lambang naga panji naga sakti 02

Mendengar perkataan tersebut, diam-diam Phoa Ceng Yan lantas berpikir.

“Kawanan perampok dari kalangan Liok-lim memang paling sulit dipercayai perkataannya. Bilamana aku berhasil menerjang keluar dari kepungan mereka sambil membawa barang ini, ada kemungkinan sekali hal ini bisa memaksa hati mereka bergidik sehingga membatalkan niatnya untuk membunuh setiap orang yang ada.”

Berpikir akan hal itu, Huncwee di tangan-nya segera dibentangkan ke depan.

“Perkataan seorang lelaki sejati berat selaksa gunung, aku orang she Phoa belum pernah menyanggupi untuk meninggalkan barang ini secara sukarela, bilamana kawan menginginkan barang ini maka terpaksa kalian harus meninggalkan dulu selembar nyawa dari aku orang she Phoa,” serunya.

Sembari berkata tubuhnya meloncat ke depan.

Si orang berbaju hitam itu tertawa dingin tiada hentinya, senjata “Thiat Kui Su” yang ada di tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Yauw Cie Lam” atau jauh menuding langit selatan, tubuh bersama-sama senjatanya serentak mencelat ke depan melakukan pengejaran.

Phoa Ceng Yan segera membalikkan badannya, huncwee ditangannya dengan menggunakan jurus “Heng Sauw Cian Kiem” atau menyapu ludas ribuan tentara mengadakan pertahanan rapat.

“Braaaaaak………….” di tengah suara bentrokan keras serta percikan bunga api, tubuh mereka berdua bersama-sama tergetar mundur ke belakang.

Walaupun kedua orang itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna tetapi berhubung tubuhnya bersama-sama ada ditengah udara maka sulit bagi mereka untuk mengunakan seluruh tenaganya.

Begitu terjadi bentrokan tubuhnya mereka bersama-sama tergetar dan jatuh kembali ke atas tanah.

“Lihat serangan,” bentak Phoa Ceng Yan kemudian sambil mengayunkan tangan kanannya ke depan.

Tiga batang gelang emas dengan menggunakan gerakan “Sam Yen Lian Tie” secara berbareng melesat ke tengah udara.

Sewaktu Phoa Ceng Yan melancarkan serangan gelang emas itulah, pada saat bersamaan si orang berbaju hitam itupun mengayunkan senjata ‘Thiat Kui So”nya ke depan menyambitkan dua batang jarum yang memancarkan cahaya keperak-perakan ke arah depan.

Kiranya di balik senjata “Thiat Kui So”nya itu tersembunyi pula jarum-jarum beracun yang amat lembut dan kecil sewaktu alat rahasia yang terdapat pada gagang senjata itu dipencet ketika bergebrak melawan orang maka jarum-jarum beracun itu segera akan melesat keluar dengan gencarnya.

Mereka berdua pada saat yang bersamaan sama-sama ada maksud hendak menggunakan senjata rahasia mengalahkan pihak musuhnya, sehingga hampir-hampir boleh dikata di dalam waktu yang berbareng mereka sama-sama menyambitkan senjatanya ke depan.

Jarak antara mereka berdua terasa sulit untuk menghindarkan diri dari datangnya gelang emas serta jarum beracun tersebut.

Baru saja si orang berbaju hitam itu sudah merasa senjata rahasia gelang emas itu berada di depan dadanya.

Dalam keadaan gugup serta cemas, tubuhnya buru-buru menyingkir ke samping untuk berkelit.

Kedua batang gelang emas itu segera menyambar lewat dari depan dadanya dan merobek pakaiannya sepanjang beberapa cun, sedang sebatang gelang emas lainnya dengan cepat berhasil menghajar di atas pundak kirinya sehingga melesat masuk setengah cun dalamnya ke dalam kulit tubuh.

Sebaliknya pada saat yang bersamaan pula lengan kiri Phoa Ceng Yan berhasil kena terhajar oleh kedua batang jarum beracun yang dilancarkan si orang berbaju hitam itu.

Si telapak besi gelang emas sewaktu merasakan mulut lukanya menjadi kaku, ia lantas sadar bila senjata rahasia tersebut sudah dipolesi racun, hatinya jadi amat gusar sekali.

“Hem! Tidak kusangka Lam Thian Sam Sah yang mempunyai nama besar ternyata suka bekerja sama dengan manusia-manusia rendah dari kalangan Liok-lim yang rendah martabatnya. bukan saja sudah menggunakan senjata rahasia Bwee Hoa Tin bahkan dipolesi juga dengan racun ganas sungguh tidak tahu malu!”

(Bersambung Jilid 3)

Jilid 3

“Heee……heee…… sedikitpun tidak salah, di atas jarum tersebut sudah aku polesi dengan racun ganas, “sambung si orang berbaju hitam itu dengan nada yang amat dingin. “Siang tidak melihat sore, sore tidak melihat malam, di dalam dua belas jam kemudian racun itu akan mulai bekerja dan setiap orang yang terkena tentu akan mati.”

“Perbuatan kalian yang sangat rendah ini apakah tidak takut ditertawakan oleh kaum enghiong di bawah kolong langit?”

“Hee…..he…. cuma sayang kau sudah tak dapat menyiarkan berita ini kepada orang lain. Walaupun kau bisa mempertahankan diri selama dua belas jam lamanya tetapi pada saat ini kau sudah tak dapat bergebrak dengan orang lagi, kaupun tidak dapat mengerahkan tenaga untuk lari, bilamana cayhe hendak turun tangan membinasakan dirimu, gampang sekali seperti membalik tangan sendiri!”

Diam-diam Phoa Ceng Yan coba mengerahkan tenaga dalamnya, sedikitpun tidak salah lengan kirinya sudah terasa sangat kaku dan tak dapat diangkat lagi. Di samping itu iapun merasa racun tersebut dengan tiada hentinya mulai menyebar luas di dalam tubuh.

Tak terasa lagi diam-diam ia menghela napas panjang, pikirnya, “Bilamana cuma aku Phoa Ceng Yan seorang yang harus terkubur di sini masih tidak mengapa, bila sampai mengandeng erat sepuluh lembar nyawa keluarga Liauw, hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang patut disesali….. “

Waktu itu Nyoo Su Jan-pun telah berhasil kena dirubuhkan oleh jarum beracun yang dilancarkan dari kipas si sastrawan berbaju biru itu sehingga menggeletak di atas permukaan salju tak dapat berkutik lagi.

Di antara delapan orang pembantu perusahaan Liong Wie Piauw-kiok serta kelima orang pembantu yang menyaru sebagai kusir sebagian besar sudah kena terbunuh, sisanya empat orang yang belum matipun kebanyakan telah menderita luka dan menggeletak di atas permukaan salju tak berkutik.

Si orang berbaju hitam itu sambil mengertak gigi segera mencabut keluar gelang emas yang berhasil menancap pada lengan kirinya, darah segar lantas memancar keluar dengan derasnya.

Ang Nio Cu yang melihat kejadian itu sambil masih mencengkeram tangan Liauw Hujien buru-buru berjalan mendekat.

“Toako! Lukamu sangat berat, biarlah siauw moay bantu membalutkan mulut lukamu itu” serunya.

“Tidak perlu” sahut si orang berbaju hitam itu sambil menggeleng, “Cuma sedikit luka kulit yang tak berarti…..”.

Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah Phoa Ceng Yan, kemudian sambungnya, “Phoa Ceng Yan! Kau hendak melepaskan sendiri buntalan di punggungmu itu ataukah menunggu cayhe yang turun tangan sendiri?”

Waktu itu Phoa Ceng Yan sedang mengerahkan tenaga dalamnya berusaha hendak menggunakan ilmu lweekang hasil latihan selama puluhan tahunnya ini untuk menahan daya bekerja dari racun di badannya, kemudian berusaha melarikan diri dan menyerahkan barang tersebut ke tangan pembesar Hoo Lam di istana Tok Ci Hu.

Karenanya walaupun ia mendengar perkataan tersebut, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Melihat si orang tua itu tidak menjawab, Ang Nio Cu segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Sungguh besar sekali lagakmu, kau berani tidak menjawab pertanyaan Toako-ku?” bentaknya keras.

Di mana tangannya digetarkan, angkin merahnya dengan cepat menyambar lewat.

Phoa Ceng Yan mendengus dingin, tubuhnya mencelat ke samping untuk menghindar.

Siapa tahu gerakan badannya pada saat ini sudah tidak selincah semula, sekalipun tubuhnya sudah berkelebat ke samping, tidak urung lengan kanannya terlibat juga oleh angkin merah dari Ang Nio Cu itu sehingga jatuh terjengkang di atas tanah.

Ang Nio Cu segera melepas cekalannya pada tubuh Liauw Hujien, tubuhnya melompat ke samping tangan kanannya menekan ke bawah menotok dua buah jalan darah di tubuh si orang tua itu, kemudian ia baru melepaskan buntalan putih dari punggung Phoa Ceng Yan.

Kendati Phoa Ceng Yan dapat melihat Ang Nio Cu melepaskan buntalan tersebut dari punggungnya, tetapi berhubung jalan darahnya kena tertotok maka ia tak bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan, dalam hati ia merasa sangat sedih sekali seperti diiris-iris dengan beribu-ribu batang golok.

“Ang Nio CU!” ujarnya sedih. “Genting akan hancur terbentur tanah, panglima akan binasa di medan perang! Ini hari aku orang she Phoa mengaku kalah dan sekalipun mati tidak akan menyesal, tetapi aku berharap kalian suka memberi keputusan kepada diriku, bilamana kalian berani menghina aku orang, maka jangan salahkan aku orang she Phoa akan memaki kalian dengan kata-kata yang tidak sopan.

“Hmm…..! Berani memaki dengan kata-kata tidak sopan?? jangan kau kira kami tak dapat mengetuk hancur seluruh gigimu ….” jengek Ang Nio Cu dingin.

Saat itulah mendadak Liauw Hujien menerjangkan kepalanya ke atas sebuah pohin di dekat sisi tubuhnya.

Melihat kejadian itu si orang berbaju hitam tersebut mendengus dingin, tubuhnya maju selangkah ke depan memerseni sebuah tendangan kilat membuat tubuh Liauw Hujien jatuh terjengkang ke atas tanah dengan kerasnya.

Perlahan-lahan Ang Nio Cu membalikkan tubuhnya mencengkeram kembali tubuh perempuan tua itu.

“Hm! Waktu di kemudian hari masih panjang, buat apa kau begitu kepingin cepat-cepat mati” serunya tawar.

Ketika itulah, mendadak …….

“Tahan.” bentak Liauw Thayjien yang memakai jubah hijau serta topi dari kulit binatang perlahan-lahan berjalan keluar dari balik ruangan kereta berkuda itu, Ang Nio Cu segera menoleh, ketika melihat wajah yang angker dan serius dari Liauw Thayjien ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee……he…. tempat ini bukan pengadilan maupun istana negara, kau buat apa membentak sesuka hatimu??” teriaknya.

Air muka Liauw Thayjien tetap keren dan serius, sambil bergendong tangan perlahan-lahan ia berjalan mendekat.

“Aku orang she Liauw sudah setengah abad lamanya menjabat sebagai pembesar, tetapi selama ini tindakanku adalah berdasarkan keadilan dan kejujuran, sekarang kalian sengaja mencari gara-gara dengan diriku, aku ada di sini! Sesuka kalian hendak menghukum dengan menggunakan tindakan apapun. Bilaman kalian menginginkan harta kekayaan maka seluruh simpananku yang ada di dalam kereta boleh kalian ambil semua!”

“Hiii……..hiii….. harta kekayaanmu sudah tentu bisa kami ambil sendiri, sedang hendak membinasakan dirimupun bukan merupakan suatu pekerjaan yang sulit, kau tidak usah mencaari muka di hadapanku……” jenguk Ang Nio Cu tertawa terkekeh kekeh.

Waktu itu orang-orang dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bukan menggeletak karena terluka, maka jalan darahnya sudah tertotok, tak seorangpun di antara mereka yang sanggup untuk melanjutkan pertempuran kembali.

Phoa Ceng Yan melihat Liauw Thayjien walaupun tak dapat bermain pedang untuk bergebrak untuk melawan orang lain tetapi air mukanya sangat tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perasaan jeri, dalam hati benar-benar merasa amat kagum.

Tetapi karena ia takut badannya yang lemah tak bertenaga itu sukar untuk menahan siksaan badan, maka buru-buru teriaknya, “Liauw Thayjien, aku orang she Phoa tidak becus sehingga sekali-kali menyusahkan Thayjien, dalam hati merasa sangat menyesal sekali, Thayjien adalah seorang terpelajar yang sama sekali tidak mengetahui urusan di dalam dunia kangouw, kau tidak perlu beribut lagi dengan mereka. Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami asalkan berhasil mendapatkan berita ini segera akan berusaha untuk menolong.

Liauw Thayjien silahkan meloloskan diri dari sini, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu, harap Thayjien menyingkir ke samping.”

Perkataan yang diucapkan olehnya ini amat sederhana sekali, tetapi Liauw Thayjien berhasil mengetahui maksud hatinya yang sebenarnya, ia segera tertawa tawar.

“Soal inipun tidak bisa menyalahkan pada diri kalian,” katanya perlahan. “Kalian sudah berusaha dengan sepenuh tenaga sehingga ada nyawa yang harus dikorbankan, walaupun aku orang she Liauw tidak mengeri ilmu silat tetapi soal mati hiduppun di dalam pandanganku bukan suatu peristiwa yang berat.”

Walaupun lengan si orang berbaju hitam itupun terluka, tetapi lukanya sangat ringan sekali.

Kini tanpa memperduli lagi luka di lengannya, ia lantas berbisik kepada Ang Nio CU.

“Sam-moay, totok saja jalan darah perempuan itu kemudian membuka buntalan tersebut.

Ang Nio Cu mengiakan setelah menotok jalan darah Liauw Hujie ia lantas membuka buntalan tersebut.

Kendati Phoa Ceng Yan-pun kepingin sekali mengetahui isi dari buntalan tersebut, tetapi disebabkan jalan darahnya tertotok maka tubuhnya merasa tidak leluasa untuk bergebrak, sehingga iapun tidak dapat melihat jelas barang apakah yang ada dalam buntalan tersebut.

Tetapi dengan pengalamannya yang amat luas serta pengetahuan yang melebihi orang lain, dari perubahan air muka si orang berbaju hitam itu ia dapat menduga jika benda itu tentunya merupakan sebuah benda yang sangat berharga.

Terdengar si orang berbaju hitam itu bergumam seorang diri, “Tidak salah, tidak salah, masih ada sebuah lagi, mari kita periksa dengan teliti.”

