ambang naga panji naga sakti 09

“Suruh mereka turunkan pelan pelan itu malam ini kita tidak jadi berangkat.”

“Toako sudah berubah pikiran?”

Kwan Tiang Gak tertawa getir. lambat lambat ia berjalan kesisi tungku api dan duduk.

“Sie Tok say adalah seorang pembesar budiman.” katanya. “Susah buat kita untuk berjumpa dengan pembesar budiman semacam dia, setelah Siauw heng bicarakan beberapa saat dengan dirinya, tak tahan aku terpaksa, ikut campur dalam urusannya.”

“Ikut urusan apa?”

“Urusan peta rahasia pengangon kambing Sie ToK-say telah menyerahkan peta rahasia, tersebut kepada siau heng dan aku telah mengadakan perjanjian dengan para jago, besok malam akan membuka perjamuan di tepi telaga She Yang Auw hutan pohon Liauw untuk menyelesaikan persoalan ini.”

“Cong Piauw tauw, bukankah dia ini mencari repot buat diri sendiri?” tanya Nyioo Su Jan.

Air muka Kwan Tiang Gak berubah jadi amat serius.

“Manusia, kadang kadang lebih baik mencari sedikit hal yang merepotkan.”

Sinar matanya dialihkan keatas wajah Lim Toa Lek dan sambungnya lebih lanjut, “Toa Lek, hal ini harus merepotkan diri mu.”

“Hamba menanti perintah.” dengan cepat Lim Toa Lek berseru.

“Besok pagi adalah tanggal satu tahun baru, semua rumah makan pada tutup dan beristirahat, mempersiapkan sayur serta arak bukan Suatu urusan yang gampang, aku rasa pihak koki harus bekerja lembur.”

“Ooobw…. …. urusan itu gampang sekali.”

“Baik! Aku telah berjanji akan berjumpa dengan mereka pada kentongan pertama, karena itu sebelum kentongan pertama, kau harus mempersiapkan empat meja perjamuan yang diatur didalam hutan pohon Liauw tepi telaga Shen Yang Auw.”

“Harap Cong Piauw tauw berlega hati, hamba tak akan salah bekerja.”

“Toa to!” tiba tiba Poei Ceng Yan berseru.

“Siapa saja yang kau undang dalam perjamuan besok malam??”

Kwan Tiong Gak termenung sebentar, kemudian jawabnya, ” Kemarin malam mereka menyelundup masuk kedalam istana Tok Say, siapakah orang orang itu siauw heng tidak berhasil menemui nya dengan jelas, tapi dapat kuketahui ke Giok Lang tidah termasuk diantaranya. yang jelas orang orang itu terdiri dari jago jago lihay Bu Lim.”

“Apakah Toako bermaksud menghadiri pertemuan itu seorang diri?”

“Kali ini aku hendak minta bantuan kalian. Su Jan, Toa Hauw. Giok Long sekalian semua ikut….”

Ia merandek sejenak lalu terusnya ;

“Sekarang kita harus beristirahat semua, Besok sore kita akan mengatur rencana.”

Semalam lewat dengan cepatnya, ketika sore harinva telah menjelang datang Kwan Tiong Gak pun mulai mengatur tugas untuk masing masing anak buahnya

Ketika malam hari kembali menjelang para jago jago secara beriring bersama sama berangkat kedalam hutan pohon Liuw ditepi telaga She Yan Auw.

Sejak tadi Liem Toa Lek sudah menanti didalam hutan, ditepi telaga Shen Yang Auw yang sunyi terdapatlah empat meja perjamuan yang sudah diatur sangat rapih.

Walaupun malam ini adalah suatu malam yang bersih dan terang, tapi hawa dingin sangat menusuk badan, bintang bertaburan di angkasa menambah sunyinya suasana.

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak tarik napas panjang panjang.

“Sekarang sudah jam berapa?”

“Hampir kentongan pertama,” sahut Liem Toa Lek cepat.

“Coba pasanglah lentera dan perintahkan para koki untuk mempersiapkan sayur dan hidangkan diatas meja perjamuan.”

“Semuanya telah siap. tak akan kacaukan urusan.”

Bicara sampai disitu orang she Liem ini lantas berpaling pada dua orang pembantunya

“Pasang lampu dan naikkan lentera.”

Cahaya api nampak berkilat, sebentar saja delapan buah lentera sudah digantungkan diempat penjuru diujung pohon liuw api tungku berkobar kobar, dua orang koki-memasang wajan dan mulai melakukan kerjanya.

Seketika bau harum tersebar menusuk hidung membuat napsu bersantap menyerang dihati setiap orang.

dengan membawa enam orang, dua orang koki dan empat orang pembantu yang cakap untuk membereskan semua urusan.

Walaupun jumlah orang sangat sedikit tapi setiap orang cakap dan pandai bekerja, dalam sekejap mata lampu sudah dipasang dan mangkuk serta sumpit sudah dihidangkan diatas meja.

Kwan Tiong Gak dengan memakai seperangkat pakaian ketat berwarna Hitam dengan jubah terbuat dari kulit macan berdiri disebelah Timur menantikan kehadiran tetamunya Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan berdiri berjajar dibelakangnya.

Sedangkan Thio Toa Hauw, Lie Giok Liong serta Lie Can masing masing membawa dua orang pembantu berjaga disudut sudut yang berbeda.

Belum lama sayur dan arak dihidangkan mendadak terdengar suara gelak tertawa seseorang berkumandang datang.

“Kwan heng, kau sungguh pandai, melakukan sesuatu yang aneh dan menarik. ditengah hawa dingin yang menusuk badan ternyata kau hendak menjamu tetamu didalam hutan pohon Liuw diatas permukaan salju yang dingin menusuk badan ini Siauwte sudah menjelajahi hampir tiga belas keresidenan di daerah Selatan tapi baru saja pertama kali ini menghadiri perjamuan macam begini.”

Sembari berkata muncullah seorang pemuda, dia bukan lain adalah si Hoa Hoa Kong cu, Ke Giok Lang.

Dia, tetap memakai jubah biru dengan topi model siangkong, tangannya mencekal sebuah kipas dan berjalan mendekat dengan langkah tenang.

Sebelum sempat Kwan Tiong Gak buka suara, Nyioo Su Jin telah buru buru menyambut, ujarnya sembari menjura, “Nyioo Su Jan mewakili Cong Piauw-tauw menyambut kedatangan tetamu terhormat, silahkan Ke Kongcu ambil tempat duduk.”

Dengan pandangan dingin Ke Giok Lang memandang sekejap kearah Nyioo Su Jan, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun ambil tempat duduk dan tak bergerak lagi.

Mengikuti dari belakang Ke Giok Lang meluncur datang segulung angin angin berbau harum, seorang dara berpakaian ketat warna hijau dengan celana berwarna hijau ikat kepala warna hijau serta menyoreng sebilah pedang laksana kilat melewati Nyioo Su Jan dan duduk tepat dihadapan Ke Giok Long.

Dibawah sorotan sinar lentera, dapat dilihat dara berbaju hijau itu mempunyai paras muka yang sangat cantik dengan sepasang mata yang jeli serta bibir yang kecil mungil.

Agaknya Ke Giok Long merasa tidak puas atas tindakan Kwan Tiong Gak yang tidak menyambut sendiri kehadirannya, tanpa memperdulikan diri orang she Kwan lagi ujarnya kepada dara berbaju hijau itu, “Sejak dulu pertemuan tidak bakal ada pertemuan ysng baik, biasanya perjamuan selalu diadakan diatas loteng yang indah atau ruangan yang megah. Lain halnya dengan perjamuan yang diadakan malam ini ditengah hutan yang dingin dan terpencil, kalau ditinjau keadaan sekitar sini seharusnya perjamuan ini disebut sebagai perjamuan Pah Ong!”

“Ke Kongcu,” timbrung Nyioo Su Jen lambat lambat, “perjamuan yang di adakan Cong Piauw tiauw di malam ini disebut perjamuan Ciang Thaykong memancing ikan, siapa yang mau hadir sama halnya kena terpancing . .”

“Hm, sudah lama kudengar orang orang perusahaan Hauw Piauw kiok pandai berbicara ternyata ucapan ini sedikitpun tak salah.” jengek Ke Giok Lang sambil tertawa,

“Ke Kongcu terlalu memuji, padahal dalam kenyataan kalau di bicarakan siapa yang pandai bicara aku orang she Nyioo masih tertinggal apabila dibandingkan dengan diri Ke Kongcu.”

Sreeet….! Ke Ciok Lang membentangkan kipasnya dan mulai menggoyangkan benda tersebut kendati berada ditengah cuaca yang sangat dingin, katanya sambil tertawa

“Aku orang she Ke memang suka banyak bicara, tak aneh kalau kau pun sukar menutup mulut. Tapi disini terdapat pula seorang gadis perawan, istilahmu memancing ikan, benar benar terlalu menghina dirinya, kau sepatutnya memperoleh tamparan keras.”

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya mendadak gadis berbaju hijau itu meloncat bangun dan laksana kilat mengirim sebuah serangan,

Nyioo Su Jan tidak menyangka kalau dara berbaju hijau itu bisa melancarkan serangan mendadak bahkan serangannya tepat dan cepat, untuk menyingkir tak sempat lagi, tidak ampun pipi kirinya kena ditampar satu kali, saking kerasnya bukan saja wajah jadi merah membengkak bahkan tertera pula bekas lima telapak.

Sewaktu turun tangan gerakan yang dilakukan dara berbaju hijau itu sangat cepat-waktu menarik kembali tangannya pun luar biasa cepatnya tidak menanti Nyioo Su Jao melancarkan serangan balasan ia sudah mundur kembali ketempatnya semula.

Nyioo Su Jan mundur dua langkah sambil memegangi pipi kirinya dan berdiri termangu mangu disana, bukan saja ia dibuat terperanjat atas kecepatan gerak dara berbaju hijau itu bahkan Iapun merasa bingung apa yang harus dilakukan pada saat ini.

Terdengar Ke Giok Lang tertawa terkgelak.

” Hahahaha…. sungguh tepat sekali tamparan ini! Tidak terlalu perlahanpun tidak terlalu berat, bukan saja telah menghukum mulutnya yang dipentang seenak sendiri bahkan tidak sampai melukai perasaan, lebih laik cepat cepatlah kau mencari kesempatan untuk mengundurkan diri!”

Jelas dua patah perkataan terakhir sengaja ditujukan kepada diri Nyioo Su Jan.

Nyioo Su Jan adalah seorang jago yang banyak pengalaman dan terlatih, ia tahu apabila di sebabkan dirinya kena di tampar dan mencari gara gara dalam keadaan seperti ini perjamuan yang di selenggarakan oleh Cong Piauw tauw pasti akan mengalami kekacauan oleh sebab itu tetap bersabar diri.

Pada saat itulah dengan langkah lebar Pui Ceng Yan berjalan mendekat serunya, “Su Jan, tak perlu kita ribut dalam Keadaan seperti ini. Legi pula seorang lelaki sejati tidak usah banyak mencari urusan dengan kaum wanita. Kau mundurlah untuk beristirahat, biarlah aku yang melayani Ke-Kongcu serta nona ini.”

Nyioo Su Jan menghela napas, perlahan lahan ia mengundurkan diri kebelakang.

Setelah orang she Nyioo mengundurkan diri, Pui Ceng Yan baru alihkan sinar matanya kearah dara berbaju hijau itu ujarnya dingin, “Gerakan nona sewaktu turun tangan sungguh cepat sekali, aku orang she Pui merasa kagum….”

“Saudara ini adalah Hu Cong Piuw tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kok,” tukas Ke Giok Lang memperkenalkan. “Orang orang menyebut dirinya sebagai si “Thiat Ciang Kiem Huan” atau telapak besi berselang emas, ilmu telapak Thiat Sang Ciang nya telah berhasil dilatih hingga mencapai tarap menghancur lumatkan batu nisan.”

“Ooouw…. Ke Kongcn terlalu memuji kepandaian cakar ayam dari cayhe, hal ini membuat siauwte merasa amat malu.”

Ke Giok Long tersenyum, perlahan-lahan Ia berpaling dan ujarnya, “Poci Ao Cong Piauw tauw, kenalkah kau dengan nona ini?”

“Aku orang sha Poei jarang sekali berkenalan dengan kaum wanita, maaf aku tidak mengenalnya.”

“Tidak mengenalnya memang sangat tepat sekali dalam penggunaan katamu, sekali-pun kau tidak kenal siapakah nona ini, toh kau kenal bukan dengan ayahnya si Pancingan sakti Hoo Tong??”

“Jadi dia adalah Hoo Lian Hoa, nona Hoo?” seru Poci Ceng Yan tertegun, “Sedikitpun tidak salah, dia bukan lain adalah nona Hoa. Hoo Lian Hoa yang dicari kesana kemari oleh Tui Hong Hiap atau pendekar pengejar angin Cing Lok San!”

“Maaf, maaf…. cayhe pernah berjumpa satu kali dengan ayahmu.” kata orang she Poei lagi seraya menjura.

Hoo Lin Hoa tertawa hambar.

“Kawan ayahku sangat banyak, orang yang pernah berjumpa sekali dengan beliau sudah tak bisa dihitung lagi dengan jari.”

Ketenggor batunya Poei Ceng Yan terpaksa mendehem perlahan.

“Si pendekar pengejar angin Cing Jieya pernah berjumpa dengan diriku beberapa hari berselang.” katanya perlahan. “Dengan menempuh hujan salju ia melakukan perjalanan kesana kemari untuk mencari kabar berita dari nona, entah dia sudah menjumpai diri nona belum?”

“Paman Cing Jie siok sudah kujumpui.”

“Apakah nona tidak pulang bersama sama dirinya?”

“Soal ini adalah urusan kami pribadi, tak usah orang ikut merasa khawatir.” tegur Hoo Lian Hoa dengan alis berkerut.

Mendengar jawaban yang hambar Pui Ceng Yan tertawa pahit.

“Nona, ayahmu si pancingan sakti Hoo Tong Adalah seorang jago yang tersohor dikolong langit. ….”

“Ayahku punya nama besar didalam kolong langit atau tidak, apa sangkut pautnya dengan dirimu?” tukas dara she Hoo itu dingin.

“Aku sangat mengagumi ayahmu.”

