pendekar panji sakti 01

JILID KE SATU

BAB 1.

Angin Barat Mengibarkan Panji Sakti.

Malam semakin kelam.

Tiada rembulan, tiada bintang.

Serangga bercengkerama di antara semak ilalang, membuat suasana di hutan belantara terasa makin sendu, makin hening dan menyeramkan.

Dari balik kegelapan tampak berkelebat sesosok bayangan manusia, gerakan tubuhnya enteng bagai walet, cepat bagai sambaran kilat, ketika melihat panji sakti yang berkibar di hadapannya, dia segera melepas bajunya, mem­buka tali kepang rambutnya, dengan dada telanjang perlahan-lahan menjatuhkan diri berlutut, berlutut di hadapan panji sakti yang berkibar di tengah hutan itu, wajahnya nampak sendu, sedih dan murung.

Dia berlutut di depan panji itu, berlutut tanpa bergerak, kaku bagai sebuah arca.

Di tengah keheningan itu, tiba-tiba ter­dengar suara derap kaki kuda yang ramai, menyusul kemudian seseorang menghardik dengan nyaring:

"Sudah datang?"

"Ada di sini!"

Dua rombongan manusia menunggang berkuda dengan debu beterbangan di angkasa bergerak mendekat. Rombongan di sisi kiri terdiri dari tiga orang dengan tiga ekor kuda, seorang di antaranya adalah lelaki setengah umur bertubuh jangkung tapi kekar, orang kedua adalah seorang pemuda kecil pendek dengan sorot mata tajam, sementara orang ketiga adalah seseorang berwajah hitam, mengenakan baju warna hitam dengan sebilah pedang tersoreng dipunggungnya, hanya sepasang matanya yang nampak jeli, berkilauan di tengah kegelapan.

Pemuda itu mencemplak kudanya maju lebih dulu ke depan, sambil merentangkan sepasang tangannya, dia segera berjumpalitan beberapa kali di udara dan melayang turun di depan panji itu.

Sementara pemuda kecil pendek bermata tajam itu segera menarik tali les kudanya, ketika lari kudanya mulai melambat, tampak dua sosok bayangan manusia kembali berkelebat, ternyata mereka adalah rombongan yang datang dari sebelah kanan, terdiri dari seorang kakek bercambang dan seorang gadis berbaju hijau.

Lelaki bertelanjang dada yang berlutut di depan panji masih berlutut tanpa bergerak, kakek bercambang itu dengan mengepalkan sepasang tinjunya segera berjalan menghampirinya, men­dekat dengan wajah penuh amarah.

Pemuda berbaju hitam dan gadis berbaju hijau itu berdiri tanpa bicara di belakangnya, paras muka mereka nampak berat dan serius.

Angin malam berhembus makin kencang, di tengah  deru  angin yang memekakkan  telinga, mendadak terdengar kakek bercambang itu membentak nyaring, telapak tangannya langsung dihantamkan ke dada lelaki bertelanjang dada itu.

Bentakan nyaring kembali bergema menyusul berkelebatnya sesosok bayangan.

"Toako, tunggu sebentar!"

Seorang lelaki setengah umur telah menangkis pukulan dahsyat itu.

"Mau apa kau?" hardik kakek bercambang itu gusar.

Tujuh tahun telah berlalu, apa salahnya menunggu sejenak lagi?" ucap lelaki setengah umur itu sambil menghela napas.

Dada kakek bercambang itu kelihatan naik turun tak beraturan, meski amarahnya telah memuncak, akhirnya dia turunkan kembali tangannya.

"Kuda pelaksana hukuman telah disiap­kan?" ia menegur dengan suara dalam.

Begitu mendengar kata "kuda pelaksana hukuman", paras muka lelaki bertelanjang dada itu berubah hebat.

"Sam siok," buru-buru nona berbaju hitam itu berseru lirih, "Sute telah berhasil mendapat­kannya, sementara Tecu pun telah berhasil membawa kemari kuda Wu im kay soat (awan gelap menutupi salju) milik cong piauthau perusahaan ekspedisi Thian bu Piaukiok, tapi hingga kini Samte dan paman Sim belum nampak juga bayangannya."

Lelaki setengah umur itu segera menambah­kan:

"Tugasku adalah mengambil kuda Ci liu (kuda merah berbulu hitam) milik perkampungan keluarga Seng, sedang Su tit (keponakan keempat) mengambil kuda Giok ti cu liong (telapak kumala naga merah) milik peternakan Lok-jit, semuanya merupakan sasaran yang enteng, tentu saja bisa kembali lebih cepat."

Tiga ekor kuda jempolan telah tertambat di batang pohon, ringkikan kuda yang panjang membuat ranting dan dedaunan bergoncang.

Gadis berbaju hijau itu melirik sekejap ke arah orang yang berlutut di hadapan panji itu, tiba-tiba dengan perasaan tak tega dia membuang muka ke arah lain, sementara paras muka semua orang yang hadir pun kelihatan murung dan sangat berduka.

"Paman Sim telah datang!"

Setelah angin kencang berhembus lewat, lelaki yang menancapkan panji tadi segera berlari mendekat, ternyata dia berlari sambil mengangkat tinggi seekor kuda berwarna hitam dan putih, otot lengannya yang menonjol nampak sangat kekar, butiran keringat membasahi jidatnya, begitu tiba di hadapan rombongan orang-orang itu, segera bentaknya nyaring:

"Terima ini!"

Sepasang lengannya diayunkan ke depan, ternyata dia sudah melemparkan kuda itu ke depan.

Pemuda berbaju hitam dan pemuda kecil pendek segera melompat ke depan, yang satu menyambar sepasang kaki depan, yang lain menyambar sepasang kaki belakang kuda itu, kemudian meletakkannya ke tanah.

Pemuda berbaju hitam itu kembali menepuk leher kuda itu, kuda itupun meringkik panjang ingin melompat ke muka, tapi sepasang tangannya sekali lagi menyambar bulu leher kuda itu, akibatnya meski sudah meringkik panjang, kuda itu sama sekali tak mampu bergeser.

Sembari menyeka peluh yang membasahi jidatnya, kata lelaki bertelanjang kaki itu:

"Kuda Hui im Pa cu (macan tutul terbang di awan) benar-benar punya tabiat buruk yang berangasan dan gampang marah, hampir saja aku gagal menaklukkannya, setelah berhasil ku­tangkap, sialan, ternyata dia ngambek dan tidak mau berlari, terpaksa bukan orang yang menunggang kuda, kudalah yang menunggang manusia."

Setelah memandang sekelilingnya sekejap, dengan wajah berubah, tanyanya lagi:

"Mana Siau Lo sam? Apa belum kembali?"

Lelaki setengah umur itu menggeleng.

Sambil menghentakkan kaki telanjangnya ke tanah, lelaki itu berseru lagi:

"Padahal aku sudah tahu kalau penjagaan di benteng Han hong po sangat ketat dan kuat, si tua bangka Leng juga bukan manusia yang gampang dihadapi, tapi dia justru ngotot ingin ke situ..."

Tiba-tiba berubah paras muka lelaki telanjang dada yang sedang berlutut di depan panji sakti itu, serunya kaget:

"Jadi Samte pergi ke benteng Han hong po untuk mencuri kuda mestika Leng liong kou?"

"Tutup mulut!" bentak kakek bercambang itu nyaring, "kau kesemsem wanita, mengkhianati perguruan, aku Im Gi tidak punya anak durhaka macam kau, Im losam juga tidak punya saudara macam dirimu, biarpun dia mati dalam benteng Han hong po, apa sangkut-pautnya dengan dirimu? Sekali lagi berani memanggilnya Samte, sekarang juga akan kucincang tubuhmu hingga hancur lebur!"

"Anak tahu salah, sadar kalau berdosa dan kesalahanku sangat besar," sahut lelaki itu dengan kepala tertunduk, "sejak dulu, anak memang sudah tidak ingin hidup terus."

"Kalau sudah tahu perbuatanmu amat berdosa dan salah besar, kenapa masih kau lakukan perbuatan yang memalukan ini?" bentak Im Gi keras, "memangnya kau tidak tahu kalau keluarga Im sudah turun temurun bermusuhan dengan benteng Han hong po?"

Kemudian sambil merentangkan sepasang tangannya, dia mengeluh kepada langit:

"Tidak disangka, nama besarku sepanjang hidup akhirnya harus rusak dan musnah di tangan anak durhaka yang tidak setia, tidak berbakti seperti kau!"

Suara jeritannya keras dan penuh kepedihan, bagaikan lolongan monyet yang sedang di mangsa harimau.

Dengan sedih lelaki setengah umur itu segera menimbrung:

"Dia sudah tahu salah, Toako, masa kau tidak bersedia mengampuni jiwanya? Bagaimana kalau kita kutungi sepasang kakinya saja, agar dia cacad seumur hidup?"

Dengan wajah murung dan sendu, lelaki bertelanjang dada itu tertawa pedih, katanya:

"Im Kian telah melanggar pantangan berat, Im Kian bersedia menerima hukuman mati ditarik oleh lima ekor kuda demi ditegakkannya wibawa dan nama baik perguruan panji sakti."

"Bagus!" puji lelaki bertelanjang kaki sambil mengacungkan jempolnya, "begitu baru pantas menjadi anak murid perguruan panji sakti!"

"Biar mati pun aku tidak akan menyesal," kata Im Kian lagi dengan sedih, "aku hanya berharap ayah sudi mengampuni nyawa Leng Cing soat, urusan ini tidak ada sangkut-paut dengan dirinya, semua ini merupakan kesalahanku seorang."

Lelaki  kekar yang  tidak  takut  mati  ini ternyata meleleh kan air mata, air mata kesedihan, lanjutnya:

"Apalagi dalam rahimnya sudah mengan­dung darah daging dari keluarga Im!"

Berubah hebat paras muka Im Gi, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, mendadak dari kejauhan berkumandang lagi suara derap kaki kuda, seekor kuda putih bagai anak panah yang terlepas dari busur cepatnya berlarian mendekat di tengah kegelapan malam, tak nampak ada penunggang di atas pelana kuda itu.

"Mana anak Cing?" dengan kening berkerut lelaki setengah umur itu berseru.

Belum selesai ia berkata, sesosok bayangan tampak berkelebat, bayangan manusia berwarna putih sudah muncul dari bawah perut kuda itu dan duduk dengan tenang di atas pelana.

"Hahahaha...." terdengar orang itu tertawa tergelak, "akhirnya Leng liong kou (kuda sakti naga dingin) berhasil juga kutaklukkan!"

Di tengah gelak tertawa nyaring, kuda itu seketika berhenti berlari dan berdiri tidak berkutik di depan panji sakti, seorang pemuda berbaju putih berwajah tampan segera berjumpalitan beberapa kali di udara dan melayang turun ke tanah.

Begitu bertemu dengan lelaki yang sedang berlutut di depan panji, dengan perasaan terkejut bercampur gembira, segera sapanya:

"Toako, akhirnya kau pulang juga!"

Im Gi pura-pura tidak mendengar, dengan suara berat serunya:

"Samte, segera umumkan semua dosa dan kesalahannya, kemudian segera laksanakan hukuman!"

Lelaki setengah umur itu menghela napas sedih, dengan kepala tertunduk, ucapnya:

"Im Kiu siau, murid bagian pelaksana hukuman perguruan Thi hiat tay ki bun (panji sakti darah besi) mewakili Cosuya mengumumkan bahwa murid murtad Im Kian telah kesemsem wanita, diam-diam bersekongkol dengan musuh dan dinyatakan bersalah, untuk itu dia pantas menerima hukuman mati ditarik lima ekor kuda!"

Paras muka Im Ceng berubah hebat, teriaknya lantang:

"Ternyata kalian menyuruh aku mencuri kuda tujuannya untuk mencelakai Toako? Ternyata dikelabui! Apa dosa dan kesalahan Toako? Kenapa tubuhnya mesti dicincang dan ditarik oleh lima ekor kuda sampai mati? Kenapa dia harus menerima hukuman sesadis ini? Padahal dia tak lebih hanya mencintai seorang wanita dari keluarga Leng."

Kemudian sambil membalikkan tubuh, dia berlutut di depan kakek bercambang itu dan memohon:

"Ayah, apakah kau tidak bersedia meng­ampuni Toako sekali ini saja? Bagaimanapun dia adalahh putramu!"

Paras muka Im Gi hijau membesi, dia berdiri mematung di tempat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Gadis berbaju hitam dan pemuda kekar itu serentak ikut menjatuhkan diri berlutut.

Im Ceng maju dua langkah ke depan, sambil memeluk kaki ayahnya, kembali dia memohon:

"Ayah, ampunilah jiwanya sekali ini saja!"

Mendadak  Im  Kian  membentak  nyaring sambil melompat bangun, serunya lantang: "Jite, Samte, Site, Ngomoay, Toako tahu bersalah, kalian tak perlu banyak bicara lagi, baik-baiklah merawat ayah, berbaktilah kepadanya.

Dilahirkan sebagai keturunan keluarga Im, aku memang tidak seharusnya jatuh hati kepada anggota keluarga benteng Han hong po. Ayah, ananda tidak berbakti dan telah menodai nama baik panji sakti darah besi, noda ini hanya bisa dibersihkan dengan cucuran darah!"

Begitu selesai berkata, tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangannya dan dihantamkan ke atas ubun-ubun sendiri, diiringi jeritan ngeri yang memilukan, percikan darah segar berhamburan kemana-mana.

Im Ceng segera menubruk ke muka, Im Kiu siau membuang muka ke arah lain, sementara lelaki kekar bertelanjang kaki melototkan sepasang matanya mengawasi panji sakti darah besi yang sedang berkibar terhembus angin itu tanpa berkedip.

Im Gi sendiri masih berdiri dengan wajah membesi, sinar matanya berkilat, namun perawak­an tubuhnya yang tinggi besar mulai bergetar, bahkan gemetar sangat keras.

Lama sekali dia berdiri kaku bagai patung, berdiri tanpa berkutik.

Akhirnya sambil mencabut panji sakti darah besi yang menancap di tanah perbukitan itu, jeritnya dengan suara yang memilukan hati:

"Langit sebagai saksi, cucuran darah yang mengalir keluar dari tubuh anak murid perguruan panji sakti bukan cucuran darah yang sia-sia, setiap anggota perguruan jangan melupakan pelajaran yang terjadi pada hari ini, terlebih jangan melupakan sumpah berdarah mendiang leluhur kita. Thian sebagai saksi, mulai hari ini saat pembalasan dendam keluarga kita sudah dimulai!"

Teriakan itu keras dan tinggi melengking, nyaring hingga menembus angkasa, sementara cucuran air mata mulai membasahi kelopak mata dan pipinya.

Angin musim gugur masih berhembus kencang, panji sakti darah besi masih berkibar tiada hentinya, malam terasa semakin kelam, hawa membunuh pun semakin tebal menyelimuti seluruh jagad.

Lama sekali Im Gi memegang panji sakti perguruannya, hingga hembusan angin mengering­kan cucuran air matanya, baru ia berseru dengan nada yang dalam dan berat:

"Thiat Tiong-tong tetap tinggal di sini untuk melaksanakan hukuman, yang lain ikut aku pergi!"

Begitu mengucapkan kata "pergi", sekali lagi panji sakti berkibar kencang, menyusul hembusan angin puyuh, tahu-tahu tubuhnya sudah melesat sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.

Im Ceng membentak nyaring, sambil melompat bangun, jeritnya keras:

"Untuk melaksanakan hukuman terhadap darah daging keluarga Im, kenapa harus dilakukan oleh anggota marga lain?"

Im Gi yang sudah berada di kejauhan seketika menghentikan langkahnya, perlahan-lahan dia membalikkan tubuh, lalu sepatah demi sepatah dia berkata:

"Semenjak bergabung dalam perguruan panji sakti, mereka adalah sedarah serumpun, barang siapa berani menyinggung lagi tentang 'murid marga lain', batu ini adalah contohnya!"

Begitu selesai bicara, panji besar itu segera dihantamkan ke bawah.

"Criiing!", diiringi percikan lelatu api, sebuah batu hitam sebesar kerbau yang berada di sampingnya seketika terhajar hancur berkeping.

"Ayo jalan!" buru-buru Im Kiu-siau mem­bentak nyaring.

Tanpa membuang waktu lagi dia menyeret tangan Im Ceng dan segera berlalu dari situ.

Dengan sedih nona berbaju hijau itu menengok pemuda berbaju hitam sekejap, tiba-tiba dia pun membalikkan tubuh dan mengikut di belakang pemuda kekar tadi lenyap di balik kegelapan malam sana.

Tidak berapa lama kemudian semua orang sudah berlalu dari situ, kini tinggal pemuda berbaju hitam itu berdiri seorang diri di tengah keheningan, di tengah hembusan angin yang kencang dan ringkikan kuda yang bergema tiada hentinya, lama sekali ia berdiri tak berkutik, hanya sepasang matanya yang jeli memandang ke sana kemari tanpa henti, berkilauan bagai cahaya bintang di tengah malam.

Suara guntur menggelegar membelah bumi, hujan deras pun turun bagaikan dituang dari langit.

Lima ekor kuda meringkik bersama dan berlarian menuju ke lima arah yang berbeda, di belakang kelima ekor kuda itu terlihat ceceran darah yang menggenangi permukaan tanah.

Tapi hanya sebentar saja, tak selang berapa saat kemudian, genangan darah itu sudah bersih tersapu air hujan....

Thiat Tiong-tong, pemuda berbaju hitam itu berdiri kaku di tengah curahan hujan deras bagai sebuah tiang bendera, wajahnya dibasahi butiran air, meleleh dan menetes ke bawah, dia sendiri pun tidak tahu butiran air itu air hujan atau air mata.

Kuda-kuda itu memang sangat terlatih dan punya kemampuan yang luar biasa, setelah berlarian menuju ke lima arah yang berbeda, mereka langsung berlari menuju ke istal majikannya masing-masing,   termasuk juga kuda Leng-liong-kou yang semula kelihatan jinak di tangan Im Ceng, tapi kini ikut berlarian menjauhi tempat itu.

Sungguh cepat lari kuda itu, bagai naga sakti yang terbang di udara, di tengah hujan angin yang deras hanya terlihat sesosok bayangan putih melintas, sama sekali tak dapat dikenali bentuknya secara jelas.

Setelah awan hitam yang tebal dan pekat mulai menipis di ufuk timur, akhirnya lamat-lamat muncullah secercah cahaya terang.

Di bawah sinar redup, di sisi pegunungan yang berbaris, terlihat bangunan rumah yang bersusun bagai sebuah perkampungan yang sedang terlelap tidur, itulah benteng Han-hong-po, sebuah pusat kekuatan persilatan yang disegani di seantero jagad.

Sambil meringkik nyaring, kuda Leng-liong-kou berlari semakin cepat, kini ia berlari menembus sebuah hutan lebat.

Di tengah pepohonan yang rindang, di tengah jalan setapak yang berliku-liku, ditambah air dan lumpur yang berhamburan kemana-mana, mendadak terdengar suara suitan nyaring bergema.

Sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas dahan pohon, agaknya ia sudah memperhitungkan waktunya secara tepat, karena tubuhnya langsung melayang turun di atas punggung kuda itu.

Tapi lari kuda Leng-liong-kou kelewat cepat, baru saja tubuh orang itu meluncur ke bawah, sang kuda sudah berkelebat lewat.

Dalam situasi demikian, terlihat orang itu menarik napas sambil melambung ke udara, kemudian setelah bersalto beberapa kali dia menyambar ekor kuda mestika itu dan mencengkeramnya kuat-kuat.

Dengan begitu tubuhnya pun terseret oleh lari kuda itu dan melambung di tengah udara.

Tiba-tiba orang itu menarik napas panjang, sekali lagi dia berpekik nyaring, kemudian melayang ke punggung kuda itu.

Sambil membelai bulu punggungnya yang halus, terdengar orang itu berbisik lirih:

"Kuda, wahai kuda, masakah kau sudah melupakan aku?"

Di balik kegelapan terlihat orang itu berwajah tampan, bermata tajam dan beralis tebal, wajahnya diliputi kesedihan dan amarah, ternyata dia tak lain adalah Im Ceng!

Walaupun kuda Leng-liong-kou masih berlari kencang, namun tampaknya dia masih teringat pada pemuda yang pernah menjinakkan dirinya, sambil meringkik rendah akhirnya kuda itu berhenti berlari.

Waktu itu sikap Im Ceng jauh lebih tegang ketimbang kudanya, dengan cepat dia melompat ke belakang kuda, di situ terlihat ada dua utas tali kasar yang masih menggelantungan, tali itu penuh dengan percikan darah, juga lumpur, tapi ujung tali sudah tak nampak sepotong benda pun.

"Mungkinkah sudah terlepas?"

Hawa panas yang bergelora dalam dadanya membuat Im Ceng tidak kuasa menahan diri, dia menjatuhkan diri ke tanah dan menangis tersedu-sedu.

"Toako, ooh Toako, sungguh mengenaskan kematianmu, bukan saja jenazahmu tidak utuh, bahkan harus tercecer di sepanjang hutan belantara.....”

Sekonyong-konyong terdengar suara hentak­kan nyaring berkuman-dang berulang kali, tahu-tahu dari balik hutan sana sudah bermunculan puluhan orang lelaki kekar berpakaian ringkas dan bersenjata tajam, dalam waktu singkat mereka telah mengepungnya rapat, puluhan pasang mata yang tajam berkilauan bagai mata golok yang tertimpa cahaya memandangnya tanpa berkedip.

Im Ceng segera tertawa keras, dia mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, kemari, ayo kemari, aku memang sedang mencari kalian untuk membalas dendam sakit hati Toakoku!"

Baru selesai dia berteriak, tiba-tiba empat orang lelaki kekar yang semula menghadang dihadapannya telah menyingkir ke samping dan membukakan sebuah jalan lewat.

Menyusul terlihat seorang kakek kurus kering, berjubah putih, bertopi caping lebar berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Air hujan masih menetes membasahi topi capingnya, menetes di atas wajahnya yang kereng dan penuh wibawa.

Orang itu memiliki kening tinggi dengan sorot mata yang tajam, hidungnya agak bengkok bagai paruh elang, di bawah dagunya terlihat jenggot kambing berwarna abu-abu yang berkibar terhembus angin.

Begitu tiba di hadapan Im Ceng, segera tegurnya ketus:

"Siapa Toakomu, dendam sakit hati apa yang terjalin antara Toakomu dengan benteng Han hong po? Apakah kau anggota perguruan Thi hiat tay ki bun?"

"Leng It hong!" Im Ceng tertawa seram, "kecuali anggota Thi-hiat tay ki bun, keluarga mana yang bisa memiliki anak laki macam kami!"

Ternyata kakek berhidung elang itu bukan lain adalah Han hong Po cu, pemilik benteng Han ­hong po, Leng It-hong.

Sambil mengelus jenggot kambingnya, dia menegur dengan suara dalam:

"Tengah malam buta begini, berani amat kau mencuri kuda mestika kami, Leng liong kou, nyalimu betul-betul luar biasa"

Hujan  angin   kembali  melanda  dengan lebatnya, butiran air yang menetes dari caping lebarnya segera menutupi perubahan wajah kakek itu, menutupi juga telapak tangannya yang gemetar.

Sambil tertawa dingin seru Im Ceng:

"Hmm, orang lain boleh saja menganggap benteng Han hong po sebagai dinding tembaga tembok baja, tapi Siauya sama sekali tak memandang sebelah mata, mau datang mau pergi sesuka hatiku, hmmm, terhitung macam apa dirimu itu!"

Tiba-tiba Leng It-hong bertanya:

"Perguruan panji sakti telah melaksanakan hukuman mati Ngo be hun si (lima kuda memisahkan mayat), apakah tujuannya untuk menghukum Im Kian, si bocah tidak becus itu?"

"Kau akan mendapat giliran yang kedua!" jerit Im Ceng penuh dendam.

Tubuhnya segera bergerak cepat, langsung menerjangke hadapan Leng It hong.

Tiba-tiba terlihat cahaya golok berkelebat, tiga orang lelaki berpakaian ringkas mengayunkan golok panjangnya menyongsong keda-tangannya, bunga golok bergetar di udara dan memisah menjadi tiga bagian, masing-masing membabat tubuh bagian atas, tengah dan bawah Im Ceng.

Sementara itu Leng It-hong telah menegakkkan kepala sambil tertawa seram, serunya:

"Im Gi, wahai Im Gi, Lohu mesti berterima kasih kepadamu, anak jahanammu telah menggaet putri keluarga Leng kami, tidak disangka kau telah mewakili Lohu menghukum mati bajingan itu!"

Begitu berhenti tertawa, segera hardiknya:

"Tahan, biarkan dia pergi!"

Ketiga orang lelaki itu segera menarik kembali senjatanya dan mundur tiga langkah.

"Manusia she Im," kembali Leng It hong berkata dengan suara mendalam, "mengingat kau pun seorang Enghiong Hohan, kali ini Lohu akan memberi jalan hidup bagimu, lain kali bila berani membuat onar lagi dalam benteng Han hong po, jangan salahkan Lohu membuat kau bisa datang, susah pergi!"

"Jaubui (kentut busuk)!" umpat Im Ceng gusar, "kau tak perlu berlagak suci, sok berwelas-asih, hari ini Siauya justru tak mau balik, bisa apa kau?"

Telapak tangannya kembali menyambar ke muka, dengan lima jari tangannya bagai sebuah kaitan, dia mencengkeram ujung sebilah golok panjang, kemudian tangannya digetarkan kuat-kuat.

Termakan cengkeraman itu, lelaki pemilik golok itu tak kuasa menggenggam senjatanya lagi, lekas dia melepaskan senjatanya sambil melang-kah mundur.

Im Ceng mendengus dingin, kembali lengannya menyodok ke muka, kali ini dengan gagang golok rampasannya dia menyodok jalan darah Ciang tay hiat di dada lawan.

Dua bilah golok panjang lainnya tak tinggal diam, satu dari kiri dan yang lain dari kanan secepat kilat membabat sepasang bahu Im Ceng, cahaya golok berkelebat bagai rantai dan melintas secepat petir.

Sambil membungkukkan tubuh, Im Ceng merangsek maju ke depan, tahu-tahu dia sudah menerobos lewat melalui bawah babatan golok lawan.

Sikut kanannya bekerja cepat, ia langsung menyodok lambung lelaki yang ada di sebelah kiri dengan kuat.

Termakan sodokan yang tidak terduga ini, lelaki itu meringkuk kesakitan, tubuhnya langsung terbungkuk-bungkuk dan tidak mampu berdiri tegak lagi.

Sementara telapak tangan kirinya dengan jurus To yap tiau yang jiu (menusuk balik telapak tangan), mencengkeram pergelangan tangan lelaki yang ada di sebelah kanan, begitu dipuntir sambil disentak ke depan, tubuh lelaki kekar yang bobot tubuhnya mencapai ratusan kati itu seketika terlempar ke udara.

Ling It-hong mendengus dingin, tubuhnya bergeser tiga langkah ke samping sambil menjulurkan telapak tangan kanannya, tahu-tahu dia sudah mendorong tubuh lelaki yang terlempar ke udara itu perlahan, menggunakan tenaga dorongan itu, lelaki itu segera berjumpalitan beberapa kali di udara dan melayang turun kembali ke tanah.

Meski berhasil mendarat dengan selamat, tak urung sepasang matanya terbelalak juga mengawasi lawannya, jelas rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaannya belum berhasil dikendalikan.

Dengan ibu jarinya Im Ceng menekan ujung golok, jari telunjuknya melakukan gerakan mencukil dari bawah, golok panjang itu segera berputar arah dan gagang golok itupun jatuh ke dalam genggamannya.

Dengan golok berada di tangan, posisi Im Ceng sekarang ibarat harimau tumuh sayap, segera hardiknya:

"Tua bangka sialan, serahkan nyawamu!"

Ling It-hong sama sekali tidak menggerak­kan tubuhnya, hanya ujarnya dengan dingin:

"Anak muda, jangan kelewat takabur dan lupa diri, tindakan semacam ini hanya akan mempermalukan diri sendiri, coba periksa dulu sekeliling mu, lihatlah apakah sekarang kau masih sanggup melarikan diri?"

Di luar lingkaran lelaki bergolok panjang kini telah bertambah lagi dengan satu lapis pemanah yang telah membentangkan busurnya dan siap melepaskan anak panah yang telah disiapkan, asal ada perintah, maka hujan panah segera akan dilancarkan ke tubuh anak muda itu.

"Sudah kau periksa dengan jelas?" kata Leng It-hong sambil mengangkat telapak tangannya, "asal kuayunkan tanganku ke bawah, perguruan Tay ki bun segera akan kehilangan lagi seorang jagoannya!"

"Bila kau ingin mengancam dengan meng­gunakan keselamatan jiwaku sebagai taruhan, maka perhitunganmu keliru besar," teriak Im Ceng sambil membusungkan dada, "kalau ingin menyerang, silakan saja dilakukan, lihat saja apakah Siauyamu ini bakal mengernyitkan dahi atau tidak?"

"Hmm! Walaupun kematianmu tidak perlu disesalkan, tapi tahukah kau bahwa hingga kini kondisi perguruan panji sakti masih sangat lemah, tahukah kau apa sebabnya ayahmu rela hidup menderita selama dua puluh tahun di tepi perbatasan hanya untuk mendidik kalian beberapa orang murid? Tujuannya tidak lain adalah agar kalian kelak bisa membangun kembali kejayaan serta nama besar perguruan panji sakti dalam dunia persilatan, bila hari ini kau mengorbankan nyawa dengan percuma, apakah tidak merasa patut disayangkan? Coba camkan kembali ucapan­ku ini."

Im Ceng mendongakkan kepala sambil tertawa seram.

"Jago-jago yang muncul dalam perguruan panji sakti bukan cuma aku seorang, sekalipun hari ini aku tewas di tanganmu, suatu hari kelak tetap akan muncul orang lain yang akan menuntut balas kepadamu. Hmmm! Kau tak perlu menakut-nakuti aku!"

"Menghadapi kematian seperti pulang ke rumah, kegagahan dan keberanianmu memang mengagumkan, tapi menolak nasehat yang baik, keras kepala mengikuti suara hati sendiri justru merupakan tindakan seorang goblok yang kelewat dungu."

"Sudah, jangan banyak cingcong," tukas Im Ceng nyaring, "kalau ingin bunuh, cepat bunuh, kalau ingin bertarung, ayo kita segera bertempur!"

Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara, sambil menjejakkan kakinya dia menendang punggung lelaki kekar itu.

Saat itu rasa kaget dan ngeri yang dirasakan lelaki itu belum lagi hilang, kini dia semakin terkesiap, buru-buru tubuhnya ber-gulingan di atas tanah menghindarkan diri dari tendangan maut itu.

Siapa sangka saat itulah In Ceng meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa, dari pukulan berubah menjadi cengkeraman, kali ini dia sambar kaki lelaki itu dan memutarnya di angkasa.

Tak sempat menjerit kaget, tubuh lelaki itu sudah terangkat ke udara dan diputar kencang bagaikan sebuah gangsing.

Menyaksikan rekannya jatuh ke tangan lawan, bahkan digunakan sebagai perisai, tentu saja kawanan pemanah itu tidak berani sembarangan bertindak, untuk sesaat mereka menjadi bimbang dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Sambil membentak nyaring, teriak Im Ceng:

"Siapa menghalangi aku mampus, siapa menghindari aku hidup!"

Sambil memutar perisai manusia itu, dia menerjang maju ke dalam kepungan dengan kecepatan luar biasa.

Seketika itu juga suasana menjadi kalut, karena tak tahu apa yang mesti dilakukan, barisan pengepung itupun kacau-balau tak keruan, dengan begitu terbukalah sebuah jalan.

Menyaksikan hal ini, Leng It-hong segera tertawa dingin, serunya:

"Sejak tadi Tio-toa sudah kehilangan nyawanya, apa lagi yang kalian ragukan?"

Dua orang lelaki bergolok menanggapi teriakan itu dengan menerjang maju ke muka, goloknya diayunkan langsung membabat ke tubuh lelaki yang berada di tangan Im Ceng.

Begitu kuat bacokan golok itu, tak selang berapa saat kemudian, bacokan kedua orang itu telah membelah tubuh rekannya menjadi tiga bagian.

Dimana cahaya golok menyambar lewat, percikan darah segera berhamburan.

Im Ceng membentak nyaring, sekuat tenaga dia lemparkan potongan mayat dalam genggaman­nya ke wajah salah satu lelaki penyerang itu.

Lemparan yang tak terduga ini seketika membuat seluruh wajah lelaki itu bermandikan darah, sambil menjerit kaget dia melompat mundur, tapi begitu teringat benda yang dilemparkan ke wajahnya adalah kurungan mayat rekannya yang terbelah, kontan perutnya   menjadi mual.

Tanpa membuang waktu lagi dia membuang golok dalam genggaman nya dan berlarian menjauh dari situ sambil memuntahkan seluruh isi perutnya, lari seperti orang gila.

Bagai harimau ganas yang menyerang mangsanya, Im Ceng langsung menerobos masuk ke tengah lapisan cahaya golok, dengan tangan kosong dia melayani puluhan bilah golok panjang yang menyambar di sekeliling tubuhnya.

