ambang naga panji naga sakti 09
“Suruh mereka turunkan pelan pelan
itu malam ini kita tidak jadi berangkat.”
“Toako sudah berubah pikiran?”
Kwan Tiang Gak tertawa getir.
lambat lambat ia berjalan kesisi tungku api dan duduk.
“Sie Tok say adalah seorang
pembesar budiman.” katanya. “Susah buat kita untuk berjumpa dengan
pembesar budiman semacam dia, setelah Siauw heng bicarakan beberapa
saat dengan dirinya, tak tahan aku terpaksa, ikut campur dalam
urusannya.”
“Ikut urusan apa?”
“Urusan peta rahasia pengangon
kambing Sie ToK-say telah menyerahkan peta rahasia, tersebut kepada
siau heng dan aku telah mengadakan perjanjian dengan para jago,
besok malam akan membuka perjamuan di tepi telaga She Yang Auw hutan
pohon Liauw untuk menyelesaikan persoalan ini.”
“Cong Piauw tauw, bukankah dia ini
mencari repot buat diri sendiri?” tanya Nyioo Su Jan.
Air muka Kwan Tiang Gak berubah
jadi amat serius.
“Manusia, kadang kadang lebih baik
mencari sedikit hal yang merepotkan.”
Sinar matanya dialihkan keatas
wajah Lim Toa Lek dan sambungnya lebih lanjut, “Toa Lek, hal ini
harus merepotkan diri mu.”
“Hamba menanti perintah.” dengan
cepat Lim Toa Lek berseru.
“Besok pagi adalah tanggal satu
tahun baru, semua rumah makan pada tutup dan beristirahat,
mempersiapkan sayur serta arak bukan Suatu urusan yang gampang, aku
rasa pihak koki harus bekerja lembur.”
“Ooobw…. …. urusan itu gampang
sekali.”
“Baik! Aku telah berjanji akan
berjumpa dengan mereka pada kentongan pertama, karena itu sebelum
kentongan pertama, kau harus mempersiapkan empat meja perjamuan yang
diatur didalam hutan pohon Liauw tepi telaga Shen Yang Auw.”
“Harap Cong Piauw tauw berlega
hati, hamba tak akan salah bekerja.”
“Toa to!” tiba tiba Poei Ceng Yan
berseru.
“Siapa saja yang kau undang dalam
perjamuan besok malam??”
Kwan Tiong Gak termenung sebentar,
kemudian jawabnya, ” Kemarin malam mereka menyelundup masuk kedalam
istana Tok Say, siapakah orang orang itu siauw heng tidak berhasil
menemui nya dengan jelas, tapi dapat kuketahui ke Giok Lang tidah
termasuk diantaranya. yang jelas orang orang itu terdiri dari jago
jago lihay Bu Lim.”
“Apakah Toako bermaksud menghadiri
pertemuan itu seorang diri?”
“Kali ini aku hendak minta bantuan
kalian. Su Jan, Toa Hauw. Giok Long sekalian semua ikut….”
Ia merandek sejenak lalu terusnya
;
“Sekarang kita harus beristirahat
semua, Besok sore kita akan mengatur rencana.”
Semalam lewat dengan cepatnya,
ketika sore harinva telah menjelang datang Kwan Tiong Gak pun mulai
mengatur tugas untuk masing masing anak buahnya
Ketika malam hari kembali
menjelang para jago jago secara beriring bersama sama berangkat
kedalam hutan pohon Liuw ditepi telaga She Yan Auw.
Sejak tadi Liem Toa Lek sudah
menanti didalam hutan, ditepi telaga Shen Yang Auw yang sunyi
terdapatlah empat meja perjamuan yang sudah diatur sangat rapih.
Walaupun malam ini adalah suatu
malam yang bersih dan terang, tapi hawa dingin sangat menusuk badan,
bintang bertaburan di angkasa menambah sunyinya suasana.
Perlahan lahan Kwan Tiong Gak
tarik napas panjang panjang.
“Sekarang sudah jam berapa?”
“Hampir kentongan pertama,” sahut
Liem Toa Lek cepat.
“Coba pasanglah lentera dan
perintahkan para koki untuk mempersiapkan sayur dan hidangkan diatas
meja perjamuan.”
“Semuanya telah siap. tak akan
kacaukan urusan.”
Bicara sampai disitu orang she
Liem ini lantas berpaling pada dua orang pembantunya
“Pasang lampu dan naikkan
lentera.”
Cahaya api nampak berkilat,
sebentar saja delapan buah lentera sudah digantungkan diempat
penjuru diujung pohon liuw api tungku berkobar kobar, dua orang
koki-memasang wajan dan mulai melakukan kerjanya.
Seketika bau harum tersebar
menusuk hidung membuat napsu bersantap menyerang dihati setiap
orang.
dengan membawa enam orang, dua
orang koki dan empat orang pembantu yang cakap untuk membereskan
semua urusan.
Walaupun jumlah orang sangat
sedikit tapi setiap orang cakap dan pandai bekerja, dalam sekejap
mata lampu sudah dipasang dan mangkuk serta sumpit sudah dihidangkan
diatas meja.
Kwan Tiong Gak dengan memakai
seperangkat pakaian ketat berwarna Hitam dengan jubah terbuat dari
kulit macan berdiri disebelah Timur menantikan kehadiran tetamunya
Poei Ceng Yan serta Nyioo Su Jan berdiri berjajar dibelakangnya.
Sedangkan Thio Toa Hauw, Lie Giok
Liong serta Lie Can masing masing membawa dua orang pembantu berjaga
disudut sudut yang berbeda.
Belum lama sayur dan arak
dihidangkan mendadak terdengar suara gelak tertawa seseorang
berkumandang datang.
“Kwan heng, kau sungguh pandai,
melakukan sesuatu yang aneh dan menarik. ditengah hawa dingin yang
menusuk badan ternyata kau hendak menjamu tetamu didalam hutan pohon
Liuw diatas permukaan salju yang dingin menusuk badan ini Siauwte
sudah menjelajahi hampir tiga belas keresidenan di daerah Selatan
tapi baru saja pertama kali ini menghadiri perjamuan macam begini.”
Sembari berkata muncullah seorang
pemuda, dia bukan lain adalah si Hoa Hoa Kong cu, Ke Giok Lang.
Dia, tetap memakai jubah biru
dengan topi model siangkong, tangannya mencekal sebuah kipas dan
berjalan mendekat dengan langkah tenang.
Sebelum sempat Kwan Tiong Gak buka
suara, Nyioo Su Jin telah buru buru menyambut, ujarnya sembari
menjura, “Nyioo Su Jan mewakili Cong Piauw-tauw menyambut kedatangan
tetamu terhormat, silahkan Ke Kongcu ambil tempat duduk.”
Dengan pandangan dingin Ke Giok
Lang memandang sekejap kearah Nyioo Su Jan, lalu tanpa mengucapkan
sepatah katapun ambil tempat duduk dan tak bergerak lagi.
Mengikuti dari belakang Ke Giok
Lang meluncur datang segulung angin angin berbau harum, seorang dara
berpakaian ketat warna hijau dengan celana berwarna hijau ikat
kepala warna hijau serta menyoreng sebilah pedang laksana kilat
melewati Nyioo Su Jan dan duduk tepat dihadapan Ke Giok Long.
Dibawah sorotan sinar lentera,
dapat dilihat dara berbaju hijau itu mempunyai paras muka yang
sangat cantik dengan sepasang mata yang jeli serta bibir yang kecil
mungil.
Agaknya Ke Giok Long merasa tidak
puas atas tindakan Kwan Tiong Gak yang tidak menyambut sendiri
kehadirannya, tanpa memperdulikan diri orang she Kwan lagi ujarnya
kepada dara berbaju hijau itu, “Sejak dulu pertemuan tidak bakal ada
pertemuan ysng baik, biasanya perjamuan selalu diadakan diatas
loteng yang indah atau ruangan yang megah. Lain halnya dengan
perjamuan yang diadakan malam ini ditengah hutan yang dingin dan
terpencil, kalau ditinjau keadaan sekitar sini seharusnya perjamuan
ini disebut sebagai perjamuan Pah Ong!”
“Ke Kongcu,” timbrung Nyioo Su Jen
lambat lambat, “perjamuan yang di adakan Cong Piauw tiauw di malam
ini disebut perjamuan Ciang Thaykong memancing ikan, siapa yang mau
hadir sama halnya kena terpancing . .”
“Hm, sudah lama kudengar orang
orang perusahaan Hauw Piauw kiok pandai berbicara ternyata ucapan
ini sedikitpun tak salah.” jengek Ke Giok Lang sambil tertawa,
“Ke Kongcu terlalu memuji, padahal
dalam kenyataan kalau di bicarakan siapa yang pandai bicara aku
orang she Nyioo masih tertinggal apabila dibandingkan dengan diri Ke
Kongcu.”
Sreeet….! Ke Ciok Lang
membentangkan kipasnya dan mulai menggoyangkan benda tersebut
kendati berada ditengah cuaca yang sangat dingin, katanya sambil
tertawa
“Aku orang she Ke memang suka
banyak bicara, tak aneh kalau kau pun sukar menutup mulut. Tapi
disini terdapat pula seorang gadis perawan, istilahmu memancing
ikan, benar benar terlalu menghina dirinya, kau sepatutnya
memperoleh tamparan keras.”
Baru saja ia menyelesaikan
kata-katanya mendadak gadis berbaju hijau itu meloncat bangun dan
laksana kilat mengirim sebuah serangan,
Nyioo Su Jan tidak menyangka kalau
dara berbaju hijau itu bisa melancarkan serangan mendadak bahkan
serangannya tepat dan cepat, untuk menyingkir tak sempat lagi, tidak
ampun pipi kirinya kena ditampar satu kali, saking kerasnya bukan
saja wajah jadi merah membengkak bahkan tertera pula bekas lima
telapak.
Sewaktu turun tangan gerakan yang
dilakukan dara berbaju hijau itu sangat cepat-waktu menarik kembali
tangannya pun luar biasa cepatnya tidak menanti Nyioo Su Jao
melancarkan serangan balasan ia sudah mundur kembali ketempatnya
semula.
Nyioo Su Jan mundur dua langkah
sambil memegangi pipi kirinya dan berdiri termangu mangu disana,
bukan saja ia dibuat terperanjat atas kecepatan gerak dara berbaju
hijau itu bahkan Iapun merasa bingung apa yang harus dilakukan pada
saat ini.
Terdengar Ke Giok Lang tertawa
terkgelak.
” Hahahaha…. sungguh tepat sekali
tamparan ini! Tidak terlalu perlahanpun tidak terlalu berat, bukan
saja telah menghukum mulutnya yang dipentang seenak sendiri bahkan
tidak sampai melukai perasaan, lebih laik cepat cepatlah kau mencari
kesempatan untuk mengundurkan diri!”
Jelas dua patah perkataan terakhir
sengaja ditujukan kepada diri Nyioo Su Jan.
Nyioo Su Jan adalah seorang jago
yang banyak pengalaman dan terlatih, ia tahu apabila di sebabkan
dirinya kena di tampar dan mencari gara gara dalam keadaan seperti
ini perjamuan yang di selenggarakan oleh Cong Piauw tauw pasti akan
mengalami kekacauan oleh sebab itu tetap bersabar diri.
Pada saat itulah dengan langkah
lebar Pui Ceng Yan berjalan mendekat serunya, “Su Jan, tak perlu
kita ribut dalam Keadaan seperti ini. Legi pula seorang lelaki
sejati tidak usah banyak mencari urusan dengan kaum wanita. Kau
mundurlah untuk beristirahat, biarlah aku yang melayani Ke-Kongcu
serta nona ini.”
Nyioo Su Jan menghela napas,
perlahan lahan ia mengundurkan diri kebelakang.
Setelah orang she Nyioo
mengundurkan diri, Pui Ceng Yan baru alihkan sinar matanya kearah
dara berbaju hijau itu ujarnya dingin, “Gerakan nona sewaktu turun
tangan sungguh cepat sekali, aku orang she Pui merasa kagum….”
“Saudara ini adalah Hu Cong Piuw
tauw dari perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw kok,” tukas Ke Giok
Lang memperkenalkan. “Orang orang menyebut dirinya sebagai si “Thiat
Ciang Kiem Huan” atau telapak besi berselang emas, ilmu telapak
Thiat Sang Ciang nya telah berhasil dilatih hingga mencapai tarap
menghancur lumatkan batu nisan.”
“Ooouw…. Ke Kongcn terlalu memuji
kepandaian cakar ayam dari cayhe, hal ini membuat siauwte merasa
amat malu.”
Ke Giok Long tersenyum,
perlahan-lahan Ia berpaling dan ujarnya, “Poci Ao Cong Piauw tauw,
kenalkah kau dengan nona ini?”
“Aku orang sha Poei jarang sekali
berkenalan dengan kaum wanita, maaf aku tidak mengenalnya.”
“Tidak mengenalnya memang sangat
tepat sekali dalam penggunaan katamu, sekali-pun kau tidak kenal
siapakah nona ini, toh kau kenal bukan dengan ayahnya si Pancingan
sakti Hoo Tong??”
“Jadi dia adalah Hoo Lian Hoa,
nona Hoo?” seru Poci Ceng Yan tertegun, “Sedikitpun tidak salah, dia
bukan lain adalah nona Hoa. Hoo Lian Hoa yang dicari kesana kemari
oleh Tui Hong Hiap atau pendekar pengejar angin Cing Lok San!”
“Maaf, maaf…. cayhe pernah
berjumpa satu kali dengan ayahmu.” kata orang she Poei lagi seraya
menjura.
Hoo Lin Hoa tertawa hambar.
“Kawan ayahku sangat banyak, orang
yang pernah berjumpa sekali dengan beliau sudah tak bisa dihitung
lagi dengan jari.”
Ketenggor batunya Poei Ceng Yan
terpaksa mendehem perlahan.
“Si pendekar pengejar angin Cing
Jieya pernah berjumpa dengan diriku beberapa hari berselang.”
katanya perlahan. “Dengan menempuh hujan salju ia melakukan
perjalanan kesana kemari untuk mencari kabar berita dari nona, entah
dia sudah menjumpai diri nona belum?”
“Paman Cing Jie siok sudah
kujumpui.”
“Apakah nona tidak pulang bersama
sama dirinya?”
“Soal ini adalah urusan kami
pribadi, tak usah orang ikut merasa khawatir.” tegur Hoo Lian Hoa
dengan alis berkerut.
Mendengar jawaban yang hambar Pui
Ceng Yan tertawa pahit.
“Nona, ayahmu si pancingan sakti
Hoo Tong Adalah seorang jago yang tersohor dikolong langit. ….”
“Ayahku punya nama besar didalam
kolong langit atau tidak, apa sangkut pautnya dengan dirimu?” tukas
dara she Hoo itu dingin.
“Aku sangat mengagumi ayahmu.”
“Kau sangat kagum dengan ayahku,
pergilah mencari ayahku, apa sangkut pautnya dengan diriku?”
Diam diam Tui Ceng Yan salurkan
hawa murninya melakukan persiapan, kemudian ambil menghela napas
panjang katanya, “Cayhe ikut merasa sedih dan menyesal atas
perbuatan diri nona….”
“Apa yang perlu kau sesali? apa
yang perlu kau sedihkan??”
“Aku merasa menyesal karena nona
tidak tahu diri dan tidak bisa membedakan mana orang baik mana orang
jahat. Didalam dunia persilatan Ke Kongcu mempunyai sebuah sebutan
entah tahukah nona akan hal ini?”
“Bukankah Hoa Hoa Kongcu?”
“Sedikitpun tidak salah, setelah
kau tahu siapakah dirinya, kenapa kau masih hantarkan diri kemulut
macan?”
Mendengar perkataan itu Hoo Lian
Hoa jadi amat gusar.
“Kurang ajar, kau orang melihat
Sam-kok mengucurkan air mata, merasa risau bagi orang orang kuno….”
“Sekalipun nona tidak mau
mendengarkan cayhe pun akan selesaikan perkataanku, hal Inipun
merupakan hal yang membuat cayhe mewakili ayahmu merasa sedih,
terang terang kau nona tahu bahwa dirimu sedang mengantarkan diri
kemulut mscan, kenapa kau justru memilih jalan tersebut? Bukankah
perbuatanmu ini akan menghancurkan nama baik ayahmu?….”
Ke Giok Lang yang selama ini tidak
banyak bicara mendadak menukas, “Pui Hui Cong Piauw tauw, apakah kau
masih belum merasa puas? Seseorang kadang kala harus mengetahui
batas batas diri dalam pembicaraan.”
Selagi Pui Ceng Yan siap beradu
bicara mendadak tampak dua orang berjalan datang mendekati meja
perjamuan tersebut.
Orang pertama adalah seorang
lelaki berbaju hitam yang berusia empat puluh tahunan, ditangannya
menyekal sebuah bantalan berbentuk panjang.
Orang kedua adalah seorang
pengemis dengan pakaian compang camping serta rambut awut awutan,
dia adalah si Naga Langit Pouw Cing.
Lelaki berbaju hitam itu memandang
sekejap kearah Kwan Tiong Gak lalu mencari tempat duduk sendiri.
Ssdangkan si Naga Langit Pouw Cing
menyapu sekejap keempat penjuru lalu serunya, “Sungguh aneh sekali,
kenapa yang datang tidak banyak?”
Puei Ceng Yan segera maju
menghampirinya.
“Dari pihak Kay Pang apakah hanya
kau seorang?”
“Urusan ini tiada sangkut pautnya
dengan pihak Kay Pang urusan ini adalah urusan aku orang she Pouw
pribadi.”
“Kalau begitu silahkan duduk.”
“Selamanya aku sipengemis cilik
tak perlu orang menyapa, Poei Hu Cong Piauw tauw pun tak usah repot
repot terhadap diriku” Karena sipengemis sudah berkata demikian Poei
Ceng Yan pun segera putar badan menjura kearah lelaki berbaju hitam
itu.
“Kawan, dapatkah kau sebutkan
siapakah namamu7″
“Kau sedang bertanya kepada diri
cayhe?” tanya lelaki berbaju hitam itu sambil meletakkan
buntalannya.
“Sedikitpun tidak salah!”
“Cayhe she Kouw, soalnya namaku
kurang enak didengar maka lebih baik tak usah kukatakan saja.”
Sebelum Poei Ceng Yan sempat
mengucapkan sesuatu, seorang kakek tua berbaju serba merah secara
diam diam tanpa menimbulkan sedikit suarapun sambil duduk disebuah
kursi.
Orang itu memakai pakaian yang
sangat istimewa seluruh tubuhnya memakai baju berwarna darah, dia
bukan lain adalah sidewa api Ban Cauw adanya.
“Ooouw….! saudarapun ikut hadir?”
tegur Poci Ceng Yan segera.
“Kalau bukan dikarenakan peta
pengangon kambing serta perusahaan Hauw Wie Piauw kiok yang
mengundang, belum tentu bisa mengundang loohu hadir ditempat ini.”
Jawaban dari Ban Cau amat dingin
sekali.
Poei Ceng Yan tetawa hambar.
“Jago lihay yang ikut hadir pada
malam ini sangst banyak sekali lebih baik Ban heng jangan terlalu
tinggi menaruh harapan.”
Ban Cau mandengus dingin, sinar
mata nya berputar tiada hentinya disekeliling tempat itu, entah apa
yang sedang ia cari.
Pada saat itu, diatas empat buah
meja tamu, kecuali diduduki Giok Lang aerta Go Lian Hoa dalam sate
meja, disisinya Si Dewa Api Ban Cau, si naga langit Pouw Cing serta
lelaki she Kouw itu masing masing menempati sebuah meja tersendiri,
dengan demikian empat meja perjamuan ditempati oleh lima orang.
Orang she Ouw itu walaupun belum
lama datang, tetapi ia paling tidak sabaran, sambil tertawa dingin
mendadak serunya, “Siapakah yaag menjadi tuan rumah dalam pertemuan
kali ini?”
Kwan Tiong Gak yang selama ini
berdiri Menonton disamping segera menjawab lantang, “Cayhe adanya,
entah saudara ada petunjuk apa?”
“Kau orangkah yang bernama Kwan
Tiong Gak. Cong Piauw tauw dari perusahaan Hauw Wie Piauw kiok?”
” Sedikitpun tidak salah, entah
siapakah nama saudara?”
“Tadi sudah siauwte katakan bahwa
namaku sangat tidak enak didengar, kalau Cong Piauw tauw ingin
bertanya juga, terpaksa siauwte harus mengutarakannya keluar….,….”
Setelah mendehem berat terusnya,
“Siauwte bernama Kouw Put Cian.” (Put Cian artinya tidak lengkap).
“Oooooow…., kiranya si “Koei So Si
Hun” atau si tangan setan pencabut nyawa Kouw Put Cian.” seru Kwan
Tiong Gak sambil tertawa hambar.
Kouw Put Cian segera tersenyum.
“Tadi sudah siauwte katakan kalau
nama serta sehutanku sangat tidak enak didengar, tapi kau Kwan Ciong
Piauw tauw ingin tahu juga, terpaksa cayhe utarakan keluar….”
“Tidak mengapa, tidak mengapa, aku
orang she Kwan paling tidak pantang terhadapi sebutan apapun juga.”
“Aku dengar orang berkata,
pertemuan didalam hutan pohon liaw ini akan diselengarakan pada
kentongan pertama?”
“Sedikitpun tidak salah “
“Sekarang sudah jam berapa?”
“Hampir mendekati kentongan
kedua!”
“Kwan Cong Piauw tauw mengundang
kami datang ke hutan sesunyi ini apakah hanya untuk bersantap
belaka?”
“Tentu saja ada urusin lain!”
“Baik! waktunya sudah tiba. Kwan
Cong Piauw tauwpun boleh segera berbicara!”
Perlahan lahan Kwan Tiong Gak
mengangguk.
“Kita sudah menunggu sangat lama,
kawan kawan yang tak bisa salahkan kami tidak menepati janji….”
Dari dalam sakunya ia mengambil
keluar pengangon kambing itu dan dengan langkah lebar berjalan
kehadapan Kouw Put Cian, sambil berhenti katanya lebih lanjut,
“Ditengah malam sedingin ini cuwi berdatangan kemari, aku rasa
semuanya tentu dikarenakan peta pengangon kambing ini,….”
“Sedikitpun tidak salah” tukas
Kouw Put Cian. “Entah Kwan heng siap hendak menyelesaikan masalah
peta pengangon kambing ini dengan cara bagaimana?”
“Peta lukisan ini….”
Terdengar suara langkah manusia
berkumandang datang memotong perkataan Kwan Tiong Gak yang belum
selesai diucapkan.
Ketika semua orang berpalirg,
terlihatlah dua orang toosu dengan seorang paderi telah berjalan
datang dengan langkah lebar.
Walaupun kedua orang toosu itu
sama memakai baju berwarna hijau, tapi orang yang berada disebelah
kiri sudah berusia empat puluh tahunan sedang yang berada disebelah
kanan baru berusia dua puluh tahunan dipunggung masing-masing
tersoreng sebilah pedang.
Sedangkan paderi tersebut memakai
jubah hweesio berwarna abu abu, usianya diantara tiga puluh tiga,
tiga puluh empat dengan badan yang putih bersih, kelihatannya sangat
halus dan terpelajar. Ia bertangan kosong tidak membawa senjata
tajam apapun.
Ke Giok Lang, Kouw Put Cian, Ban
Cau, Pouw Cing serta Kwan Tiong Gak sekalian mengalihkan sinar
matanya keatas wajah sang paderi serta kedua orang toosu itu.
Pada saat beberapa orang itu
sedang memperhatikan kehadiran sang paderi serta dua orang toosu
itu, seorang pemuda berbaju warna biru dengan kepala tertunduk
diam-diam berjalan kesisi meja Pouw Cing dan duduk disana tanpa
menimbulkan suara sedikitpun.
Gerakan lincah dan ringan apabila
perhatian semua orang dicurahkan atas hadirnya beberapa orang lain,
maka tidak seorangpun yang memperhatikan munculnya pemuda ini.
Pada saat itulah terdengar Kie
Giok Lang tertawa hambar.
“Selamat berjumpa, selamat
berjumpa, tidak disangka Han Im Toosiang yang memiliki nama tersohor
juga ikut hadir kemari.”
Toosu berusia setengah baya itu
berpaling sekejap kearah Ke Giok Leng lalu sapanya, “Ke Kongcu,
selamat berjumpa.”
“Kolong langit sangat luas, tidak
disangka bisa bertemu muka disini.”
Ham In Toojien tidak berbicara
lagi, dengan membawa toosu muda itu mereka ambil tempat duduk semeja
dengan Ban Cau.
Kedua orang itu duduk dengan
sejajar, hal ini menunjukkan kalau bukan guru dan murid.
Sebaliknya si paderi berbaju abu
abu itu putar matanya dan langsung berjalan kesisi Kouw Put Cian
untuk duduk semeja dengan dirinya.
Orang ini memiliki wajah yang
kaku, mukanya hamkar sama sekali tidak terlintas senyuman maupun
rasa gusar, sekalipun orang lain mengejek dan menyindir dirinya
setelah melihat air muka yang putih itu kebanyakan akan membungkam
sendiri.
Agaknya Poei Ceng Yan serta Nyioo
Su Jan sama ingin menghampiri tetamu itu, tapi dapat di cegah oleh
Kwan Tiong Gak.
Kursi dimana paderi berbaju
abu-aba duduk terpaut sangat dekat dengan Kouw Put Cian, hal ini
membuat orang she Kouw itu mau tak mau harus mempertinggi
kewaspadaannya, sepasang mata tiada hentinya memperhatikan gerak
gerik paderi itu,
Pada saat itulah kembali Kwan
Tiong Gak mengalihkan sinar matanya keempat penjuru, mendadak ia
tertawa tergelak dan serunya, “Mungkin masih ada kawan yang belum
datang, tapi waktu sudah lewat aku orang she Kwan pun tak akan
menanti lagi”
Perlahan lahan dia meletaksn peta
pengangon kambing itu keatas meja kemudian sambungnya, “Aku orang
she Kwan mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai pengawal barang
tetamu keluar uang kami tiada alasan harus jual nyawa buat orang.”
“Tapi bukankah barang kawalan itu
sudah tiba ditempat tujuan kota Kay Hong” tukas Kee Giok Lang tiba
tiba. “Sepanjang perjalanan, kawan-kawan Bu lim yang melakukan
pengejaran sama sekali tidak turun tangan, hal ini sudah memberi
muka buat kalian perusahaan Hauw Wie Piauw kiok untuk tancap kaki,
tidak disangka kau Kwan Tiong Piauw tauw terlalu banyak urusan,
setelah cuci tangan tidak mau pulang kedesa sebaliknya malah
melibatkan diri kedalam urusan ini.”
“Pada mulanya, sewaktu perusahaan
Hauw Wie Piauw kiok kami menerima tawaran ini, kami benar benar
tidak tahu kalau di antara barang kawalan tersebut terdapat pula
sebuah peta pengangon kambing, tidak di sangka pendengaran kalian
lebih tajam dan berhasil mengetahui berita, ini. Walaupun sepanjang
perjalanan terjadi banyak perubahan untung sekali urusan tidak
sampai berubah makin besar….,”
“Kwan Kong Piauw tauw,” tukas Kouw
Put Cian dengan suara dingin, “kami datang kemari bukan untuk
mendengarkan kisah yang telah terjadi tempo dulu, dimalam tahun baru
yang demikian dingin kami datang ke hutan sunyi ini untuk
mendengarkan Kwan Cong Piauw tauw secara bagaimana anda
menyelesaikan masalah mengenai peta Pengangon kambing ini.”
“Untuk menyelesaikan masalah peta
pengangon kambing cayhe menemui berbagai kesulitan, entah bagaimana
pendapat dari saudara?” balik tanyanya.
Mendadak Ke Giong Lang bangun
berdiri.
“Kwan Cong Piauw tauw, cayhe
berharap Kwan Cong Piauw tauw suka membantu aku orang she Ke
membuktikan tentang satu hal.”
“Aku paham, silahkan kau utarakan
keluar!”
“Pemilik sebenarnya dari peta
pengangon kambing ini apakah benar telah setuju untuk hadiahkan peta
rahasia ini kepada aku orang she Ke?”
“Sedikitpun tidak salah, memang
pernah terjadi peristiwa semacam ini.”
“Menurut keadaan yang seharusnya,
bukankah peta rahasia pengangon kambing ini adalah milik aku orang
she Ke?”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Kalau memang demikian bagaimana
kalau Kwan heng serahkan dahulu peta rahasia penganon kambing ini
kepada aku orang she Ke?”
Belum sempat Kwan Tiong Gak
memberi jawaban, si Naga Langit Poaw Cing telah menimbrung dari
samping, “Sakalipun terhitung Kwan Cong Piauw-tauw setuju untuk
serahkan peta rahasia pengangon kambing itu kepadamu, belum tentu
benda tersebut sudah menjadi milikmu.”
“Dapatkah aku orang she Ke
melindungi peta rahasia pengangon kambing itu, hal tersebut
merupakan urusan pribadi aku orang she Ke sendiri, tak perlu kau
sipengemis cilik ikut merasa kuatir”
“Tapi sipengemis cilik hendak
merebutnya.”
