelah mata terhadap orang lain, teguran itu dilontarkan di hadapan umum.

Sekali lagi paras muka Hek Seng-thian berubah, sambil berlagak pilon sahutnya:

"Siapa? Maksudmu keponakan Lui? Sejak berpisah berapa bulan berselang, siaute belum pernah bersua lagi dengannya"

"Kau sungguh tidak melihatnya?"

"Aah, masa hengtay tidak percaya dengan perkataan siaute?"

"Sialan, sudah mampus ke mana bocah itu! Hek lote, jangan marah, jangan marah, anggap saja aku telah salah menuduhmu tadi"

Tabiat orang tua ini benar benar milik geledek, datangnya cepat, pergipun sangat cepat.

Thiat Tiong-tong yang duduk sambil setengah memejamkan matanya segera merasa tergerak hatinya:

"Aah, ternyata Hek Seng-thian telah berbohong dengan sengaja mengelabuhi mereka, ini peluang bagus untukku!"

Sebuah rencana segera melintas dalam benaknya, sikapnya pun semakin santai.

Dengan santainya dia bangkit berdiri lalu beranjak keluar dari ruangan, sementara dua orang bocah lelaki itu mengikuti di belakangnya sambil membawa kotak perhiasan itu.

Tiba di belakang halaman yang sepi dan agak redup cahayanya, Thiat Tiong-tong segera memper­lambat langkahnya, sesosok bayangan manusia tampak melintas lewat, ternyata dia adalah Gin siepoa.

"Merepotkan kau!" seru Thiat Tiong-tong sambil tersenyum.

Siepoa perak mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribuan dan diserahkan kepada pemudaku, lalu bisiknya:

"Sebetulnya apa tujuan kau orang tua melakukan hal ini?"

Thiat Tiong-tong memicingkan matanya sembari tertawa terkekeh.

"Lohu hanya ingin menggoda nona itu, Cuma, jangan sekali-kali kau ceritakan kejadian ini kepada orang lain"

Dengan penuh pengertian siepoa perak manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa:

"Tanpa bersusah payah aku telah menerima bayaran tiga ribu tahil perak dari kau orang tua, tentu saja aku akan menjaga rahasia ini baik baik"

Selesai menjura kembali dia ngeloyor pergi dari situ.

Thiat Tiong-tong tersenyum penuh kebangga­an, ternyata perhiasan itu memang merupakan barang mestika miliknya.

Dia tahu manusia macam Gien siepoa yang pandai berdagang merupakan orang yang bisa diajak kerja sama, maka dia menyuapnya dan memainkan sandiwara tadi agar Un Tay-tay masuk perangkap.

Pada saat itulah mendadak dari balik semak terdengar seseorang menyindir sambil tertawa dingin:

"Orang bilang tua tua keladi makin tua makin menjadi, ternyata ungkapan ini memang sangat tepat"

"Siapa disitu?"

Meskipun agak terperanjat, dia tidak ingin membongkar penyaruan sendiri, maka sengaja berlagak terengah-engah dia menghampiri semak tanaman disisi jalan dengan langkah lebar.

Dibawah cahaya rembulan terlihat ada sepasang laki perempuan sedang berpelukan dengan mesrahnya, perempuan itu ternyata tidak lain adalah gundik Hong Pek-ban. Saat ini dia nampak berbaring dengan napas tersengkal dan pakaian awut-awutan tidak rapi.

Ketika menyaksikan kemunculan Thiat Tiong-tong, wajahnya bukan saja tidak tampil rasa malu, malahan sambil tertawa cabul memperketat rangkulannya pada tengkuk lelaki itu.

Sementara sang lelaki berwajah putih pucat, dia tidak lain adalah Phoa Seng-hong.

Sambil memegang dada sendiri seperti orang kaget, serunya sambil tertawa:

"Hey orang tua, bila kau berhasil menggaet perempuan genit tadi, tidak ada salahnya untuk menikmati surga dunia ditempat ini"

"Betul, disini amat menarik" sambung perem­puan itu pula, sambil cekikikan, "Kami bisa melihat orang lain, tapi orang lain tidak bisa melihat kami, cobalah sendiri, kau pasti akan merasa senang!"

Dalam hati Thiat Tiong-tong menyumpahi, tapi diluaran katanya:

"Apa kau bilang? Lohu tidak paham"

"Hahahaha.... cayhe pun orang satu aliran denganmu, masa kau ingin berbohong didepanku? Menurut pengalamanku yang berpuluh tahun, perempuan itu memang seekor ikan bagus bahkan segera akan terkait oleh umpanmu, Cuma...... si bocah berpipi licin itu nampaknya merupakan jagoan yang berilmu tinggi, orang macam begitu tidak gampang dihadapi, bila rencanamu sampai ketahuan......hmmm hmmm.....rasanya sulit untuk menghadapinya!"