“Kau sangat kagum dengan ayahku, pergilah mencari ayahku, apa sangkut pautnya dengan diriku?”

Diam diam Tui Ceng Yan salurkan hawa murninya melakukan persiapan, kemudian ambil menghela napas panjang katanya, “Cayhe ikut merasa sedih dan menyesal atas perbuatan diri nona….”

“Apa yang perlu kau sesali? apa yang perlu kau sedihkan??”

“Aku merasa menyesal karena nona tidak tahu diri dan tidak bisa membedakan mana orang baik mana orang jahat. Didalam dunia persilatan Ke Kongcu mempunyai sebuah sebutan entah tahukah nona akan hal ini?”

“Bukankah Hoa Hoa Kongcu?”

“Sedikitpun tidak salah, setelah kau tahu siapakah dirinya, kenapa kau masih hantarkan diri kemulut macan?”

Mendengar perkataan itu Hoo Lian Hoa jadi amat gusar.

“Kurang ajar, kau orang melihat Sam-kok mengucurkan air mata, merasa risau bagi orang orang kuno….”

“Sekalipun nona tidak mau mendengarkan cayhe pun akan selesaikan perkataanku, hal Inipun merupakan hal yang membuat cayhe mewakili ayahmu merasa sedih, terang terang kau nona tahu bahwa dirimu sedang mengantarkan diri kemulut mscan, kenapa kau justru memilih jalan tersebut? Bukankah perbuatanmu ini akan menghancurkan nama baik ayahmu?….”

Ke Giok Lang yang selama ini tidak banyak bicara mendadak menukas, “Pui Hui Cong Piauw tauw, apakah kau masih belum merasa puas? Seseorang kadang kala harus mengetahui batas batas diri dalam pembicaraan.”

Selagi Pui Ceng Yan siap beradu bicara mendadak tampak dua orang berjalan datang mendekati meja perjamuan tersebut.

Orang pertama adalah seorang lelaki berbaju hitam yang berusia empat puluh tahunan, ditangannya menyekal sebuah bantalan berbentuk panjang.

Orang kedua adalah seorang pengemis dengan pakaian compang camping serta rambut awut awutan, dia adalah si Naga Langit Pouw Cing.

Lelaki berbaju hitam itu memandang sekejap kearah Kwan Tiong Gak lalu mencari tempat duduk sendiri.

Ssdangkan si Naga Langit Pouw Cing menyapu sekejap keempat penjuru lalu serunya, “Sungguh aneh sekali, kenapa yang datang tidak banyak?”

Puei Ceng Yan segera maju menghampirinya.

“Dari pihak Kay Pang apakah hanya kau seorang?”

“Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan pihak Kay Pang urusan ini adalah urusan aku orang she Pouw pribadi.”

“Kalau begitu silahkan duduk.”

“Selamanya aku sipengemis cilik tak perlu orang menyapa, Poei Hu Cong Piauw tauw pun tak usah repot repot terhadap diriku” Karena sipengemis sudah berkata demikian Poei Ceng Yan pun segera putar badan menjura kearah lelaki berbaju hitam itu.

“Kawan, dapatkah kau sebutkan siapakah namamu7″

“Kau sedang bertanya kepada diri cayhe?” tanya lelaki berbaju hitam itu sambil meletakkan buntalannya.

“Sedikitpun tidak salah!”

“Cayhe she Kouw, soalnya namaku kurang enak didengar maka lebih baik tak usah kukatakan saja.”

Sebelum Poei Ceng Yan sempat mengucapkan sesuatu, seorang kakek tua berbaju serba merah secara diam diam tanpa menimbulkan sedikit suarapun sambil duduk disebuah kursi.

Orang itu memakai pakaian yang sangat istimewa seluruh tubuhnya memakai baju berwarna darah, dia bukan lain adalah sidewa api Ban Cauw adanya.

“Ooouw….! saudarapun ikut hadir?” tegur Poci Ceng Yan segera.

“Kalau bukan dikarenakan peta pengangon kambing serta perusahaan Hauw Wie Piauw kiok yang mengundang, belum tentu bisa mengundang loohu hadir ditempat ini.”

Jawaban dari Ban Cau amat dingin sekali.

Poei Ceng Yan tetawa hambar.

“Jago lihay yang ikut hadir pada malam ini sangst banyak sekali lebih baik Ban heng jangan terlalu tinggi menaruh harapan.”

Ban Cau mandengus dingin, sinar mata nya berputar tiada hentinya disekeliling tempat itu, entah apa yang sedang ia cari.

Pada saat itu, diatas empat buah meja tamu, kecuali diduduki Giok Lang aerta Go Lian Hoa dalam sate meja, disisinya Si Dewa Api Ban Cau, si naga langit Pouw Cing serta lelaki she Kouw itu masing masing menempati sebuah meja tersendiri, dengan demikian empat meja perjamuan ditempati oleh lima orang.

Orang she Ouw itu walaupun belum lama datang, tetapi ia paling tidak sabaran, sambil tertawa dingin mendadak serunya, “Siapakah yaag menjadi tuan rumah dalam pertemuan kali ini?”

Kwan Tiong Gak yang selama ini berdiri Menonton disamping segera menjawab lantang, “Cayhe adanya, entah saudara ada petunjuk apa?”

“Kau orangkah yang bernama Kwan Tiong Gak. Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok?”

” Sedikitpun tidak salah, entah siapakah nama saudara?”

“Tadi sudah siauwte katakan bahwa namaku sangat tidak enak didengar, kalau Cong Piauw tauw ingin bertanya juga, terpaksa siauwte harus mengutarakannya keluar….,….”

Setelah mendehem berat terusnya, “Siauwte bernama Kouw Put Cian.” (Put Cian artinya tidak lengkap).

“Oooooow…., kiranya si “Koei So Si Hun” atau si tangan setan pencabut nyawa Kouw Put Cian.” seru Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar.

Kouw Put Cian segera tersenyum.

“Tadi sudah siauwte katakan kalau nama serta sehutanku sangat tidak enak didengar, tapi kau Kwan Ciong Piauw tauw ingin tahu juga, terpaksa cayhe utarakan keluar….”

“Tidak mengapa, tidak mengapa, aku orang she Kwan paling tidak pantang terhadapi sebutan apapun juga.”

“Aku dengar orang berkata, pertemuan didalam hutan pohon liaw ini akan diselengarakan pada kentongan pertama?”

“Sedikitpun tidak salah “

“Sekarang sudah jam berapa?”

“Hampir mendekati kentongan kedua!”

“Kwan Cong Piauw tauw mengundang kami datang ke hutan sesunyi ini apakah hanya untuk bersantap belaka?”

“Tentu saja ada urusin lain!”

“Baik! waktunya sudah tiba. Kwan Cong Piauw tauwpun boleh segera berbicara!”

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak mengangguk.

“Kita sudah menunggu sangat lama, kawan kawan yang tak bisa salahkan kami tidak menepati janji….”

Dari dalam sakunya ia mengambil keluar pengangon kambing itu dan dengan langkah lebar berjalan kehadapan Kouw Put Cian, sambil berhenti katanya lebih lanjut, “Ditengah malam sedingin ini cuwi berdatangan kemari, aku rasa semuanya tentu dikarenakan peta pengangon kambing ini,….”

“Sedikitpun tidak salah” tukas Kouw Put Cian. “Entah Kwan heng siap hendak menyelesaikan masalah peta pengangon kambing ini dengan cara bagaimana?”

“Peta lukisan ini….”

Terdengar suara langkah manusia berkumandang datang memotong perkataan Kwan Tiong Gak yang belum selesai diucapkan.

Ketika semua orang berpalirg, terlihatlah dua orang toosu dengan seorang paderi telah berjalan datang dengan langkah lebar.

Walaupun kedua orang toosu itu sama memakai baju berwarna hijau, tapi orang yang berada disebelah kiri sudah berusia empat puluh tahunan sedang yang berada disebelah kanan baru berusia dua puluh tahunan dipunggung masing-masing tersoreng sebilah pedang.

Sedangkan paderi tersebut memakai jubah hweesio berwarna abu abu, usianya diantara tiga puluh tiga, tiga puluh empat dengan badan yang putih bersih, kelihatannya sangat halus dan terpelajar. Ia bertangan kosong tidak membawa senjata tajam apapun.

Ke Giok Lang, Kouw Put Cian, Ban Cau, Pouw Cing serta Kwan Tiong Gak sekalian mengalihkan sinar matanya keatas wajah sang paderi serta kedua orang toosu itu.

Pada saat beberapa orang itu sedang memperhatikan kehadiran sang paderi serta dua orang toosu itu, seorang pemuda berbaju warna biru dengan kepala tertunduk diam-diam berjalan kesisi meja Pouw Cing dan duduk disana tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Gerakan lincah dan ringan apabila perhatian semua orang dicurahkan atas hadirnya beberapa orang lain, maka tidak seorangpun yang memperhatikan munculnya pemuda ini.

Pada saat itulah terdengar Kie Giok Lang tertawa hambar.

“Selamat berjumpa, selamat berjumpa, tidak disangka Han Im Toosiang yang memiliki nama tersohor juga ikut hadir kemari.”

Toosu berusia setengah baya itu berpaling sekejap kearah Ke Giok Leng lalu sapanya, “Ke Kongcu, selamat berjumpa.”

“Kolong langit sangat luas, tidak disangka bisa bertemu muka disini.”

Ham In Toojien tidak berbicara lagi, dengan membawa toosu muda itu mereka ambil tempat duduk semeja dengan Ban Cau.

Kedua orang itu duduk dengan sejajar, hal ini menunjukkan kalau bukan guru dan murid.

Sebaliknya si paderi berbaju abu abu itu putar matanya dan langsung berjalan kesisi Kouw Put Cian untuk duduk semeja dengan dirinya.

Orang ini memiliki wajah yang kaku, mukanya hamkar sama sekali tidak terlintas senyuman maupun rasa gusar, sekalipun orang lain mengejek dan menyindir dirinya setelah melihat air muka yang putih itu kebanyakan akan membungkam sendiri.

Agaknya Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan sama ingin menghampiri tetamu itu, tapi dapat di cegah oleh Kwan Tiong Gak.

Kursi dimana paderi berbaju abu-aba duduk terpaut sangat dekat dengan Kouw Put Cian, hal ini membuat orang she Kouw itu mau tak mau harus mempertinggi kewaspadaannya, sepasang mata tiada hentinya memperhatikan gerak gerik paderi itu,

Pada saat itulah kembali Kwan Tiong Gak mengalihkan sinar matanya keempat penjuru, mendadak ia tertawa tergelak dan serunya, “Mungkin masih ada kawan yang belum datang, tapi waktu sudah lewat aku orang she Kwan pun tak akan menanti lagi”

Perlahan lahan dia meletaksn peta pengangon kambing itu keatas meja kemudian sambungnya, “Aku orang she Kwan mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai pengawal barang tetamu keluar uang kami tiada alasan harus jual nyawa buat orang.”

“Tapi bukankah barang kawalan itu sudah tiba ditempat tujuan kota Kay Hong” tukas Kee Giok Lang tiba tiba. “Sepanjang perjalanan, kawan-kawan Bu lim yang melakukan pengejaran sama sekali tidak turun tangan, hal ini sudah memberi muka buat kalian perusahaan Hauw Wie Piauw kiok untuk tancap kaki, tidak disangka kau Kwan Tiong Piauw tauw terlalu banyak urusan, setelah cuci tangan tidak mau pulang kedesa sebaliknya malah melibatkan diri kedalam urusan ini.”

“Pada mulanya, sewaktu perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kami menerima tawaran ini, kami benar benar tidak tahu kalau di antara barang kawalan tersebut terdapat pula sebuah peta pengangon kambing, tidak di sangka pendengaran kalian lebih tajam dan berhasil mengetahui berita, ini. Walaupun sepanjang perjalanan terjadi banyak perubahan untung sekali urusan tidak sampai berubah makin besar….,”

“Kwan Kong Piauw tauw,” tukas Kouw Put Cian dengan suara dingin, “kami datang kemari bukan untuk mendengarkan kisah yang telah terjadi tempo dulu, dimalam tahun baru yang demikian dingin kami datang ke hutan sunyi ini untuk mendengarkan Kwan Cong Piauw tauw secara bagaimana anda menyelesaikan masalah mengenai peta Pengangon kambing ini.”

“Untuk menyelesaikan masalah peta pengangon kambing cayhe menemui berbagai kesulitan, entah bagaimana pendapat dari saudara?” balik tanyanya.

Mendadak Ke Giong Lang bangun berdiri.

“Kwan Cong Piauw tauw, cayhe berharap Kwan Cong Piauw tauw suka membantu aku orang she Ke membuktikan tentang satu hal.”

“Aku paham, silahkan kau utarakan keluar!”

“Pemilik sebenarnya dari peta pengangon kambing ini apakah benar telah setuju untuk hadiahkan peta rahasia ini kepada aku orang she Ke?”

“Sedikitpun tidak salah, memang pernah terjadi peristiwa semacam ini.”

“Menurut keadaan yang seharusnya, bukankah peta rahasia pengangon kambing ini adalah milik aku orang she Ke?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Kalau memang demikian bagaimana kalau Kwan heng serahkan dahulu peta rahasia penganon kambing ini kepada aku orang she Ke?”

Belum sempat Kwan Tiong Gak memberi jawaban, si Naga Langit Poaw Cing telah menimbrung dari samping, “Sakalipun terhitung Kwan Cong Piauw-tauw setuju untuk serahkan peta rahasia pengangon kambing itu kepadamu, belum tentu benda tersebut sudah menjadi milikmu.”

“Dapatkah aku orang she Ke melindungi peta rahasia pengangon kambing itu, hal tersebut merupakan urusan pribadi aku orang she Ke sendiri, tak perlu kau sipengemis cilik ikut merasa kuatir”

“Tapi sipengemis cilik hendak merebutnya.”

“Tidak salah, kau boleh rebut dan semua jago yang hadir disini boleh ikut merebut. Persoalannya sekarang justru terletak psda mampukah kalian merebutnya-,”

“Kita bisa Coba saat ini Juga,”

“Sudah….sudahlah….kalian tak usah ribut terlebih dulu,” tukas Kwan Tiong Gak melerai. “Cayhe tak akan menyerahkan peta rahasia pengangon kambing ini kepada siapa pun juga.”

