lambang naga panji naga sakti 01

Lambang Naga/Panji Naga Sakti

Karya: Wo Lung-shen

Saduran: Tjan ID

Jilid 1

Angin Utara bertiup menderu deru … salju melayang memenuhi permukaan tanah laksana bulu angsa. Pepohonan pada layu dan berdiri terpekur di empat penjuru.

Di atas jalan raya Han Tan terdengar suara putaran roda kereta yang amat ramai diikuti munculnya serombongan kereta-kereta berkuda melakukan perjalanan.

Kuda-kuda yang menarik kereta-kereta itu merupakan kuda kuda luar perbatasan yang kekar kosen, kendati berada di tengah tiupan angin yang kencang serta curahan hujan salju yang lebat. Mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan gagah.

Rombongan kereta kereta berkuda itu semuanya berjumlah lima buah, kereta yang pertama berwarna kuning dengan sebuah bendera biru sepanjang tiga depa empat coen berkibar tiada hentinya tertiup angin.

Di atas bendera tersebut terukirlah seekor Naga Sakti yang sedang mementangkan cakarnya dengan bersulamkan benang emas serta di sisinya terukir kata-kata “Liong Wie Piauw-kiok” dari benang perak.

Sedang kereta yang kedua hingga kereta yang kelima berwarna hitam, ruangan-ruangan kereta tertutup rapat sekali sehingga tak ada sedikit anginpun yang bertiup masuk ke dalam ruangan.

Sang Kusir yang berada di depan kereta mengenakan mantel tebal yang terbuat dari Kulit binatang dengan sebuah topi berbulu yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Dua orang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan, masing-masing dengan menunggang seekor kuda jempolan mengiringi di depan rombongan kereta, pada punggung masing-masing tersoren sebilah golok yang amat besar.

Di tengah tiupan angin yang amat santar kedua orang itu hanya memakai pakaian kasar yang amat tipis dengan celana yang terbuat dari kain biasa, tampak kedua orang itu tiada hentinya mengebut-ngebutkan salju yang mengotori pakaiannya.

Cukup ditinjau dari keadaan mereka, jelas tenaga dalam yang dilatihnya sudah berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan.

Di belakan rombongan kereta-kereta berkuda itu tampak pula dua orang penunggang kuda berjalan mengiring. Orang yang ada di sebelah kiri mempunyai perawakan tubuh yang tinggi kekar dengan wajah berwarna hitam pekat, di atas pelananya bergantungkan sebuah senjata rantai berbandul palu pengejar angin.

Kudanya yang tinggi besar di tambah pula perawakannya yang besar laksana pagoda, hal ini menambah keseraman serta kegagahannya.

Sedang orang yang ada di sebelah kanan mempunyai tubuh yang kurus kering kecil, pada punggungnya tersoren sepasang senjata poan koan pit yang khusus untuk menotok jalan darah, kepalanya kecil dengan anggota badan yang kurus kering bagaikan monyet, jika ditinjau dari seluruh badannya mungkin boleh dikata cuma bisa mendapatkan daging seberat setengah kati saja.

Cuma saja sepasang matanya memancarkan cahaya yang berkilat dan menggidikan setiap orang yang melihat.

Kecuali kedua orang penunggang kuda yang berbadan besar serta berbadan kurus kering itu, terdapat pula delapan orang pembantu yang menyoren golok pada pinggang-nya serta menggembol busur dan anak panah pada punggungnya, mereka bersama sama memakai topi pelindung telinga yang terbuat dari kulit, bercelana singsat serta sepatu yang tipis.

Walaupun saat ini adalah bulan dingin yang menggidikkan setiap orang, tetapi mereka yang baru saja melakukan perjalanan jauh tampak keringat mengucur membasahi badannya.

Angin Utara meniup semakin kencang, hujan saljupun beterbangan dan menari semakin menghebat.

Di atas kereta-kereta kuda itu tumpukan salju mulai menebal, jika dipandang dari tempat kejauhan hanya tampaklah beberapa titik hitam yang bergerak lambat-lambat di tengah permukaan salju yang memantulkan sinar keperak-perakan.

Mendadak ………………………………………..

Sebatang anak panah bersuara dengan menembusi udara serta menimbulkan suara desiran yang tajam jatuh menancap di depan kereta pertama kurang lebih dua kaki jauhnya.

Sang kusir kereta tersebut agaknya merupakan seorang kusir kawakan yang sudah berpengalaman, tidak menanti sang majikan memberi perintah ia sudah menghentikan kereta tersebut.

Sembari mengebutkan cambuk di tangannya ke tengah udara, ia berteriak keras, “Heey ……. saudara-saudara sekalian! Cepat hentikan kereta kalian …….!”

Terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang, keempat buah kereta berkuda lainnyapun segera menghentikan perjalanannya.

Dari dalam kereta berkuda pertama yang berwarna kuning itu, perlahan-lahan muncullah sebuah batok kepala yang sudah memakai handuk dengan rambut yang sudah beruban melongok keluar.

“Giok Liong! Coba kau lihat kawan dari aliran mana yang sudah melepaskan anak panah bersuara itu!” serunya setelah mendehem beberapa kali. “Kita dari perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok tidak takut menghadapi segala urusan, tetapi tidak ingin pula menyalahi kawan-kawan lain sehingga melenyapkan adat istiadat yang berlaku di dalam dunia kang-ouw!”

Si lelaki kekar yang berada di sebelah kiri segera menyahut dan meloncat turun dari punggung kudanya.

Setelah memungut anak panah tersebut diperiksanya beberapa waktu ia baru memberi jawaban, “Lapor paman Jie Sio. Tecu tidak kenal dengan tanda yang tertera di atas anak panah ini!”

“Hmm! Ada peristiwa semacam ini?” kata orang yang berada di dalam kereta itu. “Coba bawalah kemari!”

Si lelaki kekar yang bernama Giok Liong tadi dengan sikap yang sangat menghormat segera berjalan ke sisi kereta tersebut.

“Jie Siok, silahkan periksa,” ujarnya sambil mengangsurkan anak panah tersebut ke arah depan.

Dari balik kereta segera muncullah sebuah lengan yang segera menyambut angsuran anak panah tersebut.

Agaknya si orang tua yang berada di dalam kereta itupun tidak berhasil mengetahui asal usul dari si pengirim anak panah itu, setelah suasana kembali menjadi hening beberapa saat lamanya, mendadak orang tua itu munculkan dirinya dari balik kereta.

Tampaklah seorang kakek tua yang memakai jubah berwarna hijau, dengan sepatu terbuat dari kuli menjangan, wajah merah bersinar, sepasang alis yang tebal dengan sepasang mata yang tajam serta memiliki perawakan yang sedang, dengan wajah penuh kegusaran munculkan dirinya dari kereta tersebut.

Dengan tangan kiri mencekal sang anak panah, tangan kanan memegang sebuah Huncwee, ia menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.

“Giok Liong!” serunya kembali, “Coba kau pergilah ke dalam hutan di depan sana dan tanya siapakah pemimpin mereka!”

“Tecu terima perintah!” sahut lelaki kekar yang ada di sebelah kiri sambil menjura.

Dengan cepat ia meloncat naik ke atas punggung kudanya, menyentak sang tali les dan melarikan tunggangannya ke arah depan.

Jarak antara hutan pohon siong tersebut dengan tempat pemberhentian rombongan kereta itu kurang lebih ada setengah li jauhnya, di tengah tiupan angin kencang serta curahan hujan salju yang deras, boleh dikata pada saat ini, disekitar tempat tersebut hanya tinggal ranting-ranting pohon yang sudah kering dan salju saja.

Waktu itu dari atas permukaan salju dihadapannya pada saat yang bersamaan muncul pula seekor kuda yang berlari mendatang dengan kecepatan tinggi.

Kedua ekor kuda tersebut yang satu berlari mendatang dan yang lain berlari menyongsong, agaknya masing-masing penunggang di atas pelana itu ada maksud untuk berjual lagak. Menanti kedua ekor kudanya hampir bertumbukan satu dengan yang lain masing-masing pihak baru bersama-sama menahan tali les kudanya.

Di tengah suara ringkikan kuda yang memanjang, kedua ekor kuda itu bersama-sama meloncat bangun kemudian mengitari satu lingkaran di atas permukaan salju.

Kepandaian menunggang kuda dari si lelaki kekar ini jauh lebih tinggi setingkat dari pihak lawannya, dengan cepat ia berhasil menenangkan badannya kembali.

“Cayhe adalah Lie Giok Liong dari perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok. Harap kawan suka menerima penghormatanku!” ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.

Pihak lawan adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluh enam, tujuh tahunan, pakaian singsatnya terbuat dari kulit srigala. Dengan wajah yang amat cerah tampan sekali.

“Ouuw….kiranya murid tertua dari Liong Wie Piauw-kiok, Cong Piauw terbang seratus langkah Lie Giok Liong adanya, selamat bertemu, selamat bertemu ….!” serunya keras.

“Akh …. mana, mana ……. kesemuanya ini cuma didasarkan atas pujian dari kawan kawan kang-ouw saja…..”

Perlahan lahan ia menghela napas, kemudian sambungnya, “Tolong tanya siapakah nama besar dari Heng-thay??”

Orang itu segera menengadah ke atas dan tertawa terbahak bahak.

“Haaa… haaa….. kalau memangnya kami sudah berani turun tangan terhadap barang kawalan perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauk Kiok, sudah tentu berani pula meninggalkan nama,” katanya keras.

Walaupun usia dari Lie Giok Liong tidak begitu besar, tetapi berhubung sejak kecil ia sudah sering mengikuti suhunya berkelana di dalam dunia kang-ouw, maka pengetahuannya sangat luas sekali, sehingga boleh dikata dia adalah seorang jago kawakan.

“Aaakh… entah siapakah nama besar dari Heng-thay? Siauwtee tentu akan pentang telinga lebar-lebar untuk mendengar”, ujarnya cepat sambil tertawa paksa.

“hee. heee. Cayje she Shaw bernama Kiat, disebut orang sebagai “Leng Cian” atau si Panah Gelap Shaw Kiat adanya!…” sahut orang itu dingin.

“Ooow…. kiranya Shaw heng, maaf….. maaf…….!”

Selesai berkata buru-buru Lie Giok Liong menjura ke arahnya.

“Heee… heee… terima kasih terima kasih. Cayhe tidak terbiasa dengan kata-kata yang halus. Lebih baik kali ini kita berbicara secara blak-blakan saja. Kami tidak suka mengikat sengketa dengan pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kalian, asalkan barang-barang yang kalian kawal di dalam kereta itu ditinggalkan, kami segera akan lepas kami semua untuk melanjutkan perjalanan!”

“Haa… haaa… Shaw heng! Tentunya kau sedang bergurau dengan kami!” seru Lie Giok Liong tertawa tawar, “Ada pepatah mengatakan: Membegal harta orang lain, musnah mengikuti tanggung jawabnya. Kami orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan membuka perusahaan piauw-kiok, bagaimana mungkin boleh meninggalkan keselamatan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri? Kami perusahaan expedisi Liong Wie Piau Kiok sudah melakukan tugasnya selama dua puluh tahun, tetapi selama ini belum pernah meninggalkan barang kawalannya untuk melarikan diri!”

“Hm……..! Nama besar dari perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok memang sudah lama kami dengar, sedang permainan piauw terbang berantai dari Lie-heng yang amat tepat di dalam seratus tindakpun sudah lama kami kagumi, cuma he…..he…. kalian harus tahu! Bilamana kami tidak mempunyai beberapa bagian pegangan, mana berani bermaksud mencabut gigi di mulut harimau?” ujar si panah gelap Shaw Kiat dingin.

Mendengar perkataan tersebut, dalam hati Lie Giok Liong segera berpikir.

“Bilamana cuma mengandalkan kepandaian silatnya yang tidak seberapa ini, pasti tidak mungkin berani mengganggu dan cari gara-gara dengan perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok kami, di belakang punggung-nya tentu ada otak dari seluruh perbuatannya ini……”

Berpikir akan hal tersebut, terpaksa ia tertawa perlahan.

“Shaw-heng!” katanya perlahan. “Di dalam pengawalan barang-barang kali ini, cayhe tidak lebih cuma seorang serdadu tak bernama yang ada di depan barisan, orang yang melindungi barang barang tersebut adalah majikan kedua dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami…..”

“Sekalipun Cong Piauw-tauw kalian sendiri yang mengawal barang-barang tersebut sama saja, kami akan turun tangan merampoknya” potong Shaw Kiat tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya.

“Hmm! Aku rasa bilamana cuma mengandalkan kepandaian kau seorang, tidak mungkin bakal berani mempunyai pikiran demikian.”

“Heee….heee….. Lie-heng apakah sedang menanyakan pemimpin kami?”

“Sedikitpun tidak salah, harap Shaw-heng suka memberitahukan hal ini kepada-ku, dengan demikian cayhe-pun bisa melaporkan hal tersebut kepada majikanku yang kedua sehingga dia orang tua bisa mengambil keputusan”.

“Tentang soal ini……..aach…….! Maaf…… maaf sekali…..”

Air muka Lie Giok Liong segera berubah hebat.

“Kalau memang Shaw-heng tidak suka memberi penjelasan, maka terpaksa cayhe harus menerjang masuk ke dalam hutan untuk mengadakan pemeriksaan sendiri” teriaknya gusar.

Shaw Kiat dengan cepat menjerat tali les kudanya menghalangi perjalanan dari Lie Giok Liong kemudian dari dalam sakunya ia mengambil keluar sepucuk sampul putih.

“Kalau memang majikan kedua dari perusahaan kalianpun sudah datang, mungkin Lie-heng sendiri tidak bisa mengambil keputusan bukan!” katanya. “Di dalam sampul surat unu terdapat tulisan tangan dari pemimpin kami, harap Lie-heng suka membawanya untuk ditunjukkan kepada majikan kedua kalian. Cayhe menanti jawaban dari kalian semua!”