Thiat Tiong-tong pun berlagak seolah tebakan Phoa Seng-hong itu benar, dia membungkam diri dalam seribu bahasa.

Kembali Phoa Seng-hong berkata sambil tertawa:

"Tapi jika disampingmu terhadap seorang pengawal semacam aku, dapat dipastikan bajingan muda itu tidak akan berani berkutik!"

Diam diam Thiat Tiong-tong tertawa dingin, pikirnya:

"Tidak nyana bajingan ini sedang mengincar aku"

Tapi diluaran sengaja ujarnya: "Jadi kau ingin menjadi pengawal pribadiku?"

"Aku sudah kehilangan pekerjaan, tentu saja harus mencari pekerjaan baru"

Kembali Thiat Tiong-tong berpikir:

"Hmm, kau ingin memperalat aku? Memangnya aku tidak bisa memperalat dirimu?"

Berpikir begitu segera serunya:

"Kau anggap memang gampang untuk bekerja denganku?"

"Masa kau tidak menginginkan hal yang sama sama menguntung kan?" Phoa Seng-hong balik bertanya.

"Kalau ingin menjadi pengawalku, kau mesti taati semua perintahku"

"Tentu saja"

"Kalau begitu sekarang juga bangkit berdiri dan ikuti aku"

Tanpa berpikir panjang Phoa Seng-hong bangkit berdiri, tapi perempuan itu segera menarik pakaiannya sambil berseru:

"Setelah tertarik dengan orang lain, masa kau akan tinggalkan aku?"

"Lepaskan!" hardik Phoa Seng-hong dengan wajah sedingin es.

"Kalau tidak kulepas mau apa kau?"

Perempuan itu masih berlagak manja dengan memeluk kaki Phoa Seng-hong erat-erat.

Siapa tahu secara tiba-tiba Phoa Seng-hong melayangkan sebuah tendangan, langsung meng­injak jalan darah Ciang tay hiat didepan dada perempuan itu.

Jalan darah Ciang tay hiat berhubungan langsung dengan denyut jantung, merupakan salah satu jalan darah kematian, mana mungkin perempuan itu mampu menahan diri? Tiba-tiba tubuhnya mengejang, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tubuhnya sudah roboh terkapar.

"Sungguh kejam hati orang ini!" pikir Thiat Tiong-tong dengan perasaan terkesiap.

Paras muka Phoa Seng-hong sama sekali tidak berubah, ujarnya lagi sambil tertawa:

"Coba kau lihat cara kerjaku sebagai seorang pengawal, agar dia tidak membocorkan rahasia-mu, aku tidak segan untuk membungkam mulut perempuan itu untuk selamanya, bagiku tugas lebih penting ketimbang cinta!"

Sementara itu ke dua orang bocah ajaib itu sudah berdiri dengan wajah pucat pias, Thiat Tiong-tong sendiripun berlagak ketakutan, sengaja bisiknya dengan suara gemetar:

"Kau..... kau berani membunuh orang disini?

Bagaimana kalau sampai ketahuan Li Lok-yang?"

Phoa Seng-hong tertawa dingin. "Aku bertindak demi majikanku, bagaimana akhir dari persoalan ini, semuanya tergantung bagaimana sikap Tuan"

"Lho.... kenapa kau limpahkan semua kesalahan dan tanggung jawab ini kepada lohu?"

"Jika kau tidak bersedia bertanggung jawab, terpaksa aku akan menguarkan semua rahasiamu tadi kepada khalayak ramai"

Dia tahu orang tua tersebut sudah berada dalam kendalinya, karena itu sikapnya nampak amat bangga.

Thiat Tiong-tong sengaja berkerut kening, setelah termenung sejenak serunya:

"Kalau begitu.....kalau begitu.........."

Tiba-tiba wajahnya cerah kembali, sambung­nya:

"Mumpung semua orang masih berkumpul dalam gedung, cepat kau kirim mayat ini ke dalam kamar orang lain!"

"Usul yang bagus!" puji Phoa Seng-hong sambil tertawa, "Bagaimana pun jahe memang makin tua makin pedas!"

"Orang yang ada dimeja tiga belas sangat memuakkan, diapun pernah menyalahi lohu, kirim saja mayat ini ke dalam kamar mereka!"

"Bagus sekali, bagus sekali, Hek Seng-thian memang sangat menyebalkan!"

