ambang naga panji naga sakti 11

“Apakah perlu kita lepaskan senjata rahasia yang kita bawa. seperti halnya pula dengan mereka?”

“Kemungkinan sekali kira telah berada disuatu markas perkumpulan rahasia yang ada dalam Bu lim. tempat ini tidak kelihatan ada orang yang menjaga, kalau mereka secara diam diam mengawasi gerak gerik kita, tentu sang majikan tempat ini sudah menaruh kepercayaan pada orang yang hadir tadi bakal berani melanggar peraturan tersebut. Aku duga kalau sampai ada yang berani melanggar tentu akan menjumpai hal yang tidak menguntungkan sama sekali tidak tahu akan peraturan disini lebih baik kita berlagak pilon saja dan tak uiah lepaskan senjata.”

Poei Ceng Yan mengiakan, setelah menambat kudanya ujarnya kembali.

“Toako biarlah siauwte berjalan lebih dulu.”

Dengan langkah lebar ia segera berjalan nenuju bangunan desa tersebut.

Kwan Tiong Gak pun merasa apa yang dijumpainya ini hari merupakan peristiwa aneh yang belum pernah dijumpai selama ini. ia segera berkencang langkah kakinya mengikuti dibelakang Poei Ceng Yan.

“Saudara Poei” katanya. “Kita harus berhati-hati, keadaan ditempat ini sangat aneh sehingga saking anehnya membuat orang susah menduga apa sebenarnya yang telah terjadi.”

Mendadak Poei Ceng Yan menghentikan langkahnya dan berpaling.

“Toako, kau bawa serta peta pengangon kambing itu?” tanyanya.

“Tidak mengapa, aku telah menyimpannya dengan sangat baik, lagipula dalam keadaan seperti ini aku rasa tiada sangkut pautnya dengan pengangon kambing tersebut.”

Ditengah pembicaraan, mereka telah berada didepan bangunan tersebut.

Pintu bangunan itu tertutup rapat, tetapi dalam halaman yang luas duduk banyak sekali jago Bu lim.

Tiada meja atau kursi tersedia disana masing masing jago yang hadir segera mencari tempat duduk diatas tanah.

Im yang Siang Sah yang namanya telah tersohor dikolong langitpun ikut duduk disatu ruangan.

Berpuluh puluh jago kangouw duduk berkumpul dalam halaman yang sama dengan sikap tenang, tak kedengaran suara berisik yang memecahkan kesunyian.

Poei Ceng Yan melongok sekejap ke-arah halaman ini, temukan orang kangouw itu tak ada yang menengok kearahnya, seolah olah mereka sudah tak bergairah lagi untuk mengurusi orang lain lagi.

“Ssst….saudara Pui”" bisik Kwan Tiong Gak lirih “Kelihatannya orang orang ini bagaikan tawanan yang telah dijatuhkan hukuman mati saja, seolah peristiwa yang ada di kolong langit sudah tidak memperoleh perhatian dari mereka lagi.”

“Perlu kita masuk kedalam? tanya Pui Ceng Yan.

“Setelah tiba disini tentu saja harus masuk kedalam lihat lihai keadaan, namun kita tak boleh bersikap teristimewa nanti kita harus duduk pula ditengah hadiah seperti halnya mereka sembari diam meninggali kaadaan.”

Sementara kedua orang iiu kasak kusuk didepan pintu, para jago yang duduk dalam ruangan tak seorangpan yang berpaling atau memandang sekejap kearah mereka berdua.

Lambat lambat Pui Ceng Yan serta Kwan Hong Gak berjalan masuk kedalam halaman mencari tempat kosong dan duduk diatas tanah. Suasana dalam halaman sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, seketika secara diam diam Kwan Tiong Gak memperhatikan suasana disekeliling tempat itu, ia temukan orang orang itu seolah olah memiliki kesabaran yang luar biasa, dengan tenang dan mulut membungkam mereka duduk menanti. Sebaliknya Pui Ceng Yan memperhatikan keadaan bangunan tersebut, rumput alang alang tumbuh tinggi lagi lebat, jelas bangunan rumah ini sudah lama tidak dihuni atau diinjak manusia.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, pintu ruangan yang tinggi besar dan tertutup rapat itu tiba terbentang lebar.

Kwan Tiong Gak segera alihkan sinar matanya kembali, namun ia tidak berhasil menemukan sesosok manusiapun yang membuka pintu tersebut.

Belum habis rasa tercengang di nati, serentetan suara yang dingin dan nyaring berkumandang keluar dari balik ruangan.

“Cuwi sekalian boleh masak ke dalam ruangan, namun harus masuk satu persatu, tak boleh kacau balau tidak menurut aturan.”

Sepasang sinar mata Kwan Tiong Gak yang tajam dialihkan kedalam ruangan dan menyapu empat penjuru dengan seksama, namun agaknya orang orang barusan bicara ada maksud menghindarkan diri dari segala pengamatan, tak ditemui dimanakah ortng itu berada.

Tampaklah para jago yang semula duduk didepan halaman bersama sama bangkit berdiri, berbaris jadi satu barisan panjang dan lambat berjalan masuk kedalam ruangan.

Tiada seorang pnn yang berebut tempat, semuanya mengikuti aturan dengan bebas, secara bergilir masuk kedalam.

Melihat kejadian itu tak kuasa lagi Kwan Tiong Gak berpikir dalam hatinya, “Sebagian besar jago yang hadir disini merupakan jago-jago lihay dari kalangan Hek to, mereka sudah terbiasa mengumbar watak sombong, tinggi hati, jumawa dan susah di atur, untuk memaksa mereka berjalan dengan cara antri semacam ini benar beaar bukan suatu pekerjaan yang sangat gampang….”

Sementara hatinya sedang berpikir, ia-pun segera bangkit berdiri dan menggabungkan diri dengan barisan tersbut.

Setelah melalui pengamatan yang seksama selama beberapa saat, Kwan Tiong Gak merasa Im Yang Siang Sah merupakan jago kalangan Shia to yang memiliki kedudukan paling tinggi diantara jago jago lainnya, karena sebab itu sengaja ia beserta Poei Ceng Yan berbaris dibelakang Im Yang Siang Sah sembari mengamati perubahan selanjutnya.

Setelah masuk kedalam ruangan, tercium bau amis darah berhembus lewat membuat perut seketika merasa mual.

Agaknya sejak semula Im Yang Siang Sah sekalian sudah mengerti akan peristiwa tersebut, mereka tetap melanjutkan langkahnya kedalam dengan lambat dan sama sekali tidak menunjukkan suatu pertanda aneh, sebaliknya Kwan Tiong Gak lah yang merasa hatinya sedikit terkesiap.

Ketika ia angkat kepala keatas, tampak disebuah ruangan yang lebar dan luas teratur puluhan buah meja yang diatur dan di jejerkan satu sama lainnya sehingga membentuk sebuah meja yang panjang.

Perabot yang ada dalam ruangan tersebut kecuali meja berjajar jejer yang membentuk sebuah meja panjang, tak kelihatan benda lain, bahkan sebuah kursipun tidak nampak.

Diatas meja panjang tadi tersusunlah batok kepala manusia dengan teraturnya, dalam pandangan Kwan Tiong Gak sekelebatan ia menaksir batok kepala manusia itu semuanya berjumlah tiga enam butir lebih.

Walaupin batok kepala itu sudah di-pancung sangat lama, namun mimik wajahnya sangat berbeda satu sama lainnya. Ada yang mati mata melotot gusar alis berkerut, ada yang mati dengan mata terpejam wajah tenang adapula yang mati dengan wajah berkerut murung. Tanda tanda ini bisa menunjukkan betapa tersiksanya saat mereka menemui ajalnya.

Dibawah setiap betok kepala manusia tadi tertindih secarik kain putih yang tertuliskan nama sang korban.

Kwan Tiong Gak yang berjalan mengikuti di belakang Im Yang Siang Sah mengelilingi meja panjang itu, dalam sekaligus pandangan ia cepat membaca nama nama korban yang tercantum diatas kain putih.

Ternyata mereka adalah “Sah Cap Lak Yauw Jien” atau tiga puluh enam orang manusia siluman yang meurakan pentolan pentolan iblis kalangan Hek to paling kecil.

Ketika Piauw tauw she Kwan Ini meneliti warna darah yang masih ternoda diatas leher batok kepala tersebut, Ia menemukan bahwa warna darah tadi sama semua atau hal ini menunjukkan bahwa waktu kematian mereka boleh dikata hampir terjadi bersamaan waktunya.

Ini menunjukkan pula bahwa ketiga puluh enam manusia siluman ini tanpa berhasil melakukan perlawanan mati secara massal .dalam detik yang hampir berbareng.

Diam diam Kwan Tiong Gak merasa hatinya bergidik juga melihat keseraman suasana dalam ruangan, pikirnya “Seseorang usia mengumpulkan ketiga puluh enam orang manusia siluman disini lalu dalam waktu yang bersamaan membinasakan mereka secara berbareng, hal ini membuktikan bahwa orang itu harus melawan pula serangan gabungan dari ketiga puluh enam orang manusia siluman ini, kepandaian silat yang ia miliki tentu terhitung jago nomor wahid dalam Kolong langit saat ini …. .”

Haruslah diketahui ketiga puluh enam orang manusia siluman kendati bukan termasuk jago lihay dalam dunia persilatan, namun merekapun bukan manusia lemah dalam Bu-lim, terutama sekali ketiga puluh enam orang itu berkumpul jadi satu dengan sebuah barisannya yang sangat lihay.

Dengan barisan tersebut, pada beberapa tahun berselang mereka pernah mengalahkan tiga orang padri lihay dari Siaw lim pay karena peristiwa itulah nama mereka segera menanjak dikalangan Hek to maupun kalangan Pek to. Kebanyakan orang tidak berani mencari gara gara dengan ketiga puluh enam orang manusia siluman tersebut secara gegabah, hal ini membuat tingkah laku mereka semakin garang dan semakin sombong.

Tidak disangka, ternyata ini hari ketiga puluh enam orang manusia siluman itu sudah menemui ajalnya secara berbareng di tangan seseorang.

Sementara ia masih termenung, badan nya dengan mengikuti dibelakang Im Yang Siang Sah telah tiba disebelah ujung ruangan.

Agaknya orang orang yang masuk kedalam mangan itu sejak semula sudah ada perjanjian, setelah mengitari meja panjang tadi mereka bersama sama jalan keujung ruangan besar itu dan berdiri disana dengan teratur dan rapi.

Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan pun menggabungkan diri dalam barisan tersebut.

Dibelakang mereka berdua masih terdapat banyak sekali orang. beberapa saat kemudian semua orang sudah masuk kedalam ruangan dan berbaris membentuk sebuah kalangan yang teratur dan rapi. tak kedengaran sedikit suara berisikpun.

Enam tujuh puluh orang jago sana-sama berdiri tenang disana, tak kelihatan seseorang menunjukkan Suatu gerak gerik, kecuali suara, ringkikan kuda yang berkumandang tiada hentinya dari luar halaman ruangan.

Sepertanak nasi lamanya sudah lewat,, namun masih tidak kedengaran sedikit sunra pun.

“Saudara Poei!” tak tertahan lagi Kwei Tiong Gak bukan suara bebisik. “Kita tidak bisa berdiam terlalu lama disini, kita seharusnya segera berangkat….”

“Pergi…. pergi kemana??” tanya Poei Ceng Yan tertegun.

Agaknya pikiran serta kesadarannya telah terpengaruh oleh suasana kematian yang meliputi seluruh ruangan itu.

“Meninggalkan tempat ini “

“Mungkin beberapa patah kata ini di tetapkan sehingga tanpa terasa Im Yang Siang Sah sama sama berpaling memandang sakejap kearah kedua orang itu.

Kwan Tiong Gak tahu kedua orang manusia ini paling susah dihadapi, ia segera berlagak pilon dan tidak menggubris mereka berdua.

Im Yang Siang Sah agaknya kenal dengan Kwan Tiong Gak, namun seolah olah baru sekarang mereka menjumpainya.

Terdengar salah seorang diantaranya tertawa hambar dan menegur, “Ooooouw…. kiranya Kwan Cong Piauw tauwpun datang!”

Sebetulnya Kwan Tiong Gak ingin menanyakan kejadian sebenarnya, tetapi setelah teringat akan watak Im Yang Siang Sah ia merasa jauh lebih baik tak usah banyak bicara dengan mereka berdua.

Sambil menahan diri Ia segera mengangguk.

“Benar, siauwte pun ikut datang!”

Pada saat itulah tiba tiba terdengar suara teguran dingin berkumandang memenuhi seluruh ruangan, “Lun Tiong Sie Oh atau empat manusia jahanam dari Lun Tiong.”

Dari antara gerombolan manusia segera terdengar suara sahutan empat orang dengan nada yang serak gemetar.

“Kami empat manusia telah datang memenuhi perintah.”

Kwan Tiong Gak segera mendongak di tengah ruangan entah sejak kapan telah muncul seorang manusia berjubah hitam dan duduk menghadap dinding membelakangi para jago.

Kalau ditinjau dari dandanannya, mirip sekali dengan pakaian Majikan Lambang Naga Sakti yang tersohor itu.

Terdengar suara tadi kembali membentak. “Keluar!”

Empat orang lelaki kekar berwajah buas lammbat-lambat berjalan keluar dari barisan-Sepasang kaki mereka berempat tiada hentinya gemetar, langkahnya kelihatan sangat berat seolah olah susah digerakkan karena memikul beban seberat ribuan kati.

Siorang berbaju hitam ini sama sekali tidak berpaling, namun bagaiKan dipunggungnya tumbuh sepasang mata saja ia segera membentak dingin.

“Cepatan dikit jalannya!”

Keempat orang itu sama sama mengia-kan namun suaranya lirih dan kedengaran gemetar keras. Walaupun dalam hati ada maksud berjalan lebih cepat namun sepasang kaki tidak mau turut perintah.

“Sekarang boleh berhenti!” kembali si orang berbaju hitam itu memerintah.

Empat manusia jahanam dari keresidenan Lun Tiong berhenti, namun badan mereka gemetar semakin keras, membuat ujung baju bergoyang tiada hentinya dan setisp orang dapat melihat hal tersebut dengan amat jelas.