Terlihat bayangan manusia bergerak lewat, diiringi jeritan kaget, lagi-lagi ada tiga orang lelaki kekar yang terseret dan terlempar keluar dari arena pertempuran.

"Budak-budak goblok yang tidak berguna!" umpat Leng It-hong dengan wajah bertambah gelap.

Kawanan pemanah yang berada di empat penjuru serentak menarik busur masing-masing, siap melancarkan serangan, begitu telapak tangan Leng It-hong dibalik dengan ibu jari menuding ke bawah, serentak kawanan jago itu membentak nyaring dan melepaskan anak panah masing-masing.

Desingan angin tajam seketika memenuhi seluruh udara, berpuluh-puluh batang anak panah bagaikan beribu ekor belalang terbang, langsung meluruk ke tubuh lawan.

Mimpi pun kawanan jago bergolok panjang yang sedang mengepung Im Ceng tidak menyangka, Pu-cu mereka begitu tega tidak memikirkan keselamatan anak buahnya dengan memutuskan untuk melepaskan hujan panah.

Dalam terkejut bercampur ngeri, serentak mereka memutar goloknya sambil kabur ke empat penjuru, dua orang di antaranya yang kabur agak terlambat seketika tertembus panah, diiringi jerit mengerikan yang memilukan hati mereka jatuh bergelimpangan di tanah dengan dada tertembus puluhan batang panah.

Sejak semula Im Ceng telah mempersiapkan golok dalam genggaman, sambil memutar tubuh dia memainkan goloknya kian kemari, seketika anak panah yang tertuju ke arahnya berjatuhan dimana-mana.

Tapi kawanan pemanah itu telah menyiapkan kembali anak panahnya, mereka siap melepaskan serangannya begitu diperintahkan.

Dengan pandangan dingin Leng It-hong mengawasi anak muda itu, katanya ketus:

"Sekarang aku sudah tidak bisa membebas­kan dirimu lagi, tangkap dia hidup-hidup atau bunuh dia di tempat!"

Mendadak dari balik rindangnya dedaunan sebatang pohon raksasa, muncul seorang gadis, meski berbaju perlente, namun keadaannya amat mengenaskan.

Dari belakang gadis itu, di balik dedaunan yang lebat, terdengar seseorang berseru dengan suara dingin:

"Leng It-hong, kau masih menginginkan nyawa putrimu?"

Berubah hebat paras muka Leng It-hong.

"Siapa kau?" hardiknya, "cepat bebaskan dia!"

"Tidak sulit bila ingin kubebaskan putrimu, silakan kalian antar pemuda she Im itu keluar hutan, kujamin nyawa putrimu tak akan terusik!"

Ling It-hong tertawa dingin.

"Hmm, ternyata anak murid perguruan panji sakti pun mampu melakukan perbuatan sebejad itu, hari ini sepasang mata Leng It-hong betul-betul terbuka!" ejeknya.

"Siapa bilang dia adalah anggota perguruan panji sakti?" teriak Im Ceng gusar.

"Kalau dia bukan anggota perguruan panji sakti, kenapa menggunakan cara yang begitu licik dan busuk untuk menyelamatkan jiwamu?"

Dengan gusar Im Ceng segera menengadah, teriaknya:

"He... siapa kau?"

"Setelah keluar dari hutan ini dalam keadaan selamat, otomatis kau akan bersua denganku!"

"Aku Im Ceng meski harus mati pun tak sudi kau tolong dengan cara serendah itu."

Orang yang berada di balik rindangnya pepohonan itu segera menyahut sambil tertawa dingin:

"Kalau aku ngotot ingin menolongmu, mau apa kau?"

Tiba-tiba Leng It-hong melepaskan topi bambu dari kepalanya dan membantingnya keras-keras ke tanah, umpatnya:

"Selama hidup Lohu paling benci dipaksa orang, hari ini aku benar-benar dibuat celaka oleh kau si budak sialan."

"Mundur!" teriaknya kemudian.

Tidak selang berapa saat, seluruh jagoan yang ada di situ telah mengundurkan diri.

"Kenapa belum kau bebaskan dia?" kembali Leng It-hong membentak nyaring.

"Orang she Im toh belum pergi dari situ!" jawab orang itu sambil tertawa.

"Kau hanya bisa menggunakan cara itu untuk memaksa, jangan harap bisa memaksaku," teriak Im Ceng lagi, "kalau aku bersikeras tidak mau pergi, bisa apa kau?"

"Kalau tidak mau pergi, aku pun bersikeras tidak akan melepaskan dia, sehari kau tidak pergi, sehari juga aku tidak akan melepaskan dia, jika sepuluh hari kemudian kau baru pergi, aku pun akan menahannya sepuluh hari, aku tahu tabiatmu memang keras kepala, justru ingin kulihat watak baumu yang keras dan busuk itu bisa bertahan berapa lama?"

Hijau membesi paras muka Im Ceng, biarpun dia tahu orang sedang menolongnya, tapi dia justru tak sudi menerima budi kebaikan itu, mendadak hardiknya:

"Aku justru akan memaksamu melepaskan dia!"

tahu baru saja tubuhnya berputar, telapak tangan Leng It-hong sudah dihantamkan ke ulu hatinya.

"Kurangajar!" teriak Im Ceng gusar, "aku berbaik hati menolong putrimu, kenapa kau malah membokongku?"

"Hahahaha...." orang di belakang pohon ikut tertawa tergelak, "aku pun berbaik hati ingin menolongmu, kenapa kau pun membokongku?"

Kontan Im Ceng terbungkam, tak sanggup berkata lagi.

Tiba-tiba dari luar hutan terdengar seseorang berteriak:

"Dimana adik Im Kian?"

Di tengah hujan lebat terlihat seorang gadis berbaju putih dengan membawa payung bambu melayang masuk ke dalam hutan.

Gerakan tubuhnya enteng dan cepat, sekalipun sedang berjalan di tengah hujan deras, pakaiannya tak nampak kotor, ternoda sedikit lumpur pun tidak.

Ling It-hong seketika kembali mengernyit­kan alis matanya.

Gadis berbaju putih itu sama sekali tidak menengok kearahnya,   sorot matanya hanya mengawasi Im Ceng tanpa berkedip.

"Jadi kau adalah Im Ceng?" dia menyapa.

"Dan kau Leng Cing-soat?"

"Benar aku," sahut gadis berbaju putih itu sambil manggut-manggut.

"Kau telah mencelakai Toakoku, sekarang masih punya muka untuk bertemu denganku?" bentak Im Ceng lagi.

Sepasang kepalannya langsung ditonjokkan ke depan, menghantam sepasang bahunya.

Dengan cekatan eng Cing-soat mengoyang pinggangnya dan tahu-tahu sudah lolos dari ancaman.

"Kau berani bersikap kurangajar terhadap ensomu?" tegurnya.

"Kau ini enso siapa?" balas Im Ceng gusar.

Ketika serangan yang kedua baru saja dilancarkan, terdengar Leng Cing-soat berseru lagi:

"Aku sedang mengandung darah daging Toakomu, berani kau memukulku?"

Sambil berkata dia majukan tubuhnya dan siap menyambut pukulan itu.

Buru-buru Im Ceng menarik kembali pukulannya sambil mundur tiga langkah, untuk sesaat dia berdiri mematung, wajahnya sebentar berubah hijau sebentar putih, untuk beberapa saat dia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah menghela napas panjang kembali Leng Cing-soat berkata:

"Setelah Toakomu meninggal, sudah seharusnya kau turuti perkataan ensomu, cepat tinggalkan tempat ini, ketahuilah ensomu adalah seorang yang bernasib jelek!"

Butiran air matanya kembali bercucuran membasahi pipinya.

Im Ceng memandang sekejap air mata yang membasahi wajah   perempuan itu, kemudian memandang sekejap pula ke arah gadis yang ada di atas pohon, akhirnya sambil menjejakkan kakinya dengan gemas, dia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Mendadak berkelebat kembali selapis hujan cahaya yang menyilaukan mata, puluhan titik cahaya perak yang membawa desingan angin tajam meluncur datang dan mengurung radius beberapa depa di sekeliling tubuhnya.

Dengan cekatan Im Ceng menjatuhkan diri ke belakang, lalu melejit ke udara dan berputar tiga kali.

"Triiing, triiing!", lapisan hujan perak itu bergerak membuat satu lingkaran, kemudian baru berkumpul menjadi satu, setelah saling membentur di tengah udara, hujan perak tadi baru menyebar ke empat penjuru dengan kekuatan yang sama sekali tak berkurang.

Kali ini lapisan hujan cahaya itu meng­ancam ke wajah dan dada anak muda itu.

Im Ceng mengayunkan sepasang tangannya berulang kali, di tengah deru angin pukulan yang bergelombang, akhirnya ia berhasil merontokkan semua hujan cahaya itu, ternyata benda-benda itu tidak lain adalah puluhan batang jarum perak yang lembut bagai bulu kerbau.

Paras muka Leng It-hong maupun Leng Cing-soat berubah hebat, sementara manusia misterius yang berada di balik pepohonan ikut membentak penuh amarah:

"He, berani amat kau melancarkan serangan bokongan kepadanya, memangnya nyawa putrimu sudah tidak kau inginkan?"

"Kalian keliru besar," teriak Leng Cing-soat, "senjata rahasia itu bukan dilancarkan oleh orang-orang Han hong po."

"Apa? Kau masih ingin berkelit?" seru Im Ceng.

"Orang yang biasa menggunakan Thian li ciam (jarum gadis langit) sebagai senjata rahasia andalannya hanya ada satu keluarga, ilmu melepaskan Am gi Leng long biau jiu, Sam san thian hoa (jari tangan lentik penyebar bunga langit) pun tiada duanya di kolong langit, setelah menyaksikan senjata rahasia semacam ini, setelah melihat ilmu melepaskan senjata rahasia seperti ini, masakah kalian belum bisa menebak siapa pelakunya? Mana boleh kalian timpakan kesalahan ini kepada benteng Han hong po?"

"Lalu perbuatan siapa? Kalau punya nyali, ayo cepat perlihatkan wajahmu!"

Tiba-tiba Leng It-hong menganggukkan kepalanya seraya berkata:

"Seng-toaso, silakan keluar, bila kau tidak segera tampil, keponakan wanitamu akan kehilangan nyawa!"

Gelak tertawa seketika berkumandang dari belakang sebatang pohon besar.

Suara tertawanya merdu, lembut dan sedap didengar, bagaikan suara tertawa seorang gadis, tapi yang muncul berbareng suara tertawa itu adalah seorang nyonya tua yang rambutnya telah beruban dan membawa sebuah tongkat besar.

Di belakang nenek itu mengikut seorang lelaki setengah umur yang memiliki wajah merah dengan hidung singa dan mulut lebar, kumis dan jenggotnya pendek dan tipis.

Ia mengikut terus di belakang si nenek sambil memegangi sebuah caping bambu yang lebar, dengan caping itu dia menutupi kepala si nenek dari curahan air hujan, sementara pakaiannya sendiri yang dikenakan telah basah kuyup.

Nenek itu berjalan dengan langkah lebar, bukan saja tidak nampak ketuaannya, bahkan gerak-gerik maupun suara tawanya mirip seorang gadis berusia belasan.

"Tiga orang menantuku, satu demi satu telah tewas di tangan orang-orang Tay ki bun," ujarnya nyaring, "ini membuat putraku selama belasan tahun enggan menikah lagi, apa salahnya kalau kau pun kehilangan seorang putri untuk menemani menantuku di alam baka? Sekarang anak orang she Im sudah muncul di benteng Han hong po, memangnya akan kau lepas begitu saja?"

Nada ucapan si nenek pun terdengar halus dan lembut, jauh bertolak belakang dengan kerutan yang memenuhi wajahnya.

Berubah paras muka Leng It-hong. Tapi sebelum ia sempat berkata, manusia misterius yang berada di balik pepohonan telah berseru sambil tertawa:

"Rupanya yang datang adalah pemilik perkampungan keluarga Seng yang dulu disebut orang San hoa hian li (perempuan sakti penyebar bunga) Seng-toanio? Berarti yang mengikut di belakangmu adalah Ci sim Kiam khek (jago pedang berhati merah) Seng Cun-hau, Seng-siaucengcu, selamat bersua, selamat bersua!"

Seng-toanio mendengus dingin, tanpa mendongakkan kepala, katanya dingin:

"Hmm, bukankah kau ingin mencabut nyawa Leng Cing-ping? Ayo, lakukan segera. Kini aku sudah muncul di sini, jangan harap manusia she Im itu bisa kabur lagi dari tempat ini!"

"He, Leng It-hong, sudah kau dengar perkataan itu? Biarpun menantunya sudah mati, dia masih punya anak lelaki, sebaliknya jika kau kehilangan putrimu, menantu pun tidak akan kau punyai"

"Im Ceng, sebenarnya kau mau pergi atau tidak?" dengan wajah menyeramkan Leng It-hong menghardik.

Saat itu Im Ceng sedang berdiri bersandar di atas sebatang pohon besar, sambil bersiaga penuh, sahutnya lantang: "Siauya kalau mau datang segera akan datang, mau pergi segera akan pergi, jangan harap ada yang bisa menghalangiku!"

"Benarkah begitu?" jengek Seng-toanio, "Leng-laute, sudah kau dengar? Orang lain sama sekali tak memandang sebelah mata pun terhadap benteng Han-hong-po, masa kau hanya berdiam terus?"

Sebelum Leng It-hong menjawab, sambil menghela napas panjang Leng Cing-soat telah berkata: "Bibi, semestinya kau pun berpikir untuk kami, kini adikku sudah terjatuh ke tangan orang, apalagi yang bisa kami perbuat?"

"Keponakanku, kau jangan berkata begitu," tukas Seng-toanio, "ketika bibi menyaksikan perguruan Tay-ki-bun kembali melaksanakan hukuman mati dengan ditarik lima ekor kuda, bahkan mencuri kuda mestika, buru-buru aku menyusul kemari, bukankah tujuannya demi kebaikan bersama? Sudah bertahun-tahun lamanya perguruan Tay ki bun menahan diri, kini mereka mulai muncul sambil melakukan pembalasan dendam, jelas orang-orang itu akan melakukan pemban-taian secara besar-besaran, jika kau tidak membunuhnya, dialah yang akan membunuhmu. Sekarang jumlah orang kita banyak, sedang jumlah mereka sedikit, kalau satu melawan satu sudah pasti kitalah yang untung."

Tiba-tiba Im Ceng tertawa tergelak, serunya: "Siapa yang sudi beradu nyawa dengan kalian? Selamat tinggal, Siauya segera akan pergi!"

Di tengah gelak tertawanya, ia bergeser sambil menempel di batang pohon dan menyelinap masuk ke balik pepohonan yang lebat.

Siapa pun tak ada yang menyangka dengan tingkah-laku pemuda ini, tadi ketika dilepas, ia ngotot tak mau pergi, sekarang ketika orang berniat menahannya, ia justru memanfaatkan peluang itu untuk kabur.

Seng-toanio tertawa dingin.

"Cun-hau!" serunya, "hadang jalan pergi­nya!"

Pendekar pedang berhati merah Seng Cun-hau menyahut dengan suara dalam, baru saja dia akan menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget dari Im Ceng yang berasal dari balik pepohonan:

"Aaah, rupanya kau!"

Menyusul kemudian terdengar suara jeritan kaget Leng Cing-ping yang terjatuh dari atas pohon, lekas Leng It-hong melompat ke depan dan memeluk tubuh putrinya.

Dalam waktu yang amat singkat, terlihat bayangan manusia berkelebat, tahu-tahu Seng Cun-hau telah melolos pedangnya sambil menerobos masuk ke balik pepohonan.

Diiringi suara ranting dan dahan pohon yang berguguran tertebas pedangnya, tampak dua sosok bayangan manusia meluncur turun dari atas sebatang pohon.

Segera Leng It-hong menyerahkan gadis yang berada dalam bopongannya ke tangan Leng Cing-soat, serunya berat:

"Cepat bawa dia pulang!"

Ling Cing-soat mundur ke belakang, tapi sorot matanya masih memandang ke arah depan.

Terlihat dua sosok bayangan manusia meluncur turun dari atas dahan pohon, salah seorang di antaranya adalah seorang lelaki berbaju serba hitam dengan sebilah pedang tersoreng dipunggungnya.

Baru saja pemuda itu siap menutulkan kembali kakinya untuk sekali lagi melambung ke udara, tiba-tiba terasa segulung angin pukulan yang dingin menggidikkan telah menyambar tiba.

Rupanya Leng It-hong telah memburu datang sembari melancarkan sebuah pukulan maut.

"Saat ini jangan harap kau bisa lolos dari sini!" teriaknya gusar.

Pemuda berbaju hitam itu tetap bungkam, dia membuang tubuhnya ke belakang untuk menghindari pukulan itu, menggunakan kesempatan yang ada dia pun mencabut pedangnya sambil menyerang sepasang mata lawan.

Bukan saja ilmu pedangnya tajam, serangan pun dilancarkan cepat bagai sambaran petir.

Ling It-hong segera membalik sepasang tangannya sambil dirangkap jadi satu, tujuannya ingin menjepit tubuh pedang orang berbaju hitam itu, kecepatannya mengubah jurus serangan betul-betul luar biasa.

Siapa sangka orang berbaju hitam itu telah memutar pedangnya sambil melepaskan tusukan langsung, dalam waktu singkat lagi-lagi dia melancarkan lima serangan berantai.

Biarpun ilmu pedangnya biasa tanpa variasi yang aneh, namun kecepatan serangannya betul-betul luar biasa, biarpun Leng It-hong sudah puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan pun jarang menjumpai kehebatan semacam ini.

Di pihak lain pendekar pedang berhati merah Seng Cun-hau sudah bertarung tiga gebrakan melawan Im Ceng, tiba-tiba serunya:

"Paman Leng, biar keponakan yang menjajal kehebatan jurus serangan pemuda itu!"

Sekalipun perkampungan keluarga Seng tersohor sebagai keluarga senjata rahasia, namun selama ini Seng Cun-hau justru lebih terkenal dalam dunia Kangouw sebagai seorang jago pedang, tak heran muncul keinginannya untuk menjajal ilmu pedang pemuda berbaju hitam itu setelah menyaksikan kehebatan lawan.

"Ilmu pedang yang dimiliki bangsat ini sangat cepat, permainan tangannya sangat lincah, Hiantit, kau mesti lebih berhati-hati bila bertarung melawannya!" kata Leng It-hong dengan suara dalam.

"Keponakan mengerti!"

Setelah melancarkan tiga serangan berantai, dia telah bertukar posisi dengan Leng It-hong, pedangnya diluruskan sejajar dada dan kini ia berdiri saling berhadapan dengan pemuda berbaju hitam itu.

Mereka berdua berdiri saling berhadapan tanpa menggerakkan tubuh, hanya sorot matanya yang saling bertatapan.

Kedua orang ini, yang satu berwajah hitam bersinar merah, sementara yang lain berwarna hitam berkilat, hidungnya sama-sama hidung singa, matanya sama-sama tajam bagai sembilu, keangkeran mereka lamat-lamat memperlihatkan gaya seorang jago kenamaan.

Di pihak lain Im Ceng telah bertarung beberapa gebrakan melawan Leng It-hong, mendadak pemilik benteng Han hong po ini menyaksikan lawannya sedang mengawasi pemuda berbaju hitam itu dengan wajah penuh amarah.

Terdengar Seng-toanio sambil tersenyum telah berseru:

"Leng-laute, kenapa mesti terburu-buru bertarung? Toh orang she Im itu tidak bakal bisa lolos dari sini, ayo kita saksikan pertarungan orang ini lebih dulu, coba lihat, bukankah perawakan pemuda itu mirip sekali dengan Cun-hau? Hakikatnya mereka seperti dua bersaudara saja."

Im Ceng yang berada di tepi arena mendadak berteriak pula dengan suara lantang: "Thiat Tiong-tong! Kalau kau enggan melancarkan serangan, lebih baik angkat saudara saja dengan orang itu!"

Ternyata pemuda berbaju hitam itu tak lain adalah murid ketiga dari perguruan Tay ki bun, Thiat Tiong-tong, dia adalah seorang anak yatim piatu dan sudah banyak menerima budi dari perguruan, itulah sebabnya pada hari-hari biasa ia selalu mengalah kepada adik seperguruannya ini.

Maka akhirnya dia pun turun tangan.

Orang yang tak sembarangan melancarkan serangan, biasanya serangan yang dilakukannya pasti cepat bukan kepalang.

Diiringi dua bentakan nyaring, dua kilas cahaya pedang saling menyambar di tengah udara.

Menyusul kemudian "Triiing, triiing....", kembali berkumandang dentingan nyaring saling beradunya pedang, begitu bertemu mereka saling berpisah lagi, dalam waktu singkat kedua belah pihak telah melancarkan belasan jurus serangan.

Kini perhatian semua orang sudah tertuju ke tengah arena, semua orang seakan-akan terkesima oleh pertarungan yang sedang berlangsung.

Hanya Im Ceng seorang yang terkecuali.

"Aaah, ternyata mereka berasal dari perguruan Tay ki bun, bagus, bagus sekali" terdengar pujian bergema berulang kali.

"Apanya yang bagus?" bentak Im Ceng gusar.

Seng-toanio tertawa terkekeh-kekeh.

"Di saat perguruan Tay-ki-bun melakukan pembalasan, biasanya mereka suka membokong dan menyerang secara gelap, bahkan jumlahnya tak mungkin hanya satu dua orang, hari ini sudah ada tiga orang yang jatuh ke cengkeraman kami, apa tidak bagus namanya?"

"Mana ada tiga orang?" tanya Leng It-hong keheranan.

"Leng-Iaute, masa kau lupa kalau dalam perut putrimu masih ada seorang lagi?"

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Asal ada anggota keluarga Im yang terjatuh ke tanganku, jangan harap mereka bisa hidup selamat!"

Ling It-hong segera melompat ke depan, menghadang di depan dua bersaudara Leng Cing-soat, bisiknya kemudian:

"Kalian segera mundur dari sini!"

Sekali lagi Seng-toanio tertawa terkekeh-kekeh.

"Leng-Iaute, apa yang kau takuti? Memangnya jarum gadis langit milik Seng-toanio digunakan secara sembarangan? Sekalipun akan turun tangan, yang pasti sasarannya bukan putrimu!"

Pada saat itulah mendadak dari luar hutan muncul belasan ekor kuda yang tinggi besar berlarian mendekat, kuda-kuda itu mengenakan pelindung kepala yang terbuat dari baja sementara punggungnya juga mengenakan lapisan lempengan baja yang kuat.

Belasan orang lelaki berbaju hitam menempel ketat di atas punggung kuda itu, meski sedang berlarian menerobos pepohonan yang rapat, namun kepandaian menunggang kuda orang-orang itu luar biasa sekali, mereka berhasil melewati setiap rintangan dengan mudah dan cepat, selancar sedang berlarian di padang luas.

Begitu rombongan berkuda itu menerobos masuk ke dalam hutan, seketika itu juga gerombolan manusia yang semula mengepung hutan itu membubarkan diri karena kaget bercampur takut.

Terdengar orang yang ada di kuda itu membentak nyaring:

"Semua anggota perguruan Tay ki bun segera mundur dari sini!"

Menyusul bentakan itu, puluhan titik senjata rahasia berhamburan keluar dari tangan para penunggang kuda itu langsung mengancam tubuh Seng-toanio, Leng It-hong serta Leng Cing-soat bersaudara.

Dua orang di antara mereka segera melompat turun dari kudanya dan menyisakan dua ekor kuda untuk Im Ceng berdua.

Sambil memutar pedangnya, Thiat Tiong-tong segera melompat naik ke punggung kuda, teriaknya sembari menarik lengan Im Ceng:

"Samte, ayo pergi dari sini!"

Im Ceng meronta melepaskan diri dari cengkeraman, dia segera melompat naik ke punggung kuda yang lain dan mencemplak kudanya.

Kedatangan rombongan manusia berkuda itu sangat cepat dan mendadak, sewaktu pergi pun mereka lakukan dengan cepat, terdengar ringkikan kuda yang sahut-menyahut, tidak selang beberapa lama kemudian mereka sudah lenyap di balik pepohonan.

Setelah berhasil menghindari serangan Am gi, Seng-toanio segera berseru:

"Ayo kejar!"

Setiap orang ikut dalam pengejaran itu, hanya Leng Cing-soat bersaudara tetap berdiri tak bergerak di posisi semula.

Tiba-tiba terdengar Leng Cing-ping meng­hela napas panjang sambil bergumam:

"Semoga mereka berdua tidak sampai terkejar oleh ayah!"

Mendengar itu Leng Cing-soat mengerutkan dahinya, tanyanya keheranan:

"Bukankah dia telah menyiksamu, kenapa kau malah berharap dia berhasil lolos?"

Sekali lagi Leng Cing-ping menghela napas sedih:

"Dia tidak menyiksaku, dia tidak pernah menyiksaku"

Ucapannya amat halus dan manja, tubuhnya pun kelihatan lemah tak bertenaga, sama sekali bertolak belakang dengan kondisi kakaknya yang keras, dingin dan angkuh.

Ling Cing-soat sekali lagi menatap adiknya, setelah menarik napas panjangujarnya:

"Ji-moay, apakah kau pun jatuh cinta kepada murid perguruan Tay ki bun itu? Apakah kau tidak cukup melihat penderitaan Cicimu ini?"

Leng Cing-ping menundukkan kepala, sampai lama dan lama sekali tanpa bicara.

 

BAB2.

Senyuman Suto Siau.

 

Thiat Tiong-tong serta Im Ceng memiliki ilmu menunggang kuda yang hebat, kedua ekor kuda tunggangan mereka pun merupakan kuda mestika pilihan yang hebat.

Tidak lama setelah berlarian menembus pepohonan, kedua orang itu sudah jauh meninggalkan rombongan berkuda lainnya.

Terdengar para penunggang kuda itu berseru keras:

"Kalian berdua cepat lari dari sini, biar kami yang menghadang para pengejar itu!"

Maka rombongan manusia berkuda yang ada di belakang pun semakin ketinggalan jauh.

Dalam waktu singkat Leng It-hong serta Seng-toanio telah berhasil menyusul seekor kuda yang ada di barisan paling belakang.

Sambil melambung ke tengah udara Leng It-hong melancarkan sebuah pukulan ke punggung penunggang itu, biarpun tenaga serangannya tidak terlalu dahsyat, namun ancaman yang dilepaskan dari tengah udara ini memiliki kekuatan yang cukup menakutkan.

Sementara Seng-toanio dengan tangan kanan menggenggam jarum perak, tongkat di tangan kirinya langsung disodokkan ke depan, ujung tongkatnya mengancam jalan darah Leng-tay-hiat serta Ming-bun-hiat di tubuh orang itu.

Serangan gabungan yang dilancarkan kedua orang itu sungguh dahsyat dan mengerikan, siapa tahu penunggang kuda itu hanya tertawa, tiba-tiba tubuhnya menerobos ke bawah perut kudanya.

Gerakan tubuhnya enteng dan cantik, bicara soal kemampuannya menunggang kuda, boleh dibilang jarang ada jagoan persilatan di daratan Tionggoan yang sanggup menandinginya.

"Mau lari kemana kau!" bentak Seng-toanio gusar.

Serangan tongkat besinya makin gencar, kali ini dia mengancam punggung kuda itu.

Perlu diketahui, tongkat besi yang dia gunakan adalah sebuah tongkat yang ditempa dari bahan baja dari laut selatan, jika sampai mengenai sasaran, dapat diduga baik manusia maupun kudanya akan tak tahan.

"Seng-toaci, ampuni jiwa mereka!"

Seng-toanio menarik kembali pergelangan tangannya, dengan jurus Hian gay li bi (sadar di saat genting) dia menahan serangan toyanya secara paksa dan menariknya ke belakang.

“Plokkk!", toya itu menghantam perlahan di atas pelana kuda itu.

Terlihat sesosok bayangan manusia menye­linap keluar dari bawah perut sang kuda, kemudian setelah duduk di pelana, ia menarik tali les kudanya, maka diiringi ringkikan panjang kuda itupun berhenti berlari.

Dengan wajah berubah Leng It-hong dan Seng-toanio segera berseru hampir berbareng:

"Suto Siau, rupanya kau?"

Orang ini berwajah bulat bagai rembulan, senyuman selalu menghiasi ujung bibirnya, dia pun termasuk salah satu musuh bebuyutan dari perguruan Tay ki bun, bukan saja seorang pendekar kenamaan dalam dunia persilatan, dia pun tersohor sebagai saudagar kaya raya, pemilik peternakan kuda Lok-jit dan dikenal sebagai Suto Siau.

Siapa pun tidak menyangka kalau orang yang menyelamatkan anak murid perguruan Tay ki bun dari mara bahaya ternyata adalah dia!

Ling It-hong dan Seng-toanio berdiri tertegun.

"Apa-apaan kau ini? Apa maksudmu berbuat begitu? Apakah kau telah mengkhianati sumpah setia persekutuan kita dengan berpihak kepada perguruan Tay ki bun?"

Suto Siau tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, biarpun aku punya keinginan begitupun belum tentu mereka mau menerimaku."

"Lantas? Memangnya kau sudah edan?"

"Seng-toanio toh seorang pendekar wanita yang ampuh dan pintar, masa tak bisa menduga siasat apa yang sedang Siaute lakukan hari ini?"

"Siasat? Siasat apa? Tanpa siasatmu pun kami berhasil mengurung para cecunguk perguruan Tuy ki bun, kenapa kau malah membebaskan mereka?"

"Aku pun ingin tahu siasat bagus apa yang sebenarnya sedang dirancang saudara Suto?" timbung Leng It-hong pula ketus.

Sementara itu belasan pasukan berkuda itu sudah berbalik dan berlarian pelan di tanah pegunungan, hujan yang turun makin bertambah kecil, walaupun langit masih gelap, namun fajar segera akan menyingsing.

"Aku tahu, membebaskan harimau pulang gunung, memang bukan cara yang tepat" kata Suto siau kemudian, "tapi aku sedang melaksanakan siasat mengulur senar pada ikan yang terpancing, jika kalian berdua masih juga belum paham, ayo kita cari dulu tempat berteduh, akan Siaute terangkan sejelas-jelasnya"

Tempat paling dekat untuk berteduh dari air hujan adalah benteng Han hong po, tentu saja tempat paling tepat yang dituju adalah benteng itu.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Suto Siau baru menerangkan secara gamblang:

"Perguruan Thi hiat tay ki bun adalah perguruan dengan kawanan jago yang tangguh, hampir semua partai dan perguruan yang ada di kolong langit menaruh rasa segan terhadap mereka, bukan disebabkan lantaran kungfunya memang merupakan aliran tersendiri, yang lebih penting lagi adalah gerak-gerik serta sepak terjang mereka kosen, nekad dan hebat. Belakangan mereka memang berusaha menghindari segala pertikaian dengan hidup mengasingkan diri di daerah pinggiran perbatasan, tapi siapa berani menjamin pada suatu hari nanti mereka akan muncul kembali di keramaian dunia, kemunculan yang kita semua kuatirkan."

Senyuman masih menghiasi bibirnya, setelah berhenti sesaat, lanjutnya kembali:

"Kemunculan kembali perguruan Thi hiat tay ki bun di daratan Tionggoan kali ini, tak terlepas tujuan utamanya adalah untuk menghadapi kita lima keluarga besar, bila kita analisa dari kekuatan yang dimiliki kedua belah pihak, aku rasa siapa lebih kuat dan siapa lebih lemah tak perlu kujelaskan lagi, kalian pun tentu lebih mengerti."

Ling It-hong maupun Seng-toanio tidak berkomentar, mereka hanya mendengarkan dengan seksama.

"Sekalipun kita tidak tahu kekuatan sesungguhnya dari perguruan Tay ki bun, namun anak murid mereka memang selamanya tak banyak, tak mungkin mereka bisa menghadapi keroyokan jumlah besar. Jadi apabila kita lima keluarga besar mau berhimpun menjadi satu dan bekerja sama, jelas saat kematian mereka sudah tiba. Tapi bila kita mesti berhadapan satu lawan satu... aku takut pihak kitalah yang bakal keok."

Ling It-hong tertawa dingin.

"Hmm, kecuali ada anggota persekutuan yang tiba-tiba berkhianat dan membantu pihak lawan secara diam-diam, kalau tidak, kerja sama kita lima keluarga besar tak mungkin buyar, bersatu terus sampai mati!"

Senyuman masih tetap menghiasi bibir Suto Siau, ujarnya lagi:

"Selisih jarak antara kita lima keluarga besar, yang paling dekat pun berjarak sekitar puluhan li, meskipun di waktu biasa jarang saling berhubungan, namun di saat ada ancaman bahaya, pasti akan datang saling membantu, selama ini serangan dari pihak perguruan Tay ki bun selalu dilakukan cepat bagai angin, begitu gagal dengan serangannya, mereka segera akan mundur, tapi bila serangannya berhasil, apa yang akan dilakukan?"

Sekali lagi paras muka Leng It-hong dan Seng-toanio berubah hebat.