“Kwan heng” seru Ke Giok Lang dengan nada kurang puas. “Baru saja kau telah mengakui kalau peta rahasia tersebut sudah menjadi milik siauwte, dengan alasan apa kau tidak suka menyerahkan benda itu kepeda diriku . . ,”

Air muka Kwan Tiong Gak kontan berubah jadi hebat.

“Ke kongcu!” serunya lantang. “Kau tidak usah berdebat coba mencari menang sendiri, sewaktu peta rahasia pengangon kambing direbut orang kita berapa disatu tempat, dalam hatipun kau paham perbuatan itu bukan hasil permainan setan dari perusahaan Hauw Piauw kiok Kami,”

Mendadak Han In Tootiang bangun berdiri.

“Kwan Piauw tauw, Ke Kongcu. semua kejadian itu sudah berlalu. Sekarang kami hanya ingin mengetahui secara bagaimana Kwan heng akan menyelesaikan masalah mengenai peta rahasia pengangon kambing ini,” serunya.

“Baik!” Kwan Tiong Gak mengangguk, “Akupun tidak ingin berbicara panjang lebar lagi, aku si orang she Kwan sangat berharap Cuwi sudi memberi muka kepadaku dengan sementara, melepaskan niat untuk mendapatkan peta rahasia pengangon kambing tersebut.”

“Jadi peta rahasia tersebut untuk sementara akan disimpan dalam saku kau Kwan Tiong Gak, bukan begitu?” kata Kouw Put Cian dingin.

“Benar, hanya saja sebelum Cap Go meh nanti cayhe pasti akan memberikan satu penyelesaian yang bagus untuk saudara saudara sekalian, waktu itu kalian mau rebut mau rampas dengan cara apapun aku tidak mau tahu….disamping itu kalianpUn harus tahu aku bukan bermaksud hendak mengangkangi benda itu.”

“Heee…. .heee …. heee . . , . kalau kami tidak setuju dengan caramu ini, kau mau apa?”" jengek si Dewa api Ban Cau sambil tertawa dingin.

“Barang siapa saja yang tidak suka memberi muka buat aku orang she Kwan. terpaksa silahkan turun tangan untuk coba merampasnya.”

Seketika suasana didalam hutan pohon Liuw jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Lama….lama sekali mendadak terdengar suara gelak tertawa yang keras memecahkan kesunyian,

“Haaa…. haaa…. haaa….jadi maksud Kwan Cong Piauw tauw mengundang kami datang kemari hanya suruh kami mendengarkan sepatah kata ini saja?”

Orang yang berbicara bokan Lain adalah Kouw Pun Cian.

Kembali Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Hal ini sih bukan, aku orang she Kwan sama sekali tiada maksud untuk mengangkanginya.”

“Padahal Kwan Cong Piauw tauw tak perlu memiliki niat untuk mengangkangi benda itu!” seru Ke Giok Lang pula lambat lambat. “Asalkan diteliti selama sepuluh sampai setengah bulan, kau sudah cukup mampu untuk mengingat rahasia dari lukisan tersebut”

Belum selesai ia berkata Kwan Tiong Gak telah menukas sembari menggeleng.

“Mungkin bagi kau Ke Kongcu mempunyai kemampuan untak berbuat demikian, tapi aku orang she Kwan sama sekali tiada berkepandaian untuk mengingat ingat apa yang telah kulihatnya.”

“Sekalipun terhitung apa yang Kwan Cong Piauw-tauw katakan adalah suatu pernyataan jujur, hal itu pun tak bisa membuktikan sesuatu apapun, gambar rahasia tersebut kini sudah berada di tangan Kwan Cong Piauw tauw, kau tidak usah susah susah men cari seorang pelukis jempolan untuk menjiplak lukisan itu, asalkan tidak ketinggalan sedikit pun lukisan itu, bukankah dikolong langit segera akan muncul “dua buah lukisan pengangon kambing?”

“Ke Kong cu sungguh pandai sekali kau carikan jalan keluar bagi aku orang she Kwan.” kata Kwan Tiong Gak sambil tersenyum.” Tapi orang she Kwan sudah tahu maksudmu yang sebenarnya hanyalah ingin memanaskan suasana disini, agar semua orang tidak menaruh kepercayaan kepada diriku lagi….”

Tapi Ke Giok Lang kembali tertawa hambar.

“Orang orang yang hadir dalam kalangan saat ini rata rata merupakan jago jago berpengalaman yang telah mengalami berbagai serta taupan, benar atau tidaknya mereka bisa membuktikan sendiri dengan pikiran serta penglihatan mereka, apa gunanya aku Orang she Ke berusaha memanasi suasana di didalam kalangan?”

“Ke Kongcu,” ujar Kwan Ttong Gak kemudian setelah termenung berpikir sebentar “Jikalau kau begitu tidak mempercayai aku orang she Kwan, entah kau Ke Kongcu mempunyai cara apa yang hebat”

“Keadaan situasi hari ini sudah jelas tertera.” kata Ke Giok Lang sambil tertawa “perduli siapapun mereka ingin mengangkangi peta rahasia pengangon kambing ini dan dimilikinya buat diri sendiri, oleh karena itu sebelum orang itu berhasil mendapatkan benda ini maka ia harus minta persetujuan dahulu dari para jago yang lain. Tentang soal ini saudara Kwan Cong Piauw tauw bisa melihat dan memahami sendiri bukan.”

” Orang yang datang pada saat ini amat banyak, bagaimanapun juga persoalan harus diselesaikan satu persatu. Kau Ke Kongcu paling banyak memiliki usul dan pendapat, cayhe sangat berharap bisa bicarakan dulu persoalan ini dengan dirimu hingga jelas.”

“Jadi maksud Kwan Cong Piauw tauw kau siap hendak bergebrak terlebih dahulu dengan diri siauwte?”

“Cayhe sama sekali tiada bermaksud menantang Ke Kongcu untuk bergebrak, hanya urusan bagaimanapun juga harus ada jalan penyelesaiannya, dan aku rasa Ke Kongcu adalah kesulitan yang paling utama.”

Ke Giok Lang termenung berpikir sebentar kemudian ia mengangguk

“Baiklah, kalau Kwan Cong piauw tauw bisa memperoleh persetujuan dari para jago yang hadir disini untuk sementara menyimpan peta rahasia itu dalam saku Kwan Cong piauw tauw, urusan diantara kita berdua dibicarakan lebih gampang lagi.”

Pada saat itulah, mendadak Han Im Too tiang meloncat bangun.

“Kwan Cong Piauw!”" serunya lantang. “Pinto ada beberapa patah kata hendak minta petunjuk dari dirimu.”

“Silahkan Tootiang berkata.”

“Pinto ingin mengutarakan dulu maksud kedatangan kami kesini sama sekali tidak membawa niat untuk mendapatkan peta rahasia pengangon kambing tersebut, tapi pinto-sekalipun tidak bisa mentah mentah melihat peta rahasia itu terjatuh ketangan seseorang yang tidak bertanggung jawab.”

Mendengar ucapan itu si Dewa api Ban Ciu tertawa dingin.

“Tootiang kau sungguh lihay, dengan satu gala membalikkan sebuah perahu, siapakah kau maksudkan orang yang bertanggung jawab dan mana pula yang kau maksudkan sebagai orang orang tidak bertanggung jawab”

“Sekali itu dalam hati pinto sudah punya pegangan, tak perlu kuutarakan secara terbuka”

“Mungkin didalam pandangan Han Im Tootiang ako Ke Giok Lang adalah manusia yang termasuk tidak tertanggung jawab bukan begitu?” jengek sang Hoo Hoa kongcu sambil tersenyum.

Han In tootiang tertawa hambar ia tidak bicara lagi.

Sitoosu muda yang duduk disisi Han In tootiang. selama ini selalu memandang ke atas Ke Giok Lang serta si Dewa Api Ban Ciu dengan sinar mata berkilat, kendati begitu mulutnya tetap membungkam dalam seribu-bahasa.

Perlahan lahan Kwan Tiong Gak menggulung kembali peta pengangon kambing itu dan disimpan kembali kedalam saku, ujarnya sambil tertawa

“Orang orang yang hadir disini sekalipun tidak membawa maksud untuk merebut peta rahasia ini, merekapun bercita cita bisa mendapatkan peta rahasia itu untuk dilindungi keselamatannya, kalau sekali salah mengambil penyelesaian suatu pertarungan berdarah tak akan terhindar, saudara saudara sekalian merupakan jago jago kenamaan dari Bu lim, setiap orang memiliki kepandaian andalan yang hebat. Bilamana sampai meletus benar benar suara pertarungan, bukan saja akan jauh korban bahkan akan ditertawakan pula oleh orang orang Bu lim oleh karena itu siauwte berharap Cu wi bisa sedikit bersabar….,”

“Jadi maksudmu kau inginkan agar kami bisa melihat kau seorang mengangkang peta pengangon kambing itu tanpa berkutik dan bersuara?” tukas Pouw Put Cian dingin.

Pada saat itulah mendadak mnncul seorang lelaki berpakaian singkat warna biru menyoreng golok dan memakai topi pelindung hawa dingin terbuat dari kulit macan berjalan mendaki dengan langkah lebar.

Dibelakang lelaki mengikuti pula seorang lelaki memakai topi kulit, berbaju kulit serta bercelana kulit.

(Bersambung Jilid 18)

Jilid 18

DENGAN sepasang mata Kwan Tiong Gak yang tajam, dalam sekali pandangan saja ia dapat melihat menemukan apabila wajah lelaki tersebut telah dipolesi dengan obat penyamar, walaupun begitu sama sekali tak berhasil menutupi wajah aslinya.

Ia bukan lain adalah Jen Pek To pengawal pribadi Sie Tok Say.

Tak usah melihat jelas lagi siapakah orarsg yang berada dibelakangaya, sudah cukup bagi Kwan Tioag Gak untuk mengetahui siapakah itu tanpa terasa lagi hatinya sedikit terkesiap.

Setelah berusaha menenangkan hatinya Kwan Tiong Gak segera ulapkan lengannya.

“Kalian berdua datang terlambat, silahkan dnduk dipinggir sebelah sana …. “serunya

Ia mempersilahkan kedua orang itu duduk disatu meja dengan si naga Langit Pouw Cing.

Jen Pek To segera mengangguk.

“Cayhe sekalian sama sekali tiada bermaksud merebut peta rahasia pengangon kambing, tersebut, kedatangan kami hanya ingin menonton keramaian belaka,”

Dangan langkah lebar ia segera berjalan menuju kemeja yang diduduki oleh si naga Langit Pouw Clng.

Sepasang sinar mota Pouw Cing berputar, ia memandang sekejap kcarah Jen Pek To kemudian memandang pula si lelaki berpakaian kulit yang menurunkan topinya rendah rendah itu.

Sementara itu Kwan Tiong Gak telah mendehem dan meneruskan kembali kata-katanya, “Saat ini waktu telah menandakan hampir kentongan kedua, orang yang tidak hadir mungkin tak akan hadir lagi dan aku rasa saudara saudara sekalianpun sudah mengerti maksudku, aku orang She Kwan masih tetap dengan perkataan semula aku berharap kalian suka memberi muka kepadaku. Kalau ada diantara kalian yang tidak ingin memberi muka terpaksa penyelesaian hanya ada satu jalan yaitu bergebrak melawan diriku.”

Selesai berkata, sinar matanya berputar menyapu sekejap seluruh kalangan dan menanti reaksi telanjutnya dari jago jago tersebut. Ketika tidak didengarnya ada suara reaksi diantara para jago, perlahan lahan Jie Giok Heng bangun berdiri, ujarnya, “Han Im Too heng, peta lukisan pengangon kambing berada ditangan Kwan Cong Piauw tauw, entah bagaimana menurut pendapat tootiang??”

“Kwan Tiong Gak adalah seorang jago tersohor dikolong langit masa kini, disimpan dalam sakunya pinto rasa sangat tepat sekali, tentu saja pinto lebih berharap apabila peta pengangon kambing itu bisa dibakar didepan umum sehingga tidak menimbulkan keonaran dan tenangkan kembali suasana….”

“Mau dibakar? Oooouw…. sungguh sayang sekali” seru Ke Giok Lang sambil tertawa dingin “Apalagi kecuali aku orang she Ke sendiri, orang lain tidak berhak untuk membakar benda tersebut.”

Mendengar kebulatan tekad sang Hoa hoa Kongcu, Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Ke Kongcu, tidak mendapatkan peta lukisan pengangon kambingpun kau sama saja bisa menjagoi seluruh Bu Lim dangan gelarmu sebagai si Hoa hoa Kongcu….”

“Urusan ada urutan depan dan akhir, urusan kita nanti dibicarakan akhir saja.” potong Ke Giok Lang sambil ulapkan tangannya.

Sembari berkata ia berjalan mendekati Han Im Totiang.

Han Im Totiang tetap dnduk ditempatnya semula, tetapi sang Toosu yang lebih muda tak bisa mengendalikan emosinya lagi mendadak ia bangun berdiri dan menghadang perJalanan selanjutnya dari Ke Giok Lang. “Mau apa!!?” bentaknya keras.

Ke Giok Lang silangkan tangan kirinya didepan dada, tangan kanan diangkat siap menyambut datangnya serangan, sembari bersiap siap tanyanya kepada Han Im Totiang. “Siapakth dia?” Hen Im Totiang tersenyum.

“Seorang siauw sute dari pinto, baru saja terjunkan diri kedalam dunia Kangouw dan mencari pengalaman dengan mengikuti pinto.”

“Siapakah sebutan sutemu ini?”

“Ia belum masuk menjadi toosu, karena itu tetap menggunakan nama aslinya.”

“Kalau begitu kenapa ia memakai pakaian toosu?” jengek Ke Giok Lang sambil tertawa dingin.

Agaknya Han Im Tootiang sangat gembira untuk menjelaskan persoalan ini, sambil tersenyum sahutnya, “Sewaktu ia belajar ilmu silat digunung Bu Tong telah terbiasa baginya mengenakan pakaian Toosu, karena itu sewaktu turun gunung berkelana ia tidak sempat berganti pakaian biasa.”