Karena siorang berbaju hitam itu duduk membelakangi para jago, maka semua orang tak dapat melihat bagaimanakah perubahan air muka serta raut wajahnya, tentu saja kecuali suaranya yang dingin dan ketus itu.

Terdengar ia memerintah kembali, “Laporkan sendiri dosa dosa kalian!”

Lun Tiong Su Oh dengan menuruti deretan Kedudukan mereka berdiri berjejer dari kiri kekanan.

Terdengar Sung Loo toa berkata, “Kami empat bersaudara pernah merampas barang milik orang lain, pernah melanggar pantangan memperkosa, sepasang tangan penuh dengan darah dosa kami sudah bertumpuk-tumpuk …. ….”

“Hm.! yang kutanyakan adalah peristiwa yang terjadi sewaktu bulan Tiong ciu tahun ini!” tukas si orang berbaju dingin ketus

Orang yang ada dipaling kiri segera menyambung.

“Hari itu kami telah merampok sebuah kereta berdua, melukai pemilik kereta, tua muda empat orang ditambah seorang kusir yang ada dalam kereta tersebut semuanya mati ditangan kami berempat….”

Siorang berbaju hitam tertawa dingin seketika Loo toa yang sedang mengaku semua dosanya membungkam dan berdiri terbelalak. Suara tertawa dingin itu sama sekali tidak istimewa, kedengaran menusuk telinga, tetapi berada dalam keadaan seperti ini mendatangkan suatu perasaan yang aneh membuat hati bergidik.

Loo toa dari empat manusia jahanam “Lun Tiong Sie On” membungkam dalam seribu bahasa, menanti suara tertawa dingin tadi sudah lenyap beberapa saat itu baru berkata kembali lambat lambat.

“Satelah peristiwa tersebut kami baru menemukan kalau diatas kereta tenebat terr….terr….terdapat See….selembar Lambang….lambang naga sakti….”

“Hmnm, apakah mata kalian sudah buta semua?”

“Cayhe sekalian patut dihukum mati,” seru Lun Tiong Sie On hampir berbareng.

“Bagus, sekarang kalian, harus mati, turun tanganlah sendiri, dengan demikian kalian masih bisa mempertahankan jenazah yang utuh.”

Diatas air muka Lun Tiong Sie Oh terlintas suata perasaan putar asa, mereka saling bertukar pandangan sekejap kemudian sama sama menggaplok ubun ubun sendiri. Empat sosok jenasah bersama sama roboh menggeletak diatas tanah.

Sementara Lun Tiong Sie Oh bunuh diri si orang berbaju hitam itu sama sekali tidak berpaling barang sekejappun. Kembali ia tertawa dingin.

“Oh Tiong Chie Hauw!” Tujuh orang lelaki setengah baya menyahut dan berjalan keluar dari barisan.

“Pindahkan dulu jenasah dari Lun Tiong Sie Oh kebawah meja panjang sebelah sana.”

Ketujuh orang itu tanpa membantah lagi bersama sama memindahkan jenasah Lun tiong Sie Oh ketempat yang dimaksud kemudian balik kedepan manusia berbaju hitam itu.

“Hmm! Kalian tahu dosa?”

Tujuh harimau dari Oh Tiong sama sama dibikin ketakutan, sahutnya berbareng, “Kami tahu dosa”

Agaknya ketujuh orang itu sudah dibikin ketakutan sehingga sukmapun terasa hampir melayang, jawaban tadi diutarakan tidak bersamaan sehingga kedengaran sungguh lucu.

“Bagus, kalau kalian sudah tahu salah hal ini lebih bagus lagi, sekarang cepat turun tangan membereskan diri sendiri!”

Saking takutnya ketujuh harimau dari Keresidenan Oh Tiong ini tidak ada keberanian untuk membantah, dari dalam saku mereka mengambil keluar sebutir pil beracun kemudian ditelan kedalam perut.

Beberapa saat kemudian air muka mereka berubah menghijau dan menemui ajalnya karena keracunan.

Ternyata mereka bertujuh sudah mengadakan persiapan terlebih dahulu, dalam saku masing masing telah tersimpan sebutir pil beracun guna melakukan bunuh diri. Sungguh hebat sekali si orang berbaju hitam ini, hanya beberapa kata saja ia telah memaksa sebelas orang bajingan Liok lim menemui ajalnya.

Kwan Tiong Gak yang melihat kejadian itu diam-diam merasa bergidik pikirnya, “Orang orang itu masih punya tenaga dan ilmu silatnya sama sekali belum pernah, kenapa suaranya tidak berani membantah dan mandah saja melakukan bunuh diri? Sungguh aneh sekali.!”

“Lok Chiet Nio!” kembali terdengar siorang berbaju hitam itu berseru.

Seorang perempuan dengan suara yang merdu segera menyambut, “Aku ada disini!”

“Kau keluar dari barisan!”

Dari antara barisan jago jago itu segera muncullah seorang perempuan muda berbaju biru yang kira kira berusia tiga puluh satu dua tahunan.

“Bagus sekali!” seru Kwan Tiong Gak dalam hatinya dengan hati tergetar keras

“Kiranya “Kiu Wie Hu” atau si rase berekor sembilan Lok Chiet Nio pun ada disini, perempuan ini sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, ia paling banyak merayu jago jago dari perguruan dari kalangan lurus, setelah melakukan zinah lalu mengeluarkan ilmu hitamnya. Pihak Siauw lim serta Bu tong pay pernah mengirim jago-jago lihaynya untuk mengejar dia, namun jejaknya lantas lenyap tak berbekas. Orang ini benar benar luar biasa, bukan saja amat cabul bahkan permainan cintanya disertai ilmu hitam, walaupun usia nya makin menanjak namun setiap orang yang pernah melakukan perzinahan dengan dirinya selama hidup tak bisa melupakan dirinya lagi. Maka tidak sedikit orang suka mengorbankan jiwanya untuk berbakti kepada-nya.

Tampak Lok Chiet Nio dengan badan gemetar maju beberapa langkah kedepan. Serunya lirih, “Aku adalah orang perempuan….”

“Aku tahu!” tukas si orang berbaju hitam itu dengan nada ketus. “Maka dari itu aku mengijinkan dirimu untuk bunuh diri dengan menggantungkan diri!”

“Apakah aku harus mati?”

“Ehm….!! Dengan kecantikan wajah kau memancing banyak orang, dosa yang kau lakukan sudah bertumpuk-tumpuk….”

“Tetapi hal ini dikarenakan mereka punya keinginan sendiri, mereka tak bisa melupakan diriku dan rela tunduk kepadaku” tukas Lok Chiet Nio dengan cepat. “Lain kali aku tak akan melanggar lagi dosa ini.kalau kau dapat mengampuni selembar jiwaku, mulai saat ini aku akan masuk kedalam biara cukur rambut sebagai nikouw, sepasang hidup tak akan berbuat dosa lagi….”

Lok Chiet Nio adalah seorang perempuan cabul yang sudah memiliki pengalaman banyak dalam hal bercinta, tingkah laku serta setiap ucapannya mendatangkan perasaan sayang serta mempersonakan bagi orang yang mendengar.

Namun si orang berbaju hitam itu sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan itu, kembali ujarnya dengan suara dingin, “Sejak lambang Naga Sakti muncul dalam duria persilatan, ia telah menetapkan peraturan yang harus dituruti oleh semua orang, walaupun kau sudah banyak melakukan perbuatan keji dan cabul, asalkan hal tersebut sama sekali tidak menyinggung nama baik Lambang Naga Sakti, akupun tak akan mengurusi dirimu. Namun kau berani pandang hina lambang Naga Sakti, dosamu ini tak bisa diampuni lagi. Mengingat kau adalah seorang perempuan aku biarkan kau mati dengan badan utuh, sekarang cepatlah pergi gantung diri untuk menebus dosa dosa tersebut.”

Air mata jatuh berlinang membasahi kelopak matanya, dengan suara keras ujar Lok Chiet Nio kembali, “Lambang Naga Sakti sudah ada puluhan tahun lamanya lenyap dari dunia persilatan. Sejak aku dilahirkan dalam kolong langit belum pernah terdengar berita tentang Lambang Naga Sakti itu lagi, pepatah Kuno mengatakan begini: Yang tidak tahu tidak berdosa sekalipun aku telah menjumpai lambang Naga Sakti tetapi aku tak mengenalinya “

Mendengar perkataan itu Kwan Tiong Gak segera berpikir dalam hatinya.

“Walaupun Lok Chiet Nio bukan termasuk seorang manusia baik, tetapi apa yang di ucapkan memang amat ceng li!”

Namun si orang berbaju hitam itu sudah menegur dengan suara dingin.

“Kalau begitu, aku sudah salah menuduh dirimu “

“Seandainya kau suka bicara menurut cengli, tidak seharusnya kau paksa aku uantuk melakukan bunuh diri.”

“Kenapa gurumu tidak beritahukan persoalan lambang Naga Sakti ini kepadamu?? sekalipun kau tidak berdosa namun peristiwa ini akan merembet keseluruh perguruanmu!”

“Sekalipun begitu, tetapi guruku yang menurunkan ilmu silat kepadaku sudah lama meninggal.”

Siorang berbaju hitam itu segera tertawa dingin.

“Lek Chiet Nio, kau tidak usah membantah lagi. sekalipun guru yang menurunkan ilmu silat kepadamu benar benar sudah mati, tetapi diantara perguruanmu tentu masih ada orang lain. Majikan lambang naga sakti bukan seorang manusia yang gampang ditipu, tetapi majikan lambang naga sakti pun bukan seorang manusia yang tidak pakai aturan, kau tetap tinggal disini, nanti aku bawa kau pergi keperguruan untuk mencari bukti. Tetapi kau harus tahu dulu, kalau kau bicara bohong maka aku akan menggunakan suatu cara yang paling keji untuk mencabut selembar jiwamu.”

Lok Chiet Nio sekatika dibikin tertegun.

“Agaknya belum aku mati, hatimu belum mau terima?”

Ia lepas ikat pinggangnya dari badan lalu diikat diatas tiang ruangan dan membuat sebuah simpul hidup, setelah itu sambil mengucurkan air mata ujarnya.

“Apakah terhadap seorang perempuan-pun kau tidak mau melepaskan….”.

“Hm….! melepaskan dirimu bukankah sama arti telah melanggar pantangan Lambang Naga Sakti dalam menghukum mati sang pelanggar.?”

Perlahan-lahan Lok Chiet Nio menghela napas panjang.

“Dalam dunia persilatan banyak terdapat manusia keji, namun tak ada yang lebih keji.majikan Lambang Naga Sakti, tak ada se-orang korbanpun yang dilepaskan sebelum mereka semua dibinasakan.”

Kepalanya segera dimasukkan kedalam simpul hidup tadi, tangan dilepaskan dan ba ¦mpuu bergantung diatas tiang, beberapa saat kemudian ia telah menemui ajalnya

“Im Yang Siang Sah” suara pencabut nyawa dari siorang berbaju hitam itu kembali Berkumandang datang.

Im Yang Siang Sah yang tersohor akan kekejiannya segera mengiakan dan berjalan ke luar dari barisan.

“Kalian berdua tahu dosa??”

“Kami tahu salah.”

“Bagus, kalian hendak turun tangan sendiri ataukah menanti aku yang turun tangan?”

Setelah kematian ada diambang pintu perasaan takut dan jeri yang semula meliputi  kedua orang pentolan iblis ini malah lenyap tak berbekas, mereka jadi tenang sekali.

Terdengar Im Sah Yang ada disebelah kiri tertawa kering, ujarnya, “Kami tidak ingin mati, harap kau orarg tua suka memberikan budi yang istimewa ke pada kami….”

“Lek Chiet Nio seorang wanita pun sama halnya harus mati. apalapi kalian berdua adalah lelaki sejati.

Sejak dahulu Im Yang Siang Sah berkelana dan mengembara berbareng, dalam menghadapi serangan musuhpun mereka sudah punyai hubungan batin yang erat, ketika Im Sah sedang berbicara tapi diam diam Yang  Sah telah mengumpulkan hawa murninya ke seluruh badan.

Belum habis si orang berbaju hitam itu menyelesaikan kata katanya, Yang Sah telah turun tangan. Telapak kanannya diayun kedepan menghajar jalan darah “Ming Cun Hiat” pada punggung orang berbaju hitam itu.

Bersama waktunya pula Im Sah mengalunkan tangannya kedepan, segenggam cahaya keperak perakan segera meluncur kedepan.

Kalau dibicarakan dari kepandaian silat yang dimiliki Im Yang Siang Sah ditambah pula jarak yang demikian dekatnya, untuk menghadapi serangan telapak serta senjata Rahasia yang dilancarkan hampir berbareng bukanlah merupakan suatu pekerjaan gampang.

Terdengar si orang berbaju hitam itu tertawa dingin, sembari putar badan pedangnya membabat keluar, tampaklah serentetan cahaya tajam dengan menimbulkan desiran tajam meluncur keluar.

Terdengar dua kali suara dengusan berat berkumandang memecahkan kesunyian, Im Yang Siang Sah hampir bersamaan waktunya tersambar pedang lawan dan roboh Keatas tanah.

Ujung pedang menembusi dada mereka hingga tembus kepunggung, tetapi menanti badan mereka berdua sudah roboh keatas tanah, darah segar baru mengucur keluar dari dada.

Gsrakan si orang berbaju hitam itu dalam putar, ayun pedang, boleh dikata dilakukan hampir dalam waktu bersamaan dan susah diikuti dengan pandangan mata.

Tak seorangpun dapat melihat bagaimanakah raut wajahnya, juga tak ada yang melihat ilmu pedang apa yang digunakan semua orang hanya merasa ia ayunkan tangannya kebelakang diikuti serentetan hawa pedang, yang tajam telah menyampok rontok jarum-jarum beracun yang meluncur datang.

Dalam sekejap mata suasana dalam ruangan berubah kembali jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Orang orang yang ada dalam ruangan itu tidak sedikit yang berharap bisa melihat kelihayan dari ilmu silat majikan Lambang Naga Sakti, namun tak seorangpun yang dapat memenuhi harapan tersebut.

Kiranya, gerakan si orang berbaju hitam dalam putar badan melancarkan serangan di lakukan dengan kecepatan luar biasa sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata.

Sekalipun Kwan Tiong Gak sendiri yang sudah membentangkan sepasang matanya lebar lebarpun tak berhasil menemukan sesuatu apapun.

Melihat kelihayan si orang berbaju hitam dalam membinasakan Im Yang Siang Sah hanya dengan sebuah jurus serangan belaka hati semua jago bertambah menghormat dan kagum lagi.

Terdengar si orang berbaju hitam itu berseru kembali dengan suara dingin,

“Kalian semua datang kemari karena berani memandang rendah lambang naga sakti. aku tahu walaupun dalam hati kalian tidak menaruh hormat pada lambang tersebut, tetapi kalian tahu melanggarnya bukan suatu perbuatan baik. Mengingat kalian baru melanggar untuk pertama kalinya kali ini aku suka membuka satu kesempatan hidup buat kalian meminjam mulut kamu semua aku ingin agar peristiwa yang terjadi ini hari bisa tersiar dalam dunia persilatan….”

Ia merendek sejenak, kemudian terusnya, “Sekarang kalian boleh pergi semua.”

(Bersambung ke jilid 22)

Jilid 22

PULUHAN orang jago yang ada dalam ruangan tak seorangpun yang buka suara, dengan suasana diliputi kebeningan seorang demi seorang putar badan berjalan keluar dari ruangan tadi dengan teratur.

Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan pun mengikuti dari belakang orang orang itu berjalan menuju keluar.

“Barang siapa yang membawa senjata harap tetap tinggal diam!” tiba-tiba si orang berbaju hitam itu membentak keras.

Kwan Tiong Gak tertegun dan segera berhenti. Ternyata golok emas yang digembol dibadan tidak dilepaskan dan semua orang dapat melihatnya sangat jelas, ingin pura-pura berlagak pilonpnn tak mungkin.

Melihat Kwan Tiong Gak berhenti. Poei Ceng Yan pun segera ikut berhenti.

Walaupun suasana dalam ruangan itu sunyi tak kedengaran suara, tapi tak ada yang berani berebut jalan. Sekalipun begitu para jago tadi berlalu dengan cepatnya. Dalam sekejap mata tak ketinggalan seorang manusia-pun.

Beberapa saat kemudian dalam ruangan tadi tinggal Kwan Tiong Gak, Poei Ceng Yan serta si orang berbaju hitam itu.

“Cayhe orang she Kwan!” terdengar Kwan Tiong Gak mendehem perlahan memecahkan kesunyian.

“Hhhmmmn….! Cong Piauw tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok, si golok emas yang menggetarkan delapan penjuru.”

“Tidak berani, tidak berani. Sudah lama orang she Kwan mendengar nama besar dari lambang nsga sakti. Beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa muka”.

“Barang siapa yang berjumpa dengan Lambang Naga Sakti, selamanya lebih banyak bencana dari pada rejeki, kenapa Kwan Cong Piauw tauw mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang lain?”

“Menurut pandangan cayhe. mnjikan lambang Naga Sakti tidak lebih hanya meminjam lambang tersebut untuk melakukan kebajikan dalam Bu lim. Aku orang she Kwan merasa diriku selama hidup belum pernah melakukan pekerjaan yang merugikan orang, walaupun berhadapan dengan lambang naga sakti sama sekali tak perlu merasa jeri!”

“Hmm! saudara terlalu percaya pada diri sendiri….”

Mendengar ucapan itu Kwan Tiong Gak tertegun, sebelum ia sempat berbicara siorang berbaju hitam itu telah mendahului berkata lebih lanjut.

“Langganan perusahaan Hauw wie Piauw kok kalian tidak sedikit merupakan pembesar rakus, penjilatan serta manusia manusia sia rendah yang suka memeras rakyat, sekalipun kalian tahu mereka adalah manusia rendah namun kalian -antar juga mereka tiba di tujuan dengan selamat, bukankah hal ini merupakan suatu perbuatan jahat? Apalagi kau Pun sudah lama mendengar tentang persoalan lambang naga saki, rasanya sudah tentu tahu bukan akan peraturan yang telah ditetapkan oleh sang majikan lambang naga sakti.”

Poei Ceng Yan yang sudah disamping dalam pada wkatu itu mengerti, dalam jawaban ini asalkan Kwan Tiong Gak salah berbicara sekejap saja maka suatu pertarungan lengit tak akan terhindar. Buru- buru serunya, “Tolong tanya peraturan apakah itu?”

“Siapa kau?”

“Cayhe Poei Ceng Yan.”

“Ooooouw….! Hu Cong Piauw tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw wie Piauw kiok!”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Setiap orang Bu-lim rasanya tentu tahu bahwa majikan lambang naga sakti telah menetapkan barang siapa yang hendak menghadap diriku dilarang menggembol senjata tajam atau sejumpil besipun, sekarang bukan saja kalian menggembol senjata rahasia bahkan secara terang terangan membawa senjata tajam. Bukankah hal ini sama artinya kalian sudah melanggar perturan tersebut?”

“Oooooo….! kiranya peraturan Itu. tentang hal ini sih kami sudah tahu sejak dahulu.”

“Jadi kalian sudah tahu tetapi sengaja hendak melanggarnya?”

Poei Ceng Yan segera tertawa hambar, “Sebelum berjumpa dengan saudara, kami tidak tahu kalau orang orang banyak tadi datang kemari hendak bertemu dengan diri mu, apalagi saat ini saudara mengaku sebagai majikan lambang naga sakti, namun kami tak tahu benarkah kau majikan lambang naga sakti atau bukan, kami hanya bisa meraba dan menduga dari potongan bajumu….”

“Jadi kalau begitu kalian menganggap aku adalah orang yang sengaja memalsukan nama Majikan lambang naga sakti?” tukas siorang berbau hitam itu sambil tertawa dingin.

“Tentang soal itu sih cayhe tidak berani memastikan, melihat kehebatanmu dalam membinasakan Im Yang Siang Sah, jikalau bukan majikan Lambang naga sakti sendiri memang sudah memiliki kepandaian silat sedahsyat ini.”

Siorang berbaju hitam itu termenung Sejenak. akhirnya ia mengangguk.

“Baik! siapa tidak tahu dia tak salah, kalian boleh pergi.”

“Terima kasih ates kebesaran hati saudara.” Kwan Tiong Gak segera menjura memberi hormat, lalu menyeka keringat yang membasahi seluruh wajahnya.

Siorang berbaju hitam itu tidak balas memberi hormat juga tidak bicara lagi, ia hanya berdiri tenang disana tanpa bicara lagi.

Dengan langkah cepat Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan segera meninggalkan ruangan tadi masuk kedalam hutan, dimana kedua ekor kudanya masih tertambat ditempat semula.

Kecuali kedua ekor kuda mereka, masih ada lagi belasan ekor kuda yang tertambat ditempat semula lengkap dengan pelananya.

Jelas kuda kuda itu adalah binatang peninggalan dari mereka mereka yang terbunuh mati.

Kwan Tiong Gak segera melepaskan tali les dan berkata, “Aaaaahh! Nasib kita sungguh baik sekali! ternyata bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat, menurut apa yang kuketahui ini ia termasuk manusia paling beruntung daripada yang pernah terjadi selama ini.”

“Tapi kita sudah terlalu cepat berlalu….”

“Apa? Kita pergi terlalu cepat?” Seru Kwan Tiong Gak tertegun, ia tidak mengerti maksud kawannya ini.

“Benar! Ada banyak persoalan yang ingin kutanyakan kepadanya, tetapi semuanya tidak sempat kuutarakan.”

“Apa yang Ingin kau tanyakan kepadaku. Mengapa dia suka membantu kita meninggalkan lambang naga sakti tersebut sehingga berulang kali kita terhindar dari bahaya.”

“Perkataanmu sangat cengli” Kwan Tiong Gak mengangguk. “Agaknya si majikan lambang naga sakti menaruh pengeluaran terhadap kita!”

Poei Ceng Yan yang telah melepaskan tali les kudanya mendadak mengikat kembali tali les tadi ke tempat semula, ujarnya, “Toako, kau tunggulah sebentar di sini. aku mau pergi menjumpai dirinya lagi”.

Tidak menanti jawaban ia segera putar berjalan kedepan.

Kwan Tiong Gak coba sambar tangan kanannya untuk mencegah niat tersebut, namun usahanya gagal. Poei Ceng Yan dengan cepat telah berlari menuju ruangan tersebut.

“Saudara Poei, aku menanti dirimu di-sini, kau harus cepat pergi cepat kembali!” terpaksa Ia berteriak.

“Toako”, Poei Ceng Yan pun berteriak keras. “Seandainya sepertanak nasi kemudian aku masih belum kembali, kaupun tak usah menanti diriku lagi”

Kwan Tiong Gak masih ingin mengucapkan sesuatu, tetapi pada saat itu Poei Ceng Yan telah masuk kedalam ruangan.

Memandang bayangan punggung Poei Ceng Yan yang lenyap dibalik ruangan. Kwan Tiong Gak merasa sangat kuatir, pikir-nya dalam hati.

“Seandainya saudara Poei bentrok dengan majiKan lambang naga sakti, ditinjau dari kepandaian si majikan naga sakti dalam membinasakan Im Yang Siang Sah, rasanya Poei jie-te pun tak akan bisa tahan terhadap sebuah serangannya….”

Ia berusaha untuk menghilangkan ingat-jelek atas nasib saudaranya, namun peristiwa berdarah yang baru saja berlangsung masih membekas sangat jelas didepan mata, untuk sesaat ia susah untuk melupakannya Kembali.

Dengan hati penuh perasaan cemas ia menanti entah berapa saat lamanya, yang jelas dalam perasaan Kwan Tiong Gak waktu berlalu dengan lambatnya laksana rangkakan siput.

Akhirnya Kwan Tiong Gak merentangkan tangannya, menenangkan hati yang kuatir meloncat turun dari kuda dan berjalan menuju keruangan tersebut.

Sembari berjalan, tangannya tanpa terasa telah meraba gagang golok emas serta piauw genta emas yang ada dalam pinggang, ia tahu kepandaian silatnya tak mungkin bisa memenangkan ilmu silat yang dimiliki majikan lambang naga sakti, namun demi persaudaraan mau tak mau ia harus berjalan untuk menempuh bahaya.

Ketika ia tiba didepan pintu, sinar mata nya pertama tama terbentur dengan mayat-mayat yang menggeletak diatas lantai, seketika bulu roma pada bangun diri, rasa bergidik susah ditahan lagi sehingga ia segera berhenti bergerak

Entah berapa lamanya Ia berdiri kebingungan mendadadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari arah belakang.

Suara tersebut munculnya sangat mendadak membuat Kwan Tiong Gak yang sedang terjerumus dalam lamunan seketika tcrsadar kembali.

Ia segera berpaling, tampaklah Ke Giok Lang sambil menggoyangkan kipasnya telah berdiri beberapa tombak dibelakang.

Kwan Tiong Gak segera mendehem kemudian tegurnya!

“Ke Kongcu, kedatanganmu kembali terlambat satu tindak. Kalau satn jam lebih pagi kau tiba disini maka kau bisa memjumpai majikan lambang naga sakti….,”

Tiba tiba teringat olehnya kemungkinan besar majikan Lambang Naga Sakti masih berada dalam ruangan tersebut, karena itu ia masih berada dalam ruangan tersebut, karena itu ia segera membungkam.

Tampak Ke Giok Lang lambat lambat berjalan mendekat, sahutnya, “Mungkin cayhe memang tak ada jodoh dengan majikan lambang naga sakti!”

“Mungkin saat ini majikan Lambang Naga Sakti masih ada didalam ruangan ini, jikalau Ke heng ada kegembiraan tiada halangan kau boleh masuk kedalam untuk meninjau sendiri atau paling sedikit kau bisa menjumpai mayat serta batok kepala yang menggeletak disana.”

Air muka Ke Giok Lang sedikit berubah tak dapat diduga ia sedang tertawa atau bukan. Sepasang mata dengan tajam memperhatikan diri Kwan Tiong Gak dari atas hingga kebawah.

“Kwan Cong Piauw-tauw. kenapa kau hanya berjaga dldepan pintu saja tak berani masuk??” tanyanya.

“Cayhe berhasil mengikuti pertemuan tersebut. Dan telah kujumpai majikan lambang naga sakti.”

“Oooouw…. Kwan-heng bisa mengundurkan diri dalam keadaan selamat, hal ini menunjukkan bahwa kaupun seorang manusia lihay.”

“Aku orang she Kwan paling tidak suka mengutarakan omongan membuat terus terang saja kukatakan cayhe sama sekali tidak bergebrak melawan majikan lambang naga sakti. seandainya turun tangan akupun mengakui diri cayhe bukan tandingannya.”

“Ooouw…. Kwan heng pandai sekali merendahkan diri….” jengek Ke Giok Lang sambil tertawa hambar.

Ia merandek sejenak, lalu terusnya lebih jauh, “Jikalau aku Ke Giok Lang tidak salah ingat, seharusnya Kwan heng melakukan perjalanan bersama sama Poei Hu Cong Piauw tauw. Entah dimanakah Poei Hu Cong Piauw Tauw saat ini berada?”

Mendapat pertanyaan ini. seketika Kwan Tiong Gak yang terkenal banyak pengalaman dibikin gelagapan setengah mati, ia tak tahu jawaban apa yang harus diutarakan kepadanya.

Sementara ia merasa serba salah, mendadak terdengar suara Poei Ceng Yan berkumandang datang dengan dinginnya.

“Siauw-te ada disini, entah Ke Kongcu ada utusan apa mencari diriku ….?”

Ke Giok Lang segera angkat muka, tampaklah Poei Ceng Yan dengan langkah lambat sedang berjalan keluar dari ruangan tersebut. Tanpa terasa lagi ia segera mengerutkan dahi.

“Apakah majikan lambang naga sakti masih berada didalam ruangan itu?”

“Kenapa Ke-heng tidak masuk kedalam dan memeriksa sendiri?”

“Oooauw….! Suruh aku masuk kedalam memeriksa sendiri? Hmm! Belum tentu setelah aku berbuat demikian lantas selembar jiwa aku orang she Ke melayang. Kau Poei Ceng Yan bisa masuk dan keluar lagi dalam keadaan hidup, aku orang she Ke pun percaya aku bisa berbuat demikian pula!”

