lambang naga panji naga sakti 01
Lambang Naga/Panji Naga
Sakti
Karya: Wo Lung-shen
Saduran: Tjan ID
Jilid 1
Angin Utara bertiup menderu deru …
salju melayang memenuhi permukaan tanah laksana bulu angsa.
Pepohonan pada layu dan berdiri terpekur di empat penjuru.
Di atas jalan raya Han Tan
terdengar suara putaran roda kereta yang amat ramai diikuti
munculnya serombongan kereta-kereta berkuda melakukan perjalanan.
Kuda-kuda yang menarik
kereta-kereta itu merupakan kuda kuda luar perbatasan yang kekar
kosen, kendati berada di tengah tiupan angin yang kencang serta
curahan hujan salju yang lebat. Mereka tetap melanjutkan perjalanan
dengan gagah.
Rombongan kereta kereta berkuda
itu semuanya berjumlah lima buah, kereta yang pertama berwarna
kuning dengan sebuah bendera biru sepanjang tiga depa empat coen
berkibar tiada hentinya tertiup angin.
Di atas bendera tersebut
terukirlah seekor Naga Sakti yang sedang mementangkan cakarnya
dengan bersulamkan benang emas serta di sisinya terukir kata-kata “Liong
Wie Piauw-kiok” dari benang perak.
Sedang kereta yang kedua hingga
kereta yang kelima berwarna hitam, ruangan-ruangan kereta tertutup
rapat sekali sehingga tak ada sedikit anginpun yang bertiup masuk ke
dalam ruangan.
Sang Kusir yang berada di depan
kereta mengenakan mantel tebal yang terbuat dari Kulit binatang
dengan sebuah topi berbulu yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Dua orang lelaki kekar berusia
tiga puluh tahunan, masing-masing dengan menunggang seekor kuda
jempolan mengiringi di depan rombongan kereta, pada punggung
masing-masing tersoren sebilah golok yang amat besar.
Di tengah tiupan angin yang amat
santar kedua orang itu hanya memakai pakaian kasar yang amat tipis
dengan celana yang terbuat dari kain biasa, tampak kedua orang itu
tiada hentinya mengebut-ngebutkan salju yang mengotori pakaiannya.
Cukup ditinjau dari keadaan
mereka, jelas tenaga dalam yang dilatihnya sudah berhasil mencapai
pada taraf kesempurnaan.
Di belakan rombongan kereta-kereta
berkuda itu tampak pula dua orang penunggang kuda berjalan
mengiring. Orang yang ada di sebelah kiri mempunyai perawakan tubuh
yang tinggi kekar dengan wajah berwarna hitam pekat, di atas
pelananya bergantungkan sebuah senjata rantai berbandul palu
pengejar angin.
Kudanya yang tinggi besar di
tambah pula perawakannya yang besar laksana pagoda, hal ini menambah
keseraman serta kegagahannya.
Sedang orang yang ada di sebelah
kanan mempunyai tubuh yang kurus kering kecil, pada punggungnya
tersoren sepasang senjata poan koan pit yang khusus untuk menotok
jalan darah, kepalanya kecil dengan anggota badan yang kurus kering
bagaikan monyet, jika ditinjau dari seluruh badannya mungkin boleh
dikata cuma bisa mendapatkan daging seberat setengah kati saja.
Cuma saja sepasang matanya
memancarkan cahaya yang berkilat dan menggidikan setiap orang yang
melihat.
Kecuali kedua orang penunggang
kuda yang berbadan besar serta berbadan kurus kering itu, terdapat
pula delapan orang pembantu yang menyoren golok pada pinggang-nya
serta menggembol busur dan anak panah pada punggungnya, mereka
bersama sama memakai topi pelindung telinga yang terbuat dari kulit,
bercelana singsat serta sepatu yang tipis.
Walaupun saat ini adalah bulan
dingin yang menggidikkan setiap orang, tetapi mereka yang baru saja
melakukan perjalanan jauh tampak keringat mengucur membasahi
badannya.
Angin Utara meniup semakin
kencang, hujan saljupun beterbangan dan menari semakin menghebat.
Di atas kereta-kereta kuda itu
tumpukan salju mulai menebal, jika dipandang dari tempat kejauhan
hanya tampaklah beberapa titik hitam yang bergerak lambat-lambat di
tengah permukaan salju yang memantulkan sinar keperak-perakan.
Mendadak ………………………………………..
Sebatang anak panah bersuara
dengan menembusi udara serta menimbulkan suara desiran yang tajam
jatuh menancap di depan kereta pertama kurang lebih dua kaki
jauhnya.
Sang kusir kereta tersebut agaknya
merupakan seorang kusir kawakan yang sudah berpengalaman, tidak
menanti sang majikan memberi perintah ia sudah menghentikan kereta
tersebut.
Sembari mengebutkan cambuk di
tangannya ke tengah udara, ia berteriak keras, “Heey …….
saudara-saudara sekalian! Cepat hentikan kereta kalian …….!”
Terdengar suara ringkikan kuda
yang memanjang, keempat buah kereta berkuda lainnyapun segera
menghentikan perjalanannya.
Dari dalam kereta berkuda pertama
yang berwarna kuning itu, perlahan-lahan muncullah sebuah batok
kepala yang sudah memakai handuk dengan rambut yang sudah beruban
melongok keluar.
“Giok Liong! Coba kau lihat kawan
dari aliran mana yang sudah melepaskan anak panah bersuara itu!”
serunya setelah mendehem beberapa kali. “Kita dari perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok tidak takut menghadapi segala urusan,
tetapi tidak ingin pula menyalahi kawan-kawan lain sehingga
melenyapkan adat istiadat yang berlaku di dalam dunia kang-ouw!”
Si lelaki kekar yang berada di
sebelah kiri segera menyahut dan meloncat turun dari punggung
kudanya.
Setelah memungut anak panah
tersebut diperiksanya beberapa waktu ia baru memberi jawaban, “Lapor
paman Jie Sio. Tecu tidak kenal dengan tanda yang tertera di atas
anak panah ini!”
“Hmm! Ada peristiwa semacam ini?”
kata orang yang berada di dalam kereta itu. “Coba bawalah kemari!”
Si lelaki kekar yang bernama Giok
Liong tadi dengan sikap yang sangat menghormat segera berjalan ke
sisi kereta tersebut.
“Jie Siok, silahkan periksa,”
ujarnya sambil mengangsurkan anak panah tersebut ke arah depan.
Dari balik kereta segera muncullah
sebuah lengan yang segera menyambut angsuran anak panah tersebut.
Agaknya si orang tua yang berada
di dalam kereta itupun tidak berhasil mengetahui asal usul dari si
pengirim anak panah itu, setelah suasana kembali menjadi hening
beberapa saat lamanya, mendadak orang tua itu munculkan dirinya dari
balik kereta.
Tampaklah seorang kakek tua yang
memakai jubah berwarna hijau, dengan sepatu terbuat dari kuli
menjangan, wajah merah bersinar, sepasang alis yang tebal dengan
sepasang mata yang tajam serta memiliki perawakan yang sedang,
dengan wajah penuh kegusaran munculkan dirinya dari kereta tersebut.
Dengan tangan kiri mencekal sang
anak panah, tangan kanan memegang sebuah Huncwee, ia menyapu sekejap
ke sekeliling tempat itu.
“Giok Liong!” serunya kembali,
“Coba kau pergilah ke dalam hutan di depan sana dan tanya siapakah
pemimpin mereka!”
“Tecu terima perintah!” sahut
lelaki kekar yang ada di sebelah kiri sambil menjura.
Dengan cepat ia meloncat naik ke
atas punggung kudanya, menyentak sang tali les dan melarikan
tunggangannya ke arah depan.
Jarak antara hutan pohon siong
tersebut dengan tempat pemberhentian rombongan kereta itu kurang
lebih ada setengah li jauhnya, di tengah tiupan angin kencang serta
curahan hujan salju yang deras, boleh dikata pada saat ini,
disekitar tempat tersebut hanya tinggal ranting-ranting pohon yang
sudah kering dan salju saja.
Waktu itu dari atas permukaan
salju dihadapannya pada saat yang bersamaan muncul pula seekor kuda
yang berlari mendatang dengan kecepatan tinggi.
Kedua ekor kuda tersebut yang satu
berlari mendatang dan yang lain berlari menyongsong, agaknya
masing-masing penunggang di atas pelana itu ada maksud untuk berjual
lagak. Menanti kedua ekor kudanya hampir bertumbukan satu dengan
yang lain masing-masing pihak baru bersama-sama menahan tali les
kudanya.
Di tengah suara ringkikan kuda
yang memanjang, kedua ekor kuda itu bersama-sama meloncat bangun
kemudian mengitari satu lingkaran di atas permukaan salju.
Kepandaian menunggang kuda dari si
lelaki kekar ini jauh lebih tinggi setingkat dari pihak lawannya,
dengan cepat ia berhasil menenangkan badannya kembali.
“Cayhe adalah Lie Giok Liong dari
perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok. Harap kawan suka menerima
penghormatanku!” ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.
Pihak lawan adalah seorang pemuda
yang baru berusia dua puluh enam, tujuh tahunan, pakaian singsatnya
terbuat dari kulit srigala. Dengan wajah yang amat cerah tampan
sekali.
“Ouuw….kiranya murid tertua dari
Liong Wie Piauw-kiok, Cong Piauw terbang seratus langkah Lie Giok
Liong adanya, selamat bertemu, selamat bertemu ….!” serunya keras.
“Akh …. mana, mana ……. kesemuanya
ini cuma didasarkan atas pujian dari kawan kawan kang-ouw saja…..”
Perlahan lahan ia menghela napas,
kemudian sambungnya, “Tolong tanya siapakah nama besar dari
Heng-thay??”
Orang itu segera menengadah ke
atas dan tertawa terbahak bahak.
“Haaa… haaa….. kalau memangnya
kami sudah berani turun tangan terhadap barang kawalan perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauk Kiok, sudah tentu berani pula meninggalkan
nama,” katanya keras.
Walaupun usia dari Lie Giok Liong
tidak begitu besar, tetapi berhubung sejak kecil ia sudah sering
mengikuti suhunya berkelana di dalam dunia kang-ouw, maka
pengetahuannya sangat luas sekali, sehingga boleh dikata dia adalah
seorang jago kawakan.
“Aaakh… entah siapakah nama besar
dari Heng-thay? Siauwtee tentu akan pentang telinga lebar-lebar
untuk mendengar”, ujarnya cepat sambil tertawa paksa.
“hee. heee. Cayje she Shaw bernama
Kiat, disebut orang sebagai “Leng Cian” atau si Panah Gelap Shaw
Kiat adanya!…” sahut orang itu dingin.
“Ooow…. kiranya Shaw heng, maaf…..
maaf…….!”
Selesai berkata buru-buru Lie Giok
Liong menjura ke arahnya.
“Heee… heee… terima kasih terima
kasih. Cayhe tidak terbiasa dengan kata-kata yang halus. Lebih baik
kali ini kita berbicara secara blak-blakan saja. Kami tidak suka
mengikat sengketa dengan pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie
Piauw-kiok kalian, asalkan barang-barang yang kalian kawal di dalam
kereta itu ditinggalkan, kami segera akan lepas kami semua untuk
melanjutkan perjalanan!”
“Haa… haaa… Shaw heng! Tentunya
kau sedang bergurau dengan kami!” seru Lie Giok Liong tertawa tawar,
“Ada pepatah mengatakan: Membegal harta orang lain, musnah
mengikuti tanggung jawabnya. Kami orang-orang yang
mencari sesuap nasi dengan membuka perusahaan piauw-kiok, bagaimana
mungkin boleh meninggalkan keselamatan orang lain untuk
menyelamatkan diri sendiri? Kami perusahaan expedisi Liong Wie Piau
Kiok sudah melakukan tugasnya selama dua puluh tahun, tetapi selama
ini belum pernah meninggalkan barang kawalannya untuk melarikan
diri!”
“Hm……..! Nama besar dari
perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok memang sudah lama kami
dengar, sedang permainan piauw terbang berantai dari Lie-heng yang
amat tepat di dalam seratus tindakpun sudah lama kami kagumi, cuma
he…..he…. kalian harus tahu! Bilamana kami tidak mempunyai beberapa
bagian pegangan, mana berani bermaksud mencabut gigi di mulut
harimau?” ujar si panah gelap Shaw Kiat dingin.
Mendengar perkataan tersebut,
dalam hati Lie Giok Liong segera berpikir.
“Bilamana cuma mengandalkan
kepandaian silatnya yang tidak seberapa ini, pasti tidak mungkin
berani mengganggu dan cari gara-gara dengan perusahaan expedisi
Liong Wie Piauw-kiok kami, di belakang punggung-nya tentu ada otak
dari seluruh perbuatannya ini……”
Berpikir akan hal tersebut,
terpaksa ia tertawa perlahan.
“Shaw-heng!” katanya perlahan. “Di
dalam pengawalan barang-barang kali ini, cayhe tidak lebih cuma
seorang serdadu tak bernama yang ada di depan barisan, orang yang
melindungi barang barang tersebut adalah majikan kedua dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami…..”
“Sekalipun Cong Piauw-tauw kalian
sendiri yang mengawal barang-barang tersebut sama saja, kami akan
turun tangan merampoknya” potong Shaw Kiat tidak menanti ia
menyelesaikan kata-katanya.
“Hmm! Aku rasa bilamana cuma
mengandalkan kepandaian kau seorang, tidak mungkin bakal berani
mempunyai pikiran demikian.”
“Heee….heee….. Lie-heng apakah
sedang menanyakan pemimpin kami?”
“Sedikitpun tidak salah, harap
Shaw-heng suka memberitahukan hal ini kepada-ku, dengan demikian
cayhe-pun bisa melaporkan hal tersebut kepada majikanku yang kedua
sehingga dia orang tua bisa mengambil keputusan”.
“Tentang soal ini……..aach…….!
Maaf…… maaf sekali…..”
Air muka Lie Giok Liong segera
berubah hebat.
“Kalau memang Shaw-heng tidak suka
memberi penjelasan, maka terpaksa cayhe harus menerjang masuk ke
dalam hutan untuk mengadakan pemeriksaan sendiri” teriaknya gusar.
Shaw Kiat dengan cepat menjerat
tali les kudanya menghalangi perjalanan dari Lie Giok Liong kemudian
dari dalam sakunya ia mengambil keluar sepucuk sampul putih.
