pendekar panji sakti 02
Disudut gua terdapat sebuah tempat air yang
menampung butiran air yang menetes keluar dari celah dinding gua,
setetes demi setetes jatuh ke dalam kolam dan menimbulkan suara
dentingan yang memecahkan keheningan.
Disamping kolam penampung air terdapat
sebuah anglo yang terbuat dari batu.
Dibawah sorot cahaya yang lemah, diatas
sebuah pembaringan beralaskan ilalang kering, duduk bersila seorang
perempuan kurus kering berambut putih yang mengenakan baju dari
bahan goni.
Perempuan itu kurus sekali hingga tinggal
kulit pembungkus tulang, tulang jidatnya tinggi, sepasang matanya
jembung kedalam lagi lebar dan meman-carkan sinar buas bagai mata
hewan liar.
Saat itu dengan sinar matanya yang
menyeramkan sedang mengawasi Thiat Tiong-tong tanpa berkedip,
seolah olah setan jahat dari dalam neraka yang tiba-tiba menjumpai
mangsa.
Yang paling menakutkan adalah perasaan
benci, dendam dan buas yang terpancar dari balik matanya yang
menyeramkan.
"Dari mana datangnya orang itu?" tiba-tiba
dia membentak keras.
Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tidak
mengira kalau dari tubuh yang kurus kering bisa terpancar suara
bentakan yang begitu nyaring bagai suara guntur yang membelah bumi,
seluruh ruang gua serasa bergetar keras.
Sui Leng-kong sangat ketakutan, dengan tubuh
menggigil keras jawabnya tergagap:
"Dia.....dia....daa....datang da.....dari
aa.....atas bu..... bukit........."
Pada dasarnya dia memang gagap, ditambah
lagi rasa takutnya ketika berhadapan dengan perempuan tua itu,
perkataannya semakin kedengaran gagap hingga tidak jelas suaranya,
walaupun seluruh tubuh sudah basah oleh keringat, tidak sepatah
katapun sanggup diutarakan.
Kembali Thiat Tiong-tong menghela
napas panjang, pikirnya:
"Tidak kusangka dia begitu ketakutan
terhadap ibunya sendiri, tidak aneh jika gagapnya susah disembuhkan"
Berikir sampai disitu dia segera
melompat bangun dan berkata:
"Dalam keadaan terluka parah cayhe terjatuh
dari atas tebing, berkat pertolongan dari nona inilah nyawaku baru
berhasil terselamatkan"
"Siapa kau? Kenapa bisa terluka?"
"Aku bernama Tong Tiong, sedang
dikejar-kejar musuh, karena tidak mampu melawan kerubutan....."
"Tong Tiong? Apakah kau berasal dari
keluarga Tong di Suchuan? Siapa musuh musuhmu itu?"
Cepat-cepat Thiat Tiong-tong menyangkal:
"Cayhe berasal dari perguruan Heng gi bun, musuh besarku adalah
perkumpulan lima racun dari sebelah barat sungai besar"
Dalam dugaannya nenek ini sudah kelewat lama
terjebak didasar jurang hingga tidak mungkin mendengar kabar berita
tentang dunia persilatan, oleh sebab itu dia sengaja mengarang
sebuah nama perkumpulan serta asal usul palsu bagi dirinya.
Dengan sorot mata yang tajam kembali nenek
berambut putih itu mengawasi wajahnya, kemudian tanyanya lagi:
"Setelah berada disini, apa rencanamu
selanjutnya? Coba kau terangkan kepadaku"
"Cayhe sudah terluka parah oleh kerubutan
musuh bebuyutan, sekalipun ada rencana, itupun mesti ditunggu sampai
lukaku sembuh"
Baru selesai ia berkata, nenek berambut
putih itu sudah tertawa seram.
"Hahahaha.... rangsum yang tersedia disini
tidak cukup untuk konsumsi kami berdua, air bersih disinipun tidak
ternilai harganya, mana ada tempat bagimu untuk merawat luka? Hmm,
jangan bermimpi disiang hari bolong!"
Thiat Tiong-tong merasa hatinya tercekat,
sementara paras muka Sui Leng-kong pun berubah hebat.
Tiba tiba dia melompat ke depan dan
menghadang didepan tubuh anak muda itu.
"Bee...berikan ja....jatahku
ke..kepadanya...” Gadis ini sangat polos dan berhati mulia, tidak
ada pikiran atau prasangka apapun dalam benaknya, dia hanya tahu,
karena dia yang menolong bocah lelaki itu maka menjadi kewajibannya
untuk melindungi keselamatan orang itu.
Nenek berambut putih itu segera tertawa
dingin, bentaknya:
"Jadi kau hendak menyerahkan jatah makanan
dan air bersihmu untuk dia?"
Dengan mata melotot besar Sui Leng-kong
manggut-manggut.
Nanek itu segera menggebrak dinding gua
keras keras, hardiknya penuh amarah:
"Lantas bagaimana dengan kau sendiri?"
"Aku.....aku.... tidak jadi soal"
Belum selesai dia bicara, nenek berambut
putih itu sudah meluncur dari atas ranjangnya dan secepat kilat
menampar wajah Sui Leng-kong dua kali, begitu selesai menampar, dia
melayang balik ke asal tempatnya.
Sui Leng-kong tetap berdiri tidak bergerak,
dia berdiri dengan kepala tertunduk.
"Bagus sekali" umpat nenek berambut putih
itu, "kau tidak makan tidak minum, apakah rela mati kehausan, mati
kelaparan demi orang itu? Lantas bagaimana dengan aku si nenek tua
yang cacad ini?"
Ternyata nenek tua yang kurus kering ini
cacad kedua belah kakinya.
Tiba-tiba nenek berambut putih itu
berpaling, dengan sinar mata yang menyeramkan dia tatap wajah Thiat
Tiong-tong tanpa berkedip.
"Putriku rela memberikan rangsum dan air
minumnya untukmu, dia rela mati kelaparan demi kau, sudah dengar
pernyataannya?"
"Maksud baik nona Sui membuat hatiku sangat
terharu, tapi sayang aku tidak dapat menerima kebaikan ini"
"Kalau memang tidak mau menerima, lebih baik
cepatlah pergi mampus!"
Sui Leng-kong segera menjerit keras: "Ibu,
kau.... kau begitu te....tega......."
"Kenapa aku mesti tidak tega?" sahut nenek
itu gusar, "banyak kejadian didunia ini saudara saling membunuh,
mertua menantu saling membantai, lagipula aku tidak kenal dengan
dia, apa urusannya jika dia mati atau tidak?"
Perasaan takut menyelimuti wajah Sui
Lengkong, baru saja hendak mengucapkan sesuatu, Thiat Tiong-tong
sudah berteriak keras:
"Luka yang kuderita tidak terlampau parah,
paling juga hanya kelelahan, asal beristirahat dua hari saja
kekuatanku sudah pulih kembali, sampai waktunya aku pasti akan
berusaha mencarikan bahan makanan dan air bersih dan membayar dobel
untuk membalas budi kebaikan cianpwee"
"Membayar dobel? Enak benar kalau bicara,
memangnya gampang mencari bahan makanan dan air bersih disini?? Hmm,
ketahuilah semua bahan makanan dan air jauh lebih berharga daripada
emas ditempat ini" kata perempuan tua itu, "makanan masih agak
mending, khususnya air.....air.....coba kau lihat, air disinipun
hanya keluar setetes demi setetes......"
Kemudian sambil menuding bak penampungan air
itu katanya lagi:
"Kecuali tempat ini, dilain tempat tidak
akan ditemukan air, memangnya air sejumlah itu cukup untuk
menghidupi tiga orang?"
Air yang menetes ke dalam bak penampungan
itu memang teramat minim, bahkan jauh lebih sedikit daripada lelehan
air mata.
"Bagaimana dengan air hujan?"
"Disini tidak ada air hujan"
Sambil menghela napas Thiat Tiong-tong
melirik Sui Leng-kong sekejap, sekarang dia baru tahu kenapa gadis
itu tampak begitu dekil.
"Kalau memang begitu, yaa sudahlah!"
Sui Leng-kong segera berteriak keras:
"Ibu.....berikan.... berikanlah air.... air
bekas....bekas cuci muka mu...... berikan... berikan sedikit
sa....saja......."
"Kurangajar, dasar budak sialan" nenek
berambut putih itu semakin naik pitam, "kau suruh lonio tidak cuci
muka, kau suruh aku berikan air itu untuk bocah busuk itu? Kau....
kau budak busuk yang tidak berbakti, sejak kapan kau meniru watak
bapakmu, demi ibunya, rela menyuruh bininya pergi mampus!"
Pada saat itulah satu ingatan tiba-tiba
melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, dia seakan menyaksikan sosok
tubuh seseorang, maka tanpa berpikir panjang lagi bentaknya nyaring:
"Seng toako, perbuatanmu itu salah besar!"
Benar saja, nenek berambut putih itu
kelihatan sangat terperanjat, tanyanya dengan suara gemetar:
"Apa kau bilang?"
Diam-diam Thiat Tiong-tong kegirangan, dia
tahu tebakannya tidak meleset, maka sambil sengaja menggelengkan
kepalanya ia menyahut:
"Aaah, tidak apa apa....."
"Mau bicara tidak?"
"Aku hanya menebak secara sembarangan,
mungkin saja tebakanku keliru besar"
"Cepat katakan, benar atau salah tidak
masalah"
"Tapi mulutku kering, mungkin tidak mampu
lagi berbicara"
"Air, berikan air kepadanya!"
Dengan perasaan kaget bercampur keheranan
Sui Leng-kong mengawasi pemuda itu, dia tidak habis mengerti kenapa
hanya dengan sepatah kata saja pemuda itu berhasil menggerakkan hati
ibunya.
Dia mendekati tandon air, mengambil segayung
air dan diserahkan kepada Thiat Tiong-tong.
"Nona Sui, kau minum duluan" ujar Thiat
Tiong-tong sambil tersenyum.
Sui Leng-kong tertegun, dia segera menoleh
memandang ibunya.
"Diminum!" bentak nenek itu keras.
Sui Leng-kong segera meneguk habis air itu,
kemudian mengambil segayung lagi dan diserahkan kepada Thiat
Tiong-tong, meskipun mulutnya tidak berkata apa-apa, namun dari
pancaran sinar matanya terlihat jelas rasa cinta dan sayangnya yang
kental.
Menanti Thiat Tiong-tong selesai
menghabiskan air itu, nenek berambut putih itu segera berkata lagi:
"Berikan sedikit makanan kepadanya, daripada
dia menuntut yang bukan-bukan"
Selesai menghabiskan rangsum yang diberikan
kepadanya, Thiat Tiong-tong merasa semangatnya kembali berkobar.
"Sekarang tentunya kau boleh mulai berbicara
bukan?" kata nenek itu sambil menatapnya tajam.
"Sebenarnya watak cianpwee halus dan lembut,
tapi sekarang berubah jadi begini rupa, aku percaya dalam berapa
tahun terakhir pasti telah mengalami peristiwa yang sangat
menyedihkan hati"
"Darimana kau bisa mengetahui masa
silamku?"
"Sekalipun aku hanya menduga, tapi......."
"Menduga? Terus-terangan saja, apakah kau
diutus si nenek itu untuk melacak jejak kami berdua?"
Suaranya keras bagai geledek, membuat
gendang telinga terasa sakit.
Nada pembicaraan Thiat Tiong-tong sama
sekali tidak berubah, lanjutnya:
"Apakah si nenek yang cianpwee maksudkan
adalah Seng Toa-nio?"
Kembali paras muka nenek berambut putih itu
berubah hebat.
"Sebenarnya siapa kau?"
Begitu mendengar nama "Seng Toa-nio”
disinggung, dia seakan merasa ngeri, takut dan seram, sedemikian
ketakutannya sampai sekujur tubuhnya mulai gemetar keras.
"Cianpwee tidak usah kuatir" hibur Thiat
Tiong-tong lagi, "aku pun terhitung musuh bebuyutan dari Seng
Toa-nio, bahkan sangat menaruh simpatik atas musibah yang telah
cianpwee alami"
"Musibah apa yang kualami? Darimana kau tahu
kalau aku pernah mengalami musibah?"
"Dimasa lalu, dalam dunia persilatan hidup
seorang pendekar wanita yang tersohor namanya di dunia persilatan,
tentunya cianpwee bernama Ji cing jiu (si tangan lembut penuh
perasaan) Sui Ji-song bukan?"
Sekali lagi sekujur tubuh nenek berambut
putih itu bergetar keras:
"Sui Ji-song......Sui
Ji-song........"gumamnya.
Tiba-tiba dia tekan sepasang tangannya ke
atas ranjang dan tubuhnya langsung melayang ke tengah udara.
Thiat Tiong-tong hanya merasakan pandangan
matanya kabur, tahu-tahu kerah bajunya sudah dicengkeram nenek itu.
Sui Leng-kong tidak jelas apa yang sedang
mereka bicarakan, wajahnya berubah hebat setelah menyaksikan ibunya
mencengkeram baju anak muda itu, jeritnya dengan suara gemetar:
"Ibu, kau.....kau..........."
Saking terkesiapnya dia jadi tertegun,
berdiri kaku dan sama sekali tidak mampu bergerak.
"Jawab!" terdengar nenek berambut putih itu
membentak lagi, "darimana kau bisa tahu kalau aku adalah Sui
Ji-song?"
Karena sepasang kakinya tidak mampu
bergerak, kini dia sudah duduk bersila ditanah, tapi tenaga
pukulannya sungguh mengerikan, dia telah merobek pakaian yang
dikenakan pemuda itu, sementara ibu jari, jari tengah dan jari
kelingkingnya mencengkeram tulang dada Thiat Tiong-tong kuat-kuat,
asal telapak itu sedikit didorong ke depan, niscaya tulang dada
pemuda itu akan retak dan patah jadi berapa bagian.
Thiat Tiong-tong masih bersikap sangat
tenang, air mukanya sama sekali tidak berubah, katanya:
"Cianpwee jangan kelewat memaksa, sekarang
napas cayhe sudah mulai sesak, susah bagiku untuk berbicara"
"Hmmm, kau tahu kalau aku sangat ingin
mendengar kisah itu, maka sengaja jual mahal?"
"Aaah, rupanya cianpwee memang pandai
sekali"
Dengan jengkel nenek berambut putih itu
mengawasinya berapa saat, terakhir dia kendorkan juga cengkeramannya
seraya berkata:
"Cepat katakan! Kalau tidak bicara
sejelas-jelasnya, jangan salahkan kalau aku akan mencincangmu jadi
delapan keping"
"Ingat cianpwee, kadangkala disaat perasaan
hatiku sedang tidak suka hati, akupun tidak pandai bicara"
Saking jengkelnya, dada si nenek berambut
putih itu naik turun dengan hebatnya, jelas dia sedang mengendalikan
api amarah yang berkobar dalam dadanya, terpaksa dengan merendahkan
suaranya dia berseru:
"Baik, baik,
bagaimana kalau cepat kau katakan?"
Sui Leng-kong yang mengikuti semua kejadian
itu semakin tercengang dibuatnya.
Dia tidak menyangka kalau ibunya suatu saat
akan bersikap begitu penyabar terhadap orang lain, bahkan berusaha
mengendalikan amarahnya, untuk sesaat timbul perasaan kagumnya
terhadap anak muda itu.
Terdengar Thiat Tiong-tong berkata lagi:
"Padahal kalau diceritakan pun tidak ada hal yang luar biasa, sejak
usia enam belas tahun, jago pedang berhati ungu Seng Cun-hau secara
beruntun telah mengawini tiga orang istri,
tapi secara bergantian semuanya mati. Menurut apa yang
dikatakan Seng Toa-nio dalam dunia persilatan, katanya ke tiga orang
bini Seng Cun-hau tewas ditangan anggota Perguruan Tay ki bun,
mendengar tuduhan tersebut guru teramat gusar bercampur kaget, sebab
dia orang tua tahu kalau anak murid Perguruan Tay ki bun belum
pernah turun tangan menghabisi nyawa ke tiga orang hujin itu"
Kulit wajah nenek berambut putih itu segera
mengejang keras.
"Apakah Chee Lip-san dan Hoa Siang-beng juga
tewas dibunuh orang orang Perguruan Tay ki bun?"
"Kehadiran anggota Perguruan Tay ki bun di
daratan Tionggoan adalah bertujuan menuntu balas dendam, tapi yang
diperoleh selama ini adalal menjadi kambing hitam bagi sekawanan
manusi munafik dari dunia persilatan, tampaknya kawanan manusia
kurcaci itu tahu kalau Perguruan Tay ki bun yang gagal dengan
misinya pasti akan mundur teratur, maka semua persoalan, semua
hutang piutang dialihkan semua atas nama Perguruan Tay ki bun" ujar
Thiat Tiong-tong, "waktu itu guru sudah menaruh curiga bahwa semua
kejadian itu merupakan hasil karya Seng Toa-nio, dia takut
menantunya merebut cinta kasih putranya, maka dengan tega telah
menghabisi nyawa menantu menantunya, cuma cara turun tangannya licik
lagi keji, bukan saja dia berhasil mengelabuhi para jago di kolong
langit, bahkan diapun dapat mengelabuhi Seng Cun-hau"
"Kau sangka Seng Cun-hau sama sekali tidak
tahu? Dia hanya berlagak pilon, pura-pura tolol"
"Tidak heran kalau sampai sekarang dia belum
berani kawin lagi. Aaai! Orang ini memang benar-benar seorang anak
berbakti!"
"Ooh, ternyata dia belum kawin lagi......."
bisik nenek berambut putih itu sambil menundukkan kepalanya,
tiba-tiba hardiknya lagi, "darimana kau bisa tahu kalau aku adalah
Sui Ji-song?"
"Pertama karena nona ini bermarga Sui, ke
dua karena aku lihat cianpwee pernah menderita kesedihan yang luar
biasa, maka barusan akupun mencoba meneriakkan kata 'Seng toako',
ternyata paras muka cianpwee segera berubah, maka akupun tahu jika
dugaanku tak meleset, satu-satunya persoalan yang membuatku ragu
adalah penampilan cianpwee yang rasanya jauh lebih tua dari usia
sebenarnya, tapi kemudian aku pikir penderitaan dan siksaan yang
berat terkadang gampang membuat wajah orang jauh lebih tua dari usia
sebenarnya, maka akupun yakin jika cianpwee adalah Sui Ji-song,
menantu Seng Toa-nio yang telah dicelakai pada dua puluh tahun
berselang!"
Diantara remang-remangnya cahaya, tampak Sui
Ji-song duduk ditanah bagai sukma gentayangan, wajahnya diliputi
perasaan sedih bercampur dendam, tampaknya dia sudah terjerumus
dalam lamunan masa lalunya.
Sui Leng-kong membelalakkan matanya
lebar-lebar, sebentar dia memandang wajah Thiat Tiong-tong, sebentar
lagi memandang ibunya, akhirnya sambil duduk bersimpuh ditanah gadis
itu mulai menangis tersedu-sedu.
Sampai lama, lama kemudian Sui Ji-song baru
berkata:
"Tidak kusangka kau amat cerdas dan pandai
menganalisa keadaan, kau..... dugaanmu memang benar sekali"
Setelah menggertak gigi menahan
dendam, lanjutnya:
"Dua puluh tahun berselang, lima keluarga
besar terlibat dalam pertempuran yang amat seru melawan orang orang
Perguruan Tay ki bun, setelah bertarung selama berapa hari akhirnya
kami berada diatas angin, tapi saat itu aku sangat lelah, kehabisan
tenaga ditambah sedang hamil, maka diam-diam aku minta ijin kepada
Seng Toa-nio untuk pulang duluan. Siapa sangka begitu mendengar
permintaanku tiba-tiba dia tertawa seram, katanya dia melarang aku
melahirkan anak, sebab kejadian ini akan mengalihkan rasa sayang
putranya. Baru saja aku merasa terperanjat, dia sudah mendorongku
jatuh ke jurang, meski aku tidak sampai tewas tapi sepasang
kakiku......."
Sekali lagi kulit wajahnya mengejang keras,
mendadak dia menghentikan perkataannya dan duduk mendelong
dengan sorot mata penuh kebencian.
Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Aaai, tidak nyana dalam kondisi yang begitu
susah dan tersiksa, cianpwee telah melahirkan seorang putri,
boanpwee betul-betul merasa sangat kagum"
"Hmmm, penghidupan yang berat, penuh siksaan
akhirnya berlalu juga" kata Sui Ji-song penuh rasa dendam,
"sekalipun aku tersiksa hingga berubah jadi begini rupa,
tapi......bagaimana pun aku tetap masih hidup!"
Sinar matanya yang penuh kebencian dan
perasaan dendam, perlahan-lahan dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong,
lanjutnya:
"Waktu itu, keadaanku tidak jauh berbeda
dengan kondisimu sekarang, lelah, sedih bahkan menderita luka parah"
Sekulum senyuman keji lambat laun
tersungging diwajahnya, satelah menatap wajah pemuda itu, katanya
lagi:
"Tapi aku adalah wanita, selain cacad,
sedang hamil lagi, kondisiku saat itu jauh lebih mengenaskan
daripada kondisimu sekarang, kenyataan aku toh tetap bisa bertahan
hidup sampai kini, sementara kau adalah seorang lelaki, masa tidak
mampu bertahan?"
"Maksud cianpwee......." Thiat Tiong-tong
terkesiap.
"Walaupun aku tidak ingin membunuhmu, namun
akupun tidak mampu memeliharamu, lebih baik cepatlah menggelinding
dari hadapanku, kalau tidak.....hmmm, hmmm, jangan
memaksa aku harus turun tangan sendiri!"
Sekali lagi dia tekan lantai dengan
lengannya dan melayang baik keatas ranjang, pandangan matanya sama
sekali tidak dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong, dia pun tidak
membujuk atau menghibur Sui Leng-kong yang masih tertelungkup
dilantai sambil menangis.
Thiat Tiong-tong termangu-mangu berapa saat
lamanya, dia telah menggunakan seluruh kecerdasan yang dimilikinya
berusaha menyentuh perasaan Sui Ji-song, tapi kini dia tahu, harapan
itu tidak mungkin bisa terpenuhi.
Sambil mengepal tinjunya dia bangkit
berdiri, beranjak dari tempat itu dengan langkah sempoyongan, tapi
baru saja tiba diluar gua, tubuhnya kembali roboh terjungkal ke
tanah.
Demi keselamatan jiwanya, dia rela berjuang
dengan mengandalkan kekuatan dan kecerdasan yang dimilikinya.
Biar harus tersiksa, biar harus menderita,
dia tetap akan memperjuangkannya, dia tidak sudi mengemis, tidak
sudi merengek-rengek.
Air bersih dan sedikit ransum yang
dimakannya tadi telah memulihkan sedikit kekuatan tubuhnya, tapi
setelah berjalan sampai diluar gua, lagi-lagi dia kehabisan tenaga.
Dengan meluruskan ke empat anggota tubuhnya
dia berbaring tertelentang diatas tanah, pemuda ini berusaha
mengendorkan seluruh syaraf dan otot ditubuhnya kemudian menghimpun
semua semangat yang dimilikinya untuk mulai mengatur pernapasan.
Ketika mendongakkan kepala memandang
angkasa, dijumpai senja telah menjelang tiba, sebuah arena
perjuangan sudah segera akan berlangsung.... perjuangan untuk
mempertahankan hidup selain sulit dan penuh penderitaan bahkan
kejam dan tidak berperasaan.
Dia sadar, sebelum malam yang gelap
menjelang tiba, dia harus menemukan sebuah tempat berteduh, dengan
begitu baru bisa menghindari serangan ular beracun serta
nyamuk-nyamuk beracun.
Setelah matahari tenggelam dibalik gunung,
dari permukaan rawa-rawa itu mulai mengeluarkan selapis kabut putih
yang baunya sangat busuk.
Dia mencoba mencari ranting-ranting kering
yang segera diikatkan pada kakinya, menahan napas dan memilih jalan
yang ditempuh secara seksama, sebagai seseorang yang teliti dan
berhati hati dia tidak ingin salah melangkah hingga terjerumu s ke
dalam rawa rawa tersebut.
Kabut berbau busuk makin lama semakin
bertambah tebal, suasana yang semula remang remang kini kian
bertambah gelap, lambat laun jalan setapak yang terbentang didepan
matapun makin sulit dilihat.
Akhirnya sambil menghela napas Thiat
Tiong-tong menjatuhkan diri terduduk ditepi rawa rawa, dia
benar-benar kehabisan tenaga, kondisi tubuhnya yang semakin lemah
membuat dia tidak mampu mempertahankan dirinya lagi, sekarang dia
betul betul sudah tersudut, sudah terpojok pada kondisi yang amat
kritis.
Mendadak terasa desingan angin bergema dari
belakang tubuhnya, tahu-tahu Sui Leng-kong sudah muncul
dihadapannya, tanpa mengucap-kan sepatah kata pun langsung memayang
tubuhnya.
Dalam keadaan begini, Thiat Tiong-tong tidak
mampu melukiskan bagaimana perasaan hatinya kini, dia hanya bisa
berbisik: "Nona Sui, kau......."
Sui Leng-kong gelengkan kepalanya, terpaksa
Thiat Tiong-tong membatalkan kembali perkataannya.
Ketika seseorang yang berada dalam
keputus-asaan, mendadak muncul orang yang datang membantunya,
gejolak perasaan yang dialami saat itu boleh dibilang sukar diungkap
dengan perkataan apapun.
Semula dia mengira Sui Ji-song sudah berubah
pikiran, siapa tahu Sui Leng-kong memayangnya menuju ke arah yang
lain, melihat itu tidak tahan kembali dia bertanya:
"Kita akan kemana?"
Sui Leng-kong tersenyum, sambil menutupi
sepasang mata pemuda itu dia mulai bersenandung:
"Kupersilahkan kau menebak, kuminta kau
berpikir, tapi sayang kau tidak pernah tahu, tidak pernah menyangka,
kemana akan kubawa dirimu kini"
Dalam keadaan seperti ini, Thiat Tiong-tong
merasa nyanyian itu begitu merdu dan indah, sekarang dia sudah tidak
merasa kalau dengan menyanyi untuk menggantikan pembicaraan
merupakan satu perbuatan yang sangat tolol.
Kini dia merasa tubuhnya sangat ringan,
karena Sui Leng-kong telah mengalihkan seluruh berat tubuh ke
pundaknya.
Setelah berjalan berapa saat akhirnya Sui
Lengkong membopong tubuhnya, dia masih berjalan sangat ringan dan
cepat, kembali nyanyi-nya:
"Jangan melihat, jangan berpikir, akan
kubawa kau ke sebuah tempat indah, ke semua tempat nyaman!"
Nyanyan yang ramah bagaikan secangkir air
gula yang dituang ke dalam kegetiran perasaan hati Thiat Tiong-tong,
tapi diapun merasakan dibalik rasa manis terselip pula rasa tersiksa
dan menderita.
Sebab pemuda itu sadar, ditempat yang begini
terpencil, gersang dan miskin, tidak mungkin bisa terdapat sebuah
teman yang indah dan nyaman, bahkan kinipun dia merasa udara
disekelilingnya makin lama makin bertambah lembab, keadaan medan pun
makin lama semakin aneh, sampai akhirnya mereka memasuki sebuah gua,
gua dengan deruan angin kencang.
Ketika hembusan angin mulai terasa tadi,
akhirnya Sui Leng-kong menggeser telapak tangannya.
Tapi Thiat Tiong-tong masih belum berani
membuka matanya, terdengar Sui Leng-kong bersenandung sambil
tertawa:
"Bukalah matamu, tengoklah tempat ini,
dimana aku berada?"
Thiat Tiong-tong membuka sepasang matanya,
tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya amat terperanjat.
Sebab sejauh mata memandang, yang terlihat
hanya intan permata, mutu manikam yang bersusun membukit, tidak
terhitung jumlahnya.
Setiap sudut gua, setiap ruangan telah
dipenuhi oleh berpuluh-puluh batang batu karang yang tingginya
sebukit.
Pada batu karang itu penuh bergelantungan
manau, zamrud, batu pualam, mutiara serta benda benda berharga lain
yang belum pernah dilihat Thiat Tiong-tong sebelumnya.
Disudut gua agak jauh dari tempat mereka
berada terdapat sebuah balai agak tinggi yang dilapisi kain sutera,
meskipun kain itu sudah kuno namun kelihatan masih indah.
Disampingnya bertumpuk puluhan guci arak
wangi yang sama sekali belum dibuka segelnya.
Dalam waktu singkat Thiat Tiong-tong hanya
bisa berdiri terbelalak, tidak sepotong perkataan-pun mampu
diucapkan.
Dia berdiri dengan mata melotot besar dan
mulut melongo, mimpi pun tidak pernah terpikir olehnya kalau didasar
jurang yang gersang dan miskin ternyata betul-betul terdapat sebuah
tempat bak sorgawi.
Cahaya kegembiraaan dan rasa bangga
memancar dari balik mata Sui Leng-kong, setelah memayang Thiat
Tiong-tong menuju ke balai berlapis kain sutera itu, katanya sambil
tertawa:
"A.... aneh bukan?"
Lama sekali Thiat Tiong-tong termangu
sebelum akhirnya menghela napas panjang:
"Aaai, yaa! Memang aneh sekali!"
Sui Leng-kong tertawa ringan, tiba-tiba dia
beranjak keluar dari situ, ternyata dibalik ruang gua berisi barang
berharga itu masih terdapat ruang gua lain, ditengah keheningan yang
mencekam lamat-lamat dia mendengar suara air yang mengalir.
Dengan termangu Thiat Tiong-tong bersandar
diatas balai, saat ini dia hanya merasa apa yang terbentang didepan
mata bagaikan sebuah impian, sulit baginya untuk mempercayainya.
Tapi sesaat setelah gejolak perasaan hatinya
berhasil ditenangkan kembali, dia pun mulai menganalisa semua
kejadian yang telah dialami-nya dan mulai mengambil kesimpulan,
pikirnya:
"Tampaknya disinilah Sui Leng-kong
mempelajari ilmu silatnya. Sui Ji-song tentu melarang putrinya
belajar silat, sementara Sui Leng-kong sendiri-pun tidak berani
membangkang perintah ibunya, maka dia sengaja merahasiakan ilmu
silat yang berhasil di pelajarinya dari tempat ini"
Tapi ada persoalan lain yang tidak bisa
dipecahkan Thiat Tiong-tong, walau sudah memeras otak pun sulit
baginya untuk menemukan jawaban.
Milik siapakah gua mestika ini? Apakah
pemiliknya masih hidup atau sudah mati? Darimana datangnya barang
barang berharga itu?
Bagaimana kisahnya hingga Sui Leng-kong
berhasil menemukan tempat ini?
Sementara dia masih termenung, terdengar Sui
Leng-kong telah bersenandung lagi dari ruang gua sebelah depan:
"Cepat kau pejamkan matamu, ada satu hal,
aku ingin membuat kau terkejut dah keheranan"
Thiat Tiong-tong tidak tega untuk
membangkang maka dia segera pejamkan sepasang matanya...... hanya
perasaan kasih yang lembut dapat menggerakkan perasaan hatinya,
hanya ungkapan perasaan yang tulus yang bisa meluluhkan kekerasaan
hatinya.
Dia merasa bau harum berhembus lewat,
menyusul kemudian Sui Leng-kong sudah muncul dihadapannya dan
berseru sambil tertawa:
"Sudah!"
Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong membuka
matanya, mendadak dia merasa pandangan matanya jadi silau.
Ditengah gemerlapnya cahaya intan permata
dan mutiara, dihadapannya kini berdiri seorang gadis yang amat
cantik bak bidadari yang turun dari kahyangan.
Ternyata gadis itu telah mengenakan sebuah
baju sutera bertahtakan intan permata, dia nampak begitu angun dan
cantik, senyuman diwajahnya begitu cerah dan bersinar, membuat Thiat
Tiong-tong nyaris tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya.
Dia seolah tidak percaya kalau gadis cantik
bak bidadari yang berada dihadapannya sekarang adalah Sui Leng-kong,
si gadis yang dekil dan kotor itu.
Kini dia muncul bagaikan sebutir mutiara
yang keluar dari balik lumpur, sekalipun keindahannya sudah lama
terpendam dibalik kedekilan, namun begitu kotoran disingkirkan,
keindahannya segera muncul kembali.
Sementara pemuda itu masih termangu, tampak
Sui Leng-kong sudah memutar tubuhnya berulang kali dihadapannya
sambil bertanya:
"Dii.....dibandingkan o....orang lain,
can.....cantikkah a.....aku?"
"Apakah kau tidak mengetahuinya?" Thiat
Tiong-tong balik bertanya sambil menghela napas panjang.
Sui Leng-kong menggeleng.
"Waa.... wajahku se.... sekarang belum
pernah di.... dilihat si....siapa pun, baru...baru kau
seorang........"
Thiat Tiong-tong manggut-manggut, pikirnya:
"Gadis sendu di Lembah
kehampaan........yaaa, paling cocok kalau aku ibaratkan nona ini
sebagai Gadis sendu di Lembah kehampaan....."
Ketika dia mendongak kembali, terlihat Sui
Leng-kong sedang berdiri dengan wajah murung.
Bagaimanapun dia adalah seorang lelaki,
biasanya seorang lelaki sulit untuk memahami perasaan hati seorang
gadis..... apalagi ketika seorang nona tidak bisa mengetahui cantik
atau tidak wajah sendiri, penderitaan dan siksaan yang dirasakannya
mana mungkin bisa dipahami seorang pria?
Lama, lama kemudian dia baru menyahut
setelah menghela napas:
"Cantik, cantik sekali......."
Sekulum senyuman gembira segera melintas
diwajah Sui Leng-kong, sambil tertawa cekikikan serunya:
"Benarkah aku cantik?"