Sekalipun diluaran ia bicara besar, tetapi tubuhnya masih tetap berdiri tak berkutik dari tempat semula, tampak ia ulapkan tangannya.

“Lian Hoa, coba kau masuk kedalam terlebih dulu” serunya.

Hoo Lian Hoa yang berwajah cantik jelita serta masih membawa sifat kekanak kanakan itu tanpa menunjukkan sedikit perasaan jeripun segera mengiakan dan berjalan masuk kedalam ruangan.

Melihat kejadian itu air muka Kwan Tiong Gak seketika berubah hebat.

“Ke Giok Lang!” serunya mendongkol ” Dia tentunya adalah seorang nona cilik yang baru berusia tujuh belas tahunan, Kau sudah merayu dirinya sehingga gadis ini meninggalkan kedua orang tuanya mengembara, sekarang kaupun suruh dia pergi menempuh bahaya? Hm! kalau kau sikeparat cilik benar benar punya nyali kenapa tidak masuk sendiri?”

“Haa…. haaa…. haa….sungguh tidak enak ucapanmu itu! aku orang she Ke sama sekali tidak pernah memaksa dia harus pergi, Kwan heng, apakah kau tak dapat melihat bahwa wajahnya masih diliputi oleh senyuman manis?”

Poei Ceng Yan berdiri didepan pintu segera merentangkan badannya menghadang jalan pergi gadis itu, sembari melototi wajah Hoo Lian Hoa tajam-tajam serunya.

“Nona, usiamu masih muda….”

Hoo Lian Hoa tidak menggubris, tiba-tiba ia loloskan pedangnya yang tersoreng di-punggung dan menukas.

“Usiaku masih muda atau sudah tua apa sangkut pautnya dengan dirimu? cepat menyingkir kesamping beri jalan untukku.”

“Nona.” seru Poei Ceng Yan kemudian dengan alis berkerut. “Tengok dulu suasana dalam ruangan itu kemudian barulah ambil keputusan hendak masuk terus atau tidak.”

Sembari berkata ia lantas menyingkir kesamping.

Hoo Lian Hoa putar badan menengok ke dalam ia segera menemukan seluruh ruangan penuh dengan mayat bergelimpangan, diatas meja panjang batok kepala manusia berjejer jejer sedang bau amis darah sangat memuakkan.

Walaupun ia sudah mengikuti Ke Giok Lang dalam menghadapi berbagai pertarungan namun belum pernah menjumpai pemandangan yaag demikian mengerikan,” tak terasa ia jadi tertegun dibuatnya

“Lian Hoa, apa yang telah kau temui?” tanya Ke Giok Lang sambil mendehem.

“Di atas sebuah meja panjang banyak terdapat batok kepala manusia, di ruang tengah mayat bergelimpangan. Pemandangan disana amat mengerikan! Sangat menakutkan!”

“Aneh! Apakah kau temui manusia yang masih hidup?”

“Tidak, tidak ada orang yang masih hidup”

Diam Kwan Tiong Gak mengamati wajah perempuan itu, ia temukan air muka Hoo Lian Hoa saat ini telah berubah jadi pucat pasi bsgaikan mayat, jelas ia telah di bikin bergidik oleh suasana dalam ruangan dan tidak berani melanjutkan langkahnya ke dalam.

Diam-diam Ke Giok Lang mengempos napas, selangkah demi selangkah ia maju ke depan.

Melihat pemuda itu berjalan mendekati Hoo Lian Hoa segera berpaling dan tertawa sedih,

“Engkoh Giok, aku sunggu tidak becus, aku tak berani masuk ke dalam.”

Ke Giok Lang menbungkam, ia melangkah ke sisi gadis itu, kemudian melongok sekejap ke dalam ruangan, namun seketiak ia pun dibikin tertegun.

Sekalipun pengalaman Ke Giok Lang amat luas, belum pernah ia jumpai pemandangan seperti ini, begitu banyak batok kepala yang berjejer dengan rapinya diatas meja panjang.

Perlahan lahan Hoo Lian Hoa berjalan kesisi sang pemuda dan jatuhkan diri kedalam pelukan orang she Ke itu. Gugamnya seorang diri, “Sering kali aku berharap bisa membantu dirimu, namun aku sunggu tak berguna. Setiap kali setelah tiba pada saat yang kritis tentu gagal membantu dirimu!”

Menemui perbuatan Hoo Lian Hoa yang begitu tak tahu malu dan menjatuhkan diri kedalam pelukan sang kekasih walaupun ada didepan umum, tak kuasa lagi Kwan Tiong Gak menghela napas panjang pikirnya, “Ke Giok Lang si keparat cilik ini benar benar merupakan seorang iblis cinta, sungguh kasihan nona cilik yang cantik jelita ini tak disangka harus begitu kesemsem dengan dirinya….”

“Soal itu tidak mengapa” terdengar Ke Giok Lang berseru sambil menepuk pundak Hoo Lian Hoa perlahan lahan, “Kau berjaga jagalah didepan pintu, aku hendak masuk ke dalam memeriksa sebentar”.

“Engkoh Giok, kau tak boleh masuk” tiba tiba Hoo Lian Hoa meloncat bangun

“Kenapa? Bagaimanapun kita harus masuk kedalam untuk memeriksanya.”

“Kalau mau masuk biarlah aku masuk dahulu”

“Kau tidak takut?”

“Aku takut! Tetapi aku tidak ingin kau menempuh bahaya, karena itu lebih baik aku saja yang masuk” seru gadis itu seraya menggeleng.

Lambat-lambat ia putar badan dan berjalan masuk ke dalam.

Beberapa patah kata ini sungguh menunjukknn betapa cintanya gadis ini kepada sang hoa hoa kongcu, membuat orang yang mendengar ikut merasa kasihan.

“Aaakh….! Sibocah perempuan ini sungguh mengenaskan. Seharusnya Ke Giok Lang mencegah maksudnya ini” pikir Kwan Tiong Gak didalam hati.

Siapa sangka Ke Giok Lang tetap berdiri tak berkutik, bahkan sepatah kata yang bernada menghiburpun tidak kedengaran diutarakan keluar.

Ketika menengok kembali kearah Hoo Lian Hoa, tampak air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar sangat deras. Jelas hatinya pada saat ini penuh diliputi oleh perasaan takut dan ngeri.

Lama kelamaan Kwan Tiong Gak tak bisa menahan sabar lagi tiba tiba tegurnya dengan suara berat, “Nona Hoo, kau tak boleh masuk!”

Namun Hoo Lian Hoa tidak menggubris seolah olah tidak mendengar teguran dari Kwan Tiong Gak. kakinya melanjutkan perjalanan masuk kedalam ruangan.

“Kwan-heng!” tiba tiba terdengar Ke Giok Lang tertawa dingin. “Agaknya kau sangat menguatirkan keselamatan nona Hoo?”

“Sebetulnya aku orang she Kwan ada sedikit menaruh rasa hormat dan kagun kepada kau Ke Kongcu, tetapi sekarang?? Aku orang she Kwan boleh dihitung sudah kenal dengan kau Ke Giok Lang.”

“Eeei…., Kwan-heng merasa perbuatan siawte y&ng mana telah melakukan kesalahan?”

“Kau seorang lelaki sejati tidak berani masuk kedalam ruangan, sebaliknya malah menyuruh seorang nona mewakili dirimu menempuh bahaya, apakah kau tidak merasa malu?”

“Siauwte tidak memakra dirinya, adalah dia yang rela masuk kedalam ruangan dengan sendirinya. Seandainya dalam ruangan tersebut benar benar ada mara bahaya, siauwte terpaksa harus memenuhi harapannya.”

“Hm! Ke Giok Lang, tidak perduli bagaimanakah kehebatanmu dalam dunia persilatan, tetapi watak serta tingkah lakumu terlalu hina, kau adalah seorang manusia rendah!”

Kontan air muka Ke Giok Lang berubah hebat.

“Kwan Tiong Gak, kau berani menghina aku orang she Ke?? Hati-hati aku bisa memaksa kau taK dapat tancapkan kaki lagi dalam Bu-lim.”

“Haaa…. haaa…. haaa…. Ke Giok Lang.” Kwan Tiong Gak mendongak tertawa terbahak-bahak. “Sekalipun aku orang she Kwan pernah berbuat salah, tetapi kalau di bandingkan dengan kau Ke Giok Lang percaya watakku jauh masih lebih baik, aku tidak dapat membayangkan perbuatan apa yang bisa memaksa aku tak dapat tancapkan kaki lagi didalam dunia persilatan.”

“Aku bisa menculik istri dan putrimu kemudian membawa mereka berkelana dalam dunia persilatan, ingin kulihat masih punya mukakah kau berkelana dalam Bu-lim.”

Jurus serangan ini betul-betul luar biasa dan sama sekali tak pernah disangka oleh Kwan Tiong Gak, ia jadi tertegun.

Melihat air muka Kwan Tiong Gak menujukan perasaan gusar. Ke Giok Lang jadi sangat bangga, ia tersenyum,

“Kau pernah menjumpai bagaimana tingkah laku Hoa Lian Hoa kepadaku, mungkin percaya bukan Kalau aku orang she Ke benar benar bisa berbuat demikian?”

“Ke Giok Lang” seru Kwan Tiong Gak dingin. “Sekalipun majikan lambang naga sakti suka melepaskan kau pergi, aku orang she Kwan akan tetap menahan dirimu disini”.

“Apakah kau takut ikat kepala menindih kepala dan menghilangkan kewibawaan dari kau Ceng Piauw tauw?”

Sekalipun imam Kwan Tiong Gak lebih baikpun tak akan tahan terhadap penghinaan ini, ia bermaksud mengumbar hawa marah tersebut.

Tetapi setelah dilihatnya Hoa Lian Hoa sedang muncul kembali dengan langkah cepat ia paksa menahan sabar dan membungkam.

“Apa yang telah kau lihat?” tanya Ke Giok Lang sambil tersenyum.

“Kecuali mayat mayat yang bergelimpangan, tak ada benda lain lagi”.

“Sang majikan Lambang Naga Sakti?” seru Ke Giok Lang tertegun.

“Aku sudah memeriksa seluruh ruangan, tak tampak seorang manusia hiduppun.”

Dengan alis berkerut Ke Giok Lang segera menyapu sekejap wajah Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan.

“Eeaeei,…. sebenarnya kalian berdua sedang mempersiapkan permainan setan apa?”.

“Kau sangat memalukan sebagai seorang lelaki sejati, diri sendiri tak berani masuk, sebaliknya suruh nona Hoo yang mengadakan pemeriksaan dalam ruangan itu” Jengek Poei Ceng Yan dingin. ” Usianya masih kecil, tentu saja ia tak bisa menemukan sesuatu apapun.”

“Kau jangan ngaco belo”- Bentak Hoo Lian Hoo cepat. “Apakah untuk membedakan mana yang masih hidup dan mana yang sudah matipun aku tidak sanggup?”

“Nona Hoo, sekali lagi aku hendak menerangkan kepadamu. Aku kenal dengan ayah mu dan tidak ingin menyinggung perasaanmu. Namun cepat atau lambat antara kami perusahaan Hauw Wie Piauw kiok dengan Ke Giok Lang bakal melangsungkan pertarungan sengit, aku berharap kau jangan melibatkan diri dalam kancah pergolakan tersebut.”

“Mungkin kau memang sungguh-sungguh bermaksud baik menasehati aku jangan banyak mencari kerepotan, namun hati ini tidak mungkin, barang siapa yang berani mencari gara gara dengan Ke Kongcu, aku tidak akan berpeluk tangan menonton saja disamping.”

“Hmmn, sungguh besar bualan nona.” Dengus Kwan Tiong Gak dingin. “Kau anggap kami tak bisa mewakili ayahmu untuk memberi sedikit pelajaran kepadamu.”

Tiba tiba terdengar langkah lebar Ke Giok Lang maju kedepan sembari berjalan ujarnya.

“Kwan Cong Piauw tauw, Poei Hu Cong Piauw tauw! apakah kalian bermaksud hendak bergebrak melawan cayhe pada saat ini?”

“Setiap saat kami menanti petunjuk!”

Ke Giok Lang tertawa hambar.

” Kwan Cong Piauw-tauw, kalau majikan lambang naga sakti masih berada disini seandainya kita sampai bergebrak bukankah akan mengejutkan ketegangannya?”

Kwan Tiong Gak yang mendengar perkataan itu hatinya segera bergerak, pikirnya.

“Entah apa maksud Ke Giok Lang yang sebenarnya? Sstiap kali ia sengaja membentangkan busur hingga mencapai ketegangan kemudian meminjam berbagai alasan menyudahi urusan tersebut sampai disitu. Agaknya ia tidak bermaksud melakukan pertarungan melawan kami.”

Karena menduga si majikan lambang naga lakti pun kemungkinan masih berada didalam ruangan ia lantas mengangguk.

“Baiklah! Aku orang she Kwan pun ada maksud kembali dulu ke ibu kota!”

“Dan sekarang sudah berubah niat hendak balik ke kota Kay Hong” sambung si Hoa hoa Kongcu cepat

“Sedikitpun tidak salah, peta pengangon kambing berada disaku aku orang she Kwan. seandainya Kau Ke Giok Lang ada maksud merebutnya silahkan setiap saat mendatangi kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw dikota Kay Hong.”

Ke Giok Lang segera tertawa.

“Ucapan yang diutarakan Kwan Tiong Gak selamanya berat laksana bukit karang setiap patah kata yang telah kau utarakan semua orang Bu lim kebanyakan pada percaya.”

“Terlalu memuji, cayhe berdua mohon diri terlebih dahulu!”

Setelah menyura ia berlalu.

Ke Giok Lang pun dengan cepat ulap-kan tangannya si Dewa api Ban Cau serta Lam Thian San Sah segera menyingkir ke kedua belah samping memberi jalan.

“Mari kita berangkat!” seru Kwan-Tiong Gak seraya berpaling kearah Poei Ceng Yan.

Dengan langkah lebar ia berlalu melalui si Jago jago Liok lam itu.

Poei Ceng Yan membuntuti dari belakang setelah tiba ditempat kuda mereka ditambat kedua orang itu melepaskan tali les dari atas pohon, meloncat naik keatas punggung kuda dan berlalu dari sana.