“Apakah totiang ingin agar sutemu bisa menjajal kepandaian dengan aku orang she Ke “

“Ia sudah belajar ilmu silat selama puluhan tahun lamanya dan belum pernah bergebrak barang sekalipun dengan orang lain. Dalam pertarungan pertama harus menghadapi manusia lihay seperti Ke Kongcu, hal ini boleh dihitung sebagai rejekinya.”

jelas dalam perkataan tersebut ia ingin agar sutenya bisa menjajal kepandaian.

Sebelum Ke Giok Lang menjawab, mendadak terdengar suara tertawa merdu berkumandang datang

“Giok Lang cepat menyingkir, untuk menghajar toosu cilik ini tak perlu kau turun tangan sendiri.”

Hoo Lian Hoa dengan gerakan yang sebat menerjang maju kedepan.

Karena gadis itu sudah maju maka Ke-Giok Lang pun mundur selangkah kebelakang.

“Perguruan Bu tong paling lihay dalam ilmu pedang, kau harus berhati hati.”

“Aku mengerti!” Hoo Lian Hoa mengangguk.

Sreett….pedangnya segera diloloskan dari sarung dan mengambil posisi menyerang, katanya lagi.

“Toosu cilik, ayolah turun tangan!” Toosu muda itu tertegun.

“Kau hendak bergebrak melawan diriku?” tanyanya gugup.

“Benar! Apakah kau merasa takut?”

“Lelaki sejati tak akan bergebrak melawan wanita, aku tidak sudi bergebrak melawan dirimu,” seru Toojien muda itu sambil mundur dua langkah kebelakang.

Hoo Lian Hoa tersenyum, mendadak pedangnya berkelebat kedepan membabat tubuh toosu muda itu.

Tusukan pedang itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat, dalam keadaan tidak bersiap sedia hampir hampir saja sang toojien muda kena tertusuk.

Melihat kejadian itu Han Im tootiang jadi sangat terperanjat segera serunya.

“Sute, hati hati pihak lawan menantang kau untuk bergebrak sungguh sungguh bukan sedang berlatih pedang seperti biasa?”

“ya “

“Toosu cilik” seru Hoo Lian Hoa pula-sambil tersenyum, “kalau kau tidak turun tangan lagi, jangan salahkan aku akan melukai dirimu.”

Ditengah pembicaraan tersebut pedangnya berturut-turut melancarkan serangan berantai, jurus pertama lebih cepat dari jurus selanjutnya.

Dibawah desakan pedang Hoo Lian Hoa Ing gencar dan berantai, mau tak mau toojien muda tersebut terpaksa harus menggerakan pedangnya balas menyerang.

Ke Giok Lang ssrta Han Im Totiang mencurahkan seluruh perhatiannya ketengah pertaruangan tersebut, yang satu takut Hoa lian Hoa tidak takut menahan jurus jurus serangan dahsyat dari pihak Bu-tong Pai sedang yang lain takut siauw suteenya yang baru turun tangan untuk pertama kalinya menderita kerugian besar.

Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah saling bergebrak hampir melebihi empat puluh jurus lebih, posisi tatap seimbang tak ada yang menang dan tak ada yang kalah.

Kecuali orang-orang yang datang terdahulu dimana dapat mengikuti pembicaraan antara Pui Ceng Yang serta Ke Giok Lang, orang-orang yang datang terlambat rata rata tidak tahu asal usul dari dara berbaju hijau ini, mereka hanya merasa sang gadis yang tak di ketahui namanya ini benar-benar luar biasa. ia bisa menahan serangan ilmu pedang aliran Butong Pay dari toosu cilik tersebut boleh di kata merupakan suatu kejadian yang luar biasa.

Setelah kedua orang itu saling bergerak melampaui empat puluh jurus, dan Im Totiang pun mulai merasa kebenaran, tanpa terasa ia semakin mencurahkan seluruh perhatiannya ketengah kalangan.

Sementara itu diam diam Pui Ceng Yan berbisik kepada diri Nyioo Su Jan ujarnya.

” Su Jan, kalau kita tinjau situasi malam ini aku rasa sukar untuk diselesaikan secara baik-baik, diam-diam kau berilah kabar kepada

Lok Liong serta Lim Piauw tauw untuk mengadaksn persiapan, semisalnya terjadi pertarungan masal, merekapun bisa memberi bantuan secepatnya”

Nyioo Su Jan mengangguk, diam diam ia berlalu untuk mengatur persiapan seperlunya.

Dalam mana pertarungan yang sedang berlangsung ditengah kalangan semakin lama berlangsung semakin sengit, mereka berdua mulai mengeluarkan jurus jurus simpanan untuk saling berebut kemenangan buat dari sendiri.

Mendadak Kwee Cong Gak melangkah maju dua tindak kedepan, tangan kanannya berkelebat meloloskan goloknya dari sarung.

“Berhenti!” bentaknya keras.

Dimana golok emasnya berkelebat. .Trang! trang! Ditengah suara bantrokan keras kedua bilah pedang yang sedang saling bergebrak telah kena ditangkis oleh babatan golok tersebut.

Hoo Lian Hoa serta toojien muda itu sama sama mundur selangkah kebelakang, dua pasang mata bersama sama dialihkan keatas wajah Kwan Tiong Gak dan menandangnya dengan tertegun, jelas mereka sangat tidak puas dengan tindakan Cong Piauw tanw dari perusahaan Ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok sendiri.

Kwan Tiong Gak mendehem perlahan kemudian ujarnya, “Kepandaian silat kalian berdua seimbang, kalau diteruskan sekalipun dua hari dua malam belum tentu bisa diputuskan siapa kalah, Maksud kedatangan kalian kemari adalah hendak memperebutkan peta rahasia pengangon kambing dan kini benda tersebut berada didalam sakuku, siapa yang merasa tidak puas silahksn turun tangan aku orang she Kwan.”

Mendengar ucapan itu Ke Giok Lang tertawa dingin.

“Kau Kwan Cong Piauw tauw pun merupakan seorang jsgo yang melakukan perjalanan baik keselatan maupun ke Utara, orang-orang kangouw pada menghormati dan mengalah pada perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw-lok kalian, hal ini belum tentu disebabkan karena jeri terhadap golok emas dari orang she Kwan, perbuatan saudara saat Ini melintangkan golok merebut pusaka bukankah sama artinya menghianati kawan-kawan Bu lim….”

“Ke Kongcu sungguh tajam ucapanmu bagaikan pisau.” seru Kwan Tiong Gak dengan nada dingin. “Aku orang she Kwan mengakui diriku bukan tandinganmu dalam hal berdebat, untung saja sebelumnya aku sudah menerangkan terlebih dahulu dan seluruh jago yang hadir disini dapat mendengarnya degan mata telinga sendiri, aku tidak ingin berebut mulut dengan Ke Kongcu, bilamana kau percaya bisa merebut peta rahasia pengangon kambing ini dari tanganku, silahkan turun tangan untuk merebutnya.”

Air muka Ke Giok Lang kontan berubah hebat.

“Kwan heng begitu berkeras kepala dan ingin mencari menang sendiri aku orang she Ke benar benar merasa tidak puas.”

Kipas di tangan kanannya segera ditiup lalu menotok kedepan dada Kwan Tiong Gak sedang tangan kirinya secepat kilat merebut peta pengangon kambing tersebut.

Kwan Tiong Gak segera ayunkan, tangan kanannya, angin serangan menderu deru, golok emas itu seketika menciptakan selapis cahaya keemas emasan yang menyilaukan mata.

Mendadak Ke Giok Lang enjotkan badannya mundur tujuh depa kebelakang, serunya lantang.

“Tunggu sebentar!”

Waktu itu Kwan Tiong Gak sedang mempersiapkan serangan balasan, mendengar teriakan tersebut ia segera berhenti.

“Ke Kongcu masih ingin mengucapkan-apa lagi?”

“Soal ini tiada sangkut pautnya dengan Kwan Cong Piauw- tauw….” sinar matanya berputar dan menyapu sakejap kearah para jago, kemudian lanjutnya.

“Kedatangan Cu wi sekalian kemari mungkin dikarenakan peta pengangon kambing ini, barang siapa diantara kalian yang ada maksud untuk bekerja sama dengan aku orang she Ke untuk merebut, lukisan tersebut, maka ia di anggap punya satu bagian terhadap lukisan itu, Kalau Cu wi ingin duduk berpeluk tangan sambil menonton harimau bertarung dan ingin menanti setelah aku serta Kwan Cong Piauw tauw sama sama lelah kemudian baru turun tangan merebut lukisan tersebut, maka pikiran kalian ini hanya sia sia belaka, karena aku Ke Giok Lang tak akan tertipu.”

Dalam hati Kwan Tong Gak benar benar tiada bermaksud dengan, sekalipun begitu ia taK bisa mengutarakan maksudnya ini secara terus terang.

Tampak suasana didalam kalangan diliputi kesunyian yang menanggapi perkataan Ke Giok Lang barusan.

Melibat hal tersebut Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Ke Kongcu, kelihatannya orang lain masih memberi muka kepadaku dan hanya saudara seorang yang bertujuan dalam merebut peta rahasia ini.” jengeknya.

“Tutup mulut!” bentak Ke Giok Lang dengan nada gusar. “Aku Ke Giok Lang rela menahan diri dari pada mamberi peluang yang bagus buat orang lain.”

Selesai mengucapkAn Perkataan itu mendadak ia putar badan dan berjalan kembali ke tempat duduknya.

Tindakannya ini bukan saja berada diluar dugaan Kwan Tiong Gak bahkan membuat semua jago jadi tertegun.

“Sungguh hebat orang ini.” pikir Kwan Tiong Gak dalam hatinya. “Ia bisa maju bisa mundur tanpa dikendalikan oleh emosi, benar benar manusia luar biasa.”

Karena berpikir demikian, iapun segera Berkata, “jikalau diantara Cu wi tak ada lagi yang ingin turun tangan merebutnya, hal ini berarti kalian ada maksud memberi muka Untuk aku orang she Kwan disini siauwte mengucapkan banyak terima kasih terlebih pahulu.”

“Tunggu sebentar .” mendadak terdengar -seorang berseru dengan nada dingin.

Ketika para jago mengalihkan sinar matanya, maka tampaklah orang yang berusan bersuara bukan lain adalah Kouw Put Cian

“Kawan Kouw, apakah kau bersiap siap ingin memberi petunjuk?? ….,” tanya Kwan Tiong Gak.

“jangan terburu napsu, siauwte hendak mengeluarkan senjata dahulu.”

Sembari berkata tangan kanannya segera melepaskan buntalannya yang diletakkan di-atas meja itu.

Dengan cepat muncullah sebuah senjata yang berbentuk aneh bagaikan lengan pemuda, benda itu lucu tapi mengerikan.

“O OO…. senjata tangan setan ” Thiat Koei So.

“Sedikitpun tidak salah, ada beberapa orang jago kenamaan pernah terluka dibawah serangan senjata tangan setanku ini”

“Kalau semisalnya aku orang she Kwan pun terpaksa harus terluka ditangan senjata tangan setanmu, hal ini hanya bisa salahkan kepandaian silat aku orang she Kwan tidak becus.”

“Masih ada satu urusan lagi cayhe ingin memberitahukan kepadamu,” kata Kouw Put Cian lagi sembari bangun berdiri.

“Urusan apa?”

“Didalam senjata tangan setan sisuwte ini tersembunyi senjata rahasia, sewaktu bertempur bisa terlepas untuk melukai orang.”

“Oooow, ….jadi seperti senjata kipas dari Ke Kongcu?”

“Permainan setan setiap orang bisa menggubah menurut selera masing masing dari setiap permainan mempunyai keistimewaan yang terbatas,” ujar Kouw Put Cian dingin. “Kini perkataan cayhe sudah selesai diutarakan Kwan Cong Piauw tauw segera turun tangan.”

“Saudara memiliki kepandaian simpanan macam apapun silahkan dikeluarkan semua, dan kau tak usah kuatirkan keselamatan dari aku orang she Kwan.”

Setelah turun kegelanggang Kouw Put Cian tidak berbicara lagi, senjata tangan setannya menyerang dada Kwan Tiong Gak dengan jurus “Kie Tiam Tauw” atau Ayam Emas mengangguk kepala. Senjata rahasia yang tersembunyi didalam senjata tajam merupakan jarum lembut yang mengandung racun keji, senjata senjata rahasia tersebut sering kali meluncur keluar sewaktu berada di tengah tengah pertarungan sehingga membuat orang tidak bersiap sedia.

Karena mengerti akan hal ini Kwan Tiong Gak tidak berani berlaku gegabah terhadap lawannya, golok emasnya menangkis datangnya serangan tangan setan lawan.

Dibawah sorotan sinar lentera, tampaklah cahaya keperak perakan meluncur kedepan, sebatang jarum beracun telah meloncat keluar dari balik senjata tangan setan.

Kwan Tiong Gak sama sekali tidak menyangka, pihak lawan bisa melolosan senjata rahasia dalam serangan pertama, beruntung ia sudah mengadakan persiapan, goloknya buru buru ditarik kembali dan berkelebat kesamping untuk menghindar.

“Hati hati….” bentak Kouw Put Cian dingin.

Senjata tangan setannya segera diayunkan kedepan, dari jari tengah serta telunjuk kembali meluncur keluar sebatang jarum beracun.

Kembali Kwan Tiong Gak dibikin tertegun ia tidak menyangka pihak lawan bisa melepaskan senjata rahasianya secara beruntun dalam pertarungan pertama terutama sekali dalam jarak yang begitu dekat.

Sekalipun Kwan Tiong Gak sudah mengadakan persiapan, tak urung dibikin kelabakan juga oleh serangan tak terduga ini.

Dengan demikian Kouw Put Cian berhasil merebut posisi yang lebih baik untuk meluncurkan serangan, tangan kirinya bekerja sama dengan senjata tangan setan ditangan kanannya melancarkan serangan berantai yang gencar dan hebat.

Tetapi Kwan Tiong Gak bukan manusia sembarangan, ia bisa getarkan seluruh kolong langit tentu saja memiliki kepandaian silat yang luar biasa, ditengah berkelebatnya cahaya jarum beracun permainan golok emasnya tiba-tiba berubah.