"Tentu saja, tentu saja kau amat cantik!"
pemuda itu kembali mengangguk.
Sui Leng-kong segera menjatuhkan diri
bersandar dibahu Thiat Tiong-tong, katanya:
"Terima kasih, kau baik sekali!"
Ketika mengucapkan perkataan itu, dia ungkap
dengan lancar dan jelas, seolah penyakit gagapnya hilang lenyap
dengan begitu saja.
Tergerak perasaan hati Thiat Tiong-tong,
serunya kegirangan:
"Nah coba lihat, penyakit gagapmu telah
hilang!"
"Sung.... sungguh?" Sui Leng-kong tertegun
dan berdiri dengan mata terbelalak.
Tatkala perasaan hatinya mulai tegang,
penyakit gagapnya kembali mulai menyerang.
"Nona Sui" kata Thiat Tiong-tong sambil
menghela napas, "selama tiada rasa takut dihatimu, asal kau tidak
tegang, aku yakin penyakit gagapmu pasti akan sembuh dengan
sendirinya!"
Sambil tertawa Sui Leng-kong duduk di
samping pemuda itu, setelah tertunduk sesaat tiba-tiba diapun
menghela napas:
"Bi....bila ibu bi....
bisa melihat tam....tampangku sekarang, aku....... aku akan
amat gem.... gembira"
"Kenapa kau tidak ingin diketahui ibumu?
Sebenarnya tempat milik siapakah gua ini?"
Sui Leng-kong menghela napas, dibalik
senyuman manisnya segera terlintas kembali rasa sedih dan dukayang
tebal, katanya:
"Waktu itu aku masih kecil........ kecil
sekali, suatu malam bulan purnama...."
"Aku ingin kau menceritakan semua kisahmu
itu kepadaku" tukas Thiat Tiong-tong cepat, "aku tidak ingin
menyanyi, bisa bukan?"
"Aku.......kata-kataku ti.... tidak
bagus...."
"Perlahan-lahan kalau bicara, jangan takut,
tidak ada yang mentertawakan dirimu"
Sui Leng-kong mengangkat wajahnya, melihat
sorot mata penuh pengertian dari pemuda itu, dia merasa rasa percaya
diri tumbuh kembali dalam hatinya.
.......Hanya pengertian dan dorongan
semangat dari orang lain disertai tumbuhnya rasa percaya diri, baru
merupakan obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit
gagapnya.
Maka dia pun mulai menceritakan
pengalamannya.
Karena lahir dalam kondisi yang serba sulit,
sejak kecil kesehatan gadis ini kurang sehat, apalagi ditambah
ibunya yang mengalami goncang-an jiwa maka hingga usia tujuh,
delapan tahun pun dia masih belum mampu berbicara.
Sepanjang hari Sui Ji-song hanya menyimpan
dendam terhadap Seng Toa-nio, otomatis perhatiannya terhadap
keturunan keluarga Seng pun jadi sangat berkurang. Dia bukan saja
membenci Seng Toa-nio, membenci bocah itu, membenci diri sendiri,
bahkan diapun membenci seluruh umat manusia yang ada di dunia ini.
Sui Leng-kong yang tumbuh dewasa dalam
suasana serba sulit, suasana dingin tanpa kasih sayang, suasana
penuh rasa benci dan dendam, lambat laun terbiasa hidup menyendiri,
kerap kali dia pergi ke tempat yang terpencil, tempat yang paling
menakutkan untuk melelehkan air mata seorang diri.
Waktu itu dia baru berusia tujuh tahun
ketika mengalami kejadian aneh tersebut.
Malam itu rembulan bersinar terang, seorang
diri dia sedang menangis sedih di dalam gua, sedemikian asyiknya dia
melelehkan mata hingga tidak sadar kalau saat itu ada sepasang mata
yang tajam bagai mata pisau sedang mengintip gerak geriknya.
Sejak saat itu, setiap kali dia menyingkir
ke tempat itu untuk menangis, sepasang mata itupun selalu
mengintipnya dari balik kegelapan hingga suatu hari tiba-tiba gadis
itu menjumpai ada seorang kakek cacad berdiri dihadapannya.
Kaki kanan kakek itu sama sekali kutung,
sementara kaki kirinya tinggal setengah, lengan kirinya juga cacad
parah, boleh dibilang dari ke empat anggota badannya hanya lengan
kirinya yang masih utuh.
Meskipun penampilan kakek itu menyeramkan
namun sikapnya sangat ramah dan penuh welas kasih, maka perasaan
takut Sui Leng-kong terhadap kakek cacad itupun lambat laun
bertambah memudar, malah sebaliknya timbul perasaan kasihan dan
ibanya terhadap orang tua itu.
Sejak hari itu setiap hari dia pasti akan
meluangkan waktu untuk menemani kakek itu, lewat belasan hari
kemudian si kakek baru mengajak-nya mengunjungi gua penuh benda
berharga itu.
Dia mentaati pesan kakek itu, selamanya
tidak pernah menceritakan kisah pengalaman tersebut kepada ibunya.
Dengan sepenuh hati Kakek itu mulai
mewariskan ilmu silat dan pengetahuan kepadanya, diapun
mengajarinya membaca dan menulis, ketika ransum dan air minum yang
diperoleh dari ibunya sangat dibatasi maka ditempat ini dia peroleh
semua kekurangannya itu.
Tapi dia tidak berani membersihkan tubuhnya
dari kotoran dan lumpur karena kuatir ketahuan ibunya.
Tiga tahun kemudian kakek cacad itu telah
mengakhiri kehidupannya yang penuh penderitaan, sebelum
menghembuskan napas terakhir, dia seperti punya banyak perkataan
yang hendak di sampaikan kepadanya.
Tapi disaat saat terakhir dia hanya sempat
mengucapkan sepatah kata:
"Didalam peti musibah terdapat........."
Sayang perkataan itu tidak lengkap karena
kakek itu keburu putus nyawa.
Biarpun waktu itu Sui Leng-kong masih kecil,
namun dia dapat merasakan penderitaan dan penyesalan yang terpancar
dari wajah kakek itu, dia tahu orang tua itu tentu mempunyai masa
lalu yang penuh penderitaan dan dendam kesumat, tapi sayang
tidak sepatah kata pun pernah dia
katakan..... mungkin dia mengira usia gadis itu masih kelewat muda
dan baru akan memberitahukan setelah agak dewasa nanti, sayang
keadaan sudah tidak sempat lagi.
Ketika berbicara sampai disini, Sui
Leng-kong sudah melelehkan air matanya.
Dengan wajah serius Thiat Tiong-tong
tundukkan kepalanya sambil termenung, sampai lama kemudian dia baru
bertanya: "Siapa nama kakek itu?"
"Aku......aku tidak tahu!"
"Apa pula arti Peti musibah? Tentunya kau
tidak akan mengatakan tidak tahu bukan"
"Aku tahu!" jawab Sui Leng-kong sambil
tertawa.
Dengan cepat dia lari keluar dari ruang gua,
tidak lama kemudian sudah muncul kembali sambil membawa dua buah
peti kecil, peti itu tingginya sepuluh inci dengan lebar dua puluh
inci, mirip sekali dengan kotak rias milik wanita.
Bentuk dari kedua kotak itu sama satu dengan
lainnya, tapi warna serta hiasannya sama sekali berbeda.
Yang satu penuh bertaburkan zamrud berwarna
hijau dengan batu mulia berwarna merah darah dan mutiara yang
menyilaukan mata, bentuknya sangat mencolok.
Sebaliknya peti yang lain berwarna hitam
pekat, tiada hiasan apapun disekeliling peti itu, juga tidak jelas
peti itu terbuat dari bahan apa, tapi berat sekali.
Sui Leng-kong meletakkan kedua peti itu
diatas balai dan segera membuka peti yang bertaburan batu mulia.
"Inikah peti musibah?" tidak tahan Thiat
Tiong-tong bertanya.
Dengan cepat Sui Leng-kong menggeleng.
"Bukan, peti ini bertaburkan batu permata
tujuh warna, ini adalah peti keberuntungan"
Didalam peti itu berisikan berapa gulung
buku, empat buah botol kemala serta sebatang jinsom berusia seribu
tahun yang bentuknya nyaris seperti bentuk manusia.
Pemuda itu tahu, gulungan kertas serta botol
porselen itu tentu berupa kitab pusaka ilmu silat serta obat mujarab
yang diimpikan setiap umat persilatan, sementara jinsom berusia
seribu tahun itu adalah mestika yang sangat langka.
Tapi dia jauh lebih tertarik dengan peti
berwarna hitam itu, peti yang penuh diliputi kemisteriusan dan
perasaan ingin tahu, pemuda itu yakin isi peti itu pastilah berupa
semua rahasia kehidupan kakek cacad itu.
"Inikah peti musibah?" tanyanya.
Baru saja dia akan membuka peti hitam
misterius itu, Sui Leng-kong sudah menangkap tangannya kuat-kuat.
"Jang....jangan kau sentuh!"
"Apakah peti itu belum pernah dibuka orang?"
"Semua barang berharga yang ada digua ini
boleh dipegang, hanya peti itu tidak boleh di sentuh, sebab begitu
peti itu dibuka maka musibah segera akan tiba, tidak seorangpun bisa
mencegah musibah itu, tidak seorangpun dapat menghadapinya, walaupun
tiga belas tahun telah berlalu, belum pernah aku membuka peti itu"
Wajahnya penuh dicekam perasaan takut, suara
senandungnya juga kedengaran amat serius.
Ketika Thiat Tiong-tong menarik kembali
tangannya, senyuman lebar baru menghiasi kembali wajahnya.
"Dalam peti keberuntungan terdapat obat
mujarab yang bisa menyembuhkan aneka penyakit, jinsom seribu tahun
lebih hebat lagi, bisa menambah kekuatan tubuh, cepat kau minum obat
itu agar lukamu segera sembuh kembali!"
Belum sempat Thiat Tiong-tong menampik, Sui
Leng-kong telah menutup mulutnya dengan tangan, pancaran sinar
matanya yang lembut penuh rasa cinta membuat anak muda itu tidak
bisa menampik lagi.
Maka gadis itupun mulai membersihkan mulut
luka ditubuh Thiat Tiong-tong, memaksanya menelan pil mujarab, lalu
merajang jinsom seribu tahun itu jadi kepingan kecil dan memaksa
pemuda itu untuk menelannya.
Dalam waktu singkat Thiat Tiong-tong sudah
terlelap tidur dengan nyenyaknya, sementara Sui Leng-kong berdiri
disisinya dengan termangu, lama kemudian akhirnya dia membungkukkan
tubuhnya dan mencium pipi anak muda itu.
Kembali dia bertukar pakaian dengan
mengenakan kembali baju dekilnya, kemudian melumurkan lumpur dan
kotoran diwajah serta tubuhnya, setelah itu dengan senyum kepuasan
dia baru berlalu dari situ.
Ketika Thiat Tiong-tong mendusin dari
tidurnya, Sui Leng-kong sudah tidak berada disisinya, tapi dia
merasa seluruh tubuhnya segar dan penuh bertenaga, seolah-olah dia
telah berganti menjadi orang lain.
Peti musibah juga telah disingkirkan, tapi
peti keberuntungan masih tertinggal diatas balai, diantara penutup
peti itu terselip selembar kain putih dengan berapa tulisan dari
arang:
"Kau sudah tertidur dua hari dua malam, aku
telah menggantikan obat untukmu, sekarang aku pergi menemani ibu,
bila merasa senggang, bukalah peti itu dan bacalah buku yang ada
disana"
Sekalipun tulisan itu tidak bagus namun
semua huruf ditulis secara benar, bahkan dari garis tulisannya
lamat-lamat dapat dirasakan perhatian serta rasa cintanya yang
sangat mendalam.
Luapan cinta tampak begitu nyata, tulisan
itu tampak begitu nyata, benda berharga yang bertaburan dalam gua
pun nampak begitu nyata, namun Thiat Tiong-tong merasa dirinya
seolah berada dalam alam impian.
Dari keadaan yang mengerikan, terluka,
terjatuh ke dalam jurang, bercucuran darah, kini dia seakan berubah
jadi seseorang yang lain, kitab ilmu silat, obat mujarab, wanita
cantik, kekayaan yang berlimpah......
Perubahan hidup yang begitu drastis membuat
pemuda itu nyaris tidak percaya dengan apa yang dialaminya, tidak
kuasa lagi dia menghela napas panjang, nasib apa lagi yang bakal
diatur Thian terhadap dirinya?
Dia mengambil gulungan kertas yang pertama
dan membaca isinya, ternyata buku itu mengajarkan dasar tenaga
dalam.
Tapi semakin dibaca isinya dia semakin
terkesiap, sampai pada akhirnya peluh dingin mulai bercucuran
membasahi seluruh tubuhnya.
Ternyata ilmu silat yang tercatat dalam
gulungan kertas itu sejalan dan satu aliran dengan ilmu silat ajaran
Perguruan Tay ki bun, bahkan isinya jauh lebih hebat dan sempurna.
Banyak kesulitan yang dulu seringkali dia
jumpai sewaktu berlatih silat, kesulitan yang tidak mampu dijelaskan
oleh gurunya sekalipun, ternyata semuanya terjawab secara gamblang
dalam kitab ini.
"Jangan-jangan kakek cacad itu mempunyai
hubungan yang sangat dekat dengan Perguruan Tay ki bun? Atau mungkin
dia adalah salah satu locianpwee leluhur Perguruan Tay ki bun?"
Tiba-tiba dia teringat kembali dengan cerita
gurunya, konon sewaktu Perguruan Tay ki bun merajai dunia persilatan
dulu, mereka pernah memiliki sejumlah harta kekayaan yang tertinggal
di daratan Tionggoan.
Tapi kemudian Perguruan Tay ki bun
dihancurkan oleh kawanan musuh besar sehingga ciang bunjin beserta
seluruh anak muridnya tewas terbantai.
Sejak peristiwa itu, keberadaan harta
kekayaan itu menjadi sebuah rahasia besar yang tidak terjawabkan,
walaupun anggota Perguruan Tay ki bun sudah menelusuri hampir
puluhan tahun lamanya pun tetap tidak berhasil menemukan kabar
beritanya.
Dia terbayang kembali perkataan gurunya
dulu: "Ayahmu adalah seorang tokoh sakti berbakat aneh, konon beliau
berhasil melacak kabar berita tentang harta karun ini, sayang
sebelum berhasil mengungkapnya, dia keburu tewas dibunuh orang!"
Ketika ingatan tersebut melintas dalam benak
Thiat Tiong-tong, dia merasa hawa darah bergolak dalam dadanya,
hampir saja dia melompat turun dari balai untuk mencari keberadaan
peti musibah itu.
Dia yakin semua rahasia yang sedang dicari
bisa jadi tersimpan dalam peti itu, mungkin saja disitu sudah
tersimpan semua jawaban dari rahasia ini, meski mungkin saja dia
akan tertimpa bencana gara-gara membuka peti itu, namun dia bertekad
untuk membukanya.
BAB 5.
Gua harta Dewa kematian.
Harta karun yang tersimpan dalam ruang gua
yang lain ternyata jauh lebih mengejutkan, berbagai macam pedang
mestika bergantungan diatas dinding, bahkan tampak juga mahkota yang
bertaburkan intan berlian.
Suara air yang gemericik berkumandang dari
sebuah kepala naga yang terbuat dari batu permata, air itu ditampung
dalam sebuah kolam air, meski permukaan air sangat penuh namun tidak
nampak meluber, agaknya dibagian bawah kolam terdapat jalan
pembuangan.
Disamping kolam air terdapat pula sebuah
pembaringan, pakaian keraton yang dikenakan Sui Leng-kong tadi masih
tertinggal disitu. Selain itu terlihat pula dua buah peti yang penuh
berisikan pakaian.
Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas, dia
tahu semua tempat yang ada disitu pasti dirancang dan dibangun
dengan susah payah oleh pemilik harta karun itu.
Tapi dia belum juga berhasil menemukan peti
musibah berwarna hitam itu, maka diapun mendekati kolam air, niatnya
untuk minum dulu berapa tegukan, siapa tahu saat itulah dia temukan
peti hitam tersebut ternyata disimpan didalam kolam.
Tanpa ragu dia mengambil peti itu ke tepi
kolam, mendadak terjadi getaran yang sangat kuat disusul dinding gua
terasa bergoncang keras, peti itu kembali terjatuh ke dalam air.
Suara getaran makin lama semakin bertambah
kuat, seolah olah sedang dilanda gempa dahsyat.
Dengan perasaan terkesiap Thiat Tiong-tong
berpikir:
“Benarkah peti musibah itu memiliki daya
kekuatan yang begini mengerikan?”
Dia mencoba untuk mengambil peti itu lagi,
siapa tahu suara getaran kembali mengguncang seluruh ruang gua,
tidak kuasa lagi pemuda itu bergerak mundur sejauh tiga langkah.
Getaran yang terjadi kali ini jauh lebih
dahsyat lagi, hampir semua barang mestika yang tergantung diatas
dinding berguguran ke tanah, air bersih dalam kolam pun ada sebagian
yang tertumpah keluar.
Ketika suara itu mereda, suasana pun pulih
kembali dalam keheningan yang mencekam, kemudian secara lamat-lamat
ia mendengar suara orang sedang menggali, suara itu berasal dari
tempat yang sangat dekat bahkan makin lama semakin mendekat.
"Aaah, rupanya ada orang membuka bukit!"
akhirnya Thiat Tiong-tong paham dengan apa yang terjadi.
Begitu memahami apa yang segera akan
terjadi, pemuda itu mulai memandang sekeliling tempat itu, maksudnya
ingin mencari tempat persembunyian, tapi sekitar ruangan hanya
dinding gua yang rata, sama sekali tidak terdapat tempat yang bisa
dipakai untuk menyembunyikan diri.
Tidak lama kemudian terdengar ada orang
berseru:
"Sudah betul belum arahnya?"
Suara itu kedengaran sangat dekat, seolah
berasal dari dinding sebelah.
"Kau tidak usah kuatir" terdengar seseorang
menjawab, "aku sudah membuang banyak waktu dan pikiran untuk mencari
tempat ini, tidak bakalan salah"
"Baik, saudara sekalian, kita lanjutkan
penggalian!"
Menyusul kemudian terdengar lagi suara
cangkul yang membentur permukaan tanah.
Terdesak oleh waktu dan keadaan, Thiat
Tiong-tong tidak sempat berpikir panjang lagi, dia segera mendorong
pembaringan itu ke sudut ruangan, kemudian mendorong ke dua peti
berisi pakaian ke depan pembaringan itu.
Lalu dengan cepat dia membenahi tempat bekas
pembaringan itu berada, menutup kembali peti keberuntungan,
menyembunyikannya ke balik tumpukan benda mestika dan membersihkan
dua tetes darah yang menodai pembaringan itu.
Saat itu kendatipun luka yang dideritanya
belum pulih kembali, tapi kondisi kesehatannya jauh lebih segar dan
sehat, dengan sendirinya semua gerakan dilakukan cepat.
Setelah yakin kalau disekeliling tempat itu
tidak tertinggal bekas baru yang menunjukkan baru saja ada orang
disitu, dia baru menerobos masuk ke bawah ranjang.
Beberapa saat kemudian dinding gua roboh
jadi dua, menyusul teriak kegirangan seseorang:
"Aaah, ternyata memang berada disini!"
Dua sosok bayangan manusia menyelinap masuk
melalui celah dinding yang roboh.
Thiat Tiong-tong segera menahan napas, dia
mencoba mengintip keluar melalui celah-celah peti baju.
Ternyata orang yang barusan muncul dalam
ruangan adalah seorang sastrawan berusia pertengahan yang memakai
jubah panjang berwarna biru, meskipun berada dalam keadaan terkejut
bercampur girang, namun sikapnya tetap tenang, mantap
dan tidak terburu napsu, hanya pakaiannya penuh berdebu dan pasir
hingga penampilan nya sedikit berantakan.
Orang ke dua adalah seorang tojin berjubah
abu-abu dengan rambut digulung tinggi, hidungnya betet matanya
cekung, tulang keningnya kurus lagi sempit, meskipun masih berusia
pertengahan namun rambutnya sudah mulai memutih.
Begitu tiba dalam gua, sorot mata mereka
berdua segera terhisap oleh tumpukan benda berharga yang membukit.
Dalam pada itu dari balik dinding gua
kembali muncul seorang pemuda berbaju perlente serta seorang lelaki
berpakaian ringkas yang bercambang lebar, beralis tebal dan bermata
besar.
Mungkin lantaran kelewat gembira dan sulit
mengendalikan emosinya, sewaktu melompat masuk ke dalam ruangan itu,
kepala lelaki kekar tersebut membentur diatas dinding hingga
berdarah, namun dia sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit.
Harta karun yang tidak ternilai harganya itu
membuat sorot mata semua orang terperana, pandangan rakus dan
kebuasan seekor binatang terbesit diwajah masing masing.
Sampai lama, lama sekali kakek berambut
putih itu baru menghela napas panjang sambil berkata:
"Jerih payah selama belasan tahun,
penderitaan yang membuat rambut memutih akhirnya terbayarkan juga
hari ini"
Dari atas lantai diambilnya sebilah pedang
perak yang bertaburkan intan permata, kemudian gumamnya lagi:
"Tahukah kau, berapa banyak pikiran
dani keringat yang harus kukorbankan demi mendapatkan kau?"
Tiba-tiba sastrawan berbaju biru itu
menyampoi tangannya hingga pedang perak itu terjatuh kembali ke
lantai.
"Apa-apaan kau ini?" tegur tojin itu dengan
wajah berubah.
"Apakah kau sudah lupa dengan perjanjian
yang telah kita sepakati? Sebelum ada pembagian, siapa pun dilarang
menyentuh benda yang ditemukani dalam gua ini!"
"Aku kan hanya ingin melihatnya sejenak!"
Sastrawan berbaju biru itu sama sekali tidak
menggubris, dia berjalan ke tepi kolam untul minum air.
Sementara itu lelaki bercambang lebat itu
sudah mundur dua langkah, kepada pemuda berbaji perlente itu
bisiknya:
"Saudaraku, kau berasal dari keluarga kaya,
apa pernah melihat harta karun sebanyak ini?"
"Jangankan melihat, mimpi pun belum pernah
melihat"
Selesai minum setegukan air sastrawan
berbaju biru itu menyeka tangannya yang basah lalu sambilj berpaling
tanyanya:
"Sekarang harta karun sudah ditemukan, apa
rencana anda berikut?"
"Sekalipun aku yang berhasil melacak tempat
penyimpanan harta karun ini, tapi bila tiada dukunganmu, rasanya
mesti membuang tenaga lebih banyak"
"Hanya membuang tenaga lebih banyak?"
"Bukan hanya membuang lebih banyak tenaga
bahkan bisa jadi tidak akan ditemukan untuk selamanya"
"Ehmm, rasanya memang begitu"
"Maka dari itu akupun tidak ingin tamak,
bagaimana kalau kita bagi dua harta karun ini dengan masing masing
memperoleh satu bagian.."
Kemudian setelah menghela napas panjang,
kembali tojin itu melanjutkan:
"Selanjutnya aku hanya ingin mencari sebuah
tempat dengan pemandangan alam yang indah dan menikmatinya"
"Membagi jadi dua?" teriak lelaki bercambang
itu tiba-tiba, "kau anggap kami semua adalah orang mampus? Dalam
dunia persilatan saat ini. Kecuali Siau Lui-sin (dewa guntur kecil)
dari perguruan Bi lek bun, siapa pula yang sanggup meledakkan perut
bukit dengan menggunakan obat peledak?"
"Meminjam obat peledakmu tentu ada harganya
juga" jawab tojin berambut putih itu dingin, "jangan kuatir, aku
pasti akan membayar untuk itu"
"Apa kau bilang?" bentak lelaki bercambang
itu semakin gusar.
Tosu berambut putih itu tertawa dingin, dia
berjalan menghampiri kolam penampungan air dan mengambil segayung
air bersih. Dalam kondisi seperti ini, setiap orang tentu ingin
minum sedikit air.
Thiat Tiong-tong yang menonton dari balik
persembunyian segera berpikir:
“Kalau aku jadi dia, sebelum minum air
tersebut tentu akan kuperiksa dulu apakah air itu beracun atau
tidak”
Sementara itu tosu berambut putih itu telah
membiarkan air mengalir keluar hingga habis, gumamnya:
"Tidak bisa, tidak bisa....."
Sastrawan berbaju biru itu pura-pura tidak
mendengar, sambil bergendong tangan dia memandang ke tempat
kejauhan.
Tosu berambut putih itupun tidak memandang
kearahnya, dia melepaskan tusuk kondenya dari kepala dan segera
dicelupkan ke dalam air. Ujung tusuk konde yang terbuat dari perak
itu segera berubah warnanya jadi hitam pekat.
Sambil mengembalikan tusuk kondenya, tosu
itu baru berpaling ke arah sastrawan berbaju biru itu sambil
tegurnya dingin:
"Hek Seng-thian, hatimu benar-benar kelewat
hitam!"
Paras muka Hek Seng-thian sama sekali tidak
berubah, dia bahkan berlagak tidak mendengar.
"Ternyata kau berniat menguasainya
sendirian!" kembali ujar tosu itu penuh amarah.
"Benar" jawab Hek Seng-thian ketus, "tapi
racun dalam air itu bukan dipersiapkan untukmu, bila aku ingin
membunuhmu, buat apa mesti meracuni air tersebut?"
Kepada pemuda berbaju perlente itu serunya:
"Suruh mereka semua masuk!"
Pemuda perlente itu menyahut dan keluar dari
ruangan, tidak lama kemudian dia muncul kembali diiringi delapan
orang lelaki kekar yang membawa cangkul.
"Aaah, kalian tentu sudah kelelahan" seru
Hek Seng-thian sambil tertawa, "mari, mari minum air dulu untuk
melepaskan dahaga"
"Cong piautau kelewat sungkan!" kawanan
lelaki kekar itu sama-sama menjura, meski mulut bicara begitu namun
enam belas buah mata sama-sama mengawasi tumpukan harta karun itu
tanpa berkedip.
"Minum air dulu" kembali bujuk Hek
Seng-thian dengan senyuman ramah, "jangan kuatir, semuanya mendapat
bagian!"
Serentak kawanan lelaki kekar itu
menghampiri kolam air dan berebut minum untuk melepaskan dahaga.
"Benar benar manusia berhati kejam dan
buas!" pikir Thiat Tiong-tong dengan perasaan bergidik, saking
seramnya pemuda itu merasakan tangan dan kakinya menjadi dingin
Tampaknya tojin berambut putih serta Siau
Lui-sin ikut terkesiap, paras muka mereka berubah hebat.
Ketika semua orang selesai minum, salah
seorang diantaranya bergumam sambil menyeka mulutnya:
"Manis benar air ini, seperti dicampuri
dengan gula......"
Berapa patah kata itu diucapkan sangat lemah
seakan sama sekali tidak bertenaga, ketika mengucapkan kata
terakhir, paras mukanya tiba-tiba mengejang keras kemudian napasnya
jadi sesak dan roboh terjungkal.
Menyusul kemudian ke tujuh orang lainnya
satu per satu roboh terkapar ke tanah, begitu menyentuh tanah nyawa
mereka ikut melayang. Ternyata tidak seorang pun sempat menjerit
kesakitan.
"Obat racun yang sangat lihay!" desis lelaki
bercambang itu ngeri.
Dia segera berjongkok, membuka kelopak mata
sesosok mayat diantaranya dan diperiksa dengan seksama, ternyata
kulit matanya telah berubah jadi hijau tua.
Sambil tersenyum Hek Seng-thian memandang
sekejap sekeliling ruangan, lalu katanya:
"Ditengahi kerlipan cahaya mutiara, berjajar
berapa sosok mayat, begini baru hebat namanya!"
Sembari berkata dia mulai menggeser tubuhnya
menghampiri tosu berambut putih itu.
Seketika itu juga paras muka tojin berambut
putih itu berubah hebat.
"Mau apa kau?" hardiknya.
"Aku hanya ingin tahu, darimana kau dapatkan
peta harta karun ini?"
"Bukankah sudah kujelaskan sejak dulu?"
Hek Seng-thian tertawa dingin.
"Kau bilang mendapatkan peta harta karun itu
dari tubuh seorang murid Perguruan Tay ki bun yang tewas?"
"Benar......."
"Kalau kau gunakan perkataan itu untuk
membohongi bocah berusia tiga tahun, mungkin saja dia akan percaya,
tapi bagiku....... hmmm!
Hmmm! Sudah terlalu banyak mayat anak murid
Perguruan Tay ki bun yang kulihat, semenjak dua puluh tahun
berselang, murid Perguruan Tay ki bun mana yang bukan mampus
dihadapan mataku"
"Ini..... ini......" tosu berambut putih itu
mulai tergagap.
Sambil tertawa dingin Hek Seng-thian
menukas: "Apalagi harta karun yang tidak ternilai jumlahnya ini
merupakan harta karun peninggalan leluhur mereka, setiap anggota
Perguruan Tay ki bun menganggapnya sebagai masalah
serius, karena itu orang yang bertugas menyimpan peti rahasia ini
pastilah seorang pentolan yang punya posisi tinggi dalam Perguruan
Tay ki bun! Mayat mereka sudah pernah kuperiksa semua, seandainya
mereka menggembol peta itu, kau anggap dirimu masih ada kesempatan
untuk peroleh bagian?"
Tosu berambut putih itu termenung berapa
saat lamanya, tiba-tiba teriaknya keras:
"Kau tidak usah perduli darimana aku
dapatkan peta rahasia ini, hal ini tidak ada sangkut pautnya
denganmu, kau harus membagi setengah dari harta karun ini kepadaku!"
"Benar, aku memang harus membaginya
denganmu" dengus Hek Seng-thian dingin, "tapi aku mulai mencurigai
asal-usulmu"
"Mencurigai apa?" berubah paras muka tosu
itu.
Sambil menarik muka ujar Hek Seng-thian:
"Aku curiga kaupun salah seorang anggota
Perguruan Tay ki bun, ketika mendengar rahasia tentang peta harta
karun itu dari mulut angkatan tuanya, timbul niat jahat untuk
mengangkangi harta tersebut, maka kaupun menghianati perguruan,
bukan begitu?"
Sekujur tubuh tosu berambut putih itu
gemetar keras, secara beruntun dia mundur sejauh tiga langkah,
kemudian serunyua dengan nada gemetar:
"Kau.... kau sudah edan? Kalau aku anggota
Perguruan Tay ki bun, masa akan mencari dirimu?"
Hek Seng-thian tertawa dingin.
"Tentu saja kau harus mencariku" katanya,
"sebab dalam dunia persilatan ini, kecuali aku Hek Seng-thian, siapa
lagi yang mengerti ilmu membongkar bukit? Kecuali Bi lek tong, siapa
pula yang mengerti menggunakan bahan peledak?"
Paras muka tojin berambut putih itu berubah
hijau membesi, lama sekali dia berdiri tertegun sebelum akhirnya
menghela napas panjang.
"Betul" katanya, "aku memang menghianati
perguruan gara-gara ingin mendapatkan harta karun ini!"
"Bagus sekali" bentak Siau Lui-sin keras,
"ternyata kau si bajingan tua adalah cucu kura-kura dari Perguruan
Tay ki bun, hari ini biar kujagal dirimu terlebih dulu!"
Sepasang lengannya segera direntangkan, ruas
tulang sekujur badannya gemerutuk nyaring, dengan sekali lompatan ia
sudah menyelinap maju ke hadapan tosu itu kemudian kepalannya
ditonjok-kan ke muka.
Jurus serangan ini tampaknya bodoh, kaku dan
sederhana, sama sekali tidak nampak kehebatannya, padahal dibalik
kesederhanaan justru tersembunyi kekuatan maha dahsyat, inilah
Kun bu bi lek kun (pukulan geledek tanpa gulungan) yang amat
dahsyat dari perguruan Bi lek tong.
Sambil miring ke samping tosu berambut putih
itu mundur ke belakang, lalu setibanya disamping kolam air teriaknya
keras:
"Hek Seng-thian, ada perkataan yang hendak
kusampaikan, mau mendengarnya tidak?"
"Apa lagi yang mau kau katakan?" hardik Siau
Lui-sin sambil merangsek ke depan.
"Keponakan Lui, tahan!" tiba tiba Hek
Seng-thian berseru.
Sambil menghentikan gerakan tubuhnya seru
Siau Lui-sin:
"Paman Hek, bangsat ini pernah jadi anggota
Perguruan Tay ki bun, berarti dia adalah musuh besar lima keluarga
kita, masa kau akan melepaskan dirinya?"
"Siapa bilang mau melepaskan dia" sahut Hek
Seng-thian dingin, "Apa salahnya kalau kita menunggu sampai dia
selesaikan dulu perkataannya"
Sambil menempel pada dinding gua, tosu
berambut putih itu memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, lalu
teriaknya:
"Asal kalian bersedia memberi jalan
kehidupan kepadaku, aku rela hanya menerima dua bagian dari harta
karun itu!"
"Omong kosong, sebutkan dulu siapa namamu!"
Melihat pemuda perlente itu sudah
menghadang jalan perginya sementara Siau Lui-sin menempel terus
disisinya, sedangkan Hek Seng-thian meski masih berdiri sambil
bergendong tangan, namun sorot matanya setajam sembilu menguasahi
terus gerak-geriknya, sadarlah tosu berambut putih itu bahwa mereka
telah menguasahi keadaan.
Setelah menghela napas panjang, ujarnya:
"Walaupun aku pernah menjadi anggota
Perguruan Tay ki bun, namun belum pernah melukai seorang manusia
pun dari lima keluarga kalian, aku.... aku adalah murid terakhir
dari Thiat Hau, bagian pelaksana hukuman dalam Perguruan Tay ki bun,
namaku Chee-gong!"
Diam-diam Thiat Tiong-tong terkesiap karena
Thiat Hau adalah nama ayahnya.
Tiba-tiba terdengar Hek Seng-thian tertawa
dingin, ujarnya:
"Chee-gong? Hehehehe...... selamanya
Perguruan Tay-ki-bun belum pernah menerima murid diluar keluarga Im
maupun keluarga Thiat, kau sangka bisa membohongi aku?"
Dengan wajah pucat bagaikan mayat tiba-tiba
tosu berambut putih itu menjatuhkan diri berlutut, rengeknya:
"Terlepas siapa pun diriku ini, tapi yang
jelas aku telah mencuri peta harta karun ini dari tangan Thiat Hau,
akupun sudah menggunakan tenaga dalam pikiran selama belasan tahun
untuk membongkar rahasia dibalik peta ini sebelum berhasil membawa
kalian kemari......."
Dengan air mata nyaris bercucuran lanjutnya:
"Selama dua puluh tahun, aku telah banyak
menderita dan siksaan, penderitaan membuat rambutku beruban, apakah
sekarang kalian tega membunuhku dengan begitu saja?"
Berkilat sepasang mata Hek Seng-thian.
"Thiat Hau pintar dan berilmu tinggi,
kemampuannya tiada tandingan dikolong langit, mana mungkin kau bisa
mencuri barang miliknya kalau antara kalian tidak punya hubungan
khusus? Hmmm, delapan puluh persen kau adalah saudara seayah lain
ibu dari Thiat Hau yang bernama Thiat Cing-kian!"
"Betul, betul, akulah Thiat Cing-kian"
teriak tosu berambut putih itu cepat, "kalau bukan aku yang telah
membokong Thiat Hau hingga terluka parah, mana mungkin kalian mampu
melukai dirinya?"
Thiat Tiong-tong yang mendengar pembicaraan
itu seketika merasa teramat gusar, saking dendamnya sekujur tubuhnya
sampai gemetar keras.
Hek Seng-thian kembali tersenyum.
"Betul" sahutnya, "andaikata kau tidak
membokong Thiat Hau hingga terluka parah, belum tentu jagoan dari
lima keluarga sanggup menandingi kemampuannya, cukup ditinjau dari
jasamu ini, sudah sepantasnya jika nyawamu diampuni, tapi
sayang......aaai! siapa suruh kau dari marga Thiat, karena kau dari
keluarga Thiat maka aku tidak bisa mengampuni nyawamu"
Bicara sampai disini segera bentaknya:
"Turun tangan!"
Thiat Cing-kian tertawa pedih, sambil
menghela napas keluhnya:
"Tahu bakal mengalami kejadian seperti hari
ini, aku pasti tidak akan berbuat salah dimasa lalu, oh toako, aku
bersalah kepadamu, aku.... aku...."
Tiba tiba sambil busungkan dada serunya:
"Kalau kalian ingin turun tangan, silahkan
lakukan! Aku tidak akan melawan!"
"Memangnya kau mampu melawan?" jengek Hek
Seng-thian sambil tertawa dingin.
Sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan,
"Blaaaam!" serangan itu bersarang di dada Thiat Cing-kian.
Terdengar Thiat Cing-kian menjerit
kesakitan, darah segar menyembur keluar dari mulutnya, sementara
tubuhnya mencelat ke belakang dan roboh terkapar.
Siau Lui-sin segera memburu tiba, ketika
memeriksa dengus napasnya dia segera berseru:
"Sudah mampus!"
"Tentu saja sudah mampus, mana ada korban
yang hidup dibawah seranganku" kata Hek Seng-thian sambil tertawa
angkuh.
"Tapi sayang keenakan baginya, orang semacam
ini seharusnya jangan dibiarkan mati kelewat cepat"
"Anggap saja dia tahu diri, tidak berani
melancarkan serangan balasan!" ucap Hek Seng-thian sambil tertawa,
kemudian setelah memandang sekejap sekitar situ, katanya lagi,
"cepat kalian kumpulkan semua harta karun yang ada ditempat ini"
Siau Lui-sin dan pemuda perlente itu
menyahut, serentak mereka mulai turun tangan.
Perlahan-lahan Hek Seng-thian berjalan
menghampiri pemba-ringan, menarik keluar sebuah peti dan
membukanya, tapi segera gumannya:
"Pakaian semacam ini mana pantas digunakan
lagi!"
"Blaaam!" dia menutup kembali peti itu dan
menendangnya balik ke tempat asal.
Terdengar pemuda perlente itu berkata sambil
menghela napas.
"Siapa pun orangnya, bila memperoleh harta
karun sebanyak ini, dia pasti akan kayanya luar biasa, tapi.......
dengan cara apa kita bertiga akan mengangkut keluar semua harta
karun itu?"
"Tidak usah kuatir" seru Siau Lui-sin sambil
tertawa terbahak bahak, "dengan mengandalkan kekuatan lenganku, biar
lebih banyak satu kali lipatpun aku masih mampu untuk
mengangkutnya"
Tiba-tiba terdengar Hek Seng-thian berseru
tertahan, dari dalam kolam air dia mengeluarkan sebuah peti berwarna
hitam, setelah diamati berapa saat gumamnya:
"Peti ini kelihatan sangat aneh, entah
bagaimana cara membukanya"
"Coba aku lihat!" seru Siau Lui-sin sambil
tertawa.
Dia sambut peti besi itu dan diperiksa
sejenak, kemudian katanya:
"Masa dalam peti semacam inipun bisa
tersimpan barang bagus? Lebih baik tidak usah diperiksa!"
Sambil berkata dia buang peti itu ke tanah.
"Aaah, kau tahu apa" seru Hek Seng-thian
sambil tertawa dingin, "aku berani taruhan barang yang tersimpan
dalam peti itu pasti harganya jauh diatas tumpukan intan permata
itu"
"Sungguh?" seru Siau Lui-sin tercengang,
kembali dia pungut peti besi itu dari tanah.
Mendadak terdengar seseorang berseru
tertahan kemudian terlihat sesosok bayangan manusia meluncur masuk
ke dalam ruangan.
"Siapa?" bentak tiga orang itu berbareng.
Seorang gadis yang dekil lagi pula lumpur
telah berdiri didepan pintu gua sambil bercekak pinggang, teriaknya:
"Kaa.....kalian....sii..... siapa? Maa....
mau apa datang kee.....ke sini?"
Gadis itu tidak lain adalah Sui Leng-kong.
Siau Lui-sin tertawa tergelak, sambil
menghampiri dengan langkah lebar, serunya:
"Nona gagap, siapa pula dirimu? Apakah
tempat ini adalah tempat tinggalmu?"
"Teen.....tentu sa....saja!"
"Hahahaha...... tapi sekarang tempat ini
sudah berganti pemilik! Bila kau bersedia mandi sampai bersih, toaya
tentu akan mengajakmu pergi meninggalkan tempat ini!"
Sui Leng-kong melirik sekejap sekeliling
tempat itu, ketika tidak menjumpai mayat Thiat Tiong-tong tergeletak
ditanah, dia segera tahu kalau pemuda itu sudah menyembunyikan diri,
diam-diam dia pun menghembuskan napas lega.
Tapi diluar dia berlagak tertarik, serunya
sambil tertawa:
"Suu.....sungguh? kau..... kau
aa.....akan memm.... membawaku kee....keluar dari sii...sini?"
Sambil tertawa cengar-cengir Siau Lui-sin
berjalan menghampiri gadis itu dan bermaksud meraba payudara Sui
Leng-kong, mendadak Hek Seng-thian menarik wajahnya, dengan sekali
ayunan dia sudah menghajar lelaki itu hingga mundur berapa langkah.
Dalam terkejut bercampur kagetnya Siau
Lui-sin berteriak keras:
"Paman Hek, kau.... kau......."
Tanpa memandang sekejap pun ke arahnya, Hek
Seng-thian menghampiri Sui Leng-kong, kemudian setelah menjura
katanya:
"Harap nona jangan marah"
Sui Leng-kong pura-pura tertawa dan segera
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Kembali Hek Seng-thian berkata dengan
lembut:
"Bila nona memang pemilik tempat ini,
tentunya kau bisa membuka peti hitam itu bukan? Tolong nona bukakan
agar kami bisa melihat isinya, begitu selesai menengok kami segera
akan pergi dari sini dan tidak akan mengganggu ketenanganmu lagi"
Sui Leng-kong memutar biji matanya berulang
kali, serunya sambil tertawa:
"Membuka peti itu mah gampang sekali, asal
diputar kesebelah kiri, peti itu segera akan terbuka!"
Dia masih berbicara dengan tergagap, untuk
menyelesaikan sepatah kata tersebut dia butuh waktu setengah
perminum teh lamanya.
Tiba tiba Siau Lui-sin menimbrung lagi:
"Peti itu empat persegi, bagaimana caranya
memutar?"
"Peti itu memang empat persegi" sela Hek
Seng-thian sambil tertawa, "bukankah di dalamnya terdapat bulatan
tombol kecil?"
Siau Lui-sim termenung berapa saat lamanya
sebelum jadi mengerti, katanya kemudian:
"Aaah, benar, benar, diluar memang empat
persegi tapi dalamnya bulat, ternyata si pencipta peti ini memang
sangat pintar dan hebat!"
Sambil tertawa Hek Seng-thian mengambil peti
itu, tiba-tiba satu ingatan seperti melintas dalam benaknya, dia
membawa peti itu menuju ke depan Sui Leng-kong, kemudian katanya
lagi:
"Peti ini milik nona, lebih baik nona saja
yang membukakan!"
"Pe..... peti ii.....tu suu..... sudah
berkaa.....karat, a......aku tak pu....punya tenaga, ma.....mana
mungkin bi....bisa membukanya........"
Siau Lui-sin segera maju ke depan dan
mengambil peti itu, katanya sambil tertawa tergelak:
"Hahahaha.... kalau masalah tenaga, biar aku
Lui Ceng-wan yang melakukannya!"
Dengan tangan kanan memeluk peti itu, tangan
kiri memutar ke arah kiri, benar saja penutup peti itu segera
bergerak.
"Hahaha.... coba lihat" seru Siau Lui-sin
sambil tertawa tergelak, "aku......"
Belum selesai dia berkata mendadak orang itu
menjerit kesakitan dan roboh terkapar ke tanah, percikan darah segar
segera menyembur keluar dari dadanya.
Ternyata begitu penutup peti itu kendor,
tiga bilah pisau terbang yang sangat tipis telah meluncur keluar dan
semuanya menghujam diatas dadanya yang kekar.
Dengan wajah berubah Hek Seng-thian
membungkukkan badan melakukan pemeriksaan.
"Lui toako, dia......."jerit pemuda perlente
itu.
Sambil menggelengkan kepalanya dan menghela
napas panjang sahut Hek Seng-thian:
"Sudah tidak tertolong lagi!"
Pemuda perlente itu
segera menyerbu ke hadapan Sui Leng-kong, bentaknya penuh
amarah:
"Kelihatannya kau ingin mampus!"
"Aku...... aku ju.....juga tiii.....tidak
tahu" seru Sui Leng-kong sambil membelalakkan matanya.
"Kentut, kalau kau tidak tahu, siapa yang
tahu?"
Sambil bangkit berdiri Hek Seng-thian segera
menukas dingin:
"Kalau mau disalahkan mesti salahkan Lui
Ceng-wan sendiri yang kelewat gegabah dan tidak mau berhati-hati,
mana boleh kau salahkan nona ini? Bagaimanapun toh peti sudah
terbuka, cepat periksa apa isinya?"
Pemuda perlente itu tertegun sesaat, dalam
hati kecilnya dia mulai menggerutu, agaknya dia tidak menyangka
kalau gurunya begitu kejam dan tidak berperasaan.
Hek Seng-thian mengambil sebuah pacul dan
digunakan untuk membuka penutup peti itu, ternyata isinya hanya
beberapa jilid kitab serta sebuah kain kumal yang tertata rapi
sekali.
Tampaknya pemuda berbaju perlente itu sangat
kecewa, sebaliknya Hek Seng-thian menunjukkan rasa girang yang luar
biasa, serunya sambil tertawa terbahak-bahak:
"Hahahaha..... ternyata kitab pusaka ilmu
silat warisan Perguruan Tay ki bun berada disini!"
Ditengah gelak tertawa nyaring dia berpaling
seraya serunya lagi:
"Ambil keluar"
Pemuda perlente itu menggeleng seraya mundur
dua langkah.
"Kau tidak mau mengambilnya?" "Tecu tidak
berani........"
"Bagus, ternyata kau berani membangkang
perintah" sorot matanya dialihkan ke wajah Sui Leng-kong.
Tidak menunggu orang itu buka suara, Sui
Lengkong sudah membungkukkan tubuh seraya berseru:
"Biar aku saja yang mengambil!"
Sewaktu pinggangnya dibungkukkan itulah
mendadak sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama ke depan,
sekuat tenaga menghantam dada Hek Seng-thian, selain pukulannya
berhawa dingin, lamat-lamat terselit desingan angin serangan yang
kuat.
Hek Seng-thian tertawa dingin.
"Hmmm, sudah kuduga, kau pasti akan berbuat
begini"
Ditengah suara tertawa dinginnya, dia
berputar setengah lingkaran, kakinya melayang ke depan menendang
tulang selangkangan gadis itu.
Bergeser, berganti gerakan semuanya
dilakukan secepat sambaran petir, dengan merangkap tangan-nya ke
depan dada dia kunci jalan mundur Sui Leng-kong,
Saat ini, tampaknya Sui Leng-kong tidak
mampu menghindarkan diri lagi dengan ancaman musuh karena dalam
melancarkan serangan nya tadi dia kelewat besar menggunakan
tenaganya.
Siapa tahu disaat yang terakhir itulah
tiba-tiba gadis itu melambung ke tengah udara.
"Ilmu meringankan tubuh yang hebat!" puji
Hek Seng-thian dengan wajah berubah.
Cepat dia mundur tiga langkah sambil
berusaha melindungi diri.
Memanfaatkan kesempatan ini Sui Leng-kong
merangsek maju ke depan, dia berniat merebut posisi yang lebih
menguntungkan.
Sayangnya, kendatipun ilmu silat yang
dimiliki sangat tangguh namun dia sama sekali tidak memiliki
pengalaman dalam bertarung, tidak seharusnya dia
merangsek maju dalam kondisi seperti ini.
Diam-diam Hek Seng-thian kegirangan, secepat
kilat telapak tangannya didorong ke muka.
Berapa gebrakan kemudian, benar saja, jurus
serangan yang dilancarkan Sui Leng-kong makin lama semakin bertambah
lemah.
Perlu diketahui, gadis itu sama sekali tidak
tahu sampai dimana takaran ilmu silat yang dimilikinya, tidak heran
kalau timbul perasaaan takut, cemas dan was-wasnya ketika bertarung
melawan orang lain.
Thiat Tiong-tong yang bersembunyi dibawah
ranjang jadi sangat gelisah bercampur cemas, baru saja dia hendak
menerobos keluar, saat itulah Thiat Cing-kian yang semula sudah
tergeletak mati itu melejit bangun lagi dari atas tanah.
Thiat Tiong-tong terkesiap, dia merasa
jantungnya berdebar keras, baru saja ingatan lain melintas.......
Mendadak Sui Leng-kong memutar pinggangnya
sambil berputar arah, sepasang telapak tangannya dihantamkan ke
tubuh lawan kuat kuat.
Hek Seng-thian tertawa dingin, pikirnya:
"Ternyata ilmu silat yang digunakan adalah
kungfu aliran Perguruan Tay ki bun, bodoh amat budak ini, bukannya
mengandalkan kelebihannya dalam ilmu meringankan tubuh, dia justru
mengajak pertarungan dengan keras melawan keras"
Sambil berpikir dia mundur tiga langkah ke
belakang, dengan demikian tubuhnya telah mundur ke hadapan "mayat"
dari Thiat Cing-kian.
Mendadak terdengar Thiat Cing-kian
membentak nyaring, tubuhnya menubruk kedepan dan memeluk sepasang
kaki Hek Seng-thian kuat kuat,.
"Dia.... dia hidup lagi!" jerit pemuda
perlente itu kaget.
Hek Seng-thian jauh lebih terkesiap daripada
siapa pun, tahu-tahu tubuhnya sudah diseret Thiat Cing-kian hingga
terjatuh ke tanah, sepasang lutut kakinya tahu-tahu kesemutan,
ternyata jalan darahnya sudah tertotok.
Berkilat sepasang mata pemuda perlente itu,
tanpa banyak bicara tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan melarikan
diri dari situ.
"Jangan lari" jerit Hek Seng-thian, "cepat
bantu aku........."
"Murid kesayanganmu sudah kabur
terbirit-birit, buat apa masih menjerit macam setan saja" jengek
Thiat Cing-kian sambil tertawa dingin.
Seraya berkata, telapak tangannya diayunkan
berulang kali, dua buah jalan darah penting dibawah ketiak kembali
sudah ditotok olehnya.
"Kau......bagaimana mungkin kau......."
"Hmm! Kau anggap aku sudah mampus?"
"Sudah kuperiksa denyutan nadimu......"
"Sebelum kau melancarkan pukulan, aku sudah
menghimpun seluruh tenaga dalamku untuk melindungi dada, karena itu
setelah termakan pukulanmu, akupun menutup semua pernapasanku
pura-pura mati, aku yakin selesai menghantamku, kau pasti akan
melakukan pemeriksaan, hehehehe.... Hek Seng-thian, selama ini kau
banyak akal busuk dan licik, masa tidak terbayang olehmu betapa
bermanfaatkan taktik pura-pura mati?"
"Baik, anggap saja aku Hek Seng-thian
berhasil kau pecundangi hari ini, sekarang aku sudah terjatuh ke
tanganmu, mau bunuh, bunuhlah, tidak usah banyak cincong lagi!"
"Mau bunuh, bunuhlah? Hmmm,
gampang amat!" jengek Thiat Cing-kian dingin.
Sorot matanya dialihkan ke wajah Sui
Leng-kong yang masih termangu mangu, lalu ujarnya sambil tertawa:
"Nona, tidak ada salahnya kau yang memberi
usul, lebih baik mau menghukum mati bangsat ini dengan cara apa, aku
pasti akan menuruti permintaanmu”
"Ter..... terserah" jawab Sui Leng-kong
sambil membelalakkan matanya.
"Daging manusia lezat lagi harum, nona
pernah mencicipi?" tanya Thiat Cing-kian kemudian.
"Aa..... aku be....belum pernah
menci.....cipi, aku.....aku pun tak.....tak doo.....doyan!"
"Kalau begitu biar aku nikmati sendiri
daging tubuhnya, gara-gara pukulan bajingan ini tadi, tenaga dalamku
menderita kerugian sangat besar, biarlah aku gunakan dagingnya untuk
memulihkan kembali kekuatan tubuhku"
Seraya berkata, dia cabut keluar sebilah
pisau belati dan mulai diasah dialas sepatunya.
Kulit wajah Hek Seng-thian mulai mengejang
keras, mengejang lantaran ngeri bercampur seram, serunya gemetaran:
"Kalau ingin membunuhku, bunuh saja dengan
sekali tusukan, buat apa kau mesti menyiksaku dengan cara begitu?"
Thiat Cing-kian sama sekali tidak ambil
perduli, melirik sekejap pun tidak, dia masih meneruskan asah
pisaunya.
"Nona!" dia berseru kemudian sambil menatap
wajah Sui Leng-kong, "aku berterima kasih sekali kepadamu karena
selama ini telah menjagakan harta karun ini disini"
"Har......harta ka....karunmu?" tanya Sui
Lengkong dengan mata terbelalak semakin lebar, dia keheranan.
"Harta karun ini memang milik Perguruan Tay
ki bun, kalau kulihat dari gaya ilmu silat yang nona gunakan pun
seolah sangat mirip dengan kungfu aliran kami....."
"Aa.. .apa itu tay...... Perguruan Tay ki
bun? A.....aku tii.....tidak tahu......
tii...tidak menger......mengerti"
Thiat Cing-kian tersenyum, baru saja dia
akan mengucapkan sesuatu lagi, mendadak dari belakang tubuhnya
terdengar seseorang menyambung dengan nada dingin:
"Aku tahu!"
Tiba-tiba dari bawah kolong ranjang sudah
muncul seorang pemuda berwajah hitam, beralis mata setajam pedang
dan bersorot mata setajam cahaya bintang.
Begitu menyaksikan raut muka pemuda itu,
entah mengapa, tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar keras, seakan-akan
baru saja berhadapan dengan setan gentayangan.
"Sii....siapa kau?" tegurnya gemetar.
"Kau tidak kenal dengan aku? Hmm! Aku justru
kenal siapakah dirimu!" dengan sorot mata setajam sembilu pemuda itu
mengawasinya lekat-lekat.
Sui Leng-kong sendiri ikut dibuat
kebingungan dan tidak habis mengerti, kendatipun begitu dia pun bisa
meraba kalau diantara kedua orang ini pasti terjalin suatu hubungan
khusus yang istimewa, oleh sebab itu dia sama sekali tidak ikut
menimbrung.
Thiat Cing-kian memaksakan
diri untuk tertawa, balik tanyanya:
"Darimana kau bisa mengenali diriku?" Begitu
berjumpa dengan pemuda ini, perasaan ngeri bercampur takut
seketika menyelimuti perasaan hatinya, membuat dia sama sekali
tidak berani turun tangan.
"Coba amati wajahku, mirip siapakah aku
ini?"
Thiat Cing-kian mengamatinya berapa saat,
semakin dipandang hatinya semakin takut, makin diamati hatinya
semakin bergidik.
"Coba pandang lebih seksama, coba dipikirkan
lebih teliti!"
Dibawah cahaya mutiara yang redup tiba-tiba
Thiat Cing-kian teringat akan seseorang, serunya gemetar:
"Kau......kau......."
"Sudah teringat siapakah aku?"
"Apa hubunganmu dengan Thiat Hau toako?"
Thiat Tiong-tong melompat bangun, hardiknya:
"Kau masih punya muka, berani menyebut
mendiang ayahku sebagai toako? Hmmm, gara-gara harta karun kau
begitu tega mencelakai dia orang tua, membuat beliau kehilangan
sebuah lengan dan cacad seumur hidup, kalau bukan gara-gara ulahmu,
tidak mungkin dia orang tua tewas ditangan orang lain.....kau....
kau memang bedebah!"
"Kau.... kau keliru besar, aku........"
paras muka Thiat Cing-kian berubah pucat pasi bagaikan mayat.
"Keliru?" jengek Thiat Tiong-tong gusar,
"hmmm! Dengan mulutmu, Kau telah mengakui semuanya, sekarang masih
berusaha mungkir? Masih ingin menyangkal?"
Mendadak sambil membusungkan dadanya Thiat
Cing-kian berteriak lantang:
"Benar, memang aku yang membokongnya, akulah
yang mencelakainya, sejak kecil hingga dewasa aku selalu, setiap
saat hidup dibawah kendalinya, nyaris aku dibuat sesak napas hingga
tidak mampu hidup layak, begitu muncul kesempatan, tentu saja aku
harus memberontak, harus melakukan perlawanan, tapi aku sama sekali
tidak membunuhnya, aku hanya........."
"Sekalipun kau tidak membunuhnya, tapi
gara-gara ulahmu dia harus tewas ditangan orang......"
"Mau apa kau?"
"Aku hendak membunuhmu, membalaskan dendam
sakit hati ayahku!"
"Setiap orang boleh saja membunuhku, tapi
kau tidak boleh melakukannya!"
"Kenapa tidak boleh?"
"Jangan lupa, bagaimanapun juga aku adalah
pamanmu, sebagai anggota Perguruan Tay ki bun, kau berani bersikap
kurangajar terhadap angkatan tua?"
Thiat Tiong-tong tertegun, dia tahu
peraturan perguruan yang harus paling berat hukumannya dalam
Perguruan Tay ki bun adalah: mengkhianati perguruan serta berani
melawan orang yang lebih tua.
Menyaksikan perubahan mimik wajah anak muda
itu, sekulum senyuman licik kembali tersungging dibibir Thiat
Cing-kian.
Mendadak terlihat bayangan manusia
berkelebat lewat, Sui Leng-kong sudah berdiri dihadapannya sambil
berkata:
"Aku.....aku bisa membunuhmu"
"Tentu saja kau bisa membunuhku" jawab Thiat
Cing-kian sambil tertawa dingin, "tapi sayang kau bukan tandinganku,
jika kurang percaya, silahkan saja dicoba!"
Baru selesai dia berkata tiba-tiba terdengar
suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang datang dari luar
gua, menyusul kemudian seseorang mengejek:
"Kalau begitu biar aku yang mencoba lebih
dulu!"
Begitu mendengar suara orang itu, paras muka
Sui Leng-kong seketika berubah jadi pucat pias, tubuhnya gemetar
keras.
Baik Thiat Cing-kian maupun Thiat
Tiong-tong, mereka berdua sama-sama terperanjat dan tidak habis
mengerti.
"Tingg.....tingg......" dari luar gua
bergema suara dentingan nyaring, suara itu mula-mula berasal dari
tempat yang jauh tapi sejenak kemudian sudah tiba didepan mata.
Paras muka Sui Leng-kong berubah makin
memucat, pucat bagai selembar kertas.
Diantara kilauan cahaya mutiara, terlihat
sesosok bayangan manusia telah melayang masuk ke dalam ruang gua.
Dia adalah seorang nyonya tua yang kurus
kering, tangannya menggenggam dua batang tongkat bambu, setiap kali
tongkat bambunya menutul permukaan tanah, tubuhnya melayang di udara
persis seperti seorang nenek sihir.
"Ibu........" bisik Sui Leng-kong dengan
nada gemetar.
"Hmm, kau masih ingat memiliki seorang ibu?
Bagus, bagus!" dengus Sui Ji-song dingin.
Dia melirik Thiat Tiong-tong sekejap
kemudian sorot matanya segera dialihkan ke tubuh Thiat Jing-kian,
sepatah demi sepatah kata tegurnya dengan nada berat:
"Thiat Cing-kian, kau masih ingat dengan
diriku?"
Dengan cepat Thiat Cing-kian menggeleng.
"Maaf, aku benar benar tidak bisa mengenali dirimu"
"Masa kau sudah melupakan seorang sahabat
karibmu pada dua puluh tahun berselang?"
Dia benar-benar tidak teringat perempuan
jelek mana yang pernah dijumpai pada dua puluh tahun berselang.
"Masa kau sudah melupakan kejadian pada dua
puluh tahun berselang, malam itu hujan angin, bunga berguguran
ditengah hutan bunga tho......."
"Kau.....kau......kau adalah Sui Ji-song?"
"Ooh, rupanya kau masih teringat dengan
diriku!" Sui Ji-song mulai tertawa, tertawa lebar.
Masih mendingan kalau dia tidak tertawa,
begitu tertawa lebar, wajahnya nampak jauh lebih jelek, jauh lebih
mengerikan.
Thiat Tiong-tong saling bertukar pandangan
dengan Sui Leng-kong, mereka sama sekali tidak menyangka kalau Sui
Ji-song ternyata kenal dengan Thiat Cing-kian, yang membuat Thiat
Tiong-tong semakin keheranan adalah sorot mata Sui Ji-song waktu
itu.
Sorot matanya penuh dengan pandangan sayu,
seakan-akan dia sedang terkenang kembali kejadian dimasa lampau,
peristiwa yang membuatnya sedih, menyesal, membenci hingga merasuk
ke tulang sumsum........ percampuran dari berbagai macam perasaan
yang kumpul jadi satu.
Dengan sorot mata yang serba kalut itulah
dia mengawasi wajah Thiat Cing-kian yang tampak kaget, seram
bercampur ngeri.
"Aku tahu, kau pasti masih teringat aku"
katanya perlahan, "tapi sekarang sudah tidak mengenali diriku lagi,
bukan begitu?"
"Aku.......aku........"
"Dua puluh tahun berselang, kau pernah
berlutut dihadapanku, mengatakan aku adalah perempuan paling cantik,
perempuan paling lembut yang pernah kau jumpai sepanjang
hidupmu"
Perlahan-lahan dia pejamkan matanya,
seakan-akan sedang terlarut dalam lamunannya yang indah dimasa
silam.
Mendadak dia membuka matanya kembali dan
mulai tertawa keras, tertawa seram:
"Hahahaha.....tapi sekarang aku telah
berubah jadi perempuan paling jelek dikolong langit, tentu saja kau
tidak bakal kenali diriku lagi!"
Sepasang tangannya yang menggenggam tongkat
bambu kelihatan gemetar keras, sambil tertawa menyeramkan lanjutnya:
"Dua puluh tahun, bahkan dua puluh tahun pun
belum genap, tapi perubahan yang terjadi di dunia begitu besar dan
luar biasa, dua puluh tahun berselang nyawamu terjatuh ke tanganku,
aku hanya bisa membenci diri sendiri kenapa mau percaya dengan
bujukan serta rayuan gombalmu, bukan saja kuampuni jiwamu bahkan
genap selama dua hari menemanimu ditengah hutan bunga tho. Dua puluh
tahun kemudian, kau terjatuh lagi di tanganku, sekarang bujukan dan
rayuan gombal apa lagi yang akan kau sampaikan!"
Thiat Cing-kian memutar biji matanya ke
sekeliling tempat itu, belum lagi dia berbuat sesuatu, terdengar Hek
Seng-thian telah berkata pula sambil tertawa seram:
"Hehehehe..... kukira siapa yang ada disini,
ternyata enso Seng pun ada ditempat ini"
"Hek Seng-thian, tutup bacotmu!" umpat Sui
Ji-song cepat.
"Enso Seng, setiap waktu setiap saat Seng
toako masih rindu dan teringat kepadamu, lebih baik cepat bunuhlah
dia kemudian bersama siaute pergi menjumpai toako!"
"Ji-song!" dengan cepat Thiat Cing-kian
menjatuhkan diri berlutut, "akupun setiap saat setiap waktu selalu
merindukan dirimu, sekali pun paras mukamu telah berubah, namun
perasaan hatiku terhadapmu tidak pernah akan berubah"
"Enso seng, dia sedang membohongi dirimu"
teriak Hek Seng-thian cepat, "dia......"
"Tutup mulut!" tiba-tiba Sui Ji-song
membentak nyaring.
Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan dari
wajah Thiat Tiong-tong ke wajah Thiat Cing-kian dan Hek Seng-thian,
kemudian setelah tertawa dingin dengusnya:
"Dasar lelaki, pintarnya hanya merayu dengan
kata-kata manis, aku Sui Ji-song sudah muak mendengarnya"
Sambil menuding Hek Seng-thian dengan
tongkat bambunya, dia melanjutkan:
"Yang paling busuk, paling memuakkan
diantara sekian yang ada, kaulah manusia paling busuk, bedebah
paling laknat. Sejak awal kau sudah tahu kalau Seng Cun-hau tidak
mampu punya anak maka kau sengaja membohongi aku, gagal berbohong
kaupun mengasah pisau di hadapan Seng Toa-nio, menghasut dan mengadu
domba kami, hmmm, semua hutangmu masih tercatat jelas dalam
ingatanku, hari ini aku tidak bakalan mengampuni jiwamu!"
Begitu selesai bicara, tongkat bambunya
ditekan dan langsung menghujam diatas dada Hek Seng-thian.
Seketika itu juga Hek Seng-thian menjerit
ngeri lalu tergelepar ditanah dan tewas seketika.
Kemudian dengan tongkatnya kembali dia
tuding Thiat Tiong-tong, katanya pula:
"Kau! Kau menipu putriku hingga ibunya pun
sudah tidak dimaui lagi, kaupun bajingan laknat, aku harus menjagal
dirimu!"
"Ibu......." jerit Sui Leng-kong dengan nada
gemetar.
Sui Ji-song tidak menggubris, kini dia sudah
menuding Thiat Cing-kian dengan tongkatnya:
"Dan kau" teriaknya, "kau telah menipuku,
mencelakai aku hingga harus menderita siksaan seperti yang kualami
hari ini, biar kucincang tubuhmu pun belum bisa melampiaskan semua
rasa dendamku”
"Kau tidak boleh membunuhku, putri ku juga
tidak akan setuju kau membunuh aku!"
"Siapa putrimu?"
"Dia!" teriak Thiat Cing-kian sambil
menuding ke arah Sui Leng-kong.
Diiringi jeritan kaget Sui Leng-kong mundur
berapa langkah ke belakang, kini punggungnya sudah menempel diatas
dinding gua.
Thiat Tiong-tong sendiripun dibuat
gelagapan, sebab semua perubahan yang terjadi amat mendadak, sama
sekali diluar dugaan, setiap perubahan yang berlangsung seakan
diluar akal sehat siapa pun.
Terdengar Thiat Cing-kian berkata lebih
jauh:
"Seng Cun-hau tidak bisa punya anak, tentu
saja anak itu anakku, bagaimanapun kita pernah jadi suami istri
selama dua malam, tegakah kau membunuhku ?"
Kini Thiat Tiong-tong baru mengerti apa yang
telah terjadi, pikirnya:
"Tidak heran kalau Seng Toa-nio berniat
membunuhnya telah mengetahui kalau dia hamil, tidak aneh jika diapun
bersikap begitu kejam dan tidak berperasaan terhadap putrinya
sendiri!"
Oleh karena dia sangat membenci Thiat
Cing-kian, terhadap apa yang telah diperbuatpun merasa sangat
menyesal, maka semua dosa, kesalahan dan rasa dendamnya dilampiaskan
semua pada keturunannya itu.
