ambang naga panji naga sakti 11
“Apakah perlu kita lepaskan
senjata rahasia yang kita bawa. seperti halnya pula dengan mereka?”
“Kemungkinan sekali kira telah
berada disuatu markas perkumpulan rahasia yang ada dalam Bu lim.
tempat ini tidak kelihatan ada orang yang menjaga, kalau mereka
secara diam diam mengawasi gerak gerik kita, tentu sang majikan
tempat ini sudah menaruh kepercayaan pada orang yang hadir tadi
bakal berani melanggar peraturan tersebut. Aku duga kalau sampai ada
yang berani melanggar tentu akan menjumpai hal yang tidak
menguntungkan sama sekali tidak tahu akan peraturan disini lebih
baik kita berlagak pilon saja dan tak uiah lepaskan senjata.”
Poei Ceng Yan mengiakan, setelah
menambat kudanya ujarnya kembali.
“Toako biarlah siauwte berjalan
lebih dulu.”
Dengan langkah lebar ia segera
berjalan nenuju bangunan desa tersebut.
Kwan Tiong Gak pun merasa apa yang
dijumpainya ini hari merupakan peristiwa aneh yang belum pernah
dijumpai selama ini. ia segera berkencang langkah kakinya mengikuti
dibelakang Poei Ceng Yan.
“Saudara Poei” katanya. “Kita
harus berhati-hati, keadaan ditempat ini sangat aneh sehingga saking
anehnya membuat orang susah menduga apa sebenarnya yang telah
terjadi.”
Mendadak Poei Ceng Yan
menghentikan langkahnya dan berpaling.
“Toako, kau bawa serta peta
pengangon kambing itu?” tanyanya.
“Tidak mengapa, aku telah
menyimpannya dengan sangat baik, lagipula dalam keadaan seperti ini
aku rasa tiada sangkut pautnya dengan pengangon kambing tersebut.”
Ditengah pembicaraan, mereka telah
berada didepan bangunan tersebut.
Pintu bangunan itu tertutup rapat,
tetapi dalam halaman yang luas duduk banyak sekali jago Bu lim.
Tiada meja atau kursi tersedia
disana masing masing jago yang hadir segera mencari tempat duduk
diatas tanah.
Im yang Siang Sah yang namanya
telah tersohor dikolong langitpun ikut duduk disatu ruangan.
Berpuluh puluh jago kangouw duduk
berkumpul dalam halaman yang sama dengan sikap tenang, tak
kedengaran suara berisik yang memecahkan kesunyian.
Poei Ceng Yan melongok sekejap
ke-arah halaman ini, temukan orang kangouw itu tak ada yang menengok
kearahnya, seolah olah mereka sudah tak bergairah lagi untuk
mengurusi orang lain lagi.
“Ssst….saudara Pui”" bisik Kwan
Tiong Gak lirih “Kelihatannya orang orang ini bagaikan tawanan yang
telah dijatuhkan hukuman mati saja, seolah peristiwa yang ada di
kolong langit sudah tidak memperoleh perhatian dari mereka lagi.”
“Perlu kita masuk kedalam? tanya
Pui Ceng Yan.
“Setelah tiba disini tentu saja
harus masuk kedalam lihat lihai keadaan, namun kita tak boleh
bersikap teristimewa nanti kita harus duduk pula ditengah hadiah
seperti halnya mereka sembari diam meninggali kaadaan.”
Sementara kedua orang iiu kasak
kusuk didepan pintu, para jago yang duduk dalam ruangan tak
seorangpan yang berpaling atau memandang sekejap kearah mereka
berdua.
Lambat lambat Pui Ceng Yan serta
Kwan Hong Gak berjalan masuk kedalam halaman mencari tempat kosong
dan duduk diatas tanah. Suasana dalam halaman sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun, seketika secara diam diam Kwan Tiong
Gak memperhatikan suasana disekeliling tempat itu, ia temukan orang
orang itu seolah olah memiliki kesabaran yang luar biasa, dengan
tenang dan mulut membungkam mereka duduk menanti. Sebaliknya Pui
Ceng Yan memperhatikan keadaan bangunan tersebut, rumput alang alang
tumbuh tinggi lagi lebat, jelas bangunan rumah ini sudah lama tidak
dihuni atau diinjak manusia.
Kurang lebih sepertanak nasi
kemudian, pintu ruangan yang tinggi besar dan tertutup rapat itu
tiba terbentang lebar.
Kwan Tiong Gak segera alihkan
sinar matanya kembali, namun ia tidak berhasil menemukan sesosok
manusiapun yang membuka pintu tersebut.
Belum habis rasa tercengang di
nati, serentetan suara yang dingin dan nyaring berkumandang keluar
dari balik ruangan.
“Cuwi sekalian boleh masak ke
dalam ruangan, namun harus masuk satu persatu, tak boleh kacau balau
tidak menurut aturan.”
Sepasang sinar mata Kwan Tiong Gak
yang tajam dialihkan kedalam ruangan dan menyapu empat penjuru
dengan seksama, namun agaknya orang orang barusan bicara ada maksud
menghindarkan diri dari segala pengamatan, tak ditemui dimanakah
ortng itu berada.
Tampaklah para jago yang semula
duduk didepan halaman bersama sama bangkit berdiri, berbaris jadi
satu barisan panjang dan lambat berjalan masuk kedalam ruangan.
Tiada seorang pnn yang berebut
tempat, semuanya mengikuti aturan dengan bebas, secara bergilir
masuk kedalam.
Melihat kejadian itu tak kuasa
lagi Kwan Tiong Gak berpikir dalam hatinya, “Sebagian besar jago
yang hadir disini merupakan jago-jago lihay dari kalangan Hek to,
mereka sudah terbiasa mengumbar watak sombong, tinggi hati, jumawa
dan susah di atur, untuk memaksa mereka berjalan dengan cara antri
semacam ini benar beaar bukan suatu pekerjaan yang sangat gampang….”
Sementara hatinya sedang berpikir,
ia-pun segera bangkit berdiri dan menggabungkan diri dengan barisan
tersbut.
Setelah melalui pengamatan yang
seksama selama beberapa saat, Kwan Tiong Gak merasa Im Yang Siang
Sah merupakan jago kalangan Shia to yang memiliki kedudukan paling
tinggi diantara jago jago lainnya, karena sebab itu sengaja ia
beserta Poei Ceng Yan berbaris dibelakang Im Yang Siang Sah sembari
mengamati perubahan selanjutnya.
Setelah masuk kedalam ruangan,
tercium bau amis darah berhembus lewat membuat perut seketika merasa
mual.
Agaknya sejak semula Im Yang Siang
Sah sekalian sudah mengerti akan peristiwa tersebut, mereka tetap
melanjutkan langkahnya kedalam dengan lambat dan sama sekali tidak
menunjukkan suatu pertanda aneh, sebaliknya Kwan Tiong Gak lah yang
merasa hatinya sedikit terkesiap.
Ketika ia angkat kepala keatas,
tampak disebuah ruangan yang lebar dan luas teratur puluhan buah
meja yang diatur dan di jejerkan satu sama lainnya sehingga
membentuk sebuah meja yang panjang.
Perabot yang ada dalam ruangan
tersebut kecuali meja berjajar jejer yang membentuk sebuah meja
panjang, tak kelihatan benda lain, bahkan sebuah kursipun tidak
nampak.
Diatas meja panjang tadi
tersusunlah batok kepala manusia dengan teraturnya, dalam pandangan
Kwan Tiong Gak sekelebatan ia menaksir batok kepala manusia itu
semuanya berjumlah tiga enam butir lebih.
Walaupin batok kepala itu sudah
di-pancung sangat lama, namun mimik wajahnya sangat berbeda satu
sama lainnya. Ada yang mati mata melotot gusar alis berkerut, ada
yang mati dengan mata terpejam wajah tenang adapula yang mati dengan
wajah berkerut murung. Tanda tanda ini bisa menunjukkan betapa
tersiksanya saat mereka menemui ajalnya.
Dibawah setiap betok kepala
manusia tadi tertindih secarik kain putih yang tertuliskan nama sang
korban.
Kwan Tiong Gak yang berjalan
mengikuti di belakang Im Yang Siang Sah mengelilingi meja panjang
itu, dalam sekaligus pandangan ia cepat membaca nama nama korban
yang tercantum diatas kain putih.
Ternyata mereka adalah “Sah Cap
Lak Yauw Jien” atau tiga puluh enam orang manusia siluman yang
meurakan pentolan pentolan iblis kalangan Hek to paling kecil.
Ketika Piauw tauw she Kwan Ini
meneliti warna darah yang masih ternoda diatas leher batok kepala
tersebut, Ia menemukan bahwa warna darah tadi sama semua atau hal
ini menunjukkan bahwa waktu kematian mereka boleh dikata hampir
terjadi bersamaan waktunya.
Ini menunjukkan pula bahwa ketiga
puluh enam manusia siluman ini tanpa berhasil melakukan perlawanan
mati secara massal .dalam detik yang hampir berbareng.
Diam diam Kwan Tiong Gak merasa
hatinya bergidik juga melihat keseraman suasana dalam ruangan,
pikirnya “Seseorang usia mengumpulkan ketiga puluh enam orang
manusia siluman disini lalu dalam waktu yang bersamaan membinasakan
mereka secara berbareng, hal ini membuktikan bahwa orang itu harus
melawan pula serangan gabungan dari ketiga puluh enam orang manusia
siluman ini, kepandaian silat yang ia miliki tentu terhitung jago
nomor wahid dalam Kolong langit saat ini …. .”
Haruslah diketahui ketiga puluh
enam orang manusia siluman kendati bukan termasuk jago lihay dalam
dunia persilatan, namun merekapun bukan manusia lemah dalam Bu-lim,
terutama sekali ketiga puluh enam orang itu berkumpul jadi satu
dengan sebuah barisannya yang sangat lihay.
Dengan barisan tersebut, pada
beberapa tahun berselang mereka pernah mengalahkan tiga orang padri
lihay dari Siaw lim pay karena peristiwa itulah nama mereka segera
menanjak dikalangan Hek to maupun kalangan Pek to. Kebanyakan orang
tidak berani mencari gara gara dengan ketiga puluh enam orang
manusia siluman tersebut secara gegabah, hal ini membuat tingkah
laku mereka semakin garang dan semakin sombong.
Tidak disangka, ternyata ini hari
ketiga puluh enam orang manusia siluman itu sudah menemui ajalnya
secara berbareng di tangan seseorang.
Sementara ia masih termenung,
badan nya dengan mengikuti dibelakang Im Yang Siang Sah telah tiba
disebelah ujung ruangan.
Agaknya orang orang yang masuk
kedalam mangan itu sejak semula sudah ada perjanjian, setelah
mengitari meja panjang tadi mereka bersama sama jalan keujung
ruangan besar itu dan berdiri disana dengan teratur dan rapi.
Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan
pun menggabungkan diri dalam barisan tersebut.
Dibelakang mereka berdua masih
terdapat banyak sekali orang. beberapa saat kemudian semua orang
sudah masuk kedalam ruangan dan berbaris membentuk sebuah kalangan
yang teratur dan rapi. tak kedengaran sedikit suara berisikpun.
Enam tujuh puluh orang jago
sana-sama berdiri tenang disana, tak kelihatan seseorang menunjukkan
Suatu gerak gerik, kecuali suara, ringkikan kuda yang berkumandang
tiada hentinya dari luar halaman ruangan.
Sepertanak nasi lamanya sudah
lewat,, namun masih tidak kedengaran sedikit sunra pun.
“Saudara Poei!” tak tertahan lagi
Kwei Tiong Gak bukan suara bebisik. “Kita tidak bisa berdiam terlalu
lama disini, kita seharusnya segera berangkat….”
“Pergi…. pergi kemana??” tanya
Poei Ceng Yan tertegun.
Agaknya pikiran serta kesadarannya
telah terpengaruh oleh suasana kematian yang meliputi seluruh
ruangan itu.
“Meninggalkan tempat ini “
“Mungkin beberapa patah kata ini
di tetapkan sehingga tanpa terasa Im Yang Siang Sah sama sama
berpaling memandang sakejap kearah kedua orang itu.
Kwan Tiong Gak tahu kedua orang
manusia ini paling susah dihadapi, ia segera berlagak pilon dan
tidak menggubris mereka berdua.
Im Yang Siang Sah agaknya kenal
dengan Kwan Tiong Gak, namun seolah olah baru sekarang mereka
menjumpainya.
Terdengar salah seorang
diantaranya tertawa hambar dan menegur, “Ooooouw…. kiranya Kwan Cong
Piauw tauwpun datang!”
Sebetulnya Kwan Tiong Gak ingin
menanyakan kejadian sebenarnya, tetapi setelah teringat akan watak
Im Yang Siang Sah ia merasa jauh lebih baik tak usah banyak bicara
dengan mereka berdua.
Sambil menahan diri Ia segera
mengangguk.
“Benar, siauwte pun ikut datang!”
Pada saat itulah tiba tiba
terdengar suara teguran dingin berkumandang memenuhi seluruh
ruangan, “Lun Tiong Sie Oh atau empat manusia jahanam dari Lun
Tiong.”
Dari antara gerombolan manusia
segera terdengar suara sahutan empat orang dengan nada yang serak
gemetar.
“Kami empat manusia telah datang
memenuhi perintah.”
Kwan Tiong Gak segera mendongak di
tengah ruangan entah sejak kapan telah muncul seorang manusia
berjubah hitam dan duduk menghadap dinding membelakangi para jago.
Kalau ditinjau dari dandanannya,
mirip sekali dengan pakaian Majikan Lambang Naga Sakti yang tersohor
itu.
Terdengar suara tadi kembali
membentak. “Keluar!”
Empat orang lelaki kekar berwajah
buas lammbat-lambat berjalan keluar dari barisan-Sepasang kaki
mereka berempat tiada hentinya gemetar, langkahnya kelihatan sangat
berat seolah olah susah digerakkan karena memikul beban seberat
ribuan kati.
Siorang berbaju hitam ini sama
sekali tidak berpaling, namun bagaiKan dipunggungnya tumbuh sepasang
mata saja ia segera membentak dingin.
“Cepatan dikit jalannya!”
Keempat orang itu sama sama
mengia-kan namun suaranya lirih dan kedengaran gemetar keras.
Walaupun dalam hati ada maksud berjalan lebih cepat namun sepasang
kaki tidak mau turut perintah.
“Sekarang boleh berhenti!” kembali
si orang berbaju hitam itu memerintah.
Empat manusia jahanam dari
keresidenan Lun Tiong berhenti, namun badan mereka gemetar semakin
keras, membuat ujung baju bergoyang tiada hentinya dan setisp orang
dapat melihat hal tersebut dengan amat jelas.