Buru-buru Ang Nio Cu mengikat kembali buntalan tersebut lalu dengan suara rendah ujarnya sambil tertawa.

“Toako, barang ini sudah ada di tangan kita, kaupun tidak usah murung lagi. Lukamu sangat parah, mari biarlah Siauw moay balutkan mulat lukamu itu.”

Si orang berbaju hitam itu tersenyum.

“Baiklah! Merepotkan Sam-moay harus turun tangan” katanya.

Dari dalam sakunya Ang Nio Cu segera mengeluarkan obat luka kemudian dengan sangat teliti membalutkan luka pada pundak si orang berbaju hitam itu.

“Sam-moay! Urusan sudah jadi begini dan kitapun tak bisa hidup berdampingan secara damai lagi dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok” katanya si orang berbaju hitam itu sambil mengangguk. “Heeeei……..bilamana bukannya Phoa Ceng Yan salah hitung, kemungkinan sekali pertempuran kita ini hari masih sulit untuk menentukan siapa menang siapa kalah!”

“Maksud dari toako, aku mengerti jelas!”

Phoa Ceng Yan sebagai seorang jago kawakan, setelah mendengar perkataan dari si orang berbaju hitam itu sudah tentu iapun mengetahui jelas apa maksudnya.

Ia tahu orang itu sudah siap-siap setelah berhasil mendapatkan barang yang dicari segera akan turun tangan membinasakan setiap orang yang ada di sana tanpa meninggalkan seorangpun yang hidup.

Walaupun di dalam hati ia mengerti maksud dari perkataan itu, tetapi diapun merasa kurang leluasa untuk menerangkan maksuda perkataan tersebut secara terbuka.

Walaupun Liauw Thayjien selama setengah abad lamanya menjabat  kedudukan sebagai pembesar, tetapi selamanya ia tidak mengetahui urusan dunia kangouw, sudah tentu iapun tidak akan mengerti maksud dari perkataan tersebut.

Saat ini orang tua itu masih berdiri di atas permukaan salju sambil bergendong tangan.

Pada waktu itulah secara mendadak si sastrawan berbaju biru itu berlari mendatang dan membisikkan sesuatu ke telinga si orang berbaju hitam serta Ang Nio Cu dengan suara rendah.

Beberapa patah kata itu sangat rendah sekali, saking perlahannya sehingga Phoa Ceng Yan sama sekali tidak mendengar sedikit suarapun.

Tampak air muka si orang berbaju hitam serta Ang Nio Cu berubah hebat, lama sekali mereka termangu-mangu.

Akhirnya si orang berbaju hitam itu menghembuskan napas panjang panjang.

“Ada urusan begitu? Jie-te, kau tidak salah meliha bukan…..!” serunya.

“Siauw-te melihat dengan sangat jelas sekali” jawab si sastrawan berbaju biru itu dengan serius. “Bilamana Toako serta Sam-moay mempunyai perasaan curiga, tidak ada halangannya kita sama-sama pergi menengok.”

“Ehmmm……!” si orang berbaju hitam itu menggangguk. “Mari kita sama-sama pergi melihat”.

Perubahan yang terjadi secara mendadak dan berada di luar dugaan ini kendati Phoa Ceng Yan yang memiliki pengalaman sangat luaspun merasa tidak paham apa yang telah terjadi, tetapi ia dapat melihat bila perasaan hati Lam Thian Sam Sah tergetar amat keras sekali.

Dengan menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya, Phoa Ceng Yan mengalihkan pandangannya ke arah di mana Lam Thian Sam Sah menuju.

Tampaklah mereka berjalan menuju kearah kereta yang terakhir.

Hal ini seketika itu juga membuat si telapak besi gelang emas merasa sangat terperanjat, pikirnya, “Kereta itu adalah kereta dari nona Liauw, apakah Lam Thian Sam Sah adalah seorang manusia yang gemar perempuan ….”

Tetapi dengan cepat pikirannya kembali berputar, ia merasa urusan rada sedikit tidak beres.

Semisalnya si sastrawan berbaju biru itu menemukan kecantikan dari nona Liauw dan hendak diberikan untuk Loo-toanya, agaknya tidak perlu sekalian memberitahukan hal ini kepada Ang Nio CU dan air muka mereka-pun tidak perlu berubah sebegitu kagetnya.

Karena itu dalam hati ia merasa rada lega.

Liauw Thayjien yang melihat Lam Thian Sam Sah berjalan menuju ke arah kereta yang ditunggangi putri kesayangannya, dalam hati merasa amat cemas.

“Usia Siauw-li masih kecil terhadap semua perbuatan kita, ia sama sekali tidak tahu. Kalian jangan mencelakai seorang gadis yang tidak tahu apa-apa” bentaknya keras.

Sudah tentu Lam Thian Sam Sah tidak akan mengubris atas bentaknya itu, si sastrawan berbaju biru itu dengan cepat membuka pintu kereta.

Mendadak……….”

Baik si orang berbaju hitam maupun Ang Nio Cu seperti kena setrom bertegangan tinggi, mereka berdiri terkesima di luar kereta.

Ketika itu Liauw Thayjien-pun dengan langkah cepat sudah berlari mendatang, ia bersiap-siap hendak mengadu jiwa tuanya untuk mencegah ketiga orang itu mencelakai gadisnya.

Tetapi sewaktu melihat beberapa orang itu sama sekali tidak masuk ke dalam kereta iapun segera menghentikan langkahnya.

Tampak si orang berbaju hitam itu dengan amat hormat menuju ke arah kereta tersebut.

“Maaf………maaf………..!” berulang kali

Dengan cepat ia meloncat turun dari kereta sambil berbisik.

“Loo Jie! Cepat suruh Shaw Kiat hantarkan kemari Lie Siauw Piauw-tauw!”

Si sastawan berbaju biru itu menyahut kemudian putar badan dan berlalu tergopoh-gopoh.

Sembari melangkah ke depan si orang berbaju hitam itu kembali memberi perintah kepada Ang Nio CU.

“Sam-moay, cepat bebaskan jalan darah dari Liauw Hujien yang tertotok, kemudian hantar masuk ke dalam kereta, setelah itu bantu obati beberapa orang jagoan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang terluka.”

Ang Nio Cu dengan cepat berlari menuju ke arah Liauw Hujien, sedang si orang berbaju hitampun itupun dengan langkah yang amat cepat berlari menghampiri Phoa Ceng Yan, melepaskan senjatanya kemudian membebaskan jalan darah si orang tua yang kena tertotok.

“Phoa-heng….!” serunya setengah berbisik. “Maaf kami bersaudara tidak tahu siapakah kalian sehingga melakukan perbuatan salah, harap Phoa-heng suka memaafkan!”

Beberapa patah kata yang sama sekali tidak diketahui ujung pangkalnya ini kontan saja membuat Phoa Ceng Yan jadi kebingungan setengah mati, pikirannya seperti di awang-awang tingkat ketiga belas.

Tetapi bagaimana juga dia adalah seorang jago kawakan yang sudah sering berkelana di dalam dunia kangouw, peristiwa berita kejadian yang bagaimana anehpun sudah sering ditemuinya.

Dalam hati ia paham, bilamana di dalam peristiwa ini hari dia orang tidak mengaku dan mengiakan dengan tebalkan muka, ada kemungkinan sekali Lam Thian Sam Sah akan berubah pikiran dan membinasakan mereka semua.

Otaknya bagaikan putaran roda karena dengan cepatnya berkelebat dan berputar akhirnya ia mendehem perlahan.

“Seharusnya saudara menerangkan terlebih dulu……”

“Soal ini cayhe tahu” sambung si orang berbaju hitam itu tidak menanti Phoa Ceng Yan menyelesaikan kata-katanya. “Sifat Pho-heng selamanya tinggi hati, bilamana dibicarakan kemungkinan sekali malah akan melemahkan nama besar dari Liong Wie Piauw-kiok, tetapi justru dikarenakan sifat Phoa-heng yang gagah perkasa inilah membuat kami bersaudara merasa sangat menyesal. Heeei…….! Boleh dikata saat ini kita masih belum berada dalam keadaan yang tak bisa diselesaikan.”

“Perkataan saudara sedikitpun tidak salah” kata Phoa Ceng Yan membenarkan, “Sebelum kejadian ini Siauw-te pun belum sempat memberi penjelasan, hal ini tak dapat menyalahkan kalian tiga bersaudara.”

“Phoa-heng bisa menjelaskan persoalan dengan bijaksana, hal ini membuat Siauw-te benar-benar merasa kagum………….”

Sehabis berkata dari sakunya orang berbaju hitam itu mengambil keluar sebuah botol pualam dan mengeluarkan sebutir pil untuk kemudian diserahkan ke tangan Phoa Ceng Yan, sambungnya, “Inilah obat pemunah tunggal dari jarum beracun yang tersembunyi di dalam senjata “Thiat Kui So” tersebut, harap Phoa-heng suka menelannya kemudian siauw-te akan bantu mengeluarkan jarum beracun tersebut dari dalam luka.”

Tanpa ragu-ragu lagi Phoa Ceng Yan menerima pemberian obat pemunah itu lantas ditelannya ke dalam perut.

Dari dalam sakunya si orang berbaju hitam itu kembali mengeluarkan sebuah besi sembrani dan didekatkan ke mulut luka di atas tubuh Phoa Ceng Yan, setelah mengurut beberapa saat di atas jalan darahnya, ia baru mengangkat kembali besi sembrani tersebut.

“Heeeei………. masih untung sekali!” serunya sambil menghembuskan napas panjang.

“Pertama, tenaga dalam Phoa-heng sempurna dan buru-buru menutup seluruh jalan darah sehingga jarum beracun tersebut masih tertinggal di tempat semula. Kedua, waktupun belum lama, sehingga jarum itu kena Siauw-te tarik keluar dari dalam badan.”

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan segera menoleh, sedikitpun tidak salah, di atas besi sembrani tersebut benar-benar sudah tertempel dua batang jarum beracun yang halus bagaikan bulu sapi.

Tak terasa lagi sambil goyangkan kepala ia menghela napas. “Heeeei….. sekalipun senjata rahasia ini tidak dipolesi dengan racunpun, sudah jauh lebih ganas daripada jarum Bwee Hoa Tin…….” katanya.

Lelaki berbaju hitam itu tertawa rikuh.

“Senjata rahasia ini memang benar-benar sangat ganas,” sahutnya. “Barang siapa yang terkena senjata rahasia ini maka jarum tersebut akan segera mengalir masuk ke jantung melalui peredaran darah, di dalam dua belas jam kemudian jarum tersebut akan menembusi jantung dan siapapun yang terkena pasti akan binasa, ditambah pula daya bekerja racun ini sangat ganas maka setiap orang yang terhajar oleh jarum ini dengan cepat akan kehilangan daya kekuatannya untuk melakukan perlawanan….”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali.

“Tetapi cayhe sangat berhati-hati di dalam menggunakan jarum beracun ini, bilamana bukan dikarenakan keadaan yang kepepet cayhe belum pernah menggunakan secara serampangan.”

Phoa Ceng Yan mengangguk tidak berbicara, sedang dalam hati diam-diam pikirnya.

“Lam Thian Sam Sah sudah hampir berhasil mencapai pada sasarannya bahkan siap-siap hendak membinasakan kami semua untuk melenyapkan bibit bencana di kemudian hari, tetapi mengapa kini secara mendadak ia berubah maksud? Bahkan membantu aku untuk membalutkan luka dan berulang kali minta maaf. Dari pihak Liong Wie Piauw-kiok aku rasa tiada suatu kekuatan yang bisa memaksa mereka untuk bersikap demikian. Kejadian ini tentu timbul dari pihak keluarga Liauw!”

Sewaktu ia berpikir keras itulah, di sebelah sana Ang Nio CU telah membalut luka-luka yang diderita oleh kelima anak buah Piauw-kiok tersebut.

Nyoo Su Jan pun sudah dibebaskan kembali jalan darahnya yang tertotok oleh Ang Nio CU.

Beberapa orang anak buah Liong Wie Piauw-kiok yang dibebaskan totokan jalan darahnya oleh Ang Nio Cu bahkan dibantu pula membalutnya luka-luka yang mereka derita, benar-benar dibuat tertegun dan berdiri melongo-longo oleh kejadian tersebut.

Dengan terpesona mereka memandang ke arah dara berbaju merah itu, sekalipun dalam hati merasa sangat heran tetapi tak seorangpun diantara mereka yang mengajukan pertanyaan kepada Ang Nio CU maupun kepada Liauw Thayjien.

Nyoo Su Jan setelah menggerak-gerakan otot-ototnya yang kaku dan melancarkan peredaran darah di dalam badannya, segera melangkah mendekati diri Phoa Ceng Yan.

“Hu Cong Piauw-tauw, apa yang sudah terjadi?” tanyanya setengah berbisik.

“Sebenarnya peristiwa ini hanya suatu kesalah pahaman saja”. Belum menanti Phoa Ceng Yan menjawab, si lelaki berbaju hitam itu sudah menimbrung dari samping. “Kami merasa sangat menyesal sekali akan kejadian-kejadian ini. Baru saja Cayhe sudah menerangkan kepada diri Phoa-heng, sangat mengharapkan kelapangan dada dari Phoa-heng untuk menyudahi peristiwa ini dan kita saling bergandengan tangan sebagai kawan kembali.”

“Aaakh…..!” seru Nyoo Su Jan agak tertahan, buru-buru ia mundur ke belakang.

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan bangun berdiri dan dengan langkah yang ringan mendekati tubuh Liauw Thayjien.

“Thayjien! Di tempat luar angin bertiup kencang saljupun turun dengan amat deras, silahkan Thayjien untuk naik kembali ke dalam kereta,” sapanya setengah berbisik.

Dengan termangu-mangu Liauw Thayjien memandang sekejap ke arah Phoa Ceng Yan, akhirnya ia menurut dan naik ke dalam keretanya.

Walaupun di dalam hati penuh diliputi berbagai persoalan yang mencurigakan hatinya, tetapi sebagai seorang manusia yang pernah menjabat sebagai pembesar hampir separuh hidupnya maka sifatnya sudah tertlalu tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Aaaah….bagus, bagus…!” serunya sambil mendehem perlahan.

Kakinya segera melangkah naik ke dalam kereta.

Menanti Liauw Thayjien sudah berada di dalam kereta, si orang berbaju hitam itu baru melepaskan buntalan putih pada pundaknya kemudian dengan sangat hormat diserahkan kembali ke tangan Phoa Ceng Yan.

“Phoa-heng, kau terimalah!”

