topmdi.net

Tiga Gaya Kepemimpinan

Kalau dalam sejarah China kita mengenal Sam Kok yang menghasilkan pemikiran dan taktik briliyan dari Cukat Liang dan Sun Tzu maka dalam era abad ke 16 akhir di Jepang muncul 3 tokoh utama yang selalu menjadi  cerita tentang kehebatan mereka.

Ketiga Tokoh inilah, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu yang menyatukan Jepang yang terdiri dari banyaknya penguasa setempat menjadi satu kesatuan kuat dan walaupun ketiganya hidup dalam satu jaman tetapi mereka menguasai Jepang secara bergantian.

Yang pertama kita bisa sebut Oda Nobunaga dari klan Owari, seorang yang sangat emosional dalam bertindak dan bertangan besi dalam memerintah termasuk terhadap keluarganya sendiri, membunuh banyak bikshu yang menentangnya, tokoh yang disegani dan ditakuti. Nobunaga mempunyai 2 jendral utama yaitu Mitsuhide serta Hideyoshi.

Tekanan Nobunaga terhadap Mitsuhide terhadap kesalahan yang dilakukannya mengakibatkan Mitsuhide melakukan pemberontakan dibantu oleh para bhiksu yang ditekan Nobunaga dan kudeta memaksa Nobunaga melakukan sepuku “bunuh diri” tetapi counter balik dari Hideyoshi akhirnya meruntuhkan Mitsuhide serta mengangkat Hideyoshi menjadi penguasa baru mendahului Ieyasu bertindak. Hideyoshi berasal dari kalangan rakyat jelata dan awalnya sebagai pembawa sendal Nobunaga sebelum meningkat menjadi pengurus dapur, prajurit dan panglima perang … akhirnya menjadi penguasa tertinggi Jepang saat itu .. suatu perjalanan karier yang menakjubkan bagi seorang yang tidak dipandang menjadi seorang yang paling berkuasa di Jepang, karena statusnya keluarnyanya yang rendah  itulah maka gelarnya hanya TAIKO bukan Shogun.

Bagaimana dengan Ieyasu Tokugawa, Daimyo dari Propinsi Ikawa, inilah tokoh yang sangat sabar … menunggu kesempatan berkuasa dan kesempatan itu datang saat Hideyoshi wafat dan pasukannya lemah karena ekspansi ke China yang gagal serta anaknya tidak sekuat karakter ayahnya itulah saat nya Ieyasu Tokugawa berkuasa dan memerintah Jepang dengan aturan yang dibuat untuk mengokohkan kekuasaannya, antara lain mengecilkan fungsi dari samurai, membatasi kekuasaan para Daimyo, para pimpinan didaerah.

Kalau anda membaca atau menonton cerita mengenai Musashi, nah jago pedang kenamaan itu hidup di era awal Tokugawa.

Melihat gaya ke 3 orang tersebut, bisa kita katakan ini gaya manajemen yang sangat menarik dari 3 orang yang berkarakter kuat dan mempunyai sifat berbeda.

Nobunaga dengan gaya militer dan otoriter dibutuhkan saat Jepang sedang tercerai berai sehingga bersatu tetapi dengan gaya itu juga dia akhirnya jatuh karena tidak bisa mengontrol emosinya, Nobunaga tipe orang yang senang mengambil resiko, “risk taker” .

Hideyoshi dengan gaya santai dan bersahabat membuat orang terlena tetapi punya kecepatan tinggi untuk menghancurkan, ibarat singa yang kelihatannya ngantuk matanya tetap awas melihat pergerakan mangsanya, lebih kearah orang yang bermain dengan plan dan menghitung untung rugi. Sebagai orang yang menderita dimasa kecilnya Hideyoshi tahu menghargai orang dan tahu bagaimana penderitaan itu, beda dengan Nobunaga yang berasal dari keluarga bangsawan.

Ieyasu Tokugawa lebih memilih sabar menunggu dan melakukan penyerangan akhir saat musuh sudah tidak memiliki kekuatan, istilahnya main aman saja “safety player”, inipun rasanya dipengaruhi oleh masa kecilnya yang tersisih sebelum kembali meraih kekuasaan diwilayahnya.

Dalam bisnis kita bisa mengadaptasi ketiga cara tersebut, gertakan menyerbu pasar sebagai leader yang kuat dengan gaya Nobunaga, menguasai medan dengan kecepatan gerak sebelum pesaing masuk seperti gaya Hideyoshi dan diikuti dengan adu sabar menghadapi kompetisi persaingan yang panjang kalau diperlukan seperti gaya Tokugawa.

Comments are closed.

Cigar of the Paraoh
Tanguy et Laverdure
Rss Feed Tweeter button Facebook button Delicious button Digg button Youtube button
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline