pendekar panji sakti 01
JILID KE SATU
BAB 1.
Angin Barat Mengibarkan Panji Sakti.
Malam semakin kelam.
Tiada rembulan, tiada bintang.
Serangga bercengkerama di antara semak
ilalang, membuat suasana di hutan belantara terasa makin sendu,
makin hening dan menyeramkan.
Dari balik kegelapan tampak berkelebat
sesosok bayangan manusia, gerakan tubuhnya enteng bagai walet, cepat
bagai sambaran kilat, ketika melihat panji sakti yang berkibar di
hadapannya, dia segera melepas bajunya, membuka tali kepang
rambutnya, dengan dada telanjang perlahan-lahan menjatuhkan diri
berlutut, berlutut di hadapan panji sakti yang berkibar di tengah
hutan itu, wajahnya nampak sendu, sedih dan murung.
Dia berlutut di depan panji itu, berlutut
tanpa bergerak, kaku bagai sebuah arca.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba
terdengar suara derap kaki kuda yang ramai, menyusul kemudian
seseorang menghardik dengan nyaring:
"Sudah datang?"
"Ada di sini!"
Dua rombongan manusia menunggang berkuda
dengan debu beterbangan di angkasa bergerak mendekat. Rombongan di
sisi kiri terdiri dari tiga orang dengan tiga ekor kuda, seorang di
antaranya adalah lelaki setengah umur bertubuh jangkung tapi kekar,
orang kedua adalah seorang pemuda kecil pendek dengan sorot mata
tajam, sementara orang ketiga adalah seseorang berwajah hitam,
mengenakan baju warna hitam dengan sebilah pedang tersoreng
dipunggungnya, hanya sepasang matanya yang nampak jeli, berkilauan
di tengah kegelapan.
Pemuda itu mencemplak kudanya maju lebih
dulu ke depan, sambil merentangkan sepasang tangannya, dia segera
berjumpalitan beberapa kali di udara dan melayang turun di depan
panji itu.
Sementara pemuda kecil pendek bermata tajam
itu segera menarik tali les kudanya, ketika lari kudanya mulai
melambat, tampak dua sosok bayangan manusia kembali berkelebat,
ternyata mereka adalah rombongan yang datang dari sebelah kanan,
terdiri dari seorang kakek bercambang dan seorang gadis berbaju
hijau.
Lelaki bertelanjang dada yang berlutut di
depan panji masih berlutut tanpa bergerak, kakek bercambang itu
dengan mengepalkan sepasang tinjunya segera berjalan menghampirinya,
mendekat dengan wajah penuh amarah.
Pemuda berbaju hitam dan gadis berbaju hijau
itu berdiri tanpa bicara di belakangnya, paras muka mereka nampak
berat dan serius.
Angin malam berhembus makin kencang, di
tengah deru angin yang memekakkan telinga,
mendadak terdengar kakek bercambang itu membentak nyaring, telapak
tangannya langsung dihantamkan ke dada lelaki bertelanjang dada itu.
Bentakan nyaring kembali bergema menyusul
berkelebatnya sesosok bayangan.
"Toako, tunggu sebentar!"
Seorang lelaki setengah umur telah menangkis
pukulan dahsyat itu.
"Mau apa kau?" hardik kakek bercambang itu
gusar.
Tujuh tahun telah berlalu, apa salahnya
menunggu sejenak lagi?" ucap lelaki setengah umur itu sambil
menghela napas.
Dada kakek bercambang itu kelihatan naik
turun tak beraturan, meski amarahnya telah memuncak, akhirnya dia
turunkan kembali tangannya.
"Kuda pelaksana hukuman telah disiapkan?"
ia menegur dengan suara dalam.
Begitu mendengar kata "kuda pelaksana
hukuman", paras muka lelaki bertelanjang dada itu berubah hebat.
"Sam siok," buru-buru nona berbaju hitam itu
berseru lirih, "Sute telah berhasil mendapatkannya, sementara Tecu
pun telah berhasil membawa kemari kuda Wu im kay soat (awan gelap
menutupi salju) milik cong piauthau perusahaan ekspedisi Thian bu
Piaukiok, tapi hingga kini Samte dan paman Sim belum nampak juga
bayangannya."
Lelaki setengah umur itu segera
menambahkan:
"Tugasku adalah mengambil kuda Ci liu (kuda
merah berbulu hitam) milik perkampungan keluarga Seng, sedang Su tit
(keponakan keempat) mengambil kuda Giok ti cu liong (telapak kumala
naga merah) milik peternakan Lok-jit, semuanya merupakan sasaran
yang enteng, tentu saja bisa kembali lebih cepat."
Tiga ekor kuda jempolan telah tertambat di
batang pohon, ringkikan kuda yang panjang membuat ranting dan
dedaunan bergoncang.
Gadis berbaju hijau itu melirik sekejap ke
arah orang yang berlutut di hadapan panji itu, tiba-tiba dengan
perasaan tak tega dia membuang muka ke arah lain, sementara paras
muka semua orang yang hadir pun kelihatan murung dan sangat berduka.
"Paman Sim telah datang!"
Setelah angin kencang berhembus lewat,
lelaki yang menancapkan panji tadi segera berlari mendekat, ternyata
dia berlari sambil mengangkat tinggi seekor kuda berwarna hitam dan
putih, otot lengannya yang menonjol nampak sangat kekar, butiran
keringat membasahi jidatnya, begitu tiba di hadapan rombongan
orang-orang itu, segera bentaknya nyaring:
"Terima ini!"
Sepasang lengannya diayunkan ke depan,
ternyata dia sudah melemparkan kuda itu ke depan.
Pemuda berbaju hitam dan pemuda kecil pendek
segera melompat ke depan, yang satu menyambar sepasang kaki depan,
yang lain menyambar sepasang kaki belakang kuda itu, kemudian
meletakkannya ke tanah.
Pemuda berbaju hitam itu kembali menepuk
leher kuda itu, kuda itupun meringkik panjang ingin melompat ke
muka, tapi sepasang tangannya sekali lagi menyambar bulu leher kuda
itu, akibatnya meski sudah meringkik panjang, kuda itu sama sekali
tak mampu bergeser.
Sembari menyeka peluh yang membasahi
jidatnya, kata lelaki bertelanjang kaki itu:
"Kuda Hui im Pa cu (macan tutul terbang di
awan) benar-benar punya tabiat buruk yang berangasan dan gampang
marah, hampir saja aku gagal menaklukkannya, setelah berhasil
kutangkap, sialan, ternyata dia ngambek dan tidak mau berlari,
terpaksa bukan orang yang menunggang kuda, kudalah yang menunggang
manusia."
Setelah memandang sekelilingnya sekejap,
dengan wajah berubah, tanyanya lagi:
"Mana Siau Lo sam? Apa belum kembali?"
Lelaki setengah umur itu menggeleng.
Sambil menghentakkan kaki telanjangnya ke
tanah, lelaki itu berseru lagi:
"Padahal aku sudah tahu kalau penjagaan di
benteng Han hong po sangat ketat dan kuat, si tua bangka Leng juga
bukan manusia yang gampang dihadapi, tapi dia justru ngotot ingin ke
situ..."
Tiba-tiba berubah paras muka lelaki
telanjang dada yang sedang berlutut di depan panji sakti itu,
serunya kaget:
"Jadi Samte pergi ke benteng Han hong po
untuk mencuri kuda mestika Leng liong kou?"
"Tutup mulut!" bentak kakek bercambang itu
nyaring, "kau kesemsem wanita, mengkhianati perguruan, aku Im Gi
tidak punya anak durhaka macam kau, Im losam juga tidak punya
saudara macam dirimu, biarpun dia mati dalam benteng Han hong po,
apa sangkut-pautnya dengan dirimu? Sekali lagi berani memanggilnya
Samte, sekarang juga akan kucincang tubuhmu hingga hancur lebur!"
"Anak tahu salah, sadar kalau berdosa dan
kesalahanku sangat besar," sahut lelaki itu dengan kepala tertunduk,
"sejak dulu, anak memang sudah tidak ingin hidup terus."
"Kalau sudah tahu perbuatanmu amat berdosa
dan salah besar, kenapa masih kau lakukan perbuatan yang memalukan
ini?" bentak Im Gi keras, "memangnya kau tidak tahu kalau keluarga
Im sudah turun temurun bermusuhan dengan benteng Han hong po?"
Kemudian sambil merentangkan sepasang
tangannya, dia mengeluh kepada langit:
"Tidak disangka, nama besarku sepanjang
hidup akhirnya harus rusak dan musnah di tangan anak durhaka yang
tidak setia, tidak berbakti seperti kau!"
Suara jeritannya keras dan penuh kepedihan,
bagaikan lolongan monyet yang sedang di mangsa harimau.
Dengan sedih lelaki setengah umur itu segera
menimbrung:
"Dia sudah tahu salah, Toako, masa kau tidak
bersedia mengampuni jiwanya? Bagaimana kalau kita kutungi sepasang
kakinya saja, agar dia cacad seumur hidup?"
Dengan wajah murung dan sendu, lelaki
bertelanjang dada itu tertawa pedih, katanya:
"Im Kian telah melanggar pantangan berat, Im
Kian bersedia menerima hukuman mati ditarik oleh lima ekor kuda demi
ditegakkannya wibawa dan nama baik perguruan panji sakti."
"Bagus!" puji lelaki bertelanjang kaki
sambil mengacungkan jempolnya, "begitu baru pantas menjadi anak
murid perguruan panji sakti!"
"Biar mati pun aku tidak akan menyesal,"
kata Im Kian lagi dengan sedih, "aku hanya berharap ayah sudi
mengampuni nyawa Leng Cing soat, urusan ini tidak ada sangkut-paut
dengan dirinya, semua ini merupakan kesalahanku seorang."
Lelaki kekar yang tidak
takut mati ini ternyata meleleh kan air mata, air mata
kesedihan, lanjutnya:
"Apalagi dalam rahimnya sudah mengandung
darah daging dari keluarga Im!"
Berubah hebat paras muka Im Gi, belum sempat
dia mengucapkan sesuatu, mendadak dari kejauhan berkumandang lagi
suara derap kaki kuda, seekor kuda putih bagai anak panah yang
terlepas dari busur cepatnya berlarian mendekat di tengah kegelapan
malam, tak nampak ada penunggang di atas pelana kuda itu.
"Mana anak Cing?" dengan kening berkerut
lelaki setengah umur itu berseru.
Belum selesai ia berkata, sesosok bayangan
tampak berkelebat, bayangan manusia berwarna putih sudah muncul dari
bawah perut kuda itu dan duduk dengan tenang di atas pelana.
"Hahahaha...." terdengar orang itu tertawa
tergelak, "akhirnya Leng liong kou (kuda sakti naga dingin) berhasil
juga kutaklukkan!"
Di tengah gelak tertawa nyaring, kuda itu
seketika berhenti berlari dan berdiri tidak berkutik di depan panji
sakti, seorang pemuda berbaju putih berwajah tampan segera
berjumpalitan beberapa kali di udara dan melayang turun ke tanah.
Begitu bertemu dengan lelaki yang sedang
berlutut di depan panji, dengan perasaan terkejut bercampur gembira,
segera sapanya:
"Toako, akhirnya kau pulang juga!"
Im Gi pura-pura tidak mendengar, dengan
suara berat serunya:
"Samte, segera umumkan semua dosa dan
kesalahannya, kemudian segera laksanakan hukuman!"
Lelaki setengah umur itu menghela napas
sedih, dengan kepala tertunduk, ucapnya:
"Im Kiu siau, murid bagian pelaksana hukuman
perguruan Thi hiat tay ki bun (panji sakti darah besi) mewakili
Cosuya mengumumkan bahwa murid murtad Im Kian telah kesemsem wanita,
diam-diam bersekongkol dengan musuh dan dinyatakan bersalah, untuk
itu dia pantas menerima hukuman mati ditarik lima ekor kuda!"
Paras muka Im Ceng berubah hebat, teriaknya
lantang:
"Ternyata kalian menyuruh aku mencuri kuda
tujuannya untuk mencelakai Toako? Ternyata dikelabui! Apa dosa dan
kesalahan Toako? Kenapa tubuhnya mesti dicincang dan ditarik oleh
lima ekor kuda sampai mati? Kenapa dia harus menerima hukuman
sesadis ini? Padahal dia tak lebih hanya mencintai seorang wanita
dari keluarga Leng."
Kemudian sambil membalikkan tubuh, dia
berlutut di depan kakek bercambang itu dan memohon:
"Ayah, apakah kau tidak bersedia mengampuni
Toako sekali ini saja? Bagaimanapun dia adalahh putramu!"
Paras muka Im Gi hijau membesi, dia berdiri
mematung di tempat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gadis berbaju hitam dan pemuda kekar itu
serentak ikut menjatuhkan diri berlutut.
Im Ceng maju dua langkah ke depan, sambil
memeluk kaki ayahnya, kembali dia memohon:
"Ayah, ampunilah jiwanya sekali ini saja!"
Mendadak Im Kian membentak
nyaring sambil melompat bangun, serunya lantang: "Jite, Samte, Site,
Ngomoay, Toako tahu bersalah, kalian tak perlu banyak bicara lagi,
baik-baiklah merawat ayah, berbaktilah kepadanya.
Dilahirkan sebagai keturunan keluarga Im,
aku memang tidak seharusnya jatuh hati kepada anggota keluarga
benteng Han hong po. Ayah, ananda tidak berbakti dan telah menodai
nama baik panji sakti darah besi, noda ini hanya bisa dibersihkan
dengan cucuran darah!"
Begitu selesai berkata, tiba-tiba dia
mengayunkan telapak tangannya dan dihantamkan ke atas ubun-ubun
sendiri, diiringi jeritan ngeri yang memilukan, percikan darah segar
berhamburan kemana-mana.
Im Ceng segera menubruk ke muka, Im Kiu siau
membuang muka ke arah lain, sementara lelaki kekar bertelanjang kaki
melototkan sepasang matanya mengawasi panji sakti darah besi yang
sedang berkibar terhembus angin itu tanpa berkedip.
Im Gi sendiri masih berdiri dengan wajah
membesi, sinar matanya berkilat, namun perawakan tubuhnya yang
tinggi besar mulai bergetar, bahkan gemetar sangat keras.
Lama sekali dia berdiri kaku bagai patung,
berdiri tanpa berkutik.
Akhirnya sambil mencabut panji sakti darah
besi yang menancap di tanah perbukitan itu, jeritnya dengan suara
yang memilukan hati:
"Langit sebagai saksi, cucuran darah yang
mengalir keluar dari tubuh anak murid perguruan panji sakti bukan
cucuran darah yang sia-sia, setiap anggota perguruan jangan
melupakan pelajaran yang terjadi pada hari ini, terlebih jangan
melupakan sumpah berdarah mendiang leluhur kita. Thian sebagai
saksi, mulai hari ini saat pembalasan dendam keluarga kita sudah
dimulai!"
Teriakan itu keras dan tinggi melengking,
nyaring hingga menembus angkasa, sementara cucuran air mata mulai
membasahi kelopak mata dan pipinya.
Angin musim gugur masih berhembus kencang,
panji sakti darah besi masih berkibar tiada hentinya, malam terasa
semakin kelam, hawa membunuh pun semakin tebal menyelimuti seluruh
jagad.
Lama sekali Im Gi memegang panji sakti
perguruannya, hingga hembusan angin mengeringkan cucuran air
matanya, baru ia berseru dengan nada yang dalam dan berat:
"Thiat Tiong-tong tetap tinggal di sini
untuk melaksanakan hukuman, yang lain ikut aku pergi!"
Begitu mengucapkan kata "pergi", sekali lagi
panji sakti berkibar kencang, menyusul hembusan angin puyuh,
tahu-tahu tubuhnya sudah melesat sejauh tiga depa lebih dari posisi
semula.
Im Ceng membentak nyaring, sambil melompat
bangun, jeritnya keras:
"Untuk melaksanakan hukuman terhadap darah
daging keluarga Im, kenapa harus dilakukan oleh anggota marga lain?"
Im Gi yang sudah berada di kejauhan seketika
menghentikan langkahnya, perlahan-lahan dia membalikkan tubuh, lalu
sepatah demi sepatah dia berkata:
"Semenjak bergabung dalam perguruan panji
sakti, mereka adalah sedarah serumpun, barang siapa berani
menyinggung lagi tentang 'murid marga lain', batu ini adalah
contohnya!"
Begitu selesai bicara, panji besar itu
segera dihantamkan ke bawah.
"Criiing!", diiringi percikan lelatu api,
sebuah batu hitam sebesar kerbau yang berada di sampingnya seketika
terhajar hancur berkeping.
"Ayo jalan!" buru-buru Im Kiu-siau
membentak nyaring.
Tanpa membuang waktu lagi dia menyeret
tangan Im Ceng dan segera berlalu dari situ.
Dengan sedih nona berbaju hijau itu menengok
pemuda berbaju hitam sekejap, tiba-tiba dia pun membalikkan tubuh
dan mengikut di belakang pemuda kekar tadi lenyap di balik kegelapan
malam sana.
Tidak berapa lama kemudian semua orang sudah
berlalu dari situ, kini tinggal pemuda berbaju hitam itu berdiri
seorang diri di tengah keheningan, di tengah hembusan angin yang
kencang dan ringkikan kuda yang bergema tiada hentinya, lama sekali
ia berdiri tak berkutik, hanya sepasang matanya yang jeli memandang
ke sana kemari tanpa henti, berkilauan bagai cahaya bintang di
tengah malam.
Suara guntur menggelegar membelah bumi,
hujan deras pun turun bagaikan dituang dari langit.
Lima ekor kuda meringkik bersama dan
berlarian menuju ke lima arah yang berbeda, di belakang kelima ekor
kuda itu terlihat ceceran darah yang menggenangi permukaan tanah.
Tapi hanya sebentar saja, tak selang berapa
saat kemudian, genangan darah itu sudah bersih tersapu air hujan....
Thiat Tiong-tong, pemuda berbaju hitam itu
berdiri kaku di tengah curahan hujan deras bagai sebuah tiang
bendera, wajahnya dibasahi butiran air, meleleh dan menetes ke
bawah, dia sendiri pun tidak tahu butiran air itu air hujan atau air
mata.
Kuda-kuda itu memang sangat terlatih dan
punya kemampuan yang luar biasa, setelah berlarian menuju ke lima
arah yang berbeda, mereka langsung berlari menuju ke istal
majikannya masing-masing, termasuk juga kuda
Leng-liong-kou yang semula kelihatan jinak di tangan Im Ceng, tapi
kini ikut berlarian menjauhi tempat itu.
Sungguh cepat lari kuda itu, bagai naga
sakti yang terbang di udara, di tengah hujan angin yang deras hanya
terlihat sesosok bayangan putih melintas, sama sekali tak dapat
dikenali bentuknya secara jelas.
Setelah awan hitam yang tebal dan pekat
mulai menipis di ufuk timur, akhirnya lamat-lamat muncullah secercah
cahaya terang.
Di bawah sinar redup, di sisi pegunungan
yang berbaris, terlihat bangunan rumah yang bersusun bagai sebuah
perkampungan yang sedang terlelap tidur, itulah benteng Han-hong-po,
sebuah pusat kekuatan persilatan yang disegani di seantero jagad.
Sambil meringkik nyaring, kuda
Leng-liong-kou berlari semakin cepat, kini ia berlari menembus
sebuah hutan lebat.
Di tengah pepohonan yang rindang, di tengah
jalan setapak yang berliku-liku, ditambah air dan lumpur yang
berhamburan kemana-mana, mendadak terdengar suara suitan nyaring
bergema.
Sesosok bayangan manusia melayang turun dari
atas dahan pohon, agaknya ia sudah memperhitungkan waktunya secara
tepat, karena tubuhnya langsung melayang turun di atas punggung kuda
itu.
Tapi lari kuda Leng-liong-kou kelewat cepat,
baru saja tubuh orang itu meluncur ke bawah, sang kuda sudah
berkelebat lewat.
Dalam situasi demikian, terlihat orang itu
menarik napas sambil melambung ke udara, kemudian setelah bersalto
beberapa kali dia menyambar ekor kuda mestika itu dan
mencengkeramnya kuat-kuat.
Dengan begitu tubuhnya pun terseret oleh
lari kuda itu dan melambung di tengah udara.
Tiba-tiba orang itu menarik napas panjang,
sekali lagi dia berpekik nyaring, kemudian melayang ke punggung kuda
itu.
Sambil membelai bulu punggungnya yang halus,
terdengar orang itu berbisik lirih:
"Kuda, wahai kuda, masakah kau sudah
melupakan aku?"
Di balik kegelapan terlihat orang itu
berwajah tampan, bermata tajam dan beralis tebal, wajahnya diliputi
kesedihan dan amarah, ternyata dia tak lain adalah Im Ceng!
Walaupun kuda Leng-liong-kou masih berlari
kencang, namun tampaknya dia masih teringat pada pemuda yang pernah
menjinakkan dirinya, sambil meringkik rendah akhirnya kuda itu
berhenti berlari.
Waktu itu sikap Im Ceng jauh lebih tegang
ketimbang kudanya, dengan cepat dia melompat ke belakang kuda, di
situ terlihat ada dua utas tali kasar yang masih menggelantungan,
tali itu penuh dengan percikan darah, juga lumpur, tapi ujung tali
sudah tak nampak sepotong benda pun.
"Mungkinkah sudah terlepas?"
Hawa panas yang bergelora dalam dadanya
membuat Im Ceng tidak kuasa menahan diri, dia menjatuhkan diri ke
tanah dan menangis tersedu-sedu.
"Toako, ooh Toako, sungguh mengenaskan
kematianmu, bukan saja jenazahmu tidak utuh, bahkan harus tercecer
di sepanjang hutan belantara.....”
Sekonyong-konyong terdengar suara hentakkan
nyaring berkuman-dang berulang kali, tahu-tahu dari balik hutan sana
sudah bermunculan puluhan orang lelaki kekar berpakaian ringkas dan
bersenjata tajam, dalam waktu singkat mereka telah mengepungnya
rapat, puluhan pasang mata yang tajam berkilauan bagai mata golok
yang tertimpa cahaya memandangnya tanpa berkedip.
Im Ceng segera tertawa keras, dia
mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kemari, ayo kemari, aku memang
sedang mencari kalian untuk membalas dendam sakit hati Toakoku!"
Baru selesai dia berteriak, tiba-tiba empat
orang lelaki kekar yang semula menghadang dihadapannya telah
menyingkir ke samping dan membukakan sebuah jalan lewat.
Menyusul terlihat seorang kakek kurus
kering, berjubah putih, bertopi caping lebar berjalan mendekat
dengan langkah lebar.
Air hujan masih menetes membasahi topi
capingnya, menetes di atas wajahnya yang kereng dan penuh wibawa.
Orang itu memiliki kening tinggi dengan
sorot mata yang tajam, hidungnya agak bengkok bagai paruh elang, di
bawah dagunya terlihat jenggot kambing berwarna abu-abu yang
berkibar terhembus angin.
Begitu tiba di hadapan Im Ceng, segera
tegurnya ketus:
"Siapa Toakomu, dendam sakit hati apa yang
terjalin antara Toakomu dengan benteng Han hong po? Apakah kau
anggota perguruan Thi hiat tay ki bun?"
"Leng It hong!" Im Ceng tertawa seram,
"kecuali anggota Thi-hiat tay ki bun, keluarga mana yang bisa
memiliki anak laki macam kami!"
Ternyata kakek berhidung elang itu bukan
lain adalah Han hong Po cu, pemilik benteng Han hong po, Leng
It-hong.
Sambil mengelus jenggot kambingnya, dia
menegur dengan suara dalam:
"Tengah malam buta begini, berani amat kau
mencuri kuda mestika kami, Leng liong kou, nyalimu
betul-betul luar biasa"
Hujan angin kembali
melanda dengan lebatnya, butiran air yang menetes dari caping
lebarnya segera menutupi perubahan wajah kakek itu, menutupi juga
telapak tangannya yang gemetar.
Sambil tertawa dingin seru Im Ceng:
"Hmm, orang lain boleh saja menganggap
benteng Han hong po sebagai dinding tembaga tembok baja, tapi Siauya
sama sekali tak memandang sebelah mata, mau datang mau pergi sesuka
hatiku, hmmm, terhitung macam apa dirimu itu!"
Tiba-tiba Leng It-hong bertanya:
"Perguruan panji sakti telah melaksanakan
hukuman mati Ngo be hun si (lima kuda memisahkan mayat), apakah
tujuannya untuk menghukum Im Kian, si bocah tidak becus itu?"
"Kau akan mendapat giliran yang kedua!"
jerit Im Ceng penuh dendam.
Tubuhnya segera bergerak cepat, langsung
menerjangke hadapan Leng It hong.
Tiba-tiba terlihat cahaya golok berkelebat,
tiga orang lelaki berpakaian ringkas mengayunkan golok panjangnya
menyongsong keda-tangannya, bunga golok bergetar di udara dan
memisah menjadi tiga bagian, masing-masing membabat tubuh bagian
atas, tengah dan bawah Im Ceng.
Sementara itu Leng It-hong telah menegakkkan
kepala sambil tertawa seram, serunya:
"Im Gi, wahai Im Gi, Lohu mesti berterima
kasih kepadamu, anak jahanammu telah menggaet putri keluarga Leng
kami, tidak disangka kau telah mewakili Lohu menghukum mati bajingan
itu!"
Begitu berhenti tertawa, segera hardiknya:
"Tahan, biarkan dia pergi!"
Ketiga orang lelaki itu segera menarik
kembali senjatanya dan mundur tiga langkah.
"Manusia she Im," kembali Leng It hong
berkata dengan suara mendalam, "mengingat kau pun seorang Enghiong
Hohan, kali ini Lohu akan memberi jalan hidup bagimu, lain kali bila
berani membuat onar lagi dalam benteng Han hong po, jangan salahkan
Lohu membuat kau bisa datang, susah pergi!"
"Jaubui (kentut busuk)!" umpat Im Ceng
gusar, "kau tak perlu berlagak suci, sok berwelas-asih, hari ini
Siauya justru tak mau balik, bisa apa kau?"
Telapak tangannya kembali menyambar ke muka,
dengan lima jari tangannya bagai sebuah kaitan, dia mencengkeram
ujung sebilah golok panjang, kemudian tangannya digetarkan
kuat-kuat.
Termakan cengkeraman itu, lelaki pemilik
golok itu tak kuasa menggenggam senjatanya lagi, lekas dia
melepaskan senjatanya sambil melang-kah mundur.
Im Ceng mendengus dingin, kembali lengannya
menyodok ke muka, kali ini dengan gagang golok rampasannya dia
menyodok jalan darah Ciang tay hiat di dada lawan.
Dua bilah golok panjang lainnya tak tinggal
diam, satu dari kiri dan yang lain dari kanan secepat kilat membabat
sepasang bahu Im Ceng, cahaya golok berkelebat bagai rantai dan
melintas secepat petir.
Sambil membungkukkan tubuh, Im Ceng
merangsek maju ke depan, tahu-tahu dia sudah menerobos lewat melalui
bawah babatan golok lawan.
Sikut kanannya bekerja cepat, ia langsung
menyodok lambung lelaki yang ada di sebelah kiri dengan kuat.
Termakan sodokan yang tidak terduga ini,
lelaki itu meringkuk kesakitan, tubuhnya langsung terbungkuk-bungkuk
dan tidak mampu berdiri tegak lagi.
Sementara telapak tangan kirinya dengan
jurus To yap tiau yang jiu (menusuk balik telapak tangan),
mencengkeram pergelangan tangan lelaki yang ada di sebelah kanan,
begitu dipuntir sambil disentak ke depan, tubuh lelaki kekar yang
bobot tubuhnya mencapai ratusan kati itu seketika terlempar ke
udara.
Ling It-hong mendengus dingin, tubuhnya
bergeser tiga langkah ke samping sambil menjulurkan telapak tangan
kanannya, tahu-tahu dia sudah mendorong tubuh lelaki yang terlempar
ke udara itu perlahan, menggunakan tenaga dorongan itu, lelaki itu
segera berjumpalitan beberapa kali di udara dan melayang turun
kembali ke tanah.
Meski berhasil mendarat dengan selamat, tak
urung sepasang matanya terbelalak juga mengawasi lawannya, jelas
rasa kaget dan ngeri yang mencekam perasaannya belum berhasil
dikendalikan.
Dengan ibu jarinya Im Ceng menekan ujung
golok, jari telunjuknya melakukan gerakan mencukil dari bawah, golok
panjang itu segera berputar arah dan gagang golok itupun jatuh ke
dalam genggamannya.
Dengan golok berada di tangan, posisi Im
Ceng sekarang ibarat harimau tumuh sayap, segera hardiknya:
"Tua bangka sialan, serahkan nyawamu!"
Ling It-hong sama sekali tidak menggerakkan
tubuhnya, hanya ujarnya dengan dingin:
"Anak muda, jangan kelewat takabur dan lupa
diri, tindakan semacam ini hanya akan mempermalukan diri sendiri,
coba periksa dulu sekeliling mu, lihatlah apakah sekarang kau masih
sanggup melarikan diri?"
Di luar lingkaran lelaki bergolok panjang
kini telah bertambah lagi dengan satu lapis pemanah yang telah
membentangkan busurnya dan siap melepaskan anak panah yang telah
disiapkan, asal ada perintah, maka hujan panah segera akan
dilancarkan ke tubuh anak muda itu.
"Sudah kau periksa dengan jelas?" kata Leng
It-hong sambil mengangkat telapak tangannya, "asal kuayunkan
tanganku ke bawah, perguruan Tay ki bun segera akan kehilangan lagi
seorang jagoannya!"
"Bila kau ingin mengancam dengan
menggunakan keselamatan jiwaku sebagai taruhan, maka perhitunganmu
keliru besar," teriak Im Ceng sambil membusungkan dada, "kalau ingin
menyerang, silakan saja dilakukan, lihat saja apakah Siauyamu ini
bakal mengernyitkan dahi atau tidak?"
"Hmm! Walaupun kematianmu tidak perlu
disesalkan, tapi tahukah kau bahwa hingga kini kondisi perguruan
panji sakti masih sangat lemah, tahukah kau apa sebabnya ayahmu rela
hidup menderita selama dua puluh tahun di tepi perbatasan hanya
untuk mendidik kalian beberapa orang murid? Tujuannya tidak lain
adalah agar kalian kelak bisa membangun kembali kejayaan serta nama
besar perguruan panji sakti dalam dunia persilatan, bila hari ini
kau mengorbankan nyawa dengan percuma, apakah tidak merasa patut
disayangkan? Coba camkan kembali ucapanku ini."
Im Ceng mendongakkan kepala sambil tertawa
seram.
"Jago-jago yang muncul dalam perguruan panji
sakti bukan cuma aku seorang, sekalipun hari ini aku tewas di
tanganmu, suatu hari kelak tetap akan muncul orang lain yang akan
menuntut balas kepadamu. Hmmm! Kau tak perlu menakut-nakuti aku!"
"Menghadapi kematian seperti pulang ke
rumah, kegagahan dan keberanianmu memang mengagumkan, tapi menolak
nasehat yang baik, keras kepala mengikuti suara hati sendiri justru
merupakan tindakan seorang goblok yang kelewat dungu."
"Sudah, jangan banyak cingcong," tukas Im
Ceng nyaring, "kalau ingin bunuh, cepat bunuh, kalau ingin
bertarung, ayo kita segera bertempur!"
Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara, sambil
menjejakkan kakinya dia menendang punggung lelaki kekar itu.
Saat itu rasa kaget dan ngeri yang dirasakan
lelaki itu belum lagi hilang, kini dia semakin terkesiap, buru-buru
tubuhnya ber-gulingan di atas tanah menghindarkan diri dari
tendangan maut itu.
Siapa sangka saat itulah In Ceng meluncur ke
bawah dengan kecepatan luar biasa, dari pukulan berubah menjadi
cengkeraman, kali ini dia sambar kaki lelaki itu dan memutarnya di
angkasa.
Tak sempat menjerit kaget, tubuh lelaki itu
sudah terangkat ke udara dan diputar kencang bagaikan sebuah
gangsing.
Menyaksikan rekannya jatuh ke tangan lawan,
bahkan digunakan sebagai perisai, tentu saja kawanan pemanah itu
tidak berani sembarangan bertindak, untuk sesaat mereka menjadi
bimbang dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan.
Sambil membentak nyaring, teriak Im Ceng:
"Siapa menghalangi aku mampus, siapa
menghindari aku hidup!"
Sambil memutar perisai manusia itu, dia
menerjang maju ke dalam kepungan dengan kecepatan luar biasa.
Seketika itu juga suasana menjadi kalut,
karena tak tahu apa yang mesti dilakukan, barisan pengepung itupun
kacau-balau tak keruan, dengan begitu terbukalah sebuah jalan.
Menyaksikan hal ini, Leng It-hong segera
tertawa dingin, serunya:
"Sejak tadi Tio-toa sudah kehilangan
nyawanya, apa lagi yang kalian ragukan?"
Dua orang lelaki bergolok menanggapi
teriakan itu dengan menerjang maju ke muka, goloknya diayunkan
langsung membabat ke tubuh lelaki yang berada di tangan Im Ceng.
Begitu kuat bacokan golok itu, tak selang
berapa saat kemudian, bacokan kedua orang itu telah membelah tubuh
rekannya menjadi tiga bagian.
Dimana cahaya golok menyambar lewat,
percikan darah segera berhamburan.
Im Ceng membentak nyaring, sekuat tenaga dia
lemparkan potongan mayat dalam genggamannya ke wajah salah satu
lelaki penyerang itu.
Lemparan yang tak terduga ini seketika
membuat seluruh wajah lelaki itu bermandikan darah, sambil menjerit
kaget dia melompat mundur, tapi begitu teringat benda yang
dilemparkan ke wajahnya adalah kurungan mayat rekannya yang
terbelah, kontan perutnya menjadi mual.
Tanpa membuang waktu lagi dia membuang golok
dalam genggaman nya dan berlarian menjauh dari situ sambil
memuntahkan seluruh isi perutnya, lari seperti orang gila.
Bagai harimau ganas yang menyerang
mangsanya, Im Ceng langsung menerobos masuk ke tengah lapisan cahaya
golok, dengan tangan kosong dia melayani puluhan bilah golok panjang
yang menyambar di sekeliling tubuhnya.
Terlihat bayangan manusia bergerak lewat,
diiringi jeritan kaget, lagi-lagi ada tiga orang lelaki kekar yang
terseret dan terlempar keluar dari arena pertempuran.
"Budak-budak goblok yang tidak berguna!"
umpat Leng It-hong dengan wajah bertambah gelap.
Kawanan pemanah yang berada di empat penjuru
serentak menarik busur masing-masing, siap melancarkan serangan,
begitu telapak tangan Leng It-hong dibalik dengan ibu jari menuding
ke bawah, serentak kawanan jago itu membentak nyaring dan melepaskan
anak panah masing-masing.
Desingan angin tajam seketika memenuhi
seluruh udara, berpuluh-puluh batang anak panah bagaikan beribu ekor
belalang terbang, langsung meluruk ke tubuh lawan.
Mimpi pun kawanan jago bergolok panjang yang
sedang mengepung Im Ceng tidak menyangka, Pu-cu mereka begitu tega
tidak memikirkan keselamatan anak buahnya dengan memutuskan untuk
melepaskan hujan panah.
Dalam terkejut bercampur ngeri, serentak
mereka memutar goloknya sambil kabur ke empat penjuru, dua orang di
antaranya yang kabur agak terlambat seketika tertembus panah,
diiringi jerit mengerikan yang memilukan hati mereka jatuh
bergelimpangan di tanah dengan dada tertembus puluhan batang panah.
Sejak semula Im Ceng telah mempersiapkan
golok dalam genggaman, sambil memutar tubuh dia memainkan goloknya
kian kemari, seketika anak panah yang tertuju ke arahnya berjatuhan
dimana-mana.
Tapi kawanan pemanah itu telah menyiapkan
kembali anak panahnya, mereka siap melepaskan serangannya begitu
diperintahkan.
Dengan pandangan dingin Leng It-hong
mengawasi anak muda itu, katanya ketus:
"Sekarang aku sudah tidak bisa membebaskan
dirimu lagi, tangkap dia hidup-hidup atau bunuh dia di tempat!"
Mendadak dari balik rindangnya dedaunan
sebatang pohon raksasa, muncul seorang gadis, meski berbaju
perlente, namun keadaannya amat mengenaskan.
Dari belakang gadis itu, di balik dedaunan
yang lebat, terdengar seseorang berseru dengan suara dingin:
"Leng It-hong, kau masih menginginkan nyawa
putrimu?"
Berubah hebat paras muka Leng It-hong.
"Siapa kau?" hardiknya, "cepat bebaskan
dia!"
"Tidak sulit bila ingin kubebaskan putrimu,
silakan kalian antar pemuda she Im itu keluar hutan, kujamin nyawa
putrimu tak akan terusik!"
Ling It-hong tertawa dingin.
"Hmm, ternyata anak murid perguruan panji
sakti pun mampu melakukan perbuatan sebejad itu, hari ini sepasang
mata Leng It-hong betul-betul terbuka!" ejeknya.
"Siapa bilang dia adalah anggota perguruan
panji sakti?" teriak Im Ceng gusar.
"Kalau dia bukan anggota perguruan panji
sakti, kenapa menggunakan cara yang begitu licik dan busuk untuk
menyelamatkan jiwamu?"
Dengan gusar Im Ceng segera menengadah,
teriaknya:
"He... siapa kau?"
"Setelah keluar dari hutan ini dalam keadaan
selamat, otomatis kau akan bersua denganku!"
"Aku Im Ceng meski harus mati pun tak sudi
kau tolong dengan cara serendah itu."
Orang yang berada di balik rindangnya
pepohonan itu segera menyahut sambil tertawa dingin:
"Kalau aku ngotot ingin menolongmu, mau apa
kau?"
Tiba-tiba Leng It-hong melepaskan topi bambu
dari kepalanya dan membantingnya keras-keras ke tanah, umpatnya:
"Selama hidup Lohu paling benci dipaksa
orang, hari ini aku benar-benar dibuat celaka oleh kau si budak
sialan."
"Mundur!" teriaknya kemudian.
Tidak selang berapa saat, seluruh jagoan
yang ada di situ telah mengundurkan diri.
"Kenapa belum kau bebaskan dia?" kembali
Leng It-hong membentak nyaring.
"Orang she Im toh belum pergi dari situ!"
jawab orang itu sambil tertawa.
"Kau hanya bisa menggunakan cara itu untuk
memaksa, jangan harap bisa memaksaku," teriak Im Ceng lagi, "kalau
aku bersikeras tidak mau pergi, bisa apa kau?"
"Kalau tidak mau pergi, aku pun bersikeras
tidak akan melepaskan dia, sehari kau tidak pergi, sehari juga aku
tidak akan melepaskan dia, jika sepuluh hari kemudian kau baru
pergi, aku pun akan menahannya sepuluh hari, aku tahu tabiatmu
memang keras kepala, justru ingin kulihat watak baumu yang keras dan
busuk itu bisa bertahan berapa lama?"
Hijau membesi paras muka Im Ceng, biarpun
dia tahu orang sedang menolongnya, tapi dia justru tak sudi menerima
budi kebaikan itu, mendadak hardiknya:
"Aku justru akan memaksamu melepaskan dia!"
tahu baru saja tubuhnya berputar, telapak
tangan Leng It-hong sudah dihantamkan ke ulu hatinya.
"Kurangajar!" teriak Im Ceng gusar, "aku
berbaik hati menolong putrimu, kenapa kau malah membokongku?"
"Hahahaha...." orang di belakang pohon ikut
tertawa tergelak, "aku pun berbaik hati ingin menolongmu, kenapa kau
pun membokongku?"
Kontan Im Ceng terbungkam, tak sanggup
berkata lagi.
Tiba-tiba dari luar hutan terdengar
seseorang berteriak:
"Dimana adik Im Kian?"
Di tengah hujan lebat terlihat seorang gadis
berbaju putih dengan membawa payung bambu melayang masuk ke dalam
hutan.
Gerakan tubuhnya enteng dan cepat, sekalipun
sedang berjalan di tengah hujan deras, pakaiannya tak nampak kotor,
ternoda sedikit lumpur pun tidak.
Ling It-hong seketika kembali mengernyitkan
alis matanya.
Gadis berbaju putih itu sama sekali tidak
menengok kearahnya, sorot matanya hanya mengawasi Im
Ceng tanpa berkedip.
"Jadi kau adalah Im Ceng?" dia menyapa.
"Dan kau Leng Cing-soat?"
"Benar aku," sahut gadis berbaju putih itu
sambil manggut-manggut.
"Kau telah mencelakai Toakoku, sekarang
masih punya muka untuk bertemu denganku?" bentak Im Ceng lagi.
Sepasang kepalannya langsung ditonjokkan ke
depan, menghantam sepasang bahunya.
Dengan cekatan eng Cing-soat mengoyang
pinggangnya dan tahu-tahu sudah lolos dari ancaman.
"Kau berani bersikap kurangajar terhadap
ensomu?" tegurnya.
"Kau ini enso siapa?" balas Im Ceng gusar.
Ketika serangan yang kedua baru saja
dilancarkan, terdengar Leng Cing-soat berseru lagi:
"Aku sedang mengandung darah daging Toakomu,
berani kau memukulku?"
Sambil berkata dia majukan tubuhnya dan siap
menyambut pukulan itu.
Buru-buru Im Ceng menarik kembali pukulannya
sambil mundur tiga langkah, untuk sesaat dia berdiri mematung,
wajahnya sebentar berubah hijau sebentar putih, untuk beberapa saat
dia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah menghela napas panjang kembali Leng
Cing-soat berkata:
"Setelah Toakomu meninggal, sudah seharusnya
kau turuti perkataan ensomu, cepat tinggalkan tempat ini, ketahuilah
ensomu adalah seorang yang bernasib jelek!"
Butiran air matanya kembali bercucuran
membasahi pipinya.
Im Ceng memandang sekejap air mata yang
membasahi wajah perempuan itu, kemudian memandang
sekejap pula ke arah gadis yang ada di atas pohon, akhirnya sambil
menjejakkan kakinya dengan gemas, dia berlalu dari situ dengan
langkah lebar.
Mendadak berkelebat kembali selapis hujan
cahaya yang menyilaukan mata, puluhan titik cahaya perak yang
membawa desingan angin tajam meluncur datang dan mengurung radius
beberapa depa di sekeliling tubuhnya.
Dengan cekatan Im Ceng menjatuhkan diri ke
belakang, lalu melejit ke udara dan berputar tiga kali.
"Triiing, triiing!",
lapisan hujan perak itu bergerak membuat satu lingkaran, kemudian
baru berkumpul menjadi satu, setelah saling membentur di tengah
udara, hujan perak tadi baru menyebar ke empat penjuru dengan
kekuatan yang sama sekali tak berkurang.
Kali ini lapisan hujan cahaya itu mengancam
ke wajah dan dada anak muda itu.
Im Ceng mengayunkan sepasang tangannya
berulang kali, di tengah deru angin pukulan yang bergelombang,
akhirnya ia berhasil merontokkan semua hujan cahaya itu, ternyata
benda-benda itu tidak lain adalah puluhan batang jarum perak yang
lembut bagai bulu kerbau.
Paras muka Leng It-hong maupun Leng
Cing-soat berubah hebat, sementara manusia misterius yang berada di
balik pepohonan ikut membentak penuh amarah:
"He, berani amat kau
melancarkan serangan bokongan kepadanya, memangnya nyawa putrimu
sudah tidak kau inginkan?"
"Kalian keliru besar," teriak Leng
Cing-soat, "senjata rahasia itu bukan dilancarkan oleh orang-orang
Han hong po."
"Apa? Kau masih ingin berkelit?" seru Im
Ceng.
"Orang yang biasa menggunakan Thian li
ciam (jarum gadis langit) sebagai senjata rahasia andalannya
hanya ada satu keluarga, ilmu melepaskan Am gi Leng long biau
jiu, Sam san thian hoa (jari tangan lentik penyebar bunga
langit) pun tiada duanya di kolong langit, setelah menyaksikan
senjata rahasia semacam ini, setelah melihat ilmu melepaskan senjata
rahasia seperti ini, masakah kalian belum bisa menebak siapa
pelakunya? Mana boleh kalian timpakan kesalahan ini kepada benteng
Han hong po?"
"Lalu perbuatan siapa? Kalau punya nyali,
ayo cepat perlihatkan wajahmu!"
Tiba-tiba Leng It-hong menganggukkan
kepalanya seraya berkata:
"Seng-toaso, silakan keluar, bila kau tidak
segera tampil, keponakan wanitamu akan kehilangan nyawa!"
Gelak tertawa seketika berkumandang dari
belakang sebatang pohon besar.
Suara tertawanya merdu, lembut dan sedap
didengar, bagaikan suara tertawa seorang gadis, tapi yang muncul
berbareng suara tertawa itu adalah seorang nyonya tua yang rambutnya
telah beruban dan membawa sebuah tongkat besar.
Di belakang nenek itu mengikut seorang
lelaki setengah umur yang memiliki wajah merah dengan hidung singa
dan mulut lebar, kumis dan jenggotnya pendek dan tipis.
Ia mengikut terus di belakang si nenek
sambil memegangi sebuah caping bambu yang lebar, dengan caping itu
dia menutupi kepala si nenek dari curahan air hujan, sementara
pakaiannya sendiri yang dikenakan telah basah kuyup.
Nenek itu berjalan dengan langkah lebar,
bukan saja tidak nampak ketuaannya, bahkan gerak-gerik maupun suara
tawanya mirip seorang gadis berusia belasan.
"Tiga orang menantuku, satu demi satu telah
tewas di tangan orang-orang Tay ki bun," ujarnya nyaring, "ini
membuat putraku selama belasan tahun enggan menikah lagi, apa
salahnya kalau kau pun kehilangan seorang putri untuk menemani
menantuku di alam baka? Sekarang anak orang she Im sudah muncul di
benteng Han hong po, memangnya akan kau lepas begitu saja?"
Nada ucapan si nenek pun terdengar halus dan
lembut, jauh bertolak belakang dengan kerutan yang memenuhi
wajahnya.
Berubah paras muka Leng It-hong. Tapi
sebelum ia sempat berkata, manusia misterius yang berada di balik
pepohonan telah berseru sambil tertawa:
"Rupanya yang datang adalah pemilik
perkampungan keluarga Seng yang dulu disebut orang San hoa hian
li (perempuan sakti penyebar bunga) Seng-toanio? Berarti yang
mengikut di belakangmu adalah Ci sim Kiam khek (jago pedang
berhati merah) Seng Cun-hau, Seng-siaucengcu, selamat bersua,
selamat bersua!"
Seng-toanio mendengus dingin, tanpa
mendongakkan kepala, katanya dingin:
"Hmm, bukankah kau ingin mencabut nyawa Leng
Cing-ping? Ayo, lakukan segera. Kini aku sudah muncul di sini,
jangan harap manusia she Im itu bisa kabur lagi dari tempat ini!"
"He, Leng It-hong, sudah kau dengar
perkataan itu? Biarpun menantunya sudah mati, dia masih punya anak
lelaki, sebaliknya jika kau kehilangan putrimu, menantu pun tidak
akan kau punyai"
"Im Ceng, sebenarnya kau mau pergi atau
tidak?" dengan wajah menyeramkan Leng It-hong menghardik.
Saat itu Im Ceng sedang berdiri bersandar di
atas sebatang pohon besar, sambil bersiaga penuh, sahutnya lantang:
"Siauya kalau mau datang segera akan datang, mau pergi segera akan
pergi, jangan harap ada yang bisa menghalangiku!"
"Benarkah begitu?" jengek Seng-toanio,
"Leng-laute, sudah kau dengar? Orang lain sama sekali tak memandang
sebelah mata pun terhadap benteng Han-hong-po, masa kau hanya
berdiam terus?"
Sebelum Leng It-hong menjawab, sambil
menghela napas panjang Leng Cing-soat telah berkata: "Bibi,
semestinya kau pun berpikir untuk kami, kini adikku sudah terjatuh
ke tangan orang, apalagi yang bisa kami perbuat?"
"Keponakanku, kau jangan berkata begitu,"
tukas Seng-toanio, "ketika bibi menyaksikan perguruan Tay-ki-bun
kembali melaksanakan hukuman mati dengan ditarik lima ekor kuda,
bahkan mencuri kuda mestika, buru-buru aku menyusul kemari, bukankah
tujuannya demi kebaikan bersama? Sudah bertahun-tahun lamanya
perguruan Tay ki bun menahan diri, kini mereka mulai muncul sambil
melakukan pembalasan dendam, jelas orang-orang itu akan melakukan
pemban-taian secara besar-besaran, jika kau tidak membunuhnya,
dialah yang akan membunuhmu. Sekarang jumlah orang kita banyak,
sedang jumlah mereka sedikit, kalau satu melawan satu sudah pasti
kitalah yang untung."
Tiba-tiba Im Ceng tertawa tergelak, serunya:
"Siapa yang sudi beradu nyawa dengan kalian? Selamat tinggal, Siauya
segera akan pergi!"
Di tengah gelak tertawanya, ia bergeser
sambil menempel di batang pohon dan menyelinap masuk ke balik
pepohonan yang lebat.
Siapa pun tak ada yang menyangka dengan
tingkah-laku pemuda ini, tadi ketika dilepas, ia ngotot tak mau
pergi, sekarang ketika orang berniat menahannya, ia justru
memanfaatkan peluang itu untuk kabur.
Seng-toanio tertawa dingin.
"Cun-hau!" serunya, "hadang jalan
perginya!"
Pendekar pedang berhati merah Seng Cun-hau
menyahut dengan suara dalam, baru saja dia akan menggerakkan
tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget dari Im Ceng yang
berasal dari balik pepohonan:
"Aaah, rupanya kau!"
Menyusul kemudian terdengar suara jeritan
kaget Leng Cing-ping yang terjatuh dari atas pohon, lekas Leng
It-hong melompat ke depan dan memeluk tubuh putrinya.
Dalam waktu yang amat singkat, terlihat
bayangan manusia berkelebat, tahu-tahu Seng Cun-hau telah melolos
pedangnya sambil menerobos masuk ke balik pepohonan.
Diiringi suara ranting dan dahan pohon yang
berguguran tertebas pedangnya, tampak dua sosok bayangan manusia
meluncur turun dari atas sebatang pohon.
Segera Leng It-hong menyerahkan gadis yang
berada dalam bopongannya ke tangan Leng Cing-soat, serunya berat:
"Cepat bawa dia pulang!"
Ling Cing-soat mundur ke belakang, tapi
sorot matanya masih memandang ke arah depan.
Terlihat dua sosok bayangan manusia meluncur
turun dari atas dahan pohon, salah seorang di antaranya adalah
seorang lelaki berbaju serba hitam dengan sebilah pedang tersoreng
dipunggungnya.
Baru saja pemuda itu siap menutulkan kembali
kakinya untuk sekali lagi melambung ke udara, tiba-tiba terasa
segulung angin pukulan yang dingin menggidikkan telah menyambar
tiba.
Rupanya Leng It-hong telah memburu datang
sembari melancarkan sebuah pukulan maut.
"Saat ini jangan harap kau bisa lolos dari
sini!" teriaknya gusar.
Pemuda berbaju hitam itu tetap bungkam, dia
membuang tubuhnya ke belakang untuk menghindari pukulan itu,
menggunakan kesempatan yang ada dia pun mencabut pedangnya sambil
menyerang sepasang mata lawan.
Bukan saja ilmu pedangnya tajam, serangan
pun dilancarkan cepat bagai sambaran petir.
Ling It-hong segera membalik sepasang
tangannya sambil dirangkap jadi satu, tujuannya ingin menjepit tubuh
pedang orang berbaju hitam itu, kecepatannya mengubah jurus serangan
betul-betul luar biasa.
Siapa sangka orang berbaju hitam itu telah
memutar pedangnya sambil melepaskan tusukan langsung, dalam waktu
singkat lagi-lagi dia melancarkan lima serangan berantai.
Biarpun ilmu pedangnya biasa tanpa variasi
yang aneh, namun kecepatan serangannya betul-betul luar biasa,
biarpun Leng It-hong sudah puluhan tahun berkelana dalam dunia
persilatan pun jarang menjumpai kehebatan semacam ini.
Di pihak lain pendekar pedang berhati merah
Seng Cun-hau sudah bertarung tiga gebrakan melawan Im Ceng,
tiba-tiba serunya:
"Paman Leng, biar keponakan yang menjajal
kehebatan jurus serangan pemuda itu!"
Sekalipun perkampungan keluarga Seng
tersohor sebagai keluarga senjata rahasia, namun selama ini Seng
Cun-hau justru lebih terkenal dalam dunia Kangouw sebagai seorang
jago pedang, tak heran muncul keinginannya untuk menjajal ilmu
pedang pemuda berbaju hitam itu setelah menyaksikan kehebatan lawan.
"Ilmu pedang yang dimiliki bangsat ini
sangat cepat, permainan tangannya sangat lincah, Hiantit, kau mesti
lebih berhati-hati bila bertarung melawannya!" kata Leng It-hong
dengan suara dalam.
"Keponakan mengerti!"
Setelah melancarkan tiga serangan berantai,
dia telah bertukar posisi dengan Leng It-hong, pedangnya diluruskan
sejajar dada dan kini ia berdiri saling berhadapan dengan pemuda
berbaju hitam itu.
Mereka berdua berdiri saling berhadapan
tanpa menggerakkan tubuh, hanya sorot matanya yang saling
bertatapan.
Kedua orang ini, yang satu berwajah hitam
bersinar merah, sementara yang lain berwarna hitam berkilat,
hidungnya sama-sama hidung singa, matanya sama-sama tajam bagai
sembilu, keangkeran mereka lamat-lamat memperlihatkan gaya seorang
jago kenamaan.
Di pihak lain Im Ceng telah bertarung
beberapa gebrakan melawan Leng It-hong, mendadak pemilik benteng Han
hong po ini menyaksikan lawannya sedang mengawasi pemuda berbaju
hitam itu dengan wajah penuh amarah.
Terdengar Seng-toanio sambil tersenyum telah
berseru:
"Leng-laute, kenapa mesti terburu-buru
bertarung? Toh orang she Im itu tidak bakal bisa lolos dari sini,
ayo kita saksikan pertarungan orang ini lebih dulu, coba lihat,
bukankah perawakan pemuda itu mirip sekali dengan Cun-hau?
Hakikatnya mereka seperti dua bersaudara saja."
Im Ceng yang berada di tepi arena mendadak
berteriak pula dengan suara lantang: "Thiat Tiong-tong! Kalau kau
enggan melancarkan serangan, lebih baik angkat saudara saja dengan
orang itu!"
Ternyata pemuda berbaju hitam itu tak lain
adalah murid ketiga dari perguruan Tay ki bun, Thiat Tiong-tong, dia
adalah seorang anak yatim piatu dan sudah banyak menerima budi dari
perguruan, itulah sebabnya pada hari-hari biasa ia selalu mengalah
kepada adik seperguruannya ini.
Maka akhirnya dia pun turun tangan.
Orang yang tak sembarangan melancarkan
serangan, biasanya serangan yang dilakukannya pasti cepat bukan
kepalang.
Diiringi dua bentakan nyaring, dua kilas
cahaya pedang saling menyambar di tengah udara.
Menyusul kemudian "Triiing, triiing....",
kembali berkumandang dentingan nyaring saling beradunya pedang,
begitu bertemu mereka saling berpisah lagi, dalam waktu singkat
kedua belah pihak telah melancarkan belasan jurus serangan.
Kini perhatian semua orang sudah tertuju ke
tengah arena, semua orang seakan-akan terkesima oleh pertarungan
yang sedang berlangsung.
Hanya Im Ceng seorang yang terkecuali.
"Aaah, ternyata mereka berasal dari
perguruan Tay ki bun, bagus, bagus sekali" terdengar pujian bergema
berulang kali.
"Apanya yang bagus?" bentak Im Ceng gusar.
Seng-toanio tertawa terkekeh-kekeh.
"Di saat perguruan Tay-ki-bun melakukan
pembalasan, biasanya mereka suka membokong dan menyerang secara
gelap, bahkan jumlahnya tak mungkin hanya satu dua orang, hari ini
sudah ada tiga orang yang jatuh ke cengkeraman kami, apa tidak bagus
namanya?"
"Mana ada tiga orang?" tanya Leng It-hong
keheranan.
"Leng-Iaute, masa kau lupa kalau dalam perut
putrimu masih ada seorang lagi?"
"Apa yang hendak kau lakukan?"
"Asal ada anggota keluarga Im yang terjatuh
ke tanganku, jangan harap mereka bisa hidup selamat!"
Ling It-hong segera melompat ke depan,
menghadang di depan dua bersaudara Leng Cing-soat, bisiknya
kemudian:
"Kalian segera mundur dari sini!"
Sekali lagi Seng-toanio tertawa
terkekeh-kekeh.
"Leng-Iaute, apa yang kau takuti? Memangnya
jarum gadis langit milik Seng-toanio digunakan secara sembarangan?
Sekalipun akan turun tangan, yang pasti sasarannya bukan putrimu!"
Pada saat itulah mendadak dari luar hutan
muncul belasan ekor kuda yang tinggi besar berlarian mendekat,
kuda-kuda itu mengenakan pelindung kepala yang terbuat dari baja
sementara punggungnya juga mengenakan lapisan lempengan baja yang
kuat.
Belasan orang lelaki berbaju hitam menempel
ketat di atas punggung kuda itu, meski sedang berlarian menerobos
pepohonan yang rapat, namun kepandaian menunggang kuda orang-orang
itu luar biasa sekali, mereka berhasil melewati setiap rintangan
dengan mudah dan cepat, selancar sedang berlarian di padang luas.
Begitu rombongan berkuda itu menerobos masuk
ke dalam hutan, seketika itu juga gerombolan manusia yang semula
mengepung hutan itu membubarkan diri karena kaget bercampur takut.
Terdengar orang yang ada di kuda itu
membentak nyaring:
"Semua anggota perguruan Tay ki bun segera
mundur dari sini!"
Menyusul bentakan itu, puluhan titik senjata
rahasia berhamburan keluar dari tangan para penunggang kuda itu
langsung mengancam tubuh Seng-toanio, Leng It-hong serta Leng
Cing-soat bersaudara.
Dua orang di antara mereka segera melompat
turun dari kudanya dan menyisakan dua ekor kuda untuk Im Ceng
berdua.
Sambil memutar pedangnya, Thiat Tiong-tong
segera melompat naik ke punggung kuda, teriaknya sembari menarik
lengan Im Ceng:
"Samte, ayo pergi dari sini!"
Im Ceng meronta melepaskan diri dari
cengkeraman, dia segera melompat naik ke punggung kuda yang lain dan
mencemplak kudanya.
Kedatangan rombongan manusia berkuda itu
sangat cepat dan mendadak, sewaktu pergi pun mereka lakukan dengan
cepat, terdengar ringkikan kuda yang sahut-menyahut, tidak selang
beberapa lama kemudian mereka sudah lenyap di balik pepohonan.
Setelah berhasil menghindari serangan Am gi,
Seng-toanio segera berseru:
"Ayo kejar!"
Setiap orang ikut dalam pengejaran itu,
hanya Leng Cing-soat bersaudara tetap berdiri tak bergerak di posisi
semula.
Tiba-tiba terdengar Leng Cing-ping menghela
napas panjang sambil bergumam:
"Semoga mereka berdua tidak sampai terkejar
oleh ayah!"
Mendengar itu Leng Cing-soat mengerutkan
dahinya, tanyanya keheranan:
"Bukankah dia telah menyiksamu, kenapa kau
malah berharap dia berhasil lolos?"
Sekali lagi Leng Cing-ping menghela napas
sedih:
"Dia tidak menyiksaku, dia tidak pernah
menyiksaku"
Ucapannya amat halus dan manja, tubuhnya pun
kelihatan lemah tak bertenaga, sama sekali bertolak belakang dengan
kondisi kakaknya yang keras, dingin dan angkuh.
Ling Cing-soat sekali lagi menatap adiknya,
setelah menarik napas panjangujarnya:
"Ji-moay, apakah kau pun jatuh cinta kepada
murid perguruan Tay ki bun itu? Apakah kau tidak cukup melihat
penderitaan Cicimu ini?"
Leng Cing-ping menundukkan kepala, sampai
lama dan lama sekali tanpa bicara.
BAB2.
Senyuman Suto Siau.
Thiat Tiong-tong serta Im Ceng memiliki ilmu
menunggang kuda yang hebat, kedua ekor kuda tunggangan mereka pun
merupakan kuda mestika pilihan yang hebat.
Tidak lama setelah berlarian menembus
pepohonan, kedua orang itu sudah jauh meninggalkan rombongan berkuda
lainnya.
Terdengar para penunggang kuda itu berseru
keras:
"Kalian berdua cepat lari dari sini, biar
kami yang menghadang para pengejar itu!"
Maka rombongan manusia berkuda yang ada di
belakang pun semakin ketinggalan jauh.
Dalam waktu singkat Leng It-hong serta
Seng-toanio telah berhasil menyusul seekor kuda yang ada di barisan
paling belakang.
Sambil melambung ke tengah udara Leng
It-hong melancarkan sebuah pukulan ke punggung penunggang itu,
biarpun tenaga serangannya tidak terlalu dahsyat, namun ancaman yang
dilepaskan dari tengah udara ini memiliki kekuatan yang cukup
menakutkan.
Sementara Seng-toanio dengan tangan kanan
menggenggam jarum perak, tongkat di tangan kirinya langsung
disodokkan ke depan, ujung tongkatnya mengancam jalan darah
Leng-tay-hiat serta Ming-bun-hiat di tubuh orang itu.
Serangan gabungan yang dilancarkan kedua
orang itu sungguh dahsyat dan mengerikan, siapa tahu penunggang kuda
itu hanya tertawa, tiba-tiba tubuhnya menerobos ke bawah perut
kudanya.
Gerakan tubuhnya enteng dan cantik, bicara
soal kemampuannya menunggang kuda, boleh dibilang jarang ada jagoan
persilatan di daratan Tionggoan yang sanggup menandinginya.
"Mau lari kemana kau!" bentak Seng-toanio
gusar.
Serangan tongkat besinya makin gencar, kali
ini dia mengancam punggung kuda itu.
Perlu diketahui, tongkat besi yang dia
gunakan adalah sebuah tongkat yang ditempa dari bahan baja dari laut
selatan, jika sampai mengenai sasaran, dapat diduga baik manusia
maupun kudanya akan tak tahan.
"Seng-toaci, ampuni jiwa mereka!"
Seng-toanio menarik kembali pergelangan
tangannya, dengan jurus Hian gay li bi (sadar di saat
genting) dia menahan serangan toyanya secara paksa dan menariknya ke
belakang.
“Plokkk!", toya itu menghantam perlahan di
atas pelana kuda itu.
Terlihat sesosok bayangan manusia
menyelinap keluar dari bawah perut sang kuda, kemudian setelah
duduk di pelana, ia menarik tali les kudanya, maka diiringi
ringkikan panjang kuda itupun berhenti berlari.
Dengan wajah berubah Leng It-hong dan
Seng-toanio segera berseru hampir berbareng:
"Suto Siau, rupanya kau?"
Orang ini berwajah bulat bagai rembulan,
senyuman selalu menghiasi ujung bibirnya, dia pun termasuk salah
satu musuh bebuyutan dari perguruan Tay ki bun, bukan saja seorang
pendekar kenamaan dalam dunia persilatan, dia pun tersohor sebagai
saudagar kaya raya, pemilik peternakan kuda Lok-jit dan dikenal
sebagai Suto Siau.
Siapa pun tidak menyangka kalau orang yang
menyelamatkan anak murid perguruan Tay ki bun dari mara bahaya
ternyata adalah dia!
Ling It-hong dan Seng-toanio berdiri
tertegun.
"Apa-apaan kau ini? Apa maksudmu berbuat
begitu? Apakah kau telah mengkhianati sumpah setia persekutuan kita
dengan berpihak kepada perguruan Tay ki bun?"
Suto Siau tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, biarpun aku punya keinginan
begitupun belum tentu mereka mau menerimaku."
"Lantas? Memangnya kau sudah edan?"
"Seng-toanio toh seorang pendekar wanita
yang ampuh dan pintar, masa tak bisa menduga siasat apa yang sedang
Siaute lakukan hari ini?"
"Siasat? Siasat apa? Tanpa siasatmu pun kami
berhasil mengurung para cecunguk perguruan Tuy ki bun, kenapa kau
malah membebaskan mereka?"
"Aku pun ingin tahu siasat bagus apa yang
sebenarnya sedang dirancang saudara Suto?" timbung Leng It-hong pula
ketus.
Sementara itu belasan pasukan berkuda itu
sudah berbalik dan berlarian pelan di tanah pegunungan, hujan yang
turun makin bertambah kecil, walaupun langit masih gelap, namun
fajar segera akan menyingsing.
"Aku tahu, membebaskan harimau pulang
gunung, memang bukan cara yang tepat" kata Suto siau kemudian, "tapi
aku sedang melaksanakan siasat mengulur senar pada ikan yang
terpancing, jika kalian berdua masih juga belum paham, ayo kita cari
dulu tempat berteduh, akan Siaute terangkan sejelas-jelasnya"
Tempat paling dekat untuk berteduh dari air
hujan adalah benteng Han hong po, tentu saja tempat paling tepat
yang dituju adalah benteng itu.
Setelah semua orang mengambil tempat duduk,
Suto Siau baru menerangkan secara gamblang:
"Perguruan Thi hiat tay ki bun adalah
perguruan dengan kawanan jago yang tangguh, hampir semua partai dan
perguruan yang ada di kolong langit menaruh rasa segan terhadap
mereka, bukan disebabkan lantaran kungfunya memang merupakan aliran
tersendiri, yang lebih penting lagi adalah gerak-gerik serta sepak
terjang mereka kosen, nekad dan hebat. Belakangan mereka memang
berusaha menghindari segala pertikaian dengan hidup mengasingkan
diri di daerah pinggiran perbatasan, tapi siapa berani menjamin pada
suatu hari nanti mereka akan muncul kembali di keramaian dunia,
kemunculan yang kita semua kuatirkan."
Senyuman masih menghiasi bibirnya, setelah
berhenti sesaat, lanjutnya kembali:
"Kemunculan kembali perguruan Thi hiat tay
ki bun di daratan Tionggoan kali ini, tak terlepas tujuan utamanya
adalah untuk menghadapi kita lima keluarga besar, bila kita analisa
dari kekuatan yang dimiliki kedua belah pihak, aku rasa siapa lebih
kuat dan siapa lebih lemah tak perlu kujelaskan lagi, kalian pun
tentu lebih mengerti."
Ling It-hong maupun Seng-toanio tidak
berkomentar, mereka hanya mendengarkan dengan seksama.
"Sekalipun kita tidak tahu kekuatan
sesungguhnya dari perguruan Tay ki bun, namun anak murid mereka
memang selamanya tak banyak, tak mungkin mereka bisa menghadapi
keroyokan jumlah besar. Jadi apabila kita lima keluarga besar mau
berhimpun menjadi satu dan bekerja sama, jelas saat kematian mereka
sudah tiba. Tapi bila kita mesti berhadapan satu lawan satu... aku
takut pihak kitalah yang bakal keok."
Ling It-hong tertawa dingin.
"Hmm, kecuali ada anggota persekutuan yang
tiba-tiba berkhianat dan membantu pihak lawan secara diam-diam,
kalau tidak, kerja sama kita lima keluarga besar tak mungkin buyar,
bersatu terus sampai mati!"
Senyuman masih tetap menghiasi bibir Suto
Siau, ujarnya lagi:
"Selisih jarak antara kita lima keluarga
besar, yang paling dekat pun berjarak sekitar puluhan li, meskipun
di waktu biasa jarang saling berhubungan, namun di saat ada ancaman
bahaya, pasti akan datang saling membantu, selama ini serangan dari
pihak perguruan Tay ki bun selalu dilakukan cepat bagai angin,
begitu gagal dengan serangannya, mereka segera akan mundur, tapi
bila serangannya berhasil, apa yang akan dilakukan?"
Sekali lagi paras muka Leng It-hong dan
Seng-toanio berubah hebat.