Sambil membopong mayat perempuan itu katanya lagi:

"Aku segera akan balik"

"Kalau begitu akan lohu tunggu dalam tendaku"

"Baik!"

Dengan sekali lompatan dia sudah melesat ke atas wuwungan rumah dan lenyap dari pandangan mata.

Sinar bangga memancar keluar dari balik mata Thiat Tiong-tong, ketika dia berjalan lewat didepan ruangan yang ditempati Hong Pak-ban, tiba-tiba terlihat ada dua sosok bayangan manusia sedang bersembunyi dibalik kegelapan.

Satu ingatan segera melintas lewat, ternyata kedua orang itu adalah si nenek berbaju rombeng serta pemuda pincang itu.

Semenjak menelan jinsom berusia ribuan tahun, ketajaman matanya sudah melebihi orang lain, meski berada dalam kegelapan namun dia dapat melihat lawan dengan sangat jelas.

Dengan cekatan dia segera bersembunyi dibalik sudut dinding, sementara dua orang bocah itu saling bertukar pandangan sekejap dan segera berlalu melewati jalanan lain.

Mereka memang sudah mendapat pendidikan ketat dan tidak pernah mencampuri urusan rahasia majikannya, mereka pun tidak mau membocorkan rahasia majikannya sekalipun dia adalah seorang perampok.

Ketika mendengar suara langkah manusia, kedua orang itu   segera berpaling,  tapi  mereka kembali berlega hati setelah mengetahui yang muncul hanya dua orang bocah.

Selang berapa saat kemudian pemuda pincang itu baru berbisik:

"Suhu, si tua Hong sudah kembali, kenapa bangsat itu belum juga munculkan diri? Tecu sudah sedikit tidak sabaran"

"Kenapa mesti gelisah" sahut si nenek sambil tertawa dingin, "aku yakin dia masih belum kabur dari sini, anggap saja memang rejeki dia bisa hidup berapa hari lebih lama"

Thiat Tiong-tong bertambah curiga, batinnya:

"Ternyata dua orang nenek dan cucunya ini adalah guru dan murid, berarti mereka memang sengaja menyamar, tapi apa tujuannya? Sayang pengetahuanmu tentang jago persilatan amat cetek hingga tidak bisa mengenali asal usul mereka"

Sementara dia masih berpikir, pemuda pincang itu sudah melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berkata:

"Biar tecu tengok ke depan sana, apakah bangsat itu masih ada didalam gedung?"

Pemuda itu bukan sama memiliki gerakan tubuh yang aneh bahkan kecepatan tubuhnya luar biasa, sama sekali tidak menunjukkan gejala seperti orang cacad.

Nenek berpakaian rombeng itu sama sekali tidak menghalangi, tampaknya dia merasa sangat yakin dengan kemampuan silat yang dimiliki pemuda itu.

Thiat Tiong-tong semakin tercengang.

Dia bisa menduga kalau sasaran yang sedang dicari kedua orang itu adalah Phoa Seng-hong, hanya tidak diketahui perselisihan apa yang terjalin diantara mereka bertiga.

Disekeliling halaman gedung kedua ini merupakan tanah be rumpun, cahaya lentera yang menerangi bangunan itupun tak mencapai tempat tersebut sehingga suasana diseputar sana terlihat sangat remang-remang.

Mendadak terdengar suara gelak tertawa kembali bergema memecahkan keheningan.

Terlihat ada tujuh delapan orang gadis muncul dari balik kegelapan sambil bersendang gurau.

Gerak gerik mereka sangat ringan dan cekatan, ternyata mereka adalah rombongan ratu lebah.

Setelah berada ditempat yang sepi, merekapun tidak berlagak alim lagi.

Terdengar seorang gadis bertubuh kecil ramping berkata sambil menghela napas:

"Orang tua aneh itu jelas kaya raya, sayang orangnya kelewat tua, kalau tidak.........."

Seorang gadis tinggi semampai segera menanggapi sambil tertawa:

"Yau su-moay bukan saja suka duit, juga senang orang tampan, lain bagiku, asal dia berduit, biar tua juga tidak masalah"

"Siapa suruh kau macam pengumpul barang rongsok? Aku rasa terhadap si bintang pembawa bencana pun kau punya selera......"

"Waah, kalau orang itu mah aku tidak berani mengusiknya" sahut gadis lain sambil menjulurkan lidahnya.

"Kenapa tidak berani mengusiknya? Asal ada kesempatan, aku tetap akan menggaetnya, akan kulihat seberapa banyak harta kekayaannya"

Mendadak terdengar suara gelak tertawa disusul seseorang berseru:

"Hahahaha.... tampaknya aku memang ketimpa rejeki, siapa yang mau menggaet aku, silahkan kemari"

Gelak tertawa itu nyaring dan lantang, jelas suara dari si bintang pembawa bencana Hay Tay-sau.

Dengan tangan sebelah membawa buli-buli arak, pakaian bagian dadanya dibiarkan terbuka, dia berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Kontan saja sekawanan ratu tawon itu heboh, ada yang menjerit kaget, ada yang menutupi wajahnya, ada pula yang tertawa ter pingkal-pingkal.

Seorang gadis berwajah bulat segera menuding kearah nona yang sedang menutupi wajahnya sambil berseru:

"Dia, dia orangnya, dia yang mau menggaetmu"

"Kau ini...." seru si nona itu malu, "kalau berani bicara lagi....."

Dengan wajah bersemu merah karena malu dia berusaha mengejar rekannya, tapi dengan satu kali sambaran Hay Tay-sau telah menangkap tangan­nya dan memeluknya erat erat.

"Ooh, rupanya kau si budak cilik yang mau denganku?" seru Hay Tay-sau sambil tertawa tergelak, "mari, coba kulihat wajahmu"

Sambil berkata dia memegang dagu gadis itu, dipandangnya berapa kejap kemudian mengge­sekkan jenggotnya yang kaku bagai duri diatas wajahnya.

"Hahahaha... kau takut tidak?" serunya sambil tertawa.

Dengan napas tersengal gadis itu berteriak minta ampun, sementara tangan yang lain justru merangkul Hay Tay-sau erat-erat.

Siapa  tahu   secara  tiba-tiba  Hay  Tay-sau mendorong tangan nya seraya berseru:

"Kalau baru budak cilik macam kau, masih belum pantas untuk manggaetku!"

Ditengah gelak tertawa yang keras dia segera beranjak pergi.

Gadis itu segera terdorong hingga jatuh terduduk ditanah,   untuk sesaat dia nampak tertegun, malu bercampur gusar, akhirnya sumpah serapahpun bergema memenuhi udara:

"Laki-laki sialan, laki-laki bau.... dasar laki dungu!"

Kembali gelak tertawa bergema disekeliling tempat itu.

Tiba-tiba terdengar ada suara seseorang yang sedang berseru:

"Nona-nona sekalian, urusan apa yang mem­buat kalian gembira? Apakah boleh siauseng ikut meramaikan suasana?"

Ternyata Ouyang bersaudara telah menyusul kesana.

Seketika itu juga kawanan ratu tawon itu menghentikan gelak tertawanya, semua orang mengernyitkan alis dan sambil tundukkan kepala, tutup mulut rapat-rapat mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Sambil menggoyang kipasnya Ouyang hengte mengintil di belakang mereka.

Hay Tay-sau yang berdiri dikejauhan sambil minum arak segera berseru sambil tertawa keras:

"Anak-anak, balik saja, jangan sampai meng­ganggu sarang lebah, kalau sampai disengat bisa berabe akibatnya"

Seorang pemuda diantaranya membalikkan tubuh, tampaknya hendak mengumpat tapi dia segera ditarik lengannya oleh rekan yang lain.

Hay Tay-sau tertawa tergelak, mendadak hardiknya:

"Siapa disitu? Mau apa bersembunyi di sana?"

Thiat Tiong-tong terperanjat, tapi dia segera lega setelah melihat arah yang dituju Hay Tay-sau adalah tempat persembunyian nenek berbaju rombeng.

Pada saat itulah dari balik halaman kedua berkumandang suara jeritan ngeri yang amat nyaring.

Ditengah jeritan, terlihat Hong Pak-ban dengan tubuh bermandikan darah dan pakaian tidak rapi berlarian keluar dengan langkah limbung.

"Li Lok-yang, Li Lok-yang, ada dimanakau?"

Hay Tay-sau melompat ke hadapannya, mencengkeram bahunya dan menegur:

"Hey, kau sudah edan?"

Dengan sekali ayunan, dia tampar wajah orang itu keras-keras.

Setelah kena tamparan, agaknya kesadaran Hong Pak-ban pulih kembali, dia termangu sejenak kemudian baru gumamnya:

"Aku telah membunuh orang! Aku telah membunuh dia"

"Siapa yang kau bunuh?"

"Gin-sian..... perempuan hina itu, dia kabur dengan lelaki lain bahkan akan membunuhku, maka aku telah membunuhnya lebih dulu"

"Goblok!" umpat Hay Tay-sau dengan gusar, "gara-gara perempuan hina kau sampai mem­bunuh? Memangnya berharga?"

Hong Pak-ban kembali termangu, akhirnya dia menangis tersedu-sedu.