Sambil tetap tertawa Suto Siau berkata lagi:

"Apalagi meski kita berhasil mengalahkan perguruan Tay ki bun, tapi asal ada satu saja di antara anak muridnya yang berhasil lolos, yang pasti kita akan selalu dibuat makan tak enak, tidur pun tak nyenyak, aku rasa kalian pun bukannya tak tahu bagaimana tabiat anggota perguruan Tay ki bun yang pantang menyerah dan punya tekad yang besar, bahkan sepak terjangnya mendekati perbuatan nekad itu?"

Perasaan setiap orang merasa bergetar karena mereka bisa membayangkan kembali betapa nekad dan mengerikannya sepak terjang orang-orang perguruan Tay ki bun.

Lewat lama kemudian Seng-toanio baru bertanya:

"Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan?"

"Himpun seluruh kekuatan yang ada dan basmi perguruan Tay ki bun hingga ke akar-akar­nya!"

"Tapi mereka ada di tempat gelap sementara kita ada di tempat terang, masa kita lima keluarga besar harus berkumpul menjadi satu setiap hari khusus untuk menanti kedatangan mereka?"

"Bila kita lima keluarga besar selalu berkumpul menjadi satu, tak mungkin mereka akan muncul."

"Itulah sebabnya cara semacam ini tidak bisa digunakan."

"Kenapa begitu? Kalau mereka tidak datang mencari kita, memangnya kita tidak bisa pergi mecari mereka?"

Ling It-hong tertawa dingin.

"Kalau bisa menemukan jejak mereka, sudah kucari orang-orang itu sejak dua puluh tahun berselang, tak perlu Suto-heng ingatkan lagi hari ini!"

"Hahaha," Suto Siau tertawa tergelak, "mungkin dua puluh tahun berselang tak berhasil ditemukan, tapi kalau kita cari hari ini pasti dapat dijumpai!"

"Maksudmu?" agak tergerak  hati  Seng-toanio.

"Itulah sebabnya aku melaksanakan siasat­ku dengan membebaskan mereka berdua," kata Suto Siau sambil tertawa, "biarpun kedua orang anggota perguruan Tay ki bun itu kubebaskan, namun secara diam-diam di bawah telapak kuda itu telah kupasang sejenis obat yang mengeluarkan bau sangat tajam, kita semua memang tak bisa mengendus bau itu, tapi bau itu tidak akan lolos dari penciuman anjing. Asal kita lepaskan anjing pelacak untuk mengikuti bau tajam yang ditinggalkan kedua ekor kuda itu, tidak lama kemudian sarang mereka segera akan ditemukan, coba bayangkan, bukankah siasatku ini jauh lebih jitu?"

"Hahaha, tidak nyana kau bisa memikirkan siasat seperti itu," seru Seng-toanio kemudian sambil tertawa.

"Siasat ini memang hebat," Leng It-hong menghela napas panjang, "tidak heran orang persilatan menyebut saudara Suto sebagai jagoan yang berpikiran jeli, Siaute benar-benar ketinggalan jauh."

Mendadak Seng-toanio menghentikan ter­tawanya seraya membentak:

"Leng Cing-soat, keponakan Leng yang hebat, sudah cukup kau menguping? Ayo cepat keluar!"

Dari balik penyekat ruangan terdengar seseorang tertawa merdu, menyusul suara tertawa Leng Cing-soat berjalan keluar dengan langkah lembut.

Begitu muncul, gadis itu segera menyapa:

"Paman Suto, baik-baikkah kau!"

"Hahaha, bagus sih bagus," sahut Suto Siau sambil tertawa tergelak, "sayang telingaku kurang tajam hingga kehadiranmu di balik penyekat ruangan pun tidak kuketahui."

"Kelihatannya Seng-toanio mesti minta maaf kepadamu," sindir Seng-toanio lagi sambil tertawa dingin, "kalau bukan gara-gara aku, sekarang kau tentu sudah menyampaikan berita ini keluar."

"Bibi, apa maksud perkataanmu itu?" tegur Leng Cing-soat dengan wajah berubah, "aku benar­-benar tidak habis mengerti kenapa kau selalu menyindirku, memangnya aku tidak boleh berada dalam rumahku sendiri?"

"Soat-ji!" dengan wajah berubah Leng It-hong menghardik.

Ling Cing-soat membalikkan tubuhnya, bertatapan muka dengan ayahnya.

Ling It-hong segera menghela napas panjang, nada suaranya yang semula kasar pun segera berubah menjadi lembut dan halus, katanya lagi:

"Sekarang Cianpwe sekalian sedang berunding, lebih baik pulanglah dulu ke kamarmu!"

"Lebih baik dia tetap berada di sini dulu!" kembali Seng-toanio berseru sambil tertawa dingin.

"Jadi kau benar-benar beranggapan Soat-ji akan menyampaikan kabar ini keluar?" paras muka Leng It-hong agak berubah.

"Apa salahnya kita berjaga-jaga?"

"Kurangajar" seru Leng It-hong gusar, "anggota benteng Han hong po tidak ada yang pagar makan tanaman!"

"Yang kukuatirkan pikiran dan perasaan-nya sekarang sudah lebih condong pada keluarga lain....

Waktu itu Leng Cing-ping sudah berada sepuluh li dari benteng Han hong po.

Meskipun sepanjang tahun dia hidup dalam bangunan rumah yang tertutup, namun dalam hati kecilnya telah tumbuh keinginan untuk berkelana dalam dunia persilatan. Setiap waktu dia selalu melamunkan dirinya bisa berjalan menelusuri tanggul sungai dengan pohon yangliu yang tumbuh di sepanjang jalan, bisa berkuda melewati padang rumput yang luas didampingi seorang pemuda tampan di sisinya.

Ketika semalam ia mendengar ada pemuda bernyali berani menyusup masuk ke dalam benteng Han hong po yang selama sepuluh tahun terakhir selalu tenang tanpa kejadian, timbul perasaan ingin tahunya untuk mengintip siapa gerangan pemuda itu.

Di saat dia sedang mengintip pemuda yang bernyali itu, di bawah rintik hujan dia saksikan sepasang mata seorang pemuda berbaju hitam sedang mengawasinya.

Ketika sepasang mata mereka saling beradu, gadis itupun sadar bahwa khayalannya selama ini segera akan berubah menjadi kenyataan.

Karena sorot mata pemuda berbaju hitam yang tajam dengan wajah yang tampan dan gerak-gerik yang gagah, justru merupakan pemuda idaman yang selama ini diimpikan dan didamba­kan.

Thiat Tiong-tong sendiri pun tidak menyangka kalau dalam remangnya hujan secara tiba-tiba akan berjumpa dengan seorang gadis cantik, ketika menyaksikan sorot mata si nona yang sayu macam orang kesemsem, segera timbul suatu perasaan aneh dalam hatinya.

Tapi dia tidak melupakan keselamatan Im Ceng, maka sambil mencengkeram pergelangan tangan gadis itu, tegurnya:

"Siapa kau?"

Leng Cing-ping segera merasakan adanya segulung hawa panas yang mengalir masuk ke lubuk hatinya melalui pergelangan tangan itu, membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, dia seakan lupa untuk melawan, malah jawabnya jujur:

"Aku bernama Leng Cing-ping!"

"Apa hubunganmu dengan Leng It-hong?"

"Dia adalah ayahku."

Maka dia pun dijadikan sandera oleh Thiat Tiong-tong, walau begitu, gadis itu sama sekali tidak menaruh dendam atau sakit hati terhadap pemuda itu.

Inilah pengalaman unik yang dialami perasaannya, kejadian unik yang menimpa dirinya dan hanya gadis yang sudah lama dipingit baru bisa merasakan keanehan dan keunikan itu.

Begitu mendengar rencana keji yang dilakukan Suto Siau, dalam pikirannya hanya terlintas satu ingatan, bagaimana caranya menyelamatkan nyawa pemuda yang diimpikan itu.

Maka tanpa berpikir panjang lagi dia pun menyelinap keluar dari benteng Han hong po sambil menuntun dua ekor anjing penjaga milik keluarganya.

Hujan yang turun mulai mereda, namun titik air yang lembut bagai kabut masih menyelimuti angkasa, sambil menuntun kedua ekor anjing, gadis itu mulai menelusuri jalan perbukitan, dinginnya udara pagi, dinginnya air hujan membuat tubuhnya yang lemah gemulai mulai gemetar keras.

Kedua ekor anjingnya mulai menggonggong, seolah-olah telah mengendus suatu bau aneh dari tanah perbukitan yang becek, maka mereka pun menelusuri jalan yang dilalui Thiat Tiong-tong, bergerak maju ke depan.

Anjing yang garang dituntun seorang gadis cantik yang lemah berjalan di tengah hujan rintik, perpaduan ini membentuk sebuah gambaran yang aneh dan luar biasa.

Semakin ke depan tanah perbukitan itu makin sepi dan terpencil, tampaknya mereka sudah jauh berada di tengah bukit.

Akhirnya di antara pepohonan yang lebat muncul bayangan atap rumah, sampai di situ gonggongan anjing itupun makin ramai dan keras.

Lekas Leng Cing-ping melarang anjingnya menyalak, dia sudah dapat menduga, bangunan rumah itu besar kemungkinan adalah tempat persembunyian anggota perguruan Tay ki bun.

Selesai mengikat anjingnya di dahan pohon, dia mulai menyelinap masuk ke dalam bangunan rumah itu.

Bangunan itu didirikan persis di antara dua bukit yang tinggi, bukan saja medannya berbahaya, bahkan tidak mudah untuk mencapai tempat itu.

Sekalipun tujuan kedatangannya adalah untuk memberi peringatan, namun sedikit banyak rasa waswas muncul dalam hatinya, karena itu tanpa menggubris tanah berlumpur yang becek, dia mulai merayap masuk dengan sangat hati-hati.

Di depan sana terlihat sebuah bangunan mirip kuil yang terbengkalai, bangunan itu berdiri di atas tebing karang yang curam, ketika terhembus angin, bangunan itu seakan-akan sedang melayang di tengah udara.

Angin yang kencang ditambah hujan yang masih turun, membuat gerak-geriknya lebih tersembunyi serta tak mudah ketahuan orang.

Dipilihnya sebatang pohon yang paling tinggi dan rimbun untuk menyembunyikan diri, dia menyelinap naik secara diam-diam.

Ketika melongok ke bawah, maka terlihatlah di halaman belakang bangunan kuil terdapat belasan ekor kuda jempolan, suasana bangunan amat sepi, tali kelihatan sesosok bayangan manusia pun, bahkan tidak terdengar suara manusia, termasuk belasan ekor kuda itupun tak ada yang meringkik atau menimbulkan suara berisik.

Dengan perasaan gelisah dia memutar otak, akhirnya dari dalam saku diambilnya sebuah gendawa emas yang panjangnya hanya satu kaki serta berapa butir peluru perak yang kecil.

"Sreeet!", belasan butir peluru perak itu segera dibidikkan ke depan, diiringi kilatan cahaya perak, semuanya diarahkan ke rombongan kuda-kuda itu.

Busur emas peluru perak merupakan permainannya di kala senggang, tak heran kalau dia sangat menguasainya, dalam waktu singkat sepuluh butir peluru sudah menghajar telak pantat kuda-kuda itu.

Seketika kuda-kuda itu kesakitan dan meringkik panjang.

Terlihat beberapa sosok bayangan manusia segera meluncur keluar dari ruang utama, gerakan tubuh mereka ringan dan cepat, tapi setelah memeriksa beberapa saat sekeliling tempat itu, tidak dijumpai sesosok bayangan manusia pun di sana.

Sambil mengertak gigi Leng Cing-ping menyusup masuk ke dalam bangunan kuil itu, perasaan cinta yang muncul dalam hatinya membangkitkan keberanian yang sudah lama terpendam, membuat gadis yang lemah lembut ini punya keberanian untuk menyusup masuk ke dalam sarang harimau.

Tak sempat lagi memperhatikan patung Buddha yang telah tertutup debu serta ruang kuil yang setengah ambruk, tubuhnya menyelinap masuk ke dalam ruang kedua, di sanalah dia melihat seseorang, seorang lelaki berbaju hitam.

Sebuah meja sesaji yang kuno dan bobrok dengan dua batang lilin merah yang tinggal setengah.

Di atas meja sesaji, di antara lilin menih terbentang selembar panji besar berwarna ungu.

Di depan panji besar itu berlutut seorang lelaki berbaju hitam, punggungnya lurus bagai sebatang pedang.

Potongan tubuh yang tegak lurus itu serasa begitu dikenal dalam pandangan Leng Cing-ping, dia tak kuasa untuk menahan diri lagi setelah dicekam perasaan gelisah bercampur ngeri selama beberapa saat.

"He!" tegurnya.

Dengan cepat Thiat Tiong-tong membalikkan tubuhnya, tapi paras mukanya segera berubah hijau membesi, mimpi pun dia tak mengira dalam keadaan dan situasi seperti ini dia bertemu kembali dengan putri benteng Han hong po di tempat itu.

Dia melompat bangun seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi segera berlutut kembali.

"Cepat lari! Cepat kabur! Sedikit terlambat, kau akan kehilangan nyawamu!"

Perasaan cinta yang mendasari perasaan nya membuat Leng Cing-ping tanpa sadur mengungkap seluruh perasaan kuatir dan perhatiannya yang besar, sebab kalau dia tak punya hati kepada pemuda itu, mengapa menyuruhnya untuk kabur?

“Aku khusus datang untuk memberitahukan kepadau, memberitahu sebuah berita yang sangat gawat, mereka... sebentar lagi mereka akan tiba disini!"

"Mereka? Siapa mereka?"

"Ayahku ... masih ada lagi...."

"Masih ada siapa lagi?"

"Suto Siau, Seng-toanio...."

"Darimana mereka bisa tahu kalau kami berada di sini?"

"Mereka menggunakan siasat yang di­rancang Suto Siau, mereka telah membubuhkan. .."

Mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang datang:

"Tiong-tong, suara apa di dalam sana?"

Biarpun suara itu berasal dari tempat yang jauh, namun terdengar jelas sekali.

Thiat Tiong-tong bergetar keras tubuhnya, sementara Leng Cing-ping sudah bersembunyi di belakang tubuhnya.

"Se ... semuanya ini kulakukan demi kau... demi kau...."

Biarpun nadanya gemetar, namun dipenuhi luapan perasaan cinta yang tanpa tedeng aling-aling.

Sorot mata Thiat Tiong-tong yang tajam seketika berubah dari redup menjadi terang, tapi kemudian, dari terang berubah menjadi redup kembali, dalam waktu yang amat singkat berbagai gejolak perasaan berkecamuk di dalam benaknya.

Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya matanya segera dialihkan ke meja sesaji.

Tanpa membuang waktu Leng Cing-ping segera menyusup ke bawah meja dan bersembunyi di situ.

Baru selesai dia bersembunyi, baru saja Thiat Tiong-tong membetulkan posisi taplak meja yang bergoyang, segulung angin dingin telah berhembus masuk dari luar jendela, angin yang dingin, dingin sekali.

Apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah dia harus mengorbankan diri demi Leng Cing-ping yang bersedia mengorbankan segalanya demi dia? Lalu dengan cara apa dia harus membalas budi kebaikan serta luapan perasaan-nya?

Belum habis dia berpikir, sesosok bayangan manusia telah melayang masuk dari luar jendela.

Berkat latihannya yang tekun ditambah kemampuannya yang luar biasa membuat Thiat Tiong-tong segera berpaling.

Ternyata yang muncul di depan jendela adalah pelaksana hukum perguruan Tay ki bun, Im Kiu-siau.

"Tiong-tong!" terdengar dia menegur, "aku tahu dalam hatimu pasti terdapat banyak persoalan, bahkan merasa tidak terima, tapi ketahuilah gerakan perguruan Tay ki bun terjun kembali ke dalam dunia persilatan kali ini ibarat orang main judi, berhasil atau tidaknya tergantung pada tindakan pertama yang mereka dilakukan, oleh sebab itu Toasuheng selalu mengawasi setiap gerak-gerik saudaranya secara ketat dan penuh disiplin, dalam hal ini kau perlu memakluminya."

"Aku mengerti."

"Tapi perbuatanmu kelewat gegabah, Im Ceng memang selalu berangasan dan ngawur dalam bertindak, dia tak sanggup mengendalikan diri, tapi kau tak pernah ngawur, tingkah lakumu selalu cermat dan seksama, kenapa kali ini justru meninggalkan jejak?"

"Semuanya ini memang kesalahanku, aku pun sangat mengerti," kata Thiat Tiong-tong tanpa membantah.

Tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan keras berkumandang dari luar jendela, tahu-tahu Im Ceng sudah menerobos masuk ke dalam.

"Seorang lelaki berani berbuat berani bertanggung jawab, kau tak perlu mewakiliku mengaku kesalahan," serunya.

Sekalipun pakaiannya compang-camping tak keruan, namun wajahnya masih memancarkan sinar keangkeran.

Im Kiu-siau kontan menarik muka, tegurnya:

"Apa yang kau teriakkan? Memangnya tiddak bisa bicara dengan suara perlahan dan halus?"

Biarpun biasanya dia selalu bersikap lembut dan ramah, tapi begitu menarik muka, mimik mukanya kelihatan angker, serius dan penuh wibawa, membuat siapa pun tali berani bersikap sembar angan.

Im Ceng pun menundukkan kepala semakin rendah, nada suaranya juga bertambah lirih.

"Sebenarnya akulah yang memaksa dia untuk balik dulu kemari...."

Seorang kakek berjenggot panjang berwajah merah mendadak berjalan masuk ke dalam ruangan, jenggot dan rambutnya basah oleh air hujan, tapi sepasang tangannya mengepal kencang.

Sambil berdiri tegak di depan pintu, ditatapnya Im Ceng dengan sorot mata tajam, kemudian tegurnya:

"Jadi kau yang memaksanya untuk langsung balik kemari?"

"Benar!" sahut Im Ceng sambil berlutut.

"Siapa yang memberikan kuda itu kepada­mu? Siapa yang menolong kau? Masa persoalan inipun tidak kau ketahui?"

"Tidak tahu!"

Sekalipun dia tahu persoalan itu amat serius, namun jawabannya tetap tegas dan tandas.

Im Gi maju lebih ke depan, sinar matanya lebih tajam dari sambaran halilintar.

"Tahukah kau kalau orang lain sengaja menolongmu karena mereka sedang menjalankan siasat busuk?" tegurnya.

Dengan kepala tertunduk Thiat Tiong-tong segera menjawab:

"Samte masih muda, mungkin belum mampu berpikir panjang, semua ini adalah kesalahanku, jangan salahkan dia."

"Kau tidak usah membela aku," tukas Im Ceng lagi dengan suara keras, "kenyataan akulah yang bersalah, aku tidak ingin kau mewakiliku menerima hukuman, aku mengakui, kau memang pernah membujukku agar jangan langsung balik ke sini...."

"Apa yang dia katakan?"

"Dia bilang kemungkinan besar ini siasat musuh sengaja melepas untuk dikuntit jejaknya!"

"Kalau dia sudah berkata begitu, kenapa kau masih memintanya untuk langsung balik? Apakah kau begitu tergopoh-gopoh kabur dan menyelamatkan diri?"

"Aku tidak takut mati, aku hanya mendongkol dengan dirinya!" Im Ceng segera mengangkat wajahnya.

Im Kiu-siau menghela napas panjang, tukasnya:

"Apa benar ada orang telah meninggalkan bau harum istimewa yang tak berwarna? Kenapa aku tidak bisa menebak asal-usul kuda-kuda itu?"

"Asal-usul apa?" Im Gi tertawa dingin, "semua ini tidak lebih hanya siasat busuk yang dirancang Suto Siau, memangnya dia anggap bisa mengelabui aku?"

Leng Cing-ping yang bersembunyi di bawah meja segera merasa tubuhnya gemetar keras.

"Sungguh lihai tokoh yang satu ini!" pikirnya, dia semakin tak berani bergerak di bawah kolong langit, bahkan bernapas pun tak berani keras keras.

Kalau toh dia sudah siap mengorbankan diri demi cinta, tentu saja dia tak ingin pemuda pujaan hatinya itu menderita gara-gara dia.

Sepasang tangannya segera menggenggam bajunya kencang-kencang, dia katupkan giginya kuat-kuat, kuatir beradunya gigi menimbulkan suara aneh yang mencurigakan.

Dalam pada itu kawanan anggota perguruan Tay ki bun tampaknya sudah pulang, lelaki bertelanjang kaki muncul lebih dulu, sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, teriaknya:

"Sudah kabur semua, bayangan pun tidak nampak!"

Im Gi tertawa dingin, tiba-tiba dia merentangkan telapak tangannya, di tengah telapak terlihat tiga butir peluru perak yang memancarkan cahaya berkilauan.

"Darimana asal-usul peluru perak ini, apakah kalian kenal?" tanyanya.

Sekali lagi Leng Cing-pingyang bersembunyi di kolong meja terkesiap, tapi ia segera menghibur diri:

"Senjata rahasia itu adalah mainanku sejak kecil, darimana mereka bisa mengenalinya?"

Terdengar Im Gi berkata lebih jauh:

"Kalau dibilang senjata rahasia ini adalah senjata andalan seorang ahli Am gi, rasanya bobot peluru ini sedikit agak berat, tapi kalau dilepas dengan busur rasanya kelewat enteng, kelihatan­nya mirip dengan benda mainan perempuan keturunan jago silat kenamaan, jika dugaan Lohu tak meleset, maka hal-hal lain yang aneh pun tidak sulit untuk dijelaskan!"

"Hal-hal aneh apa?"

"Setelah Suto Siau berhasil mengetahui letak markas perguruan Tay ki bun dengan siasat ini, dia pasti akan mengumpulkan segenap kekuatan dari benteng Han hong po serta peternakan Lok-jit berikut lima keluarga kenamaan melancarkan serbuan besar-besaran dan membasmi kita hingga ke akar-akarnya, tapi munculnya peluru perak ini jelas merupakan satu tindakan menggebuk rumput mengejutkan ular, bukankah kejadian ini rada aneh?"

"Benar."

"Jika peluru perak ini berasal dari perempuan, sudah pasti perempuan itu adalah salah satu di antara kedua putri Leng It-hong yang khusus datang memberi kabar, dan kejadian aneh inipun berarti sudah adajawabannya."

"Betul, betul, sudah pasti begitu!" lelaki bertelanjang kaki itu segera berseru sambil melompat bangun, "biasanya perhitungan Toako sangat tepat dan hebat, memang tiada duanya di kolong langit!"

Leng Cing-ping yang bersembunyi di kolong meja sudah mulai bermandikan keringat dingin.

Paras muka Thiat Tiong-tong ikut berubah hebat.

Tiba-tiba Im Gi menatapnya tajam, dengan suara serius tegurnya nyaring:

"Ketika semua orang pergi melacak musuh, kenapa kau tidak ikut serta?"

"Tecu berdoa, Tecu bersalah, karena itu tak berani sembarangan bergerak!"

"Selama berada di sini, apa yang telah kau lihat?"

Thiat Tiong-tong gemetar keras, terlebih Leng Cing-ping yang bersembunyi di kolong meja, peluh telah membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.

Lama sekali Thiat Tiong-tong termenung, tak sepatah kata pun yang mampu dia katakan.

"Cepat jawab!" bentak Im Gi lagi dengan alis mata bekernyit.

Dalam keadaan begini Thiat Tiong-tong tidak mungkin bisa menjawab, tapi dia pun tidak berani untuk tidak menjawab.

"Biar aku saja yang menjawab!” mendadak terdengar seseorang menyahut dari bawah kolong meja.

Dengan sekali tendangan Im Gi membalik­kan meja sembahyang, muncullah wajah Leng Cing-pingyang pucat-pias bagai mayat.

Semua orang menjerit kaget.

"Kau adalah putri Leng It-hong?" bentak Im Gi keras.

Leng Cing-ping tidak berani menjawab, dia terbungkam dalam seribu bahasa.

Im Gi langsung turun tangan, sebuah pukulan menghantam tubuh Thiat Tiong-tong hingga mencelat ke sudut ruangan, disusul sebuah tendangan menohok ulu hatinya.

Thiat Tiong-tong tak berani melawan, dia hanya memejamkan mata menanti datangnya kematian.

Wajah setiap orang berubah hebat, tapi tidak seorang pun berani turun tangan untuk mencegah, hanya Leng Cing-ping seorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Im Gi sambil memohon:

"Kalau ingin membunuh, bunuhlah aku, semua kejadian ini tak ada sangkut-pautnya dengan dia!"

"Lepaskan tanganmu!" hardik Im Gi penuh amarah.

Sekalipun telapak tangannya sudah di angkat, namun pada akhirnya dia tak tega turun tangan terhadap seorang gadis muda.

Dengan air mata bercucuran dan suara gemetar kembali Leng Cing-ping berkata:

"Sejak mengambil keputusan akan datang kemari, aku sudah bertekad tidak akan kembali dalam keadaan hidup, tapi sebelum turun tangan, dengarkan dulu perkataanku hingga selesai."

Meskipun sepasang tangannya masih memeluk tubuh Im Gi, namun sorot matanya sudah dialihkan ke wajah Thiat Tiong-tong.

"Tujuan kedatanganku kemari tak lebih hanya ingin membujuk kalian agar segera pergi, aku tak punya niat atau maksud lain. Aku pun tahu, perbuatanku ini pasti tak akan dimaafkan ayahku, padahal kalian pun berniat akan membunuhku. Tindakanku ini memang nampak sangat bodoh, tapi aku rela melakukannya, aku hanya berharap kalian sudi mengingat maksud hatiku ini dan setelah membunuhku nanti, jangan menyusahkan dialagi."

Perlahan-lahan Im Gi menurunkan kembali telapak tangannya, tapi kembali tanyanya dengan keras:

"Sejak kapan kau kenal Thiat Tiong-tong? Kenapa rela mati demi dirinya?"

"Ohh, jadi dia bernama Thiat Tiong-tong?" Leng Cing-ping tertawa sedih, "sekarang aku baru tahu nama sebenarnya, mengenai kenapa aku berbuat demikian, aku sendiri pun tidak tahu."

"Bagaimana sikapnya kepadamu?"

Leng Cing-ping menghela napas sedih.

"Bagaimanapun dia akan bersikap kepada­ku, aku tidak peduli, asal dia bisa tetap hidup sehat, biar aku mesti mati pun tak jadi soal."

Perlahan dia melepaskan tangannya dan menyembah ke tanah.

Udara di luar ruangan masih terasa dingin, tetesan air hujan di beranda rumah menimbulkan detak suara yang memilukan.

Setiap orang merasa hatinya murung, berat, masgul, tapi tak ada yang tahu apa yang mesti diperbuat.

Perlahan-lahan gadis berbaju hijau itu memalingkan wajahnya ke arah lain, karena butiran air mata telah membasahi pipinya.

Paras muka Im Gi pun nampak berat dan serius, dia hanya berdiri mematung, sementara Im Kiu-siau malah memejamkan mata.

Di tengah keheningan mendadak terdengar lelaki bertelanjang kaki itu berseru keras:

"Benar-benar sumpek hatiku, Toako, apa yang hendak kau lakukan terhadap gadis ini?"

Im Gi tidak menjawab, dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, pandangan matanya dialih­kan ke tempat kejauhan, mengawasi langit yang mulai terang.

Kembali lelaki bertelanjang kaki itu berseru:

"Aku si lelaki kaki telanjang tidak pernah tahu apa artinya cinta, sampai setua inipun tidak ada yang mencintai aku, Toako, lebih baik lepaskan saja dirinya!"

"Lepaskan dia?"

"Siapa yang merasa keberatan?" Belum habis pertanyaan itu diajukan, Im Ceng sudah melompat bangun seraya berteriak: "Aku keberatan!"

"Kau tidak usah ikut campur!" tukas Im Kiu-siau sambil menarik muka.

"Bila kita bebaskan dia, bukankah kematian Toako kelewat penasaran?" teriak Im Ceng sedih, "Toako saja tidak sudi kalian bebaskan, kenapa dia mesti dibebaskan?"

Pemuda yang agresif dan mudah naik darah ini hanya tahu memikirkan Toakonya, dia hanya tahu Toakonya sudah mati, sementara urusan lain tak pernah dia masukkan ke dalam hati.

Lelaki bertelanjang kaki itu mengepal tinjunya kuat-kuat, otot hijau pada keningnya ikut menonjol keluar.

"Kau bersaudara dengan Im Kian, memang­nya dengan Thiat Tiong-tong bukan saudara?"

"Dialah yang turun tangan membunuh Toakoku, biar harus mati pun aku tak akan melepaskan dia!" jerit Im Ceng keras.

Sementara itu paras muka Im Gi telah berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, tiba-tiba bentaknya:

"Thiat Tiong-tong, apa lagi yang hendak kau katakan!"

"Tecu tidak ada perkataan lagi!"

"Tiong-tong mungkin tidak ada perkataan, tapi Siaute ada beberapa patah kata yang harus disampaikan," sela Im Kiu-siau dengan wajah serius: "apapun keputusan akhir yang bakal dijatuhkan, meski semuanya tergantung keputusan Toako, tapi pada saat dan keadaan seperti ini tidak seharusnya kita melakukan hal yang kelewat batas."

"Kenapa?"

"Karena sekarang yang harus segera kita putuskan adalah nasib selanjutnya perguruan Tay ki bun kita, tempat ini sudah ditemukan musuh, tak lama kemudian jago-jago dari benteng Han hong po maupun peternakan Lok-jit akan melancarkan serangan secara besar-besaran, persoalannya sekarang, kita harus melawan mereka habis-habisan atau sementara menghindari benturan ini, Toako harus segera mengambil keputusan, sedikit terlambat mungkin keadaan sudah tak sempat!"

Biar singkat namun perkataan itu sangat berbobot, kontan saja paras muka semua orang berubah menjadi berat dan serius, mereka sama-sama menunggu jawaban Im Gi.

Semua orang pun sadar, setiap ucapan yang diutarakan Im Gi  akan segera memutuskan nasib dari seluruh anggota perguruan Tay ki bun.

Semangat lelaki bertelanjang kaki paling berkobar, beberapa kali dia ingin meneriakkan kata "adu nyawa", tapi selalu urung diutarakan, sebab dia sadar, perkataannya akan menentukan mati hidup orang banyak.

Dicekam suasana serba serius dan tegang, akhirnya Ciang bunjin mereka berkata:

"Ketika perguruan Thi hiat tay ki bun baru muncul dalam dunia persilatan, Sucow pendiri partai bersama Thiat locianpwe pernah berkelana dalam dunia persilatan tanpa tandingan, waktu itu dimana panji sakti tiba, tak ada jagoan persilatan yang berani membangkang."

Emosi mulai menyelimuti wajahnya, dengan wajah sedih lanjutnya:

"Waktu itu benteng Han-hong-po, peternakan Lok-jit, per kampungan keluarga Seng, perusahaan ekspedisi Thian-bu Piaukiok serta ruang Pek-lek-tong merupakan orang-orang kepercayaan per guruan Tay ki bun. Siapa tahu setelah Suco dan Thiat-locianpwe meninggal dunia, kelima keluarga persilatan ini bersekongkol merencanakan siasat busuk untuk membunuh Ciang bunjin angkatan kedua perguruan kita beserta keenam belas orang Locianpwe lainnya, mereka berharap perguruan Tay ki bun segera ambruk dan tak pernah bisa bangkit kembali!"

Semakin berbicara dia semakin sedih bercampur gusar, terusnya:

"Dalam empat puluh tahun terakhir, perguruan Tay ki bun kita selalu didesak dan disudutkan kelima keluarga besar itu hingga tak ada tempat untuk berpijak, selama empat puluh tahun, permusuhan di antara kami makin lama semakin mendalam, dua kali aku berangkat menuntut balas namun tidak pernah berhasil menggoyahkan kelima keluarga besar itu, maka pada dua puluh tahun berselang kuputuskan untuk menyingkir ke perbatasan dengan harapan ada kesempatan untuk mendidik anak murid. Dan kini awan gelap telah berlalu, keturunan keempat keluarga Im dan keluarga Thiat telah tumbuh dewasa, kenyataan ini membuat aku girang, karena harapan untuk membalas dendam telah muncul kembali!"

Tiba-tiba dia menepuk telapak tangan kiri sendiri kuat-kuat:

"Siapa sangka begitu tiba di daratan Tionggoan, Im Kian telah mengkhianati perguruan, Im Ceng serta Tiong-tong pun membikin hatiku sedih, harapan yang kupupuk hampir dua puluh tahun lamanya kini akan punah dan lewat bagai aliran air, padahal usiaku semakin tua, sanggupkah aku menunggu selama dua puluh tahun lagi?"

Semua orang menundukkan kepala, tidak ada yang berani beradu pandang dengan sorot matanya yang penuh pancaran dendam.

Terdengar Im Gi berkata lagi dengan lantang:

"Thiat Tiong-tong dan Im Ceng tidak tahu arti persaudaraan, diam-diam membangkang perintah perguruan, untuk kesalahan itu kalian diusir dari perguruan, sementara murid-murid perguruan Tay ki bun yang lain tetap tinggal di sini, aku akan mengadu nyawa dengan mereka!"

Semua orang terkesiap setelah mendengar keputusan itu, paras muka Thiat Tiong-tong berubah hebat, sementara Im Ceng segera memohon:

"Tecu bersedia mati di sini daripada diusir keluar dari pintu perguruan!"

