ambang naga panji naga sakti 07

“Ada satu persoalan yang membuat aku orang she Kwan merasa patut disayangkan!” kata Kwan Tiong Gak dengan nada berat.

“Urusan apa?” tanya Ke Giok Lang dengan sepasang biji mata berputar-putar.

“Ke-heng, buat apa kau bikin jaring untuk menjerat diri sendiri? tidak seharusnya kau paksa Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok demi ikut menanda tangani surata tanda terima tersebut.”

“Hitam di atas putih tertera sangat jelas sekali, semisalnya Liuw Thayjien dengan berdasarkan bukti tersebut melaporkan hal ini kepada pihak pengadilan dan menuduh kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bersekongkol dengan jago kalangan Liok-lim untuk jebak ia masuk perangkap, bukankah hal ini membuat kami ada perkataanpun susah untuk membantah.”

Beberapa patah ucapan ini sangat cengli sekali, kendati Ke Giok Lang adalah seorang yang licik dan banyak akal, untuk sesaat pun tak berhasil memperoleh jawaban yang pantas.

Lama sekali ia termenung, otaknya berputar keras dan akhirnya ia bertanya, “Lalu menuruti pandangan Kwan heng bagaimana baiknya?”

“Seharusnya kita utarakan dengan pepatah kuno yang mengatakan, yang cerdik belum tentu cerdik dan yang bodoh belum tentu bodoh, kesemuanya ini hanya salah kau Ke heng dari pintar jadi keblinger, salah satunya cara yang bagus pada saat ini adalah persilahkan Ke Kong cu serahkan kembali tanda terima itu untuk kemudian dimusnahkan di depan mata kita semua, setelah itu aku orang she Kwan segera akan putar badan berangkat balik ke utara dan tidak mencampuri urusan ini lagi.”

“Kwan heng, sungguh amat ringan ucapanmu itu!” seru Ke Giok Lang sambil tersenyum. “Apa kau lupa bahwa kita orang-orang Bu lim paling mengucapkan apa yang pernah diucapkan selamanya tak akan disesali? Karena barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian aku orang Ke Giok Lang tidak sayang sayangnya telah bentrok dengan beberapa orang kawan Liok-lim sehingga di dalam pertarungan tersebut banyak anak buahku yang terluka, tahukah kalian apa tujuanku berbuat demikian, walaupun aku orang she Ke merasa amat kagum terhadap nama besar kau Kwan Cong Piauw-tauw, tapi seharusnya di antara pihak aku dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian sama sekali tak ada hubungan apapun, tujuanku melindungi kalian selama ini semata-mata hanyalah ingin melindungi peta lukisan pengangon kambing tersebut, jangan terjatuh ke tangan orang lain karena benda itu sudah menjadi milik aku orang she Ke dan aku tidak ingin benda milikku itu kembali kena dirampas orang di tengah jalan, justru karena tidak ingin merusak nama besar perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, selama nanti setelah kalian menghantarkan keluarganya pembesar Liuw itu tiba di kota Kayhong dan perusahaan kalian telah melepaskan tanggung jawab kita baru bekerja kembali, coba kau pikir apa salahku berbuat demikian?”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Aku orang she Kwan percaya kau Ke Kongcu masih punya cara yang lain untuk mendapatkan lukisan peta pengangon kambing itu tanpa menggunakan tanda terima yang ada.”

“Aku Ke Giok Lang selama bekerja selalu berharap setiap urusan bisa dibuat beres dengan tepat dan tidak banyak buang tenaga, setelah Liuw Thayjien menulis sendiri tanda terimanya, aku tidak takut ia pungkiri janji.”

“Ke Kongcu, rasanya kaupun terlalu pandang enteng pembesar she Liuw itu, jika ia benar-benar ada maksud hendak serahkan lukisan tersebut kepadamu, seharusnya sebelum ia masuk ke dalam istana Jendral paling sedikit menyapa dulu diriku, ternyata tak sepatah katapun yang disampaikan kepada kami.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Apakah Liuw Thayjien bersungguh sungguh hendak seahkan peta lukisan pengangon kambing itu kepadaku atau tidak, tunggulah sebentar jawaban segera akan kaliabn ketahui.”

Mendengar ucapan tersebut air muka Kwan Tiong Gak kontan berubah hebat, tapi sebentar kemudian sudah pulih kembali seperti sedia kala.

“Jika demikian adanya, Ke Kongcu sudah kirim orang untuk menagih lukisan pengangon kambing itu?” tanyanya.

“Sedikitpun tidak salah…..”

Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.

“Tapi saudara boleh berlega hati, orang yang cayhe kirim untuk menagih lukisan tersebut sama sekali bukan orang dari kalangan Liok-lim, dia adalah seorang kenamaan di dalam kota Kay Hong, sekalipun Liuw Thayjien ada maksud menghindarkan diri dari kenyataan pun tidak akan menyangka aku bisa minta orang yang mintakan lukisan pengangon kambing tersebut.”

“Jikalau demikian adanya, pengaruh Ke Kongcu bukan saja sudah tersebar di kalangan Liok-lim bahkan sudah menerobos pula ke dalam kalangan kaum pembesar, orang kenamaan?”

“Aaaaaach….. haaa….haaa….. seseorang yang sering melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw, seharusnya mencari kawan lebih baik, mereka suka membantu aku orang she Ke sudah tentu bantuan ini tak akan kutolak mentah mentah.”

“Generasi muda menggantikan generasi tua, Ke Kongcu belum lama terjunkan diri ke dalam dunia persilatan tapi pengaruhmu berhasil kau sebar di segala pelosok Bu Lim, keberhasilanmu ini sungguh membuat orang merasa kagum,” puji Kwan Tiong Gak.

Walaupun dimulut ia sedang berbicara dengan Ke Giok Lang, tapi sepasang matanya melototi wajah si Dewa Api Ban Cau tajam tajam di samping memperhatikan perubahan wajahnya.

Tetapi air muka Ban Cau masih tetap dingin, kaku dan serius, terhadap ucapan dari Kwan Tiong Gak sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.

Ke Giok Lang tertawa hambar.

“Kwan heng, watak siauwte, selamanya adalah tidak dapat menahan perkataan di dalam hati, saudara Ban heng ini sejak semula sudah menyetujui untuk bekerja sama dengan siauw-te, sekarang kita merupakan satu rombongan.”

“Haaa…. haaa….. haaa….. Ke Kongcu!” seru Kwan Tiong Gak sambil mendongak dan tertawa terbahak bahak. “Tempo dulu waktu berada di Peking siauwte sama sekali tidak memenuhi undanganmu untuk berjumpa, bila dipikir sekarang, hal tersebut sungguh merupakan suatu tindakan yang terlalu ceroboh.”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya.

“Bila kita bicarakan dari situasi yang kita hadapi saat ini, urusan semakin jelas lagi tertera, dan aku rasa apa maksud Ke Kongcu mengundang aku orang she Kwan datang kemaripun seharusnya boleh segera diterangkan.”

Sekalipun berada di musim salju yang dingin, Ke Giok Lang masih menggoyang goyang kipasnya juga untuk menyejukkan badan.

“Kwan heng” ujarnya. “Perkataan dari orang she Ke sudah dijelaskan…”

“Sungguh sayang pikiranku tumpul sehingga tidak dapat menduga apa maksud yang sebenarnya dari Ke Kongcu.”

“Ke Kongcu” tiba tiba Phoa Ceng Yan menimbrung dari samping. “Urusan kantor dari Cong Piauw-tauw kami terlalu banyak dan tak bisa berdiam terlalu lama di sini, bilamana Ke Kongcu ada perkataan lebih baik diutarakan saja secara terus terang, jikalau maksudmu mengundang kami datang hanya ingin berjumpa saja, sekarang kita semua telah bertemu.”

Wajah Ke Giok Lang masih penuh dihiasi oleh senyuman.

“Setelah meneguk secawan arak, seribu cawanpun dikatakan kurang. Pembicaraan tidak cocok separuh katapun dikatakan terlalu banyak. Kelihatan Phoa heng tidak ingin terlalu lama berkumpul dengan aku orang she Ke”

Selagi Phoa Ceng Yan siap memberikan tanggapannya, mendadak tampak seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan dengan memakai separangkat baju singsat buru-buru lari masuk ke dalam ruangan kemudian mendekati Ke Giok Lang dan membisikkan sesuatu ke telinga si Hoa Hoa Kongcu ini.

Ke Giok Lang kebutkan kipasnya, lelaki kekar itu segera putar badan dan mengundurkan diri dari ruangan.

Suasana seketika itu juga berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, di tengah kesunyian suasana terasa semakin menegang…..

“Kwan heng!” ujar Ke Giok Lang kemudian sembari menutup kipas di tangannya. “Menurut pengetahuan di dalam kota Kay Hong, kecuali Piauw su dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok masih ada jago jago lihay siapa lagi…?”

“Di dalam kota Kay Hong, naga harimau hilir mudik tiada hentinya, jago lihay banyak jumlahnya, entah Ke Heng ingin tanyakan yang mana?”

“Benar, di kota Kay Hong memang banyak terdapat jago lihay, tetapi yang berani bermusuhan dengan aku orang she Ke rasanya tidak seberapa banyak.”

Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

“Cayhe percaya Ke Kongcu bukan seorang yang pandai pentang mulut besar, apa yang bisa kau utarakan tentu punya pegangan yang kuat, tentunya sejak semula kau sudah tanam pengaruh di kota Kay Hong ini.”

Entah karena urusan apa mendadak Ke Giok Lang telah kehilangan kepandaiannya untuk menguasai diri sendiri, senyuman yang semula menghiasi wajahnya berubah menjadi suatu mimik yang dingin dan kaku terbentang di depan mata.

“Kwan Cong Piauw-tauw terlalu memuji, di kota Kay Hong aku orang she Ke tidak lebih banyak berhasil berkawan dengan beberapa orang.”

“Jika kudengar dari nada ucapan Ke Kongcu, agaknya terhadap aku orang she Kwan hatimu punya rasa tidak puas.”

“Hmmmm! Apabila di kota Kay Hong ini ada orang yang berniat membawa maksud buruk terhadap aku orang she Ke, maka paling sedikit perusahaan Liong Wie Piauw-kiok termasuk salah satu diantaranya…”

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

“Dengan orang-orang yang punya kedudukan serta nama di kota Kay Hong kebanyakan aku Ke Giok Lang pernah berhubungan sebagai kawan, tapi terhadap perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian selamanya tidak pernah mengganggu, hal ini dikarenakan kau orang she Kwan.”

Walaupun ucapan ini kedengarannya tidak mengandung sesuatu maksud tertentu, padahal maksud sebenarnya terkandung suatu penyerangan yang tajam.

Tidak salah lagi ia sedang mengatakan apabila kawan kawan Bu lim yang ada di kota Kay Hong ini kecuali perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah kena ditaklukkan semua oleh Ke Giok Lang, Kwan Tiong Gak adalah seorang jagoan yang berpengetahuan sangat luas, sudah tentu iapun dapat menangkap nada ucapan tersebut, setelah termenung beberapa saat katanya.

“Bila di kota Kay Hong ini hanya kami orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok saja yang berani merusak pekerjaan Ke Kongcu, maka orang-orang perusahaan kami memang patut kalian curigai terus, tapi jika didengar dari nada ucapan Ke Kongcu agaknya kecuali kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok paling sedikit masih ada seorang yang patut dicurigai, entah siapakah orang itu?”

“Seorang toosu tua dari kuil “Ting To Sia Yen”. Cuma menurut apa yang aku orang she Ke ketahui Thian Peng Totiang ini hanya menerjunkan diri dalam soal agama, ia tidak ingin bergaul dengan akui orang she Ke ini bukan berarti ia memusuhi aku orang.”

“Ke Kongcu, kau mengupasi orang persoalan ini satu demi satu, dan akhirnya kau merasa begitu yakin bila kami orang-orag dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lah yang memusuhi dirimu.”

“Tentang soal ini seharusnya dalam hati kecil Kwan Cong Piauw-tauw sudah punya perhitungan sendiri, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bisa berdiri di dalam dunia persilatan sebagai perusahaan piauw-kiok nomor wahid di kolong langit, ini mengartikan baik dalam kecerdasan maupun dalam soal kepandaian silat. Kwan Cong Piauw-tauw benar benar luar biasa.”

Air muka Kwan Tiong Gak perlahan lahan berubah semakin serius.

“Ke Kongcu, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami bisa mendapat kemajuan seperti ini hari sudah tentu sebagian besar harus berdasarkan bantuan dari kawan kawan kangouw, tetapi kami pun selama ini menjaga-jaga peraturan perusahaan piauw-kiok ketat-ketat dan selamanya belum pernah dilanggar, kedatangan aku orang she Kwan kali ini untuk memenuhi undangan pun tidak lebih hanya ingin menarik kembali tanda terima tersebut, kecuali itu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami sama sekali tidak mempersiapkan tindakan apa-apa, kedatangan aku orang she Kwan ke sini juga dilakukan terang terangan dan hingga kini belum pernah tiba saat saat penggunaan senjata, apa perlunya aku orang she Kwan menggunakan akal licik? Ke Kongcu, ucapak aku orang she Kwan pun hanya sampai di sini saja.”

Pada dasarnya wajah Kwan Tiong Gak memang keren berwibawa, apalagi ucapan tersebut diutarakan lancang, hal ini membangkitkan rasa percaya di hati semua orang.

Ke Giok Lang kerutkan keningnya sehabis mendengar ucapan tersebut.

“Kecuali dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian yang secara diam-diam main setan, hanya tinggal toosu-toosu dari kuil “Ting To Sia Yen” saja. Hmmm! Toosu-toosu hidung kerbau ini sungguh bernyali besar.”

“Ke Kongcu,” sambung Phoa Ceng Yan dari samping. “Kota Kay Hong adalah sebuah kota kenamaan, orang yang berlalu lalang dan hilir mudik bagaikan aliran air di sungai, setiap hari berganti wajah mengapa kau begitu ngotot mengatakan tentu orang-orang penduduk Kay Hong lah yang memusuhi dirimu?”

“Jika orang itu datang dari luar kota, aku rasa tak akan sedemikian kebetulannya, memusuhi diriku apalagi mereka-pun tidak tahu kejadian yang sesungguhnya di balik kesemuanya ini.”

