lambang naga panji naga sakti 03
Jilid 5
Bilamana bisa mengetahui siapakah
mereka hal ini memang semakin bagus lagi!” Kata Nyoo Su Jan pula.
“Tetapi jikalau tak terpikir siapakah mereka itu, kitapun tidak usah
terlalu terpengaruh oleh kata-kata kelima orang karibnya itu, yang
seharusnya kita pikirkan adalah apakah maksud tujuan mereka dengan
mengantarkan kartu undangan tersebut kepada kita! Mengundang Jie-ya
bersantap merupakan sebuah siasat memancing harimau turun gunung
atau bukan! Mungkin juga mereka memancing kita untuk bersama-sama
pergi bersantap di rumah makan tersebut, lalu mengambil kesempatan
ini turun tangan.”
“Aaakh….! Cengli….. cengli …..”
teriak Phoa Ce3ng Yan sambil menghantam meja sesudah mendengar
perkataan tersebut.
“Tetapi, memandang situasi pada
saat ini, Jie-yapun mau tak mau harus pergi,” sambung Nyoo Su Jan
lebih lanjut sambil tersenyum.
“Ehmmmmm….! Perkataanmu memang
tidak salah,” Phoa Ceng Yan mendehem. “Perjamuan makan ini sekalipun
harus naik ke atas gunung golok lembah minyak mendidih aku harus
menghadirinya, aku harus mengenali siapakah sebenarnya kelima orang
kawan karib kita itu.”
“Betul! Betul! Pendapat Jie-ya
memang betul, perjamuan makan ini harus dihadiri walaupun apa yang
bakal terjadi, kemungkinan sekali di dalam pertemuan kali ini kita
berhadil mengetahui maksud hati mereka yang sebetulnya! Bilamana
kita tinjau dari peristiwa yang terjadi berulang kali, aku merasa
agaknya keluarga Liauw memang terselimut oleh suatu teka-teki yang
misterius. Dengan nama besar perusahaan Liong Wie Piaw-kiok kita di
daerah utara, tidak seharusnya kawan-kawan Liok-lim begitu ngotot
untuk mencari gara-gara dengan kita. Sewaktu Jie-ya menemui kelima
orang kawan karib di rumah makan Yu It Cun nanti, lebih baik
berusahalah bersabar diri dan mencari tahu dulu apa maksud tujuan
mereka.”
Perlahan-lah Phoa Ceng Yan
mengangguk, “Tidak salah. Sampai saat ini kita masih belum mengerti
apakah sebabnya peristiwa aneh.” ujarnya perlahan. “Nah, jika aku
sudah pergi ke rumah makan Yu It Cun, maka urusan di sini aku
serahkan kepada Nyoo piauw-tauw untuk menjaganya, jangan lupa selalu
berwaspada terhadap siasat musuh!”
“Hamba akan berusaha dengan sekuat
tenaga! Tetapi, kemungkinan sekali kepergian Jie-ya ke rumah makan
Yu It Coen tak dapat terhindar dari bentrokan-bentrokan kekerasan di
dalam soal ini hamba akan mengucap dua persoakan untuk Jie-ya
dengar!”
“Ehmmm! Kau bicaralah.”
“Jie-ya harus berusaha keras untuk
bersabar diri, kecuali pihak lawan mengerakkan senjata sehingga
memaksa Jie-ya mau tak mau harus turun tangan. Bilamana bisa kembali
ke rumah penginapan hal ini jauh lebih bagus lagi, kita bisa
bersama-sama mengatur siasat untuk menghadapi serangan-serangan
musuh tangguh.”
“Baik, aku akan berusaha keras
untuk bersabar diri.”
“Aku akan menyuruh Giok Liong
pergi dulu ke dusun Yu It Coen dengan menyaru.” tiba-tiba Nyoo Su
Jan berbisik lirih.”Semisalnya terjadi peristiwa yang ada di luar
dugaan, Giok Liong bisa buru-buru pulang kemari memberi kabar dan
semisalnya Jie-ya terpaksa harus turun tangan, Giok Liong-pun bisa
membantu Jie-ya di dalam perlawanannya menggundurkan pihak musuh.”
“Baik sih baik!” sahut Phoa Ceng
Yan setelah termenung sebentar. “Cuma, pengalaman dari Giok Liong
belum banyak, aku takut belum apa-apa dia sudah diketahui jejaknya
oleh orang lain.”
“Oouuw…….. soal ini Jie-ya boleh
berlega hati, asal aku sudah turun tangan menyarukan wajah Giok
Liong, tanggung pihak musuh tak bakal mengetahui rahasianya.”
“Aku rasa sejak kita tiba di sini,
sekeliling rumah penginapan telah disebari mata-mata pihak lawan
yang secara diam-diam mengawasi seluruh gerak-gerik kita.”
“Tidak! Saat ini disekeliling
rumah penginapan ini memang kemungkinan sekali ada mata-mata yang
lagi mengawasi gerak-gerik kita, tetapi maksud tujuan mereka adalah
kau Phoa Jie-ya. Asalkan Jie-ya sudah berangkat setindak terlebih
dahulu, perhatian mereka terhadap kamipun akan jauh berkurang,
dengan meminjam kesempatan inilah Giok Liong akan berjalan keluar
dan langsung menuju ke rumah makan Yu It Coen terlebih dulu, untuk
suksesnya rencana ini setelah keluar dari rumah penginapan Jie-ya
tiada halangan untuk ngeloyor dan pesiar dulu keliling kota setelah
itu baru berangkat menuju rumah makan Yu It Coen.”
“Bagus! Kita kerjakan demikian
saja.”
Menanti siang hari menjelang
datang, Phoa Ceng Yan dengan mengenakan jubah panjang dan
ditangannya mencekal sebuah Huncwee perlahan-lahan berjalan keluar
dari rumah penginapan.
Sikapnya luwes, paras mukanya
tenang ketika tubuhnya telah tiba di luar rumah penginapan, sinar
matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.
Sedikitpun tidak salah, ia
menemukan dua orang pemuda yang memakai pakaian ringkas buru-buru
ngeloyor pergi.
Diam-diam si orang tua ini tertawa
dingin, lambat-lambat ia mulai melanjutkan perjalanannya ke depan.
Saat setelah Phoa Ceng Yan
meninggalkan rumah penginapan itu, seorang lelaki kasar yang memakai
topi terbuat dari kulit dengan di bawah janggutnya memelihara kumis
pendek berjalan keluar dari rumah penginapan itu dengan langkah
lebar.
Lama sekali Phoa Ceng Yan
berpesiar keliling kota, setelah dirasanya waktu sudah cukup panjang
ia baru putar halua berangkat menuju ke rumah makan Yu It Coen.
Yu It Coen adalah sebuah rumah
makan yang terbesar di kota Si Sian Jan, suasana sangat ramai dan
setiap hari banyak pengunjung yang bersantap di sana.
Pada beberapa tahun yang lalu
pernah satu kali Phoa Ceng Yan bersantao siang di rumah makan Yu It
Coen ini, seingatnya ruangan yang besar penuh dengan para tamu-tamu,
suasana sangat ramai sekali.
Tetapi keadaan dari rumah makan Yu
It Coen pada hari ini sama sekali berbeda dengan ingatannya tempo
dulu.
Tampaklah sebuah ruangan rumah
makan yang besar dan luas, saat ini sunyi senyap, berpuluh-puluh
buah meja semuanya kosong melompong tak kelihatan seorang tamupun.
Tujuh orang pelayan rumah makan
dengan kepala memakai topi putih sera pinggang terikat kain putih
dengan sangat rapih berdiri di samping.
Hal ini membuat Phoa Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok mengerutkan alisnya
rapat-rapat.
Baru saja ia berjalan masuk ke
dalam pintu, tampaklah seorang pelayan dengan langkah tergesa-gesa
datang menyambut dan menghalangi perjalanan selanjutnya.
“Toa-ya!” serunya sambil menjura,
“ini hari rumah penginapan kami sudah diborong orang, maafkanlah
orang lebih baik cari tempat lain saja.”
Belum sempat Phoa Ceng Yang
memberi jawaban mendadak terdengarlah suara seseorang yang besar dan
nyaring sudah berkumandang datang.
“Pelayan busuk, matamu sudah buta!
Ayoh cepat menyingkir ke samping!”
Seorang lelaki kasar yang memakai
baju singsat dengan kancing yang sangat banyak dan ikat pinggang
berwarna putih, dengan langkah besar berjalan mendekat dan mendorong
pelayan itu ke samping.
Kau orang tua apakah Phoa Jie-ya!”
sapanya sambil menjura, Phoa Ceng Yan mengangguk, dari dalam sakunya
ia mengambil keluar kartu undangan berwarna merah itu.
“Bilamana Loohu tidak salah
melihat, seharusnya rumah makan ini bukan?” katanya.
“Aaakh…….! Benar, benar! Tidak
salah” seru lelaki tersebut sambil memandang sekejap ke arah kartu
undangan berwarna merah itu, “Pelayan ini ada mata tidak mengenal
gunung Thay san, harap kau orang tua jangan merasa tersinggung
dengan kejadian ini. Mari, mari silahkan masuk”.
“Heeee…….heeee….. kawan adalah….”
“Hamba tidak lebih cuma seorang
pesuruh saja, majikan kami serta beberapa orang kawan sejak semula
sudah menanti di atas loteng” sambung lelaki itu dengan cepat.
Sinar mata Phoa Ceng Yan
perlahan-lahan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu sewaktu
tidak melihat Lie Giok Liong ada di sana, dalam hati diam-diam
pikirnya.
“Mungkin sekali bocah itu sudah
menggabungkan diri di sekeliling tempat ini…….” Ujarnya kemudian.
“Harap saudara membawa jalan buat diriku!”
Lelaki kasar itu mengia, kemudian
putar badan dan berjalan masuk ke ruangan.
Phoa Ceng Yan perlahan-lahan
membuntuti dari belakang, sembari berjalan matanya mengawasi keadaan
di sekeliling ruangan-ruangan rumah makan itu dengan teliti. Hal ini
memaksa lelaki tersebut tak data berjalan terlalu cepat.
Setelah naik ke loteng tingkat
kedua, tampaklah ruangan tersebutpun kosong, kursi meja sebagian
besar sudah disingkirkan sehingga ruangan loteng seluas lima-enam
kaki tertinggal sebuah meja perjamuan saja.
Lima orang lelaki kasar
masing-masing duduk di sekeliling meja itu meninggalkan sebuah
tempat kosong di tempat yang teratas.
Phoa Ceng Yan setelah berada di
loteng tingkat kedua, dengan sangat berhati-hati sekali mengawasi
keadaan di sekeliling ruangan setelah dirasanya tiada pihak musuh
yang bersembunyi di sana ia baru melangkah maju ke depan.
Melihat munculnya si orang tua
tersebut, kelima orang tersebut bersama-sama bangun berdiri.
“Phoa Jie-ya selamat bertemu, kami
berlima sudah menanti!” ujarnya hampir berbareng.
Dengan pandangan yang sangat tajam
Phoa Ceng Yan memperhatikan kelima orang itu sekejap kecuali
dirasanya dua orang di antara mereka terasa agak dikenal, sisanya
tiga orang ia sama sekali merasa asing.
Perlahan-lahan ia berjalan
mendekati meja perjamuan.
“Aku orang she Phoa lebih baik
ikut perintah saja!” ujarnya sambil menjura.
Tanpa sungkan-sungkan ia menempati
tempat duduk yang masih kosong itu.
Sekalian matanya menyapu sekejap
ke arah beberapa orang tersebut.
“Phoa Jie-ya! Kau adalah seorang
gagah yang cepat mengambil keputusan, cayhe merasa sangat kagum,
mari…….mari! Aku hormati dulu Jie-ya dengan satu cawan arak.” ujar
lelaki bercambang yang ada disebelah kiri.
Selesai berkata ia mengangkat
cawan araknya dan meneguk isinya sampai habis.
Kiranya di atas meja perjamuan
sudah tersedia empat mangkok sayur serta cawan arak yang telah
dipenuhi.
“Aku orang she Phoa tidak terbiasa
minum arak, terima kasih atas maksud baik saudara-saudar sekalian.”
ujar Phoa Ceng Yan sambil tertawa dan memandang sekejap ke arah
cawan arak itu.
“Haaa…………haaaa……………haaa………..
Jie-ya terlalu banyak curiga” seru lelaku bercambang itu sambil
tertawa terbahak-bahak.
Ia lantas mengambil cawan arak di
hadapan Phoa Ceng Yan dan meneguknya hingga habis.
Meminjam kesempatan inilah Phoa
Ceng Yan memperhatikan dengan teliti wajah ke lima orang itu.
Walaupun mereka bellima punya raut
muka yang berbeda tetapi kecuali si kakek tua yang memelihara
jenggot kambing gunung duduk di hadapannya serta pejamkan matanya
itu, sisanya berempat adalah orang kasar.
Sekalipun di dalam hal ilmu silat
boleh dikata ada ia masih punya sedikit simpanan tetapi tidak lebih
itupun cuma ilmu gwaa-kang saja yang mengutamakan kekerasan.
Dalam hati ia mulai merasa lega,
sambil tertawa tawar ujarnya kemudian.
“Maaf aku orang she Phoa tidak
ingat dengan kalian berlima!” serunya.
“Heee…..heee…..heee….. Phoa Ji-ya
adalah seorang Toa Piauw su, sudah tentu tidak akan mengingat-ingat
kami si prajurit tidak bernama di dalam dunia kangouw” jengek si
orang laki-laki dengan alis yang tebal di sebelah kanan sambil
tertawa dingin tiada hentinya.
“Haaa…..haaa…..haaa,,,,, saudara
terlalu memuji, saudara terlalu memuji” dengan alis yang dikerutkan
Phoa Ceng Yan tertawa terbahak bahak. “Aku orang she Phoa bisa jadi
begini, kesemuanya tidak lain disebabkan saudara-saudara sekalian
suka memberi muka kepada diriku, bilamana aku orang pernah berbuat
salah, harap saudara-saudara suka memaafkan.”
Selesai berkata, ia bangun berdiri
dan menjura di sekeliling meja perjamuan.
Setelah itu ia duduk lagi dan
sambungnya lebih lanjut.
“Dikarenakan aku orang she Phoa
masih ada tugas untuk mengawasi barang, maaf tidak dapat terlalu
lama menemani saudara-saudara sekalian, tetapi maksud baik dari
kalian itu akan aku orang she Phoa ingat terus di hati, apabila
saudara-saudara masih ada urusan silahkan ucapkan secara terus
terang, asalkan aku dapat melaksanakan tentu tak akan kutolak, bila
semisalnya tak ada urusan lagi, aku orang she Phoa ada maksud untuk
mohon diri.”
“Heee……heee…..he……. Phoa Jie-Ya!”
seru lelaki beralis tebal itu lagi sambil tertawa dingin. “Bangkupun
belum panas kau duduki bagaimana mungkin boleh buru-buru pergi.”
“Maaf…..maaf aku orang she Phoa
harus mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai pengawal barang,
karena itu kedudukanku tidak sebebas orang biasa, harap saudara
sekalian suka memakluminya.”