Sementara itu Li Kiam-pak, tuan muda perkampungan keluarga Li dengan membawa empat orang centengnya telah menyusul tiba, dari kejauhan sana masih terdengar suara langkah kaki yang ramai.

Thiat Tiong-tong tahu, kesemuanya ini hanya lagu pembukaan sebelum kekalutan lain yang lebih parah, kelihatannya keluarga pedagang kaya ini segera akan menghadapi satu huru-hara yang belum pernah dialaminya setelah hidup damai sekian tahun.

Maka dia pun melompat masuk ke dalam halaman kedua secara diam-diam, betul saja, dia saksikan mayat perempuan cabul itu sudah tergeletak diatas lantai, disampingnya masih terlihat ada sebuah peti.

Tampaknya perempuan jalang itu sudah tergila-gila dengan Phoa Seng-hong sehingga diputuskan untuk kabur sambil mencuri barang perhiasan, tidak tahunya niat itu ketahuan Hong Pak-ban sehingga terjadilah kasus pembunuhan itu.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, dengan cepatnya dia menyelinap lewat dan kembali ke tendanya.

Sebelum melangkah masuk, dia sudah mendengar Phoa Seng-hong yang berada dalam ruang tenda sedang berkata sambil tertawa:

"Nona, selanjutnya kita akan menjadi satu keluarga, masa kau usir aku dari sini?"

Menyusul kemudian terdengar suara dayang­nya Si-jin menghardik:

"Enyah kau dari sini! Jika berani bersikap kurang ajar lagi kepada nona kami, jangan salahkan kalau kau kehilangan nyawa"

Dengan langkah lebar Thiat Tiong-tong berjalan masuk ke dalam tenda, dia saksikan Sui Leng-kong duduk disudut tenda sementara dayangnya Si-jin menghadang dihadapannya.

Begitu melihat kehadirannya, dayang itu segera berseru:

"Aah, untung majikanku sudah kembali"

"Coba tanyakan sendiri kepadanya, benarkah dia yang suruh aku datang kemari?" kata Phoa Seng-hong sambil berpaling dan tertawa.

"Apa tugasmu telah selesai?" tanya Thiat Tiong-tong dengan wajah serius.

"Sudah kulakukan dengan sempurna, siapa pun tidak akan menaruh curiga kepadaku"

"Satu gelombang belum mereda sudah muncul gelombang yang lain, mungkin saja kau dapat lolos dari persoalan ini, tapi jangan harap bisa lolos dari kasus yang lain!"

"Apa maksudmu?" berubah paras muka Phoa Seng-hong.

"Hong Pak-ban telah mewakilimu melakukan pembunuhan, jelas hutang piutang ini tidak akan lari dari pundakmu, kemudian......... Hay Tay-sau juga tidak bakal melepaskan dirimu"

Phoa Seng-hong segera tertawa.

"Hong Pak-ban yang melakukan pembunuhan tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, manusia she-Hay itu pun merupakan musuh bebuyutanku selama banyak tahun, belum tentu dia bisa berbuat banyak kepadaku"

"Sayang situasinya saat ini sudah jauh berbeda, lagipula kau masih dihadang musuh tangguh lain yang jauh lebih lihay, orang yang berniat menghabisi nyawamu"

"Siapa?"

"Si nenek berpakaian rombeng serta pemuda pincang"

Phoa Seng-hong agak tertegun, setelah berpikir sejenak katanya:

"Mereka......rasanya mereka tidak punya dendam sakit hati apa apa denganku........"

Tapi belum selesai bicara, paras mukanya telah berubah hebat, lanjutnya:

"Aah dia, jangan-jangan dia........."

"Sudah kau ingat asal-usulnya?" dengus Thiat Tiong-tong dingin.

Phoa Seng-hong mundur berapa langkah dengan sempoyongan kemudian duduk lemas diatas bangku, gumamnya:

"Apa.....apa yang dia katakan?"

"Dia bilang akan mencabut nyawamu!" Phoa Seng-hong mulai membesut wajahnya, membesut  butiran  keringat yang membasahi seluruh wajahnya.

"Didepan lohu saja kau mengibul dan bicara sombong sehingga lohu percaya kalau kau memang seorang enghiong hohan yang kosen dan ampuh kepandaian silatnya, siapa tahu......hehehe.....baru ketemu seorang nenek dan bocah cilik, kau sudah ketakutan setengah mati, Huuh! Kalau enghiong semacam ini mah......kamsia saja, lohu tidak pingin menggunakannya"

Tampaknya Phoa Seng-hong hendak mengum­bar api kemarahannya, tapi baru saja bangkit berdiri dia sudah terduduk kembali.