“Kalau memang majikan kedua dari
perusahaan kalianpun sudah datang, mungkin Lie-heng sendiri tidak
bisa mengambil keputusan bukan!” katanya. “Di dalam sampul surat unu
terdapat tulisan tangan dari pemimpin kami, harap Lie-heng suka
membawanya untuk ditunjukkan kepada majikan kedua kalian. Cayhe
menanti jawaban dari kalian semua!”
Lie Giok Liong segera menyambut
sampul surat tersebut dan dibaca tulisan yang ada di depannya yang
kira-kira berbunyi.
“Ditujukan kepada majikan kedua
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, Si Thian Ciang Kim Huan, Phoa Ceng
Yan!”
Lie Giok Liong yang selesai
membaca tulisan tersebut, hatinya kontan jadi melengak dibuatnya.
“Sungguh aneh sekali!” pikirnya di
hati. “Keberangkatan kali ini yang dikawal langsung oleh Jie Siok
sama sekali tidak diketahui oleh orang lain kecuali beberapa orang
Piauwsu penting yang ada di dalam perusahaan Piauw-kiok, tetapi
bagaimana mungkin manusia ini bisa mengetahui dengan begitu
jelasnya?”
Pikiran tersebut bagaikan putaran
roda dengan cepatnya berkelebat di dalam benak, buru-buru ia
merangkap tangannya menjura.
“Harap Shaw-heng tunggu sebentar!”
ujarnya kemudian.
Tali les kudanya segera diletakkan
dan melarikan kembali kudanya menuju ke arah rombongan kereta-kereta
berkuda tersebut.
Majikan kedua dari perusahaan
expedisi “Lion Wie Piauw-kiok”, Itu si “Thiat Ciang Kiem Huan” atau
telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan sedang duduk di dalam kereta
sambil menikmati huncwenya.
Perasaan hati si orang tua itu
membara bagaikan dibakar, wajahnya yang amat keren dan serius sedang
si lelaki kekar yang berada di sebelah kananpun pada saat ini sudah
turun dari kudanya dan berdiri di sisi sang kereta.
Lie Giok Liong dengan cepatnya
telah tiba di depan rombongan kereta tersebut, sambil meloncat turun
dari kudanya ia lantas menjura.
“Lapor Jie siok!” serunya, “Teecu
sudah bertemu muka dengan mereka, pemimpin pihak lawan ada sepucuk
surat yang disampaikan buat Jie Siok!”
“Hm!coba kau buka surat itu dan
bacakan keras-keras” dengus Phoa Ceng Yan dingin. “Aku mau lihat di
atas jalan raya Han Tan ini ada siapa yang sudah begitu bernyali
sehingga berani mengganggu barang kawalan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok. Hm! Manusia dari mana yang sudah makan hati beruang
jantung macan sehingga begitu berani mencari setori dengan kita!”
Dengan amat serius Lie Giok Liong
berdiri tegak di hadapan kereta tersebut kemudian membuka sampul
surat dan mulai membaca isinya:
Ditujukan untuk Phoa Ceng…….
Mendadak ia menutup mulutnya
kembali.
“Giok Liong! Lanjutkan membaca isi
surat itu. Mengapa kau harus merasa takut? surat tersebut kan bukan
kau yang menulis?” tegur Phoa Ceng Yan sewaktu dilihatnya sang
lelaki kekar itu rada ragu-ragu.
Lie Giok Liong buru-buru mengiakan
dan melanjutkan kembali pembacaan isi surat tersebut.
“Ditujukan kepada Phoa Ceng
Yan, Hu Piauw-tauw:
Sudah lama kami dengar
kemajuan serta kemakmuran dari perusahaan ekspedisi kalian di mana
dalam sehari ada pemasukan sebanyak beribu-ribu kati emas sehingga
mengalahkan perusahaan-perusahaan yang lain.
Perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok berhasil menguasai seluruh daerah Tionggoan, di mana
bendera perusahaan kalian lewat kawan-kawan kalangan Liok-lim pada
mengalah tiga bagian, sehingga kini sudah ada puluhan tahun lamanya
……”
“Ehmm…..! Isi surat itu masih
kedengarannya memakai sopan santun!” timbrung Phoa Ceng Yan sambil
mengelus elus jenggotnya yang sudah memutih.
Lie Giok Liong mengebutkan
terlebih dulu bunga-bunga salju yang mengotori bajunya kemudian
sambungnya kembali.
“Siaw te sekalian tidak becus,
kini dengan memberanikan diri memberi waktu kepada kalian agar di
dalam waktu sepertanak nasi kemudian Phoa-heng serta seluruh anak
buah perusahaan anda segera meletakkan senjata dan meninggalkan
tempat ini dengan tangan kosong.
Bilamana diantara kalian ada
yang berani melanggar dan pergi dengan membawa senjata, maka suatu
bencana yang mengerikan segera akan melanda diri kalian.
Harta kekayaan perusahaan
selama puluhan tahun lamanya masih cukup untuk mengganti kerugian
kali ini, maka dari itu harap kalian suka memikirkan masak-masak!”
Sejak semula Phoa Ceng Yan yang
mendengar isi surat tersebut paras mukanya sudah berubah sangat
hebat, tetapi ia bersabar terus dan dengan tenangnya mendengar
hingga habis.
“Heei.. sungguh besar sekali
omongannya! Coba lihat siapakah yang menanda tangani surat ini”.
Lie Giok Liong menggeleng.
“Di atas surat ini tak ada tanda
tangan sebaliknya cuma meninggalkan sebuah tanda lukisan” katanya.
“Oouw….. coba bawa kemari!”
Lie Giok Liong mengiakan, dengan
cepat ia angsurkan surat tersebut ke tangan sang orang tua tersebut
dengan sikap yang sangat menghormat.
Phoa Ceng Yan setelah menerima
surat tersebut dan diperiksa sebentar, di atas paras mukanya yang
mengandung rasa gusar mendadak terlintaslah suatu perasaan keheranan
yang segera mencekam seluruh benaknya.
Si lelaki kekar yang ada di
sebelah kanan dan pada waktu itu berdiri di sisi kereta,
perlahan-lahan ia berjalan mengitari sang kereta dan berhenti di
sisi tubuh Lie Giok Liong.
“Lie Suheng!” bisiknya dengan
suara yang pelan. “Di atas surat tersebut terdapat tanda lukisan
macam apa??”
“Sebuah lukisan Pat Kwa, sebuah
kipas serta sebuah benda yang mirip tali tapi bukan tali.
Mendengar disebutkannya
benda-benda tersebut, si lelaki kekar tersebut segera mengerutkan
alisnya rapat-rapat.
“Agaknya lukisan tersebut
menandakan sebutan mereka serta senjata yang mereka gunakan”
katanya, “Di daerah Liok-lim di lima keresidenan sebelah utara,
orang yang menggunakan kipas sebagai senjata agaknya tidak begitu
banyak jumlahnya, di samping itu tak ada pula pentolan bajingan yang
menggunakan tameng Pat Kwa sebagai senjatanya. Sedang mengenai
senjata yang menyerupai tali itu semakin tidak pernah dengar orang
membicarakannya. Beberapa orang ini kemungkinan besar berasal dari
tempat kejauhan.”
“Ih Sute! Aku rasa peristiwa ini
tidak akan segampang yang kau pikirkan.” bantah Lie Giok Liong
sambil menggeleng. “Paman Jie Siok adalah manusia macam bagaimana?
Bilamana cuma menghadapi beberapa orang perampok cilik yang tak
bernama bagaimana mungkin dia orang tua suka memandang sebelah mata
terhadap diri mereka itu?”
Kiranya perasaan gusar yang semula
menghiasi muka Phoa Ceng Yan pada saat ini sudah lenyap tak
berbekas, tetapi matanya masih memandang ke atas surat tersebut
dengan terpesona.
Waktu itu dari balik kereta
berwarna hitam yang kedua mendadak meloncat keluar seorang kacung
buku yang baru berusia tiga belas, empat belas tahunan, dengan cepat
ia berlari menuju ke depan kereta kuda yang pertama sambil berseru,
“Eee…. Majika kedua, Loo ya kami bertanya kenapa kereta tidak segera
berangkat?!”
Perlahan lahan Phoa Ceng Yan
menyimpan surat tersebut ke dalam sakunya lalu meloncat turun dari
dalam kereta.
“Laporkan saja kepada Liauw
Thayjien bila kita sudah menemui kesulitan, ada beberapa orang
kawanan perampok dari kalangan Liok-lim sedang menghadang perjalanan
kita,” ujarnya.
Si Kacung buku itu menjerit
tertahan, buru-buru ia memutar badannya dan siap berlari balik ke
dalam keretanya.
“Beritahukan pula pada Liauw
Thayjien agar dia suka berlega hati,” sambung Phoa Ceng Yan kembali.
“Merek emas dari perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok selama dua
puluh tahun tidak akan hancur berantakan di tangan orang lain dengan
begitu gampang, harap Siauw Ko suka beritahukan pada Liauw Thayjien,
sebelum urusan ini diselesaikan lebih baik dia orang jangan turun
dari keretanya, orang-orang yang loohu bawa untuk melindungi kawalan
pada kali ini tidak banyak jumlahnya, sehingga sulit untuk
melindungi setiap orang yang turun dari dalam kereta.”
“Baik…. baik……. hamba segera akan
laporkan urusan ini kepada Looya kami!” seru si kacung buku itu.
Dengan cepat ia melanjutkan
larinya menuju ke dalam kereta yang kedua.
Paras muka Phoa Ceng Yan kelihatan
sangat serius sekali, dengan suara yang keren ujarnya kemudian
kepada si lelaki kekar yang satunya lagi, “Cun Jie! Cepat undang Thi
serta Nyoo Piauw-su untuk datang kemari.”
Waktu itu kelima kusir kereta
sudah pada menghentikan keretanya dan meloncat turun. Mereka
bersama-sama menyimpan kembali cambuknya untuk kemudian mencabut
keluar sebuah golok baja yang tebal masing-masing berdiri menjaga di
depan keretanya sendiri sendiri.
Kiranya para kusir kereta tersebut
semuanya adalah penyamaran dari anak buah perusahaan ekspedisi Liong
Wie Piauw-kiok.
Bebertapa orang ini sudah terbiasa
melakukan perjalanan jauh untuk mengawal barang kawalan, karena ia
begitu menemui kejadian tanpa disuruh lagi mereka sudah pada
meloloskan senjata tajamnya masing-masing dan berdiri pada posisi
yang menguntungkan.
Perlahan lahan Lie Giok Liong
menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu bisiknya kepada si
orang tua itu, “Paman Jie Siok, orang-orang itu apakah sangat lihay
sekali?”
“Ehmm …..! Kepandaiannya sangat
hebat sekali” sahut Phoa Ceng Yan menggangguk, “Kita harus
menghadapi dengan sangat berhati-hati, agaknya halangan kita ini
rada sulit untuk ditembusi”.
Lie Giok Liong tahu bila paman
keduanya ini mempunyai sifat yang tinggi hati dan tidak pandang
sebelah matapun terhadap orang lain, sudah ada puluhan tahun lamanya
ia melakukan pekerjaan mengawal barang tetapi selama ini belum
pernah menemui kejadian yang membingungkan dirinya.
Para penjahat kalangan Liok-lim
yang binasa di bawah serangan gelang emasnya ini entah sudah
seberapa banyaknya.
Kini secara mendadak paras mukanya
berubah jadi begitu tegang dab serius, di dalam ingatan Lie Giok
Liong agaknya peristiwa ini belum pernah terjadi barang sekalipun,
karena itu iapun merasakan akan keseriusan dari peristiwa ini.
Ketika itulah si lelaki kekar yang
bernama Cun Jie sudah berjalan balik sambil memimpin kedua orang
tinggi serta kurus yang bukan lain adalah Thio dan Nyoo dua orang
Piauw-tauw.
Si lelaki kekar berwajah hitam
pekat di mana di atas pinggang sebelah kirinya menggembol sebuah
senjata rantai yang berkepala palu mengejar bintang, dengan langkah
lebar lantas merebut maju dua langkah ke depan.
“Majikan kedua, siapakah
sebenarnya orang yang berani mengganggu kepala Thay Swie ya? Biarlah
pertempuran yang pertama kali ini serahkan pada aku Thio Toa Hauw”
serunya sambil menjura.
“Jangan gegabah!” tolak Phoa Ceng
Yan sambil menggeleng, air mukanya berubah semakin serius.
“orang-orang yang mencari gara gara kali ini bukanlah kawanan
Liok-lim biasa…”
Sinar matanya segera dialihkan ke
atas tubuh Nyoo Piauw-tauw yang kurus kering seperti monyet itu,
sambungnya kembali.
“Su Jan, sewaktu kau orang
berkelana di daerah Kang Lam tempo hari, apakah kau banyak
mengetahui jagoan-jagoan Bu-lim?”
Kiranya si Thio Toa Hauw yang
mempunyai perawakan tinggi besar itu walaupun kekar dan kosen tetapi
ada tiga bagian rada bebal, sebaliknya Nyoo Su jan yang berbadan
kurus kering, sebenarnya adalah seorang manusia yang cerdik dan
mempunyai banyak akal.
“Lapor Jie Siok!” seru si
Piauw-tauw she Nyoo ini sambil menjura.”Aku orang she Nyoo cuma
mengetahui sedikit sekali tentang soal-soal dunia kangouw, tetapi
entah tanda lukisan apakah yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang
itu?”
“Ehmm! Ada sepucuk surat, nih! Kau
lihatlah sendiri.”
Nyoo Su Jan segera mengeluarkan
sepasang tangannya yang kurus kering untuk menerima surat tersebut,
agaknya ia sama sekali tak tertarik oleh isi suratnya, sepasang
matanya yang tajam dengan terpesona memperhatikan ketiga buah tanda
lukisan tersebut, kemudian termenung berpikir keras.
Lama sekali ia baru menjawab
dengan suara yang perlahan, “Menurut apa yang hamba ketahui agaknya
tanda-tanda ini berasal dari Lam Thian Sam Sah atau tiga orang
pengacau dari Lam Thian!”
Sambil mulutnya berbicara, sedang
tangannya dengan sangat hormat mengembalikan sampul surat tersebut
ke arah majikannya.