Karena siorang berbaju hitam itu
duduk membelakangi para jago, maka semua orang tak dapat melihat
bagaimanakah perubahan air muka serta raut wajahnya, tentu saja
kecuali suaranya yang dingin dan ketus itu.
Terdengar ia memerintah kembali,
“Laporkan sendiri dosa dosa kalian!”
Lun Tiong Su Oh dengan menuruti
deretan Kedudukan mereka berdiri berjejer dari kiri kekanan.
Terdengar Sung Loo toa berkata,
“Kami empat bersaudara pernah merampas barang milik orang lain,
pernah melanggar pantangan memperkosa, sepasang tangan penuh dengan
darah dosa kami sudah bertumpuk-tumpuk …. ….”
“Hm.! yang kutanyakan adalah
peristiwa yang terjadi sewaktu bulan Tiong ciu tahun ini!” tukas si
orang berbaju dingin ketus
Orang yang ada dipaling kiri
segera menyambung.
“Hari itu kami telah merampok
sebuah kereta berdua, melukai pemilik kereta, tua muda empat orang
ditambah seorang kusir yang ada dalam kereta tersebut semuanya mati
ditangan kami berempat….”
Siorang berbaju hitam tertawa
dingin seketika Loo toa yang sedang mengaku semua dosanya membungkam
dan berdiri terbelalak. Suara tertawa dingin itu sama sekali tidak
istimewa, kedengaran menusuk telinga, tetapi berada dalam keadaan
seperti ini mendatangkan suatu perasaan yang aneh membuat hati
bergidik.
Loo toa dari empat manusia jahanam
“Lun Tiong Sie On” membungkam dalam seribu bahasa, menanti suara
tertawa dingin tadi sudah lenyap beberapa saat itu baru berkata
kembali lambat lambat.
“Satelah peristiwa tersebut kami
baru menemukan kalau diatas kereta tenebat terr….terr….terdapat
See….selembar Lambang….lambang naga sakti….”
“Hmnm, apakah mata kalian sudah
buta semua?”
“Cayhe sekalian patut dihukum
mati,” seru Lun Tiong Sie On hampir berbareng.
“Bagus, sekarang kalian, harus
mati, turun tanganlah sendiri, dengan demikian kalian masih bisa
mempertahankan jenazah yang utuh.”
Diatas air muka Lun Tiong Sie Oh
terlintas suata perasaan putar asa, mereka saling bertukar pandangan
sekejap kemudian sama sama menggaplok ubun ubun sendiri. Empat sosok
jenasah bersama sama roboh menggeletak diatas tanah.
Sementara Lun Tiong Sie Oh bunuh
diri si orang berbaju hitam itu sama sekali tidak berpaling barang
sekejappun. Kembali ia tertawa dingin.
“Oh Tiong Chie Hauw!” Tujuh orang
lelaki setengah baya menyahut dan berjalan keluar dari barisan.
“Pindahkan dulu jenasah dari Lun
Tiong Sie Oh kebawah meja panjang sebelah sana.”
Ketujuh orang itu tanpa membantah
lagi bersama sama memindahkan jenasah Lun tiong Sie Oh ketempat yang
dimaksud kemudian balik kedepan manusia berbaju hitam itu.
“Hmm! Kalian tahu dosa?”
Tujuh harimau dari Oh Tiong sama
sama dibikin ketakutan, sahutnya berbareng, “Kami tahu dosa”
Agaknya ketujuh orang itu sudah
dibikin ketakutan sehingga sukmapun terasa hampir melayang, jawaban
tadi diutarakan tidak bersamaan sehingga kedengaran sungguh lucu.
“Bagus, kalau kalian sudah tahu
salah hal ini lebih bagus lagi, sekarang cepat turun tangan
membereskan diri sendiri!”
Saking takutnya ketujuh harimau
dari Keresidenan Oh Tiong ini tidak ada keberanian untuk membantah,
dari dalam saku mereka mengambil keluar sebutir pil beracun kemudian
ditelan kedalam perut.
Beberapa saat kemudian air muka
mereka berubah menghijau dan menemui ajalnya karena keracunan.
Ternyata mereka bertujuh sudah
mengadakan persiapan terlebih dahulu, dalam saku masing masing telah
tersimpan sebutir pil beracun guna melakukan bunuh diri. Sungguh
hebat sekali si orang berbaju hitam ini, hanya beberapa kata saja ia
telah memaksa sebelas orang bajingan Liok lim menemui ajalnya.
Kwan Tiong Gak yang melihat
kejadian itu diam-diam merasa bergidik pikirnya, “Orang orang itu
masih punya tenaga dan ilmu silatnya sama sekali belum pernah,
kenapa suaranya tidak berani membantah dan mandah saja melakukan
bunuh diri? Sungguh aneh sekali.!”
“Lok Chiet Nio!” kembali terdengar
siorang berbaju hitam itu berseru.
Seorang perempuan dengan suara
yang merdu segera menyambut, “Aku ada disini!”
“Kau keluar dari barisan!”
Dari antara barisan jago jago itu
segera muncullah seorang perempuan muda berbaju biru yang kira kira
berusia tiga puluh satu dua tahunan.
“Bagus sekali!” seru Kwan Tiong
Gak dalam hatinya dengan hati tergetar keras
“Kiranya “Kiu Wie Hu” atau si rase
berekor sembilan Lok Chiet Nio pun ada disini, perempuan ini sudah
terlalu banyak melakukan kejahatan, ia paling banyak merayu jago
jago dari perguruan dari kalangan lurus, setelah melakukan zinah
lalu mengeluarkan ilmu hitamnya. Pihak Siauw lim serta Bu tong pay
pernah mengirim jago-jago lihaynya untuk mengejar dia, namun
jejaknya lantas lenyap tak berbekas. Orang ini benar benar luar
biasa, bukan saja amat cabul bahkan permainan cintanya disertai ilmu
hitam, walaupun usia nya makin menanjak namun setiap orang yang
pernah melakukan perzinahan dengan dirinya selama hidup tak bisa
melupakan dirinya lagi. Maka tidak sedikit orang suka mengorbankan
jiwanya untuk berbakti kepada-nya.
Tampak Lok Chiet Nio dengan badan
gemetar maju beberapa langkah kedepan. Serunya lirih, “Aku adalah
orang perempuan….”
“Aku tahu!” tukas si orang berbaju
hitam itu dengan nada ketus. “Maka dari itu aku mengijinkan dirimu
untuk bunuh diri dengan menggantungkan diri!”
“Apakah aku harus mati?”
“Ehm….!! Dengan kecantikan wajah
kau memancing banyak orang, dosa yang kau lakukan sudah
bertumpuk-tumpuk….”
“Tetapi hal ini dikarenakan mereka
punya keinginan sendiri, mereka tak bisa melupakan diriku dan rela
tunduk kepadaku” tukas Lok Chiet Nio dengan cepat. “Lain kali aku
tak akan melanggar lagi dosa ini.kalau kau dapat mengampuni selembar
jiwaku, mulai saat ini aku akan masuk kedalam biara cukur rambut
sebagai nikouw, sepasang hidup tak akan berbuat dosa lagi….”
Lok Chiet Nio adalah seorang
perempuan cabul yang sudah memiliki pengalaman banyak dalam hal
bercinta, tingkah laku serta setiap ucapannya mendatangkan perasaan
sayang serta mempersonakan bagi orang yang mendengar.
Namun si orang berbaju hitam itu
sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan itu, kembali ujarnya
dengan suara dingin, “Sejak lambang Naga Sakti muncul dalam duria
persilatan, ia telah menetapkan peraturan yang harus dituruti oleh
semua orang, walaupun kau sudah banyak melakukan perbuatan keji dan
cabul, asalkan hal tersebut sama sekali tidak menyinggung nama baik
Lambang Naga Sakti, akupun tak akan mengurusi dirimu. Namun kau
berani pandang hina lambang Naga Sakti, dosamu ini tak bisa diampuni
lagi. Mengingat kau adalah seorang perempuan aku biarkan kau mati
dengan badan utuh, sekarang cepatlah pergi gantung diri untuk
menebus dosa dosa tersebut.”
Air mata jatuh berlinang membasahi
kelopak matanya, dengan suara keras ujar Lok Chiet Nio kembali,
“Lambang Naga Sakti sudah ada puluhan tahun lamanya lenyap dari
dunia persilatan. Sejak aku dilahirkan dalam kolong langit belum
pernah terdengar berita tentang Lambang Naga Sakti itu lagi, pepatah
Kuno mengatakan begini: Yang tidak tahu tidak berdosa sekalipun aku
telah menjumpai lambang Naga Sakti tetapi aku tak mengenalinya “
Mendengar perkataan itu Kwan Tiong
Gak segera berpikir dalam hatinya.
“Walaupun Lok Chiet Nio bukan
termasuk seorang manusia baik, tetapi apa yang di ucapkan memang
amat ceng li!”
Namun si orang berbaju hitam itu
sudah menegur dengan suara dingin.
“Kalau begitu, aku sudah salah
menuduh dirimu “
“Seandainya kau suka bicara
menurut cengli, tidak seharusnya kau paksa aku uantuk melakukan
bunuh diri.”
“Kenapa gurumu tidak beritahukan
persoalan lambang Naga Sakti ini kepadamu?? sekalipun kau tidak
berdosa namun peristiwa ini akan merembet keseluruh perguruanmu!”
“Sekalipun begitu, tetapi guruku
yang menurunkan ilmu silat kepadaku sudah lama meninggal.”
Siorang berbaju hitam itu segera
tertawa dingin.
“Lek Chiet Nio, kau tidak usah
membantah lagi. sekalipun guru yang menurunkan ilmu silat kepadamu
benar benar sudah mati, tetapi diantara perguruanmu tentu masih ada
orang lain. Majikan lambang naga sakti bukan seorang manusia yang
gampang ditipu, tetapi majikan lambang naga sakti pun bukan seorang
manusia yang tidak pakai aturan, kau tetap tinggal disini, nanti aku
bawa kau pergi keperguruan untuk mencari bukti. Tetapi kau harus
tahu dulu, kalau kau bicara bohong maka aku akan menggunakan suatu
cara yang paling keji untuk mencabut selembar jiwamu.”
Lok Chiet Nio sekatika dibikin
tertegun.
“Agaknya belum aku mati, hatimu
belum mau terima?”
Ia lepas ikat pinggangnya dari
badan lalu diikat diatas tiang ruangan dan membuat sebuah simpul
hidup, setelah itu sambil mengucurkan air mata ujarnya.
“Apakah terhadap seorang
perempuan-pun kau tidak mau melepaskan….”.
“Hm….! melepaskan dirimu bukankah
sama arti telah melanggar pantangan Lambang Naga Sakti dalam
menghukum mati sang pelanggar.?”
Perlahan-lahan Lok Chiet Nio
menghela napas panjang.
“Dalam dunia persilatan banyak
terdapat manusia keji, namun tak ada yang lebih keji.majikan Lambang
Naga Sakti, tak ada se-orang korbanpun yang dilepaskan sebelum
mereka semua dibinasakan.”
Kepalanya segera dimasukkan
kedalam simpul hidup tadi, tangan dilepaskan dan ba ¦mpuu bergantung
diatas tiang, beberapa saat kemudian ia telah menemui ajalnya
“Im Yang Siang Sah” suara pencabut
nyawa dari siorang berbaju hitam itu kembali Berkumandang datang.
Im Yang Siang Sah yang tersohor
akan kekejiannya segera mengiakan dan berjalan ke luar dari barisan.
“Kalian berdua tahu dosa??”
“Kami tahu salah.”
“Bagus, kalian hendak turun tangan
sendiri ataukah menanti aku yang turun tangan?”
Setelah kematian ada diambang
pintu perasaan takut dan jeri yang semula meliputi kedua orang
pentolan iblis ini malah lenyap tak berbekas, mereka jadi tenang
sekali.
Terdengar Im Sah Yang ada
disebelah kiri tertawa kering, ujarnya, “Kami tidak ingin mati,
harap kau orarg tua suka memberikan budi yang istimewa ke pada
kami….”
“Lek Chiet Nio seorang wanita pun
sama halnya harus mati. apalapi kalian berdua adalah lelaki sejati.
Sejak dahulu Im Yang Siang Sah
berkelana dan mengembara berbareng, dalam menghadapi serangan
musuhpun mereka sudah punyai hubungan batin yang erat, ketika Im Sah
sedang berbicara tapi diam diam Yang Sah telah mengumpulkan
hawa murninya ke seluruh badan.
Belum habis si orang berbaju hitam
itu menyelesaikan kata katanya, Yang Sah telah turun tangan. Telapak
kanannya diayun kedepan menghajar jalan darah “Ming Cun Hiat” pada
punggung orang berbaju hitam itu.
Bersama waktunya pula Im Sah
mengalunkan tangannya kedepan, segenggam cahaya keperak perakan
segera meluncur kedepan.
Kalau dibicarakan dari kepandaian
silat yang dimiliki Im Yang Siang Sah ditambah pula jarak yang
demikian dekatnya, untuk menghadapi serangan telapak serta senjata
Rahasia yang dilancarkan hampir berbareng bukanlah merupakan suatu
pekerjaan gampang.
Terdengar si orang berbaju hitam
itu tertawa dingin, sembari putar badan pedangnya membabat keluar,
tampaklah serentetan cahaya tajam dengan menimbulkan desiran tajam
meluncur keluar.
Terdengar dua kali suara dengusan
berat berkumandang memecahkan kesunyian, Im Yang Siang Sah hampir
bersamaan waktunya tersambar pedang lawan dan roboh Keatas tanah.
Ujung pedang menembusi dada mereka
hingga tembus kepunggung, tetapi menanti badan mereka berdua sudah
roboh keatas tanah, darah segar baru mengucur keluar dari dada.
Gsrakan si orang berbaju hitam itu
dalam putar, ayun pedang, boleh dikata dilakukan hampir dalam waktu
bersamaan dan susah diikuti dengan pandangan mata.
Tak seorangpun dapat melihat
bagaimanakah raut wajahnya, juga tak ada yang melihat ilmu pedang
apa yang digunakan semua orang hanya merasa ia ayunkan tangannya
kebelakang diikuti serentetan hawa pedang, yang tajam telah
menyampok rontok jarum-jarum beracun yang meluncur datang.
Dalam sekejap mata suasana dalam
ruangan berubah kembali jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit
suarapun.
Orang orang yang ada dalam ruangan
itu tidak sedikit yang berharap bisa melihat kelihayan dari ilmu
silat majikan Lambang Naga Sakti, namun tak seorangpun yang dapat
memenuhi harapan tersebut.
Kiranya, gerakan si orang berbaju
hitam dalam putar badan melancarkan serangan di lakukan dengan
kecepatan luar biasa sehingga sukar diikuti dengan pandangan mata.
Sekalipun Kwan Tiong Gak sendiri
yang sudah membentangkan sepasang matanya lebar lebarpun tak
berhasil menemukan sesuatu apapun.
Melihat kelihayan si orang berbaju
hitam dalam membinasakan Im Yang Siang Sah hanya dengan sebuah jurus
serangan belaka hati semua jago bertambah menghormat dan kagum lagi.
Terdengar si orang berbaju hitam
itu berseru kembali dengan suara dingin,
“Kalian semua datang kemari karena
berani memandang rendah lambang naga sakti. aku tahu walaupun dalam
hati kalian tidak menaruh hormat pada lambang tersebut, tetapi
kalian tahu melanggarnya bukan suatu perbuatan baik. Mengingat
kalian baru melanggar untuk pertama kalinya kali ini aku suka
membuka satu kesempatan hidup buat kalian meminjam mulut kamu semua
aku ingin agar peristiwa yang terjadi ini hari bisa tersiar dalam
dunia persilatan….”
Ia merendek sejenak, kemudian
terusnya, “Sekarang kalian boleh pergi semua.”
(Bersambung ke jilid 22)
Jilid 22
PULUHAN orang jago yang ada dalam
ruangan tak seorangpun yang buka suara, dengan suasana diliputi
kebeningan seorang demi seorang putar badan berjalan keluar dari
ruangan tadi dengan teratur.
Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan
pun mengikuti dari belakang orang orang itu berjalan menuju keluar.
“Barang siapa yang membawa senjata
harap tetap tinggal diam!” tiba-tiba si orang berbaju hitam itu
membentak keras.
Kwan Tiong Gak tertegun dan segera
berhenti. Ternyata golok emas yang digembol dibadan tidak dilepaskan
dan semua orang dapat melihatnya sangat jelas, ingin pura-pura
berlagak pilonpnn tak mungkin.
Melihat Kwan Tiong Gak berhenti.
Poei Ceng Yan pun segera ikut berhenti.
Walaupun suasana dalam ruangan itu
sunyi tak kedengaran suara, tapi tak ada yang berani berebut jalan.
Sekalipun begitu para jago tadi berlalu dengan cepatnya. Dalam
sekejap mata tak ketinggalan seorang manusia-pun.
Beberapa saat kemudian dalam
ruangan tadi tinggal Kwan Tiong Gak, Poei Ceng Yan serta si orang
berbaju hitam itu.
“Cayhe orang she Kwan!” terdengar
Kwan Tiong Gak mendehem perlahan memecahkan kesunyian.
“Hhhmmmn….! Cong Piauw tauw dari
perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok, si golok emas yang
menggetarkan delapan penjuru.”
“Tidak berani, tidak berani. Sudah
lama orang she Kwan mendengar nama besar dari lambang nsga sakti.
Beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa muka”.
“Barang siapa yang berjumpa dengan
Lambang Naga Sakti, selamanya lebih banyak bencana dari pada rejeki,
kenapa Kwan Cong Piauw tauw mempunyai pandangan yang berbeda dengan
orang lain?”
“Menurut pandangan cayhe. mnjikan
lambang Naga Sakti tidak lebih hanya meminjam lambang tersebut untuk
melakukan kebajikan dalam Bu lim. Aku orang she Kwan merasa diriku
selama hidup belum pernah melakukan pekerjaan yang merugikan orang,
walaupun berhadapan dengan lambang naga sakti sama sekali tak perlu
merasa jeri!”
“Hmm! saudara terlalu percaya pada
diri sendiri….”
Mendengar ucapan itu Kwan Tiong
Gak tertegun, sebelum ia sempat berbicara siorang berbaju hitam itu
telah mendahului berkata lebih lanjut.
“Langganan perusahaan Hauw wie
Piauw kok kalian tidak sedikit merupakan pembesar rakus, penjilatan
serta manusia manusia sia rendah yang suka memeras rakyat, sekalipun
kalian tahu mereka adalah manusia rendah namun kalian -antar juga
mereka tiba di tujuan dengan selamat, bukankah hal ini merupakan
suatu perbuatan jahat? Apalagi kau Pun sudah lama mendengar tentang
persoalan lambang naga saki, rasanya sudah tentu tahu bukan akan
peraturan yang telah ditetapkan oleh sang majikan lambang naga
sakti.”
Poei Ceng Yan yang sudah disamping
dalam pada wkatu itu mengerti, dalam jawaban ini asalkan Kwan Tiong
Gak salah berbicara sekejap saja maka suatu pertarungan lengit tak
akan terhindar. Buru- buru serunya, “Tolong tanya peraturan apakah
itu?”
“Siapa kau?”
“Cayhe Poei Ceng Yan.”
“Ooooouw….! Hu Cong Piauw tauw
dari perusahaan ekspedisi Hauw wie Piauw kiok!”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Setiap orang Bu-lim rasanya tentu
tahu bahwa majikan lambang naga sakti telah menetapkan barang siapa
yang hendak menghadap diriku dilarang menggembol senjata tajam atau
sejumpil besipun, sekarang bukan saja kalian menggembol senjata
rahasia bahkan secara terang terangan membawa senjata tajam.
Bukankah hal ini sama artinya kalian sudah melanggar perturan
tersebut?”
“Oooooo….! kiranya peraturan Itu.
tentang hal ini sih kami sudah tahu sejak dahulu.”
“Jadi kalian sudah tahu tetapi
sengaja hendak melanggarnya?”
Poei Ceng Yan segera tertawa
hambar, “Sebelum berjumpa dengan saudara, kami tidak tahu kalau
orang orang banyak tadi datang kemari hendak bertemu dengan diri mu,
apalagi saat ini saudara mengaku sebagai majikan lambang naga sakti,
namun kami tak tahu benarkah kau majikan lambang naga sakti atau
bukan, kami hanya bisa meraba dan menduga dari potongan bajumu….”
“Jadi kalau begitu kalian
menganggap aku adalah orang yang sengaja memalsukan nama Majikan
lambang naga sakti?” tukas siorang berbau hitam itu sambil tertawa
dingin.
“Tentang soal itu sih cayhe tidak
berani memastikan, melihat kehebatanmu dalam membinasakan Im Yang
Siang Sah, jikalau bukan majikan Lambang naga sakti sendiri memang
sudah memiliki kepandaian silat sedahsyat ini.”
Siorang berbaju hitam itu
termenung Sejenak. akhirnya ia mengangguk.
“Baik! siapa tidak tahu dia tak
salah, kalian boleh pergi.”
“Terima kasih ates kebesaran hati
saudara.” Kwan Tiong Gak segera menjura memberi hormat, lalu menyeka
keringat yang membasahi seluruh wajahnya.
Siorang berbaju hitam itu tidak
balas memberi hormat juga tidak bicara lagi, ia hanya berdiri tenang
disana tanpa bicara lagi.
Dengan langkah cepat Kwan Tiong
Gak serta Poei Ceng Yan segera meninggalkan ruangan tadi masuk
kedalam hutan, dimana kedua ekor kudanya masih tertambat ditempat
semula.
Kecuali kedua ekor kuda mereka,
masih ada lagi belasan ekor kuda yang tertambat ditempat semula
lengkap dengan pelananya.
Jelas kuda kuda itu adalah
binatang peninggalan dari mereka mereka yang terbunuh mati.
Kwan Tiong Gak segera melepaskan
tali les dan berkata, “Aaaaahh! Nasib kita sungguh baik sekali!
ternyata bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat, menurut apa
yang kuketahui ini ia termasuk manusia paling beruntung daripada
yang pernah terjadi selama ini.”
“Tapi kita sudah terlalu cepat
berlalu….”
“Apa? Kita pergi terlalu cepat?”
Seru Kwan Tiong Gak tertegun, ia tidak mengerti maksud kawannya ini.
“Benar! Ada banyak persoalan yang
ingin kutanyakan kepadanya, tetapi semuanya tidak sempat
kuutarakan.”
“Apa yang Ingin kau tanyakan
kepadaku. Mengapa dia suka membantu kita meninggalkan lambang naga
sakti tersebut sehingga berulang kali kita terhindar dari bahaya.”
“Perkataanmu sangat cengli” Kwan
Tiong Gak mengangguk. “Agaknya si majikan lambang naga sakti menaruh
pengeluaran terhadap kita!”
Poei Ceng Yan yang telah
melepaskan tali les kudanya mendadak mengikat kembali tali les tadi
ke tempat semula, ujarnya, “Toako, kau tunggulah sebentar di sini.
aku mau pergi menjumpai dirinya lagi”.
Tidak menanti jawaban ia segera
putar berjalan kedepan.
Kwan Tiong Gak coba sambar tangan
kanannya untuk mencegah niat tersebut, namun usahanya gagal. Poei
Ceng Yan dengan cepat telah berlari menuju ruangan tersebut.
“Saudara Poei, aku menanti dirimu
di-sini, kau harus cepat pergi cepat kembali!” terpaksa Ia
berteriak.
“Toako”, Poei Ceng Yan pun
berteriak keras. “Seandainya sepertanak nasi kemudian aku masih
belum kembali, kaupun tak usah menanti diriku lagi”
Kwan Tiong Gak masih ingin
mengucapkan sesuatu, tetapi pada saat itu Poei Ceng Yan telah masuk
kedalam ruangan.
Memandang bayangan punggung Poei
Ceng Yan yang lenyap dibalik ruangan. Kwan Tiong Gak merasa sangat
kuatir, pikir-nya dalam hati.
“Seandainya saudara Poei bentrok
dengan majiKan lambang naga sakti, ditinjau dari kepandaian si
majikan naga sakti dalam membinasakan Im Yang Siang Sah, rasanya
Poei jie-te pun tak akan bisa tahan terhadap sebuah serangannya….”
Ia berusaha untuk menghilangkan
ingat-jelek atas nasib saudaranya, namun peristiwa berdarah yang
baru saja berlangsung masih membekas sangat jelas didepan mata,
untuk sesaat ia susah untuk melupakannya Kembali.
Dengan hati penuh perasaan cemas
ia menanti entah berapa saat lamanya, yang jelas dalam perasaan Kwan
Tiong Gak waktu berlalu dengan lambatnya laksana rangkakan siput.
Akhirnya Kwan Tiong Gak
merentangkan tangannya, menenangkan hati yang kuatir meloncat turun
dari kuda dan berjalan menuju keruangan tersebut.
Sembari berjalan, tangannya tanpa
terasa telah meraba gagang golok emas serta piauw genta emas yang
ada dalam pinggang, ia tahu kepandaian silatnya tak mungkin bisa
memenangkan ilmu silat yang dimiliki majikan lambang naga sakti,
namun demi persaudaraan mau tak mau ia harus berjalan untuk menempuh
bahaya.
Ketika ia tiba didepan pintu,
sinar mata nya pertama tama terbentur dengan mayat-mayat yang
menggeletak diatas lantai, seketika bulu roma pada bangun diri, rasa
bergidik susah ditahan lagi sehingga ia segera berhenti bergerak
Entah berapa lamanya Ia berdiri
kebingungan mendadadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang
datang dari arah belakang.
Suara tersebut munculnya sangat
mendadak membuat Kwan Tiong Gak yang sedang terjerumus dalam lamunan
seketika tcrsadar kembali.
Ia segera berpaling, tampaklah Ke
Giok Lang sambil menggoyangkan kipasnya telah berdiri beberapa
tombak dibelakang.
Kwan Tiong Gak segera mendehem
kemudian tegurnya!
“Ke Kongcu, kedatanganmu kembali
terlambat satu tindak. Kalau satn jam lebih pagi kau tiba disini
maka kau bisa memjumpai majikan lambang naga sakti….,”
Tiba tiba teringat olehnya
kemungkinan besar majikan Lambang Naga Sakti masih berada dalam
ruangan tersebut, karena itu ia masih berada dalam ruangan tersebut,
karena itu ia segera membungkam.
Tampak Ke Giok Lang lambat lambat
berjalan mendekat, sahutnya, “Mungkin cayhe memang tak ada jodoh
dengan majikan lambang naga sakti!”
“Mungkin saat ini majikan Lambang
Naga Sakti masih ada didalam ruangan ini, jikalau Ke heng ada
kegembiraan tiada halangan kau boleh masuk kedalam untuk meninjau
sendiri atau paling sedikit kau bisa menjumpai mayat serta batok
kepala yang menggeletak disana.”
Air muka Ke Giok Lang sedikit
berubah tak dapat diduga ia sedang tertawa atau bukan. Sepasang mata
dengan tajam memperhatikan diri Kwan Tiong Gak dari atas hingga
kebawah.
“Kwan Cong Piauw-tauw. kenapa kau
hanya berjaga dldepan pintu saja tak berani masuk??” tanyanya.
“Cayhe berhasil mengikuti
pertemuan tersebut. Dan telah kujumpai majikan lambang naga sakti.”
“Oooouw…. Kwan-heng bisa
mengundurkan diri dalam keadaan selamat, hal ini menunjukkan bahwa
kaupun seorang manusia lihay.”
“Aku orang she Kwan paling tidak
suka mengutarakan omongan membuat terus terang saja kukatakan cayhe
sama sekali tidak bergebrak melawan majikan lambang naga sakti.
seandainya turun tangan akupun mengakui diri cayhe bukan
tandingannya.”
“Ooouw…. Kwan heng pandai sekali
merendahkan diri….” jengek Ke Giok Lang sambil tertawa hambar.
Ia merandek sejenak, lalu terusnya
lebih jauh, “Jikalau aku Ke Giok Lang tidak salah ingat, seharusnya
Kwan heng melakukan perjalanan bersama sama Poei Hu Cong Piauw tauw.
Entah dimanakah Poei Hu Cong Piauw Tauw saat ini berada?”
Mendapat pertanyaan ini. seketika
Kwan Tiong Gak yang terkenal banyak pengalaman dibikin gelagapan
setengah mati, ia tak tahu jawaban apa yang harus diutarakan
kepadanya.
Sementara ia merasa serba salah,
mendadak terdengar suara Poei Ceng Yan berkumandang datang dengan
dinginnya.
“Siauw-te ada disini, entah Ke
Kongcu ada utusan apa mencari diriku ….?”
Ke Giok Lang segera angkat muka,
tampaklah Poei Ceng Yan dengan langkah lambat sedang berjalan keluar
dari ruangan tersebut. Tanpa terasa lagi ia segera mengerutkan dahi.
“Apakah majikan lambang naga sakti
masih berada didalam ruangan itu?”
“Kenapa Ke-heng tidak masuk
kedalam dan memeriksa sendiri?”
“Oooauw….! Suruh aku masuk kedalam
memeriksa sendiri? Hmm! Belum tentu setelah aku berbuat demikian
lantas selembar jiwa aku orang she Ke melayang. Kau Poei Ceng Yan
bisa masuk dan keluar lagi dalam keadaan hidup, aku orang she Ke pun
percaya aku bisa berbuat demikian pula!”
Sekalipun diluaran ia bicara
besar, tetapi tubuhnya masih tetap berdiri tak berkutik dari tempat
semula, tampak ia ulapkan tangannya.
“Lian Hoa, coba kau masuk kedalam
terlebih dulu” serunya.
Hoo Lian Hoa yang berwajah cantik
jelita serta masih membawa sifat kekanak kanakan itu tanpa
menunjukkan sedikit perasaan jeripun segera mengiakan dan berjalan
masuk kedalam ruangan.
Melihat kejadian itu air muka Kwan
Tiong Gak seketika berubah hebat.
“Ke Giok Lang!” serunya mendongkol
” Dia tentunya adalah seorang nona cilik yang baru berusia tujuh
belas tahunan, Kau sudah merayu dirinya sehingga gadis ini
meninggalkan kedua orang tuanya mengembara, sekarang kaupun suruh
dia pergi menempuh bahaya? Hm! kalau kau sikeparat cilik benar benar
punya nyali kenapa tidak masuk sendiri?”
“Haa…. haaa…. haa….sungguh tidak
enak ucapanmu itu! aku orang she Ke sama sekali tidak pernah memaksa
dia harus pergi, Kwan heng, apakah kau tak dapat melihat bahwa
wajahnya masih diliputi oleh senyuman manis?”
Poei Ceng Yan berdiri didepan
pintu segera merentangkan badannya menghadang jalan pergi gadis itu,
sembari melototi wajah Hoo Lian Hoa tajam-tajam serunya.
“Nona, usiamu masih muda….”
Hoo Lian Hoa tidak menggubris,
tiba-tiba ia loloskan pedangnya yang tersoreng di-punggung dan
menukas.
“Usiaku masih muda atau sudah tua
apa sangkut pautnya dengan dirimu? cepat menyingkir kesamping beri
jalan untukku.”
“Nona.” seru Poei Ceng Yan
kemudian dengan alis berkerut. “Tengok dulu suasana dalam ruangan
itu kemudian barulah ambil keputusan hendak masuk terus atau tidak.”
Sembari berkata ia lantas
menyingkir kesamping.
Hoo Lian Hoa putar badan menengok
ke dalam ia segera menemukan seluruh ruangan penuh dengan mayat
bergelimpangan, diatas meja panjang batok kepala manusia berjejer
jejer sedang bau amis darah sangat memuakkan.
Walaupun ia sudah mengikuti Ke
Giok Lang dalam menghadapi berbagai pertarungan namun belum pernah
menjumpai pemandangan yaag demikian mengerikan,” tak terasa ia jadi
tertegun dibuatnya
“Lian Hoa, apa yang telah kau
temui?” tanya Ke Giok Lang sambil mendehem.
“Di atas sebuah meja panjang
banyak terdapat batok kepala manusia, di ruang tengah mayat
bergelimpangan. Pemandangan disana amat mengerikan! Sangat
menakutkan!”
“Aneh! Apakah kau temui manusia
yang masih hidup?”
“Tidak, tidak ada orang yang masih
hidup”
Diam Kwan Tiong Gak mengamati
wajah perempuan itu, ia temukan air muka Hoo Lian Hoa saat ini telah
berubah jadi pucat pasi bsgaikan mayat, jelas ia telah di bikin
bergidik oleh suasana dalam ruangan dan tidak berani melanjutkan
langkahnya ke dalam.
Diam-diam Ke Giok Lang mengempos
napas, selangkah demi selangkah ia maju ke depan.
Melihat pemuda itu berjalan
mendekati Hoo Lian Hoa segera berpaling dan tertawa sedih,
“Engkoh Giok, aku sunggu tidak
becus, aku tak berani masuk ke dalam.”
Ke Giok Lang menbungkam, ia
melangkah ke sisi gadis itu, kemudian melongok sekejap ke dalam
ruangan, namun seketiak ia pun dibikin tertegun.
Sekalipun pengalaman Ke Giok Lang
amat luas, belum pernah ia jumpai pemandangan seperti ini, begitu
banyak batok kepala yang berjejer dengan rapinya diatas meja
panjang.
Perlahan lahan Hoo Lian Hoa
berjalan kesisi sang pemuda dan jatuhkan diri kedalam pelukan orang
she Ke itu. Gugamnya seorang diri, “Sering kali aku berharap bisa
membantu dirimu, namun aku sunggu tak berguna. Setiap kali setelah
tiba pada saat yang kritis tentu gagal membantu dirimu!”
Menemui perbuatan Hoo Lian Hoa
yang begitu tak tahu malu dan menjatuhkan diri kedalam pelukan sang
kekasih walaupun ada didepan umum, tak kuasa lagi Kwan Tiong Gak
menghela napas panjang pikirnya, “Ke Giok Lang si keparat cilik ini
benar benar merupakan seorang iblis cinta, sungguh kasihan nona
cilik yang cantik jelita ini tak disangka harus begitu kesemsem
dengan dirinya….”
“Soal itu tidak mengapa” terdengar
Ke Giok Lang berseru sambil menepuk pundak Hoo Lian Hoa perlahan
lahan, “Kau berjaga jagalah didepan pintu, aku hendak masuk ke dalam
memeriksa sebentar”.
“Engkoh Giok, kau tak boleh masuk”
tiba tiba Hoo Lian Hoa meloncat bangun
“Kenapa? Bagaimanapun kita harus
masuk kedalam untuk memeriksanya.”
“Kalau mau masuk biarlah aku masuk
dahulu”
“Kau tidak takut?”
“Aku takut! Tetapi aku tidak ingin
kau menempuh bahaya, karena itu lebih baik aku saja yang masuk” seru
gadis itu seraya menggeleng.
Lambat-lambat ia putar badan dan
berjalan masuk ke dalam.
Beberapa patah kata ini sungguh
menunjukknn betapa cintanya gadis ini kepada sang hoa hoa kongcu,
membuat orang yang mendengar ikut merasa kasihan.
“Aaakh….! Sibocah perempuan ini
sungguh mengenaskan. Seharusnya Ke Giok Lang mencegah maksudnya ini”
pikir Kwan Tiong Gak didalam hati.
Siapa sangka Ke Giok Lang tetap
berdiri tak berkutik, bahkan sepatah kata yang bernada menghiburpun
tidak kedengaran diutarakan keluar.
Ketika menengok kembali kearah Hoo
Lian Hoa, tampak air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat,
keringat dingin mengucur keluar sangat deras. Jelas hatinya pada
saat ini penuh diliputi oleh perasaan takut dan ngeri.
Lama kelamaan Kwan Tiong Gak tak
bisa menahan sabar lagi tiba tiba tegurnya dengan suara berat, “Nona
Hoo, kau tak boleh masuk!”
Namun Hoo Lian Hoa tidak
menggubris seolah olah tidak mendengar teguran dari Kwan Tiong Gak.
kakinya melanjutkan perjalanan masuk kedalam ruangan.
“Kwan-heng!” tiba tiba terdengar
Ke Giok Lang tertawa dingin. “Agaknya kau sangat menguatirkan
keselamatan nona Hoo?”
“Sebetulnya aku orang she Kwan ada
sedikit menaruh rasa hormat dan kagun kepada kau Ke Kongcu, tetapi
sekarang?? Aku orang she Kwan boleh dihitung sudah kenal dengan kau
Ke Giok Lang.”
“Eeei…., Kwan-heng merasa
perbuatan siawte y&ng mana telah melakukan kesalahan?”
“Kau seorang lelaki sejati tidak
berani masuk kedalam ruangan, sebaliknya malah menyuruh seorang nona
mewakili dirimu menempuh bahaya, apakah kau tidak merasa malu?”
“Siauwte tidak memakra dirinya,
adalah dia yang rela masuk kedalam ruangan dengan sendirinya.
Seandainya dalam ruangan tersebut benar benar ada mara bahaya,
siauwte terpaksa harus memenuhi harapannya.”
“Hm! Ke Giok Lang, tidak perduli
bagaimanakah kehebatanmu dalam dunia persilatan, tetapi watak serta
tingkah lakumu terlalu hina, kau adalah seorang manusia rendah!”
Kontan air muka Ke Giok Lang
berubah hebat.
“Kwan Tiong Gak, kau berani
menghina aku orang she Ke?? Hati-hati aku bisa memaksa kau taK dapat
tancapkan kaki lagi dalam Bu-lim.”
“Haaa…. haaa…. haaa…. Ke Giok
Lang.” Kwan Tiong Gak mendongak tertawa terbahak-bahak. “Sekalipun
aku orang she Kwan pernah berbuat salah, tetapi kalau di bandingkan
dengan kau Ke Giok Lang percaya watakku jauh masih lebih baik, aku
tidak dapat membayangkan perbuatan apa yang bisa memaksa aku tak
dapat tancapkan kaki lagi didalam dunia persilatan.”
“Aku bisa menculik istri dan
putrimu kemudian membawa mereka berkelana dalam dunia persilatan,
ingin kulihat masih punya mukakah kau berkelana dalam Bu-lim.”
Jurus serangan ini betul-betul
luar biasa dan sama sekali tak pernah disangka oleh Kwan Tiong Gak,
ia jadi tertegun.
Melihat air muka Kwan Tiong Gak
menujukan perasaan gusar. Ke Giok Lang jadi sangat bangga, ia
tersenyum,
“Kau pernah menjumpai bagaimana
tingkah laku Hoa Lian Hoa kepadaku, mungkin percaya bukan Kalau aku
orang she Ke benar benar bisa berbuat demikian?”
“Ke Giok Lang” seru Kwan Tiong Gak
dingin. “Sekalipun majikan lambang naga sakti suka melepaskan kau
pergi, aku orang she Kwan akan tetap menahan dirimu disini”.
“Apakah kau takut ikat kepala
menindih kepala dan menghilangkan kewibawaan dari kau Ceng Piauw
tauw?”
Sekalipun imam Kwan Tiong Gak
lebih baikpun tak akan tahan terhadap penghinaan ini, ia bermaksud
mengumbar hawa marah tersebut.
Tetapi setelah dilihatnya Hoa Lian
Hoa sedang muncul kembali dengan langkah cepat ia paksa menahan
sabar dan membungkam.
“Apa yang telah kau lihat?” tanya
Ke Giok Lang sambil tersenyum.
“Kecuali mayat mayat yang
bergelimpangan, tak ada benda lain lagi”.
“Sang majikan Lambang Naga Sakti?”
seru Ke Giok Lang tertegun.
“Aku sudah memeriksa seluruh
ruangan, tak tampak seorang manusia hiduppun.”
Dengan alis berkerut Ke Giok Lang
segera menyapu sekejap wajah Kwan Tiong Gak serta Poei Ceng Yan.
“Eeaeei,…. sebenarnya kalian
berdua sedang mempersiapkan permainan setan apa?”.
“Kau sangat memalukan sebagai
seorang lelaki sejati, diri sendiri tak berani masuk, sebaliknya
suruh nona Hoo yang mengadakan pemeriksaan dalam ruangan itu” Jengek
Poei Ceng Yan dingin. ” Usianya masih kecil, tentu saja ia tak bisa
menemukan sesuatu apapun.”
“Kau jangan ngaco belo”- Bentak
Hoo Lian Hoo cepat. “Apakah untuk membedakan mana yang masih hidup
dan mana yang sudah matipun aku tidak sanggup?”
“Nona Hoo, sekali lagi aku hendak
menerangkan kepadamu. Aku kenal dengan ayah mu dan tidak ingin
menyinggung perasaanmu. Namun cepat atau lambat antara kami
perusahaan Hauw Wie Piauw kiok dengan Ke Giok Lang bakal
melangsungkan pertarungan sengit, aku berharap kau jangan melibatkan
diri dalam kancah pergolakan tersebut.”
“Mungkin kau memang
sungguh-sungguh bermaksud baik menasehati aku jangan banyak mencari
kerepotan, namun hati ini tidak mungkin, barang siapa yang berani
mencari gara gara dengan Ke Kongcu, aku tidak akan berpeluk tangan
menonton saja disamping.”
“Hmmn, sungguh besar bualan nona.”
Dengus Kwan Tiong Gak dingin. “Kau anggap kami tak bisa mewakili
ayahmu untuk memberi sedikit pelajaran kepadamu.”
Tiba tiba terdengar langkah lebar
Ke Giok Lang maju kedepan sembari berjalan ujarnya.
“Kwan Cong Piauw tauw, Poei Hu
Cong Piauw tauw! apakah kalian bermaksud hendak bergebrak melawan
cayhe pada saat ini?”
“Setiap saat kami menanti
petunjuk!”
Ke Giok Lang tertawa hambar.
” Kwan Cong Piauw-tauw, kalau
majikan lambang naga sakti masih berada disini seandainya kita
sampai bergebrak bukankah akan mengejutkan ketegangannya?”
Kwan Tiong Gak yang mendengar
perkataan itu hatinya segera bergerak, pikirnya.
“Entah apa maksud Ke Giok Lang
yang sebenarnya? Sstiap kali ia sengaja membentangkan busur hingga
mencapai ketegangan kemudian meminjam berbagai alasan menyudahi
urusan tersebut sampai disitu. Agaknya ia tidak bermaksud melakukan
pertarungan melawan kami.”
Karena menduga si majikan lambang
naga lakti pun kemungkinan masih berada didalam ruangan ia lantas
mengangguk.
“Baiklah! Aku orang she Kwan pun
ada maksud kembali dulu ke ibu kota!”
“Dan sekarang sudah berubah niat
hendak balik ke kota Kay Hong” sambung si Hoa hoa Kongcu cepat
“Sedikitpun tidak salah, peta
pengangon kambing berada disaku aku orang she Kwan. seandainya Kau
Ke Giok Lang ada maksud merebutnya silahkan setiap saat mendatangi
kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw dikota Kay Hong.”
Ke Giok Lang segera tertawa.
“Ucapan yang diutarakan Kwan Tiong
Gak selamanya berat laksana bukit karang setiap patah kata yang
telah kau utarakan semua orang Bu lim kebanyakan pada percaya.”
“Terlalu memuji, cayhe berdua
mohon diri terlebih dahulu!”
Setelah menyura ia berlalu.
Ke Giok Lang pun dengan cepat
ulap-kan tangannya si Dewa api Ban Cau serta Lam Thian San Sah
segera menyingkir ke kedua belah samping memberi jalan.
“Mari kita berangkat!” seru
Kwan-Tiong Gak seraya berpaling kearah Poei Ceng Yan.
Dengan langkah lebar ia berlalu
melalui si Jago jago Liok lam itu.
Poei Ceng Yan membuntuti dari
belakang setelah tiba ditempat kuda mereka ditambat kedua orang itu
melepaskan tali les dari atas pohon, meloncat naik keatas punggung
kuda dan berlalu dari sana.
Dalam sekejap mata mereka telah
melakukan perjalanan sejauh enam, tujuh li. Perlahan lahan Kwan
Tiong Gak baru perlambat lari kudanya.
“Saudara Poei, apakah kau sudah
menjumpai majikan Lambang Naga Sakti….” tanyanya.
“Sudah. Namun aku hanya menjumpai
bayangan punggungnya belaka
“Dunia persilatan digemparkan oleh
lambang naga sakti tersebut sejak dahulu kala, namun belum pernah
ada orang yang mengetahui bagaimana raut muka orang tersebut Pakaian
warna hitam, ikat kepala warna hitam serta mantel hitam merupakan
tanda dari dari majikan lambang Naga Sakti. Tentu saja yang paling
penting adalah serangkaian ilmu silatnya yang sangat luar biasa,
selain itu rasanya tak ada yang tersangkut lebih penting lagi.”
“Maksud Toako orang ini bukan dia.
Si orang berbaju hitam bukan majikan lambang Naga sakti yang dahulu
” seru Poei Ceng Yan tertegun.
“Benar atau bukan rasanya bukan
suatu soal yang penting. Yang paling penting adalah apa yang sedang
ia perbuat?” Ia ingin berbuat apa?….”
Ia merandek sejenak, kemudian
tanya nya, “Kau sudah berbicara dengan dirinya?”
“Benar aku bertanya tentang
beberapa urusan kepadanya, namun ia selalu tidak memberi jawaban”.
“Apa yang kau tanyakan kepadanya?”
semangat Kwan Tiong Gak segera berkobar.
“Aku bertanya kepadanya, kepada ia
membantu kita? Antara kita tiada hubungan ia tidak saling kenal
mengenal. Apa sebabnya ia berbuat begitu? Aku lantas bertanya pula
apakah peta mustika pengangon Kanbing dia yang hadiahkan kepada
kita?”
“Apakah ia menunjukkan suatu gerak
gerik”.
“Tidak, ia hanya berdiri dengan
tenangnya, tak pernah menjawab pertanyaanku dan sama sekali tidak
menunjukkan suatu gerakan pun….”
“Apakah kalian berdiri saling
mematung terus menerus”
“Sedikitpon tidak salah, aku
menanti beberapa saat lamanya. Melihat ia tidak juga menjawab maka
terpaksa aku mohon diri dan mengundurkan diri dari ruangan itu.
“Ehm….!” Kwan Tiong Gak
mengangguk, “Kali ini ia sudah banyak membunuh orang, tujuannya
hanya satu yaitu ingin menegakkan kembali kewibawaan dari lambang
Naga sakti dalam dunia persilatan seperti tempo dulu, puluhan jiwa
yang berhasil meloloskan diri akan bantu dia untuk menyebarkan
berita ini kedunia kangouw. Hanya yang jelas tindak tanduknya agak
berbeda dengan majikan lambang Naga Sakti tempo dulu….,”
“Dimana letak perbedaan itu?” seru
Poei Ceng Yan agak tertegun.
Kwan Tiong Gak alihkan sinar
matanya memandang sekejap pemandangan disekeliling tempat itu,
kemudian baru ujarnya lirih, “Majikan lambang Naga Sakti tempo dulu
baru turun tangan membunuh orang bila mana ada orang lain melanggar
kewibawaan lambang Naga Saktinya, tetapi Majikan Lambang Naga Sakti
yang sekarang agaknya ada maksud menanam bibit perkara….”
Toako”" tukas Poei Hu Cong Tiauw
tiauw dengan cepat. “Menurut apa yang siauw te ketahui, majikan naga
sakti tempo dulu-pun populer dalam dunia persilatan karena ia sering
menanam bibit perkara.”
“Sekalipun begitu bibit perkara
yang mereka tanam tidak sama.” kembali Kwan Tiong Gak tersenyum.
“Siauwte tak berhasil menemukan
perbedaan itu.”
“Sangat gampang sekali, majikan
lambang naga sakti yang munculkan diri tempo dulu agaknya menanam
bibit perkara hingga seluruh perguruan sang pelanggar lambang naga
sakti itu. Majikan lambang naga sakti menggunakan tindakan yang
paling keji membunuh sang pelanggar beserta seluruh anggota
perguruannya demi menjaga wibawa lambang naga saktinya. Tetapi
majikan lambang naga sakti yang kita jumpai ini hari hanya terbatas
memberi hukuman pada sang pelanggar belaka tanpa mengikut sertakan
anggota perguruannya. Lagi pula cara turun tangan bukan di lakukan
dalam tempat yang berbeda tetapi dikumpulkan dalam satu ruangan
bersama-sama jago jago Bu lim lainnya sebagai saksi!”
“Perkataan toako sedikitpun tidak
salah, diantara para jago Bu lim yang berkumpul di situ memang tidak
mungkin semuanya telah melanggar lambang naga sakti tersebut.”
“Oleh sebab itu orang itu
kemungkinan besar adalah ahli waris dari majikan Lambang naga sakti.
kemungkinan juga seseorang yang sama sekali tiada hubungan dengan
dirinya.”
“Aaaaach! Aku rasa tidak mungkin
kalau orang itu sama sekali tiada hubungan dengan majikan lambang
naga sakti tempo dulu,”
Kembali Kwan Tiong Gak tertawa.
“Aku hanya menduga saja, benar
atau salah tentu saja aku sendiripun tak berani memastikan, namun
yang paling membuat siauw heng tidak paham adalah apa sebabnya ia
menaruh perhatian yang Khusus terhadap perusahaan expedisi Hauw Wie
Piauw kiok kita?”.
“Tentang soal ini? Siauwte sendiri
pun pernah memikirkannya dengan teliti, namun belum berhasil juga
menemukan sebab-sebab nya.”
Sementara itu mereka berdua telah
tiba disebuah persimpangan jalan, Kwan Tiong Gak segera membelokan
kudanya menuju ke jalan besar yang menuju kekota Kay Hong.
Melihat hal itu Poei Ceng Yan
tertegun. “Toako!” tegurnya. “Kau benar benar hendak kembali kekota
Kay Hong….?”
“Sedikit pun tidak salah,
perubahan peristiwa benar benar berada diluar dugaanku, sekarsng
kita tak ada waktu lagi untuk mergurusi persoalan pribadi tentang
pembubaran expedisi Hauw Wie Piauw kiok kita….”
Ia merendek sejenak, kemudian
tambahnya, “Perjalan kita menuju ke Utara kali ini sekalipun bakal
menjumpai perbagai bahaya serta hadangan, tetapi Nyioo Su Jan yang
menunggu dikota Kay Hong keadaannya semakin kritis dan berbahaya
lagi”.
“Perkataan toako sedikitpun tidak
salah, tetapi persoalan dari kantor cabang perusahaan kita di
pelbagai daerah….”
“Sewaktu aku hendak berangkat
kemari” tukas Kwan Tiong Gak, “Semua urusan telah kuserahkan kepada
siauwte yang ada dirumah. asalkan sampai batas waktunya aku belum
juga kembali mereka bisa bekerja sesuai dengan pesan yang telah
kupersiapkan sebelumnya.”
Poei Ceng Yan termenung sejenak,
lalu Katanya kembali.
“Toako, kau tetap tinggal dikota
Kay Hong, apakah ada maksud dengan seluruh perhatian dan tenaga
menghadapi diri Ke Giok lang?”
Kwan Tiong Gak menghembuskan napas
panjang.
“Menurut dugaan siauw heng,
agaknya dunia persilatan sedang terjadi suatu perubahan besar, oleh
karena itu aku sudah mengambil keputusan hendak mencari suatu
waktu….”
“Mencari suatu waktu?”
“Tidak salah, aku hendak mencari
suatu waktu dengan tenang mempelajari isi dari peta mustika
pengangon kambing itu.”
“Aaakh….betul!” seru Poei Ceng Yan
sambil menepuk paha sendiri. “Toako tak boleh terlalu bersikeras
dangan peradatan.”
“Maka dari itu, kita harus mencari
suatu tempat yang sangat rahasia tinggal disitu beberapa lama….”
kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.
“Sedikitpun tidak salah.” Bagaikan
telah memahami akan suatu Poei Ceng Yan menyetujui usul tersebut.
“Tempat itu harus sangat rahasia dan tidak diketahui siapa pun
juga.”
Beberapa waktu ini disekitar kota
Kay Hong telah dipenuhi oleh jago jago lihay dunia persilatan, untuk
mencari suatu tempat yang sunyi dan tersembunyi rasanya bukan suatu
pekerjaan yang gampang, tetapi setelah adanya pembunuhan massal yang
dilakukan majikan lambang naga sakti, situasi akan jauh berubah,
kecuali Ke Giok Lang sekalian beberapa orang. Mungkin sebagian besar
jago jago Bu lim tak berani tinggal lebih larut lagi disekitar kota
Kay Hong.”
“Ada suatu urusan siaute tidak
mengerti yaitu mengapa Ke Giok Lang sama sekali tidak memperoleh
pemberitahuan dari majikan lambang naga sakti….?”
“Aku sendiri pun sedang
mengherankan persoalan ini” Kwan Tiong Gik mandehem perlahan.
“Walaupun aku tidak berhasil menemukan apa alasannya, namun paling
sedikit aku bisa meyakinkan sesuatu, yaitu majikan lambang naga
sakti ada maksud menghindari dari Ke Giok Lang.”
Kali ini Poei Ceng Yan benar benar
di bikin terperanjat seolah-olah dadanya dihantam keras oleh martil
berat, hampir-hampir saja ia meloncat, turun dari punggung kudanya.
“Maksud toako, apakah majikan
lambang naga sakti ada maksud menghindari terus setiap pertemuan
dengan orang she Ke itu.”
“Ehm….! Paling sedikit ia bersikap
lain terhadap dirinya Ke Giok Lang. Agaknya ia menaruh suatu sikap
bersabar dan mengalah.”
Lama sekali Poei Ceng Yan
termenung berpikir keras ujarnya kemudian, “Berulang kali lambang
naga sakti muncul didalam kereta kawalan kita, agaknya, antara dia
dengan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kitapun terdapat bsrbagai
alasan yang sangat ruwet dan kacau?”
” Benar, tentu ada suatu sebab
sebab tertentu.”
“Tapi, apa sebabnya?”
“Aku sedang berpikir keras. Aku
percaya setelah mengalami suatu analisa yang seksama dan diambil
kesimpulannya tidak sulit buat kita untuk menemukan alasan
tersebut….”
Ia merendek sejenak kemudian
tambahnya, “Ada satu persoalan lagi membuat orang merasa keheranan,
agaknya majikan lambang Naga sakti menaruh suatu simpatik yang
istimewa kepadamu, bahkan menaruh kesabaran yang luar biasa.”
“Siauw te sendiripun punya
perasaan demikian” kata Poei Ceng Yan satabil tertawa getir. “Tetapi
aku tidak mengerti apa sebabnya ia bersikap demikian kepadaku.”
“Sewaktu tahun baru, kau mendapat
hadiah peta mustika pengangon kambing. Aku rasa benda itu ada
hubungannya dengan majikan lambang naga sakti.”
“Eeeeehm…. bagaimana bisa
begitu….?”
“Kelihatannya ada kemungkinan
besar sejak semula majikan Lambang Naga Sakti sudah ada dikota Kay
Hong, secara diam diam ia melakukan pemeriksaan, tentu saja tidak
sulit untuk mengetahui keadaan seterusnya. Namun hingga kini ia
tidak melakukan suatu tindakan . .”
Poei Geng Yan mengangguk.
“Tetapi apa sebabnya pula ia
amukan pembunuhan masal yang ia lakukan ini hari.”
“Peristiwa itu ada dua persoalan,
kalau kita ngotot katakan kedua urusan itu saling ada hubungan maka
ini bisa di terangkan majikan lambang naga sakti melihat ini waktu,
dikarenakan saat ini banyak jago Bu lim yang berkumpul dikota Kay
Hong….”
Ia termenung beberapa saat lamanya
kemudian menyambung lebih lanjut.
“Maka dari itu, dalam waktu yang
amat singkat ia bisa membuat banyak orang telah melanggar pantangan
lambang naga sakti kemudian memerintahkan mereka berkumpul dalam
ruangan itu pada suatu saat tertentu.”
“Sedikitpun tidak salah, penilaian
toako sangat tepat, siauw te merasa amat kagum.”
Kwan Tiong tertawa, kembali
ujarnya, “Kalau ditinjau keadaan ini hari. agaknya majikan Lambang
naga sakti sama sekali belum terlibat dalam soal peta mustika
pengangon kambing, atau mungkin ia pernah memeriksa peta itu dan
merasa mustika tersebut sama sekali tidak berguna baginya?”
“Bukankah toako mengatakan bahwa
peta mustika pengangon kambing ini amat berharga sekali?”
“Dalam pandangan kita memang benar
henda itu sangat berharga, tapi berada dalam pandangan majikan naga
sakti belum tentu peta pengangon kambing itu merupakan benda yang
berharga.”
“Toako!” tiba tiba Poei Ceng Yan
berseru, setelah menyapu sekejap keadaan empat penjuru. “Siauw te
mempunyai suatu pandangan entah benar atau tidak?”
“Pandangan apa?”
“Kita jangan buru-buru kembali ke
kota Kay Hong, tetapi berdiam dulu selama beberapa hari ditengah
perjalanan menuju ke kota Kay Hoag ini guna menghindari diri dari
segala pengintaian orang lain, dengan demikian kita bisa bikin musuh
mereka ada diluar dugaan. Disamping itu Toakopun bisa dengan hati
tenang mengamati peta pengangon kambing itu lebih seksama,
seandainya peta pengangon kambing itu benar benar ada bagian yang
punya sangkut paut erat dengan situasi Bu lim kita berusaha kembali
mengikuti tanda tanda yang ada dalam peta tersebut menemukan tempat
yang dimaksud, semisalnya peta ini sama sekali tiada hal yang
penting seperti yang kita pikirkan semula, agaknya kitapun tak usah
buang banyak pikiran dan tenaga untuk melindungi peta tersebut.”
“Ehmm….! Perkataanmu tidak salah.”
Setelah mereka berdua saling
berunding beberapa saat, akhirnya mereka ambil keputusan hendak
menyewa sebuah ruangan dirumah petani untuk berdiam beberapa waktu
disana.
Poei Ceng Yan karena takut jejak
kuda nya ditemukan orang, malam itu juga ia bekerja keras menghapus
semua jejak kuda yang tertinggal. Bahkan menyembunyikan pula kedua
ekor kuda itu didalam kamar dan turun tangan sendiri memberi makan
pada mereka.
Diwaktu pagi hari mereka tidak
keluar rumah, menanti malam hari tidak dengan membawa senjata dan
menggembol senjata rahasia Poei Ceng Yan melakukan perodaan
disekeliling tempat itu.