Ketika mengalihkan kembali pandangan
matanya, tampak Sui Ji-song sedang pejamkan matanya sambil berkata:
"Sesungguhnya akupun tidak tega untuk
membunuhmu, aaai! Cepat kemarilah, bantulah aku menuju ke
pembaringan sana, aku merasa lelah sekali"
Buru-buru Thiat Cing-kian menghampiri,
berpura-pura tersenyum lembut dan memayang tubuh Sui Ji-song sambil
berbisik:
"Ji-song, kita segera akan melewatkan sisa
hidup dalam kegembiraan dan kesenangan, kita punya harta yang
berlimpah......."
Belum habis ucapan tersebut diucapkan,
tiba-tiba tubuhnya mengejang keras dan roboh terjungkal ke tanah.
Dihiasi senyuman menyeringai yang
menggidikkan hati Sui Ji-song tertawa keras:
"Hahahahaha.....harta karun? Dasar lelaki
bau yang tamak tidak tahu malu!"
Kemudian dengan tongkat bambunya dia
mencukil tumpukan barang berharga itu dan dihirukkan keatas mayat
Thiat Cing-kian, katanya lagi:
"Hari ini, kusuruh kau mampus dibawah
tumpukan harta karun!"
Dengan tubuh gemetar keras Sui Leng-kong
mulai menangis tersedu sedu, bagaimanapun jahatnya Thiat Cing-kian,
dia tetap ayah kandungnya. Tidak heran kalau gadis tersebut tidak
bisa menguasahi rasa sedihnya.
"Ibu, kau........." tiba-tiba mulutnya
terkatup dan roboh tidak sadarkan diri disisi mayat Thiat Cing-kian.
Suara tertawa seram serta suara isak tangis
seketika sirna dan lenyap, suasana dicekam kembali dalam keheningan.
Cahaya mutiara masih membiaskan sinarnya
yang redup dan menyinari wajah Sui Ji-song yang jelek, tubuh yang
kurus kering, rambut yang awut awutan serta kakinya yang cacad.
Kini sorot matanya telah berubah jadi merah
padam sementara paras mukanya hijau membesi, dia seolah-olah sudah
kehilangan seluruh tenaga hidupnya dan berubah menjadi sesosok
kerangka kosong yang jelek.
Thiat Tiong-tong hanya mengawasi jalannya
peristiwa itu dari samping...... dia sendiripun tidak tahu harus
merasa benci atau iba..... terhadap mayat-mayat yang bergelimpangan
di tanah pun dia tidak tahu harus merasa benci atau iba.
Seluruh pertikaian, semua dendam kesumat
telah berakhir dengan datangnya kematian, kemarukan serta ketamakan
mereka terhadap harta karun pun ikut lenyap bersama datangnya maut.
Kini sorot mata Sui Ji-song sudah dialihkan
ke wajah Thiat Tiong-tong, kembali senyuman menyeramkan menghiasi
ujung bibirnya.
"Bocah keparat" teriaknya, "kau telah
membohongi putriku, kalau bukan secara diam-diam aku menguntit
sampai disini, bukankah dia akan mati kelaparan di sini!"
"Asal hujin bersikap sedikit lebih baik
kepadanya, tidak melimpahkan semua dosa dan kesalahan yang
dilakukan generasi sebelumnya kepada dia, dengan sendirinya dia akan
menurut dan berbakti kepadamu"
"Kentut, kau tidak lebih hanya ingin
menganaya aku si orang cacad, hari ini akan kusuruh kau rasakan
kelihayan dari si manusia cacad!"
Ditengah umpatan dan caci makinya dia sudah
menutulkan tongkat bambunya dan melambung ke udara.
Betapa terkesiapnya Thiat Tiong-tong
menghadapi terkaman itu, apalagi menyaksikan rambutnya yang awut
tidak karuan, matanya yang merah berapi persis seperti setan buas
yang sedang mementang-kan cakar mautnya.
Buru buru dia mengigos ke samping, tapi dua
batang tongkat bambu itu secepat sambaran kilat telah mengancam
dadanya.
Pemuda itu sadar kalau kepandaian silatnya
masih bukan tandingan lawan, apalagi kondisi kesehatan badannya
belum pulih sama sekali, tentu saja dia tidak berani menyambut
dengan kekerasan, cepat dia mengegos lagi ke samping dan berusaha
menghindarkan diri.
"Hmm, kau anggap bisa melarikan diri?"
Kembali tongkat bambunya melancarkan
serangan berantai, jangan dilihat kakinya cacad, kecepatan geraknya
ternyata sama sekali tidak berkurang.
Dalam waktu singkat puluhan gebrakan sudah
berlalu, Thiat Tiong-tong semakin tidak kuasa menahan diri,
tiba-tiba lututnya jadi lemas, ternyata dia sudah tersandung mayat
Siau Lui-sin hingga tidak ampun tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.
Cepat dia berguling ke samping sambil
menyambar sebuah pacul yang tertinggal disitu.
Ketika Sui Ji-song mundur ke belakang, Thiat
Tiong-tong telah berhasil menyambar sebilah pedang
berwarna hijau kemala, cepat dia bersalto dan melompat bangun.
Dia sadar, Sui Ji-song sudah tidak mungkin
diajak berbicara secara baik-baik maka timbul niatnya untuk beradu
nyawa.
Berpikir sampai disitu pedang mestikanya
segera dibacokkan ke depan, bukan tubuh Sui Ji-song yang diarah
melainkan tongkat bambu andalannya, inilah taktik "Mau memanah
orangnya, robohkan dulu kuda tunggangannya”.
"Traaang!" pedang dan tongkat bambu segera
saling membentur.
Ternyata tongkat bambu itu sama sekali tidak
patah, bergetarpun tidak, rupanya perempuan itu telah menyalurkan
seluruh kekuatan tubuhnya ke dalam tongkat, sehingga senjata mestika
pun sulit untuk mematahkannya.
Sebaliknya Thiat Tiong-tong merasakan
pergelangan tangannya kesemutan, didalam kagetnya cepat dia
melancarkan sebuah bacokan lagi.
"Bagus!" bentak Sui Ji-song, kali ini dia
menyerang lagi dengan tongkat bambu yang sebelah.
Untuk kesekian kalinya Thiat Tiong-tong
merasakan pergelangan tangannya bergetar keras, saking kerasnya
pedang yang berada dalam genggamannya ikut mencelat ke udara.
Saat ini dia sama sekali tidak punya peluang
untuk berpikir panjang, baru saja pedangnya mencelat dari genggaman,
tongkat bambu dalam genggaman Sui Ji-song sudah menyambar lagi
dengan kecepatan tinggi.
Thiat Tiong-tong segera membuang tubuhnya ke
belakang kemudian menggelinding ke samping, dia menyelinap ke sisi
kolam air.
Kembali Sui Ji-song melambung ke udara
sambil meluncur ke tepi kolam air, bentaknya:
"Serahkan nyawamu!"
Tangan kirinya menekan ke bawah, tongkat
bambunya langsung menyodok dada anak muda itu.
"Kraaak!" tiba-tiba tongkat bambu yang
menutup disisi kolam air itu patah jadi dua, begitu kehilangan
keseimbangan tubuh, tidak ampun.....
"Byuuur!" tubuhnya tercebur ke dalam kolam.
Ternyata ketika terjadi bentrokan antara
pedang dan bambu tadi, kedua batang bambunya sudah gumpil berapa
bagian terhajar pedang mestika Thiat Tiong-tong, oleh sebab itu
begitu ditekan Sui Ji-song dengan penuh tenaga, tongkat bambu itupun
patah jadi dua.
Semenjak Thiat Tiong-tong menelan jinsom
berusia seribu tahun, kendatipun luka yang dideritanya belum sembuh
seratus persen, namun tenaga dalamnya tanpa sadar telah bertambah
maju pesat.
Dalam hal ini sebetulnya Thiat Tiong-tong
sendiripun tidak tahu, itulah sebabnya dia tidak punya keyakinan,
sebaliknya Sui Ji-song kelewat memandang enteng lawannya, karena
kelewat gegabah maka perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini
kontan membuatnya gelagapan.
Ditengah percikan bunga air yang menyebar ke
mana mana Thiat Tiong-tong menghembuskan napas panjang sambil
menyelinap ke arah lain, kini dia sudah menyingkir ke tepi dinding
gua sambil mengatur pernapasan, dia bersiap siap menghadapi serangan
berikut.
Siapa tahu meski sudah ditunggu sekian
waktupun tiada gerakan apapun di kolam air itu, Sui Ji-song masih
tertelungkup diatas permukaan air tanpa bergerak, seakan dia sudah
menjadi sesosok bangkai.
Mula-mula Thiat Tiong-tong agak tertegun,
tapi kemudian sadar apa yang telah terjadi, batinnya:
"Aaah benar, air itu beracun, Sui Ji-song
pasti sudah meneguk air dalam kolam itu hingga keracunan dan tewas!"
Dalam waktu singkat tubuh Sui Ji-song yang
kurus kering itu mulai mengejang lalu menyusut jadi kecil, empat
anggota tubuhnya jadi melengkung dan kaku, rambutnya terapung diatas
permukaan hingga keadaannya tampak sangat menakutkan.
Hampir saja Thiat Tiong-tong muntah saking
mualnya setelah menyaksikan peristiwa ini.
Akhirnya dia tidak kuasa menahan diri lagi,
dengan cepat pemuda itu lari keluar dari gua dan mulai muntah
disudut batu, dia memuntahkan seluruh isi perutnya sehingga hanya
tersisa air masam dalam lambungnya.
Pada saat itulah dari balik gua terdengar
suara isak tangis Sui Leng-kong yang amat menyedihkan hati.
Berapa saat lamanya Thiat Tiong-tong berdiri
mematung, dia tidak tahu bagaimana harus menghibur gadis itu.
Kini dia hanya berharap tidak pernah ada
harta karun di dunia ini, maka semua peristiwa yang tragis,
memedihkan hati dan menyiksa batin tidak pernah akan terjadi.
Sekalipun harta kekayaan itu indah dan
menawan, seringkali yang ikut hadir bersama dengan harta adalah
ketamakan, pelit, intrik, pembunuhan, kekejaman, perebutan
kekuasaan, fitnah serta kematian.
Bagaimana pun juga mata umat manusia selalu
akan dibuat silau oleh harta kekayaan, mereka hanya bisa
melihat sisi terang dari harta karun tapi tidak pernah bisa
melihat sisi gelap dari kesemuanya itu.
Untuk berapa saat Thiat Tiong-tong hanya
berdiri termangu, dia tidak bermaksud menghibur Sui Leng-kong yang
menangis sedih, sebab dia tahu hanya cucuran air mata yang bisa
melampiaskan semua rasa sedih yang mencekam perasaan seorang gadis.
Dia mulai duduk diatas peti baju, mengambil
berapa kitab serta lipatan kain dari dalam peti musibah. Beberapa
jilid kitab itu terbuat dari kain sutera yang halus sementara
lipatan kain itu ternyata adalah sebuah bendera yang dibuat dari
cucuran darah segar, tapi lantaran sudah kelewat lama, warna darah
itu telah berubah sehingga nampak buram tidak bercahaya, tapi justru
memancarkan daya tarik yang menggidikkan hati.
Ketika menyentuh gulungan kitab serta
bendera berdarah itu, tanpa terasa tubuh Thiat Tiong-tong gemetar
keras, air mata pun tanpa terasa ikut jatuh bercucuran.
Bukan saja didalam gua itu tersimpan harta
kekayaan dan kematian, ternyata tersimpan pula sebuah rahasia besar.
Rahasia itu menyangkut leluhur Thiat
Tiong-tong, yang penuh mengandung dendam kesumat, lelehan darah dan
air mata, kegembiraan dimasa hidup dan penderitaan menjelang ajal.
Dia mulai membuka lembaran pertama kitab itu
yang tertulis:
"Di masa lalu, sam-koay (tiga manusia
aneh), Su-sat (empat iblis), Jit-mo (tujuh setan) Kiu-ok (sembilan
orang jahat) cappwee koan (delapan belas perampok) mendatangkan
bencana bagi umat persilatan, bukan saja sepak terjangnya jahat dan
kejam, banyak orang persilatan hanya berani marah tidak berani
bertindak. Sampai suatu saat Im dan Thiat dua
orang cianpwee terjun ke dalam dunia kangouw, setelah melewati
berbagai pertarungan di bukit Hong-san, telaga Tong-teng, gunung
Tiam-cong, telaga Tay-ouw, bukit Ci lian san, gunung Kunlun dan
Tiong-tiau, akhirnya dengan andalkan dua bilah pedang sakti berhasil
membasmi Sam-koay, Su-sat, Jit-mo, Kiu-ok serta Cappwee koan, dengan
lumuran darah merekalah dibuat sebuah panji sakti.
"Sejak itu semua umat persilatan takluk
dan menaruh hormat kepada kami, dimana panji sakti tiba, semua orang
menyambut dengan penuh hormat.
"Akhirnya Im dan Thiat dua orang cousu
mendirikan Perguruan Tay ki bun, dengan kebenaran dan keadilan
membangun perguruan, dengan kebenaran dan keadilan menegakkan
peraturan, dengan kebenaran dan keadilan menaklukkan orang.
"Kami berharap seluruh anggota perguruan
untuk jangan melupakan ke delapan hal yang kami canangkan yakni:
kesetiaan, bakti, kebajikan, cinta kasih, kepercayaan,
kesetia-kawanan, kerukunan dan kedamaian. Taati peraturan perguruan,
membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan serta kebenaran"
Disisi bagian bawah tertulis:
"Ketua angkatan ke dua Perguruan Tay ki bun,
Thiat Hau"
Memegang surat wasiat peninggalan mendiang
ayahnya, tidak kuasa air mata jatuh berlinang membasahi pipi Thiat
Tiong-tong, dia segera membuka halaman ke dua, disitu tulisannya
bertambah kalut.
"Aku Thiat Hau, seorang kakek cacad,
beruntung memiliki seorang putra yang kini masih bayi, setiap kali
teringat bahwa aku tidak berkesempatan lagi
untuk bertemu dengan putraku, hatiku teramat pedih.
"Nasibku memang kurang beruntung, sebuah
lenganku dikutungi oleh adik sendiri, sepasang kaki dibikin cacad
oleh musuh besar, dalam keadaan kritis dan terluka parah aku
bertekad untuk menemukan kembali harta karun milik perguruan.
"Tumpukan harta ini disembunyikan leluhur
Perguruan Tay ki bun sewaktu menyingkir dari musibah, walaupun sudah
terkubur banyak waktu, untung saja aku berhasil menemukan tempat
persembunyiannya setelah meneliti sebuah peta rahasia yang tidak
utuh.
"Tapi yang membuat aku terharu adalah
keberhasilanku menemukan kembali panji berdarah yang dibuat leluhur
sewaktu mendirikan perguruan, panji ini tidak ternilai harganya,
barang siapa mendapatkannya, dialah yang berhak menduduki posisi
seorang ketua.
"Aku sadar dalam kehidupan kali ini tidak
mungkin bisa bertemu dunia bebas lagi, aku berharap siapa pun yang
menemukan harta ini, bila bukan anggota Perguruan Tay ki bun, tolong
gunakanlah untuk kesejahteraan orang banyak.
"Seandainya harta ini diperoleh anggota
Perguruan Tay ki bun, dia berkewajiban untuk melanjutkan perjuangan
kita menuntut balas, jangan sekali kali kau lupakan wejangan
leluhur.
"Ketahuilah perahu bisa menyeberangkan
orang, bisa pula menenggelamkan orang, harta karun ibarat air, bila
kau pergunakan secara benar dia akan mendatangkan berkah, bila kau
salah dalam penggunaan akan berakibat bencana, jangan lupa dengan
wejangan ini.
"Kehidupanku didalam gua amat berat dan
penuh derita, untuk mengisi waktu yang luang aku telah menulis semua
catatan serta rahasia ilmu silatku didalam kain yang kugunakan
sebagai pengganti kertas, semoga siapa pun yang beruntung
mendapatkan mustika ini, gunakanlah ilmu ini demi kebajikan.
"Menjelang masa akhir hidupku, aku telah
bertemu dengan Sui Leng-kong, dia adalah seorang gadis yatim yang
bernasib memedihkan, selama ini dia menjadi satu-satunya
penghiburku, maka akupun berharap siapapun yang mendapatkan harta
ini bersedia pula merawat dirinya.
"Ilmu silat yang kutulis antara lain
terdiri dari kouwkoat tenaga dalam, ilmu samadi, ilmu pukulan Tayki
hong im-ciang, dua belas jurus ilmu darah besi serta ilmu
meringankan tubuh dan ilmu pedang"
Membaca sampai disini Thiat Tiong-tong
segera mendongakkan kepalanya, dengan air mata bercucuran pekiknya:
"Ayah.... ooh ayah......
ananda yang tidak berbakti ternyata tidak punya jodoh untuk bersua
muka denganmu"
Belum selesai dia bergumam, tiba-tiba
terdengar helaan napas panjang bergema dari belakang tubuhnya, Sui
Leng-kong dengan air mata bercucuran berkata:
"Apa...apakah dia... dia orang tua
aa.....adalah aa... ayahmu?"
Dengan sedih Thiat Tiong-tong mengangguk.
Sui Leng-kong tertegun sesaat, kemudian
tanyanya lagi:
"Di.... di mana i....ibumu?"
Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas.
"Sewaktu masih bayi, ibuku juga telah pergi"
Dengan lemah lembut Sui Leng-kong membelai
rambutnya, dia memandang dengan sorot mata lembut, penuh rasa
kasihan dan simpatik, perhatian dan penghiburan.
Gadis berhati mulia ini hanya memikirkan
kemalangan yang menimpa orang lain, dia seakan sudah melupakan
kemalangan sendiri, sejujur-nya, bukankah nasib yang menimpanya jauh
lebih menge-naskan.
Kedua orang itu saling berhadapan dengan air
mata berlinang, perasaan hati mereka penuh diliputi kegetiran dan
kepedihan.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Sui
Leng-kong bangkit berdiri, menggapai ke arah Thiat Tiong-tong dan
bergerak keluar.
Sambil menggenggam kitab serta panji
berdarah itu, Thiat Tiong-tong ikut di belakangnya.
Gadis itu mengajak Thiat Tiong-tong berjalan
menelusuri rawa-rawa dan kubangan, seperminum teh kemudian dia
berhenti didepan sebuah gundukan tanah.
Disisi gundukan tanah itu penuh ditanami
bebungahan berwarna kuning, tiba ditempat itu Sui Leng-kong segera
menundukkan kepalanya, air mata kembali berlinang membasahi
wajahnya.
"Apakah..... apakah disini tempat kubur
dia...dia orang tua?"
Sui Leng-kong berdiri kaku ditengah hembusan
angin dan manggut-manggut.
Thiat Tiong-tong segera jatuhkan diri
berlutut didepan kuburan dan menangis tersedu sedu.
Sui Leng-kong ikut berlutut, dalam hati
berdoa: "Aku telah mengajak keturunan kau orang tua datang kemari,
semoga arwahmu dialam baka bisa beristirahat tenang"
Kemudian setelah membesut air mata, katanya
lagi dengan sedih:
"Ayahku pernah berbuat salah kepada kau
orang tua, tapi diapun sudah mati, kumohon kau orang tua sudi
memaafkan segala dosanya"
Hujan, tiba-tiba turun dengan derasnya,
seakan-akan air hujan ingin mencuci bersih semua dosa dan kesalahan
yang telah lampau.
Lama, lama kemudian akhirnya hujan pun
berhenti.
Perlahan-lahan Thiat Tiong-tong bangkit
berdiri kemudian menarik tangan Sui Leng-kong, dia sudah putuskan
akan menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi
gadis yang patut dikasihani ini.
Tiba-tiba Sui Leng-kong mengangkat
kepalanya.
"Kau.....kau tidak membenciku?" tanyanya.
"Tanpa kau, aku sudah mati sejak tadi, tanpa
kau, ayahku mati tanpa liang kubur, untuk berterima kasih pun masih
belum mampu, mana mungkin aku membencimu?"
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Bukan saja tidak membencimu, bahkan aku...
akupun tidak akan membenci ayah ibumu........"
Baru bicara sampai disitu, Sui Leng-kong
sudah menubruk ke dalam rangkulannya dan menangis tersedu.
Biarpun dunia amat luas, namun dia merasa
hanya bisa bersandar pada pemuda itu satu orang, hanya selama berada
dalam pelukan, kehidupannya yang lemah baru akan peroleh
ketenangan.
Tapi dia harus meninggalkan dia,
meninggalkan dia, meninggalkan dia.....
Kenapa? Dia tidak boleh mengatakannya, dia
tidak tega mengatakannya.....
Thiat Tiong-tong telah menarik tangannya dan
berkata dengan lembut:
"Jangan menangis, pergilah bersamaku, kau
telah mengubur jenasah ayahku, sekarang akupun akan mengubur jenasah
ayah ibumu"
Dengan pandangan bingung Sui Leng-kong
mengikutinya balik ke dalam gua rahasia, panji darah dan kitab silat
yang tersebar ditanah pun telah dipungut kembali, tapi mereka telah
meninggalkan air mata dan kesedihan.
Tiba dalam gua, mereka menjumpai sebuah
jubah panjang berwarna putih tergeletak diatas ranjang, diatas jubah
itu tertera berapa huruf besar dari darah segar:
"Aku pun bisa berlagak mampus"
Jenasah Hek Seng-thian sudah tidak nampak
ditempat itu.
Lama sekali Thiat Tiong-tong tertegun,
akhirnya sambil menghela napas panjang ujarnya:
"Orang ini benar-benar sangat lihay, setelah
ditipu orang lain, sekarang gantian dia yang menipu orang"
Tiba-tiba terdengar Sui Leng-kong menjerit
kaget kemudian menangis lagi dengan sedihnya, ternyata batok kepala
Thiat Cing-kian dan Sui Ji-song telah dipenggal orang.
Harta karun yang semula memenuhi ruangan pun
sudah berkurang banyak. Tampaknya barang apapun yang bisa dibawa
telah dibawa pergi Hek Seng-thian dengan menggunakan kain baju,
hanya saja bagian yang terbawa olehnya belum lebih dari
sepersepuluh.
Thiat Tiong-tong memperhatikan sekejap
tulisan darah yang tertera diatas jubah, lalu memeriksa pula mayat
Sui Ji-song dan Thiat Cing-kian, saat itu darah yang mengalir dari
tubuh mereka telah mengering.
Setelah menghela napas ujarnya kemudian:
"Dia sudah pergi hampir satu jam lamanya,
saat ini pasti sudah berada jauh sekali, tidak mungkin bisa
terkejar......."
"Tapi... aa....ayahku......." Sui
Leng-kong menangis sedih.
"Sekalipun dia sudah pergi jauh, namun suatu
saat aku pasti akan menangkapnya dan membalaskan dendam sakit
hatimu, kau percaya denganku bukan?"
Sui Leng-kong manggut-manggut, suara
tangisannya juga ikut mereda.
Habis mengubur semua jenasah yang ada, Thiat
Tiong-tong mengambil keputusan dia akan menjaga kuburan ayahnya
selama seratus hari.
Tentu saja Sui Leng-kong menemaninya, kini
dia sudah tidak perlu menghindari siapa pun, maka selesai
membersihkan tubuh dia pun bertukar pakaian.
Tiga hari kemudian luka yang diderita Thiat
Tiong-tong sudah sembuh kembali.
Diapun menjumpai kasiat dari jinsom berusia
seribu tahun sangat luar biasa.
Selama hampir seratus hari mereka tetap
tinggal didepan kuburan, menggunakan kesempatan itu mereka mulai
merancang rencana bagaimana caranya mengirim keluar harta karun yang
amat banyak itu, begitu juga memikirkan sistim pengamanan ketika
diangkut.
Selesai masa berkabungnya, diapun berpamit
didepan kuburan ayahnya dan mengambil keputusan untuk segera terjun
kembali ke dunia ramai.
Tentu saja Sui Leng-kong sangat gembira,
sebab penderitaannya selama belasan tahun kini telah berakhir.
Bab 6.
Huru hara di Lokyang.
Kota Lokyang adalah sebuah kota besar yang
makmur dan ramai, boleh dibilang kota paling makmur di kolong langit
saat itu.
Belakangan tersiar sebuah kabar aneh dalam
kehidupan masyarakat kota Lokyang, konon di kota itu telah
kedatangan seorang manusia aneh yang memiliki kekayaan tidak
terkalahkan.
Dikota Lokyang waktu itu sudah terdapat
banyak sekali orang yang kaya raya, banyak saudagar kaya yang datang
dari tempat jauh, kongcu dari keluarga kenamaan banyak sekali
berkumpul dikota ini.
Tapi semua orang kaya yang ada disana
ternyata tidak seorangpun dapat mengungguli kekayaan yang dimiliki
manusia aneh itu, tidak heran kalau ia jadi pusat perhatian orang
dan menjadi tokoh dalam cerita yang beredar.
Keluarga Li di utara kota bukan saja
merupakan seorang kaya raya yang termashur di kota Lokyang, bahkan
diapun merupakan seorang pengusaha permata yang terhitung paling
besar di seantero jagad, tidak ada orang yang tidak kenal dengan
Liok-yang.
Keluarga Li Lok-yang turun-temurun memang
berdagang intan permata, bukan saja sudah sejak lama kaya raya
bahkan kepandaian silat yang dimiliki keluarga Li pun terhitung
sangat hebat.
Bagi saudagar yang mengusahakan intan
permata, tidak mengerti ilmu silat sama halnya engan seekor domba
yang hidup ditengah gerombolan harimau, keluarga Li sangat memahami
akan hal ini karenanya kepandaian silat mereka pun dilatih dengan
tekun.
Peristiwa aneh dan manusia aneh yang
menggemparkan seluruh kota waktu itu berasal dari cerita para
pembantu yang bekerja di keluarga itu.
Sudah sebelas generasi keluarga Li dari
Lokyang berdagang barang permata, setelah melalui pelbagai kejadian
dan peristiwa, anak buah mereka sudah terlatih hidup penuh
kewaspadaan dan hati hati.
Mereka tidak memiliki toko yang mewah, megah
dan indah, yang mereka miliki adalah sebuah bangunan raksasa yang
kuno tapi kokoh dengan penjagaan yang sangat ketat.
Dalam satu tahun pasti ada sepuluh hari para
saudagar barang permata berkumpul disitu, biasanya mereka melakukan
transaksi besar besaran dalam gedung kokoh itu.
Para hartawan, para pedagang kenamaan
biasanya akan membawa istri dan gundik mereka untuk berbelanja
barang perhiasan disitu, busu, piausu pun banyak berkeliaran disana.
Tentu saja diantara mereka terdapat juga
pentolan perampok, para pencoleng dan kaum lioklim yang biasa
bekerja gelap, namun begitu hadir di sini, merekapun akan
bertransaksi mengikuti aturan, tidak seorangpun berani main
kekerasan apalagi berusaha merampok.
Pintu gerbang keluarga Li selalu terbuka,
asal kau datang untuk berjual beli barang permata, tidak perduli apa
pun status sosial mu, tidak perduli ada berapa banyak uang yang kau
miliki, semuanya boleh berkunjung ke situ.
Dalam sepuluh hari yang istimewa ini, semua
orang boleh datang ke sana, bahkan biarpun kau hanya ingin membeli
sebutir mutiara atau ingin membeli bunga mutiara yang berharga tiga
tahil, semuanya berhak menikmati pelayanan istimewa sebagai seorang
bangsawan.
Anggota keluarga Li serta para pembantu yang
telah melalui pendidikan ketat akan menyambut dan melayani semua
orang secara santun dan halus.
Motto mereka adalah: “Sekali melangkah masuk
ke pintu gerbang, kau adalah tamu kehormatan keluarga Li"
Ditempat ini tidak ada orang yang akan
menanyai identitasmu, juga tidak akan diselidiki sumber uang dan
harta yang kau miliki, asalkan saja tingkah lakumu selama ada disana
normal dan tidak aneh-aneh.
Tapi jika kau mencoba melakukan tindakan
yang melanggar hukum, yang ringan paling hanya diusir keluar dari
gedung itu, sementara yang berat akan ditahan dan diinterogasi.
Tentu saja selama ini berapa kali keluarga
Li harus menghadapi percobaan perampokan dan pembegalan, seperti
yang dilakukan gembong iblis berilmu tinggi Gi pak siang sat atau
Tok jiu Kun lun, tapi semua percobaan itu berhasil dipatahkan oleh
orang-orang keluarga Li.
Tahun ini, pasar bebas kembali
diselenggarakan dalam gedung keluarga Li, bahkan tahun ini
diselenggarakan lebih besar dan meriah.
Sejak hari Tiong-yang, kereta dan lautan
manusia mulai membanjiri utara kota Lok-yang.
Pemilik toko permata angkatan ke sebelas Li
Lok-yang berwajah bersih dengan perawakan tubuh tinggi, sekalipun
rambutnya sudah memutih namun sinar matanya masih terang bagai
cahaya bintang.
Dia mengenakan jubah berwarna gelap, dengan
penampilan yang anggun penuh wibawa bersama putra pertamanya Li
Kiam-pek berdiri di undak-undakan pintu kedua untuk menyambut
kedatangan para tetamunya.
Seorang nyonya cantik berpenampilan anggun
ditemani seorang pemuda tampan berbaju putih merupakan sepasang tamu
pertama yang datang berkunjung hari ini.
Menyusul kemudian pensiunan panglima perang,
perampok kenamaan yang telah cuci tangan, pemuda perlente, kakek
kaya raya dengan membawa bini dan istri mudanya berduyun-duyun
memasuki ruangan.
Hari pertama berlalu dengan begitu saja,
hari kedua baru merupakan puncak keramaian.
Tengah hari itu ketika Li Lok-yang sedang
mencuri waktu untk beristirahat sejenak, tiba-tiba didepan pintu
gerbang berhenti dua buah kereta megah yang ditarik delapan ekor
kuda jempolan.
Kusir kereta adalah dua orang bocah tampan
berbaju mewah yang baru berusia delapan, sembilan tahun, tapi
keahliannya dalam mengendalikan kereta jauh lebih hebat ketimbang
orang yang berpengalaman sekalipun.
Asal orang yang sedikit punya pengetahuan,
mereka segera akan mengenali kalau ke dua orang bocah tampan ini
tidak lain adalah Ban kim sintong (bocah sakti selaksa emas) hasil
didikan rumah pelacuran kenamaan di kota Lokyang, rumah pelesiran
Hun kiok hoa.
Bunga seruni putih Ko Chang-yan adalah
seorang pelacur kenamaan dikotaraja, tapi setelah berusia lanjut dia
alih profesi menjadi seorang pelatih sekawanan bocah tampan dan
dayang cantik yang berkemampuan tinggi, orang-orang itu khusus
dijual kepada orang kaya sebagai budak, tapi karena semua bocah dan
dayang itu berotak cerdas, berkemampuan hebat dan memiliki berbagai
macam ilmu, maka kalau bukan orang yang benar-benar kaya, jangan
harap bisa mempekerjakan mereka, sebab harga mereka sangat tinggi,
untuk membeli satu orang dibutuhkan uang sebesar sepuluh laksa tahil
perak, satu jumlah yang mungkin senilai dengan seluruh harta
kekayaan seorang pedagang kaya.
Kini sorot mata semua orang sudah tertuju
pada dua orang bocah yang ada dikereta kuda itu, setiap orang ingin
tahu saudagar kaya raya mana yang ada dibalik kereta, siapakah orang
yang memiliki kekayaan sebesar ini?
Pintu kereta pertama dibuka orang dan
muncullah seorang gadis cantik berbaju mewah, gadis ini selain
berwajah ayu, senyuman manis selalu menghiasi bibirnya.
Semua orang merasa pandangan matanya silau,
serentak mereka mengawasi gadis itu dengan termangu.
Siapa tahu begitu turun dari kereta, gadis
cantik itu segera membungkukkan tubuh seraya berkata:
"Nona, silahkan turun dari kereta"
Dari balik kereta kembali muncul sebuah
tangan yang halus, tangan itu memegang bahu gadis pertama dengan
lembut.
Menyusul kemudian dari balik kereta muncul
sepasang kaki yang bulat kecil dengan mengenakan sepatu kecil yang
indah, sebutir mutiara menghiasi ujung sepatu itu, mutiara sebesar
kelengkeng yang bergetar ketika terhembus angin.
Sekalipun belum nampak orangnya, namun cukup
melihat sepasang tangannya, sepasang kakinya serta sepasang
mutiaranya yang bergetar, orang sudah merasa pandangan matanya
silau, terkesima dan berdiri bodoh.
"Siapakah dia? Sebenarnya siapakah dia?"
diam-diam semua orang mulai menebak.
Tahu-tahu diluar kereta sudah berdiri
seorang gadis yang cantik bak bidadari dari kahyangan, rambutnya
hitam mengkilap, kerlingan matanya bening bagai air, dia mengenakan
pakaian model keraton yang halus tapi indah, bahannya seperti sutera
seperti juga hasil tenunan.
Meskipun gadis yang pertama tadi cantik,
tapi dia termasuk gadis yang banyak dijumpai dalam kehidupan
masyarakat, sebaliknya gadis berbaju keraton itu memiliki kecantikan
yang sama sekali tidak membawa hawa napsu, bagaikan bidadari yang
turun dari kahyangan.
Sambil berpegangan pada bahu gadis pertama,
perlahan-lahan gadis itu berjalan menuju ke depan kereta ke dua.
Sorot mata semua orang pun serentak
dialihkan ke atas kereta nomor dua.
Begitu pintu kereta kedua terbuka, sorot
mata semua orang segera tertuju ke situ, ternyata yang muncul adalah
seorang kakek berambut putih yang tubuhnya sudah bungkuk dan
wajahnya penuh keriput.