“Ke Kongcu, kau sudah bicara setengah harian, sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Walaupun Liuw Thayjien sudah lama bergulungan di dalam pemerintahan, tetapi dia masih merupakan seorang yang bisa pegang janji, setelah melihat surat tanda terima tersebut, ia telah menyerahkan peta lukisan pengangon kambing itu kepada orang yang kukirim.”

“Dan kini peta lukisan pengangon kambing itu kembali dirampas orang?” sambung Kwan Tiong Gak dengan wajah serius.

“Sedikitpun tidak salah, Kwan Cong Piauw-tauw, bagaimana pendapatmu mengenai peristiwa ini?”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya kemudian tertawa hambar.

“Peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan berada di luar dugaanku, aku orang she Kwan tak dapat memberikan pendapat mengenai peristiwa ini.”

“Kalau begitu apakah Kwan Cong Piauw-tauw sudah mempercayai ucapan siauwte?”

“Cayhe mau percaya atau tidak entah apa hubungannya dengan diri Ke Kongcu?”

Mendadak Ke Giok Lang mendongak dan menggapai seorang lelaki berusia tiga puluhan melangkah maju ke muka.

Si Hoa Hoa Kongcu segera membisikkan sesuatu ke samping telinganya, lelaki itu manggut tiada hentinya lalu memggapai pula ke arah kawannya.

Empat orang lelaki menyahut dan maju ke muka, kemudian lima sosok bayangan manusia laksana sambaran petir lari keluar dari ruangan.

Menanti kelima orang anak buahnya sudah berlalu Ke Giok Lang baru berpaling kembali ke arah Kwan Tiong Gak.

“Kwan heng, tanda terima tersebut sudah kami serahkan ke tangan Liuw Thayjien, peta lukisan pengangon kambing-pun kena dirampas orang, bilamana Kwan heng ingin minta kembali tanda terima tersebut rasanya amat sulit sekali.”

“Apakah Ke Kongcu menaruh curiga terhadap aku orang she Kwan?”

“Soal ini sih siauwte tidak berani memastikan, selama hidup siauwte hanya bekerja setelah ada bukti yang nyata, tetapi bilamana dikatakan siauwte sama sekali tidak menaruh curiga, tentunya kau orang she Kwan pun tak akan percaya.”

“terus terang aku hendak beritahu kepada Ke Kongcu, siauwte sendiripun rada menaruh curiga terhadap diri Ke Kongcu.”

Mendengar ucapan tersebut Ke Giok Lang segera tertawa terbahak bahak.

“Haaa……haaa…..haaa….. hal ini sudah kuduga sebelumnya.”

“Ke Kongcu, setelah kau kehilangan peta lukisan pengangon kambing agaknya sama sekali tidak menunjukkan rasa gelisah ataupun cemas.”

“Urusan sudah jadi begini, cemaspun tak ada gunanya.”

“Kalalu begitu bagaimana kalau siauwte mohon diri terlebih dahulu ….?”

Perlahan lahan Ke Giok Lang menghela napas panjang.

“Kwan heng, lebih baik kau jangan pergi dahulu.”

“Mengapa?”

“Siauwte menaruh curiga terhadap Kwan heng, dan Kwan heng pun menaruh curiga terhadap siauwte, lebih baik kita sama sama berkumpul jadi satu menanti hingga urusan ini menjadi beres dan terang.”

“Jikalau siauw-te tidak ingin berdiam di sini?”

“Lebih baik Kwan heng jangan ngotot hendak menggunakan kekerasan, daripada harus terjadi bentrokan kekerasan di antara kita.”

Kwan Tiong Gak termenung beberapa saat lamanya, akhirnya ia berkata.

“Untuk minta siauw-te  berada di sini tidak sukar tetapi kita harus bicarakan dulu satu syarat.”

“Bagus! Ada syarat bisa dibicarakan, Kwan Cong Piauw-tauw silahkan berbicara.”

“Untuk berdiam di sini bagi cayhe tidak sukar, tapi aku berharap bisa menarik kembali tanda terima tersebut…..”

Ia termenung sejenak lalu tambahnya.

“Mungkin dalam pandangan cuwi menuduh aku orang she Kwan terlalu takut menghadapi urusan, kenyataannya memang tidak salah, aku orang she Kwan adalah seorang rakyat biasa, tidak dapat dibandingkan dengan keadaancuwi sekalian.”

“Haaa……haaa….haaa….. Kwan heng adalah rakyat baik baik kalau begitu kami adalah kaum penyamun bukan?”

“Perkataanku bukan mengartikan demikian, kami orang-orang yang membuka perusahaan piauw-kiok boleh dihitung sebagai kaum pedagang, kita kita harus membuka kantor cabang di setiap tempat secara baik baik untuk mencari keuntungan material, ada pepatah mengatakan bila rakyat janganlah cari gara-gara dengan pembesar. Cayhe tidak berharap ada surat tanda bukti yang terjatuh ke tangan kaum pembesar pemerintahan.”

“Jikalau Kwan Cong Piauw-tauw hanya merisaukan tanda terima saja, urusan semakin mudah diselesaikan, malam ini juga cayhe bisa pergi mengambilnya.

Walaupun Liuw Thayjien sendiri adalah seorang yang lemah tak bertenaga, tetapi keketatan serta kerapatan penjagaan dalam istana jendral seharusnya kaupun tahu, beberapa orang Bu su melindungi istana pun bukan manusia sembarangan, jikalau Ke Kongcu bermaksud hendak mencuri tanda terima itu, takut urusan malah akhirnya berubah makin  besar, ini namanya melukis harimau tidak jadi yang muncul adalah sejenis anjing.”

“Tidak mudah, tidak mudah, kiranya bukan saja Kwan Cong Piauw-tauw begitu paham terhadap seluk beluk Bu Lim, ternyata terhadap keadaan istana jendral pun mengetahui begitu jelas.” puji Ke Giok Lang sambil tersenyum.

“Aaah! Ke Kongcu terlalu memuji.”

Ke Giok Lang mendongak dan tertawa terbahak bahak.

“Haaa……haaa…. haaaa….. seorang yang punya nama besarpun ternyata bisa begitu merendah…..”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya.

“Menurut pendapat Kwan Cong Piauw-tauw, tanda bukti itu tak boleh dicuri, tetapi benda tersebut sudah berada di tangan Liuw Thayjien, entah apa yang harus kami lakukan sekarang?”

“Cara gelap ada beribu ribu cuma yang terang terangan hanya sebuah saja.”

“Silahkan Kwan Cong Piauw-tauw memberi penjelasan.”

“Menggunakan peta lukisan pengangon kambing untuk ditukar dengan tanda terima tersebut.”

“Aaakh! Suatu cara yang amat bagus, cuma lukisan pengangon kambing itu sudah tidak berada di tanganku lagi!” Ke Giok Lang tertawa hambar.

“Cayhe percaya Ke Kongcu pasti dapat mencari kembali lukisan pengangon kambing yang hilang.”

“Kwan heng terlalu memandang tinggi diri siauw-te!”

Si Hoa Hoa Kongcu tertawa tergelak, kemudian tambahnya.

“Memandang di atas nama Kwan Tiong Gak mu ini biarlah untuk kali ini siauwte jual muka untukmu, asalkan siauwte berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu, aku orang she Ke rela bersama-sama Kwan-heng pergi minta kembali tanda terima tersebut.”

“Perkataan Ke Kongcu berat bagaikan sembilan Hioloo, sebelumnya siauwte mengucapkan terima kasih dahulu.”

“Semisalnya siauwte tak berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu?” tiba tiba si Hoa Hoa Kongcu bertanya kembali.

“Tentang soal ini, tentang soal ini…..”

“Jikalau lukisan pengangon kambing tak berhasil kudapatkan kembali, siauwtepun akan berusaha keras untuk mencarinya kembali.”

“Ucapan dua macam, semisalnya Ke Kongcu tidak berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu, mka aku orang she Kwan pun terpaksa akan ikut mengadu untung.”

“Entah dapatkah Kwan heng menyanggupi siauwte semisalnya kau yang berhasil mendapatkan kembali lukisan pengangon kambing itu suka mengabarkan siauwte untuk kemudian bersama-sama pergi menghadapi Liuw Thayjien dan minta kembali surat tanda terima tersebut?”

“Boleh, boleh, asalkan siauwte berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, bagaimana juga Ke Kongcu pasti akan kami kabari, kecuali cayhe tidak berhasil temukan dirimu.”

“Aaaakh! Ucapan ini terlalu samar, entah dalam keadaan bagaimana Kwan heng anggap tidak berhasil menemukan siauwte?”

“Aku orang she Kwan selamanya bicara satu tetap satu, bicara dua tetap dua, apakah Ke Kongcu hendak memaksa aku untuk angkat sumpah.”

“Siauwte tidak berani berbuat demikian.” dengan buru-buru Ke Giok Lang berkelit. “Cuma setelah Kwan heng berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, aku harap kaupun mempunyai suatu pernyataan yang jelas.”

“Perduli bagaimanakah cara mengutarakan pernyataan tersebut, asalkan tidak menyukarkan diriku, pasti akan cayhe penuhi.”

Ke Giok Lang agak termangu mangu sejenak, setelah itu katanya.

“Bila ditinjau situasi yang dihadapi saat ini, agaknya sebelum Kwan Cong Piauw-tauw berhasil dapatkan kembali surat tanda terima tersebut untuk sementara tak akan meninggalkan tempat ini?”

“Siauwte berharap sebelum Cap Go Meh bisa kembali ke Peking, soal mendapatkan kembali lukisan pengangon kambing itu bisa lebih cepat sudah tentu lebih baik.”

Ke Giok Lang menunggu kembali lalu mengangguk.

“Baiklah, jikalau Kwan heng berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, harap kau pasang sebuah lentera merah di depan pintu kantor cabang Piauw kok kalian selama dua malam, jikalau siauwte belum juga tiba maka ini berari siauwte telah meninggalkan kota Kay Hong.”

“Ke Kongcu bisa mencari aku, tetapi bagaimana caranya pula apabila cayhe ingin mencari Ke Kongcu?”

“Tiga hari sebagai batas waktu, bilamana cayhe berhasil mendapatkan kembali lukisan pengangon kambing itu sudah tentu bisa kuhantar sendiri ke perusahaan Piauw-kiok kalian untuk berjumpa dengan Kwan heng, bilamana yang aku dapat hanya berita saja tentang lukisan pengangon kambing itu, maka siauwte akan kirim orang untuk melaporkan berita tersebut kepada Kwan heng.”

“Baik! Kita tentukan demikian saja, jikalau Ke Kongcu membutuhkan bantuan siauwte, kirim saja orang untuk memberitahu, siauwte pasti akan segera berangkat.”

“Terimakasih atas kesudian Kwan heng.” buru-buru Ke Giok Lang menjura. “Asalkan siauwte berjumpa dengan musuh yang sangat tangguh tentu akan kukirim orang untuk minta bantuan Kwan heng, dan semisalnya Kwan heng yang membutuhkan bantuan siauwte silahkan pasang pula lentera merah di depan pintu kantor cabang piauw-kiok, siauw-te segera akan datang memberi bantuan.”

Kwan Tiong Gak segera mendongak dan tertawa terbahak bahak.

“Semoga Ke Kongcu bisa memperoleh hasil, siauwte menanti kabar baikmu di dalam kantor piauw-kiok.”

Setelah menjura ia menoleh kepada Phoa Ceng Yan sekalian.

“Mari kita pergi.”

Dengan langkah lebar ia berlalu terlebih dulu dari ruangan.

Ke Giok Lang mengikuti dari belakang dan menghantar rombongan tersebut hingga keluar ruangan.

“Kwan-heng, dapatkah kau berhenti sebentar.” tiba tiba serunya.

Dengan cepat Kwan Tiong Gak putar badan, sepasang matanya berkilat.

“Apakah Ke kongcu masih ada urusan?”

“Barusan saja siauwte teringat akan satu hal semisalnya Kwan heng ingin mempertahankan diri sebagai penduduk baik-baik lebih baik untuk sementara waktu bersembunyi dahulu.”

“Aku orang she Kwan adalah seorang lelaki sejati, kenapa harus menyembunyikan diri.”

“Siauwte tidak memiliki kepandaian untuk meramal kejadian yang akan datang, tapi aku akan ingat ingat terus persoalan ini mau mendengarkan atau tidak itu terserah pada Kwan heng sendiri.”

“Tentang soal ini Ke Kongcu tak usah kuatir.”

“Kalau begitu anggap saja siauwte terlalu banyak bicara” seru si Hoa Hoa Kongcu kemudian sambil tempelkan tangan kanannya di tepian kipas sendiri.

“Ke Kongcu terlalu merendah.”

“Cuwi silahkan berangkat!”

Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya dengan membawa Phoa Ceng Yan sekalian berlalu dari kuil Thian Ong Bio.

Setelah jauh meninggalkan kuil tersebut, Phoa Ceng Yan berpaling dan setelah dirasakan tak ada yang menguntit bisiknya kepada sang Cong Piauw-tauw-nya.

“Agaknya Ke Giok Lang bukan seorang jago yang gampang diusir.”

Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Entah siapakah yang telah memberi gelar “Hoa Hoa Kongcu” kepadanya, bukan saja tidak sesuai dengan wataknya, bahkan pandai sekali dia memancing orang untuk terperosok ke dalam langkah-langkah yang salah.”

Ia merandek, sejenak kemudian tambahnya.

“Dia adalah seorang yang berpengetahuan luas, pikirannya tajam dan akalnya banyak seharusnya terhadap manusia macam begini tak boleh diberi julukan sebagai si Hoa Hoa Kongcu.”

“Toako, agaknya kau masih mempercayai perkataannya.?”

“Dalam soal sekecil ini, aku percaya ia tak bakal bicara bohong,” kata Kwan Tiong Gak seraya mengangguk. “Justru yang menjadi persoalan pada saat ini adalah terjatuh ke tangan siapakah lukisan pengangon kambing itu?”

Ia menghembuskan napas panjang.

“Sayang aku belum pernah membicarakan persoalan ini dengan diri Liuw Thayjien pribadi.”

“Cong Piauw-tauw, apakah kau merasa peristiwa ini ada kemungkinan adalah permainan setan dari Liuw Thayjien?” sela Nyoo Su Jan.