Dalam sekejap mata mereka telah melakukan perjalanan sejauh enam, tujuh li. Perlahan lahan Kwan Tiong Gak baru perlambat lari kudanya.

“Saudara Poei, apakah kau sudah menjumpai majikan Lambang Naga Sakti….” tanyanya.

“Sudah. Namun aku hanya menjumpai bayangan punggungnya belaka

“Dunia persilatan digemparkan oleh lambang naga sakti tersebut sejak dahulu kala, namun belum pernah ada orang yang mengetahui bagaimana raut muka orang tersebut Pakaian warna hitam, ikat kepala warna hitam serta mantel hitam merupakan tanda dari dari majikan lambang Naga Sakti. Tentu saja yang paling penting adalah serangkaian ilmu silatnya yang sangat luar biasa, selain itu rasanya tak ada yang tersangkut lebih penting lagi.”

“Maksud Toako orang ini bukan dia. Si orang berbaju hitam bukan majikan lambang Naga sakti yang dahulu ” seru Poei Ceng Yan tertegun.

“Benar atau bukan rasanya bukan suatu soal yang penting. Yang paling penting adalah apa yang sedang ia perbuat?” Ia ingin berbuat apa?….”

Ia merandek sejenak, kemudian tanya nya, “Kau sudah berbicara dengan dirinya?”

“Benar aku bertanya tentang beberapa urusan kepadanya, namun ia selalu tidak memberi jawaban”.

“Apa yang kau tanyakan kepadanya?” semangat Kwan Tiong Gak segera berkobar.

“Aku bertanya kepadanya, kepada ia membantu kita? Antara kita tiada hubungan ia tidak saling kenal mengenal. Apa sebabnya ia berbuat begitu? Aku lantas bertanya pula apakah peta mustika pengangon Kanbing dia yang hadiahkan kepada kita?”

“Apakah ia menunjukkan suatu gerak gerik”.

“Tidak, ia hanya berdiri dengan tenangnya, tak pernah menjawab pertanyaanku dan sama sekali tidak menunjukkan suatu gerakan pun….”

“Apakah kalian berdiri saling mematung terus menerus”

“Sedikitpon tidak salah, aku menanti beberapa saat lamanya. Melihat ia tidak juga menjawab maka terpaksa aku mohon diri dan mengundurkan diri dari ruangan itu.

“Ehm….!” Kwan Tiong Gak mengangguk, “Kali ini ia sudah banyak membunuh orang, tujuannya hanya satu yaitu ingin menegakkan kembali kewibawaan dari lambang Naga sakti dalam dunia persilatan seperti tempo dulu, puluhan jiwa yang berhasil meloloskan diri akan bantu dia untuk menyebarkan berita ini kedunia kangouw. Hanya yang jelas tindak tanduknya agak berbeda dengan majikan lambang Naga Sakti tempo dulu….,”

“Dimana letak perbedaan itu?” seru Poei Ceng Yan agak tertegun.

Kwan Tiong Gak alihkan sinar matanya memandang sekejap pemandangan disekeliling tempat itu, kemudian baru ujarnya lirih, “Majikan lambang Naga Sakti tempo dulu baru turun tangan membunuh orang bila mana ada orang lain melanggar kewibawaan lambang Naga Saktinya, tetapi Majikan Lambang Naga Sakti yang sekarang agaknya ada maksud menanam bibit perkara….”

Toako”" tukas Poei Hu Cong Tiauw tiauw dengan cepat. “Menurut apa yang siauw te ketahui, majikan naga sakti tempo dulu-pun populer dalam dunia persilatan karena ia sering menanam bibit perkara.”

“Sekalipun begitu bibit perkara yang mereka tanam tidak sama.” kembali Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Siauwte tak berhasil menemukan perbedaan itu.”

“Sangat gampang sekali, majikan lambang naga sakti yang munculkan diri tempo dulu agaknya menanam bibit perkara hingga seluruh perguruan sang pelanggar lambang naga sakti itu. Majikan lambang naga sakti menggunakan tindakan yang paling keji membunuh sang pelanggar beserta seluruh anggota perguruannya demi menjaga wibawa lambang naga saktinya. Tetapi majikan lambang naga sakti yang kita jumpai ini hari hanya terbatas memberi hukuman pada sang pelanggar belaka tanpa mengikut sertakan anggota perguruannya. Lagi pula cara turun tangan bukan di lakukan dalam tempat yang berbeda tetapi dikumpulkan dalam satu ruangan bersama-sama jago jago Bu lim lainnya sebagai saksi!”

“Perkataan toako sedikitpun tidak salah, diantara para jago Bu lim yang berkumpul di situ memang tidak mungkin semuanya telah melanggar lambang naga sakti tersebut.”

“Oleh sebab itu orang itu kemungkinan besar adalah ahli waris dari majikan Lambang naga sakti. kemungkinan juga seseorang yang sama sekali tiada hubungan dengan dirinya.”

“Aaaaach! Aku rasa tidak mungkin kalau orang itu sama sekali tiada hubungan dengan majikan lambang naga sakti tempo dulu,”

Kembali Kwan Tiong Gak tertawa.

“Aku hanya menduga saja, benar atau salah tentu saja aku sendiripun tak berani memastikan, namun yang paling membuat siauw heng tidak paham adalah apa sebabnya ia menaruh perhatian yang Khusus terhadap perusahaan expedisi Hauw Wie Piauw kiok kita?”.

“Tentang soal ini? Siauwte sendiri pun pernah memikirkannya dengan teliti, namun belum berhasil juga menemukan sebab-sebab nya.”

Sementara itu mereka berdua telah tiba disebuah persimpangan jalan, Kwan Tiong Gak segera membelokan kudanya menuju ke jalan besar yang menuju kekota Kay Hong.

Melihat hal itu Poei Ceng Yan tertegun. “Toako!” tegurnya. “Kau benar benar hendak kembali kekota Kay Hong….?”

“Sedikit pun tidak salah, perubahan peristiwa benar benar berada diluar dugaanku, sekarsng kita tak ada waktu lagi untuk mergurusi persoalan pribadi tentang pembubaran expedisi Hauw Wie Piauw kiok kita….”

Ia merendek sejenak, kemudian tambahnya, “Perjalan kita menuju ke Utara kali ini sekalipun bakal menjumpai perbagai bahaya serta hadangan, tetapi Nyioo Su Jan yang menunggu dikota Kay Hong keadaannya semakin kritis dan berbahaya lagi”.

“Perkataan toako sedikitpun tidak salah, tetapi persoalan dari kantor cabang perusahaan kita di pelbagai daerah….”

“Sewaktu aku hendak berangkat kemari” tukas Kwan Tiong Gak, “Semua urusan telah kuserahkan kepada siauwte yang ada dirumah. asalkan sampai batas waktunya aku belum juga kembali mereka bisa bekerja sesuai dengan pesan yang telah kupersiapkan sebelumnya.”

Poei Ceng Yan termenung sejenak, lalu Katanya kembali.

“Toako, kau tetap tinggal dikota Kay Hong, apakah ada maksud dengan seluruh perhatian dan tenaga menghadapi diri Ke Giok lang?”

Kwan Tiong Gak menghembuskan napas panjang.

“Menurut dugaan siauw heng, agaknya dunia persilatan sedang terjadi suatu perubahan besar, oleh karena itu aku sudah mengambil keputusan hendak mencari suatu waktu….”

“Mencari suatu waktu?”

“Tidak salah, aku hendak mencari suatu waktu dengan tenang mempelajari isi dari peta mustika pengangon kambing itu.”

“Aaakh….betul!” seru Poei Ceng Yan sambil menepuk paha sendiri. “Toako tak boleh terlalu bersikeras dangan peradatan.”

“Maka dari itu, kita harus mencari suatu tempat yang sangat rahasia tinggal disitu beberapa lama….” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.

“Sedikitpun tidak salah.” Bagaikan telah memahami akan suatu Poei Ceng Yan menyetujui usul tersebut. “Tempat itu harus sangat rahasia dan tidak diketahui siapa pun juga.”

Beberapa waktu ini disekitar kota Kay Hong telah dipenuhi oleh jago jago lihay dunia persilatan, untuk mencari suatu tempat yang sunyi dan tersembunyi rasanya bukan suatu pekerjaan yang gampang, tetapi setelah adanya pembunuhan massal yang dilakukan majikan lambang naga sakti, situasi akan jauh berubah, kecuali Ke Giok Lang sekalian beberapa orang. Mungkin sebagian besar jago jago Bu lim tak berani tinggal lebih larut lagi disekitar kota Kay Hong.”

“Ada suatu urusan siaute tidak mengerti yaitu mengapa Ke Giok Lang sama sekali tidak memperoleh pemberitahuan dari majikan lambang naga sakti….?”

“Aku sendiri pun sedang mengherankan persoalan ini” Kwan Tiong Gik mandehem perlahan. “Walaupun aku tidak berhasil menemukan apa alasannya, namun paling sedikit aku bisa meyakinkan sesuatu, yaitu majikan lambang naga sakti ada maksud menghindari dari Ke Giok Lang.”

Kali ini Poei Ceng Yan benar benar di bikin terperanjat seolah-olah dadanya dihantam keras oleh martil berat, hampir-hampir saja ia meloncat, turun dari punggung kudanya.

“Maksud toako, apakah majikan lambang naga sakti ada maksud menghindari terus setiap pertemuan dengan orang she Ke itu.”

“Ehm….! Paling sedikit ia bersikap lain terhadap dirinya Ke Giok Lang. Agaknya ia menaruh suatu sikap bersabar dan mengalah.”

Lama sekali Poei Ceng Yan termenung berpikir keras ujarnya kemudian, “Berulang kali lambang naga sakti muncul didalam kereta kawalan kita, agaknya, antara dia dengan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kitapun terdapat bsrbagai alasan yang sangat ruwet dan kacau?”

” Benar, tentu ada suatu sebab sebab tertentu.”

“Tapi, apa sebabnya?”

“Aku sedang berpikir keras. Aku percaya setelah mengalami suatu analisa yang seksama dan diambil kesimpulannya tidak sulit buat kita untuk menemukan alasan tersebut….”

Ia merendek sejenak kemudian tambahnya, “Ada satu persoalan lagi membuat orang merasa keheranan, agaknya majikan lambang Naga sakti menaruh suatu simpatik yang istimewa kepadamu, bahkan menaruh kesabaran yang luar biasa.”

“Siauw te sendiripun punya perasaan demikian” kata Poei Ceng Yan satabil tertawa getir. “Tetapi aku tidak mengerti apa sebabnya ia bersikap demikian kepadaku.”

“Sewaktu tahun baru, kau mendapat hadiah peta mustika pengangon kambing. Aku rasa benda itu ada hubungannya dengan majikan lambang naga sakti.”

“Eeeeehm…. bagaimana bisa begitu….?”

“Kelihatannya ada kemungkinan besar sejak semula majikan Lambang Naga Sakti sudah ada dikota Kay Hong, secara diam diam ia melakukan pemeriksaan, tentu saja tidak sulit untuk mengetahui keadaan seterusnya. Namun hingga kini ia tidak melakukan suatu tindakan . .”

Poei Geng Yan mengangguk.

“Tetapi apa sebabnya pula ia amukan pembunuhan masal yang ia lakukan ini hari.”

“Peristiwa itu ada dua persoalan, kalau kita ngotot katakan kedua urusan itu saling ada hubungan maka ini bisa di terangkan majikan lambang naga sakti melihat ini waktu, dikarenakan saat ini banyak jago Bu lim yang berkumpul dikota Kay Hong….”

Ia termenung beberapa saat lamanya kemudian menyambung lebih lanjut.

“Maka dari itu, dalam waktu yang amat singkat ia bisa membuat banyak orang telah melanggar pantangan lambang naga sakti kemudian memerintahkan mereka berkumpul dalam ruangan itu pada suatu saat tertentu.”

“Sedikitpun tidak salah, penilaian toako sangat tepat, siauw te merasa amat kagum.”

Kwan Tiong tertawa, kembali ujarnya, “Kalau ditinjau keadaan ini hari. agaknya majikan Lambang naga sakti sama sekali belum terlibat dalam soal peta mustika pengangon kambing, atau mungkin ia pernah memeriksa peta itu dan merasa mustika tersebut sama sekali tidak berguna baginya?”

“Bukankah toako mengatakan bahwa peta mustika pengangon kambing ini amat berharga sekali?”

“Dalam pandangan kita memang benar henda itu sangat berharga, tapi berada dalam pandangan majikan naga sakti belum tentu peta pengangon kambing itu merupakan benda yang berharga.”

“Toako!” tiba tiba Poei Ceng Yan berseru, setelah menyapu sekejap keadaan empat penjuru. “Siauw te mempunyai suatu pandangan entah benar atau tidak?”

“Pandangan apa?”

“Kita jangan buru-buru kembali ke kota Kay Hong, tetapi berdiam dulu selama beberapa hari ditengah perjalanan menuju ke kota Kay Hoag ini guna menghindari diri dari segala pengintaian orang lain, dengan demikian kita bisa bikin musuh mereka ada diluar dugaan. Disamping itu Toakopun bisa dengan hati tenang mengamati peta pengangon kambing itu lebih seksama, seandainya peta pengangon kambing itu benar benar ada bagian yang punya sangkut paut erat dengan situasi Bu lim kita berusaha kembali mengikuti tanda tanda yang ada dalam peta tersebut menemukan tempat yang dimaksud, semisalnya peta ini sama sekali tiada hal yang penting seperti yang kita pikirkan semula, agaknya kitapun tak usah buang banyak pikiran dan tenaga untuk melindungi peta tersebut.”

“Ehmm….! Perkataanmu tidak salah.”

Setelah mereka berdua saling berunding beberapa saat, akhirnya mereka ambil keputusan hendak menyewa sebuah ruangan dirumah petani untuk berdiam beberapa waktu disana.

Poei Ceng Yan karena takut jejak kuda nya ditemukan orang, malam itu juga ia bekerja keras menghapus semua jejak kuda yang tertinggal. Bahkan menyembunyikan pula kedua ekor kuda itu didalam kamar dan turun tangan sendiri memberi makan pada mereka.

Diwaktu pagi hari mereka tidak keluar rumah, menanti malam hari tidak dengan membawa senjata dan menggembol senjata rahasia Poei Ceng Yan melakukan perodaan disekeliling tempat itu.