Jalan kehidupan orang ini sudah terlewatkan
separuh masa, langkah kakinya pun gontai, dengan satu tangan dia
menutupi matanya seakan tidak tahan dengan cahaya matahari, tangan
yang lain berpegangan diatas bahu gadis cantik berbaju keraton itu.
Menyaksikan adegan ini semua orang merasa
kecewa bercampur tidak terima, masa sekuntum bunga seharum itu harus
ditancapkan diatas seonggok tahi kerbau?
Dibawah pandangan mata banyak orang, mereka
bertiga berjalan menuju ke pintu gerbang.
Buru-buru Li Lok-yang menyambut kedatangan
mereka, sambil tersenyum dan menjura sapanya:
"Tamu agung datang dari jauh, boleh tahu
siapa nama anda?"
Kakek itu mendengus dingin, dengan suara
bagai seorang banci sahutnya:
"Aku datang kemari untuk berdagang, bukan
menjawab interogasimu!"
Li Lok-yang tertegun, kemudian buru-buru
sahutnya sambil tertawa paksa:
"Silahkan masuk! Silahkan masuk!"
"Tentu saja harus masuk" jawab kakek
perlente itu sambil melotot, "kalau tidak masuk memangnya harus
tidur didepan pintu rumahmu, hmmm... hmmmm.... benar benar
kurangajar!"
Sekali lagi Li Lok-yang tertegun, saking
jengkelnya nyaris dia tidak sanggup berkata-kata.
Selama hidup sudah cukup banyak manusia yang
dijumpainya, tapi belum pernah dia jumpai kakek seaneh ini.
Kakek aneh itu langsung memasuki ruang
utama, dengan sorot matanya dia memandang sekeliling tempat itu
sekejap lalu serunya sambil tertawa terkekeh:
"Hahahaha...... palsu! Palsu! Dari lukisan
yang tergantung dalam ruangan ini, paling tidak ada dua lukisan yang
merupakan barang tiruan"
Li Kiam-pek yang masih muda, berdarah panas,
kontan naik darah dan siap mengumbar amarahnya, tapi deheman ayahnya
membatalkan niat tersebut.
Dalam pada itu ke dua orang bocah ganteng
itu sudah ikut masuk ke dalam gedung sambil menjinjing dua buah
peti yang berbentuk indah, peti itu terbuat dari besi dengan taburan
intan permata disekitarnya.
Belum lagi isi peti, dari bentuk ke dua peti
itupun sudah ketahuan kalau nilainya luar biasa, tentu saja Li
Lok-yang tahu nilai barang, tidak tahan untuk berdecak keheranan.
Begitu masuk ke dalam gedung, kakek perlente
itu segera berteriak:
"Dimana tempat menginapku?"
Biarpun gedung keluarga Li tidak nampak
mentereng, namun memiliki banyak halaman dengan ruang kamar yang
indah.
Untuk menyambut kedatangan para tetamunya,
Li Lok-yang telah perintahkan orang untuk membersihkan seluruh
halaman rumah, dia tahu watak kakek perlente ini sangat aneh maka
sengaja mengajaknya menuju ke halaman rumah yang paling lebar.
Siapa tahu begitu memasuki kamar, gadis
cantik bak bidadari itu segera menutupi hidungnya sambil berkerut
kening. Kakek perlente itu lebih marah lagi, sambil menuding ke
ujung hidung Li Lok-yang umpatnya:
"Ruangan macam beginipun kau anggap tempat
tinggal manusia? Kandang babi milik lohu jauh lebih indah ketimbang
halaman rumahmu ini"
Li Kiam-pek tidak kuasa menahan diri lagi,
sambil menarik wajahnya dia menegur:
"Kalau menganggap kurang berkenan, kenapa
tidak membawa rumah sendiri?"
Dia sengaja tidak memandang wajah ayahnya
dan langsung mengucapkan perkataan itu.
"Hmm, kau sangka bisa menyusahkan aku?"
jengek kakek perlente itu sambil tertawa dingin.
Dalam duajam kakek berbaju perlente itu
sudah perintahkan orang untuk mendirikan tiga buah tenda, tenda yang
sangat megah dan indah bak istana raja Mongol ditengah gurun.
Perabot dan perlengkapan yang tersedia dalam
tandu itu lebih hebat lagi, hampir semua benda adalah barang pilihan
yang indah, mahal dan tidak ternilai harganya.
Dia menyediakan dapur sendiri dan menampik
kiriman makanan yang disediakan gedung keluarga Li, kokinya adalah
seorang koki kenamaan dari Hangciu, konon dia khusus diundang dari
dalam istana kaisar.
Kakek yang aneh, istri yang cantik bak
bidadari, kekayaan yang tidak terhingga, perjalanan yang
spektakuler, ketika semua hal digabung menjadi satu, tidak heran
kalau segera menimbulkan gelombang kehebohan dalam masyarakat.
Setiap orang mencoba untuk menebak namun
tidak seorangpun bisa menduga asal usul kakek aneh ini, bahkan
termasuk Li Lok-yang sendiripun diam-diam merasa tercengang
sekalipun rasa herannya tidak sampai ditampilkan keluar.
Para bangsawan yang datang dari kotaraja
menduga kalau kakek itu mungkin saja seorang pembesar dipinggir
perbatasan yang telah pensiun atau seorang keluarga kaya raya dari
wilayah Kanglam.
Sebaliknya para orang kaya dari wilayah
Kanglam mengira kakek itu termasuk salah satu keluarga bangsawan di
kotaraja atau salah satu keluarga Kaisar yang sedang berpesiar.
Malah ada sementara orang yang menduga kalau
kakek itu adalah seorang perompak laut yang sudah cuci tangan dan
memiliki kepandaian silat yang sangat hebat.
Tapi siapa pun tidak ada yang bisa menebak
asal-usul sebenarnya dari rombongan itu.
Menjelang senja, koki kenamaan dari kakek
aneh itu mengeluarkan sebuah daftar menu yang menggemparkan
masyarakat: setiap hari mereka nembutuhkan seratus ekor ikan segar,
delapan puluh ekor burung kakaktua dan yang lebih penting lagi
setiap hari mereka butuh delapan ekor kuda jempolan yang masih
hidup.
Sebab kegemaran kakek itu adalah otak ikan,
hati burung kakaktua serta hati kuda yang dimasak setengah matang.
Selewat senja, kakek itu duduk didepan tenda
sambil menikmati pelbagai macam arak wangi, arak yang begitu harum
baunya hingga bisa terendus dari jarak duajalanan dari tempat itu.
Gadis cantik bak bidadari itu duduk disisi
sang kakek dengan mengenakan kain cadar diwajahnya, selama ini tidak
pernah terdengar dia berbicara, namun setiap kerdipkan matanya sudah
jauh melebihi ribuan patah kata.
Ketika malam hari mulai tiba, perdagangan
bebas dalam gedung keluarga Li pun dimulai, semua orang dengan
membawa pelbagai barang permata mulai dengan perdagangan mereka.
Tapi transaksi yang terjadi pada hari kedua
sangat minim, hanya seorang pensiunan jenderal membeli empat pasang
kuda antik serta seuntai kalung mutiara.
Selain itu juga pasangan tamu pertama....
perempuan cantik berbaju sutera serta pemuda berbaju putih itu
membeli berapa macam perhiasan dan sebilah pedang bertaburkan
permata.
Hingga pasaran bebas ditutup, kakek aneh itu
tidak pernah menampakkan diri, ini membuat banyak pemuda tampan yang
tidak tahan untuk mencuri pandang ke halaman belakang.
Namun gadis cantik bercadar itu hanya
mengernyitkan dahinya kemudian segera masuk ke dalam tendanya.
Ada berapa orang pemuda yang tidak kuasa
menahan diri, mereka mulai mengumpat dengan nada kasar:
"Sekuntum bunga cantik ditancapkan diatas
seonggok tahi kerbau, kakek bangkotan berumur delapan puluh tahun
pun mengawini gadis cantik, betul-betul tidak tahu diri"
Ketika umpatan itu terdengar dari dalam
tenda, tiba-tiba gadis cantik itu tertawa terpingkal-pingkal sambil
berbisik:
"Kau...... penyamaranmu benar-benar sangat
mirip!"
Kakek perlente itu segera meluruskan
punggungnya yang bongkok, dalam waktu singkat dia seolah sudah
lebih muda puluhan tahun.
"Kalau penyaruanku tidak mirip, orang lain
tidak akan memaki, semakin kasar makian mereka, aku merasa semakin
gembira"
Ternyata ke dua orang itu bukan lain adalah
Thiat Tiong-tong serta Sui Leng-kong yang tengah menyaru.
Semua dugaan yang beredar dalam masyarakat
pun keliru besar.
Setelah tertawa sesaat, dengan kening
berkerut Sui Leng-kong berkata lagi:
"Tapi aku...... aku merasa a....agak
kuatir, cepat.... cepat atau lambat me...mereka pasti akan datang"
"Tentu saja mereka akan datang, kalau mereka
tidak muncul, buat apa aku datang kemari?"
"See... setelah pulang....
Hek Seng-thian pas.....pasti akan berusaha men...mencari kita,
ulahmu i.....ini..... apa tidak akan ter....tertebak olehnya?"
"Mereka mempunyai banyak mata-mata yang
tersebar dimana-mana, kemana pun kita pergi, apalagi dengan membawa
harta karun sebanyak ini, cepat atau lambat jejak kita akan dikejar
dan posisi kitapun akan semakin berbahaya, tapi dengan berulah
seperti ini, mereka malah tidak berani bertingkah macam-macam,
karena mereka tidak tahu pasti siapa kita berdua, jadi kau tidak
perlu kuatir...."
"Tapi Hek Seng-thian pernah.... pernah
bertemu aku"
"Wajahmu saat itu jauh berbeda dengan
penampilanmu sekarang, biarpun Hek Seng-thian bertemu denganmu pun
belum tentu dia bisa mengenali"
Sambil tersenyum Sui Leng-kong tundukkan
kepalanya, sepasang pipinya berseru merah, meski tidak berkata-kata
namun perasaan hatinya terasa sangat manis dan hangat.
Kembali Thiat Tiong-tong berkata sambil
tertawa:
"Sayang kebanyakan pemuda yang muncul disini
hanya kawanan playboy yang gemar main perempuan, kalau tidak aku
pasti akan mencari-kan jodoh untukmu!"
Tiba-tiba senyuman manis yang menghiasi
wajah Sui Leng-kong hilang lenyap tidak berbekas.
Kini wajahnya berubah jadi pucat tidak
berwarna darah, sorot matanya pun nampak sendu dan diliputi perasaan
sedih.
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak
memperhatikan perubahan dari gadis itu, dia sedang mengawasi pedang
mestika yang tergantung diatas dinding sambil berkata:
"Menurut perhitunganku, besok pagi mereka
pasti akan muncul disini!"
Pagi hari ke tiga, sinar matahari bersinar
cerah menerangi seluruh jagad.
Dari ujungjalan utara kota tiba-tiba muncul
dua ekor kuda yang dilarikan kencang.
Kedua orang itu tidak lain adalah Hek
Seng-thian, cong piautau dari perusahaan ekspedisi Thian bu piaukiok
serta wakil cong piautaunya pendekar bertangan tiga Pek Seng-bu.
Diiringi suara ringkikan kuda yang panjang,
mereka menghentikan kudanya persis didepan pintu gerbang gedung
keluarga Li.
Sambil melompat turun dari kudanya, Hek
Seng-thian dan Pek Seng-bu langsung melangkah masuk ke dalam gedung
seraya berseru:
"Dimana Li toako?"
Waktu itu Li Lok-yang sedang menarik napas
didepan undak-undakan pintu gerbangnya.
Ke tiga orang itupun segera terlibat dalam
pembicaraan serius.....
"Betul" terdengar Hek Seng-thian berkata,
"Kedatangan kami berdua memang ingin mencari berita tentang
seseorang"
"Siapa?"
"Konon dalam gedung Li toako telah
kedatangan seorang manusia aneh yang memiliki kekayaan luar biasa,
bahkan barang berharga yang dimilikinya merupakan barang-barang
langka?"
"Cepat amat berita ini tersiar ke telinga
Hek congpiautau, baru berlangsung satu hari ternyata semua kejadian
telah kau ketahui"
"Tujuan kedatangan kami kali ini memang
ingin menyelidiki asal-usul orang tersebut, disamping itu juga ingin
tahu ada siapa saja pengunjung yang kelihatan agak mencolok dalam
dua hari ini?"
"Bukan saja cayhe tidak mengetahui latar
belakang kakek itu, bahkan siapa namanya pun tidak jelas"
"Tapi Li toako......."
Sambil menarik muka tukas Li Lok-yang:
"Sekalipun aku berhasil mengetahui latar
belakangnya pun tidak mungkin akan kuberitahukan kepada kalian
berdua, sebab hal ini termasuk tradisi keluarga Li yang harus
ditaati turun-temurun, aku rasa kalian berdua pun mengetahui dengan
jelas bukan?"
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling
bertukar pandangan sekejap, kemudian setelah termenung sejenak ujar
Pek Seng-bu:
"Kalau memang begitu bisakah Li toako
memberitahukan kepada kami barang berharga apa saja yang dibawa
kakek aneh itu?"
"Tentang hal ini....... asal kalian berdua
mau tinggal selama berapa hari, dengan sendirinya akan melihat
sendiri semua yang bisa dilihat, bila kalian pun tidak dapat
melihatnya, cayhe sendiri pun pasti tidak bisa melihatnya juga"
Dengan senyuman dikulum kembali tambahnya:
"Kalian tentu lelah setelah menempuh
perjalanan jauh, silahkan mencuci muka lebih dulu kemudian meneguk
secawan arak untuk memulihkan kembali kondisi tubuh"
Pek Seng-bu yang selama ini membungkam terus
tiba-tiba menimbrung dengan suara dalam:
"Kami dua bersaudara bukannya tidak paham
dengan kebiasaan serta tradisi yang berlaku dalam keluarga Li toako,
tapi........"
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Persoalan ini menyangkut masalah yang amat
besar dengan keberlangsungan hidup Thian bu piaukiok, Seng kee ceng,
Benteng Han hong po, Bi lek tong serta peternakan Lok jit, bila kami
gagal menemukan jejak sepasang muda mudi itu......aaai!
Tidak bisa dibayangkan bagaimana akibatnya.
Oleh sebab itu aku mohon kepada
Li toako, mengingat hubungan kita yang sudah cukup lama, bersedia
membantu kami berdua"
Meskipun perkataan itu disampaikan dengan
halus dan lembut, namun paras mukanya kelihatan jelas amat serius
dan berat.
"Muda-mudi dua orang?" agak berubah paras
muka Li Lok-yang, "apakah mereka adalah anak murid Thiat hiat tay ki
bun?"
"Betul, mereka adalah murid Perguruan Tay ki
bun!"
"Orang-orang Perguruan Tay ki bun gemar
berkeliaran secara bebas bahkan lebih suka bergerak ditengah gurun
atau padang rumput atau tanah perbukitan yang sepi, atas dasar apa
kalian bisa menduga kalau mereka akan datang kemari?"
"Aaai! Panjang sekali ceritanya, singkatnya
kami berhasil mendapat tahu kalau anak murid Perguruan Tay ki bun
berhasil menemukan sejumlah harta karun yang tidak ternilai
harganya, mereka pasti akan berusaha menjual sebagian dari harta itu
untuk ongkos bergerilya, oleh sebab itu kami simpulkan mereka pasti
akan muncul disini untuk menjual hasil penemuannya itu"
"Ooh, jadi kalian berdua menaruh curiga
kalau kakek aneh serta istri cantiknya adalah penyamaran dari
muda-mudi murid Perguruan Tay ki bun?"
"Betul!"
"Anak murid Perguruan Tay ki bun pun pasti
tahu kalau mereka sedang berada dalam target pencarian kawanan jago
lihay dari lima keluarga besar, dalam keadaan seperti ini untuk
menyembunyikan diri saja sudah cukup kerepotan, mana mungkin mereka
mau tampilkan diri dalam satu pertemuan terbuka yang begini
mencolok, apalagi melakukan tingkah laku yang aneh dan ekstrim,
melakukan perbuatan yang justru memancing perhatian orang banyak?"
Hek Seng-thian menghela napas panjang.
"Meskipun perkataanmu ada benarnya juga,
tapi anggota Perguruan Tay ki bun seringkah melakukan tindakan yang
jauh diluar dugaan orang, bila kita sedikit lengah, pasti akan
termakan oleh siasat busuk mereka"
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka
bertiga sudah mengambil tempat duduk di ruang tengah.
Li Lok-yang termenung berapa saat, kemudian
baru ujarnya:
"Menurut tradisi yang berlaku turun-temurun,
siaute betul betul tidak bisa membantu kalian berdua, tapi diluar
masalah ini, bila kalian berdua membutuhkan sesuatu pasti akan
siaute penuhi"
"Kalau begitu siaute butuh bantuanmu"
"Bantuan apa?"
"Siaute hanya ingin meminjam dua stel
pakaian pembantu dari keluarga Li toako untuk kami kenakan"
"Baik!"
Setengah jam kemudian Hek Seng-thian dan Pek
Seng-bu sudah muncul dengan pakaian pegawai gedung keluarga Li,
mereka ikut mem-baurkan diri dalam kerumunan orang banyak.
Sementara itu dari balik tenda mewah
terdengar suara permainan khiem yang merdu merayu.
Meskipun waktu itu mereka berdua punya
maksud tertentu, tidak urung terbuai juga oleh lantunan irama musik
yang merdu merayu itu.
Dayang cantik berbaju perlente itu duduk
didepan dupa hio sambil memetik senar khiem, sementara dua orang
bocah ganteng itu duduk dikedua sisinya sambil memainkan seruling
serta alat musik lainnya.
Thiat Tiong-tong dengan senyum dikulum
seolah sedang menikmati lantunan lagu merdu itu, padahal secara
diam-diam dia mengawasi terus gerak-gerik disekelilingnya, dari
balik matanya yang setengah terpejam terkadang memancar keluar sinar
mata yang tajam.
Hanya Sui Leng-kong yang bersandar diatas
pembaringan bagaikan seekor kucing yang sedang tiduran.
Pada saat itulah tiba-tiba dayang cantik itu
mengakhiri permainan khiem nya.
Sambil menghelanapas kata Sui Leng-kong:
"Si-ji, permainanmu.....sungguh indah!"
Mendadak Thiat Tiong-tong melompat bangun
sambil berseru:
"Mainkan terus alat musik itu!"
Dengan sebuah gerakan cepat dia menyelinap
keluar dari balik tirai.
"Su.... sudah datang?" bisik Sui Leng-kong
dengan wajah berubah.
"Yaa, sudah datang!"
"Bagaimana sekarang?"
"Kalian semua jangan bergerak, Si-ji,
lanjutkan permainan khiem mu!" kemudian setelah membetulkan letak
baju dan rambutnya sekali lagi dia menyingkap tirai dan berjalan
keluar.
Waktu itu Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
masih tetap berpatroli diseputar tenda, tiba-tiba mereka saksikan
ada seorang kakek bungkuk yang berwajah aneh muncul dari balik tenda
sambil menggapai ke arah mereka berdua.
Kedua orang itu saling bertukar pandangan
sekejap, bisik Hek Seng-thian:
"Sasaran kita telah muncul!"
Sambil mengangguk kedua orang itu segera
berjalan mendekat.
"Apakah kalian berdua adalah pembantu gedung
ini?" tegur kakek aneh itu dingin.
"Benar!" jawab Hek Seng-thian dan Pek
Seng-bu sambil menjura, "kau orang tua ada perintah apa hamba memang
khusus ditugaskan disini untuk melayani kebutuhan kau orang tua"
Dalam hati Thiat Tiong-tong tertawa dingin,
tapi dia tampil dengan wajah tenang, katanya lagi sambil menggapai:
"Masuklah!"
Selesai berkata dia masuk kembali ke balik
tenda.
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu saling
bertukar pandangan sekejap, kemudian bersama-sama masuk ke dalam
tenda. Diam-diam mereka telah menghimpun tenaga dalamnya pada kedua
lengan dan siap melancarkan serangan setiap saat.
Begitu masuk ke balik tenda, terenduslah bau
harum yang lembut menyelimuti seluruh ruangan, ketika mereka melirik
sekejap ke sekeliling tempat itu tampaklah dua orang bocah ganteng
itu sedang mendampingi seorang dayang cantik bermain khiem, terhadap
kemunculan mereka berdua, mereka sama sekali tidak memandang atau
melirik, sementara seorang gadis cantik sambil menggoyang kipasnya
sedang berbaring sambil menikmati alunan musik.
Sambil duduk bersandar diatas bangkunya
kakek aneh itu menegur dengan nada ketus:
"Kalau memang kalian berdua adalah pembantu
keluarga Li, kenapa berani sembarangan mencuri barang milik lohu?"
"Peraturan keluarga Li sangat ketat dan
keras, tidak mungkin kami berani mencuri barang milik tamu. Kau
orang tua tentu salah paham"
Orang ini memang pintar lagi licik,
sekalipun sebagai seorang cong piautau harus menyamar jadi seorang
pembantu, ternyata gerak-gerik maupun cara berbicaranya sangat
mirip, sama sekali tidak nampak mencurigakan.
"Hmm, akan kulihat kau bisa menyaru sampai
berapa lama?" pikir Thiat Tiong-tong sambil tertawa.
Sambil menarik wajahnya kembali dia
membentak:
"Barang bukti didepan mata, kalian masih
berani menyangkal?"
Sementara itu Pek Seng-bu sedang merasa
keheranan, dia tidak berhasil menjumpai pertanda yang menunjukkan
kalau kakek itu berasal dari Perguruan Tay ki bun, tanpa terasa
pikirnya:
"Jangan-jangan dia memang kehilangan barang
dan sekarang melimpahkan kesalahannya pada kami berdua?"
"Hamba berdua baru saja tiba disini" kata
Hek Seng-thian dengan kepala tertunduk, "hamba benar-benar......"
"Braaak!" Thiat Tiong-tong menggebrak meja
sambil berteriak gusar:
"Masih ingin membantah?"
Sambil menuding si dayang cantik yang sedang
memetik senar khiem katanya lagi:
"Aku harus mengeluarkan biaya sebesar lima
belas ribu tahil perak untuk membeli dia dari rumah pelesiran Hun
kiok hoa, sementara kau sama sekali tidak keluar biaya barang
setengik pun, nyatanya berani amat ikut menikmati alunan musik yang
dia mainkan. Apakah ini bukan mencuri namanya?
Sudah ada barang bukti masih berani
membantah, ayoh cepat akui kesalahan kamu berdua!"
Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu tertegun
dibuatnya, untuk sesaat mereka tidak sanggup mengucapkan sepatah
katapun.
Thiat Tiong-tong semakin mencak-mencak
kegusaran, sambil melompat bangun dari tempat duduknya kembali dia
menghardik:
"Kalian berdua sudah mencuri barang milikku,
sekarang tidak mau mengembalikannya kepadaku?"
"Bagaimana caranya mengembalikan irama
musik itu?" tanya Pek Seng-bu cepat.
"Kau harus memainkan juga sebuah lagu untuk
aku dengar"
"Tapi hamba tidak pandai bermain khiem"
Thiat Tiong-tong semakin gusar, umpatnya
sambil menggebrak meja:
"Tidak bisa, tidak bisa, memangnya kalau
sudah bilang tidak bisa lantas urusan beres? Lohu akan laporkan
kejadian ini kepada majikan-mu, lohu akan... akan...."
Tiba-tiba dia terduduk kembali di bangku
dengan napas tersengkal sengkal bahkan berulang kali terbatuk batuk,
bocah ganteng itu segera menyuguhkan air teh sambil membujuk:
"Loya, kau jangan marah...."
Setelah menyuguhkan air teh, dia segera
menguruti punggungnya.
Pek Seng-bu dan Hek Seng-thian saling
bertukar pandangan tanpa bersuara, agaknya mereka tidak tahu apa
yang mesti diperbuat.
Sui Leng-kong yang menyaksikan tampang kedua
orang itu diam-diam merasa geli, tapi diapun kuatir wajahnya
ketahuan Hek Seng-thian, maka setelah mendeham bisiknya:
"Sudahlah......."
Dengan menutupi wajahnya dengan kipas,
diam-diam dia memberi kode mata pada pemuda itu.
"Enyah,.... kalian cepat enyah dari sini"
maki Thiat Tiong-tong lagi, "jika kalian berdua berani mencuri
dengar lagi, jangan salahkan kalau lohu akan potong kaki anjing kau
berdua!"
Hek Seng-thian serta Pek Seng-bu tidak
berani bicara lagi, buru-buru mereka mengundurkan diri dari situ.
Sepeninggal kedua orang itu, Sui Leng-kong
tidak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa
terpingkal-pingkal sampai membungkukkan tubuhnya.
Dalam pada itu Pek Seng-bu yang sudah berada
diluar halaman sedang menghela napas panjang, sambil tertawa getir
dan gelengkan kepalanya berulang kali dia bergumam:
"Benar-benar seorang kakek pelit yang aneh,
tidak heran kalau dia cepat kaya raya"
Paras muka Hek Seng-thian pun nampak suram
dan serius, katanya:
"Walaupun aku tidak berhasil mengenali
siapakah dia, tapi aku merasa bahwa dibalik semuanya ini terdapat
sesuatu yang aneh"
"Apakah perempuan itu adalah gadis yang
toako jumpai dalam gua?" tanya Pek Seng-bu dengan kening berkerut.
Dengan cepat Hek Seng-thian menggeleng.
"Gadis yang kujumpai didalam gua amat aneh
dan jelek, sementara gadis itu cantik bak bidadari dari kahyangan,
tapi..... aku tetap merasa ada sesuatu yang tidak beres......ada
yang tidak beres"
"Apanya yang tidak beres? Mungkin kau merasa
aneh karena yang tua jelek, bongkok lagi memuakkan sementara yang
perempuan muda, cantik dan menawan, karena itu toako merasa hubungan
ini agak kurang beres"
"Bukan begitu saja, aku tetap merasa ada
yang tidak beres, hanya saja tidak bisa kujelaskan dimana letak
ketidak-beresan itu"
Pek Seng-bu segera menepuk bahu saudaranya
sambil berkata:
"Sudahlah, lebih baik toako memeriksa ke
timur sementara siaute periksa ke arah barat, coba kita lakukan
penyelidikan lagi, siapa tahu akan ditemukan sesuatu petunjuk yang
berharga"
Tidak menunggu jawaban dari Hek Seng-thian,
dia sudah membalikkan tubuh dan beranjak pergi.
Sementara Hek Seng-thian masih berpikir
dengan kening berkerut, tiba-tiba dia mendengar gelak tertawa
berkumandang dari halaman depan, tanpa terasa dia berjalan
menghampiri.
Halaman itu bukan didiami keluarga kaya
raya, tapi lantai disapu amat bersih.
Saat itu sepasang suami istri setengah umur
sedang berdiri diatas undak-undakan dengan senyuman dikulum, disisi
lain terlihat sepasang suami istri yang lebih muda usianya dengan
didampingi seorang dayang sedang mengawasi seorang bocah berusia
tiga, empat belas tahunan menari ditengah halaman.
Cara bocah itu menari sangat aneh tapi
gerakannya lucu. Melihat itu Hek Seng-thian tersenyum sendiri, dia
segera melihat kalau bocah itu ternyata pincang kakinya.
Sementara dia masih memandang dengan
perasaan iba, tiba-tiba daun jendela dari deretan rumah disisi kiri
dibuka orang.
Seorang nenek berbaju kuno berambut putih
berdiri didepan jendela sambil bercekak pinggang, teriaknya penuh
amarah:
"Apa yang kalian tertawakan? Si gagap bisa
menyanyi, si pincang bisa menari, apanya yang lucu?"
Melihat kemunculan nenek itu semua orang
segera bubaran, tampak si nenek kembali berseru sampai menggapai:
"Po-ji, kemarilah, kalau mereka berani
menertawakan dirimu lagi, biar nenek beradu jiwa dengan mereka"
Hek Seng-thian tidak ingin membuat keonaran,
buru-buru dia mengundurkan diri dari situ, pikirnya dengan perasaan
geli:
"Lagi lagi seorang nenek yang aneh, rasanya
dia lebih pantas jadi pasangan kakek jelek itu"
Membayangkan kembali cara bocah itu menari,
hatinya makin geli, tanpa terasa gumam-nya:
"Si pincang bisa menari, si gagap pandai
menyanyi......."
Berpikir sampai disitu, satu ingatan segera
melintas lewat, serunya kegirangan:
"Aaah benar, gadis dalam gua adalah seorang
gagap, sementara gadis cantik itupun tidak berani banyak bicara,
meskipun hanya mengucapkan "sudahlah" rasanya dibutuhkan banyak
waktu dan tenaga, hahahaha.... penyaruan mereka meski hebat, jangan
harap bisa mengelabuhi aku si rase tua"
Berpikir sampai disitu dia segera berlarian
menuju ke depan tenda kakek aneh itu, ditengah jalan dia menarik
tangan seorang pembantu dan pesannya:
"Cepat temukan Pek Seng-bu, suruh dia
secepatnya datang ke tenda si kakek aneh!"
Pelayan itu buru-buru mengangguk, belum
sempat menjawab Hek Seng-thian sudah pergi jauh.
Ditempat sepi dia melepaskan jubah luarnya,
dengan pakaian ringkas ditubuhnya ia menyusup masuk lagi ke dalam
halaman belakang dan bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi.
Tirai didepan pintu tenda sudah diturunkan,
irama musik pun telah berhenti, kini yang terendus adalah bau
masakan dan arak yang harum semerbak, entah hidangan apa sajayang
disiapkan.
Sambil menelan air liur umpat Hek Seng-thian
didalam hati:
"Bangsat ini pandai amat menikmati hidup!"
Dengan satu gerakan cepat dia menyelinap ke
sisi tenda dan menghampiri jendela.
Dari balik tenda terdengar suara tertawa
seorang gadis diikuti dentingan mangkut dan cawan, lalu terdengar
seseorang berseru:
"Hey, be.... berikan kepadaku......"
Hek Seng-thian merasa hatinya bergetar
keras, tanpa ragu lagi dia mendorong daun jendela dan menyelinap
masuk ke dalam, serunya sambil tertawa latah:
"Bagus, bagus sekali, ternyata kalian berada
disini!"
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bergerak,
hardiknya:
"Siapa kau? Cepat pergi dari sini!"
Hek Seng-thian tertawa dingin.
"Siapakah aku? Masa kau tidak kenal?"
Thiat Tiong-tong sengaja memandangnya berapa
kejap, lalu sambil tertawa dingin ujarnya kembali:
"Bagus sekali, rupanya pembantu yang tadi,
kenapa? Setelah gagal mencuri, apa sekarang mau merampok?"
"Didepan orang beneran tidak usah bicara
bohong, dalam mata yang jeli tidak akan kemasukan pasir,
biarpun kalian berdua mau berubah seperti apapun jangan harap bisa
mengelabuhi ketajaman mata toaya mu"
Sui Leng-kong mulai merasa tegang, tapi
Thiat Tiong-tong tetap berlagak gusar.
Kembali umpatnya sambil menggebrak meja:
"Kau itu manusia macam apa, berani amat
bersikap kurang ajar kepada lohu, hmmm! Cepat enyah dari sini, cepat
menggelinding dari sini....."
Dia sambar sebuah cawan dan dilemparkan ke
depan.
Dengan sedikit miringkan tubuh Hek
Seng-thian sudah lolos dari sambitan itu, ujarnya sambil tertawa
licik:
"Kalian sembunyikan kemana harta karun
curian itu? Cepat mengaku terus terang, kalau tidak, jangan salahkan
kalau toaya tidak akan mengampuni jiwamu"
"Barang curian apa?" bentak Thiat Tiong-tong
gusar, "kelihatannya kau sudah edan?"
"Sudah, jangan berlagak pilon lagi, cepat
serahkan nyawamu!" seru Hek Seng-thian sambil tertawa seram,
sepasang tangannya diangkat sejajar dada kemudian dengan langkah
yang berat selangkah demi selangkah dia menghampiri lawan.
Thiat Tiong-tong pura-pura menunjukkan wajah
kaget dan gugup sementara secara diam-diam dia telah menghimpun
tenaga dalamnya, dalam keadaan seperti ini meski dia tidak ingin
membongkar identitas sendiri, namun asal Hek Seng-thian turun
tangan, dia akan melancarkan serangan lebih dulu.
Selisih jarak kedua orang itu makin lama
semakin mendekat, sekarang selisih jarak mereka tinggal satu
setengah langkah.
Mendadak tirai pintu kembali terbuka,
menyusul seseorang membentak keras:
"Tunggu sebentar!"
Sesosok bayangan manusia menyelinap masuk
dengan kecepatan tinggi, kemudian sambil mencengkeram pergelangan
tangan Hek Seng-thian serunya:
"Toako. Jangan turun tangan!"
Thiat Tiong-tong tidak menyangka kalau dalam
keadaan kritis si pendekar bertangan tiga Pek Seng-bu akan
menghalangi saudaranya untuk turun tangan.
Hek Seng-thian sendiripun nampak tertegun,
bentaknya:
"Lepas tangan!"
"Toako, kau salah orang!" kata Pek Seng-bu
cepat.
"Aku yakin mataku tidak buta, tak mungkin
aku salah orang, gadis itu gagap waktu bicara, jelas dia adalah
gadis dalam gua itu"
"Orang gagap toh bukan cuma satu orang,
apalagi didunia ini masih terdapat orang gagap lain, toako, apakah
kau tidak merasa gegabah dengan menilai seseorang dari hal ini?"