"Kau berani membangkang perintah guru?"

"Aku hanya berharap tetap tinggal di sini dan mengadu jiwa melawan mereka!"

"Tutup mulut!" bentak Im Kiu-siau tiba-tiba.

Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh menghadap ke arah Im Gi, kemudian katanya lagi:

"Toako, kau mesti berpikir tiga kali sebelum mengambil keputusan, bila kita berbuat demikian, bukankah sama seperti memenuhi pengharapan Suto Siau? Perguruan Tay ki bun kita pasti akan hancur dan musnah dalam pertarungan kali ini. Toako, begitu tegakah kau membiarkan perguruan yang didirikan leluhur kita dengan susah payah akhirnya harus hancur berantakan begitu saja?"

"Perintah yang sudah kuucapkan tidak pernah akan dicabut kembali!" tukas Im Gi dengan wajah hijau membesi.

"Sekalipun begitu, menurut aturan, Siaute sebagai pelaksana hukum perguruan ini berhak untuk mengubah atau memperbaiki perintah yang telah diturunkan Ciangbun-suheng"

"Apa maumu?"

"Sekalipun Im Ceng dan Thiat Tiong-tong melakukan kesalahan, namun dosa mereka belum termasuk berat, sepantasnya bila diusir dari perguruan selama tiga tahun, bila dalam tiga tahun mendatang mereka tidak melakukan kejahatan bahkan berjasa bagi perguruan, maka terbuka kesempatan bagi mereka untuk kembali ke perguruan. Selain itu sudah sepantasnya bila seluruh kekuatan perguruan Tay ki bun yang kita miliki sekarang mundur untuk sementara ke perbatasan, menghindari bentrokan yang tidak berguna, kita baru melakukan pembalasan dendam tiga tahun kemudian!"

"Tiga tahun kemudian?"

"Tiga tahun bukan terhitung waktu yang kelewat panjang, tapi justru dapat memperpanjang usia perguruan kita, Toako, masa kau tidak bisa menahan diri hanya untuk tiga tahun saja?"

Untuk beberapa saat lamanya Im Gi cuma berdiri mematung, akhirnya sambil menghentak­kan kakinya dengan gemas dia menyahut:

"Baiklah, aku turuti kemauanmu!"

Im Kiu-siau seketika merasakan semangat­nya berkobar kembali.

"Kalau memang begitu, biar untuk sementara waktu Siaute mewakili Toako menyampaikan perintah!"

Setelah menarik napas panjang, serunya dengan suara berat:

"Thiat Cing-su, siapkan kuda-kuda kita, sekalian hukum mati kedua ekor kuda yang dibawa Thiat Tiong-tong!"

Pemuda kekar itu segera membusungkan dada tanpa menyahut, dengan cepat dia beranjak pergi.

Kembali Im Kiu-siau berseru:

"Im Ting-ting, segera siapkan piauhok (buntalan), sekalian siapkan ransum kering, bagi ke atas setiap pelana kuda dan jangan lupa sertakan sekantung arak untuk melawan hawa dingin."

Gadis berbaju hijau itu segera membesut air matanya dan menyahut:

"Tecu terima perintah!"

Kepada lelaki bertelanjang kaki kembali Im Kiu-siau berseru:

"Mohon Sute tetap menjaga kehormatan panji sakti!"

Lelaki itu tertawa tergelak:

"Hahaha, Samko tidak usah kuatir, biar tubuh harus remuk-redam, Siaute pasti akan melindungi panji sakti ini hingga selamat tiba di tempat tujuan!"

"Bagus!" Im Kiu-siau ikut tertawa, "di saat nanti panji sakti berkibar kembali di daratan Tionggoan, itulah saat bagi kita bersaudara untuk melampiaskan semua dendam sakit hati."

"Samsiok (paman ketiga)" teriak Im Ceng sambil melompat bangun, "aku memiliki darah panas yang bergolak, memiliki sepasang lengan yang penuh bertenaga, setiap saat aku siap melaksanakan perintah Samsiok."

Cepat Im Kiu-siau menarik wajah.

"Mulai sekarang kau sudah bukan anggota perguruan kami lagi, jelas kami tidak akan memberi tugas apapun kepadamu," katanya, "harapanku, dalam tiga tahun mendatang jangan menyia-nyiakan harapan perguruan, berbuatlah yang benar selama ini dan tiga tahun kemudian kau tetap adalah anak murid perguruan Tay ki bun. Thiat Tiong-tong, apa yang barusan kukatakan kepadanya berlaku juga untukmu, mengerti?"

Thiat Tiong-tong hanya menundukkan kepala tanpa menjawab, sementara paras muka Im Ceng berubah hebat.

"Bagaimana dengan aku?" Leng Cing-ping yang diam-diam sudah bangkit berdiri bertanya pelan.

Im Kiu-siau menghela napas panjang.

"Ciangbunjin telah mengampuni jiwamu, kau boleh segera pulang ke rumahmu!" katanya.

"Pulang?" Leng Cing-ping tertawa pedih, "masih mungkinkah bagiku untuk pulang ke rumah?"

Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh dan menatap wajah Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, sampai lama kemudian ia baru menghela napas panjang, bisiknya lirih:

"Semoga kau baik-baik menjaga diri."

Thiat Tiong-tong hanya tertunduk tanpa bicara, melirik sekejap pun tidak berani.

Leng Cing-ping segera membesut air matanya sambil tertawa paksa, selangkah demi selangkah dia berjalan meninggalkan ruangan.

Hujan di luar gedung masih turun dengan lebatnya, dia menengadah memandang sekejap cuaca yang buruk, tiba-tiba sambil menutupi wajah dia berlarian meninggalkan tempat itu, tak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah tertelan di balik lebatnya air hujan.

Thiat Tiong-tong tidak berani mengangkat kepala, tapi dalam hati kecilnya dia ikut berdoa:

"Kau pun harus baik-baik menjaga dirimu."

Seorang gadis muda yang terbiasa hidup dipingit, kini harus berkelana dalam dunia persilatan tanpa sanak tanpa tempat tinggal, hidup bergelandangan seorang diri, mungkinkah masa depannya seperti air hujan yang sedang turun dengan derasnya di luar gedung?

Tak tahan Im Kiu-siau menghela napas, ujarnya:

"Thiat Tiong-tong! Dia yang telah mencelakaimu, atau kau yang telah mencelakainya?"

Sementara lelaki bertelanjang kaki itu menghentakkan kakinya dengan gemas sambil berteriak:

"Thian, kenapa kau selalu tak adil? Kenapa gadis sebaik dan secantik dia harus dilahirkan sebagai putri Leng It-hong?"

Dalam teriakan itu terdengar dua ringkikan kuda yang panjang melengking berkumandang dari kejauhan sana.

"Tampaknya kedua ekor kuda itu telah dihabisi nyawanya," gumam Im Kiu-siau.

Menyusul kemudian Im Ting-ting muncul dalam ruangan sambil memberi laporan:

"Lapor Susiok, semua perbekalan telah siap!"

"Ayo berangkat!" Im Gi langsung membentak nyaring.

Dia langsung melangkah keluar ruangan, sama sekali tidak berpaling untuk menengok kearah putra kandung serta murid kesayangannya, walau hanya sekejap.

Namun di balik hatinya yang paling dalam, rasa sedih dan sakit tetap berkecamuk dalam benaknya.

Lelaki bertelanjang kaki pun segera mencabut panji sakti dan ikut berjalan keluar dari ruangan.

"Anak-anak, berjuanglah yang benar, kita bertemu tiga tahun mendatang!" serunya.

Di tengah hujan lebat, panji sakti berwarna ungu itu berkibar kian kemari, seolah ingin membelah angin dan hujan.

Im Ceng segera melangkah keluar siap menyusul di belakang mereka, tapi Thiat Tiong-tong segera berseru:

"Samte, mau kemana kau?"

"Jangan mencampuri urusanku!"

Thiat Tiong-tong melompat sambil melesat ke depan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, setelah menerobos jendela dan tiba di tengah halaman, Dia menghadang jalan pergi Im Ceng.

"Mau apa kau?" bentak Im Ceng gusar.

"Tidak selang beberapa lama lagi musuh besar kita segera akan menyusul kemari, maukah kau kita bersama-sama menghadang usaha pengejaran mereka?"

"Baik!" jawab Im Ceng singkat.

Dengan kekuatan mereka berdua, jelas teramat sulit bila ingin menghadang pengejaran yang dilakukan jago-jago tangguh dari benteng Han hong po maupun Seng ke cung.

Sekalipun kedua orang pemuda ini mengerti, namun mereka tidak peduli.

"Kenapa mereka belum juga datang?" tanya Im Ceng kemudian, "kita mesti menunggu sampai kapan?"

Kemudian bisiknya lagi:

"Kau bersembunyi dulu di sini, biar aku yang menyambut kedatangan mereka!"

"Kau akan menyambut mereka?" berubah wajah Thiat Tiong-tong, "kalau kau maju menyambut mereka, sama artinya mengantar kematianmu."

"Cepat atau lambat akhirnya toh sama saja mati, malah lebih puas jika kita sambut kedatangan mereka!"

"Siapa bilang cepat atau lambat sama saja bakal mati? Masa kau lupa, tiga tahun kemudian kita masih akan kembali ke perguruan?"

Im Ceng tertawa dingin.

"Memangnya kau anggap dengan melaku­kan penghadangan di tempat ini maka kita bakal selamat?" jengeknya.

"Kehadiran kita berdua di tempat ini hanya bertujuan menghalangi usaha pengejaran yang mereka lakukan, berusaha mengulur waktu dan bukan untuk mengantar nyawa di tempat ini! Nyawa kita berdua masih harus dipertahankan lebih jauh, kita harus melanjutkan hidup, melanjutkan perjuangan untuk melawan gabungan lima keluarga besar, kenapa harus mati secara konyol?"

Im Ceng membalikkan tubuh, saling ber­hadapan dengan rekannya.

Sorot mata mereka berdua pun saling bertemu, yang satu sorot matanya memancarkan ketenangan serta kebulatan tekadnya, sementara yang lain memancarkan luapan emosi serta kehangatan perasaannya, tapi yang pasti mereka berdua telah memperlihatkan semangat serta keberaniannya untuk menentang setiap rintangan.

Akhirnya Im Ceng yang memecah kehening­an terlebih dulu, katanya dengan suara dalam:

"Kecuali mempertaruhkan nyawa untuk menghadang pengejaran mereka, apa lagi yang bisa kita lakukan?"

"Sekalipun sekarang belum ditemukan, kita tetap harus berusaha mencari cara lain," sahut Thiat Tiong-tong singkat.

Ucapannya disampaikan dengan nada penuh percaya diri. Rasa percaya diri yang begitu besar dan bulat membuat setiap persoalan yang ada dalam pandangannya menjadi masalah yang gampang, sesulit apapun persoalannya dia merasa yakin mampu mengatasinya.

Dengan cepat dia sudah melesat menuju ke ruang depan yang penuh dengan sarang laba-laba dan membuka pintu kuil lebar-lebar, kemudian dia menyulut pula obor di empat penjuru, membuat seluruh ruangan menjadi terang-benderang bermandikan cahaya.

Setelah itu dia padamkan cahaya lentera yang menerangi ruang belakang, mengumpulkan beberapa kotak tembaga yang tak berguna dan mengisinya penuh dengan batu, kemudian dengan seutas tali, batu-batu dalam kotak itu digantungnya di atas jalan tembus, baik yang menuju ke depan ruangan maupun ke belakang gedung.

Perguruan Tay ki bun sudah cukup lama berdiam di tempat itu, tak heran berbagai peralatan masih berserakan di situ.

"He, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Im Ceng keheranan.

Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bicara, dari sakunya dia mencabut keluar sebilah pisau pendek, kemudian sambil melompat ke sisi tiang penyangga ruangan dia mulai membacok tiang-tiang itu hingga gumpil sebagian.

Selesai membuat retakan pada setiap tiang penyangga, dia pun mengambil selembar kain tirai dan dirobeknya menjadi beberapa lembar robekan kecil yang diikat satu dengan lainnya menjadi seutas tali, setiap dua depa dalam ruangan dia mengikat tali itu dengan beberapa butir batu besar, kemudian tubuhnya melayang ke atas tiang penglari, lagi-lagi dia melepaskan belasan buah genting dan disembunyikan di setiap sudut wuwungan rumah yang gelap dan jauh dari pandangan orang.

Lama-kelamaan habis sudah kesabaran Im Ceng, tidak tahan tegurnya:

"Eeei, memangnya kau hendak mengajak mereka bermain petak umpet?"

"Benar!"

"Kita sedang menghadapi masalah serius yang menyangkut mati hidup, masa kau masih ingin bergurau? Jika kau hanya ingin bermain petak umpet, maaf kalau aku tak bisa menemani!"

"Samte, justru hari ini kita akan mengguna­kan petak umpet untuk mempertahankan mati hidup kita."

"Bermainlah sendiri, aku ingin mengadu jiwa dengan mereka," seru Im Ceng gusar.

Baru saja Thiat Tiong-tong menarik tangan­nya, dari kejauhan sana sudah terdengar suara gonggongan anjing.

Di tengah hembusan angin dan curah hujan, gonggongan anjing itu hanya bergema sejenak untuk kemudian hening kembali.

"Mereka sudah datang!" bisik Thiat Tiong-tong sambil menarik Im Ceng menuju ke ruang belakang:

"Samte, apa yang hendak kita lakukan sekarang menyangkut mati hidup kita semua, apapun yang kau pikirkan, kumohon turutilah perkataanku kali ini saja."

"Baik, kali ini saja!" sahut Im Ceng sambil mengertak gigi.

Angin dan hujan masih menyelimuti udara, di balik cahaya api yang bergoyang terhembus angin, hawa membunuh terasa mulai menyelimuti empat penjuru.

Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar suara ujung baju yang tersampuk angin bergema dari luar kuil, menyusul kemudian muncul puluhan sosok bayangan hitam yang misterius.

Gerakan tubuh mereka ringan dan cepat, begitu tiba beberapa depa dari bangunan kuil, serentak mereka menyebarkan diri dan ber­sembunyi di balik pepohonan.

Ling It-hong terlihat mengenakan baju ketat berwarna ungu, kepalanya dibungkus dengan kertas minyak, sementara Suto Siau mengikut di sampingnya, dia pun membungkus kepalanya dengan kertas minyak.

"Seluruh bangunan utama kuil terang benderang bermandikan cahaya, pintu gerbang pun dalam keadaan terbuka, kelihatannya seperti tanpa penjagaan, saudara Ling, apa kau tidak merasa kejadian ini rada aneh?" tanyanya.

Ling It-hong tidak menjawab, dia hanya manggut-manggut.

Seng-toanio berdua dengan putranya berdiri di belakang mereka berdua, selain itu hadir pula seorang lelaki setengah umur yang menggembol sejenis senjata aneh di punggungnya.

"Pasti Leng Cing-ping si budak itu belum berhasil menemukan tempat ini sehingga mereka belum mendapat kabar," kata Seng-toanio dingin.

Tampaknya lelaki setengah umur itu tidak sependapat, segera bantahnya:

"Sekalipun keponakan Cing-ping tidak berada di benteng Han hong po, bukan berarti dia sedang kemari untuk menyampaikan kabar berita!"

Dengan perasaan berterima kasih Leng It-hong melirik sekejap ke arahnya.

"Pek Seng-bu," terdengar Seng-toanio mulai mengumpat:

"kau mengerti apa, Hek Seng-thian tidak ikut hadir, mau apa kau datang kemari?"

Pek Seng-bu hanya tersenyum, tampaknya dia segan untuk berdebat.

Sambil tertawa Suto Siau berkata pula:

"Saat ini saudara Hek masih berada ribuan li jauhnya dari sini, mana mungkin sempat balik? Tapi aku rasa dengan kekuatan kita sekarang pun sudah lebih dari cukup, yang dikuatirkan justru di balik kuil itu sudah dipersiapkan jebakan."

"Mau ada jebakan atau tidak, kita tetap akan menyerbu ke dalam!" potong Seng-toanio:

"Sekarang kita sudah tiba di sini, memang­nya mau pulang dengan tangan kosong?"

Tiba-tiba Pek Seng-bu menyela lagi:

"Andaikata perguruan Tay ki bun sudah mendapat kisikan, sudah pasti mereka akan kabur dari sini, mustahil dengan kekuatan yang mereka miliki berani beradu kekerasan melawan kita, jangan-jangan mereka sedang menerapkan siasat benteng kosong untuk menipu kita."

"Siasat benteng kosong?"

"Dengan sengaja memasang lentera untuk menerangi seluruh sudut ruangan, mereka bertujuan untuk membangkitkan rasa curiga dan ragu kita, bila kita ragu, maka tak akan berani menyerbu ke dalam, padahal mungkin saja mereka sudah kabur dan meninggalkan kuil kosong di situ."

Suto Siau termenung sejenak, kemudian ujarnya:

"Meskipun ada kemungkinan ucapanmu benar, tapi aku rasa kita tak boleh bertindak kelewat gegabah, lebih baik tinggalkan dulu separuh kekuatan di sekitar kuil, kemudian baru masuk ke situ."

Sambil tertawa dingin Seng-toanio menukas:

"Ling-laute, Pek-laute, Hau-ji, ayo kita langsung menyerbu ke dalam, biar dia mengatur sendirian di luar sana!"

Diiringi bentakan, tubuhnya sudah melesat ke depan dan meluncur ke arah bangunan kuil itu bagai segulung asap.

Pendekar pedang berhati merah Seng Cun-hau segera mengikut di belakang ibunya dengan ketat.

Ling It-hong saling bertukar pandang sekejap dengan Pek Seng-bu, akhirnya mereka pun mengikut di belakangnya.

Suto Siau menghela napas panjang, ia segera memberi tanda untuk mengumpulkan belasan sosok bayangan manusia lainnya.

"Kalian masing-masing dengan membawa lima orang pemanah bersembunyi di sekeliling bangunan kuil, kepung tempat ini rapat-rapat, siapa pun yang hendak masuk keluar, bila tidak mengatakan kata sandi 'Ngo-hok', bidik mereka sampai mampus!"

Seng-toanio sambil melintangkan tongkat besinya di depan dada memimpin paling depan, dia merasa kemampuan yang dimilikinya cukup untuk menghadapi lawan, karena itu tanpa takut ia melangkah masuk ke dalam kuil dengan langkah lebar.

"Im Gi, cepat keluar terima kematianmu!" teriaknya keras, suaranya tinggi melengking penuh disertai tenaga dalam.

Di antara goyangan lidah api yang ter­hembus angin, gaung suara pantulannya segera menyebar ke empat penjuru, hal ini membuat suasana di sekitar sana bertambah seram dan menggidikkan hati.

Biarpun Leng It-hong, Pek Seng-bu serta Seng-toanio merupakan jago-jago persilatan yang sudah sering menghadapi mara bahaya, tak urung bergidik juga hati mereka saat itu.

Tanpa sadar mereka berempat memper­lambat langkah kakinya, Leng It-hong menyilang­kan telapak tangannya melindungi dada, Seng-toanio menggenggam toya besinya makin kencang, sementara Seng Cun-hau telah melolos pedang andalannya.

Pek Seng-bu pun sudah mencabut senjata aneh andalannya, ternyata senjata yang ia pergunakan adalah sebuah senjata berbentuk telapak tangan dewa.

Senjata ini bentuknya aneh dan istimewa, panjangnya empat kaki tujuh inci, pada ujungnya berbentuk sebuah telapak tangan dengan ibu jari, jari manis dan jari kelingking yang menekuk sementara jari telunjuk serta jari tengahnya menuding lurus ke depan, bentuk semacam ini disebut Sian jin ci lok (dewa menunjukkan jalan), tapi di dalam genggaman tangan itu terdapat sebuah bola baja kecil, jelas bola kecil itu memiliki kegunaan istimewa.

Setelah senjata di tangan, keberanian keempat orang itu bertambah besar.

Tiba-tiba terdengar suara desingan angin dari luar ruangan, rupanya Suto Siau telah menyusul masuk sembari bertanya:

"Tidak ada penghuninya?"

Tak seorang pun di antara keempat orang itu yang buka suara, sorot mata mereka dialihkan ke sekeliling tempat itu sambil melakukan pencarian, sementara langkah kaki sama sekali tidak berhenti.

"Biar aku yang berjalan di muka!" kata Leng It-hong kemudian.

Tampaknya demi gengsi dan harga diri, dia tak ingin berada di barisan paling belakang.

Setelah melewati ruang utama yang terang benderang, tibalah mereka di halaman belakang, namun yang mereka jumpai di situ hanya kegelapan yang mencekam serta suara hujan.

"Aaah, rupanya memang siasat benteng kosong," seru Seng-toanio dengan wajah berubah:

"kelihatannya mereka sudah kabur!"

Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar seseorang tertawa dingin, suara itu muncul dari balik kegelapan.

Menyusul kemudian.... "Traaang, traaaang, traaang...!", diiringi suara getaran benda logam yang ramai, beberapa kilauan cahaya emas telah beterbangan di udara.

"Mundur semua!" seseorang menghardik dari balik kegelapan.

Ling It-hong dan Seng-toanio sekalian tidak jelas berapa banyak musuh yang bersembunyi di balik kegelapan, mereka pun tidak tahu senjata rahasia apa yang jatuh dari atas ruangan, dalam terkejut bercampur ngerinya, serentak melompat mereka mundur ke belakang.

Terlihat bayangan manusia berkelebat, kelima orang itu sudah mundur semua dari ruang utama.

"Sialan!" umpat Seng-toanio penuh amarah, "siapa bilang tidak ada orang di sini? Siapa bilang ini hanya siasat benteng kosong? Pek Seng-bu, ini semua gara-gara ulahmu...."

Paras muka Pek Seng-bu berubah, belum lagi bicara, sambil tertawa tergelak Suto Siau sudah berkata lebih dulu:

"Orang she Im, semua perbuatanmu itu sia-sia, tak mungkin anggota perguruan Tay ki bun kalian bisa lolos dengan selamat hari ini!"

Mendadak sebongkah batu besar meluncur keluar dari halaman belakang dan... "Blaaam!", menghajar persis di atas tiang penyangga ruang utama.

Waktu itu tiang penyangga memang sudah dipotong sebagian hingga nyaris patah, begitu ditimpuk dengan batu besar, maka tak ampun lagi tiang besar itu patah menjadi dua bagian.

Begitu sebuah tiang penyangga patah, tiang-tiang yang lain pun tidak kuat menahan bangunan kuno itu, tak ampun lagi seluruh bangunan kuil yang pada dasarnya sudah bobrok itu ambruk ke tanah.

Sekali lagi semua orang berhamburan ke empat penjuru lantaran terkesiap.

"Blaaaam!", kembali terjadi ledakan dahsyat, berbareng dengan padamnya seluruh penerangan, bebatuan beterbangan di angkasa dan pasir bercampur debu menyelimuti sekeliling tempat itu, seluruh bangunan kuil itu roboh rata dengan tanah.

Di tengah kekalutan yang melanda tempat itu, Thiat Tiong-tong yang sejak tadi bersembunyi di balik kegelapan segera menarik tangan Im Ceng.

Mereka berdua segera menyelinap ke ujung ruangan lain dan bersembunyi di sana.

Ketika kekalutan mulai mereda, terlihat sesosok bayangan manusia dengan pedang berhunus melangkah masuk ke tengah reruntuh­an, sorot mata yang tajam tiada hentinya memeriksa sekitar tempat itu.

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan manusia lagi melayang turun dari atas wuwungan rumah yang ambruk.

Orang yang membawa pedang itu langsung membentak sambil melepaskan sebuah tusukan kilat.

"Ngo-hok!" buru-buru bayangan itu berseru.

"Ooh, rupanya paman Ling," orang itu segera menarik kembali serangannya.

"Cun-hau, kelihatannya di belakang sana tak ada jejak manusia, apakah kau menemukan sesuatu di tempat ini?"

Seng Cun-hau menggeleng.

Thiat Tiong-tong yang menguping dari tempat persembunyiannya segera berpikir, "Ngo-hok? Apa itu Ngo-hok? Jangan-jangan kode rahasia yang mereka gunakan untuk saling berhubungan ?"

Dia segera menarik tali kain yang mengelilingi bangunan rumah itu kuat-kuat, begitu ditarik, batu-batu dalam kotak yang telah disiapkan pun serentak berhamburan ke udara.

Tali kain itu panjangnya dua puluhan depa, setiap dua depa dipasang sekotak batu, ketika batu-batu itu serentak berhamburan, maka serangan itu seolah-olah dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan dari sekeliling bangunan itu.

"Mereka ada di sini!" Leng It-hong segera membentak nyaring.

Dengan sepasang tangan melindungi dada, menggunakan gerakan It ho cong thian (bangau sakti menerjang langit), tubuhnya yang kurus kering langsung melesat naik ke atas wuwungan rumah.

Hampir pada saat yang bersamaan, Seng-toanio, Suto Siau maupun Pek Seng-bu ikut melompat naik ke wuwungan rumah, namun suasana di empat penjuru amat hening, tak nampak sesosok bayangan manusia pun di situ.

Kembali Thiat Tiong-tong menggunakan kesempatan itu menyelinap masuk ke ruang pertama, dengan gerakan cepat dia mengambil korek api, kemudian menyulut benda-benda yang mudah terbakar di sekitar sana.

"Ada kebakaran di bawah!"

Kelima orang itu kembali melompat turun ke bawah, kemudian melunak ke dalam ruangan dimana sumber api berasal.

Tapi waktu itu Thiat Tiong-tong sudah menyelinap keluar melalui jendela, sambil melompat pergi dia mengambil setumpuk hancuran genting dan menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki ia menyampitkan benda-benda itu ke empat penjuru.

Tiba dalam ruangan, Leng It-hong sekalian baru tahu kalau benda yang terbakar hanya kayu-kayu kering, kecuali itu tak nampak benda lain lagi, tapi asap yang ditimbulkan amat tebal dan dengan segera menyelimuti seluruh ruangan.

Ling It-hong yang masuk duluan kontan terbatuk-batuk, tiba-tiba teriaknya dengan wajah berubah:

"Celaka, asap ini mengandung racun!" Seng-toanio  coba  ikut  mengendus, tapi segera jengeknya sambil tertawa dingin:

"Racun apaan? Hanya bau tahi kuda yang basah!"

Merah jengah Leng It-hong mendengar sindiran itu, untunglah di saat itu dari arah sebelah timur terdengar lagi suara gemersik ringan, kelihatannya ada ya heng jin (orang berjalan malam) yang telah menginjak benda hingga menimbulkan suara berisik.

Sembari membalikkan tubuh Seng-toanio pasang telinga.

"Hanya suara pecahan genting yang terjatuh ke tanah," bisik Leng It-hong.

Belum selesai bicara, dari arah selatan, barat maupun utara terdengar lagi suara berisik.

Dengan mendongkol Seng-toanio melirik Leng It-hong sekejap, serunya dingin:

"Aku tidak percaya kalau cuma pecahan genting."

"Suara itu hanya satu kali dan tidak mengumpul, bukan suara injakan kaki ya heng jin," sambung Seng Cun-hau.

Mendengar itu Seng-toanio menjengek lagi, umpatnya gusar:

"Aaah, kau tahu apa? Jangan sok berlagak di hadapan Toanio!"

Biarpun yang dimaki anaknya, padahal jelas kalau umpatan itu dialamatkan kepada Leng It-hong.

Suto Siau menghela napas panjang.

"Aaai, belum lagi jejak musuh ketahuan, orang sendiri malah gontok-gontokan" katanya:

"lebih baik pulang saja, ketimbang mau berburu belibis tak berhasil, mata sendiri malah terpagut paruhnya!"

Benar saja, Seng-toanio dan Leng It-hong tak berani banyak bicara lagi, namun di hati kecil kedua belah pihak sudah timbul   perasaan tak suka yang makin mendalam.

Sementara itu Thiat Tiong-tong sudah cukup lama bersembunyi di bawah wuwungan rumah yang roboh, baru saja ia agak panik karena gagal memancing reaksi musuhnya, dari deretan bangunan sebelah depan telah muncul bibit api kebakaran.

Dia tahu Im Ceng telah berhasil dengan misinya, buru-buru dia menyelinap mundur ke belakang, lalu melompat naik ke atas sebatang pohon besar, di tempat inilah dia berjanji dengan Im Ceng untuk berkumpul.

Begitu kebakaran mulai berkobar, Seng-toanio sekalian segera memburu ke tempat kejadian, lagi-lagi mereka gagal berjumpa dengan seorang manusia pun.

Kegagalan demi kegagalan yang mereka alami membuat Seng-toanio semakin tidak mampu mengendalikan emosinya, teriaknya marah:

"Bajingan, kelihatannya mereka sudah kabur!"

"Mana mungkin mereka bisa kabur?' sahut Suto Siau:

"sejak tadi kita berada dalam bangunan ini, sementara sekeliling kuil dijaga ketat orang-orang kita, sekalipun mau kabur pun seharusnya mereka meninggalkan jejak yang bisa terlacak."

Kembali kelima orang itu melakukan penggeledahan secara besar-besaran, namun hasilnya tetap nihil.

Akhirnya Pek Seng-bu mengusulkan:

"Bila ingin memancing anak murid perguruan Tay ki bun keluar dari tempat persembunyiannya, mungkin hanya ada satu cara saja yang bisa dilakukan."

"Cara apa itu?" tanya Seng-toanio.

"Tahukah kau, apa yang paling ditakuti orang-orang perguruan Tay ki bun?"

"Apa?"

"Yang paling ditakuti orang perguruan Tay ki bun adalah umpatan yang membangkitkan amarah mereka, asal kita semua mencaci-maki dengan kata-kata sinis, dapat dipastikan mereka tak akan sanggup menahan diri."

"Bagus, ide yang jitu," seru Seng-toanio kegirangan:

"Hau-ji, cepat mewakili ibumu mencaci-maki orang-orang itu!"

Seng Cun-hau berdehem beberapa kali, kemudian baru berteriak lantang:

"He, anak murid perguruan Tay ki bun, dengarkan baik-baik, jangan main sembunyi terus di tempat kegelapan, cepat keluar untuk menerima kematian!"

"Kau anggap ucapanmu itu umpatan? Ayo, caci-maki mereka dengan kata yang lebih kasar!"

"Tapi aku tidak biasa memaki orang!"

"Goblok!" umpat Seng-toanio.

Dia mencoba menengok kiri kanan, ternyata tidak seorang pun di antara rekannya yang mulai memaki.

Sebagaimana diketahui, kawanan jago yang hadir di arena sekarang adalah umat persilatan yang mempunyai nama dan kedudukan dalam dunia Kangouw, tentu saja mereka enggan untuk sembarangan memaki orang.

"Aaah, kalian laki-laki memang orang dungu semua," seru Seng-toanio marah-marah:

"masa mencaci-maki orang pun tidak mampu, memangnya harus menyuruh aku si orang wanita yang melakukannya?"

"Bukankah Seng-toaci pandai bersilat lidah?" sela Leng It-hong dingin, "selama ini Siaute sangat kagum dengan ketajaman mulutmu,   tolong Seng-toaci saja yang membantu kami melakukan tugas ini!"

"Maki ya maki, memangnya aku takut?" seru Seng-toanio sambil menghentakkan toyanya ke tanah, kemudian dengan suara keras serunya, "telur busuk she Im, cucu kura-kura, kenapa kau masih menyembunyikan kepala busukmu dalam liang tahi? Cepat menggelinding keluar! Memang-nya kau takut bertemu Toanio?"

Begitu Seng-toanio mulai mengumpat, Thiat Tiong-tong yang bersembunyi di atas pohon ikut cemas, dia sangat memahami watak im Ceng yang berangasan dan gampang naik darah, dia takut dia tak mampu menahan diri setelah mendengar caci-maki itu dan menampilkan diri.

Sementara itu umpatan Seng-toanio makin lama makin galak dan tidak enak didengar, sekalipun Im Ceng belum sampai menampilkan diri, namun pemuda itupun belum kembali ke tempat pertemuan mereka, hal ini membuat Thiat Tiong-tong semakin cemas.

Kelihatannya Seng Cun-hau pun tidak tahan mendengar caci-maki yang dilakukan ibunya, merah padam wajahnya lantaran malu.

"Ibu, sudahlah, kalau tidak berhasil memaksa mereka keluar, kita sudahi saja umpatan itu!" bujuknya.

"Apa kau bilang?"

Suto Siau memutar sepasang biji matanya, mendadak ia tertawa tergelak sambil berseru pula: "Hahaha, ternyata anggota perguruan Tay ki bun hanya mampu menghukum mati putra sendiri dengan ditarik lima ekor kuda, sementara urusan yang lain sama sekali tidak becus, benar-benar memalukan!"

Begitu mendengar umpatan ini, Thiat Tiong-tong yang berada di   atas pohon segera berpekik dalam hati, "Celaka!"

Betul saja, dari balik reruntuhan bangunan segera terdengar suara bentakan gusar disusul bebatuan yang beterbangan di udara.

"Hahaha, kali ini ada juga yang muncul!" seru Suto Siau lagi sambil tertawa.

"Tahu begini, kenapa tidak memaki sejak tadi?" seru Seng-toanio gusar.