Sambil tetap tertawa Suto Siau berkata lagi:
"Apalagi meski kita berhasil mengalahkan
perguruan Tay ki bun, tapi asal ada satu saja di antara anak
muridnya yang berhasil lolos, yang pasti kita akan selalu dibuat
makan tak enak, tidur pun tak nyenyak, aku rasa kalian pun bukannya
tak tahu bagaimana tabiat anggota perguruan Tay ki bun yang pantang
menyerah dan punya tekad yang besar, bahkan sepak terjangnya
mendekati perbuatan nekad itu?"
Perasaan setiap orang merasa bergetar karena
mereka bisa membayangkan kembali betapa nekad dan mengerikannya
sepak terjang orang-orang perguruan Tay ki bun.
Lewat lama kemudian Seng-toanio baru
bertanya:
"Menurut pendapatmu, apa yang harus kita
lakukan?"
"Himpun seluruh kekuatan yang ada dan basmi
perguruan Tay ki bun hingga ke akar-akarnya!"
"Tapi mereka ada di tempat gelap sementara
kita ada di tempat terang, masa kita lima keluarga besar harus
berkumpul menjadi satu setiap hari khusus untuk menanti kedatangan
mereka?"
"Bila kita lima keluarga besar selalu
berkumpul menjadi satu, tak mungkin mereka akan muncul."
"Itulah sebabnya cara semacam ini tidak bisa
digunakan."
"Kenapa begitu? Kalau mereka tidak datang
mencari kita, memangnya kita tidak bisa pergi mecari mereka?"
Ling It-hong tertawa dingin.
"Kalau bisa menemukan jejak mereka, sudah
kucari orang-orang itu sejak dua puluh tahun berselang, tak perlu
Suto-heng ingatkan lagi hari ini!"
"Hahaha," Suto Siau tertawa tergelak,
"mungkin dua puluh tahun berselang tak berhasil ditemukan, tapi
kalau kita cari hari ini pasti dapat dijumpai!"
"Maksudmu?" agak tergerak hati
Seng-toanio.
"Itulah sebabnya aku melaksanakan siasatku
dengan membebaskan mereka berdua," kata Suto Siau sambil tertawa,
"biarpun kedua orang anggota perguruan Tay ki bun itu kubebaskan,
namun secara diam-diam di bawah telapak kuda itu telah kupasang
sejenis obat yang mengeluarkan bau sangat tajam, kita semua memang
tak bisa mengendus bau itu, tapi bau itu tidak akan lolos dari
penciuman anjing. Asal kita lepaskan anjing pelacak untuk mengikuti
bau tajam yang ditinggalkan kedua ekor kuda itu, tidak lama kemudian
sarang mereka segera akan ditemukan, coba bayangkan, bukankah
siasatku ini jauh lebih jitu?"
"Hahaha, tidak nyana kau bisa memikirkan
siasat seperti itu," seru Seng-toanio kemudian sambil tertawa.
"Siasat ini memang hebat," Leng It-hong
menghela napas panjang, "tidak heran orang persilatan menyebut
saudara Suto sebagai jagoan yang berpikiran jeli, Siaute benar-benar
ketinggalan jauh."
Mendadak Seng-toanio menghentikan
tertawanya seraya membentak:
"Leng Cing-soat, keponakan Leng yang hebat,
sudah cukup kau menguping? Ayo cepat keluar!"
Dari balik penyekat ruangan terdengar
seseorang tertawa merdu, menyusul suara tertawa Leng Cing-soat
berjalan keluar dengan langkah lembut.
Begitu muncul, gadis itu segera menyapa:
"Paman Suto, baik-baikkah kau!"
"Hahaha, bagus sih bagus," sahut Suto Siau
sambil tertawa tergelak, "sayang telingaku kurang tajam hingga
kehadiranmu di balik penyekat ruangan pun tidak kuketahui."
"Kelihatannya Seng-toanio mesti minta maaf
kepadamu," sindir Seng-toanio lagi sambil tertawa dingin, "kalau
bukan gara-gara aku, sekarang kau tentu sudah menyampaikan berita
ini keluar."
"Bibi, apa maksud perkataanmu itu?" tegur
Leng Cing-soat dengan wajah berubah, "aku benar-benar tidak habis
mengerti kenapa kau selalu menyindirku, memangnya aku tidak boleh
berada dalam rumahku sendiri?"
"Soat-ji!" dengan wajah berubah Leng It-hong
menghardik.
Ling Cing-soat membalikkan tubuhnya,
bertatapan muka dengan ayahnya.
Ling It-hong segera menghela napas panjang,
nada suaranya yang semula kasar pun segera berubah menjadi lembut
dan halus, katanya lagi:
"Sekarang Cianpwe sekalian sedang berunding,
lebih baik pulanglah dulu ke kamarmu!"
"Lebih baik dia tetap berada di sini dulu!"
kembali Seng-toanio berseru sambil tertawa dingin.
"Jadi kau benar-benar beranggapan Soat-ji
akan menyampaikan kabar ini keluar?" paras muka Leng It-hong agak
berubah.
"Apa salahnya kita berjaga-jaga?"
"Kurangajar" seru Leng It-hong gusar,
"anggota benteng Han hong po tidak ada yang pagar makan tanaman!"
"Yang kukuatirkan pikiran dan perasaan-nya
sekarang sudah lebih condong pada keluarga lain....
Waktu itu Leng Cing-ping sudah berada
sepuluh li dari benteng Han hong po.
Meskipun sepanjang tahun dia hidup dalam
bangunan rumah yang tertutup, namun dalam hati kecilnya telah tumbuh
keinginan untuk berkelana dalam dunia persilatan. Setiap waktu dia
selalu melamunkan dirinya bisa berjalan menelusuri tanggul sungai
dengan pohon yangliu yang tumbuh di sepanjang jalan, bisa berkuda
melewati padang rumput yang luas didampingi seorang pemuda tampan di
sisinya.
Ketika semalam ia mendengar ada pemuda
bernyali berani menyusup masuk ke dalam benteng Han hong po yang
selama sepuluh tahun terakhir selalu tenang tanpa kejadian, timbul
perasaan ingin tahunya untuk mengintip siapa gerangan pemuda itu.
Di saat dia sedang mengintip pemuda yang
bernyali itu, di bawah rintik hujan dia saksikan sepasang mata
seorang pemuda berbaju hitam sedang mengawasinya.
Ketika sepasang mata mereka saling beradu,
gadis itupun sadar bahwa khayalannya selama ini segera akan berubah
menjadi kenyataan.
Karena sorot mata pemuda berbaju hitam yang
tajam dengan wajah yang tampan dan gerak-gerik yang gagah, justru
merupakan pemuda idaman yang selama ini diimpikan dan didambakan.
Thiat Tiong-tong sendiri pun tidak menyangka
kalau dalam remangnya hujan secara tiba-tiba akan berjumpa dengan
seorang gadis cantik, ketika menyaksikan sorot mata si nona yang
sayu macam orang kesemsem, segera timbul suatu perasaan aneh dalam
hatinya.
Tapi dia tidak melupakan keselamatan Im
Ceng, maka sambil mencengkeram pergelangan tangan gadis itu,
tegurnya:
"Siapa kau?"
Leng Cing-ping segera merasakan adanya
segulung hawa panas yang mengalir masuk ke lubuk hatinya melalui
pergelangan tangan itu, membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, dia
seakan lupa untuk melawan, malah jawabnya jujur:
"Aku bernama Leng Cing-ping!"
"Apa hubunganmu dengan Leng It-hong?"
"Dia adalah ayahku."
Maka dia pun dijadikan sandera oleh Thiat
Tiong-tong, walau begitu, gadis itu sama sekali tidak menaruh dendam
atau sakit hati terhadap pemuda itu.
Inilah pengalaman unik yang dialami
perasaannya, kejadian unik yang menimpa dirinya dan hanya gadis yang
sudah lama dipingit baru bisa merasakan keanehan dan keunikan itu.
Begitu mendengar rencana keji yang dilakukan
Suto Siau, dalam pikirannya hanya terlintas satu ingatan, bagaimana
caranya menyelamatkan nyawa pemuda yang diimpikan itu.
Maka tanpa berpikir panjang lagi dia pun
menyelinap keluar dari benteng Han hong po sambil menuntun dua ekor
anjing penjaga milik keluarganya.
Hujan yang turun mulai mereda, namun titik
air yang lembut bagai kabut masih menyelimuti angkasa, sambil
menuntun kedua ekor anjing, gadis itu mulai menelusuri jalan
perbukitan, dinginnya udara pagi, dinginnya air hujan membuat
tubuhnya yang lemah gemulai mulai gemetar keras.
Kedua ekor anjingnya mulai menggonggong,
seolah-olah telah mengendus suatu bau aneh dari tanah perbukitan
yang becek, maka mereka pun menelusuri jalan yang dilalui Thiat
Tiong-tong, bergerak maju ke depan.
Anjing yang garang dituntun seorang gadis
cantik yang lemah berjalan di tengah hujan rintik, perpaduan ini
membentuk sebuah gambaran yang aneh dan luar biasa.
Semakin ke depan tanah perbukitan itu makin
sepi dan terpencil, tampaknya mereka sudah jauh berada di tengah
bukit.
Akhirnya di antara pepohonan yang lebat
muncul bayangan atap rumah, sampai di situ gonggongan anjing itupun
makin ramai dan keras.
Lekas Leng Cing-ping melarang anjingnya
menyalak, dia sudah dapat menduga, bangunan rumah itu besar
kemungkinan adalah tempat persembunyian anggota perguruan Tay ki
bun.
Selesai mengikat anjingnya di dahan pohon,
dia mulai menyelinap masuk ke dalam bangunan rumah itu.
Bangunan itu didirikan persis di antara dua
bukit yang tinggi, bukan saja medannya berbahaya, bahkan tidak mudah
untuk mencapai tempat itu.
Sekalipun tujuan kedatangannya adalah untuk
memberi peringatan, namun sedikit banyak rasa waswas muncul dalam
hatinya, karena itu tanpa menggubris tanah berlumpur yang becek, dia
mulai merayap masuk dengan sangat hati-hati.
Di depan sana terlihat sebuah bangunan mirip
kuil yang terbengkalai, bangunan itu berdiri di atas tebing karang
yang curam, ketika terhembus angin, bangunan itu seakan-akan sedang
melayang di tengah udara.
Angin yang kencang ditambah hujan yang masih
turun, membuat gerak-geriknya lebih tersembunyi serta tak mudah
ketahuan orang.
Dipilihnya sebatang pohon yang paling tinggi
dan rimbun untuk menyembunyikan diri, dia menyelinap naik secara
diam-diam.
Ketika melongok ke bawah, maka terlihatlah
di halaman belakang bangunan kuil terdapat belasan ekor kuda
jempolan, suasana bangunan amat sepi, tali kelihatan sesosok
bayangan manusia pun, bahkan tidak terdengar suara manusia, termasuk
belasan ekor kuda itupun tak ada yang meringkik atau menimbulkan
suara berisik.
Dengan perasaan gelisah dia memutar otak,
akhirnya dari dalam saku diambilnya sebuah gendawa emas yang
panjangnya hanya satu kaki serta berapa butir peluru perak yang
kecil.
"Sreeet!", belasan butir peluru perak itu
segera dibidikkan ke depan, diiringi kilatan cahaya perak, semuanya
diarahkan ke rombongan kuda-kuda itu.
Busur emas peluru perak merupakan
permainannya di kala senggang, tak heran kalau dia sangat
menguasainya, dalam waktu singkat sepuluh butir peluru sudah
menghajar telak pantat kuda-kuda itu.
Seketika kuda-kuda itu kesakitan dan
meringkik panjang.
Terlihat beberapa sosok bayangan manusia
segera meluncur keluar dari ruang utama, gerakan tubuh mereka ringan
dan cepat, tapi setelah memeriksa beberapa saat sekeliling tempat
itu, tidak dijumpai sesosok bayangan manusia pun di sana.
Sambil mengertak gigi Leng Cing-ping
menyusup masuk ke dalam bangunan kuil itu, perasaan cinta yang
muncul dalam hatinya membangkitkan keberanian yang sudah lama
terpendam, membuat gadis yang lemah lembut ini punya keberanian
untuk menyusup masuk ke dalam sarang harimau.
Tak sempat lagi memperhatikan patung Buddha
yang telah tertutup debu serta ruang kuil yang setengah ambruk,
tubuhnya menyelinap masuk ke dalam ruang kedua, di sanalah dia
melihat seseorang, seorang lelaki berbaju hitam.
Sebuah meja sesaji yang kuno dan bobrok
dengan dua batang lilin merah yang tinggal setengah.
Di atas meja sesaji, di antara lilin menih
terbentang selembar panji besar berwarna ungu.
Di depan panji besar itu berlutut seorang
lelaki berbaju hitam, punggungnya lurus bagai sebatang pedang.
Potongan tubuh yang tegak lurus itu serasa
begitu dikenal dalam pandangan Leng Cing-ping, dia tak kuasa untuk
menahan diri lagi setelah dicekam perasaan gelisah bercampur ngeri
selama beberapa saat.
"He!" tegurnya.
Dengan cepat Thiat Tiong-tong membalikkan
tubuhnya, tapi paras mukanya segera berubah hijau membesi, mimpi pun
dia tak mengira dalam keadaan dan situasi seperti ini dia bertemu
kembali dengan putri benteng Han hong po di tempat itu.
Dia melompat bangun seperti hendak
mengucapkan sesuatu, tapi segera berlutut kembali.
"Cepat lari! Cepat kabur! Sedikit terlambat,
kau akan kehilangan nyawamu!"
Perasaan cinta yang mendasari perasaan nya
membuat Leng Cing-ping tanpa sadur mengungkap seluruh perasaan
kuatir dan perhatiannya yang besar, sebab kalau dia tak punya hati
kepada pemuda itu, mengapa menyuruhnya untuk kabur?
“Aku khusus datang untuk memberitahukan
kepadau, memberitahu sebuah berita yang sangat gawat, mereka...
sebentar lagi mereka akan tiba disini!"
"Mereka? Siapa mereka?"
"Ayahku ... masih ada lagi...."
"Masih ada siapa lagi?"
"Suto Siau, Seng-toanio...."
"Darimana mereka bisa tahu kalau kami berada
di sini?"
"Mereka menggunakan siasat yang dirancang
Suto Siau, mereka telah membubuhkan. .."
Mendadak terdengar suara bentakan keras
berkumandang datang:
"Tiong-tong, suara apa di dalam sana?"
Biarpun suara itu berasal dari tempat yang
jauh, namun terdengar jelas sekali.
Thiat Tiong-tong bergetar keras tubuhnya,
sementara Leng Cing-ping sudah bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Se ... semuanya ini kulakukan demi kau...
demi kau...."
Biarpun nadanya gemetar, namun dipenuhi
luapan perasaan cinta yang tanpa tedeng aling-aling.
Sorot mata Thiat Tiong-tong yang tajam
seketika berubah dari redup menjadi terang, tapi kemudian, dari
terang berubah menjadi redup kembali, dalam waktu yang amat singkat
berbagai gejolak perasaan berkecamuk di dalam benaknya.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun,
hanya matanya segera dialihkan ke meja sesaji.
Tanpa membuang waktu Leng Cing-ping segera
menyusup ke bawah meja dan bersembunyi di situ.
Baru selesai dia bersembunyi, baru saja
Thiat Tiong-tong membetulkan posisi taplak meja yang bergoyang,
segulung angin dingin telah berhembus masuk dari luar jendela, angin
yang dingin, dingin sekali.
Apa yang harus dilakukan sekarang? Apakah
dia harus mengorbankan diri demi Leng Cing-ping yang bersedia
mengorbankan segalanya demi dia? Lalu dengan cara apa dia harus
membalas budi kebaikan serta luapan perasaan-nya?
Belum habis dia berpikir, sesosok bayangan
manusia telah melayang masuk dari luar jendela.
Berkat latihannya yang tekun ditambah
kemampuannya yang luar biasa membuat Thiat Tiong-tong segera
berpaling.
Ternyata yang muncul di depan jendela adalah
pelaksana hukum perguruan Tay ki bun, Im Kiu-siau.
"Tiong-tong!" terdengar dia menegur, "aku
tahu dalam hatimu pasti terdapat banyak persoalan, bahkan merasa
tidak terima, tapi ketahuilah gerakan perguruan Tay ki bun terjun
kembali ke dalam dunia persilatan kali ini ibarat orang main judi,
berhasil atau tidaknya tergantung pada tindakan pertama yang mereka
dilakukan, oleh sebab itu Toasuheng selalu mengawasi setiap
gerak-gerik saudaranya secara ketat dan penuh disiplin, dalam hal
ini kau perlu memakluminya."
"Aku mengerti."
"Tapi perbuatanmu kelewat gegabah, Im Ceng
memang selalu berangasan dan ngawur dalam bertindak, dia tak sanggup
mengendalikan diri, tapi kau tak pernah ngawur, tingkah lakumu
selalu cermat dan seksama, kenapa kali ini justru meninggalkan
jejak?"
"Semuanya ini memang kesalahanku, aku pun
sangat mengerti," kata Thiat Tiong-tong tanpa membantah.
Tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan
keras berkumandang dari luar jendela, tahu-tahu Im Ceng sudah
menerobos masuk ke dalam.
"Seorang lelaki berani berbuat berani
bertanggung jawab, kau tak perlu mewakiliku mengaku kesalahan,"
serunya.
Sekalipun pakaiannya compang-camping tak
keruan, namun wajahnya masih memancarkan sinar keangkeran.
Im Kiu-siau kontan menarik muka, tegurnya:
"Apa yang kau teriakkan? Memangnya tiddak
bisa bicara dengan suara perlahan dan halus?"
Biarpun biasanya dia selalu bersikap lembut
dan ramah, tapi begitu menarik muka, mimik mukanya kelihatan angker,
serius dan penuh wibawa, membuat siapa pun tali berani bersikap
sembar angan.
Im Ceng pun menundukkan kepala semakin
rendah, nada suaranya juga bertambah lirih.
"Sebenarnya akulah yang memaksa dia untuk
balik dulu kemari...."
Seorang kakek berjenggot panjang berwajah
merah mendadak berjalan masuk ke dalam ruangan, jenggot dan
rambutnya basah oleh air hujan, tapi sepasang tangannya mengepal
kencang.
Sambil berdiri tegak di depan pintu,
ditatapnya Im Ceng dengan sorot mata tajam, kemudian tegurnya:
"Jadi kau yang memaksanya untuk langsung
balik kemari?"
"Benar!" sahut Im Ceng sambil berlutut.
"Siapa yang memberikan kuda itu kepadamu?
Siapa yang menolong kau? Masa persoalan inipun tidak kau ketahui?"
"Tidak tahu!"
Sekalipun dia tahu persoalan itu amat
serius, namun jawabannya tetap tegas dan tandas.
Im Gi maju lebih ke depan, sinar matanya
lebih tajam dari sambaran halilintar.
"Tahukah kau kalau orang lain sengaja
menolongmu karena mereka sedang menjalankan siasat busuk?" tegurnya.
Dengan kepala tertunduk Thiat Tiong-tong
segera menjawab:
"Samte masih muda, mungkin belum mampu
berpikir panjang, semua ini adalah kesalahanku, jangan salahkan
dia."
"Kau tidak usah membela aku," tukas Im Ceng
lagi dengan suara keras, "kenyataan akulah yang bersalah, aku tidak
ingin kau mewakiliku menerima hukuman, aku mengakui, kau memang
pernah membujukku agar jangan langsung balik ke sini...."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang kemungkinan besar ini siasat
musuh sengaja melepas untuk dikuntit jejaknya!"
"Kalau dia sudah berkata begitu, kenapa kau
masih memintanya untuk langsung balik? Apakah kau begitu
tergopoh-gopoh kabur dan menyelamatkan diri?"
"Aku tidak takut mati, aku hanya mendongkol
dengan dirinya!" Im Ceng segera mengangkat wajahnya.
Im Kiu-siau menghela napas panjang,
tukasnya:
"Apa benar ada orang telah meninggalkan bau
harum istimewa yang tak berwarna? Kenapa aku tidak bisa menebak
asal-usul kuda-kuda itu?"
"Asal-usul apa?" Im Gi tertawa dingin,
"semua ini tidak lebih hanya siasat busuk yang dirancang Suto Siau,
memangnya dia anggap bisa mengelabui aku?"
Leng Cing-ping yang bersembunyi di bawah
meja segera merasa tubuhnya gemetar keras.
"Sungguh lihai tokoh yang satu ini!"
pikirnya, dia semakin tak berani bergerak di bawah kolong langit,
bahkan bernapas pun tak berani keras keras.
Kalau toh dia sudah siap mengorbankan diri
demi cinta, tentu saja dia tak ingin pemuda pujaan hatinya itu
menderita gara-gara dia.
Sepasang tangannya segera menggenggam
bajunya kencang-kencang, dia katupkan giginya kuat-kuat, kuatir
beradunya gigi menimbulkan suara aneh yang mencurigakan.
Dalam pada itu kawanan anggota perguruan Tay
ki bun tampaknya sudah pulang, lelaki bertelanjang kaki muncul lebih
dulu, sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, teriaknya:
"Sudah kabur semua, bayangan pun tidak
nampak!"
Im Gi tertawa dingin, tiba-tiba dia
merentangkan telapak tangannya, di tengah telapak terlihat tiga
butir peluru perak yang memancarkan cahaya berkilauan.
"Darimana asal-usul peluru perak ini, apakah
kalian kenal?" tanyanya.
Sekali lagi Leng Cing-pingyang bersembunyi
di kolong meja terkesiap, tapi ia segera menghibur diri:
"Senjata rahasia itu adalah mainanku sejak
kecil, darimana mereka bisa mengenalinya?"
Terdengar Im Gi berkata lebih jauh:
"Kalau dibilang senjata rahasia ini adalah
senjata andalan seorang ahli Am gi, rasanya bobot peluru ini sedikit
agak berat, tapi kalau dilepas dengan busur rasanya kelewat enteng,
kelihatannya mirip dengan benda mainan perempuan keturunan jago
silat kenamaan, jika dugaan Lohu tak meleset, maka hal-hal lain yang
aneh pun tidak sulit untuk dijelaskan!"
"Hal-hal aneh apa?"
"Setelah Suto Siau berhasil mengetahui letak
markas perguruan Tay ki bun dengan siasat ini, dia pasti akan
mengumpulkan segenap kekuatan dari benteng Han hong po serta
peternakan Lok-jit berikut lima keluarga kenamaan melancarkan
serbuan besar-besaran dan membasmi kita hingga ke akar-akarnya, tapi
munculnya peluru perak ini jelas merupakan satu tindakan menggebuk
rumput mengejutkan ular, bukankah kejadian ini rada aneh?"
"Benar."
"Jika peluru perak ini berasal dari
perempuan, sudah pasti perempuan itu adalah salah satu di antara
kedua putri Leng It-hong yang khusus datang memberi kabar, dan
kejadian aneh inipun berarti sudah adajawabannya."
"Betul, betul, sudah pasti begitu!" lelaki
bertelanjang kaki itu segera berseru sambil melompat bangun,
"biasanya perhitungan Toako sangat tepat dan hebat, memang tiada
duanya di kolong langit!"
Leng Cing-ping yang bersembunyi di kolong
meja sudah mulai bermandikan keringat dingin.
Paras muka Thiat Tiong-tong ikut berubah
hebat.
Tiba-tiba Im Gi menatapnya tajam, dengan
suara serius tegurnya nyaring:
"Ketika semua orang pergi melacak musuh,
kenapa kau tidak ikut serta?"
"Tecu berdoa, Tecu bersalah, karena itu tak
berani sembarangan bergerak!"
"Selama berada di sini, apa yang telah kau
lihat?"
Thiat Tiong-tong gemetar keras, terlebih
Leng Cing-ping yang bersembunyi di kolong meja, peluh telah
membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.
Lama sekali Thiat Tiong-tong termenung, tak
sepatah kata pun yang mampu dia katakan.
"Cepat jawab!" bentak Im Gi lagi dengan alis
mata bekernyit.
Dalam keadaan begini Thiat Tiong-tong tidak
mungkin bisa menjawab, tapi dia pun tidak berani untuk tidak
menjawab.
"Biar aku saja yang menjawab!” mendadak
terdengar seseorang menyahut dari bawah kolong meja.
Dengan sekali tendangan Im Gi membalikkan
meja sembahyang, muncullah wajah Leng Cing-pingyang pucat-pias bagai
mayat.
Semua orang menjerit kaget.
"Kau adalah putri Leng It-hong?" bentak Im
Gi keras.
Leng Cing-ping tidak berani menjawab, dia
terbungkam dalam seribu bahasa.
Im Gi langsung turun tangan, sebuah pukulan
menghantam tubuh Thiat Tiong-tong hingga mencelat ke sudut ruangan,
disusul sebuah tendangan menohok ulu hatinya.
Thiat Tiong-tong tak berani melawan, dia
hanya memejamkan mata menanti datangnya kematian.
Wajah setiap orang berubah hebat, tapi tidak
seorang pun berani turun tangan untuk mencegah, hanya Leng Cing-ping
seorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Im Gi sambil memohon:
"Kalau ingin membunuh, bunuhlah aku, semua
kejadian ini tak ada sangkut-pautnya dengan dia!"
"Lepaskan tanganmu!" hardik Im Gi penuh
amarah.
Sekalipun telapak tangannya sudah di angkat,
namun pada akhirnya dia tak tega turun tangan terhadap seorang gadis
muda.
Dengan air mata bercucuran dan suara gemetar
kembali Leng Cing-ping berkata:
"Sejak mengambil keputusan akan datang
kemari, aku sudah bertekad tidak akan kembali dalam keadaan hidup,
tapi sebelum turun tangan, dengarkan dulu perkataanku hingga
selesai."
Meskipun sepasang tangannya masih memeluk
tubuh Im Gi, namun sorot matanya sudah dialihkan ke wajah Thiat
Tiong-tong.
"Tujuan kedatanganku kemari tak lebih hanya
ingin membujuk kalian agar segera pergi, aku tak punya niat atau
maksud lain. Aku pun tahu, perbuatanku ini pasti tak akan dimaafkan
ayahku, padahal kalian pun berniat akan membunuhku. Tindakanku ini
memang nampak sangat bodoh, tapi aku rela melakukannya, aku hanya
berharap kalian sudi mengingat maksud hatiku ini dan setelah
membunuhku nanti, jangan menyusahkan dialagi."
Perlahan-lahan Im Gi menurunkan kembali
telapak tangannya, tapi kembali tanyanya dengan keras:
"Sejak kapan kau kenal Thiat Tiong-tong?
Kenapa rela mati demi dirinya?"
"Ohh, jadi dia bernama Thiat Tiong-tong?"
Leng Cing-ping tertawa sedih, "sekarang aku baru tahu nama
sebenarnya, mengenai kenapa aku berbuat demikian, aku sendiri pun
tidak tahu."
"Bagaimana sikapnya kepadamu?"
Leng Cing-ping menghela napas sedih.
"Bagaimanapun dia akan bersikap kepadaku,
aku tidak peduli, asal dia bisa tetap hidup sehat, biar aku mesti
mati pun tak jadi soal."
Perlahan dia melepaskan tangannya dan
menyembah ke tanah.
Udara di luar ruangan masih terasa dingin,
tetesan air hujan di beranda rumah menimbulkan detak suara yang
memilukan.
Setiap orang merasa hatinya murung, berat,
masgul, tapi tak ada yang tahu apa yang mesti diperbuat.
Perlahan-lahan gadis berbaju hijau itu
memalingkan wajahnya ke arah lain, karena butiran air mata telah
membasahi pipinya.
Paras muka Im Gi pun nampak berat dan
serius, dia hanya berdiri mematung, sementara Im Kiu-siau malah
memejamkan mata.
Di tengah keheningan mendadak terdengar
lelaki bertelanjang kaki itu berseru keras:
"Benar-benar sumpek hatiku, Toako, apa yang
hendak kau lakukan terhadap gadis ini?"
Im Gi tidak menjawab, dia mengatupkan
bibirnya rapat-rapat, pandangan matanya dialihkan ke tempat
kejauhan, mengawasi langit yang mulai terang.
Kembali lelaki bertelanjang kaki itu
berseru:
"Aku si lelaki kaki telanjang tidak pernah
tahu apa artinya cinta, sampai setua inipun tidak ada yang mencintai
aku, Toako, lebih baik lepaskan saja dirinya!"
"Lepaskan dia?"
"Siapa yang merasa keberatan?" Belum habis
pertanyaan itu diajukan, Im Ceng sudah melompat bangun seraya
berteriak: "Aku keberatan!"
"Kau tidak usah ikut campur!" tukas Im
Kiu-siau sambil menarik muka.
"Bila kita bebaskan dia, bukankah kematian
Toako kelewat penasaran?" teriak Im Ceng sedih, "Toako saja tidak
sudi kalian bebaskan, kenapa dia mesti dibebaskan?"
Pemuda yang agresif dan mudah naik darah ini
hanya tahu memikirkan Toakonya, dia hanya tahu Toakonya sudah mati,
sementara urusan lain tak pernah dia masukkan ke dalam hati.
Lelaki bertelanjang kaki itu mengepal
tinjunya kuat-kuat, otot hijau pada keningnya ikut menonjol keluar.
"Kau bersaudara dengan Im Kian, memangnya
dengan Thiat Tiong-tong bukan saudara?"
"Dialah yang turun tangan membunuh Toakoku,
biar harus mati pun aku tak akan melepaskan dia!" jerit Im Ceng
keras.
Sementara itu paras muka Im Gi telah berubah
menjadi pucat kehijau-hijauan, tiba-tiba bentaknya:
"Thiat Tiong-tong, apa lagi yang hendak kau
katakan!"
"Tecu tidak ada perkataan lagi!"
"Tiong-tong mungkin tidak ada perkataan,
tapi Siaute ada beberapa patah kata yang harus disampaikan," sela Im
Kiu-siau dengan wajah serius: "apapun keputusan akhir yang bakal
dijatuhkan, meski semuanya tergantung keputusan Toako, tapi pada
saat dan keadaan seperti ini tidak seharusnya kita melakukan hal
yang kelewat batas."
"Kenapa?"
"Karena sekarang yang harus segera kita
putuskan adalah nasib selanjutnya perguruan Tay ki bun kita, tempat
ini sudah ditemukan musuh, tak lama kemudian jago-jago dari benteng
Han hong po maupun peternakan Lok-jit akan melancarkan serangan
secara besar-besaran, persoalannya sekarang, kita harus melawan
mereka habis-habisan atau sementara menghindari benturan ini, Toako
harus segera mengambil keputusan, sedikit terlambat mungkin keadaan
sudah tak sempat!"
Biar singkat namun perkataan itu sangat
berbobot, kontan saja paras muka semua orang berubah menjadi berat
dan serius, mereka sama-sama menunggu jawaban Im Gi.
Semua orang pun sadar, setiap ucapan yang
diutarakan Im Gi akan segera memutuskan nasib dari seluruh
anggota perguruan Tay ki bun.
Semangat lelaki bertelanjang kaki paling
berkobar, beberapa kali dia ingin meneriakkan kata "adu nyawa", tapi
selalu urung diutarakan, sebab dia sadar, perkataannya akan
menentukan mati hidup orang banyak.
Dicekam suasana serba serius dan tegang,
akhirnya Ciang bunjin mereka berkata:
"Ketika perguruan Thi hiat tay ki bun baru
muncul dalam dunia persilatan, Sucow pendiri partai bersama Thiat
locianpwe pernah berkelana dalam dunia persilatan tanpa tandingan,
waktu itu dimana panji sakti tiba, tak ada jagoan persilatan yang
berani membangkang."
Emosi mulai menyelimuti wajahnya, dengan
wajah sedih lanjutnya:
"Waktu itu benteng Han-hong-po, peternakan
Lok-jit, per kampungan keluarga Seng, perusahaan ekspedisi Thian-bu
Piaukiok serta ruang Pek-lek-tong merupakan orang-orang kepercayaan
per guruan Tay ki bun. Siapa tahu setelah Suco dan Thiat-locianpwe
meninggal dunia, kelima keluarga persilatan ini bersekongkol
merencanakan siasat busuk untuk membunuh Ciang bunjin angkatan kedua
perguruan kita beserta keenam belas orang Locianpwe lainnya, mereka
berharap perguruan Tay ki bun segera ambruk dan tak pernah bisa
bangkit kembali!"
Semakin berbicara dia semakin sedih
bercampur gusar, terusnya:
"Dalam empat puluh tahun terakhir, perguruan
Tay ki bun kita selalu didesak dan disudutkan kelima keluarga besar
itu hingga tak ada tempat untuk berpijak, selama empat puluh tahun,
permusuhan di antara kami makin lama semakin mendalam, dua kali aku
berangkat menuntut balas namun tidak pernah berhasil menggoyahkan
kelima keluarga besar itu, maka pada dua puluh tahun berselang
kuputuskan untuk menyingkir ke perbatasan dengan harapan ada
kesempatan untuk mendidik anak murid. Dan kini awan gelap telah
berlalu, keturunan keempat keluarga Im dan keluarga Thiat telah
tumbuh dewasa, kenyataan ini membuat aku girang, karena harapan
untuk membalas dendam telah muncul kembali!"
Tiba-tiba dia menepuk telapak tangan kiri
sendiri kuat-kuat:
"Siapa sangka begitu tiba di daratan
Tionggoan, Im Kian telah mengkhianati perguruan, Im Ceng serta
Tiong-tong pun membikin hatiku sedih, harapan yang kupupuk hampir
dua puluh tahun lamanya kini akan punah dan lewat bagai aliran air,
padahal usiaku semakin tua, sanggupkah aku menunggu selama dua puluh
tahun lagi?"
Semua orang menundukkan kepala, tidak ada
yang berani beradu pandang dengan sorot matanya yang penuh pancaran
dendam.
Terdengar Im Gi berkata lagi dengan lantang:
"Thiat Tiong-tong dan Im Ceng tidak tahu
arti persaudaraan, diam-diam membangkang perintah perguruan, untuk
kesalahan itu kalian diusir dari perguruan, sementara murid-murid
perguruan Tay ki bun yang lain tetap tinggal di sini, aku akan
mengadu nyawa dengan mereka!"
Semua orang terkesiap setelah mendengar
keputusan itu, paras muka Thiat Tiong-tong berubah hebat, sementara
Im Ceng segera memohon:
"Tecu bersedia mati di sini daripada diusir
keluar dari pintu perguruan!"
"Kau berani membangkang perintah guru?"
"Aku hanya berharap tetap tinggal di sini
dan mengadu jiwa melawan mereka!"