"Benar, aku memang takut kepadanya" "Braaak!" sambil menggebrak meja, lanjutnya dengan nyaring:

"Tapi kecuali dia, bila ada orang yang berani bersikap kurangajar kepada diriku, Hmm! Aku tetap mampu untuk memenggal batok kepalanya!"

Thiat Tiong-tong tertawa dingin.

"Siapa dia? Kenapa kau begitu takut kepada­nya?" dia bertanya.

"Dia......namanya......Aai, biar kuberitahu pun percuma, toh kau tidak bakal kenal"

Bibirnya telah ikut berubah jadi pucat tanpa warna darah, dia seolah tidak berani menyebut nama  tersebut  karena  kuatir  bila  namanya disinggung maka bencana besar segera akan tiba.

"Kau tidak berani mengatakan?"

"Sekalipun tidak berani kusebut, memangnya kau mau apa?"

"Lebih baik perkecil suaramu, jangan sampai teriakanmu kedengaran olehnya!"

Phoa Seng-hong tertegun, hawa amarahnya lenyap seketika, dengan lesu dia tundukkan kepalanya.

"Tapi duduk melulu disini pun bukan cara penyelesaian yang tepat" kata Thiat Tiong-tong lagi.

"Apakah kau kuatir terseret oleh masalahku ini? Sekarang kau sudah menjadi majikanku, tentu saja kalau aku menghadapi persoalan, kaupun harus ikut menghadapinya"

"Mana boleh begitu" sengaja Thiat Tiong-tong berseru dengan wajah berubah, "lebih baik kau cepat pergi dari sini!"

"Pergi? Jika Dia sudah tahu kalau peristiwa tersebut merupakan perbuatanku, memangnya aku masih bisa kabur? Tahukah kau siapa dia? Tahukah kau betapa lihaynya dia? Bila dia sudah muncul disini, bukan hanya aku seorang yang bakal sial, mungkin keluarga Li pun ikut tertimpa kemalangan!"

Nada ucapannya sama sekali tanpa luapan emosi, hal ini menunjukkan betapa takut dan ngerinya orang itu.

Thiat Tiong-tong berlagak seolah-olah ikut gugup dan ketakutan.

Phoa Seng-hong melirik Sui Leng-kong sekejap, lalu sambil tertawa dingin katanya:

"Terpaksa aku hanya bersembunyi disini, kau tidak bakal mampu mengusirku lagi, sebab bila aku harus mati, kaupun harus ikut mendampingi kematianku"

Thiat Tiong-tong sengaja termangu beberapa saat lamanya, dia seakan sudah tidak sanggup bicara lagi.

Sui Leng-kong tahu, rekannya itu cerdas dan punya kemampuan melebihi siapa pun, dibalik tindakannya itu dia pasti punya tujuan tertentu, maka diapun ikut membungkam.

Lewat berapa saat lamanya Thiat Tiong-tong baru menghela napas panjang sambil bertanya:

"Kecuali cara ini, memangnya tidak ada cara yang lain lagi?"

Sambil  tertawa  dingin  Phoa  Seng-hong menggeleng.

"Aah, lohu punya satu siasat......" seru Thiat Tiong-tong kemudian.

"Siasat apa?"

"Diantara sekian banyak kawanan tokoh persilatan yang hadir disini kecuali kau dan orang she-Hay itu, apakah masih terdapat tokoh lain yang agak menonjol namanya?"

"Suto Siau, Bi lek Hwee, lalu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu, semuanya merupakan tokoh-tokoh kenamaan yang punya nama dan pengaruh besar dalam dunia persilatan"

"Hanya berapa orang itu saja? Hehehe,..... asal lohu menyampaikan berapa patah kata kepada mereka, sudah pasti orang orang itu akan membantumu dengan sepenuh tenaga"

"Sungguh?" Phoa Seng-hong merasa semang­atnya bangkit kembali, "asal berapa orang itu mau membantu, situasi pasti akan berubah drastis, tapi mana mungkin mereka mau membantuku?"

"Tentu saja lohu punya siasat bagus, asal kau menurut, semuanya pasti beres!"

"Bila kali ini kau benar-benar bisa memban­tuku dengan siasat jitumu, dikemudian hari bila kau tertimpa persoalan macam apa pun, aku pasti akan membantumu dengan sepenuh tenaga"

Thiat Tiong-tong menuju ke samping meja tulisnya, menulis dua pucuk surat lalu disegel rapat-rapat, pesannya:

"Mula-mula kau harus berusaha agar bisa berbicara empat mata dengan Bi lek Hwee, serahkan surat ini kepadanya, asal dia sudah membaca isi surat ini kujamin orang itu akan membantumu dengan sepenuh tenaga, kau mesti paksa dia untuk angkat sumpah lebih dulu kemudian baru mengeluarkan surat yang kedua"

Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak Phoa Seng-hong menerima surat itu.