Sembari berbicara, kelima orang itu segera menyusup ke tempat asal suara bentakan itu.

Sesosok bayangan manusia melambung ke udara dari balik kegelapan.

"Serang!" bentak Seng-toanio, tangannya diayun, segulung cahaya perak berhamburan di udara.

Bayangan manusia itu tidak lain adalah Im Ceng, sedari tadi dia memang sudah memendam amarah, kini hawa amarahnya sudah tak terbendung lagi, matanya merah, pikirannya kalut, dalam keadaan begini dia tidak peduli lagi dengan mati hidupnya.

Ketika cahaya perak berhamburan, lagi-lagi dia mengayunkan tangannya menyambitkan segenggam pecahan genting. Ternyata senjata rahasia yang paling bodoh, paling bersahaja itu merupakan tandingan yang paling pas untuk merontokkan jarum gadis langit yang paling beracun dan paling menakutkan itu.

"Trring, tringg...!", di tengah dentingan nyaring, jarum gadis langit itu sudah berguguran ke tanah.

Sambitan genting itu dilancarkan dalam keadaan marah besar, tidak heran tenaga serangan yang disertakan pun luar biasa dahsyatnya.

Waktu itu Suto Siau sedang melayang turun ke bawah, buru-buru teriaknya:

"Jangan gubris aku, cepat lakukan pengejaran!"

Di tengah bentakan itu, sekali lagi Im Ceng sudah melambung ke tengah udara dan melesat ke depan.

Buru-buru Suto Siau menarik ke belakang tubuhnya, lalu mundur sejauh tiga kaki.

Im Ceng menjejakkan kakinya ke tanah, bagaikan sebuah bayangan dia menempel terus di belakang tubuh lawannya, serangan berantai dilontarkan, tangan kiri menghantam dada sementara tangan kanan membacok bahu lawan, di tengah berkelebatnya bayangan tangan, ia sudah menerkam musuhnya bagaikan seekor harimau kelaparan.

Suto Siau tak berani menyambut serangan itu, kembali dia mundur sejauh tujuh langkah dengan menggunakan gerakan tujuh bintang.

Ketika ketiga serangannya mengenai tempat kosong, Im Ceng merangsek lebih ke depan, tapi kali ini pukulannya sudah tidak sedahsyat dan sekosen sebelumnya.

Suto Siau tertawa keras, dengan tangan kiri kanan dia melancarkan serangan balasan.

Orang ini banyak akal, licik dan sangat berpengalaman, taktik yang dia gunakan tadi tidak lain adalah siasat pemburu menangkap harimau, menguras habis dulu kekuatan lawannya, kemudian baru turun tangan untuk membekuk.

Dalam waktu singkat bayangan tangan dan deru angin pukulan bercampur-aduk, dua orang itu terlibat dalam pertempuran sengit.

Seng-toanio berdua serta Leng It-hong tidak tinggal diam, mereka melanjutkan penggeledahan di seputar tempat itu.

Pek Seng-bu yang bergelar Sam jiu hiap (pendekar bertangan tiga) hanya berdiri di sisi arena sambil menonton jalannya pertempuran, tampak Suto Siau meskipun berhasil menguasai keadaan, namun dua puluh gebrakan kemudian ia masih belum mampu berada di atas angin.

Im Ceng ibarat harimau yang tumbuh sayap, tenaga simpanannya sukar diduga, setiap pukulan setiap tendangan yang dilancarkan selalu disertai deru angin serangan yang dahsyat, bahkan semakin bertarung ia kelihatan semakin perkasa.

Suto Siau mencecar terus tiada hentinya, sekalipun dalam hati kecilnya agak terkejut juga oleh kehebatan kungfu anak muda itu, namun dia sama sekali tidak terburu napsu, jurus demi jurus serangan dilancarkan secara teratur dan selalu meninggalkan beberapa bagian kekuatan untuk menjaga diri.

Thiat Tiong-tong yang berada di kejauhan tidak sempat mengikuti jalannya pertarungan secarajelas.

"Bagaimana pun hebatnya kungfu yang dimiliki Samte, mustahil dia mampu menandingi semua jago tangguh itu," ketika pikiran itu melintas dalam benaknya, hampir saja dia melompat keluar dari tempat persembunyian untuk memberi pertolongan.

Tapi niat itu segera diurungkan, pikirnya lagi, "kalau aku tampil, paling hanya mengantar kematian dengan percuma, lebih baik mencari cara lain untuk mengatasi kejadian ini."

Sayangnya, walaupun dia sudah memeras seluruh pikirannya, belum juga ditemukan cara yang sempurna untuk menghadapi situasi itu.

Kobaran api yang membakar bangunan kuil itu makin lama makin bertambah besar, sekarang ia dapat melihat kalau Im Ceng sedang dikerubut dua orangjago tangguh.

Rupanya si pendekar bertangan tiga Pek Seng-bu habis kesabarannya ketika melihat Suto Siau belum juga mampu merobohkan musuhnya, maka ia terjun pula ke arena pertarungan dan melakukan pengerucutan.

Ternyata bukan cuma bentuk senjatanya yang aneh, jurus serangan yang digunakan pun sangat aneh dan menakutkan, bola besi yang berada dalam genggamannya mengeluarkan suara keleningan nyaring yang memekakkan telinga.

Mendadak Suto Siau memperlambat serangannya dan bertanya sambil tertawa:

"Saudara Pek, jadi kau sangka Siaute tidak sanggup mengalahkan dia?"

"Bukan begitu," jawab Pek Seng-bu cepat:

"Siaute hanya ingin secepatnya menyelesai­kan pertarungan ini."

Sambil menyahut, senjata Sian jin ciangnya dengan membawa suara deru angin tajam dan keleningan merdu melepaskan tujuh jurus serangan berantai.

Im Ceng mengertak gigi sambil melakukan perlawanan, peluh sudah membasahi jidatnya, tapi dia tak mau mengalah, jurus serangan adu jiwa dilancarkan berulang kali, tampaknya saat ini dia sudah tidak memikirkan keselamatan diri sendiri.

Dari kejauhan terdengar Seng-toanio sedang berseru,:

"Aneh, tidak nampak jejak musuh di empat penjuru, masa perguruan Tay ki bun hanya tinggal tersisa seorang anak jadah ini?"

"Siauya seorang pun sudah lebih dari cukup untuk mengadu jiwa dengan kalian, buat apa orang banyak?" sahut Im Ceng gusar.

Dengan menghimpun segenap tenaganya dia melepaskan serangkaian serangan maut ke tubuh Suto Siau.

Kini dia sudah tidak mempedulikan keberadaan senjata Sian-jin-ciang milik Pek Seng-bu lagi, dia hanya bertekad untuk menghabisi nyawa seorang, paling tidak dia ingin mencari seorang teman bila harus berangkat ke alam baka nanti.

Dengan gesit Suto Siau menghindar ke sana kemari, ejeknya lagi sambil tertawa:

"Perlawanan hewan yang terjebak ternyata hanya begitu saja!"

"Kena!" mendadak Pek Seng-bu membentak nyaring.

Dimana cahaya tajam menyambar lewat, sebuah luka memanjang muncul di bahu Im Ceng.

Thiat Tiong-tong yang berada di atas pohon tahu kalau Im Ceng sudah terluka, semakin hatinya gelisah, semakin kalut pikirannya, dia semakin tak mampu menemukan cara terbaik untuk melakukan pertolongan.

Saat itu seluruh tubuh Im Ceng sudah bermandikan darah, tapi serangan yang dilancar­kan justru makin ganas dan nekat, sepak terjang­nya makin garang, sama sekali tidak terbesit rasa takut barang sedikitpun.

"Dasar kepala batu!" umpat Suto Siau sambil tertawa dingin, "masakah perguruan Tay ki bun yang begitu besar tinggal seorang cecunguk macam kau yang siap mampus di sini? Kemana larinya yang lain?"

"Hmm, yang lain sudah pada pergi, bangsat, tunggu saja tanggal mainnya, nantikan pembalasan dendam dari perguruan Tay ki bun!"

Jeritan itu sangat keras dan melengking, membuat semua orang merasa bergidik.

Ketika teriakan keras itu menggema dalam telinga Thiat Tiong-tong, dia pun segera mengambil satu keputusan.

Dengan cepat dia mematahkan beberapa ranting pohon yang dirangkai menjadi satu, kemudian melepaskan jubah luarnya dan dikenakan pada rangkaian kayu ranting tadi, kemudian dengan sepenuh tenaga dia lemparkan orang-orangan itu keluar sambil diiringi suara pekikan nyaring.

Sementara dia sendiri segera menyelinap turun dari atas pohon dan menyusup ke balik ruangan yang sedang terbakar.

Ranting yang dikerudungi jubah luar itu mirip sekali dengan bayangan manusia ketika terlempar dari atas wuwungan rumah, orang-orang itu segera terpental dan mencelat lagi sejauh beberapa kaki.

Di bawah remangnya cahaya api, bayangan itu nampak seperti seorang ya heng jin yang sedang menyelinap di balik kegelapan.

"Mau kabur kemana kau!" bentak Seng-toanio sambil meng hentakkan tongkatnya dan meluncur ke depan bagaikan seekor burung rajawali.

Buru-buru Seng Cun-hau mengikut di belakang ibunya.

Suto Siau segera berseru:

"Saudara Pek, cepat kejar musuh-musuh yang lain, bocah ini sudah terluka parah, Siaute masih sanggup menghadapinya!"

Tanpa banyak bicara Pek Seng-bu segera melompat ke depan dan meluncur ke arah wuwungan rumah.

Kembali Suto Siau melepaskan satu pukulan, waktu itu Im Ceng sudah kehabisan tenaga, dia tidak sanggup lagi membendung datangnya ancaman.

"Cepat katakan kemana larinya rekan-rekanmu yang lain, asal kau bersedia menjawab, kuampuni nyawamu!"

Kelihatannya dia memang berniat lain, menggunakan kesempatan di saat semua orang melakukan pengejaran, dia ingin mencari tahu dulu ke arah mana kaburnya kawanan jago perguruan Tay ki bun, setelah itu dia akan menggunakan keberhasilannya itu untuk menanamkan pengaruhnya di hadapan Seng-toanio serta Leng It-hong.

Siapa tahu justru apa yang dia lakukan sesuai dengan kehendak hati Thiat Tiong-tong.

Mendadak terlihat segulung kobaran api menyambar tiba, api yang membara itu sebesar meja, buru-buru Suto Siau menghindar ke samping.

Siapa tahu gumpalan api itu seakan benda hidup, tiba-tiba berganti arah dan meluncur lagi memapak tubuhnya.

Suto Siau menjerit kaget, sekalipun dia sempat menghindar, tidak urung tubuhnya sempat terjilat api juga.

Tergopoh-gopoh Suto Siau menjatuhkan diri berguling di atas tanah.

Saat itulah mendadak dari balik kobaran api muncul sesosok bayangan manusia, begitu membopong tubuh Im Ceng, dia melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

Menanti Suto Siau berhasil memadamkan api yang berkobar di tubuhnya, bayangan tubuh Im Ceng sudah lenyap tidak berbekas, kini yang tertinggal hanya gumpalan api yang sedang terbakar, ternyata memang sebuah meja.

Rupanya ketika Thiat Tiong-tong menye­linap ke dalam ruangan tadi, dia segera menemukan sebuah meja yang sedang terbakar, maka dengan cepat dia sambar meja itu dan dilemparkan ke arah Suto Siau.

Menanti Suto Siau berkelit untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya, dia pun segera membuang meja itu, menyambar tubuh Im Ceng dan kabur keluar dari kuil.

Baru muncul di halaman luar, di antara berkelebatnya cahaya terlihat bayangan manusia bermunculan di seputar tempat itu sambil menarik busur masing-masing.

Terdengar seseorang menghardik:

"Siapa di situ?"

Tanpa berpikir panjang, Thiat Tiong-tong menjawab:

"Orang sendiri, Ngo-hok!"

Bayangan manusia yang berada di balik tempat persembunyian kelihatan agak tertegun, belum sempat ingatan kedua melintas, Thiat Tiong-tong sudah menyelinap melalui sisi tubuh mereka dan kabur dari kepungan.

Sementara itu Thiat Tiong-tong bermandi­kan peluh dingin, dia tidak menyangka kalau kata sandi itu telah menyelamatkan jiwa mereka berdua.

Ketika menengok ke arah Im Ceng, dia lihat paras muka pemuda itu pucat bagai mayat, meski masih melotot, namun biji matanya sama sekali tidak bergoyang.

"Samte!" bisik Thiat Tiong-tong kaget.

Tiada jawaban dari Im Ceng.

Rupanya dia sudah menggunakan tenaga kelewat batas, ditambah kehilangan banyak darah, maka kini berada dalam keadaan tidak sadar.

Sambil berkerut kening Thiat Tiong-tong melanjutkan larinya menelusuri tanah perbukitan, entah sudah berapa lama dia berjalan, sampai tubuhnya terasa penat, akhirnya dia berhenti.

Akhirnya sembari mengatur napasnya yang tersengal, dia mencari sebuah gua di sekitar tempat itu dan membaringkan Im Ceng di sana.

Sementara dia sendiri merasakan mulutnya kering dan seluruh tubuhnya sakit, beberapa bagian bajunya terbakar hangus, telapak tangannya mengelupas, luka bakar di sana sini menimbulkan rasa sakit yang merasuk tulang.

Dia tidak berani mencari air minum, juga tidak sempat menggubris luka bakar di tubuhnya, sambil membopong tubuh Im Ceng, dirobeknya ujung baju dan mulai menyeka keringat serta darah yang membasahi tubuh rekannya itu.

Luka memanjang yang diderita Im Ceng pada punggungnya cukup dalam, luka itu membujur bahu hingga ke punggung, begitu dalam lukanya hingga nyaris kelihatan tulangnya yang berwarna putih.

Sementara luka yang lain meski lebih cetek, namun posisinya berada di atas lambung sampai ulu hati, keadaannya jauh lebih gawat.

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghembus­kan napas dingin, dia cukup tahu betapa seriusnya luka itu dan bila tidak segera diobati, bisa jadi nyawa Im Ceng melayang.

Tapi saat itu bukan saja dia tidak punya obat luka, air untuk membersihkan mulut luka pun tak ada, kecuali dia punya sayap dan terbang keluar dari tanah perbukitan itu, mungkin yang bisa dia lakukan hanya menunggu saat ajal Im Ceng.

Setelah berpikir sesaat, akhirnya sambil mengertak gigi dia membopong lagi tubuh Im Ceng dan melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Angin musim gugur berhembus lewat menggoyangkan ilalang, suasana di tanah perbu­kitan itu terasa sendu dan menyeramkan.

Thiat Tiong-tong betul-betul kehabisan tenaga, dia merasa kekuatan tubuhnya semakin melemah, namun semangatnya masih berkobar, tekadnya masih besar, pikirnya, "Ketika mereka menyaksikan aku kabur dari situ, langkah apa yang selanjutnya akan mereka lakukan?"

Waktu itu Suto Siau merasa terkejut bercampur murung setelah kehilangan jejak Im Ceng.

Ketika dia masih termangu, tampak sesosok bayangan manusia melayang turun di hadapannya sembari berkata dingin:

"Empat penjuru tak nampak jejak musuh, untung saja masih ada seorang keturunan keluarga Im yang berhasil dibekuk Suto Siau!"

Orang itu tidak lain adalah Leng It-hong, rupanya dia sudah tahu kalau Thiat Tiong-tong telah membawa kabur Im Ceng, tapi sengaja tidak bergerak dari tempat persembunyiannya, dalam hati dia tertawa dingin tiada hentinya:

"Suto Siau wahai Suto Siau, kau selalu berlagak sok hebat dan ingin pamer kepintaran, kali ini akan kulihat apa lagi yang bisa kau katakan?"

Orang ini memang picik dan sempit pikiran­nya, ketika menyaksikan Suto Siau selalu tampil sambil unjuk kebolehannya, meski di mulut tak berkata apa-apa, namun dalam hati merasa mendongkol bercampur gusar.

Dia tahu orang itu menganggap tidak mungkin ada musuh yang mampu kabur dari kepungan, karena ketatnya kawanan jago yang mengepung tempat itu, maka dia ingin mengguna­kan kejadian ini untuk mempermalukan Suto Siau, agar nama baiknya tercoreng di depan orang banyak.

Oleh sebab itu sambil berlagak tidak tahu kejadian yang sebenarnya, dia sengaja mengucap­kan perkataan tadi.

Betul saja, Suto Siau kontan terbungkam dalam seribu bahasa.

Kembali Leng It-hong berlagak pilon, teriaknya kaget:

"He, kemana larinya bocah itu?"

"Sudah kabur!"

"Aaah, masa seorang bocah kemarin sore juga mampu kabur dari cengkeraman Suto Siau?"

"Beruntung di sekeliling tempat ini dijaga oleh kawanan jago dari benteng Han hong po, toh mustahil dia bisa kabur dari tempat ini!"

Berubah paras muka Leng It-hong, belum sempat dia berbicara, tampak dua orang lelaki berpakaian ketat telah berlari masuk ke dalam kuil sambil melapor:

"Barusan ada dua orang pemuda melarikan diri dari sini, entah siapakah mereka?"

"Memangnya kalian semua orang mampus?" umpat Suto Siau gusar, "kenapa kalian bebaskan mereka? Masa tidak tahu kalau mereka adalah anak murid perguruan Tay ki bun?"

Lelaki itu nampak terkejut, tapi segera katanya:

"Mereka dapat mengucapkan kata sandi, hamba tak berani menghalangi."

Dengan gemas Suto Siau menghentakkan kakinya ke tanah, bentaknya kemudian:

"Kejar!"

Sambil tertawa dingin Leng It-hong menyindir:

"Kelihatannya kata sandi Ngo-hok dari saudara Suto memang hebat, tapi aneh, kenapa murid perguruan Tay ki bun bisa tahu?"

Hijau membesi paras muka Suto Siau.

Dalam pada itu Seng-toanio sekalian telah balik dengan tangan hampa.

Pek Seng-bu pun berkata:

"Asal kita mengetahui arah yang mereka tuju sewaktu melarikan diri, rasanya sebelum fajar esok, orang-orang itu sudah bisa kita tangkap kembali!"

"Sudah dikepung begini banyak orang pun mereka mampu melarikan diri, apa mungkin kita bisa menyusul mereka?" sindir Seng-toanio.

"Belum tentu, orang she Im sudah terkena dua kali seranganku, belum tentu jiwanya bisa diselamatkan, rekannya pasti sedang bingung untuk merawat dan mengobati lukanya, bisa jadi mereka masih berada di seputar bukit ini untuk beristirahat."

"Kalau mereka menggembol obat?"

"Sekalipun punya obat, paling tidak juga butuh air bersih untuk mencuci mulut lukanya. Betul agak sulit untuk melacak jejak mereka di tengah kegelapan malam, tapi asal kita tahu dimana letak mata air, kemudian menjebaknya di situ, aku rasa mustahil mereka bisa terbang ke langit."

"Masuk akal!"

"Sekarang mereka sedang berusaha kabur, jalan yang dipilih pun pasti bukan jalan besar, asal kita hadang mereka di tempat strategis dan menyumbat seluruh jalan keluarnya, aku percaya tak mungkin mereka bisa lolos dari pengejaran kita."

"Tidak nyana siasat saudara Pek luar biasa hebatnya," kata Leng It-hong sambil melirik Suto Siau sekejap, "aku rasa julukan kantong siasat mesti dialihkan dari saudara Suto ke tangan saudara Pek."

"Aaah, saudara Leng kelewat memuji, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan terjatuh juga, sebaliknya sebodoh-bodohnya orang, ada saatnya berhasil juga, kalau dibandingkan  saudara Suto, tentu saja Siaute masih ketinggalan jauh."

"Sudah, jangan banyak omong melulu, kita harus segera berangkat," bentak Seng-toanio.

Setibanya di atas bukit, mereka perintahkan para pemanah untuk menyumbat jalan keluar sambil berjaga di sisi sungai, sementara Pek Seng-bu sekalian mulai melakukan penggeledahan di empat penjuru.

Suto Siau memeriksa sebentar keadaan sekeliling situ, lalu pikirnya, "Seandainya aku yang harus kabur di tanah perbukitan ini sambil membopong seseorang yang terluka, apa yang harus kuperbuat agar lolos dari pelacakan musuh?"

 

Gerak tubuh Thiat Tiong-tong sudah semakin melambat, namun ketika bergerak maju, dia tidak berani mengeluarkan sedikit suara pun, dipilihnya jalan yang sepi dan terpencil untuk meneruskan perjalanannya.

Di tengah hembusan angin musim gugur yang kencang, tiba-tiba dia mendengar suara aliran air dari balik hutan.

Suara aliran air sungai yang gemercik lirih terdengar bagai irama surga dalam pendengaran Thiat Tiong-tong, tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, dia segera mempercepat langkahnya mendekati sumber suara air itu.

Makin lama suara itu semakin dekat, tinggal beberapa langkah lagi dia akan mencapai tepi sungai... waktu itu, kawanan jago yang bersembunyi di sekeliling sungai pun sudah melihat bermunculan.

Pada saat itulah Thiat Tiong-tong merasa gelagat tidak beres, pekiknya dalam hati, "Aduh celaka!"

Cepat dia menghentikan langkahnya sambil hartanya kepada diri sendiri, "Adaikata aku menjadi mereka, bukankah paling baik jika bersembunyi di seputar sungai untuk menunggu datangnya lawan yang menggendong orang terluka?"

Berpikir begitu dia segera berputar arah, berusaha menjauhi giliran sungai itu.

Tapi suara gemericiknya air membuat dia merasa kerongkongannya bertambah kering dan panas, sambil menggigit bibir dia memaksakan diri untuk melawan godaan itu.

Pada saat itulah dari balik hutan muncul dua sosok bayangan manusia, bayangan itu sedang bergerak ke arahnya sambil melakukan pemeriksaan, mereka tidak lain adalah Pek Seng-bu dan Leng It-hong.

Kembali satu ingatan melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, "Celaka, kalau aku menjadi mereka, tempat-tempat yang gelap dan tersembunyi pasti akan kugeledah lebih dulu, bukankah jejak kami berdua segera akan ketahuan?"

Di bawah sana terbentang jalan perbukitan selebar tiga kaki, jalan itu berliku-liku hingga ke bawah bukit, meski curam dan terjal, namun jalanan itu berupa jalan gunung yang lebih nyaman dilalui.

"Saat ini aku pasti berada dalam kepungan mereka, kalau ingin lolos dari pencarian, kelihatannya mesti mencoba menyerempet bahaya. Jalan perbukitan itu adalah jalan umum, orang pasti tidak akan percaya kalau aku berani melalui jalanan itu, kenapa tidak mengambil resiko ini? Siapa tahu aku justru bisamelarikan diri?"

Tanpa ragu lagi dia pun keluar dari tempat persembunyian dan berlarian di jalan perbukitan itu.

Situasi yang mendesak memaksa dia mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki­nya, dia berusaha memasuki sudut mati dari pemikiran orang lain dan melakukan tindakan yang sama sekali di luar dugaan siapa pun.

Benar saja, sepanjang perjalanan dia sama sekali tidak menjumpai penghadangan maupun pencegatan.

Sambil menghembuskan napas lega, pikirnya kemudian:

"Samte, Thian pasti akan memberi jalan kepada umatnya, asal kita bisa lolos dari penghadangan hari ini, lukamu pasti dapat disembuhkan."

Meskipun Im Ceng masih dalam keadaan pingsan, namun karena ada harapan untuk hidup terus, Thiat Tiong-tong pun sedikit banyak merasa hatinya lega.

Meskipun gara-gara kecerobohan dan keberangasan Im Ceng hampir saja mereka berdua tewas secara mengenaskan di atas bukit, namun tiada rasa gusar atau jengkel yang muncul dalam pikiran Thiat Tiong-tong, baginya asal lm Ceng bisa hidup terus, pengorbanan sebesar apapun sama sekali tak berarti baginya.

Baru saja dia menyeka keringat yang membasahi jidatnya, mendadak dari sisi jalan terdengar seseorang mengejek sambil tertawa dingin:

"Sayang salah satu musuh yang harus kau hadapi adalah Suto Siau!"

Kemudian sambil memunculkan diri, lanjutnya sambil tersenyum:

"Sudah kuduga, kalian tidak bakal terjatuh ke tangan mereka dan pasti akan memilih jalan besar untuk melarikan diri, kini kau sudah kelelahan dan kehabisan tenaga, sementara rekanmu sudah terluka parah, bagaimanapun akulah yang akan menentukan nasib kalian berdua."

"Tunggu sebentar!" seru Thiat Tiong-tong.

"Apa lagi yang kau kehendaki?"

"Di antara kita berdua tidak ada ikatan dendam maupun sakit hati, kenapa kau begitu memojokkan kami?"

"Secara pribadi kita memang tidak ber­musuhan, tapi siapa suruh kalian menjadi anak murid perguruan Tay ki bun? Siapa suruh kau mengangkat tua bangka Im jadi gurumu?"

"Siapa bilang aku adalah murid perguruan Tay ki bun? Kami berdua sudah diusir dari perguruan, biar kau bunuh kami berdua pun tidak ada gunanya."

"Hmm, tidak usah bersilat lidah, kau boleh membohongi orang lain, tapi jangan harap bisa menipu Suto Siau!"

"Jika kau bunuh aku, hal ini malah sangat diharapkan perguruan Tay ki bun, apalagi jika sampai tersiar luas di kolong langit, orang persilatan malah akan mengejekmu karena sudah membantu perguruan Tay ki bun untuk membereskan murid murtadnya."

"Kalau aku bersedia tidak membunuhmu, apa yang akan kau perbuat?"

"Jika hari ini kau bebaskan aku, bila di kemudian hari aku tahu kabar berita tentang perguruan Tay ki bun, orang pertama yang akan kuberitahu pastilah dirimu. Nah, waktu itu bukan saja kau akan berjaya, maka sakit hatiku pun ikut terlampiaskan."

Tampaknya perkataan itu sangat mengena di hati Suto Siau.

Sekalipun wajahnya tidak menampilkan perubahan, namun perasaannya mulai goyah, ujarnya kemudian:

"Baik, boleh saja aku tidak membunuhmu, tapi kau mesti mengangkat aku menjadi gurumu."

Thiat Tiong-tong segera memberitahu pada diri sendiri:

"Jelas ucapan itu sengaja dia utarakan untuk menjajal kesungguhan hatiku, dulu bukankah jenderal Han Sim pun rela merangkak di bawah pantat orang sebelum akhirnya berhasil membalas dendam negaranya? Kalau aku ingin hidup terus sambil mencari kesempatan untuk membalas dendam di kemudian hari, apa salahnya kalau hari ini kuangkat dia sebagai guruku?"

Berpikir sampai di situ, dia segera membaringkan Im Ceng ke tanah sambil bertanya:

"Perkataanmu bisa dipercaya?"

"Kalau bersatu kita sama-sama untung, kalau berpisah kita sama-sama rugi, buat apa aku mesti membohongimu?"

Sekalipun rasa gusar dan mendongkol nyaris meledakkan dada Thiat Tiong-tong, namun dalam penampilan ia tetap bersikap tenang, tanpa banyak bicara pemuda itu segera menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

"Hahaha, bagus, bagus sekali," Suto Siau tertawa terbahak-bahak, "bagaimana dengan dia?"

"Saat ini dia masih tidak sadarkan diri, lebih baik tunggu sampai dia mendusin...."

Belum selesai perkataan itu, tiba-tiba terdengar Im Ceng mengumpat dengan nada gemetar:

"Budak yang tidak tahu malu, jangan disangka aku tidak melihat perbuatanmu, hidup sebagai anggota perguruan Tay ki bun, mati pun aku tetap setan perguruan Tay ki bun!"

Begitu selesai berteriak, kembali dia jatuh tidak sadarkan diri.

Rupanya sewaktu sadar dari pingsannya tadi, kebetulan dia mendengar pembicaraan Thiat Tiong-tong, bahkan sempat pula menyaksikan pemuda itu sedang menyembah di hadapan lawan.

Thiat Tiong-tong merasa sedih bercampur mendongkol, namun ibarat orang bisu makan empedu, biar pahit pun terpaksa harus ditelan sendiri. Maka dia pun mengambil keputusan, apapun yang bakal terjadi, dia akan menghadapi dengan lapang dada, biar mesti memikul nama busuk, biarpun dianggap pengkhianat, dia tak peduli, yang penting sekarang adalah menolong Im Ceng dan menyelamatkan jiwanya.

Terdengar Suto Siau dengan nada tidak suka menegur:

"Kenapa rekanmu itu?"

"Dia sudah pingsan cukup lama, mungkin kesadarannya sudah tidak jelas lagi...."

"Baik," kata Suto Siau kemudian, "bila kau ingin aku percaya kepadamu, sekarang juga bunuhlah dia terlebih dulu, kalau tidak, susah bagiku untuk percaya padamu."

Siasatnya ini boleh dibilang sangat kejam dan telengas, dia memang cerdik, banyak akal dan selama hidup tidak pernah dibohongi orang.

Waktu itu tenaga dalamnya telah dihimpun ke dalam telapak tangannya, asal Thiat Tiong-tong menunjukkan sikap ragu, dia putuskan akan menghabisi nyawa anak muda itu terlebih dulu.

Siapa tahu Thiat Tiong-tong sama sekali lidak menunjukkan sikap ragu, tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan serunya kepada Im Ceng:

"Im Ceng, kenapa sampai sekarang kau belum juga mau sadar, padahal perguruan Tay ki bun sudah tidak menghendaki kita,   bahkan mengusir kita berdua dari perguruan, kenapa kau masih begitu setia kepada mereka? Baiklah, kalau toh kau tak mau sadar, biar sekarang juga kuantar kepergianmu terlebih dulu."

Perlahan-lahan dia mengangkat telapak tangannya dan langsung dibacokkan ke atas kepala Im Ceng.

Diam-diam Suto Siau tersenyum kegirangan, kini dia yakin kalau pemuda itu telah berhasil dia taklukkan.

Karena gembira, tanpa sadar dia pun menarik kembali telapak tangannya dan tertawa terbahak-bahak.

Saat itu telapak tangan Thiat Tiong-tong sudah hampir menghajar di atas batok kepala Im Ceng.

Pada saat yang terakhir itulah mendadak pemuda itu merangsek ke depan, sepasang sikutnya langsung disodokkan ke dada dan lambung Suto Siau, sementara tendangan kaki kanannya menghajar lawannya itu hingga mencelat ke belakang.

Begitu berhasil membokong lawannya, tanpa berpaling lagi Thiat Tiong-tong menyambar tubuh Im Ceng dan kabur secepatnya meninggalkan tempat itu.

Di tengah hembusan angin malam, kini hanya terlihat tubuh Suto Siau yang terkapar semaput di pinggir jalan.

Sebetulnya orang ini bukan termasuk manusia yang gampang ditipu, terlebih dibokong orang, tapi kecerdasan Thiat Tiong-tong telah membuat dia mati kutunya, dengan iming-iming nama dan pahala, pemuda itu berhasil membangkitkan napsu serakahnya, kemudian dengan tindak-tanduk yang seolah sungguhan ia berhasil memperoleh kepercayaannya.

Maka di saat Suto Siau sedang bangga dan gembira, di saat rasa curiganya telah lenyap, dia terhajar telak oleh serangan kilat Thiat Tiong-tong.

Begitulah kalau orang kelewat lupa daratan, terkadang hal ini justru memperlemah kewaspadaan diri sendiri.

Sayangnya, Thiat Tiong-tong yang cerdas dalam gugup dan tergopoh-gopohnya telah melakukan satu pelanggaran pula, pelang-garan yang sangat mematikan.

Dia bukannya kabur dengan menelusuri jalan gunung, sebaliknya malah masuk ke dalam hutan dan mengantarkan diri ke dalam perangkap yang dipasang orang lain.

Hutan itu gelap dan lembab, setelah menempuh perjalanan sekian waktu, dia baru menyadari akan kesalahan itu, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

Mendadak dari balik pohon meluncur datang tiga batang panah yang tajam disertai desingan angin tajam.

Buru-buru Thiat Tiong-tong membungkuk­kan tubuh, anak panah itu meluncur lewat melalui atas punggungnya, sambil mengambil segenggam pasir dan disebarkan ke sisi kiri, tubuhnya menyusup ke arah kanan untuk melanjutkan larinya.

Sambil melompat menghindar, dia mulai memeriksa sekeliling tempat itu, terlihat ada sebatang pohon besar dengan daun yang amat lebat tumbuh di hadapannya, dia tahu tempat semacam ini paling cocok untuk digunakan bersembunyi, maka tanpa ragu dia segera melompat ke situ.

Biarpun sudah terjebak dalam situasi kritis, jalan pemikiran pemuda ini masih tetap tenang dan jelas, dia masih mampu   menga-nalisa  dan menyimpulkan segala sesuatu secara jelas.

Baru saja tubuhnya bersembunyi di balik dedaunan, suara ujung baju yang tersampuk angin telah berkumandang dari bawah pohon, untung dia bertindak cepat, coba terlambat sedikit saja, pasti akan bertemu dengan orang-orang itu.