Phoa Ceng Yan tidak mengucapkan kata-kata lagi, ia lantas menerima angsuran buntalan putih tersebut.

Ketika itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara derapan kaki kuda yang memecahkan kesunyian di sekitar tempat itu.

Ketika ia menengok, terlihatlah si siucay berbaju biru itu dengan menuntun tiga ekor kuda sedang berlari mendekat.

Di atas punggung kuda sebelah kiri kanannya masing-masing terduduklah Lie Giok Liong serta Ih Coen, senjata tajam andalan merekapun sudah tersoren di atas pinggangnya.

Menanti kedua ekor kuda itu hampir mendekati depan kereta, Lie Giok Liong serta Ih Coen segera melayang turun ke ats tanah.

“Paman Jie Siok…..” sapanya sambil menjura.

“Ehmmmmm! Kalian minggirlah.”

Kedua orang itu tidak berani banyak berbicara lagi, dengan sangat hormat mereka mengundurkan diri ke samping.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” seru Ang Nio Cu kemudian sambil berjalan mendekat. “Jalan darah dari keenam orang Piauw-tauw kalian sampai kini siauw-moay tidak berani membebaskan, takut mereka mencari gara-gara lagi. Untung saja di atas tubuh mereka sama sekali tak terluka sehingga walaupun jalan darah masih tertotok tak akan mengganggu kesehatan mereka. Setelah kami tiga bersaudara pergi dari sini, merepotkan Hu Cong Piauw-tauw suka turun tangan sendiri untuk membebaskan jalan darah mereka.”

“Pendapat dari nona sedikitpun tidak salah, Thio Toa Hauw itu memang rada goblok dan angseran!” kata Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Phoa-heng!” ujar si orang berbaju hitam itu kemudian sambil menjura. “Yang terluka sudah kami balut sehingga tidak mengganggu kesehatannya lagi, sedang enam orang yang meninggal, cayhe tiga bersaudara tak sanggup untuk menghidupkan mereka kembali, harap Phoa-heng suka merahasiakan kejadian ini sehingga jangan sempat diketahui orang lain, bilamana kau suka berbuat demikian di kemudian hari kami pasti akan mengucapkan terima kasih dan membalas budi tersebut. Harap kalian suka baik-baik berjaga diri, kami tiga bersaudara mohon diri terlebih dulu!”

Selesai berkata ia lantas meloncat naik ke atas pelana, di antara sentakan tali les kudanya segera berputar dfan lari ke depan dengan sangat cepat.

Si siucay berbaju biru serta Ang Nio Cu-pun bersama-sama meloncat naik ke atas pelana.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Maaf atas kejadian ini hari” seru dara berbaju merah itu sambil tertawa dan menggapei tangannya. “Bilamana di kemudian hari kita bertemu muka kembali, Siauw-moay pasti akan mengundang dirimu untuk dijamu dengan satu cawan arak!”

Phoa Ceng Yan selamanya bersikap keren dan jarang bergurau, perkataan dua tiga patah dari Ang Nio Cu ini kontan saja membuat si orang tua itu jadi gelagaoan dan merasa bingung perkataan apa yang harus diucapkan.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh dan bayangan punggungnya lenyap di balik permukaan salju, Phoa Ceng Yan baru menghembuskan napas panjang. Sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap ke arah Nyoo Su Jan, Ih Coen serta Lie Giok Liong bertiga.

“Kalian bertiga apakah terluka?” tanyanya kemudian.

“Tidak!” jawab mereka bertiga hampir berbareng.

“Phoa-ya, sebenarnya apa yang sudah terjadi?” tanya Nyoo Su Jan keheranan.

“Saat ini aku sendiripun tidak begitu paham,” sahut Phoa Ceng Yan sambil gelengkan kepala dan menghela napas panjang. “Coba kalian periksalah beberapa orang anak buah kita yang terluka apakah masih bisa melanjutkan perjalanan, yang mati untuk sementara waktu kita kubur dulu di sini dan dikasih tanda, menanti tugas kita sudah selesai kita orang barulah berusaha untuk mengangkut jenasah mereka.

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali, “Su Jan! Coba kau periksalah bagaimana keadaan dari Toa Hauew, bebaskan sekalian jalan darahnya yang tertotok. Suruh dia jangan banyak meronta lalu pesan pula kepada semua orang agar jangan bocorkan peristiwa ini di tempat luaran, roda kereta sesudah dibetulkan kita segera melanjutkan perjalanan.”

Nyoo Su Jan mengiakan, ia lantas putar badan dan berlalu.

Walaupun Lie Giok Liong serta Ih Coen tidak mendapat perintah dari Phoa Ceng Yan, secara sukarela merekapaun segera turun tangan membantu Nyoo Su Jan untuk memeriksa keadaan luka dari anak buah mereka, melancarkan peredaran darah dan membalut kembali luka-luka tersebut dengan obat luka.

Orang-orang piauw-kiok yang setiap harinya melakukan pekerjaan di atas ujung golok, selamanya menggembol obat luka di setiap saku masing-masing setelah beribut beberapa saat lamanya, luka-luka di badanpun telah dibalut dan mereka-mereka yang terluka segera dinaikkan ke dalam kereta.

Untung saja kuda-kuda jempolan yang menarik kereta-kereta mereka cuma dua ekor saja yang terluka, Lie Giok Liong serta Ih Coen lantas mengalah dan memberikan kuda tunggangannya untuk menarik kereta.

Thio  Toa Hauw serta Nyoo Su Jan-pun segera menggali beberapa buah liang  di tepi jalan untuk menggubur beberapa sosok jenasah itu, kemudian menebang sebuah pohon kecil yang dibuat menjadi papan nama dan ditancapkan di atas kuburan-kuburan tersebut.

Walaupun Phoa Ceng Yan tidak turun tangan bekerja, tetapi selama ini ia selalu berdiri di atas permukaan salju mengontrol jalannya seluruh pekerjaan.

Menanti kudapun sudah dipasang kembali di depan kereta, ia baru berseru, “Mari kita melanjutkan perjalanan!”

Thio Toa Hauw serta Nyoo Su Jan lantas memberikan kuda tunggangannya untuk kedua orang anak buah mereka yang terluka ringan.

Ketika Phoa Ceng Yan melihat semuanya sudah beres, keretapun mulai melanjutkan perjalanan, ia baru berjalan ke depan kereta yang ditumpangi Liauw Thayjien.

“Liauw Thayjien …..” sapanya sambil mendehem perlahan.

“Phoa Hu Cong Piauw-tauw, mari naiklah kita berbicara di dalam kereta saja” sahut Liauw Thayjien sambil menyingkapkan horden.

Di dalam hati Phoa Ceng Yan memang lagi dipenuhi dengan beberapa persoalan yang membingungkan hatinya dan sangat mengharapakan bisa ditanyakan kepada sang bekas pembesar negeri ini.

Kini mendengar Liauw Thayjien mempersilahkan ia untuk naik, mengikuti gerakan tongkat sang ular merambat, dengan cepat ia melangkah naik ke dalam kereta.

Kiranya di dalam kereta tersebut hanya ditumpangi Liauw Thayjien beserta seorang kacung bukunya.

Saat ini si kacung buku itu sudah berpindah ke dalam kereta yang keempat, jadi dalam kereta tinggal Liauw Thayjien seorang diri.

“heeeei….!” terdengar Phoa Ceng Yan menghela napas panjang dan menyerahkan buntalan kain putih itu ke tangan Liauw Thayjien. “Kali ini aku orang she Phoa benar-benar sudah jatuh kecundang di tangan orang lain sehingga menyusahkan dan mengejutkan Liauw Thayjien, hal ini benar-benar membuat hati aku orang she Phoa merasa sangat menyesal.”

Sambil menerima angsuran buntalan tersebut, Liauw Thayjien tertawa tawar.

“Kalian sudah menggunakan seluruh tenaga yang ada untuk mempertahankan diri, harta serta keselamatan kita sama sekali tidak menderita rugi kecuali sedikit terkejut saja, hal ini tidak terhitung apa-apa. Sebaliknya korban terluka dan binasa yang diderita perusahaan saudara tidak kecil. Untuk membuktikan sedikit perhatian kami, aku rasa keluarga yang lagi dirundung kematian baiknya diberi hadiah sebesar seratus tahil perak sedang yang hanya terluka lima puluh tahil peral, menanti setelah tiba di kota Kay Hong, akan kubayar kontan,” katanya.

Phoa Ceng Yan kontan saja merasakan wajahnya jadi panas, ia tertawa rikuh.

“Thayjien terlalu merendah, perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami tidak becus sehingga membuat Thayjien serta Hujien jadi terkejut karena hal ini saja sudah cukup membuat kami merasa sangat tidak tentram, mana mungkin kami berani menerima penghargaan dari Thayjien lagi? Mengenai anak buah kami yang mati atau terluka dari perusahaan kami sudah ada cara-cara terbiasa untuk mengaturnya, kami adalah orang-orang yang mencari makan dengan menjual nyawa, mati atau terluka merupakan suatu peristiwa yang sangat terbiasa, tentang soal ini perusahaan kami tak berani minta sumbangan lagi dari Liauw Thayjien…”

Perlahan-lahan ia menghela napas panjang, sambungnya kembali, “Heeei…..! Apalagi ini hari aku orang she Phoa beserta beberapa orang Piauw-su bisa lolos dari kematian, kesemuanya karena perlindungan dari Thayjien…..”

“berkat perlindunganku……” seru Liauw Thauyjien melengak.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa……..haaaa…….. saudara terlalu memuji, terlalu memuji. Untuk memotong seekor ayam pun tak bertenaga bagaimana mungkin bisa mengundurkan musuh tangguh? setelah mereka berhasil mendapatkan apa yang dicapai tetapi mendadak berubah hati dan menyerahkan kembali barang rampasannya di dalam hal ini tentu ada sebab-sebabnya, walaupun aku bukan seorang jagoan kang-ouw, tetapi rasanya sebab-sebab ini tidak sulit untuk ditebak!”

“Apa sebabnya?”

Liauw Thayjien tertawa.

“Sudah lama aku dengar piauw-su piauw-su dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berjumlah banyak dan semuanya berbakat, bahkan cara kalian mencari balas untuk menuntut kembali barang-barang yang dibegalpun jauh lebih kejam dan ganas dari tindakan petugas-petugas pengadilan. Aku rasa tentunya mereka merasa jeri sehingga di tengah jalan sudah berubah pikiran dan menyerahkan kembali barang tersebut kepada pemiliknya.

Selesai mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan jadi tertegun, pikirnya, “Liauw Thayjien ini benar-benar pandai membawa diri, terang-terangan Lam Thian Sam Sah berubah hati setelah menemui suatu peristiwa yang mengejutkan di dalam kereta nona Liauw, kemudian menyerahkan kembali benda itu, sekarang ternyata malah menjatuhkan jasa tersebut ke tangan perusahaan piauw-kiok kami……”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia bertanya, “Thayjien, apakah kau orang benar-benar tidak mengerti akan ilmu silat?”

“Bagaimana dengan putrimu?”

Air muka Liauw Thayjien segera berubah jadi keren.

“Walaupun Siauw-li selalu mengikuti aku berpindah-pindah tempat selaku pembesar dan pergi entah seberapa banyak tempat, tetapi selama ini bukannya naik kereta ia tentu digotong dengan tandu. Peraturan keluarga pembesar sangat ketat sekali, pada hari-hari biasa sangat sukar untuk meninggalkan ruangan bagian dalam bareng selangkahpun, jangan dikata belajar ilmu silat, sekalipun membaca sedikit buku syairpun aku yang turun tangan sendiri memberi pelajaran, urusan ini tak mungkin bisa terjadi,” katanya.

Phoa Ceng Yan yang melihat paras mukanya sangat serius, sedikitpun tidak kelihatan sedang berbohong, dalam hati kembali berpikir.

“Perkataannya sedikitpun tidak salah, teringat nona itu tak lebih hanyalah seorang budak yang baru berusia belasan tahun, sekalipun ia pernah belajar ilmu silat belum tentu pernah berkelana di dalam dunia kangouw, sedangkan Lam Thian Sam Sah pun cuma menyingkap horden sejenak saja dan nona Liauw semisalnya benar-benar memiliki kepandaian yang sangat tinggi tetapi ia belum pernah angkat nama di depan dunia kangouw bagaimana mungkin Lam Thian Sam Sah setelah menemuinya lantas melarikan diri terbirit-birit dan mengembalikan barang rampokannya? Di dalam hal ini pasti ada hal-hal yang aneh, tetapi apakah sebabnya? heee….Hal ini benar-benar susah ditebak!”

Tetapi bagaimana juga, ia adalah seorang jago kawakan. Setelah termenung sejenak ujarnya lagi.

“Lalu apakah Thayjien pernah berhubungan dengan orang-orang Bu-lim?….”

“Tidak! Aku belum pernah mengadakan hubungan,” sahut Liauw Thayjien sambil menggeleng. “Tetapi tempo dulu sewaktu aku masih menjabat sebagai pembesar pernah menghukum mati dua orang perampok besar, orang-orang yang mencegat kita ini hari kemungkinan sekali ada hubungan dan sangkut pautnya dengan peristiwa tersebut.”

“Kapan itu terjadinya??”

“Sudah puluhan tahun yang lalu!”

Phoa Ceng Yan sewaktu melihat dia orang tidak berhasil mendapatkan sedikit keterangan yang menyangkut persoalan ini, dalam hati merasa sangat tidak puas, pikirnya.

“Aku tidak percaya dengan pengalamanku selama puluhan tahun berkelana di dalam dunia kangouw tidak berhasil memperoleh sedikit keterangan dari mulutnya.”

Dengan cepat ia menggubah bahan pembicaraan.

“Thayjien!” serunya perlahan. “Aku orang she Phoa ada beberapa patah kata yang tidak senonoh hendak minta petunjuk, bilamana ada hal-hal yang tidak pada tempatnya, masih mengharapkan Thayjien suka memaafkan.”

“Baik! Kau bicaralah!”

“Benda apa yang terdapat di dalam buntalan putih yang ada di sisi Liauw Thayjien?”

“Sewaktu mereka membuka untuk dilihat tadi apakah Phoa Hu Cong Piauw-tauw tidak ikut melihat?” tanya Liauw Thayjien dengan kening yang dikerutkan.

“Bilamana cayhe sudah melihat, saat ini buat apa mengajukan pertanyaan kembali? tetapi cayhe berani memastikan kalau benda yang berada di dalam buntalan tersebut pastilah bukan benda-benda berharga seperti intan permata dan sebangsanya. Thayjien adalah seorang pembesar jujur, harta yang kau milikipun tidak berlimpah-limpah, tetapi untuk memancing niat Lam Thian Sam Sah untuk turun tangan membegal hal ini cukup menunjukan di dalam peristiwa ini ada hal-hal yang tidak beres.”

Liauw Thayjien tersenyum.

“Jadi Phoa Hu Cong Piauw-tauw sudah menaruh curiga terhadap barang yang disimpan dalam buntalan ini?” tanyanya.

“Curiga sih tidak! Aku orang she Phoa hanya ingin melihat keadaan yang sebenarnya, kemungkinan sekali benda yang berada di dalam buntalan ini ada sangkut pautnya dengan orang-orang dunia kangouw!”

Ternyata Laiuw Thayjien adalah seorang yang berlapang dada, setelah termenung sejenak lalu katanya, “Kalau begitu kau bukalah sendiri untuk diperiksa!”

“Apakah leluasa?” Phoa Ceng Yan melengak, agaknya ia tidak menyangka kalau urusan bisa berjalan dengan sangat lancar.

“Akupun tak dapat menduga apakah benda yang berada di dalam buntalan tersebut mempunyai sangkut paut yang erat dengan orang-orang kalangan Bu-lim kalian. Bilamana aku tidak mengijinkan kau membuka untuk diperiksa, rasanya dalam hatimu tentu bakal semakin menaruh curiga lagi.”

“peristiwa yang terjadi pada ini hari di mana secara tiba-tiba pihak musuh mengubah niatnya di tengah jalan, aku rasa pasti terkandung suatu sebab-sebab yang tidak mudah dipecahkan.” pikir Phoa Ceng Yan dalam hati.

“Kalau memangnya dia orang meminta aku melihat benda tersebut, kesempatan yang sangat baik ini tidak boleh aku lewatkan dengan begitu saja.”

“Kalau memang Thayjien menginginkan aku berbuat demikian, aku orang she Phoa akan mengikuti perintah saja.”

Selesai berkata, ia memungut buntalan tersebut lalu perlahan-lahan dibuka.

Ternyata di dalam buntalan itu hanya terdapat segulung lukisan yang terbuat dari kain putih.

“Sungguh aneh sekali!” kembali Phoa Ceng Yan berpikir. “Jauh dari daerah Kang-Lam, Lam Thian Sam Sah datang ke jalan Han Tan, tidak lain hanya ingin merebut sebuah lukisan….. tentang lukisan ini mengandung suatu rahasia yang maha besar biarlah aku buka untu dipreiksa isinya.”

Tidak menunggu perintah dari Liauw Thayjien lagi, ia lantas membentangkan lukisan itu.

Ternyata lukisan tersebut adalah sebuah lukisan pengembala kambing, kecuali seorang bocah cilik yang mencekal sebuah cambuk panjang yang lain adalah lukisan kambing-kambing yang berbeda jenis maupun gerakan-nya, sebagai latar belakang lukisan itu adalah serentetan puncak gunung yang jauh menjulang ke angkasa beserta sebuah sungai kecil di depan kelompok kambing-kambing itu.

Kendati si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan sudah sering melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw dan mempunyai pengetahuan yang sangat luas, tetapi terhadap maksud dari lukisan tersebut bukan saja tidak paham bahkan mengertipun tidak.

Ia cuma merasakan bahwa kambing-kambing yang ada di dalam lukisan tersebut baik kambing tua maupun kambing kecil, kambing gunung serta domba itu mirip sekali keadaannya satu sama lain.

Selain tanda tersebut ia tidak berhasil menemukan suatu apapun yang mencurigakan, tak terasa lagi dalam hati merasa sangat mangkel dan murung pikirannya, “Sekalipun lukisan tersebut hasil karya dari seorang pelukis terkenal dan harganya sangat tinggi tetapi buat apa Lam Thian Sam Sah membegalnya? dengan nama besar dari Lam Thian Sam Sah di dalam dunia kangouw tidaklah mungkin mereka dengan membawa lukisan itu untuk diperjual-belikan, apalagi orang-orang yang mengerti akan lukisan ini, dan dapat membelinya kecuali orang-orang yang punya duit hanyalah orang-orang yang terpelajar, terhadap lukisan yang tidak diketahui asal usulnya mereka tidak mungkin akan mau membeli.”

Otaknya berputar dengan sangat keras, setelah dipikir-pikir kembali berulang kali tetapi tidak berhasil juga menemukan letak nilai berharganya lukisan pengangon kambing itu.

Tetapi iapun tahu bila Lam Thian Sam Sah bukanlah orang-orang Liok-Lim biasa, bilamana dikatakan mereka datang hanya bertujuan membegal lukisan pengangon kambing yang sama sekali tak ada harganya, sudah tentu hal ini sukar untuk membuat orang jadi percaya.

Inilah sebuah teka-teki yang membingungkan, Phoa Ceng Yan merasa dengan kecerdikannya tidak gampang untuk memecahkan rahasia tersebut. Akhirnya perlahan-lahan ia menggulung kembali lukisan itu.

“Ehmmm……! Lukisan ini tidak jelek!” serunya.

“Sungguh luar biasa!” Liauw Thayjien menanggapi sambil tersenyum, “Tidak kusangka Phoa Hu Cong Piauw-tauw kecuali memiliki ilmu silat yang tinggi, masih dapat mengagumi pula lukisan-lukisan indah…..”

“Aaach! Thayjien terlalu memuji, cayhe cuma penjual silat kasaran, bagaimana mungkin bisa mengagumi lukisan-lukisan indah?? cuma di dalam hati  Cayhe ada suatu urusan yang merasa tidak paham dan ingin meminta petunjuk dari Thayjien, harap Thayjien suka memberi penjelasan secara terus terang.”

“Urusan apa??” tanya Liauw Thayjien sembari menggulung kembali lukisan tadi.

Sewaktu Lam Thian Sam Sah datang membegal lukisan tersebut, Thayjien pernah memberi pesan kepada cayhe agar suka menghantarkan lukisan ini ke istana Tok Ci Hu, agaknya di dalam hati Thayjien sudah mengerti bila kedatangan dari Lam Thian Sam Sah adalah bertujuan pada lukisan itu.

“Heeei….! Sebetulnya lukisan ini buka milikku,” ujar Liauw Thayjien setelah termenung sebentar. “Aku tidak lebih hanya mendapat titipan dari orang lain untuk menghantarkan lukisan tadi ke kota Kay Hong.”

Mendengar perkataan tersebut, semangat Phoa Ceng Yan berkobar kembali.

“Siapakah orang itu? Dapatkah Thayjien memberitahu ….” serunya buru-buru.

Ia rada merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali, “Bilamana orang itupun merupakan orang-orang Bu-lim, maka urusan ini tidak sulit untuk diduga!”

“Orang itu sama sekali bukan orang-orang dari kalangan Bu-lim, urusan ini walaupun kecil, tetapi sebelum cayhe mendapatkan ijin dari dirinya, aku tidak berani menyebutkan namanya secara sembarangan.”

“Ehmmm……! Kelihatannya ia pandai sekali pegang rahasia,” diam-diam pikir Phoa Ceng Yan di dalam hatinya. “Aku merasa rada tidak percaya dengan pengalamanku di dalam dunia kangouw selama puluhan tahun tidak berhasil menangkan dirinya sebagai seorang bekas pembesar negeri.”

Dengan cepat ia menggubah bahan pembicaraan, katanya kembali, “Walaupun cayhe pernah menemui beberapa orang pelukis kenamaan, tetapi tak berhasil aku ketahui berasal dari pelukis manakah lukisan pengangon kambing ini?”

“Hal ini tidak bisa disalahkan Phoa-suhu tidak mengetahui” kata Liauw Thayjien sambil tertawa. “Karena pelukis dari lukisan ini bukanlah seorang pelukis kenamaan!”

“Kalau memang lukisan ini bukanlah hasil karya dari seorang pelukis kenamaan, mengapa Thayjien memperhatikannya dengan demikian serius?”

“Karena lukisan ini bukan milikku, bilamana sampai lenyap, aku harus pergi ke mana untuk mencarinya kembali dan mempertanggung-jawabkan peristiwa ini di hadapan orang yang menitipi lukisan itu kepadaku?”

“Sungguh aneh sekali!” kembali Phoa Ceng Yan berpikir di dalam hatinya. “Bilamana dilihat lukisan ini memang benar-benar sama sekali tak berharga, tetapi mengapa Liauw Thayjien bisa menaruh perhatian yang amat sangat?”

Tetapi ia-pun menyadari sekalipun ditanyakan lebih lanjutpun tiada gunanya, terpaksa ia merangkap tangannya menjura.

“Disebabkan peristiwa pembegalan yang terjada pada ini hari, aku orang she Phoa merasa sangat menyesal sekali, kendati cuma ada rasa terkejut dan tidak sampai menimbulkan bahaya tetapi hal ini hanya bisa salahkan aku orang she Phoa tidak becus ….”

“Sudah…….sudahlah! Urusan sudah lewat, Phoa-suhu pun tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri” potong Liauw Thayjien dengan cepat.”Ini hari kita berhasil melewatkan keadaan bahaya ini dengan cuma mengandalkan rasa terkejut saja, bukankah kesemuanya ini mengandalkan kegagahan dari Liong Wie Piauw-kiok kalian?”

Phoa Ceng Yan tertpaksa tertawa pahit, kembali pikirnya di hati, “Kelihatannya orang-orang terpelajar yang pernah menjabat sebagai pembesar mempunyai pikiran yang jauh lebih teliti daripada kami orang-orang yang melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw ….”

Karena keadaan apa boleh buat dan tak berhasil mengorek sesuatu keterangan dari mulut pembesar itu, terpaksa ia menjura.

“Thayjien silahkan beristirahat, aku orang she Phoa mohon diri terlebih dahulu.”

“Kuda tunggangan tidak cukup, sekeliling tempat inipun merupakan hutan-hutan yang sunyi sekalipun ada uang juga sukar untuk memperoleh kuda tunggangan, bilamana Phoa-Loosuhu berada di dalam satu kereta dengan cayhe, akupun masih ingin mendengarkan sedikit kisah yang menyangkut pengalaman Loosuhu sewaktu ada di dalam dunia persilatan”.

“Aaakh ……! Soal itu sih tidak perlu! Sepasang kaki dari ornag she Phoa masih cukup keras untuk melanjutkan perjalanan, apalagi urusan di tempat luaran masih membutuhkan tenagaku untuk mengurusinya. Semoga saja sejak kini tak ada urusan lain lagi yang terjadi sehingga tidak sampai mengejutkan diri Thayjien.”

“Bilamana demikian adanya, silahkan Phoa-Loosuhu untuk berlalu.”

Phoa Ceng Yan lantas mohon diri dan meloncat turun dari dalam kereta tersebut, ia mengitari dulu kelima buah kereta tersebut terutama memperhatikan kereta terakhir yang ditunggangi oleh nona Liauw.

Perputaran roda kereta berdetak membisingkan telinga dan meninggalkan bekas yang memanjang di atas permukaan salju, bagaimanapun Phoa Ceng Yan meneliti dan memeriksa tak berhasil juga dia menemukan sesuatu tanda-tanda yang mencurigakan di luar kereta tersebut.

Mendadak …… dari balik kereta yang tertutup rapat-rapat itu muncullah sebuah tangan halus putih disusul seorang gadis muda menampakkan diri di tengah tiupan angin utara yang sangat dingin.

“Berhenti ……. berhenti!” teriaknya berulangkali.

“Kusir kereta tersebut dengan cepat menyentak tali les kudanya dan menghentikan lajunya sang kereta yang sedang melanjutkan perjalanan.

“Nona, ada urusan apa?” tanya Phoa Ceng Yan dengan cepat sambil meloncat ke depan.

“Nona ketakutan dan sekarang sakit panas!” sahut gadis tersebut dengan wajah penuh kekuatiran.

Sebenarnya Phoa Ceng Yan hendak menggunakan kesempatan ini loncat masuk ke dalam kereta dan membongkar rahasia yang meliputi kereta tersebut untuk melihat benda apakah sebenarnya yang sudah membuat Lam Thian Sam Sah berubah niat mengundurkan dirinya.

Tetapi dayang yang berbicara tadi kecuali melongokkan kepalanya ke depan, tangan kanannya dengan erat-erat memegangi horden di depan kereta, hal ini membuat Phoa Ceng Yan tak berhasil melihat jelas pemandangan di dalam kereta tersebut.

Ketika itulah, kereta-kereta yang berada di depan sudah pada berhenti semua, dari kereta ketiga muncullha Liauw Hujien yang berjalan mendekati mereka dengan langkah tergesa-gesa.

“Cun Lan! Kau berkata siapa yang sudah sakit??” tanyanya.

“Nona telah menderita sakit, bahkan sakitnya sangat keras, panasnya luar biasa sekali sedang ia sendiri sudah jatuh tak sadarkan diri.”

Mendengar perkataan tersebut, Liauw Hujien semakin mempercepat langkahnya.

“Cepat bimbing aku naik ke dalam kereta,” serunya cepat.

Karena langkahnya yang amat cepat dan tergesa-gesa, terpaksa Phoa Ceng Yan menyingkir ke arah samping.

Cun Lan segera menarik tangan Liauw Hujien yang dengan setengah merangkak naik ke dalam kereta.

Saat ini Phoa Ceng Yan masih belum suka matikan niatnya, ia mengharapkan bisa berhasil menyelidiki sebab yang telah memaksa Lam Thian Sam Sah mengundurkan diri.

Tubuhnya tetap berdiri di depan kereta setelah mendehem sejenak lantas ujarnya.

“Hujien, penyakit putri kesayanganmu apakah sangat parah sekali?”

“Benar parah sekali! Saking panasnya ia sudah jatuh tidak sadarkan diri,” sahut Liauw Hujien sambil menengok keluar. “Sejak kecil ia sudah terbiasa dimanja dan disayang, kapan ia pernah menemui kejadian yang sangat mengejutkan ini?”

Phoa Ceng Yan segera merasa pipinya jadi sangat panas.

“Cayhe tidak becus sehingga nona jadi terkejut …..” serunya.

“Urusan sudah lewat tak usah kita bicarakan lagi, yang penting pada saat ini adalah mencari cara untuk menyembuhkan penyakit dari Siauw-li, aku lihat …..”

Ketika itulah Liauw Thayjien sudah menerima laporan dan berlari mendatang.

“Ada urusan apa?” sambungnya.

“Wan-jie sakit keras, ia tentu terkejut karena kejadian tadi sehingga saking takutnya berubah menjadi penyakit” kata Liauw hujien sambil mengucurkan air mata.

Bagaimanapun Liauw Thayjien adalah seorang bekas pembesar, menghadapi kejadian apapun tetap berdiri tenang.

“Sudah…. sudahlah jangan ribut dahulu” hiburnya.  “Suruh Coen Lan berikan sebungkus Cap Biauw San kepadanya agar ia bisa tidur sebentar, setelah tiba di kota sebelah depan kita baru undang tabib untuk memeriksa sakitnya….”

Berbicara sampai di sini ia merandek sejenak, kemudian sambil menoleh ke arah Phoa Ceng Yan sambungnya kembali.

“Phoa-suhu, tempat ini dengan dusun yang terdekat masih seberapa jauh?”

Lama sekali Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras.

“Ingatan loolap sudah rada buram” sahutnya perlahan, perlahan-lahan ia menoleh ke arah kusir kereta tersebut, “Kau orang sering melakukan perjalanan lewat tempat ini?”

“Lapor Jia-ya, hamba pernah melakukan perjalanan lewat jalan raya Han Tan ini,” sahut kusir tersebut dengan sangat hormat.

“Di depan sana adalah sebuah hutan pohon siong yang lewat, setelah melakukan perjalanan sejauh sepuluh lie, kita baru sampai pada dusun kecil yang terdekat.”

“Di dalam dusun itu ada kedai obat?” tanya Phoa Ceng Yan kembali.

“Dusun tersebut cuma ditinggali kurang lebih seratus keluarga saja, kedai obat mungkin ada, tetapi apakah tabib yang memeriksa penyakit hamba kurang paham, jikalau kita bisa melakukan perjalanan rada cepat, mungkin sebelum hari menjadi gelap nanti dapat mengejar tiba di kota Si Jan Sian, tempat itu sangat besar dan banyak penduduknya, kemungkinan sekali di kota tersebut kita berhasil mencari seorang tabib.”

“Jikalau penyakit nona Liauw sangat hebat bagaimana mungkin bisa menunggu sampai nanti malam?”

“Sejak kecil Wan jie berbadan lemah dan selalu banyak sakit,” ujar Liauw Hujien dengan wajah merengek. “Bagaimana mungkin ia tidak dibuat terkejut oleh kejadian tadi di mana cahaya golok serta bayangan pedang berkelebat tiada hentinya. Aku melihat panas badannya seperti api, kemungkinan sekali tak dapat menunggu sampai nanti malam.”

(Bersambung Jilid 4)

Jilid 4

“Hujien!” seru Liauw Thayjien dengan alis yang dikerutkan rapat rapat. “Peristiwa ini adalah kejadian yang menyangkut mati hidup seseorang, siapapun tidak kuasa untuk menghindarinya. Tadi Wan jie berhasil lolos tanpa terluka, hal ini sudah merupakan suatu keuntungan.”

Kedua orang itu saling bantah membantah, hal ini membuat Phoa Ceng Yan merasa sangat sedih dan serba salah, tetapi ketika ini iapun tidak enak untuk ikut banyak berbicara.

Pada saat itulah, mendadak tampak Nyoo Su Jan dengan terburu-buru berlari mendekat.

“Jie-ya, ada mata-mata……”

“Mata-mata… kau tidak salah melihat?” seru Phoa Ceng Yan dengan air muka berubah hebat.

“Tidak bakal salah, hamba percaya penglihantanku tadi tidak bakal salah!”

Agaknya secara mendadak itulah Phoa Ceng Yan sudah memikul suatu beban yang seberat ribuan kati, air mukanya berubah sangat serius, keren dan tegang.

“Kau pergilah beritahu Giok Liong, suruh dia bersiap sedia dengan penuh kewaspadaan. Kali ini kita tak boleh jatuh kecundang lagi di tangan orang lain,” katanya perlahan.

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah” sahut Nyoo Su Jan sambil mengangguk. “Peduli aliran manakah yang datang kali ini, kita harus mempertahankan diri mati-matian, bilamana perlu harus mengadu jiwa dan jangan sampai jatuh kecundang lagi di tangan orang lain.”

Setelah menjura buru-buru ia putar badan berlalu.

“Phoa-suhu!” menanti Nyoo Su Jan sudah berlalu, Liauw Thayjien sambil mendehem datang menyapa. “Apakah yang disebut sebagai mata-mata itu?”

Paras muka Phoa Ceng Yan pada saat ini sudah berubah sangat dingin dan serius.

“Ooow……. mata-mata? itulah orang-orang yang dikirim pihak lawan untuk melakukan pengintaian…..”

“Aku paham sudah, mari kita berbicara di depan saja,” kata Liauw Thayjien mengangguk, ia lantas putar badan berlalu.

Agaknya Liauw Hujien-pun sudah mendengar apa yang sudah terjadi, dengan paras muka berubah buru-buru ia menyusup masuk ke dalam kereta.

Phoa Ceng Yan dengan cepata lari mengejar diri Liauw Thayjien.

“Thayjien!” ujarnya dengan cepat. “Aku orang she Phoa ada beberapa pertanyaan yang hendak ditanyakan kepadamu, harap Thayjien jangan menyalahkan diriku.”

“Phoa-suhu silahkan berbicara!”

“Biasanya cukup mengandalkan merek perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kebanyakan orang-orang Liok-lim pada memberi muka kepada kami, kecuali barang kawalan agaknya kali ini orang-orang Liok-lim pada mengandung suatu maksud hendak turun tangan!”

“Maksud Phoa-suhu,” ujar Liauw Thayjien kebingungan.

“Maksudku sudah amat jelas sekali, bilamana Thayjien mempunyai sesuatu rahasia, aku mengharapkan kau orang suka berterus terang dengan diri cayhe.”

“Aku tak habis pikir sebenarnya diriku mempunyai rahasia apakah yang ada sangkut paut dengan kalian orang-orang kangouw?” kata Liauw Thayjien menggeleng.

“Cayhe ingin menanyakan satu persoalan kepada diri Thayjien” ujar Phoa Ceng Yan dengan dingin. “Kecuali lukisan tersebut, Thayjien sudah membawa barang apa lagi?”

“Phoa-suhu, aku cuma membawa beberapa macam barang antik beserta beberapa lembar lukisan saja, tetapi aku rasa barang-barang tersebut agaknya tiada sangkut pautnya dengan orang-orang dunia kangouw. Walaupun aku belum pernah berkelana di dalam dunia kangouw tetapi diriku bukanlah seorang manusia yang gemar akan harta. Jikalau kali ini ada orang yang menghadang perjalanan kita kembali, tolong Phoa-suhu suka menanyakan maksud tujuannya! Asalkan mereka tidak melukai orang maka barang-barang tersebut boleh mereka ambil pergi”.

“Termasuk lukisan pengembala kambing itu?”

“Tadi aku sudah mengatakan bila lukisan itu adalah milik orang lain” kata Liauw Thayjien dengan serius,” Lebih baik kita jangan berikan benda itu kepada mereka, tetapi semisalnya mereka ngotot juga menginginkan lukisan pengembala kambing itu, berikan saja kepada mereka! Bagaimana nyawa manusia jauh lebih penting daripada lukisan. Perkataanku sampai di sini dulu, bagaimana seharusnya bertindak aku serahkan saja pada Phoa-suhu untuk memutusi sendiri!”

Selesai berkata dengan langkah lebar ia lantas kembali ke dalam keretanya sendiri.

Dengan kejadian ini kontan saja membuat Phoa Ceng Yan sebagai seorang jago kawakan dunia kangouw yang banyak pengalaman dan sering melakukan perjalanan di dalam Bu-lim jadi kebingungan seperti di tengah awang-awang.

“Perkataan yang diucapkan oleh Liauw Thayjien barusan ini bukan saja sesuai dengan keadaan bahkan sangat cengli, sikapnya-pun bersungguh-sungguh, sama sekali tidak kelihatan pura-pura.”

Tetapi apa sebabnya Lam Thian Sam Sah setelah berhasil memperoleh lukisan itu secara mendadak dari sikap bermusuhan berubah jadi berkawan?? Bahkan mengembalikan barang yang telah berhasil dirampas?”

Mendadak satu ingatan bagus berkelebat di dalam benaknya.

“Apa mungkin kelihayan dari nona Liauw tidak sampai diketahui oleh kedua orang tuanya?” setelah kejadian ini sengaja dia orang memperlihatkan sikapnya semacam orang terkejut sehingga jatuh sakit untuk menutupi semua perbuatannya??” pikir Phoa Ceng Yan di dalam hati.

Kesimpulan ini meskipun rada kuat, tetapi kecuali alasan itu Phoa Ceng Yan benar-benar tidak berhasil memperoleh alasan-alasan yang lain untuk membuktikan mengapakah Lam Thian Sam Sah yang terkenal keganasannya itu sesudah berhasil mendapatkan barang yang dicari secara mendadak mengembalikan lagi barang itu bahkan minta maaf berulang kali.

Sesudah berpikir sampai di sini, Phoa Ceng Yan dapat memastikan bila nona Liauw tentu memiliki ilmu silat yang luar biasa lihaynya dan tidak suka menonjolkan diri disebabkan suatu alasan yang tertentu.

Ketika itulan Nyoo Su Jan dengan langkah yang cepat sudah berjalan mendatangi.

Phoa Ceng Yan setelah memeras otak dan menemukan keadaan sesungguhnya yang telah terjadi, hatinya rada merasa lega.

Dengan ada Nona Liauw tidak bakal menemui bencana atau semisalnya benar-benar ada orang yang hendak membegal maka ia akan turun tangan mengadu jiwa.

Kini melihat Nyoo Su Jan berjalan mendekat dengan langkah yang cepat, ia segera saja menyongsong kedatangannya.

“Su Jan, adakah perubahan??”

Nyoo Su Jan gelengkan kepalanya berulang kali.

“Jie-ya, urusan rada tidak beres……”

“Apa yang sudah terjadi??” tanya Phoa Ceng Yan dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat.

“Mata-mata itu mendadak melepaskan mangsanya dengan meninggalkan tulisan menanyakan keselamatan di atas pohon di pinggir jalan, menurut peraturan Bu-lim hal ini berarti bila mereka sudah melepaskan niatnya untuk membegal barang kawalan kita!”

“Lalu apakah di bagian bawah dari tulisan tersebut ditinggalkan nama atau tanda gambar?…..” tanya Phoa Ceng Yan setelah termenung sejenak.

“Peristiwa ini justru keanehannya terletak di sini, di atas tulisan itu tak ada nama di bawahnya-pun tidak ada nama, orang lain sudah memberi muka kepada kita, sebaliknya kita malah tidak tahu siapakah orang itu”

Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Kemungkinan sekali orang lain memang bukan memberi muka kepada kita dari pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok!” sahutnya perlahan.

“Jie-ya! Kau jangan membuat aku jadi kebingungan setengah mati” seru Nyoo Su Jan sambil tertawa kebingunngan. “Bilamana mereka bukannya memandang merek dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita serta melihat nama besar dari Jie-ya, lalu apakah disebabkan memandang muka keluarga Liauw itu???”

“Kemungkinan sekali……”

Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa tawar sambungnya kembali dengan bicara lirih, “Su Jan, kau merasa orang-orang dari keluarga Liauw sangat mengherankan tidak?”

Nyoo Su Jan adalah seorang jago kawakan di dalam dunia kangouw, walaupun tidak mengerti keadaan yang sesungguhnya, tetapi ia dapat menduga di antara ucapan Phoa Ceng Yan tersebut tentu ada sebab-sebabnya.

“Lalu apakah Jie-ya sudah menemukan sesuatu??” balik katanya.

Phoa Ceng Yan segera mempercepat langkahnya menjauhi kereta yang ditumpangi nona Liauw.

“Sebelum turun tangan membegal barang kawalan kita, Lam Thian Sam Sah tentu sudah mengadakan perencanaan yang teliti, mereka tidak mungkin berubah niat di tengah jalan disebabkan nama besar perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita sehingga barang yang sudah didapatkan dikembalikan lagi bahkan berlalu sambil mengucapkan minta maaf berulang kali” katanya.

“Hamba cuma merasa sangat heran saja terhadap peristiwa ini tetapi tidak mengerti keadaan sesungguhnya yang telah terjadi. Jika didengar darimana ucapan Jie-ya agaknya Lam Thian Sam Sah menaruh rasa jeri terhadap Liauw Thayjien sehingga di tengah jalan membatalkan niatnya.

“Bukan……..bukan Liauw Thayjien!” sahut Phoa Ceng Yan sambil menggeleng. “Nona Liauw yang usianya masih sangat muda itu?” teriak Nyoo Su Jan tak tertahan lagi ia benar-benar merasa sangat terperanjat.

“Sssst…….! Perlahan sedikit.”

Cepat-cepat Nyoo Su Jan menutup mulutnya rapat-rapat, lalu dengan ragu-ragu ia melirik sekejap ke arah kereta yang ditumpangi ole nona Liauw.

“Sedikitpun tidak salah, memang benar nona Liauw itu” sambung Phoa Ceng Yan lebih lanjut.”Sewaktu Lam Thian Sam Sah membuka hordennya dan melihat ke dalam sekejap mendadak niatnya sudah dibatalkan bahkan mengembalikan barang rampasannya dan mengaku salah.”

“Apakah Nona Liauw tidak turun tangan”

“Ketika itu walaupun jalan darahku tertotok, tetapi aku dapat melihat seluruh kejadian dengan sangat jelas. Nona Liauw tidak turun tangan, Lam Thian Sam Sah-pun tidak turun tangan, sewaktu mereka membuka horden kereta agaknya sudah menemukan sesuatu! Begitu keluar dari kereta langsung niatnya dibatalkan.”

Nyoo Su Jan termenung, lama sekali ia berpikir keras. Akhirnya setelah lewat sejenak ujarnya lagi.

“Tak terpikir oleh hamba benda apakah yang sudah ditemui oleh Lam Thian Sam Sah sehingga membuat mereka ketakutan setengah mati dan buru-buru mengembalikan barang rampasannya?”

“Soal ini akupun sudah berpikir sangat lama sekali, tetapi sampai kini tak terpegang olehku barang suatu titik terangpun ….” kata Phoa Ceng Yan sambil tertawa jengah.

Ia menghembuskan napas panjang-panjang, sambungnya kembali.

“Tetapi, bagaimananpun kita sudah berhasil mengetahui bila nona Liauw sebenarnya adalah seorang manusia aneh yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi!”

“Perkataan semacam ini dapat diucapkan oleh Jie-ya, hal ini benar-benar membuat orang lain yang mendengar merasa rada tidak percaya!”