Si kakek tua berjenggot kambing
yang berada dihadapannya mendadak membuka matanya lebar-lebar, lalu
tertawa dingin.
“Heee……heee……. Phoa Hu COng
Piauw-tauw! Kaupun seorang jago kangouw yang sudah mengalami
berbagai angin topan dan pernah menemui pula beratus-ratus orang
terkemuka, setelah datang dengan tergesa-gesa mengapa hendak pergi
dengan tergesa-gesa pula?? Apakah kau tidak merasa tindakanmu itu
terlalu gampang??……” tegurnya.
Melihat sinar mata yang sangat
tajam berkelebat keluar dari sepasang matanya yang terpentang
lebar-lebar itu, diam-diam Phoa Ceng Yan merasa amat terperanjat.
“Ooouw……… tenaga dalam orang ini
tidak lemah, aku harus menaruh kewaspadaan penuh terhadap dirinya,”
Pikir orang tua itu dalam hati.
Sembari berpikir keras, tangannya
mengambil keluar korek api untuk menyulut huncwee di tangan
kanannya, setelah menghembuskan asap panjang ujarnya sambil tertawa,
“Baru saja aku orang she Phoa sudah berkata, bilamana
saudara-saudara ada urusan maka silahkan katakanlah secara terus
terang, bilamana aku orang she Phoa bisa melakukannya tentu tak
bakal kutolak, bilamana aku orang she Phoa memang tidak sanggup,
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok masih ada COng Piauw-tauw kami
yang dapat mengambil keputusan, jika saudara-saudara ada urusan
katakanlah secara terbuka!”
“Tiada air kencing yang tidak
menimbulkan lubang, kini Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah memberikan
kesempatan, kami bersaudarapun terpaksa harus berbicara secara
blak-blakan,” ujar si kakek tua berjenggot kambing itu sambil
tertawa tawar.”Pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian tiada
dendam sakit hati dengan kami, tetapi langganan kalian kali ini ada
sedikit ikatan permusuhan dengan kami bersaudara, justru maksud dari
kami mengundang Phoa Jie-Ya untuk bersantap tidak lain mengharapkan
dari pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok suka memberi muka kepada
kami bersaudara untuk kali ini saja.”
“Aaaah……….. bagus sekali!” pikir
Phoa Ceng Yan secara diam-diam dalam hati.”Sekarang kalian sudah
tiba pada puncaknya.”
Karena dalam hati sudah ada
persiapan maka menghadapi perkataan tersebut dia sama sekali tidak
menjadi gugup.
“Saudara-saudara sekalian
sebetulnya menginginkan aku orang Phoa secara bagaimana memberi muka
pada kalian?” tanyanya sambil tertawa.
“Haaa……..haaa……haaa………… tidak
sulit, tidak sulit!” Si kakek tua berjenggot kambing itu tertawa
terbahak-bahak. “Asalkan Phoa Jie-ya suka memejamkan mata dan kasih
waktu sepenanak nasi untuk kami itu sudah lebih dari cukup!”
Mendengar perkataan tersebut Phoa
Ceng Yan segera merasakan hatinya tersentak.
“Apakah mereka benar-benar sedang
menjalankan siasat memancing harimau turun gunung? dan sudah ada
orang yang turun tangan sewaktu aku masih berada di sini?” pikirnya
di dalam hati.
Sembari berpikir keras ia mendehem
berulang kali.
“Jika saudara-saudara sekalian
sudah kasih keterangan, aku harap dapat menerangkan lebih jelas
lagi.” ujarnya. “Sebenarnya kalian ingin membunuh orang atau cuma
mendapatkan barang-barang saja.”
Agaknya si kakek tua yang
berjenggot kambing gunung itu merupakan pentolan dari antara kelima
orang itu, asal apa yang diucapkan merupakan keputusan yang mutlak.
Terlihatlah ia mengangkat cawan
araknya perlahan-lahan, kemudian sambil tertawa jawabnya, “Setelah
berjanji dengan kau Phoa Jie-ya kami bersaudara sudah tentu tidak
akan melukai orang.”
“Ehmmmm…………..! Kalau begitu kalian
cuma menginginkan barangnya saja bukan? tetapu menurut apa yang aku
orang she Phoa ketahui Liauw Thayjien tidak membawa intan permata
terlalu banyak, kemungkinan sekali gerakan dari saudara-saudara kali
ini akan memperoleh kekecewaan saja.”
Air muka si kakek tua berjenggot
kambing itu kontan saja berubah hebat.
“Soal ini kau Phoa Jie-ya tidak
perlu repot-repot ikut merasa kuatir, siauw-te sudah berkata tidak
akan melukai orang bilamana perkataanku tidak sesuai dengan
perbuatan, maka cawan itu adalah suatu contoh yang paling baik.”
ujarnya.
Terlihat cawan arak yang ada di
tangannya mendadak remuk berkeping-keping.
Phoa Ceng Yan memandang sekejap ke
arah hancurnya cawan arak tersebut, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Haaaaa…………haaaaa……….haaaaa……kawan, sungguh dahsyat tenaga dalammu,
kita sudah berbicara selama setengah harian lamanya, tapi aku orang
she Phoa masih belum mengetahui nama besarmu.”
“ooouww siauw-te!” seru kakek
berjenggot kambing itu sembari tertawa dingin.”Cayhe adalah Miauw It
Tong, seorang prajurit tak bernama dari dunia kangouw, mungkin
Phoa-heng belum pernah mendengar namaku bukan.”
“Aaach……! Yen San Ngo Ih….” seru
Phoa Ceng Yan tak tertahan lagi. hatinya benar-benar terasa bergetar
sangat keras.
“Heee……heee……heee….. Phoa Jie-ya
tidak usah terlalu memuji lagi, kami lima bersaudara disebut orang
dengan sebutan Yen San Ngo Kui atau lima setan dari gunung Yen San,
sebutan “Ngo Ih”-mu tersebut kami bersaudara tidak berani
menerimanya.
Miauw It Tong merandek sejenak,
lalu sambungnya kembali, “Pada lima tahun berselang, sewaktu
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok mengadakan perjamuan untuk menjamu
para enghiong hoohan baik dari darat maupun dari laut di daerah
sebelah utara, kami lima bersaudara-pun pada waktu itu menerima
surat undangan dari piauw-kiok kalian dan pernah bertemu satu kali
dengan Phoa Jie-ya. Karena itu di atas surat undangan kami berlima
tadi sudah kami cantumkan lima orang kawan lama, tetapi Phoa Jie-ya
orang budiman suka lupaan, ternyata kau sudah tidak teringat lagi
dengan kami berlima.”
Phoa Ceng Yan menyedot huncwee-nya
dalam-dalam kemudian menyemburkan segulung asap biru yang sangat
tebal.
“Saudara-saudara sekalian sudah
lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, tidak kusangka ternyata
kali ini kalian dapat munculkan diri kembali!” ujarnya sambil
tertawa.
“Phoa Jie-ya! Kami Yen San Ngo Kui
biasanya suka pergi kesana pergi kemari sesuka hati, setelah menjadi
budak orang lainpun rasanya tidak berhasil mengelabui pendengaran
kawan-kawan Bu-lim lainnya, apalagi mata-mata perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok tersebar luas di mana-mana, terhadap urusan kami lima
bersaudara tentunya kau orang sudah mendengar jelas bukan?” kata
Miauw It Tong.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
mengangguk-angguk.
“Aku orang she Phoa memang pernah
mendengar berita ini, katanya saudara-saudara sekalian sudah
menggabungkan diri di bawah perintah si Kongcu tukang foya-foya? “Im
Yan Pan” Ke Giok Lang!” katanya.
“Sedikitpun tidak salah, kami lima
bersaudara memang sudah menjadi pembantu-pembantu dari Ke-Kongcu!”
Walaupun Phoa Ceng Yan berusaha
untuk mempertahankan ketenangan hatinya, tak urung paras mukanya
rada berubah juga.
“Lalu apakah Ke Kong juga sudah
datang di kota Si Sian Jan ini??…” tanyanya lebih lanjut sambil
menghisap huncweenya dalam-dalam.
“Majikan kami mungkin sekali sudah
tiba di rumah penginapan Phoa Jie-ya!”
Mendadak Phoa Ceng Yan meloncat
bangun dari tempat duduknya.
“Siasat memancing harimau turun
gunung yang saudara sekalian gunakan, aku rela untuk
menggantikannya” kata si orang tua itu dengan dingin.
“Phoa Jie-ya! Mungkin sudah
terlambat!” seru Miauw It Tong sambil bangun berdiri pula.
Selagi Phoa Ceng Yan bermaksud
mengumbar hawa amarah, mendadak dari bawah loteng berkumandang
datang suara bentakan yang amat keras dan nyaring.
“Khek-ya! Di dalam kota Si Sian
Jan bukan cuma ada satu rumah makan saja, bersantap dimana saja
bukankah sama…….”
“Kau cucu kura-kura jangan bicara
seenakmu sendiri!” teriak seseorang dengan nada yang berat dan logat
Su Tzuan. “Kalian buka rumah makan untuk cari uang, kini aku orang
punya uang untuk membayar, mengapa kalian tidak mengijinkan aku
untuk bersantap….”
Diikuti suara bentakan keras dari
seseorang mendadak di mulut tangga muncul seseorang.
Phoa Ceng Yan segera mendongakkan
kepala terlihat olehnya seseorang lelaki yang memakai jubah warna
hijau dengan celana warna putih, sepatu terbuat dari serabut dan
pada punggungnya menggembol sebuah buntalan berbentuk persegi
panjang, sikapnya amat gagah sekali.
Wajahnya sederhana, tiada
bagian-bagian yang memancing daya tarik seseorang, tetapi di dalam
musim dingin seperti ini ternyata dia orang hanya memakai pakaian
tipis dan sama sekali tidak kelihatan kedinginan, hal ini jelas
menunjukkan bila ia memiliki dasar tenaga lweekang yang sangat
sempurna.
Setelah naik ke atas loteng
sewaktu dilihatnya meja kursi di sana pada disingkirkan semua ke
samping, dan tinggal sebuah meja perjamuan saja yang masih ada di
tengah-tengah ruangan, tak terasa lagi keningnya sudah dikerutkan
erat-erat.
“Maknya….. termasuk rumah makan
macam apa ini….” teriaknya tak kuasa lagi.
Belum habis ia berteriak mendadak
terlihatlah sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, seorang
lelaki kasar dengan tergesa-gesa menyusup naik ke atas loteng.
“Eeeeei….. apa yang sedang kau
gembar gemborkan?” bentaknya keras.
Tangan kanannya lantas menyambar
mencengkeram pundak lelaki berjubah hijau itu./
“Ooooouw……. mau berkelahi?” teriak
lelaki tersebut.
Tubuhnya dengan sangat ringan
berkelebat menghindarkan diri dari sambaran tangan kanan lelaki
tersebut.
Phoa Ceng Yan sewaktu melihat
orang yang baru saja melancarkan serangan itu bukan lain adalah
lelaki yang menyambut kedatangannya tadi, diam-diam pikirnya dalam
hati, “Entah siapakah lelaki berjubah hijau itu? Mengapa pada saat
ini ia paksakan diri untuk naik loteng, bukannya bersantai
sebaliknya mencari gara-gara dengan orang itu…..”
Lelaki tersebut sewaktu melihat
cengkeramannya segera dibabat ke samping berubah menjadi suatu
serangan pukulan.
“Aduuuuh……aduh…. celaka.,celaka,
di siang hari bolong kau berani turun tangan pukul orang, apa aku
kira si orang tua takut dengan peraturan hukum?” teriak si orang
berbaju hijau itu dengan suara berat.
Sembari berteriak dengan sangat
lincah ia berkelit ke samping.
Lelaki tersebut sewaktu melihat
kedua buah serangan beruntunnya kena dihindari oleh lelaki berbaju
hijau tersebut, dalam hati merasa amat gusar, sepasang telapaknya
diperkencang dan melancarkan serangan semakin gencar.
Terlihatlah sepasang kepalannya
laksana curahan hujan dengan gencar mendesak pihak lawannya.
Tetapi gerakan tubuh lelaki
berbaju hijau itu ternyata amat lincah, setiap serangan lelaki
tersebut dengan indah dan seenaknya berhasil dihindari semua.
Hanya di dalam sekejap mata lelaki
itu sudah melancarkan dua-tiga puluh jurus serangan, sebagian besar
pukulannya hanya menyambar lewat setengah coen dari ujung jubah
lelaki berbaju hijau itu.
Agaknya setiap kepalan yang
dilancarkan bakal mengenai pada sasarannya, tetapi begitu kepalan
mendekati sang tubuh, pihak musuh tahu-tahu serangannya telah
mencapai pada sasaran yang kosong.
Sejak pertama kali tadi Phoa Ceng
Yan sudah dapat melihat bila lelaki berbaju hijau itu sebenarnya
memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, asal ia melancarkan serangan
balas mungkin hanya di dalam satu jurus saja sudah cukup untuk
menguasai lelaki tersebut. “Tahan!” mendadak terdengar Miauw It Tong
membentak keras. “Jangan pamerkan kejelekanmu lagi.”
Lelaki itu beruntun melancarkan
sepuluh jurus serangan tetapi tak satupun yang berhasil mengenai
lawannya dalam hati ia mulai menyadari bila ini hari dia orang sudah
menemui musuh tangguh, kini setelah mendengar suara bentakan dari
Miauw It Tong buru-buru lelaki tersebut menarik kembali serangannya
dan mengundurkan diri ke belakang.
“Ooouw……kawan! Kau sudah bosan
bergebrak?” jengek lelaki berjubah hijau itu kemudian sambil
memandang sekejap ke arah lelaki tersebut.
Kala itu sebetulnya Phoa Ceng Yan
sudah bersiap-siap hendak menerjang keluar dari kurungan Yen San Ngo
Kui, tetapi setelah melihat si lelaki berlogat Su Tzuan ini ada
maksud mencari gara-gara, segera iapun bersabar diri dan menekan
rasa kuatir di hatinya untuk duduk kembali di tempat semula.
Kiranya, secara mendadak teringat
olehnya walaupun Lie Giok Liong tidak berhasil menyelundup masuk ke
dalam rumah makan tersebut tetapi paling sedikit sudah berada di
depan rumah makan Yu It Coen tersebut, asalkan ia berhasil
memperoleh sedikit kabar berita saja kemungkinan sekali ia bisa
kembali ke rumah penginapan untuk melaporkan berita tersebut kepada
diri Nyoo Su Jan.
Ketika itulah mendadak Miauw It
Tong mengulapkan tangannya, dua orang lelaki kasar yang duduk di
sisinya tiba-tiba meloncat bangun dan secara berbareng menghadang
jalan pergi dari lelaki berbaju hijau itu.
Dari Yen San Ngo Kui, kecuali
Loo-toa Miauw It Tong mempunyai perawakan kurus kering, sisanya
berempat adalah lelaki-lelaki kasar berperawakan tinggi besar dengan
wajah bengis.
Dua orang lelaki bengis yang
menghadang perjalanan lelaki berjubah hijau pada saat ini bukan lain
adalah Loo-ji si “Cioe Koe” atau setan arak Thio Hauw serta Loo Sam
“Si Koei” atau setan perempuan Ong Peng dari antara Yen San Ngo
Koei.
Si lelaki berbaju hijau itu dengan
cepat menghentikan langkahnya dan memandang sekejap ke arah dua
orang setan tersebut.
“Bagaimana? Kau orang juga
kepingin berkelahi?” tegurnya sambil tertawa.
“Kawan! Lebih baik kau orang
jangan berpura-pura gila dan menyaru seperti orang bodoh, di dalam
sepasang mata aku Thio Jie-ya masih belum kemasukan pasir!” seru Si
setan arak Thio Hauw dengan suara yang sangat dingin.
“Kau bangsat tua! Kepandaianmu
tidak cetek juga, aku rasa tentunya kau adalah seorang jagoan yang
mempunyai sedikir nama di dalam dunia kangouw” sambung Si setan
perempuan Ong Peng melanjutkan kata-kata saudara angkatnya. “Manusia
punya nama, pohon punya bayangan, kawan kalau betul-betul berani
mencari gara-gara dengan kami Yen San Ngo Koei ada seharusnya
melaporkan dulu siapakah namamu.”
Mendengar perkataan tersebut, si
orang berbaju hihau itu segera menengadah ke atas tertawa
terbahak-bahak.
Mendadak dengan menggunakan logat
ibukota yang sangat cepat, ujarnya, “Kalian berdua lagi menanyakan
nama besar cayhe?”
Mendengar nada ucapannya berubah
bahkan sama sekali tidak kedengaran logat Su Tzuan-nya lagi tak
terasa lagi Phoa Ceng Yan merasa hatinya rada bergerak, di dalam
benaknya teringat akan seseorang.
“Telingamu tidak tuli, matamu
tidak buta, kalau tidak bertanya padamu, apakah aku sedang bertanya
dengan cucu kura-kura?” maki si setan arak Thio Hauw dengan murka.
“Ooouw……. ooouw……. kau berani
memaki dengan kata-kata kotor…. bagus! Ingat saja dengan empat buah
gaplokanku nanti.”
“Kawan! Sungguh besar sekali
bacotmu!” seru si setan perempuan Ong Peng pula dengan kasar.
“Apakah kau tidak takut ada angin utara yang menyambar putus
lidahmu? Kami lima bersaudara dari gunung Yen San selamanya paling
tidak takut cari gara-gara, tetapi selamanya paling pantang pula
bergebrak melawan manusia-manusia yang tidak punya nama!”
“Ooouw….. nama cayhe? Ada sih ada,
cuma saja kurang sedap jika didengar, kalau aku ucapkan keluar,
harap kalian jangan marah-marah dan salahkan diriku yaaahhhh……”
“Sungai besar, samudra luas kami
sudah melihatnya semua, dengan mengandalkan ilmumu yang tidak
seberapa aku tidak percaya bila kaupun bisa memiliki sebuah nama
yang mirip manusia…..” ejek si setan arak dengan dingin.
“Waah……. kau benar-benar sangat
pandai kawan, sedikitpun tidak salah! Gelarku memang tidak akan
ditakuti manusia tetapi bagi kaum setan, siluman, iblis atau
manusia-manusia aneh yang mendengar tentu akan murung dibuatnya.”
Air muka si setan perempuan Ong
Peng segera berubah hebat.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Kui Kian Chu (setan ketemu
murung).
Untuk sementara waktu si setan
arak Thio Hauw masih belum merasakan apa-apa, terdengar ia bergumam
berulang kali.
“Kui Kian Cu……Kui Kian Cu…… Setan
ketemu murung…….Haaa?”
Mendadak ia menggembor keras.
“Bajingan! Bangsat, kau sudah
bosan hidup?”
Dengan jurus “Hwie Cu Cong Tiong”
atau tongkat terbang menumbuk genta ia melancarkan sebuah hantaman
dashyat menghajar dada lelaki berjubah hijau itu.
Kepalannya besar lagi kasar sudah
tentu kekuatannya luar biasa mengejutkan, pukulannya ini segera
menyambar kedepan disertai dengan deruan angin pukulan yang
memekakkan telinga.
Si lelaki berbaju hijau itu segera
maju satu langkah ke depan, kakinya berputar menghindarkan diri dari
datangnya serangan tersebut.
Thio Hauw mengangkat tangan
kirinya ke atas, pukulan kedua menyusul datang, sedang mulutnya
berteriak keras.
“Coba kau rasakanlah bagaimana
kedashyatan dari pukulan Thio Jie-yamu!”
Baru saja si orang berbaju hijau
itu menyingkir ke samping, angin pukulan dari Thio Hauw yang maha
dashyat sudah menyambar lewat dari sisinya.
Thio Hauw yang melihat pukulan
tersebut akan mengenai tubuh orang berbaju hijau itu, menanti
kepalannya hampir dekat dengan tubuh musuhnya mendadak ia menambahi
dengan beberapa bagian tenaga lagi.
Oleh karena itu, sewaktu
pukulannya mencapai pada sasaran yang kosong, Thio Hauw tak dapat
mempertahankan tubuhnya lagi, sang badan jatuh terjengkang ke depan
dan menumbuk tubuh orang berbaju hijau itu.
Sedang si orang berbaju hijau
itupun sedang menyingkir ke sampind menghindarkan diri dari
datangnya serangan tersebut, tak terhindar lagi pundak kirinya
dengan tepat menyongsong kedatangan dada Thio Hauw sehingga tak bisa
tercegah lagi terjadilah bentrokan yang amat keras.
Si baju hijau itu berteriak
tertahan, tubuhnya menyingkir dua langkah ke samping, sebaliknya si
setan arak Thio Hauw sudah mencekal dadanya berturut-turut mundur
lima enam langkah ke depan dan tepat menubruk di atas Phoa Ceng Yan.
Phoa Ceng Yan segera menggerakkan
tangan kanannya menerima jatuhnya tubuh Thio Hauw.
“Eeei, Thio Jie-ya, kau sudah kena
kuhantam?” jengeknya dingin.
Waktu itu saking sakitnya Thio
Hauw sudah tak bisa bicara lagi, tak kuasa lagi ia muntahkan darah
segar.
Sewaktu Phoa Ceng Yan melihat Thio
Hauw sudah menderita luka yang parah, ia tidak mengeluarkan
kata-kata ejekan lagi, dengan cepat dibimbingnya tubuh Thio Hauw
untuk dipersilahkan duduk di atas kursi.
“Phoa-heng! Kau orangkah yang
sudah turun tangan menghajar dirinya?” Mendadak Miauw It Tong bangun
berdiri sambil mendengus dingin.
Phoa Ceng Yang menggeleng dan
mendengarkan suara tertawa dingin tiada hentinya.
“Heee…..heee……heee…….menurut
pandangan Miauw-heng, apakah aku orang she Phoa mirip dengan manusia
rendah ahli membokong orang lain??” jengkelnya.
Harus diketahui Phoa Ceng Yan
memiliki julukan si pukulan besi yang menggetarkan seluruh dunia
persilatan, di dalam permainan telapak tangannya sudah tentu
memiliki kesempurnaan yang luar biasa.
Miauw It Tong yang melihat dia
orang membimbing tubuh Thio Hauw, lantas saudaranya muntah darah
segar di dalam anggapan-nya Phoa Ceng Yan lah yang secara diam-diam
sudah kerahkan hawa murni menghajar muka Thio Hauw.
Terdengar si setan arak Thio Hauw
menghembuskan napas panjang dua kali, lalu dengan nada
terputus-putus serunya, “Luka….lukaku aaada diii….didepan dada…..!”
Selesai mengucapkan kata-kata
tersebut, kembali ia muntahkan darah segar.
Ketika itulah Miauw It Tong
baru mengerti bila dirinya sudah menganggap kucing sebagai anjing,
tak terasa lagi dengan wajah merah padam ia menoleh dan memandang
sekejap ke arah lelaki berjubah hijau itu.
“Kawan! Sungguh bagus sekali
perbuatanmu “ tegurnya ketus.”Aku orang she Miauw hampir-hampir saja
salah melihat.”
Tangan kanan si lelaki berjubah
hijau itu tetap diletakkan di atas pundak kirinya, ia tertawa.
“Bila punya cengli maka mengembara
ke seluruh kolong langitpun bisa, tetapi jika tidak punya cengli
untuk melangkah setengah coenpun susah, sejak siauw-te naik ke atas
loteng belum pernah turun tangan terhadap siapa-pun,” katanya
perlahan. “Adalah saudaramu sendiri yang menerjang pundakku secara
kasar, hal ini bagaimana bisa salahkan cayhe?”
Sembari berkata iapun melangkah
maju menuju ke arah meja persegi tersebut.
Walau si setan perempuan Ong Peng
dapat melihat si setan arak Thio Hauw menderita luka parah, tetapi
ia mempunyai pandangan yang sama seperti Miauw It Tong, di dalam
perasaannya saudara mereka adalah terluka di tangan si telapak besi
gelang emas Phoa Ceng Yan, tetapi sama sekali tak terduga olehnya
bila saudaranya itu terluka karena tubrukan dengan pundak lelaki
berbaju hijau itu.
Kiranya si setan arak Thio Hauw
memiliki kepandaian ilmu kebal, walaupun belum sampai taraf tidak
mempan terhadap segala tusukan senjata tajam, tetapi bilamana cuma
ada tenaga pukulan seberat tiga-lima ratus kati saja jangan harap
bisa melukai dirinya hanya di dalam sekali pukulan.
Si lelaki berbaju hijau ini sama
sekali tidak menarik perhatian, bagaimana mungkin dia orang bisa
berhasil memukul luka diri Thio Hauw?
Selesai mendengar penjelasan dari
peristiwa bariuan ini, mendadak dari sebuah tabung bambu Ong Peng
mencabut keluar sebuah senjata tri sula, tanpa menimbulkan sedikit
suarapun ia segera bertindak mendekati diri lelaki berbaju hijau
itu.
Si setan perempuan Ong Peng bukan
saja sangat gemar dengan perempuan, bahkan diantara Yen San Ngo Koei
dialah yang paling licik dan paling kejam.
Kini dengan senjata tri sula
diangkat tinggi-tinggi dan sedikitpun tidak menimnulkan suara
perlahan-lahan ia berjalan mendekat tubuh lelaki berbaju hijau itu
kemudian melancarkan tusukan ke atas punggung musuhnya.
Dengan menimbulkan suara desiran
tajam trisula di atas tangannya segera melesat ke atas ujung baju
lelaki berbaju hijau itu.
Di dalam anggapannya serangan
tersebut pasti akan menemui sasarannya atau paling sedikit musuhnya
pasti akan menderita luka.
Siapa sangka tenaga yang digunakan
terlalu besar, apalagi lelaki berbaju hijau itupun dengan sebat dan
gesit sekali menghindarkan diri ke samping.
Kiranya sewaktu senjata trisula
itu hampir mengenai badan si lelaki berbaju hijau itulah, mendadak
orang itu sambil memegang perutnya menjerit kesakitan dan
menjatuhkan diri ke arah depan.
Si setan perempuan Ong Peng tak
dapat menahan diri lagi. Senjata trisulanya dengan menimbulkan suara
berisik menghajar tepat di atas piring sayur sehingga membuat benda
tersebut hancur lebur, kuah berminyak muncrat ke empat penjuru
membasahi seluruh wajahnya.
Phoa Ceng Yan serta Miauw It Tong
pada saat yang bersamaan dengan menggunakan gerakan yang tercepat
mencelat ke samping, hindarkan diri dari cipratan kuah minyak tadi.
Si setan arak Thio Hauw yang
sedang menderita luka berat tak sempat untuk menghindarkan diri
lagi, tak terhindar lagi seluruh tubuhnya dibasahi dengan berminyak
tersebut.
Walaupun Phoa Ceng Yan mencelat ke
belakang sejauh lima depa, tetapi selama ini sepasang matanya dengan
memancarkan cahaya tajam memperhatikan terus diri si lelaki berbaju
hijau itu.
Terlihat tubuh si lelaki berbaju
hijau hampir jatuh mengenai tanhah itu, mendadak busungkan dada,
angkat kepala, tangan tidak menempel tanah, badan tidak pinjam
tenaga dengan menggunakan kekuatan sewaktu mendongakkan kepalanya
itulah ia berhasil menegakkan badannya kembali.
Ong Peng yang melihat serangan
senjata trisulanya tidak mencapai pada sasaran, dengan tangan kiri
mengusap kering kuah pada minyak yang mengotori wajah dan senjata
trisula di tangan kanan berputar, sekali lagi ia melancarkan tusukan
ke arah dada lelaki berbaju hijau itu.
“Heee……heeee…..heee…… agaknya kau
orang sebelum melihat peti mati tak akan mengucurkan air mata,
sebelum tiba di sungai Huang Hoo belum puas!” seru lelaki berbaju
hijau itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Di tengah suara peembicaraan,
tangan kirinya mendadak diangkat ke atas mencengkeram pergelangan
tangan kanan Ong Peng.
Di mana hawa murninya disalurkan
melalui sang telapak, Ong Peng kontan merasakan separuh badannya
jadi kaku, kelima jari tangannya mengendor dan senjata trisula dalam
cekalannya tak tertahan lagi jatuh ke atas tanah.
Si setan harta Lie Tan serta si
setan nafsu Cau San sewaktu melihat si setan arak serta si setan
perempuan yang satu terluka parah dan yang lain kena ditawan oleh
pihak musuh, dalam hati benar-benar merasa terperanjat bercampur
gusar, diam-diam pikirnya di dalam hati.
“Bangsat cilik yang tidak
diketahui nama serta asal-usulnya ini, tidak disangka sedemikian
lihaynya?”
Agaknya di dalam hati mereka
berdua mempunyai maksud yang sama, mendadak diiringi suara bentakan
yang keras kedua orang itu secara berbareng menubruk ke arah lelaki
berbaju hijau itu.
Lelaki berbaju hijau itu mendengus
dingin, dengan sekuat tenaga ia menarik badan setan perempuan Ong
Peng ke arah depan menghadang datangnya tubrukan dari si setan harta
Lie Tan.
Gerakan dari Lie Tan dilakukan
sangat cepat dan ganas, penarikan tubuh Ong Peng yang dilakukan
lelaki berbaju hijau itupun tepat pada saatnya, si setan perempua
tak bisa menahan dirinya lagi tanpa terasa lagi tubuhnya menubruk ke
arah Lie Tan.
Si setan harta Lie Tan sewaktu
melihat berkelebatnya bayangan tubuh Ong Peng menyambut tubrukannya,
dalam hati merasa sangat terperanjat sekali, cuma sayang untuk
mengerem tindakannya sudah tidak sempat lagi.
“Braaak…..!” tak terhindar lagi
mereka berdua saling bertubrukan dengan kerasnya.
Lie Tan mendengus berat, tubuhnya
kena terpukul mundur tiga langkah ke belakang sebaliknya persendian
serta tulang iga Ong Peng kena ketubruk patah sehingga ia
harus menyekal pinggangnya sambil mengerang-ngerang kesakitan.
Seluruh peristiwa ini terjadi
hanya di dalam sekejap mata saja, sewaktu lelaki berbaju hijau itu
menggunakan badan Ong Peng untuk menahan tubrukan dari Lie Tan,
telapak tangan kanannya pada saat yang bersamaan mengirim pula satu
pukulan ke depan.
Serangan telapak ini kelihatannya
sama sekali tidak aneh, justru kelihayannya terletak pada ketepatan
waktu.
Cau San ingin menghindarkan diri
dari serangan tersebut agaknya tidak sempat lagi melihat angin
pukulan sudah menyambar datang, terpaksa dengan keraskan kepala ia
menubruk ke atas telapak musuh dengan keras.
“Plaaak……! Dengan menimbulkan
suara keras, tubuh Cau San yang semula bergerak maju dengan sangat
tepat menubruk di atas telapak tangan lelaki berbaju hijau itu.
Lelaki itu tidak bodoh, begitu
tubuh si setan nafsu menubruk datang, hawa murninya segera
dikerahkan keluar, terasalah segulung daya pental yang amat keras
dengan cepat melemparkan badannya ke belakang.
Sebetulnya ketika itu si setan
nafsu Cau San sedang berlari menerjang ke depan, setelaj termakan
daya pental tadi, tak kuasa lagi badannya mencelat ke belakang
sehingga tubuhnya berjumpalitan.
Melihat saudaranya kembali dipukul
sehingga mencelat ke belakang, Miauw It Tong segera maju ke depan
menerima jatuhnya tubuh Cau San.
“Heee……heee……heee……kawan, sungguh
dashyat tanaga dalammu” jengeknya perlahan.
Kiranya, kendati Miauw It Tong
berhasil menerima jatuhnya badan Cau San, tetapi badannya tidak
utung kena terpukul mundur juga sehingga melangkah ke arah belakang
sebanyak tiga tindak dengan sempoyongan.
“Hmmmmm…..! Kalian beberapa orang
budak buta yang tak tahu diri, memang sepatutnya aku kasih sedikit
hajaran kepada kalian agar kamu semua tahu jika jago-jago lihay di
dalam dunia kangouw sangat banyak jumlahnya, lain kali janganlah
coba-coba main gertak dan cari menang sendiri!” seru lelaki berbaju
hijau itu dingin.
Miauw It Tog bukan saja namanya
tercantum sebagai loo-toa di dalam deretan Yen San Ngo Koei bahkan
ilmu silatnya-pun jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dari empat
setan lainnya, sesudah melihat kejadian tadi, ia lantas mengerti
bila kepandaian silat yang dimiliki lelaki berbaju hijau ini telah
berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan, sekalipun ia sendiri
majupun hanya sia-sia belaka.
Dasar sifatnya memang licik,
pintar dan banyak akal. Sesudah merasa bila posisinya tidak
menguntungkan dengan paksakan diri menahan rasa murka di dalam
dadanya ia berkata, “Salah aku sendiri punya mata tak berbiji
sehingga tidak mengenal kau sebagai seorang jagoan lihay, hal ini
tak bisa salahkan kawan telah memberi sedikit hajaran kepada
mereka.”
“Haaa……haaa……haaa….. Khek loo ci,
begitulah baru mirip perkataan seorang manusia!” teriak lelaki
berbaju hijau itu sambil tertawa terbahak-bahak, sedang lagaknyapun
telah kembali dengan menggunakan logat daerah Su TZuan.
Perlahan-lahan Miauw It Tong
menghembuskan napas panjang.
“Manusia meninggalkan nama, burung
meninggalkan suara, kawan! Mengapa kau orang tidak tinggalkan dulu
nama besarmu!” ujarnya.
Lelaki berbaju hijau itu sama
sekali tidak mengubris terhadap perkataan tersebut, ia segera duduk
kembali mengangkat cawan arak dan dan berturut-turut meneguk
sebanyak tiga cawan besar.
Pada mulanya si setan arak,
perempuan, harta serta nafsi berempat tak dapat menahan rasa gusar
di hatinya melihat kecongkakan orang itu, tetapi setelah kejadian
barusan mereka baru merasa bila mereka berempat telah menemui jagoan
lihay yang selama ini belum pernah ditemuinya. Akhirnya dengan
menahan rasa sakit mereka pada bungkam diam dalam seribu bahasa.
Kembali Miauw It TOng mendehem
perlahan, “Kawan, siaw-tee ingin minta petunjuk nama besar dari
saudara…” katanya.
Lelaki berbaju hijau itu tetap
tidak mengubris dan pura-pura tidak mendengar bahkan kepalanya tidak
menoleh, matanya tidak berputar, ia hanya repot dengan araknya saja.
“Ehmmm…..! Kedatangan lelaki
berbaju hijau ini sungguh aneh sekali,” diam-diam pikir Phoa Ceng
Yan di dalam hati.”Agaknya ia sengaja ada maksud hendak mencari
gara-gara dengan mereka, sebetulnya apa maksud yang sebetulnya?”
Berpikir akan hal itu,
perlahan-lahan ia-pun sambil duduk ditempatnya semula.
“Heee……heee…..heee…… ada pepatah
mengatakan tiada perjamuan merupakan suatu perjamuan baik. Kawan!
Kau orang tidak takut bila di dalam arak tersebut sudah kami campur
dengan racun?” teriak Miauw It Tong sambil tertawa seram.
“Apa kau kata?” mendadak lelaki
berbaju hijau itu meletakkan poci araknya ke atas meja.
“Cayhe berkata kalau arak tersebut
dicampuri dengan racun!”
“Racun apa?”
“Racun apa? oouuw…… sungguh maaf
sekali! Cayhe sendiripun tidak paham racun apakah itu, yang jelas di
dalam arak tersebut sudah dicampuri racun.”
“Heee……heee…..heee…… tentu kau
sendirilah yang bertindak sebagai pentolan Yen San Ngo Koei?” jengek
lelaki berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.
“Sedikitpun tidak salah, cayhe she
Miauw bernama It Tong, entah kawan mempunyai petunjuk apa?”
“Badan setan ekor-ekor setan!
Semuanya pentang cakar unjuk gigi, kelihatannya kau sebagai kepala
setan masih bisa menahan sabar.”
“Maksud kawan…….?” air muka Miauw
It Tong kontan berubah hebat.
“Kau kira aku tidak paham dengan
siasat setan dari kepala setan otak setan kalian?”
“Apa maksud perkataanmu itu?”
“Aku dengar orang berkata bahwa si
kepala setan memiliki kepandaian silat yang jauh hebat dari beberapa
orang setan-setan yang menjadi ekornyam tidak kusangka kaupun
memiliki kelicikan yang jauh melebihi setan-setan ekor lainnya….”
Mendadak ia putar batok kepalanya,
dengan dua rentetan cahaya mata yang dingin dan tajam ia melototi
wajah Miauw It Tong dalam-dalam, sambungnya dengan nada sangat
dingin.
“Kau adalah seekor kadak buduk
yang ingin bersembunyi dari sinar matahari, bisa meloloskan diri
satu detik, berusaha keras untuk mendapatkan satu detik,
heee……heee……cuma saja kau jangan kuatir!”
Begitu perkataan tersebut selesai
diucapkan, Miauw It Tong segera merasakan ghatinya tergetar sangat
keras, tetapi di atas paras mukanya masih mempertahankan ketenangan.
“Cayhe mempunyai urusan apa yang
patut dikuatirkan,” katanya perlahan.
“Kau sedang mengulur waktu untuk
menanti kedatangan majikan kalian si kongcu tukan foya-foya Ke Giok
Lang!”
Sekali lagi Miauw It Tong
merasakan hatinya tergetar sangat keras.
“Saudara adalah ………”
“Perkataan dari Khek Loo-ci tidak
salah bukan!” potong lelaki berbaju hijau itu dengan cepat. “Kau
bangsat cilik diam-diam punya maksud tidak baik,
heee…..heee……sebetulnya jika aku kepingin membereskan kalian Yen San
Ngo Koei sangat gampang sekali seperti membalik tangan sendiri, cuma
……..”
Belum habis ia menyelesaikan
perkataannya, mendadak terdengarlah suara tertawa terbahak-bahak
yang amat keras memotong pembicaraan lelaki berbaju hijau yang belum
selesai diucapkan itu.
Ketika semua orang menoleh ke arah
mana berasalnya suara tertawa itu, terlihatlah di depan mulut loteng
muncullah seorang pemuda tampan yang memakai topi model siangkong,
memakai jubah berwarna biru, tangannya mencekal sebuah kipas, wajah
putih halus dan berbibir merah seperti memakai gincu.
Melihat munculnya pemuda itu si
lelaki berbaju hijau itu segera mengebrakkan tangannya ke atas meja
sehingga membuat teko arak, cawan, mangkok serta piring-piring sayur
tergetar keras dan beterbangan di tengah udara.
“Ke Giok Lang, loohu sudah
mengejar dirimu selama setengah tahun lamanya….”
“Ooouw…. aku kira siapa, tidak
nyana adalah Tui Hong Hiap atau si pendekar pengejar anging yang
memiliki nama besar di dalam dunia kangouw,” potong Ke Giok Lang
sambil mengulapkan tangannya.
Mendengar disebutnya nama
tersebut, Miauw It Tong kontan merasakan hatinya tergetar sangat
keras.
“Tidak nyana si bangsat cilik yang
berwajah biasa dan sama sekali tidak menarik ini adalah si pendekar
pengejar angin yang amat terkenal itu.” pikirnya diam-diam dalam
hati. “Masih beruntung aku bisa menahan sabar, kalau sampai aku
orang turun tangan mungkin dirikupun tak akan terhindar dan bakal
menderita rasa malu pula.”
Terdengarlah pada waktu itu si
pendekar pengejar angin dengan nada dingin sedang berseru, “Ke Giok
Lang! Kau sudah menculik pergi keponakan perempuanku kemana?”
“Aduuh……..aduuh…… sungguh tidak
enak sekali perkataanmu itu jika didengar, selama ini cayhe belum
pernah menculik atau membawa lari perempuan orang-orang baik…..”
seru si Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang sambil melangkah maju
ke depan dan tertawa menyengir.
Ia merandek sejenak, setelah
membentangkan kipasnya lebar-lebar kembali sambungnya lagi.
“Heeei…! Bilamana bukannya mereka
yang memohon-mohon dengan begitu mengenaskan akupun tidak ingin
membawa mereka pergi.”
“Eeei…. Kau jangan coba melamuri
aku sedang menanyakan keponakan perempuan cayhe, ia masih hidup atau
sudah mati?? sekarang ada di mana?”
“Haaaa……haaa……….haaa………….siapakah
nama dari keponakan perempuan itu? Apakah kaupun tahu?” ejek Ke Giok
Lang lagi sambil tertawa geli.
Saking khekinya air muka si
pendekar pengejar angin berubah hebat.
“Ke Giok Lang! Kau cucu kura-kura
jangan membuat aku si orang tua jadi gusar haaa! Kalau tidak
….heee…..heee….. jangan salahkan aku orang hendak memaki dirimu
dengan menggunakan logat tiga belas daerah!”
(Bersambung Jilid Ke 6)
Jilid Ke 6
Ke Giok Lang sambil mengoyangkan
kipasnya mengerutkan alis rapat-rapat.
“Kau jangan coba-coba mengucapkan
kata-kata kurang sedap tentang diriku!” katanya tak mau kalah.
“Kalau tidak penjelasan ini akan kubatalkan dan Kongcuya segera akan
pergi meninggalkan tempat ini.”
Mendengar ancaman tersebut, si
pendekar pengejar angin terdesak, terpaksa katanya sambil menahan
sabar.
“Keponakan perempuan saya bernama
Hoo Lian Hoa!” katanya pelan.
Si Kongcu tukan foya-foya Ke Giok
Lang mengeluarkan napas panjang panjang.
“Wanita simpanan cayhe sebetulnya
tidak sedikit jumlahnya, jikalau kau tidak mengucapkan namanya,
bagaimana bisa kuingat kembali?”
“Sekarang kamu boleh katakan!”
dengus si pendekar pengejar angin dingin.
“Mengenai berita yang dapat aku
sampaikan pada Chin-heng adalah nona Hoo lian Hoa masih hidup di
dalam kolong langit.”
“Sekarang dia ada dimana??”
Ke Giok Lang segera tersenyum.
“Cayhe mohon maaf! Soal ini cayhe
tak dapat terangkan kepadamu!”
“Kalau begitu terpaksa cayhe harus
turun tangan mendesak dirimu sampai suka berbicara!” bentak si
pendekar pengejar angin dengan gusar.
“Menurut pandangan Chin-heng,
apakah kau orang pasti akan berhasil menangkan diriku?”
“Sekalipun aku orang she Chin
tidak berhasil menangkan dirimu, untuk kalahpun tidak mungkin, kau
boleh mulai ajukan syaratmu kau ingin aku berbuat apa baru suka
menjelaskan dimanakah Hoo Lian Hoa sekang berada?”
“Pertama-tama yang cayhe tidak
pahami adalah nona Hoo Lian Hoa itu she Hoo, sedang kau she Chin,
mengapa Chin-heng boleh membahasahi dirinya segagai keponakan
perempuan?” Ujar Ke Giok Lang sambil tertawa.
“Hoa-hoa Kongcu! Kau sungguh tidak
tahu ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya?” teriak Tui Hong
Hiap dengan sangat marah.
“Haaa…..haaa…..haaa…. jika aku
katakan aku orang sama sekali tidak tahu, mungkin kau Chin-heng
bakal tidak percaya, tetapi pengetahuan siauw-tee ada batasnya, aku
ingin lebih mengetahui apakah hubungan yang sebetulnya antara Chin
Heng dengan nona Hoo Lian Hoa?”
“Urusan ini gampang sekali, ayah
Hoo Lian Hoa adalah saudara angkatku”.
Sekali lagi Ke Giok Lang tertawa.
“Si pancing sakti Hoo Tong pun
merupakan seorang jagoan lihay yang mempunyai nama besar di dalam
dunia kangouw, ia kehilangan putrinya bukan pergi mencari sendiri
sebaliknya malah menyuruh Chin-heng mewakili dirinya pergi menemukan
kembali putrinya, berita ini bilamana di kemudian hari tersebar di
dalam dunia kangouw, apakah tidak takut ditertawakan orang-orang
sehingga gigi-pun pada terlepas semua?” ejeknya.
“Hoo Toa-ko ku sama sekali tidak
memerintahkan diriku untuk pergi mencari dapat putrinya yang
hilang…..”
“Kalau begitu tindakan Chin-heng
di dalam pencarian jejak nona Hoo Lian Hoa adalah berdasarkan maksud
diri sendiri,” sambung Ke Giok Lang tidak menanti ia menyelesaikan
kata-katanya.
“Sedikitpun tidak salah, hal ini
memang maksud aku orang she Chin sendiri….”
Nadanya mendadak berubah, dengan
suara yang amat dingin sambungnya lebih lanjut, “Orang lain mungkin
takut dengan kau si “Hoa-Hoa Kongcu” Ke Giok Lang, tetapi aku orang
she Chin tidak bakal jeri, ini hari kau sudah mengakui bahwa Hoo
Lian Hoa adalah kau yang culik pergi, maka ini hari juga aku hendak
memaksa kau orang untuk menyerahkan kembali nona itu kepadaku”.
“Jika siauw-tee tidak mau serahkan
kembali kepadamu?” ejek Ke Giok Lang lebih lanjut.
“Kalau begitu, ini hari kita harus
bergeb rak sehingga salah satu di antara kita ada yang kalah dan ada
yang menang.”
“ooo….. kepingin berkelahi?”
“Jika tak ada cara lainnya lagi
yang bisa digunakan, terpaksa aku orang she Chin harus minta
beberapa petunjuk dari kepandaian silatmu yang lihay itu.”
“Persoalan diantara kita mudah
dibicarakan, mau berkelahi atau mau damai, pokoknya suatu jalan
keluar masih mudah didapatkan……”
Berbicara sampai di situ, sinar
matanya lantas dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan.
“Saudara ini tentunya Phoa Hu Cong
Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bukan?”
“Tidak berani, tidak berani, cayhe
Phoa Ceng Yan!” buru-buru si orang tua itu merangkap tangannya
menjura.
“Nyoo Su Jan beserta anak buahmu
lainnya baru saja titip pesan kepada cayhe agar supaya suka
menyampaikan kepada Phoa-heng bahwa sekarang mereka menanti
kembalinya Phoa Hu Cong Piauw-tauw ke rumah penginapan.”
“Aaaakh….! Ke Kongcu sudah bertemu
dengan Nyoo Piauw-tauw kami?” seru Phoa Ceng Yan sambil melompat
bangun.
“Sedikitpun tidak salah, cayhe
bukan saja sudah mengunjungi rumah penginapan yang didiami kalian,
bahkan sudah bertemu pula dengan nona Liauw.”
Mendengar perkataan tersebut, Phoa
Ceng Yan segera merasakan hatinya berdebar-debar sangat keras,
tetapi di luaran paras mukanya masih tetap tenang.
“Ke-heng! Kaupun sudah bertemu
dengan Liauw Thayjien?” tanyanya.
“Selama ini siauw-tee paling tidak
suka berhubungan dengan orang-orang laki, terutama lelaki yang
berasal dari kaum pembesar negeri….” sahut Ke Giok Lang sambil
menggeleng.
Ia merandek sejenak, kemudian
sambil tertawa terbahak-bahak sambungnya kembali.
“Cayhe dengan nona Liauw dapat
bercakap dengan sangat baik sekali, jikalau nona Liauw tidak menipu
diriku maka namanya adalah Liauw Wan Jie, bukan begitu?”
Phoa Ceng Yan pernah mendengar
Liauw Hujin memanggil putrinya dengan sebutan Liauw Wan Jie, ia
lantas mengerti bila apa yang diucapkan oleh kongcu ini sedikitpun
tidak salah.
Tak terasa lagi dalam hati si
orang tua ini mulai merasa amat terperanjat pikirnya,”Jikalau nona
Liauw sampai mendapat malu karena dirinya, bukankah merek emas dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok akan hancur di tangan aku orang she
Phoa??? jika sampai terjadi peristiwa ini, aku mana punya muka lagi
untuk menemui Cong Piauw-tauw?? lebih baik aku melakukan suatu
pertempuran mati-matian saja di dalam rumah makan Yu It Cun ini
untuk membasmi mereka daripada harus hidup menanggung rasa malu.”
Setelah di dalam hati mengambil
keputusan, nyalinya semakin besar.
“Heee……heee…… penyakit nona Liauw
sangat hebat sekali!” serunya dingin.
“Sedikitpun tidak salah, bukan
saja cayhe sudah tolong periksakan urat nadinya bahkan akupun telah
menghadiahkan sebutir pil penyembuh sakit,” kata Ke Giok Lang
lantang. “Sewaktu cayhe hendak meninggalkan rumah penginapan itu,
kelihatannya sakit yang ia derita sudah rada ringan.”
“Ehmmm! Nama besar Ke Kongcu sudah
menggetarkan seluruh dunia kangouw, kedatanganmu mengunjungi rumah
penginapan yang kami diami tentu bukan tanpa sebab bukan???”
“Perkataan dair Phoa-heng
sedikitpun tidak salah” sahut Ke Giok Lang sambil tertawa. “Jika tak
ada urusan, cayhepun tak bakal mendatangi kota Si Sian Jan yang
sunyi dan terpencil ini.”
“Kedatangan Ke Kongcu ke tempat
ini mungkin ada sedikit sangkut paut dengan perusahaan kami?”
“Betul, betul………justru dikarenakan
barang kawalan dari perusahaan kalian itu, cuma..”
“Cuma bagaimana??” potong Phoa
Ceng Yan tidak sabaran.
“Cuma, kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw
boleh berlega hati, kemungkinan sekali barang kawalan dari
perusahaan kalian tak bakal ada orang yang berani mengganggu lagi.”
Mendengar perkataan tersebut, Phoa
Ceng Yan segera merasakan hatinya rada bergerak, pikirnya diam-diam.
“Apakah nona Liauw sudah
memperlihatkan ilmu silatnya yang sangat lihay sehingga membuat
iblis besar yang telah menggetarkan seluruh dunia kangouw ini jadi
jeri dan tarik kembali maksud tujuannya…”
“Maksud Ke Kongcu……..” sengaja
serunya.
“Terang-terangan Phoa-heng sudah
mengetahui jelas, mengapa kau harus ajukan pertanyaan ini lagi?”
potong si Kongcu tukang foya-foya tidak menanti si orang tua itu
menyelesaikan kata-katanya.
“Aku orang she Phoa
sungguh-sungguh merasa kurang paham, masih mengharapkan Ke Kongcu
suka memberi penjelasan di dalam persoalan ini.”
“Bilamana Kongcu-ya mu tidak
berani mengganggu barang kawalan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian, aku rasa di kolong langit pada saat ini tak
mungkin bisa ditemukan beberapa orang yang berani turun tangan
membegal barang-barang kawalan kalian, cuma saja Kongcu-ya mu
terlebih dahulu hendak menjelaskan satu persoalan kepada-mu. Kali
ini aku orang she Ke tidak sampai membegal barang-barang kawalanmu
bukan-nya disebabkan aku menaruh perasaan jeri terhadap perusahaan
Liong Wie Piauw-kiok kalian.”
Phoa Ceng Yan tertawa tawar.
“Peduli dikarenakan persoalan apa,
yang jelas kali ini Ke Kongcu suka lepas tangan terhadap
barang-barang kawalan perusahaan kami, cayhe sudah merasa sangat
berterima kasih sekali,” katanya.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Kau bole
berlalu terlebih dulu,” ujar Ke Giok Lang kemudian sambil melirik
sekejap ke arah si pendekar pengejar angin. “Cayhe dengan saudara
Chin ini masih ada sedikit persoalan yang hendak diselesaikan.”
Phoa Ceng Yan segera bangun
berdiri sambil menjura. “Cyhe lebih baik menurut perintah saja, aku
orang she Phoa berangkat satu langkah terlebih dulu.”
“Aku orang she Chin tidak
menghantar lebih jauh,” si pendekar pengejar angin menjura.
“Terima kasih……..terima kasih.
Cayhe tidak berani mengganggu dan merepotkan Chin taihiap”
Perlahan-lahan si Kongcu tukang
foya-foya Ke Giok Lang bangun meninggalkan tempat duduknya.
“Sewaktu bertemu dengan Nyoo
Piauw-tauw, suka mewakili cayhe mintakan maaf kepadanya, tadi aku
orang sudah turun tangan terlalu berat terhadap dirinya.”
“Asalkan Ke Kongcu tidak sampai
membuat mereka jadi cacad seumur hidup, seluruh urusan biar aku
orang she Phoa yang tanggung.”
Ke Giok Lang kembali tersenyum.
“Aku orang she Ke paling banyak
mengikat permusuhan di dalam dunia kangouw, ditambah lagi dengan
beberapa orang musuhpun tidak akan memikirkan di hati, cuma saja
cayhe tidak ingin membuat dosa terhadap nona Liauw,” katanya.
Phoa Ceng Yan mendehem perlahan.
“Cayhe mohon diri dulu!” serunya
kemudian.
Ia lantas putar badan dan dengan
langkah lebar berjalan menuruni loteng tersebut.
Setelah keluar dari pintu rumah
makan Yu It Cun, seorang lelaki berjenggot panjang dengan langkah
lebar menyongsong kedatangan-nya.
“Paman Jie-siok.” tegurnya dengan
suara yang lirih. “Aku adalah Giok Liong, penjagaan di pintu rumah
makan Yu It Cun sangat ketat, siauw-tit tidak berhasil menyelundup
masuk!”
“Kau tidak usah pergi lagi, mari
kita sama-sama kembali ke rumah penginapan.”
Kendati dari mulut si “Hoa Hoa
Kongcu” Ke Giok Lang, si telapak besi bergelang emas Phoa Ceng Yan
telah mengetahui jika Nyoo Su Jan hanya menemui kekagetan saja tanpa
mendapatkan cedera apapun, tetap ia masih merasa tidak berlega hati.
Dengan membawa Lie Giok Liong
dengan langkah tergesa-gesa ia kembali ke dalam rumah penginapan dan
langsung menuju ke ruang belakang.
Terlihatlah Nyoo Su Jan serta Ih
Coen pada waktu itu sedang bercakap-cakap di dalam ruangan.
Mereka berdua begitu melihat
munculnya Phoa Ceng Yan, dengan cepat berjalan menyongsong.
Ih Coen setelah menyapa dan
memberi hormat, lantas menyingkir ke samping, sebaliknya Nyoo Su Jan
melanjutkan kata-katanya.
“Jie-ya! Tadi si Hoa-Hoa Kongcu Ke
Giopk Lang sudah datang berkunjung kemari.”
“Ehmmm…..! Aku sudah tahu.” potong
Phoa Ceng Yan dengan cepat. “Apakah dari pihak keluarga Liauw
menderita kerugian? Di antara orang-orang kita adakah orang-orang
yang menderita luka atau menemui ajalnya.”
“Heeei…. jika diceritakan sungguh
memalukan sekali, hamba yang bergebrak tidak sampai tiga jurus
melawan Ke Giok Lang sudah berhasil kena ditotok rubuh. Thio
Piauw-tauw beserta beberapa orang anak buah kena tertotok jalan
darahnya oleh babatan kipasnya, keadaan yang sejelasnya hamba tidak
melihat sendiri, menurut laporang dari Liauw Thayjien katanya mereka
sama sekali tidak menderita kerugian apapun.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
menengadah ke atas dan menghembuskan napas panjang.
“Su Jan! Di dalam pengawalan
barang kali ini, boleh dikata kita sudah kehilangan muka, sama baik
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang diperjuangkan selama puluhan
tahun lamanya sudah menemui kehancuran di tangan kita….”
Ia merandek sejenak,lalu
sambungnya lagi, “Suruh mereka melakukan persiapan, sore ini juga
kita akan segera berangkat, lebih baik cepat-cepat kita hantar
barang kawalanini sampai ke kota Kay Hong, setelah itu aku akan
minta maaf dan mengundurkan diri dari jabatan di hadapan COng
Piauw-tauw.”
“Jie-ya, kau tidak usah
marah-marah.” hibur Nyoo Su Jan dengan suara yang sangat lirih. “Si
kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang merupakan seorang jago kenamaan
yang telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, sekalipun Cong
Piauw-tauw turun tangan sendiri mengawal barang-barang inipun akan
bernasib sama saja….”
Ia mendehem perlahan dan memotong
perkataannya sampai disitu, setelah termenung sebentar lalu
sambungnya lagi, “Cuma saja, dengan kedatangan dari Ke Giok Lang
kali ini kita berhasil membuktikan hal-hal yang mencurigakan Jie-ya
selama ini….”
“Urusan apa?”
“Nona Liauw itu bukan saja
merupakan seorang pendekar yang memiliki kepandaian ilmu silat
sangat tinggi, bahkan mempunyai kecerdasan yang melebihi orang lain
dan mempunyai banyak akal, seorang anak buah kita telah berhasil
melihat Hoa Hoa Kongcu memasuki kamar nona Liauw tetapi sebentar
kemudian sudah mengundurkan diri dari tempat sana bahkan turun
tangan membebaskan jalan darah kami yang tertotok”.
“Anak buah kita itu apakah tidak
salah melihat?” seru Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar.
“Tidak bakal salah melihat! Di
dalam halaman bersegi empat ini seluruhnya terdapat beberapa buah
kamar, anak buah kita itu sedang menderita luka dan beristirahat di
dalam kamar, tempat pembaringan tepat terletak berhadap-hadapan
dengan jendela kamar seberang di mana didiami oleh nona Liauw. Aku
sudah menanyai dirinya dua tiga kali, jawaban-nya adalah sama.”
“Coen-jie, coba kau panggil anak
buah kita itu dan suruh datang ke kamarku, aku hendak tanyai
dirinya.” ujar Phoa Ceng Yan kemudian sambil menoleh ke arah Ih
Piauw-tauw.
“Bagaimana kalau saya saja yang
membawa-nya ke tempat Jie-ya?” tanya Nyoo Su Jan perlahan.
Phoa Ceng Yan mengangguk perlahan,
ia lantas kembali ke dalam kamarnya, mengambil handuk, baskom air
lantas mencuci muka.
Tidak selang lama kemudian,
terlihatlah Nyoo Su Jan dengan memayang seorang lelaki berjalan
masuk ke dalam kamar.
“Kau melihat dengan mata kepala
sendiri Ke Giok Lang memasuki kamar nona Liauw?” tanya Phoa
Ceng Yan kemudian sambil mengusap keringat butiran air di atas
wajahnya.
“Sedikitpun tidak salah!” sahut
lelaku itu dengan amat hormatnya sambil mengangguk. “Hamba melihat
dengan mata kepala sendiri Ke Giok Lang memasuki kamar tidur nona
Liauw. ketika itu Liauw Hujin serta dayangnya-pun ada di dalam
kamar.”
“Akhirnya?” tanya si telapak besi
bergelang emas lebih lanjut.
“Setelah Ke Giok Lang masuk ke
dalam kamar itu beberapa saat lamanya ia lantas mengundurkan diri
kembali, bagaimana selanjutnya hamba lantas tidak tahu.”
“Ehmmm…..kau boleh kembali ke
dalam kamarmu untuk beristirahat!”
Dengan sangat hormat lelaki itu
menjura, kemudian sambil menoleh ke arah Nyoo Su Jan katanya, “Hamba
bisa berjalan sendiri, Nyoo Piauw-tauw tidak usah susah-susah
membimbing diriku lagi.”
“Kalau begitu kau jalanlah
perlahan-lahan.” bisik Nyoo Su Jan sambil membimbing ia hingga
sampai di depan pintu kamar.
Setelah menutup pintu kamar,
dengan suara yang amat lirih kembali ujarnya kepada Phoa Ceng Yan.
“Walaupun jalan darah hamba kena
tertotok, tetapi kesadaran serta pikiranku masih jernih, didalam
ingatanku kepergian Ke Giok Lang ke dalam kamar tersebut sangat
cepat sekali, jika ia berhenti sebentar di dalam kamarnya nona Liauw
maka boleh dikata hanya sekejap mata, jika bergebrak maka tidak akan
melebihi sepuluh gebrakan.”
“Jikalau masing-masing pihak
adalah jago-jago lihay, pertarungan sebanyak sepuluh jurus sudah
cukup untuk menentukan siapa yang menang dan siapa kalah.”
“Ke Giok Lang setelah membebaskan
jalan darah hamba yang tertotok tanpa banyak cakap lagi ia segera
berlalu.” ujar Nyoo Su Jan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan kalau
di dalam pertempurannya di dalam kamar, ia tak berhasil memperoleh
posisi di atas angin.”
“Heeei….. hitung-hitung kita
adalah manusia-manusia yang buta, ternyata tak seorangpun diantara
kita yang berhasl mengetahui jika nona Liauw sebetulnya memiliki
kepandaian silat yang amat tinggi.”
“Seseorang bilamana tenaga
dalamnya telah berhasil mencapai pada titik kesempurnaan yang tiada
taranya, maka diatas raut mukanya kebalikan malah sama sekali tidak
kelihatan jika ia memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat
tinggi.”
“Bagaimanapun juga,” ujar Phoa
Ceng Yan kemudian setelah termenung sejenak. “Kali ini kita
benar-benar sudah jatuh kecundang, biarlah sebentar lagi aku pergi
bercakap-cakap dengan Liauw Thayjien, ia sudah mempunyai seorang
putri yang memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, sebetulnya
tidak perlu menggunakan tenaga kita untuk melindungi keselamatannya
lagi, jikalau bisa lepas tangan lebih baik kita selesaikan saja
tugas kita sampai di sini.”
“Bilamana Laiuw Thayjien tidak
suka mengabulkan?”
“Terpaksa kita orang dengan
keraskan kepala harus mengantar mereka sampai tiba ke kota Kay
Hong.”
“Baik!” seru Nyoo Su Jan
mengangguk. “Phoa-ya boleh pergi berunding dengan Liauw Thayjien,
kemungkinan sekali Liauw Thayjien sendiripun sama sekali tidak tahu
bila putrinya memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat lihay.”
“Baik! Kau pergilah suruh mereka
mempersiapkan kereta dan kuda, sedang aku akan pergi menemui Liauw
Thayjien. tidak perduli ia suka mengabulkan permintaan kita atau
tidak, kita tetap harus melanjutkan perjalanan.”
Nyoo Su Jan mengia, ia lantas
putar badan berlalu.
“Su Jan!” Mendadak Phoa Ceng Yan
menegur sambil mendehem perlahan. “Teringat olehku beberapa patah
kata yang diucapkan si Hoa Hoa Kongcu Ke GIok Lang kepadaku.”
Nyoo Su Jan yang sudah berada di
depan pintu setelah mendengar perkataan tersebut segera menghentikan
langkahnya.
“Perkataan apa?” tanyanya.
“Kata Ke Giok Lang, ia sudah
memeriksa denyutan jantung dari nona Liauw, bahkan masih
menghadiahkan pula sebutir pil kepadanya.”
Nyoo Su Jan kontas saja
mengerutkan alisnya rapat-rapat.
‘Walaupun si Hoa Hoa Kongcu Ke
Giok Lang jadi orang licik dan cabul tetapi jarang sekali berbohong,
beberapa patah perkataannya ini jelas bukan merupakan kata-kata yang
bohong.”
“Jika perkataannya tidak bohong,
maka di dalam persoalan ini kita harus melakukan suatu penyelidikan
yang teliti.”
“Bukan saja harus mengadakan
penyelidikan dengan teliti, bahkan semua perkataan kita yang pernah
diucapkan harus dipikirkan kembali,” sambung Nyoo Su Jan dengan
cepat.
Sambil mengelus jenggotnya Phoa
Ceng Yan termenung berpikir keras.
“Su Jan, bagaimana pandanganmu?”
tanyanya kemudian dengan suara yang sangat perlahan.
“Jikalau perkataan dari Ke Giok
Lang adalah kata-kata yang benar dan nyata, maka hal ini menunjukkan
bila nona Liauw adalah seorang gadis yang tidak mengerti akan ilmu
silat”.
“Jadi maksudmu si Hoa Hoa Kongcu
suka menaruh belas kasihan terhadap dirinya sehingga suka melepaslam
dirinya,” tanya Phoa Ceng Yan.
“Heei….! Jikalau si Kongcu tukang
foya-foya Ke Giok Lang betul-betul sudah mengucapkan perkataan
tersebut, cayhe percaya kalau dia sedang berbohong, di dalam
peristiwa ini pasti sudah tersimpan suatu persoalan yang besar.”
Selesai mendengar perkataan dari
Nyoo Su jan ini, tampaklah si telapak besi bergelang emas termenung
berpikir keras.
“Ehmmmmm…….! Di dalam persialan
ini memang terdapat banyak hal yang patut dicurigai” sahutnya
kemudian setelah lewat beberapa saat lamanya. “Jika ditinjau dari
keadaan kita pada saat ini, menurut pandanganku walaupun bertemu
dengan Liauw Thayjien-pun tidak ada gunanya, lebih baik kita
berusaha untuk menemui nona Liauw sendiri.”
“Liauw Thayjien agaknya merupakan
seorang yang berpandangan luas dan berpikiran tajam, jikalau Jie-ya
mengungkap persoalan ini dihadapannya, aku pikir Liauw Thayjien tak
akan menolak.”
Kembali Phoa Ceng Yan termenung
beberapa saat lamanya, terakhir ia mengangguk.
“Tentang soal ini tiada
halangannya aku pergi bertanya di dalam menghadapi keadaan seperti
ini, kita tidak boleh bertindak seperti orang buta menunggang kuda,
menubruk seenaknya dan sekenanya.”
“Jikalau pada saat ini kita dapat
mengunjungi kamar nona Liauw untuk mengadakan pemeriksaan,
kemungkinan sekalai kita orang dapat berhasil mendapatkan sesuatu
tanda.” bisik Nyoo Su Jan.
“Akh….! Haaa……haaa…… sedikitpun
tidak salah!” teriak Phoa Ceng Yan sambil menepuk pahanya keras
keras. “Apa yang berhasil dilihat oleh Hoa Hoa Kongcu di dalam kamar
nona Liauw, seharusnya kitapun dapat menemuinya.”
“Urusan tak boleh diulur-ulur
lagi, jika mau pergi seharusnya saay ini juga Jie-ya pergi mencari
Liauw Thayjien.”
Phoa Ceng Yan segera mengangguk.
Belum sempat ia bertindak keluar
untuk mencari Liauw Thayjien. tampaklah bekas pembesar negeri ini
dengan langkah lebar sudah berjalan mendekat.
Ketika Liauw Thayjien melihat
munculnya Phoa Ceng Yan di sana, mendadak sambil mempercepat langkah
kakinya ia berjalan mendekat, serunya, “Phoa Hu Cong Piauw-tauw!
Kapan kita akan berangkat?”
“Maksud Thayjien?” balik tanya
Phoa Ceng Yan sambil tersenyum, ia tetap berusaha untuk menahan
gejolak di dalam hatinya.
“Menurut pendapat cayhe, sudah
tentu lebih cepat lebih baik….”
“Bagus sekali! Bagus sekali! Cayhe
berharap bisa cepat cepat tiba ke kota Kay Hong.”
“Cuma……….”
“Cuma kenapa?” tanya Liauw
Thayjien cepat.
“Bagaimana dengan sakit yang
diderita nona Liauw?”
“Menurut perkataan isteriku,
penyakit dari Siauw-li sudah jauh membaik.”
“Cayhe mempunyai suatu permintaan
yang tidak senonoh, entah dapatkah thayjien mengabulkannya?” ujar
Phoa Ceng Yan kemudian rada ragu-ragu.
“Urusan apa?”
“Cayhe ingin pergi melihat keadaan
dari nona Liauw, entah tindakanku ini leluasa atau tidak?”
“Ooouw….. soal ini….. Eeeehmmmm…….
soal ini biarlah cayhe pergi berunding dulu dengan Hujien.”
“Tidak perlu dirundingkan lagi.”
potong Phoa Ceng Yan dengan cepat. “Maksud cayhe, jikalau kita ingin
pergi lebih baik sekarang juga kita berangkat, dan lebih baik
keadaan di dalam kamar jangan sampau diubah!”
“Maksudmu ….” seru Liauw Thayjien
dengan alis yang dikerutkan.
“Terus terang saja aku beritahukan
kepada Liauw Thayjien.” bisik Phoa Ceng Yan akhirnya. “Sekalipun
putri kesayanganmu tidak memiliki kepandaian ilmu silat, tetapi ia
memiliki suatu daya kekuatan yang tak dapat diduga dan sangat besar
sekali pengaruhnya terhadap orang lain sehingga hal ini membuat
banyak jago-jago lihay Bulim yang menaruh perasaan jeri terhadap
dirinya!”
“Aaaaakh….! Benar benar sudah
terjadi urusan semacam ini?”
“Peristiwa ini benar-benar dan
sungguh-sungguh terjadi, cuma saja apakah alasannya kami belum
berhasil memperolehnya,” kata Phoa Ceng Yan dengan suara berat.
“Cuma saja, alasan-alasan ini telah berhasil diketahui orang lain.”
“Alasan apa?” tanya Liauw Thayjien
agak melengak.
“Jikalau cayhe sudah tahu, saat
ini tak bakal aku tanyakan kembali di hadapan Liauw Thayjien.”
Tampak Liauw Thayjien termenung
sejenak, sejurus kemudian ia baru mengangguk dan sahutnya, “Bilamana
Phoa Hu Cong Piauw-tauw yakin bila siauw-li memiliki suatu daya
kekuatan yang luar biasa sehingga dapat menundukkan orang lain,
bahkan kekuatan tadi bisa dirasakan sejak kita memasuki pintu kamar
yang didiami siauw-li untuk merawat sakit, cayhe rela membawa Phoa
Hu Cong Piauw-tauw bersama-sama pergi menjenguk ke dalam kamar
siauw-li.”
“Lebih baik jangan dikabarkan dulu
kepada Hujien, kita harus masuk ke dalam kamar putri kesayanganmu
secara mendadak dan berada di luar dugaan siapapun juga.”
“Di dalam hati apakah Phoa Hu Cong
Piauw-tauw mempunyai pegangan yang kuat?”
Karena takut Liauw Thayjien
berubah maksud di tengah jalan, buru-buru Phoa Ceng Yna menyambung.
“Cayhe percaya paling sedikit kita
berhasil menemukan suatu titik terang.”
“Peraturan keluarga dari istriku
selama ini sangat keras dan ketat, jikalau aku membawa kau pergi
mengunjungi kamar Siauw-li dan sama sekali tidak berhasil menemukan
titik terang, kemungkinan sekali aku bakal mendapat teguran pedas
dari Hujien,” kata Liayw Thayjien dengan nada berat.
“Keadaan kita pada saat ini penuh
diliputi oleh kegelapan, cayhe sangat berharap bisa menemukan suatu
titik terang yang bisa membikin jelas seluruh persoalan ini, asalkan
thayjien suka menerima sedikit makian saja hal ini sudah terhitung
telah memberi suatu bantuan yang amat besar buat diriku.”
“Baik!” ujar Liauw thayjien
kemudian sambil mengangguk. “Aku akan berjalan di depan, setelah
masuk ke dalam dengan deheman sebagai tanda. Asalkan Phoa Hu Cong
Piauw-tauw mendengar suara dehemenku maka cepat-cepatlah menerjang
masuk ke dalam kamar.”
Phoa Ceng Yan mengia, mereka
berdua segera melanjutkan perjalanan menuju ke arah depan.
Setelah tiba di depan pintu kamar
nona Liauw, tanpa banyak berbicara dan mengetuk pintu lagi Liauw
thayjien segera mendorong pintu berjalan masuk ke dalam.
Tampaklah pada saat itu nona Liauw
sedang berbareng dengan punggung menempel tembok, sedang Liauw
Hujien duduk di sisi pembaringan sedang bercakap-cakap dengan
puterinya. Si dayang Cuen Lan berdiri di sisi ruangan.
Mereka bertiga sewaktu melihat
munculnya Liauw Thayjien secara mendadak, masing-masing
memperlihatkan perubahan paras muka yang berbeda.
“Tia! Maafkan puterimu karena ada
sakit di badan tak dapat bangun untuk memberi hormat!” ujar nona
Liauw sambil mengangguk di atas pembaringannya.
Sebaliknya Coen Lan menjatuhkan
diri berlutut.
“Budak menghunjuk hormat buat
Loo-ya!” serunya.
“Kau bangunlah, tidak usah banyak
adat!” buru-buru cegah Liauw Thayjien sembari ulapkan tangannya.
Coen Lan mengia dan mengundurkan
diri ke pojokan ruangan.
Kini giliran Liauw Hujien yang
segera bangun berdiri sambil menegur ke arah suaminya dengan
kata-kata tajam.
“Puteri kita sudah sedemikian
besarnya, kau sebagai seorang ayah mengapa tidak mengetuk pintu
terlebih dulu sebelum bertindak masuk??”
“Aku sama sekali tidak menduga
kalau pintu tersebut sama sekali tidak dikunci, dorong lantas
terbuka….”
Sembari berkata, Liauw Thayjien
tiada hentinya mendehem.
Phoa Ceng Yan yang berada didepan
begitu mendengar suara mendehem dari Liauw Thayjien dengan langkah
cepat segera menerjang masuk ke dalam kamar.
Gerakannya sangat cepat, begitu
masuk ke dalam kamar sepasang matanya yang amat tajam laksana
sambaran kilat menyapu sekejap ke seluruh ruangan kamar.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” teriak
Liauw Hujien dengan keras, paras mukanya memperlihatkan perasaan
amat gusar. “Selama perjalanan kami sudah cukup tersiksa dengan
gangguan-gangguan penjahat, sekarang kaupun …..”
“Hujie…….! Kau tidak usah salahkan
Phoa Hu Cong Piauw-tauw lagi!” dengan cepat Liauw thayjien memotong
sambil goyangkan tangannya berulang kali. “Akulah yang mengajak dia
datang kemari.”
“Apa yang dia maui? Kau yang suruh
dia datang?”
“Sedikitpun tidak salah! Tadi
sewaktu rumah penginapan kita kedatangan penjahat, bukanlah diapun
sudah mengunjungi kamar ini ……”
Perlahan-lahan Liauw Thayjien
tersenyum.
“Penjahat boleh datang, sudah
tentu Phoa Hu Cong Piauw-tauw pun boleh datang pula,” katanya.
“Jika kaum penjahat ingin datang,
hal ini merupakan peristiwa yang tidak bisa dicegah lagi,” kata
Liauw Hujien keheranan. “Tetapi Phoa Hu COng Piauw-tauw adalah
seorang Piauw su yang mengawal keselamatan kta, apakah kau tidak
punya cara untuk mengalangi niatnya ini? Heeeeei……! Nona kita sudah
dewasa, bagaimana boleh diperlihatkan kepada orang lain dengan
seenaknya?”
“Cayhe paham akan ilmu
pertabiban,” buru-buru Phoa Ceng Yan menyambung dengan cemas,
“Kedatanganku sengaja hendak memeriksa penyakit yang diderita oleh
nona Liauw, aku mau lihat apakah nanti sore kita bisa berangkat atau
tidak.”
“Sungguh-sungguhkah perkataanmu
itu?”
“Sidah tentu sungguh-sungguh.”
“Baiklah, kalau begitu cepatlah
periksakan keadaan penyakit dari putriku!”
Phoa Ceng Yan mengaku dapat
memeriksa dan mengobati penyakit, hal ini memang tidak salah, tetapi
yang dimaksudkan “penyakit” olehnya di sini hanyalah terbatas
luka-luka luar yang disebabkan bacokan pedang serta golok, mengenai
penyakit dalam kaum perempuan serta segala penyakit-penyakit yang
sulit dan rumit, sama sekali tak dipahami olehnya.
Tetapi disebabkan Liauw Hujien
terus mendesak terpaksa dengan keraskan kepala Phoa Ceng Yan
mengakuinya.
Tidak disangka ternyata Liauw
Hujien meminta dia orang mendemonstrasikan kepandaian tersebut di
hadapannya, terpaksa sang bebek naik ke atas pagar, katanya,
“Walaupun cayhe memahami ilmu pertabiban, tetapi sangat jarang
periksakan penyakit buat orang lain. Bilamana Hujien paksakan diri
agar cayhe perlihatkan kejelekan juga, cayhepun harus periksakan
denyutan nadi dari nona Liauw.”
Kiranya pada waktu itu hubungan
antara lelaki dan perempuan sangat ketat sekali, mereka-mereka yang
disebut gadis perawan serta nona-nona dari kalangan bangsawan boleh
dikata tidak pernah menerima tamu orang lelaki.
Sekalipun para tabib yang
memeriksakan denyutan nadinya-pun harus dipisahkan dengan horden
bambu bahkan memeriksa denyutan nadi-pun harus menggunakan seutas
tali serabut yang amat halus.
Pada mulanya Phoa Ceng Yan yang
melihat penyakit nona Liauw sama sekali tidak berat di dalam
anggapannya Liauw Hujien tentu akan menolak tawarannya itu.
Siapa sangka ternyata peristiwa
terjadi di luar dugaan, setelah termenung berpikir sejenak terdengar
Liauw Hujien berkata perlahan.
“Peduli ilmu pertabiban-mu bagus
atau jelek, periksakan dirinya pun tidak ada salahnya, demi
kesehatan dari siauw-li, terpaksa sekali ini kita melanggar
peraturan yang berlaku…….”
Sinar matanya perlahan-lahan
dialihkan ke atas wajah nona Liauw, sambungnya kembali.
“Bocah, kau keluarkanlah tanganmu
agar Phoa Hu Cong Piauw-tauw bisa periksa nadimu.”
“Ibu, putrimu sudah sembuh!”
“Aaaaaaayaa…. diperiksa
sebentarkan tidak mengapa.”
Nona Liauw tak dapat berbuat
apa-apa lagi, terpaksa ia mengeluarkan tangan kanannya.
Coen Lan segera membawa datang
sebuah bantal yang diletakkan di bawah pergelangan tangan Nona Liauw
sekalian mengambil sebuah kursi yang segera diletakkan di dekat
pembaringan.
Phoa Ceng Yan mendehem perlahan,
ia duduk di atas kursi dekat pembaringan kemudian mengeluarkan jari
tengah serta jari telunjuk tangan kanannya untuk ditekankan ke atas
urat nadi pergelangan tangan kanan nona Liauw.
Dia adalah seorang ahli di dalam
menotok jalan darah, sudah tentu mengetahui pula letak-letak jalan
darah serta urat nadi.
Ketika jari tangannya menekan di
atas urat nadi nona Liauw, kontan saja ia merasa bahwa denyutan
jantungnya amat keras dan bertenaga, sama sekali tidak menunjukkan
gejala sakit.
Hal ini membuat alisnya segera
saja dikerutkan rapat-rapat.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw,
bagaimana dengan penyakit siauw-li….?” tanya Liauw Hujien dengan
nada berat.
Mendadak Phoa Ceng Yan dengan
melototkan sepasang matanya bulat-bulat, serentetan sinar mata yang
amat dingin dengan cepat menyapu sekejap ke arah wajah Liauw
Thayjien suami istri.
“Sunggguh aneh sekali!” serunya
tak terasa.
“Apanya yang aneh?” tanya Liauw
Thayjien keheranan, sewaktu melihat paras muka Phoa Ceng Yan berubah
jadi sangat serius, ia sendiripun ikut merasa tegang.
Menurut keadaan dari kekuatan
denyutan nadi nona Liauw, ia tidak mirip dengan seorang yang sedang
menderita sakit…..”
“Dari denyutan jantung siauw-li
kau tidak berhasil menemukan tanda sedang menderita sakit, jadi
maksudmu sakitnya siauw-li kali ini adalah sengaja pura-pura
diperlihatkan,” sambung Liauw Hujien dingin.
“Cayhe sama sekali tidak bermaksud
begitu.”
“Selama ini badan Siauw-li lemah
dan selalu banyak penyakit. Yang memeriksa penyakitnyapun bukan cuma
satu dua kali saja, tetapi selama ini tak pernah aku dengar kalau
diantara para tabib-tabib itu ada yang mengatakan Siauw-li sedang
berpura-pura sakit.”
Phoa Ceng Yan ada perkataan sukar
diucapkan, sejak masuk ke dalam ruangan hingga saat ini ia belum
berhasil juga menemukan sesuatu tanda-tanda yang memberikan titik
terang, di dalam hati ia sangat berharap dapat tinggal lebih lama
lagi di sana sekalian melakukan pemeriksaan lebih teliti lagi di
sekeliling ruangan.
Dikarenakan dua sebab yang
bergabung menjadi satu, ia lantas mendongak memandang sekejap ke
arah Liauw Thayjien.
“Thayjien adalah seorang sastrawan
yang kenyang membaca kitab-kitab syair serta filsafat, entah
bagaimana dengan ilmu pertabiban apakah thayjien pun sedikit tahu?”
tanyanya.
“Ehmmm…..! Tahu sedikit-sedikit
saja.”
“Kalau begitu coba periksalah
denyutan nadi dari putri kesayanganmu!”
Liauw Thayjien kerutkan dahinya,
ia siap hendak berbicara tetapi segera dibatalkan kembali. Tanpa
banyak cakap lagi iapun mengeluarkan jari tengah serta jari telunjuk
tangan kanannya untuk ditempelkan ke atas urat nadi pergelangan
tangan kanan nona Liauw.
Terasalah olehnya denyutan jantung
nona Liauw amat kuat dan bertenaga, tak terasa lagi iapun rada
melengak dibuatnya.
Liauw Hujien yang melihat paras
muka Liauw Thayjien memperlihatkan rasa keheranan hatinya jadi
terasa amat cemas.
“Bagaimana?”
“Denyutan jantung Wan-Jie memang
rada mengherankan.”
“Bagaimana?”
“Denyutan jantungnya kuat lagi
bertenaga, sama sekali tidak mirip dengan seorang yang sedang
menderita sakit.”
“Apa yang sudah terjadi?” tanya
Liauw Hujien kebingungan. “Selama beberapa tahun ini, bagaimana
dengan kesehatan Wan-jie bukankah kau mengetahui sendiri…..”
“Oleh sebab itulah He-koan(saya)
baru merasa keheranan dan tidak paham apa-apa sebetulnya yang telah
terjadi.”
“Aaakh….!” tiba-tiba Liauw Hujien
menjerit tertahan. “Apa mungkin kejadian ini ada sangkut pautnya
dengan obat pemberian orang itu?”
Dari mulut si “Hoa Hoa KongCu”
atau si Kongcu tukang foya-foya Ke GIok Lang si telapak besi
bergelang emas Phoa Ceng Yan sudah mendengar kisah tentang si Kongcu
yang menghadiahkan sebutir obat kepada nona Liauw, kendati begitu di
luaran sengaja ia perlihatkan sikapnya sedang kaget.
“Siapa yang sudah menghadiahkan
obat kepada nona Liauw?”
Liauw Hujien yang terlanjur
berbicara saat ini tidak dapat menarik kembali kata-katanya,
terpaksa dengan keraskan kepala sahutnya.
“Seorang pemuda agaknya siucay
yang pandai bersyair……”
Ia memandang sekejap ke arah Phoa
Ceng Yan, mendadak dengan berubah bahan pembicaraan sambungnya lebih
lanjut.
“Jikalau dibicarakan, sekali lagi
aku harus salahkan kalian orang-orang dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok, terang-terangan kalian sudah tahu bila siauw-li merawat
sakit di sini, mengapa kamu semua sudah membiarkan orang-orang asing
memasuki halaman rumah ini sehingga mereka bisa datang berkunjung ke
dalam kamar.”
“Soal ini sudah tentu cayhe akan
menegur atas keteledoran mereka, tetapi nona Liauw sudah menelan
obat apa?”
“Orang itu dengan langkah lebar
dan kaya seorang perlente bertindak masuk ke dalam kamar, pada waktu
itu aku serta Coen Lan-pun ada di sini.” ujar Liauw Hujien perlahan.
Ia melirik sekejap ke arah Coen
Lan, kemudian sambungnya kembali.
“Urusan selanjutnya, coba kau
ceritakanlah!”
“Nona, aku berharap kau dapat
mengisahkan seluruh kejadian ini. Cayhe harap dari kisahmu menemui
titik terang!” ujar Phoa Ceng Yan kemudian sambil mengalihkan sinar
matanya ke atas tubuh Coen Lan.
“Perlahan-lahan dayang itu
mengangguk.
“Orang itu sangat tampan!” ujarnya
kemudian, “Tetapi sikapnya galak dan ganas, sewaktu Hujien
menghadangi perjalanannya sambil membentak, ternyata ia sudah
mendorong Hujien sehingga hampir-ampir saja terhuyung jatuh, entah
bagaimana mendadak sikap serta tindak tanduknya berubah, ia sudah
periksakan denyutan nadi nona bahkan menghadiahkan pula sebutir pil
untuk nona, setelah itu ia baru berlalu.”
“Bagaimana warna pil trersebut?”
“Putih, besarnya seperti kacang
kedelai”
Phoa Ceng Yan segera mengalihkan
sinar matanya ke arah nona Liauw, terlihatlah gadis tersebut dengan
perasaan amat malu dan jengah memejamkan matanya rapat-rapat,
mulutnya bungkam dan paras mukanya berubah jadi merah padam.
“Ehmm…..! Kalau begitu pil
tersebut memang ada sangkut paut yang sangat erat,” katanya
kemudian.
Saat itulah Liauw Thayjien kembali
mendehem perlahan.
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!”
serunya, “Bagaimana kalau nanti sore kita berangkat!”
Walaupun ucapan tersebut
diutarakan dengan halus tetapi nadanya jelas sedang mengusir tamu.
Phoa Ceng Yan lantas bangun
berdiri.
“Kalau memang penyakit dari nona
Liauw telah sembuh, memang seharusnya kita berangkat. Baiklah, biar
cayhe pergi mengadakan persiapan terlebih dulu.”
Selesai berbicara lantas menjura
dan mengundurkan diri dari dalam kamar.
“Phoa Loo-enghiong! Kau sudah
berhasil menemui suatu titik terang?” tanya Liauw Thayjien dengan
suara setengah berbisik sambil mengejar si orang tua itu.
“Soal ini kita bicarakan nanti
saja”.
Terburu-buru ia melanjutkan
langkahnya kembali ke dalam kamarnya sendiri.
Ketika itu Nyoo Su Jan, Giok Liong
serta Ih Coen sudah menunggu di dalam kamar.
“Kalian duduklah semua!” Ujar Phoa
Ceng Yan kemudian sambil ulap tangannya setelah masuk ke dalam
kamar.
“Jie-ya, kau sudah menemukan
sesuatu yang mencurigakan?” tanya Nyoo Su Jan tidak dapat menahan
sabar lagi.
“Sungguh aneh sekali!” Phoa Ceng
Yan menggeleng. “Loohu percaya sudah melakukan pemeriksaan dengan
sangat teliti, tetapi tak sedikitpun yang berhasil aku temui, cuma
saja.”
“Cuma saja bagaimana?”
“Aku telah memeriksa denyutan
jantung nona Liauw, agaknya dia sama sekali tidak menderita sakit.”
“Jikalau nona Liauw
benar-benaradalah seorang jago lihay yang memiliki kepandaian silat
sangat tinggi, bahkan berhasil pula mengundurkan si Hoa Hoa Kongcu
atau Kongcu tukang foya-foya Ke Giok Lang, maka kesempurnaannya ilmu
silatnya pasti telah mencapai pada puncaknya, menurut apa yang hamba
pernah dengar, bilamana kepandaian ilmu silat seseorang berhasil
dilatih hingga mencapai pada titik puncaknya, bukan saja ia bisa
mempertahankan paras mukanya seperti orang-orang biasa, bahkan dapat
pula menguasahi pernapasan serta denyutan jantungnya sendiri.
Jikalau nona Liauw betul-betul memiliki kepandaian ilmu silat yang
sangat tinggi dan tidak mengharapkan agar kita bisa tahu, dapat saja
ia mengerahkan tenaganya untuk memperlemah denyutan jantung.”
“Perkataanmu memang sangat cengli”
kata Phoa Ceng Yan setelah termenung beberapa saat lamanya. Tetapi
jikalau dia bukan seorang jago lihay yang memiliki kepandaian sangat
tinggi, bagaimana mungkin seorang gadis yang lemah dapat
mengundurkan Lam Thian Sam Sah beserta si Kongcu tukang Foya-foya Ke
Giok Lang?”
“Kecuali nona Liauw sendiri,
apakah Jie-ya telah memperhatikan pula keadaan di tempat tempat
lain?” tanya Nyoo Su Jan lebih lanjut.
“Aku sudah melakukan penyelidikan
dengan sangat teliti, dan benar-benar tidak berhasil menemukan
sesuatu hal yang patut dicurigai.”
“Menghadapi perubahan yang terjadi
di hadapan kita pada saat ini, aku rasa sebetulnya buat kita tak ada
yang penting untuk melakukan penyelidikan pada soal ini hingga
jelas,” Nyoo Su Jan mendehem perlahan. “Jarak dari sini ke kota Kay
Hong sudah tak begitu jauh lagi, lebih baik kita cepat-cepat hantar
mereka ke kota Kay Hong. Hmm, kemudian kembali ke markas untuk
memberi laporan entah bagaimana kalau menurut pendapat Jie-ya?”
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
mengangguk kemudian menghela napas panjang.
