Sia Tiauw Enghiong - 98 **
Setelah berdiri sekian lama. Jenghis Khan merasa
kakinya lemas, ia hendak kembali ke dalam markas.
Sebelum ia mengajak Tuli dan Kwee Ceng masuk.
datanglah sebarisan kecil serdadu berkuda yang
dipimpin seseorang yang mengenakan pakaian perang
putih dan ikal pinggang emas. Dari dandanannya
sudah bisa diketahui bahwa ia orang Kim.
Melihat musuh, semangat Jenghis Khan terbangun.
Orang Kim itu menghentikan barisannya [...]
Sia Tiauw Enghiong - 97
Melihat mundurnya musuh, Kwee Ceng ber¬paling
pada Oey Yong dan tertawa, si nona me-
nyambutnya sambil tertawa juga,
“Kakak Ceng, aku memberimu selamat untuk
Khong Shia Kee ini!” si nona memuji.
Khong Shia Kee adalah akal muslihat mengosong-
kan kota untuk menggertak musuh. Siasat itu juga
dapat dipakai untuk menjebak musuh agar masuk ke
kota dan kemudian dikepung.
Sehabis tertawa, [...]
Sia Tiauw Enghiong - 96
“Begitu banyak?” ia menegaskan.
“Kelihatannya Jenghis Khan ingin sekali me-
musnahkan Kerajaan Song,” kata si nona. “Aku
menemui punggawa terdepannya dan menyerahkan
hadiah itu. Dia tak tahu kita sudah mendengar
kabar mengenai kedatangan mereka. Dia mengata-
kan membawa pasukan perang itu untuk menyerang
Negeri Kim, bukan Negeri Song. Waktu kubeberkan
rahasianya, dia kaget, lantas menahan pasukan
perangnya. Mungkin dia mau melapor dulu [...]
Sia Tiauw Enghiong - 95
Kwee Ceng dan Oey Yong tidak bisa tinggal di
rumah Lam Khim. Mereka mempunyai urusan yang
sangat penting. Ketika mereka akan berangkat,
Kwee Ceng memberikan uang emas seratus taU,
sedangkan Oey Yong menghadiahkan serenceng
mutiara. Oey Yong tidak mengajak hiat-niauw
meskipun sangat menyukainya, karena burung itu
lebih dibutuhkan untuk menemani Nona Cin.
Lam Khim merasa berat berpisah, teiapi tidak
dapat menahan [...]
Sia Tiauw Enghiong - 94
Kwee Ceng menerima baik perkataan mertuanya.
Oey Yong diam tetapi tampak tidak senang.
Oey Yok Su melihat roman muka anak gadisnya,
ia tertawa.
“Baiklah, Yongji, kau boleh pergi bersamanya!”
ia berkata. “Begitu urusan beres, kau mesti lekas
pulang. Jangan pedulikan seandainya pemerintah
memberi ganjaran padamu.”
Gadis itu girang sekali.
“Itu pasti!” sahutnya.
Lantas sepasang muda-mudi ini berangkat [...]
Sia Tiauw Enghiong - 93
Auwyang Hong tertawa geli sekali.
“Nona mantuku yang baik, kau girang atau
tidak?” ia bertanya pada Oey Yong sambil me-
mandangnya.
Oey Yong tengah masygul, karena terpaksa me-
nyaksikan ayahnya, Ang Cit Kong, dan Kwee
Ceng dipecundangi Racun Barat, hingga ia me-
mikirkan upaya untuk menghadapi orang kosen
yang edan ini. Begitu sekarang ditegur si edan. ia
langsung menyahut, “Siapa [...]
Sia Tiauw Enghiong - 92
Selang beberapa puluh jurus, Oey Yok Su keteter
hingga mesti mundur. Tempatnya segera diambil
alih Kwee Ceng yang maju dengan pedangnya.
Tiba-tiba Racun Barat menangis dan berkata,
“Oh, anakku, kau mati sangat mengenaskan….”
Tiba-tiba ia melemparkan tongkat ularnya untuk
melompat dan merangkul anak muda di depannya.
Kwee Ceng tahu tentunya ia disangka Auwyang
Kongcu. Karena mendengar jeritan dan [...]
Sia Tiauw Enghiong - 91
Selelah jurusnya yang kedua dapat dihindari,
Oey Yok Su melanjutkan serangannya lebih jauh.
Baru beberapa jurus ia sudah heran sekali hingga
bertanya dalam hati, “Baru setahun lebih berlalu,
kenapa anak tolol ini sudah maju begini rupa?
Kalau aku mengalah, kecuali tiga ratus jurus yang
disebutkan itu, mungkin aku terkalahkan olehnya….”
Dalam beberapa jurus itu, lantaran ia mengalah
dan cuma memakai tujuh bagian [...]