Ditengah berkelebatnya cahaya tajam serta desiran angin dingin dalam tiga jurus serentak ia berhasil merebut kembali posisi bagus, hal ini disebabkan ia andalkan senjata tangan setan serta jarum beracunnya, kini kena dipunahkan kembali oleh tiga jurus serangan golok lawan, hatinya jadi terkesiap, diam diam pikirnya dalam hati.

“Kwan Tiong Gak ternyata benar benar seorang jago yang luar biasa hebatnya.”

Kwan Tiong Gak yang telah merasakan kelihayan jarum beracun yang tersembunyi di dalam senjata tangan setannya tidak berani berlaku gegabah lagi, ia tidak tahu berapa banyak jarum beracun yang tersembunyi di dalam senjata tangan setannya itu, kalau sampai membiarkan ia melepaskan seluruh jarum itu, dalam jarak sedemikian dekatnya akan merepotkan dirinya dalam menghindar berkelit serta menangkis.

Setelah muncul rasa was-was golok emasnya diputar semakin dahsyat merebut posisi Tiong Kong dan mendesak terus kedepan di bawah lingkungan desiran angin tajam!

Dengan demikian senjata tangan setan Kouw Put Cian kena didesak keluar kalangan oleh permainan golok emas tersebut, dan Kwan Tiong Gak pun berhasil lepaskan diri dari kurungan senjata lawan, sekalipun Kouw Put Cian ingin melepaskan jarum jarum beracunpun susah dilaksanakan.

Nama Kwan Tiong Gak tersohor diseluruh kalangan dunia persilatan, jago jago di kalangan Hek-to maupun Pek to sama sama melonjor mati dirinya, tentu saja golok emasnya ini mempunnyai jurus jurus serangan dahsyat dan susah ditahan, serta sekantong senjata rahasia genta emasnya.

Tetapi yang paling utama adalah kebijaksanaannya tidak sembarangan turun tangan terhadap orang lain.

Setelah senjata tangan setan Kouw Put Cian terdesak keluar kalangan, Kwan Tiong Gak tidak usah menguatirkan serangan jarum beracunnya lagi kesempatan bagus bagi dirinya untuk melancarkan serangan balasan, tiap kali diabaikan dengan begitu saja kendati tekanan berat masih meluncur terus tiada hentinya.

Pada saat itulah semua jago yang menonton jalannya pertarungan dapat melihat bila mana Kwan Tiong Gak tidak turun tangan keji dan tak ingin melukai lawannya.

Kouw Put Cian merasakan tekanan golok lawan makin lama semakin besar dan semakin kuat, senjata tangan setannya hanya, bisa digunakan untuk menangkis belaka, hal ini membuat hatinya jadi gelisah.

Diam diam hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh badan, ditengah suara Bentakan keras dengan sekuat tenaga ia melancarkan serangan balasan.

‘Trang! Trang! Trang’ Ditengah suara bentrokan nyaring, senjata tangan setan serta golok emas telah saling baradu sebanyak tiga Kali.

Tiga serangan Kouw Put Cian tidak berhasil juga mendatangkan hasil yang diharapkan, pertahanan golok dari Kwan Tiong Gak benar benar amat ketat membuat orang she Kouw itu tidak memperoleh kesempatan untuk melepaskan jarum jarum beracunnya kembali.

Pada saat inilah Kouw Put Cian benar-benar memahami kalau kepandaian silatnya masih ketinggalan sangat jauh dibandingkan dengan pihak lawan kalau tidak mencari peluang untuk mengundurkan diri maka ini hari ia pasti akan menderita kerugian besar.

Karena berpikir demikkn dengan cepat badannya mundur tiga depa kebelakang sembari membentak keras.

“Tahan!”

“Apakah Kouw-heng ada petunjuk?” tanya Kwan Tiong Gak sambil menarik kembali serangannya.

“Kepandaian silat Kwan Cong piauw-tanw benar benar luar biasa cayhe mengaku bukan tandingan.”

“Terima kasih atas kesudianmu untuk mengalah,” sahut Kwan Tiong Gak sambil tersenyum.

“Perduli bagaimanakah nama siauw tauw te dalam dunia Kangouw. selamanya aku paling mengagumi jago jago yang memiliki kepandandaian ilmu silat lihay, cayhe mengaku bukan tandingan dan rela mengaku kalah,” kata Kouw Put Cian sambil menarik kembali-senjatanya.

“Inilah tindakan seorang enghiong hoo-han dan lelaki sejati.”

Koaw Pui Cian segera menjura. “Setelah siauwte mengerti bukan tandingan Kwan Ciong Piaw tauw, tentu saja tidak berani mengharapkan untuk mendapatkan peta rahasia pengaugon kambing lagi. disini cayhe mohon diri terlebih dahulu.”

Buru buru Kwan Tiong Gak memberi hormat.

Kouw Put Cian segera putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Orang ini benar benar jujur dan lapang dada, setelah mengaku kalah ia lantas berlalu dengan cepat, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Menanti bayangan punggung Kouw Put Cian sudah lenyap dari pandangan, Kwan wiong Gak baru menyapu seluruh kalangan sembari berkata.

“Masih ada siapa lagi yang merasa tidak puas dengan cara penyelesaiannya siauwte dalam masalah peta rahasia pengangom kambing ini, silahkan maju untuk berbicara.”

Tampak hweesio berwajah adem serta hambar itu perlahan lahan bangun berdiri.

“Pinceng ingin menanyakan satu urusan.”

Agaknya Kwan Tiong Gak tidak menyangka hweesio itu buka suara dalam keadaan itu, ia agak tertegun dibuatnya.

“Taysu ingin membicarakan soal apa silahkan diutarakan, asal cayhe tahu tentu akan kujawab sejujurnya, hanya saja setelah Taysu bertanya aku orang she Kwan pun ada urusan hendak ditanyakan kepada diri Taysu”

Si paderi itu tertawa hambar.

“Pinceng jadi orang tidak terbuka, apa yang saudara ingin tanyakan belum tentu dapat pinceng jawab seluruhnya”

Mendengar perkataan itu Kwan Tiong Gak segera tertawa terbahak bahak.

“Sampai waktunya kita bicarakan lagi menurut keadaan,” jawabnya singkat.

“Kwan Cong tiauw tauw,” ujar hweesio itu lagi sambil tertawa hambar,” sudah sepatutnya bagi orang orang yang tak bisa menangkan dirimu segera putar badan angkat kaki. semisalnya ada orang yang bisa menangkan diri Kwan Cong Piauw tau, apa yang hendak kau lakukan “

Kwan Tiong Gak termenung sebentar, lalu jawabnya;

“Tentu saja aku orang she Kwan mengaku kalah.”

“Hal itu sudah tentu, dihadapan umum, setelah Kwan Cong Piauw tauw dikalahkan kalau tidak mengaku kalah apa yang kau utarakan. Yang Pinceng maksudkan adalah peta rahasia pengangon kambing itu, apakah kau segera menyerahkan lukisan itu kepada si pemenang?!”

“Sungguh bagus sekali pertanyaan ini,” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa dan mengangguk.

Setelah merandek sejenak, ia balik bertanya, “Thaysu berasal dari mana? siapakah gelarmu?”

“Pinceng datang dari kuil, maaf gelarku susah untuk diutarakan.”

“Kuil dikolong langit banyak tak terhingga, bahkan berada diatas beberapa laksa, seharusnya kuil Thaysu punya nama sebutan.”

“Tadi pinceng sudah katakan banyak persoalan belum tentu pinceng beri jawabannya.”

“Baik!, cayhe ingin bertanya sebuah pertanyaan lagi, apakah Thaysu punya hubungan dengan pihak kuil Siauw lim si?”

Si hweesio berbaju abu abu itu segera tawa dingin;

“Perbuatan pinceng akan kutanggung sendiri, hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan tempat asalku!”

“Kalau begitu cayhepun bisa memberi keterangan buat thaysu orang yang berhasil mengalahkan aku orang she Kwan berilmu tentu bisa dapatkan peta rahasia pengangon kambing ini.”

“Lalu secara bagaimana baru bisa merebutnya.”

“Merebut benda tersebut dari tangan aku orang she Kwan.”

“Kalau ada orang yang berhasil merebut lukisan itu dari tanganku, bagaimana penjelasannya?”

“Setelah berhasil merebutnya maka ia harus punya kepandaian untuk membawanya pergi.”

“Ooow….sekarang pinceng paham sudah.” kata sang paderi tersebut sembari mengangguk.

“maksud Kwan Cong Piauw tauw adalah bilamana ada orang berhasil merebut peta rahasia pengangon kambing, maka bukan saja ia harus menghadapi Kwan sicu seorang bahkan seluruh anggaota perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok?”

“Asal usul thaysu sendiripun tak mau di beritahukan kepada cayhe, maaf cayhepun tak bisa menerangkan persoalan ini lebih jelas. Thaysu boleh berpikir sendiri!”

“Thaysu!” tiba tiba Ke Giok Liong menimbrung. “Aku orang she Ke bisa memberi tahukan pula tentang satu hal kepadamu, kecuali seluruh kekuatan perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok, masih ada aku serta semua jago yang hadir disini?”

Dengan pandangan dingin paderi tersebut melirik sekejap kearah Ke Giok Lang, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia duduk kembali ke tempat semula.

Perbuatan kukoay dari hweesio ini di-mana ia sukar menyebut gelar serta asal usulnya sudah cukup membuat orang marasa diluar dugaan ditambah pula mendadak ia duduk kembali ke tempatnya semula hal ini semakin membuat orang kebingungan lagi.

Karena sikap yang aneh serta watak yang hadir dalam kalangan.

Sambil memandang paderi yang duduk kembali ketempatnya semula, Kwan Tiong Gak berseru lantang, “Kalau Cu wi tidak mau bicara hal ini berarti suka memberi muka kepada aku orang she Kwan. ditengah malam buta kalian sudah sudi menghadiri pertemuan ini, sebagai rasa terima kasih aku orang she Kwan akan menjamu diri kalian dengan secawan arak.”

Dengan langkah lebar ia berjalan kembali ketempatnya semula dan memungut secawan araknya.

Mendadak, “Praaak ….,,!” diiringi suara bentrokan keras, cawan arak yang berada didepan Kwan Tiong Gak hancur berkeping keping, arak segera muncrat memnuhi seluruh meja.

Ketika itu kebetulan Kwan Tiong Gak sedang tundukkan kepala untuk memungut cawan sendiri karena itu tak diketahui oleh nya dari manakah munculnya benda yang menghancurkan cawan araknya.

Tanpa terasa air mukanya berubah hebat.

Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jago yang banyak pengalaman serta banyak menemui kejadian kejadian aneh. setelah termenung sebentar sambil tertawa segera serunya, “Suatu kepandaian yang bagus! suatu kepandaian yang dahsyat!”

Bersama dengan suara pujian itu sepassng matanya dengan tajam menyapu sekejap seluruh kalangan.

Kiranya dengan pengalaman yang dimiliki Kwan Tiong Gak, ia berhasil menduga siapakah yang barusan turun tangan terhadap dirinya.

Sepasang matanya yang tajam dengan cermat memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, tapi dengan cepat ia merasa bahwa posisi setiap orang disekeliling tempat itu tidak merupakan posisi yang tepat untuk melepaskan senjata rahasia.

Karena tilak berhasil menjumpai orangnya terpaksa Kwan Tiong Gak berseru lantang;

“Kawan dari mana yang barusan turun tangan menghancurkan cawan arak dari aku orang she Kwan? Terima kasih atas budi saudara yang tidak sampai melukai aku orang untuk itu aku orang she Kwan mengucapkan banyak terima kasih.”

Kembali sinar matanya dengan tajam menyapu seluruh kalangan, tapi sekali lagi ia gagal mendapatkan orang yang turun tangan terhadap dirinya itu.

Ketika itulah mendadak Ke Giok Lang bangun berdiri dan mohon diri.

“Kwan Cong Piauw tauw,” serunya “Peta rahasia pengangon kambing adalah barang milikku, jikalau Kwan heng memang tidak akan serahkan kepadaku untuk sementara biar lah berada ditempatmu dahulu siauwte hendak mohon diri terlebih dahulu.”

“Ke Kongcu, apakah kau rela berlalu begini saja,” seru Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar.

“Ada urusan apa?” dengan cepat Ke Giok Lang berhenti,

“Apabila ini hari kita tidak berhasil mendapatkan suatu penyelesaian mengenai masalah peta rahasia pengangon kambing ini, aku rasa kalian akan menjumpai kesulitan didalam pencarian terhadap aku orang she Kwan….”

“Oooouw. , ….jadi Kwan heng mau kelangit?”

“Siauwte akan berebut peta rahasia ini lagi dengan Cu wi sekalian dikota Kay Hong, kemungkinan besar aku akan membawa peta ini kembali ke ibu kota….”

Setelah merandek sejenak, terusnya, “Maka dari itu apabila Cu wi ada maksud hendak merebut lukisan rahasia ini dari tanganku, malam inilah merupakan peluang yang paling baik buat kalian untuk turun tangan, atau paling sedikit kita bisa memperoleh cara penyelesaian yang disetujui semua pihak.”

Sinar mata Ke Giok Lang berputar menyapu sekejap sekililing tempat itu, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu tapi segera dibatalkan kembali.

Kiranya ia berpendapat bahwa diantara para jago yang hadir dalam kalangan tentu ada orang yang merasa tidak puas dan bangun berdiri menegur, mengambil kesempatan tersebut ia akan menghasut dan membakar hati semua orang agar masalah kecil berkembang jadi masalah besar, ketika itulah ia akan berusaha menyimpan tenaga sebagai gempuran yang terakhir.

Siapa sangka suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran seorangpun yang membantah agaknya mereka semua pada setuju dengan tindakan Kwan Tiong Gak.

Melihat tak ada yang ambil komentar, sekali lagi Kwan Tiong Gak menyapu seluruh kalangan, ujarnya sambil tersenyum.

“Cu wi sekalian sudi memberi muka kepada aku orang she Kwan, cayhe merasa sangat berterima kasih, tapi jikalau aku orang she Kwan dengan demikian saja mendapatkan peta rahasia pengangon kambing ini, kendati diluaran Cu wi tidak bicara dalam hati tentu merasa tidak puas.”