"Tutup mulut!" bentak Im Kiu-siau tiba-tiba.
Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh
menghadap ke arah Im Gi, kemudian katanya lagi:
"Toako, kau mesti berpikir tiga kali sebelum
mengambil keputusan, bila kita berbuat demikian, bukankah sama
seperti memenuhi pengharapan Suto Siau? Perguruan Tay ki bun kita
pasti akan hancur dan musnah dalam pertarungan kali ini. Toako,
begitu tegakah kau membiarkan perguruan yang didirikan leluhur kita
dengan susah payah akhirnya harus hancur berantakan begitu saja?"
"Perintah yang sudah kuucapkan tidak pernah
akan dicabut kembali!" tukas Im Gi dengan wajah hijau membesi.
"Sekalipun begitu, menurut aturan, Siaute
sebagai pelaksana hukum perguruan ini berhak untuk mengubah atau
memperbaiki perintah yang telah diturunkan Ciangbun-suheng"
"Apa maumu?"
"Sekalipun Im Ceng dan Thiat Tiong-tong
melakukan kesalahan, namun dosa mereka belum termasuk berat,
sepantasnya bila diusir dari perguruan selama tiga tahun, bila dalam
tiga tahun mendatang mereka tidak melakukan kejahatan bahkan berjasa
bagi perguruan, maka terbuka kesempatan bagi mereka untuk kembali ke
perguruan. Selain itu sudah sepantasnya bila seluruh kekuatan
perguruan Tay ki bun yang kita miliki sekarang mundur untuk
sementara ke perbatasan, menghindari bentrokan yang tidak berguna,
kita baru melakukan pembalasan dendam tiga tahun kemudian!"
"Tiga tahun kemudian?"
"Tiga tahun bukan terhitung waktu yang
kelewat panjang, tapi justru dapat memperpanjang usia perguruan
kita, Toako, masa kau tidak bisa menahan diri hanya untuk tiga tahun
saja?"
Untuk beberapa saat lamanya Im Gi cuma
berdiri mematung, akhirnya sambil menghentakkan kakinya dengan
gemas dia menyahut:
"Baiklah, aku turuti kemauanmu!"
Im Kiu-siau seketika merasakan semangatnya
berkobar kembali.
"Kalau memang begitu, biar untuk sementara
waktu Siaute mewakili Toako menyampaikan perintah!"
Setelah menarik napas panjang, serunya
dengan suara berat:
"Thiat Cing-su, siapkan kuda-kuda kita,
sekalian hukum mati kedua ekor kuda yang dibawa Thiat Tiong-tong!"
Pemuda kekar itu segera membusungkan dada
tanpa menyahut, dengan cepat dia beranjak pergi.
Kembali Im Kiu-siau berseru:
"Im Ting-ting, segera siapkan piauhok
(buntalan), sekalian siapkan ransum kering, bagi ke atas setiap
pelana kuda dan jangan lupa sertakan sekantung arak untuk melawan
hawa dingin."
Gadis berbaju hijau itu segera membesut air
matanya dan menyahut:
"Tecu terima perintah!"
Kepada lelaki bertelanjang kaki kembali Im
Kiu-siau berseru:
"Mohon Sute tetap menjaga kehormatan panji
sakti!"
Lelaki itu tertawa tergelak:
"Hahaha, Samko tidak usah kuatir, biar tubuh
harus remuk-redam, Siaute pasti akan melindungi panji sakti ini
hingga selamat tiba di tempat tujuan!"
"Bagus!" Im Kiu-siau ikut tertawa, "di saat
nanti panji sakti berkibar kembali di daratan Tionggoan, itulah saat
bagi kita bersaudara untuk melampiaskan semua dendam sakit hati."
"Samsiok (paman ketiga)" teriak Im Ceng
sambil melompat bangun, "aku memiliki darah panas yang bergolak,
memiliki sepasang lengan yang penuh bertenaga, setiap saat aku siap
melaksanakan perintah Samsiok."
Cepat Im Kiu-siau menarik wajah.
"Mulai sekarang kau sudah bukan anggota
perguruan kami lagi, jelas kami tidak akan memberi tugas apapun
kepadamu," katanya, "harapanku, dalam tiga tahun mendatang jangan
menyia-nyiakan harapan perguruan, berbuatlah yang benar selama ini
dan tiga tahun kemudian kau tetap adalah anak murid perguruan Tay ki
bun. Thiat Tiong-tong, apa yang barusan kukatakan kepadanya berlaku
juga untukmu, mengerti?"
Thiat Tiong-tong hanya menundukkan kepala
tanpa menjawab, sementara paras muka Im Ceng berubah hebat.
"Bagaimana dengan aku?" Leng Cing-ping yang
diam-diam sudah bangkit berdiri bertanya pelan.
Im Kiu-siau menghela napas panjang.
"Ciangbunjin telah mengampuni jiwamu, kau
boleh segera pulang ke rumahmu!" katanya.
"Pulang?" Leng Cing-ping tertawa pedih,
"masih mungkinkah bagiku untuk pulang ke rumah?"
Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh dan
menatap wajah Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, sampai lama kemudian
ia baru menghela napas panjang, bisiknya lirih:
"Semoga kau baik-baik menjaga diri."
Thiat Tiong-tong hanya tertunduk tanpa
bicara, melirik sekejap pun tidak berani.
Leng Cing-ping segera membesut air matanya
sambil tertawa paksa, selangkah demi selangkah dia berjalan
meninggalkan ruangan.
Hujan di luar gedung masih turun dengan
lebatnya, dia menengadah memandang sekejap cuaca yang buruk,
tiba-tiba sambil menutupi wajah dia berlarian meninggalkan tempat
itu, tak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah tertelan di balik
lebatnya air hujan.
Thiat Tiong-tong tidak berani mengangkat
kepala, tapi dalam hati kecilnya dia ikut berdoa:
"Kau pun harus baik-baik menjaga dirimu."
Seorang gadis muda yang terbiasa hidup
dipingit, kini harus berkelana dalam dunia persilatan tanpa sanak
tanpa tempat tinggal, hidup bergelandangan seorang diri, mungkinkah
masa depannya seperti air hujan yang sedang turun dengan derasnya di
luar gedung?
Tak tahan Im Kiu-siau menghela napas,
ujarnya:
"Thiat Tiong-tong! Dia yang telah
mencelakaimu, atau kau yang telah mencelakainya?"
Sementara lelaki bertelanjang kaki itu
menghentakkan kakinya dengan gemas sambil berteriak:
"Thian, kenapa kau selalu tak adil? Kenapa
gadis sebaik dan secantik dia harus dilahirkan sebagai putri Leng
It-hong?"
Dalam teriakan itu terdengar dua ringkikan
kuda yang panjang melengking berkumandang dari kejauhan sana.
"Tampaknya kedua ekor kuda itu telah
dihabisi nyawanya," gumam Im Kiu-siau.
Menyusul kemudian Im Ting-ting muncul dalam
ruangan sambil memberi laporan:
"Lapor Susiok, semua perbekalan telah siap!"
"Ayo berangkat!" Im Gi langsung membentak
nyaring.
Dia langsung melangkah keluar ruangan, sama
sekali tidak berpaling untuk menengok kearah putra kandung serta
murid kesayangannya, walau hanya sekejap.
Namun di balik hatinya yang paling dalam,
rasa sedih dan sakit tetap berkecamuk dalam benaknya.
Lelaki bertelanjang kaki pun segera mencabut
panji sakti dan ikut berjalan keluar dari ruangan.
"Anak-anak, berjuanglah yang benar, kita
bertemu tiga tahun mendatang!" serunya.
Di tengah hujan lebat, panji sakti berwarna
ungu itu berkibar kian kemari, seolah ingin membelah angin dan
hujan.
Im Ceng segera melangkah keluar siap
menyusul di belakang mereka, tapi Thiat Tiong-tong segera berseru:
"Samte, mau kemana kau?"
"Jangan mencampuri urusanku!"
Thiat Tiong-tong melompat sambil melesat ke
depan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari
busurnya, setelah menerobos jendela dan tiba di tengah halaman, Dia
menghadang jalan pergi Im Ceng.
"Mau apa kau?" bentak Im Ceng gusar.
"Tidak selang beberapa lama lagi musuh besar
kita segera akan menyusul kemari, maukah kau kita bersama-sama
menghadang usaha pengejaran mereka?"
"Baik!" jawab Im Ceng singkat.
Dengan kekuatan mereka berdua, jelas teramat
sulit bila ingin menghadang pengejaran yang dilakukan jago-jago
tangguh dari benteng Han hong po maupun Seng ke cung.
Sekalipun kedua orang pemuda ini mengerti,
namun mereka tidak peduli.
"Kenapa mereka belum juga datang?" tanya Im
Ceng kemudian, "kita mesti menunggu sampai kapan?"
Kemudian bisiknya lagi:
"Kau bersembunyi dulu di sini, biar aku yang
menyambut kedatangan mereka!"
"Kau akan menyambut mereka?" berubah wajah
Thiat Tiong-tong, "kalau kau maju menyambut mereka, sama artinya
mengantar kematianmu."
"Cepat atau lambat akhirnya toh sama saja
mati, malah lebih puas jika kita sambut kedatangan mereka!"
"Siapa bilang cepat atau lambat sama saja
bakal mati? Masa kau lupa, tiga tahun kemudian kita masih akan
kembali ke perguruan?"
Im Ceng tertawa dingin.
"Memangnya kau anggap dengan melakukan
penghadangan di tempat ini maka kita bakal selamat?" jengeknya.
"Kehadiran kita berdua di tempat ini hanya
bertujuan menghalangi usaha pengejaran yang mereka lakukan, berusaha
mengulur waktu dan bukan untuk mengantar nyawa di tempat ini! Nyawa
kita berdua masih harus dipertahankan lebih jauh, kita harus
melanjutkan hidup, melanjutkan perjuangan untuk melawan gabungan
lima keluarga besar, kenapa harus mati secara konyol?"
Im Ceng membalikkan tubuh, saling
berhadapan dengan rekannya.
Sorot mata mereka berdua pun saling bertemu,
yang satu sorot matanya memancarkan ketenangan serta kebulatan
tekadnya, sementara yang lain memancarkan luapan emosi serta
kehangatan perasaannya, tapi yang pasti mereka berdua telah
memperlihatkan semangat serta keberaniannya untuk menentang setiap
rintangan.
Akhirnya Im Ceng yang memecah keheningan
terlebih dulu, katanya dengan suara dalam:
"Kecuali mempertaruhkan nyawa untuk
menghadang pengejaran mereka, apa lagi yang bisa kita lakukan?"
"Sekalipun sekarang belum ditemukan, kita
tetap harus berusaha mencari cara lain," sahut Thiat Tiong-tong
singkat.
Ucapannya disampaikan dengan nada penuh
percaya diri. Rasa percaya diri yang begitu besar dan bulat membuat
setiap persoalan yang ada dalam pandangannya menjadi masalah yang
gampang, sesulit apapun persoalannya dia merasa yakin mampu
mengatasinya.
Dengan cepat dia sudah melesat menuju ke
ruang depan yang penuh dengan sarang laba-laba dan membuka pintu
kuil lebar-lebar, kemudian dia menyulut pula obor di empat penjuru,
membuat seluruh ruangan menjadi terang-benderang bermandikan cahaya.
Setelah itu dia padamkan cahaya lentera yang
menerangi ruang belakang, mengumpulkan beberapa kotak tembaga yang
tak berguna dan mengisinya penuh dengan batu, kemudian dengan seutas
tali, batu-batu dalam kotak itu digantungnya di atas jalan tembus,
baik yang menuju ke depan ruangan maupun ke belakang gedung.
Perguruan Tay ki bun sudah cukup lama
berdiam di tempat itu, tak heran berbagai peralatan masih berserakan
di situ.
"He, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Im
Ceng keheranan.
Thiat Tiong-tong sama sekali tidak bicara,
dari sakunya dia mencabut keluar sebilah pisau pendek, kemudian
sambil melompat ke sisi tiang penyangga ruangan dia mulai membacok
tiang-tiang itu hingga gumpil sebagian.
Selesai membuat retakan pada setiap tiang
penyangga, dia pun mengambil selembar kain tirai dan dirobeknya
menjadi beberapa lembar robekan kecil yang diikat satu dengan
lainnya menjadi seutas tali, setiap dua depa dalam ruangan dia
mengikat tali itu dengan beberapa butir batu besar, kemudian
tubuhnya melayang ke atas tiang penglari, lagi-lagi dia melepaskan
belasan buah genting dan disembunyikan di setiap sudut wuwungan
rumah yang gelap dan jauh dari pandangan orang.
Lama-kelamaan habis sudah kesabaran Im Ceng,
tidak tahan tegurnya:
"Eeei, memangnya kau hendak mengajak mereka
bermain petak umpet?"
"Benar!"
"Kita sedang menghadapi masalah serius yang
menyangkut mati hidup, masa kau masih ingin bergurau? Jika kau hanya
ingin bermain petak umpet, maaf kalau aku tak bisa menemani!"
"Samte, justru hari ini kita akan
menggunakan petak umpet untuk mempertahankan mati hidup kita."
"Bermainlah sendiri, aku ingin mengadu jiwa
dengan mereka," seru Im Ceng gusar.
Baru saja Thiat Tiong-tong menarik
tangannya, dari kejauhan sana sudah terdengar suara gonggongan
anjing.
Di tengah hembusan angin dan curah hujan,
gonggongan anjing itu hanya bergema sejenak untuk kemudian hening
kembali.
"Mereka sudah datang!" bisik Thiat
Tiong-tong sambil menarik Im Ceng menuju ke ruang belakang:
"Samte, apa yang hendak kita lakukan
sekarang menyangkut mati hidup kita semua, apapun yang kau pikirkan,
kumohon turutilah perkataanku kali ini saja."
"Baik, kali ini saja!" sahut Im Ceng sambil
mengertak gigi.
Angin dan hujan masih menyelimuti udara, di
balik cahaya api yang bergoyang terhembus angin, hawa membunuh
terasa mulai menyelimuti empat penjuru.
Di tengah keheningan yang mencekam,
terdengar suara ujung baju yang tersampuk angin bergema dari luar
kuil, menyusul kemudian muncul puluhan sosok bayangan hitam yang
misterius.
Gerakan tubuh mereka ringan dan cepat,
begitu tiba beberapa depa dari bangunan kuil, serentak mereka
menyebarkan diri dan bersembunyi di balik pepohonan.
Ling It-hong terlihat mengenakan baju ketat
berwarna ungu, kepalanya dibungkus dengan kertas minyak, sementara
Suto Siau mengikut di sampingnya, dia pun membungkus kepalanya
dengan kertas minyak.
"Seluruh bangunan utama kuil terang
benderang bermandikan cahaya, pintu gerbang pun dalam keadaan
terbuka, kelihatannya seperti tanpa penjagaan, saudara Ling, apa kau
tidak merasa kejadian ini rada aneh?" tanyanya.
Ling It-hong tidak menjawab, dia hanya
manggut-manggut.
Seng-toanio berdua dengan putranya berdiri
di belakang mereka berdua, selain itu hadir pula seorang lelaki
setengah umur yang menggembol sejenis senjata aneh di punggungnya.
"Pasti Leng Cing-ping si budak itu belum
berhasil menemukan tempat ini sehingga mereka belum mendapat kabar,"
kata Seng-toanio dingin.
Tampaknya lelaki setengah umur itu tidak
sependapat, segera bantahnya:
"Sekalipun keponakan Cing-ping tidak berada
di benteng Han hong po, bukan berarti dia sedang kemari untuk
menyampaikan kabar berita!"
Dengan perasaan berterima kasih Leng It-hong
melirik sekejap ke arahnya.
"Pek Seng-bu," terdengar Seng-toanio mulai
mengumpat:
"kau mengerti apa, Hek Seng-thian tidak ikut
hadir, mau apa kau datang kemari?"
Pek Seng-bu hanya tersenyum, tampaknya dia
segan untuk berdebat.
Sambil tertawa Suto Siau berkata pula:
"Saat ini saudara Hek masih berada ribuan li
jauhnya dari sini, mana mungkin sempat balik? Tapi aku rasa dengan
kekuatan kita sekarang pun sudah lebih dari cukup, yang dikuatirkan
justru di balik kuil itu sudah dipersiapkan jebakan."
"Mau ada jebakan atau tidak, kita tetap akan
menyerbu ke dalam!" potong Seng-toanio:
"Sekarang kita sudah tiba di sini,
memangnya mau pulang dengan tangan kosong?"
Tiba-tiba Pek Seng-bu menyela lagi:
"Andaikata perguruan Tay ki bun sudah
mendapat kisikan, sudah pasti mereka akan kabur dari sini, mustahil
dengan kekuatan yang mereka miliki berani beradu kekerasan melawan
kita, jangan-jangan mereka sedang menerapkan siasat benteng kosong
untuk menipu kita."
"Siasat benteng kosong?"
"Dengan sengaja memasang lentera untuk
menerangi seluruh sudut ruangan, mereka bertujuan untuk
membangkitkan rasa curiga dan ragu kita, bila kita ragu, maka tak
akan berani menyerbu ke dalam, padahal mungkin saja mereka sudah
kabur dan meninggalkan kuil kosong di situ."
Suto Siau termenung sejenak, kemudian
ujarnya:
"Meskipun ada kemungkinan ucapanmu benar,
tapi aku rasa kita tak boleh bertindak kelewat gegabah, lebih baik
tinggalkan dulu separuh kekuatan di sekitar kuil, kemudian baru
masuk ke situ."
Sambil tertawa dingin Seng-toanio menukas:
"Ling-laute, Pek-laute, Hau-ji, ayo kita
langsung menyerbu ke dalam, biar dia mengatur sendirian di luar
sana!"
Diiringi bentakan, tubuhnya sudah melesat ke
depan dan meluncur ke arah bangunan kuil itu bagai segulung asap.
Pendekar pedang berhati merah Seng Cun-hau
segera mengikut di belakang ibunya dengan ketat.
Ling It-hong saling bertukar pandang sekejap
dengan Pek Seng-bu, akhirnya mereka pun mengikut di belakangnya.
Suto Siau menghela napas panjang, ia segera
memberi tanda untuk mengumpulkan belasan sosok bayangan manusia
lainnya.
"Kalian masing-masing dengan membawa lima
orang pemanah bersembunyi di sekeliling bangunan kuil, kepung tempat
ini rapat-rapat, siapa pun yang hendak masuk keluar, bila tidak
mengatakan kata sandi 'Ngo-hok', bidik mereka sampai mampus!"
Seng-toanio sambil melintangkan tongkat
besinya di depan dada memimpin paling depan, dia merasa kemampuan
yang dimilikinya cukup untuk menghadapi lawan, karena itu tanpa
takut ia melangkah masuk ke dalam kuil dengan langkah lebar.
"Im Gi, cepat keluar terima kematianmu!"
teriaknya keras, suaranya tinggi melengking penuh disertai tenaga
dalam.
Di antara goyangan lidah api yang terhembus
angin, gaung suara pantulannya segera menyebar ke empat penjuru, hal
ini membuat suasana di sekitar sana bertambah seram dan menggidikkan
hati.
Biarpun Leng It-hong, Pek Seng-bu serta
Seng-toanio merupakan jago-jago persilatan yang sudah sering
menghadapi mara bahaya, tak urung bergidik juga hati mereka saat
itu.
Tanpa sadar mereka berempat memperlambat
langkah kakinya, Leng It-hong menyilangkan telapak tangannya
melindungi dada, Seng-toanio menggenggam toya besinya makin kencang,
sementara Seng Cun-hau telah melolos pedang andalannya.
Pek Seng-bu pun sudah mencabut senjata aneh
andalannya, ternyata senjata yang ia pergunakan adalah sebuah
senjata berbentuk telapak tangan dewa.
Senjata ini bentuknya aneh dan istimewa,
panjangnya empat kaki tujuh inci, pada ujungnya berbentuk sebuah
telapak tangan dengan ibu jari, jari manis dan jari kelingking yang
menekuk sementara jari telunjuk serta jari tengahnya menuding lurus
ke depan, bentuk semacam ini disebut Sian jin ci lok (dewa
menunjukkan jalan), tapi di dalam genggaman tangan itu terdapat
sebuah bola baja kecil, jelas bola kecil itu memiliki kegunaan
istimewa.
Setelah senjata di tangan, keberanian
keempat orang itu bertambah besar.
Tiba-tiba terdengar suara desingan angin
dari luar ruangan, rupanya Suto Siau telah menyusul masuk sembari
bertanya:
"Tidak ada penghuninya?"
Tak seorang pun di antara keempat orang itu
yang buka suara, sorot mata mereka dialihkan ke sekeliling tempat
itu sambil melakukan pencarian, sementara langkah kaki sama sekali
tidak berhenti.
"Biar aku yang berjalan di muka!" kata Leng
It-hong kemudian.
Tampaknya demi gengsi dan harga diri, dia
tak ingin berada di barisan paling belakang.
Setelah melewati ruang utama yang terang
benderang, tibalah mereka di halaman belakang, namun yang mereka
jumpai di situ hanya kegelapan yang mencekam serta suara hujan.
"Aaah, rupanya memang siasat benteng
kosong," seru Seng-toanio dengan wajah berubah:
"kelihatannya mereka sudah kabur!"
Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar
seseorang tertawa dingin, suara itu muncul dari balik kegelapan.
Menyusul kemudian.... "Traaang, traaaang,
traaang...!", diiringi suara getaran benda logam yang ramai,
beberapa kilauan cahaya emas telah beterbangan di udara.
"Mundur semua!" seseorang menghardik dari
balik kegelapan.
Ling It-hong dan Seng-toanio sekalian tidak
jelas berapa banyak musuh yang bersembunyi di balik kegelapan,
mereka pun tidak tahu senjata rahasia apa yang jatuh dari atas
ruangan, dalam terkejut bercampur ngerinya, serentak melompat mereka
mundur ke belakang.
Terlihat bayangan manusia berkelebat, kelima
orang itu sudah mundur semua dari ruang utama.
"Sialan!" umpat Seng-toanio penuh amarah,
"siapa bilang tidak ada orang di sini? Siapa bilang ini hanya siasat
benteng kosong? Pek Seng-bu, ini semua gara-gara ulahmu...."
Paras muka Pek Seng-bu berubah, belum lagi
bicara, sambil tertawa tergelak Suto Siau sudah berkata lebih dulu:
"Orang she Im, semua perbuatanmu itu
sia-sia, tak mungkin anggota perguruan Tay ki bun kalian bisa lolos
dengan selamat hari ini!"
Mendadak sebongkah batu besar meluncur
keluar dari halaman belakang dan... "Blaaam!", menghajar persis di
atas tiang penyangga ruang utama.
Waktu itu tiang penyangga memang sudah
dipotong sebagian hingga nyaris patah, begitu ditimpuk dengan batu
besar, maka tak ampun lagi tiang besar itu patah menjadi dua bagian.
Begitu sebuah tiang penyangga patah,
tiang-tiang yang lain pun tidak kuat menahan bangunan kuno itu, tak
ampun lagi seluruh bangunan kuil yang pada dasarnya sudah bobrok itu
ambruk ke tanah.
Sekali lagi semua orang berhamburan ke empat
penjuru lantaran terkesiap.
"Blaaaam!", kembali terjadi ledakan dahsyat,
berbareng dengan padamnya seluruh penerangan, bebatuan beterbangan
di angkasa dan pasir bercampur debu menyelimuti sekeliling tempat
itu, seluruh bangunan kuil itu roboh rata dengan tanah.
Di tengah kekalutan yang melanda tempat itu,
Thiat Tiong-tong yang sejak tadi bersembunyi di balik kegelapan
segera menarik tangan Im Ceng.
Mereka berdua segera menyelinap ke ujung
ruangan lain dan bersembunyi di sana.
Ketika kekalutan mulai mereda, terlihat
sesosok bayangan manusia dengan pedang berhunus melangkah masuk ke
tengah reruntuhan, sorot mata yang tajam tiada hentinya memeriksa
sekitar tempat itu.
Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan manusia
lagi melayang turun dari atas wuwungan rumah yang ambruk.
Orang yang membawa pedang itu langsung
membentak sambil melepaskan sebuah tusukan kilat.
"Ngo-hok!" buru-buru bayangan itu berseru.
"Ooh, rupanya paman Ling," orang itu segera
menarik kembali serangannya.
"Cun-hau, kelihatannya di belakang sana tak
ada jejak manusia, apakah kau menemukan sesuatu di tempat ini?"
Seng Cun-hau menggeleng.
Thiat Tiong-tong yang menguping dari tempat
persembunyiannya segera berpikir, "Ngo-hok? Apa itu Ngo-hok?
Jangan-jangan kode rahasia yang mereka gunakan untuk saling
berhubungan ?"
Dia segera menarik tali kain yang
mengelilingi bangunan rumah itu kuat-kuat, begitu ditarik, batu-batu
dalam kotak yang telah disiapkan pun serentak berhamburan ke udara.
Tali kain itu panjangnya dua puluhan depa,
setiap dua depa dipasang sekotak batu, ketika batu-batu itu serentak
berhamburan, maka serangan itu seolah-olah dilakukan oleh banyak
orang secara bersamaan dari sekeliling bangunan itu.
"Mereka ada di sini!" Leng It-hong segera
membentak nyaring.
Dengan sepasang tangan melindungi dada,
menggunakan gerakan It ho cong thian (bangau sakti menerjang
langit), tubuhnya yang kurus kering langsung melesat naik ke atas
wuwungan rumah.
Hampir pada saat yang bersamaan,
Seng-toanio, Suto Siau maupun Pek Seng-bu ikut melompat naik ke
wuwungan rumah, namun suasana di empat penjuru amat hening, tak
nampak sesosok bayangan manusia pun di situ.
Kembali Thiat Tiong-tong menggunakan
kesempatan itu menyelinap masuk ke ruang pertama, dengan gerakan
cepat dia mengambil korek api, kemudian menyulut benda-benda yang
mudah terbakar di sekitar sana.
"Ada kebakaran di bawah!"
Kelima orang itu kembali melompat turun ke
bawah, kemudian melunak ke dalam ruangan dimana sumber api berasal.
Tapi waktu itu Thiat Tiong-tong sudah
menyelinap keluar melalui jendela, sambil melompat pergi dia
mengambil setumpuk hancuran genting dan menggunakan segenap kekuatan
yang dimiliki ia menyampitkan benda-benda itu ke empat penjuru.
Tiba dalam ruangan, Leng It-hong sekalian
baru tahu kalau benda yang terbakar hanya kayu-kayu kering, kecuali
itu tak nampak benda lain lagi, tapi asap yang ditimbulkan amat
tebal dan dengan segera menyelimuti seluruh ruangan.
Ling It-hong yang masuk duluan kontan
terbatuk-batuk, tiba-tiba teriaknya dengan wajah berubah:
"Celaka, asap ini mengandung racun!"
Seng-toanio coba ikut mengendus, tapi segera
jengeknya sambil tertawa dingin:
"Racun apaan? Hanya bau tahi kuda yang
basah!"
Merah jengah Leng It-hong mendengar sindiran
itu, untunglah di saat itu dari arah sebelah timur terdengar lagi
suara gemersik ringan, kelihatannya ada ya heng jin (orang
berjalan malam) yang telah menginjak benda hingga menimbulkan suara
berisik.
Sembari membalikkan tubuh Seng-toanio pasang
telinga.
"Hanya suara pecahan genting yang terjatuh
ke tanah," bisik Leng It-hong.
Belum selesai bicara, dari arah selatan,
barat maupun utara terdengar lagi suara berisik.
Dengan mendongkol Seng-toanio melirik Leng
It-hong sekejap, serunya dingin:
"Aku tidak percaya kalau cuma pecahan
genting."
"Suara itu hanya satu kali dan tidak
mengumpul, bukan suara injakan kaki ya heng jin," sambung
Seng Cun-hau.
Mendengar itu Seng-toanio menjengek lagi,
umpatnya gusar:
"Aaah, kau tahu apa? Jangan sok berlagak di
hadapan Toanio!"
Biarpun yang dimaki anaknya, padahal jelas
kalau umpatan itu dialamatkan kepada Leng It-hong.
Suto Siau menghela napas panjang.
"Aaai, belum lagi jejak musuh ketahuan,
orang sendiri malah gontok-gontokan" katanya:
"lebih baik pulang saja, ketimbang mau
berburu belibis tak berhasil, mata sendiri malah terpagut paruhnya!"
Benar saja, Seng-toanio dan Leng It-hong tak
berani banyak bicara lagi, namun di hati kecil kedua belah pihak
sudah timbul perasaan tak suka yang makin mendalam.
Sementara itu Thiat Tiong-tong sudah cukup
lama bersembunyi di bawah wuwungan rumah yang roboh, baru saja ia
agak panik karena gagal memancing reaksi musuhnya, dari deretan
bangunan sebelah depan telah muncul bibit api kebakaran.
Dia tahu Im Ceng telah berhasil dengan
misinya, buru-buru dia menyelinap mundur ke belakang, lalu melompat
naik ke atas sebatang pohon besar, di tempat inilah dia berjanji
dengan Im Ceng untuk berkumpul.
Begitu kebakaran mulai berkobar, Seng-toanio
sekalian segera memburu ke tempat kejadian, lagi-lagi mereka gagal
berjumpa dengan seorang manusia pun.
Kegagalan demi kegagalan yang mereka alami
membuat Seng-toanio semakin tidak mampu mengendalikan emosinya,
teriaknya marah:
"Bajingan, kelihatannya mereka sudah kabur!"
"Mana mungkin mereka bisa kabur?' sahut Suto
Siau:
"sejak tadi kita berada dalam bangunan ini,
sementara sekeliling kuil dijaga ketat orang-orang kita, sekalipun
mau kabur pun seharusnya mereka meninggalkan jejak yang bisa
terlacak."
Kembali kelima orang itu melakukan
penggeledahan secara besar-besaran, namun hasilnya tetap nihil.
Akhirnya Pek Seng-bu mengusulkan:
"Bila ingin memancing anak murid perguruan
Tay ki bun keluar dari tempat persembunyiannya, mungkin hanya ada
satu cara saja yang bisa dilakukan."
"Cara apa itu?" tanya Seng-toanio.
"Tahukah kau, apa yang paling ditakuti
orang-orang perguruan Tay ki bun?"
"Apa?"
"Yang paling ditakuti orang perguruan Tay ki
bun adalah umpatan yang membangkitkan amarah mereka, asal kita semua
mencaci-maki dengan kata-kata sinis, dapat dipastikan mereka tak
akan sanggup menahan diri."
"Bagus, ide yang jitu," seru Seng-toanio
kegirangan:
"Hau-ji, cepat mewakili ibumu mencaci-maki
orang-orang itu!"
Seng Cun-hau berdehem beberapa kali,
kemudian baru berteriak lantang:
"He, anak murid perguruan Tay ki bun,
dengarkan baik-baik, jangan main sembunyi terus di tempat kegelapan,
cepat keluar untuk menerima kematian!"
"Kau anggap ucapanmu itu umpatan? Ayo,
caci-maki mereka dengan kata yang lebih kasar!"
"Tapi aku tidak biasa memaki orang!"
"Goblok!" umpat Seng-toanio.
Dia mencoba menengok kiri kanan, ternyata
tidak seorang pun di antara rekannya yang mulai memaki.
Sebagaimana diketahui, kawanan jago yang
hadir di arena sekarang adalah umat persilatan yang mempunyai nama
dan kedudukan dalam dunia Kangouw, tentu saja mereka enggan untuk
sembarangan memaki orang.
"Aaah, kalian laki-laki memang orang dungu
semua," seru Seng-toanio marah-marah:
"masa mencaci-maki orang pun tidak mampu,
memangnya harus menyuruh aku si orang wanita yang melakukannya?"
"Bukankah Seng-toaci pandai bersilat lidah?"
sela Leng It-hong dingin, "selama ini Siaute sangat kagum dengan
ketajaman mulutmu, tolong Seng-toaci saja yang membantu
kami melakukan tugas ini!"
"Maki ya maki, memangnya aku takut?" seru
Seng-toanio sambil menghentakkan toyanya ke tanah, kemudian dengan
suara keras serunya, "telur busuk she Im, cucu kura-kura, kenapa kau
masih menyembunyikan kepala busukmu dalam liang tahi? Cepat
menggelinding keluar! Memang-nya kau takut bertemu Toanio?"
Begitu Seng-toanio mulai mengumpat, Thiat
Tiong-tong yang bersembunyi di atas pohon ikut cemas, dia sangat
memahami watak im Ceng yang berangasan dan gampang naik darah, dia
takut dia tak mampu menahan diri setelah mendengar caci-maki itu dan
menampilkan diri.
Sementara itu umpatan Seng-toanio makin lama
makin galak dan tidak enak didengar, sekalipun Im Ceng belum sampai
menampilkan diri, namun pemuda itupun belum kembali ke tempat
pertemuan mereka, hal ini membuat Thiat Tiong-tong semakin cemas.
Kelihatannya Seng Cun-hau pun tidak tahan
mendengar caci-maki yang dilakukan ibunya, merah padam wajahnya
lantaran malu.
"Ibu, sudahlah, kalau tidak berhasil memaksa
mereka keluar, kita sudahi saja umpatan itu!" bujuknya.
"Apa kau bilang?"
Suto Siau memutar sepasang biji matanya,
mendadak ia tertawa tergelak sambil berseru pula: "Hahaha, ternyata
anggota perguruan Tay ki bun hanya mampu menghukum mati putra
sendiri dengan ditarik lima ekor kuda, sementara urusan yang lain
sama sekali tidak becus, benar-benar memalukan!"
Begitu mendengar umpatan ini, Thiat
Tiong-tong yang berada di atas pohon segera berpekik
dalam hati, "Celaka!"
Betul saja, dari balik reruntuhan bangunan
segera terdengar suara bentakan gusar disusul bebatuan yang
beterbangan di udara.
"Hahaha, kali ini ada juga yang muncul!"
seru Suto Siau lagi sambil tertawa.
"Tahu begini, kenapa tidak memaki sejak
tadi?" seru Seng-toanio gusar.
Sembari berbicara, kelima orang itu segera
menyusup ke tempat asal suara bentakan itu.
Sesosok bayangan manusia melambung ke udara
dari balik kegelapan.
"Serang!" bentak Seng-toanio, tangannya
diayun, segulung cahaya perak berhamburan di udara.