Lie Giok Liong segera menyambut sampul surat tersebut dan dibaca tulisan yang ada di depannya yang kira-kira berbunyi.

“Ditujukan kepada majikan kedua perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, Si Thian Ciang Kim Huan, Phoa Ceng Yan!”

Lie Giok Liong yang selesai membaca tulisan tersebut, hatinya kontan jadi melengak dibuatnya.

“Sungguh aneh sekali!” pikirnya di hati. “Keberangkatan kali ini yang dikawal langsung oleh Jie Siok sama sekali tidak diketahui oleh orang lain kecuali beberapa orang Piauwsu penting yang ada di dalam perusahaan Piauw-kiok, tetapi bagaimana mungkin manusia ini bisa mengetahui dengan begitu jelasnya?”

Pikiran tersebut bagaikan putaran roda dengan cepatnya berkelebat di dalam benak, buru-buru ia merangkap tangannya menjura.

“Harap Shaw-heng tunggu sebentar!” ujarnya kemudian.

Tali les kudanya segera diletakkan dan melarikan kembali kudanya menuju ke arah rombongan kereta-kereta berkuda tersebut.

Majikan kedua dari perusahaan expedisi “Lion Wie Piauw-kiok”, Itu si “Thiat Ciang Kiem Huan” atau telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan sedang duduk di dalam kereta sambil menikmati huncwenya.

Perasaan hati si orang tua itu membara bagaikan dibakar, wajahnya yang amat keren dan serius sedang si lelaki kekar yang berada di sebelah kananpun pada saat ini sudah turun dari kudanya dan berdiri di sisi sang kereta.

Lie Giok Liong dengan cepatnya telah tiba di depan rombongan kereta tersebut, sambil meloncat turun dari kudanya ia lantas menjura.

“Lapor Jie siok!” serunya, “Teecu sudah bertemu muka dengan mereka, pemimpin pihak lawan ada sepucuk surat yang disampaikan buat Jie Siok!”

“Hm!coba kau buka surat itu dan bacakan keras-keras” dengus Phoa Ceng Yan dingin. “Aku mau lihat di atas jalan raya Han Tan ini ada siapa yang sudah begitu bernyali sehingga berani mengganggu barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok. Hm! Manusia dari mana yang sudah makan hati beruang jantung macan sehingga begitu berani mencari setori dengan kita!”

Dengan amat serius Lie Giok Liong berdiri tegak di hadapan kereta tersebut kemudian membuka sampul surat dan mulai membaca isinya:

Ditujukan untuk Phoa Ceng…….

Mendadak ia menutup mulutnya kembali.

“Giok Liong! Lanjutkan membaca isi surat itu. Mengapa kau harus merasa takut? surat tersebut kan bukan kau yang menulis?” tegur Phoa Ceng Yan sewaktu dilihatnya sang lelaki kekar itu rada ragu-ragu.

Lie Giok Liong buru-buru mengiakan dan melanjutkan kembali pembacaan isi surat tersebut.

“Ditujukan kepada Phoa Ceng Yan, Hu Piauw-tauw:

Sudah lama kami dengar kemajuan serta kemakmuran dari perusahaan ekspedisi kalian di mana dalam sehari ada pemasukan sebanyak beribu-ribu kati emas sehingga mengalahkan perusahaan-perusahaan yang lain.

Perusahaan Liong Wie Piauw-kiok berhasil menguasai seluruh daerah Tionggoan, di mana bendera perusahaan kalian lewat kawan-kawan kalangan Liok-lim pada mengalah tiga bagian, sehingga kini sudah ada puluhan tahun lamanya ……”

“Ehmm…..! Isi surat itu masih kedengarannya memakai sopan santun!” timbrung Phoa Ceng Yan sambil mengelus elus jenggotnya yang sudah memutih.

Lie Giok Liong mengebutkan terlebih dulu bunga-bunga salju yang mengotori bajunya kemudian sambungnya kembali.

“Siaw te sekalian tidak becus, kini dengan memberanikan diri memberi waktu kepada kalian agar di dalam waktu sepertanak nasi kemudian Phoa-heng serta seluruh anak buah perusahaan anda segera meletakkan senjata dan meninggalkan tempat ini dengan tangan kosong.

Bilamana diantara kalian ada yang berani melanggar dan pergi dengan membawa senjata, maka suatu bencana yang mengerikan segera akan melanda diri kalian.

Harta kekayaan perusahaan selama puluhan tahun lamanya masih cukup untuk mengganti kerugian kali ini, maka dari itu harap kalian suka memikirkan masak-masak!”

Sejak semula Phoa Ceng Yan yang mendengar isi surat tersebut paras mukanya sudah berubah sangat hebat, tetapi ia bersabar terus dan dengan tenangnya mendengar hingga habis.

“Heei.. sungguh besar sekali omongannya! Coba lihat siapakah yang menanda tangani surat ini”.

Lie Giok Liong menggeleng.

“Di atas surat ini tak ada tanda tangan sebaliknya cuma meninggalkan sebuah tanda lukisan” katanya.

“Oouw….. coba bawa kemari!”

Lie Giok Liong mengiakan, dengan cepat ia angsurkan surat tersebut ke tangan sang orang tua tersebut dengan sikap yang sangat menghormat.

Phoa Ceng Yan setelah menerima surat tersebut dan diperiksa sebentar, di atas paras mukanya yang mengandung rasa gusar mendadak terlintaslah suatu perasaan keheranan yang segera mencekam seluruh benaknya.

Si lelaki kekar yang ada di sebelah kanan dan pada waktu itu berdiri di sisi kereta, perlahan-lahan ia berjalan mengitari sang kereta dan berhenti di sisi tubuh Lie Giok Liong.

“Lie Suheng!” bisiknya dengan suara yang pelan. “Di atas surat tersebut terdapat tanda lukisan macam apa??”

“Sebuah lukisan Pat Kwa, sebuah kipas serta sebuah benda yang mirip tali tapi bukan tali.

Mendengar disebutkannya benda-benda tersebut, si lelaki kekar tersebut segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Agaknya lukisan tersebut menandakan sebutan mereka serta senjata yang mereka gunakan” katanya, “Di daerah Liok-lim di lima keresidenan sebelah utara, orang yang menggunakan kipas sebagai senjata agaknya tidak begitu banyak jumlahnya, di samping itu tak ada pula pentolan bajingan yang menggunakan tameng Pat Kwa sebagai senjatanya. Sedang mengenai senjata yang menyerupai tali itu semakin tidak pernah dengar orang membicarakannya. Beberapa orang ini kemungkinan besar berasal dari tempat kejauhan.”

“Ih Sute! Aku rasa peristiwa ini tidak akan segampang yang kau pikirkan.” bantah Lie Giok Liong sambil menggeleng. “Paman Jie Siok adalah manusia macam bagaimana? Bilamana cuma menghadapi beberapa orang perampok cilik yang tak bernama bagaimana mungkin dia orang tua suka memandang sebelah mata terhadap diri mereka itu?”

Kiranya perasaan gusar yang semula menghiasi muka Phoa Ceng Yan pada saat ini sudah lenyap tak berbekas, tetapi matanya masih memandang ke atas surat tersebut dengan terpesona.

Waktu itu dari balik kereta berwarna hitam yang kedua mendadak meloncat keluar seorang kacung buku yang baru berusia tiga belas, empat belas tahunan, dengan cepat ia berlari menuju ke depan kereta kuda yang pertama sambil berseru, “Eee…. Majika kedua, Loo ya kami bertanya kenapa kereta tidak segera berangkat?!”

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan menyimpan surat tersebut ke dalam sakunya lalu meloncat turun dari dalam kereta.

“Laporkan saja kepada Liauw Thayjien bila kita sudah menemui kesulitan, ada beberapa orang kawanan perampok dari kalangan Liok-lim sedang menghadang perjalanan kita,” ujarnya.

Si Kacung buku itu menjerit tertahan, buru-buru ia memutar badannya dan siap berlari balik ke dalam keretanya.

“Beritahukan pula pada Liauw Thayjien agar dia suka berlega hati,” sambung Phoa Ceng Yan kembali. “Merek emas dari perusahaan expedisi Liong Wie Piauw-kiok selama dua puluh tahun tidak akan hancur berantakan di tangan orang lain dengan begitu gampang, harap Siauw Ko suka beritahukan pada Liauw Thayjien, sebelum urusan ini diselesaikan lebih baik dia orang jangan turun dari keretanya, orang-orang yang loohu bawa untuk melindungi kawalan pada kali ini tidak banyak jumlahnya, sehingga sulit untuk melindungi setiap orang yang turun dari dalam kereta.”

“Baik…. baik……. hamba segera akan laporkan urusan ini kepada Looya kami!” seru si kacung buku itu.

Dengan cepat ia melanjutkan larinya menuju ke dalam kereta yang kedua.

Paras muka Phoa Ceng Yan kelihatan sangat serius sekali, dengan suara yang keren ujarnya kemudian kepada si lelaki kekar yang satunya lagi, “Cun Jie! Cepat undang Thi serta Nyoo Piauw-su untuk datang kemari.”

Waktu itu kelima kusir kereta sudah pada menghentikan keretanya dan meloncat turun. Mereka bersama-sama menyimpan kembali cambuknya untuk kemudian mencabut keluar sebuah golok baja yang tebal masing-masing berdiri menjaga di depan keretanya sendiri sendiri.

Kiranya para kusir kereta tersebut semuanya adalah penyamaran dari anak buah perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok.

Bebertapa orang ini sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh untuk mengawal barang kawalan, karena ia begitu menemui kejadian tanpa disuruh lagi mereka sudah pada meloloskan senjata tajamnya masing-masing dan berdiri pada posisi yang menguntungkan.

Perlahan lahan Lie Giok Liong menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu bisiknya kepada si orang tua itu, “Paman Jie Siok, orang-orang itu apakah sangat lihay sekali?”

“Ehmm …..! Kepandaiannya sangat hebat sekali” sahut Phoa Ceng Yan menggangguk, “Kita harus menghadapi dengan sangat berhati-hati, agaknya halangan kita ini rada sulit untuk ditembusi”.

Lie Giok Liong tahu bila paman keduanya ini mempunyai sifat yang tinggi hati dan tidak pandang sebelah matapun terhadap orang lain, sudah ada puluhan tahun lamanya ia melakukan pekerjaan mengawal barang tetapi selama ini belum pernah menemui kejadian yang membingungkan dirinya.

Para penjahat kalangan Liok-lim yang binasa di bawah serangan gelang emasnya ini entah sudah seberapa banyaknya.

Kini secara mendadak paras mukanya berubah jadi begitu tegang dab serius, di dalam ingatan Lie Giok Liong agaknya peristiwa ini belum pernah terjadi barang sekalipun, karena itu iapun merasakan akan keseriusan dari peristiwa ini.

Ketika itulah si lelaki kekar yang bernama Cun Jie sudah berjalan balik sambil memimpin kedua orang tinggi serta kurus yang bukan lain adalah Thio dan Nyoo dua orang Piauw-tauw.

Si lelaki kekar berwajah hitam pekat di mana di atas pinggang sebelah kirinya menggembol sebuah senjata rantai yang berkepala palu mengejar bintang, dengan langkah lebar lantas merebut maju dua langkah ke depan.

“Majikan kedua, siapakah sebenarnya orang yang berani mengganggu kepala Thay Swie ya? Biarlah pertempuran yang pertama kali ini serahkan pada aku Thio Toa Hauw” serunya sambil menjura.

“Jangan gegabah!” tolak Phoa Ceng Yan sambil menggeleng, air mukanya berubah semakin serius. “orang-orang yang mencari gara gara kali ini bukanlah kawanan Liok-lim biasa…”

Sinar matanya segera dialihkan ke atas tubuh Nyoo Piauw-tauw yang kurus kering seperti monyet itu, sambungnya kembali.

“Su Jan, sewaktu kau orang berkelana di daerah Kang Lam tempo hari, apakah kau banyak mengetahui jagoan-jagoan Bu-lim?”

Kiranya si Thio Toa Hauw yang mempunyai perawakan tinggi besar itu walaupun kekar dan kosen tetapi ada tiga bagian rada bebal, sebaliknya Nyoo Su jan yang berbadan kurus kering, sebenarnya adalah seorang manusia yang cerdik dan mempunyai banyak akal.

“Lapor Jie Siok!” seru si Piauw-tauw she Nyoo ini sambil menjura.”Aku orang she Nyoo cuma mengetahui sedikit sekali tentang soal-soal dunia kangouw, tetapi entah tanda lukisan apakah yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang itu?”

“Ehmm! Ada sepucuk surat, nih! Kau lihatlah sendiri.”

Nyoo Su Jan segera mengeluarkan sepasang tangannya yang kurus kering untuk menerima surat tersebut, agaknya ia sama sekali tak tertarik oleh isi suratnya, sepasang matanya yang tajam dengan terpesona memperhatikan ketiga buah tanda lukisan tersebut, kemudian termenung berpikir keras.

Lama sekali ia baru menjawab dengan suara yang perlahan, “Menurut apa yang hamba ketahui agaknya tanda-tanda ini berasal dari Lam Thian Sam Sah atau tiga orang pengacau dari Lam Thian!”

Sambil mulutnya berbicara, sedang tangannya dengan sangat hormat mengembalikan sampul surat tersebut ke arah majikannya.

“Ehmm…….! Sedikitpun tidak salah …. sedikitpun tidak salah,” sahut Phoa Ceng Yan mengangguk. “Memang benar perbuatan dari Lam Thian Sam Sah! Selama ini mereka hidup di daerah Kang Lam bahkan selama beberapa tahun mendekat ini tiada kabar beritanya lagi di dalam dunia kangouw, tidak disangka ternyata secara mendadak mereka bisa munculkan dirinya di atas jalan raya Han Tan bahkan bermaksud hendak membegal barang kawalan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita …..”

