ambang naga panji naga sakti 07
“Ada satu persoalan yang membuat
aku orang she Kwan merasa patut disayangkan!” kata Kwan Tiong Gak
dengan nada berat.
“Urusan apa?” tanya Ke Giok Lang
dengan sepasang biji mata berputar-putar.
“Ke-heng, buat apa kau bikin
jaring untuk menjerat diri sendiri? tidak seharusnya kau paksa Phoa
Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok demi ikut
menanda tangani surata tanda terima tersebut.”
“Hitam di atas putih tertera
sangat jelas sekali, semisalnya Liuw Thayjien dengan berdasarkan
bukti tersebut melaporkan hal ini kepada pihak pengadilan dan
menuduh kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bersekongkol dengan
jago kalangan Liok-lim untuk jebak ia masuk perangkap, bukankah hal
ini membuat kami ada perkataanpun susah untuk membantah.”
Beberapa patah ucapan ini sangat
cengli sekali, kendati Ke Giok Lang adalah seorang yang licik dan
banyak akal, untuk sesaat pun tak berhasil memperoleh jawaban yang
pantas.
Lama sekali ia termenung, otaknya
berputar keras dan akhirnya ia bertanya, “Lalu menuruti pandangan
Kwan heng bagaimana baiknya?”
“Seharusnya kita utarakan dengan
pepatah kuno yang mengatakan, yang cerdik belum tentu cerdik dan
yang bodoh belum tentu bodoh, kesemuanya ini hanya salah kau Ke heng
dari pintar jadi keblinger, salah satunya cara yang bagus pada saat
ini adalah persilahkan Ke Kong cu serahkan kembali tanda terima itu
untuk kemudian dimusnahkan di depan mata kita semua, setelah itu aku
orang she Kwan segera akan putar badan berangkat balik ke utara dan
tidak mencampuri urusan ini lagi.”
“Kwan heng, sungguh amat ringan
ucapanmu itu!” seru Ke Giok Lang sambil tersenyum. “Apa kau lupa
bahwa kita orang-orang Bu lim paling mengucapkan apa yang pernah
diucapkan selamanya tak akan disesali? Karena barang kawalan dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian aku orang Ke Giok Lang tidak
sayang sayangnya telah bentrok dengan beberapa orang kawan Liok-lim
sehingga di dalam pertarungan tersebut banyak anak buahku yang
terluka, tahukah kalian apa tujuanku berbuat demikian, walaupun aku
orang she Ke merasa amat kagum terhadap nama besar kau Kwan Cong
Piauw-tauw, tapi seharusnya di antara pihak aku dengan perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kalian sama sekali tak ada hubungan apapun,
tujuanku melindungi kalian selama ini semata-mata hanyalah ingin
melindungi peta lukisan pengangon kambing tersebut, jangan terjatuh
ke tangan orang lain karena benda itu sudah menjadi milik aku orang
she Ke dan aku tidak ingin benda milikku itu kembali kena dirampas
orang di tengah jalan, justru karena tidak ingin merusak nama besar
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, selama nanti setelah kalian
menghantarkan keluarganya pembesar Liuw itu tiba di kota Kayhong dan
perusahaan kalian telah melepaskan tanggung jawab kita baru bekerja
kembali, coba kau pikir apa salahku berbuat demikian?”
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Aku orang she Kwan percaya kau Ke
Kongcu masih punya cara yang lain untuk mendapatkan lukisan peta
pengangon kambing itu tanpa menggunakan tanda terima yang ada.”
“Aku Ke Giok Lang selama bekerja
selalu berharap setiap urusan bisa dibuat beres dengan tepat dan
tidak banyak buang tenaga, setelah Liuw Thayjien menulis sendiri
tanda terimanya, aku tidak takut ia pungkiri janji.”
“Ke Kongcu, rasanya kaupun terlalu
pandang enteng pembesar she Liuw itu, jika ia benar-benar ada maksud
hendak serahkan lukisan tersebut kepadamu, seharusnya sebelum ia
masuk ke dalam istana Jendral paling sedikit menyapa dulu diriku,
ternyata tak sepatah katapun yang disampaikan kepada kami.”
Ke Giok Lang tersenyum.
“Apakah Liuw Thayjien bersungguh
sungguh hendak seahkan peta lukisan pengangon kambing itu kepadaku
atau tidak, tunggulah sebentar jawaban segera akan kaliabn ketahui.”
Mendengar ucapan tersebut air muka
Kwan Tiong Gak kontan berubah hebat, tapi sebentar kemudian sudah
pulih kembali seperti sedia kala.
“Jika demikian adanya, Ke Kongcu
sudah kirim orang untuk menagih lukisan pengangon kambing itu?”
tanyanya.
“Sedikitpun tidak salah…..”
Ia merandek sejenak, lalu
sambungnya.
“Tapi saudara boleh berlega hati,
orang yang cayhe kirim untuk menagih lukisan tersebut sama sekali
bukan orang dari kalangan Liok-lim, dia adalah seorang kenamaan di
dalam kota Kay Hong, sekalipun Liuw Thayjien ada maksud
menghindarkan diri dari kenyataan pun tidak akan menyangka aku bisa
minta orang yang mintakan lukisan pengangon kambing tersebut.”
“Jikalau demikian adanya, pengaruh
Ke Kongcu bukan saja sudah tersebar di kalangan Liok-lim bahkan
sudah menerobos pula ke dalam kalangan kaum pembesar, orang
kenamaan?”
“Aaaaaach….. haaa….haaa…..
seseorang yang sering melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw,
seharusnya mencari kawan lebih baik, mereka suka membantu aku orang
she Ke sudah tentu bantuan ini tak akan kutolak mentah mentah.”
“Generasi muda menggantikan
generasi tua, Ke Kongcu belum lama terjunkan diri ke dalam dunia
persilatan tapi pengaruhmu berhasil kau sebar di segala pelosok Bu
Lim, keberhasilanmu ini sungguh membuat orang merasa kagum,” puji
Kwan Tiong Gak.
Walaupun dimulut ia sedang
berbicara dengan Ke Giok Lang, tapi sepasang matanya melototi wajah
si Dewa Api Ban Cau tajam tajam di samping memperhatikan perubahan
wajahnya.
Tetapi air muka Ban Cau masih
tetap dingin, kaku dan serius, terhadap ucapan dari Kwan Tiong Gak
sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.
Ke Giok Lang tertawa hambar.
“Kwan heng, watak siauwte,
selamanya adalah tidak dapat menahan perkataan di dalam hati,
saudara Ban heng ini sejak semula sudah menyetujui untuk bekerja
sama dengan siauw-te, sekarang kita merupakan satu rombongan.”
“Haaa…. haaa….. haaa….. Ke
Kongcu!” seru Kwan Tiong Gak sambil mendongak dan tertawa terbahak
bahak. “Tempo dulu waktu berada di Peking siauwte sama sekali tidak
memenuhi undanganmu untuk berjumpa, bila dipikir sekarang, hal
tersebut sungguh merupakan suatu tindakan yang terlalu ceroboh.”
Ia merandek sejenak, kemudian
sambungnya.
“Bila kita bicarakan dari situasi
yang kita hadapi saat ini, urusan semakin jelas lagi tertera, dan
aku rasa apa maksud Ke Kongcu mengundang aku orang she Kwan datang
kemaripun seharusnya boleh segera diterangkan.”
Sekalipun berada di musim salju
yang dingin, Ke Giok Lang masih menggoyang goyang kipasnya juga
untuk menyejukkan badan.
“Kwan heng” ujarnya. “Perkataan
dari orang she Ke sudah dijelaskan…”
“Sungguh sayang pikiranku tumpul
sehingga tidak dapat menduga apa maksud yang sebenarnya dari Ke
Kongcu.”
“Ke Kongcu” tiba tiba Phoa Ceng
Yan menimbrung dari samping. “Urusan kantor dari Cong Piauw-tauw
kami terlalu banyak dan tak bisa berdiam terlalu lama di sini,
bilamana Ke Kongcu ada perkataan lebih baik diutarakan saja secara
terus terang, jikalau maksudmu mengundang kami datang hanya ingin
berjumpa saja, sekarang kita semua telah bertemu.”
Wajah Ke Giok Lang masih penuh
dihiasi oleh senyuman.
“Setelah meneguk secawan arak,
seribu cawanpun dikatakan kurang. Pembicaraan tidak cocok separuh
katapun dikatakan terlalu banyak. Kelihatan Phoa heng tidak ingin
terlalu lama berkumpul dengan aku orang she Ke”
Selagi Phoa Ceng Yan siap
memberikan tanggapannya, mendadak tampak seorang lelaki kekar
berusia tiga puluh tahunan dengan memakai separangkat baju singsat
buru-buru lari masuk ke dalam ruangan kemudian mendekati Ke Giok
Lang dan membisikkan sesuatu ke telinga si Hoa Hoa Kongcu ini.
Ke Giok Lang kebutkan kipasnya,
lelaki kekar itu segera putar badan dan mengundurkan diri dari
ruangan.
Suasana seketika itu juga berubah
jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, di tengah
kesunyian suasana terasa semakin menegang…..
“Kwan heng!” ujar Ke Giok Lang
kemudian sembari menutup kipas di tangannya. “Menurut pengetahuan di
dalam kota Kay Hong, kecuali Piauw su dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok masih ada jago jago lihay siapa lagi…?”
“Di dalam kota Kay Hong, naga
harimau hilir mudik tiada hentinya, jago lihay banyak jumlahnya,
entah Ke Heng ingin tanyakan yang mana?”
“Benar, di kota Kay Hong memang
banyak terdapat jago lihay, tetapi yang berani bermusuhan dengan aku
orang she Ke rasanya tidak seberapa banyak.”
Kwan Tiong Gak tertawa hambar.
“Cayhe percaya Ke Kongcu bukan
seorang yang pandai pentang mulut besar, apa yang bisa kau utarakan
tentu punya pegangan yang kuat, tentunya sejak semula kau sudah
tanam pengaruh di kota Kay Hong ini.”
Entah karena urusan apa mendadak
Ke Giok Lang telah kehilangan kepandaiannya untuk menguasai diri
sendiri, senyuman yang semula menghiasi wajahnya berubah menjadi
suatu mimik yang dingin dan kaku terbentang di depan mata.
“Kwan Cong Piauw-tauw terlalu
memuji, di kota Kay Hong aku orang she Ke tidak lebih banyak
berhasil berkawan dengan beberapa orang.”
“Jika kudengar dari nada ucapan Ke
Kongcu, agaknya terhadap aku orang she Kwan hatimu punya rasa tidak
puas.”
“Hmmmm! Apabila di kota Kay Hong
ini ada orang yang berniat membawa maksud buruk terhadap aku orang
she Ke, maka paling sedikit perusahaan Liong Wie Piauw-kiok termasuk
salah satu diantaranya…”
Ia merandek sejenak lalu
sambungnya.
“Dengan orang-orang yang punya
kedudukan serta nama di kota Kay Hong kebanyakan aku Ke Giok Lang
pernah berhubungan sebagai kawan, tapi terhadap perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian selamanya tidak pernah mengganggu, hal ini
dikarenakan kau orang she Kwan.”
Walaupun ucapan ini kedengarannya
tidak mengandung sesuatu maksud tertentu, padahal maksud sebenarnya
terkandung suatu penyerangan yang tajam.
Tidak salah lagi ia sedang
mengatakan apabila kawan kawan Bu lim yang ada di kota Kay Hong ini
kecuali perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah kena ditaklukkan semua
oleh Ke Giok Lang, Kwan Tiong Gak adalah seorang jagoan yang
berpengetahuan sangat luas, sudah tentu iapun dapat menangkap nada
ucapan tersebut, setelah termenung beberapa saat katanya.
“Bila di kota Kay Hong ini hanya
kami orang-orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok saja yang berani
merusak pekerjaan Ke Kongcu, maka orang-orang perusahaan kami memang
patut kalian curigai terus, tapi jika didengar dari nada ucapan Ke
Kongcu agaknya kecuali kami perusahaan Liong Wie Piauw-kiok paling
sedikit masih ada seorang yang patut dicurigai, entah siapakah orang
itu?”
“Seorang toosu tua dari kuil “Ting
To Sia Yen”. Cuma menurut apa yang aku orang she Ke
ketahui Thian Peng Totiang ini hanya menerjunkan diri dalam soal
agama, ia tidak ingin bergaul dengan akui orang she Ke ini bukan
berarti ia memusuhi aku orang.”
“Ke Kongcu, kau mengupasi orang
persoalan ini satu demi satu, dan akhirnya kau merasa begitu yakin
bila kami orang-orag dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok lah yang
memusuhi dirimu.”
“Tentang soal ini seharusnya dalam
hati kecil Kwan Cong Piauw-tauw sudah punya perhitungan sendiri,
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bisa berdiri di dalam dunia
persilatan sebagai perusahaan piauw-kiok nomor wahid di kolong
langit, ini mengartikan baik dalam kecerdasan maupun dalam soal
kepandaian silat. Kwan Cong Piauw-tauw benar benar luar biasa.”
Air muka Kwan Tiong Gak perlahan
lahan berubah semakin serius.
“Ke Kongcu, perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kami bisa mendapat kemajuan seperti ini hari sudah tentu
sebagian besar harus berdasarkan bantuan dari kawan kawan kangouw,
tetapi kami pun selama ini menjaga-jaga peraturan perusahaan
piauw-kiok ketat-ketat dan selamanya belum pernah dilanggar,
kedatangan aku orang she Kwan kali ini untuk memenuhi undangan pun
tidak lebih hanya ingin menarik kembali tanda terima tersebut,
kecuali itu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami sama sekali tidak
mempersiapkan tindakan apa-apa, kedatangan aku orang she Kwan ke
sini juga dilakukan terang terangan dan hingga kini belum pernah
tiba saat saat penggunaan senjata, apa perlunya aku orang she Kwan
menggunakan akal licik? Ke Kongcu, ucapak aku orang she Kwan pun
hanya sampai di sini saja.”
Pada dasarnya wajah Kwan Tiong Gak
memang keren berwibawa, apalagi ucapan tersebut diutarakan lancang,
hal ini membangkitkan rasa percaya di hati semua orang.
Ke Giok Lang kerutkan keningnya
sehabis mendengar ucapan tersebut.
“Kecuali dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian yang secara diam-diam main setan, hanya tinggal
toosu-toosu dari kuil “Ting To Sia Yen” saja. Hmmm! Toosu-toosu
hidung kerbau ini sungguh bernyali besar.”
“Ke Kongcu,” sambung Phoa Ceng Yan
dari samping. “Kota Kay Hong adalah sebuah kota kenamaan, orang yang
berlalu lalang dan hilir mudik bagaikan aliran air di sungai, setiap
hari berganti wajah mengapa kau begitu ngotot mengatakan tentu
orang-orang penduduk Kay Hong lah yang memusuhi dirimu?”