Kembali Thiat Tiong-tong menulis dua pucuk surat, kemudian katanya lagi:

"Serahkan kedua pucuk surat ini kepada Suto Siau, caranya persis seperti cara pertama tadi"

Kemudian dia pun menulis lagi dua pucuk surat dan minta Phoa Seng-hong menyerahkan kepada Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu.

Dalam keadaan terdesak dan terancam jiwanya, Phoa Seng-hong tidak bisa berbuat lain kecuali mencoba cara yang ditawarkan itu.

Dengan wajah serius kembali Thiat Tiong-tong berpesan:

"Jangan sekali kali salah menyerahkan surat sebab kalau tidak kau bakal tertimpa bencana besar, kaupun jangan sekali kali menyinggung tentang lohu, kalau tidak, mereka tidak bakalan mau membantumu"

Dengan wajah termangu Phoa Seng-hong mengawasi lawannya, dia merasa kakek aneh itu makin lama semakin penuh misteri, akhirnya dia menyingkap tirai, menengok sekejap keadaan diluar kemudian baru melesat pergi dari situ.

Menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan, Thiat Tiong-tong baru bergumam sambil tertawa dingin:

"Manusia cabul yang licik dan buas, Suto Siau, Pek Seng-bu, kali ini kalian akan dibuat pusing olehnya!"

Sui Leng-kong ikut menghela napas panjang, katanya:

"Aa.... aku benar-benar bodoh, se...sebetulnya apa....yang kau..... kau lakukan? A...aku tidak mengerti!"

Dengan pandangan halus dan lembut Thiat Tiong-tong mengawasi gadis itu sekejap, lalu sahutnya:

"Aku sedang menyiapkan siasat berantai, akan kubuat orang-orang itu tidak seorangpun bisa lolos dari cengkeramanku"

"Ber... .bersediakah.. .me.. .menerangkan... .kepada...ku?"

"Akan kubuat Suto Siau dan Pek Seng-bu sekalian saling gontok gontokan sendiri, lalu akan kugunakan nenek misterius itu untuk memburu Phoa Seng-hong, padahal mereka sudah kujebak untuk angkat sumpah sehingga mau tidak mau harus melindungi Phoa Seng-hong, akibatnya nenek misterius itupun tidak bakal melepaskan mereka semua, ditambah dengan munculnya mayat dikamar Hong Pak-ban, sudah pasti Li Lok-yang serta Hay Tay-sau tidak akan berpangku tangan belaka, pada akhirnya situasi akan bertambah kalut"

Sui Leng-kong hanya mengawasi pemuda itu dengan termangu, waktu itu Thiat Tiong-tong telah melepaskan jubah luarnya hingga kelihatan pakaian ringkasnya yang berwarna hitam, dia pun mengeluarkan sebuah kain kerudung hitam dan dikenakan diwajahnya.

Dalam mengerjakan tugas apapun dia memang selalu melakukan dengan cepat, seolah-olah membawa sebuah irama yang aneh, ringan, cepat dan mengalir lancar.

Dari bawah pembaringan kembali dia menge­luarkan  sebilah  pedang, Sui Leng-kong segera berjalan menghampiri dan membantunya meng­ikatkan pedang tersebut dipunggung.

"Aku akan pergi sebentar" bisik pemuda itu kemudian.

Sui  Leng-kong manggut-manggut, tanyanya sambil menghela napas sedih:

"Kau..... kau akan ke mana? ..... aku.... aku boleh tahu?"

"Aku hanya akan keluar sejenak"

"Apa.....apakah aku bi....bisa membantumu..."

"Selama ada aku disini, tidak akan kubiarkan kau pergi menyerempet bahaya" kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa lembut, kemudian sambil menyingkap tirai pintu dia beranjak pergi.

"Kau.... kau mesti berhati-hati" terdengar Sui Leng-kong berpesan.

Seketika itu juga muncul suatu perasaan aneh didalam hatinya, dia tidak tahu apakah perasaan itu merupakan luapan cinta ataukah hanya gejolak emosi, namun tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari hari hari biasa.

Tapi hanya sejenak kemudian perasaan tegang kembali menye-limuti perasaan hatinya, sebab walaupun segala sesuatu telah direncanakan secara rapi tapi dia tahu yang paling sulit adalah bagaimana caranya agar Im Ceng mengetahui rahasia dari wanita yang berada disisinya.