Bayangan manusia itu tidak lain adalah Im
Ceng, sedari tadi dia memang sudah memendam amarah, kini hawa
amarahnya sudah tak terbendung lagi, matanya merah, pikirannya
kalut, dalam keadaan begini dia tidak peduli lagi dengan mati
hidupnya.
Ketika cahaya perak berhamburan, lagi-lagi
dia mengayunkan tangannya menyambitkan segenggam pecahan genting.
Ternyata senjata rahasia yang paling bodoh, paling bersahaja itu
merupakan tandingan yang paling pas untuk merontokkan jarum gadis
langit yang paling beracun dan paling menakutkan itu.
"Trring, tringg...!", di tengah dentingan
nyaring, jarum gadis langit itu sudah berguguran ke tanah.
Sambitan genting itu dilancarkan dalam
keadaan marah besar, tidak heran tenaga serangan yang disertakan pun
luar biasa dahsyatnya.
Waktu itu Suto Siau sedang melayang turun ke
bawah, buru-buru teriaknya:
"Jangan gubris aku, cepat lakukan
pengejaran!"
Di tengah bentakan itu, sekali lagi Im Ceng
sudah melambung ke tengah udara dan melesat ke depan.
Buru-buru Suto Siau menarik ke belakang
tubuhnya, lalu mundur sejauh tiga kaki.
Im Ceng menjejakkan kakinya ke tanah,
bagaikan sebuah bayangan dia menempel terus di belakang tubuh
lawannya, serangan berantai dilontarkan, tangan kiri menghantam dada
sementara tangan kanan membacok bahu lawan, di tengah berkelebatnya
bayangan tangan, ia sudah menerkam musuhnya bagaikan seekor harimau
kelaparan.
Suto Siau tak berani menyambut serangan itu,
kembali dia mundur sejauh tujuh langkah dengan menggunakan gerakan
tujuh bintang.
Ketika ketiga serangannya mengenai tempat
kosong, Im Ceng merangsek lebih ke depan, tapi kali ini pukulannya
sudah tidak sedahsyat dan sekosen sebelumnya.
Suto Siau tertawa keras, dengan tangan kiri
kanan dia melancarkan serangan balasan.
Orang ini banyak akal, licik dan sangat
berpengalaman, taktik yang dia gunakan tadi tidak lain adalah siasat
pemburu menangkap harimau, menguras habis dulu kekuatan lawannya,
kemudian baru turun tangan untuk membekuk.
Dalam waktu singkat bayangan tangan dan deru
angin pukulan bercampur-aduk, dua orang itu terlibat dalam
pertempuran sengit.
Seng-toanio berdua serta Leng It-hong tidak
tinggal diam, mereka melanjutkan penggeledahan di seputar tempat
itu.
Pek Seng-bu yang bergelar Sam jiu hiap
(pendekar bertangan tiga) hanya berdiri di sisi arena sambil
menonton jalannya pertempuran, tampak Suto Siau meskipun berhasil
menguasai keadaan, namun dua puluh gebrakan kemudian ia masih belum
mampu berada di atas angin.
Im Ceng ibarat harimau yang tumbuh sayap,
tenaga simpanannya sukar diduga, setiap pukulan setiap tendangan
yang dilancarkan selalu disertai deru angin serangan yang dahsyat,
bahkan semakin bertarung ia kelihatan semakin perkasa.
Suto Siau mencecar terus tiada hentinya,
sekalipun dalam hati kecilnya agak terkejut juga oleh kehebatan
kungfu anak muda itu, namun dia sama sekali tidak terburu napsu,
jurus demi jurus serangan dilancarkan secara teratur dan selalu
meninggalkan beberapa bagian kekuatan untuk menjaga diri.
Thiat Tiong-tong yang berada di kejauhan
tidak sempat mengikuti jalannya pertarungan secarajelas.
"Bagaimana pun hebatnya kungfu yang dimiliki
Samte, mustahil dia mampu menandingi semua jago tangguh itu," ketika
pikiran itu melintas dalam benaknya, hampir saja dia melompat keluar
dari tempat persembunyian untuk memberi pertolongan.
Tapi niat itu segera diurungkan, pikirnya
lagi, "kalau aku tampil, paling hanya mengantar kematian dengan
percuma, lebih baik mencari cara lain untuk mengatasi kejadian ini."
Sayangnya, walaupun dia sudah memeras
seluruh pikirannya, belum juga ditemukan cara yang sempurna untuk
menghadapi situasi itu.
Kobaran api yang membakar bangunan kuil itu
makin lama makin bertambah besar, sekarang ia dapat melihat kalau Im
Ceng sedang dikerubut dua orangjago tangguh.
Rupanya si pendekar bertangan tiga Pek
Seng-bu habis kesabarannya ketika melihat Suto Siau belum juga mampu
merobohkan musuhnya, maka ia terjun pula ke arena pertarungan dan
melakukan pengerucutan.
Ternyata bukan cuma bentuk senjatanya yang
aneh, jurus serangan yang digunakan pun sangat aneh dan menakutkan,
bola besi yang berada dalam genggamannya mengeluarkan suara
keleningan nyaring yang memekakkan telinga.
Mendadak Suto Siau memperlambat serangannya
dan bertanya sambil tertawa:
"Saudara Pek, jadi kau sangka Siaute tidak
sanggup mengalahkan dia?"
"Bukan begitu," jawab Pek Seng-bu cepat:
"Siaute hanya ingin secepatnya
menyelesaikan pertarungan ini."
Sambil menyahut, senjata Sian jin ciangnya
dengan membawa suara deru angin tajam dan keleningan merdu
melepaskan tujuh jurus serangan berantai.
Im Ceng mengertak gigi sambil melakukan
perlawanan, peluh sudah membasahi jidatnya, tapi dia tak mau
mengalah, jurus serangan adu jiwa dilancarkan berulang kali,
tampaknya saat ini dia sudah tidak memikirkan keselamatan diri
sendiri.
Dari kejauhan terdengar Seng-toanio sedang
berseru,:
"Aneh, tidak nampak jejak musuh di empat
penjuru, masa perguruan Tay ki bun hanya tinggal tersisa seorang
anak jadah ini?"
"Siauya seorang pun sudah lebih dari cukup
untuk mengadu jiwa dengan kalian, buat apa orang banyak?" sahut Im
Ceng gusar.
Dengan menghimpun segenap tenaganya dia
melepaskan serangkaian serangan maut ke tubuh Suto Siau.
Kini dia sudah tidak mempedulikan keberadaan
senjata Sian-jin-ciang milik Pek Seng-bu lagi, dia hanya bertekad
untuk menghabisi nyawa seorang, paling tidak dia ingin mencari
seorang teman bila harus berangkat ke alam baka nanti.
Dengan gesit Suto Siau menghindar ke sana
kemari, ejeknya lagi sambil tertawa:
"Perlawanan hewan yang terjebak ternyata
hanya begitu saja!"
"Kena!" mendadak Pek Seng-bu membentak
nyaring.
Dimana cahaya tajam menyambar lewat, sebuah
luka memanjang muncul di bahu Im Ceng.
Thiat Tiong-tong yang berada di atas pohon
tahu kalau Im Ceng sudah terluka, semakin hatinya gelisah, semakin
kalut pikirannya, dia semakin tak mampu menemukan cara terbaik untuk
melakukan pertolongan.
Saat itu seluruh tubuh Im Ceng sudah
bermandikan darah, tapi serangan yang dilancarkan justru makin
ganas dan nekat, sepak terjangnya makin garang, sama sekali tidak
terbesit rasa takut barang sedikitpun.
"Dasar kepala batu!" umpat Suto Siau sambil
tertawa dingin, "masakah perguruan Tay ki bun yang begitu besar
tinggal seorang cecunguk macam kau yang siap mampus di sini? Kemana
larinya yang lain?"
"Hmm, yang lain sudah pada pergi, bangsat,
tunggu saja tanggal mainnya, nantikan pembalasan dendam dari
perguruan Tay ki bun!"
Jeritan itu sangat keras dan melengking,
membuat semua orang merasa bergidik.
Ketika teriakan keras itu menggema dalam
telinga Thiat Tiong-tong, dia pun segera mengambil satu keputusan.
Dengan cepat dia mematahkan beberapa ranting
pohon yang dirangkai menjadi satu, kemudian melepaskan jubah luarnya
dan dikenakan pada rangkaian kayu ranting tadi, kemudian dengan
sepenuh tenaga dia lemparkan orang-orangan itu keluar sambil
diiringi suara pekikan nyaring.
Sementara dia sendiri segera menyelinap
turun dari atas pohon dan menyusup ke balik ruangan yang sedang
terbakar.
Ranting yang dikerudungi jubah luar itu
mirip sekali dengan bayangan manusia ketika terlempar dari atas
wuwungan rumah, orang-orang itu segera terpental dan mencelat lagi
sejauh beberapa kaki.
Di bawah remangnya cahaya api, bayangan itu
nampak seperti seorang ya heng jin yang sedang menyelinap di
balik kegelapan.
"Mau kabur kemana kau!" bentak Seng-toanio
sambil meng hentakkan tongkatnya dan meluncur ke depan bagaikan
seekor burung rajawali.
Buru-buru Seng Cun-hau mengikut di belakang
ibunya.
Suto Siau segera berseru:
"Saudara Pek, cepat kejar musuh-musuh yang
lain, bocah ini sudah terluka parah, Siaute masih sanggup
menghadapinya!"
Tanpa banyak bicara Pek Seng-bu segera
melompat ke depan dan meluncur ke arah wuwungan rumah.
Kembali Suto Siau melepaskan satu pukulan,
waktu itu Im Ceng sudah kehabisan tenaga, dia tidak sanggup lagi
membendung datangnya ancaman.
"Cepat katakan kemana larinya rekan-rekanmu
yang lain, asal kau bersedia menjawab, kuampuni nyawamu!"
Kelihatannya dia memang berniat lain,
menggunakan kesempatan di saat semua orang melakukan pengejaran, dia
ingin mencari tahu dulu ke arah mana kaburnya kawanan jago perguruan
Tay ki bun, setelah itu dia akan menggunakan keberhasilannya itu
untuk menanamkan pengaruhnya di hadapan Seng-toanio serta Leng
It-hong.
Siapa tahu justru apa yang dia lakukan
sesuai dengan kehendak hati Thiat Tiong-tong.
Mendadak terlihat segulung kobaran api
menyambar tiba, api yang membara itu sebesar meja, buru-buru Suto
Siau menghindar ke samping.
Siapa tahu gumpalan api itu seakan benda
hidup, tiba-tiba berganti arah dan meluncur lagi memapak tubuhnya.
Suto Siau menjerit kaget, sekalipun dia
sempat menghindar, tidak urung tubuhnya sempat terjilat api juga.
Tergopoh-gopoh Suto Siau menjatuhkan diri
berguling di atas tanah.
Saat itulah mendadak dari balik kobaran api
muncul sesosok bayangan manusia, begitu membopong tubuh Im Ceng, dia
melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
Menanti Suto Siau berhasil memadamkan api
yang berkobar di tubuhnya, bayangan tubuh Im Ceng sudah lenyap tidak
berbekas, kini yang tertinggal hanya gumpalan api yang sedang
terbakar, ternyata memang sebuah meja.
Rupanya ketika Thiat Tiong-tong menyelinap
ke dalam ruangan tadi, dia segera menemukan sebuah meja yang sedang
terbakar, maka dengan cepat dia sambar meja itu dan dilemparkan ke
arah Suto Siau.
Menanti Suto Siau berkelit untuk memadamkan
api yang membakar tubuhnya, dia pun segera membuang meja itu,
menyambar tubuh Im Ceng dan kabur keluar dari kuil.
Baru muncul di halaman luar, di antara
berkelebatnya cahaya terlihat bayangan manusia bermunculan di
seputar tempat itu sambil menarik busur masing-masing.
Terdengar seseorang menghardik:
"Siapa di situ?"
Tanpa berpikir panjang, Thiat Tiong-tong
menjawab:
"Orang sendiri, Ngo-hok!"
Bayangan manusia yang berada di balik tempat
persembunyian kelihatan agak tertegun, belum sempat ingatan kedua
melintas, Thiat Tiong-tong sudah menyelinap melalui sisi tubuh
mereka dan kabur dari kepungan.
Sementara itu Thiat Tiong-tong bermandikan
peluh dingin, dia tidak menyangka kalau kata sandi itu telah
menyelamatkan jiwa mereka berdua.
Ketika menengok ke arah Im Ceng, dia lihat
paras muka pemuda itu pucat bagai mayat, meski masih melotot, namun
biji matanya sama sekali tidak bergoyang.
"Samte!" bisik Thiat Tiong-tong kaget.
Tiada jawaban dari Im Ceng.
Rupanya dia sudah menggunakan tenaga kelewat
batas, ditambah kehilangan banyak darah, maka kini berada dalam
keadaan tidak sadar.
Sambil berkerut kening Thiat Tiong-tong
melanjutkan larinya menelusuri tanah perbukitan, entah sudah berapa
lama dia berjalan, sampai tubuhnya terasa penat, akhirnya dia
berhenti.
Akhirnya sembari mengatur napasnya yang
tersengal, dia mencari sebuah gua di sekitar tempat itu dan
membaringkan Im Ceng di sana.
Sementara dia sendiri merasakan mulutnya
kering dan seluruh tubuhnya sakit, beberapa bagian bajunya terbakar
hangus, telapak tangannya mengelupas, luka bakar di sana sini
menimbulkan rasa sakit yang merasuk tulang.
Dia tidak berani mencari air minum, juga
tidak sempat menggubris luka bakar di tubuhnya, sambil membopong
tubuh Im Ceng, dirobeknya ujung baju dan mulai menyeka keringat
serta darah yang membasahi tubuh rekannya itu.
Luka memanjang yang diderita Im Ceng pada
punggungnya cukup dalam, luka itu membujur bahu hingga ke punggung,
begitu dalam lukanya hingga nyaris kelihatan tulangnya yang berwarna
putih.
Sementara luka yang lain meski lebih cetek,
namun posisinya berada di atas lambung sampai ulu hati, keadaannya
jauh lebih gawat.
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghembuskan
napas dingin, dia cukup tahu betapa seriusnya luka itu dan bila
tidak segera diobati, bisa jadi nyawa Im Ceng melayang.
Tapi saat itu bukan saja dia tidak punya
obat luka, air untuk membersihkan mulut luka pun tak ada, kecuali
dia punya sayap dan terbang keluar dari tanah perbukitan itu,
mungkin yang bisa dia lakukan hanya menunggu saat ajal Im Ceng.
Setelah berpikir sesaat, akhirnya sambil
mengertak gigi dia membopong lagi tubuh Im Ceng dan melanjutkan
perjalanannya menuju ke depan.
Angin musim gugur berhembus lewat
menggoyangkan ilalang, suasana di tanah perbukitan itu terasa sendu
dan menyeramkan.
Thiat Tiong-tong betul-betul kehabisan
tenaga, dia merasa kekuatan tubuhnya semakin melemah, namun
semangatnya masih berkobar, tekadnya masih besar, pikirnya, "Ketika
mereka menyaksikan aku kabur dari situ, langkah apa yang selanjutnya
akan mereka lakukan?"
Waktu itu Suto Siau merasa terkejut
bercampur murung setelah kehilangan jejak Im Ceng.
Ketika dia masih termangu, tampak sesosok
bayangan manusia melayang turun di hadapannya sembari berkata
dingin:
"Empat penjuru tak nampak jejak musuh,
untung saja masih ada seorang keturunan keluarga Im yang berhasil
dibekuk Suto Siau!"
Orang itu tidak lain adalah Leng It-hong,
rupanya dia sudah tahu kalau Thiat Tiong-tong telah membawa kabur Im
Ceng, tapi sengaja tidak bergerak dari tempat persembunyiannya,
dalam hati dia tertawa dingin tiada hentinya:
"Suto Siau wahai Suto Siau, kau selalu
berlagak sok hebat dan ingin pamer kepintaran, kali ini akan kulihat
apa lagi yang bisa kau katakan?"
Orang ini memang picik dan sempit
pikirannya, ketika menyaksikan Suto Siau selalu tampil sambil unjuk
kebolehannya, meski di mulut tak berkata apa-apa, namun dalam hati
merasa mendongkol bercampur gusar.
Dia tahu orang itu menganggap tidak mungkin
ada musuh yang mampu kabur dari kepungan, karena ketatnya kawanan
jago yang mengepung tempat itu, maka dia ingin menggunakan kejadian
ini untuk mempermalukan Suto Siau, agar nama baiknya tercoreng di
depan orang banyak.
Oleh sebab itu sambil berlagak tidak tahu
kejadian yang sebenarnya, dia sengaja mengucapkan perkataan tadi.
Betul saja, Suto Siau kontan terbungkam
dalam seribu bahasa.
Kembali Leng It-hong berlagak pilon,
teriaknya kaget:
"He, kemana larinya bocah itu?"
"Sudah kabur!"
"Aaah, masa seorang bocah kemarin sore juga
mampu kabur dari cengkeraman Suto Siau?"
"Beruntung di sekeliling tempat ini dijaga
oleh kawanan jago dari benteng Han hong po, toh mustahil dia bisa
kabur dari tempat ini!"
Berubah paras muka Leng It-hong, belum
sempat dia berbicara, tampak dua orang lelaki berpakaian ketat telah
berlari masuk ke dalam kuil sambil melapor:
"Barusan ada dua orang pemuda melarikan diri
dari sini, entah siapakah mereka?"
"Memangnya kalian semua orang mampus?" umpat
Suto Siau gusar, "kenapa kalian bebaskan mereka? Masa tidak tahu
kalau mereka adalah anak murid perguruan Tay ki bun?"
Lelaki itu nampak terkejut, tapi segera
katanya:
"Mereka dapat mengucapkan kata sandi, hamba
tak berani menghalangi."
Dengan gemas Suto Siau menghentakkan kakinya
ke tanah, bentaknya kemudian:
"Kejar!"
Sambil tertawa dingin Leng It-hong
menyindir:
"Kelihatannya kata sandi Ngo-hok dari
saudara Suto memang hebat, tapi aneh, kenapa murid perguruan Tay ki
bun bisa tahu?"
Hijau membesi paras muka Suto Siau.
Dalam pada itu Seng-toanio sekalian telah
balik dengan tangan hampa.
Pek Seng-bu pun berkata:
"Asal kita mengetahui arah yang mereka tuju
sewaktu melarikan diri, rasanya sebelum fajar esok, orang-orang itu
sudah bisa kita tangkap kembali!"
"Sudah dikepung begini banyak orang pun
mereka mampu melarikan diri, apa mungkin kita bisa menyusul mereka?"
sindir Seng-toanio.
"Belum tentu, orang she Im sudah terkena dua
kali seranganku, belum tentu jiwanya bisa diselamatkan, rekannya
pasti sedang bingung untuk merawat dan mengobati lukanya, bisa jadi
mereka masih berada di seputar bukit ini untuk beristirahat."
"Kalau mereka menggembol obat?"
"Sekalipun punya obat, paling tidak juga
butuh air bersih untuk mencuci mulut lukanya. Betul agak sulit untuk
melacak jejak mereka di tengah kegelapan malam, tapi asal kita tahu
dimana letak mata air, kemudian menjebaknya di situ, aku rasa
mustahil mereka bisa terbang ke langit."
"Masuk akal!"
"Sekarang mereka sedang berusaha kabur,
jalan yang dipilih pun pasti bukan jalan besar, asal kita hadang
mereka di tempat strategis dan menyumbat seluruh jalan keluarnya,
aku percaya tak mungkin mereka bisa lolos dari pengejaran kita."
"Tidak nyana siasat saudara Pek luar biasa
hebatnya," kata Leng It-hong sambil melirik Suto Siau sekejap, "aku
rasa julukan kantong siasat mesti dialihkan dari saudara Suto ke
tangan saudara Pek."
"Aaah, saudara Leng kelewat memuji,
sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan terjatuh
juga, sebaliknya sebodoh-bodohnya orang, ada saatnya berhasil juga,
kalau dibandingkan saudara Suto, tentu saja Siaute masih
ketinggalan jauh."
"Sudah, jangan banyak omong melulu, kita
harus segera berangkat," bentak Seng-toanio.
Setibanya di atas bukit, mereka perintahkan
para pemanah untuk menyumbat jalan keluar sambil berjaga di sisi
sungai, sementara Pek Seng-bu sekalian mulai melakukan penggeledahan
di empat penjuru.
Suto Siau memeriksa sebentar keadaan
sekeliling situ, lalu pikirnya, "Seandainya aku yang harus kabur di
tanah perbukitan ini sambil membopong seseorang yang terluka, apa
yang harus kuperbuat agar lolos dari pelacakan musuh?"
Gerak tubuh Thiat Tiong-tong sudah semakin
melambat, namun ketika bergerak maju, dia tidak berani mengeluarkan
sedikit suara pun, dipilihnya jalan yang sepi dan terpencil untuk
meneruskan perjalanannya.
Di tengah hembusan angin musim gugur yang
kencang, tiba-tiba dia mendengar suara aliran air dari balik hutan.
Suara aliran air sungai yang gemercik lirih
terdengar bagai irama surga dalam pendengaran Thiat Tiong-tong,
tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, dia segera mempercepat
langkahnya mendekati sumber suara air itu.
Makin lama suara itu semakin dekat, tinggal
beberapa langkah lagi dia akan mencapai tepi sungai... waktu itu,
kawanan jago yang bersembunyi di sekeliling sungai pun sudah melihat
bermunculan.
Pada saat itulah Thiat Tiong-tong merasa
gelagat tidak beres, pekiknya dalam hati, "Aduh celaka!"
Cepat dia menghentikan langkahnya sambil
hartanya kepada diri sendiri, "Adaikata aku menjadi mereka, bukankah
paling baik jika bersembunyi di seputar sungai untuk menunggu
datangnya lawan yang menggendong orang terluka?"
Berpikir begitu dia segera berputar arah,
berusaha menjauhi giliran sungai itu.
Tapi suara gemericiknya air membuat dia
merasa kerongkongannya bertambah kering dan panas, sambil menggigit
bibir dia memaksakan diri untuk melawan godaan itu.
Pada saat itulah dari balik hutan muncul dua
sosok bayangan manusia, bayangan itu sedang bergerak ke arahnya
sambil melakukan pemeriksaan, mereka tidak lain adalah Pek Seng-bu
dan Leng It-hong.
Kembali satu ingatan melintas dalam benak
Thiat Tiong-tong, "Celaka, kalau aku menjadi mereka, tempat-tempat
yang gelap dan tersembunyi pasti akan kugeledah lebih dulu, bukankah
jejak kami berdua segera akan ketahuan?"
Di bawah sana terbentang jalan perbukitan
selebar tiga kaki, jalan itu berliku-liku hingga ke bawah bukit,
meski curam dan terjal, namun jalanan itu berupa jalan gunung yang
lebih nyaman dilalui.
"Saat ini aku pasti berada dalam kepungan
mereka, kalau ingin lolos dari pencarian, kelihatannya mesti mencoba
menyerempet bahaya. Jalan perbukitan itu adalah jalan umum, orang
pasti tidak akan percaya kalau aku berani melalui jalanan itu,
kenapa tidak mengambil resiko ini? Siapa tahu aku justru
bisamelarikan diri?"
Tanpa ragu lagi dia pun keluar dari tempat
persembunyian dan berlarian di jalan perbukitan itu.
Situasi yang mendesak memaksa dia
mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, dia berusaha
memasuki sudut mati dari pemikiran orang lain dan melakukan tindakan
yang sama sekali di luar dugaan siapa pun.
Benar saja, sepanjang perjalanan dia sama
sekali tidak menjumpai penghadangan maupun pencegatan.
Sambil menghembuskan napas lega, pikirnya
kemudian:
"Samte, Thian pasti akan memberi jalan
kepada umatnya, asal kita bisa lolos dari penghadangan hari ini,
lukamu pasti dapat disembuhkan."
Meskipun Im Ceng masih dalam keadaan
pingsan, namun karena ada harapan untuk hidup terus, Thiat
Tiong-tong pun sedikit banyak merasa hatinya lega.
Meskipun gara-gara kecerobohan dan
keberangasan Im Ceng hampir saja mereka berdua tewas secara
mengenaskan di atas bukit, namun tiada rasa gusar atau jengkel yang
muncul dalam pikiran Thiat Tiong-tong, baginya asal lm Ceng bisa
hidup terus, pengorbanan sebesar apapun sama sekali tak berarti
baginya.
Baru saja dia menyeka keringat yang
membasahi jidatnya, mendadak dari sisi jalan terdengar seseorang
mengejek sambil tertawa dingin:
"Sayang salah satu musuh yang harus kau
hadapi adalah Suto Siau!"
Kemudian sambil memunculkan diri, lanjutnya
sambil tersenyum:
"Sudah kuduga, kalian tidak bakal terjatuh
ke tangan mereka dan pasti akan memilih jalan besar untuk melarikan
diri, kini kau sudah kelelahan dan kehabisan tenaga, sementara
rekanmu sudah terluka parah, bagaimanapun akulah yang akan
menentukan nasib kalian berdua."
"Tunggu sebentar!" seru Thiat Tiong-tong.
"Apa lagi yang kau kehendaki?"
"Di antara kita berdua tidak ada ikatan
dendam maupun sakit hati, kenapa kau begitu memojokkan kami?"
"Secara pribadi kita memang tidak
bermusuhan, tapi siapa suruh kalian menjadi anak murid perguruan
Tay ki bun? Siapa suruh kau mengangkat tua bangka Im jadi gurumu?"
"Siapa bilang aku adalah murid perguruan Tay
ki bun? Kami berdua sudah diusir dari perguruan, biar kau bunuh kami
berdua pun tidak ada gunanya."
"Hmm, tidak usah bersilat lidah, kau boleh
membohongi orang lain, tapi jangan harap bisa menipu Suto Siau!"
"Jika kau bunuh aku, hal ini malah sangat
diharapkan perguruan Tay ki bun, apalagi jika sampai tersiar luas di
kolong langit, orang persilatan malah akan mengejekmu karena sudah
membantu perguruan Tay ki bun untuk membereskan murid murtadnya."
"Kalau aku bersedia tidak membunuhmu, apa
yang akan kau perbuat?"
"Jika hari ini kau bebaskan aku, bila di
kemudian hari aku tahu kabar berita tentang perguruan Tay ki bun,
orang pertama yang akan kuberitahu pastilah dirimu. Nah, waktu itu
bukan saja kau akan berjaya, maka sakit hatiku pun ikut
terlampiaskan."
Tampaknya perkataan itu sangat mengena di
hati Suto Siau.
Sekalipun wajahnya tidak menampilkan
perubahan, namun perasaannya mulai goyah, ujarnya kemudian:
"Baik, boleh saja aku tidak membunuhmu, tapi
kau mesti mengangkat aku menjadi gurumu."
Thiat Tiong-tong segera memberitahu pada
diri sendiri:
"Jelas ucapan itu sengaja dia utarakan untuk
menjajal kesungguhan hatiku, dulu bukankah jenderal Han Sim pun rela
merangkak di bawah pantat orang sebelum akhirnya berhasil membalas
dendam negaranya? Kalau aku ingin hidup terus sambil mencari
kesempatan untuk membalas dendam di kemudian hari, apa salahnya
kalau hari ini kuangkat dia sebagai guruku?"
Berpikir sampai di situ, dia segera
membaringkan Im Ceng ke tanah sambil bertanya:
"Perkataanmu bisa dipercaya?"
"Kalau bersatu kita sama-sama untung, kalau
berpisah kita sama-sama rugi, buat apa aku mesti membohongimu?"
Sekalipun rasa gusar dan mendongkol nyaris
meledakkan dada Thiat Tiong-tong, namun dalam penampilan ia tetap
bersikap tenang, tanpa banyak bicara pemuda itu segera menjatuhkan
diri berlutut dan menyembah.
"Hahaha, bagus, bagus sekali," Suto Siau
tertawa terbahak-bahak, "bagaimana dengan dia?"
"Saat ini dia masih tidak sadarkan diri,
lebih baik tunggu sampai dia mendusin...."
Belum selesai perkataan itu, tiba-tiba
terdengar Im Ceng mengumpat dengan nada gemetar:
"Budak yang tidak tahu malu, jangan disangka
aku tidak melihat perbuatanmu, hidup sebagai anggota perguruan Tay
ki bun, mati pun aku tetap setan perguruan Tay ki bun!"
Begitu selesai berteriak, kembali dia jatuh
tidak sadarkan diri.
Rupanya sewaktu sadar dari pingsannya tadi,
kebetulan dia mendengar pembicaraan Thiat Tiong-tong, bahkan sempat
pula menyaksikan pemuda itu sedang menyembah di hadapan lawan.
Thiat Tiong-tong merasa sedih bercampur
mendongkol, namun ibarat orang bisu makan empedu, biar pahit pun
terpaksa harus ditelan sendiri. Maka dia pun mengambil keputusan,
apapun yang bakal terjadi, dia akan menghadapi dengan lapang dada,
biar mesti memikul nama busuk, biarpun dianggap pengkhianat, dia tak
peduli, yang penting sekarang adalah menolong Im Ceng dan
menyelamatkan jiwanya.
Terdengar Suto Siau dengan nada tidak suka
menegur:
"Kenapa rekanmu itu?"
"Dia sudah pingsan cukup lama, mungkin
kesadarannya sudah tidak jelas lagi...."
"Baik," kata Suto Siau kemudian, "bila kau
ingin aku percaya kepadamu, sekarang juga bunuhlah dia terlebih
dulu, kalau tidak, susah bagiku untuk percaya padamu."
Siasatnya ini boleh dibilang sangat kejam
dan telengas, dia memang cerdik, banyak akal dan selama hidup tidak
pernah dibohongi orang.
Waktu itu tenaga dalamnya telah dihimpun ke
dalam telapak tangannya, asal Thiat Tiong-tong menunjukkan sikap
ragu, dia putuskan akan menghabisi nyawa anak muda itu terlebih
dulu.
Siapa tahu Thiat Tiong-tong sama sekali
lidak menunjukkan sikap ragu, tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan
serunya kepada Im Ceng:
"Im Ceng, kenapa sampai sekarang kau belum
juga mau sadar, padahal perguruan Tay ki bun sudah tidak menghendaki
kita, bahkan mengusir kita berdua dari perguruan, kenapa
kau masih begitu setia kepada mereka? Baiklah, kalau toh kau tak mau
sadar, biar sekarang juga kuantar kepergianmu terlebih dulu."
Perlahan-lahan dia mengangkat telapak
tangannya dan langsung dibacokkan ke atas kepala Im Ceng.
Diam-diam Suto Siau tersenyum kegirangan,
kini dia yakin kalau pemuda itu telah berhasil dia taklukkan.
Karena gembira, tanpa sadar dia pun menarik
kembali telapak tangannya dan tertawa terbahak-bahak.
Saat itu telapak tangan Thiat Tiong-tong
sudah hampir menghajar di atas batok kepala Im Ceng.
Pada saat yang terakhir itulah mendadak
pemuda itu merangsek ke depan, sepasang sikutnya langsung disodokkan
ke dada dan lambung Suto Siau, sementara tendangan kaki kanannya
menghajar lawannya itu hingga mencelat ke belakang.
Begitu berhasil membokong lawannya, tanpa
berpaling lagi Thiat Tiong-tong menyambar tubuh Im Ceng dan kabur
secepatnya meninggalkan tempat itu.
Di tengah hembusan angin malam, kini hanya
terlihat tubuh Suto Siau yang terkapar semaput di pinggir jalan.
Sebetulnya orang ini bukan termasuk manusia
yang gampang ditipu, terlebih dibokong orang, tapi kecerdasan Thiat
Tiong-tong telah membuat dia mati kutunya, dengan iming-iming nama
dan pahala, pemuda itu berhasil membangkitkan napsu serakahnya,
kemudian dengan tindak-tanduk yang seolah sungguhan ia berhasil
memperoleh kepercayaannya.
Maka di saat Suto Siau sedang bangga dan
gembira, di saat rasa curiganya telah lenyap, dia terhajar telak
oleh serangan kilat Thiat Tiong-tong.
Begitulah kalau orang kelewat lupa daratan,
terkadang hal ini justru memperlemah kewaspadaan diri sendiri.
Sayangnya, Thiat Tiong-tong yang cerdas
dalam gugup dan tergopoh-gopohnya telah melakukan satu pelanggaran
pula, pelang-garan yang sangat mematikan.
Dia bukannya kabur dengan menelusuri jalan
gunung, sebaliknya malah masuk ke dalam hutan dan mengantarkan diri
ke dalam perangkap yang dipasang orang lain.
Hutan itu gelap dan lembab, setelah menempuh
perjalanan sekian waktu, dia baru menyadari akan kesalahan itu, tapi
sayang keadaan sudah terlambat.
Mendadak dari balik pohon meluncur datang
tiga batang panah yang tajam disertai desingan angin tajam.
Buru-buru Thiat Tiong-tong membungkukkan
tubuh, anak panah itu meluncur lewat melalui atas punggungnya,
sambil mengambil segenggam pasir dan disebarkan ke sisi kiri,
tubuhnya menyusup ke arah kanan untuk melanjutkan larinya.
Sambil melompat menghindar, dia mulai
memeriksa sekeliling tempat itu, terlihat ada sebatang pohon besar
dengan daun yang amat lebat tumbuh di hadapannya, dia tahu tempat
semacam ini paling cocok untuk digunakan bersembunyi, maka tanpa
ragu dia segera melompat ke situ.
Biarpun sudah terjebak dalam situasi kritis,
jalan pemikiran pemuda ini masih tetap tenang dan jelas, dia masih
mampu menga-nalisa dan menyimpulkan segala sesuatu
secara jelas.
Baru saja tubuhnya bersembunyi di balik
dedaunan, suara ujung baju yang tersampuk angin telah berkumandang
dari bawah pohon, untung dia bertindak cepat, coba terlambat sedikit
saja, pasti akan bertemu dengan orang-orang itu.
Ternyata dua sosok bayangan manusia yang
bergerak mendekat adalah Leng It-hong serta Pek Seng-bu.
Sambil memeriksa sekeliling tempat itu,
terdengar Leng It-hong bergumam:
"Aneh, dengan jelas kulihat dia kabur menuju
kemari, kenapa tidak nampak bayangan tubuhnya?"