“Jika orang itu datang dari luar
kota, aku rasa tak akan sedemikian kebetulannya, memusuhi diriku
apalagi mereka-pun tidak tahu kejadian yang sesungguhnya di balik
kesemuanya ini.”
“Ke Kongcu, kau sudah bicara
setengah harian, sebenarnya apa yang telah terjadi?”
“Walaupun Liuw Thayjien sudah lama
bergulungan di dalam pemerintahan, tetapi dia masih merupakan
seorang yang bisa pegang janji, setelah melihat surat tanda terima
tersebut, ia telah menyerahkan peta lukisan pengangon kambing itu
kepada orang yang kukirim.”
“Dan kini peta lukisan pengangon
kambing itu kembali dirampas orang?” sambung Kwan Tiong Gak dengan
wajah serius.
“Sedikitpun tidak salah, Kwan Cong
Piauw-tauw, bagaimana pendapatmu mengenai peristiwa ini?”
Kwan Tiong Gak termenung beberapa
saat lamanya kemudian tertawa hambar.
“Peristiwa ini terjadi sangat
mendadak dan berada di luar dugaanku, aku orang she Kwan tak dapat
memberikan pendapat mengenai peristiwa ini.”
“Kalau begitu apakah Kwan Cong
Piauw-tauw sudah mempercayai ucapan siauwte?”
“Cayhe mau percaya atau tidak
entah apa hubungannya dengan diri Ke Kongcu?”
Mendadak Ke Giok Lang mendongak
dan menggapai seorang lelaki berusia tiga puluhan melangkah maju ke
muka.
Si Hoa Hoa Kongcu segera
membisikkan sesuatu ke samping telinganya, lelaki itu manggut tiada
hentinya lalu memggapai pula ke arah kawannya.
Empat orang lelaki menyahut dan
maju ke muka, kemudian lima sosok bayangan manusia laksana sambaran
petir lari keluar dari ruangan.
Menanti kelima orang anak buahnya
sudah berlalu Ke Giok Lang baru berpaling kembali ke arah Kwan Tiong
Gak.
“Kwan heng, tanda terima tersebut
sudah kami serahkan ke tangan Liuw Thayjien, peta lukisan pengangon
kambing-pun kena dirampas orang, bilamana Kwan heng ingin minta
kembali tanda terima tersebut rasanya amat sulit sekali.”
“Apakah Ke Kongcu menaruh curiga
terhadap aku orang she Kwan?”
“Soal ini sih siauwte tidak berani
memastikan, selama hidup siauwte hanya bekerja setelah ada bukti
yang nyata, tetapi bilamana dikatakan siauwte sama sekali tidak
menaruh curiga, tentunya kau orang she Kwan pun tak akan percaya.”
“terus terang aku hendak beritahu
kepada Ke Kongcu, siauwte sendiripun rada menaruh curiga terhadap
diri Ke Kongcu.”
Mendengar ucapan tersebut Ke Giok
Lang segera tertawa terbahak bahak.
“Haaa……haaa…..haaa….. hal ini
sudah kuduga sebelumnya.”
“Ke Kongcu, setelah kau kehilangan
peta lukisan pengangon kambing agaknya sama sekali tidak menunjukkan
rasa gelisah ataupun cemas.”
“Urusan sudah jadi begini,
cemaspun tak ada gunanya.”
“Kalalu begitu bagaimana kalau
siauwte mohon diri terlebih dahulu ….?”
Perlahan lahan Ke Giok Lang
menghela napas panjang.
“Kwan heng, lebih baik kau jangan
pergi dahulu.”
“Mengapa?”
“Siauwte menaruh curiga terhadap
Kwan heng, dan Kwan heng pun menaruh curiga terhadap siauwte, lebih
baik kita sama sama berkumpul jadi satu menanti hingga urusan ini
menjadi beres dan terang.”
“Jikalau siauw-te tidak ingin
berdiam di sini?”
“Lebih baik Kwan heng jangan
ngotot hendak menggunakan kekerasan, daripada harus terjadi
bentrokan kekerasan di antara kita.”
Kwan Tiong Gak termenung beberapa
saat lamanya, akhirnya ia berkata.
“Untuk minta siauw-te berada
di sini tidak sukar tetapi kita harus bicarakan dulu satu syarat.”
“Bagus! Ada syarat bisa
dibicarakan, Kwan Cong Piauw-tauw silahkan berbicara.”
“Untuk berdiam di sini bagi cayhe
tidak sukar, tapi aku berharap bisa menarik kembali tanda terima
tersebut…..”
Ia termenung sejenak lalu
tambahnya.
“Mungkin dalam pandangan cuwi
menuduh aku orang she Kwan terlalu takut menghadapi urusan,
kenyataannya memang tidak salah, aku orang she Kwan adalah seorang
rakyat biasa, tidak dapat dibandingkan dengan keadaancuwi sekalian.”
“Haaa……haaa….haaa….. Kwan heng
adalah rakyat baik baik kalau begitu kami adalah kaum penyamun
bukan?”
“Perkataanku bukan mengartikan
demikian, kami orang-orang yang membuka perusahaan piauw-kiok boleh
dihitung sebagai kaum pedagang, kita kita harus membuka kantor
cabang di setiap tempat secara baik baik untuk mencari keuntungan
material, ada pepatah mengatakan bila rakyat janganlah cari
gara-gara dengan pembesar. Cayhe tidak berharap ada surat tanda
bukti yang terjatuh ke tangan kaum pembesar pemerintahan.”
“Jikalau Kwan Cong Piauw-tauw
hanya merisaukan tanda terima saja, urusan semakin mudah
diselesaikan, malam ini juga cayhe bisa pergi mengambilnya.
Walaupun Liuw Thayjien sendiri
adalah seorang yang lemah tak bertenaga, tetapi keketatan serta
kerapatan penjagaan dalam istana jendral seharusnya kaupun tahu,
beberapa orang Bu su melindungi istana pun bukan manusia
sembarangan, jikalau Ke Kongcu bermaksud hendak mencuri tanda terima
itu, takut urusan malah akhirnya berubah makin besar, ini
namanya melukis harimau tidak jadi yang muncul adalah sejenis
anjing.”
“Tidak mudah, tidak mudah, kiranya
bukan saja Kwan Cong Piauw-tauw begitu paham terhadap seluk beluk Bu
Lim, ternyata terhadap keadaan istana jendral pun mengetahui begitu
jelas.” puji Ke Giok Lang sambil tersenyum.
“Aaah! Ke Kongcu terlalu memuji.”
Ke Giok Lang mendongak dan tertawa
terbahak bahak.
“Haaa……haaa…. haaaa….. seorang
yang punya nama besarpun ternyata bisa begitu merendah…..”
Ia merandek sejenak, lalu
tambahnya.
“Menurut pendapat Kwan Cong
Piauw-tauw, tanda bukti itu tak boleh dicuri, tetapi benda tersebut
sudah berada di tangan Liuw Thayjien, entah apa yang harus kami
lakukan sekarang?”
“Cara gelap ada beribu ribu cuma
yang terang terangan hanya sebuah saja.”
“Silahkan Kwan Cong Piauw-tauw
memberi penjelasan.”
“Menggunakan peta lukisan
pengangon kambing untuk ditukar dengan tanda terima tersebut.”
“Aaakh! Suatu cara yang amat
bagus, cuma lukisan pengangon kambing itu sudah tidak berada di
tanganku lagi!” Ke Giok Lang tertawa hambar.
“Cayhe percaya Ke Kongcu pasti
dapat mencari kembali lukisan pengangon kambing yang hilang.”
“Kwan heng terlalu memandang
tinggi diri siauw-te!”
Si Hoa Hoa Kongcu tertawa
tergelak, kemudian tambahnya.
“Memandang di atas nama Kwan Tiong
Gak mu ini biarlah untuk kali ini siauwte jual muka untukmu, asalkan
siauwte berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu, aku
orang she Ke rela bersama-sama Kwan-heng pergi minta kembali tanda
terima tersebut.”
“Perkataan Ke Kongcu berat
bagaikan sembilan Hioloo, sebelumnya siauwte mengucapkan terima
kasih dahulu.”
“Semisalnya siauwte tak berhasil
mencari kembali lukisan pengangon kambing itu?” tiba tiba si Hoa Hoa
Kongcu bertanya kembali.
“Tentang soal ini, tentang soal
ini…..”
“Jikalau lukisan pengangon kambing
tak berhasil kudapatkan kembali, siauwtepun akan berusaha keras
untuk mencarinya kembali.”
“Ucapan dua macam, semisalnya Ke
Kongcu tidak berhasil mencari kembali lukisan pengangon kambing itu,
mka aku orang she Kwan pun terpaksa akan ikut mengadu untung.”
“Entah dapatkah Kwan heng
menyanggupi siauwte semisalnya kau yang berhasil mendapatkan kembali
lukisan pengangon kambing itu suka mengabarkan siauwte untuk
kemudian bersama-sama pergi menghadapi Liuw Thayjien dan minta
kembali surat tanda terima tersebut?”
“Boleh, boleh, asalkan siauwte
berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, bagaimana
juga Ke Kongcu pasti akan kami kabari, kecuali cayhe tidak berhasil
temukan dirimu.”
“Aaaakh! Ucapan ini terlalu samar,
entah dalam keadaan bagaimana Kwan heng anggap tidak berhasil
menemukan siauwte?”
“Aku orang she Kwan selamanya
bicara satu tetap satu, bicara dua tetap dua, apakah Ke Kongcu
hendak memaksa aku untuk angkat sumpah.”
“Siauwte tidak berani berbuat
demikian.” dengan buru-buru Ke Giok Lang berkelit. “Cuma setelah
Kwan heng berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu,
aku harap kaupun mempunyai suatu pernyataan yang jelas.”
“Perduli bagaimanakah cara
mengutarakan pernyataan tersebut, asalkan tidak menyukarkan diriku,
pasti akan cayhe penuhi.”
Ke Giok Lang agak termangu mangu
sejenak, setelah itu katanya.
“Bila ditinjau situasi yang
dihadapi saat ini, agaknya sebelum Kwan Cong Piauw-tauw berhasil
dapatkan kembali surat tanda terima tersebut untuk sementara tak
akan meninggalkan tempat ini?”
“Siauwte berharap sebelum Cap Go
Meh bisa kembali ke Peking, soal mendapatkan kembali lukisan
pengangon kambing itu bisa lebih cepat sudah tentu lebih baik.”
Ke Giok Lang menunggu kembali lalu
mengangguk.
“Baiklah, jikalau Kwan heng
berhasil menemukan kembali lukisan pengangon kambing itu, harap kau
pasang sebuah lentera merah di depan pintu kantor cabang Piauw kok
kalian selama dua malam, jikalau siauwte belum juga tiba maka ini
berari siauwte telah meninggalkan kota Kay Hong.”
“Ke Kongcu bisa mencari aku,
tetapi bagaimana caranya pula apabila cayhe ingin mencari Ke
Kongcu?”
“Tiga hari sebagai batas waktu,
bilamana cayhe berhasil mendapatkan kembali lukisan pengangon
kambing itu sudah tentu bisa kuhantar sendiri ke perusahaan
Piauw-kiok kalian untuk berjumpa dengan Kwan heng, bilamana yang aku
dapat hanya berita saja tentang lukisan pengangon kambing itu, maka
siauwte akan kirim orang untuk melaporkan berita tersebut kepada
Kwan heng.”
“Baik! Kita tentukan demikian
saja, jikalau Ke Kongcu membutuhkan bantuan siauwte, kirim saja
orang untuk memberitahu, siauwte pasti akan segera berangkat.”
“Terimakasih atas kesudian Kwan
heng.” buru-buru Ke Giok Lang menjura. “Asalkan siauwte berjumpa
dengan musuh yang sangat tangguh tentu akan kukirim orang untuk
minta bantuan Kwan heng, dan semisalnya Kwan heng yang membutuhkan
bantuan siauwte silahkan pasang pula lentera merah di depan pintu
kantor cabang piauw-kiok, siauw-te segera akan datang memberi
bantuan.”
Kwan Tiong Gak segera mendongak
dan tertawa terbahak bahak.
“Semoga Ke Kongcu bisa memperoleh
hasil, siauwte menanti kabar baikmu di dalam kantor piauw-kiok.”
Setelah menjura ia menoleh kepada
Phoa Ceng Yan sekalian.
“Mari kita pergi.”
Dengan langkah lebar ia berlalu
terlebih dulu dari ruangan.
Ke Giok Lang mengikuti dari
belakang dan menghantar rombongan tersebut hingga keluar ruangan.
“Kwan-heng, dapatkah kau berhenti
sebentar.” tiba tiba serunya.
Dengan cepat Kwan Tiong Gak putar
badan, sepasang matanya berkilat.
“Apakah Ke kongcu masih ada
urusan?”
“Barusan saja siauwte teringat
akan satu hal semisalnya Kwan heng ingin mempertahankan diri sebagai
penduduk baik-baik lebih baik untuk sementara waktu bersembunyi
dahulu.”
“Aku orang she Kwan adalah seorang
lelaki sejati, kenapa harus menyembunyikan diri.”
“Siauwte tidak memiliki kepandaian
untuk meramal kejadian yang akan datang, tapi aku akan ingat ingat
terus persoalan ini mau mendengarkan atau tidak itu terserah pada
Kwan heng sendiri.”
“Tentang soal ini Ke Kongcu tak
usah kuatir.”
“Kalau begitu anggap saja siauwte
terlalu banyak bicara” seru si Hoa Hoa Kongcu kemudian sambil
tempelkan tangan kanannya di tepian kipas sendiri.
“Ke Kongcu terlalu merendah.”
“Cuwi silahkan berangkat!”
Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya
dengan membawa Phoa Ceng Yan sekalian berlalu dari kuil Thian Ong
Bio.
Setelah jauh meninggalkan kuil
tersebut, Phoa Ceng Yan berpaling dan setelah dirasakan tak ada yang
menguntit bisiknya kepada sang Cong Piauw-tauw-nya.
“Agaknya Ke Giok Lang bukan
seorang jago yang gampang diusir.”
Kwan Tiong Gak menghela napas
panjang.
“Entah siapakah yang telah memberi
gelar “Hoa Hoa Kongcu” kepadanya, bukan saja tidak sesuai dengan
wataknya, bahkan pandai sekali dia memancing orang untuk terperosok
ke dalam langkah-langkah yang salah.”
Ia merandek, sejenak kemudian
tambahnya.
“Dia adalah seorang yang
berpengetahuan luas, pikirannya tajam dan akalnya banyak seharusnya
terhadap manusia macam begini tak boleh diberi julukan sebagai si
Hoa Hoa Kongcu.”
“Toako, agaknya kau masih
mempercayai perkataannya.?”
“Dalam soal sekecil ini, aku
percaya ia tak bakal bicara bohong,” kata Kwan Tiong Gak seraya
mengangguk. “Justru yang menjadi persoalan pada saat ini adalah
terjatuh ke tangan siapakah lukisan pengangon kambing itu?”
Ia menghembuskan napas panjang.
“Sayang aku belum pernah
membicarakan persoalan ini dengan diri Liuw Thayjien pribadi.”
“Cong Piauw-tauw, apakah kau
merasa peristiwa ini ada kemungkinan adalah permainan setan dari
Liuw Thayjien?” sela Nyoo Su Jan.
“Liuw Thayjien sudah ada puluhan
tahun lamanya berkecimpungan di dalam pemerintahan, ia benar-benar
bukan seorang yang patut dipandang enteng, tetapi aku belum pernah
memperhatikan dirinya dengan cermat dan tak kuketahui bagaimanakah
wataknya?”
“Dia adalah seorang yang penuh
dengan pengetahuan, penuh dengan pengalaman…” timbrung Phoa Ceng
Yan.
“Orang she Liuw ada banyak bagian
yang sangat berbeda dengan orang lain, sebagai seorang pembesar
kelas dua pada waktu ini ternyata ia berkecimpung pula dalam soal Bu
Lim, sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh,” sambung
Kwan Tiong Gak kembali.
“Siauwtepun berpendapat demikian,
aku lihat agaknya terhadap lukisan pengangon kambing itu ia sama
sekali tidak menaruh rasa sayang, oleh karena itu siauwte-pun merasa
yakin jelas terhadap rahasia lukisan pengangon kambing itu pembesar
she Liuw ini sama sekali tidak mengerti.”
“Emmmm, urusan ini memang ada
sedikit mengherankan, cuma sampai detik ini kita masih belum dapat
memahami keseluruhannya.”
“Ke Giok Lang bisa menaklukkan si
Dewa Api Ban Cau untuk bergabung ke dalam pihaknya ini cukup
membuktikan kecerdikan Ke Kongcu luar biasa sekali,” kata Nyoo Su
Jan.
“Persoalan tentang rahasia lukisan
pengangon kambing tidak banyak yang tahu, rasanya peristiwa
lenyapnya lukisan pengangon kambing tersebut apabila bukan permainan
setan dari pihak Ke Kongcu sendiri, ada kemungkinan merupakan siasat
dari Liuw Thayjien.”
“Sebelum kita berhasil mendapatkan
bukti yang nyata, janganlah sembarangan ambil kesimpulan sendiri.”
akhirnya Kwan Tiong Gak mencegah anak buahnya bicara lebih lanjut.
Gerakan tubuhnya dipercepat untuk
kembali ke kantor cabang Piauw-kiok-nya.
Ketika beberapa orang itu tiba di
depan pintu kantor, beberapa orang anggota piauw-kiok sudah
menyambut kedatangan mereka.
Tahun baru sudah tiba, untuk
sementara perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berhenti bekerja, pintu
besar tertutup rapat, bendera perusahaan yang sepanjang jalan selalu
berkibarpun telah diturunkan.
Kwan Tiong Gak sekalian bersama
sama masuk ke dalam ruangan belakang, setelah ambil duduk Liem Toa
Lek memerintahkan kokinya persiapkan makanan.
Sejurus kemudian perjamuan telah
dipersiapkan.
Tapi belum sampai seteguk arak
masuk mulut mendadak tampak seorang lelaki lari masuk ke dalam
dengan terburu-buru.
“Ada urusan apa?” tegur Kwan Tiong
Gak seraya meletakkan kembali cawan araknya ke meja.
“Tangan kanan dari Tok Say mohon
bertemu dengan Cong Piauw-tauw” lapor lelaki itu seraya menjura.
Walaupun Kwan Tiong Gak adalah
seorang jago gagah perkasa yang berjiwa jantan tetapi dia adalah
seorang pedagang yang mencari sesuap nasi dengan membuka perusahaan
piauw-kiok, mendengar tangan kanan dari sang Tok Say datang mencari
dirinya ia agak sedikit melengak.
(Bersambung ke Jilid 14)
Jilid 14
Setelah termenung beberapa
saatnya, akhirnya ia ulapkan tangannya.
“Undang ia ke ruang tengah.”
Pelayan itu menjura kemudian
mengundurkan diri.
Kwan Tiong Gak segera singkirkan
cawan awak dan bangun berdiri.
“Bila orang-orang Bu-lim terpaksa
harus berurusan dengan orang-orang dari pemerintahan, ini berarti
kerepotan sudah menjelang datang, kalian tunggulah sebentar di sini,
aku akan pergi menemui mereka sendiri….”
“Hamba dengan kedua orang Bu su
istana Jendral pernah saling mengenal, bagaimana kalau aku menemani
Cong Piauw-tauw pergi menemui mereka?”
“Baiklah!” Kwan Tiong Gak
mengangguk.
Ia lantas melangkah keluar.
Sebelum berlalu Liem Toa Lek
membisik sesuatu ke sisi telinga Phoa Ceng Yan, ujarnya.
“Tangan kanan dari Tok Say ini
mempunyai asal usul yang tidak kecil, jikalau tidak ada urusan
penting ia tak akan datang kemari, Hu Cong Piauw-tauw serta Nyoo-ya
harap tunggu sebentar di sini, bila ada urusan akan kukirim orang
untuk memberi kabar.”
“Ehmm… kalau ada urusan
cepat-cepat beritahu kepadaku,” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk,
wajhnya kelihatan sangat keren.
“Soal ini hamba tahu.”
Ia putar badan dan cepat-cepat
mengejar Kwan Tiong Gak menuju ke ruang tengah.
Belum sempat kedua orang itu ambil
duduk, seorang lelaki anggota perusahaan telah mengiringi seorang
lelaki berusia pertengahan berjalan masuk ke dalam ruangan.
Cukup ditinjau dari pakaian yang
dikenakan sudah bisa diketahui dia adalah seorang pembesar, bahkan
wajahnya sangat asing belum pernah dijumpai.
Tetapi ada satu hal Liem Toa Lek
merasa yakin yaitu orang yang datang adalah seorang ahli tenaga
lweekang, terbukti kedua keningnya menonjol tinggi.
Dengan cepat ia berebut maju ke
depan seraya menjura.
“Siauw-te adalah Liem Toa Lek,
ketua piauw su dari Liem Wie Piauw-kiok cabang kota Kay Hong.”
Lelaki berusia pertengahan itupun
merangkap tangannya membalas hormat.
“Telah lama siauwte mengagumi nama
saudara, hanya saja karena urusan tugas terlalu banyak tak ada waktu
datang berkunjung.”
Sinar matanya segera dialihkan ke
atas wajah Kwan Tiong Gak, sambungnya.
“Tentunya saudara ini adalah Kwan
Cong Piauw-tauw bukan?”
“Caye benar adalah Kwan Tiong Gak,
tolong tanya siapakah nama besar kawan?”
“Siauwte she Jen bernama Pek To,
selama ini mengikuti terus di sisi Tok Say dan jarang berkelana
dalam dunia kangouw, aku rasa belum tentu Kwan Cong Piauw-tauw
pernah mendengar namaku,” kata si lelaki berusia pertengahan itu
sambil tertawa.
Dalam hatinya Kwan Tiong Gak
menggulangi nama itu berulang kali, Jen Pek To, Jen Pek To, nama ini
benar-benar terasa sangat asing sekali dalam pendengarannya.
Walaupun di hati ia heran,
diluaran jawabnya.
“Jen-heng dapat mengikuti di sisi
Tok Say, memakai jubah kebesaran yang cemerlang tentu seorang jago
silat yang maha lihay, siauwte merasa sangat kagum.”
Jen Pek To tersenyum.
“Nama besar Kwan Piauw-tauw-pun
telah menggemparkan seluruh kolong langit, aku sebagai seorang
petugas yang makan gaji pemerintahan dapat berkawan diri dengan diri
Kwan-heng, hal ini merupakan keuntungan bagi orang she Jen selama
tiga generasi. Kata-kata kagum dari Kwan heng tak berani siauwte
terima….”
Ia tertawa terbahak-bahak,
sambungnya, “Tak ada urusan tak akan menaiki kuil Sam Poo Tien,
kedatangan siauwte kali ini karena ada satu urusan yang hendak
disampaikan kepada diri Kwan-heng.”
“Jen heng silahkan mengutarakan,”
kata Kwan Tiong Gak dengan air muka serius.
“Siauw-te berharap Kwan-heng suka
mengikuti kami untuk mengunjungi istana Jendral.”
“Jen-heng! Sebelum aku orang she
Kwan menyanggupi undanganmu, dapatkah aku bertanya dulu akan satu
persoalan?” perlahan lahan Kwan Tiong Gak menghembuskan napas
panjang.
“Asal siauwte tahu tentu akan
kujawab.”
“Kalau begitu bagus sekali,
siauwte ingin bertanya kepada Jen heng, undangan untuk aku orang she
Kwan dalam kunjungannya ke istana Jendral ini merupakan undangan
pribadimu sendiri ataukah perintah dari Tok Say?”
“Urusan ini adalah atas perintah
Tok Say, tetapi karena siauwte sudah lama mengagumi nama besar Kwan
heng, aku rasa apabila hanya mengirim seorang tentara kroco untuk
datang menyampaikan undangan tersebut takut-takut hal ini akan
melukai nama besar Kwan-heng, aku oleh sebab itu siauwte datang
sendiri untuk mengundang Kwan-heng suka menghadap sebentar.”
“Aku orang she Kwan merasa sangat
berterima kasih atas maksud baik dari Jen heng…..” Kwan Tiong Gak
tertawa hambar.
Ia merandek sejenak, kemudian
sambungnya.
“Sekarang juga kita hendak
berangkat?”
“Tidak salah. Sekarang Tok Say
sedang menanti dalam istana.”
“Bagus sekali, aku orang she Kwan
akan meninggalkan pesan dahulu kepada mereka kemudian segera
berangkat.”
Jen Pek To tersenyum.
“Siauwte akan menanti di ruangan.”
Habis berkata ia putar badan dan
berlalu dari ruangan tengah.
Kwan Tiong Gak segera berpaling
dan memandang sekejap ke atas wajah Phoa Ceng Yan, sikapnya
kelihatan amat serius.
“Saudara Phoa, agaknya urusan
makin lama berubah semakin rumit. Tok Say adalah seorang pembesar
yang pegang pimpinan tertinggi dari ketentaraan asalkan ia hadiahkan
nama jelek dan berdosa buat kita, maka perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok segera akan tutup pintu, undangan sang pembesar yang
disampaikan Jen Pek To ini bagaimanapun juga harus aku hadiri…..”
“Bagaimana kala siauwte mengiringi
kepergian Toako?”
Dengan cepat Kwan Tiong Gak
menggeleng.
“Sekalipun mereka ingin tangkap
aku seketika itu juga, kitapun tak bisa turun tangan melawan, bahkan
jika didengar dari nada ucapan Jen Pek To, agaknya mereka hanya
menggundang aku seorang, kalian lebih baik di rumah saja.”
Ia tersenyum sejenak, kemudian
tambahnya.
“Kepergianku ini akan mendatangkan
rejeki atau celaka saat ini susah ditentukan, tetapi perduli sudah
terjadi peristiwa apapun kalian tidak boleh bergerak secara
gegabah.”
“Aaaaai…… siauwte tidak becus tak
dapat melindungi barang kawalan ini, sehingga mendatangkan banyak
kesulitan buat toako.” perlahan lahan Phoa Ceng Yan menghela napas
panjang.
“Soal ini tak akan kusalahkan
dirimu.”
Dengan langkah lebar Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini melangkah
keluar.
Melihat munculnya Kwan Tiong Gak,
sambil tersenyum Jen Pek To segera menyambut.
“Bila Kwan heng masih ada urusan,
berangkat rada terlambat pun tidak mengapa.”
“Haaa……..haaa…….haaa…… siauwte
hanya meninggalkan beberapa pesan saja, kita segera boleh
berangkat.” Kwan Tiong Gak mendongak dan tertawa tergelak.
Ia merebut jalan dulu ke muka
memimpin keluar dari kantor Piauw-kiok.
Selama di tengah perjalanan Kwan
Tiong Gak tidak banyak bicara lagi, sedangkan Jen Pek To sendiripun
tidak memberi penjelasan.
Menanti mereka tiba di depan pintu
istana Jendral, Jen Pek To baru berhenti seraya bisiknya lirih.
“Kwan-heng, ada pepatah mengatakan
si miskin tak ingin bergaul dengan si kaya, rakyat tidak ingin
bergaul dengan kaum pembesar, sewaktu berjumpa dengan Tok Say nanti,
harap Kwan heng bisa sedikit menahan sabar.
“Tok Say adalah pembesar kelas
satu dalam pemerintahan, kekuasaan-nya meliputi hampir satu
keresidenan, siauwte sebagau seorang rakyat jelata mana berani
bersikap kurang ajar.”
“Siauwte percaya Tok Say sudah
mengundang Kwan-heng berjumpa di dalam istananya, tentu beliau tidak
mengandung maksud jahat, asalkan Kwan-heng bisa bertindak sopan aku
rasa tak bakal mendatangkan banyak kerepotan.”
Mendengar petunjuk itu Kwan Tiong
Gak tersenyum dan merangkap tangannya menjura.
“Terima kasih atas
petunjuk-petunjuk dari Jen-heng!”
Buru-buru Jen Pek To bongkokkan
badannya balas memberi hormat.
“Nama besar Kwan-heng sudah
terkenal di seluruh Bu-lim, siauw-te percaya tak akan memadahinya,
harap Kwan-heng suka menanti sejenak di luar istana agar siauwte
dapat masuk untuk memberi laporan terlebih dahulu, sekalipun
penjagaan dalam istana Jendral sangat ketat, akupun tak akan
membiarkan mereka melukai kehormatan Kwan-heng.”
Selesai berkata ia melangkah masuk
ke dalam istana.
Tidak selang beberapa saat
kemudian pintu istana terbuka lebar-lebar, disusul Jen Pek To dengan
cepat menyongsong datang.
“Tok Sat menanti kedatangan
Kwan-heng di ruang kedua, silahkan mengikuti siauwte” bisiknya.
Demikianlah dengan mengikuti dari
belakanag Jen Pek To, Kwan Tiong Gak melangkah masuk ke dalam istana
dan mengambil kesempatan itu ia memperhatikan keadaan di sekeliling
tempat itu.
Tampak ruangan istana sangat luas,
atap hijau dengan lantai yang mengkilap, setiap pintu masuk
berdirilah seorang tentara berseragam lengkap serta seorang lelaki
berpakaian preman.
Agaknya tentara-tentara penjaga
pintu itu sudah memperoleh pendidikan yang keras, perawakannya
rata-rata kekar berotat, kepalanya memakai topi perak dengan pakaian
perang bersisik, pinggangnya tergantung sebilah golok dan tangannya
mencekal sebuah tombak panjang, sikapnya penuh kewibawaan.
Sedangkan si lelaki berpakaian
preman tadi menggembol golok atau pedang, pakaiannya ringkas dengan
sebuah kantong piauw tergantung di atas pinggangnya.
Jikalau ditinjau dari kegagahannya
maka tentara itu jauh lebih keren, tapi dalam pandangan Kwan Tiong
Gak ia mengerti si lelaki berpakaian ringkas itulah baru seorang
jago benar-benar.
Agaknya kedudukan Jen Pek To dalam
istana tidak rendah, setiap kali ia melewati pintu tentara serta
lelaki berpakaian ringkas itu tentu memberi hormat kepadanya.
Setelah melewati tiga buah halaman
serta ruangan, sampailah mereka di depan sebuah ruangan yang
beralaskan batu giok.
Ketika mereka baru saja tiba di
depan pintu dua orang lelaki kekar berpakaian ringkas warna hitam
dan menggembol senjata di pinggang telah menyongsong kedatangannya
seraya berseru.
“Harap saudara suka tinggalkan
senjata tajam serta senjata rahasia di luar ruangan.”
Kwan Tiong Gak adalah seorang jago
kawakan yang pernah menggetarkan enam karesidenan di daerah utara,
pengalaman di dalam Bu Lim sangat luas dan badai seberapa besarpun
pernah ia alami.
Walaupun suasana di dalam istana
Tok Say ini amat ketat, sikap Kwan Tiong Gak tetap tenang saja, ia
hanya tersenyum dan melepaskan pisau belati serta kedua belas batang
Kiem Leng Piauw-nya.”
“Ini adalah peraturan istana,
harap Kwan-heng jangan tersinggung.” buru-buru Jen Pek To berbisik
memberi penjelasan.
“Ehmm…… memang seharusnya begini”.
Kedua orang lelaki yang menghadang
di tengah jalan tadi setelah menerima pisau belati serta Kiem Leng
Piauw segera menyingkir ke samping.
Jen Pek To pun melangkah maju ke
muka seraya bisiknya.
“Tok Say menanti di dalam ruangan,
silahkan Kwan-heng masuk!”
“Terima kasih atas perhatianmu.”
Ia melangkah naik keatas tangga
batu dan masuk ke dalam ruangan.
Dengan sepasang mata yang tajam
Kwan Tiong Gak mendongak dan memandang sejenak kemudian menunduk
kembali.
Tetapi dalam sekali pandangan
itulah secara garis besarnya ia dapat melihat jelas situasi di dalam
ruangan tersebut.
Seorang kakek tua berusia lima
puluh tahunan dengan memelihara jenggot hitam dan memakai jubah
kulit bercelana hitam duduk di sebelah kiri meja berukiran bunga, di
samping kanannya duduk seorang lelaki berusia pertengahan yang
memakai jubah warna hijau.
Sewaktu masih berada di Peking,
Kwan Tiong Gak pernah berjumpa dengan lelaki berjubah hijau itu,
karena dia bukan lain adalah Liuw Thayjien yang merupakan
langganannya yang minta perlindungan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok.
Tampak Jen Pek To maju dua langkah
ke muka dan menjura ke arah si lelaki berjenggo hitam itu kemudian
lapornya.
“Lapor Tok Say, Kwan Tiong Gak
telah datang menghadap.”
Si Kakek tua itu mendehem sejenak
lalu meletakkan kantong tembakaunya dan ulapkan tangan kiri.
Jen Pek To segera mengundurkan
diri dari sana.
Menanti si orang she Jen
mengundurkan diri, Kwan Tiong Gak baru maju ke depan seraya jatuhkan
diri berlutut.
“Rakyat jelata Kwan Tiong Gak
menghunjuk hormat buar Tok Say Thayjien….!”
“Cepat bangun, pertemuan ini
adalah pertemuan pribadi, tak perlu menjalankan penghormatan
berlebihan.”
“Terima kasih atas kebaikan
Thayjien!”
Perlahan-lahan Kwan Tiong Gak
bangun dan berdiri di samping dengan kepala tertunduk, tangan lurus
ke bawah.
Si kakek tua itu memperhatikan
sekejap diri Kwan Tiong Gak setelah itu sinar matanya dialihkan ke
arah Liuw Thayjien.
“Liuw Nian-heng, apakah kau pernah
berjumpa dengan Kwan Cong Piauw-tauw ini?”
“Sewaktu berada di ibukota Siauwte
pernah berjumpa sekali ketika siauwte datang berkunjung ke kantor
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok-nya.”
Si kakek berjenggot hitam itu
tersenyum, ia berpaling kembali ke arah Kwan Cong Piauw-tauw.
“Kwan Tiong Gak!” serunya. “Aku
dengar daganganmu luar biasa besarnya, di dalam enam karesidenan
daerah utara semuanya tersebar kantor-kantor cabangmu??”
“Hal ini hanya memperoleh bantuan
dari kawan belaka sehingga pekerjaan hamba membuka perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok memperoleh kemajuan, Thayjien terlalu
memuji.”
“Ehm…..! Namamu sungguh terkenal
dalam kolong langit” kembali si kakek berjenggot hitam itu tertawa.
“Teringat sewaktu tahun yang lalu Ciu Thay Lang menteri urusan
ketentaraan dari ibukota datang berkunjung kemari iapun pernah
mengungkap soal namamu.”
“Ciu Thayjien mengatakan soal
apa?” seru Kwan Tiong Gak agak terperanjat.
“Ia mengatakan hubunganmu sangat
luas sekali, nama besarmu cemerlang dan tersohor, enama karesidenan
di daerah utara tak ada yang tidak kenal nama besarmu.”
“Aaaah! Thayjien terlalu memuji.”
“Setelah kau memiliki nama besar
sedemikian tersohor, sebagian besar jago-jago kangouw di daerah
utara tentu kau kenali semua bukan…..?”
“Lapor Tok Say Thayjien, hamba
tidak bisa dikatakan kenal dengan mereka semua, aliran yang berbeda
sukar untuk bergaul bersama, hamba adalah seorang pedagang jarang
sekali berhubungan dengan orang-orang kangouw.”
“Baiklah! Kalau begitu kita
bicarakan dalam soal perdagangan saja……..”
Kalau didengar dari nada ucapan
tersebut kurang beres, Kwan Tiong Gak mendongak, dilihat selembar
wajah Tok Say Thayjien yang semula penuh dihiasi senyuman saat ini,
telah berubah jadi penuh kewibawaan, hatinya kontan jadi tergetar
keras.
Tetapi, bagaimanapun juga dia
adalah seorang yang sering menjumpai peristiwa-peristiwa tegang,
badai sebagaimana dahsyatpun pernah dijumpainya, sekalipun sangat
jarang dia berhubungan dengan orang-orang dari kalangan pembesar
pemerintahan, tapi dalam kegugupan ia tidak sampai jadi kacau, buru
bur ia menjura.
“Tok Say Thayjien terlalu memuji,
hamba bernyali kecil mana berani melampaui kewibawaan serta kekuatan
Tok Say? jikalau Tok Say membutuhkan tenaga hamba, silahkan
diutarakan saja, sekalipun terjun ke lautan api tak akan kutolak.”
Agaknya si pembesar urusan tentara
ini paling suka mendengar kata-kata sanjungan dari Kwan Tiong Gak,
senyuman kembali menghiasi wajahnya.
“Kalau begitu sangat bagus sekali,
jikalau demikian adanya aku masih ingin minta bantuanmu tentang satu
hal.”
Kwan Tiong Gak buru-buru jatuhkan
diri berlutut.
“Tok Say terlalu memuji, hamba
tidak berani menerimanya.”
“Haaa…….haaa……..haaa……….. memang
rada cengli semisalnya kau bisa memperoleh nama besar di dalam dunia
persilatan, watakmu sangat mengembirakan sekali, tetapi kaisar tak
akan membiarkan tentaranya kelaparan, di dalam permulaan tahun
rasanya orang-orang dalam piauw-kiok kalianpun kebanyakan mulai
beristirahat untuk melewati tahun baru.”
Ia merandek sejenak, lalu serunya.
“Sediakan tiga ratus tahil perak
sebagai uang jasa.”
Seorang tentara mengiakan, dengan
membawa sebuah nampan kumala diatasnya tersusun tiga puluh batang
emas murni berjalan mendekat. Kwan Tiong Gak melirik sekejap ke arah
tumpukan emas murni itu, sedang dalam hati pikirnya.
“Ehm…..suatu balas jasa yang
sangat besar, sekali persen tiga ratus tahil emas, gayanya sebagai
pembesar susah ditandingkan dengan orang lain.”
Buru-buru serunya, “Hadiah dari
Tok Say tak berani hamba terima, bilamana ada urusan silahkan
diperintahkan saja, asalkan hamba bisa melakukan tentu tak akan
kutolak.”
“Kwan-heng, lebih baik kau terima
saja,” mendadak Jen Pek To menimbrung dari samping. “Sewaktu Tok Say
berperang ke utara, berperang ke selatan, banyak orang pandai yang
merupakan tulang punggung beliauw selama itu, karenanya terhadap
orang-orang pintar, beliau merasa sangat sayang dan kagum.”
Sekalipun terang-terangan Kwan
Tiong Gak mengerti setelah ia terima tiga ratus tahil emas murni itu
berarti pundaknya bertambah lagi dengan sebuah beban seberat seribu
kati, tetapi ucapan Jen Pek To sudah sangat jelas sekali, mau
ditolakpun sungkan, terpaksa dengan keraskan kepala ia sambut
kepingan emas tersebut.
“Pemberian Tok-Say akan hamba
terima dengan hati syukur!” katanya lambat-lambat.
Si Kakek berjenggot hitam itu
tersenyum dan mengangguk.
“Kalian orang-orang yang belajar
ilmu silat lebih mengutamakan kejadian serta keberanian, soal ini
aku sering dapat dengar dari Pek to…..!”
Mendengar ucapan tersebut Kwan
Tiong Gak segera merasakan hatinya agak tergerak, pikirnya.
“Dengan kedudukannya yang tinggi
sebagai Tok Say, ternyata memanggil Jen Pek To langsung dengan
namanya, jelas hubungan mereka berdua melebihi antara majikan dengan
bawahannya.”
Terdengar si pembesar berjenggot
hitam ini mendehem perlahan kemudian sambungnya lebih lanjut.
“Padahal urusan inipun mempunyai
sangkut paut dengan perusahaan Liong Wie Piauw mkiok kalian.”
Di hati Kwan Tiong Gak masih bikin
perhitungan, pikirnya.
“Topi ini sudah kukenakan di
kepala sungkan berdiripun tak dapat, terpaksa aku harus
menerimanya.”
Setelah mengambil keputusan iapun
berkata.
“BIla Thayjien ada perintah
silahkan dijelaskan, sudah seharusnya hamba mengerjakan
sebaik-baiknya.”
“Pek to!” si pembesar berjenggot
hitam itu berpaling dan memandang sekejap Jen Pek To yang ada
dibelakangnya/ “Aku lihat lebih baik kau saja yang membicarakan
persoalan ini dengan Kwan Cong Piauw-tauw, bagaimana akhirnya kau
segera beri laporan kepadaku.”
“Hamba terima perintah,” dengan
hormat Jen Pek To menjura.
Ia lantas berjalan ke sisi Kwan
Tiong Gak seraya berkata, “Kwan-heng, mari kita bercakap-cakap di
kamar samping!”
Kwan Tiong Gak bangun berdiri
untuk memberi hormat lalu dengan mengikuti dari belakang Jen Pek To
mengundurkan diri ke kamar sebelah.
“Kwan-heng, silahkan duduk” seru
Jen Pek To kemudian sambil tertawa setelah tiba di dalam ruangan
samping. “Walaupun Siauwte sudah lama mengikuti Tok Say, rasanya
masih belum kehilangan sifat dan semangat seorang Bu lim.”
Kwan Tiong Gak mengerling sekejap
keadaan dalam ruangan itu perlahan-lahan ia melepaskan nampan kumala
tadi ke atas meja.
“Jen-heng, ketiga ratus tahil emas
ini siauwte terima karena menuruti perkataan Jen-heng saja.
Mendengar ucapan itu Jen Pek To
tersenyum.
“Soal emas adalah suatu persoalan
kecil cuma benda ini adalah hadiah Tok Say buat Kwan-heng, walaupun
Kwan-heng tidak membutuhkannya, ada seharusnya dibawa pulang untuk
dihadiahkan buat anak buah perusahaanmu.”
“Tentang persoalan ini untuk
sementara waktu tak usah kita bicarakan dulu, maksud Tok Say
mengundang kehadiran aku orang she Kwan kali ini tentunya ada
persoalan yang sangat berat bukan?” potong Kwan Tiong Gak kemudian
dengan nada berat.
“Secara lapat-lapat agaknya Tok
Say sudah pernah mengungkap persoalan ini, ia ingin memohon bantuan
dari Kwan-heng, cukup berdasarkan hal ini bisa kita ketahui seberapa
tingginya Tok Sat memandang diri Kwan-heng.”
“Aaakh….! Kesemuanya ini adalah
mengandalkan budi kebaikan Jen-heng yang terlalu memuji diriku,
disini siaute mengucapkan terima kasih terlebih dahulu” seru Kwan
Tiong Gak tertawa getir.
“Nama besar Kwan-heng sudah
menggemparkan seluruh kolong langit, semua jago di dalam Bu Lim
memandang kagum terhadap dirimu, bilamana siauwte mohon bantuan
sudahlah sepatutnya.”
Diam-diam Kwan Tiong Gak berpikir
keras setelah mendengar ucapan tersebut.
“Orang mengatakan keadaan Bu Lim
bahaya, penuh kelicikan dan susah dihadapi, tidak nyana orang yang
bekerja dalam pemerintahan-pun ternyata licik, susah diduga.”
Di hati berpikir demikian, di luar
ia berkata.’
“Di bawah pimpinan Tok Say
Thayjien ternyata mempunyai jago semacam Jen-heng, siauwte
benar-benar dibikin tidak paham bantuan apakah sebetulnya yang ingin
kalian minta?”
“Apabila urusan ini tiada sangkut
pautnya dengan Kwan-heng, sudah pasti Tok Say tak akan mencari
Kwan-heng.”
“Jadi maksudmu urusan ini ada
sangkut paut dengan hilangnya peta lukisan pengangon kambing milik
Liuw Thayjien….”
Setelah ucapan ini meluncur
keluar, Kwan Tiong Gak baru merasa kata-kata ini diutarakan terlalu
cepat, tetapi untuk diubahpun sudah tak gampang lagi.
Tampak sepasang mata Jen Pek To
memancarkan cahaya berkilat.
“Agaknya Kwan-heng pun telah
mengetahui soal lenyapnya lukisan pengangon kambing itu.”
“Siauwte hanya mendengar sedikit
kabar angin, tetapi tidak berani begitu memastikan dan semakin tak
tahu apa sebenarnya yang telah terjadi,” sahut Kwan Cong Piauw-tauw
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok setelah termenung sejenak.
“Jen Pek To tertawa hambar.
“Urusan ini justru salahnya
terletak pada selembar surat tanda terima yang terjatuh ke tangan
Tok-Say, walaupun tanda terima itu ditulis oleh Liuw Thayjien,
tetapi tercantum pula nama dari Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari
perusahaan kalian.”
“Ooouw…….lalu apa yang dikatakan
oleh Tok Say?”
“Sebagai seorang pembesar
pemerintahan, ia tidak mengetahui bagaimana urusan yang menyangkut
dunia persilatan, ketika melihat tercantumnya nama besar Phoa Hu
Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, beliau jadi
gusar dan memerintahkan cayhe untuk menyegel perusahaan kalian serta
tangkap seluruh piauw-su yang ada untuk diperiksa.”
“Tok Say Thayjien sebagai seorang
pembesar tingkat satu sudah tentu mempunyai kekuasaan sebesar ini,
tapi rasanya perusahaan kami sudah ternoda dengan nama yang berdosa
bukan.”
“Untuk mengecap siapa berdoa harus
diperiksa darimana bencana itu berasal, apalagi tanda terima
tersebut pada saat ini sudah berada di tangan Tok Say, ia menuduh
kalian bersekongkol dengan kaum penjahat untuk memeras dan memaksa
sang majikan menyerahkan barangnya.”
Sepasang mata Kwan Tiong Gak
berputar dan memandang wajah Jen Pek To tajam tajam, dirasakan
sepasang mata busu ini tajam, wajahnya gagah dan merupakan seorang
jago yang susah dihadapi, ia segera tertawa tergelak.
“Dan bagaimana menurut
pandangannya Jen-heng sendiri?”
“Pandangan aku orang she Jen sudah
tentu berbeda dengan pandangan Tok-Say, menurut sistim Bu-lim urusan
ini sebenarnya sangat biasa, mencantumkan nama di atas surat
pernyataan hanya bermaksud sebagai saksi belaka, tetapi lain menurut
pandangan orang-orang pemerintahan, walaupun Tok-Say hanya seorang
panglima perang yang menguasai tentara, tetapi sewaktu peperangannya
ke daerah selatan ia memperoleh pujian dari sang kaisar dan kini
memperoleh kekuasaan untuk memerintah di sekitar karesidenan Lu,
Shia, Kan dan sekitarnya, Kwan heng sebagai seorang penduduk yang
sudah lama berdiam di ibukota tentu mengerti bukan apabila ucapan
siauwte bukan omong kosong belaka.”
“Sekalipun kekuasaan Tok Say
mencakup daerah yang luas, tapi kita dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok pun merupakan rakyat baik-baik, rasanya Tok Sat tak akan
turunkan perintah untuk menjatuhkan hukuman pancung kepala kepada
kami.”
Jen Pek To sekali lagi tersenyum.
“Tok Say adalah seorang yang
pandai dan mengerti dalam membereskan satu persoalan, setelah
mendapat penjelasan dari Siauwte akhirnya ia bisa berubah niat dan
mengirim siauwte untuk mengundang datang Kwan-heng agar suka
menghadap bahkan menghadiahkan pula tiga ratus tahil emas murni
untukmu, walaupun dengan suksesnya Kwan-heng dalam perdagangan tidak
memandang sebelah matapun terhadap ketiga ratus tahil emas murni
ini, tapi hadiah yang tidak kecil jumlahnya tersebut boleh
membuktikan apabila Tok Say kami masih pandang tinggi diri
Kwan-heng.”
“Budi Jen-heng akan aku orang she
Kwan catat di hati, entah urusan apakah yang diperintahkan Tok Say
kepada aku orang she Kwan? harap Jen-heng suka memberikan
penjelasan.”
“Sudah tentu tentang lukisan
pengangon kambing itu…..”
“Kini dimanakah lukisan pengangon
kambing itu?”
“Jika kamipun tahu dimanakah
lukisan pengangon kambing itu sekarang berada, aku rasa pada saat
ini kami tidak perlu mencari diri Kwan Cong Piauw-tauw lagi.”
Kwan Tiong Gak termenung sejenak,
lalu ujarnya.
“Jen-heng, dapatkah kau
menceritakan kisah seluruhnya dengan jelas?”
“Baik! Tentang tercantumnya nama
besar Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kalian di atas tanda
terima rasanya Kwan heng sudah mengetahui bukan?”
“Aku tahu”
“Liuw Thayjien sebagai sahabat
karib dari Tok Say memang seorang lelaki yang sangat pegang janji,
setelah surat tanda terima itu ia tulis sendiri sebagaimana janjinya
ia serahkan pula lukisan pengangon kambing itu.”
“Sebelum terjadinya peristiwa ini
apakah Jen-heng sama sekali tidak tahu?”
“Tidak tahu” Jen Pek To menggeleng
berulang kali. “Mungkin Liuw Thayjien tidak ingin mengganggu
ketenangan Tok Say, menanti setelah terjadi kekacauan Liuw Thayjien
baru menceritakan kisah sebenarnya…..”
“Siauwte ingin tahu kisah
terjadinya peristiwa tersebut,” sela Kwan Tiong Gak tiba-tiba.
“Yang paling mengagumkan adalah
orang yang datang membawa tanda terima tersebut untuk minta lukisan
pengangon kambing ternyata adalah Thoa Ci Jien seorang kenamaan
dalam kota Kay Hong, orang ini sendiri pernah menjadi sahabat Tok
Say selama banyak tahun bahkan merupakan salah seorang kawan main
catur beliau, tidak disangka sesungguhnya ia punya persekongkolan
dengan kaum penjahat untuk dapat menerima peta lukisan tersebut.”
“Dimanakah Thio Ci Jien saat ini?”
“Thio Ci Jien sering mengunjungi
istana bahkan merupakan sahabat karib Liuw Thayjien pula,
kedatangannya bertamu merupakan suatu kejadian yang sangat biasa,
setelah ia menerima peta lukisan pengangon kambing tersebut orang
itu pamit dan pulang.”
“Siapa sangka ketika tiba di luar
istana, ia mendapat bokongan orang dan menderita luka parah, sedang
lukisan pengangon kambing itu sendiri kena dicuri pergi, bukan
begitu saja bahkan kedua orang tukang tandunya serta seorang
pelayan-nya kena dirobohkan juga.”
“Apakah beberapa orang itu sudah
mati semua?”
“Sang pelayan serta kedua orang
tukang tandu itu kena ditotok jalan darahnya oleh semacam ilmu
menotok batu, sedangkan Thio Ci Jien sendiri dilukai dengan suatu
ilmu yang maha aneh.”
“Apakah Jen-heng turun tangan
memberi pertolongan.?”
Merah padam selebar wajah Jen
PekTo sewaktu mendapat pertanyaan tersebut.
“Si tukang tandu serta si pelayan
berhasil cayhe tolong sehingga tersadar kembali, lain halnya denga
luka yang diderita Thio Cie Jien, siauwte sama sekali tidak mengerti
pukulan apakah yang bersarang di tubuhnya, karena itu tak berhasil
kutolong, Tok Say sendiri walaupun merupakan seorang jendral yang
menguasai beratus-ratus laksa tertera tetapi wataknya sangat mulia
dan ramah, sekalipun dalam hal peristiwa ini Thio Cie Jien tak dapat
lolos dari tuduhan persekongkolan dengan penjahat tetapi dikarenakan
ia jatuh tidak sadar diri maka terpaksa ia perintah orang untuk
hantar orang she Thio itu pulang, di samping itu memanggilkan
seorang tabib untuk memeriksakan penyakitnya.”
“Thio Ci Jien tak bisa berbicara,
tentu persoalan yang lebih jelas kalian dengar dari mulut Liuw
Thayjien.”
“Tidak salah, setelah peristiwa
ini terjadi kekacauan, maka Liuw Thayjien pun tak dapat merahasiakan
persoalan ini, terpaksa ia ceritakan seluruh peristiwa ini di
samping serahkan tanda terima tadi kepada Tok Say.”
“Peristiwa ini pulang pergi sangat
jelas dan tidak membingungkan, Jen-heng siap memerintahkan siauwte
untuk membuat apa? Silahkan sekarang juga diutarakan.”
“Maksud Tok Say adalah minta
Kwan-heng untuk bantu mencari balik lukisan gembala kambing itu.”
“Kecuali Thio Cie Jien yang jatuh
tidak sadarkan diri serta dua orang tukang tandu dan seorang
pelayan, apakah kau dapat memberi sedikit keterangan lainnya?”
“Soal ini sudah siauwte tanyakan
kepada mereka-mereka ini, tetapi jawaban yang didapat adalah sama,
sebelum mereka melihat sesuatu jalan darahnya sudah ditotok.”
“Jen-heng! Urusan ini kelihatannya
agak mudah diselesaikan,” setelah Kwan Tiong Gak setelah termenung
sejenak. “Setelah Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan kami ikut
menanda tangani surat tanda terima itu sudah tentu kamipun tahu
surat itu tadinya diberikan kepada siapa, sedangkan Liuw Thayjien
sendiri rela menulis tanda terima tersebut jelas bukan tak ada
alasan, mungkin tentang hal ini ia sudah beritahu kepada Tok Say….”
“Tok Say sendiri juga pernah
berpikir sampai soal itu, tetapi dia dengar Liue Thayjien bercerita
sendiri siapakah orang itu sudah tentu Tok Say tidak enak mendesak
lebih jauh. dengan demikian urusanpun berlarut.”
“Orang itu adalah si Hoa Hoa
Kongcu Ke Giok Lang, entah pernahkah Jen-heng mendengar nama orang
ini?”
“Hoa Hoa Kongcu, Ke Giok Lang?
Bukankah dia seorang penjahat cabul?”
“Aaaah…….. hal ini disebabkan
kawan kawan Bu Lim telah kena dipengaruhi oleh gelarnya…..”
Mendadak Kwan Tiong Gak merasa ia
terlanjur bicara, buru-buru ucapannya dipotong di tengah jalan.
Jen Pek To tersenyum.
“Kwan-heng, kau pernah
berjumpa dengan Ke Giok Lang?”
“Pernah!” Cong Piauw-tauw she Kwan
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini mengangguk.
“Bagaimana menurut pandangan
Kwan-heng terhadap manusia yang bernama Ke Giok Lang ini?”
“Dia adalah seorang jago yang
sangat berbakat!”
“Saat ini cayhe mempunyai suatu
cara yang bagus untuk dilakukan. asalkan Kwan heng berhasil mencari
balik peta pengangon kambing tersebut dan minta Ke Giok Lang
menyembuhkan luka yang diderita Thio Cie Jien, cayhe rela memikul
tugas tanggung jawab ini di hadapan Tok Sat untuk tidak mencari tahu
lagi persoalan di balik kejadian ini, akan kuhitung persoalan ini
telah selesai!”
Air muka Kwan Tiong Gak segera
berubah serius, ujarnya, “Kalau peta pengangon kambing itu terjatuh
kembali ke tangan Ke Giok Lang sedang Thio Ci Jian sebagai anak
buahnya terluka pula di tangan Hoa Hoa Kongcu ini, urusan jauh lebih
mudah diselesaikan, justeru menurut pendapat cayhe urusan mungkin
tidak segampang ini.”
“Maksud Kwan-heng ada orang ketiga
yang mencuri peta ini?”
Sepasang mata Kwan Tiong Gak
berkilat balik tanyanya.
“Sebenarnya berapa banyak yang Jen
heng ketahui tentang peta mustika pengan kambing ini.”
“Cayhe hanya merasa sedikit heran
saja,” kata Jen Pek To buru-buru menggeleng. “Peta lukisan pengangon
kambing bukan termasuk lukisan kenamaan, mengapa begitu banyak jago
Bu-Lim yang memperebutkannya?”
“Justru disinilah letak kunci
utama dari semua persoalan!” seru Kwan Tiong Gak sambil mendehem.
“Tok Say memerintahkan siauwte untuk menerima tugas pencarian peta
lukisan pengangon kambing itu, bila kutinjau keadaan yang tertera di
depan mata, rasanya kendati kutolak-pun tak bisa jadi, tapi hingga
detik ini persoalan mengambang bagai awan di angkasa, siauwte rasa
batas waktu yand disediakan seharusnya diperpanjang lagi…….”
Jen Pek To tidak memberi jawaban
atas pertanyaan dari Kwan Tiong Gak, sebaliknya dia malah bertanya.
“Kwan-heng bersiap hendak berbuat
apa?”
“Tengok dulu bagaimana keadaan
dari Thio Ci Jien, karena menurut pendapatku kalau dia bukan terluka
oleh semacam ilmu totok, pasti terluka oleh semacam ilmu silat yang
istimewa, kalau kita bisa sadarkan dirinya agar dia memberi
keterangan hal ini jauh lebih bagus kalau tidak bisa ditolong aku
berharap dari keadaan lukanya berhasil mendapatkan sedikit
tanda-tanda yang bisa dipakai sebagai pegangan!”
“Baik” dengan cepat Jen Pek To
mengangguk. “Aku akan memberi laporan dulu kepada Tok Say, asal
Kwan-heng suka bekerja sama dengan kami, di hadapan Tok Say tentu
siauwte akan berusaha memikul tanggung jawab ini.”
“Jen-heng! Lebih baik dalam
melaksanakan tugas ini kaupun ikut serta sehingga kau-pun dapat
mengetahui bagaimanakah perkembangannya dan bisa setiap saat memberi
laporan kepada Tok Say.”
“Kalau memang keikutan siauwte
tidak menganggu, siauwte rela membantu sepenuh tenaga.”
“Kalau begitu kebetulan sekali,
Jen-heng tak usah terlalu merendah lagi.!”
“Yang kumaksudkan mengganggu
adalah kedudukanku sebagai petugas hukum, kalau akupun membantu
Kwan-heng dalam pencarian sang pembunuh, aku takut kawan-kawan
Bu-lim akan mengecap Kwan-heng bekerja dengan minta bantuan
orang-orang pemerintahan.
“Tok Say memerintahkan aku ikut
campur dalam persoalan ini bukankah tanpa sadar aku telah
mengandalkan kekuatan pemerintahan?” seru Kwan Tiong Gak sambil
tertawa hambar.
Jen Pek To jadi jengah dan dalam
keadaan serba salah ia tertawa.
“Jika Kwan-heng merasa siauwte
boleh ikut serta dalam pekerjaan ini, Siauwte rela membantu dengan
senang hati.”
“Jen Thayjien terlalu merendah!”
Setelah merandek sejenak,
sambungnya, “Sekarang kita harus pergi memeriksa keadaan luka Thio
Ci Jien, bila siauwte pergi seorang diri, aku takut susah menjumpai
dirinya.”
“Baik! Cayhe akan melapor sebentar
pada Tok Say kemudian kita bersama-sama pergi menengok Thio Ci
Jien.”
“Siauwte akan menanti disini!”
“Baik, sebentar lagi siauwte pasti
datang!” Jen Pek To bangkit dan melangkah keluar.
Beberapa saat kemudian ia sudah
balik lagi ke dalam ruangan itu.
“Kwan-heng, mari kita berangkat!”
Dengan membawa Kwan Tiong Gak, dia
berjalan meninggalkan istana Jendral berangkat menuju ke rumah
kediaman Thio Ci Jien.
Lantaran Jen Pek To membawa kartu
nama Tok Say, dengan mudah mereka dapat berhasil menemui si pengurus
rumah keluarga Thio.
Jen Pek To adalah pengawal Tok Say
yang jarang keluar. Si pengurus rumah ini tidak kenal dengan dia,
tapi lantaran dia membawa kartu nama sang Jendral, sudah tentu saja
penguasa keluarga Thio itu tidak berani berlaku ayal, dengan
penghormatan besar disambutnya kedua orang tamu tak diundang ini.
Gerak-gerik Jen Pek To benar benar
keren penuh wibawa mencerminkan kedudukan sebagai tangan kanan Tok
Say, sambil melirik sekejap wajah pengurus rumah keluarga Thio itu
tanyanya, “Bagaimana keadaan Thio Ci Jien?”
“Majikan kami tetap dalam keadaan
tak sadarkan diri.”
“Cayhe mendapat perintah Tok Say
untuk menjenguk keadaan luka Thio Thayjien!”
“Cayhe segera membawa jalan buat
kalian berdua.”
Di dalam kota Kay Hong, sebenarnya
keluarga Thio Ci Jien pun termasuk seorang pembesar terkemuka, hanya
saja disebabkan yang hadir saat ini dari istana jenderal, si
pengurus rumah itu tidak berani banyak bicara.
Ia langsung membawa kedua orang
itu memasuki kamar Thio Ci Jien.
Lambat lambat Kwan Tiong Gak
mendekati pembaringan orang she Thio itu pucat pasi bagai mayat,
sepasang matanya terpejam rapat-rapat.
“Jen-heng!” ujar Kwan Tiong Gak
sambil berpaling ke Jen Pek To. “Lukanya terletak di sebelah mana?”
“Agaknya terletak di pundak
sebelah kirinya.”
Kwan Tiong Gak kali ini
mengalihkan sinar matanya ke arah si pengurus rumah keluarga Thio
itu perintahnya, “Eeeei…. coba kau lepaskan pakaian yang dikenakan
majikanmu itu.”
“Soal ini….soal ini ………..”
Agaknya pengurus rumah keluarga
Thio dibikin tertegun.
“Kami mendapat perintah Tok Say
untuk datang kemari memeriksa keadaan luka majikanmu,” sela Jen Pek
To dari samping.
Mendengar ucapan ini si pengurus
rumah keluarga Thio itu tak berani banyak berkutik lagi, buru-buru
ia mendekati pembaringan dan melepaskan pakaian yang dikenakan Thio
Ci Jien.
Pada pundak sebelah kiri orang she
Thio itu, tampaklah selapis warna merah darah membekas dengan nyata
di sana.
“Kwan heng, sungguh aneh, bekas
luka ini, “ bisik Jen Pek To lirih, “Agaknya luka ini bukan bekas
telapak, juga tidak membengkak, entah ia terluka oleh pukulan apa?”
Air muka Kwan Tiong Gak amat
serius, ia tidak menjawab pertanyaan Jen Pek To, agaknya semua
perhatiannya telah dipusatkan pada keadaan luka Thio Ci Jien.
Kurang lebih seperminum teh
lamanya baru berpaling dan memandang sekejap wajah si pengusaha
keluarga Thio, tanyanya, “Majikan kalian sudah minum obat?”
“Tiga orang tabib kenamaan sudah
datang memeriksa keadaan lukanya tapi mereka tidak berhasil
menemukan sebab-sebab penyakit itu, setelah tiga orang tabib itu
merunding sejenak mereka masing-masing membuka sebuah resep, tapi
walaupun obat itu sudah diberikan majikan kami masih juga tidak
sadarkan diri.”
“Ia tidak pernah bangun satu
kalipun?”
“Benar, ia tidak pernah sadar
barang satu kalipun.”
“Keadaannya juga tidak bertambah
buruk.”
Si pengurus rumah keluarga Thio
itu mengangguk.
“Sejak semula gingga kini
keadaannya tak berubah!”
“Bantu dia kenakan bajunya,”
perintah Kwan Tiong Gak kemudian setelah termenung sejenak. Lalu ia
berpaling kepada Jen Pek To dan tambahnya, “Mari kita pergi!”
Kedua ornag itu dengan mulut
membungkam menggundurkan diri dari istana pembesar she Thio itu, di
tengah jalan Jen Pek To tak dapat menahan sabar lagi dan berkata,
“Kwan-heng, apakah berhasil menemukan sesuatu?”
“Kita kembali dulu ke kantor
cabang kami, bagaimana kalau kita bicarakan lagi persoalan itu di
sana?”
“Cayhe menurut saja kemauan Kwan
heng.”
Kwan Tiong Gak tersenyum dan
mengangguk, dengan membawa serta pengawal pribadi Tok Say ini, ia
kembali ke kantor cabang perusahaan ekspedisinya.
Waktu itu Phoa Ceng Yan, Liem Toa
Lek serta Nyoo Su Jan sekalian lagi menunggu di ruang tengah dengan
hati gelisah, wajah mereka murung dan kesal.
Menanti ditemuinya Kwan Tiong Gak
muncul kembali tanpa kekurangan sesuatu apapun mereka baru hilang
kesalnya dan menyambut kedatangan Cong Piauw-tauw mereka dengan muka
berseri-seri sekali.
“Sudahlah, tak perlu banyak adat,
“ Kwan Tiong Gak ulapkan tangannya mencegah orang-orang itu memberi
hormat kepadanya.
Dengan langkah lebar ia masuk ke
dalam ruangan, sambil memandang Jen Pek To ia berkata, “Jen-heng,
boleh kau hitung termasuk juga orang-orang Bu-lim, sewaktu berada di
hadapan Tok Say sudah banyak membantu diriku.”
Phoa Ceng Yan, Nyoo Su Jan serta
Liem Toa Lek buru-buru merangkapkan tangannya menjura mengucapkan
terima kasih.
“Terima kasih banyak atas bantuan
Jen-heng!” serunya hampir saja berbareng.
“Siauwte hanya berusaha sedapat
mungkin saja, tidak berani menerima penghormatan dari Cuwi bertiga!”
Jen Pek To dengan membalas menjura.
Phoa Ceng Yan mendehem, katanya
serius.
“Toako, apa yang dikatakan Tok Say
kepadamu?”
“Jen-heng sudah menyampaikan isi
perinta Tok-say kepadaku, ia minta siauw-heng cari kembali peta
pengangon kambing tersebut.”
Mengambil kesempatan itu Jen Pek
To mengeluarkan ketiga ratus tahil emas murni itu diangsurkan ke
depan.
“Karena harus merepotkan Cuwi
sekalian, Tok Say merasa tidak tenteram, oleh karena itu sedikit
penghargaan harap cuwi sudi menerimanya.”
“Tok Say memberi hadiah terlalu
banyak” ujar Kwan Tiong Gak sambil tertawa getir.
“Sebetulnya peristiwa ini
merupakan peristiwa Bu-lim belaka, tidak nyana kini sudah terseret
masuk dalam soal pemerintahan.”
“Persoalan ini disebabkan siauw-te
mau potong kepala masuk penjara sudah sebetulnya siauwte tanggung
seorang diri,” kata Phoa Ceng Yan cepat.
Mendengar ucapan saudaranya Kwan
Tiong Gak segera tertawa terbahak-bahak.
“Haaa…..haaa…… yang Tok-Say
perintah kita cari adalah peta pengangon kambing dan atas tanggungan
Jen-hen ini, Tok Say pun sudah berjanji untuk tidak menyelidiki
persoalan yang lebih mendalam.”
“Kalau begitu, asal kita berhasil
menemukan kembali peta pengangon kambing maka urusan selesai?” tanya
Nyoo Su Jan agak ragu-ragu.
“Tentang soal ini siauwte berani
tanggung.!” sambung Jen Pek To dengan cepat.
“Asal peta pengangon kambing dapat
ditemukan, Tok Say pasti takkan menyelidiki urusan ini lagi bahkan
surat pernyataan yang berisikan tanda tangan Phoa-heng pun akan
diserahkan kembali kepada kalian.”
Mendengar ucapan yang demikian
tegas, Phoa Ceng Yan berpaling ke arah Kwan Tiong Gak.
“Toako, apa yang hendak kau
lakukan?” tanyanya.
“Sampai kini aku masih belum
mendapatkan suatu cara yang baugs, aku rasa persoalan ini agak
merepotkan…..”
Bicara sampai di situ, sinar
matanya dialihkan ke atas wajah Jen Pek To dan tanyanya.
“Apa pendapat Jen heng mengenai
persoalan ini?”
“Selama beberapa tahun ini siauwte
sangat jarang berhubungan dengan orang-orang Bu Lim, terus terang
saja dalam urusan ini aku benar-benar buta, sebaliknya Kwan-heng
tersohor dalam kolong langit, aku rasa tentu ada cara yang bagus
bukan untuk mengatasi persoalan ini? menurut pendapat siauwte untuk
membongkar teka-teki tak berujung pangkal ini kita boleh selesaikan
mengikuti cara-cara Bu Lim.”
“Aku orang she Kwan sudah banyak
berkelana dalam dunia persilatan, banyak sahabat kangouw yang telah
terkenal tapi mereka adalah manusia-manusia yang kasar paling tidak
suka berhubungan dengan petugas hamba negara semisalnya Jen-heng
ikut serta dalam penyelidikan kasus ini aku berharap agar jangan
memperkenalkan diri sebagai pengawal pribadi Tok Say?”
“Ehmmm………..ucapan ini sedikitpun
tidak salah” Jen Pek To mengangguk. “Terutama sekali tidak banyak
orang kangouw yang kukenal, asal Kwan-heng suka memberi siauwte
sebuah jabatan itu sudah cukup apalagi anggota kantor cabang di sini
banyak jumlahnya asal siauwte mengaku sebagai seorang piauwsu,
orangpun tak akan tahu.”
“Tapi bukankah kami akan sedikit
merendahkan derajat Jen-heng?”
“Kwan-heng sudah banyak membantu
siauwte, untuk hal ini aku sudah merasa sangat berterima kasih, mana
berani mengucapkan kata-kata “penghinaan” lagi?”
Kwan Tiong Gak termenung sejenak,
akhirnya ia mengangguk.
“Baik! Lebih baik sekarang kita
usahakan untuk menjumpai dahulu si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang …..”
Ia berpaling kepada Liem Toa Lek
dan perintahnya.
“Pasang lentera merah kemudian
kirim orang melakukan pertemuan…..”
“Hamba Paham!” Liem Toa Lek segera
bangkit berdiri terima perintah.
Sepeninggalnya orang she Liem itu,
Kwan Tiong Gak berpaling dan tersenyum ujarnya.
“Jen-heng! Urusan jadi begini mau
gelisahpun percuma, mari kita teguk dulu dua cawan arak sebagai
tanda terima kasih aku orang she Kwan kepada dirimu.”
Ia Ulapkan tangan dan berseru,
“Hidangkan arak!”
Walaupun saat menunjukkan
penutupan tahun tapi berhubung Cong Piauw-tauw hadir maka kebanyakan
piauwsu yang ada dalam kantor cabang ini tidak pulang ke kampung
bahkan sebagian besar anak buah tetap tinggal di kantor menanti
perintah.
Begitu perintah hidangkan arak
diucapkan sebentar saja sayur dan arak sudah dihidangkan.
Kwan Tiong Gak duduk di kursi
pertama dan mempersilahkan Jen Pek To duduk di sebelahnya, kemudian
disusul Phoa Ceng Yan dan Nyoo Su Jan mengiringi dari samping.
Demikianlah sebuah meja perjamuan
hanya dihadiri oleh empat orang.
“Jen-heng!” di tengah perjamuan
Kwan Tiong Gak angkat cawan araknya.” Mari aku menghormati dirimu
dengan secawan arak!”
“Terima kasih….terima kasih.” dan
sekali teguk Jen Pek To menghabiskan isi cawannya.
“Haaa….haaa….bagaimana dengan
takaran minum arakmu?”
“Aaakh, sangat cetek!”
“Mari kita minum arak
sepuasnya….!”
Kekuatan minum arak keempat orang
itu rata-rata kuat, dengan demikian arakpun tiada hentinya berpindah
tempat dari teko ke mulut.
Perjamuan ini berlangsung satu jam
lamanya sampai akhirnya Jen Pek To mendorongkan cawan sembari
berseru, “Cukup….cukup….! Siauwte tidak berani minum lagi, aku takut
nanti mabok di sini.”
“Jikalau Jen-heng sudah tak kuat,
mari kita sama-sama berhenti….”
Belum habis ia berkata dengan
tergesa-gesa Liem Toa Lek telah munculan diri, ujarnya sambil
menjura, “Cong Piauw-tauw, hamba telah menjumpai Ke Giok Lang….!”
“Ehm…. ia berada di mana?”
“Kini berada di luar ruangan
tamu!”
Tiba-tiba Jen Pek To bangkit
seraya menyambung, “Kwan-heng, kenapa tidak sekalian undang masuk ke
dalam?”
Kwan Tiong Gak mengangguk,
bisiknya kepada Liem Toa Lek mengiyakan dan segera berlalu dari
ruangan.
Beberapa saat kemudian Ke Giok
Lang muncul di depan ruangan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.
Buru-buru Kwan Tiong Gak menjura.
“Merepotkan saudara hadir kemari,
aku orang she Kwan merasa tidak tentram!”
“Mana…..mana….. Kwan heng kirim
orang untuk mengunjungi siauwte, rasanya tentu ada urusan penting
yang hendak dibicarakan bukan?”
Sambil bicara sepasang matanya
tiada berhenti memeriksa wajah Jen Pek To dengan seksama.
“Kalau tak ada urusan mana berani
mengganggu Ke Kongcu.”
“Mengenai peta pengangon kambing
itu, siauwte berhasil mendapatkan sedikit berita.”
Ke Giok Lang tersenyum.
“Bukankah kalian berdua telah
mengunjungi Thio Ci Jien?” Ucapan dari Ke Giok Lang ini datang
laksana guntur di siang hari bolong membuat hati Kwan Tiong Gak
tergetar keras tapi di luaran berusaha untuk mempertahankan
ketenangannya, ia tertawa.
“Aku rasa Thio Ci Jien tentu
komplotan Ke heng bukan?”
“Oouuuuw…..soal ini? Aku rasa
sulit untuk dikatakan kita yang sering melakukan perjalanan di
luaran seharusnya berkenalan dengan banyak sahabat.”
Sinar matanya dialihkan ke atas
wajah Jen Pek To dan sambungnya, “Saudara ini adalah ……”
“Siauwte she Jen…….”
“Kalau begitu dugaan siauwte sama
sekali tidak meleset” tukas Ke Giok Lang dengan cepat. “Jen-heng
adalah manusia penting dari istana Jendral!”