“Tidak salah, kau boleh rebut dan
semua jago yang hadir disini boleh ikut merebut. Persoalannya
sekarang justru terletak psda mampukah kalian merebutnya-,”
“Kita bisa Coba saat ini Juga,”
“Sudah….sudahlah….kalian tak usah
ribut terlebih dulu,” tukas Kwan Tiong Gak melerai. “Cayhe tak akan
menyerahkan peta rahasia pengangon kambing ini kepada siapa pun
juga.”
“Kwan heng” seru Ke Giok Lang
dengan nada kurang puas. “Baru saja kau telah mengakui kalau peta
rahasia tersebut sudah menjadi milik siauwte, dengan alasan apa kau
tidak suka menyerahkan benda itu kepeda diriku . . ,”
Air muka Kwan Tiong Gak kontan
berubah jadi hebat.
“Ke kongcu!” serunya lantang. “Kau
tidak usah berdebat coba mencari menang sendiri, sewaktu peta
rahasia pengangon kambing direbut orang kita berapa disatu tempat,
dalam hatipun kau paham perbuatan itu bukan hasil permainan setan
dari perusahaan Hauw Piauw kiok Kami,”
Mendadak Han In Tootiang bangun
berdiri.
“Kwan Piauw tauw, Ke Kongcu. semua
kejadian itu sudah berlalu. Sekarang kami hanya ingin mengetahui
secara bagaimana Kwan heng akan menyelesaikan masalah mengenai peta
rahasia pengangon kambing ini,” serunya.
“Baik!” Kwan Tiong Gak mengangguk,
“Akupun tidak ingin berbicara panjang lebar lagi, aku si orang she
Kwan sangat berharap Cuwi sudi memberi muka kepadaku dengan
sementara, melepaskan niat untuk mendapatkan peta rahasia pengangon
kambing tersebut.”
“Jadi peta rahasia tersebut untuk
sementara akan disimpan dalam saku kau Kwan Tiong Gak, bukan
begitu?” kata Kouw Put Cian dingin.
“Benar, hanya saja sebelum Cap Go
meh nanti cayhe pasti akan memberikan satu penyelesaian yang bagus
untuk saudara saudara sekalian, waktu itu kalian mau rebut mau
rampas dengan cara apapun aku tidak mau tahu….disamping itu
kalianpUn harus tahu aku bukan bermaksud hendak mengangkangi benda
itu.”
“Heee…. .heee …. heee . . , .
kalau kami tidak setuju dengan caramu ini, kau mau apa?”" jengek si
Dewa api Ban Cau sambil tertawa dingin.
“Barang siapa saja yang tidak suka
memberi muka buat aku orang she Kwan. terpaksa silahkan turun tangan
untuk coba merampasnya.”
Seketika suasana didalam hutan
pohon Liuw jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Lama….lama sekali mendadak
terdengar suara gelak tertawa yang keras memecahkan kesunyian,
“Haaa…. haaa…. haaa….jadi maksud
Kwan Cong Piauw tauw mengundang kami datang kemari hanya suruh kami
mendengarkan sepatah kata ini saja?”
Orang yang berbicara bokan Lain
adalah Kouw Pun Cian.
Kembali Kwan Tiong Gak tertawa
hambar.
“Hal ini sih bukan, aku orang she
Kwan sama sekali tiada maksud untuk mengangkanginya.”
“Padahal Kwan Cong Piauw tauw tak
perlu memiliki niat untuk mengangkangi benda itu!” seru Ke Giok Lang
pula lambat lambat. “Asalkan diteliti selama sepuluh sampai setengah
bulan, kau sudah cukup mampu untuk mengingat rahasia dari lukisan
tersebut”
Belum selesai ia berkata Kwan
Tiong Gak telah menukas sembari menggeleng.
“Mungkin bagi kau Ke Kongcu
mempunyai kemampuan untak berbuat demikian, tapi aku orang she Kwan
sama sekali tiada berkepandaian untuk mengingat ingat apa yang telah
kulihatnya.”
“Sekalipun terhitung apa yang Kwan
Cong Piauw-tauw katakan adalah suatu pernyataan jujur, hal itu pun
tak bisa membuktikan sesuatu apapun, gambar rahasia tersebut kini
sudah berada di tangan Kwan Cong Piauw tauw, kau tidak usah susah
susah men cari seorang pelukis jempolan untuk menjiplak lukisan itu,
asalkan tidak ketinggalan sedikit pun lukisan itu, bukankah dikolong
langit segera akan muncul “dua buah lukisan pengangon kambing?”
“Ke Kong cu sungguh pandai sekali
kau carikan jalan keluar bagi aku orang she Kwan.” kata Kwan Tiong
Gak sambil tersenyum.” Tapi orang she Kwan sudah tahu maksudmu yang
sebenarnya hanyalah ingin memanaskan suasana disini, agar semua
orang tidak menaruh kepercayaan kepada diriku lagi….”
Tapi Ke Giok Lang kembali tertawa
hambar.
“Orang orang yang hadir dalam
kalangan saat ini rata rata merupakan jago jago berpengalaman yang
telah mengalami berbagai serta taupan, benar atau tidaknya mereka
bisa membuktikan sendiri dengan pikiran serta penglihatan mereka,
apa gunanya aku Orang she Ke berusaha memanasi suasana di didalam
kalangan?”
“Ke Kongcu,” ujar Kwan Ttong Gak
kemudian setelah termenung berpikir sebentar “Jikalau kau begitu
tidak mempercayai aku orang she Kwan, entah kau Ke Kongcu mempunyai
cara apa yang hebat”
“Keadaan situasi hari ini sudah
jelas tertera.” kata Ke Giok Lang sambil tertawa “perduli siapapun
mereka ingin mengangkangi peta rahasia pengangon kambing ini dan
dimilikinya buat diri sendiri, oleh karena itu sebelum orang itu
berhasil mendapatkan benda ini maka ia harus minta persetujuan
dahulu dari para jago yang lain. Tentang soal ini saudara Kwan Cong
Piauw tauw bisa melihat dan memahami sendiri bukan.”
” Orang yang datang pada saat ini
amat banyak, bagaimanapun juga persoalan harus diselesaikan satu
persatu. Kau Ke Kongcu paling banyak memiliki usul dan pendapat,
cayhe sangat berharap bisa bicarakan dulu persoalan ini dengan
dirimu hingga jelas.”
“Jadi maksud Kwan Cong Piauw tauw
kau siap hendak bergebrak terlebih dahulu dengan diri siauwte?”
“Cayhe sama sekali tiada bermaksud
menantang Ke Kongcu untuk bergebrak, hanya urusan bagaimanapun juga
harus ada jalan penyelesaiannya, dan aku rasa Ke Kongcu adalah
kesulitan yang paling utama.”
Ke Giok Lang termenung berpikir
sebentar kemudian ia mengangguk
“Baiklah, kalau Kwan Cong piauw
tauw bisa memperoleh persetujuan dari para jago yang hadir disini
untuk sementara menyimpan peta rahasia itu dalam saku Kwan Cong
piauw tauw, urusan diantara kita berdua dibicarakan lebih gampang
lagi.”
Pada saat itulah, mendadak Han Im
Too tiang meloncat bangun.
“Kwan Cong Piauw!”" serunya
lantang. “Pinto ada beberapa patah kata hendak minta petunjuk dari
dirimu.”
“Silahkan Tootiang berkata.”
“Pinto ingin mengutarakan dulu
maksud kedatangan kami kesini sama sekali tidak membawa niat untuk
mendapatkan peta rahasia pengangon kambing tersebut, tapi
pinto-sekalipun tidak bisa mentah mentah melihat peta rahasia itu
terjatuh ketangan seseorang yang tidak bertanggung jawab.”
Mendengar ucapan itu si Dewa api
Ban Ciu tertawa dingin.
“Tootiang kau sungguh lihay,
dengan satu gala membalikkan sebuah perahu, siapakah kau maksudkan
orang yang bertanggung jawab dan mana pula yang kau maksudkan
sebagai orang orang tidak bertanggung jawab”
“Sekali itu dalam hati pinto sudah
punya pegangan, tak perlu kuutarakan secara terbuka”
“Mungkin didalam pandangan Han Im
Tootiang ako Ke Giok Lang adalah manusia yang termasuk tidak
tertanggung jawab bukan begitu?” jengek sang Hoo Hoa kongcu sambil
tersenyum.
Han In tootiang tertawa hambar ia
tidak bicara lagi.
Sitoosu muda yang duduk disisi Han
In tootiang. selama ini selalu memandang ke atas Ke Giok Lang serta
si Dewa Api Ban Ciu dengan sinar mata berkilat, kendati begitu
mulutnya tetap membungkam dalam seribu-bahasa.
Perlahan lahan Kwan Tiong Gak
menggulung kembali peta pengangon kambing itu dan disimpan kembali
kedalam saku, ujarnya sambil tertawa
“Orang orang yang hadir disini
sekalipun tidak membawa maksud untuk merebut peta rahasia ini,
merekapun bercita cita bisa mendapatkan peta rahasia itu untuk
dilindungi keselamatannya, kalau sekali salah mengambil penyelesaian
suatu pertarungan berdarah tak akan terhindar, saudara saudara
sekalian merupakan jago jago kenamaan dari Bu lim, setiap orang
memiliki kepandaian andalan yang hebat. Bilamana sampai meletus
benar benar suara pertarungan, bukan saja akan jauh korban bahkan
akan ditertawakan pula oleh orang orang Bu lim oleh karena itu
siauwte berharap Cu wi bisa sedikit bersabar….,”
“Jadi maksudmu kau inginkan agar
kami bisa melihat kau seorang mengangkang peta pengangon kambing itu
tanpa berkutik dan bersuara?” tukas Pouw Put Cian dingin.
Pada saat itulah mendadak mnncul
seorang lelaki berpakaian singkat warna biru menyoreng golok dan
memakai topi pelindung hawa dingin terbuat dari kulit macan berjalan
mendaki dengan langkah lebar.
Dibelakang lelaki mengikuti pula
seorang lelaki memakai topi kulit, berbaju kulit serta bercelana
kulit.
(Bersambung Jilid 18)
Jilid 18
DENGAN sepasang mata Kwan Tiong
Gak yang tajam, dalam sekali pandangan saja ia dapat melihat
menemukan apabila wajah lelaki tersebut telah dipolesi dengan obat
penyamar, walaupun begitu sama sekali tak berhasil menutupi wajah
aslinya.
Ia bukan lain adalah Jen Pek To
pengawal pribadi Sie Tok Say.
Tak usah melihat jelas lagi
siapakah orarsg yang berada dibelakangaya, sudah cukup bagi Kwan
Tioag Gak untuk mengetahui siapakah itu tanpa terasa lagi hatinya
sedikit terkesiap.
Setelah berusaha menenangkan
hatinya Kwan Tiong Gak segera ulapkan lengannya.
“Kalian berdua datang terlambat,
silahkan dnduk dipinggir sebelah sana …. “serunya
Ia mempersilahkan kedua orang itu
duduk disatu meja dengan si naga Langit Pouw Cing.
Jen Pek To segera mengangguk.
“Cayhe sekalian sama sekali tiada
bermaksud merebut peta rahasia pengangon kambing, tersebut,
kedatangan kami hanya ingin menonton keramaian belaka,”
Dangan langkah lebar ia segera
berjalan menuju kemeja yang diduduki oleh si naga Langit Pouw Clng.
Sepasang sinar mota Pouw Cing
berputar, ia memandang sekejap kcarah Jen Pek To kemudian memandang
pula si lelaki berpakaian kulit yang menurunkan topinya rendah
rendah itu.
Sementara itu Kwan Tiong Gak telah
mendehem dan meneruskan kembali kata-katanya, “Saat ini waktu telah
menandakan hampir kentongan kedua, orang yang tidak hadir mungkin
tak akan hadir lagi dan aku rasa saudara saudara sekalianpun sudah
mengerti maksudku, aku orang She Kwan masih tetap dengan perkataan
semula aku berharap kalian suka memberi muka kepadaku. Kalau ada
diantara kalian yang tidak ingin memberi muka terpaksa penyelesaian
hanya ada satu jalan yaitu bergebrak melawan diriku.”
Selesai berkata, sinar matanya
berputar menyapu sekejap seluruh kalangan dan menanti reaksi
telanjutnya dari jago jago tersebut. Ketika tidak didengarnya ada
suara reaksi diantara para jago, perlahan lahan Jie Giok Heng bangun
berdiri, ujarnya, “Han Im Too heng, peta lukisan pengangon kambing
berada ditangan Kwan Cong Piauw tauw, entah bagaimana menurut
pendapat tootiang??”
“Kwan Tiong Gak adalah seorang
jago tersohor dikolong langit masa kini, disimpan dalam sakunya
pinto rasa sangat tepat sekali, tentu saja pinto lebih berharap
apabila peta pengangon kambing itu bisa dibakar didepan umum
sehingga tidak menimbulkan keonaran dan tenangkan kembali suasana….”
“Mau dibakar? Oooouw…. sungguh
sayang sekali” seru Ke Giok Lang sambil tertawa dingin “Apalagi
kecuali aku orang she Ke sendiri, orang lain tidak berhak untuk
membakar benda tersebut.”
Mendengar kebulatan tekad sang Hoa
hoa Kongcu, Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.
“Ke Kongcu, tidak mendapatkan peta
lukisan pengangon kambingpun kau sama saja bisa menjagoi seluruh Bu
Lim dangan gelarmu sebagai si Hoa hoa Kongcu….”
“Urusan ada urutan depan dan
akhir, urusan kita nanti dibicarakan akhir saja.” potong Ke Giok
Lang sambil ulapkan tangannya.
Sembari berkata ia berjalan
mendekati Han Im Totiang.
Han Im Totiang tetap dnduk
ditempatnya semula, tetapi sang Toosu yang lebih muda tak bisa
mengendalikan emosinya lagi mendadak ia bangun berdiri dan
menghadang perJalanan selanjutnya dari Ke Giok Lang. “Mau apa!!?”
bentaknya keras.
Ke Giok Lang silangkan tangan
kirinya didepan dada, tangan kanan diangkat siap menyambut datangnya
serangan, sembari bersiap siap tanyanya kepada Han Im Totiang.
“Siapakth dia?” Hen Im Totiang tersenyum.
“Seorang siauw sute dari pinto,
baru saja terjunkan diri kedalam dunia Kangouw dan mencari
pengalaman dengan mengikuti pinto.”
“Siapakah sebutan sutemu ini?”
“Ia belum masuk menjadi toosu,
karena itu tetap menggunakan nama aslinya.”
“Kalau begitu kenapa ia memakai
pakaian toosu?” jengek Ke Giok Lang sambil tertawa dingin.
Agaknya Han Im Tootiang sangat
gembira untuk menjelaskan persoalan ini, sambil tersenyum sahutnya,
“Sewaktu ia belajar ilmu silat digunung Bu Tong telah terbiasa
baginya mengenakan pakaian Toosu, karena itu sewaktu turun gunung
berkelana ia tidak sempat berganti pakaian biasa.”