“Untuk sementara waktu kita belum berhasil menemukan sesuatu titik terang, karena itu janganlah menyiarkan berita ini terlebih dulu, juga tidak usah dikasih tahu pada diri Toa Hauw serta Giok Liong sekalian.”

“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati!”

Phoa Ceng Yan lantas mengangguk.

“Selama ini kau paling cermat di dalam melakukan pekerjaan dan boleh dikata paling jujur dan rajin. Coba secara diam-diam awasilah keadaan di dalam kereta nona Liauw tersebut, tetapi jangan ceritakan tugas ini kepada siapapun.”

“Hamba mengerti ….”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Aku dengar nona Liauw itu jadi sakit saking kagetnya dengan peristiwa tadi?”

“Inilah yang dinamakan saking pintarnya sampai keblinger, melukis ular ditambah kaki,” kata Phoa Ceng Yan sambil tertawa perlahan. “Peduli nona Liauw sebagaimana cerdiknya, tidak lebih dia cuma seorang bocah!”

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah,” sahut Nyoo Su Jan sambil tertawa pula. “Garam uang kita makan jauh lebih banyak dari gandum yang ia makan, nanti malam sewaktu menginap di rumah penginapan kemungkinan sekali dari sepuluh bagian, ada sembilan bagian kita berhasil menemukan sesuatu.”

“Jangan terlalu menempuh bahaya sehingga menggusarkan nona Liauw!”

“Jie-ya boleh berlega hati, hamba di dalam melaksanakan tugas.”

Walaupun di atas pohon di pinggir jalan hanya meninggalkan kata kata salam saja, tetapi Phoa Ceng Yan tidak berani berbuat gegabah, selama ini selalu bersiap sedia.

Jika dibicarakan dari pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, pekerjaan pengawalan barang kali ini boleh dikata tidak memadahi dengan biayanya, karena kali ini mereka harus mengirim Hu Cong Piauw-tauw serta empat orang Piauw su utama, kesemuanya ini tidak lain disebabkan permintaan dari langganan.

Orang lain sudah mengeluarkan uang banyak agar Cong Piauw-tauw sendiri suka turun tangan, tetapi dagangan dari Liong Wie piauw-kiok terlalu bagus, Cong Piauw-tauw tak dapat meninggalkan kantornya, sebab setiap hari masih mengalir datang kesempatan yang sangat banyak.

Walaupun Piauw-tauw di dalam perusahaan Liong Wie Piauw-kiok banyak jumlahnya dan setiap orang pada pandai serta berbakat, tetapi dagangan mereka terlalu besar, kaum perampok yang menemui ajalnya di tangan merekapun terlalu banyak, sekalipun bukan datang mencari balas, sering-seringpun masih terjadi peristiwa pencegatan serta pembegalan.

Karena itu di setiap cabang-cabang di daerah yang tersebar sudah terpeliharalah burung-burung merpati yang sangat terlatih, setiap kali menemui peristiwa pembegalan, mereka segera melepaskan burung-burung merpati untuk memberi laporan ke kantor pusat.

Cong Piauw-tauw yang menerima laporan dengan cepat akan mengadakan persiapan-persiapan menyusun rencana mencari anak buah untuk menghadapi perubahan selanjutnya setelah itu dengan dipimpin sendiri oleh COng Piauw-tauw pergi menuntut kembali barang yang kena dibegal.

Sebaliknya barang kawalan dari keluarga Liauw kali ini boleh dikata tidak begitu berharga, tetapi orang berani membayar tinggi untuk perjalanan ini. Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sebagai suatu usaha dagang sudah tentu tidak dapat menolak permintaan ini.

Setelah berunding setengah harian lamanya, terakhir keluarga Liauw baru menyetujui pengawalan kali ini dilakukan oleh Phoa Hu Cong Piauw-tauw.

Pada mulanya Cong Piauw-tauw memandang enteng barang kawalannya ini, tetapi sesudah pihak langganan menginginkan ia sendiri yang turun tangan, maka semakin dipikir ia merasa kejadian ini semakin tidak beres, kemungkinan sekali keluarga Liauw telah membawa suatu benda yang sangat berharga dan tak ingin diperlihatkan orang lain secara sembarangan.

Oleh sebab itu ia  mengirim pula Nyoo Su Jan yang terkenal akan kecerdikan serta banyak akal beserta jagoan bertenaga paling besar Thia Toa Hauw, muridnya paling tua Lie Giok Liong, murid nomor dua Ih Coen untuk bersama-sama berangkat mengawal barang kawalan ini menuju ke arah selatan, kota Kay Hong Hu.

Di dalam perhitungan Cong Piauw-tauw, sekalipun terjadi sesuatu peristiwa setelah ada empat orang Piauw su kenamaan beserta Hu Cong Piauw-tauw sendiri rasanya masih cukup untuk menghadapinya.

Di dalam hati Phoa Ceng Yan sendiripun pada mulanya merasa sangat mantap, ia mengira dengan gelarnya si telapak besi bergelang emas untuk melindungi barang-barang kawalannya kali ini maka semua urusan bisa dibereskan dengan sangat mudah.

Siapa sangka perhitungannya ini ternyata sama sekali meleset, ia tidak mengira bila Lam Thuan Sam Sah yang biasanya munculkan diri disekitar lima keresidenan di sebelah utara ternyata kali ini sudah munculkan diri di jalan raya Han Tan bahkan bukan saja keempat orang Piauw-sunya kena tertangkap bahkan sendiripun kena dilukai oleh jarum beracun.

Oleh karena itu sewaktu menemukan kembali mata-mata pihak lawan, sikapnya tadi amat tegang dan cepat-cepat turunkan perintah untuk melakukan penjagaan ketat.

Walaupun ia dapat melihat kata-kata yang menyampaikan salam di atas pohon, dalam hati orang sama sekali tidak berani berlaku gegabah apalagi ayal-ayalan.

Tetapi selama di tengah perjalana kali ini ternyata mereka tidak menemui sesuatu peristiwapun, sewaktu hari hampir malam sampailah mereka di kota Si Jan Sian.

Selama di tengah perjalanan ini walaupun Phoa Ceng Yan selalu waspada tetapi iapun tak dapat melupakan rahasia yang menyelimuti sekitar kereta yang ditunggangi nona Liauw.

Oleh karena itu kecuali selama diperjalanan selain bersikap waspada, iapun mengawasi terus semua gerak-gerik dari kereta yang ditumpangi nona Liauw.

Mungkin disebabkan Liauw Hujien mendengar bakal terjadi kesulitan lagi, saking takutnya ia bersembunyi terus di dalam kereta dan tidak kedengaran suaranya lagi.

Hal ini semakin mempertebal perasaan curiga di dalam hati Phoa Ceng Yan, diam-diam pikirnya.

“Bilamana semisalnya nona Liauw benar-benar sakit keras, mungkin secara mendadak ia berhasil mengurangi penderitaan tersebut. Hmmm………! Jelas sekali kalau mereka sengaja berpura-pura berbuat demikian untuk mengelabuhi diriku.”

Rombongan kereta setelah masuk ke dalam kota Si Jan Sian mereka langsung menuju ke rumah penginapan Sam Thay di jalan besar sebelah barat.

Inilah rumah penginapan yang terbesar di dalam kota Si Jan Sian dan merupakan tempat yang sering digunakan oleh orang perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.

Baru saja rombongan kereta tiba di depan pintu rumah penginapan tersebut, tampaklah empat orang pejalan sudah menyambut kedatangan mereka, mereka yang bertugas mengawal kuda lantas mengerjakan tugasnya yang menarik kereta mulai melaksanakan pekerjaannya, suasana diliputi kesibukan.

Seorang kakek tua berjubah panjang yang mencekal sebuah Huncwee dan agaknya merupakan Ciang kwee dari rumah penginapan itu munculkan dirinya menyambut kedatangan mereka.

“Cepat bereskan kereta dan buru-buru sediakan air panas untuk cuci muka beberapa orang yaya!” perintahnya.

Sang pelayan dengan penuh rasa hormat mempersilahkan para tetamunya masuk ke dalam rumah penginapan, tetapi beberapa orang kusir kereta itu malah berkumpul di depan kereta pertama tanpa bergerak.

Agaknya sang Ciang kwee yang memakai jubah panjang dan membawa huncwee itupun dapat melihat keadaan kurang beres, ia buru-buru berjalan keluar menyongsong diri Nyoo Su Jan.

“Nyoo-ya, agaknya keadaannya kurang beres!” tanyanya setengah berbisik.

Jelas sang Ciang kwee itu merupakan kawan lama dari Nyoo Su Jan.

“Ehmmmmm…….! Sewaktu ada ditengah jalan sudah menemui sedikit kesulitan sehingga melukai beberapa orang kita, cepat kau suruh pelayanmu membawa kuda-kuda itu ke dalam kandang kemudian siapkan sebuah ruangan bersih dan sunyi untuk kita!”

Si orang tua berjubah panjang itu mengangguk.

“Asalkan permintaan dari Nyoo-ya, sekalipun tidak adapun aku harus carikan akal buat kalian, coba tunggulah sebentar, aku pergi mengatur dulu,” ujarnya.

“Eeeeei Ciang kwee! Kau lebih apal keaada di sekitar tempat ini daripada diriku, siauw-te masih menginginkan bantuanmu akan dua hal!” ujar Nyoo Su Jan lagi setengah berbisik.

“Nyoo-ya, silahkan kau orang memberi perintah. Asalkan aku bisa melakukannya tentu akan kulaksanakan sebagaimana mestinya.”

“Harap ciang-kwee suka memerintahkan seorang pelayan yang pandai untuk carikan tabib kenamaan buat kami sekalian membeli beberapa ekor kuda jempolan, harus membayar lebih banyakpun tidak mengapa.”

“Baik! Apa yang Nyoo-ya perintahkan akan aku lakukan semua, aku mau pergi periksa dulu ke halaman belakan apakah mungkin bisa dipakai atau tidak.”

Selesai berkata ia lantas berlalu.

Beberapa saat kemudia ia telah muncul kembali.

“Nyoo-ya,” katanya sambil tersenyum. “Beruntung sekali beberapa orang tamu yang semula mendiami di ruangan belakang suka mengalah dan pindah keluar! Silahkan kalian semua masuk ke dalam!”

“Aaaaakh…..! Kalau begitu persahabatan di antara kita semakin lama semakin bertambah erat!” seru Nyoo Su Jan tertawa.

“Nyoo-ya! Kalau terlalu memuji, bagaiman mungkin aku orang berani menerimanya!”

Nyoo Su Jan segera memerintahkan para anak buahnya untuk menggotong masuk para anak buahnya yang terluka parah dan tak dapat berjalan sendiri.

Di atas tubuh mereka-mereka itu ia perintahkan untuk menutupi dengan kain putih,dengan begitu maka terhindarlah mereka dari pandangan para tetamu sehingga tidak diketahui kalau mereka adalah orang-orang yang sedang terluka parah.

Anak buah dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ternyata merupakan orang-orang yang cekatan, ditambah Nyoo Su Jan pandai mengatur pekerjaan, sesudah beberapa orang yang terluka parah digotong masuk maka menyusullah barang barang mulai diangkuti.

Selama ini Phoa Ceng Yan hanya berdiri di bawah anak tangga penginapan tersebut sambil mengawasi semua pekerjaan terutama sekali perhatiannya ditujukan pada nona Liauw yang dibimbing turun dari dalam kereta oleh Cun Lam sang dayang serta Liauw Hujin.

Di depan rumah penginapan tergantung dua buah lentera besar, meminjam cahaya yang menyoroti sekeliling tempat itu Phoa Ceng Yan memandang nona Liauw tajam-tajam.

Tampaklajh sepasang matanya terkatup rapat-rapat, wajahnya pucat pasi sehingga kelihatan bila ia sedang menderita sakit keras, hal ini membuat si orang tua itu diam-diam mulai berpikir.

“Budak ini sungguh luar biasa sekali, menyaru sebagai naga mirip naga, menyaru sebagai burung hong mirip burung hong, sampai berpura-pura sakitpun ditirukan sangat persis sekali.”

“Phoa-suhu!” tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara sapaan dari Liauw Thayjien yang tahu-tahu sudah berada di sisinya.”Penyakit yang diderita Siauw-li agaknya tidak enteng. Kelihatannya kita harus berdiam selama dua hari di tempat ini! Sejak kecil memang badannya sangat lemah apalagi saat ini ia sedang menderita sakit, aku rasa sulit baginya untuk menahan penderitaan di dalam melakukan perjalanan jauh?”

Mendengar perkataan tersebut, diam-diam Phoa Ceng Yan merasa geli, tetapi di luaran ia menyahuti pula.

“Thayjien boleh berlega hati, aku sudah menyuruh orang untuk mengundang datang tabib guna memeriksakan penyakit dari nona Liauw, bilamana semisalnya penyakit nona Liauw pada esok pagi belum sembuh juga, tiada halangannya kita berdiam dua hari lebih lama di sini untuk beristirahat!”

Selesai berkata ia lantas mengirim kerdipan mata ke arah Nyoo Su Jan, kemudian dengan membawa Liauw Thayjien bersama-sama masuk ke dalam rumah penginapan.

Seorang pelayan dengan membawa lampu lentera memimpin didepan membawa jalan dan menghantar mereka ke dalam sebuah rumah penginapan Sam Thay.

Di tengah halaman tumbuh berpuluh-puluh pepohonan bunga Bwee yang sangat lebat, salju nan putih memenuhi permukaan tanah menambahkan semaraknya suasana di sekitar sana bahkan samar-samar menyiarkan bau harum yang menusuk hidung.

Liauw Thayjien dengan membawa kacung buku serta dua orang tua bersama-sama menempati kamar di depan, Liauw Hujien, nona Liauw serta Cun Lan menempati ruangan sebelah selatan, sedang ruangan sebelah utara serta sebelah belakang diberikan untuk para anak buah perusahaan Liong Wie Piauw-kiok beserta beberapa orang Piauw-tauwnya.

Menanti semua kereta dan kuda sudah diatur rapi, Nyoo Su Jan-pun akhirnya ikut masuk ke dalam ruangan.

“Su Jan, Kau berhasil menemukan sesuatu?” tanya Phoa Ceng Yan setelah berbisik sambil maju menyongsong kedatangannya.

Perlahan-lahan Nyoo Su Jan menggeleng dan tertawa pahit.

“Perkataan dari Jie-ya sedikitpun tidak salah, nona Liauw ini bukan saja pandai menyembunyikan diri bahkan pikirannya sangat pinter dan teliti sehalus sutera, baru saja aku pergi memeriksa keadaan di dalam kereta yang ditumpanginya, tetapi sedikit jejakpun tak berhasil aku temukan!”

“Aaaakh…..! Kalau begitu nona Liauw sudah menaruh perasaan waspada dan berhati-hati terhadap diri kita sehingga ia sudah membersihkan keadaan di sekelilingnya tanpa meninggalkan sedikit bekaspun,” ujar Phoa Ceng Yan setelah berseru tertahan. Keadaan sudah menjadi begini, kita tidak boleh melakukan pengusutan lebih lanuut sehingga memancing rasa benci serta gusar dari gadis tersebut, hal ini semisalnya sampai terjadi buat kita benar-benar bukan suatu kejadian yang menyenangkan. Tentang peristiwa ini lebih baik mulai sekarang kau simpan di hati saja, sekalipun berada di hadapan keluarga Liauw-pun jangan sekali-kali kau orang memperlihatkan gerak-gerikmu itu”.

“Soal ini Jie-ya boleh berlega hati, aku bisa berjaga diri baik-baik!” sahut Su Jan mengangguk.

Sang pelayan lantas menghidangkan arak dan sayur, tidak lama kemudian beberapa orang itu selesai bersantap, Jie Ciang kwee dengan membawa sang tabib kenamaan dari kota Si Jan Sian pun sudah datang ke dalam kamar.

Dengan dihantar Liauw Thayjien sendiri tabib itu segera berangkat menuju ruang kamar di sebelah selatan untuk memeriksakan denyutan nadi nona Liauw, kemudian membuka selembar resep obat.

Liauw Thayjien jadi orang ternyata murah upah, sebagai imbalan jasa buat tabib tersebut ia sudah menghadiahkan lima tahil perak.

Sebelum tabib itu mohon diri, Phoa Ceng Yan turun tangan sendiri menghantar dia orang keluar pintu besar, menanti dirasakan di sekeliling tempat itu tiada orang lain mendadak bisiknya, “Toa-hu (tabib), bagaimana dengan penyakit nona Liauw??”

“Peredaran darahnya sangat lemah, denyut jantung tidak menentu, agaknya ia baru saja menemui sesuatu kejadian yang mengejutkan hatinya” sahut tabib tersebut setelah termenung sejenak.

Mendengar jawaban itu Phoa Ceng Yan jadi melengak.

“Tidak kusangka di tempat semacam inipun terdapat seorang tabib yang demikian luar biasa……”pikirnya dalam hati.

Tetapi sebentar kemudian pikirannya sudah berubah kembali, sambungnya, “Aaaaaakh …..! Kemungkinan sekali Liauw Thayjien yang memberitahukan soal ini kepadanya, aku harus bertanya sampai jelas.”

Karena itu ia berkata kembali, “Tentunya Liauw Hujien yang beritahu kepada Toa-hu bila nona Liauw baru saja mengalami sesuatu kejadian yang mengejutkan dirinta bukan?”

“Tidak! Liauw Hujie tidak pernah memberitahukan soal ini kepadaku” bantah tabib itu sambil menggeleng berulang kali. “Akupun tidak bertanya pada diri nona Liauw, sebab-sebab penyakit ini adalah berhasil aku temukan dari denyutan nadinya. Aku menemukan denyutan nadi nona Liauw tidak tetap bahkan sangat kacau, agaknya baru saja dia orang menemui suatu kejadian yang sangat mengejutkan hatinya, aku sudah buatkan resep, asalkan nona suka minum obat sesuai dengan resepku itu, paling banyak tiga kali atau paling sedikit penyakit sudah dapat sembuh kembali seperti sedia kala.”

Dalam hati Phoa Ceng Yan mengerti, sekalipun ia bertanya lebih banyakpun tiada gunanya karena itu ia berhenti bertanya. Setelah menghantar tabib itu keluar dari halaman seorang diri ia duduk termenung di bawah sorotan lampu lentera.

Jika ditinjau dari sikap serta paras muka sang tabib sewaktu berbicara tadi, sedikitpun tidak kelihatan bila ia lagi berbohong, jika dibicarakan dari keadaannya itu seharusnya nona Liauw tidak mengerti soal ilmu silat.

Tetapi mengapa Lam Thian Sam Sah suka lepas tangan dan mengundurkan diri setelah barang yang dicari berhasil didapatkan?? di dalam persoalan ini tentu terletak suatu kejadian yang sulit untuk diduga oleh siapapun.”

Mendadak terdengar suara langkah manusia memecahkan kesunyian, dari pintu luar berkumandang datang suara dari Lie Giok Liong.

“Paman Jie-siok, Giok Liong ada persoalan ingin bertemu muka” serunya.

“Ehm….! Pintu tidak kututup, kau masuklah sendiri”.

Pintu kayu perlahan-lahan terbuka dan muncullah Lie Giok Liong dengan pakaian ringkas serta menggembol golok pada pinggangnya.

“Mengapa kau bawa senjata?” melihat itu Phoa Ceng Yan segera mengajukan pertanyaannya dengan alis yang dikerutkan kencang-kencang.

Dari dalam sakunya Lie Giok Liong mengambil keluar sepucuk sampul surat berwarna putih kemudian dengan sangat hormat-nya diserahkan ke tangan Phoa Ceng Yan.

“Paman Jie-siok, coba kau orang tua lihatlah tulisan ini!” katanya.

Phoa Ceng Yan segera menerima surat tersebut dan dibaca isinya dengan teliti,

“Dipersembahkan kepada Phoa Hu Cong Piauw tau dari perusahaan Liong Wie Piauw-tauw, Phoa Ceng Yan:

Menurut berita yang siauw-tee terima, aku dengar banyak sekali kawan-kawan Liok-lim yang bermaksud turun tangan membegal barang kawalan dari Phoa-heng kali ini.

Nama besar perusahaan Liong Wie piauw-kiok sudah amat cemerlang laksana sang surya di tengah awang-awang, apalagi si pukulan besi serta gelang emas Phoa-heng amat dashyat sekali. Tetapi haruslah kau ketahui orang yang bermaksud hendak turun tangan membegal barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kali ini kebanyakan merupakan pentolan-pentolan kaum Liok-lim yang berkuasa dan mempunyai pengaruh sangat luas di dalam Bu-lim. Bahkan beberapa orang iblis sakti yang telah mengundurkan diri dari dunia kangouw-pun sudah pada bermunculan kembali di dalam Bu-lim karena persoalan ini.

Karena pada  sepuluh tahun yang lalu siauw-tee pernah mendapatkan budi tidak terbalas dari Phoa-heng, selama ini aku ingat-ingat terus budi tersebut. Sebenarnya di dalam surat ini akan kututurkan sekalian keadaan yang sejelas-jelasnya, tetapi berhubung siauw-tee harus melakukan penyelidikan kembali, maaf kali ini siaw-tee tak dapat memberi keterangan yang lebih jelas.

Menulis sampai di sini mendadak kata-kata itu terputus di tengah, kata selanjutnya ternyata tidak disambung.

Hal ini jelas menunjukkan bila orang tak ada waktu lagi untuk menyelesaikan surat tersebut.

Selesai membaca surat itu, saking khekinya seluruh tubuh Phoa Ceng Yan gemetar sangat keras.

“Mengapa??” bentaknya sambil menghajar keras meja kayu di hadapannya.

Ia mempunyai julukan sebagai si telapak besi, hantamannya yang sangat dashyat di atas meja barusan seketika itu juga menggetarkan lampu lilin di atas meja sehingga mencelat sanat tinggi ke angkasa, sedang di atas permukaan meja itupun tertera sebuah bekas telapak yang sangat dalam.

Lie Giok Liong yang ada di pinggirnya cuma berdiri melongo-longo saja.

“Soal ini siauw-tit sendiripun tidak paham!” katanya.

Dengan cepat Phoa Ceng Yan berhasil menyadari sikapnya yang kelewat batas, ia menarik napas panjang-panjang.

“Aku sudah melindungi berpuluh-puluh laksa tahil perak dan belum pernah menemui kesulitan, tidak disangka di dalam perjalanan kali ini ternyata sudah memancing datang berpuluh-puluh macam kesulitan…..!” serunya.

Perlahan-lahan ia mendongak ke atas memandang sekejap ke arah Lie Giok Liong, kemudian sambungnya kembali.

“Kau dapatkan surat ini dari mana?”

“Tadi sewaktu siauw-tit melakukan pemeriksaan di sekeliling rumah penginapan ini, mendadak ada datang seorang pengemis cilik yang angsurkan surat ini kepadaku!”

“Kau tidak bertanya siapakah orangnya yang suruh dia datang menghantar surat tersebut?” tanya Phoa Ceng Yan kembali setelah termenung sejenak.

“Pengemis cilik itu setelah menyerahkan surat tersebut kepada siauw-tit segera putar badan dan berlalu,” sahut Lie Giok Liong sambil gelengkan kepalanya berulang kali. “Sewaktu siauw-tit ingin bertanya kepadanya kembali, ia sudah pergi tak berbekas!”

“Ehmmm…….! Lalu masih ingatkah dirimu bagaimanakah bentuk wajah si pengemis cilik itu?”

Sebelum memberi jawaban Lie GIok Liong termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru ujarnya.

“Ia memakai baju hitam yang sudah banyak tambalan, sepasang sepatunya terbuat dari kain yang sudah kumal, rambut kacau awut-awutan, wajahnya penuh berminyak dan penuh tanah. Ketika itu siauw-tit memandang sekejap ke arahnya dengan tergesa-gesa, sehingga bagaimanakah raut muka yang sebenarnya aku sudah tidak ingat lagi.”

“Giok Liong! Kau sudah membaca surat ini?” tanya Phoa Ceng Yan kembali dengan wajah serius.

“Siauw-tit sudah membacanya, karena merasa peristiwa ini sangat luar biasa sekali maka sengaja aku datang melaporkan hal ini kepada paman Jie-siok!”

“Ehmmm…..! Surat ini tak ada tanda tangannya ……”

“Bahkan isi suratnyapun belum selesai ditulis” sambung Lie GIok Liong tidak menanti Phoa Ceng Yan menjelaskan kata-katanya. “Kemungkinan sekali sewaktu ia menulis surat tersebut mendadak sudah terjadi suatu perubahan yang sangat besar maka sewaktu tulisan itu baru diselesaikan sampai di tengah jalan ia sudah tak sempat menyelesaikan kata-katanya lagi.

Sambil memandang kearah surat tersebut Phoa Ceng Yan mengangguk berulang kali, agaknya ia sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk berpikir dan berharap dari gaya tulisannya berhasil menemukan siapakah orang yang telah menulis surat tersebut.

Lie Giok Liong tidak berani mengganggu dengan amat tenang ia berdiri di samping.

“Giok Liong, coba kau panggil Nyoo piauw-tauw suruh datang kemari.” ujarnya.

Lie Giok Liong mengiakan, perlahan-lahan ia mengundurkan diri dari dalam kamar.

Sejenak kemudian, ia sudah balik kembali dengan disertai Nyoo Su Jan sambil bungkukkan badannya menjura.

“Ehmmm!” Phoa Ceng Yan mengangguk. “Coba kau orang bacalah dulu isi surat ini.”

Selesai membaca isi surat tersebut, Nyoo Su Jan segera mengerutkan keningnya.

“Jie-ya! Bilamana ditinjau dari keadaan tersebut, agaknya peristiwa ini rada tidak benar??” katanya.

“Benar, akaupun mempunyai perasaan demikian, dalam hatiku merasa tidak percaya kalau orang-orang itu sengaja datang untuk membegal barang-barang kawalan kita.”

“Mungkinkah di dalam persoalan ini masih terselip dendam sakit hati dari dunia kangouw? Kedatangan mereka justru hendak membinasakan diri nona Liauw?”

“Bagaimana semisalnya nona Liauw benar-benar adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian sangat lihay, rasanya pendapatmu itu tidak salah” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk.

“Tetapi semisalnya dikatakan ia sama sekali tak mengeri ilmu silat, bagaimana mungkin bisa mengejutkan Lam Thian Sam Sah sehingga melarikan diri terbirit-birit?”

“Kecuali peristiwa larinya Lam Thian Sam Sah dalam keadaan ketakutan sehingga sulit untuk diterangkan, persoalan-persoalan lain yang telah terjadi membuktikan bila nona Liauw agaknya adalah seorang gadis yang tidak mengerti akan ilmu silat”.

Lama sekali Nyoo Su Jan termenung berpikir keras, akhitnya ia tertawa pahit.

“Hamba sudah ada puluhan tahun lamanya berkelana di dalam dunia kangouw, boleh dikata kali aku kena terkurung di dalam cupu-cupu orang lain…”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya kembali, “Jie-ya! Apakah kau sudah teringat dengan orang yang menulis surat ini?”

“Pada sepuluh tahun yang lalu ketika aku melakukan perjalanan mengawal barang memang pernah menolong seseorang……,” ujar Phoa Ceng Yan perlahan.

“Kalau begitu sangat bagus sekali, coba kau katakanlah siapakah orang itu?” potong Nyoo Su Jan dengan cepat.

“Orang itu agaknya bernama Shen Cie San dengan gelar Miauw So Gong-Gong atau pencopet sakti!”

“Tidak salah, di dalam dunia kangouw memang ada seseorang yang mempunyai julukan demikian, ia bukan lain adalah seorang pencuri sakti yang setiap hari baik siang maupun malam kerjanya hanya mencuri belaka, tetapi iapun mempunyai tiga buah pantangan bagi pekerjaan mencurinya ini”.

“ooouw…… si pencuripun mempunyai pantangan??”

“Benar! Shen Cie Sin sama sekali berbeda dengan keadaan pencuri yang lain, ia berjiwa pendekar dan besemangat jantan, ketiga buah pantangan dalam pekerjaannya  antara lain, pertama, tidak mencuri pembesar jujur, putra yang berbakti, kedua, tidak mencuri anak yatim piatu serta wanita janda, ketiga, tidak mencuri rumah kaum dermawan yang berbaik hati.”

“Tidak salah, memang dia orang adanya” seru Phoa Ceng Yan dengan cepat. “Pada sepuluh tahun yang lalu justru dikarenakan ketiga buah pantangan di dalam pekerjaan mencurinya inilah aku baru turun tangan menolong dia dan mengobati luka-luka yang diderita olehnya.”

“Bilamana kita berhasil menemukan She Cia Sin, ada kemungkinan berhasil pula mendapatkan sedikit keterangan yang berharga bagi kita di dalam peristiwa ini.” usul Nyoo Su Jan secara tiba-tiba.

“Untuk menyampaikan surat itu saja, ia suruh orang kirim kemari, kita harus pergi ke mana menemukan jejaknya??”

“Perkataan Jie-ya memang benar,kalau begitu satu-satu jalan pada saat ini adalah teliti dengan Liauw Thayjien, kita orang yang mencari makan dengan bekerja sebagai pengawal barang, walaupun tidak takut mati, tetapi kitapun mengharapkan bisa mati dengan sejelas-jelasnya sedang mengenai rasa curiga kita terhadap nona Liauw, Jie-ya secara langsung boleh tanyakan kepada Liauw Thayjien, disamping kita memperkuat pertahanan di tempat ini, kitapun harus berusaha melaporkan peristiwa ini kepada Cong Piauw-tauw.”

“Jika ditinjau dari situasi pada saat ini agaknya beban ini tak sanggup aku pikul kembali, kalianpun sudah terlalu kepayahan. Beritahu pada anak-anak semua, disamping melakukan penjagaan yang ketat, kita harus mencari akal untuk melaporkan peristiwa ke kantor pusat. Besok kita sehari di sini untuk lihat-lihat keadaan, bagaimana nona Liauw harus beristirahat dulu…..” kata Phoa Ceng Yan kembali.

Nyoo Su Jan lantas bungkukkan badannya menjura.

“Baiklah hamba akan lakukan semua perintah Jie-ya! Aku mohon diri dulu.” ujarnya.

“Jie-siok! Siauw-tit-pun ingin melakukan perondaan di sekeliling ruangan, sekalian mencari tempat-tempat yang menguntungkan sebagai pos penjagaan” ujar Lie Giok Liong pula sambil ikut bangun berdiri.

“Baiklah …….” sahut Phoa Ceng Yan sambil mengangguk. “Kalian harus berusaha keras untuk hal ini!”

Setelah Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong pergi. Phoa Ceng Yan  lantas tutup pintu, memadamkan lampu dan naik ke atas pembaringan untuk beristirahat.

Ia ingin berpikir seorang diri secara teliti, si telapak besi bergelang emas sudah ada dua puluh tahun lamanya melakukan pekerjaan mengawal barang dan selama ini belum pernah menemui peristiwa semacam ini.

Sampai saat ini belum dipahami olehnya benda berharga apakah yang telah dibawa langganan-nya ini sehingga memancing datangnya niat oran-orang Liok-lim untuk melakukan pencurian serta perampokan.

Di samping itu diapun tidak paham siapa-siapa saja yang berniat untuk melakukan pembegalan tersebut??

Tetapi dengan pengalamannya selama puluhan tahun di dalam dunia kangouw, ia dapat merasa bila Liauw Thayjien tidak mirip dengan seorang manusia licik yang berhati kejam, sikap maupun paras mukanya sewaktu berbicara menunjukkan bila dia adalah seorang terpelajar yang mengerti akan sopan santun.

Liauw Hujien pun menunjukkan gerak-gerik seorang wanita dari kalangan tinggi, ia tidak mirip dengan perempuan-perempuan biasa yang sering dijumpai.

Sedang beberapa orang pelajar yang mengikuti Liauw Thayjien, kecuali dua orang pelayan tua, satu-satunya orang yang masih muda adalah si kacung buku itu.

Beberapa orang ini Phoa Ceng Yan pernah menemui semua, mereka tidak mirip dengan seorang penjahat yang berkedok orang alim.

Di antara rombongan keluarga Liauw satu-satunya orang yang paling patut dicurigai hanya nona Liauw pernah terkait di dalam soal membalas yang sering terjadi di dalam Bu-lim, maka tentu ia sudah membawa sebuah benda pusaka Bu-lim yang sangat berharga tanpa sepengetahuan orang tuanya, sehingga hal ini memancing datangnya jago-jago lihay Bu-lim untuk mencari gara-gara serta kerepotan.

Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok sudah mengawal ratusan laksa tahil perak dan menjelajahi lima keresidenan, selama ini jarang sekali mereka menemui rintangan-rintangan.

Siapa sangka pekerjaan kali ini ternyata sudah memancing datangnya begitu banyak kerepotan, semisalnya Liauw Thayjien sewaktu menjabat sebagai pembesar pernah menyalahi seseorang dan kini orang-orang Liok-lim datang mencari balas dengan dirinya, tidak sepatutnya pihak lawan harus terburu-buru di dalam beberapa hari ini dan suka menempuh bahaya untuk bentrok muka dengan pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.

Karena di dalam perjanjian semua perusahaan Liong Wie Piauw-kiok hanya mengawal orang-orang itu sampai di kota Kay Hong Hu saja, setelah tiba tanggung jawab Liong Wie Piauw-kiok sudah selesai. Bilamana orang-orang itu hendak membalas dendam maka pihak Piauw-kiok tiada berhak untuk ikut campur lagi.

Di antara alasan-alasan dan pikiran-pikiran yang memenuhi benaknya selama ini, ia merasa alasan yang paling kuat adalah secara diam-diam nona Liauw telah membawa semacam barang yang sangat berharga tanpa sepengetahuan orang-tuanya.

Phoa Ceng Yan tidak mengerti apa yang telah dibawa olehnya?? tetapi ia menyadari bila barang berharga tersebut tentu bernilai jauh di atas seratus laksa tahil perak, masih ada lagi lukisan itu, agaknya lukisan tersebut-pun bukan sebuah lukisan biasa, cuma sayang ia tak mengerti akan barang-barang lukisan semacam itu sehingga tidak mengerti pula di manakah letak keberhargaan dari barang itu.

Setelah berpikir keras beberapa saat lamanya dan terakhir berhasil menemui sedikit gambaran, Phoa Hu Cong Piauw-tauw dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok inipun mulai merasakan hatinya tenang.

Setelah hatinya tenang rasa mengantuk serta lelahpun mulai menyerang badan, tanpa terasa lagi ia sudah tertidur nyenyak.

Ketika ia membuka mata untuk kedua kalinya, hari sudah terang tanah, buru-buru ia bangun lalu memeriksa keadaan di luar kamar.

Sewaktu ditemuinya suasana di sekeliling sana amat tenang dan mengerti bila semalam tidak terjadi sesuatu peristiwa, hatinya baru merasa lega.

Saat itu Liauw Thayjien pun sudah bangun dari tidurnya dan berdiri di depan pintu.

“Thayjien, selamat pagi!” sapa Phoa Ceng Yan sambil menjura.

“Ooooooow…. Phoa Hu Cong Piauw-tauw!” kata Liauw Tahyjien sambil tersenyum. “Kapan kita mau berangkat?”

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan berjalan mendekat.

“Cayhe ingin beristirahan satu-dua hari terlebih dulu di sini, menanti sakit puteri kesayangannya Thayjien sudah betul-betul sembuh, kita baru melanjutkan perjalanan lagi,” sahutnya.

“Siauw-li sudah minum obat dan sakitnyapun sudah rada sembuh seperti sedia kala.” ujar Liauw Thayjien setelah termenung sebentar. “Urusan di dalam perusahaan kalian tentunya sangat sibuk, aku rasa tak perlu buang waktu lagi di sini, bilamana ini hari bisa berangkat, kita berangkat sekarang juga.”

Mendengar perkataan tersebut, Phoa Ceng Yan jadi melengak, ia merasa peristiwa ini ada di luar dugaannya, kontan saja ia mulai berpikir.

“Terima kasih buat perhatiaan Thayjien terhadap kesibukan perusahaan kami, tetapi cayhe rasa kuda-kuda kita terlalu lelah, lagi kesehatan puterimu-pun kurang leluasa, aku rasa kita tidak perlu terlalu bercemas hati, lihat dulu bagaimana keadaan sakit dari puterimu pada ini hari! Bilamana sakitnya sudah sembuh benar-benar besok pagi kita segera melanjutkan perjalanan.”

Liauw Thayjien segera mengangguk dan tersenyum. “Selama ini Siauw-li terus-terusan sakit, aku sebagai ayah tertalu biasa dengan kejadian itu,” katanya.

Waktu itulah mendadak tampak Ih Coen dengan langkah tergesa-gesa berjalan mendekat, sewaktu dilihatnya Phoa Ceng Yan sedang bercakap-cakap dengan Liauw Thayjien, ia lantas berdiri di samping dengan sepasang tangan diluruskan ke bawah.

“Coen jie, ada urusan apa?” tanya Phoa Ceng Yan dengan alis yang dikerutkan.

“Paman Jie-siok mendapat sebuah undangan.”

“Undangan? undangan dari siapa?” tanya Phoa Ceng Yan melengak.

Dari dalam sakunya Ih Coen mengambil keluar sebuah undangan besar berwarna merah kemudian dengan sangat hormat diangsurkan ke depan.

“Ada orang mengundang paman Jie-siok untuk bersantap!” jawabnya.

Phoa Ceng Yan segera merasakan hatinya tergetar sangat keras, tetapi berhubung Liauw Thayjien ada dihadapannya, mau tak mau terpaksa ia harus mempertahankan ketenangannya.

“Bagus sekali!” serunya sambil tertawa setelah menerima surat undangan tersebut.

“Tidak kusangka di tempat inipun ada teman-teman yang aku kenal!”

Setelah menerima surat undangan tersebut, ia lantas membuka dan membaca isinya.

“Menanti kunjungan saudara untuk menghadiri perjamuan yang telah kami sediakan.”

Di bawahnya hanya tercantum beberapa kata: Salam dari lima orang kawan karibmu!.

Phoa Ceng Yan membuka undangan tesebut maksud hatinya justeru hendak melihat nama-nama orang yang mengundang, tetapi setelah melihat kata-kata yang dibicarakan di sana hanya tulisan lima orang kawan karibmu saja ia merasa hatinya rada kecewa karena ini menunjukkan kalau pihak lawan tidak ingin memberitahukan siapakah mereka-mereka itu.

Ketika ia melanjutkan membaca, maka di belakangnya hanya tercantum tempat perjamuan yaitu di sebuah rumah makan di jalan sebelah timur pada tanggal lima bulan dua jam duabelas siang hari ini juga.

“Phoa-suhu, kenalkah kau orang dengan nama-nama itu? tanya Liauw Thayjien mendadak setelah mendehem perlahan.

Phoa Ceng Yan segera menyimpan surat undangan itu ke dalam saku kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaa……haaaaa……haaaaa…… kawan lama, kawan karib ……..” serunya keras.

“Aaakh ….! Bilamana Phoa-suhu ada janji dengan kawan karib, hal ini malah kebetulan sekali, Siauw-li bisa meminjam kesempatan ini untuk beristirahat sehari, tetapi hari ini sudah hampir tutupan tahun, Cayhe ingin cepat-cepat bisa tiba di kota Kay Hong” ujar Liauw Thayjien cepat.

Mendengar perkataan tersebut, senyuman yang semula menghiasi wajah Phoa Ceng Yan dengan terpaksa itu kontan lenyap tak berbekas dan berubah hebat, ia mengerti bila Liauw Thayjien sudah menjatuhkan alasan tidak berangkatnya ini hari ke atas kepala Phoa Ceng Yan, dirinya.

Sebetulnya ia ingin memberi penjelasan lebih lanjut, tetapi saai itu Liauw Thayjien sudah putar badan dan masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lebar.

Terpaksa Phoa Ceng Yan menoleh dan memandang sekejap ke arah Ih Coen lalu tertawa pahit.

“Kau pergilah mencari suko-mu serta Nyoo Piauw-tauw untuk datang sebentar ke dalam kamarku” katanya.

Ih Coen mengia lantas putar badan berlalu.

“Kaupun ikut datang” sambung Phoa Ceng Yan lebih lanjut.”Suruh Nyoo Piauw-tauw membawa serta du orang anak buah, mulai saat ini suruh mereka baik-baik berjaga di sekeliling ruangan ini, untuk sementara waktu melarang orang-orang asing untuk berjalan masuk kemari!”

“Jika pelayan dari rumah penginapan ini?”

“Suruh saja mereka serahkan barang yang dibawa kepada anak buah kita agar mereka yang membawa masuk” ujar Phoa Ceng Yan setelah termenung sebentar.

“Siauw-tit akan mengingatnya!”

Menanti Ih Coen sudah berlalu, dengan tergesa-gesa Phoa Ceng Yan-pun kembali ke dalam kamarnya, dari dalam sakunya kembali ia mengambil keluar surat undangan tersebut kemudian dipandangnya dengan termangu-mangu.

Ia sudah berpikir seantero jago-jago Liok-lim yang terkenal dan mempunyai nama besar di dalam dunia kangouw, tetapi tak teringat olehnya siapakah kelima orang yang mengundang dia untuk bersantap itu, ada pepatah mengatakan: Ada pertemuan bukanlah pertemuan bermaksud baik, ada jamuan bukanlah jamuan berniat baik, kemungkinan sekali perjamuan ini sukar untuk ditelan.

Selagi ia berpikir keras itulah Nyoo Su Jan dengan membawa Lie Giok Liong serta Ih Coen bersama-sama masuk ke dalam kamar.

“Jie-ya, kau sudah mendapatkan sedikit gambaran siapakah mereka-mereka itu?” tanya Nyoo Su Jan sambil menjura.

“Kau lihatlah sendiri!” sahut Phoa Ceng Yan sambil menyerahkan surat undangan yang ada di atas meja ke tangan Nyoo Su Jan. Di dalam kalangan Bu-lim di daerah utara adakah orang yang menamakan dirinya lima bersaudara?”

Isi surat undangan tersebut sangat sederhana, sekali pandang sudah bisa dimengerti maksudnya, justru persoalannya pada surat itu terletak pada kata-kata lima orang kawan lama itu.

Setelah melihat beberapa saat lamanya Nyoo Su Jan lantas mengembalikan surat undangan tersebut ke tangan Phoa Ceng Yan.

“Jie-ya! Sebenarnya nama-nama yang tercantum dalam surat undangan ini tidak begitu penting. benarkah mereka menyebut dirinya sebagai lima bersaudara atau bukan, hal ini terlalu menyangkut persoalan yang kita hadapi, yang harus kita pikirkan sekarang ini adalah santapan ini adalah suatu santapan yang lezat atau santapan yang keras seatos batu!” ujarnya.

“Tidak salah!” Phoa Ceng Yan mengangguk. “Su Jan! Kita memang sudah membuang banyak tenaga dengan sia-sia untuk mengetahui asal usul mereka.”

“Ada pepatah mengatakan siapa yang tahu keadaan lawan seratus kali bertempur, seratus kali akan menang, bilamana Jie Siok dapat mengetahui siapakah pihak mereka, sudah tentu dengan mudah sekali kita dapat mencari akal yang sesuai untuk menghadapi mereka,” sela Lie Giok Liong.

(Bersambung Jilid Ke 5)

 

[bersambung]