Ia berusaha keras untuk tidak
mengganggu konsentrasi Kwan Tiong Gak yang telah pusatkan seluruh
perhatian menyelidiki rahasia dari peta pengangon kambing itu.
Kecuali menghantar makanan dan
minuman. Poei Ceng Yan selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari
dalam ruangan yang ditempati Kwan Tiong Gak.
Tujuh hari dengan cepatnya telah
berlalu, selama tujuh hari ini bagaikan mabok saja Kwan Tiong Gak
tumpahkan semua perhatiannya diatas peta mustika pengangon kambing
itu.
Poei Ceng Yan sendiri makin repot
sekali, Ia harus menjaga kedua ekor kuda itu harus memberi makan
pada Kwan Tiong Gak disamping berjaga jaga atas pengintaian musuh.
Dalam tujuh hari ini boleh
dihitung termasuk waktu yang paling mendebarkan hati dan paling
meletihkan selama ia terjun ke dalam dunia persilatan.
Menanti hari kedelapan siang hari
telah tiba, mendadak Kwan Tiong Gak membuka pintu dan munculkan
diri.
Ketika itu Poei Ceng Yan sedang
bersiap sedia menghantar makanan siang ke dalam kamar, melihat
secara tiba-tiba Kwan Tiong Gak munculkan diri. ia jadi keheranan.
“Toako, apakah kau telah selesai
memeriksa peta mustika, pengangon kambing?”
sepassng mata Kwan Tiong Gak merah
padam, wajahnya kelihatan lesu keletihan. Ternyata selama tujuh hari
ini ia tak pernah beristirahat dengan baik apalagi meneliti dan
mempelajari peta mustika pengangon kambing bukan suatu pekerjaan
yang gampang bahkan membutuhkan energi.
Sekalipun begitu wajah Kwan Tiong
Gak menunjukkan perasaan girang, tampak ia tersenyum.
“Sudah selesai kulihat. Entah
siapakah yang memiliki kepandaian demikian lihay, ternyata bisa
menyimpan rahasia demikian besar ditengah kawanan kambing itu.”
“apakah toako berhasil memahami
rahasia itu?”
“Tidak dapat dikatakan semua
rahasia sudah berhasil kupahami namun aku telah berhasil menemukan
suatu pertanda.”
“Peta mustika pengangon kambing
ini terdapat ilmu silat dan harta karun. Sebenarnya apa yang telah
terjadi?”
“Benar. Di balik rahasia itu
memang menunjukkan ada serangkaian ilmu silat yang lihay ada pula
suatu harta karun yang tak ternilai harganya. Namun diantara hal
tersebut dengan demikian mempengaruhi pula seluruh persoalan.”
“Kunci penting apakah itn?”
“Lukisan ini mengutamakan kawanan
kambing, tentu saja ada hubungannya dengan sekelompok kambing.”
“Aahk! Yang kau maksudkan
mempengaruhi letak di mana harta karun tersebut disimpan?”
“Yang paling indah dari soal ini
adalah kedua duanya kena dipengaruhi, baik ilmu silat maupun harta
karun itu saling sangkut menyangkut. Aaaai….! Pencipta dari lukisan
ini benar benar seorang manusia yang luar biasa.”
“Siauw te…. masih belum dapat
memahami maksudmu, apakah toako dapat menerangkan lebih jelas lagi?”
Kwan Tiong Gak segera mengangguk,
katanya sambil tertawa, “Aku telah membuang waktu beberapa malam
untuk memahami hal yang sebenarnya,tentu saja setelah sekarang ku
utarakan kau tak bisa memahami dengan cepat….”
Ia merendek sejenak, lalu
sambungnya, “Diatas lukisan mustika ini tertera beratus-ratus ekor
kambing, diluaran kelihatan sangat biasa dan tiada hal yang
mengherankan, namun jikalau kau perhatikan kambing kambing itu lebih
teliti lagi maka keadaannya akan jauh berbeda. Guratan untuk melukis
barisan kambing itu sebenarnya merupakan suatu rangkaian ilmu silat,
kalau berlatih mengikuti lukisan tadi maka kau temukan setelah jurus
keenam dan tiba didepan tubuh sang bocah pengangon, mendadak jurus
ilmu selanjutnya terputus ditengah jalan.”
“Kemudian?” tanya Poei Ceng Yan
dangan penuh perhatian.
“Agaknya gerakan ilmu silat itu
setelah mengalami suatu perputaran masih ada lanjutannya, mungkin
masih ada enam jurus lagi.”
“Jadi maksudmu, diatas lembaran
peta pengangon kambing ini sebenarnya tersimpan dua belas jurus
belaka.”
“Bersamaan itu apakah toakopun
berhasil menemukan letak harta karun tersebut??” Kwan Tiong Gak
segera menghela napas panjang, ujarnya.
“Menurut tanda yang ada dalam
lukisan itu, agaknya ia menerangkan suatu jalan yang menunjukan
letak harta karun tersebut, tetapi tanpa itu sewaktu tiba diatas
tubuh sang bocah pengangon mendadak putus….”
“Kemudian tidak ada lagi??”.
“Agak persoalan dibikin kacau dan
membingungkan setelah tiba dalam peputaran tubuh bocah pengangon
itu, rasanya dibalik ke semuanya ini masih ada suatu perubahan yang
susah di duga.”
“Jadi kalau begitu, toako masih
belum berhasil menemukan rahasia tersebut….?”
“Aku merasa diriku berhasil
memahami sebagian besar dari rahasia tersebut, hanya pada kunci tadi
masih kurang begitu paham.”
“Jadi maksud toako kecuali sejurus
ilmu silat yang ada dalam kunci tadi kedua belas jurus ilmu silat
lainnya berhasil kau pahami?”
“Diatas peta tapi hanya terdapat
sebuah kisikan belaka, dapatkah dilatih untuk menghadapi serangan
musuh, hal ini tergantung bagaimana hasilnya nanti.”
“Lalu ilmu silat macam apakah
itu?? …. Ataukah ilmu golok?”
“Agaknya ada telapak ada pedang”
lalu sahut Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar. “Namun
seandainya di gunakan dengan golokpun masih bisa pula….”
Ia menghembuskan napas panjang,
lalu sambungnya lebih jauh, “Inilah rahasia yang berhasil kupahami
selama beberapa hari ini menurut pendapat siauw heng, di dalam peta
tadi agaknya masih tersimpan suatu rahasia yang amat besar, hanya
saja tak bisa ditemui dengan kepandaian yang siauw heng miliki saat
ini.”
“Sebuah peta pengangon kambing
yang demikian kecilnya ternyata terkandung rahasia serta liku liku
demikian banyak, sungguh membuat orang merasa tidak menyangka!”
Sambil bergendong tangan Kwan
Tiong Gak memandang ke angkasa, lama sekali ia termenung berpikir
keras. Lalu lambat-lambat ujar nya, “Agaknya kita sudah tak dapat
meloloskan diri lagi dari kancah pergolakan masalah peta pengangon
kambing ini!”
“Aaaai….!Kalau tahu barang kawalan
kita ini bakal mendatangkan kerepotan yang begini banyaknya, sejak
semula sudah kubiarkan orang lain membawa pergi peta pengangon
kambing itu.”
Mendengar ucapan dari wakilnya
ini, Kwan Tiong Gak segera tertawa.
“Sekalipun membiarkan orang lain
membawa pergi peta pengangon kambing, belum tentu bisa membuat kita
melepaskan diri dari masalah tersebut….”
Ia mendehem perlahan, setelah
mengatur pernapasan segera serunya, “Ayoh berangkat! sembari
melakukan perjalanan, kita bicara lagi!”
Poei Ceng Yan menurut, dari dalam
gubuk ia menuntun keluar kuda tunggangan mereka, memasang pelana
kemudian sama sama
naik ke atas punggung kuda dan
melarikan arah kota Kay Hong.
Selama perjalanan Kwan Tiong Gak
mengendalikan tali les kudanya agar kuda jempolan tersebut tidak
berlari terlalu cepat, dengan berjalan disisi Poei Ceng Yan ujarnya,
“Pada mulanya jago jago lihay dari kalangan Hek To serta Pek to yang
pada berkumpul dikota Kay Hong hanya disebabkan peta pengangon
kambing belaka, kini ditambah munculnya si pemilik lambang naga
sakti membuat urusan berubah semakin ruwet lagi. Semoga saja.
pembunuhan yang dilancarkan majikan pemilik lambang naga sakti dapat
menundukkan kaum iblis agar jago jago kalangan Hek to serta Pek to
yang sedang mengincar peta pengangon kambing dapat membubarkan diri
dengan sendirinya….”
“Toako, seandainya sang majikan
pemilik lambang naga sakti pun telah menaruh niat untuk mendapatkan
peta pengangon kambing apa yang harus kita lakukan?”.
“Kalau sampai terjadi hal begini,
terpaksa kita harus hadiahkan peta tersebut dengan tangan terbuka”.
“Benar!” sambil tertawa getir Poei
Ceng Yan mengangguk. “Semua partai serta perguruan yang ada dikolong
langit tak seorang manusiapun berani mencari gara gara dengan
majikan lambang naga sakti asalkan peta mustika pengangon kambing
benar benar terjatuh ketangannya. boleh dibaca peta itu akan aman
tentram tak takut direbut orang lain lagi.”
“Namun hingga detik ini, ada minat
untuk mendapat peta pengangon kambing itu.”
“Mungkin sang majikan lambang naga
sakti masih belum tahu kalau ada selembar peta mustika macam itu?”.
“Sudahlah urusan ini tak usah kita
urus dahulu, seandainya majikan lambang naga sakti benar benar
inginkan peta pengangon kambing ini tentu saja kita harus segera
turut perintah dan serahkan benda itu kepadanya. menurut perkiraanku
dikolong langit masa ini masih belum ada manusia yang berani cari
gara gara dan bentrok dengan sang majikan lambang naga sakti, oleh
karena itu kita pun tak perlu membicarakan persoalan ini lagi”
“Toako, sekembalinya kekota Kay
Hong Apa yang hendak kau lakukan?….” tanya Poei Ceng Yan kemudian.
“Semisalnya aku berhasil memahami
kunci penting yang terkandung dalam peta itu, ingin kucari sebuah
tempat yang sunyi dan terlepas dari segala gangguan untuk melatih
ilmu silat yang tercantum disana, semisalnya kunci rahasia itu tak
berhasil kupahami. Kita akan cari-cara lain yang lebih sempurna
lagi.
“Baik. silahkan Toako pikirkan hal
ini baik-baik lebih dahulu”.
Tidak banyak tanya lagi, ia segera
jalankan kudanya kearah depan.
(bersambung ke Jilid 23)
Jilid 23
Setibanya mereka berdua didepan
kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw kiok, tampaklah oleh mereka
mereka papan nama perusahaan yang semula tergantung didepan pintu
kini sudah diturunkan, sepasang pintu besar tertutup rapat. Keadaan
ini menguatirkan kalau mereka tidak menerima degangan lagi.
Poei Ceng Yan segera meloncat
turun dari kudanya, sebelum ia sempat mengetuk pintu, pintu tadi
sudah terbuka lebih dahulu.
Jelas, orang orang ada didalam
kantor sudah mengadakan persiapan-persiapan yang seksama.
Melihat ketelitian tersebut Kwan
Tiong Gak segera tertawa, pujinya.
“Selama bekerja Su Jan memang
paling teliti dan paling seksama dalam mengatur segala penjagaan….”
Ia segera melangkah masuk kedalam.
Dua orang pengawal kantor yang
tegap dan gagah dengan langkah lebar segera maju menyambut dan
menerima tali les kedua ekor kuda tersebut.
Diikuti Nyioo Su Jan dengan
langkah terburu-buru munculkan diri didepan pintu seraya menjura
sapanya.
“Cong Piauw tauw….”
“Kita berbicara dalam rumah saja,”
tukas Kwan Tiong Gak cepat seraya ulapkan tangannya.
Tidak menanti jawaban lagi ia
segera melangkah masuk lebih dahulu.
Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan
segera mengikuti dari belakang.
Setelah ambil tempat duduk dikursi
maka Kwan Tiong Gak baru buka suara bertanya.
“Su Jan, selama beberapa hari ini
apa kah dalam kantor cabang terjadi suatu peristiwa?”
“Orang she Jan dari istana Jendral
pernah datang kemari dua kali…. ,”
“Aaaakh! mau apa ia datang
kemari?”
“Pertama, ingin Menanyakan kabar
berita tentang Cong piauw tauw, dan kedua melihat keadaan dari
kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita.”
“Jen pek to sudah memperlihatkan
kedudukannya, mungkin para jago Bu lim yang ada dikota Kay hong
sudah tahu semua bahwasanya dia adalah pengawal pribadi dari Tok Say
Thayjien, ia sering datang kekantor cabang kita, sama arti sedang
membuat papan nama agar semua orang tahu kalau antara kita dengan
istana Jendral mempunyai hubungan yang sangat erat.”
“Hamba pun pernah berkata demikian
kepadanya, aku nasehati agar dia kurangi sedikit kunjungannya
kemari.”
“Ehmmm! lalu apa yang ia katakan?”
“Ia segera menyanggupi
permintaanku ini, ia beritahu kepadaku akan berusaha mengurangi
kunjungannya kemari. Sesaat meninggalkan tempat ini ia beritahu pula
kepada hamba, semisalnya dikantor cabang kita terjadi sesuatu dan
membutuhkan bantuannya, ia minta kita kirim orang untuk beritahu
kepadanya….”
“Ehmmm….! Mana Giok Liong serta
Hoa Lek?”
“Liem piauw su sedang diundang
makan Oleh seseorang, sedang Giok Liong, Ih Cun serta Toa Hauw
sedang beristirahat dibelakang. Hamba pikir disiang hari bolong dan
terang tanah begini sekalipun orang Bu lim punya nyali besar untuk
melakukan segala tindakan namun tak akan berani membuat keonaran
ditengah Kota besar apalagi mendatangi perusahaan kita. Oleh karena
itu hamba minta agar mereka beristirahat di pagi hari dan meronda di
malam hari….”
“Bagus sekali, bagus sekali….”
Kwan Tiong Gak mengangguk.
Ia mendehem sebentar, lalu
terusnya
“Dalam menghadapi segala persoalan
kau selalu bekerja hati-hati. Seandainya aku benar benar telah
meninggalkan kota Kay Hong, seharusnya dalam kantor cabang
perusahaan kita tak bakal terjadi sesuatu peristiwa lagi. Kau
mengadakan persiapan demikian ketat tentunya ada sebab sebab
tertentu bukan?”
“Dugaan Cong Piauw-tauw sedikitpun
tidak salah, dua hari berselang hamba menemukan ada orang yang
melakukan pengintaian terhadap perusahaan kita, oleh karena itu
hamba terpaksa harus melakukan penjagaan untuk menghadapi segala
kemungkinan.”