Kemudian setengah berbisik ujarnya lagi:
"Untung siaute datang tepat waktu, kalau
tidak, bagaimana caramu untuk memberikan pertanggungan jawab kepada
Li Lok-yang?"
"Lalu atas dasar apa kau mengatakan aku
salah bicara?" tegur Hek Seng-thian gusar.
Pek Seng-bu menarik Hek Seng-thian mundur
berapa langkah, lalu bisiknya:
"Siaute berhasil menemukan jejak anak murid
Perguruan Tay ki bun di halaman sebelah tengah sana!"
"Sungguh?" seru Hek Seng-thian terkesiap,
"Kau tidak salah melihat?"
"Bangsat itu adalah salah satu orang yang
lolos dari perangkap ditengah hutan tempo hari, siaute melihat
dengan mata kepala sendiri, jadi tak mungkin keliru, harap toako
berlega hati"
Paras muka Hek Seng-thian segera berubah
hebat, setelah termangu sesaat buru-buru dia menjura seraya berkata:
"Lo sianseng, maafkan kecerobohan cayhe,
harap lo sianseng jangan masukkan kejadian ini didalam hati"
"Tidak dimasukkan ke dalam hati?" umpat
Thiat Tiong-tong dengan gusar, "hmrnrn, hmmm, lohu pasti akan
masukkan kejadian ini didalam hati, selamanya tidak akan kulupakan,
cepat enyah dari hadapanku!"
Sambil tertawa getir kembali Pek Seng-bu
berbisik:
"Cepat pergi, lebih baik kita jangan bikin
sewotnya makhluk tua ini"
Dia menarik tangan Hek Seng-thian dan buru
buru mengundurkan diri dari situ.
Memandang hingga bayangan tubuh mereka
lenyap dari depan mata Sui Leng-kong baru menghembuskan napas lega,
keluhnya:
"Sungguh berbahaya! Un.....untung......."
Tiba-tiba dia menyaksikan sinar ketegangan
yang memancar dari balik mata Thiat Tiong-tong, sepasang tangannya
yang mengepal tampak gemetar keras, tidak tahan serunya lagi dengan
perasaaan terkejut:
"Ke......kenapa kau?"
"Sudah kau dengar apa yang mereka bicarakan
tadi?" tanya Thiat Tiong-tong dengan suara dalam.
"Yaa. Suu.... sudah ku... kudengar!"
"Pek Seng-bu adalah seorang jagoan yang
sangat teliti, tak mungkin dia salah melihat, tapi yang membuat aku
tidak habis mengerti adalah siapa yang telah dia jumpai?"
Pek Seng-bu yang menarik tangan Hek
Seng-thian hingga keluar dari halaman, saat itulah Hek Seng-thian
tidak bisa menahan diri lagi dan bertanya:
"Jite, persoalan ini menyangkut satu masalah
yang luar biasa, kau tidak salah melihat?" Pek Seng-bu tersenyum.
"Bukan saja siaute melihat dengan jelas
sekali bahkan telah ku selidiki kalau bajingan inipun ditemani
seorang gadis, kemarin malam dia malah sempat membeli sejumlah
barang perhiasan, caranya membeli sangat royal, tapi sepanjang hari
sebagian besar waktunya digunakan untuk berbaring dalam kamar, dia
jarang menampakkan diri, juga tidak suka bergaul dengan orang lain"
Hek Seng-thian segera merasakan semangatnya
berkobar kembali, tidak tahan serunya:
"Kalau begitu pasti dialah orangnya!"
"Kapan cara kerja siaute ngawur dan tidak
pakai aturan?"
"Ayoh berangkat!" sambil melepaskan cekalan,
Hek Seng-thian berlalu lebih dulu dari situ.
Sekali lagi Pek Seng-bu menarik tangannya.
"Toako, biasanya kau bertindak sangat hati
hati dan penuh kewaspadaan, kenapa hari ini berubah jadi berangasan
dan tidak sabaran?"
Hek Seng-thian menghela napas panjang.
"Sebab persoalan ini besar sekali
pengaruhnya terhadap kita berdua, aku tidak boleh membiarkan mereka
turun tangan terlebih dulu, apalagi membiarkan Leng It-hong dan Suto
Siau sekalian tiba duluan disini, jika mereka sampai tahu kalau kita
dua bersaudara mendapat rejeki nomplok, dapat dipastikan merekapun
menuntut bagian, terlebih...... dalam kematian Siau Lui-sin, aku
ikut memikul tanggung jawab yang besar, bila sampai bajingan Li bek
hwee (api geledek) mengetahui kejadian yang sesungguhnya, keadaan
akan lebih berabe lagi........."
"Sekalipun begitu, toako anggap Li Lok-yang
akan berpeluk tangan saja bila kau turun tangan dalam saat begini?
Dengan kekuatan kita berdua, memangnya sanggup menghadapi kerubutan
anak buah keluarga Li?" kata Pek Seng-bu sambil menghela napas.
Hek Seng-thian melengak, kemudian setelah
termangu berapa saat diapun menghela napas panjang.
"Terus terang, saat ini pikiran toako sangat
kalut, tidak sanggup berkosentrasi, akupun bingung dan tak tahu apa
yang mesti dilakukan, lebih baik kau sajayang sementara memegang
kendali"
Pek Seng-bu melirik sekeliling tempat itu
sekejap kemudian membisikkan sesuatu ke sisi telinga saudaranya,
dengan senyuman dikulum Hek Seng-thian manggut berulang kali.
"Bagus, kita lakukan dengan cara itu!"
tiba-tiba berpekik sembari bertepuk tangan.
Malam itu disaat lampu-lampu mulai menerangi
ruangan, transaksi jual beli dalam gedung keluarga Li mulai dibuka.
Sekeliling dinding gedung utama bermandikan
cahaya lentera, setiap jarak sepuluh langkah tergantung sebuah
lentera yang terbuat dari tembaga dengan bahan bakar yang cukup,
rangkaian lentera yang berjajar jajar membuat suasana disitu
bagaikan di siang hari saja.
Selain itu, diatas setiap meja tersedia juga
dua buah lilin ukuran raksasa yang ditutup dengan sebuah penutup
terbuat dari bahan halus, penutup lilin diganti dengan yang baru
sehari satu kali sehingga penampilannya selalu bersih tanpa bekas
asap.
Sebab dalam jual beli barang berharga
dibutuhkan penerangan cahaya yang jelas, dengan begitu orang baru
bisa membedakan mana barang asli dan mana barang palsu.
Disekeliling setiap meja disediakan delapan
buah bangku, diatas meja pun tertera sebuah papan nama terbuat dari
kayu dengan kode yang berbeda.
Kode angka itu menandakan nomor urut, juga
melambangkan tamu yang duduk di meja tersebut bertempat tinggal di
halaman rumah nomor berapa...... tamu yang berdiam di halaman
rumah pertama akan menempati meja nomor satu, sementara tamu yang
tinggal di halaman ke sepuluh akan menempati meja nomor sepuluh.
Oleh karena setiap orang yang datang kesitu
kebanyakan merahasiakan nama serta identitas aslinya, maka cara
itulah yang dipakai untuk membedakan satu dengan lainnya.
Tentu saja ada sementara orang kenamaan yang
tidak mungkin bisa merahasiakan nama serta identitas sebenarnya,
seperti juga kertas yang tak pernah bisa membungkus api.
Sejak awal Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
sudah duduk dimeja nomor tiga belas yang letakkan sedikit disudut
gedung utama, namun sorot mata mereka yang tajam mengawasi dengan
seksama, setiap orang, setiap tamu yang berlalu lalang disitu.
Sampai ruang gedung utama dipenuhi empat
puluh persen pengunjung, diantara kerumunan orang baru muncul tokoh
tokoh kenamaan.
Seorang kakek kurus kering berwajah masam
dengan membawa dua orang wanita muda berwajah cantik tapi bermata
liar menempatkan diri di belakang meja nomor dua.
Di belakang mereka berdua mengikuti dengan
ketat seorang lelaki setengah umur yang menyoren sebilah pedang,
wajahnya pucat dan gerak geriknya jumawa, sekalipun tampan namun
tampak dingin, jahat dan amat licik.
"Coba kau lihat siapa yang telah datang?"
bisik Hek Seng-thian dengan kening berkerut.
"Aaah, Giok Phoa-an (Phoa An kumala) Phoa
Seng-hong!" sahut Pek Seng-bu tercengang, "bagaimana mungkin dia
bisa menjadi pengawalnya Hong Pak-ban dari San-say? Benar-benar satu
kejadian aneh"
"Apanya yang aneh?" Hek Seng-thian tertawa,
"dapat dipastikan orang ini sudah tertarik dengan salah satu bini
Hong Pak ban, hahaha.......
kelihatannya Hong Pak-ban tak akan terlepas
dari statusnya sebagai si penyandang topi hijau"
Sementara pembicaraan sedang berlangsung,
ditengah ruangan kembali muncul tiga rombongan tetamu, rombongan
pertama adalah Hong liu ong sun (cucu raja romantis) Kim Ji kongcu
dari Kotaraja yang datang dengan membawa keempat orang gundiknya,
mereka berjalan masuk sambil bergurau dan berbincang dengan
ramainya.
Rombongan ke dua adalah berapa orang kongcu
keturunan saudagar kaya dari wilayah Kanglam, Ouyang hengte, mereka
berjalan masuk kedalam ruangan sambil menggoyangkan kipasnya,
sementara sorot matanya yang jalang tiada hentinya
menyapu wajah setiap perempuan muda yang hadir dalam ruangan.
Rombongan ke tiga terdiri dari sekelompok
wanita, usia mereka rata-rata dua puluh tahunan, gerak geriknya
lembut, wajahnya cantik, sikapnya santun dan penuh terpelajar seakan
rombongan wanita dari keluarga berpendidikan.
Hampir semua orang mengalihkan pandangan
matanya ke wajah rombongan wanita itu, namun jarang ada yang tahu
asal usul mereka, hanya Hek Seng-thian yang tersenyum sambil
berbisik:
Mite, tahukah kau siapa mereka?"
"Aaah, toako kelewat memandang rendah
pengetahuan siaute, masa aku tidak kenal dengan perompak wanita yang
malang melintang di utara dan selatan sungai besar, It oh Li ong
hong (segerombolan ratu tawon)?"
"Hehehehe......dengan kemunculan rombongan
iblis wanita ini, entah ada berapa banyak lelaki hidung bangor yang
bakal jadi korban bagai laron yang menubruk cahaya api!"
Pek Seng-bu memandang sekejap ke seluruh
ruangan, benar saja, dia segera jumpai sorot mata Ouyang hengte
sedang dialihkan ke wajah rombongan itu, tidak tahan serunya sambil
tertawa dingin:
"Hmmm, kalau mencari kematian buat diri
sendiri, jangan salhkan orang lain!"
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak
keras dari luar pintu:
"Dimana letak tempat dudukku?"
Seorang lelaki hitam pekat dengan kepala
yang besar dan tinggi badan mencapai dua meter lebih menerjang masuk
ke dalam ruangan dengan langkah lebar, dalam tangannya membawa
sebuah karung goni.
Begitu tiba ditengah ruangan, matanya yang
besar bagai gundu menyapu sekejap wajah Giok Phoa-an Phoa Seng-hong,
kemudian sambil mendelik ke arah lelaki itu umpatnya:
"Bagus sekali, ternyata si tulang lunak yang
suka makan nasi murahan juga telah datang kemari!"
Phoa Seng-hong mendongakkan kepalanya
memandang langit-langit, dia berlagak seolah tidak mendengar.
Melihat itu Pek Seng-bu kembali berkata
sambil tertawa:
"Sungguh tidak disangka Thian sat seng
(Bintang pembawa bencana) Hay
Tay sau juga telah datang, coba kalau bukan bertemu disini,
dia bersama Giok Phoa-an pasti akan membuat pertunjukan yang
menarik!"
"Coba kau lihat karung goni yang dibawanya"
sahut Hek Seng-thian sambil tertawa pula, "kelihatannya tidak
sedikit yang berhasil dia dapatkan dalam setahun ini, orang ini
selalu bekerja sendirian, bahkan aku sendiripun tidak jelas darimana
ia dapatkan barang-barang itu, kelihatannya dia memang serba bisa
dan serba tahu, luar biasa!"
Dalam pada itu Hay
Tay-sau sudah diantar orang
menuju ke meja nomor tujuh, tapi dia tidak
menempatinya, malah dengan lantang berteriak:
"Li toako, bagaimana dengan hari ini?"
Waktu itu Li Lok-yang bersama putranya
sedang jalan berkeliling dalam ruang gedung, mereka sedang
menyelenggarakan transaksi dengan para penjual disitu, ada
yang mereka beli barang dagangannya ada pula yang tidak.
Tapi setiap transaksi yang kejadian, pihak
keluarga Li segera akan memberi uang muka sebesar setengah harga.
Ketika mendengar teriakan itu, sambil
tertawa Li Lok-yang menyahut:
"Sekarang waktu masih terlalu awal, pasaran
belum dibuka semuanya!"
Si bintang pembawa bencana Hay Tay-sau
tertawa terbahak bahak, serunya lantang:
"Hahahaha.....bagus, kalau begitu biar aku
yang membukakan pasar untuk Li toako hari ini"
Dengan tangan kirinya menggenggam mulut
karung, tangan kanan memegang dasar karung, dia tuang seluruh isi
karung goninya ke atas meja.
Dalam waktu singkat sinar gemerlapan
memancar keluar dari tumpukan barang mestika itu.
Kembali Hay Tay-sau berseru sambil tertawa
keras:
"Aku memang tidak sabaran, paling pantang
duduk kelewat lama, disini terdapat tiga puluh macam barang mainan,
tidak banyak pun tidak sedikit, setiap macam benda berharga lima
ratus tahil perak, kalau ingin membelinya silahkan segera membeli!"
Baru selesai dia berkata, sekawanan wanita
yang suka membeli barang murahan segera menyerbu ke depan dan saling
berebut untuk memilih.
"Semuanya berhenti!" kembali Hay Tay-sau
menghardik.
Suaranya yang keras bagai geledek seketika
membuat rombongan wanita itu menghentikan langkahnya dengan kaget.
"Kalian tidak bisa memilih dengan cara
begini" seru Hay Tay-sau sambil tertawa keras, "kalau yang bagus
sudah dipilih duluan, siapa yang mau membeli sisanya? Pokoknya siapa
yang sudah menyentuh benda itu, dia harus membeli barang tersebut!"
Kemudian sambil menggebrak meja serunya
lagi:
"Setorkan uangnya dulu kemudian baru
mengambil, siapa yang berani sembarangan, akan kupotong lengannya!"
Semua orang saling bertukar pandangan dan
beringsut mundur dari situ, siapa pun tidak tahu dengan pasti berapa
nilai barang yang bakal dirabanya, tentu saja tidak seorangpun mau
beradu untung.
Li Lok-yang yang menyaksikan hal itu segera
tersenyum, dari seorang lelaki setengah umur yang nampaknya
merupakan kasirnya, dia mengambil selembar uang kertas kemudian
ujarnya sambil tersenyum:
"Biar aku mengambil duluan!"
"Li toako, aku percaya denganmu, uang kertas
itu boleh disimpan dulu!"
"Peraturan tak boleh dilanggar, silahkan
terima uang ini!" dia letakkan uang itu dimeja lalu masukkan
tangannya ke dalam kantung dan mengambil sebiji batu kemala yang
berwarna putih mulus.
Diantara sorak-sorai orang banyak, Li
Lok-yang berkata lagi sambil tersenyum:
"Waaah. Batu Han-giok senilai tiga ribu
tahil perak hanya kubeli dengan harga lima ratus tahil, luar biasa,
luar biasa!"
Li Lok-yang memang sangat ahli dalam menilai
harta barang berharga, ucapannya sangat dihargai orang dan menjadi
panutan orang banyak, tidak heran kalau begitu dia menyelesaikan
perkataannya, sudah ada serombongan orang yang berebut maju, tapi
orang kedua hanya memperoleh sebuah mainan gantungan yang nilainya
hanya dua ratus tahil.
Maka orang pun beramai-ramai mundur kembali
ke belakang, tinggal seorang sastrawan setengah umur berwajah bersih
dan mengenakan baju biru yang tetap melangkah maju ke depan.
"Gin siepoa (siepoa perak) selalu cermat
dalam perhitungan, apakah kaupun ingin ikut beradu untung?" seru Hay
Tay-sau sambil tertawa.
Sastrawan setengah umur ini adalah Gien
siepoa, seorang pedagang barang permata yang amat tersohor namanya,
mendengar itu dia tertawa.
"Aku percaya dengan perkataan anda, tidak
mungkin kau akan bikin orang lain menderita kerugian"
Barang pertama yang diambilnya hanya
bernilai tiga-empat ratus tahil, tapi dia sama sekali tak gugup,
kembali diambilnya sebuah benda lagi.... kali ini dia mendapat
sebuah patung singa terbuat dari batu zamrud yang nilainya mencapai
ribuan tahil perak.
"Ternyata perhitungan siepoa dari Gin-siepoa
memang sangat hebat" puji Hay Tay-sau sambil tertawa, "apa mau
mengambil lagi?"
"Aaah, sudah untung empat ribu tahil,
rasanya sudah lebih dari cukup, aku selalu tahu diri!" sahut
Gin-siepoa sambil tertawa.
Seorang lelaki setengah umur berunding cukup
lama dengan bininya, setelah pikir punya pikir akhirnya dia
mengeluarkan setumpuk kecil uang kertas dan maju mendengar dengan
peluh membasahi jidatnya.
Dengan tangan gemetar dia mengambil sebuah
benda dari dalam karung, tapi yang diperoleh hanya sebuah batu
han-giok bernilai dua ratus tahil, tiba-tiba paras mukanya berubah
jadi pucat pias, peluh sebesar kacang kedele bercucuran membasahi
wajahnya.
Sementara bininya segera lari mendekat
sambil berseru dengan nada gemetar:
"Baa... .bagaimana sekarang?"
Hay Tay-sau yang mengikuti kejadian itu
segera membentak nyaring:
"Ambil sebuah lagi!"
"Tapi.... aku sudah tidak punya......."
lelaki setengah umur itu tertunduk lesu.
"Goblok, kalau aku suruh kau mengambil lagi,
tentu saja tidak perlu setor uang"
Sepasang suami istri itu seakan tidak
percaya dengan pendengaran sendiri, tapi setelah didesak berulang
kali akhirnya mereka mendapatkan sebuah benda yang nilainya mencapai
ribuan tahil, tidak heran kalau kedua orang itu mengucapkan terima
kasihnya berulang kali.
Pek Seng-bu segera berbisik sambil tertawa:
"Ternyata si bintang pembawa bencana memang
tidak malu disebut seorang perampok budiman!"
Mendadak Hong Pak-ban bangkit berdiri sambil
berkata:
"Aku tidak usah meraba lagi, sisanya yang
dua puluh empat macam barang kubeli semua!"
"Serahkan dulu uangnya!"
Hong Pek-ban mengeluarkan selembar uang
kertas dan diserahkan kepada Phoa Seng-hong, katanya:
"Uang kertasku bernilai dua belas ribu lima
ratus tahil, berarti uang kembalinya lima ratus tahil"
Perlahan-lahan Phoa Seng-hong menerima uang
kertas itu dan berjalan ke tengah lapangan.
Suasana dalam ruangan pun mulai dicekam
ketegangan yang luar biasa, sebab nyaris semua umat persilatan tahu
kalau si Phoa-an kemala Phoa Seng-hong adalah musuh bebuyutan Hay
Tay-sau.
Terdengar, si bintang pembawa bencana Hay
Tay-sau tertawa seram, jengeknya:
"Hey manusia she-Phoa, cepat menggelinding
pergi, aku sedang berdagang dengan majikanmu, aku tak sudi menerima
duit yang dihantar seorang budak!"
Seketika itu juga Phoa Seng-hong
menghentikan langkahnya, paras mukanya berubah jadi pucat pias.
Kembali Hay Tay-sau tertawa seram.
"Hahahaha....kenapa? memangnya aku salah
menyebutmu seorang budak?" ejeknya.
Phoa Seng-hong menarik kembali tangannya,
kini jari tangannya sudah menyentuh gagang pedang.
Sepasang kepalan Hay Tay-sau pun sudah
digenggam kencang, diantara ruas-ruas jari tangannya terlihat otot
yang menonjol keluar.
Empat mata saling melotot dengan sinar
kebencian dan kegusaran, tampaknya pertarungan tidak terelakkan.
Mendadak Li Lok-yang mendeham perlahan, dia
menghampiri Phoa Seng-hong, mengambil uang kertas itu lalu ditukar
dengan kantung milik Hay Tay-sau, ujarnya kemudian:
"Nah, transaksi sudah selesai bukan?"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Phoa
Seng-hong menyerahkan kantung goni itu ke tangan Hong Pak-ban, dia
tidak mengucapkan sepatah katapun namun dari balik matanya sudah
memancar keluar sinar pembunuhan yang menggidikkan.
Hay Tay-sau tertawa dingin berulang kali,
dia memilih berapa lembar uang kertas dan diserahkan kepada
kasir keluarga Li, kemudian umpatnya lagi:
"Dasar budak bertulang lunak!"
Sambil berjalan dia mengumpat tiada
hentinya, sewaktu tiba didepan Hong Pak-ban tiba-tiba dia berhenti,
katanya sambil tertawa tergelak:
"Padahal semua barang barang itu tidak ada
harganya, justru budakmu itu memiliki sebuah topi hijau yang tidak
ternilai harganya untuk dijual kepadamu!"
"Topi hijau apa?" Hong Pak-ban tertegun,
tiba-tiba dia teringat arti yang sebenarnya dari perkataan itu,
kontan saja paras mukanya berubah jadi merah padam, dengan gusar dia
menggebrak meja sambil mencaci maki.
Tapi Hay Tay-sau sudah pergi jauh, sambil
mengulapkan tangannya ia mulai bersenandung:
"Lima telaga empat samudra aku kunjungi,
emas perak dikolong langit kuambil, melihat ketidak adilan di dunia
ini, ku babat kubacok biar habis"
Suara umpatan Hong Pak-ban makin lama
semakin lirih, sedangkan Phoa Seng-hong hanya berdiri membungkam
tidak berani banyak berkutik.
Suasana didalam ruangan pun dicekam dalam
keheningan yang luar biasa, tapi sejenak kemudian suasana sudah
pulih kembali seperti sedia kala, transaksi jual beli pun kembali
berlangsung.
Hingga menjelang malam hari, banyak meja
yang masih tetap dalam keadaan kosong.
Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu diam diam
berpikir:
"Meja nomor empat tetap dalam keadaan
kosong......"
Kedua orang itu segera saling bertukar
pandangan sekejap, sementara dalam hati kecil merasa girang.
"Masih ingat apa langkah kita selanjutnya?"
"Mula-mula bikin keonaran dulu disini agar
orang lain tidak sempat memperhatikan halaman belakang, lalu
menyulut api di istal kuda agar pegawai keluarga Li repot memadamkan
api, setelah itu kita baru turun tangan"
Berbicara sampai disini kembali dia menghela
napas panjang, tambahnya:
"Kelihatannya semua ini bisa dilakukan
dengan mudah, tapi masalahnya sekarang bagaimana cara kita
menciptakan keributan disini?"
"Kita memang kekurangan tenaga, sementara
Phoa Seng-hong kurang bernyali, kalau tidak keributan pasti sudah
terjadi sejak tadi"
Sementara pembicaraan masih berlangsung,
tiba-tiba terlihat seorang nenek berpakaian lusuh dengan menggandeng
seorang pemuda pincang berusia tiga, empat belas tahunan berjalan
masuk ke dalam ruangan.
Ditangan si nenek memegang sebuah kantung
goni yang usang, walaupun pakaian yang dikenakan ada tambalannya,
namun lagak serta gerak geriknya bagaikan seorang nyonya bangsawan.
Sorot mata semua orang pun segera dialihkan
ke wajah mereka berdua.
Perlahan-lahan nenek itu berjalan menuju ke
meja nomor sembilan, sepanjang perjalanan ia sama sekali tidak
menengok kemana-mana, tapi ketika tiba ditengah ruangan, tiba-tiba
karung goninya terlepas hingga mutiara miliknya tersebar ke mana
mana.
Mutiara sebesar lengkeng tersebar memenuhi
permukaan lantai dan menggelinding entah kemana, sekilas pandang pun
tidak diketahui ada berapa banyak mutiara yang hilang.
"Mutiaraku.." nyonya tua itu menjerit
lengking.
Dengan satu lompatan Li Kiam-pek segera
tampil ke tengah ruangan, teriaknya sambil mengangkat tinggi
tangannya:
"Tamu sekalian yang terhormat, tolong jangan
bergerak dulu, biar aku bantu nyonya tua ini memunguti semua
mutiaranya yang terjatuh"
Sebagaimana diketahui, mutiara-mutiara itu
besarnya seperti buah kelengkeng, setiap butirnya bernilai sangat
tinggi, bila sampai hilang satu saja maka siapa pun tidak akan sudi
menanggung dosa.
Maka seluruh hadirinpun berdiri termangu
ditempat, siapa pun tidak ingin sembarangan bergerak.
Hek Seng-thian saling bertukar pandangan
sekejap dengan Pek Seng-bu, diam-diam mereka bangkit berdiri dan
menyelinap keluar gedung melalui pintu samping, setelah itu mereka
berdua baru mendongakkan kepala sambil menghembuskan napas lega.
"Thian benar benar telah membantu kita" ujar
Pek Seng-bu, "Urusan tidak bisa ditunda lagi, ayoh kita segera
berangkat"
"Betul, kita harus segera berangkat!"
Sambil berbicara mereka berdua menelusuri
jalan samping yang sepi dan gelap, kemudian setibanya ditempat yang
sepi, mereka berdua segera melejit ke atas wuwungan rumah.
“Kau lepaskan api, biar aku yang berjaga
diri" bisik Pek Seng-bu kemudian.
Mereka berdua pun saling berpisah, satu
kekiri dan yang lain ke kanan.
Dibalik gedung pada halaman ke empat, cahaya
lentera masih menyinari seluruh ruangan, dari balik
jendela terlihat ada dua sosok bayangan manusia berdiri berdekatan.
Mereka sedang berpelukan didepan jendela
dengan mesrahnya, seakan siapa pun tidak ingin banyak bicara.
Lewat berapa saat kemudian bayangan lelaki
itu baru bangkit berdiri dan membuka daun jendela, sinar rembulan
yang memancarkan cahayanya segera menyinari raut mukanya yang
tampan.
Dia memiliki alis mata yang panjang bagai
sebilah pedang, sinar matanya sangat tajam, hidungnya mancung
membuat wajah tampannya lebih mirip dengan kepolosan seorang
pelajar.
Tapi bila dilihat dari kulit tubuhnya yang
putih serta bibirnya yang sedang mencibir, diapun lebih mirip dengan
kepolosan dan kekerasan hati seorang bocah cilik.
Saat itu dia sedang menengok cahaya rembulan
diluar jendela, dadanya naik turun tidak beraturan, tampaknya sedang
mendongkol.
Kemudian terlihat bayangan perempuan itu
perlahan-lahan bangkit berdiri lalu memalingkan kepalanya.......
Dibawah sinar rembulan, kecantikan wajah
perempuan itu betul-betul gampang membuat perasaan lelaki tergoda.
Sorot matanya seakan mengandung daya pikat
yang sukar ditampik setiap lelaki, dia mengerling sekejap ke arah
pemuda tampan itu kemudian baru bertanya dengan lembut:
"Kau sedang marah?"
Pemuda tampan itu mendengus dingin, ia tidak
menggubris maupun ambil perduli, tapi kemali perempuan cantik itu
merangkul bahunya dengan tangannya yang lembut, sementara
bibirnya ditempelkan ke sisi telinganya dan membisikkan sesuatu.
"Tolonglah, jangan marah kepadaku, mau
bukan?"
Pemuda tampan itu menghela napas panjang.
"Aku bukannya marah tapi sedikit tidak habis mengerti, kenapa kau
bersikeras ingin datang kemari?" tanyanya.
"Kenapa pula kau tidak ingin kemari?"
perempuan cantik itu balik bertanya sambil menundukkan kepalanya.
Sambil menggigit bibir tiba-tiba pemuda
tampan itu balas menggenggam bahunya.
"Katakan kepadaku" ujarnya, "bukankah kau
mempunyai banyak masalah? Bukankah kau sedang menghadapi tekanan
yang amat besar, tekanan yang jahat? Bukankah kau sedang minta aku
menolongmu? Membantumu....."
"Kau keberatan?" tanya perempuan itu sedih.
"Siapa bilang aku keberatan" pemuda tampan
itu menghela napas panjang, "jangan lagi kau pernah menyelamatkan
jiwaku, sekalipun ........sekalipun kau suruh aku terjun ke dalam
lautan api pun aku tetap rela melakukannnya, apalagi demi cinta kita
berdua....."
"Oooh, Kau baik sekali kepadaku, aku
tahu........" sambil mengerdipkan matanya yang basah oleh air mata,
perempuan cantik itu menyandarkan diri dalam pelukannya.
Pemuda itu pejamkan matanya sambil berkata
dengan sedih:
"Kalau aku tidak baik kepadamu, tidak
mungkin aku bersedia membawamu keluar dan akan menghantarmu
kembali......."
Mendadak ia mendorong tubuhnya dan berkata
lagi dengan lantang:
"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, aku
adalah seorang anggota perguruan yang berdosa, membawamu pulang akan
memikul banyak mara bahaya dan resiko, bahkan besar kemungkinan aku
akan mendapat hukuman yang sangat berat dari perguruan"
Perempuan cantik itu mulai sesenggukan,
dengan air mata bercucuran katanya:
"Aku memang seorang gadis yang malang, kalau
aku tidak menggantungkan diri denganmu, lalu aku mesti hidup
bergantung pada siapa?"
Lambat laun hawa amarah pemuda itu mulai
mereda, hiburnya dengan suara lembut:
"Tentu saja aku akan melindungimu,
bagaimanapun aku tetap akan membawamu pulang, tapi kenapa kau ingin
datang kemari? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah saja?"
"Barang berharga, tahukah kau setiap wanita
pasti tidak kuasa menahan godaan intan permata dan perhiasan indah,
selamanya mereka tidak akan mampu melawan godaan itu, sudah lama aku
ingin datang kemari"
"Tapi......tahukah kau ada berapa banyak
orang dalam dunia persilatan yang merupakan musuh besarku?"
"Kenapa kau tidak menyamar, tidak mengubah
wajahmu?"
Pemuda tampan itu segera berkerut kening,
serunya gusar:
"Wajah dan tubuh kita adalah pemberian dari
orang tua, setelah bersusah payah orang tua melahirkan kita, kenapa
wajah kita mesti disembunyikan? Kenapa kita harus menyaru?"
"Siau-in, jangan marah" sekali lagi
perempuan cantik itu menjatuhkan diri ke dalam pelukannya, "Kita
segera pergi dari sini, setuju? Jangan kuatir, tidak bakal ada orang
bisa mencelakai dirimu"
Perlahan lahan dia menggerakkan tangannya
keatas daun jendela dan menutupnya, tapi sewaktu telapak tangan itu
melintas diatas jendela, sebuah cap jari tangan telah membekas
disana.
Kelihatannya jari tangan itu sudah dibubuhi
bubuk sulfur sehingga dipandang dalam kegelapan memancarkan sinar
yang gemerlapan, seperti sebuah telapak iblis yang meninggalkan
tanda jejaknya ditepi neraka.
Tempat itu memang tepi dari sebuah neraka,
sebab didalam kamar itu memang sedang berlangsung sebuah intrik,
sebuah rencana keji dari neraka.
Perempuan cantik itu jauh lebih menakutkan,
lebih berbahaya dan mengerikan daripada iblis benaran.
Dia tidak lain adalah Un Tay-tay, kekasih
gelap dari Suto Siau, pemilik peternakan Lok jit san ceng.
Dengan mengandalkan kecantikan wajahnya,
dengan kekejian serta kelicikan otaknya, dengan kelembutan serta
kemesrahan dari rayuan mautnya, dia telah merangkai sebuah jebakan,
sebuah perangkap yang sangat mengerikan, menanti sang pemuda Im Ceng
masuk perangkap.
Dia telah mengarang sebuah cerita,
mengatakan kalau dirinya adalah seorang perempuan yang patut
dikasihani, seorang perempuan sebatang kara yang hidup dalam
ketakutan, dia memohon kepada Im Ceng untuk membawanya kabur, kepada
pemuda itu mohonnya:
"Bawalah aku pergi, ajaklah aku melarikan
diri, biarpun harus ke ujung dunia aku tetap akan mengikutimu,
mendampingimu hingga mati, aku ingin meninggalkan dunia yang penuh
kebusukan dan kekejian, aku hanya menginginkan kau seorang"
Im Ceng yang sensitip perasaannya, keras
kepala, polos tapi penuh dengan kehangatan dengan mudah terjerumus
ke dalam lingkar perangkapnya, dia bersumpah akan selalu
melindunginya, bahkan berjanji akan membawanya pulang ke rumah.
Dia akan mengajak perempuan itu kembali ke
markas besar Perguruan Tay ki bun, agar perempuan tersebut
memperoleh perlindungan secara sempurna, karena itu dia ingin
mengajaknya berkelana dalam dunia persilatan selama tiga tahun
sebelum membawanya pulang dan hidup mendampinginya sepanjang masa.
Apa yang direncanakan Im Ceng, justru
merupakan harapan terbesar dari Un Tay-tay.
Dia segera melaporkan kesemuanya itu kepada
Suto Siau, dari pihak Suto Siau dia pun memperoleh sejumlah uang
dalam nilai yang amat besar sebagai bekalnya ketika "melarikan diri"
bersama Im Ceng.