“Majikan kedua! Ada pepatah yang mengatakan air bah dapat kita bendung dengan tanah, tentara datang kita tahan dengan panglima, Aku tidak percaya bila Lam Thian Sam Sah mempunyai tiga kepala enam lengan, mari …… biarlah aku orang she Thio yang pergi menemui diri mereka terlebih dulu,” sambung Thio Toa Hauw dengan suara yang keras.

Orang ini rada berangasan selesai berbicara dengan langkah lebar ia lantas melangkah maju ke depan.

“Eeei … tunggu sebentar!” teriak Phoa Ceng Yan sambil menggeleng.

Sifatnya yang keren dan serius apalagi jarang berbicara serta bergurau membuat semua orang yang berada di dalam perusahaan ekspedisi  “Liong Wie Piauw-kiok” kebanyakan menaruh tiga bagian rasa jeri terhadap dirinya.

Mendengar suara panggilan tadi, Thio Toa Hauw benar-benar tidak berani bergerak secara gegabah lagi, ia menghentikan langkahnya.

Perlahan lahan Phoa Ceng Yan mendehem beberapa kali.

“Menurut apa yang loolap ketahui” ujarnya kemudian. “Di dalam kalangan Liok-lim Lam Thian Sam Sah mempunyai nama besar yang mengerikan bagi semua orang, tetapi mereka bukanlah manusia-manusia yang suka bertindak secara gegabah, kini secara terang-terangan mereka berani melakukan tantangan terhadap kita untuk membegal barang kawalan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita, menurut Loolap tentulah mereka sudah mempunyai suatu rencana persiapan yang matang, hee…..heee….. nama kosong Loolap sebagai si pukulan besi gelang emas boleh hancur di tangan orang lain, tetapi tidak akan menghancurkan merek perusahaan “Liong Wie Piauw-kiok” yang sudah terkenal puluhan tahun lamanya ini”.

Perkataan ini diucapkan dengan nada berat dan meluncur keluar dari dasar hatinya sehingga membuat Thio Toa Hauw yang rada bebal itupun segera berubah wajah dan berdiri dengan sikap serius.

Dengan tangan kiri mengelus-elus jenggotnya Phoa Ceng Yan menengadah ke atas memandang awan yang berlalu di tengah udara.

“Su Jan, kau pernah bertemu dengan Lam Thian Sam Sah??” sambungnya.

“Hamba sudah lama mendengar nama meraka, tetapi belum pernah bertemu muka barang sekalipun.”

Kembali Phoa Ceng Yan termenung berpikir keras, akhirnya ia berseru, “ Baiklah! Mari kita pergi menemui diri mereka.”

Sinar matanya perlahan lahan menyapu sekejap ke sekelilingnya, kemudian tambahnya, “Su Jan, Giok Liong! Kalian ikut aku, Coen Jie serta Thio Piauw-tauw kalian bertugas mengawasi keselamatan dari kereta-kereta berkuda ini, suruh tukang panah menyiapkan anak panahnya siap-siap menghadapi serangan musuh. Barang kawalan kita kali ini bukan saja mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam pemerintahan bahkan membawa pula kaum perempuan. Orang-orang lain sudah mempercayakan dirinya pada perusahaan “Liong Wie Piauw-kiok” kita, seharusnya kitapun jangan terlalu memandang rendah mereka apalagi orang-orang itu sudah serahkan keselamatan jiwa serta hartanya kepada kita, asalkan kita orang-orang masih hidup maka siapapun di antara kita harus berusaha untuk melindungi mereka dari gangguan!”

“Majikan kedua jangan kuatir, hamba tentu akan bertugas sangat berhati-hati” sahit Thio Toa Hauw sambil menjura.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mengangguk. “Yang penting dan harus kalian ingat adalah sebelum memperoleh perintahku, maka janganlah sekali-kali meninggalkan kereta kawalan ini…,” katanya.

Ia segera mengulapkan tangan kanannya dan menyambung, “Giok Liong! Bawa jalan.”

Lie Giok Liong mengiakan, tubuhnya segera berputar dan melangkah maju ke depan.

Phoa Ceng Yan serta Nyoo Su Jan mengikuti dari belakangnya dengan kencang.

Menanti ketiga orang itu sudah berangkat, Thio Toa Hauw baru memerintahkan ke delapan orang anakbuahnya untuk mempersiapkan anak panah dan memilih posisi yang baik untuk menghadapi musuh dan melindungi kelima buah kereta tersebut.

Walaupun Thio Toa Hauw rada bebal, tetapi berhubung sudah da puluhan tahun lamanya melakukan pekerjaan mengawal barang maka pengalamannya pada saat ini boleh dikata sangat luas sekali.

Beberapa orang anak buah itupun merupakan jago-jago kawakan pilihan dari perusahaan ekspedisi “Liong Wie Piauw-kiok”, hanya di dalam sekejap saja mereka sudah menyebarkan diri untuk berjaga pada posisi-posisi yang menguntungkan terhadap datangnya serangan musuh.

Kita balik pada Lie Giok Liong yang memimpin kedua orang itu mendekati diri Shaw Kiat.

“Shaw-heng!” serunya kemudia sembari menjura. “Katakan saja pada pemimpinmu bahwa majikan kedua dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita sedang menantikan kedatangan mereka, bilamana ada urusan biarlah mereka berdua selesaikan sesudah berhadap-hadapan.

Dengan pandangan tajam si pemanah gelap Shaw Kiat memperhatikan sekejap ke arah si telapak besi gelang emas yang berdiri kurang lebih beberapa kaki dari dirinya.

Ketika dilihatnya si orang tua itu berdiri dengan wajah serius di atas permukaan salju sehingga kelihatan sangat angker sekali, dalam hati lantas berpikir, “Sudah lama aku mendengar nama besar dari si telapak besi gelang emas, agaknya dia orang benar-benar luar biasa sekali.”

Sebenarnya ia hendak mengutarakan beberapa patah kata yang mengejek diri Lie Giok Liong, tetapi melihat sikap si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan yang begitu angker tak terasa hatinya dibuat bergidik juga, akhirnya ia mendehem keras.

“Perkataan dari Lie-heng sudan tentu akan cayhe sampaikan kepada pemimpin kami” sahutnya. “Majikan kedua dari Piauw-kiok kalian, cayhe merasa tidak punya pegangan.”

“Ooow…. asalkan Shaw-heng suka menyampaikan kata-kata tersebut, hal ini sudah tiada sangkut pautnya dengan diri Shaw-heng.”

“Ehmm…..! Bertemu atau tidak, cayhe tentu akan memberi kabar kepada kalian.”

Selesai berkata ia meloncat naik ke atas punggung kudanya, menyenyak tali les dan kaburkan tunggangannnya ke arah hutan.

“Paman Jie Siok! Apakah kita orang perlu mengikuti jejaknya dari belakan guna melihat-lihat keadaan mereka di sana?” seru Lie Giok Liong kemudian sambil menoleh.

“Tidak perlu!” jawab Phoa Ceng Yan menggeleng. “Lam Thian Sam Sah bukanlah manusia baik-baik, kita tidak boleh terpelosok kembali ke dalam jebakan yang sengaja telah mereka pasang.”

Lie Giok Liong segera mengiakan berulang kali, padahal dalam hati pikirnya, “Jahe semakin tua semakin pedas, paman Jie Siok selamanya tinggi hati, tetapi melakukan pekerjaan mengapa bisa begitu teliti dan berhati-hati? sungguh luar biasa sekali.”

Tampaklah Shaw Kiat dengan cepatnya sudah masuk ke dalam hutan pohon siong itu, hanya di dalam beberapa kali tikungan ia telah lenyap tak berbekas.

Sepeminum teh kemudian, dari balik hutan pohon siong muncullah empat sosok bayangan manusia yang berlari mendatang dengan kecepatan bagaikan kilat.

Keempat orang itu sama sekali tidak menunggang kuda, tetapi kecepatan geraknya tidak di bawah kecepatan dari larinya seekor kuda.

Hanya di dalam sekejap saja keempat orang itu sudah berada empat kaki di hadapan mereka bertiga.

Orang yang berada di paling depan adalah si panah gelap Shaw Kiat, sambil menjura.

Lie Siauw Piauw-tauw! Pemimpin kami sudah tiba, bilamana kalia ada perkataan silahkan maju untuk berbicara!”

Lie Giok Liong segera mendongakkan kepalanya menyapu sekejap ke arah orang-orang itu.

Tampaklah kurang lebih empat kaki di hadapannya berdirilah tiga orang yang pertama memakai pakaian singsat berwarna hitam dengan secarik kain pengikat kepala, mantelnya terbuat dari kulit harimau sedang pada lengannya mencekal sebuah senjata aneh yang bentuknya mirip lengan manusia.

Orang yang ada disebelah kirinya memakai jubah berwarna biru dengan dandanan seorang sastrawan, wajahnya putih tak berkumis sedang di atas tangan kanannya mencekal sebuah kipas.

Orang yang ada disebelah kanannya adalah seorang gadis berbaju merah, dengan ikat kepala yang berwarna merah pula, boleh dikata dari ujung kepala sampai ujung kakinya berwarna merah darah semua sedikitpun tidak nampak warna lain.

Jaraknya yang terpaut empat kaki ditambah pula salju yang turun dengan derasnya membuat Lie Giok Liong tidak sanggup untuk melihat jelas bagaimanakah wajahnya tetapi cukup dilihat dari pinggangnya yang ramping, lekukan-lekukan badannya yang menggiurkan serta wajahnya yang bulat seperti telur itik tentulah dia orang adalah seorang gadis yang sangat cantik.

Ketiga orang itu berhenti pada jarak empat kaki dan tidak maju lagi, jelas pihak sana ada maksud hendak memyembunyikan asal usulnya, dan hal ini kemungkinan sekali akan membuat Jie sioknya merasa amat gusar.

Siapa sangka ternya urusan terjadi di luar dugaannya, belum sempat Lie Giok Liong putar badan memberi laporan, dengan langkah lebar Phoa Ceng Yan sudah maju ke depan.

“Ayo jalan, kita temui diri mereka!” serunya.

Lie Giok Liong mengiakan, dengan cepat ia mengikuti dari belakang tubuh Phoa Ceng Yan.

Pada saat ini di sebelah kiri dari Phoa Ceng Yan ada Nyoo Su Jan, disebelah kanannya ada Lie Giok Liong, setelah berjalan sejauh delapan depa mereka baru berhenti.

“Sudah lama aku orang she Phoa mendengar nama besar dari Lam Thian Sam Sah, ini hari bisa bertemu boleh dikata sangat beruntung sekali” serunya sambil menjura.

Si orang berbaju hitam yang mempunyai jenggot panjang, bersenjatakan aneh dan berada diantara dua orang lainnya segera mendengus dingin.

“Hm! Kami tiga orang kaka beradik selamanya disebut oleh kawan-kawan kangouw sebagai Lam Thian Sam Sah, Ih mu itu kami tidak berani menerimanya”.

Mendengar perkataan tersebut, air muka Phoa Ceng Yan berubah sangat hebat, tetapi ia masih berusaha untuk bersadar diri.

“Menurut apa yang cayhe ketahui” ujarnya. “Saudara bertiga dengan pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kita sama sekali belum pernah mengikat permusuhan. Sedang dari pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kamipun belum pernah menyalahi kalian bertiga.

Bilamana kalian bertiga ada membutuhkan sesuatu, cayhe suka menyampaikan hal ini kepada Cong Piauw-tauw kami, cayhe percaya dia orang tentu bisa memberikan suatu tanggung jawab yang memuaskan hati bagi kalian bertiga….”

Dengan amat serius Lam Thian Sam Sah berdiri di tempat semula, tak seorangpun diantara mereka yang mengucapkan kata-kata.

Perlahan-lahan Phoa Ceng Yan mendehem, kemudian sambungnya kembali, “Apalagi barang kawalan yang aku orang she Phoa kawal kali ini sama sekali tidak terdapat intan permata yang mahal harganya……”

Si Sastrawan berwajah putih yang berdiri disebelah kiri agaknya sudah tidak sabaran lagi, mendadak ia membentangkan kipasnya lebar-lebar lalu mengebutkan bunga-bunga salju yang mengotori pakaiannya.

“Kami tiga bersaudara sudah mencari kabar dengan sangat jelas sekali,” katanya cepat. “Barang berharga apa saja yang mereka bawa tidak usah kau orang Phoa Hu Piauw-tauw yang banyak urusi, Kita dengan pihak perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian tidak pernah terjadi sengketa, maka dari itu kita menggunakan tata cara yang selayaknya untuk memberi kabar kepada kalian kemudian baru mengirim tentara. Bukankah di dalam surat tersebut sudah diterangkan sejelas jelasnya? Asalkan orang-orang dari perusahaan Piauw-kiok kalian suka melepaskan senjata, maka kita orang tidak akan turun tangan mencelakai kalian.”

Di atas wajah Phoa Ceng Yan yang berwarna merah padam mulai terlintaslah hawa gusar yang sukar ditahan.

“Jadi kalian bertiga ada maksud hendak menghancurkan merek perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kami?” serunya dingin.

Mendadak terdengar si gadis berbaju merah yang disisi lelaki berbaju hitam itu tertawa cekikikan dengan merdunya.

“Haaaa……..! Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Bukankah kami tidak pernah mengatakan bila kami ada maksud hendak menghancurkan merek perusahan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kalian?” teriaknya keras. “Tetapi bilamana kalian betul-betul ada maksud menghalangi usaha kita dengan menggunakan kekerasan, maka hal ini adalah suatu peristiwa yang ak bisa dipikirkan lagi.”