“Betul!” jawab si Dewa api Ban Cau dengan cepat. “Nama besar Kwan Cong Piauw tauw telah menggetarkan seluruh dunia persilatan dan dikagumi oleh setiap orang. kalau kau tak sudi mendemontrasikan sedikit kepandaian agar dapat menambah pengetahuan kami, tentu saja kami merasa sangat tidak puas.”

“Baiklah!” ujar Kwan Tiong Gak kemudian setelah termenung berpikir sebentar.

“Aku orang she Kwan pun tidak ingin terjadi suatu pertumpahan darah yang menimbulkan korban, terpaksa aku akan mendemontrasikan sedikit kejelekan, apabila diantara kalian ada yang merasa punya pegangan untuk mengalahkan diriku, nanti kita saling bergebrak kembali.”

Mendadak terdengar Han Im Tootiang Menimbrung ;

“Permainan golok Kwan Cong Piauw-tauw sudah kami lihat barusan, kepandaian tersebut benar benar dahsyat dan dengan mudah sekali bisa memaksa sanjata tangan setan Kouw sicu terdesak keluar kalangan tapi Pinto sudah lama mendengar akan kehebatan permainan senjata rahasia Kiem Ling Piauw dari Kwan Cong Piauw tauw, bagaimana kalau kau sedikit mendemontrasikan agar kami bisa menambah sedikit pengetahuan?”

“Permintaan dari Tootiang akan aku orang she Kwan penuhi.”

Ia merandek sejenak, setelah ditunggunya beberapa saat tidak juga terdengar seseorang menimbrung, ia baru jalan ketengah kalangan diantara empat buah meja perjamuan itu. ujarnya lanjut.

“Cu wi sekalian tidak ada yang menimbrung, cayhe rasa kalian sudah setuju semua-dengan usul Han Im Tootiang ini baik lah aku orang she Kwan akan segera mempapar-kan sedikit kejelekan.”

Mendadak ia meloncat ketengah udara, dua rentetan cahaya emas setelah meluncur dari genggamannya.

Ditengah suara bentrokan keras, bunyi genta berdering memenuhi seluruh angkasa. Ternyata tangan kiri serta tangan kanan ssgera berbareng telah melepaskan bebareng senjata rahasia Kiem Leng Piauw sangga saling beradu ditengah udara dan mengakibatkan berderingnya bunyi-bunyi genta tersebut.

Melihat bagaimana kedua batang senjata rahasia genta emas itu saling berbenturan satu sama lainnya, tanpa terasa Ban Cau tertawa dingin, selagi ia siap hendak mengejek permainan tersebut mendadak Kwan Tiong tak menggerakkan kembali sepasang telapak tangannya.

Angin tajam berdesir, puluhan batang senjata rahasia Piauw geata emas segera berterbangan memenuhi angkasa, Dua batang senjata rahasia piauw genta mas yang dilepaskan pertama kali tadi setelah saling membentur ditengah udara segera meluncur jatuh kebawah. tapi kini kembali kedua batang senjata rahasia tersebut terpental ketengah udara terbentur oleh senjata senjata rahasia Piauw genta emas yang dilepaskan kemudian.

Tak seorangpun diantara mereka berhasil menemukan Kwan Tiong Gak menggunakan cara apakah untuk melepaskan senjata rahasia itu, mereka hanya mendengar suara deringan bunyi genta bergema tiada hentinya diseluruh kalangan.

Kalau didengar sepintas lalu masih tidak terasa apa apa, tetapi kalau didengarkan lebih seksama lagi maka terasalah bunyi genta itu bagaikan serangkaian irama lagu yang amat merdu.

Demontrasi ini benar benar merupakan suatu kepandaian yang jarang ditemui dikolong langit, sebagian besar para jago yang hadir dalam kalangan sama sama merasa bahwa kepandaian tersebut susah ditemu oleh mereka.

Terdengar Kwan Tiong Gak bersuit nyaring, mendadak ia pentangkan lengannya meloncat setinggi dua tombak menabrak diantara deringan suara genta, kemudian ditengah perputaran sang badan ia sudah melayang kembali keatas permukaan tanah.

Tampak sepasang tangannya kembali di-ayunkan kedepan dua rentetan cahaya emas kembali meluncur keluar.

“Traaang….! Traang….” ditengah suara bentrokan keras, genta emas yang berada ditengah udara kembali saling berbenturan satu sama lainnya kemudian dua batang menjadi satu rombongan dengan sangat teratur terjatuh kembali kedalam tangan Kwan Tiong Gak.

Ilmu silat seperti ini boleh terhitung sebagai suatu kepandaian yang jarang ditemukan dalam Bulim, seketika itu juga membuat semua jago silat yang hadir dalam kalangan jadi terpesona dan memuji.

Setelah menerima kedua belas batang senjata rahasia genta emasnya, dengan wajah tidak merah napas tidak terengah engah ujarnya, “Sedikit permainan cakar ayam tak bisa dikatakan kejadian yang patut dibanggakan, entah apalah saudara saudara sekalian yang hendak memberi petunjuk??”

Walaupun Ke Giok Lang tidak berbicara diluaran, tetapi dalam hati merasa amat kagum dengan permainan Kwan Tiong Gak barusan, pikirnya ;

“Datuk tidak melatih melepaskan senjata rahasia hingga mencapai taraf sedemikian tinggi, sungguh bukan suatu pekerjaan yang gampang.”

Ketika Kwan Tiong Gak tidak mendengar suara jawaban dari seorang manusiapun ia juga berpikir dalam hatinya ;

“Orang orang ini rata rata merupakan Kang ouw yang sudah lama berkelana, kenapa mereka tidak berhasil memahami maksudku yang sebetulnya? Kalau mereka pastikan diri akan berlaku pura pura, terpaksa aku harus berterus terang.”

Karena berpikir demikian iapun segera berkata, “Cu wi sudah melihat permainan cakar ayam dari aku orang she Kwan, kalau merasa puas harap Cuwi sekalian suka memberi muka kepada aku orang she Kwan.”

Mendadak Ke Giok Lang bangun berdiri “Permainan senjata rahasia dari Kwan Cong piauw tauw benar benar luar biasa, tapi masih belum cukup untuk menggetarkan aku orang she Ke serta melepaskan niatku untuk mendapatkan benda tersebut. Orang budiman tidak suka melakukan pekerjaan gelap aku akan menerangkan terlebih dahulu secara terus terang aku Ke Giok Lang sudah bulatkan tekad untuk memperoleh kembali peta rahasia pengangon kambing itu kendati harus membayar dengan suatu nilai yang mahalpun kalau kau Kwan Cong Piaw tauw tidak sayang untuk berberontak dengan diriku, maka masing masing pihak akan menggunakan cara tersendiri untuk memenuhi harapan tersebut, aku akan mengganggu kantor kantor cabang perusahaanmu yang ada diberbagai keresidenan.”

Bicara sampai disitu, ia berpaling dan serunya.

“Lian Hoa, mari kita pergi!”

Dengan langkah lebar ia segera berlalu. Tidak usah diragukan lagi jelas Ke Giok Lang sudah menerangkan sikapnya dalam menghadapi masalah ini, kalau urusan dilanjutkan maka ia akan turun tangan dengan cara apapun juga.

Ke Giok Lang bicara terlalu tajam, hal ini melanggar perasaan halus dari orang orang perusahaan Kauw Wie Piauw kiok. Pui Ceng Yan serta Nyioo Su Jan diam diam berunding sendiri dan bersiap siap menghaJang jalan pergi dari Ke Giok Lang.

Oleh karena ini sewaktu Ke Giok Lang bangun berdiri, Nyioo Su Jan serta Pai Ceng Yan segera menyambut kedatangannya.

Melihat hal itu Kwan Tiong Gak kerutkan dahinya serta ulapan tangannya mencegah.

“Ceng Yan, kita tak boleh bersikap kurang ajar, cepatlah kalian menyingkir dan beri jalan buat Ke Kongcu “

Pui Ceng Yan serta Nyioo Su Jan mengiakan, mereka berdua bersama sama mundur kebelakang, sedang Ke Giok Lang dengan membawa Hoo Lian Hoa pun segera berlalu dengan langkah lebar.

Setelah Ke Giok Lang berlalu. Han Im totiangpun perlahan-lahan bangun berdiri.

“Kwan sicu.” ujarnya sambil tertawa. “Pertemuan malam inipun seharusnya diakhiri sampai disini. Pinto mohon diri terlebih dahulu.”

Dengan membawa serta sutenya ia segera berlalu dari sana.

“Tootiang silahkan berangkat, harap suka memaafkan cayhe tak bisa menghantar,” kata Kwan Tiong Gak sembari menjura.

Kemudian disusul si Dewa api Ban Cat gerta si paderi berjubah abu abu itupun bangun berdiri segera berlalu tanpa berpamitan.

Dalam sekejap mata seluruh jago sudah bubar dan berlalu dari tempat pertemuan.

Sinar mata Kwan Tiong Gak berputar, ia temukan orang yang masih berada ditengah kalangan kecuali Jen Pek To serta seorang temannya masih ada sang pemuda berbaju biru itu tetap duduk ditempat semula tanpa berkutik sama sekali.

Agaknya Kwan Tiong Gak sudah bisa menebak siapakah teman dari Jek Pek To itu, dengan langkah lambat ia segera berjalan mendekati sang pemuda berbaju biru itu, ujarnya seraya menjura, “Kawan, kau tidak mau berlalu tentunya masih ada petunjuk peunjuk kepada aku orang she Kwan bukan?”

Dengan cepat pemuda baju biru itu mengegos, agaknya ia berniat menghindarkan diri dari bentrokan mata dengan Kwan Tiong Gak.

Setelah mendengar ucapan itu mendadak sang pemuda segera berdiri dan berlalu dari sana dengan langkah lebar.

“Kawan, kau berasal dari mana? Dapatkah kau orang tinggalkan nama besar?” teriak Kwan Tiong Gak lantang.

Pemuda berbaju biru itu tetap tidak menjawab, ia semakin mempercepat langkahnya kedepan, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Memandang bayangan punggung sang pemuda berbaju biru yang lenyap dari pandangan. Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Saudara Pui, apakah kan kenal dengan orang ini?”

“Tidak kenal.” dengan cepat Pui Ceng menggeleng.

“Gerak gerik orang ini sangat aneh, kawan atau lawan kita susah untuk dibedakan.”

“Benar selama ini ia tidak pernah melakukan suatu gerak gerik apapun.”

“Juga tidak pernah berbicara sekejap-pun,” sambung Kwan Tiong Gak cepat.

Bicara sampai disitu ia putar badan berjalan kehadapan Jen Pek To, tegurnya dengan suara berat, “Jen heng, kau sungguh bernyali besar berani membawa Sie Tok say thayjien datang kemari menempuh bahaya.”

Belum sempat Jen Pek To menjaga si lelaki yang berada disisinya sudah berebut menjawab, “Jangan salahkan Pek To, aku sendiri yang paksa dia membawa aku datang kemari,”

Mendadak ia tersenyum dan terusnya, “Sungguh tajam penglihatanmu, untuk menyamar saja aku sudah membuang banyak waktu, tidak disangka sekali pandang kau berhasil mengetahui rahasia penyamaranku.”

Orang ini bukan lain adalah penyaruan dari Sie Si Cong, Tok say dari empat keresidenan besar.

Air muka Kwan Tiong Gak berubah amat serius, katanya perlahan, “Thayjien, tempat ini adalah tempat gelanggang jual nyawa, setiap saat bisa terjadi satu pertarungan sengit yang membahayakan jiwa manusia, tubuh thayjien yang berharga mana boleh datang kemari untuk menempuh bahaya. sedikit banyak thayjien tak tahu diri.”

“Oooouuw sudah banyak tahun tak ada orang yang berani berkata demikian dengan diriku.” seru Sie Si Cong sambil tersenyum.

Kwan Tiong Gak seketika jadi tertegun, segera teringat olehnya kalau orang yang sedang ia bicara sebenarnya adalah seorang pembesar tinggi kelas wahid yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal serta menguasai pucuk pimpinan ketenteraan, beberapa patah kata yang di ucapkan memang sedikit keterlaluan.

Buru buru dia menjura, “Thayjien, siauw beng….”

“Kwan heng, aku tidak menyalahkan dirimu,” tukas Sie Si Cong sambil menggeleng dan tertawa. “Hanya saja aku rasa penyaruanku ini belum tentu bisa diketahui oleh mereka.”

“Aaii…. ,! Thayjien, dalam sekali pandang saja cayhe berhasil menemukan penyaruanmu, asal orang yang pernah berjumpa dengan dirimu serta menperhatikan lebih teliti lagi maka mereka segera mengenal dirimu, sebenarnya siauw beng hendak mengikat mereka dengan suatu perjanjian, tetapi melihat thayjien ikut hadir aku tak bisa membiarkan mereka berada disini terlalu lama lagi, terpaksa kubiarkan mereka bubar.”

“Merusak rencana bagusmu, aku merasa menyesal dan minta maaf.”

“Soal perjanjian hanya suatu majalah Kecil, keselamatan thayjien merupakan masalah yang amat besar. Harap thayjien suka mendengarkan perkataan dari siauw heng dan lain kali jangan sekali kali menempuh bahaya lagi”

“Aku mengerti.” sahut Sie Si Cong sambil tersenyum. “Lain kali aku tentu akan bertindak lebih berhati hati….”

Ia mendehem sebentar, kemudian terusnya, “Ada suatu urusan hendak kuberitahukan kepadamu, soal peta rahasia pangangon kambing tersebut telah aku bicarakan dengan besanku Liuw thayjien….”

“Lalu apa yang dikatakan Liuw thayjien?”

“Dia minta aku yang memutuskan persoalan ini. ….”

“Kalau begitu bagus sekali, harap thayjien suka menerima kembali peta rahasia pengangon kambing ini.”

Tapi dengan cepat Sie Si Cong telah menggeleng

“Aku ingin menghadiahkan peta rahasia pengangon kambing ini untukmu,” kata nya sambil tertawa,

“Hadiahkan kepadaku?” tanya Kwan Tiong Gak agak tertegun.

“Tidak salah, aku pikir kalau peta rahasia ini menunjukkan sesuatu tempat penyimpanan harta karun, aku merasa harta karun tersebut tiada guna bagiku, lain halnya kalau harta karun ini kau yang berhasil dapatkan, kau bisa menggunakannya sebagai modal untuk membuka sepuluh buah kantor cabang serta memperluas usahamu.”