“Apakah totiang ingin agar sutemu
bisa menjajal kepandaian dengan aku orang she Ke “
“Ia sudah belajar ilmu silat
selama puluhan tahun lamanya dan belum pernah bergebrak barang
sekalipun dengan orang lain. Dalam pertarungan pertama harus
menghadapi manusia lihay seperti Ke Kongcu, hal ini boleh dihitung
sebagai rejekinya.”
jelas dalam perkataan tersebut ia
ingin agar sutenya bisa menjajal kepandaian.
Sebelum Ke Giok Lang menjawab,
mendadak terdengar suara tertawa merdu berkumandang datang
“Giok Lang cepat menyingkir, untuk
menghajar toosu cilik ini tak perlu kau turun tangan sendiri.”
Hoo Lian Hoa dengan gerakan yang
sebat menerjang maju kedepan.
Karena gadis itu sudah maju maka
Ke-Giok Lang pun mundur selangkah kebelakang.
“Perguruan Bu tong paling lihay
dalam ilmu pedang, kau harus berhati hati.”
“Aku mengerti!” Hoo Lian Hoa
mengangguk.
Sreett….pedangnya segera
diloloskan dari sarung dan mengambil posisi menyerang, katanya lagi.
“Toosu cilik, ayolah turun
tangan!” Toosu muda itu tertegun.
“Kau hendak bergebrak melawan
diriku?” tanyanya gugup.
“Benar! Apakah kau merasa takut?”
“Lelaki sejati tak akan bergebrak
melawan wanita, aku tidak sudi bergebrak melawan dirimu,” seru
Toojien muda itu sambil mundur dua langkah kebelakang.
Hoo Lian Hoa tersenyum, mendadak
pedangnya berkelebat kedepan membabat tubuh toosu muda itu.
Tusukan pedang itu dilancarkan
dengan kecepatan bagaikan kilat, dalam keadaan tidak bersiap sedia
hampir hampir saja sang toojien muda kena tertusuk.
Melihat kejadian itu Han Im
tootiang jadi sangat terperanjat segera serunya.
“Sute, hati hati pihak lawan
menantang kau untuk bergebrak sungguh sungguh bukan sedang berlatih
pedang seperti biasa?”
“ya “
“Toosu cilik” seru Hoo Lian Hoa
pula-sambil tersenyum, “kalau kau tidak turun tangan lagi, jangan
salahkan aku akan melukai dirimu.”
Ditengah pembicaraan tersebut
pedangnya berturut-turut melancarkan serangan berantai, jurus
pertama lebih cepat dari jurus selanjutnya.
Dibawah desakan pedang Hoo Lian
Hoa Ing gencar dan berantai, mau tak mau toojien muda tersebut
terpaksa harus menggerakan pedangnya balas menyerang.
Ke Giok Lang ssrta Han Im Totiang
mencurahkan seluruh perhatiannya ketengah pertaruangan tersebut,
yang satu takut Hoa lian Hoa tidak takut menahan jurus jurus
serangan dahsyat dari pihak Bu-tong Pai sedang yang lain takut siauw
suteenya yang baru turun tangan untuk pertama kalinya menderita
kerugian besar.
Dalam sekejap mata kedua orang itu
sudah saling bergebrak hampir melebihi empat puluh jurus lebih,
posisi tatap seimbang tak ada yang menang dan tak ada yang kalah.
Kecuali orang-orang yang datang
terdahulu dimana dapat mengikuti pembicaraan antara Pui Ceng Yang
serta Ke Giok Lang, orang-orang yang datang terlambat rata rata
tidak tahu asal usul dari dara berbaju hijau ini, mereka hanya
merasa sang gadis yang tak di ketahui namanya ini benar-benar luar
biasa. ia bisa menahan serangan ilmu pedang aliran Butong Pay dari
toosu cilik tersebut boleh di kata merupakan suatu kejadian yang
luar biasa.
Setelah kedua orang itu saling
bergerak melampaui empat puluh jurus, dan Im Totiang pun mulai
merasa kebenaran, tanpa terasa ia semakin mencurahkan seluruh
perhatiannya ketengah kalangan.
Sementara itu diam diam Pui Ceng
Yan berbisik kepada diri Nyioo Su Jan ujarnya.
” Su Jan, kalau kita tinjau
situasi malam ini aku rasa sukar untuk diselesaikan secara
baik-baik, diam-diam kau berilah kabar kepada
Lok Liong serta Lim Piauw tauw
untuk mengadaksn persiapan, semisalnya terjadi pertarungan masal,
merekapun bisa memberi bantuan secepatnya”
Nyioo Su Jan mengangguk, diam diam
ia berlalu untuk mengatur persiapan seperlunya.
Dalam mana pertarungan yang sedang
berlangsung ditengah kalangan semakin lama berlangsung semakin
sengit, mereka berdua mulai mengeluarkan jurus jurus simpanan untuk
saling berebut kemenangan buat dari sendiri.
Mendadak Kwee Cong Gak melangkah
maju dua tindak kedepan, tangan kanannya berkelebat meloloskan
goloknya dari sarung.
“Berhenti!” bentaknya keras.
Dimana golok emasnya berkelebat.
.Trang! trang! Ditengah suara bantrokan keras kedua bilah pedang
yang sedang saling bergebrak telah kena ditangkis oleh babatan golok
tersebut.
Hoo Lian Hoa serta toojien muda
itu sama sama mundur selangkah kebelakang, dua pasang mata bersama
sama dialihkan keatas wajah Kwan Tiong Gak dan menandangnya dengan
tertegun, jelas mereka sangat tidak puas dengan tindakan Cong Piauw
tanw dari perusahaan Ekspedisi Hauw Wie Piauw kiok sendiri.
Kwan Tiong Gak mendehem perlahan
kemudian ujarnya, “Kepandaian silat kalian berdua seimbang, kalau
diteruskan sekalipun dua hari dua malam belum tentu bisa diputuskan
siapa kalah, Maksud kedatangan kalian kemari adalah hendak
memperebutkan peta rahasia pengangon kambing dan kini benda tersebut
berada didalam sakuku, siapa yang merasa tidak puas silahksn turun
tangan aku orang she Kwan.”
Mendengar ucapan itu Ke Giok Lang
tertawa dingin.
“Kau Kwan Cong Piauw tauw pun
merupakan seorang jsgo yang melakukan perjalanan baik keselatan
maupun ke Utara, orang-orang kangouw pada menghormati dan mengalah
pada perusahaan ekspedisi Hauw Wie Piauw-lok kalian, hal ini belum
tentu disebabkan karena jeri terhadap golok emas dari orang she
Kwan, perbuatan saudara saat Ini melintangkan golok merebut pusaka
bukankah sama artinya menghianati kawan-kawan Bu lim….”
“Ke Kongcu sungguh tajam ucapanmu
bagaikan pisau.” seru Kwan Tiong Gak dengan nada dingin. “Aku orang
she Kwan mengakui diriku bukan tandinganmu dalam hal berdebat,
untung saja sebelumnya aku sudah menerangkan terlebih dahulu dan
seluruh jago yang hadir disini dapat mendengarnya degan mata telinga
sendiri, aku tidak ingin berebut mulut dengan Ke Kongcu, bilamana
kau percaya bisa merebut peta rahasia pengangon kambing ini dari
tanganku, silahkan turun tangan untuk merebutnya.”
Air muka Ke Giok Lang kontan
berubah hebat.
“Kwan heng begitu berkeras kepala
dan ingin mencari menang sendiri aku orang she Ke benar benar merasa
tidak puas.”
Kipas di tangan kanannya segera
ditiup lalu menotok kedepan dada Kwan Tiong Gak sedang tangan
kirinya secepat kilat merebut peta pengangon kambing tersebut.
Kwan Tiong Gak segera ayunkan,
tangan kanannya, angin serangan menderu deru, golok emas itu
seketika menciptakan selapis cahaya keemas emasan yang menyilaukan
mata.
Mendadak Ke Giok Lang enjotkan
badannya mundur tujuh depa kebelakang, serunya lantang.
“Tunggu sebentar!”
Waktu itu Kwan Tiong Gak sedang
mempersiapkan serangan balasan, mendengar teriakan tersebut ia
segera berhenti.
“Ke Kongcu masih ingin
mengucapkan-apa lagi?”
“Soal ini tiada sangkut pautnya
dengan Kwan Cong Piauw- tauw….” sinar matanya berputar dan menyapu
sakejap kearah para jago, kemudian lanjutnya.
“Kedatangan Cu wi sekalian kemari
mungkin dikarenakan peta pengangon kambing ini, barang siapa
diantara kalian yang ada maksud untuk bekerja sama dengan aku orang
she Ke untuk merebut, lukisan tersebut, maka ia di anggap punya satu
bagian terhadap lukisan itu, Kalau Cu wi ingin duduk berpeluk tangan
sambil menonton harimau bertarung dan ingin menanti setelah aku
serta Kwan Cong Piauw tauw sama sama lelah kemudian baru turun
tangan merebut lukisan tersebut, maka pikiran kalian ini hanya sia
sia belaka, karena aku Ke Giok Lang tak akan tertipu.”
Dalam hati Kwan Tong Gak benar
benar tiada bermaksud dengan, sekalipun begitu ia taK bisa
mengutarakan maksudnya ini secara terus terang.
Tampak suasana didalam kalangan
diliputi kesunyian yang menanggapi perkataan Ke Giok Lang barusan.
Melibat hal tersebut Kwan Tiong
Gak tertawa hambar.
“Ke Kongcu, kelihatannya orang
lain masih memberi muka kepadaku dan hanya saudara seorang yang
bertujuan dalam merebut peta rahasia ini.” jengeknya.
“Tutup mulut!” bentak Ke Giok Lang
dengan nada gusar. “Aku Ke Giok Lang rela menahan diri dari pada
mamberi peluang yang bagus buat orang lain.”
Selesai mengucapkAn Perkataan itu
mendadak ia putar badan dan berjalan kembali ke tempat duduknya.
Tindakannya ini bukan saja berada
diluar dugaan Kwan Tiong Gak bahkan membuat semua jago jadi
tertegun.
“Sungguh hebat orang ini.” pikir
Kwan Tiong Gak dalam hatinya. “Ia bisa maju bisa mundur tanpa
dikendalikan oleh emosi, benar benar manusia luar biasa.”
Karena berpikir demikian, iapun
segera Berkata, “jikalau diantara Cu wi tak ada lagi yang ingin
turun tangan merebutnya, hal ini berarti kalian ada maksud memberi
muka Untuk aku orang she Kwan disini siauwte mengucapkan banyak
terima kasih terlebih pahulu.”
“Tunggu sebentar .” mendadak
terdengar -seorang berseru dengan nada dingin.
Ketika para jago mengalihkan sinar
matanya, maka tampaklah orang yang berusan bersuara bukan lain
adalah Kouw Put Cian
“Kawan Kouw, apakah kau bersiap
siap ingin memberi petunjuk?? ….,” tanya Kwan Tiong Gak.
“jangan terburu napsu, siauwte
hendak mengeluarkan senjata dahulu.”
Sembari berkata tangan kanannya
segera melepaskan buntalannya yang diletakkan di-atas meja itu.
Dengan cepat muncullah sebuah
senjata yang berbentuk aneh bagaikan lengan pemuda, benda itu lucu
tapi mengerikan.
“O OO…. senjata tangan setan ”
Thiat Koei So.
“Sedikitpun tidak salah, ada
beberapa orang jago kenamaan pernah terluka dibawah serangan senjata
tangan setanku ini”
“Kalau semisalnya aku orang she
Kwan pun terpaksa harus terluka ditangan senjata tangan setanmu, hal
ini hanya bisa salahkan kepandaian silat aku orang she Kwan tidak
becus.”
“Masih ada satu urusan lagi cayhe
ingin memberitahukan kepadamu,” kata Kouw Put Cian lagi sembari
bangun berdiri.
“Urusan apa?”
“Didalam senjata tangan setan
sisuwte ini tersembunyi senjata rahasia, sewaktu bertempur bisa
terlepas untuk melukai orang.”
“Oooow, ….jadi seperti senjata
kipas dari Ke Kongcu?”
“Permainan setan setiap orang bisa
menggubah menurut selera masing masing dari setiap permainan
mempunyai keistimewaan yang terbatas,” ujar Kouw Put Cian dingin.
“Kini perkataan cayhe sudah selesai diutarakan Kwan Cong Piauw tauw
segera turun tangan.”
“Saudara memiliki kepandaian
simpanan macam apapun silahkan dikeluarkan semua, dan kau tak usah
kuatirkan keselamatan dari aku orang she Kwan.”
Setelah turun kegelanggang Kouw
Put Cian tidak berbicara lagi, senjata tangan setannya menyerang
dada Kwan Tiong Gak dengan jurus “Kie Tiam Tauw” atau Ayam Emas
mengangguk kepala. Senjata rahasia yang tersembunyi didalam senjata
tajam merupakan jarum lembut yang mengandung racun keji, senjata
senjata rahasia tersebut sering kali meluncur keluar sewaktu berada
di tengah tengah pertarungan sehingga membuat orang tidak bersiap
sedia.
Karena mengerti akan hal ini Kwan
Tiong Gak tidak berani berlaku gegabah terhadap lawannya, golok
emasnya menangkis datangnya serangan tangan setan lawan.
Dibawah sorotan sinar lentera,
tampaklah cahaya keperak perakan meluncur kedepan, sebatang jarum
beracun telah meloncat keluar dari balik senjata tangan setan.
Kwan Tiong Gak sama sekali tidak
menyangka, pihak lawan bisa melolosan senjata rahasia dalam serangan
pertama, beruntung ia sudah mengadakan persiapan, goloknya buru buru
ditarik kembali dan berkelebat kesamping untuk menghindar.
“Hati hati….” bentak Kouw Put Cian
dingin.
Senjata tangan setannya segera
diayunkan kedepan, dari jari tengah serta telunjuk kembali meluncur
keluar sebatang jarum beracun.
Kembali Kwan Tiong Gak dibikin
tertegun ia tidak menyangka pihak lawan bisa melepaskan senjata
rahasianya secara beruntun dalam pertarungan pertama terutama sekali
dalam jarak yang begitu dekat.
Sekalipun Kwan Tiong Gak sudah
mengadakan persiapan, tak urung dibikin kelabakan juga oleh serangan
tak terduga ini.
Dengan demikian Kouw Put Cian
berhasil merebut posisi yang lebih baik untuk meluncurkan serangan,
tangan kirinya bekerja sama dengan senjata tangan setan ditangan
kanannya melancarkan serangan berantai yang gencar dan hebat.
Tetapi Kwan Tiong Gak bukan
manusia sembarangan, ia bisa getarkan seluruh kolong langit tentu
saja memiliki kepandaian silat yang luar biasa, ditengah
berkelebatnya cahaya jarum beracun permainan golok emasnya tiba-tiba
berubah.