Didalam hati Phoa Ceng Yan sudah mengerti bila menghadapi situasi semacam ini hari tidak mungkin bisa diselesaikan dengan bersilat lidah saja! Mendadak ia menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaa…..haaa….. bilamana kalian bertiga tidak suka menghargai diriku dan melepaskan aku orang she Phoa, maka seperti apa yang dikatakan oleh nona itu, hal ini adalah suatu peristiwa yang tidak bisa dipikirkan lagi. Kami dari pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok selamanya tidak suka mencari gara-gara tanpa alasan, tetapi kamipun tidak takut menghadapi peristiwa yang sengaja mencari kami……..”

“hee……..he… kalau begitu sangat bagus sekali,” sambung si orang berbaju hitam yang ada di tengah dengan suaranya yang amat dingin.”Bilaman kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw merasa punya kekuatan untuk menghadapi kami Lam Thian Sam Sah, kitapun tidak usah banyak cingcong yang tak ada gunanya lagi.”

Si dara berbaju merah itu mendadak menekuk pinggangnya dan mencelat ke tengah udara dengan gaya yang amat gesit, tubuhnya dengan sangat ringan melayang turun kurang lebih delapan depa di atas permukaan salju, ujarnya sambil tertawa, “Kami bersaudara masih mempunyai janji dengan orang lain sehingga tak dapat membuang banyak waktu lagi, jikalau memang urusan sudah diputuskan demikian maka siauw moay ada maksud hendak minta beberapa petunjuk dari kepandaian silat Phoa Hu Cong Piauw-tauw…..!”

Phoa Ceng Yan segera mengalihkan pandangannya memandang ke arah dara berbaju merah itu dengan tajam.

Tampaklah wajahnya sangat cantik dengan satu senyuman menghiasi bibirnya, jika ditinjau dari sikapnya sama sekali tiada maksud hendak bergebrak melawan orang lain apalagi tangannya kosong sama sekali tidak membawa senjata tajam.

Sudah lama si telapak besi gelang emas berkelana di dalam dunia persilatan, pengalamannyapun sangat luas sekali di dalam menghadapi perubahan-perubahan yang sering terjadi di dalam Bu-lim. Kini bukannya segera turun tangan menghadapi gadis tersebut sebaliknya malah memberi pesan wanti-wanti kepada Nyoo Su Jan serta Lie Giok Liong untuk jangan bertindak secara gegabah.

“Nona! Kenapa kau tidak mencabut keluar senjata tajammu?” tanyanya kemudian sambil mendehem.

Senyuman yang semula menghiasi di atas bibir dara berbaju merah itu mendadak lenyap tak berbekas.

“Senjata tajam nonaku ada di dalam badan, bilamana kau tidak dapat menemukannya hal ini mengerti kau bila matamu sudah buta” serunya dingin.

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan segera memperoleh sekejap ke arah Lie Giok Liong, lalu ujarnya, “Giok Liong! Kau pergilah menemui diri nya tetapi harus berhati-hati, senjata yang digunakan tentulah semacam senjata tajam yang berbentuk sangat aneh, lebih baik setelah melihat dia orang mencabut keluar senjatanya kau baru turun tangan.”

Lie Giok Liong mengangguk, dengan cepat ia mencabut keluar goloknya dari dalam sarung.

Hawa murninya ditarik panjang-panjang dari pusar mengelilinginya seluruh tubuh kemudian dengan langkah yang lambat berjalan kehadapan si dara berbaju merah itu.

“Cayhe Lie Giok Liong, mari biarlah aku orang menemani nona untuk bergebrak beberapa jurus, silahkan nona untuk mencabut keluar senjatamu” katanya.

Agaknya si dara berbaju merah itu bersifat sangat aneh sekali, wajah yang semula dingin kaku mendadak tersungging kembali satu senyuman.

“Ayoh @ Mulailah turun tangan.” ujarnya. “Sudah tentu aku bisa memperlihatkan senjata tajamku! Hati-hatilah…..!”

Baru saja perkataannya selesai diucapkan tubuhnya sudah menerjang maju kedepan melancarkan satu pukulan dashyat ke depan.

Ternyata ia sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap golo baja yang berada di tangan Lie Giok Liong.

Dengan wajah serius Lie Giok LIong segera berkelit ke samping.

“Bilamana nona tidak mencabut keluar senjatamu, cayhe….”

“Bilamana nonamu merasa perlu menggunakan senjata tajam, aku bisa mencabutnya sendiri!” potong dara berbaju merah itu dengan cepat.

Sepasang telapak tangannya bersama-sama ditepuk kedepan dengan menggunakan jurus Siang Hong Cian Ei” atau sepasang angin menembus telinga.

Lie Giok Liong mengerutkan alisnya rapat-rapat, goloknya mendadak di babat sejajar dada.

Tampaklah cahaya golok berkilauan menyilaukan mata, dengan gaya mendatar ia membabat pinggang lawan.

Si dara berbaju merah itu segera tertawa cekikikan, sepasang telapak tangannya yang didorong kedepan mendadak menekan ke arah bawah, pinggangnuya yang menekuk tahu-tahu seluruh badannya sudah mencelat ke tengah udara menghindarkan diri dari datangnya babatan golok tersebut.

Kemudian tubuhnya yang ada ditengah udara berkelebat lewat dari atas batok kepala Lie Giok Liong, sepasang kakinya dengan meminjam gerakan tesebut melancarkan tendangan kilat menghajar batok kepala dari lelaki tersebut.

Bilamana tendangan in sampai mengenai sasarannya, sekalipun tidak mati sedikit-dikitnya Lie Giok Liong akan menderita luka yang amat parah.

Pada saat yang amat kritis itulah…… mendadak tampak Lie Giok Liong menjatuhkan dirinya ke depan, golok di tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Hwee So Wang Gwat” atau menoleh ke belakang memandang rembulan menggulung dari bawah ke atas mengancam sepasang kaki sang dara berbaju merah yang mengancam dirinya tadi.

Melihat datangnya babatan golok tersebut si dara berbaju merah itu segera berjumpalitan di tengah udara, tubuhnya gesit laksana sehelai daun kering, tahu-tahu ia sudah melayang ke atas permukaan salju beberapa kaki jauh dari tempat semula.

Lie Giok Liong segera menarik kembali goloknya dan disilangkan di depan dada, ia tidak melakukan pengejaran, sebaliknya tertawa dingin tiada hentinya.

“Heee….heee…… bilamana nona tidak mencabut keluar senjatamu, kemungkinan sekali …….”

“Kau tidak usah menyombongkan diri” bentak dara berbaju merah itu dengan nyaring.

Tangan kanannya diayunkan ke depan, serentetan cahaya merah dengan cepatnya meluncur ke arah lelaki kekar tersebut.

Jarak antara mereka berdua cuma delapan depa saja, cahaya merah itupun dengan cepatnya sudah meluncur mendatang.

Lie Giok Liong sendiri dapat melihat pula datangnya cahaya merah tang berbentuk tidak mirip seperti senjata rahasia, diam-diam pikiran dalam hati.

“Senjata aneh macam apakah ini? Bagaimana mungkin bisa disembunyikan di balik ujung baju dan diayun ditarik semaunya sendiri??”

Di dalam hal ilmu silat, kebanyakan kelihayan dari suatu ilmu kepandaian terletak didalam gerakan yang cepat, siapa cepat dia yang berhasil menguasai pihak lawannya.

Karena itu walaupun di dalam hati Lie Giok Liong berpikir keras, tetapi gerakan tangannya sama sekali tidak berhenti.

Goloknya dengan menggunakan jurus “Siauw Cu Si Lie” atau membabat kaki menyambar sepatu menghajar cahaya merah yang menyambar datang kearahnya itu.

Si dara berbaju merah itu segera menggetarkan tangan kanannya, cahaya merah yang semula melayang datang laksana seekor ular berbisa itu mendadak berbelok lalu menyambar ke arah pergelangan tangan kanan Lie Giok Liong yang mencekal golok.

Pada saat ini Lie Giok Liong sudah dapat melihat jelas bila cahaya merah tadi bukan lain adalah sebuah angkin warna merah yang amat lemas, tetapi di bawah gerakan perubahan yang sangat lihay dari gadis tersebut ternyata benda yang lemas itu bisa bergerak dan menyambar semau hatinya.

Tak terasa lagi dalam hati ia merasa amat terperanjat sekali, buru-buru pergelangan tangannnya ditekan ke arah bawah kuda kudanya bergeser dan menyingkir sejauh lima depa dari tempat semula.

“Kena!” bentak dara berbaju merah itu keras.

Angkin merahnya ditekan ke bawah lalu menyambar dan menggulung ke atas.

Buru-buru Lie Giok Liong menarik napas panjang-panjang, dengan menggunakan jurus “Han Tee Pah COng” atau tanah tandus mencabut bawang tubuhnya mencelat ke tengah udara setinggi sembilan depa lebih.

Maksud hati dari si dara berbaju merah itu justru hendak memaksa pihak musuhnya mencelat meninggalkan permukaan tanah, terdengar ia tertawa cekikikan angkin merahnya dengan cepat mengikuti gerakan tubuh pihak lawannya meluncur ke atas dan melibat sepasang kaki Lie Giok Liong.

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yan yang melihat kejadiaan ini segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, baru saja tubuhnya siap-siap bergerak maju untuk memberi pertolongan, si dara berbaju merah itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya menyentak angkin tersebut keatas.

Tubuh Lie Giok Liong tidak dapat mempertahankan dirinya lagi, bersama-sama dengan goloknya ia mencelat sejauh tiga empat kaki dari tempat semula.

Lie Giok Liong cuma merasakan segulung tenaga dalam yang maha dashyat membawa tubuhnya ke tengah udara, belum sempat ia mengambul suatu tindakan mendadak telinganya terasa sambaran angin yang kencang menyambar lewat diikuti kepalanya terasa pening, matanya berkunang-kunang, dengan menimbulkan suara yang amat keras tubuhnya sudah terbanting keras ke atas permukaan salju.

Si panah gelap Shaw Kiat dengan cepat meloncat maju ke depan, ditengah berkelebatnya sang jari tangan tahu-tahu ia sudah menotok jalan darah dari Lie Giok Liong.

Si telapak besi gelang emas Phoa Ceng Yang adalah seorang yang berpikiran panjang, melihat kesempatan untuk menolong anak buahnya sudah tidak sempat lagi dengan cepat pikirannya berubah, ia tidak lagi berusaha untuk turun tangan menolong anak buahnya sebaiknya malah berbisik kepada Nyoo Su Jan yang ada disisinya.

“Permainan angkin dari perempuan ini sangat aneh dan lihay sekali, sebentar lagi biarlah loohu turun tangan sendiri.”

Lie Siauw Piauw-tauw sudah tertawan musuh, apakah majikan kedua tidak ada maksud untuk menolong orang?” tanya Nyoo Su Jan cepat.

“Melindungi barang kawalan lebih penting asalkan mereka tidak turun tangan membinasakan Giok Liong pada saat ini juga, aku rasa dirinya tidak bakal terjadi suatu peristiwa yang mengerikan, cepat kau kembali ke kereta untuk melindungi barang kawalan kita itu.”

Diam-diam Nyoo Su Jan mulai mempertimbangkan berat-entengnya urusan ini, akhirnya ia merasa bila perkataan dari Phoa Ceng Yan sedikitpun tidak salah.

Tujuan dari Lam Thian Sam Sah adalah hendak membegal barang kawalan, asalkan barang-barang tersebut tidak sampai lenyap maka merek perusahaan Liong Wie Piauw-kiok-pun akan berhasil dilindungi.

Setelah di dalam hatinya mengambil keputusan, iapun segera berbisik ke arah si orang tua itu, “Jie Tang Kia!(majikan kedua) walaupun kepandaian silat yang kau miliki sangat tinggi, tetapi lebih baik jangan bergebrak terlalu lama, melindungi barang kawalan jauh lebih penting….”

“Aku sudah tahu!” potong si orang tua itu dengan cepat, “cepat kau mengundurkan diri dari sini dan balik ke kereta. Toa Hauw rada bebal sedang Cun Jia masih muda dan tidak banyak mengetahui urusan, mengatur siasat di dalam musuh masih harus menunggu kedatanganmu.”

Nyoo Su Jan tidak dapat berpikir lebih panjang lagi, ia mengiakan lalu mengundurkan diri dari tempat itu.

Waktu itu si dara berbaju merah tersebut sudah menarik kembali angkin merahnya dan dengan genit berjalan mendekat.

“Aaach…. orang muda jaman sekarang semakin bergebrak semakin tua tidak bersemangat” serunya sambil tertawa. “Kelihatannya kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw harus turun tangan sendiri”.

“heee…..heee…. Nona! Kau jangan sombong dulu!” kata Phoa Ceng Yan sambil mendehem perlahan. “Aku orang she Phoa sudah ada puluhan tahun lamanya melakukan pekerjaan mengawal barang dan mengalami pula berbagai badai hujan yang besar maupun kecil, tetapi ….. loohu ada beberapa patah kata yang hendak diucapkan terlebih dahulu sebelum kita mulai bergebrak.”

“Hii…. hii…… bagus sekalu siauw-moay akan pentang lebar telinga untuk mendengarkan perkataanmu”

“Hmm! Orang-orang kangouw memberi julukan si telapak besi gelang emas kepada aku orang she Phoa, gunakan senjata rahasia gelang emas akan memberi tanda terlebih dulu tetapi nama besar Lam Thian Sam Sah sangat cemerlang, kepandaian silatnyapun tinggi, maka dari itu di sini aku tidak akan memberi tanda sewaktu hendak melancarkan senjata rahasia”.

“Heee…..heee…… kawan kawan kangouw yang sering menggunakan senjata rahasiapun sedikit jumlahnya, hal ini aku rasa tidak patut diherankan” kata si dara berbaju merah itu tawar.”Kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw  ada berapa banyak gelang emas yang kau bawa boleh dikeluarkan semua, bilamana semisalnya aku menderita luka, maka hal ini cuma bisa salahkan kepandaian silatku kurang becus. Kau masih ada perkataan apa lagi yang hendak diucapkan? Kalau sudah bergebrak tak ada waktu untuk berbicara lagi lhoo!”

Phoa Ceng Yan sengaja memberi keterangan soal senjata rahasia gelang emasnya, hal ini sebenarnya tidak lebih hanya merupakan jebakan yang sedang menjirat pihak lawannya saja.

Walaupun si dara berbaju merah itu binal dan nakal tetapi ia kena terjirat juga oleh perkataan dari Phoa Ceng Yan si jago kawakan dari Bulim ini.

Menanti gadis itu telah selesai mengucapkan kata-kata tersebut, Phoa Ceng Yan baru mengutarakan isi hati yang sebenarnya.

“Bilamana nona berbicara demikian, aku orang she Phoa malah ingin menanyakan kembali akan satu persoalan”.

“Urusan apa?”

Tadi cayhe sudah pernah terangkan barang kawalan dari perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok kami kali ini tidak bisa dikatakan barang kawalan sebaliknya merupakan keselamatan dari satu keluarga rakyat biasa, ada tua ada muda ada lelaki ada perempuan, aku orang she Phoa benar-benar merasa tidak paham, dengan nama besar Lam Thian Sam Sah, kenapa mendadak bisa mengincar nyawa beberapa orang tua yang lemah tak bertenaga itu”.

Kendati mereka lemah, tetapi perusahaan Liong Wie Piauw-kiok tidak lemah, barang kawalan yang ditangani sendiri oleh kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw tentu bukannya suatu barang kawalan yang murah harganya……” kata si dara berbaju merah itu.

“Justeru yang tidak aku orang pahami adalah dalam soal ini, sebenarnya kalian tiga bersaudara sengaja mencari Liauw yang lemah gemulai tak bertenaga itu?? Ataukah sengaja hendak mencari gara-gara dengan kami pihak perusahaan ekspedisi Liong Wie Piauw-kiok? Bilamana kalian sengaja mencari gara-gara dengan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami maka urusan mudah sekali diselesaikan, hari selanjutnya masih panjang, kita bisa teruskan suatu hari dan bulan untuk menyelesaikan persoalan ini baik secara damai maupun diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian silat masing-masing, dengan begitu hal ini tidak sampai mengikut sertakan keluarga lain yang sama sekali tidak tahu menahu urusan apalagi bisa melemahkan nama besar kalian Lam Thian Sam Sah di dalam dunia kangouw!”

(Bersambung Jilid ke 2)

Jilid 2

“Heey…… kau orang benar-benar tidak malu disebut sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, perkataan-mu benar-benar sangat tajam sekali!” seru si dara berbaju merah itu keras. “Bilamana kedatangan kami justeru bertujuan pada keluarga Liuw itu, lalu kau mau apa?”

“Membuka perusahaan ekspedisi, yang dipentingkan adalah perdagangan, pemilik barang serta langganan membayar uang, kita lantas melindungi keselamatan mereka sekeluarga, hal ini boleh dikata sama dengan menjual nyawa buat mereka, “Sekalipun tidak melihat di atas wajah emas pandanglah wajah sang Budha. “Kita sama-sama adalah orang Bu-lim, bilamana saudara bertiga suka melepaskan diri kami hari ini, bukan saja cayhe merasa sangat berterima kasih atas kebaikan budi kalian tiga bersaudara, yang lain lolap tidak berani bicara sombong. Cong Piauw-tauw kami paling gemar berkawan dengan jago-jago kangouw, enam karesidenan di daerah utara tak seorangpun yang tidak tahu bilamana perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kami belum pernah mengalami pembegalan, yang penting dari kesemuanya ini sebetulnya tidak lain dikarenakan kawan-kawan kangouw suka memberi muka kepada kami.”

“Ehmm…! Soal ini sejak semula kami sudah berhasil memperoleh kabar yang sangatt jelas sekali, jangan dikata Cong Piauw-tauw kalian, cukup kau si telapak besi gelang emas Pho Hu Cong Piauw-tauw-pun sudah dipandang tinggi oleh orang-orang yang ada di dalam enam karesidenan di daerah utara, yang jatuh kecundang di bawah tanganpun paling sedikit ada tiga empat puluh orang banyaknya, kalau memangnya kita berani turun tangan untuk membegal barang kawalan kalian pada kali ini, terus terang saja sejak semula kami sudah memperhitungkan pula atas kelihayan-nya, berhasil atau gagal pokoknya tidak akan merugikan perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian….”

“Baiklah!” seru Phoa Ceng Yan kemudian sambil mengulapkan tangannya. “Bilamana kalian bertiga benar-benar ada maksud untuk turun tangan menahan barang kawalan kami, aku orang she Phoa pun tidak ingin menebalkan muka untuk memohon lagi pada kalian Lam Thian Sam Sah pun merupakan orang yang mempunyai muka di dalam dunia kangouw, aku harap kau suka bergebrak sesuai dengan peraturan Bu-lim.”

“Ooouw…. membegal barang kawalanpun masih ada peraturannya juga? waah…waah… soal ini terpaksa siauw-moay harus minta petunjuk dari dirimu” goda si dara berbaju merah itu sambil tertawa cekikikan.

Selama ini si lelaku kasar bersenjata aneh serta si sastrawan berjubah biru itu tetap berdiri di tempat semula tanpa bergerak maupun ikut berbicara barang sepatah katapun, agaknya segala urusan sudah diserahkan kepada si dara berbaju merah yang paling kecil ini untuk mengambil keputusan.

Diam-diam Phoa Ceng Yan mulai menghitung waktu, ketika dirasanya waktu sudah cukup bagi Nyoo Su Jan untuk mengatur siasat penjagaan ia baru tertawa tawar.

“Harap kalian jangan melukai langganan kami, yang mengawal benda tersebut adalah perusahaan Liong Wie Piauw-kiok, maka dari itu kalian boleh langsung mencari aku orang she Phoa untuk bikin beres urusan ini, hutang ada pemiliknya, dendam ada penyebabnya, kalian janganlah sekali-kali mencelakai langganan kami.”

“Hiii…..hiii… jika demikian adanya, kau Pho Hu Cong Piauw-tauw agak sudah tidak mempunyai kepercayaan lagi untuk mempertahankan barang kawalanmu kali ini bukan?” goda si dara berbaju merah itu kembali sambil tertawa cekikikan.

“Untuk sementara lebih baik nona jangan menyombongkan diri terlebih dulu, siapakah yang bakal menang dan siapa yang bakal angsor siapapun diantara kita tak bisa menentukan mulai sekarang!”

“Heee….heee…. kalau begitu kau boleh mulai turun tangan!”

Walaupun di dalam kalangan dunia kangouw nama Lam Thian Sam Sah sudah terkenal akan telengasnya, tetapi bilamana membicarakan soal pengalaman di dalam dunia persilatan sulit untuk menangkan diri si telapak besi gelang emas.

Phoa Ceng Yan sama sekali tidak dibuat gusar oleh perbuatan dari si dara berbaju merah itu, sembari diam-diam melakukan persiapan ujarnya dingin, “Perkataan dari aku orang she Phoa belum selesai…..” Tubuh si dara berbaju merah pada saat itu sudah berada sangat dekat dengan diri Phoa Ceng Yan, agaknya ia ada maksud untuk segera turun tangan.

Tetapi sewaktu dilihatnya Phoa Ceng Yan belum ada maksud untuk turun tangan bahkan berbicara kembali, terpaksa ia menahan sabar.

“Kalau begitu cepatlah kau katakan!” teriaknya keras.

“Menurut peraturan dunia kangouw, dengan kecemerlangan nama Lam Thian Sam Sah kalian hendak membegal barang kawalan orang lain maka perbuatan kalian tidak lebih seperti pencuri itik, pembegal anjing yang paling rendah derajatnya, sekalipun ini hari aku orang she Phoa harus jatuh kecundang di tangan kalian tiga bersaudara dan rubuh bermandikan darah, hal ini anggap saja kepandaian ilmu silat aku orang she Phoa tidak becus dan memang sepatutnya mati, melakukan perjalanan, di rumahpun ada peraturan rumah, sekalipun perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kita tidak akan melaporkan peristiwa ini kepada pengadilan, harap kalian bertiga suka mempertahankan barang-barang kawalan kami selama tiga bulan, kemudian menyurati Cong Piauw-tauw kami untuk meminta kembali barang-barang tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.”

“Bila tiga bulan sudah penuh?”

“Bilamana demikian adanya maka terserah kalian hendak berbuat apa terhadap barang-barang itu, karena dengan demikian kematian dari aku orang she Phoa sama sekali tidak sampai merusak merek perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kamu, bilamana nona berani menyanggupi usul ini, maka sekalipun aku orang she Phoa harus matipun dengan puas, sedang nama dari kalian tiga bersaudara pun tidak sampai tercemar di mata kawan-kawan Bu-lim lainnya.

“Tetapi apakah kebaikannya dari syarat tersebut terhadap kami tiga bersaudara?”

“Membegal ada peraturannya, bilamana kalian Lam Thian Sam Sah tidak suka mengikuti peraturan ini, maka kawan-kawan dari golongan Hek-to maupun Pek-to tidak akan memandang kalian lagi…”

Mendadak ia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak bahak……… lalu sambungnya kembali, “Bilamana semisalnya kalian bertiga benar-benar sekali lagi mengalahkan Cong Piauw-tauw kami dan mempertahankan barang-barang tersebut tidak sampai diminta kembali, maka enam kerisidenan di daerah Kiang Pak serta dua belas perusahaan piauw-kiok beserta lainnya akan secara rela mendekati kalian, sampai waktu itu bukan saja nama Lam Thian Sam Sah akan cemerlang, hidup kalian-pun boleh dikata terjamin penuh!”

“Baiklah! Kita tentukan demikian saja,” sahut si dara berbaju merah itu kemudian setelah termenung sebentar. “Biarlah nonamu mempertanggung jawabkan soal ini”

“Apakah nona sungguh-sungguh bisa mengambil keputusan di dalam persoalan ini?”

“Hmm! Walaupun aku Ang Nio Cu adalah kaum perempuan, tetapi perkataan yang sudah diucapkan keluar selamanya tidak pernah ditarik kembali.”

“Baik! Berdasarkan perkataan dari nona itu, loolap memuji dirimu sebagai seorang pendekar perempuan yang gagah perkasa.”

“Heeee……heeee…… sudah habis perkataanmu?” tanya Ang Nio Cu kemudian dengan nada yang amat dingin.

“Perkataan dari loolap sudah selesai!”

“Hiii…. hiii…. kalau begitu terimalah seranganku ini!” tiba-tiba teriak Ang Nio Cu sambil tertawa cekikikan.

Tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan, telapak tangannya dengan menimbulkan segulung hawa pukulan yang maha dashyat menghajar ke atas tubuh pihak lawannya.

“Serangan yang bagus” puji Phoa Ceng Yan keras, kaki kirinya segera melesat setengah langkah ke samping, huncwee di tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Hua Liong Thian Cing” atau melukis Naga menutul mata melancarkan totokan ke arah telapak tangan Ang Nio CU yang sedang melancarkan serangan.

“Nona! Ayoh gerakkan senjatamu” teriaknya.

Di luar ia berkata demikian, padahal dalam hati diam-diam pikirnya, “Bagus sekali! Ternyata budak amat licik, karenaya sewaktu hendak melancarkan serangan tadi sengaja ia memperlihatkan satu senyuman sehingga pihak lawan merasa datangnya serangan tersebut berada di luar dugaan.”

Ang Nio Cu sewaktu melihat ayunan huncwee dari Phoa Ceng Yan dengan amat tepat sekali berhasil menemukan jalan darah pada pergelangan tangan kanannya dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat.

“Si tua bangka ini benar-benar merupakan seorang jagoan lihay” pikirnya dalam hati. “Di dalam sekali serangan, arah yang dituju serta sangat tepat sekali, aku tidak boleh bersikap gegabah terhadap dirinya….”.

Tergopoh-gopoh tubuhnya berputar mengikuti gerakkan tangan dan melayang sejauh delapan depa ke samping.

Jagoan lihay bergebrak cukup dengan serangan pertama sudah tau pihak musuhnya berisi atau tidak, sewaktu Ang Nio Cu memutar badan berkelebat menyingkir ke samping tadi dalam hati Phoa Ceng Yan sudah mempunyai perhitungan yang sangat masak.

Ia mengetahui senjata angkin merah dari Ang Nio Cu yang disembunyikan di balik ujung baju merupakan suatu serangan yang aneh dan dashyat, apalagi ilmu meringankan tubuhnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari dirinya. Gerakan tubuhnya yang berkelebat ke samping ini pasti akan disusul dengan suatu serangan balasan yang amat lihay.

Phoa Ceng Yan, si jago kawakan yang banyak pengalaman, menghadapi musuh yang sangat tangguh ini ia bersikap sangat berhati-hati, melihat musuhnya mundur dia orang sama sekali tidak mengadakan pengejaran.

Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, begitu ujung kaki Ang Nipo Cu menginjak permukaan tanah tanpa menoleh lagi ia melancarkan satu serangan balasan yang sangat hebat.

Serentetan cahaya merah laksana pelangi yang terbentang di tengah angkasa langsung menyapu datang dengan gerakan mendatar.

Phoa Ceng Yang dengan tenang berdiri tegak di tempat semula, menanti serangan angkin merah itu hampir mengenai tubuhnya ia baru mencelat ke tengah udara, huncwee di tangannya dengan menggunakan jurus “Koay Coa Jut Hiat” atau Ular aneh keluar dari sarang menoton ke arah tubuh musuhnya.

Di dalam hal ilmu silat, yang penting adalah kecermatan pandangan serta kecepatan gerak, siapa cepat dia yang berhasil merebut posisi menguntungkan.

Tubuh Phoa Ceng Yan yang mencelat ke tengah udara ini dengan tepat berhasil mengisi kekosongan ruangan di antara kelebatan angkin merah dari Ang Nio Cu tersebut.

Tidak malu Ang Nio Cu disebut jagoan lihay, melihat posisinya tidak menguntungkan dan serangan musuh melanda sangat dashyat, angkin merahnya yang sedang melancarkan serangan tadi dengan mengikuti gerakan tubuh berputar satu lingkaran besar, sedang tubuhnya mengambil kesempatan tersebut mencelat dan bersalto beberapa kali di tengah udara sejauh satu kaki sehingga berhasil menghindarkan diri datangnya serangan tersebut.

“Hmmm! Ilmu meringankan tubuh nona sungguh hebat sekali!” dengus Phoa Ceng Yan dingin.

Ang Nio Cu yang beberapa kali kehilangan posisi yang menguntungkan, dari perasaan malu ia jadi gusar. Angkin merahnya kembali disentakkan lalu menggulung ke depan dengan gerakan mendatar.

Di dalam hati Phoa Ceng Yan sudah punya perhitungan, bilamana di dalam tiga lima gebrakan lagi dirinya berdasarkan pengalaman yang banyak di dalam menghadapi beratus-ratus kali pertempuran berhasil menangkap Ang Nio Cu untuk dijadikan sandaran bukan saja keselamatan Giok Liong akan terjamin, bahkan dengan mengandalkan keselamatan perempuan ini ada kemungkinan sekali barang kawalannya berhasil melewati rintangan ini dengan selamat.

Tetapi di dalam hati iapun merasa sangat paham, si orang berbaju hitam serta sang pemuda berjubah biru itu tidak akan membiarkan Ang Nio Cu kena dia tawan tanpa turun tangan memberi pertolongan, oleh karena itu satu-satunya harapan yang bisa ia pegang untuk memperoleh kemenangan ini adalah mengandalkan gerakan yang “Cepat”.

Cepat sehingga kedua orang itu tidak sempat turun tangan memberi bantuan, bilamana semisalnya kekuatan musuh terlalu kuat dan sulit untuk mencapai sesuatu keadaan sesuai keinginannya maka terpaksa ia harus mengundurkan diri ke tempat perhentian kereta-kereta kawalannya kemudia dengan menggunakan tenaga gabungan dari Nyoo Su Jan serta Thio Toa Hauw bersama-sama mengandalkan perlawanan sekuat tenaga.

Setelah si orang tua ini merencanakan siasat maju mundurnya dalam hati, hawa murninya dengan cepat disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh tubuh.

Kuda-kudanya diperkuat, huncwee ditangannya diangkat menyambut datangnya serangan tersebut.

Melihat gerakan dari pihak lawannya, diam-diam Ang Nio Cu memaki.

“Si tua bangka ini benar-benar amat sombong!”

Angkinnya diputar, dengan kecepatan laksana kilat mengurung huncwee tersebut.

Gerakannya ini dilakukan sangat cepat sekali, tahu-tahu angkin sudah mengikat sang huncwee erat-erat dan ditarik, dengan sekuat tenaga ke arah belakang.

Segulung tenaga yang amat besar segera membetot tubuh si orang tua itu maju ke depan.

Walaupun sejak semula Phoa Ceng Yan sudah mengadakan persiapan, tidak urung badannya kena ditarik juga sehingga meninggalkan permukaan tanah oleh betotan angkin dari Ang Nio Cu itu.

Diam-diam hatinya merasa amat terperanjat  pikirnya. “Aaakh …..! Sungguh tidak kusangka budak ini mempunyai tenaga dalam yang demikian dashyatnya.”

Dengan cepat kaki kirinya maju selangkah ke depan, sedang tangan kirinya diayun sambil membentak. “Nona! Lihat serangan.”

Tiga titik cahaya emas yang menyilaukan mata dengan cepat laksana kilat menyambar tubuh Ang Nio Cu.

Phoa Ceng Yan terkenal sebagai si telapak besi gelang emas, kecuali memiliki ilmu pukulan Thiat Sah Ciang yang amat lihay, senjata rahasia gelang emasnya boleh dikata merupakan suatu ilmu tunggal yang tiaada tandingannya.

Jarang sekali ada jagoan Bu-lim yang berhasil meloloskan diri dari serangan senjata rahasia gelang emasnya ini dan jarang pula ada yang berani melihat di manakah gelang-gelang emas itu disembunyikan.

Tampaklah di antara ayunan tangannya gelang-gelang emas beterbangan laksana kilat bahkan gelang-gelang itu disambit sesuai dengan jurus serangan yang digunakan sehingga boleh dikata kedashyatannya sulit untuk dicarikan tandingannya.

Dengan mengandalkan angkin merahnya yang lemas Ang Nio CU dapat menahan serangan golok serta pedang tajam, kesemuanya ini dikarenakan ia sudah mengandalkan jurus serangan yang aneh serta pengerahan tenaga dalam yang tepat pada waktunya.

Tetapi Phoa Ceng Yan sudah mengadakan persiapan sejak semula, ia mengerahkan ilmu bobot seribu katinya untuk memantek sepasang kaki di atas tanah, kedua buah kakinya ini seperti tiang kayu yang tertanam di tanah saja sedikitpun tak dapat tergeser.

Sewaktu Ang Nio Cu melihat datangnya serangan Huncwee tadi, ia sudah merasa dirinya bertemu musuh tangguh sehingga angkinnya buru-buru ditarik kembali, siapa sangka ketika itulah gelang emas dari Phoa Ceng Yan dengan menimbulkjan suara desiran tajam sudah mengancam datang.

Jarak antara mereka berdua sangat dekat sekali, datangnya serangan gelang emas itupun cepatnya luar biasa memaksa Ang Nio Cu dalam keadaan kepepet harus mengeluarkan ilmu “Thian Pan Kiauw” atau jembatan gantung yang merupakan ilmu pantangan bagi kaum wanita.

Tubuhnya menjatuhkan diri ke arah belakang dengan punggung menempel di atas permukaan salju.

Kendati perubahan geraknya dilakukan sangat cepat, tidak urung pundaknya kena tersambar juga oleh sebatang gelang emas sehingga pakaian merahnya robek dan melukai tubuhnya.

Bilamana misalnya pada waktu itu Phoa Ceng Yan menambahi lagi beberapa batang gelang emas maka Ang Nio Cu tak dapat terhindar lagi pasti akan menderita luka yang amat parah.

Tetapi hatinya welas kasih dan tidak ingin turun tangan jahat terhadap gadis itu, ia hanya mengharapkan bisa menawan Ang Nio Cu hidup-hidup untuk digunakan sebagai sandera.

Tubuhnya dengan cepat menubruk maju ke depan, Huncwee di tangannya menekan ke arah bawah menotok tubuh Ang Nio Cu.

Di dalam keadaan yang amat kritis ini, gadis berbaju merah itu sama sekali tidak jadi gugup. Ilmu meringankan tubuhnya yang sangat sempurna dengan cepat disalurkan keluar.

Tampak tubuhnya berputar menghindar diri dari totokan huncwee di tangan Phoa Ceng Yan kemudian mencelat bangun dari atas tanah.

Bayangan merah berkelabat secepat angin berlalu, tahu-tahu tubuhnya sudah berada satu kaki di tengah udara, di mana tangannya berkelabat angkin merahnya laksana seekor ular melibat tangan kiri dari si orang tua itu.

Diam-diam Phoa Ceng Yan berteriak sayang, tangan kirinya dibalik lima jarinya dipentangkan mencengkeram angkin tersebut dengan sebatnya.

Tetapi gerakan dari Ang Nio Cu jauh lebih cepat dari dirinyam mengambil kesempatan itu tangannya menyerok ke depan dengan sepenuh tenaga.

Phoa Ceng Yan kontan merasakan tubuhnya tak dapat berdiri tegak lagi dan terlempar empat lima depa ke depan kemudian jatuh terlentang di atas tanah.

Melihat musuhnya jatuh, Ang Nio Cu tidak kasih banyak kesempatan lagi buat lawannya untuk banyak berkutik, angkinnya kembali digetarkan mengancam sepasang kaki si orang tua itu.

Phoa Ceng Yan sejak terjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw pada dua puluh tahun yang lalu, belum pernah dia orang jatuh kecundang seperti ini hari, dalam hati sedihnya bukan alang kepalang.

Tetapi pertempuran ini bukanlah suatu pertandingan pi-bu yang dianggap selesai setelah kena ditutul, walaupun dalam hati ia merasa amat sedih iapun harus bangkitkan semangat kembali untuk melawan musuh.

Melihat Angkin merah dari Ang Nio CU kembali menyambar datang, hatinya merasa berdesir. Ia tahu bilamana kali ini sepasang kakinya kena tergulung kembali maka geguyon ini tidak akan kecil.

Tubuhnya bukan saja terlempar sejauh satu kaki saja, kemungkinana sekali ia akan terpental dan jatuh terjengkang seperti monyet menubruk katak.

Karena itu buru-buru tangannya diayun ke depan, empat batang gelang emas dengan menimbulkan suara desiran tajam menyambar ke arah depan.

Tidak lama berselang Ang Nio Cu sudah merasakan pahit getir di bawah serangan gelang emas itu karenanya ia tahu lihay dan tak berani melanjutkan serangannya kembali.

Tubuhnya buru-buru berkelit ke samping menghindarkan diri dari datangnya serangan senjata rahasia, kemudian mencelat ke tengah udara sejauh enam tujuh depa dari tempat semula.

Sewaktu Ang Nio Cu berkelebat untuk menghindarkan diri itulah, ditengah permukaan salju kembali terlihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya.

Dengan kebutan kipas yang membuka menutup, tahu-tahu keempat batang gelang emas dari Phoa Ceng Yan sudah kena tersapu lenyap tak berbekas.

Waktu itu Phoa Ceng Yang sudah berhasil bangun berdiri, ketika ia mengalihkan pandangannya maka tampaklah di posisi tubuh Ang Nio Cu pada saat itu telah berdirilah si siaucay berwajah putih berjubah biru itu dengan amat tenang.

Si siucay berbaju biru itu mendadak membentangkan kipasnya lebar-lebar sehingga keempat gelang emas yang kena tersapu tadi jatuh ke atas permukaan salju, kemudian tertawa terbahak-bahak dengan keras.

“Haaa….haaa……. walaupun sam moay berhasil kau babat pundaknya sehingga terluka tetapi kau sudah seri dengan menjatuhkan dirinya sehingga tertelentang. Walaupun tidak bisa dikata memperoleh kemenangan besar, tetapi kaupun tidak dikalahkan, coba kau berdirilah di samping untuk menjagakan Jie komu, aku ingin mencoba=coba dia orang sudah membawa seberapa banyak gelang emas,”katanya.

Phoa Ceng Yan yang melihat dia orang dapat menyapu keempat batang gelang emasnya di dalam sekali sambaran tanpa menimbulkan suara sedikitpun, dalam hati merasa amat terperanjat, pikirnya.

“Orang ini dapat menyapu keempat batang gelang emasku tanpa menimbulkan sedikit suarapun, hanya mengandalkan kepandaian ini saja aku sudah merasa tak berhasil memadahinya.”

Dia orang mana tahu bila kipas yang ada ditangan Loojie dari Lam Thian Sam Sah ini terbuat dari serat emas, serat perak, serta serat rambut dan merupakan sebuah senjata yang sangat aneh khusus untuk menghadapi berbagai senjata rahasia.

Permukaan kipas yang keras tapi halus itu mempunyai daya pental yang amat besar, sekalipun senjata rahasia tajamnya bagaimanapun sulit untuk merusak permukaan kipas tersebut apalagi mengeluarkan suara.

Walaupun dalam hati Phoa Ceng Yan merasa sangat kaget, tetapi urusan sudah ada di depan mata sudah tentu ia tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali secara diam-diam menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh.

“Haa……haa…..kawan!” serunya sambil tertawa terbahak-bahak. “Kepandaianmu di dalam menyikat senjata rahasia sangat lihay sekali, aku orang she Phoa sudah hidup setengah abad lamanya tetapi baru kali ini dapat melihat kepandaian tersebut untuk pertama kalinya.”

“Haaa…..haaa….. bilamana kami Lam Thian Sam Sah tidak memiliki sedikit andalan, bagaimana mungkin berani mengganggu barang kawalan dari piauw-kiok nomor satu pada saat ini??” seru si siucay berbaju biru itu pula sambil tertawa terbahak-bahak. “Kau si telapak besi gelang emas saat ini sudah membawa berapa banyak gelang emas haaaaaa?? Ayo keluarkan semua! Jika kau belum pernah melihat kepandaian semacam ini, maka ini hari aku akan pamerkan kepandaian tersebut di hadapanmu”.

“Hmm!” dengus Phoa Ceng Yan dingin. “CUkup berdasarkan perkataan yang baru saja kawan ucapkan ini seharusnya aku orang she Phoa minta beberapa petunjuk darimu, cuma …. kali ini aku orang she Phoa sedang mempertanggung jawabkan nyawa puluhan orang, biarlah kemangkelan kali ini cayhe tahan sampai lain waktu, bilamana di kemudian hari kita bertemu muka lagi maka ganjelan kita kali ini sekalian kita selesaikan”.

“Heee……heee…… bagus sekali ,” ujar si siucay berbaju biru itu sambil tertawa dingin. “Bilamana kita lewatkan kesempatan yang amat bagus ini kali, kemungkinan sekali di kemudian hari sudah tak ada waktu lagi untuk bertemu ……”

Mendadak air mukanya berubah hebat, dengan nada yang amat dingin sambungnya,”Kau sudah melanggar pantangan dari Loo toa kami, hal ini berarti pula kau mencari penyakit dan kemusnahan buat diri sendiri….”.