“Liuw Thayjien sudah ada puluhan tahun lamanya berkecimpungan di dalam pemerintahan, ia benar-benar bukan seorang yang patut dipandang enteng, tetapi aku belum pernah memperhatikan dirinya dengan cermat dan tak kuketahui bagaimanakah wataknya?”

“Dia adalah seorang yang penuh dengan pengetahuan, penuh dengan pengalaman…” timbrung Phoa Ceng Yan.

“Orang she Liuw ada banyak bagian yang sangat berbeda dengan orang lain, sebagai seorang pembesar kelas dua pada waktu ini ternyata ia berkecimpung pula dalam soal Bu Lim, sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh,” sambung Kwan Tiong Gak kembali.

“Siauwtepun berpendapat demikian, aku lihat agaknya terhadap lukisan pengangon kambing itu ia sama sekali tidak menaruh rasa sayang, oleh karena itu siauwte-pun merasa yakin jelas terhadap rahasia lukisan pengangon kambing itu pembesar she Liuw ini sama sekali tidak mengerti.”

“Emmmm, urusan ini memang ada sedikit mengherankan, cuma sampai detik ini kita masih belum dapat memahami keseluruhannya.”

“Ke Giok Lang bisa menaklukkan si Dewa Api Ban Cau untuk bergabung ke dalam pihaknya ini cukup membuktikan kecerdikan Ke Kongcu luar biasa sekali,” kata Nyoo Su Jan.

“Persoalan tentang rahasia lukisan pengangon kambing tidak banyak yang tahu, rasanya peristiwa lenyapnya lukisan pengangon kambing tersebut apabila bukan permainan setan dari pihak Ke Kongcu sendiri, ada kemungkinan merupakan siasat dari Liuw Thayjien.”

“Sebelum kita berhasil mendapatkan bukti yang nyata, janganlah sembarangan ambil kesimpulan sendiri.” akhirnya Kwan Tiong Gak mencegah anak buahnya bicara lebih lanjut.

Gerakan tubuhnya dipercepat untuk kembali ke kantor cabang Piauw-kiok-nya.

Ketika beberapa orang itu tiba di depan pintu kantor, beberapa orang anggota piauw-kiok sudah menyambut kedatangan mereka.

Tahun baru sudah tiba, untuk sementara perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berhenti bekerja, pintu besar tertutup rapat, bendera perusahaan yang sepanjang jalan selalu berkibarpun telah diturunkan.

Kwan Tiong Gak sekalian bersama sama masuk ke dalam ruangan belakang, setelah ambil duduk Liem Toa Lek memerintahkan kokinya persiapkan makanan.

Sejurus kemudian perjamuan telah dipersiapkan.

Tapi belum sampai seteguk arak masuk mulut mendadak tampak seorang lelaki lari masuk ke dalam dengan terburu-buru.

“Ada urusan apa?” tegur Kwan Tiong Gak seraya meletakkan kembali cawan araknya ke meja.

“Tangan kanan dari Tok Say mohon bertemu dengan Cong Piauw-tauw” lapor lelaki itu seraya menjura.

Walaupun Kwan Tiong Gak adalah seorang jago gagah perkasa yang berjiwa jantan tetapi dia adalah seorang pedagang yang mencari sesuap nasi dengan membuka perusahaan piauw-kiok, mendengar tangan kanan dari sang Tok Say datang mencari dirinya ia agak sedikit melengak.

(Bersambung ke Jilid 14)

Jilid 14

Setelah termenung beberapa saatnya, akhirnya ia ulapkan tangannya.

“Undang ia ke ruang tengah.”

Pelayan itu menjura kemudian mengundurkan diri.

Kwan Tiong Gak segera singkirkan cawan awak dan bangun berdiri.

“Bila orang-orang Bu-lim terpaksa harus berurusan dengan orang-orang dari pemerintahan, ini berarti kerepotan sudah menjelang datang, kalian tunggulah sebentar di sini, aku akan pergi menemui mereka sendiri….”

“Hamba dengan kedua orang Bu su istana Jendral pernah saling mengenal, bagaimana kalau aku menemani Cong Piauw-tauw pergi menemui mereka?”

“Baiklah!” Kwan Tiong Gak mengangguk.

Ia lantas melangkah keluar.

Sebelum berlalu Liem Toa Lek membisik sesuatu ke sisi telinga Phoa Ceng Yan, ujarnya.

“Tangan kanan dari Tok Say ini mempunyai asal usul yang tidak kecil, jikalau tidak ada urusan penting ia tak akan datang kemari, Hu Cong Piauw-tauw serta Nyoo-ya harap tunggu sebentar di sini, bila ada urusan akan kukirim orang untuk memberi kabar.”

“Ehmm… kalau ada urusan cepat-cepat beritahu kepadaku,” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk, wajhnya kelihatan sangat keren.

“Soal ini hamba tahu.”

Ia putar badan dan cepat-cepat mengejar Kwan Tiong Gak menuju ke ruang tengah.

Belum sempat kedua orang itu ambil duduk, seorang lelaki anggota perusahaan telah mengiringi seorang lelaki berusia pertengahan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Cukup ditinjau dari pakaian yang dikenakan sudah bisa diketahui dia adalah seorang pembesar, bahkan wajahnya sangat asing belum pernah dijumpai.

Tetapi ada satu hal Liem Toa Lek merasa yakin yaitu orang yang datang adalah seorang ahli tenaga lweekang, terbukti kedua keningnya menonjol tinggi.

Dengan cepat ia berebut maju ke depan seraya menjura.

“Siauw-te adalah Liem Toa Lek, ketua piauw su dari Liem Wie Piauw-kiok cabang kota Kay Hong.”

Lelaki berusia pertengahan itupun merangkap tangannya membalas hormat.

“Telah lama siauwte mengagumi nama saudara, hanya saja karena urusan tugas terlalu banyak tak ada waktu datang berkunjung.”

Sinar matanya segera dialihkan ke atas wajah Kwan Tiong Gak, sambungnya.

“Tentunya saudara ini adalah Kwan Cong Piauw-tauw bukan?”

“Caye benar adalah Kwan Tiong Gak, tolong tanya siapakah nama besar kawan?”

“Siauwte she Jen bernama Pek To, selama ini mengikuti terus di sisi Tok Say dan jarang berkelana dalam dunia kangouw, aku rasa belum tentu Kwan Cong Piauw-tauw pernah mendengar namaku,” kata si lelaki berusia pertengahan itu sambil tertawa.

Dalam hatinya Kwan Tiong Gak menggulangi nama itu berulang kali, Jen Pek To, Jen Pek To, nama ini benar-benar terasa sangat asing sekali dalam pendengarannya.

Walaupun di hati ia heran, diluaran jawabnya.

“Jen-heng dapat mengikuti di sisi Tok Say, memakai jubah kebesaran yang cemerlang tentu seorang jago silat yang maha lihay, siauwte merasa sangat kagum.”

Jen Pek To tersenyum.

“Nama besar Kwan Piauw-tauw-pun telah menggemparkan seluruh kolong langit, aku sebagai seorang petugas yang makan gaji pemerintahan dapat berkawan diri dengan diri Kwan-heng, hal ini merupakan keuntungan bagi orang she Jen selama tiga generasi. Kata-kata kagum dari Kwan heng tak berani siauwte terima….”

Ia tertawa terbahak-bahak, sambungnya, “Tak ada urusan tak akan menaiki kuil Sam Poo Tien, kedatangan siauwte kali ini karena ada satu urusan yang hendak disampaikan kepada diri Kwan-heng.”

“Jen heng silahkan mengutarakan,” kata Kwan Tiong Gak dengan air muka serius.

“Siauw-te berharap Kwan-heng suka mengikuti kami untuk mengunjungi istana Jendral.”

“Jen-heng! Sebelum aku orang she Kwan menyanggupi undanganmu, dapatkah aku bertanya dulu akan satu persoalan?” perlahan lahan Kwan Tiong Gak menghembuskan napas panjang.

“Asal siauwte tahu tentu akan kujawab.”

“Kalau begitu bagus sekali, siauwte ingin bertanya kepada Jen heng, undangan untuk aku orang she Kwan dalam kunjungannya ke istana Jendral ini merupakan undangan pribadimu sendiri ataukah perintah dari Tok Say?”

“Urusan ini adalah atas perintah Tok Say, tetapi karena siauwte sudah lama mengagumi nama besar Kwan heng, aku rasa apabila hanya mengirim seorang tentara kroco untuk datang menyampaikan undangan tersebut takut-takut hal ini akan melukai nama besar Kwan-heng, aku oleh sebab itu siauwte datang sendiri untuk mengundang Kwan-heng suka menghadap sebentar.”

“Aku orang she Kwan merasa sangat berterima kasih atas maksud baik dari Jen heng…..” Kwan Tiong Gak tertawa hambar.

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya.

“Sekarang juga kita hendak berangkat?”

“Tidak salah. Sekarang Tok Say sedang menanti dalam istana.”

“Bagus sekali, aku orang she Kwan akan meninggalkan pesan dahulu kepada mereka kemudian segera berangkat.”

Jen Pek To tersenyum.

“Siauwte akan menanti di ruangan.”

Habis berkata ia putar badan dan berlalu dari ruangan tengah.

Kwan Tiong Gak segera berpaling dan memandang sekejap ke atas wajah Phoa Ceng Yan, sikapnya kelihatan amat serius.

“Saudara Phoa, agaknya urusan makin lama berubah semakin rumit. Tok Say adalah seorang pembesar yang pegang pimpinan tertinggi dari ketentaraan asalkan ia hadiahkan nama jelek dan berdosa buat kita, maka perusahaan Liong Wie Piauw-kiok segera akan tutup pintu, undangan sang pembesar yang disampaikan Jen Pek To ini bagaimanapun juga harus aku hadiri…..”

“Bagaimana kala siauwte mengiringi kepergian Toako?”

Dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng.

“Sekalipun mereka ingin tangkap aku seketika itu juga, kitapun tak bisa turun tangan melawan, bahkan jika didengar dari nada ucapan Jen Pek To, agaknya mereka hanya menggundang aku seorang, kalian lebih baik di rumah saja.”

Ia tersenyum sejenak, kemudian tambahnya.

“Kepergianku ini akan mendatangkan rejeki atau celaka saat ini susah ditentukan, tetapi perduli sudah terjadi peristiwa apapun kalian tidak boleh bergerak secara gegabah.”

“Aaaaai…… siauwte tidak becus tak dapat melindungi barang kawalan ini, sehingga mendatangkan banyak kesulitan buat toako.” perlahan lahan Phoa Ceng Yan menghela napas panjang.

“Soal ini tak akan kusalahkan dirimu.”

Dengan langkah lebar Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini melangkah keluar.

Melihat munculnya Kwan Tiong Gak, sambil tersenyum Jen Pek To segera menyambut.

“Bila Kwan heng masih ada urusan, berangkat rada terlambat pun tidak mengapa.”

“Haaa……..haaa…….haaa…… siauwte hanya meninggalkan beberapa pesan saja, kita segera boleh berangkat.” Kwan Tiong Gak mendongak dan tertawa tergelak.

Ia merebut jalan dulu ke muka memimpin keluar dari kantor Piauw-kiok.

Selama di tengah perjalanan Kwan Tiong Gak tidak banyak bicara lagi, sedangkan Jen Pek To sendiripun tidak memberi penjelasan.

Menanti mereka tiba di depan pintu istana Jendral, Jen Pek To baru berhenti seraya bisiknya lirih.

“Kwan-heng, ada pepatah mengatakan si miskin tak ingin bergaul dengan si kaya, rakyat tidak ingin bergaul dengan kaum pembesar, sewaktu berjumpa dengan Tok Say nanti, harap Kwan heng bisa sedikit menahan sabar.

“Tok Say adalah pembesar kelas satu dalam pemerintahan, kekuasaan-nya meliputi hampir satu keresidenan, siauwte sebagau seorang rakyat jelata mana berani bersikap kurang ajar.”

“Siauwte percaya Tok Say sudah mengundang Kwan-heng berjumpa di dalam istananya, tentu beliau tidak mengandung maksud jahat, asalkan Kwan-heng bisa bertindak sopan aku rasa tak bakal mendatangkan banyak kerepotan.”

Mendengar petunjuk itu Kwan Tiong Gak tersenyum dan merangkap tangannya menjura.

“Terima kasih atas petunjuk-petunjuk dari Jen-heng!”

Buru-buru Jen Pek To bongkokkan badannya balas memberi hormat.

“Nama besar Kwan-heng sudah terkenal di seluruh Bu-lim, siauw-te percaya tak akan memadahinya, harap Kwan-heng suka menanti sejenak di luar istana agar siauwte dapat masuk untuk memberi laporan terlebih dahulu, sekalipun penjagaan dalam istana Jendral sangat ketat, akupun tak akan membiarkan mereka melukai kehormatan Kwan-heng.”

Selesai berkata ia melangkah masuk ke dalam istana.

Tidak selang beberapa saat kemudian pintu istana terbuka lebar-lebar, disusul Jen Pek To dengan cepat menyongsong datang.

“Tok Sat menanti kedatangan Kwan-heng di ruang kedua, silahkan mengikuti siauwte” bisiknya.

Demikianlah dengan mengikuti dari belakanag Jen Pek To, Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam istana dan mengambil kesempatan itu ia memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Tampak ruangan istana sangat luas, atap hijau dengan lantai yang mengkilap, setiap pintu masuk berdirilah seorang tentara berseragam lengkap serta seorang lelaki berpakaian preman.

Agaknya tentara-tentara penjaga pintu itu sudah memperoleh pendidikan yang keras, perawakannya rata-rata kekar berotat, kepalanya memakai topi perak dengan pakaian perang bersisik, pinggangnya tergantung sebilah golok dan tangannya mencekal sebuah tombak panjang, sikapnya penuh kewibawaan.

Sedangkan si lelaki berpakaian preman tadi menggembol golok atau pedang, pakaiannya ringkas dengan sebuah kantong piauw tergantung di atas pinggangnya.

Jikalau ditinjau dari kegagahannya maka tentara itu jauh lebih keren, tapi dalam pandangan Kwan Tiong Gak ia mengerti si lelaki berpakaian ringkas itulah baru seorang jago benar-benar.

Agaknya kedudukan Jen Pek To dalam istana tidak rendah, setiap kali ia melewati pintu tentara serta lelaki berpakaian ringkas itu tentu memberi hormat kepadanya.

Setelah melewati tiga buah halaman serta ruangan, sampailah mereka di depan sebuah ruangan yang beralaskan batu giok.

Ketika mereka baru saja tiba di depan pintu dua orang lelaki kekar berpakaian ringkas warna hitam dan menggembol senjata di pinggang telah menyongsong kedatangannya seraya berseru.

“Harap saudara suka tinggalkan senjata tajam serta senjata rahasia di luar ruangan.”

Kwan Tiong Gak adalah seorang jago kawakan yang pernah menggetarkan enam karesidenan di daerah utara, pengalaman di dalam Bu Lim sangat luas dan badai seberapa besarpun pernah ia alami.

Walaupun suasana di dalam istana Tok Say ini amat ketat, sikap Kwan Tiong Gak tetap tenang saja, ia hanya tersenyum dan melepaskan pisau belati serta kedua belas batang Kiem Leng Piauw-nya.”

“Ini adalah peraturan istana, harap Kwan-heng jangan tersinggung.” buru-buru Jen Pek To berbisik memberi penjelasan.

“Ehmm…… memang seharusnya begini”.

Kedua orang lelaki yang menghadang di tengah jalan tadi setelah menerima pisau belati serta Kiem Leng Piauw segera menyingkir ke samping.

Jen Pek To pun melangkah maju ke muka seraya bisiknya.

“Tok Say menanti di dalam ruangan, silahkan Kwan-heng masuk!”

“Terima kasih atas perhatianmu.”

Ia melangkah naik keatas tangga batu dan masuk ke dalam ruangan.

Dengan sepasang mata yang tajam Kwan Tiong Gak mendongak dan memandang sejenak kemudian menunduk kembali.

Tetapi dalam sekali pandangan itulah secara garis besarnya ia dapat melihat jelas situasi di dalam ruangan tersebut.

Seorang kakek tua berusia lima puluh tahunan dengan memelihara jenggot hitam dan memakai jubah kulit bercelana hitam duduk di sebelah kiri meja berukiran bunga, di samping kanannya duduk seorang lelaki berusia pertengahan yang memakai jubah warna hijau.

Sewaktu masih berada di Peking, Kwan Tiong Gak pernah berjumpa dengan lelaki berjubah hijau itu, karena dia bukan lain adalah Liuw Thayjien yang merupakan langganannya yang minta perlindungan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.

Tampak Jen Pek To maju dua langkah ke muka dan menjura ke arah si lelaki berjenggo hitam itu kemudian lapornya.

“Lapor Tok Say, Kwan Tiong Gak telah datang menghadap.”

Si Kakek tua itu mendehem sejenak lalu meletakkan kantong tembakaunya dan ulapkan tangan kiri.

Jen Pek To segera mengundurkan diri dari sana.

Menanti si orang she Jen mengundurkan diri, Kwan Tiong Gak baru maju ke depan seraya jatuhkan diri berlutut.

“Rakyat jelata Kwan Tiong Gak menghunjuk hormat buar Tok Say Thayjien….!”

“Cepat bangun, pertemuan ini adalah pertemuan pribadi, tak perlu menjalankan penghormatan berlebihan.”

“Terima kasih atas kebaikan Thayjien!”

Perlahan-lahan Kwan Tiong Gak bangun dan berdiri di samping dengan kepala tertunduk, tangan lurus ke bawah.

Si kakek tua itu memperhatikan sekejap diri Kwan Tiong Gak setelah itu sinar matanya dialihkan ke arah Liuw Thayjien.

“Liuw Nian-heng, apakah kau pernah berjumpa dengan Kwan Cong Piauw-tauw ini?”

“Sewaktu berada di ibukota Siauwte pernah berjumpa sekali ketika siauwte datang berkunjung ke kantor perusahaan Liong Wie Piauw-kiok-nya.”

Si kakek berjenggot hitam itu tersenyum, ia berpaling kembali ke arah Kwan Cong Piauw-tauw.

“Kwan Tiong Gak!” serunya. “Aku dengar daganganmu luar biasa besarnya, di dalam enam karesidenan daerah utara semuanya tersebar kantor-kantor cabangmu??”

“Hal ini hanya memperoleh bantuan dari kawan belaka sehingga pekerjaan hamba membuka perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok memperoleh kemajuan, Thayjien terlalu memuji.”

“Ehm…..! Namamu sungguh terkenal dalam kolong langit” kembali si kakek berjenggot hitam itu tertawa. “Teringat sewaktu tahun yang lalu Ciu Thay Lang menteri urusan ketentaraan dari ibukota datang berkunjung kemari iapun pernah mengungkap soal namamu.”

“Ciu Thayjien mengatakan soal apa?” seru Kwan Tiong Gak agak terperanjat.

“Ia mengatakan hubunganmu sangat luas sekali, nama besarmu cemerlang dan tersohor, enama karesidenan di daerah utara tak ada yang tidak kenal nama besarmu.”

“Aaaah! Thayjien terlalu memuji.”

“Setelah kau memiliki nama besar sedemikian tersohor, sebagian besar jago-jago kangouw di daerah utara tentu kau kenali semua bukan…..?”

“Lapor Tok Say Thayjien, hamba tidak bisa dikatakan kenal dengan mereka semua, aliran yang berbeda sukar untuk bergaul bersama, hamba adalah seorang pedagang jarang sekali berhubungan dengan orang-orang kangouw.”

“Baiklah! Kalau begitu kita bicarakan dalam soal perdagangan saja……..”

Kalau didengar dari nada ucapan tersebut kurang beres, Kwan Tiong Gak mendongak, dilihat selembar wajah Tok Say Thayjien yang semula penuh dihiasi senyuman saat ini, telah berubah jadi penuh kewibawaan, hatinya kontan jadi tergetar keras.

Tetapi, bagaimanapun juga dia adalah seorang yang sering menjumpai peristiwa-peristiwa tegang, badai sebagaimana dahsyatpun pernah dijumpainya, sekalipun sangat jarang dia berhubungan dengan orang-orang dari kalangan pembesar pemerintahan, tapi dalam kegugupan ia tidak sampai jadi kacau, buru bur ia menjura.

“Tok Say Thayjien terlalu memuji, hamba bernyali kecil mana berani melampaui kewibawaan serta kekuatan Tok Say? jikalau Tok Say membutuhkan tenaga hamba, silahkan diutarakan saja, sekalipun terjun ke lautan api tak akan kutolak.”

Agaknya si pembesar urusan tentara ini paling suka mendengar kata-kata sanjungan dari Kwan Tiong Gak, senyuman kembali menghiasi wajahnya.

“Kalau begitu sangat bagus sekali, jikalau demikian adanya aku masih ingin minta bantuanmu tentang satu hal.”

Kwan Tiong Gak buru-buru jatuhkan diri berlutut.

“Tok Say terlalu memuji, hamba tidak berani menerimanya.”

“Haaa…….haaa……..haaa……….. memang rada cengli semisalnya kau bisa memperoleh nama besar di dalam dunia persilatan, watakmu sangat mengembirakan sekali, tetapi kaisar tak akan membiarkan tentaranya kelaparan, di dalam permulaan tahun rasanya orang-orang dalam piauw-kiok kalianpun kebanyakan mulai beristirahat untuk melewati tahun baru.”

Ia merandek sejenak, lalu serunya.

“Sediakan tiga ratus tahil perak sebagai uang jasa.”

Seorang tentara mengiakan, dengan membawa sebuah nampan kumala diatasnya tersusun tiga puluh batang emas murni berjalan mendekat. Kwan Tiong Gak melirik sekejap ke arah tumpukan emas murni itu, sedang dalam hati pikirnya.

“Ehm…..suatu balas jasa yang sangat besar, sekali persen tiga ratus tahil emas, gayanya sebagai pembesar susah ditandingkan dengan orang lain.”

Buru-buru serunya, “Hadiah dari Tok Say tak berani hamba terima, bilamana ada urusan silahkan diperintahkan saja, asalkan hamba bisa melakukan tentu tak akan kutolak.”

“Kwan-heng, lebih baik kau terima saja,” mendadak Jen Pek To menimbrung dari samping. “Sewaktu Tok Say berperang ke utara, berperang ke selatan, banyak orang pandai yang merupakan tulang punggung beliauw selama itu, karenanya terhadap orang-orang pintar, beliau merasa sangat sayang dan kagum.”

Sekalipun terang-terangan Kwan Tiong Gak mengerti setelah ia terima tiga ratus tahil emas murni itu berarti pundaknya bertambah lagi dengan sebuah beban seberat seribu kati, tetapi ucapan Jen Pek To sudah sangat jelas sekali, mau ditolakpun sungkan, terpaksa dengan keraskan kepala ia sambut kepingan emas tersebut.

“Pemberian Tok-Say akan hamba terima dengan hati syukur!” katanya lambat-lambat.

Si Kakek berjenggot hitam itu tersenyum dan mengangguk.

“Kalian orang-orang yang belajar ilmu silat lebih mengutamakan kejadian serta keberanian, soal ini aku sering dapat dengar dari Pek to…..!”

Mendengar ucapan tersebut Kwan Tiong Gak segera merasakan hatinya agak tergerak, pikirnya.

“Dengan kedudukannya yang tinggi sebagai Tok Say, ternyata memanggil Jen Pek To langsung dengan namanya, jelas hubungan mereka berdua melebihi antara majikan dengan bawahannya.”

Terdengar si pembesar berjenggot hitam ini mendehem perlahan kemudian sambungnya lebih lanjut.

“Padahal urusan inipun mempunyai sangkut paut dengan perusahaan Liong Wie Piauw mkiok kalian.”

Di hati Kwan Tiong Gak masih bikin perhitungan, pikirnya.

“Topi ini sudah kukenakan di kepala sungkan berdiripun tak dapat, terpaksa aku harus menerimanya.”

Setelah mengambil keputusan iapun berkata.

“BIla Thayjien ada perintah silahkan dijelaskan, sudah seharusnya hamba mengerjakan sebaik-baiknya.”

“Pek to!” si pembesar berjenggot hitam itu berpaling dan memandang sekejap Jen Pek To yang ada dibelakangnya/ “Aku lihat lebih baik kau saja yang membicarakan persoalan ini dengan Kwan Cong Piauw-tauw, bagaimana akhirnya kau segera beri laporan kepadaku.”

“Hamba terima perintah,” dengan hormat Jen Pek To menjura.

Ia lantas berjalan ke sisi Kwan Tiong Gak seraya berkata, “Kwan-heng, mari kita bercakap-cakap di kamar samping!”

Kwan Tiong Gak bangun berdiri untuk memberi hormat lalu dengan mengikuti dari belakang Jen Pek To mengundurkan diri ke kamar sebelah.

“Kwan-heng, silahkan duduk” seru Jen Pek To kemudian sambil tertawa setelah tiba di dalam ruangan samping. “Walaupun Siauwte sudah lama mengikuti Tok Say, rasanya masih belum kehilangan sifat dan semangat seorang Bu lim.”

Kwan Tiong Gak mengerling sekejap keadaan dalam ruangan itu perlahan-lahan ia melepaskan nampan kumala tadi ke atas meja.

“Jen-heng, ketiga ratus tahil emas ini siauwte terima karena menuruti perkataan Jen-heng saja.

Mendengar ucapan itu Jen Pek To tersenyum.

“Soal emas adalah suatu persoalan kecil cuma benda ini adalah hadiah Tok Say buat Kwan-heng, walaupun Kwan-heng tidak membutuhkannya, ada seharusnya dibawa pulang untuk dihadiahkan buat anak buah perusahaanmu.”

“Tentang persoalan ini untuk sementara waktu tak usah kita bicarakan dulu, maksud Tok Say mengundang kehadiran aku orang she Kwan kali ini tentunya ada persoalan yang sangat berat bukan?” potong Kwan Tiong Gak kemudian dengan nada berat.

“Secara lapat-lapat agaknya Tok Say sudah pernah mengungkap persoalan ini, ia ingin memohon bantuan dari Kwan-heng, cukup berdasarkan hal ini bisa kita ketahui seberapa tingginya Tok Sat memandang diri Kwan-heng.”

“Aaakh….! Kesemuanya ini adalah mengandalkan budi kebaikan Jen-heng yang terlalu memuji diriku, disini siaute mengucapkan terima kasih terlebih dahulu” seru Kwan Tiong Gak tertawa getir.

“Nama besar Kwan-heng sudah menggemparkan seluruh kolong langit, semua jago di dalam Bu Lim memandang kagum terhadap dirimu, bilamana siauwte mohon bantuan sudahlah sepatutnya.”

Diam-diam Kwan Tiong Gak berpikir keras setelah mendengar ucapan tersebut.

“Orang mengatakan keadaan Bu Lim bahaya, penuh kelicikan dan susah dihadapi, tidak nyana orang yang bekerja dalam pemerintahan-pun ternyata licik, susah diduga.”

Di hati berpikir demikian, di luar ia berkata.’

“Di bawah pimpinan Tok Say Thayjien ternyata mempunyai jago semacam Jen-heng, siauwte benar-benar dibikin tidak paham bantuan apakah sebetulnya yang ingin kalian minta?”

“Apabila urusan ini tiada sangkut pautnya dengan Kwan-heng, sudah pasti Tok Say tak akan mencari Kwan-heng.”

“Jadi maksudmu urusan ini ada sangkut paut dengan hilangnya peta lukisan pengangon kambing milik Liuw Thayjien….”

Setelah ucapan ini meluncur keluar, Kwan Tiong Gak baru merasa kata-kata ini diutarakan terlalu cepat, tetapi untuk diubahpun sudah tak gampang lagi.

Tampak sepasang mata Jen Pek To memancarkan cahaya berkilat.

“Agaknya Kwan-heng pun telah mengetahui soal lenyapnya lukisan pengangon kambing itu.”

“Siauwte hanya mendengar sedikit kabar angin, tetapi tidak berani begitu memastikan dan semakin tak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi,” sahut Kwan Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok setelah termenung sejenak.

“Jen Pek To tertawa hambar.

“Urusan ini justru salahnya terletak pada selembar surat tanda terima yang terjatuh ke tangan Tok-Say, walaupun tanda terima itu ditulis oleh Liuw Thayjien, tetapi tercantum pula nama dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian.”

“Ooouw…….lalu apa yang dikatakan oleh Tok Say?”

“Sebagai seorang pembesar pemerintahan, ia tidak mengetahui bagaimana urusan yang menyangkut dunia persilatan, ketika melihat tercantumnya nama besar Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, beliau jadi gusar dan memerintahkan cayhe untuk menyegel perusahaan kalian serta tangkap seluruh piauw-su yang ada untuk diperiksa.”

“Tok Say Thayjien sebagai seorang pembesar tingkat satu sudah tentu mempunyai kekuasaan sebesar ini, tapi rasanya perusahaan kami sudah ternoda dengan nama yang berdosa bukan.”

“Untuk mengecap siapa berdoa harus diperiksa darimana bencana itu berasal, apalagi tanda terima tersebut pada saat ini sudah berada di tangan Tok Say, ia menuduh kalian bersekongkol dengan kaum penjahat untuk memeras dan memaksa sang majikan menyerahkan barangnya.”

Sepasang mata Kwan Tiong Gak berputar dan memandang wajah Jen Pek To tajam tajam, dirasakan sepasang mata busu ini tajam, wajahnya gagah dan merupakan seorang jago yang susah dihadapi, ia segera tertawa tergelak.

“Dan bagaimana menurut pandangannya Jen-heng sendiri?”

“Pandangan aku orang she Jen sudah tentu berbeda dengan pandangan Tok-Say, menurut sistim Bu-lim urusan ini sebenarnya sangat biasa, mencantumkan nama di atas surat pernyataan hanya bermaksud sebagai saksi belaka, tetapi lain menurut pandangan orang-orang pemerintahan, walaupun Tok-Say hanya seorang panglima perang yang menguasai tentara, tetapi sewaktu peperangannya ke daerah selatan ia memperoleh pujian dari sang kaisar dan kini memperoleh kekuasaan untuk memerintah di sekitar karesidenan Lu, Shia, Kan dan sekitarnya, Kwan heng sebagai seorang penduduk yang sudah lama berdiam di ibukota tentu mengerti bukan apabila ucapan siauwte bukan omong kosong belaka.”

“Sekalipun kekuasaan Tok Say mencakup daerah yang luas, tapi kita dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok pun merupakan rakyat baik-baik, rasanya Tok Sat tak akan turunkan perintah untuk menjatuhkan hukuman pancung kepala kepada kami.”

Jen Pek To sekali lagi tersenyum.

“Tok Say adalah seorang yang pandai dan mengerti dalam membereskan satu persoalan, setelah mendapat penjelasan dari Siauwte akhirnya ia bisa berubah niat dan mengirim siauwte untuk mengundang datang Kwan-heng agar suka menghadap bahkan menghadiahkan pula tiga ratus tahil emas murni untukmu, walaupun dengan suksesnya Kwan-heng dalam perdagangan tidak memandang sebelah matapun terhadap ketiga ratus tahil emas murni ini, tapi hadiah yang tidak kecil jumlahnya tersebut boleh membuktikan apabila Tok Say kami masih pandang tinggi diri Kwan-heng.”

“Budi Jen-heng akan aku orang she Kwan catat di hati, entah urusan apakah yang diperintahkan Tok Say kepada aku orang she Kwan? harap Jen-heng suka memberikan penjelasan.”

“Sudah tentu tentang lukisan pengangon kambing itu…..”

“Kini dimanakah lukisan pengangon kambing itu?”

“Jika kamipun tahu dimanakah lukisan pengangon kambing itu sekarang berada, aku rasa pada saat ini kami tidak perlu mencari diri Kwan Cong Piauw-tauw lagi.”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak, lalu ujarnya.

“Jen-heng, dapatkah kau menceritakan kisah seluruhnya dengan jelas?”

“Baik! Tentang tercantumnya nama besar Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian di atas tanda terima rasanya Kwan heng sudah mengetahui bukan?”

“Aku tahu”

“Liuw Thayjien sebagai sahabat karib dari Tok Say memang seorang lelaki yang sangat pegang janji, setelah surat tanda terima itu ia tulis sendiri sebagaimana janjinya ia serahkan pula lukisan pengangon kambing itu.”

“Sebelum terjadinya peristiwa ini apakah Jen-heng sama sekali tidak tahu?”

“Tidak tahu” Jen Pek To menggeleng berulang kali. “Mungkin Liuw Thayjien tidak ingin mengganggu ketenangan Tok Say, menanti setelah terjadi kekacauan Liuw Thayjien baru menceritakan kisah sebenarnya…..”

“Siauwte ingin tahu kisah terjadinya peristiwa tersebut,” sela Kwan Tiong Gak tiba-tiba.

“Yang paling mengagumkan adalah orang yang datang membawa tanda terima tersebut untuk minta lukisan pengangon kambing ternyata adalah Thoa Ci Jien seorang kenamaan dalam kota Kay Hong, orang ini sendiri pernah menjadi sahabat Tok Say selama banyak tahun bahkan merupakan salah seorang kawan main catur beliau, tidak disangka sesungguhnya ia punya persekongkolan dengan kaum penjahat untuk dapat menerima peta lukisan tersebut.”

“Dimanakah Thio Ci Jien saat ini?”

“Thio Ci Jien sering mengunjungi istana bahkan merupakan sahabat karib Liuw Thayjien pula, kedatangannya bertamu merupakan suatu kejadian yang sangat biasa, setelah ia menerima peta lukisan pengangon kambing tersebut orang itu pamit dan pulang.”

“Siapa sangka ketika tiba di luar istana, ia mendapat bokongan orang dan menderita luka parah, sedang lukisan pengangon kambing itu sendiri kena dicuri pergi, bukan begitu saja bahkan kedua orang tukang tandunya serta seorang pelayan-nya kena dirobohkan juga.”

“Apakah beberapa orang itu sudah mati semua?”

“Sang pelayan serta kedua orang tukang tandu itu kena ditotok jalan darahnya oleh semacam ilmu menotok batu, sedangkan Thio Ci Jien sendiri dilukai dengan suatu ilmu yang maha aneh.”

“Apakah Jen-heng turun tangan memberi pertolongan.?”

Merah padam selebar wajah Jen PekTo sewaktu mendapat pertanyaan tersebut.

“Si tukang tandu serta si pelayan berhasil cayhe tolong sehingga tersadar kembali, lain halnya denga luka yang diderita Thio Cie Jien, siauwte sama sekali tidak mengerti pukulan apakah yang bersarang di tubuhnya, karena itu tak berhasil kutolong, Tok Say sendiri walaupun merupakan seorang jendral yang menguasai beratus-ratus laksa tertera tetapi wataknya sangat mulia dan ramah, sekalipun dalam hal peristiwa ini Thio Cie Jien tak dapat lolos dari tuduhan persekongkolan dengan penjahat tetapi dikarenakan ia jatuh tidak sadar diri maka terpaksa ia perintah orang untuk hantar orang she Thio itu pulang, di samping itu memanggilkan seorang tabib untuk memeriksakan penyakitnya.”

“Thio Ci Jien tak bisa berbicara, tentu persoalan yang lebih jelas kalian dengar dari mulut Liuw Thayjien.”

“Tidak salah, setelah peristiwa ini terjadi kekacauan, maka Liuw Thayjien pun tak dapat merahasiakan persoalan ini, terpaksa ia ceritakan seluruh peristiwa ini di samping serahkan tanda terima tadi kepada Tok Say.”

“Peristiwa ini pulang pergi sangat jelas dan tidak membingungkan, Jen-heng siap memerintahkan siauwte untuk membuat apa? Silahkan sekarang juga diutarakan.”

“Maksud Tok Say adalah minta Kwan-heng untuk bantu mencari balik lukisan gembala kambing itu.”

“Kecuali Thio Cie Jien yang jatuh tidak sadarkan diri serta dua orang tukang tandu dan seorang pelayan, apakah kau dapat memberi sedikit keterangan lainnya?”

“Soal ini sudah siauwte tanyakan kepada mereka-mereka ini, tetapi jawaban yang didapat adalah sama, sebelum mereka melihat sesuatu jalan darahnya sudah ditotok.”

“Jen-heng! Urusan ini kelihatannya agak mudah diselesaikan,” setelah Kwan Tiong Gak setelah termenung sejenak. “Setelah Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kami ikut menanda tangani surat tanda terima itu sudah tentu kamipun tahu surat itu tadinya diberikan kepada siapa, sedangkan Liuw Thayjien sendiri rela menulis tanda terima tersebut jelas bukan tak ada alasan, mungkin tentang hal ini ia sudah beritahu kepada Tok Say….”

“Tok Say sendiri juga pernah berpikir sampai soal itu, tetapi dia dengar Liue Thayjien bercerita sendiri siapakah orang itu sudah tentu Tok Say tidak enak mendesak lebih jauh. dengan demikian urusanpun berlarut.”

“Orang itu adalah si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang, entah pernahkah Jen-heng mendengar nama orang ini?”

“Hoa Hoa Kongcu, Ke Giok Lang? Bukankah dia seorang penjahat cabul?”

“Aaaah…….. hal ini disebabkan kawan kawan Bu Lim telah kena dipengaruhi oleh gelarnya…..”

Mendadak Kwan Tiong Gak merasa ia terlanjur bicara, buru-buru ucapannya dipotong di tengah jalan.

Jen Pek To tersenyum.

“Kwan-heng, kau pernah  berjumpa dengan Ke Giok Lang?”

“Pernah!” Cong Piauw-tauw she Kwan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini mengangguk.

“Bagaimana menurut pandangan Kwan-heng terhadap manusia yang bernama Ke Giok Lang ini?”

“Dia adalah seorang jago yang sangat berbakat!”

“Saat ini cayhe mempunyai suatu cara yang bagus untuk dilakukan. asalkan Kwan heng berhasil mencari balik peta pengangon kambing tersebut dan minta Ke Giok Lang menyembuhkan luka yang diderita Thio Cie Jien, cayhe rela memikul tugas tanggung jawab ini di hadapan Tok Sat untuk tidak mencari tahu lagi persoalan di balik kejadian ini, akan kuhitung persoalan ini telah selesai!”

Air muka Kwan Tiong Gak segera berubah serius, ujarnya, “Kalau peta pengangon kambing itu terjatuh kembali ke tangan Ke Giok Lang sedang Thio Ci Jian sebagai anak buahnya terluka pula di tangan Hoa Hoa Kongcu ini, urusan jauh lebih mudah diselesaikan, justeru menurut pendapat cayhe urusan mungkin tidak segampang ini.”

“Maksud Kwan-heng ada orang ketiga yang mencuri peta ini?”

Sepasang mata Kwan Tiong Gak berkilat balik tanyanya.

“Sebenarnya berapa banyak yang Jen heng ketahui tentang peta mustika pengan kambing ini.”

“Cayhe hanya merasa sedikit heran saja,” kata Jen Pek To buru-buru menggeleng. “Peta lukisan pengangon kambing bukan termasuk lukisan kenamaan, mengapa begitu banyak jago Bu-Lim yang memperebutkannya?”

“Justru disinilah letak kunci utama dari semua persoalan!” seru Kwan Tiong Gak sambil mendehem. “Tok Say memerintahkan siauwte untuk menerima tugas pencarian peta lukisan pengangon kambing itu, bila kutinjau keadaan yang tertera di depan mata, rasanya kendati kutolak-pun tak bisa jadi, tapi hingga detik ini persoalan mengambang bagai awan di angkasa, siauwte rasa batas waktu yand disediakan seharusnya diperpanjang lagi…….”

Jen Pek To tidak memberi jawaban atas pertanyaan dari Kwan Tiong Gak, sebaliknya dia malah bertanya.

“Kwan-heng bersiap hendak berbuat apa?”

“Tengok dulu bagaimana keadaan dari Thio Ci Jien, karena menurut pendapatku kalau dia bukan terluka oleh semacam ilmu totok, pasti terluka oleh semacam ilmu silat yang istimewa, kalau kita bisa sadarkan dirinya agar dia memberi keterangan hal ini jauh lebih bagus kalau tidak bisa ditolong aku berharap dari keadaan lukanya berhasil mendapatkan sedikit tanda-tanda yang bisa dipakai sebagai pegangan!”

“Baik” dengan cepat Jen Pek To mengangguk. “Aku akan memberi laporan dulu kepada Tok Say, asal Kwan-heng suka bekerja sama dengan kami, di hadapan Tok Say tentu siauwte akan berusaha memikul tanggung jawab ini.”

“Jen-heng! Lebih baik dalam melaksanakan tugas ini kaupun ikut serta sehingga kau-pun dapat mengetahui bagaimanakah perkembangannya dan bisa setiap saat memberi laporan kepada Tok Say.”

“Kalau memang keikutan siauwte tidak menganggu, siauwte rela membantu sepenuh tenaga.”

“Kalau begitu kebetulan sekali, Jen-heng tak usah terlalu merendah lagi.!”

“Yang kumaksudkan mengganggu adalah kedudukanku sebagai petugas hukum, kalau akupun membantu Kwan-heng dalam pencarian sang pembunuh, aku takut kawan-kawan Bu-lim akan mengecap Kwan-heng bekerja dengan minta bantuan orang-orang pemerintahan.

“Tok Say memerintahkan aku ikut campur dalam persoalan ini bukankah tanpa sadar aku telah mengandalkan kekuatan pemerintahan?” seru Kwan Tiong Gak sambil tertawa hambar.

Jen Pek To jadi jengah dan dalam keadaan serba salah ia tertawa.

“Jika Kwan-heng merasa siauwte boleh ikut serta dalam pekerjaan ini, Siauwte rela membantu dengan senang hati.”

“Jen Thayjien terlalu merendah!”

Setelah merandek sejenak, sambungnya, “Sekarang kita harus pergi memeriksa keadaan luka Thio Ci Jien, bila siauwte pergi seorang diri, aku takut susah menjumpai dirinya.”

“Baik! Cayhe akan melapor sebentar pada Tok Say kemudian kita bersama-sama pergi menengok Thio Ci Jien.”

“Siauwte akan menanti disini!”

“Baik, sebentar lagi siauwte pasti datang!” Jen Pek To bangkit dan melangkah keluar.

Beberapa saat kemudian ia sudah balik lagi ke dalam ruangan itu.

“Kwan-heng, mari kita berangkat!”