Ditengah berkelebatnya cahaya
tajam serta desiran angin dingin dalam tiga jurus serentak ia
berhasil merebut kembali posisi bagus, hal ini disebabkan ia
andalkan senjata tangan setan serta jarum beracunnya, kini kena
dipunahkan kembali oleh tiga jurus serangan golok lawan, hatinya
jadi terkesiap, diam diam pikirnya dalam hati.
“Kwan Tiong Gak ternyata benar
benar seorang jago yang luar biasa hebatnya.”
Kwan Tiong Gak yang telah
merasakan kelihayan jarum beracun yang tersembunyi di dalam senjata
tangan setannya tidak berani berlaku gegabah lagi, ia tidak tahu
berapa banyak jarum beracun yang tersembunyi di dalam senjata tangan
setannya itu, kalau sampai membiarkan ia melepaskan seluruh jarum
itu, dalam jarak sedemikian dekatnya akan merepotkan dirinya dalam
menghindar berkelit serta menangkis.
Setelah muncul rasa was-was golok
emasnya diputar semakin dahsyat merebut posisi Tiong Kong dan
mendesak terus kedepan di bawah lingkungan desiran angin tajam!
Dengan demikian senjata tangan
setan Kouw Put Cian kena didesak keluar kalangan oleh permainan
golok emas tersebut, dan Kwan Tiong Gak pun berhasil lepaskan diri
dari kurungan senjata lawan, sekalipun Kouw Put Cian ingin
melepaskan jarum jarum beracunpun susah dilaksanakan.
Nama Kwan Tiong Gak tersohor
diseluruh kalangan dunia persilatan, jago jago di kalangan Hek-to
maupun Pek to sama sama melonjor mati dirinya, tentu saja golok
emasnya ini mempunnyai jurus jurus serangan dahsyat dan susah
ditahan, serta sekantong senjata rahasia genta emasnya.
Tetapi yang paling utama adalah
kebijaksanaannya tidak sembarangan turun tangan terhadap orang lain.
Setelah senjata tangan setan Kouw
Put Cian terdesak keluar kalangan, Kwan Tiong Gak tidak usah
menguatirkan serangan jarum beracunnya lagi kesempatan bagus bagi
dirinya untuk melancarkan serangan balasan, tiap kali diabaikan
dengan begitu saja kendati tekanan berat masih meluncur terus tiada
hentinya.
Pada saat itulah semua jago yang
menonton jalannya pertarungan dapat melihat bila mana Kwan Tiong Gak
tidak turun tangan keji dan tak ingin melukai lawannya.
Kouw Put Cian merasakan tekanan
golok lawan makin lama semakin besar dan semakin kuat, senjata
tangan setannya hanya, bisa digunakan untuk menangkis belaka, hal
ini membuat hatinya jadi gelisah.
Diam diam hawa murninya disalurkan
mengelilingi seluruh badan, ditengah suara Bentakan keras dengan
sekuat tenaga ia melancarkan serangan balasan.
‘Trang! Trang! Trang’ Ditengah
suara bentrokan nyaring, senjata tangan setan serta golok emas telah
saling baradu sebanyak tiga Kali.
Tiga serangan Kouw Put Cian tidak
berhasil juga mendatangkan hasil yang diharapkan, pertahanan golok
dari Kwan Tiong Gak benar benar amat ketat membuat orang she Kouw
itu tidak memperoleh kesempatan untuk melepaskan jarum jarum
beracunnya kembali.
Pada saat inilah Kouw Put Cian
benar-benar memahami kalau kepandaian silatnya masih ketinggalan
sangat jauh dibandingkan dengan pihak lawan kalau tidak mencari
peluang untuk mengundurkan diri maka ini hari ia pasti akan
menderita kerugian besar.
Karena berpikir demikkn dengan
cepat badannya mundur tiga depa kebelakang sembari membentak keras.
“Tahan!”
“Apakah Kouw-heng ada petunjuk?”
tanya Kwan Tiong Gak sambil menarik kembali serangannya.
“Kepandaian silat Kwan Cong
piauw-tanw benar benar luar biasa cayhe mengaku bukan tandingan.”
“Terima kasih atas kesudianmu
untuk mengalah,” sahut Kwan Tiong Gak sambil tersenyum.
“Perduli bagaimanakah nama siauw
tauw te dalam dunia Kangouw. selamanya aku paling mengagumi jago
jago yang memiliki kepandandaian ilmu silat lihay, cayhe mengaku
bukan tandingan dan rela mengaku kalah,” kata Kouw Put Cian sambil
menarik kembali-senjatanya.
“Inilah tindakan seorang enghiong
hoo-han dan lelaki sejati.”
Koaw Pui Cian segera menjura.
“Setelah siauwte mengerti bukan tandingan Kwan Ciong Piaw tauw,
tentu saja tidak berani mengharapkan untuk mendapatkan peta rahasia
pengaugon kambing lagi. disini cayhe mohon diri terlebih dahulu.”
Buru buru Kwan Tiong Gak memberi
hormat.
Kouw Put Cian segera putar badan
dan berlalu dengan langkah lebar.
Orang ini benar benar jujur dan
lapang dada, setelah mengaku kalah ia lantas berlalu dengan cepat,
dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Menanti bayangan punggung Kouw Put
Cian sudah lenyap dari pandangan, Kwan wiong Gak baru menyapu
seluruh kalangan sembari berkata.
“Masih ada siapa lagi yang merasa
tidak puas dengan cara penyelesaiannya siauwte dalam masalah peta
rahasia pengangom kambing ini, silahkan maju untuk berbicara.”
Tampak hweesio berwajah adem serta
hambar itu perlahan lahan bangun berdiri.
“Pinceng ingin menanyakan satu
urusan.”
Agaknya Kwan Tiong Gak tidak
menyangka hweesio itu buka suara dalam keadaan itu, ia agak tertegun
dibuatnya.
“Taysu ingin membicarakan soal apa
silahkan diutarakan, asal cayhe tahu tentu akan kujawab sejujurnya,
hanya saja setelah Taysu bertanya aku orang she Kwan pun ada urusan
hendak ditanyakan kepada diri Taysu”
Si paderi itu tertawa hambar.
“Pinceng jadi orang tidak terbuka,
apa yang saudara ingin tanyakan belum tentu dapat pinceng jawab
seluruhnya”
Mendengar perkataan itu Kwan Tiong
Gak segera tertawa terbahak bahak.
“Sampai waktunya kita bicarakan
lagi menurut keadaan,” jawabnya singkat.
“Kwan Cong tiauw tauw,” ujar
hweesio itu lagi sambil tertawa hambar,” sudah sepatutnya bagi orang
orang yang tak bisa menangkan dirimu segera putar badan angkat kaki.
semisalnya ada orang yang bisa menangkan diri Kwan Cong Piauw tau,
apa yang hendak kau lakukan “
Kwan Tiong Gak termenung sebentar,
lalu jawabnya;
“Tentu saja aku orang she Kwan
mengaku kalah.”
“Hal itu sudah tentu, dihadapan
umum, setelah Kwan Cong Piauw tauw dikalahkan kalau tidak mengaku
kalah apa yang kau utarakan. Yang Pinceng maksudkan adalah peta
rahasia pengangon kambing itu, apakah kau segera menyerahkan lukisan
itu kepada si pemenang?!”
“Sungguh bagus sekali pertanyaan
ini,” kata Kwan Tiong Gak sambil tertawa dan mengangguk.
Setelah merandek sejenak, ia balik
bertanya, “Thaysu berasal dari mana? siapakah gelarmu?”
“Pinceng datang dari kuil, maaf
gelarku susah untuk diutarakan.”
“Kuil dikolong langit banyak tak
terhingga, bahkan berada diatas beberapa laksa, seharusnya kuil
Thaysu punya nama sebutan.”
“Tadi pinceng sudah katakan banyak
persoalan belum tentu pinceng beri jawabannya.”
“Baik!, cayhe ingin bertanya
sebuah pertanyaan lagi, apakah Thaysu punya hubungan dengan pihak
kuil Siauw lim si?”
Si hweesio berbaju abu abu itu
segera tawa dingin;
“Perbuatan pinceng akan kutanggung
sendiri, hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan tempat asalku!”
“Kalau begitu cayhepun bisa
memberi keterangan buat thaysu orang yang berhasil mengalahkan aku
orang she Kwan berilmu tentu bisa dapatkan peta rahasia pengangon
kambing ini.”
“Lalu secara bagaimana baru bisa
merebutnya.”
“Merebut benda tersebut dari
tangan aku orang she Kwan.”
“Kalau ada orang yang berhasil
merebut lukisan itu dari tanganku, bagaimana penjelasannya?”
“Setelah berhasil merebutnya maka
ia harus punya kepandaian untuk membawanya pergi.”
“Ooow….sekarang pinceng paham
sudah.” kata sang paderi tersebut sembari mengangguk.
“maksud Kwan Cong Piauw tauw
adalah bilamana ada orang berhasil merebut peta rahasia pengangon
kambing, maka bukan saja ia harus menghadapi Kwan sicu seorang
bahkan seluruh anggaota perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok?”
“Asal usul thaysu sendiripun tak
mau di beritahukan kepada cayhe, maaf cayhepun tak bisa menerangkan
persoalan ini lebih jelas. Thaysu boleh berpikir sendiri!”
“Thaysu!” tiba tiba Ke Giok Liong
menimbrung. “Aku orang she Ke bisa memberi tahukan pula tentang satu
hal kepadamu, kecuali seluruh kekuatan perusahaan Hauw Wie Piauw
Kiok, masih ada aku serta semua jago yang hadir disini?”
Dengan pandangan dingin paderi
tersebut melirik sekejap kearah Ke Giok Lang, kemudian tanpa
mengucapkan sepatah katapun ia duduk kembali ke tempat semula.
Perbuatan kukoay dari hweesio ini
di-mana ia sukar menyebut gelar serta asal usulnya sudah cukup
membuat orang marasa diluar dugaan ditambah pula mendadak ia duduk
kembali ke tempatnya semula hal ini semakin membuat orang
kebingungan lagi.
Karena sikap yang aneh serta watak
yang hadir dalam kalangan.
Sambil memandang paderi yang duduk
kembali ketempatnya semula, Kwan Tiong Gak berseru lantang, “Kalau
Cu wi tidak mau bicara hal ini berarti suka memberi muka kepada aku
orang she Kwan. ditengah malam buta kalian sudah sudi menghadiri
pertemuan ini, sebagai rasa terima kasih aku orang she Kwan akan
menjamu diri kalian dengan secawan arak.”
Dengan langkah lebar ia berjalan
kembali ketempatnya semula dan memungut secawan araknya.
Mendadak, “Praaak ….,,!” diiringi
suara bentrokan keras, cawan arak yang berada didepan Kwan Tiong Gak
hancur berkeping keping, arak segera muncrat memnuhi seluruh meja.
Ketika itu kebetulan Kwan Tiong
Gak sedang tundukkan kepala untuk memungut cawan sendiri karena itu
tak diketahui oleh nya dari manakah munculnya benda yang
menghancurkan cawan araknya.
Tanpa terasa air mukanya berubah
hebat.
Tetapi bagaimanapun juga dia
adalah seorang jago yang banyak pengalaman serta banyak menemui
kejadian kejadian aneh. setelah termenung sebentar sambil tertawa
segera serunya, “Suatu kepandaian yang bagus! suatu kepandaian yang
dahsyat!”
Bersama dengan suara pujian itu
sepassng matanya dengan tajam menyapu sekejap seluruh kalangan.
Kiranya dengan pengalaman yang
dimiliki Kwan Tiong Gak, ia berhasil menduga siapakah yang barusan
turun tangan terhadap dirinya.
Sepasang matanya yang tajam dengan
cermat memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, tapi dengan
cepat ia merasa bahwa posisi setiap orang disekeliling tempat itu
tidak merupakan posisi yang tepat untuk melepaskan senjata rahasia.
Karena tilak berhasil menjumpai
orangnya terpaksa Kwan Tiong Gak berseru lantang;
“Kawan dari mana yang barusan
turun tangan menghancurkan cawan arak dari aku orang she Kwan?
Terima kasih atas budi saudara yang tidak sampai melukai aku orang
untuk itu aku orang she Kwan mengucapkan banyak terima kasih.”
Kembali sinar matanya dengan tajam
menyapu seluruh kalangan, tapi sekali lagi ia gagal mendapatkan
orang yang turun tangan terhadap dirinya itu.
Ketika itulah mendadak Ke Giok
Lang bangun berdiri dan mohon diri.
“Kwan Cong Piauw tauw,” serunya
“Peta rahasia pengangon kambing adalah barang milikku, jikalau Kwan
heng memang tidak akan serahkan kepadaku untuk sementara biar lah
berada ditempatmu dahulu siauwte hendak mohon diri terlebih dahulu.”
“Ke Kongcu, apakah kau rela
berlalu begini saja,” seru Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar.
“Ada urusan apa?” dengan cepat Ke
Giok Lang berhenti,
“Apabila ini hari kita tidak
berhasil mendapatkan suatu penyelesaian mengenai masalah peta
rahasia pengangon kambing ini, aku rasa kalian akan menjumpai
kesulitan didalam pencarian terhadap aku orang she Kwan….”
“Oooouw. , ….jadi Kwan heng mau
kelangit?”
“Siauwte akan berebut peta rahasia
ini lagi dengan Cu wi sekalian dikota Kay Hong, kemungkinan besar
aku akan membawa peta ini kembali ke ibu kota….”
Setelah merandek sejenak,
terusnya, “Maka dari itu apabila Cu wi ada maksud hendak merebut
lukisan rahasia ini dari tanganku, malam inilah merupakan peluang
yang paling baik buat kalian untuk turun tangan, atau paling sedikit
kita bisa memperoleh cara penyelesaian yang disetujui semua pihak.”
Sinar mata Ke Giok Lang berputar
menyapu sekejap sekililing tempat itu, bibirnya bergerak seperti mau
mengucapkan sesuatu tapi segera dibatalkan kembali.
Kiranya ia berpendapat bahwa
diantara para jago yang hadir dalam kalangan tentu ada orang yang
merasa tidak puas dan bangun berdiri menegur, mengambil kesempatan
tersebut ia akan menghasut dan membakar hati semua orang agar
masalah kecil berkembang jadi masalah besar, ketika itulah ia akan
berusaha menyimpan tenaga sebagai gempuran yang terakhir.
Siapa sangka suasana tetap sunyi
senyap tak kedengaran seorangpun yang membantah agaknya mereka semua
pada setuju dengan tindakan Kwan Tiong Gak.
Melihat tak ada yang ambil
komentar, sekali lagi Kwan Tiong Gak menyapu seluruh kalangan,
ujarnya sambil tersenyum.