Dengan paksakan diri menahan rasa gusar di dalam hatinya, Phoa Ceng Yan segera merangkap tangannya menjura.”Tadi aku sudah membicarakan persoalan ini dengan Sam ku Nio, harap kalian suka menggunakan peraturan Bu-lim untuk melakukan pekerjaan ini. Lam Thian Sam Sah bukanlah manusia tak bernama di dalam dunia kangouw dan kemudian hari masih ingin tancapkan kaki terus di dalam Bu-lim, maka dari itu bilamana kalian hendak membegal barang kawalanku maka Loolap berharap jangan membunuh orang-orang yang tak bertenaga untuk memotong seekor ayampun, sedang mengenai nyawa dari piauw-su piauw-su piauw-kiok, bilamana kalian mau bunuh bunuhlah, paling-paling kami harus kehilangan selembar nyawa!”

Tidak menanti jawaban dari si siucay berbaju biru itu lagi, tubuhnya segera meloncat keluar dari kalangan dan mengundurkan diri ke arah pemberhentian kereta-kerata tersebut.

Tindakan dari Hu Cong Piauw-tauw perusahaan Liong Wie Piauw-kiok ini benar-benar di luar dugaan si siucay berbaju biru serta Ang Nio CU, tak terasa lagi mereka jadi terkesima dibuatnya.

Beberapa saat kemudian dengan langkah yang lambat Ang Nio Cu berjalan ke sisi si siucay berjubah biru itu sambil bisiknya, “Jie-ko! Phoa Ceng Yan bukan saja memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat lihay bahkan mempunyai kecerdikan yang melebihi orang lain, pengetahuannya di dalam menghadapi musuh-pun sangat luas, kita tidak boleh terlalu pandang enteng dirinya. Kini dia orang telah mengundurkan diri ke tempat pemberhentian kereta-kereta kawalannya, hal ini jelas memperlihatkan bila ia sedang mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melakukan suatu pertempuran mati-matian melawan diri kita ……!”

“Ilmu menyambit senjata rahasia gelang emas yang diandalkan oleh Phoa Ceng Yan memang lain daripada yang lain dan ilmu tersebut benar-benar merupakan sebuah ilmu yang maha sakti,” kata si siucay berbaju biru itu sambil tertawa. “Tetapi, setelah bertemu dengan aku orang dikata hari sial baginya sudah tiba. Kipas tulang bajaku ini memang khusus digunakan untuk menghadapi serangan-serangan senjata rahasia, di dalam ilmu kepandaian ini saja Jie-komu sudah ada empat lima belas tahun latihan, aku rasa senjata rahasia yang ada di dalam kolong langit pada saat ini dapat siau heng hadapi semua, ayoh jalan! Kita kejar mereka dan lihat keadaan situasi yang ada, jauh lebih baik bilamana jangan membiarkan Toa-ko turun tangan sendiri.

Mereka berdua sembari berbicara sembari melanjutkan perjalanannya dengan langkah lebar menuju ke tempat pemberhentian kereta-kereta kawalan itu.

Lam Thian Sam Sah walaupun belum mempunyai pengalaman yang sangat banyak di dalam menghadapi pertempuran, tetapi setelah melihat bentuk posisi dari kereta-kereta kawalan itu diam-diam dalam hati merasa terperanjat juga sehingga kedua orang itu sudah menghentikan langkahnya pada jarak kurang lebih empat lima kaki dari kereta-kereta itu.

Kiranya, kelima buah kereta tersebut dengan mengikuti kedudukan Ngo Heng kini sudah diatur sangat rapi sekali, kuda-kuda jempolan penghela kereta-pun telah dilepaskan semua.

Salju turun dengan derasnya, barisan kereta yang ada di depan mata serasa semakin menyeramkan bahkan secara samar-samar tersembunyi hawa membunuh yang sangat tebal.

Terdengar si siucay berbaju biru itu mendehem perlahan.

“Sam-moay, barisan kereta-kereta itu agaknya mempunyai perubahan yang sangat banyak sekali” katanya.

“Ehmm…” begini saja, biarlah siauw-moay pergi mencoba terlebih dulu sedang Ji-ko mengawasi dari samping, bilamana sudah menemukan titik kelemahan kau baru turun tangan” sahut Ang Nio Cu kemudian.

Ia merasa ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna, maka dari itu dalam hati ada maksud hendak memancing bergeraknya barisan-barisan itu sehingga memberi kesempatan buat si siucay berbaju biru itu untuk memeriksa titik-titik kelemahannya.

“Tidak bisa jadi” seru sastrawan berbaju biru itu menggeleng tiada hentinya. “Lebih baik aku saja yang pergi memeriksa kekuatan dari pihak musuh. Menurut pikiranku bila kita berjalan mendekat ke arah sana maka orang-orang di balik barisan kereta-kereta ini tentu akan mengandal ilmu menyambit senjata rahasia untuk mengacaukan pikiran musuh, aku percaya kipasku ini masih merupakan tandingan dari senjata-senjata rahasia mereka. Sam-moay! Kau awasi saja dari samping kalangan.”

Dengan cepat ia bentangkan kipasnya kemudian dengan lambat-lambat berjalan ke arah barisan kereta itu.

Ang Nio Cu yang mendengar perkataan Jie-konya sangat cengli, iapun segera mengangguk.

“Jie-k0, kau harus berhati-hati” pesannya.

“Tidak bakal konyol!” sahut si sastrawan berbaju biru itu sambil tertawa.

Walaupun begitu, dalam ati ia tidak berani pula terlalu memandang enteng pihak musuh, diam-diam hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.

Kurang lebih setelah ia tiba dua kaki dari barisan kereta, anak panah mulai berdesiran dan menyambar datang cepat laksana sambaran kilat.

Si sastrawan berbaju biru itu segera menggerakkan kipasnya untuk menangkis, kedua batang anak panah tersebut kontan saja kena tertahan.

Walaupun sastrawan tersebut berhasil memukul jatuh senjata rahasia yang datang menyambar tidak urung iapun merasa bila kekuatan dari sambaran anak panah tersebut benar-benar luar biasa hebatnya, bahkan lain keadaannya dengan penyambitan senjata rahasia biasa. Tak terasa ia sudah menghentikan langkahnya.

“Eeeeei……… kenapa kau berhenti?” seru Ang Nio Cu sambil mengejar datang.

“Di balik kereta-kereta itu sudah menyembunyikan jaga-jago memanah yang sangat lihay disamping si telapak besi serta kedua orang piauwsunya, bilamana kita menerjang lebih dekat ke arah kereta-kereta itu, di bawah serangan anak panah serta senjata rahasia yang gencar, tidak urung pikiran kita akan bercabang pula, bila demikian adanya maka keadaan kita pada waktu itu sangat berbahaya, kita tidak bakal sanggup untuk menahan serangan gabungan dari si telapak besi gelang emas beserta kedua orang Piauw-tauw-nya.

“Perkataan Jie ko sedikitpun tidak salah,” kata Ang Nio Cu sambil mengerutkan alisnya. “Bilamana kita tidak berhasil menghadapi mereka dengan saling berhadap-hadapan, maka terpaksa Toako harus ikut campur.”

“Nanti dulu ….. jangan gugup!”

“Kenapa?” tanya sang dara berbaju merah itu sambil tertawa. “di dalam cuaca yang sedemikian dinginnya ini, Siauw moay tidak ingin merasa kedinginan terlalu lama di atas permukaan salju.

“Aku sedang memikirkan suatu cara untuk mendekati kereta-kereta tersebut, atau paling sedikit harus memberi sedikit pukulan kepada mereka…”

Sewaktu mereka berdua lagi berbicara itulah, mendadak terasa sambaran angin tajam memenuhi angkasa, empat batang anak panah dengan menimbulkan suara desiran yang santer bersama sama menerjang datang.

Ang Nio CU kerahkan hawa murninya, mendadak sang tubuh mencelat setinggi beberapa kaki, kedua batang anak panah itu dengan membawa cahaya keemas-emasan yang bergemerlapan kontan menyambar lewat dari bawah kakinya.

Sedang si sastrawan berbaju biru itu dengan menggunakan cara yang lama menyampok jatuh kedua batang anak panah yang datang dengan dengan menggunakan sang kipas di tangannya.

Ang Nio Cu setelah berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan anak panah itu, ia sama sekali tidak mengundurkan dirinya ke belakang.

Tubuhnya dengan cepat bersalto beberapa kali di tengah udara kemudian langsung menubruk ke arah kereta berkuda itu.

Melihat kejadian itu si sastrawan berbaju biru jadi sangat kaget.

“Celaka!” teriaknya keras.

Dengan menggunakan senjata kipasnya melindungi dada, tubuhnya segera bergerak pula menerjang ke arah barisan kereta tersebut.

Pada saat itulah terdengar suara desiran tajam memekikkan telinga, berpuluh-puluh batang anak panah dengan cepatnya menyambar datang mengancam seluruh tubuhnya.

Si sastrawan berbaju biru itu dengan cepat menggerakkan kipasnya membentuk selapis bayangan rapat melindungi seluruh tubuh, sedang badannya melanjutkan terjangan mendekati kereta-kereta itu.

Terdengar suara bentakan yang keras serasa halilintar yang membelah bumi, sebuah senjata rantai berkepala martil dengan dahsyatnya menggulung ke depan.

Sang sastrawan berbaju biru yang merasa datangnya serangan martil tersebut sangat dahsyat dan aneh, ia tidak berani terlalu memandang enteng musuhnya.

Sambil menarik napas panjang-panjang, tubuhnya mencelat ke atas dan melayang turun ke atas kereta yang lain.

Thio Toa Hauw yang melihat serangannya tidak mencapai pada sasaran, tubuhnya segera munculkan diri dari balik kereta, tangan kanannya disentak menarik kembali martilnya.

Senjata rantai berkepala martil ini sebenarnya merupakan suatu senjata aneh yang luar biasa dahsyatnya, apalagi bila dibentangkan di sebuah lapangan yang luas, tetapi di dalam situasi yang begitu rapat dan sempit, senjata tersebut malah terasa sangat merepotkan sekali.

Si sastrawan berbaju biru itu setelah berhasil menghindarkan diri dari datangnya serangan martil, kipasnya mendadak dibentangkan lebar-lebar. Dua rentetan cahaya yang gemerlapan segera melesat keluar menembusi angkasa.

Kiranya senjata kipasnya ini bukan saja khusus digunakan untuk menggagalkan serangan senjata rahasia, bahkan dibalik tabung besi tersembunyi pula alat rahasia yang dapat melancarkan serangan senjata rahasia.

Perawakan tubuh Thio Toa Hauw tinggi besar, sehingga membuat serangannya sudah tidak begitu gesit, apalagi serangan senjata rahasia dari si sastrawan berbaju biru itu amat kecil dan sama sekali tak bersuara.

Ia Cuma merasakan sepasang lengannya jadi kaku, masing-masing bagiannya sudah kena terhajar sebatang jarum halus.

Walaupun dia adalah seorang yang rada bebal, tetapi pengalamannya selama berpuluh tahun membuat pengetahuannya-pun sangat luas, setelah terkena hajaran senjata rahasia jarum halus itu, ia lantas merasa bila jarum itu sudah dipolesi dengan racun, tak terasa lagi segera teriaknya keras, “Eeeei…… hati-hati! Jarum Bwe Hoa Tin dari bangsat cilik ini sudah dipolesi dengan racun.”

Sembari berteriak ia tidak berpeluk tangan begitu saja rantai berkepala martil-nya kembali disapu ke atas tubuh sastrawan berbaju biru itu dengan gerakan sangat dashyat.

Thio Toa Hauw memang dilahirkan mempunyai tenaga dalam yang sangat mengejutkan, tetapi penggunaan tenaga dalamnya sangat terbatas sekali dan tidak mengerti cara menutup jalan darah, ditambah pula racun dari sastrawan berbaju biru itu sangat dashyat, daya bekerjanya amat cepat sekali.

Belum sempat senjata rantai berkepala martilnya mencapai pada sasaran, tubuhnya sudah tidak ada tenaga lagi. Dengan menimbulkan suara yang amat keras ia rubuh ke atas tanah.

Tindakan dari si sastrawan berbaju biru itu ternyata cukup telengas, berkali-kali ia memencet alat rahasianya melancarkan serangan jarum beracun secara berantai.

Para jagoan yang sedang bersembunyi di balik kereta dengan cepatnya berhasil ia lukai sebanyak lima-enam orang.

Seluruh kejadian ini berlangsung hanya dalam sekejap mata, Nyoo Su Jan waktu itu sudah berhasil meloncat naik ke atas wuwungan kereta, dengan mengandalkan senjata sepasang Poan-Koan-pit-nya ia menyerang si sastrawan berbaju biru itu dengan kejarannya sehingga terdesak turun dari kereta dan melangsungkan suatu pertempuran yang amat sengit di atas permukaan salju.

Sebaliknya Ang Nio Cu yang mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna berjumpalitan beberapa kali di tengah udara menghindari datangnya serangan anak panah, tangan kanannya segera diajukan ke depan mengeluarkan sang angkin merahnya mengikat kencang di atas kereta, kemudian dengan meminjam kekuatan tersebut tubuhnya melayang ke depan pintu kereta  membuka horden dan mencengkeram keluar seorang wanita yang berusia empat puluh tiga-empat tahunan.

Hujien itu memakai baju berwarna biru dengan celana biri, sepatunya berwarna merah menyolok dengan tusuk konde pualam menghiasi rambutnya, tubuhnya yang kena dicengkeram Ang Nio CU kelihatan gemetar sangat keras, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat.

Pada saat Ang Nio Cu berhasil mencengkeram keluar wanita perlente itulah, dua batang gelang emas dengan santar dan dashyat-nya sudah menyambar datang mengancam pelipis kanan dari perempuan tersebut.

Buru-buru Ang Nio CU miringkan kepalanya ke samping, gelang-gelang emas tadi dengan dashyatnya menyambar lewat.