Pek Seng-bu ikut menghentikan langkahnya
sembari tertawa dingin.
"Hram, sekalipun gerakan tubuh bajingan itu
sangat cepat, memangnya dia bisa terbang ke langit atau menyusup ke
dalam tanah?" serunya: "mustahil bayangan tubuh mereka bisa lenyap
begitu saja, saudara Leng, jangan-jangan kau salah lihat."
"Mana mungkin.." seru Leng It-hong gusar.
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terlihat
Pek Seng-bu sedang mengedipkan mata memberi tanda sambil berkata:
"Barusan Siaute mendengar di sebelah kiri
ada suara, coba kita periksa dulu ke arah situ."
"Betul, mungkin saja mereka berubah arah,"
Leng It-hong segera mengubah nada bicara-nya.
Kedua orang itu membalikkan tubuh dan
beranjak pergi.
Thiat Tiong-tong yang bersembunyi di atas
pohon menghembuskan napas lega, diam-diam dia bersyukur karena
sekali lagi berhasil lolos dari kesulitan.
Siapa tahu baru saja ingatan itu melintas,
mendadak terdengar suara tertawa mengejek bergema dari arah belakang
tubuhnya.
Terdengar si pendekar berlengan tiga Pek
Seng-bu tertawa tergelak sambil mengejek:
"Kusangka kau benar-benar memiliki kemampuan
untuk terbang ke langit atau menyusup ke dalam tanah, rupanya hanya
bersembunyi di atas pohon."
Di tengah gelak tertawanya, tubuhnya sudah
melompat naik ke atas pohon, sambil menyingkap dedaunan dengan
senjata Sian-jin-ciang, disertai desingan tajam dia serang bahu dan
punggung Thiat Tiong-tong.
Dalam terkesiapnya, Thiat Tiong-tong tidak
berani melancarkan serangan balasan, tubuhnya segera melompat turun
ke bawah.
Siapa tahu rupanya Leng It-hong sudah
menunggunya di bawah pohon, begitu dia melompat turun, sambil
tertawa dingin jengeknya:
"Mau kabur kemana lagi kau?"
Sepasang kepalannya diayunkan bergantian
langsung menghimpit tubuh Thiat Tiong-tong serta Im Ceng yang berada
dalam gendongannya.
Dengan tangan kiri masih menggendong Im
Ceng, buru-buru Thiat Tiong-tong memutar tubuh sambil mengayunkan
kakinya menendang iga Leng It-hong, arah serangannya ditujukan ke
bagian mematikan sehingga memaksa musuh harus segera melindungi
diri.
Lekas Leng It-hong menarik kembali
serangannya sambil melindungi diri, telapak tangannya dibabatkan ke
bawah membacok kaki pemuda itu.
Pada saat bersamaan Pek Seng-bu telah
melompat turun dari atas pohon, senjatanya disertai angin serangan
menyapu pinggang Thiat Tiong-tong.
Dalam posisi membopong orang, menghadapi
pula serangan dari depan dan belakang, boleh dibilang pemuda itu
sudah terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya.
Sekalipun dia berhasil meloloskan diri dari
serangan pertama, namun serangan demi serangan kembali dilancarkan
Leng It-hong dan Pek Seng-bu, dengan mengandalkan sebelah tangan,
mana mungkin dia sanggup menahan serangan mereka?
Dalam situasi yang amat kritis itulah
tiba-tiba dia membentak keras, berbareng dengan bentakan itu
tubuhnya langsung menerjang ke muka dan menumbuk dada Leng It-hong
dengan kepalanya.
Jelas gerakan ini merupakan jurus serangan
nekat, jauh di luar peraturan pertarungan yang berlaku.
Biarpun Leng It-hong banyak pengalaman dan
berilmu tinggi, dia dibuat gugup juga menghadapi jurus serangan yang
belum pernah dilihat sebelumnya ini, segera tubuhnya berkelit ke
samping, lalu melayangkan telapak tangannya menyapu bahu anak muda
itu.
Sambil mengertak gigi Thiat Tiong-tong
memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang ke muka.
"Mau kabur kemana kau!" hardik Pek Seng-bu
sambil tertawa dingin, bahunya bergerak dan siap melakukan
pengejaran.
Tiba-tiba Thiat Tiong-tong membalikkan tubuh
sambil membentak nyaring:
"Kena!"
Ling It-hong maupun Pek Seng-bu tidak tahu
senjata rahasia apa yang dilepaskan pemuda itu, serentak mereka
melompat ke samping untuk menghindarkan diri.
Tidak dinyana ternyata serangan itu hanya
sebuah serangan tipuan, biar sudah ditunggu sesaat pun Leng It-hong
maupun Pek Seng-bu tidak melihat ada senjata rahasia yang menyambar
tiba, menanti mereka sadar kalau tertipu, Thiat Tiong-tong sudah
menggunakan kesempatan itu melarikan diri.
Padahal semua akal muslihat yang digunakan
anak muda itu hanya tipuan paling rendah kualitasnya, tapi apa mau
dikata, tipuan yang paling sederhana itu justru berhasil menipu
habis-habisan dua orang tokoh persilatan yang berpengalaman itu.
Dengan perasaan mendongkol Leng It-hong
menghentakkan kakinya ke tanah, serunya penuh rasa dendam:
"Sialan, lagi-lagi termakan tipuan bajingan
itu!"
"Sekeliling hutan sudah berada dalam
kepungan, masakah dia bisa kabur dari kepungan kawanan jago?"
"Aku tahu, bajingan itu memang mustahil bisa
lolos, tapi yang membuatku jengkel adalah berulang kali dia berhasil
menipu Lohu dengan tipuan anak-anak!"
"Di sinilah letak kelicikan bajingan itu,
sudah tahu kalau kita tidak bakal memperhatikan tipuan anak-anak,
maka dia sengaja meng-gunakannya untuk menghadapi kita."
"Manusia semacam ini hanya akan menjadi
bibit bencana bila dibiarkan hidup terus, untung dia kabur ke arah
wilayah yang dijaga pendekar pedang berhati ungu serta Seng-toanio!"
Setelah melarikan diri sejauh puluhan depa,
Thiat Tiong-tong tak berani berlari terlalu cepat, sambil
membungkukkan tubuh dia bergerak lambat dan penuh waspada.
Dia tidak berani mengeluarkan suara, asal
ada sedikit gerakan angin di hadapannya, segera dia berganti arah.
Kini dia sudah berada dalam kondisi yang
tidak segar, selain luka bakar di tubuhnya, bahunya juga terkena
sebuah pukulan, dalam keadaan begini nyaris dia sudah tidak mampu
lagi bertarung melawan orang.
Oleh sebab itu dia meningkatkan
kewaspadaannya dan berjalan sangat lambat, betul saja, dengan
seringkali berganti arah, sepanjang jalan dia tidak menjumpai
rintangan.
Tampaknya asal berjalan beberapa saat lagi
mereka segera akan lolos dari hutan belantara itu. Mendadak dari
atas kepalanya terdengar seseorang mengejek sambil tertawa dingin:
"Hati-hati kalau berjalan, jangan sampai
terjerembab!"
Thiat Tiong-tong terkesiap, dia tidak berani
mendongakkan kepala, dengan cepat tubuhnya meluncur ke depan.
Terdengar desingan angin bergema dari atas
kepala disusul dua sosok bayangan manusia melayang turun ke bawah,
satu di depan dan yang lain di belakang, serentak mencegat jalan
kaburnya.
Mereka tidak lain adalah Seng-toanio dan
Seng Cun-hau.
Seng Cun-hau sambil melintangkan pedangnya
berdiri menghadang di depan jalan, sementara Seng-toanio berada di
sudut yang lain dan berdiri penuh senyuman.
Belum sempat mereka bicara, Thiat Tiong-tong
telah menghela napas terlebih dulu sambil berseru:
"Bagus sekali!"
Kemudian bukannya melarikan diri, dia malah
duduk bersila, sikapnya amat santai seperti orang yang sedang
beristirahat, seolah-olah baru saja ia bertemu dengan orang sendiri
saja.
"Apanya yang bagus?" tak tahan Seng-toanio
menegur:
"kenapa kau malah senang bertemu aku?"
Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas panjang.
"Sebenarnya aku sedang mencari kalian
berdua, untunglah setelah bersusah payah lari ke sana sini, akhirnya
Thian memang maha bijaksana, perjalananku jadi tak sia-sia."
"Ada urusan apa kau mencari aku?" timbul
rasa ingin tahu dalam hati Seng-toanio.
Seng Cun-hau sendiri termasuk tipe orang
yang tak gemar banyak bicara, dia hanya melintangkan pedangnya
sambil mengawasi anak muda itu.
Mendadak Thiat Tiong-tong membungkukkan
tubuhnya dan mulai berteriak kesakitan.
"He, kenapa kau?"
"Senjata rahasia," sahut Thiat Tiong-tong
gemetar, "ada orang...."
"Kau tidak perlu bermain gila di hadapanku,"
tukas Seng-toanio gusar, "Toanio tidak bakalan tertipu olehmu!"
Sekalipun bicara begitu, tak urung dia
membungkukkan tubuhnya juga untuk memeriksa apakah benar terdapat
senjata rahasia.
Diam-diam Thiat Tiong-tong melirik sekejap,
begitu melihat perempuan tua itu mulai membungkukkan tubuh, dia pun
berpikir sambil tertawa dingin:
"Hmm, akhirnya kau tertipu juga oleh
siasatku!"
Secepat kilat dia menyebarkan segenggam
pasir ke wajah nenek itu, sementara tubuhnya melejit sekuat tenaga
keudara dan melepaskan serangkaian tendangan berantai ke wajah
Seng-toanio.
Tergopoh-gopoh Seng-toanio melompat mundur
sembari berteriak:
"Cun-hau, jangan biarkan dia kabur!"
Seng Cun-hau segera melepaskan sebuah
tusukan kilat, gerakan pedangnya bagaikan bianglala, cepat dan
mematikan.
Thiat Tiong-tong segera berseru lantang:
"Pedang tidak akan dipakai untuk membunuh
musuh yang bertangan kosong, kalau kau ingin membunuh, ayo, silakan
bunuh!"
Dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya, dia kabur menuju ke samping kiri.
Betul saja, begitu mendengar teriakan itu,
buru-buru Seng Cun-hau menarik kembali serangannya, dia menarik
tusukannya persis di saat Thiat Tiong-tong bergerak melalui sisi
tubuhnya.
Meskipun ujung pedangnya berhasil merobek
punggung lawan hingga berdarah, namun ia menghentikan langkahnya
seketika sambil berpikir, "Aaai... mengingat kau pun seorang lelaki
sejati, cepatlah kabur! Jangan sampai terkejar lagi oleh orang
lain."
Begitu ingatan itu melintas, tanpa ragu dia
segera membuka sebuah jalan kehidupan bagi lawan.
Saat itu Seng-toanio belum mampu membuka
matanya karena kemasukan pasir, tapi dia tetap mengayunkan tangannya
melepaskan segenggam jarum perak.
Terlihat kilatan cahaya perak menerobos di
angkasa dan seolah-olah punya mata saja, langsung mengejar ke arah
Thiat Tiong-tong.
Perlu diketahui, Seng-toanio sudah puluhan
tahun lamanya mendalami ilmu melepaskan senjata rahasia, bukan saja
ia bisa menentukan sasaran berdasarkan arah angin, bahkan senjata
rahasia itu dapat diarahkan sekehendak hati, seolah-olah benda
berjiwa saja.
Thiat Tiong-tong tahu kalau Seng Cun-hau
berniat melepaskan dia, maka pemuda ini berlari sekuat-kuatnya
menjauhi tempat itu, namun baru kabur sejauh puluhan depa, tiba-tiba
lututnya terasa kesemutan, tiga batang jarum gadis langit yang
lembut bagai bulu tahu-tahu sudah bersarang telak di tubuhnya.
Rasa sakit yang merasuk tulang sumsum
membuat langkahnya jadi terhuyung, hampir saja dia jatuh
terjerembab, meski begitu, perasaannya agak lega karena dia tahu
jarum itu tidak beracun.
Apabila jarum itu beracun, maka mulut luka
tak bakal menimbulkan rasa sakit, ini disebabkan tujuan Seng-toanio
memang ingin membekuk lawannya hidup-hidup, oleh sebab itu jarum
yang digunakan adalah jarum tanpa racun.
Thiat Tiong-tong menghembuskan napas
panjang, dengan satu pukulan kuat dia menghantam bagian tubuhnya
yang terluka, jarum yang menancap pun seketika terpental hingga
mencuat setengah bagian dari permukaan kulit.
Sambil menjepit dengan kedua jari tangannya,
ia cabut keluar jarum perak itu, lalu sambil menahan sakit
melanjutkan kembali larinya.
Kini dia bergerak makin berhati-hati, dengan
membawa beberapa gumpal lumpur, setiap berjalan belasan langkah dia
pun segera melemparkan segumpal tanah ke sisi kiri dan kanan untuk
memancing perhatian lawan, ketika mencapai lemparan yang kelima,
mendadak dari balik ranting pohon bergema suara desingan
angin tajam.
Buru-buru Thiat Tiong-tong menyelinap ke
samping dengan menempelkan punggungnya rapat-rapat pada dahan pohon.
Terlihat belasan anak panah berhamburan dari
empat penjuru mengarah dimana tanah tadi dilempar.
Melihat itu, sambil mengertak gigi Thiat
Tiong-tong melemparkan lagi gumpalan tanah yang terakhir jauh ke
depan sana.
Kontan suara bentakan bergema dari atas
dahan pohon:
"Sasaran lari ke arah sana!"
Empat sosok bayangan manusia meluncur turun
dari atas pohon dan bersama-sama melakukan pengejaran.
Melihat itu Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, sambil membalikkan tubuh dia menyelinap ke arah yang
berlawanan.
Meskipun dengan mengandalkan kecerdasannya
beberapa kali dia berhasil membohongi musuhnya, namun dia sendiri
pun tidak tahu akhirnya dia mesti kabur kemana.
Dalam perjalanan berikut, dia sama sekali
tidak menjumpai penghadangan, Thiat Tiong-tong kembali berpikir,
"Kalau hari ini aku berhasil lolos, berarti Thian telah membantuku,
kalau tidak...."
Belum selesai ingatan itu melintas, kembali
terdengar suara bentakan memecahkan kesunyian:
"Berhenti!"
Cepat pemuda itu menyelinap ke sisi kiri,
tampak dari balik pohon di sisi kiri muncul sebuah busur dengan anak
panah yang siap dilepaskan.
Dengan tubuh penuh luka, jelas dia tidak
berani menerjang secara kekerasan, baru saja ia akan membalikkan
tubuh, tahu-tahu dari belakang pohon di sebelah kanan
telah muncul seorang lelaki sambil membentak: "Mau kabur kemana
kau!"
Sambil memejamkan mata, Thiat Tiong-tong
berbalik tubuh menerjang ke muka, tapi seseorang muncul lagi dari
belakang pohon sambil menghardik:
"Jangan harap bisa lolos dari sini!"
Seorang lelaki kekar dengan golok terhunus
dan senyuman dingin telah menghadang jalan perginya.
Anak muda itu mulai mengeluh.
"Habis sudah riwayatku kali ini!" pikirnya.
Dalam waktu singkat muncul empat orang
lelaki kekar dari arah depan, belakang, kiri maupun kanan, dua di
antaranya bersenjata golok dan dua lainnya membawa busur dan anak
panah.
Seandainya Thiat Tiong-tong seorang diri dan
tenaganya masih kuat, tentu saja dia tidak akan memandang sebelah
mata terhadap keempat orang lelaki itu, tapi sekarang bukan saja ia
sudah terluka, Im Ceng yang berada dalam bopongan pun dalam keadaan
pingsan, jangankan dikepung berempat, cukup seorang lelaki biasa pun
sudah cukup untuk merobohkan dirinya.
Padahal keempat orang itu selain gesit dan
cekatan, khususnya lelaki bergolok itu, matanya tajam, Ginkangnya
tangguh, jelas dia adalah seorang jago pilihan dari dunia
persilatan.
Detik itu juga ia merasa putus asa, hilang
lenyap seluruh rasa percaya dirinya.
"Ooh, Suhu...." pekiknya dalam hati, "Tecu
sungguh menyesal karena tak bisa mewakilimu melindungi Sute, biarlah
setelah jadi setan gentayangan nanti, akan kubantu kau orang tua
dari alam baka!"
Berpikir sampai di situ perasaannya menjadi
jauh lebih tenang, sambil menghentikan langkahnya dan membusungkan
dada, dia menanti datangnya kematian.
Selangkah demi selangkah keempat orang
lelaki itu berjalan mendekat, kelihatannya mereka masih takut bila
Thiat Tiong-tong melakukan perlawanan, karena itu paras muka mereka
rata-rata tegang bercampur serius.
"Hahaha, kenapa mesti tegang?" ejek Thiat
Tiong-tong sambil tertawa tergelak, "silakan maju mendekat, Siauya
mu sudah siap memenuhi keinginan kalian, jangan kuatir, aku tidak
bakal menyerang!"
Dengan wajah berubah, lelaki bergolok itu
tertawa dingin, hardiknya:
"Manusia she Thiat, ajal sudah di depan
mata, kau masih berani garang?"
"Hmm, Siauyamu sudah lama merasakan
bagaimana enaknya mati, ayo maju saja, jangan takut, Thiat-siauya
tak bakalan mengernyitkan dahi!"
Sambil tertawa dingin lelaki bergolok itu
memberi tanda, ujarnya:
"Tangkap bangsat itu hidup-hidup, jangan
sakiti jiwanya, Pocu butuh dia untuk diinterogasi!"
Tampaknya lelaki bergolok itu adalah
pemimpin rombongan, tiga orang lelaki lainnya segera menyahut sambil
menyimpan kembali senjatanya, mereka maju mendekat.
Meski begitu gerak-geriknya masih kelihatan
tegang dan penuh kewaspadaan.
Thiat Tiong-tong berdiri tanpa bergerak,
walaupun senyuman masih menghiasi wajahnya, namun perasaannya terasa
kecut.
Budi gurunya belum dibayar, dendam belum
terbalas, dia tidak seharusnya tewas begitu saja. Tapi keadaan
berkata lain, dalam keadaan seperti ini kecuali jalan kematian
memang tak ada pilihan lagi yang bisa diambil, karena itu dia hadapi
kenyataan itu secara gagah berani.
Lelaki bergolok itu masih berdiri dengan
perasaan tegang, tak tenang dan penuh gejolak emosi, goloknya
dipegang erat-erat sementara telapak tangan kirinya telah
menggenggam beberapa batang senjata rahasia.
Menanti ketiga orang lelaki itu hampir
mendekati Thiat Tiong-tong, tiba-tiba dia membentak:
"Tunggu sebentar!"
Sambil berseru dia maju ke depan.
Sementara ketiga orang lelaki itu masih
melengak, tahu-tahu lelaki itu sudah mengayunkan goloknya membacok
lelaki yang ada di sebelah kiri, sedangkan senjata rahasianya
disambitkan ke dada lelaki yang ada di sebelah kanan.
Lelaki ketiga menjadi terkesiap, buru-buru
dia melontarkan sebuah pukulan ke punggung Thiat Tiong-tong, membuat
pemuda itu terhuyung beberapa langkah ke depan dan akhirnya jatuh
tertelungkup.
Lelaki bergolok itu membentak nyaring,
cahaya golok berkelebat, dia bacok tengkuk lelaki itu kuat-kuat.
Cepat lelaki itu berkelit ke samping,
teriaknya kaget:
"He, kau sudah gila?"
Kembali lelaki bergolok itu melancarkan tiga
bacokan berantai, cahaya golok yang tercipta bagaikan sebuah rantai
panjang yang mengurung lelaki itu rapat-rapat.
Pecah nyali lelaki itu menghadapi serangan
maut itu, sambil menjerit keras dia membalikkan tubuh dan melarikan
diri.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah
lelaki bergolok itu, dia sama sekali tidak mengejar, menunggu sampai
orang itu kabur sejauh tiga depa, mendadak lelaki itu melempar-kan
goloknya ke muka dengan sepenuh tenaga.
Sekilas bianglala membelah angkasa, bagai
sambaran kilat, golok itu meluncur ke depan dan menghujam di
punggung lelaki itu. Bukan hanya begitu, kekuatan yang tersisa
segera menyeret lelaki tadi hingga terpantek di atas batang pohon.
Tidak sempat lagi menjerit kesakitan,
tewaslah lelaki itu dalam keadaan mengenaskan.
Thiat Tiong-tong berusaha meronta untuk
duduk, meski lukanya cukup parah, namun dia masih memeluk tubuh Im
Ceng erat-erat.
Masih untung gempuran lelaki tadi
dilancarkan dalam keadaan gugup hingga tidak sampai menimbulkan
luka, karena itu setelah berhasil duduk, dengan perasaan tercengang
bercampur tak habis mengerti, ditatapnya lelaki bergolok itu sambil
bertanya:
"Sobat, kau... kenapa...." Sambil membesut
noda darah pada laras sepatunya, lelaki itu menukas:
"Tempat dan saat ini bukan saat yang tepat
untuk bicara, Thiat-kongcu, mari ikut aku kabur dari sini."
"Kalau tidak kau jelaskan, mana mungkin aku
bisa mengikutimu?"
Setelah menghela napas lelaki bergolok itu
berkata:
"Dua puluh tahun berselang, Thiat-locianpwe,
leluhur Thiat-kongcu pernah mengampuni jiwa seorang pemuda yang
bernama Tio Ki-kong, meskipun Tio Ki-kong hanya seorang kasar, namun
selama dua puluh tahun tak pernah melupakan budi kebaikan itu,
sayangnya Thiat-locianpwe keburu pulang ke langit barat."
Suaranya terdengar agak gemetar, tapi dengan
cepat lanjutnya lagi:
"Oleh karena Tio Ki-kong tidak mungkin bisa
membayar budi ini kepada Thiat-locianpwe, maka akan menyumbangkan
seluruh kemampuan yang dimiliki untuk membantu keturunannya. Kongcu,
tak jauh di depan sana adalah jalan menuju keluar gunung, silakan
mengikuti Tio Ki-kong, berilah kesempatan kepadaku untuk membalas
budi ini...."
Thiat Tiong-tong berusaha bangkit berdiri,
tapi ia terjatuh kembali ke tanah.
Berubah paras muka Tio Ki-kong, buru-buru
dia membangunkan pemuda itu sambil berseru:
"Cepat! Sedikit terlambat, semuanya akan
berakhir!"
Thiat Tiong-tong menggelengkan kepalanya
berulang kali, ujarnya sambil tertawa sedih:
"Saudara Tio, boponglah saudaraku ini dan
kaburlah dari sini, aku...."
"Bagaimana dengan kau?"
"Aku sudah tidak sanggup lagi, sementara kau
pun tidak mungkin membopong kami berdua sekaligus...."
"Kenapa tidak mungkin? Biar harus
mempertaruhkan nyawa sekalipun aku ...."
"Kalau berbuat begitu berarti kita bertiga
akan mati bersama, tinggalkan aku di sini untuk menahan pasukan
pengejar, dengan begitu kalian baru punya harapan untuk lolos."
"Kongcu," dengan gemas Tio Ki-kong
menghentakkan kakinya, "kenapa kau berkata begitu? Jika Kongcu
enggan pergi, biarlah aku orang she Tio tetap tinggal di sini untuk
menemani Kongcu."
"Saudara Tio," kata Thiat Tiong-tong dengan
suara berat, "kau adalah seorang lelaki sejati yang bisa membedakan
mana budi mana dendam, apakah kau berharap aku menjadi seorang
manusia yang lupa budi dan tidak setia kawan? Aku sudah banyak
berhutang budi kepada guru, bila meninggalkan dia di sini, sementara
aku melarikan diri, bukankah tindakanku ini lebih rendah dari hewan?
Saudara Tio, jika kau menolak keinginanku, biarlah ThiatTiong- tong
bunuh diri sekarang juga!"
Tio Ki-kong terkesiap dan tertegun untuk
sesaat.
Setelah menghela napas, kembali Thiat
Tiong-tong berkata:
"Aku serahkan keselamatan saudaraku ini
kepadamu, cepatlah tinggalkan tempat ini, asal kau berhasil
menyelamatkan jiwanya, ayah pasti akan berterima kasih pula di alam
baka."
Pucat pias paras muka Tio Ki-kong, untuk
sesaat dia malah berdiri mematung.
"Cepat lari!" seru Thiat Tiong-tong lagi:
"menolong dia sama seperti menolongku, kalau tidak segera pergi, aku
akan mati dulu di hadapanmu."
Sambil mengertak gigi Tio Ki-kong berseru
kemudian:
"Tidak kusangka Kongcu adalah seorang lelaki
sejati... baik! Kukabulkan permintaanmu!"
Sambil berjongkok dia membopong tubuh Im
Ceng, kemudian berlalu dari situ dengan langkah lebar.
BAB 3.
Hidup susah mati mudah.
Kabut fajar menyelimuti seluruh permukaan
bumi, pagi hari menjelang tiba, kegelapan malam pun pelan pelan
bergeser ke ujung dunia.
Memandang bayangan punggung Tio Ki-kong yang
lenyap dibalik kabut, sekulum senyuman pedih menghiasi ujung bibir
Thiat Tiong-tong, gumamnya:
"Sam-te, selamat tinggal!"
Mendadak terlihat Tio Ki-kong membalikkan
tubuh sambil menjatuhkan diri berlutut, sepatah demi sepatah
katanya:
"Tio Ki-kong bukan lelaki yang gampang
berlutut, aku hanya menyembah kepada seorang lelaki sejati yang
menjunjung tinggi kebenaran dan kesetia kawanan, sekarang aku
berlutut kepadamu bukan lantaran kau adalah keturunan dari Thiat
locianpwee......."
Meskipun pada permulaan kata dia masih
berbicara dengan suara berat, tapi pada akhirnya dia mulai
sesenggukan dan tidak sanggup melanjutkan lagi kata-katanya.
Thiat Tiong-tong ikut berlutut, katanya
pula:
"Siaute tidak bisa bicara banyak, aku hanya
menyesal kenapa baru sekarang kenal dengan seorang sahabat macam
saudara Tio!"
Kemudian sambil mengangkat wajahnya, dia
melanjutkan dengan nada lantang:
"Saudara Tio, nyawa saudaraku telah
kuserahkan ketanganmu, semoga kau bisa selamatkan jiwanya. Saudara
Tio! Cepat berangkat!"
Tio Ki-kong membentak lirih kemudian berlalu
dari situ dengan cepat, tidak lama kemudian bayangan tubuhnya sudah
lenyap dari pandangan.
Thiat Tiong-tong mulai duduk bersila, darah
dan air hujan yang menggenangi seluruh permu-kaan beriak ketika
terhembus angin fajar, tiga sosok mayat yang berjajar disitu pun
sudah mulai membeku.
Pemuda itu tahu, sebentar lagi musuh tangguh
segera akan menggeledah sampai disitu, tapi pikirannya tetap kosong,
perasaannya tetap hamba, sebab "kematian" bukan jalan yang dia
pilih.
Tadi sebetulnya dia bisa memilih jalan
"kehidupan”, dia bisa meletakkan "kehidupan" sendiri diatas
"kematian" Im Ceng, tapi dia telah mengabaikan jalan "kehidupan"
bagi diri sendiri dan sambil tersenyum memilih jalan "kematian",
karena merupakan pilihan sendiri maka sekarang dia tidak nampak
terlalu sedih, tidak terlalu pedih dalam menghadapi segala
kemungkinan yang terjadi.
"Ayoh kemarilah!" sambil membusungkan dada
dia berseru, "Thiat Tiong-tong sudah menanti disini!"
Diambilnya sebuah busur dan berapa batang
anak panah, lalu memusatkan perhatian ke depan.
Walaupun waktu berlalu amat cepat, namun
dalam perasaannya justru amat panjang dan lama.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah
kaki yang ringan bergerak mendekat, seseorang berbisik lirih:
"Coba dicari sekitar sana, bangsat itu sudah
terluka parah, delapan puluh persen sulit untuk hidup terus!"
"Masih untung kalau dia mati" sahut
rekan-nya, "kalau hidup malah lebih mengenaskan"
Orang yang pertama kembali menghela napas:
"Yaa, terkadang mati lebih enak daripada hidup, kalau aku jadi dia,
lebih baik mati lebih awal karena jauh lebih nyaman dan tidak
tersiksa"
Dalam keheningan yang mencekam tanah
perbukitan itu, bisikan yang lirih pun berubah jadi nyaring dan
jelas terdengar.
Thiat Tiong-tong terkesiap, batinnya:
"Benarkah hidup susah mati gampang? Hidup susah mati gampang?"
......Thiat Tiong-tong, kau tidak boleh lari
dari kenyataan, kau tidak boleh mati, selama masih ada harapan untuk
hidup, kau harus berjuang terus untuk mempertahankannya!
Sejak dulu hingga kini, banyak orang mencari
mati untuk menghindari penderitaan dan tanggung jawab, tahukah
mereka bahwa keputusan untuk mempertahankan hidup sebenarnya jauh
lebih berani, jauh lebih perkasa daripada menghadapi kematian?
Seringkali orang melupakan akan hal ini,
itulah sebabnya ksatria yang berjuang sampai titik darah penghabisan
jauh lebih dihormati daripada para pahlawan yang gampang memilih
jalan kematian.
Suara langkah semakin mendekat, kedengaran
seseorang sedang berkata:
"Tio suhu, apakah melihat sesuatu yang
mencurigakan di pos penjagaan sini? Pocu perintahkan
kami untuk datang kemari......"
Belum selesai dia bicara, mendadak meluncur
datang sebatang senjata rahasia dari balik kabut dan menghujam
diatas dadanya, rekan yang lain menjerit kaget sambil melarikan diri
terbirit-birit. Tapi belum lagi berapa langkah, kembali sebatang
senjata rahasia meluncur tiba dan menghajar punggungnya, setelah sem
poyongan orang itu roboh terjungkal ke tanah, tapi dia segera
meronta bangun dan melanjurkan kembali larinya.
Mungkin serangan yang kedua jauh lebih lemah
dari serangan pertama sehingga meski mengenai sasaran namun tidak
sampai menimbulkan luka yang fatal.
Menanti suara berisik itu sudah makin jauh,
Thiat Tiong-tong baru membuang busurnya, menelanjangi salah satu
mayat itu dan menggantinya dengan pakaian hitam miliknya, sementara
dia sendiri mengenakan pakaian dari mayat itu.
Thiat Tiong-tong tidak lupa memenggal kepala
mayat itu dan menguburnya ke dalam tanah, sekalipun tanah lumpur
disana lembek karena terendam air, tidak urung pekerjaan ini
membuatnya mandi keringat.
Kemudian setelah melumuri wajah sendiri
dengan lumpur, dia pun merebahkan diri ke tanah.
Tidak lama kemudian terdengar suara desingan
angin tajam disertai langkah kaki berkumandang dari empat penjuru,
suara itu makin lama semakin mendekat.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak
pemuda itu, pekiknya didalam hati: "Aaah, tidak benar!"
Cepat dia membalikkan tubuh dengan
berbaring tertelentang, sebab secara tiba-tiba dia teringat, jika
dia tertelungkup maka orang lain pasti akan melakukan pemeriksaan,
sebaliknya dengan rebah tertelentang meskipun jauh lebih berbahaya
namun justru tidak menarik perhatian orang lain.
Tidak selang berapa saat terlihat bayangan
manusia berkelebat lewat, Leng It-hong serta Pek Seng-bu sudah
muncul dari dua arah yang berlawanan.
"Lagi-lagi berhasil kabur!"
"Dia sudah terluka parah, apalagi harus
menggendong seseorang, aku tidak pecaya dia bisa kabur dari sini,
ayoh kejar!"
"Coba kau lihat itu!" tiba tiba Leng It-hong
berseru.
Rupanya dia telah menemukan mayat tanpa
kepala yang mengenakan baju warna hitam itu, dari potongan tubuhnya
mirip sekali dengan potongan badan Thiat Tiong-tong.
Mereka berdua segera saling bertukar
pandangan sambil bertanya penuh curiga:
"Mungkinkah dia?"
Tapi dengan cepat mereka menggeleng: "Tidak
mungkin!"
Dengan wajah serius Pek Seng-bu tundukkan
kepalanya sambil berpikir, mendadak dia melayangkan sebuah tendangan
menghajar tubuh sesosok mayat yang roboh tertelungkup, begitu keras
tendangan itu hingga mayat tadi mencelat sejauh berapa langkah.
Dengan wajah berubah Leng It-hong segera
menegur:
"Saudara Pek. Biarpun dia hanya seorang
bubeng siaucut ( Cucu kura-kura) yang tidak berguna dari benteng
kami, toh orangnya sudah mati, buat apa kau mempermalukan
jenasahnya?"
"Ternyata orang ini benar-benar berpikiran
picik" batin Pek Seng-bu dalam hati, tapi diluar sahutnya sambil
tertawa paksa:
"Siaute hanya ingin membuktikan apakah orang
ini mati benaran atau cuma berlagak mati"
"Aaah celaka" mendadak wajah Leng It-hong
berubah, "teringat aku sekarang, jenasah siapa mayat tidak berkepala
ini"
"Siapa?"
Leng It-hong tidak langsung menjawab, dia
mendongakkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
"Aaai...! Tio Ki-kong wahai Tio Ki-kong,
kasihan kau sudah setia sampai mati, ternyata setelah tewaspun harus
kehilangan kepala"
"Tio Ki-kong? Bukankah dia adalah Tio suhu,
salah satu dari empat guru ilmu pukulan dalam Benteng Han hong po
yang ilmu silatnya paling tangguh?"
"Pasti bajingan itu sehabis membunuhnya,
memotong batok kepalanya lalu menukar pakaiannya dengan tujuan akan
membohongi kita"
"Benar, bajingan itu paling suka menggunakan
akal-akalan, sudah berulang kali dia menipu kita dengan akalnya yang
licik"
"Kali ini lohu tidak mau tertipu lagi, ayoh
kejar terus!"
Terdengar Seng Toa-nio berteriak dari arah
seberang:
"Ada orangkah disitu?"
"Sudah kabur!" sahut Pek Seng-bu.
"Aku menemukan jejak kaki menuju ke luar
hutan" teriak Seng Toa-nio lagi, "cepat kalian kemari, dengan luka
yang begitu berat, tidak nanti dia bisa kabur terlalu jauh!"