“Cu wi sekalian sudi memberi muka
kepada aku orang she Kwan, cayhe merasa sangat berterima kasih, tapi
jikalau aku orang she Kwan dengan demikian saja mendapatkan peta
rahasia pengangon kambing ini, kendati diluaran Cu wi tidak bicara
dalam hati tentu merasa tidak puas.”
“Betul!” jawab si Dewa api Ban Cau
dengan cepat. “Nama besar Kwan Cong Piauw tauw telah menggetarkan
seluruh dunia persilatan dan dikagumi oleh setiap orang. kalau kau
tak sudi mendemontrasikan sedikit kepandaian agar dapat menambah
pengetahuan kami, tentu saja kami merasa sangat tidak puas.”
“Baiklah!” ujar Kwan Tiong Gak
kemudian setelah termenung berpikir sebentar.
“Aku orang she Kwan pun tidak
ingin terjadi suatu pertumpahan darah yang menimbulkan korban,
terpaksa aku akan mendemontrasikan sedikit kejelekan, apabila
diantara kalian ada yang merasa punya pegangan untuk mengalahkan
diriku, nanti kita saling bergebrak kembali.”
Mendadak terdengar Han Im Tootiang
Menimbrung ;
“Permainan golok Kwan Cong
Piauw-tauw sudah kami lihat barusan, kepandaian tersebut benar benar
dahsyat dan dengan mudah sekali bisa memaksa sanjata tangan setan
Kouw sicu terdesak keluar kalangan tapi Pinto sudah lama mendengar
akan kehebatan permainan senjata rahasia Kiem Ling Piauw dari Kwan
Cong Piauw tauw, bagaimana kalau kau sedikit mendemontrasikan agar
kami bisa menambah sedikit pengetahuan?”
“Permintaan dari Tootiang akan aku
orang she Kwan penuhi.”
Ia merandek sejenak, setelah
ditunggunya beberapa saat tidak juga terdengar seseorang menimbrung,
ia baru jalan ketengah kalangan diantara empat buah meja perjamuan
itu. ujarnya lanjut.
“Cu wi sekalian tidak ada yang
menimbrung, cayhe rasa kalian sudah setuju semua-dengan usul Han Im
Tootiang ini baik lah aku orang she Kwan akan segera mempapar-kan
sedikit kejelekan.”
Mendadak ia meloncat ketengah
udara, dua rentetan cahaya emas setelah meluncur dari genggamannya.
Ditengah suara bentrokan keras,
bunyi genta berdering memenuhi seluruh angkasa. Ternyata tangan kiri
serta tangan kanan ssgera berbareng telah melepaskan bebareng
senjata rahasia Kiem Leng Piauw sangga saling beradu ditengah udara
dan mengakibatkan berderingnya bunyi-bunyi genta tersebut.
Melihat bagaimana kedua batang
senjata rahasia genta emas itu saling berbenturan satu sama lainnya,
tanpa terasa Ban Cau tertawa dingin, selagi ia siap hendak mengejek
permainan tersebut mendadak Kwan Tiong tak menggerakkan kembali
sepasang telapak tangannya.
Angin tajam berdesir, puluhan
batang senjata rahasia Piauw geata emas segera berterbangan memenuhi
angkasa, Dua batang senjata rahasia piauw genta mas yang dilepaskan
pertama kali tadi setelah saling membentur ditengah udara segera
meluncur jatuh kebawah. tapi kini kembali kedua batang senjata
rahasia tersebut terpental ketengah udara terbentur oleh senjata
senjata rahasia Piauw genta emas yang dilepaskan kemudian.
Tak seorangpun diantara mereka
berhasil menemukan Kwan Tiong Gak menggunakan cara apakah untuk
melepaskan senjata rahasia itu, mereka hanya mendengar suara
deringan bunyi genta bergema tiada hentinya diseluruh kalangan.
Kalau didengar sepintas lalu masih
tidak terasa apa apa, tetapi kalau didengarkan lebih seksama lagi
maka terasalah bunyi genta itu bagaikan serangkaian irama lagu yang
amat merdu.
Demontrasi ini benar benar
merupakan suatu kepandaian yang jarang ditemui dikolong langit,
sebagian besar para jago yang hadir dalam kalangan sama sama merasa
bahwa kepandaian tersebut susah ditemu oleh mereka.
Terdengar Kwan Tiong Gak bersuit
nyaring, mendadak ia pentangkan lengannya meloncat setinggi dua
tombak menabrak diantara deringan suara genta, kemudian ditengah
perputaran sang badan ia sudah melayang kembali keatas permukaan
tanah.
Tampak sepasang tangannya kembali
di-ayunkan kedepan dua rentetan cahaya emas kembali meluncur keluar.
“Traaang….! Traang….” ditengah
suara bentrokan keras, genta emas yang berada ditengah udara kembali
saling berbenturan satu sama lainnya kemudian dua batang menjadi
satu rombongan dengan sangat teratur terjatuh kembali kedalam tangan
Kwan Tiong Gak.
Ilmu silat seperti ini boleh
terhitung sebagai suatu kepandaian yang jarang ditemukan dalam
Bulim, seketika itu juga membuat semua jago silat yang hadir dalam
kalangan jadi terpesona dan memuji.
Setelah menerima kedua belas
batang senjata rahasia genta emasnya, dengan wajah tidak merah napas
tidak terengah engah ujarnya, “Sedikit permainan cakar ayam tak bisa
dikatakan kejadian yang patut dibanggakan, entah apalah saudara
saudara sekalian yang hendak memberi petunjuk??”
Walaupun Ke Giok Lang tidak
berbicara diluaran, tetapi dalam hati merasa amat kagum dengan
permainan Kwan Tiong Gak barusan, pikirnya ;
“Datuk tidak melatih melepaskan
senjata rahasia hingga mencapai taraf sedemikian tinggi, sungguh
bukan suatu pekerjaan yang gampang.”
Ketika Kwan Tiong Gak tidak
mendengar suara jawaban dari seorang manusiapun ia juga berpikir
dalam hatinya ;
“Orang orang ini rata rata
merupakan Kang ouw yang sudah lama berkelana, kenapa mereka tidak
berhasil memahami maksudku yang sebetulnya? Kalau mereka pastikan
diri akan berlaku pura pura, terpaksa aku harus berterus terang.”
Karena berpikir demikian iapun
segera berkata, “Cu wi sudah melihat permainan cakar ayam dari aku
orang she Kwan, kalau merasa puas harap Cuwi sekalian suka memberi
muka kepada aku orang she Kwan.”
Mendadak Ke Giok Lang bangun
berdiri “Permainan senjata rahasia dari Kwan Cong piauw tauw benar
benar luar biasa, tapi masih belum cukup untuk menggetarkan aku
orang she Ke serta melepaskan niatku untuk mendapatkan benda
tersebut. Orang budiman tidak suka melakukan pekerjaan gelap aku
akan menerangkan terlebih dahulu secara terus terang aku Ke Giok
Lang sudah bulatkan tekad untuk memperoleh kembali peta rahasia
pengangon kambing itu kendati harus membayar dengan suatu nilai yang
mahalpun kalau kau Kwan Cong Piaw tauw tidak sayang untuk
berberontak dengan diriku, maka masing masing pihak akan menggunakan
cara tersendiri untuk memenuhi harapan tersebut, aku akan mengganggu
kantor kantor cabang perusahaanmu yang ada diberbagai keresidenan.”
Bicara sampai disitu, ia berpaling
dan serunya.
“Lian Hoa, mari kita pergi!”
Dengan langkah lebar ia segera
berlalu. Tidak usah diragukan lagi jelas Ke Giok Lang sudah
menerangkan sikapnya dalam menghadapi masalah ini, kalau urusan
dilanjutkan maka ia akan turun tangan dengan cara apapun juga.
Ke Giok Lang bicara terlalu tajam,
hal ini melanggar perasaan halus dari orang orang perusahaan Kauw
Wie Piauw kiok. Pui Ceng Yan serta Nyioo Su Jan diam diam berunding
sendiri dan bersiap siap menghaJang jalan pergi dari Ke Giok Lang.
Oleh karena ini sewaktu Ke Giok
Lang bangun berdiri, Nyioo Su Jan serta Pai Ceng Yan segera
menyambut kedatangannya.
Melihat hal itu Kwan Tiong Gak
kerutkan dahinya serta ulapan tangannya mencegah.
“Ceng Yan, kita tak boleh bersikap
kurang ajar, cepatlah kalian menyingkir dan beri jalan buat Ke
Kongcu “
Pui Ceng Yan serta Nyioo Su Jan
mengiakan, mereka berdua bersama sama mundur kebelakang, sedang Ke
Giok Lang dengan membawa Hoo Lian Hoa pun segera berlalu dengan
langkah lebar.
Setelah Ke Giok Lang berlalu. Han
Im totiangpun perlahan-lahan bangun berdiri.
“Kwan sicu.” ujarnya sambil
tertawa. “Pertemuan malam inipun seharusnya diakhiri sampai disini.
Pinto mohon diri terlebih dahulu.”
Dengan membawa serta sutenya ia
segera berlalu dari sana.
“Tootiang silahkan berangkat,
harap suka memaafkan cayhe tak bisa menghantar,” kata Kwan Tiong Gak
sembari menjura.
Kemudian disusul si Dewa api Ban
Cat gerta si paderi berjubah abu abu itupun bangun berdiri segera
berlalu tanpa berpamitan.
Dalam sekejap mata seluruh jago
sudah bubar dan berlalu dari tempat pertemuan.
Sinar mata Kwan Tiong Gak
berputar, ia temukan orang yang masih berada ditengah kalangan
kecuali Jen Pek To serta seorang temannya masih ada sang pemuda
berbaju biru itu tetap duduk ditempat semula tanpa berkutik sama
sekali.
Agaknya Kwan Tiong Gak sudah bisa
menebak siapakah teman dari Jek Pek To itu, dengan langkah lambat ia
segera berjalan mendekati sang pemuda berbaju biru itu, ujarnya
seraya menjura, “Kawan, kau tidak mau berlalu tentunya masih ada
petunjuk peunjuk kepada aku orang she Kwan bukan?”
Dengan cepat pemuda baju biru itu
mengegos, agaknya ia berniat menghindarkan diri dari bentrokan mata
dengan Kwan Tiong Gak.
Setelah mendengar ucapan itu
mendadak sang pemuda segera berdiri dan berlalu dari sana dengan
langkah lebar.
“Kawan, kau berasal dari mana?
Dapatkah kau orang tinggalkan nama besar?” teriak Kwan Tiong Gak
lantang.
Pemuda berbaju biru itu tetap
tidak menjawab, ia semakin mempercepat langkahnya kedepan, dalam
sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Memandang bayangan punggung sang
pemuda berbaju biru yang lenyap dari pandangan. Kwan Tiong Gak
menghela napas panjang.
“Saudara Pui, apakah kan kenal
dengan orang ini?”
“Tidak kenal.” dengan cepat Pui
Ceng menggeleng.
“Gerak gerik orang ini sangat
aneh, kawan atau lawan kita susah untuk dibedakan.”
“Benar selama ini ia tidak pernah
melakukan suatu gerak gerik apapun.”
“Juga tidak pernah berbicara
sekejap-pun,” sambung Kwan Tiong Gak cepat.
Bicara sampai disitu ia putar
badan berjalan kehadapan Jen Pek To, tegurnya dengan suara berat,
“Jen heng, kau sungguh bernyali besar berani membawa Sie Tok say
thayjien datang kemari menempuh bahaya.”
Belum sempat Jen Pek To menjaga si
lelaki yang berada disisinya sudah berebut menjawab, “Jangan
salahkan Pek To, aku sendiri yang paksa dia membawa aku datang
kemari,”
Mendadak ia tersenyum dan
terusnya, “Sungguh tajam penglihatanmu, untuk menyamar saja aku
sudah membuang banyak waktu, tidak disangka sekali pandang kau
berhasil mengetahui rahasia penyamaranku.”
Orang ini bukan lain adalah
penyaruan dari Sie Si Cong, Tok say dari empat keresidenan besar.
Air muka Kwan Tiong Gak berubah
amat serius, katanya perlahan, “Thayjien, tempat ini adalah tempat
gelanggang jual nyawa, setiap saat bisa terjadi satu pertarungan
sengit yang membahayakan jiwa manusia, tubuh thayjien yang berharga
mana boleh datang kemari untuk menempuh bahaya. sedikit banyak
thayjien tak tahu diri.”
“Oooouuw sudah banyak tahun tak
ada orang yang berani berkata demikian dengan diriku.” seru Sie Si
Cong sambil tersenyum.
Kwan Tiong Gak seketika jadi
tertegun, segera teringat olehnya kalau orang yang sedang ia bicara
sebenarnya adalah seorang pembesar tinggi kelas wahid yang menjabat
sebagai Gubernur Jenderal serta menguasai pucuk pimpinan
ketenteraan, beberapa patah kata yang di ucapkan memang sedikit
keterlaluan.
Buru buru dia menjura, “Thayjien,
siauw beng….”
“Kwan heng, aku tidak menyalahkan
dirimu,” tukas Sie Si Cong sambil menggeleng dan tertawa. “Hanya
saja aku rasa penyaruanku ini belum tentu bisa diketahui oleh
mereka.”
“Aaii…. ,! Thayjien, dalam sekali
pandang saja cayhe berhasil menemukan penyaruanmu, asal orang yang
pernah berjumpa dengan dirimu serta menperhatikan lebih teliti lagi
maka mereka segera mengenal dirimu, sebenarnya siauw beng hendak
mengikat mereka dengan suatu perjanjian, tetapi melihat thayjien
ikut hadir aku tak bisa membiarkan mereka berada disini terlalu lama
lagi, terpaksa kubiarkan mereka bubar.”
“Merusak rencana bagusmu, aku
merasa menyesal dan minta maaf.”
“Soal perjanjian hanya suatu
majalah Kecil, keselamatan thayjien merupakan masalah yang amat
besar. Harap thayjien suka mendengarkan perkataan dari siauw heng
dan lain kali jangan sekali kali menempuh bahaya lagi”
“Aku mengerti.” sahut Sie Si Cong
sambil tersenyum. “Lain kali aku tentu akan bertindak lebih berhati
hati….”
Ia mendehem sebentar, kemudian
terusnya, “Ada suatu urusan hendak kuberitahukan kepadamu, soal peta
rahasia pangangon kambing tersebut telah aku bicarakan dengan
besanku Liuw thayjien….”
“Lalu apa yang dikatakan Liuw
thayjien?”
“Dia minta aku yang memutuskan
persoalan ini. ….”
“Kalau begitu bagus sekali, harap
thayjien suka menerima kembali peta rahasia pengangon kambing ini.”
Tapi dengan cepat Sie Si Cong
telah menggeleng
“Aku ingin menghadiahkan peta
rahasia pengangon kambing ini untukmu,” kata nya sambil tertawa,
“Hadiahkan kepadaku?” tanya Kwan
Tiong Gak agak tertegun.