Ia berusaha keras untuk tidak mengganggu konsentrasi Kwan Tiong Gak yang telah pusatkan seluruh perhatian menyelidiki rahasia dari peta pengangon kambing itu.

Kecuali menghantar makanan dan minuman. Poei Ceng Yan selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari dalam ruangan yang ditempati Kwan Tiong Gak.

Tujuh hari dengan cepatnya telah berlalu, selama tujuh hari ini bagaikan mabok saja Kwan Tiong Gak tumpahkan semua perhatiannya diatas peta mustika pengangon kambing itu.

Poei Ceng Yan sendiri makin repot sekali, Ia harus menjaga kedua ekor kuda itu harus memberi makan pada Kwan Tiong Gak disamping berjaga jaga atas pengintaian musuh.

Dalam tujuh hari ini boleh dihitung termasuk waktu yang paling mendebarkan hati dan paling meletihkan selama ia terjun ke dalam dunia persilatan.

Menanti hari kedelapan siang hari telah tiba, mendadak Kwan Tiong Gak membuka pintu dan munculkan diri.

Ketika itu Poei Ceng Yan sedang bersiap sedia menghantar makanan siang ke dalam kamar, melihat secara tiba-tiba Kwan Tiong Gak munculkan diri. ia jadi keheranan.

“Toako, apakah kau telah selesai memeriksa peta mustika, pengangon kambing?”

sepassng mata Kwan Tiong Gak merah padam, wajahnya kelihatan lesu keletihan. Ternyata selama tujuh hari ini ia tak pernah beristirahat dengan baik apalagi meneliti dan mempelajari peta mustika pengangon kambing bukan suatu pekerjaan yang gampang bahkan membutuhkan energi.

Sekalipun begitu wajah Kwan Tiong Gak menunjukkan perasaan girang, tampak ia tersenyum.

“Sudah selesai kulihat. Entah siapakah yang memiliki kepandaian demikian lihay, ternyata bisa menyimpan rahasia demikian besar ditengah kawanan kambing itu.”

“apakah toako berhasil memahami rahasia itu?”

“Tidak dapat dikatakan semua rahasia sudah berhasil kupahami namun aku telah berhasil menemukan suatu pertanda.”

“Peta mustika pengangon kambing ini terdapat ilmu silat dan harta karun. Sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Benar. Di balik rahasia itu memang menunjukkan ada serangkaian ilmu silat yang lihay ada pula suatu harta karun yang tak ternilai harganya. Namun diantara hal tersebut dengan demikian mempengaruhi pula seluruh persoalan.”

“Kunci penting apakah itn?”

“Lukisan ini mengutamakan kawanan kambing, tentu saja ada hubungannya dengan sekelompok kambing.”

“Aahk! Yang kau maksudkan mempengaruhi letak di mana harta karun tersebut disimpan?”

“Yang paling indah dari soal ini adalah kedua duanya kena dipengaruhi, baik ilmu silat maupun harta karun itu saling sangkut menyangkut. Aaaai….! Pencipta dari lukisan ini benar benar seorang manusia yang luar biasa.”

“Siauw te…. masih belum dapat memahami maksudmu, apakah toako dapat menerangkan lebih jelas lagi?”

Kwan Tiong Gak segera mengangguk, katanya sambil tertawa, “Aku telah membuang waktu beberapa malam untuk memahami hal yang sebenarnya,tentu saja setelah sekarang ku utarakan kau tak bisa memahami dengan cepat….”

Ia merendek sejenak, lalu sambungnya, “Diatas lukisan mustika ini tertera beratus-ratus ekor kambing, diluaran kelihatan sangat biasa dan tiada hal yang mengherankan, namun jikalau kau perhatikan kambing kambing itu lebih teliti lagi maka keadaannya akan jauh berbeda. Guratan untuk melukis barisan kambing itu sebenarnya merupakan suatu rangkaian ilmu silat, kalau berlatih mengikuti lukisan tadi maka kau temukan setelah jurus keenam dan tiba didepan tubuh sang bocah pengangon, mendadak jurus ilmu selanjutnya terputus ditengah jalan.”

“Kemudian?” tanya Poei Ceng Yan dangan penuh perhatian.

“Agaknya gerakan ilmu silat itu setelah mengalami suatu perputaran masih ada lanjutannya, mungkin masih ada enam jurus lagi.”

“Jadi maksudmu, diatas lembaran peta pengangon kambing ini sebenarnya tersimpan dua belas jurus belaka.”

“Bersamaan itu apakah toakopun berhasil menemukan letak harta karun tersebut??” Kwan Tiong Gak segera menghela napas panjang, ujarnya.

“Menurut tanda yang ada dalam lukisan itu, agaknya ia menerangkan suatu jalan yang menunjukan letak harta karun tersebut, tetapi tanpa itu sewaktu tiba diatas tubuh sang bocah pengangon mendadak putus….”

“Kemudian tidak ada lagi??”.

“Agak persoalan dibikin kacau dan membingungkan setelah tiba dalam peputaran tubuh bocah pengangon itu, rasanya dibalik ke semuanya ini masih ada suatu perubahan yang susah di duga.”

“Jadi kalau begitu, toako masih belum berhasil menemukan rahasia tersebut….?”

“Aku merasa diriku berhasil memahami sebagian besar dari rahasia tersebut, hanya pada kunci tadi masih kurang begitu paham.”

“Jadi maksud toako kecuali sejurus ilmu silat yang ada dalam kunci tadi kedua belas jurus ilmu silat lainnya berhasil kau pahami?”

“Diatas peta tapi hanya terdapat sebuah kisikan belaka, dapatkah dilatih untuk menghadapi serangan musuh, hal ini tergantung bagaimana hasilnya nanti.”

“Lalu ilmu silat macam apakah itu?? …. Ataukah ilmu golok?”

“Agaknya ada telapak ada pedang” lalu sahut Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar. “Namun seandainya di gunakan dengan golokpun masih bisa pula….”

Ia menghembuskan napas panjang, lalu sambungnya lebih jauh, “Inilah rahasia yang berhasil kupahami selama beberapa hari ini menurut pendapat siauw heng, di dalam peta tadi agaknya masih tersimpan suatu rahasia yang amat besar, hanya saja tak bisa ditemui dengan kepandaian yang siauw heng miliki saat ini.”

“Sebuah peta pengangon kambing yang demikian kecilnya ternyata terkandung rahasia serta liku liku demikian banyak, sungguh membuat orang merasa tidak menyangka!”

Sambil bergendong tangan Kwan Tiong Gak memandang ke angkasa, lama sekali ia termenung berpikir keras. Lalu lambat-lambat ujar nya, “Agaknya kita sudah tak dapat meloloskan diri lagi dari kancah pergolakan masalah peta pengangon kambing ini!”

“Aaaai….!Kalau tahu barang kawalan kita ini bakal mendatangkan kerepotan yang begini banyaknya, sejak semula sudah kubiarkan orang lain membawa pergi peta pengangon kambing itu.”

Mendengar ucapan dari wakilnya ini, Kwan Tiong Gak segera tertawa.

“Sekalipun membiarkan orang lain membawa pergi peta pengangon kambing, belum tentu bisa membuat kita melepaskan diri dari masalah tersebut….”

Ia mendehem perlahan, setelah mengatur pernapasan segera serunya, “Ayoh berangkat! sembari melakukan perjalanan, kita bicara lagi!”

Poei Ceng Yan menurut, dari dalam gubuk ia menuntun keluar kuda tunggangan mereka, memasang pelana kemudian sama sama

naik ke atas punggung kuda dan melarikan arah kota Kay Hong.

Selama perjalanan Kwan Tiong Gak mengendalikan tali les kudanya agar kuda jempolan tersebut tidak berlari terlalu cepat, dengan berjalan disisi Poei Ceng Yan ujarnya, “Pada mulanya jago jago lihay dari kalangan Hek To serta Pek to yang pada berkumpul dikota Kay Hong hanya disebabkan peta pengangon kambing belaka, kini ditambah munculnya si pemilik lambang naga sakti membuat urusan berubah semakin ruwet lagi. Semoga saja. pembunuhan yang dilancarkan majikan pemilik lambang naga sakti dapat menundukkan kaum iblis agar jago jago kalangan Hek to serta Pek to yang sedang mengincar peta pengangon kambing dapat membubarkan diri dengan sendirinya….”

“Toako, seandainya sang majikan pemilik lambang naga sakti pun telah menaruh niat untuk mendapatkan peta pengangon kambing apa yang harus kita lakukan?”.

“Kalau sampai terjadi hal begini, terpaksa kita harus hadiahkan peta tersebut dengan tangan terbuka”.

“Benar!” sambil tertawa getir Poei Ceng Yan mengangguk. “Semua partai serta perguruan yang ada dikolong langit tak seorang manusiapun berani mencari gara gara dengan majikan lambang naga sakti asalkan peta mustika pengangon kambing benar benar terjatuh ketangannya. boleh dibaca peta itu akan aman tentram tak takut direbut orang lain lagi.”

“Namun hingga detik ini, ada minat untuk mendapat peta pengangon kambing itu.”

“Mungkin sang majikan lambang naga sakti masih belum tahu kalau ada selembar peta mustika macam itu?”.

“Sudahlah urusan ini tak usah kita urus dahulu, seandainya majikan lambang naga sakti benar benar inginkan peta pengangon kambing ini tentu saja kita harus segera turut perintah dan serahkan benda itu kepadanya. menurut perkiraanku dikolong langit masa ini masih belum ada manusia yang berani cari gara gara dan bentrok dengan sang majikan lambang naga sakti, oleh karena itu kita pun tak perlu membicarakan persoalan ini lagi”

“Toako, sekembalinya kekota Kay Hong Apa yang hendak kau lakukan?….” tanya Poei Ceng Yan kemudian.

“Semisalnya aku berhasil memahami kunci penting yang terkandung dalam peta itu, ingin kucari sebuah tempat yang sunyi dan terlepas dari segala gangguan untuk melatih ilmu silat yang tercantum disana, semisalnya kunci rahasia itu tak berhasil kupahami. Kita akan cari-cara lain yang lebih sempurna lagi.

“Baik. silahkan Toako pikirkan hal ini baik-baik lebih dahulu”.

Tidak banyak tanya lagi, ia segera jalankan kudanya kearah depan.

(bersambung ke Jilid 23)

Jilid 23

Setibanya mereka berdua didepan kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, tampaklah oleh mereka mereka papan nama perusahaan yang semula tergantung didepan pintu kini sudah diturunkan, sepasang pintu besar tertutup rapat. Keadaan ini menguatirkan kalau mereka tidak menerima degangan lagi.

Poei Ceng Yan segera meloncat turun dari kudanya, sebelum ia sempat mengetuk pintu, pintu tadi sudah terbuka lebih dahulu.

Jelas, orang orang ada didalam kantor sudah mengadakan persiapan-persiapan yang seksama.

Melihat ketelitian tersebut Kwan Tiong Gak segera tertawa, pujinya.

“Selama bekerja Su Jan memang paling teliti dan paling seksama dalam mengatur segala penjagaan….”

Ia segera melangkah masuk kedalam.

Dua orang pengawal kantor yang tegap dan gagah dengan langkah lebar segera maju menyambut dan menerima tali les kedua ekor kuda tersebut.

Diikuti Nyioo Su Jan dengan langkah terburu-buru munculkan diri didepan pintu seraya menjura sapanya.

“Cong Piauw tauw….”

“Kita berbicara dalam rumah saja,” tukas Kwan Tiong Gak cepat seraya ulapkan tangannya.

Tidak menanti jawaban lagi ia segera melangkah masuk lebih dahulu.

Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan segera mengikuti dari belakang.

Setelah ambil tempat duduk dikursi maka Kwan Tiong Gak baru buka suara bertanya.

“Su Jan, selama beberapa hari ini apa kah dalam kantor cabang terjadi suatu peristiwa?”

“Orang she Jan dari istana Jendral pernah datang kemari dua kali…. ,”

“Aaaakh! mau apa ia datang kemari?”

“Pertama, ingin Menanyakan kabar berita tentang Cong piauw tauw, dan kedua melihat keadaan dari kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita.”

“Jen pek to sudah memperlihatkan kedudukannya, mungkin para jago Bu lim yang ada dikota Kay hong sudah tahu semua bahwasanya dia adalah pengawal pribadi dari Tok Say Thayjien, ia sering datang kekantor cabang kita, sama arti sedang membuat papan nama agar semua orang tahu kalau antara kita dengan istana Jendral mempunyai hubungan yang sangat erat.”

“Hamba pun pernah berkata demikian kepadanya, aku nasehati agar dia kurangi sedikit kunjungannya kemari.”

“Ehmmm! lalu apa yang ia katakan?”

“Ia segera menyanggupi permintaanku ini, ia beritahu kepadaku akan berusaha mengurangi kunjungannya kemari. Sesaat meninggalkan tempat ini ia beritahu pula kepada hamba, semisalnya dikantor cabang kita terjadi sesuatu dan membutuhkan bantuannya, ia minta kita kirim orang untuk beritahu kepadanya….”

“Ehmmm….! Mana Giok Liong serta Hoa Lek?”

“Liem piauw su sedang diundang makan Oleh seseorang, sedang Giok Liong, Ih Cun serta Toa Hauw sedang beristirahat dibelakang. Hamba pikir disiang hari bolong dan terang tanah begini sekalipun orang Bu lim punya nyali besar untuk melakukan segala tindakan namun tak akan berani membuat keonaran ditengah Kota besar apalagi mendatangi perusahaan kita. Oleh karena itu hamba minta agar mereka beristirahat di pagi hari dan meronda di malam hari….”

“Bagus sekali, bagus sekali….” Kwan Tiong Gak mengangguk.

Ia mendehem sebentar, lalu terusnya

“Dalam menghadapi segala persoalan kau selalu bekerja hati-hati. Seandainya aku benar benar telah meninggalkan kota Kay Hong, seharusnya dalam kantor cabang perusahaan kita tak bakal terjadi sesuatu peristiwa lagi. Kau mengadakan persiapan demikian ketat tentunya ada sebab sebab tertentu bukan?”