“Apakah ada jago Bu lim yang
berkunjung kemari?”
“Tidak ada, justru karena
persoalan ini hamba merasa terheran heran.”
“Aaaai….! situasi disekitar kota
Kay Hong beberapa waktu ini sangat ruwet dan kacau, kau harus
sedikit berhati hati, bagaimanapun juga….”
Ia termenung sejenak antuk
memikirkan suatu, lalu tambahnya.
“Toa Lek diundang makan oleh
siapa?”
“Katanva seorang hartawan tersohor
dikota Kay Hong, perusahaan kita pernah mengadakan beberapa kali
hubungan dengan mereka, karena kali ini sedang mengadakan suatu
perayaan maka ia undang Liem Piauw tauw untuk menghadirinya.”
“Perayaan apa?”
“Keadaan yang lebih jelas hamba
kurang tahu, agaknya sedang mengadakan perayaan pernikahan, mungkin
Toa Lek heng sebentar lagi sudah kembali, nanti Cong Piauw tauw bisa
bertanya kepadanya lebih cermat lagi.”
“Ehmm….!” Kwan Tiong Gak
mengangguk, ia lantas mengalihkan bahan pembicaraan ke soal lain,
sambungnya, “Kembalinya aku serta Hu Cong Piauw tauw kekota Kay
Hong, mungkin akan memancing datangnya penguntitan dari pihak lawan,
selama melakukan penjagaan kalian harus lebih berhati hati.”
“Hamba telah memperbaiki halaman
sekitar bangunan rumah, telah menurunknn papan nama dan sementara
tidak menerima pengawalan barang lagi. Tetapi diantara kedua puluh
orang pembantu aku hanya menahan sepuluh orang saja sedang sisanya
aku suruh mereka untuk sementara tinggal dirumah.”
“Kenapa?”
“Yang masih tinggal disini
sebagian besar masih bujangan….”
“Su jan, tindakanmu ini sangat
bagus sekali” tukas Kwan Tiong Gak sambil memuji tiada hentinya.
“Bagi kaum bujangan sekali pun terluka atau mati mereka masih tak
usah memikirkan istri serta putra putrinya,”
“Lalu sekarang disini masih
tersisa berapa orang? ” sela Poei Ceng Yan dari samping.
“Termasuk koki serta kacung kuda
semua berjumlah lima belas orang. Kacung kuda serta koki masing
masing ada tugasnya sendiri sendiri, jadi yang dapat diperintah
hanya sebelas orang saja.”
“Asal diatur sedemikian rupa aku
pikir jumlah itu sudah lebih dari cukup….” kata Kwan Tiong Gak
mengangguk. “Yang datang akan membawa maksud jelek, yang bermaksud
mulia tak akan datang. Kita tak boleh gunakan mereka untuk
menghadapi serangan musuh, asalkan mereka datang segera mengirim
tanda bahaya itu sudah cukup.”
Sementara mereka sedang bercakap
cakap Liem Toa Lek telah kembali kedalam kantor cabang.
Baliknya Poei Ceng Yan serta Kwan
Tiong Gak ditengah jalan agaknya merupakan suatu peristiwa yang
berada diluar dugaannya, setelah tertegun sesaat ia baru maju
memberi hormat.
Kwan Tiong Gak segera ulapkan
tangannya.
“Toa Lek, tak usah banyak adat,
mari duduk dan kami hendak mengadakan pembicaraan dengan dirimu.”
Setelah Liem Toa Lek duduk,
seorang pembantu muda menghidangkan air teh, Liem Toa Lek meneguk
setegukan air teh panas lalu berkata, “Cong Piauw tauw. kalian sudah
pergi kenapa buru-buru balik lagi?”
Kwan Tiong Gak tidak ingin
menceritakan kisah secara bagaimana majikan lambang naga sakti
memaksa puluhan orang yang Bu-lim melakukan bunuh diri, sambil
tersenyum ia berkata, “Ke Giok Lang memainkan cegat cegatan serta
hadangan hadangan disepanjang jalan, aku serta saudara Poei berjumpa
muka lagi ditengah jalan. Setelah menimbang untung ruginya
persoalan, kami rasa tetap berada dikota Kay Hong jauh lebih baik
Karena tidak ingin banyak buang waktu maka kami putuskan untuk
sementara waktu batalkan niat kami menuju ke Utara.”
“Cong Piauw tauw suka kembali
kemari Untuk memegang pucuk pimpinan, hal ini jauh lebih baik lagi
…. “
“Eeeei ….! Toa Lek” tukas Kwan
Tiong Gak tiba tiba. “Kau sangat kenal dan hapal dengan daerah
sekitar kota Kay Hong, apakah beberapa hari ini kau menemukan
sesuatu yang tidak beres??”
“Menurut pengamatan hamba, memang
ada suatu peristiwa yang kelihatannya sangat aneh.”
“Peristiwa apakah itu??”
“Dua hari berselang di sekitar
kota Kay Hong agaknya berkumpul banyak sekali jago jago Bu lim yang
sering berlalu lalang dijalan raya, tetapi selama beberapa hari ini
entah apa sebabnya para jago Bu tim yang pernah kelihatan sangat
banyak itu secara tiba tiba lenyap tak berbekas, tidak kelihatan
seorang jsgopun yang berlalu lalang lagi, saking tenangnya
menimbulkan perasaan tercengang di-hati.”
“Orang orang yang datang kemari
kebanyakan tentu disebabkan peta pengangon kambing” ujar Nyioo Su
Jan memberikan pendapat nya. “Setelah mengetahui Cong Piauw tauw tak
ada disini, mungkin mereka sudah berlalu untuk mengejar diri Cong
Piauw tauw ke Utara.”
Kwan Tiong Gak tersenyum. “Sebelum
terjadi suatu badai taupan yang dahsyat, kadang kala memang bisa
muncul suatu suasana tenang, anteng yang mengherankan”
Ia merandek sejenak kemudian
tambahnya, “Toa Lek, dalam kantor cabang kita apakah ada sebuah
ruangan yang sunyi dan terlepas dari segala gangguan?”
“Dibelakang halaman ada sebuah
kamar, seandainya Cong Piauw tauw membutuhkan Kamar itu aku segera
perintahkan orang untuk membersihkannya.”
“Baik!” Kwan Tiong Gak mengangguk.
Dalam ruangan itu boleh dibersihkan, tetapi diluaran tak usah diubah
keadaannya. Aku hendak berdiam disana, lebih baik lagi, kalau jangan
sampai diketahui orang luar.”
“Tempat itu, letaknya berdampingan
dekan sebatang pohon besar, ruangan itu sudah lama tidak digunakan
sehingga tembok dindingnya penuh dengan lumut hijau. Dipandang
sepintas lalu seolah olah sebuah ruangan kosong sekalipun tak usah
ditambahi lagi dengan bahan lamuran rasanya sudah cukup membuat
orang lain merasa tak terduga.”
“Kalau begitu bagus sekali, suruh
mereka segera bersihkan ruangan itu. Taruh saja selimut serta benda
benda keperluan yang sederhana sedapat mungkin jangan mengganggu
ketenanganku.”
“Bagaimana dengan air minum serta
makanan Cong Piauw tauw? Apakah diantar menurut waktu.”
“Ini sih tidak perlu, taruh saja
makanan dan minuman itu disuatu tempat tertentu, aku bisa menurut
waktuku sendiri keluar mengambilnya.”
Liem Toa Lek termenung sejenak,
lalu tanyanya kembali, “Cong Piauw tauw, apakah kau perlu seorang
yang setiap saat bisa diperintah?”
“Tidak perlu, kalian berlagaklah
seperti biasa dan anggap ruangan itu adalah sebuah ruangan kosong
tak usah mengirim orang menjaga disana lagi.”
“Seandainya ada orang datang
hendak mengunjungi Cong Piauw tauw?….” tanya Nyioo Su Jan tiba.
“Lebih baik kalian wakili aku
menjumpai mereka, seandainya terpaksa aku harus menemui orang itu,
tiada halangan kalian boleh berjanji untuk bertemu muka lagi dua
hari kemudian. Lalu tulisan secarik kertas yang menerangkan maksud
kunjungannya dan diletakkan disisi makananku.”
Mendengar sampai disitu Liem Toa
Lek segera bangun berdiri dan mobon diri.
“Hamba telah mengingatnya semua….”
Ia segera berlalu keluar ruangan.
Memandang Liem Toa Lek yang melangkah keluar, Nyioo Su Jan menegur.
“Liem-heng apakah kau hendak turun
tangan sendiri?”
“Benar, aku hendak memeriksa dulu
keadaan disana.”
Sementara ia menjawab, badannya
sudah melangkah keluar dari pintu.
Sepeninggalnya orang she Liem itu,
Poei Ceng Yan lantas berbisik lirih.
“Toako, kau minta sebuah kamar
rahasia apakah ingin mempelajari ilmu silat yang tertera didalam
peta pengangon kambing itu”
“Hmm….! aku ingin memecahkan dulu
persoalan yang membingungkan diriku,” Kwan Tiong Gak sambil
tersenyum mengangguk.
Kurang lebih seperminum teh
kemudian Liem Toa Lek muncul kembali didalam ruangan, lapornya,
“Kamar telah dibersihkan, apakah Cong Piauw tauw hendak pergi
memeriksa lebih dahulu?”
“Tidak usah. sebentar lagi aku
akan pindah kedalam “
“Toa Lek!” Poei Ceng Yan pun
segera berseru. “Kau suruh koki menyediakan meja perjamuan dengan
cepat, kita hendak menjamu Cong Piauw tauw lebih dahulu sebelum dia
masuk kedalam ruangan. perintahkan, pula kepada seluruh anak buah
yang ada dalam Kantor, berusaha keras jangan bocorkan rahasia
kembalinya kami berdua.”
“Hamba paham!” Liem Toa Lek segera
menjura.
Pekerjaan yang dilakukan sang koki
sungguh cepat sekali, tidak selang beberapa saat arak dan sayur
telah dihidangkan.
Beberapa orang itu segera masuk
kemeja perjamuan untuk mulai barsantap, arak baru diteguk tiga cawan
tiba tiba muncul seseorang penjaga pintu masuk kedalam dengan
langkah tergesa gesa.
“Ada orang ingin menjumpai Cong
Piauw tauw!” lapornya setelah menjura.
“Siapa?” tanya Kwan Tiong Gak, ia
agak melengak.
Penjaga pintu tadi sejera
mengangsurkan sebuah kartu nama berwarna merah kedepan.
“Disini ada kartu nama, silahkan
Cong Piauw tauw memeriksa sendiri.”
Kwan Tiong Gak segera memeriksa
kartu nama itu dan dibacanya tulisan yang tertera diatas kartu,
“Dipersembahkan kepada Kwan Cong Piauw tauw.”
Dengan alis berkerut Kwan Tiong
Gak merobek sampul itu dan diambilnya selembar kertas yang
bertuliskan, “Thay Heng Tou Shu menghunjuk hormat.”!
Melihat saudaranya kerutkan dahi.
Poei Ceng Yan lantas menegur setelah mendehem perlahan.
“Toako, kartu nama siapa?”.
“Si kakek bongkok dari Thay Heng
San!” seru Poei Ceng Yan agak tertegun.
“Si Iblis tua ini sudah ada dua
puluh tahun lamanya tidak pernah muncul didalam dunia persilatan,
katanya ia sudah menemui ajalnya banyak tahun berselang, mana
mungkin bisa muncul kembali dikota Kay Hong?.”
“Yang paling aneh lagi, ia tidak
saling kenal dengan diriku, aku rasa maksud kedatangannya kali ini
bukan sembarangan.”
“Cong Piauw tauw kalau kau tidak
ingin menemui dirinya sekarang masih bisa menyingkir, atau biar
siauw te yang keluar menimpal dirinya? setelah menanyakan maksud
kedatanganya barulah Toako ambil keputusan.?”
Kwan Cong Gak termenung sesaat,
tiba tiba tanyanya kepada sang penjaga pintu.
“Mereka datang betapa orang?”
“Hanya seorang diri,,!”
“Baik! undang dia masuk kedalam,
kata kan saja aku sedang menanti kedatangannya dalam ruangan
tengah.”
Si penjaga pintu itu mengiakan dan
segera berlalu.
Kwan Tiong Gak segera alihkan
sinar matanya kearah Nyioo Su Jan serta Liem Toa Lek, perintahnya
lebih jauh.
“Untuk sementara kalian
menyingkirlah lebih dahulu!”
Sekalian ia lepaskan golok emas
yang tersoreng dipingggang untuk diserahkan ketangan Nyioo Su Jan.
Liem Toa Lek serta Nyiao Su Jan
mengiakan dan segera mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Poei Ceng Yan pun ikut bangan
berdiri. ujarnya, “Siauw-te….”
“Kau duduklah, kita sama menjumpai
dirinya.” tukas Kwan Tiong Gak cepat.
Beberapa saat kemudian si penjaga
pintu tadi telah muncul kembali dengan membawa seorang kakek bongkok
berambut putih, berjenggot panjang melewati dada dan membawa sebuah
tongkat warna hitam.
Kwan Tiong Gak segera menyambut
kedatangannya didepan pintu, seraya menjura ujarnya, “Sudah lama
kudengar nama besar Tuo Shu, beruntung ini hari kita bisa saling
berjumpa”.
“Hna…. haa…. ha….terlalu memuji,
terlalu memuji” sahut Thay Heng Tuo Shu seraya silangkan telapak
didepan dada. “Namun besar Kwan Cong Piauw tauw sudah menggemparkan
seluruh kolong langit, jago jago dari kalangan Hek to maupun Pek to
sama-sama menaruh hormat kepadaku, Loohu yang sudah lama
mengasingkan diri tentu tak bisa menandingi dirimu….”
Kwan Tiong Gak tersenyum. “Sayur
dan arak baru saja dihidangkan bilamana Heng thay tidak menampik
kami dua bersaudara mengundang untuk mencicipi secawan dua cawan
arak bagaimana?”
“Kedatangan loohu kemari sudah
mengganggu ketenangan kalian, kalau dikatakan sungguh menyesal
sekali.”
“Bisa duduk semeja dengan Heng
thay hal ini merupakan keberuntungan, perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok
kami, dan merupakan rejeki dari aku orang she Kwan berdua, silahkan
Heng thay ambil tempat duduk!”
Thay Heng Tuo Shu tidak menampik ,
dengan langkah lebar ia segera ambil tempat duduk.
Seorang pengawal buru buru maju
kedepn menyediakan cawan serta sumpit.
Thay Heng Tuo Shu sambar poci arak
memenuhi cawan sendiri dan menghabiskan tiga cawan lebih dahulu,
kemudian sambil tersenyum barulah ujarnya.