Dengan membawa Kwan Tiong Gak, dia berjalan meninggalkan istana Jendral berangkat menuju ke rumah kediaman Thio Ci Jien.

Lantaran Jen Pek To membawa kartu nama Tok Say, dengan mudah mereka dapat berhasil menemui si pengurus rumah keluarga Thio.

Jen Pek To adalah pengawal Tok Say yang jarang keluar. Si pengurus rumah ini tidak kenal dengan dia, tapi lantaran dia membawa kartu nama sang Jendral, sudah tentu saja penguasa keluarga Thio itu tidak berani berlaku ayal, dengan penghormatan besar disambutnya kedua orang tamu tak diundang ini.

Gerak-gerik Jen Pek To benar benar keren penuh wibawa mencerminkan kedudukan sebagai tangan kanan Tok Say, sambil melirik sekejap wajah pengurus rumah keluarga Thio itu tanyanya, “Bagaimana keadaan Thio Ci Jien?”

“Majikan kami tetap dalam keadaan tak sadarkan diri.”

“Cayhe mendapat perintah Tok Say untuk menjenguk keadaan luka Thio Thayjien!”

“Cayhe segera membawa jalan buat kalian berdua.”

Di dalam kota Kay Hong, sebenarnya keluarga Thio Ci Jien pun termasuk seorang pembesar terkemuka, hanya saja disebabkan yang hadir saat ini dari istana jenderal, si pengurus rumah itu tidak berani banyak bicara.

Ia langsung membawa kedua orang itu memasuki kamar Thio Ci Jien.

Lambat lambat Kwan Tiong Gak mendekati pembaringan orang she Thio itu pucat pasi bagai mayat, sepasang matanya terpejam rapat-rapat.

“Jen-heng!” ujar Kwan Tiong Gak sambil berpaling ke Jen Pek To. “Lukanya terletak di sebelah mana?”

“Agaknya terletak di pundak sebelah kirinya.”

Kwan Tiong Gak kali ini mengalihkan sinar matanya ke arah si pengurus rumah keluarga Thio itu perintahnya, “Eeeei…. coba kau lepaskan pakaian yang dikenakan majikanmu itu.”

“Soal ini….soal ini ………..”

Agaknya pengurus rumah keluarga Thio dibikin tertegun.

“Kami mendapat perintah Tok Say untuk datang kemari memeriksa keadaan luka majikanmu,” sela Jen Pek To dari samping.

Mendengar ucapan ini si pengurus rumah keluarga Thio itu tak berani banyak berkutik lagi, buru-buru ia mendekati pembaringan dan melepaskan pakaian yang dikenakan Thio Ci Jien.

Pada pundak sebelah kiri orang she Thio itu, tampaklah selapis warna merah darah membekas dengan nyata di sana.

“Kwan heng, sungguh aneh, bekas luka ini, “ bisik Jen Pek To lirih, “Agaknya luka ini bukan bekas telapak, juga tidak membengkak, entah ia terluka oleh pukulan apa?”

Air muka Kwan Tiong Gak amat serius, ia tidak menjawab pertanyaan Jen Pek To, agaknya semua perhatiannya telah dipusatkan pada keadaan luka Thio Ci Jien.

Kurang lebih seperminum teh lamanya baru berpaling dan memandang sekejap wajah si pengusaha keluarga Thio, tanyanya, “Majikan kalian sudah minum obat?”

“Tiga orang tabib kenamaan sudah datang memeriksa keadaan lukanya tapi mereka tidak berhasil menemukan sebab-sebab penyakit itu, setelah tiga orang tabib itu merunding sejenak mereka masing-masing membuka sebuah resep, tapi walaupun obat itu sudah diberikan majikan kami masih juga tidak sadarkan diri.”

“Ia tidak pernah bangun satu kalipun?”

“Benar, ia tidak pernah sadar barang satu kalipun.”

“Keadaannya juga tidak bertambah buruk.”

Si pengurus rumah keluarga Thio itu mengangguk.

“Sejak semula gingga kini keadaannya tak berubah!”

“Bantu dia kenakan bajunya,” perintah Kwan Tiong Gak kemudian setelah termenung sejenak. Lalu ia berpaling kepada Jen Pek To dan tambahnya, “Mari kita pergi!”

Kedua ornag itu dengan mulut membungkam menggundurkan diri dari istana pembesar she Thio itu, di tengah jalan Jen Pek To tak dapat menahan sabar lagi dan berkata, “Kwan-heng, apakah berhasil menemukan sesuatu?”

“Kita kembali dulu ke kantor cabang kami, bagaimana kalau kita bicarakan lagi persoalan itu di sana?”

“Cayhe menurut saja kemauan Kwan heng.”

Kwan Tiong Gak tersenyum dan mengangguk, dengan membawa serta pengawal pribadi Tok Say ini, ia kembali ke kantor cabang perusahaan ekspedisinya.

Waktu itu Phoa Ceng Yan, Liem Toa Lek serta Nyoo Su Jan sekalian lagi menunggu di ruang tengah dengan hati gelisah, wajah mereka murung dan kesal.

Menanti ditemuinya Kwan Tiong Gak muncul kembali tanpa kekurangan sesuatu apapun mereka baru hilang kesalnya dan menyambut kedatangan Cong Piauw-tauw mereka dengan muka berseri-seri sekali.

“Sudahlah, tak perlu banyak adat, “ Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya mencegah orang-orang itu memberi hormat kepadanya.

Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan, sambil memandang Jen Pek To ia berkata, “Jen-heng, boleh kau hitung termasuk juga orang-orang Bu-lim, sewaktu berada di hadapan Tok Say sudah banyak membantu diriku.”

Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta Liem Toa Lek buru-buru merangkapkan tangannya menjura mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih banyak atas bantuan Jen-heng!” serunya hampir saja berbareng.

“Siauwte hanya berusaha sedapat mungkin saja, tidak berani menerima penghormatan dari Cuwi bertiga!” Jen Pek To dengan membalas menjura.

Phoa Ceng Yan mendehem, katanya serius.

“Toako, apa yang dikatakan Tok Say kepadamu?”

“Jen-heng sudah menyampaikan isi perinta Tok-say kepadaku, ia minta siauw-heng cari kembali peta pengangon kambing tersebut.”

Mengambil kesempatan itu Jen Pek To mengeluarkan ketiga ratus tahil emas murni itu diangsurkan ke depan.

“Karena harus merepotkan Cuwi sekalian, Tok Say merasa tidak tenteram, oleh karena itu sedikit penghargaan harap cuwi sudi menerimanya.”

“Tok Say memberi hadiah terlalu banyak” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa getir.

“Sebetulnya peristiwa ini merupakan peristiwa Bu-lim belaka, tidak nyana kini sudah terseret masuk dalam soal pemerintahan.”

“Persoalan ini disebabkan siauw-te mau potong kepala masuk penjara sudah sebetulnya siauwte tanggung seorang diri,” kata Phoa Ceng Yan cepat.

Mendengar ucapan saudaranya Kwan Tiong Gak segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaa…..haaa…… yang Tok-Say perintah kita cari adalah peta pengangon kambing dan atas tanggungan Jen-hen ini, Tok Say pun sudah berjanji untuk tidak menyelidiki persoalan yang lebih mendalam.”

“Kalau begitu, asal kita berhasil menemukan kembali peta pengangon kambing maka urusan selesai?” tanya Nyoo Su Jan agak ragu-ragu.

“Tentang soal ini siauwte berani tanggung.!” sambung Jen Pek To dengan cepat.

“Asal peta pengangon kambing dapat ditemukan, Tok Say pasti takkan menyelidiki urusan ini lagi bahkan surat pernyataan yang berisikan tanda tangan Phoa-heng pun akan diserahkan kembali kepada kalian.”

Mendengar ucapan yang demikian tegas, Phoa Ceng Yan berpaling ke arah Kwan Tiong Gak.

“Toako, apa yang hendak kau lakukan?” tanyanya.

“Sampai kini aku masih belum mendapatkan suatu cara yang baugs, aku rasa persoalan ini agak merepotkan…..”

Bicara sampai di situ, sinar matanya dialihkan ke atas wajah Jen Pek To dan tanyanya.

“Apa pendapat Jen heng mengenai persoalan ini?”

“Selama beberapa tahun ini siauwte sangat jarang berhubungan dengan orang-orang Bu Lim, terus terang saja dalam urusan ini aku benar-benar buta, sebaliknya Kwan-heng tersohor dalam kolong langit, aku rasa tentu ada cara yang bagus bukan untuk mengatasi persoalan ini? menurut pendapat siauwte untuk membongkar teka-teki tak berujung pangkal ini kita boleh selesaikan mengikuti cara-cara Bu Lim.”

“Aku orang she Kwan sudah banyak berkelana dalam dunia persilatan, banyak sahabat kangouw yang telah terkenal tapi mereka adalah manusia-manusia yang kasar paling tidak suka berhubungan dengan petugas hamba negara semisalnya Jen-heng ikut serta dalam penyelidikan kasus ini aku berharap agar jangan memperkenalkan diri sebagai pengawal pribadi Tok Say?”

“Ehmmm………..ucapan ini sedikitpun tidak salah” Jen Pek To mengangguk. “Terutama sekali tidak banyak orang kangouw yang kukenal, asal Kwan-heng suka memberi siauwte sebuah jabatan itu sudah cukup apalagi anggota kantor cabang di sini banyak jumlahnya asal siauwte mengaku sebagai seorang piauwsu, orangpun tak akan tahu.”

“Tapi bukankah kami akan sedikit merendahkan derajat Jen-heng?”

“Kwan-heng sudah banyak membantu siauwte, untuk hal ini aku sudah merasa sangat berterima kasih, mana berani mengucapkan kata-kata “penghinaan” lagi?”

Kwan Tiong Gak termenung sejenak, akhirnya ia mengangguk.

“Baik! Lebih baik sekarang kita usahakan untuk menjumpai dahulu si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang …..”

Ia berpaling kepada Liem Toa Lek dan perintahnya.

“Pasang lentera merah kemudian kirim orang melakukan pertemuan…..”

“Hamba Paham!” Liem Toa Lek segera bangkit berdiri terima perintah.

Sepeninggalnya orang she Liem itu, Kwan Tiong Gak berpaling dan tersenyum ujarnya.

“Jen-heng! Urusan jadi begini mau gelisahpun percuma, mari kita teguk dulu dua cawan arak sebagai tanda terima kasih aku orang she Kwan kepada dirimu.”

Ia Ulapkan tangan dan berseru, “Hidangkan arak!”

Walaupun saat menunjukkan penutupan tahun tapi berhubung Cong Piauw-tauw hadir maka kebanyakan piauwsu yang ada dalam kantor cabang ini tidak pulang ke kampung bahkan sebagian besar anak buah tetap tinggal di kantor menanti perintah.

Begitu perintah hidangkan arak diucapkan sebentar saja sayur dan arak sudah dihidangkan.

Kwan Tiong Gak duduk di kursi pertama dan mempersilahkan Jen Pek To duduk di sebelahnya, kemudian disusul Phoa Ceng Yan dan Nyoo Su Jan mengiringi dari samping.

Demikianlah sebuah meja perjamuan hanya dihadiri oleh empat orang.

“Jen-heng!” di tengah perjamuan Kwan Tiong Gak angkat cawan araknya.” Mari aku menghormati dirimu dengan secawan arak!”

“Terima kasih….terima kasih.” dan sekali teguk Jen Pek To menghabiskan isi cawannya.

“Haaa….haaa….bagaimana dengan takaran minum arakmu?”

“Aaakh, sangat cetek!”

“Mari kita minum arak sepuasnya….!”

Kekuatan minum arak keempat orang itu rata-rata kuat, dengan demikian arakpun tiada hentinya berpindah tempat dari teko ke mulut.

Perjamuan ini berlangsung satu jam lamanya sampai akhirnya Jen Pek To mendorongkan cawan sembari berseru, “Cukup….cukup….! Siauwte tidak berani minum lagi, aku takut nanti mabok di sini.”

“Jikalau Jen-heng sudah tak kuat, mari kita sama-sama berhenti….”

Belum habis ia berkata dengan tergesa-gesa Liem Toa Lek telah munculan diri, ujarnya sambil menjura, “Cong Piauw-tauw, hamba telah menjumpai Ke Giok Lang….!”

“Ehm…. ia berada di mana?”

“Kini berada di luar ruangan tamu!”

Tiba-tiba Jen Pek To bangkit seraya menyambung, “Kwan-heng, kenapa tidak sekalian undang masuk ke dalam?”

Kwan Tiong Gak mengangguk, bisiknya kepada Liem Toa Lek mengiyakan dan segera berlalu dari ruangan.

Beberapa saat kemudian Ke Giok Lang muncul di depan ruangan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.

Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura.

“Merepotkan saudara hadir kemari, aku orang she Kwan merasa tidak tentram!”

“Mana…..mana….. Kwan heng kirim orang untuk mengunjungi siauwte, rasanya tentu ada urusan penting yang hendak dibicarakan bukan?”

Sambil bicara sepasang matanya tiada berhenti memeriksa wajah Jen Pek To dengan seksama.

“Kalau tak ada urusan mana berani mengganggu Ke Kongcu.”

“Mengenai peta pengangon kambing itu, siauwte berhasil mendapatkan sedikit berita.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Bukankah kalian berdua telah mengunjungi Thio Ci Jien?” Ucapan dari Ke Giok Lang ini datang laksana guntur di siang hari bolong membuat hati Kwan Tiong Gak tergetar keras tapi di luaran berusaha untuk mempertahankan ketenangannya, ia tertawa.

“Aku rasa Thio Ci Jien tentu komplotan Ke heng bukan?”

“Oouuuuw…..soal ini? Aku rasa sulit untuk dikatakan kita yang sering melakukan perjalanan di luaran seharusnya berkenalan dengan banyak sahabat.”

Sinar matanya dialihkan ke atas wajah Jen Pek To dan sambungnya, “Saudara ini adalah ……”

“Siauwte she Jen…….”

“Kalau begitu dugaan siauwte sama sekali tidak meleset” tukas Ke Giok Lang dengan cepat. “Jen-heng adalah manusia penting dari istana Jendral!”

Ucapan Ke Giok Lang yang membongkar asal-usul Jen Pek To, bukan saja membuat Jen Pek To pribadi terperanjat, bahkan Kwan Tiong Gak sekalian dibikin tertegun.