“Dugaan Cong Piauw-tauw sedikitpun tidak salah, dua hari berselang hamba menemukan ada orang yang melakukan pengintaian terhadap perusahaan kita, oleh karena itu hamba terpaksa harus melakukan penjagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Apakah ada jago Bu lim yang berkunjung kemari?”

“Tidak ada, justru karena persoalan ini hamba merasa terheran heran.”

“Aaaai….! situasi disekitar kota Kay Hong beberapa waktu ini sangat ruwet dan kacau, kau harus sedikit berhati hati, bagaimanapun juga….”

Ia termenung sejenak antuk memikirkan suatu, lalu tambahnya.

“Toa Lek diundang makan oleh siapa?”

“Katanva seorang hartawan tersohor dikota Kay Hong, perusahaan kita pernah mengadakan beberapa kali hubungan dengan mereka, karena kali ini sedang mengadakan suatu perayaan maka ia undang Liem Piauw tauw untuk menghadirinya.”

“Perayaan apa?”

“Keadaan yang lebih jelas hamba kurang tahu, agaknya sedang mengadakan perayaan pernikahan, mungkin Toa Lek heng sebentar lagi sudah kembali, nanti Cong Piauw tauw bisa bertanya kepadanya lebih cermat lagi.”

“Ehmm….!” Kwan Tiong Gak mengangguk, ia lantas mengalihkan bahan pembicaraan ke soal lain, sambungnya, “Kembalinya aku serta Hu Cong Piauw tauw kekota Kay Hong, mungkin akan memancing datangnya penguntitan dari pihak lawan, selama melakukan penjagaan kalian harus lebih berhati hati.”

“Hamba telah memperbaiki halaman sekitar bangunan rumah, telah menurunknn papan nama dan sementara tidak menerima pengawalan barang lagi. Tetapi diantara kedua puluh orang pembantu aku hanya menahan sepuluh orang saja sedang sisanya aku suruh mereka untuk sementara tinggal dirumah.”

“Kenapa?”

“Yang masih tinggal disini sebagian besar masih bujangan….”

“Su jan, tindakanmu ini sangat bagus sekali” tukas Kwan Tiong Gak sambil memuji tiada hentinya. “Bagi kaum bujangan sekali pun terluka atau mati mereka masih tak usah memikirkan istri serta putra putrinya,”

“Lalu sekarang disini masih tersisa berapa orang? ” sela Poei Ceng Yan dari samping.

“Termasuk koki serta kacung kuda semua berjumlah lima belas orang. Kacung kuda serta koki masing masing ada tugasnya sendiri sendiri, jadi yang dapat diperintah hanya sebelas orang saja.”

“Asal diatur sedemikian rupa aku pikir jumlah itu sudah lebih dari cukup….” kata Kwan Tiong Gak mengangguk. “Yang datang akan membawa maksud jelek, yang bermaksud mulia tak akan datang. Kita tak boleh gunakan mereka untuk menghadapi serangan musuh, asalkan mereka datang segera mengirim tanda bahaya itu sudah cukup.”

Sementara mereka sedang bercakap cakap Liem Toa Lek telah kembali kedalam kantor cabang.

Baliknya Poei Ceng Yan serta Kwan Tiong Gak ditengah jalan agaknya merupakan suatu peristiwa yang berada diluar dugaannya, setelah tertegun sesaat ia baru maju memberi hormat.

Kwan Tiong Gak segera ulapkan tangannya.

“Toa Lek, tak usah banyak adat, mari duduk dan kami hendak mengadakan pembicaraan dengan dirimu.”

Setelah Liem Toa Lek duduk, seorang pembantu muda menghidangkan air teh, Liem Toa Lek meneguk setegukan air teh panas lalu berkata, “Cong Piauw tauw. kalian sudah pergi kenapa buru-buru balik lagi?”

Kwan Tiong Gak tidak ingin menceritakan kisah secara bagaimana majikan lambang naga sakti memaksa puluhan orang yang Bu-lim melakukan bunuh diri, sambil tersenyum ia berkata, “Ke Giok Lang memainkan cegat cegatan serta hadangan hadangan disepanjang jalan, aku serta saudara Poei berjumpa muka lagi ditengah jalan. Setelah menimbang untung ruginya persoalan, kami rasa tetap berada dikota Kay Hong jauh lebih baik Karena tidak ingin banyak buang waktu maka kami putuskan untuk sementara waktu batalkan niat kami menuju ke Utara.”

“Cong Piauw tauw suka kembali kemari Untuk memegang pucuk pimpinan, hal ini jauh lebih baik lagi …. “

“Eeeei ….! Toa Lek” tukas Kwan Tiong Gak tiba tiba. “Kau sangat kenal dan hapal dengan daerah sekitar kota Kay Hong, apakah beberapa hari ini kau menemukan sesuatu yang tidak beres??”

“Menurut pengamatan hamba, memang ada suatu peristiwa yang kelihatannya sangat aneh.”

“Peristiwa apakah itu??”

“Dua hari berselang di sekitar kota Kay Hong agaknya berkumpul banyak sekali jago jago Bu lim yang sering berlalu lalang dijalan raya, tetapi selama beberapa hari ini entah apa sebabnya para jago Bu tim yang pernah kelihatan sangat banyak itu secara tiba tiba lenyap tak berbekas, tidak kelihatan seorang jsgopun yang berlalu lalang lagi, saking tenangnya menimbulkan perasaan tercengang di-hati.”

“Orang orang yang datang kemari kebanyakan tentu disebabkan peta pengangon kambing” ujar Nyioo Su Jan memberikan pendapat nya. “Setelah mengetahui Cong Piauw tauw tak ada disini, mungkin mereka sudah berlalu untuk mengejar diri Cong Piauw tauw ke Utara.”

Kwan Tiong Gak tersenyum. “Sebelum terjadi suatu badai taupan yang dahsyat, kadang kala memang bisa muncul suatu suasana tenang, anteng yang mengherankan”

Ia merandek sejenak kemudian tambahnya, “Toa Lek, dalam kantor cabang kita apakah ada sebuah ruangan yang sunyi dan terlepas dari segala gangguan?”

“Dibelakang halaman ada sebuah kamar, seandainya Cong Piauw tauw membutuhkan Kamar itu aku segera perintahkan orang untuk membersihkannya.”

“Baik!” Kwan Tiong Gak mengangguk. Dalam ruangan itu boleh dibersihkan, tetapi diluaran tak usah diubah keadaannya. Aku hendak berdiam disana, lebih baik lagi, kalau jangan sampai diketahui orang luar.”

“Tempat itu, letaknya berdampingan dekan sebatang pohon besar, ruangan itu sudah lama tidak digunakan sehingga tembok dindingnya penuh dengan lumut hijau. Dipandang sepintas lalu seolah olah sebuah ruangan kosong sekalipun tak usah ditambahi lagi dengan bahan lamuran rasanya sudah cukup membuat orang lain merasa tak terduga.”

“Kalau begitu bagus sekali, suruh mereka segera bersihkan ruangan itu. Taruh saja selimut serta benda benda keperluan yang sederhana sedapat mungkin jangan mengganggu ketenanganku.”

“Bagaimana dengan air minum serta makanan Cong Piauw tauw? Apakah diantar menurut waktu.”

“Ini sih tidak perlu, taruh saja makanan dan minuman itu disuatu tempat tertentu, aku bisa menurut waktuku sendiri keluar mengambilnya.”

Liem Toa Lek termenung sejenak, lalu tanyanya kembali, “Cong Piauw tauw, apakah kau perlu seorang yang setiap saat bisa diperintah?”

“Tidak perlu, kalian berlagaklah seperti biasa dan anggap ruangan itu adalah sebuah ruangan kosong tak usah mengirim orang menjaga disana lagi.”

“Seandainya ada orang datang hendak mengunjungi Cong Piauw tauw?….” tanya Nyioo Su Jan tiba.

“Lebih baik kalian wakili aku menjumpai mereka, seandainya terpaksa aku harus menemui orang itu, tiada halangan kalian boleh berjanji untuk bertemu muka lagi dua hari kemudian. Lalu tulisan secarik kertas yang menerangkan maksud kunjungannya dan diletakkan disisi makananku.”

Mendengar sampai disitu Liem Toa Lek segera bangun berdiri dan mobon diri.

“Hamba telah mengingatnya semua….”

Ia segera berlalu keluar ruangan. Memandang Liem Toa Lek yang melangkah keluar, Nyioo Su Jan menegur.

“Liem-heng apakah kau hendak turun tangan sendiri?”

“Benar, aku hendak memeriksa dulu keadaan disana.”

Sementara ia menjawab, badannya sudah melangkah keluar dari pintu.

Sepeninggalnya orang she Liem itu, Poei Ceng Yan lantas berbisik lirih.

“Toako, kau minta sebuah kamar rahasia apakah ingin mempelajari ilmu silat yang tertera didalam peta pengangon kambing itu”

“Hmm….! aku ingin memecahkan dulu persoalan yang membingungkan diriku,” Kwan Tiong Gak sambil tersenyum mengangguk.

Kurang lebih seperminum teh kemudian Liem Toa Lek muncul kembali didalam ruangan, lapornya, “Kamar telah dibersihkan, apakah Cong Piauw tauw hendak pergi memeriksa lebih dahulu?”

“Tidak usah. sebentar lagi aku akan pindah kedalam “

“Toa Lek!” Poei Ceng Yan pun segera berseru. “Kau suruh koki menyediakan meja perjamuan dengan cepat, kita hendak menjamu Cong Piauw tauw lebih dahulu sebelum dia masuk kedalam ruangan. perintahkan, pula kepada seluruh anak buah yang ada dalam Kantor, berusaha keras jangan bocorkan rahasia kembalinya kami berdua.”

“Hamba paham!” Liem Toa Lek segera menjura.

Pekerjaan yang dilakukan sang koki sungguh cepat sekali, tidak selang beberapa saat arak dan sayur telah dihidangkan.

Beberapa orang itu segera masuk kemeja perjamuan untuk mulai barsantap, arak baru diteguk tiga cawan tiba tiba muncul seseorang penjaga pintu masuk kedalam dengan langkah tergesa gesa.

“Ada orang ingin menjumpai Cong Piauw tauw!” lapornya setelah menjura.

“Siapa?” tanya Kwan Tiong Gak, ia agak melengak.

Penjaga pintu tadi sejera mengangsurkan sebuah kartu nama berwarna merah kedepan.

“Disini ada kartu nama, silahkan Cong Piauw tauw memeriksa sendiri.”

Kwan Tiong Gak segera memeriksa kartu nama itu dan dibacanya tulisan yang tertera diatas kartu, “Dipersembahkan kepada Kwan Cong Piauw tauw.”

Dengan alis berkerut Kwan Tiong Gak merobek sampul itu dan diambilnya selembar kertas yang bertuliskan, “Thay Heng Tou Shu menghunjuk hormat.”!

Melihat saudaranya kerutkan dahi. Poei Ceng Yan lantas menegur setelah mendehem perlahan.

“Toako, kartu nama siapa?”.

“Si kakek bongkok dari Thay Heng San!” seru Poei Ceng Yan agak tertegun.

“Si Iblis tua ini sudah ada dua puluh tahun lamanya tidak pernah muncul didalam dunia persilatan, katanya ia sudah menemui ajalnya banyak tahun berselang, mana mungkin bisa muncul kembali dikota Kay Hong?.”

“Yang paling aneh lagi, ia tidak saling kenal dengan diriku, aku rasa maksud kedatangannya kali ini bukan sembarangan.”

“Cong Piauw tauw kalau kau tidak ingin menemui dirinya sekarang masih bisa menyingkir, atau biar siauw te yang keluar menimpal dirinya? setelah menanyakan maksud kedatanganya barulah Toako ambil keputusan.?”

Kwan Cong Gak termenung sesaat, tiba tiba tanyanya kepada sang penjaga pintu.

“Mereka datang betapa orang?”

“Hanya seorang diri,,!”

“Baik! undang dia masuk kedalam, kata kan saja aku sedang menanti kedatangannya dalam ruangan tengah.”

Si penjaga pintu itu mengiakan dan segera berlalu.

Kwan Tiong Gak segera alihkan sinar matanya kearah Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek, perintahnya lebih jauh.

“Untuk sementara kalian menyingkirlah lebih dahulu!”

Sekalian ia lepaskan golok emas yang tersoreng dipingggang untuk diserahkan ketangan Nyioo Su Jan.

Liem Toa Lek serta Nyiao Su Jan mengiakan dan segera mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Poei Ceng Yan pun ikut bangan berdiri. ujarnya, “Siauw-te….”

“Kau duduklah, kita sama menjumpai dirinya.” tukas Kwan Tiong Gak cepat.

Beberapa saat kemudian si penjaga pintu tadi telah muncul kembali dengan membawa seorang kakek bongkok berambut putih, berjenggot panjang melewati dada dan membawa sebuah tongkat warna hitam.

Kwan Tiong Gak segera menyambut kedatangannya didepan pintu, seraya menjura ujarnya, “Sudah lama kudengar nama besar Tuo Shu, beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa”.

“Hna…. haa…. ha….terlalu memuji, terlalu memuji” sahut Thay Heng Tuo Shu seraya silangkan telapak didepan dada. “Namun besar Kwan Cong Piauw tauw sudah menggemparkan seluruh kolong langit, jago jago dari kalangan Hek to maupun Pek to sama-sama menaruh hormat kepadaku, Loohu yang sudah lama mengasingkan diri tentu tak bisa menandingi dirimu….”

Kwan Tiong Gak tersenyum. “Sayur dan arak baru saja dihidangkan bilamana Heng thay tidak menampik kami dua bersaudara mengundang untuk mencicipi secawan dua cawan arak bagaimana?”

“Kedatangan loohu kemari sudah mengganggu ketenangan kalian, kalau dikatakan sungguh menyesal sekali.”

“Bisa duduk semeja dengan Heng thay hal ini merupakan keberuntungan, perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok kami, dan merupakan rejeki dari aku orang she Kwan berdua, silahkan Heng thay ambil tempat duduk!”

Thay Heng Tuo Shu tidak menampik , dengan langkah lebar ia segera ambil tempat duduk.

Seorang pengawal buru buru maju kedepn menyediakan cawan serta sumpit.