“Dia begitu paham terhadap keadaanku. hhmmm keterangan ini berhasil ia dapatkan dari Jen Pek To,” segera pikir Kwan Tiong Gak dalam benaknya.

Karena berpikir demikian tanpa terasa sudah berpaling kearah Jen Pek To. Kembali Sie Si Cong tersenyum. ” Hal inipun tak bisa disalahkan diri Pek To, kalau bukan aku yang desak dirinya terus menerus, tentu saja ia tak berani memberitahukan hal tersebut kepadaku.”

“Thayjien salah tafsir, siauw beng sama sekali tidak bermaksud menyalahkan diri Jen-heng.”

“Kalau begitu sangat bagus. . , .” ia tersenyum dan ujarnya lebih lanjut, “Jikalau di dalam peta rahasia pengangon kambing itu tercatat pelbagai ilmu silat, buat diriku pun tiada berguna, oleh karena itu setelah kupikirkan tiga kali akhirnya aku mengambil keputusan untuk hadiahkan peta rahasia pengangon kambing ini kepadamu, inilah baru tepat pedang mustika sepantasnya untuk pendekar sejati.”

Kwan Tiong Gak tidak langsung menerima pemberian itu, ia termenung sebentar, kemudian katanya, “Maksud Baik thayjin biarlah siauw-beng terima dalam hati saja, terus terang saja siauw beng tidak berani menerima pemberian berharga dari thayjien ini.”

Mendengar penolakan itu agaknya Sia Si Cong merasa sedikit berada diluar dugaan ini berseru tertahan.

“0oouw…. kelihatannya dibalik kejadian ini masih terselip rahasia lain, kau duduklah! kita bicarakan persoalan ini perlahan lahan.”

Kwan Tiong Gak menurut dan segera duduk diseberangnya.

“Thayjin silahkan berbicara!”

“Kenapa begitu banyak jago kangouw yang hendak merebut peta rahasia pengangon kambing ini? “

“Karena dalam pandangan orang orang Bu lim, peta rahasia pengangon kambing ini adalah sebuah benda pusaka yang sangat berharga. kecuali tersimpan sejumlah harta karun yang tak ternilai harganya, tersembunyi pula serangkaian ilmu silat yang luar biasa “

“Jikalau benar orang orang Bu lim menyukainya kenapa kau tidak suka menerima pemberianku ini?”

“Bukannya siauw beng tidak suka, tapi aku tak bisa mengingkari janjiku terhadap para enghiong hoohan yang ada dikolong langit, tadi sudah kukatakan bahwa aku tiada maksud untuk mengangkangi benda tersebut, kalau sekarang thayjien berikan benda pusaka ini kepadaku, bukankah aku akan menjadi seorang manusia yang tidak bisa dipercaya? “

“0ooo…. begitu” Sie Si Cong tersenyum, “Tetapi Pun say tetap menjumpai perasaan yang aneh serta susah mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah peta rahasia ini, entah apa yang harus aku lakukan pada saat ini.”

“Menurut pendapat siauw beng, benda ini tidak mendatangkan keuntungan bagi si-pemiliknya, biarkan benda itu tetap dikolong langit akhirnya akan mendatangkan bencana bagi umat manusia!”

“Jadi maksudmu melenyapkannya.?”

“Sedikitpun tidak salah, harus dilenyapkan dengan demikian bisa terhindar berbagai kesulitan serta kerepotan,”

Sie Si Cong termenung, beberapa saat kemudian katanya.

“Pun say rasa setelah kita musnahkan benda ini maka dikemudian hari akan muncul dua persoalan, masalah ini tak bisa diselesaikan dengan sebaiknya. Apakah orang lain akan percaya kalau peta rahasia tersebut benar benar dimusnahkan? Apakah orang itu mau menerima kenyataan begitu saja? Kwan heng apakah berani kau menjamin setelah peta rahasia itu dimusnahkan maka orang-orang Bu lim tak akan menyelundup masuk kedalam istana untuk mendatangkan kerepotan lagi?”

“Soal ini?, soal ini….” Kwan Tiong Gak kelihatan dibikin agak tertegun.

“Ditambah pula orang itu meninggalkan harta karun serta ilmu silat adalah bertujuan agar benda tersebut bisa digunakan dalam dunia,” sambung Sie Si Cong lebih lanjut, “kalau kita musnahkan peta rahasia ini, bukan kah sama halnya kita sudah menyia-nyiakan hasil kerja orang itu yang dengan susah payah membuat peta tersebut?”

“Asal. , . .! perkataan thayjien sedikit pun tidak salah?” Kwan Tiong Gak menghela napas panjang. “Tetapi mempertahankan peta rahasia ini sama halnya menanam bibit bencana buat kemudian hari, barang siapa yang memperoleh peta rahasia ini tak bisa hidup dengan hati tentram.”

“Kalau didengar memang sangat beralasan ucapanmu itu, padahal dalam kenyataan sama sekali tidak mengena….”

Mendengar perkataan tersebut Kwan Tiong Gak merasa tidak puas.

“Thayjien, dapatkah kau menunjukkan alasan alasannya?” serunya cepat.

Sie Si Cong tersenyum.

“Aku ingin tahu benda apa yang ada di kolong langit tak perlu dapat perlindungan? dari gunung serta sungai sepanjang laksaan li sampai gubuk serta pagar kebun siapa yang-tidak melindunginya, kalau peta rahasia Pengangon kambing ini benar benar adalah sebuah peta pusaka tentu saja ada orang yang hendak merebutnya, dan aku rasa utusan ini merupakan kejadian yang lumrah justru kalau peta pusaka ini tak ada yang mau menggubris atau merebutnya ini baru merupakan suatu berita yang mengherankan bukankah begitu? “

Kwan Tiong Gak merasa apa yang dicapkan memang sangat cengli, hanya saja- ada beberapa bagian yang terlalu dipaksakan. setelah termenung sebentar, katanya.

“Pendapat thayjien menang benar, tapi dalam kenyataan masalah peta pusaka ini sedikit agak berbeda dengan apa yang kau katakan.”

“Dibagian yang mana kau katakan tidak sama? “

“Karena peta rahasia ini tercantum serangkaian ilmu silat yang lihay pun luar biasa.”

“Maka dari Itu semakin tak boleh dibakar lagi….”

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya.

“Jikalau kau sudah bulatkan tekad untuk memusnahkannya lebih baik undang juga beberapa orang jago lihay untuk ikut menyaksikan, dengan adanya beberapa pasang mata yang ikut menyaksikan berarti ada pula beberapa orang yang menjadi saksimu.”

Bicara sampat disitu ia lantas berpaling kearah Jen Pek To, serunya.

“Pek To mari kita pergi?”

Ia bangun terlebih dahulu dan berlalu dari sana dengan langkah lebar.

(Bersambung Jilid 19 )

Jilid 19

BURU BURU Kwan Tiong Gak lintangkan tangan menghadang.

“Thayjien, harap kau suka mengijinkan siaw heng untuk mengutus beberapa orang piauwsu untuk menghantar diri thayjien.”

“Haa…. haaaa…. walaupun aku tidak memiliki kepandaian silat seperti yang dimiliki Kwan Cong Piauw tauw, tetapi aku memiliki kepandaian silat seperti yang dimiliki semangat tidak jeri terhadap segala ancaman bahaya, tidak perlu merepotkan dirimu lagi”.

“Thayjien,” seru Kwsn Tiong Gak kembali setelah tertegun beberapa saat lamanya “Bagaimana kalau berhenti sebentar dan dengarkan sepatah dua patah kata siauw heng?”

Tanpa berpaling lagi jawab Sie Si Cong, “Jangan kau ungkap soal peta rahasia pengangon kambing lagi, tadi sudah kukatakan bahwa barang berharga itu kuhadiahkan untukmu dan tak bisa kuterima lagi, bagaimana kau hendak menyelesaikan masalah tersebut itu urusan pribadimu sendiri.”

Selesai berkata tanpa berhenti lagi ia terus berjalan dan lenyap dibalik hutan.

Menanti Sie Si Cong serta Jen Pak To telah berlalu, Kwan Ciong Gak segera berbisik.

“Saudara Poei, bawahlah Giok Long serta Toa Lek mengikuti dari belakang Sio thayjien sembari diam diam melindungi keselamatannya, kalau terjadi sesuatu peristiwa barulah kirim kabar kepadaku.”

Poei Ceng Yan mengiakan dengan membawa Liem Toa Lek berdua mengintil dari belakang Sie Si Cong.

Setelah ketiga orang itu berlalu, Nyioo Su Jan berjalan mendekati Cong Piauw tauw ya sembari bertanya, “Cong Piauw tauw kau bermaksud hendak menyelesaikan masalah peta rahasia ini dengan cara bagaimana??”

“Aku telah berubah pendapat”

“Kau hendak berbuat bagaimana?”

Kwan Tiong Gak mendongak ke atas dan termenung sebentar, lalu jawabnya lambat lambat, “Aku bermaksud untuk kumpulkan seluruh jago yang kita miliki dari perusahaan Hiaw Wie Piauw kiok kemudian sekuat tenaga berusaha mendapatkan harta karun yang terpendam menurut catatan diatas peta rahasia ini aku pikir jumlahnya harta itu tentu ternilai harganya”.

“Setelah menemukannya, Cong Piauw tauw bermaksud hendak menyelesaikan soal ini secara bagaimana?”

“Barang siapa yang ikut serta dalam gerakan ini akan memperoleh jumlah enak menikmati hidupnya sampai akhir hayat, tapi tidak boleh terlalu banyak, sedang sisanya kita sumbangkan untuk rakyat jelata atau untuk membantu bencana yang menimpa.”

“Agaknya Cong Piauw tauw benar ada maksud mengakhiri usaha perusahaan ekspedisi Hauw Wie piauw kiok kita?”

“Su Jan.” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa getir “Kita sudah berhasil merebut sedikit nama didalam dunia persilatan, sekalipun sungguh sungguh hendak gulung tikarpun bukan Suatu masalah yang gampang.”

Ia merandek untuk menghela napas panjang, kemudian tambahnya, “Sie thayjien adalah seorang pembesar budiman, ia bersemangat jantan berpikiran lurus dan merupakan seorang pembesar dengan sifat yang mulia. dalam masa ini kalau bisa muncul beberapa orang pembesar negeri lagi semacam Sie thayjien, maka rakyat akan hidup sentosa serta gembira, tetapi dia adalah seorang pembesar tinggi, banyak urusan tak bisa ia lakukan sendiri.”

“Maksud Cong Piauw tauw, Sie thayjien memberikan peta rahasia pengangon kambing itu kepadamu adalah bermaksud agar kau wakili dirinya menemukan gudang harta tersebut?”

“Dia adalah seorang pembasar negeri kelas satu dalam pemerintahan saat ini, perkataan serta sikapnya tentu saja harus kita pikirkan sendiri.”

“Cong Piauw tauw, aku rasa peta rahasia pengangon kambing itu susah dipertahankan menurut pendapat hamba lebih baik kita serahkan kembali kepada Sie thayjien, asalkan kita tak membawa peta rahasia pengangon kambing itu maka kawan kawan dunia persilatan tentu suka menjual muka untuk kita”

Kwan Tiong Gak tidak menjawab, ia segera berpaling kepada diri Ih Cun.

“Suruhlah mereka berikan barang barang dan kita segera Kembali kekantor pemerintahannya.”

“Terima perintah,” dengan cepat Ih Cun menjura.

“Su Jan, mari kita berangkat terlebih dahulu!”

Nyioo Su Jan mempercepat langkahnya berjalan sejajar dengan Kwan Tiong Gak sambil bertanya, “Harta karun yang termuat didalam peta rahasia pengangon kambing hanya merupakan suatu berita saja didalam dunia persilatan, benarkah dikolong langit ada kejadian seperti ini masih susah di duga. Cong Piauw tauw demi persoalan yang sama sekali tiada suatu patokan yang bisa dipegang apa gunanya kau mengikat tali permusuhan dengan orang orang Kang ouw….”

“Pada setengah jam barselang akapun pernah berpikir demikian.”

“Jadi Cong Piauw tauw mempunyai pandangan lain”

Kwan Tiong Gak mengangguk. “Tempo dulu sewaktu aku mendirikan perusahaan Expedisi Hauw Wie Piauw Kiok, dengan seorang diri kuterjang keutara malang melintang ke Selatan dengan tujuan menanamkan fondasi yang kuat buat perusahaan kita, dan kini perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok telah memiliki berpuluh puluh kantor cabang diperbagai tempat, jumlah Piauw su sudah melebihi seratus orang didaerah utara maupun selatan terhitung sebagai sebuah perusahaan Piauw kiok yang terbesar, kalau membicarakan soal nama kita sudah harus merasa puas.

Tapi,pikiranku saat ini kosong melompong. sedikitpun tiada bedanya ketika aku masih berkelana didalam dunia persilatan, tahukah kau apa sebabnya?”

“Sepuluh kantor, seratus orang Piauw su serta ribuan pembantu telah menggantungkan nafKah hidup mereka pada perusahaan kita-ini berarti menambah berat beban Cong Piauw tauw”

“Hal itu bukan merupakan alasan yang terutama.” tukas Kwan Tiong Gak sambil menggeleng. “Dagangan perusahaan Piauw kiok kita sangat baik sekalipun memelihara beberapa orang lagipun bukan suatu masalah yang rumit, orang kangouw yang berani mengganggu barang kawalan kitapun tidak banyak, terhadap persoalan ini aku hanya membuang waktu dengan percuma saja. Jerih payah kita selama banyak tahun ini sudah mengumpulkan banyak sekali pun kita harus berhenti dan membagikan harta untuk semua orang pun masih cukup buat kita untuk hidup sepuluh delapan tahun lagi.”

“Jikalau demikian adanya. Cong Piauw tauw tentu mempunyai kesulitan lain.”

“Sekalipun tidak salah, orang-orang kang Ouw semuanya memanggil aku dengan sebutan Cong Piauw tauw, hal ini dikarenakan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita makin besar dan luas, nama Kwan Cong Piauw tauw pun makin hari makin nyaring. Tetapi bagi diriku sendiri sebutan ini sama sekali tidak Mendatangkan kegembiraan buat diriku bahan sebaliknya mendatangkan rasa rikuh karena seolah olah tujuanku hanya mengejar nama serta harta belaka.”