“Kedatangan loohu kemari adalah
sengaja hendak menyambangi diri Kwan Cong piauw tauw.”
“Aku orang she Kwan adalah seorang
pelajar yang belum tamat belajar, tidak berani terima penghormatan
sebesar ini, kedatangan Loocianpwee kegubuk kami tentu ada satu
petunjuk bukan?”
Agaknya Thay Heng Tuo Shu sedang
lapar, ia bersantap dahulu beberapa suap kemudian baru berkata,
“Seandainya lohu mengatakan kedatanganku hanya bermaksud menyambang,
tentu Kwan Cong Piauw tauw tidak mau percaya.”
Ia menongak tertawa terbahak
bahak, sambungnya lebih jauh, “Kwan Cong Piauw tauw adalah seorang
jago yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, loohu pun
tidak ingin bicara berputar lidah, kedatanganku kali ini memang
ingin minta petunjuk akan satu persoalan.”
“Silahkan loocianpwee utarakan,
asalkan aku orang she Kwan dapat lakukan tentu akan kulaksanakan!”
Perlahan-lahan Thay Heng Tuo Shu
mengeluarkan sumpitnya keatas meja, lalu sambil tertawa ujarnya.
“Aku dengar orang bekerja bahwa
ada sebuah lukisan pengangon kambing telah terjatuh ketangan Kwan
Cong Piauw tauw,entah benarkah berita ini….?”
“Ooogw….! Kiranya kedatangan
saudara adalah dikarenakan peta pengangon kambing itu, kalau urusan
ini tak perlu di anehkan lagi.”
Kembali Thay Heng Shu tertawa.
“Kedatangan loohu tidak lebih hanya ingin membuktikan apakah berita
ini adalah sungguh sungguh ataukah hanya isapan jempol belaka.”
“Sedikitpun tidak salah, memang
seratus persen kenyataan, dikolong langit memang hanya ada selembar
peta pengangon kambing dan peta tersebut benar benar berada ditangan
ku orang she Kwan.”
“Sungguh jelas jawabmu ini,” ujar
Thay Heng Tuo Shu sambil tertawa hambar. “Hanya saja nada ucapan
terlalu ketus, keras dan membawa nada emosi….”
“Ehmn….! Apa yang ingin kau
ketahui telah cayhe jawab dengan jelas dan lantang. Sekarang
seharusnya kaupun utarakan maksud kedatanganmu bukan?”
“Kwan Cong Piauw tauw!” tiba tiba
Thay Heng Tuo Shu berseru dengan wajah berubah hebat. “Kalau
kedatangan aku si bongkok tua adalah bermaksud merampas peta
pengangon kambing itu, agaknya aku tidak perlu minum dan bersantap
makanan dari perusahaan kalian. Aku si bongkok tua percaya masih
mampu untuk membayar semeja perjamuan dan tak usah repot repot
datang kemari”
Kwan Tiong Gak yang mendengar
ucapan itu hatinya sedikit bergerak, buru buru ia merangkap
tangannya menyura, “Ucapan cayhe terlalu kasar mungkin telah
menyinggung perasaan anda, harap kau suka memaafkan!”
“Haa…. haaa…. haaa. , …. Loo te,
maaf kalau loohu berlagak dan memanggil dirimu dengan sebutan sebuah
Loo te. usiaku lebih tua banyak tahun dari mu, namun kau tak akan
salahkan diriku bukan!”
“Mana, mana…. Locianpwee suka
memandang tinggi diriku, membuat cayhe merasa amat bangga!”
Thay Hang Tuo Siu mendehem ringan
perlahan lahan ujarnya.
“Kedatangan Loohu adalah
disebabkan peta pengangon kambing itu lebih baik kita membicarakan
soal peta pengangon kambing saja”
“Silahkan memberi petunjuk!”
“Sudah kau periksa peta pengangon
kambing itu?”
“Sudah!” Kwan Tiong Gik menganggut
“sudah kau pahami isinya.?”
“Baru kupahami seperempat,
seperlima belaka.”
Padahal ia sudah memahami enam,
tujuh bagian. Namun sengaja ia pura pura berlagak bodoh.
“Sudah hebat, sudah lebih dari
hebat,” puji Thay Heng Tuo Shu. “Namun kau harus tahu, hanya satu
atau dua bagian saja tidak berhasil dipahami maka tak akan berhasil
mengetahui keseluruhannya.
“Agaknya saudara mengetahui sangat
banyak mengenai peta pengangon kambing itu?”
Mendengar ucapan itu si kakek
bongkok dari gunung Thay Heng San ini sagera tersenyum.
“Terus terang saja kuterangkan,
peta pengangon kambing tersebar selama ini berada ditangan loohu.
namun tahun berselang tiba-tiba dicuri orang dan lenyap tak
berbekas, loohu pernah melakukan pengejaran secara beberapa waktu
tetapi peta pengangon kambing tadi lenyap bagaikan mega diangkasa,
dikit pun tidak kutemui titik terang. Barulah beberapa waktu ini
tiba tiba kudengar peta pengangon kambing muncul kembali didalam
dunia persilatan, sepanjang jalan loohu ikuti terus dan akhirnya
kutemui kalau peta pengangon kambing telah berada ditengah Loo te”
“Eeer! Kau jangan salah paham”
tukas Thay Heng Toa Shu dengan cepat….” Aku tidak bilang kalau peta
pengangon kambing itu milikku, aku hanya menyimpannya selama banyak
tahun.”
“siauw te tidak berhasil memahami
apa yang sedang dimaksudkan Heng thay dalam ucapanmu barusan” seru
Kwan Tiong Gak kebingungan.
“Sangat gampang sekali,
kedatanganku kali ini sama sekali tiada bermaksud untuk minta
kembali peta pengangon kambing itu”
Mendengar ucapan itu Kwan Tiong
Gak seketika dibikin tertegun.
” Loocianpwee kau jangan
bergurau….” serunya cepat sambil tertawa.
“Loohu sekali lagi ingin
terangkan, kedatanganku ini hari sama sekali tiada maksud untuk
mendapatkan kembali peta pengangon kambing itu, namun aku hanya
berharap bisa mengetahui siapakah yang telah mencuri benda tersebut
dari tanganku. Loohu mengerti dengan kedudukan Kwan Cong Piauw tauw
saat ini tidak mungkin bisa melakukan perbuatan mencuri yang sangat
rendah itu.”
Kwan Tiong Gak termenung beberapa
saat lamanya, setelah hening sesaat ia bertanya kembali, “Apakah
Heng thay sudah menemukan titik titik terang tentang persoalan ini?”
“Sama sekali tidak ada, maka dari
itu Loo hu baru datang merepotkan diri loo te untuk suka memberi
penjelasan tentang persoalan ini.”
“Baik!” kata Kwan Tiong Gak
setelah termenung sejenak. “Cayhe hendak menerangkan kalau peta
pengangon kambing ini aku dapatkan dari seorang pembesar yang telah
mengundurkan diri dari jabatannya.”
“Sepanjang hidup loohu jarang
sekali mengadakan hubungan dengan orang orang dari kalangan
pemerintahan, dalam sarangku digunung Thay Heng San pun jarang
sekali dikunjungi kaum pembesar. Tidak mungkin kalau peta pengangon
kambing itu dicuri oleh mereka….”
Ia merandek sejenak untuk tukar
napas, lalu sambungnya lebih jauh, “Namun loohu sangat berharap bisa
mengetahui keadaan yang sebenarnya. Entah dapatkah Kwan loo te
memberi penjelasan .?”
Selama ini Kwan Tiong Gak yang
diam diam mengamati gerak gerik Thay Peng Tuo Shu, melihat ia
bersikap tenang dan mengetahui pula pada dua puluh tahun berselang
ia merupakan manusia yang paling susah dihadapi dalam dunia kangouw,
segera menuturkan seluruh kejadian itu dengan jelas.
Selesai mendengarkan kisah
tersebut, Thay Heng Tuo Shu termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, kemudian ia berkata, “Peta pengangon kambing itu tidak
mungkin kalau dicuri oleh Liuw Thay Jien tetapi loohu sangat
berharap bila menemukan sedikit titik terang dari mulutnya, entah
dapatkah loote memberi bantuan???”
“Tentang soal ini, cahye tidak
berani menyanggupi” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa.”Namun aku
bisa menggoda dengan sekuat tenaga. Aku rasa sampai kini dalam hati
kecil loocianwee tentu sudah mencurigai seseorang bukan?”
“Tentu saja dalam hati kecil loohu
telah mencurigai seseorang, tetapi aku tidak berhasil mendapatkan
bukti yang kuat….”
Ia mendehem beberapa kali, lalu
terusnya “Ketika loohu sedang berangkat kekota Kay Hong, ditengah
jalan aku dengar berita katanya banyak jago lihay dari kalangan Bu
lim telah berkumpul disini, aku berpikir berkumpulnya mereka mereka
itu tentu ada hubungannya dengan peta pengangon kambing.”
“Aaaai . …. .! kamipun tidak
menyangka barang yang kami kawal kali ini harus menjumpai banyak
kerepotan hingga saat ini kami belum berhasil melepaskan diri dari
belenggu.”
“Orang kuno berkata, siapa yang
menyimpan mustika ia akan menanggung akibat nya, ucapan ini ternyata
sedikitpun tidak salah.”
Mendadak ia bangun dan mohon diri.
“Loohu seharusnya mohon diri lebih dahulu!”
Selesai berkata ia segera
melangkah keluar.
“Loocianwee, habiskan dulu
santapan ini baru berangkat.” buru buru Kwan Tiong Gak berseru.
Tiba tiba Thay Heng Tuo hu
berhenti dan berpaling ujarnya sambil tertawa, “Arak serta sayur sih
tidak perlu Loohu hanya ingin bertanya akan satu persoalan entah
maukah kau memberi jawaban?”
“Silahkan mengutarakan persoalan
tersebut.”
“Kwan Cong Piauw taaw, apakah kau
hendak mencari harta karun tersebut sesuai dengan keterangan dalam
peta itu? “
Mendengar pertanyaan itu Kwan
Tiong Gak lantas berpikir dalam hatinya.
“Nah? Akhirnya sampai juga kepokok
persolan ,….!”
Sekalipun dalam hati berpikir
demikian luaran ia menyahut, “Oooow cayhe Sampai sekarang masih
belum ambil keputussn.”
Thay Heng Tuo Sha tertawa. “Loohu
berdiam dirumah penginapan Ban Long, baik baiklah loote berpikir
keras apakah membutuhkan loohu membantu dirimu atau tidak. Loohu
akan menanti tiga hari. Selewatnya tiga hari loohu akan meninggalkan
tempat ini….”
“Baik! apakah cayhe membutuhkan
bantuan, dalam tiga hari ini pasti bisa datang berkunjung kerumah
penginapan Ban Long.”
“Loohu hanya akan menunggu tiga
hari, sekaliku dalam tiga hari ini Kwan Loote tidak datang, loohu
pun tak akan menunggu lagi.”
“Baik! kita tentukan dengan
sepatah kata ucapan ini. Kalau cayhe menjumpai persoalan yang tidak
dipahami, dalam tiga hari ini aku pasti akan minta petunjukmu
dirumah penginapan Ban Long.”
“Kwan Cong Piauw tauw, kau tak
usah terlalu memaksa,” ujar Thay Heng Tuo Shu sambil tertawa. “Waktu
selama tiga hari tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek,
baik baiklah berpikir, Ssmisalnya membutuhkan bantuan Loohu, rasanya
pergi mencari diriku pun bulum terlambat.”
Tidak menunggu jawaban dari Kwan
Tiong Gak lagi ia segera putar badan dan berlalu.
Gerak geriknya dipandang sepintas
lalu-seperti langkah biasa, tatapi dalam kenyataan cepatnya luar
biasa, sebentara Kwan Tiong Gak masih termenung Thay Heng Tuo shu
telah berlalu dari ruangan.
Menanti bayangan punggung dari
Thay Heng Tuo Shu telah lenyap dari pandangan Poei Ceng Yan baru
mendehem ringan.
“Tidak memikirkan jarak yang jauh
ia datang berkunjung kemari, aku pikir urusan tidak akan segampang
ini.”
“Benar!” Kwaa Tiong Gak
mengangguk. “Ia berkata dalam tiga hari kalau ada urusan, minta aku
menyambangi dirinya, ia ucapkan perkataan tersebut dengan demikian
yakin seolah olah dalam tiga hari ini aku pasti bisa mengundang
kehadirannya.”
“Aku pikir bolak balik tujuan
kedatangannya kemari hanya satu, dan tak mungkin bisa meleset lagi!”
Kembali Kwan Tiong Gak mengangguk.
“Mungkin sejak semula ia sudah tahu kalau dalam tiga hari ini pasti
akan terjadi suatu perobahan besar. Maka ia tetapkan batas waktu
selama tiga hari. Aku rasa kedatangannya jauh jauh dari gunung Thay
Heng san bukan hanya ingin nengadu untung belaka.”
“Kwan Cong Piauw tauw apakah ada
niat pergi mengunjungi dirinya?”
“Soal ini harus kita lihat dulu
bagaimanakah perusahaan dari kejadian yang akan datang” jawab Kwan
Tiong Gak setelah termenung sebentar. “Seandainya kita menemui suatu
sebab sebab tertentu yang bagaimanapun juga harus mengunjungi
dirinya, tentu saja kita harus pergi, tetapi sebelumnya kita lebih
baik bekerja sesuai dengan rencana yang telah kita atur sebelumnya.”
Gangguan dari Thay Heng Tuo shu
barusan agaknya semakin memperkuat niat Kwan Tiong Gak untuk
memahami rahasia keseluruhan dari peta penjangon kambing itu.
Selesai bersantap baru-buru ia
pindah-kamar rahasia untuk mulai dengan penyelidikannya.
Poei Ceng Yan, Liem Toa Lek, Nyioo
su Jan serta Lie Giok Liong sekalianpun menyebarkan diri melakukan
pengawasan yang ketat.
Dengan titik pusat ruang rahasia
yang digunakan Kwan Tiong Gak, penjagaan ketat disebar disekeliling
tempat itu. Mereka disamping menguatirkan keselamatan Cong Piauw
tauw nya, bersamaan pula tidak ingin mengganggu atau mengacaukan
ketenangannya sehingga mengganggu konsentrasi.
Sepuluh orang pengawal lengkap
dengan busur serta anak panah menyebarkan diri di belakang kebun
diujung bangunan siap menghadapi sesuatu.
Pemikiran Nyioo Su Jan benar
sangat teliti, disamping melakukan penjagaan, iapun menyediakan
gentong gentong berisi siri disekeliling bangunan yang ditempati
Kwan Tiong Gak ia bersiap-siap bilamana musuh masuk menggunakan api
untuk membakar tempat itu dengan cepat mereka bisa melakukan
pertolongan.