Thay Heng Tuo Shu sambar poci arak memenuhi cawan sendiri dan menghabiskan tiga cawan lebih dahulu, kemudian sambil tersenyum barulah ujarnya.

“Kedatangan loohu kemari adalah sengaja hendak menyambangi diri Kwan Cong piauw tauw.”

“Aku orang she Kwan adalah seorang pelajar yang belum tamat belajar, tidak berani terima penghormatan sebesar ini, kedatangan Loocianpwee kegubuk kami tentu ada satu petunjuk bukan?”

Agaknya Thay Heng Tuo Shu sedang lapar, ia bersantap dahulu beberapa suap kemudian baru berkata, “Seandainya lohu mengatakan kedatanganku hanya bermaksud menyambang, tentu Kwan Cong Piauw tauw tidak mau percaya.”

Ia menongak tertawa terbahak bahak, sambungnya lebih jauh, “Kwan Cong Piauw tauw adalah seorang jago yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, loohu pun tidak ingin bicara berputar lidah, kedatanganku kali ini memang ingin minta petunjuk akan satu persoalan.”

“Silahkan loocianpwee utarakan, asalkan aku orang she Kwan dapat lakukan tentu akan kulaksanakan!”

Perlahan-lahan Thay Heng Tuo Shu mengeluarkan sumpitnya keatas meja, lalu sambil tertawa ujarnya.

“Aku dengar orang bekerja bahwa ada sebuah lukisan pengangon kambing telah terjatuh ketangan Kwan Cong Piauw tauw,entah benarkah berita ini….?”

“Ooogw….! Kiranya kedatangan saudara adalah dikarenakan peta pengangon kambing itu, kalau urusan ini tak perlu di anehkan lagi.”

Kembali Thay Heng Shu tertawa. “Kedatangan loohu tidak lebih hanya ingin membuktikan apakah berita ini adalah sungguh sungguh ataukah hanya isapan jempol belaka.”

“Sedikitpun tidak salah, memang seratus persen kenyataan, dikolong langit memang hanya ada selembar peta pengangon kambing dan peta tersebut benar benar berada ditangan ku orang she Kwan.”

“Sungguh jelas jawabmu ini,” ujar Thay Heng Tuo Shu sambil tertawa hambar. “Hanya saja nada ucapan terlalu ketus, keras dan membawa nada emosi….”

“Ehmn….! Apa yang ingin kau ketahui telah cayhe jawab dengan jelas dan lantang. Sekarang seharusnya kaupun utarakan maksud kedatanganmu bukan?”

“Kwan Cong Piauw tauw!” tiba tiba Thay Heng Tuo Shu berseru dengan wajah berubah hebat. “Kalau kedatangan aku si bongkok tua adalah bermaksud merampas peta pengangon kambing itu, agaknya aku tidak perlu minum dan bersantap makanan dari perusahaan kalian. Aku si bongkok tua percaya masih mampu untuk membayar semeja perjamuan dan tak usah repot repot datang kemari”

Kwan Tiong Gak yang mendengar ucapan itu hatinya sedikit bergerak, buru buru ia merangkap tangannya menyura, “Ucapan cayhe terlalu kasar mungkin telah menyinggung perasaan anda, harap kau suka memaafkan!”

“Haa…. haaa…. haaa. , …. Loo te, maaf kalau loohu berlagak dan memanggil dirimu dengan sebutan sebuah Loo te. usiaku lebih tua banyak tahun dari mu, namun kau tak akan salahkan diriku bukan!”

“Mana, mana…. Locianpwee suka memandang tinggi diriku, membuat cayhe merasa amat bangga!”

Thay Hang Tuo Siu mendehem ringan perlahan lahan ujarnya.

“Kedatangan Loohu adalah disebabkan peta pengangon kambing itu lebih baik kita membicarakan soal peta pengangon kambing saja”

“Silahkan memberi petunjuk!”

“Sudah kau periksa peta pengangon kambing itu?”

“Sudah!” Kwan Tiong Gik menganggut

“sudah kau pahami isinya.?”

“Baru kupahami seperempat, seperlima belaka.”

Padahal ia sudah memahami enam, tujuh bagian. Namun sengaja ia pura pura berlagak bodoh.

“Sudah hebat, sudah lebih dari hebat,” puji Thay Heng Tuo Shu. “Namun kau harus tahu, hanya satu atau dua bagian saja tidak berhasil dipahami maka tak akan berhasil mengetahui keseluruhannya.

“Agaknya saudara mengetahui sangat banyak mengenai peta pengangon kambing itu?”

Mendengar ucapan itu si kakek bongkok dari gunung Thay Heng San ini sagera tersenyum.

“Terus terang saja kuterangkan, peta pengangon kambing tersebar selama ini berada ditangan loohu. namun tahun berselang tiba-tiba dicuri orang dan lenyap tak berbekas, loohu pernah melakukan pengejaran secara beberapa waktu tetapi peta pengangon kambing tadi lenyap bagaikan mega diangkasa, dikit pun tidak kutemui titik terang. Barulah beberapa waktu ini tiba tiba kudengar peta pengangon kambing muncul kembali didalam dunia persilatan, sepanjang jalan loohu ikuti terus dan akhirnya kutemui kalau peta pengangon kambing telah berada ditengah Loo te”

“Eeer! Kau jangan salah paham” tukas Thay Heng Toa Shu dengan cepat….” Aku tidak bilang kalau peta pengangon kambing itu milikku, aku hanya menyimpannya selama banyak tahun.”

“siauw te tidak berhasil memahami apa yang sedang dimaksudkan Heng thay dalam ucapanmu barusan” seru Kwan Tiong Gak kebingungan.

“Sangat gampang sekali, kedatanganku kali ini sama sekali tiada bermaksud untuk minta kembali peta pengangon kambing itu”

Mendengar ucapan itu Kwan Tiong Gak seketika dibikin tertegun.

” Loocianpwee kau jangan bergurau….” serunya cepat sambil tertawa.

“Loohu sekali lagi ingin terangkan, kedatanganku ini hari sama sekali tiada maksud untuk mendapatkan kembali peta pengangon kambing itu, namun aku hanya berharap bisa mengetahui siapakah yang telah mencuri benda tersebut dari tanganku. Loohu mengerti dengan kedudukan Kwan Cong Piauw tauw saat ini tidak mungkin bisa melakukan perbuatan mencuri yang sangat rendah itu.”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya, setelah hening sesaat ia bertanya kembali, “Apakah Heng thay sudah menemukan titik titik terang tentang persoalan ini?”

“Sama sekali tidak ada, maka dari itu Loo hu baru datang merepotkan diri loo te untuk suka memberi penjelasan tentang persoalan ini.”

“Baik!” kata Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak. “Cayhe hendak menerangkan kalau peta pengangon kambing ini aku dapatkan dari seorang pembesar yang telah mengundurkan diri dari jabatannya.”

“Sepanjang hidup loohu jarang sekali mengadakan hubungan dengan orang orang dari kalangan pemerintahan, dalam sarangku digunung Thay Heng San pun jarang sekali dikunjungi kaum pembesar. Tidak mungkin kalau peta pengangon kambing itu dicuri oleh mereka….”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, lalu sambungnya lebih jauh, “Namun loohu sangat berharap bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya. Entah dapatkah Kwan loo te memberi penjelasan .?”

Selama ini Kwan Tiong Gak yang diam diam mengamati gerak gerik Thay Peng Tuo Shu, melihat ia bersikap tenang dan mengetahui pula pada dua puluh tahun berselang ia merupakan manusia yang paling susah dihadapi dalam dunia kangouw, segera menuturkan seluruh kejadian itu dengan jelas.

Selesai mendengarkan kisah tersebut, Thay Heng Tuo Shu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata, “Peta pengangon kambing itu tidak mungkin kalau dicuri oleh Liuw Thay Jien tetapi loohu sangat berharap bila menemukan sedikit titik terang dari mulutnya, entah dapatkah loote memberi bantuan???”

“Tentang soal ini, cahye tidak berani menyanggupi” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.”Namun aku bisa menggoda dengan sekuat tenaga. Aku rasa sampai kini dalam hati kecil loocianwee tentu sudah mencurigai seseorang bukan?”

“Tentu saja dalam hati kecil loohu telah mencurigai seseorang, tetapi aku tidak berhasil mendapatkan bukti yang kuat….”

Ia mendehem beberapa kali, lalu terusnya “Ketika loohu sedang berangkat kekota Kay Hong, ditengah jalan aku dengar berita katanya banyak jago lihay dari kalangan Bu lim telah berkumpul disini, aku berpikir berkumpulnya mereka mereka itu tentu ada hubungannya dengan peta pengangon kambing.”

“Aaaai . …. .! kamipun tidak menyangka barang yang kami kawal kali ini harus menjumpai banyak kerepotan hingga saat ini kami belum berhasil melepaskan diri dari belenggu.”

“Orang kuno berkata, siapa yang menyimpan mustika ia akan menanggung akibat nya, ucapan ini ternyata sedikitpun tidak salah.”

Mendadak ia bangun dan mohon diri. “Loohu seharusnya mohon diri lebih dahulu!”

Selesai berkata ia segera melangkah keluar.

“Loocianwee, habiskan dulu santapan ini baru berangkat.” buru buru Kwan Tiong Gak berseru.

Tiba tiba Thay Heng Tuo hu berhenti dan berpaling ujarnya sambil tertawa, “Arak serta sayur sih tidak perlu Loohu hanya ingin bertanya akan satu persoalan entah maukah kau memberi jawaban?”

“Silahkan mengutarakan persoalan tersebut.”

“Kwan Cong Piauw taaw, apakah kau hendak mencari harta karun tersebut sesuai dengan keterangan dalam peta itu? “

Mendengar pertanyaan itu Kwan Tiong Gak lantas berpikir dalam hatinya.

“Nah? Akhirnya sampai juga kepokok persolan ,….!”

Sekalipun dalam hati berpikir demikian luaran ia menyahut, “Oooow cayhe Sampai sekarang masih belum ambil keputussn.”

Thay Heng Tuo Sha tertawa. “Loohu berdiam dirumah penginapan Ban Long, baik baiklah loote berpikir keras apakah membutuhkan loohu membantu dirimu atau tidak. Loohu akan menanti tiga hari. Selewatnya tiga hari loohu akan meninggalkan tempat ini….”

“Baik! apakah cayhe membutuhkan bantuan, dalam tiga hari ini pasti bisa datang berkunjung kerumah penginapan Ban Long.”

“Loohu hanya akan menunggu tiga hari, sekaliku dalam tiga hari ini Kwan Loote tidak datang, loohu pun tak akan menunggu lagi.”

“Baik! kita tentukan dengan sepatah kata ucapan ini. Kalau cayhe menjumpai persoalan yang tidak dipahami, dalam tiga hari ini aku pasti akan minta petunjukmu dirumah penginapan Ban Long.”

“Kwan Cong Piauw tauw, kau tak usah terlalu memaksa,” ujar Thay Heng Tuo Shu sambil tertawa. “Waktu selama tiga hari tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, baik baiklah berpikir, Ssmisalnya membutuhkan bantuan Loohu, rasanya pergi mencari diriku pun bulum terlambat.”

Tidak menunggu jawaban dari Kwan Tiong Gak lagi ia segera putar badan dan berlalu.

Gerak geriknya dipandang sepintas lalu-seperti langkah biasa, tatapi dalam kenyataan cepatnya luar biasa, sebentara Kwan Tiong Gak masih termenung Thay Heng Tuo shu telah berlalu dari ruangan.

Menanti bayangan punggung dari Thay Heng Tuo Shu telah lenyap dari pandangan Poei Ceng Yan baru mendehem ringan.

“Tidak memikirkan jarak yang jauh ia datang berkunjung kemari, aku pikir urusan tidak akan segampang ini.”

“Benar!” Kwaa Tiong Gak mengangguk. “Ia berkata dalam tiga hari kalau ada urusan, minta aku menyambangi dirinya, ia ucapkan perkataan tersebut dengan demikian yakin seolah olah dalam tiga hari ini aku pasti bisa mengundang kehadirannya.”

“Aku pikir bolak balik tujuan kedatangannya kemari hanya satu, dan tak mungkin bisa meleset lagi!”

Kembali Kwan Tiong Gak mengangguk. “Mungkin sejak semula ia sudah tahu kalau dalam tiga hari ini pasti akan terjadi suatu perobahan besar. Maka ia tetapkan batas waktu selama tiga hari. Aku rasa kedatangannya jauh jauh dari gunung Thay Heng san bukan hanya ingin nengadu untung belaka.”

“Kwan Cong Piauw tauw apakah ada niat pergi mengunjungi dirinya?”

“Soal ini harus kita lihat dulu bagaimanakah perusahaan dari kejadian yang akan datang” jawab Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar. “Seandainya kita menemui suatu sebab sebab tertentu yang bagaimanapun juga harus mengunjungi dirinya, tentu saja kita harus pergi, tetapi sebelumnya kita lebih baik bekerja sesuai dengan rencana yang telah kita atur sebelumnya.”

Gangguan dari Thay Heng Tuo shu barusan agaknya semakin memperkuat niat Kwan Tiong Gak untuk memahami rahasia keseluruhan dari peta penjangon kambing itu.

Selesai bersantap baru-buru ia pindah-kamar rahasia untuk mulai dengan penyelidikannya.

Poei Ceng Yan, Liem Toa Lek, Nyioo su Jan serta Lie Giok Liong sekalianpun menyebarkan diri melakukan pengawasan yang ketat.

Dengan titik pusat ruang rahasia yang digunakan Kwan Tiong Gak, penjagaan ketat disebar disekeliling tempat itu. Mereka disamping menguatirkan keselamatan Cong Piauw tauw nya, bersamaan pula tidak ingin mengganggu atau mengacaukan ketenangannya sehingga mengganggu konsentrasi.

Sepuluh orang pengawal lengkap dengan busur serta anak panah menyebarkan diri di belakang kebun diujung bangunan siap menghadapi sesuatu.

Pemikiran Nyioo Su Jan benar sangat teliti, disamping melakukan penjagaan, iapun menyediakan gentong gentong berisi siri disekeliling bangunan yang ditempati Kwan Tiong Gak ia bersiap-siap bilamana musuh masuk menggunakan api untuk membakar tempat itu dengan cepat mereka bisa melakukan pertolongan.

 

[bersambung]