Ternyata dua sosok bayangan manusia yang bergerak mendekat adalah Leng It-hong serta Pek Seng-bu.

Sambil memeriksa sekeliling tempat itu, terdengar Leng It-hong bergumam:

"Aneh, dengan jelas kulihat dia kabur menuju kemari, kenapa tidak nampak bayangan tubuhnya?"

Pek Seng-bu ikut menghentikan langkahnya sembari tertawa dingin.

"Hram, sekalipun gerakan tubuh bajingan itu sangat cepat, memangnya dia bisa terbang ke langit atau menyusup ke dalam tanah?" serunya: "mustahil bayangan tubuh mereka bisa lenyap begitu saja, saudara Leng, jangan-jangan kau salah lihat."

"Mana mungkin.." seru Leng It-hong gusar.

Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terlihat Pek Seng-bu sedang mengedipkan mata memberi tanda sambil berkata:

"Barusan Siaute mendengar di sebelah kiri ada suara, coba kita periksa dulu ke arah situ."

"Betul, mungkin saja mereka berubah arah," Leng It-hong segera mengubah nada bicara-nya.

Kedua orang itu membalikkan tubuh dan beranjak pergi.

Thiat Tiong-tong yang bersembunyi di atas pohon menghembuskan napas lega, diam-diam dia bersyukur karena sekali lagi berhasil lolos dari kesulitan.

Siapa tahu baru saja ingatan itu melintas, mendadak terdengar suara tertawa mengejek bergema dari arah belakang tubuhnya.

Terdengar si pendekar berlengan tiga Pek Seng-bu tertawa tergelak sambil mengejek:

"Kusangka kau benar-benar memiliki kemampuan untuk terbang ke langit atau menyusup ke dalam tanah, rupanya hanya bersembunyi di atas pohon."

Di tengah gelak tertawanya, tubuhnya sudah melompat naik ke atas pohon, sambil menyingkap dedaunan dengan senjata Sian-jin-ciang, disertai desingan tajam dia serang bahu dan punggung Thiat Tiong-tong.

Dalam terkesiapnya, Thiat Tiong-tong tidak berani melancarkan serangan balasan, tubuhnya segera melompat turun ke bawah.

Siapa tahu rupanya Leng It-hong sudah menunggunya di bawah pohon, begitu dia melompat turun, sambil tertawa dingin jengeknya:

"Mau kabur kemana lagi kau?"

Sepasang kepalannya diayunkan bergantian langsung menghimpit tubuh Thiat Tiong-tong serta Im Ceng yang berada dalam gendongannya.

Dengan tangan kiri masih menggendong Im Ceng, buru-buru Thiat Tiong-tong memutar tubuh sambil mengayunkan kakinya menendang iga Leng It-hong, arah serangannya ditujukan ke bagian mematikan sehingga memaksa musuh harus segera melindungi diri.

Lekas Leng It-hong menarik kembali serangannya sambil melindungi diri, telapak tangannya dibabatkan ke bawah membacok kaki pemuda itu.

Pada saat bersamaan Pek Seng-bu telah melompat turun dari atas pohon, senjatanya disertai angin serangan menyapu pinggang Thiat Tiong-tong.

Dalam posisi membopong orang, meng­hadapi pula serangan dari depan dan belakang, boleh dibilang pemuda itu sudah terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya.

Sekalipun dia berhasil meloloskan diri dari serangan pertama, namun serangan demi serangan kembali dilancarkan Leng It-hong dan Pek Seng-bu, dengan mengandalkan sebelah tangan, mana mungkin dia sanggup menahan serangan mereka?

Dalam situasi yang amat kritis itulah tiba-tiba dia membentak keras, berbareng dengan bentakan itu tubuhnya langsung menerjang ke muka dan menumbuk dada Leng It-hong dengan kepalanya.

Jelas gerakan ini merupakan jurus serangan nekat, jauh di luar peraturan pertarungan yang berlaku.

Biarpun Leng It-hong banyak pengalaman dan berilmu tinggi, dia dibuat gugup juga menghadapi jurus serangan yang belum pernah dilihat sebelumnya ini, segera tubuhnya berkelit ke samping, lalu melayangkan telapak tangannya menyapu bahu anak muda itu.

Sambil mengertak gigi Thiat Tiong-tong memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang ke muka.

"Mau kabur kemana kau!" hardik Pek Seng-bu sambil tertawa dingin, bahunya bergerak dan siap melakukan pengejaran.

Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membalikkan tubuh sambil membentak nyaring:

"Kena!"

Ling It-hong maupun Pek Seng-bu tidak tahu senjata rahasia apa yang dilepaskan pemuda itu, serentak mereka melompat ke samping untuk menghindarkan diri.

Tidak dinyana ternyata serangan itu hanya sebuah serangan tipuan, biar sudah ditunggu sesaat pun Leng It-hong maupun Pek Seng-bu tidak melihat ada senjata rahasia yang menyambar tiba, menanti mereka sadar kalau tertipu, Thiat Tiong-tong sudah menggunakan kesempatan itu melarikan diri.

Padahal semua akal muslihat yang digunakan anak muda itu hanya tipuan paling rendah kualitasnya, tapi apa mau dikata, tipuan yang paling sederhana itu justru berhasil menipu habis-habisan dua orang tokoh persilatan yang berpengalaman itu.

Dengan perasaan mendongkol Leng It-hong menghentakkan kakinya ke tanah, serunya penuh rasa dendam:

"Sialan, lagi-lagi termakan tipuan bajingan itu!"

"Sekeliling hutan sudah berada dalam kepungan, masakah dia bisa kabur dari kepungan kawanan jago?"

"Aku tahu, bajingan itu memang mustahil bisa lolos, tapi yang membuatku jengkel adalah berulang kali dia berhasil menipu Lohu dengan tipuan anak-anak!"

"Di sinilah letak kelicikan bajingan itu, sudah tahu kalau kita tidak bakal memperhatikan tipuan anak-anak, maka dia sengaja meng-gunakannya untuk menghadapi kita."

"Manusia semacam ini hanya akan menjadi bibit bencana bila dibiarkan hidup terus, untung dia kabur ke arah wilayah yang dijaga pendekar pedang berhati ungu serta Seng-toanio!"

Setelah melarikan diri sejauh puluhan depa, Thiat Tiong-tong tak berani berlari terlalu cepat, sambil membungkukkan tubuh dia  bergerak lambat dan penuh waspada.

Dia tidak berani mengeluarkan suara, asal ada sedikit gerakan angin di hadapannya, segera dia berganti arah.

Kini dia sudah berada dalam kondisi yang tidak segar, selain luka bakar di tubuhnya, bahunya juga terkena sebuah pukulan, dalam keadaan begini nyaris dia sudah tidak mampu lagi bertarung melawan orang.

Oleh sebab itu dia meningkatkan kewaspa­daannya dan berjalan sangat lambat, betul saja, dengan seringkali berganti arah, sepanjang jalan dia tidak menjumpai rintangan.

Tampaknya asal berjalan beberapa saat lagi mereka segera akan lolos dari hutan belantara itu. Mendadak dari atas kepalanya terdengar seseorang mengejek sambil tertawa dingin:

"Hati-hati kalau berjalan, jangan sampai terjerembab!"

Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tidak berani mendongakkan kepala, dengan cepat tubuhnya meluncur ke depan.

Terdengar desingan angin bergema dari atas kepala disusul dua sosok bayangan manusia melayang turun ke bawah, satu di depan dan yang lain di belakang, serentak mencegat jalan kaburnya.

Mereka tidak lain adalah Seng-toanio dan Seng Cun-hau.

Seng Cun-hau sambil melintangkan pedangnya berdiri menghadang di depan jalan, sementara Seng-toanio berada di sudut yang lain dan berdiri penuh senyuman.

Belum sempat mereka bicara, Thiat Tiong-tong telah menghela napas terlebih dulu sambil berseru:

"Bagus sekali!"

Kemudian bukannya melarikan diri, dia malah duduk bersila, sikapnya amat santai seperti orang yang sedang beristirahat, seolah-olah baru saja ia bertemu dengan orang sendiri saja.

"Apanya yang bagus?" tak tahan Seng-toanio menegur:

"kenapa kau malah senang bertemu aku?" Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.

"Sebenarnya aku sedang mencari kalian berdua, untunglah setelah bersusah payah lari ke sana sini, akhirnya Thian memang maha bijaksana, perjalananku jadi tak sia-sia."

"Ada urusan apa kau mencari aku?" timbul rasa ingin tahu dalam hati Seng-toanio.

Seng Cun-hau sendiri termasuk tipe orang yang tak gemar banyak bicara, dia hanya melintangkan pedangnya sambil mengawasi anak muda itu.

Mendadak Thiat Tiong-tong membungkuk­kan tubuhnya dan mulai berteriak kesakitan.

"He, kenapa kau?"

"Senjata rahasia," sahut Thiat Tiong-tong gemetar, "ada orang...."

"Kau tidak perlu bermain gila di hadapanku," tukas Seng-toanio gusar, "Toanio tidak bakalan tertipu olehmu!"

Sekalipun bicara begitu, tak urung dia membungkukkan tubuhnya juga untuk memeriksa apakah benar terdapat senjata rahasia.

Diam-diam Thiat Tiong-tong melirik sekejap, begitu melihat perempuan tua itu mulai membungkukkan tubuh, dia pun berpikir sambil tertawa dingin:

"Hmm, akhirnya kau tertipu juga oleh siasatku!"

Secepat kilat dia menyebarkan segenggam pasir ke wajah nenek itu, sementara tubuhnya melejit sekuat tenaga keudara dan melepaskan serangkaian tendangan berantai ke wajah Seng-toanio.

Tergopoh-gopoh Seng-toanio melompat mundur sembari berteriak:

"Cun-hau, jangan biarkan dia kabur!"

Seng Cun-hau segera melepaskan sebuah tusukan kilat, gerakan pedangnya bagaikan biang­lala, cepat dan mematikan.

Thiat Tiong-tong segera berseru lantang:

"Pedang tidak akan dipakai untuk membunuh musuh yang bertangan kosong, kalau kau ingin membunuh, ayo, silakan bunuh!"

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia kabur menuju ke samping kiri.

Betul saja, begitu mendengar teriakan itu, buru-buru Seng Cun-hau menarik kembali serangannya, dia menarik tusukannya persis di saat Thiat Tiong-tong bergerak melalui sisi tubuhnya.

Meskipun ujung pedangnya berhasil merobek punggung lawan hingga berdarah, namun ia menghentikan langkahnya seketika sambil berpikir, "Aaai... mengingat kau pun seorang lelaki sejati, cepatlah kabur! Jangan sampai terkejar lagi oleh orang lain."

Begitu ingatan itu melintas, tanpa ragu dia segera membuka sebuah jalan kehidupan bagi lawan.

Saat itu Seng-toanio belum mampu mem­buka matanya karena kemasukan pasir, tapi dia tetap mengayunkan tangannya melepaskan segenggam jarum perak.

Terlihat kilatan cahaya perak menerobos di angkasa dan seolah-olah punya mata saja, langsung mengejar ke arah Thiat Tiong-tong.

Perlu diketahui, Seng-toanio sudah puluhan tahun lamanya mendalami ilmu melepaskan senjata rahasia, bukan saja ia bisa menentukan sasaran berdasarkan arah angin, bahkan senjata rahasia itu dapat diarahkan sekehendak hati, seolah-olah benda berjiwa saja.

Thiat Tiong-tong tahu kalau Seng Cun-hau berniat melepaskan dia, maka pemuda ini berlari sekuat-kuatnya menjauhi tempat itu, namun baru kabur sejauh puluhan depa, tiba-tiba lututnya terasa kesemutan, tiga batang jarum gadis langit yang lembut bagai bulu tahu-tahu sudah bersarang telak di tubuhnya.

Rasa sakit yang merasuk tulang sumsum membuat langkahnya jadi terhuyung, hampir saja dia jatuh terjerembab, meski begitu, perasaannya agak lega karena dia tahu jarum itu tidak beracun.

Apabila jarum itu beracun, maka mulut luka tak bakal menimbulkan rasa sakit, ini disebabkan tujuan Seng-toanio memang ingin membekuk lawannya hidup-hidup, oleh sebab itu jarum yang digunakan adalah jarum tanpa racun.

Thiat Tiong-tong menghembuskan napas panjang, dengan satu pukulan kuat dia menghantam bagian tubuhnya yang terluka, jarum yang menancap pun seketika terpental hingga mencuat setengah bagian dari permukaan kulit.

Sambil menjepit dengan kedua jari tangannya, ia cabut keluar jarum perak itu, lalu sambil menahan sakit melanjutkan kembali larinya.

Kini dia bergerak makin berhati-hati, dengan membawa beberapa gumpal lumpur, setiap berjalan belasan langkah dia pun segera melemparkan segumpal tanah ke sisi kiri dan kanan untuk memancing perhatian lawan, ketika mencapai lemparan yang kelima, mendadak   dari balik ranting pohon bergema suara desingan angin tajam.

Buru-buru Thiat Tiong-tong menyelinap ke samping dengan menempelkan punggungnya rapat-rapat pada dahan pohon.

Terlihat belasan anak panah berhamburan dari empat penjuru mengarah dimana tanah tadi dilempar.

Melihat itu, sambil mengertak gigi Thiat Tiong-tong melemparkan lagi gumpalan tanah yang terakhir jauh ke depan sana.

Kontan suara bentakan bergema dari atas dahan pohon:

"Sasaran lari ke arah sana!"

Empat sosok bayangan manusia meluncur turun dari atas pohon dan bersama-sama melakukan pengejaran.

Melihat itu Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, sambil membalikkan tubuh dia menyelinap ke arah yang berlawanan.

Meskipun dengan mengandalkan kecer­dasannya beberapa kali dia berhasil membohongi musuhnya, namun dia sendiri pun tidak tahu akhirnya dia mesti kabur kemana.

Dalam perjalanan berikut, dia sama sekali tidak menjumpai penghadangan, Thiat Tiong-tong kembali berpikir, "Kalau hari ini aku berhasil lolos, berarti Thian telah membantuku, kalau tidak...."

Belum selesai ingatan itu melintas, kembali terdengar suara bentakan memecahkan kesunyian:

"Berhenti!"

Cepat pemuda itu menyelinap ke sisi kiri, tampak dari balik pohon di sisi kiri muncul sebuah busur dengan anak panah yang siap dilepaskan.

Dengan tubuh penuh luka, jelas dia tidak berani menerjang secara kekerasan, baru saja ia akan membalikkan tubuh, tahu-tahu   dari belakang pohon di sebelah kanan telah muncul seorang lelaki sambil membentak: "Mau kabur kemana kau!"

Sambil memejamkan mata, Thiat Tiong-tong berbalik tubuh menerjang ke muka, tapi seseorang muncul lagi dari belakang pohon sambil menghardik:

"Jangan harap bisa lolos dari sini!"

Seorang lelaki kekar dengan golok terhunus dan senyuman dingin telah menghadang jalan perginya.

Anak muda itu mulai mengeluh.

"Habis sudah riwayatku kali ini!" pikirnya.

Dalam waktu singkat muncul empat orang lelaki kekar dari arah depan, belakang, kiri maupun kanan, dua di antaranya bersenjata golok dan dua lainnya membawa busur dan anak panah.

Seandainya Thiat Tiong-tong seorang diri dan tenaganya masih kuat, tentu saja dia tidak akan memandang sebelah mata terhadap keempat orang lelaki itu, tapi sekarang bukan saja ia sudah terluka, Im Ceng yang berada dalam bopongan pun dalam keadaan pingsan, jangankan dikepung berempat, cukup seorang lelaki biasa pun sudah cukup untuk merobohkan dirinya.

Padahal keempat orang itu selain gesit dan cekatan, khususnya lelaki bergolok itu, matanya tajam, Ginkangnya tangguh, jelas dia adalah seorang jago pilihan dari dunia persilatan.

Detik itu juga ia merasa putus asa, hilang lenyap seluruh rasa percaya dirinya.

"Ooh, Suhu...." pekiknya dalam hati, "Tecu sungguh menyesal karena tak bisa mewakilimu melindungi Sute, biarlah setelah jadi setan gentayangan nanti, akan kubantu kau orang tua dari alam baka!"

Berpikir sampai di situ perasaannya menjadi jauh lebih tenang, sambil menghentikan langkahnya dan membusungkan dada, dia menanti datangnya kematian.

Selangkah demi selangkah keempat orang lelaki itu berjalan mendekat, kelihatannya mereka masih takut bila Thiat Tiong-tong melakukan perlawanan, karena itu paras muka mereka rata-rata tegang bercampur serius.

"Hahaha, kenapa mesti tegang?" ejek Thiat Tiong-tong sambil tertawa tergelak, "silakan maju mendekat, Siauya mu sudah siap memenuhi keinginan kalian, jangan kuatir, aku tidak bakal menyerang!"

Dengan wajah berubah, lelaki bergolok itu tertawa dingin, hardiknya:

"Manusia she Thiat, ajal sudah di depan mata, kau masih berani garang?"

"Hmm, Siauyamu sudah lama merasakan bagaimana enaknya mati, ayo maju saja, jangan takut, Thiat-siauya tak bakalan mengernyitkan dahi!"

Sambil tertawa dingin lelaki bergolok itu memberi tanda, ujarnya:

"Tangkap bangsat itu hidup-hidup, jangan sakiti jiwanya, Pocu butuh dia untuk diinterogasi!"

Tampaknya lelaki bergolok itu adalah pemimpin rombongan, tiga orang lelaki lainnya segera menyahut sambil menyimpan kembali senjatanya, mereka maju mendekat.

Meski begitu gerak-geriknya masih kelihatan tegang dan penuh kewaspadaan.

Thiat Tiong-tong berdiri tanpa bergerak, walaupun senyuman masih menghiasi wajahnya, namun perasaannya terasa kecut.

Budi gurunya belum dibayar, dendam belum terbalas, dia tidak seharusnya tewas begitu saja. Tapi keadaan berkata lain, dalam  keadaan seperti ini kecuali jalan kematian memang tak ada pilihan lagi yang bisa diambil, karena itu dia hadapi kenyataan itu secara gagah berani.

Lelaki bergolok itu masih berdiri dengan perasaan tegang, tak tenang dan penuh gejolak emosi, goloknya dipegang erat-erat sementara telapak tangan kirinya telah menggenggam beberapa batang senjata rahasia.

Menanti ketiga orang lelaki itu hampir mendekati Thiat Tiong-tong, tiba-tiba dia membentak:

"Tunggu sebentar!"

Sambil berseru dia maju ke depan.

Sementara ketiga orang lelaki itu masih melengak, tahu-tahu lelaki itu sudah mengayun­kan goloknya membacok lelaki yang ada di sebelah kiri, sedangkan senjata rahasianya disambitkan ke dada lelaki yang ada di sebelah kanan.

Lelaki ketiga menjadi terkesiap, buru-buru dia melontarkan sebuah pukulan ke punggung Thiat Tiong-tong, membuat pemuda itu terhuyung beberapa langkah ke depan dan akhirnya jatuh tertelungkup.

Lelaki bergolok itu membentak nyaring, cahaya golok berkelebat, dia bacok tengkuk lelaki itu kuat-kuat.

Cepat lelaki itu berkelit ke samping, teriaknya kaget:

"He, kau sudah gila?"

Kembali lelaki bergolok itu melancarkan tiga bacokan berantai, cahaya golok yang tercipta bagaikan sebuah rantai panjang yang mengurung lelaki itu rapat-rapat.

Pecah nyali lelaki itu menghadapi serangan maut itu, sambil menjerit keras dia membalikkan tubuh dan melarikan diri.

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah lelaki bergolok itu, dia sama sekali tidak mengejar, menunggu sampai orang itu kabur sejauh tiga depa, mendadak lelaki itu melempar-kan goloknya ke muka dengan sepenuh tenaga.

Sekilas bianglala membelah angkasa, bagai sambaran kilat, golok itu meluncur ke depan dan menghujam di punggung lelaki itu. Bukan hanya begitu, kekuatan yang tersisa segera menyeret lelaki tadi hingga terpantek di atas batang pohon.

Tidak sempat lagi menjerit kesakitan, tewaslah lelaki itu dalam keadaan mengenaskan.

Thiat Tiong-tong berusaha meronta untuk duduk, meski lukanya cukup parah, namun dia masih memeluk tubuh Im Ceng erat-erat.

Masih untung gempuran lelaki tadi dilancarkan dalam keadaan gugup hingga tidak sampai menimbulkan luka, karena itu setelah berhasil duduk, dengan perasaan tercengang bercampur tak habis mengerti, ditatapnya lelaki bergolok itu sambil bertanya:

"Sobat, kau... kenapa...." Sambil membesut noda darah pada laras sepatunya, lelaki itu menukas:

"Tempat dan saat ini bukan saat yang tepat untuk bicara, Thiat-kongcu, mari ikut aku kabur dari sini."

"Kalau tidak kau jelaskan, mana mungkin aku bisa mengikutimu?"

Setelah menghela napas lelaki bergolok itu berkata:

"Dua puluh tahun berselang, Thiat-locianpwe, leluhur Thiat-kongcu pernah meng­ampuni jiwa seorang pemuda yang bernama Tio Ki-kong, meskipun Tio Ki-kong hanya seorang kasar, namun selama dua puluh tahun tak pernah melupakan budi kebaikan itu, sayangnya Thiat-locianpwe keburu pulang ke langit barat."

Suaranya terdengar agak gemetar, tapi dengan cepat lanjutnya lagi:

"Oleh karena Tio Ki-kong tidak mungkin bisa membayar budi ini kepada Thiat-locianpwe, maka akan menyumbangkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk membantu keturunannya. Kongcu, tak jauh di depan sana adalah jalan menuju keluar gunung, silakan mengikuti Tio Ki-kong, berilah kesempatan kepadaku untuk membalas budi ini...."

Thiat Tiong-tong berusaha bangkit berdiri, tapi ia terjatuh kembali ke tanah.

Berubah paras muka Tio Ki-kong, buru-buru dia membangunkan pemuda itu sambil berseru:

"Cepat! Sedikit terlambat, semuanya akan berakhir!"

Thiat Tiong-tong menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa sedih:

"Saudara Tio, boponglah saudaraku ini dan kaburlah dari sini, aku...."

"Bagaimana dengan kau?"

"Aku sudah tidak sanggup lagi, sementara kau pun tidak mungkin membopong kami berdua sekaligus...."

"Kenapa tidak mungkin? Biar harus mempertaruhkan nyawa sekalipun aku ...."

"Kalau berbuat begitu berarti kita bertiga akan mati bersama, tinggalkan aku di sini untuk menahan pasukan pengejar, dengan begitu kalian baru punya harapan untuk lolos."

"Kongcu," dengan gemas Tio Ki-kong menghentakkan kakinya, "kenapa kau berkata begitu? Jika Kongcu enggan pergi, biarlah aku orang she Tio tetap tinggal di sini untuk menemani Kongcu."

"Saudara Tio," kata Thiat Tiong-tong dengan suara berat, "kau adalah seorang lelaki sejati yang bisa membedakan mana budi mana dendam, apakah kau berharap aku menjadi seorang manusia yang lupa budi dan tidak setia kawan? Aku sudah banyak berhutang budi kepada guru, bila meninggalkan dia di sini, sementara aku melarikan diri, bukankah tindakanku ini lebih rendah dari hewan? Saudara Tio, jika kau menolak keinginanku, biarlah ThiatTiong- tong bunuh diri sekarang juga!"

Tio Ki-kong terkesiap dan tertegun untuk sesaat.

Setelah menghela napas, kembali Thiat Tiong-tong berkata:

"Aku serahkan keselamatan saudaraku ini kepadamu, cepatlah tinggalkan tempat ini, asal kau berhasil menyelamatkan jiwanya, ayah pasti akan berterima kasih pula di alam baka."

Pucat pias paras muka Tio Ki-kong, untuk sesaat dia malah berdiri mematung.

"Cepat lari!" seru Thiat Tiong-tong lagi: "menolong dia sama seperti menolongku, kalau tidak segera pergi, aku akan mati dulu di hadapanmu."

Sambil mengertak gigi Tio Ki-kong berseru kemudian:

"Tidak kusangka Kongcu adalah seorang lelaki sejati... baik! Kukabulkan permintaanmu!"

Sambil berjongkok dia membopong tubuh Im Ceng, kemudian berlalu dari situ dengan langkah lebar.

BAB 3.

Hidup susah mati mudah.

 

Kabut fajar menyelimuti seluruh permukaan bumi, pagi hari menjelang tiba, kegelapan malam pun pelan pelan bergeser ke ujung dunia.

Memandang bayangan punggung Tio Ki-kong yang lenyap dibalik kabut, sekulum senyuman pedih menghiasi ujung bibir Thiat Tiong-tong, gumamnya:

"Sam-te, selamat tinggal!"

Mendadak terlihat Tio Ki-kong membalikkan tubuh sambil menjatuhkan diri berlutut, sepatah demi sepatah katanya:

"Tio Ki-kong bukan lelaki yang gampang berlutut, aku hanya menyembah kepada seorang lelaki sejati yang menjunjung tinggi kebenaran dan kesetia kawanan, sekarang aku berlutut kepadamu bukan lantaran kau adalah keturunan dari Thiat locianpwee......."

Meskipun pada permulaan kata dia masih berbicara dengan suara berat, tapi pada akhirnya dia mulai sesenggukan dan tidak sanggup melanjutkan lagi kata-katanya.

Thiat Tiong-tong ikut berlutut, katanya pula:

"Siaute tidak bisa bicara banyak, aku hanya menyesal kenapa baru sekarang kenal dengan seorang sahabat macam saudara Tio!"

Kemudian sambil mengangkat wajahnya, dia melanjutkan dengan nada lantang:

"Saudara Tio, nyawa saudaraku telah kuserah­kan ketanganmu, semoga kau bisa selamatkan jiwanya. Saudara Tio! Cepat berangkat!"

Tio Ki-kong membentak lirih kemudian berlalu dari situ dengan cepat, tidak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Thiat Tiong-tong mulai duduk bersila, darah dan air hujan yang menggenangi seluruh permu-kaan beriak ketika terhembus angin fajar, tiga sosok mayat yang berjajar disitu pun sudah mulai membeku.

Pemuda itu tahu, sebentar lagi musuh tangguh segera akan menggeledah sampai disitu, tapi pikirannya tetap kosong, perasaannya tetap hamba, sebab "kematian" bukan jalan yang dia pilih.

Tadi sebetulnya dia bisa memilih jalan "kehidupan”, dia bisa meletakkan "kehidupan" sendiri diatas "kematian" Im Ceng, tapi dia telah mengabaikan jalan "kehidupan" bagi diri sendiri dan sambil tersenyum memilih jalan "kematian", karena merupakan pilihan sendiri maka sekarang dia tidak nampak terlalu sedih, tidak terlalu pedih dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

"Ayoh kemarilah!" sambil membusungkan dada dia berseru, "Thiat Tiong-tong sudah menanti disini!"

Diambilnya sebuah busur dan berapa batang anak panah, lalu memusatkan perhatian ke depan.

Walaupun waktu berlalu amat cepat, namun dalam perasaannya justru amat panjang dan lama.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang ringan bergerak mendekat, seseorang berbisik lirih:

"Coba dicari sekitar sana, bangsat itu sudah terluka parah, delapan puluh persen sulit untuk hidup terus!"

"Masih untung kalau dia mati" sahut rekan-nya, "kalau hidup malah lebih mengenaskan"

Orang yang pertama kembali menghela napas: "Yaa, terkadang mati lebih enak daripada hidup, kalau aku jadi dia, lebih baik mati lebih awal karena jauh lebih nyaman dan tidak tersiksa"

Dalam keheningan yang mencekam tanah perbukitan itu, bisikan yang lirih pun berubah jadi nyaring dan jelas terdengar.

Thiat Tiong-tong terkesiap, batinnya: "Benarkah hidup susah mati gampang? Hidup susah mati gampang?"

......Thiat Tiong-tong, kau tidak boleh lari dari kenyataan, kau tidak boleh mati, selama masih ada harapan untuk hidup, kau harus berjuang terus untuk mempertahankannya!

Sejak dulu hingga kini, banyak orang mencari mati untuk menghindari penderitaan dan tanggung jawab, tahukah mereka bahwa keputusan untuk mempertahankan hidup sebenarnya jauh lebih berani, jauh lebih perkasa daripada menghadapi kematian?

Seringkali orang melupakan akan hal ini, itulah sebabnya ksatria yang berjuang sampai titik darah penghabisan jauh lebih dihormati daripada para pahlawan yang gampang memilih jalan kematian.

Suara langkah semakin mendekat, kedengaran seseorang sedang berkata:

"Tio suhu, apakah melihat sesuatu yang mencurigakan di  pos  penjagaan sini? Pocu perintahkan kami untuk datang kemari......"

Belum selesai dia bicara, mendadak meluncur datang sebatang senjata rahasia dari balik kabut dan menghujam diatas dadanya, rekan yang lain menjerit kaget sambil melarikan diri terbirit-birit. Tapi belum lagi berapa langkah, kembali sebatang senjata rahasia meluncur tiba dan menghajar punggungnya, setelah sem poyongan orang itu roboh terjungkal ke tanah, tapi dia segera meronta bangun dan melanjurkan kembali larinya.

Mungkin serangan yang kedua jauh lebih lemah dari serangan pertama sehingga meski mengenai sasaran namun tidak sampai menimbulkan luka yang fatal.

Menanti suara berisik itu sudah makin jauh, Thiat Tiong-tong baru membuang busurnya, mene­lanjangi salah satu mayat itu dan menggantinya dengan pakaian hitam miliknya, sementara dia sendiri mengenakan pakaian dari mayat itu.

Thiat Tiong-tong tidak lupa memenggal kepala mayat itu dan menguburnya ke dalam tanah, sekalipun tanah lumpur disana lembek karena terendam air, tidak urung pekerjaan ini mem­buatnya mandi keringat.

Kemudian setelah melumuri wajah sendiri dengan lumpur, dia pun merebahkan diri ke tanah.

Tidak lama kemudian terdengar suara desingan angin tajam disertai langkah kaki berkumandang dari empat penjuru, suara itu makin lama semakin mendekat.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak pemuda itu, pekiknya didalam hati: "Aaah, tidak benar!"

Cepat dia membalikkan tubuh dengan ber­baring tertelentang, sebab secara tiba-tiba dia teringat, jika dia tertelungkup maka orang lain pasti akan melakukan pemeriksaan, sebaliknya dengan rebah tertelentang meskipun jauh lebih berbahaya namun justru tidak menarik perhatian orang lain.

Tidak selang berapa saat terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, Leng It-hong serta Pek Seng-bu sudah muncul dari dua arah yang berlawanan.

"Lagi-lagi berhasil kabur!"

"Dia sudah terluka parah, apalagi harus menggendong seseorang, aku tidak pecaya dia bisa kabur dari sini, ayoh kejar!"

"Coba kau lihat itu!" tiba tiba Leng It-hong berseru.

Rupanya dia telah menemukan mayat tanpa kepala yang mengenakan baju warna hitam itu, dari potongan tubuhnya mirip sekali dengan potongan badan Thiat Tiong-tong.

Mereka berdua segera saling bertukar pandangan sambil bertanya penuh curiga:

"Mungkinkah dia?"

Tapi dengan cepat mereka menggeleng: "Tidak mungkin!"

Dengan wajah serius Pek Seng-bu tundukkan kepalanya sambil berpikir, mendadak dia melayangkan sebuah tendangan menghajar tubuh sesosok mayat yang roboh tertelungkup, begitu keras tendangan itu hingga mayat tadi mencelat sejauh berapa langkah.

Dengan wajah berubah Leng It-hong segera menegur:

"Saudara Pek. Biarpun dia hanya seorang bubeng siaucut ( Cucu kura-kura) yang tidak berguna dari benteng kami, toh orangnya sudah mati, buat apa kau mempermalukan jenasahnya?"

"Ternyata orang ini benar-benar berpikiran picik" batin Pek Seng-bu dalam hati, tapi diluar sahutnya sambil tertawa paksa:

"Siaute hanya ingin membuktikan apakah orang ini mati benaran atau cuma berlagak mati"

"Aaah celaka" mendadak wajah Leng It-hong berubah, "teringat aku sekarang, jenasah siapa mayat tidak berkepala ini"

"Siapa?"

Leng It-hong tidak langsung menjawab, dia mendongakkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

"Aaai...! Tio Ki-kong wahai Tio Ki-kong, kasihan kau sudah setia sampai mati, ternyata setelah tewaspun harus kehilangan kepala"

"Tio Ki-kong? Bukankah dia adalah Tio suhu, salah satu dari empat guru ilmu pukulan dalam Benteng Han hong po yang ilmu silatnya paling tangguh?"

"Pasti bajingan itu sehabis membunuhnya, memotong batok kepalanya lalu menukar pakai­annya dengan tujuan akan membohongi kita"

"Benar, bajingan itu paling suka menggunakan akal-akalan, sudah berulang kali dia menipu kita dengan akalnya yang licik"

"Kali ini lohu tidak mau tertipu lagi, ayoh kejar terus!"

Terdengar Seng Toa-nio berteriak dari arah seberang:

"Ada orangkah disitu?"

"Sudah kabur!" sahut Pek Seng-bu.