“Ehmm…….! Sedikitpun tidak salah
…. sedikitpun tidak salah,” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk. “Memang
benar perbuatan dari Lam Thian Sam Sah! Selama ini mereka hidup di
daerah Kang Lam bahkan selama beberapa tahun mendekat ini tiada
kabar beritanya lagi di dalam dunia kangouw, tidak disangka ternyata
secara mendadak mereka bisa munculkan dirinya di atas jalan raya Han
Tan bahkan bermaksud hendak membegal barang kawalan perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kita …..”
“Majikan kedua! Ada pepatah yang
mengatakan air bah dapat kita bendung dengan tanah, tentara datang
kita tahan dengan panglima, Aku tidak percaya bila Lam Thian Sam Sah
mempunyai tiga kepala enam lengan, mari …… biarlah aku orang she
Thio yang pergi menemui diri mereka terlebih dulu,” sambung Thio Toa
Hauw dengan suara yang keras.
Orang ini rada berangasan selesai
berbicara dengan langkah lebar ia lantas melangkah maju ke depan.
“Eeei … tunggu sebentar!” teriak
Phoa Ceng Yan sambil menggeleng.
Sifatnya yang keren dan serius
apalagi jarang berbicara serta bergurau membuat semua orang yang
berada di dalam perusahaan ekspedisi “Liong Wie Piauw-kiok”
kebanyakan menaruh tiga bagian rasa jeri terhadap dirinya.
Mendengar suara panggilan tadi,
Thio Toa Hauw benar-benar tidak berani bergerak secara gegabah lagi,
ia menghentikan langkahnya.
Perlahan lahan Phoa Ceng Yan
mendehem beberapa kali.
“Menurut apa yang loolap ketahui”
ujarnya kemudian. “Di dalam kalangan Liok-lim Lam Thian Sam Sah
mempunyai nama besar yang mengerikan bagi semua orang, tetapi mereka
bukanlah manusia-manusia yang suka bertindak secara gegabah, kini
secara terang-terangan mereka berani melakukan tantangan terhadap
kita untuk membegal barang kawalan dari perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kita, menurut Loolap tentulah mereka sudah mempunyai
suatu rencana persiapan yang matang, hee…..heee….. nama kosong
Loolap sebagai si pukulan besi gelang emas boleh hancur di tangan
orang lain, tetapi tidak akan menghancurkan merek perusahaan “Liong
Wie Piauw-kiok” yang sudah terkenal puluhan tahun
lamanya ini”.
Perkataan ini diucapkan dengan
nada berat dan meluncur keluar dari dasar hatinya sehingga membuat
Thio Toa Hauw yang rada bebal itupun segera berubah wajah dan
berdiri dengan sikap serius.
Dengan tangan kiri mengelus-elus
jenggotnya Phoa Ceng Yan menengadah ke atas memandang awan yang
berlalu di tengah udara.
“Su Jan, kau pernah bertemu dengan
Lam Thian Sam Sah??” sambungnya.
“Hamba sudah lama mendengar nama
meraka, tetapi belum pernah bertemu muka barang sekalipun.”
Kembali Phoa Ceng Yan termenung
berpikir keras, akhirnya ia berseru, “ Baiklah! Mari kita pergi
menemui diri mereka.”
Sinar matanya perlahan lahan
menyapu sekejap ke sekelilingnya, kemudian tambahnya, “Su Jan, Giok
Liong! Kalian ikut aku, Coen Jie serta Thio Piauw-tauw kalian
bertugas mengawasi keselamatan dari kereta-kereta berkuda ini, suruh
tukang panah menyiapkan anak panahnya siap-siap menghadapi serangan
musuh. Barang kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai kedudukan
yang sangat tinggi di dalam pemerintahan bahkan membawa pula kaum
perempuan. Orang-orang lain sudah mempercayakan dirinya pada
perusahaan “Liong Wie Piauw-kiok” kita, seharusnya kitapun jangan
terlalu memandang rendah mereka apalagi orang-orang itu sudah
serahkan keselamatan jiwa serta hartanya kepada kita, asalkan kita
orang-orang masih hidup maka siapapun di antara kita harus berusaha
untuk melindungi mereka dari gangguan!”
“Majikan kedua jangan kuatir,
hamba tentu akan bertugas sangat berhati-hati” sahit Thio Toa Hauw
sambil menjura.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
mengangguk. “Yang penting dan harus kalian ingat adalah sebelum
memperoleh perintahku, maka janganlah sekali-kali meninggalkan
kereta kawalan ini…,” katanya.
Ia segera mengulapkan tangan
kanannya dan menyambung, “Giok Liong! Bawa jalan.”
Lie Giok Liong mengiakan, tubuhnya
segera berputar dan melangkah maju ke depan.
Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan
mengikuti dari belakangnya dengan kencang.
Menanti ketiga orang itu sudah
berangkat, Thio Toa Hauw baru memerintahkan ke delapan orang
anakbuahnya untuk mempersiapkan anak panah dan memilih posisi yang
baik untuk menghadapi musuh dan melindungi kelima buah kereta
tersebut.
Walaupun Thio Toa Hauw rada bebal,
tetapi berhubung sudah da puluhan tahun lamanya melakukan pekerjaan
mengawal barang maka pengalamannya pada saat ini boleh dikata sangat
luas sekali.
Beberapa orang anak buah itupun
merupakan jago-jago kawakan pilihan dari perusahaan ekspedisi “Liong
Wie Piauw-kiok”, hanya di dalam sekejap saja mereka sudah
menyebarkan diri untuk berjaga pada posisi-posisi yang menguntungkan
terhadap datangnya serangan musuh.
Kita balik pada Lie Giok Liong
yang memimpin kedua orang itu mendekati diri Shaw Kiat.
“Shaw-heng!” serunya kemudia
sembari menjura. “Katakan saja pada pemimpinmu bahwa majikan kedua
dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita sedang menantikan
kedatangan mereka, bilamana ada urusan biarlah mereka berdua
selesaikan sesudah berhadap-hadapan.
Dengan pandangan tajam si pemanah
gelap Shaw Kiat memperhatikan sekejap ke arah si telapak besi gelang
emas yang berdiri kurang lebih beberapa kaki dari dirinya.
Ketika dilihatnya si orang tua itu
berdiri dengan wajah serius di atas permukaan salju sehingga
kelihatan sangat angker sekali, dalam hati lantas berpikir, “Sudah
lama aku mendengar nama besar dari si telapak besi gelang emas,
agaknya dia orang benar-benar luar biasa sekali.”
Sebenarnya ia hendak mengutarakan
beberapa patah kata yang mengejek diri Lie Giok Liong, tetapi
melihat sikap si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan yang begitu
angker tak terasa hatinya dibuat bergidik juga, akhirnya ia mendehem
keras.
“Perkataan dari Lie-heng sudan
tentu akan cayhe sampaikan kepada pemimpin kami” sahutnya. “Majikan
kedua dari Piauw-kiok kalian, cayhe merasa tidak punya pegangan.”
“Ooow…. asalkan Shaw-heng suka
menyampaikan kata-kata tersebut, hal ini sudah tiada sangkut pautnya
dengan diri Shaw-heng.”
“Ehmm…..! Bertemu atau tidak,
cayhe tentu akan memberi kabar kepada kalian.”
Selesai berkata ia meloncat naik
ke atas punggung kudanya, menyenyak tali les dan kaburkan
tunggangannnya ke arah hutan.
“Paman Jie Siok! Apakah kita orang
perlu mengikuti jejaknya dari belakan guna melihat-lihat keadaan
mereka di sana?” seru Lie Giok Liong kemudian sambil menoleh.
“Tidak perlu!” jawab Phoa Ceng Yan
menggeleng. “Lam Thian Sam Sah bukanlah manusia baik-baik, kita
tidak boleh terpelosok kembali ke dalam jebakan yang sengaja telah
mereka pasang.”
Lie Giok Liong segera mengiakan
berulang kali, padahal dalam hati pikirnya, “Jahe semakin tua
semakin pedas, paman Jie Siok selamanya tinggi hati, tetapi
melakukan pekerjaan mengapa bisa begitu teliti dan berhati-hati?
sungguh luar biasa sekali.”
Tampaklah Shaw Kiat dengan
cepatnya sudah masuk ke dalam hutan pohon siong itu, hanya di dalam
beberapa kali tikungan ia telah lenyap tak berbekas.
Sepeminum teh kemudian, dari balik
hutan pohon siong muncullah empat sosok bayangan manusia yang
berlari mendatang dengan kecepatan bagaikan kilat.
Keempat orang itu sama sekali
tidak menunggang kuda, tetapi kecepatan geraknya tidak di bawah
kecepatan dari larinya seekor kuda.
Hanya di dalam sekejap saja
keempat orang itu sudah berada empat kaki di hadapan mereka bertiga.
Orang yang berada di paling depan
adalah si panah gelap Shaw Kiat, sambil menjura.
Lie Siauw Piauw-tauw! Pemimpin
kami sudah tiba, bilamana kalia ada perkataan silahkan maju untuk
berbicara!”
Lie Giok Liong segera mendongakkan
kepalanya menyapu sekejap ke arah orang-orang itu.
Tampaklah kurang lebih empat kaki
di hadapannya berdirilah tiga orang yang pertama memakai pakaian
singsat berwarna hitam dengan secarik kain pengikat kepala,
mantelnya terbuat dari kulit harimau sedang pada lengannya mencekal
sebuah senjata aneh yang bentuknya mirip lengan manusia.
Orang yang ada disebelah kirinya
memakai jubah berwarna biru dengan dandanan seorang sastrawan,
wajahnya putih tak berkumis sedang di atas tangan kanannya mencekal
sebuah kipas.
Orang yang ada disebelah kanannya
adalah seorang gadis berbaju merah, dengan ikat kepala yang berwarna
merah pula, boleh dikata dari ujung kepala sampai ujung kakinya
berwarna merah darah semua sedikitpun tidak nampak warna lain.
Jaraknya yang terpaut empat kaki
ditambah pula salju yang turun dengan derasnya membuat Lie Giok
Liong tidak sanggup untuk melihat jelas bagaimanakah wajahnya tetapi
cukup dilihat dari pinggangnya yang ramping, lekukan-lekukan
badannya yang menggiurkan serta wajahnya yang bulat seperti telur
itik tentulah dia orang adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Ketiga orang itu berhenti pada
jarak empat kaki dan tidak maju lagi, jelas pihak sana ada maksud
hendak memyembunyikan asal usulnya, dan hal ini kemungkinan sekali
akan membuat Jie sioknya merasa amat gusar.
Siapa sangka ternya urusan terjadi
di luar dugaannya, belum sempat Lie Giok Liong putar badan memberi
laporan, dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan sudah maju ke depan.
“Ayo jalan, kita temui diri
mereka!” serunya.
Lie Giok Liong mengiakan, dengan
cepat ia mengikuti dari belakang tubuh Phoa Ceng Yan.
Pada saat ini di sebelah kiri dari
Phoa Ceng Yan ada Nyoo Su Jan, disebelah kanannya ada Lie Giok
Liong, setelah berjalan sejauh delapan depa mereka baru berhenti.
“Sudah lama aku orang she Phoa
mendengar nama besar dari Lam Thian Sam Sah, ini hari bisa bertemu
boleh dikata sangat beruntung sekali” serunya sambil menjura.
Si orang berbaju hitam yang
mempunyai jenggot panjang, bersenjatakan aneh dan berada diantara
dua orang lainnya segera mendengus dingin.
“Hm! Kami tiga orang kaka beradik
selamanya disebut oleh kawan-kawan kangouw sebagai Lam Thian Sam
Sah, Ih mu itu kami tidak berani menerimanya”.
Mendengar perkataan tersebut, air
muka Phoa Ceng Yan berubah sangat hebat, tetapi ia masih berusaha
untuk bersadar diri.
“Menurut apa yang cayhe ketahui”
ujarnya. “Saudara bertiga dengan pihak perusahaan ekspedisi Liong
Wie Piauw-kiok kita sama sekali belum pernah mengikat permusuhan.
Sedang dari pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kamipun belum
pernah menyalahi kalian bertiga.
Bilamana kalian bertiga ada
membutuhkan sesuatu, cayhe suka menyampaikan hal ini kepada Cong
Piauw-tauw kami, cayhe percaya dia orang tentu bisa memberikan suatu
tanggung jawab yang memuaskan hati bagi kalian bertiga….”
Dengan amat serius Lam Thian Sam
Sah berdiri di tempat semula, tak seorangpun diantara mereka yang
mengucapkan kata-kata.
Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan
mendehem, kemudian sambungnya kembali, “Apalagi barang kawalan yang
aku orang she Phoa kawal kali ini sama sekali tidak terdapat intan
permata yang mahal harganya……”
Si Sastrawan berwajah putih yang
berdiri disebelah kiri agaknya sudah tidak sabaran lagi, mendadak ia
membentangkan kipasnya lebar-lebar lalu mengebutkan bunga-bunga
salju yang mengotori pakaiannya.
“Kami tiga bersaudara sudah
mencari kabar dengan sangat jelas sekali,” katanya cepat. “Barang
berharga apa saja yang mereka bawa tidak usah kau orang Phoa Hu
Piauw-tauw yang banyak urusi, Kita dengan pihak perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kalian tidak pernah terjadi sengketa, maka dari itu kita
menggunakan tata cara yang selayaknya untuk memberi kabar kepada
kalian kemudian baru mengirim tentara. Bukankah di dalam surat
tersebut sudah diterangkan sejelas jelasnya? Asalkan orang-orang
dari perusahaan Piauw-kiok kalian suka melepaskan senjata, maka kita
orang tidak akan turun tangan mencelakai kalian.”
Di atas wajah Phoa Ceng Yan yang
berwarna merah padam mulai terlintaslah hawa gusar yang sukar
ditahan.
“Jadi kalian bertiga ada maksud
hendak menghancurkan merek perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok
kami?” serunya dingin.
Mendadak terdengar si gadis
berbaju merah yang disisi lelaki berbaju hitam itu tertawa cekikikan
dengan merdunya.
“Haaaa……..! Phoa Hu Cong
Piauw-tauw! Bukankah kami tidak pernah mengatakan bila kami ada
maksud hendak menghancurkan merek perusahan ekspedisi Liong Wie
Piauw-kiok kalian?” teriaknya keras. “Tetapi bilamana kalian
betul-betul ada maksud menghalangi usaha kita dengan menggunakan
kekerasan, maka hal ini adalah suatu peristiwa yang ak bisa
dipikirkan lagi.”
