lambang naga panji naga sakti 03

Jilid 5

Bilamana bisa mengetahui siapakah mereka hal ini memang semakin bagus lagi!” Kata Nyoo Su Jan pula. “Tetapi jikalau tak terpikir siapakah mereka itu, kitapun tidak usah terlalu terpengaruh oleh kata-kata kelima orang karibnya itu, yang seharusnya kita pikirkan adalah apakah maksud tujuan mereka dengan mengantarkan kartu undangan tersebut kepada kita! Mengundang Jie-ya bersantap merupakan sebuah siasat memancing harimau turun gunung atau bukan! Mungkin juga mereka memancing kita untuk bersama-sama pergi bersantap di rumah makan tersebut, lalu mengambil kesempatan ini turun tangan.”

“Aaakh….! Cengli….. cengli …..” teriak Phoa Ce3ng Yan sambil menghantam meja sesudah mendengar perkataan tersebut.

“Tetapi, memandang situasi pada saat ini, Jie-yapun mau tak mau harus pergi,” sambung Nyoo Su Jan lebih lanjut sambil tersenyum.

“Ehmmmmm….! Perkataanmu memang tidak salah,” Phoa Ceng Yan mendehem. “Perjamuan makan ini sekalipun harus naik ke atas gunung golok lembah minyak mendidih aku harus menghadirinya, aku harus mengenali siapakah sebenarnya kelima orang kawan karib kita itu.”

“Betul! Betul! Pendapat Jie-ya memang betul, perjamuan makan ini harus dihadiri walaupun apa yang bakal terjadi, kemungkinan sekali di dalam pertemuan kali ini kita berhadil mengetahui maksud hati mereka yang sebetulnya! Bilamana kita tinjau dari peristiwa yang terjadi berulang kali, aku merasa agaknya keluarga Liauw memang terselimut oleh suatu teka-teki yang misterius. Dengan nama besar perusahaan Liong Wie Piaw-kiok kita di daerah utara, tidak seharusnya kawan-kawan Liok-lim begitu ngotot untuk mencari gara-gara dengan kita. Sewaktu Jie-ya menemui kelima orang kawan karib di rumah makan Yu It Cun nanti, lebih baik berusahalah bersabar diri dan mencari tahu dulu apa maksud tujuan mereka.”

Perlahan-lah Phoa Ceng Yan mengangguk, “Tidak salah. Sampai saat ini kita masih belum mengerti apakah sebabnya peristiwa aneh.” ujarnya perlahan. “Nah, jika aku sudah pergi ke rumah makan Yu It Cun, maka urusan di sini aku serahkan kepada Nyoo piauw-tauw untuk menjaganya, jangan lupa selalu berwaspada terhadap siasat musuh!”

“Hamba akan berusaha dengan sekuat tenaga! Tetapi, kemungkinan sekali kepergian Jie-ya ke rumah makan Yu It Coen tak dapat terhindar dari bentrokan-bentrokan kekerasan di dalam soal ini hamba akan mengucap dua persoakan untuk Jie-ya dengar!”

“Ehmmm! Kau bicaralah.”

“Jie-ya harus berusaha keras untuk bersabar diri, kecuali pihak lawan mengerakkan senjata sehingga memaksa Jie-ya mau tak mau harus turun tangan. Bilamana bisa kembali ke rumah penginapan hal ini jauh lebih bagus lagi, kita bisa bersama-sama mengatur siasat untuk menghadapi serangan-serangan musuh tangguh.”

“Baik, aku akan berusaha keras untuk bersabar diri.”

“Aku akan menyuruh Giok Liong pergi dulu ke dusun Yu It Coen dengan menyaru.” tiba-tiba Nyoo Su Jan berbisik lirih.”Semisalnya terjadi peristiwa yang ada di luar dugaan, Giok Liong bisa buru-buru pulang kemari memberi kabar dan semisalnya Jie-ya terpaksa harus turun tangan, Giok Liong-pun bisa membantu Jie-ya di dalam perlawanannya menggundurkan pihak musuh.”

“Baik sih baik!” sahut Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar. “Cuma, pengalaman dari Giok Liong belum banyak, aku takut belum apa-apa dia sudah diketahui jejaknya oleh orang lain.”

“Oouuw…….. soal ini Jie-ya boleh berlega hati, asal aku sudah turun tangan menyarukan wajah Giok Liong, tanggung pihak musuh tak bakal mengetahui rahasianya.”

“Aku rasa sejak kita tiba di sini, sekeliling rumah penginapan telah disebari mata-mata pihak lawan yang secara diam-diam mengawasi seluruh gerak-gerik kita.”

“Tidak! Saat ini disekeliling rumah penginapan ini memang kemungkinan sekali ada mata-mata yang lagi mengawasi gerak-gerik kita, tetapi maksud tujuan mereka adalah kau Phoa Jie-ya. Asalkan Jie-ya sudah berangkat setindak terlebih dahulu, perhatian mereka terhadap kamipun akan jauh berkurang, dengan meminjam kesempatan inilah Giok Liong akan berjalan keluar dan langsung menuju ke rumah makan Yu It Coen terlebih dulu, untuk suksesnya rencana ini setelah keluar dari rumah penginapan Jie-ya tiada halangan untuk ngeloyor dan pesiar dulu keliling kota setelah itu baru berangkat menuju rumah makan Yu It Coen.”

“Bagus! Kita kerjakan demikian saja.”

Menanti siang hari menjelang datang, Phoa Ceng Yan dengan mengenakan jubah panjang dan ditangannya mencekal sebuah Huncwee perlahan-lahan berjalan keluar dari rumah penginapan.

Sikapnya luwes, paras mukanya tenang ketika tubuhnya telah tiba di luar rumah penginapan, sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.

Sedikitpun tidak salah, ia menemukan dua orang pemuda yang memakai pakaian ringkas buru-buru ngeloyor pergi.

Diam-diam si orang tua ini tertawa dingin, lambat-lambat ia mulai melanjutkan perjalanannya ke depan.

Saat setelah Phoa Ceng Yan meninggalkan rumah penginapan itu, seorang lelaki kasar yang memakai topi terbuat dari kulit dengan di bawah janggutnya memelihara kumis pendek berjalan keluar dari rumah penginapan itu dengan langkah lebar.

Lama sekali Phoa Ceng Yan berpesiar keliling kota, setelah dirasanya waktu sudah cukup panjang ia baru putar halua berangkat menuju ke rumah makan Yu It Coen.

Yu It Coen adalah sebuah rumah makan yang terbesar di kota Si Sian Jan, suasana sangat ramai dan setiap hari banyak pengunjung yang bersantap di sana.

Pada beberapa tahun yang lalu pernah satu kali Phoa Ceng Yan bersantao siang di rumah makan Yu It Coen ini, seingatnya ruangan yang besar penuh dengan para tamu-tamu, suasana sangat ramai sekali.

Tetapi keadaan dari rumah makan Yu It Coen pada hari ini sama sekali berbeda dengan ingatannya tempo dulu.

Tampaklah sebuah ruangan rumah makan yang besar dan luas, saat ini sunyi senyap, berpuluh-puluh buah meja semuanya kosong melompong tak kelihatan seorang tamupun.

Tujuh orang pelayan rumah makan dengan kepala memakai topi putih sera pinggang terikat kain putih dengan sangat rapih berdiri di samping.

Hal ini membuat Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Baru saja ia berjalan masuk ke dalam pintu, tampaklah seorang pelayan dengan langkah tergesa-gesa datang menyambut dan menghalangi perjalanan selanjutnya.

“Toa-ya!” serunya sambil menjura, “ini hari rumah penginapan kami sudah diborong orang, maafkanlah orang lebih baik cari tempat lain saja.”

Belum sempat Phoa Ceng Yang memberi jawaban mendadak terdengarlah suara seseorang yang besar dan nyaring sudah berkumandang datang.

“Pelayan busuk, matamu sudah buta! Ayoh cepat menyingkir ke samping!”

Seorang lelaki kasar yang memakai baju singsat dengan kancing yang sangat banyak dan ikat pinggang berwarna putih, dengan langkah besar berjalan mendekat dan mendorong pelayan itu ke samping.

Kau orang tua apakah Phoa Jie-ya!” sapanya sambil menjura, Phoa Ceng Yan mengangguk, dari dalam sakunya ia mengambil keluar kartu undangan berwarna merah itu.

“Bilamana Loohu tidak salah melihat, seharusnya rumah makan ini bukan?” katanya.

“Aaakh…….! Benar, benar! Tidak salah” seru lelaki tersebut sambil memandang sekejap ke arah kartu undangan berwarna merah itu, “Pelayan ini ada mata tidak mengenal gunung Thay san, harap kau orang tua jangan merasa tersinggung dengan kejadian ini. Mari, mari silahkan masuk”.

“Heeee…….heeee….. kawan adalah….”

“Hamba tidak lebih cuma seorang pesuruh saja, majikan kami serta beberapa orang kawan sejak semula sudah menanti di atas loteng” sambung lelaki itu dengan cepat.

Sinar mata Phoa Ceng Yan perlahan-lahan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu sewaktu tidak melihat Lie Giok Liong ada di sana, dalam hati diam-diam pikirnya.

“Mungkin sekali bocah itu sudah menggabungkan diri di sekeliling tempat ini…….” Ujarnya kemudian. “Harap saudara membawa jalan buat diriku!”

Lelaki kasar itu mengia, kemudian putar badan dan berjalan masuk ke ruangan.

Phoa Ceng Yan perlahan-lahan membuntuti dari belakang, sembari berjalan matanya mengawasi keadaan di sekeliling ruangan-ruangan rumah makan itu dengan teliti. Hal ini memaksa lelaki tersebut tak data berjalan terlalu cepat.

Setelah naik ke loteng tingkat kedua, tampaklah ruangan tersebutpun kosong, kursi meja sebagian besar sudah disingkirkan sehingga ruangan loteng seluas lima-enam kaki tertinggal sebuah meja perjamuan saja.

Lima orang lelaki kasar masing-masing duduk di sekeliling meja itu meninggalkan sebuah tempat kosong di tempat yang teratas.

Phoa Ceng Yan setelah berada di loteng tingkat kedua, dengan sangat berhati-hati sekali mengawasi keadaan di sekeliling ruangan setelah dirasanya tiada pihak musuh yang bersembunyi di sana ia baru melangkah maju ke depan.

Melihat munculnya si orang tua tersebut, kelima orang tersebut bersama-sama bangun berdiri.

“Phoa Jie-ya selamat bertemu, kami berlima sudah menanti!” ujarnya hampir berbareng.

Dengan pandangan yang sangat tajam Phoa Ceng Yan memperhatikan kelima orang itu sekejap kecuali dirasanya dua orang di antara mereka terasa agak dikenal, sisanya tiga orang ia sama sekali merasa asing.

Perlahan-lahan ia berjalan mendekati meja perjamuan.

“Aku orang she Phoa lebih baik ikut perintah saja!” ujarnya sambil menjura.

Tanpa sungkan-sungkan ia menempati tempat duduk yang masih kosong itu.

Sekalian matanya menyapu sekejap ke arah beberapa orang tersebut.

“Phoa Jie-ya! Kau adalah seorang gagah yang cepat mengambil keputusan, cayhe merasa sangat kagum, mari…….mari! Aku hormati dulu Jie-ya dengan satu cawan arak.” ujar lelaki bercambang yang ada disebelah kiri.

Selesai berkata ia mengangkat cawan araknya dan meneguk isinya sampai habis.

Kiranya di atas meja perjamuan sudah tersedia empat mangkok sayur serta cawan arak yang telah dipenuhi.

“Aku orang she Phoa tidak terbiasa minum arak, terima kasih atas maksud baik saudara-saudar sekalian.” ujar Phoa Ceng Yan sambil tertawa dan memandang sekejap ke arah cawan arak itu.

“Haaa…………haaaa……………haaa……….. Jie-ya terlalu banyak curiga” seru lelaku bercambang itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Ia lantas mengambil cawan arak di hadapan Phoa Ceng Yan dan meneguknya hingga habis.

Meminjam kesempatan inilah Phoa Ceng Yan memperhatikan dengan teliti wajah ke lima orang itu.

Walaupun mereka bellima punya raut muka yang berbeda tetapi kecuali si kakek tua yang memelihara jenggot kambing gunung duduk di hadapannya serta pejamkan matanya itu, sisanya berempat adalah orang kasar.

Sekalipun di dalam hal ilmu silat boleh dikata ada ia masih punya sedikit simpanan tetapi tidak lebih itupun cuma ilmu gwaa-kang saja yang mengutamakan kekerasan.

Dalam hati ia mulai merasa lega, sambil tertawa tawar ujarnya kemudian.

“Maaf aku orang she Phoa tidak ingat dengan kalian berlima!” serunya.

“Heee…..heee…..heee….. Phoa Ji-ya adalah seorang Toa Piauw su, sudah tentu tidak akan mengingat-ingat kami si prajurit tidak bernama di dalam dunia kangouw” jengek si orang laki-laki dengan alis yang tebal di sebelah kanan sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Haaa…..haaa…..haaa,,,,, saudara terlalu memuji, saudara terlalu memuji” dengan alis yang dikerutkan Phoa Ceng Yan tertawa terbahak bahak. “Aku orang she Phoa bisa jadi begini, kesemuanya tidak lain disebabkan saudara-saudara sekalian suka memberi muka kepada diriku, bilamana aku orang pernah berbuat salah, harap saudara-saudara suka memaafkan.”

Selesai berkata, ia bangun berdiri dan menjura di sekeliling meja perjamuan.

Setelah itu ia duduk lagi dan sambungnya lebih lanjut.

“Dikarenakan aku orang she Phoa masih ada tugas untuk mengawasi barang, maaf tidak dapat terlalu lama menemani saudara-saudara sekalian, tetapi maksud baik dari kalian itu akan aku orang she Phoa ingat terus di hati, apabila saudara-saudara masih ada urusan silahkan ucapkan secara terus terang, asalkan aku dapat melaksanakan tentu tak akan kutolak, bila semisalnya tak ada urusan lagi, aku orang she Phoa ada maksud untuk mohon diri.”

“Heee……heee…..he……. Phoa Jie-Ya!” seru lelaki beralis tebal itu lagi sambil tertawa dingin. “Bangkupun belum panas kau duduki bagaimana mungkin boleh buru-buru pergi.”

“Maaf…..maaf aku orang she Phoa harus mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai pengawal barang, karena itu kedudukanku tidak sebebas orang biasa, harap saudara sekalian suka memakluminya.”

Si kakek tua berjenggot kambing yang berada dihadapannya mendadak membuka matanya lebar-lebar, lalu tertawa dingin.

“Heee……heee……. Phoa Hu COng Piauw-tauw! Kaupun seorang jago kangouw yang sudah mengalami berbagai angin topan dan pernah menemui pula beratus-ratus orang terkemuka, setelah datang dengan tergesa-gesa mengapa hendak pergi dengan tergesa-gesa pula?? Apakah kau tidak merasa tindakanmu itu terlalu gampang??……” tegurnya.

Melihat sinar mata yang sangat tajam berkelebat keluar dari sepasang matanya yang terpentang lebar-lebar itu, diam-diam Phoa Ceng Yan merasa amat terperanjat.

“Ooouw……… tenaga dalam orang ini tidak lemah, aku harus menaruh kewaspadaan penuh terhadap dirinya,” Pikir orang tua itu dalam hati.

Sembari berpikir keras, tangannya mengambil keluar korek api untuk menyulut huncwee di tangan kanannya, setelah menghembuskan asap panjang ujarnya sambil tertawa, “Baru saja aku orang she Phoa sudah berkata, bilamana saudara-saudara ada urusan maka silahkan katakanlah secara terus terang, bilamana aku orang she Phoa bisa melakukannya tentu tak bakal kutolak, bilamana aku orang she Phoa memang tidak sanggup, dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok masih ada COng Piauw-tauw kami yang dapat mengambil keputusan, jika saudara-saudara ada urusan katakanlah secara terbuka!”

“Tiada air kencing yang tidak menimbulkan lubang, kini Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah memberikan kesempatan, kami bersaudarapun terpaksa harus berbicara secara blak-blakan,” ujar si kakek tua berjenggot kambing itu sambil tertawa tawar.”Pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian tiada dendam sakit hati dengan kami, tetapi langganan kalian kali ini ada sedikit ikatan permusuhan dengan kami bersaudara, justru maksud dari kami mengundang Phoa Jie-Ya untuk bersantap tidak lain mengharapkan dari pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok suka memberi muka kepada kami bersaudara untuk kali ini saja.”

“Aaaah……….. bagus sekali!” pikir Phoa Ceng Yan secara diam-diam dalam hati.”Sekarang kalian sudah tiba pada puncaknya.”

Karena dalam hati sudah ada persiapan maka menghadapi perkataan tersebut dia sama sekali tidak menjadi gugup.

“Saudara-saudara sekalian sebetulnya menginginkan aku orang Phoa secara bagaimana memberi muka pada kalian?” tanyanya sambil tertawa.

“Haaa……..haaa……haaa………… tidak sulit, tidak sulit!” Si kakek tua berjenggot kambing itu tertawa terbahak-bahak. “Asalkan Phoa Jie-ya suka memejamkan mata dan kasih waktu sepenanak nasi untuk kami itu sudah lebih dari cukup!”

Mendengar perkataan tersebut Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya tersentak.

“Apakah mereka benar-benar sedang menjalankan siasat memancing harimau turun gunung? dan sudah ada orang yang turun tangan sewaktu aku masih berada di sini?” pikirnya di dalam hati.

Sembari berpikir keras ia mendehem berulang kali.

“Jika saudara-saudara sekalian sudah kasih keterangan, aku harap dapat menerangkan lebih jelas lagi.” ujarnya. “Sebenarnya kalian ingin membunuh orang atau cuma mendapatkan barang-barang saja.”

Agaknya si kakek tua yang berjenggot kambing gunung itu merupakan pentolan dari antara kelima orang itu, asal apa yang diucapkan merupakan keputusan yang mutlak.

Terlihatlah ia mengangkat cawan araknya perlahan-lahan, kemudian sambil tertawa jawabnya, “Setelah berjanji dengan kau Phoa Jie-ya kami bersaudara sudah tentu tidak akan melukai orang.”

“Ehmmmm…………..! Kalau begitu kalian cuma menginginkan barangnya saja bukan? tetapu menurut apa yang aku orang she Phoa ketahui Liauw Thayjien tidak membawa intan permata terlalu banyak, kemungkinan sekali gerakan dari saudara-saudara kali ini akan memperoleh kekecewaan saja.”

Air muka si kakek tua berjenggot kambing itu kontan saja berubah hebat.

“Soal ini kau Phoa Jie-ya tidak perlu repot-repot ikut merasa kuatir, siauw-te sudah berkata tidak akan melukai orang bilamana perkataanku tidak sesuai dengan perbuatan, maka cawan itu adalah suatu contoh yang paling baik.” ujarnya.

Terlihat cawan arak yang ada di tangannya mendadak remuk berkeping-keping.

Phoa Ceng Yan memandang sekejap ke arah hancurnya cawan arak tersebut, kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaa…………haaaaa……….haaaaa……kawan, sungguh dahsyat tenaga dalammu, kita sudah berbicara selama setengah harian lamanya, tapi aku orang she Phoa masih belum mengetahui nama besarmu.”

“ooouww siauw-te!” seru kakek berjenggot kambing itu sembari tertawa dingin.”Cayhe adalah Miauw It Tong, seorang prajurit tak bernama dari dunia kangouw, mungkin Phoa-heng belum pernah mendengar namaku bukan.”

“Aaach……! Yen San Ngo Ih….” seru Phoa Ceng Yan tak tertahan lagi. hatinya benar-benar terasa bergetar sangat keras.

“Heee……heee……heee….. Phoa Jie-ya tidak usah terlalu memuji lagi, kami lima bersaudara disebut orang dengan sebutan Yen San Ngo Kui atau lima setan dari gunung Yen San, sebutan “Ngo Ih”-mu tersebut kami bersaudara tidak berani menerimanya.

Miauw It Tong merandek sejenak, lalu sambungnya kembali, “Pada lima tahun berselang, sewaktu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok mengadakan perjamuan untuk menjamu para enghiong hoohan baik dari darat maupun dari laut di daerah sebelah utara, kami lima bersaudara-pun pada waktu itu menerima surat undangan dari piauw-kiok kalian dan pernah bertemu satu kali dengan Phoa Jie-ya. Karena itu di atas surat undangan kami berlima tadi sudah kami cantumkan lima orang kawan lama, tetapi Phoa Jie-ya orang budiman suka lupaan, ternyata kau sudah tidak teringat lagi dengan kami berlima.”

Phoa Ceng Yan menyedot huncwee-nya dalam-dalam kemudian menyemburkan segulung asap biru yang sangat tebal.

“Saudara-saudara sekalian sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, tidak kusangka ternyata kali ini kalian dapat munculkan diri kembali!” ujarnya sambil tertawa.

“Phoa Jie-ya! Kami Yen San Ngo Kui biasanya suka pergi kesana pergi kemari sesuka hati, setelah menjadi budak orang lainpun rasanya tidak berhasil mengelabui pendengaran kawan-kawan Bu-lim lainnya, apalagi mata-mata perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tersebar luas di mana-mana, terhadap urusan kami lima bersaudara tentunya kau orang sudah mendengar jelas bukan?” kata Miauw It Tong.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk-angguk.

“Aku orang she Phoa memang pernah mendengar berita ini, katanya saudara-saudara sekalian sudah menggabungkan diri di bawah perintah si Kongcu tukang foya-foya? “Im Yan Pan” Ke Giok Lang!” katanya.

“Sedikitpun tidak salah, kami lima bersaudara memang sudah menjadi pembantu-pembantu dari Ke-Kongcu!”

Walaupun Phoa Ceng Yan berusaha untuk mempertahankan ketenangan hatinya, tak urung paras mukanya rada berubah juga.

“Lalu apakah Ke Kong juga sudah datang di kota Si Sian Jan ini??…” tanyanya lebih lanjut sambil menghisap huncweenya dalam-dalam.

“Majikan kami mungkin sekali sudah tiba di rumah penginapan Phoa Jie-ya!”

Mendadak Phoa Ceng Yan meloncat bangun dari tempat duduknya.

“Siasat memancing harimau turun gunung yang saudara sekalian gunakan, aku rela untuk menggantikannya” kata si orang tua itu dengan dingin.

“Phoa Jie-ya! Mungkin sudah terlambat!” seru Miauw It Tong sambil bangun berdiri pula.

Selagi Phoa Ceng Yan bermaksud mengumbar hawa amarah, mendadak dari bawah loteng berkumandang datang suara bentakan yang amat keras dan nyaring.

“Khek-ya! Di dalam kota Si Sian Jan bukan cuma ada satu rumah makan saja, bersantap dimana saja bukankah sama…….”

“Kau cucu kura-kura jangan bicara seenakmu sendiri!” teriak seseorang dengan nada yang berat dan logat Su Tzuan. “Kalian buka rumah makan untuk cari uang, kini aku orang punya uang untuk membayar, mengapa kalian tidak mengijinkan aku untuk bersantap….”

Diikuti suara bentakan keras dari seseorang mendadak di mulut tangga muncul seseorang.

Phoa Ceng Yan segera mendongakkan kepala terlihat olehnya seseorang lelaki yang memakai jubah warna hijau dengan celana warna putih, sepatu terbuat dari serabut dan pada punggungnya menggembol sebuah buntalan berbentuk persegi panjang, sikapnya amat gagah sekali.

Wajahnya sederhana, tiada bagian-bagian yang memancing daya tarik seseorang, tetapi di dalam musim dingin seperti ini ternyata dia orang hanya memakai pakaian tipis dan sama sekali tidak kelihatan kedinginan, hal ini jelas menunjukkan bila ia memiliki dasar tenaga lweekang yang sangat sempurna.

Setelah naik ke atas loteng sewaktu dilihatnya meja kursi di sana pada disingkirkan semua ke samping, dan tinggal sebuah meja perjamuan saja yang masih ada di tengah-tengah ruangan, tak terasa lagi keningnya sudah dikerutkan erat-erat.

“Maknya….. termasuk rumah makan macam apa ini….” teriaknya tak kuasa lagi.

Belum habis ia berteriak mendadak terlihatlah sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki kasar dengan tergesa-gesa menyusup naik ke atas loteng.

“Eeeeei….. apa yang sedang kau gembar gemborkan?” bentaknya keras.

Tangan kanannya lantas menyambar mencengkeram pundak lelaki berjubah hijau itu./

“Ooooouw……. mau berkelahi?” teriak lelaki tersebut.

Tubuhnya dengan sangat ringan berkelebat menghindarkan diri dari sambaran tangan kanan lelaki tersebut.

Phoa Ceng Yan sewaktu melihat orang yang baru saja melancarkan serangan itu bukan lain adalah lelaki yang menyambut kedatangannya tadi, diam-diam pikirnya dalam hati, “Entah siapakah lelaki berjubah hijau itu? Mengapa pada saat ini ia paksakan diri untuk naik loteng, bukannya bersantai sebaliknya mencari gara-gara dengan orang itu…..”

Lelaki tersebut sewaktu melihat cengkeramannya segera dibabat ke samping berubah menjadi suatu serangan pukulan.

“Aduuuuh……aduh…. celaka.,celaka, di siang hari bolong kau berani turun tangan pukul orang, apa aku kira si orang tua takut dengan peraturan hukum?” teriak si orang berbaju hijau itu dengan suara berat.

Sembari berteriak dengan sangat lincah ia berkelit ke samping.

Lelaki tersebut sewaktu melihat kedua buah serangan beruntunnya kena dihindari oleh lelaki berbaju hijau tersebut, dalam hati merasa amat gusar, sepasang telapaknya diperkencang dan melancarkan serangan semakin gencar.

Terlihatlah sepasang kepalannya laksana curahan hujan dengan gencar mendesak pihak lawannya.

Tetapi gerakan tubuh lelaki berbaju hijau itu ternyata amat lincah, setiap serangan lelaki tersebut dengan indah dan seenaknya berhasil dihindari semua.

Hanya di dalam sekejap mata lelaki itu sudah melancarkan dua-tiga puluh jurus serangan, sebagian besar pukulannya hanya menyambar lewat setengah coen dari ujung jubah lelaki berbaju hijau itu.

Agaknya setiap kepalan yang dilancarkan bakal mengenai pada sasarannya, tetapi begitu kepalan mendekati sang tubuh, pihak musuh tahu-tahu serangannya telah mencapai pada sasaran yang kosong.

Sejak pertama kali tadi Phoa Ceng Yan sudah dapat melihat bila lelaki berbaju hijau itu sebenarnya memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, asal ia melancarkan serangan balas mungkin hanya di dalam satu jurus saja sudah cukup untuk menguasai lelaki tersebut. “Tahan!” mendadak terdengar Miauw It Tong membentak keras. “Jangan pamerkan kejelekanmu lagi.”

Lelaki itu beruntun melancarkan sepuluh jurus serangan tetapi tak satupun yang berhasil mengenai lawannya dalam hati ia mulai menyadari bila ini hari dia orang sudah menemui musuh tangguh, kini setelah mendengar suara bentakan dari Miauw It Tong buru-buru lelaki tersebut menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri ke belakang.

“Ooouw……kawan! Kau sudah bosan bergebrak?” jengek lelaki berjubah hijau itu kemudian sambil memandang sekejap ke arah lelaki tersebut.

Kala itu sebetulnya Phoa Ceng Yan sudah bersiap-siap hendak menerjang keluar dari kurungan Yen San Ngo Kui, tetapi setelah melihat si lelaki berlogat Su Tzuan ini ada maksud mencari gara-gara, segera iapun bersabar diri dan menekan rasa kuatir di hatinya untuk duduk kembali di tempat semula.

Kiranya, secara mendadak teringat olehnya walaupun Lie Giok Liong tidak berhasil menyelundup masuk ke dalam rumah makan tersebut tetapi paling sedikit sudah berada di depan rumah makan Yu It Coen tersebut, asalkan ia berhasil memperoleh sedikit kabar berita saja kemungkinan sekali ia bisa kembali ke rumah penginapan untuk melaporkan berita tersebut kepada diri Nyoo Su Jan.

Ketika itulah mendadak Miauw It Tong mengulapkan tangannya, dua orang lelaki kasar yang duduk di sisinya tiba-tiba meloncat bangun dan secara berbareng menghadang jalan pergi dari lelaki berbaju hijau itu.

Dari Yen San Ngo Kui, kecuali Loo-toa Miauw It Tong mempunyai perawakan kurus kering, sisanya berempat adalah lelaki-lelaki kasar berperawakan tinggi besar dengan wajah bengis.

Dua orang lelaki bengis yang menghadang perjalanan lelaki berjubah hijau pada saat ini bukan lain adalah Loo-ji si “Cioe Koe” atau setan arak Thio Hauw serta Loo Sam “Si Koei” atau setan perempuan Ong Peng dari antara Yen San Ngo Koei.

Si lelaki berbaju hijau itu dengan cepat menghentikan langkahnya dan memandang sekejap ke arah dua orang setan tersebut.

“Bagaimana? Kau orang juga kepingin berkelahi?” tegurnya sambil tertawa.

“Kawan! Lebih baik kau orang jangan berpura-pura gila dan menyaru seperti orang bodoh, di dalam sepasang mata aku Thio Jie-ya masih belum kemasukan pasir!” seru Si setan arak Thio Hauw dengan suara yang sangat dingin.

“Kau bangsat tua! Kepandaianmu tidak cetek juga, aku rasa tentunya kau adalah seorang jagoan yang mempunyai sedikir nama di dalam dunia kangouw” sambung Si setan perempuan Ong Peng melanjutkan kata-kata saudara angkatnya. “Manusia punya nama, pohon punya bayangan, kawan kalau betul-betul berani mencari gara-gara dengan kami Yen San Ngo Koei ada seharusnya melaporkan dulu siapakah namamu.”

Mendengar perkataan tersebut, si orang berbaju hihau itu segera menengadah ke atas tertawa terbahak-bahak.

Mendadak dengan menggunakan logat ibukota yang sangat cepat, ujarnya, “Kalian berdua lagi menanyakan nama besar cayhe?”

Mendengar nada ucapannya berubah bahkan sama sekali tidak kedengaran logat Su Tzuan-nya lagi tak terasa lagi Phoa Ceng Yan merasa hatinya rada bergerak, di dalam benaknya teringat akan seseorang.

“Telingamu tidak tuli, matamu tidak buta, kalau tidak bertanya padamu, apakah aku sedang bertanya dengan cucu kura-kura?” maki si setan arak Thio Hauw dengan murka.

“Ooouw……. ooouw……. kau berani memaki dengan kata-kata kotor…. bagus! Ingat saja dengan empat buah gaplokanku nanti.”

“Kawan! Sungguh besar sekali bacotmu!” seru si setan perempuan Ong Peng pula dengan kasar. “Apakah kau tidak takut ada angin utara yang menyambar putus lidahmu? Kami lima bersaudara dari gunung Yen San selamanya paling tidak takut cari gara-gara, tetapi selamanya paling pantang pula bergebrak melawan manusia-manusia yang tidak punya nama!”

“Ooouw….. nama cayhe? Ada sih ada, cuma saja kurang sedap jika didengar, kalau aku ucapkan keluar, harap kalian jangan marah-marah dan salahkan diriku yaaahhhh……”

“Sungai besar, samudra luas kami sudah melihatnya semua, dengan mengandalkan ilmumu yang tidak seberapa aku tidak percaya bila kaupun bisa memiliki sebuah nama yang mirip manusia…..” ejek si setan arak dengan dingin.

“Waah……. kau benar-benar sangat pandai kawan, sedikitpun tidak salah! Gelarku memang tidak akan ditakuti manusia tetapi bagi kaum setan, siluman, iblis atau manusia-manusia aneh yang mendengar tentu akan murung dibuatnya.”

Air muka si setan perempuan Ong Peng segera berubah hebat.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Kui Kian Chu (setan ketemu murung).

Untuk sementara waktu si setan arak Thio Hauw masih belum merasakan apa-apa, terdengar ia bergumam berulang kali.

“Kui Kian Cu……Kui Kian Cu…… Setan ketemu murung…….Haaa?”

Mendadak ia menggembor keras.

“Bajingan! Bangsat, kau sudah bosan hidup?”

Dengan jurus “Hwie Cu Cong Tiong” atau tongkat terbang menumbuk genta ia melancarkan sebuah hantaman dashyat menghajar dada lelaki berjubah hijau itu.

Kepalannya besar lagi kasar sudah tentu kekuatannya luar biasa mengejutkan, pukulannya ini segera menyambar kedepan disertai dengan deruan angin pukulan yang memekakkan telinga.

Si lelaki berbaju hijau itu segera maju satu langkah ke depan, kakinya berputar menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut.

Thio Hauw mengangkat tangan kirinya ke atas, pukulan kedua menyusul datang, sedang mulutnya berteriak keras.

“Coba kau rasakanlah bagaimana kedashyatan dari pukulan Thio Jie-yamu!”

Baru saja si orang berbaju hijau itu menyingkir ke samping, angin pukulan dari Thio Hauw yang maha dashyat sudah menyambar lewat dari sisinya.

Thio Hauw yang melihat pukulan tersebut akan mengenai tubuh orang berbaju hijau itu, menanti kepalannya hampir dekat dengan tubuh musuhnya mendadak ia menambahi dengan beberapa bagian tenaga lagi.

Oleh karena itu, sewaktu pukulannya mencapai pada sasaran yang kosong, Thio Hauw tak dapat mempertahankan tubuhnya lagi, sang badan jatuh terjengkang ke depan dan menumbuk tubuh orang berbaju hijau itu.

Sedang si orang berbaju hijau itupun sedang menyingkir ke sampind menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut, tak terhindar lagi pundak kirinya dengan tepat menyongsong kedatangan dada Thio Hauw sehingga tak bisa tercegah lagi terjadilah bentrokan yang amat keras.

Si baju hijau itu berteriak tertahan, tubuhnya menyingkir dua langkah ke samping, sebaliknya si setan arak Thio Hauw sudah mencekal dadanya berturut-turut mundur lima enam langkah ke depan dan tepat menubruk di atas Phoa Ceng Yan.

Phoa Ceng Yan segera menggerakkan tangan kanannya menerima jatuhnya tubuh Thio Hauw.

“Eeei, Thio Jie-ya, kau sudah kena kuhantam?” jengeknya dingin.

Waktu itu saking sakitnya Thio Hauw sudah tak bisa bicara lagi, tak kuasa lagi ia muntahkan darah segar.

Sewaktu Phoa Ceng Yan melihat Thio Hauw sudah menderita luka yang parah, ia tidak mengeluarkan kata-kata ejekan lagi, dengan cepat dibimbingnya tubuh Thio Hauw untuk dipersilahkan duduk di atas kursi.

“Phoa-heng! Kau orangkah yang sudah turun tangan menghajar dirinya?” Mendadak Miauw It Tong bangun berdiri sambil mendengus dingin.

Phoa Ceng Yang menggeleng dan mendengarkan suara tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee…..heee……heee…….menurut pandangan Miauw-heng, apakah aku orang she Phoa mirip dengan manusia rendah ahli membokong orang lain??” jengkelnya.

Harus diketahui Phoa Ceng Yan memiliki julukan si pukulan besi yang menggetarkan seluruh dunia persilatan, di dalam permainan telapak tangannya sudah tentu memiliki kesempurnaan yang luar biasa.

Miauw It Tong yang melihat dia orang membimbing tubuh Thio Hauw, lantas saudaranya muntah darah segar di dalam anggapan-nya Phoa Ceng Yan lah yang secara diam-diam sudah kerahkan hawa murni menghajar muka Thio Hauw.

Terdengar si setan arak Thio Hauw menghembuskan napas panjang dua kali, lalu dengan nada terputus-putus serunya, “Luka….lukaku aaada diii….didepan dada…..!”

Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, kembali ia muntahkan darah segar.

Ketika itulah Miauw It  Tong baru mengerti bila dirinya sudah menganggap kucing sebagai anjing, tak terasa lagi dengan wajah merah padam ia menoleh dan memandang sekejap ke arah lelaki berjubah hijau itu.

“Kawan! Sungguh bagus sekali perbuatanmu “ tegurnya ketus.”Aku orang she Miauw hampir-hampir saja salah melihat.”

Tangan kanan si lelaki berjubah hijau itu tetap diletakkan di atas pundak kirinya, ia tertawa.

“Bila punya cengli maka mengembara ke seluruh kolong langitpun bisa, tetapi jika tidak punya cengli untuk melangkah setengah coenpun susah, sejak siauw-te naik ke atas loteng belum pernah turun tangan terhadap siapa-pun,” katanya perlahan. “Adalah saudaramu sendiri yang menerjang pundakku secara kasar, hal ini bagaimana bisa salahkan cayhe?”

Sembari berkata iapun melangkah maju menuju ke arah meja persegi tersebut.

Walau si setan perempuan Ong Peng dapat melihat si setan arak Thio Hauw menderita luka parah, tetapi ia mempunyai pandangan yang sama seperti Miauw It Tong, di dalam perasaannya saudara mereka adalah terluka di tangan si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan, tetapi sama sekali tak terduga olehnya bila saudaranya itu terluka karena tubrukan dengan pundak lelaki berbaju hijau itu.

Kiranya si setan arak Thio Hauw memiliki kepandaian ilmu kebal, walaupun belum sampai taraf tidak mempan terhadap segala tusukan senjata tajam, tetapi bilamana cuma ada tenaga pukulan seberat tiga-lima ratus kati saja jangan harap bisa melukai dirinya hanya di dalam sekali pukulan.

Si lelaki berbaju hijau ini sama sekali tidak menarik perhatian, bagaimana mungkin dia orang bisa berhasil memukul luka diri Thio Hauw?

Selesai mendengar penjelasan dari peristiwa bariuan ini, mendadak dari sebuah tabung bambu Ong Peng mencabut keluar sebuah senjata tri sula, tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia segera bertindak mendekati diri lelaki berbaju hijau itu.

Si setan perempuan Ong Peng bukan saja sangat gemar dengan perempuan, bahkan diantara Yen San Ngo Koei dialah yang paling licik dan paling kejam.

Kini dengan senjata tri sula diangkat tinggi-tinggi dan sedikitpun tidak menimnulkan suara perlahan-lahan ia berjalan mendekat tubuh lelaki berbaju hijau itu kemudian melancarkan tusukan ke atas punggung musuhnya.

Dengan menimbulkan suara desiran tajam trisula di atas tangannya segera melesat ke atas ujung baju lelaki berbaju hijau itu.

Di dalam anggapannya serangan tersebut pasti akan menemui sasarannya atau paling sedikit musuhnya pasti akan menderita luka.

Siapa sangka tenaga yang digunakan terlalu besar, apalagi lelaki berbaju hijau itupun dengan sebat dan gesit sekali menghindarkan diri ke samping.

Kiranya sewaktu senjata trisula itu hampir mengenai badan si lelaki berbaju hijau itulah, mendadak orang itu sambil memegang perutnya menjerit kesakitan dan menjatuhkan diri ke arah depan.

Si setan perempuan Ong Peng tak dapat menahan diri lagi. Senjata trisulanya dengan menimbulkan suara berisik menghajar tepat di atas piring sayur sehingga membuat benda tersebut hancur lebur, kuah berminyak muncrat ke empat penjuru membasahi seluruh wajahnya.

Phoa Ceng Yan serta Miauw It Tong pada saat yang bersamaan dengan menggunakan gerakan yang tercepat mencelat ke samping, hindarkan diri dari cipratan kuah minyak tadi.

Si setan arak Thio Hauw yang sedang menderita luka berat tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, tak terhindar lagi seluruh tubuhnya dibasahi dengan berminyak tersebut.

Walaupun Phoa Ceng Yan mencelat ke belakang sejauh lima depa, tetapi selama ini sepasang matanya dengan memancarkan cahaya tajam memperhatikan terus diri si lelaki berbaju hijau itu.

Terlihat tubuh si lelaki berbaju hijau hampir jatuh mengenai tanhah itu, mendadak busungkan dada, angkat kepala, tangan tidak menempel tanah, badan tidak pinjam tenaga dengan menggunakan kekuatan sewaktu mendongakkan kepalanya itulah ia berhasil menegakkan badannya kembali.

Ong Peng yang melihat serangan senjata trisulanya tidak mencapai pada sasaran, dengan tangan kiri mengusap kering kuah pada minyak yang mengotori wajah dan senjata trisula di tangan kanan berputar, sekali lagi ia melancarkan tusukan ke arah dada lelaki berbaju hijau itu.

“Heee……heeee…..heee…… agaknya kau orang sebelum melihat peti mati tak akan mengucurkan air mata, sebelum tiba di sungai Huang Hoo belum puas!” seru lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Di tengah suara peembicaraan, tangan kirinya mendadak diangkat ke atas mencengkeram pergelangan tangan kanan Ong Peng.

Di mana hawa murninya disalurkan melalui sang telapak, Ong Peng kontan merasakan separuh badannya jadi kaku, kelima jari tangannya mengendor dan senjata trisula dalam cekalannya tak tertahan lagi jatuh ke atas tanah.

Si setan harta Lie Tan serta si setan nafsu Cau San sewaktu melihat si setan arak serta si setan perempuan yang satu terluka parah dan yang lain kena ditawan oleh pihak musuh, dalam hati benar-benar merasa terperanjat bercampur gusar, diam-diam pikirnya di dalam hati.

“Bangsat cilik yang tidak diketahui nama serta asal-usulnya ini, tidak disangka sedemikian lihaynya?”

Agaknya di dalam hati mereka berdua mempunyai maksud yang sama, mendadak diiringi suara bentakan yang keras kedua orang itu secara berbareng menubruk ke arah lelaki berbaju hijau itu.

Lelaki berbaju hijau itu mendengus dingin, dengan sekuat tenaga ia menarik badan setan perempuan Ong Peng ke arah depan menghadang datangnya tubrukan dari si setan harta Lie Tan.

Gerakan dari Lie Tan dilakukan sangat cepat dan ganas, penarikan tubuh Ong Peng yang dilakukan lelaki berbaju hijau itupun tepat pada saatnya, si setan perempua tak bisa menahan dirinya lagi tanpa terasa lagi tubuhnya menubruk ke arah Lie Tan.

Si setan harta Lie Tan sewaktu melihat berkelebatnya bayangan tubuh Ong Peng menyambut tubrukannya, dalam hati merasa sangat terperanjat sekali, cuma sayang untuk mengerem tindakannya sudah tidak sempat lagi.

“Braaak…..!” tak terhindar lagi mereka berdua saling bertubrukan dengan kerasnya.

Lie Tan mendengus berat, tubuhnya kena terpukul mundur tiga langkah ke belakang sebaliknya persendian serta tulang iga Ong Peng  kena ketubruk patah sehingga ia harus menyekal pinggangnya sambil mengerang-ngerang kesakitan.

Seluruh peristiwa ini terjadi hanya di dalam sekejap mata saja, sewaktu lelaki berbaju hijau itu menggunakan badan Ong Peng untuk menahan tubrukan dari Lie Tan, telapak tangan kanannya pada saat yang bersamaan mengirim pula satu pukulan ke depan.

Serangan telapak ini kelihatannya sama sekali tidak aneh, justru kelihayannya terletak pada ketepatan waktu.

Cau San ingin menghindarkan diri dari serangan tersebut agaknya tidak sempat lagi melihat angin pukulan sudah menyambar datang, terpaksa dengan keraskan kepala ia menubruk ke atas telapak musuh dengan keras.

“Plaaak……! Dengan menimbulkan suara keras, tubuh Cau San yang semula bergerak maju dengan sangat tepat menubruk di atas telapak tangan lelaki berbaju hijau itu.

Lelaki itu tidak bodoh, begitu tubuh si setan nafsu menubruk datang, hawa murninya segera dikerahkan keluar, terasalah segulung daya pental yang amat keras dengan cepat melemparkan badannya ke belakang.

Sebetulnya ketika itu si setan nafsu Cau San sedang berlari menerjang ke depan, setelaj termakan daya pental tadi, tak kuasa lagi badannya mencelat ke belakang sehingga tubuhnya berjumpalitan.

Melihat saudaranya kembali dipukul sehingga mencelat ke belakang, Miauw It Tong segera maju ke depan menerima jatuhnya tubuh Cau San.

“Heee……heee……heee……kawan, sungguh dashyat tanaga dalammu” jengeknya perlahan.

Kiranya, kendati Miauw It Tong berhasil menerima jatuhnya badan Cau San, tetapi badannya tidak utung kena terpukul mundur juga sehingga melangkah ke arah belakang sebanyak tiga tindak dengan sempoyongan.

“Hmmmmm…..! Kalian beberapa orang budak buta yang tak tahu diri, memang sepatutnya aku kasih sedikit hajaran kepada kalian agar kamu semua tahu jika jago-jago lihay di dalam dunia kangouw sangat banyak jumlahnya, lain kali janganlah coba-coba main gertak dan cari menang sendiri!” seru lelaki berbaju hijau itu dingin.

Miauw It Tog bukan saja namanya tercantum sebagai loo-toa di dalam deretan Yen San Ngo Koei bahkan ilmu silatnya-pun jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dari empat setan lainnya, sesudah melihat kejadian tadi, ia lantas mengerti bila kepandaian silat yang dimiliki lelaki berbaju hijau ini telah berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan, sekalipun ia sendiri majupun hanya sia-sia belaka.

Dasar sifatnya memang licik, pintar dan banyak akal. Sesudah merasa bila posisinya tidak menguntungkan dengan paksakan diri menahan rasa murka di dalam dadanya ia berkata, “Salah aku sendiri punya mata tak berbiji sehingga tidak mengenal kau sebagai seorang jagoan lihay, hal ini tak bisa salahkan kawan telah memberi sedikit hajaran kepada mereka.”

“Haaa……haaa……haaa….. Khek loo ci, begitulah baru mirip perkataan seorang manusia!” teriak lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa terbahak-bahak, sedang lagaknyapun telah kembali dengan menggunakan logat daerah Su TZuan.

Perlahan-lahan Miauw It Tong menghembuskan napas panjang.

“Manusia meninggalkan nama, burung meninggalkan suara, kawan! Mengapa kau orang tidak tinggalkan dulu nama besarmu!” ujarnya.

Lelaki berbaju hijau itu sama sekali tidak mengubris terhadap perkataan tersebut, ia segera duduk kembali mengangkat cawan arak dan dan berturut-turut meneguk sebanyak tiga cawan besar.

Pada mulanya si setan arak, perempuan, harta serta nafsi berempat tak dapat menahan rasa gusar di hatinya melihat kecongkakan orang itu, tetapi setelah kejadian barusan mereka baru merasa bila mereka berempat telah menemui jagoan lihay yang selama ini belum pernah ditemuinya. Akhirnya dengan menahan rasa sakit mereka pada bungkam diam dalam seribu bahasa.

Kembali Miauw It TOng mendehem perlahan, “Kawan, siaw-tee ingin minta petunjuk nama besar dari saudara…” katanya.

Lelaki berbaju hijau itu tetap tidak mengubris dan pura-pura tidak mendengar bahkan kepalanya tidak menoleh, matanya tidak berputar, ia hanya repot dengan araknya saja.

“Ehmmm…..! Kedatangan lelaki berbaju hijau ini sungguh aneh sekali,” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan di dalam hati.”Agaknya ia sengaja ada maksud hendak mencari gara-gara dengan mereka, sebetulnya apa maksud yang sebetulnya?”

Berpikir akan hal itu, perlahan-lahan ia-pun sambil duduk ditempatnya semula.

“Heee……heee…..heee…… ada pepatah mengatakan tiada perjamuan merupakan suatu perjamuan baik. Kawan! Kau orang tidak takut bila di dalam arak tersebut sudah kami campur dengan racun?” teriak Miauw It Tong sambil tertawa seram.

“Apa kau kata?” mendadak lelaki berbaju hijau itu meletakkan poci araknya ke atas meja.

“Cayhe berkata kalau arak tersebut dicampuri dengan racun!”

“Racun apa?”

“Racun apa? oouuw…… sungguh maaf sekali! Cayhe sendiripun tidak paham racun apakah itu, yang jelas di dalam arak tersebut sudah dicampuri racun.”

“Heee……heee…..heee…… tentu kau sendirilah yang bertindak sebagai pentolan Yen San Ngo Koei?” jengek lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.

“Sedikitpun tidak salah, cayhe she Miauw bernama It Tong, entah kawan mempunyai petunjuk apa?”

“Badan setan ekor-ekor setan! Semuanya pentang cakar unjuk gigi, kelihatannya kau sebagai kepala setan masih bisa menahan sabar.”

“Maksud kawan…….?” air muka Miauw It Tong kontan berubah hebat.

“Kau kira aku tidak paham dengan siasat setan dari kepala setan otak setan kalian?”

“Apa maksud perkataanmu itu?”

“Aku dengar orang berkata bahwa si kepala setan memiliki kepandaian silat yang jauh hebat dari beberapa orang setan-setan yang menjadi ekornyam tidak kusangka kaupun memiliki kelicikan yang jauh melebihi setan-setan ekor lainnya….”

Mendadak ia putar batok kepalanya, dengan dua rentetan cahaya mata yang dingin dan tajam ia melototi wajah Miauw It Tong dalam-dalam, sambungnya dengan nada sangat dingin.

“Kau adalah seekor kadak buduk yang ingin bersembunyi dari sinar matahari, bisa meloloskan diri satu detik, berusaha keras untuk mendapatkan satu detik, heee……heee……cuma saja kau jangan kuatir!”

Begitu perkataan tersebut selesai diucapkan, Miauw It Tong segera merasakan ghatinya tergetar sangat keras, tetapi di atas paras mukanya masih mempertahankan ketenangan.

“Cayhe mempunyai urusan apa yang patut dikuatirkan,” katanya perlahan.

“Kau sedang mengulur waktu untuk menanti kedatangan majikan kalian si kongcu tukan foya-foya Ke Giok Lang!”

Sekali lagi Miauw It Tong merasakan hatinya tergetar sangat keras.

“Saudara adalah ………”

“Perkataan dari Khek Loo-ci tidak salah bukan!” potong lelaki berbaju hijau itu dengan cepat. “Kau bangsat cilik diam-diam punya maksud tidak baik, heee…..heee……sebetulnya jika aku kepingin membereskan kalian Yen San Ngo Koei sangat gampang sekali seperti membalik tangan sendiri, cuma ……..”

Belum habis ia menyelesaikan perkataannya, mendadak terdengarlah suara tertawa terbahak-bahak yang amat keras memotong pembicaraan lelaki berbaju hijau yang belum selesai diucapkan itu.

Ketika semua orang menoleh ke arah mana berasalnya suara tertawa itu, terlihatlah di depan mulut loteng muncullah seorang pemuda tampan yang memakai topi model siangkong, memakai jubah berwarna biru, tangannya mencekal sebuah kipas, wajah putih halus dan berbibir merah seperti memakai gincu.

Melihat munculnya pemuda itu si lelaki berbaju hijau itu segera mengebrakkan tangannya ke atas meja sehingga membuat teko arak, cawan, mangkok serta piring-piring sayur tergetar keras dan beterbangan di tengah udara.

“Ke Giok Lang, loohu sudah mengejar dirimu selama setengah tahun lamanya….”

“Ooouw…. aku kira siapa, tidak nyana adalah Tui Hong Hiap atau si pendekar pengejar anging yang memiliki nama besar di dalam dunia kangouw,” potong Ke Giok Lang sambil mengulapkan tangannya.

Mendengar disebutnya nama tersebut, Miauw It Tong kontan merasakan hatinya tergetar sangat keras.

“Tidak nyana si bangsat cilik yang berwajah biasa dan sama sekali tidak menarik ini adalah si pendekar pengejar angin yang amat terkenal itu.” pikirnya diam-diam dalam hati. “Masih beruntung aku bisa menahan sabar, kalau sampai aku orang turun tangan mungkin dirikupun tak akan terhindar dan bakal menderita rasa malu pula.”

Terdengarlah pada waktu itu si pendekar pengejar angin dengan nada dingin sedang berseru, “Ke Giok Lang! Kau sudah menculik pergi keponakan perempuanku kemana?”

“Aduuh……..aduuh…… sungguh tidak enak sekali perkataanmu itu jika didengar, selama ini cayhe belum pernah menculik atau membawa lari perempuan orang-orang baik…..” seru si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang sambil melangkah maju ke depan dan tertawa menyengir.

Ia merandek sejenak, setelah membentangkan kipasnya lebar-lebar kembali sambungnya lagi.

“Heeei…! Bilamana bukannya mereka yang memohon-mohon dengan begitu mengenaskan akupun tidak ingin membawa mereka pergi.”

“Eeei…. Kau jangan coba melamuri aku sedang menanyakan keponakan perempuan cayhe, ia masih hidup atau sudah mati?? sekarang ada di mana?”

“Haaaa……haaa……….haaa………….siapakah nama dari keponakan perempuan itu? Apakah kaupun tahu?” ejek Ke Giok Lang lagi sambil tertawa geli.

Saking khekinya air muka si pendekar pengejar angin berubah hebat.

“Ke Giok Lang! Kau cucu kura-kura jangan membuat aku si orang tua jadi gusar haaa! Kalau tidak ….heee…..heee….. jangan salahkan aku orang hendak memaki dirimu dengan menggunakan logat tiga belas daerah!”

(Bersambung Jilid Ke 6)

 

Jilid Ke 6

Ke Giok Lang sambil mengoyangkan kipasnya mengerutkan alis rapat-rapat.

“Kau jangan coba-coba mengucapkan kata-kata kurang sedap tentang diriku!” katanya tak mau kalah. “Kalau tidak penjelasan ini akan kubatalkan dan Kongcuya segera akan pergi meninggalkan tempat ini.”

Mendengar ancaman tersebut, si pendekar pengejar angin terdesak, terpaksa katanya sambil menahan sabar.

“Keponakan perempuan saya bernama Hoo Lian Hoa!” katanya pelan.

Si Kongcu tukan foya-foya Ke Giok Lang mengeluarkan napas panjang panjang.

“Wanita simpanan cayhe sebetulnya tidak sedikit jumlahnya, jikalau kau tidak mengucapkan namanya, bagaimana bisa kuingat kembali?”

“Sekarang kamu boleh katakan!” dengus si pendekar pengejar angin dingin.

“Mengenai berita yang dapat aku sampaikan pada Chin-heng adalah nona Hoo lian Hoa masih hidup di dalam kolong langit.”

“Sekarang dia ada dimana??”

Ke Giok Lang segera tersenyum.

“Cayhe mohon maaf! Soal ini cayhe tak dapat terangkan kepadamu!”

“Kalau begitu terpaksa cayhe harus turun tangan mendesak dirimu sampai suka berbicara!” bentak si pendekar pengejar angin dengan gusar.

“Menurut pandangan Chin-heng, apakah kau orang pasti akan berhasil menangkan diriku?”

“Sekalipun aku orang she Chin tidak berhasil menangkan dirimu, untuk kalahpun tidak mungkin, kau boleh mulai ajukan syaratmu kau ingin aku berbuat apa baru suka menjelaskan dimanakah Hoo Lian Hoa sekang berada?”

“Pertama-tama yang cayhe tidak pahami adalah nona Hoo Lian Hoa itu she Hoo, sedang kau she Chin, mengapa Chin-heng boleh membahasahi dirinya segagai keponakan perempuan?” Ujar Ke Giok Lang sambil tertawa.

“Hoa-hoa Kongcu! Kau sungguh tidak tahu ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya?” teriak Tui Hong Hiap dengan sangat marah.

“Haaa…..haaa…..haaa…. jika aku katakan aku orang sama sekali tidak tahu, mungkin kau Chin-heng bakal tidak percaya, tetapi pengetahuan siauw-tee ada batasnya, aku ingin lebih mengetahui apakah hubungan yang sebetulnya antara Chin Heng dengan nona Hoo Lian Hoa?”

“Urusan ini gampang sekali, ayah Hoo Lian Hoa adalah saudara angkatku”.

Sekali lagi Ke Giok Lang tertawa.

“Si pancing sakti Hoo Tong pun merupakan seorang jagoan lihay yang mempunyai nama besar di dalam dunia kangouw, ia kehilangan putrinya bukan pergi mencari sendiri sebaliknya malah menyuruh Chin-heng mewakili dirinya pergi menemukan kembali putrinya, berita ini bilamana di kemudian hari tersebar di dalam dunia kangouw, apakah tidak takut ditertawakan orang-orang sehingga gigi-pun pada terlepas semua?” ejeknya.

“Hoo Toa-ko ku sama sekali tidak memerintahkan diriku untuk pergi mencari dapat putrinya yang hilang…..”

“Kalau begitu tindakan Chin-heng di dalam pencarian jejak nona Hoo Lian Hoa adalah berdasarkan maksud diri sendiri,” sambung Ke Giok Lang tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya.

“Sedikitpun tidak salah, hal ini memang maksud aku orang she Chin sendiri….”

Nadanya mendadak berubah, dengan suara yang amat dingin sambungnya lebih lanjut, “Orang lain mungkin takut dengan kau si “Hoa-Hoa Kongcu” Ke Giok Lang, tetapi aku orang she Chin tidak bakal jeri, ini hari kau sudah mengakui bahwa Hoo Lian Hoa adalah kau yang culik pergi, maka ini hari juga aku hendak memaksa kau orang untuk menyerahkan kembali nona itu kepadaku”.

“Jika siauw-tee tidak mau serahkan kembali kepadamu?” ejek Ke Giok Lang lebih lanjut.

“Kalau begitu, ini hari kita harus bergeb rak sehingga salah satu di antara kita ada yang kalah dan ada yang menang.”

“ooo….. kepingin berkelahi?”

“Jika tak ada cara lainnya lagi yang bisa digunakan, terpaksa aku orang she Chin harus minta beberapa petunjuk dari kepandaian silatmu yang lihay itu.”

“Persoalan diantara kita mudah dibicarakan, mau berkelahi atau mau damai, pokoknya suatu jalan keluar masih mudah didapatkan……”

Berbicara sampai di situ, sinar matanya lantas dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan.

“Saudara ini tentunya Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bukan?”

“Tidak berani, tidak berani, cayhe Phoa Ceng Yan!” buru-buru si orang tua itu merangkap tangannya menjura.

“Nyoo Su Jan beserta anak buahmu lainnya baru saja titip pesan kepada cayhe agar supaya suka menyampaikan kepada Phoa-heng bahwa sekarang mereka menanti kembalinya Phoa Hu Cong Piauw-tauw ke rumah penginapan.”

“Aaaakh….! Ke Kongcu sudah bertemu dengan Nyoo Piauw-tauw kami?” seru Phoa Ceng Yan sambil melompat bangun.

“Sedikitpun tidak salah, cayhe bukan saja sudah mengunjungi rumah penginapan yang didiami kalian, bahkan sudah bertemu pula dengan nona Liauw.”

Mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya berdebar-debar sangat keras, tetapi di luaran paras mukanya masih tetap tenang.

“Ke-heng! Kaupun sudah bertemu dengan Liauw Thayjien?” tanyanya.

“Selama ini siauw-tee paling tidak suka berhubungan dengan orang-orang laki, terutama lelaki yang berasal dari kaum pembesar negeri….” sahut Ke Giok Lang sambil menggeleng.

Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak sambungnya kembali.

“Cayhe dengan nona Liauw dapat bercakap dengan sangat baik sekali, jikalau nona Liauw tidak menipu diriku maka namanya adalah Liauw Wan Jie, bukan begitu?”

Phoa Ceng Yan pernah mendengar Liauw Hujin memanggil putrinya dengan sebutan Liauw Wan Jie, ia lantas mengerti bila apa yang diucapkan oleh kongcu ini sedikitpun tidak salah.

Tak terasa lagi dalam hati si orang tua ini mulai merasa amat terperanjat pikirnya,”Jikalau nona Liauw sampai mendapat malu karena dirinya, bukankah merek emas dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok akan hancur di tangan aku orang she Phoa??? jika sampai terjadi peristiwa ini, aku mana punya muka lagi untuk menemui Cong Piauw-tauw?? lebih baik aku melakukan suatu pertempuran mati-matian saja di dalam rumah makan Yu It Cun ini untuk membasmi mereka daripada harus hidup menanggung rasa malu.”

Setelah di dalam hati mengambil keputusan, nyalinya semakin besar.

“Heee……heee…… penyakit nona Liauw sangat hebat sekali!” serunya dingin.

“Sedikitpun tidak salah, bukan saja cayhe sudah tolong periksakan urat nadinya bahkan akupun telah menghadiahkan sebutir pil penyembuh sakit,” kata Ke Giok Lang lantang. “Sewaktu cayhe hendak meninggalkan rumah penginapan itu, kelihatannya sakit yang ia derita sudah rada ringan.”

“Ehmmm! Nama besar Ke Kongcu sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw, kedatanganmu mengunjungi rumah penginapan yang kami diami tentu bukan tanpa sebab bukan???”

“Perkataan dair Phoa-heng sedikitpun tidak salah” sahut Ke Giok Lang sambil tertawa. “Jika tak ada urusan, cayhepun tak bakal mendatangi kota Si Sian Jan yang sunyi dan terpencil ini.”

“Kedatangan Ke Kongcu ke tempat ini mungkin ada sedikit sangkut paut dengan perusahaan kami?”

“Betul, betul………justru dikarenakan barang kawalan dari perusahaan kalian itu, cuma..”

“Cuma bagaimana??” potong Phoa Ceng Yan tidak sabaran.

“Cuma, kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw boleh berlega hati, kemungkinan sekali barang kawalan dari perusahaan kalian tak bakal ada orang yang berani mengganggu lagi.”

Mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya rada bergerak, pikirnya diam-diam.

“Apakah nona Liauw sudah memperlihatkan ilmu silatnya yang sangat lihay sehingga membuat iblis besar yang telah menggetarkan seluruh dunia kangouw ini jadi jeri dan tarik kembali maksud tujuannya…”

“Maksud Ke Kongcu……..” sengaja serunya.

“Terang-terangan Phoa-heng sudah mengetahui jelas, mengapa kau harus ajukan pertanyaan ini lagi?” potong si Kongcu tukang foya-foya tidak menanti si orang tua itu menyelesaikan kata-katanya.

“Aku orang she Phoa sungguh-sungguh merasa kurang paham, masih mengharapkan Ke Kongcu suka memberi penjelasan di dalam persoalan ini.”

“Bilamana Kongcu-ya mu tidak berani mengganggu barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian, aku rasa di kolong langit pada saat ini tak mungkin bisa ditemukan beberapa orang yang berani turun tangan membegal barang-barang kawalan kalian, cuma saja Kongcu-ya mu terlebih dahulu hendak menjelaskan satu persoalan kepada-mu. Kali ini aku orang she Ke tidak sampai membegal barang-barang kawalanmu bukan-nya disebabkan aku menaruh perasaan jeri terhadap perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian.”

Phoa Ceng Yan tertawa tawar.

“Peduli dikarenakan persoalan apa, yang jelas kali ini Ke Kongcu suka lepas tangan terhadap barang-barang kawalan perusahaan kami, cayhe sudah merasa sangat berterima kasih sekali,” katanya.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Kau bole berlalu terlebih dulu,” ujar Ke Giok Lang kemudian sambil melirik sekejap ke arah si pendekar pengejar angin. “Cayhe dengan saudara Chin ini masih ada sedikit persoalan yang hendak diselesaikan.”

Phoa Ceng Yan segera bangun berdiri sambil menjura. “Cyhe lebih baik menurut perintah saja, aku orang she Phoa berangkat satu langkah terlebih dulu.”

“Aku orang she Chin tidak menghantar lebih jauh,” si pendekar pengejar angin menjura.

“Terima kasih……..terima kasih. Cayhe tidak berani mengganggu dan merepotkan Chin taihiap”

Perlahan-lahan si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang bangun meninggalkan tempat duduknya.

“Sewaktu bertemu dengan Nyoo Piauw-tauw, suka mewakili cayhe mintakan maaf kepadanya, tadi aku orang sudah turun tangan terlalu berat terhadap dirinya.”

“Asalkan Ke Kongcu tidak sampai membuat mereka jadi cacad seumur hidup, seluruh urusan biar aku orang she Phoa yang tanggung.”

Ke Giok Lang kembali tersenyum.

“Aku orang she Ke paling banyak mengikat permusuhan di dalam dunia kangouw, ditambah lagi dengan beberapa orang musuhpun tidak akan memikirkan di hati, cuma saja cayhe tidak ingin membuat dosa terhadap nona Liauw,” katanya.

Phoa Ceng Yan mendehem perlahan.

“Cayhe mohon diri dulu!” serunya kemudian.

Ia lantas putar badan dan dengan langkah lebar berjalan menuruni loteng tersebut.

Setelah keluar dari pintu rumah makan Yu It Cun, seorang lelaki berjenggot panjang dengan langkah lebar menyongsong kedatangan-nya.

“Paman Jie-siok.” tegurnya dengan suara yang lirih. “Aku adalah Giok Liong, penjagaan di pintu rumah makan Yu It Cun sangat ketat, siauw-tit tidak berhasil menyelundup masuk!”

“Kau tidak usah pergi lagi, mari kita sama-sama kembali ke rumah penginapan.”

Kendati dari mulut si “Hoa Hoa Kongcu” Ke Giok Lang, si telapak besi bergelang emas Phoa Ceng Yan telah mengetahui jika Nyoo Su Jan hanya menemui kekagetan saja tanpa mendapatkan cedera apapun, tetap ia masih merasa tidak berlega hati.

Dengan membawa Lie Giok Liong dengan langkah tergesa-gesa ia kembali ke dalam rumah penginapan dan langsung menuju ke ruang belakang.

Terlihatlah Nyoo Su Jan serta Ih Coen pada waktu itu sedang bercakap-cakap di dalam ruangan.

Mereka berdua begitu melihat munculnya Phoa Ceng Yan, dengan cepat berjalan menyongsong.

Ih Coen setelah menyapa dan memberi hormat, lantas menyingkir ke samping, sebaliknya Nyoo Su Jan melanjutkan kata-katanya.

“Jie-ya! Tadi si Hoa-Hoa Kongcu Ke Giopk Lang sudah datang berkunjung kemari.”

“Ehmmm…..! Aku sudah tahu.” potong Phoa Ceng Yan dengan cepat. “Apakah dari pihak keluarga Liauw menderita kerugian? Di antara orang-orang kita adakah orang-orang yang menderita luka atau menemui ajalnya.”

“Heeei…. jika diceritakan sungguh memalukan sekali, hamba yang bergebrak tidak sampai tiga jurus melawan Ke Giok Lang sudah berhasil kena ditotok rubuh. Thio Piauw-tauw beserta beberapa orang anak buah kena tertotok jalan darahnya oleh babatan kipasnya, keadaan yang sejelasnya hamba tidak melihat sendiri, menurut laporang dari Liauw Thayjien katanya mereka sama sekali tidak menderita kerugian apapun.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan menengadah ke atas dan menghembuskan napas panjang.

“Su Jan! Di dalam pengawalan barang kali ini, boleh dikata kita sudah kehilangan muka, sama baik perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang diperjuangkan selama puluhan tahun lamanya sudah menemui kehancuran di tangan kita….”

Ia merandek sejenak,lalu sambungnya lagi, “Suruh mereka melakukan persiapan, sore ini juga kita akan segera berangkat, lebih baik cepat-cepat kita hantar barang kawalanini sampai ke kota Kay Hong, setelah itu aku akan minta maaf dan mengundurkan diri dari jabatan di hadapan COng Piauw-tauw.”

“Jie-ya, kau tidak usah marah-marah.” hibur Nyoo Su Jan dengan suara yang sangat lirih. “Si kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang merupakan seorang jago kenamaan yang telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, sekalipun Cong Piauw-tauw turun tangan sendiri mengawal barang-barang inipun akan bernasib sama saja….”

Ia mendehem perlahan dan memotong perkataannya sampai disitu, setelah termenung sebentar lalu sambungnya lagi, “Cuma saja, dengan kedatangan dari Ke Giok Lang kali ini kita berhasil membuktikan hal-hal yang mencurigakan Jie-ya selama ini….”

“Urusan apa?”

“Nona Liauw itu bukan saja merupakan seorang pendekar yang memiliki kepandaian ilmu silat sangat tinggi, bahkan mempunyai kecerdasan yang melebihi orang lain dan mempunyai banyak akal, seorang anak buah kita telah berhasil melihat Hoa Hoa Kongcu memasuki kamar nona Liauw tetapi sebentar kemudian sudah mengundurkan diri dari tempat sana bahkan turun tangan membebaskan jalan darah kami yang tertotok”.

“Anak buah kita itu apakah tidak salah melihat?” seru Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar.

“Tidak bakal salah melihat! Di dalam halaman bersegi empat ini seluruhnya terdapat beberapa buah kamar, anak buah kita itu sedang menderita luka dan beristirahat di dalam kamar, tempat pembaringan tepat terletak berhadap-hadapan dengan jendela kamar seberang di mana didiami oleh nona Liauw. Aku sudah menanyai dirinya dua tiga kali, jawaban-nya adalah sama.”

“Coen-jie, coba kau panggil anak buah kita itu dan suruh datang ke kamarku, aku hendak tanyai dirinya.” ujar Phoa Ceng Yan kemudian sambil menoleh ke arah Ih Piauw-tauw.

“Bagaimana kalau saya saja yang membawa-nya ke tempat Jie-ya?” tanya Nyoo Su Jan perlahan.

Phoa Ceng Yan mengangguk perlahan, ia lantas kembali ke dalam kamarnya, mengambil handuk, baskom air lantas mencuci muka.

Tidak selang lama kemudian, terlihatlah Nyoo Su Jan dengan memayang seorang lelaki berjalan masuk ke dalam kamar.

“Kau melihat dengan mata kepala sendiri Ke Giok Lang memasuki kamar nona  Liauw?” tanya Phoa Ceng Yan kemudian sambil mengusap keringat butiran air di atas wajahnya.

“Sedikitpun tidak salah!” sahut lelaku itu dengan amat hormatnya sambil mengangguk. “Hamba melihat dengan mata kepala sendiri Ke Giok Lang memasuki kamar tidur nona Liauw. ketika itu Liauw Hujin serta dayangnya-pun ada di dalam kamar.”

“Akhirnya?” tanya si telapak besi bergelang emas lebih lanjut.

“Setelah Ke Giok Lang masuk ke dalam kamar itu beberapa saat lamanya ia lantas mengundurkan diri kembali, bagaimana selanjutnya hamba lantas tidak tahu.”

“Ehmmm…..kau boleh kembali ke dalam kamarmu untuk beristirahat!”

Dengan sangat hormat lelaki itu menjura, kemudian sambil menoleh ke arah Nyoo Su Jan katanya, “Hamba bisa berjalan sendiri, Nyoo Piauw-tauw tidak usah susah-susah membimbing diriku lagi.”

“Kalau begitu kau jalanlah perlahan-lahan.” bisik Nyoo Su Jan sambil membimbing ia hingga sampai di depan pintu kamar.

Setelah menutup pintu kamar, dengan suara yang amat lirih kembali ujarnya kepada Phoa Ceng Yan.

“Walaupun jalan darah hamba kena tertotok, tetapi kesadaran serta pikiranku masih jernih, didalam ingatanku kepergian Ke Giok Lang ke dalam kamar tersebut sangat cepat sekali, jika ia berhenti sebentar di dalam kamarnya nona Liauw maka boleh dikata hanya sekejap mata, jika bergebrak maka tidak akan melebihi sepuluh gebrakan.”

“Jikalau masing-masing pihak adalah jago-jago lihay, pertarungan sebanyak sepuluh jurus sudah cukup untuk menentukan siapa yang menang dan siapa kalah.”

“Ke Giok Lang setelah membebaskan jalan darah hamba yang tertotok tanpa banyak cakap lagi ia segera berlalu.” ujar Nyoo Su Jan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan kalau di dalam pertempurannya di dalam kamar, ia tak berhasil memperoleh posisi di atas angin.”

“Heeei….. hitung-hitung kita adalah manusia-manusia yang buta, ternyata tak seorangpun diantara kita yang berhasl mengetahui jika nona Liauw sebetulnya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi.”

“Seseorang bilamana tenaga dalamnya telah berhasil mencapai pada titik kesempurnaan yang tiada taranya, maka diatas raut mukanya kebalikan malah sama sekali tidak kelihatan jika ia memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi.”

“Bagaimanapun juga,” ujar Phoa Ceng Yan kemudian setelah termenung sejenak. “Kali ini kita benar-benar sudah jatuh kecundang, biarlah sebentar lagi aku pergi bercakap-cakap dengan Liauw Thayjien, ia sudah mempunyai seorang putri yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, sebetulnya tidak perlu menggunakan tenaga kita untuk melindungi keselamatannya lagi, jikalau bisa lepas tangan lebih baik kita selesaikan saja tugas kita sampai di sini.”

“Bilamana Laiuw Thayjien tidak suka mengabulkan?”

“Terpaksa kita orang dengan keraskan kepala harus mengantar mereka sampai tiba ke kota Kay Hong.”

“Baik!” seru Nyoo Su Jan mengangguk. “Phoa-ya boleh pergi berunding dengan Liauw Thayjien, kemungkinan sekali Liauw Thayjien sendiripun sama sekali tidak tahu bila putrinya memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat lihay.”

“Baik! Kau pergilah suruh mereka mempersiapkan kereta dan kuda, sedang aku akan pergi menemui Liauw Thayjien. tidak perduli ia suka mengabulkan permintaan kita atau tidak, kita tetap harus melanjutkan perjalanan.”

Nyoo Su Jan mengia, ia lantas putar badan berlalu.

“Su Jan!” Mendadak Phoa Ceng Yan menegur sambil mendehem perlahan. “Teringat olehku beberapa patah kata yang diucapkan si Hoa Hoa Kongcu Ke GIok Lang kepadaku.”

Nyoo Su Jan yang sudah berada di depan pintu setelah mendengar perkataan tersebut segera menghentikan langkahnya.

“Perkataan apa?” tanyanya.

“Kata Ke Giok Lang, ia sudah memeriksa denyutan jantung dari nona Liauw, bahkan masih menghadiahkan pula sebutir pil kepadanya.”

Nyoo Su Jan kontas saja mengerutkan alisnya rapat-rapat.

‘Walaupun si Hoa Hoa Kongcu Ke Giok Lang jadi orang licik dan cabul tetapi jarang sekali berbohong, beberapa patah perkataannya ini jelas bukan merupakan kata-kata yang bohong.”

“Jika perkataannya tidak bohong, maka di dalam persoalan ini kita harus melakukan suatu penyelidikan yang teliti.”

“Bukan saja harus mengadakan penyelidikan dengan teliti, bahkan semua perkataan kita yang pernah diucapkan harus dipikirkan kembali,” sambung Nyoo Su Jan dengan cepat.

Sambil mengelus jenggotnya Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras.

“Su Jan, bagaimana pandanganmu?” tanyanya kemudian dengan suara yang sangat perlahan.

“Jikalau perkataan dari Ke Giok Lang adalah kata-kata yang benar dan nyata, maka hal ini menunjukkan bila nona Liauw adalah seorang gadis yang tidak mengerti akan ilmu silat”.

“Jadi maksudmu si Hoa Hoa Kongcu suka menaruh belas kasihan terhadap dirinya sehingga suka melepaslam dirinya,” tanya Phoa Ceng Yan.

“Heei….! Jikalau si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang betul-betul sudah mengucapkan perkataan tersebut, cayhe percaya kalau dia sedang berbohong, di dalam peristiwa ini pasti sudah tersimpan suatu persoalan yang besar.”

Selesai mendengar perkataan dari Nyoo Su jan ini, tampaklah si telapak besi bergelang emas termenung berpikir keras.

“Ehmmmmm…….! Di dalam persialan ini memang terdapat banyak hal yang patut dicurigai” sahutnya kemudian setelah lewat beberapa saat lamanya. “Jika ditinjau dari keadaan kita pada saat ini, menurut pandanganku walaupun bertemu dengan Liauw Thayjien-pun tidak ada gunanya, lebih baik kita berusaha untuk menemui nona Liauw sendiri.”

“Liauw Thayjien agaknya merupakan seorang yang berpandangan luas dan berpikiran tajam, jikalau Jie-ya mengungkap persoalan ini dihadapannya, aku pikir Liauw Thayjien tak akan menolak.”

Kembali Phoa Ceng Yan termenung beberapa saat lamanya, terakhir ia mengangguk.

“Tentang soal ini tiada halangannya aku pergi bertanya di dalam menghadapi keadaan seperti ini, kita tidak boleh bertindak seperti orang buta menunggang kuda, menubruk seenaknya dan sekenanya.”

“Jikalau pada saat ini kita dapat mengunjungi kamar nona Liauw untuk mengadakan pemeriksaan, kemungkinan sekalai kita orang dapat berhasil mendapatkan sesuatu tanda.” bisik Nyoo Su Jan.

“Akh….! Haaa……haaa…… sedikitpun tidak salah!” teriak Phoa Ceng Yan sambil menepuk pahanya keras keras. “Apa yang berhasil dilihat oleh Hoa Hoa Kongcu di dalam kamar nona Liauw, seharusnya kitapun dapat menemuinya.”

“Urusan tak boleh diulur-ulur lagi, jika mau pergi seharusnya saay ini juga Jie-ya pergi mencari Liauw Thayjien.”

Phoa Ceng Yan segera mengangguk.

Belum sempat ia bertindak keluar untuk mencari Liauw Thayjien. tampaklah bekas pembesar negeri ini dengan langkah lebar sudah berjalan mendekat.

Ketika Liauw Thayjien melihat munculnya Phoa Ceng Yan di sana, mendadak sambil mempercepat langkah kakinya ia berjalan mendekat, serunya, “Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Kapan kita akan berangkat?”

“Maksud Thayjien?” balik tanya Phoa Ceng Yan sambil tersenyum, ia tetap berusaha untuk menahan gejolak di dalam hatinya.

“Menurut pendapat cayhe, sudah tentu lebih cepat lebih baik….”

“Bagus sekali! Bagus sekali! Cayhe berharap bisa cepat cepat tiba ke kota Kay Hong.”

“Cuma……….”

“Cuma kenapa?” tanya Liauw Thayjien cepat.

“Bagaimana dengan sakit yang diderita nona Liauw?”

“Menurut perkataan isteriku, penyakit dari Siauw-li sudah jauh membaik.”

“Cayhe mempunyai suatu permintaan yang tidak senonoh, entah dapatkah thayjien mengabulkannya?” ujar Phoa Ceng Yan kemudian rada ragu-ragu.

“Urusan apa?”

“Cayhe ingin pergi melihat keadaan dari nona Liauw, entah tindakanku ini leluasa atau tidak?”

“Ooouw….. soal ini….. Eeeehmmmm……. soal ini biarlah cayhe pergi berunding dulu dengan Hujien.”

“Tidak perlu dirundingkan lagi.” potong Phoa Ceng Yan dengan cepat. “Maksud cayhe, jikalau kita ingin pergi lebih baik sekarang juga kita berangkat, dan lebih baik keadaan di dalam kamar jangan sampau diubah!”

“Maksudmu ….” seru Liauw Thayjien dengan alis yang dikerutkan.

“Terus terang saja aku beritahukan kepada Liauw Thayjien.” bisik Phoa Ceng Yan akhirnya. “Sekalipun putri kesayanganmu tidak memiliki kepandaian ilmu silat, tetapi ia memiliki suatu daya kekuatan yang tak dapat diduga dan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap orang lain sehingga hal ini membuat banyak jago-jago lihay Bulim yang menaruh perasaan jeri terhadap dirinya!”

“Aaaaakh….! Benar benar sudah terjadi urusan semacam ini?”

“Peristiwa ini benar-benar dan sungguh-sungguh terjadi, cuma saja apakah alasannya kami belum berhasil memperolehnya,” kata Phoa Ceng Yan dengan suara berat. “Cuma saja, alasan-alasan ini telah berhasil diketahui orang lain.”

“Alasan apa?” tanya Liauw Thayjien agak melengak.

“Jikalau cayhe sudah tahu, saat ini tak bakal aku tanyakan kembali di hadapan Liauw Thayjien.”

Tampak Liauw Thayjien termenung sejenak, sejurus kemudian ia baru mengangguk dan sahutnya, “Bilamana Phoa Hu Cong Piauw-tauw yakin bila siauw-li memiliki suatu daya kekuatan yang luar biasa sehingga dapat menundukkan orang lain, bahkan kekuatan tadi bisa dirasakan sejak kita memasuki pintu kamar yang didiami siauw-li untuk merawat sakit, cayhe rela membawa Phoa Hu Cong Piauw-tauw bersama-sama pergi menjenguk ke dalam kamar siauw-li.”

“Lebih baik jangan dikabarkan dulu kepada Hujien, kita harus masuk ke dalam kamar putri kesayanganmu secara mendadak dan berada di luar dugaan siapapun juga.”

“Di dalam hati apakah Phoa Hu Cong Piauw-tauw mempunyai pegangan yang kuat?”

Karena takut Liauw Thayjien berubah maksud di tengah jalan, buru-buru Phoa Ceng Yna menyambung.

“Cayhe percaya paling sedikit kita berhasil menemukan suatu titik terang.”

“Peraturan keluarga dari istriku selama ini sangat keras dan ketat, jikalau aku membawa kau pergi mengunjungi kamar Siauw-li dan sama sekali tidak berhasil menemukan titik terang, kemungkinan sekali aku bakal mendapat teguran pedas dari Hujien,” kata Liayw Thayjien dengan nada berat.

“Keadaan kita pada saat ini penuh diliputi oleh kegelapan, cayhe sangat berharap bisa menemukan suatu titik terang yang bisa membikin jelas seluruh persoalan ini, asalkan thayjien suka menerima sedikit makian saja hal ini sudah terhitung telah memberi suatu bantuan yang amat besar buat diriku.”

“Baik!” ujar Liauw thayjien kemudian sambil mengangguk. “Aku akan berjalan di depan, setelah masuk ke dalam dengan deheman sebagai tanda. Asalkan Phoa Hu Cong Piauw-tauw mendengar suara dehemenku maka cepat-cepatlah menerjang masuk ke dalam kamar.”

Phoa Ceng Yan mengia, mereka berdua segera melanjutkan perjalanan menuju ke arah depan.

Setelah tiba di depan pintu kamar nona Liauw, tanpa banyak berbicara dan mengetuk pintu lagi Liauw thayjien segera mendorong pintu berjalan masuk ke dalam.

Tampaklah pada saat itu nona Liauw sedang berbareng dengan punggung menempel tembok, sedang Liauw Hujien duduk di sisi pembaringan sedang bercakap-cakap dengan puterinya. Si dayang Cuen Lan berdiri di sisi ruangan.

Mereka bertiga sewaktu melihat munculnya Liauw Thayjien secara mendadak, masing-masing memperlihatkan perubahan paras muka yang berbeda.

“Tia! Maafkan puterimu karena ada sakit di badan tak dapat bangun untuk memberi hormat!” ujar nona Liauw sambil mengangguk di atas pembaringannya.

Sebaliknya Coen Lan menjatuhkan diri berlutut.

“Budak menghunjuk hormat buat Loo-ya!” serunya.

“Kau bangunlah, tidak usah banyak adat!” buru-buru cegah Liauw Thayjien sembari ulapkan tangannya.

Coen Lan mengia dan mengundurkan diri ke pojokan ruangan.

Kini giliran Liauw Hujien yang segera bangun berdiri sambil menegur ke arah suaminya dengan kata-kata tajam.

“Puteri kita sudah sedemikian besarnya, kau sebagai seorang ayah mengapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu sebelum bertindak masuk??”

“Aku sama sekali tidak menduga kalau pintu tersebut sama sekali tidak dikunci, dorong lantas terbuka….”

Sembari berkata, Liauw Thayjien tiada hentinya mendehem.

Phoa Ceng Yan yang berada didepan begitu mendengar suara mendehem dari Liauw Thayjien dengan langkah cepat segera menerjang masuk ke dalam kamar.

Gerakannya sangat cepat, begitu masuk ke dalam kamar sepasang matanya yang amat tajam laksana sambaran kilat menyapu sekejap ke seluruh ruangan kamar.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” teriak Liauw Hujien dengan keras, paras mukanya memperlihatkan perasaan amat gusar. “Selama perjalanan kami sudah cukup tersiksa dengan gangguan-gangguan penjahat, sekarang kaupun …..”

“Hujie…….! Kau tidak usah salahkan Phoa Hu Cong Piauw-tauw lagi!” dengan cepat Liauw thayjien memotong sambil goyangkan tangannya berulang kali. “Akulah yang mengajak dia datang kemari.”

“Apa yang dia maui? Kau yang suruh dia datang?”

“Sedikitpun tidak salah! Tadi sewaktu rumah penginapan kita kedatangan penjahat, bukanlah diapun sudah mengunjungi kamar ini ……”

Perlahan-lahan Liauw Thayjien tersenyum.

“Penjahat boleh datang, sudah tentu Phoa Hu Cong Piauw-tauw pun boleh datang pula,” katanya.

“Jika kaum penjahat ingin datang, hal ini merupakan peristiwa yang tidak bisa dicegah lagi,” kata Liauw Hujien keheranan. “Tetapi Phoa Hu COng Piauw-tauw adalah seorang Piauw su yang mengawal keselamatan kta, apakah kau tidak punya cara untuk mengalangi niatnya ini? Heeeeei……! Nona kita sudah dewasa, bagaimana boleh diperlihatkan kepada orang lain dengan seenaknya?”

“Cayhe paham akan ilmu pertabiban,” buru-buru Phoa Ceng Yan menyambung dengan cemas, “Kedatanganku sengaja hendak memeriksa penyakit yang diderita oleh nona Liauw, aku mau lihat apakah nanti sore kita bisa berangkat atau tidak.”

“Sungguh-sungguhkah perkataanmu itu?”

“Sidah tentu sungguh-sungguh.”

“Baiklah, kalau begitu cepatlah periksakan keadaan penyakit dari putriku!”

Phoa Ceng Yan mengaku dapat memeriksa dan mengobati penyakit, hal ini memang tidak salah, tetapi yang dimaksudkan “penyakit” olehnya di sini hanyalah terbatas luka-luka luar yang disebabkan bacokan pedang serta golok, mengenai penyakit dalam kaum perempuan serta segala penyakit-penyakit yang sulit dan rumit, sama sekali tak dipahami olehnya.

Tetapi disebabkan Liauw Hujien terus mendesak terpaksa dengan keraskan kepala Phoa Ceng Yan mengakuinya.

Tidak disangka ternyata Liauw Hujien meminta dia orang mendemonstrasikan kepandaian tersebut di hadapannya, terpaksa sang bebek naik ke atas pagar, katanya, “Walaupun cayhe memahami ilmu pertabiban, tetapi sangat jarang periksakan penyakit buat orang lain. Bilamana Hujien paksakan diri agar cayhe perlihatkan kejelekan juga, cayhepun harus periksakan denyutan nadi dari nona Liauw.”

Kiranya pada waktu itu hubungan antara lelaki dan perempuan sangat ketat sekali, mereka-mereka yang disebut gadis perawan serta nona-nona dari kalangan bangsawan boleh dikata tidak pernah menerima tamu orang lelaki.

Sekalipun para tabib yang memeriksakan denyutan nadinya-pun harus dipisahkan dengan horden bambu bahkan memeriksa denyutan nadi-pun harus menggunakan seutas tali serabut yang amat halus.

Pada mulanya Phoa Ceng Yan yang melihat penyakit nona Liauw sama sekali tidak berat di dalam anggapannya Liauw Hujien tentu akan menolak tawarannya itu.

Siapa sangka ternyata peristiwa terjadi di luar dugaan, setelah termenung berpikir sejenak terdengar Liauw Hujien berkata perlahan.

“Peduli ilmu pertabiban-mu bagus atau jelek, periksakan dirinya pun tidak ada salahnya, demi kesehatan dari siauw-li, terpaksa sekali ini kita melanggar peraturan yang berlaku…….”

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah nona Liauw, sambungnya kembali.

“Bocah, kau keluarkanlah tanganmu agar Phoa Hu Cong Piauw-tauw bisa periksa nadimu.”

“Ibu, putrimu sudah sembuh!”

“Aaaaaaayaa…. diperiksa sebentarkan tidak mengapa.”

Nona Liauw tak dapat berbuat apa-apa lagi, terpaksa ia mengeluarkan tangan kanannya.

Coen Lan segera membawa datang sebuah bantal yang diletakkan di bawah pergelangan tangan Nona Liauw sekalian mengambil sebuah kursi yang segera diletakkan di dekat pembaringan.

Phoa Ceng Yan mendehem perlahan, ia duduk di atas kursi dekat pembaringan kemudian mengeluarkan jari tengah serta jari telunjuk tangan kanannya untuk ditekankan ke atas urat nadi pergelangan tangan kanan nona Liauw.

Dia adalah seorang ahli di dalam menotok jalan darah, sudah tentu mengetahui pula letak-letak jalan darah serta urat nadi.

Ketika jari tangannya menekan di atas urat nadi nona Liauw, kontan saja ia merasa bahwa denyutan jantungnya amat keras dan bertenaga, sama sekali tidak menunjukkan gejala sakit.

Hal ini membuat alisnya segera saja dikerutkan rapat-rapat.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, bagaimana dengan penyakit siauw-li….?” tanya Liauw Hujien dengan nada berat.

Mendadak Phoa Ceng Yan dengan melototkan sepasang matanya bulat-bulat, serentetan sinar mata yang amat dingin dengan cepat menyapu sekejap ke arah wajah Liauw Thayjien suami istri.

“Sunggguh aneh sekali!” serunya tak terasa.

“Apanya yang aneh?” tanya Liauw Thayjien keheranan, sewaktu melihat paras muka Phoa Ceng Yan berubah jadi sangat serius, ia sendiripun ikut merasa tegang.

Menurut keadaan dari kekuatan denyutan nadi nona Liauw, ia tidak mirip dengan seorang yang sedang menderita sakit…..”

“Dari denyutan jantung siauw-li kau tidak berhasil menemukan tanda sedang menderita sakit, jadi maksudmu sakitnya siauw-li kali ini adalah sengaja pura-pura diperlihatkan,” sambung Liauw Hujien dingin.

“Cayhe sama sekali tidak bermaksud begitu.”

“Selama ini badan Siauw-li lemah dan selalu banyak penyakit. Yang memeriksa penyakitnyapun bukan cuma satu dua kali saja, tetapi selama ini tak pernah aku dengar kalau diantara para tabib-tabib itu ada yang mengatakan Siauw-li sedang berpura-pura sakit.”

Phoa Ceng Yan ada perkataan sukar diucapkan, sejak masuk ke dalam ruangan hingga saat ini ia belum berhasil juga menemukan sesuatu tanda-tanda yang memberikan titik terang, di dalam hati ia sangat berharap dapat tinggal lebih lama lagi di sana sekalian melakukan pemeriksaan lebih teliti lagi di sekeliling ruangan.

Dikarenakan dua sebab yang bergabung menjadi satu, ia lantas mendongak memandang sekejap ke arah Liauw Thayjien.

“Thayjien adalah seorang sastrawan yang kenyang membaca kitab-kitab syair serta filsafat, entah bagaimana dengan ilmu pertabiban apakah thayjien pun sedikit tahu?” tanyanya.

“Ehmmm…..! Tahu sedikit-sedikit saja.”

“Kalau begitu coba periksalah denyutan nadi dari putri kesayanganmu!”

Liauw Thayjien kerutkan dahinya, ia siap hendak berbicara tetapi segera dibatalkan kembali. Tanpa banyak cakap lagi iapun mengeluarkan jari tengah serta jari telunjuk tangan kanannya untuk ditempelkan ke atas urat nadi pergelangan tangan kanan nona Liauw.

Terasalah olehnya denyutan jantung nona Liauw amat kuat dan bertenaga, tak terasa lagi iapun rada melengak dibuatnya.

Liauw Hujien yang melihat paras muka Liauw Thayjien memperlihatkan rasa keheranan hatinya jadi terasa amat cemas.

“Bagaimana?”

“Denyutan jantung Wan-Jie memang rada mengherankan.”

“Bagaimana?”

“Denyutan jantungnya kuat lagi bertenaga, sama sekali tidak mirip dengan seorang yang sedang menderita sakit.”

“Apa yang sudah terjadi?” tanya Liauw Hujien kebingungan. “Selama beberapa tahun ini, bagaimana dengan kesehatan Wan-jie bukankah kau mengetahui sendiri…..”

“Oleh sebab itulah He-koan(saya) baru merasa keheranan dan tidak paham apa-apa sebetulnya yang telah terjadi.”

“Aaakh….!” tiba-tiba Liauw Hujien menjerit tertahan. “Apa mungkin kejadian ini ada sangkut pautnya dengan obat pemberian orang itu?”

Dari mulut si “Hoa Hoa KongCu” atau si Kongcu tukang foya-foya Ke GIok Lang si telapak besi bergelang emas Phoa Ceng Yan sudah mendengar kisah tentang si Kongcu yang menghadiahkan sebutir obat kepada nona Liauw, kendati begitu di luaran sengaja ia perlihatkan sikapnya sedang kaget.

“Siapa yang sudah menghadiahkan obat kepada nona Liauw?”

Liauw Hujien yang terlanjur berbicara saat ini tidak dapat menarik kembali kata-katanya, terpaksa dengan keraskan kepala sahutnya.

“Seorang pemuda agaknya siucay yang pandai bersyair……”

Ia memandang sekejap ke arah Phoa Ceng Yan, mendadak dengan berubah bahan pembicaraan sambungnya lebih lanjut.

“Jikalau dibicarakan, sekali lagi aku harus salahkan kalian orang-orang dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, terang-terangan kalian sudah tahu bila siauw-li merawat sakit di sini, mengapa kamu semua sudah membiarkan orang-orang asing memasuki halaman rumah ini sehingga mereka bisa datang berkunjung ke dalam kamar.”

“Soal ini sudah tentu cayhe akan menegur atas keteledoran mereka, tetapi nona Liauw sudah menelan obat apa?”

“Orang itu dengan langkah lebar dan kaya seorang perlente bertindak masuk ke dalam kamar, pada waktu itu aku serta Coen Lan-pun ada di sini.” ujar Liauw Hujien perlahan.

Ia melirik sekejap ke arah Coen Lan, kemudian sambungnya kembali.

“Urusan selanjutnya, coba kau ceritakanlah!”

“Nona, aku berharap kau dapat mengisahkan seluruh kejadian ini. Cayhe harap dari kisahmu menemui titik terang!” ujar Phoa Ceng Yan kemudian sambil mengalihkan sinar matanya ke atas tubuh Coen Lan.

“Perlahan-lahan dayang itu mengangguk.

“Orang itu sangat tampan!” ujarnya kemudian, “Tetapi sikapnya galak dan ganas, sewaktu Hujien menghadangi perjalanannya sambil membentak, ternyata ia sudah mendorong Hujien sehingga hampir-ampir saja terhuyung jatuh, entah bagaimana mendadak sikap serta tindak tanduknya berubah, ia sudah periksakan denyutan nadi nona bahkan menghadiahkan pula sebutir pil untuk nona, setelah itu ia baru berlalu.”

“Bagaimana warna pil trersebut?”

“Putih, besarnya seperti kacang kedelai”

Phoa Ceng Yan segera mengalihkan sinar matanya ke arah nona Liauw, terlihatlah gadis tersebut dengan perasaan amat malu dan jengah memejamkan matanya rapat-rapat, mulutnya bungkam dan paras mukanya berubah jadi merah padam.

“Ehmm…..! Kalau begitu pil tersebut memang ada sangkut paut yang sangat erat,” katanya kemudian.

Saat itulah Liauw Thayjien kembali mendehem perlahan.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” serunya, “Bagaimana kalau nanti sore kita berangkat!”

Walaupun ucapan tersebut diutarakan dengan halus tetapi nadanya jelas sedang mengusir tamu.

Phoa Ceng Yan lantas bangun berdiri.

“Kalau memang penyakit dari nona Liauw telah sembuh, memang seharusnya kita berangkat. Baiklah, biar cayhe pergi mengadakan persiapan terlebih dulu.”

Selesai berbicara lantas menjura dan mengundurkan diri dari dalam kamar.

“Phoa Loo-enghiong! Kau sudah berhasil menemui suatu titik terang?” tanya Liauw Thayjien dengan suara setengah berbisik sambil mengejar si orang tua itu.

“Soal ini kita bicarakan nanti saja”.

Terburu-buru ia melanjutkan langkahnya kembali ke dalam kamarnya sendiri.

Ketika itu Nyoo Su Jan, Giok Liong serta Ih Coen sudah menunggu di dalam kamar.

“Kalian duduklah semua!” Ujar Phoa Ceng Yan kemudian sambil ulap tangannya setelah masuk ke dalam kamar.

“Jie-ya, kau sudah menemukan sesuatu yang mencurigakan?” tanya Nyoo Su Jan tidak dapat menahan sabar lagi.

“Sungguh aneh sekali!” Phoa Ceng Yan menggeleng. “Loohu percaya sudah melakukan pemeriksaan dengan sangat teliti, tetapi tak sedikitpun yang berhasil aku temui, cuma saja.”

“Cuma saja bagaimana?”

“Aku telah memeriksa denyutan jantung nona Liauw, agaknya dia sama sekali tidak menderita sakit.”

“Jikalau nona Liauw benar-benaradalah seorang jago lihay yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi, bahkan berhasil pula mengundurkan si Hoa Hoa Kongcu atau Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang, maka kesempurnaannya ilmu silatnya pasti telah mencapai pada puncaknya, menurut apa yang hamba pernah dengar, bilamana kepandaian ilmu silat seseorang berhasil dilatih hingga mencapai pada titik puncaknya, bukan saja ia bisa mempertahankan paras mukanya seperti orang-orang biasa, bahkan dapat pula menguasahi pernapasan serta denyutan jantungnya sendiri. Jikalau nona Liauw betul-betul memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi dan tidak mengharapkan agar kita bisa tahu, dapat saja ia mengerahkan tenaganya untuk memperlemah denyutan jantung.”

“Perkataanmu memang sangat cengli” kata Phoa Ceng Yan setelah termenung beberapa saat lamanya. Tetapi jikalau dia bukan seorang jago lihay yang memiliki kepandaian sangat tinggi, bagaimana mungkin seorang gadis yang lemah dapat mengundurkan Lam Thian Sam Sah beserta si Kongcu tukang Foya-foya Ke Giok Lang?”

“Kecuali nona Liauw sendiri, apakah Jie-ya telah memperhatikan pula keadaan di tempat tempat lain?” tanya Nyoo Su Jan lebih lanjut.

“Aku sudah melakukan penyelidikan dengan sangat teliti, dan benar-benar tidak berhasil menemukan sesuatu hal yang patut dicurigai.”

“Menghadapi perubahan yang terjadi di hadapan kita pada saat ini, aku rasa sebetulnya buat kita tak ada yang penting untuk melakukan penyelidikan pada soal ini hingga jelas,” Nyoo Su Jan mendehem perlahan. “Jarak dari sini ke kota Kay Hong sudah tak begitu jauh lagi, lebih baik kita cepat-cepat hantar mereka ke kota Kay Hong. Hmm, kemudian kembali ke markas untuk memberi laporan entah bagaimana kalau menurut pendapat Jie-ya?”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk kemudian menghela napas panjang.

“Angin taufan ombak dashyat, di dalam pedang di bawah golok, mati hidup di tengah keadaan bahaya aku sudah merasakan semua dan selama ini belum pernah membuat aku susah, tetapi kali ini hanya disebabkan seorang nona Liauw yang lemah lembut ternyata sudah cukup membuat aku kelabakan dan kebingungan setengah mati!” katanya perlahan.

“Jie-ya!” kembali Nyoo Su Jan mendehem perlahan. “Persoalan di dalam dunia kangouw terlalu kacau dan rumit, peduli seorang manusia yang memiliki kecerdasan sebagaimana tingginya-pun jangan harap bisa memahami seluruh persoalan yang ada. Peduli nona Liauw benar-benar jago lihay yang memiliki kepandaian silat tinggi atau bukan, yang jelas, dia memiliki cara untuk memundurkan musuh-musuh tangguh bahkan semua jago yang berhasil dia pukul mundur adalah iblis-iblis Bu-lim yang ganas. Kini dia tidak memperkenankan kita orang untuk tahu persoalannya, sudah tentu iapun mempunyai kesusahannya sendiri, jikalau kita ngotot melakukan pemeriksaan terus terhadap persoalan ini kemungkinan sekali malah akan mendatangkan perasaan tidak puas di dalam hatinya”.

“Jadi maksudmu kita tidak usah mengadakan penyelidikan lagi tentang peristiwa ini?” tanya Phoa Ceng Yan kemudian setelah termenung sejenak.

“Benar! Menurut perasaan hamba, tiada berguna bagi kita untuk mengadakan penyelidikan tentang soal ini “.

“Perjalanan kita hingga tiba di kota Kay Hong masih cukup panjang, selama di dalam perjalanan kita ini apakah kau merasa tentu aman?”

“Persoalan ini boleh dianggap sebagai suatu pekerjaan untung-untungan, hanya tidak berani terlalu memastikan, cuma saja ….”

“Cuma apa?”

“Nona Liauw berhasil memundurkan Lam Thian Sam Sah beserta si Kongcu tukang Foya-foya Ke Giok Lang, mungkin sekali orang lainpun tak bakal berani melaksanakan niatnya kembali.”

“Baik!” ujar Phoa Ceng Yan kemudian. “Kita kerjakan demikian saja, persoalan nona Liauw untuk sementara kita kesampingkan dulu, coba kalian perintah seluruh anak buah kita untuk siap-siap, kita segera berangkat.”

Nyoo Su Jan lantas mengia, putar badan dan berlalu.

“Su Jan! Coba kau periksa sebentar” sambung Phoa Ceng Yan lebih lanjut. “Bila mereka-mereka yang menderita luka terlalu berat, selama di dalam perjalanan hanya mendatangkan kerepotan saja, lebih baik kita tinggalkan saja mereka di sini untuk beristirahat, nanti sewaktu pulang baru sekalian kita bawa mereka kembali ke rumah!”

“Hambapun punya maksud begitu,” sahut Nyoo SU Jan sambil tertawa.

Ia segera putar badan dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju keluar.

Para anak buah perusahaan “Liong Wie Piauw-kiok” kebanyakan merupakan jago-jago yang sudah terlatih, setelah menerima perintah dari Nyoo Su Jan mereka segera menghela kuda mempersiapkan kereta, hanya di dalam sekejap mata semua kereta telah dipersiapkan rapi-rapi.

Ketika itu hujan salju telah berhenti, tetapi langit masih tertutup oleh awan yang sangat tebal. Angin barat daya bertiup amat kencang membawa hawa dingin yang serasa menusuk hingga ke dalam tulang sumsum.

Lie Giok Liong serta Thio Toa Hauw dengan masing-masing menunggang seekor kuda jempolan berjalan di paling depan membuka jalan, sedang Nyoo Su Jan beserta Phoa Ceng Yan duduk di dalam kereta kuning yang ada di depan.

Kecuali lima orang kusir yang menghela kereta, kini cuma tersisa dua orang pembantu saja yang masih bisa melanjutkan perjalanan.

Ih Coen beserta kedua orang anak tersebut dengan menunggang kuda berjalan di paling belakang.

Setelah beristirahat selama satu malam dan setengah harian penuh, kekuatan kuda-kuda tunggangan merekapun telah pulih kembali.

Kendati udara terasa sangat dingin, angin bertiup amat kencang tetapi mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan amat cepat.

Dengan kaki kuda melemparkan gumpalan salju ke tengah udara, membentuk asap putih yang menyilaukan mata, rombongan kereta dengan mengambil jalan besar kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah selatan.

Liauw Thayjien serta kacung bukunya berada di kereta kedua, sedang Liauw Hujien disebabkan hendak menjaga putrinya bersama-sama dengan Coen-Lan serta nona Liauw ada di kereta nomor tiga.

Phoa Ceng Yan yang di dalam hati sudah tiada maksud untuk melakukan penyelidikan terhadap nona Liauw yang penuh diliputu kemisteriusan serta berbadan lemah banyak penyakit itu, saat ini hanya berharap bisa cepat-cepat menghantar keluarga Liauw tiba di kota Kay Hong kemudian baru mengambil keputusan kembali.

Oleh karena itu sejak semula ia sudah memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk melakukan perjalanan cepat.

Ketika mereka meninggalkan kota Si Sian Jan hari sudah sore menanti cuaca mulai gelap mereka telah melakukan perjalanan sejauh empat puluh lie.

Di tengah udara dingin, semua kuda-kuda itu sudah mulai berkeringat karena perjalanan cepat ini.

Udara semakin lama semakin menggelap, jalanan yang dilaluipun kelihatan mulai samar-samar sehingga sukar dibedakan, tetapoi tempat penginapan masih belum juga ditemukan.

Lie Giok Liong yang bera di depan segera melarikan kudanya mendekati kereta.

“Paman Jie-siok!” serunya. “Kita sudah lewatkan tempat-tempat penginapan, kini hari semakin lama semakin jadi gelap, saljupun mulai mencair, kuda-kuda telah pada lelah dan hawa malam sangat dingin, sekalipun hendak melanjutkan perjalanan malam ada seharusnya mencari suatu tempat dulu untuk memberi makan kuda-kuda ini.”

Phoa Ceng Yan yang mendapat laporan tersebut lantas menyingkap horden melongok ke depan, setelah menyapu sekejap ke seluruh penjuru, ujarnya kemudian, “Giok Liong! Coba kau lihat disebelah timur laut sana ada segulung bayangan hitam, betulkan bayangan itu merupakan bayangan rumah?….”

Dengan cepat Lie Giok Liong mengalihkan sinar matanya ke arah yang ditujukan tetapi sebentar kemudian ia sudah menjawab.

“Kekuatan mata siauw-tit tidak becus, aku tidak berhasil melihat jelas.”

Ketika itulah Nyoo Su Jan sudah melongok keluar, sambungnya.

“Jika pemberitaan si pencuri sakti she Shen tidak menipu kita, maka kecuali si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang masih banyak sekali orang-orang yang menaruh minat terhadap barang-barang kawalan kita kali ini. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, aku rasa lebih baik kita jangan menginap di rumah penginapan, melakukan perjalanan tanpa mengikuti waktu yang ditetapkan kemungkinan sekali malah memberikan suatu pukulan bagi mereka sehingga jadi kelabakan….”

Ia merandek sejenak, setelah meloncat keluar dari dalam kereta sambungnya kembali.

“Secara diam-diam aku sudah menyuruh orang persiapkan rumput untuk bahan makanan kuda-kuda kita, asalkan dapat mencari suatu tempat yang terlindung dari tiupan angin serta curahan hujan salju, hal ini sudah cukup.”

“Kalau begitu, biar cayhe pergi periksa sebentar!” kata Lie Giok Liong dengan cepat.

(Bersambung Jilid ke 7)

Jilid 7

Badannya lantas meloncat naik ke atas punggung kuda dan melarikan kudanya menuju ke arah timur laut.

Ia pergi dengan cepat, pulangpun dengan cepat, hanya di dalam sekejap pemuda tersebut telah berlari kembali.

“Paman Jie-siok!” serunya sembari menjura. “Tempat itu adalah sebuah kuil bobrok yang tidak digunakan lagi, secara garis besarnya siauw-tit sudah melakukan pemeriksaan dan menurut perasaanku masih bisa digunakan untuk menghindarkan diri dari tiupan angin serta sampokan salju, cuma saja jalan kecil menuju ke sana terlalu sempit, mungkin kereta kereta kita sulit untuk mendekati kuil tersebut”.

“Di dalam kuil tersebut apa ada orang yang menjaga?” tanya Nyoo Su Jan mendadak berebut tanya.

“Aku telah mengelilingi kuil tersebut satu kali, tetapi sama sekali tidak menemukan penjaganya, bahkan tempat-tempat luang disekitar pojokan tembok serta pintu kuil sudah penuh ditumbuhi alang-alang, kelihatan-nya kuil tersebut tidak pernah dihuni atau dikunjungi orang lain!”

“Pada musim dingin seperti ini, asalkan tanah disekitar sana rada keras sedikit saja, kereta-kereta berkuda kita kemungkinan sekali masih bisa lewat melalui permukaan salju.” ujar Phoa Ceng Yan perlahan.

“Terima kasih atas petunjuk paman Jie Siok, biarlah siauw-tit pergi mencobanya terlebih dahulu.

Ia mendongakkan kepalanya memandang ke arah sang lelaki yang bertindak sebagai kusir, katanya.

“Mari kita gunakan kereta ini sebagai percobaan terlebih dulu.”

Lelaki itu menyahut, pecut lantas diayunkan menghela kudanya mengikuti petunjuk Lie Giok Liong menuju ke arah kuil bobrok.

Perkataan dari Phoa Ceng Yan sedikitpun tidak salah, di musim dingin yang sangat dingin ditambah pula membekunya salju di sekeliling sawah, tanah disekitar sana amat keras dan kuat, kereta-kereta itu dengan sangat mudahnya berhasil mendekati ke samping kuil tersebut.

Empat buah kereta lainnya berturut-turut bergerak menuju ke arah kuil dan berkumpul menjadi satu.

Pertama-tama Phoa Ceng Yan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas keadaan disekeliling kuil setelah itu baru berjalan ke sisi kereta yang ditunggangi Liauw Thayjien.

“Thayjien!” sapanya halus. “Kita sudah melewatkan rumah-rumah penginapan, terpaksa malam ini harus beristirahat dulu di dalam kuil ini.

Di rumah seribu hari baik, keluar rumah sesaat kesusahan, harap Thayjien suka memaafkan!”

Liauw Thayjie yang mendengar sapaan tersebut lantas menyingkap horden memandang sekejap ke arah kuil tersebut, lama sekali ia berdiam diri.

“Phoa-ya, apakah kita tak bisa melanjutkan perjalanan malam ini juga?” tanyanya kemudian.

“Manusia mungkin bisa bertahan, tetapi kuda-kuda kita harus diberi makan, paling sedikit kita harus beristirahat dua kentongan baru dapat melanjutkan perjalanan kembali.”

“Kalau memang begitu, aku pikir menunggu di dalam keretapun sama saja,” kata Liauw Thayjien mengangguk.

“Selama di dalam perjalanan hawa dingin menusuk tulang, di dalam kuil kita dapat membuat api unggun untuk menghangatkan badan.”

Liauw Thayjien tampak termenung.

“Cayhe ada membawa beberapa stel pakaian luar yang terbuat dari kulit dan dapat digunakan untuk melawan rasa dingin,” katanya kemudian. “Asalkan Hu Cong Piauw-tauw suka mengirim dua orang untuk menjaga kereta-kereta ini sehingga tidak sampai diserang orang rasanya sudah cukup.”

“Hujien serta nona juga tetap tinggal di dalam kereta?” tanya Phoa Ceng Yan.

“Di dalam kereta Hujien terdapat pula beberapa stel pakaian luar kulit binatang yang bisa digunakan untuk menahan hawa dingin, sekalipun berada di dalam kereta rasanya merekapun tidak bakal menderita karena kedinginan ….”

Mendadak ia memperendah suaranya dengan nada setengah berbisik sambungnya, “Ada satu persoalan yang sampai kini belum berhasil aku pahami, harap Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka memberi petunjuk!”

“Urusan apa?”

“Tubuh Siauw-li selamanya amat lemah, aku pernah beberapa kali periksakan denyut jantungnya, setiap kali aku menemukan bila denyutan jantungnya amat lemah tak berkekuatan, tetapi entah mengapa denyutan jantungnya pada ini hari bisa begitu bertenaga, bahkan secara mendadak lebih kuat beberapa kali lipat, hal ini benar-benar membuat aku merasa kebingungan.”

“Thayjien pernah tanyakan persoalan ini dengan Hujien?” tanya Phoa Ceng Yan perlahan.

“Pernah, menurut jawaban Hujien, selama ini siauw-li selalu bersembunyi di dalam kamar dan belum pernah meninggalkan tempat itu barang sekalipun, bahkan beberapa bulan mendekat inipun belum pernah menunjukkan gejala-gejala yang mengherankan”.

“Aaach….!” Phoa Ceng Yan menjerit perlahan lalu kerutkan keningnya. “Kalau begitu thayjien sedang menuduh aku orang she Phoa lagi mengibul?”

“Soal ini sih bukan” Liauw Thayjien menggeleng. “Bahkan setelah aku selidiki dengan cermat selama beberapa hari ini, aku merasa bahwa setiap perkataan dari kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw memang ada dasar serta buktinya.”

“Liauw Thayjien dapat berbicara demikian hal ini membuat cayhe merasa berlega hati.”

“Hujien tidak bakal menipu diriku, perkataan Phoa-ya uacapkan tentu ada alasan-alasannya, aku rasa di dalam persoalan ini sudah jelas masih ada pengaruh-pengaruh lainnya.”

“Apakah Thayjien berhasil menemukan sesuatu titik terang?”

Kiranya setelah beberapa kali dia orang mengadakan pembicaraan dengan Liauw Thayjien di samping secara diam-diam melakukan pemgamatan secara cermat, selama ini tak berhasil ia temukan tindak tanduk yang aneh dari nona Liauw, hal ini membuat si orang tua tersebut merasa kebingungan setengah mati dan merasa bila di dalam persoalan ini tentu masih terkandung sesuatu sebab-sebab yang sangat misterius.

 

[bersambung]