Walaupun tidak berhasil menghajar pelipisnya, tidak utung kain pengikat kepalanya kena terhajar putus sehingga rambutnya yang panjang terurai ke bawah.

Phoa Ceng Yan dengan cepat meloncat datang, di atas punggungnya terikat sebuah buntalan putih yang sangat besar.

“Ang Nio Cu!” terdengar ia membentak keras,”Liauw Hujien tidak paham ilmu silat, bukankah kalian sudah menyanggupi untuk tidak melukai langganan kami  heem! Ayo cepat lepas tangan!”

Ang Nio Cu sudah pernah merasakan kelihayan dari gelang-gelang emas tersebut, karenanya ia merasa rada jeri juga terhadap si orang tua itu. Dengan cepat tangan kirinya menyambar melintangkan tubuh Liauw Hujien ke depan tubuhnya sendiri.

“He….he …. sedikitpun tidak salah, Liauw Hujien memang tidak bisa ilmu silat” serunya dingin. “Jikalau kau berani melancarkan sebatang gelang emas lagi maka benda tersebut akan berubah menjadi benda pencabut nyawa bagi Liauw Hujien!”

Pada jarak yang sedemikian dekatnya ini bilamana semisalnya Phoa Ceng Yan benar-benar melancarkan serangan gelang emas dengan menggunakan gerakan yang aneh, sekalipun ilmu meringankan tubuh dari Ang Nio Cu lebih lihaypun jangan harap bisa meloloskan dengan selamat.

Tetapi setelah melihat tindakan dara berbaju merah itu, karena takut sampai melukai Liauw Hujien maka si orang tua itu jadi ragu-ragu untuk turun tangan.

Pada saat itulah dari balik kereta sebelah timur berkumandang keluar suara seseorang yang sangat berat dan keren, “Phoa Piauw-tauw! Kau tidak usah mengurusi keselamatan dari istriku lagi, cepat bawa barang itu untuk berusaha lolos dari sini!”

“Bila Thayjien sudah putuskan demikian cayhe terpaksa akan mengikuti perintah saja.” jawab Phoa Ceng Yan kemudian sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah.

Tubuhnya dengan ringan segera mencelat ke tengah udara dan melarikan diri ke arah sebelah timur.

Sewaktu tubuhnya sedang melayang ke arah depan itulah, mendadak kembali tampak sesosok bayangan manusia menyambut kedatangannya dengan cepat.

Dalam hati si orang tua itu merasa sangat kaget, dengan cepat ia menggerakkan tangannya melancarkan satu pukulan ke depan.

Orang itupun tidak mau memperhatikan kelemahannya, melihat datangnya serangan tersebut dengan cepat iapun balas mengirim satu pukulan menerima datangnya serangan musuh dengan keras lawan keras.

“Braaaaaak…..!” dengan menimbulkan suara bentrokan yang amat keras, tubuh mereka sama-sama tergetar mundur ke belakang sejauh beberapa langkah.

Bentrokan kali ini ternyata menghasilkan seri, sedang kedua sosok bayangan manusia itupun bersama-sama melayang turun ke atas permukaan tanah.

Ketika Phoa Ceng Yan mendongakkan kepalanya, maka tampaklah si orang berbaju hitam yang tangan kanannya menggembol senjata aneh seperti lengan bocah itu sudah berdiri di hadapannya dengan angker, dia bukan lain adalah Loo-toa dari Lam Thian Sam Sah.

Diam-diam hatinya merasa berdesir juga setelah menghadapi situasi seperti ini, pikirnya, “Senjata aneh tersebut masih tergembol di tangan kanan, hal ini mengartikan juga bila pukulanku tadi sudah diterima dengan tangan kirinya, walaupun bentrokan barusan belum dapat menentukan siapa yang menang siapa yang kalah, tetapi orang lain menggunakan tangan kanan, jelas tenaga dalamnya jauh melebihi Ang Nio CU serta si sastrawan berbaju biru dan jauh lebih tinggi setingkat dari tenaga dalamku……”

Belum habis ia berpikir si orang berbaju hitam itu sudah menegur kembali dengan suaranya yang sangat dingin.

“Heee…….he…… Phoa Ceng Yan, kau tidak bakal lolos dari tanganku, kau tidak mau mendengarkan peringatan cayhe dan sengaja berbuat sesuka hatimu, hal ini menandakan bila kalian memang sengaja mencari penyakit sendiri. Hmm! Terus terang saja aku beritahukan, yang aku mau sebenarnya cuma barang itu saja, tetapi sekarang! Akupun hendan menahan kalian orang-orang dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok.”

Diam-diam Phoa Ceng Yan menarik napas panjang-panjang, ketika sinar matanya berputar menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, maka tampaklah Ang Nio Cu sembari mencengkeram tubuh Liauw Hujien, angkin merah di tangan kirinya berkelebat tiada hentinya ke sana kemari.

Setiap orang yang mendekati dirinya tentu terhajar pental sehingga jungkir balik halnya di dalam sekejap mata sudah ada dua tiga orang yang jatuh tidak sadarkan diri, hal ini membuat si orang tua itu diam-diam menghela napas panjang.

“Heee…..   kali ini aku sudah pasti akan jatuh kecundang ditangan orang lain” pikirnya diam-diam. “Beberapa orang anak buahku walaupun lihay, tetapi setelah bertemu dengan beberapa jagoan lihay ini tidak lain hanya menghantar nyawa sendiri saja, lebih baik aku suruh mereka berhenti.”

Karena itu dengan cepat ia membentak keras, “Heeeei…. kalian bukan tandingan dari Ang Nio Cu, tidak usah majukan diri untuk menghantar nyawa lagi.”

Beberapa orang jagoan dari perusahaan Liong Wie Piauw-kiok yang sedang mengurung Ang Nio Cu pun di dalam hatinya mengerti sangat jelas, jangan dikata bergebrak dengan orang lain, sekalipun untuk mendekatipun sudah susah.

Tetapi peraturan perusahaan yang keras membuat mereka tidak berani mundur, sekalipun jelas mengerti bila mereka ngotot maju juga maka yang didapat tak ada, tetapi sebelum menerima perintah dari Piauw-tauw-nya mereka terpaksa harus mengadu jiwa bergebrak juga.

Kini sesudah Phoa Ceng Yan membentak keras, beberapa orang itupun segera menghentikan serangannya.

Kini di tengah kalangan tinggal Nyoo Su Jan seorang saja yang masih bergebrak dengan sengitnya melawan si sastrawan berbaju biru itu.

“Heee…heee… Phoa Hu Cong Piauw-tauw ternyata benar-banar merupakan seorang jago kawakan, dengan cepatnya bisa mengetahui keadaan sendiri” ejek si orang berbaju hitam itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Mendengar ejekan tersebut, air muka Phoa Ceng Yan segera berubah hebat.

“Hmmm! Cayhe masih hendak melangsungkan satu pertempuran sengit dengan dirimu!” serunya.

“Soal ini sudah tentu akan Cayhe layani… cuma aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, orang yang kau perintahkan untuk melaporkan peristiwa ini kepada perusahaan cabang sudah berhasil Cayhe tawan kembali.”

Kiranya setelah Phoa Ceng Yan mengundurkan diri ke tempat pemberhentian kereta kawalannya tadi, ia segera mengirim Ih Coen untuk segera berangkat minta bala bantuan dari perusahaan-perusahaan cabang yang ada disekeliling tempat itu sekalian memberi laporan kepada Cong Piauw-tauw.

Walaupun perusahaan Liong Wie Piauw-kiok bukan sebuah partai atau perkumpulan di dalam dunia kangouw, tetapi dikarenakan kedudukan Cong Piauw-tauw mereka yang sangat tinggi, cabang yang sangat banyak dan kekuatan yang amat besar, maka di sekitar daerah utara mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Dalam hati Phoa Ceng Yan mengerti, asalkan berita ini bisa disampaikan ke tangan perusahaan cabang maka pihak cabang segera akan mengirim laporan ini ke tangan Cong Piauw-tauw mereka dengan menggunakan burung merpati.

Sedang dirinya dengan Thio Toa Hauw dan Nyoo Su Jan ditambah dengan delapan orang pemanah-pemanah jagoan bilamana bertahan dengan sekuat tenaga sekalipun tidak berhasil menangkan musuh, sedikit-dikitnya masih bisa bertahan beberapa saat lamanya.

Siapa sangka Liauw Thayjien ternyata sudah mengundang ia masuk ke dalam kereta sambil berkata, “Phoa Hu Cong Piauw-tauw! Aku dengar selama puluhan tahun ini perusahaan Liong Wie Piauw-kiok kalian belum pernah menemui suatu peristiwa-pun di dalam pengiriman barang, karena itu aku menolak pengawalan tentara kerajaan sebaliknya minta perusahaan kalian…..”

“Peristiwa ini terjadi di luar dugaan” sambung Phoa Ceng Yan buru-buru. “Orang ini selamanya belum pernah bergerak di sekeliling daerah utara terutama di dalam keenam keresiden di sekitar sini, tetapi Liauw Thayjien jangan kuatir, kami akan mengerahkan seluruh tenaga yang ada untuk melindungi keselamatan Thayjien sekeluarga.”

Liauw Thayjien tertawa tawar.

“Urusan sudah berdiri di depan mata, aku-pun tidak ingin menyalahkan kalian, walaupun aku sudah menjabat sebagai pembesar selama setengah abad lamanya, tetapi percaya belum pernah melakukan suatu pekerjaan yang memalukan…..”

“Jika didengar dari nada pembicaraan mereka, agaknya kedatangan mereka sama sekali bukan dikarenakan hendak mencari balas” sambung Phoa Ceng Yan kembali.

“Aku tahu apa tujuan mereka datang kemari….”

Dari bawah selimut ia mengambil keluar sebuah buntalan berwarna putih, lalu sambungnya kembali.

“Kemungkinan sekali kedatangan mereka dikarenakan benda ini, semisalnya kekuatan perusahaan kalian tidak sanggup untuk menahan serbuan mereka nanti, aku pikir harap Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka meloloskan diri dengan membawa barang ini dan serahkan benda tersebut kepada pembesar Hoo-Lam di bangunan istana “Tok Ci Hu”.

Phoa Ceng Yan segera bangun berdiri menerima buntalan tersebut, ia merasa benda itu sama sekali tidak berat dan tidak mirip dengan barang-barang berupa emas, intan maupun permata, tak terasa lagi ia mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Thayjien! Maaf loohu hendak banyak bertanya, sebenarnya benda apakah yang terdapat di dalam buntalan ini? Agaknya sejak semula Thayjien sudah menduga maksud kedatangan mereka??” serunya.

“Barang yang berada di dalam buntalan ini paling sedikit bukanlah barang terlarang yang melanggar peraturan negara.” jawab Liauw Thayjien dengan air muka keren. “Kalau tidak akupun tidak akn berani menyuruh kau menghantarkan barang ini ke istana Tok Ci Hu”.

Selagi Phoa Ceng Yan hendak bertanya kembali, di luar kereta sudah terjadi perubahan disusul suara jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul.

Terpaksa ia mengikat kencang buntalan tersebut ke punggungnya dan meloncat keluar dari kereta, mula-mula ia melancarkan serangan gelang emasnya memukul mundur Ang Nio CU kemudian membentak anak buahnya supaya jangan menghantar nyawa dengan sia-sia belaka, menanti ia hendak meloloskan diri ternyata perjalanannya berhasil dihadang oleh Lo-toa dari Lam Thian Sam Sah.

Kini setelah dia orang menndengar bila Ih Cun kena tertawan, dalam hati merasa semakin paham bila ini hari pihaknya bakal menderita kekalahan yang benar-benar sangat memalukan.

Setelah melakukan perjalanan selama puluhan tahun lamanya, kini untuk pertama kalinya harus menemui kesulitan tak terasa lagi hatinya terasa sangat sedih, dari dasar hatinya pun segera timbul maksuda untuk mengadu jiwa.

Dengan cepat ia mengayunkan Huncwee di depan dada, serunya dengan serius.

“Di antara saudara-saudara kalian Ang Nio Cu sudah menyanggupi dua persoalan yang cayhe ajukan. Pertama, tidak melukai langgananku, Kedua, mempertahankan barang tersebut dalam tiga bulan. Cayhe harap kalian Lam Thian Sam Sah bisa dipercaya perkataan yang sudah diucapkan.”

“Asalkan salah satu dari Lam Thian Sam Sah sudah menyanggupi syarat-syaraymu, sudah tentu kami akan pegang teguh perkataan tersebut,” kata si orang berbaju hitam itu dengan dingin. “Tetapi cayhe-pun ada dua buah syarat yang mengharapkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka mengabulkan.”

“Aku orang she Phoa akan pentang telinga lebar-lebar mendengarkan perkataanmu.”

“Serahkan buntalan putih di badanmu kepadaku dan kita buka bersama-sama pada saat ini juga, kami akan menahan barang tersebut selama tiga bulan untuk menunggu kedatangan Cong Piauw-tauw kalian dengan membawa orang untuk minta kembali barang tersebut.”

Ia merandek sejenak lalu menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak, sambungnya.

“Asalkan kau Phoa Hu Cong Piauw-tauw suka mengaku kalah, melepaskan senjata, membuang senjata rahasia, maka kami bersaudara akan melepaskan kalian juga tanpa membikin susah padamu.”

“Hmm! Kawan, sungguh enak sekali perkataanmu…..” dengus Phoa Ceng Yan dingin.

“heee……..he……. bilamana Phoa Hu Cong Piauw-tauw benar-benar tidak akan puas sebelum melihat sungai Huang Hoo dan pasti akan memaksa cayhe untuk turun tangan sendiri maka akupun merasa keberatan untuk menahan barang tersebut selama tiga bulan dan mempertahankan keselamatan dari langgananmu,” seru si orang berbaju hitam itu pula dengan dingin.

[bersambung]