"Aku menemukan jejak kaki menuju ke luar hutan" teriak Seng Toa-nio lagi, "cepat kalian kemari, dengan luka yang begitu berat, tidak nanti dia bisa kabur terlalu jauh!"

"Kami segera datang!" sahut Pek Seng-bu, kemudian sambil berpaling ke arah Leng It-hong dan tertawa getir, bisiknya:

"Jejak kaki apaan? Mungkin dia sudah sinting lantaran panik!"

"Apa salahnya kita tengok ke situ!" sahut Leng It-hong sambil tertawa.

Setelah mendengar Pek Seng-bu ikut memaki Seng Toa-nio, perasaan hatinya menjadi sangat lega, perasaan kesalnya pun seketika berkurang banyak.

Diam diam Pek Seng-bu merasa geli, tapi diluar kembali ujarnya:

"Saudara Leng, apa salahnya kau tinggalkan berapa orang untuk memberesi jenasah anak buahmu, masa akan kau biarkan mereka kepanasan dan kehujanan?"

"Aaah, betul! Betul!" Leng It-hong manggut manggut.

Dia segera memanggil berapa orang pemanah dan perintahkan mereka untuk mengubur jenasah itu, kemudian sambil menepuk bahu Pek Seng-bu katanya:

"Ayoh jalan, mari kita periksa si nenek edan itu sudah menemukan apa?"

Kini dia sudah menganggap Pek Seng-bu sebagai orang sendiri, padahal belum tentu Pek Seng-bu berpendapat yang sama dengan dirinya.

Biarpun hampir seperminum teh lamanya mereka berdua berhenti disitu, namun tidak seorang pun diantara mereka yang menggubris mayat yang tergeletak dengan posisi terlentang, bahkan melirik sekejap pun tidak.

Inilah kelemahan dari manusia, seringkah yang mereka perhatikan justru hanya tempat yang tersembunyi, sementara tempat yang didepan mata malah terabaikan.

Thiat Tiong-tong yang menahan napas tidak berani berkutik mulai mengeluh didalam hati:

"Jika sampai dikubur hidup-hidup, apa yang harus kulakukan?"

Walaupun dengan andalkan kecerdasan dan keberaniannya, berulang kali dia berhasil lolos dari bahaya maut, tapi disaat mara bahaya yang satu baru saja lewat, mara bahaya lain yang jauh lebih sulit kembali harus dihadapi.

Suara langkah kaki yang ramai bergema makin mendekat, pikiran dan perasaan Thiat Tiong-tong pun ikut bertambah gugup dan kalut.

Dalam keadaan begini bukan saja dia tidak bisa bergerak, membuka mata pun tidak dapat.

Terdengar suara seseorang dengan nada yang parau dan besar sedang berseru:

"Ting loji, ayoh cepat turun tangan, mau apa kau berdiri disitu berlagak mampus?"

"Aaai, sudah kelelahan seharian, mau angkat kakipun rasanya sudah segan, mana ada tenaga untuk menggali liang kubur?"

"Lantas kalau tidak dikubur mau diapakan mayat-mayat itu? Mungkin saja kau berani membangkang perintah pocu, kalau aku mah tidak punya keberanian sebesar itu"

"Eeh, aku punya akal, selain tidak usah buang tenaga, tugaspun bisa dilaksanakan, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Apa akalmu?"

"Tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah liang kecil, hanya tidak jelas seberapa dalamnya, bagaimana kalau kita buang saja mayat mayat itu ke sana?"

"Bagus sekali, bagus sekali, kalau begitu mari segera kita kerjakan" teriak Ting Loji cepaat.

Tampaknya semua orang sudah kelelahan maka tidak ada yang protes atau kurang setuju. Tidak lama kemudian tubuh Thiat Tiong-tong pun sudah digotong orang.

Dia kuatir detak jantungnya kedengaran orang, padahal yang bisa dilakukan sekarang hanya tahan napas, bagaimana caranya menyembunyi-kan debaran jantungnya?

Biarpun perjalanan yang ditempuh tidak terlampau jauh, namun dalam pandangan Thiat Tiong-tiong justru amat panjang, lama dan sengsara, seolah olah jalanan tersebut tiada berujung dan pangkal.

"Aaah, sudah sampai!" akhirnya terdengar seseorang berseru.

Menyusul kemudian dia mendengar suara benda yang dilempar orang dan suara benturan yang berasal dari bawah tanah, kalau didengar dari suara pantulan yang dihasilkan, tampaknya liang itu bukan saja tidak kecil bahkan sangat dalam.

"Saudaraku, beristirahatlah dengan tenang dibawah sana, kalian tidak perlu menderita lagi, terus terang kami ikut merasa iri"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas, tubuhnya juga telah dilempar orang ke dalam liang.

Dia merasa desingan angin tajam bergema disisi telinganya, sementara gerak tubuhnya yang meluncur ke bawah amat cepat.

Dalam gugupnya buru-buru tangannya beru­saha meraih benda disekelilingnya dan meme­gangnya kuat-kuat.

Saat ini dia tidak bisa merasakan benda apa yang berhasil dicekalnya, namun dia pun enggan lepas tangan, maka setelah terlempar berapa saat akhirnya tubuhnya berhenti meluncur ke bawah.

Lama, lama kemudian dia baru berani membuka matanya, kini dia baru tahu kalau benda yang berhasil diraihnya adalah akar rotan yang tumbuh kuat ditepi tebing, sekalipun sudah menahan bobot tubuhnya yang sedang meluncur ke bawah namun tidak menyebabkannya putus.

Ketika mencoba menengok ke bawah, yang tampak hanya kegelapan yang pekat dan tidak nampak dasarnya, sementara ketika menengok ke atas, yang tampak hanya awan putih, ternyata pagi hari telah tiba.

Dia tidak berani menggerakkan tubuhnya sebab kuatir akar rotan itu putus jadi dua, sekarang dia hanya berharap bisa segera pulih-kan kembali kekuatan tubuhnya kemudian berusaha meninggalkan tempat itu.

Entah berapa saat sudah lewat, kini telapak tangannya mulai terasa sakit dan panas sekali, sakit yang menusuk hingga ke dalam hati, tapi dia gertak gigi sambil berusaha menahan siksaan itu.

Banyak kejadian yang paling menyiksapun telah berhasil dilampaui, tiba-tiba dia memperoleh satu pelajaran, asal kau punya tekad dan niat, tidak ada kejadian didunia ini yang tidak bisa kau hadapi.

Perlahan-lahan dia mulai menggeserkan ujung kakinya mencari tempat pijakan yang lebih kuat, lalu sambil melepaskan genggaman ditangan kirinya dia beralih memegang akar rotan lainnya.

Tiba-tiba.....”Blukkk!" pinjakan kakinya kehilangan keseim-bangan, tubuhnya langsung terperosok ke bawah diikuti akar rotan yang digenggam tangan kanannya ikut putus jadi dua.

Dia merasa jantungnya seolah-olah melompat keluar lewat tenggorokan, kini keselamatan jiwa-nya hanya tergantung pada seutas akar rotan yang tidak terlalu kuat.

Saat ini, biar dilukiskan dengan semua perkataan yang ada di dunia pun tidak mungkin bisa menggambarkan betapa bahaya dan kritisnya anak muda itu.

Tapi dia berusaha mengendalikan perasaan hatinya, dia sadar bila hatinya kalut dan panik, bila dia tidak mampu menguasahi diri, tubuhnya segera akan terjatuh ke dasar jurang dan mati tanpa liang kubur.

Tiba tiba terdengar suara mendesis bergema dari  balik  semak,   sewaktu Thiat Tiong-tong berpaling, dia melihat ada seekor ular berbisa sebesar cawan teh sedang bergerak mendekat dan berhenti lebih kurang satu kaki dihadapannya.

Sepasang mata ular itu besar bagai lentera dan mengawasi wajah Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, lidahnya yang merah nyaris menempel di atas pipinya.

Hati Thiat Tiong-tong terasa bergidik, tubuh-nya merinding dan bulu kuduknya pada berdiri.

Bau busuk yang menyembur keluar dari mulut ular itu sangat memuakkan, tapi Thiat Tiong-tong tidak berani bergerak, bahkan mata-nya pun tidak berani berkedip, peluh dingin bercampur dengan lumpur meleleh tiada hentinya.

Dia kuatir kerdipan matanya akan mengejut­kan sang ular, asal dia dipagut satu kali saja niscaya tubuhnya akan terlempar jatuh ke bawah.

Sinar mata ular itu hijau kebiru-biruan, ketika bertemu dengan sorot mata Thiat Tiong-tong yang sedang melotot, kelihatannya binatang melata itupun dibuat terkejut bercampur takut.

Sang ular tidak bergerak, Thiat Tiong-tong terlebih tidak berani bergerak.

Air keringat, lumpur basah membuat wajah Thiat Tiong-tong jadi gatalnya bukan kepalang, saat inilah dia baru sadar bahwa gatal sebetulnya merupakan sesuatu yang menyiksa.......jauh lebih tersiksa daripada radang.

Manusia dan ular pun saling berhadapan tanpa bergerak......

Ditengah  keheningan  mendadak  terdengar seseorang berseru dari atas tebing:

"Thiat kongcu, aku orang she-Tio telah datang terlambat, sungguh sedih karena tidak bisa melihat wajahmu untuk terakhir kalinya" Seruan itu diutarakan dengan nada sedih, tapi begitu terdengar oleh Thiat Tiong-tong, dia segera tahu kalau Tio Ki-kong yang telah datang, rasa gembira yang meluap nyaris membuatnya berteriak keras.

Tapi dengan cepat dia kendalikan semua keinginannya untuk berteriak, sebab dia tidak ingin menimbulkan suara berisik apa pun yang menye­babkan ular berbisa dihadapannya jadi agresif dan melancarkan pagutan.

Terdengar Tio Ki-kong berteriak lagi dari atas tebing:

"Thiat kongcu, beristirahatlah dengan tenang di alam baka, aku telah menghantar Im kongcu ke suatu tempat yang aman, ada orang yang telah merawatnya, begitu selesai menjalankan tugas aku segera menyusul kemari, siapa tahu kedatanganku tetap terlambat selangkah"

Thiat Tiong-tong merasa sedih bercampur terharu disamping rasa cemas dan gelisah yang tidak terlukiskan dengan kata, padahal asal dia mau berteriak waktu itu, bala bantuan segera akan datang.

Yang menjadi masalah adalah sebelum datang­nya bala bantuan, besar kemungkinan dia sudah digigit dulu oleh ular berbisa itu.

Ditengah isak tangis yang berkumandang dari atas tebing, tiba-tiba terdengar seseorang mem­bentak nyaring:

"Tio Ki-kong, ternyata kau berada disini!"

Menyusul kemudian terdengar lagi jeritan kesakitan yang memilukan hati.

Selewat jeritan itu, suasana jadi hening kembali.

Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas dalam hati, dia hanya bisa berdoa, moga-moga saja jeritan itu bukan berasal dari Tio Ki-kong, moga-moga saja dia dapat meninggalkan tempat itu dalam keadaan selamat.

Dan bagaimana dengan dia sendiri? Pemuda itu hanya pasrah pada nasib.

Ditengah ketidak pastian itulah mendadak dari dasar tebing meluncur datang sebuah cambuk panjang yang langsung melilit tubuh Thiat Tiong-tong, kemudian terdengar seseorang membentak nyaring:

"Turun!"

Dalam terkejutnya Thiat Tiong-tong merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan, tidak ampun tubuhnya segera meluncur jatuh ke bawah.

Kemudian kepalanya terasa pusing, pandangan matanya berkunang kunang sebelum akhirnya jadi gelap, apa yang kemudian terjadi dia tidak tahu.....pergulatannya melawan kematian berakhir sudah.

 

Im Ceng yang jatuh tidak sadarkan diri perlahan-lahan mendusin kembali dari pingsan­nya.

Dia merasa seluruh tubuhnya sakit bagai retak, rasa sakit yang membuatnya jadi mati rasa, membuatnya hampir tidak merasa dimana letak ke empat anggota tubuhnya.

Ketika membuka mata, dia menjumpai dirinya berada didalam sebuah kamar yang sempit, kecil lagi jelek.

Cahaya matahari memancar masuk melalui jendela, tapi kamar itu kosong tidak berpenghuni, hanya diluar sana lamat-lamat terdengar ada suara pembicaran orang serta suara benda besi yang saling beradu.

"Berada dimanakah aku? Jangan-jangan sudah dikhianati Thiat Tiong-tong? Mungkinkah orang diluar sana sedang mempersiapkan alat siksaan untuk menginterogasi aku?"

Berpikir sampai disitu dia merasa sedih bercampur gusar, rasa bencinya terhadap Thiat Tiong-tong pun makin mendalam, dia mengira Thiat Tiong-tong telah mengkhianatinya.

"Thiat Tiong-tong wahai Thiat Tiong-tong, asal aku bisa lolos dari maut hari ini, aku bersumpah akan mencabut nyawamu, biarpun kau lari sampai ke ujung dunia pun aku tetap akan mengejarmu!"

Tirai biru didepan pintu disingkap orang, seorang nona berbaju hijau dengan rambut dikepang dua berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dandanan gadis ini amat sederhana, bedak pun amat tipis, namun tidak dapat menutupi kecantikan alami yang dimilikinya, baju warna hijau yang dikenakan selaras dengan potongan tubuhnya, hanya sayang penampilannya amat dingin dan hambar, meski matanya bersinar tajam namun kekurangan kelincahan dan sinar hidup, seakan akan dibalik penampilannya yang cantik masih kekurangan sesuatu.

Dia masuk sambil membawa sebuah baki kayu, diatas baki tersedia mangkuk yang masih menge­luarkan uap panas, bau harum obat segera memenuhi ruangan.

Tanpa berkata dia sodorkan mangkuk obat itu ke hadapan Im Ceng.

"Siapa kau?" tanya Im Ceng sambil berusaha bangkit.

Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya berulang kali tanpa bicara, dia hanya menuding ke arah mangkuk obat itu, maksudnya minta Im Ceng segera menghabiskan obat itu.

Tiba-tiba lm Ceng berpikir dengan penuh amarah:

"Benar-benar sekawanan manusia keji, kelihat­annya mereka kuatir lukaku yang terlalu parah tidak tahan disiksa, maka sekarang ingin mengobati lukaku lebih dulu kemudian baru menyiksaku perlahan-lahan"

Si nona hanya mengawasi pemuda itu dengan pandangan dingin, sorot matanya sama sekali tidak memancarkan sinar kehangatan, hal ini memperkuat dugaan Im Ceng bahwa perempuan ini memang anak buah musuhnya.

"Enyah kau dari sini, siapa yang kesudian minum obatmu!"

Tampaknya nona berbaju hijau itu terkejut bercampur keheranan, tapi dia tetap tidak berbicara maupun bergerak.

Sambil membentak gusar Im Ceng meronta bangun, tangannya mendorong mangkuk obat itu kuat-kuat.

Tapi sayang karena baru mendusin dari luka parahnya, dorongan itu sama sekali tidak ber­tenaga, dengan satu kebasan gadis berbaju hijau itu berhasil menyingkirkan tangannya.

Menggunakan kesempatan itu dia cengkeram tengkuk Im Ceng kemudian melolohkan obat itu dengan paksa.

Im Ceng sama sekali tidak mampu meronta, sambil mencaci maki terpaksa dia telan obat pahit itu sampai habis, kemudian baru melanjutkan kembali umpatannya.

Nona berbaju hijau itu sama sekali tidak menanggapi, selesai meloloh pemuda itu dengan obat, dia segera membalikkan tubuh dan berlalu dari situ.

Dibalik tirai merupakan sebuah kamar tidur, meskipun perabotnya sederhana namun amat bersih, diluar kamar merupakan sebuah halaman yang cukup lebar.

Ditengah halaman terlihat tungku api yang membara, empat orang lelaki bertelanjang dada sedang menempa besi, ternyata suara, bentrokan besi yang terdengar tadi berasal dari sini.

Ketika nona berbaju hijau itu muncul di halaman, salah seorang lelaki setengah umur yang sedang menempa besi segera berpaling seraya bertanya:

"Apa dia sudah habiskan obat itu?"

Si nona manggut-manggut.

Sambil menghela napas kembali lelaki setengah umur itu berkata:

"Pemuda itu diserahkan pada kita oleh ayah angkatmu, maka kaupun harus merawat dia secara baik-baik, penampilanmu jangan selalu dingin dan ketus, bikin orang salah sangka dan mengira kau punya perasaan antipati terhadapnya"

Meskipun sedang mengerjakan pekerjaaan kasar namun nada bicaranya tenang dan penuh tenaga, wajahnya pun kelihatan amat berwibawa, begitu selesai berbicara kembali dia melanjutkan pekerjaannya.

"Suhu" seorang pemuda yang lain berseru, "silahkan kau beristirahat sejenak, beberapa macam senjata rahasia ini toh bukan benda yang terlalu susah untuk dikerjakan, kenapa kau orang tua mesti turun tangan sendiri"

"Sekalipun benda benda itu tidak susah dibuat tapi jumlahnya banyak sekali, pihak benteng Han hong po pun terburu ingin menggunakannya, kalau aku tidak turun tangan, pesanan ini pasti akan terbengkalai, padahal kita sudah banyak tahun berhubungan dengan mereka, selama ini pesanan mereka pun tidak pernah dikirim terlambat, kalau kali ini sampai kacau, mau ditaruh ke mana muka Tioji-siokmu"

Waktu itu Im Ceng yang ada dalam kamar masih merasa jengkel bercampur dendam, apa mau dikata obat sudah masuk ke dalam perut dan tidak mungkin bisa ditumpahkan kembali.

Dalam keadaan jengkel itulah dia menangkap suara pembicaraan yang sedang berlangsung diluar, tapi apa yang didengar tidak lengkap, lamat-lamat dia seperti mendengar orang sedang berkata:

"Benteng Han hong po.....terburu-buru.....turun tangan ......"

Im Ceng kaget setengah mati, segera pikirnya lagi:

"Ternyata dugaanku tidak salah, asal kondisi tubuhku pulih kembali, mereka pasti akan segera turun tangan untuk meng interogasi aku"

Dia mulai meronta diatas ranjang, pikirnya lagi dengan penuh kebencian:

"Biar harus matipun aku tidak sudi dihina dan dipermainkan mereka, akupun tidak boleh mem­biarkan mereka tahu kemana perginya ayahku.....

Thiat Tiong-tong, kau bangsat, kau penghianat, kalau aku tidak mati pasti akan kucari dirimu!"

Entah disebabkan hawa amarahnya atau karena pengaruh obat yang diminumnya, sekarang dia sudah mendapatkan kembali berapa bagian kekuatan tubuhnya.

Sewaktu mencoba untuk periksa tubuhnya, dijumpai semua luka yang ada ditubuhnya telah dibalut orang dengan rapi.......tapi dia tidak percaya kalau luka itu dibalut oleh gadis berwajah dingin itu.

Api kemarahan membuatnya berpikiran sempit, tanpa berpikir panjang lagi dia mendekati jendela dan segera melompat keluar dari ruangan. Rasa sakit yang menyayat kembali menyerang sekujur  tubuhnya, tapi dia menggertak gigi menahan diri, sambil tertatih-tatih dia berusaha meninggalkan tempat itu.

Ternyata diluar jendela adalah sebidang tanah pertanian yang luas, diantara sawah yang bersusun terlihat sebuah jalan setapak yang berlapiskan batu kali.

Dengan sekuat tenaga dia berlarian ditengah area persawahan itu, kemudian menjatuhkan diri bersembunyi ditumpukan jerami, setelah itu baru pikirnya dengan perasaan sedikit lega:

"Untung mereka anggap aku masih terluka parah dan belum sanggup bangun untuk melari-kan diri hingga tidak mengirim orang untuk melakukan penjagaan, kali ini berkat perlindungan Thian aku berhasil lagi lolos dari cengkeraman tangan iblis"

Pikiran anak muda ini seakan sudah disumbat oleh dendam pribadi, dia seperti tidak bisa berpikir dengan lebih tenang bahwa seandainya Benteng Han hong po benar-benar hendak menginterogasi dirinya, mana mungkin dirinya dikirim ke sebuah rumah jelek terpencil yang letaknya ditepi dusun?

Dia semakin tidak mengira kalau nyawanya bisa selamat karena ditukar dengan nyawa Thiat Tiong-tong, dia pun tidak tahu kalau keberhasilan-nya kabur dari hutan adalah berkat jasa Tio Ki-kong yang menghantarnya ke rumah saudara angkatnya.

Dia bisa teledor dan tidak berpikir panjang lantaran Im Ceng memiliki watak yang kelewat berangasan dan cepat naik darah.

Siapa pun tidak menyangka kalau gara-gara keteledorannya ini, dikemudian hari telah menciptakan sebuah badai yang maha dahsyat. Setelah beristirahat sejenak ditengah tumpukan jerami, Im Ceng kembali merangkak ketepi jalan, disitu dia jumpai ada sebuah   kereta yang dihela dua ekor kuda kecil sedang bergerak mendekat.

Kusir kereta adalah seorang gadis berusia empat, lima belas tahunan, sambil mengayunkan cambuknya dan melantunkan nyanyian gunung, dia menjalankan keretanya dengan amat santai.

Im Ceng kegirangan, pikirnya:

"Kelihatannya nona itu sedang mengantar kongcu atau siocia nya berpesiar, kenapa aku tidak minta bantuan mereka untuk membantuku kabur dari sini?"

Dengan sekuat tenaga dia lari ke tengah jalanan, menghadang jalan pergi kereta itu.

"Hey, memangnya kau cari mati?" nona kecil itu langsung menegur sambil melotot.

Sembari merentangkan sepasang lengannya kata Im Ceng dengan suara dalam:

"Urusan sangat gawat, bolehkah aku naik ke dalam kereta terlebih dulu sebelum bicara? Nona tidak usah kuatir, aku bukan orang jahat!"

"Hmm, kau bukan orang jahat? Lihat tampang­mu sekarang, sudah pasti kalau bukan pencoleng tentu maling, kalau tidak mau minggir, hati hati nona akan mencambukmu!"

Baru selesai nona itu berteriak, tirai kereta sudah disingkap orang dan muncul sepasang mata yang jeli mengamati Im Ceng dari atas hingga ke bawah, tiba-tiba ujarnya:

"Ming-ji, biarkan dia naik!"

Ming-ji, nona yang menjadi kusir itu memper­hatikan pula Im Ceng berapa kejap, kemudian sekulum senyuman misterius menghiasi ujung bibirnya.

Ruang kereta itu amat bersih dan indah, meskipun tidak terlalu lebar namun penuh diliputi bau harum semerbak.

Seorang nyonya cantik bersanggul tinggi sedang duduk bersandar, wajahnya penuh senyuman, saat itu dia sedang mengawasi Im Ceng yang nampak sangat mengenaskan keadaannya.

Senyuman perempuan itu lembut lagi cantik, sepasang matanya seolah memancarkan daya pikat yang mampu menggaet sukma orang, kematangan dan kecantikan wajahnya gampang sekali membuat perasaan kaum muda bergolak.

Dengan perasaan tidak tenang Im Ceng menundukkan kepalanya, menunduk sangat rendah, bisiknya:

"Nyonya......."

"Aku dari marga Un, bukan nyonya"

Merah jengah selembar wajah Im Ceng.

"Aah, maafkan ketidak sopananku nona Un, kali ini cayhe sedang dikejar-kejar musuh besar sehingga dalam keadaan terpaksa telah meng­ganggu ketenangan nona"

"Tidak masalah, meskipun aku lemah tidak punya kemampuan namun selalu mengagumi tingkah laku pendekar yang suka berkelana dalam dunia persilatan"

Dia menggunakan senyuman yang paling manis dan kerlingan mata yang paling lembut untuk menggantikan kata-kata berikutnya.

Sesaat kemudian perempuan itu baru berseru kepada Ming-ji yang ada di luar:

"Ming-ji, sedikit perlambat jalan keretamu, Im kongcu sedang terluka parah, jangan sampai getaran menyebabkan dia bertambah menderita"

Im Ceng kaget setengah mati, tanpa sadar teriaknya:

"Darimana kau bisa tahu kalau aku bermarga Im? Sebenarnya siapa kau?"

"Aaah, bukankah kongcu sendiri yang memper­kenalkan diri dari marga Im? Masa sekarang sudah lupa? Mengenai siapakah aku........"

Dia tertawa lembut, sambungnya: "Aku hanya seorang perempuan biasa" Diam-diam Im Ceng menghembuskan napas lega, meski begitu perasaannya belum juga tenang, ujarnya:

"Saat ini aku sedang menderita luka parah,

sementara musuh besarku sangat lihay, maka......"

"Kau tidak usah menjelaskan lagi, aku mengerti" tukas wanita cantik itu sangat lembut, "rawatlah lukamu dengan perasaan tenang, tidak nanti musuh besarmu bisa datang mencari ke rumahku"

Kembali Im Ceng merasa tenang bercampur terima kasih.

Tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara langkah kaki manusia disusul seseorang berteriak keras:

"Nona, harap berhenti sebentar"

"Aah, mereka telah datang!" bisik Im Ceng dengan wajah berubah.

"Jangan kuatir!" hibur perempuan cantik itu. Kemudian sambil menarik muka dia membuka tirai keretanya seraya menegur dingin: "Siapa kau? Ada urusan apa?"

"Aku adalah Li Ji, seorang pandai besi yang tinggal di dusun sana"

"Dan sekarang telah berganti pekerjaan men­jadi bandit yang menghalangi perjalanan orang?"

"Tidak berani, aku hanya ingin bertanya kepada nyonya apakah melihat keponakanku berjalan disepanjang jalanan ini? Dia sedang menderita luka parah, kesadarannya belum pulih kembali dan kini sudah kabur entah pergi ke mana?"

"Tua bangka sialan" umpat Im Ceng dalam hati, "berani amat mengaku sebagai cianpwee ku, hmmm! Kalau sampai bertemu lagi dikemudian hari, akan kusuruh kau merasakan bogem mentahku!"

"Keponakanmu hilang? Kenapa mesti ditanya­kan kepadaku?" terdengar perempuan cantik itu menjawab dengan ketusnya, "sana, cari sendiri!"

Habis berkata dia turunkan kembali tirai keretanya.

Kereta kuda itu kembali bergerak, terdengar Ming-jiyang ada didepan membentak nyaring: "Minggirkau!"

Menyusul kemudian terdengar suara cambuk yang menghajar sesuatu, entah kuda yang kena dicambuk atau orang tersebut yang dicambuk.

"Apakah musuhmu adalah seorang pandai besi?" terdengar nyonya cantik itu bertanya sambil tertawa.

"Mana mungkin dia hanya seorang pandai besi?" sahut Im Ceng mendongkol, "waktu itu aku tidak sadarkan diri karena terluka parah, sehingga aku sendiripun tidak jelas bagaimana ceritanya hingga terjatuh ke tangan mereka, kalau bukan gara gara aku pingsan, memangnya seseorang dengan peran sekecil itu bisa menyentuh diriku!"

"Tapi seandainya kau tidak terluka, akupun tidak akan mengurusimu, bukan begitu Im kongcu?" perempuan cantik itu mengerling sekejap sambil tertawa ringan.

Kerlingan yang menggoda, nada ucapan yang lembut merayu, bau harum yang memabukkan membuat Im Ceng yang biasa bergelimpangan diantara luka dan darah jadi sedikit terbuai, dia merasa dirinya seolah-olah sedang berada di alam nirwana.

Terdengar nyonya cantik itu kembali berkata lembut:

"Sekarang beristirahatlah dulu, setibanya di rumah nanti aku tentu akan membangunkan diri­mu lagi"

Im Ceng merasa amat berlega hati, benar saja, tidak lama kemudian dia sudah terlelap tidur.

Saking tenangnya, pemuda itu tertidur sambil mendengkur keras. Tiba-tiba terjadi perubahan hebat pada paras muka nyonya cantik itu, kerlingan mata yang semula merayu kini berubah jadi dingin, beku dan menyeramkan.

Dengan cepat dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya dan ditempelkan sejenak dihidung Im Ceng, kemudian serunya:

"Ming-ji, cepat! Apakah majikan sudah kembali ke rumah?"

Kereta kuda bergerak cepat, berlarian diatas jalan setapak berlapiskan batu, tapi Im Ceng sudah tertidur makin nyenyak karena benda yang baru saja ditempelkan dibawah hidungnya adalah obat pemabuk yang paling hebat daya kerjanya.

Sementara itu nyonya cantik tadi telah menggeledah isi saku Im Ceng, benar saja dari sisi pinggangnya dia berhasil menemukan sebuah lengpay terbuat dari bambu, diatas lencana perintah itu berukirkan sebuah panji sakti yang sedang berkibar.

Sambil tertawa dingin perempuan itu bergumam:

"Orang she-Im, siapa suruh kau terjatuh ke tangan lonio, jangan harap kau bisa kabur lagi!"

Lebih kurang seperminum teh kemudian sampailah kereta itu didepan sebuah perkam­pungan dengan bangunan yang indah, empat orang gadis berbaju putih segera muncul dari balik halaman menyambut kedatangan perempuan itu.

Sambil melompat turun dari keretanya, perempuan cantik itu segera berseru:

"Cepat gotong masuk! Bawa ke dalam ruang rahasia"

Sementara dia sendiri melanjutkan langkahnya masuk dulu ke dalam gedung.

Ming-ji yang mengikuti dibelakangnya berbisik:

"Apakah hari ini majikan akan tiba disini?"

"Sudah kuperhitungkan, seharusnya dia akan kemari"

"Lalu bagaimana dengan......."

"Tidak usah cemas, aku punya akal"

Setelah menembusi ruang utama dia menuju ke beranda samping dan memasuki sebuah kamar tidur yang beribu kali lipat lebih indah, lebih mewah daripada ruang keretanya tadi.

Ruangan itu sangat harum baunya, tirai tipis bergelantungan di empat penjuru menahan cahaya terang dari luar, permukaan lantai beralaskan permadani bulu yang tebal dan indah, meredam suara langkah kaki, cahaya lentera yang lembut memancar dari sudut sudut ruangan.

Diatas pembaringan yang terbuat dari gading gajah, dibalik kelambu yang halus dan indah, berbaring seorang pemuda berwajah tampan.

Ketika melihat kedatangan nyonya cantik itu, pemuda tampan tadi segera melompat turun dari atas ranjang sambil berseru:

"Aaah, akhirnya kau kembali juga, sungguh tersiksa aku menunggumu!"

Dengan senyuman genit menghiasi bibirnya nyonya cantik itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda itu, katanya:

"Baru saja aku keluar rumah setengah harian, betulkah kau merindukan aku?"

"Sungguh, aku berbicara sungguh-sungguh..."

Nyonya cantik itu tertawa cekikikan, sambil menggoyangkan pinggulnya kembali dia berkata:

"Padahal kita baru berkenalan tiga hari, masa kau selalu merindukan aku? Bagaimana selanjut­nya?"

"Selanjutnya? Selama hidup aku tidak akan biarkan kau pergi meninggalkan aku, inilah nasib yang diatur Thian untuk kita berdua, sejujurnya, aku merasa bagaikan hidup dalam impian, tidak jelas bagaimana kejadiannya tahu-tahu aku sudah naik kedalam keretamu, kemudian tahu-tahu sudah tiba ditempat ini, tiba disebuah tempat yang jauh lebih indah dari nirwana, bertemu dengan seorang wanita cantik bak bidadari dari kahyangan, aaai! Hari itu, andaikata aku tidak minum arak di dusun Sin hoa cun, mana mungkin aku akan mengalami kejadian aneh seperti ini"

Bagai orang kerasukan sepasang tangannya mulai menggerayangi seluruh tubuh perempuan cantik itu, sementara bisikannya bagai orang yang sedang mabuk kepayang. Gumamnya lagi:

"Tay-tay, aku amat berterima kasih kepadamu, sebelum berjumpa dengan kau, aku benar-benar tidak tahu kalau kehidupan manusia sebenarnya begitu menggembirakan, begitu menarik........"

Un Tay-tay meliuk-liukkan tubuhnya meng­imbangi gerayangan dari pemuda tersebut, sambil menempelkan bibirnya disisi telinga anak muda itu, bisiknya pula:

"Kau benar-benar berterima kasih kepadaku?"

"Tay-tay, percayalah kepadaku" desis pemuda itu penuh luapan emosi, wajahnya merah padam bagai orang mabuk, "aku...... aku benar-benar berterima kasih kepadamu, saking terima kasih­nya, aku rela mati demi dirimu..."

Telapak tangannya yang sedang memeluk punggung pemuda itu perlahan-lahan mulai bergeser naik ke atas kepala dan berhenti diatas jalan darah giok-seng-hiat di belakang otaknya, kemudian dengan lembut dia menotoknya.....

Anak muda itu masih memeluk tubuh perempuan itu kencang-kencang, dengan napas tersengkal bisiknya:

"Sungguh, sungguh Tay-tay, mari kita.........."

Mendadak dia menjerit ngeri, tubuhnya pun terkapar lemas diatas pembaringan..

Sorot matanya masih memancarkan perasaan terkejut bercampur ngeri, seolah-olah dia tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja terjadi, kegembiraan yang dinikmati selama tiga hari ternyata harus dibayar dengan selembar nyawanya.