“Tidak salah, aku pikir kalau peta
rahasia ini menunjukkan sesuatu tempat penyimpanan harta karun, aku
merasa harta karun tersebut tiada guna bagiku, lain halnya kalau
harta karun ini kau yang berhasil dapatkan, kau bisa menggunakannya
sebagai modal untuk membuka sepuluh buah kantor cabang serta
memperluas usahamu.”
“Dia begitu paham terhadap
keadaanku. hhmmm keterangan ini berhasil ia dapatkan dari Jen Pek
To,” segera pikir Kwan Tiong Gak dalam benaknya.
Karena berpikir demikian tanpa
terasa sudah berpaling kearah Jen Pek To. Kembali Sie Si Cong
tersenyum. ” Hal inipun tak bisa disalahkan diri Pek To, kalau bukan
aku yang desak dirinya terus menerus, tentu saja ia tak berani
memberitahukan hal tersebut kepadaku.”
“Thayjien salah tafsir, siauw beng
sama sekali tidak bermaksud menyalahkan diri Jen-heng.”
“Kalau begitu sangat bagus. . , .”
ia tersenyum dan ujarnya lebih lanjut, “Jikalau di dalam peta
rahasia pengangon kambing itu tercatat pelbagai ilmu silat, buat
diriku pun tiada berguna, oleh karena itu setelah kupikirkan tiga
kali akhirnya aku mengambil keputusan untuk hadiahkan peta rahasia
pengangon kambing ini kepadamu, inilah baru tepat pedang mustika
sepantasnya untuk pendekar sejati.”
Kwan Tiong Gak tidak langsung
menerima pemberian itu, ia termenung sebentar, kemudian katanya,
“Maksud Baik thayjin biarlah siauw-beng terima dalam hati saja,
terus terang saja siauw beng tidak berani menerima pemberian
berharga dari thayjien ini.”
Mendengar penolakan itu agaknya
Sia Si Cong merasa sedikit berada diluar dugaan ini berseru
tertahan.
“0oouw…. kelihatannya dibalik
kejadian ini masih terselip rahasia lain, kau duduklah! kita
bicarakan persoalan ini perlahan lahan.”
Kwan Tiong Gak menurut dan segera
duduk diseberangnya.
“Thayjin silahkan berbicara!”
“Kenapa begitu banyak jago kangouw
yang hendak merebut peta rahasia pengangon kambing ini? “
“Karena dalam pandangan orang
orang Bu lim, peta rahasia pengangon kambing ini adalah sebuah benda
pusaka yang sangat berharga. kecuali tersimpan sejumlah harta karun
yang tak ternilai harganya, tersembunyi pula serangkaian ilmu silat
yang luar biasa “
“Jikalau benar orang orang Bu lim
menyukainya kenapa kau tidak suka menerima pemberianku ini?”
“Bukannya siauw beng tidak suka,
tapi aku tak bisa mengingkari janjiku terhadap para enghiong hoohan
yang ada dikolong langit, tadi sudah kukatakan bahwa aku tiada
maksud untuk mengangkangi benda tersebut, kalau sekarang thayjien
berikan benda pusaka ini kepadaku, bukankah aku akan menjadi seorang
manusia yang tidak bisa dipercaya? “
“0ooo…. begitu” Sie Si Cong
tersenyum, “Tetapi Pun say tetap menjumpai perasaan yang aneh serta
susah mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah peta rahasia
ini, entah apa yang harus aku lakukan pada saat ini.”
“Menurut pendapat siauw beng,
benda ini tidak mendatangkan keuntungan bagi si-pemiliknya, biarkan
benda itu tetap dikolong langit akhirnya akan mendatangkan bencana
bagi umat manusia!”
“Jadi maksudmu melenyapkannya.?”
“Sedikitpun tidak salah, harus
dilenyapkan dengan demikian bisa terhindar berbagai kesulitan serta
kerepotan,”
Sie Si Cong termenung, beberapa
saat kemudian katanya.
“Pun say rasa setelah kita
musnahkan benda ini maka dikemudian hari akan muncul dua persoalan,
masalah ini tak bisa diselesaikan dengan sebaiknya. Apakah orang
lain akan percaya kalau peta rahasia tersebut benar benar
dimusnahkan? Apakah orang itu mau menerima kenyataan begitu saja?
Kwan heng apakah berani kau menjamin setelah peta rahasia itu
dimusnahkan maka orang-orang Bu lim tak akan menyelundup masuk
kedalam istana untuk mendatangkan kerepotan lagi?”
“Soal ini?, soal ini….” Kwan Tiong
Gak kelihatan dibikin agak tertegun.
“Ditambah pula orang itu
meninggalkan harta karun serta ilmu silat adalah bertujuan agar
benda tersebut bisa digunakan dalam dunia,” sambung Sie Si Cong
lebih lanjut, “kalau kita musnahkan peta rahasia ini, bukan kah sama
halnya kita sudah menyia-nyiakan hasil kerja orang itu yang dengan
susah payah membuat peta tersebut?”
“Asal. , . .! perkataan thayjien
sedikit pun tidak salah?” Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.
“Tetapi mempertahankan peta rahasia ini sama halnya menanam bibit
bencana buat kemudian hari, barang siapa yang memperoleh peta
rahasia ini tak bisa hidup dengan hati tentram.”
“Kalau didengar memang sangat
beralasan ucapanmu itu, padahal dalam kenyataan sama sekali tidak
mengena….”
Mendengar perkataan tersebut Kwan
Tiong Gak merasa tidak puas.
“Thayjien, dapatkah kau
menunjukkan alasan alasannya?” serunya cepat.
Sie Si Cong tersenyum.
“Aku ingin tahu benda apa yang ada
di kolong langit tak perlu dapat perlindungan? dari gunung serta
sungai sepanjang laksaan li sampai gubuk serta pagar kebun siapa
yang-tidak melindunginya, kalau peta rahasia Pengangon kambing ini
benar benar adalah sebuah peta pusaka tentu saja ada orang yang
hendak merebutnya, dan aku rasa utusan ini merupakan kejadian yang
lumrah justru kalau peta pusaka ini tak ada yang mau menggubris atau
merebutnya ini baru merupakan suatu berita yang mengherankan
bukankah begitu? “
Kwan Tiong Gak merasa apa yang
dicapkan memang sangat cengli, hanya saja- ada beberapa bagian yang
terlalu dipaksakan. setelah termenung sebentar, katanya.
“Pendapat thayjien menang benar,
tapi dalam kenyataan masalah peta pusaka ini sedikit agak berbeda
dengan apa yang kau katakan.”
“Dibagian yang mana kau katakan
tidak sama? “
“Karena peta rahasia ini tercantum
serangkaian ilmu silat yang lihay pun luar biasa.”
“Maka dari Itu semakin tak boleh
dibakar lagi….”
Ia merandek sejenak, kemudian
tambahnya.
“Jikalau kau sudah bulatkan tekad
untuk memusnahkannya lebih baik undang juga beberapa orang jago
lihay untuk ikut menyaksikan, dengan adanya beberapa pasang mata
yang ikut menyaksikan berarti ada pula beberapa orang yang menjadi
saksimu.”
Bicara sampat disitu ia lantas
berpaling kearah Jen Pek To, serunya.
“Pek To mari kita pergi?”
Ia bangun terlebih dahulu dan
berlalu dari sana dengan langkah lebar.
(Bersambung Jilid 19 )
Jilid 19
BURU BURU Kwan Tiong Gak
lintangkan tangan menghadang.
“Thayjien, harap kau suka
mengijinkan siaw heng untuk mengutus beberapa orang piauwsu untuk
menghantar diri thayjien.”
“Haa…. haaaa…. walaupun aku tidak
memiliki kepandaian silat seperti yang dimiliki Kwan Cong Piauw
tauw, tetapi aku memiliki kepandaian silat seperti yang dimiliki
semangat tidak jeri terhadap segala ancaman bahaya, tidak perlu
merepotkan dirimu lagi”.
“Thayjien,” seru Kwsn Tiong Gak
kembali setelah tertegun beberapa saat lamanya “Bagaimana kalau
berhenti sebentar dan dengarkan sepatah dua patah kata siauw heng?”
Tanpa berpaling lagi jawab Sie Si
Cong, “Jangan kau ungkap soal peta rahasia pengangon kambing lagi,
tadi sudah kukatakan bahwa barang berharga itu kuhadiahkan untukmu
dan tak bisa kuterima lagi, bagaimana kau hendak menyelesaikan
masalah tersebut itu urusan pribadimu sendiri.”
Selesai berkata tanpa berhenti
lagi ia terus berjalan dan lenyap dibalik hutan.
Menanti Sie Si Cong serta Jen Pak
To telah berlalu, Kwan Ciong Gak segera berbisik.
“Saudara Poei, bawahlah Giok Long
serta Toa Lek mengikuti dari belakang Sio thayjien sembari diam diam
melindungi keselamatannya, kalau terjadi sesuatu peristiwa barulah
kirim kabar kepadaku.”
Poei Ceng Yan mengiakan dengan
membawa Liem Toa Lek berdua mengintil dari belakang Sie Si Cong.
Setelah ketiga orang itu berlalu,
Nyioo Su Jan berjalan mendekati Cong Piauw tauw ya sembari bertanya,
“Cong Piauw tauw kau bermaksud hendak menyelesaikan masalah peta
rahasia ini dengan cara bagaimana??”
“Aku telah berubah pendapat”
“Kau hendak berbuat bagaimana?”
Kwan Tiong Gak mendongak ke atas
dan termenung sebentar, lalu jawabnya lambat lambat, “Aku bermaksud
untuk kumpulkan seluruh jago yang kita miliki dari perusahaan Hiaw
Wie Piauw kiok kemudian sekuat tenaga berusaha mendapatkan harta
karun yang terpendam menurut catatan diatas peta rahasia ini aku
pikir jumlahnya harta itu tentu ternilai harganya”.
“Setelah menemukannya, Cong Piauw
tauw bermaksud hendak menyelesaikan soal ini secara bagaimana?”
“Barang siapa yang ikut serta
dalam gerakan ini akan memperoleh jumlah enak menikmati hidupnya
sampai akhir hayat, tapi tidak boleh terlalu banyak, sedang sisanya
kita sumbangkan untuk rakyat jelata atau untuk membantu bencana yang
menimpa.”
“Agaknya Cong Piauw tauw benar ada
maksud mengakhiri usaha perusahaan ekspedisi Hauw Wie piauw kiok
kita?”
“Su Jan.” ujar Kwan Tiong Gak
sambil tertawa getir “Kita sudah berhasil merebut sedikit nama
didalam dunia persilatan, sekalipun sungguh sungguh hendak gulung
tikarpun bukan Suatu masalah yang gampang.”
Ia merandek untuk menghela napas
panjang, kemudian tambahnya, “Sie thayjien adalah seorang pembesar
budiman, ia bersemangat jantan berpikiran lurus dan merupakan
seorang pembesar dengan sifat yang mulia. dalam masa ini kalau bisa
muncul beberapa orang pembesar negeri lagi semacam Sie thayjien,
maka rakyat akan hidup sentosa serta gembira, tetapi dia adalah
seorang pembesar tinggi, banyak urusan tak bisa ia lakukan sendiri.”
“Maksud Cong Piauw tauw, Sie
thayjien memberikan peta rahasia pengangon kambing itu kepadamu
adalah bermaksud agar kau wakili dirinya menemukan gudang harta
tersebut?”
“Dia adalah seorang pembasar
negeri kelas satu dalam pemerintahan saat ini, perkataan serta
sikapnya tentu saja harus kita pikirkan sendiri.”
“Cong Piauw tauw, aku rasa peta
rahasia pengangon kambing itu susah dipertahankan menurut pendapat
hamba lebih baik kita serahkan kembali kepada Sie thayjien, asalkan
kita tak membawa peta rahasia pengangon kambing itu maka kawan kawan
dunia persilatan tentu suka menjual muka untuk kita”
Kwan Tiong Gak tidak menjawab, ia
segera berpaling kepada diri Ih Cun.
“Suruhlah mereka berikan barang
barang dan kita segera Kembali kekantor pemerintahannya.”
“Terima perintah,” dengan cepat Ih
Cun menjura.
“Su Jan, mari kita berangkat
terlebih dahulu!”
Nyioo Su Jan mempercepat
langkahnya berjalan sejajar dengan Kwan Tiong Gak sambil bertanya,
“Harta karun yang termuat didalam peta rahasia pengangon kambing
hanya merupakan suatu berita saja didalam dunia persilatan, benarkah
dikolong langit ada kejadian seperti ini masih susah di duga. Cong
Piauw tauw demi persoalan yang sama sekali tiada suatu patokan yang
bisa dipegang apa gunanya kau mengikat tali permusuhan dengan orang
orang Kang ouw….”
“Pada setengah jam barselang
akapun pernah berpikir demikian.”
“Jadi Cong Piauw tauw mempunyai
pandangan lain”
Kwan Tiong Gak mengangguk. “Tempo
dulu sewaktu aku mendirikan perusahaan Expedisi Hauw Wie Piauw Kiok,
dengan seorang diri kuterjang keutara malang melintang ke Selatan
dengan tujuan menanamkan fondasi yang kuat buat perusahaan kita, dan
kini perusahaan Hauw Wie Piauw Kiok telah memiliki berpuluh puluh
kantor cabang diperbagai tempat, jumlah Piauw su sudah melebihi
seratus orang didaerah utara maupun selatan terhitung sebagai sebuah
perusahaan Piauw kiok yang terbesar, kalau membicarakan soal nama
kita sudah harus merasa puas.
Tapi,pikiranku saat ini kosong
melompong. sedikitpun tiada bedanya ketika aku masih berkelana
didalam dunia persilatan, tahukah kau apa sebabnya?”
“Sepuluh kantor, seratus orang
Piauw su serta ribuan pembantu telah menggantungkan nafKah hidup
mereka pada perusahaan kita-ini berarti menambah berat beban Cong
Piauw tauw”
“Hal itu bukan merupakan alasan
yang terutama.” tukas Kwan Tiong Gak sambil menggeleng. “Dagangan
perusahaan Piauw kiok kita sangat baik sekalipun memelihara beberapa
orang lagipun bukan suatu masalah yang rumit, orang kangouw yang
berani mengganggu barang kawalan kitapun tidak banyak, terhadap
persoalan ini aku hanya membuang waktu dengan percuma saja. Jerih
payah kita selama banyak tahun ini sudah mengumpulkan banyak sekali
pun kita harus berhenti dan membagikan harta untuk semua orang pun
masih cukup buat kita untuk hidup sepuluh delapan tahun lagi.”
“Jikalau demikian adanya. Cong
Piauw tauw tentu mempunyai kesulitan lain.”