Sia Tiauw Enghiong - 90
Oey Yong dapat melihat perubahan di kedua
pihak, ia kini as berkata nyaring, “‘ Goansu-engji,
pasi-palok-pou, soaliok-bunpeng!”
Auwyang Hong mendengar itu dan terperanjat.
“Apa arti kata-kata Sanskerta itu?” pikirnya. Ia
tidak tahu si nona cuma asal mengoceh, kata-kata
itu tidak ada artinya. Oey Yong tidak berhenti
bicara, ia menambahkan kata-kata yang lain lagi.
la juga berseru-seru dan menghela napas bergantian,
beberapa [...]
Sia Tiauw Enghiong - 89
Ang Cit Kong memikirkan perkataan si murid
yang nada suaranya berbeda, ia lantas menduga isi
hati gadis itu. Ia tertawa lebar dan berkata, “Tak
usah kau bicara berputar-putar. Yang Ci kepunyaan
Toan Hongya dan Kiu Im Cin Keng kepunyaan
kalian berdua, maka tak usah kalian sebut lagi. Aku
si pengemis tua tidak bakal menebalkan muka
menggunakannya. Kalau nanti tiba saatnya pibu,
aku akan [...]
Sia Tiauw Enghiong - 88
Kwee Ceng dan Oey Yong turut diam.
Kiu Cian Jin menggunakan kesempatan, la me-
langkah ke arah Kwee Ceng. Si pemuda minggir.
Cian Jin mengerahkan tenaganya untuk lompat
melewatinya, namun mendadak dari balik batu besar
menyambar sebatang tongkat bambu ke mukanya. Ia
terkejut tapi bisa menangkis untuk menangkap
tongkat itu, berniat merampasnya. Di luar duga-
annya, ia gagal, bahkan tiga kali beruntun [...]
Sia Tiauw Enghiong - 87
“Ah, Yongji, kau menggodaku,” sahut si pemuda.
“Aku datang ke gunung ini buat mencari Kakak
Ciu supaya diajari ilmu untuk melenyapkan ilmu
silatku….”
Kwee Ceng lantas menjelaskan alasan mengapa
ia sampai mendapat pikiran demikian.
Oey Yong memiringkan kepalanya, berpikir.
“Ya, melupakan itu pun baik juga,” katanya
kemudian. “Memang, semakin kita pandai, pikiran
kita semakin tak tenang. Lebih baik seperti waktu
masih [...]
Sia Tiauw Enghiong - 86
“Sekarang kau baik denganku,” kata si nona.
“Kalau besok kau bertemu dengan Adik Gochin-
mu, kembali kau akan melupakanku, kau bakal
menyia-nyiakanku…. Sekarang ini. asal kau mati
di depanku, baru aku percaya padamu..-”
Darah Kwee Ceng meluap, ia mengangguk. Ke-
mudian ia memutar tubuhnya dan melangkah ke
jurang. Kebetulan saat itu ia berada di tepi Sia
Sin Gay, Jurang Mengorbankan Diri. [...]
Sia Tiauw Enghiong - 85
Kwee Ceng sangat kesakitan, sampai kedua mata-
nya kabur la berontak, tapi dua jalan darahnya telah
ditekan, tenaganya habis, la melihat roman Cu Ong
yang sangat bengis dan menakutkan, la merasa se-
makin sakit, sebab gigitan orang itu keras. Bukankah
ia akan binasa kalau tenggorokannya putus? Dalam
kagetnya, mendadak ia berontak lagi. Kali ini ia
menggunakan tipu yang didapatnya dari Kin Toan
Kut [...]
Sia Tiauw Enghiong - 84
Kwee Ceng mengutarakan keruwetan dalam hatinya.
kemudian menghela napas dan menambahkan,
“Sekarang aku memuruskan tak berniat bentrok
dengan siapa pun. Aku menyesal tak dapat melupakan
ilmu silatku. Tadi pun tanpa sengaja aku melukai orang
itu hingga berdarah….”
“Anak Ceng, pandanganmu salah,” kata Tiang Cun
Cu sambil menggeleng. “Beberapa puluh tahun lalu
ketika muncul kitab mestika Kiu Im Cin Keng, orang-
orang gagah [...]
Sia Tiauw Enghiong - 83
Pemuda itu menghela napas, lantas menjura
kepada mereka. Sesudah itu dengan memegang
tombak ia melompat naik ke kudanya. Tepat saat akan
melarikan kudanya, ia melihat debu mengepul di
depannya. Kembali sepasukan serdadu berkuda
mendatanginya, la terkejut, demikian juga Jebe.
“Aku telah bersalah melepaskan Kwee Ceng, kalau
aku melawan pasukan ini, terang aku memberontak,”
pikir Jebe. Tapi ia tidak mengubah putusannya, ia
berkata pada [...]