"Kami segera datang!" sahut Pek Seng-bu,
kemudian sambil berpaling ke arah Leng It-hong dan tertawa getir,
bisiknya:
"Jejak kaki apaan? Mungkin dia sudah sinting
lantaran panik!"
"Apa salahnya kita tengok ke situ!" sahut
Leng It-hong sambil tertawa.
Setelah mendengar Pek Seng-bu ikut memaki
Seng Toa-nio, perasaan hatinya menjadi sangat lega, perasaan
kesalnya pun seketika berkurang banyak.
Diam diam Pek Seng-bu merasa geli, tapi
diluar kembali ujarnya:
"Saudara Leng, apa salahnya kau tinggalkan
berapa orang untuk memberesi jenasah anak buahmu, masa akan kau
biarkan mereka kepanasan dan kehujanan?"
"Aaah, betul! Betul!" Leng It-hong manggut
manggut.
Dia segera memanggil berapa orang pemanah
dan perintahkan mereka untuk mengubur jenasah itu, kemudian sambil
menepuk bahu Pek Seng-bu katanya:
"Ayoh jalan, mari kita periksa si nenek edan
itu sudah menemukan apa?"
Kini dia sudah menganggap Pek Seng-bu
sebagai orang sendiri, padahal belum tentu Pek Seng-bu berpendapat
yang sama dengan dirinya.
Biarpun hampir seperminum teh lamanya mereka
berdua berhenti disitu, namun tidak seorang pun diantara mereka yang
menggubris mayat yang tergeletak dengan posisi terlentang, bahkan
melirik sekejap pun tidak.
Inilah kelemahan dari manusia, seringkah
yang mereka perhatikan justru hanya tempat yang tersembunyi,
sementara tempat yang didepan mata malah terabaikan.
Thiat Tiong-tong yang menahan napas tidak
berani berkutik mulai mengeluh didalam hati:
"Jika sampai dikubur hidup-hidup, apa yang
harus kulakukan?"
Walaupun dengan andalkan kecerdasan dan
keberaniannya, berulang kali dia berhasil lolos dari bahaya maut,
tapi disaat mara bahaya yang satu baru saja lewat, mara bahaya lain
yang jauh lebih sulit kembali harus dihadapi.
Suara langkah kaki yang ramai bergema makin
mendekat, pikiran dan perasaan Thiat Tiong-tong pun ikut bertambah
gugup dan kalut.
Dalam keadaan begini bukan saja dia tidak
bisa bergerak, membuka mata pun tidak dapat.
Terdengar suara seseorang dengan nada yang
parau dan besar sedang berseru:
"Ting loji, ayoh cepat turun tangan, mau apa
kau berdiri disitu berlagak mampus?"
"Aaai, sudah kelelahan seharian, mau angkat
kakipun rasanya sudah segan, mana ada tenaga untuk menggali liang
kubur?"
"Lantas kalau tidak dikubur mau diapakan
mayat-mayat itu? Mungkin saja kau berani membangkang perintah pocu,
kalau aku mah tidak punya keberanian sebesar itu"
"Eeh, aku punya akal, selain tidak usah
buang tenaga, tugaspun bisa dilaksanakan, bagaimana menurut
pendapatmu?"
"Apa akalmu?"
"Tidak jauh dari tempat ini terdapat sebuah
liang kecil, hanya tidak jelas seberapa dalamnya, bagaimana kalau
kita buang saja mayat mayat itu ke sana?"
"Bagus sekali, bagus sekali, kalau begitu
mari segera kita kerjakan" teriak Ting Loji cepaat.
Tampaknya semua orang sudah kelelahan maka
tidak ada yang protes atau kurang setuju. Tidak lama kemudian tubuh
Thiat Tiong-tong pun sudah digotong orang.
Dia kuatir detak jantungnya kedengaran
orang, padahal yang bisa dilakukan sekarang hanya tahan napas,
bagaimana caranya menyembunyi-kan debaran jantungnya?
Biarpun perjalanan yang ditempuh tidak
terlampau jauh, namun dalam pandangan Thiat Tiong-tiong justru amat
panjang, lama dan sengsara, seolah olah jalanan tersebut tiada
berujung dan pangkal.
"Aaah, sudah sampai!" akhirnya terdengar
seseorang berseru.
Menyusul kemudian dia mendengar suara benda
yang dilempar orang dan suara benturan yang berasal dari bawah
tanah, kalau didengar dari suara pantulan yang dihasilkan, tampaknya
liang itu bukan saja tidak kecil bahkan sangat dalam.
"Saudaraku, beristirahatlah dengan tenang
dibawah sana, kalian tidak perlu menderita lagi, terus terang kami
ikut merasa iri"
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas,
tubuhnya juga telah dilempar orang ke dalam liang.
Dia merasa desingan angin tajam bergema
disisi telinganya, sementara gerak tubuhnya yang meluncur ke bawah
amat cepat.
Dalam gugupnya buru-buru tangannya berusaha
meraih benda disekelilingnya dan memegangnya kuat-kuat.
Saat ini dia tidak bisa merasakan benda apa
yang berhasil dicekalnya, namun dia pun enggan lepas tangan, maka
setelah terlempar berapa saat akhirnya tubuhnya berhenti meluncur ke
bawah.
Lama, lama kemudian dia baru berani membuka
matanya, kini dia baru tahu kalau benda yang berhasil diraihnya
adalah akar rotan yang tumbuh kuat ditepi tebing, sekalipun sudah
menahan bobot tubuhnya yang sedang meluncur ke bawah namun tidak
menyebabkannya putus.
Ketika mencoba menengok ke bawah, yang
tampak hanya kegelapan yang pekat dan tidak nampak dasarnya,
sementara ketika menengok ke atas, yang tampak hanya awan putih,
ternyata pagi hari telah tiba.
Dia tidak berani menggerakkan tubuhnya sebab
kuatir akar rotan itu putus jadi dua, sekarang dia hanya berharap
bisa segera pulih-kan kembali kekuatan tubuhnya kemudian berusaha
meninggalkan tempat itu.
Entah berapa saat sudah lewat, kini telapak
tangannya mulai terasa sakit dan panas sekali, sakit yang menusuk
hingga ke dalam hati, tapi dia gertak gigi sambil berusaha menahan
siksaan itu.
Banyak kejadian yang paling menyiksapun
telah berhasil dilampaui, tiba-tiba dia memperoleh satu pelajaran,
asal kau punya tekad dan niat, tidak ada kejadian didunia ini yang
tidak bisa kau hadapi.
Perlahan-lahan dia mulai menggeserkan ujung
kakinya mencari tempat pijakan yang lebih kuat, lalu sambil
melepaskan genggaman ditangan kirinya dia beralih memegang akar
rotan lainnya.
Tiba-tiba.....”Blukkk!" pinjakan kakinya
kehilangan keseim-bangan, tubuhnya langsung terperosok ke bawah
diikuti akar rotan yang digenggam tangan kanannya ikut putus jadi
dua.
Dia merasa jantungnya seolah-olah melompat
keluar lewat tenggorokan, kini keselamatan jiwa-nya hanya tergantung
pada seutas akar rotan yang tidak terlalu kuat.
Saat ini, biar dilukiskan dengan semua
perkataan yang ada di dunia pun tidak mungkin bisa menggambarkan
betapa bahaya dan kritisnya anak muda itu.
Tapi dia berusaha mengendalikan perasaan
hatinya, dia sadar bila hatinya kalut dan panik, bila dia tidak
mampu menguasahi diri, tubuhnya segera akan terjatuh ke dasar jurang
dan mati tanpa liang kubur.
Tiba tiba terdengar suara mendesis bergema
dari balik semak, sewaktu Thiat Tiong-tong
berpaling, dia melihat ada seekor ular berbisa sebesar cawan teh
sedang bergerak mendekat dan berhenti lebih kurang satu kaki
dihadapannya.
Sepasang mata ular itu besar bagai lentera
dan mengawasi wajah Thiat Tiong-tong tanpa berkedip, lidahnya yang
merah nyaris menempel di atas pipinya.
Hati Thiat Tiong-tong terasa bergidik,
tubuh-nya merinding dan bulu kuduknya pada berdiri.
Bau busuk yang menyembur keluar dari mulut
ular itu sangat memuakkan, tapi Thiat Tiong-tong tidak berani
bergerak, bahkan mata-nya pun tidak berani berkedip, peluh dingin
bercampur dengan lumpur meleleh tiada hentinya.
Dia kuatir kerdipan matanya akan
mengejutkan sang ular, asal dia dipagut satu kali saja niscaya
tubuhnya akan terlempar jatuh ke bawah.
Sinar mata ular itu hijau kebiru-biruan,
ketika bertemu dengan sorot mata Thiat Tiong-tong yang sedang
melotot, kelihatannya binatang melata itupun dibuat terkejut
bercampur takut.
Sang ular tidak bergerak, Thiat Tiong-tong
terlebih tidak berani bergerak.
Air keringat, lumpur basah membuat wajah
Thiat Tiong-tong jadi gatalnya bukan kepalang, saat inilah dia baru
sadar bahwa gatal sebetulnya merupakan sesuatu yang
menyiksa.......jauh lebih tersiksa daripada radang.
Manusia dan ular pun saling berhadapan tanpa
bergerak......
Ditengah keheningan mendadak
terdengar seseorang berseru dari atas tebing:
"Thiat kongcu, aku orang she-Tio telah
datang terlambat, sungguh sedih karena tidak bisa melihat wajahmu
untuk terakhir kalinya" Seruan itu diutarakan dengan nada sedih,
tapi begitu terdengar oleh Thiat Tiong-tong, dia segera tahu kalau
Tio Ki-kong yang telah datang, rasa gembira yang meluap nyaris
membuatnya berteriak keras.
Tapi dengan cepat dia kendalikan semua
keinginannya untuk berteriak, sebab dia tidak ingin menimbulkan
suara berisik apa pun yang menyebabkan ular berbisa dihadapannya
jadi agresif dan melancarkan pagutan.
Terdengar Tio Ki-kong berteriak lagi dari
atas tebing:
"Thiat kongcu, beristirahatlah dengan tenang
di alam baka, aku telah menghantar Im kongcu ke suatu tempat yang
aman, ada orang yang telah merawatnya, begitu selesai menjalankan
tugas aku segera menyusul kemari, siapa tahu kedatanganku tetap
terlambat selangkah"
Thiat Tiong-tong merasa sedih bercampur
terharu disamping rasa cemas dan gelisah yang tidak terlukiskan
dengan kata, padahal asal dia mau berteriak waktu itu, bala bantuan
segera akan datang.
Yang menjadi masalah adalah sebelum
datangnya bala bantuan, besar kemungkinan dia sudah digigit dulu
oleh ular berbisa itu.
Ditengah isak tangis yang berkumandang dari
atas tebing, tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring:
"Tio Ki-kong, ternyata kau berada disini!"
Menyusul kemudian terdengar lagi jeritan
kesakitan yang memilukan hati.
Selewat jeritan itu, suasana jadi hening
kembali.
Kembali Thiat Tiong-tong menghela napas
dalam hati, dia hanya bisa berdoa, moga-moga saja jeritan itu bukan
berasal dari Tio Ki-kong, moga-moga saja dia dapat meninggalkan
tempat itu dalam keadaan selamat.
Dan bagaimana dengan dia sendiri? Pemuda itu
hanya pasrah pada nasib.
Ditengah ketidak pastian itulah mendadak
dari dasar tebing meluncur datang sebuah cambuk panjang yang
langsung melilit tubuh Thiat Tiong-tong, kemudian terdengar
seseorang membentak nyaring:
"Turun!"
Dalam terkejutnya Thiat Tiong-tong merasa
tidak memiliki kekuatan untuk melawan, tidak ampun tubuhnya segera
meluncur jatuh ke bawah.
Kemudian kepalanya terasa pusing, pandangan
matanya berkunang kunang sebelum akhirnya jadi gelap, apa yang
kemudian terjadi dia tidak tahu.....pergulatannya melawan kematian
berakhir sudah.
Im Ceng yang jatuh tidak sadarkan diri
perlahan-lahan mendusin kembali dari pingsannya.
Dia merasa seluruh tubuhnya sakit bagai
retak, rasa sakit yang membuatnya jadi mati rasa, membuatnya hampir
tidak merasa dimana letak ke empat anggota tubuhnya.
Ketika membuka mata, dia menjumpai dirinya
berada didalam sebuah kamar yang sempit, kecil lagi jelek.
Cahaya matahari memancar masuk melalui
jendela, tapi kamar itu kosong tidak berpenghuni, hanya diluar sana
lamat-lamat terdengar ada suara pembicaran orang serta suara benda
besi yang saling beradu.
"Berada dimanakah aku? Jangan-jangan sudah
dikhianati Thiat Tiong-tong? Mungkinkah orang diluar sana sedang
mempersiapkan alat siksaan untuk menginterogasi aku?"
Berpikir sampai disitu dia merasa sedih
bercampur gusar, rasa bencinya terhadap Thiat Tiong-tong pun makin
mendalam, dia mengira Thiat Tiong-tong telah mengkhianatinya.
"Thiat Tiong-tong wahai Thiat Tiong-tong,
asal aku bisa lolos dari maut hari ini, aku bersumpah akan mencabut
nyawamu, biarpun kau lari sampai ke ujung dunia pun aku tetap akan
mengejarmu!"
Tirai biru didepan pintu disingkap orang,
seorang nona berbaju hijau dengan rambut dikepang dua berjalan masuk
ke dalam ruangan.
Dandanan gadis ini amat sederhana, bedak pun
amat tipis, namun tidak dapat menutupi kecantikan alami yang
dimilikinya, baju warna hijau yang dikenakan selaras dengan potongan
tubuhnya, hanya sayang penampilannya amat dingin dan hambar, meski
matanya bersinar tajam namun kekurangan kelincahan dan sinar hidup,
seakan akan dibalik penampilannya yang cantik masih kekurangan
sesuatu.
Dia masuk sambil membawa sebuah baki kayu,
diatas baki tersedia mangkuk yang masih mengeluarkan uap panas, bau
harum obat segera memenuhi ruangan.
Tanpa berkata dia sodorkan mangkuk obat itu
ke hadapan Im Ceng.
"Siapa kau?" tanya Im Ceng sambil berusaha
bangkit.
Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya
berulang kali tanpa bicara, dia hanya menuding ke arah mangkuk obat
itu, maksudnya minta Im Ceng segera menghabiskan obat itu.
Tiba-tiba lm Ceng berpikir dengan penuh
amarah:
"Benar-benar sekawanan manusia keji,
kelihatannya mereka kuatir lukaku yang terlalu parah tidak tahan
disiksa, maka sekarang ingin mengobati lukaku lebih dulu kemudian
baru menyiksaku perlahan-lahan"
Si nona hanya mengawasi pemuda itu dengan
pandangan dingin, sorot matanya sama sekali tidak memancarkan sinar
kehangatan, hal ini memperkuat dugaan Im Ceng bahwa perempuan ini
memang anak buah musuhnya.
"Enyah kau dari sini, siapa yang kesudian
minum obatmu!"
Tampaknya nona berbaju hijau itu terkejut
bercampur keheranan, tapi dia tetap tidak berbicara maupun bergerak.
Sambil membentak gusar Im Ceng meronta
bangun, tangannya mendorong mangkuk obat itu kuat-kuat.
Tapi sayang karena baru mendusin dari luka
parahnya, dorongan itu sama sekali tidak bertenaga, dengan satu
kebasan gadis berbaju hijau itu berhasil menyingkirkan tangannya.
Menggunakan kesempatan itu dia cengkeram
tengkuk Im Ceng kemudian melolohkan obat itu dengan paksa.
Im Ceng sama sekali tidak mampu meronta,
sambil mencaci maki terpaksa dia telan obat pahit itu sampai habis,
kemudian baru melanjutkan kembali umpatannya.
Nona berbaju hijau itu sama sekali tidak
menanggapi, selesai meloloh pemuda itu dengan obat, dia segera
membalikkan tubuh dan berlalu dari situ.
Dibalik tirai merupakan sebuah kamar tidur,
meskipun perabotnya sederhana namun amat bersih, diluar kamar
merupakan sebuah halaman yang cukup lebar.
Ditengah halaman terlihat tungku api yang
membara, empat orang lelaki bertelanjang dada sedang menempa besi,
ternyata suara, bentrokan besi yang terdengar tadi berasal dari
sini.
Ketika nona berbaju hijau itu muncul di
halaman, salah seorang lelaki setengah umur yang sedang menempa besi
segera berpaling seraya bertanya:
"Apa dia sudah habiskan obat itu?"
Si nona manggut-manggut.
Sambil menghela napas kembali lelaki
setengah umur itu berkata:
"Pemuda itu diserahkan pada kita oleh ayah
angkatmu, maka kaupun harus merawat dia secara baik-baik,
penampilanmu jangan selalu dingin dan ketus, bikin orang salah
sangka dan mengira kau punya perasaan antipati terhadapnya"
Meskipun sedang mengerjakan pekerjaaan kasar
namun nada bicaranya tenang dan penuh tenaga, wajahnya pun kelihatan
amat berwibawa, begitu selesai berbicara kembali dia melanjutkan
pekerjaannya.
"Suhu" seorang pemuda yang lain berseru,
"silahkan kau beristirahat sejenak, beberapa macam senjata rahasia
ini toh bukan benda yang terlalu susah untuk dikerjakan, kenapa kau
orang tua mesti turun tangan sendiri"
"Sekalipun benda benda itu tidak susah
dibuat tapi jumlahnya banyak sekali, pihak benteng Han hong po pun
terburu ingin menggunakannya, kalau aku tidak turun tangan, pesanan
ini pasti akan terbengkalai, padahal kita sudah banyak tahun
berhubungan dengan mereka, selama ini pesanan mereka pun tidak
pernah dikirim terlambat, kalau kali ini sampai kacau, mau ditaruh
ke mana muka Tioji-siokmu"
Waktu itu Im Ceng yang ada dalam kamar masih
merasa jengkel bercampur dendam, apa mau dikata obat sudah masuk ke
dalam perut dan tidak mungkin bisa ditumpahkan kembali.
Dalam keadaan jengkel itulah dia menangkap
suara pembicaraan yang sedang berlangsung diluar, tapi apa yang
didengar tidak lengkap, lamat-lamat dia seperti mendengar orang
sedang berkata:
"Benteng Han hong
po.....terburu-buru.....turun tangan ......"
Im Ceng kaget setengah mati, segera pikirnya
lagi:
"Ternyata dugaanku tidak salah, asal kondisi
tubuhku pulih kembali, mereka pasti akan segera turun tangan untuk
meng interogasi aku"
Dia mulai meronta diatas ranjang, pikirnya
lagi dengan penuh kebencian:
"Biar harus matipun aku tidak sudi dihina
dan dipermainkan mereka, akupun tidak boleh membiarkan mereka tahu
kemana perginya ayahku.....
Thiat Tiong-tong, kau bangsat, kau
penghianat, kalau aku tidak mati pasti akan kucari dirimu!"
Entah disebabkan hawa amarahnya atau karena
pengaruh obat yang diminumnya, sekarang dia sudah mendapatkan
kembali berapa bagian kekuatan tubuhnya.
Sewaktu mencoba untuk periksa tubuhnya,
dijumpai semua luka yang ada ditubuhnya telah dibalut orang dengan
rapi.......tapi dia tidak percaya kalau luka itu dibalut oleh gadis
berwajah dingin itu.
Api kemarahan membuatnya berpikiran sempit,
tanpa berpikir panjang lagi dia mendekati jendela dan segera
melompat keluar dari ruangan. Rasa sakit yang menyayat kembali
menyerang sekujur tubuhnya, tapi dia menggertak gigi menahan
diri, sambil tertatih-tatih dia berusaha meninggalkan tempat itu.
Ternyata diluar jendela adalah sebidang
tanah pertanian yang luas, diantara sawah yang bersusun terlihat
sebuah jalan setapak yang berlapiskan batu kali.
Dengan sekuat tenaga dia berlarian ditengah
area persawahan itu, kemudian menjatuhkan diri bersembunyi
ditumpukan jerami, setelah itu baru pikirnya dengan perasaan sedikit
lega:
"Untung mereka anggap aku masih terluka
parah dan belum sanggup bangun untuk melari-kan diri hingga tidak
mengirim orang untuk melakukan penjagaan, kali ini berkat
perlindungan Thian aku berhasil lagi lolos dari cengkeraman tangan
iblis"
Pikiran anak muda ini seakan sudah disumbat
oleh dendam pribadi, dia seperti tidak bisa berpikir dengan lebih
tenang bahwa seandainya Benteng Han hong po benar-benar hendak
menginterogasi dirinya, mana mungkin dirinya dikirim ke sebuah rumah
jelek terpencil yang letaknya ditepi dusun?
Dia semakin tidak mengira kalau nyawanya
bisa selamat karena ditukar dengan nyawa Thiat Tiong-tong, dia pun
tidak tahu kalau keberhasilan-nya kabur dari hutan adalah berkat
jasa Tio Ki-kong yang menghantarnya ke rumah saudara angkatnya.
Dia bisa teledor dan tidak berpikir panjang
lantaran Im Ceng memiliki watak yang kelewat berangasan dan cepat
naik darah.
Siapa pun tidak menyangka kalau gara-gara
keteledorannya ini, dikemudian hari telah menciptakan sebuah badai
yang maha dahsyat. Setelah beristirahat sejenak ditengah tumpukan
jerami, Im Ceng kembali merangkak ketepi jalan, disitu dia jumpai
ada sebuah kereta yang dihela dua ekor kuda kecil sedang
bergerak mendekat.
Kusir kereta adalah seorang gadis berusia
empat, lima belas tahunan, sambil mengayunkan cambuknya dan
melantunkan nyanyian gunung, dia menjalankan keretanya dengan amat
santai.
Im Ceng kegirangan, pikirnya:
"Kelihatannya nona itu sedang mengantar
kongcu atau siocia nya berpesiar, kenapa aku tidak minta bantuan
mereka untuk membantuku kabur dari sini?"
Dengan sekuat tenaga dia lari ke tengah
jalanan, menghadang jalan pergi kereta itu.
"Hey, memangnya kau cari mati?" nona kecil
itu langsung menegur sambil melotot.
Sembari merentangkan sepasang lengannya kata
Im Ceng dengan suara dalam:
"Urusan sangat gawat, bolehkah aku naik ke
dalam kereta terlebih dulu sebelum bicara? Nona tidak usah kuatir,
aku bukan orang jahat!"
"Hmm, kau bukan orang jahat? Lihat
tampangmu sekarang, sudah pasti kalau bukan pencoleng tentu maling,
kalau tidak mau minggir, hati hati nona akan mencambukmu!"
Baru selesai nona itu berteriak, tirai
kereta sudah disingkap orang dan muncul sepasang mata yang jeli
mengamati Im Ceng dari atas hingga ke bawah, tiba-tiba ujarnya:
"Ming-ji, biarkan dia naik!"
Ming-ji, nona yang menjadi kusir itu
memperhatikan pula Im Ceng berapa kejap, kemudian sekulum senyuman
misterius menghiasi ujung bibirnya.
Ruang kereta itu amat bersih dan indah,
meskipun tidak terlalu lebar namun penuh diliputi bau harum
semerbak.
Seorang nyonya cantik bersanggul tinggi
sedang duduk bersandar, wajahnya penuh senyuman, saat itu dia sedang
mengawasi Im Ceng yang nampak sangat mengenaskan keadaannya.
Senyuman perempuan itu lembut lagi cantik,
sepasang matanya seolah memancarkan daya pikat yang mampu menggaet
sukma orang, kematangan dan kecantikan wajahnya gampang sekali
membuat perasaan kaum muda bergolak.
Dengan perasaan tidak tenang Im Ceng
menundukkan kepalanya, menunduk sangat rendah, bisiknya:
"Nyonya......."
"Aku dari marga Un, bukan nyonya"
Merah jengah selembar wajah Im Ceng.
"Aah, maafkan ketidak sopananku nona Un,
kali ini cayhe sedang dikejar-kejar musuh besar sehingga dalam
keadaan terpaksa telah mengganggu ketenangan nona"
"Tidak masalah, meskipun aku lemah tidak
punya kemampuan namun selalu mengagumi tingkah laku pendekar yang
suka berkelana dalam dunia persilatan"
Dia menggunakan senyuman yang paling manis
dan kerlingan mata yang paling lembut untuk menggantikan kata-kata
berikutnya.
Sesaat kemudian perempuan itu baru berseru
kepada Ming-ji yang ada di luar:
"Ming-ji, sedikit perlambat jalan keretamu,
Im kongcu sedang terluka parah, jangan sampai getaran menyebabkan
dia bertambah menderita"
Im Ceng kaget setengah mati, tanpa sadar
teriaknya:
"Darimana kau bisa tahu kalau aku bermarga
Im? Sebenarnya siapa kau?"
"Aaah, bukankah kongcu sendiri yang
memperkenalkan diri dari marga Im? Masa sekarang sudah lupa?
Mengenai siapakah aku........"
Dia tertawa lembut, sambungnya: "Aku hanya
seorang perempuan biasa" Diam-diam Im Ceng menghembuskan napas lega,
meski begitu perasaannya belum juga tenang, ujarnya:
"Saat ini aku sedang menderita luka parah,
sementara musuh besarku sangat lihay,
maka......"
"Kau tidak usah menjelaskan lagi, aku
mengerti" tukas wanita cantik itu sangat lembut, "rawatlah lukamu
dengan perasaan tenang, tidak nanti musuh besarmu bisa datang
mencari ke rumahku"
Kembali Im Ceng merasa tenang bercampur
terima kasih.
Tiba-tiba dari arah belakang berkumandang
suara langkah kaki manusia disusul seseorang berteriak keras:
"Nona, harap berhenti sebentar"
"Aah, mereka telah datang!" bisik Im Ceng
dengan wajah berubah.
"Jangan kuatir!" hibur perempuan cantik itu.
Kemudian sambil menarik muka dia membuka tirai keretanya seraya
menegur dingin: "Siapa kau? Ada urusan apa?"
"Aku adalah Li Ji, seorang pandai besi yang
tinggal di dusun sana"
"Dan sekarang telah berganti pekerjaan
menjadi bandit yang menghalangi perjalanan orang?"
"Tidak berani, aku hanya ingin bertanya
kepada nyonya apakah melihat keponakanku berjalan disepanjang
jalanan ini? Dia sedang menderita luka parah, kesadarannya belum
pulih kembali dan kini sudah kabur entah pergi ke mana?"
"Tua bangka sialan" umpat Im Ceng dalam
hati, "berani amat mengaku sebagai cianpwee ku, hmmm! Kalau sampai
bertemu lagi dikemudian hari, akan kusuruh kau merasakan bogem
mentahku!"
"Keponakanmu hilang? Kenapa mesti
ditanyakan kepadaku?" terdengar perempuan cantik itu menjawab
dengan ketusnya, "sana, cari sendiri!"
Habis berkata dia turunkan kembali tirai
keretanya.
Kereta kuda itu kembali bergerak, terdengar
Ming-jiyang ada didepan membentak nyaring: "Minggirkau!"
Menyusul kemudian terdengar suara cambuk
yang menghajar sesuatu, entah kuda yang kena dicambuk atau orang
tersebut yang dicambuk.
"Apakah musuhmu adalah seorang pandai besi?"
terdengar nyonya cantik itu bertanya sambil tertawa.
"Mana mungkin dia hanya seorang pandai
besi?" sahut Im Ceng mendongkol, "waktu itu aku tidak sadarkan diri
karena terluka parah, sehingga aku sendiripun tidak jelas bagaimana
ceritanya hingga terjatuh ke tangan mereka, kalau bukan gara gara
aku pingsan, memangnya seseorang dengan peran sekecil itu bisa
menyentuh diriku!"
"Tapi seandainya kau tidak terluka, akupun
tidak akan mengurusimu, bukan begitu Im kongcu?" perempuan cantik
itu mengerling sekejap sambil tertawa ringan.
Kerlingan yang menggoda, nada ucapan yang
lembut merayu, bau harum yang memabukkan membuat Im Ceng yang biasa
bergelimpangan diantara luka dan darah jadi sedikit terbuai, dia
merasa dirinya seolah-olah sedang berada di alam nirwana.
Terdengar nyonya cantik itu kembali berkata
lembut:
"Sekarang beristirahatlah dulu, setibanya di
rumah nanti aku tentu akan membangunkan dirimu lagi"
Im Ceng merasa amat berlega hati, benar
saja, tidak lama kemudian dia sudah terlelap tidur.
Saking tenangnya, pemuda itu tertidur sambil
mendengkur keras. Tiba-tiba terjadi perubahan hebat pada paras muka
nyonya cantik itu, kerlingan mata yang semula merayu kini berubah
jadi dingin, beku dan menyeramkan.
Dengan cepat dia mengeluarkan sebuah botol
kecil dari sakunya dan ditempelkan sejenak dihidung Im Ceng,
kemudian serunya:
"Ming-ji, cepat! Apakah majikan sudah
kembali ke rumah?"
Kereta kuda bergerak cepat, berlarian diatas
jalan setapak berlapiskan batu, tapi Im Ceng sudah tertidur makin
nyenyak karena benda yang baru saja ditempelkan dibawah hidungnya
adalah obat pemabuk yang paling hebat daya kerjanya.
Sementara itu nyonya cantik tadi telah
menggeledah isi saku Im Ceng, benar saja dari sisi pinggangnya dia
berhasil menemukan sebuah lengpay terbuat dari bambu, diatas lencana
perintah itu berukirkan sebuah panji sakti yang sedang berkibar.
Sambil tertawa dingin perempuan itu
bergumam:
"Orang she-Im, siapa suruh kau terjatuh ke
tangan lonio, jangan harap kau bisa kabur lagi!"
Lebih kurang seperminum teh kemudian
sampailah kereta itu didepan sebuah perkampungan dengan bangunan
yang indah, empat orang gadis berbaju putih segera muncul dari balik
halaman menyambut kedatangan perempuan itu.
Sambil melompat turun dari keretanya,
perempuan cantik itu segera berseru:
"Cepat gotong masuk! Bawa ke dalam ruang
rahasia"
Sementara dia sendiri melanjutkan langkahnya
masuk dulu ke dalam gedung.
Ming-ji yang mengikuti dibelakangnya
berbisik:
"Apakah hari ini majikan akan tiba disini?"
"Sudah kuperhitungkan, seharusnya dia akan
kemari"
"Lalu bagaimana dengan......."
"Tidak usah cemas, aku punya akal"
Setelah menembusi ruang utama dia menuju ke
beranda samping dan memasuki sebuah kamar tidur yang beribu kali
lipat lebih indah, lebih mewah daripada ruang keretanya tadi.
Ruangan itu sangat harum baunya, tirai tipis
bergelantungan di empat penjuru menahan cahaya terang dari luar,
permukaan lantai beralaskan permadani bulu yang tebal dan indah,
meredam suara langkah kaki, cahaya lentera yang lembut memancar dari
sudut sudut ruangan.
Diatas pembaringan yang terbuat dari gading
gajah, dibalik kelambu yang halus dan indah, berbaring seorang
pemuda berwajah tampan.
Ketika melihat kedatangan nyonya cantik itu,
pemuda tampan tadi segera melompat turun dari atas ranjang sambil
berseru:
"Aaah, akhirnya kau kembali juga, sungguh
tersiksa aku menunggumu!"
Dengan senyuman genit menghiasi bibirnya
nyonya cantik itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda itu,
katanya:
"Baru saja aku keluar rumah setengah harian,
betulkah kau merindukan aku?"
"Sungguh, aku berbicara sungguh-sungguh..."
Nyonya cantik itu tertawa cekikikan, sambil
menggoyangkan pinggulnya kembali dia berkata:
"Padahal kita baru berkenalan tiga hari,
masa kau selalu merindukan aku? Bagaimana selanjutnya?"
"Selanjutnya? Selama hidup aku tidak akan
biarkan kau pergi meninggalkan aku, inilah nasib yang diatur Thian
untuk kita berdua, sejujurnya, aku merasa bagaikan hidup dalam
impian, tidak jelas bagaimana kejadiannya tahu-tahu aku sudah naik
kedalam keretamu, kemudian tahu-tahu sudah tiba ditempat ini, tiba
disebuah tempat yang jauh lebih indah dari nirwana, bertemu dengan
seorang wanita cantik bak bidadari dari kahyangan, aaai! Hari itu,
andaikata aku tidak minum arak di dusun Sin hoa cun, mana mungkin
aku akan mengalami kejadian aneh seperti ini"
Bagai orang kerasukan sepasang tangannya
mulai menggerayangi seluruh tubuh perempuan cantik itu, sementara
bisikannya bagai orang yang sedang mabuk kepayang. Gumamnya lagi:
"Tay-tay, aku amat berterima kasih kepadamu,
sebelum berjumpa dengan kau, aku benar-benar tidak tahu kalau
kehidupan manusia sebenarnya begitu menggembirakan, begitu
menarik........"
Un Tay-tay meliuk-liukkan tubuhnya
mengimbangi gerayangan dari pemuda tersebut, sambil menempelkan
bibirnya disisi telinga anak muda itu, bisiknya pula:
"Kau benar-benar berterima kasih kepadaku?"
"Tay-tay, percayalah kepadaku" desis pemuda
itu penuh luapan emosi, wajahnya merah padam bagai orang mabuk,
"aku...... aku benar-benar berterima kasih kepadamu, saking terima
kasihnya, aku rela mati demi dirimu..."
Telapak tangannya yang sedang memeluk
punggung pemuda itu perlahan-lahan mulai bergeser naik ke atas
kepala dan berhenti diatas jalan darah giok-seng-hiat di belakang
otaknya, kemudian dengan lembut dia menotoknya.....
Anak muda itu masih memeluk tubuh perempuan
itu kencang-kencang, dengan napas tersengkal bisiknya:
"Sungguh, sungguh Tay-tay, mari
kita.........."
Mendadak dia menjerit ngeri, tubuhnya pun
terkapar lemas diatas pembaringan..
Sorot matanya masih memancarkan perasaan
terkejut bercampur ngeri, seolah-olah dia tidak percaya dengan
kenyataan yang baru saja terjadi, kegembiraan yang dinikmati selama
tiga hari ternyata harus dibayar dengan selembar nyawanya.