“Angin taufan ombak dashyat, di
dalam pedang di bawah golok, mati hidup di tengah keadaan bahaya aku
sudah merasakan semua dan selama ini belum pernah membuat aku susah,
tetapi kali ini hanya disebabkan seorang nona Liauw yang lemah
lembut ternyata sudah cukup membuat aku kelabakan dan kebingungan
setengah mati!” katanya perlahan.
“Jie-ya!” kembali Nyoo Su Jan
mendehem perlahan. “Persoalan di dalam dunia kangouw terlalu kacau
dan rumit, peduli seorang manusia yang memiliki kecerdasan
sebagaimana tingginya-pun jangan harap bisa memahami seluruh
persoalan yang ada. Peduli nona Liauw benar-benar jago lihay yang
memiliki kepandaian silat tinggi atau bukan, yang jelas, dia
memiliki cara untuk memundurkan musuh-musuh tangguh bahkan semua
jago yang berhasil dia pukul mundur adalah iblis-iblis Bu-lim yang
ganas. Kini dia tidak memperkenankan kita orang untuk tahu
persoalannya, sudah tentu iapun mempunyai kesusahannya sendiri,
jikalau kita ngotot melakukan pemeriksaan terus terhadap persoalan
ini kemungkinan sekali malah akan mendatangkan perasaan tidak puas
di dalam hatinya”.
“Jadi maksudmu kita tidak usah
mengadakan penyelidikan lagi tentang peristiwa ini?” tanya Phoa Ceng
Yan kemudian setelah termenung sejenak.
“Benar! Menurut perasaan hamba,
tiada berguna bagi kita untuk mengadakan penyelidikan tentang soal
ini “.
“Perjalanan kita hingga tiba di
kota Kay Hong masih cukup panjang, selama di dalam perjalanan kita
ini apakah kau merasa tentu aman?”
“Persoalan ini boleh dianggap
sebagai suatu pekerjaan untung-untungan, hanya tidak berani terlalu
memastikan, cuma saja ….”
“Cuma apa?”
“Nona Liauw berhasil memundurkan
Lam Thian Sam Sah beserta si Kongcu tukang Foya-foya Ke Giok Lang,
mungkin sekali orang lainpun tak bakal berani melaksanakan niatnya
kembali.”
“Baik!” ujar Phoa Ceng Yan
kemudian. “Kita kerjakan demikian saja, persoalan nona Liauw untuk
sementara kita kesampingkan dulu, coba kalian perintah seluruh anak
buah kita untuk siap-siap, kita segera berangkat.”
Nyoo Su Jan lantas mengia, putar
badan dan berlalu.
“Su Jan! Coba kau periksa
sebentar” sambung Phoa Ceng Yan lebih lanjut. “Bila mereka-mereka
yang menderita luka terlalu berat, selama di dalam perjalanan hanya
mendatangkan kerepotan saja, lebih baik kita tinggalkan saja mereka
di sini untuk beristirahat, nanti sewaktu pulang baru sekalian kita
bawa mereka kembali ke rumah!”
“Hambapun punya maksud begitu,”
sahut Nyoo SU Jan sambil tertawa.
Ia segera putar badan dan kembali
melanjutkan perjalanannya menuju keluar.
Para anak buah perusahaan “Liong
Wie Piauw-kiok” kebanyakan merupakan jago-jago yang sudah terlatih,
setelah menerima perintah dari Nyoo Su Jan mereka segera menghela
kuda mempersiapkan kereta, hanya di dalam sekejap mata semua kereta
telah dipersiapkan rapi-rapi.
Ketika itu hujan salju telah
berhenti, tetapi langit masih tertutup oleh awan yang sangat tebal.
Angin barat daya bertiup amat kencang membawa hawa dingin yang
serasa menusuk hingga ke dalam tulang sumsum.
Lie Giok Liong serta Thio Toa Hauw
dengan masing-masing menunggang seekor kuda jempolan berjalan di
paling depan membuka jalan, sedang Nyoo Su Jan beserta Phoa Ceng Yan
duduk di dalam kereta kuning yang ada di depan.
Kecuali lima orang kusir yang
menghela kereta, kini cuma tersisa dua orang pembantu saja yang
masih bisa melanjutkan perjalanan.
Ih Coen beserta kedua orang anak
tersebut dengan menunggang kuda berjalan di paling belakang.
Setelah beristirahat selama satu
malam dan setengah harian penuh, kekuatan kuda-kuda tunggangan
merekapun telah pulih kembali.
Kendati udara terasa sangat
dingin, angin bertiup amat kencang tetapi mereka dapat melanjutkan
perjalanan dengan amat cepat.
Dengan kaki kuda melemparkan
gumpalan salju ke tengah udara, membentuk asap putih yang
menyilaukan mata, rombongan kereta dengan mengambil jalan besar
kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah selatan.
Liauw Thayjien serta kacung
bukunya berada di kereta kedua, sedang Liauw Hujien disebabkan
hendak menjaga putrinya bersama-sama dengan Coen-Lan serta nona
Liauw ada di kereta nomor tiga.
Phoa Ceng Yan yang di dalam hati
sudah tiada maksud untuk melakukan penyelidikan terhadap nona Liauw
yang penuh diliputu kemisteriusan serta berbadan lemah banyak
penyakit itu, saat ini hanya berharap bisa cepat-cepat menghantar
keluarga Liauw tiba di kota Kay Hong kemudian baru mengambil
keputusan kembali.
Oleh karena itu sejak semula ia
sudah memerintahkan kepada semua anak buahnya untuk melakukan
perjalanan cepat.
Ketika mereka meninggalkan kota Si
Sian Jan hari sudah sore menanti cuaca mulai gelap mereka telah
melakukan perjalanan sejauh empat puluh lie.
Di tengah udara dingin, semua
kuda-kuda itu sudah mulai berkeringat karena perjalanan cepat ini.
Udara semakin lama semakin
menggelap, jalanan yang dilaluipun kelihatan mulai samar-samar
sehingga sukar dibedakan, tetapoi tempat penginapan masih belum juga
ditemukan.
Lie Giok Liong yang bera di depan
segera melarikan kudanya mendekati kereta.
“Paman Jie-siok!” serunya. “Kita
sudah lewatkan tempat-tempat penginapan, kini hari semakin lama
semakin jadi gelap, saljupun mulai mencair, kuda-kuda telah pada
lelah dan hawa malam sangat dingin, sekalipun hendak melanjutkan
perjalanan malam ada seharusnya mencari suatu tempat dulu untuk
memberi makan kuda-kuda ini.”
Phoa Ceng Yan yang mendapat
laporan tersebut lantas menyingkap horden melongok ke depan, setelah
menyapu sekejap ke seluruh penjuru, ujarnya kemudian, “Giok Liong!
Coba kau lihat disebelah timur laut sana ada segulung bayangan
hitam, betulkan bayangan itu merupakan bayangan rumah?….”
Dengan cepat Lie Giok Liong
mengalihkan sinar matanya ke arah yang ditujukan tetapi sebentar
kemudian ia sudah menjawab.
“Kekuatan mata siauw-tit tidak
becus, aku tidak berhasil melihat jelas.”
Ketika itulah Nyoo Su Jan sudah
melongok keluar, sambungnya.
“Jika pemberitaan si pencuri sakti
she Shen tidak menipu kita, maka kecuali si Kongcu tukang foya-foya
Ke Giok Lang masih banyak sekali orang-orang yang menaruh minat
terhadap barang-barang kawalan kita kali ini. Untuk mencegah hal-hal
yang tidak diinginkan, aku rasa lebih baik kita jangan menginap di
rumah penginapan, melakukan perjalanan tanpa mengikuti waktu yang
ditetapkan kemungkinan sekali malah memberikan suatu pukulan bagi
mereka sehingga jadi kelabakan….”
Ia merandek sejenak, setelah
meloncat keluar dari dalam kereta sambungnya kembali.
“Secara diam-diam aku sudah
menyuruh orang persiapkan rumput untuk bahan makanan kuda-kuda kita,
asalkan dapat mencari suatu tempat yang terlindung dari tiupan angin
serta curahan hujan salju, hal ini sudah cukup.”
“Kalau begitu, biar cayhe pergi
periksa sebentar!” kata Lie Giok Liong dengan cepat.
(Bersambung Jilid ke 7)
Jilid 7
Badannya lantas meloncat naik ke
atas punggung kuda dan melarikan kudanya menuju ke arah timur laut.
Ia pergi dengan cepat, pulangpun
dengan cepat, hanya di dalam sekejap pemuda tersebut telah berlari
kembali.
“Paman Jie-siok!” serunya sembari
menjura. “Tempat itu adalah sebuah kuil bobrok yang tidak digunakan
lagi, secara garis besarnya siauw-tit sudah melakukan pemeriksaan
dan menurut perasaanku masih bisa digunakan untuk menghindarkan diri
dari tiupan angin serta sampokan salju, cuma saja jalan kecil menuju
ke sana terlalu sempit, mungkin kereta kereta kita sulit untuk
mendekati kuil tersebut”.
“Di dalam kuil tersebut apa ada
orang yang menjaga?” tanya Nyoo Su Jan mendadak berebut tanya.
“Aku telah mengelilingi kuil
tersebut satu kali, tetapi sama sekali tidak menemukan penjaganya,
bahkan tempat-tempat luang disekitar pojokan tembok serta pintu kuil
sudah penuh ditumbuhi alang-alang, kelihatan-nya kuil tersebut tidak
pernah dihuni atau dikunjungi orang lain!”
“Pada musim dingin seperti ini,
asalkan tanah disekitar sana rada keras sedikit saja, kereta-kereta
berkuda kita kemungkinan sekali masih bisa lewat melalui permukaan
salju.” ujar Phoa Ceng Yan perlahan.
“Terima kasih atas petunjuk paman
Jie Siok, biarlah siauw-tit pergi mencobanya terlebih dahulu.
Ia mendongakkan kepalanya
memandang ke arah sang lelaki yang bertindak sebagai kusir, katanya.
“Mari kita gunakan kereta ini
sebagai percobaan terlebih dulu.”
Lelaki itu menyahut, pecut lantas
diayunkan menghela kudanya mengikuti petunjuk Lie Giok Liong menuju
ke arah kuil bobrok.
Perkataan dari Phoa Ceng Yan
sedikitpun tidak salah, di musim dingin yang sangat dingin ditambah
pula membekunya salju di sekeliling sawah, tanah disekitar sana amat
keras dan kuat, kereta-kereta itu dengan sangat mudahnya berhasil
mendekati ke samping kuil tersebut.
Empat buah kereta lainnya
berturut-turut bergerak menuju ke arah kuil dan berkumpul menjadi
satu.
Pertama-tama Phoa Ceng Yan
melakukan pemeriksaan terlebih dahulu atas keadaan disekeliling kuil
setelah itu baru berjalan ke sisi kereta yang ditunggangi Liauw
Thayjien.
“Thayjien!” sapanya halus. “Kita
sudah melewatkan rumah-rumah penginapan, terpaksa malam ini harus
beristirahat dulu di dalam kuil ini.
Di rumah seribu hari baik, keluar
rumah sesaat kesusahan, harap Thayjien suka memaafkan!”
Liauw Thayjie yang mendengar
sapaan tersebut lantas menyingkap horden memandang sekejap ke arah
kuil tersebut, lama sekali ia berdiam diri.
“Phoa-ya, apakah kita tak bisa
melanjutkan perjalanan malam ini juga?” tanyanya kemudian.
“Manusia mungkin bisa bertahan,
tetapi kuda-kuda kita harus diberi makan, paling sedikit kita harus
beristirahat dua kentongan baru dapat melanjutkan perjalanan
kembali.”
“Kalau memang begitu, aku pikir
menunggu di dalam keretapun sama saja,” kata Liauw Thayjien
mengangguk.
“Selama di dalam perjalanan hawa
dingin menusuk tulang, di dalam kuil kita dapat membuat api unggun
untuk menghangatkan badan.”
Liauw Thayjien tampak termenung.
“Cayhe ada membawa beberapa stel
pakaian luar yang terbuat dari kulit dan dapat digunakan untuk
melawan rasa dingin,” katanya kemudian. “Asalkan Hu Cong Piauw-tauw
suka mengirim dua orang untuk menjaga kereta-kereta ini sehingga
tidak sampai diserang orang rasanya sudah cukup.”
“Hujien serta nona juga tetap
tinggal di dalam kereta?” tanya Phoa Ceng Yan.
“Di dalam kereta Hujien terdapat
pula beberapa stel pakaian luar kulit binatang yang bisa digunakan
untuk menahan hawa dingin, sekalipun berada di dalam kereta rasanya
merekapun tidak bakal menderita karena kedinginan ….”
Mendadak ia memperendah suaranya
dengan nada setengah berbisik sambungnya, “Ada satu persoalan yang
sampai kini belum berhasil aku pahami, harap Phoa Hu Cong Piauw-tauw
suka memberi petunjuk!”
“Urusan apa?”
“Tubuh Siauw-li selamanya amat
lemah, aku pernah beberapa kali periksakan denyut jantungnya, setiap
kali aku menemukan bila denyutan jantungnya amat lemah tak
berkekuatan, tetapi entah mengapa denyutan jantungnya pada ini hari
bisa begitu bertenaga, bahkan secara mendadak lebih kuat beberapa
kali lipat, hal ini benar-benar membuat aku merasa kebingungan.”
“Thayjien pernah tanyakan
persoalan ini dengan Hujien?” tanya Phoa Ceng Yan perlahan.
“Pernah, menurut jawaban Hujien,
selama ini siauw-li selalu bersembunyi di dalam kamar dan belum
pernah meninggalkan tempat itu barang sekalipun, bahkan beberapa
bulan mendekat inipun belum pernah menunjukkan gejala-gejala yang
mengherankan”.
“Aaach….!” Phoa Ceng Yan menjerit
perlahan lalu kerutkan keningnya. “Kalau begitu thayjien sedang
menuduh aku orang she Phoa lagi mengibul?”
“Soal ini sih bukan” Liauw
Thayjien menggeleng. “Bahkan setelah aku selidiki dengan cermat
selama beberapa hari ini, aku merasa bahwa setiap perkataan dari kau
Phoa Hu Cong Piauw-tauw memang ada dasar serta buktinya.”
“Liauw Thayjien dapat berbicara
demikian hal ini membuat cayhe merasa berlega hati.”
“Hujien tidak bakal menipu diriku,
perkataan Phoa-ya uacapkan tentu ada alasan-alasannya, aku rasa di
dalam persoalan ini sudah jelas masih ada pengaruh-pengaruh lainnya.”
“Apakah Thayjien berhasil
menemukan sesuatu titik terang?”
Kiranya setelah beberapa kali dia
orang mengadakan pembicaraan dengan Liauw Thayjien di samping secara
diam-diam melakukan pemgamatan secara cermat, selama ini tak
berhasil ia temukan tindak tanduk yang aneh dari nona Liauw, hal ini
membuat si orang tua tersebut merasa kebingungan setengah mati dan
merasa bila di dalam persoalan ini tentu masih terkandung sesuatu
sebab-sebab yang sangat misterius.