Didalam hati Phoa Ceng Yan sudah
mengerti bila menghadapi situasi semacam ini hari tidak mungkin bisa
diselesaikan dengan bersilat lidah saja! Mendadak ia menengadah ke
atas dan tertawa terbahak-bahak.
“Haaa…..haaa….. bilamana kalian
bertiga tidak suka menghargai diriku dan melepaskan aku orang she
Phoa, maka seperti apa yang dikatakan oleh nona itu, hal ini adalah
suatu peristiwa yang tidak bisa dipikirkan lagi. Kami dari pihak
perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok selamanya tidak suka
mencari gara-gara tanpa alasan, tetapi kamipun tidak takut
menghadapi peristiwa yang sengaja mencari kami……..”
“hee……..he… kalau begitu sangat
bagus sekali,” sambung si orang berbaju hitam yang ada di tengah
dengan suaranya yang amat dingin.”Bilaman kau Phoa Hu Cong
Piauw-tauw merasa punya kekuatan untuk menghadapi kami Lam Thian Sam
Sah, kitapun tidak usah banyak cingcong yang tak ada gunanya lagi.”
Si dara berbaju merah itu mendadak
menekuk pinggangnya dan mencelat ke tengah udara dengan gaya yang
amat gesit, tubuhnya dengan sangat ringan melayang turun kurang
lebih delapan depa di atas permukaan salju, ujarnya sambil tertawa,
“Kami bersaudara masih mempunyai janji dengan orang lain sehingga
tak dapat membuang banyak waktu lagi, jikalau memang urusan sudah
diputuskan demikian maka siauw moay ada maksud hendak minta beberapa
petunjuk dari kepandaian silat Phoa Hu Cong Piauw-tauw…..!”
Phoa Ceng Yan segera mengalihkan
pandangannya memandang ke arah dara berbaju merah itu dengan tajam.
Tampaklah wajahnya sangat cantik
dengan satu senyuman menghiasi bibirnya, jika ditinjau dari sikapnya
sama sekali tiada maksud hendak bergebrak melawan orang lain apalagi
tangannya kosong sama sekali tidak membawa senjata tajam.
Sudah lama si telapak besi gelang
emas berkelana di dalam dunia persilatan, pengalamannyapun sangat
luas sekali di dalam menghadapi perubahan-perubahan yang sering
terjadi di dalam Bu-lim. Kini bukannya segera turun tangan
menghadapi gadis tersebut sebaliknya malah memberi pesan wanti-wanti
kepada Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong untuk jangan bertindak
secara gegabah.
“Nona! Kenapa kau tidak mencabut
keluar senjata tajammu?” tanyanya kemudian sambil mendehem.
Senyuman yang semula menghiasi di
atas bibir dara berbaju merah itu mendadak lenyap tak berbekas.
“Senjata tajam nonaku ada di dalam
badan, bilamana kau tidak dapat menemukannya hal ini mengerti kau
bila matamu sudah buta” serunya dingin.
Si telapak besi gelang emas Phoa
Ceng Yan segera memperoleh sekejap ke arah Lie Giok Liong, lalu
ujarnya, “Giok Liong! Kau pergilah menemui diri nya tetapi harus
berhati-hati, senjata yang digunakan tentulah semacam senjata tajam
yang berbentuk sangat aneh, lebih baik setelah melihat dia orang
mencabut keluar senjatanya kau baru turun tangan.”
Lie Giok Liong mengangguk, dengan
cepat ia mencabut keluar goloknya dari dalam sarung.
Hawa murninya ditarik
panjang-panjang dari pusar mengelilinginya seluruh tubuh kemudian
dengan langkah yang lambat berjalan kehadapan si dara berbaju merah
itu.
“Cayhe Lie Giok Liong, mari
biarlah aku orang menemani nona untuk bergebrak beberapa jurus,
silahkan nona untuk mencabut keluar senjatamu” katanya.
Agaknya si dara berbaju merah itu
bersifat sangat aneh sekali, wajah yang semula dingin kaku mendadak
tersungging kembali satu senyuman.
“Ayoh @ Mulailah turun tangan.”
ujarnya. “Sudah tentu aku bisa memperlihatkan senjata tajamku!
Hati-hatilah…..!”
Baru saja perkataannya selesai
diucapkan tubuhnya sudah menerjang maju kedepan melancarkan satu
pukulan dashyat ke depan.
Ternyata ia sama sekali tidak
memandang sebelah matapun terhadap golo baja yang berada di tangan
Lie Giok Liong.
Dengan wajah serius Lie Giok LIong
segera berkelit ke samping.
“Bilamana nona tidak mencabut
keluar senjatamu, cayhe….”
“Bilamana nonamu merasa perlu
menggunakan senjata tajam, aku bisa mencabutnya sendiri!” potong
dara berbaju merah itu dengan cepat.
Sepasang telapak tangannya
bersama-sama ditepuk kedepan dengan menggunakan jurus Siang Hong
Cian Ei” atau sepasang angin menembus telinga.
Lie Giok Liong mengerutkan alisnya
rapat-rapat, goloknya mendadak di babat sejajar dada.
Tampaklah cahaya golok berkilauan
menyilaukan mata, dengan gaya mendatar ia membabat pinggang lawan.
Si dara berbaju merah itu segera
tertawa cekikikan, sepasang telapak tangannya yang didorong kedepan
mendadak menekan ke arah bawah, pinggangnuya yang menekuk tahu-tahu
seluruh badannya sudah mencelat ke tengah udara menghindarkan diri
dari datangnya babatan golok tersebut.
Kemudian tubuhnya yang ada
ditengah udara berkelebat lewat dari atas batok kepala Lie Giok
Liong, sepasang kakinya dengan meminjam gerakan tesebut melancarkan
tendangan kilat menghajar batok kepala dari lelaki tersebut.
Bilamana tendangan in sampai
mengenai sasarannya, sekalipun tidak mati sedikit-dikitnya Lie Giok
Liong akan menderita luka yang amat parah.
Pada saat yang amat kritis
itulah…… mendadak tampak Lie Giok Liong menjatuhkan dirinya ke
depan, golok di tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Hwee So
Wang Gwat” atau menoleh ke belakang memandang rembulan menggulung
dari bawah ke atas mengancam sepasang kaki sang dara berbaju merah
yang mengancam dirinya tadi.
Melihat datangnya babatan golok
tersebut si dara berbaju merah itu segera berjumpalitan di tengah
udara, tubuhnya gesit laksana sehelai daun kering, tahu-tahu ia
sudah melayang ke atas permukaan salju beberapa kaki jauh dari
tempat semula.
Lie Giok Liong segera menarik
kembali goloknya dan disilangkan di depan dada, ia tidak melakukan
pengejaran, sebaliknya tertawa dingin tiada hentinya.
“Heee….heee…… bilamana nona tidak
mencabut keluar senjatamu, kemungkinan sekali …….”
“Kau tidak usah menyombongkan
diri” bentak dara berbaju merah itu dengan nyaring.
Tangan kanannya diayunkan ke
depan, serentetan cahaya merah dengan cepatnya meluncur ke arah
lelaki kekar tersebut.
Jarak antara mereka berdua cuma
delapan depa saja, cahaya merah itupun dengan cepatnya sudah
meluncur mendatang.
Lie Giok Liong sendiri dapat
melihat pula datangnya cahaya merah tang berbentuk tidak mirip
seperti senjata rahasia, diam-diam pikiran dalam hati.
“Senjata aneh macam apakah ini?
Bagaimana mungkin bisa disembunyikan di balik ujung baju dan diayun
ditarik semaunya sendiri??”
Di dalam hal ilmu silat,
kebanyakan kelihayan dari suatu ilmu kepandaian terletak didalam
gerakan yang cepat, siapa cepat dia yang berhasil menguasai pihak
lawannya.
Karena itu walaupun di dalam hati
Lie Giok Liong berpikir keras, tetapi gerakan tangannya sama sekali
tidak berhenti.
Goloknya dengan menggunakan jurus
“Siauw Cu Si Lie” atau membabat kaki menyambar sepatu menghajar
cahaya merah yang menyambar datang kearahnya itu.
Si dara berbaju merah itu segera
menggetarkan tangan kanannya, cahaya merah yang semula melayang
datang laksana seekor ular berbisa itu mendadak berbelok lalu
menyambar ke arah pergelangan tangan kanan Lie Giok Liong yang
mencekal golok.
Pada saat ini Lie Giok Liong sudah
dapat melihat jelas bila cahaya merah tadi bukan lain adalah sebuah
angkin warna merah yang amat lemas, tetapi di bawah gerakan
perubahan yang sangat lihay dari gadis tersebut ternyata benda yang
lemas itu bisa bergerak dan menyambar semau hatinya.
Tak terasa lagi dalam hati ia
merasa amat terperanjat sekali, buru-buru pergelangan tangannnya
ditekan ke arah bawah kuda kudanya bergeser dan menyingkir sejauh
lima depa dari tempat semula.
“Kena!” bentak dara berbaju merah
itu keras.
Angkin merahnya ditekan ke bawah
lalu menyambar dan menggulung ke atas.
Buru-buru Lie Giok Liong menarik
napas panjang-panjang, dengan menggunakan jurus “Han Tee Pah COng”
atau tanah tandus mencabut bawang tubuhnya mencelat ke tengah udara
setinggi sembilan depa lebih.
Maksud hati dari si dara berbaju
merah itu justru hendak memaksa pihak musuhnya mencelat meninggalkan
permukaan tanah, terdengar ia tertawa cekikikan angkin merahnya
dengan cepat mengikuti gerakan tubuh pihak lawannya meluncur ke atas
dan melibat sepasang kaki Lie Giok Liong.
Si telapak besi gelang emas Phoa
Ceng Yan yang melihat kejadiaan ini segera mengerutkan alisnya
rapat-rapat, baru saja tubuhnya siap-siap bergerak maju untuk
memberi pertolongan, si dara berbaju merah itu sudah mengerahkan
tenaga dalamnya menyentak angkin tersebut keatas.
Tubuh Lie Giok Liong tidak dapat
mempertahankan dirinya lagi, bersama-sama dengan goloknya ia
mencelat sejauh tiga empat kaki dari tempat semula.
Lie Giok Liong cuma merasakan
segulung tenaga dalam yang maha dashyat membawa tubuhnya ke tengah
udara, belum sempat ia mengambul suatu tindakan mendadak telinganya
terasa sambaran angin yang kencang menyambar lewat diikuti kepalanya
terasa pening, matanya berkunang-kunang, dengan menimbulkan suara
yang amat keras tubuhnya sudah terbanting keras ke atas permukaan
salju.
Si panah gelap Shaw Kiat dengan
cepat meloncat maju ke depan, ditengah berkelebatnya sang jari
tangan tahu-tahu ia sudah menotok jalan darah dari Lie Giok Liong.
Si telapak besi gelang emas Phoa
Ceng Yang adalah seorang yang berpikiran panjang, melihat kesempatan
untuk menolong anak buahnya sudah tidak sempat lagi dengan cepat
pikirannya berubah, ia tidak lagi berusaha untuk turun tangan
menolong anak buahnya sebaiknya malah berbisik kepada Nyoo Su Jan
yang ada disisinya.
“Permainan angkin dari perempuan
ini sangat aneh dan lihay sekali, sebentar lagi biarlah loohu turun
tangan sendiri.”
Lie Siauw Piauw-tauw sudah
tertawan musuh, apakah majikan kedua tidak ada maksud untuk menolong
orang?” tanya Nyoo Su Jan cepat.
“Melindungi barang kawalan lebih
penting asalkan mereka tidak turun tangan membinasakan Giok Liong
pada saat ini juga, aku rasa dirinya tidak bakal terjadi suatu
peristiwa yang mengerikan, cepat kau kembali ke kereta untuk
melindungi barang kawalan kita itu.”
Diam-diam Nyoo Su Jan mulai
mempertimbangkan berat-entengnya urusan ini, akhirnya ia merasa bila
perkataan dari Phoa Ceng Yan sedikitpun tidak salah.
Tujuan dari Lam Thian Sam Sah
adalah hendak membegal barang kawalan, asalkan barang-barang
tersebut tidak sampai lenyap maka merek perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok-pun akan berhasil dilindungi.
Setelah di dalam hatinya mengambil
keputusan, iapun segera berbisik ke arah si orang tua itu, “Jie Tang
Kia!(majikan kedua) walaupun kepandaian silat yang kau miliki sangat
tinggi, tetapi lebih baik jangan bergebrak terlalu lama, melindungi
barang kawalan jauh lebih penting….”
“Aku sudah tahu!” potong si orang
tua itu dengan cepat, “cepat kau mengundurkan diri dari sini dan
balik ke kereta. Toa Hauw rada bebal sedang Cun Jia masih muda dan
tidak banyak mengetahui urusan, mengatur siasat di dalam musuh masih
harus menunggu kedatanganmu.”
Nyoo Su Jan tidak dapat berpikir
lebih panjang lagi, ia mengiakan lalu mengundurkan diri dari tempat
itu.
Waktu itu si dara berbaju merah
tersebut sudah menarik kembali angkin merahnya dan dengan genit
berjalan mendekat.
“Aaach…. orang muda jaman sekarang
semakin bergebrak semakin tua tidak bersemangat” serunya sambil
tertawa. “Kelihatannya kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw harus turun
tangan sendiri”.
“heee…..heee…. Nona! Kau jangan
sombong dulu!” kata Phoa Ceng Yan sambil mendehem perlahan. “Aku
orang she Phoa sudah ada puluhan tahun lamanya melakukan pekerjaan
mengawal barang dan mengalami pula berbagai badai hujan yang besar
maupun kecil, tetapi ….. loohu ada beberapa patah kata yang hendak
diucapkan terlebih dahulu sebelum kita mulai bergebrak.”
“Hii…. hii…… bagus sekalu
siauw-moay akan pentang lebar telinga untuk mendengarkan
perkataanmu”
“Hmm! Orang-orang kangouw memberi
julukan si telapak besi gelang emas kepada aku orang she Phoa,
gunakan senjata rahasia gelang emas akan memberi tanda terlebih dulu
tetapi nama besar Lam Thian Sam Sah sangat cemerlang, kepandaian
silatnyapun tinggi, maka dari itu di sini aku tidak akan memberi
tanda sewaktu hendak melancarkan senjata rahasia”.
“Heee…..heee…… kawan kawan kangouw
yang sering menggunakan senjata rahasiapun sedikit jumlahnya, hal
ini aku rasa tidak patut diherankan” kata si dara berbaju merah itu
tawar.”Kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw ada berapa banyak gelang
emas yang kau bawa boleh dikeluarkan semua, bilamana semisalnya aku
menderita luka, maka hal ini cuma bisa salahkan kepandaian silatku
kurang becus. Kau masih ada perkataan apa lagi yang hendak
diucapkan? Kalau sudah bergebrak tak ada waktu untuk berbicara lagi
lhoo!”
Phoa Ceng Yan sengaja memberi
keterangan soal senjata rahasia gelang emasnya, hal ini sebenarnya
tidak lebih hanya merupakan jebakan yang sedang menjirat pihak
lawannya saja.
Walaupun si dara berbaju merah itu
binal dan nakal tetapi ia kena terjirat juga oleh perkataan dari
Phoa Ceng Yan si jago kawakan dari Bulim ini.
Menanti gadis itu telah selesai
mengucapkan kata-kata tersebut, Phoa Ceng Yan baru mengutarakan isi
hati yang sebenarnya.
“Bilamana nona berbicara demikian,
aku orang she Phoa malah ingin menanyakan kembali akan satu
persoalan”.
“Urusan apa?”
Tadi cayhe sudah pernah terangkan
barang kawalan dari perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kami
kali ini tidak bisa dikatakan barang kawalan sebaliknya merupakan
keselamatan dari satu keluarga rakyat biasa, ada tua ada muda ada
lelaki ada perempuan, aku orang she Phoa benar-benar merasa tidak
paham, dengan nama besar Lam Thian Sam Sah, kenapa mendadak bisa
mengincar nyawa beberapa orang tua yang lemah tak bertenaga itu”.
Kendati mereka lemah, tetapi
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak lemah, barang kawalan yang
ditangani sendiri oleh kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw tentu bukannya
suatu barang kawalan yang murah harganya……” kata si dara berbaju
merah itu.
“Justeru yang tidak aku orang
pahami adalah dalam soal ini, sebenarnya kalian tiga bersaudara
sengaja mencari Liauw yang lemah gemulai tak bertenaga itu?? Ataukah
sengaja hendak mencari gara-gara dengan kami pihak perusahaan
ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok? Bilamana kalian sengaja mencari
gara-gara dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami maka urusan
mudah sekali diselesaikan, hari selanjutnya masih panjang, kita bisa
teruskan suatu hari dan bulan untuk menyelesaikan persoalan ini baik
secara damai maupun diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian
silat masing-masing, dengan begitu hal ini tidak sampai mengikut
sertakan keluarga lain yang sama sekali tidak tahu menahu urusan
apalagi bisa melemahkan nama besar kalian Lam Thian Sam Sah di dalam
dunia kangouw!”
(Bersambung Jilid ke 2)
Jilid 2
“Heey…… kau orang benar-benar
tidak malu disebut sebagai seorang jago kawakan yang banyak
pengalaman, perkataan-mu benar-benar sangat tajam sekali!” seru si
dara berbaju merah itu keras. “Bilamana kedatangan kami justeru
bertujuan pada keluarga Liuw itu, lalu kau mau apa?”
“Membuka perusahaan ekspedisi,
yang dipentingkan adalah perdagangan, pemilik barang serta langganan
membayar uang, kita lantas melindungi keselamatan mereka sekeluarga,
hal ini boleh dikata sama dengan menjual nyawa buat mereka,
“Sekalipun tidak melihat di atas wajah emas pandanglah wajah sang
Budha. “Kita sama-sama adalah orang Bu-lim, bilamana saudara bertiga
suka melepaskan diri kami hari ini, bukan saja cayhe merasa sangat
berterima kasih atas kebaikan budi kalian tiga bersaudara, yang lain
lolap tidak berani bicara sombong. Cong Piauw-tauw kami paling gemar
berkawan dengan jago-jago kangouw, enam karesidenan di daerah utara
tak seorangpun yang tidak tahu bilamana perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok kami belum pernah mengalami pembegalan, yang penting dari
kesemuanya ini sebetulnya tidak lain dikarenakan kawan-kawan kangouw
suka memberi muka kepada kami.”
“Ehmm…! Soal ini sejak semula kami
sudah berhasil memperoleh kabar yang sangatt jelas sekali, jangan
dikata Cong Piauw-tauw kalian, cukup kau si telapak besi gelang emas
Pho Hu Cong Piauw-tauw-pun sudah dipandang tinggi oleh orang-orang
yang ada di dalam enam karesidenan di daerah utara, yang jatuh
kecundang di bawah tanganpun paling sedikit ada tiga empat puluh
orang banyaknya, kalau memangnya kita berani turun tangan untuk
membegal barang kawalan kalian pada kali ini, terus terang saja
sejak semula kami sudah memperhitungkan pula atas kelihayan-nya,
berhasil atau gagal pokoknya tidak akan merugikan perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok kalian….”
“Baiklah!” seru Phoa Ceng Yan
kemudian sambil mengulapkan tangannya. “Bilamana kalian bertiga
benar-benar ada maksud untuk turun tangan menahan barang kawalan
kami, aku orang she Phoa pun tidak ingin menebalkan muka untuk
memohon lagi pada kalian Lam Thian Sam Sah pun merupakan orang yang
mempunyai muka di dalam dunia kangouw, aku harap kau suka bergebrak
sesuai dengan peraturan Bu-lim.”
“Ooouw…. membegal barang
kawalanpun masih ada peraturannya juga? waah…waah… soal ini terpaksa
siauw-moay harus minta petunjuk dari dirimu” goda si dara berbaju
merah itu sambil tertawa cekikikan.
Selama ini si lelaku kasar
bersenjata aneh serta si sastrawan berjubah biru itu tetap berdiri
di tempat semula tanpa bergerak maupun ikut berbicara barang sepatah
katapun, agaknya segala urusan sudah diserahkan kepada si dara
berbaju merah yang paling kecil ini untuk mengambil keputusan.
Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai
menghitung waktu, ketika dirasanya waktu sudah cukup bagi Nyoo Su
Jan untuk mengatur siasat penjagaan ia baru tertawa tawar.
“Harap kalian jangan melukai
langganan kami, yang mengawal benda tersebut adalah perusahaan Liong
Wie Piauw-kiok, maka dari itu kalian boleh langsung mencari aku
orang she Phoa untuk bikin beres urusan ini, hutang ada pemiliknya,
dendam ada penyebabnya, kalian janganlah sekali-kali mencelakai
langganan kami.”
“Hiii…..hiii… jika demikian
adanya, kau Pho Hu Cong Piauw-tauw agak sudah tidak mempunyai
kepercayaan lagi untuk mempertahankan barang kawalanmu kali ini
bukan?” goda si dara berbaju merah itu kembali sambil tertawa
cekikikan.
“Untuk sementara lebih baik nona
jangan menyombongkan diri terlebih dulu, siapakah yang bakal menang
dan siapa yang bakal angsor siapapun diantara kita tak bisa
menentukan mulai sekarang!”
“Heee….heee…. kalau begitu kau
boleh mulai turun tangan!”
Walaupun di dalam kalangan dunia
kangouw nama Lam Thian Sam Sah sudah terkenal akan telengasnya,
tetapi bilamana membicarakan soal pengalaman di dalam dunia
persilatan sulit untuk menangkan diri si telapak besi gelang emas.
Phoa Ceng Yan sama sekali tidak
dibuat gusar oleh perbuatan dari si dara berbaju merah itu, sembari
diam-diam melakukan persiapan ujarnya dingin, “Perkataan dari aku
orang she Phoa belum selesai…..” Tubuh si dara berbaju merah pada
saat itu sudah berada sangat dekat dengan diri Phoa Ceng Yan,
agaknya ia ada maksud untuk segera turun tangan.
Tetapi sewaktu dilihatnya Phoa
Ceng Yan belum ada maksud untuk turun tangan bahkan berbicara
kembali, terpaksa ia menahan sabar.
“Kalau begitu cepatlah kau
katakan!” teriaknya keras.
“Menurut peraturan dunia kangouw,
dengan kecemerlangan nama Lam Thian Sam Sah kalian hendak membegal
barang kawalan orang lain maka perbuatan kalian tidak lebih seperti
pencuri itik, pembegal anjing yang paling rendah derajatnya,
sekalipun ini hari aku orang she Phoa harus jatuh kecundang di
tangan kalian tiga bersaudara dan rubuh bermandikan darah, hal ini
anggap saja kepandaian ilmu silat aku orang she Phoa tidak becus dan
memang sepatutnya mati, melakukan perjalanan, di rumahpun ada
peraturan rumah, sekalipun perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita
tidak akan melaporkan peristiwa ini kepada pengadilan, harap kalian
bertiga suka mempertahankan barang-barang kawalan kami selama tiga
bulan, kemudian menyurati Cong Piauw-tauw kami untuk meminta kembali
barang-barang tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.”
“Bila tiga bulan sudah penuh?”
“Bilamana demikian adanya maka
terserah kalian hendak berbuat apa terhadap barang-barang itu,
karena dengan demikian kematian dari aku orang she Phoa sama sekali
tidak sampai merusak merek perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kamu,
bilamana nona berani menyanggupi usul ini, maka sekalipun aku orang
she Phoa harus matipun dengan puas, sedang nama dari kalian tiga
bersaudara pun tidak sampai tercemar di mata kawan-kawan Bu-lim
lainnya.
“Tetapi apakah kebaikannya dari
syarat tersebut terhadap kami tiga bersaudara?”
“Membegal ada peraturannya,
bilamana kalian Lam Thian Sam Sah tidak suka mengikuti peraturan
ini, maka kawan-kawan dari golongan Hek-to maupun Pek-to tidak akan
memandang kalian lagi…”
Mendadak ia mendongakkan kepalanya
tertawa terbahak bahak……… lalu sambungnya kembali, “Bilamana
semisalnya kalian bertiga benar-benar sekali lagi mengalahkan Cong
Piauw-tauw kami dan mempertahankan barang-barang tersebut tidak
sampai diminta kembali, maka enam kerisidenan di daerah Kiang Pak
serta dua belas perusahaan piauw-kiok beserta lainnya akan secara
rela mendekati kalian, sampai waktu itu bukan saja nama Lam Thian
Sam Sah akan cemerlang, hidup kalian-pun boleh dikata terjamin
penuh!”
“Baiklah! Kita tentukan demikian
saja,” sahut si dara berbaju merah itu kemudian setelah termenung
sebentar. “Biarlah nonamu mempertanggung jawabkan soal ini”
“Apakah nona sungguh-sungguh bisa
mengambil keputusan di dalam persoalan ini?”
“Hmm! Walaupun aku Ang Nio Cu
adalah kaum perempuan, tetapi perkataan yang sudah diucapkan keluar
selamanya tidak pernah ditarik kembali.”
“Baik! Berdasarkan perkataan dari
nona itu, loolap memuji dirimu sebagai seorang pendekar perempuan
yang gagah perkasa.”
“Heeee……heeee…… sudah habis
perkataanmu?” tanya Ang Nio Cu kemudian dengan nada yang amat
dingin.
“Perkataan dari loolap sudah
selesai!”
“Hiii…. hiii…. kalau begitu
terimalah seranganku ini!” tiba-tiba teriak Ang Nio Cu sambil
tertawa cekikikan.
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke
depan, telapak tangannya dengan menimbulkan segulung hawa pukulan
yang maha dashyat menghajar ke atas tubuh pihak lawannya.
“Serangan yang bagus” puji Phoa
Ceng Yan keras, kaki kirinya segera melesat setengah langkah ke
samping, huncwee di tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Hua
Liong Thian Cing” atau melukis Naga menutul mata melancarkan totokan
ke arah telapak tangan Ang Nio CU yang sedang melancarkan serangan.
“Nona! Ayoh gerakkan senjatamu”
teriaknya.
Di luar ia berkata demikian,
padahal dalam hati diam-diam pikirnya, “Bagus sekali! Ternyata budak
amat licik, karenaya sewaktu hendak melancarkan serangan tadi
sengaja ia memperlihatkan satu senyuman sehingga pihak lawan merasa
datangnya serangan tersebut berada di luar dugaan.”
Ang Nio Cu sewaktu melihat ayunan
huncwee dari Phoa Ceng Yan dengan amat tepat sekali berhasil
menemukan jalan darah pada pergelangan tangan kanannya dalam hati
diam-diam merasa amat terperanjat.
“Si tua bangka ini benar-benar
merupakan seorang jagoan lihay” pikirnya dalam hati. “Di dalam
sekali serangan, arah yang dituju serta sangat tepat sekali, aku
tidak boleh bersikap gegabah terhadap dirinya….”.
Tergopoh-gopoh tubuhnya berputar
mengikuti gerakkan tangan dan melayang sejauh delapan depa ke
samping.
Jagoan lihay bergebrak cukup
dengan serangan pertama sudah tau pihak musuhnya berisi atau tidak,
sewaktu Ang Nio Cu memutar badan berkelebat menyingkir ke samping
tadi dalam hati Phoa Ceng Yan sudah mempunyai perhitungan yang
sangat masak.
Ia mengetahui senjata angkin merah
dari Ang Nio Cu yang disembunyikan di balik ujung baju merupakan
suatu serangan yang aneh dan dashyat, apalagi ilmu meringankan
tubuhnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari dirinya. Gerakan
tubuhnya yang berkelebat ke samping ini pasti akan disusul dengan
suatu serangan balasan yang amat lihay.
Phoa Ceng Yan, si jago kawakan
yang banyak pengalaman, menghadapi musuh yang sangat tangguh ini ia
bersikap sangat berhati-hati, melihat musuhnya mundur dia orang sama
sekali tidak mengadakan pengejaran.
Ternyata dugaannya sedikitpun
tidak salah, begitu ujung kaki Ang Nipo Cu menginjak permukaan tanah
tanpa menoleh lagi ia melancarkan satu serangan balasan yang sangat
hebat.
Serentetan cahaya merah laksana
pelangi yang terbentang di tengah angkasa langsung menyapu datang
dengan gerakan mendatar.
Phoa Ceng Yang dengan tenang
berdiri tegak di tempat semula, menanti serangan angkin merah itu
hampir mengenai tubuhnya ia baru mencelat ke tengah udara, huncwee
di tangannya dengan menggunakan jurus “Koay Coa Jut Hiat” atau Ular
aneh keluar dari sarang menoton ke arah tubuh musuhnya.
Di dalam hal ilmu silat, yang
penting adalah kecermatan pandangan serta kecepatan gerak, siapa
cepat dia yang berhasil merebut posisi menguntungkan.
Tubuh Phoa Ceng Yan yang mencelat
ke tengah udara ini dengan tepat berhasil mengisi kekosongan ruangan
di antara kelebatan angkin merah dari Ang Nio Cu tersebut.
Tidak malu Ang Nio Cu disebut
jagoan lihay, melihat posisinya tidak menguntungkan dan serangan
musuh melanda sangat dashyat, angkin merahnya yang sedang
melancarkan serangan tadi dengan mengikuti gerakan tubuh berputar
satu lingkaran besar, sedang tubuhnya mengambil kesempatan tersebut
mencelat dan bersalto beberapa kali di tengah udara sejauh satu kaki
sehingga berhasil menghindarkan diri datangnya serangan tersebut.
“Hmmm! Ilmu meringankan tubuh nona
sungguh hebat sekali!” dengus Phoa Ceng Yan dingin.
Ang Nio Cu yang beberapa kali
kehilangan posisi yang menguntungkan, dari perasaan malu ia jadi
gusar. Angkin merahnya kembali disentakkan lalu menggulung ke depan
dengan gerakan mendatar.
Di dalam hati Phoa Ceng Yan sudah
punya perhitungan, bilamana di dalam tiga lima gebrakan lagi dirinya
berdasarkan pengalaman yang banyak di dalam menghadapi beratus-ratus
kali pertempuran berhasil menangkap Ang Nio Cu untuk dijadikan
sandaran bukan saja keselamatan Giok Liong akan terjamin, bahkan
dengan mengandalkan keselamatan perempuan ini ada kemungkinan sekali
barang kawalannya berhasil melewati rintangan ini dengan selamat.
Tetapi di dalam hati iapun merasa
sangat paham, si orang berbaju hitam serta sang pemuda berjubah biru
itu tidak akan membiarkan Ang Nio Cu kena dia tawan tanpa turun
tangan memberi pertolongan, oleh karena itu satu-satunya harapan
yang bisa ia pegang untuk memperoleh kemenangan ini adalah
mengandalkan gerakan yang “Cepat”.
Cepat sehingga kedua orang itu
tidak sempat turun tangan memberi bantuan, bilamana semisalnya
kekuatan musuh terlalu kuat dan sulit untuk mencapai sesuatu keadaan
sesuai keinginannya maka terpaksa ia harus mengundurkan diri ke
tempat perhentian kereta-kereta kawalannya kemudia dengan
menggunakan tenaga gabungan dari Nyoo Su Jan serta Thio Toa Hauw
bersama-sama mengandalkan perlawanan sekuat tenaga.
Setelah si orang tua ini
merencanakan siasat maju mundurnya dalam hati, hawa murninya dengan
cepat disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh tubuh.
Kuda-kudanya diperkuat, huncwee
ditangannya diangkat menyambut datangnya serangan tersebut.
Melihat gerakan dari pihak
lawannya, diam-diam Ang Nio Cu memaki.
“Si tua bangka ini benar-benar
amat sombong!”
Angkinnya diputar, dengan
kecepatan laksana kilat mengurung huncwee tersebut.
Gerakannya ini dilakukan sangat
cepat sekali, tahu-tahu angkin sudah mengikat sang huncwee erat-erat
dan ditarik, dengan sekuat tenaga ke arah belakang.
Segulung tenaga yang amat besar
segera membetot tubuh si orang tua itu maju ke depan.
Walaupun sejak semula Phoa Ceng
Yan sudah mengadakan persiapan, tidak urung badannya kena ditarik
juga sehingga meninggalkan permukaan tanah oleh betotan angkin dari
Ang Nio Cu itu.
Diam-diam hatinya merasa amat
terperanjat pikirnya. “Aaakh …..! Sungguh tidak kusangka budak
ini mempunyai tenaga dalam yang demikian dashyatnya.”
Dengan cepat kaki kirinya maju
selangkah ke depan, sedang tangan kirinya diayun sambil membentak.
“Nona! Lihat serangan.”
Tiga titik cahaya emas yang
menyilaukan mata dengan cepat laksana kilat menyambar tubuh Ang Nio
Cu.
Phoa Ceng Yan terkenal sebagai si
telapak besi gelang emas, kecuali memiliki ilmu pukulan Thiat Sah
Ciang yang amat lihay, senjata rahasia gelang emasnya boleh dikata
merupakan suatu ilmu tunggal yang tiaada tandingannya.
Jarang sekali ada jagoan Bu-lim
yang berhasil meloloskan diri dari serangan senjata rahasia gelang
emasnya ini dan jarang pula ada yang berani melihat di manakah
gelang-gelang emas itu disembunyikan.
Tampaklah di antara ayunan
tangannya gelang-gelang emas beterbangan laksana kilat bahkan
gelang-gelang itu disambit sesuai dengan jurus serangan yang
digunakan sehingga boleh dikata kedashyatannya sulit untuk dicarikan
tandingannya.
Dengan mengandalkan angkin
merahnya yang lemas Ang Nio CU dapat menahan serangan golok serta
pedang tajam, kesemuanya ini dikarenakan ia sudah mengandalkan jurus
serangan yang aneh serta pengerahan tenaga dalam yang tepat pada
waktunya.
Tetapi Phoa Ceng Yan sudah
mengadakan persiapan sejak semula, ia mengerahkan ilmu bobot seribu
katinya untuk memantek sepasang kaki di atas tanah, kedua buah
kakinya ini seperti tiang kayu yang tertanam di tanah saja
sedikitpun tak dapat tergeser.
Sewaktu Ang Nio Cu melihat
datangnya serangan Huncwee tadi, ia sudah merasa dirinya bertemu
musuh tangguh sehingga angkinnya buru-buru ditarik kembali, siapa
sangka ketika itulah gelang emas dari Phoa Ceng Yan dengan
menimbulkjan suara desiran tajam sudah mengancam datang.
Jarak antara mereka berdua sangat
dekat sekali, datangnya serangan gelang emas itupun cepatnya luar
biasa memaksa Ang Nio Cu dalam keadaan kepepet harus mengeluarkan
ilmu “Thian Pan Kiauw” atau jembatan gantung yang merupakan ilmu
pantangan bagi kaum wanita.
Tubuhnya menjatuhkan diri ke arah
belakang dengan punggung menempel di atas permukaan salju.
Kendati perubahan geraknya
dilakukan sangat cepat, tidak urung pundaknya kena tersambar juga
oleh sebatang gelang emas sehingga pakaian merahnya robek dan
melukai tubuhnya.
Bilamana misalnya pada waktu itu
Phoa Ceng Yan menambahi lagi beberapa batang gelang emas maka Ang
Nio Cu tak dapat terhindar lagi pasti akan menderita luka yang amat
parah.
Tetapi hatinya welas kasih dan
tidak ingin turun tangan jahat terhadap gadis itu, ia hanya
mengharapkan bisa menawan Ang Nio Cu hidup-hidup untuk digunakan
sebagai sandera.
Tubuhnya dengan cepat menubruk
maju ke depan, Huncwee di tangannya menekan ke arah bawah menotok
tubuh Ang Nio Cu.
Di dalam keadaan yang amat kritis
ini, gadis berbaju merah itu sama sekali tidak jadi gugup. Ilmu
meringankan tubuhnya yang sangat sempurna dengan cepat disalurkan
keluar.
Tampak tubuhnya berputar
menghindar diri dari totokan huncwee di tangan Phoa Ceng Yan
kemudian mencelat bangun dari atas tanah.
Bayangan merah berkelabat secepat
angin berlalu, tahu-tahu tubuhnya sudah berada satu kaki di tengah
udara, di mana tangannya berkelabat angkin merahnya laksana seekor
ular melibat tangan kiri dari si orang tua itu.
Diam-diam Phoa Ceng Yan berteriak
sayang, tangan kirinya dibalik lima jarinya dipentangkan
mencengkeram angkin tersebut dengan sebatnya.
Tetapi gerakan dari Ang Nio Cu
jauh lebih cepat dari dirinyam mengambil kesempatan itu tangannya
menyerok ke depan dengan sepenuh tenaga.
Phoa Ceng Yan kontan merasakan
tubuhnya tak dapat berdiri tegak lagi dan terlempar empat lima depa
ke depan kemudian jatuh terlentang di atas tanah.
Melihat musuhnya jatuh, Ang Nio Cu
tidak kasih banyak kesempatan lagi buat lawannya untuk banyak
berkutik, angkinnya kembali digetarkan mengancam sepasang kaki si
orang tua itu.
Phoa Ceng Yan sejak terjunkan
dirinya ke dalam dunia kangouw pada dua puluh tahun yang lalu, belum
pernah dia orang jatuh kecundang seperti ini hari, dalam hati
sedihnya bukan alang kepalang.
Tetapi pertempuran ini bukanlah
suatu pertandingan pi-bu yang dianggap selesai setelah kena ditutul,
walaupun dalam hati ia merasa amat sedih iapun harus bangkitkan
semangat kembali untuk melawan musuh.
Melihat Angkin merah dari Ang Nio
CU kembali menyambar datang, hatinya merasa berdesir. Ia tahu
bilamana kali ini sepasang kakinya kena tergulung kembali maka
geguyon ini tidak akan kecil.
Tubuhnya bukan saja terlempar
sejauh satu kaki saja, kemungkinana sekali ia akan terpental dan
jatuh terjengkang seperti monyet menubruk katak.
Karena itu buru-buru tangannya
diayun ke depan, empat batang gelang emas dengan menimbulkan suara
desiran tajam menyambar ke arah depan.
Tidak lama berselang Ang Nio Cu
sudah merasakan pahit getir di bawah serangan gelang emas itu
karenanya ia tahu lihay dan tak berani melanjutkan serangannya
kembali.
Tubuhnya buru-buru berkelit ke
samping menghindarkan diri dari datangnya serangan senjata rahasia,
kemudian mencelat ke tengah udara sejauh enam tujuh depa dari tempat
semula.
Sewaktu Ang Nio Cu berkelebat
untuk menghindarkan diri itulah, ditengah permukaan salju kembali
terlihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia dengan amat
cepatnya.
Dengan kebutan kipas yang membuka
menutup, tahu-tahu keempat batang gelang emas dari Phoa Ceng Yan
sudah kena tersapu lenyap tak berbekas.
Waktu itu Phoa Ceng Yang sudah
berhasil bangun berdiri, ketika ia mengalihkan pandangannya maka
tampaklah di posisi tubuh Ang Nio Cu pada saat itu telah berdirilah
si siaucay berwajah putih berjubah biru itu dengan amat tenang.
Si siucay berbaju biru itu
mendadak membentangkan kipasnya lebar-lebar sehingga keempat gelang
emas yang kena tersapu tadi jatuh ke atas permukaan salju, kemudian
tertawa terbahak-bahak dengan keras.
“Haaa….haaa……. walaupun sam moay
berhasil kau babat pundaknya sehingga terluka tetapi kau sudah seri
dengan menjatuhkan dirinya sehingga tertelentang. Walaupun tidak
bisa dikata memperoleh kemenangan besar, tetapi kaupun tidak
dikalahkan, coba kau berdirilah di samping untuk menjagakan Jie
komu, aku ingin mencoba=coba dia orang sudah membawa seberapa banyak
gelang emas,”katanya.
Phoa Ceng Yan yang melihat dia
orang dapat menyapu keempat batang gelang emasnya di dalam sekali
sambaran tanpa menimbulkan suara sedikitpun, dalam hati merasa amat
terperanjat, pikirnya.
“Orang ini dapat menyapu keempat
batang gelang emasku tanpa menimbulkan sedikit suarapun, hanya
mengandalkan kepandaian ini saja aku sudah merasa tak berhasil
memadahinya.”
Dia orang mana tahu bila kipas
yang ada ditangan Loojie dari Lam Thian Sam Sah ini terbuat dari
serat emas, serat perak, serta serat rambut dan merupakan sebuah
senjata yang sangat aneh khusus untuk menghadapi berbagai senjata
rahasia.
Permukaan kipas yang keras tapi
halus itu mempunyai daya pental yang amat besar, sekalipun senjata
rahasia tajamnya bagaimanapun sulit untuk merusak permukaan kipas
tersebut apalagi mengeluarkan suara.
Walaupun dalam hati Phoa Ceng Yan
merasa sangat kaget, tetapi urusan sudah ada di depan mata sudah
tentu ia tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali secara diam-diam
menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh.
“Haa……haa…..kawan!” serunya sambil
tertawa terbahak-bahak. “Kepandaianmu di dalam menyikat senjata
rahasia sangat lihay sekali, aku orang she Phoa sudah hidup setengah
abad lamanya tetapi baru kali ini dapat melihat kepandaian tersebut
untuk pertama kalinya.”
“Haaa…..haaa….. bilamana kami Lam
Thian Sam Sah tidak memiliki sedikit andalan, bagaimana mungkin
berani mengganggu barang kawalan dari piauw-kiok nomor satu pada
saat ini??” seru si siucay berbaju biru itu pula sambil tertawa
terbahak-bahak. “Kau si telapak besi gelang emas saat ini sudah
membawa berapa banyak gelang emas haaaaaa?? Ayo keluarkan semua!
Jika kau belum pernah melihat kepandaian semacam ini, maka ini hari
aku akan pamerkan kepandaian tersebut di hadapanmu”.
“Hmm!” dengus Phoa Ceng Yan
dingin. “CUkup berdasarkan perkataan yang baru saja kawan ucapkan
ini seharusnya aku orang she Phoa minta beberapa petunjuk darimu,
cuma …. kali ini aku orang she Phoa sedang mempertanggung jawabkan
nyawa puluhan orang, biarlah kemangkelan kali ini cayhe tahan sampai
lain waktu, bilamana di kemudian hari kita bertemu muka lagi maka
ganjelan kita kali ini sekalian kita selesaikan”.
“Heee……heee…… bagus sekali ,” ujar
si siucay berbaju biru itu sambil tertawa dingin. “Bilamana kita
lewatkan kesempatan yang amat bagus ini kali, kemungkinan sekali di
kemudian hari sudah tak ada waktu lagi untuk bertemu ……”
Mendadak air mukanya berubah
hebat, dengan nada yang amat dingin sambungnya,”Kau sudah melanggar
pantangan dari Loo toa kami, hal ini berarti pula kau mencari
penyakit dan kemusnahan buat diri sendiri….”.
Dengan paksakan diri menahan rasa
gusar di dalam hatinya, Phoa Ceng Yan segera merangkap tangannya
menjura.”Tadi aku sudah membicarakan persoalan ini dengan Sam ku
Nio, harap kalian suka menggunakan peraturan Bu-lim untuk melakukan
pekerjaan ini. Lam Thian Sam Sah bukanlah manusia tak bernama di
dalam dunia kangouw dan kemudian hari masih ingin tancapkan kaki
terus di dalam Bu-lim, maka dari itu bilamana kalian hendak membegal
barang kawalanku maka Loolap berharap jangan membunuh orang-orang
yang tak bertenaga untuk memotong seekor ayampun, sedang mengenai
nyawa dari piauw-su piauw-su piauw-kiok, bilamana kalian mau bunuh
bunuhlah, paling-paling kami harus kehilangan selembar nyawa!”
Tidak menanti jawaban dari si
siucay berbaju biru itu lagi, tubuhnya segera meloncat keluar dari
kalangan dan mengundurkan diri ke arah pemberhentian kereta-kerata
tersebut.
Tindakan dari Hu Cong Piauw-tauw
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini benar-benar di luar dugaan si
siucay berbaju biru serta Ang Nio CU, tak terasa lagi mereka jadi
terkesima dibuatnya.
Beberapa saat kemudian dengan
langkah yang lambat Ang Nio Cu berjalan ke sisi si siucay berjubah
biru itu sambil bisiknya, “Jie-ko! Phoa Ceng Yan bukan saja memiliki
kepandaian ilmu silat yang sangat lihay bahkan mempunyai kecerdikan
yang melebihi orang lain, pengetahuannya di dalam menghadapi
musuh-pun sangat luas, kita tidak boleh terlalu pandang enteng
dirinya. Kini dia orang telah mengundurkan diri ke tempat
pemberhentian kereta-kereta kawalannya, hal ini jelas memperlihatkan
bila ia sedang mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melakukan suatu
pertempuran mati-matian melawan diri kita ……!”
“Ilmu menyambit senjata rahasia
gelang emas yang diandalkan oleh Phoa Ceng Yan memang lain daripada
yang lain dan ilmu tersebut benar-benar merupakan sebuah ilmu yang
maha sakti,” kata si siucay berbaju biru itu sambil tertawa.
“Tetapi, setelah bertemu dengan aku orang dikata hari sial baginya
sudah tiba. Kipas tulang bajaku ini memang khusus digunakan untuk
menghadapi serangan-serangan senjata rahasia, di dalam ilmu
kepandaian ini saja Jie-komu sudah ada empat lima belas tahun
latihan, aku rasa senjata rahasia yang ada di dalam kolong langit
pada saat ini dapat siau heng hadapi semua, ayoh jalan! Kita kejar
mereka dan lihat keadaan situasi yang ada, jauh lebih baik bilamana
jangan membiarkan Toa-ko turun tangan sendiri.
Mereka berdua sembari berbicara
sembari melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar menuju ke
tempat pemberhentian kereta-kereta kawalan itu.
Lam Thian Sam Sah walaupun belum
mempunyai pengalaman yang sangat banyak di dalam menghadapi
pertempuran, tetapi setelah melihat bentuk posisi dari kereta-kereta
kawalan itu diam-diam dalam hati merasa terperanjat juga sehingga
kedua orang itu sudah menghentikan langkahnya pada jarak kurang
lebih empat lima kaki dari kereta-kereta itu.
Kiranya, kelima buah kereta
tersebut dengan mengikuti kedudukan Ngo Heng kini sudah diatur
sangat rapi sekali, kuda-kuda jempolan penghela kereta-pun telah
dilepaskan semua.
Salju turun dengan derasnya,
barisan kereta yang ada di depan mata serasa semakin menyeramkan
bahkan secara samar-samar tersembunyi hawa membunuh yang sangat
tebal.
Terdengar si siucay berbaju biru
itu mendehem perlahan.
“Sam-moay, barisan kereta-kereta
itu agaknya mempunyai perubahan yang sangat banyak sekali” katanya.
“Ehmm…” begini saja, biarlah
siauw-moay pergi mencoba terlebih dulu sedang Ji-ko mengawasi dari
samping, bilamana sudah menemukan titik kelemahan kau baru turun
tangan” sahut Ang Nio Cu kemudian.
Ia merasa ilmu meringankan
tubuhnya sangat sempurna, maka dari itu dalam hati ada maksud hendak
memancing bergeraknya barisan-barisan itu sehingga memberi
kesempatan buat si siucay berbaju biru itu untuk memeriksa
titik-titik kelemahannya.
“Tidak bisa jadi” seru sastrawan
berbaju biru itu menggeleng tiada hentinya. “Lebih baik aku saja
yang pergi memeriksa kekuatan dari pihak musuh. Menurut pikiranku
bila kita berjalan mendekat ke arah sana maka orang-orang di balik
barisan kereta-kereta ini tentu akan mengandal ilmu menyambit
senjata rahasia untuk mengacaukan pikiran musuh, aku percaya kipasku
ini masih merupakan tandingan dari senjata-senjata rahasia mereka.
Sam-moay! Kau awasi saja dari samping kalangan.”
Dengan cepat ia bentangkan
kipasnya kemudian dengan lambat-lambat berjalan ke arah barisan
kereta itu.
Ang Nio Cu yang mendengar
perkataan Jie-konya sangat cengli, iapun segera mengangguk.
“Jie-k0, kau harus berhati-hati”
pesannya.
“Tidak bakal konyol!” sahut si
sastrawan berbaju biru itu sambil tertawa.
Walaupun begitu, dalam ati ia
tidak berani pula terlalu memandang enteng pihak musuh, diam-diam
hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.
Kurang lebih setelah ia tiba dua
kaki dari barisan kereta, anak panah mulai berdesiran dan menyambar
datang cepat laksana sambaran kilat.
Si sastrawan berbaju biru itu
segera menggerakkan kipasnya untuk menangkis, kedua batang anak
panah tersebut kontan saja kena tertahan.
Walaupun sastrawan tersebut
berhasil memukul jatuh senjata rahasia yang datang menyambar tidak
urung iapun merasa bila kekuatan dari sambaran anak panah tersebut
benar-benar luar biasa hebatnya, bahkan lain keadaannya dengan
penyambitan senjata rahasia biasa. Tak terasa ia sudah menghentikan
langkahnya.
“Eeeeei……… kenapa kau berhenti?”
seru Ang Nio Cu sambil mengejar datang.
“Di balik kereta-kereta itu sudah
menyembunyikan jaga-jago memanah yang sangat lihay disamping si
telapak besi serta kedua orang piauwsunya, bilamana kita menerjang
lebih dekat ke arah kereta-kereta itu, di bawah serangan anak panah
serta senjata rahasia yang gencar, tidak urung pikiran kita akan
bercabang pula, bila demikian adanya maka keadaan kita pada waktu
itu sangat berbahaya, kita tidak bakal sanggup untuk menahan
serangan gabungan dari si telapak besi gelang emas beserta kedua
orang Piauw-tauw-nya.
“Perkataan Jie ko sedikitpun tidak
salah,” kata Ang Nio Cu sambil mengerutkan alisnya. “Bilamana kita
tidak berhasil menghadapi mereka dengan saling berhadap-hadapan,
maka terpaksa Toako harus ikut campur.”
“Nanti dulu ….. jangan gugup!”
“Kenapa?” tanya sang dara berbaju
merah itu sambil tertawa. “di dalam cuaca yang sedemikian dinginnya
ini, Siauw moay tidak ingin merasa kedinginan terlalu lama di atas
permukaan salju.
“Aku sedang memikirkan suatu cara
untuk mendekati kereta-kereta tersebut, atau paling sedikit harus
memberi sedikit pukulan kepada mereka…”
Sewaktu mereka berdua lagi
berbicara itulah, mendadak terasa sambaran angin tajam memenuhi
angkasa, empat batang anak panah dengan menimbulkan suara desiran
yang santer bersama sama menerjang datang.
Ang Nio CU kerahkan hawa murninya,
mendadak sang tubuh mencelat setinggi beberapa kaki, kedua batang
anak panah itu dengan membawa cahaya keemas-emasan yang
bergemerlapan kontan menyambar lewat dari bawah kakinya.
Sedang si sastrawan berbaju biru
itu dengan menggunakan cara yang lama menyampok jatuh kedua batang
anak panah yang datang dengan dengan menggunakan sang kipas di
tangannya.
Ang Nio Cu setelah berhasil
menghindarkan diri dari datangnya serangan anak panah itu, ia sama
sekali tidak mengundurkan dirinya ke belakang.
Tubuhnya dengan cepat bersalto
beberapa kali di tengah udara kemudian langsung menubruk ke arah
kereta berkuda itu.
Melihat kejadian itu si sastrawan
berbaju biru jadi sangat kaget.
“Celaka!” teriaknya keras.
Dengan menggunakan senjata
kipasnya melindungi dada, tubuhnya segera bergerak pula menerjang ke
arah barisan kereta tersebut.
Pada saat itulah terdengar suara
desiran tajam memekikkan telinga, berpuluh-puluh batang anak panah
dengan cepatnya menyambar datang mengancam seluruh tubuhnya.
Si sastrawan berbaju biru itu
dengan cepat menggerakkan kipasnya membentuk selapis bayangan rapat
melindungi seluruh tubuh, sedang badannya melanjutkan terjangan
mendekati kereta-kereta itu.
Terdengar suara bentakan yang
keras serasa halilintar yang membelah bumi, sebuah senjata rantai
berkepala martil dengan dahsyatnya menggulung ke depan.
Sang sastrawan berbaju biru yang
merasa datangnya serangan martil tersebut sangat dahsyat dan aneh,
ia tidak berani terlalu memandang enteng musuhnya.
Sambil menarik napas
panjang-panjang, tubuhnya mencelat ke atas dan melayang turun ke
atas kereta yang lain.
Thio Toa Hauw yang melihat
serangannya tidak mencapai pada sasaran, tubuhnya segera munculkan
diri dari balik kereta, tangan kanannya disentak menarik kembali
martilnya.
Senjata rantai berkepala martil
ini sebenarnya merupakan suatu senjata aneh yang luar biasa
dahsyatnya, apalagi bila dibentangkan di sebuah lapangan yang luas,
tetapi di dalam situasi yang begitu rapat dan sempit, senjata
tersebut malah terasa sangat merepotkan sekali.
Si sastrawan berbaju biru itu
setelah berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan martil,
kipasnya mendadak dibentangkan lebar-lebar. Dua rentetan cahaya yang
gemerlapan segera melesat keluar menembusi angkasa.
Kiranya senjata kipasnya ini bukan
saja khusus digunakan untuk menggagalkan serangan senjata rahasia,
bahkan dibalik tabung besi tersembunyi pula alat rahasia yang dapat
melancarkan serangan senjata rahasia.
Perawakan tubuh Thio Toa Hauw
tinggi besar, sehingga membuat serangannya sudah tidak begitu gesit,
apalagi serangan senjata rahasia dari si sastrawan berbaju biru itu
amat kecil dan sama sekali tak bersuara.
Ia Cuma merasakan sepasang
lengannya jadi kaku, masing-masing bagiannya sudah kena terhajar
sebatang jarum halus.
Walaupun dia adalah seorang yang
rada bebal, tetapi pengalamannya selama berpuluh tahun membuat
pengetahuannya-pun sangat luas, setelah terkena hajaran senjata
rahasia jarum halus itu, ia lantas merasa bila jarum itu sudah
dipolesi dengan racun, tak terasa lagi segera teriaknya keras,
“Eeeei…… hati-hati! Jarum Bwe Hoa Tin dari bangsat cilik ini sudah
dipolesi dengan racun.”
Sembari berteriak ia tidak
berpeluk tangan begitu saja rantai berkepala martil-nya kembali
disapu ke atas tubuh sastrawan berbaju biru itu dengan gerakan
sangat dashyat.
Thio Toa Hauw memang dilahirkan
mempunyai tenaga dalam yang sangat mengejutkan, tetapi penggunaan
tenaga dalamnya sangat terbatas sekali dan tidak mengerti cara
menutup jalan darah, ditambah pula racun dari sastrawan berbaju biru
itu sangat dashyat, daya bekerjanya amat cepat sekali.
Belum sempat senjata rantai
berkepala martilnya mencapai pada sasaran, tubuhnya sudah tidak ada
tenaga lagi. Dengan menimbulkan suara yang amat keras ia rubuh ke
atas tanah.
Tindakan dari si sastrawan berbaju
biru itu ternyata cukup telengas, berkali-kali ia memencet alat
rahasianya melancarkan serangan jarum beracun secara berantai.
Para jagoan yang sedang
bersembunyi di balik kereta dengan cepatnya berhasil ia lukai
sebanyak lima-enam orang.
Seluruh kejadian ini berlangsung
hanya dalam sekejap mata, Nyoo Su Jan waktu itu sudah berhasil
meloncat naik ke atas wuwungan kereta, dengan mengandalkan senjata
sepasang Poan-Koan-pit-nya ia menyerang si sastrawan berbaju biru
itu dengan kejarannya sehingga terdesak turun dari kereta dan
melangsungkan suatu pertempuran yang amat sengit di atas permukaan
salju.
Sebaliknya Ang Nio Cu yang
mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna berjumpalitan
beberapa kali di tengah udara menghindari datangnya serangan anak
panah, tangan kanannya segera diajukan ke depan mengeluarkan sang
angkin merahnya mengikat kencang di atas kereta, kemudian dengan
meminjam kekuatan tersebut tubuhnya melayang ke depan pintu kereta
membuka horden dan mencengkeram keluar seorang wanita yang berusia
empat puluh tiga-empat tahunan.
Hujien itu memakai baju berwarna
biru dengan celana biri, sepatunya berwarna merah menyolok dengan
tusuk konde pualam menghiasi rambutnya, tubuhnya yang kena
dicengkeram Ang Nio CU kelihatan gemetar sangat keras, air mukanya
berubah pucat pasi bagaikan mayat.
Pada saat Ang Nio Cu berhasil
mencengkeram keluar wanita perlente itulah, dua batang gelang emas
dengan santar dan dashyat-nya sudah menyambar datang mengancam
pelipis kanan dari perempuan tersebut.