Terdengar Ke Giok Lang mendongak tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa……haaaa….. walaupun di balik pintu istana penuh rahasia bagaikan dasar samudra, tapi Jen-heng di dalam istana adalah manusia penting, semua anggota istana tidak seorangpun yang tidak kenal, asal siauwte buang beberapa tahil perak tidak susah untuk mendapatkan berita yang jelas tentang dirinya Jen-heng!”

Walaupun hatinya bergolak, tapi Jen Pek To berusaha untuk menenangkan hatinya.

“Aku rasa tidak segampang seperti apa yang kau ucapkan!”

“Lebih baik kita jangan membicarakan urusan ini lagi…..” Ke Giok Lang tertawa hambar, sinar matanya segera dialihkan ke arah Kwan Tiong Gak dan terus bertanya, “Entah ada urusan apa Kwan-heng mengundang siauwte datang kemari, aku harap segera persoalan dibicarakan.”

“Ehmmm……. aku rasa Ke-heng sudah tahu jelas bukan bahwa peta pengangon kambing itu kena direbut orang dari tangan Thio Ci Jien?”

“Soal ini siauwte sudah tahu, tapi siapakah orangnya yang merampas benda itu?”

“Justru Siauwte mengundang Ke-heng datang kemari, untuk diajak merundingkan persoalan ini.”

Ke Giok Lang berpikir sebentar, lalu ujarnya, “Thio Ci Jien pingsan tidak sadarkan diri, menurut perasaanku kalau keterangan ini kita tak berhasil mendapatkannya dari mulut orang itu jelas susah untuk mendapatkan titik terang, entah Kwan-heng hendak turun tangan secara bagaimana?”

“Maka dari itu kita harus bertemu untuk merundingkan bersama-sama.”

Ke Giok Lang kembali tertawa hambar.

“Kalau kita bertiga bisa bekerja sama menyelidiki persoalan ini, kejadian tersebut pasti akan timbulkan kegemparan dalam Bu lim, kaum hamba negera bekerja sama dengan kaum bajingan ditambah pula ikut sertanya seorang Toa Piauw-su untuk sama-sama menyelidiki suatu peristiwa pembegalan. Peristiwa ini sungguh menggelikan sekali.”

“Ke Kongcu, kau memandang dirinya sebagai bajingan, apakah tidak merasa terlalu rendah diri?” seru Jen Pek To tiba-tiba.

“Membandingkan seorang tangan kanan Tok Say sebagai kuku garuda atau tukang pukul sang pembesar negara, apakah kaupun tidak merasa terlalu merendahkan diri?” balas Ke GIok Lang kalem.

Air muka Jen Pek To berubah hebat, agaknya ia siap mengumbar hawa amarahnya tapi akhirnya dipaksakan juga untuk bersabar, ia tertawa terbahak-bahak.

“Haaa……….haaa………haaa…. Ke Kongcu, kalau bicara dengan aku harus sedikit tahu sopan!”

“Ehmmm……! Jen-heng, ada satu persoalan aku ingin terangkan dulu kepadamu sehingga sampai waktunya Kwan Cong Piauw-tauw jadi serba salah!” seru Ke Giok Lang sambil tertawa.

“Urusan apa?”

“Kwan Cong Piauw-tauw adalah seorang pedagang besar, maka terhadap orang-orang pemerintahan macam kalian merasa amat jeri. Tapi kaupun harus ketahui ia takuti bukan ilmu silat kau Jen-heng atau beberapa laksa orang prajurit anak buah Tok Say, melainkan yang ditakutkan adalah kantor perusahaan expedisinya tak bisa dibuka terus, takut beberapa ribu orang anak buahnya yang tersebar di enam karesidenan besar puluhan buah kantor cabang perusahaan tak bisa melanjutkan hidup.”

Ia merandek sebentar untuk mendehem, kemudian sambungnya, “Seandainya aku orang she Ke yang melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan sama sekali tidak memandang di dalam hati terhadap kau Jen-heng, bicara yang baik kita adalah kawan, bicara yang jelek mau coba pindah ke gelanggang adu senjata akupun akan melayani terus!”

“Hmm! Apakah Ke Kongcu ada maksud menggertak diri siauwte?” dengus Jen Pek To sambil tersenyum dingin.

“Apa yang siauwte ucapkan adalah kata sejujurnya, kalau Jen-heng tidak mempercayai kamipun tak bisa memaksa kau untuk mendengarkannya.”

“Sudah….sudahlah! Kalian berdua tak perlu ribut lagi” sela Kwan Tiong Gak melerai.

“Ada persoalan kita rundingkan bersama-sama buat apa cekcok sendiri.”

(Bersambung ke 15)

Jilid 15

“Kwan-heng! Aku tahu kesulitanmu,” ujar Ke Giok Lang dengan wajah serius,”Cuma kalau aku Ke Giok Lang tidak terangkan persoalan ini terlebih dahulu aku takut hal ini akan semakin menyinggung perasaan Kwan Cong Piauw-tauw.”

“Urusan apa?”

“Lukisan pengangon kambing sudah jadi milik siauwte, kalau kita tidak berhasil menemukan urusan tak usah dibicarakan lagi, semisalnya bisa ditemukan menurut Kwan Cong Piauw-tauw peta lukisan pengangon kambing itu hendak diserahkan kepada siapa?”

“Tok say ingin menarik kembali peta tersebut,” sambung Jen Pek To.

“Ehmmm, cukup dalam persoalan ini kita sudah tak dapat berunding secara baik-baik.” teriak Ke Giok Lang.

“Ke-heng!” ujar Kwan Tiong Gak, “Lukisan pengangon kambing pada mulanya memang bukan milikmu, apalagi daerah kekuasaan Tok Say meliputi empat karesidenan, kenapa Ke-heng tidak suka mengalah selangkah buat mereka?”

“Dagangan Kwan-heng terlalu besar, tentu saja takut urusan, tetapi aku orang she Ke tidak memandang persoalan ini terlalu serius, kalau api sampai berkobar akupun ingin berpesiar pula ke dalam istana kaisar.”

Ia tertawa terbahak-bahak sambungnya.

“Kalau mau bicara menurut aturan, peta itu sudah disanggupi oleh Liuw Thayjien untuk dihadiahkan kepada cayhe. Jikalau Tok Say ingin mendapatkan benda yang sama dengan mengandalkan kekuasaannya, bukankah ini berarti mereka hendak merampas barang milik rakyat, kalau atasannya saja berbuat demikian, mana mungkin hukum negara dapat ditegakkan dan dihormati setiap orang?”

“Kalau begitu Ke-heng sudah pastikan diri untuk menginginkan peta pengangon kambing itu?” tanya Jen Pek To dengan mata yang berkilat.

“Sedikitpun tidak salah, benda itu adalah milikku kenapa aku tidak boleh memintanya kembali?”

Mendengar percekcokan itu Kwan Tiong Gak menghela napas panjang.

“Jikalau peta pengangon kambing itu berhasil siauwte dapatkan kembali, apa yang hendak Ke-heng lakukan?”

Hoa Hoa Kongcu mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Kwan Tiong Gak, setelah dipandangnya beberapa saat ia menjawab, “Bila kita berbicara menurut keadaan biasa, tindakan Kwan-heng yang plin-plan ini pasti akan diejek oleh orang-orang kangouw, tetapi keadaan lingkunganmu berbeda, siauwte bisa memahami kesulitan diri Kwan-heng.”

Ucapan ini benar-benar bernada tajam, selapis hawa gusar segera menghiasi wajah menambah kekerenan sikap orang ini, terdengar Kwan Tiong Gak tertawa hambar, “Setelah barang kawalan tiba ditempat tujuan, tugas kamipun telah selesai dan seharusnya tak usah ikut campur lagi dalam semua urusan, tapi cayhe belum pernah mengakui kalau peta pengangon kambing itu menjadi milik Ke-heng seperti pula apa yang Ke-heng ucapkan tadi, aku orang she Kwan adalah seorang rakyat biasa tentu saja tak bisa dibandingkan dengan kau Ke Kongcu.”

Ke Giok Lang mendongak tertawa terbahak.

“Apa yang Kwan-heng maksudkan siauwte sudah paham dengan mengambil kesempatan ada Jen-heng di sini, kitapun harus membicarakan dulu persoalan itu sampai jelas.”

Ia merandek sejenak, sinar matanya dialihkan ke atas wajah Jen Pek To dan sambungnya, “Jen-heng, peta pengangon kambing itu adalah pemberian Liuw Thayjien kepada aku orang she Ke. Menurut keadaan seharusnya saat ini benda tersebut sudah menjadi milik aku orang she Ke dan kau sekarang Jen-heng ikut campur di dalam persoalan ini, sekalipun berhasil kau dapatkan kembali peta pengangon kambing yang lenyap itu aku orang she Ke tetap akan berusaha untuk menariknya kembali.”

“Kalau kau Ke-kongcu mempunyai kepandaian semacam ini, terpaksa aku orang she Jen akan mengaku kalah.” tukas Jen Pek To cepat. “Cuma Siauwte-pun ada beberapa patah kata mau tak mau harus diterangkan terlebih dahulu. Walaupun Siauwte berasal dari Bulim tapi sudah lama mengikuti Tok Say, terhadap orang-orang kangouw aku orang she Jen jarang mengadakan hubungan, bilamana sampai persoalan ini jadi makin membesar, siauwte tidak berani bertanggung jawab apabila dari pihak pemerintah ikut campur pula di dalam persoalan ini.”

Ke Giok Lang tersenyum.

“Aku orang she Ke berani minta kembali peta pengangon kambing itu dari tangan kalian, terus terang saja sudah kupahami seberapa besar kekuatan yang dimiliki pihak Tok Say, memandang kau Jen-heng pun berasal dari orang Bu-lim, aku orang she Ke ingin menasehati sepatah dua patah kata kepadamu. Kalau orang lagi cemas ia akan mengadu jiwa, kalau anjing lagi gelisah ia akan melompat pagar, jikalau Tok Say Thayjien sampai berani turunkan perintah kesempatan keresidenan untuk menangkap aku orang she Ke maka aku menasehati ada baiknya ia lindungi dulu batok kepalanya, aku orang she Ke adalah gelandangan Bu-lim, mati hidup bukan jadi persoalan bagiku, sebaliknya Tok Say adalah seorang pejabat terhormat, jikalau sampai terjadi…..wah…urusan bukan kecil!”

“Oouuuw….. kau berani menyelundup masuk ke dalam istana untuk membunuh Tok Say kami?”

“Siapa yang bilang tidak berani?” jengek Ke Giok Lang sambil goyang-goyangkan kipasnya. “Cuma, belum tentu yang melakukan aku orang she Ke, beberapa orang kawan Bu-lim yang tidak takut matipun, tidak susah kita temukan, oleh sebab itu harap Jen-heng sekembalinya ke dalam istana suka menasehati majikanmu agar menimbang dulu berat entengnya persoalan ini.”

Sinar matanya dialihkan ke atas wajah Kwan Tiong Gak lalu sambungnya, “Seorang lelaki sejati tidak akan sudi mengeluarkan ucapan buruk, agaknya hubungan cayhe dengan Kwan-heng hanya sampai disini saja, sejak kini hubungan putus apa yang hendak Kwan-heng lakukan aku tak mau tahu lagi, dan aku orang she Ke mohon diri terlebih dahulu.”

Setelah menjura, ia putar badan berlalu.

“Ke Kongcu, silahkan berangkat sendiri, maaf aku orang she Kwan tak bisa mengantarkan dirimu.”

“Tidak perlu.” Ke Giok Lang tertawa hambar. “Sekalipun diantar sejauh ribuan lie akhirnya pisah juga, kapan saja Kwan-heng bisa melepaskan diri dari persekongkolanmu dengan pihat pemerintah, kita tetap berdiri sebagai sahabat.”

Ia percepat langkahnya dan dalam sekejap mata sudah lenyap tak berbekas.

Menunggu hingga bayangan punggung Ke Giok Lang telah lenyap dari pandangan mata, Kwan Tiong Gak baru berkata, “Jen-heng, Ke Giok Lang adalah seorang manusia yang bisa berkata bisa berbuat, urusan ini kau Jen-heng harus pikirkan masak-masak.”

“Kwan-heng, kau suruh aku pikir apa?” tanya Jen Pek To setelah termenung sejenak.

“Keselamatan Tok Say Thayjien!”

“Kemungkinan sekali Ke Giok Lang benar-benar memiliki kepandaian silat yang tinggi tapi cayhe-pun telah mengatur persiapan serta penjagaan yang ketat dalam istana, setelah Ke Giok Lang berani bicara besar macam begini, cayhepun mau tak mau harus melakukan persiapan.”

Ia tertawa hambar dan tambahnya.

“Bagaimanakah watak Tok Say, aku rasa Kwan-heng sudah menjumpainya, aku tidak berani mengatakan dia adalah seorang pejabat berhati jujur, paling sedikit ia bukan pembesar korup, seorang pejabat berhati serong, aku rasa di dalam persoalan ini akupun harus menantikan sikap dari Kwan-heng.”

“Jen-heng, kau bermaksud hendak menyuruh siauwte berbuat bagaimana?”

“Kalau dibicarakan menurut aturan Bu-lim agaknya aku orang she Jen tak dapat terlalu menyusahkan kau Kwan-heng, tetapi perkembangan persoalan ini telah berubah, dari peta pengangon kambing kini beralih ke dalam soal keselamatan sang Tok Say, setelah Kwan-heng terjerumus ke dalam persoalan ini, aku rasa untuk menarik diri-pun rada susah.”

“Jen-heng, kalau mau bicara katakan saja secara terus terang, apa yang kau inginkan dari aku orang she Kwan?” seru Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar.

“Yang siauwte pikirkan hanya dua persoalan, pertama adalah soal keselamatan Tok Say dan yang kedua adalah mencari kembali peta pengangon kambing.”

“Kedua persoalan ini sama beratnya tetapi penyelesaiannya memang saling ada hubungan, siauwte tidak bisa selalu berada di dalam istana untuk melindungi keselamatan diri Tok Say.”

“Untuk menghadapi persoalan ini, kita harus mencari jalan yang baik untuk menghadapinya.”