“Sekalipun tidak salah,
orang-orang kang Ouw semuanya memanggil aku dengan sebutan Cong
Piauw tauw, hal ini dikarenakan perusahaan Hauw Wie Piauw kiok kita
makin besar dan luas, nama Kwan Cong Piauw tauw pun makin hari makin
nyaring. Tetapi bagi diriku sendiri sebutan ini sama sekali tidak
Mendatangkan kegembiraan buat diriku bahan sebaliknya mendatangkan
rasa rikuh karena seolah olah tujuanku hanya mengejar nama serta
harta belaka.”
“Ehmm….tentang soal ini hamba
paham,” Nyioo Su Jan mengangguk.
“Kau sungguh sungguh paham?”
“Hamba percaya benar benar paham.”
“Kalau begita bagus sekali,
sekarang coba kau katakan, biarlah aku mendengarkan uraianmu itu,”
“Bakat setia kepandaian silat Cong
Piauw ta»w sangat sempurna, tapi dalam soal harta serta nama telah
tak bisa memuaskan hatimu.”
“Ucapanmu memang benar tapi salah!
teruskan!” kata Kwan Tiong Gak dengan sepasang alis berkerut.
“Cong Piauw-tauw ingin
meninggalkan suatu kenangan yang mendalam dikolong langit ini.”
Mendengar perkataan tersebut Kwan
Tong Gak mendongak tertawa terbahak-bahak.
“Su Jan, dugaanmn sudah hampir
benar hanya aku tidak berpikir seperti apa yang kau ucapkan barusan
aku hanya ingin melakukan beberapa pekerjaan yang menguntungkan bagi
umat manusia, agar meninggalkan sedikit kenangan dihati orang orang
kemudian hari, dengan demikian hidupku kali ini pun tak terhitung
sia sia belaka.”
“Maka dari itu secara mendadak
Cong Piauw tauw hendak berubah niat dan ingin meminjam kekuatan Hauw
Wie Piauw kiok untuk menemukan letak harta karun tersebut kemudian
menyebarkan benda berharga itu kepada rakyat jelata?”
“Benar.” Kwan Ttong Gik mengangguk
“Aku pikir dengan berbuat demikian jauh lebih menguntungkan dan
lebih mulia dari pada setiap hari berkelana didalam dunia persilatan
hanya dikarenakan mengejar harta serta nama belaka.”
“Perkataan Cong Piauw tauw
sedikitpun tidak salah, kalau Cong Piauw merasa bahwa aku orang she
Nyioo masih bisa di butuhkan cayhe rela mengikuti jejakmu.”
“Bagus sekali justru aku hendak
meminjam tanganmu.”
Sembari berkejap kedua orang itu
meneruskan perjalanannya, tidak terasa lagi mereka telah tiba
dikantor cabang parusahaan Hauw Wie kiok.
Belum lama mereka berdua duduk
di-ruangan tengah Pui Ceng Yan serta Lim Toa Lek sekalipun telah
tiba pula dalam kantor,
“Toako.” ujar Poei Ceng Yan
sembari menjura. “Siauwte sekalian telah melihat Sie thayjien tiba
didalam istananya dengan selamat.”
“Bagus sekali, semua orang sudah
sibuk satu malaman penuh, sekarang pergilah beristirahat semua,
besok pagi aku masih ada urusan hendak dirundingkan dengan kalian.”
“Toako, bukankah malam ini juga
kita akan berangkat pulang ke Utara,”
“kuda kuda sudah dibari makan
kenyang. pelana segera dipasang begitu ada perintah” sambung Liem
Toa Lek.
Kwan Tiong Gak tersenyum.
“Kau suruhlah aku telah mengubah
rencana untuk sementara tidak akan berangkat”
“Aiaaa….,…. .!” Poei Cong Yan
berseru tertawa “Toako, selama banyak tahun siauwte baru untuk
pertama kalinya melihat bagaimana lihaynya permainan senjata rahasia
Kiem Ling Piauw mu dan untuk pertama kalinya pula mendengar toako
berkata demikian.”
“Benar. saudara Siauwte telah
mengubah rencana semula, sewaktu kalian pergi menghantar Sie
thayjien tadi.”
“Toako” seru Pui Ceng Yan
kemudian, Setelah termenung sebentar “Kau hendak mengubah rencanamu
secara bagaimana? dapatkah diutarakan agar Siauwte ikut mengerti?”
“Tentu saja boleh.”
“Bagaimana dengan, perusahaan
Piauw kiok kita?”
“Untuk sementara berhenti
bekerja.”
“Toako, menurut keadaan pada tahun
berselang sebelum tutup tahun merupakan saat saat paling repot buat
kita, tahun baru ini kita sudah ada setengah tahun lamanya kita
beristirahat, dan kebanyakan dagangan datang pada pemulaan tahun
ini, toako kita tak akan bisa menolak datangnya permintaan
permintaan yang makin meningkat ini!”
Kwan Tiong Gak termenung sebentar
kemudian mengangguk.
“Perkataanmu sedikitpnu tidak
salah, maka dari itu saudara kau akan lebih repot lagi.”
“Toako bersikap, sangat baik
terhadap siapa pun piauwsu yang ada dalam perusahaan pun semuanya
bersedia mengorbankan jiwa demi Toako, mau suruh siauwte terjang
lautan api naik kegunung golok, tak akan ku tolak asal ada perintah
dari dari toako,”
“Cepatlah kau kembali kekantor
pusat dan instruksikan seluruh kantor cabang untuk sementara jangan
menerima pesanan pesanan bagi mereka yang telah diterima pesanan
berusaha antuk dibatalkan,”
“Kalau tidak berhasil dibatalkan?”
“Terpaksa kita harus pikul
sendiri!”
“Jika kudengarkan nada psmbicaraan
toako, agaknya sudah ambil keputusan untuk membubarkan perusahaan
Hauw Wie Piauw kiok kita?”
“Aaaai…. saudara perusahaan Hauw
Wie piauw kiok kita sudah berkembang sampai batas batasnya, kalau
kita bekerja teruspun teetap akan seperti ini. Pepatah mengatakan.
genting tak akan pecah kalau tidak terjatuh dari atas, panglima tak
akan binasa kalau tidak maju perang, kalau perusahaan kita teruskan
pada suatu hari merek emas kita akan dihancurkan orang, dari pada
terjadi peristiwa semacam ini lebih baik sekarang juga kita
mengundurkan diri terlebih dahulu dengan demikian Kita masih bisa
mempertahankan sedikit nama baik.”
Agaknya Poei Ceng Yan masih merasa
tidak setuju dengan cara kerja Kwan Tiong Gak ini, tapi ia tidak
banyak bicara lagi, setelah termenung sejenak katanya, “Baiklah,
kalau memang toako sudah mengambil keputussn demikian siauwte pun
tak akan banyak berbicara lagi, entah kenapa siauwte boleh
berangkat?”
“Tentu saja, lebih cepat lebih
baik.”
“Baik! Sekarang juga siauwte akan
berangkat, Toa Lek suruh orang siapkan kuda buat diriku….”
“Tidak perlu begitu tergesa gesa”
cegah Kwan Tiong Gak sambil tertawa. “Ini hari adalah permulaan
tahun, berangkatlah setelah lewat ini hari, lagi pula aku masih ada
urusan lain yang hendak dirundingkan dengan dirimu.”
“Toako masih ada urusan apa? kalau
kita tinjau dari nada pembicaraan Toako agaknya urusan sangat
mendesak tinggal satu atau tanggal dua hanya terpaut satu hari
sedikit-pun tidak perbedaan.”
Mendengar ucapan itu Kwan Tiong
Gak tertawa terbahak bahak.
“Haaa …. haaaa….dalam hatimu lagi
mangkel sekali kendati tak kau utarakan aku bisa melihatnya sangat
jelas, hubungan persahabatan kita selama banyak tahun….”
“Toako kau jangan salah paham,”
tukas Poei Ceng Yan cepat. “Sekalipun siauwte merasa mangkelpun tak
akan merasa benci terhadap toako, hanya ssja….”
“Aku paham”. Kwan Tiong Gak
tersenyum. “Hal ini hanya bisa salahkan aku tak menerangkan
perkataanku sejelas jelasnya.”
“Kalau Toako suka menerangkan
perkataanmu, hal ini jauh lebih baik lagi….”
“Hal ini merupakan perubahan
pandangan seseorang. Saudara, apa yang diucapkan Sie thayjien
kemarin malam apakah Cuwi sudah mendengar?”
“Sudah mendengar “
“Kita berhasil memiliki kepandaian
silat bagaimana pun juga tak bila bekerja sebagai pengawal barang
sepanjang hidup, apa lagi kita telah berhasil mengumpulkan banyak
uang sekalipun perusahaan dibubarkan masih cukup untuk membiayai
penghidupan kita selanjutnya. Kita harus menggunakan masa hidup
selanjutnya ini untuk melakukan perbuatan yang menguntungkan bagi
umat manusia.”
“Toako bersiap sedia hendak
melakukan apa?”
“Mengikuti peta rahasia ini
mencari sampai dapat harta karun yang terpendam kemudian menggunakan
benda benda berharga itu untuk menolong sesama manusia yang
menderita di kolong langit.”
Poei Ceng Yan termenung sejenak,
katanya, “Siauwte merasa setuju dengan maksud mulia Toako hendak
menolong sesama manusia, tapi dengan berbuat demikian kita mengikat
tali permusuhan dengan Bu lim.”
“Tentang soal itu aku tahu, maka
dari itu aku hendak menghentikan semua kegiatan perusahaan kita dari
pada mereka menimpahkan hawa amarah tersebut pada perusahaan kita
dan melukai pelancong serta pedagang yang sama sekali tak terlibat
dalam hal ini.”
“Burung lewit meninggalkan suara,
manusia mati meninggalkan nama, dengan berbuat demikian nama besar
Toako akan tetap tercatat dihati semua orang selama ratusan tahun
lamanya, hal ini tentu saja membanggakan diri kita. Tetapi Toako
tidak berpikir bagaimana dengan penghidupan selanjutnya dari beribu
ribu anggota perusahaan apa bila kita tutup semua kantor cabang
perusahaan Hauw Wie Piauw kok? apakah kau hendak mengorbankan diri
mereka?”
“Akupun tahu urusan ini tidak
gampang untuk menyelesaikannya, maka dari itu aku minta saudara suka
bekerja secara terpisah membereskan kesulitan ini, aku pikir paling
lambat tiga bulan, seluruh kantor cabang harus ditutup semua, aku
segera kembali keibu kota untuk kirim kabar dengan burung merpati
sedang kau dari sini langsung berangkat kepelbagai kantor cabang
untuk memberi perintah jangan menerima pesanan lagi, beruntung dalam
kantor cabang masih tersimpan sejumlah uang, suruhlah tiap Piauw su
yang bertanggung jawab dalam kantor cabangnya membagikan uang secara
merata dan bubarkan seluruh anggota agar mereka mencari nafkah hidup
lain….”
“Jikalau mereka tidak mau bubar?”
tanya Pui Ceng Yan.
“Mereka harus dibubarkan,
perjalanan kita kali ini untuk mencari harta bukan seperti pengawal
barang kawalan biasa. orang-orang yang kita hadapi adalah jago jago
lihay Bu lim kelas wahid, apakah tidak sayang mengorbankan jiwa
dengan percuma?”
“Perkataan toako sedikitpun tidak
salah, siauwie segera akan terangkat….”
“Beristirahatlah malam ini, besok
pagi baru berangkat.”
“Baiklah perjalananku kali ini
mungkin akan membutuhkan waktu selama dua bulan lebih. setelah
urusan selesai aku segera kembali kekantor pusat untuk menjumpai
toako.”
“Tak usah, setelah urusan selesai
kembalilah kekota Ka Hong, aku pun segera akan berangkat kemari.”
Setelah rencana disusul mereka
pergi beristirahat.
Keesokan harinya pagi pagi sekali
Pui Ceng Yan sudah berangkat melakukan perjalanan.
Setelah menghantar Pui Ceng Yan
berangkat. Kwan Tiong Gakpun menyerahkan beberapa pesan kepada diri
Liem Toa Lek, “Setelah aku pergi, kau harus berhati hati, jikalau
Sie thayjien kirim orang mencari aku katakan saja aku telah
berangkat ke ibu kota, paling lambat tiga bulan lagi akan tiba
kembali kemari, waktu itu aku bisa pergi menjumpai dirinya
diistana.”
“Hamba akan mengingat-ingat,” Liem
Toa Lek segera menjura.
“Tanda merek perusahaan Hauw
Wie-piauw kiok yang ada didepan pintupun boleh diturunkan, mulai
sekarang tak usah menerima pesanan lagi.”
“Hamba akan, segera perintahkan
mereka untuk melaksakannya.”
Kwan Tiong Gak tertawa.
“Untuk sementara waktu orang-orang
yang ada dikota Kay Hong tak perlu dibubarkan dulu, setelah tiba di
ibu kota aku akan pilih beberapa orang Piauwsu berkepandaian tinggi
untuk datang lebih dahulu ke kota Kay Hong dan membantu urusanmu di
sini.”
Bicara sampai disini ia alihkan
sinar matanya ke arah Nyioo Su Jan serta Lie Giok Liong terusnya,
“Su Jan, kau serta Giok Liong dan Ih Cun tetap berdiam disini, tak
usah pulang kekantor pusat lagi.”
“Kami turut perintah,” ketiga
orang itu bersama sana menjura.
Setelah meloncat naik keatas
kudanya Kwan Tiong Gak melarikan binatang tersebut kedepan untuk
melakukan perjalanan.
Menanti bayangan punggung dari
Cong Piauw tauwnya telah lenyap dari pandangan senua orang baru
kembali keruangan tengah,
Liem Toa Lek segera menjura ke
arah Nyioo Su Jan sembari berkata, “Nyioo heng, membicarakan soal
pengalaman kecerdikan kau jauh lebih hebat dari siauwte, sejak Cong
Piauw tauw berlalu harap urusan disini bisa diputusi oleh Nyioo heng.”
“Soal ini. .soal ini….”
“Nyioo heng tak perlu merendah
lagi. siauwte akan mendengarkan semua perintah mu.”
Buru-buru Nyioo Su Jan menjura.
“Jikalau demikian adanya, siauwte
akan menurut saja….”
Ia merandek sejenak, demikian
terusnya, “Cong Piauw tauw serta Hu Cong Piauw tauw telah
meninggalkan tempat ini, berita tersebut dengan cepat akan diketahui
oleh si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang, kecuali Cong Piauw tauw telah
mengadakan persiapan atau Ke Giok Lang telah pergi mengejar Cong
Piauw tauw. Asalkan ia tetap berada dikota Kay Hong maka ia pasti
berusaha untuk menghadapi kita, maka dari itu kita harus bertindak
lebih berhati hati. Harap Cu-wi pikirkan cara apa yang bagus untuk
mengatasi masalah ini. nanti sore kita berunding lagi untuk mencari
satu akal untuk membendung usaha Ke Giok Lang ini.”