Buru-buru Ang Nio CU miringkan
kepalanya ke samping, gelang-gelang emas tadi dengan dashyatnya
menyambar lewat.
Walaupun tidak berhasil menghajar
pelipisnya, tidak utung kain pengikat kepalanya kena terhajar putus
sehingga rambutnya yang panjang terurai ke bawah.
Phoa Ceng Yan dengan cepat
meloncat datang, di atas punggungnya terikat sebuah buntalan putih
yang sangat besar.
“Ang Nio Cu!” terdengar ia
membentak keras,”Liauw Hujien tidak paham ilmu silat, bukankah
kalian sudah menyanggupi untuk tidak melukai langganan kami
heem! Ayo cepat lepas tangan!”
Ang Nio Cu sudah pernah merasakan
kelihayan dari gelang-gelang emas tersebut, karenanya ia merasa rada
jeri juga terhadap si orang tua itu. Dengan cepat tangan kirinya
menyambar melintangkan tubuh Liauw Hujien ke depan tubuhnya sendiri.
“He….he …. sedikitpun tidak salah,
Liauw Hujien memang tidak bisa ilmu silat” serunya dingin. “Jikalau
kau berani melancarkan sebatang gelang emas lagi maka benda tersebut
akan berubah menjadi benda pencabut nyawa bagi Liauw Hujien!”
Pada jarak yang sedemikian
dekatnya ini bilamana semisalnya Phoa Ceng Yan benar-benar
melancarkan serangan gelang emas dengan menggunakan gerakan yang
aneh, sekalipun ilmu meringankan tubuh dari Ang Nio Cu lebih
lihaypun jangan harap bisa meloloskan dengan selamat.
Tetapi setelah melihat tindakan
dara berbaju merah itu, karena takut sampai melukai Liauw Hujien
maka si orang tua itu jadi ragu-ragu untuk turun tangan.
Pada saat itulah dari balik kereta
sebelah timur berkumandang keluar suara seseorang yang sangat berat
dan keren, “Phoa Piauw-tauw! Kau tidak usah mengurusi keselamatan
dari istriku lagi, cepat bawa barang itu untuk berusaha lolos dari
sini!”
“Bila Thayjien sudah putuskan
demikian cayhe terpaksa akan mengikuti perintah saja.” jawab Phoa
Ceng Yan kemudian sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah.
Tubuhnya dengan ringan segera
mencelat ke tengah udara dan melarikan diri ke arah sebelah timur.
Sewaktu tubuhnya sedang melayang
ke arah depan itulah, mendadak kembali tampak sesosok bayangan
manusia menyambut kedatangannya dengan cepat.
Dalam hati si orang tua itu merasa
sangat kaget, dengan cepat ia menggerakkan tangannya melancarkan
satu pukulan ke depan.
Orang itupun tidak mau
memperhatikan kelemahannya, melihat datangnya serangan tersebut
dengan cepat iapun balas mengirim satu pukulan menerima datangnya
serangan musuh dengan keras lawan keras.
“Braaaaaak…..!” dengan menimbulkan
suara bentrokan yang amat keras, tubuh mereka sama-sama tergetar
mundur ke belakang sejauh beberapa langkah.
Bentrokan kali ini ternyata
menghasilkan seri, sedang kedua sosok bayangan manusia itupun
bersama-sama melayang turun ke atas permukaan tanah.
Ketika Phoa Ceng Yan mendongakkan
kepalanya, maka tampaklah si orang berbaju hitam yang tangan
kanannya menggembol senjata aneh seperti lengan bocah itu sudah
berdiri di hadapannya dengan angker, dia bukan lain adalah Loo-toa
dari Lam Thian Sam Sah.
Diam-diam hatinya merasa berdesir
juga setelah menghadapi situasi seperti ini, pikirnya, “Senjata aneh
tersebut masih tergembol di tangan kanan, hal ini mengartikan juga
bila pukulanku tadi sudah diterima dengan tangan kirinya, walaupun
bentrokan barusan belum dapat menentukan siapa yang menang siapa
yang kalah, tetapi orang lain menggunakan tangan kanan, jelas tenaga
dalamnya jauh melebihi Ang Nio CU serta si sastrawan berbaju biru
dan jauh lebih tinggi setingkat dari tenaga dalamku……”
Belum habis ia berpikir si orang
berbaju hitam itu sudah menegur kembali dengan suaranya yang sangat
dingin.
“Heee…….he…… Phoa Ceng Yan, kau
tidak bakal lolos dari tanganku, kau tidak mau mendengarkan
peringatan cayhe dan sengaja berbuat sesuka hatimu, hal ini
menandakan bila kalian memang sengaja mencari penyakit sendiri. Hmm!
Terus terang saja aku beritahukan, yang aku mau sebenarnya cuma
barang itu saja, tetapi sekarang! Akupun hendan menahan kalian
orang-orang dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”
Diam-diam Phoa Ceng Yan menarik
napas panjang-panjang, ketika sinar matanya berputar menyapu sekejap
ke sekeliling tempat itu, maka tampaklah Ang Nio Cu sembari
mencengkeram tubuh Liauw Hujien, angkin merah di tangan kirinya
berkelebat tiada hentinya ke sana kemari.
Setiap orang yang mendekati
dirinya tentu terhajar pental sehingga jungkir balik halnya di dalam
sekejap mata sudah ada dua tiga orang yang jatuh tidak sadarkan
diri, hal ini membuat si orang tua itu diam-diam menghela napas
panjang.
“Heee….. kali ini aku
sudah pasti akan jatuh kecundang ditangan orang lain” pikirnya
diam-diam. “Beberapa orang anak buahku walaupun lihay, tetapi
setelah bertemu dengan beberapa jagoan lihay ini tidak lain hanya
menghantar nyawa sendiri saja, lebih baik aku suruh mereka
berhenti.”
Karena itu dengan cepat ia
membentak keras, “Heeeei…. kalian bukan tandingan dari Ang Nio Cu,
tidak usah majukan diri untuk menghantar nyawa lagi.”
Beberapa orang jagoan dari
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang sedang mengurung Ang Nio Cu pun
di dalam hatinya mengerti sangat jelas, jangan dikata bergebrak
dengan orang lain, sekalipun untuk mendekatipun sudah susah.
Tetapi peraturan perusahaan yang
keras membuat mereka tidak berani mundur, sekalipun jelas mengerti
bila mereka ngotot maju juga maka yang didapat tak ada, tetapi
sebelum menerima perintah dari Piauw-tauw-nya mereka terpaksa harus
mengadu jiwa bergebrak juga.
Kini sesudah Phoa Ceng Yan
membentak keras, beberapa orang itupun segera menghentikan
serangannya.
Kini di tengah kalangan tinggal
Nyoo Su Jan seorang saja yang masih bergebrak dengan sengitnya
melawan si sastrawan berbaju biru itu.
“Heee…heee… Phoa Hu Cong
Piauw-tauw ternyata benar-banar merupakan seorang jago kawakan,
dengan cepatnya bisa mengetahui keadaan sendiri” ejek si orang
berbaju hitam itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Mendengar ejekan tersebut, air
muka Phoa Ceng Yan segera berubah hebat.
“Hmmm! Cayhe masih hendak
melangsungkan satu pertempuran sengit dengan dirimu!” serunya.
“Soal ini sudah tentu akan Cayhe
layani… cuma aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, orang yang
kau perintahkan untuk melaporkan peristiwa ini kepada perusahaan
cabang sudah berhasil Cayhe tawan kembali.”
Kiranya setelah Phoa Ceng Yan
mengundurkan diri ke tempat pemberhentian kereta kawalannya tadi, ia
segera mengirim Ih Coen untuk segera berangkat minta bala bantuan
dari perusahaan-perusahaan cabang yang ada disekeliling tempat itu
sekalian memberi laporan kepada Cong Piauw-tauw.
Walaupun perusahaan Liong Wie
Piauw-kiok bukan sebuah partai atau perkumpulan di dalam dunia
kangouw, tetapi dikarenakan kedudukan Cong Piauw-tauw mereka yang
sangat tinggi, cabang yang sangat banyak dan kekuatan yang amat
besar, maka di sekitar daerah utara mempunyai pengaruh yang sangat
luas.
Dalam hati Phoa Ceng Yan mengerti,
asalkan berita ini bisa disampaikan ke tangan perusahaan cabang maka
pihak cabang segera akan mengirim laporan ini ke tangan Cong
Piauw-tauw mereka dengan menggunakan burung merpati.
Sedang dirinya dengan Thio Toa
Hauw dan Nyoo Su Jan ditambah dengan delapan orang pemanah-pemanah
jagoan bilamana bertahan dengan sekuat tenaga sekalipun tidak
berhasil menangkan musuh, sedikit-dikitnya masih bisa bertahan
beberapa saat lamanya.
Siapa sangka Liauw Thayjien
ternyata sudah mengundang ia masuk ke dalam kereta sambil berkata,
“Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Aku dengar selama puluhan tahun ini
perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian belum pernah menemui suatu
peristiwa-pun di dalam pengiriman barang, karena itu aku menolak
pengawalan tentara kerajaan sebaliknya minta perusahaan kalian…..”
“Peristiwa ini terjadi di luar
dugaan” sambung Phoa Ceng Yan buru-buru. “Orang ini selamanya belum
pernah bergerak di sekeliling daerah utara terutama di dalam keenam
keresiden di sekitar sini, tetapi Liauw Thayjien jangan kuatir, kami
akan mengerahkan seluruh tenaga yang ada untuk melindungi
keselamatan Thayjien sekeluarga.”
Liauw Thayjien tertawa tawar.
“Urusan sudah berdiri di depan
mata, aku-pun tidak ingin menyalahkan kalian, walaupun aku sudah
menjabat sebagai pembesar selama setengah abad lamanya, tetapi
percaya belum pernah melakukan suatu pekerjaan yang memalukan…..”
“Jika didengar dari nada
pembicaraan mereka, agaknya kedatangan mereka sama sekali bukan
dikarenakan hendak mencari balas” sambung Phoa Ceng Yan kembali.
“Aku tahu apa tujuan mereka datang
kemari….”
Dari bawah selimut ia mengambil
keluar sebuah buntalan berwarna putih, lalu sambungnya kembali.
“Kemungkinan sekali kedatangan
mereka dikarenakan benda ini, semisalnya kekuatan perusahaan kalian
tidak sanggup untuk menahan serbuan mereka nanti, aku pikir harap
Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka meloloskan diri dengan membawa barang
ini dan serahkan benda tersebut kepada pembesar Hoo-Lam di bangunan
istana “Tok Ci Hu”.
Phoa Ceng Yan segera bangun
berdiri menerima buntalan tersebut, ia merasa benda itu sama sekali
tidak berat dan tidak mirip dengan barang-barang berupa emas, intan
maupun permata, tak terasa lagi ia mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Thayjien! Maaf loohu hendak
banyak bertanya, sebenarnya benda apakah yang terdapat di dalam
buntalan ini? Agaknya sejak semula Thayjien sudah menduga maksud
kedatangan mereka??” serunya.
“Barang yang berada di dalam
buntalan ini paling sedikit bukanlah barang terlarang yang melanggar
peraturan negara.” jawab Liauw Thayjien dengan air muka keren.
“Kalau tidak akupun tidak akn berani menyuruh kau menghantarkan
barang ini ke istana Tok Ci Hu”.
Selagi Phoa Ceng Yan hendak
bertanya kembali, di luar kereta sudah terjadi perubahan disusul
suara jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul.
Terpaksa ia mengikat kencang
buntalan tersebut ke punggungnya dan meloncat keluar dari kereta,
mula-mula ia melancarkan serangan gelang emasnya memukul mundur Ang
Nio CU kemudian membentak anak buahnya supaya jangan menghantar
nyawa dengan sia-sia belaka, menanti ia hendak meloloskan diri
ternyata perjalanannya berhasil dihadang oleh Lo-toa dari Lam Thian
Sam Sah.
Kini setelah dia orang menndengar
bila Ih Cun kena tertawan, dalam hati merasa semakin paham bila ini
hari pihaknya bakal menderita kekalahan yang benar-benar sangat
memalukan.
Setelah melakukan perjalanan
selama puluhan tahun lamanya, kini untuk pertama kalinya harus
menemui kesulitan tak terasa lagi hatinya terasa sangat sedih, dari
dasar hatinya pun segera timbul maksuda untuk mengadu jiwa.
Dengan cepat ia mengayunkan
Huncwee di depan dada, serunya dengan serius.
“Di antara saudara-saudara kalian
Ang Nio Cu sudah menyanggupi dua persoalan yang cayhe ajukan.
Pertama, tidak melukai langgananku, Kedua, mempertahankan barang
tersebut dalam tiga bulan. Cayhe harap kalian Lam Thian Sam Sah bisa
dipercaya perkataan yang sudah diucapkan.”
“Asalkan salah satu dari Lam Thian
Sam Sah sudah menyanggupi syarat-syaraymu, sudah tentu kami akan
pegang teguh perkataan tersebut,” kata si orang berbaju hitam itu
dengan dingin. “Tetapi cayhe-pun ada dua buah syarat yang
mengharapkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka mengabulkan.”
“Aku orang she Phoa akan pentang
telinga lebar-lebar mendengarkan perkataanmu.”
“Serahkan buntalan putih di
badanmu kepadaku dan kita buka bersama-sama pada saat ini juga, kami
akan menahan barang tersebut selama tiga bulan untuk menunggu
kedatangan Cong Piauw-tauw kalian dengan membawa orang untuk minta
kembali barang tersebut.”
Ia merandek sejenak lalu
menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak, sambungnya.
“Asalkan kau Phoa Hu Cong
Piauw-tauw suka mengaku kalah, melepaskan senjata, membuang senjata
rahasia, maka kami bersaudara akan melepaskan kalian juga tanpa
membikin susah padamu.”
“Hmm! Kawan, sungguh enak sekali
perkataanmu…..” dengus Phoa Ceng Yan dingin.
“heee……..he……. bilamana Phoa Hu
Cong Piauw-tauw benar-benar tidak akan puas sebelum melihat sungai
Huang Hoo dan pasti akan memaksa cayhe untuk turun tangan sendiri
maka akupun merasa keberatan untuk menahan barang tersebut selama
tiga bulan dan mempertahankan keselamatan dari langgananmu,” seru si
orang berbaju hitam itu pula dengan dingin.