Sepanjang perjalanan perempuan itu
meninggalkan kode rahasia nya agar Suto Siau dapat menguntitnya
secara diam-diam, tentu saja mimpipun Im Ceng tidak menyangka kalau
dia sedang mengajak musuh besarnya pulang ke rumah.
Kini daun jendela telah diturunkan, sinar
lentera pun bertambah redup, dari atas wuwungan rumah diseberang
sana muncul sesosok bayangan manusia, dia adalah Pek Seng-bu.
Dibalik kegelapan malam sekulum senyuman
licik dan rasa bangga tersungging diujung bibirnya, gumamnya:
"Bangsat cilik, akan kulihat kali ini kau
hendak kabur ke mana lagi?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, dari
belakang wuwungan rumah sana sudah nampak cahaya api berkobar dengan
hebatnya.
Menyusul kemudian terdengar suara teriakan
dan jeritan minta tolong diikuti suara langkah kaki yang sangat
ramai.
Pek Seng-bu yang mendekam diatas wuwung-an
rumah segera mendengar datangnya desingan angin lembut, diikuti
munculnya Hek Seng-thian.
"Apakah dia ada disini?"
"Aku telah melihatnya dengan jelas, tidak
mungkin salah"
"Apakah nampak sesuatu gerakan?"
"Tidak nyana anak murid Perguruan Tay ki bun
pun bisa terpikat dengan seorang wanita siluman, saat ini mungkin
mereka sedang....... hmmm...hnmmm"
"Eeei, coba lihat, apa itu?" tiba tiba Hek
Seng-thian berseru keheranan.
Mengikuti arah yang dituding Pek Seng-bu
segera menyaksikan sebuah bekas telapak jari tangan yang lamat-lamat
memantulkan cahaya hijau.
"Sejak tadi siaute memang sedang keheranan,
tidak jelas apa yang sedang dilakukan perempuan itu, tapi menurut
pendapat siaute, tampaknya asal usul perempuan itu tidak lurus,
hanya sayang tidak berhasil kuselidiki siapakah dia sebenarnya"
"Perduli dia berasal dari mana dari siapakah
dia, sekarang sudah saatnya untuk turun tangan!"
Api kebakaran di halaman belakang tampaknya
semakin berkobar membesar, tapi suara kekalutan telah mereda, jelas
seluruh anggota keluarga Li sudah mendapatkan pendidikan yang ketat.
Setelah termenung berapa saat akhirnya Hek
Seng-thian mulai menggeser tubuhnya diatas atap rumah, tampaknya dia
siap melontar kan sesuatu ke dalam kamar.
Mendadak Pek Seng-bu menghalangi perbuatan
saudaranya:
"Sekarang situasi telah berkembang jadi
begini, lebih baik kita langsung menerjang masuk ke dalam, bikin
mereka kelabakan"
"Baik!"
Mereka berdua segera bersama-sama melompat
turun dari atas genteng, karena sudah cukup lama bekerja sama, kedua
orang itu seakan sudah ada kesepakatan yang tidak tertulis dalam
setiap tindakan, begitu memberi tanda, mereka langsung menerjang
masuk ke dalam kamar melalui jendela sebelah depan dan belakang.
Siapa tahu baru saja tubuh mereka berdua
menyentuh tanah, tiba-tiba setitik cahaya bintang dengan kecepatan
luar biasa dan sama sekali tidak menimbulkan suara telah mengancam
bahu Hek Seng-thian.
Waktu itu Hek Seng-thian sedang pusatkan
seluruh perhatiannya ke belakang kamar, dia tidak menyadari
datangnya ancaman itu.
Melihat datangnya ancaman, buru-buru Pek
Seng-bu melayangkan sebuah tendangan langsung diarahkan ke rambut
rekannya.
"Hey, kau sudah edan?" umpat Hek Seng-thian
gusar.
Buru-buru dia mengegos ke samping, karena
harus menghindari tendangan itu, secara bersamaan diapun sudah
lolos dari ancaman cahaya tajam itu.
Terdengar desingan angin tajam bergema,
tahu-tahu senjata rahasia itu sudah melintas lewat persis disisi
telinganya.
Pek Seng-bu segera menuding ke arah mana
berasalnya senjata rahasia itu, sambil memutar badan, dengan gerakan
liong heng it ka (gerakan naga satu rumah) dia meluncur ke
arah yang dituding dengan kecepatan tinggi.
Sekarangpun Hek Seng-thian sudah tahu apa
yang terjadi, dia segera mengikuti di belakangnya, terlihat bayangan
manusia kembali berkelebat disisi wuwungan rumah, lagi-lagi setitik
cahaya bintang meluncur tiba.
Buru-buru kedua orang itu mengegos ke
samping lalu bersama sama melompat naik ke atas wuwungan rumah,
diam-diam mereka terkesiap dibuatnya, tidak jelas siapa yang
berulang kali membokong mereka.
"Jangan-jangan ada orang yang melindungi
mereka berdua?" pikir Pek Seng-bu dihati, "atau ditempat lain masih
terdapat anggota Perguruan Tay ki bun? Atau gerak gerik kami berdua
sudah ketahuan Li Lok-yang?"
Sementara Hek Seng-thian pun sedang
berpikir:
"Jangan-jangan orang yang ada dalam kamar
sudah mengetahui kehadiran kami berdua, maka sengaja berlagak pergi
tidur, padahal diam-diam memutar arah dan melancarkan serangan
bokong-an?"
Ke dua orang itu tidak ada yang berani
berkutik, mereka tidak ingin mengganggu ketenangan orang lain,
khususnya orang-orang dari keluarga Li, karena itu tanpa bersuara
mereka merangkak maju ke depan.
Tampak sesosok bayangan manusia
menggelinding diatas atap rumah dan bergeser menuju ke hadapan Hek
Seng-thian.
Waktu itu Hek Seng-thian telah menghimpun
hawa murninya dalam telapak tangan, sambil mendengus dia lancarkan
bacokan.
Pek Seng-bu juga tidak tinggal diam, dia
merangsek kedepan sambil menendang punggung orang itu.
Kedua orang ini menyerang dari depan dan
belakang dengan menggunakan tenaga sebesar delapan puluh persen,
arah maupun sasaran yang ditujupun merupakan bagian tubuh yang
mematikan, jelas ke dua orang ini memang berniat menghabisi nyawa
orang itu.
Biarpun dikerubuti dari depan dan belakang,
orang itu sama sekali tidak nampak panik, dengan menggeserkan
tubuhnya tahu-tahu dia sudah menerobos lewat dibawah ancaman kedua
orang itu.
"Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini!"
diam-diam Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu terkesiap.
Tanpa bicara mereka berdua membuntuti di
belakangnya, lagi-lagi tiga jurus serangan dilancarkan.
Mendadak terdengar bayangan manusia itu
tertawa ringan, tegurnya:
"Hey, apakah kalian berdua benar-benar ingin
membunuhku?"
Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu tertegun,
cepat mereka tarik kembali serangannya sambil mundur setengah
langkah.
Dibawah sinar rembulan, terlihat orang itu
berbaring diatas atap rumah sambil mengganjal kepalanya dengan kedua
belah tangan, senyuman lebar menghiasi wajahnya, ternyata dia tidak
lain adalah Suto Siau, pemilik peternakan Lok jit sanceng.
Hek Seng-thian maupun Pek Seng-bu tertegun,
lama kemudian Hek Seng-thian baru menegur:
"Suto Siau, kenapa kaupun bisa berada
disini?"
"Begitu tahu kalian berdua sudah datang,
tentu saja siaute segera menyusul kemari"
"Tajam benar pendengaran Suto-heng!"
Meskipun wajahnya tampil dengan senyuman
paksa, dalam hati kecilnya dia merasa gelisah bagai minyak mendidih,
pikirnya:
"Jangan-jangan rahasia kami mendapat harta
karun diketahui juga oleh siluman setan ini?"
Perlu diketahui, sekalipun dia mendapat
julukan seorang jago yang pintar, banyak akal dan licik, namun jika
dibandingkan kemampuan Suto Siau, ia sadar kalau kemampuan dirinya
masih ketinggalan jauh.
Sementara itu Suto Siau telah berkata lagi
sambil tersenyum:
"Sekalipun persoalan yang kuketahui tidak
terlalu banyak, sayang apa yang kalian berdua ketahui justru jauh
lebih sedikit"
Tanpa sadar kedua orang itu saling bertukar
pandangan sekejap, tiba-tiba Pek Seng-bu berkata sambil menarik
muka:
"Apa yang kami ketahui memang amat minim,
itulah sebabnya ada satu persoalan yang ingin ditanyakan kepada
saudara Suto"
"Aaah, terhadap sesama saudara tidak perlu
berlagak sungkan"
"Dalam kamar itu terdapat anak murid
Perguruan Tay ki bun sementara kami berdua-pun sedang bersiap
menghajarnya, kenapa saudara Suto malah menghalangi dengan
melancarkan serangan bokongan? Untung nyawaku masih dilindungi
Thian, kalau tidak, bukankah sudah tewas ditangan saudara Suto
sedari tadi?"
Suto Siau segera menukas:
"Pokoknya siapapun yang akan mengusik
bajingan she-Im itu hari ini, siaute dengan taruhan nyawa tetap akan
menghalanginya"
"Apa maksud perkataanmu?" berubah paras muka
Hek Seng-thian.
Pek Seng-bu pun menambahkan sambil tertawa
dingin:
"Apakah saudara Suto telah bergabung dengan
pihak Perguruan Tay ki bun?"
Kembali Suto Siau tersenyum.
"Tahukah kalian berdua, siapakah perempuan
yang sedang menemani bocah she-Im itu didalam kamarnya?"
"Perduli amat siapakah dia, aku........"
"Perempuan itu adalah gundik kesayanganku"
tukas Suto Siau lagi.
Kembali Hek Seng-thian dan Pek Seng-bu
berdiri tertegun.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pek
Seng-bu, "saudara Suto, kau harus memberi penjelasan"
Kini dia sudah berbaring disamping Suto
Siau, menghimpin lawannya dari kiri dan kanan.
"Apakah kalian tidak melihat bekas jari
tangan berwarna hijau itu?" kata Suto Siau, "Siaute bisa sampai
disini karena membuntuti kode rahasia itu, sekarang kalian berdua
sudah mengerti bukan?"
Diam-diam Hek Seng-thian berdua merasa lega,
pikirnya:
"Ternyata dia mempunyai rencana lain, sama
sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rahasia kami berdua"
Berpikir sampai disitu, sekulum senyuman
kembali menghiasi wajah Hek Seng-thian.
"Gerak-gerik saudara Suto sangat rahasia dan
mencurigakan, darimana siaute berdua bisa mengetahui rencanamu?"
katanya.
"Ceritanya panjang sekali, tempat ini tidak
cocok untuk berbicara, bagaimana kalau kujelaskan setibanya di kamar
kalian berdua?"
"Kamar kami ada di halaman nomor tiga belas"
"Kalau begitu ayoh kita berangkat"
Menanti bayangan tubuh ke tiga orang itu
sudah lenyap dari pandangan, dari balik wuwungan rumah kembali
muncul sesosok bayangan manusia.
"Apa yang telah terjadi?" gumamnya.
Dibawah cahaya rembulan tampak bayangan itu
mengenakan baju hitam dengan wajah ditutupi kain kerudung hitam,
ternyata dia tidak lain adalah Thiat Tiong-tong.
Sewaktu mendengar ada seorang murid
Perguruan Tay ki bun muncul ditempat itu, dia sudah menduga delapan
puluh persen orang itu adalah Im Ceng, hanya saja karena pemuda ini,
jadi orang sangat berhati-hati dalam setiap tindakan maka sebelum
menemui rekannya itu terlebih dulu dia awasi gerak gerik Hek
Seng-thian dan Pek Seng-bu.
Menanti dia saksikan kedua orang musuhnya
siap melancarkan serangan dan diapun siap menghalangi, tidak
disangka seseorang yang lain telah bergerak duluan.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang
yang menghalangi Hek Seng-thian berdua ternyata adalah Suto Siau,
terlebih tidak mengira kalau perempuan cantik yang datang bersama Im
Ceng ternyata adalah gundik kesayangan Suto Siau.
Dengan kecerdasan otaknya tidak sulit
bagi-nya untuk menduga apa gerangan yang telah terjadi.
Tidak kuasa lagi peluh dingin membasahi
seluruh tubuhnya, pemuda itu berpikir:
"Jika sam-te benar-benar mengajak perempuan
itu pulang ke rumah, jelas dia telah melakukan satu pelanggaran yang
menakutkan"
Thiat Tiong-tong sendiripun cukup memahami
tabiat dari Im Ceng, ketika pemuda itu telah mengambil keputusan
untuk melakukan sesuatu, maka jangan harap ada orang yang bisa
menghalanginya.
Ketika bayangan manusia masih muncul dibalik
jendela tadi, Thiat Tiong-tong pun dapat melihat dengan jelas
gerak-gerik mereka berdua yang nampak begitu mesrah, kenyataan ini
membuat pikirannya bertambah kuatir.
Dia sadar, bila berharap Im Ceng mau sadar
dari perbuatannya, dia harus berhasil mengumpulkan bukti yang cukup
untuk mengungkap intrik yang sedang dilakukan perempuan itu serta
membongkar identitas sebenarnya dari dirinya.
Dia pun sadar, perempuan itu pasti seorang
musuh tangguh yang pernah dijumpai selama ini, perempuan cantik yang
genit, licik lagi pintar, perempuan yang tidak gampang dihadapi.
Apalagi dibelakangnya terdapat kekuatan yang
begitu besar menunjang segala perbuatannya, dia merasa tidak yakin
bisa menangkan pertarungan adu akal semacam ini.
Untuk bisa menangkan semua pertempuran, dia
harus berhasil menangkap titik kelemahannya, tapi apa yang menjadi
titik kelemahannya?
........Daya tarik barang permata merupakan
godaan yang paling susah dilawan oleh perempuan manapun.
Tiba-tiba dia terbayang kembali dengan
perkataan yang pernah diucapkan wanita itu, tidak kuasa lagi sekulum
senyuman menghiasi bibirnya.
Cahaya lampu mulai menerangi seluruh sudut
ruangan, saat pasaran bebas kembali di mulai.
Gedung utama keluarga Li nampak jauh lebih
ramai ketimbang tiga hari sebelumnya, setiap sudut tempat hampir
dipenuhi oleh gelak tertawa, suara pembicaraan, asap tembakau yang
pedas serta bau parfum yang harum semerbak.
Transaksi, jual beli, adu akal, adu
kepintaran pun berlangsung dalam suasana hiruk pikuk.
Ouyang hengte, Ouyang bersaudara yang
merupakan keluarga kaya raya dari wilayah Kanglam hadir jauh lebih
awal dari hari-hari biasa, mereka mengenakan pakaian yang indah
sementara sepasang mata yang liar mengawasi kawanan gadis aneh
dimeja sebelah tanpa berkedip.
Kawanana ratu lebah dari Heng-kang masih
tetap bersikap acuh, sama sekali tidak memandang sekejappun ke arah
mereka, semakin mereka tidak acuh kawanan kongcu itu semakin getol
menarik perhatian.
Hong Pak-ban yang ada di meja nomor dua
berkilatan sepasang matanya, bagaikan seekor anjing pemburu, dia
awasi terus sekeliling pasar dengan seksama, tampaknya transaksi
yang berlangsung kemarin telah mendatangkan laba cukup banyak
baginya.
Phoa-an kemala Phoa Seng-hong dengan tenang
berdiri di belakang majikannya, sementara seorang wanita cantik yang
duduk dibelakangnya berulang kali mencuri-curi untuk meraba telapak
tangannya.
Im Ceng dan Un Tay-tay pun hadir di arena,
merekapun sempat bertemu dengan Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta
Suto Siau yang berada disudut gedung, namun mereka berlagak
seolah-olah tidak mengenalinya.
Melihat itu Im Ceng membatin: "Ooh, ternyata
mereka sudah tidak teringat lagi siapa aku"
Mendadak terdengar gelak tertawa bergema
memenuhi angkasa, seseorang berseru dengan nyaring:
"Aku datang lagi!"
Hay Tay-sau dengan bertelanjang dada dan
membawa sebuah karung goni berjalan masuk ke dalam ruangan,
transaksi yang sedang berlangsung pun berhenti seketika, dengan
keheranan semua orang mengawasi tokoh aneh itu.
"Blaaam!" dia letakkan karung goninya keatas
meja, lalu serunya sambil tertawa tergelak:
"Hari ini aku akan lebih repot, siapa yang
menginginkan barangku, cepat ajukan penawaran"
Belum sempat orang lain berbicara, Hong
Pak-ban sudah bangkit berdiri seraya berseru:
"Ada berapa banyak barang yang kau bawa?
Lohu akan memborong semuanya"
Hay Tay-sau berlagak berpikir sejenak
kemudian baru menjawab:
"Tetap tiga puluh macam, tapi
harganya......."
Buru buru Hong Pak-ban goyangkan tangan-nya
berulang kali, tukasnya sambil tertawa:
"Kalau mau dagang mesti adil, kalau kemarin
berharga lima ratus tahil, hari inipun harus sama harganya"
"Harus sama?" Hay Tay-sau garuk garuk
kepalanya.
"Tentu saja" dia mengeluarkan selembar uang
kertas dan melanjutkan, "disini ada uang senilai lima belas ribu
tahil, persis untuk memborong semua barangmu"
Buru-buru dia letakkan uang kertas itu
diatas meja kemudian buru-buru mengambil karung goni itu dan dibawa
balik, kelihatannya dia kuatir kalau Hay Tay-sau tiba-tiba menyesal
dan membatalkan transaksi itu.
Tanpa berpaling lagi Hong Pak-ban berseru:
"Transaksi sudah selesai, tidak usah banyak bicara lagi!"
Mendadak Hay Tay-sau mendongakkan kepalanya
dan tertawa tergelak, serunya:
"Padahal barang yang ada dalam karung ku itu
hanya laku dijual dua tahil perak, jika kau ngotot ingin membelinya
dengan harga lima ratus tahil, yaa.. apa boleh buat"
Semua orang merasa terkejut bercampur geli,
Hong Pak-ban yang terkenal sangat pelit, ternyata kali ini
benar-benar dipedundangi orang.
Pucat pias selembar wajah Hong Pak-ban,
buru-buru dia tuang isi karung itu diatas meja, benar saja, benda
yang ada disitu hanya barang rongsok yang tidak ada nilainya.
Dalam terkejut bercampur gusarnya dia
berteriak keras:
"Bangsat! Kau berani menipuku?"
"Siapa yang menipumu?" balik Hay Tay-sau
dengan wajah berubah, "bukankah kau yang ngotot ingin memborongnya,
kalau kau berani menyebut kata menipu lagi, segera akan kupenggal
batok kepalamu"
"Bruuuk!" Hong Pak-ban jatuh terduduk diatas
bangkunya, sementara Hay Tay-sau sama sekali tidak memandang
kearahnya lagi, dia serahkan uang kertas itu ke tangan Li Lok-yang
sambil ujarnya:
"Li toako, tolong bagikan uang ini kepada
fakir miskin, aku akan pergi duluan!"
Diiringi gelak tertawa yang nyaring, dia
beranjak pergi dari ruangan dengan langkah lebar.
Diam-diam semua orang bersorak memuji,
khususnya Im Ceng, dia merasa amat kagum dengan orang itu.
Tiba-tiba Hong Pak-ban berpaling ke arah
Phoa Seng-hong, hardiknya:
"Cepat kejar, cepat kejar dia!"
"Apanya yang dikejar?" Phoa Seng-hong balik
bertanya dengan wajah gelap, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
Hong Pak-ban semakin murka, sambil melompat
bangun dia tuding wajah lelaki itu dan umpatnya:
"Lohu telah mengeluarkan uang banyak untuk
mengundangmu, memangnya aku suruh kau makan tidur melulu?"
Sekilas senyuman licik melintas diatas wajah
Phoa Seng-hong, jengeknya:
"Kau toh dengan rela hati membeli barang
itu, kalau sampai tertipu salahkan diri sendiri, masa marah dengan
orang lain?"
"Kurangajar, kau ingin
memberontak.....kau......"
"Tutup mulut!" bentak Phoa Seng-hong sambil
tertawa dingin, "toaya mu sudah tidak mau bekerja lagi, ini uangmu,
aku kembalikan semua, mulai sekarang mau dibunuh mau dirampok, tidak
ada urusannya lagi dengan aku"
"Bagus, kau.... kau... aku.... aku....."
paras muka Phoa Seng-hong berubah hebat.
"Apa kau, kau? Pergilah mampus!" seru Phoa
Seng-hong sambil tertawa dingin, ia segera berlalu dari situ.
Air muka dua orang wanita cantik yang ada
disisi Hong Pek-ban ikut berubah, tiba-tiba mereka berteriak sambil
mengejar:
"Siau Phoa, Siau Phoa, mau kemana kau?
Jangan pergi......"
Hong Pak-ban semakin naik pitam, ibarat
minyak bertemu api, amarahnya benar-benar memuncak.
"Budak sialan, balik!" umpatnya.
Tapi mereka seolah tidak mendengar teriakan
itu, dalam waktu singkat ke dua orang wanita itu sudah keluar dari
ruang gedung.
Tidak tahan semua orang pun tertawa
kegelian, ketika Hong Pek-ban melihat tiada wajah simpatik disekitar
sana, dengan jengkel dia hentakkan kakinya dan ikut menerjang keluar
dari ruangan.
Siapa tahu baru tiba didepan pintu,
kebetulan seseorang sedang melangkah masuk kedalam, tidak ampun
mereka pun saling bertumbukan.
Kontan Hong Pak-ban mencaci maki kalang
kabut sambil mundur berapa langkah:
"Budak sialan, buta matanya!"
Orang yang kena ditumbuk itu adalah si kakek
aneh, semua orang tahu segera ada pertunjukan menarik yang akan
terjadi.
Terdengar kakek itupun mulai balas memaki:
"Kau sendiri yang budak sialan, kau sendiri
yang buta matanya, macam anjing busuk!"
"Sialah, sudah menumbuk aku masih berani
memaki, mau memberontak!" Hong Pak-ban makin sewot.
Belum selesai dia berkata, wajahnya sudah
ditampar kakek aneh itu berapa kali.
"Bagus.... kau... kau berani memukulku!"
Kakek itu tertawa dingin.
"Hmm, uangmu tidak bisa menangkan uang-ku,
kekuasaanmu pun tidak bisa menangkan kekuasaanku, ada apa? Masih
kurang? ingin ditampar lagi?"
Sambil memegangi pipinya Hong Pak-ban
termangu sesaat, akhir nya dia baru teringat kalau dalam segala hal
dia memang kalah dari orang itu, maka tanpa banyak bicara lagi dia
melarikan diri terbirit birit.
Sekali lagi gelak tertawa bergema memenuhi
angkasa.
Kakek aneh itu dengan punggung bungkuk
kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruangan, yang membuat orang
kecewa adalah ketidak hadiran si gadis cantik itu, sekarang yang
mengintil di belakangnya hanya ke dua orang bocah ajaib.
Transaksi yang berlangsung dalam gedung pun
seketika berkembang jadi lebih bergairah dan hidup sejak kehadiran
kakek aneh itu.
Banyak orang ingin mencari keuntungan dari
kakek aneh yang kaya raya itu, barang berharga yang langka dan luar
biasa indahnya pun segera dikeluarkan dari tempat penyimpanan.
Meskipun kakek itu tua lagi bungkuk, namun
banyak menjadi perhatian perempuan perempuan cantik, namun dia hanya
bersandar diatas pembaringan empuk yang khusus dibawa sendiri sambil
setengah memejamkan matanya.
Sekilas pandang orang mengira dia sedang
beristirahat, padahal tidak seorang manusia pun yang lolos dari
pengamatannya.
Menjelang malam tiba-tiba Gin-siepoa bangkit
berdiri sambil membuka sebuah kotak kulit yang berada disisinya,
dari dalam kotak itu dia mengeluarkan seuntai kalung, anting anting
dan perhiasan kepala yang terbuat dari berlian.
Satu set perhiasan berlian itu selain
terdiri dari berlian yang indah, juga dihiasi dengan untaian mutiara
sebesar buah kelengkeng, begitu benda itu dikeluarkan, decak kagum
seketika memenuhi seluruh ruangan.
Sepasang mata Un Tay-tay terbelalak lebar,
cahaya kerakusan memancar keluar dari balik matanya yang indah, ini
pertanda dia akan mengorbankan segala yang dimiliki demi
mendapatkan barang perhiasan itu.
Lelang pun dimulai, harga dibuka dari
sepuluh ribu tahil perak, ketika tawaran mencapai lima belas ribu
tahil perak, yang tersisa hanya tinggal Un Tay-tay, Kim Ji-kongcu
serta Ouyang Hengte.
Akhirnya Un Tay-tay dengan tawaran enam
belas ribu tahil perak berhasil mengalahkan mereka semua, senyum
kepuasan dan rasa bangga pun segera tersungging di ujung bibirnya.
Belum selesai dia bergembira mendadak kakek
itu mendeham sambil berseru:
"Dua puluh ribu tahil!"
Un Tay-tay tertegun, dia seperti tercengang,
seperti juga gusar, segera teriaknya lagi:
"Dua puluh empat ribu tahil!"
Dia sudah meneriakkan seluruh harta
kekayaan yang mampu dikeluarkan olehnya saat ini.
Sekulum senyuman aneh kembali tersungging
diujung bibirnya, perlahan-lahan dia memperlihatkan ke limajari
tangannya.
"Apakah anda menawar dengan harga lima puluh
ribu tahil perak?" tanya siepoa perak sambil tersenyum.
Jawaban yang dibutuhkan merupakan kepastian.
"Bertransaksi ditempat ini, begitu harga
disepakati maka kau mesti membayar secara kontan!" kembali siepoa
perak menambahkan.
Dengan perlahan kakek aneh itu memberi kode
kepada bocah yang ada disisinya, tidak lama bocah itu sudah
mengeluarkan setumpuk uang kertas.
Gien siepoa memandang sekeliling ruangan
sekejap, decak kagum, seruan kaget kembali bergema
diseluruh tempat.
Un Tay-tay duduk termangu dibangkunya dengan
wajah pucat pias, jelas dia merasa sedih, gusar bercampur kecewa.
Biasanya, jika dia sudah berminat dengan
suatu benda maka dengan menghalalkan secara cara dia akan berusaha
mendapatkannya, bahkan bila perlu menggadaikan nyawa pun akan dia
lakukan.
Tentu saja dalam keadaan dan situasi seperti
ini, mustahil baginya untuk melakukan cara-cara yang biasa dia
gunakan.
Setelah transaksi disetujui, kotak perhiasan
itupun dihantar kan ke hadapan si kakek aneh itu.
Suto Siau yang berada disudut ruangan segera
berbisik sambil tertawa ringan:
"Kali ini Tay-tay ketanggor batunya!"
"Yaa, lima puluh ribu tahil perak hanya
untuk membeli sekotak perhiasan, kecuali kakek aneh itu siapa lagi
yang berani melakukan?" sambung Hek Seng-thian.
Dalam pada itu Im Ceng sudah bangkit dari
tempat duduknya sambil berkata lembut: "Tay-tay, mari kita pergi!"
Un Tay-tay tidak menjawab, dia masih
mengawasi kotak perhiasan yang berada disisi kakek aneh itu dengan
termangu.
Im Ceng kembali menghela napas panjang,
sembari membungkukkan tubuhnya dia berbisik:
"Apakah perhiasan itu begitu penting artinya
bagimu?"
"Aku tidak tahu" Un Tay-tay menggeleng, "Aku
hanya tahu betapa sedih hatiku jika gagal mendapatkan benda yang
ingin kudapatkan"
Im Ceng tertegun, tanpa sadar dia duduk
kembali ke bangkunya.
Pada saat itulah dari luar pintu gedung
terdengar suara ringkikan kuda yang ramai diikuti enam belas orang
lelaki kekar melompat turun dari kuda kudanya dan masuk ke dalam
gedung.
Begitu berada dalam ruangan, orang-orang itu
segera menggetar kan pergelangan tangannya dan mengibarkan sebuah
panji yang terbuat dari kain sutera.
Dari ke enam belas lembar panji itu, hampir
semuanya bercorak sama, dasar hitam dengan sulaman tulisan berwarna
merah darah: "Bi lek tong!
Kawanan lelaki pembawa panji itu memecahkan
diri menjadi dua regu, masing-masing regu berdiri disisi
undak-undakan hingga mencapai pintu gerbang.
Mereka semua berdiri tegak bagai sebatang
tombak, paras mukanya serius dan sangat amat berat.
Kembali terjadi kehebohan dalam ruangan. "Bi
leik-hwee telah datang!"
Diam-diam Suto Siau pun mengerutkan dahinya
sambil berpikir:
"Mau apa dia datang kemari? Kenapa paras
muka Hek Seng-thian langsung berubah? Jangan-jangan dia sudah
melakukan satu perbuatan yang takut diketahui orang?"
Sementara dia masih berpikir terlihat
seorang kakek berjenggot panjang, bertubuh tinggi kekar, berwajah
merah bercahaya dan mengenakan pakaian indah melangkah masuk ke
dalam ruangan dengan tindakan lebar.
Pakaian yang dikenakan sangat indah dan
mewah, jenggot panjangnya pun terawat sangat rapi, sinar matanya
berkilat penuh dengan kebanggaan.
Buru-buru Li Lok-yang maju menyambut seraya
menyapa:
"Selamat datang hengtay, tidak nyana kau pun
mau ikut meramaikan suasana di tempat ini"
Sambil mengulapkan tangannya dan tertawa
tergelak tukas Bi lek-hwee:
"Diantara saudara sendiri tidak perlu banyak
berbasa-basi"
Kemudian sambil menyapu sekejap ke seluruh
ruangan, tambahnya:
"Kedatangan siaute kali ini adalah untuk
mencari Hek Seng-thian, ada berapa hal perlu kubicarakan dengannya"
Waktu itu Hek Seng-thian, Pek Seng-bu serta
Suto Siau telah bangkit dari tempat duduknya.
Sambil tertawa paksa dan menjura seru Hek
Seng-thian cepat:
"Siaute berada disini, entah urusan apa kau
mencariku?"
"Aku tahu kalau kau berada disitu" seru Bi
lek-hwee dengan suara lantang, "aku mau bertanya, kemana kau sudah
membawa murid pertamaku? Hmm, delapan puluh persen pasti diajak
melakukan hal-hal yang tidak baik!"
Dia benar-benar tidak pandang sebelah mata
terhadap orang lain, teguran itu dilontarkan di hadapan umum.
Sekali lagi paras muka Hek Seng-thian
berubah, sambil berlagak pilon sahutnya:
"Siapa? Maksudmu keponakan Lui? Sejak
berpisah berapa bulan berselang, siaute belum pernah bersua lagi
dengannya"
"Kau sungguh tidak melihatnya?"
"Aah, masa hengtay tidak percaya dengan
perkataan siaute?"
"Sialan, sudah mampus ke mana bocah itu! Hek
lote, jangan marah, jangan marah, anggap saja aku telah salah
menuduhmu tadi"
Tabiat orang tua ini benar benar milik
geledek, datangnya cepat, pergipun sangat cepat.
Thiat Tiong-tong yang duduk sambil setengah
memejamkan matanya segera merasa tergerak hatinya:
"Aah, ternyata Hek Seng-thian telah
berbohong dengan sengaja mengelabuhi mereka, ini peluang bagus
untukku!"
Sebuah rencana segera melintas dalam
benaknya, sikapnya pun semakin santai.
Dengan santainya dia bangkit berdiri lalu
beranjak keluar dari ruangan, sementara dua orang bocah lelaki itu
mengikuti di belakangnya sambil membawa kotak perhiasan itu.
Tiba di belakang halaman yang sepi dan agak
redup cahayanya, Thiat Tiong-tong segera memperlambat langkahnya,
sesosok bayangan manusia tampak melintas lewat, ternyata dia adalah
Gin siepoa.
"Merepotkan kau!" seru Thiat Tiong-tong
sambil tersenyum.
Siepoa perak mengeluarkan selembar uang
kertas lima puluh ribuan dan diserahkan kepada pemudaku, lalu
bisiknya:
"Sebetulnya apa tujuan kau orang tua
melakukan hal ini?"
Thiat Tiong-tong memicingkan matanya sembari
tertawa terkekeh.
"Lohu hanya ingin menggoda nona itu, Cuma,
jangan sekali-kali kau ceritakan kejadian ini kepada orang lain"
Dengan penuh pengertian siepoa perak
manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa:
"Tanpa bersusah payah aku telah menerima
bayaran tiga ribu tahil perak dari kau orang tua, tentu saja aku
akan menjaga rahasia ini baik baik"
Selesai menjura kembali dia ngeloyor pergi
dari situ.
Thiat Tiong-tong tersenyum penuh
kebanggaan, ternyata perhiasan itu memang merupakan barang mestika
miliknya.
Dia tahu manusia macam Gien siepoa yang
pandai berdagang merupakan orang yang bisa diajak kerja sama, maka
dia menyuapnya dan memainkan sandiwara tadi agar Un Tay-tay masuk
perangkap.
Pada saat itulah mendadak dari balik semak
terdengar seseorang menyindir sambil tertawa dingin:
"Orang bilang tua tua keladi makin tua makin
menjadi, ternyata ungkapan ini memang sangat tepat"
"Siapa disitu?"
Meskipun agak terperanjat, dia tidak ingin
membongkar penyaruan sendiri, maka sengaja berlagak terengah-engah
dia menghampiri semak tanaman disisi jalan dengan langkah lebar.