Kesenangan itu datang secara tiba-tiba, pergi-pun secara tiba-tiba, sambil membelalakkan mata­nya lebar-lebar, mengawasi perempuan cantik itu dengan pandangan terkejut, ngeri, takut ber­campur tidak percaya, teriaknya gemetar:

"Kau.......kau sungguh kejam........"

Kemudian semua kesenangan, kenikmatan dan ketakutan berlalu untuk selamanya dari muka bumi.

Disamping cermin besar terdapat sebuah pintu rahasia, dibalik pintu rahasia tersedia sebuah kolam mandi yang sangat aneh, empat penjuru dindingnya berlapiskan cermin tembaga, semen-tara kolam mandi itu sendiri terbuat dari lapisan batu kemala putih, airnya terasa sangat hangat.

Perempuan itu sedang merendam diri dalam kolam, membersihkan setiap jengkal tubuhnya dengan seksama, dari atas hingga ke bawah tidak ada bagian yang terlewatkan.

Setiap kali selesai melenyapkan nyawa kekasih jangka pendeknya, dia akan selalu merendam diri dan membersihkan seluruh tubuhnya secara seksama, kemudian sewaktu keluar dari kolam air itu dia seakan telah berubah jadi seorang manusia baru, semua dosa, kesalahan, kecabulan dan kekejamannya seakan akan ikut tercuci bersih oleh air hangat dalam kolam.

Saat ini dia sedang berdiri ditepi kolam sambil memandang diri di cermin tembaga, wajahnya penuh senyuman, senyuman yang polos, halus dan manja, polos bagai bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki disusul suara Ming-ji sedang memanggil: "Hujin!"

Dengan langkah lembut Un Tay-tay muncul dari balik kamar rahasia, lalu sambil memutar tubuhnya dia berkata seraya tersenyum:

"Ming-ji, coba lihat, cantikkah aku? Maukah kau memeluk aku?"

Walaupun Ming-ji cukup memahami watak aneh majikannya, tidak urung pipinya bersemu merah juga lantaran jengah, katanya lagi lirih:

"Majikan  telah  pulang, dia pulang dengan membawa luka!"

Agak berubah  wajah Un Tay-tay, serunya tertahan:

"Benarkah itu? Cepat gotong masuk!"

Baru saja dia mengenakan baju sutera halus untuk menutupi badannya yang bugil, dua orang lelaki kekar telah berjalan masuk sambil menggo­tong sebuah pembaringan empuk. Ketika kedua orang lelaki itu menjumpai tubuh setengah bugil yang tertutup kain sutera halus itu, sorot mata mereka seketika terpana, lama sekali mereka hanya mengawasi perempuan itu tanpa tahu apa yang mesti dilakukan.

Un Tay-tay mengerling sekejap, lalu serunya: "Cepat baringkan  loya diatas pembaringan, perlahan sedikit!"

Telapak tangannya seperti sengaja tidak sengaja menuding ke arah pembaringan, tiba-tiba pakaian yang dikenakan terbuka dan merosot ke bawah.

Dari balik pakaian yang terbuka segera terlihatlah sepasang payudaranya yang putih, montok dengan dua puting susu yang merah.

Kontan saja ke dua orang lelaki itu merasa dengus napasnya memburu cepat, wajahnya berubah jadi merah padam, buru-buru mereka tundukkan kepalanya, namun lagi-lagi secara kebetulan mereka saksikan sepasang kaki dengan paha yang putih mulus terbentang didepan mata.

Tampaknya Un Tay-tay merasa puas sekali dengan tingkah laku ke dua orang lelaki itu, tanpa membetulkan letak pakaiannya dia ber-tanya lagi: "Parahkah luka yang diderita loya?"

"Masih.....masih agak baikkan, dia......dia orang tua telah.... telah diberi obat penenang oleh.... oleh Pek jiya..... sekarang...... sekarang sudah tertidur nyenyak"

Lelaki kekar itu merasa mulutnya kering, napasnya memburu sehingga untuk berbicara pun jadi tergagap.

Senyuman genit kembali tersungging diujung bibir Un Tay-tay, katanya kemudian:

"Bocah bodoh, memangnya sepanjang hidup belum pernah melihat wanita? Kalau pingin melihat, jangan melihatnya dengan mencuri!"

Tiba-tiba dia busungkan dada sambil membuka pakaiannya semakin lebar......

"Blaaam!" ke dua orang lelaki itu merasa batok kepalanya seperti dipukul dengan palu besar, darah panas langsung bergolak ke atas kepala, saking tegangnya ke empat anggota tubuh mereka sampai gemetar keras.

Tapi sepasang matanya yang terbelalak lebar seakan terkena hipnotis, mengawasi sepasang payudara wanita itu tanpa berkedip.

"Bagaimana? Sudah cukup belum?" tanya Un Tay-tay lagi sambil tertawa genit.

"Hamba...... hamba........" merah padam wajah kedua orang lelaki itu, mereka jadi tergagap dan tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba Un Tay-tay menarik kembali senyum­annya, sambil membetulkan letak pakai-annya dia berkata dingin:

"Kalian  berdua telah menikmati keindahan tubuhku, seandainya sampai ketahuan loya......Hmm! Hmmm!"

Berubah hebat paras muka ke dua orang itu, buru-buru mereka menjatuhkan diri berlutut sambil memohon dengan suara gemetar:

"Ham.... hamba memang pantas dihukum mati, tolong......  tolong hujin mengampuni nyawa......nyawa kami!"

Kembali Un Tay-tay mengerling sekejap ke wajah kedua orang itu, tiba-tiba dia tertawa lagi, tertawa manis.

"Sudahlah, kalian boleh pergi sekarang, aku pun akan mengampuni kalian berdua, cuma ingat, bila selanjutnya ada kejadian apa-apa di peternakan ini, jangan lupa datang melapor kepadaku!"

Kedua orang lelaki itu menyahut berulang kali, kemudian dengan wajah basah oleh keringat dingin tergopoh-gopoh kabur dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuh kedua orang itu lenyap dari pandangan, Un Tay-tay baru tertawa menghina sambil bergumam:

"Lelaki wahai lelaki, cuhh! Makhluk yang paling tidak berharga didunia ini adalah orang lelaki, sekali aku suruh kalian lari ke timur, tidak mungkin kalian berani menuju ke barat!"

Dia membalikkan tubuh menghampiri ke depan pembaringan, ternyata lelaki yang berbaring diatas ranjang itu tak lain adalah Suto Siau.

Dengan pandangan asing dia mengawasi Suto Siau, berapa saat kemudian sekulum senyuman baru menghiasi ujung bibirnya.....karena pada waktu itu Suto Siau sudah sadar kembali dari pingsannya.

Setelah dibokong Thiat Tiong-tong tadi, meski dia sempat jatuh tidak sadarkan diri namun luka yang dideritanya tidak terhitung parah, apalagi setelah diobati Pek Seng-bu, boleh dibilang kini dia sudah mampu berbicara meski kekuatan tubuhnya belum pulih kembali.

Un Tay-tay sudah duduk disisi tubuhnya, mengawasi dengan wajah penuh rasa kuatir dan perhatian, kemudian sambil bersandar di dadanya dia berbisik:

"Aku dengar kalian pergi menggropyok sarang Perguruan Tay ki bun, padahal sejak kepergianmu, hatiku sudah amat kuatir, tidak disangka ternyata kau benar-benar terluka"

"Lukaku ini tidak terlalu parah" sahut Suto Siau jengkel, "tapi yang membuat aku tersiksa justru rasa mendongkolku!"

"Kenapa mesti mendongkol? Masa kalian tidak berhasil menangkap seorang anggota Perguruan Tay ki bun pun? Masa kalian biarkan mereka berhasil kabur semua?"

"Bukan saja tidak ada yang berhasil ditangkap, bahkan seorang pun tidak ada. Sebaliknya aku malah dipecundangi oleh pemuda itu....."

"Aaah, jadi mereka berhasil kabur semua? Aaai, bagaimana sekarang? Kalau bisa menangkap satu atau dua diantaranya masih boleh....."

"Bila ada seorang anggota Perguruan Tay ki bun yang terjatuh ketanganku, tentu saja hai ini sangat menguntungkan, tapi sayangnya......"

"Seandainya ada satu orang dapat menghan­tarkan seorang murid Perguruan Tay ki bun yang masih hidup ke tanganmu, apa yang akan kau lakukan terhadapnya?"

"Akan kubagi separuh harta kekayaanku kepadanya, juga......"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Suto Siau, dengan cepat dia meronta bangun, ditatapnya Un Tay-tay tanpa berkedip, lalu tegurnya:

"Hey budak cilik, permainan busuk apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku? Mungkin saja aku berhasil menangkap seorang anggota Perguruan Tay ki bun!"

"Sungguh?"

"Asal kau pegang janjimu, tentu saja perkata­anku pun sesungguhnya"

"Masa uang yang kuberikan masih belum cukup?"

"Aku tidak mau duitmu, aku hanya mau dirimu!"

Sambil tertawa lembut, dengan jari tangannya yang lentik dia membelai kening Suto Siau, kemudian lanjutnya:

"Aku tidak menginginkan separuh harta kekayaanmu, aku hanya ingin kau bikin mampus nenek sialan yang memuakkan itu, aku ingin menjadi istri sah mu, aku sudah bosan menjadi bini simpanan, penghidupan semacam ini sudah membosankan!"

"Memangnya kau sangka nenek itu gampang dibikin mampus?"

"Aku yakin kau pasti punya akal untuk mengatasinya, sayangku, berjanjilah untuk meng­abulkan permintaanku ini, aku janji, aku pun akan melayanimu dengan sebaik-baiknya"

"Asal kau berhasil merayu tawananmu hingga mengakui tempat persembunyian orang-orang Perguruan Tay ki bun, aku pasti akan mengabul­kan juga permintaanmu"

Un Tay-tay kegirangan, teriaknya cepat:

"Itu mah gampang, sekarang juga.........."

Sembari berkata dia segera melompat turun dari atas ranjang.

"Tunggu   sebentar!"  mendadak Suto Siau mencegahnya.

Un Tay-tay menghentikan langkahnya sambil memberi hormat.

"Masih ada perintah apa lagi?"

"Dengan cara apa kau akan memancing pengakuannya?"

"Kini aku sudah menyekapnya dalam ruang rahasia, asal kusuruh dia mencicipi dulu berapa macam alat penyiksaan, memangnya dia tidak mau tunduk dan mengakui semuanya?"

"Tidak bisa, tidak bisa....."

"Kenapa tidak bisa? Semua alat siksaan itu sangat hebat, biar lelaki yang terbuat dari besi baja pun tidak akan tahan, apalagi terhadap tubuh lembut yang terbuat dari darah dan daging"

"Biarpun tubuh anak murid Perguruan Tay ki bun bukan terdiri dari besi baja, namun hati mereka, tekad mereka jauh lebih teguh dari baja, sekalipun kau menghancur lumatkan tulang belulang mereka pun, jangan harap bisa memper­oleh pengakuannya sepatah kata pun" "Lalu apa yang harus ku perbuat?" "Jalan kekerasan tidak mungkin bisa berhasil, tentu saja harus menggunakan cara lunak"

"Memangnya kau suruh aku menggunakan Bi jin ki (siasat wanita cantik)?"

"Kecuali menggunakan cara kuno itu, rasanya tidak ada cara lain di dunia ini yang bisa membohonginya, terpaksa aku harus  minta bantuanmu......"

Sambil menarik wajahnya Un Tay-tay pura-pura gusar, serunya dengan nada tidak senang:

"Kau anggap aku ini perempuan apaan? Mana mungkin aku boleh berbuat begitu dengan lelaki lain? Kalau aku sampai melakukannya, dikemudian hari kau pasti muak kepadaku, kau....kau suruh aku.....aku......."

Bicara sampai disitu dia segera menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan dan mulai menangis tersedu-sedu.

Suto Siau menghela napas panjang, hiburnya: "Tay-tay, aku tahu kau memang wanita yang baik sekali, tapi posisi kita memang terpojok, apa boleh buat, tanpa cara tersebut mustahil kita bisa mengorek pengakuannya, tolonglah, maukah kau berkorban untukku sekali ini saja?"

Tiba-tiba Un Tay-tay menubruk ke dalam pangkuan Suto Siau dan menangis tersedu-sedu.

"Sudahlah Tay-tay, jangan menangis" bujuk Suto Siau sambil membelai rambutnya, "aaai, padahal aku sendiripun merasa sayang, merasa berat hati, tapi......"

"Aku tahu, aku tahu..... aku..... aku bersedia berkorban  untukmu, aku bersedia melakukan pekerjaan apa pun demi kau......."

"Sungguh Tay-tay? Aku tidak akan melupakan pengorbananmu itu, selamanya......."

"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"

Suto Siau menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru menempelkan bibirnya di sisi telinga Un Tay-tay dan membisikkan sesuatu, kemudian dia berkata lagi:

"Begitu tugas selesai, kau boleh membunuhnya dengan telapak tanganmu sendiri!"

Setelah terisak lagi berapa saat Un Tay-tay baru menghentakkan kakinya dengan gemas sambil berseru:

"Baik, baiklah, aku turuti kemauanmu, apapun yang kau minta akan kulakukan....."

Sambil membesut air matanya dia segera beranjak pergi dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuh perem­puan itu lenyap dari pandangan, tiba-tiba Suto Siau tertawa dingin, gumamnya:

"Perempuan cabul, lonte busuk, pandai amat kau bermain sandiwara, hmmm, disangkanya aku tidak mengetahui semua tingkah lakumu yang cabul itu? Hmmm, coba kalau aku bukan masih punya selera untuk menidurimu, sudah sejak tadi kuhabisi nyawa anjingmu itu"

Begitu keluar dari pintu kamar, Un Tay-tay sudah berhenti menangis, sekulum senyuman bangga malah menghiasi ujung bibirnya, dia segera bertepuk tangan sambil memanggil:

"Ming-ji!"

Ming-ji muncul sambil berlarian dari kejauhan.

"Ada apa hujin?"

"Pemuda yang tadi........."

"Sudah kukirim ke ruang Teng-yu-wu!"

Dengan  gemas  Un  Tay-tay  mentowel  pipi dayang-nya, serunya sambil tertawa:

"Budak setan, ternyata pandai amat kau mene­bak jalan pikiranku, tunggu dua hari lagi, kau pasti......."

Ming-ji segera menutupi sepasang telinganya dengan tangan, dengan wajah merah jengah seru­nya genit:

"Aku tidak mau mendengarkan, aku tidak mau mendengarkan......"

Dia segera membalikkan tubuh dan cepat-cepat kabur meninggalkan tempat itu.

"Dasar budak cilik" maki Un Tay-tay sambil tertawa, "coba lewat satu tahun lagi, belum lagi aku tawari, kau pasti sudah meminta jatah kepadaku!"

Setelah melewati jalan yang berliku-liku, menaiki tiga anak undakan, sampailah dia disebuah jalan kecil beralas batu putih.

Batu yang bersih lagi bulat persis seperti mutiara yang dijajarkan, ketika tertimpa cahaya matahari segera memantulkan sinar yang berkilauan, jalanan itu lurus ke depan hingga menembusi sebuah pintu berbentuk setengah lingkaran.

Setelah melewati selapis pintu, sampailah disebidang tanah yang dipenuhi aneka pepohonan dan bunga, tampaknya tempat itu adalah kebun belakang.

Diantara sebuah aliran sungai kecil dengan air yang mengalir bersih, terdapat dua buah ayunan mungil, disamping ayunan merupakan sebuah gunung-gunungan dengan kolam kecil dibawahi­nya, bunga teratai yang sedang mekar dengan daun yang lebar terapung diatas permukaan, sepasang bebek China berenang berpasang-pasangan.

Dengan termangu Un Tay-tay mengawasi sepasang bebek China itu berenang kian kemari berapa saat lamanya, kemudian dia baru berjalan menuju ke gunung-gunungan itu.

Ternyata diatas gunung-gunungan terdapat sebuah pintu rahasia, dibalik pintu rahasia itulah terletak ruang Teng yu wu.

Perlahan-lahan dia mendorong pintu dan melangkah masuk, betul saja, dibelakang pintu terdapat sebuah dunia yang lain.

Dia berjalan menembusi sebuah ruangan lebar, menyingkap sebuah tirai berwarna merah dan melangkah masuk ke dalam sebuah kamar.

Bau harum semerbak kembali menyelimuti seluruh ruangan, dibawah sinar lampu berwarna merah terlihat sebuah pembaringan yang terbuat dari gading, Im Ceng masih tergeletak dalam keadaan tidak sadar, dia tertidur dengan nyenyaknya dibalik selimut.

Perlahan-lahan Un Tay-tay menyingkirkan kantung obat yang menempel diatas jidat Im Ceng dan duduk disisi pembaringan, cahaya lentera berwarna merah yang memancar redup membuat kerlingan matanya yang genit nampak lebih menarik, membuat napsu birahinya makin berkobar.

Lama kemudian Im Ceng baru tersadar dari tidurnya, dia seakan akan baru terjaga dari impian buruk, keringat dingin membasahi seluruh jidatnya, ketika berjumpa dengan perempuan itu, sekulum senyuman tenang baru tersungging dibibirnya.

"Nenyak betul tidurmu" bisik Un Tay-tay sambil tertawa.

Dia mengambil selembar sapu tangan dan mulai menyeka keringat yang membasahi jidat pemuda itu.

"Terima kasih nona, cayhe sudah merasa agak baikan!" kata Im Ceng cepat.

Dia ingin meronta untuk bangun duduk, tapi dengan lembut Un Tay-tay menekan bahunya melarang dia terbangun, bujuknya lembut:

"Jangan sembarangan bergerak, nanti mulut lukamu merekah lagi!"

"Cayhe sama sekali tidak kenal nona, aku sudah berterima kasih sekali karena berkat bantuan nona, aku lolos dari mulut macan. Mana berani aku mengganggumu lagi?"

"Kau mesti merawat lukamu sampai sembuh, jangan banyak bicara, lebih-lebih jangan berpikir yang bukan-bukan" kata Un Tay-tay lembut, "kalau tidak menurut, aku akan marah......."

Dengan lemah-lembut dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Im Ceng kemudian memandangnya sambil tersenyum.

Tidak lama Ming-ji muncul sambil membawa sebuah baki, dalam baki tersedia sebuah gunting emas dan obat-obatan.

Im Ceng semakin terharu, dia merasa berterima kasih sekali kepada perempuan cantik itu karena mau merawat lukanya.

Sejak kecil dia memang sudah terbiasa hidup susah, apalagi dibawah didikan ayahnya yang keras lagi disiplin, boleh dibilang belum pernah dia merasakan perhatian dan kasih sayang seperti ini, tidak heran kalau perasaan hatinya jadi terenyuh dan terbuai.

Bukan hanya begitu, dia pun merasa bahwa perempuan cantik ini berhati mulia, sangat lembut dan penuh perhatian, nyatanya terhadap seorang asing macam dia pun dia rela turun tangan sendiri untuk merawatnya.

Yang tersisa dalam benak pemuda itu sekarang hanya luapan rasa terharu serta terima kasih yang tidak terhingga, sudah barang tentu tidak ada rasa was was maupun kewaspadaan barang sedikitpun juga.

Dengan perasaan lega dan tenteram diapun tinggal disitu sambil merawat luka yang didentanya.

Sementara waktu keadaanpun berlalu dalam ketenangan dan kelembutan kasih sayang seorang wanita cantik.

BAB 4.

Gadis sendu di Lembah kehampaan.

 

Pada saat yang bersamaan, Thiat Tiong-tong justru sedang mengalami kehidupan dalam badai ketidak tenangan, kehidupan yang dipenuhi pergo­lakan, ketegangan serta ketidak pastian.

Waktu itu anak muda tersebut masih berbaring di dasar jurang, setelah berada dalam keadaan tidak sadarkan diri berapa saat, lambat laun telinganya mulai dapat menangkap suara nyanyian.

Suara nyanyian itu merdu merayu, tapi lagu yang dinyanyian hanya mengulang kata yang selalu sama:

"Siapa namamu? Kau berasal dari mana? Mengapa hanya tidak sadarkan diri? Cepatlah mendusin, ketahuilah, aku sedang menantimu.... aku sedang menanti dengan penuh kecemasan!"

Seorang gadis berambut panjang duduk bersila disamping Thiat Tiong-tong, dia sedang me­nengadah mengawasi awan yang bergerak di udara sambil melantunkan nyanyiannya, dia seolah sedang terbuai oleh nyanyian sendiri, terbuai hingga lupa daratan.

Thiat Tiong-tong yang memandang dari bawah tidak sempat menyaksikan raut mukanya, dia hanya melihat pakaian yang dikenakan perempuan itu terbuat dari kain goni yang kasar, baju itu kotor lagi banyak berlubang, ternyata saat ini dia sedang berbaring dengan berbantal diatas lututnya.

Dalam terkesiapnya dia cepat memiringkan tubuh dan berguling menjauhi lutut gadis itu.

Nyanyian gadis itu seketika terhenti, kemudian dia menundukkan kepalanya.

Ternyata walaupun suara nyanyiannya amat merdu merayu, suaranya manis menawan, dia memiliki raut muka yang kotornya luar biasa, seakan akan sudah cukup lama tidak pernah dicuci dengan air, hanya sepasang matanya yang tampak jeli.

Thiat Tiong-tong sangat keheranan, belum sempat dia bertanya, gadis itu telah bersenandung kembali:

"Siapa namamu? Kau berasal dari mana?"

Thiat Tiong-tong semakin terkesima, tanpa sadar dia hanya mengawasi gadis itu dengan wajah termangu.

Gadis itu segera memutar biji matanya berulang kali, sementara mulutnya masih berse-nandung:

"Aku bertanya kepadamu, mengapa kau tidak menjawab? Apakah kau tidak pandai bicara? Apakah kau seorang bisu?"

Meskipun keheranan dalam hati kecilnya, Thiat Tiong-tong merasa amat kegelian, segera tegurnya:

"Nona, sebetulnya kau sedang berbicara atau sedang menyanyi, aku benar-benar dibuat kebingungan"

Gadis itu ikut tertawa, senandungnya:

"Menyanyi bagiku adalah berbicara, kau tidak menjawab berarti tidak sudi berbicara, kalau kau tidak menjawab pertanyaanku lagi, akan kukem­balikan dirimu biar tergantung diatas tebing!"

Diiringi suara tertawanya yang merdu, ternyata dia benar-benar membopong kembali tubuh Thiat Tiong-tong.

Anak muda itu sadar, tampaknya gadis yang agak miring otaknya ini  selain nakal, diapun mampu melakukan semua yang diucapkan, buru-buru sahutnya dengan lantang:

"Aku dari marga Tong bernama Tiong!"

Dia memang seorang pemuda yang cermat lagi sangat berhati-hati, sebelum mengetahui asal-usul yang sebenarnya dari gadis itu, dia enggan memberitahukan nama sesungguhnya.

Gadis itu segera tertawa terkekeh:

"Aku bernama Sui Leng-kong, sejak kecil sudah hidup di tempat ini"

Dasar jurang itu dikelilingi tebing curam yang sangat tinggi, empat penjuru hanya ada akar rotan yang bergelantungan, selain itu diseputar sana pun dipenuhi dengan tanah rawa-rawa, tempat dimana mereka berada sekarang merupakan sebidang tanah berbatu berwarna hijau.

Ditempat semacam inipun ada kehidupan? Bagaimana dia hidup? Bagaimana dia mencari makanan?

Sekilas perasaan sedih kembali melintas diwajah gadis itu, kembali dia bernyanyi:

"Setiap hari aku hanya berdiri diatas batu, aku tidak tahu bagaimana bentuk dunia diluar sana, seandainya aku bisa naik ke sana dan melihat sebentar saja, biar harus matipun aku tidak akan menyesal"

Irama lagunya sendu, membuat hati orang beriba.

Thiat Tiong-tong merasa hatinya sedih, dia tidak tahu dengan cara apa gadis itu bisa mempertahankan hidupnya dalam lingkungan sesulit ini.

Kebutuhan materi memang menyedihkan hati, tapi kesepian yang dialami dalam kehidupannya jauh lebih mengenaskan.

"Setelah melewati kehidupan yang begini susah dan pelik  hampir belasan tahun lamanya, tidak heran kalau dia berubah seperti orang idiot, berbicara dengan orang lain pun menggunakan logat menyanyi"

Berpikir sampai disitu, tidak tahan anak muda itu bertanya lagi:

"Apakah nona sendirian tinggal disini?"

Gadis itu menghela napas sedih, senandung­nya:

"Sejak kecil aku sudah tidak punya ayah, hanya ada ibu, akupun tidak tahu bagaimana bisa datang ditempat seperti ini?"

Belum lagi menyelesaikan nyanyiannya, air mata sudah jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Thiat Tiong-tong mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, tampak tebing karang yang menjulang ke angkasa mencapai ketinggian ratusan depa, permukaannya penuhi ditumbuhi lumut hijau, tempat seperti ini benar-benar sulit ditembus, jangan lagi oleh manusia, burung pun sulit untuk melewatinya.

......Benarkah tidak ada jalan lain disitu?

Apakah aku harus hidup seperti dia, sampai tua tetap tinggal ditempat ini?

Berpikir sampai disitu, tidak kuasa lagi timbul perasaan bergidik didalam hati pemuda itu.

Tiba-tiba Sui Leng-kong bangkit berdiri, ter­nyata gaun yang dikenakan hanya sebatas lutut hingga terlihatlah kakinya yang kecil mungil tapi kotor oleh Lumpur itu.

Sambil menggeliat melemaskan otot pinggang­nya tiba-tiba dia tersenyum dan bernyanyi sambil bertepuk tangan:

"Naikkan babi gemuk diatas jepitan besi.

Ranting pohon dibakar, bunyi mencicit,

Minyak babi meleleh membasahi bumi,

Kulit garing terpanggang jadi kuning.

Kuiris sepotong daging babi.

Silahkan, silahkan kau mencicipi"

Kemudian sambil tertawa cekikikan dia membuat gerakan seolah sedang mengiris sepotong daging babi dan menyuguhkan kehadapan Thiat Tiong-tong, kembali nyanyinya:

"Silahkan, silahkan kau mencicipi!"

Perempuan ini benar-benar setengah sinting, sebentar dia menangis sedih, sebentar lagi tertawa riang, sekalipun Thiat Tiong-tong merasa keheran­an, tidak urung saat ini ikut tertawa juga.

Ketika melihat pemuda itu tertawa, Sui Leng­kong semakin bergembira hati, lagi-lagi dia menyanyi sambil tertawa:

"Mama sering berkata padaku, jadi orang tidak boleh selalu sedih, setiap kali kau merasa sedih, sesaat kemudian kau mesti menyanyi!"

Dia mulai mengelilingi tubuh pemuda itu dan menyanyi sambil menari.

"Biarpun aku belum pernah mencicipi daging babi, namun setiap hari aku dapat menikmati hangatnya matahari, melamun makan babi di bawah terik matahari, bikin hatiku tidak pernah bersedih hati!"

Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas panjang, pikirnya:

"Kalau orang yang hidup ditempat seperti ini tidak pandai menghibur diri sendiri, waktu yang berlalu dapat merupakan siksaan dan penderi-taan, tapi aneh, kenapa ibu beranak ini bisa tinggal di tempat seperti ini?"

Dia tahu nona ini maupun ibunya tentu memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

Sebab orang yang tidak memiliki ilmu silat, jangan harap bisa bertahan hidup di tempat seperti ini, atau mungkin mereka datang ke situ karena sedang bersembunyi dari kejaran musuh besarnya?

Siapakah musuh bebuyutan mereka? Berasal darimanakah ibu beranak dua orang ini?

Baru saja pertanyaan itu melintas dalam benak Thiat Tiong-tong, dari kejauhan sana sudah terdengar seseorang memanggil:

"Leng-ji, kenapa belum pulang untuk menanak nasi?"

Suara itu berat lagi mantap, sekalipun berasal dari kejauhan sana namun Thiat Tiong-tong justru mendengar seakan-akan berasal dari sisi telinga­nya.

Thiat Tiong-tong semakin terkesiap, belum pernah dia jumpai seseorang yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna.

Dalam pada itu Sui Leng-kong sudah mem­bungkukkan tubuh seraya berkata:

"Ayoh jalan....ikut....ikut aku pergi...menjumpai...ibu......"

Walaupun hanya satu kalimat pendek, ternyata dia membutuhkan waktu cukup lama untuk mengutarakannya, bahkan disampaikan dengan tergagap.

Sekarang Thiat Tiong-tong baru sadar apa yang terjadi, pikirnya:

"Ternyata dia adalah gadis gagap, tidak heran kalau dia enggan berbicara dan selalu menyanyi, aku dengar orang bilang, dari sepuluh orang gagap, ada sembilan orang yang tidak akan gagap sewaktu menyanyi, ternyata perkataan itu ada benarnya juga"

Sementara dia masih berpikir, tubuhnya sudah digendong gadis itu.

"Jarang..... jarang ada orang....menemani.......menemani   aku   bi...bicara, ma...maka aku tidak....tidak pandai bi.... bicara.... kau.....mentertawakan a.... aku?"

"Mana mungkin aku mentertawakan kau? Selanjutnya aku pasti akan sering menemanimu berbicara, penyakitmu itu tentu akan sembuh dengan sendirinya"

"Kau.....kau baik sekali!" Sui Leng-kong segera tertawa lebar.

Gerakan tubuhnya cepat, ringan dan gesit, bagaikan burung manyar yang menukik diatas permukaan air.

Thiat Tiong-tong semakin keheranan, dia tidak menyangka kalau gadis tersebut memiliki kungfu yang begitu hebat, pemuda ini jadi semakin penasaran, dia ingin mengetahui asal-usul mereka.

Hanya dalam berapa kali lompatan saja, gadis itu sudah melesat sejauh puluhan depa.

Sewaktu meluncur diatas rawa-rawa dan semak belukar, gadis itu sama sekali tidak nampak mengeluarkan tenaga banyak, Thiat Tiong-tong sadar, meski tidak berada dalam kondisi terluka parahpun belum tentu ilmu ginkangnya bisa meiampuai kehebatan nona ini.

Perguruan Tay ki bun selalu mendidik anak muridnya secara ketat dan penuh disiplin, sejak kecil Thiat Tiong-tong sudah berlatih silat, dengan bakatnya yang bagus, kecerdasan otaknya yang melebihi orang, ditambah berkat petunjuk guru kenamaan, kepandaian silat yang dimilikinya saat ini boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Tapi dibandingkan dengan nona cilik ini, biarpun usianya masih muda belia, ternyata kehebatan kungfunya masih jauh diatas kepan­daian Thiat Tiong-tong, kenyataan ini benar-benar membuat orang merasa terkejut bercampur keheranan, dia tidak bisa membayangkan bagai­mana cara gadis itu melatih ilmu silatnya.

Didepan sana terdapat sebuah batu gunung setinggi empat depa, batu itu berdiri tegak persis dihadapannya, batu itu nampak kering lagi bersih, kelihatannya sering dibersihkan hingga berbeda sekali kondisinya dengan keadaan disekelilingnya.

Setibanya ditempat itu, Sui Leng-kong baru memperlambat langkah kakinya, selangkah demi selangkah dia berlarian dibawah rerumputan, seakan kungfunya secara tiba-tiba berkurang sembilan puluh persen.

Baru tiba didepan batu hijau, napasnya sudah tersengkal-sengkal seakan orang yang mau putus nyawa.

Thiat Tiong-tongjadi keheranan, pikirnya:

"Mungkinkah selama ini dia merahasiakan soal ilmu silat? Mungkinkah dia berlatih kungfu tanpa sepengetahuan ibunya? Lalu darimana dia pelajari ilmu silat yang tangguh itu?"

Semakin dipikir dia semakin keheranan, akhirnya tidak tahan bisiknya:

"Jangan-jangan ilmu silatmu......"

Belum habis ia berkata, Sui Leng-kong sudah menyumbat mulutnya dengan tangan, sorot matanya nampak gugup bercampur ketakutan, sambil gelengkan kepalanya berulang kali, bisik­nya:

"Jangan......jangan bicara!"

Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pelbagai tanda tanya berkecamuk dalam benaknya.

Tampak nona itu dengan napas terengah engah mengitari batu hijau itu, dibelakang batu hijau terdapat mulut gua, ternyata batu hijau itu bermanfaat sebagai penyekat angin.

Mulut gua sempit lagi memanjang, walaupun gelap, lembab dan menyeramkan namun semua-nya bersih dan teratur.

Sebelum melangkah masuk ke dalam gua, terlebih dulu Sui Leng-kong membesutkan sepatu­nya yang berlumpur diatas sebuah batu besar, kemudian setelah bersih dia baru masuk ke dalam gua dengan sikap yang sangat menghormat.

Setelah berjalan kurang lebih dua puluhan langkah, gua itu berbelok kesebelah kiri dan ruang­an pun bertambah lebar.

Ditengah sebuah ruang gua yang luasnya mencapai empat, kaki depa persegi, diempat penjuru dinding bertumpuk tumbuhan dan obat-obatan seperti san-ma, akar rotan serta bahan obat lainnya.

Diatas seutas tali, tergantung tiga ekor bangkai burung.