Ucapan Ke Giok Lang yang
membongkar asal-usul Jen Pek To, bukan saja membuat Jen Pek To
pribadi terperanjat, bahkan Kwan Tiong Gak sekalian dibikin
tertegun.
Terdengar Ke Giok Lang mendongak
tertawa terbahak-bahak.
“Haaaa……haaaa….. walaupun di balik
pintu istana penuh rahasia bagaikan dasar samudra, tapi Jen-heng di
dalam istana adalah manusia penting, semua anggota istana tidak
seorangpun yang tidak kenal, asal siauwte buang beberapa tahil perak
tidak susah untuk mendapatkan berita yang jelas tentang dirinya
Jen-heng!”
Walaupun hatinya bergolak, tapi
Jen Pek To berusaha untuk menenangkan hatinya.
“Aku rasa tidak segampang seperti
apa yang kau ucapkan!”
“Lebih baik kita jangan
membicarakan urusan ini lagi…..” Ke Giok Lang tertawa hambar, sinar
matanya segera dialihkan ke arah Kwan Tiong Gak dan terus bertanya,
“Entah ada urusan apa Kwan-heng mengundang siauwte datang kemari,
aku harap segera persoalan dibicarakan.”
“Ehmmm……. aku rasa Ke-heng sudah
tahu jelas bukan bahwa peta pengangon kambing itu kena direbut orang
dari tangan Thio Ci Jien?”
“Soal ini siauwte sudah tahu, tapi
siapakah orangnya yang merampas benda itu?”
“Justru Siauwte mengundang Ke-heng
datang kemari, untuk diajak merundingkan persoalan ini.”
Ke Giok Lang berpikir sebentar,
lalu ujarnya, “Thio Ci Jien pingsan tidak sadarkan diri, menurut
perasaanku kalau keterangan ini kita tak berhasil mendapatkannya
dari mulut orang itu jelas susah untuk mendapatkan titik terang,
entah Kwan-heng hendak turun tangan secara bagaimana?”
“Maka dari itu kita harus bertemu
untuk merundingkan bersama-sama.”
Ke Giok Lang kembali tertawa
hambar.
“Kalau kita bertiga bisa bekerja
sama menyelidiki persoalan ini, kejadian tersebut pasti akan
timbulkan kegemparan dalam Bu lim, kaum hamba negera bekerja sama
dengan kaum bajingan ditambah pula ikut sertanya seorang Toa
Piauw-su untuk sama-sama menyelidiki suatu peristiwa pembegalan.
Peristiwa ini sungguh menggelikan sekali.”
“Ke Kongcu, kau memandang dirinya
sebagai bajingan, apakah tidak merasa terlalu rendah diri?” seru Jen
Pek To tiba-tiba.
“Membandingkan seorang tangan
kanan Tok Say sebagai kuku garuda atau tukang pukul sang pembesar
negara, apakah kaupun tidak merasa terlalu merendahkan diri?” balas
Ke GIok Lang kalem.
Air muka Jen Pek To berubah hebat,
agaknya ia siap mengumbar hawa amarahnya tapi akhirnya dipaksakan
juga untuk bersabar, ia tertawa terbahak-bahak.
“Haaa……….haaa………haaa…. Ke Kongcu,
kalau bicara dengan aku harus sedikit tahu sopan!”
“Ehmmm……! Jen-heng, ada satu
persoalan aku ingin terangkan dulu kepadamu sehingga sampai waktunya
Kwan Cong Piauw-tauw jadi serba salah!” seru Ke Giok Lang sambil
tertawa.
“Urusan apa?”
“Kwan Cong Piauw-tauw adalah
seorang pedagang besar, maka terhadap orang-orang pemerintahan macam
kalian merasa amat jeri. Tapi kaupun harus ketahui ia takuti bukan
ilmu silat kau Jen-heng atau beberapa laksa orang prajurit anak buah
Tok Say, melainkan yang ditakutkan adalah kantor perusahaan
expedisinya tak bisa dibuka terus, takut beberapa ribu orang anak
buahnya yang tersebar di enam karesidenan besar puluhan buah kantor
cabang perusahaan tak bisa melanjutkan hidup.”
Ia merandek sebentar untuk
mendehem, kemudian sambungnya, “Seandainya aku orang she Ke yang
melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan sama sekali tidak
memandang di dalam hati terhadap kau Jen-heng, bicara yang baik kita
adalah kawan, bicara yang jelek mau coba pindah ke gelanggang adu
senjata akupun akan melayani terus!”
“Hmm! Apakah Ke Kongcu ada maksud
menggertak diri siauwte?” dengus Jen Pek To sambil tersenyum dingin.
“Apa yang siauwte ucapkan adalah
kata sejujurnya, kalau Jen-heng tidak mempercayai kamipun tak bisa
memaksa kau untuk mendengarkannya.”
“Sudah….sudahlah! Kalian berdua
tak perlu ribut lagi” sela Kwan Tiong Gak melerai.
“Ada persoalan kita rundingkan
bersama-sama buat apa cekcok sendiri.”
(Bersambung ke 15)
Jilid 15
“Kwan-heng! Aku tahu kesulitanmu,”
ujar Ke Giok Lang dengan wajah serius,”Cuma kalau aku Ke Giok Lang
tidak terangkan persoalan ini terlebih dahulu aku takut hal ini akan
semakin menyinggung perasaan Kwan Cong Piauw-tauw.”
“Urusan apa?”
“Lukisan pengangon kambing sudah
jadi milik siauwte, kalau kita tidak berhasil menemukan urusan tak
usah dibicarakan lagi, semisalnya bisa ditemukan menurut Kwan Cong
Piauw-tauw peta lukisan pengangon kambing itu hendak diserahkan
kepada siapa?”
“Tok say ingin menarik kembali
peta tersebut,” sambung Jen Pek To.
“Ehmmm, cukup dalam persoalan ini
kita sudah tak dapat berunding secara baik-baik.” teriak Ke Giok
Lang.
“Ke-heng!” ujar Kwan Tiong Gak,
“Lukisan pengangon kambing pada mulanya memang bukan milikmu,
apalagi daerah kekuasaan Tok Say meliputi empat karesidenan, kenapa
Ke-heng tidak suka mengalah selangkah buat mereka?”
“Dagangan Kwan-heng terlalu besar,
tentu saja takut urusan, tetapi aku orang she Ke tidak memandang
persoalan ini terlalu serius, kalau api sampai berkobar akupun ingin
berpesiar pula ke dalam istana kaisar.”
Ia tertawa terbahak-bahak
sambungnya.
“Kalau mau bicara menurut aturan,
peta itu sudah disanggupi oleh Liuw Thayjien untuk dihadiahkan
kepada cayhe. Jikalau Tok Say ingin mendapatkan benda yang sama
dengan mengandalkan kekuasaannya, bukankah ini berarti mereka hendak
merampas barang milik rakyat, kalau atasannya saja berbuat demikian,
mana mungkin hukum negara dapat ditegakkan dan dihormati setiap
orang?”
“Kalau begitu Ke-heng sudah
pastikan diri untuk menginginkan peta pengangon kambing itu?” tanya
Jen Pek To dengan mata yang berkilat.
“Sedikitpun tidak salah, benda itu
adalah milikku kenapa aku tidak boleh memintanya kembali?”
Mendengar percekcokan itu Kwan
Tiong Gak menghela napas panjang.
“Jikalau peta pengangon kambing
itu berhasil siauwte dapatkan kembali, apa yang hendak Ke-heng
lakukan?”
Hoa Hoa Kongcu mengalihkan sinar
matanya ke atas wajah Kwan Tiong Gak, setelah dipandangnya beberapa
saat ia menjawab, “Bila kita berbicara menurut keadaan biasa,
tindakan Kwan-heng yang plin-plan ini pasti akan diejek oleh
orang-orang kangouw, tetapi keadaan lingkunganmu berbeda, siauwte
bisa memahami kesulitan diri Kwan-heng.”
Ucapan ini benar-benar bernada
tajam, selapis hawa gusar segera menghiasi wajah menambah kekerenan
sikap orang ini, terdengar Kwan Tiong Gak tertawa hambar, “Setelah
barang kawalan tiba ditempat tujuan, tugas kamipun telah selesai dan
seharusnya tak usah ikut campur lagi dalam semua urusan, tapi cayhe
belum pernah mengakui kalau peta pengangon kambing itu menjadi milik
Ke-heng seperti pula apa yang Ke-heng ucapkan tadi, aku orang she
Kwan adalah seorang rakyat biasa tentu saja tak bisa dibandingkan
dengan kau Ke Kongcu.”
Ke Giok Lang mendongak tertawa
terbahak.
“Apa yang Kwan-heng maksudkan
siauwte sudah paham dengan mengambil kesempatan ada Jen-heng di
sini, kitapun harus membicarakan dulu persoalan itu sampai jelas.”
Ia merandek sejenak, sinar matanya
dialihkan ke atas wajah Jen Pek To dan sambungnya, “Jen-heng, peta
pengangon kambing itu adalah pemberian Liuw Thayjien kepada aku
orang she Ke. Menurut keadaan seharusnya saat ini benda tersebut
sudah menjadi milik aku orang she Ke dan kau sekarang Jen-heng ikut
campur di dalam persoalan ini, sekalipun berhasil kau dapatkan
kembali peta pengangon kambing yang lenyap itu aku orang she Ke
tetap akan berusaha untuk menariknya kembali.”
“Kalau kau Ke-kongcu mempunyai
kepandaian semacam ini, terpaksa aku orang she Jen akan mengaku
kalah.” tukas Jen Pek To cepat. “Cuma Siauwte-pun ada beberapa patah
kata mau tak mau harus diterangkan terlebih dahulu. Walaupun Siauwte
berasal dari Bulim tapi sudah lama mengikuti Tok Say, terhadap
orang-orang kangouw aku orang she Jen jarang mengadakan hubungan,
bilamana sampai persoalan ini jadi makin membesar, siauwte tidak
berani bertanggung jawab apabila dari pihak pemerintah ikut campur
pula di dalam persoalan ini.”
Ke Giok Lang tersenyum.
“Aku orang she Ke berani minta
kembali peta pengangon kambing itu dari tangan kalian, terus terang
saja sudah kupahami seberapa besar kekuatan yang dimiliki pihak Tok
Say, memandang kau Jen-heng pun berasal dari orang Bu-lim, aku orang
she Ke ingin menasehati sepatah dua patah kata kepadamu. Kalau orang
lagi cemas ia akan mengadu jiwa, kalau anjing lagi gelisah ia akan
melompat pagar, jikalau Tok Say Thayjien sampai berani turunkan
perintah kesempatan keresidenan untuk menangkap aku orang she Ke
maka aku menasehati ada baiknya ia lindungi dulu batok kepalanya,
aku orang she Ke adalah gelandangan Bu-lim, mati hidup bukan jadi
persoalan bagiku, sebaliknya Tok Say adalah seorang pejabat
terhormat, jikalau sampai terjadi…..wah…urusan bukan kecil!”
“Oouuuw….. kau berani menyelundup
masuk ke dalam istana untuk membunuh Tok Say kami?”
“Siapa yang bilang tidak berani?”
jengek Ke Giok Lang sambil goyang-goyangkan kipasnya. “Cuma, belum
tentu yang melakukan aku orang she Ke, beberapa orang kawan Bu-lim
yang tidak takut matipun, tidak susah kita temukan, oleh sebab itu
harap Jen-heng sekembalinya ke dalam istana suka menasehati
majikanmu agar menimbang dulu berat entengnya persoalan ini.”
Sinar matanya dialihkan ke atas
wajah Kwan Tiong Gak lalu sambungnya, “Seorang lelaki sejati tidak
akan sudi mengeluarkan ucapan buruk, agaknya hubungan cayhe dengan
Kwan-heng hanya sampai disini saja, sejak kini hubungan putus apa
yang hendak Kwan-heng lakukan aku tak mau tahu lagi, dan aku orang
she Ke mohon diri terlebih dahulu.”
Setelah menjura, ia putar badan
berlalu.
“Ke Kongcu, silahkan berangkat
sendiri, maaf aku orang she Kwan tak bisa mengantarkan dirimu.”
“Tidak perlu.” Ke Giok Lang
tertawa hambar. “Sekalipun diantar sejauh ribuan lie akhirnya pisah
juga, kapan saja Kwan-heng bisa melepaskan diri dari
persekongkolanmu dengan pihat pemerintah, kita tetap berdiri sebagai
sahabat.”
Ia percepat langkahnya dan dalam
sekejap mata sudah lenyap tak berbekas.
Menunggu hingga bayangan punggung
Ke Giok Lang telah lenyap dari pandangan mata, Kwan Tiong Gak baru
berkata, “Jen-heng, Ke Giok Lang adalah seorang manusia yang bisa
berkata bisa berbuat, urusan ini kau Jen-heng harus pikirkan
masak-masak.”
“Kwan-heng, kau suruh aku pikir
apa?” tanya Jen Pek To setelah termenung sejenak.
“Keselamatan Tok Say Thayjien!”
“Kemungkinan sekali Ke Giok Lang
benar-benar memiliki kepandaian silat yang tinggi tapi cayhe-pun
telah mengatur persiapan serta penjagaan yang ketat dalam istana,
setelah Ke Giok Lang berani bicara besar macam begini, cayhepun mau
tak mau harus melakukan persiapan.”
Ia tertawa hambar dan tambahnya.
“Bagaimanakah watak Tok Say, aku
rasa Kwan-heng sudah menjumpainya, aku tidak berani mengatakan dia
adalah seorang pejabat berhati jujur, paling sedikit ia bukan
pembesar korup, seorang pejabat berhati serong, aku rasa di dalam
persoalan ini akupun harus menantikan sikap dari Kwan-heng.”
“Jen-heng, kau bermaksud hendak
menyuruh siauwte berbuat bagaimana?”
“Kalau dibicarakan menurut aturan
Bu-lim agaknya aku orang she Jen tak dapat terlalu menyusahkan kau
Kwan-heng, tetapi perkembangan persoalan ini telah berubah, dari
peta pengangon kambing kini beralih ke dalam soal keselamatan sang
Tok Say, setelah Kwan-heng terjerumus ke dalam persoalan ini, aku
rasa untuk menarik diri-pun rada susah.”
“Jen-heng, kalau mau bicara
katakan saja secara terus terang, apa yang kau inginkan dari aku
orang she Kwan?” seru Kwan Tiong Gak setelah termenung sebentar.
“Yang siauwte pikirkan hanya dua
persoalan, pertama adalah soal keselamatan Tok Say dan yang kedua
adalah mencari kembali peta pengangon kambing.”
“Kedua persoalan ini sama beratnya
tetapi penyelesaiannya memang saling ada hubungan, siauwte tidak
bisa selalu berada di dalam istana untuk melindungi keselamatan diri
Tok Say.”
“Untuk menghadapi persoalan ini,
kita harus mencari jalan yang baik untuk menghadapinya.”
“Aku paham maksud Jen-heng
bukankah kau ingin melakukan suatu gerakan sekalian menangkap Ke
Giok Lang dan masukkan dia ke dalam penjara.?”
“Kalau perbuatan ini bisa
mendatangkan keselamatan bagi Tok Say, maukah Kwan-heng membantu?”
“Sekalipun siauwte membantu belum
tentu punya kekuatan sebesar itu!”
“Jadi Kwan-heng tidak ingin campur
tangan dalam persoalan ini?”
“Dalam persoalan ini siauwte-pun
tak bisa berpeluk tangan belaka” sambung Kwan Tiong Gak sambil
menggeleng.
“Jika begitu Kwan-heng pun sudah
mempunyai rencana bagus di dalam hatimu?”
“Maksud siauwte, peduli persoalan
ini makin memburuk macam apapun, biarlah perusahaan kami Liong Wie
Piauw-kiok yang memunculkan diri coba-coba menasehati Ke Giok Lang
agar jangan berbuat sembarangan, kemudian menggunakan kemampuan
masing-masing bersama-sama mencari dapat peta pengangon kambing,
siapa yang menemukan peta itu terlebih dahulu siapa yang berhak
untuk memiliki peta tersebut, dengan demikian masing-masing pihak
tidak akan saling bermusuhan.”
Jen Pek To termenung sebentar lalu
tanyanya, “Lalu apakah Kwan-heng punya pegangan untuk mendapatkan
kembali peta pengangon kambing tersebut?”
Soal pegangan siauwte tidak berani
mengatakan” sahut Kwan Tiong Gak tersenyum. “Tapi aku percaya kita
bisa menemukan benda tersebut lebih dulu, kecuali luka yang diderita
Thio Ci Jien adalah kesengajaan.”
“Kagum, kagum ……!” seru Jen Pek To
setelah melengak beberapa saat. “Dari keadaan luka yang ada di tubuh
Thio Ci Jien, apakah Kwan-heng berhasil menemukan asal usul si
pembunuh tersebut?”
“Siauwte hanya berhasil mengetahui
ia terluka oleh pukulan macam apa, dengan berdasarkan penemuan ini
rasanya tidak terlalu susah, untuk menemukan orangnya, hanya saja
siauwte ingin mengirim seseorang untuk menjumpai dirinya terlebih
dahulu!”
“Kwan-heng bicara demikian tentu
kau sudah menjumpai kesulitan-kesulitan?” tanya orang she Jen
kembali sesudah termenung.
Dengan cepat Kwan Tiong Gak
menggeleng.
“Sampai detik ini kami belum
berani memastikan seratus persen Thio Ci Jien terluka ditangannya,
sebelum persoalan ada bukti yang nyata siauwte tidak ingin mencari
gara-gara dengan dirinya……”
Dengan wajah penuh perasaan curiga
Jen Pek To melirik sekejap ke atas wajah Kwan Tiong Gak, ia berusaha
keras untuk mempertahankan ketenangannya.
Kwan Tiong Gak menghela napas,
ujarnya kembali, “Di dalam hati aku duga Jen-heng tentu mempunyai
banyak persoalan yang mencurigakan hatimu bukan? padahal aku orang
she Kwan pun mempunyai banyak kesulitan yang susah sekali
diutarakan, Jen-heng mengikuti Tok Say ini boleh dianggap bahwa kau
adalah hamba negara, terhadap jago-jago kangouw yang kukoay wataknya
mau tak mau siauwte harus merahasiakan karena aku orang she kwan tak
boleh membiarkan namaku hancur dengan dikatakan sebagai manusia tak
berbudi oleh kawan-kawan Bulim.
“Aku paham, cayhe ingin kembali
dulu ke dalam istana mengatur penjagaan sedang mengenai pandangan
Kwan-heng yang terlampau tinggi terhadap Ke Giok Lang, aku rasa
orang ini tentu mempunyai hal-hal yang sangat luar biasa. Nah!
Selamat tinggal dan besok pagi siauwte akan menjenguk kembali
kemari.”
“Baik! Kita berjumpa besok pagi,
maaf siauwte tidak mengantar.”
“Tidak berani!” ia putar badan dan
berlalu.
Liem Toa Lek segera menghantar Jen
Pek To keluar pintu, setelah mengunci kembali pintu depan ia balik
kembali ke dalam ruangan tengah.
Suasana sunyi untuk beberapa saat
lamanya memandang air muka Cong Piauw-tauw yang penuh keseriusan tak
tertahan Phoa Ceng Yan berbisik lirih, “Toako, agaknya persoalan ini
semakin lama semakin kacau, aku lihat karena peristiwa ini bakal
menimbulkan badai besar di dalam dunia persilatan.
Kwan Tiong Gak menghembuskan napas
panjang, ujarnya, “Kalau dua tahun berselang bisa menghentikan
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini maka tidak mungkin bisa terjadi
kerepotan macam hari ini ….”
Ia berpaling dan memandang sekejap
ke arah Liem To Lek, sambungnya, “Coba suruh mereka hitung
keuntungan kita tahun ini dan siapkan uang tersebut.
Walaupun dalam hati merasa curiga
Liem Toa Lek tidak berani banyak bertanya, ia segera menjura.
“Hamba akan segera memerintahkan
mereka untuk melakukan hal tersebut….”
Dari dinding Kwan Tiong Gak
mengambil goloknya dan digantung pada punggungnya, setelah
mengenakan jas hujan ia berkata, “Aku mau pergi keluar sebentar,
paling lambat besok pagi pada kentongan kelima tentu kembali.”
“Toako!” seru Phoa Ceng Yan dengan
cepat. “Biarlah mereka pergi bersamamu, agar kalau ada urusan mereka
bisa membantu.”
Tapi dengan cepat Kwan Tiong Gak
menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu…..”
Sembari melangkah keluar
sambungnya.
“Siauw-heng hendak menggunakan
waktu setengah harian ini untuk mencari kembali itu peta pengangon
kambing, kalau besok bisa kita serahkan lukisan itu pada Jen Pek To
maka itu hari juga kita segera berangkat pulang ke Peking dan kantor
cabang Kay Hong pun ditutup sampai di sini saja, seluruh keuntungan
bagikan kepada semua anggota kita.”
“Bagaimana dengan Liem Toa Lek?”
“Perintahkan dia dengan membawa
beberapa orang piauwsu sesudah menyelesaikan persoalan di sini
segera berangkat ke ibukota.”
“Toako bermaksud membubarkan
kantor cabang Kay hong sejak ini?”
“Seluruh perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok sudah masanya untuk ditutup, aku berharap pada
pertengahan tahun depan semua persoalan sudah selesai dan semua
kantor cabang telah dibubarkan.”
“Hal inipun baik juga,” kata Phoa
Ceng Yan sambil menghela napas panjang. “Dengan demikian toako-pun
tidak usah lagi memikul tugas dan beban seberat ini.”
Sewaktu pembicaraan berlangsung
sampai disitu, mereka telah tiba di pintu depan.
Kwan Tiong Gak mendadak berhenti
dan berpaling.
“Kalian tak usah mengantar aku
lagi, suruh mereka baik-baik berjaga diri, jangan timbulkan
persoalan lagi, dalam keadaan seperti ini jangan sekali-kali kita
bikin keonaran.”
“Siauwte akan berusaha untuk
menghindari hal tersebut, Toako-pun harus berhati-hati.”
Kwan Tion Gak tersenyum dengan
langkah lebar ia segera berlari.
Menanti bayangan punggung dari
Cong Piauw-tauwnya sudah lenyap dari pandangan, Phoa Ceng Yan
sekalian baru mengundurkan diri dari sana dan menutup pintu kantor.
Malam semakin kelam, inilah saat
yang paling tepat bagi setiap keluarga untuk berkumpul sambil
merayakan tahun baru.
Di dalam ruangan kantor cabang
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok pun dihangatkan oleh sebuah tungku
dengan beberapa orang duduk berkerumun di sana, hanya saja mereka
bukan sekeluarga yang merayakan malam tahun baru, melainkan
sekelompok piauwsu yang bersenjata lengkap dengan wajah murung dan
kesal.
Phoa Ceng Yan menghembus asap
huncweenya ke angkasa, sambil menghela napas ia berkata.
“Tak ada gading yang tak retak,
tak ada panglima yang takut mati dalam pertempuran, di bawah
pimpinan Cong Piauw-tauw perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita sudah
berkembang sangat pesat, kantor perusahaan cabang tersebar luas di
enam karesidenan, kegagahan dan kecemerlangan macam begini biasanya
susah ditandingi oleh perusahaan manapun pada jaman apapun juga,
selama dua puluh tahun di bawah kerja keras beberapa puluh orang
kawan dengan taruhan jiwa dan tenaga berhasil mengangkat perusahaan
kita dengan merek emas, tidak disangka kecuali kita harus menghadapi
penjahat-penjahat dari kalangan Liok-lim, sekarang harus berurusan
pula dengan orang pemerintahan, Aaai…..agaknya Cong Piauw-tauw
merasa putus asa oleh persoalan.”“
“Hal inipun tak bisa disalahkan
dirinya,” kata Nyoo Su Jan memberikan pendapatnya.
“Persoalan di dalam perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kita makin hari semakin banyak di samping Cong
Piauw-tauw harus bertanggung jawab dalam melatih para anggota dengan
ilmu silat banyak persoalan pula yang harus ia tangani sendiri,
agaknya makin lama Cong Piauw-tauw merasa makin jemu dengan urusan
pengawalan barang, selama beberapa tahun ini jarang sekali barang
kawalan kita menjumpai persoalan, mungkin orang lain jeri dengan
merek emas kita, padahal yang sebenarnya semua persoalan ini adalah
hasil kerja Cong Piauw-tauw seorang….”
“Eeei….sebetulnya apa yang telah
terjadi, Nyoo-heng kalau bicara yang jelas sedikit.” tukas Liem Toa
Lek cepat.
Dengan andalkan kuda jempolannya
yang setiap hari bisa menempuh perjalanan ribuan lie, kadang-kadang
ia seorang diri menghajar habis-habisan musuh-musuh yang akan
menghadang barang kita, semua orang hanya tahu mengiringi kereta
barang berangkat ke selatan atau ke utara, siapa yang tahu kalau
sepanjang jalan yang mereka lalui telah diamankan dahulu oleh Cong
Piauw-tauw.”
“Aaakh…..! Persoalan ini takkan
kuketahui kalau tidak kau katakan saat ini,” teriak Phoa Ceng Yan
tersentak kaget.
“Pada tahun yang lalu, kebetulan
hamba sakit dan harus beristirahat beberapa bulan di rumah, sebab
memandang tinggi hamba, Cong Piauw-tauw melarang aku mengawal barang
setengah tahun lamanya, karena itulah sepanjang waktu aku selalu
berada di dalam perusahaan, kadang-kadang sampai malam baru tidur,
dan kadang-kadang berlatih silat di tengah malam buta,
kebetulan sering sekali bertemu Cong Piauw-tauw dengan menunggang
kuda seorang diri pergi keluar di tengah malam buta, pada perjumpaan
yang pertama kali hamba tidak terlalu memperhatikan, tapi karena
seringnya perjumpaan ini maka timbul rasa curiga dalam hatiku,
diam-2 kuperhatikan terus gerak-geriknya dan akhirnya kuketahui
setiap kali pengawalan barang dalam jumlah besar berangkat maka pada
malam harinya Cong Piauw-tauw tentu berangkat pula, orang-orang
kantor hanya tahu urusan Cong Piauw-tauw sangat repot dan tidak ada
di dalam kantor, padahal siapa yang tahu kesusahannya? “
“Demi nama baik perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok tiada jemunya ia menempuh bahaya seorang diri.
Aaaaiii…. selama beberapa tahun ini kita sudah cukup menyusahkan
dirinya.”
“Aaaii…….kita sebagai piauwsu
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ternyata tidak dapat membantu COng
Piauw-tauw dalam mengurangi kemurungannya, bila dipikir kita
seharusnya merasa malu, “ seru Liem Toa Lek.
“Maka dari itu akupun berharap ia
cepat bisa menutup perusahaannya, sehingga sisa hidupnya bisa
dilewatkan dengan hati tenteram selalu,” sambung Phoa Ceng Yan.
“Walaupun ucapan Hu COng
Piauw-tauw tidak salah, tapi untuk menutup pintu perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kita yang sudah sedemikian besar, sedikit banyak
hatiku ikut merasa susah juga.”
Phoa Ceng Yan tertawa hambar.
“Di kolong langit tak ada
perjamuan yang tidak bubar, Cong Piauw-tauw pun tidak bisa susah
payah sepanjang tahun, kalau kita harus berdiri dengan bersandar
pada dia seorang siksaan ini sungguh luar biasa sekali, cuma selama
beberapa tahun ini perusahaan kita sudah banyak beruntung, dengan
watak Cong Piauw-tauw yang ridak memandang harta sewaktu membubarkan
perusahaan, ia pasti tak akan merugikan cuwi sekalian, biaya hidup
selanjutnya tentu terjamin.”
Malam itu dilewatkan beberapa
orang itu dengan mengobrol mengelilingi tungku pemanas.
Menanti kentongan kelima telah
tiba, mendadak di luar halaman terdengar suara ringan bergema
datang.
“Siapa??” bentak Phoa Ceng Yan
sambil mematikan lampu lilin yang ada di atas meja.
“Aku.”
“Suara itu jelas berasal dari
mulut Kwan Tiong Gak.
Suara tersebut agak dikenal baik
oleh Phoa Ceng Yan maupun siapa saja, buru-buru mereka bangun
berdiri menyambut.
“Cong Piauw-tauw!”
Waktu itu Liem Toal Lek sudah
menyulut kembali lampu lilin di atas meja, di tengah sorotan cahaya
Kwan Tiong Gak berjalan masuk ke dalam ruang tengah.
Pada dasarnya memang berwajah
keren ditambah pula keseriusan yang diperlihatkan saat ini menambah
keseraman bagi orang yang melihat.
Liem Toa Lek serta Nyoo Su Jan
tidak berani banyak bicara diam-diam mereka mengundurkan diri ke
samping.
Setibanya di tepi tungku Kwan
Tiong Gak melepaskan goloknya dan mempersilahkan orang duduk.
Beberapa orang itu mengikuti
ucapannya dan mencari tempat duduk. Phoa Ceng Yan yang ada di sisi
Kwan Tiong Gak segera bertanya, “Toako! Apakah kau berhasil
menemukan jejak peta pengangon kambing itu?”
“Belum,” sang Cong Piauw-tauw
menggeleng. “Ia sudah lama meninggalkan kota Kay Hong.”
“Apakah ia muncul kembali di sini
karena peta pengangon kambing itu ….?” tanya Nyoo Su Jan.
“Kalau benar demikian saat ini
sudah terbang jauh ke angkasa, untuk menemukan kembali peta
pengangon kambing rasanya bukan suatu persoalan yang terlalu gampang.”