“Ehmm….tentang soal ini hamba paham,” Nyioo Su Jan mengangguk.

“Kau sungguh sungguh paham?”

“Hamba percaya benar benar paham.”

“Kalau begita bagus sekali, sekarang coba kau katakan, biarlah aku mendengarkan uraianmu itu,”

“Bakat setia kepandaian silat Cong Piauw ta»w sangat sempurna, tapi dalam soal harta serta nama telah tak bisa memuaskan hatimu.”

“Ucapanmu memang benar tapi salah! teruskan!” kata Kwan Tiong Gak dengan sepasang alis berkerut.

“Cong Piauw-tauw ingin meninggalkan suatu kenangan yang mendalam dikolong langit ini.”

Mendengar perkataan tersebut Kwan Tong Gak mendongak tertawa terbahak-bahak.

“Su Jan, dugaanmn sudah hampir benar hanya aku tidak berpikir seperti apa yang kau ucapkan barusan aku hanya ingin melakukan beberapa pekerjaan yang menguntungkan bagi umat manusia, agar meninggalkan sedikit kenangan dihati orang orang kemudian hari, dengan demikian hidupku kali ini pun tak terhitung sia sia belaka.”

“Maka dari itu secara mendadak Cong Piauw tauw hendak berubah niat dan ingin meminjam kekuatan Hauw Wie Piauw kiok untuk menemukan letak harta karun tersebut kemudian menyebarkan benda berharga itu kepada rakyat jelata?”

“Benar.” Kwan Ttong Gik mengangguk “Aku pikir dengan berbuat demikian jauh lebih menguntungkan dan lebih mulia dari pada setiap hari berkelana didalam dunia persilatan hanya dikarenakan mengejar harta serta nama belaka.”

“Perkataan Cong Piauw tauw sedikitpun tidak salah, kalau Cong Piauw merasa bahwa aku orang she Nyioo masih bisa di butuhkan cayhe rela mengikuti jejakmu.”

“Bagus sekali justru aku hendak meminjam tanganmu.”

Sembari berkejap kedua orang itu meneruskan perjalanannya, tidak terasa lagi mereka telah tiba dikantor cabang parusahaan Hauw Wie kiok.

Belum lama mereka berdua duduk di-ruangan tengah Pui Ceng Yan serta Lim Toa Lek sekalipun telah tiba pula dalam kantor,

“Toako.” ujar Poei Ceng Yan sembari menjura. “Siauwte sekalian telah melihat Sie thayjien tiba didalam istananya dengan selamat.”

“Bagus sekali, semua orang sudah sibuk satu malaman penuh, sekarang pergilah beristirahat semua, besok pagi aku masih ada urusan hendak dirundingkan dengan kalian.”

“Toako, bukankah malam ini juga kita akan berangkat pulang ke Utara,”

“kuda kuda sudah dibari makan kenyang. pelana segera dipasang begitu ada perintah” sambung Liem Toa Lek.

Kwan Tiong Gak tersenyum.

“Kau suruhlah aku telah mengubah rencana untuk sementara tidak akan berangkat”

“Aiaaa….,…. .!” Poei Cong Yan berseru tertawa “Toako, selama banyak tahun siauwte baru untuk pertama kalinya melihat bagaimana lihaynya permainan senjata rahasia Kiem Ling Piauw mu dan untuk pertama kalinya pula mendengar toako berkata demikian.”

“Benar. saudara Siauwte telah mengubah rencana semula, sewaktu kalian pergi menghantar Sie thayjien tadi.”

“Toako” seru Pui Ceng Yan kemudian, Setelah termenung sebentar “Kau hendak mengubah rencanamu secara bagaimana? dapatkah diutarakan agar Siauwte ikut mengerti?”

“Tentu saja boleh.”

“Bagaimana dengan, perusahaan Piauw kiok kita?”

“Untuk sementara berhenti bekerja.”

“Toako, menurut keadaan pada tahun berselang sebelum tutup tahun merupakan saat saat paling repot buat kita, tahun baru ini kita sudah ada setengah tahun lamanya kita beristirahat, dan kebanyakan dagangan datang pada pemulaan tahun ini, toako kita tak akan bisa menolak datangnya permintaan permintaan yang makin meningkat ini!”

Kwan Tiong Gak termenung sebentar kemudian mengangguk.

“Perkataanmu sedikitpnu tidak salah, maka dari itu saudara kau akan lebih repot lagi.”

“Toako bersikap, sangat baik terhadap siapa pun piauwsu yang ada dalam perusahaan pun semuanya bersedia mengorbankan jiwa demi Toako, mau suruh siauwte terjang lautan api naik kegunung golok, tak akan ku tolak asal ada perintah dari dari toako,”

“Cepatlah kau kembali kekantor pusat dan instruksikan seluruh kantor cabang untuk sementara jangan menerima pesanan pesanan bagi mereka yang telah diterima pesanan berusaha antuk dibatalkan,”

“Kalau tidak berhasil dibatalkan?”

“Terpaksa kita harus pikul sendiri!”

“Jika kudengarkan nada psmbicaraan toako, agaknya sudah ambil keputusan untuk membubarkan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita?”

“Aaaai…. saudara perusahaan Hauw Wie piauw kiok kita sudah berkembang sampai batas batasnya, kalau kita bekerja teruspun teetap akan seperti ini. Pepatah mengatakan. genting tak akan pecah kalau tidak terjatuh dari atas, panglima tak akan binasa kalau tidak maju perang, kalau perusahaan kita teruskan pada suatu hari merek emas kita akan dihancurkan orang, dari pada terjadi peristiwa semacam ini lebih baik sekarang juga kita mengundurkan diri terlebih dahulu dengan demikian Kita masih bisa mempertahankan sedikit nama baik.”

Agaknya Poei Ceng Yan masih merasa tidak setuju dengan cara kerja Kwan Tiong Gak ini, tapi ia tidak banyak bicara lagi, setelah termenung sejenak katanya, “Baiklah, kalau memang toako sudah mengambil keputussn demikian siauwte pun tak akan banyak berbicara lagi, entah kenapa siauwte boleh berangkat?”

“Tentu saja, lebih cepat lebih baik.”

“Baik! Sekarang juga siauwte akan berangkat, Toa Lek suruh orang siapkan kuda buat diriku….”

“Tidak perlu begitu tergesa gesa” cegah Kwan Tiong Gak sambil tertawa. “Ini hari adalah permulaan tahun, berangkatlah setelah lewat ini hari, lagi pula aku masih ada urusan lain yang hendak dirundingkan dengan dirimu.”

“Toako masih ada urusan apa? kalau kita tinjau dari nada pembicaraan Toako agaknya urusan sangat mendesak tinggal satu atau tanggal dua hanya terpaut satu hari sedikit-pun tidak perbedaan.”

Mendengar ucapan itu Kwan Tiong Gak tertawa terbahak bahak.

“Haaa …. haaaa….dalam hatimu lagi mangkel sekali kendati tak kau utarakan aku bisa melihatnya sangat jelas, hubungan persahabatan kita selama banyak tahun….”

“Toako kau jangan salah paham,” tukas Poei Ceng Yan cepat. “Sekalipun siauwte merasa mangkelpun tak akan merasa benci terhadap toako, hanya ssja….”

“Aku paham”. Kwan Tiong Gak tersenyum. “Hal ini hanya bisa salahkan aku tak menerangkan perkataanku sejelas jelasnya.”

“Kalau Toako suka menerangkan perkataanmu, hal ini jauh lebih baik lagi….”

“Hal ini merupakan perubahan pandangan seseorang. Saudara, apa yang diucapkan Sie thayjien kemarin malam apakah Cuwi sudah mendengar?”

“Sudah mendengar “

“Kita berhasil memiliki kepandaian silat bagaimana pun juga tak bila bekerja sebagai pengawal barang sepanjang hidup, apa lagi kita telah berhasil mengumpulkan banyak uang sekalipun perusahaan dibubarkan masih cukup untuk membiayai penghidupan kita selanjutnya. Kita harus menggunakan masa hidup selanjutnya ini untuk melakukan perbuatan yang menguntungkan bagi umat manusia.”

“Toako bersiap sedia hendak melakukan apa?”

“Mengikuti peta rahasia ini mencari sampai dapat harta karun yang terpendam kemudian menggunakan benda benda berharga itu untuk menolong sesama manusia yang menderita di kolong langit.”

Poei Ceng Yan termenung sejenak, katanya, “Siauwte merasa setuju dengan maksud mulia Toako hendak menolong sesama manusia, tapi dengan berbuat demikian kita mengikat tali permusuhan dengan Bu lim.”

“Tentang soal itu aku tahu, maka dari itu aku hendak menghentikan semua kegiatan perusahaan kita dari pada mereka menimpahkan hawa amarah tersebut pada perusahaan kita dan melukai pelancong serta pedagang yang sama sekali tak terlibat dalam hal ini.”

“Burung lewit meninggalkan suara, manusia mati meninggalkan nama, dengan berbuat demikian nama besar Toako akan tetap tercatat dihati semua orang selama ratusan tahun lamanya, hal ini tentu saja membanggakan diri kita. Tetapi Toako tidak berpikir bagaimana dengan penghidupan selanjutnya dari beribu ribu anggota perusahaan apa bila kita tutup semua kantor cabang perusahaan Hauw Wie Piauw kok? apakah kau hendak mengorbankan diri mereka?”

“Akupun tahu urusan ini tidak gampang untuk menyelesaikannya, maka dari itu aku minta saudara suka bekerja secara terpisah membereskan kesulitan ini, aku pikir paling lambat tiga bulan, seluruh kantor cabang harus ditutup semua, aku segera kembali keibu kota untuk kirim kabar dengan burung merpati sedang kau dari sini langsung berangkat kepelbagai kantor cabang untuk memberi perintah jangan menerima pesanan lagi, beruntung dalam kantor cabang masih tersimpan sejumlah uang, suruhlah tiap Piauw su yang bertanggung jawab dalam kantor cabangnya membagikan uang secara merata dan bubarkan seluruh anggota agar mereka mencari nafkah hidup lain….”

“Jikalau mereka tidak mau bubar?” tanya Pui Ceng Yan.

“Mereka harus dibubarkan, perjalanan kita kali ini untuk mencari harta bukan seperti pengawal barang kawalan biasa. orang-orang yang kita hadapi adalah jago jago lihay Bu lim kelas wahid, apakah tidak sayang mengorbankan jiwa dengan percuma?”

“Perkataan toako sedikitpun tidak salah, siauwie segera akan terangkat….”

“Beristirahatlah malam ini, besok pagi baru berangkat.”

“Baiklah perjalananku kali ini mungkin akan membutuhkan waktu selama dua bulan lebih. setelah urusan selesai aku segera kembali kekantor pusat untuk menjumpai toako.”

“Tak usah, setelah urusan selesai kembalilah kekota Ka Hong, aku pun segera akan berangkat kemari.”

Setelah rencana disusul mereka pergi beristirahat.

Keesokan harinya pagi pagi sekali Pui Ceng Yan sudah berangkat melakukan perjalanan.

Setelah menghantar Pui Ceng Yan berangkat. Kwan Tiong Gakpun menyerahkan beberapa pesan kepada diri Liem Toa Lek, “Setelah aku pergi, kau harus berhati hati, jikalau Sie thayjien kirim orang mencari aku katakan saja aku telah berangkat ke ibu kota, paling lambat tiga bulan lagi akan tiba kembali kemari, waktu itu aku bisa pergi menjumpai dirinya diistana.”

“Hamba akan mengingat-ingat,” Liem Toa Lek segera menjura.

“Tanda merek perusahaan Hauw Wie-piauw kiok yang ada didepan pintupun boleh diturunkan, mulai sekarang tak usah menerima pesanan lagi.”

“Hamba akan, segera perintahkan mereka untuk melaksakannya.”

Kwan Tiong Gak tertawa.

“Untuk sementara waktu orang-orang yang ada dikota Kay Hong tak perlu dibubarkan dulu, setelah tiba di ibu kota aku akan pilih beberapa orang Piauwsu berkepandaian tinggi untuk datang lebih dahulu ke kota Kay Hong dan membantu urusanmu di sini.”

Bicara sampai disini ia alihkan sinar matanya ke arah Nyioo Su Jan serta Lie Giok Liong terusnya, “Su Jan, kau serta Giok Liong dan Ih Cun tetap berdiam disini, tak usah pulang kekantor pusat lagi.”

“Kami turut perintah,” ketiga orang itu bersama sana menjura.

Setelah meloncat naik keatas kudanya Kwan Tiong Gak melarikan binatang tersebut kedepan untuk melakukan perjalanan.

Menanti bayangan punggung dari Cong Piauw tauwnya telah lenyap dari pandangan senua orang baru kembali keruangan tengah,

Liem Toa Lek segera menjura ke arah Nyioo Su Jan sembari berkata, “Nyioo heng, membicarakan soal pengalaman kecerdikan kau jauh lebih hebat dari siauwte, sejak Cong Piauw tauw berlalu harap urusan disini bisa diputusi oleh Nyioo heng.”

“Soal ini. .soal ini….”

“Nyioo heng tak perlu merendah lagi. siauwte akan mendengarkan semua perintah mu.”

Buru-buru Nyioo Su Jan menjura.

“Jikalau demikian adanya, siauwte akan menurut saja….”

Ia merandek sejenak, demikian terusnya, “Cong Piauw tauw serta Hu Cong Piauw tauw telah meninggalkan tempat ini, berita tersebut dengan cepat akan diketahui oleh si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang, kecuali Cong Piauw tauw telah mengadakan persiapan atau Ke Giok Lang telah pergi mengejar Cong Piauw tauw. Asalkan ia tetap berada dikota Kay Hong maka ia pasti berusaha untuk menghadapi kita, maka dari itu kita harus bertindak lebih berhati hati. Harap Cu-wi pikirkan cara apa yang bagus untuk mengatasi masalah ini. nanti sore kita berunding lagi untuk mencari satu akal untuk membendung usaha Ke Giok Lang ini.”

 

[bersambung]