Dibawah cahaya rembulan terlihat ada
sepasang laki perempuan sedang berpelukan dengan mesrahnya,
perempuan itu ternyata tidak lain adalah gundik Hong Pek-ban. Saat
ini dia nampak berbaring dengan napas tersengkal dan pakaian
awut-awutan tidak rapi.
Ketika menyaksikan kemunculan Thiat
Tiong-tong, wajahnya bukan saja tidak tampil rasa malu, malahan
sambil tertawa cabul memperketat rangkulannya pada tengkuk lelaki
itu.
Sementara sang lelaki berwajah putih pucat,
dia tidak lain adalah Phoa Seng-hong.
Sambil memegang dada sendiri seperti orang
kaget, serunya sambil tertawa:
"Hey orang tua, bila kau berhasil menggaet
perempuan genit tadi, tidak ada salahnya untuk menikmati surga dunia
ditempat ini"
"Betul, disini amat menarik" sambung
perempuan itu pula, sambil cekikikan, "Kami bisa melihat orang
lain, tapi orang lain tidak bisa melihat kami, cobalah sendiri, kau
pasti akan merasa senang!"
Dalam hati Thiat Tiong-tong menyumpahi, tapi
diluaran katanya:
"Apa kau bilang? Lohu tidak paham"
"Hahahaha.... cayhe pun orang satu aliran
denganmu, masa kau ingin berbohong didepanku? Menurut pengalamanku
yang berpuluh tahun, perempuan itu memang seekor ikan bagus bahkan
segera akan terkait oleh umpanmu, Cuma...... si bocah berpipi licin
itu nampaknya merupakan jagoan yang berilmu tinggi, orang macam
begitu tidak gampang dihadapi, bila rencanamu sampai
ketahuan......hmmm hmmm.....rasanya sulit untuk menghadapinya!"
Thiat Tiong-tong pun berlagak seolah tebakan
Phoa Seng-hong itu benar, dia membungkam diri dalam seribu bahasa.
Kembali Phoa Seng-hong berkata sambil
tertawa:
"Tapi jika disampingmu terhadap seorang
pengawal semacam aku, dapat dipastikan bajingan muda itu tidak akan
berani berkutik!"
Diam diam Thiat Tiong-tong tertawa dingin,
pikirnya:
"Tidak nyana bajingan ini sedang mengincar
aku"
Tapi diluaran sengaja ujarnya: "Jadi kau
ingin menjadi pengawal pribadiku?"
"Aku sudah kehilangan pekerjaan, tentu saja
harus mencari pekerjaan baru"
Kembali Thiat Tiong-tong berpikir:
"Hmm, kau ingin memperalat aku? Memangnya
aku tidak bisa memperalat dirimu?"
Berpikir begitu segera serunya:
"Kau anggap memang gampang untuk bekerja
denganku?"
"Masa kau tidak menginginkan hal yang sama
sama menguntung kan?" Phoa Seng-hong balik bertanya.
"Kalau ingin menjadi pengawalku, kau mesti
taati semua perintahku"
"Tentu saja"
"Kalau begitu sekarang juga bangkit berdiri
dan ikuti aku"
Tanpa berpikir panjang Phoa Seng-hong
bangkit berdiri, tapi perempuan itu segera menarik pakaiannya sambil
berseru:
"Setelah tertarik dengan orang lain, masa
kau akan tinggalkan aku?"
"Lepaskan!" hardik Phoa Seng-hong dengan
wajah sedingin es.
"Kalau tidak kulepas mau apa kau?"
Perempuan itu masih berlagak manja dengan
memeluk kaki Phoa Seng-hong erat-erat.
Siapa tahu secara tiba-tiba Phoa Seng-hong
melayangkan sebuah tendangan, langsung menginjak jalan darah Ciang
tay hiat didepan dada perempuan itu.
Jalan darah Ciang tay hiat berhubungan
langsung dengan denyut jantung, merupakan salah satu jalan darah
kematian, mana mungkin perempuan itu mampu menahan diri? Tiba-tiba
tubuhnya mengejang, tanpa menimbulkan sedikit suarapun tubuhnya
sudah roboh terkapar.
"Sungguh kejam hati orang ini!" pikir Thiat
Tiong-tong dengan perasaan terkesiap.
Paras muka Phoa Seng-hong sama sekali tidak
berubah, ujarnya lagi sambil tertawa:
"Coba kau lihat cara kerjaku sebagai seorang
pengawal, agar dia tidak membocorkan rahasia-mu, aku tidak segan
untuk membungkam mulut perempuan itu untuk selamanya, bagiku tugas
lebih penting ketimbang cinta!"
Sementara itu ke dua orang bocah ajaib itu
sudah berdiri dengan wajah pucat pias, Thiat Tiong-tong sendiripun
berlagak ketakutan, sengaja bisiknya dengan suara gemetar:
"Kau..... kau berani membunuh orang disini?
Bagaimana kalau sampai ketahuan Li
Lok-yang?"
Phoa Seng-hong tertawa dingin. "Aku
bertindak demi majikanku, bagaimana akhir dari persoalan ini,
semuanya tergantung bagaimana sikap Tuan"
"Lho.... kenapa kau limpahkan semua
kesalahan dan tanggung jawab ini kepada lohu?"
"Jika kau tidak bersedia bertanggung jawab,
terpaksa aku akan menguarkan semua rahasiamu tadi kepada khalayak
ramai"
Dia tahu orang tua tersebut sudah berada
dalam kendalinya, karena itu sikapnya nampak amat bangga.
Thiat Tiong-tong sengaja berkerut kening,
setelah termenung sejenak serunya:
"Kalau begitu.....kalau begitu.........."
Tiba-tiba wajahnya cerah kembali,
sambungnya:
"Mumpung semua orang masih berkumpul dalam
gedung, cepat kau kirim mayat ini ke dalam kamar orang lain!"
"Usul yang bagus!" puji Phoa Seng-hong
sambil tertawa, "Bagaimana pun jahe memang makin tua makin pedas!"
"Orang yang ada dimeja tiga belas sangat
memuakkan, diapun pernah menyalahi lohu, kirim saja mayat ini ke
dalam kamar mereka!"
"Bagus sekali, bagus sekali, Hek Seng-thian
memang sangat menyebalkan!"
Sambil membopong mayat perempuan itu katanya
lagi:
"Aku segera akan balik"
"Kalau begitu akan lohu tunggu dalam
tendaku"
"Baik!"
Dengan sekali lompatan dia sudah melesat ke
atas wuwungan rumah dan lenyap dari pandangan mata.
Sinar bangga memancar keluar dari balik mata
Thiat Tiong-tong, ketika dia berjalan lewat didepan ruangan yang
ditempati Hong Pak-ban, tiba-tiba terlihat ada dua sosok bayangan
manusia sedang bersembunyi dibalik kegelapan.
Satu ingatan segera melintas lewat, ternyata
kedua orang itu adalah si nenek berbaju rombeng serta pemuda pincang
itu.
Semenjak menelan jinsom berusia ribuan
tahun, ketajaman matanya sudah melebihi orang lain, meski berada
dalam kegelapan namun dia dapat melihat lawan dengan sangat jelas.
Dengan cekatan dia segera bersembunyi
dibalik sudut dinding, sementara dua orang bocah itu saling bertukar
pandangan sekejap dan segera berlalu melewati jalanan lain.
Mereka memang sudah mendapat pendidikan
ketat dan tidak pernah mencampuri urusan rahasia majikannya, mereka
pun tidak mau membocorkan rahasia majikannya sekalipun dia adalah
seorang perampok.
Ketika mendengar suara langkah manusia,
kedua orang itu segera berpaling, tapi
mereka kembali berlega hati setelah mengetahui yang muncul hanya dua
orang bocah.
Selang berapa saat kemudian pemuda pincang
itu baru berbisik:
"Suhu, si tua Hong sudah kembali, kenapa
bangsat itu belum juga munculkan diri? Tecu sudah sedikit tidak
sabaran"
"Kenapa mesti gelisah" sahut si nenek sambil
tertawa dingin, "aku yakin dia masih belum kabur dari sini, anggap
saja memang rejeki dia bisa hidup berapa hari lebih lama"
Thiat Tiong-tong bertambah curiga, batinnya:
"Ternyata dua orang nenek dan cucunya ini
adalah guru dan murid, berarti mereka memang sengaja menyamar, tapi
apa tujuannya? Sayang pengetahuanmu tentang jago persilatan amat
cetek hingga tidak bisa mengenali asal usul mereka"
Sementara dia masih berpikir, pemuda pincang
itu sudah melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil
berkata:
"Biar tecu tengok ke depan sana, apakah
bangsat itu masih ada didalam gedung?"
Pemuda itu bukan sama memiliki gerakan tubuh
yang aneh bahkan kecepatan tubuhnya luar biasa, sama sekali tidak
menunjukkan gejala seperti orang cacad.
Nenek berpakaian rombeng itu sama sekali
tidak menghalangi, tampaknya dia merasa sangat yakin dengan
kemampuan silat yang dimiliki pemuda itu.
Thiat Tiong-tong semakin tercengang.
Dia bisa menduga kalau sasaran yang sedang
dicari kedua orang itu adalah Phoa Seng-hong, hanya tidak diketahui
perselisihan apa yang terjalin diantara mereka bertiga.
Disekeliling halaman gedung kedua ini
merupakan tanah be rumpun, cahaya lentera yang menerangi bangunan
itupun tak mencapai tempat tersebut sehingga suasana diseputar sana
terlihat sangat remang-remang.
Mendadak terdengar suara gelak tertawa
kembali bergema memecahkan keheningan.
Terlihat ada tujuh delapan orang gadis
muncul dari balik kegelapan sambil bersendang gurau.
Gerak gerik mereka sangat ringan dan
cekatan, ternyata mereka adalah rombongan ratu lebah.
Setelah berada ditempat yang sepi, merekapun
tidak berlagak alim lagi.
Terdengar seorang gadis bertubuh kecil
ramping berkata sambil menghela napas:
"Orang tua aneh itu jelas kaya raya, sayang
orangnya kelewat tua, kalau tidak.........."
Seorang gadis tinggi semampai segera
menanggapi sambil tertawa:
"Yau su-moay bukan saja suka duit, juga
senang orang tampan, lain bagiku, asal dia berduit, biar tua juga
tidak masalah"
"Siapa suruh kau macam pengumpul barang
rongsok? Aku rasa terhadap si bintang pembawa bencana pun kau punya
selera......"
"Waah, kalau orang itu mah aku tidak berani
mengusiknya" sahut gadis lain sambil menjulurkan lidahnya.
"Kenapa tidak berani mengusiknya? Asal ada
kesempatan, aku tetap akan menggaetnya, akan kulihat seberapa banyak
harta kekayaannya"
Mendadak terdengar suara gelak tertawa
disusul seseorang berseru:
"Hahahaha.... tampaknya aku memang ketimpa
rejeki, siapa yang mau menggaet aku, silahkan kemari"
Gelak tertawa itu nyaring dan lantang, jelas
suara dari si bintang pembawa bencana Hay Tay-sau.
Dengan tangan sebelah membawa buli-buli
arak, pakaian bagian dadanya dibiarkan terbuka, dia berjalan
mendekat dengan langkah lebar.
Kontan saja sekawanan ratu tawon itu heboh,
ada yang menjerit kaget, ada yang menutupi wajahnya, ada pula yang
tertawa ter pingkal-pingkal.
Seorang gadis berwajah bulat segera menuding
kearah nona yang sedang menutupi wajahnya sambil berseru:
"Dia, dia orangnya, dia yang mau menggaetmu"
"Kau ini...." seru si nona itu malu, "kalau
berani bicara lagi....."
Dengan wajah bersemu merah karena malu dia
berusaha mengejar rekannya, tapi dengan satu kali sambaran Hay
Tay-sau telah menangkap tangannya dan memeluknya erat erat.
"Ooh, rupanya kau si budak cilik yang mau
denganku?" seru Hay Tay-sau sambil tertawa tergelak, "mari, coba
kulihat wajahmu"
Sambil berkata dia memegang dagu gadis itu,
dipandangnya berapa kejap kemudian menggesekkan jenggotnya yang
kaku bagai duri diatas wajahnya.
"Hahahaha... kau takut tidak?" serunya
sambil tertawa.
Dengan napas tersengal gadis itu berteriak
minta ampun, sementara tangan yang lain justru merangkul Hay Tay-sau
erat-erat.
Siapa tahu secara
tiba-tiba Hay Tay-sau mendorong tangan nya seraya
berseru:
"Kalau baru budak cilik macam kau, masih
belum pantas untuk manggaetku!"
Ditengah gelak tertawa yang keras dia segera
beranjak pergi.
Gadis itu segera terdorong hingga jatuh
terduduk ditanah, untuk sesaat dia nampak tertegun, malu
bercampur gusar, akhirnya sumpah serapahpun bergema memenuhi udara:
"Laki-laki sialan, laki-laki bau.... dasar
laki dungu!"
Kembali gelak tertawa bergema disekeliling
tempat itu.
Tiba-tiba terdengar ada suara seseorang yang
sedang berseru:
"Nona-nona sekalian, urusan apa yang
membuat kalian gembira? Apakah boleh siauseng ikut meramaikan
suasana?"
Ternyata Ouyang bersaudara telah menyusul
kesana.
Seketika itu juga kawanan ratu tawon itu
menghentikan gelak tertawanya, semua orang mengernyitkan alis dan
sambil tundukkan kepala, tutup mulut rapat-rapat mereka beranjak
pergi meninggalkan tempat itu.
Sambil menggoyang kipasnya Ouyang hengte
mengintil di belakang mereka.
Hay Tay-sau yang berdiri dikejauhan sambil
minum arak segera berseru sambil tertawa keras:
"Anak-anak, balik saja, jangan sampai
mengganggu sarang lebah, kalau sampai disengat bisa berabe
akibatnya"
Seorang pemuda diantaranya membalikkan
tubuh, tampaknya hendak mengumpat tapi dia segera ditarik lengannya
oleh rekan yang lain.
Hay Tay-sau tertawa tergelak, mendadak
hardiknya:
"Siapa disitu? Mau apa bersembunyi di sana?"
Thiat Tiong-tong terperanjat, tapi dia
segera lega setelah melihat arah yang dituju Hay Tay-sau adalah
tempat persembunyian nenek berbaju rombeng.
Pada saat itulah dari balik halaman kedua
berkumandang suara jeritan ngeri yang amat nyaring.
Ditengah jeritan, terlihat Hong Pak-ban
dengan tubuh bermandikan darah dan pakaian tidak rapi berlarian
keluar dengan langkah limbung.
"Li Lok-yang, Li Lok-yang, ada dimanakau?"
Hay Tay-sau melompat ke hadapannya,
mencengkeram bahunya dan menegur:
"Hey, kau sudah edan?"
Dengan sekali ayunan, dia tampar wajah orang
itu keras-keras.
Setelah kena tamparan, agaknya kesadaran
Hong Pak-ban pulih kembali, dia termangu sejenak kemudian baru
gumamnya:
"Aku telah membunuh orang! Aku telah
membunuh dia"
"Siapa yang kau bunuh?"
"Gin-sian..... perempuan hina itu, dia kabur
dengan lelaki lain bahkan akan membunuhku, maka aku telah
membunuhnya lebih dulu"
"Goblok!" umpat Hay Tay-sau dengan gusar,
"gara-gara perempuan hina kau sampai membunuh? Memangnya berharga?"
Hong Pak-ban kembali termangu, akhirnya dia
menangis tersedu-sedu.
Sementara itu Li Kiam-pak, tuan muda
perkampungan keluarga Li dengan membawa empat orang centengnya telah
menyusul tiba, dari kejauhan sana masih terdengar suara langkah kaki
yang ramai.
Thiat Tiong-tong tahu, kesemuanya ini hanya
lagu pembukaan sebelum kekalutan lain yang lebih parah, kelihatannya
keluarga pedagang kaya ini segera akan menghadapi satu huru-hara
yang belum pernah dialaminya setelah hidup damai sekian tahun.
Maka dia pun melompat masuk ke dalam halaman
kedua secara diam-diam, betul saja, dia saksikan mayat perempuan
cabul itu sudah tergeletak diatas lantai, disampingnya masih
terlihat ada sebuah peti.
Tampaknya perempuan jalang itu sudah
tergila-gila dengan Phoa Seng-hong sehingga diputuskan untuk kabur
sambil mencuri barang perhiasan, tidak tahunya niat itu ketahuan
Hong Pak-ban sehingga terjadilah kasus pembunuhan itu.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, dengan cepatnya dia menyelinap lewat dan kembali ke
tendanya.
Sebelum melangkah masuk, dia sudah mendengar
Phoa Seng-hong yang berada dalam ruang tenda sedang berkata sambil
tertawa:
"Nona, selanjutnya kita akan menjadi satu
keluarga, masa kau usir aku dari sini?"
Menyusul kemudian terdengar suara dayangnya
Si-jin menghardik:
"Enyah kau dari sini! Jika berani bersikap
kurang ajar lagi kepada nona kami, jangan salahkan kalau kau
kehilangan nyawa"
Dengan langkah lebar Thiat Tiong-tong
berjalan masuk ke dalam tenda, dia saksikan Sui Leng-kong duduk
disudut tenda sementara dayangnya Si-jin menghadang dihadapannya.
Begitu melihat kehadirannya, dayang itu
segera berseru:
"Aah, untung majikanku sudah kembali"
"Coba tanyakan sendiri kepadanya, benarkah
dia yang suruh aku datang kemari?" kata Phoa Seng-hong sambil
berpaling dan tertawa.
"Apa tugasmu telah selesai?" tanya Thiat
Tiong-tong dengan wajah serius.
"Sudah kulakukan dengan sempurna, siapa pun
tidak akan menaruh curiga kepadaku"
"Satu gelombang belum mereda sudah muncul
gelombang yang lain, mungkin saja kau dapat lolos dari persoalan
ini, tapi jangan harap bisa lolos dari kasus yang lain!"
"Apa maksudmu?" berubah paras muka Phoa
Seng-hong.
"Hong Pak-ban telah mewakilimu melakukan
pembunuhan, jelas hutang piutang ini tidak akan lari dari pundakmu,
kemudian......... Hay Tay-sau juga tidak bakal melepaskan dirimu"
Phoa Seng-hong segera tertawa.
"Hong Pak-ban yang melakukan pembunuhan
tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, manusia she-Hay itu pun
merupakan musuh bebuyutanku selama banyak tahun, belum tentu dia
bisa berbuat banyak kepadaku"
"Sayang situasinya saat ini sudah jauh
berbeda, lagipula kau masih dihadang musuh tangguh lain yang jauh
lebih lihay, orang yang berniat menghabisi nyawamu"
"Siapa?"
"Si nenek berpakaian rombeng serta pemuda
pincang"
Phoa Seng-hong agak tertegun, setelah
berpikir sejenak katanya:
"Mereka......rasanya mereka tidak punya
dendam sakit hati apa apa denganku........"
Tapi belum selesai bicara, paras mukanya
telah berubah hebat, lanjutnya:
"Aah dia, jangan-jangan dia........."
"Sudah kau ingat asal-usulnya?" dengus Thiat
Tiong-tong dingin.
Phoa Seng-hong mundur berapa langkah dengan
sempoyongan kemudian duduk lemas diatas bangku, gumamnya:
"Apa.....apa yang dia katakan?"
"Dia bilang akan mencabut nyawamu!" Phoa
Seng-hong mulai membesut wajahnya, membesut butiran
keringat yang membasahi seluruh wajahnya.
"Didepan lohu saja kau mengibul dan bicara
sombong sehingga lohu percaya kalau kau memang seorang enghiong
hohan yang kosen dan ampuh kepandaian silatnya, siapa
tahu......hehehe.....baru ketemu seorang nenek dan bocah cilik, kau
sudah ketakutan setengah mati, Huuh! Kalau enghiong semacam ini
mah......kamsia saja, lohu tidak pingin menggunakannya"
Tampaknya Phoa Seng-hong hendak mengumbar
api kemarahannya, tapi baru saja bangkit berdiri dia sudah terduduk
kembali.
"Benar, aku memang takut kepadanya"
"Braaak!" sambil menggebrak meja, lanjutnya dengan nyaring:
"Tapi kecuali dia, bila ada orang yang
berani bersikap kurangajar kepada diriku, Hmm! Aku tetap mampu untuk
memenggal batok kepalanya!"
Thiat Tiong-tong tertawa dingin.
"Siapa dia? Kenapa kau begitu takut
kepadanya?" dia bertanya.
"Dia......namanya......Aai, biar kuberitahu
pun percuma, toh kau tidak bakal kenal"
Bibirnya telah ikut berubah jadi pucat tanpa
warna darah, dia seolah tidak berani menyebut nama tersebut
karena kuatir bila namanya disinggung maka bencana
besar segera akan tiba.
"Kau tidak berani mengatakan?"
"Sekalipun tidak berani kusebut, memangnya
kau mau apa?"
"Lebih baik perkecil suaramu, jangan sampai
teriakanmu kedengaran olehnya!"
Phoa Seng-hong tertegun, hawa amarahnya
lenyap seketika, dengan lesu dia tundukkan kepalanya.
"Tapi duduk melulu disini pun bukan cara
penyelesaian yang tepat" kata Thiat Tiong-tong lagi.
"Apakah kau kuatir terseret oleh masalahku
ini? Sekarang kau sudah menjadi majikanku, tentu saja kalau aku
menghadapi persoalan, kaupun harus ikut menghadapinya"
"Mana boleh begitu" sengaja Thiat Tiong-tong
berseru dengan wajah berubah, "lebih baik kau cepat pergi dari
sini!"
"Pergi? Jika Dia sudah tahu kalau peristiwa
tersebut merupakan perbuatanku, memangnya aku masih bisa kabur?
Tahukah kau siapa dia? Tahukah kau betapa lihaynya dia? Bila dia
sudah muncul disini, bukan hanya aku seorang yang bakal sial,
mungkin keluarga Li pun ikut tertimpa kemalangan!"
Nada ucapannya sama sekali tanpa luapan
emosi, hal ini menunjukkan betapa takut dan ngerinya orang itu.
Thiat Tiong-tong berlagak seolah-olah ikut
gugup dan ketakutan.
Phoa Seng-hong melirik Sui Leng-kong
sekejap, lalu sambil tertawa dingin katanya:
"Terpaksa aku hanya bersembunyi disini, kau
tidak bakal mampu mengusirku lagi, sebab bila aku harus mati, kaupun
harus ikut mendampingi kematianku"
Thiat Tiong-tong sengaja termangu beberapa
saat lamanya, dia seakan sudah tidak sanggup bicara lagi.
Sui Leng-kong tahu, rekannya itu cerdas dan
punya kemampuan melebihi siapa pun, dibalik tindakannya itu dia
pasti punya tujuan tertentu, maka diapun ikut membungkam.
Lewat berapa saat lamanya Thiat Tiong-tong
baru menghela napas panjang sambil bertanya:
"Kecuali cara ini, memangnya tidak ada cara
yang lain lagi?"
Sambil tertawa dingin Phoa
Seng-hong menggeleng.
"Aah, lohu punya satu siasat......" seru
Thiat Tiong-tong kemudian.
"Siasat apa?"
"Diantara sekian banyak kawanan tokoh
persilatan yang hadir disini kecuali kau dan orang she-Hay itu,
apakah masih terdapat tokoh lain yang agak menonjol namanya?"
"Suto Siau, Bi lek Hwee, lalu Hek
Seng-thian, Pek Seng-bu, semuanya merupakan tokoh-tokoh kenamaan
yang punya nama dan pengaruh besar dalam dunia persilatan"
"Hanya berapa orang itu saja? Hehehe,.....
asal lohu menyampaikan berapa patah kata kepada mereka, sudah pasti
orang orang itu akan membantumu dengan sepenuh tenaga"
"Sungguh?" Phoa Seng-hong merasa
semangatnya bangkit kembali, "asal berapa orang itu mau membantu,
situasi pasti akan berubah drastis, tapi mana mungkin mereka mau
membantuku?"
"Tentu saja lohu punya siasat bagus, asal
kau menurut, semuanya pasti beres!"
"Bila kali ini kau benar-benar bisa
membantuku dengan siasat jitumu, dikemudian hari bila kau tertimpa
persoalan macam apa pun, aku pasti akan membantumu dengan sepenuh
tenaga"
Thiat Tiong-tong menuju ke samping meja
tulisnya, menulis dua pucuk surat lalu disegel rapat-rapat,
pesannya:
"Mula-mula kau harus berusaha agar bisa
berbicara empat mata dengan Bi lek Hwee, serahkan surat ini
kepadanya, asal dia sudah membaca isi surat ini kujamin orang itu
akan membantumu dengan sepenuh tenaga, kau mesti paksa dia untuk
angkat sumpah lebih dulu kemudian baru mengeluarkan surat yang
kedua"
Dengan perasaan setengah percaya setengah
tidak Phoa Seng-hong menerima surat itu.
Kembali Thiat Tiong-tong menulis dua pucuk
surat, kemudian katanya lagi:
"Serahkan kedua pucuk surat ini kepada Suto
Siau, caranya persis seperti cara pertama tadi"
Kemudian dia pun menulis lagi dua pucuk
surat dan minta Phoa Seng-hong menyerahkan kepada Hek Seng-thian
serta Pek Seng-bu.
Dalam keadaan terdesak dan terancam jiwanya,
Phoa Seng-hong tidak bisa berbuat lain kecuali mencoba cara yang
ditawarkan itu.
Dengan wajah serius kembali Thiat Tiong-tong
berpesan:
"Jangan sekali kali salah menyerahkan surat
sebab kalau tidak kau bakal tertimpa bencana besar, kaupun jangan
sekali kali menyinggung tentang lohu, kalau tidak, mereka tidak
bakalan mau membantumu"
Dengan wajah termangu Phoa Seng-hong
mengawasi lawannya, dia merasa kakek aneh itu makin lama semakin
penuh misteri, akhirnya dia menyingkap tirai, menengok sekejap
keadaan diluar kemudian baru melesat pergi dari situ.
Menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan, Thiat Tiong-tong baru bergumam sambil tertawa dingin:
"Manusia cabul yang licik dan buas, Suto
Siau, Pek Seng-bu, kali ini kalian akan dibuat pusing olehnya!"
Sui Leng-kong ikut menghela napas panjang,
katanya:
"Aa.... aku benar-benar bodoh,
se...sebetulnya apa....yang kau..... kau lakukan? A...aku tidak
mengerti!"
Dengan pandangan halus dan lembut Thiat
Tiong-tong mengawasi gadis itu sekejap, lalu sahutnya:
"Aku sedang menyiapkan siasat berantai, akan
kubuat orang-orang itu tidak seorangpun bisa lolos dari
cengkeramanku"
"Ber... .bersediakah.. .me.. .menerangkan...
.kepada...ku?"
"Akan kubuat Suto Siau dan Pek Seng-bu
sekalian saling gontok gontokan sendiri, lalu akan kugunakan nenek
misterius itu untuk memburu Phoa Seng-hong, padahal mereka sudah
kujebak untuk angkat sumpah sehingga mau tidak mau harus melindungi
Phoa Seng-hong, akibatnya nenek misterius itupun tidak bakal
melepaskan mereka semua, ditambah dengan munculnya mayat dikamar
Hong Pak-ban, sudah pasti Li Lok-yang serta Hay Tay-sau tidak akan
berpangku tangan belaka, pada akhirnya situasi akan bertambah kalut"
Sui Leng-kong hanya mengawasi pemuda itu
dengan termangu, waktu itu Thiat Tiong-tong telah melepaskan jubah
luarnya hingga kelihatan pakaian ringkasnya yang berwarna hitam, dia
pun mengeluarkan sebuah kain kerudung hitam dan dikenakan
diwajahnya.
Dalam mengerjakan tugas apapun dia memang
selalu melakukan dengan cepat, seolah-olah membawa sebuah irama yang
aneh, ringan, cepat dan mengalir lancar.
Dari bawah pembaringan kembali dia
mengeluarkan sebilah pedang, Sui Leng-kong segera
berjalan menghampiri dan membantunya mengikatkan pedang tersebut
dipunggung.
"Aku akan pergi sebentar" bisik pemuda itu
kemudian.
Sui Leng-kong manggut-manggut,
tanyanya sambil menghela napas sedih:
"Kau..... kau akan ke mana? ..... aku....
aku boleh tahu?"
"Aku hanya akan keluar sejenak"
"Apa.....apakah aku bi....bisa
membantumu..."
"Selama ada aku disini, tidak akan kubiarkan
kau pergi menyerempet bahaya" kata Thiat Tiong-tong sambil tertawa
lembut, kemudian sambil menyingkap tirai pintu dia beranjak pergi.
"Kau.... kau mesti berhati-hati" terdengar
Sui Leng-kong berpesan.
Seketika itu juga muncul suatu perasaan aneh
didalam hatinya, dia tidak tahu apakah perasaan itu merupakan luapan
cinta ataukah hanya gejolak emosi, namun tubuhnya terasa jauh lebih
ringan dari hari hari biasa.
Tapi hanya sejenak kemudian perasaan tegang
kembali menye-limuti perasaan hatinya, sebab walaupun segala sesuatu
telah direncanakan secara rapi tapi dia tahu yang paling sulit
adalah bagaimana caranya agar Im Ceng mengetahui rahasia dari wanita
yang berada disisinya.
Baru saja tiba diluar pintu, dari kejauhan
sudah terlihat sesosok bayangan tubuh yang ramping bergerak
mendekat, gerak-geriknya lemah gemulai seperti ranting pohon liu
bahkan disertai gelombang ayunan yang menggetarkan hati.
"Aah, ternyata dia muncul juga!" pikir Thiat
Tiong-tong dengan perasaan girang.
Berpikir sampai disitu, cepat-cepat dia
menyelinap balik ke dalam tendanya.
"Kenapa kau balik lagi?" tanya Sui Leng-kong
keheranan.
Buru-buru Thiat Tiong-tong menggoyangkan
tangannya sambil berbisik:
"Kalian cepat menyingkir dulu ke belakang!"
Dengan gerakan cepat dia melepaskan kain
kerudung hitamnya, berbaring diatas pembaringan, menindih pedangnya
dibawah bantal dan menutupi tubuh sendiri dengan selimut.
Sui Leng-kong bersama Si-jin dan kedua orang
bocah itupun sudah menyingkir, seakan-akan asal ada perintah dari
Thiat Tiong-tong maka tanpa syarat mereka akan mentaatinya, bahkan
bertanya pun tidak.
Baru saja semuanya selesai, terasa desingan
angin berhembus lewat, diiringi bau harum yang semerbak, dalam tenda
telah muncul sesosok bayangan manusia.
Orang itu memperhatikan sekejap sekeliling
tenda, lalu serunya perlahan:
"Ada orang disini?"
Suaranya merdu, genit dan menawan hati.
"Tempat ini bukan kuburan, masa tidak ada
orangnya?"
"Loya-cu, pandai amat berbicara" orang itu
tertawa ringan.
"Siapa bilang aku sudah tua?"
"Apa jeleknya tua? Anak muda suka berangasan
dan gampang emosi, sebaliknya orang yang agak tua lebih mengerti
sayang pada orang lain"
Sembari berbicara, Un Tay-tay sudah
melangkah masuk ke dalam tenda.
Sambil tertawa dingin Un Tay-tay melangkah
maju ke depan, lalu sambil bertolak pinggang serunya kepada Sui
Leng-kong:
"Usiaku jauh lebih tua darimu, semestinya
kau banyak belajar dariku"
Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan,
Thiat Tiong-tong sudah menarik tangannya sambil melayangkan sebuah
tamparan.
"Bagus, kau berani memukul aku!" teriak Un
Tay-tay sambil mencak-mencak kegusaran.
Dengan wajah hijau membesi kembali Thiat
Tiong-tong melayangkan dua kali tamparan.
Dia menaruh rasa kasihan terhadap Im Ceng,
sementara terhadap perempuan ini justru menaruh rasa benci dan
dendam, tidak heran kalau tamparannya dilakukan sangat keras.
Bekas sepuluh jari tangan yang merah
membengkak pun seketika muncul diatas wajah Un Tay-tay.
Kebuasan dan sifat liarnya yang nyaris
ditonjolkan seketika hilang lenyap tidak berbekas, dengan air mata
bercucuran dan nada gemetar bisiknya:
"Kumohon, jangan ditampar lagi, aku.... aku
rela tunduk dibawah perintahnya!"
"Kau.... kau tidak usah tunduk......" seru
Sui Leng-kong cepat, air mata nyaris meleleh juga diwajahnya.
Dalam waktu singkat suasana jadi hening dan
tidak kedengaran sedikit suarapun.
Tiba-tiba terdengar suara genta dibunyikan
bertalu-talu, menyusul kemudian terlihat seorang pelayan keluarga
Ting berlarian masuk dengan langkah tergopoh.
Dengan sedikit sangsi dia memandang sekejap
sekeliling tenda, kemudian dengan kepala tertunduk ujarnya:
"Atas perintah majikan, dipersilahkan semua
tamu berkumpul di ruang depan, ada urusan penting yang akan
dirundingkan"
"Sudah tahu!" sahut Thiat Tiong-tong sambil
mengidapkan tangannya.
Pelayan itu mengiakan sambil mundur, namun
tidak tahan dia melirik lagi berapa kejap untuk memperhatikan
pemandangan aneh didalam tenda itu.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas,
ujarnya kemudian dengan suara dalam:
"Si-jin, temani nona beristirahat dulu, aku
akan mengajak dia ke ruang depan"
"Kau.... kau tidak boleh aku.... ikut?"
tanya Sui Leng-kong.
"Lebih baik kau jangan ikut dulu"
Dalam pada itu sepasang pipi Un Tay-tay
masih merah membengkak, namun sekulum senyum kepuasan menghiasi
wajahnya.