“Aku paham maksud Jen-heng bukankah kau ingin melakukan suatu gerakan sekalian menangkap Ke Giok Lang dan masukkan dia ke dalam penjara.?”

“Kalau perbuatan ini bisa mendatangkan keselamatan bagi Tok Say, maukah Kwan-heng membantu?”

“Sekalipun siauwte membantu belum tentu punya kekuatan sebesar itu!”

“Jadi Kwan-heng tidak ingin campur tangan dalam persoalan ini?”

“Dalam persoalan ini siauwte-pun tak bisa berpeluk tangan belaka” sambung Kwan Tiong Gak sambil menggeleng.

“Jika begitu Kwan-heng pun sudah mempunyai rencana bagus di dalam hatimu?”

“Maksud siauwte, peduli persoalan ini makin memburuk macam apapun, biarlah perusahaan kami Liong Wie Piauw-kiok yang memunculkan diri coba-coba menasehati Ke Giok Lang agar jangan berbuat sembarangan, kemudian menggunakan kemampuan masing-masing bersama-sama mencari dapat peta pengangon kambing, siapa yang menemukan peta itu terlebih dahulu siapa yang berhak untuk memiliki peta tersebut, dengan demikian masing-masing pihak tidak akan saling bermusuhan.”

Jen Pek To termenung sebentar lalu tanyanya, “Lalu apakah Kwan-heng punya pegangan untuk mendapatkan kembali peta pengangon kambing tersebut?”

Soal pegangan siauwte tidak berani mengatakan” sahut Kwan Tiong Gak tersenyum. “Tapi aku percaya kita bisa menemukan benda tersebut lebih dulu, kecuali luka yang diderita Thio Ci Jien adalah kesengajaan.”

“Kagum, kagum ……!” seru Jen Pek To setelah melengak beberapa saat. “Dari keadaan luka yang ada di tubuh Thio Ci Jien, apakah Kwan-heng berhasil menemukan asal usul si pembunuh tersebut?”

“Siauwte hanya berhasil mengetahui ia terluka oleh pukulan macam apa, dengan berdasarkan penemuan ini rasanya tidak terlalu susah, untuk menemukan orangnya, hanya saja siauwte ingin mengirim seseorang untuk menjumpai dirinya terlebih dahulu!”

“Kwan-heng bicara demikian tentu kau sudah menjumpai kesulitan-kesulitan?” tanya orang she Jen kembali sesudah termenung.

Dengan cepat Kwan Tiong Gak menggeleng.

“Sampai detik ini kami belum berani memastikan seratus persen Thio Ci Jien terluka ditangannya, sebelum persoalan ada bukti yang nyata siauwte tidak ingin mencari gara-gara dengan dirinya……”

Dengan wajah penuh perasaan curiga Jen Pek To melirik sekejap ke atas wajah Kwan Tiong Gak, ia berusaha keras untuk mempertahankan ketenangannya.

Kwan Tiong Gak menghela napas, ujarnya kembali, “Di dalam hati aku duga Jen-heng tentu mempunyai banyak persoalan yang mencurigakan hatimu bukan? padahal aku orang she Kwan pun mempunyai banyak kesulitan yang susah sekali diutarakan, Jen-heng mengikuti Tok Say ini boleh dianggap bahwa kau adalah hamba negara, terhadap jago-jago kangouw yang kukoay wataknya mau tak mau siauwte harus merahasiakan karena aku orang she kwan tak boleh membiarkan namaku hancur dengan dikatakan sebagai manusia tak berbudi oleh kawan-kawan Bulim.

“Aku paham, cayhe ingin kembali dulu ke dalam istana mengatur penjagaan sedang mengenai pandangan Kwan-heng yang terlampau tinggi terhadap Ke Giok Lang, aku rasa orang ini tentu mempunyai hal-hal yang sangat luar biasa. Nah! Selamat tinggal dan besok pagi siauwte akan menjenguk kembali kemari.”

“Baik! Kita berjumpa besok pagi, maaf siauwte tidak mengantar.”

“Tidak berani!” ia putar badan dan berlalu.

Liem Toa Lek segera menghantar Jen Pek To keluar pintu, setelah mengunci kembali pintu depan ia balik kembali ke dalam ruangan tengah.

Suasana sunyi untuk beberapa saat lamanya memandang air muka Cong Piauw-tauw yang penuh keseriusan tak tertahan Phoa Ceng Yan berbisik lirih, “Toako, agaknya persoalan ini semakin lama semakin kacau, aku lihat karena peristiwa ini bakal menimbulkan badai besar di dalam dunia persilatan.

Kwan Tiong Gak menghembuskan napas panjang, ujarnya, “Kalau dua tahun berselang bisa menghentikan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini maka tidak mungkin bisa terjadi kerepotan macam hari ini ….”

Ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Liem To Lek, sambungnya, “Coba suruh mereka hitung keuntungan kita tahun ini dan siapkan uang tersebut.

Walaupun dalam hati merasa curiga Liem Toa Lek tidak berani banyak bertanya, ia segera menjura.

“Hamba akan segera memerintahkan mereka untuk melakukan hal tersebut….”

Dari dinding Kwan Tiong Gak mengambil goloknya dan digantung pada punggungnya, setelah mengenakan jas hujan ia berkata, “Aku mau pergi keluar sebentar, paling lambat besok pagi pada kentongan kelima tentu kembali.”

“Toako!” seru Phoa Ceng Yan dengan cepat. “Biarlah mereka pergi bersamamu, agar kalau ada urusan mereka bisa membantu.”

Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu…..”

Sembari melangkah keluar sambungnya.

“Siauw-heng hendak menggunakan waktu setengah harian ini untuk mencari kembali itu peta pengangon kambing, kalau besok bisa kita serahkan lukisan itu pada Jen Pek To maka itu hari juga kita segera berangkat pulang ke Peking dan kantor cabang Kay Hong pun ditutup sampai di sini saja, seluruh keuntungan bagikan kepada semua anggota kita.”

“Bagaimana dengan Liem Toa Lek?”

“Perintahkan dia dengan membawa beberapa orang piauwsu sesudah menyelesaikan persoalan di sini segera berangkat ke ibukota.”

“Toako bermaksud membubarkan kantor cabang Kay hong sejak ini?”

“Seluruh perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah masanya untuk ditutup, aku berharap pada pertengahan tahun depan semua persoalan sudah selesai dan semua kantor cabang telah dibubarkan.”

“Hal inipun baik juga,” kata Phoa Ceng Yan sambil menghela napas panjang. “Dengan demikian toako-pun tidak usah lagi memikul tugas dan beban seberat ini.”

Sewaktu pembicaraan berlangsung sampai disitu, mereka telah tiba di pintu depan.

Kwan Tiong Gak mendadak berhenti dan berpaling.

“Kalian tak usah mengantar aku lagi, suruh mereka baik-baik berjaga diri, jangan timbulkan persoalan lagi, dalam keadaan seperti ini jangan sekali-kali kita bikin keonaran.”

“Siauwte akan berusaha untuk menghindari hal tersebut, Toako-pun harus berhati-hati.”

Kwan Tion Gak tersenyum dengan langkah lebar ia segera berlari.

Menanti bayangan punggung dari Cong Piauw-tauwnya sudah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan sekalian baru mengundurkan diri dari sana dan menutup pintu kantor.

Malam semakin kelam, inilah saat yang paling tepat bagi setiap keluarga untuk berkumpul sambil merayakan tahun baru.

Di dalam ruangan kantor cabang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok pun dihangatkan oleh sebuah tungku dengan beberapa orang duduk berkerumun di sana, hanya saja mereka bukan sekeluarga yang merayakan malam tahun baru, melainkan sekelompok piauwsu yang bersenjata lengkap dengan wajah murung dan kesal.

Phoa Ceng Yan menghembus asap huncweenya ke angkasa, sambil menghela napas ia berkata.

“Tak ada gading yang tak retak, tak ada panglima yang takut mati dalam pertempuran, di bawah pimpinan Cong Piauw-tauw perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita sudah berkembang sangat pesat, kantor perusahaan cabang tersebar luas di enam karesidenan, kegagahan dan kecemerlangan macam begini biasanya susah ditandingi oleh perusahaan manapun pada jaman apapun juga, selama dua puluh tahun di bawah kerja keras beberapa puluh orang kawan dengan taruhan jiwa dan tenaga berhasil mengangkat perusahaan kita dengan merek emas, tidak disangka kecuali kita harus menghadapi penjahat-penjahat dari kalangan Liok-lim, sekarang harus berurusan pula dengan orang pemerintahan, Aaai…..agaknya Cong Piauw-tauw merasa putus asa oleh persoalan.”“

“Hal inipun tak bisa disalahkan dirinya,” kata Nyoo Su Jan memberikan pendapatnya.

“Persoalan di dalam perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita makin hari semakin banyak di samping Cong Piauw-tauw harus bertanggung jawab dalam melatih para anggota dengan ilmu silat banyak persoalan pula yang harus ia tangani sendiri, agaknya makin lama Cong Piauw-tauw merasa makin jemu dengan urusan pengawalan barang, selama beberapa tahun ini jarang sekali barang kawalan kita menjumpai persoalan, mungkin orang lain jeri dengan merek emas kita, padahal yang sebenarnya semua persoalan ini adalah hasil kerja Cong Piauw-tauw seorang….”

“Eeei….sebetulnya apa yang telah terjadi, Nyoo-heng kalau bicara yang jelas sedikit.” tukas Liem Toa Lek cepat.

Dengan andalkan kuda jempolannya yang setiap hari bisa menempuh perjalanan ribuan lie, kadang-kadang ia seorang diri menghajar habis-habisan musuh-musuh yang akan menghadang barang kita, semua orang hanya tahu mengiringi kereta barang berangkat ke selatan atau ke utara, siapa yang tahu kalau sepanjang jalan yang mereka lalui telah diamankan dahulu oleh Cong Piauw-tauw.”

“Aaakh…..! Persoalan ini takkan kuketahui kalau tidak kau katakan saat ini,” teriak Phoa Ceng Yan tersentak kaget.

“Pada tahun yang lalu, kebetulan hamba sakit dan harus beristirahat beberapa bulan di rumah, sebab memandang tinggi hamba, Cong Piauw-tauw melarang aku mengawal barang setengah tahun lamanya, karena itulah sepanjang waktu aku selalu berada di dalam perusahaan, kadang-kadang sampai malam baru tidur, dan kadang-kadang berlatih silat  di tengah malam buta, kebetulan sering sekali bertemu Cong Piauw-tauw dengan menunggang kuda seorang diri pergi keluar di tengah malam buta, pada perjumpaan yang pertama kali hamba tidak terlalu memperhatikan, tapi karena seringnya perjumpaan ini maka timbul rasa curiga dalam hatiku, diam-2 kuperhatikan terus gerak-geriknya dan akhirnya kuketahui setiap kali pengawalan barang dalam jumlah besar berangkat maka pada malam harinya Cong Piauw-tauw tentu berangkat pula, orang-orang kantor hanya tahu urusan Cong Piauw-tauw sangat repot dan tidak ada di dalam kantor, padahal siapa yang tahu kesusahannya? “

“Demi nama baik perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tiada jemunya ia menempuh bahaya seorang diri. Aaaaiii…. selama beberapa tahun ini kita sudah cukup menyusahkan dirinya.”

“Aaaii…….kita sebagai piauwsu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ternyata tidak dapat membantu COng Piauw-tauw dalam mengurangi kemurungannya, bila dipikir kita seharusnya merasa malu, “ seru Liem Toa Lek.

“Maka dari itu akupun berharap ia cepat bisa menutup perusahaannya, sehingga sisa hidupnya bisa dilewatkan dengan hati tenteram selalu,” sambung Phoa Ceng Yan.

“Walaupun ucapan Hu COng Piauw-tauw tidak salah, tapi untuk menutup pintu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita yang sudah sedemikian besar, sedikit banyak hatiku ikut merasa susah juga.”

Phoa Ceng Yan tertawa hambar.

“Di kolong langit tak ada perjamuan yang tidak bubar, Cong Piauw-tauw pun tidak bisa susah payah sepanjang tahun, kalau kita harus berdiri dengan bersandar pada dia seorang siksaan ini sungguh luar biasa sekali, cuma selama beberapa tahun ini perusahaan kita sudah banyak beruntung, dengan watak Cong Piauw-tauw yang ridak memandang harta sewaktu membubarkan perusahaan, ia pasti tak akan merugikan cuwi sekalian, biaya hidup selanjutnya tentu terjamin.”

Malam itu dilewatkan beberapa orang itu dengan mengobrol mengelilingi tungku pemanas.

Menanti kentongan kelima telah tiba, mendadak di luar halaman terdengar suara ringan bergema datang.

“Siapa??” bentak Phoa Ceng Yan sambil mematikan lampu lilin yang ada di atas meja.

“Aku.”

“Suara itu jelas berasal dari mulut Kwan Tiong Gak.

Suara tersebut agak dikenal baik oleh Phoa Ceng Yan maupun siapa saja, buru-buru mereka bangun berdiri menyambut.

“Cong Piauw-tauw!”

Waktu itu Liem Toal Lek sudah menyulut kembali lampu lilin di atas meja, di tengah sorotan cahaya Kwan Tiong Gak berjalan masuk ke dalam ruang tengah.

Pada dasarnya memang berwajah keren ditambah pula keseriusan yang diperlihatkan saat ini menambah keseraman bagi orang yang melihat.

Liem Toa Lek serta Nyoo Su Jan tidak berani banyak bicara diam-diam mereka mengundurkan diri ke samping.

Setibanya di tepi tungku Kwan Tiong Gak melepaskan goloknya dan mempersilahkan orang duduk.

Beberapa orang itu mengikuti ucapannya dan mencari tempat duduk. Phoa Ceng Yan yang ada di sisi Kwan Tiong Gak segera bertanya, “Toako! Apakah kau berhasil menemukan jejak peta pengangon kambing itu?”

“Belum,” sang Cong Piauw-tauw menggeleng. “Ia sudah lama meninggalkan kota Kay Hong.”

“Apakah ia muncul kembali di sini karena peta pengangon kambing itu ….?” tanya Nyoo Su Jan.

“Kalau benar demikian saat ini sudah terbang jauh ke angkasa, untuk menemukan kembali peta pengangon kambing rasanya bukan suatu persoalan yang terlalu gampang.”

 

[bersambung]