Kesenangan itu datang secara tiba-tiba,
pergi-pun secara tiba-tiba, sambil membelalakkan matanya
lebar-lebar, mengawasi perempuan cantik itu dengan pandangan
terkejut, ngeri, takut bercampur tidak percaya, teriaknya gemetar:
"Kau.......kau sungguh kejam........"
Kemudian semua kesenangan, kenikmatan dan
ketakutan berlalu untuk selamanya dari muka bumi.
Disamping cermin besar terdapat sebuah pintu
rahasia, dibalik pintu rahasia tersedia sebuah kolam mandi yang
sangat aneh, empat penjuru dindingnya berlapiskan cermin tembaga,
semen-tara kolam mandi itu sendiri terbuat dari lapisan batu kemala
putih, airnya terasa sangat hangat.
Perempuan itu sedang merendam diri dalam
kolam, membersihkan setiap jengkal tubuhnya dengan seksama, dari
atas hingga ke bawah tidak ada bagian yang terlewatkan.
Setiap kali selesai melenyapkan nyawa
kekasih jangka pendeknya, dia akan selalu merendam diri dan
membersihkan seluruh tubuhnya secara seksama, kemudian sewaktu
keluar dari kolam air itu dia seakan telah berubah jadi seorang
manusia baru, semua dosa, kesalahan, kecabulan dan kekejamannya
seakan akan ikut tercuci bersih oleh air hangat dalam kolam.
Saat ini dia sedang berdiri ditepi kolam
sambil memandang diri di cermin tembaga, wajahnya penuh senyuman,
senyuman yang polos, halus dan manja, polos bagai bayi yang baru
lahir dari rahim ibunya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki
disusul suara Ming-ji sedang memanggil: "Hujin!"
Dengan langkah lembut Un Tay-tay muncul dari
balik kamar rahasia, lalu sambil memutar tubuhnya dia berkata seraya
tersenyum:
"Ming-ji, coba lihat, cantikkah aku? Maukah
kau memeluk aku?"
Walaupun Ming-ji cukup memahami watak aneh
majikannya, tidak urung pipinya bersemu merah juga lantaran jengah,
katanya lagi lirih:
"Majikan telah pulang, dia
pulang dengan membawa luka!"
Agak berubah wajah Un Tay-tay, serunya
tertahan:
"Benarkah itu? Cepat gotong masuk!"
Baru saja dia mengenakan baju sutera halus
untuk menutupi badannya yang bugil, dua orang lelaki kekar telah
berjalan masuk sambil menggotong sebuah pembaringan empuk. Ketika
kedua orang lelaki itu menjumpai tubuh setengah bugil yang tertutup
kain sutera halus itu, sorot mata mereka seketika terpana, lama
sekali mereka hanya mengawasi perempuan itu tanpa tahu apa yang
mesti dilakukan.
Un Tay-tay mengerling sekejap, lalu serunya:
"Cepat baringkan loya diatas pembaringan, perlahan sedikit!"
Telapak tangannya seperti sengaja tidak
sengaja menuding ke arah pembaringan, tiba-tiba pakaian yang
dikenakan terbuka dan merosot ke bawah.
Dari balik pakaian yang terbuka segera
terlihatlah sepasang payudaranya yang putih, montok dengan dua
puting susu yang merah.
Kontan saja ke dua orang lelaki itu merasa
dengus napasnya memburu cepat, wajahnya berubah jadi merah padam,
buru-buru mereka tundukkan kepalanya, namun lagi-lagi secara
kebetulan mereka saksikan sepasang kaki dengan paha yang putih mulus
terbentang didepan mata.
Tampaknya Un Tay-tay merasa puas sekali
dengan tingkah laku ke dua orang lelaki itu, tanpa membetulkan letak
pakaiannya dia ber-tanya lagi: "Parahkah luka yang diderita loya?"
"Masih.....masih agak baikkan, dia......dia
orang tua telah.... telah diberi obat penenang oleh.... oleh Pek
jiya..... sekarang...... sekarang sudah tertidur nyenyak"
Lelaki kekar itu merasa mulutnya kering,
napasnya memburu sehingga untuk berbicara pun jadi tergagap.
Senyuman genit kembali tersungging diujung
bibir Un Tay-tay, katanya kemudian:
"Bocah bodoh, memangnya sepanjang hidup
belum pernah melihat wanita? Kalau pingin melihat, jangan melihatnya
dengan mencuri!"
Tiba-tiba dia busungkan dada sambil membuka
pakaiannya semakin lebar......
"Blaaam!" ke dua orang lelaki itu merasa
batok kepalanya seperti dipukul dengan palu besar, darah panas
langsung bergolak ke atas kepala, saking tegangnya ke empat anggota
tubuh mereka sampai gemetar keras.
Tapi sepasang matanya yang terbelalak lebar
seakan terkena hipnotis, mengawasi sepasang payudara wanita itu
tanpa berkedip.
"Bagaimana? Sudah cukup belum?" tanya Un
Tay-tay lagi sambil tertawa genit.
"Hamba...... hamba........" merah padam
wajah kedua orang lelaki itu, mereka jadi tergagap dan tidak mampu
menjawab.
Tiba-tiba Un Tay-tay menarik kembali
senyumannya, sambil membetulkan letak pakai-annya dia berkata
dingin:
"Kalian berdua telah menikmati
keindahan tubuhku, seandainya sampai ketahuan loya......Hmm! Hmmm!"
Berubah hebat paras muka ke dua orang itu,
buru-buru mereka menjatuhkan diri berlutut sambil memohon dengan
suara gemetar:
"Ham.... hamba memang pantas dihukum mati,
tolong...... tolong hujin mengampuni nyawa......nyawa kami!"
Kembali Un Tay-tay mengerling sekejap ke
wajah kedua orang itu, tiba-tiba dia tertawa lagi, tertawa manis.
"Sudahlah, kalian boleh pergi sekarang, aku
pun akan mengampuni kalian berdua, cuma ingat, bila selanjutnya ada
kejadian apa-apa di peternakan ini, jangan lupa datang melapor
kepadaku!"
Kedua orang lelaki itu menyahut berulang
kali, kemudian dengan wajah basah oleh keringat dingin
tergopoh-gopoh kabur dari situ.
Memandang hingga bayangan tubuh kedua orang
itu lenyap dari pandangan, Un Tay-tay baru tertawa menghina sambil
bergumam:
"Lelaki wahai lelaki, cuhh! Makhluk yang
paling tidak berharga didunia ini adalah orang lelaki, sekali aku
suruh kalian lari ke timur, tidak mungkin kalian berani menuju ke
barat!"
Dia membalikkan tubuh menghampiri ke depan
pembaringan, ternyata lelaki yang berbaring diatas ranjang itu tak
lain adalah Suto Siau.
Dengan pandangan asing dia mengawasi Suto
Siau, berapa saat kemudian sekulum senyuman baru menghiasi ujung
bibirnya.....karena pada waktu itu Suto Siau sudah sadar kembali
dari pingsannya.
Setelah dibokong Thiat Tiong-tong tadi,
meski dia sempat jatuh tidak sadarkan diri namun luka yang
dideritanya tidak terhitung parah, apalagi setelah diobati Pek
Seng-bu, boleh dibilang kini dia sudah mampu berbicara meski
kekuatan tubuhnya belum pulih kembali.
Un Tay-tay sudah duduk disisi tubuhnya,
mengawasi dengan wajah penuh rasa kuatir dan perhatian, kemudian
sambil bersandar di dadanya dia berbisik:
"Aku dengar kalian pergi menggropyok sarang
Perguruan Tay ki bun, padahal sejak kepergianmu, hatiku sudah amat
kuatir, tidak disangka ternyata kau benar-benar terluka"
"Lukaku ini tidak terlalu parah" sahut Suto
Siau jengkel, "tapi yang membuat aku tersiksa justru rasa
mendongkolku!"
"Kenapa mesti mendongkol? Masa kalian tidak
berhasil menangkap seorang anggota Perguruan Tay ki bun pun? Masa
kalian biarkan mereka berhasil kabur semua?"
"Bukan saja tidak ada yang berhasil
ditangkap, bahkan seorang pun tidak ada. Sebaliknya aku malah
dipecundangi oleh pemuda itu....."
"Aaah, jadi mereka berhasil kabur semua?
Aaai, bagaimana sekarang? Kalau bisa menangkap satu atau dua
diantaranya masih boleh....."
"Bila ada seorang anggota Perguruan Tay ki
bun yang terjatuh ketanganku, tentu saja hai ini sangat
menguntungkan, tapi sayangnya......"
"Seandainya ada satu orang dapat
menghantarkan seorang murid Perguruan Tay ki bun yang masih hidup
ke tanganmu, apa yang akan kau lakukan terhadapnya?"
"Akan kubagi separuh harta kekayaanku
kepadanya, juga......"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak
Suto Siau, dengan cepat dia meronta bangun, ditatapnya Un Tay-tay
tanpa berkedip, lalu tegurnya:
"Hey budak cilik, permainan busuk apa yang
sedang kau lakukan?"
"Aku? Mungkin saja aku berhasil menangkap
seorang anggota Perguruan Tay ki bun!"
"Sungguh?"
"Asal kau pegang janjimu, tentu saja
perkataanku pun sesungguhnya"
"Masa uang yang kuberikan masih belum
cukup?"
"Aku tidak mau duitmu, aku hanya mau
dirimu!"
Sambil tertawa lembut, dengan jari tangannya
yang lentik dia membelai kening Suto Siau, kemudian lanjutnya:
"Aku tidak menginginkan separuh harta
kekayaanmu, aku hanya ingin kau bikin mampus nenek sialan yang
memuakkan itu, aku ingin menjadi istri sah mu, aku sudah bosan
menjadi bini simpanan, penghidupan semacam ini sudah membosankan!"
"Memangnya kau sangka nenek itu gampang
dibikin mampus?"
"Aku yakin kau pasti punya akal untuk
mengatasinya, sayangku, berjanjilah untuk mengabulkan permintaanku
ini, aku janji, aku pun akan melayanimu dengan sebaik-baiknya"
"Asal kau berhasil merayu tawananmu hingga
mengakui tempat persembunyian orang-orang Perguruan Tay ki bun, aku
pasti akan mengabulkan juga permintaanmu"
Un Tay-tay kegirangan, teriaknya cepat:
"Itu mah gampang, sekarang juga.........."
Sembari berkata dia segera melompat turun
dari atas ranjang.
"Tunggu sebentar!"
mendadak Suto Siau mencegahnya.
Un Tay-tay menghentikan langkahnya sambil
memberi hormat.
"Masih ada perintah apa lagi?"
"Dengan cara apa kau akan memancing
pengakuannya?"
"Kini aku sudah menyekapnya dalam ruang
rahasia, asal kusuruh dia mencicipi dulu berapa macam alat
penyiksaan, memangnya dia tidak mau tunduk dan mengakui semuanya?"
"Tidak bisa, tidak bisa....."
"Kenapa tidak bisa? Semua alat siksaan itu
sangat hebat, biar lelaki yang terbuat dari besi baja pun tidak akan
tahan, apalagi terhadap tubuh lembut yang terbuat dari darah dan
daging"
"Biarpun tubuh anak murid Perguruan Tay ki
bun bukan terdiri dari besi baja, namun hati mereka, tekad mereka
jauh lebih teguh dari baja, sekalipun kau menghancur lumatkan tulang
belulang mereka pun, jangan harap bisa memperoleh pengakuannya
sepatah kata pun" "Lalu apa yang harus ku perbuat?" "Jalan kekerasan
tidak mungkin bisa berhasil, tentu saja harus menggunakan cara
lunak"
"Memangnya kau suruh aku menggunakan Bi
jin ki (siasat wanita cantik)?"
"Kecuali menggunakan cara kuno itu, rasanya
tidak ada cara lain di dunia ini yang bisa membohonginya, terpaksa
aku harus minta bantuanmu......"
Sambil menarik wajahnya Un Tay-tay pura-pura
gusar, serunya dengan nada tidak senang:
"Kau anggap aku ini perempuan apaan? Mana
mungkin aku boleh berbuat begitu dengan lelaki lain? Kalau aku
sampai melakukannya, dikemudian hari kau pasti muak kepadaku,
kau....kau suruh aku.....aku......."
Bicara sampai disitu dia segera menutupi
wajahnya dengan kedua belah tangan dan mulai menangis tersedu-sedu.
Suto Siau menghela napas panjang, hiburnya:
"Tay-tay, aku tahu kau memang wanita yang baik sekali, tapi posisi
kita memang terpojok, apa boleh buat, tanpa cara tersebut mustahil
kita bisa mengorek pengakuannya, tolonglah, maukah kau berkorban
untukku sekali ini saja?"
Tiba-tiba Un Tay-tay menubruk ke dalam
pangkuan Suto Siau dan menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah Tay-tay, jangan menangis" bujuk
Suto Siau sambil membelai rambutnya, "aaai, padahal aku sendiripun
merasa sayang, merasa berat hati, tapi......"
"Aku tahu, aku tahu..... aku..... aku
bersedia berkorban untukmu, aku bersedia melakukan pekerjaan
apa pun demi kau......."
"Sungguh Tay-tay? Aku tidak akan melupakan
pengorbananmu itu, selamanya......."
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"
Suto Siau menyapu sekejap sekeliling tempat
itu, kemudian baru menempelkan bibirnya di sisi telinga Un Tay-tay
dan membisikkan sesuatu, kemudian dia berkata lagi:
"Begitu tugas selesai, kau boleh membunuhnya
dengan telapak tanganmu sendiri!"
Setelah terisak lagi berapa saat Un Tay-tay
baru menghentakkan kakinya dengan gemas sambil berseru:
"Baik, baiklah, aku turuti kemauanmu, apapun
yang kau minta akan kulakukan....."
Sambil membesut air matanya dia segera
beranjak pergi dari situ.
Memandang hingga bayangan tubuh perempuan
itu lenyap dari pandangan, tiba-tiba Suto Siau tertawa dingin,
gumamnya:
"Perempuan cabul, lonte busuk, pandai amat
kau bermain sandiwara, hmmm, disangkanya aku tidak mengetahui semua
tingkah lakumu yang cabul itu? Hmmm, coba kalau aku bukan masih
punya selera untuk menidurimu, sudah sejak tadi kuhabisi nyawa
anjingmu itu"
Begitu keluar dari pintu kamar, Un Tay-tay
sudah berhenti menangis, sekulum senyuman bangga malah menghiasi
ujung bibirnya, dia segera bertepuk tangan sambil memanggil:
"Ming-ji!"
Ming-ji muncul sambil berlarian dari
kejauhan.
"Ada apa hujin?"
"Pemuda yang tadi........."
"Sudah kukirim ke ruang Teng-yu-wu!"
Dengan gemas Un Tay-tay
mentowel pipi dayang-nya, serunya sambil tertawa:
"Budak setan, ternyata pandai amat kau
menebak jalan pikiranku, tunggu dua hari lagi, kau pasti......."
Ming-ji segera menutupi sepasang telinganya
dengan tangan, dengan wajah merah jengah serunya genit:
"Aku tidak mau mendengarkan, aku tidak mau
mendengarkan......"
Dia segera membalikkan tubuh dan cepat-cepat
kabur meninggalkan tempat itu.
"Dasar budak cilik" maki Un Tay-tay sambil
tertawa, "coba lewat satu tahun lagi, belum lagi aku tawari, kau
pasti sudah meminta jatah kepadaku!"
Setelah melewati jalan yang berliku-liku,
menaiki tiga anak undakan, sampailah dia disebuah jalan kecil
beralas batu putih.
Batu yang bersih lagi bulat persis seperti
mutiara yang dijajarkan, ketika tertimpa cahaya matahari segera
memantulkan sinar yang berkilauan, jalanan itu lurus ke depan hingga
menembusi sebuah pintu berbentuk setengah lingkaran.
Setelah melewati selapis pintu, sampailah
disebidang tanah yang dipenuhi aneka pepohonan dan bunga, tampaknya
tempat itu adalah kebun belakang.
Diantara sebuah aliran sungai kecil dengan
air yang mengalir bersih, terdapat dua buah ayunan mungil, disamping
ayunan merupakan sebuah gunung-gunungan dengan kolam kecil
dibawahinya, bunga teratai yang sedang mekar dengan daun yang lebar
terapung diatas permukaan, sepasang bebek China berenang
berpasang-pasangan.
Dengan termangu Un Tay-tay mengawasi
sepasang bebek China itu berenang kian kemari berapa saat lamanya,
kemudian dia baru berjalan menuju ke gunung-gunungan itu.
Ternyata diatas gunung-gunungan terdapat
sebuah pintu rahasia, dibalik pintu rahasia itulah terletak ruang
Teng yu wu.
Perlahan-lahan dia mendorong pintu dan
melangkah masuk, betul saja, dibelakang pintu terdapat sebuah dunia
yang lain.
Dia berjalan menembusi sebuah ruangan lebar,
menyingkap sebuah tirai berwarna merah dan melangkah masuk ke dalam
sebuah kamar.
Bau harum semerbak kembali menyelimuti
seluruh ruangan, dibawah sinar lampu berwarna merah terlihat sebuah
pembaringan yang terbuat dari gading, Im Ceng masih tergeletak dalam
keadaan tidak sadar, dia tertidur dengan nyenyaknya dibalik selimut.
Perlahan-lahan Un Tay-tay menyingkirkan
kantung obat yang menempel diatas jidat Im Ceng dan duduk disisi
pembaringan, cahaya lentera berwarna merah yang memancar redup
membuat kerlingan matanya yang genit nampak lebih menarik, membuat
napsu birahinya makin berkobar.
Lama kemudian Im Ceng baru tersadar dari
tidurnya, dia seakan akan baru terjaga dari impian buruk, keringat
dingin membasahi seluruh jidatnya, ketika berjumpa dengan perempuan
itu, sekulum senyuman tenang baru tersungging dibibirnya.
"Nenyak betul tidurmu" bisik Un Tay-tay
sambil tertawa.
Dia mengambil selembar sapu tangan dan mulai
menyeka keringat yang membasahi jidat pemuda itu.
"Terima kasih nona, cayhe sudah merasa agak
baikan!" kata Im Ceng cepat.
Dia ingin meronta untuk bangun duduk, tapi
dengan lembut Un Tay-tay menekan bahunya melarang dia terbangun,
bujuknya lembut:
"Jangan sembarangan bergerak, nanti mulut
lukamu merekah lagi!"
"Cayhe sama sekali tidak kenal nona, aku
sudah berterima kasih sekali karena berkat bantuan nona, aku lolos
dari mulut macan. Mana berani aku mengganggumu lagi?"
"Kau mesti merawat lukamu sampai sembuh,
jangan banyak bicara, lebih-lebih jangan berpikir yang bukan-bukan"
kata Un Tay-tay lembut, "kalau tidak menurut, aku akan marah......."
Dengan lemah-lembut dia menarik selimut
untuk menutupi tubuh Im Ceng kemudian memandangnya sambil tersenyum.
Tidak lama Ming-ji muncul sambil membawa
sebuah baki, dalam baki tersedia sebuah gunting emas dan
obat-obatan.
Im Ceng semakin terharu, dia merasa
berterima kasih sekali kepada perempuan cantik itu karena mau
merawat lukanya.
Sejak kecil dia memang sudah terbiasa hidup
susah, apalagi dibawah didikan ayahnya yang keras lagi disiplin,
boleh dibilang belum pernah dia merasakan perhatian dan kasih sayang
seperti ini, tidak heran kalau perasaan hatinya jadi terenyuh dan
terbuai.
Bukan hanya begitu, dia pun merasa bahwa
perempuan cantik ini berhati mulia, sangat lembut dan penuh
perhatian, nyatanya terhadap seorang asing macam dia pun dia rela
turun tangan sendiri untuk merawatnya.
Yang tersisa dalam benak pemuda itu sekarang
hanya luapan rasa terharu serta terima kasih yang tidak terhingga,
sudah barang tentu tidak ada rasa was was maupun kewaspadaan barang
sedikitpun juga.
Dengan perasaan lega dan tenteram diapun
tinggal disitu sambil merawat luka yang didentanya.
Sementara waktu keadaanpun berlalu dalam
ketenangan dan kelembutan kasih sayang seorang wanita cantik.
BAB 4.
Gadis sendu di Lembah kehampaan.
Pada saat yang bersamaan, Thiat Tiong-tong
justru sedang mengalami kehidupan dalam badai ketidak tenangan,
kehidupan yang dipenuhi pergolakan, ketegangan serta ketidak
pastian.
Waktu itu anak muda tersebut masih berbaring
di dasar jurang, setelah berada dalam keadaan tidak sadarkan diri
berapa saat, lambat laun telinganya mulai dapat menangkap suara
nyanyian.
Suara nyanyian itu merdu merayu, tapi lagu
yang dinyanyian hanya mengulang kata yang selalu sama:
"Siapa namamu? Kau berasal dari mana?
Mengapa hanya tidak sadarkan diri? Cepatlah mendusin, ketahuilah,
aku sedang menantimu.... aku sedang menanti dengan penuh kecemasan!"
Seorang gadis berambut panjang duduk bersila
disamping Thiat Tiong-tong, dia sedang menengadah mengawasi awan
yang bergerak di udara sambil melantunkan nyanyiannya, dia seolah
sedang terbuai oleh nyanyian sendiri, terbuai hingga lupa daratan.
Thiat Tiong-tong yang memandang dari bawah
tidak sempat menyaksikan raut mukanya, dia hanya melihat pakaian
yang dikenakan perempuan itu terbuat dari kain goni yang kasar, baju
itu kotor lagi banyak berlubang, ternyata saat ini dia sedang
berbaring dengan berbantal diatas lututnya.
Dalam terkesiapnya dia cepat memiringkan
tubuh dan berguling menjauhi lutut gadis itu.
Nyanyian gadis itu seketika terhenti,
kemudian dia menundukkan kepalanya.
Ternyata walaupun suara nyanyiannya amat
merdu merayu, suaranya manis menawan, dia memiliki raut muka yang
kotornya luar biasa, seakan akan sudah cukup lama tidak pernah
dicuci dengan air, hanya sepasang matanya yang tampak jeli.
Thiat Tiong-tong sangat keheranan, belum
sempat dia bertanya, gadis itu telah bersenandung kembali:
"Siapa namamu? Kau berasal dari mana?"
Thiat Tiong-tong semakin terkesima, tanpa
sadar dia hanya mengawasi gadis itu dengan wajah termangu.
Gadis itu segera memutar biji matanya
berulang kali, sementara mulutnya masih berse-nandung:
"Aku bertanya kepadamu, mengapa kau tidak
menjawab? Apakah kau tidak pandai bicara? Apakah kau seorang bisu?"
Meskipun keheranan dalam hati kecilnya,
Thiat Tiong-tong merasa amat kegelian, segera tegurnya:
"Nona, sebetulnya kau sedang berbicara atau
sedang menyanyi, aku benar-benar dibuat kebingungan"
Gadis itu ikut tertawa, senandungnya:
"Menyanyi bagiku adalah berbicara, kau tidak
menjawab berarti tidak sudi berbicara, kalau kau tidak menjawab
pertanyaanku lagi, akan kukembalikan dirimu biar tergantung diatas
tebing!"
Diiringi suara tertawanya yang merdu,
ternyata dia benar-benar membopong kembali tubuh Thiat Tiong-tong.
Anak muda itu sadar, tampaknya gadis yang
agak miring otaknya ini selain nakal, diapun mampu melakukan
semua yang diucapkan, buru-buru sahutnya dengan lantang:
"Aku dari marga Tong bernama Tiong!"
Dia memang seorang pemuda yang cermat lagi
sangat berhati-hati, sebelum mengetahui asal-usul yang sebenarnya
dari gadis itu, dia enggan memberitahukan nama sesungguhnya.
Gadis itu segera tertawa terkekeh:
"Aku bernama Sui Leng-kong, sejak kecil
sudah hidup di tempat ini"
Dasar jurang itu dikelilingi tebing curam
yang sangat tinggi, empat penjuru hanya ada akar rotan yang
bergelantungan, selain itu diseputar sana pun dipenuhi dengan tanah
rawa-rawa, tempat dimana mereka berada sekarang merupakan sebidang
tanah berbatu berwarna hijau.
Ditempat semacam inipun ada kehidupan?
Bagaimana dia hidup? Bagaimana dia mencari makanan?
Sekilas perasaan sedih kembali melintas
diwajah gadis itu, kembali dia bernyanyi:
"Setiap hari aku hanya berdiri diatas batu,
aku tidak tahu bagaimana bentuk dunia diluar sana, seandainya aku
bisa naik ke sana dan melihat sebentar saja, biar harus matipun aku
tidak akan menyesal"
Irama lagunya sendu, membuat hati orang
beriba.
Thiat Tiong-tong merasa hatinya sedih, dia
tidak tahu dengan cara apa gadis itu bisa mempertahankan hidupnya
dalam lingkungan sesulit ini.
Kebutuhan materi memang menyedihkan hati,
tapi kesepian yang dialami dalam kehidupannya jauh lebih
mengenaskan.
"Setelah melewati kehidupan yang begini
susah dan pelik hampir belasan tahun lamanya, tidak heran
kalau dia berubah seperti orang idiot, berbicara dengan orang lain
pun menggunakan logat menyanyi"
Berpikir sampai disitu, tidak tahan anak
muda itu bertanya lagi:
"Apakah nona sendirian tinggal disini?"
Gadis itu menghela napas sedih,
senandungnya:
"Sejak kecil aku sudah tidak punya ayah,
hanya ada ibu, akupun tidak tahu bagaimana bisa datang ditempat
seperti ini?"
Belum lagi menyelesaikan nyanyiannya, air
mata sudah jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Thiat Tiong-tong mencoba memeriksa
sekeliling tempat itu, tampak tebing karang yang menjulang ke
angkasa mencapai ketinggian ratusan depa, permukaannya penuhi
ditumbuhi lumut hijau, tempat seperti ini benar-benar sulit
ditembus, jangan lagi oleh manusia, burung pun sulit untuk
melewatinya.
......Benarkah tidak ada jalan lain disitu?
Apakah aku harus hidup seperti dia, sampai
tua tetap tinggal ditempat ini?
Berpikir sampai disitu, tidak kuasa lagi
timbul perasaan bergidik didalam hati pemuda itu.
Tiba-tiba Sui Leng-kong bangkit berdiri,
ternyata gaun yang dikenakan hanya sebatas lutut hingga terlihatlah
kakinya yang kecil mungil tapi kotor oleh Lumpur itu.
Sambil menggeliat melemaskan otot
pinggangnya tiba-tiba dia tersenyum dan bernyanyi sambil bertepuk
tangan:
"Naikkan babi gemuk diatas jepitan besi.
Ranting pohon dibakar, bunyi mencicit,
Minyak babi meleleh membasahi bumi,
Kulit garing terpanggang jadi kuning.
Kuiris sepotong daging babi.
Silahkan, silahkan kau mencicipi"
Kemudian sambil tertawa cekikikan dia
membuat gerakan seolah sedang mengiris sepotong daging babi dan
menyuguhkan kehadapan Thiat Tiong-tong, kembali nyanyinya:
"Silahkan, silahkan kau mencicipi!"
Perempuan ini benar-benar setengah sinting,
sebentar dia menangis sedih, sebentar lagi tertawa riang, sekalipun
Thiat Tiong-tong merasa keheranan, tidak urung saat ini ikut
tertawa juga.
Ketika melihat pemuda itu tertawa, Sui
Lengkong semakin bergembira hati, lagi-lagi dia menyanyi sambil
tertawa:
"Mama sering berkata padaku, jadi orang
tidak boleh selalu sedih, setiap kali kau merasa sedih, sesaat
kemudian kau mesti menyanyi!"
Dia mulai mengelilingi tubuh pemuda itu dan
menyanyi sambil menari.
"Biarpun aku belum pernah mencicipi daging
babi, namun setiap hari aku dapat menikmati hangatnya matahari,
melamun makan babi di bawah terik matahari, bikin hatiku tidak
pernah bersedih hati!"
Diam-diam Thiat Tiong-tong menghela napas
panjang, pikirnya:
"Kalau orang yang hidup ditempat seperti ini
tidak pandai menghibur diri sendiri, waktu yang berlalu dapat
merupakan siksaan dan penderi-taan, tapi aneh, kenapa ibu beranak
ini bisa tinggal di tempat seperti ini?"
Dia tahu nona ini maupun ibunya tentu
memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.
Sebab orang yang tidak memiliki ilmu silat,
jangan harap bisa bertahan hidup di tempat seperti ini, atau mungkin
mereka datang ke situ karena sedang bersembunyi dari kejaran musuh
besarnya?
Siapakah musuh bebuyutan mereka? Berasal
darimanakah ibu beranak dua orang ini?
Baru saja pertanyaan itu melintas dalam
benak Thiat Tiong-tong, dari kejauhan sana sudah terdengar seseorang
memanggil:
"Leng-ji, kenapa belum pulang untuk menanak
nasi?"
Suara itu berat lagi mantap, sekalipun
berasal dari kejauhan sana namun Thiat Tiong-tong justru mendengar
seakan-akan berasal dari sisi telinganya.
Thiat Tiong-tong semakin terkesiap, belum
pernah dia jumpai seseorang yang memiliki tenaga dalam sedemikian
sempurna.
Dalam pada itu Sui Leng-kong sudah
membungkukkan tubuh seraya berkata:
"Ayoh jalan....ikut....ikut aku
pergi...menjumpai...ibu......"
Walaupun hanya satu kalimat pendek, ternyata
dia membutuhkan waktu cukup lama untuk mengutarakannya, bahkan
disampaikan dengan tergagap.
Sekarang Thiat Tiong-tong baru sadar apa
yang terjadi, pikirnya:
"Ternyata dia adalah gadis gagap, tidak
heran kalau dia enggan berbicara dan selalu menyanyi, aku dengar
orang bilang, dari sepuluh orang gagap, ada sembilan orang yang
tidak akan gagap sewaktu menyanyi, ternyata perkataan itu ada
benarnya juga"
Sementara dia masih berpikir, tubuhnya sudah
digendong gadis itu.
"Jarang..... jarang ada
orang....menemani.......menemani aku
bi...bicara, ma...maka aku tidak....tidak pandai bi.... bicara....
kau.....mentertawakan a.... aku?"
"Mana mungkin aku mentertawakan kau?
Selanjutnya aku pasti akan sering menemanimu berbicara, penyakitmu
itu tentu akan sembuh dengan sendirinya"
"Kau.....kau baik sekali!" Sui Leng-kong
segera tertawa lebar.
Gerakan tubuhnya cepat, ringan dan gesit,
bagaikan burung manyar yang menukik diatas permukaan air.
Thiat Tiong-tong semakin keheranan, dia
tidak menyangka kalau gadis tersebut memiliki kungfu yang begitu
hebat, pemuda ini jadi semakin penasaran, dia ingin mengetahui
asal-usul mereka.
Hanya dalam berapa kali lompatan saja, gadis
itu sudah melesat sejauh puluhan depa.
Sewaktu meluncur diatas rawa-rawa dan semak
belukar, gadis itu sama sekali tidak nampak mengeluarkan tenaga
banyak, Thiat Tiong-tong sadar, meski tidak berada dalam kondisi
terluka parahpun belum tentu ilmu ginkangnya bisa meiampuai
kehebatan nona ini.
Perguruan Tay ki bun selalu mendidik anak
muridnya secara ketat dan penuh disiplin, sejak kecil Thiat
Tiong-tong sudah berlatih silat, dengan bakatnya yang bagus,
kecerdasan otaknya yang melebihi orang, ditambah berkat petunjuk
guru kenamaan, kepandaian silat yang dimilikinya saat ini boleh
dibilang sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.
Tapi dibandingkan dengan nona cilik ini,
biarpun usianya masih muda belia, ternyata kehebatan kungfunya masih
jauh diatas kepandaian Thiat Tiong-tong, kenyataan ini benar-benar
membuat orang merasa terkejut bercampur keheranan, dia tidak bisa
membayangkan bagaimana cara gadis itu melatih ilmu silatnya.
Didepan sana terdapat sebuah batu gunung
setinggi empat depa, batu itu berdiri tegak persis dihadapannya,
batu itu nampak kering lagi bersih, kelihatannya sering dibersihkan
hingga berbeda sekali kondisinya dengan keadaan disekelilingnya.
Setibanya ditempat itu, Sui Leng-kong baru
memperlambat langkah kakinya, selangkah demi selangkah dia berlarian
dibawah rerumputan, seakan kungfunya secara tiba-tiba berkurang
sembilan puluh persen.
Baru tiba didepan batu hijau, napasnya sudah
tersengkal-sengkal seakan orang yang mau putus nyawa.
Thiat Tiong-tongjadi keheranan, pikirnya:
"Mungkinkah selama ini dia merahasiakan soal
ilmu silat? Mungkinkah dia berlatih kungfu tanpa sepengetahuan
ibunya? Lalu darimana dia pelajari ilmu silat yang tangguh itu?"
Semakin dipikir dia semakin keheranan,
akhirnya tidak tahan bisiknya:
"Jangan-jangan ilmu silatmu......"
Belum habis ia berkata, Sui Leng-kong sudah
menyumbat mulutnya dengan tangan, sorot matanya nampak gugup
bercampur ketakutan, sambil gelengkan kepalanya berulang kali,
bisiknya:
"Jangan......jangan bicara!"
Thiat Tiong-tong semakin keheranan, pelbagai
tanda tanya berkecamuk dalam benaknya.
Tampak nona itu dengan napas terengah engah
mengitari batu hijau itu, dibelakang batu hijau terdapat mulut gua,
ternyata batu hijau itu bermanfaat sebagai penyekat angin.
Mulut gua sempit lagi memanjang, walaupun
gelap, lembab dan menyeramkan namun semua-nya bersih dan teratur.
Sebelum melangkah masuk ke dalam gua,
terlebih dulu Sui Leng-kong membesutkan sepatunya yang berlumpur
diatas sebuah batu besar, kemudian setelah bersih dia baru masuk ke
dalam gua dengan sikap yang sangat menghormat.
Setelah berjalan kurang lebih dua puluhan
langkah, gua itu berbelok kesebelah kiri dan ruangan pun bertambah
lebar.
Ditengah sebuah ruang gua yang luasnya
mencapai empat, kaki depa persegi, diempat penjuru dinding bertumpuk
tumbuhan dan obat-obatan seperti san-ma, akar rotan serta bahan obat
lainnya.
Diatas seutas tali, tergantung tiga ekor
bangkai burung.