Baru saja tiba diluar pintu, dari kejauhan sudah terlihat sesosok bayangan tubuh yang ramping bergerak mendekat, gerak-geriknya lemah gemulai seperti ranting pohon liu bahkan disertai gelombang ayunan yang menggetarkan hati.

"Aah, ternyata dia muncul juga!" pikir Thiat Tiong-tong dengan perasaan girang.

Berpikir sampai disitu, cepat-cepat dia menyelinap balik ke dalam tendanya.

"Kenapa kau balik lagi?" tanya Sui Leng-kong keheranan.

Buru-buru Thiat Tiong-tong menggoyangkan tangannya sambil berbisik:

"Kalian cepat menyingkir dulu ke belakang!"

Dengan gerakan cepat dia melepaskan kain kerudung hitamnya, berbaring diatas pembaringan, menindih pedangnya dibawah bantal dan menutupi tubuh sendiri dengan selimut.

Sui Leng-kong bersama Si-jin dan kedua orang bocah itupun sudah menyingkir, seakan-akan asal ada perintah dari Thiat Tiong-tong maka tanpa syarat mereka akan mentaatinya, bahkan bertanya pun tidak.

Baru saja semuanya selesai, terasa desingan angin berhembus lewat, diiringi bau harum yang semerbak, dalam tenda telah muncul sesosok bayangan manusia.

Orang itu memperhatikan sekejap sekeliling tenda, lalu serunya perlahan:

"Ada orang disini?"

Suaranya merdu, genit dan menawan hati.

"Tempat ini bukan kuburan, masa tidak ada orangnya?"

"Loya-cu, pandai amat berbicara" orang itu tertawa ringan.

"Siapa bilang aku sudah tua?"

"Apa jeleknya tua? Anak muda suka berangasan dan gampang emosi, sebaliknya orang yang agak tua lebih mengerti sayang pada orang lain"

Sembari berbicara, Un Tay-tay sudah melang­kah masuk ke dalam tenda.

Sambil tertawa dingin Un Tay-tay melangkah maju ke depan, lalu sambil bertolak pinggang serunya kepada Sui Leng-kong:

"Usiaku jauh lebih tua darimu, semestinya kau banyak belajar dariku"

Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, Thiat Tiong-tong sudah menarik tangannya sambil melayangkan sebuah tamparan.

"Bagus, kau berani memukul aku!" teriak Un Tay-tay sambil mencak-mencak kegusaran.

Dengan wajah hijau membesi kembali Thiat Tiong-tong melayangkan dua kali tamparan.

Dia menaruh rasa kasihan terhadap Im Ceng, sementara terhadap perempuan ini justru menaruh rasa benci dan dendam, tidak heran kalau tamparannya dilakukan sangat keras.

Bekas sepuluh jari tangan yang merah membengkak pun seketika muncul diatas wajah Un Tay-tay.

Kebuasan dan sifat liarnya yang nyaris ditonjolkan seketika hilang lenyap tidak berbekas, dengan air mata bercucuran dan nada gemetar bisiknya:

"Kumohon, jangan ditampar lagi, aku.... aku rela tunduk dibawah perintahnya!"

"Kau.... kau tidak usah tunduk......" seru Sui Leng-kong cepat, air mata nyaris meleleh juga diwajahnya.

Dalam waktu singkat suasana jadi hening dan tidak kedengaran sedikit suarapun.

Tiba-tiba terdengar suara genta dibunyikan bertalu-talu, menyusul kemudian terlihat seorang pelayan keluarga Ting berlarian masuk dengan langkah tergopoh.

Dengan sedikit sangsi dia memandang sekejap sekeliling tenda, kemudian dengan kepala tertunduk ujarnya:

"Atas perintah majikan, dipersilahkan semua tamu berkumpul di ruang depan, ada urusan penting yang akan dirundingkan"

"Sudah tahu!" sahut Thiat Tiong-tong sambil mengidapkan tangannya.

Pelayan itu mengiakan sambil mundur, namun tidak tahan dia melirik lagi berapa kejap untuk memperhatikan pemandangan aneh didalam tenda itu.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, ujarnya kemudian dengan suara dalam:

"Si-jin, temani nona beristirahat dulu, aku akan mengajak dia ke ruang depan"

"Kau.... kau tidak boleh aku.... ikut?" tanya Sui Leng-kong.

"Lebih baik kau jangan ikut dulu"

Dalam pada itu sepasang pipi Un Tay-tay masih merah membengkak, namun sekulum senyum kepuasan menghiasi wajahnya.

 

[bersambung]